Non Muslim itu Kafir

Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim

Non Muslim itu Kafir

Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim
Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim


Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim

Taurat dan Injil Telah Dihapus Al Quran

Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran

Taurat dan Injil Telah Dihapus Al Quran

Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran
Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran


Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran

Cadar itu Bidah?

Ada saja yang sampai mengatakan bahwa cadar itu bid’ah. Padahal sejak masa silam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, cadar itu sudah ada. Bahkan inilah praktek dari para sahabat wanita di masa Nabi, juga praktek orang-orang shalihah. Terus yang mengatakan bid’ah dasarnya apa yah? Kalau bilang orang yang bercadar itu tidak murah senyum, yah jelas wajahnya itu tertutup karena menjalankan perintah. Ngapain juga senyumnya di hadapan para pria, cuma buat pria tergoda. Halalnya senyumnya wanita itu di hadapan para wanita itu di hadapan suami atau sesama wanita. Think! Cadar Sudah Dikenal di Masa Nabi Kita dapat melihat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang akan berihrom. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para wanita, لاَ تَنْتَقِبُ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبِسُ الْقَفَّازِيْنَ “Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari no. 1838) Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika menafsirkan surat An Nur berkata, “Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.” (Dinukil dari Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 104) Sebagai bukti lainnya, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah: Pertama: Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata, كنا نغطي وجوهنا من الرجال وكنا نمتشط قبل ذلك في الإحرام “Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.” (HR. Hakim 1/624. Dikatakan oleh Al Hakim bahwa hadits ini shohih. Hal ini juga disepakati oleh Adz Dzahabi) Kedua: Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, لما اجتلى النبي صلى الله عليه وسلم صفية رأى عائشة منتقبة وسط الناس فعرفها “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya.” (HR. Ibnu Sa’ad. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 108) Juga hal ini dipraktekkan oleh orang-orang sholeh, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari ‘Ashim bin Al Ahwal, katanya, كنا ندخل على حفصة بنت سيرين وقد جعلت الجلباب هكذا : وتنقبت به فنقول لها : رحمك الله “Kami pernah mengunjungi Hafshoh bin Sirin (seorang tabi’iyah yang utama) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekaligus menutup wajahnya. Lalu, kami katakan kepadanya, ‘Semoga Allah merahmati engkau …’” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Sanad hadits ini shohih. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 110) Riwayat-riwayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bercadar, juga wanita-wanita sholehah sepeninggal mereka mengenakannya. Ulama Syafi’iyah Angkat Suara Tentang Cadar: Cadar Ada Tuntunannya Perkataan berikut adalah bukti bahwa cadar termasuk ajaran Islam sejak masa silam, bukan ajaran yang baru. Yang menyuarakan seperti ini adalah ulama besar Syafi’iyah yang banyak jadi rujukan para kyai di negeri kita. Pendapat Ibnu Hajar Al Asqolani Beliau adalah di antara ulama besar Syafi’iyah yang memiliki kitab rujukan kaum muslimin yaitu Fathul Bari sebagai penjelasan dari kitab Shahih Al Bukhari. Ibnu Hajar rahimahullah pernah mengatakan, “Laki-laki sama sekali tidak diperintahkan untuk berniqob (memakai penutup wajah) agar wanita tidak melihat mereka. … Dari masa ke masa, laki-laki itu selalu terbuka wajahnya (tidak memakai penutup wajah), sedangkan wanita selalu keluar (rumah) dalam keadaan wajahnya tertutup.” (Fathul Bari, 9: 337) Pendapat Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli Beliau adalah salah satu di antara dua penulis kitab tafsir Al Jalalain. Beliau menjelaskan surat Al Ahzab ayat 59, Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab adalah pakaian yang menutupi wanita. Yaitu diberi keringanan menampakkan satu mata saja ketika keluar (rumah) karena ada kebutuhan. Seperti itu lebih mudah dikenal sebagai orang merdeka, beda halnya dengan budak (yang wajahnya terbuka). Oleh karenanya, janganlah wanita yang menutup rapat auratnya disakiti, dia sungguh jauh berbeda dengan budak perempuan yang membuka wajahnya. Dan orang munafik dahulu biasa menyindir (mengganggu) wanita yang terbuka auratnya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu karena enggan menutup aurat. Allah menyayangi kalian sehingga memerintah kalian untuk menutup aurat. (Tafsir Al Jalalain, hal. 426) Demikian sebagian bukti bahwa ulama Syafi’iyah tidak menganggap aneh cadar (penutup wajah). Bahkan mereka menyatakan wanita memang harus demikian agar lebih menjaga diri mereka. Apa ada yang masih meragukan kalau cadar itu ada tuntunannya dalam Islam cuma karena mendengar perkataan orang-orang Liberal (JIL) yang sentimen sekali pada Islam? [Diambil dari Buku Penulis: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris] — Selesai disusun ulang di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 16 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscadar

Cadar itu Bidah?

Ada saja yang sampai mengatakan bahwa cadar itu bid’ah. Padahal sejak masa silam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, cadar itu sudah ada. Bahkan inilah praktek dari para sahabat wanita di masa Nabi, juga praktek orang-orang shalihah. Terus yang mengatakan bid’ah dasarnya apa yah? Kalau bilang orang yang bercadar itu tidak murah senyum, yah jelas wajahnya itu tertutup karena menjalankan perintah. Ngapain juga senyumnya di hadapan para pria, cuma buat pria tergoda. Halalnya senyumnya wanita itu di hadapan para wanita itu di hadapan suami atau sesama wanita. Think! Cadar Sudah Dikenal di Masa Nabi Kita dapat melihat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang akan berihrom. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para wanita, لاَ تَنْتَقِبُ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبِسُ الْقَفَّازِيْنَ “Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari no. 1838) Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika menafsirkan surat An Nur berkata, “Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.” (Dinukil dari Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 104) Sebagai bukti lainnya, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah: Pertama: Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata, كنا نغطي وجوهنا من الرجال وكنا نمتشط قبل ذلك في الإحرام “Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.” (HR. Hakim 1/624. Dikatakan oleh Al Hakim bahwa hadits ini shohih. Hal ini juga disepakati oleh Adz Dzahabi) Kedua: Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, لما اجتلى النبي صلى الله عليه وسلم صفية رأى عائشة منتقبة وسط الناس فعرفها “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya.” (HR. Ibnu Sa’ad. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 108) Juga hal ini dipraktekkan oleh orang-orang sholeh, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari ‘Ashim bin Al Ahwal, katanya, كنا ندخل على حفصة بنت سيرين وقد جعلت الجلباب هكذا : وتنقبت به فنقول لها : رحمك الله “Kami pernah mengunjungi Hafshoh bin Sirin (seorang tabi’iyah yang utama) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekaligus menutup wajahnya. Lalu, kami katakan kepadanya, ‘Semoga Allah merahmati engkau …’” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Sanad hadits ini shohih. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 110) Riwayat-riwayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bercadar, juga wanita-wanita sholehah sepeninggal mereka mengenakannya. Ulama Syafi’iyah Angkat Suara Tentang Cadar: Cadar Ada Tuntunannya Perkataan berikut adalah bukti bahwa cadar termasuk ajaran Islam sejak masa silam, bukan ajaran yang baru. Yang menyuarakan seperti ini adalah ulama besar Syafi’iyah yang banyak jadi rujukan para kyai di negeri kita. Pendapat Ibnu Hajar Al Asqolani Beliau adalah di antara ulama besar Syafi’iyah yang memiliki kitab rujukan kaum muslimin yaitu Fathul Bari sebagai penjelasan dari kitab Shahih Al Bukhari. Ibnu Hajar rahimahullah pernah mengatakan, “Laki-laki sama sekali tidak diperintahkan untuk berniqob (memakai penutup wajah) agar wanita tidak melihat mereka. … Dari masa ke masa, laki-laki itu selalu terbuka wajahnya (tidak memakai penutup wajah), sedangkan wanita selalu keluar (rumah) dalam keadaan wajahnya tertutup.” (Fathul Bari, 9: 337) Pendapat Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli Beliau adalah salah satu di antara dua penulis kitab tafsir Al Jalalain. Beliau menjelaskan surat Al Ahzab ayat 59, Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab adalah pakaian yang menutupi wanita. Yaitu diberi keringanan menampakkan satu mata saja ketika keluar (rumah) karena ada kebutuhan. Seperti itu lebih mudah dikenal sebagai orang merdeka, beda halnya dengan budak (yang wajahnya terbuka). Oleh karenanya, janganlah wanita yang menutup rapat auratnya disakiti, dia sungguh jauh berbeda dengan budak perempuan yang membuka wajahnya. Dan orang munafik dahulu biasa menyindir (mengganggu) wanita yang terbuka auratnya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu karena enggan menutup aurat. Allah menyayangi kalian sehingga memerintah kalian untuk menutup aurat. (Tafsir Al Jalalain, hal. 426) Demikian sebagian bukti bahwa ulama Syafi’iyah tidak menganggap aneh cadar (penutup wajah). Bahkan mereka menyatakan wanita memang harus demikian agar lebih menjaga diri mereka. Apa ada yang masih meragukan kalau cadar itu ada tuntunannya dalam Islam cuma karena mendengar perkataan orang-orang Liberal (JIL) yang sentimen sekali pada Islam? [Diambil dari Buku Penulis: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris] — Selesai disusun ulang di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 16 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscadar
Ada saja yang sampai mengatakan bahwa cadar itu bid’ah. Padahal sejak masa silam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, cadar itu sudah ada. Bahkan inilah praktek dari para sahabat wanita di masa Nabi, juga praktek orang-orang shalihah. Terus yang mengatakan bid’ah dasarnya apa yah? Kalau bilang orang yang bercadar itu tidak murah senyum, yah jelas wajahnya itu tertutup karena menjalankan perintah. Ngapain juga senyumnya di hadapan para pria, cuma buat pria tergoda. Halalnya senyumnya wanita itu di hadapan para wanita itu di hadapan suami atau sesama wanita. Think! Cadar Sudah Dikenal di Masa Nabi Kita dapat melihat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang akan berihrom. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para wanita, لاَ تَنْتَقِبُ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبِسُ الْقَفَّازِيْنَ “Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari no. 1838) Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika menafsirkan surat An Nur berkata, “Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.” (Dinukil dari Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 104) Sebagai bukti lainnya, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah: Pertama: Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata, كنا نغطي وجوهنا من الرجال وكنا نمتشط قبل ذلك في الإحرام “Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.” (HR. Hakim 1/624. Dikatakan oleh Al Hakim bahwa hadits ini shohih. Hal ini juga disepakati oleh Adz Dzahabi) Kedua: Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, لما اجتلى النبي صلى الله عليه وسلم صفية رأى عائشة منتقبة وسط الناس فعرفها “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya.” (HR. Ibnu Sa’ad. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 108) Juga hal ini dipraktekkan oleh orang-orang sholeh, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari ‘Ashim bin Al Ahwal, katanya, كنا ندخل على حفصة بنت سيرين وقد جعلت الجلباب هكذا : وتنقبت به فنقول لها : رحمك الله “Kami pernah mengunjungi Hafshoh bin Sirin (seorang tabi’iyah yang utama) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekaligus menutup wajahnya. Lalu, kami katakan kepadanya, ‘Semoga Allah merahmati engkau …’” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Sanad hadits ini shohih. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 110) Riwayat-riwayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bercadar, juga wanita-wanita sholehah sepeninggal mereka mengenakannya. Ulama Syafi’iyah Angkat Suara Tentang Cadar: Cadar Ada Tuntunannya Perkataan berikut adalah bukti bahwa cadar termasuk ajaran Islam sejak masa silam, bukan ajaran yang baru. Yang menyuarakan seperti ini adalah ulama besar Syafi’iyah yang banyak jadi rujukan para kyai di negeri kita. Pendapat Ibnu Hajar Al Asqolani Beliau adalah di antara ulama besar Syafi’iyah yang memiliki kitab rujukan kaum muslimin yaitu Fathul Bari sebagai penjelasan dari kitab Shahih Al Bukhari. Ibnu Hajar rahimahullah pernah mengatakan, “Laki-laki sama sekali tidak diperintahkan untuk berniqob (memakai penutup wajah) agar wanita tidak melihat mereka. … Dari masa ke masa, laki-laki itu selalu terbuka wajahnya (tidak memakai penutup wajah), sedangkan wanita selalu keluar (rumah) dalam keadaan wajahnya tertutup.” (Fathul Bari, 9: 337) Pendapat Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli Beliau adalah salah satu di antara dua penulis kitab tafsir Al Jalalain. Beliau menjelaskan surat Al Ahzab ayat 59, Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab adalah pakaian yang menutupi wanita. Yaitu diberi keringanan menampakkan satu mata saja ketika keluar (rumah) karena ada kebutuhan. Seperti itu lebih mudah dikenal sebagai orang merdeka, beda halnya dengan budak (yang wajahnya terbuka). Oleh karenanya, janganlah wanita yang menutup rapat auratnya disakiti, dia sungguh jauh berbeda dengan budak perempuan yang membuka wajahnya. Dan orang munafik dahulu biasa menyindir (mengganggu) wanita yang terbuka auratnya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu karena enggan menutup aurat. Allah menyayangi kalian sehingga memerintah kalian untuk menutup aurat. (Tafsir Al Jalalain, hal. 426) Demikian sebagian bukti bahwa ulama Syafi’iyah tidak menganggap aneh cadar (penutup wajah). Bahkan mereka menyatakan wanita memang harus demikian agar lebih menjaga diri mereka. Apa ada yang masih meragukan kalau cadar itu ada tuntunannya dalam Islam cuma karena mendengar perkataan orang-orang Liberal (JIL) yang sentimen sekali pada Islam? [Diambil dari Buku Penulis: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris] — Selesai disusun ulang di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 16 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscadar


Ada saja yang sampai mengatakan bahwa cadar itu bid’ah. Padahal sejak masa silam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, cadar itu sudah ada. Bahkan inilah praktek dari para sahabat wanita di masa Nabi, juga praktek orang-orang shalihah. Terus yang mengatakan bid’ah dasarnya apa yah? Kalau bilang orang yang bercadar itu tidak murah senyum, yah jelas wajahnya itu tertutup karena menjalankan perintah. Ngapain juga senyumnya di hadapan para pria, cuma buat pria tergoda. Halalnya senyumnya wanita itu di hadapan para wanita itu di hadapan suami atau sesama wanita. Think! Cadar Sudah Dikenal di Masa Nabi Kita dapat melihat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang akan berihrom. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para wanita, لاَ تَنْتَقِبُ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبِسُ الْقَفَّازِيْنَ “Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari no. 1838) Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika menafsirkan surat An Nur berkata, “Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.” (Dinukil dari Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 104) Sebagai bukti lainnya, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah: Pertama: Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata, كنا نغطي وجوهنا من الرجال وكنا نمتشط قبل ذلك في الإحرام “Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.” (HR. Hakim 1/624. Dikatakan oleh Al Hakim bahwa hadits ini shohih. Hal ini juga disepakati oleh Adz Dzahabi) Kedua: Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, لما اجتلى النبي صلى الله عليه وسلم صفية رأى عائشة منتقبة وسط الناس فعرفها “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya.” (HR. Ibnu Sa’ad. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 108) Juga hal ini dipraktekkan oleh orang-orang sholeh, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari ‘Ashim bin Al Ahwal, katanya, كنا ندخل على حفصة بنت سيرين وقد جعلت الجلباب هكذا : وتنقبت به فنقول لها : رحمك الله “Kami pernah mengunjungi Hafshoh bin Sirin (seorang tabi’iyah yang utama) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekaligus menutup wajahnya. Lalu, kami katakan kepadanya, ‘Semoga Allah merahmati engkau …’” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Sanad hadits ini shohih. Disebutkan dalam Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, hal. 110) Riwayat-riwayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bercadar, juga wanita-wanita sholehah sepeninggal mereka mengenakannya. Ulama Syafi’iyah Angkat Suara Tentang Cadar: Cadar Ada Tuntunannya Perkataan berikut adalah bukti bahwa cadar termasuk ajaran Islam sejak masa silam, bukan ajaran yang baru. Yang menyuarakan seperti ini adalah ulama besar Syafi’iyah yang banyak jadi rujukan para kyai di negeri kita. Pendapat Ibnu Hajar Al Asqolani Beliau adalah di antara ulama besar Syafi’iyah yang memiliki kitab rujukan kaum muslimin yaitu Fathul Bari sebagai penjelasan dari kitab Shahih Al Bukhari. Ibnu Hajar rahimahullah pernah mengatakan, “Laki-laki sama sekali tidak diperintahkan untuk berniqob (memakai penutup wajah) agar wanita tidak melihat mereka. … Dari masa ke masa, laki-laki itu selalu terbuka wajahnya (tidak memakai penutup wajah), sedangkan wanita selalu keluar (rumah) dalam keadaan wajahnya tertutup.” (Fathul Bari, 9: 337) Pendapat Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli Beliau adalah salah satu di antara dua penulis kitab tafsir Al Jalalain. Beliau menjelaskan surat Al Ahzab ayat 59, Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab adalah pakaian yang menutupi wanita. Yaitu diberi keringanan menampakkan satu mata saja ketika keluar (rumah) karena ada kebutuhan. Seperti itu lebih mudah dikenal sebagai orang merdeka, beda halnya dengan budak (yang wajahnya terbuka). Oleh karenanya, janganlah wanita yang menutup rapat auratnya disakiti, dia sungguh jauh berbeda dengan budak perempuan yang membuka wajahnya. Dan orang munafik dahulu biasa menyindir (mengganggu) wanita yang terbuka auratnya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu karena enggan menutup aurat. Allah menyayangi kalian sehingga memerintah kalian untuk menutup aurat. (Tafsir Al Jalalain, hal. 426) Demikian sebagian bukti bahwa ulama Syafi’iyah tidak menganggap aneh cadar (penutup wajah). Bahkan mereka menyatakan wanita memang harus demikian agar lebih menjaga diri mereka. Apa ada yang masih meragukan kalau cadar itu ada tuntunannya dalam Islam cuma karena mendengar perkataan orang-orang Liberal (JIL) yang sentimen sekali pada Islam? [Diambil dari Buku Penulis: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris] — Selesai disusun ulang di pagi penuh berkah di Darush Sholihin, 16 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscadar

Pengadilan Akhirat

11OctPengadilan AkhiratOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Islam telah mengajarkan bahwa perbuatan dan perilaku kita di dunia ada konsekuensinya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Ada penegakan hukum dan keadilan di dunia, sebagaimana ada penegakan hukum dan keadilan di akhirat. Walaupun realitanya antara keduanya ada perbedaan yang sangat jauh. Pengadilan Allah ta’ala di padang mahsyar nanti amatlah dahsyat dan maha adil. Adapun pengadilan manusia di dunia seringkali jauh dari potret ideal keadilan. Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati Setiap apa yang kita lakukan sekecil apapun, pasti akan ditulis oleh para malaikat yang mulia. Perkataan, perbuatan, pandangan, keputusan, prasangka, semuanya tidak terlewatkan oleh pena para malaikat. “مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ” Artinya: “Tiada suatu ucapan yang dia ucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir”. QS. Qaf: 18. “وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ، وَيَقُولُونَ: “يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا” وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا”. Artinya: “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar tercatat semuanya”. Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang jua pun”. QS. Al-Kahfi: 49. Perbuatan kita bukan hanya dicatat, namun juga akan diganjar sesuai dengan kadar, kualitas dan jenis yang kita lakukan. “فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ”. Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat debu, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat debu, niscaya dia pun akan melihat (balasan)nya”. QS. Az-Zalzalah: 7-8. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Bagaimanakah prosesi pertanggungjawaban kita di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak? Bagaimana pula gerangan pengadilan akhirat akan digelar? Berikut sekelumit gambaran tentang kejadian mengerikan itu: Kelak, setiap manusia akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah Yang Maha adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya. Tidak akan ditemani siapapun, walaupun ia orang terdekatnya sekalipun. Setiap manusia pada pengadilan akhirat nanti, tidak akan bisa menyewa pengacara, tidak pula didampingi keluarga, sanak saudara ataupun siapapun jua. Tak satupun di antara mereka yang dapat menolong kita sebagaimana halnya saat hidup di dunia. Setiap kita akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatan kita. “وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“. Artinya: “Pada hari kiamat, setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri”. QS Maryam [19]: 95. Saat itu, mulut kita akan dibungkam dan dikunci rapat. Jikalau pada pengadilan dunia, lisan kita bisa berbicara, bersilat lidah, berkelit atau bahkan bisa berdusta, maka pada pengadilan akhirat nanti mulut ini akan terdiam, kelu dan tak bisa berucap, kendati hanya sepatah kata. Sebaliknya seluruh anggota tubuh kita dipersilahkan untuk bersaksi. Mata, telinga, tangan, kaki, bahkan kulit, semuanya berbicara membeberkan dan membuka apa yang pernah kita lakukan di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”. Artinya: “Pada hari ini, Kami kunci mulut-mulut mereka, dan yang akan berbicara adalah tangan-tangan mereka, dan yang akan bersaksi adalah kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka kerjakan (dulu di dunia)”. QS. Yasin (36): 65. Bahkan bumi tempat kita berpijak pun tidak ketinggalan untuk melaporkan kepada Allah jalla wa ‘ala tentang apa yang kita lakukan di atasnya.[1] “يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا . بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا”. Artinya: “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya”. QS. Az-Zalzalah (99): 4-5. Keadilan hari itu akan dijunjung tinggi dan timbangan akan ditegakkan dengan sangat akurat. Tidak ada yang dapat berkelit, menyogok ataupun merubah keputusannya. Karena yang bertindak sebagai hakim di padang mahsyar nanti adalah Allah subhanahu wa ta’ala sendiri, Pencipta manusia dan alam semesta ini. Tidak akan ada lagi sogok menyogok, beking membeking, ngeles mengeles, kongkalikong maupun pasal-pasal karet, yang dapat ditafsirkan semau sendiri. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Selihai apapun manusia mempermainkan hukum di dunia, dan walaupun mereka sering lepas dari pengadilan dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan hukuman di pengadilan akhirat. Di dunia boleh saja mereka bisa terhindar dari sel penjara. Namun, di akhirat mustahil mereka bisa lari dari hukuman dan azab Allah ‘azza wa jalla. “وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ” Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan”. QS. Al-Anbiya’: 47. “يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ، لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ، لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ . الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ، إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ” Artinya: “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Kepunyaan siapakah kekuasaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang dilakukannya. Tidak ada yang dizalimi pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. QS. Ghofir (40): 16-17. Di pengadilan dunia Uang dapat membungkam Ketenaran berkuasa untuk mengurangi tuntutan Kepandaian lidah juga mampu untuk merubah Namun di pengadilan akhirat Uang sudah tak mempan Ketenaran laksana debu yang beterbangan Bersilat lidah pun hanya angan-angan Karena mulut tlah terkunci Tangan angkat bicara Kaki bersaksi Atas segala yang tlah terlaksana Semua terkuak Tak terlewatkan walau seberat debu pun Maka, Takutlah akan pengadilan akhirat…[2] Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah… Pengadilan akhirat begitu menegangkan. Salah satu bekal utama yang kita bawa saat itu adalah amal salih yang kita tabung dan kumpulkan sedikit demi sedikit saat ini. Adapun harta, jabatan, kedudukan, pangkat, keturunan, pengikut dan apapun yang dibanggakan di dunia ini, tidak akan berguna sama sekali saat itu. “يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ” Artinya: “Pada hari (akhirat) tidak akan bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih”. QS. Asy-Syua’râ’ (26): 88-89. Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya, dan merugilah orang-orang yang ringan timbangannya. “فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآَيَاتِنَا يَظْلِمُونَ” Artinya: ”Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami”. QS. Al-A’raf [7]: 8-9. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Pada hari itu, banyak orang yang merugi. Namun, di antara mereka yang merugi itu, ada yang amat sangat merugi, yakni orang-orang yang bangkrut. Siapakah orang-orang tersebut? Mereka adalah para pelaku dosa yang berupa pelanggaran hak sesama manusia. Kezaliman terhadap orang lain. Mencaci, menyakiti, dan memakan atau mengkorupsi harta sesama. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟”. قَالُوا: “الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ”. فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ؛ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit?”. Para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menimpali, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat, dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalannya dan diberikan kepada ini dan itu (yakni orang lain yang dia zalimi tersebut -pen). Apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim. Pada mulanya orang-orang tersebut merasa bangga dan takjub kepada dirinya, bahwa ia telah shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Namun mereka lupa atau pura-pura lupa, bahwa dalam waktu yang sama mereka juga melakukan dosa-dosa sosial dan moral. Amal kebaikan dan pahala yang dikumpulkannya dengan susah payah selama ini, harus terhapus dan habis untuk ‘membayar’ kejahatan yang dia lakukan. Bahkan juga masih harus menanggung dosa dari kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang yang telah dizaliminya semasa di dunia! Hadirin dan hadirat rahimakumullah Jika itu adalah nasib mereka yang memiliki amal salih cukup banyak, namun menzalimi satu, dua, tiga orang, bagaimanakah gerangan nasib mereka yang amal salihnya pas-pasan, atau bahkan seringkali minus, namun mereka menzalimi dua ratus juta penduduk Indonesia, dengan mengkorupsi uang mereka!? Andaikan orang-orang tersebut mau berfikir dan merenung… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011 [1] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 861). [2] http://tetapbersyukur.wordpress.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Pengadilan Akhirat

11OctPengadilan AkhiratOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Islam telah mengajarkan bahwa perbuatan dan perilaku kita di dunia ada konsekuensinya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Ada penegakan hukum dan keadilan di dunia, sebagaimana ada penegakan hukum dan keadilan di akhirat. Walaupun realitanya antara keduanya ada perbedaan yang sangat jauh. Pengadilan Allah ta’ala di padang mahsyar nanti amatlah dahsyat dan maha adil. Adapun pengadilan manusia di dunia seringkali jauh dari potret ideal keadilan. Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati Setiap apa yang kita lakukan sekecil apapun, pasti akan ditulis oleh para malaikat yang mulia. Perkataan, perbuatan, pandangan, keputusan, prasangka, semuanya tidak terlewatkan oleh pena para malaikat. “مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ” Artinya: “Tiada suatu ucapan yang dia ucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir”. QS. Qaf: 18. “وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ، وَيَقُولُونَ: “يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا” وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا”. Artinya: “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar tercatat semuanya”. Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang jua pun”. QS. Al-Kahfi: 49. Perbuatan kita bukan hanya dicatat, namun juga akan diganjar sesuai dengan kadar, kualitas dan jenis yang kita lakukan. “فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ”. Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat debu, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat debu, niscaya dia pun akan melihat (balasan)nya”. QS. Az-Zalzalah: 7-8. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Bagaimanakah prosesi pertanggungjawaban kita di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak? Bagaimana pula gerangan pengadilan akhirat akan digelar? Berikut sekelumit gambaran tentang kejadian mengerikan itu: Kelak, setiap manusia akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah Yang Maha adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya. Tidak akan ditemani siapapun, walaupun ia orang terdekatnya sekalipun. Setiap manusia pada pengadilan akhirat nanti, tidak akan bisa menyewa pengacara, tidak pula didampingi keluarga, sanak saudara ataupun siapapun jua. Tak satupun di antara mereka yang dapat menolong kita sebagaimana halnya saat hidup di dunia. Setiap kita akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatan kita. “وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“. Artinya: “Pada hari kiamat, setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri”. QS Maryam [19]: 95. Saat itu, mulut kita akan dibungkam dan dikunci rapat. Jikalau pada pengadilan dunia, lisan kita bisa berbicara, bersilat lidah, berkelit atau bahkan bisa berdusta, maka pada pengadilan akhirat nanti mulut ini akan terdiam, kelu dan tak bisa berucap, kendati hanya sepatah kata. Sebaliknya seluruh anggota tubuh kita dipersilahkan untuk bersaksi. Mata, telinga, tangan, kaki, bahkan kulit, semuanya berbicara membeberkan dan membuka apa yang pernah kita lakukan di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”. Artinya: “Pada hari ini, Kami kunci mulut-mulut mereka, dan yang akan berbicara adalah tangan-tangan mereka, dan yang akan bersaksi adalah kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka kerjakan (dulu di dunia)”. QS. Yasin (36): 65. Bahkan bumi tempat kita berpijak pun tidak ketinggalan untuk melaporkan kepada Allah jalla wa ‘ala tentang apa yang kita lakukan di atasnya.[1] “يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا . بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا”. Artinya: “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya”. QS. Az-Zalzalah (99): 4-5. Keadilan hari itu akan dijunjung tinggi dan timbangan akan ditegakkan dengan sangat akurat. Tidak ada yang dapat berkelit, menyogok ataupun merubah keputusannya. Karena yang bertindak sebagai hakim di padang mahsyar nanti adalah Allah subhanahu wa ta’ala sendiri, Pencipta manusia dan alam semesta ini. Tidak akan ada lagi sogok menyogok, beking membeking, ngeles mengeles, kongkalikong maupun pasal-pasal karet, yang dapat ditafsirkan semau sendiri. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Selihai apapun manusia mempermainkan hukum di dunia, dan walaupun mereka sering lepas dari pengadilan dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan hukuman di pengadilan akhirat. Di dunia boleh saja mereka bisa terhindar dari sel penjara. Namun, di akhirat mustahil mereka bisa lari dari hukuman dan azab Allah ‘azza wa jalla. “وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ” Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan”. QS. Al-Anbiya’: 47. “يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ، لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ، لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ . الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ، إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ” Artinya: “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Kepunyaan siapakah kekuasaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang dilakukannya. Tidak ada yang dizalimi pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. QS. Ghofir (40): 16-17. Di pengadilan dunia Uang dapat membungkam Ketenaran berkuasa untuk mengurangi tuntutan Kepandaian lidah juga mampu untuk merubah Namun di pengadilan akhirat Uang sudah tak mempan Ketenaran laksana debu yang beterbangan Bersilat lidah pun hanya angan-angan Karena mulut tlah terkunci Tangan angkat bicara Kaki bersaksi Atas segala yang tlah terlaksana Semua terkuak Tak terlewatkan walau seberat debu pun Maka, Takutlah akan pengadilan akhirat…[2] Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah… Pengadilan akhirat begitu menegangkan. Salah satu bekal utama yang kita bawa saat itu adalah amal salih yang kita tabung dan kumpulkan sedikit demi sedikit saat ini. Adapun harta, jabatan, kedudukan, pangkat, keturunan, pengikut dan apapun yang dibanggakan di dunia ini, tidak akan berguna sama sekali saat itu. “يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ” Artinya: “Pada hari (akhirat) tidak akan bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih”. QS. Asy-Syua’râ’ (26): 88-89. Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya, dan merugilah orang-orang yang ringan timbangannya. “فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآَيَاتِنَا يَظْلِمُونَ” Artinya: ”Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami”. QS. Al-A’raf [7]: 8-9. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Pada hari itu, banyak orang yang merugi. Namun, di antara mereka yang merugi itu, ada yang amat sangat merugi, yakni orang-orang yang bangkrut. Siapakah orang-orang tersebut? Mereka adalah para pelaku dosa yang berupa pelanggaran hak sesama manusia. Kezaliman terhadap orang lain. Mencaci, menyakiti, dan memakan atau mengkorupsi harta sesama. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟”. قَالُوا: “الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ”. فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ؛ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit?”. Para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menimpali, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat, dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalannya dan diberikan kepada ini dan itu (yakni orang lain yang dia zalimi tersebut -pen). Apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim. Pada mulanya orang-orang tersebut merasa bangga dan takjub kepada dirinya, bahwa ia telah shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Namun mereka lupa atau pura-pura lupa, bahwa dalam waktu yang sama mereka juga melakukan dosa-dosa sosial dan moral. Amal kebaikan dan pahala yang dikumpulkannya dengan susah payah selama ini, harus terhapus dan habis untuk ‘membayar’ kejahatan yang dia lakukan. Bahkan juga masih harus menanggung dosa dari kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang yang telah dizaliminya semasa di dunia! Hadirin dan hadirat rahimakumullah Jika itu adalah nasib mereka yang memiliki amal salih cukup banyak, namun menzalimi satu, dua, tiga orang, bagaimanakah gerangan nasib mereka yang amal salihnya pas-pasan, atau bahkan seringkali minus, namun mereka menzalimi dua ratus juta penduduk Indonesia, dengan mengkorupsi uang mereka!? Andaikan orang-orang tersebut mau berfikir dan merenung… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011 [1] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 861). [2] http://tetapbersyukur.wordpress.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
11OctPengadilan AkhiratOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Islam telah mengajarkan bahwa perbuatan dan perilaku kita di dunia ada konsekuensinya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Ada penegakan hukum dan keadilan di dunia, sebagaimana ada penegakan hukum dan keadilan di akhirat. Walaupun realitanya antara keduanya ada perbedaan yang sangat jauh. Pengadilan Allah ta’ala di padang mahsyar nanti amatlah dahsyat dan maha adil. Adapun pengadilan manusia di dunia seringkali jauh dari potret ideal keadilan. Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati Setiap apa yang kita lakukan sekecil apapun, pasti akan ditulis oleh para malaikat yang mulia. Perkataan, perbuatan, pandangan, keputusan, prasangka, semuanya tidak terlewatkan oleh pena para malaikat. “مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ” Artinya: “Tiada suatu ucapan yang dia ucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir”. QS. Qaf: 18. “وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ، وَيَقُولُونَ: “يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا” وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا”. Artinya: “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar tercatat semuanya”. Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang jua pun”. QS. Al-Kahfi: 49. Perbuatan kita bukan hanya dicatat, namun juga akan diganjar sesuai dengan kadar, kualitas dan jenis yang kita lakukan. “فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ”. Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat debu, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat debu, niscaya dia pun akan melihat (balasan)nya”. QS. Az-Zalzalah: 7-8. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Bagaimanakah prosesi pertanggungjawaban kita di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak? Bagaimana pula gerangan pengadilan akhirat akan digelar? Berikut sekelumit gambaran tentang kejadian mengerikan itu: Kelak, setiap manusia akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah Yang Maha adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya. Tidak akan ditemani siapapun, walaupun ia orang terdekatnya sekalipun. Setiap manusia pada pengadilan akhirat nanti, tidak akan bisa menyewa pengacara, tidak pula didampingi keluarga, sanak saudara ataupun siapapun jua. Tak satupun di antara mereka yang dapat menolong kita sebagaimana halnya saat hidup di dunia. Setiap kita akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatan kita. “وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“. Artinya: “Pada hari kiamat, setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri”. QS Maryam [19]: 95. Saat itu, mulut kita akan dibungkam dan dikunci rapat. Jikalau pada pengadilan dunia, lisan kita bisa berbicara, bersilat lidah, berkelit atau bahkan bisa berdusta, maka pada pengadilan akhirat nanti mulut ini akan terdiam, kelu dan tak bisa berucap, kendati hanya sepatah kata. Sebaliknya seluruh anggota tubuh kita dipersilahkan untuk bersaksi. Mata, telinga, tangan, kaki, bahkan kulit, semuanya berbicara membeberkan dan membuka apa yang pernah kita lakukan di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”. Artinya: “Pada hari ini, Kami kunci mulut-mulut mereka, dan yang akan berbicara adalah tangan-tangan mereka, dan yang akan bersaksi adalah kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka kerjakan (dulu di dunia)”. QS. Yasin (36): 65. Bahkan bumi tempat kita berpijak pun tidak ketinggalan untuk melaporkan kepada Allah jalla wa ‘ala tentang apa yang kita lakukan di atasnya.[1] “يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا . بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا”. Artinya: “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya”. QS. Az-Zalzalah (99): 4-5. Keadilan hari itu akan dijunjung tinggi dan timbangan akan ditegakkan dengan sangat akurat. Tidak ada yang dapat berkelit, menyogok ataupun merubah keputusannya. Karena yang bertindak sebagai hakim di padang mahsyar nanti adalah Allah subhanahu wa ta’ala sendiri, Pencipta manusia dan alam semesta ini. Tidak akan ada lagi sogok menyogok, beking membeking, ngeles mengeles, kongkalikong maupun pasal-pasal karet, yang dapat ditafsirkan semau sendiri. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Selihai apapun manusia mempermainkan hukum di dunia, dan walaupun mereka sering lepas dari pengadilan dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan hukuman di pengadilan akhirat. Di dunia boleh saja mereka bisa terhindar dari sel penjara. Namun, di akhirat mustahil mereka bisa lari dari hukuman dan azab Allah ‘azza wa jalla. “وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ” Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan”. QS. Al-Anbiya’: 47. “يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ، لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ، لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ . الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ، إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ” Artinya: “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Kepunyaan siapakah kekuasaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang dilakukannya. Tidak ada yang dizalimi pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. QS. Ghofir (40): 16-17. Di pengadilan dunia Uang dapat membungkam Ketenaran berkuasa untuk mengurangi tuntutan Kepandaian lidah juga mampu untuk merubah Namun di pengadilan akhirat Uang sudah tak mempan Ketenaran laksana debu yang beterbangan Bersilat lidah pun hanya angan-angan Karena mulut tlah terkunci Tangan angkat bicara Kaki bersaksi Atas segala yang tlah terlaksana Semua terkuak Tak terlewatkan walau seberat debu pun Maka, Takutlah akan pengadilan akhirat…[2] Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah… Pengadilan akhirat begitu menegangkan. Salah satu bekal utama yang kita bawa saat itu adalah amal salih yang kita tabung dan kumpulkan sedikit demi sedikit saat ini. Adapun harta, jabatan, kedudukan, pangkat, keturunan, pengikut dan apapun yang dibanggakan di dunia ini, tidak akan berguna sama sekali saat itu. “يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ” Artinya: “Pada hari (akhirat) tidak akan bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih”. QS. Asy-Syua’râ’ (26): 88-89. Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya, dan merugilah orang-orang yang ringan timbangannya. “فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآَيَاتِنَا يَظْلِمُونَ” Artinya: ”Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami”. QS. Al-A’raf [7]: 8-9. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Pada hari itu, banyak orang yang merugi. Namun, di antara mereka yang merugi itu, ada yang amat sangat merugi, yakni orang-orang yang bangkrut. Siapakah orang-orang tersebut? Mereka adalah para pelaku dosa yang berupa pelanggaran hak sesama manusia. Kezaliman terhadap orang lain. Mencaci, menyakiti, dan memakan atau mengkorupsi harta sesama. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟”. قَالُوا: “الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ”. فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ؛ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit?”. Para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menimpali, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat, dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalannya dan diberikan kepada ini dan itu (yakni orang lain yang dia zalimi tersebut -pen). Apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim. Pada mulanya orang-orang tersebut merasa bangga dan takjub kepada dirinya, bahwa ia telah shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Namun mereka lupa atau pura-pura lupa, bahwa dalam waktu yang sama mereka juga melakukan dosa-dosa sosial dan moral. Amal kebaikan dan pahala yang dikumpulkannya dengan susah payah selama ini, harus terhapus dan habis untuk ‘membayar’ kejahatan yang dia lakukan. Bahkan juga masih harus menanggung dosa dari kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang yang telah dizaliminya semasa di dunia! Hadirin dan hadirat rahimakumullah Jika itu adalah nasib mereka yang memiliki amal salih cukup banyak, namun menzalimi satu, dua, tiga orang, bagaimanakah gerangan nasib mereka yang amal salihnya pas-pasan, atau bahkan seringkali minus, namun mereka menzalimi dua ratus juta penduduk Indonesia, dengan mengkorupsi uang mereka!? Andaikan orang-orang tersebut mau berfikir dan merenung… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011 [1] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 861). [2] http://tetapbersyukur.wordpress.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


11OctPengadilan AkhiratOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Islam telah mengajarkan bahwa perbuatan dan perilaku kita di dunia ada konsekuensinya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Ada penegakan hukum dan keadilan di dunia, sebagaimana ada penegakan hukum dan keadilan di akhirat. Walaupun realitanya antara keduanya ada perbedaan yang sangat jauh. Pengadilan Allah ta’ala di padang mahsyar nanti amatlah dahsyat dan maha adil. Adapun pengadilan manusia di dunia seringkali jauh dari potret ideal keadilan. Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati Setiap apa yang kita lakukan sekecil apapun, pasti akan ditulis oleh para malaikat yang mulia. Perkataan, perbuatan, pandangan, keputusan, prasangka, semuanya tidak terlewatkan oleh pena para malaikat. “مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ” Artinya: “Tiada suatu ucapan yang dia ucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir”. QS. Qaf: 18. “وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ، وَيَقُولُونَ: “يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا” وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا”. Artinya: “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar tercatat semuanya”. Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang jua pun”. QS. Al-Kahfi: 49. Perbuatan kita bukan hanya dicatat, namun juga akan diganjar sesuai dengan kadar, kualitas dan jenis yang kita lakukan. “فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ”. Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat debu, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat debu, niscaya dia pun akan melihat (balasan)nya”. QS. Az-Zalzalah: 7-8. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Bagaimanakah prosesi pertanggungjawaban kita di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak? Bagaimana pula gerangan pengadilan akhirat akan digelar? Berikut sekelumit gambaran tentang kejadian mengerikan itu: Kelak, setiap manusia akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah Yang Maha adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya. Tidak akan ditemani siapapun, walaupun ia orang terdekatnya sekalipun. Setiap manusia pada pengadilan akhirat nanti, tidak akan bisa menyewa pengacara, tidak pula didampingi keluarga, sanak saudara ataupun siapapun jua. Tak satupun di antara mereka yang dapat menolong kita sebagaimana halnya saat hidup di dunia. Setiap kita akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatan kita. “وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“. Artinya: “Pada hari kiamat, setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri”. QS Maryam [19]: 95. Saat itu, mulut kita akan dibungkam dan dikunci rapat. Jikalau pada pengadilan dunia, lisan kita bisa berbicara, bersilat lidah, berkelit atau bahkan bisa berdusta, maka pada pengadilan akhirat nanti mulut ini akan terdiam, kelu dan tak bisa berucap, kendati hanya sepatah kata. Sebaliknya seluruh anggota tubuh kita dipersilahkan untuk bersaksi. Mata, telinga, tangan, kaki, bahkan kulit, semuanya berbicara membeberkan dan membuka apa yang pernah kita lakukan di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”. Artinya: “Pada hari ini, Kami kunci mulut-mulut mereka, dan yang akan berbicara adalah tangan-tangan mereka, dan yang akan bersaksi adalah kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka kerjakan (dulu di dunia)”. QS. Yasin (36): 65. Bahkan bumi tempat kita berpijak pun tidak ketinggalan untuk melaporkan kepada Allah jalla wa ‘ala tentang apa yang kita lakukan di atasnya.[1] “يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا . بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا”. Artinya: “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya”. QS. Az-Zalzalah (99): 4-5. Keadilan hari itu akan dijunjung tinggi dan timbangan akan ditegakkan dengan sangat akurat. Tidak ada yang dapat berkelit, menyogok ataupun merubah keputusannya. Karena yang bertindak sebagai hakim di padang mahsyar nanti adalah Allah subhanahu wa ta’ala sendiri, Pencipta manusia dan alam semesta ini. Tidak akan ada lagi sogok menyogok, beking membeking, ngeles mengeles, kongkalikong maupun pasal-pasal karet, yang dapat ditafsirkan semau sendiri. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Selihai apapun manusia mempermainkan hukum di dunia, dan walaupun mereka sering lepas dari pengadilan dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan hukuman di pengadilan akhirat. Di dunia boleh saja mereka bisa terhindar dari sel penjara. Namun, di akhirat mustahil mereka bisa lari dari hukuman dan azab Allah ‘azza wa jalla. “وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ” Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan”. QS. Al-Anbiya’: 47. “يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ، لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ، لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ . الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ، إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ” Artinya: “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Kepunyaan siapakah kekuasaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang dilakukannya. Tidak ada yang dizalimi pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. QS. Ghofir (40): 16-17. Di pengadilan dunia Uang dapat membungkam Ketenaran berkuasa untuk mengurangi tuntutan Kepandaian lidah juga mampu untuk merubah Namun di pengadilan akhirat Uang sudah tak mempan Ketenaran laksana debu yang beterbangan Bersilat lidah pun hanya angan-angan Karena mulut tlah terkunci Tangan angkat bicara Kaki bersaksi Atas segala yang tlah terlaksana Semua terkuak Tak terlewatkan walau seberat debu pun Maka, Takutlah akan pengadilan akhirat…[2] Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah… Pengadilan akhirat begitu menegangkan. Salah satu bekal utama yang kita bawa saat itu adalah amal salih yang kita tabung dan kumpulkan sedikit demi sedikit saat ini. Adapun harta, jabatan, kedudukan, pangkat, keturunan, pengikut dan apapun yang dibanggakan di dunia ini, tidak akan berguna sama sekali saat itu. “يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ” Artinya: “Pada hari (akhirat) tidak akan bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih”. QS. Asy-Syua’râ’ (26): 88-89. Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya, dan merugilah orang-orang yang ringan timbangannya. “فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآَيَاتِنَا يَظْلِمُونَ” Artinya: ”Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami”. QS. Al-A’raf [7]: 8-9. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Pada hari itu, banyak orang yang merugi. Namun, di antara mereka yang merugi itu, ada yang amat sangat merugi, yakni orang-orang yang bangkrut. Siapakah orang-orang tersebut? Mereka adalah para pelaku dosa yang berupa pelanggaran hak sesama manusia. Kezaliman terhadap orang lain. Mencaci, menyakiti, dan memakan atau mengkorupsi harta sesama. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟”. قَالُوا: “الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ”. فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ؛ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit?”. Para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menimpali, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat, dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalannya dan diberikan kepada ini dan itu (yakni orang lain yang dia zalimi tersebut -pen). Apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim. Pada mulanya orang-orang tersebut merasa bangga dan takjub kepada dirinya, bahwa ia telah shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Namun mereka lupa atau pura-pura lupa, bahwa dalam waktu yang sama mereka juga melakukan dosa-dosa sosial dan moral. Amal kebaikan dan pahala yang dikumpulkannya dengan susah payah selama ini, harus terhapus dan habis untuk ‘membayar’ kejahatan yang dia lakukan. Bahkan juga masih harus menanggung dosa dari kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang yang telah dizaliminya semasa di dunia! Hadirin dan hadirat rahimakumullah Jika itu adalah nasib mereka yang memiliki amal salih cukup banyak, namun menzalimi satu, dua, tiga orang, bagaimanakah gerangan nasib mereka yang amal salihnya pas-pasan, atau bahkan seringkali minus, namun mereka menzalimi dua ratus juta penduduk Indonesia, dengan mengkorupsi uang mereka!? Andaikan orang-orang tersebut mau berfikir dan merenung… هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011 [1] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 861). [2] http://tetapbersyukur.wordpress.com PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Malu, Mutiara yang Semakin Pudar

11OctMalu, Mutiara yang Semakin PudarOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA[1] Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012   KHUTBAH PERTAMA: الحمد لله ذي الفضل والإحسان، الذي جعل الحياء شعبة من شعب الإيمان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، يسأله من في السماوات والأرض، كل يوم هو في شأن. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, عن عَطَاءٍ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: “أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟” قُلْتُ: “بَلَى!” قَالَ: “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي!”. قَالَ: “إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ”. فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ” فَقَالَتْ: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ”، فَدَعَا لَهَا”. Atha’ bin Abi Rabah bertutur, suatu saat Ibnu Abbas berkata padaku,“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Tentu”. Beliau berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau berkenan, bersabarlah niscaya engkau mendapatkan surga. Namun jika engkau menghendaki, maka aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar”. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, maka tolong doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Nabi pun mendoakannya.” HR. Bukhari dan Muslim. Subhanallah, alangkah mulia kedudukan yang berhasil diraih wanita itu? Apakah gerangan amalan yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga? Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam? Tidak! Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam legam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam. Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah, yang menghantarkan dia kepada kedudukan mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya dan rasa malunya, seorang wanita yang buruk rupa di mata para manusia, pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga. Ya, karena rasa malu yang tertanam kuat di dalam hatinya! Malu dari apa? Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap saat penyakitku kambuh. Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Kaum muslimin, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang menjijikkan. Tapi, lihatlah perkataan wanita hitam itu. Apakah ada satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh. Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita untuk menutup auratnya dan ia berusaha sekuat tenaga melaksanakannya, meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita salihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup aurat. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang, yang di saat sehat pun, dengan rela hati membuka auratnya? Alih-alih merasa malu manakala dilihat para lelaki, justru ia semakin bangga manakala pria yang memelototinya bertambah banyak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.. Seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin supaya auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin agar kehormatannya sebagai seorang muslimah tetap terjaga. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Begitulah sekelumit tentang kekuatan positif sifat malu dan pengaruh baiknya. Sifat malu termasuk di antara sifat terpuji yang amat disayangkan sudah ditinggalkan banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang memilikinya. Juga membentengi dirinya agar tidak terjerumus kepada perilaku buruk. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر “Sesungguhnya rasa malu itu tidak lain, hanya akan mendatangkan kebaikan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengkritik saudaranya yang pemalu. Maka beliau pun menegurnya seraya berkata, دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud. Beberapa hadits di atas menunjukkan, bahwa malu bukanlah suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat yang terpuji. Sidang Jum’at yang berbahagia… Rasa malu itu ada dua, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah ta’ala maksudnya, adalah merasa malu dilihat Allah saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكَ ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. “Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah!”. Para sahabat menyahuti, “Alhamdulillah, kami telah memiliki sifat malu, wahai Rasulullah!”. Beliau menimpali, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi perasaan malu yang hakiki kepada Allah, adalah manakala engkau menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan terus mengingat kematian. Orang yang merindukan akhirat, pasti dia akan meninggalkan keindahan dunia. Barang siapa mempraktekkan ini berarti ia telah dikategorikan benar-benar merasa malu kepada Allah”. HR. Tirmidzy dari Ibnu Mas’ud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Orang yang merasa malu kepada Allah, dia akan menjauhi semua larangan-Nya dalam segala kondisi. Baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullah (mengenal Allah). Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allah. Rasa malu yang timbul karena sadar bahwa Allah itu Maha Mengetahui seluruh perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam tingkat keimanan tertinggi, yakni ihsan. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Di samping rasa malu kepada Allah ta’ala, kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, juru gunjing dan berbagai tindak maksiat lainnya yang nampak. Singkat kata, rasa malu kepada Allah akan mencegah seseorang dari keburukan batin, sedangkan malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin. Dia akan tetap baik ketika sendiri, maupun di tengah khalayak umum. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam dirinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat sekehendaknya sendiri, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hati. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Sesungguhnya di antara ungkapan kenabian pertama yang diketahui para manusia ialah, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan, apakah itu etis atau tidak? Hidup semaunya sendiri. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Itulah sekelumit tentang urgensi sifat malu dalam kehidupan manusia. Lalu, bagaimana dengan realita banyak manusia di zaman ini? Ternyata tidak sedikit di antara mereka, yang telah mencampakkan rasa malu sampai ke akar-akarnya, seakan tidak tersisa secuilpun di dalam hatinya. Sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana. Aurat yang mestinya ditutup, justru dipertontonkan dan diumbar di depan khalayak ramai. Sorot mata jalang yang seharusnya membuat risih dan malu, justru semakin menimbulkan rasa bangga. Perbuatan amoral dilakukan terang-terangan di media informasi, cetak maupun elektronik. Rasa cemburu pada pasangan sirna bak tak tersisa. Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan, bahkan diusahakan mati-matian untuk dilegalkan. Ketika ini dipermasalahkan, malah banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, namun inilah realita yang ada. Di manakah rasa malu, dari pejabat yang mendapatkan amanah untuk mengayomi rakyatnya, justru ia menghisap harta mereka dengan perbuatan korupsi dan kolusi? Di manakah rasa malu, dari pedagang yang mengurangi takaran dan timbangan, serta bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya? Di manakah rasa malu, dari para orang kaya yang menyerobot jatah orang miskin? Manakala merasa iri dengan jatah raskin yang diterima kaum papa, sehingga ia pun menuntut untuk mendapatkan jatah serupa. Sehingga orang-orang lemah yang seharusnya perbulan menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja! Di manakah rasa malu, dari seorang pelajar yang berbuat curang dalam ujian, demi mengejar fatamorgana nilai palsu? Benarlah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas, إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, dan rasa malu yang bisa mendorong dia untuk melakukan kebaikan. Adapun rasa malu yang menghalangi seseorang dari amal salih, maka itu merupakan jenis malu yang tercela. Seperti malu untuk berjilbab, malu untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, malu untuk bertutur kata jujur, malu untuk bertanya tentang permasalahan agama, malu untuk menyuarakan kebenaran, malu untuk menghadiri majlis taklim, malu untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan yang semisal. Seluruh ini adalah jenis malu yang tercela. Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah berharga dari Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan la’natullah. Semoga Allah berkenan mengaruniakan pada kita rasa malu yang terpuji, dan menghindarkan kita dari rasa malu yang tercela, amien. ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012 [1] Hasil modifikasi dari makalah berjudul “Wanita Penghuni Surga Itu” tulisan Ummu Rumman Siti Fatimah yang dimuat dalam website muslimah.or.id dan khutbah Jum’at berjudul “Esensi Malu dalam Kehidupan” yang dimuat dalam Majalah as-Sunnah edisi 09/Thn. XIV (hal. 62-64), dengan beberapa tambahan dan perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Malu, Mutiara yang Semakin Pudar

11OctMalu, Mutiara yang Semakin PudarOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA[1] Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012   KHUTBAH PERTAMA: الحمد لله ذي الفضل والإحسان، الذي جعل الحياء شعبة من شعب الإيمان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، يسأله من في السماوات والأرض، كل يوم هو في شأن. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, عن عَطَاءٍ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: “أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟” قُلْتُ: “بَلَى!” قَالَ: “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي!”. قَالَ: “إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ”. فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ” فَقَالَتْ: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ”، فَدَعَا لَهَا”. Atha’ bin Abi Rabah bertutur, suatu saat Ibnu Abbas berkata padaku,“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Tentu”. Beliau berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau berkenan, bersabarlah niscaya engkau mendapatkan surga. Namun jika engkau menghendaki, maka aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar”. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, maka tolong doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Nabi pun mendoakannya.” HR. Bukhari dan Muslim. Subhanallah, alangkah mulia kedudukan yang berhasil diraih wanita itu? Apakah gerangan amalan yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga? Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam? Tidak! Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam legam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam. Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah, yang menghantarkan dia kepada kedudukan mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya dan rasa malunya, seorang wanita yang buruk rupa di mata para manusia, pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga. Ya, karena rasa malu yang tertanam kuat di dalam hatinya! Malu dari apa? Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap saat penyakitku kambuh. Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Kaum muslimin, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang menjijikkan. Tapi, lihatlah perkataan wanita hitam itu. Apakah ada satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh. Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita untuk menutup auratnya dan ia berusaha sekuat tenaga melaksanakannya, meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita salihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup aurat. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang, yang di saat sehat pun, dengan rela hati membuka auratnya? Alih-alih merasa malu manakala dilihat para lelaki, justru ia semakin bangga manakala pria yang memelototinya bertambah banyak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.. Seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin supaya auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin agar kehormatannya sebagai seorang muslimah tetap terjaga. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Begitulah sekelumit tentang kekuatan positif sifat malu dan pengaruh baiknya. Sifat malu termasuk di antara sifat terpuji yang amat disayangkan sudah ditinggalkan banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang memilikinya. Juga membentengi dirinya agar tidak terjerumus kepada perilaku buruk. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر “Sesungguhnya rasa malu itu tidak lain, hanya akan mendatangkan kebaikan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengkritik saudaranya yang pemalu. Maka beliau pun menegurnya seraya berkata, دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud. Beberapa hadits di atas menunjukkan, bahwa malu bukanlah suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat yang terpuji. Sidang Jum’at yang berbahagia… Rasa malu itu ada dua, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah ta’ala maksudnya, adalah merasa malu dilihat Allah saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكَ ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. “Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah!”. Para sahabat menyahuti, “Alhamdulillah, kami telah memiliki sifat malu, wahai Rasulullah!”. Beliau menimpali, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi perasaan malu yang hakiki kepada Allah, adalah manakala engkau menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan terus mengingat kematian. Orang yang merindukan akhirat, pasti dia akan meninggalkan keindahan dunia. Barang siapa mempraktekkan ini berarti ia telah dikategorikan benar-benar merasa malu kepada Allah”. HR. Tirmidzy dari Ibnu Mas’ud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Orang yang merasa malu kepada Allah, dia akan menjauhi semua larangan-Nya dalam segala kondisi. Baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullah (mengenal Allah). Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allah. Rasa malu yang timbul karena sadar bahwa Allah itu Maha Mengetahui seluruh perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam tingkat keimanan tertinggi, yakni ihsan. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Di samping rasa malu kepada Allah ta’ala, kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, juru gunjing dan berbagai tindak maksiat lainnya yang nampak. Singkat kata, rasa malu kepada Allah akan mencegah seseorang dari keburukan batin, sedangkan malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin. Dia akan tetap baik ketika sendiri, maupun di tengah khalayak umum. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam dirinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat sekehendaknya sendiri, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hati. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Sesungguhnya di antara ungkapan kenabian pertama yang diketahui para manusia ialah, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan, apakah itu etis atau tidak? Hidup semaunya sendiri. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Itulah sekelumit tentang urgensi sifat malu dalam kehidupan manusia. Lalu, bagaimana dengan realita banyak manusia di zaman ini? Ternyata tidak sedikit di antara mereka, yang telah mencampakkan rasa malu sampai ke akar-akarnya, seakan tidak tersisa secuilpun di dalam hatinya. Sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana. Aurat yang mestinya ditutup, justru dipertontonkan dan diumbar di depan khalayak ramai. Sorot mata jalang yang seharusnya membuat risih dan malu, justru semakin menimbulkan rasa bangga. Perbuatan amoral dilakukan terang-terangan di media informasi, cetak maupun elektronik. Rasa cemburu pada pasangan sirna bak tak tersisa. Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan, bahkan diusahakan mati-matian untuk dilegalkan. Ketika ini dipermasalahkan, malah banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, namun inilah realita yang ada. Di manakah rasa malu, dari pejabat yang mendapatkan amanah untuk mengayomi rakyatnya, justru ia menghisap harta mereka dengan perbuatan korupsi dan kolusi? Di manakah rasa malu, dari pedagang yang mengurangi takaran dan timbangan, serta bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya? Di manakah rasa malu, dari para orang kaya yang menyerobot jatah orang miskin? Manakala merasa iri dengan jatah raskin yang diterima kaum papa, sehingga ia pun menuntut untuk mendapatkan jatah serupa. Sehingga orang-orang lemah yang seharusnya perbulan menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja! Di manakah rasa malu, dari seorang pelajar yang berbuat curang dalam ujian, demi mengejar fatamorgana nilai palsu? Benarlah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas, إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, dan rasa malu yang bisa mendorong dia untuk melakukan kebaikan. Adapun rasa malu yang menghalangi seseorang dari amal salih, maka itu merupakan jenis malu yang tercela. Seperti malu untuk berjilbab, malu untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, malu untuk bertutur kata jujur, malu untuk bertanya tentang permasalahan agama, malu untuk menyuarakan kebenaran, malu untuk menghadiri majlis taklim, malu untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan yang semisal. Seluruh ini adalah jenis malu yang tercela. Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah berharga dari Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan la’natullah. Semoga Allah berkenan mengaruniakan pada kita rasa malu yang terpuji, dan menghindarkan kita dari rasa malu yang tercela, amien. ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012 [1] Hasil modifikasi dari makalah berjudul “Wanita Penghuni Surga Itu” tulisan Ummu Rumman Siti Fatimah yang dimuat dalam website muslimah.or.id dan khutbah Jum’at berjudul “Esensi Malu dalam Kehidupan” yang dimuat dalam Majalah as-Sunnah edisi 09/Thn. XIV (hal. 62-64), dengan beberapa tambahan dan perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
11OctMalu, Mutiara yang Semakin PudarOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA[1] Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012   KHUTBAH PERTAMA: الحمد لله ذي الفضل والإحسان، الذي جعل الحياء شعبة من شعب الإيمان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، يسأله من في السماوات والأرض، كل يوم هو في شأن. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, عن عَطَاءٍ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: “أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟” قُلْتُ: “بَلَى!” قَالَ: “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي!”. قَالَ: “إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ”. فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ” فَقَالَتْ: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ”، فَدَعَا لَهَا”. Atha’ bin Abi Rabah bertutur, suatu saat Ibnu Abbas berkata padaku,“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Tentu”. Beliau berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau berkenan, bersabarlah niscaya engkau mendapatkan surga. Namun jika engkau menghendaki, maka aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar”. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, maka tolong doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Nabi pun mendoakannya.” HR. Bukhari dan Muslim. Subhanallah, alangkah mulia kedudukan yang berhasil diraih wanita itu? Apakah gerangan amalan yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga? Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam? Tidak! Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam legam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam. Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah, yang menghantarkan dia kepada kedudukan mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya dan rasa malunya, seorang wanita yang buruk rupa di mata para manusia, pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga. Ya, karena rasa malu yang tertanam kuat di dalam hatinya! Malu dari apa? Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap saat penyakitku kambuh. Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Kaum muslimin, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang menjijikkan. Tapi, lihatlah perkataan wanita hitam itu. Apakah ada satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh. Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita untuk menutup auratnya dan ia berusaha sekuat tenaga melaksanakannya, meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita salihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup aurat. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang, yang di saat sehat pun, dengan rela hati membuka auratnya? Alih-alih merasa malu manakala dilihat para lelaki, justru ia semakin bangga manakala pria yang memelototinya bertambah banyak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.. Seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin supaya auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin agar kehormatannya sebagai seorang muslimah tetap terjaga. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Begitulah sekelumit tentang kekuatan positif sifat malu dan pengaruh baiknya. Sifat malu termasuk di antara sifat terpuji yang amat disayangkan sudah ditinggalkan banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang memilikinya. Juga membentengi dirinya agar tidak terjerumus kepada perilaku buruk. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر “Sesungguhnya rasa malu itu tidak lain, hanya akan mendatangkan kebaikan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengkritik saudaranya yang pemalu. Maka beliau pun menegurnya seraya berkata, دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud. Beberapa hadits di atas menunjukkan, bahwa malu bukanlah suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat yang terpuji. Sidang Jum’at yang berbahagia… Rasa malu itu ada dua, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah ta’ala maksudnya, adalah merasa malu dilihat Allah saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكَ ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. “Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah!”. Para sahabat menyahuti, “Alhamdulillah, kami telah memiliki sifat malu, wahai Rasulullah!”. Beliau menimpali, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi perasaan malu yang hakiki kepada Allah, adalah manakala engkau menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan terus mengingat kematian. Orang yang merindukan akhirat, pasti dia akan meninggalkan keindahan dunia. Barang siapa mempraktekkan ini berarti ia telah dikategorikan benar-benar merasa malu kepada Allah”. HR. Tirmidzy dari Ibnu Mas’ud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Orang yang merasa malu kepada Allah, dia akan menjauhi semua larangan-Nya dalam segala kondisi. Baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullah (mengenal Allah). Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allah. Rasa malu yang timbul karena sadar bahwa Allah itu Maha Mengetahui seluruh perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam tingkat keimanan tertinggi, yakni ihsan. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Di samping rasa malu kepada Allah ta’ala, kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, juru gunjing dan berbagai tindak maksiat lainnya yang nampak. Singkat kata, rasa malu kepada Allah akan mencegah seseorang dari keburukan batin, sedangkan malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin. Dia akan tetap baik ketika sendiri, maupun di tengah khalayak umum. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam dirinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat sekehendaknya sendiri, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hati. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Sesungguhnya di antara ungkapan kenabian pertama yang diketahui para manusia ialah, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan, apakah itu etis atau tidak? Hidup semaunya sendiri. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Itulah sekelumit tentang urgensi sifat malu dalam kehidupan manusia. Lalu, bagaimana dengan realita banyak manusia di zaman ini? Ternyata tidak sedikit di antara mereka, yang telah mencampakkan rasa malu sampai ke akar-akarnya, seakan tidak tersisa secuilpun di dalam hatinya. Sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana. Aurat yang mestinya ditutup, justru dipertontonkan dan diumbar di depan khalayak ramai. Sorot mata jalang yang seharusnya membuat risih dan malu, justru semakin menimbulkan rasa bangga. Perbuatan amoral dilakukan terang-terangan di media informasi, cetak maupun elektronik. Rasa cemburu pada pasangan sirna bak tak tersisa. Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan, bahkan diusahakan mati-matian untuk dilegalkan. Ketika ini dipermasalahkan, malah banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, namun inilah realita yang ada. Di manakah rasa malu, dari pejabat yang mendapatkan amanah untuk mengayomi rakyatnya, justru ia menghisap harta mereka dengan perbuatan korupsi dan kolusi? Di manakah rasa malu, dari pedagang yang mengurangi takaran dan timbangan, serta bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya? Di manakah rasa malu, dari para orang kaya yang menyerobot jatah orang miskin? Manakala merasa iri dengan jatah raskin yang diterima kaum papa, sehingga ia pun menuntut untuk mendapatkan jatah serupa. Sehingga orang-orang lemah yang seharusnya perbulan menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja! Di manakah rasa malu, dari seorang pelajar yang berbuat curang dalam ujian, demi mengejar fatamorgana nilai palsu? Benarlah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas, إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, dan rasa malu yang bisa mendorong dia untuk melakukan kebaikan. Adapun rasa malu yang menghalangi seseorang dari amal salih, maka itu merupakan jenis malu yang tercela. Seperti malu untuk berjilbab, malu untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, malu untuk bertutur kata jujur, malu untuk bertanya tentang permasalahan agama, malu untuk menyuarakan kebenaran, malu untuk menghadiri majlis taklim, malu untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan yang semisal. Seluruh ini adalah jenis malu yang tercela. Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah berharga dari Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan la’natullah. Semoga Allah berkenan mengaruniakan pada kita rasa malu yang terpuji, dan menghindarkan kita dari rasa malu yang tercela, amien. ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012 [1] Hasil modifikasi dari makalah berjudul “Wanita Penghuni Surga Itu” tulisan Ummu Rumman Siti Fatimah yang dimuat dalam website muslimah.or.id dan khutbah Jum’at berjudul “Esensi Malu dalam Kehidupan” yang dimuat dalam Majalah as-Sunnah edisi 09/Thn. XIV (hal. 62-64), dengan beberapa tambahan dan perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


11OctMalu, Mutiara yang Semakin PudarOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA[1] Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012   KHUTBAH PERTAMA: الحمد لله ذي الفضل والإحسان، الذي جعل الحياء شعبة من شعب الإيمان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، يسأله من في السماوات والأرض، كل يوم هو في شأن. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, عن عَطَاءٍ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: “أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟” قُلْتُ: “بَلَى!” قَالَ: “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي!”. قَالَ: “إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ”. فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ” فَقَالَتْ: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ”، فَدَعَا لَهَا”. Atha’ bin Abi Rabah bertutur, suatu saat Ibnu Abbas berkata padaku,“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Tentu”. Beliau berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau berkenan, bersabarlah niscaya engkau mendapatkan surga. Namun jika engkau menghendaki, maka aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar”. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, maka tolong doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Nabi pun mendoakannya.” HR. Bukhari dan Muslim. Subhanallah, alangkah mulia kedudukan yang berhasil diraih wanita itu? Apakah gerangan amalan yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga? Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam? Tidak! Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam legam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam. Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah, yang menghantarkan dia kepada kedudukan mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya dan rasa malunya, seorang wanita yang buruk rupa di mata para manusia, pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga. Ya, karena rasa malu yang tertanam kuat di dalam hatinya! Malu dari apa? Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap saat penyakitku kambuh. Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.” Kaum muslimin, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang menjijikkan. Tapi, lihatlah perkataan wanita hitam itu. Apakah ada satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh. Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita untuk menutup auratnya dan ia berusaha sekuat tenaga melaksanakannya, meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita salihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup aurat. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang, yang di saat sehat pun, dengan rela hati membuka auratnya? Alih-alih merasa malu manakala dilihat para lelaki, justru ia semakin bangga manakala pria yang memelototinya bertambah banyak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.. Seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin supaya auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin agar kehormatannya sebagai seorang muslimah tetap terjaga. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Begitulah sekelumit tentang kekuatan positif sifat malu dan pengaruh baiknya. Sifat malu termasuk di antara sifat terpuji yang amat disayangkan sudah ditinggalkan banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang memilikinya. Juga membentengi dirinya agar tidak terjerumus kepada perilaku buruk. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر “Sesungguhnya rasa malu itu tidak lain, hanya akan mendatangkan kebaikan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengkritik saudaranya yang pemalu. Maka beliau pun menegurnya seraya berkata, دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud. Beberapa hadits di atas menunjukkan, bahwa malu bukanlah suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat yang terpuji. Sidang Jum’at yang berbahagia… Rasa malu itu ada dua, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah ta’ala maksudnya, adalah merasa malu dilihat Allah saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكَ ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. “Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah!”. Para sahabat menyahuti, “Alhamdulillah, kami telah memiliki sifat malu, wahai Rasulullah!”. Beliau menimpali, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi perasaan malu yang hakiki kepada Allah, adalah manakala engkau menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan terus mengingat kematian. Orang yang merindukan akhirat, pasti dia akan meninggalkan keindahan dunia. Barang siapa mempraktekkan ini berarti ia telah dikategorikan benar-benar merasa malu kepada Allah”. HR. Tirmidzy dari Ibnu Mas’ud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Orang yang merasa malu kepada Allah, dia akan menjauhi semua larangan-Nya dalam segala kondisi. Baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullah (mengenal Allah). Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allah. Rasa malu yang timbul karena sadar bahwa Allah itu Maha Mengetahui seluruh perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam tingkat keimanan tertinggi, yakni ihsan. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Di samping rasa malu kepada Allah ta’ala, kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, juru gunjing dan berbagai tindak maksiat lainnya yang nampak. Singkat kata, rasa malu kepada Allah akan mencegah seseorang dari keburukan batin, sedangkan malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin. Dia akan tetap baik ketika sendiri, maupun di tengah khalayak umum. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam dirinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat sekehendaknya sendiri, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hati. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Sesungguhnya di antara ungkapan kenabian pertama yang diketahui para manusia ialah, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan, apakah itu etis atau tidak? Hidup semaunya sendiri. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Itulah sekelumit tentang urgensi sifat malu dalam kehidupan manusia. Lalu, bagaimana dengan realita banyak manusia di zaman ini? Ternyata tidak sedikit di antara mereka, yang telah mencampakkan rasa malu sampai ke akar-akarnya, seakan tidak tersisa secuilpun di dalam hatinya. Sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana. Aurat yang mestinya ditutup, justru dipertontonkan dan diumbar di depan khalayak ramai. Sorot mata jalang yang seharusnya membuat risih dan malu, justru semakin menimbulkan rasa bangga. Perbuatan amoral dilakukan terang-terangan di media informasi, cetak maupun elektronik. Rasa cemburu pada pasangan sirna bak tak tersisa. Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan, bahkan diusahakan mati-matian untuk dilegalkan. Ketika ini dipermasalahkan, malah banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, namun inilah realita yang ada. Di manakah rasa malu, dari pejabat yang mendapatkan amanah untuk mengayomi rakyatnya, justru ia menghisap harta mereka dengan perbuatan korupsi dan kolusi? Di manakah rasa malu, dari pedagang yang mengurangi takaran dan timbangan, serta bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya? Di manakah rasa malu, dari para orang kaya yang menyerobot jatah orang miskin? Manakala merasa iri dengan jatah raskin yang diterima kaum papa, sehingga ia pun menuntut untuk mendapatkan jatah serupa. Sehingga orang-orang lemah yang seharusnya perbulan menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja! Di manakah rasa malu, dari seorang pelajar yang berbuat curang dalam ujian, demi mengejar fatamorgana nilai palsu? Benarlah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas, إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, dan rasa malu yang bisa mendorong dia untuk melakukan kebaikan. Adapun rasa malu yang menghalangi seseorang dari amal salih, maka itu merupakan jenis malu yang tercela. Seperti malu untuk berjilbab, malu untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, malu untuk bertutur kata jujur, malu untuk bertanya tentang permasalahan agama, malu untuk menyuarakan kebenaran, malu untuk menghadiri majlis taklim, malu untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan yang semisal. Seluruh ini adalah jenis malu yang tercela. Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah berharga dari Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan la’natullah. Semoga Allah berkenan mengaruniakan pada kita rasa malu yang terpuji, dan menghindarkan kita dari rasa malu yang tercela, amien. ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012 [1] Hasil modifikasi dari makalah berjudul “Wanita Penghuni Surga Itu” tulisan Ummu Rumman Siti Fatimah yang dimuat dalam website muslimah.or.id dan khutbah Jum’at berjudul “Esensi Malu dalam Kehidupan” yang dimuat dalam Majalah as-Sunnah edisi 09/Thn. XIV (hal. 62-64), dengan beberapa tambahan dan perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Negeri Idaman

11OctNegeri IdamanOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 17 Agustus 2012   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… “Gemah ripah loh jinawi. Toto tentrem kerto raharjo”, begitulah orang tua kita dahulu mendeskripsikan negeri yang ideal. Kurang lebih maknanya, bahwa negeri idaman itu adalah negeri yang bertanah subur, adil, makmur, kaya dengan hasil buminya, tersusun rapi, damai dan sejahtera. Ungkapan tersebut mungkin dianggap sebagian kalangan cukup mewakili definisi negara yang ideal. Walaupun sebenarnya, sebagai seorang muslim, tentulah harus ditambahkan, bahkan diprioritaskan kriteria keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Untuk merealisasikan impian indah negeri idaman, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu adanya sinergi antara rakyat dan penguasa, serta harus ada keseimbangan antara pembangunan mental dan fisik negara. Tidak lupa taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah faktor mutlak penentu keberhasilan. Tanpa adanya itu semua, berbagai kriteria ideal tersebut di atas, hanya akan ada dalam mimpi, di negeri antah berantah. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Manusia terdiri dari dua bagian pokok; jasmani dan rohani atau tubuh dan hati. Kesempurnaan kesehatan seorang insan sangat tergantung kepada kesehatan kedua bagian pokok tersebut. Kesehatan hati seseorang akan membawa kepada kesehatan fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad akan baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah: hati”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Sebaliknya, kesehatan jasmani akan sangat membantu terbangunnya kesehatan rohani manusia. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ”. “Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan“. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara hal pokok yang perlu diperhatikan, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh dan hati, adalah pemberian makanan yang cukup dan baik. Supaya tubuh kita sehat perlu asupan gizi yang memadai. Begitupula agar hati ini sehat, ia perlu diberi makanan, berupa ilmu dan iman. Negara, sebagai wadah berkumpulnya sekian banyak manusia, juga dibangun di atas dua bagian pokok; fisik dan mental. Fisik antara lain diwakili oleh sarana dan prasarana, seperti bangunan gedung, jalan dan yang semisal. Adapun mental negara, terwakili oleh kepribadian para manusia yang hidup di negara tersebut. Keduanya harus mendapatkan porsi perhatian yang cukup, supaya negara menjadi kokoh dan kuat. Sebaliknya, ketimpangan antara pembangunan fisik dan mental hanya akan mengakibatkan kerapuhan yang berakhir kepada kehancuran sebuah negara. Walaupun barangkali pada awalnya, negara tersebut berpenampilan lahiriah yang lux dan wah! Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan, “وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ” Artinya: “Andaikan penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya”. QS. Al-A’raf (7): 96. Sidang Jum’at yang berbahagia… Pembangunan fisik pasar yang megah dan mall yang mewah, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para pedagang dan pemain ekonomi di dalamnya. Jika tidak, maka praktek kecurangan, riba, klenik, sumpah palsu dan seabreg perilaku buruk lainnya, pasti akan merajalela di pusat perdagangan tersebut. Karenanya, demi pembangunan mental para pelaku ekonomi, tidak jarang Rasulullah shallallahu’aihiwasallam melakukan ‘operasi pasar’ untuk melihat tingkat kejujuran mereka. Pernah Rasulullah shallallahu’aihiwasallam memasukkan tangan ke dalam onggokan gandum dan ternyata ditemuinya gandum yang bagian bawah basah, sementara si penjual gandum menghargainya dengan harga gandum kering yang bagus. Maka langsung Rasulullah shallallahu’aihiwasallam mengingatkan, “مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي” “Barang siapa menipu kami; maka bukan termasuk golonganku”. HR. Muslim. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Pembangunan sarana prasarana para penegak hukum, harus diikuti dengan pembangunan mental para punggawa keadilan. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah praktek tebang pilih dalam menangani kasus dan merebaknya mafia peradilan. Dari situlah bangsa akan hancur berkeping-keping. Pada zaman Rasul shallallahu’alaihwasallam dikisahkan, bahwa seorang wanita dari suku terpandang al-Makhzumiyah kedapatan mencuri. Tokoh-tokoh Quraisy kebingungan, karena wanita ini termasuk dari golongan bangsawan. Merekapun bermusyawarah, lalu mengutus Usamah bin Zaid, anak kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam, untuk menghadap kepada beliau. Meminta supaya si wanita itu diberi dinspensasi, dengan tidak dijatuhi hukuman potong tangan. Manakala mendengar paparan Usamah tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun marah besar, lalu bergegas naik mimbar dan berkhutbah, “إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ. وَايْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا”. “Sesungguhnya perilaku yang menghancurkan bangsa-bangsa sebelum kalian, adalah karena apabila yang mencuri itu orang terpandang, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika yang mencuri adalah rakyat kecil, maka hukuman diterapkan atasnya. Demi Allah, andaikan Fatimah putriku mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Pembangunan fisik jalan-jalan dan jembatan, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para kontraktor, pemborong dan semua yang punya tangan di situ. Jika tidak, maka anggaran proyek pekerjaan besar tersebut akan bocor di mana-mana. Akan terjadinya mark up dalam proyek, sebab yang menjadi target utama adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa peduli dengan kualitas pekerjaan. Sehingga muncul jalan-jalan yang bertahan hanya seumur jagung dan jembatan yang ambruk hanya dalam hitungan bulan. Padahal Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahaya uang haram, entah itu dinamakan fee kah, atau bonus kah, atau uang pelicin kah, dalam sabda beliau, “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”. “Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany. Begitu pula pembangunan fasilitas birokrasi, wajib diikuti dengan pembangunan mental para birokrat. Apabila tidak, niscaya yang akan tumbuh subur adalah mentalitas “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”. Kecenderungan untuk memelihara masalah, ketimbang menyelesaikannya. Juga maraknya tipe aparat yang ingin dilayani, ketimbang melayani masyarakat. Sehingga dalam setiap situasi selalu yang diperhitungkan adalah, “Saya dapat apa? Dan kamu wani piro?”. Tidakkah mereka merasa khawatir, dengan doa yang dilantunkan baginda Rasul shallallahu ’alaihiwasallam, “اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ. وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ” “Ya Allah, siapapun yang menangani urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka timpakanlah kesulitan padanya. Dan barang siapa menangani urusan umatku lalu ia memberikan kemudahan kepada mereka, maka mudahkanlah urusannya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Tidak mudah memang menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan mental, terlebih jika ketimpangan antara keduanya telah mengakar dan mengurat selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Namun jalan menuju cita-cita mulia tersebut akan terasa ringan insyaAllah, manakala kita berhasil menanamkan modal pondasi pertama dan utama dalam diri setiap anak bangsa. Yakni keimanan yang lurus dan akidah yang kokoh. Artinya: setiap insan harus merdeka dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jangan sampai mereka menghambakan diri kepada sesama manusia, atau makhluk lain. Sebab manusia adalah sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaan. “إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ” Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujurat: 13. Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia, yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, benda mati, maupun materi seperti harta dan kekuasaan. Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan berakidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Saat itulah anak bangsa memiliki mental yang kuat. Tugas yang tersisa tinggal memoles bagian-bagian lain dalam karakter dirinya. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, tindakan nyata apa gerangan yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan negeri impian tadi? Jawabannya, mari masing-masing dari kita berbuat sesuai dengan kapasitasnya. Para pejabat berusaha mengembangkan budaya ngaji di pos-pos pemerintahan, bukan cuma di bulan suci Ramadhan saja, namun selama hayat masih di kandung badan. Terus menerus tanpa henti menempa mental yang islami, dengan menghidupkan majlis taklim. Membentengi diri dari setan-setan yang bergentayangan tanpa lelah sepanjang tahun. Ingat, sebagaimana perut kita membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan asupan ‘gizi’ yang cukup! Para tenaga pendidik, berusahalah untuk mengajar murid-murid dengan hati nurani. Jangan targetnya hanya sekedar mengejar selesainya kurikulum pelajaran. Namun juga berusahalah untuk menanamkan karakter yang islami dalam diri anak didik. Dengan memberikan suri teladan yang baik dan menyuntikkan nasehat-nasehat yang menyejukkan, di dalam setiap materi pelajaran. Bukan hanya di pelajaran agama saja, yang kerap dianaktirikan di berbagai lembaga pendidikan, dengan diberikan jam yang amat sedikit. Padahal ia merupakan pondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter. Para orang tua, ketahuilah bahwa keluarga adalah miniatur sebuah negara. Untuk menciptakan negara yang baik, harus dimulai dari mewujudkan keluarga yang baik. Maka, wahai para bapak dan ibu, jikalau Anda mendidik putra-putri Anda dengan sebaik-baiknya, sejatinya Anda adalah pahlawan yang paling berjasa, dalam membangun negara yang mulia. Maka, jadilah pionir-pionir kebaikan! ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 16 Agustus 2012 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Negeri Idaman

11OctNegeri IdamanOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 17 Agustus 2012   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… “Gemah ripah loh jinawi. Toto tentrem kerto raharjo”, begitulah orang tua kita dahulu mendeskripsikan negeri yang ideal. Kurang lebih maknanya, bahwa negeri idaman itu adalah negeri yang bertanah subur, adil, makmur, kaya dengan hasil buminya, tersusun rapi, damai dan sejahtera. Ungkapan tersebut mungkin dianggap sebagian kalangan cukup mewakili definisi negara yang ideal. Walaupun sebenarnya, sebagai seorang muslim, tentulah harus ditambahkan, bahkan diprioritaskan kriteria keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Untuk merealisasikan impian indah negeri idaman, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu adanya sinergi antara rakyat dan penguasa, serta harus ada keseimbangan antara pembangunan mental dan fisik negara. Tidak lupa taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah faktor mutlak penentu keberhasilan. Tanpa adanya itu semua, berbagai kriteria ideal tersebut di atas, hanya akan ada dalam mimpi, di negeri antah berantah. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Manusia terdiri dari dua bagian pokok; jasmani dan rohani atau tubuh dan hati. Kesempurnaan kesehatan seorang insan sangat tergantung kepada kesehatan kedua bagian pokok tersebut. Kesehatan hati seseorang akan membawa kepada kesehatan fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad akan baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah: hati”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Sebaliknya, kesehatan jasmani akan sangat membantu terbangunnya kesehatan rohani manusia. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ”. “Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan“. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara hal pokok yang perlu diperhatikan, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh dan hati, adalah pemberian makanan yang cukup dan baik. Supaya tubuh kita sehat perlu asupan gizi yang memadai. Begitupula agar hati ini sehat, ia perlu diberi makanan, berupa ilmu dan iman. Negara, sebagai wadah berkumpulnya sekian banyak manusia, juga dibangun di atas dua bagian pokok; fisik dan mental. Fisik antara lain diwakili oleh sarana dan prasarana, seperti bangunan gedung, jalan dan yang semisal. Adapun mental negara, terwakili oleh kepribadian para manusia yang hidup di negara tersebut. Keduanya harus mendapatkan porsi perhatian yang cukup, supaya negara menjadi kokoh dan kuat. Sebaliknya, ketimpangan antara pembangunan fisik dan mental hanya akan mengakibatkan kerapuhan yang berakhir kepada kehancuran sebuah negara. Walaupun barangkali pada awalnya, negara tersebut berpenampilan lahiriah yang lux dan wah! Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan, “وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ” Artinya: “Andaikan penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya”. QS. Al-A’raf (7): 96. Sidang Jum’at yang berbahagia… Pembangunan fisik pasar yang megah dan mall yang mewah, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para pedagang dan pemain ekonomi di dalamnya. Jika tidak, maka praktek kecurangan, riba, klenik, sumpah palsu dan seabreg perilaku buruk lainnya, pasti akan merajalela di pusat perdagangan tersebut. Karenanya, demi pembangunan mental para pelaku ekonomi, tidak jarang Rasulullah shallallahu’aihiwasallam melakukan ‘operasi pasar’ untuk melihat tingkat kejujuran mereka. Pernah Rasulullah shallallahu’aihiwasallam memasukkan tangan ke dalam onggokan gandum dan ternyata ditemuinya gandum yang bagian bawah basah, sementara si penjual gandum menghargainya dengan harga gandum kering yang bagus. Maka langsung Rasulullah shallallahu’aihiwasallam mengingatkan, “مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي” “Barang siapa menipu kami; maka bukan termasuk golonganku”. HR. Muslim. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Pembangunan sarana prasarana para penegak hukum, harus diikuti dengan pembangunan mental para punggawa keadilan. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah praktek tebang pilih dalam menangani kasus dan merebaknya mafia peradilan. Dari situlah bangsa akan hancur berkeping-keping. Pada zaman Rasul shallallahu’alaihwasallam dikisahkan, bahwa seorang wanita dari suku terpandang al-Makhzumiyah kedapatan mencuri. Tokoh-tokoh Quraisy kebingungan, karena wanita ini termasuk dari golongan bangsawan. Merekapun bermusyawarah, lalu mengutus Usamah bin Zaid, anak kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam, untuk menghadap kepada beliau. Meminta supaya si wanita itu diberi dinspensasi, dengan tidak dijatuhi hukuman potong tangan. Manakala mendengar paparan Usamah tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun marah besar, lalu bergegas naik mimbar dan berkhutbah, “إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ. وَايْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا”. “Sesungguhnya perilaku yang menghancurkan bangsa-bangsa sebelum kalian, adalah karena apabila yang mencuri itu orang terpandang, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika yang mencuri adalah rakyat kecil, maka hukuman diterapkan atasnya. Demi Allah, andaikan Fatimah putriku mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Pembangunan fisik jalan-jalan dan jembatan, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para kontraktor, pemborong dan semua yang punya tangan di situ. Jika tidak, maka anggaran proyek pekerjaan besar tersebut akan bocor di mana-mana. Akan terjadinya mark up dalam proyek, sebab yang menjadi target utama adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa peduli dengan kualitas pekerjaan. Sehingga muncul jalan-jalan yang bertahan hanya seumur jagung dan jembatan yang ambruk hanya dalam hitungan bulan. Padahal Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahaya uang haram, entah itu dinamakan fee kah, atau bonus kah, atau uang pelicin kah, dalam sabda beliau, “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”. “Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany. Begitu pula pembangunan fasilitas birokrasi, wajib diikuti dengan pembangunan mental para birokrat. Apabila tidak, niscaya yang akan tumbuh subur adalah mentalitas “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”. Kecenderungan untuk memelihara masalah, ketimbang menyelesaikannya. Juga maraknya tipe aparat yang ingin dilayani, ketimbang melayani masyarakat. Sehingga dalam setiap situasi selalu yang diperhitungkan adalah, “Saya dapat apa? Dan kamu wani piro?”. Tidakkah mereka merasa khawatir, dengan doa yang dilantunkan baginda Rasul shallallahu ’alaihiwasallam, “اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ. وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ” “Ya Allah, siapapun yang menangani urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka timpakanlah kesulitan padanya. Dan barang siapa menangani urusan umatku lalu ia memberikan kemudahan kepada mereka, maka mudahkanlah urusannya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Tidak mudah memang menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan mental, terlebih jika ketimpangan antara keduanya telah mengakar dan mengurat selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Namun jalan menuju cita-cita mulia tersebut akan terasa ringan insyaAllah, manakala kita berhasil menanamkan modal pondasi pertama dan utama dalam diri setiap anak bangsa. Yakni keimanan yang lurus dan akidah yang kokoh. Artinya: setiap insan harus merdeka dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jangan sampai mereka menghambakan diri kepada sesama manusia, atau makhluk lain. Sebab manusia adalah sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaan. “إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ” Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujurat: 13. Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia, yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, benda mati, maupun materi seperti harta dan kekuasaan. Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan berakidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Saat itulah anak bangsa memiliki mental yang kuat. Tugas yang tersisa tinggal memoles bagian-bagian lain dalam karakter dirinya. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, tindakan nyata apa gerangan yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan negeri impian tadi? Jawabannya, mari masing-masing dari kita berbuat sesuai dengan kapasitasnya. Para pejabat berusaha mengembangkan budaya ngaji di pos-pos pemerintahan, bukan cuma di bulan suci Ramadhan saja, namun selama hayat masih di kandung badan. Terus menerus tanpa henti menempa mental yang islami, dengan menghidupkan majlis taklim. Membentengi diri dari setan-setan yang bergentayangan tanpa lelah sepanjang tahun. Ingat, sebagaimana perut kita membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan asupan ‘gizi’ yang cukup! Para tenaga pendidik, berusahalah untuk mengajar murid-murid dengan hati nurani. Jangan targetnya hanya sekedar mengejar selesainya kurikulum pelajaran. Namun juga berusahalah untuk menanamkan karakter yang islami dalam diri anak didik. Dengan memberikan suri teladan yang baik dan menyuntikkan nasehat-nasehat yang menyejukkan, di dalam setiap materi pelajaran. Bukan hanya di pelajaran agama saja, yang kerap dianaktirikan di berbagai lembaga pendidikan, dengan diberikan jam yang amat sedikit. Padahal ia merupakan pondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter. Para orang tua, ketahuilah bahwa keluarga adalah miniatur sebuah negara. Untuk menciptakan negara yang baik, harus dimulai dari mewujudkan keluarga yang baik. Maka, wahai para bapak dan ibu, jikalau Anda mendidik putra-putri Anda dengan sebaik-baiknya, sejatinya Anda adalah pahlawan yang paling berjasa, dalam membangun negara yang mulia. Maka, jadilah pionir-pionir kebaikan! ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 16 Agustus 2012 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
11OctNegeri IdamanOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 17 Agustus 2012   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… “Gemah ripah loh jinawi. Toto tentrem kerto raharjo”, begitulah orang tua kita dahulu mendeskripsikan negeri yang ideal. Kurang lebih maknanya, bahwa negeri idaman itu adalah negeri yang bertanah subur, adil, makmur, kaya dengan hasil buminya, tersusun rapi, damai dan sejahtera. Ungkapan tersebut mungkin dianggap sebagian kalangan cukup mewakili definisi negara yang ideal. Walaupun sebenarnya, sebagai seorang muslim, tentulah harus ditambahkan, bahkan diprioritaskan kriteria keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Untuk merealisasikan impian indah negeri idaman, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu adanya sinergi antara rakyat dan penguasa, serta harus ada keseimbangan antara pembangunan mental dan fisik negara. Tidak lupa taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah faktor mutlak penentu keberhasilan. Tanpa adanya itu semua, berbagai kriteria ideal tersebut di atas, hanya akan ada dalam mimpi, di negeri antah berantah. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Manusia terdiri dari dua bagian pokok; jasmani dan rohani atau tubuh dan hati. Kesempurnaan kesehatan seorang insan sangat tergantung kepada kesehatan kedua bagian pokok tersebut. Kesehatan hati seseorang akan membawa kepada kesehatan fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad akan baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah: hati”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Sebaliknya, kesehatan jasmani akan sangat membantu terbangunnya kesehatan rohani manusia. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ”. “Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan“. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara hal pokok yang perlu diperhatikan, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh dan hati, adalah pemberian makanan yang cukup dan baik. Supaya tubuh kita sehat perlu asupan gizi yang memadai. Begitupula agar hati ini sehat, ia perlu diberi makanan, berupa ilmu dan iman. Negara, sebagai wadah berkumpulnya sekian banyak manusia, juga dibangun di atas dua bagian pokok; fisik dan mental. Fisik antara lain diwakili oleh sarana dan prasarana, seperti bangunan gedung, jalan dan yang semisal. Adapun mental negara, terwakili oleh kepribadian para manusia yang hidup di negara tersebut. Keduanya harus mendapatkan porsi perhatian yang cukup, supaya negara menjadi kokoh dan kuat. Sebaliknya, ketimpangan antara pembangunan fisik dan mental hanya akan mengakibatkan kerapuhan yang berakhir kepada kehancuran sebuah negara. Walaupun barangkali pada awalnya, negara tersebut berpenampilan lahiriah yang lux dan wah! Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan, “وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ” Artinya: “Andaikan penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya”. QS. Al-A’raf (7): 96. Sidang Jum’at yang berbahagia… Pembangunan fisik pasar yang megah dan mall yang mewah, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para pedagang dan pemain ekonomi di dalamnya. Jika tidak, maka praktek kecurangan, riba, klenik, sumpah palsu dan seabreg perilaku buruk lainnya, pasti akan merajalela di pusat perdagangan tersebut. Karenanya, demi pembangunan mental para pelaku ekonomi, tidak jarang Rasulullah shallallahu’aihiwasallam melakukan ‘operasi pasar’ untuk melihat tingkat kejujuran mereka. Pernah Rasulullah shallallahu’aihiwasallam memasukkan tangan ke dalam onggokan gandum dan ternyata ditemuinya gandum yang bagian bawah basah, sementara si penjual gandum menghargainya dengan harga gandum kering yang bagus. Maka langsung Rasulullah shallallahu’aihiwasallam mengingatkan, “مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي” “Barang siapa menipu kami; maka bukan termasuk golonganku”. HR. Muslim. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Pembangunan sarana prasarana para penegak hukum, harus diikuti dengan pembangunan mental para punggawa keadilan. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah praktek tebang pilih dalam menangani kasus dan merebaknya mafia peradilan. Dari situlah bangsa akan hancur berkeping-keping. Pada zaman Rasul shallallahu’alaihwasallam dikisahkan, bahwa seorang wanita dari suku terpandang al-Makhzumiyah kedapatan mencuri. Tokoh-tokoh Quraisy kebingungan, karena wanita ini termasuk dari golongan bangsawan. Merekapun bermusyawarah, lalu mengutus Usamah bin Zaid, anak kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam, untuk menghadap kepada beliau. Meminta supaya si wanita itu diberi dinspensasi, dengan tidak dijatuhi hukuman potong tangan. Manakala mendengar paparan Usamah tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun marah besar, lalu bergegas naik mimbar dan berkhutbah, “إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ. وَايْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا”. “Sesungguhnya perilaku yang menghancurkan bangsa-bangsa sebelum kalian, adalah karena apabila yang mencuri itu orang terpandang, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika yang mencuri adalah rakyat kecil, maka hukuman diterapkan atasnya. Demi Allah, andaikan Fatimah putriku mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Pembangunan fisik jalan-jalan dan jembatan, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para kontraktor, pemborong dan semua yang punya tangan di situ. Jika tidak, maka anggaran proyek pekerjaan besar tersebut akan bocor di mana-mana. Akan terjadinya mark up dalam proyek, sebab yang menjadi target utama adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa peduli dengan kualitas pekerjaan. Sehingga muncul jalan-jalan yang bertahan hanya seumur jagung dan jembatan yang ambruk hanya dalam hitungan bulan. Padahal Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahaya uang haram, entah itu dinamakan fee kah, atau bonus kah, atau uang pelicin kah, dalam sabda beliau, “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”. “Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany. Begitu pula pembangunan fasilitas birokrasi, wajib diikuti dengan pembangunan mental para birokrat. Apabila tidak, niscaya yang akan tumbuh subur adalah mentalitas “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”. Kecenderungan untuk memelihara masalah, ketimbang menyelesaikannya. Juga maraknya tipe aparat yang ingin dilayani, ketimbang melayani masyarakat. Sehingga dalam setiap situasi selalu yang diperhitungkan adalah, “Saya dapat apa? Dan kamu wani piro?”. Tidakkah mereka merasa khawatir, dengan doa yang dilantunkan baginda Rasul shallallahu ’alaihiwasallam, “اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ. وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ” “Ya Allah, siapapun yang menangani urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka timpakanlah kesulitan padanya. Dan barang siapa menangani urusan umatku lalu ia memberikan kemudahan kepada mereka, maka mudahkanlah urusannya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Tidak mudah memang menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan mental, terlebih jika ketimpangan antara keduanya telah mengakar dan mengurat selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Namun jalan menuju cita-cita mulia tersebut akan terasa ringan insyaAllah, manakala kita berhasil menanamkan modal pondasi pertama dan utama dalam diri setiap anak bangsa. Yakni keimanan yang lurus dan akidah yang kokoh. Artinya: setiap insan harus merdeka dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jangan sampai mereka menghambakan diri kepada sesama manusia, atau makhluk lain. Sebab manusia adalah sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaan. “إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ” Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujurat: 13. Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia, yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, benda mati, maupun materi seperti harta dan kekuasaan. Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan berakidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Saat itulah anak bangsa memiliki mental yang kuat. Tugas yang tersisa tinggal memoles bagian-bagian lain dalam karakter dirinya. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, tindakan nyata apa gerangan yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan negeri impian tadi? Jawabannya, mari masing-masing dari kita berbuat sesuai dengan kapasitasnya. Para pejabat berusaha mengembangkan budaya ngaji di pos-pos pemerintahan, bukan cuma di bulan suci Ramadhan saja, namun selama hayat masih di kandung badan. Terus menerus tanpa henti menempa mental yang islami, dengan menghidupkan majlis taklim. Membentengi diri dari setan-setan yang bergentayangan tanpa lelah sepanjang tahun. Ingat, sebagaimana perut kita membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan asupan ‘gizi’ yang cukup! Para tenaga pendidik, berusahalah untuk mengajar murid-murid dengan hati nurani. Jangan targetnya hanya sekedar mengejar selesainya kurikulum pelajaran. Namun juga berusahalah untuk menanamkan karakter yang islami dalam diri anak didik. Dengan memberikan suri teladan yang baik dan menyuntikkan nasehat-nasehat yang menyejukkan, di dalam setiap materi pelajaran. Bukan hanya di pelajaran agama saja, yang kerap dianaktirikan di berbagai lembaga pendidikan, dengan diberikan jam yang amat sedikit. Padahal ia merupakan pondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter. Para orang tua, ketahuilah bahwa keluarga adalah miniatur sebuah negara. Untuk menciptakan negara yang baik, harus dimulai dari mewujudkan keluarga yang baik. Maka, wahai para bapak dan ibu, jikalau Anda mendidik putra-putri Anda dengan sebaik-baiknya, sejatinya Anda adalah pahlawan yang paling berjasa, dalam membangun negara yang mulia. Maka, jadilah pionir-pionir kebaikan! ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 16 Agustus 2012 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


11OctNegeri IdamanOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 17 Agustus 2012   KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… “Gemah ripah loh jinawi. Toto tentrem kerto raharjo”, begitulah orang tua kita dahulu mendeskripsikan negeri yang ideal. Kurang lebih maknanya, bahwa negeri idaman itu adalah negeri yang bertanah subur, adil, makmur, kaya dengan hasil buminya, tersusun rapi, damai dan sejahtera. Ungkapan tersebut mungkin dianggap sebagian kalangan cukup mewakili definisi negara yang ideal. Walaupun sebenarnya, sebagai seorang muslim, tentulah harus ditambahkan, bahkan diprioritaskan kriteria keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Untuk merealisasikan impian indah negeri idaman, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu adanya sinergi antara rakyat dan penguasa, serta harus ada keseimbangan antara pembangunan mental dan fisik negara. Tidak lupa taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah faktor mutlak penentu keberhasilan. Tanpa adanya itu semua, berbagai kriteria ideal tersebut di atas, hanya akan ada dalam mimpi, di negeri antah berantah. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Manusia terdiri dari dua bagian pokok; jasmani dan rohani atau tubuh dan hati. Kesempurnaan kesehatan seorang insan sangat tergantung kepada kesehatan kedua bagian pokok tersebut. Kesehatan hati seseorang akan membawa kepada kesehatan fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad akan baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah: hati”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Sebaliknya, kesehatan jasmani akan sangat membantu terbangunnya kesehatan rohani manusia. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ”. “Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan“. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara hal pokok yang perlu diperhatikan, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh dan hati, adalah pemberian makanan yang cukup dan baik. Supaya tubuh kita sehat perlu asupan gizi yang memadai. Begitupula agar hati ini sehat, ia perlu diberi makanan, berupa ilmu dan iman. Negara, sebagai wadah berkumpulnya sekian banyak manusia, juga dibangun di atas dua bagian pokok; fisik dan mental. Fisik antara lain diwakili oleh sarana dan prasarana, seperti bangunan gedung, jalan dan yang semisal. Adapun mental negara, terwakili oleh kepribadian para manusia yang hidup di negara tersebut. Keduanya harus mendapatkan porsi perhatian yang cukup, supaya negara menjadi kokoh dan kuat. Sebaliknya, ketimpangan antara pembangunan fisik dan mental hanya akan mengakibatkan kerapuhan yang berakhir kepada kehancuran sebuah negara. Walaupun barangkali pada awalnya, negara tersebut berpenampilan lahiriah yang lux dan wah! Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan, “وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ” Artinya: “Andaikan penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya”. QS. Al-A’raf (7): 96. Sidang Jum’at yang berbahagia… Pembangunan fisik pasar yang megah dan mall yang mewah, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para pedagang dan pemain ekonomi di dalamnya. Jika tidak, maka praktek kecurangan, riba, klenik, sumpah palsu dan seabreg perilaku buruk lainnya, pasti akan merajalela di pusat perdagangan tersebut. Karenanya, demi pembangunan mental para pelaku ekonomi, tidak jarang Rasulullah shallallahu’aihiwasallam melakukan ‘operasi pasar’ untuk melihat tingkat kejujuran mereka. Pernah Rasulullah shallallahu’aihiwasallam memasukkan tangan ke dalam onggokan gandum dan ternyata ditemuinya gandum yang bagian bawah basah, sementara si penjual gandum menghargainya dengan harga gandum kering yang bagus. Maka langsung Rasulullah shallallahu’aihiwasallam mengingatkan, “مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي” “Barang siapa menipu kami; maka bukan termasuk golonganku”. HR. Muslim. Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah… Pembangunan sarana prasarana para penegak hukum, harus diikuti dengan pembangunan mental para punggawa keadilan. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah praktek tebang pilih dalam menangani kasus dan merebaknya mafia peradilan. Dari situlah bangsa akan hancur berkeping-keping. Pada zaman Rasul shallallahu’alaihwasallam dikisahkan, bahwa seorang wanita dari suku terpandang al-Makhzumiyah kedapatan mencuri. Tokoh-tokoh Quraisy kebingungan, karena wanita ini termasuk dari golongan bangsawan. Merekapun bermusyawarah, lalu mengutus Usamah bin Zaid, anak kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam, untuk menghadap kepada beliau. Meminta supaya si wanita itu diberi dinspensasi, dengan tidak dijatuhi hukuman potong tangan. Manakala mendengar paparan Usamah tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun marah besar, lalu bergegas naik mimbar dan berkhutbah, “إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ. وَايْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا”. “Sesungguhnya perilaku yang menghancurkan bangsa-bangsa sebelum kalian, adalah karena apabila yang mencuri itu orang terpandang, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika yang mencuri adalah rakyat kecil, maka hukuman diterapkan atasnya. Demi Allah, andaikan Fatimah putriku mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Pembangunan fisik jalan-jalan dan jembatan, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para kontraktor, pemborong dan semua yang punya tangan di situ. Jika tidak, maka anggaran proyek pekerjaan besar tersebut akan bocor di mana-mana. Akan terjadinya mark up dalam proyek, sebab yang menjadi target utama adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa peduli dengan kualitas pekerjaan. Sehingga muncul jalan-jalan yang bertahan hanya seumur jagung dan jembatan yang ambruk hanya dalam hitungan bulan. Padahal Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahaya uang haram, entah itu dinamakan fee kah, atau bonus kah, atau uang pelicin kah, dalam sabda beliau, “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”. “Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany. Begitu pula pembangunan fasilitas birokrasi, wajib diikuti dengan pembangunan mental para birokrat. Apabila tidak, niscaya yang akan tumbuh subur adalah mentalitas “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”. Kecenderungan untuk memelihara masalah, ketimbang menyelesaikannya. Juga maraknya tipe aparat yang ingin dilayani, ketimbang melayani masyarakat. Sehingga dalam setiap situasi selalu yang diperhitungkan adalah, “Saya dapat apa? Dan kamu wani piro?”. Tidakkah mereka merasa khawatir, dengan doa yang dilantunkan baginda Rasul shallallahu ’alaihiwasallam, “اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ. وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ” “Ya Allah, siapapun yang menangani urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka timpakanlah kesulitan padanya. Dan barang siapa menangani urusan umatku lalu ia memberikan kemudahan kepada mereka, maka mudahkanlah urusannya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Hadirin dan hadirat waffaqakumullah… Tidak mudah memang menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan mental, terlebih jika ketimpangan antara keduanya telah mengakar dan mengurat selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Namun jalan menuju cita-cita mulia tersebut akan terasa ringan insyaAllah, manakala kita berhasil menanamkan modal pondasi pertama dan utama dalam diri setiap anak bangsa. Yakni keimanan yang lurus dan akidah yang kokoh. Artinya: setiap insan harus merdeka dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jangan sampai mereka menghambakan diri kepada sesama manusia, atau makhluk lain. Sebab manusia adalah sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaan. “إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ” Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujurat: 13. Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia, yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, benda mati, maupun materi seperti harta dan kekuasaan. Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan berakidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Saat itulah anak bangsa memiliki mental yang kuat. Tugas yang tersisa tinggal memoles bagian-bagian lain dalam karakter dirinya. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, tindakan nyata apa gerangan yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan negeri impian tadi? Jawabannya, mari masing-masing dari kita berbuat sesuai dengan kapasitasnya. Para pejabat berusaha mengembangkan budaya ngaji di pos-pos pemerintahan, bukan cuma di bulan suci Ramadhan saja, namun selama hayat masih di kandung badan. Terus menerus tanpa henti menempa mental yang islami, dengan menghidupkan majlis taklim. Membentengi diri dari setan-setan yang bergentayangan tanpa lelah sepanjang tahun. Ingat, sebagaimana perut kita membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan asupan ‘gizi’ yang cukup! Para tenaga pendidik, berusahalah untuk mengajar murid-murid dengan hati nurani. Jangan targetnya hanya sekedar mengejar selesainya kurikulum pelajaran. Namun juga berusahalah untuk menanamkan karakter yang islami dalam diri anak didik. Dengan memberikan suri teladan yang baik dan menyuntikkan nasehat-nasehat yang menyejukkan, di dalam setiap materi pelajaran. Bukan hanya di pelajaran agama saja, yang kerap dianaktirikan di berbagai lembaga pendidikan, dengan diberikan jam yang amat sedikit. Padahal ia merupakan pondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter. Para orang tua, ketahuilah bahwa keluarga adalah miniatur sebuah negara. Untuk menciptakan negara yang baik, harus dimulai dari mewujudkan keluarga yang baik. Maka, wahai para bapak dan ibu, jikalau Anda mendidik putra-putri Anda dengan sebaik-baiknya, sejatinya Anda adalah pahlawan yang paling berjasa, dalam membangun negara yang mulia. Maka, jadilah pionir-pionir kebaikan! ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 16 Agustus 2012 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Meninggalkan Maksiat Karena Allah Akan Membuahkan Rasa Manis dalam Hati

Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan ledzatnya memandang aurat wanita yang tidak halal baginya karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Sebaliknya barangsiapa yang memandang yang haram dengan meninggalkan rasa takut kepada Allah dan membuang rasa malu kepada Allah maka ia akan merasakan pahitnya kemaksiatan dalam hatinya…Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang menundukan pandangannya di dunia nyata dan dunia maya….Aaamiin 

Meninggalkan Maksiat Karena Allah Akan Membuahkan Rasa Manis dalam Hati

Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan ledzatnya memandang aurat wanita yang tidak halal baginya karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Sebaliknya barangsiapa yang memandang yang haram dengan meninggalkan rasa takut kepada Allah dan membuang rasa malu kepada Allah maka ia akan merasakan pahitnya kemaksiatan dalam hatinya…Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang menundukan pandangannya di dunia nyata dan dunia maya….Aaamiin 
Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan ledzatnya memandang aurat wanita yang tidak halal baginya karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Sebaliknya barangsiapa yang memandang yang haram dengan meninggalkan rasa takut kepada Allah dan membuang rasa malu kepada Allah maka ia akan merasakan pahitnya kemaksiatan dalam hatinya…Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang menundukan pandangannya di dunia nyata dan dunia maya….Aaamiin 


Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan ledzatnya memandang aurat wanita yang tidak halal baginya karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Sebaliknya barangsiapa yang memandang yang haram dengan meninggalkan rasa takut kepada Allah dan membuang rasa malu kepada Allah maka ia akan merasakan pahitnya kemaksiatan dalam hatinya…Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang menundukan pandangannya di dunia nyata dan dunia maya….Aaamiin 

Berkumpul dua keledzatan…

Pagi ini makan pagi bersama ustadz Badrussalam dan ustadz Abdullah Maududi. Alhamdulillah di Madinah dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan saudara-saudara para dai, yang di Indonesia terkadang begitu sulit untuk bertemu dengan mereka karena kesibukan masing-masing.Pagi ini ana merasakan keledzatan restoran Yaman Balqis, dan juga yang lebih penting adalah keledzatan persaudaraan…Maka jika anda telah menjalin persaudaraan dan persahabatan maka jagalah, sungguh rasa pedih dan pahit akan benar-benar dirasakan jika persahabatan dan persaudaraan terputus…Sebelumnya di Mekah makan siang dua kali bersama Ustadz Yazid Jawas…semoga Allah menjaga para dai dan dijauhkan dari segala keburukan 

Berkumpul dua keledzatan…

Pagi ini makan pagi bersama ustadz Badrussalam dan ustadz Abdullah Maududi. Alhamdulillah di Madinah dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan saudara-saudara para dai, yang di Indonesia terkadang begitu sulit untuk bertemu dengan mereka karena kesibukan masing-masing.Pagi ini ana merasakan keledzatan restoran Yaman Balqis, dan juga yang lebih penting adalah keledzatan persaudaraan…Maka jika anda telah menjalin persaudaraan dan persahabatan maka jagalah, sungguh rasa pedih dan pahit akan benar-benar dirasakan jika persahabatan dan persaudaraan terputus…Sebelumnya di Mekah makan siang dua kali bersama Ustadz Yazid Jawas…semoga Allah menjaga para dai dan dijauhkan dari segala keburukan 
Pagi ini makan pagi bersama ustadz Badrussalam dan ustadz Abdullah Maududi. Alhamdulillah di Madinah dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan saudara-saudara para dai, yang di Indonesia terkadang begitu sulit untuk bertemu dengan mereka karena kesibukan masing-masing.Pagi ini ana merasakan keledzatan restoran Yaman Balqis, dan juga yang lebih penting adalah keledzatan persaudaraan…Maka jika anda telah menjalin persaudaraan dan persahabatan maka jagalah, sungguh rasa pedih dan pahit akan benar-benar dirasakan jika persahabatan dan persaudaraan terputus…Sebelumnya di Mekah makan siang dua kali bersama Ustadz Yazid Jawas…semoga Allah menjaga para dai dan dijauhkan dari segala keburukan 


Pagi ini makan pagi bersama ustadz Badrussalam dan ustadz Abdullah Maududi. Alhamdulillah di Madinah dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan saudara-saudara para dai, yang di Indonesia terkadang begitu sulit untuk bertemu dengan mereka karena kesibukan masing-masing.Pagi ini ana merasakan keledzatan restoran Yaman Balqis, dan juga yang lebih penting adalah keledzatan persaudaraan…Maka jika anda telah menjalin persaudaraan dan persahabatan maka jagalah, sungguh rasa pedih dan pahit akan benar-benar dirasakan jika persahabatan dan persaudaraan terputus…Sebelumnya di Mekah makan siang dua kali bersama Ustadz Yazid Jawas…semoga Allah menjaga para dai dan dijauhkan dari segala keburukan 

KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN

11OctKEZALIMAN ADALAH KEGELAPANOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 KHUTBAH PERTAMA: الْحَمْدُ للهِ الَّذِي حَرَّمَ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِهِ وَحَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّماً، وَجَعَلَ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ دَمَاراً عَلَى أَهْلِهِ وَهَلاَكاُ وَمَأْثَماً، فَتِلْكُ بُيُوْتُهُمْ خَاوِية بِمَا ظَلَمُوْا فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ لِمَنْ بَغَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا عَالِي الْجِنَانِ نُزُلاً، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْقُرَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَقَامُوا الْعَدْلَ فِيْمَا وُلُّوْا عَلَيْهِ، فَأَكْرِمْ بِهِمْ أَوْلِيَاءَ! أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاحْذَرُوْا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ، ظُلُمَاتٌ فِي الْقَلْبِ، وَظُلُمَاتٌ عَلَى الْوَجْهِ، وَظُلُمَاتٌ فِي الْقَبْرِ، وَظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Panas yang maha dahsyat, ketakutan yang menghantui, kebingungan yang berlipat-lipat, dan ketidakpedulian manusia terhadap para kekasih terdekatnya, ini hanyalah sekelumit gambaran tentang mengerikannya keadaan di hari kiamat. Dalam kondisi yang begitu menyeramkan, selain merasakan berbagai keadaan tersebut di atas, tidak sedikit para manusia yang harus terjebak di dalam kegelapan yang mencekam. Tidak mengetahui arah atau jalan yang seharusnya dititi. Siapakah mereka yang begitu malang nasibnya? Mereka antara lain adalah: orang-orang yang gemar melakukan kezaliman. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”. “Hati-hatilah dari perbuatan zalim. Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan yang sangat gelap di hari kiamat”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Dalam bahasa Arab, zalim bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.[1] Asal kata zalim adalah kejahatan dan perbuatan yang melampaui batas. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn al-Atsir dalam kitabnya an-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts. Kezaliman itu amat beragam dan bertingkat-tingkat keparahannya. Kezaliman yang paling parah dan paling berat azabnya adalah perbuatan syirik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “إِنَّ ٱلشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” Artinya: “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang berat”. QS. Luqman (31): 13. Mengapa perbuatan mempersekutukan Allah dikategorikan termasuk kezaliman, bahkan merupakan kezaliman yang paling parah? Pertanyaan ini akan terjawab, bilamana kita kembalikan kepada definisi kezaliman. Yakni meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Pelaku kesyirikan sejatinya telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya yang benar. Sebab ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah ta’ala. Sedangkan mereka justru mempersembahkannya kepada benda-benda mati atau para makhluk yang lemah. Sangat naïf memang perbuatan mereka! Allah tabaraka wa ta’ala yang telah begitu banyak memberikan karunia nikmat kepada mereka, justru mereka balas dengan bersyukur kepada selain-Nya. Allah yang telah mengaruniakan panen padi yang melimpah-ruah kepada mereka. Justru mereka berterimakasih kepada Dewi Sri, dengan memaparkan berbagai sesaji di pojok-pojok sawah. Allah yang telah mengaruniakan hasil laut yang begitu beragam kepada mereka. Malah mereka berterima kasih kepada Nyi Roro Kidul dengan mempersembahkan kepala sapi yang dilarung dalam upacara yang begitu khidmatnya. Allah yang telah mengaruniakan kesuksesan bisnis, kelulusan anak dan kemajuan perusahaan. Mereka justru melakukan safari berbagi nazar ke berbagai kuburan keramat. Begitulah kezaliman yang paling zalim. Maka wajar, bila dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala bila seorang hamba meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya. Sebagaimana ditegaskan di dalam al-Qur’an, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ، وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا” Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”. QS. An-Nisa’ (4): 48. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Jenis kezaliman kedua adalah: kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Yakni dengan melakukan berbagai perbuatan dosa dan maksiat, yang hanya merugikan dirinya sendiri. Saat seorang berzina dan menenggak minuman keras, walaupun ia merasakan kenikmatan saat itu, sejatinya ia sedang menganiaya dan menyakiti dirinya sendiri. Sebab setelah kenikmatan sesaat itu, ia akan menuai kegelisahan, kegundahgulanaan dan ketergantungan akut terhadap perbuatan nista tersebut. Itu baru akibat yang akan dirasakannya di dunia. Belum lagi kehinaan dan azab yang tak terperikan kelak di alam kubur serta di neraka jahannam. Na’udzubillah min dzalik… Barangsiapa yang terjerumus dalam perbuatan menganiaya diri sendiri, tetapi ia segera sadar lalu mengingat Allah dengan bertobat dan beramal salih; niscaya akan diampuni oleh Allah ta’ala Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ”. Artinya: “Orang-orang yang apabila mengerjakan pekerjaan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa pula yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Mereka juga tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. QS. Ali Imran (3): 135-136. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Adapun jenis kezaliman yang ketiga, adalah bentuk perbuatan zalim yang sering diremehkan oleh banyak manusia, padahal resikonya amatlah berat. Kezaliman yang tidak akan pernah diabaikan oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Dan tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan. Yakni kezaliman seorang hamba terhadap sesamanya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah jalla wa ‘ala mengingatkan, “يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا” “Wahai para hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku juga mengharamkan kezaliman atas kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi!”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu. Kezaliman jenis ini amat banyak potretnya dan bertebaran di mana-mana. Mulai dari lingkungan terdekat dengan kita, hingga yang berada di nun jauh sana. Pelakunya pun amat beragam, mulai dari orang cilik hingga para pembesar, mulai dari perampok hingga yang berpenampilan alim. Para suami yang sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Orang tua yang mengabaikan putra-putrinya. Tidak memberikan perhatian yang layak terhadap pendidikan mereka. Membiarkan mereka meninggalkan shalat dan puasa. Bahkan memfasilitasi di dalam rumahnya berbagai sarana yang merusak kepribadian mereka. Guru yang tidak memberikan perhatian yang proporsional terhadap anak didiknya. Targetnya hanyalah mengejar selesainya kurikulum, tanpa peduli dengan perilaku murid-muridnya. Masih ditambah pula sering menjatuhkan hukuman berlebihan dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah yang benar di dalam penjatuhan sanksi. Tetangga yang berbuat semaunya terhadap kanan dan kirinya. Membuat bising telinga dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila. Menguping rahasia rumah tangga orang lain dan usil membicarakan kejelekannya dari belakang. Mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanah tetangga tanpa hak, berapapun ukurannya. Penguasa yang lalim dan berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Seperti yang dialami saudara-saudara kita para penduduk negeri Suriah. Mereka telah terusir dari kampung halamannya sendiri. Di negeri orang mereka tercekam ketakutan, kelaparan, ketidaktentuan dan kedinginan yang luar biasa. Kaum muslimat dinodai kehormatannya. Dan jangan tanyakan mengenai korban yang terbunuh di sana. Tidak tanggung-tanggung 136 ribu nyawa manusia ‘tak berdosa’ melayang di negeri tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Kezaliman bukan hanya dilakukan oleh orang-orang fasik atau orang kafir, tapi juga amat disayangkan menjangkiti sebagian mereka yang terlihat berpenampilan alim dan berbusana islami. Sebagian mereka begitu mudah memvonis sesat saudaranya. Melontarkan tuduhan dan fitnah, hanya berdasarkan berita burung yang tidak jelas kebenarannya. Menjauhkan ummat dari para dai penyeru kebaikan. Parahnya, semua itu dibungkus dengan label amar makruf dan nahi mungkar. Sadarlah wahai saudaraku, bahwa setiap ucapan yang kita lontarkan, atau sms yang kita kirimkan, atau tulisan yang yang kita upload di jejaring sosial, semuanya ini akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah yang Maha adil! “وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا” Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya”. QS. Al-Isra’ (17): 36. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Pelaku kezaliman cepat atau lambat pasti akan menuai akibat buruk dari perbuatannya. Bila belum ia rasakan di dunia, pasti dan pasti kelak akan ia akan merasakannya di akhirat. Maka, sebelum matahari terbit dari arah Barat, sebelum pintu taubat ditutup rapat dan sebelum ajal datang menjemput, sebelum terlambat; bertaubatlah kepada Allah! Mintalah maaf kepada orang-orang yang dizalimi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mewanti-wanti, “مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ؛ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ” “Barang siapa yang menzalimi seseorang, baik itu dalam harga dirinya atau yang lainnya; hendaklah ia meminta maaf padanya hari ini juga. Sebelum datang hari di mana saat itu emas dan perak tidak lagi berguna”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Adapun mereka yang merasa enggan atau gengsi untuk meminta maaf kepada saudaranya, maka nantikanlah kebangkrutan total kelak di hari kiamat. Saat pahala mereka habis dilimpahkan kepada orang-orang yang dizaliminya, dan tumpukan dosa orang-orang yang dizaliminya akan dibebankan kepada mereka. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur, « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Untaian nasehat nabawi yang menjadi peringatan keras bagi para pelaku kezaliman, sekaligus hiburan yang menenangkan hati orang-orang yang dizalimi. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 [1] Mufradât Alfâzh al-Qur’ân karya ar-Raghib al-Ashfahany (hal. 537). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN

11OctKEZALIMAN ADALAH KEGELAPANOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 KHUTBAH PERTAMA: الْحَمْدُ للهِ الَّذِي حَرَّمَ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِهِ وَحَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّماً، وَجَعَلَ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ دَمَاراً عَلَى أَهْلِهِ وَهَلاَكاُ وَمَأْثَماً، فَتِلْكُ بُيُوْتُهُمْ خَاوِية بِمَا ظَلَمُوْا فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ لِمَنْ بَغَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا عَالِي الْجِنَانِ نُزُلاً، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْقُرَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَقَامُوا الْعَدْلَ فِيْمَا وُلُّوْا عَلَيْهِ، فَأَكْرِمْ بِهِمْ أَوْلِيَاءَ! أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاحْذَرُوْا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ، ظُلُمَاتٌ فِي الْقَلْبِ، وَظُلُمَاتٌ عَلَى الْوَجْهِ، وَظُلُمَاتٌ فِي الْقَبْرِ، وَظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Panas yang maha dahsyat, ketakutan yang menghantui, kebingungan yang berlipat-lipat, dan ketidakpedulian manusia terhadap para kekasih terdekatnya, ini hanyalah sekelumit gambaran tentang mengerikannya keadaan di hari kiamat. Dalam kondisi yang begitu menyeramkan, selain merasakan berbagai keadaan tersebut di atas, tidak sedikit para manusia yang harus terjebak di dalam kegelapan yang mencekam. Tidak mengetahui arah atau jalan yang seharusnya dititi. Siapakah mereka yang begitu malang nasibnya? Mereka antara lain adalah: orang-orang yang gemar melakukan kezaliman. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”. “Hati-hatilah dari perbuatan zalim. Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan yang sangat gelap di hari kiamat”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Dalam bahasa Arab, zalim bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.[1] Asal kata zalim adalah kejahatan dan perbuatan yang melampaui batas. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn al-Atsir dalam kitabnya an-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts. Kezaliman itu amat beragam dan bertingkat-tingkat keparahannya. Kezaliman yang paling parah dan paling berat azabnya adalah perbuatan syirik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “إِنَّ ٱلشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” Artinya: “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang berat”. QS. Luqman (31): 13. Mengapa perbuatan mempersekutukan Allah dikategorikan termasuk kezaliman, bahkan merupakan kezaliman yang paling parah? Pertanyaan ini akan terjawab, bilamana kita kembalikan kepada definisi kezaliman. Yakni meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Pelaku kesyirikan sejatinya telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya yang benar. Sebab ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah ta’ala. Sedangkan mereka justru mempersembahkannya kepada benda-benda mati atau para makhluk yang lemah. Sangat naïf memang perbuatan mereka! Allah tabaraka wa ta’ala yang telah begitu banyak memberikan karunia nikmat kepada mereka, justru mereka balas dengan bersyukur kepada selain-Nya. Allah yang telah mengaruniakan panen padi yang melimpah-ruah kepada mereka. Justru mereka berterimakasih kepada Dewi Sri, dengan memaparkan berbagai sesaji di pojok-pojok sawah. Allah yang telah mengaruniakan hasil laut yang begitu beragam kepada mereka. Malah mereka berterima kasih kepada Nyi Roro Kidul dengan mempersembahkan kepala sapi yang dilarung dalam upacara yang begitu khidmatnya. Allah yang telah mengaruniakan kesuksesan bisnis, kelulusan anak dan kemajuan perusahaan. Mereka justru melakukan safari berbagi nazar ke berbagai kuburan keramat. Begitulah kezaliman yang paling zalim. Maka wajar, bila dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala bila seorang hamba meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya. Sebagaimana ditegaskan di dalam al-Qur’an, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ، وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا” Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”. QS. An-Nisa’ (4): 48. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Jenis kezaliman kedua adalah: kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Yakni dengan melakukan berbagai perbuatan dosa dan maksiat, yang hanya merugikan dirinya sendiri. Saat seorang berzina dan menenggak minuman keras, walaupun ia merasakan kenikmatan saat itu, sejatinya ia sedang menganiaya dan menyakiti dirinya sendiri. Sebab setelah kenikmatan sesaat itu, ia akan menuai kegelisahan, kegundahgulanaan dan ketergantungan akut terhadap perbuatan nista tersebut. Itu baru akibat yang akan dirasakannya di dunia. Belum lagi kehinaan dan azab yang tak terperikan kelak di alam kubur serta di neraka jahannam. Na’udzubillah min dzalik… Barangsiapa yang terjerumus dalam perbuatan menganiaya diri sendiri, tetapi ia segera sadar lalu mengingat Allah dengan bertobat dan beramal salih; niscaya akan diampuni oleh Allah ta’ala Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ”. Artinya: “Orang-orang yang apabila mengerjakan pekerjaan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa pula yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Mereka juga tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. QS. Ali Imran (3): 135-136. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Adapun jenis kezaliman yang ketiga, adalah bentuk perbuatan zalim yang sering diremehkan oleh banyak manusia, padahal resikonya amatlah berat. Kezaliman yang tidak akan pernah diabaikan oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Dan tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan. Yakni kezaliman seorang hamba terhadap sesamanya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah jalla wa ‘ala mengingatkan, “يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا” “Wahai para hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku juga mengharamkan kezaliman atas kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi!”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu. Kezaliman jenis ini amat banyak potretnya dan bertebaran di mana-mana. Mulai dari lingkungan terdekat dengan kita, hingga yang berada di nun jauh sana. Pelakunya pun amat beragam, mulai dari orang cilik hingga para pembesar, mulai dari perampok hingga yang berpenampilan alim. Para suami yang sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Orang tua yang mengabaikan putra-putrinya. Tidak memberikan perhatian yang layak terhadap pendidikan mereka. Membiarkan mereka meninggalkan shalat dan puasa. Bahkan memfasilitasi di dalam rumahnya berbagai sarana yang merusak kepribadian mereka. Guru yang tidak memberikan perhatian yang proporsional terhadap anak didiknya. Targetnya hanyalah mengejar selesainya kurikulum, tanpa peduli dengan perilaku murid-muridnya. Masih ditambah pula sering menjatuhkan hukuman berlebihan dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah yang benar di dalam penjatuhan sanksi. Tetangga yang berbuat semaunya terhadap kanan dan kirinya. Membuat bising telinga dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila. Menguping rahasia rumah tangga orang lain dan usil membicarakan kejelekannya dari belakang. Mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanah tetangga tanpa hak, berapapun ukurannya. Penguasa yang lalim dan berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Seperti yang dialami saudara-saudara kita para penduduk negeri Suriah. Mereka telah terusir dari kampung halamannya sendiri. Di negeri orang mereka tercekam ketakutan, kelaparan, ketidaktentuan dan kedinginan yang luar biasa. Kaum muslimat dinodai kehormatannya. Dan jangan tanyakan mengenai korban yang terbunuh di sana. Tidak tanggung-tanggung 136 ribu nyawa manusia ‘tak berdosa’ melayang di negeri tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Kezaliman bukan hanya dilakukan oleh orang-orang fasik atau orang kafir, tapi juga amat disayangkan menjangkiti sebagian mereka yang terlihat berpenampilan alim dan berbusana islami. Sebagian mereka begitu mudah memvonis sesat saudaranya. Melontarkan tuduhan dan fitnah, hanya berdasarkan berita burung yang tidak jelas kebenarannya. Menjauhkan ummat dari para dai penyeru kebaikan. Parahnya, semua itu dibungkus dengan label amar makruf dan nahi mungkar. Sadarlah wahai saudaraku, bahwa setiap ucapan yang kita lontarkan, atau sms yang kita kirimkan, atau tulisan yang yang kita upload di jejaring sosial, semuanya ini akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah yang Maha adil! “وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا” Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya”. QS. Al-Isra’ (17): 36. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Pelaku kezaliman cepat atau lambat pasti akan menuai akibat buruk dari perbuatannya. Bila belum ia rasakan di dunia, pasti dan pasti kelak akan ia akan merasakannya di akhirat. Maka, sebelum matahari terbit dari arah Barat, sebelum pintu taubat ditutup rapat dan sebelum ajal datang menjemput, sebelum terlambat; bertaubatlah kepada Allah! Mintalah maaf kepada orang-orang yang dizalimi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mewanti-wanti, “مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ؛ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ” “Barang siapa yang menzalimi seseorang, baik itu dalam harga dirinya atau yang lainnya; hendaklah ia meminta maaf padanya hari ini juga. Sebelum datang hari di mana saat itu emas dan perak tidak lagi berguna”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Adapun mereka yang merasa enggan atau gengsi untuk meminta maaf kepada saudaranya, maka nantikanlah kebangkrutan total kelak di hari kiamat. Saat pahala mereka habis dilimpahkan kepada orang-orang yang dizaliminya, dan tumpukan dosa orang-orang yang dizaliminya akan dibebankan kepada mereka. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur, « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Untaian nasehat nabawi yang menjadi peringatan keras bagi para pelaku kezaliman, sekaligus hiburan yang menenangkan hati orang-orang yang dizalimi. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 [1] Mufradât Alfâzh al-Qur’ân karya ar-Raghib al-Ashfahany (hal. 537). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
11OctKEZALIMAN ADALAH KEGELAPANOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 KHUTBAH PERTAMA: الْحَمْدُ للهِ الَّذِي حَرَّمَ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِهِ وَحَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّماً، وَجَعَلَ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ دَمَاراً عَلَى أَهْلِهِ وَهَلاَكاُ وَمَأْثَماً، فَتِلْكُ بُيُوْتُهُمْ خَاوِية بِمَا ظَلَمُوْا فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ لِمَنْ بَغَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا عَالِي الْجِنَانِ نُزُلاً، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْقُرَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَقَامُوا الْعَدْلَ فِيْمَا وُلُّوْا عَلَيْهِ، فَأَكْرِمْ بِهِمْ أَوْلِيَاءَ! أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاحْذَرُوْا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ، ظُلُمَاتٌ فِي الْقَلْبِ، وَظُلُمَاتٌ عَلَى الْوَجْهِ، وَظُلُمَاتٌ فِي الْقَبْرِ، وَظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Panas yang maha dahsyat, ketakutan yang menghantui, kebingungan yang berlipat-lipat, dan ketidakpedulian manusia terhadap para kekasih terdekatnya, ini hanyalah sekelumit gambaran tentang mengerikannya keadaan di hari kiamat. Dalam kondisi yang begitu menyeramkan, selain merasakan berbagai keadaan tersebut di atas, tidak sedikit para manusia yang harus terjebak di dalam kegelapan yang mencekam. Tidak mengetahui arah atau jalan yang seharusnya dititi. Siapakah mereka yang begitu malang nasibnya? Mereka antara lain adalah: orang-orang yang gemar melakukan kezaliman. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”. “Hati-hatilah dari perbuatan zalim. Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan yang sangat gelap di hari kiamat”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Dalam bahasa Arab, zalim bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.[1] Asal kata zalim adalah kejahatan dan perbuatan yang melampaui batas. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn al-Atsir dalam kitabnya an-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts. Kezaliman itu amat beragam dan bertingkat-tingkat keparahannya. Kezaliman yang paling parah dan paling berat azabnya adalah perbuatan syirik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “إِنَّ ٱلشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” Artinya: “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang berat”. QS. Luqman (31): 13. Mengapa perbuatan mempersekutukan Allah dikategorikan termasuk kezaliman, bahkan merupakan kezaliman yang paling parah? Pertanyaan ini akan terjawab, bilamana kita kembalikan kepada definisi kezaliman. Yakni meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Pelaku kesyirikan sejatinya telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya yang benar. Sebab ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah ta’ala. Sedangkan mereka justru mempersembahkannya kepada benda-benda mati atau para makhluk yang lemah. Sangat naïf memang perbuatan mereka! Allah tabaraka wa ta’ala yang telah begitu banyak memberikan karunia nikmat kepada mereka, justru mereka balas dengan bersyukur kepada selain-Nya. Allah yang telah mengaruniakan panen padi yang melimpah-ruah kepada mereka. Justru mereka berterimakasih kepada Dewi Sri, dengan memaparkan berbagai sesaji di pojok-pojok sawah. Allah yang telah mengaruniakan hasil laut yang begitu beragam kepada mereka. Malah mereka berterima kasih kepada Nyi Roro Kidul dengan mempersembahkan kepala sapi yang dilarung dalam upacara yang begitu khidmatnya. Allah yang telah mengaruniakan kesuksesan bisnis, kelulusan anak dan kemajuan perusahaan. Mereka justru melakukan safari berbagi nazar ke berbagai kuburan keramat. Begitulah kezaliman yang paling zalim. Maka wajar, bila dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala bila seorang hamba meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya. Sebagaimana ditegaskan di dalam al-Qur’an, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ، وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا” Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”. QS. An-Nisa’ (4): 48. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Jenis kezaliman kedua adalah: kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Yakni dengan melakukan berbagai perbuatan dosa dan maksiat, yang hanya merugikan dirinya sendiri. Saat seorang berzina dan menenggak minuman keras, walaupun ia merasakan kenikmatan saat itu, sejatinya ia sedang menganiaya dan menyakiti dirinya sendiri. Sebab setelah kenikmatan sesaat itu, ia akan menuai kegelisahan, kegundahgulanaan dan ketergantungan akut terhadap perbuatan nista tersebut. Itu baru akibat yang akan dirasakannya di dunia. Belum lagi kehinaan dan azab yang tak terperikan kelak di alam kubur serta di neraka jahannam. Na’udzubillah min dzalik… Barangsiapa yang terjerumus dalam perbuatan menganiaya diri sendiri, tetapi ia segera sadar lalu mengingat Allah dengan bertobat dan beramal salih; niscaya akan diampuni oleh Allah ta’ala Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ”. Artinya: “Orang-orang yang apabila mengerjakan pekerjaan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa pula yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Mereka juga tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. QS. Ali Imran (3): 135-136. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Adapun jenis kezaliman yang ketiga, adalah bentuk perbuatan zalim yang sering diremehkan oleh banyak manusia, padahal resikonya amatlah berat. Kezaliman yang tidak akan pernah diabaikan oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Dan tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan. Yakni kezaliman seorang hamba terhadap sesamanya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah jalla wa ‘ala mengingatkan, “يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا” “Wahai para hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku juga mengharamkan kezaliman atas kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi!”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu. Kezaliman jenis ini amat banyak potretnya dan bertebaran di mana-mana. Mulai dari lingkungan terdekat dengan kita, hingga yang berada di nun jauh sana. Pelakunya pun amat beragam, mulai dari orang cilik hingga para pembesar, mulai dari perampok hingga yang berpenampilan alim. Para suami yang sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Orang tua yang mengabaikan putra-putrinya. Tidak memberikan perhatian yang layak terhadap pendidikan mereka. Membiarkan mereka meninggalkan shalat dan puasa. Bahkan memfasilitasi di dalam rumahnya berbagai sarana yang merusak kepribadian mereka. Guru yang tidak memberikan perhatian yang proporsional terhadap anak didiknya. Targetnya hanyalah mengejar selesainya kurikulum, tanpa peduli dengan perilaku murid-muridnya. Masih ditambah pula sering menjatuhkan hukuman berlebihan dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah yang benar di dalam penjatuhan sanksi. Tetangga yang berbuat semaunya terhadap kanan dan kirinya. Membuat bising telinga dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila. Menguping rahasia rumah tangga orang lain dan usil membicarakan kejelekannya dari belakang. Mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanah tetangga tanpa hak, berapapun ukurannya. Penguasa yang lalim dan berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Seperti yang dialami saudara-saudara kita para penduduk negeri Suriah. Mereka telah terusir dari kampung halamannya sendiri. Di negeri orang mereka tercekam ketakutan, kelaparan, ketidaktentuan dan kedinginan yang luar biasa. Kaum muslimat dinodai kehormatannya. Dan jangan tanyakan mengenai korban yang terbunuh di sana. Tidak tanggung-tanggung 136 ribu nyawa manusia ‘tak berdosa’ melayang di negeri tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Kezaliman bukan hanya dilakukan oleh orang-orang fasik atau orang kafir, tapi juga amat disayangkan menjangkiti sebagian mereka yang terlihat berpenampilan alim dan berbusana islami. Sebagian mereka begitu mudah memvonis sesat saudaranya. Melontarkan tuduhan dan fitnah, hanya berdasarkan berita burung yang tidak jelas kebenarannya. Menjauhkan ummat dari para dai penyeru kebaikan. Parahnya, semua itu dibungkus dengan label amar makruf dan nahi mungkar. Sadarlah wahai saudaraku, bahwa setiap ucapan yang kita lontarkan, atau sms yang kita kirimkan, atau tulisan yang yang kita upload di jejaring sosial, semuanya ini akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah yang Maha adil! “وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا” Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya”. QS. Al-Isra’ (17): 36. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Pelaku kezaliman cepat atau lambat pasti akan menuai akibat buruk dari perbuatannya. Bila belum ia rasakan di dunia, pasti dan pasti kelak akan ia akan merasakannya di akhirat. Maka, sebelum matahari terbit dari arah Barat, sebelum pintu taubat ditutup rapat dan sebelum ajal datang menjemput, sebelum terlambat; bertaubatlah kepada Allah! Mintalah maaf kepada orang-orang yang dizalimi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mewanti-wanti, “مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ؛ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ” “Barang siapa yang menzalimi seseorang, baik itu dalam harga dirinya atau yang lainnya; hendaklah ia meminta maaf padanya hari ini juga. Sebelum datang hari di mana saat itu emas dan perak tidak lagi berguna”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Adapun mereka yang merasa enggan atau gengsi untuk meminta maaf kepada saudaranya, maka nantikanlah kebangkrutan total kelak di hari kiamat. Saat pahala mereka habis dilimpahkan kepada orang-orang yang dizaliminya, dan tumpukan dosa orang-orang yang dizaliminya akan dibebankan kepada mereka. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur, « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Untaian nasehat nabawi yang menjadi peringatan keras bagi para pelaku kezaliman, sekaligus hiburan yang menenangkan hati orang-orang yang dizalimi. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 [1] Mufradât Alfâzh al-Qur’ân karya ar-Raghib al-Ashfahany (hal. 537). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


11OctKEZALIMAN ADALAH KEGELAPANOctober 11, 2014Khutbah Jumat Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 KHUTBAH PERTAMA: الْحَمْدُ للهِ الَّذِي حَرَّمَ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِهِ وَحَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّماً، وَجَعَلَ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ دَمَاراً عَلَى أَهْلِهِ وَهَلاَكاُ وَمَأْثَماً، فَتِلْكُ بُيُوْتُهُمْ خَاوِية بِمَا ظَلَمُوْا فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ لِمَنْ بَغَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا عَالِي الْجِنَانِ نُزُلاً، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْقُرَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَقَامُوا الْعَدْلَ فِيْمَا وُلُّوْا عَلَيْهِ، فَأَكْرِمْ بِهِمْ أَوْلِيَاءَ! أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاحْذَرُوْا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ، ظُلُمَاتٌ فِي الْقَلْبِ، وَظُلُمَاتٌ عَلَى الْوَجْهِ، وَظُلُمَاتٌ فِي الْقَبْرِ، وَظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah… Panas yang maha dahsyat, ketakutan yang menghantui, kebingungan yang berlipat-lipat, dan ketidakpedulian manusia terhadap para kekasih terdekatnya, ini hanyalah sekelumit gambaran tentang mengerikannya keadaan di hari kiamat. Dalam kondisi yang begitu menyeramkan, selain merasakan berbagai keadaan tersebut di atas, tidak sedikit para manusia yang harus terjebak di dalam kegelapan yang mencekam. Tidak mengetahui arah atau jalan yang seharusnya dititi. Siapakah mereka yang begitu malang nasibnya? Mereka antara lain adalah: orang-orang yang gemar melakukan kezaliman. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”. “Hati-hatilah dari perbuatan zalim. Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan yang sangat gelap di hari kiamat”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Dalam bahasa Arab, zalim bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.[1] Asal kata zalim adalah kejahatan dan perbuatan yang melampaui batas. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn al-Atsir dalam kitabnya an-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts. Kezaliman itu amat beragam dan bertingkat-tingkat keparahannya. Kezaliman yang paling parah dan paling berat azabnya adalah perbuatan syirik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “إِنَّ ٱلشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” Artinya: “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang berat”. QS. Luqman (31): 13. Mengapa perbuatan mempersekutukan Allah dikategorikan termasuk kezaliman, bahkan merupakan kezaliman yang paling parah? Pertanyaan ini akan terjawab, bilamana kita kembalikan kepada definisi kezaliman. Yakni meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Pelaku kesyirikan sejatinya telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya yang benar. Sebab ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah ta’ala. Sedangkan mereka justru mempersembahkannya kepada benda-benda mati atau para makhluk yang lemah. Sangat naïf memang perbuatan mereka! Allah tabaraka wa ta’ala yang telah begitu banyak memberikan karunia nikmat kepada mereka, justru mereka balas dengan bersyukur kepada selain-Nya. Allah yang telah mengaruniakan panen padi yang melimpah-ruah kepada mereka. Justru mereka berterimakasih kepada Dewi Sri, dengan memaparkan berbagai sesaji di pojok-pojok sawah. Allah yang telah mengaruniakan hasil laut yang begitu beragam kepada mereka. Malah mereka berterima kasih kepada Nyi Roro Kidul dengan mempersembahkan kepala sapi yang dilarung dalam upacara yang begitu khidmatnya. Allah yang telah mengaruniakan kesuksesan bisnis, kelulusan anak dan kemajuan perusahaan. Mereka justru melakukan safari berbagi nazar ke berbagai kuburan keramat. Begitulah kezaliman yang paling zalim. Maka wajar, bila dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala bila seorang hamba meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya. Sebagaimana ditegaskan di dalam al-Qur’an, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ، وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا” Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”. QS. An-Nisa’ (4): 48. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Jenis kezaliman kedua adalah: kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Yakni dengan melakukan berbagai perbuatan dosa dan maksiat, yang hanya merugikan dirinya sendiri. Saat seorang berzina dan menenggak minuman keras, walaupun ia merasakan kenikmatan saat itu, sejatinya ia sedang menganiaya dan menyakiti dirinya sendiri. Sebab setelah kenikmatan sesaat itu, ia akan menuai kegelisahan, kegundahgulanaan dan ketergantungan akut terhadap perbuatan nista tersebut. Itu baru akibat yang akan dirasakannya di dunia. Belum lagi kehinaan dan azab yang tak terperikan kelak di alam kubur serta di neraka jahannam. Na’udzubillah min dzalik… Barangsiapa yang terjerumus dalam perbuatan menganiaya diri sendiri, tetapi ia segera sadar lalu mengingat Allah dengan bertobat dan beramal salih; niscaya akan diampuni oleh Allah ta’ala Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ”. Artinya: “Orang-orang yang apabila mengerjakan pekerjaan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa pula yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Mereka juga tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. QS. Ali Imran (3): 135-136. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Adapun jenis kezaliman yang ketiga, adalah bentuk perbuatan zalim yang sering diremehkan oleh banyak manusia, padahal resikonya amatlah berat. Kezaliman yang tidak akan pernah diabaikan oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Dan tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan. Yakni kezaliman seorang hamba terhadap sesamanya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah jalla wa ‘ala mengingatkan, “يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا” “Wahai para hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku juga mengharamkan kezaliman atas kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi!”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu. Kezaliman jenis ini amat banyak potretnya dan bertebaran di mana-mana. Mulai dari lingkungan terdekat dengan kita, hingga yang berada di nun jauh sana. Pelakunya pun amat beragam, mulai dari orang cilik hingga para pembesar, mulai dari perampok hingga yang berpenampilan alim. Para suami yang sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Orang tua yang mengabaikan putra-putrinya. Tidak memberikan perhatian yang layak terhadap pendidikan mereka. Membiarkan mereka meninggalkan shalat dan puasa. Bahkan memfasilitasi di dalam rumahnya berbagai sarana yang merusak kepribadian mereka. Guru yang tidak memberikan perhatian yang proporsional terhadap anak didiknya. Targetnya hanyalah mengejar selesainya kurikulum, tanpa peduli dengan perilaku murid-muridnya. Masih ditambah pula sering menjatuhkan hukuman berlebihan dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah yang benar di dalam penjatuhan sanksi. Tetangga yang berbuat semaunya terhadap kanan dan kirinya. Membuat bising telinga dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila. Menguping rahasia rumah tangga orang lain dan usil membicarakan kejelekannya dari belakang. Mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanah tetangga tanpa hak, berapapun ukurannya. Penguasa yang lalim dan berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Seperti yang dialami saudara-saudara kita para penduduk negeri Suriah. Mereka telah terusir dari kampung halamannya sendiri. Di negeri orang mereka tercekam ketakutan, kelaparan, ketidaktentuan dan kedinginan yang luar biasa. Kaum muslimat dinodai kehormatannya. Dan jangan tanyakan mengenai korban yang terbunuh di sana. Tidak tanggung-tanggung 136 ribu nyawa manusia ‘tak berdosa’ melayang di negeri tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Kezaliman bukan hanya dilakukan oleh orang-orang fasik atau orang kafir, tapi juga amat disayangkan menjangkiti sebagian mereka yang terlihat berpenampilan alim dan berbusana islami. Sebagian mereka begitu mudah memvonis sesat saudaranya. Melontarkan tuduhan dan fitnah, hanya berdasarkan berita burung yang tidak jelas kebenarannya. Menjauhkan ummat dari para dai penyeru kebaikan. Parahnya, semua itu dibungkus dengan label amar makruf dan nahi mungkar. Sadarlah wahai saudaraku, bahwa setiap ucapan yang kita lontarkan, atau sms yang kita kirimkan, atau tulisan yang yang kita upload di jejaring sosial, semuanya ini akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah yang Maha adil! “وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا” Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya”. QS. Al-Isra’ (17): 36. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Pelaku kezaliman cepat atau lambat pasti akan menuai akibat buruk dari perbuatannya. Bila belum ia rasakan di dunia, pasti dan pasti kelak akan ia akan merasakannya di akhirat. Maka, sebelum matahari terbit dari arah Barat, sebelum pintu taubat ditutup rapat dan sebelum ajal datang menjemput, sebelum terlambat; bertaubatlah kepada Allah! Mintalah maaf kepada orang-orang yang dizalimi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mewanti-wanti, “مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ؛ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ” “Barang siapa yang menzalimi seseorang, baik itu dalam harga dirinya atau yang lainnya; hendaklah ia meminta maaf padanya hari ini juga. Sebelum datang hari di mana saat itu emas dan perak tidak lagi berguna”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Adapun mereka yang merasa enggan atau gengsi untuk meminta maaf kepada saudaranya, maka nantikanlah kebangkrutan total kelak di hari kiamat. Saat pahala mereka habis dilimpahkan kepada orang-orang yang dizaliminya, dan tumpukan dosa orang-orang yang dizaliminya akan dibebankan kepada mereka. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur, « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”. Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Untaian nasehat nabawi yang menjadi peringatan keras bagi para pelaku kezaliman, sekaligus hiburan yang menenangkan hati orang-orang yang dizalimi. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014 [1] Mufradât Alfâzh al-Qur’ân karya ar-Raghib al-Ashfahany (hal. 537). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Manisnya Iman

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 16/12/1435 H – 10/10/2014 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah PertamaDari Abbas bin Abdil Muttholib bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaذَاقَ طَعْمَ الإِيْماَنِ مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا وِبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا رَسُوْلاً“Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridho Allah sebagai Robnya, dan Islam sebagai agamanya dan ridho Muhammad sebagai nabi dan rasul” (HR Muslim)Sesungguhnya barang siapa yang ridho Allah sebagai Robnya maka ia akan mencintaiNya dan bertawakkal kepadaNya serta memohon pertolongan kepadaNya. Ia merasa cukup denganNya subhaanahu, ia tidak akan meminta kepada selainNya, karena seluruh selainNya adalah lemah dan tidak mampu. Barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan Allah maka tidak sesuatupun yang akan mencukupkannya, dan barangsiapa yang ridho kepada Allah maka ia akan meraih segalanya, barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah maka ia tidak akan butuh kepada apapun, dan barangsiapa yang merasa mulia dengan Allah maka ia tidak akan hina kepada sesuatupun. Allah berfirman : أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُBukankah Allah cukup untuk hamba-hamba-Nya. (QS Az-Zumar : 36)Barangsiapa yang ridho Muhammad sebagai Rasul maka ia akan mencukupkan Muhammad sebagai tauladannya dan pemimpinnya, serta pemberi arahan baginya, dan ia akan semangat untuk mempelajari sejarahnya dan menjalankan sunnahnya.Barangsiapa yang ridho Islam sebagai agama maka ia akan merasa cukup dengan Islam, ia akan menjalankan kewajiban-kewajiban dalam Islam, menjauhi yang dilarang, dan meyakini bahwa semua yang ada dalam ajaran islam adalah benar, adil, dan petunjuk.Imam memiliki rasa manis yang tidak bisa dirasakan kecuali bagi orang yang beriman. Dan iman jika telah masuk ke dalam relung hati maka hati akan berseri dan akan menimbulkan kelezatan dalam hati, akan menjadikan kehidupan bahagia, dan dada menjadi lapang. Barangsiapa yang merasakan manisnya iman maka ia akan merasakan kelezatan dalam beribadah, ia akan berjuang di atas jalanNya, dan akan berkorban dengan segala sesuatu demi Allah. Allah berfirman :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٥٨)Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yunus : 58)Jika manisnya iman telah merasuk dalam relung hati maka akan menjadikan pemiliknya selalu bersama Allah di setiap waktu dan di setiap tempat, dalam gerakannya dan diamnya, siang dan malam, ia selalu bersama Penciptanya dan Penolongnya. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk selalu berkataرضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياAku ridho Allah sebagai Rob, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi (HR At-Tirmidzi)Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :النظرة سهم من سهام إبليس مسمومة فمن تركها من خوف الله أثابه جل وعز إيمانا يجد حلاوته في قلبه“Pandangan (haram) adalah anak panah beracunnya Iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah Azza wa Jalla akan memberinya ganjaran keimanan, yang ia rasakan manisnya iman tersebut di hatinya” (sanadnya shahih)Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman, (1) Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya, (2) Ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Manisnya iman harganya mahal, dan memberi pengaruh yang diberkahi. Harga manisnya iman adalah ” Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya “. Yaitu Allah dalam bacaan qur’annya dan Nabi dalam sunnahnya lebih dicintai oleh seorang mukmin daripada selain keduanya. Tatkala bertentangan antara kemaslahatanmu dengan syari’at maka engkau mendahulukan kepentingan syari’at dan keridhoan Allah, engkau memilih ketaatan kepada Allah dan RasulNya daripada mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya. Maka jadilah Allah di sisimu yang dicintai secara total. Dan tatkala itu jadilah jiwa bergantung kepada Allah.Cinta kepada Rasulullah maksudnya adalah seorang muslim tidaklah menerima sesuatupun baik perintah maupun larangan kecuali dari ajaran Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, ia tidak menempuh kecuali jalan Nabi hingga ia tidak menerima sedikitpun keberatan terhadap keputusan Nabi, serta ia berhias dengan akhlak Nabi dalam hal kedermawanan, mendahulukan orang lain, kesabaran, tawdhul, dan yang lainnya.Dan diantara harga manisnya Iman “Ia mencintai seseorang , tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah”, ini maksudnya adalah seorang mukmin menjalin hubungannya diatas pondasi keimanan. Ia mencintai kaum mukminin meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah dan fakir, dan ia membenci para pelaku kemaksiatan dan kaum musyrikin meskipun mereka adalah orang-orang yang kuat dan kaya.Hakikat dari mencintai karena Allah adalah kecintaannya tidak bertambah karena kebaikan orang lain dan tidak berkurang karena sikap kaku orang lain. Dan makna hadits menggali makna-makna persaudaraan dalam Islam yang tidak akan murni dan kokoh dan erat kecuali jika persaudaraan tersebut karena Allah dan dalam keridhoan Allah. Persaudaraan Islam yang benar tidak akan merasakan manisnya iman kecuali jika melazimi ketakwaan. Allah berfirmanإِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌOrang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. (QS Al-Hujuroot : 10)Allah juga berfirman:الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧)Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf : 67)“Dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka”, disana ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.Jika datang dunia maka iapun beriman, akan tetapi jika dunia pergi darinya maka iapun berlepas diri dari keimanan dan kembali kepada kondisinya semula.Seorang mukmin yang benar, tidaklah terpengaruh dengan datang dan perginya dunia, hatinya kokoh, ia selalu dermawan dalam kondisi susah dan senang, dan kondisi miskin dan kaya, sehat dan sakit.Orang-orang yang merasakan kelezatan iman mereka menyebutkan tentang kelezatan tersebut. Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh ada waktu-waktu kebahagiaan yang lewat di hati, aku katakana jika seandainya penghuni surga dalam kondisi seperti ini, maka sungguh mereka dalam kenikmatan”. Yang lain berkata, “Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak masuk ke dalamnya maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat”. Yang ketiga berkata, “Sesungguhnya keimanan memiliki kegembiraan dan kelezatan di hati, barangsiapa yang tidak merasakannya maka ia telah kehilangan imannya atau kurang imannya, dan ia termasuk dari golongan yang Allah berfirman tentang mereka :قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْOrang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (QS Al-Hujuroot : 14)Diantara mereka yang merasakan manisnya iman adalah Khubaib bin ‘Adiy radhiallahu ‘anhu –yang tertawan oleh kaum musyrikin-. Dikatakan kepadanya, “Apakah kau suka jika Muhammad menggantikan posisimu dan engkau dalam kondisi selamat bersama keluargamu”. Tatkala itu ia hampir dibunuh dengan disalib. Maka beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak suka jika aku bersama istri dan anak-anakku, dan aku memiliki dunia dan kenikmatannya sementara Rasulullah tertusuk duri!”Wanita yang merasakan manisnya iman, tatkala sampai kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah terbunuh dalam perang Uhud. Maka wanita inipun pergi ke medan pertempuran, ternyata ayahnya terbunuh, saudara lelakinya terbunuh, putranya terbunuh, dan suaminya terbunuh. Wanita inipun berkata, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Tatkala matanya memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (masih hidup) maka iapun merasa tenang dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, seluruh musibah menjadi ringan selama engkau selamat”.Orang yang merasakan manisnya iman jika engkau mencincang tubuhnya maka ia tidak akan bergeser dari agamanya. Kaum musyrikin meletakan batu di atas dada Bilal agar ia kafir, maka Bilal berkata, “Ahad, Ahad, Yang Maha Esa, dan bergantung kepadaNya segala sesuatu”Heraklius raja Romawi yang semasa dengan Nabi ‘alaihi as-sholaatu was salaam, ia bertanya kepada Abu Sufyan, “Apakah ada yang murtad diantara pengikut Muhammad karena benci terhadap agamanya?” Abu Sufyan berkata, “Tidak”. Heraklius berkata, “Demikianlah keimanan jika manisnya telah merasuk ke dalam hati”Jika seorang muslim telah merasakan manisnya iman maka ia akan menjadi manusia yang lain, ada rasa yang lain dalam kehidupannya. Ia membangun manisnya iman dengan suka memberi, ia bahagia dengan pemberiannya bukan dengan menerima pemberian, ia memberikan kebaikan bagi orang lain, ia berusaha agar dirinya agung di sisi Allah meskipun di sisi manusia ia adalah orang yang rendah.Diantara ciri-ciri manisnya iman : Seorang mukmin meyakin dari relung hatinya yang paling dalam bahwasanya rizki di tangan Allah, apa yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba maka tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya, dan bahwasanya seseorang/jiwa tidak akan mati hingga dipenuhi rizqinya dan ajalnya.Dan diantara buah bentuk manisnya iman seorang mukmin terbebaskan dari hawa nafsunya dan godaan jiwanya yang menyeru kepada keburukan dan fitnah harta. Ia terbebaskan dari sikap pelit dan kikir, serta ia berhias dengan muroqobatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah), berhias dengan ikhlas, kedermawanan dan mendahulukan kepentingan saudaranya. Allah berfirman :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl : 97) Khutbah KeduaManisnya iman menjadikan seluruh ibadah menjadi ledzat. Salah seorang dari mereka berkata, “Seluruh kelezatan hanya memiliki satu kelezatan kecuali ibadah, ia memiliki tiga keledzatan. Tatkala engkau sedang beribadah, tatkala engkau mengingat ibadah tersebut, dan tatkala engkau diberi ganjaran atas ibadah tersebut”Dalam sholat ada kelezatan tatkala ditunaikan oleh seorang muslim dengan kekhusyu’an dan kehadiran hati, maka jadilah sholat adalah penyejuk pandangannya dan ketenteraman jiwanya serta surga bagi hatinya dan ketenangannya di dunia. Ia selalu merasa dalam kesempitan hingga ia melaksanakan sholat. Karenanya Imamnya orang-orang yang bertakwa yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلاَلُ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”Sholat malam di sisi para sahabat, para tabi’in, dan para salaf umat ini memiliki kedudukan yang agung dan kelezatan yang tidak tertandingi. Berkata salah seorang dari mereka, “Demi Allah, kalau bukan karena sholat malam aku tidak ingin hidup menetap di dunia, demi Allah sesungguhnya orang yang sholat malam di malam hari bersama Allah lebih merasa ledzat daripada orang-orang yang berhura-hura dalam kelalaian mereka”Para salaf dan kaum sholeh benar-benar berlezat-lezat dengan berpuasa. Adapun haji, maka kelezatannya mendorong para jama’ah haji untuk menaiki tunggangan dan kuat menempuh perjalanan berat dengan penuh kerinduan untuk ke ka’bah. Dan dzikir kepada Allah ada kelezatan, Allah berfirman :أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُIngatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ro’d : 28)Membaca Al-Qur’an memiliki kelezatan. Utsman bin ‘Affaan radhiallahu ‘anhu berkata, “Kalau seandainya hati-hati kalian bersih maka kalian tidak akan pernah merasa cukup dari firman Allah”. Allah berfirman :وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (١٩)Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS Al-Isroo’ : 19)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 

Manisnya Iman

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 16/12/1435 H – 10/10/2014 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah PertamaDari Abbas bin Abdil Muttholib bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaذَاقَ طَعْمَ الإِيْماَنِ مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا وِبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا رَسُوْلاً“Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridho Allah sebagai Robnya, dan Islam sebagai agamanya dan ridho Muhammad sebagai nabi dan rasul” (HR Muslim)Sesungguhnya barang siapa yang ridho Allah sebagai Robnya maka ia akan mencintaiNya dan bertawakkal kepadaNya serta memohon pertolongan kepadaNya. Ia merasa cukup denganNya subhaanahu, ia tidak akan meminta kepada selainNya, karena seluruh selainNya adalah lemah dan tidak mampu. Barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan Allah maka tidak sesuatupun yang akan mencukupkannya, dan barangsiapa yang ridho kepada Allah maka ia akan meraih segalanya, barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah maka ia tidak akan butuh kepada apapun, dan barangsiapa yang merasa mulia dengan Allah maka ia tidak akan hina kepada sesuatupun. Allah berfirman : أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُBukankah Allah cukup untuk hamba-hamba-Nya. (QS Az-Zumar : 36)Barangsiapa yang ridho Muhammad sebagai Rasul maka ia akan mencukupkan Muhammad sebagai tauladannya dan pemimpinnya, serta pemberi arahan baginya, dan ia akan semangat untuk mempelajari sejarahnya dan menjalankan sunnahnya.Barangsiapa yang ridho Islam sebagai agama maka ia akan merasa cukup dengan Islam, ia akan menjalankan kewajiban-kewajiban dalam Islam, menjauhi yang dilarang, dan meyakini bahwa semua yang ada dalam ajaran islam adalah benar, adil, dan petunjuk.Imam memiliki rasa manis yang tidak bisa dirasakan kecuali bagi orang yang beriman. Dan iman jika telah masuk ke dalam relung hati maka hati akan berseri dan akan menimbulkan kelezatan dalam hati, akan menjadikan kehidupan bahagia, dan dada menjadi lapang. Barangsiapa yang merasakan manisnya iman maka ia akan merasakan kelezatan dalam beribadah, ia akan berjuang di atas jalanNya, dan akan berkorban dengan segala sesuatu demi Allah. Allah berfirman :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٥٨)Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yunus : 58)Jika manisnya iman telah merasuk dalam relung hati maka akan menjadikan pemiliknya selalu bersama Allah di setiap waktu dan di setiap tempat, dalam gerakannya dan diamnya, siang dan malam, ia selalu bersama Penciptanya dan Penolongnya. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk selalu berkataرضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياAku ridho Allah sebagai Rob, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi (HR At-Tirmidzi)Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :النظرة سهم من سهام إبليس مسمومة فمن تركها من خوف الله أثابه جل وعز إيمانا يجد حلاوته في قلبه“Pandangan (haram) adalah anak panah beracunnya Iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah Azza wa Jalla akan memberinya ganjaran keimanan, yang ia rasakan manisnya iman tersebut di hatinya” (sanadnya shahih)Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman, (1) Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya, (2) Ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Manisnya iman harganya mahal, dan memberi pengaruh yang diberkahi. Harga manisnya iman adalah ” Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya “. Yaitu Allah dalam bacaan qur’annya dan Nabi dalam sunnahnya lebih dicintai oleh seorang mukmin daripada selain keduanya. Tatkala bertentangan antara kemaslahatanmu dengan syari’at maka engkau mendahulukan kepentingan syari’at dan keridhoan Allah, engkau memilih ketaatan kepada Allah dan RasulNya daripada mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya. Maka jadilah Allah di sisimu yang dicintai secara total. Dan tatkala itu jadilah jiwa bergantung kepada Allah.Cinta kepada Rasulullah maksudnya adalah seorang muslim tidaklah menerima sesuatupun baik perintah maupun larangan kecuali dari ajaran Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, ia tidak menempuh kecuali jalan Nabi hingga ia tidak menerima sedikitpun keberatan terhadap keputusan Nabi, serta ia berhias dengan akhlak Nabi dalam hal kedermawanan, mendahulukan orang lain, kesabaran, tawdhul, dan yang lainnya.Dan diantara harga manisnya Iman “Ia mencintai seseorang , tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah”, ini maksudnya adalah seorang mukmin menjalin hubungannya diatas pondasi keimanan. Ia mencintai kaum mukminin meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah dan fakir, dan ia membenci para pelaku kemaksiatan dan kaum musyrikin meskipun mereka adalah orang-orang yang kuat dan kaya.Hakikat dari mencintai karena Allah adalah kecintaannya tidak bertambah karena kebaikan orang lain dan tidak berkurang karena sikap kaku orang lain. Dan makna hadits menggali makna-makna persaudaraan dalam Islam yang tidak akan murni dan kokoh dan erat kecuali jika persaudaraan tersebut karena Allah dan dalam keridhoan Allah. Persaudaraan Islam yang benar tidak akan merasakan manisnya iman kecuali jika melazimi ketakwaan. Allah berfirmanإِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌOrang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. (QS Al-Hujuroot : 10)Allah juga berfirman:الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧)Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf : 67)“Dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka”, disana ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.Jika datang dunia maka iapun beriman, akan tetapi jika dunia pergi darinya maka iapun berlepas diri dari keimanan dan kembali kepada kondisinya semula.Seorang mukmin yang benar, tidaklah terpengaruh dengan datang dan perginya dunia, hatinya kokoh, ia selalu dermawan dalam kondisi susah dan senang, dan kondisi miskin dan kaya, sehat dan sakit.Orang-orang yang merasakan kelezatan iman mereka menyebutkan tentang kelezatan tersebut. Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh ada waktu-waktu kebahagiaan yang lewat di hati, aku katakana jika seandainya penghuni surga dalam kondisi seperti ini, maka sungguh mereka dalam kenikmatan”. Yang lain berkata, “Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak masuk ke dalamnya maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat”. Yang ketiga berkata, “Sesungguhnya keimanan memiliki kegembiraan dan kelezatan di hati, barangsiapa yang tidak merasakannya maka ia telah kehilangan imannya atau kurang imannya, dan ia termasuk dari golongan yang Allah berfirman tentang mereka :قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْOrang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (QS Al-Hujuroot : 14)Diantara mereka yang merasakan manisnya iman adalah Khubaib bin ‘Adiy radhiallahu ‘anhu –yang tertawan oleh kaum musyrikin-. Dikatakan kepadanya, “Apakah kau suka jika Muhammad menggantikan posisimu dan engkau dalam kondisi selamat bersama keluargamu”. Tatkala itu ia hampir dibunuh dengan disalib. Maka beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak suka jika aku bersama istri dan anak-anakku, dan aku memiliki dunia dan kenikmatannya sementara Rasulullah tertusuk duri!”Wanita yang merasakan manisnya iman, tatkala sampai kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah terbunuh dalam perang Uhud. Maka wanita inipun pergi ke medan pertempuran, ternyata ayahnya terbunuh, saudara lelakinya terbunuh, putranya terbunuh, dan suaminya terbunuh. Wanita inipun berkata, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Tatkala matanya memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (masih hidup) maka iapun merasa tenang dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, seluruh musibah menjadi ringan selama engkau selamat”.Orang yang merasakan manisnya iman jika engkau mencincang tubuhnya maka ia tidak akan bergeser dari agamanya. Kaum musyrikin meletakan batu di atas dada Bilal agar ia kafir, maka Bilal berkata, “Ahad, Ahad, Yang Maha Esa, dan bergantung kepadaNya segala sesuatu”Heraklius raja Romawi yang semasa dengan Nabi ‘alaihi as-sholaatu was salaam, ia bertanya kepada Abu Sufyan, “Apakah ada yang murtad diantara pengikut Muhammad karena benci terhadap agamanya?” Abu Sufyan berkata, “Tidak”. Heraklius berkata, “Demikianlah keimanan jika manisnya telah merasuk ke dalam hati”Jika seorang muslim telah merasakan manisnya iman maka ia akan menjadi manusia yang lain, ada rasa yang lain dalam kehidupannya. Ia membangun manisnya iman dengan suka memberi, ia bahagia dengan pemberiannya bukan dengan menerima pemberian, ia memberikan kebaikan bagi orang lain, ia berusaha agar dirinya agung di sisi Allah meskipun di sisi manusia ia adalah orang yang rendah.Diantara ciri-ciri manisnya iman : Seorang mukmin meyakin dari relung hatinya yang paling dalam bahwasanya rizki di tangan Allah, apa yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba maka tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya, dan bahwasanya seseorang/jiwa tidak akan mati hingga dipenuhi rizqinya dan ajalnya.Dan diantara buah bentuk manisnya iman seorang mukmin terbebaskan dari hawa nafsunya dan godaan jiwanya yang menyeru kepada keburukan dan fitnah harta. Ia terbebaskan dari sikap pelit dan kikir, serta ia berhias dengan muroqobatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah), berhias dengan ikhlas, kedermawanan dan mendahulukan kepentingan saudaranya. Allah berfirman :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl : 97) Khutbah KeduaManisnya iman menjadikan seluruh ibadah menjadi ledzat. Salah seorang dari mereka berkata, “Seluruh kelezatan hanya memiliki satu kelezatan kecuali ibadah, ia memiliki tiga keledzatan. Tatkala engkau sedang beribadah, tatkala engkau mengingat ibadah tersebut, dan tatkala engkau diberi ganjaran atas ibadah tersebut”Dalam sholat ada kelezatan tatkala ditunaikan oleh seorang muslim dengan kekhusyu’an dan kehadiran hati, maka jadilah sholat adalah penyejuk pandangannya dan ketenteraman jiwanya serta surga bagi hatinya dan ketenangannya di dunia. Ia selalu merasa dalam kesempitan hingga ia melaksanakan sholat. Karenanya Imamnya orang-orang yang bertakwa yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلاَلُ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”Sholat malam di sisi para sahabat, para tabi’in, dan para salaf umat ini memiliki kedudukan yang agung dan kelezatan yang tidak tertandingi. Berkata salah seorang dari mereka, “Demi Allah, kalau bukan karena sholat malam aku tidak ingin hidup menetap di dunia, demi Allah sesungguhnya orang yang sholat malam di malam hari bersama Allah lebih merasa ledzat daripada orang-orang yang berhura-hura dalam kelalaian mereka”Para salaf dan kaum sholeh benar-benar berlezat-lezat dengan berpuasa. Adapun haji, maka kelezatannya mendorong para jama’ah haji untuk menaiki tunggangan dan kuat menempuh perjalanan berat dengan penuh kerinduan untuk ke ka’bah. Dan dzikir kepada Allah ada kelezatan, Allah berfirman :أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُIngatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ro’d : 28)Membaca Al-Qur’an memiliki kelezatan. Utsman bin ‘Affaan radhiallahu ‘anhu berkata, “Kalau seandainya hati-hati kalian bersih maka kalian tidak akan pernah merasa cukup dari firman Allah”. Allah berfirman :وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (١٩)Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS Al-Isroo’ : 19)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 16/12/1435 H – 10/10/2014 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah PertamaDari Abbas bin Abdil Muttholib bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaذَاقَ طَعْمَ الإِيْماَنِ مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا وِبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا رَسُوْلاً“Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridho Allah sebagai Robnya, dan Islam sebagai agamanya dan ridho Muhammad sebagai nabi dan rasul” (HR Muslim)Sesungguhnya barang siapa yang ridho Allah sebagai Robnya maka ia akan mencintaiNya dan bertawakkal kepadaNya serta memohon pertolongan kepadaNya. Ia merasa cukup denganNya subhaanahu, ia tidak akan meminta kepada selainNya, karena seluruh selainNya adalah lemah dan tidak mampu. Barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan Allah maka tidak sesuatupun yang akan mencukupkannya, dan barangsiapa yang ridho kepada Allah maka ia akan meraih segalanya, barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah maka ia tidak akan butuh kepada apapun, dan barangsiapa yang merasa mulia dengan Allah maka ia tidak akan hina kepada sesuatupun. Allah berfirman : أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُBukankah Allah cukup untuk hamba-hamba-Nya. (QS Az-Zumar : 36)Barangsiapa yang ridho Muhammad sebagai Rasul maka ia akan mencukupkan Muhammad sebagai tauladannya dan pemimpinnya, serta pemberi arahan baginya, dan ia akan semangat untuk mempelajari sejarahnya dan menjalankan sunnahnya.Barangsiapa yang ridho Islam sebagai agama maka ia akan merasa cukup dengan Islam, ia akan menjalankan kewajiban-kewajiban dalam Islam, menjauhi yang dilarang, dan meyakini bahwa semua yang ada dalam ajaran islam adalah benar, adil, dan petunjuk.Imam memiliki rasa manis yang tidak bisa dirasakan kecuali bagi orang yang beriman. Dan iman jika telah masuk ke dalam relung hati maka hati akan berseri dan akan menimbulkan kelezatan dalam hati, akan menjadikan kehidupan bahagia, dan dada menjadi lapang. Barangsiapa yang merasakan manisnya iman maka ia akan merasakan kelezatan dalam beribadah, ia akan berjuang di atas jalanNya, dan akan berkorban dengan segala sesuatu demi Allah. Allah berfirman :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٥٨)Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yunus : 58)Jika manisnya iman telah merasuk dalam relung hati maka akan menjadikan pemiliknya selalu bersama Allah di setiap waktu dan di setiap tempat, dalam gerakannya dan diamnya, siang dan malam, ia selalu bersama Penciptanya dan Penolongnya. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk selalu berkataرضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياAku ridho Allah sebagai Rob, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi (HR At-Tirmidzi)Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :النظرة سهم من سهام إبليس مسمومة فمن تركها من خوف الله أثابه جل وعز إيمانا يجد حلاوته في قلبه“Pandangan (haram) adalah anak panah beracunnya Iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah Azza wa Jalla akan memberinya ganjaran keimanan, yang ia rasakan manisnya iman tersebut di hatinya” (sanadnya shahih)Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman, (1) Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya, (2) Ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Manisnya iman harganya mahal, dan memberi pengaruh yang diberkahi. Harga manisnya iman adalah ” Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya “. Yaitu Allah dalam bacaan qur’annya dan Nabi dalam sunnahnya lebih dicintai oleh seorang mukmin daripada selain keduanya. Tatkala bertentangan antara kemaslahatanmu dengan syari’at maka engkau mendahulukan kepentingan syari’at dan keridhoan Allah, engkau memilih ketaatan kepada Allah dan RasulNya daripada mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya. Maka jadilah Allah di sisimu yang dicintai secara total. Dan tatkala itu jadilah jiwa bergantung kepada Allah.Cinta kepada Rasulullah maksudnya adalah seorang muslim tidaklah menerima sesuatupun baik perintah maupun larangan kecuali dari ajaran Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, ia tidak menempuh kecuali jalan Nabi hingga ia tidak menerima sedikitpun keberatan terhadap keputusan Nabi, serta ia berhias dengan akhlak Nabi dalam hal kedermawanan, mendahulukan orang lain, kesabaran, tawdhul, dan yang lainnya.Dan diantara harga manisnya Iman “Ia mencintai seseorang , tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah”, ini maksudnya adalah seorang mukmin menjalin hubungannya diatas pondasi keimanan. Ia mencintai kaum mukminin meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah dan fakir, dan ia membenci para pelaku kemaksiatan dan kaum musyrikin meskipun mereka adalah orang-orang yang kuat dan kaya.Hakikat dari mencintai karena Allah adalah kecintaannya tidak bertambah karena kebaikan orang lain dan tidak berkurang karena sikap kaku orang lain. Dan makna hadits menggali makna-makna persaudaraan dalam Islam yang tidak akan murni dan kokoh dan erat kecuali jika persaudaraan tersebut karena Allah dan dalam keridhoan Allah. Persaudaraan Islam yang benar tidak akan merasakan manisnya iman kecuali jika melazimi ketakwaan. Allah berfirmanإِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌOrang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. (QS Al-Hujuroot : 10)Allah juga berfirman:الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧)Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf : 67)“Dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka”, disana ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.Jika datang dunia maka iapun beriman, akan tetapi jika dunia pergi darinya maka iapun berlepas diri dari keimanan dan kembali kepada kondisinya semula.Seorang mukmin yang benar, tidaklah terpengaruh dengan datang dan perginya dunia, hatinya kokoh, ia selalu dermawan dalam kondisi susah dan senang, dan kondisi miskin dan kaya, sehat dan sakit.Orang-orang yang merasakan kelezatan iman mereka menyebutkan tentang kelezatan tersebut. Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh ada waktu-waktu kebahagiaan yang lewat di hati, aku katakana jika seandainya penghuni surga dalam kondisi seperti ini, maka sungguh mereka dalam kenikmatan”. Yang lain berkata, “Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak masuk ke dalamnya maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat”. Yang ketiga berkata, “Sesungguhnya keimanan memiliki kegembiraan dan kelezatan di hati, barangsiapa yang tidak merasakannya maka ia telah kehilangan imannya atau kurang imannya, dan ia termasuk dari golongan yang Allah berfirman tentang mereka :قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْOrang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (QS Al-Hujuroot : 14)Diantara mereka yang merasakan manisnya iman adalah Khubaib bin ‘Adiy radhiallahu ‘anhu –yang tertawan oleh kaum musyrikin-. Dikatakan kepadanya, “Apakah kau suka jika Muhammad menggantikan posisimu dan engkau dalam kondisi selamat bersama keluargamu”. Tatkala itu ia hampir dibunuh dengan disalib. Maka beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak suka jika aku bersama istri dan anak-anakku, dan aku memiliki dunia dan kenikmatannya sementara Rasulullah tertusuk duri!”Wanita yang merasakan manisnya iman, tatkala sampai kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah terbunuh dalam perang Uhud. Maka wanita inipun pergi ke medan pertempuran, ternyata ayahnya terbunuh, saudara lelakinya terbunuh, putranya terbunuh, dan suaminya terbunuh. Wanita inipun berkata, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Tatkala matanya memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (masih hidup) maka iapun merasa tenang dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, seluruh musibah menjadi ringan selama engkau selamat”.Orang yang merasakan manisnya iman jika engkau mencincang tubuhnya maka ia tidak akan bergeser dari agamanya. Kaum musyrikin meletakan batu di atas dada Bilal agar ia kafir, maka Bilal berkata, “Ahad, Ahad, Yang Maha Esa, dan bergantung kepadaNya segala sesuatu”Heraklius raja Romawi yang semasa dengan Nabi ‘alaihi as-sholaatu was salaam, ia bertanya kepada Abu Sufyan, “Apakah ada yang murtad diantara pengikut Muhammad karena benci terhadap agamanya?” Abu Sufyan berkata, “Tidak”. Heraklius berkata, “Demikianlah keimanan jika manisnya telah merasuk ke dalam hati”Jika seorang muslim telah merasakan manisnya iman maka ia akan menjadi manusia yang lain, ada rasa yang lain dalam kehidupannya. Ia membangun manisnya iman dengan suka memberi, ia bahagia dengan pemberiannya bukan dengan menerima pemberian, ia memberikan kebaikan bagi orang lain, ia berusaha agar dirinya agung di sisi Allah meskipun di sisi manusia ia adalah orang yang rendah.Diantara ciri-ciri manisnya iman : Seorang mukmin meyakin dari relung hatinya yang paling dalam bahwasanya rizki di tangan Allah, apa yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba maka tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya, dan bahwasanya seseorang/jiwa tidak akan mati hingga dipenuhi rizqinya dan ajalnya.Dan diantara buah bentuk manisnya iman seorang mukmin terbebaskan dari hawa nafsunya dan godaan jiwanya yang menyeru kepada keburukan dan fitnah harta. Ia terbebaskan dari sikap pelit dan kikir, serta ia berhias dengan muroqobatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah), berhias dengan ikhlas, kedermawanan dan mendahulukan kepentingan saudaranya. Allah berfirman :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl : 97) Khutbah KeduaManisnya iman menjadikan seluruh ibadah menjadi ledzat. Salah seorang dari mereka berkata, “Seluruh kelezatan hanya memiliki satu kelezatan kecuali ibadah, ia memiliki tiga keledzatan. Tatkala engkau sedang beribadah, tatkala engkau mengingat ibadah tersebut, dan tatkala engkau diberi ganjaran atas ibadah tersebut”Dalam sholat ada kelezatan tatkala ditunaikan oleh seorang muslim dengan kekhusyu’an dan kehadiran hati, maka jadilah sholat adalah penyejuk pandangannya dan ketenteraman jiwanya serta surga bagi hatinya dan ketenangannya di dunia. Ia selalu merasa dalam kesempitan hingga ia melaksanakan sholat. Karenanya Imamnya orang-orang yang bertakwa yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلاَلُ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”Sholat malam di sisi para sahabat, para tabi’in, dan para salaf umat ini memiliki kedudukan yang agung dan kelezatan yang tidak tertandingi. Berkata salah seorang dari mereka, “Demi Allah, kalau bukan karena sholat malam aku tidak ingin hidup menetap di dunia, demi Allah sesungguhnya orang yang sholat malam di malam hari bersama Allah lebih merasa ledzat daripada orang-orang yang berhura-hura dalam kelalaian mereka”Para salaf dan kaum sholeh benar-benar berlezat-lezat dengan berpuasa. Adapun haji, maka kelezatannya mendorong para jama’ah haji untuk menaiki tunggangan dan kuat menempuh perjalanan berat dengan penuh kerinduan untuk ke ka’bah. Dan dzikir kepada Allah ada kelezatan, Allah berfirman :أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُIngatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ro’d : 28)Membaca Al-Qur’an memiliki kelezatan. Utsman bin ‘Affaan radhiallahu ‘anhu berkata, “Kalau seandainya hati-hati kalian bersih maka kalian tidak akan pernah merasa cukup dari firman Allah”. Allah berfirman :وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (١٩)Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS Al-Isroo’ : 19)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 


Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 16/12/1435 H – 10/10/2014 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah PertamaDari Abbas bin Abdil Muttholib bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaذَاقَ طَعْمَ الإِيْماَنِ مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا وِبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا رَسُوْلاً“Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridho Allah sebagai Robnya, dan Islam sebagai agamanya dan ridho Muhammad sebagai nabi dan rasul” (HR Muslim)Sesungguhnya barang siapa yang ridho Allah sebagai Robnya maka ia akan mencintaiNya dan bertawakkal kepadaNya serta memohon pertolongan kepadaNya. Ia merasa cukup denganNya subhaanahu, ia tidak akan meminta kepada selainNya, karena seluruh selainNya adalah lemah dan tidak mampu. Barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan Allah maka tidak sesuatupun yang akan mencukupkannya, dan barangsiapa yang ridho kepada Allah maka ia akan meraih segalanya, barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah maka ia tidak akan butuh kepada apapun, dan barangsiapa yang merasa mulia dengan Allah maka ia tidak akan hina kepada sesuatupun. Allah berfirman : أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُBukankah Allah cukup untuk hamba-hamba-Nya. (QS Az-Zumar : 36)Barangsiapa yang ridho Muhammad sebagai Rasul maka ia akan mencukupkan Muhammad sebagai tauladannya dan pemimpinnya, serta pemberi arahan baginya, dan ia akan semangat untuk mempelajari sejarahnya dan menjalankan sunnahnya.Barangsiapa yang ridho Islam sebagai agama maka ia akan merasa cukup dengan Islam, ia akan menjalankan kewajiban-kewajiban dalam Islam, menjauhi yang dilarang, dan meyakini bahwa semua yang ada dalam ajaran islam adalah benar, adil, dan petunjuk.Imam memiliki rasa manis yang tidak bisa dirasakan kecuali bagi orang yang beriman. Dan iman jika telah masuk ke dalam relung hati maka hati akan berseri dan akan menimbulkan kelezatan dalam hati, akan menjadikan kehidupan bahagia, dan dada menjadi lapang. Barangsiapa yang merasakan manisnya iman maka ia akan merasakan kelezatan dalam beribadah, ia akan berjuang di atas jalanNya, dan akan berkorban dengan segala sesuatu demi Allah. Allah berfirman :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٥٨)Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yunus : 58)Jika manisnya iman telah merasuk dalam relung hati maka akan menjadikan pemiliknya selalu bersama Allah di setiap waktu dan di setiap tempat, dalam gerakannya dan diamnya, siang dan malam, ia selalu bersama Penciptanya dan Penolongnya. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk selalu berkataرضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياAku ridho Allah sebagai Rob, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi (HR At-Tirmidzi)Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :النظرة سهم من سهام إبليس مسمومة فمن تركها من خوف الله أثابه جل وعز إيمانا يجد حلاوته في قلبه“Pandangan (haram) adalah anak panah beracunnya Iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah Azza wa Jalla akan memberinya ganjaran keimanan, yang ia rasakan manisnya iman tersebut di hatinya” (sanadnya shahih)Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman, (1) Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya, (2) Ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Manisnya iman harganya mahal, dan memberi pengaruh yang diberkahi. Harga manisnya iman adalah ” Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya “. Yaitu Allah dalam bacaan qur’annya dan Nabi dalam sunnahnya lebih dicintai oleh seorang mukmin daripada selain keduanya. Tatkala bertentangan antara kemaslahatanmu dengan syari’at maka engkau mendahulukan kepentingan syari’at dan keridhoan Allah, engkau memilih ketaatan kepada Allah dan RasulNya daripada mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya. Maka jadilah Allah di sisimu yang dicintai secara total. Dan tatkala itu jadilah jiwa bergantung kepada Allah.Cinta kepada Rasulullah maksudnya adalah seorang muslim tidaklah menerima sesuatupun baik perintah maupun larangan kecuali dari ajaran Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, ia tidak menempuh kecuali jalan Nabi hingga ia tidak menerima sedikitpun keberatan terhadap keputusan Nabi, serta ia berhias dengan akhlak Nabi dalam hal kedermawanan, mendahulukan orang lain, kesabaran, tawdhul, dan yang lainnya.Dan diantara harga manisnya Iman “Ia mencintai seseorang , tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah”, ini maksudnya adalah seorang mukmin menjalin hubungannya diatas pondasi keimanan. Ia mencintai kaum mukminin meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah dan fakir, dan ia membenci para pelaku kemaksiatan dan kaum musyrikin meskipun mereka adalah orang-orang yang kuat dan kaya.Hakikat dari mencintai karena Allah adalah kecintaannya tidak bertambah karena kebaikan orang lain dan tidak berkurang karena sikap kaku orang lain. Dan makna hadits menggali makna-makna persaudaraan dalam Islam yang tidak akan murni dan kokoh dan erat kecuali jika persaudaraan tersebut karena Allah dan dalam keridhoan Allah. Persaudaraan Islam yang benar tidak akan merasakan manisnya iman kecuali jika melazimi ketakwaan. Allah berfirmanإِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌOrang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. (QS Al-Hujuroot : 10)Allah juga berfirman:الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧)Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf : 67)“Dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka”, disana ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.Jika datang dunia maka iapun beriman, akan tetapi jika dunia pergi darinya maka iapun berlepas diri dari keimanan dan kembali kepada kondisinya semula.Seorang mukmin yang benar, tidaklah terpengaruh dengan datang dan perginya dunia, hatinya kokoh, ia selalu dermawan dalam kondisi susah dan senang, dan kondisi miskin dan kaya, sehat dan sakit.Orang-orang yang merasakan kelezatan iman mereka menyebutkan tentang kelezatan tersebut. Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh ada waktu-waktu kebahagiaan yang lewat di hati, aku katakana jika seandainya penghuni surga dalam kondisi seperti ini, maka sungguh mereka dalam kenikmatan”. Yang lain berkata, “Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak masuk ke dalamnya maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat”. Yang ketiga berkata, “Sesungguhnya keimanan memiliki kegembiraan dan kelezatan di hati, barangsiapa yang tidak merasakannya maka ia telah kehilangan imannya atau kurang imannya, dan ia termasuk dari golongan yang Allah berfirman tentang mereka :قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْOrang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (QS Al-Hujuroot : 14)Diantara mereka yang merasakan manisnya iman adalah Khubaib bin ‘Adiy radhiallahu ‘anhu –yang tertawan oleh kaum musyrikin-. Dikatakan kepadanya, “Apakah kau suka jika Muhammad menggantikan posisimu dan engkau dalam kondisi selamat bersama keluargamu”. Tatkala itu ia hampir dibunuh dengan disalib. Maka beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak suka jika aku bersama istri dan anak-anakku, dan aku memiliki dunia dan kenikmatannya sementara Rasulullah tertusuk duri!”Wanita yang merasakan manisnya iman, tatkala sampai kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah terbunuh dalam perang Uhud. Maka wanita inipun pergi ke medan pertempuran, ternyata ayahnya terbunuh, saudara lelakinya terbunuh, putranya terbunuh, dan suaminya terbunuh. Wanita inipun berkata, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Tatkala matanya memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (masih hidup) maka iapun merasa tenang dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, seluruh musibah menjadi ringan selama engkau selamat”.Orang yang merasakan manisnya iman jika engkau mencincang tubuhnya maka ia tidak akan bergeser dari agamanya. Kaum musyrikin meletakan batu di atas dada Bilal agar ia kafir, maka Bilal berkata, “Ahad, Ahad, Yang Maha Esa, dan bergantung kepadaNya segala sesuatu”Heraklius raja Romawi yang semasa dengan Nabi ‘alaihi as-sholaatu was salaam, ia bertanya kepada Abu Sufyan, “Apakah ada yang murtad diantara pengikut Muhammad karena benci terhadap agamanya?” Abu Sufyan berkata, “Tidak”. Heraklius berkata, “Demikianlah keimanan jika manisnya telah merasuk ke dalam hati”Jika seorang muslim telah merasakan manisnya iman maka ia akan menjadi manusia yang lain, ada rasa yang lain dalam kehidupannya. Ia membangun manisnya iman dengan suka memberi, ia bahagia dengan pemberiannya bukan dengan menerima pemberian, ia memberikan kebaikan bagi orang lain, ia berusaha agar dirinya agung di sisi Allah meskipun di sisi manusia ia adalah orang yang rendah.Diantara ciri-ciri manisnya iman : Seorang mukmin meyakin dari relung hatinya yang paling dalam bahwasanya rizki di tangan Allah, apa yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba maka tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya, dan bahwasanya seseorang/jiwa tidak akan mati hingga dipenuhi rizqinya dan ajalnya.Dan diantara buah bentuk manisnya iman seorang mukmin terbebaskan dari hawa nafsunya dan godaan jiwanya yang menyeru kepada keburukan dan fitnah harta. Ia terbebaskan dari sikap pelit dan kikir, serta ia berhias dengan muroqobatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah), berhias dengan ikhlas, kedermawanan dan mendahulukan kepentingan saudaranya. Allah berfirman :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl : 97) Khutbah KeduaManisnya iman menjadikan seluruh ibadah menjadi ledzat. Salah seorang dari mereka berkata, “Seluruh kelezatan hanya memiliki satu kelezatan kecuali ibadah, ia memiliki tiga keledzatan. Tatkala engkau sedang beribadah, tatkala engkau mengingat ibadah tersebut, dan tatkala engkau diberi ganjaran atas ibadah tersebut”Dalam sholat ada kelezatan tatkala ditunaikan oleh seorang muslim dengan kekhusyu’an dan kehadiran hati, maka jadilah sholat adalah penyejuk pandangannya dan ketenteraman jiwanya serta surga bagi hatinya dan ketenangannya di dunia. Ia selalu merasa dalam kesempitan hingga ia melaksanakan sholat. Karenanya Imamnya orang-orang yang bertakwa yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلاَلُ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”Sholat malam di sisi para sahabat, para tabi’in, dan para salaf umat ini memiliki kedudukan yang agung dan kelezatan yang tidak tertandingi. Berkata salah seorang dari mereka, “Demi Allah, kalau bukan karena sholat malam aku tidak ingin hidup menetap di dunia, demi Allah sesungguhnya orang yang sholat malam di malam hari bersama Allah lebih merasa ledzat daripada orang-orang yang berhura-hura dalam kelalaian mereka”Para salaf dan kaum sholeh benar-benar berlezat-lezat dengan berpuasa. Adapun haji, maka kelezatannya mendorong para jama’ah haji untuk menaiki tunggangan dan kuat menempuh perjalanan berat dengan penuh kerinduan untuk ke ka’bah. Dan dzikir kepada Allah ada kelezatan, Allah berfirman :أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُIngatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ro’d : 28)Membaca Al-Qur’an memiliki kelezatan. Utsman bin ‘Affaan radhiallahu ‘anhu berkata, “Kalau seandainya hati-hati kalian bersih maka kalian tidak akan pernah merasa cukup dari firman Allah”. Allah berfirman :وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (١٩)Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS Al-Isroo’ : 19)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 

Shalat Tahiyatul Masjid Ketika Khatib Jumat Sudah Naik Mimbar

Shalat tahiyatul masjid ketika khatib jumat naik mimbar, apakah boleh? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (madzhab Syafi’i), disunnahkan bagi yang masuk masjid ketika imam sedang berkhutbah untuk tetap melaksanakan tahiyatul masjid. Namun shalat tersebut diperingan, dimakruhkan ia tidak melakukan shalat tersebut. Demikianlah menjadi pendapat Al Hasan Al Bashri, Makhul, Maqbari, Sufyan bin ‘Uyainah, Al Humaidi, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir, Daud dan selainnya. Adapun ‘Atho’ bin Abi Robbah, Syuraih, Ibnu Sirin, An Nakha’i, Qatadah, Malik, Al Laits, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz berpendapat bahwa tidak ada shalat apa-apa ketika itu (saat khatib Jumat sudah naik mimbar). Abu Majlaz berpendapat bahwa jika mau, silakan shalat, namun jika tidak pun, tidak apa-apa.” (Al Majmu’, 4: 299). Intinya, disunnahkan tetap shalat tahiyatul masjid walau khatib jumat sudah naik mimbar berdasarkan hadits, إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687) Baca juga bahasan penting: Bolehkah Shalat Tahiyatul Masjid di Waktu Terlarang? Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 16 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat jumat shalat tahiyatul masjid

Shalat Tahiyatul Masjid Ketika Khatib Jumat Sudah Naik Mimbar

Shalat tahiyatul masjid ketika khatib jumat naik mimbar, apakah boleh? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (madzhab Syafi’i), disunnahkan bagi yang masuk masjid ketika imam sedang berkhutbah untuk tetap melaksanakan tahiyatul masjid. Namun shalat tersebut diperingan, dimakruhkan ia tidak melakukan shalat tersebut. Demikianlah menjadi pendapat Al Hasan Al Bashri, Makhul, Maqbari, Sufyan bin ‘Uyainah, Al Humaidi, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir, Daud dan selainnya. Adapun ‘Atho’ bin Abi Robbah, Syuraih, Ibnu Sirin, An Nakha’i, Qatadah, Malik, Al Laits, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz berpendapat bahwa tidak ada shalat apa-apa ketika itu (saat khatib Jumat sudah naik mimbar). Abu Majlaz berpendapat bahwa jika mau, silakan shalat, namun jika tidak pun, tidak apa-apa.” (Al Majmu’, 4: 299). Intinya, disunnahkan tetap shalat tahiyatul masjid walau khatib jumat sudah naik mimbar berdasarkan hadits, إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687) Baca juga bahasan penting: Bolehkah Shalat Tahiyatul Masjid di Waktu Terlarang? Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 16 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat jumat shalat tahiyatul masjid
Shalat tahiyatul masjid ketika khatib jumat naik mimbar, apakah boleh? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (madzhab Syafi’i), disunnahkan bagi yang masuk masjid ketika imam sedang berkhutbah untuk tetap melaksanakan tahiyatul masjid. Namun shalat tersebut diperingan, dimakruhkan ia tidak melakukan shalat tersebut. Demikianlah menjadi pendapat Al Hasan Al Bashri, Makhul, Maqbari, Sufyan bin ‘Uyainah, Al Humaidi, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir, Daud dan selainnya. Adapun ‘Atho’ bin Abi Robbah, Syuraih, Ibnu Sirin, An Nakha’i, Qatadah, Malik, Al Laits, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz berpendapat bahwa tidak ada shalat apa-apa ketika itu (saat khatib Jumat sudah naik mimbar). Abu Majlaz berpendapat bahwa jika mau, silakan shalat, namun jika tidak pun, tidak apa-apa.” (Al Majmu’, 4: 299). Intinya, disunnahkan tetap shalat tahiyatul masjid walau khatib jumat sudah naik mimbar berdasarkan hadits, إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687) Baca juga bahasan penting: Bolehkah Shalat Tahiyatul Masjid di Waktu Terlarang? Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 16 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat jumat shalat tahiyatul masjid


Shalat tahiyatul masjid ketika khatib jumat naik mimbar, apakah boleh? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (madzhab Syafi’i), disunnahkan bagi yang masuk masjid ketika imam sedang berkhutbah untuk tetap melaksanakan tahiyatul masjid. Namun shalat tersebut diperingan, dimakruhkan ia tidak melakukan shalat tersebut. Demikianlah menjadi pendapat Al Hasan Al Bashri, Makhul, Maqbari, Sufyan bin ‘Uyainah, Al Humaidi, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir, Daud dan selainnya. Adapun ‘Atho’ bin Abi Robbah, Syuraih, Ibnu Sirin, An Nakha’i, Qatadah, Malik, Al Laits, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz berpendapat bahwa tidak ada shalat apa-apa ketika itu (saat khatib Jumat sudah naik mimbar). Abu Majlaz berpendapat bahwa jika mau, silakan shalat, namun jika tidak pun, tidak apa-apa.” (Al Majmu’, 4: 299). Intinya, disunnahkan tetap shalat tahiyatul masjid walau khatib jumat sudah naik mimbar berdasarkan hadits, إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687) Baca juga bahasan penting: Bolehkah Shalat Tahiyatul Masjid di Waktu Terlarang? Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 16 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat jumat shalat tahiyatul masjid

Gerhana Tidak Terlihat Berarti Tidak Ada Shalat Gerhana

Gerhana tidak terlihat berarti tidak ada shalat gerhana. Karena shalat gerhana ini dikaitkan dengan penglihatan, bukan berdasarkan hisab atau hasil perkiraan ilmu falak atau astronomi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ “Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047) Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah pada jam sekian dan sekian. Apakah shala gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak boleh berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka segeralah shalat.” Suatu hal yang mungkin, Allah menyembunyikan penglihatan gerhana pada satu daerah, lalu menampakkannya pada daerah lain. Ada hikmah di balik itu semua.” (Sumber: Saaid.Net) Sehingga jika ada yang shalat gerhana padahal cuma melihat di TV atau berpatokan pada berita saja, nyatanya di daerahnya sendiri tidak nampak gerhana karena tertutup mendung, maka ia telah keliru. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi penuh berkah, 14 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat gerhana

Gerhana Tidak Terlihat Berarti Tidak Ada Shalat Gerhana

Gerhana tidak terlihat berarti tidak ada shalat gerhana. Karena shalat gerhana ini dikaitkan dengan penglihatan, bukan berdasarkan hisab atau hasil perkiraan ilmu falak atau astronomi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ “Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047) Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah pada jam sekian dan sekian. Apakah shala gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak boleh berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka segeralah shalat.” Suatu hal yang mungkin, Allah menyembunyikan penglihatan gerhana pada satu daerah, lalu menampakkannya pada daerah lain. Ada hikmah di balik itu semua.” (Sumber: Saaid.Net) Sehingga jika ada yang shalat gerhana padahal cuma melihat di TV atau berpatokan pada berita saja, nyatanya di daerahnya sendiri tidak nampak gerhana karena tertutup mendung, maka ia telah keliru. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi penuh berkah, 14 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat gerhana
Gerhana tidak terlihat berarti tidak ada shalat gerhana. Karena shalat gerhana ini dikaitkan dengan penglihatan, bukan berdasarkan hisab atau hasil perkiraan ilmu falak atau astronomi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ “Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047) Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah pada jam sekian dan sekian. Apakah shala gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak boleh berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka segeralah shalat.” Suatu hal yang mungkin, Allah menyembunyikan penglihatan gerhana pada satu daerah, lalu menampakkannya pada daerah lain. Ada hikmah di balik itu semua.” (Sumber: Saaid.Net) Sehingga jika ada yang shalat gerhana padahal cuma melihat di TV atau berpatokan pada berita saja, nyatanya di daerahnya sendiri tidak nampak gerhana karena tertutup mendung, maka ia telah keliru. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi penuh berkah, 14 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat gerhana


Gerhana tidak terlihat berarti tidak ada shalat gerhana. Karena shalat gerhana ini dikaitkan dengan penglihatan, bukan berdasarkan hisab atau hasil perkiraan ilmu falak atau astronomi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ “Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047) Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah pada jam sekian dan sekian. Apakah shala gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak boleh berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka segeralah shalat.” Suatu hal yang mungkin, Allah menyembunyikan penglihatan gerhana pada satu daerah, lalu menampakkannya pada daerah lain. Ada hikmah di balik itu semua.” (Sumber: Saaid.Net) Sehingga jika ada yang shalat gerhana padahal cuma melihat di TV atau berpatokan pada berita saja, nyatanya di daerahnya sendiri tidak nampak gerhana karena tertutup mendung, maka ia telah keliru. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi penuh berkah, 14 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsshalat gerhana

Menyimpan Daging Qurban Lebih Dari Tiga Hari

Apakah boleh menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari? Dari Salamah bin Al Akwa’, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا » “Barangsiapa yang berqurban di antara kalian, maka janganlah di pagi hari setelah hari ketiga di rumahnya masih tersisa sedikit dari daging qurban.” Ketika datang tahun setelahnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami akan melakukan sebagaimana yang dilakukan tahun yang lalu (yaitu tidak menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari, -pen). Beliau bersabda, “(Tidak), sekarang silakan kalian makan, memberi makan, dan menyimpannya, karena sesungguhnya pada tahun lalu manusia ditimpa kesulitan (kelaparan/krisis pangan, -pen), sehingga aku ingin kalian membantu mereka (yang membutuhkan makanan, -pen).” (HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974) Larangan menyimpan daging qurban itu terjadi pada tahun 9 hijriyah, sedangkan dibolehkannya menyimpan terjadi pada tahun 10 hijriyah. (Lihat Fathul Bari, 10: 26) Dari dalil di atas, kebanyakan ulama berdalil akan bolehnya menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari. Inilah pendapat jumhur atau mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ali dan Ibnu ‘Umar tetap tidak membolehkan daging qurban disimpan lebih dari tiga hari karena tidak sampai pada mereka mengenai hadits tentang keringanan bolehnya menyimpan lebih dari tiga hari. Mereka berdua memang mendengar hadits larangan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka meriwayatkan sesuai dengan apa yang mereka dengar. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2: 350) Jadi tak masalah jika daging qurban disimpan lebih dari tiga hari, bahkan mungkin banyak yang belum diolah dan masih tersimpan di freezer. Selamat menikmati. Semoga Allah memudahkan urusan kita dalam kebaikan dan ketaatan. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 14 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsdaging qurban

Menyimpan Daging Qurban Lebih Dari Tiga Hari

Apakah boleh menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari? Dari Salamah bin Al Akwa’, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا » “Barangsiapa yang berqurban di antara kalian, maka janganlah di pagi hari setelah hari ketiga di rumahnya masih tersisa sedikit dari daging qurban.” Ketika datang tahun setelahnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami akan melakukan sebagaimana yang dilakukan tahun yang lalu (yaitu tidak menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari, -pen). Beliau bersabda, “(Tidak), sekarang silakan kalian makan, memberi makan, dan menyimpannya, karena sesungguhnya pada tahun lalu manusia ditimpa kesulitan (kelaparan/krisis pangan, -pen), sehingga aku ingin kalian membantu mereka (yang membutuhkan makanan, -pen).” (HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974) Larangan menyimpan daging qurban itu terjadi pada tahun 9 hijriyah, sedangkan dibolehkannya menyimpan terjadi pada tahun 10 hijriyah. (Lihat Fathul Bari, 10: 26) Dari dalil di atas, kebanyakan ulama berdalil akan bolehnya menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari. Inilah pendapat jumhur atau mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ali dan Ibnu ‘Umar tetap tidak membolehkan daging qurban disimpan lebih dari tiga hari karena tidak sampai pada mereka mengenai hadits tentang keringanan bolehnya menyimpan lebih dari tiga hari. Mereka berdua memang mendengar hadits larangan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka meriwayatkan sesuai dengan apa yang mereka dengar. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2: 350) Jadi tak masalah jika daging qurban disimpan lebih dari tiga hari, bahkan mungkin banyak yang belum diolah dan masih tersimpan di freezer. Selamat menikmati. Semoga Allah memudahkan urusan kita dalam kebaikan dan ketaatan. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 14 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsdaging qurban
Apakah boleh menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari? Dari Salamah bin Al Akwa’, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا » “Barangsiapa yang berqurban di antara kalian, maka janganlah di pagi hari setelah hari ketiga di rumahnya masih tersisa sedikit dari daging qurban.” Ketika datang tahun setelahnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami akan melakukan sebagaimana yang dilakukan tahun yang lalu (yaitu tidak menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari, -pen). Beliau bersabda, “(Tidak), sekarang silakan kalian makan, memberi makan, dan menyimpannya, karena sesungguhnya pada tahun lalu manusia ditimpa kesulitan (kelaparan/krisis pangan, -pen), sehingga aku ingin kalian membantu mereka (yang membutuhkan makanan, -pen).” (HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974) Larangan menyimpan daging qurban itu terjadi pada tahun 9 hijriyah, sedangkan dibolehkannya menyimpan terjadi pada tahun 10 hijriyah. (Lihat Fathul Bari, 10: 26) Dari dalil di atas, kebanyakan ulama berdalil akan bolehnya menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari. Inilah pendapat jumhur atau mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ali dan Ibnu ‘Umar tetap tidak membolehkan daging qurban disimpan lebih dari tiga hari karena tidak sampai pada mereka mengenai hadits tentang keringanan bolehnya menyimpan lebih dari tiga hari. Mereka berdua memang mendengar hadits larangan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka meriwayatkan sesuai dengan apa yang mereka dengar. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2: 350) Jadi tak masalah jika daging qurban disimpan lebih dari tiga hari, bahkan mungkin banyak yang belum diolah dan masih tersimpan di freezer. Selamat menikmati. Semoga Allah memudahkan urusan kita dalam kebaikan dan ketaatan. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 14 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsdaging qurban


Apakah boleh menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari? Dari Salamah bin Al Akwa’, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا » “Barangsiapa yang berqurban di antara kalian, maka janganlah di pagi hari setelah hari ketiga di rumahnya masih tersisa sedikit dari daging qurban.” Ketika datang tahun setelahnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami akan melakukan sebagaimana yang dilakukan tahun yang lalu (yaitu tidak menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari, -pen). Beliau bersabda, “(Tidak), sekarang silakan kalian makan, memberi makan, dan menyimpannya, karena sesungguhnya pada tahun lalu manusia ditimpa kesulitan (kelaparan/krisis pangan, -pen), sehingga aku ingin kalian membantu mereka (yang membutuhkan makanan, -pen).” (HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974) Larangan menyimpan daging qurban itu terjadi pada tahun 9 hijriyah, sedangkan dibolehkannya menyimpan terjadi pada tahun 10 hijriyah. (Lihat Fathul Bari, 10: 26) Dari dalil di atas, kebanyakan ulama berdalil akan bolehnya menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari. Inilah pendapat jumhur atau mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ali dan Ibnu ‘Umar tetap tidak membolehkan daging qurban disimpan lebih dari tiga hari karena tidak sampai pada mereka mengenai hadits tentang keringanan bolehnya menyimpan lebih dari tiga hari. Mereka berdua memang mendengar hadits larangan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka meriwayatkan sesuai dengan apa yang mereka dengar. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2: 350) Jadi tak masalah jika daging qurban disimpan lebih dari tiga hari, bahkan mungkin banyak yang belum diolah dan masih tersimpan di freezer. Selamat menikmati. Semoga Allah memudahkan urusan kita dalam kebaikan dan ketaatan. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 14 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagsdaging qurban

Keajaiban Bahasa al-Quran

Keajaiban Bahasa al-Quran Benar apa yang Allah firmankan di awal al-Quran, ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Itulah al-Kitab (a-Quran), yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai petunjuk bagi orang yanng bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 2). Dalam ayat ini, al-Quran berposisi pada dua sisi, Pertama, sumber petunjuk bagi orang yang baik, orang yang bertaqwa. Kedua, menutup semua peluang munculnya hal yang meragukan di dalamnya. Sehingga apapun usaha manusia untuk meragukan al-Quran, tidak akan berhasil. terkait firman Allah, مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Yang menjadi pertanyaan, mengapa Allah menyatakan, “dalam perut seorang laki-laki”? dan tidak ‘dalam perut manusia’? apakah ayat ini hanya khusus laki-laki? Bukankah semua manusia hatinya hanya satu? Lalu mengapa hanya disebut laki-laki? Ada sebuah kisah menarik tentang ayat ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya. Dalam sebuah kuliah umum, sang dosen muslim menjelaskan keindahan bahasa al-Quran. Kalimat-kalimatnya yang jeli, fasih, sehingga mengandung cakupan makna yang luas. Bahkan andaikan ada satu kata dalam al-Quran, diganti dengan kata yang lain, tentu tidak akan menghasilkan cakupan makna dan tafsir yang benar. Setelah menyebutkan beberapa contoh, ada seorang mahasiswa berpemikiran liberal berusaha membantah. Dia mulai menyampaikan pendapatnya, “Ada satu kata dalam al-Quran yang menunjukkan kelemahan sisi bahasa al-Quran. Yaitu firman Allah, ﻣَّﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﺮَﺟُﻞٍ ﻣِّﻦ ﻗَﻠْﺒَﻴْﻦِ ﻓِﻲ ﺟَﻮْﻓِﻪِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Mengapa di situ Allah mengatakan ‘rajul’ (seorang lelaki) dan tidak mengatakan ‘basyar’ (seorang manusia)? Yang namanya manusia, semuanya hanya memiliki satu hati. Baik dia lelaki maupun perempuan. Seketika itu, suasana kelas terhentak tenang. Semua membenarkan apa yang disampaikan sang penanya. Menunggu apa yang akan dijawab oleh pak dosen. Anda bisa lihat bagaimana jawaban Pak Dosen, yang menunjukkan kemukjizatan bahasa al-Quran. Namun, semacam ini tidak bisa dipahami semua orang. Hanya mereka yang berusaha merenungkan kandungan maknanya, yang bisa memahami kedalaman dan kejelian diksi dalam al-Quran. Beliau mengatakan, “Benar! Laki-laki adalah satu-satunya jenis manusia yang hanya memiliki 1 hati dalam perutnya. Dan tidak mungkin memiliki 2 hati dalam perutnya. Berbeda dengan wanita. Dia bisa memiliki dua hati dalam perutnya.” “Siapa wanita itu?” “Wanita hamil. Di dalam perutnya ada seorang janin yang juga memiliki satu hati. Sehingga dalam kondisi hamil, dia memiliki dua hati. Hatinya sendiri dan hati janinya, yang itu ada di dalam tubuhnya.” Subhanallah…, Allah tidak meninggalkan satu ‘kata’ dalam al-Quran yang memberikan peluang para makhluk-Nya untuk menimbulkan keraguan darinya. Maha Suci Dzt yang Maha Benar dan Maha Tahu. Allahu a’lam   Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=75673#gsc.tab=0

Keajaiban Bahasa al-Quran

Keajaiban Bahasa al-Quran Benar apa yang Allah firmankan di awal al-Quran, ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Itulah al-Kitab (a-Quran), yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai petunjuk bagi orang yanng bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 2). Dalam ayat ini, al-Quran berposisi pada dua sisi, Pertama, sumber petunjuk bagi orang yang baik, orang yang bertaqwa. Kedua, menutup semua peluang munculnya hal yang meragukan di dalamnya. Sehingga apapun usaha manusia untuk meragukan al-Quran, tidak akan berhasil. terkait firman Allah, مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Yang menjadi pertanyaan, mengapa Allah menyatakan, “dalam perut seorang laki-laki”? dan tidak ‘dalam perut manusia’? apakah ayat ini hanya khusus laki-laki? Bukankah semua manusia hatinya hanya satu? Lalu mengapa hanya disebut laki-laki? Ada sebuah kisah menarik tentang ayat ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya. Dalam sebuah kuliah umum, sang dosen muslim menjelaskan keindahan bahasa al-Quran. Kalimat-kalimatnya yang jeli, fasih, sehingga mengandung cakupan makna yang luas. Bahkan andaikan ada satu kata dalam al-Quran, diganti dengan kata yang lain, tentu tidak akan menghasilkan cakupan makna dan tafsir yang benar. Setelah menyebutkan beberapa contoh, ada seorang mahasiswa berpemikiran liberal berusaha membantah. Dia mulai menyampaikan pendapatnya, “Ada satu kata dalam al-Quran yang menunjukkan kelemahan sisi bahasa al-Quran. Yaitu firman Allah, ﻣَّﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﺮَﺟُﻞٍ ﻣِّﻦ ﻗَﻠْﺒَﻴْﻦِ ﻓِﻲ ﺟَﻮْﻓِﻪِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Mengapa di situ Allah mengatakan ‘rajul’ (seorang lelaki) dan tidak mengatakan ‘basyar’ (seorang manusia)? Yang namanya manusia, semuanya hanya memiliki satu hati. Baik dia lelaki maupun perempuan. Seketika itu, suasana kelas terhentak tenang. Semua membenarkan apa yang disampaikan sang penanya. Menunggu apa yang akan dijawab oleh pak dosen. Anda bisa lihat bagaimana jawaban Pak Dosen, yang menunjukkan kemukjizatan bahasa al-Quran. Namun, semacam ini tidak bisa dipahami semua orang. Hanya mereka yang berusaha merenungkan kandungan maknanya, yang bisa memahami kedalaman dan kejelian diksi dalam al-Quran. Beliau mengatakan, “Benar! Laki-laki adalah satu-satunya jenis manusia yang hanya memiliki 1 hati dalam perutnya. Dan tidak mungkin memiliki 2 hati dalam perutnya. Berbeda dengan wanita. Dia bisa memiliki dua hati dalam perutnya.” “Siapa wanita itu?” “Wanita hamil. Di dalam perutnya ada seorang janin yang juga memiliki satu hati. Sehingga dalam kondisi hamil, dia memiliki dua hati. Hatinya sendiri dan hati janinya, yang itu ada di dalam tubuhnya.” Subhanallah…, Allah tidak meninggalkan satu ‘kata’ dalam al-Quran yang memberikan peluang para makhluk-Nya untuk menimbulkan keraguan darinya. Maha Suci Dzt yang Maha Benar dan Maha Tahu. Allahu a’lam   Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=75673#gsc.tab=0
Keajaiban Bahasa al-Quran Benar apa yang Allah firmankan di awal al-Quran, ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Itulah al-Kitab (a-Quran), yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai petunjuk bagi orang yanng bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 2). Dalam ayat ini, al-Quran berposisi pada dua sisi, Pertama, sumber petunjuk bagi orang yang baik, orang yang bertaqwa. Kedua, menutup semua peluang munculnya hal yang meragukan di dalamnya. Sehingga apapun usaha manusia untuk meragukan al-Quran, tidak akan berhasil. terkait firman Allah, مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Yang menjadi pertanyaan, mengapa Allah menyatakan, “dalam perut seorang laki-laki”? dan tidak ‘dalam perut manusia’? apakah ayat ini hanya khusus laki-laki? Bukankah semua manusia hatinya hanya satu? Lalu mengapa hanya disebut laki-laki? Ada sebuah kisah menarik tentang ayat ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya. Dalam sebuah kuliah umum, sang dosen muslim menjelaskan keindahan bahasa al-Quran. Kalimat-kalimatnya yang jeli, fasih, sehingga mengandung cakupan makna yang luas. Bahkan andaikan ada satu kata dalam al-Quran, diganti dengan kata yang lain, tentu tidak akan menghasilkan cakupan makna dan tafsir yang benar. Setelah menyebutkan beberapa contoh, ada seorang mahasiswa berpemikiran liberal berusaha membantah. Dia mulai menyampaikan pendapatnya, “Ada satu kata dalam al-Quran yang menunjukkan kelemahan sisi bahasa al-Quran. Yaitu firman Allah, ﻣَّﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﺮَﺟُﻞٍ ﻣِّﻦ ﻗَﻠْﺒَﻴْﻦِ ﻓِﻲ ﺟَﻮْﻓِﻪِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Mengapa di situ Allah mengatakan ‘rajul’ (seorang lelaki) dan tidak mengatakan ‘basyar’ (seorang manusia)? Yang namanya manusia, semuanya hanya memiliki satu hati. Baik dia lelaki maupun perempuan. Seketika itu, suasana kelas terhentak tenang. Semua membenarkan apa yang disampaikan sang penanya. Menunggu apa yang akan dijawab oleh pak dosen. Anda bisa lihat bagaimana jawaban Pak Dosen, yang menunjukkan kemukjizatan bahasa al-Quran. Namun, semacam ini tidak bisa dipahami semua orang. Hanya mereka yang berusaha merenungkan kandungan maknanya, yang bisa memahami kedalaman dan kejelian diksi dalam al-Quran. Beliau mengatakan, “Benar! Laki-laki adalah satu-satunya jenis manusia yang hanya memiliki 1 hati dalam perutnya. Dan tidak mungkin memiliki 2 hati dalam perutnya. Berbeda dengan wanita. Dia bisa memiliki dua hati dalam perutnya.” “Siapa wanita itu?” “Wanita hamil. Di dalam perutnya ada seorang janin yang juga memiliki satu hati. Sehingga dalam kondisi hamil, dia memiliki dua hati. Hatinya sendiri dan hati janinya, yang itu ada di dalam tubuhnya.” Subhanallah…, Allah tidak meninggalkan satu ‘kata’ dalam al-Quran yang memberikan peluang para makhluk-Nya untuk menimbulkan keraguan darinya. Maha Suci Dzt yang Maha Benar dan Maha Tahu. Allahu a’lam   Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=75673#gsc.tab=0


Keajaiban Bahasa al-Quran Benar apa yang Allah firmankan di awal al-Quran, ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Itulah al-Kitab (a-Quran), yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai petunjuk bagi orang yanng bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 2). Dalam ayat ini, al-Quran berposisi pada dua sisi, Pertama, sumber petunjuk bagi orang yang baik, orang yang bertaqwa. Kedua, menutup semua peluang munculnya hal yang meragukan di dalamnya. Sehingga apapun usaha manusia untuk meragukan al-Quran, tidak akan berhasil. terkait firman Allah, مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Yang menjadi pertanyaan, mengapa Allah menyatakan, “dalam perut seorang laki-laki”? dan tidak ‘dalam perut manusia’? apakah ayat ini hanya khusus laki-laki? Bukankah semua manusia hatinya hanya satu? Lalu mengapa hanya disebut laki-laki? Ada sebuah kisah menarik tentang ayat ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya. Dalam sebuah kuliah umum, sang dosen muslim menjelaskan keindahan bahasa al-Quran. Kalimat-kalimatnya yang jeli, fasih, sehingga mengandung cakupan makna yang luas. Bahkan andaikan ada satu kata dalam al-Quran, diganti dengan kata yang lain, tentu tidak akan menghasilkan cakupan makna dan tafsir yang benar. Setelah menyebutkan beberapa contoh, ada seorang mahasiswa berpemikiran liberal berusaha membantah. Dia mulai menyampaikan pendapatnya, “Ada satu kata dalam al-Quran yang menunjukkan kelemahan sisi bahasa al-Quran. Yaitu firman Allah, ﻣَّﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﺮَﺟُﻞٍ ﻣِّﻦ ﻗَﻠْﺒَﻴْﻦِ ﻓِﻲ ﺟَﻮْﻓِﻪِ Allah tidak menjadikan dua hati dalam perut seorang laki-laki. (QS. Al-Ahzab: 4) Mengapa di situ Allah mengatakan ‘rajul’ (seorang lelaki) dan tidak mengatakan ‘basyar’ (seorang manusia)? Yang namanya manusia, semuanya hanya memiliki satu hati. Baik dia lelaki maupun perempuan. Seketika itu, suasana kelas terhentak tenang. Semua membenarkan apa yang disampaikan sang penanya. Menunggu apa yang akan dijawab oleh pak dosen. Anda bisa lihat bagaimana jawaban Pak Dosen, yang menunjukkan kemukjizatan bahasa al-Quran. Namun, semacam ini tidak bisa dipahami semua orang. Hanya mereka yang berusaha merenungkan kandungan maknanya, yang bisa memahami kedalaman dan kejelian diksi dalam al-Quran. Beliau mengatakan, “Benar! Laki-laki adalah satu-satunya jenis manusia yang hanya memiliki 1 hati dalam perutnya. Dan tidak mungkin memiliki 2 hati dalam perutnya. Berbeda dengan wanita. Dia bisa memiliki dua hati dalam perutnya.” “Siapa wanita itu?” “Wanita hamil. Di dalam perutnya ada seorang janin yang juga memiliki satu hati. Sehingga dalam kondisi hamil, dia memiliki dua hati. Hatinya sendiri dan hati janinya, yang itu ada di dalam tubuhnya.” Subhanallah…, Allah tidak meninggalkan satu ‘kata’ dalam al-Quran yang memberikan peluang para makhluk-Nya untuk menimbulkan keraguan darinya. Maha Suci Dzt yang Maha Benar dan Maha Tahu. Allahu a’lam   Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=75673#gsc.tab=0
Prev     Next