Hukum Menyemir Rambut yang Belum Beruban

Bagaimana hukum menyemir rambut yang belum beruban menjadi warna lain? Padahal rambut tersebut masih dalam keadaan hitam, belum beruban, namun ada yang ingin berpenampilan cantik rupawan dengan menyemirnya. Ketika Sudah Beruban Ketika beruban jelas boleh disemir, asalkan dengan warna selain hitam. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 2102). Ulama besar Syafi’iyah, Imam Nawawi memberikan judul Bab untuk hadits di atas “Dianjurkannya menyemir uban dengan shofroh (warna kuning), hamroh (warna merah) dan diharamkan menggunakan warna hitam”. Bagaimana Kalau Belum Beruban? Yang jelas jika belum beruban, juga tidak disemir atau tidak diwarnai. Adapun yang dilakukan selama ini adalah karena mengikuti gaya hidup non muslim atau para artis yang fasik. Karena maksudnya seperti itu, tentu saja tidak dibolehkan. Karena kita dilarang untuk tasyabbuh. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031, hasan menurut Al Hafizh Abu Thohir) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Syaikh Shalih Al Fauzan –guru penulis- mengatakan, “Adapun hukum mewarnai rambut wanita yang masih berwarna hitam diubah ke warna lainnya, seperti itu menurutku tidak boleh karena tidak ada faktor pendorong untuk melakukannya. Karena warna hitam sendiri sudah menunjukkan kecantikan. Kalau beruban barulah butuh akan warna (selain hitam). Yang ada dari gaya mewarnai rambut hanyalah meniru mode orang kafir.” (Tanbihaat ‘ala Ahkami Takhtasshu bil Mu’minaat, hal. 14). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagstasyabbuh uban

Hukum Menyemir Rambut yang Belum Beruban

Bagaimana hukum menyemir rambut yang belum beruban menjadi warna lain? Padahal rambut tersebut masih dalam keadaan hitam, belum beruban, namun ada yang ingin berpenampilan cantik rupawan dengan menyemirnya. Ketika Sudah Beruban Ketika beruban jelas boleh disemir, asalkan dengan warna selain hitam. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 2102). Ulama besar Syafi’iyah, Imam Nawawi memberikan judul Bab untuk hadits di atas “Dianjurkannya menyemir uban dengan shofroh (warna kuning), hamroh (warna merah) dan diharamkan menggunakan warna hitam”. Bagaimana Kalau Belum Beruban? Yang jelas jika belum beruban, juga tidak disemir atau tidak diwarnai. Adapun yang dilakukan selama ini adalah karena mengikuti gaya hidup non muslim atau para artis yang fasik. Karena maksudnya seperti itu, tentu saja tidak dibolehkan. Karena kita dilarang untuk tasyabbuh. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031, hasan menurut Al Hafizh Abu Thohir) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Syaikh Shalih Al Fauzan –guru penulis- mengatakan, “Adapun hukum mewarnai rambut wanita yang masih berwarna hitam diubah ke warna lainnya, seperti itu menurutku tidak boleh karena tidak ada faktor pendorong untuk melakukannya. Karena warna hitam sendiri sudah menunjukkan kecantikan. Kalau beruban barulah butuh akan warna (selain hitam). Yang ada dari gaya mewarnai rambut hanyalah meniru mode orang kafir.” (Tanbihaat ‘ala Ahkami Takhtasshu bil Mu’minaat, hal. 14). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagstasyabbuh uban
Bagaimana hukum menyemir rambut yang belum beruban menjadi warna lain? Padahal rambut tersebut masih dalam keadaan hitam, belum beruban, namun ada yang ingin berpenampilan cantik rupawan dengan menyemirnya. Ketika Sudah Beruban Ketika beruban jelas boleh disemir, asalkan dengan warna selain hitam. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 2102). Ulama besar Syafi’iyah, Imam Nawawi memberikan judul Bab untuk hadits di atas “Dianjurkannya menyemir uban dengan shofroh (warna kuning), hamroh (warna merah) dan diharamkan menggunakan warna hitam”. Bagaimana Kalau Belum Beruban? Yang jelas jika belum beruban, juga tidak disemir atau tidak diwarnai. Adapun yang dilakukan selama ini adalah karena mengikuti gaya hidup non muslim atau para artis yang fasik. Karena maksudnya seperti itu, tentu saja tidak dibolehkan. Karena kita dilarang untuk tasyabbuh. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031, hasan menurut Al Hafizh Abu Thohir) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Syaikh Shalih Al Fauzan –guru penulis- mengatakan, “Adapun hukum mewarnai rambut wanita yang masih berwarna hitam diubah ke warna lainnya, seperti itu menurutku tidak boleh karena tidak ada faktor pendorong untuk melakukannya. Karena warna hitam sendiri sudah menunjukkan kecantikan. Kalau beruban barulah butuh akan warna (selain hitam). Yang ada dari gaya mewarnai rambut hanyalah meniru mode orang kafir.” (Tanbihaat ‘ala Ahkami Takhtasshu bil Mu’minaat, hal. 14). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagstasyabbuh uban


Bagaimana hukum menyemir rambut yang belum beruban menjadi warna lain? Padahal rambut tersebut masih dalam keadaan hitam, belum beruban, namun ada yang ingin berpenampilan cantik rupawan dengan menyemirnya. Ketika Sudah Beruban Ketika beruban jelas boleh disemir, asalkan dengan warna selain hitam. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 2102). Ulama besar Syafi’iyah, Imam Nawawi memberikan judul Bab untuk hadits di atas “Dianjurkannya menyemir uban dengan shofroh (warna kuning), hamroh (warna merah) dan diharamkan menggunakan warna hitam”. Bagaimana Kalau Belum Beruban? Yang jelas jika belum beruban, juga tidak disemir atau tidak diwarnai. Adapun yang dilakukan selama ini adalah karena mengikuti gaya hidup non muslim atau para artis yang fasik. Karena maksudnya seperti itu, tentu saja tidak dibolehkan. Karena kita dilarang untuk tasyabbuh. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031, hasan menurut Al Hafizh Abu Thohir) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Syaikh Shalih Al Fauzan –guru penulis- mengatakan, “Adapun hukum mewarnai rambut wanita yang masih berwarna hitam diubah ke warna lainnya, seperti itu menurutku tidak boleh karena tidak ada faktor pendorong untuk melakukannya. Karena warna hitam sendiri sudah menunjukkan kecantikan. Kalau beruban barulah butuh akan warna (selain hitam). Yang ada dari gaya mewarnai rambut hanyalah meniru mode orang kafir.” (Tanbihaat ‘ala Ahkami Takhtasshu bil Mu’minaat, hal. 14). Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagstasyabbuh uban

Tidak Ada Paksaan untuk Masuk Islam

Dakwah Islam begitu mulia, kita diajarkan untuk tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mendakwahi orang kafir untuk masuk Islam, hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian sudah mendakwahi mereka maka yang lain gugur kewajibannya. Karena mendakwahi mereka berarti telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini bisa dilakukan dengan menjenguk mereka ketika sakit, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk anak kecil Yahudi untuk diajak masuk Islam. Akhirnya ia pun masuk Islam. Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 1356) Walau boleh mendakwahi, namun haram memaksa orang Yahudi, Nashrani dan kafir lainnya untuk masuk Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman, لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah: 256). Ibnu Katsir menuturkan, “Janganlah memaksa seorang pun untuk masuk ke dalam Islam. Karena kebenaran Islam sudah begitu jelas dan gamblang. Oleh karenanya tidak perlu ada paksaan untuk memasuki Islam. Namun barangsiapa yang Allah beri hidayah untuk menerima Islam, hatinya semakin terbuka dan mendapatkan cahaya Islam, maka ia berarti telah memasuki Islam lewat petunjuk yang jelas. Akan tetapi, barangsiapa yang masih tetap Allah butakan hati, pendengaran dan penglihatannya, maka tidak perlu ia dipaksa-paksa untuk masuk Islam. Tidak ada manfaat jika masuk Islam dalam keadaan terpaksa. Para ulama telah menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah mengenai kaum Anshar. Namun maksud ayat ini adala umum.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 250). Cukup dengan sikap baik (ihsan) yang kita tunjukkan pada mereka membuat mereka tertarik pada Islam, tanpa harus memaksa. Semoga Allah memberikan hidayah pada Islam yang hakiki. — 18 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah loyal non muslim masuk islam

Tidak Ada Paksaan untuk Masuk Islam

Dakwah Islam begitu mulia, kita diajarkan untuk tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mendakwahi orang kafir untuk masuk Islam, hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian sudah mendakwahi mereka maka yang lain gugur kewajibannya. Karena mendakwahi mereka berarti telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini bisa dilakukan dengan menjenguk mereka ketika sakit, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk anak kecil Yahudi untuk diajak masuk Islam. Akhirnya ia pun masuk Islam. Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 1356) Walau boleh mendakwahi, namun haram memaksa orang Yahudi, Nashrani dan kafir lainnya untuk masuk Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman, لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah: 256). Ibnu Katsir menuturkan, “Janganlah memaksa seorang pun untuk masuk ke dalam Islam. Karena kebenaran Islam sudah begitu jelas dan gamblang. Oleh karenanya tidak perlu ada paksaan untuk memasuki Islam. Namun barangsiapa yang Allah beri hidayah untuk menerima Islam, hatinya semakin terbuka dan mendapatkan cahaya Islam, maka ia berarti telah memasuki Islam lewat petunjuk yang jelas. Akan tetapi, barangsiapa yang masih tetap Allah butakan hati, pendengaran dan penglihatannya, maka tidak perlu ia dipaksa-paksa untuk masuk Islam. Tidak ada manfaat jika masuk Islam dalam keadaan terpaksa. Para ulama telah menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah mengenai kaum Anshar. Namun maksud ayat ini adala umum.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 250). Cukup dengan sikap baik (ihsan) yang kita tunjukkan pada mereka membuat mereka tertarik pada Islam, tanpa harus memaksa. Semoga Allah memberikan hidayah pada Islam yang hakiki. — 18 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah loyal non muslim masuk islam
Dakwah Islam begitu mulia, kita diajarkan untuk tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mendakwahi orang kafir untuk masuk Islam, hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian sudah mendakwahi mereka maka yang lain gugur kewajibannya. Karena mendakwahi mereka berarti telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini bisa dilakukan dengan menjenguk mereka ketika sakit, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk anak kecil Yahudi untuk diajak masuk Islam. Akhirnya ia pun masuk Islam. Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 1356) Walau boleh mendakwahi, namun haram memaksa orang Yahudi, Nashrani dan kafir lainnya untuk masuk Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman, لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah: 256). Ibnu Katsir menuturkan, “Janganlah memaksa seorang pun untuk masuk ke dalam Islam. Karena kebenaran Islam sudah begitu jelas dan gamblang. Oleh karenanya tidak perlu ada paksaan untuk memasuki Islam. Namun barangsiapa yang Allah beri hidayah untuk menerima Islam, hatinya semakin terbuka dan mendapatkan cahaya Islam, maka ia berarti telah memasuki Islam lewat petunjuk yang jelas. Akan tetapi, barangsiapa yang masih tetap Allah butakan hati, pendengaran dan penglihatannya, maka tidak perlu ia dipaksa-paksa untuk masuk Islam. Tidak ada manfaat jika masuk Islam dalam keadaan terpaksa. Para ulama telah menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah mengenai kaum Anshar. Namun maksud ayat ini adala umum.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 250). Cukup dengan sikap baik (ihsan) yang kita tunjukkan pada mereka membuat mereka tertarik pada Islam, tanpa harus memaksa. Semoga Allah memberikan hidayah pada Islam yang hakiki. — 18 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah loyal non muslim masuk islam


Dakwah Islam begitu mulia, kita diajarkan untuk tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mendakwahi orang kafir untuk masuk Islam, hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian sudah mendakwahi mereka maka yang lain gugur kewajibannya. Karena mendakwahi mereka berarti telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini bisa dilakukan dengan menjenguk mereka ketika sakit, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk anak kecil Yahudi untuk diajak masuk Islam. Akhirnya ia pun masuk Islam. Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 1356) Walau boleh mendakwahi, namun haram memaksa orang Yahudi, Nashrani dan kafir lainnya untuk masuk Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman, لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah: 256). Ibnu Katsir menuturkan, “Janganlah memaksa seorang pun untuk masuk ke dalam Islam. Karena kebenaran Islam sudah begitu jelas dan gamblang. Oleh karenanya tidak perlu ada paksaan untuk memasuki Islam. Namun barangsiapa yang Allah beri hidayah untuk menerima Islam, hatinya semakin terbuka dan mendapatkan cahaya Islam, maka ia berarti telah memasuki Islam lewat petunjuk yang jelas. Akan tetapi, barangsiapa yang masih tetap Allah butakan hati, pendengaran dan penglihatannya, maka tidak perlu ia dipaksa-paksa untuk masuk Islam. Tidak ada manfaat jika masuk Islam dalam keadaan terpaksa. Para ulama telah menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah mengenai kaum Anshar. Namun maksud ayat ini adala umum.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 250). Cukup dengan sikap baik (ihsan) yang kita tunjukkan pada mereka membuat mereka tertarik pada Islam, tanpa harus memaksa. Semoga Allah memberikan hidayah pada Islam yang hakiki. — 18 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah loyal non muslim masuk islam

Menghadiri Prosesi Jenazah Non Muslim

Bolehkah menghadiri prosesi jenazah non muslim? Bagaimana dengan kerabat non muslim? Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin berkata, “Boleh bagi seorang muslim berta’ziyah kepada orang kafir jika ia melihat ada maslahat yang besar di dalamnya. Namun sama sekali mayit tersebut tidak didoakan dengan doa ampunan.” (Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyyah, hal. 622). Dalam fatwa Islam Web disebutkan, “Adapaun hukum seorang muslim mengikuti jenazah non muslim yang merupakan kerabatnya, terkhusus lagi adalah orang tuanya, di sini ada beda pendapat dari para ulama. Namun yang lebih tepat adalah masih dibolehkan. Ibnu ‘Umar pernah ditanya mengenai seseorang yang mengiringi jenazah ibunya yang Nashrani, jawabannya, “Ia mengiringi jenazahnya dengan berjalan di depannya,” Ada riwayat pula yang menyebutkan bahwa pernah sampai ke telinga Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang Nashrani meninggal dunia lantas ia memiliki anak muslim. Anak tersebut tidak mengiringi jenazah orang tuanya. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Baiknya ia tetap mengiringi jenazahnya hingga memakamkannya.” Dalam Al Majmu’, Imam Nawawi menyebutkan, “Boleh seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir.” Di tempat lainnya, Imam Nawawi berkata, “Tidaklah makruh jika seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengizinkan ‘Ali bin Abi Tholib untuk mengiringi jenazah paman Nabi yang menjadi ayah ‘Ali. Padahal Abu Tholib mati dalam keadaan kafir. “ (Fatwa Islam Web no. 41326) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Di siang hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsjenazah loyal non muslim

Menghadiri Prosesi Jenazah Non Muslim

Bolehkah menghadiri prosesi jenazah non muslim? Bagaimana dengan kerabat non muslim? Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin berkata, “Boleh bagi seorang muslim berta’ziyah kepada orang kafir jika ia melihat ada maslahat yang besar di dalamnya. Namun sama sekali mayit tersebut tidak didoakan dengan doa ampunan.” (Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyyah, hal. 622). Dalam fatwa Islam Web disebutkan, “Adapaun hukum seorang muslim mengikuti jenazah non muslim yang merupakan kerabatnya, terkhusus lagi adalah orang tuanya, di sini ada beda pendapat dari para ulama. Namun yang lebih tepat adalah masih dibolehkan. Ibnu ‘Umar pernah ditanya mengenai seseorang yang mengiringi jenazah ibunya yang Nashrani, jawabannya, “Ia mengiringi jenazahnya dengan berjalan di depannya,” Ada riwayat pula yang menyebutkan bahwa pernah sampai ke telinga Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang Nashrani meninggal dunia lantas ia memiliki anak muslim. Anak tersebut tidak mengiringi jenazah orang tuanya. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Baiknya ia tetap mengiringi jenazahnya hingga memakamkannya.” Dalam Al Majmu’, Imam Nawawi menyebutkan, “Boleh seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir.” Di tempat lainnya, Imam Nawawi berkata, “Tidaklah makruh jika seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengizinkan ‘Ali bin Abi Tholib untuk mengiringi jenazah paman Nabi yang menjadi ayah ‘Ali. Padahal Abu Tholib mati dalam keadaan kafir. “ (Fatwa Islam Web no. 41326) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Di siang hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsjenazah loyal non muslim
Bolehkah menghadiri prosesi jenazah non muslim? Bagaimana dengan kerabat non muslim? Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin berkata, “Boleh bagi seorang muslim berta’ziyah kepada orang kafir jika ia melihat ada maslahat yang besar di dalamnya. Namun sama sekali mayit tersebut tidak didoakan dengan doa ampunan.” (Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyyah, hal. 622). Dalam fatwa Islam Web disebutkan, “Adapaun hukum seorang muslim mengikuti jenazah non muslim yang merupakan kerabatnya, terkhusus lagi adalah orang tuanya, di sini ada beda pendapat dari para ulama. Namun yang lebih tepat adalah masih dibolehkan. Ibnu ‘Umar pernah ditanya mengenai seseorang yang mengiringi jenazah ibunya yang Nashrani, jawabannya, “Ia mengiringi jenazahnya dengan berjalan di depannya,” Ada riwayat pula yang menyebutkan bahwa pernah sampai ke telinga Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang Nashrani meninggal dunia lantas ia memiliki anak muslim. Anak tersebut tidak mengiringi jenazah orang tuanya. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Baiknya ia tetap mengiringi jenazahnya hingga memakamkannya.” Dalam Al Majmu’, Imam Nawawi menyebutkan, “Boleh seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir.” Di tempat lainnya, Imam Nawawi berkata, “Tidaklah makruh jika seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengizinkan ‘Ali bin Abi Tholib untuk mengiringi jenazah paman Nabi yang menjadi ayah ‘Ali. Padahal Abu Tholib mati dalam keadaan kafir. “ (Fatwa Islam Web no. 41326) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Di siang hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsjenazah loyal non muslim


Bolehkah menghadiri prosesi jenazah non muslim? Bagaimana dengan kerabat non muslim? Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin berkata, “Boleh bagi seorang muslim berta’ziyah kepada orang kafir jika ia melihat ada maslahat yang besar di dalamnya. Namun sama sekali mayit tersebut tidak didoakan dengan doa ampunan.” (Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyyah, hal. 622). Dalam fatwa Islam Web disebutkan, “Adapaun hukum seorang muslim mengikuti jenazah non muslim yang merupakan kerabatnya, terkhusus lagi adalah orang tuanya, di sini ada beda pendapat dari para ulama. Namun yang lebih tepat adalah masih dibolehkan. Ibnu ‘Umar pernah ditanya mengenai seseorang yang mengiringi jenazah ibunya yang Nashrani, jawabannya, “Ia mengiringi jenazahnya dengan berjalan di depannya,” Ada riwayat pula yang menyebutkan bahwa pernah sampai ke telinga Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang Nashrani meninggal dunia lantas ia memiliki anak muslim. Anak tersebut tidak mengiringi jenazah orang tuanya. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Baiknya ia tetap mengiringi jenazahnya hingga memakamkannya.” Dalam Al Majmu’, Imam Nawawi menyebutkan, “Boleh seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir.” Di tempat lainnya, Imam Nawawi berkata, “Tidaklah makruh jika seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kafir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengizinkan ‘Ali bin Abi Tholib untuk mengiringi jenazah paman Nabi yang menjadi ayah ‘Ali. Padahal Abu Tholib mati dalam keadaan kafir. “ (Fatwa Islam Web no. 41326) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Di siang hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsjenazah loyal non muslim

Tetap Berbuat Baik pada Non Muslim

Tetap berbuat baik pada non muslim walau kita tidak setia dan cinta pada mereka. Berbuat baik tetap diperintahkan oleh Allah dalam Al Quran. Perintah Berbuat Baik pada Non Muslim Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9( “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9) Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. Lihat Tafsir Ath Thobari, 28: 81. Sedangkan ayat selanjutnya yaitu ayat kesembilan adalah berisi larangan untuk loyal (seti) pada non muslim yang jelas adalah musuh Islam. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 248. Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Dalam hal ini ada beberapa pendapat di kalangan ahli tafsir. Sebagian ulama pakar tafsir (seperti Qotadah) menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 berlaku untuk semua orang kafir. Jadi kita diperintahkan untuk berlaku baik dengan orang kafir. Namun menurut pendapat ini, ayat tersebut telah mansukh (dihapus) dengan surat At Taubah ayat 5 yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir. Lihat Zaadul Masiir, 8: 237. Akan tetapi, pakar tafsir lainnya tetap menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 adalah ayat yang tidak mansukh dan mereka berdalil dengan kisah Asma’ binti Abu Bakr (Lihat Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 170). Di antara pendapat tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada Asma’ binti Abi Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, di mana ibundanya –Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza- yang musyrik dan ia diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya. Ini adalah pendapat dari ‘Abdullah bin Az Zubair. (Lihat Zaadul Masiir, 8: 236-237). Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut, Asma’ mengatakan, أَتَتْنِى أُمِّى رَاغِبَةً فِى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – آصِلُهَا قَالَ « نَعَمْ » “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama” (QS. Al Mumtahanah: 8)” (HR. Bukhari no. 579) Berbuat Baik Berbeda dengan Wala’ (Setia) Perlu kiranya dipahami bahwa birr atau ihsan (berbuat baik) itu berbeda dengan wala’ (bersikap loyal atau setia). Ihsan adalah sesuatu yang dituntunkan. Ihsan itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orang kafir. Sedangkan bersikap wala’ pada orang kafir tidak diperkenankan sama sekali. Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah mengatakan, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (birr) kepada mereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal loyal (wala’) pada mereka tidak dibolehkan.” (Mafatihul Ghoib, 15: 325) Dengan Keluarga dan Kerabat Non Muslim Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Berbuat baik, menyambung hubungan kerabat dan berbuat ihsan (terhadap non muslim) tidaklah melazimkan rasa cinta dan rasa sayang (yang terlarang). Sebagaiman rasa cinta yang terlarang ini disebutkan dalam firman Allah, لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22). Ayat ini umum berlaku pada orang yang sedang memerangi dan orang yang tidak memerangi kaum muslimin. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 5: 233) Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Berbuat baik dan berlaku adil tidaklah melazimkan rasa cinta dan kasih sayang pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap berbakti dan berbuat baik pada orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci agama yang orang tuanya anut.” (Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 166) Semoga bermanfaat, wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim

Tetap Berbuat Baik pada Non Muslim

Tetap berbuat baik pada non muslim walau kita tidak setia dan cinta pada mereka. Berbuat baik tetap diperintahkan oleh Allah dalam Al Quran. Perintah Berbuat Baik pada Non Muslim Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9( “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9) Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. Lihat Tafsir Ath Thobari, 28: 81. Sedangkan ayat selanjutnya yaitu ayat kesembilan adalah berisi larangan untuk loyal (seti) pada non muslim yang jelas adalah musuh Islam. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 248. Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Dalam hal ini ada beberapa pendapat di kalangan ahli tafsir. Sebagian ulama pakar tafsir (seperti Qotadah) menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 berlaku untuk semua orang kafir. Jadi kita diperintahkan untuk berlaku baik dengan orang kafir. Namun menurut pendapat ini, ayat tersebut telah mansukh (dihapus) dengan surat At Taubah ayat 5 yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir. Lihat Zaadul Masiir, 8: 237. Akan tetapi, pakar tafsir lainnya tetap menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 adalah ayat yang tidak mansukh dan mereka berdalil dengan kisah Asma’ binti Abu Bakr (Lihat Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 170). Di antara pendapat tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada Asma’ binti Abi Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, di mana ibundanya –Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza- yang musyrik dan ia diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya. Ini adalah pendapat dari ‘Abdullah bin Az Zubair. (Lihat Zaadul Masiir, 8: 236-237). Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut, Asma’ mengatakan, أَتَتْنِى أُمِّى رَاغِبَةً فِى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – آصِلُهَا قَالَ « نَعَمْ » “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama” (QS. Al Mumtahanah: 8)” (HR. Bukhari no. 579) Berbuat Baik Berbeda dengan Wala’ (Setia) Perlu kiranya dipahami bahwa birr atau ihsan (berbuat baik) itu berbeda dengan wala’ (bersikap loyal atau setia). Ihsan adalah sesuatu yang dituntunkan. Ihsan itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orang kafir. Sedangkan bersikap wala’ pada orang kafir tidak diperkenankan sama sekali. Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah mengatakan, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (birr) kepada mereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal loyal (wala’) pada mereka tidak dibolehkan.” (Mafatihul Ghoib, 15: 325) Dengan Keluarga dan Kerabat Non Muslim Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Berbuat baik, menyambung hubungan kerabat dan berbuat ihsan (terhadap non muslim) tidaklah melazimkan rasa cinta dan rasa sayang (yang terlarang). Sebagaiman rasa cinta yang terlarang ini disebutkan dalam firman Allah, لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22). Ayat ini umum berlaku pada orang yang sedang memerangi dan orang yang tidak memerangi kaum muslimin. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 5: 233) Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Berbuat baik dan berlaku adil tidaklah melazimkan rasa cinta dan kasih sayang pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap berbakti dan berbuat baik pada orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci agama yang orang tuanya anut.” (Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 166) Semoga bermanfaat, wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim
Tetap berbuat baik pada non muslim walau kita tidak setia dan cinta pada mereka. Berbuat baik tetap diperintahkan oleh Allah dalam Al Quran. Perintah Berbuat Baik pada Non Muslim Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9( “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9) Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. Lihat Tafsir Ath Thobari, 28: 81. Sedangkan ayat selanjutnya yaitu ayat kesembilan adalah berisi larangan untuk loyal (seti) pada non muslim yang jelas adalah musuh Islam. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 248. Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Dalam hal ini ada beberapa pendapat di kalangan ahli tafsir. Sebagian ulama pakar tafsir (seperti Qotadah) menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 berlaku untuk semua orang kafir. Jadi kita diperintahkan untuk berlaku baik dengan orang kafir. Namun menurut pendapat ini, ayat tersebut telah mansukh (dihapus) dengan surat At Taubah ayat 5 yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir. Lihat Zaadul Masiir, 8: 237. Akan tetapi, pakar tafsir lainnya tetap menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 adalah ayat yang tidak mansukh dan mereka berdalil dengan kisah Asma’ binti Abu Bakr (Lihat Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 170). Di antara pendapat tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada Asma’ binti Abi Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, di mana ibundanya –Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza- yang musyrik dan ia diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya. Ini adalah pendapat dari ‘Abdullah bin Az Zubair. (Lihat Zaadul Masiir, 8: 236-237). Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut, Asma’ mengatakan, أَتَتْنِى أُمِّى رَاغِبَةً فِى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – آصِلُهَا قَالَ « نَعَمْ » “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama” (QS. Al Mumtahanah: 8)” (HR. Bukhari no. 579) Berbuat Baik Berbeda dengan Wala’ (Setia) Perlu kiranya dipahami bahwa birr atau ihsan (berbuat baik) itu berbeda dengan wala’ (bersikap loyal atau setia). Ihsan adalah sesuatu yang dituntunkan. Ihsan itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orang kafir. Sedangkan bersikap wala’ pada orang kafir tidak diperkenankan sama sekali. Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah mengatakan, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (birr) kepada mereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal loyal (wala’) pada mereka tidak dibolehkan.” (Mafatihul Ghoib, 15: 325) Dengan Keluarga dan Kerabat Non Muslim Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Berbuat baik, menyambung hubungan kerabat dan berbuat ihsan (terhadap non muslim) tidaklah melazimkan rasa cinta dan rasa sayang (yang terlarang). Sebagaiman rasa cinta yang terlarang ini disebutkan dalam firman Allah, لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22). Ayat ini umum berlaku pada orang yang sedang memerangi dan orang yang tidak memerangi kaum muslimin. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 5: 233) Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Berbuat baik dan berlaku adil tidaklah melazimkan rasa cinta dan kasih sayang pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap berbakti dan berbuat baik pada orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci agama yang orang tuanya anut.” (Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 166) Semoga bermanfaat, wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim


Tetap berbuat baik pada non muslim walau kita tidak setia dan cinta pada mereka. Berbuat baik tetap diperintahkan oleh Allah dalam Al Quran. Perintah Berbuat Baik pada Non Muslim Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9( “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9) Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. Lihat Tafsir Ath Thobari, 28: 81. Sedangkan ayat selanjutnya yaitu ayat kesembilan adalah berisi larangan untuk loyal (seti) pada non muslim yang jelas adalah musuh Islam. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 248. Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Dalam hal ini ada beberapa pendapat di kalangan ahli tafsir. Sebagian ulama pakar tafsir (seperti Qotadah) menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 berlaku untuk semua orang kafir. Jadi kita diperintahkan untuk berlaku baik dengan orang kafir. Namun menurut pendapat ini, ayat tersebut telah mansukh (dihapus) dengan surat At Taubah ayat 5 yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir. Lihat Zaadul Masiir, 8: 237. Akan tetapi, pakar tafsir lainnya tetap menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 adalah ayat yang tidak mansukh dan mereka berdalil dengan kisah Asma’ binti Abu Bakr (Lihat Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 170). Di antara pendapat tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada Asma’ binti Abi Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, di mana ibundanya –Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza- yang musyrik dan ia diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya. Ini adalah pendapat dari ‘Abdullah bin Az Zubair. (Lihat Zaadul Masiir, 8: 236-237). Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut, Asma’ mengatakan, أَتَتْنِى أُمِّى رَاغِبَةً فِى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – آصِلُهَا قَالَ « نَعَمْ » “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama” (QS. Al Mumtahanah: 8)” (HR. Bukhari no. 579) Berbuat Baik Berbeda dengan Wala’ (Setia) Perlu kiranya dipahami bahwa birr atau ihsan (berbuat baik) itu berbeda dengan wala’ (bersikap loyal atau setia). Ihsan adalah sesuatu yang dituntunkan. Ihsan itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orang kafir. Sedangkan bersikap wala’ pada orang kafir tidak diperkenankan sama sekali. Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah mengatakan, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (birr) kepada mereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal loyal (wala’) pada mereka tidak dibolehkan.” (Mafatihul Ghoib, 15: 325) Dengan Keluarga dan Kerabat Non Muslim Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Berbuat baik, menyambung hubungan kerabat dan berbuat ihsan (terhadap non muslim) tidaklah melazimkan rasa cinta dan rasa sayang (yang terlarang). Sebagaiman rasa cinta yang terlarang ini disebutkan dalam firman Allah, لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22). Ayat ini umum berlaku pada orang yang sedang memerangi dan orang yang tidak memerangi kaum muslimin. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 5: 233) Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Berbuat baik dan berlaku adil tidaklah melazimkan rasa cinta dan kasih sayang pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap berbakti dan berbuat baik pada orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci agama yang orang tuanya anut.” (Tafsir Juz Qod Sami’a, hal. 166) Semoga bermanfaat, wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsloyal non muslim

Sekedar Renungan…

Berkata seseorang di penghujung hayatnya : ((Hiduplah engkau sesuai dengan impianmu, janganlah kau hidup sesuai dengan keinginan orang-orang…Berjuanglah untuk mewujudkan cita-citamu…janganlah kau berjuang untuk mewujudkan cita-cita orang-orang…))Disebutkan bahwa nasehat ini keluar dari seseorang yang terkapar di rumah sakit dan akan menuju kematian. Tatkala ditanya apakah yang ia inginkan dalam kehidupannya yang akan segera berakhir?, iapun mengurapkan rangkaian nasehat di atas.Nasehat Ini bukan berarti mengajarkan keegoisan, akan tetapi terlalu banyak komentar manusia, dan terlalu banyak ide manusia, bahkan terkadang ide-ide yang saling bertolak belakang… jika engkau turuti kemauan mereka maka tidak akan pernah habis, dan tidak akan pernah memuaskan… Terlalu banyak pengaruh orang-orang yang bisa menghalangimu untuk mencapai tujuanmu… apalagi tujuan yang indah yang menuju akhirat….Jika engkau harus mengikuti kemauan tradisi masyarakat maka bisa jadi engkau merugikan diri sendiri, bisa jadi kebahagiaan dirimu menjadi tumbal, dan bisa jadi agamamu engkau korbankan…!Contoh kejadian nyata :Seorang sahabat yang saya kenal tinggal di salah satu negeri kaum muslimin…, ternyata terjadi sengketa diantara keluarga dan kerabatnya, salah seorang adiknya membunuh sepupunya sendiri. Maka akhirnya para sepupunya pun balas dendam dan mereka hendak membunuh sahabat saya tersebut karena dialah yang paling terpandang di keluarganya. Mereka tidak puas kecuali jika membunuh orang yang paling terpandang yaitu sahabat saya. Namun tatkala mereka tidak mendapati sahabat saya –karena sedang dipenjara- maka merekapun membunuh adik sahabat saya.Maka sekarang sahabat saya dihadapkan dengan kondisi yang sulit –jika harus mengikuti tradisi masyarakat-1- Jika ia tidak membalas dendam atas kematian adiknya –yaitu dengan membunuh lagi salah seorang dari sepupunya- maka ia akan dihinakan oleh masyarakat dengan dikatakan sebagai orang yang pengecut dan tidak memiliki harga diri.2- Jika dia balas dendam –dengan membunuh salah satu sepupunya- maka saling membunuh akan terus berlangsung, dan bisa jadi hingga turun temurun. Maka tentu ini adalah dosa yang sangat besar, dosa membunuh, apalagi dosa membunuh kerabat dekat !!Tidak ada jalan lain bagi sahabat saya tersebut kecuali memafkan sepupunya, lalu meninggalkan masyarakat kampungnya dan berpindah beserta seluruh keluarganya ke kampung yang lain. Maka ia akan hidup dengan ketenangan dan kebahgiaan yang lain yang jauh dari pertumpahan darah dan cacian masyarakat..Ini hanya sebagai contoh semata, namun kondisi-kondisi yang selaras dengan contoh ini ada dalam kehidupan. Terkadang kita dihadapkan dengan kondisi memikirkan kepentingan dan kemaslahatan pribadi dan keluarga –baik kemaslahatan agama maupun dunia- ataukah kita mengorbankan kemaslahatan kita demi memenuhi selera masyarakat, selera teman-teman? 

Sekedar Renungan…

Berkata seseorang di penghujung hayatnya : ((Hiduplah engkau sesuai dengan impianmu, janganlah kau hidup sesuai dengan keinginan orang-orang…Berjuanglah untuk mewujudkan cita-citamu…janganlah kau berjuang untuk mewujudkan cita-cita orang-orang…))Disebutkan bahwa nasehat ini keluar dari seseorang yang terkapar di rumah sakit dan akan menuju kematian. Tatkala ditanya apakah yang ia inginkan dalam kehidupannya yang akan segera berakhir?, iapun mengurapkan rangkaian nasehat di atas.Nasehat Ini bukan berarti mengajarkan keegoisan, akan tetapi terlalu banyak komentar manusia, dan terlalu banyak ide manusia, bahkan terkadang ide-ide yang saling bertolak belakang… jika engkau turuti kemauan mereka maka tidak akan pernah habis, dan tidak akan pernah memuaskan… Terlalu banyak pengaruh orang-orang yang bisa menghalangimu untuk mencapai tujuanmu… apalagi tujuan yang indah yang menuju akhirat….Jika engkau harus mengikuti kemauan tradisi masyarakat maka bisa jadi engkau merugikan diri sendiri, bisa jadi kebahagiaan dirimu menjadi tumbal, dan bisa jadi agamamu engkau korbankan…!Contoh kejadian nyata :Seorang sahabat yang saya kenal tinggal di salah satu negeri kaum muslimin…, ternyata terjadi sengketa diantara keluarga dan kerabatnya, salah seorang adiknya membunuh sepupunya sendiri. Maka akhirnya para sepupunya pun balas dendam dan mereka hendak membunuh sahabat saya tersebut karena dialah yang paling terpandang di keluarganya. Mereka tidak puas kecuali jika membunuh orang yang paling terpandang yaitu sahabat saya. Namun tatkala mereka tidak mendapati sahabat saya –karena sedang dipenjara- maka merekapun membunuh adik sahabat saya.Maka sekarang sahabat saya dihadapkan dengan kondisi yang sulit –jika harus mengikuti tradisi masyarakat-1- Jika ia tidak membalas dendam atas kematian adiknya –yaitu dengan membunuh lagi salah seorang dari sepupunya- maka ia akan dihinakan oleh masyarakat dengan dikatakan sebagai orang yang pengecut dan tidak memiliki harga diri.2- Jika dia balas dendam –dengan membunuh salah satu sepupunya- maka saling membunuh akan terus berlangsung, dan bisa jadi hingga turun temurun. Maka tentu ini adalah dosa yang sangat besar, dosa membunuh, apalagi dosa membunuh kerabat dekat !!Tidak ada jalan lain bagi sahabat saya tersebut kecuali memafkan sepupunya, lalu meninggalkan masyarakat kampungnya dan berpindah beserta seluruh keluarganya ke kampung yang lain. Maka ia akan hidup dengan ketenangan dan kebahgiaan yang lain yang jauh dari pertumpahan darah dan cacian masyarakat..Ini hanya sebagai contoh semata, namun kondisi-kondisi yang selaras dengan contoh ini ada dalam kehidupan. Terkadang kita dihadapkan dengan kondisi memikirkan kepentingan dan kemaslahatan pribadi dan keluarga –baik kemaslahatan agama maupun dunia- ataukah kita mengorbankan kemaslahatan kita demi memenuhi selera masyarakat, selera teman-teman? 
Berkata seseorang di penghujung hayatnya : ((Hiduplah engkau sesuai dengan impianmu, janganlah kau hidup sesuai dengan keinginan orang-orang…Berjuanglah untuk mewujudkan cita-citamu…janganlah kau berjuang untuk mewujudkan cita-cita orang-orang…))Disebutkan bahwa nasehat ini keluar dari seseorang yang terkapar di rumah sakit dan akan menuju kematian. Tatkala ditanya apakah yang ia inginkan dalam kehidupannya yang akan segera berakhir?, iapun mengurapkan rangkaian nasehat di atas.Nasehat Ini bukan berarti mengajarkan keegoisan, akan tetapi terlalu banyak komentar manusia, dan terlalu banyak ide manusia, bahkan terkadang ide-ide yang saling bertolak belakang… jika engkau turuti kemauan mereka maka tidak akan pernah habis, dan tidak akan pernah memuaskan… Terlalu banyak pengaruh orang-orang yang bisa menghalangimu untuk mencapai tujuanmu… apalagi tujuan yang indah yang menuju akhirat….Jika engkau harus mengikuti kemauan tradisi masyarakat maka bisa jadi engkau merugikan diri sendiri, bisa jadi kebahagiaan dirimu menjadi tumbal, dan bisa jadi agamamu engkau korbankan…!Contoh kejadian nyata :Seorang sahabat yang saya kenal tinggal di salah satu negeri kaum muslimin…, ternyata terjadi sengketa diantara keluarga dan kerabatnya, salah seorang adiknya membunuh sepupunya sendiri. Maka akhirnya para sepupunya pun balas dendam dan mereka hendak membunuh sahabat saya tersebut karena dialah yang paling terpandang di keluarganya. Mereka tidak puas kecuali jika membunuh orang yang paling terpandang yaitu sahabat saya. Namun tatkala mereka tidak mendapati sahabat saya –karena sedang dipenjara- maka merekapun membunuh adik sahabat saya.Maka sekarang sahabat saya dihadapkan dengan kondisi yang sulit –jika harus mengikuti tradisi masyarakat-1- Jika ia tidak membalas dendam atas kematian adiknya –yaitu dengan membunuh lagi salah seorang dari sepupunya- maka ia akan dihinakan oleh masyarakat dengan dikatakan sebagai orang yang pengecut dan tidak memiliki harga diri.2- Jika dia balas dendam –dengan membunuh salah satu sepupunya- maka saling membunuh akan terus berlangsung, dan bisa jadi hingga turun temurun. Maka tentu ini adalah dosa yang sangat besar, dosa membunuh, apalagi dosa membunuh kerabat dekat !!Tidak ada jalan lain bagi sahabat saya tersebut kecuali memafkan sepupunya, lalu meninggalkan masyarakat kampungnya dan berpindah beserta seluruh keluarganya ke kampung yang lain. Maka ia akan hidup dengan ketenangan dan kebahgiaan yang lain yang jauh dari pertumpahan darah dan cacian masyarakat..Ini hanya sebagai contoh semata, namun kondisi-kondisi yang selaras dengan contoh ini ada dalam kehidupan. Terkadang kita dihadapkan dengan kondisi memikirkan kepentingan dan kemaslahatan pribadi dan keluarga –baik kemaslahatan agama maupun dunia- ataukah kita mengorbankan kemaslahatan kita demi memenuhi selera masyarakat, selera teman-teman? 


Berkata seseorang di penghujung hayatnya : ((Hiduplah engkau sesuai dengan impianmu, janganlah kau hidup sesuai dengan keinginan orang-orang…Berjuanglah untuk mewujudkan cita-citamu…janganlah kau berjuang untuk mewujudkan cita-cita orang-orang…))Disebutkan bahwa nasehat ini keluar dari seseorang yang terkapar di rumah sakit dan akan menuju kematian. Tatkala ditanya apakah yang ia inginkan dalam kehidupannya yang akan segera berakhir?, iapun mengurapkan rangkaian nasehat di atas.Nasehat Ini bukan berarti mengajarkan keegoisan, akan tetapi terlalu banyak komentar manusia, dan terlalu banyak ide manusia, bahkan terkadang ide-ide yang saling bertolak belakang… jika engkau turuti kemauan mereka maka tidak akan pernah habis, dan tidak akan pernah memuaskan… Terlalu banyak pengaruh orang-orang yang bisa menghalangimu untuk mencapai tujuanmu… apalagi tujuan yang indah yang menuju akhirat….Jika engkau harus mengikuti kemauan tradisi masyarakat maka bisa jadi engkau merugikan diri sendiri, bisa jadi kebahagiaan dirimu menjadi tumbal, dan bisa jadi agamamu engkau korbankan…!Contoh kejadian nyata :Seorang sahabat yang saya kenal tinggal di salah satu negeri kaum muslimin…, ternyata terjadi sengketa diantara keluarga dan kerabatnya, salah seorang adiknya membunuh sepupunya sendiri. Maka akhirnya para sepupunya pun balas dendam dan mereka hendak membunuh sahabat saya tersebut karena dialah yang paling terpandang di keluarganya. Mereka tidak puas kecuali jika membunuh orang yang paling terpandang yaitu sahabat saya. Namun tatkala mereka tidak mendapati sahabat saya –karena sedang dipenjara- maka merekapun membunuh adik sahabat saya.Maka sekarang sahabat saya dihadapkan dengan kondisi yang sulit –jika harus mengikuti tradisi masyarakat-1- Jika ia tidak membalas dendam atas kematian adiknya –yaitu dengan membunuh lagi salah seorang dari sepupunya- maka ia akan dihinakan oleh masyarakat dengan dikatakan sebagai orang yang pengecut dan tidak memiliki harga diri.2- Jika dia balas dendam –dengan membunuh salah satu sepupunya- maka saling membunuh akan terus berlangsung, dan bisa jadi hingga turun temurun. Maka tentu ini adalah dosa yang sangat besar, dosa membunuh, apalagi dosa membunuh kerabat dekat !!Tidak ada jalan lain bagi sahabat saya tersebut kecuali memafkan sepupunya, lalu meninggalkan masyarakat kampungnya dan berpindah beserta seluruh keluarganya ke kampung yang lain. Maka ia akan hidup dengan ketenangan dan kebahgiaan yang lain yang jauh dari pertumpahan darah dan cacian masyarakat..Ini hanya sebagai contoh semata, namun kondisi-kondisi yang selaras dengan contoh ini ada dalam kehidupan. Terkadang kita dihadapkan dengan kondisi memikirkan kepentingan dan kemaslahatan pribadi dan keluarga –baik kemaslahatan agama maupun dunia- ataukah kita mengorbankan kemaslahatan kita demi memenuhi selera masyarakat, selera teman-teman? 

Sifat Shalat Nabi (27): Di Tasyahud Akhir, Berdoa Agar Rajin Berdzikir dan Bersyukur

Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur

Sifat Shalat Nabi (27): Di Tasyahud Akhir, Berdoa Agar Rajin Berdzikir dan Bersyukur

Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur
Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur


Di tasyahud akhir, ada doa yang dituntunkan yang bisa kita baca dan semestinya dihafalkan, yaitu doa meminta pada Allah untuk rajin berdzikir, bersyukur dan bagus dalam ibadah. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).” Disebutkan di akhir hadits, وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. “Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Ada tiga permintaan yang diminta dalam doa ini. Pertama, meminta pada Allah agar dimudahkan berdzikir. Di sini bisa berupa membaca Al Quran, memuji Allah, menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan semacam itu. Lantas kenapa dzikir didahulukan dari syukur? Karena jika seseorang tidak berdzikir berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Kedua, meminta pada Allah untuk rajin bersyukur. Syukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya sebagai bentuk pujian, juga ada bentuk pengakuan dalam hati dan diwujudkan dengan ketundukkan pada anggota badan. Disebut syukur tentu saja dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, serta menjauhkan diri dari maksiat pada-Nya. Ketiga, meminta pada Allah supaya bisa beribadah dengan baik. Yang dimaksud ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas dan ibadah yang sesuai tuntunan. Dalam hadits disebutkan bahwa doa tersebut dibaca di dubur shalat. Dubur shalat itu bisa berarti sebelum salam, bisa pula sesudah salam. Namun yang lebih tepat di sini adalah sebelum salam karena dua alasan: Dubur shalat itu adalah ujungnya sesuatu dan masih merupakan bagian dari sesuatu tersebut, sehingga lebih tepat dimaknakan dubur shalat di sini adalah di akhir shalat sebelum salam. Sebelum salam itu adalah tempatnya doa. Namun kalau lupa dilakukan sebelum salam, maka bisa memilih sesudah salam karena sama-sama disebut dubur shalat. Semoga bermanfaat, moga doanya bisa dihafalkan dan dipraktekkan. Moga Allah memberikan kita kemudahan dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 3: 194-196. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 16 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagscara shalat doa Dzikir syukur

Doa Agar Mudah Melunasi Utang Sepenuh Gunung

Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang

Doa Agar Mudah Melunasi Utang Sepenuh Gunung

Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang
Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang


Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya? Daftar Isi tutup 1. Hanya Diarahkan untuk Berdoa 2. Makan yang Haram 3. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal 3.1. Referensi: Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani) Hanya Diarahkan untuk Berdoa Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263). Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”. Baca Juga: Membantu Orang yang Sulit dalam Utang Makan yang Haram Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek. Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim. Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015) Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260). Hanya Allah yang memberi petunjuk.   Baca Juga: Doa Melunasi Utang Dibaca Sebelum Tidur Referensi: Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H. — Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa utang piutang

Yang Penting Berusaha…

Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…

Yang Penting Berusaha…

Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…
Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…


Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka. Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…

TAWANAN SYAHWAT… (Agar segera menikah….)

Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…

TAWANAN SYAHWAT… (Agar segera menikah….)

Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…
Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…


Sungguh Malang…Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya… Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yg selalu membuka harapan…Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…Akan tetapi ia tetap tak kuasa…Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta… Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…اللهم اكفني بحلالك عن حرامكYa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…

Menerima Kebenaran Meskipun Dari Anak Kecil

عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 

Menerima Kebenaran Meskipun Dari Anak Kecil

عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 
عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 


عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُDari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91) 

Deteksi Diri Anda…

Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!

Deteksi Diri Anda…

Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!
Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!


Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanyaSolusi : – Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!

Agar Harta Anda Pasti Aman

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.

Agar Harta Anda Pasti Aman

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.


Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat. Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.

Penderitaan Pendengki dan Pendendam

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 

Penderitaan Pendengki dan Pendendam

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 


Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 14-01-1436 H / 07-11-2014 MOleh: Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh Khutbah PertamaKaum Muslimin sekalian…Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian…Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan… إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ …  كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…Dahulu dikatakan :أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…” Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….          Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wasallamفمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada… Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُJangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُIa melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُWahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُJanganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُJanganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat… Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُDan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُDan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-‘afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).          Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki… Khutbah Kedua :Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَاKecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَاKerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَىSucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداًDan janganlah kalian menyakiti seorang pun….Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukanPenerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda 

Tafsir Doa Sapu Jagad

Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad

Tafsir Doa Sapu Jagad

Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad
Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad


Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Doa sapu jagad yang kami maksud adalah, رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini, فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690) Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan, وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ “Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء “Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322). Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut, وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة . “Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13). Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122). Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Sekarang sudah masuk musim hujan, segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal mengenai fikih hujan dengan judul “Panduan Amal Shalih di Musim Hujan” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku hujan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.12.000,- (belum termasuk ongkir). — Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal]. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini. Tagsdoa doa sapu jagad
Prev     Next