Setelah Hubungan Intim, Datang Haidh

Jika ada seorang wanita hubungan intim dengan suaminya (berarti dalam keadaan junub), lalu belum sempat mandi junub, lantas datang haidh, apakah mandi junubnya ditunda sampai haidhnya selesai ataukah langsung mandi untuk tujuan mandi junub? Tetap ketika itu ia diperintahkan mandi junub, walau masih tersisa haidhnya. قال ابن قدامة رحمه الله في “المغني” (1/134) : ” فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل ” انتهى بتصرف . Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni (1: 134) menyatakan, “Jika wanita tersebut mandi junub di masa haidhnya, mandinya sah dan hilanglah keadaan junub pada dirinya. Demikianlah pendapat dari Imam Ahmad. Beliau menyatakan, junubnya hilang. Namun haidhnya hilang kalau darahnya sudah berhenti. Imam Ahmad berkata bahwa tidak ada ulama yang melarang untuk mandi junub kecuali ‘Atha’. Namun ada riwayat dari ‘Atha’ yang memerintahkan untuk mandi junub.” Tata cara mandi junub tadi sama seperti tata cara mandi wajib lainnya. Mandi tersebut diawali dengan wudhu, lalu mengguyur kepala dengan air dan dilanjutkan dengan menyiram anggota tubuh lainnya.   Kesimpulannya, wanita yang sehabis hubungan intim lalu haidh, maka ia diperintahkan mandi junub lebih dahulu. Nantinya kalau suci dari haidh, barulah mandi haidh lagi.   Wallahu a’lam bish-shawwab. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) — Disusun di Citilink Jakarta – Jogja, 3 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haidh hubungan intim mandi junub

Setelah Hubungan Intim, Datang Haidh

Jika ada seorang wanita hubungan intim dengan suaminya (berarti dalam keadaan junub), lalu belum sempat mandi junub, lantas datang haidh, apakah mandi junubnya ditunda sampai haidhnya selesai ataukah langsung mandi untuk tujuan mandi junub? Tetap ketika itu ia diperintahkan mandi junub, walau masih tersisa haidhnya. قال ابن قدامة رحمه الله في “المغني” (1/134) : ” فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل ” انتهى بتصرف . Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni (1: 134) menyatakan, “Jika wanita tersebut mandi junub di masa haidhnya, mandinya sah dan hilanglah keadaan junub pada dirinya. Demikianlah pendapat dari Imam Ahmad. Beliau menyatakan, junubnya hilang. Namun haidhnya hilang kalau darahnya sudah berhenti. Imam Ahmad berkata bahwa tidak ada ulama yang melarang untuk mandi junub kecuali ‘Atha’. Namun ada riwayat dari ‘Atha’ yang memerintahkan untuk mandi junub.” Tata cara mandi junub tadi sama seperti tata cara mandi wajib lainnya. Mandi tersebut diawali dengan wudhu, lalu mengguyur kepala dengan air dan dilanjutkan dengan menyiram anggota tubuh lainnya.   Kesimpulannya, wanita yang sehabis hubungan intim lalu haidh, maka ia diperintahkan mandi junub lebih dahulu. Nantinya kalau suci dari haidh, barulah mandi haidh lagi.   Wallahu a’lam bish-shawwab. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) — Disusun di Citilink Jakarta – Jogja, 3 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haidh hubungan intim mandi junub
Jika ada seorang wanita hubungan intim dengan suaminya (berarti dalam keadaan junub), lalu belum sempat mandi junub, lantas datang haidh, apakah mandi junubnya ditunda sampai haidhnya selesai ataukah langsung mandi untuk tujuan mandi junub? Tetap ketika itu ia diperintahkan mandi junub, walau masih tersisa haidhnya. قال ابن قدامة رحمه الله في “المغني” (1/134) : ” فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل ” انتهى بتصرف . Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni (1: 134) menyatakan, “Jika wanita tersebut mandi junub di masa haidhnya, mandinya sah dan hilanglah keadaan junub pada dirinya. Demikianlah pendapat dari Imam Ahmad. Beliau menyatakan, junubnya hilang. Namun haidhnya hilang kalau darahnya sudah berhenti. Imam Ahmad berkata bahwa tidak ada ulama yang melarang untuk mandi junub kecuali ‘Atha’. Namun ada riwayat dari ‘Atha’ yang memerintahkan untuk mandi junub.” Tata cara mandi junub tadi sama seperti tata cara mandi wajib lainnya. Mandi tersebut diawali dengan wudhu, lalu mengguyur kepala dengan air dan dilanjutkan dengan menyiram anggota tubuh lainnya.   Kesimpulannya, wanita yang sehabis hubungan intim lalu haidh, maka ia diperintahkan mandi junub lebih dahulu. Nantinya kalau suci dari haidh, barulah mandi haidh lagi.   Wallahu a’lam bish-shawwab. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) — Disusun di Citilink Jakarta – Jogja, 3 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haidh hubungan intim mandi junub


Jika ada seorang wanita hubungan intim dengan suaminya (berarti dalam keadaan junub), lalu belum sempat mandi junub, lantas datang haidh, apakah mandi junubnya ditunda sampai haidhnya selesai ataukah langsung mandi untuk tujuan mandi junub? Tetap ketika itu ia diperintahkan mandi junub, walau masih tersisa haidhnya. قال ابن قدامة رحمه الله في “المغني” (1/134) : ” فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل ” انتهى بتصرف . Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni (1: 134) menyatakan, “Jika wanita tersebut mandi junub di masa haidhnya, mandinya sah dan hilanglah keadaan junub pada dirinya. Demikianlah pendapat dari Imam Ahmad. Beliau menyatakan, junubnya hilang. Namun haidhnya hilang kalau darahnya sudah berhenti. Imam Ahmad berkata bahwa tidak ada ulama yang melarang untuk mandi junub kecuali ‘Atha’. Namun ada riwayat dari ‘Atha’ yang memerintahkan untuk mandi junub.” Tata cara mandi junub tadi sama seperti tata cara mandi wajib lainnya. Mandi tersebut diawali dengan wudhu, lalu mengguyur kepala dengan air dan dilanjutkan dengan menyiram anggota tubuh lainnya.   Kesimpulannya, wanita yang sehabis hubungan intim lalu haidh, maka ia diperintahkan mandi junub lebih dahulu. Nantinya kalau suci dari haidh, barulah mandi haidh lagi.   Wallahu a’lam bish-shawwab. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) — Disusun di Citilink Jakarta – Jogja, 3 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haidh hubungan intim mandi junub

Radio DS dan DSTV, Darurat 7 Hari

Warga sudah sangat merindukan tayangan DSTV. Awal-awal dahulu ketika ujicoba beberapa hari, warga sudah sangat senang karena mereka dapat beralih dari siaran yang tidak manfaat pada siraman rohani dan pengetahuan agama. Walau DSTV dan radio DS sifatnya baru lokal (komunitas) menjangkau 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin (sekitar Kecamatan Panggang dan Purwosari). Sayangnya … Beberapa bulan ini tidak ada siaran sementara waktu karena menunggu pengurusan izin dari KPID. Dan tumpukan utang DSTV yang sudah semakin banyak sehingga belum bisa kembali siaran. Saat ini utang radio DS dan DSTV adalah Rp.250.000.000,- (DUA RATUS LIMA PULUH JUTA RUPIAH). Yang ini ditalangi dari dana pesantren lainnya dan seminggu kemarin baru saja dilunasi beberapa utang pada pihak kontraktor. Biaya paling besar karena mesti membangun pemancar di gunung di atas pesantren yang ini membutuhkan biaya yang teramat besar.   PERKEMBANGAN RADIO DS DAN DSTV 1- Survey verifikasi data dari KPID pada hari ini 9 Mei 2017. Tanggal 19 Mei ini insya Allah akan diadakan EDP (Evaluasi Dengar Pendapat) dengan tokoh dan masyarakat sekitar radio Darush Sholihin. Foto bersama dengan komite dari KPID Jogja   Rapat verifikasi data Radio Darush Sholihin   Ditentukan 19 Mei 2016 untuk EDP, Evaluasi Dengar Pendapat dengan mengundang warga dan tokoh masyarakat di Balai Desa Girisekar   2- Perbaikan pemancar beberapa hari lalu, sudah diperbaiki mesin pemancar yang bocor oleh pakarnya langsung, Ir Iskianto (Pak Kawul). Dan beberapa hari lagi akan diselesaikan perbaikan antena pemancar. 3- Sarana jalan menuju pemancar di puncak gunung sudah selesai, namun biaya paling besar habis karena sarana ini. 4- Fasilitas kamera untuk DSTV sudah lengkap dengan kamera berkualitas tiga buah, LUMIX GH4 (2 buah) dan LUMIX G7 (1 buah). 5- Studio sudah sangat bagus dan berkualitas dengan background hijau sesuai simbol DS. 6- Ramadhan akan bergulir kajian rutin setiap bada Shubuh, menjelang berbuka dan bada Tarawih. Sementara akan disiarkan secara online lewat web www.sapamuslim.com. 8- Upload video baru di Youtube tiap dua hari sekali di channel DSTV Darush Sholihin. Contoh video terbaru “Baju Bagus”:     INGIN MEMBANTU DALAM MENGATASI UTANG RADIO DS DAN DSTV? Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451).   Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi.   Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM Yayasan # 23 November 2015 # 1.000.000.   # Jika menginginkan rekening lainnya, silakan bertanya pada kontak donasi: 0811267791.   Donasi dibatasi waktunya karena demi menutupi utang dengan segera. Insya-Allah akan dilaporkan terus per hari di: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds   Info donasi: 0811267791 (Mas Jarot)   Pimpinan Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal MOHON BANTUAN SHARE!   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Tagsradio

Radio DS dan DSTV, Darurat 7 Hari

Warga sudah sangat merindukan tayangan DSTV. Awal-awal dahulu ketika ujicoba beberapa hari, warga sudah sangat senang karena mereka dapat beralih dari siaran yang tidak manfaat pada siraman rohani dan pengetahuan agama. Walau DSTV dan radio DS sifatnya baru lokal (komunitas) menjangkau 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin (sekitar Kecamatan Panggang dan Purwosari). Sayangnya … Beberapa bulan ini tidak ada siaran sementara waktu karena menunggu pengurusan izin dari KPID. Dan tumpukan utang DSTV yang sudah semakin banyak sehingga belum bisa kembali siaran. Saat ini utang radio DS dan DSTV adalah Rp.250.000.000,- (DUA RATUS LIMA PULUH JUTA RUPIAH). Yang ini ditalangi dari dana pesantren lainnya dan seminggu kemarin baru saja dilunasi beberapa utang pada pihak kontraktor. Biaya paling besar karena mesti membangun pemancar di gunung di atas pesantren yang ini membutuhkan biaya yang teramat besar.   PERKEMBANGAN RADIO DS DAN DSTV 1- Survey verifikasi data dari KPID pada hari ini 9 Mei 2017. Tanggal 19 Mei ini insya Allah akan diadakan EDP (Evaluasi Dengar Pendapat) dengan tokoh dan masyarakat sekitar radio Darush Sholihin. Foto bersama dengan komite dari KPID Jogja   Rapat verifikasi data Radio Darush Sholihin   Ditentukan 19 Mei 2016 untuk EDP, Evaluasi Dengar Pendapat dengan mengundang warga dan tokoh masyarakat di Balai Desa Girisekar   2- Perbaikan pemancar beberapa hari lalu, sudah diperbaiki mesin pemancar yang bocor oleh pakarnya langsung, Ir Iskianto (Pak Kawul). Dan beberapa hari lagi akan diselesaikan perbaikan antena pemancar. 3- Sarana jalan menuju pemancar di puncak gunung sudah selesai, namun biaya paling besar habis karena sarana ini. 4- Fasilitas kamera untuk DSTV sudah lengkap dengan kamera berkualitas tiga buah, LUMIX GH4 (2 buah) dan LUMIX G7 (1 buah). 5- Studio sudah sangat bagus dan berkualitas dengan background hijau sesuai simbol DS. 6- Ramadhan akan bergulir kajian rutin setiap bada Shubuh, menjelang berbuka dan bada Tarawih. Sementara akan disiarkan secara online lewat web www.sapamuslim.com. 8- Upload video baru di Youtube tiap dua hari sekali di channel DSTV Darush Sholihin. Contoh video terbaru “Baju Bagus”:     INGIN MEMBANTU DALAM MENGATASI UTANG RADIO DS DAN DSTV? Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451).   Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi.   Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM Yayasan # 23 November 2015 # 1.000.000.   # Jika menginginkan rekening lainnya, silakan bertanya pada kontak donasi: 0811267791.   Donasi dibatasi waktunya karena demi menutupi utang dengan segera. Insya-Allah akan dilaporkan terus per hari di: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds   Info donasi: 0811267791 (Mas Jarot)   Pimpinan Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal MOHON BANTUAN SHARE!   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Tagsradio
Warga sudah sangat merindukan tayangan DSTV. Awal-awal dahulu ketika ujicoba beberapa hari, warga sudah sangat senang karena mereka dapat beralih dari siaran yang tidak manfaat pada siraman rohani dan pengetahuan agama. Walau DSTV dan radio DS sifatnya baru lokal (komunitas) menjangkau 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin (sekitar Kecamatan Panggang dan Purwosari). Sayangnya … Beberapa bulan ini tidak ada siaran sementara waktu karena menunggu pengurusan izin dari KPID. Dan tumpukan utang DSTV yang sudah semakin banyak sehingga belum bisa kembali siaran. Saat ini utang radio DS dan DSTV adalah Rp.250.000.000,- (DUA RATUS LIMA PULUH JUTA RUPIAH). Yang ini ditalangi dari dana pesantren lainnya dan seminggu kemarin baru saja dilunasi beberapa utang pada pihak kontraktor. Biaya paling besar karena mesti membangun pemancar di gunung di atas pesantren yang ini membutuhkan biaya yang teramat besar.   PERKEMBANGAN RADIO DS DAN DSTV 1- Survey verifikasi data dari KPID pada hari ini 9 Mei 2017. Tanggal 19 Mei ini insya Allah akan diadakan EDP (Evaluasi Dengar Pendapat) dengan tokoh dan masyarakat sekitar radio Darush Sholihin. Foto bersama dengan komite dari KPID Jogja   Rapat verifikasi data Radio Darush Sholihin   Ditentukan 19 Mei 2016 untuk EDP, Evaluasi Dengar Pendapat dengan mengundang warga dan tokoh masyarakat di Balai Desa Girisekar   2- Perbaikan pemancar beberapa hari lalu, sudah diperbaiki mesin pemancar yang bocor oleh pakarnya langsung, Ir Iskianto (Pak Kawul). Dan beberapa hari lagi akan diselesaikan perbaikan antena pemancar. 3- Sarana jalan menuju pemancar di puncak gunung sudah selesai, namun biaya paling besar habis karena sarana ini. 4- Fasilitas kamera untuk DSTV sudah lengkap dengan kamera berkualitas tiga buah, LUMIX GH4 (2 buah) dan LUMIX G7 (1 buah). 5- Studio sudah sangat bagus dan berkualitas dengan background hijau sesuai simbol DS. 6- Ramadhan akan bergulir kajian rutin setiap bada Shubuh, menjelang berbuka dan bada Tarawih. Sementara akan disiarkan secara online lewat web www.sapamuslim.com. 8- Upload video baru di Youtube tiap dua hari sekali di channel DSTV Darush Sholihin. Contoh video terbaru “Baju Bagus”:     INGIN MEMBANTU DALAM MENGATASI UTANG RADIO DS DAN DSTV? Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451).   Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi.   Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM Yayasan # 23 November 2015 # 1.000.000.   # Jika menginginkan rekening lainnya, silakan bertanya pada kontak donasi: 0811267791.   Donasi dibatasi waktunya karena demi menutupi utang dengan segera. Insya-Allah akan dilaporkan terus per hari di: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds   Info donasi: 0811267791 (Mas Jarot)   Pimpinan Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal MOHON BANTUAN SHARE!   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Tagsradio


Warga sudah sangat merindukan tayangan DSTV. Awal-awal dahulu ketika ujicoba beberapa hari, warga sudah sangat senang karena mereka dapat beralih dari siaran yang tidak manfaat pada siraman rohani dan pengetahuan agama. Walau DSTV dan radio DS sifatnya baru lokal (komunitas) menjangkau 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin (sekitar Kecamatan Panggang dan Purwosari). Sayangnya … Beberapa bulan ini tidak ada siaran sementara waktu karena menunggu pengurusan izin dari KPID. Dan tumpukan utang DSTV yang sudah semakin banyak sehingga belum bisa kembali siaran. Saat ini utang radio DS dan DSTV adalah Rp.250.000.000,- (DUA RATUS LIMA PULUH JUTA RUPIAH). Yang ini ditalangi dari dana pesantren lainnya dan seminggu kemarin baru saja dilunasi beberapa utang pada pihak kontraktor. Biaya paling besar karena mesti membangun pemancar di gunung di atas pesantren yang ini membutuhkan biaya yang teramat besar.   PERKEMBANGAN RADIO DS DAN DSTV 1- Survey verifikasi data dari KPID pada hari ini 9 Mei 2017. Tanggal 19 Mei ini insya Allah akan diadakan EDP (Evaluasi Dengar Pendapat) dengan tokoh dan masyarakat sekitar radio Darush Sholihin. Foto bersama dengan komite dari KPID Jogja   Rapat verifikasi data Radio Darush Sholihin   Ditentukan 19 Mei 2016 untuk EDP, Evaluasi Dengar Pendapat dengan mengundang warga dan tokoh masyarakat di Balai Desa Girisekar   2- Perbaikan pemancar beberapa hari lalu, sudah diperbaiki mesin pemancar yang bocor oleh pakarnya langsung, Ir Iskianto (Pak Kawul). Dan beberapa hari lagi akan diselesaikan perbaikan antena pemancar. 3- Sarana jalan menuju pemancar di puncak gunung sudah selesai, namun biaya paling besar habis karena sarana ini. 4- Fasilitas kamera untuk DSTV sudah lengkap dengan kamera berkualitas tiga buah, LUMIX GH4 (2 buah) dan LUMIX G7 (1 buah). 5- Studio sudah sangat bagus dan berkualitas dengan background hijau sesuai simbol DS. 6- Ramadhan akan bergulir kajian rutin setiap bada Shubuh, menjelang berbuka dan bada Tarawih. Sementara akan disiarkan secara online lewat web www.sapamuslim.com. 8- Upload video baru di Youtube tiap dua hari sekali di channel DSTV Darush Sholihin. Contoh video terbaru “Baju Bagus”:     INGIN MEMBANTU DALAM MENGATASI UTANG RADIO DS DAN DSTV? Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451).   Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi.   Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM Yayasan # 23 November 2015 # 1.000.000.   # Jika menginginkan rekening lainnya, silakan bertanya pada kontak donasi: 0811267791.   Donasi dibatasi waktunya karena demi menutupi utang dengan segera. Insya-Allah akan dilaporkan terus per hari di: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds   Info donasi: 0811267791 (Mas Jarot)   Pimpinan Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal MOHON BANTUAN SHARE!   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Tagsradio

Bekerja untuk Duniamu Seakan-Akan Hidup Selamanya

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” Begini ungkapan dalam bahasa Arabnya: اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” Ungkapan di atas yang tepat bukanlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah mengungkapkan, hadits tersebut kalau disebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah benar walaupun hadits tersebut sudah sering diucapkan oleh kebanyakan orang. Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) jilid kedua juga disebutkan bahwa perkataan tersebut tidak tepat dikatakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa Benar Ungkapan Tersebut? Kalau kalimat kedua, jelas benarnya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Pengasuh Web Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah mengungkapkan bahwa makna kalimat kedua tersebut benar. Kalimat tersebut memotivasi kita agar memperhatikan amalan untuk akhirat kita. Hendaklah kita mempersiapkan diri untuk akhirat kita. Perintah seperti ini jelas sangat-sangat dituntut. Bahkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah banyak sekali yang mendukungnya. Adapun kalimat bagian pertama, bekerjalah di dunia seakan-akan engkau hidup selamanya, dari satu sisi ungkapan ini benar, dari sisi lain tidak benar. Makna yang benar, jika dipahami bahwa perlu mengambil sebab, perlu usaha juga dalam mencari rezeki dan serius dalam mengais rezeki di muka bumi dengan senantiasa mengharap ridha Allah. Atau bisa juga makna yang benar adalah kita diperintahkan untuk tidak cepat-cepat (tergesa-gesa) mencari dunia, beda dengan amalan untuk akhirat. Hendaklah bersabar dalam mencari dunia. Dunia yang tidak didapat hari ini, carilah besok. Makna seperti ini beda dengan yang dipahami kebanyakan orang yang menyangka bahwa dunia hendaklah semangat untuk dicari, hingga lupa akhirat. Sehingga makna yang keliru dari ungkapan di atas adalah jika mengajak mati-matian dalam mencari dunia. Yang tepat dunia memang kita cari, namun bukan jadi tujuan. Dunia hanyalah sarana untuk akhirat kita. Karena di dunialah tempat kita beramal shalih, namun bukan hidup selamanya.   Akhirat Dikejar, Dunia Bisa Ditunda Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam dan pakar fikih pada abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, Perkataan … اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” [Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok]. Ungkapan di atas termasuk HADITS PALSU (hadits maudhu’). Maknanya pun tidak seperti dipahami kebanyakan orang. Banyak yang memahami maksud ungkapan tersebut adalah hendaknya kita mati-matian dalam mengejar dunia, akhirat akhirnya terlupakan. Bahkan makna yang tepat adalah sebaliknya. Hendaklah kita semangat dalam menggapai akhirat dan tak perlu tergesa-gesa dalam mengejar dunia. Ungkapan “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya”, maksudnya adalah apa yang tidak selesai hari ini dari urusan dunia, selesaikanlah besok. Yang tidak bisa selesai besok, selesaikanlah besoknya lagi. Jika luput hari ini, masih ada harapan untuk besok. Adapun untuk urusan akhirat, maka beramallah untuk urusan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Maksudnya kita diperintahkan untuk segera melakukan amalan shalih, jangan menunda-nundanya. Anggap kita tak bisa lagi berjumpa lagi dengan esok hari. Bahkan kita katakan, bisa jadi kita mati sebelum esok tiba. Karena siapa pun kita tak mengetahui kapan maut menghampiri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan, إذا أصبحت فلا تنتظر المساء ، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وخذ من صحتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari) Itulah makna ungkapan yang masyhur di atas. Namun sekali lagi, kesimpulannya, ungkapan tersebut salah alamat jika disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu maknanya pun bukan seperti dipahami kebanyakan orang untuk terus mengejar dunia hingga kurang semangat menggapai akhirat. Bahkan makna yang tepat, hendaklah semangat bersegera dalam melakukan amalan akhirat, jangan sampai menunda-nunda. Adapun urusan dunia, ada kelapangan dalam menggapainya. Kalau tidak bisa menggapai hari ini, masih ada harapan untuk esok hari. [Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb • Fatawa Musthalah Al-Hadits, Syarh Al-Hadits wa Al-Hukmu ‘alaiha] Semangat dalam bekerja di dunia tak masalah, namun jangan sampai lupa akhirat yang jadi tujuan utama dan tetap menempuh cara yang halal. Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 130847 (https://islamqa.info/ar/130847) — @ Adisucipto Jogja, saat waiting menuju Jakarta di pagi hari yang penuh berkah, 3 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta dunia hadits dhaif hadits lemah

Bekerja untuk Duniamu Seakan-Akan Hidup Selamanya

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” Begini ungkapan dalam bahasa Arabnya: اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” Ungkapan di atas yang tepat bukanlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah mengungkapkan, hadits tersebut kalau disebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah benar walaupun hadits tersebut sudah sering diucapkan oleh kebanyakan orang. Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) jilid kedua juga disebutkan bahwa perkataan tersebut tidak tepat dikatakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa Benar Ungkapan Tersebut? Kalau kalimat kedua, jelas benarnya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Pengasuh Web Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah mengungkapkan bahwa makna kalimat kedua tersebut benar. Kalimat tersebut memotivasi kita agar memperhatikan amalan untuk akhirat kita. Hendaklah kita mempersiapkan diri untuk akhirat kita. Perintah seperti ini jelas sangat-sangat dituntut. Bahkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah banyak sekali yang mendukungnya. Adapun kalimat bagian pertama, bekerjalah di dunia seakan-akan engkau hidup selamanya, dari satu sisi ungkapan ini benar, dari sisi lain tidak benar. Makna yang benar, jika dipahami bahwa perlu mengambil sebab, perlu usaha juga dalam mencari rezeki dan serius dalam mengais rezeki di muka bumi dengan senantiasa mengharap ridha Allah. Atau bisa juga makna yang benar adalah kita diperintahkan untuk tidak cepat-cepat (tergesa-gesa) mencari dunia, beda dengan amalan untuk akhirat. Hendaklah bersabar dalam mencari dunia. Dunia yang tidak didapat hari ini, carilah besok. Makna seperti ini beda dengan yang dipahami kebanyakan orang yang menyangka bahwa dunia hendaklah semangat untuk dicari, hingga lupa akhirat. Sehingga makna yang keliru dari ungkapan di atas adalah jika mengajak mati-matian dalam mencari dunia. Yang tepat dunia memang kita cari, namun bukan jadi tujuan. Dunia hanyalah sarana untuk akhirat kita. Karena di dunialah tempat kita beramal shalih, namun bukan hidup selamanya.   Akhirat Dikejar, Dunia Bisa Ditunda Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam dan pakar fikih pada abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, Perkataan … اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” [Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok]. Ungkapan di atas termasuk HADITS PALSU (hadits maudhu’). Maknanya pun tidak seperti dipahami kebanyakan orang. Banyak yang memahami maksud ungkapan tersebut adalah hendaknya kita mati-matian dalam mengejar dunia, akhirat akhirnya terlupakan. Bahkan makna yang tepat adalah sebaliknya. Hendaklah kita semangat dalam menggapai akhirat dan tak perlu tergesa-gesa dalam mengejar dunia. Ungkapan “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya”, maksudnya adalah apa yang tidak selesai hari ini dari urusan dunia, selesaikanlah besok. Yang tidak bisa selesai besok, selesaikanlah besoknya lagi. Jika luput hari ini, masih ada harapan untuk besok. Adapun untuk urusan akhirat, maka beramallah untuk urusan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Maksudnya kita diperintahkan untuk segera melakukan amalan shalih, jangan menunda-nundanya. Anggap kita tak bisa lagi berjumpa lagi dengan esok hari. Bahkan kita katakan, bisa jadi kita mati sebelum esok tiba. Karena siapa pun kita tak mengetahui kapan maut menghampiri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan, إذا أصبحت فلا تنتظر المساء ، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وخذ من صحتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari) Itulah makna ungkapan yang masyhur di atas. Namun sekali lagi, kesimpulannya, ungkapan tersebut salah alamat jika disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu maknanya pun bukan seperti dipahami kebanyakan orang untuk terus mengejar dunia hingga kurang semangat menggapai akhirat. Bahkan makna yang tepat, hendaklah semangat bersegera dalam melakukan amalan akhirat, jangan sampai menunda-nunda. Adapun urusan dunia, ada kelapangan dalam menggapainya. Kalau tidak bisa menggapai hari ini, masih ada harapan untuk esok hari. [Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb • Fatawa Musthalah Al-Hadits, Syarh Al-Hadits wa Al-Hukmu ‘alaiha] Semangat dalam bekerja di dunia tak masalah, namun jangan sampai lupa akhirat yang jadi tujuan utama dan tetap menempuh cara yang halal. Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 130847 (https://islamqa.info/ar/130847) — @ Adisucipto Jogja, saat waiting menuju Jakarta di pagi hari yang penuh berkah, 3 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta dunia hadits dhaif hadits lemah
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” Begini ungkapan dalam bahasa Arabnya: اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” Ungkapan di atas yang tepat bukanlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah mengungkapkan, hadits tersebut kalau disebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah benar walaupun hadits tersebut sudah sering diucapkan oleh kebanyakan orang. Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) jilid kedua juga disebutkan bahwa perkataan tersebut tidak tepat dikatakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa Benar Ungkapan Tersebut? Kalau kalimat kedua, jelas benarnya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Pengasuh Web Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah mengungkapkan bahwa makna kalimat kedua tersebut benar. Kalimat tersebut memotivasi kita agar memperhatikan amalan untuk akhirat kita. Hendaklah kita mempersiapkan diri untuk akhirat kita. Perintah seperti ini jelas sangat-sangat dituntut. Bahkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah banyak sekali yang mendukungnya. Adapun kalimat bagian pertama, bekerjalah di dunia seakan-akan engkau hidup selamanya, dari satu sisi ungkapan ini benar, dari sisi lain tidak benar. Makna yang benar, jika dipahami bahwa perlu mengambil sebab, perlu usaha juga dalam mencari rezeki dan serius dalam mengais rezeki di muka bumi dengan senantiasa mengharap ridha Allah. Atau bisa juga makna yang benar adalah kita diperintahkan untuk tidak cepat-cepat (tergesa-gesa) mencari dunia, beda dengan amalan untuk akhirat. Hendaklah bersabar dalam mencari dunia. Dunia yang tidak didapat hari ini, carilah besok. Makna seperti ini beda dengan yang dipahami kebanyakan orang yang menyangka bahwa dunia hendaklah semangat untuk dicari, hingga lupa akhirat. Sehingga makna yang keliru dari ungkapan di atas adalah jika mengajak mati-matian dalam mencari dunia. Yang tepat dunia memang kita cari, namun bukan jadi tujuan. Dunia hanyalah sarana untuk akhirat kita. Karena di dunialah tempat kita beramal shalih, namun bukan hidup selamanya.   Akhirat Dikejar, Dunia Bisa Ditunda Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam dan pakar fikih pada abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, Perkataan … اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” [Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok]. Ungkapan di atas termasuk HADITS PALSU (hadits maudhu’). Maknanya pun tidak seperti dipahami kebanyakan orang. Banyak yang memahami maksud ungkapan tersebut adalah hendaknya kita mati-matian dalam mengejar dunia, akhirat akhirnya terlupakan. Bahkan makna yang tepat adalah sebaliknya. Hendaklah kita semangat dalam menggapai akhirat dan tak perlu tergesa-gesa dalam mengejar dunia. Ungkapan “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya”, maksudnya adalah apa yang tidak selesai hari ini dari urusan dunia, selesaikanlah besok. Yang tidak bisa selesai besok, selesaikanlah besoknya lagi. Jika luput hari ini, masih ada harapan untuk besok. Adapun untuk urusan akhirat, maka beramallah untuk urusan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Maksudnya kita diperintahkan untuk segera melakukan amalan shalih, jangan menunda-nundanya. Anggap kita tak bisa lagi berjumpa lagi dengan esok hari. Bahkan kita katakan, bisa jadi kita mati sebelum esok tiba. Karena siapa pun kita tak mengetahui kapan maut menghampiri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan, إذا أصبحت فلا تنتظر المساء ، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وخذ من صحتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari) Itulah makna ungkapan yang masyhur di atas. Namun sekali lagi, kesimpulannya, ungkapan tersebut salah alamat jika disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu maknanya pun bukan seperti dipahami kebanyakan orang untuk terus mengejar dunia hingga kurang semangat menggapai akhirat. Bahkan makna yang tepat, hendaklah semangat bersegera dalam melakukan amalan akhirat, jangan sampai menunda-nunda. Adapun urusan dunia, ada kelapangan dalam menggapainya. Kalau tidak bisa menggapai hari ini, masih ada harapan untuk esok hari. [Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb • Fatawa Musthalah Al-Hadits, Syarh Al-Hadits wa Al-Hukmu ‘alaiha] Semangat dalam bekerja di dunia tak masalah, namun jangan sampai lupa akhirat yang jadi tujuan utama dan tetap menempuh cara yang halal. Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 130847 (https://islamqa.info/ar/130847) — @ Adisucipto Jogja, saat waiting menuju Jakarta di pagi hari yang penuh berkah, 3 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta dunia hadits dhaif hadits lemah


“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” Begini ungkapan dalam bahasa Arabnya: اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” Ungkapan di atas yang tepat bukanlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah mengungkapkan, hadits tersebut kalau disebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah benar walaupun hadits tersebut sudah sering diucapkan oleh kebanyakan orang. Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) jilid kedua juga disebutkan bahwa perkataan tersebut tidak tepat dikatakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa Benar Ungkapan Tersebut? Kalau kalimat kedua, jelas benarnya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Pengasuh Web Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah mengungkapkan bahwa makna kalimat kedua tersebut benar. Kalimat tersebut memotivasi kita agar memperhatikan amalan untuk akhirat kita. Hendaklah kita mempersiapkan diri untuk akhirat kita. Perintah seperti ini jelas sangat-sangat dituntut. Bahkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah banyak sekali yang mendukungnya. Adapun kalimat bagian pertama, bekerjalah di dunia seakan-akan engkau hidup selamanya, dari satu sisi ungkapan ini benar, dari sisi lain tidak benar. Makna yang benar, jika dipahami bahwa perlu mengambil sebab, perlu usaha juga dalam mencari rezeki dan serius dalam mengais rezeki di muka bumi dengan senantiasa mengharap ridha Allah. Atau bisa juga makna yang benar adalah kita diperintahkan untuk tidak cepat-cepat (tergesa-gesa) mencari dunia, beda dengan amalan untuk akhirat. Hendaklah bersabar dalam mencari dunia. Dunia yang tidak didapat hari ini, carilah besok. Makna seperti ini beda dengan yang dipahami kebanyakan orang yang menyangka bahwa dunia hendaklah semangat untuk dicari, hingga lupa akhirat. Sehingga makna yang keliru dari ungkapan di atas adalah jika mengajak mati-matian dalam mencari dunia. Yang tepat dunia memang kita cari, namun bukan jadi tujuan. Dunia hanyalah sarana untuk akhirat kita. Karena di dunialah tempat kita beramal shalih, namun bukan hidup selamanya.   Akhirat Dikejar, Dunia Bisa Ditunda Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam dan pakar fikih pada abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, Perkataan … اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” [Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok]. Ungkapan di atas termasuk HADITS PALSU (hadits maudhu’). Maknanya pun tidak seperti dipahami kebanyakan orang. Banyak yang memahami maksud ungkapan tersebut adalah hendaknya kita mati-matian dalam mengejar dunia, akhirat akhirnya terlupakan. Bahkan makna yang tepat adalah sebaliknya. Hendaklah kita semangat dalam menggapai akhirat dan tak perlu tergesa-gesa dalam mengejar dunia. Ungkapan “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya”, maksudnya adalah apa yang tidak selesai hari ini dari urusan dunia, selesaikanlah besok. Yang tidak bisa selesai besok, selesaikanlah besoknya lagi. Jika luput hari ini, masih ada harapan untuk besok. Adapun untuk urusan akhirat, maka beramallah untuk urusan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Maksudnya kita diperintahkan untuk segera melakukan amalan shalih, jangan menunda-nundanya. Anggap kita tak bisa lagi berjumpa lagi dengan esok hari. Bahkan kita katakan, bisa jadi kita mati sebelum esok tiba. Karena siapa pun kita tak mengetahui kapan maut menghampiri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan, إذا أصبحت فلا تنتظر المساء ، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وخذ من صحتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari) Itulah makna ungkapan yang masyhur di atas. Namun sekali lagi, kesimpulannya, ungkapan tersebut salah alamat jika disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu maknanya pun bukan seperti dipahami kebanyakan orang untuk terus mengejar dunia hingga kurang semangat menggapai akhirat. Bahkan makna yang tepat, hendaklah semangat bersegera dalam melakukan amalan akhirat, jangan sampai menunda-nunda. Adapun urusan dunia, ada kelapangan dalam menggapainya. Kalau tidak bisa menggapai hari ini, masih ada harapan untuk esok hari. [Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb • Fatawa Musthalah Al-Hadits, Syarh Al-Hadits wa Al-Hukmu ‘alaiha] Semangat dalam bekerja di dunia tak masalah, namun jangan sampai lupa akhirat yang jadi tujuan utama dan tetap menempuh cara yang halal. Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 130847 (https://islamqa.info/ar/130847) — @ Adisucipto Jogja, saat waiting menuju Jakarta di pagi hari yang penuh berkah, 3 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta dunia hadits dhaif hadits lemah

Puasa Minhaj Thalibin (1): Wajibnya Puasa

Saat ini Rumaysho.Com akan mengulas tentang puasa dari kitab Imam Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin dengan mengambil dari berbagai kitab syarah (penjelas) lainnya. Imam Nawawi rahimahullah berkata, كتاب الصيام يجب صوم رمضان “Kitab Shiyam, puasa Ramadhan itu wajib.” Secara bahasa shiyam berasal dari kata al-imsak, artinya menahan diri. Ketika Allah menceritakan tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam: 26). Secara istilah, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal puasa, dengan cara yang khusus. Dalil akan wajibnya puasa sebelum adanya ijma’ atau kesepakatan para ulama adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dalil wajibnya lagi adalah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16). Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijriyah. Wajibnya puasa juga sudah sangat dimaklumi (ma’lum minad diini bid-dharurah) Siapa yang menentang kewajiban puasa, maka ia kafir kecuali kalau ia baru saja masuk Islam sehingga belum mengetahui kewajiban ini atau ia hidup jauh dari seorang alim (ulama).   Adapun rukunnya ada tiga, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syarbini yaitu berkaitan dengan orang yang berpuasa, berkaitan dengan niat dan berkaitan dengan menahan diri dari berbagai pembatal puasa.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. I’tana bihi: Muhammad Khalil ‘Itaani. Penerbit Darul Ma’rifah. — Menjelang Zhuhur di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih puasa hukum puasa

Puasa Minhaj Thalibin (1): Wajibnya Puasa

Saat ini Rumaysho.Com akan mengulas tentang puasa dari kitab Imam Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin dengan mengambil dari berbagai kitab syarah (penjelas) lainnya. Imam Nawawi rahimahullah berkata, كتاب الصيام يجب صوم رمضان “Kitab Shiyam, puasa Ramadhan itu wajib.” Secara bahasa shiyam berasal dari kata al-imsak, artinya menahan diri. Ketika Allah menceritakan tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam: 26). Secara istilah, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal puasa, dengan cara yang khusus. Dalil akan wajibnya puasa sebelum adanya ijma’ atau kesepakatan para ulama adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dalil wajibnya lagi adalah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16). Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijriyah. Wajibnya puasa juga sudah sangat dimaklumi (ma’lum minad diini bid-dharurah) Siapa yang menentang kewajiban puasa, maka ia kafir kecuali kalau ia baru saja masuk Islam sehingga belum mengetahui kewajiban ini atau ia hidup jauh dari seorang alim (ulama).   Adapun rukunnya ada tiga, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syarbini yaitu berkaitan dengan orang yang berpuasa, berkaitan dengan niat dan berkaitan dengan menahan diri dari berbagai pembatal puasa.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. I’tana bihi: Muhammad Khalil ‘Itaani. Penerbit Darul Ma’rifah. — Menjelang Zhuhur di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih puasa hukum puasa
Saat ini Rumaysho.Com akan mengulas tentang puasa dari kitab Imam Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin dengan mengambil dari berbagai kitab syarah (penjelas) lainnya. Imam Nawawi rahimahullah berkata, كتاب الصيام يجب صوم رمضان “Kitab Shiyam, puasa Ramadhan itu wajib.” Secara bahasa shiyam berasal dari kata al-imsak, artinya menahan diri. Ketika Allah menceritakan tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam: 26). Secara istilah, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal puasa, dengan cara yang khusus. Dalil akan wajibnya puasa sebelum adanya ijma’ atau kesepakatan para ulama adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dalil wajibnya lagi adalah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16). Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijriyah. Wajibnya puasa juga sudah sangat dimaklumi (ma’lum minad diini bid-dharurah) Siapa yang menentang kewajiban puasa, maka ia kafir kecuali kalau ia baru saja masuk Islam sehingga belum mengetahui kewajiban ini atau ia hidup jauh dari seorang alim (ulama).   Adapun rukunnya ada tiga, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syarbini yaitu berkaitan dengan orang yang berpuasa, berkaitan dengan niat dan berkaitan dengan menahan diri dari berbagai pembatal puasa.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. I’tana bihi: Muhammad Khalil ‘Itaani. Penerbit Darul Ma’rifah. — Menjelang Zhuhur di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih puasa hukum puasa


Saat ini Rumaysho.Com akan mengulas tentang puasa dari kitab Imam Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin dengan mengambil dari berbagai kitab syarah (penjelas) lainnya. Imam Nawawi rahimahullah berkata, كتاب الصيام يجب صوم رمضان “Kitab Shiyam, puasa Ramadhan itu wajib.” Secara bahasa shiyam berasal dari kata al-imsak, artinya menahan diri. Ketika Allah menceritakan tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam: 26). Secara istilah, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal puasa, dengan cara yang khusus. Dalil akan wajibnya puasa sebelum adanya ijma’ atau kesepakatan para ulama adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dalil wajibnya lagi adalah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16). Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijriyah. Wajibnya puasa juga sudah sangat dimaklumi (ma’lum minad diini bid-dharurah) Siapa yang menentang kewajiban puasa, maka ia kafir kecuali kalau ia baru saja masuk Islam sehingga belum mengetahui kewajiban ini atau ia hidup jauh dari seorang alim (ulama).   Adapun rukunnya ada tiga, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syarbini yaitu berkaitan dengan orang yang berpuasa, berkaitan dengan niat dan berkaitan dengan menahan diri dari berbagai pembatal puasa.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhaj Ath-Thalibin. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. I’tana bihi: Muhammad Khalil ‘Itaani. Penerbit Darul Ma’rifah. — Menjelang Zhuhur di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Sya’ban 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih puasa hukum puasa

Syarat Pembatal Puasa Berlaku

Kita tahu ada pembatal puasa seperti makan, minum, dan jima’ (hubungan intim). Ternyata bisa batal jika memenuhi tiga syarat berikut.   Syarat Pertama: Tahu Ilmu Apabila seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas karena tidak tahu (jahil), baik jahil terhadap waktu atau hukum maka puasa tetap sah. Misal jahil terhadap waktu : Seseorang bangun di akhir malam dan dia menyangka fajar belum terbit, kemudian dia makan dan minum. Namun ternyata fajar telah terbit dan dia baru mengetahuinya, maka puasa orang ini sah karena dia jahil terhadap waktu. Misal tidak tahu terhadap hukum, sebagaimana terdapat dalam As Sunnah dari hadits Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya Asma’ berkata, أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ غَيْمٍ ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ “Kami pernah berbuka di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari yang mendung lalu tiba-tiba muncul matahari.” Para sahabat berbuka pada siang hari, akan tetapi mereka tidak mengetahui. Mereka menyangka bahwa matahari telah tenggelam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya qodho’ tersebut wajib, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka, tentu akan dinukil berita tersebut kepada kita. Seandainya kita berbuka dan menyangka matahari telah tenggelam padahal kenyataannya matahari belum tenggelam, maka wajib bagi kita menahan diri hingga matahari tenggelam dan puasa kita tetap sah.   Syarat Kedua: Dalam Keadaan Ingat, Tidak Lupa Seandainya seseorang yang berpuasa lupa ketika makan atau minum, maka puasanya tetap sah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah [2] : 286)   Syarat Ketiga: Berdasarkan Keingingan Sendiri Bukan Dipaksa Seandainya seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas bukan atas kehendak atau pilihannya sendiri, maka puasanya tetap sah. Seandainya seseorang berkumur-kumur kemudian air masuk ke dalam perut tanpa kehendaknya, maka puasanya tetap sah.   Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawanya. Semoga manfaat.     Referensi: Majmu’ Fatawa dan Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, 17: 143, Asy Syamilah   Ahad Pagi, 1 Sya’ban 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspembatal puasa

Syarat Pembatal Puasa Berlaku

Kita tahu ada pembatal puasa seperti makan, minum, dan jima’ (hubungan intim). Ternyata bisa batal jika memenuhi tiga syarat berikut.   Syarat Pertama: Tahu Ilmu Apabila seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas karena tidak tahu (jahil), baik jahil terhadap waktu atau hukum maka puasa tetap sah. Misal jahil terhadap waktu : Seseorang bangun di akhir malam dan dia menyangka fajar belum terbit, kemudian dia makan dan minum. Namun ternyata fajar telah terbit dan dia baru mengetahuinya, maka puasa orang ini sah karena dia jahil terhadap waktu. Misal tidak tahu terhadap hukum, sebagaimana terdapat dalam As Sunnah dari hadits Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya Asma’ berkata, أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ غَيْمٍ ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ “Kami pernah berbuka di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari yang mendung lalu tiba-tiba muncul matahari.” Para sahabat berbuka pada siang hari, akan tetapi mereka tidak mengetahui. Mereka menyangka bahwa matahari telah tenggelam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya qodho’ tersebut wajib, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka, tentu akan dinukil berita tersebut kepada kita. Seandainya kita berbuka dan menyangka matahari telah tenggelam padahal kenyataannya matahari belum tenggelam, maka wajib bagi kita menahan diri hingga matahari tenggelam dan puasa kita tetap sah.   Syarat Kedua: Dalam Keadaan Ingat, Tidak Lupa Seandainya seseorang yang berpuasa lupa ketika makan atau minum, maka puasanya tetap sah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah [2] : 286)   Syarat Ketiga: Berdasarkan Keingingan Sendiri Bukan Dipaksa Seandainya seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas bukan atas kehendak atau pilihannya sendiri, maka puasanya tetap sah. Seandainya seseorang berkumur-kumur kemudian air masuk ke dalam perut tanpa kehendaknya, maka puasanya tetap sah.   Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawanya. Semoga manfaat.     Referensi: Majmu’ Fatawa dan Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, 17: 143, Asy Syamilah   Ahad Pagi, 1 Sya’ban 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspembatal puasa
Kita tahu ada pembatal puasa seperti makan, minum, dan jima’ (hubungan intim). Ternyata bisa batal jika memenuhi tiga syarat berikut.   Syarat Pertama: Tahu Ilmu Apabila seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas karena tidak tahu (jahil), baik jahil terhadap waktu atau hukum maka puasa tetap sah. Misal jahil terhadap waktu : Seseorang bangun di akhir malam dan dia menyangka fajar belum terbit, kemudian dia makan dan minum. Namun ternyata fajar telah terbit dan dia baru mengetahuinya, maka puasa orang ini sah karena dia jahil terhadap waktu. Misal tidak tahu terhadap hukum, sebagaimana terdapat dalam As Sunnah dari hadits Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya Asma’ berkata, أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ غَيْمٍ ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ “Kami pernah berbuka di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari yang mendung lalu tiba-tiba muncul matahari.” Para sahabat berbuka pada siang hari, akan tetapi mereka tidak mengetahui. Mereka menyangka bahwa matahari telah tenggelam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya qodho’ tersebut wajib, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka, tentu akan dinukil berita tersebut kepada kita. Seandainya kita berbuka dan menyangka matahari telah tenggelam padahal kenyataannya matahari belum tenggelam, maka wajib bagi kita menahan diri hingga matahari tenggelam dan puasa kita tetap sah.   Syarat Kedua: Dalam Keadaan Ingat, Tidak Lupa Seandainya seseorang yang berpuasa lupa ketika makan atau minum, maka puasanya tetap sah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah [2] : 286)   Syarat Ketiga: Berdasarkan Keingingan Sendiri Bukan Dipaksa Seandainya seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas bukan atas kehendak atau pilihannya sendiri, maka puasanya tetap sah. Seandainya seseorang berkumur-kumur kemudian air masuk ke dalam perut tanpa kehendaknya, maka puasanya tetap sah.   Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawanya. Semoga manfaat.     Referensi: Majmu’ Fatawa dan Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, 17: 143, Asy Syamilah   Ahad Pagi, 1 Sya’ban 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspembatal puasa


Kita tahu ada pembatal puasa seperti makan, minum, dan jima’ (hubungan intim). Ternyata bisa batal jika memenuhi tiga syarat berikut.   Syarat Pertama: Tahu Ilmu Apabila seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas karena tidak tahu (jahil), baik jahil terhadap waktu atau hukum maka puasa tetap sah. Misal jahil terhadap waktu : Seseorang bangun di akhir malam dan dia menyangka fajar belum terbit, kemudian dia makan dan minum. Namun ternyata fajar telah terbit dan dia baru mengetahuinya, maka puasa orang ini sah karena dia jahil terhadap waktu. Misal tidak tahu terhadap hukum, sebagaimana terdapat dalam As Sunnah dari hadits Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya Asma’ berkata, أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ غَيْمٍ ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ “Kami pernah berbuka di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari yang mendung lalu tiba-tiba muncul matahari.” Para sahabat berbuka pada siang hari, akan tetapi mereka tidak mengetahui. Mereka menyangka bahwa matahari telah tenggelam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya qodho’ tersebut wajib, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintah mereka untuk mengqodho’. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka, tentu akan dinukil berita tersebut kepada kita. Seandainya kita berbuka dan menyangka matahari telah tenggelam padahal kenyataannya matahari belum tenggelam, maka wajib bagi kita menahan diri hingga matahari tenggelam dan puasa kita tetap sah.   Syarat Kedua: Dalam Keadaan Ingat, Tidak Lupa Seandainya seseorang yang berpuasa lupa ketika makan atau minum, maka puasanya tetap sah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah [2] : 286)   Syarat Ketiga: Berdasarkan Keingingan Sendiri Bukan Dipaksa Seandainya seorang yang berpuasa melakukan salah satu pembatal di atas bukan atas kehendak atau pilihannya sendiri, maka puasanya tetap sah. Seandainya seseorang berkumur-kumur kemudian air masuk ke dalam perut tanpa kehendaknya, maka puasanya tetap sah.   Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawanya. Semoga manfaat.     Referensi: Majmu’ Fatawa dan Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, 17: 143, Asy Syamilah   Ahad Pagi, 1 Sya’ban 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspembatal puasa

LGBT Terkena Laknat

Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat

LGBT Terkena Laknat

Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat
Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat


Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat

Tebar 5000 Jilbab untuk Maluku (s.d. 20 Mei 2016)

Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab

Tebar 5000 Jilbab untuk Maluku (s.d. 20 Mei 2016)

Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab
Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab


Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab

Dilaknat Karena Menyiksa Hewan

Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat

Dilaknat Karena Menyiksa Hewan

Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat
Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat


Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat

Menuruti Perintah Orang Tua

Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua

Menuruti Perintah Orang Tua

Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua
Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua


Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua

Bakti Sosial Edisi Mei @ 4 Tempat di Gunungkidul

Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah

Bakti Sosial Edisi Mei @ 4 Tempat di Gunungkidul

Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah
Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah


Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah

Subhanallah … Ucapan Takjub

Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub

Subhanallah … Ucapan Takjub

Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub
Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub


Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub

Pujian untuk Ilmu Kedokteran dan Matematika

Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Pujian untuk Ilmu Kedokteran dan Matematika

Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar
Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar


Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Memakai Pakaian Ketat di Hadapan Suami

Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri

Memakai Pakaian Ketat di Hadapan Suami

Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri
Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri


Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri

KEMATIAN

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com

KEMATIAN

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com
Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com


Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com
Prev     Next