Bahaya Nonton Film Porno (3)

Ada beberapa dampak jelek jika seseorang punya kebiasaan menonton video porno atau melihat gambar telanjang. Berikut di antaranya.   1- Menontonnya akan membuat ketagihan Demikianlah kenyataannya menonton satu tayangan akan membuat ketagihan ingin menonton lagi. Apalagi kalau membukanya di Youtube, lebih dimudahkan lagi karena akan disambungkan ke tayangan yang lain. Benarlah kalam ulama salaf, وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Itulah sebagai hukuman dari perbuatan maksiat.   2- Maksiat akan terus melekat Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata. Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadarnya. Gambar berbau seks akan melekat pada otaknya, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat di masa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.   3- Jika tidak ada jalan melampiaskan seks, maka berujung onani Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri. Kalau tidak ada jalan melampiaskan, ujung-ujungnya akan ke kamar mandi untuk onani. Onani sendiri haram. Karena menahan bangkitnya syahwat adalah dengan menyalurkannya pada tempat yang halal. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Termasuk melampaui batas jika seseorang menyalurkan syahwatnya lewat onani. Solusi yang ditawarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau belum mampu menikah adalah dengan memperbanyak puasa sunnah. Dalam hadits disebutkan, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065; Muslim, no. 1400)[1] Hukum onani atau masturbasi, bisa dikaji secara lebih lengkap di sini.   4- Waktu dan uang habis dengan sia-sia Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya. Kita dilarang menghambur-hamburkan harta dengan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al-Jalalain, hlm. 294) Ada nasihat yang diperoleh Imam Syafi’i tentang masalah waktu, الوَقْت كَالسَّيْفِ فَإِنَّ قَطَعْتَهُ وَإِلاَّ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تُشْغِلْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ شَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”   5- Daya kerja semakin berkurang Dalam banyak kasus, pornografi membuat seseorang kehilangan daya kerjanya. Yang tadinya aktif dan kreatif bisa menjadi tidak fokus dalam pekerjaan.   6- Berpengaruh pada rusaknya otak Menonton film porno dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak. Para peneliti di Jerman menemukan, terlalu sering atau secara teratur menonton film atau video porno dapat membuat volume otak di daerah striatum mengalami penyusutan. Striatum merupakan daerah di otak yang berkaitan dengan motivasi. Ketika menonton film porno, produksi dopamin akan meningkat sehingga membuat suasana hati bahagia. Akan tetapi, jika terlalu sering justru dapat menurunkan sensitifitas otak terhadap rangsangan seksual. Otak akhirnya membutuhkan lebih banyak dopamin untuk bisa terangsang secara seksual. Dengan begitu, seseorang pun akan memiliki keinginan lebih banyak untuk menonton film porno. Penelitian lain dari Cambridge University tahun 2013 menemukan, otak orang yang suka menonton film porno mirip dengan pecandu narkoba. Otak mereka yang sering menonton film porno berbeda dengan yang tidak suka. Hasil scan menunjukkan, ada tiga daerah di otak yang lebih aktif pada orang yang suka menonton film porno sejak usia dini dibanding yang tidak.   7- Dampak pada aktivitas seksual Menurut sebuah penelitian tahun 2011 yang diterbitkan dalam Psychology Today, jika terlalu sering menonton film porno, pria atau wanita akan membutuhkan pengalaman seksual yang lebih ekstrim untuk bisa terangsang. Mereka akan sulit terangsang jika hanya melakukan hubungan seksual biasa. Peneliti menyimpulkan, ponografi dapat menciptakan generasi muda yang putus asa di kamar tidur.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai dosa yang membinasakan. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.kaskus.co.id/thread/519ae5f70975b4b724000000/efek-negatif-dan-cara-menghilangkan-kebiasaan-nonton-video-porno/ http://health.kompas.com/read/2015/08/16/123638523/Terungkap.Efek.Buruk.Menonton.Film.Porno.bagi.Otak   —   [1] Mayoritas ulama menilai bolehnya onani jika yang melakukan adalah pasangannya (istrinya), seperti mengeluarkan mani dengan cara kemaluan si suami digesek pada paha atau perut istri selama tidak dilakukan pada kondisi terlarang (yaitu seperti ketika puasa, i’tikaf atau saat berihram ketika haji dan umrah). Namun ulama lainnya mengatakan perilaku onani dari pasangan (istri) dinilai makruh. Dalam Nihayah Az Zain dan Fatawa Al Qodi disebutkan, “Seandainya seorang istri memainkan kemaluan suami dengan  tangannya, hukumnya makruh, walau suami mengizinkan dan keluar mani. Seperti itu menyerupai perbuatan ‘azl (menumpahkan mani di luar kemaluan istri). Perbuatan ‘azl sendiri dinilai makruh.” — Diselesaikan di Bale Ayu Giwangan, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Bahaya Nonton Film Porno (3)

Ada beberapa dampak jelek jika seseorang punya kebiasaan menonton video porno atau melihat gambar telanjang. Berikut di antaranya.   1- Menontonnya akan membuat ketagihan Demikianlah kenyataannya menonton satu tayangan akan membuat ketagihan ingin menonton lagi. Apalagi kalau membukanya di Youtube, lebih dimudahkan lagi karena akan disambungkan ke tayangan yang lain. Benarlah kalam ulama salaf, وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Itulah sebagai hukuman dari perbuatan maksiat.   2- Maksiat akan terus melekat Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata. Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadarnya. Gambar berbau seks akan melekat pada otaknya, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat di masa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.   3- Jika tidak ada jalan melampiaskan seks, maka berujung onani Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri. Kalau tidak ada jalan melampiaskan, ujung-ujungnya akan ke kamar mandi untuk onani. Onani sendiri haram. Karena menahan bangkitnya syahwat adalah dengan menyalurkannya pada tempat yang halal. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Termasuk melampaui batas jika seseorang menyalurkan syahwatnya lewat onani. Solusi yang ditawarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau belum mampu menikah adalah dengan memperbanyak puasa sunnah. Dalam hadits disebutkan, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065; Muslim, no. 1400)[1] Hukum onani atau masturbasi, bisa dikaji secara lebih lengkap di sini.   4- Waktu dan uang habis dengan sia-sia Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya. Kita dilarang menghambur-hamburkan harta dengan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al-Jalalain, hlm. 294) Ada nasihat yang diperoleh Imam Syafi’i tentang masalah waktu, الوَقْت كَالسَّيْفِ فَإِنَّ قَطَعْتَهُ وَإِلاَّ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تُشْغِلْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ شَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”   5- Daya kerja semakin berkurang Dalam banyak kasus, pornografi membuat seseorang kehilangan daya kerjanya. Yang tadinya aktif dan kreatif bisa menjadi tidak fokus dalam pekerjaan.   6- Berpengaruh pada rusaknya otak Menonton film porno dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak. Para peneliti di Jerman menemukan, terlalu sering atau secara teratur menonton film atau video porno dapat membuat volume otak di daerah striatum mengalami penyusutan. Striatum merupakan daerah di otak yang berkaitan dengan motivasi. Ketika menonton film porno, produksi dopamin akan meningkat sehingga membuat suasana hati bahagia. Akan tetapi, jika terlalu sering justru dapat menurunkan sensitifitas otak terhadap rangsangan seksual. Otak akhirnya membutuhkan lebih banyak dopamin untuk bisa terangsang secara seksual. Dengan begitu, seseorang pun akan memiliki keinginan lebih banyak untuk menonton film porno. Penelitian lain dari Cambridge University tahun 2013 menemukan, otak orang yang suka menonton film porno mirip dengan pecandu narkoba. Otak mereka yang sering menonton film porno berbeda dengan yang tidak suka. Hasil scan menunjukkan, ada tiga daerah di otak yang lebih aktif pada orang yang suka menonton film porno sejak usia dini dibanding yang tidak.   7- Dampak pada aktivitas seksual Menurut sebuah penelitian tahun 2011 yang diterbitkan dalam Psychology Today, jika terlalu sering menonton film porno, pria atau wanita akan membutuhkan pengalaman seksual yang lebih ekstrim untuk bisa terangsang. Mereka akan sulit terangsang jika hanya melakukan hubungan seksual biasa. Peneliti menyimpulkan, ponografi dapat menciptakan generasi muda yang putus asa di kamar tidur.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai dosa yang membinasakan. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.kaskus.co.id/thread/519ae5f70975b4b724000000/efek-negatif-dan-cara-menghilangkan-kebiasaan-nonton-video-porno/ http://health.kompas.com/read/2015/08/16/123638523/Terungkap.Efek.Buruk.Menonton.Film.Porno.bagi.Otak   —   [1] Mayoritas ulama menilai bolehnya onani jika yang melakukan adalah pasangannya (istrinya), seperti mengeluarkan mani dengan cara kemaluan si suami digesek pada paha atau perut istri selama tidak dilakukan pada kondisi terlarang (yaitu seperti ketika puasa, i’tikaf atau saat berihram ketika haji dan umrah). Namun ulama lainnya mengatakan perilaku onani dari pasangan (istri) dinilai makruh. Dalam Nihayah Az Zain dan Fatawa Al Qodi disebutkan, “Seandainya seorang istri memainkan kemaluan suami dengan  tangannya, hukumnya makruh, walau suami mengizinkan dan keluar mani. Seperti itu menyerupai perbuatan ‘azl (menumpahkan mani di luar kemaluan istri). Perbuatan ‘azl sendiri dinilai makruh.” — Diselesaikan di Bale Ayu Giwangan, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Ada beberapa dampak jelek jika seseorang punya kebiasaan menonton video porno atau melihat gambar telanjang. Berikut di antaranya.   1- Menontonnya akan membuat ketagihan Demikianlah kenyataannya menonton satu tayangan akan membuat ketagihan ingin menonton lagi. Apalagi kalau membukanya di Youtube, lebih dimudahkan lagi karena akan disambungkan ke tayangan yang lain. Benarlah kalam ulama salaf, وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Itulah sebagai hukuman dari perbuatan maksiat.   2- Maksiat akan terus melekat Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata. Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadarnya. Gambar berbau seks akan melekat pada otaknya, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat di masa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.   3- Jika tidak ada jalan melampiaskan seks, maka berujung onani Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri. Kalau tidak ada jalan melampiaskan, ujung-ujungnya akan ke kamar mandi untuk onani. Onani sendiri haram. Karena menahan bangkitnya syahwat adalah dengan menyalurkannya pada tempat yang halal. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Termasuk melampaui batas jika seseorang menyalurkan syahwatnya lewat onani. Solusi yang ditawarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau belum mampu menikah adalah dengan memperbanyak puasa sunnah. Dalam hadits disebutkan, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065; Muslim, no. 1400)[1] Hukum onani atau masturbasi, bisa dikaji secara lebih lengkap di sini.   4- Waktu dan uang habis dengan sia-sia Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya. Kita dilarang menghambur-hamburkan harta dengan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al-Jalalain, hlm. 294) Ada nasihat yang diperoleh Imam Syafi’i tentang masalah waktu, الوَقْت كَالسَّيْفِ فَإِنَّ قَطَعْتَهُ وَإِلاَّ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تُشْغِلْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ شَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”   5- Daya kerja semakin berkurang Dalam banyak kasus, pornografi membuat seseorang kehilangan daya kerjanya. Yang tadinya aktif dan kreatif bisa menjadi tidak fokus dalam pekerjaan.   6- Berpengaruh pada rusaknya otak Menonton film porno dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak. Para peneliti di Jerman menemukan, terlalu sering atau secara teratur menonton film atau video porno dapat membuat volume otak di daerah striatum mengalami penyusutan. Striatum merupakan daerah di otak yang berkaitan dengan motivasi. Ketika menonton film porno, produksi dopamin akan meningkat sehingga membuat suasana hati bahagia. Akan tetapi, jika terlalu sering justru dapat menurunkan sensitifitas otak terhadap rangsangan seksual. Otak akhirnya membutuhkan lebih banyak dopamin untuk bisa terangsang secara seksual. Dengan begitu, seseorang pun akan memiliki keinginan lebih banyak untuk menonton film porno. Penelitian lain dari Cambridge University tahun 2013 menemukan, otak orang yang suka menonton film porno mirip dengan pecandu narkoba. Otak mereka yang sering menonton film porno berbeda dengan yang tidak suka. Hasil scan menunjukkan, ada tiga daerah di otak yang lebih aktif pada orang yang suka menonton film porno sejak usia dini dibanding yang tidak.   7- Dampak pada aktivitas seksual Menurut sebuah penelitian tahun 2011 yang diterbitkan dalam Psychology Today, jika terlalu sering menonton film porno, pria atau wanita akan membutuhkan pengalaman seksual yang lebih ekstrim untuk bisa terangsang. Mereka akan sulit terangsang jika hanya melakukan hubungan seksual biasa. Peneliti menyimpulkan, ponografi dapat menciptakan generasi muda yang putus asa di kamar tidur.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai dosa yang membinasakan. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.kaskus.co.id/thread/519ae5f70975b4b724000000/efek-negatif-dan-cara-menghilangkan-kebiasaan-nonton-video-porno/ http://health.kompas.com/read/2015/08/16/123638523/Terungkap.Efek.Buruk.Menonton.Film.Porno.bagi.Otak   —   [1] Mayoritas ulama menilai bolehnya onani jika yang melakukan adalah pasangannya (istrinya), seperti mengeluarkan mani dengan cara kemaluan si suami digesek pada paha atau perut istri selama tidak dilakukan pada kondisi terlarang (yaitu seperti ketika puasa, i’tikaf atau saat berihram ketika haji dan umrah). Namun ulama lainnya mengatakan perilaku onani dari pasangan (istri) dinilai makruh. Dalam Nihayah Az Zain dan Fatawa Al Qodi disebutkan, “Seandainya seorang istri memainkan kemaluan suami dengan  tangannya, hukumnya makruh, walau suami mengizinkan dan keluar mani. Seperti itu menyerupai perbuatan ‘azl (menumpahkan mani di luar kemaluan istri). Perbuatan ‘azl sendiri dinilai makruh.” — Diselesaikan di Bale Ayu Giwangan, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang


Ada beberapa dampak jelek jika seseorang punya kebiasaan menonton video porno atau melihat gambar telanjang. Berikut di antaranya.   1- Menontonnya akan membuat ketagihan Demikianlah kenyataannya menonton satu tayangan akan membuat ketagihan ingin menonton lagi. Apalagi kalau membukanya di Youtube, lebih dimudahkan lagi karena akan disambungkan ke tayangan yang lain. Benarlah kalam ulama salaf, وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Itulah sebagai hukuman dari perbuatan maksiat.   2- Maksiat akan terus melekat Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata. Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadarnya. Gambar berbau seks akan melekat pada otaknya, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat di masa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.   3- Jika tidak ada jalan melampiaskan seks, maka berujung onani Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri. Kalau tidak ada jalan melampiaskan, ujung-ujungnya akan ke kamar mandi untuk onani. Onani sendiri haram. Karena menahan bangkitnya syahwat adalah dengan menyalurkannya pada tempat yang halal. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Termasuk melampaui batas jika seseorang menyalurkan syahwatnya lewat onani. Solusi yang ditawarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau belum mampu menikah adalah dengan memperbanyak puasa sunnah. Dalam hadits disebutkan, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065; Muslim, no. 1400)[1] Hukum onani atau masturbasi, bisa dikaji secara lebih lengkap di sini.   4- Waktu dan uang habis dengan sia-sia Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya. Kita dilarang menghambur-hamburkan harta dengan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al-Jalalain, hlm. 294) Ada nasihat yang diperoleh Imam Syafi’i tentang masalah waktu, الوَقْت كَالسَّيْفِ فَإِنَّ قَطَعْتَهُ وَإِلاَّ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تُشْغِلْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ شَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”   5- Daya kerja semakin berkurang Dalam banyak kasus, pornografi membuat seseorang kehilangan daya kerjanya. Yang tadinya aktif dan kreatif bisa menjadi tidak fokus dalam pekerjaan.   6- Berpengaruh pada rusaknya otak Menonton film porno dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak. Para peneliti di Jerman menemukan, terlalu sering atau secara teratur menonton film atau video porno dapat membuat volume otak di daerah striatum mengalami penyusutan. Striatum merupakan daerah di otak yang berkaitan dengan motivasi. Ketika menonton film porno, produksi dopamin akan meningkat sehingga membuat suasana hati bahagia. Akan tetapi, jika terlalu sering justru dapat menurunkan sensitifitas otak terhadap rangsangan seksual. Otak akhirnya membutuhkan lebih banyak dopamin untuk bisa terangsang secara seksual. Dengan begitu, seseorang pun akan memiliki keinginan lebih banyak untuk menonton film porno. Penelitian lain dari Cambridge University tahun 2013 menemukan, otak orang yang suka menonton film porno mirip dengan pecandu narkoba. Otak mereka yang sering menonton film porno berbeda dengan yang tidak suka. Hasil scan menunjukkan, ada tiga daerah di otak yang lebih aktif pada orang yang suka menonton film porno sejak usia dini dibanding yang tidak.   7- Dampak pada aktivitas seksual Menurut sebuah penelitian tahun 2011 yang diterbitkan dalam Psychology Today, jika terlalu sering menonton film porno, pria atau wanita akan membutuhkan pengalaman seksual yang lebih ekstrim untuk bisa terangsang. Mereka akan sulit terangsang jika hanya melakukan hubungan seksual biasa. Peneliti menyimpulkan, ponografi dapat menciptakan generasi muda yang putus asa di kamar tidur.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai dosa yang membinasakan. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.kaskus.co.id/thread/519ae5f70975b4b724000000/efek-negatif-dan-cara-menghilangkan-kebiasaan-nonton-video-porno/ http://health.kompas.com/read/2015/08/16/123638523/Terungkap.Efek.Buruk.Menonton.Film.Porno.bagi.Otak   —   [1] Mayoritas ulama menilai bolehnya onani jika yang melakukan adalah pasangannya (istrinya), seperti mengeluarkan mani dengan cara kemaluan si suami digesek pada paha atau perut istri selama tidak dilakukan pada kondisi terlarang (yaitu seperti ketika puasa, i’tikaf atau saat berihram ketika haji dan umrah). Namun ulama lainnya mengatakan perilaku onani dari pasangan (istri) dinilai makruh. Dalam Nihayah Az Zain dan Fatawa Al Qodi disebutkan, “Seandainya seorang istri memainkan kemaluan suami dengan  tangannya, hukumnya makruh, walau suami mengizinkan dan keluar mani. Seperti itu menyerupai perbuatan ‘azl (menumpahkan mani di luar kemaluan istri). Perbuatan ‘azl sendiri dinilai makruh.” — Diselesaikan di Bale Ayu Giwangan, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Cemburu pada Rezeki Orang

Tak perlulah cemburu pada rezeki orang karena rezeki kita masing-masing sudah dibagi dengan begitu adilnya oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” (QS. Az-Zukhruf: 32) Allah membagi rezeki itu begitu adil. Kenapa kita mesti cemburu pada rezeki orang lain? Imam Ghazali rahimahullah menyebutkan fawaid dari nasihat Hatim Al-Asham: Aku melihat manusia saling mencela dan saling membicarakan jelek (ghibah) satu dan lainnya. Aku dapati bahwa itu termasuk HASAD (cemburu atau iri) dalam harta, kedudukan dan pengetahuan. Aku kemudian renungkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32) Aku sadari bahwa pembagian tersebut sudah ditentukan oleh Allah sejak takdir yang dahulu ada. Kenapa aku mesti HASAD (cemburu) pada rezeki orang lain? Itulah yang membuatku tetap ridha pada pembagian Allah. Dinukil dari kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, hlm. 57.   Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita semua diberi taufik untuk mengimani takdir dengan benar.   Referensi: Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Al-Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj — Saat menunggu di Adisucipto Airport Jogja, Senin, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H, 06:18 AM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshasad

Cemburu pada Rezeki Orang

Tak perlulah cemburu pada rezeki orang karena rezeki kita masing-masing sudah dibagi dengan begitu adilnya oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” (QS. Az-Zukhruf: 32) Allah membagi rezeki itu begitu adil. Kenapa kita mesti cemburu pada rezeki orang lain? Imam Ghazali rahimahullah menyebutkan fawaid dari nasihat Hatim Al-Asham: Aku melihat manusia saling mencela dan saling membicarakan jelek (ghibah) satu dan lainnya. Aku dapati bahwa itu termasuk HASAD (cemburu atau iri) dalam harta, kedudukan dan pengetahuan. Aku kemudian renungkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32) Aku sadari bahwa pembagian tersebut sudah ditentukan oleh Allah sejak takdir yang dahulu ada. Kenapa aku mesti HASAD (cemburu) pada rezeki orang lain? Itulah yang membuatku tetap ridha pada pembagian Allah. Dinukil dari kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, hlm. 57.   Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita semua diberi taufik untuk mengimani takdir dengan benar.   Referensi: Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Al-Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj — Saat menunggu di Adisucipto Airport Jogja, Senin, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H, 06:18 AM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshasad
Tak perlulah cemburu pada rezeki orang karena rezeki kita masing-masing sudah dibagi dengan begitu adilnya oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” (QS. Az-Zukhruf: 32) Allah membagi rezeki itu begitu adil. Kenapa kita mesti cemburu pada rezeki orang lain? Imam Ghazali rahimahullah menyebutkan fawaid dari nasihat Hatim Al-Asham: Aku melihat manusia saling mencela dan saling membicarakan jelek (ghibah) satu dan lainnya. Aku dapati bahwa itu termasuk HASAD (cemburu atau iri) dalam harta, kedudukan dan pengetahuan. Aku kemudian renungkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32) Aku sadari bahwa pembagian tersebut sudah ditentukan oleh Allah sejak takdir yang dahulu ada. Kenapa aku mesti HASAD (cemburu) pada rezeki orang lain? Itulah yang membuatku tetap ridha pada pembagian Allah. Dinukil dari kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, hlm. 57.   Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita semua diberi taufik untuk mengimani takdir dengan benar.   Referensi: Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Al-Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj — Saat menunggu di Adisucipto Airport Jogja, Senin, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H, 06:18 AM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshasad


Tak perlulah cemburu pada rezeki orang karena rezeki kita masing-masing sudah dibagi dengan begitu adilnya oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” (QS. Az-Zukhruf: 32) Allah membagi rezeki itu begitu adil. Kenapa kita mesti cemburu pada rezeki orang lain? Imam Ghazali rahimahullah menyebutkan fawaid dari nasihat Hatim Al-Asham: Aku melihat manusia saling mencela dan saling membicarakan jelek (ghibah) satu dan lainnya. Aku dapati bahwa itu termasuk HASAD (cemburu atau iri) dalam harta, kedudukan dan pengetahuan. Aku kemudian renungkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32) Aku sadari bahwa pembagian tersebut sudah ditentukan oleh Allah sejak takdir yang dahulu ada. Kenapa aku mesti HASAD (cemburu) pada rezeki orang lain? Itulah yang membuatku tetap ridha pada pembagian Allah. Dinukil dari kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, hlm. 57.   Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita semua diberi taufik untuk mengimani takdir dengan benar.   Referensi: Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Al-Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj — Saat menunggu di Adisucipto Airport Jogja, Senin, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H, 06:18 AM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshasad

Keagungan Ilmu

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 19 Rabiul Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Abdul Muhsin Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, karena takwa adalah cahaya penerang mata hati, dan dengan takwa akan tetap hidup sanubari dan nurani seseorang. Kaum muslimin!Ibadah kepada Allah semata merupakan hikmah dari penciptaan dan perintahNya. Untuk tujuan ibadah itulah, Allah –subhanahu wa ta’alah – mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya. Hanya dengan ibadah, maka kemuliaan martabat, kebahagiaan, kesentosaan dan keselamatan manusia dapat terwujud. Derajat manusia di sisi Allah sangat ditentukan oleh tingkatan ibadahnya.Firman Allah :إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  [ الحجرات / 13 ]” Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”. Qs Al-Hujurat : 13Di antara anugerah dan kemurahan Allah ialah bahwa Dia telah menetapkan berbagai macam amal ibadah dengan maksud untuk memberikan aneka ragam kenikmatan dan meninggikan derajat bagi hamba-hambaNya. Ibadah dalam agama demikian agung peranannya, mengalahkan segalanya, pelurus bagi yang lainnya. Siapa yang menjalankannya pasti beruntung, siapa yang mengabaikannya pasti menyesal. Allah memuji para pelaku ibadah dan melebihkan kedudukan mereka karena ibadah. Maka ibadah menjadi penuntun seseorang menuju Tuhannya dan penerang jalan hidupnya.Kesempurnaan seseorang dan keselamatannya dunia dan akhirat sangat tergantung pada ibadahnya.Maka melalui ibadah, Allah-subhanahu wata’ala- dikenal dan disembah, dipuja, disebut dan diagungkan.Dengan ibadah hak-hak Allah sebagai Pencipta dan hak-hak sesama makhluk dapat diketahui, yang halal dapat dibedakan dari yang haram, yang benar dapat dikenali dari yang batil, yang absah dapat dimengerti dari yang tidak absah, yang bermanfaat terlihat dari yang berbahaya, yang baik terkuak dari yang buruk. Sebagai penghibur hati dalam kesendirian dan sahabat pelipur dalam kesepian.Ibadah mengingatkan seseorang ketika lalai; melakukannya suatu ketaatan, mempersembahkannya suatu pendekatan. Ibadah adalah penghias dan pengaman bagi pelakunya. Ibadah dapat menerangi hati seseorang lahir batin, memperkuat daya berfikir dan menjernihkan hati nuraninya.Pelaku ibadah di bumi bagaikan bintang-bintang di langit. Maka keberadaan mereka menjadi petunjuk jalan, sebagai penghias dan penata rias keindahan makhluk, sekaligus benteng pertahanan umat. Andaikata bukan karena keberadaan mereka, tentu telah punah lambang-lambang kebesaran agama ini.Dengan ibadah urusan umat ini menjadi baik dan terangkat. Berkat ibadah jiwa manusia menjadi lurus dan bersih, petunjuk jalan dan kebahagiaan manusia ditemukan, generasi penerus terjamin dan lestari.Maka kebutuhan akan ibadah (yang disertai) adalah di atas segala kebutuhan, tanpa adanya ibadah dunia menjadi rusak dan hancur.Imam Ahmad –rahimahullah- berkata :“Manusia sesungguhnya lebih butuh kepada ilmu dari pada kepada makanan dan minuman; sebab makanan dan minuman hanya diperlukan dalam sehari sekali atau dua kali saja, sementara mereka membutuhkan ilmu setiap saat”.Itulah sebabnya mengapa ayat pertama kali yang turun memotivasi manusia agar menuntut ilmu :اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ    [ العلق / 1 ]“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”.Qs Al-Alaq 1Umat Islam adalah umat yang identik dengan ilmu dan selalu kontak dengan Alllah –subhanahu wa ta’ala-.Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah ayat-ayat yang mulia dan berkah tersebut, dan ayat-ayat ini adalah rahmat yang pertama kali Allah merahmati hamba-hambaNya sekalikgus nikmat yang pertama kali Allah anugrahkan kepada hamba-hambaNya.”Dalam ayat-ayat tersebut Allah menamakan Dzatnya dengan sifat al-ilmu dan memperkenalkan Dirinya kepada makhlukNya dengan ilmu pula. Allah berfirman :الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ [ العلق / 4 – 5 ]“Yang memberitahu melalui pena, memberi tahu manusia apa yang belum diketahuinyal”. Qs Al-Alaq : 4-5 Misi agama Islam seluruhnya adalah ilmu dan amal. Maka ilmu merupakan separuh dari misi agama ini. Firman Allah :هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ [ التوبة / 33 ]“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (yaitu ilmu) dan agama yang benar (yaitu amal shalih) “. Qs At-Taubah : 33Tidak ada suatu hal yang paling menenteramkan dan menyejukkan hati seorang hamba dari pada cintanya kepada Allah, dan untuk mengakses ke sana hanya bisa dilakukan melalui ilmu. Ilmu merupakan hikmah yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba yang dikehendakiNya. Firman Allah :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ [ البقرة / 269 ]“Allah menganugerahkan al hikmah  kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran”. Qs Al-Baqarah : 269 Mujahid –rahimahullah- berkata : ( hikmah di sini ) adalah ilmu dan pemahaman agama.   Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan ilmu kepada Nabi Adam –alaihissalam-, maka dengan ilmu itu Allah memperlihatkan kelebihan Nabi Adam di atas para malaikat. Firman Allah :وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [ البقرة/31]“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Qs Al-Baqarah :31Allah -subhanahu wa ta’ala- memilih para nabi dan rasul-Nya serta hamba-hambaNya yang Dia kehendaki dengan ilmu pula.  Demikian pula ketika malaikat menyampaikan kabar gembira kepada istri Nabi Ibrahim –alaihissalam- tetang putranya yang bernama Ishaq –alaihissalam- dikatakannya sebagai “Ghulaamin ‘Aliim” (seorang anak yang berilmu).Juga tentang Nabi Yusuf -alaihissalam- sebagaimana firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا  [ يوسف / 22 ]“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu”. Qs Yusuf : 22Selanjutnya Nabi Yusuf –alaihissalam- pun menyebut dirinya sebagai “Hafidzun ‘Aliim” ( seorang yang mampu menjaga amanat dan berilmu ).Nabi Musa –alaihissalam- pun Allah muliakan dengan ilmu. Firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا [ القصص/14 ]“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan ilmu”. Qs Al-Qashash : 14 Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Daud dan Nabi Sulaiman –alaihimas salam- :وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا  [ الأنبياء / 79 ]“dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) telah Kami berikan hikmah dan ilmu”. Qs Al-Anbiya : 79Allah –subhanahu wa ta’ala – mengingatkan Nabi Isa –alaihisslam- akan karunia ilmu pula. Firman Allah :اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ [ المائدة / 110 ]“ Ingatlah akan nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil”. Qs Al-Maidah : 110Demikian pula Khadhir –alaihissalam- menjadi seorang Nabi Ulul-Azmi (yaitu Musa) bersafar mencarinya karena Khadir memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Firman Allah :فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا [ الكهف / 65 ]“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Qs Al-Kahf : 65Para pasukan Nabi Sulaiman –alaihissalam- pun demikian, yang paling luas ilmunya di antara mereka adalah yang paling kuat.Firman Allah :قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ [ النمل / 40 ] “ Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Qs An-Naml : 40Allah –subhanahu wa ta’ala- menyebut-nyebut sejumlah nikmat yang Dia karuniakan kepada rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-. Dalam konteks ini nikmat ilmu lah yang menduduki peringkat paling utama.Firman Allah :وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ [ النساء : 113 ]“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui”. Qs An-Nisa : 113Allah -subhanahu wa ta’ala- tidaklah menyuruh nabi-Nya untuk menambah suatu apapun kecuali tambahan ilmu. Firman Allah :وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا [ طه / 114 ] “Katakanlah, Ya Tuhanku, tambahlah untukku suatu ilmu”. Qs Thaha : 114Ilmu merupakan warisan para nabi. Pewarisnya pastilah insan-insan terbaik sesudah para nabi dan yang terdekat kepada mereka.Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : إِّنَّ الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa memperoleh warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” HR. Tirmidzi.Allah –subhanahu wa ta’ala- mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas Ketuhanan-Nya ( Uluhiyah-Nya ). Allah berfirman : شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ [ آل عمران / 18 ]“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Qs Ali Imran : 18 Allah- subhanahu wa ta’ala – juga mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas kebatilan pernyataan orang-orang kafir.Firman Allah  :وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [ الروم / 56 ]“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)”. Qs Ar-Rum : 56Maka hanya dengan kepemilikan ilmu, seseorang bisa takut dan taat kepada Allah.  Firman Allah :إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ  [ فاطر / 28 ]“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu”. Qs Fathir : 28Az-Zuhri –rahimahullah- berkata :مَا عُبِدَ اللهُ بِمِثْلِ الْعِلْمِ“Allah tidaklah diibadahi seperti ibadah ilmu”. Meraih ilmu merupakan suatu prestasi kebaikan dan kesuksesan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :”  مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ ” متفق عليه“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan padanya maka Allah akan menjadikannya faqih (faham) dalam agama”. Muttafaq alaih Manusia pilihan adalah manusia yang paling banyak ilmunya. Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” فَخِيَارُكُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا ” متفق عليه“Sebaik-baiknya kalian pada masa jahiliyah adalah yang terbaik di antara kalian pada masa Islam, jika mereka paham agama.” Muttafaq alaihi. Ilmu merupakan neraca untuk mengetahui tingkatan kualitas amal seseorang dan kadar derajatnya. Dengan ilmu, amal seseorang menjadi berkualitas dan tumbuh bersih. Kemurnian akidah seseorang dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah serta pengamalan sunnah nabiNya tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Firman Allah :فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ  [ محمد /19 ]“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan sesembahan kecuali Allah”. Qs Muhammad : 19Di sini Allah –subhanahu wa ta’ala- memulai penyebutan ilmu sebelum ucapan dan pengamalan. Ilmu adalah penuntun dan panglima terlaksananya suatu amal. Maka setiap amal yang tidak dibimbing oleh ilmu tidaklah berguna bagi pelakunya bahkan menjadi senjata makan tuan.Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa dibarengi ilmu, maka ibadahnya lebih banyak mendatangkan kemudharatan dari pada kemaslahatan. Suatu kemusyrikan dan perbuatan bid’ah tidaklah mungkin terjadi kecuali disebabkan kurangnya ilmu dan jauhnya pelakunya dari ulama.Kesesatan adalah identik dengan kebodohan. Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala – memerintahkan kita untuk selalu memohon perlindungan kepadaNya dari jalan orang-orang yang tersesat pada setiap rakaat shalat kita. Allah-subhanahu wa ta’ala- pun menafikan penyamaan antara orang yang  berilmu dan orang yang tidak berilmu. Tidak mungkin sama, seperti tidak samanya orang hidup dengan orang mati, orang yang bisa melihat dengan orang tuna netra. Firman Allah :قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ  [ الزمر/ 9 ]“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Qs Az-Zumar : 9Dengan ilmu pula masyarakat menjadi hidup dan bersinar. Firman Allah :أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا [ الأنعام / 122 ]“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang tidak akan dapat keluar dari padanya?”. Qs Al-An’am : 122Kepiawaian seseorang dan pemahamannya terhadap agama merupakan ciri khas orang yang beriman. Dada mereka memancarkan cahaya ilmu, sebagaimana firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ [ العنكبوت/49]“Sebenarnya, Al Quran itu ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. Qs Al-Ankabut : 49 Di dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari 40 ayat tentang perumpamaan (dalam kehidupan). Hal itu memerlukan ilmu untuk dapat menangkap dan memahami makna yang dimaksudkan. Firman Allah :وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ [ العنكبوت / 43 ]“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. Qs Al-Ankabut : 43Ketika sebagian ulama salaf mendengar perumpamaan (dalam Al-Qur’an), namun perumpamaan itu tidak membuatnya mengerti maksudnya, menangislah dia lalu mengatakan : “Aku tidak termasuk orang-orang yang berilmu”. Rahmat kasih sayang Allah serta selalu menyelimuti majlis-majlis ilmu dan peserta kajian ilmu, demikian juga para malaikat menaungi mereka dan turut hadir mersama mereka. Sabda Nabi :وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ“Dan sesungguhnya para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai apresiasi keridhaan kepada penuntut ilmu”. HR Tirmizi.Ibnul-Qayim –rahimahullah- berkata :” ولو لم يكن فى العلم إلا القرب من رب العالمين والإلتحاق بعالم الملائكة وصحبة الملإ الأعلى لكفى به فضلا وشرفا فكيف وعز الدنيا والآخرة منوط به ومشروط بحصوله “ “Andaikata ilmu itu tidak memiliki pengaruh apa-apa selain dapat mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan semesta alam dan memungkinkannya bergabung dengan alam malaikat serta persahabatan dengan komunitas pilihan di langit, niscaya hal itu sudah cukup sebagai anugerah dan kehormatan, belum lagi kejayaan dunia dan derajat seseorang di akhirat sangat ditentukan oleh ilmu dan tergantung pada perolehan ilmu “.Majelis mereka penuh dengan hikmah, dan mereka adalah sebaik-baik teladan bagi umat ini. Manfaat mereka selain kembali pada diri mereka sendiri, juga menular kepada orang lain. Karenanya semuanya memuji mereka dan mendoakan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى معلم النَّاس الْخَيْر“Dan sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, serta para penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada di lubangnya dan juga ikan, benar-benar mendoakan kebaikan bagi pengajar kebaikan bagi manusia” (HR At-Tirmidzi) Berusaha menuntut ilmu termasuk berjihad di jalan Allah. Abu Ad-Dardaa’ radhiallahu ‘anhu berkata ;مَنْ رَأَى الْغُدُوَّ وَالرَّوَاحَ إِلَى الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ فِي عَقْلِهِ وَرَأْيِهِ“Barangsiapa yang memandang bahwa pergi di pagi hari dan pulang di sore hari karena menuntut ilmu bukanlah jihad, maka sungguh telah kurang akalnya dan pandangannya” Berlomba dan bersaing dalam ilmu adalah perkara yang terpuji, dan tidak ada hasad dalam dua orang, yaitu seorang yang berbuat baik apakah dengan amalnya atau dengan hartanya. Adapun selain dua orang ini maka tidak dihasadi karena sedikit manfaatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَة فَهُوَ يقْضِي بهَا وَيعلمهَا“Tidak ada hasad kecuali pada dua orang, seorang yang Allah berikan kepadanya harta, lantas ia menghabiskannya pada kebenaran, dan seorang yang Allah anugrahkan kepadanya al-hikmah (ilmu) maka ia berhukum dengan ilmu tersebut dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Telah jelas di syari’at dan taqdir bahwasanya balasan sesuai dengan perbuatan, maka barangsiapa yang menempuh jalan ilmu maka ia telah menempuh jalan menuju surga, dan jalan ilmu adalah jalan termudah menuju surga dan yang paling menyenangkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّل اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إَلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim) Ilmu syar’i adalah benteng dari fitnah-fitnah dan musibah dan bencana. Al-Imam Malik rahimahullah berkata ;إِنَّ أَقْوَامًا ابْتَغَوْا الْعِبَادَةَ وَأَضَاعُوا الْعِلْمَ فَخَرَجُوا عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسْيَافِهِمْ، وَلَوْ ابْتَغَوا الْعِلْمَ لَحَجَزَهُمْ عَنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya beberapa kaum mencari ibadah dan meninggalkan ilmu lalu merekapun memberontak terhadap umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menghunus pedang-pedang mereka. Seandainya mereka mencari ilmu tentu ilmu akan mencegah mereka dari perbuatan tersebut” Karena begitu besar manfaat ilmu maka datang perintah untuk menyampaikannya dan menyebarkannya di seluruh penjuru. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً“Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat” (HR Al-Bukhari)Allah memerintahkan untuk bertanya kepada ahli ilmu dan kembali kepada ahli ilmu  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui” (QS An-Nahl : 43)Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mendoakan ahli ilmu agar bercahaya, yaitu indah dan berserinya wajah serta lapangnya dada, beliau berdoa :نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى لَهُ مِنْ سَامِعٍ“Semoga Allah menjadikan bercahaya wajah orang yang mendengar dari kami sesuatu lalu menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar, dan betapa banyak orang yang disampaikan lebih paham dari yang mendengar” (HR At-Tirmidzi)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendoakan orang yang beliau cintai agar menjadi ahli ilmu, beliau berdoa untuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhumaa :اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Ya Allah jadikanlah ia faqih dalam agama” (HR Al-Bukhari dan Muslim)      Dengan ilmu derajat seseorang terangkat di dunia dan setelah meninggal. Allah berfirman :يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (Qs Al-Mujadalah : 11)Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :فَمَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَذَاكَ يُدْعَى عَظِيْمًا فِي مَلَكُوْتُ السَّمَاوَاتِ“Barangsiapa yang berilmu dan beramal serta mengajarkannya maka ia akan dipanggil sebagai orang yang agung di kerajaan langit” (Zaadul Ma’aad 3/9)Manfaat ilmu akan terus mengikuti pemiliknya setelah ia meninggal selama ilmunya masih terus bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له“Jika seorang manusia telah meninggal, maka terputuslah amalannya darinya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim)Ilmu yang paling afdhol dan yang paling mulia dan dialah yang dipuji dalam dalil-dalil adalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah dan nama-namaNya serta sifat-sifatNya, dan ia adalah tujuan dari penciptaanNya dan perintahNya. Allah berfirman :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنزلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah maha kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu” (QS At-Tholaq : 12)Wajib atas setiap muslim untuk berusaha mempelajari ilmu-ilmu yang wajib, yang dengannya ia meluruskan tauhidnya, sholatnya, dan puasanya. Dan hendaknya ia mengorbankan sebagian waktunya untuk hal itu, janganlah ia merasa berat untuk menghadiri halaqoh dan majelis-majelis ilmu. Lihatlah Musa –kaliimullah- padahal ia termasuk para rasul ulul ‘azmi, ia tetap bersafar demi ilmu dan menempuh kesulitan keletihan dalam jalan mencari ilmu. Ia bersikap dengan penuh kelembutan kepada Khodir seraya berkata :هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi : 66)Wajib bagi penuntut ilmu untuk mengagungkan ilmu dan meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat disertai dengan berprasangka baik kepada Allah, demikian juga wajib baginya untuk senantiasa bertakwa karena takwa merupakan penolong terbaik untuk meraih ilmu. Dan hendaknya niatnya ikhlash karena mencari wajah Allah, bukan dalam rangka untuk mendebat orang-orang yang bodoh, bukan juga untuk mendebat para ulama. Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang ia tidak ketahui. Selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah telah menjanjikan bahwasanya barangsiapa yang menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan urusannya dan menganugrahkan kepadanya apa yang tidak ia sangka-sangka. Allah berfirman :اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah !, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” (QS Al-‘Alaq : 3)Jalan untuk menuntut ilmu adalah jalan yang gampang dan mudah, yaitu menghapal al-Qur’an, dan sebagian sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan matan-matan pilihan yang ditulis oleh para ulama, disertai dengan pemahaman dan pengamalan. Maka dengan inilah seseorang meraih keridhoan Allah dan surga yang tinggi.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukوَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS At-Taubah 122)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung !!=======Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan bagiNya atas taufiqNya dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan keluarganya serta para sahabatnya, demikian juga tercurahkan salam yang banyak. Kaum muslimin sekalian! Para ulama umat ini dari yang terdahulu maupun yang belakangan tidaklah mereka disebut kecuali dengan kebaikan. Karena hak mereka atas umat adalah besar, yaitu dengan mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, serta kembali kepada mereka dan mengambil ilmu dari mereka. Dan mengagungkan ahli ilmu termasuk dari mengagungkan agama, karena mereka adalah pemikul agama ini dan yang terpercaya atas agama. Maka barangsiapa yang berpaling dari jalan ini dalam menyikapi para ulama maka ia telah tersesat.Membenci mereka dan memusuhi mereka adalah bentuk kurangnya akal, dan penyimpangan dari fitrah, dan hal ini pertanda bahwa Allah akan memeranginya dan menghukumnya. Allah berfirman dalam hadits qudsi :مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ“Barangsiapa yang memusuhi waliKu maka aku telah mengungumkan peperangan kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholawat dan salam kepada nabiNya…=======  Selesai  ======Penerjemah: Utsman Hatim dan Firanda Andirjahttps://firanda.com/ 

Keagungan Ilmu

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 19 Rabiul Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Abdul Muhsin Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, karena takwa adalah cahaya penerang mata hati, dan dengan takwa akan tetap hidup sanubari dan nurani seseorang. Kaum muslimin!Ibadah kepada Allah semata merupakan hikmah dari penciptaan dan perintahNya. Untuk tujuan ibadah itulah, Allah –subhanahu wa ta’alah – mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya. Hanya dengan ibadah, maka kemuliaan martabat, kebahagiaan, kesentosaan dan keselamatan manusia dapat terwujud. Derajat manusia di sisi Allah sangat ditentukan oleh tingkatan ibadahnya.Firman Allah :إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  [ الحجرات / 13 ]” Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”. Qs Al-Hujurat : 13Di antara anugerah dan kemurahan Allah ialah bahwa Dia telah menetapkan berbagai macam amal ibadah dengan maksud untuk memberikan aneka ragam kenikmatan dan meninggikan derajat bagi hamba-hambaNya. Ibadah dalam agama demikian agung peranannya, mengalahkan segalanya, pelurus bagi yang lainnya. Siapa yang menjalankannya pasti beruntung, siapa yang mengabaikannya pasti menyesal. Allah memuji para pelaku ibadah dan melebihkan kedudukan mereka karena ibadah. Maka ibadah menjadi penuntun seseorang menuju Tuhannya dan penerang jalan hidupnya.Kesempurnaan seseorang dan keselamatannya dunia dan akhirat sangat tergantung pada ibadahnya.Maka melalui ibadah, Allah-subhanahu wata’ala- dikenal dan disembah, dipuja, disebut dan diagungkan.Dengan ibadah hak-hak Allah sebagai Pencipta dan hak-hak sesama makhluk dapat diketahui, yang halal dapat dibedakan dari yang haram, yang benar dapat dikenali dari yang batil, yang absah dapat dimengerti dari yang tidak absah, yang bermanfaat terlihat dari yang berbahaya, yang baik terkuak dari yang buruk. Sebagai penghibur hati dalam kesendirian dan sahabat pelipur dalam kesepian.Ibadah mengingatkan seseorang ketika lalai; melakukannya suatu ketaatan, mempersembahkannya suatu pendekatan. Ibadah adalah penghias dan pengaman bagi pelakunya. Ibadah dapat menerangi hati seseorang lahir batin, memperkuat daya berfikir dan menjernihkan hati nuraninya.Pelaku ibadah di bumi bagaikan bintang-bintang di langit. Maka keberadaan mereka menjadi petunjuk jalan, sebagai penghias dan penata rias keindahan makhluk, sekaligus benteng pertahanan umat. Andaikata bukan karena keberadaan mereka, tentu telah punah lambang-lambang kebesaran agama ini.Dengan ibadah urusan umat ini menjadi baik dan terangkat. Berkat ibadah jiwa manusia menjadi lurus dan bersih, petunjuk jalan dan kebahagiaan manusia ditemukan, generasi penerus terjamin dan lestari.Maka kebutuhan akan ibadah (yang disertai) adalah di atas segala kebutuhan, tanpa adanya ibadah dunia menjadi rusak dan hancur.Imam Ahmad –rahimahullah- berkata :“Manusia sesungguhnya lebih butuh kepada ilmu dari pada kepada makanan dan minuman; sebab makanan dan minuman hanya diperlukan dalam sehari sekali atau dua kali saja, sementara mereka membutuhkan ilmu setiap saat”.Itulah sebabnya mengapa ayat pertama kali yang turun memotivasi manusia agar menuntut ilmu :اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ    [ العلق / 1 ]“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”.Qs Al-Alaq 1Umat Islam adalah umat yang identik dengan ilmu dan selalu kontak dengan Alllah –subhanahu wa ta’ala-.Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah ayat-ayat yang mulia dan berkah tersebut, dan ayat-ayat ini adalah rahmat yang pertama kali Allah merahmati hamba-hambaNya sekalikgus nikmat yang pertama kali Allah anugrahkan kepada hamba-hambaNya.”Dalam ayat-ayat tersebut Allah menamakan Dzatnya dengan sifat al-ilmu dan memperkenalkan Dirinya kepada makhlukNya dengan ilmu pula. Allah berfirman :الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ [ العلق / 4 – 5 ]“Yang memberitahu melalui pena, memberi tahu manusia apa yang belum diketahuinyal”. Qs Al-Alaq : 4-5 Misi agama Islam seluruhnya adalah ilmu dan amal. Maka ilmu merupakan separuh dari misi agama ini. Firman Allah :هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ [ التوبة / 33 ]“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (yaitu ilmu) dan agama yang benar (yaitu amal shalih) “. Qs At-Taubah : 33Tidak ada suatu hal yang paling menenteramkan dan menyejukkan hati seorang hamba dari pada cintanya kepada Allah, dan untuk mengakses ke sana hanya bisa dilakukan melalui ilmu. Ilmu merupakan hikmah yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba yang dikehendakiNya. Firman Allah :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ [ البقرة / 269 ]“Allah menganugerahkan al hikmah  kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran”. Qs Al-Baqarah : 269 Mujahid –rahimahullah- berkata : ( hikmah di sini ) adalah ilmu dan pemahaman agama.   Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan ilmu kepada Nabi Adam –alaihissalam-, maka dengan ilmu itu Allah memperlihatkan kelebihan Nabi Adam di atas para malaikat. Firman Allah :وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [ البقرة/31]“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Qs Al-Baqarah :31Allah -subhanahu wa ta’ala- memilih para nabi dan rasul-Nya serta hamba-hambaNya yang Dia kehendaki dengan ilmu pula.  Demikian pula ketika malaikat menyampaikan kabar gembira kepada istri Nabi Ibrahim –alaihissalam- tetang putranya yang bernama Ishaq –alaihissalam- dikatakannya sebagai “Ghulaamin ‘Aliim” (seorang anak yang berilmu).Juga tentang Nabi Yusuf -alaihissalam- sebagaimana firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا  [ يوسف / 22 ]“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu”. Qs Yusuf : 22Selanjutnya Nabi Yusuf –alaihissalam- pun menyebut dirinya sebagai “Hafidzun ‘Aliim” ( seorang yang mampu menjaga amanat dan berilmu ).Nabi Musa –alaihissalam- pun Allah muliakan dengan ilmu. Firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا [ القصص/14 ]“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan ilmu”. Qs Al-Qashash : 14 Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Daud dan Nabi Sulaiman –alaihimas salam- :وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا  [ الأنبياء / 79 ]“dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) telah Kami berikan hikmah dan ilmu”. Qs Al-Anbiya : 79Allah –subhanahu wa ta’ala – mengingatkan Nabi Isa –alaihisslam- akan karunia ilmu pula. Firman Allah :اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ [ المائدة / 110 ]“ Ingatlah akan nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil”. Qs Al-Maidah : 110Demikian pula Khadhir –alaihissalam- menjadi seorang Nabi Ulul-Azmi (yaitu Musa) bersafar mencarinya karena Khadir memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Firman Allah :فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا [ الكهف / 65 ]“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Qs Al-Kahf : 65Para pasukan Nabi Sulaiman –alaihissalam- pun demikian, yang paling luas ilmunya di antara mereka adalah yang paling kuat.Firman Allah :قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ [ النمل / 40 ] “ Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Qs An-Naml : 40Allah –subhanahu wa ta’ala- menyebut-nyebut sejumlah nikmat yang Dia karuniakan kepada rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-. Dalam konteks ini nikmat ilmu lah yang menduduki peringkat paling utama.Firman Allah :وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ [ النساء : 113 ]“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui”. Qs An-Nisa : 113Allah -subhanahu wa ta’ala- tidaklah menyuruh nabi-Nya untuk menambah suatu apapun kecuali tambahan ilmu. Firman Allah :وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا [ طه / 114 ] “Katakanlah, Ya Tuhanku, tambahlah untukku suatu ilmu”. Qs Thaha : 114Ilmu merupakan warisan para nabi. Pewarisnya pastilah insan-insan terbaik sesudah para nabi dan yang terdekat kepada mereka.Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : إِّنَّ الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa memperoleh warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” HR. Tirmidzi.Allah –subhanahu wa ta’ala- mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas Ketuhanan-Nya ( Uluhiyah-Nya ). Allah berfirman : شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ [ آل عمران / 18 ]“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Qs Ali Imran : 18 Allah- subhanahu wa ta’ala – juga mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas kebatilan pernyataan orang-orang kafir.Firman Allah  :وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [ الروم / 56 ]“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)”. Qs Ar-Rum : 56Maka hanya dengan kepemilikan ilmu, seseorang bisa takut dan taat kepada Allah.  Firman Allah :إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ  [ فاطر / 28 ]“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu”. Qs Fathir : 28Az-Zuhri –rahimahullah- berkata :مَا عُبِدَ اللهُ بِمِثْلِ الْعِلْمِ“Allah tidaklah diibadahi seperti ibadah ilmu”. Meraih ilmu merupakan suatu prestasi kebaikan dan kesuksesan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :”  مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ ” متفق عليه“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan padanya maka Allah akan menjadikannya faqih (faham) dalam agama”. Muttafaq alaih Manusia pilihan adalah manusia yang paling banyak ilmunya. Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” فَخِيَارُكُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا ” متفق عليه“Sebaik-baiknya kalian pada masa jahiliyah adalah yang terbaik di antara kalian pada masa Islam, jika mereka paham agama.” Muttafaq alaihi. Ilmu merupakan neraca untuk mengetahui tingkatan kualitas amal seseorang dan kadar derajatnya. Dengan ilmu, amal seseorang menjadi berkualitas dan tumbuh bersih. Kemurnian akidah seseorang dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah serta pengamalan sunnah nabiNya tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Firman Allah :فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ  [ محمد /19 ]“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan sesembahan kecuali Allah”. Qs Muhammad : 19Di sini Allah –subhanahu wa ta’ala- memulai penyebutan ilmu sebelum ucapan dan pengamalan. Ilmu adalah penuntun dan panglima terlaksananya suatu amal. Maka setiap amal yang tidak dibimbing oleh ilmu tidaklah berguna bagi pelakunya bahkan menjadi senjata makan tuan.Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa dibarengi ilmu, maka ibadahnya lebih banyak mendatangkan kemudharatan dari pada kemaslahatan. Suatu kemusyrikan dan perbuatan bid’ah tidaklah mungkin terjadi kecuali disebabkan kurangnya ilmu dan jauhnya pelakunya dari ulama.Kesesatan adalah identik dengan kebodohan. Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala – memerintahkan kita untuk selalu memohon perlindungan kepadaNya dari jalan orang-orang yang tersesat pada setiap rakaat shalat kita. Allah-subhanahu wa ta’ala- pun menafikan penyamaan antara orang yang  berilmu dan orang yang tidak berilmu. Tidak mungkin sama, seperti tidak samanya orang hidup dengan orang mati, orang yang bisa melihat dengan orang tuna netra. Firman Allah :قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ  [ الزمر/ 9 ]“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Qs Az-Zumar : 9Dengan ilmu pula masyarakat menjadi hidup dan bersinar. Firman Allah :أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا [ الأنعام / 122 ]“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang tidak akan dapat keluar dari padanya?”. Qs Al-An’am : 122Kepiawaian seseorang dan pemahamannya terhadap agama merupakan ciri khas orang yang beriman. Dada mereka memancarkan cahaya ilmu, sebagaimana firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ [ العنكبوت/49]“Sebenarnya, Al Quran itu ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. Qs Al-Ankabut : 49 Di dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari 40 ayat tentang perumpamaan (dalam kehidupan). Hal itu memerlukan ilmu untuk dapat menangkap dan memahami makna yang dimaksudkan. Firman Allah :وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ [ العنكبوت / 43 ]“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. Qs Al-Ankabut : 43Ketika sebagian ulama salaf mendengar perumpamaan (dalam Al-Qur’an), namun perumpamaan itu tidak membuatnya mengerti maksudnya, menangislah dia lalu mengatakan : “Aku tidak termasuk orang-orang yang berilmu”. Rahmat kasih sayang Allah serta selalu menyelimuti majlis-majlis ilmu dan peserta kajian ilmu, demikian juga para malaikat menaungi mereka dan turut hadir mersama mereka. Sabda Nabi :وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ“Dan sesungguhnya para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai apresiasi keridhaan kepada penuntut ilmu”. HR Tirmizi.Ibnul-Qayim –rahimahullah- berkata :” ولو لم يكن فى العلم إلا القرب من رب العالمين والإلتحاق بعالم الملائكة وصحبة الملإ الأعلى لكفى به فضلا وشرفا فكيف وعز الدنيا والآخرة منوط به ومشروط بحصوله “ “Andaikata ilmu itu tidak memiliki pengaruh apa-apa selain dapat mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan semesta alam dan memungkinkannya bergabung dengan alam malaikat serta persahabatan dengan komunitas pilihan di langit, niscaya hal itu sudah cukup sebagai anugerah dan kehormatan, belum lagi kejayaan dunia dan derajat seseorang di akhirat sangat ditentukan oleh ilmu dan tergantung pada perolehan ilmu “.Majelis mereka penuh dengan hikmah, dan mereka adalah sebaik-baik teladan bagi umat ini. Manfaat mereka selain kembali pada diri mereka sendiri, juga menular kepada orang lain. Karenanya semuanya memuji mereka dan mendoakan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى معلم النَّاس الْخَيْر“Dan sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, serta para penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada di lubangnya dan juga ikan, benar-benar mendoakan kebaikan bagi pengajar kebaikan bagi manusia” (HR At-Tirmidzi) Berusaha menuntut ilmu termasuk berjihad di jalan Allah. Abu Ad-Dardaa’ radhiallahu ‘anhu berkata ;مَنْ رَأَى الْغُدُوَّ وَالرَّوَاحَ إِلَى الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ فِي عَقْلِهِ وَرَأْيِهِ“Barangsiapa yang memandang bahwa pergi di pagi hari dan pulang di sore hari karena menuntut ilmu bukanlah jihad, maka sungguh telah kurang akalnya dan pandangannya” Berlomba dan bersaing dalam ilmu adalah perkara yang terpuji, dan tidak ada hasad dalam dua orang, yaitu seorang yang berbuat baik apakah dengan amalnya atau dengan hartanya. Adapun selain dua orang ini maka tidak dihasadi karena sedikit manfaatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَة فَهُوَ يقْضِي بهَا وَيعلمهَا“Tidak ada hasad kecuali pada dua orang, seorang yang Allah berikan kepadanya harta, lantas ia menghabiskannya pada kebenaran, dan seorang yang Allah anugrahkan kepadanya al-hikmah (ilmu) maka ia berhukum dengan ilmu tersebut dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Telah jelas di syari’at dan taqdir bahwasanya balasan sesuai dengan perbuatan, maka barangsiapa yang menempuh jalan ilmu maka ia telah menempuh jalan menuju surga, dan jalan ilmu adalah jalan termudah menuju surga dan yang paling menyenangkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّل اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إَلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim) Ilmu syar’i adalah benteng dari fitnah-fitnah dan musibah dan bencana. Al-Imam Malik rahimahullah berkata ;إِنَّ أَقْوَامًا ابْتَغَوْا الْعِبَادَةَ وَأَضَاعُوا الْعِلْمَ فَخَرَجُوا عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسْيَافِهِمْ، وَلَوْ ابْتَغَوا الْعِلْمَ لَحَجَزَهُمْ عَنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya beberapa kaum mencari ibadah dan meninggalkan ilmu lalu merekapun memberontak terhadap umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menghunus pedang-pedang mereka. Seandainya mereka mencari ilmu tentu ilmu akan mencegah mereka dari perbuatan tersebut” Karena begitu besar manfaat ilmu maka datang perintah untuk menyampaikannya dan menyebarkannya di seluruh penjuru. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً“Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat” (HR Al-Bukhari)Allah memerintahkan untuk bertanya kepada ahli ilmu dan kembali kepada ahli ilmu  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui” (QS An-Nahl : 43)Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mendoakan ahli ilmu agar bercahaya, yaitu indah dan berserinya wajah serta lapangnya dada, beliau berdoa :نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى لَهُ مِنْ سَامِعٍ“Semoga Allah menjadikan bercahaya wajah orang yang mendengar dari kami sesuatu lalu menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar, dan betapa banyak orang yang disampaikan lebih paham dari yang mendengar” (HR At-Tirmidzi)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendoakan orang yang beliau cintai agar menjadi ahli ilmu, beliau berdoa untuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhumaa :اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Ya Allah jadikanlah ia faqih dalam agama” (HR Al-Bukhari dan Muslim)      Dengan ilmu derajat seseorang terangkat di dunia dan setelah meninggal. Allah berfirman :يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (Qs Al-Mujadalah : 11)Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :فَمَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَذَاكَ يُدْعَى عَظِيْمًا فِي مَلَكُوْتُ السَّمَاوَاتِ“Barangsiapa yang berilmu dan beramal serta mengajarkannya maka ia akan dipanggil sebagai orang yang agung di kerajaan langit” (Zaadul Ma’aad 3/9)Manfaat ilmu akan terus mengikuti pemiliknya setelah ia meninggal selama ilmunya masih terus bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له“Jika seorang manusia telah meninggal, maka terputuslah amalannya darinya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim)Ilmu yang paling afdhol dan yang paling mulia dan dialah yang dipuji dalam dalil-dalil adalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah dan nama-namaNya serta sifat-sifatNya, dan ia adalah tujuan dari penciptaanNya dan perintahNya. Allah berfirman :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنزلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah maha kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu” (QS At-Tholaq : 12)Wajib atas setiap muslim untuk berusaha mempelajari ilmu-ilmu yang wajib, yang dengannya ia meluruskan tauhidnya, sholatnya, dan puasanya. Dan hendaknya ia mengorbankan sebagian waktunya untuk hal itu, janganlah ia merasa berat untuk menghadiri halaqoh dan majelis-majelis ilmu. Lihatlah Musa –kaliimullah- padahal ia termasuk para rasul ulul ‘azmi, ia tetap bersafar demi ilmu dan menempuh kesulitan keletihan dalam jalan mencari ilmu. Ia bersikap dengan penuh kelembutan kepada Khodir seraya berkata :هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi : 66)Wajib bagi penuntut ilmu untuk mengagungkan ilmu dan meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat disertai dengan berprasangka baik kepada Allah, demikian juga wajib baginya untuk senantiasa bertakwa karena takwa merupakan penolong terbaik untuk meraih ilmu. Dan hendaknya niatnya ikhlash karena mencari wajah Allah, bukan dalam rangka untuk mendebat orang-orang yang bodoh, bukan juga untuk mendebat para ulama. Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang ia tidak ketahui. Selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah telah menjanjikan bahwasanya barangsiapa yang menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan urusannya dan menganugrahkan kepadanya apa yang tidak ia sangka-sangka. Allah berfirman :اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah !, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” (QS Al-‘Alaq : 3)Jalan untuk menuntut ilmu adalah jalan yang gampang dan mudah, yaitu menghapal al-Qur’an, dan sebagian sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan matan-matan pilihan yang ditulis oleh para ulama, disertai dengan pemahaman dan pengamalan. Maka dengan inilah seseorang meraih keridhoan Allah dan surga yang tinggi.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukوَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS At-Taubah 122)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung !!=======Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan bagiNya atas taufiqNya dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan keluarganya serta para sahabatnya, demikian juga tercurahkan salam yang banyak. Kaum muslimin sekalian! Para ulama umat ini dari yang terdahulu maupun yang belakangan tidaklah mereka disebut kecuali dengan kebaikan. Karena hak mereka atas umat adalah besar, yaitu dengan mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, serta kembali kepada mereka dan mengambil ilmu dari mereka. Dan mengagungkan ahli ilmu termasuk dari mengagungkan agama, karena mereka adalah pemikul agama ini dan yang terpercaya atas agama. Maka barangsiapa yang berpaling dari jalan ini dalam menyikapi para ulama maka ia telah tersesat.Membenci mereka dan memusuhi mereka adalah bentuk kurangnya akal, dan penyimpangan dari fitrah, dan hal ini pertanda bahwa Allah akan memeranginya dan menghukumnya. Allah berfirman dalam hadits qudsi :مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ“Barangsiapa yang memusuhi waliKu maka aku telah mengungumkan peperangan kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholawat dan salam kepada nabiNya…=======  Selesai  ======Penerjemah: Utsman Hatim dan Firanda Andirjahttps://firanda.com/ 
Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 19 Rabiul Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Abdul Muhsin Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, karena takwa adalah cahaya penerang mata hati, dan dengan takwa akan tetap hidup sanubari dan nurani seseorang. Kaum muslimin!Ibadah kepada Allah semata merupakan hikmah dari penciptaan dan perintahNya. Untuk tujuan ibadah itulah, Allah –subhanahu wa ta’alah – mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya. Hanya dengan ibadah, maka kemuliaan martabat, kebahagiaan, kesentosaan dan keselamatan manusia dapat terwujud. Derajat manusia di sisi Allah sangat ditentukan oleh tingkatan ibadahnya.Firman Allah :إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  [ الحجرات / 13 ]” Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”. Qs Al-Hujurat : 13Di antara anugerah dan kemurahan Allah ialah bahwa Dia telah menetapkan berbagai macam amal ibadah dengan maksud untuk memberikan aneka ragam kenikmatan dan meninggikan derajat bagi hamba-hambaNya. Ibadah dalam agama demikian agung peranannya, mengalahkan segalanya, pelurus bagi yang lainnya. Siapa yang menjalankannya pasti beruntung, siapa yang mengabaikannya pasti menyesal. Allah memuji para pelaku ibadah dan melebihkan kedudukan mereka karena ibadah. Maka ibadah menjadi penuntun seseorang menuju Tuhannya dan penerang jalan hidupnya.Kesempurnaan seseorang dan keselamatannya dunia dan akhirat sangat tergantung pada ibadahnya.Maka melalui ibadah, Allah-subhanahu wata’ala- dikenal dan disembah, dipuja, disebut dan diagungkan.Dengan ibadah hak-hak Allah sebagai Pencipta dan hak-hak sesama makhluk dapat diketahui, yang halal dapat dibedakan dari yang haram, yang benar dapat dikenali dari yang batil, yang absah dapat dimengerti dari yang tidak absah, yang bermanfaat terlihat dari yang berbahaya, yang baik terkuak dari yang buruk. Sebagai penghibur hati dalam kesendirian dan sahabat pelipur dalam kesepian.Ibadah mengingatkan seseorang ketika lalai; melakukannya suatu ketaatan, mempersembahkannya suatu pendekatan. Ibadah adalah penghias dan pengaman bagi pelakunya. Ibadah dapat menerangi hati seseorang lahir batin, memperkuat daya berfikir dan menjernihkan hati nuraninya.Pelaku ibadah di bumi bagaikan bintang-bintang di langit. Maka keberadaan mereka menjadi petunjuk jalan, sebagai penghias dan penata rias keindahan makhluk, sekaligus benteng pertahanan umat. Andaikata bukan karena keberadaan mereka, tentu telah punah lambang-lambang kebesaran agama ini.Dengan ibadah urusan umat ini menjadi baik dan terangkat. Berkat ibadah jiwa manusia menjadi lurus dan bersih, petunjuk jalan dan kebahagiaan manusia ditemukan, generasi penerus terjamin dan lestari.Maka kebutuhan akan ibadah (yang disertai) adalah di atas segala kebutuhan, tanpa adanya ibadah dunia menjadi rusak dan hancur.Imam Ahmad –rahimahullah- berkata :“Manusia sesungguhnya lebih butuh kepada ilmu dari pada kepada makanan dan minuman; sebab makanan dan minuman hanya diperlukan dalam sehari sekali atau dua kali saja, sementara mereka membutuhkan ilmu setiap saat”.Itulah sebabnya mengapa ayat pertama kali yang turun memotivasi manusia agar menuntut ilmu :اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ    [ العلق / 1 ]“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”.Qs Al-Alaq 1Umat Islam adalah umat yang identik dengan ilmu dan selalu kontak dengan Alllah –subhanahu wa ta’ala-.Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah ayat-ayat yang mulia dan berkah tersebut, dan ayat-ayat ini adalah rahmat yang pertama kali Allah merahmati hamba-hambaNya sekalikgus nikmat yang pertama kali Allah anugrahkan kepada hamba-hambaNya.”Dalam ayat-ayat tersebut Allah menamakan Dzatnya dengan sifat al-ilmu dan memperkenalkan Dirinya kepada makhlukNya dengan ilmu pula. Allah berfirman :الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ [ العلق / 4 – 5 ]“Yang memberitahu melalui pena, memberi tahu manusia apa yang belum diketahuinyal”. Qs Al-Alaq : 4-5 Misi agama Islam seluruhnya adalah ilmu dan amal. Maka ilmu merupakan separuh dari misi agama ini. Firman Allah :هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ [ التوبة / 33 ]“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (yaitu ilmu) dan agama yang benar (yaitu amal shalih) “. Qs At-Taubah : 33Tidak ada suatu hal yang paling menenteramkan dan menyejukkan hati seorang hamba dari pada cintanya kepada Allah, dan untuk mengakses ke sana hanya bisa dilakukan melalui ilmu. Ilmu merupakan hikmah yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba yang dikehendakiNya. Firman Allah :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ [ البقرة / 269 ]“Allah menganugerahkan al hikmah  kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran”. Qs Al-Baqarah : 269 Mujahid –rahimahullah- berkata : ( hikmah di sini ) adalah ilmu dan pemahaman agama.   Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan ilmu kepada Nabi Adam –alaihissalam-, maka dengan ilmu itu Allah memperlihatkan kelebihan Nabi Adam di atas para malaikat. Firman Allah :وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [ البقرة/31]“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Qs Al-Baqarah :31Allah -subhanahu wa ta’ala- memilih para nabi dan rasul-Nya serta hamba-hambaNya yang Dia kehendaki dengan ilmu pula.  Demikian pula ketika malaikat menyampaikan kabar gembira kepada istri Nabi Ibrahim –alaihissalam- tetang putranya yang bernama Ishaq –alaihissalam- dikatakannya sebagai “Ghulaamin ‘Aliim” (seorang anak yang berilmu).Juga tentang Nabi Yusuf -alaihissalam- sebagaimana firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا  [ يوسف / 22 ]“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu”. Qs Yusuf : 22Selanjutnya Nabi Yusuf –alaihissalam- pun menyebut dirinya sebagai “Hafidzun ‘Aliim” ( seorang yang mampu menjaga amanat dan berilmu ).Nabi Musa –alaihissalam- pun Allah muliakan dengan ilmu. Firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا [ القصص/14 ]“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan ilmu”. Qs Al-Qashash : 14 Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Daud dan Nabi Sulaiman –alaihimas salam- :وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا  [ الأنبياء / 79 ]“dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) telah Kami berikan hikmah dan ilmu”. Qs Al-Anbiya : 79Allah –subhanahu wa ta’ala – mengingatkan Nabi Isa –alaihisslam- akan karunia ilmu pula. Firman Allah :اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ [ المائدة / 110 ]“ Ingatlah akan nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil”. Qs Al-Maidah : 110Demikian pula Khadhir –alaihissalam- menjadi seorang Nabi Ulul-Azmi (yaitu Musa) bersafar mencarinya karena Khadir memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Firman Allah :فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا [ الكهف / 65 ]“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Qs Al-Kahf : 65Para pasukan Nabi Sulaiman –alaihissalam- pun demikian, yang paling luas ilmunya di antara mereka adalah yang paling kuat.Firman Allah :قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ [ النمل / 40 ] “ Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Qs An-Naml : 40Allah –subhanahu wa ta’ala- menyebut-nyebut sejumlah nikmat yang Dia karuniakan kepada rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-. Dalam konteks ini nikmat ilmu lah yang menduduki peringkat paling utama.Firman Allah :وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ [ النساء : 113 ]“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui”. Qs An-Nisa : 113Allah -subhanahu wa ta’ala- tidaklah menyuruh nabi-Nya untuk menambah suatu apapun kecuali tambahan ilmu. Firman Allah :وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا [ طه / 114 ] “Katakanlah, Ya Tuhanku, tambahlah untukku suatu ilmu”. Qs Thaha : 114Ilmu merupakan warisan para nabi. Pewarisnya pastilah insan-insan terbaik sesudah para nabi dan yang terdekat kepada mereka.Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : إِّنَّ الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa memperoleh warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” HR. Tirmidzi.Allah –subhanahu wa ta’ala- mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas Ketuhanan-Nya ( Uluhiyah-Nya ). Allah berfirman : شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ [ آل عمران / 18 ]“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Qs Ali Imran : 18 Allah- subhanahu wa ta’ala – juga mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas kebatilan pernyataan orang-orang kafir.Firman Allah  :وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [ الروم / 56 ]“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)”. Qs Ar-Rum : 56Maka hanya dengan kepemilikan ilmu, seseorang bisa takut dan taat kepada Allah.  Firman Allah :إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ  [ فاطر / 28 ]“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu”. Qs Fathir : 28Az-Zuhri –rahimahullah- berkata :مَا عُبِدَ اللهُ بِمِثْلِ الْعِلْمِ“Allah tidaklah diibadahi seperti ibadah ilmu”. Meraih ilmu merupakan suatu prestasi kebaikan dan kesuksesan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :”  مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ ” متفق عليه“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan padanya maka Allah akan menjadikannya faqih (faham) dalam agama”. Muttafaq alaih Manusia pilihan adalah manusia yang paling banyak ilmunya. Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” فَخِيَارُكُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا ” متفق عليه“Sebaik-baiknya kalian pada masa jahiliyah adalah yang terbaik di antara kalian pada masa Islam, jika mereka paham agama.” Muttafaq alaihi. Ilmu merupakan neraca untuk mengetahui tingkatan kualitas amal seseorang dan kadar derajatnya. Dengan ilmu, amal seseorang menjadi berkualitas dan tumbuh bersih. Kemurnian akidah seseorang dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah serta pengamalan sunnah nabiNya tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Firman Allah :فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ  [ محمد /19 ]“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan sesembahan kecuali Allah”. Qs Muhammad : 19Di sini Allah –subhanahu wa ta’ala- memulai penyebutan ilmu sebelum ucapan dan pengamalan. Ilmu adalah penuntun dan panglima terlaksananya suatu amal. Maka setiap amal yang tidak dibimbing oleh ilmu tidaklah berguna bagi pelakunya bahkan menjadi senjata makan tuan.Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa dibarengi ilmu, maka ibadahnya lebih banyak mendatangkan kemudharatan dari pada kemaslahatan. Suatu kemusyrikan dan perbuatan bid’ah tidaklah mungkin terjadi kecuali disebabkan kurangnya ilmu dan jauhnya pelakunya dari ulama.Kesesatan adalah identik dengan kebodohan. Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala – memerintahkan kita untuk selalu memohon perlindungan kepadaNya dari jalan orang-orang yang tersesat pada setiap rakaat shalat kita. Allah-subhanahu wa ta’ala- pun menafikan penyamaan antara orang yang  berilmu dan orang yang tidak berilmu. Tidak mungkin sama, seperti tidak samanya orang hidup dengan orang mati, orang yang bisa melihat dengan orang tuna netra. Firman Allah :قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ  [ الزمر/ 9 ]“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Qs Az-Zumar : 9Dengan ilmu pula masyarakat menjadi hidup dan bersinar. Firman Allah :أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا [ الأنعام / 122 ]“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang tidak akan dapat keluar dari padanya?”. Qs Al-An’am : 122Kepiawaian seseorang dan pemahamannya terhadap agama merupakan ciri khas orang yang beriman. Dada mereka memancarkan cahaya ilmu, sebagaimana firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ [ العنكبوت/49]“Sebenarnya, Al Quran itu ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. Qs Al-Ankabut : 49 Di dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari 40 ayat tentang perumpamaan (dalam kehidupan). Hal itu memerlukan ilmu untuk dapat menangkap dan memahami makna yang dimaksudkan. Firman Allah :وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ [ العنكبوت / 43 ]“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. Qs Al-Ankabut : 43Ketika sebagian ulama salaf mendengar perumpamaan (dalam Al-Qur’an), namun perumpamaan itu tidak membuatnya mengerti maksudnya, menangislah dia lalu mengatakan : “Aku tidak termasuk orang-orang yang berilmu”. Rahmat kasih sayang Allah serta selalu menyelimuti majlis-majlis ilmu dan peserta kajian ilmu, demikian juga para malaikat menaungi mereka dan turut hadir mersama mereka. Sabda Nabi :وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ“Dan sesungguhnya para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai apresiasi keridhaan kepada penuntut ilmu”. HR Tirmizi.Ibnul-Qayim –rahimahullah- berkata :” ولو لم يكن فى العلم إلا القرب من رب العالمين والإلتحاق بعالم الملائكة وصحبة الملإ الأعلى لكفى به فضلا وشرفا فكيف وعز الدنيا والآخرة منوط به ومشروط بحصوله “ “Andaikata ilmu itu tidak memiliki pengaruh apa-apa selain dapat mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan semesta alam dan memungkinkannya bergabung dengan alam malaikat serta persahabatan dengan komunitas pilihan di langit, niscaya hal itu sudah cukup sebagai anugerah dan kehormatan, belum lagi kejayaan dunia dan derajat seseorang di akhirat sangat ditentukan oleh ilmu dan tergantung pada perolehan ilmu “.Majelis mereka penuh dengan hikmah, dan mereka adalah sebaik-baik teladan bagi umat ini. Manfaat mereka selain kembali pada diri mereka sendiri, juga menular kepada orang lain. Karenanya semuanya memuji mereka dan mendoakan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى معلم النَّاس الْخَيْر“Dan sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, serta para penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada di lubangnya dan juga ikan, benar-benar mendoakan kebaikan bagi pengajar kebaikan bagi manusia” (HR At-Tirmidzi) Berusaha menuntut ilmu termasuk berjihad di jalan Allah. Abu Ad-Dardaa’ radhiallahu ‘anhu berkata ;مَنْ رَأَى الْغُدُوَّ وَالرَّوَاحَ إِلَى الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ فِي عَقْلِهِ وَرَأْيِهِ“Barangsiapa yang memandang bahwa pergi di pagi hari dan pulang di sore hari karena menuntut ilmu bukanlah jihad, maka sungguh telah kurang akalnya dan pandangannya” Berlomba dan bersaing dalam ilmu adalah perkara yang terpuji, dan tidak ada hasad dalam dua orang, yaitu seorang yang berbuat baik apakah dengan amalnya atau dengan hartanya. Adapun selain dua orang ini maka tidak dihasadi karena sedikit manfaatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَة فَهُوَ يقْضِي بهَا وَيعلمهَا“Tidak ada hasad kecuali pada dua orang, seorang yang Allah berikan kepadanya harta, lantas ia menghabiskannya pada kebenaran, dan seorang yang Allah anugrahkan kepadanya al-hikmah (ilmu) maka ia berhukum dengan ilmu tersebut dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Telah jelas di syari’at dan taqdir bahwasanya balasan sesuai dengan perbuatan, maka barangsiapa yang menempuh jalan ilmu maka ia telah menempuh jalan menuju surga, dan jalan ilmu adalah jalan termudah menuju surga dan yang paling menyenangkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّل اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إَلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim) Ilmu syar’i adalah benteng dari fitnah-fitnah dan musibah dan bencana. Al-Imam Malik rahimahullah berkata ;إِنَّ أَقْوَامًا ابْتَغَوْا الْعِبَادَةَ وَأَضَاعُوا الْعِلْمَ فَخَرَجُوا عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسْيَافِهِمْ، وَلَوْ ابْتَغَوا الْعِلْمَ لَحَجَزَهُمْ عَنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya beberapa kaum mencari ibadah dan meninggalkan ilmu lalu merekapun memberontak terhadap umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menghunus pedang-pedang mereka. Seandainya mereka mencari ilmu tentu ilmu akan mencegah mereka dari perbuatan tersebut” Karena begitu besar manfaat ilmu maka datang perintah untuk menyampaikannya dan menyebarkannya di seluruh penjuru. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً“Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat” (HR Al-Bukhari)Allah memerintahkan untuk bertanya kepada ahli ilmu dan kembali kepada ahli ilmu  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui” (QS An-Nahl : 43)Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mendoakan ahli ilmu agar bercahaya, yaitu indah dan berserinya wajah serta lapangnya dada, beliau berdoa :نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى لَهُ مِنْ سَامِعٍ“Semoga Allah menjadikan bercahaya wajah orang yang mendengar dari kami sesuatu lalu menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar, dan betapa banyak orang yang disampaikan lebih paham dari yang mendengar” (HR At-Tirmidzi)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendoakan orang yang beliau cintai agar menjadi ahli ilmu, beliau berdoa untuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhumaa :اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Ya Allah jadikanlah ia faqih dalam agama” (HR Al-Bukhari dan Muslim)      Dengan ilmu derajat seseorang terangkat di dunia dan setelah meninggal. Allah berfirman :يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (Qs Al-Mujadalah : 11)Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :فَمَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَذَاكَ يُدْعَى عَظِيْمًا فِي مَلَكُوْتُ السَّمَاوَاتِ“Barangsiapa yang berilmu dan beramal serta mengajarkannya maka ia akan dipanggil sebagai orang yang agung di kerajaan langit” (Zaadul Ma’aad 3/9)Manfaat ilmu akan terus mengikuti pemiliknya setelah ia meninggal selama ilmunya masih terus bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له“Jika seorang manusia telah meninggal, maka terputuslah amalannya darinya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim)Ilmu yang paling afdhol dan yang paling mulia dan dialah yang dipuji dalam dalil-dalil adalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah dan nama-namaNya serta sifat-sifatNya, dan ia adalah tujuan dari penciptaanNya dan perintahNya. Allah berfirman :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنزلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah maha kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu” (QS At-Tholaq : 12)Wajib atas setiap muslim untuk berusaha mempelajari ilmu-ilmu yang wajib, yang dengannya ia meluruskan tauhidnya, sholatnya, dan puasanya. Dan hendaknya ia mengorbankan sebagian waktunya untuk hal itu, janganlah ia merasa berat untuk menghadiri halaqoh dan majelis-majelis ilmu. Lihatlah Musa –kaliimullah- padahal ia termasuk para rasul ulul ‘azmi, ia tetap bersafar demi ilmu dan menempuh kesulitan keletihan dalam jalan mencari ilmu. Ia bersikap dengan penuh kelembutan kepada Khodir seraya berkata :هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi : 66)Wajib bagi penuntut ilmu untuk mengagungkan ilmu dan meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat disertai dengan berprasangka baik kepada Allah, demikian juga wajib baginya untuk senantiasa bertakwa karena takwa merupakan penolong terbaik untuk meraih ilmu. Dan hendaknya niatnya ikhlash karena mencari wajah Allah, bukan dalam rangka untuk mendebat orang-orang yang bodoh, bukan juga untuk mendebat para ulama. Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang ia tidak ketahui. Selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah telah menjanjikan bahwasanya barangsiapa yang menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan urusannya dan menganugrahkan kepadanya apa yang tidak ia sangka-sangka. Allah berfirman :اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah !, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” (QS Al-‘Alaq : 3)Jalan untuk menuntut ilmu adalah jalan yang gampang dan mudah, yaitu menghapal al-Qur’an, dan sebagian sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan matan-matan pilihan yang ditulis oleh para ulama, disertai dengan pemahaman dan pengamalan. Maka dengan inilah seseorang meraih keridhoan Allah dan surga yang tinggi.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukوَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS At-Taubah 122)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung !!=======Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan bagiNya atas taufiqNya dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan keluarganya serta para sahabatnya, demikian juga tercurahkan salam yang banyak. Kaum muslimin sekalian! Para ulama umat ini dari yang terdahulu maupun yang belakangan tidaklah mereka disebut kecuali dengan kebaikan. Karena hak mereka atas umat adalah besar, yaitu dengan mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, serta kembali kepada mereka dan mengambil ilmu dari mereka. Dan mengagungkan ahli ilmu termasuk dari mengagungkan agama, karena mereka adalah pemikul agama ini dan yang terpercaya atas agama. Maka barangsiapa yang berpaling dari jalan ini dalam menyikapi para ulama maka ia telah tersesat.Membenci mereka dan memusuhi mereka adalah bentuk kurangnya akal, dan penyimpangan dari fitrah, dan hal ini pertanda bahwa Allah akan memeranginya dan menghukumnya. Allah berfirman dalam hadits qudsi :مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ“Barangsiapa yang memusuhi waliKu maka aku telah mengungumkan peperangan kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholawat dan salam kepada nabiNya…=======  Selesai  ======Penerjemah: Utsman Hatim dan Firanda Andirjahttps://firanda.com/ 


Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 19 Rabiul Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Abdul Muhsin Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, karena takwa adalah cahaya penerang mata hati, dan dengan takwa akan tetap hidup sanubari dan nurani seseorang. Kaum muslimin!Ibadah kepada Allah semata merupakan hikmah dari penciptaan dan perintahNya. Untuk tujuan ibadah itulah, Allah –subhanahu wa ta’alah – mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya. Hanya dengan ibadah, maka kemuliaan martabat, kebahagiaan, kesentosaan dan keselamatan manusia dapat terwujud. Derajat manusia di sisi Allah sangat ditentukan oleh tingkatan ibadahnya.Firman Allah :إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  [ الحجرات / 13 ]” Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”. Qs Al-Hujurat : 13Di antara anugerah dan kemurahan Allah ialah bahwa Dia telah menetapkan berbagai macam amal ibadah dengan maksud untuk memberikan aneka ragam kenikmatan dan meninggikan derajat bagi hamba-hambaNya. Ibadah dalam agama demikian agung peranannya, mengalahkan segalanya, pelurus bagi yang lainnya. Siapa yang menjalankannya pasti beruntung, siapa yang mengabaikannya pasti menyesal. Allah memuji para pelaku ibadah dan melebihkan kedudukan mereka karena ibadah. Maka ibadah menjadi penuntun seseorang menuju Tuhannya dan penerang jalan hidupnya.Kesempurnaan seseorang dan keselamatannya dunia dan akhirat sangat tergantung pada ibadahnya.Maka melalui ibadah, Allah-subhanahu wata’ala- dikenal dan disembah, dipuja, disebut dan diagungkan.Dengan ibadah hak-hak Allah sebagai Pencipta dan hak-hak sesama makhluk dapat diketahui, yang halal dapat dibedakan dari yang haram, yang benar dapat dikenali dari yang batil, yang absah dapat dimengerti dari yang tidak absah, yang bermanfaat terlihat dari yang berbahaya, yang baik terkuak dari yang buruk. Sebagai penghibur hati dalam kesendirian dan sahabat pelipur dalam kesepian.Ibadah mengingatkan seseorang ketika lalai; melakukannya suatu ketaatan, mempersembahkannya suatu pendekatan. Ibadah adalah penghias dan pengaman bagi pelakunya. Ibadah dapat menerangi hati seseorang lahir batin, memperkuat daya berfikir dan menjernihkan hati nuraninya.Pelaku ibadah di bumi bagaikan bintang-bintang di langit. Maka keberadaan mereka menjadi petunjuk jalan, sebagai penghias dan penata rias keindahan makhluk, sekaligus benteng pertahanan umat. Andaikata bukan karena keberadaan mereka, tentu telah punah lambang-lambang kebesaran agama ini.Dengan ibadah urusan umat ini menjadi baik dan terangkat. Berkat ibadah jiwa manusia menjadi lurus dan bersih, petunjuk jalan dan kebahagiaan manusia ditemukan, generasi penerus terjamin dan lestari.Maka kebutuhan akan ibadah (yang disertai) adalah di atas segala kebutuhan, tanpa adanya ibadah dunia menjadi rusak dan hancur.Imam Ahmad –rahimahullah- berkata :“Manusia sesungguhnya lebih butuh kepada ilmu dari pada kepada makanan dan minuman; sebab makanan dan minuman hanya diperlukan dalam sehari sekali atau dua kali saja, sementara mereka membutuhkan ilmu setiap saat”.Itulah sebabnya mengapa ayat pertama kali yang turun memotivasi manusia agar menuntut ilmu :اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ    [ العلق / 1 ]“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”.Qs Al-Alaq 1Umat Islam adalah umat yang identik dengan ilmu dan selalu kontak dengan Alllah –subhanahu wa ta’ala-.Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah ayat-ayat yang mulia dan berkah tersebut, dan ayat-ayat ini adalah rahmat yang pertama kali Allah merahmati hamba-hambaNya sekalikgus nikmat yang pertama kali Allah anugrahkan kepada hamba-hambaNya.”Dalam ayat-ayat tersebut Allah menamakan Dzatnya dengan sifat al-ilmu dan memperkenalkan Dirinya kepada makhlukNya dengan ilmu pula. Allah berfirman :الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ [ العلق / 4 – 5 ]“Yang memberitahu melalui pena, memberi tahu manusia apa yang belum diketahuinyal”. Qs Al-Alaq : 4-5 Misi agama Islam seluruhnya adalah ilmu dan amal. Maka ilmu merupakan separuh dari misi agama ini. Firman Allah :هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ [ التوبة / 33 ]“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (yaitu ilmu) dan agama yang benar (yaitu amal shalih) “. Qs At-Taubah : 33Tidak ada suatu hal yang paling menenteramkan dan menyejukkan hati seorang hamba dari pada cintanya kepada Allah, dan untuk mengakses ke sana hanya bisa dilakukan melalui ilmu. Ilmu merupakan hikmah yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba yang dikehendakiNya. Firman Allah :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ [ البقرة / 269 ]“Allah menganugerahkan al hikmah  kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran”. Qs Al-Baqarah : 269 Mujahid –rahimahullah- berkata : ( hikmah di sini ) adalah ilmu dan pemahaman agama.   Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan ilmu kepada Nabi Adam –alaihissalam-, maka dengan ilmu itu Allah memperlihatkan kelebihan Nabi Adam di atas para malaikat. Firman Allah :وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [ البقرة/31]“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Qs Al-Baqarah :31Allah -subhanahu wa ta’ala- memilih para nabi dan rasul-Nya serta hamba-hambaNya yang Dia kehendaki dengan ilmu pula.  Demikian pula ketika malaikat menyampaikan kabar gembira kepada istri Nabi Ibrahim –alaihissalam- tetang putranya yang bernama Ishaq –alaihissalam- dikatakannya sebagai “Ghulaamin ‘Aliim” (seorang anak yang berilmu).Juga tentang Nabi Yusuf -alaihissalam- sebagaimana firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا  [ يوسف / 22 ]“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu”. Qs Yusuf : 22Selanjutnya Nabi Yusuf –alaihissalam- pun menyebut dirinya sebagai “Hafidzun ‘Aliim” ( seorang yang mampu menjaga amanat dan berilmu ).Nabi Musa –alaihissalam- pun Allah muliakan dengan ilmu. Firman Allah :وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا [ القصص/14 ]“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan ilmu”. Qs Al-Qashash : 14 Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Daud dan Nabi Sulaiman –alaihimas salam- :وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا  [ الأنبياء / 79 ]“dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) telah Kami berikan hikmah dan ilmu”. Qs Al-Anbiya : 79Allah –subhanahu wa ta’ala – mengingatkan Nabi Isa –alaihisslam- akan karunia ilmu pula. Firman Allah :اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ [ المائدة / 110 ]“ Ingatlah akan nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil”. Qs Al-Maidah : 110Demikian pula Khadhir –alaihissalam- menjadi seorang Nabi Ulul-Azmi (yaitu Musa) bersafar mencarinya karena Khadir memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Firman Allah :فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا [ الكهف / 65 ]“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Qs Al-Kahf : 65Para pasukan Nabi Sulaiman –alaihissalam- pun demikian, yang paling luas ilmunya di antara mereka adalah yang paling kuat.Firman Allah :قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ [ النمل / 40 ] “ Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Qs An-Naml : 40Allah –subhanahu wa ta’ala- menyebut-nyebut sejumlah nikmat yang Dia karuniakan kepada rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-. Dalam konteks ini nikmat ilmu lah yang menduduki peringkat paling utama.Firman Allah :وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ [ النساء : 113 ]“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui”. Qs An-Nisa : 113Allah -subhanahu wa ta’ala- tidaklah menyuruh nabi-Nya untuk menambah suatu apapun kecuali tambahan ilmu. Firman Allah :وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا [ طه / 114 ] “Katakanlah, Ya Tuhanku, tambahlah untukku suatu ilmu”. Qs Thaha : 114Ilmu merupakan warisan para nabi. Pewarisnya pastilah insan-insan terbaik sesudah para nabi dan yang terdekat kepada mereka.Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : إِّنَّ الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa memperoleh warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” HR. Tirmidzi.Allah –subhanahu wa ta’ala- mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas Ketuhanan-Nya ( Uluhiyah-Nya ). Allah berfirman : شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ [ آل عمران / 18 ]“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Qs Ali Imran : 18 Allah- subhanahu wa ta’ala – juga mempersaksikan kepada para penyandang ilmu atas kebatilan pernyataan orang-orang kafir.Firman Allah  :وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [ الروم / 56 ]“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)”. Qs Ar-Rum : 56Maka hanya dengan kepemilikan ilmu, seseorang bisa takut dan taat kepada Allah.  Firman Allah :إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ  [ فاطر / 28 ]“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu”. Qs Fathir : 28Az-Zuhri –rahimahullah- berkata :مَا عُبِدَ اللهُ بِمِثْلِ الْعِلْمِ“Allah tidaklah diibadahi seperti ibadah ilmu”. Meraih ilmu merupakan suatu prestasi kebaikan dan kesuksesan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :”  مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ ” متفق عليه“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan padanya maka Allah akan menjadikannya faqih (faham) dalam agama”. Muttafaq alaih Manusia pilihan adalah manusia yang paling banyak ilmunya. Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” فَخِيَارُكُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا ” متفق عليه“Sebaik-baiknya kalian pada masa jahiliyah adalah yang terbaik di antara kalian pada masa Islam, jika mereka paham agama.” Muttafaq alaihi. Ilmu merupakan neraca untuk mengetahui tingkatan kualitas amal seseorang dan kadar derajatnya. Dengan ilmu, amal seseorang menjadi berkualitas dan tumbuh bersih. Kemurnian akidah seseorang dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah serta pengamalan sunnah nabiNya tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Firman Allah :فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ  [ محمد /19 ]“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan sesembahan kecuali Allah”. Qs Muhammad : 19Di sini Allah –subhanahu wa ta’ala- memulai penyebutan ilmu sebelum ucapan dan pengamalan. Ilmu adalah penuntun dan panglima terlaksananya suatu amal. Maka setiap amal yang tidak dibimbing oleh ilmu tidaklah berguna bagi pelakunya bahkan menjadi senjata makan tuan.Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa dibarengi ilmu, maka ibadahnya lebih banyak mendatangkan kemudharatan dari pada kemaslahatan. Suatu kemusyrikan dan perbuatan bid’ah tidaklah mungkin terjadi kecuali disebabkan kurangnya ilmu dan jauhnya pelakunya dari ulama.Kesesatan adalah identik dengan kebodohan. Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala – memerintahkan kita untuk selalu memohon perlindungan kepadaNya dari jalan orang-orang yang tersesat pada setiap rakaat shalat kita. Allah-subhanahu wa ta’ala- pun menafikan penyamaan antara orang yang  berilmu dan orang yang tidak berilmu. Tidak mungkin sama, seperti tidak samanya orang hidup dengan orang mati, orang yang bisa melihat dengan orang tuna netra. Firman Allah :قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ  [ الزمر/ 9 ]“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Qs Az-Zumar : 9Dengan ilmu pula masyarakat menjadi hidup dan bersinar. Firman Allah :أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا [ الأنعام / 122 ]“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang tidak akan dapat keluar dari padanya?”. Qs Al-An’am : 122Kepiawaian seseorang dan pemahamannya terhadap agama merupakan ciri khas orang yang beriman. Dada mereka memancarkan cahaya ilmu, sebagaimana firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ [ العنكبوت/49]“Sebenarnya, Al Quran itu ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. Qs Al-Ankabut : 49 Di dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari 40 ayat tentang perumpamaan (dalam kehidupan). Hal itu memerlukan ilmu untuk dapat menangkap dan memahami makna yang dimaksudkan. Firman Allah :وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ [ العنكبوت / 43 ]“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. Qs Al-Ankabut : 43Ketika sebagian ulama salaf mendengar perumpamaan (dalam Al-Qur’an), namun perumpamaan itu tidak membuatnya mengerti maksudnya, menangislah dia lalu mengatakan : “Aku tidak termasuk orang-orang yang berilmu”. Rahmat kasih sayang Allah serta selalu menyelimuti majlis-majlis ilmu dan peserta kajian ilmu, demikian juga para malaikat menaungi mereka dan turut hadir mersama mereka. Sabda Nabi :وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ“Dan sesungguhnya para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai apresiasi keridhaan kepada penuntut ilmu”. HR Tirmizi.Ibnul-Qayim –rahimahullah- berkata :” ولو لم يكن فى العلم إلا القرب من رب العالمين والإلتحاق بعالم الملائكة وصحبة الملإ الأعلى لكفى به فضلا وشرفا فكيف وعز الدنيا والآخرة منوط به ومشروط بحصوله “ “Andaikata ilmu itu tidak memiliki pengaruh apa-apa selain dapat mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan semesta alam dan memungkinkannya bergabung dengan alam malaikat serta persahabatan dengan komunitas pilihan di langit, niscaya hal itu sudah cukup sebagai anugerah dan kehormatan, belum lagi kejayaan dunia dan derajat seseorang di akhirat sangat ditentukan oleh ilmu dan tergantung pada perolehan ilmu “.Majelis mereka penuh dengan hikmah, dan mereka adalah sebaik-baik teladan bagi umat ini. Manfaat mereka selain kembali pada diri mereka sendiri, juga menular kepada orang lain. Karenanya semuanya memuji mereka dan mendoakan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى معلم النَّاس الْخَيْر“Dan sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, serta para penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada di lubangnya dan juga ikan, benar-benar mendoakan kebaikan bagi pengajar kebaikan bagi manusia” (HR At-Tirmidzi) Berusaha menuntut ilmu termasuk berjihad di jalan Allah. Abu Ad-Dardaa’ radhiallahu ‘anhu berkata ;مَنْ رَأَى الْغُدُوَّ وَالرَّوَاحَ إِلَى الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ فِي عَقْلِهِ وَرَأْيِهِ“Barangsiapa yang memandang bahwa pergi di pagi hari dan pulang di sore hari karena menuntut ilmu bukanlah jihad, maka sungguh telah kurang akalnya dan pandangannya” Berlomba dan bersaing dalam ilmu adalah perkara yang terpuji, dan tidak ada hasad dalam dua orang, yaitu seorang yang berbuat baik apakah dengan amalnya atau dengan hartanya. Adapun selain dua orang ini maka tidak dihasadi karena sedikit manfaatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَة فَهُوَ يقْضِي بهَا وَيعلمهَا“Tidak ada hasad kecuali pada dua orang, seorang yang Allah berikan kepadanya harta, lantas ia menghabiskannya pada kebenaran, dan seorang yang Allah anugrahkan kepadanya al-hikmah (ilmu) maka ia berhukum dengan ilmu tersebut dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Telah jelas di syari’at dan taqdir bahwasanya balasan sesuai dengan perbuatan, maka barangsiapa yang menempuh jalan ilmu maka ia telah menempuh jalan menuju surga, dan jalan ilmu adalah jalan termudah menuju surga dan yang paling menyenangkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّل اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إَلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim) Ilmu syar’i adalah benteng dari fitnah-fitnah dan musibah dan bencana. Al-Imam Malik rahimahullah berkata ;إِنَّ أَقْوَامًا ابْتَغَوْا الْعِبَادَةَ وَأَضَاعُوا الْعِلْمَ فَخَرَجُوا عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسْيَافِهِمْ، وَلَوْ ابْتَغَوا الْعِلْمَ لَحَجَزَهُمْ عَنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya beberapa kaum mencari ibadah dan meninggalkan ilmu lalu merekapun memberontak terhadap umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menghunus pedang-pedang mereka. Seandainya mereka mencari ilmu tentu ilmu akan mencegah mereka dari perbuatan tersebut” Karena begitu besar manfaat ilmu maka datang perintah untuk menyampaikannya dan menyebarkannya di seluruh penjuru. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً“Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat” (HR Al-Bukhari)Allah memerintahkan untuk bertanya kepada ahli ilmu dan kembali kepada ahli ilmu  :فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui” (QS An-Nahl : 43)Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mendoakan ahli ilmu agar bercahaya, yaitu indah dan berserinya wajah serta lapangnya dada, beliau berdoa :نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى لَهُ مِنْ سَامِعٍ“Semoga Allah menjadikan bercahaya wajah orang yang mendengar dari kami sesuatu lalu menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar, dan betapa banyak orang yang disampaikan lebih paham dari yang mendengar” (HR At-Tirmidzi)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mendoakan orang yang beliau cintai agar menjadi ahli ilmu, beliau berdoa untuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhumaa :اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Ya Allah jadikanlah ia faqih dalam agama” (HR Al-Bukhari dan Muslim)      Dengan ilmu derajat seseorang terangkat di dunia dan setelah meninggal. Allah berfirman :يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (Qs Al-Mujadalah : 11)Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :فَمَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَذَاكَ يُدْعَى عَظِيْمًا فِي مَلَكُوْتُ السَّمَاوَاتِ“Barangsiapa yang berilmu dan beramal serta mengajarkannya maka ia akan dipanggil sebagai orang yang agung di kerajaan langit” (Zaadul Ma’aad 3/9)Manfaat ilmu akan terus mengikuti pemiliknya setelah ia meninggal selama ilmunya masih terus bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له“Jika seorang manusia telah meninggal, maka terputuslah amalannya darinya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim)Ilmu yang paling afdhol dan yang paling mulia dan dialah yang dipuji dalam dalil-dalil adalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah dan nama-namaNya serta sifat-sifatNya, dan ia adalah tujuan dari penciptaanNya dan perintahNya. Allah berfirman :اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنزلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah maha kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu” (QS At-Tholaq : 12)Wajib atas setiap muslim untuk berusaha mempelajari ilmu-ilmu yang wajib, yang dengannya ia meluruskan tauhidnya, sholatnya, dan puasanya. Dan hendaknya ia mengorbankan sebagian waktunya untuk hal itu, janganlah ia merasa berat untuk menghadiri halaqoh dan majelis-majelis ilmu. Lihatlah Musa –kaliimullah- padahal ia termasuk para rasul ulul ‘azmi, ia tetap bersafar demi ilmu dan menempuh kesulitan keletihan dalam jalan mencari ilmu. Ia bersikap dengan penuh kelembutan kepada Khodir seraya berkata :هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi : 66)Wajib bagi penuntut ilmu untuk mengagungkan ilmu dan meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat disertai dengan berprasangka baik kepada Allah, demikian juga wajib baginya untuk senantiasa bertakwa karena takwa merupakan penolong terbaik untuk meraih ilmu. Dan hendaknya niatnya ikhlash karena mencari wajah Allah, bukan dalam rangka untuk mendebat orang-orang yang bodoh, bukan juga untuk mendebat para ulama. Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang ia tidak ketahui. Selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah telah menjanjikan bahwasanya barangsiapa yang menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan urusannya dan menganugrahkan kepadanya apa yang tidak ia sangka-sangka. Allah berfirman :اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah !, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” (QS Al-‘Alaq : 3)Jalan untuk menuntut ilmu adalah jalan yang gampang dan mudah, yaitu menghapal al-Qur’an, dan sebagian sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan matan-matan pilihan yang ditulis oleh para ulama, disertai dengan pemahaman dan pengamalan. Maka dengan inilah seseorang meraih keridhoan Allah dan surga yang tinggi.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukوَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS At-Taubah 122)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung !!=======Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan bagiNya atas taufiqNya dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan keluarganya serta para sahabatnya, demikian juga tercurahkan salam yang banyak. Kaum muslimin sekalian! Para ulama umat ini dari yang terdahulu maupun yang belakangan tidaklah mereka disebut kecuali dengan kebaikan. Karena hak mereka atas umat adalah besar, yaitu dengan mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, serta kembali kepada mereka dan mengambil ilmu dari mereka. Dan mengagungkan ahli ilmu termasuk dari mengagungkan agama, karena mereka adalah pemikul agama ini dan yang terpercaya atas agama. Maka barangsiapa yang berpaling dari jalan ini dalam menyikapi para ulama maka ia telah tersesat.Membenci mereka dan memusuhi mereka adalah bentuk kurangnya akal, dan penyimpangan dari fitrah, dan hal ini pertanda bahwa Allah akan memeranginya dan menghukumnya. Allah berfirman dalam hadits qudsi :مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ“Barangsiapa yang memusuhi waliKu maka aku telah mengungumkan peperangan kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim) Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholawat dan salam kepada nabiNya…=======  Selesai  ======Penerjemah: Utsman Hatim dan Firanda Andirjahttps://firanda.com/ 

Nikmat Allah Kepada Kita

Maha suci Allah, dalam kelemahan dan kekurangan manusia Allah berikan kenikmatan. Sungguh nikmat tidur baru bisa dirasakan tatkala seorang dalam kondisi lemah dan letih tak bertenaga. Nikmat lezatnya makanan begitu terasa tatkala seorang dalam kondisi lapar. Nikmatnya lezatnya minuman tatkala dalam kondisi dahaga.Jika kenyang maka makanan selezat apapun tdk terasa lezat.

Nikmat Allah Kepada Kita

Maha suci Allah, dalam kelemahan dan kekurangan manusia Allah berikan kenikmatan. Sungguh nikmat tidur baru bisa dirasakan tatkala seorang dalam kondisi lemah dan letih tak bertenaga. Nikmat lezatnya makanan begitu terasa tatkala seorang dalam kondisi lapar. Nikmatnya lezatnya minuman tatkala dalam kondisi dahaga.Jika kenyang maka makanan selezat apapun tdk terasa lezat.
Maha suci Allah, dalam kelemahan dan kekurangan manusia Allah berikan kenikmatan. Sungguh nikmat tidur baru bisa dirasakan tatkala seorang dalam kondisi lemah dan letih tak bertenaga. Nikmat lezatnya makanan begitu terasa tatkala seorang dalam kondisi lapar. Nikmatnya lezatnya minuman tatkala dalam kondisi dahaga.Jika kenyang maka makanan selezat apapun tdk terasa lezat.


Maha suci Allah, dalam kelemahan dan kekurangan manusia Allah berikan kenikmatan. Sungguh nikmat tidur baru bisa dirasakan tatkala seorang dalam kondisi lemah dan letih tak bertenaga. Nikmat lezatnya makanan begitu terasa tatkala seorang dalam kondisi lapar. Nikmatnya lezatnya minuman tatkala dalam kondisi dahaga.Jika kenyang maka makanan selezat apapun tdk terasa lezat.

Kaedah Interaksi Sesama

Ada beberapa kaedah yang bisa kami sarikan dari para ulama tentang kaedah berinteraksi atau bergaul atau menyikapi orang lain.   Kaedah pertama dari Imam Al-Ghazali, وَحُسْنُ الخُلُقِ بِالناس هُوَ أَلاَّ تَحْمِلُ النَّاسَ عَلَى مُرَادِ نَفْسِكَ بَلْ تَحْمِلُ عَلَى مُرَادِهِمْ مَا لَمْ يُخَالِفِ الشَّرْعَ “Cara berakhak terhadap sesama adalah memperlakukan orang lain bukan distandarkan pada keinginan kita, namun distandarkan pada keinginan mereka selama tidak menyelisihi syari’at.” (Ayyuhal Walad, hlm. 63) Contoh: Apa standar makanan yang diberikan pada tamu kita? Tergantung pada tamu tersebut. Siapa tahu tamu yang kita layani punya pantangan pada makanan tertentu yang tidak cocok dengan daerah kita, maka pantangannya tadi jangan diberi. Sehingga memberikan sajian makan –misalnya- bukan pakai standar kita, namun standar siapa yang kita layani.   Kaedah kedua, تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ تَبْعاً لاِخْتِلاَفِ العَلاَقَةِ: الوالد مع ولده, الزوج مع زوجته, الرئيس مع مرؤوسه, والعكس “Cara interaksi berbeda-beda tergantung pada status hubungan. Sehingga berbeda cara interaksi antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara kepala negara dan rakyatnya, begitu pula sebaliknya.”   Kaedah ketiga, أَنَّ التَّعَامُلَ يَتَغَيَّرُ بِاخْتِلاَفِ الأَفْهَامِ وَالعُقُوْلِ. فَالرَّجُلُ الذَّكِيُّ الفَاهِمُ الوَاعِي تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ تَعَامُلِهِ عَنِ الشَّخْصِ الآخَرِ المحْدُوْدِ العَقْلِ المحْدُوْدِ الفَهْمِ المحْدُوْدِ العِلْمِ, فَالحَدِيْثُ مَعَهُ يَكُوْنُ مُنَاسِباً لِطَبِيْعَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى الفَهْمِ. “Berinteraksi melihat pula dari latar belakang pemahaman dan kecerdasan yang tentu berbeda-beda. Beinteraksi dengan orang yang cerdas, mudah paham dan pinar tentu berbeda dengan orang yang logikanya, daya pahamnya dan ilmunya terbatas. Sehingga ketika berbicara pula hendaklah memperhatikan tabi’at dan kemampuan pemahamannya.”   Kaedah keempat, يَخْتَلِفُ أُسْلُوْبُ التَّعَامُلِ أَيْضًا بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّةِ. فَطَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ مِنْ شَخْصٍ شَكَّاكٍ وَحَسَّاسٍ تَخْتَلِفُ عَنْهَا مَعَ شَخْصٍ سَوِيٍّ, فَالطَّرِيْقَةُ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّاتِ وَالصِّفَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ بَارِزَةً فِيْهِمْ. “Cara berinteraksi pula kadang mesti memandang sifat masing-masing orang. Sifat seseorang ada yang penuh dengan keragu-raguan, ada pula yang begitu sensitif. Seperti itu disikapi berbeda dengan orang yang biasa-biasa saja (berada dalam sifat yang lurus). Sehingga cara interaksi dengannya adalah tergantung apa yang dilihat pada sifat yang nampak pada dirinya.”   Referensi: http://www.saaid.net/Doat/aljarallh/2.htm Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj. — 20 Rabi’uts Tsani 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsteman bergaul tetangga

Kaedah Interaksi Sesama

Ada beberapa kaedah yang bisa kami sarikan dari para ulama tentang kaedah berinteraksi atau bergaul atau menyikapi orang lain.   Kaedah pertama dari Imam Al-Ghazali, وَحُسْنُ الخُلُقِ بِالناس هُوَ أَلاَّ تَحْمِلُ النَّاسَ عَلَى مُرَادِ نَفْسِكَ بَلْ تَحْمِلُ عَلَى مُرَادِهِمْ مَا لَمْ يُخَالِفِ الشَّرْعَ “Cara berakhak terhadap sesama adalah memperlakukan orang lain bukan distandarkan pada keinginan kita, namun distandarkan pada keinginan mereka selama tidak menyelisihi syari’at.” (Ayyuhal Walad, hlm. 63) Contoh: Apa standar makanan yang diberikan pada tamu kita? Tergantung pada tamu tersebut. Siapa tahu tamu yang kita layani punya pantangan pada makanan tertentu yang tidak cocok dengan daerah kita, maka pantangannya tadi jangan diberi. Sehingga memberikan sajian makan –misalnya- bukan pakai standar kita, namun standar siapa yang kita layani.   Kaedah kedua, تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ تَبْعاً لاِخْتِلاَفِ العَلاَقَةِ: الوالد مع ولده, الزوج مع زوجته, الرئيس مع مرؤوسه, والعكس “Cara interaksi berbeda-beda tergantung pada status hubungan. Sehingga berbeda cara interaksi antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara kepala negara dan rakyatnya, begitu pula sebaliknya.”   Kaedah ketiga, أَنَّ التَّعَامُلَ يَتَغَيَّرُ بِاخْتِلاَفِ الأَفْهَامِ وَالعُقُوْلِ. فَالرَّجُلُ الذَّكِيُّ الفَاهِمُ الوَاعِي تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ تَعَامُلِهِ عَنِ الشَّخْصِ الآخَرِ المحْدُوْدِ العَقْلِ المحْدُوْدِ الفَهْمِ المحْدُوْدِ العِلْمِ, فَالحَدِيْثُ مَعَهُ يَكُوْنُ مُنَاسِباً لِطَبِيْعَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى الفَهْمِ. “Berinteraksi melihat pula dari latar belakang pemahaman dan kecerdasan yang tentu berbeda-beda. Beinteraksi dengan orang yang cerdas, mudah paham dan pinar tentu berbeda dengan orang yang logikanya, daya pahamnya dan ilmunya terbatas. Sehingga ketika berbicara pula hendaklah memperhatikan tabi’at dan kemampuan pemahamannya.”   Kaedah keempat, يَخْتَلِفُ أُسْلُوْبُ التَّعَامُلِ أَيْضًا بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّةِ. فَطَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ مِنْ شَخْصٍ شَكَّاكٍ وَحَسَّاسٍ تَخْتَلِفُ عَنْهَا مَعَ شَخْصٍ سَوِيٍّ, فَالطَّرِيْقَةُ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّاتِ وَالصِّفَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ بَارِزَةً فِيْهِمْ. “Cara berinteraksi pula kadang mesti memandang sifat masing-masing orang. Sifat seseorang ada yang penuh dengan keragu-raguan, ada pula yang begitu sensitif. Seperti itu disikapi berbeda dengan orang yang biasa-biasa saja (berada dalam sifat yang lurus). Sehingga cara interaksi dengannya adalah tergantung apa yang dilihat pada sifat yang nampak pada dirinya.”   Referensi: http://www.saaid.net/Doat/aljarallh/2.htm Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj. — 20 Rabi’uts Tsani 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsteman bergaul tetangga
Ada beberapa kaedah yang bisa kami sarikan dari para ulama tentang kaedah berinteraksi atau bergaul atau menyikapi orang lain.   Kaedah pertama dari Imam Al-Ghazali, وَحُسْنُ الخُلُقِ بِالناس هُوَ أَلاَّ تَحْمِلُ النَّاسَ عَلَى مُرَادِ نَفْسِكَ بَلْ تَحْمِلُ عَلَى مُرَادِهِمْ مَا لَمْ يُخَالِفِ الشَّرْعَ “Cara berakhak terhadap sesama adalah memperlakukan orang lain bukan distandarkan pada keinginan kita, namun distandarkan pada keinginan mereka selama tidak menyelisihi syari’at.” (Ayyuhal Walad, hlm. 63) Contoh: Apa standar makanan yang diberikan pada tamu kita? Tergantung pada tamu tersebut. Siapa tahu tamu yang kita layani punya pantangan pada makanan tertentu yang tidak cocok dengan daerah kita, maka pantangannya tadi jangan diberi. Sehingga memberikan sajian makan –misalnya- bukan pakai standar kita, namun standar siapa yang kita layani.   Kaedah kedua, تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ تَبْعاً لاِخْتِلاَفِ العَلاَقَةِ: الوالد مع ولده, الزوج مع زوجته, الرئيس مع مرؤوسه, والعكس “Cara interaksi berbeda-beda tergantung pada status hubungan. Sehingga berbeda cara interaksi antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara kepala negara dan rakyatnya, begitu pula sebaliknya.”   Kaedah ketiga, أَنَّ التَّعَامُلَ يَتَغَيَّرُ بِاخْتِلاَفِ الأَفْهَامِ وَالعُقُوْلِ. فَالرَّجُلُ الذَّكِيُّ الفَاهِمُ الوَاعِي تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ تَعَامُلِهِ عَنِ الشَّخْصِ الآخَرِ المحْدُوْدِ العَقْلِ المحْدُوْدِ الفَهْمِ المحْدُوْدِ العِلْمِ, فَالحَدِيْثُ مَعَهُ يَكُوْنُ مُنَاسِباً لِطَبِيْعَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى الفَهْمِ. “Berinteraksi melihat pula dari latar belakang pemahaman dan kecerdasan yang tentu berbeda-beda. Beinteraksi dengan orang yang cerdas, mudah paham dan pinar tentu berbeda dengan orang yang logikanya, daya pahamnya dan ilmunya terbatas. Sehingga ketika berbicara pula hendaklah memperhatikan tabi’at dan kemampuan pemahamannya.”   Kaedah keempat, يَخْتَلِفُ أُسْلُوْبُ التَّعَامُلِ أَيْضًا بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّةِ. فَطَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ مِنْ شَخْصٍ شَكَّاكٍ وَحَسَّاسٍ تَخْتَلِفُ عَنْهَا مَعَ شَخْصٍ سَوِيٍّ, فَالطَّرِيْقَةُ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّاتِ وَالصِّفَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ بَارِزَةً فِيْهِمْ. “Cara berinteraksi pula kadang mesti memandang sifat masing-masing orang. Sifat seseorang ada yang penuh dengan keragu-raguan, ada pula yang begitu sensitif. Seperti itu disikapi berbeda dengan orang yang biasa-biasa saja (berada dalam sifat yang lurus). Sehingga cara interaksi dengannya adalah tergantung apa yang dilihat pada sifat yang nampak pada dirinya.”   Referensi: http://www.saaid.net/Doat/aljarallh/2.htm Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj. — 20 Rabi’uts Tsani 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsteman bergaul tetangga


Ada beberapa kaedah yang bisa kami sarikan dari para ulama tentang kaedah berinteraksi atau bergaul atau menyikapi orang lain.   Kaedah pertama dari Imam Al-Ghazali, وَحُسْنُ الخُلُقِ بِالناس هُوَ أَلاَّ تَحْمِلُ النَّاسَ عَلَى مُرَادِ نَفْسِكَ بَلْ تَحْمِلُ عَلَى مُرَادِهِمْ مَا لَمْ يُخَالِفِ الشَّرْعَ “Cara berakhak terhadap sesama adalah memperlakukan orang lain bukan distandarkan pada keinginan kita, namun distandarkan pada keinginan mereka selama tidak menyelisihi syari’at.” (Ayyuhal Walad, hlm. 63) Contoh: Apa standar makanan yang diberikan pada tamu kita? Tergantung pada tamu tersebut. Siapa tahu tamu yang kita layani punya pantangan pada makanan tertentu yang tidak cocok dengan daerah kita, maka pantangannya tadi jangan diberi. Sehingga memberikan sajian makan –misalnya- bukan pakai standar kita, namun standar siapa yang kita layani.   Kaedah kedua, تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ تَبْعاً لاِخْتِلاَفِ العَلاَقَةِ: الوالد مع ولده, الزوج مع زوجته, الرئيس مع مرؤوسه, والعكس “Cara interaksi berbeda-beda tergantung pada status hubungan. Sehingga berbeda cara interaksi antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara kepala negara dan rakyatnya, begitu pula sebaliknya.”   Kaedah ketiga, أَنَّ التَّعَامُلَ يَتَغَيَّرُ بِاخْتِلاَفِ الأَفْهَامِ وَالعُقُوْلِ. فَالرَّجُلُ الذَّكِيُّ الفَاهِمُ الوَاعِي تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ تَعَامُلِهِ عَنِ الشَّخْصِ الآخَرِ المحْدُوْدِ العَقْلِ المحْدُوْدِ الفَهْمِ المحْدُوْدِ العِلْمِ, فَالحَدِيْثُ مَعَهُ يَكُوْنُ مُنَاسِباً لِطَبِيْعَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى الفَهْمِ. “Berinteraksi melihat pula dari latar belakang pemahaman dan kecerdasan yang tentu berbeda-beda. Beinteraksi dengan orang yang cerdas, mudah paham dan pinar tentu berbeda dengan orang yang logikanya, daya pahamnya dan ilmunya terbatas. Sehingga ketika berbicara pula hendaklah memperhatikan tabi’at dan kemampuan pemahamannya.”   Kaedah keempat, يَخْتَلِفُ أُسْلُوْبُ التَّعَامُلِ أَيْضًا بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّةِ. فَطَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ مِنْ شَخْصٍ شَكَّاكٍ وَحَسَّاسٍ تَخْتَلِفُ عَنْهَا مَعَ شَخْصٍ سَوِيٍّ, فَالطَّرِيْقَةُ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّاتِ وَالصِّفَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ بَارِزَةً فِيْهِمْ. “Cara berinteraksi pula kadang mesti memandang sifat masing-masing orang. Sifat seseorang ada yang penuh dengan keragu-raguan, ada pula yang begitu sensitif. Seperti itu disikapi berbeda dengan orang yang biasa-biasa saja (berada dalam sifat yang lurus). Sehingga cara interaksi dengannya adalah tergantung apa yang dilihat pada sifat yang nampak pada dirinya.”   Referensi: http://www.saaid.net/Doat/aljarallh/2.htm Ayyuhal Walad. Cetakan pertama, tahun 1434 H. Imam Al-Ghazali. Penerbit Darul Minhaj. — 20 Rabi’uts Tsani 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsteman bergaul tetangga

Bagi yang Mandul, Allah akan Menyiapkan Anak di Surga

Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul

Bagi yang Mandul, Allah akan Menyiapkan Anak di Surga

Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul
Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul


Ada wanita yang bertahun-tahun belum ditakdirkan memiliki keturunan. Dan ia sangat merindukan sekali dengan kehadiran bayi di rumahnya. Sebagai hiburan … Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di surga kelak. . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Dari hadits di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun tidak mendapatkannya di dunia, maka ia akan mendapatkannya di surga. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa di surga memang ada jima’ (hubungan intim), namun tidak menghasilkan anak atau keturunan. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Thawus, Mujahid, dan Ibrahim An-Nakha’i. Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحَيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا ، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ “Wanita shalih dengan pria shalih di surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun mereka tidak memiliki anak.” (HR. Ahmad, 4: 13. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if karena musalsal bil mahajahil) Ibnul Qayyim sampai-sampai menjelaskan, “Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam surga tidak mengalami kematian dan tidak pula menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.” (Haadi Al-Arwah, 1: 173) Namun cara kompromi yang baik dari dua dalil yang kelihatan kontradiksi di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Al-Munawi berikut. Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh Al-Qadir (6: 335) bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak. Namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.” Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan, وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)   Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Yang belum mendapatkan keturunan, moga Allah mudahkan atau ganti dengan yang lebih baik.   — Selesai disusun di pagi hari @ Darush Sholihin, Warak, Panggang, GK, 18 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmandul

Bahaya Nonton Film Porno (2)

Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang

Bahaya Nonton Film Porno (2)

Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang
Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang


Bahaya lainnya dari melihat film atau video porno dan gambar wanita telanjang adalah karena yang dilihat adalah aurat. Aurat yang dilihat adalah aurat sesama jenis dan juga aurat lawan jenis.   Pertama, Allah perintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An-Nur: 30)   Kedua, aurat diperintahkan untuk dijaga bukan dipamerkan dalam adegan mesum. Dalam hadits disebutkan, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 32: 89).   Ketiga, aurat orang lain tidak boleh ditonton baik sesama jenis atau bahkan dengan lawan jenis. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338) Imam Nawawi menerangkan hadits riwayat Muslim di atas, “Adapun laki-laki melihat aurat laki-laki, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan, tetap dihukumi haram. Hal ini tidak ada beda pendapat di dalamnya. Begitu pula laki-laki melihat aurat perempuan, begitu pula sebaliknya, itu juga haram berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan haramnya laki-laki melihat aurat sesama laki-laki, ini menunjukkan bahwa melihat aurat lawan jenis jelas saja tidak boleh.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 30) Sedangkan yang ada dalam adegan film porno adalah melihat laki-laki dan perempuan telanjang, bukan sekedar melihat aurat. Masihkah halal menonton film porno? Semoga Allah beri hidayah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaurat pornografi telanjang

Aqiqah Sebelum Hari Ketujuh

Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah

Aqiqah Sebelum Hari Ketujuh

Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah
Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah


Sahkah aqiqah sebelum hari ketujuh? Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits, عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838; An-Nasa’i, no. 4225; Ibnu Majah, no. 3165; Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan hari ketujuh adalah dihitung dari hari kelahiran. Jika bayi lahir sebelum waktu Maghrib, maka hari tersebut masuk dalam hitungan hari ketujuh. Lihat keterangan Imam Nawawi sebelumnya di sini: Perhitungan Hari Ketujuh Aqiqah. Berikut keterangan dari para ulama apakah sah jika dilakukan sebelum hari ketujuh. Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Semoga jadi bekal ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, GK, Rabu, 17 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah

Pernah Tahu atau Rasakan Sendiri

Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang

Pernah Tahu atau Rasakan Sendiri

Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang
Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang


Gara-gara tak sengaja atau berlalu begitu sengaja melihat gambar wanita telanjang, hafalan Quran bisa hilang. Yang diherankan, ada yang diketahui suka baca Al-Qur’an, bahkan suaranya merdu, namun sayangnya sukanya nonton “film gituan”. Ternyata ketika ditelusuri, hafalan Qur’annya saat dites sering “tersendat-sendat”. Itu lantaran pandangan matanya tak bisa dijaga dari maksiat. Memang benar, Al-Qur’an akan sulit melekat pada ahli maksiat. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المعَاصِي وَقَالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللهِ لاَيُؤْتَاهُ عَاصٍ “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah karunia. Karunia Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) Apa yang disebutkan di atas dalam bait sya’ir menunjukkan bahwa maksiat itu menghalangi datangnya ilmu, termasuk dalam hal menghafal Al-Qur’an. Ketika hati ketika berbuat maksiat adalah seperti disebutkan dalam ayat berikut ini, كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14). Walau memang istilah dalam ayat adalah untuk orang kafir. Karena ada tiga istilah yang menerangkan tentang hati: Ar-rain, keadaan hati orang kafir. Al-ghaim, keadaan hati abrar (wali Allah pertengahan). Al-ghain, keadaan hati muqarrabin (wali Allah terdepan). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 511) Namun keadaan hati yang bermaksiat tetap makin gelap seperti diterangkan pula dalam hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi, no. 3334; Ibnu Majah, no. 4244; Ibnu Hibban, 7: 27; Ahmad 2: 297. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan). Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 512) Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 283) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Kata Al-Hasan Al-Bashri pula, “Itu adalah dosa yang menumpuk di atas dosa sehingga membuat hati menjadi kelam.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 93) Semoga kita tidak menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Qur’an gara-gara kelamnya maksiat yang menutupi hati.   Referensi: Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’. Cetakan kedua, tahun 1430 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab al quran manajemen hati pornografi telanjang

Bahaya Nonton Film Porno (1)

Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Bahaya Nonton Film Porno (1)

Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang


Benarkan jadi halal menonton film atau video porno atau sering memandang wanita telanjang yang penting tidak sampai berzina? Sempat ada yang bertanya seperti ini:   “Kalau semisal kita sering melihat film porno, tetapi tidak melakukan zina dan bisa menahan hawa nafsu. Kalau sekedar melihat saja tetapi tidak melakukan (zina), hukumnya apa yah? Mohon pencerahannya.”   Dari situ ada komentar yang menarik yang kami pilih di komentar status kami di Facebook: Berawal dari zina mata, masuk ke otak dan pasti pkirannya ikut negatif, seluruh anggota tubuh bisa jadi ikut tergerak ke hal negatif. Sama saja zina, dampaknya berkepanjangan, merusak otak. (Greni) Minimal dia akan terjerumus dalam dosa besar ustadz, yakni onani. Lalu pikiran dan otaknya akan selalu membayangkan hal-hal tersebut hingga melakukannya berkali-kali. Dan pula, setan akan membisikkan terus agar dia terus mengulangi perbuatan tersebut hingga terjadi perzinaan. (Seno) Rasanya melihat aurat lawan jenis bukan mahram saja sudah satu kesalahan ya ustadz, apalagi bila terus menerus, bukan tidak mungkin tayangan itu menempel lekat di benak sehingga membuyarkan hafalannya. (Supriyanto) Siap-siap mati rasa terhadap istri Anda. Sering nonton film porno siap-siap istri Anda menjadi wanita terjelek menurut Anda. Karena nantinya Anda akan sering berfantasi dengan wanita-wanita yang lebih cantik yang ada di video. (Ayah Salman) Film porno atau foto merusak bagiam otak memori di dalam hippocampus karena efek dopamin seperti narkoba membuat penikmatnya addict sehingga fokus diluar film xxx atau foto xxx seperti pelajaran atau hapalan quran menjadi hilang. Ini menurut psikologi klinis atau psikiatri barat yang saya pelajari di Fakultas Psikologi. (Abu Sagara)   Yang jelas menonton film porno bisa mengantarkan pada zina, cuma barangkali belum ada kesempatan saja atau ada penghalang. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).   Penjelasan lengkapnya, nantikan di bahasan selanjutnya insya Allah.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 16 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Hobi Melihat Wanita Telanjang

Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Hobi Melihat Wanita Telanjang

Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang
Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang


Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ “Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani) Ibnul Qayyim berkata, وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin. Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang? Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina. — Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspornografi telanjang

Doa Agar Tidak Terjerumus dalam Zina

Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina

Doa Agar Tidak Terjerumus dalam Zina

Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina
Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina


Semua mengetahui bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman pun dari zina sebenarnya bisa terjerumus dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina. Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut haditsnya. Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Yang dimaksud dengan lafazh terakhir, berlindung pada kejelekan mani. Maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib. Yang disebutkan dalam do’a di atas adalah dengan mani, yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu. Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.   Baca pula artikel Rumaysho[dot]Com: Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (1) dan Agar Tidak Terjerumus dalam Zina (2)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina. — Selesai disusun 14.00 WIB di Darush Sholihin, Panggang, GK, 14 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa zina

Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik

Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik
Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik


Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar. Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya). Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah, وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191) Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.   UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan. Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه “Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.” Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.” Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253) Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2)  Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas. Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.   Referensi: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdosa besar fitnah ghibah syirik
Prev     Next