Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc (Yogyakarta, 15 Januari 2017)

🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam

Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc (Yogyakarta, 15 Januari 2017)

🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam
🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam


🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam

Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata

Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit

Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata

Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit
Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit


Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

10 Kaedah Memahami Riba (Presentasi)

Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba

10 Kaedah Memahami Riba (Presentasi)

Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba
Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba


Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba

Yang Penting Khosyah

Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah

Yang Penting Khosyah

Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah
Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah


Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah

Biar Tertarik Belajar Agama (2)

Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Biar Tertarik Belajar Agama (2)

Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri
Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri


Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Biar Tertarik Belajar Agama (1)

Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Biar Tertarik Belajar Agama (1)

Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri
Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri


Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Dampak Fitnah (3)

Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah

Dampak Fitnah (3)

Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah
Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah


Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah

Dampak Fitnah (1)

Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Dampak Fitnah (1)

Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh
Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh


Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Derajat Mulia Penuntut Ilmu Agama

Dalam kesempatan kali ini, mari kita renungkan empat ayat dari Al Qur’anul Karim berikut ini:(1). Dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman :يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).(2). Dalam surat Al Anfal ayat 2-4. Allah Ta’ala berfirman :إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (Al Anfal 2-4)(3). Dalam surat Thaha ayat 75. Allah Ta’ala berfirman :وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal salih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia) “ ( Thaha : 75)(4). Dalam surat An Nisaa’ ayat 95-96. Allah Ta’ala berfirman :وَفَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً دَرَجَاتٍ مِّنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً“… dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) kedudukan beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan, serta rahmat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisaa’ : 95-96).Dalam empat ayat di atas, tiga di antaranya adalah penyebutan pengangkatan derajat bagi ahli iman, yaitu yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sedangkan ayat yang keempat adalah penyebutan pengangkatan derajat dengan melakukan jihad. Dengan demikian seluruh pengangkatan derajat seorang hamba yang disebutkan di dalam Al Qur’an kembalinya kepada masalah ilmu dan jihad, yang dengan dua hal tersebut agama ini akan tegak. ( Miftaah Daaris Sa’adah li Ibnil Qayyim 1/224).Imam Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa dalam firman Allah (يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ) mencakup pengangkatan derajat di dunia dan di akhirat. Sedangkan dalam firman-Nya (وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ) maksudnya Allah mengangkat derajat orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di dunia serta pahala di akhirat. Maka barangsiapa menggabungkan iman dan ilmu niscaya Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan imannya dan mengangkat pula beberapa derajat dengan ilmunya. Dengan demikian semua pengangkatan derajat tersebut terkumpul dalam majelis ilmu. (Fathul Qadir 767).***Dinukil dari Fadhlul ‘Ilmi wa Adabu Thalabatihi wa Thuruqu Tahsiilihi Wa Jam’ihi karya Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hafidzahullah.Penerjemah : Ustadz dr. Adika MianokiArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah

Derajat Mulia Penuntut Ilmu Agama

Dalam kesempatan kali ini, mari kita renungkan empat ayat dari Al Qur’anul Karim berikut ini:(1). Dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman :يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).(2). Dalam surat Al Anfal ayat 2-4. Allah Ta’ala berfirman :إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (Al Anfal 2-4)(3). Dalam surat Thaha ayat 75. Allah Ta’ala berfirman :وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal salih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia) “ ( Thaha : 75)(4). Dalam surat An Nisaa’ ayat 95-96. Allah Ta’ala berfirman :وَفَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً دَرَجَاتٍ مِّنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً“… dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) kedudukan beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan, serta rahmat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisaa’ : 95-96).Dalam empat ayat di atas, tiga di antaranya adalah penyebutan pengangkatan derajat bagi ahli iman, yaitu yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sedangkan ayat yang keempat adalah penyebutan pengangkatan derajat dengan melakukan jihad. Dengan demikian seluruh pengangkatan derajat seorang hamba yang disebutkan di dalam Al Qur’an kembalinya kepada masalah ilmu dan jihad, yang dengan dua hal tersebut agama ini akan tegak. ( Miftaah Daaris Sa’adah li Ibnil Qayyim 1/224).Imam Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa dalam firman Allah (يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ) mencakup pengangkatan derajat di dunia dan di akhirat. Sedangkan dalam firman-Nya (وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ) maksudnya Allah mengangkat derajat orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di dunia serta pahala di akhirat. Maka barangsiapa menggabungkan iman dan ilmu niscaya Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan imannya dan mengangkat pula beberapa derajat dengan ilmunya. Dengan demikian semua pengangkatan derajat tersebut terkumpul dalam majelis ilmu. (Fathul Qadir 767).***Dinukil dari Fadhlul ‘Ilmi wa Adabu Thalabatihi wa Thuruqu Tahsiilihi Wa Jam’ihi karya Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hafidzahullah.Penerjemah : Ustadz dr. Adika MianokiArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah
Dalam kesempatan kali ini, mari kita renungkan empat ayat dari Al Qur’anul Karim berikut ini:(1). Dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman :يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).(2). Dalam surat Al Anfal ayat 2-4. Allah Ta’ala berfirman :إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (Al Anfal 2-4)(3). Dalam surat Thaha ayat 75. Allah Ta’ala berfirman :وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal salih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia) “ ( Thaha : 75)(4). Dalam surat An Nisaa’ ayat 95-96. Allah Ta’ala berfirman :وَفَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً دَرَجَاتٍ مِّنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً“… dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) kedudukan beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan, serta rahmat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisaa’ : 95-96).Dalam empat ayat di atas, tiga di antaranya adalah penyebutan pengangkatan derajat bagi ahli iman, yaitu yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sedangkan ayat yang keempat adalah penyebutan pengangkatan derajat dengan melakukan jihad. Dengan demikian seluruh pengangkatan derajat seorang hamba yang disebutkan di dalam Al Qur’an kembalinya kepada masalah ilmu dan jihad, yang dengan dua hal tersebut agama ini akan tegak. ( Miftaah Daaris Sa’adah li Ibnil Qayyim 1/224).Imam Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa dalam firman Allah (يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ) mencakup pengangkatan derajat di dunia dan di akhirat. Sedangkan dalam firman-Nya (وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ) maksudnya Allah mengangkat derajat orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di dunia serta pahala di akhirat. Maka barangsiapa menggabungkan iman dan ilmu niscaya Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan imannya dan mengangkat pula beberapa derajat dengan ilmunya. Dengan demikian semua pengangkatan derajat tersebut terkumpul dalam majelis ilmu. (Fathul Qadir 767).***Dinukil dari Fadhlul ‘Ilmi wa Adabu Thalabatihi wa Thuruqu Tahsiilihi Wa Jam’ihi karya Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hafidzahullah.Penerjemah : Ustadz dr. Adika MianokiArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah


Dalam kesempatan kali ini, mari kita renungkan empat ayat dari Al Qur’anul Karim berikut ini:(1). Dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman :يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).(2). Dalam surat Al Anfal ayat 2-4. Allah Ta’ala berfirman :إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (Al Anfal 2-4)(3). Dalam surat Thaha ayat 75. Allah Ta’ala berfirman :وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal salih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia) “ ( Thaha : 75)(4). Dalam surat An Nisaa’ ayat 95-96. Allah Ta’ala berfirman :وَفَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً دَرَجَاتٍ مِّنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً“… dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) kedudukan beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan, serta rahmat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisaa’ : 95-96).Dalam empat ayat di atas, tiga di antaranya adalah penyebutan pengangkatan derajat bagi ahli iman, yaitu yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sedangkan ayat yang keempat adalah penyebutan pengangkatan derajat dengan melakukan jihad. Dengan demikian seluruh pengangkatan derajat seorang hamba yang disebutkan di dalam Al Qur’an kembalinya kepada masalah ilmu dan jihad, yang dengan dua hal tersebut agama ini akan tegak. ( Miftaah Daaris Sa’adah li Ibnil Qayyim 1/224).Imam Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa dalam firman Allah (يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ) mencakup pengangkatan derajat di dunia dan di akhirat. Sedangkan dalam firman-Nya (وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ) maksudnya Allah mengangkat derajat orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di dunia serta pahala di akhirat. Maka barangsiapa menggabungkan iman dan ilmu niscaya Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan imannya dan mengangkat pula beberapa derajat dengan ilmunya. Dengan demikian semua pengangkatan derajat tersebut terkumpul dalam majelis ilmu. (Fathul Qadir 767).***Dinukil dari Fadhlul ‘Ilmi wa Adabu Thalabatihi wa Thuruqu Tahsiilihi Wa Jam’ihi karya Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hafidzahullah.Penerjemah : Ustadz dr. Adika MianokiArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah

Khitan (Sunat) Disyariatkan Dalam Islam

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: “bagaimana cara khitan (sunat) bagi anak-anak?”. Beliau menjawab:Khitan (sunat) adalah salah satu sunnah fitrah yang muakkadah (sangat dianjurkan). Sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah wajib. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas dan sekelompok Ulama: sunnat hukumnya wajib bagi laki-laki.Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:الفطرة خمس -يعني السنة خمس- الختان والاستحداد وقلم الأظافر وقص الشارب ونتف الإبط“Sunnah fitrah yang lima adalah khitan (sunat), istihdad (mencukur rambut kemaluan), memotong kuku, mencukur kumir, dan mencabut rambut ketiak” (HR. Bukhari 5889, Muslim 257).Dan khitan adalah sunnah fitrah yang paling ditekankan. Caranya dengan memotong kulup yang berada di atas zakar hingga kepala penis keluar dan menonjol. Orang yang biasa menyunat sudah paham kulup tersebut. Memotongnya di usia anak-anak itu lebih utama, karena memang lebih mudah dilakukan ketika masih anak-anak. Tidak boleh menundanya hingga usia baligh. Bahkan wajib menyegerakannya sebelum baligh.Namun melakukannya di usia anak-anak, seperti misalnya ketika masih menyusui, atau ketika setelah lahir pada hari ke-7 atau setelahnya, sedini mungkin, itu lebih utama.Dan sunat ini adalah sunnah fitrah yang sangat ditekankan, sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib untuk laki-laki. Dan ia sunnah hukumnya bagi wanita, jika memang ada lelaki atau wanita yang bisa melakukannya.Yang jelas semua Muslim disyariatkan untuk melakukan khitan, berdasarkan hadits di atas.***Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/48863/Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Tauhid, Perintah Membaca Al Quran, Cara Berpakaian Islami, Suudzon Tulisan Arab, Sejarah Liberalisme Di Indonesia

Khitan (Sunat) Disyariatkan Dalam Islam

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: “bagaimana cara khitan (sunat) bagi anak-anak?”. Beliau menjawab:Khitan (sunat) adalah salah satu sunnah fitrah yang muakkadah (sangat dianjurkan). Sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah wajib. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas dan sekelompok Ulama: sunnat hukumnya wajib bagi laki-laki.Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:الفطرة خمس -يعني السنة خمس- الختان والاستحداد وقلم الأظافر وقص الشارب ونتف الإبط“Sunnah fitrah yang lima adalah khitan (sunat), istihdad (mencukur rambut kemaluan), memotong kuku, mencukur kumir, dan mencabut rambut ketiak” (HR. Bukhari 5889, Muslim 257).Dan khitan adalah sunnah fitrah yang paling ditekankan. Caranya dengan memotong kulup yang berada di atas zakar hingga kepala penis keluar dan menonjol. Orang yang biasa menyunat sudah paham kulup tersebut. Memotongnya di usia anak-anak itu lebih utama, karena memang lebih mudah dilakukan ketika masih anak-anak. Tidak boleh menundanya hingga usia baligh. Bahkan wajib menyegerakannya sebelum baligh.Namun melakukannya di usia anak-anak, seperti misalnya ketika masih menyusui, atau ketika setelah lahir pada hari ke-7 atau setelahnya, sedini mungkin, itu lebih utama.Dan sunat ini adalah sunnah fitrah yang sangat ditekankan, sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib untuk laki-laki. Dan ia sunnah hukumnya bagi wanita, jika memang ada lelaki atau wanita yang bisa melakukannya.Yang jelas semua Muslim disyariatkan untuk melakukan khitan, berdasarkan hadits di atas.***Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/48863/Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Tauhid, Perintah Membaca Al Quran, Cara Berpakaian Islami, Suudzon Tulisan Arab, Sejarah Liberalisme Di Indonesia
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: “bagaimana cara khitan (sunat) bagi anak-anak?”. Beliau menjawab:Khitan (sunat) adalah salah satu sunnah fitrah yang muakkadah (sangat dianjurkan). Sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah wajib. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas dan sekelompok Ulama: sunnat hukumnya wajib bagi laki-laki.Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:الفطرة خمس -يعني السنة خمس- الختان والاستحداد وقلم الأظافر وقص الشارب ونتف الإبط“Sunnah fitrah yang lima adalah khitan (sunat), istihdad (mencukur rambut kemaluan), memotong kuku, mencukur kumir, dan mencabut rambut ketiak” (HR. Bukhari 5889, Muslim 257).Dan khitan adalah sunnah fitrah yang paling ditekankan. Caranya dengan memotong kulup yang berada di atas zakar hingga kepala penis keluar dan menonjol. Orang yang biasa menyunat sudah paham kulup tersebut. Memotongnya di usia anak-anak itu lebih utama, karena memang lebih mudah dilakukan ketika masih anak-anak. Tidak boleh menundanya hingga usia baligh. Bahkan wajib menyegerakannya sebelum baligh.Namun melakukannya di usia anak-anak, seperti misalnya ketika masih menyusui, atau ketika setelah lahir pada hari ke-7 atau setelahnya, sedini mungkin, itu lebih utama.Dan sunat ini adalah sunnah fitrah yang sangat ditekankan, sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib untuk laki-laki. Dan ia sunnah hukumnya bagi wanita, jika memang ada lelaki atau wanita yang bisa melakukannya.Yang jelas semua Muslim disyariatkan untuk melakukan khitan, berdasarkan hadits di atas.***Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/48863/Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Tauhid, Perintah Membaca Al Quran, Cara Berpakaian Islami, Suudzon Tulisan Arab, Sejarah Liberalisme Di Indonesia


Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: “bagaimana cara khitan (sunat) bagi anak-anak?”. Beliau menjawab:Khitan (sunat) adalah salah satu sunnah fitrah yang muakkadah (sangat dianjurkan). Sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah wajib. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas dan sekelompok Ulama: sunnat hukumnya wajib bagi laki-laki.Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:الفطرة خمس -يعني السنة خمس- الختان والاستحداد وقلم الأظافر وقص الشارب ونتف الإبط“Sunnah fitrah yang lima adalah khitan (sunat), istihdad (mencukur rambut kemaluan), memotong kuku, mencukur kumir, dan mencabut rambut ketiak” (HR. Bukhari 5889, Muslim 257).Dan khitan adalah sunnah fitrah yang paling ditekankan. Caranya dengan memotong kulup yang berada di atas zakar hingga kepala penis keluar dan menonjol. Orang yang biasa menyunat sudah paham kulup tersebut. Memotongnya di usia anak-anak itu lebih utama, karena memang lebih mudah dilakukan ketika masih anak-anak. Tidak boleh menundanya hingga usia baligh. Bahkan wajib menyegerakannya sebelum baligh.Namun melakukannya di usia anak-anak, seperti misalnya ketika masih menyusui, atau ketika setelah lahir pada hari ke-7 atau setelahnya, sedini mungkin, itu lebih utama.Dan sunat ini adalah sunnah fitrah yang sangat ditekankan, sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib untuk laki-laki. Dan ia sunnah hukumnya bagi wanita, jika memang ada lelaki atau wanita yang bisa melakukannya.Yang jelas semua Muslim disyariatkan untuk melakukan khitan, berdasarkan hadits di atas.***Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/48863/Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Tauhid, Perintah Membaca Al Quran, Cara Berpakaian Islami, Suudzon Tulisan Arab, Sejarah Liberalisme Di Indonesia

Dampak Fitnah (2)

Peringatan terhadap Fitnah dalam Al Qur’an dan As-SunnahDi dalam Al Qur’an dan As-Sunnah terdapat dalil-dalil tentang peringatan terhadap fitnah dan perintah untuk menjauhinya, di antaranya adalah firman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. Al-Anfaal: 25).Perhatikanlah dalam hadis di bawah ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah dajjal. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian telah selesai tasyahhud (akhir) [dalam riwayat lain jika  salah seorang diantara kalian  selesai dari tasyahhud akhir], maka hendaknya ia memonon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dengan mengatakan اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Ya Allah, sesungguhnya ini berlindung kepadamu dari adzab Jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah masih dajjal” (HR. Muslim: 588).Sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ستكون فتن القاعد فيها خير من الماشي، والماشي خير من الساعي “Akan datang beberapa fitnah, (dalam masalah itu) orang yang duduk  lebih baik daripada orang yang berjalan, sedangkan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berjalan cepat” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).Maksud hadis di atas adalah sebagai informasi bahwa setiap kali seseorang menjauh dari usaha menggerakkan fitnah, maka semakin baik dan semakin bermanfaat baginya. Iapun memohon kepada Allah untuk melindungi dirinya dan melindungi kaum muslimin dari keburukan fitnah. Dalam Shahih Muslim, dari hadis Zaid bin Tsabit, dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam bahwa beliau bersabda,تعوذوا بالله من الفتن من ظهر منها وما بطن“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah zhohir maupun batin”Beginilah sikap Salafsush Sholeh terhadap FitnahBab tentang memahami dampak-dampak buruk fitnah itu sangatlah besar faedahnya bagi manusia, karena hal itu akan menghasilkan sikap berhati-hati dari terjatuh kepada fitnah sehingga iapun terjaga darinya, sebagaimana sebuah ungkapan Bahasa Arab,السعيد من اتعظ بغيره “Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari kejadian yang pernah terjadi pada orang lain”.Seorang hamba yang terpuji adalah orang yang memahami dan mempelajari dampak-dampak negatif fitnah dan ia mau bertanya kepada ulama sebelum terjadinya fitnah, barangkali di dalam fitnah tersebut terdapat celah yang menjerumuskan dirinya kedalam jurang pembuka pintu keburukan bagi dirinya dan bagi orang lain, lalu iapun bisa menghindarinya.Suatu saat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ  مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ“Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya” (HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Firman Allah Tentang Rezeki, Asmaul Husna Al Fattah, Silsilah Nabi Nuh, Proses Hijrah Muslimah, Sami'na Wa Atho'na Arabic

Dampak Fitnah (2)

Peringatan terhadap Fitnah dalam Al Qur’an dan As-SunnahDi dalam Al Qur’an dan As-Sunnah terdapat dalil-dalil tentang peringatan terhadap fitnah dan perintah untuk menjauhinya, di antaranya adalah firman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. Al-Anfaal: 25).Perhatikanlah dalam hadis di bawah ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah dajjal. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian telah selesai tasyahhud (akhir) [dalam riwayat lain jika  salah seorang diantara kalian  selesai dari tasyahhud akhir], maka hendaknya ia memonon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dengan mengatakan اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Ya Allah, sesungguhnya ini berlindung kepadamu dari adzab Jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah masih dajjal” (HR. Muslim: 588).Sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ستكون فتن القاعد فيها خير من الماشي، والماشي خير من الساعي “Akan datang beberapa fitnah, (dalam masalah itu) orang yang duduk  lebih baik daripada orang yang berjalan, sedangkan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berjalan cepat” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).Maksud hadis di atas adalah sebagai informasi bahwa setiap kali seseorang menjauh dari usaha menggerakkan fitnah, maka semakin baik dan semakin bermanfaat baginya. Iapun memohon kepada Allah untuk melindungi dirinya dan melindungi kaum muslimin dari keburukan fitnah. Dalam Shahih Muslim, dari hadis Zaid bin Tsabit, dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam bahwa beliau bersabda,تعوذوا بالله من الفتن من ظهر منها وما بطن“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah zhohir maupun batin”Beginilah sikap Salafsush Sholeh terhadap FitnahBab tentang memahami dampak-dampak buruk fitnah itu sangatlah besar faedahnya bagi manusia, karena hal itu akan menghasilkan sikap berhati-hati dari terjatuh kepada fitnah sehingga iapun terjaga darinya, sebagaimana sebuah ungkapan Bahasa Arab,السعيد من اتعظ بغيره “Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari kejadian yang pernah terjadi pada orang lain”.Seorang hamba yang terpuji adalah orang yang memahami dan mempelajari dampak-dampak negatif fitnah dan ia mau bertanya kepada ulama sebelum terjadinya fitnah, barangkali di dalam fitnah tersebut terdapat celah yang menjerumuskan dirinya kedalam jurang pembuka pintu keburukan bagi dirinya dan bagi orang lain, lalu iapun bisa menghindarinya.Suatu saat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ  مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ“Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya” (HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Firman Allah Tentang Rezeki, Asmaul Husna Al Fattah, Silsilah Nabi Nuh, Proses Hijrah Muslimah, Sami'na Wa Atho'na Arabic
Peringatan terhadap Fitnah dalam Al Qur’an dan As-SunnahDi dalam Al Qur’an dan As-Sunnah terdapat dalil-dalil tentang peringatan terhadap fitnah dan perintah untuk menjauhinya, di antaranya adalah firman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. Al-Anfaal: 25).Perhatikanlah dalam hadis di bawah ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah dajjal. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian telah selesai tasyahhud (akhir) [dalam riwayat lain jika  salah seorang diantara kalian  selesai dari tasyahhud akhir], maka hendaknya ia memonon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dengan mengatakan اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Ya Allah, sesungguhnya ini berlindung kepadamu dari adzab Jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah masih dajjal” (HR. Muslim: 588).Sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ستكون فتن القاعد فيها خير من الماشي، والماشي خير من الساعي “Akan datang beberapa fitnah, (dalam masalah itu) orang yang duduk  lebih baik daripada orang yang berjalan, sedangkan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berjalan cepat” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).Maksud hadis di atas adalah sebagai informasi bahwa setiap kali seseorang menjauh dari usaha menggerakkan fitnah, maka semakin baik dan semakin bermanfaat baginya. Iapun memohon kepada Allah untuk melindungi dirinya dan melindungi kaum muslimin dari keburukan fitnah. Dalam Shahih Muslim, dari hadis Zaid bin Tsabit, dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam bahwa beliau bersabda,تعوذوا بالله من الفتن من ظهر منها وما بطن“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah zhohir maupun batin”Beginilah sikap Salafsush Sholeh terhadap FitnahBab tentang memahami dampak-dampak buruk fitnah itu sangatlah besar faedahnya bagi manusia, karena hal itu akan menghasilkan sikap berhati-hati dari terjatuh kepada fitnah sehingga iapun terjaga darinya, sebagaimana sebuah ungkapan Bahasa Arab,السعيد من اتعظ بغيره “Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari kejadian yang pernah terjadi pada orang lain”.Seorang hamba yang terpuji adalah orang yang memahami dan mempelajari dampak-dampak negatif fitnah dan ia mau bertanya kepada ulama sebelum terjadinya fitnah, barangkali di dalam fitnah tersebut terdapat celah yang menjerumuskan dirinya kedalam jurang pembuka pintu keburukan bagi dirinya dan bagi orang lain, lalu iapun bisa menghindarinya.Suatu saat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ  مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ“Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya” (HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Firman Allah Tentang Rezeki, Asmaul Husna Al Fattah, Silsilah Nabi Nuh, Proses Hijrah Muslimah, Sami'na Wa Atho'na Arabic


Peringatan terhadap Fitnah dalam Al Qur’an dan As-SunnahDi dalam Al Qur’an dan As-Sunnah terdapat dalil-dalil tentang peringatan terhadap fitnah dan perintah untuk menjauhinya, di antaranya adalah firman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. Al-Anfaal: 25).Perhatikanlah dalam hadis di bawah ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah dajjal. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian telah selesai tasyahhud (akhir) [dalam riwayat lain jika  salah seorang diantara kalian  selesai dari tasyahhud akhir], maka hendaknya ia memonon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dengan mengatakan اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Ya Allah, sesungguhnya ini berlindung kepadamu dari adzab Jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah masih dajjal” (HR. Muslim: 588).Sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,ستكون فتن القاعد فيها خير من الماشي، والماشي خير من الساعي “Akan datang beberapa fitnah, (dalam masalah itu) orang yang duduk  lebih baik daripada orang yang berjalan, sedangkan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berjalan cepat” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).Maksud hadis di atas adalah sebagai informasi bahwa setiap kali seseorang menjauh dari usaha menggerakkan fitnah, maka semakin baik dan semakin bermanfaat baginya. Iapun memohon kepada Allah untuk melindungi dirinya dan melindungi kaum muslimin dari keburukan fitnah. Dalam Shahih Muslim, dari hadis Zaid bin Tsabit, dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam bahwa beliau bersabda,تعوذوا بالله من الفتن من ظهر منها وما بطن“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah zhohir maupun batin”Beginilah sikap Salafsush Sholeh terhadap FitnahBab tentang memahami dampak-dampak buruk fitnah itu sangatlah besar faedahnya bagi manusia, karena hal itu akan menghasilkan sikap berhati-hati dari terjatuh kepada fitnah sehingga iapun terjaga darinya, sebagaimana sebuah ungkapan Bahasa Arab,السعيد من اتعظ بغيره “Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari kejadian yang pernah terjadi pada orang lain”.Seorang hamba yang terpuji adalah orang yang memahami dan mempelajari dampak-dampak negatif fitnah dan ia mau bertanya kepada ulama sebelum terjadinya fitnah, barangkali di dalam fitnah tersebut terdapat celah yang menjerumuskan dirinya kedalam jurang pembuka pintu keburukan bagi dirinya dan bagi orang lain, lalu iapun bisa menghindarinya.Suatu saat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ  مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ“Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya” (HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Firman Allah Tentang Rezeki, Asmaul Husna Al Fattah, Silsilah Nabi Nuh, Proses Hijrah Muslimah, Sami'na Wa Atho'na Arabic
Prev     Next