Kajian Kitab 6 Hari di Gunungkidul

Ada enam hari kajian kitab di Gunungkidul secara rutin yang bisa diikuti, ada yang di Panggang dan Wonosari.   Bersama: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang, pernah berguru pada Syaikh Shalih Al-Fauzan dan mendapatkan sanad berbagai kitab dari Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi)   5 Kajian di: @ Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul   # Rabu (Malam Kamis) Kajian Riyadhus Sholihin – Fadhilah Amal karya Imam Nawawi dan Tafsir Surat Yasin (secara bergantian tiap pekan) Waktu: 19.45 – 21.15 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   # Jum’at (Malam Sabtu) Kajian Tafsir Juz ‘Amma dan Shahih Fikih Sunnah Wanita karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus puteri dan ibu-ibu   # Sabtu Siang Kajian Tafsir Surat An-Nuur Waktu: Ba’da Zhuhur – 13.30 WIB * khusus remaja puteri dan ibu-ibu   # Ahad Pagi Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: Ba’da Shubuh – 06.00 WIB (dilanjutkan sarapan pagi) * khusus remaja putera, bapak-bapak dan para takmir   # Malam Senin Legi Kajian Ketakmiran Tematik dari Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus putera, bapak-bapak dan para takmir — 1 Kajian di: Masjid Pesantren Al-I’tisham Putera, Kepek, Wonosari   # Ahad Kliwon Kajian Kitab ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Waktu: 08.00 – 09.00 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_GK_rumaysho# nama# alamat   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam

Kajian Kitab 6 Hari di Gunungkidul

Ada enam hari kajian kitab di Gunungkidul secara rutin yang bisa diikuti, ada yang di Panggang dan Wonosari.   Bersama: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang, pernah berguru pada Syaikh Shalih Al-Fauzan dan mendapatkan sanad berbagai kitab dari Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi)   5 Kajian di: @ Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul   # Rabu (Malam Kamis) Kajian Riyadhus Sholihin – Fadhilah Amal karya Imam Nawawi dan Tafsir Surat Yasin (secara bergantian tiap pekan) Waktu: 19.45 – 21.15 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   # Jum’at (Malam Sabtu) Kajian Tafsir Juz ‘Amma dan Shahih Fikih Sunnah Wanita karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus puteri dan ibu-ibu   # Sabtu Siang Kajian Tafsir Surat An-Nuur Waktu: Ba’da Zhuhur – 13.30 WIB * khusus remaja puteri dan ibu-ibu   # Ahad Pagi Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: Ba’da Shubuh – 06.00 WIB (dilanjutkan sarapan pagi) * khusus remaja putera, bapak-bapak dan para takmir   # Malam Senin Legi Kajian Ketakmiran Tematik dari Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus putera, bapak-bapak dan para takmir — 1 Kajian di: Masjid Pesantren Al-I’tisham Putera, Kepek, Wonosari   # Ahad Kliwon Kajian Kitab ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Waktu: 08.00 – 09.00 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_GK_rumaysho# nama# alamat   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam
Ada enam hari kajian kitab di Gunungkidul secara rutin yang bisa diikuti, ada yang di Panggang dan Wonosari.   Bersama: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang, pernah berguru pada Syaikh Shalih Al-Fauzan dan mendapatkan sanad berbagai kitab dari Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi)   5 Kajian di: @ Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul   # Rabu (Malam Kamis) Kajian Riyadhus Sholihin – Fadhilah Amal karya Imam Nawawi dan Tafsir Surat Yasin (secara bergantian tiap pekan) Waktu: 19.45 – 21.15 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   # Jum’at (Malam Sabtu) Kajian Tafsir Juz ‘Amma dan Shahih Fikih Sunnah Wanita karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus puteri dan ibu-ibu   # Sabtu Siang Kajian Tafsir Surat An-Nuur Waktu: Ba’da Zhuhur – 13.30 WIB * khusus remaja puteri dan ibu-ibu   # Ahad Pagi Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: Ba’da Shubuh – 06.00 WIB (dilanjutkan sarapan pagi) * khusus remaja putera, bapak-bapak dan para takmir   # Malam Senin Legi Kajian Ketakmiran Tematik dari Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus putera, bapak-bapak dan para takmir — 1 Kajian di: Masjid Pesantren Al-I’tisham Putera, Kepek, Wonosari   # Ahad Kliwon Kajian Kitab ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Waktu: 08.00 – 09.00 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_GK_rumaysho# nama# alamat   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam


Ada enam hari kajian kitab di Gunungkidul secara rutin yang bisa diikuti, ada yang di Panggang dan Wonosari.   Bersama: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang, pernah berguru pada Syaikh Shalih Al-Fauzan dan mendapatkan sanad berbagai kitab dari Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi)   5 Kajian di: @ Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul   # Rabu (Malam Kamis) Kajian Riyadhus Sholihin – Fadhilah Amal karya Imam Nawawi dan Tafsir Surat Yasin (secara bergantian tiap pekan) Waktu: 19.45 – 21.15 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   # Jum’at (Malam Sabtu) Kajian Tafsir Juz ‘Amma dan Shahih Fikih Sunnah Wanita karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus puteri dan ibu-ibu   # Sabtu Siang Kajian Tafsir Surat An-Nuur Waktu: Ba’da Zhuhur – 13.30 WIB * khusus remaja puteri dan ibu-ibu   # Ahad Pagi Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: Ba’da Shubuh – 06.00 WIB (dilanjutkan sarapan pagi) * khusus remaja putera, bapak-bapak dan para takmir   # Malam Senin Legi Kajian Ketakmiran Tematik dari Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Waktu: 20.00 – 21.30 WIB * khusus putera, bapak-bapak dan para takmir — 1 Kajian di: Masjid Pesantren Al-I’tisham Putera, Kepek, Wonosari   # Ahad Kliwon Kajian Kitab ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Waktu: 08.00 – 09.00 WIB * jama’ah umum (putera dan puteri)   —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_GK_rumaysho# nama# alamat   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam

Kita Belum Ikhlas

Kita barangkali yang kurang dalam keikhlasan, sehingga dakwah kita sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita. الإخلاص من أعظم أسباب القبول Ingat, ikhlas itu sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian. قال البيهقي في «المدخل إلى علم السنن» ٤٢/١: «سمعت أبا عبدالرحمن السلمي يقول: سمعت محمد بن أحمد الفراء يقول: قيل لحمدون القصار: ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا؟ Al-Baihaqi dalam Al-Madkahl ila ‘Ilmi As-Sunan 1: 42 berkata: Aku pernah mendengar Abu ‘Abdurrahman As-Silmi, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Muhammad bin Ahmad Al-Fara’ berkata bahwa ada yang bertanya pada Hamdun Al-Qasshar: “Kenapa sampai perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?” قال: لأنهم تكلموا لعز الإسلام، ونجاة النفوس، وورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس، وطلب الدنيا، وقبول الخلق». Ia berkata, “Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan, dan mereka hanya cari ridha Ar-Rahman. Sedangkan kalau kita berucap hanya mencari ketenaran diri, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar.” Semoga kita bisa terus memperbaiki keikhlasan kita.   Sumber: https://telegram.me/assdais (Channel Telegram Abdurrahman As-Sudais) — Ditulis saat perjalan Panggang-Jogja, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas

Kita Belum Ikhlas

Kita barangkali yang kurang dalam keikhlasan, sehingga dakwah kita sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita. الإخلاص من أعظم أسباب القبول Ingat, ikhlas itu sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian. قال البيهقي في «المدخل إلى علم السنن» ٤٢/١: «سمعت أبا عبدالرحمن السلمي يقول: سمعت محمد بن أحمد الفراء يقول: قيل لحمدون القصار: ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا؟ Al-Baihaqi dalam Al-Madkahl ila ‘Ilmi As-Sunan 1: 42 berkata: Aku pernah mendengar Abu ‘Abdurrahman As-Silmi, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Muhammad bin Ahmad Al-Fara’ berkata bahwa ada yang bertanya pada Hamdun Al-Qasshar: “Kenapa sampai perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?” قال: لأنهم تكلموا لعز الإسلام، ونجاة النفوس، وورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس، وطلب الدنيا، وقبول الخلق». Ia berkata, “Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan, dan mereka hanya cari ridha Ar-Rahman. Sedangkan kalau kita berucap hanya mencari ketenaran diri, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar.” Semoga kita bisa terus memperbaiki keikhlasan kita.   Sumber: https://telegram.me/assdais (Channel Telegram Abdurrahman As-Sudais) — Ditulis saat perjalan Panggang-Jogja, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas
Kita barangkali yang kurang dalam keikhlasan, sehingga dakwah kita sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita. الإخلاص من أعظم أسباب القبول Ingat, ikhlas itu sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian. قال البيهقي في «المدخل إلى علم السنن» ٤٢/١: «سمعت أبا عبدالرحمن السلمي يقول: سمعت محمد بن أحمد الفراء يقول: قيل لحمدون القصار: ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا؟ Al-Baihaqi dalam Al-Madkahl ila ‘Ilmi As-Sunan 1: 42 berkata: Aku pernah mendengar Abu ‘Abdurrahman As-Silmi, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Muhammad bin Ahmad Al-Fara’ berkata bahwa ada yang bertanya pada Hamdun Al-Qasshar: “Kenapa sampai perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?” قال: لأنهم تكلموا لعز الإسلام، ونجاة النفوس، وورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس، وطلب الدنيا، وقبول الخلق». Ia berkata, “Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan, dan mereka hanya cari ridha Ar-Rahman. Sedangkan kalau kita berucap hanya mencari ketenaran diri, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar.” Semoga kita bisa terus memperbaiki keikhlasan kita.   Sumber: https://telegram.me/assdais (Channel Telegram Abdurrahman As-Sudais) — Ditulis saat perjalan Panggang-Jogja, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas


Kita barangkali yang kurang dalam keikhlasan, sehingga dakwah kita sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita. الإخلاص من أعظم أسباب القبول Ingat, ikhlas itu sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian. قال البيهقي في «المدخل إلى علم السنن» ٤٢/١: «سمعت أبا عبدالرحمن السلمي يقول: سمعت محمد بن أحمد الفراء يقول: قيل لحمدون القصار: ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا؟ Al-Baihaqi dalam Al-Madkahl ila ‘Ilmi As-Sunan 1: 42 berkata: Aku pernah mendengar Abu ‘Abdurrahman As-Silmi, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Muhammad bin Ahmad Al-Fara’ berkata bahwa ada yang bertanya pada Hamdun Al-Qasshar: “Kenapa sampai perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?” قال: لأنهم تكلموا لعز الإسلام، ونجاة النفوس، وورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس، وطلب الدنيا، وقبول الخلق». Ia berkata, “Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan, dan mereka hanya cari ridha Ar-Rahman. Sedangkan kalau kita berucap hanya mencari ketenaran diri, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar.” Semoga kita bisa terus memperbaiki keikhlasan kita.   Sumber: https://telegram.me/assdais (Channel Telegram Abdurrahman As-Sudais) — Ditulis saat perjalan Panggang-Jogja, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas

Ketentuan dan Cara Menyembelih Qurban

Ini adalah hadits pertama dari kitab Bulughul Maram, Bab Udhiyyah (Qurban). Hadits kali ini membicarakan tentang keutamaan qurban dan ketentuan hewan qurban, serta cara menyembelihnya. عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ. وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ – وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين ِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ, وَيَقُولُ: – بِسْمِ اَللَّهِ. وَاَللَّهُ أَكْبَرُ -. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua gibas (domba jantan) berwarna putih yang bertanduk. Ketika menyembelih beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di pipi kedua gibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua gibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahihnya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  gibas yang istimewa (berharga).”[1] Dalam lafazh Muslim disebutkan bahwa beliau mengucapkan “Bismillah wallahu Akbar” (dengan nama Allah dan Allah Maha Besar).   Beberapa faedah dari hadits di atas: Hadits di atas menunjukkan disyari’atkannya qurban. Hadits di atas memotivasi kita untuk berqurban karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya sebagai bentuk ketaatan dan taqarrub pada Allah. Selama yang beliau perbuat tidak menjadi kekhususan bagi beliau, maka hukum perbuatan tersebut adalah sunnah bagi umatnya. Para ulama sepakat bahwa qurban adalah bagian dari syi’ar Islam. Mereka hanyalah berbeda pendapat saja mengenai hukum qurban, apakah wajib ataukah sunnah. Hadits ini menunjukkan bahwa qurban yang paling baik adalah dengan domba karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakannya untuk qurban. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Malik rahimahullah. Namun tiga ulama madzhab lainnya berpendapat bahwa yang paling afdhal secara urutan adalah unta, sapi, kemudian kambing (domba). Pendapat ini berdasarkan hadits keutamaan shalat Jum’at di mana yang datang lebih awal mendapatkan pahala seperti ia berqurban dengan unta, setelahnya lagi berqurban dengan sapi, setelahnya lagi berqurban dengan kambing. Sebagaimana hadits tersebut disebutkan dalam Shahih Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850). Hewan jantan lebih afdhal untuk diqurbankan daripada hewan betina. Walaupun kalau berqurban dengan betina tetap sah berdasarkan ijma’ (sepakat para ulama). Dianjurkan berqurban dengan menggunakan hewan yang bertanduk. Walaupun berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk pun tetap sah berdasarkan kata sepakat ulama. Hendaknya hewan qurban yang ingin disembelih dipilih yang terbaik dari sisi sifat dan warna. Hewan yang terbaik secara sifat adalah yang gemuk, yang warnanya putih atau putih lebih mendominasi daripada hitam. Inilah bentuk dari mengagungkan syari’at Allah. Dianjurkan seseorang menyembelih qurbannya sendiri kalau memang mampu dan bagus dalam menyembelih qurban. Disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa Abu Musa pernah memerintahkan anak-anak perempuannya untuk menyembelih qurban dengan tangan mereka sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Fath Al-Bari (10: 19). Namun jika memang tidak bagus dalam menyembelih qurban, maka bisa mencari wakil dengan syarat yaitu seorang muslim dan mengilmu syarat-syarat menyembelih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu meminta ‘Ali bin Abi Thalib untuk mengganti beliau menyembelih qurban dari sisa unta yang belum disembelih pada haji wada’, sebagaimana riwayatnya terdapat dalam Shahih Muslim, no. 1218 dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang sifat haji nabi yang dijelaskan begitu panjang. Boleh berqurban lebih dari satu selama tidak maksud untuk pamer atau menyombongkan diri. Jika ingin berqurban lebih dari satu, baiknya tetap dilakukan pada hari Idul Adha. Namun jika ingin disembelih satunya di hari Idul Adha, lainnya di hari tasyriq, itu pun boleh. Jika dipisah harinya seperti itu, juga punya manfaat untuk orang miskin. Penyembelihan qurban tersebut bisa dilakukan hingga tenggelamnya matahari di hari ketigabelas dari bulan Dzulhijjah menurut pendapat yang paling kuat. Diperintahkan membaca tasmiyah dan takbir saat menyembelih qurban (bismillah wallahu akbar). Adapun membaca bismillah, hukumnya wajib. Sedangkan membaca takbir (Allahu akbar), hukumnya sunnah menurut jumhur atau mayoritas ulama. Membaca takbir di sini hanya khusus untuk penyembelihan qurban dan hadyu. Hendaknya membaca bismillah ketika menyembelih qurban. Seandainya ada jarak waktu, maka sudah sepatutnya diulangi membaca bismillah tadi. Kecuali jika jarak waktu tadi karena memposisikan hewan qurban atau ingin mengambil pisau. Adapun bismillah ini diucapkan oleh orang yang hendak menyembelih. Kalau sudah mengucapkan bismillah, kemudian pergi dan digantikan orang lain, maka hendaklah bacaan bismillah tadi diulang. Adapun kalau cuma sekedar mengganti pisau -misalnya- maka tidak perlu mengulang bismillah. Kalau hewan qurban itu dari ternak seperti kambing dan sapi, maka cara penyembelihannya adalah dengan cara hewan tersebut dibaringkan. Setelah hewan qurban direbahkan pada sisi kiri badannya, maka diinjaklah bagian tubuh kanan hewan tersebut dengan kaki orang yang akan menyembelih. Lantas pisau dipegang dengan tangan kanan, dan kepala hewan dipegang dengan tangan kiri. Kalau ada yang memiliki tangan kidal (yang kuat berfungsi adalah tangan kiri), maka hendaknya hewan tadi dibaringkan di sisi kanan. Karena tujuan peletakkan hewan seperti tadi untuk menenangkan hewan dan memudahkan penyembelih untuk menyembelihnya.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 9: 272.   [1] HR. Bukhari, no. 5565; Muslim, no. 1966.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsqurban

Ketentuan dan Cara Menyembelih Qurban

Ini adalah hadits pertama dari kitab Bulughul Maram, Bab Udhiyyah (Qurban). Hadits kali ini membicarakan tentang keutamaan qurban dan ketentuan hewan qurban, serta cara menyembelihnya. عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ. وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ – وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين ِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ, وَيَقُولُ: – بِسْمِ اَللَّهِ. وَاَللَّهُ أَكْبَرُ -. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua gibas (domba jantan) berwarna putih yang bertanduk. Ketika menyembelih beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di pipi kedua gibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua gibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahihnya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  gibas yang istimewa (berharga).”[1] Dalam lafazh Muslim disebutkan bahwa beliau mengucapkan “Bismillah wallahu Akbar” (dengan nama Allah dan Allah Maha Besar).   Beberapa faedah dari hadits di atas: Hadits di atas menunjukkan disyari’atkannya qurban. Hadits di atas memotivasi kita untuk berqurban karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya sebagai bentuk ketaatan dan taqarrub pada Allah. Selama yang beliau perbuat tidak menjadi kekhususan bagi beliau, maka hukum perbuatan tersebut adalah sunnah bagi umatnya. Para ulama sepakat bahwa qurban adalah bagian dari syi’ar Islam. Mereka hanyalah berbeda pendapat saja mengenai hukum qurban, apakah wajib ataukah sunnah. Hadits ini menunjukkan bahwa qurban yang paling baik adalah dengan domba karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakannya untuk qurban. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Malik rahimahullah. Namun tiga ulama madzhab lainnya berpendapat bahwa yang paling afdhal secara urutan adalah unta, sapi, kemudian kambing (domba). Pendapat ini berdasarkan hadits keutamaan shalat Jum’at di mana yang datang lebih awal mendapatkan pahala seperti ia berqurban dengan unta, setelahnya lagi berqurban dengan sapi, setelahnya lagi berqurban dengan kambing. Sebagaimana hadits tersebut disebutkan dalam Shahih Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850). Hewan jantan lebih afdhal untuk diqurbankan daripada hewan betina. Walaupun kalau berqurban dengan betina tetap sah berdasarkan ijma’ (sepakat para ulama). Dianjurkan berqurban dengan menggunakan hewan yang bertanduk. Walaupun berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk pun tetap sah berdasarkan kata sepakat ulama. Hendaknya hewan qurban yang ingin disembelih dipilih yang terbaik dari sisi sifat dan warna. Hewan yang terbaik secara sifat adalah yang gemuk, yang warnanya putih atau putih lebih mendominasi daripada hitam. Inilah bentuk dari mengagungkan syari’at Allah. Dianjurkan seseorang menyembelih qurbannya sendiri kalau memang mampu dan bagus dalam menyembelih qurban. Disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa Abu Musa pernah memerintahkan anak-anak perempuannya untuk menyembelih qurban dengan tangan mereka sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Fath Al-Bari (10: 19). Namun jika memang tidak bagus dalam menyembelih qurban, maka bisa mencari wakil dengan syarat yaitu seorang muslim dan mengilmu syarat-syarat menyembelih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu meminta ‘Ali bin Abi Thalib untuk mengganti beliau menyembelih qurban dari sisa unta yang belum disembelih pada haji wada’, sebagaimana riwayatnya terdapat dalam Shahih Muslim, no. 1218 dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang sifat haji nabi yang dijelaskan begitu panjang. Boleh berqurban lebih dari satu selama tidak maksud untuk pamer atau menyombongkan diri. Jika ingin berqurban lebih dari satu, baiknya tetap dilakukan pada hari Idul Adha. Namun jika ingin disembelih satunya di hari Idul Adha, lainnya di hari tasyriq, itu pun boleh. Jika dipisah harinya seperti itu, juga punya manfaat untuk orang miskin. Penyembelihan qurban tersebut bisa dilakukan hingga tenggelamnya matahari di hari ketigabelas dari bulan Dzulhijjah menurut pendapat yang paling kuat. Diperintahkan membaca tasmiyah dan takbir saat menyembelih qurban (bismillah wallahu akbar). Adapun membaca bismillah, hukumnya wajib. Sedangkan membaca takbir (Allahu akbar), hukumnya sunnah menurut jumhur atau mayoritas ulama. Membaca takbir di sini hanya khusus untuk penyembelihan qurban dan hadyu. Hendaknya membaca bismillah ketika menyembelih qurban. Seandainya ada jarak waktu, maka sudah sepatutnya diulangi membaca bismillah tadi. Kecuali jika jarak waktu tadi karena memposisikan hewan qurban atau ingin mengambil pisau. Adapun bismillah ini diucapkan oleh orang yang hendak menyembelih. Kalau sudah mengucapkan bismillah, kemudian pergi dan digantikan orang lain, maka hendaklah bacaan bismillah tadi diulang. Adapun kalau cuma sekedar mengganti pisau -misalnya- maka tidak perlu mengulang bismillah. Kalau hewan qurban itu dari ternak seperti kambing dan sapi, maka cara penyembelihannya adalah dengan cara hewan tersebut dibaringkan. Setelah hewan qurban direbahkan pada sisi kiri badannya, maka diinjaklah bagian tubuh kanan hewan tersebut dengan kaki orang yang akan menyembelih. Lantas pisau dipegang dengan tangan kanan, dan kepala hewan dipegang dengan tangan kiri. Kalau ada yang memiliki tangan kidal (yang kuat berfungsi adalah tangan kiri), maka hendaknya hewan tadi dibaringkan di sisi kanan. Karena tujuan peletakkan hewan seperti tadi untuk menenangkan hewan dan memudahkan penyembelih untuk menyembelihnya.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 9: 272.   [1] HR. Bukhari, no. 5565; Muslim, no. 1966.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsqurban
Ini adalah hadits pertama dari kitab Bulughul Maram, Bab Udhiyyah (Qurban). Hadits kali ini membicarakan tentang keutamaan qurban dan ketentuan hewan qurban, serta cara menyembelihnya. عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ. وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ – وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين ِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ, وَيَقُولُ: – بِسْمِ اَللَّهِ. وَاَللَّهُ أَكْبَرُ -. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua gibas (domba jantan) berwarna putih yang bertanduk. Ketika menyembelih beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di pipi kedua gibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua gibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahihnya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  gibas yang istimewa (berharga).”[1] Dalam lafazh Muslim disebutkan bahwa beliau mengucapkan “Bismillah wallahu Akbar” (dengan nama Allah dan Allah Maha Besar).   Beberapa faedah dari hadits di atas: Hadits di atas menunjukkan disyari’atkannya qurban. Hadits di atas memotivasi kita untuk berqurban karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya sebagai bentuk ketaatan dan taqarrub pada Allah. Selama yang beliau perbuat tidak menjadi kekhususan bagi beliau, maka hukum perbuatan tersebut adalah sunnah bagi umatnya. Para ulama sepakat bahwa qurban adalah bagian dari syi’ar Islam. Mereka hanyalah berbeda pendapat saja mengenai hukum qurban, apakah wajib ataukah sunnah. Hadits ini menunjukkan bahwa qurban yang paling baik adalah dengan domba karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakannya untuk qurban. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Malik rahimahullah. Namun tiga ulama madzhab lainnya berpendapat bahwa yang paling afdhal secara urutan adalah unta, sapi, kemudian kambing (domba). Pendapat ini berdasarkan hadits keutamaan shalat Jum’at di mana yang datang lebih awal mendapatkan pahala seperti ia berqurban dengan unta, setelahnya lagi berqurban dengan sapi, setelahnya lagi berqurban dengan kambing. Sebagaimana hadits tersebut disebutkan dalam Shahih Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850). Hewan jantan lebih afdhal untuk diqurbankan daripada hewan betina. Walaupun kalau berqurban dengan betina tetap sah berdasarkan ijma’ (sepakat para ulama). Dianjurkan berqurban dengan menggunakan hewan yang bertanduk. Walaupun berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk pun tetap sah berdasarkan kata sepakat ulama. Hendaknya hewan qurban yang ingin disembelih dipilih yang terbaik dari sisi sifat dan warna. Hewan yang terbaik secara sifat adalah yang gemuk, yang warnanya putih atau putih lebih mendominasi daripada hitam. Inilah bentuk dari mengagungkan syari’at Allah. Dianjurkan seseorang menyembelih qurbannya sendiri kalau memang mampu dan bagus dalam menyembelih qurban. Disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa Abu Musa pernah memerintahkan anak-anak perempuannya untuk menyembelih qurban dengan tangan mereka sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Fath Al-Bari (10: 19). Namun jika memang tidak bagus dalam menyembelih qurban, maka bisa mencari wakil dengan syarat yaitu seorang muslim dan mengilmu syarat-syarat menyembelih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu meminta ‘Ali bin Abi Thalib untuk mengganti beliau menyembelih qurban dari sisa unta yang belum disembelih pada haji wada’, sebagaimana riwayatnya terdapat dalam Shahih Muslim, no. 1218 dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang sifat haji nabi yang dijelaskan begitu panjang. Boleh berqurban lebih dari satu selama tidak maksud untuk pamer atau menyombongkan diri. Jika ingin berqurban lebih dari satu, baiknya tetap dilakukan pada hari Idul Adha. Namun jika ingin disembelih satunya di hari Idul Adha, lainnya di hari tasyriq, itu pun boleh. Jika dipisah harinya seperti itu, juga punya manfaat untuk orang miskin. Penyembelihan qurban tersebut bisa dilakukan hingga tenggelamnya matahari di hari ketigabelas dari bulan Dzulhijjah menurut pendapat yang paling kuat. Diperintahkan membaca tasmiyah dan takbir saat menyembelih qurban (bismillah wallahu akbar). Adapun membaca bismillah, hukumnya wajib. Sedangkan membaca takbir (Allahu akbar), hukumnya sunnah menurut jumhur atau mayoritas ulama. Membaca takbir di sini hanya khusus untuk penyembelihan qurban dan hadyu. Hendaknya membaca bismillah ketika menyembelih qurban. Seandainya ada jarak waktu, maka sudah sepatutnya diulangi membaca bismillah tadi. Kecuali jika jarak waktu tadi karena memposisikan hewan qurban atau ingin mengambil pisau. Adapun bismillah ini diucapkan oleh orang yang hendak menyembelih. Kalau sudah mengucapkan bismillah, kemudian pergi dan digantikan orang lain, maka hendaklah bacaan bismillah tadi diulang. Adapun kalau cuma sekedar mengganti pisau -misalnya- maka tidak perlu mengulang bismillah. Kalau hewan qurban itu dari ternak seperti kambing dan sapi, maka cara penyembelihannya adalah dengan cara hewan tersebut dibaringkan. Setelah hewan qurban direbahkan pada sisi kiri badannya, maka diinjaklah bagian tubuh kanan hewan tersebut dengan kaki orang yang akan menyembelih. Lantas pisau dipegang dengan tangan kanan, dan kepala hewan dipegang dengan tangan kiri. Kalau ada yang memiliki tangan kidal (yang kuat berfungsi adalah tangan kiri), maka hendaknya hewan tadi dibaringkan di sisi kanan. Karena tujuan peletakkan hewan seperti tadi untuk menenangkan hewan dan memudahkan penyembelih untuk menyembelihnya.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 9: 272.   [1] HR. Bukhari, no. 5565; Muslim, no. 1966.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsqurban


Ini adalah hadits pertama dari kitab Bulughul Maram, Bab Udhiyyah (Qurban). Hadits kali ini membicarakan tentang keutamaan qurban dan ketentuan hewan qurban, serta cara menyembelihnya. عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ. وَفِي لَفْظِ: – سَمِينَيْنِ – وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي “صَحِيحِهِ” : – ثَمِينَيْنِ – . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين ِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ, وَيَقُولُ: – بِسْمِ اَللَّهِ. وَاَللَّهُ أَكْبَرُ -. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berqurban dengan dua gibas (domba jantan) berwarna putih yang bertanduk. Ketika menyembelih beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di pipi kedua gibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya (Muttafaqun ‘alaih) . Dalam lafazh lain disebutkan, “Saminain, artinya dua gibas gemuk.” Dalam lafazh Abu ‘Awanah dalam kitab Shahihnya dengan lafazh, “Tsaminain, artinya  gibas yang istimewa (berharga).”[1] Dalam lafazh Muslim disebutkan bahwa beliau mengucapkan “Bismillah wallahu Akbar” (dengan nama Allah dan Allah Maha Besar).   Beberapa faedah dari hadits di atas: Hadits di atas menunjukkan disyari’atkannya qurban. Hadits di atas memotivasi kita untuk berqurban karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya sebagai bentuk ketaatan dan taqarrub pada Allah. Selama yang beliau perbuat tidak menjadi kekhususan bagi beliau, maka hukum perbuatan tersebut adalah sunnah bagi umatnya. Para ulama sepakat bahwa qurban adalah bagian dari syi’ar Islam. Mereka hanyalah berbeda pendapat saja mengenai hukum qurban, apakah wajib ataukah sunnah. Hadits ini menunjukkan bahwa qurban yang paling baik adalah dengan domba karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakannya untuk qurban. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Malik rahimahullah. Namun tiga ulama madzhab lainnya berpendapat bahwa yang paling afdhal secara urutan adalah unta, sapi, kemudian kambing (domba). Pendapat ini berdasarkan hadits keutamaan shalat Jum’at di mana yang datang lebih awal mendapatkan pahala seperti ia berqurban dengan unta, setelahnya lagi berqurban dengan sapi, setelahnya lagi berqurban dengan kambing. Sebagaimana hadits tersebut disebutkan dalam Shahih Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850). Hewan jantan lebih afdhal untuk diqurbankan daripada hewan betina. Walaupun kalau berqurban dengan betina tetap sah berdasarkan ijma’ (sepakat para ulama). Dianjurkan berqurban dengan menggunakan hewan yang bertanduk. Walaupun berqurban dengan hewan yang tidak bertanduk pun tetap sah berdasarkan kata sepakat ulama. Hendaknya hewan qurban yang ingin disembelih dipilih yang terbaik dari sisi sifat dan warna. Hewan yang terbaik secara sifat adalah yang gemuk, yang warnanya putih atau putih lebih mendominasi daripada hitam. Inilah bentuk dari mengagungkan syari’at Allah. Dianjurkan seseorang menyembelih qurbannya sendiri kalau memang mampu dan bagus dalam menyembelih qurban. Disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa Abu Musa pernah memerintahkan anak-anak perempuannya untuk menyembelih qurban dengan tangan mereka sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Fath Al-Bari (10: 19). Namun jika memang tidak bagus dalam menyembelih qurban, maka bisa mencari wakil dengan syarat yaitu seorang muslim dan mengilmu syarat-syarat menyembelih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu meminta ‘Ali bin Abi Thalib untuk mengganti beliau menyembelih qurban dari sisa unta yang belum disembelih pada haji wada’, sebagaimana riwayatnya terdapat dalam Shahih Muslim, no. 1218 dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang sifat haji nabi yang dijelaskan begitu panjang. Boleh berqurban lebih dari satu selama tidak maksud untuk pamer atau menyombongkan diri. Jika ingin berqurban lebih dari satu, baiknya tetap dilakukan pada hari Idul Adha. Namun jika ingin disembelih satunya di hari Idul Adha, lainnya di hari tasyriq, itu pun boleh. Jika dipisah harinya seperti itu, juga punya manfaat untuk orang miskin. Penyembelihan qurban tersebut bisa dilakukan hingga tenggelamnya matahari di hari ketigabelas dari bulan Dzulhijjah menurut pendapat yang paling kuat. Diperintahkan membaca tasmiyah dan takbir saat menyembelih qurban (bismillah wallahu akbar). Adapun membaca bismillah, hukumnya wajib. Sedangkan membaca takbir (Allahu akbar), hukumnya sunnah menurut jumhur atau mayoritas ulama. Membaca takbir di sini hanya khusus untuk penyembelihan qurban dan hadyu. Hendaknya membaca bismillah ketika menyembelih qurban. Seandainya ada jarak waktu, maka sudah sepatutnya diulangi membaca bismillah tadi. Kecuali jika jarak waktu tadi karena memposisikan hewan qurban atau ingin mengambil pisau. Adapun bismillah ini diucapkan oleh orang yang hendak menyembelih. Kalau sudah mengucapkan bismillah, kemudian pergi dan digantikan orang lain, maka hendaklah bacaan bismillah tadi diulang. Adapun kalau cuma sekedar mengganti pisau -misalnya- maka tidak perlu mengulang bismillah. Kalau hewan qurban itu dari ternak seperti kambing dan sapi, maka cara penyembelihannya adalah dengan cara hewan tersebut dibaringkan. Setelah hewan qurban direbahkan pada sisi kiri badannya, maka diinjaklah bagian tubuh kanan hewan tersebut dengan kaki orang yang akan menyembelih. Lantas pisau dipegang dengan tangan kanan, dan kepala hewan dipegang dengan tangan kiri. Kalau ada yang memiliki tangan kidal (yang kuat berfungsi adalah tangan kiri), maka hendaknya hewan tadi dibaringkan di sisi kanan. Karena tujuan peletakkan hewan seperti tadi untuk menenangkan hewan dan memudahkan penyembelih untuk menyembelihnya.   Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 9: 272.   [1] HR. Bukhari, no. 5565; Muslim, no. 1966.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsqurban

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (8)

Syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan bahwa syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(13) Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (QS. Saba’: 13).Ayat di atas menunjukkan bahwa diantara wujud syukur adalah beramal sholeh, maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Abu Abdur Rahman rahimahullah,الصلاة شكر، والصيام شكر، وكل خير تعمله لله شكر“Salat itu syukur, puasa itu syukur, dan seluruh kebaikan (amal saleh) yang dikerjakan dengan ikhlas untuk Allah semata itu adalah syukur” (Riwayat Ibnu Jarir).Jadi, syukur itu adalah menggunakan nikmat Allah untuk mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya semata.Metode Qur’ani ini adalah metode dakwah yang sangat menyentuh hatiMetode dalam mengajak kepada kebaikan serta melarang dari maksiat dengan cara menyebutkan kenikmatan ini termasuk metode Qur`ani yang sangat bermanfa’at dan sangat menyentuh hati orang yang didakwahi, maka selayaknya seorang da’i menggunakan metode ini dalam dakwahnya. Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah menyampaikan sebuah kisah, suatu saat, ada seseorang yang mendatangi seorang ulama dan menyampaikan bahwa dirinya ingin melakukan zina. Lalu sang ulama pun menasehatinya dengan menyampaikan kepadanya bahwa ia dipersilakan melakukan zina, tapi dengan syarat ia tidak boleh menggunakan nikmat Allah untuk berzina.Mungkinkah orang tersebut melakukan zina tanpa menggunakan kenikmatan dari Allah Ta’ala? Bukankah tangannya, kakinya, dan seluruh anggota badannya adalah nikmat dari-Nya?Nasehat ini adalah sebuah nasehat brilian. Meskipun secara eksplisit sang ulama seolah memerintahkan untuk berzina, namun sebenarnya ulama tersebut melarang pemuda tadi dari zina dengan cara mengingatkan kenikmatan yang ada pada diri orang tersebut.Cara tersebut adalah suatu nasehat yang tepat, karena sudah menjadi kewajiban orang yang memperoleh nikmat untuk bersyukur kepada Sang Pemberi nikmat dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ta’at kepada-Nya, bukan justru menggunakannya untuk membuat murka Sang Pemberi nikmat!Sesungguhnya kasus di atas ada sisi kesamaan dengan firman Allah Ta’ala,قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا(56) Katakanlah: “Berdo’alah kepada mereka yang kamu anggap sebagai (tuhan-tuhan) selain Allah, maka (pastilah) mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula mampu memindahkannya” (QS. Al-Israa`: 56).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada kaum musyrikin agar mereka berdo’a kepada tuhan-tuhan selain Allah dan memikirkan apakah tuhan-tuhan selain Allah tersebut mampu menghilangkan bahaya, penyakit, musibah dan selainnya dari diri mereka atau mampu memindahkannya dari mereka?Tentulah tuhan-tuhan selain Allah itu tidak mampu sama sekali melakukan hal itu. Lalu apa alasan yang mendorong mereka untuk berdo’a kepada sesembahan selain Allah?Secara eksplisit, ayat ini adalah perintah, namun sebenarnya adalah larangan dan pengingkaran terhadap perbuatan syirik dalam do’a yang mengandung penetapan bahwa satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah Ta’ala semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Dzikir, Keturunan Nabi Isa, Siapa Imam Syafii, M Suara Islam Com, Hadist Silaturahim

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (8)

Syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan bahwa syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(13) Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (QS. Saba’: 13).Ayat di atas menunjukkan bahwa diantara wujud syukur adalah beramal sholeh, maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Abu Abdur Rahman rahimahullah,الصلاة شكر، والصيام شكر، وكل خير تعمله لله شكر“Salat itu syukur, puasa itu syukur, dan seluruh kebaikan (amal saleh) yang dikerjakan dengan ikhlas untuk Allah semata itu adalah syukur” (Riwayat Ibnu Jarir).Jadi, syukur itu adalah menggunakan nikmat Allah untuk mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya semata.Metode Qur’ani ini adalah metode dakwah yang sangat menyentuh hatiMetode dalam mengajak kepada kebaikan serta melarang dari maksiat dengan cara menyebutkan kenikmatan ini termasuk metode Qur`ani yang sangat bermanfa’at dan sangat menyentuh hati orang yang didakwahi, maka selayaknya seorang da’i menggunakan metode ini dalam dakwahnya. Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah menyampaikan sebuah kisah, suatu saat, ada seseorang yang mendatangi seorang ulama dan menyampaikan bahwa dirinya ingin melakukan zina. Lalu sang ulama pun menasehatinya dengan menyampaikan kepadanya bahwa ia dipersilakan melakukan zina, tapi dengan syarat ia tidak boleh menggunakan nikmat Allah untuk berzina.Mungkinkah orang tersebut melakukan zina tanpa menggunakan kenikmatan dari Allah Ta’ala? Bukankah tangannya, kakinya, dan seluruh anggota badannya adalah nikmat dari-Nya?Nasehat ini adalah sebuah nasehat brilian. Meskipun secara eksplisit sang ulama seolah memerintahkan untuk berzina, namun sebenarnya ulama tersebut melarang pemuda tadi dari zina dengan cara mengingatkan kenikmatan yang ada pada diri orang tersebut.Cara tersebut adalah suatu nasehat yang tepat, karena sudah menjadi kewajiban orang yang memperoleh nikmat untuk bersyukur kepada Sang Pemberi nikmat dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ta’at kepada-Nya, bukan justru menggunakannya untuk membuat murka Sang Pemberi nikmat!Sesungguhnya kasus di atas ada sisi kesamaan dengan firman Allah Ta’ala,قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا(56) Katakanlah: “Berdo’alah kepada mereka yang kamu anggap sebagai (tuhan-tuhan) selain Allah, maka (pastilah) mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula mampu memindahkannya” (QS. Al-Israa`: 56).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada kaum musyrikin agar mereka berdo’a kepada tuhan-tuhan selain Allah dan memikirkan apakah tuhan-tuhan selain Allah tersebut mampu menghilangkan bahaya, penyakit, musibah dan selainnya dari diri mereka atau mampu memindahkannya dari mereka?Tentulah tuhan-tuhan selain Allah itu tidak mampu sama sekali melakukan hal itu. Lalu apa alasan yang mendorong mereka untuk berdo’a kepada sesembahan selain Allah?Secara eksplisit, ayat ini adalah perintah, namun sebenarnya adalah larangan dan pengingkaran terhadap perbuatan syirik dalam do’a yang mengandung penetapan bahwa satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah Ta’ala semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Dzikir, Keturunan Nabi Isa, Siapa Imam Syafii, M Suara Islam Com, Hadist Silaturahim
Syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan bahwa syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(13) Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (QS. Saba’: 13).Ayat di atas menunjukkan bahwa diantara wujud syukur adalah beramal sholeh, maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Abu Abdur Rahman rahimahullah,الصلاة شكر، والصيام شكر، وكل خير تعمله لله شكر“Salat itu syukur, puasa itu syukur, dan seluruh kebaikan (amal saleh) yang dikerjakan dengan ikhlas untuk Allah semata itu adalah syukur” (Riwayat Ibnu Jarir).Jadi, syukur itu adalah menggunakan nikmat Allah untuk mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya semata.Metode Qur’ani ini adalah metode dakwah yang sangat menyentuh hatiMetode dalam mengajak kepada kebaikan serta melarang dari maksiat dengan cara menyebutkan kenikmatan ini termasuk metode Qur`ani yang sangat bermanfa’at dan sangat menyentuh hati orang yang didakwahi, maka selayaknya seorang da’i menggunakan metode ini dalam dakwahnya. Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah menyampaikan sebuah kisah, suatu saat, ada seseorang yang mendatangi seorang ulama dan menyampaikan bahwa dirinya ingin melakukan zina. Lalu sang ulama pun menasehatinya dengan menyampaikan kepadanya bahwa ia dipersilakan melakukan zina, tapi dengan syarat ia tidak boleh menggunakan nikmat Allah untuk berzina.Mungkinkah orang tersebut melakukan zina tanpa menggunakan kenikmatan dari Allah Ta’ala? Bukankah tangannya, kakinya, dan seluruh anggota badannya adalah nikmat dari-Nya?Nasehat ini adalah sebuah nasehat brilian. Meskipun secara eksplisit sang ulama seolah memerintahkan untuk berzina, namun sebenarnya ulama tersebut melarang pemuda tadi dari zina dengan cara mengingatkan kenikmatan yang ada pada diri orang tersebut.Cara tersebut adalah suatu nasehat yang tepat, karena sudah menjadi kewajiban orang yang memperoleh nikmat untuk bersyukur kepada Sang Pemberi nikmat dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ta’at kepada-Nya, bukan justru menggunakannya untuk membuat murka Sang Pemberi nikmat!Sesungguhnya kasus di atas ada sisi kesamaan dengan firman Allah Ta’ala,قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا(56) Katakanlah: “Berdo’alah kepada mereka yang kamu anggap sebagai (tuhan-tuhan) selain Allah, maka (pastilah) mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula mampu memindahkannya” (QS. Al-Israa`: 56).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada kaum musyrikin agar mereka berdo’a kepada tuhan-tuhan selain Allah dan memikirkan apakah tuhan-tuhan selain Allah tersebut mampu menghilangkan bahaya, penyakit, musibah dan selainnya dari diri mereka atau mampu memindahkannya dari mereka?Tentulah tuhan-tuhan selain Allah itu tidak mampu sama sekali melakukan hal itu. Lalu apa alasan yang mendorong mereka untuk berdo’a kepada sesembahan selain Allah?Secara eksplisit, ayat ini adalah perintah, namun sebenarnya adalah larangan dan pengingkaran terhadap perbuatan syirik dalam do’a yang mengandung penetapan bahwa satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah Ta’ala semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Dzikir, Keturunan Nabi Isa, Siapa Imam Syafii, M Suara Islam Com, Hadist Silaturahim


Syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan bahwa syukur itu direalisasikan dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(13) Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (QS. Saba’: 13).Ayat di atas menunjukkan bahwa diantara wujud syukur adalah beramal sholeh, maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Abu Abdur Rahman rahimahullah,الصلاة شكر، والصيام شكر، وكل خير تعمله لله شكر“Salat itu syukur, puasa itu syukur, dan seluruh kebaikan (amal saleh) yang dikerjakan dengan ikhlas untuk Allah semata itu adalah syukur” (Riwayat Ibnu Jarir).Jadi, syukur itu adalah menggunakan nikmat Allah untuk mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya semata.Metode Qur’ani ini adalah metode dakwah yang sangat menyentuh hatiMetode dalam mengajak kepada kebaikan serta melarang dari maksiat dengan cara menyebutkan kenikmatan ini termasuk metode Qur`ani yang sangat bermanfa’at dan sangat menyentuh hati orang yang didakwahi, maka selayaknya seorang da’i menggunakan metode ini dalam dakwahnya. Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah menyampaikan sebuah kisah, suatu saat, ada seseorang yang mendatangi seorang ulama dan menyampaikan bahwa dirinya ingin melakukan zina. Lalu sang ulama pun menasehatinya dengan menyampaikan kepadanya bahwa ia dipersilakan melakukan zina, tapi dengan syarat ia tidak boleh menggunakan nikmat Allah untuk berzina.Mungkinkah orang tersebut melakukan zina tanpa menggunakan kenikmatan dari Allah Ta’ala? Bukankah tangannya, kakinya, dan seluruh anggota badannya adalah nikmat dari-Nya?Nasehat ini adalah sebuah nasehat brilian. Meskipun secara eksplisit sang ulama seolah memerintahkan untuk berzina, namun sebenarnya ulama tersebut melarang pemuda tadi dari zina dengan cara mengingatkan kenikmatan yang ada pada diri orang tersebut.Cara tersebut adalah suatu nasehat yang tepat, karena sudah menjadi kewajiban orang yang memperoleh nikmat untuk bersyukur kepada Sang Pemberi nikmat dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ta’at kepada-Nya, bukan justru menggunakannya untuk membuat murka Sang Pemberi nikmat!Sesungguhnya kasus di atas ada sisi kesamaan dengan firman Allah Ta’ala,قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا(56) Katakanlah: “Berdo’alah kepada mereka yang kamu anggap sebagai (tuhan-tuhan) selain Allah, maka (pastilah) mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula mampu memindahkannya” (QS. Al-Israa`: 56).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada kaum musyrikin agar mereka berdo’a kepada tuhan-tuhan selain Allah dan memikirkan apakah tuhan-tuhan selain Allah tersebut mampu menghilangkan bahaya, penyakit, musibah dan selainnya dari diri mereka atau mampu memindahkannya dari mereka?Tentulah tuhan-tuhan selain Allah itu tidak mampu sama sekali melakukan hal itu. Lalu apa alasan yang mendorong mereka untuk berdo’a kepada sesembahan selain Allah?Secara eksplisit, ayat ini adalah perintah, namun sebenarnya adalah larangan dan pengingkaran terhadap perbuatan syirik dalam do’a yang mengandung penetapan bahwa satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah Ta’ala semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Dzikir, Keturunan Nabi Isa, Siapa Imam Syafii, M Suara Islam Com, Hadist Silaturahim

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (7)

Allāh Ta’ālā berfirman,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allāh agar kamu bertakwa  (QS. Al-An’aam: 153).Dalam ayat ini, Allāh Ta’ālā melarang kita mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya lalu Allāh Ta’ālā menyebutkan akibat buruk mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya tersebut, yaitu jalan-jalan selain Allāh memisahkan seorang hamba dari jalan-Nya.Diharapkan seorang yang beriman pada Allāh akan terdorong kuat menghindari keburukan yang dilarang dalam Al-Qur`ān Al-Karīm, karena ia khawatir akibat buruk yang dibenci oleh Allāh Ta’ālā mengenainya.Penyebutan KenikmatanTerkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang beriman untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan nikmat-Nya yang beraneka ragam dan anugerah-Nya yang banyak, sehingga mereka terdorong untuk bersyukur atas nikmat tersebut. Wujud rasa syukur itu adalah dengan cara menunaikan hak-hak keimanan dengan melakukan keta’atan kepada Sang Pemberi nikmat. Contohnya adalah firman Allāh Ta’ālā dalam surat An-Nahl: 18,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيم(18) Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allāh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nahl:18).Dalam ayat yang agung ini terdapat penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā yang sangat banyak dan setelahnya dijelaskan tentang sifat Allāh Ta’ālā Yang Maha Pengampun yang menuntut seorang hamba untuk bertaubat dan kembali mena’ati-Nya. Ini adalah bentuk syukur kepada-Nya.Imam Ahli Tafsir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun atas keteledoran kalian dalam mensyukuri sebagian nikmat tersebut jika kalian bertaubat dan kembali menta’ati-Nya dan mengikuti keridhoan-Nya. Dia pun Maha Menyayangi diri kalian (sehingga tidak) mengazab kalian dengan sebab keteledoran tersebut, setelah kalian kembali dan bertaubat kepada-Nya .”Allāh Ta’ālā berfirman,وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ(81) Dan Allāh menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allāh menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya) (QS. An-Nahl:81).Ayat yang agung ini menunjukkan penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā dan disebutkan pula bahwa penyempurnaan nikmat-Nya tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna berserah diri kepada-Nya adalah Anda mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Tahun Baru, Hadits Tentang Istri Durhaka Kepada Suami, Qadarullah Wama Sya'a Fa'ala Rumaysho, Sifat Pemarah Dalam Islam, Memegang Kemaluan Istri

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (7)

Allāh Ta’ālā berfirman,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allāh agar kamu bertakwa  (QS. Al-An’aam: 153).Dalam ayat ini, Allāh Ta’ālā melarang kita mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya lalu Allāh Ta’ālā menyebutkan akibat buruk mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya tersebut, yaitu jalan-jalan selain Allāh memisahkan seorang hamba dari jalan-Nya.Diharapkan seorang yang beriman pada Allāh akan terdorong kuat menghindari keburukan yang dilarang dalam Al-Qur`ān Al-Karīm, karena ia khawatir akibat buruk yang dibenci oleh Allāh Ta’ālā mengenainya.Penyebutan KenikmatanTerkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang beriman untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan nikmat-Nya yang beraneka ragam dan anugerah-Nya yang banyak, sehingga mereka terdorong untuk bersyukur atas nikmat tersebut. Wujud rasa syukur itu adalah dengan cara menunaikan hak-hak keimanan dengan melakukan keta’atan kepada Sang Pemberi nikmat. Contohnya adalah firman Allāh Ta’ālā dalam surat An-Nahl: 18,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيم(18) Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allāh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nahl:18).Dalam ayat yang agung ini terdapat penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā yang sangat banyak dan setelahnya dijelaskan tentang sifat Allāh Ta’ālā Yang Maha Pengampun yang menuntut seorang hamba untuk bertaubat dan kembali mena’ati-Nya. Ini adalah bentuk syukur kepada-Nya.Imam Ahli Tafsir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun atas keteledoran kalian dalam mensyukuri sebagian nikmat tersebut jika kalian bertaubat dan kembali menta’ati-Nya dan mengikuti keridhoan-Nya. Dia pun Maha Menyayangi diri kalian (sehingga tidak) mengazab kalian dengan sebab keteledoran tersebut, setelah kalian kembali dan bertaubat kepada-Nya .”Allāh Ta’ālā berfirman,وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ(81) Dan Allāh menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allāh menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya) (QS. An-Nahl:81).Ayat yang agung ini menunjukkan penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā dan disebutkan pula bahwa penyempurnaan nikmat-Nya tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna berserah diri kepada-Nya adalah Anda mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Tahun Baru, Hadits Tentang Istri Durhaka Kepada Suami, Qadarullah Wama Sya'a Fa'ala Rumaysho, Sifat Pemarah Dalam Islam, Memegang Kemaluan Istri
Allāh Ta’ālā berfirman,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allāh agar kamu bertakwa  (QS. Al-An’aam: 153).Dalam ayat ini, Allāh Ta’ālā melarang kita mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya lalu Allāh Ta’ālā menyebutkan akibat buruk mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya tersebut, yaitu jalan-jalan selain Allāh memisahkan seorang hamba dari jalan-Nya.Diharapkan seorang yang beriman pada Allāh akan terdorong kuat menghindari keburukan yang dilarang dalam Al-Qur`ān Al-Karīm, karena ia khawatir akibat buruk yang dibenci oleh Allāh Ta’ālā mengenainya.Penyebutan KenikmatanTerkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang beriman untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan nikmat-Nya yang beraneka ragam dan anugerah-Nya yang banyak, sehingga mereka terdorong untuk bersyukur atas nikmat tersebut. Wujud rasa syukur itu adalah dengan cara menunaikan hak-hak keimanan dengan melakukan keta’atan kepada Sang Pemberi nikmat. Contohnya adalah firman Allāh Ta’ālā dalam surat An-Nahl: 18,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيم(18) Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allāh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nahl:18).Dalam ayat yang agung ini terdapat penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā yang sangat banyak dan setelahnya dijelaskan tentang sifat Allāh Ta’ālā Yang Maha Pengampun yang menuntut seorang hamba untuk bertaubat dan kembali mena’ati-Nya. Ini adalah bentuk syukur kepada-Nya.Imam Ahli Tafsir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun atas keteledoran kalian dalam mensyukuri sebagian nikmat tersebut jika kalian bertaubat dan kembali menta’ati-Nya dan mengikuti keridhoan-Nya. Dia pun Maha Menyayangi diri kalian (sehingga tidak) mengazab kalian dengan sebab keteledoran tersebut, setelah kalian kembali dan bertaubat kepada-Nya .”Allāh Ta’ālā berfirman,وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ(81) Dan Allāh menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allāh menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya) (QS. An-Nahl:81).Ayat yang agung ini menunjukkan penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā dan disebutkan pula bahwa penyempurnaan nikmat-Nya tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna berserah diri kepada-Nya adalah Anda mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Tahun Baru, Hadits Tentang Istri Durhaka Kepada Suami, Qadarullah Wama Sya'a Fa'ala Rumaysho, Sifat Pemarah Dalam Islam, Memegang Kemaluan Istri


Allāh Ta’ālā berfirman,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allāh agar kamu bertakwa  (QS. Al-An’aam: 153).Dalam ayat ini, Allāh Ta’ālā melarang kita mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya lalu Allāh Ta’ālā menyebutkan akibat buruk mengikuti jalan-jalan selain jalan-Nya tersebut, yaitu jalan-jalan selain Allāh memisahkan seorang hamba dari jalan-Nya.Diharapkan seorang yang beriman pada Allāh akan terdorong kuat menghindari keburukan yang dilarang dalam Al-Qur`ān Al-Karīm, karena ia khawatir akibat buruk yang dibenci oleh Allāh Ta’ālā mengenainya.Penyebutan KenikmatanTerkadang di dalam Al-Qur`ān, Allāh Ta’ālā menyeru orang-orang beriman untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan nikmat-Nya yang beraneka ragam dan anugerah-Nya yang banyak, sehingga mereka terdorong untuk bersyukur atas nikmat tersebut. Wujud rasa syukur itu adalah dengan cara menunaikan hak-hak keimanan dengan melakukan keta’atan kepada Sang Pemberi nikmat. Contohnya adalah firman Allāh Ta’ālā dalam surat An-Nahl: 18,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيم(18) Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allāh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nahl:18).Dalam ayat yang agung ini terdapat penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā yang sangat banyak dan setelahnya dijelaskan tentang sifat Allāh Ta’ālā Yang Maha Pengampun yang menuntut seorang hamba untuk bertaubat dan kembali mena’ati-Nya. Ini adalah bentuk syukur kepada-Nya.Imam Ahli Tafsir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allāh benar-benar Maha Pengampun atas keteledoran kalian dalam mensyukuri sebagian nikmat tersebut jika kalian bertaubat dan kembali menta’ati-Nya dan mengikuti keridhoan-Nya. Dia pun Maha Menyayangi diri kalian (sehingga tidak) mengazab kalian dengan sebab keteledoran tersebut, setelah kalian kembali dan bertaubat kepada-Nya .”Allāh Ta’ālā berfirman,وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ(81) Dan Allāh menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allāh menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya) (QS. An-Nahl:81).Ayat yang agung ini menunjukkan penyebutan nikmat Allāh Ta’ālā dan disebutkan pula bahwa penyempurnaan nikmat-Nya tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna berserah diri kepada-Nya adalah Anda mengikhlaskan keta’atan untuk-Nya semata.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Tahun Baru, Hadits Tentang Istri Durhaka Kepada Suami, Qadarullah Wama Sya'a Fa'ala Rumaysho, Sifat Pemarah Dalam Islam, Memegang Kemaluan Istri

Wanita di Masa Jahiliyah Vs Masa Islam

Dalam risalah pertama kami ini akan dijelaskan bagaimanakah perlakuan pada wanita di masa jahiliyah dibandingkan di masa Islam ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus.   Pertama: Bayi wanita dimuliakan dalam Islam, sebelum Islam dikubur hidup-hidup   Lihat saja pada masa sebelum Islam ketika ada anak wanita yang lahir, maka orang Arab dahulu merasa tidak suka. Coba lihat bentuk ketidaksukaan mereka sebagaimana disebut dalam ayat berikut ini. وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ (57) وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59) “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 57-59) Orang musyrik menyatakan bahwa para malaikat yang benar-benar terus beribadah pada Allah sebagai anak perempuan Allah. Sedangkan untuk mereka orang musyrik ditetapkan apa yang mereka sukai yaitu anak laki-laki. Orang musyrik benar-benar sangat tidak suka dengan lahirnya anak perempuan. Makanya ketika anak perempuan itu lahir wajah mereka menghitam sebagai tanda bahwa telah mendapatkan musibah. Mereka sangat sedih kala itu. Mereka malu dan menyembunyikan diri dari orang banyak. Ada dua hal yang terjadi pada mereka: Menanggung malu Menguburkan anak perempuan dalam tanah hidup-hidup. Alangkah buruknya apa yang orang musyrik lakukan. Mereka tidak suka pada anak perempuan dan menetapkan apa yang tidak mereka sukai pada Allah Ta’ala. Demikian keterangan dari Syaikh As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 443. Kata Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (4: 687) orang musyrik menjadikan malaikat sebagai perempuan dan menjadikannya sebagai anak perempuan Allah, lantas mereka menyembah malaikat tadi bersama Allah (berbuat syirik). Ada tiga kekeliruan dari perbuatan orang musyrik tersebut: Menyatakan Allah memiliki anak, padahal Allah tidak memiliki anak. Orang musyrik menyandarkan anak perempuan pada Allah padahal perempuan itu lemah dibanding laki-laki. Anak perempuan sendiri tidaklah mereka sukai pada diri mereka. Demikian nukilan dari Ibnu Katsir. Bukti bahwa anak perempuan itu dikubur hidup-hidup adalah firman Allah Ta’ala, وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9) “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 8-9). Mereka orang musyrik kalau mendapati anak perempuan yang lahir, mereka kubur hidup-hidup. Jika selamat dari siksaan seperti itu, maka anak perempuan itu akan hidup dalam keadaan hina. Contohnya diperlakukan dengan tidak menambahkan hak waris. (Lihat Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat, hlm. 8) Bukti bahwa anak perempuan dimuliakan di masa Islam ketika lahir adalah ia tetap diaqiqahi dengan satu ekor kambing. Disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَنَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَلُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَتْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ. Dari Yusuf bin Mahak, mereka pernah menemui Hafshah binti ‘Abdirrahman. Mereka bertanya kepadanya tentang hukum aqiqah. Hafshah mengabarkan bahwa ‘Aisyah pernah memberitahu dia bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang hampir sama (umurnya ) untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.” (HR. Tirmidzi, no. 1513; Ibnu Majah, no. 3163. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Wanita mendapatkan jatah waris, beda dengan masa Jahiliyah yang tidak ada jatah sama sekali   Kalau di masa Jahiliyah, anak perempuan tidak mendapatkan jatah waris. Ini adalah efek dari mendapatkan bayi perempuan hingga mesti menahan malu dan hina. Ibnu Katsir menyatakan, orang Jahiliyah menjadikan seluruh jatah waris untuk laki-laki, perempuan tidak mendapatkan jatah sama sekali. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27) Setelah Islam datang, anak perempuan akhirnya mendapatkan jatah waris. Dalam ayat disebutkan, يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta.” (QS. An-Nisa’: 11) Ibnu Katsir menyebutkan alasan kenapa sampai jatah laki-laki dibuat dua kali dari perempuan.Itu karena kebutuhan laki-laki yang begitu besar. Ia mesti menanggung nafkah keluarga, bisa untuk ia berdagang dan mencari kerja, ia mesti menanggung berbagai beban berat. Jadinya wajar kalau jatah laki-laki dua kali dari perempuan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27)   Ketiga: Memiliki istri dibatasi di masa Islam   Di masa Jahiliyah sebelum Islam, memiliki istri itu tidak dibatasi. Buktinya ada dalam hadits-hadits berikut ini. عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِى ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا Dari Qois bin Al Harits, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki delapan istri. Aku pun mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut, lalu beliau bersabda: Pilihlah empat saja dari kedelapan istrimu tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 1952; Abu Daud, no. 2241. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ غَيْلاَنَ بْنَ سَلَمَةَ الثَّقَفِىَّ أَسْلَمَ وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَتَخَيَّرَ أَرْبَعًا مِنْهُنَّ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Ghaylan bin Salamah Ats-Tsaqofiy baru masuk Islam dan ia memiliki sepuluh istri di masa Jahiliyyah. Istri-istrinya tadi masuk Islam bersamanya, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia memilih empat saja dari istri-istrinya. (HR. Tirmidzi, no. 1128. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan, أَمْسِكْ أَرْبَعًا وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ “Pilih empat istri dan pisah dengan yang lain.” (HR. Ibnu Hibban 9: 465, perowinya tsiqoh termasuk perowi shahihain sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Setelah membawakan hadits ini, Abu Bakr Al-Hishniy berkata, “Seandainya dibolehkan lebih dari empat istri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perintahkan untuk menceraikan istri yang lain (hingga tersisa empat).” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 399). Adapun pembatasan istri disebutkan dalam ayat Al Qur’an, وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3). Dari ayat ini, Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al-Bugha mengatakan, “Jika disebutkan bahwa nikahilah dua, tiga, atau empat, maka dipahami bahwa tidak bolehnya menggabungkan lebih dari empat istri sekaligus.” (Lihat At-Tadzhib, hal. 173).   Akan tetapi ada dua syarat yang mesti diperhatikan untuk bisa berpoligami: Pertama: Adil dalam perkara lahir, yaitu dalam nafkah dan pembagian malam. Adapun adil dalam hal batin, maka tidaklah wajib karena sulit dilakukan.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (QS. An Nisa’: 129). Yang dimaksud dalam ayat ini adalah sulitnya berbuat adil dalam hal batin, yaitu kecintaan di hati. Kedua: Kemampuan harta dan badan. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar karya Dr. Sa’adud Din bin Muhamad Al-Kubiy, 2: 51).   Hati-hati jika tidak bisa berbuat adil ketika berpoligami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ “Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.” (HR. Abu Daud, no. 2133; Ibnu Majah no. 1969; An-Nasa’i, no. 3394. Syaikh Al Albani menyatakan hadits tersebut shahih sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1949) Al-‘Azhim Abadi berkata, “Siapa yang memiliki dua isteri –misalnya- lantas ia tidak berbuat adil terhadap keduanya. Ia lebih cenderung pada salah satunya, tidak pada yang lainnya, maka salah satu sisi badannya akan mengalami kelumpuhan.” Beliau mengatakan pula, “Hadits di atas menunjukkan bahwa wajib bagi suami untuk menyamakan dan tak boleh condong pada salah satunya, yaitu dalam hal pembagian malam dan nafkah. Ini bukan berarti mesti sama dalam hal kecintaan. Kecintaan tersebut tak bisa seseorang membuatnya sama.” (‘Aun Al-Ma’bud, 6: 124). Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Al-Karim Ar-Rahman (Tafsir As-Sa’di). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Ar-Riasah Al-‘Ammah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam Selasa, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah persamaan gender

Wanita di Masa Jahiliyah Vs Masa Islam

Dalam risalah pertama kami ini akan dijelaskan bagaimanakah perlakuan pada wanita di masa jahiliyah dibandingkan di masa Islam ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus.   Pertama: Bayi wanita dimuliakan dalam Islam, sebelum Islam dikubur hidup-hidup   Lihat saja pada masa sebelum Islam ketika ada anak wanita yang lahir, maka orang Arab dahulu merasa tidak suka. Coba lihat bentuk ketidaksukaan mereka sebagaimana disebut dalam ayat berikut ini. وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ (57) وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59) “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 57-59) Orang musyrik menyatakan bahwa para malaikat yang benar-benar terus beribadah pada Allah sebagai anak perempuan Allah. Sedangkan untuk mereka orang musyrik ditetapkan apa yang mereka sukai yaitu anak laki-laki. Orang musyrik benar-benar sangat tidak suka dengan lahirnya anak perempuan. Makanya ketika anak perempuan itu lahir wajah mereka menghitam sebagai tanda bahwa telah mendapatkan musibah. Mereka sangat sedih kala itu. Mereka malu dan menyembunyikan diri dari orang banyak. Ada dua hal yang terjadi pada mereka: Menanggung malu Menguburkan anak perempuan dalam tanah hidup-hidup. Alangkah buruknya apa yang orang musyrik lakukan. Mereka tidak suka pada anak perempuan dan menetapkan apa yang tidak mereka sukai pada Allah Ta’ala. Demikian keterangan dari Syaikh As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 443. Kata Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (4: 687) orang musyrik menjadikan malaikat sebagai perempuan dan menjadikannya sebagai anak perempuan Allah, lantas mereka menyembah malaikat tadi bersama Allah (berbuat syirik). Ada tiga kekeliruan dari perbuatan orang musyrik tersebut: Menyatakan Allah memiliki anak, padahal Allah tidak memiliki anak. Orang musyrik menyandarkan anak perempuan pada Allah padahal perempuan itu lemah dibanding laki-laki. Anak perempuan sendiri tidaklah mereka sukai pada diri mereka. Demikian nukilan dari Ibnu Katsir. Bukti bahwa anak perempuan itu dikubur hidup-hidup adalah firman Allah Ta’ala, وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9) “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 8-9). Mereka orang musyrik kalau mendapati anak perempuan yang lahir, mereka kubur hidup-hidup. Jika selamat dari siksaan seperti itu, maka anak perempuan itu akan hidup dalam keadaan hina. Contohnya diperlakukan dengan tidak menambahkan hak waris. (Lihat Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat, hlm. 8) Bukti bahwa anak perempuan dimuliakan di masa Islam ketika lahir adalah ia tetap diaqiqahi dengan satu ekor kambing. Disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَنَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَلُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَتْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ. Dari Yusuf bin Mahak, mereka pernah menemui Hafshah binti ‘Abdirrahman. Mereka bertanya kepadanya tentang hukum aqiqah. Hafshah mengabarkan bahwa ‘Aisyah pernah memberitahu dia bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang hampir sama (umurnya ) untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.” (HR. Tirmidzi, no. 1513; Ibnu Majah, no. 3163. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Wanita mendapatkan jatah waris, beda dengan masa Jahiliyah yang tidak ada jatah sama sekali   Kalau di masa Jahiliyah, anak perempuan tidak mendapatkan jatah waris. Ini adalah efek dari mendapatkan bayi perempuan hingga mesti menahan malu dan hina. Ibnu Katsir menyatakan, orang Jahiliyah menjadikan seluruh jatah waris untuk laki-laki, perempuan tidak mendapatkan jatah sama sekali. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27) Setelah Islam datang, anak perempuan akhirnya mendapatkan jatah waris. Dalam ayat disebutkan, يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta.” (QS. An-Nisa’: 11) Ibnu Katsir menyebutkan alasan kenapa sampai jatah laki-laki dibuat dua kali dari perempuan.Itu karena kebutuhan laki-laki yang begitu besar. Ia mesti menanggung nafkah keluarga, bisa untuk ia berdagang dan mencari kerja, ia mesti menanggung berbagai beban berat. Jadinya wajar kalau jatah laki-laki dua kali dari perempuan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27)   Ketiga: Memiliki istri dibatasi di masa Islam   Di masa Jahiliyah sebelum Islam, memiliki istri itu tidak dibatasi. Buktinya ada dalam hadits-hadits berikut ini. عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِى ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا Dari Qois bin Al Harits, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki delapan istri. Aku pun mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut, lalu beliau bersabda: Pilihlah empat saja dari kedelapan istrimu tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 1952; Abu Daud, no. 2241. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ غَيْلاَنَ بْنَ سَلَمَةَ الثَّقَفِىَّ أَسْلَمَ وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَتَخَيَّرَ أَرْبَعًا مِنْهُنَّ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Ghaylan bin Salamah Ats-Tsaqofiy baru masuk Islam dan ia memiliki sepuluh istri di masa Jahiliyyah. Istri-istrinya tadi masuk Islam bersamanya, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia memilih empat saja dari istri-istrinya. (HR. Tirmidzi, no. 1128. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan, أَمْسِكْ أَرْبَعًا وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ “Pilih empat istri dan pisah dengan yang lain.” (HR. Ibnu Hibban 9: 465, perowinya tsiqoh termasuk perowi shahihain sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Setelah membawakan hadits ini, Abu Bakr Al-Hishniy berkata, “Seandainya dibolehkan lebih dari empat istri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perintahkan untuk menceraikan istri yang lain (hingga tersisa empat).” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 399). Adapun pembatasan istri disebutkan dalam ayat Al Qur’an, وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3). Dari ayat ini, Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al-Bugha mengatakan, “Jika disebutkan bahwa nikahilah dua, tiga, atau empat, maka dipahami bahwa tidak bolehnya menggabungkan lebih dari empat istri sekaligus.” (Lihat At-Tadzhib, hal. 173).   Akan tetapi ada dua syarat yang mesti diperhatikan untuk bisa berpoligami: Pertama: Adil dalam perkara lahir, yaitu dalam nafkah dan pembagian malam. Adapun adil dalam hal batin, maka tidaklah wajib karena sulit dilakukan.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (QS. An Nisa’: 129). Yang dimaksud dalam ayat ini adalah sulitnya berbuat adil dalam hal batin, yaitu kecintaan di hati. Kedua: Kemampuan harta dan badan. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar karya Dr. Sa’adud Din bin Muhamad Al-Kubiy, 2: 51).   Hati-hati jika tidak bisa berbuat adil ketika berpoligami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ “Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.” (HR. Abu Daud, no. 2133; Ibnu Majah no. 1969; An-Nasa’i, no. 3394. Syaikh Al Albani menyatakan hadits tersebut shahih sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1949) Al-‘Azhim Abadi berkata, “Siapa yang memiliki dua isteri –misalnya- lantas ia tidak berbuat adil terhadap keduanya. Ia lebih cenderung pada salah satunya, tidak pada yang lainnya, maka salah satu sisi badannya akan mengalami kelumpuhan.” Beliau mengatakan pula, “Hadits di atas menunjukkan bahwa wajib bagi suami untuk menyamakan dan tak boleh condong pada salah satunya, yaitu dalam hal pembagian malam dan nafkah. Ini bukan berarti mesti sama dalam hal kecintaan. Kecintaan tersebut tak bisa seseorang membuatnya sama.” (‘Aun Al-Ma’bud, 6: 124). Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Al-Karim Ar-Rahman (Tafsir As-Sa’di). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Ar-Riasah Al-‘Ammah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam Selasa, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah persamaan gender
Dalam risalah pertama kami ini akan dijelaskan bagaimanakah perlakuan pada wanita di masa jahiliyah dibandingkan di masa Islam ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus.   Pertama: Bayi wanita dimuliakan dalam Islam, sebelum Islam dikubur hidup-hidup   Lihat saja pada masa sebelum Islam ketika ada anak wanita yang lahir, maka orang Arab dahulu merasa tidak suka. Coba lihat bentuk ketidaksukaan mereka sebagaimana disebut dalam ayat berikut ini. وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ (57) وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59) “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 57-59) Orang musyrik menyatakan bahwa para malaikat yang benar-benar terus beribadah pada Allah sebagai anak perempuan Allah. Sedangkan untuk mereka orang musyrik ditetapkan apa yang mereka sukai yaitu anak laki-laki. Orang musyrik benar-benar sangat tidak suka dengan lahirnya anak perempuan. Makanya ketika anak perempuan itu lahir wajah mereka menghitam sebagai tanda bahwa telah mendapatkan musibah. Mereka sangat sedih kala itu. Mereka malu dan menyembunyikan diri dari orang banyak. Ada dua hal yang terjadi pada mereka: Menanggung malu Menguburkan anak perempuan dalam tanah hidup-hidup. Alangkah buruknya apa yang orang musyrik lakukan. Mereka tidak suka pada anak perempuan dan menetapkan apa yang tidak mereka sukai pada Allah Ta’ala. Demikian keterangan dari Syaikh As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 443. Kata Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (4: 687) orang musyrik menjadikan malaikat sebagai perempuan dan menjadikannya sebagai anak perempuan Allah, lantas mereka menyembah malaikat tadi bersama Allah (berbuat syirik). Ada tiga kekeliruan dari perbuatan orang musyrik tersebut: Menyatakan Allah memiliki anak, padahal Allah tidak memiliki anak. Orang musyrik menyandarkan anak perempuan pada Allah padahal perempuan itu lemah dibanding laki-laki. Anak perempuan sendiri tidaklah mereka sukai pada diri mereka. Demikian nukilan dari Ibnu Katsir. Bukti bahwa anak perempuan itu dikubur hidup-hidup adalah firman Allah Ta’ala, وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9) “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 8-9). Mereka orang musyrik kalau mendapati anak perempuan yang lahir, mereka kubur hidup-hidup. Jika selamat dari siksaan seperti itu, maka anak perempuan itu akan hidup dalam keadaan hina. Contohnya diperlakukan dengan tidak menambahkan hak waris. (Lihat Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat, hlm. 8) Bukti bahwa anak perempuan dimuliakan di masa Islam ketika lahir adalah ia tetap diaqiqahi dengan satu ekor kambing. Disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَنَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَلُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَتْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ. Dari Yusuf bin Mahak, mereka pernah menemui Hafshah binti ‘Abdirrahman. Mereka bertanya kepadanya tentang hukum aqiqah. Hafshah mengabarkan bahwa ‘Aisyah pernah memberitahu dia bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang hampir sama (umurnya ) untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.” (HR. Tirmidzi, no. 1513; Ibnu Majah, no. 3163. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Wanita mendapatkan jatah waris, beda dengan masa Jahiliyah yang tidak ada jatah sama sekali   Kalau di masa Jahiliyah, anak perempuan tidak mendapatkan jatah waris. Ini adalah efek dari mendapatkan bayi perempuan hingga mesti menahan malu dan hina. Ibnu Katsir menyatakan, orang Jahiliyah menjadikan seluruh jatah waris untuk laki-laki, perempuan tidak mendapatkan jatah sama sekali. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27) Setelah Islam datang, anak perempuan akhirnya mendapatkan jatah waris. Dalam ayat disebutkan, يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta.” (QS. An-Nisa’: 11) Ibnu Katsir menyebutkan alasan kenapa sampai jatah laki-laki dibuat dua kali dari perempuan.Itu karena kebutuhan laki-laki yang begitu besar. Ia mesti menanggung nafkah keluarga, bisa untuk ia berdagang dan mencari kerja, ia mesti menanggung berbagai beban berat. Jadinya wajar kalau jatah laki-laki dua kali dari perempuan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27)   Ketiga: Memiliki istri dibatasi di masa Islam   Di masa Jahiliyah sebelum Islam, memiliki istri itu tidak dibatasi. Buktinya ada dalam hadits-hadits berikut ini. عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِى ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا Dari Qois bin Al Harits, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki delapan istri. Aku pun mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut, lalu beliau bersabda: Pilihlah empat saja dari kedelapan istrimu tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 1952; Abu Daud, no. 2241. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ غَيْلاَنَ بْنَ سَلَمَةَ الثَّقَفِىَّ أَسْلَمَ وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَتَخَيَّرَ أَرْبَعًا مِنْهُنَّ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Ghaylan bin Salamah Ats-Tsaqofiy baru masuk Islam dan ia memiliki sepuluh istri di masa Jahiliyyah. Istri-istrinya tadi masuk Islam bersamanya, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia memilih empat saja dari istri-istrinya. (HR. Tirmidzi, no. 1128. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan, أَمْسِكْ أَرْبَعًا وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ “Pilih empat istri dan pisah dengan yang lain.” (HR. Ibnu Hibban 9: 465, perowinya tsiqoh termasuk perowi shahihain sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Setelah membawakan hadits ini, Abu Bakr Al-Hishniy berkata, “Seandainya dibolehkan lebih dari empat istri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perintahkan untuk menceraikan istri yang lain (hingga tersisa empat).” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 399). Adapun pembatasan istri disebutkan dalam ayat Al Qur’an, وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3). Dari ayat ini, Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al-Bugha mengatakan, “Jika disebutkan bahwa nikahilah dua, tiga, atau empat, maka dipahami bahwa tidak bolehnya menggabungkan lebih dari empat istri sekaligus.” (Lihat At-Tadzhib, hal. 173).   Akan tetapi ada dua syarat yang mesti diperhatikan untuk bisa berpoligami: Pertama: Adil dalam perkara lahir, yaitu dalam nafkah dan pembagian malam. Adapun adil dalam hal batin, maka tidaklah wajib karena sulit dilakukan.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (QS. An Nisa’: 129). Yang dimaksud dalam ayat ini adalah sulitnya berbuat adil dalam hal batin, yaitu kecintaan di hati. Kedua: Kemampuan harta dan badan. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar karya Dr. Sa’adud Din bin Muhamad Al-Kubiy, 2: 51).   Hati-hati jika tidak bisa berbuat adil ketika berpoligami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ “Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.” (HR. Abu Daud, no. 2133; Ibnu Majah no. 1969; An-Nasa’i, no. 3394. Syaikh Al Albani menyatakan hadits tersebut shahih sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1949) Al-‘Azhim Abadi berkata, “Siapa yang memiliki dua isteri –misalnya- lantas ia tidak berbuat adil terhadap keduanya. Ia lebih cenderung pada salah satunya, tidak pada yang lainnya, maka salah satu sisi badannya akan mengalami kelumpuhan.” Beliau mengatakan pula, “Hadits di atas menunjukkan bahwa wajib bagi suami untuk menyamakan dan tak boleh condong pada salah satunya, yaitu dalam hal pembagian malam dan nafkah. Ini bukan berarti mesti sama dalam hal kecintaan. Kecintaan tersebut tak bisa seseorang membuatnya sama.” (‘Aun Al-Ma’bud, 6: 124). Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Al-Karim Ar-Rahman (Tafsir As-Sa’di). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Ar-Riasah Al-‘Ammah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam Selasa, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah persamaan gender


Dalam risalah pertama kami ini akan dijelaskan bagaimanakah perlakuan pada wanita di masa jahiliyah dibandingkan di masa Islam ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus.   Pertama: Bayi wanita dimuliakan dalam Islam, sebelum Islam dikubur hidup-hidup   Lihat saja pada masa sebelum Islam ketika ada anak wanita yang lahir, maka orang Arab dahulu merasa tidak suka. Coba lihat bentuk ketidaksukaan mereka sebagaimana disebut dalam ayat berikut ini. وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ (57) وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59) “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 57-59) Orang musyrik menyatakan bahwa para malaikat yang benar-benar terus beribadah pada Allah sebagai anak perempuan Allah. Sedangkan untuk mereka orang musyrik ditetapkan apa yang mereka sukai yaitu anak laki-laki. Orang musyrik benar-benar sangat tidak suka dengan lahirnya anak perempuan. Makanya ketika anak perempuan itu lahir wajah mereka menghitam sebagai tanda bahwa telah mendapatkan musibah. Mereka sangat sedih kala itu. Mereka malu dan menyembunyikan diri dari orang banyak. Ada dua hal yang terjadi pada mereka: Menanggung malu Menguburkan anak perempuan dalam tanah hidup-hidup. Alangkah buruknya apa yang orang musyrik lakukan. Mereka tidak suka pada anak perempuan dan menetapkan apa yang tidak mereka sukai pada Allah Ta’ala. Demikian keterangan dari Syaikh As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 443. Kata Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (4: 687) orang musyrik menjadikan malaikat sebagai perempuan dan menjadikannya sebagai anak perempuan Allah, lantas mereka menyembah malaikat tadi bersama Allah (berbuat syirik). Ada tiga kekeliruan dari perbuatan orang musyrik tersebut: Menyatakan Allah memiliki anak, padahal Allah tidak memiliki anak. Orang musyrik menyandarkan anak perempuan pada Allah padahal perempuan itu lemah dibanding laki-laki. Anak perempuan sendiri tidaklah mereka sukai pada diri mereka. Demikian nukilan dari Ibnu Katsir. Bukti bahwa anak perempuan itu dikubur hidup-hidup adalah firman Allah Ta’ala, وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9) “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 8-9). Mereka orang musyrik kalau mendapati anak perempuan yang lahir, mereka kubur hidup-hidup. Jika selamat dari siksaan seperti itu, maka anak perempuan itu akan hidup dalam keadaan hina. Contohnya diperlakukan dengan tidak menambahkan hak waris. (Lihat Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat, hlm. 8) Bukti bahwa anak perempuan dimuliakan di masa Islam ketika lahir adalah ia tetap diaqiqahi dengan satu ekor kambing. Disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَنَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَلُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَتْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ. Dari Yusuf bin Mahak, mereka pernah menemui Hafshah binti ‘Abdirrahman. Mereka bertanya kepadanya tentang hukum aqiqah. Hafshah mengabarkan bahwa ‘Aisyah pernah memberitahu dia bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang hampir sama (umurnya ) untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.” (HR. Tirmidzi, no. 1513; Ibnu Majah, no. 3163. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Wanita mendapatkan jatah waris, beda dengan masa Jahiliyah yang tidak ada jatah sama sekali   Kalau di masa Jahiliyah, anak perempuan tidak mendapatkan jatah waris. Ini adalah efek dari mendapatkan bayi perempuan hingga mesti menahan malu dan hina. Ibnu Katsir menyatakan, orang Jahiliyah menjadikan seluruh jatah waris untuk laki-laki, perempuan tidak mendapatkan jatah sama sekali. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27) Setelah Islam datang, anak perempuan akhirnya mendapatkan jatah waris. Dalam ayat disebutkan, يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta.” (QS. An-Nisa’: 11) Ibnu Katsir menyebutkan alasan kenapa sampai jatah laki-laki dibuat dua kali dari perempuan.Itu karena kebutuhan laki-laki yang begitu besar. Ia mesti menanggung nafkah keluarga, bisa untuk ia berdagang dan mencari kerja, ia mesti menanggung berbagai beban berat. Jadinya wajar kalau jatah laki-laki dua kali dari perempuan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 27)   Ketiga: Memiliki istri dibatasi di masa Islam   Di masa Jahiliyah sebelum Islam, memiliki istri itu tidak dibatasi. Buktinya ada dalam hadits-hadits berikut ini. عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِى ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا Dari Qois bin Al Harits, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki delapan istri. Aku pun mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut, lalu beliau bersabda: Pilihlah empat saja dari kedelapan istrimu tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 1952; Abu Daud, no. 2241. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ غَيْلاَنَ بْنَ سَلَمَةَ الثَّقَفِىَّ أَسْلَمَ وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَتَخَيَّرَ أَرْبَعًا مِنْهُنَّ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Ghaylan bin Salamah Ats-Tsaqofiy baru masuk Islam dan ia memiliki sepuluh istri di masa Jahiliyyah. Istri-istrinya tadi masuk Islam bersamanya, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia memilih empat saja dari istri-istrinya. (HR. Tirmidzi, no. 1128. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan, أَمْسِكْ أَرْبَعًا وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ “Pilih empat istri dan pisah dengan yang lain.” (HR. Ibnu Hibban 9: 465, perowinya tsiqoh termasuk perowi shahihain sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Setelah membawakan hadits ini, Abu Bakr Al-Hishniy berkata, “Seandainya dibolehkan lebih dari empat istri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perintahkan untuk menceraikan istri yang lain (hingga tersisa empat).” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 399). Adapun pembatasan istri disebutkan dalam ayat Al Qur’an, وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3). Dari ayat ini, Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al-Bugha mengatakan, “Jika disebutkan bahwa nikahilah dua, tiga, atau empat, maka dipahami bahwa tidak bolehnya menggabungkan lebih dari empat istri sekaligus.” (Lihat At-Tadzhib, hal. 173).   Akan tetapi ada dua syarat yang mesti diperhatikan untuk bisa berpoligami: Pertama: Adil dalam perkara lahir, yaitu dalam nafkah dan pembagian malam. Adapun adil dalam hal batin, maka tidaklah wajib karena sulit dilakukan.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (QS. An Nisa’: 129). Yang dimaksud dalam ayat ini adalah sulitnya berbuat adil dalam hal batin, yaitu kecintaan di hati. Kedua: Kemampuan harta dan badan. (Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar karya Dr. Sa’adud Din bin Muhamad Al-Kubiy, 2: 51).   Hati-hati jika tidak bisa berbuat adil ketika berpoligami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ “Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.” (HR. Abu Daud, no. 2133; Ibnu Majah no. 1969; An-Nasa’i, no. 3394. Syaikh Al Albani menyatakan hadits tersebut shahih sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1949) Al-‘Azhim Abadi berkata, “Siapa yang memiliki dua isteri –misalnya- lantas ia tidak berbuat adil terhadap keduanya. Ia lebih cenderung pada salah satunya, tidak pada yang lainnya, maka salah satu sisi badannya akan mengalami kelumpuhan.” Beliau mengatakan pula, “Hadits di atas menunjukkan bahwa wajib bagi suami untuk menyamakan dan tak boleh condong pada salah satunya, yaitu dalam hal pembagian malam dan nafkah. Ini bukan berarti mesti sama dalam hal kecintaan. Kecintaan tersebut tak bisa seseorang membuatnya sama.” (‘Aun Al-Ma’bud, 6: 124). Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Al-Karim Ar-Rahman (Tafsir As-Sa’di). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtasshu bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Ar-Riasah Al-‘Ammah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, malam Selasa, 6 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsjahiliyah persamaan gender

Qurban di Daerah Minus di Gunungkidul (s.d 12 Agustus 2016)

Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini harga qurban yang berlaku hingga 12 Agustus 2016.   Target 50 Sapi, 300 Kambing Keadaan saat ini (8/8/2016): 98 ekor kambing dan 17 4/7 sapi Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Dan tahun ini adalah tahun kelima dengan target penyaluran di Panggang dan Purwosari, dua kecamatan di bagian barat Gunungkidul. Karena dari sisi ekonomi, kedua daerah ini masih tertinggal. Namun penyalurannya akan disebar pula di pesisir pantai Selatan Gunungkidul. Ini donasi qurban edisi kedua di tahun ini, harga hanya berlaku hingga Jum’at 12 Agustus 2016. Setelah itu harga qurban akan berubah, menyesuaikan harga pasar. Harga qurban sapi: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- Harga qurban kambing mulai dari: Kelas Biasa: Rp.1.900.000,- s/d Rp.2.900.000,- Kelas Super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,-   * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya. Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 sapi# BSM# 9 Agustus 2016# 2.250.000. Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban

Qurban di Daerah Minus di Gunungkidul (s.d 12 Agustus 2016)

Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini harga qurban yang berlaku hingga 12 Agustus 2016.   Target 50 Sapi, 300 Kambing Keadaan saat ini (8/8/2016): 98 ekor kambing dan 17 4/7 sapi Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Dan tahun ini adalah tahun kelima dengan target penyaluran di Panggang dan Purwosari, dua kecamatan di bagian barat Gunungkidul. Karena dari sisi ekonomi, kedua daerah ini masih tertinggal. Namun penyalurannya akan disebar pula di pesisir pantai Selatan Gunungkidul. Ini donasi qurban edisi kedua di tahun ini, harga hanya berlaku hingga Jum’at 12 Agustus 2016. Setelah itu harga qurban akan berubah, menyesuaikan harga pasar. Harga qurban sapi: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- Harga qurban kambing mulai dari: Kelas Biasa: Rp.1.900.000,- s/d Rp.2.900.000,- Kelas Super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,-   * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya. Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 sapi# BSM# 9 Agustus 2016# 2.250.000. Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban
Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini harga qurban yang berlaku hingga 12 Agustus 2016.   Target 50 Sapi, 300 Kambing Keadaan saat ini (8/8/2016): 98 ekor kambing dan 17 4/7 sapi Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Dan tahun ini adalah tahun kelima dengan target penyaluran di Panggang dan Purwosari, dua kecamatan di bagian barat Gunungkidul. Karena dari sisi ekonomi, kedua daerah ini masih tertinggal. Namun penyalurannya akan disebar pula di pesisir pantai Selatan Gunungkidul. Ini donasi qurban edisi kedua di tahun ini, harga hanya berlaku hingga Jum’at 12 Agustus 2016. Setelah itu harga qurban akan berubah, menyesuaikan harga pasar. Harga qurban sapi: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- Harga qurban kambing mulai dari: Kelas Biasa: Rp.1.900.000,- s/d Rp.2.900.000,- Kelas Super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,-   * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya. Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 sapi# BSM# 9 Agustus 2016# 2.250.000. Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban


Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini harga qurban yang berlaku hingga 12 Agustus 2016.   Target 50 Sapi, 300 Kambing Keadaan saat ini (8/8/2016): 98 ekor kambing dan 17 4/7 sapi Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Dan tahun ini adalah tahun kelima dengan target penyaluran di Panggang dan Purwosari, dua kecamatan di bagian barat Gunungkidul. Karena dari sisi ekonomi, kedua daerah ini masih tertinggal. Namun penyalurannya akan disebar pula di pesisir pantai Selatan Gunungkidul. Ini donasi qurban edisi kedua di tahun ini, harga hanya berlaku hingga Jum’at 12 Agustus 2016. Setelah itu harga qurban akan berubah, menyesuaikan harga pasar. Harga qurban sapi: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- Harga qurban kambing mulai dari: Kelas Biasa: Rp.1.900.000,- s/d Rp.2.900.000,- Kelas Super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,-   * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya. Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 sapi# BSM# 9 Agustus 2016# 2.250.000. Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban

Apa itu Hadits Hasan Lighairihi?

Hadits Hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan dari perawi yang memiliki sifat ‘adalah (muslim, baligh, berakal dan masyhur dengan ketaatannya), walaupun dhabithnya kurang (hafalannya kurang) atau haditsnya tidak terlalu dha’if jika memiliki penguat, tidak ada syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat), dan tidak ada ‘illah (cacat). Hadits hasan ada dua macam: hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Hasan lidzatihi adalah hadits yang dilihat dari jalur periwayatannya sendiri hasan. Hasan lighairihi adalah hadits yang dilihat dari sanadnya dha’if namun dikuatkan dari jalur lainnya, tetap tidak mengandung syadz dan ‘illah. Contoh haditsnya adalah hadits tentang sifat parfum wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Lihat perbedaan penilaian dari Al-Hafizh Abu Thahir dan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Yang satu menyatakan dha’if. Yang lainnya menyatakan hasan lighairihi. Keterangan dari Syaikh Musthafa Al-‘Adawi rahimahullah: Syaikh Mustahafa dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’ membawakan hadits dengan riwayat berikut ini. Diriwayatkan oleh Tirmidzi, hadits no. 2788 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِىُّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ لِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ خَيْرَ طِيبِ الرَّجُلِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَخَيْرَ طِيبِ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ ». وَنَهَى عَنْ مِيثَرَةِ الأُرْجُوَانِ Isi haditsnya sama, namun dari sahabat ‘Imran bin Hushain. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi mengatakan, “Dalam sanad hadits ini terdapat kedha’ifan karena tidak mendengarnya Al-Hasan dari ‘Imran, akan tetapi hadits ini punya syawahid (penguat). Di antara penguatnya adalah riwayat Tirmidzi, no. 2787; Abu Daud, no. 2174 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, marfu’ -sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga dikeluarkan pula oleh An-Nasa’i. Juga hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Anas sebagaimana diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 3832. Hadits tersebut telah dishahihkan dalam kitab tersebut. Hadits Abu Hurairah itu dihasankan oleh Imam Tirmidzi, padahal terdapat kedha’ifan. Adapun hadits Anas disebutkan dalam Faidul Qadir bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari Al-Bazzar (ada tambahan pada Ath-Athbarani dan Adh-Dhiya’), Al-Haitsami mengatakan perawinya adalah perawi yang shahih.” Kesimpulannya, hadits yang jadi contoh di atas adalah hadits hasan lighairihi, asalnya dha’if namun memiliki penguat dari jalur lain sehingga terangkat menjadi hasan lighairihi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fi Musthalah Ahli Al-Atsar. Cetakan pertama, 1434 H. Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad Ar-Razihi. Penerbit Darush Shahabah. Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistilah hadits

Apa itu Hadits Hasan Lighairihi?

Hadits Hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan dari perawi yang memiliki sifat ‘adalah (muslim, baligh, berakal dan masyhur dengan ketaatannya), walaupun dhabithnya kurang (hafalannya kurang) atau haditsnya tidak terlalu dha’if jika memiliki penguat, tidak ada syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat), dan tidak ada ‘illah (cacat). Hadits hasan ada dua macam: hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Hasan lidzatihi adalah hadits yang dilihat dari jalur periwayatannya sendiri hasan. Hasan lighairihi adalah hadits yang dilihat dari sanadnya dha’if namun dikuatkan dari jalur lainnya, tetap tidak mengandung syadz dan ‘illah. Contoh haditsnya adalah hadits tentang sifat parfum wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Lihat perbedaan penilaian dari Al-Hafizh Abu Thahir dan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Yang satu menyatakan dha’if. Yang lainnya menyatakan hasan lighairihi. Keterangan dari Syaikh Musthafa Al-‘Adawi rahimahullah: Syaikh Mustahafa dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’ membawakan hadits dengan riwayat berikut ini. Diriwayatkan oleh Tirmidzi, hadits no. 2788 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِىُّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ لِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ خَيْرَ طِيبِ الرَّجُلِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَخَيْرَ طِيبِ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ ». وَنَهَى عَنْ مِيثَرَةِ الأُرْجُوَانِ Isi haditsnya sama, namun dari sahabat ‘Imran bin Hushain. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi mengatakan, “Dalam sanad hadits ini terdapat kedha’ifan karena tidak mendengarnya Al-Hasan dari ‘Imran, akan tetapi hadits ini punya syawahid (penguat). Di antara penguatnya adalah riwayat Tirmidzi, no. 2787; Abu Daud, no. 2174 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, marfu’ -sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga dikeluarkan pula oleh An-Nasa’i. Juga hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Anas sebagaimana diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 3832. Hadits tersebut telah dishahihkan dalam kitab tersebut. Hadits Abu Hurairah itu dihasankan oleh Imam Tirmidzi, padahal terdapat kedha’ifan. Adapun hadits Anas disebutkan dalam Faidul Qadir bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari Al-Bazzar (ada tambahan pada Ath-Athbarani dan Adh-Dhiya’), Al-Haitsami mengatakan perawinya adalah perawi yang shahih.” Kesimpulannya, hadits yang jadi contoh di atas adalah hadits hasan lighairihi, asalnya dha’if namun memiliki penguat dari jalur lain sehingga terangkat menjadi hasan lighairihi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fi Musthalah Ahli Al-Atsar. Cetakan pertama, 1434 H. Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad Ar-Razihi. Penerbit Darush Shahabah. Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistilah hadits
Hadits Hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan dari perawi yang memiliki sifat ‘adalah (muslim, baligh, berakal dan masyhur dengan ketaatannya), walaupun dhabithnya kurang (hafalannya kurang) atau haditsnya tidak terlalu dha’if jika memiliki penguat, tidak ada syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat), dan tidak ada ‘illah (cacat). Hadits hasan ada dua macam: hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Hasan lidzatihi adalah hadits yang dilihat dari jalur periwayatannya sendiri hasan. Hasan lighairihi adalah hadits yang dilihat dari sanadnya dha’if namun dikuatkan dari jalur lainnya, tetap tidak mengandung syadz dan ‘illah. Contoh haditsnya adalah hadits tentang sifat parfum wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Lihat perbedaan penilaian dari Al-Hafizh Abu Thahir dan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Yang satu menyatakan dha’if. Yang lainnya menyatakan hasan lighairihi. Keterangan dari Syaikh Musthafa Al-‘Adawi rahimahullah: Syaikh Mustahafa dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’ membawakan hadits dengan riwayat berikut ini. Diriwayatkan oleh Tirmidzi, hadits no. 2788 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِىُّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ لِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ خَيْرَ طِيبِ الرَّجُلِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَخَيْرَ طِيبِ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ ». وَنَهَى عَنْ مِيثَرَةِ الأُرْجُوَانِ Isi haditsnya sama, namun dari sahabat ‘Imran bin Hushain. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi mengatakan, “Dalam sanad hadits ini terdapat kedha’ifan karena tidak mendengarnya Al-Hasan dari ‘Imran, akan tetapi hadits ini punya syawahid (penguat). Di antara penguatnya adalah riwayat Tirmidzi, no. 2787; Abu Daud, no. 2174 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, marfu’ -sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga dikeluarkan pula oleh An-Nasa’i. Juga hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Anas sebagaimana diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 3832. Hadits tersebut telah dishahihkan dalam kitab tersebut. Hadits Abu Hurairah itu dihasankan oleh Imam Tirmidzi, padahal terdapat kedha’ifan. Adapun hadits Anas disebutkan dalam Faidul Qadir bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari Al-Bazzar (ada tambahan pada Ath-Athbarani dan Adh-Dhiya’), Al-Haitsami mengatakan perawinya adalah perawi yang shahih.” Kesimpulannya, hadits yang jadi contoh di atas adalah hadits hasan lighairihi, asalnya dha’if namun memiliki penguat dari jalur lain sehingga terangkat menjadi hasan lighairihi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fi Musthalah Ahli Al-Atsar. Cetakan pertama, 1434 H. Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad Ar-Razihi. Penerbit Darush Shahabah. Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistilah hadits


Hadits Hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan dari perawi yang memiliki sifat ‘adalah (muslim, baligh, berakal dan masyhur dengan ketaatannya), walaupun dhabithnya kurang (hafalannya kurang) atau haditsnya tidak terlalu dha’if jika memiliki penguat, tidak ada syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat), dan tidak ada ‘illah (cacat). Hadits hasan ada dua macam: hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Hasan lidzatihi adalah hadits yang dilihat dari jalur periwayatannya sendiri hasan. Hasan lighairihi adalah hadits yang dilihat dari sanadnya dha’if namun dikuatkan dari jalur lainnya, tetap tidak mengandung syadz dan ‘illah. Contoh haditsnya adalah hadits tentang sifat parfum wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Lihat perbedaan penilaian dari Al-Hafizh Abu Thahir dan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Yang satu menyatakan dha’if. Yang lainnya menyatakan hasan lighairihi. Keterangan dari Syaikh Musthafa Al-‘Adawi rahimahullah: Syaikh Mustahafa dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’ membawakan hadits dengan riwayat berikut ini. Diriwayatkan oleh Tirmidzi, hadits no. 2788 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِىُّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ لِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ خَيْرَ طِيبِ الرَّجُلِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَخَيْرَ طِيبِ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ ». وَنَهَى عَنْ مِيثَرَةِ الأُرْجُوَانِ Isi haditsnya sama, namun dari sahabat ‘Imran bin Hushain. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi mengatakan, “Dalam sanad hadits ini terdapat kedha’ifan karena tidak mendengarnya Al-Hasan dari ‘Imran, akan tetapi hadits ini punya syawahid (penguat). Di antara penguatnya adalah riwayat Tirmidzi, no. 2787; Abu Daud, no. 2174 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, marfu’ -sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga dikeluarkan pula oleh An-Nasa’i. Juga hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Anas sebagaimana diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 3832. Hadits tersebut telah dishahihkan dalam kitab tersebut. Hadits Abu Hurairah itu dihasankan oleh Imam Tirmidzi, padahal terdapat kedha’ifan. Adapun hadits Anas disebutkan dalam Faidul Qadir bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari Al-Bazzar (ada tambahan pada Ath-Athbarani dan Adh-Dhiya’), Al-Haitsami mengatakan perawinya adalah perawi yang shahih.” Kesimpulannya, hadits yang jadi contoh di atas adalah hadits hasan lighairihi, asalnya dha’if namun memiliki penguat dari jalur lain sehingga terangkat menjadi hasan lighairihi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fi Musthalah Ahli Al-Atsar. Cetakan pertama, 1434 H. Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad Ar-Razihi. Penerbit Darush Shahabah. Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistilah hadits

Catering Aqiqah pada Hari Keenam

Kita sudah mengetahui bahwa aqiqah itu pada hari ketujuh. Apa yang dimaksud? Apa pembagiannya atau penyembelihan hewan aqiqahnya? Coba lihat tekstual hadits berikut ini: عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samuah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An-Nasai no. 4225, Ibnu Majah no. 3165, Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hari yang dimaksudkan adalah siang hari. Lihat kalimatnya: “disembelihkan untuknya pada hari ketujuh”. Yang dimaksudkan hari ketujuh ini adalah penyembelihannya. Pembagian aqiqahnya tidak masalah dilakukan pada hari kedelapan, walau penyembelihannya dilakukan di hari sebelumnya. Keterangan hari ketujuh di atas sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi berikut ini. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menyembelih aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran. Apa hari kelahiran masuk dalam hitungan ketujuh? Di sini ada dua pendapat sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syasyi dan ulama lainnya. Pendapat yang paling shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sehingga hitungan hari penyembelihan aqiqah adalah enam hari setelah kelahiran. Pendapat kedua menyatakan hari kelahiran tidak termasuk dalam hitungan, sehingga penyembelihan aqiqah dilakukan tujuh hari setelah kelahiran. Pendapat kedua ini disebutkan dalam kitab Al-Buyuthi. Akan tetapi pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i adalah pendapat pertama, itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi itu lahir di malam hari, maka waktu aqiqah mulai dihitung dari hari setelah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana dinyatakan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau menyebutkan bahwa hari lahir tidak masuk dalam hitungan tujuh hari.” (Al-Majmu’, 8: 250) Kalau hewan aqiqah disembelih pada hari keenam, apakah tetap sah? Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Sehingga saran kami, catering aqiqah tetap melakukan penyembelihan pada hari ketujuh, itu lebih utama. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Prepared @ 20: 53 WIB, 6 Dzulqa’dah 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah

Catering Aqiqah pada Hari Keenam

Kita sudah mengetahui bahwa aqiqah itu pada hari ketujuh. Apa yang dimaksud? Apa pembagiannya atau penyembelihan hewan aqiqahnya? Coba lihat tekstual hadits berikut ini: عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samuah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An-Nasai no. 4225, Ibnu Majah no. 3165, Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hari yang dimaksudkan adalah siang hari. Lihat kalimatnya: “disembelihkan untuknya pada hari ketujuh”. Yang dimaksudkan hari ketujuh ini adalah penyembelihannya. Pembagian aqiqahnya tidak masalah dilakukan pada hari kedelapan, walau penyembelihannya dilakukan di hari sebelumnya. Keterangan hari ketujuh di atas sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi berikut ini. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menyembelih aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran. Apa hari kelahiran masuk dalam hitungan ketujuh? Di sini ada dua pendapat sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syasyi dan ulama lainnya. Pendapat yang paling shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sehingga hitungan hari penyembelihan aqiqah adalah enam hari setelah kelahiran. Pendapat kedua menyatakan hari kelahiran tidak termasuk dalam hitungan, sehingga penyembelihan aqiqah dilakukan tujuh hari setelah kelahiran. Pendapat kedua ini disebutkan dalam kitab Al-Buyuthi. Akan tetapi pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i adalah pendapat pertama, itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi itu lahir di malam hari, maka waktu aqiqah mulai dihitung dari hari setelah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana dinyatakan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau menyebutkan bahwa hari lahir tidak masuk dalam hitungan tujuh hari.” (Al-Majmu’, 8: 250) Kalau hewan aqiqah disembelih pada hari keenam, apakah tetap sah? Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Sehingga saran kami, catering aqiqah tetap melakukan penyembelihan pada hari ketujuh, itu lebih utama. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Prepared @ 20: 53 WIB, 6 Dzulqa’dah 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah
Kita sudah mengetahui bahwa aqiqah itu pada hari ketujuh. Apa yang dimaksud? Apa pembagiannya atau penyembelihan hewan aqiqahnya? Coba lihat tekstual hadits berikut ini: عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samuah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An-Nasai no. 4225, Ibnu Majah no. 3165, Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hari yang dimaksudkan adalah siang hari. Lihat kalimatnya: “disembelihkan untuknya pada hari ketujuh”. Yang dimaksudkan hari ketujuh ini adalah penyembelihannya. Pembagian aqiqahnya tidak masalah dilakukan pada hari kedelapan, walau penyembelihannya dilakukan di hari sebelumnya. Keterangan hari ketujuh di atas sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi berikut ini. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menyembelih aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran. Apa hari kelahiran masuk dalam hitungan ketujuh? Di sini ada dua pendapat sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syasyi dan ulama lainnya. Pendapat yang paling shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sehingga hitungan hari penyembelihan aqiqah adalah enam hari setelah kelahiran. Pendapat kedua menyatakan hari kelahiran tidak termasuk dalam hitungan, sehingga penyembelihan aqiqah dilakukan tujuh hari setelah kelahiran. Pendapat kedua ini disebutkan dalam kitab Al-Buyuthi. Akan tetapi pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i adalah pendapat pertama, itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi itu lahir di malam hari, maka waktu aqiqah mulai dihitung dari hari setelah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana dinyatakan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau menyebutkan bahwa hari lahir tidak masuk dalam hitungan tujuh hari.” (Al-Majmu’, 8: 250) Kalau hewan aqiqah disembelih pada hari keenam, apakah tetap sah? Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Sehingga saran kami, catering aqiqah tetap melakukan penyembelihan pada hari ketujuh, itu lebih utama. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Prepared @ 20: 53 WIB, 6 Dzulqa’dah 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah


Kita sudah mengetahui bahwa aqiqah itu pada hari ketujuh. Apa yang dimaksud? Apa pembagiannya atau penyembelihan hewan aqiqahnya? Coba lihat tekstual hadits berikut ini: عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى Dari Samuah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An-Nasai no. 4225, Ibnu Majah no. 3165, Ahmad 5: 12. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hari yang dimaksudkan adalah siang hari. Lihat kalimatnya: “disembelihkan untuknya pada hari ketujuh”. Yang dimaksudkan hari ketujuh ini adalah penyembelihannya. Pembagian aqiqahnya tidak masalah dilakukan pada hari kedelapan, walau penyembelihannya dilakukan di hari sebelumnya. Keterangan hari ketujuh di atas sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi berikut ini. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Disunnahkan menyembelih aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran. Apa hari kelahiran masuk dalam hitungan ketujuh? Di sini ada dua pendapat sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syasyi dan ulama lainnya. Pendapat yang paling shahih, hari kelahiran masuk dalam hitungan, sehingga hitungan hari penyembelihan aqiqah adalah enam hari setelah kelahiran. Pendapat kedua menyatakan hari kelahiran tidak termasuk dalam hitungan, sehingga penyembelihan aqiqah dilakukan tujuh hari setelah kelahiran. Pendapat kedua ini disebutkan dalam kitab Al-Buyuthi. Akan tetapi pendapat yang dipilih dalam madzhab Syafi’i adalah pendapat pertama, itulah yang dimaksudkan dengan tekstual hadits. Jika bayi itu lahir di malam hari, maka waktu aqiqah mulai dihitung dari hari setelah kelahiran. Hal ini tidak diperselisihkan sebagaimana dinyatakan oleh Al-Buyuthi. Walaupun beliau menyebutkan bahwa hari lahir tidak masuk dalam hitungan tujuh hari.” (Al-Majmu’, 8: 250) Kalau hewan aqiqah disembelih pada hari keenam, apakah tetap sah? Ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa waktu penyembelihan aqiqah bisa dimulai dari waktu kelahiran. Sedangkan jika dilakukan sebelumnya, tidaklah sah dan dianggap sebagai sembelihan biasa. Adapun ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan bahwa waktu aqiqah dimulai dari hari ketujuh kelahiran dan tidak boleh sebelum itu. Namun para ulama sepakat bahwa waktu aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh. Sedangkan khilaf atau beda pendapat terjadi pada kesahan waktu penyembelihan sebelum itu. Keterangan di atas, kami sarikan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah jilid ke-30, hlm. 278. Kalau melihat sahnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap sah yang penting setelah bayi itu lahir. Namun baiknya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran karena waktu tersebut disepakati. Sehingga saran kami, catering aqiqah tetap melakukan penyembelihan pada hari ketujuh, itu lebih utama. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. — Prepared @ 20: 53 WIB, 6 Dzulqa’dah 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsaqiqah

Keutamaan Air Zam-Zam

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan air zamzam dapat disebutkan sebagai berikut.عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ يَقُوْلُ: مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُDari Jabir berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”.HASAN. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/1018, Ahmad 3/357, al-Baihaqi dalam Sunan 5/148. Dan dihasankan oleh ad-Dimyathi dalam al-Matjar Rabih hlm. 318, Ibnu Qayyim dalam Zādul Ma’ād 4/393, az-Zarkasyi dalam at-Tadzkirah hlm. 151.Hadits ini menunjukkan dengan jelas tentang khasiat air zamzam dan keutamaannya yang tidak dimiliki oleh air-air lainnya yaitu minum air zamzam tergantung pada niat peminumnya, baik untuk kebutuhan dunia ataupun akhirat.Maka barang siapa yang meminum air zamzam dengan niat yang tulus maka Allah akan mengabulkannya.Menyadari akan hal itu, banyak sekali para ulama salaf yang minum air zamzam dengan menghadirkan beragam niat karena mereka tahu betul bahwa do’a saat minum air zamzam adalah mustajab sebagaimana dikabarkan oleh Nabi.Dan telah banyak di antara mereka yang terkabulkan do’anya bahkan tak terhitung jumlahnya.Berikut kami nukilkan tiga contoh saja:1. Al-Humaidi berkata, “Saya pernah berada di sisi Sufyan bin Uyainah, lalu beliau menceritakan kepada kami hadits:مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ‘Air zamzam tergantung keinginan seorang yang meminumnya’.Tiba-tiba ada seorang lelaki bangkit dari majelis, kemudian kembali lagi seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Muhammad, bukankah hadits yang engkau ceritakan kepada kami tadi tentang zamzam adalah hadits yang shahih?’ Jawab beliau, ‘Benar.’ Lelaki itu lalu berkata, ‘Baru saja aku meminum seember air zamzam dengan harapan engkau akan menceritakan kepadaku seratus hadits.’ Akhirnya, Sufyan berkata kepadanya, ‘Duduklah.’ Lelaki itu pun duduk dan Sufyan menceritakan seratus hadits kepadanya.”Semoga Allah merahmati Imam Sufyan bin Uyainah, alangkah semangatnya beliau dalam menebarkan ilmu! Dan semoga Allah merahmati penanya tersebut, alangkah semangatnya dia dalam menuntut ilmu dan sindiran lembut untuk mendapatkannya!2. Telah masyhur dari Imam Syafi’i bahwa beliau minum air zamzam dengan niat untuk pandai memanah sehingga dalam sepuluh kali memanah beliau tepat sebanyak sembilan kali mengenai sasaran. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Saya minum air zamzam untuk tiga hal: (1) pintar memanah maka dalam sepuluh kali saya tepat semua mengenai sasaran, (2) pandai dalam agama maka sebagaimana kalian lihat sendiri sekarang, (3) untuk masuk surga maka saya berharap untuk mendapatkannya kelak”.3. Al-Allamah Zhafar Ahmad at-Tahanuwi, salah seorang ulama India (1394 H) bercerita bahwa beliau minum air zamzam pada saat haji untuk kebaik-kebaikan dunianya yang kebanyakannya telah terwujudkan, salah satunya adalah agar beliau bisa fasih dalam mengajar dan berkhotbah karena lidahnya agak pelat, lalu beberapa saat setelah itu Allah memberikan kefasihan kepada beliau dalam khotbah dan mengajar. Segala puji bagi Allah.Dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata lainnya.Penulis juga merasakan mukjizat air zam-zam ini. Banyak doa yang dikabulkan dengan sebab minum air zam-zam zam, diantaranya agar Allah memudahkan untuk belajar agama di luar negeri, mendamaikan keluargaku, menemukan jamaah umrohku yang hilang, dan mengembalikan anak tetanggaku yang hilang.Ayo berbagi pengalamanmu untuk menambah keyakinan akan kebenaran hadits ini. Sebutkan di kolom komentar. Barakallahu fikum.***Penulis: Ustadz Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Contoh Ayat Makiyah Dan Madaniyah, Al Khawarij, Tetangga Yang Baik, Perintah Hijab, Kewajiban Istri Terhadap Suami Menurut Ajaran Islam

Keutamaan Air Zam-Zam

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan air zamzam dapat disebutkan sebagai berikut.عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ يَقُوْلُ: مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُDari Jabir berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”.HASAN. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/1018, Ahmad 3/357, al-Baihaqi dalam Sunan 5/148. Dan dihasankan oleh ad-Dimyathi dalam al-Matjar Rabih hlm. 318, Ibnu Qayyim dalam Zādul Ma’ād 4/393, az-Zarkasyi dalam at-Tadzkirah hlm. 151.Hadits ini menunjukkan dengan jelas tentang khasiat air zamzam dan keutamaannya yang tidak dimiliki oleh air-air lainnya yaitu minum air zamzam tergantung pada niat peminumnya, baik untuk kebutuhan dunia ataupun akhirat.Maka barang siapa yang meminum air zamzam dengan niat yang tulus maka Allah akan mengabulkannya.Menyadari akan hal itu, banyak sekali para ulama salaf yang minum air zamzam dengan menghadirkan beragam niat karena mereka tahu betul bahwa do’a saat minum air zamzam adalah mustajab sebagaimana dikabarkan oleh Nabi.Dan telah banyak di antara mereka yang terkabulkan do’anya bahkan tak terhitung jumlahnya.Berikut kami nukilkan tiga contoh saja:1. Al-Humaidi berkata, “Saya pernah berada di sisi Sufyan bin Uyainah, lalu beliau menceritakan kepada kami hadits:مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ‘Air zamzam tergantung keinginan seorang yang meminumnya’.Tiba-tiba ada seorang lelaki bangkit dari majelis, kemudian kembali lagi seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Muhammad, bukankah hadits yang engkau ceritakan kepada kami tadi tentang zamzam adalah hadits yang shahih?’ Jawab beliau, ‘Benar.’ Lelaki itu lalu berkata, ‘Baru saja aku meminum seember air zamzam dengan harapan engkau akan menceritakan kepadaku seratus hadits.’ Akhirnya, Sufyan berkata kepadanya, ‘Duduklah.’ Lelaki itu pun duduk dan Sufyan menceritakan seratus hadits kepadanya.”Semoga Allah merahmati Imam Sufyan bin Uyainah, alangkah semangatnya beliau dalam menebarkan ilmu! Dan semoga Allah merahmati penanya tersebut, alangkah semangatnya dia dalam menuntut ilmu dan sindiran lembut untuk mendapatkannya!2. Telah masyhur dari Imam Syafi’i bahwa beliau minum air zamzam dengan niat untuk pandai memanah sehingga dalam sepuluh kali memanah beliau tepat sebanyak sembilan kali mengenai sasaran. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Saya minum air zamzam untuk tiga hal: (1) pintar memanah maka dalam sepuluh kali saya tepat semua mengenai sasaran, (2) pandai dalam agama maka sebagaimana kalian lihat sendiri sekarang, (3) untuk masuk surga maka saya berharap untuk mendapatkannya kelak”.3. Al-Allamah Zhafar Ahmad at-Tahanuwi, salah seorang ulama India (1394 H) bercerita bahwa beliau minum air zamzam pada saat haji untuk kebaik-kebaikan dunianya yang kebanyakannya telah terwujudkan, salah satunya adalah agar beliau bisa fasih dalam mengajar dan berkhotbah karena lidahnya agak pelat, lalu beberapa saat setelah itu Allah memberikan kefasihan kepada beliau dalam khotbah dan mengajar. Segala puji bagi Allah.Dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata lainnya.Penulis juga merasakan mukjizat air zam-zam ini. Banyak doa yang dikabulkan dengan sebab minum air zam-zam zam, diantaranya agar Allah memudahkan untuk belajar agama di luar negeri, mendamaikan keluargaku, menemukan jamaah umrohku yang hilang, dan mengembalikan anak tetanggaku yang hilang.Ayo berbagi pengalamanmu untuk menambah keyakinan akan kebenaran hadits ini. Sebutkan di kolom komentar. Barakallahu fikum.***Penulis: Ustadz Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Contoh Ayat Makiyah Dan Madaniyah, Al Khawarij, Tetangga Yang Baik, Perintah Hijab, Kewajiban Istri Terhadap Suami Menurut Ajaran Islam
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan air zamzam dapat disebutkan sebagai berikut.عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ يَقُوْلُ: مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُDari Jabir berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”.HASAN. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/1018, Ahmad 3/357, al-Baihaqi dalam Sunan 5/148. Dan dihasankan oleh ad-Dimyathi dalam al-Matjar Rabih hlm. 318, Ibnu Qayyim dalam Zādul Ma’ād 4/393, az-Zarkasyi dalam at-Tadzkirah hlm. 151.Hadits ini menunjukkan dengan jelas tentang khasiat air zamzam dan keutamaannya yang tidak dimiliki oleh air-air lainnya yaitu minum air zamzam tergantung pada niat peminumnya, baik untuk kebutuhan dunia ataupun akhirat.Maka barang siapa yang meminum air zamzam dengan niat yang tulus maka Allah akan mengabulkannya.Menyadari akan hal itu, banyak sekali para ulama salaf yang minum air zamzam dengan menghadirkan beragam niat karena mereka tahu betul bahwa do’a saat minum air zamzam adalah mustajab sebagaimana dikabarkan oleh Nabi.Dan telah banyak di antara mereka yang terkabulkan do’anya bahkan tak terhitung jumlahnya.Berikut kami nukilkan tiga contoh saja:1. Al-Humaidi berkata, “Saya pernah berada di sisi Sufyan bin Uyainah, lalu beliau menceritakan kepada kami hadits:مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ‘Air zamzam tergantung keinginan seorang yang meminumnya’.Tiba-tiba ada seorang lelaki bangkit dari majelis, kemudian kembali lagi seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Muhammad, bukankah hadits yang engkau ceritakan kepada kami tadi tentang zamzam adalah hadits yang shahih?’ Jawab beliau, ‘Benar.’ Lelaki itu lalu berkata, ‘Baru saja aku meminum seember air zamzam dengan harapan engkau akan menceritakan kepadaku seratus hadits.’ Akhirnya, Sufyan berkata kepadanya, ‘Duduklah.’ Lelaki itu pun duduk dan Sufyan menceritakan seratus hadits kepadanya.”Semoga Allah merahmati Imam Sufyan bin Uyainah, alangkah semangatnya beliau dalam menebarkan ilmu! Dan semoga Allah merahmati penanya tersebut, alangkah semangatnya dia dalam menuntut ilmu dan sindiran lembut untuk mendapatkannya!2. Telah masyhur dari Imam Syafi’i bahwa beliau minum air zamzam dengan niat untuk pandai memanah sehingga dalam sepuluh kali memanah beliau tepat sebanyak sembilan kali mengenai sasaran. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Saya minum air zamzam untuk tiga hal: (1) pintar memanah maka dalam sepuluh kali saya tepat semua mengenai sasaran, (2) pandai dalam agama maka sebagaimana kalian lihat sendiri sekarang, (3) untuk masuk surga maka saya berharap untuk mendapatkannya kelak”.3. Al-Allamah Zhafar Ahmad at-Tahanuwi, salah seorang ulama India (1394 H) bercerita bahwa beliau minum air zamzam pada saat haji untuk kebaik-kebaikan dunianya yang kebanyakannya telah terwujudkan, salah satunya adalah agar beliau bisa fasih dalam mengajar dan berkhotbah karena lidahnya agak pelat, lalu beberapa saat setelah itu Allah memberikan kefasihan kepada beliau dalam khotbah dan mengajar. Segala puji bagi Allah.Dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata lainnya.Penulis juga merasakan mukjizat air zam-zam ini. Banyak doa yang dikabulkan dengan sebab minum air zam-zam zam, diantaranya agar Allah memudahkan untuk belajar agama di luar negeri, mendamaikan keluargaku, menemukan jamaah umrohku yang hilang, dan mengembalikan anak tetanggaku yang hilang.Ayo berbagi pengalamanmu untuk menambah keyakinan akan kebenaran hadits ini. Sebutkan di kolom komentar. Barakallahu fikum.***Penulis: Ustadz Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Contoh Ayat Makiyah Dan Madaniyah, Al Khawarij, Tetangga Yang Baik, Perintah Hijab, Kewajiban Istri Terhadap Suami Menurut Ajaran Islam


Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan air zamzam dapat disebutkan sebagai berikut.عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ يَقُوْلُ: مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُDari Jabir berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya”.HASAN. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/1018, Ahmad 3/357, al-Baihaqi dalam Sunan 5/148. Dan dihasankan oleh ad-Dimyathi dalam al-Matjar Rabih hlm. 318, Ibnu Qayyim dalam Zādul Ma’ād 4/393, az-Zarkasyi dalam at-Tadzkirah hlm. 151.Hadits ini menunjukkan dengan jelas tentang khasiat air zamzam dan keutamaannya yang tidak dimiliki oleh air-air lainnya yaitu minum air zamzam tergantung pada niat peminumnya, baik untuk kebutuhan dunia ataupun akhirat.Maka barang siapa yang meminum air zamzam dengan niat yang tulus maka Allah akan mengabulkannya.Menyadari akan hal itu, banyak sekali para ulama salaf yang minum air zamzam dengan menghadirkan beragam niat karena mereka tahu betul bahwa do’a saat minum air zamzam adalah mustajab sebagaimana dikabarkan oleh Nabi.Dan telah banyak di antara mereka yang terkabulkan do’anya bahkan tak terhitung jumlahnya.Berikut kami nukilkan tiga contoh saja:1. Al-Humaidi berkata, “Saya pernah berada di sisi Sufyan bin Uyainah, lalu beliau menceritakan kepada kami hadits:مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ‘Air zamzam tergantung keinginan seorang yang meminumnya’.Tiba-tiba ada seorang lelaki bangkit dari majelis, kemudian kembali lagi seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Muhammad, bukankah hadits yang engkau ceritakan kepada kami tadi tentang zamzam adalah hadits yang shahih?’ Jawab beliau, ‘Benar.’ Lelaki itu lalu berkata, ‘Baru saja aku meminum seember air zamzam dengan harapan engkau akan menceritakan kepadaku seratus hadits.’ Akhirnya, Sufyan berkata kepadanya, ‘Duduklah.’ Lelaki itu pun duduk dan Sufyan menceritakan seratus hadits kepadanya.”Semoga Allah merahmati Imam Sufyan bin Uyainah, alangkah semangatnya beliau dalam menebarkan ilmu! Dan semoga Allah merahmati penanya tersebut, alangkah semangatnya dia dalam menuntut ilmu dan sindiran lembut untuk mendapatkannya!2. Telah masyhur dari Imam Syafi’i bahwa beliau minum air zamzam dengan niat untuk pandai memanah sehingga dalam sepuluh kali memanah beliau tepat sebanyak sembilan kali mengenai sasaran. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Saya minum air zamzam untuk tiga hal: (1) pintar memanah maka dalam sepuluh kali saya tepat semua mengenai sasaran, (2) pandai dalam agama maka sebagaimana kalian lihat sendiri sekarang, (3) untuk masuk surga maka saya berharap untuk mendapatkannya kelak”.3. Al-Allamah Zhafar Ahmad at-Tahanuwi, salah seorang ulama India (1394 H) bercerita bahwa beliau minum air zamzam pada saat haji untuk kebaik-kebaikan dunianya yang kebanyakannya telah terwujudkan, salah satunya adalah agar beliau bisa fasih dalam mengajar dan berkhotbah karena lidahnya agak pelat, lalu beberapa saat setelah itu Allah memberikan kefasihan kepada beliau dalam khotbah dan mengajar. Segala puji bagi Allah.Dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata lainnya.Penulis juga merasakan mukjizat air zam-zam ini. Banyak doa yang dikabulkan dengan sebab minum air zam-zam zam, diantaranya agar Allah memudahkan untuk belajar agama di luar negeri, mendamaikan keluargaku, menemukan jamaah umrohku yang hilang, dan mengembalikan anak tetanggaku yang hilang.Ayo berbagi pengalamanmu untuk menambah keyakinan akan kebenaran hadits ini. Sebutkan di kolom komentar. Barakallahu fikum.***Penulis: Ustadz Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Contoh Ayat Makiyah Dan Madaniyah, Al Khawarij, Tetangga Yang Baik, Perintah Hijab, Kewajiban Istri Terhadap Suami Menurut Ajaran Islam

Wanita Muslimah dengan Bedaknya

Bolehkah wanita muslimah menggunakan bedak di wajahnya? Jawabannya, boleh sekali. Boleh saja bagi wanita mengenakan bedak dan kosmetik di wajahnya, tujuannya untuk mempercantik diri. Namun ingat, mempercantik diri di sini hanya untuk suami, bukan untuk laki-laki lain, bukan untuk orang luar rumah, bukan untuk mempercantik diri di luar rumah. Lihat sekali lagi tuntutan dalam ayat ini, وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31). Baca keterangan ayat ini di sini. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa wanita boleh menggunakan bedak adalah hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Kalau parfum laki-laki sangat jelas seperti yang dimaksud dalam hadits, itulah yang kita temukan dalam parfum yang digunakan oleh para pria saat ini. Sedangkan parfum wanita adalah parfum yang tidak nampak baunya, namun warnanya nampak. Apa yang dimaksud kalau begitu? Kalau kita lihat dari keterangan Syaikh Abu Malik dalam Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420 yang dimaksud adalah bedak. Karena bedak itu warnanya terlihat, baunya tidak. Namun ada dua syarat yang dikemukakan oleh para ulama ketika wanita ingin berhias diri dengan bedak dan kosmetik: Tidak bertujuan mengelabui orang. Kosmetik yang digunakan tidak berbahaya bagi kulit. Dua syarat di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi 4: 418, juga difatwakan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (pakar fikih di adab ke-20). Lihat Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — 4 Dzulqa’dah 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan

Wanita Muslimah dengan Bedaknya

Bolehkah wanita muslimah menggunakan bedak di wajahnya? Jawabannya, boleh sekali. Boleh saja bagi wanita mengenakan bedak dan kosmetik di wajahnya, tujuannya untuk mempercantik diri. Namun ingat, mempercantik diri di sini hanya untuk suami, bukan untuk laki-laki lain, bukan untuk orang luar rumah, bukan untuk mempercantik diri di luar rumah. Lihat sekali lagi tuntutan dalam ayat ini, وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31). Baca keterangan ayat ini di sini. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa wanita boleh menggunakan bedak adalah hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Kalau parfum laki-laki sangat jelas seperti yang dimaksud dalam hadits, itulah yang kita temukan dalam parfum yang digunakan oleh para pria saat ini. Sedangkan parfum wanita adalah parfum yang tidak nampak baunya, namun warnanya nampak. Apa yang dimaksud kalau begitu? Kalau kita lihat dari keterangan Syaikh Abu Malik dalam Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420 yang dimaksud adalah bedak. Karena bedak itu warnanya terlihat, baunya tidak. Namun ada dua syarat yang dikemukakan oleh para ulama ketika wanita ingin berhias diri dengan bedak dan kosmetik: Tidak bertujuan mengelabui orang. Kosmetik yang digunakan tidak berbahaya bagi kulit. Dua syarat di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi 4: 418, juga difatwakan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (pakar fikih di adab ke-20). Lihat Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — 4 Dzulqa’dah 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan
Bolehkah wanita muslimah menggunakan bedak di wajahnya? Jawabannya, boleh sekali. Boleh saja bagi wanita mengenakan bedak dan kosmetik di wajahnya, tujuannya untuk mempercantik diri. Namun ingat, mempercantik diri di sini hanya untuk suami, bukan untuk laki-laki lain, bukan untuk orang luar rumah, bukan untuk mempercantik diri di luar rumah. Lihat sekali lagi tuntutan dalam ayat ini, وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31). Baca keterangan ayat ini di sini. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa wanita boleh menggunakan bedak adalah hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Kalau parfum laki-laki sangat jelas seperti yang dimaksud dalam hadits, itulah yang kita temukan dalam parfum yang digunakan oleh para pria saat ini. Sedangkan parfum wanita adalah parfum yang tidak nampak baunya, namun warnanya nampak. Apa yang dimaksud kalau begitu? Kalau kita lihat dari keterangan Syaikh Abu Malik dalam Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420 yang dimaksud adalah bedak. Karena bedak itu warnanya terlihat, baunya tidak. Namun ada dua syarat yang dikemukakan oleh para ulama ketika wanita ingin berhias diri dengan bedak dan kosmetik: Tidak bertujuan mengelabui orang. Kosmetik yang digunakan tidak berbahaya bagi kulit. Dua syarat di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi 4: 418, juga difatwakan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (pakar fikih di adab ke-20). Lihat Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — 4 Dzulqa’dah 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan


Bolehkah wanita muslimah menggunakan bedak di wajahnya? Jawabannya, boleh sekali. Boleh saja bagi wanita mengenakan bedak dan kosmetik di wajahnya, tujuannya untuk mempercantik diri. Namun ingat, mempercantik diri di sini hanya untuk suami, bukan untuk laki-laki lain, bukan untuk orang luar rumah, bukan untuk mempercantik diri di luar rumah. Lihat sekali lagi tuntutan dalam ayat ini, وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31). Baca keterangan ayat ini di sini. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa wanita boleh menggunakan bedak adalah hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ “Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadits ini, penguat hadits ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi yaitu melihat jalur yang lain). Kalau parfum laki-laki sangat jelas seperti yang dimaksud dalam hadits, itulah yang kita temukan dalam parfum yang digunakan oleh para pria saat ini. Sedangkan parfum wanita adalah parfum yang tidak nampak baunya, namun warnanya nampak. Apa yang dimaksud kalau begitu? Kalau kita lihat dari keterangan Syaikh Abu Malik dalam Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420 yang dimaksud adalah bedak. Karena bedak itu warnanya terlihat, baunya tidak. Namun ada dua syarat yang dikemukakan oleh para ulama ketika wanita ingin berhias diri dengan bedak dan kosmetik: Tidak bertujuan mengelabui orang. Kosmetik yang digunakan tidak berbahaya bagi kulit. Dua syarat di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi 4: 418, juga difatwakan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (pakar fikih di adab ke-20). Lihat Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah. Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan. — 4 Dzulqa’dah 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan

Kembali Hadir Kajian 9 Kitab dalam 3 Hari @ Jogja

Bagi yang berada di Jogja, Gamping dan Imogiri (Yogyakarta) sekitarnya, silakan mengikuti kajian kitab berikut. Dalam 3 hari (Senin – Selasa – Kamis) bisa mengkaji 9 kitab ulama. Bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (murid Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi, alumni KSU Riyadh, Pengasuh Rumaysho.Com)   # Senin   1- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Al-Janaiz (masalah pengurusan jenazah) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   2- Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Pembahasan saat ini: Thaharah (Bersuci) Syarh Kitab: Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   3- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Bab Sabar Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Musholla Al-Amin, Lapangan Demi, Imogiri Timur, Bantul Waktu: 20.00 – 21.30 WIB   # Selasa   4- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Kitabul Ilmi Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Siswa Graha, Pogung Kidul, utara Fakultas Teknik UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   5- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, bahasan Masalah Larangan Pembahasan saat ini: Kitab Larangan Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.15 – 20.45   6- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahasan Hukum Pidana Pembahasan saat ini: Kitab Al-Jinayat (Hukum Pidana) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.45 – 21.15   # Kamis   7- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Nikah * Kajian khusus ibu-ibu, mahasiswi dan remaja puteri Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Wisma Qanita, Pogung Dalangan, dekat Masjid Pogung Raya Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   8- Akidah dari Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah Syarh Kitab: Syarh Lum’atul I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   9- Fikih Syafi’i dari Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’ Syarh Kitab: Fathul Qarib karya Ibnu Qasim Al-Ghazi Jika kitab ini selesai akan dilanjutkan dengan kitab Safinatun Najah @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Isya’ – 20.00 WIB   * Disediakan buka puasa Senin – Kamis —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_jogja_rumaysho# nama# alamat Pamflet besarnya di sini.   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam

Kembali Hadir Kajian 9 Kitab dalam 3 Hari @ Jogja

Bagi yang berada di Jogja, Gamping dan Imogiri (Yogyakarta) sekitarnya, silakan mengikuti kajian kitab berikut. Dalam 3 hari (Senin – Selasa – Kamis) bisa mengkaji 9 kitab ulama. Bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (murid Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi, alumni KSU Riyadh, Pengasuh Rumaysho.Com)   # Senin   1- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Al-Janaiz (masalah pengurusan jenazah) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   2- Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Pembahasan saat ini: Thaharah (Bersuci) Syarh Kitab: Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   3- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Bab Sabar Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Musholla Al-Amin, Lapangan Demi, Imogiri Timur, Bantul Waktu: 20.00 – 21.30 WIB   # Selasa   4- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Kitabul Ilmi Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Siswa Graha, Pogung Kidul, utara Fakultas Teknik UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   5- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, bahasan Masalah Larangan Pembahasan saat ini: Kitab Larangan Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.15 – 20.45   6- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahasan Hukum Pidana Pembahasan saat ini: Kitab Al-Jinayat (Hukum Pidana) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.45 – 21.15   # Kamis   7- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Nikah * Kajian khusus ibu-ibu, mahasiswi dan remaja puteri Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Wisma Qanita, Pogung Dalangan, dekat Masjid Pogung Raya Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   8- Akidah dari Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah Syarh Kitab: Syarh Lum’atul I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   9- Fikih Syafi’i dari Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’ Syarh Kitab: Fathul Qarib karya Ibnu Qasim Al-Ghazi Jika kitab ini selesai akan dilanjutkan dengan kitab Safinatun Najah @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Isya’ – 20.00 WIB   * Disediakan buka puasa Senin – Kamis —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_jogja_rumaysho# nama# alamat Pamflet besarnya di sini.   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam
Bagi yang berada di Jogja, Gamping dan Imogiri (Yogyakarta) sekitarnya, silakan mengikuti kajian kitab berikut. Dalam 3 hari (Senin – Selasa – Kamis) bisa mengkaji 9 kitab ulama. Bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (murid Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi, alumni KSU Riyadh, Pengasuh Rumaysho.Com)   # Senin   1- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Al-Janaiz (masalah pengurusan jenazah) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   2- Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Pembahasan saat ini: Thaharah (Bersuci) Syarh Kitab: Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   3- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Bab Sabar Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Musholla Al-Amin, Lapangan Demi, Imogiri Timur, Bantul Waktu: 20.00 – 21.30 WIB   # Selasa   4- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Kitabul Ilmi Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Siswa Graha, Pogung Kidul, utara Fakultas Teknik UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   5- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, bahasan Masalah Larangan Pembahasan saat ini: Kitab Larangan Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.15 – 20.45   6- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahasan Hukum Pidana Pembahasan saat ini: Kitab Al-Jinayat (Hukum Pidana) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.45 – 21.15   # Kamis   7- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Nikah * Kajian khusus ibu-ibu, mahasiswi dan remaja puteri Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Wisma Qanita, Pogung Dalangan, dekat Masjid Pogung Raya Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   8- Akidah dari Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah Syarh Kitab: Syarh Lum’atul I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   9- Fikih Syafi’i dari Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’ Syarh Kitab: Fathul Qarib karya Ibnu Qasim Al-Ghazi Jika kitab ini selesai akan dilanjutkan dengan kitab Safinatun Najah @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Isya’ – 20.00 WIB   * Disediakan buka puasa Senin – Kamis —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_jogja_rumaysho# nama# alamat Pamflet besarnya di sini.   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam


Bagi yang berada di Jogja, Gamping dan Imogiri (Yogyakarta) sekitarnya, silakan mengikuti kajian kitab berikut. Dalam 3 hari (Senin – Selasa – Kamis) bisa mengkaji 9 kitab ulama. Bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (murid Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi, alumni KSU Riyadh, Pengasuh Rumaysho.Com)   # Senin   1- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Al-Janaiz (masalah pengurusan jenazah) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   2- Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi Pembahasan saat ini: Thaharah (Bersuci) Syarh Kitab: Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di @ Masjid Asy-Syakur, Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping (berdekatan dengan Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping) Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   3- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Bab Sabar Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Musholla Al-Amin, Lapangan Demi, Imogiri Timur, Bantul Waktu: 20.00 – 21.30 WIB   # Selasa   4- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi Pembahasan saat ini: Kitabul Ilmi Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Siswa Graha, Pogung Kidul, utara Fakultas Teknik UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   5- Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, bahasan Masalah Larangan Pembahasan saat ini: Kitab Larangan Syarh Kitab: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Musthafa Al-Bugha, dkk. @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.15 – 20.45   6- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahasan Hukum Pidana Pembahasan saat ini: Kitab Al-Jinayat (Hukum Pidana) Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Masjid Syuhada, Srunggo, Imogiri, Bantul Waktu: 20.45 – 21.15   # Kamis   7- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani Pembahasan saat ini: Kitab Nikah * Kajian khusus ibu-ibu, mahasiswi dan remaja puteri Syarh Kitab: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan @ Wisma Qanita, Pogung Dalangan, dekat Masjid Pogung Raya Waktu: 16.45 – menjelang Maghrib   8- Akidah dari Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah Syarh Kitab: Syarh Lum’atul I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’   9- Fikih Syafi’i dari Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’ Syarh Kitab: Fathul Qarib karya Ibnu Qasim Al-Ghazi Jika kitab ini selesai akan dilanjutkan dengan kitab Safinatun Najah @ Masjid Al-Ikhlas, Karangbendo, dekat Toko Ihya’, utara Fakultas Pertanian UGM Waktu: Ba’da Isya’ – 20.00 WIB   * Disediakan buka puasa Senin – Kamis —   Info dan Tausiyah WA, daftarkan di: 081226014555 dengan format: kajian_jogja_rumaysho# nama# alamat Pamflet besarnya di sini.   Sponsor: Rumaysho.Com Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Telegram @RumayshoCom Twitter @RumayshoCom Instagram RumayshoCom Tagskajian islam
Prev     Next