LGBT Terkena Laknat

Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat

LGBT Terkena Laknat

Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat
Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat


Ada dosa lagi yang terkena laknat yaitu mereka yang berperilaku seperti kaumnya Luth. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الأَعْمَى عَنِ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah. Allah melaknat orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang menyandarkan diri pada selain tuannya. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth. Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad, 1: 309. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, perawinya shahih) Dalam riwayat lain disebutkan, عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُونٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَلْعُونٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الأَرْضِ مَلْعُونٌ مَنْ كَمَهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيقٍ مَلْعُونٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ » Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang melaknat bapaknya. Terlaknatlah orang yang melaknat ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih untuk selain Allah. Terlaknatlah orang yang merubah batas tanah. Terlaknatlah orang yang menyesatkan orang yang buta dari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi hewan (zoophilia). Terlaknatlah orang yang berkelakuan seperti kaum Luth.”  (HR. Ahmad, 1: 317. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap dosa besar. — Disusun 29 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshomoseksual terlaknat

Tebar 5000 Jilbab untuk Maluku (s.d. 20 Mei 2016)

Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab

Tebar 5000 Jilbab untuk Maluku (s.d. 20 Mei 2016)

Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab
Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab


Anda punya jilbab layak pakai, gamis muslimah (selain jersey) yang masih bisa dipakai, coba disumbangkan saja untuk kaum muslimin di Maluku. Caranya bagaimana? Bisa kirim ke alamat berikut: # Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Boleh lewat ekspedisi mana pun asal disertakan alamat lengkap di atas. Nanti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal akan menyalurkannya ke Ambon secara langsung 2 – 8 Juni 2016, sekaligus dengan kegiatan pengajian di sana. Batas pengumpulan sampai di alamat: 20 Mei 2016. Kalau mau sumbangkan dalam bentuk uang, infonya di sini:   Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (SMS/ WA/ Telp)   Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab Marilah membantu sesama muslim yang butuh menutup aurat. Info donasi dan sekaligus daftar group donatur DS: 0811267791 (Mas Jarot) Tagstebar jilbab

Dilaknat Karena Menyiksa Hewan

Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat

Dilaknat Karena Menyiksa Hewan

Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat
Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat


Islam sudah mengajarkan kasih sayang termasuk dalam hal menyiksa hewan, itu dilarang. Karena Islam sangat menyayangi hewan. عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Umar pernah melewati sekumpulan pemuda Quraisy. Saat itu mereka memajang burung dan dijadikan sasaran tembak (dengan panah). Mereka lantas berikan anak panah pada pemiliknya. Ketika Ibnu ‘Umar melihat kelakuan mereka tersebut, beliau memisah mereka. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Siapa yang melakukan seperti ini, maka Allah melaknat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.”  (HR. Muslim, no. 1958) Hadits lainnya menyebutkan maksud yang sama bahwa menyiksa binatang dilarang oleh Islam. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: –لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” (HR. Muslim, no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” (HR. Muslim no. 1959). Kalau menyiksa binatang seperti ini saja tidak boleh apalagi menyiksa manusia yang lebih berakal. — Disusun 28 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab hewan berburu terlaknat

Menuruti Perintah Orang Tua

Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua

Menuruti Perintah Orang Tua

Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua
Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua


Selama perintah orang tua dalam kebaikan dan bukan maksiat, maka seorang anak wajib menurut perintah tersebut. Ingatlah selama mereka masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada mereka merupakan jalan termudah menuju surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari Humaid, ia menyatakan, ketika ibunya Iyas bin Mu’awiyah itu meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya padanya, “Kenapa engkau menangis?” Ia menjawab, كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Selama perintah dari orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Lihat contoh seorang tabi’in dan seorang sahabat Nabi di bawah ini. ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta padanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat kendaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396) Ingat hadits berikut … Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad, 1: 131. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Berarti kalau perintah orang tua bukan maksiat, maka tetap dituruti. Semoga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Min Akbar As-Salaf Ash-Shalih. Abu Yahya Zakariya bin Ghulam Qadir. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di pagi hari penuh berkah, Kamis, 27 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbakti orang tua

Bakti Sosial Edisi Mei @ 4 Tempat di Gunungkidul

Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah

Bakti Sosial Edisi Mei @ 4 Tempat di Gunungkidul

Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah
Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah


Ada bakti sosial yang akan kembali digulir di empat tempat di Gunungkidul, barangkali kaum muslimin ada yang ingin turut serta untuk menyenangkan fakir miskin dan orang-orang yang butuh. Empat tempat tersebut: Masjid Baiturrohman (Masjid Musafir), Gombang, Ponjong, Gunungkidul diadakan pada Kamis Kliwon, 5 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Takmir Masjid Baiturrohman. (Gombang merupakan desa termiskin sekecamatan Ponjong) Dusun Pudak, Desa Giriwungu, Panggang, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: Aisiyah Panggang. Desa Girijati, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pon, 8 Mei 2016, 13.00 – 14.30 WIB, jumlah santunan: 600 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Desa Giriasih, Purwosari, Gunungkidul diadakan pada Ahad Pahing, 22 Mei 2016, 09.30 – 11.00 WIB, jumlah santunan: 800 KK, PJ: KUA Kecamatan Purwosari. Bakti sosial diadakan atas kerjasama Yayasan Darush Sholihin (Rumaysho.Com) bekerjasama dengan lembaga resmi. Di antara tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan, sambil menebar ilmu agama pada masyarakat awam. Karena saat bakti sosial diadakan dahulu pengajian akbar oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com). Dana untuk kegiatan ini akan disalurkan untuk renovasi sekolah Islam di Gunungkidul. Yang saat ini sedang direnovasi adalah dua sekolah yaitu TK ABA 11 Warak, Girisekar, Panggang dan Asrama Mahad Al-Muttaqin Muhammadiyah Sampang, Gedangsari. Sekolah-sekolah ini sengaja direnovasi demi memperkokoh akidah umat Islam di Gunungkidul dari orang luar yang ingin merongrong akidah dengan rayuan duniawi. Santunan yang diberikan berupa paket sembako seharga Rp.30.000,- per paket.   ANDA MAU PEDULI? Silakan salurkan via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612 (kode bank: 451). BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi lewat SMS atau WhatsApp ke no 0823 139 50500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Info donasi: 0811 267791 (WhatsApp, SMS, Telp)   * Sebagaimana telah dilaporkan di hadapan Bupati Gunungkidul pada acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin), Selasa, 3 Mei 2016 kemarin bahwa dana sosial di tahun 2015 telah disalurkan sebesar 2,1 Milyar rupiah kepada masyarakat Gunungkidul.   Semoga berkah untuk kaum yang membutuhkan dan kemaslahatan umat. Untuk para donatur, kami doakan, rezekinya moga selalu diberkahi dalam kebaikan.   # Mumpung masih tanggal muda. Kalau ingin tahu laporan dana sosial di Bulan April, bisa dilihat di sini: http://darushsholihin.com/dana-sosial   SHARE YUK! — @ Darush Sholihin, Panggang, 26 Rajab 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsbakti sosial pasar murah

Subhanallah … Ucapan Takjub

Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub

Subhanallah … Ucapan Takjub

Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub
Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub


Subhanallah … Itu pertama kali yang diucapkan oleh Bu Badingah saat sambutan beliau kemarin (Selasa, 3 Mei 2016), menunjukkan rasa takjub beliau yang begitu besar pada Darush Sholihin. Sebagian ulama mengajurkan mengucapkan subhanallah ketika takjub, selain ucapan masya Allah. Beliau berkata, “Selama 67 tahun di Gunungkidul, kami merasa belum berbuat banyak dibanding dengan Darush Sholihin.” Padahal kita tahu itu hanya ucapan tawadhu’ (rendah hati) beliau saja. Wa laa nuzakki ‘alallahi ahadan. Karena Darush Sholihin walhamdulillah telah berperan serta dalam pembangunan Gunungkidul dan pengentasan kemiskinan. Karena dalam setahun di tahun 2015, Darush Sholihin (Rumaysho.Com) telah menyalurkan dana untuk kaum muslimin Gunungkidul lebih dari 5 Milyar rupiah. Itu disalurkan untuk program TPA, pengajian, zakat, renovasi masjid, penyaluran air bersih, penyaluran qurban dan buka puasa Ramadhan. Hadir dalam acara peresmian Masjid Jami’ Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) dan empat masjid lainnya: Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, pejabat Muspida Gunungkidul, pejabat Muspika Panggang, Kemenag dan MUI Gunungkidul, pengurus PDM Muhammadiyah Gunungkidul dan tokoh masyarakat lainnya, serta 3000-an jama’ah Gunungkidul. Kami sangat bersyukur sekali atas segala apa yang telah dikaruniakan oleh Allah pada Gunungkidul lewat perantara para donatur Darush Sholihin (Rumaysho.Com) Kami hanya bisa bersyukur. “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Tak lupa kami doakan balasan kebaikan pada setiap donatur. “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji” (HR. Tirmidzi no. 2035 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 10008, juga dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga Allah berkahi setiap rezeki para donatur. Itu sedikit dari yang berkesan pada acara peresmian dan pelaporan Darush Sholihin di depan publik kemarin.   Untuk laporan donasi masjid: http://darushsholihin.com/renovasi-masjid — @ Darush Sholihin, 26 Rajab 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com dan Darush Sholihin.Com Tagstakjub

Pujian untuk Ilmu Kedokteran dan Matematika

Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Pujian untuk Ilmu Kedokteran dan Matematika

Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar
Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar


Ilmu kedokteran dan berhitung (matematika atau fisika) ternyata masuk dalam hukum wajib untuk dipelajari secara kifayah. Inilah yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, yang mendapatkan pujian dengan hujjatul islam. Ilmu non-syar’i atau ilmu dunia kata Imam Al-Ghazali ada yang terpuji dan ada yang tercela. Ada yang dihukumi mubah. Yang terpuji adalah ilmu yang mengandung maslahat dunia seperti ilmu kesehatan dan ilmu hitung. Ilmu dunia tersebut ada yang dihukumi fardhu kifayah (artinya, sebagian orang harus ada yang mempelajarinya, pen.). Ada juga ilmu dunia yang cuma punya fadhilah (keutamaan) saja, namun tidak dihukumi wajib. Contoh ilmu yang dihukumi fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran karena ilmu tersebut mesti dikuasai demi maslahat dunia. Ilmu kedokteran benar-benar urgent karena demi maslahat badan. Ilmu berhitung juga dihukumi fardhu kifayah karena sangat berguna untuk muamalah (berbisnis), membahas wasiat dan menghitung waris. Kedua ilmu di atas harus ada yang mempelajarinya. Jangan sampai ada di suatu negeri ada yang tidak menguasainya sama sekali. Namun kalau sebagian sudah menguasainya, yang lain gugur kewajibannya. Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, namun bukan hanya kedokteran dan ilmu berhitung (matematika) saja yang fardhu kifayah menguasainya. Namun ilmu berkaitan dengan industri, bertani, tenun, dan politik juga wajib secara kifayah untuk dipelajari. Begitu juga untuk ilmu yang kaitannya dengan bekam dan menjahit juga wajib dipelajari karena jika tidak dipelajari maka manusia bisa binasa.   Disebutkan dalam Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin (1: 16). Jelaslah dari pemaparan di atas, ilmu dunia ada yang terpuji dan dituntut untuk dipelajari. Pokoknya ilmu tersebut jika punya maslahat besar untuk orang banyak, maka dituntut ada yang menguasainya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberi manfaat pada manusia.” (Al-Mu’jam Al-Kabiir, 12: 453, no. 13646; Al-Mu’jam Al-Ausath, 6: 139-140, no. 6026; dan Al-Mu’jam Ash-Shaghiir, Ar-Raudh Ad-Daaniy, 2: 106, no. 861. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 426) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Memakai Pakaian Ketat di Hadapan Suami

Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri

Memakai Pakaian Ketat di Hadapan Suami

Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri
Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri


Bolehkah seorang istri memakai pakaian ketat di hadapan suami? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin. Kata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja. Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, https://islamqa.info/ar/224003) Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan). Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23. Adapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian dandan jilbab suami istri

KEMATIAN

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com

KEMATIAN

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com
Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com


Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 22 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah Pertama          Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan. Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak di atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.          Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci. Selanjutnya.           Bertakwalah kepada Allah ta’ala dengan selalu mencari ridha-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya. Sungguh ketakwaan itu merupakan kebaikan untuk segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti dan kalian kawatirkan.          Ketakwaan merupakan benteng dari segala perkara yang dapat menghancurkan. Hanya dengan ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya). Para hamba Allah sekalian, masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.          Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah yang di dunia ini dikaruniai Allah suatu kebaikan dan di akhirat-pun mendapatkan kebaikan, serta dihindarkan dari azab neraka. Namun ada pula di antara mereka orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakannya. Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sementara neraka menjadi tempat tinggal mereka.Setiap keinginan dan pekerjaan pasti ada jatuh temponya.Firman Allah :وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]“dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42          Maha suci Allah yang telah menjadikan pada setiap hati manusia kesibukan hati, dan menempatkan pada setiap hatinya sesuatu yang dia pikirkan/inginkan, menciptakan pula untuk setiap orang kemauan dan tekad bulat, yang ia mau dan berkehendak maka ia kerjakan tekad tersebut, dan jika ia mau ia tinggalkan (tidak jadi melakukan tekad tersebut).          Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]“Dan kalian tidak berkehendak (untuk menempuh suatu jalan) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi.          Kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah (untuk semua makhluk) termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.Firman Allah :كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.           Kematian merupakan ayat (lambang kebesaran Allah) yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]“Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61          Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini. Firman Allah :كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57          Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya, hanya Allah sendiri yang menguasai kematian dan kehidupan.  Firman Allah :وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa dihalangi oleh harta benda, anak, dan kawan dan teman. Tidak bisa lolos dari kematian orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang yang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78Firman Allah :قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”Qs Al-Munafiqun : 11          Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.Dalam sebuah hadis disebutkan :” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ““Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilahan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dengan kematian, maka mereka memilih kematian”.          Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam keluar dari kehidupan dunia ini melalui kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutpun ia tidak lagi merindukan dunia selama ia benar-benar beriman.Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, namun demikian dia menginginkan kembali ke dunia meskipun baginya seluruh isi dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.        Kematian merupakan musibah yang tidak terelakkan. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya. Nyawa manusia tercabut  dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit yang sangat parah maka masih lebih ringan dari sakitnya kematian.Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. TirmiziDalam sebagian riwayat :إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ“Sesungguhnya pada kematian itu ada rasa sakitnya”          Salah seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di usus (dalam perut), dan bagaikan aku bernafas di lobang jarum”.Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan pisau-pisau digeret kesana kemari di dalam tubuhku”Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.Barangsiapa yang selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik amal dan perilakunya, serta akan terhalangi dan tidak berani melakukan maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi terpesona oleh gemerlapnya dunia, justru rindu berjumpa Tuhan-nya dan kangen surga yang penuh kenikmatan.Dan siapa yang lupa akan kematian, keras hatinya, dan condong kepada dunia, dan buruk amalannya, serta panjang angan-angannya, maka mengingat kematian adalah nasehat yang paling mengena untuk menegurnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)Dan makna hadits penghancur kelezatan yaitu pemutus kelezatan dan yang menjadikannya sirna.Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berdzikirlah kepada Allah, telah datang (yaitu telah dekat) tiupan sangkakala yang pertama, lalu diikuti dengan tiupan sangkakala yang kedua, telah datang kematian dengan apa yang menyertainya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan”).Dan dari Abu Ad-Darda’ ia berkata :كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ“Cukuplah kematian menjadi pemberi nasehat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Assakir)Dan seluruh kebahagian dan seluruh keberuntungan dan seluruh kemenangan adalah pada persiapan menyambut datangnya kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau pintu pertama menuju neraka.Dan persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan memantapkan tauhid kepada Penguasa alam semesta degngan beribadah kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan sama sekali kepadaNya serta menjauhi seluruh bentuk kesyirikan.Dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu dalam kondisi sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepadaKu, maka Aku akan akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan)Persiapan datangnya kematian adalah dengan menjaga batasan-batasan Allah dan kewajiban-kewajiban. Allah berfirman :وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan mereka yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS At-Taubah : 112)Demikian juga persiapan akan datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar. Allah berfirman :إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)” (QS An-Nisaa : 31)Persiapan akan datangnya kematianjuga dengan menunaikan hak-hak orang lain dan tidak melalaikannya atau menunda-nunda penunaiannya. Karena hak Allah bisa jadi Allah memaafkannya selain kesyirikan, adapun hak orang lain maka Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilnya dari yang berbuat dzolim lantas diberikan kepada orang yang haknya dizolimi.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam menulisnya.Persiapan akan datangnya kematian juga dengan bersiap-siap akan kedatangannya kapan saja. Tatkala turun firman Allah ta’aalaفَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam” (QS Al-An’aam : 125)Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ“Cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa hubungannya wahai Rasulullah?” Nabi berkata,الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ“Bersikap selalu kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta persiapan terhadap kematian sebelum datangnya”Dan kebahagiaan adalah seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadits :الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ“Amalan tergantung akhirnya”Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Siapa yang perkataannya terakhir adalah “Laa ilaaha illallahu” maka masuk surga” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih”Diantara perkara yang ditekankan untuk dikerjakan adalah mentalqin seseorang yang dalam sakaratul maut dengan cara yang lembut untuk mengucapkan syahadat. Caranya adalah menyebut-nyebut syahadat agar orang tersebut ingat syahadat, dan tidak memaksakannya karena ia sedang berada dalam kondisi yang berat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ“Talqinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal diantara kalian” (HR Muslim)          Kecelakaan adalah lalai dan lupa akan kematian, serta meninggalkan persiapan akan datangnya kematian, terlebih lagi berani melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. Apalagi meninggalkan bertahuid kepada Allah ta’ala. Melakukan kejahatan dan kezoliman dengan menumpahkan darah yang haram (untuk ditumpahkan), mengambil harta yang haram, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga datanglah kematian. Maka tatkala itu tiada guna penyesalan, dan datangnya ajal tidak akan tertunda. Allah berfirman :حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS Al-Mukminun : 99-100)Dan pada hari kiamat semakin besar penyesalan. Allah berfirman ;وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”  (QS Az-Zumar : 55-59)Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.Khotbah Kedua :Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya  milikNya-lah hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas lagi kuat, jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya. Aku memujiNya dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Kuat dan Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, yang benar janjinya dan terpercaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan rasulMu Muahmmad dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, hingga hari kiamat.Selanjutnya, maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, tiada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidaklah merugi kecuali orang-orang yang lalai dan di atas kebatilan.Kaum muslimin sekalian, jagalah kalian sebab-sebab yang mendatangkan husul khotimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zolim. Diantara sebab tersbesar meraih husnul khotimah tatkala meninggal adalah sesantiasa berdoa memohon husnul khotimah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)Maka doa adalah pengumpul seluruh kebaikan. Dari Nu’man bin Basyiir radhiallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa merupakan ibadah” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih)Dan dalam hadits : “Siapa yang memperbanyak mengucapkan :اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ“Ya Allah baguskanlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”Maka niscaya ia akan meninggal sebelum terkena musibah.          Dan sebab suul khotimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak orang lain, terus menerus menekuni dosa-dosa besar dan maksiat-maksiat, serta meremehkan keagungan Allah, juga bersandar kepada dunia dan melupakan akhirat.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada NabiPenerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com

Mandi Junub dengan Air Hangat

Bolehkah mandi junub dengan menggunakan air hangat atau air panas? Misalnya, ada yang hubungan intim di malam hari lantas ia menunda mandinya hingga shubuh, bolehkah menggunakan air hangat atau air panas karena keadaan saat itu dingin?   Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya, “Jenis air yang bagaimana yang digunakan untuk mandi junub? Apakah harus dengan air dingin atau boleh dengan air panas? Bagaimana jika tidak mampu menggunakan air dingin?”   Jawab ulama Al-Lajnah Ad-Daimah: Boleh saja bagi muslim menggunakan air panas atau air dingin sesuai yang ia anggap maslahat untuk dirinya. Dalam masalah ini begitu longgar untuk memilih. Ingatlah, Islam adalah agama yang memberi kemudahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Wa billah at-taufiq. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah di masa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, soal kesepuluh dari fatwa  no. 5612)   Kesimpulannya, boleh menggunakan air panas atau air hangat untuk mandi junub. Jadi, kalau sudah berbuat di malam hari, hendaklah bertanggung jawab di Shubuh hari dengan tetap wajib mandi junub.   Semoga bermanfaat. — Malam hari 26 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshubungan intim mandi junub

Mandi Junub dengan Air Hangat

Bolehkah mandi junub dengan menggunakan air hangat atau air panas? Misalnya, ada yang hubungan intim di malam hari lantas ia menunda mandinya hingga shubuh, bolehkah menggunakan air hangat atau air panas karena keadaan saat itu dingin?   Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya, “Jenis air yang bagaimana yang digunakan untuk mandi junub? Apakah harus dengan air dingin atau boleh dengan air panas? Bagaimana jika tidak mampu menggunakan air dingin?”   Jawab ulama Al-Lajnah Ad-Daimah: Boleh saja bagi muslim menggunakan air panas atau air dingin sesuai yang ia anggap maslahat untuk dirinya. Dalam masalah ini begitu longgar untuk memilih. Ingatlah, Islam adalah agama yang memberi kemudahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Wa billah at-taufiq. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah di masa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, soal kesepuluh dari fatwa  no. 5612)   Kesimpulannya, boleh menggunakan air panas atau air hangat untuk mandi junub. Jadi, kalau sudah berbuat di malam hari, hendaklah bertanggung jawab di Shubuh hari dengan tetap wajib mandi junub.   Semoga bermanfaat. — Malam hari 26 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshubungan intim mandi junub
Bolehkah mandi junub dengan menggunakan air hangat atau air panas? Misalnya, ada yang hubungan intim di malam hari lantas ia menunda mandinya hingga shubuh, bolehkah menggunakan air hangat atau air panas karena keadaan saat itu dingin?   Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya, “Jenis air yang bagaimana yang digunakan untuk mandi junub? Apakah harus dengan air dingin atau boleh dengan air panas? Bagaimana jika tidak mampu menggunakan air dingin?”   Jawab ulama Al-Lajnah Ad-Daimah: Boleh saja bagi muslim menggunakan air panas atau air dingin sesuai yang ia anggap maslahat untuk dirinya. Dalam masalah ini begitu longgar untuk memilih. Ingatlah, Islam adalah agama yang memberi kemudahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Wa billah at-taufiq. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah di masa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, soal kesepuluh dari fatwa  no. 5612)   Kesimpulannya, boleh menggunakan air panas atau air hangat untuk mandi junub. Jadi, kalau sudah berbuat di malam hari, hendaklah bertanggung jawab di Shubuh hari dengan tetap wajib mandi junub.   Semoga bermanfaat. — Malam hari 26 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshubungan intim mandi junub


Bolehkah mandi junub dengan menggunakan air hangat atau air panas? Misalnya, ada yang hubungan intim di malam hari lantas ia menunda mandinya hingga shubuh, bolehkah menggunakan air hangat atau air panas karena keadaan saat itu dingin?   Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya, “Jenis air yang bagaimana yang digunakan untuk mandi junub? Apakah harus dengan air dingin atau boleh dengan air panas? Bagaimana jika tidak mampu menggunakan air dingin?”   Jawab ulama Al-Lajnah Ad-Daimah: Boleh saja bagi muslim menggunakan air panas atau air dingin sesuai yang ia anggap maslahat untuk dirinya. Dalam masalah ini begitu longgar untuk memilih. Ingatlah, Islam adalah agama yang memberi kemudahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185) Wa billah at-taufiq. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah di masa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, soal kesepuluh dari fatwa  no. 5612)   Kesimpulannya, boleh menggunakan air panas atau air hangat untuk mandi junub. Jadi, kalau sudah berbuat di malam hari, hendaklah bertanggung jawab di Shubuh hari dengan tetap wajib mandi junub.   Semoga bermanfaat. — Malam hari 26 Rajab 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshubungan intim mandi junub

Pahala Membunuh Cicak

Cicak termasuk hewan fasik. Siapa yang membunuh cicak ternyata bisa raih pahala. Hewan yang digolongkan hewan fasik dan juga diperintahkan untuk dibunuh adalah cicak atau tokek. Hal ini berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim, no. 2238). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Shahih Muslim dengan judul Bab “Dianjurkannya membunuh cicak.” Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ “Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim, no. 2240) Dari Ummu Syarik –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ « كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359) Kata Imam Nawawi, dalam satu riwayat disebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keadaannya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam.  (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211) Semoga bermanfaat. — 23 Rajab 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul. Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscicak makanan halal

Pahala Membunuh Cicak

Cicak termasuk hewan fasik. Siapa yang membunuh cicak ternyata bisa raih pahala. Hewan yang digolongkan hewan fasik dan juga diperintahkan untuk dibunuh adalah cicak atau tokek. Hal ini berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim, no. 2238). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Shahih Muslim dengan judul Bab “Dianjurkannya membunuh cicak.” Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ “Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim, no. 2240) Dari Ummu Syarik –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ « كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359) Kata Imam Nawawi, dalam satu riwayat disebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keadaannya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam.  (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211) Semoga bermanfaat. — 23 Rajab 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul. Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscicak makanan halal
Cicak termasuk hewan fasik. Siapa yang membunuh cicak ternyata bisa raih pahala. Hewan yang digolongkan hewan fasik dan juga diperintahkan untuk dibunuh adalah cicak atau tokek. Hal ini berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim, no. 2238). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Shahih Muslim dengan judul Bab “Dianjurkannya membunuh cicak.” Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ “Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim, no. 2240) Dari Ummu Syarik –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ « كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359) Kata Imam Nawawi, dalam satu riwayat disebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keadaannya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam.  (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211) Semoga bermanfaat. — 23 Rajab 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul. Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscicak makanan halal


Cicak termasuk hewan fasik. Siapa yang membunuh cicak ternyata bisa raih pahala. Hewan yang digolongkan hewan fasik dan juga diperintahkan untuk dibunuh adalah cicak atau tokek. Hal ini berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, beliau mengatakan, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim, no. 2238). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Shahih Muslim dengan judul Bab “Dianjurkannya membunuh cicak.” Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ “Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim, no. 2240) Dari Ummu Syarik –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ « كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359) Kata Imam Nawawi, dalam satu riwayat disebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keadaannya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam.  (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211) Semoga bermanfaat. — 23 Rajab 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul. Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscicak makanan halal

Shalat di Atas Ranjang

Bolehkah shalat di atas ranjang atau kasur? Masih boleh shalat di atas ranjang atau kasur selama kasur tersebut tidak seperti berayun (kokoh) dan orang yang shalat mampu untuk menempelkan dahi (jidat) dan hidungnya saat sujud. Alasannya karena hadits berikut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812; Muslim, no. 490) Dalam Mawahib Al-Jalil (1: 520) disebutkan bahwa shalat di atas kasur masih dibolehkan. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ (3: 221) berkata, “Syarat shalat fardhu adalah menghadap kiblat … Seandainya sudah menghadap kiblat dan memenuhi rukun shalat, lalu shalat tersebut dilakukan di atas tandu atau ranjang (kasur) atau di atas punggung hewan tunggangan di mana dilakukan sambil berdiri, maka shalatnya tetap sah menurut pendapat yang paling kuat. Hal ini disamakan dengan shalat di atas perahu.” Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah boleh menunaikan shalat di atas tempat yang lebih tinggi dari lantai (tanah) seperti di atas ranjang atau semacamnya jika seseorang ragu ketika shalat di lantai yaitu ragu akan kesuciannya padahal ia melakukannya bukan karena suatu uzur seperti sakit?” Beliau hafizhahullah menjawab, “Tidak masalah melakukan shalat di tempat yang tinggi seperti di atas ranjang atau semisal itu dengan syarat tempat tersebut suci, selama mapan di tempat tersebut, maksudnya tidak seperti berayun di atas kasur sehingga mengganggu dan memberikan was-was bagi orang yang shalat.” Disebutkan dalam Al-Muntaqa (2: 143). Kesimpulannya, masih boleh shalat di atas ranjang dengan syarat: Ranjang tersebut suci. Ranjang tersebut tidak membuat yang shalat terus berayun karena tidak mapan. Orang yang shalat bisa menempelkan dahi dan hidungnya. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/93560 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat

Shalat di Atas Ranjang

Bolehkah shalat di atas ranjang atau kasur? Masih boleh shalat di atas ranjang atau kasur selama kasur tersebut tidak seperti berayun (kokoh) dan orang yang shalat mampu untuk menempelkan dahi (jidat) dan hidungnya saat sujud. Alasannya karena hadits berikut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812; Muslim, no. 490) Dalam Mawahib Al-Jalil (1: 520) disebutkan bahwa shalat di atas kasur masih dibolehkan. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ (3: 221) berkata, “Syarat shalat fardhu adalah menghadap kiblat … Seandainya sudah menghadap kiblat dan memenuhi rukun shalat, lalu shalat tersebut dilakukan di atas tandu atau ranjang (kasur) atau di atas punggung hewan tunggangan di mana dilakukan sambil berdiri, maka shalatnya tetap sah menurut pendapat yang paling kuat. Hal ini disamakan dengan shalat di atas perahu.” Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah boleh menunaikan shalat di atas tempat yang lebih tinggi dari lantai (tanah) seperti di atas ranjang atau semacamnya jika seseorang ragu ketika shalat di lantai yaitu ragu akan kesuciannya padahal ia melakukannya bukan karena suatu uzur seperti sakit?” Beliau hafizhahullah menjawab, “Tidak masalah melakukan shalat di tempat yang tinggi seperti di atas ranjang atau semisal itu dengan syarat tempat tersebut suci, selama mapan di tempat tersebut, maksudnya tidak seperti berayun di atas kasur sehingga mengganggu dan memberikan was-was bagi orang yang shalat.” Disebutkan dalam Al-Muntaqa (2: 143). Kesimpulannya, masih boleh shalat di atas ranjang dengan syarat: Ranjang tersebut suci. Ranjang tersebut tidak membuat yang shalat terus berayun karena tidak mapan. Orang yang shalat bisa menempelkan dahi dan hidungnya. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/93560 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat
Bolehkah shalat di atas ranjang atau kasur? Masih boleh shalat di atas ranjang atau kasur selama kasur tersebut tidak seperti berayun (kokoh) dan orang yang shalat mampu untuk menempelkan dahi (jidat) dan hidungnya saat sujud. Alasannya karena hadits berikut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812; Muslim, no. 490) Dalam Mawahib Al-Jalil (1: 520) disebutkan bahwa shalat di atas kasur masih dibolehkan. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ (3: 221) berkata, “Syarat shalat fardhu adalah menghadap kiblat … Seandainya sudah menghadap kiblat dan memenuhi rukun shalat, lalu shalat tersebut dilakukan di atas tandu atau ranjang (kasur) atau di atas punggung hewan tunggangan di mana dilakukan sambil berdiri, maka shalatnya tetap sah menurut pendapat yang paling kuat. Hal ini disamakan dengan shalat di atas perahu.” Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah boleh menunaikan shalat di atas tempat yang lebih tinggi dari lantai (tanah) seperti di atas ranjang atau semacamnya jika seseorang ragu ketika shalat di lantai yaitu ragu akan kesuciannya padahal ia melakukannya bukan karena suatu uzur seperti sakit?” Beliau hafizhahullah menjawab, “Tidak masalah melakukan shalat di tempat yang tinggi seperti di atas ranjang atau semisal itu dengan syarat tempat tersebut suci, selama mapan di tempat tersebut, maksudnya tidak seperti berayun di atas kasur sehingga mengganggu dan memberikan was-was bagi orang yang shalat.” Disebutkan dalam Al-Muntaqa (2: 143). Kesimpulannya, masih boleh shalat di atas ranjang dengan syarat: Ranjang tersebut suci. Ranjang tersebut tidak membuat yang shalat terus berayun karena tidak mapan. Orang yang shalat bisa menempelkan dahi dan hidungnya. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/93560 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat


Bolehkah shalat di atas ranjang atau kasur? Masih boleh shalat di atas ranjang atau kasur selama kasur tersebut tidak seperti berayun (kokoh) dan orang yang shalat mampu untuk menempelkan dahi (jidat) dan hidungnya saat sujud. Alasannya karena hadits berikut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812; Muslim, no. 490) Dalam Mawahib Al-Jalil (1: 520) disebutkan bahwa shalat di atas kasur masih dibolehkan. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ (3: 221) berkata, “Syarat shalat fardhu adalah menghadap kiblat … Seandainya sudah menghadap kiblat dan memenuhi rukun shalat, lalu shalat tersebut dilakukan di atas tandu atau ranjang (kasur) atau di atas punggung hewan tunggangan di mana dilakukan sambil berdiri, maka shalatnya tetap sah menurut pendapat yang paling kuat. Hal ini disamakan dengan shalat di atas perahu.” Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah boleh menunaikan shalat di atas tempat yang lebih tinggi dari lantai (tanah) seperti di atas ranjang atau semacamnya jika seseorang ragu ketika shalat di lantai yaitu ragu akan kesuciannya padahal ia melakukannya bukan karena suatu uzur seperti sakit?” Beliau hafizhahullah menjawab, “Tidak masalah melakukan shalat di tempat yang tinggi seperti di atas ranjang atau semisal itu dengan syarat tempat tersebut suci, selama mapan di tempat tersebut, maksudnya tidak seperti berayun di atas kasur sehingga mengganggu dan memberikan was-was bagi orang yang shalat.” Disebutkan dalam Al-Muntaqa (2: 143). Kesimpulannya, masih boleh shalat di atas ranjang dengan syarat: Ranjang tersebut suci. Ranjang tersebut tidak membuat yang shalat terus berayun karena tidak mapan. Orang yang shalat bisa menempelkan dahi dan hidungnya. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/93560 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, DIY, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat

Belajar Mana Dulu? Jelas Akidah Dulu

Tidak sedikit yang sudah menimba ilmu agama sejak lama, namun sayang ia tak tahu arah. Tidak ada skala prioritas ketika belajar. Padahal ilmu agama itu begitu banyak. Walau kita akui semua itu penting, namun ada yang jelas lebih penting. Apa yang lebih penting? Jelas lah, mempelajari akidah shahihah. Maka belajar yang tepat adalah dengan mempelajari akidah lebih dahulu sebelum ilmu lainnya. Dalam dakwah pun demikian. Dakwah pada akidah dan tauhid itulah yang mesti jadi prioritas. Apa dalilnya, belajar itu mulai dari akidah, sebelum lainnya? عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا » Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: Para sahabat ketika kecil sangat semangat mempelajari hal iman (berbagai hal terkait rukun iman) sebelum perkataan dan perbuatan. Para sahabat kecil juga semangat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Para sahabat sangat semangat belajar agama. Pentingnya membekali diri dengan iman dan mempelajarinya, mulai dari beriman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada para Rasul, iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir. Inilah asas akidah yang mesti ditanamkan dalam diri. Itulah yang kita kenal dengan rukun iman yang enam. Iman seperti ini yang harus ditanamkan dengan benar sebelum mempelajari Al-Qur’an. Mempelajari Al-Qur’an jadi bermanfaat jika memiliki bekal iman yang shahih. Akidah hendaklah sudah ditanamkan pada anak-anak kita sejak dini. Sudah benarkah imannya pada Allah, sebagai penciptanya, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta. Semisal pula, sudah benarkan ia jadikan Allah sebagai satu-satunya ilah.   Dalam dakwah juga mesti memprioritaskan dakwah pada akidah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari, no. 7372; Muslim, no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25; Muslim, no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Wallahu waliyyut taufiq.   Mana buku referensi Islam yang dikaji lebih dahulu, silakan kaji di sini.   Referensi: http://www.alukah.net/sharia/0/59990/#ixzz46stIv0gj https://rumaysho.com/12283-strategi-dakwah-2-dakwah-pertama-adalah-dakwah-tauhid.html — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, Panggang, GK, Selasa pagi, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar dakwah strategi dakwah syirik tauhid

Belajar Mana Dulu? Jelas Akidah Dulu

Tidak sedikit yang sudah menimba ilmu agama sejak lama, namun sayang ia tak tahu arah. Tidak ada skala prioritas ketika belajar. Padahal ilmu agama itu begitu banyak. Walau kita akui semua itu penting, namun ada yang jelas lebih penting. Apa yang lebih penting? Jelas lah, mempelajari akidah shahihah. Maka belajar yang tepat adalah dengan mempelajari akidah lebih dahulu sebelum ilmu lainnya. Dalam dakwah pun demikian. Dakwah pada akidah dan tauhid itulah yang mesti jadi prioritas. Apa dalilnya, belajar itu mulai dari akidah, sebelum lainnya? عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا » Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: Para sahabat ketika kecil sangat semangat mempelajari hal iman (berbagai hal terkait rukun iman) sebelum perkataan dan perbuatan. Para sahabat kecil juga semangat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Para sahabat sangat semangat belajar agama. Pentingnya membekali diri dengan iman dan mempelajarinya, mulai dari beriman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada para Rasul, iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir. Inilah asas akidah yang mesti ditanamkan dalam diri. Itulah yang kita kenal dengan rukun iman yang enam. Iman seperti ini yang harus ditanamkan dengan benar sebelum mempelajari Al-Qur’an. Mempelajari Al-Qur’an jadi bermanfaat jika memiliki bekal iman yang shahih. Akidah hendaklah sudah ditanamkan pada anak-anak kita sejak dini. Sudah benarkah imannya pada Allah, sebagai penciptanya, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta. Semisal pula, sudah benarkan ia jadikan Allah sebagai satu-satunya ilah.   Dalam dakwah juga mesti memprioritaskan dakwah pada akidah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari, no. 7372; Muslim, no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25; Muslim, no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Wallahu waliyyut taufiq.   Mana buku referensi Islam yang dikaji lebih dahulu, silakan kaji di sini.   Referensi: http://www.alukah.net/sharia/0/59990/#ixzz46stIv0gj https://rumaysho.com/12283-strategi-dakwah-2-dakwah-pertama-adalah-dakwah-tauhid.html — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, Panggang, GK, Selasa pagi, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar dakwah strategi dakwah syirik tauhid
Tidak sedikit yang sudah menimba ilmu agama sejak lama, namun sayang ia tak tahu arah. Tidak ada skala prioritas ketika belajar. Padahal ilmu agama itu begitu banyak. Walau kita akui semua itu penting, namun ada yang jelas lebih penting. Apa yang lebih penting? Jelas lah, mempelajari akidah shahihah. Maka belajar yang tepat adalah dengan mempelajari akidah lebih dahulu sebelum ilmu lainnya. Dalam dakwah pun demikian. Dakwah pada akidah dan tauhid itulah yang mesti jadi prioritas. Apa dalilnya, belajar itu mulai dari akidah, sebelum lainnya? عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا » Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: Para sahabat ketika kecil sangat semangat mempelajari hal iman (berbagai hal terkait rukun iman) sebelum perkataan dan perbuatan. Para sahabat kecil juga semangat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Para sahabat sangat semangat belajar agama. Pentingnya membekali diri dengan iman dan mempelajarinya, mulai dari beriman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada para Rasul, iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir. Inilah asas akidah yang mesti ditanamkan dalam diri. Itulah yang kita kenal dengan rukun iman yang enam. Iman seperti ini yang harus ditanamkan dengan benar sebelum mempelajari Al-Qur’an. Mempelajari Al-Qur’an jadi bermanfaat jika memiliki bekal iman yang shahih. Akidah hendaklah sudah ditanamkan pada anak-anak kita sejak dini. Sudah benarkah imannya pada Allah, sebagai penciptanya, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta. Semisal pula, sudah benarkan ia jadikan Allah sebagai satu-satunya ilah.   Dalam dakwah juga mesti memprioritaskan dakwah pada akidah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari, no. 7372; Muslim, no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25; Muslim, no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Wallahu waliyyut taufiq.   Mana buku referensi Islam yang dikaji lebih dahulu, silakan kaji di sini.   Referensi: http://www.alukah.net/sharia/0/59990/#ixzz46stIv0gj https://rumaysho.com/12283-strategi-dakwah-2-dakwah-pertama-adalah-dakwah-tauhid.html — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, Panggang, GK, Selasa pagi, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar dakwah strategi dakwah syirik tauhid


Tidak sedikit yang sudah menimba ilmu agama sejak lama, namun sayang ia tak tahu arah. Tidak ada skala prioritas ketika belajar. Padahal ilmu agama itu begitu banyak. Walau kita akui semua itu penting, namun ada yang jelas lebih penting. Apa yang lebih penting? Jelas lah, mempelajari akidah shahihah. Maka belajar yang tepat adalah dengan mempelajari akidah lebih dahulu sebelum ilmu lainnya. Dalam dakwah pun demikian. Dakwah pada akidah dan tauhid itulah yang mesti jadi prioritas. Apa dalilnya, belajar itu mulai dari akidah, sebelum lainnya? عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا » Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Ada beberapa faedah dari hadits di atas: Para sahabat ketika kecil sangat semangat mempelajari hal iman (berbagai hal terkait rukun iman) sebelum perkataan dan perbuatan. Para sahabat kecil juga semangat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Para sahabat sangat semangat belajar agama. Pentingnya membekali diri dengan iman dan mempelajarinya, mulai dari beriman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada para Rasul, iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir. Inilah asas akidah yang mesti ditanamkan dalam diri. Itulah yang kita kenal dengan rukun iman yang enam. Iman seperti ini yang harus ditanamkan dengan benar sebelum mempelajari Al-Qur’an. Mempelajari Al-Qur’an jadi bermanfaat jika memiliki bekal iman yang shahih. Akidah hendaklah sudah ditanamkan pada anak-anak kita sejak dini. Sudah benarkah imannya pada Allah, sebagai penciptanya, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta. Semisal pula, sudah benarkan ia jadikan Allah sebagai satu-satunya ilah.   Dalam dakwah juga mesti memprioritaskan dakwah pada akidah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ » “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari, no. 7372; Muslim, no. 19). Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25; Muslim, no. 21) Para ulama pun telah bersepakat (berijma’) bahwa setiap kafir didakwahi pertama kali pada dua kalimat syahadat. Itulah dakwah pertama. (Lihat Dar Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 8: 6) Wallahu waliyyut taufiq.   Mana buku referensi Islam yang dikaji lebih dahulu, silakan kaji di sini.   Referensi: http://www.alukah.net/sharia/0/59990/#ixzz46stIv0gj https://rumaysho.com/12283-strategi-dakwah-2-dakwah-pertama-adalah-dakwah-tauhid.html — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, Panggang, GK, Selasa pagi, 18 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar dakwah strategi dakwah syirik tauhid

Kalau Ilmu Dipuji dalam Hadits, Apa Ilmu Dunia Termasuk?

Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dalam hadits mengenai ilmu, apakah ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian, ilmu ekonomi masuk juga di dalamnya? Akhirnya, ilmu dunia juga dipuji karena itu? Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Begitu pula dengan hadits, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Kalau dalam hadits disebutkan masalah ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Itulah maksud dari pujian dan sanjungan ditujukan pada ilmu syar’i. Sebagaimana pujian ini ditujukan pada ahli ilmu sebagai pewaris para nabi, وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Daud, no. 3641. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pewaris nabi tentu saja adalah pewaris ilmu diin atau ilmu agama. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ilmu itu dimaksudkan untuk banyak hal. Namun kalau menurut ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Itulah yang dimaksudkan dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika disebu ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 302) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar memuji

Kalau Ilmu Dipuji dalam Hadits, Apa Ilmu Dunia Termasuk?

Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dalam hadits mengenai ilmu, apakah ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian, ilmu ekonomi masuk juga di dalamnya? Akhirnya, ilmu dunia juga dipuji karena itu? Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Begitu pula dengan hadits, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Kalau dalam hadits disebutkan masalah ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Itulah maksud dari pujian dan sanjungan ditujukan pada ilmu syar’i. Sebagaimana pujian ini ditujukan pada ahli ilmu sebagai pewaris para nabi, وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Daud, no. 3641. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pewaris nabi tentu saja adalah pewaris ilmu diin atau ilmu agama. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ilmu itu dimaksudkan untuk banyak hal. Namun kalau menurut ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Itulah yang dimaksudkan dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika disebu ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 302) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar memuji
Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dalam hadits mengenai ilmu, apakah ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian, ilmu ekonomi masuk juga di dalamnya? Akhirnya, ilmu dunia juga dipuji karena itu? Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Begitu pula dengan hadits, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Kalau dalam hadits disebutkan masalah ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Itulah maksud dari pujian dan sanjungan ditujukan pada ilmu syar’i. Sebagaimana pujian ini ditujukan pada ahli ilmu sebagai pewaris para nabi, وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Daud, no. 3641. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pewaris nabi tentu saja adalah pewaris ilmu diin atau ilmu agama. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ilmu itu dimaksudkan untuk banyak hal. Namun kalau menurut ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Itulah yang dimaksudkan dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika disebu ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 302) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar memuji


Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dalam hadits mengenai ilmu, apakah ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian, ilmu ekonomi masuk juga di dalamnya? Akhirnya, ilmu dunia juga dipuji karena itu? Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Begitu pula dengan hadits, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Kalau dalam hadits disebutkan masalah ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Itulah maksud dari pujian dan sanjungan ditujukan pada ilmu syar’i. Sebagaimana pujian ini ditujukan pada ahli ilmu sebagai pewaris para nabi, وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Daud, no. 3641. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pewaris nabi tentu saja adalah pewaris ilmu diin atau ilmu agama. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ilmu itu dimaksudkan untuk banyak hal. Namun kalau menurut ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Itulah yang dimaksudkan dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika disebu ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 302) Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/145767 — Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar memuji
Prev     Next