Doa yang Dibaca Ketika Menyembelih Aqiqah

Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah

Doa yang Dibaca Ketika Menyembelih Aqiqah

Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah
Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah


Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah

Doa Agar Memaksakan Jodoh

Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh

Doa Agar Memaksakan Jodoh

Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh
Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh


Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh

Resensi Kitab Tauhid (1)

Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam

Resensi Kitab Tauhid (1)

Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam
Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam


Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat Pengecut

30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat Pengecut

30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat Penakut

29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat Penakut

29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tanda Guru yang Cerdas

Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar

Tanda Guru yang Cerdas

Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar
Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar


Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar

Doa Ibnu Hajar, Ilmu Jangan Jadi Petaka

Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar

Doa Ibnu Hajar, Ilmu Jangan Jadi Petaka

Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar
Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar


Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar

Sudah Memberi Hiburan untuk Istri?

Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri

Sudah Memberi Hiburan untuk Istri?

Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri
Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri


Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda Sayang

27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda Sayang

27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (11)

Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (11)

Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw
Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw


Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw

Masjid Pesantren DS dan Masjid Liang Ambon Butuh 2 Milyar

Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Masjid Pesantren DS dan Masjid Liang Ambon Butuh 2 Milyar

Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid
Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid


Di antara program Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul adalah memperbaiki atau merenovasi rumah ibadah (masjid) untuk daerah Gunungkidul hingga Indonesia Timur. Sudah sejak 2015 lebih dari 30 masjid direnovasi total atau sebagian. Inilah yang membuat jama’ah sangat mendapatkan manfaat dari Darush Sholihin. Untuk saat ini akan dibangun Masjid Al-Anshor di Liang, Ambon, Maluku dengan total biaya diperkirakan 500 juta rupiah. Masjid di Liang – Ambon ini akan dimanfaatkan oleh Pesantren Al-Anshor (pengasuh: Ustadz Abu Imam Rumbara) yang membina para muallaf korban kerusuhan Ambon. Masjid tersebut juga akan dimanfaat untuk masyarakat sekitar dan warga Ambon yang melewati jalan Liang menuju dermaga feri. Masjid kedua yang akan direnovasi adalah Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Masjid ini akan diperluas ke arah utara dengan memindahkan rumah Bapak Haji Sariman (mertua Ustadz M. Abduh Tuasikal) ke lantai dua. Lahan perluas tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA (300 santri) dan pengajian Malam Kamis yang jama’ahnya bisa mencapai angka 2000 lebih. Untuk program masjid yang kedua ini diperkirakan menghabiskan dana 1,5 Milyar rupiah.   Cara Donasi Bagi yang berminat menyalurkan donasi untuk renovasi masjid di Gunungkidul, Flores Timur dan Ambon, silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: BCA KCP Wonosari (kode bank: 014): 8950093791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari (kode bank: 451): 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. BRI KCP Panggang (kode bank: 002): 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Lalu … Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # Rini # Yogyakarta # BSM # 26 Agustus 2016 # 1.000.000. — * Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa para pengunjung web sekalian agar pembangunan masjid ini berlangsung lancar.   Laporan donasi, silakan lihat di sini. — Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info donasi: 0811 26 7791 (Telp/ CALL/ WA) Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Gunungkidul Darurat Membutuhkan Qurban (edisi terakhir tahun 1437 H)

Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban

Gunungkidul Darurat Membutuhkan Qurban (edisi terakhir tahun 1437 H)

Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban
Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban


Warak, Panggang, GK (23 Dzulqa’dah 1437 H, 26 Agustus 2016): Pesantren Darush Sholihin di tahun 1437 H ini kembali menyalurkan qurban untuk Gunungkidul sekitarnya. Ini edisi terakhir untuk tebar qurban GK tahun ini.   Target 50 Sapi, 300 Kambing   Ketika mendengar daerah Gunungkidul akan tergambarkan bahwa daerah ini adalah daerah minus air dan dahulu rawan masalah iman dengan serangan kaum salibis. Walau masalah air sudah bisa teratasi di beberapa tempat di Gunungkidul, namun isu kedua masih berlaku meski tidak separah dulu. Kepedulian kita akan hal di atas bisa dibangun dengan menyalurkan qurban di daerah tertinggal di Gunungkidul. Ada di beberapa titik di daerah ini yang belum pernah mendapatkan qurban, ingin disasar oleh Pesantren Darush Sholihin. Bahkan ada beberapa daerah di utara Gunungkidul yang telah dilaporkan dan ditinjau langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, bahwa tempat-tempat tersebut belum merasakan qurban lima tahun terakhir ini. Tahun ini adalah tahun kelima Rumaysho.Com dan Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul kembali menyalurkan qurban.   Harga qurban sapi: # Qurban Sapi Biasa: Rp.15.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.250.000,- # Qurban Sapi Super: Rp.16.500.000,- Patungan untuk 7 orang, masing-masing: Rp.2.400.000,-   * Jika qurban sapi di atas tidak memenuhi quota urunan tujuh orang, akan dialihkan pada kambing dengan sebelumnya pihak Darush Sholihin akan mengonfirmasi pada shahibul qurban.   Harga qurban kambing: # Qurban kambing biasa: Rp.2.000.000,- s/d Rp.2.900.000,- # Qurban kambing super: Rp.3.000.000,- s/d Rp.4.000.000,- * Biaya di atas sudah termasuk biasa transport dan operasional lainnya.   Dana segera transfer pada salah satu dari rekening berikut ini: 1- BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. 3- BRI Cabang Panggang 697501000452509 (kode bank: 002) atas nama Yayasan Darush Sholihin.   Setelah itu … Konfirmasi via ke 082313950500 (WA/ SMS) dengan format: Qurban DS GK# nama shohibul qurban# alamat# no HP# bentuk qurban# bank tujuan transfer# tanggal transfer# besar transfer. Contoh: Qurban DS GK# Usman Tuasikal# Jayapura# 08156807937 # 1/7 SAPI SUPER# BSM# 9 Agustus 2016# 2.400.000.   * Batas terakhir Jum’at, 9 September 2016, 23.59 WIB   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain (https://rumaysho.com/3684-bolehnya-transfer-uang-untuk-kurban-di-daerah-lain.html) Laporan penerimaan qurban 1436 H untuk Gunungkidul sekitar: http://darushsholihin.com/2647-qurban-1436-h-berhasil-tebar-377-kambing-dan-99-sapi-di-gunungkidul-dan-indonesia-timur.html   Info Qurban: 0811267791 (SMS/ WA/ Telp)   SHARE YUK JIKA TERMASUK YANG PEDULI. Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagstebar qurban

Khutbah Jumat: Jangan Ceraikan Aku!

Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak

Khutbah Jumat: Jangan Ceraikan Aku!

Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak
Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak


Jangan sampai cerai, bersatu itu lebih baik. Ini nasihat bagus sekali dalam khutbah Jum’at.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[ وَ قَالَ تَعَالَى: ]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ وَ قَالَ تَعَالَى: ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ   Amma ba’du … Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala,   Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi agung, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan dan suri tauladan kita, begitu pula pada keluarga dan sahabatnya serta yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah, Kita diperintahkan untuk selalu bersatu. Menyatukan hati dalam kebaikan dan kebenaran. Bahkan perintah bersatu ini mulai dari lingkup yang lebih besar, yaitu dengan taat pada pemimpin. Begitu pula kita diperintahkan untuk bersatu di masyarakat kita. Juga yang dituntut juga persatuan dalam keluarga, tidak bercerai berai. Coba perhatikan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ قَالَ وَكَانَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ وَلَمْ يَكُنْ يُعَلِّمُنَاهُنَّ كَمَا يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا Dari Abu Wa’ilm dari ‘Abdullah disebutkan semisalnya, kami diajarkan suatu bacaan dan tidak pernah kami diajarkan sebagaimana diajarkan tasyahud, yaitu, “Allahumma allif bayna qulubina wa ash-lih dzata baynina” (artinya: Ya Allah, satukanlah hati-hati kami dan perbaikilah urusan kami).” (HR. Abu Daud, no. 969. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Maka asalnya kita diperintahkan untuk bersatu. Termasuk juga suami istri diperintahkan untuk bersatu. Karena itulah yang telah diikrarkan di saat akad nikah. Namun demikianlah, perceraian menjadi suatu masalah yang besar di tempat kita. Ada yang cerai karena alasan perselingkuhan, ada juga yang karena masalah ekonomi. Betapa banyak rumah tangga hancur dengan adanya perceraian apalagi di Gunungkidul. Cerai memang dibolehkan, namun cerai adalah suatu yang dibenci. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ ». Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu  ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hadits tersebut menunjukkan bahwa cerai tidak disukai oleh Allah karena mafsadat dan bahayanya yang begitu banyak pada suami-istri dan anak-anak. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa talak (cerai) itu dijauhi sebisa mungkin. Yang kedua, yang perlu dipahami tentang cerai, bahwa syari’at Islam itu cuma memberi kesempatan talak itu tiga kali, dua kalinya masih boleh rujuk. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229) Yang ketiga yang sering dilanggar ketika talak adalah ada yang melakukannya ketika serius, ada yang bercanda, ada pula yang mengeluarkan kata-kata talak dalam keadaan marah. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama teranggap yaitu (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk.” (HR. Abu Daud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya teranggap.” (Al-Majmu’, 17: 68) Syaikh Muhammad bin Shalah Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang mengatakan jatuhnya talak bagi orang bergurau ada manfaat di dalamnya. Hal ini akan meredam tingkah laku orang yang sering bercanda. Jika seseorang tahu bahwa bermain-main dengan talak (cerai) dan semacamnya bisa teranggap, tentu ia tidak akan nekat bergurau seperti itu selamanya.” (Syarh Al-Mumthi’, 13; 64) Intinya, selama keluar kata-kata tegas ‘saya talak kamu’, maka sudah teranggap jatuh talak satu. Namun tentu saja hal ini akan mempertimbangkan keputusan Pengadilan Agama karena negara kita adalah negara hukum.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Dalam khutbah pertama telah kita jelaskan bahwa bersatu dalam keluarga itu penting, jangan sampai memutuskan untuk cerai. Perlu dipahami pula bahwa bercerai itu memang dibolehkan, namun sesuatu yang dibenci oleh Allah. Menjatuhkan talak dalam hukum Islam itu dipersulit dan dibatasi hanya tiga kali talak, dua kali talak tersebut boleh rujuk. Terakhir, talak sendiri tidak boleh menjadi bahan guyonan atau candaan dengan istri.   Semoga Allah menjadikan keluarga kita terus bersatu, dijauhkan dari perceraian dan keretakan. Semoga Allah menjadikan sebagai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. — Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra, Ngampel, Padukuhan Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulqa’dah 1437 H (26 Agustus 2016) Download Khutbah Jumat: “Jangan Ceraikan Aku!” (versi PDF) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal   Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagssuami istri talak

Belajar Teknik di Tanah Arab

Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah

Belajar Teknik di Tanah Arab

Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah
Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah


Moga bisa diambil pelajaran dari studi kami selama di Kerajaan Saudi Arabia dari Agustus 2010 – Maret 2013. Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan diterbitkan Pustaka Muslim, dengan judul “MahaSantri”.   Awalnya studi strata satu kami di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dari 2002 sampai dengan 2007. Kemudian kami sempat menempuh pendidikan Magister di Jurusan Teknik Kimia UGM sampai semester keempat. Karena kendala biaya thesis yang tidak bisa dipenuhi sendiri sehingga kami mesti mencari cara untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah S-2 demi membahagiakan orang tua. Akhirnya kami putuskan di tahun 2009 untuk mengajukan apply di King Saudi University. Pengajuan ini atas bantuan dari kakak angkatan kami di Teknik Kimia, Meilana Dharma Putera, S.T., M.Sc. Ph.D. yang saat ini menjadi dosen di Universitas Lampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walhamdulillah, beliaulah yang banyak membantu sehingga di tahun 2010 (tepatnya di bulan Agustus), kami bisa diterima di Universtias Raja Saudi (King Saud University atau Jami’ah Malik Sa’ud). Di bulan Agustus tersebut, VISA dari pihak kampus sudah diterima dan kami berangkat menuju Saudi Arabia dalam keadaan meninggalkan seorang istri dan dua anak di Gunungkidul. Bismillah, dengan niatan baik, kami ingin raih banyak manfaat, dunia dan akhirat di tanah Arab.   Kenapa Memilih Tanah Arab? Tanah Arab akan memakai bahasa keseharian bahasa Arab. Tentu manfaat belajar di sana tidak hanya ilmu dunia, juga ilmu agama. Itulah yang menjadi alasan pokok kami belajar ke tanah Arab. Padahal rata-rata lulusan universitas besar seperti UGM akan melanjutkan studi ke Eropa atau Amerika. Namun ini barangkali pilihan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Karena kualitas studi di Arab jauh dari Eropa dan Amerika. Namun kalau dipandang lagi sebenarnya tidak kalah kuliah di Saudi Arabia dibanding dengan di negeri bule karena keunggulannya masih banyak, nanti akan kami sebutkan. Juga yang jadi alasan kami kuliah S-2 di Arab karena keinginan besar untuk menimba ilmu dari para ulama secara langsung dengan bekal bahasa Arab yang kami miliki selama kuliah di UGM.   Ini beberapa alasan kuliah di Arab: Kuliah di Arab itu gratis, semuanya dibiayai oleh pihak kerajaan. Setiap bulan mendapatkan uang saku dari kerajaan Saudi Arabia. Mahasiswa mendapatkan uang saku sebesar 890 riyal, sedangkan mahasiswa sekaligus peneliti mendapatkan 2000 riyal. Fasilitas asrama disediakan gratis. Namun bagi yang membawa keluarga saat itu tidak ditanggung oleh pihak kampus. Fasilitas kampus termasuk alat-alat penelitian sangat lengkap bahkan mudah ditemukan di banyak laboratorium penelitian. Biaya penelitian ditanggung oleh pihak kampus atau beberapa pihak sponsor sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya research sama sekali. Bahkan untuk mempelajari berbagai journal ilmiah, pihak kampus sudah menyediakan fasilitas lewat online. Dosen-dosen yang mengajar di KSU rata-rata adalah lulusan Amerika dan Eropa dari kampus yang ternama. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa keseharian di kampus, jadi bukan bahasa Arab. Bahasa Arab dipakai keseharian di luar kampus atau saat ingin mendalami agama di luar kampus. Fasilitas kampus sangat mendukung untuk belajar seperti library (maktabah) dan fasilitas internet yang super cepat. Bisa menimba ilmu agama dari masyaikh dan ulama besar yang masih hidup di Saudi Arabia. Bisa menambah hafalan Al-Qur’an karena suasana kampus yang mendukung. Terpisahnya kampus laki-laki dan perempuan. Di kampus KSU yang kami tempati hanya khusus untuk laki-laki. Diberi kesempatan untuk melakukan ibadah shalat dengan mudah, termasuk juga haji dan umrah. Haji dibiayai oleh pihak kampus. Pada moment tertentu seperti liburan semester, pihak kampus memberikan umrah gratis. Banyak muhsinin (dermawan) yang mendukung orang-orang yang belajar agama, walaupun backgroundnya kuliah umum.   Bagaimana Cara Masuk Kuliah di Arab? Kalau saat ini, pendaftaran dan pengiriman aplikasi untuk masuk di King Saud University bisa diakses lewat web resmi kampus ksu.edu.sa. Sedangkan kami dahulu ketika masuk di KSU melalui jalur korespondensi (murosalah) yaitu dengan mengirim berkas-berkas. Namun dahulu kami sangat dibantu oleh kakak angkatan kami, Mas Meilana. Beliaulah yang menerima berkas-berkas kami dan mengajukannya pada pihak kampus. Persyaratan yang dikirim berupa ijazah yang sudah ditranslate dalam bahasa Inggris, transkrip nilai, hasil tes TOEFL, dan rekomendasi dari dosen saat belajar di strata satu. Kami lebih dimudahkan lagi karena Mas Meilana meminta rekomendasi dari dosen Teknik Kimia KSU yang punya koneksi baik dengan pihak rektorat KSU, yaitu Prof. Dr. Sa’id Az-Zahrani. Jadi kemudahan saat itu bisa diterima dengan mudah adalah dari kemudahan Allah kemudian dari koneksi dekat di KSU.   Suasana Belajar di Arab Belajar S-2 di KSU begitu asyik. Pelajaran teori didapat selama dua semester awal. Di tahun berikutnya adalah konsen untuk penelitian thesis. Sedangkan waktu belajar bisa di pagi atau siang hari. Dan jadwalnya pun bisa dikompromikan dengan dosen bila hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti mata kuliah. Saat itu, kami mengambil konsentrasi Polymer Engineering. Dalam kelas pun hanya berdua, kecuali untuk mata kuliah yang sifatnya umum. Adapun waktu penelitian saat dimulai semester tiga, waktunya dari pukul delapan hingga pukul empat sore. Setelah itu waktu begitu longgar sehingga bisa digunakan untuk menimba ilmu agama dari ba’da ‘Ashar hingga pukul sembilan malam. Karena untuk ke tempat kajian di Markaz Syaikh Shalih Al-Fauzan di daerah Malaz di kota Riyadh, mesti menempuh perjalanan dengan bus yang disediakan seorang dermawan secara gratis, pergi menempuh waktu 1,5 jam, sedangkan pulangnya 1 jam. Adapun belajar bersama Syaikh Al-Fauzan, kurang lebih 1,5 jam dari ba’dah Maghrib sampai shalat ‘Isya’.   Menimba Ilmu Agama dari Masyaikh Saat kuliah di Saudi Arabia, kami belajar dari beberapa ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kami, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu). Ulama lainnya yang pernah kami gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt,  Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda). Kami pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H. Daurah ini diikuti seminggu sebelum kami menjalani sidang thesis S-2, di bulan Januari 2013. Setelah menjalani sidang thesis, langsung kami mengurus berkas-berkas kepulangan. Akhirnya, berada di Indonesia pada bulan Maret 2013.   Semoga jadi ibrah.   * Maaf, untuk info kuliah di KSU bisa langsung melihat di website ksu.edu.sa. Jika menghubungi kontak kami, tidak akan kami layani lagi karena pendaftaran saat ini hanya lewat internet.   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, dini hari, 23 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskuliah
Prev     Next