Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (3)

Meluruskan KesalahpahamanSebagaimana telah disebutkan di awal serial artikel ini, bahwa sebagian orang menyangka memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, hanya sebatas ikhtiar dan usaha, adapun penentu berpengaruhnya jimat tersebut adalah Allah Ta’ala semata.PelurusanPendapat di atas perlu diperinci sebagai berikut:PertamaJika yang dimaksud dengan jimat di atas adalah jimat dari Alquran, As-Sunnah, nama Allah dan sifat-Nya, doa yang diperbolehkan serta dzikir yang disyari’atkan, maka Salafush Sholeh berselisih pendapat tentangnya, dan pendapat yang terkuat adalah tetap diharamkan. Semoga Allah memudahkan penyusun untuk menulis uraian tentang hal ini dalam kesempatan yang lainnya.KeduaAdapun jika yang dimaksud adalah jimat selain itu, contohnya: tanduk, tulang, keris, tombak, rambut, bulu, atau kertas berisi tulisan-tulisan yang tidak bisa dipahami maknanya (selama tidak mengandung kekafiran akbar), maka hal itu diharamkan dan syirik kecil -dan bisa berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini-, walaupun pemakainya berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab saja, karena lima alasan ilmiah berikut ini:1. Bertentangan dengan Alquran Maupun As-SunnahSangkaan yang telah disebutkan di atas tidak sesuai dengan dalil-dalil dari Alquran maupun As-Sunnah, baik dalil umum atau khusus[1. Dalil umum adalah dalil yang disamping bisa digunakan untuk membantah kesyirikan pemakaian jimat, juga bisa digunakan untuk mengingkari kesyirikan selainnya, karena masih tercakup dalam keumuman dalil tersebut. Kesyirikan pemakaian jimat yang diingkari dengan dalil umum inipun mencakup jenis pemakaian jimat yang syirik kecil maupun syirik besar. Adapun dalil khusus adalah dalil yang didalamnya secara khusus disebutkan bantahan terhadap kesyirikan jimat.], maupun dalil jenis khabar atau insya`. Pada alasan pertama ini hanya akan disebutkan dalil-dalil umum, adapun dalil-dalil khusus, khabar maupun insya`, akan disebutkan pada alasan-alasan berikutnya. Dalil umumAlquran surat Az-Zumar: 38 Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ“Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah (hai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik): “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemadharatan kepadaku, apakah sesembahan-sesembahan itu dapat menghilangkan kemadharatan itu? Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?” Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, hanya kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakkal” (QS. Az-Zumar: 38).Di dalam QS. Az-Zumar: 38 ini terdapat bantahan terhadap penggunaan jimat, baik jenis syirik akbar maupun jenis syirik kecil. Berikut alasan-alasan pendalilannya.1) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) PertamaAyat ini pada asalnya memang untuk membantah ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang saleh dan selainnya, sedangkan ketergantungan hati juga ada pada diri pemakai jimat, walau kadar ketergantungan hati pemakai jimat -yang terjatuh kedalam syirik kecil- kepada jimatnya, tidaklah sebesar ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah.Jika ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sebagian para nabi, rasul dan orang-orang saleh saja adalah sebuah kebatilan, maka lebih-lebih lagi  ketergantungan hati pemakai jimat kepada jimatnya yang merupakan benda-benda mati dan sepele itu[2. Lihat At-Tamhid, hal. 97.]. Inilah pendalilan yang dalam ilmu Ushulul Fiqh disebut sebagai : Qiyasul Aulawi , yaitu: analogi penyangatan dan qiyas disini terkait dengan ketergantungan hati kepada selain Allah.2) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KeduaAyat inipun berfungsi untuk menetapkan bahwa sesembahan-sesembahan mereka selain Allah (seperti nabi, rasul dan orang-orang saleh) itu tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, dan bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, maka lebih-lebih lagi jimat, yang merupakan benda-benda mati sepele itu.Jimat lebih tidak bisa memberi manfa’at atau menolak keburukan dan lebih tidak bisa pula menjadi sebab yang berpengaruh dalam didapatkannya manfaat atau tertolaknya keburukan[3. Lihat At-Tamhid, hal. 98.]. Maka ini adalah bantahan kepada pemakai jimat walaupun ia meyakini bahwa jimat itu hanya sekedar sebab saja.Dengan demikian, alasan pendalilan yang kedua ini juga menggunakan qiyas/ analogi terkait dengan masalah ketidakmampuan selain Allah dalam menolak keburukan atau memberi manfa’at.3) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KetigaAyat ini menunjukkan bahwa sesembahan-sesembahan selain Allah tersebut tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, karena memang sesembahan-sesembahan tersebut bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, sehingga memintanya kepada sesembahan-sesembahan selain Allah adalah sebuah kesyirikan. Maka hal ini dapat diumpamakan kepada segala sesuatu yang tidak terbukti sebagai sebab, lalu diambil sebagai sebab, maka itu adalah sebuah kesyirikan[4. Lihat Al-Qoulul Mufid, Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin hafizhahullah, hal. 166 dan serial artikel tentang hukum sebab 1-6, di https://muslim.or.id/26607-hukum-sebab-1.html dan seri berikutnya.].Dengan demikian, alasan pendalilan yang ketiga ini juga menggunakan qiyas/analogi terkait dengan masalah kesalahan dalam pengambilan sebab.KesimpulanDengan demikian, ayat ini merupakan bantahan bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik kecil dan tentunya sebagai bantahan pula bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik besar, karena memang ayat ini pada asalnya untuk membantah pelaku syirik besar, lalu diqiyaskan untuk membantah pemakai jimat! Dan qiyas adalah metode berdalil yang diakui oleh para Ahli Fiqih dan Ahli Ushul rahimahumullah. Sesungguhnya berdalil dengan ayat tentang bantahan terhadap syirik akbar untuk membantah syirik kecil ini telah dipraktikkan oleh Sahabat.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Hukum Poligami Tanpa Izin Istri, Pengertian Khusyu Dalam Ibadah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Batik Trevel, Jilbab Pamer Aurat

Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (3)

Meluruskan KesalahpahamanSebagaimana telah disebutkan di awal serial artikel ini, bahwa sebagian orang menyangka memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, hanya sebatas ikhtiar dan usaha, adapun penentu berpengaruhnya jimat tersebut adalah Allah Ta’ala semata.PelurusanPendapat di atas perlu diperinci sebagai berikut:PertamaJika yang dimaksud dengan jimat di atas adalah jimat dari Alquran, As-Sunnah, nama Allah dan sifat-Nya, doa yang diperbolehkan serta dzikir yang disyari’atkan, maka Salafush Sholeh berselisih pendapat tentangnya, dan pendapat yang terkuat adalah tetap diharamkan. Semoga Allah memudahkan penyusun untuk menulis uraian tentang hal ini dalam kesempatan yang lainnya.KeduaAdapun jika yang dimaksud adalah jimat selain itu, contohnya: tanduk, tulang, keris, tombak, rambut, bulu, atau kertas berisi tulisan-tulisan yang tidak bisa dipahami maknanya (selama tidak mengandung kekafiran akbar), maka hal itu diharamkan dan syirik kecil -dan bisa berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini-, walaupun pemakainya berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab saja, karena lima alasan ilmiah berikut ini:1. Bertentangan dengan Alquran Maupun As-SunnahSangkaan yang telah disebutkan di atas tidak sesuai dengan dalil-dalil dari Alquran maupun As-Sunnah, baik dalil umum atau khusus[1. Dalil umum adalah dalil yang disamping bisa digunakan untuk membantah kesyirikan pemakaian jimat, juga bisa digunakan untuk mengingkari kesyirikan selainnya, karena masih tercakup dalam keumuman dalil tersebut. Kesyirikan pemakaian jimat yang diingkari dengan dalil umum inipun mencakup jenis pemakaian jimat yang syirik kecil maupun syirik besar. Adapun dalil khusus adalah dalil yang didalamnya secara khusus disebutkan bantahan terhadap kesyirikan jimat.], maupun dalil jenis khabar atau insya`. Pada alasan pertama ini hanya akan disebutkan dalil-dalil umum, adapun dalil-dalil khusus, khabar maupun insya`, akan disebutkan pada alasan-alasan berikutnya. Dalil umumAlquran surat Az-Zumar: 38 Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ“Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah (hai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik): “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemadharatan kepadaku, apakah sesembahan-sesembahan itu dapat menghilangkan kemadharatan itu? Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?” Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, hanya kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakkal” (QS. Az-Zumar: 38).Di dalam QS. Az-Zumar: 38 ini terdapat bantahan terhadap penggunaan jimat, baik jenis syirik akbar maupun jenis syirik kecil. Berikut alasan-alasan pendalilannya.1) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) PertamaAyat ini pada asalnya memang untuk membantah ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang saleh dan selainnya, sedangkan ketergantungan hati juga ada pada diri pemakai jimat, walau kadar ketergantungan hati pemakai jimat -yang terjatuh kedalam syirik kecil- kepada jimatnya, tidaklah sebesar ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah.Jika ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sebagian para nabi, rasul dan orang-orang saleh saja adalah sebuah kebatilan, maka lebih-lebih lagi  ketergantungan hati pemakai jimat kepada jimatnya yang merupakan benda-benda mati dan sepele itu[2. Lihat At-Tamhid, hal. 97.]. Inilah pendalilan yang dalam ilmu Ushulul Fiqh disebut sebagai : Qiyasul Aulawi , yaitu: analogi penyangatan dan qiyas disini terkait dengan ketergantungan hati kepada selain Allah.2) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KeduaAyat inipun berfungsi untuk menetapkan bahwa sesembahan-sesembahan mereka selain Allah (seperti nabi, rasul dan orang-orang saleh) itu tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, dan bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, maka lebih-lebih lagi jimat, yang merupakan benda-benda mati sepele itu.Jimat lebih tidak bisa memberi manfa’at atau menolak keburukan dan lebih tidak bisa pula menjadi sebab yang berpengaruh dalam didapatkannya manfaat atau tertolaknya keburukan[3. Lihat At-Tamhid, hal. 98.]. Maka ini adalah bantahan kepada pemakai jimat walaupun ia meyakini bahwa jimat itu hanya sekedar sebab saja.Dengan demikian, alasan pendalilan yang kedua ini juga menggunakan qiyas/ analogi terkait dengan masalah ketidakmampuan selain Allah dalam menolak keburukan atau memberi manfa’at.3) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KetigaAyat ini menunjukkan bahwa sesembahan-sesembahan selain Allah tersebut tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, karena memang sesembahan-sesembahan tersebut bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, sehingga memintanya kepada sesembahan-sesembahan selain Allah adalah sebuah kesyirikan. Maka hal ini dapat diumpamakan kepada segala sesuatu yang tidak terbukti sebagai sebab, lalu diambil sebagai sebab, maka itu adalah sebuah kesyirikan[4. Lihat Al-Qoulul Mufid, Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin hafizhahullah, hal. 166 dan serial artikel tentang hukum sebab 1-6, di https://muslim.or.id/26607-hukum-sebab-1.html dan seri berikutnya.].Dengan demikian, alasan pendalilan yang ketiga ini juga menggunakan qiyas/analogi terkait dengan masalah kesalahan dalam pengambilan sebab.KesimpulanDengan demikian, ayat ini merupakan bantahan bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik kecil dan tentunya sebagai bantahan pula bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik besar, karena memang ayat ini pada asalnya untuk membantah pelaku syirik besar, lalu diqiyaskan untuk membantah pemakai jimat! Dan qiyas adalah metode berdalil yang diakui oleh para Ahli Fiqih dan Ahli Ushul rahimahumullah. Sesungguhnya berdalil dengan ayat tentang bantahan terhadap syirik akbar untuk membantah syirik kecil ini telah dipraktikkan oleh Sahabat.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Hukum Poligami Tanpa Izin Istri, Pengertian Khusyu Dalam Ibadah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Batik Trevel, Jilbab Pamer Aurat
Meluruskan KesalahpahamanSebagaimana telah disebutkan di awal serial artikel ini, bahwa sebagian orang menyangka memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, hanya sebatas ikhtiar dan usaha, adapun penentu berpengaruhnya jimat tersebut adalah Allah Ta’ala semata.PelurusanPendapat di atas perlu diperinci sebagai berikut:PertamaJika yang dimaksud dengan jimat di atas adalah jimat dari Alquran, As-Sunnah, nama Allah dan sifat-Nya, doa yang diperbolehkan serta dzikir yang disyari’atkan, maka Salafush Sholeh berselisih pendapat tentangnya, dan pendapat yang terkuat adalah tetap diharamkan. Semoga Allah memudahkan penyusun untuk menulis uraian tentang hal ini dalam kesempatan yang lainnya.KeduaAdapun jika yang dimaksud adalah jimat selain itu, contohnya: tanduk, tulang, keris, tombak, rambut, bulu, atau kertas berisi tulisan-tulisan yang tidak bisa dipahami maknanya (selama tidak mengandung kekafiran akbar), maka hal itu diharamkan dan syirik kecil -dan bisa berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini-, walaupun pemakainya berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab saja, karena lima alasan ilmiah berikut ini:1. Bertentangan dengan Alquran Maupun As-SunnahSangkaan yang telah disebutkan di atas tidak sesuai dengan dalil-dalil dari Alquran maupun As-Sunnah, baik dalil umum atau khusus[1. Dalil umum adalah dalil yang disamping bisa digunakan untuk membantah kesyirikan pemakaian jimat, juga bisa digunakan untuk mengingkari kesyirikan selainnya, karena masih tercakup dalam keumuman dalil tersebut. Kesyirikan pemakaian jimat yang diingkari dengan dalil umum inipun mencakup jenis pemakaian jimat yang syirik kecil maupun syirik besar. Adapun dalil khusus adalah dalil yang didalamnya secara khusus disebutkan bantahan terhadap kesyirikan jimat.], maupun dalil jenis khabar atau insya`. Pada alasan pertama ini hanya akan disebutkan dalil-dalil umum, adapun dalil-dalil khusus, khabar maupun insya`, akan disebutkan pada alasan-alasan berikutnya. Dalil umumAlquran surat Az-Zumar: 38 Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ“Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah (hai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik): “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemadharatan kepadaku, apakah sesembahan-sesembahan itu dapat menghilangkan kemadharatan itu? Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?” Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, hanya kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakkal” (QS. Az-Zumar: 38).Di dalam QS. Az-Zumar: 38 ini terdapat bantahan terhadap penggunaan jimat, baik jenis syirik akbar maupun jenis syirik kecil. Berikut alasan-alasan pendalilannya.1) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) PertamaAyat ini pada asalnya memang untuk membantah ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang saleh dan selainnya, sedangkan ketergantungan hati juga ada pada diri pemakai jimat, walau kadar ketergantungan hati pemakai jimat -yang terjatuh kedalam syirik kecil- kepada jimatnya, tidaklah sebesar ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah.Jika ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sebagian para nabi, rasul dan orang-orang saleh saja adalah sebuah kebatilan, maka lebih-lebih lagi  ketergantungan hati pemakai jimat kepada jimatnya yang merupakan benda-benda mati dan sepele itu[2. Lihat At-Tamhid, hal. 97.]. Inilah pendalilan yang dalam ilmu Ushulul Fiqh disebut sebagai : Qiyasul Aulawi , yaitu: analogi penyangatan dan qiyas disini terkait dengan ketergantungan hati kepada selain Allah.2) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KeduaAyat inipun berfungsi untuk menetapkan bahwa sesembahan-sesembahan mereka selain Allah (seperti nabi, rasul dan orang-orang saleh) itu tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, dan bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, maka lebih-lebih lagi jimat, yang merupakan benda-benda mati sepele itu.Jimat lebih tidak bisa memberi manfa’at atau menolak keburukan dan lebih tidak bisa pula menjadi sebab yang berpengaruh dalam didapatkannya manfaat atau tertolaknya keburukan[3. Lihat At-Tamhid, hal. 98.]. Maka ini adalah bantahan kepada pemakai jimat walaupun ia meyakini bahwa jimat itu hanya sekedar sebab saja.Dengan demikian, alasan pendalilan yang kedua ini juga menggunakan qiyas/ analogi terkait dengan masalah ketidakmampuan selain Allah dalam menolak keburukan atau memberi manfa’at.3) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KetigaAyat ini menunjukkan bahwa sesembahan-sesembahan selain Allah tersebut tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, karena memang sesembahan-sesembahan tersebut bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, sehingga memintanya kepada sesembahan-sesembahan selain Allah adalah sebuah kesyirikan. Maka hal ini dapat diumpamakan kepada segala sesuatu yang tidak terbukti sebagai sebab, lalu diambil sebagai sebab, maka itu adalah sebuah kesyirikan[4. Lihat Al-Qoulul Mufid, Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin hafizhahullah, hal. 166 dan serial artikel tentang hukum sebab 1-6, di https://muslim.or.id/26607-hukum-sebab-1.html dan seri berikutnya.].Dengan demikian, alasan pendalilan yang ketiga ini juga menggunakan qiyas/analogi terkait dengan masalah kesalahan dalam pengambilan sebab.KesimpulanDengan demikian, ayat ini merupakan bantahan bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik kecil dan tentunya sebagai bantahan pula bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik besar, karena memang ayat ini pada asalnya untuk membantah pelaku syirik besar, lalu diqiyaskan untuk membantah pemakai jimat! Dan qiyas adalah metode berdalil yang diakui oleh para Ahli Fiqih dan Ahli Ushul rahimahumullah. Sesungguhnya berdalil dengan ayat tentang bantahan terhadap syirik akbar untuk membantah syirik kecil ini telah dipraktikkan oleh Sahabat.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Hukum Poligami Tanpa Izin Istri, Pengertian Khusyu Dalam Ibadah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Batik Trevel, Jilbab Pamer Aurat


Meluruskan KesalahpahamanSebagaimana telah disebutkan di awal serial artikel ini, bahwa sebagian orang menyangka memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, hanya sebatas ikhtiar dan usaha, adapun penentu berpengaruhnya jimat tersebut adalah Allah Ta’ala semata.PelurusanPendapat di atas perlu diperinci sebagai berikut:PertamaJika yang dimaksud dengan jimat di atas adalah jimat dari Alquran, As-Sunnah, nama Allah dan sifat-Nya, doa yang diperbolehkan serta dzikir yang disyari’atkan, maka Salafush Sholeh berselisih pendapat tentangnya, dan pendapat yang terkuat adalah tetap diharamkan. Semoga Allah memudahkan penyusun untuk menulis uraian tentang hal ini dalam kesempatan yang lainnya.KeduaAdapun jika yang dimaksud adalah jimat selain itu, contohnya: tanduk, tulang, keris, tombak, rambut, bulu, atau kertas berisi tulisan-tulisan yang tidak bisa dipahami maknanya (selama tidak mengandung kekafiran akbar), maka hal itu diharamkan dan syirik kecil -dan bisa berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini-, walaupun pemakainya berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab saja, karena lima alasan ilmiah berikut ini:1. Bertentangan dengan Alquran Maupun As-SunnahSangkaan yang telah disebutkan di atas tidak sesuai dengan dalil-dalil dari Alquran maupun As-Sunnah, baik dalil umum atau khusus[1. Dalil umum adalah dalil yang disamping bisa digunakan untuk membantah kesyirikan pemakaian jimat, juga bisa digunakan untuk mengingkari kesyirikan selainnya, karena masih tercakup dalam keumuman dalil tersebut. Kesyirikan pemakaian jimat yang diingkari dengan dalil umum inipun mencakup jenis pemakaian jimat yang syirik kecil maupun syirik besar. Adapun dalil khusus adalah dalil yang didalamnya secara khusus disebutkan bantahan terhadap kesyirikan jimat.], maupun dalil jenis khabar atau insya`. Pada alasan pertama ini hanya akan disebutkan dalil-dalil umum, adapun dalil-dalil khusus, khabar maupun insya`, akan disebutkan pada alasan-alasan berikutnya. Dalil umumAlquran surat Az-Zumar: 38 Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ“Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah (hai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik): “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemadharatan kepadaku, apakah sesembahan-sesembahan itu dapat menghilangkan kemadharatan itu? Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?” Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, hanya kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakkal” (QS. Az-Zumar: 38).Di dalam QS. Az-Zumar: 38 ini terdapat bantahan terhadap penggunaan jimat, baik jenis syirik akbar maupun jenis syirik kecil. Berikut alasan-alasan pendalilannya.1) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) PertamaAyat ini pada asalnya memang untuk membantah ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang saleh dan selainnya, sedangkan ketergantungan hati juga ada pada diri pemakai jimat, walau kadar ketergantungan hati pemakai jimat -yang terjatuh kedalam syirik kecil- kepada jimatnya, tidaklah sebesar ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sesembahan-sesembahan selain Allah.Jika ketergantungan hati pelaku syirik besar kepada sebagian para nabi, rasul dan orang-orang saleh saja adalah sebuah kebatilan, maka lebih-lebih lagi  ketergantungan hati pemakai jimat kepada jimatnya yang merupakan benda-benda mati dan sepele itu[2. Lihat At-Tamhid, hal. 97.]. Inilah pendalilan yang dalam ilmu Ushulul Fiqh disebut sebagai : Qiyasul Aulawi , yaitu: analogi penyangatan dan qiyas disini terkait dengan ketergantungan hati kepada selain Allah.2) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KeduaAyat inipun berfungsi untuk menetapkan bahwa sesembahan-sesembahan mereka selain Allah (seperti nabi, rasul dan orang-orang saleh) itu tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, dan bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, maka lebih-lebih lagi jimat, yang merupakan benda-benda mati sepele itu.Jimat lebih tidak bisa memberi manfa’at atau menolak keburukan dan lebih tidak bisa pula menjadi sebab yang berpengaruh dalam didapatkannya manfaat atau tertolaknya keburukan[3. Lihat At-Tamhid, hal. 98.]. Maka ini adalah bantahan kepada pemakai jimat walaupun ia meyakini bahwa jimat itu hanya sekedar sebab saja.Dengan demikian, alasan pendalilan yang kedua ini juga menggunakan qiyas/ analogi terkait dengan masalah ketidakmampuan selain Allah dalam menolak keburukan atau memberi manfa’at.3) Alasan Pendalilan (wajhud dalalah) KetigaAyat ini menunjukkan bahwa sesembahan-sesembahan selain Allah tersebut tidaklah kuasa menolak keburukan atau memberi manfa’at, karena memang sesembahan-sesembahan tersebut bukanlah sebab untuk mendapatkan hal itu, sehingga memintanya kepada sesembahan-sesembahan selain Allah adalah sebuah kesyirikan. Maka hal ini dapat diumpamakan kepada segala sesuatu yang tidak terbukti sebagai sebab, lalu diambil sebagai sebab, maka itu adalah sebuah kesyirikan[4. Lihat Al-Qoulul Mufid, Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin hafizhahullah, hal. 166 dan serial artikel tentang hukum sebab 1-6, di https://muslim.or.id/26607-hukum-sebab-1.html dan seri berikutnya.].Dengan demikian, alasan pendalilan yang ketiga ini juga menggunakan qiyas/analogi terkait dengan masalah kesalahan dalam pengambilan sebab.KesimpulanDengan demikian, ayat ini merupakan bantahan bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik kecil dan tentunya sebagai bantahan pula bagi pemakai jimat yang terjerumus kedalam syirik besar, karena memang ayat ini pada asalnya untuk membantah pelaku syirik besar, lalu diqiyaskan untuk membantah pemakai jimat! Dan qiyas adalah metode berdalil yang diakui oleh para Ahli Fiqih dan Ahli Ushul rahimahumullah. Sesungguhnya berdalil dengan ayat tentang bantahan terhadap syirik akbar untuk membantah syirik kecil ini telah dipraktikkan oleh Sahabat.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Hukum Poligami Tanpa Izin Istri, Pengertian Khusyu Dalam Ibadah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Batik Trevel, Jilbab Pamer Aurat

Khutbah Jumat: Gubernur yang Bengis

Adakah contoh gubernur yang bengis dan bagaimanakah cara menyikapinya dari sikap para ulama?   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya. Dalam hadits disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Sekarang ada model pemimpin yang sombong, angkuh dan tidak bisa menjaga mulutnya. Di masa silam juga ada pemimpin seperti itu pula. Namun bedanya, pemimpin yang dibicarakan di masa silam adalah seorang gubernur yang hafizh Al-Qur’an. Akan tetapi, ia punya sisi jelek terkenal dengan kekejiannya. Ia adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, salah seorang gubernur di daerah Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Alquran. Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna, 30 juz. Sampai-sampai ada ulama yang menyanjung Hajjaj. Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.” Walau punya sisi baik, Hajjaj lebih dikenal sebagai seorang pemimpin dan gubernur yang bengis dan keji. Kebengisan dari Al-Hajjaj bin Yusuf dimulai saat ia diangkat memimpin pasukan perang dari Abdul Malik bin Marwan untuk melawatn Abdullah bin Zubair. Setelah itu, Al-Hajjaj bin Yusuf diangkat menjadi Gubernur Irak. Hajjaj pernah berperang dengan ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats dan akibatnya menewaskan ribuan orang. Ada lagi yang disebutkan dalam sunan Tirmidzi, Hisyam bin Hassan berkata, “Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al-Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2220; Ahmad, 2: 26. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun meski kejam seperti itu, ada sisi baik dari Hajjaj seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus perzinaan (perselingkuhan), walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 9: 153) Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar lagi adalah keseriusannya dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Alquran. Inilah yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin muslim, sejelek-jeleknya dia, tetap masih ada sisi baik. Jadi jangan menganggap bahwa pemimpin muslim mutlak jeleknya, seperti penilaian sebagian kita. Sebagian kita menganggap bahwa pemimpin muslim itu lebih koruptor dibanding pemimpin non-muslim. Lalu bagaimanakah sikap para sahabat dan ulama terhadap kekejian Hajjaj? Apakah mereka ingin membunuh gubernur semacam itu atau melakukan pemberontakan padanya? عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم – Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 7068) Lihatlah sikap kita pada pemimpin zalim seperti Al-Hajjaj malah diperintahkan untuk taat, bukan memberontak atau membunuhnya. Yang diperintahkan adalah BERSABAR. Karena kalau pun Hajjaj itu lengser karena ada yang memberontak atau pun terbunuh, belum tentu kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik setelah itu. Lebih-lebih lagi selama pemimpin kita itu muslim dan memperhatikan shalat, wajib ditaati. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.”  (HR. Muslim, no. 1855) Janganlah seperti orang Jahiliyyah, yang tidak mau punya pemimpin. Dalam hadits disebutkan, مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053; Muslim no. 1849)   Lalu tugas kita menghadapi pemimpin yang kita tidak sukai, bagaimana? Bersabar dan mendo’akan kebaikan untuk pemimpin kita. Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77) Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Yang bisa disimpulkan dari khutbah pertama tadi, walau kita punya pemimpin yang tidak kita sukai karena bengis dan kejam, tetap wajib taat, lalu bersabar dan tetap mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun ingatlah pemimpin itu sebenarnya cerminan dari rakyatnya. Para ulama berkata, كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ “Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”   Artinya, kalau rakyat itu sukanya berbohong, pemimpin kita pun demikian adanya. Kalau rakyat sukanya mencuri dan korupsi, pemimpin kita demikian pula. Sekali lagi, pemimpin itu cerminan dari rakyatnya.   Mudah-mudahan kita sebagai rakyat bisa terus introspeksi diri, sehingga bisa mendapatkan pemimpin yang baik pula. Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat.   Pengertian yang paling bagus mengenai shalawat sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah rahimahullah sebagaimana disebut dalam Shahih Al-Bukhari, صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ ، وَصَلاَةُ الْمَلاَئِكَةِ الدُّعَاءُ “Shalawat dari Allah maksudnya adalah pujian Allah pada Nabi di sisi para malaikat. Shalawat dari malaikat maksudnya adalah do’a.” إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَلَيْنَا اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ “Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam.” رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul, Jum’at Pahing, 18 Safar 1438 H (18 November 2016) Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Gubernur yang Bengis — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagspemimpin

Khutbah Jumat: Gubernur yang Bengis

Adakah contoh gubernur yang bengis dan bagaimanakah cara menyikapinya dari sikap para ulama?   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya. Dalam hadits disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Sekarang ada model pemimpin yang sombong, angkuh dan tidak bisa menjaga mulutnya. Di masa silam juga ada pemimpin seperti itu pula. Namun bedanya, pemimpin yang dibicarakan di masa silam adalah seorang gubernur yang hafizh Al-Qur’an. Akan tetapi, ia punya sisi jelek terkenal dengan kekejiannya. Ia adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, salah seorang gubernur di daerah Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Alquran. Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna, 30 juz. Sampai-sampai ada ulama yang menyanjung Hajjaj. Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.” Walau punya sisi baik, Hajjaj lebih dikenal sebagai seorang pemimpin dan gubernur yang bengis dan keji. Kebengisan dari Al-Hajjaj bin Yusuf dimulai saat ia diangkat memimpin pasukan perang dari Abdul Malik bin Marwan untuk melawatn Abdullah bin Zubair. Setelah itu, Al-Hajjaj bin Yusuf diangkat menjadi Gubernur Irak. Hajjaj pernah berperang dengan ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats dan akibatnya menewaskan ribuan orang. Ada lagi yang disebutkan dalam sunan Tirmidzi, Hisyam bin Hassan berkata, “Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al-Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2220; Ahmad, 2: 26. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun meski kejam seperti itu, ada sisi baik dari Hajjaj seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus perzinaan (perselingkuhan), walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 9: 153) Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar lagi adalah keseriusannya dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Alquran. Inilah yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin muslim, sejelek-jeleknya dia, tetap masih ada sisi baik. Jadi jangan menganggap bahwa pemimpin muslim mutlak jeleknya, seperti penilaian sebagian kita. Sebagian kita menganggap bahwa pemimpin muslim itu lebih koruptor dibanding pemimpin non-muslim. Lalu bagaimanakah sikap para sahabat dan ulama terhadap kekejian Hajjaj? Apakah mereka ingin membunuh gubernur semacam itu atau melakukan pemberontakan padanya? عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم – Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 7068) Lihatlah sikap kita pada pemimpin zalim seperti Al-Hajjaj malah diperintahkan untuk taat, bukan memberontak atau membunuhnya. Yang diperintahkan adalah BERSABAR. Karena kalau pun Hajjaj itu lengser karena ada yang memberontak atau pun terbunuh, belum tentu kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik setelah itu. Lebih-lebih lagi selama pemimpin kita itu muslim dan memperhatikan shalat, wajib ditaati. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.”  (HR. Muslim, no. 1855) Janganlah seperti orang Jahiliyyah, yang tidak mau punya pemimpin. Dalam hadits disebutkan, مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053; Muslim no. 1849)   Lalu tugas kita menghadapi pemimpin yang kita tidak sukai, bagaimana? Bersabar dan mendo’akan kebaikan untuk pemimpin kita. Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77) Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Yang bisa disimpulkan dari khutbah pertama tadi, walau kita punya pemimpin yang tidak kita sukai karena bengis dan kejam, tetap wajib taat, lalu bersabar dan tetap mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun ingatlah pemimpin itu sebenarnya cerminan dari rakyatnya. Para ulama berkata, كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ “Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”   Artinya, kalau rakyat itu sukanya berbohong, pemimpin kita pun demikian adanya. Kalau rakyat sukanya mencuri dan korupsi, pemimpin kita demikian pula. Sekali lagi, pemimpin itu cerminan dari rakyatnya.   Mudah-mudahan kita sebagai rakyat bisa terus introspeksi diri, sehingga bisa mendapatkan pemimpin yang baik pula. Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat.   Pengertian yang paling bagus mengenai shalawat sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah rahimahullah sebagaimana disebut dalam Shahih Al-Bukhari, صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ ، وَصَلاَةُ الْمَلاَئِكَةِ الدُّعَاءُ “Shalawat dari Allah maksudnya adalah pujian Allah pada Nabi di sisi para malaikat. Shalawat dari malaikat maksudnya adalah do’a.” إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَلَيْنَا اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ “Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam.” رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul, Jum’at Pahing, 18 Safar 1438 H (18 November 2016) Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Gubernur yang Bengis — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagspemimpin
Adakah contoh gubernur yang bengis dan bagaimanakah cara menyikapinya dari sikap para ulama?   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya. Dalam hadits disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Sekarang ada model pemimpin yang sombong, angkuh dan tidak bisa menjaga mulutnya. Di masa silam juga ada pemimpin seperti itu pula. Namun bedanya, pemimpin yang dibicarakan di masa silam adalah seorang gubernur yang hafizh Al-Qur’an. Akan tetapi, ia punya sisi jelek terkenal dengan kekejiannya. Ia adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, salah seorang gubernur di daerah Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Alquran. Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna, 30 juz. Sampai-sampai ada ulama yang menyanjung Hajjaj. Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.” Walau punya sisi baik, Hajjaj lebih dikenal sebagai seorang pemimpin dan gubernur yang bengis dan keji. Kebengisan dari Al-Hajjaj bin Yusuf dimulai saat ia diangkat memimpin pasukan perang dari Abdul Malik bin Marwan untuk melawatn Abdullah bin Zubair. Setelah itu, Al-Hajjaj bin Yusuf diangkat menjadi Gubernur Irak. Hajjaj pernah berperang dengan ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats dan akibatnya menewaskan ribuan orang. Ada lagi yang disebutkan dalam sunan Tirmidzi, Hisyam bin Hassan berkata, “Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al-Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2220; Ahmad, 2: 26. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun meski kejam seperti itu, ada sisi baik dari Hajjaj seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus perzinaan (perselingkuhan), walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 9: 153) Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar lagi adalah keseriusannya dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Alquran. Inilah yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin muslim, sejelek-jeleknya dia, tetap masih ada sisi baik. Jadi jangan menganggap bahwa pemimpin muslim mutlak jeleknya, seperti penilaian sebagian kita. Sebagian kita menganggap bahwa pemimpin muslim itu lebih koruptor dibanding pemimpin non-muslim. Lalu bagaimanakah sikap para sahabat dan ulama terhadap kekejian Hajjaj? Apakah mereka ingin membunuh gubernur semacam itu atau melakukan pemberontakan padanya? عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم – Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 7068) Lihatlah sikap kita pada pemimpin zalim seperti Al-Hajjaj malah diperintahkan untuk taat, bukan memberontak atau membunuhnya. Yang diperintahkan adalah BERSABAR. Karena kalau pun Hajjaj itu lengser karena ada yang memberontak atau pun terbunuh, belum tentu kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik setelah itu. Lebih-lebih lagi selama pemimpin kita itu muslim dan memperhatikan shalat, wajib ditaati. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.”  (HR. Muslim, no. 1855) Janganlah seperti orang Jahiliyyah, yang tidak mau punya pemimpin. Dalam hadits disebutkan, مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053; Muslim no. 1849)   Lalu tugas kita menghadapi pemimpin yang kita tidak sukai, bagaimana? Bersabar dan mendo’akan kebaikan untuk pemimpin kita. Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77) Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Yang bisa disimpulkan dari khutbah pertama tadi, walau kita punya pemimpin yang tidak kita sukai karena bengis dan kejam, tetap wajib taat, lalu bersabar dan tetap mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun ingatlah pemimpin itu sebenarnya cerminan dari rakyatnya. Para ulama berkata, كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ “Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”   Artinya, kalau rakyat itu sukanya berbohong, pemimpin kita pun demikian adanya. Kalau rakyat sukanya mencuri dan korupsi, pemimpin kita demikian pula. Sekali lagi, pemimpin itu cerminan dari rakyatnya.   Mudah-mudahan kita sebagai rakyat bisa terus introspeksi diri, sehingga bisa mendapatkan pemimpin yang baik pula. Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat.   Pengertian yang paling bagus mengenai shalawat sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah rahimahullah sebagaimana disebut dalam Shahih Al-Bukhari, صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ ، وَصَلاَةُ الْمَلاَئِكَةِ الدُّعَاءُ “Shalawat dari Allah maksudnya adalah pujian Allah pada Nabi di sisi para malaikat. Shalawat dari malaikat maksudnya adalah do’a.” إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَلَيْنَا اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ “Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam.” رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul, Jum’at Pahing, 18 Safar 1438 H (18 November 2016) Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Gubernur yang Bengis — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagspemimpin


Adakah contoh gubernur yang bengis dan bagaimanakah cara menyikapinya dari sikap para ulama?   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya. Dalam hadits disebutkan, مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Sekarang ada model pemimpin yang sombong, angkuh dan tidak bisa menjaga mulutnya. Di masa silam juga ada pemimpin seperti itu pula. Namun bedanya, pemimpin yang dibicarakan di masa silam adalah seorang gubernur yang hafizh Al-Qur’an. Akan tetapi, ia punya sisi jelek terkenal dengan kekejiannya. Ia adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, salah seorang gubernur di daerah Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Alquran. Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna, 30 juz. Sampai-sampai ada ulama yang menyanjung Hajjaj. Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.” Walau punya sisi baik, Hajjaj lebih dikenal sebagai seorang pemimpin dan gubernur yang bengis dan keji. Kebengisan dari Al-Hajjaj bin Yusuf dimulai saat ia diangkat memimpin pasukan perang dari Abdul Malik bin Marwan untuk melawatn Abdullah bin Zubair. Setelah itu, Al-Hajjaj bin Yusuf diangkat menjadi Gubernur Irak. Hajjaj pernah berperang dengan ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats dan akibatnya menewaskan ribuan orang. Ada lagi yang disebutkan dalam sunan Tirmidzi, Hisyam bin Hassan berkata, “Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al-Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2220; Ahmad, 2: 26. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun meski kejam seperti itu, ada sisi baik dari Hajjaj seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus perzinaan (perselingkuhan), walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 9: 153) Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar lagi adalah keseriusannya dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Alquran. Inilah yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin muslim, sejelek-jeleknya dia, tetap masih ada sisi baik. Jadi jangan menganggap bahwa pemimpin muslim mutlak jeleknya, seperti penilaian sebagian kita. Sebagian kita menganggap bahwa pemimpin muslim itu lebih koruptor dibanding pemimpin non-muslim. Lalu bagaimanakah sikap para sahabat dan ulama terhadap kekejian Hajjaj? Apakah mereka ingin membunuh gubernur semacam itu atau melakukan pemberontakan padanya? عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم – Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang (kekejaman) Al Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 7068) Lihatlah sikap kita pada pemimpin zalim seperti Al-Hajjaj malah diperintahkan untuk taat, bukan memberontak atau membunuhnya. Yang diperintahkan adalah BERSABAR. Karena kalau pun Hajjaj itu lengser karena ada yang memberontak atau pun terbunuh, belum tentu kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik setelah itu. Lebih-lebih lagi selama pemimpin kita itu muslim dan memperhatikan shalat, wajib ditaati. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.”  (HR. Muslim, no. 1855) Janganlah seperti orang Jahiliyyah, yang tidak mau punya pemimpin. Dalam hadits disebutkan, مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Bukhari, no. 7053; Muslim no. 1849)   Lalu tugas kita menghadapi pemimpin yang kita tidak sukai, bagaimana? Bersabar dan mendo’akan kebaikan untuk pemimpin kita. Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77) Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Yang bisa disimpulkan dari khutbah pertama tadi, walau kita punya pemimpin yang tidak kita sukai karena bengis dan kejam, tetap wajib taat, lalu bersabar dan tetap mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun ingatlah pemimpin itu sebenarnya cerminan dari rakyatnya. Para ulama berkata, كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ “Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”   Artinya, kalau rakyat itu sukanya berbohong, pemimpin kita pun demikian adanya. Kalau rakyat sukanya mencuri dan korupsi, pemimpin kita demikian pula. Sekali lagi, pemimpin itu cerminan dari rakyatnya.   Mudah-mudahan kita sebagai rakyat bisa terus introspeksi diri, sehingga bisa mendapatkan pemimpin yang baik pula. Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat.   Pengertian yang paling bagus mengenai shalawat sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah rahimahullah sebagaimana disebut dalam Shahih Al-Bukhari, صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ ، وَصَلاَةُ الْمَلاَئِكَةِ الدُّعَاءُ “Shalawat dari Allah maksudnya adalah pujian Allah pada Nabi di sisi para malaikat. Shalawat dari malaikat maksudnya adalah do’a.” إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَلَيْنَا اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ “Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam.” رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul, Jum’at Pahing, 18 Safar 1438 H (18 November 2016) Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Gubernur yang Bengis — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 18 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagspemimpin

Hanya di Surga Cinta Tanpa Perpisahan….

Hanya di surga cinta tanpa perpisahan….فِي الْجَنَّةِ حُبٌ بِلاَ فِرَاقٍAdapun di dunia…betapapun kuat tali cinta tersebut…maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ، فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ“Cintailah siapa yang kau kehendaki…sungguh engkau akan berpisah dengannya” (silsilah al-ahaadits as-shahihah no 831)Cinta di dunia pasti diakhiri dengan perpisahan…Cinta di dunia pasti diakhiri dengan kesedihan…Jika engkau telah menjalin cinta…telah mencintai…telah jatuh cinta…telah menyayangi… maka bersiaplah suatu hari engkau akan berpisah dengannya…engkau yang meninggalkannya atau dia yang meninggalkanmuTidak ada kebahagiaan dan cinta yang sempurna kecuali hanya di surga.

Hanya di Surga Cinta Tanpa Perpisahan….

Hanya di surga cinta tanpa perpisahan….فِي الْجَنَّةِ حُبٌ بِلاَ فِرَاقٍAdapun di dunia…betapapun kuat tali cinta tersebut…maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ، فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ“Cintailah siapa yang kau kehendaki…sungguh engkau akan berpisah dengannya” (silsilah al-ahaadits as-shahihah no 831)Cinta di dunia pasti diakhiri dengan perpisahan…Cinta di dunia pasti diakhiri dengan kesedihan…Jika engkau telah menjalin cinta…telah mencintai…telah jatuh cinta…telah menyayangi… maka bersiaplah suatu hari engkau akan berpisah dengannya…engkau yang meninggalkannya atau dia yang meninggalkanmuTidak ada kebahagiaan dan cinta yang sempurna kecuali hanya di surga.
Hanya di surga cinta tanpa perpisahan….فِي الْجَنَّةِ حُبٌ بِلاَ فِرَاقٍAdapun di dunia…betapapun kuat tali cinta tersebut…maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ، فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ“Cintailah siapa yang kau kehendaki…sungguh engkau akan berpisah dengannya” (silsilah al-ahaadits as-shahihah no 831)Cinta di dunia pasti diakhiri dengan perpisahan…Cinta di dunia pasti diakhiri dengan kesedihan…Jika engkau telah menjalin cinta…telah mencintai…telah jatuh cinta…telah menyayangi… maka bersiaplah suatu hari engkau akan berpisah dengannya…engkau yang meninggalkannya atau dia yang meninggalkanmuTidak ada kebahagiaan dan cinta yang sempurna kecuali hanya di surga.


Hanya di surga cinta tanpa perpisahan….فِي الْجَنَّةِ حُبٌ بِلاَ فِرَاقٍAdapun di dunia…betapapun kuat tali cinta tersebut…maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ، فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ“Cintailah siapa yang kau kehendaki…sungguh engkau akan berpisah dengannya” (silsilah al-ahaadits as-shahihah no 831)Cinta di dunia pasti diakhiri dengan perpisahan…Cinta di dunia pasti diakhiri dengan kesedihan…Jika engkau telah menjalin cinta…telah mencintai…telah jatuh cinta…telah menyayangi… maka bersiaplah suatu hari engkau akan berpisah dengannya…engkau yang meninggalkannya atau dia yang meninggalkanmuTidak ada kebahagiaan dan cinta yang sempurna kecuali hanya di surga.

Luar Biasa Menggabungkan antara Birrul Walidain dan Syahadah.

Menakjubkan, Al-Juhani salah seorang askar (tentara saudi) yang meninggal akibat mencegah sang pembom dekat mesjid nabawi ternyata baru saja selesai membelikan rumah buat ibunya. (Sumber : Akhbaar as-su’uudiyah)Luar biasa menggabungkan antara birrul walidain dan pahala syahadah. Smg Allah menerimanya sebagai syahid

Luar Biasa Menggabungkan antara Birrul Walidain dan Syahadah.

Menakjubkan, Al-Juhani salah seorang askar (tentara saudi) yang meninggal akibat mencegah sang pembom dekat mesjid nabawi ternyata baru saja selesai membelikan rumah buat ibunya. (Sumber : Akhbaar as-su’uudiyah)Luar biasa menggabungkan antara birrul walidain dan pahala syahadah. Smg Allah menerimanya sebagai syahid
Menakjubkan, Al-Juhani salah seorang askar (tentara saudi) yang meninggal akibat mencegah sang pembom dekat mesjid nabawi ternyata baru saja selesai membelikan rumah buat ibunya. (Sumber : Akhbaar as-su’uudiyah)Luar biasa menggabungkan antara birrul walidain dan pahala syahadah. Smg Allah menerimanya sebagai syahid


Menakjubkan, Al-Juhani salah seorang askar (tentara saudi) yang meninggal akibat mencegah sang pembom dekat mesjid nabawi ternyata baru saja selesai membelikan rumah buat ibunya. (Sumber : Akhbaar as-su’uudiyah)Luar biasa menggabungkan antara birrul walidain dan pahala syahadah. Smg Allah menerimanya sebagai syahid

Belajar Pengorbanan dari Guruku Ustadz Abu Sa’ad rahimahullah.

Bagi saya ini adalah hal yang sangat luar biasa…Pengorbanan ustadz Abu Sa’ad …Ketika saya menikah pada tanggal 17 agustus 2001 status saya waktu itu sangat pas pasan -alhamdulillah-. Untuk membayar mahar pernikahan pun uang tidak cukup, padahal maharnya sangatlah murah sekitar 140 ribu rupiah. Jika untuk bayar mahar saja saya harus berhutang apalagi mau sewa hotel untuk bisa malam penganten dengan istri tercinta.Namun Ust Abu Sa’ad rahimahullah sangat luar biasa… Beliaupun dengan istrinya (semoga Allah memberi kesabaran kepadanya) sengaja mengosongkan rumah beliau untuk dipakai oleh saya dan istri berbulan madu berhari hari.Kenapa luar biasa…?Karena tatkala itu status saya masih sebagai santri di ma’had Jamilurrahman Jogjakarta, dan ustadz Abu Sa’ad adaah guru saya dan saya belajar ushul fikih kepada beliau.Seorang guru mengosongkan rumahnya dan entah tidur di mana demi muridnya …Tentunya kondisi saya tatkala itu bukan seperti sekarang ….Tatkala itu saya masih santri…belum banyak yang mengenal saya…Bagi saya ini adalah bentuk pengorbanan yang luar biasa…Semoga Allah merahmatimu wahai guruku…

Belajar Pengorbanan dari Guruku Ustadz Abu Sa’ad rahimahullah.

Bagi saya ini adalah hal yang sangat luar biasa…Pengorbanan ustadz Abu Sa’ad …Ketika saya menikah pada tanggal 17 agustus 2001 status saya waktu itu sangat pas pasan -alhamdulillah-. Untuk membayar mahar pernikahan pun uang tidak cukup, padahal maharnya sangatlah murah sekitar 140 ribu rupiah. Jika untuk bayar mahar saja saya harus berhutang apalagi mau sewa hotel untuk bisa malam penganten dengan istri tercinta.Namun Ust Abu Sa’ad rahimahullah sangat luar biasa… Beliaupun dengan istrinya (semoga Allah memberi kesabaran kepadanya) sengaja mengosongkan rumah beliau untuk dipakai oleh saya dan istri berbulan madu berhari hari.Kenapa luar biasa…?Karena tatkala itu status saya masih sebagai santri di ma’had Jamilurrahman Jogjakarta, dan ustadz Abu Sa’ad adaah guru saya dan saya belajar ushul fikih kepada beliau.Seorang guru mengosongkan rumahnya dan entah tidur di mana demi muridnya …Tentunya kondisi saya tatkala itu bukan seperti sekarang ….Tatkala itu saya masih santri…belum banyak yang mengenal saya…Bagi saya ini adalah bentuk pengorbanan yang luar biasa…Semoga Allah merahmatimu wahai guruku…
Bagi saya ini adalah hal yang sangat luar biasa…Pengorbanan ustadz Abu Sa’ad …Ketika saya menikah pada tanggal 17 agustus 2001 status saya waktu itu sangat pas pasan -alhamdulillah-. Untuk membayar mahar pernikahan pun uang tidak cukup, padahal maharnya sangatlah murah sekitar 140 ribu rupiah. Jika untuk bayar mahar saja saya harus berhutang apalagi mau sewa hotel untuk bisa malam penganten dengan istri tercinta.Namun Ust Abu Sa’ad rahimahullah sangat luar biasa… Beliaupun dengan istrinya (semoga Allah memberi kesabaran kepadanya) sengaja mengosongkan rumah beliau untuk dipakai oleh saya dan istri berbulan madu berhari hari.Kenapa luar biasa…?Karena tatkala itu status saya masih sebagai santri di ma’had Jamilurrahman Jogjakarta, dan ustadz Abu Sa’ad adaah guru saya dan saya belajar ushul fikih kepada beliau.Seorang guru mengosongkan rumahnya dan entah tidur di mana demi muridnya …Tentunya kondisi saya tatkala itu bukan seperti sekarang ….Tatkala itu saya masih santri…belum banyak yang mengenal saya…Bagi saya ini adalah bentuk pengorbanan yang luar biasa…Semoga Allah merahmatimu wahai guruku…


Bagi saya ini adalah hal yang sangat luar biasa…Pengorbanan ustadz Abu Sa’ad …Ketika saya menikah pada tanggal 17 agustus 2001 status saya waktu itu sangat pas pasan -alhamdulillah-. Untuk membayar mahar pernikahan pun uang tidak cukup, padahal maharnya sangatlah murah sekitar 140 ribu rupiah. Jika untuk bayar mahar saja saya harus berhutang apalagi mau sewa hotel untuk bisa malam penganten dengan istri tercinta.Namun Ust Abu Sa’ad rahimahullah sangat luar biasa… Beliaupun dengan istrinya (semoga Allah memberi kesabaran kepadanya) sengaja mengosongkan rumah beliau untuk dipakai oleh saya dan istri berbulan madu berhari hari.Kenapa luar biasa…?Karena tatkala itu status saya masih sebagai santri di ma’had Jamilurrahman Jogjakarta, dan ustadz Abu Sa’ad adaah guru saya dan saya belajar ushul fikih kepada beliau.Seorang guru mengosongkan rumahnya dan entah tidur di mana demi muridnya …Tentunya kondisi saya tatkala itu bukan seperti sekarang ….Tatkala itu saya masih santri…belum banyak yang mengenal saya…Bagi saya ini adalah bentuk pengorbanan yang luar biasa…Semoga Allah merahmatimu wahai guruku…

Bersatullah dan Jangan Bercerai-Berai

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 11Shafar 1438 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Muhammad Al-QasimPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya.Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba Allah – dengan sesungguhnya. Mendekatlah kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian. Kaum muslimin!          Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan Nabi Adam dan menugaskannya sebagai khalifah di bumi untuk beribadah kepadaNya.  Sepeninggal Nabi Adam, seluruh anak cucunya berada dalam ketauhidan dan kecintaan kepada Allah, lalu setan menggelincirkan dan membuat mereka menyimpang dari agama dan ketaatan kepada Allah sehingga bercerai-berai setelah sebelumnya utuh sebagai umat yang satu. Firman Allah dalam hadis Qudsi:“خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“ Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu semuanya hunafaa’ (bersih dari kemusyrikan), dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan-setan, lalu mereka disesatkan dari agama mereka” HR MuslimAllah mencela mereka karena berpecah, maka ia mengutus para rasul kepada mereka untuk mempersatukan mereka kembali dan mempertemukan hati mereka pada kebenaran. Firman Allah :وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ [ يونس / 19 ]“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih, kalau sekiranya bukan karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu , pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. Qs Yunus : 19Allah memilih Bani Israel dengan mengutus beberapa para nabi dan rasul dari kalangan mereka, namun mereka melanggar dan mencampakkan Kitab ke belakang yang akhirnya mereka berpecah menjadi berbagai golongan dan kelompok. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ، وَاَفَترَقتِ النَّصَارَى عَلٰى اثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ، وَتَفْتَرِقُ إُمَّتِيْ عَلٰى ثَلاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ” رواه ابن حبان”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, kaum Nashrani telah terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan”. HR Ibnu HibanNabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan akan bahaya perpecahan sebagaimana sabda beliau :” وَإيَّاكمْ وَالفرْقة ” رواه الترمذي“Jauhilah perpecahan” HR TirmiziBeliau mengabarkan sebagai warning bakal terjadinya perpecahan itu pada umat ini. Sabda beliau :” فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثيْراً ““Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian sesudah aku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.  HR AhmadAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang hamba-hambaNya berbecah. Firman Allah:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران/ 103]“Dan berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. Qs Ali Imran: 103DijelaskanNya bahwa jalan Allah hanyalah satu; maka setiap jalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan setan yang akan mencerai-beraikan dan menjauhkan manusia dari Tuhannya yang Maha Penyayang. Firman Allah:وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/153]“Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”. Qs Al-An’am : 153Allah –subhanahu wa ta’ala- berpesan kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang Dia pesankan kepada para nabi, yaitu menegakkan agama karena Allah dan menjauhi perpecahan. Firman Allah:شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [ شورى / 13]“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada kalian dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah”. Qs Syura : 13 Allah –subhanahu wa ta’ala- mencela perpecahan sekaligus pelakunya. Firman Allah:” وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ” [ البقرة/ 176]“ Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”. Qs Albaqarah : 176Allah –subhanahu wa ta’ala- menggambarkan kondisi riel mereka dalam firmanNya:فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [ المؤمنون/ 53]“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada masing-masing”. Qs Al-Mu’minun : 53Bergelimang dalam kondisi yang demikian merupakan ciri-ciri orang-orang munafik.  Firman Allah:وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ [ التوبة / 107]“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ialah orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin”. Qs At-Taubah : 107Itu menjadi watak mereka. Firman Allah :تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ [ الحشر/ 14]“ Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah”. Qs Al-Hasyr : 14Dan itu pula ciri khas tradisi Jahiliyah. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:“مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه مسلم“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan kelompok (kaum muslimin) lalu ia mati, maka matinya dalam kondisi jahiliyah.” HR. MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang meniru dan menempuh jalan kaum yang suka berpecah belah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ [ آل عمران/ 105]“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. Qs Ali Imran : 105Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan terbebasnya Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dari kaum yang bercerai-berai itu. Firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ [ الأنعام / 159 ]“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka”. Qs Al-An’am : 159Mereka menyempal dari ajaran Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan berseberangan dengan kaum muslimin. Firman Allah:وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [ النساء / 115]“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. Qs An-Nisa : 115Perpecahan yang paling berat adalah berpaling dari Tauhid (peng-Esaan) kepada Allah Tuhan semesta alam. Firman Allah :وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [ يونس/ 106]“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian),  maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim”. Qs Yunis : 106Sebagaimana halnya perbuatan mengada-ada dalam beragama merupakan penyimpangan pula dalam meneladani sebaik-baik Rasul. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ” متفق عليه “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. Muttafaq alaihiMenyempal dari para pemimpin dan penguasa, demikian pula merebut kekuasaan dari pemiliknya merupakan kerusakan besar. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” مَنْ نَزَعَ يَدًا مَنْ طَاعَةِ اللهِ ،  فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مَفَارِقٌ لِلْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه أحمد“Barangsiapa yang mencabut tangannya dari mentaati imam, maka dia kelak hari kiamat tidak memiliki argumen. Dan barangsiapa mati dalam kondisi memisahkan diri dari kelompok kaum muslimin, maka ia mati dalam kondisi Jahiliyah”. HR AhmadPara Ulama adalah teladan baik dalam masyarakat. Mereka adalah figur-figur yang paling layak untuk hidup rukun dan bersatu padu, sebab perpecahan di antara mereka akan memicu tertolaknya kehadiran mereka.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Muaz dan Abu Musa Asy’ari –radhiyallahu anhuma- ketika beliau mengutus mereka ke Yaman :” يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا،وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا ” متفق عليه“Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, jangan kalian takut-takuti. Bekerjasamalah, janganlah berselisih”. Muttafaq alaihiRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – melarang kita berpecah-belah dalam kebenaran. Sabda beliau :” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا ” متفق عليه“Bacalah Al-Qur’an selama menjadikan hati kalian bersatu padu, namun jika kalian berselisih, tinggalkanlah”. Muttafaq alaihiBercerai-berai dan tidak bersatu dalam melaksanakan shalat merupakan buah dominasi setan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ ” رواه أبو داود“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah mendominasi mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang mencar”. HR Abu DawudNabi –shallallahu alaihi wa sallam- menyatakan ketidak sukaannya terhadap sikap cerai-berai ketika menunggu shalat. Jabir Bin Samurah –radhiyallahu anhu- berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- datang menemui kami. Jabir menuturkan : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- melihat kami saling mengelompok, lalu berkata :” مَا لِى أرَاكُمْ عِزيْنَ – يَعْنِى مُتفرقين ” رواه مسلم“Mengapa kalian aku lihat saling mengelompok, artinya saling memencar ?”. HR Muslim.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang membuat perselisihan shaf-shaf dalam shalat. Beliau memperingatkan keras kepada para pelakunya akan perpecahan mereka dalam haluan. Menurut beliau hal itu akan mengakibatkan perselisihan hati mereka. Sebab perselisihan di permukaan akan membawa perselisihan dalam batin mereka. Sabda nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ ” رواه مسلم“Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara haluan kalian.” HR. MuslimBerselisih dengan Imam dalam shalat adalah bentuk perselisihan dan perpecahan yang dilarang oleh Islam. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا علَيْهِ ” رواه البخاري“Seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih dengannya”. HR BukhariSebagaimana perpecahan dalam urusan agama dilarang, Islam-pun melarang perpecahan dalam urusan duniawi; Oleh karenanya, berkumpul mengerumuni makanan dapat mendatangkan keberkahan, sedangkan bercerai-berai ketika makan dapat menghinlangkan keberkahan makanan.          Ada sekelompok orang mengadu kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kata mereka : “Kami semua makan tetapi tidak merasa kenyang”. Sabda beliau : “Mungkin kalian memencar”. Jawab mereka, “Ya, benar”. Beliau bersabda : “Mengumpullah kalian di depan hidangan kalian, dan sebutlah nama Allah ketika makan, maka kalian mendapatkan keberkahan pada makanan itu”. HR Abu Dawud.Ketika dalam bepergian, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- anggap memencar dari rombongan sebagai langkah menempuh jalan setan. Sabda beliau:” إنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِيْ هَذِهِ الشِّعَابِ وَ الأوِدِيَةَ إنَّما ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ ” رواه أبو داود“Sesungguhnya berpencarnya kalian ke bukit-bukit dan lembah-lembah merupakan langkah setan”. HR Abu DawudDalam hubungan dengan sesama dalam masyarakat, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap saling tidak menegur dan saling memutuskan hubungan antara kaum muslimin. Sabda Nabi :” لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ ” متفق عليه“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; saat keduanya bertemu yang ini berpaling dan yang lain juga berpaling. Namun yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq alaihiDalam sabdanya, beliau mengabarkan :” إنَّ أبْوَابَ الجَنَّةِ يَوْمَ الاثنَيْنِ وَيَوْمَ الخَمِيْسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٌ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَه وَبَيْنَ أخِيْهِ شَحْنَاء فيُقالُ: أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، ” رواه مسلم“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dirinya dengan saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah  kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.” HR MuslimNabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap fanatisme golongan dan yel-yel jahiliah. Ada seorang lelaki Anshar memanggil : “Wahai kebanggaanku kaum Anshar”, lalu di pihak lain-pun memanggil, “Wahai kebanggaanku kaum Muhajirin”. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berseru :” مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ، دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ ” متفق عليه “Mengapakah masih ada yel-yel Jahiliyah, tinggalkanlah karena semua itu telah membusuk”. Muttafaq alaihi.          Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menyukai dan tidak meridhai perpecahan  pada hamba-hambaNya dalam urusan agama dan duniawi. Tidaklah muncul suatu perpecahan di antara mereka melainkan datang dari selain Allah. Dasar-dasar syariat menunjukkan larangan setiap faktor yang dapat menimbulkan perpecahan dan persengketaan. Itulah hikmah yang dimaksudkan dalam pelarangan menurut agama yang dibawa oleh para rasul. Oleh sebab itu, setiap faktor yang menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dilarang; seperti berburuk sangka, mendengki, memata-matai, mengadu-domba, praktek riba, menjual suatu barang yang telah dibeli orang lain, meminang atas peminangan saudara sesama muslim, mengintip aurat sesama dan melakukan penipuan.          Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan berkata yang manis, dan melarang ucapan yang kotor demi keutuhan dan persatuan serta mencegah kebalikannya. Firman Allah :وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ [ الإسراء / 53]“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan  itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”. Qs Al-Isra’ : 53Faktor terbesar yang menyebabkan perpecahan adalah menyekutukan Allah. Itulah pencetus perselisihan dengan memunculkan berbagai macam sesembahan selain Allah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا [ الروم/ 31-32]“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan”. Qs Al-Rum : 31-32Sementara itu, kaum muslimin semenjak Allah menciptakan Adam –alaihissalam- sampai hari kiamat tidaklah menyembah kecuali kepada Tuhan yang Esa. Demikian pula berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan jalan mulus bagi munculnya perpecahan dan persengketaan. Maka orang-orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesungguhnya adalah kelompok orang-orang yang bercerai-berai hingga hari kiamat.Setiap manusia yang meninggalkan sebagian perintah Allah, akan muncul di antara mereka permusuhan dan perpecahan. Maka orang yang mengamalkan sebagian isi Al-Qur’an dan meninggalkan sebagian lainnya, dapat diserupakan dengan orang-orang yang disindir oleh Allah dalam firmanNya :وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [ المائدة/ 14]“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang terlah diperingatkan kepada mereka itu; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian  sampai hari kiamat. Qs Al-Maidah : 14Mengikuti teks-teks suci yang tergolong mutasyabihat (mengandung multi makna) berpotensi menyimpang bagi pengikutnya, dan itu merupakan ujian bagi manusia. Firman Allah :فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ [آل عمران/ 7]“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya”. Qs Ali Imran : 7Memasuki pintu syubhat dan mengikuti kemauan hawa nafsu merupakan penyakit yang merusak umat dan memecah-belah generasi muslim. Firman Allah :كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالا وَأَوْلادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [التوبة/ 69]“Seperti keadaan orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat dari pada kalian, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya kalian. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kalian telah menikmati bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagian mereka, dan kalian membicarakan (hal yang batil) sebagaimana mereka membicarakannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka adalah orang-orang yang merugi”. Qs At-Taubah : 69Mengikuti jalur setan akan berujung pada perpecahan, sebagaimana firman Allah:وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/ 153]“Dan janganlah kalian  mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalanNya”. Qs Al-An’am: 153Tidak ada suatu kaum yang arogan melainkan mereka terpecah. Firman Allah :وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ[آل عمران/ 19]“Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka”. Qs Ali Imran : 19Apapun perbedaan yang muncul dari hawa nafsu, fanatisme, arogansi, sikap mengekor, kepongahan dan keberpihakan, sesungguhnya adalah jalan menuju perpecahan yang harus dihindari.          Persaingan urusan duniawi menyebabkan permusuhan dan kebencian. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ ” متفق عليه“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun bersaing dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa, sebagaimana telah membinasakan mereka”. Muttafaq alaihi           Kehidupan masyarakat yang terpecah-belah selalu terpencar. Setan mengalami frustrasi untuk disembah oleh para penyembahnya di Jazirah Arab, tetapi dia merasa puas dengan memprofokasi antar mereka. Sebab bagi setan sangat sulit menguasai suatu kaum kecuali setelah mereka terpecah belah. Itulah sebabnya, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan :“عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ” رواه الترمذي“Berpegang-teguhlah pada kelompok kaum muslimin dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya setan itu  menyertai orang yang sendirian, sedangkan pada dua orang ia lebih jauh”. HR TirmiziPrajurit Iblis yang kedudukannya paling dekat kepadanya adalah setan yang paling mampu memecah-belah umat. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ ” رواه مسلم “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus pasukannya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling lihai cara menggodanya. Datanglah salah seorang di antara pasukannya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali belum berbuat apa-apa”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak membiarkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat setan seperti engkau”. HR MuslimPerselisihan dalam beragama, tunduk pada hawa nafsu dan pendapat yang menyesatkan dapat menghambat jalan Allah dan agamaNya, berikut menyimpang dari jalan para nabi dan pandangan hidup mereka. Semua para Nabi diperintahkan untuk menegakkan agama karena Allah dan bersatu-padu membela kebenaran, jauh dari perpecahan.Jika terjadi perselisihan, maka rusaklah agama para pelakunya, pesan Al-Qur’an terabaikan, hawa nafsu menguasai mereka, dan hilanglah otoritas ilmu dan petunjuk. Akibat perpecahan, hati mereka berselisih dan ikatan persaudaraan terputus. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ ” رواه أبو داود“Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian akan berselisih pula.”. HR Abu Dawud.Perpecahan menyebabkan permusuhan dan kebencian. Firman Allah :وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ [ آل عمران/ 103]“Dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian  ketika kalian dahulu saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian”. Qs Ali Imran : 103Bilamana terjadi perpecahan, maka terpampanglah beban yang memberatkan, berikut meletuslah peperangan dan pertumpahan darah. Firman Allah :وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا[البقرة / 253]“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, setelah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih”. Qs Albaqarah: 203Tidak ada suatu kaum yang berpecah-belah melainkan mereka akan nista dan lemah. Firman Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian”. Qs Al-Anfal : 46Bilamana perpecahan telah terjadi pada suatu umat, itu pertanda turunnya kemurkaan Allah terhadap mereka. Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ” [ الأنعام / 65]“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan (yang saling bertentangan) dan  merasakan kepada sebahagian kalian  keganasan sebahagian yang lain”. Qs Al-An’am 65          Menurut Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- itu adalah “hawa nafsu dan perselisihan”. Hukuman dosa perpecahan yang disegerakan adalah dominasi musuh. Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan kepada Nabi-Nya :” أَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا ” رواه مسلم“Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang kelompok mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” HR. MuslimPersengketaan, perselisihan dan perpecahan, berakibat hilangnya kebenaran, hancurnya sendi-sendi agama, munculnya peyerupaan terhadap kaum musyrikin, merajalelanya kesesatan dan komentar-komentar tanpa dasar ilmu yang dapat mengalihkan seseorang dari pengamalan agama, pengkajian ajarannya dan penyebaran dakwahnya, disamping dapat melumpuhkan simbul-simbul agama yang nampak, seperti beramar makruf dan nahi mungkar (kontrol sosial). Akibat perpecahan pula nikmat yang merupakan karunia Allah menghilang.          Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah diperlihatkan tentang nikmat Lailatul-Qadr, lalu beliau keluar untuk memberitahukan hal itu. Namun ada dua lelaki di antara kaum muslimin yang adu mulut (cekcok), maka beliau bersabda :” إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ” رواه البخاري“Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang anugerah Lailatul-Qadr, namun karena si Fulan dan si Fulan saling memaki, maka ditariklah kembali anugerah itu”.HR Bukhari.          Petaka akibat perpecahan adalah kehancuran. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَا تَخْتَلفُوْا ، فَإنَّ مَنْ كَانَ قَبلكم اخْتلفوا فَهَلكوْا ” رواه البخاري“Janganlah kalian berselisih! Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah berselisih lalu mereka binasa.” HR. BukhariDi akhirat kelak wajah-wajah orang yang berpecah belah itu terlihat hitam. Firman Allah :يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ [ آل عمران/ 106]“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam  muram  mukanya (kepada mereka dikatakan): “kenapa kalian kafir sesudah kalian beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu”. Qs Ali Imran: 106Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata : “Wajah-wajah ahlus-Sunnah wal Jama’ah nampak putih, sedangkan wajah-wajah pelaku bid’ah dan perpecahan terlihat hitam”. Tangan Allah menggandeng orang-orang yang bersatu. Barangsiapa memencar, maka ia akan terpencar di neraka”.Kaum muslimin sekalian!          Perpecahan adalah kenistaan, persengketaan adalah kejahatan, perselisihan adalah kelemahan, dan perceraian adalah kerusakan urusan agama sekaligus dunia. Semua itu akan membuat musuh senang, melemahkan kekuatan umat, menghambat laju dakwah kepada Allah, menghalangi upaya penyebaran ilmu, menyempitkan dada, membuat hati gelap, mempersulit penghidupan, merampas waktu, mengalihkan perhatian seseorang dari beramal kebajikan dan berbuat aniaya terhadap generasi yang akan datang akibat tidak tersedianya sarana yang berguna bagi mereka.          Orang yang cerdas adalah orang yang meninggalkan persengketaan dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta melakukan perbaikan untuk dirinya dan orang lain.أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا [ النساء/59]“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kakalian. kemudian jika kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah  kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik ta’wilnya”. Qs An-Nisa’ : 59Semoga Allah mencurahkan keberkahan bagiku dan kalian semua berkat Al-Qur’an yang agung …. ============   Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbinganNya dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya sebagai sikap pengagungan terhadap urusanNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan RasulNya. Semoga Allah selalu menambah curahan rahmat dan salam kepada beliau beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!          Termasuk tujuan Islam terpenting ialah menyatukan kaum mulimin dan memadukan hati mereka serta mendamaikan persengketaan di antara mereka. Kondisi suatu umat tidak akan baik kecuali ketika mereka bersatu padu dalam kebenaran dan Islam. Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan pentingnya persaudaraan kaum mukminin sebagaimana firmanNya:”  إنَّمَا المُؤْمِنُوْنَ إخْوَةٌ ” [ الحجرات / 10]“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”. Qs: Al-Hujurat: 10Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan gambaran tentang keberadaan orang-orang beriman dalam sabda beliau.” مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ” رواه مسلم“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. HR. MuslimDan sabda beliau :” الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ” متفق عليه “ Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”. Muttafaq alaihiItulah nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya sebagai anugerah dan kemurahan dariNya. Firman Allah :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ [ الأنفال/63]“Dan yang mempersatukan hati mereka, walaupun  kamu membelanjakan semua (kekayaan) di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” Qs Al-Anfal : 63Maka, kewajiban seorang muslim adalah menjaga nikmat itu dengan lapang dada dan mencintai sesama serta selalu memberi nasihat kepada orang lain.Ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian bershalawat dan salam kepada Nabi-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang penuh hikmah :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب/ 56] “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat dan salamlah kalian kepadanya dengan sesungguhnya”. Qs Al-Ahzab: 56 == Doa Penutup == 

Bersatullah dan Jangan Bercerai-Berai

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 11Shafar 1438 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Muhammad Al-QasimPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya.Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba Allah – dengan sesungguhnya. Mendekatlah kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian. Kaum muslimin!          Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan Nabi Adam dan menugaskannya sebagai khalifah di bumi untuk beribadah kepadaNya.  Sepeninggal Nabi Adam, seluruh anak cucunya berada dalam ketauhidan dan kecintaan kepada Allah, lalu setan menggelincirkan dan membuat mereka menyimpang dari agama dan ketaatan kepada Allah sehingga bercerai-berai setelah sebelumnya utuh sebagai umat yang satu. Firman Allah dalam hadis Qudsi:“خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“ Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu semuanya hunafaa’ (bersih dari kemusyrikan), dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan-setan, lalu mereka disesatkan dari agama mereka” HR MuslimAllah mencela mereka karena berpecah, maka ia mengutus para rasul kepada mereka untuk mempersatukan mereka kembali dan mempertemukan hati mereka pada kebenaran. Firman Allah :وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ [ يونس / 19 ]“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih, kalau sekiranya bukan karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu , pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. Qs Yunus : 19Allah memilih Bani Israel dengan mengutus beberapa para nabi dan rasul dari kalangan mereka, namun mereka melanggar dan mencampakkan Kitab ke belakang yang akhirnya mereka berpecah menjadi berbagai golongan dan kelompok. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ، وَاَفَترَقتِ النَّصَارَى عَلٰى اثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ، وَتَفْتَرِقُ إُمَّتِيْ عَلٰى ثَلاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ” رواه ابن حبان”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, kaum Nashrani telah terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan”. HR Ibnu HibanNabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan akan bahaya perpecahan sebagaimana sabda beliau :” وَإيَّاكمْ وَالفرْقة ” رواه الترمذي“Jauhilah perpecahan” HR TirmiziBeliau mengabarkan sebagai warning bakal terjadinya perpecahan itu pada umat ini. Sabda beliau :” فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثيْراً ““Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian sesudah aku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.  HR AhmadAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang hamba-hambaNya berbecah. Firman Allah:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران/ 103]“Dan berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. Qs Ali Imran: 103DijelaskanNya bahwa jalan Allah hanyalah satu; maka setiap jalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan setan yang akan mencerai-beraikan dan menjauhkan manusia dari Tuhannya yang Maha Penyayang. Firman Allah:وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/153]“Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”. Qs Al-An’am : 153Allah –subhanahu wa ta’ala- berpesan kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang Dia pesankan kepada para nabi, yaitu menegakkan agama karena Allah dan menjauhi perpecahan. Firman Allah:شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [ شورى / 13]“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada kalian dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah”. Qs Syura : 13 Allah –subhanahu wa ta’ala- mencela perpecahan sekaligus pelakunya. Firman Allah:” وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ” [ البقرة/ 176]“ Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”. Qs Albaqarah : 176Allah –subhanahu wa ta’ala- menggambarkan kondisi riel mereka dalam firmanNya:فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [ المؤمنون/ 53]“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada masing-masing”. Qs Al-Mu’minun : 53Bergelimang dalam kondisi yang demikian merupakan ciri-ciri orang-orang munafik.  Firman Allah:وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ [ التوبة / 107]“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ialah orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin”. Qs At-Taubah : 107Itu menjadi watak mereka. Firman Allah :تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ [ الحشر/ 14]“ Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah”. Qs Al-Hasyr : 14Dan itu pula ciri khas tradisi Jahiliyah. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:“مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه مسلم“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan kelompok (kaum muslimin) lalu ia mati, maka matinya dalam kondisi jahiliyah.” HR. MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang meniru dan menempuh jalan kaum yang suka berpecah belah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ [ آل عمران/ 105]“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. Qs Ali Imran : 105Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan terbebasnya Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dari kaum yang bercerai-berai itu. Firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ [ الأنعام / 159 ]“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka”. Qs Al-An’am : 159Mereka menyempal dari ajaran Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan berseberangan dengan kaum muslimin. Firman Allah:وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [ النساء / 115]“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. Qs An-Nisa : 115Perpecahan yang paling berat adalah berpaling dari Tauhid (peng-Esaan) kepada Allah Tuhan semesta alam. Firman Allah :وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [ يونس/ 106]“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian),  maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim”. Qs Yunis : 106Sebagaimana halnya perbuatan mengada-ada dalam beragama merupakan penyimpangan pula dalam meneladani sebaik-baik Rasul. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ” متفق عليه “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. Muttafaq alaihiMenyempal dari para pemimpin dan penguasa, demikian pula merebut kekuasaan dari pemiliknya merupakan kerusakan besar. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” مَنْ نَزَعَ يَدًا مَنْ طَاعَةِ اللهِ ،  فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مَفَارِقٌ لِلْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه أحمد“Barangsiapa yang mencabut tangannya dari mentaati imam, maka dia kelak hari kiamat tidak memiliki argumen. Dan barangsiapa mati dalam kondisi memisahkan diri dari kelompok kaum muslimin, maka ia mati dalam kondisi Jahiliyah”. HR AhmadPara Ulama adalah teladan baik dalam masyarakat. Mereka adalah figur-figur yang paling layak untuk hidup rukun dan bersatu padu, sebab perpecahan di antara mereka akan memicu tertolaknya kehadiran mereka.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Muaz dan Abu Musa Asy’ari –radhiyallahu anhuma- ketika beliau mengutus mereka ke Yaman :” يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا،وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا ” متفق عليه“Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, jangan kalian takut-takuti. Bekerjasamalah, janganlah berselisih”. Muttafaq alaihiRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – melarang kita berpecah-belah dalam kebenaran. Sabda beliau :” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا ” متفق عليه“Bacalah Al-Qur’an selama menjadikan hati kalian bersatu padu, namun jika kalian berselisih, tinggalkanlah”. Muttafaq alaihiBercerai-berai dan tidak bersatu dalam melaksanakan shalat merupakan buah dominasi setan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ ” رواه أبو داود“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah mendominasi mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang mencar”. HR Abu DawudNabi –shallallahu alaihi wa sallam- menyatakan ketidak sukaannya terhadap sikap cerai-berai ketika menunggu shalat. Jabir Bin Samurah –radhiyallahu anhu- berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- datang menemui kami. Jabir menuturkan : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- melihat kami saling mengelompok, lalu berkata :” مَا لِى أرَاكُمْ عِزيْنَ – يَعْنِى مُتفرقين ” رواه مسلم“Mengapa kalian aku lihat saling mengelompok, artinya saling memencar ?”. HR Muslim.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang membuat perselisihan shaf-shaf dalam shalat. Beliau memperingatkan keras kepada para pelakunya akan perpecahan mereka dalam haluan. Menurut beliau hal itu akan mengakibatkan perselisihan hati mereka. Sebab perselisihan di permukaan akan membawa perselisihan dalam batin mereka. Sabda nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ ” رواه مسلم“Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara haluan kalian.” HR. MuslimBerselisih dengan Imam dalam shalat adalah bentuk perselisihan dan perpecahan yang dilarang oleh Islam. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا علَيْهِ ” رواه البخاري“Seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih dengannya”. HR BukhariSebagaimana perpecahan dalam urusan agama dilarang, Islam-pun melarang perpecahan dalam urusan duniawi; Oleh karenanya, berkumpul mengerumuni makanan dapat mendatangkan keberkahan, sedangkan bercerai-berai ketika makan dapat menghinlangkan keberkahan makanan.          Ada sekelompok orang mengadu kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kata mereka : “Kami semua makan tetapi tidak merasa kenyang”. Sabda beliau : “Mungkin kalian memencar”. Jawab mereka, “Ya, benar”. Beliau bersabda : “Mengumpullah kalian di depan hidangan kalian, dan sebutlah nama Allah ketika makan, maka kalian mendapatkan keberkahan pada makanan itu”. HR Abu Dawud.Ketika dalam bepergian, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- anggap memencar dari rombongan sebagai langkah menempuh jalan setan. Sabda beliau:” إنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِيْ هَذِهِ الشِّعَابِ وَ الأوِدِيَةَ إنَّما ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ ” رواه أبو داود“Sesungguhnya berpencarnya kalian ke bukit-bukit dan lembah-lembah merupakan langkah setan”. HR Abu DawudDalam hubungan dengan sesama dalam masyarakat, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap saling tidak menegur dan saling memutuskan hubungan antara kaum muslimin. Sabda Nabi :” لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ ” متفق عليه“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; saat keduanya bertemu yang ini berpaling dan yang lain juga berpaling. Namun yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq alaihiDalam sabdanya, beliau mengabarkan :” إنَّ أبْوَابَ الجَنَّةِ يَوْمَ الاثنَيْنِ وَيَوْمَ الخَمِيْسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٌ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَه وَبَيْنَ أخِيْهِ شَحْنَاء فيُقالُ: أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، ” رواه مسلم“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dirinya dengan saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah  kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.” HR MuslimNabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap fanatisme golongan dan yel-yel jahiliah. Ada seorang lelaki Anshar memanggil : “Wahai kebanggaanku kaum Anshar”, lalu di pihak lain-pun memanggil, “Wahai kebanggaanku kaum Muhajirin”. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berseru :” مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ، دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ ” متفق عليه “Mengapakah masih ada yel-yel Jahiliyah, tinggalkanlah karena semua itu telah membusuk”. Muttafaq alaihi.          Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menyukai dan tidak meridhai perpecahan  pada hamba-hambaNya dalam urusan agama dan duniawi. Tidaklah muncul suatu perpecahan di antara mereka melainkan datang dari selain Allah. Dasar-dasar syariat menunjukkan larangan setiap faktor yang dapat menimbulkan perpecahan dan persengketaan. Itulah hikmah yang dimaksudkan dalam pelarangan menurut agama yang dibawa oleh para rasul. Oleh sebab itu, setiap faktor yang menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dilarang; seperti berburuk sangka, mendengki, memata-matai, mengadu-domba, praktek riba, menjual suatu barang yang telah dibeli orang lain, meminang atas peminangan saudara sesama muslim, mengintip aurat sesama dan melakukan penipuan.          Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan berkata yang manis, dan melarang ucapan yang kotor demi keutuhan dan persatuan serta mencegah kebalikannya. Firman Allah :وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ [ الإسراء / 53]“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan  itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”. Qs Al-Isra’ : 53Faktor terbesar yang menyebabkan perpecahan adalah menyekutukan Allah. Itulah pencetus perselisihan dengan memunculkan berbagai macam sesembahan selain Allah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا [ الروم/ 31-32]“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan”. Qs Al-Rum : 31-32Sementara itu, kaum muslimin semenjak Allah menciptakan Adam –alaihissalam- sampai hari kiamat tidaklah menyembah kecuali kepada Tuhan yang Esa. Demikian pula berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan jalan mulus bagi munculnya perpecahan dan persengketaan. Maka orang-orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesungguhnya adalah kelompok orang-orang yang bercerai-berai hingga hari kiamat.Setiap manusia yang meninggalkan sebagian perintah Allah, akan muncul di antara mereka permusuhan dan perpecahan. Maka orang yang mengamalkan sebagian isi Al-Qur’an dan meninggalkan sebagian lainnya, dapat diserupakan dengan orang-orang yang disindir oleh Allah dalam firmanNya :وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [ المائدة/ 14]“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang terlah diperingatkan kepada mereka itu; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian  sampai hari kiamat. Qs Al-Maidah : 14Mengikuti teks-teks suci yang tergolong mutasyabihat (mengandung multi makna) berpotensi menyimpang bagi pengikutnya, dan itu merupakan ujian bagi manusia. Firman Allah :فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ [آل عمران/ 7]“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya”. Qs Ali Imran : 7Memasuki pintu syubhat dan mengikuti kemauan hawa nafsu merupakan penyakit yang merusak umat dan memecah-belah generasi muslim. Firman Allah :كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالا وَأَوْلادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [التوبة/ 69]“Seperti keadaan orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat dari pada kalian, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya kalian. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kalian telah menikmati bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagian mereka, dan kalian membicarakan (hal yang batil) sebagaimana mereka membicarakannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka adalah orang-orang yang merugi”. Qs At-Taubah : 69Mengikuti jalur setan akan berujung pada perpecahan, sebagaimana firman Allah:وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/ 153]“Dan janganlah kalian  mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalanNya”. Qs Al-An’am: 153Tidak ada suatu kaum yang arogan melainkan mereka terpecah. Firman Allah :وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ[آل عمران/ 19]“Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka”. Qs Ali Imran : 19Apapun perbedaan yang muncul dari hawa nafsu, fanatisme, arogansi, sikap mengekor, kepongahan dan keberpihakan, sesungguhnya adalah jalan menuju perpecahan yang harus dihindari.          Persaingan urusan duniawi menyebabkan permusuhan dan kebencian. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ ” متفق عليه“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun bersaing dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa, sebagaimana telah membinasakan mereka”. Muttafaq alaihi           Kehidupan masyarakat yang terpecah-belah selalu terpencar. Setan mengalami frustrasi untuk disembah oleh para penyembahnya di Jazirah Arab, tetapi dia merasa puas dengan memprofokasi antar mereka. Sebab bagi setan sangat sulit menguasai suatu kaum kecuali setelah mereka terpecah belah. Itulah sebabnya, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan :“عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ” رواه الترمذي“Berpegang-teguhlah pada kelompok kaum muslimin dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya setan itu  menyertai orang yang sendirian, sedangkan pada dua orang ia lebih jauh”. HR TirmiziPrajurit Iblis yang kedudukannya paling dekat kepadanya adalah setan yang paling mampu memecah-belah umat. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ ” رواه مسلم “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus pasukannya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling lihai cara menggodanya. Datanglah salah seorang di antara pasukannya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali belum berbuat apa-apa”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak membiarkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat setan seperti engkau”. HR MuslimPerselisihan dalam beragama, tunduk pada hawa nafsu dan pendapat yang menyesatkan dapat menghambat jalan Allah dan agamaNya, berikut menyimpang dari jalan para nabi dan pandangan hidup mereka. Semua para Nabi diperintahkan untuk menegakkan agama karena Allah dan bersatu-padu membela kebenaran, jauh dari perpecahan.Jika terjadi perselisihan, maka rusaklah agama para pelakunya, pesan Al-Qur’an terabaikan, hawa nafsu menguasai mereka, dan hilanglah otoritas ilmu dan petunjuk. Akibat perpecahan, hati mereka berselisih dan ikatan persaudaraan terputus. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ ” رواه أبو داود“Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian akan berselisih pula.”. HR Abu Dawud.Perpecahan menyebabkan permusuhan dan kebencian. Firman Allah :وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ [ آل عمران/ 103]“Dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian  ketika kalian dahulu saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian”. Qs Ali Imran : 103Bilamana terjadi perpecahan, maka terpampanglah beban yang memberatkan, berikut meletuslah peperangan dan pertumpahan darah. Firman Allah :وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا[البقرة / 253]“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, setelah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih”. Qs Albaqarah: 203Tidak ada suatu kaum yang berpecah-belah melainkan mereka akan nista dan lemah. Firman Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian”. Qs Al-Anfal : 46Bilamana perpecahan telah terjadi pada suatu umat, itu pertanda turunnya kemurkaan Allah terhadap mereka. Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ” [ الأنعام / 65]“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan (yang saling bertentangan) dan  merasakan kepada sebahagian kalian  keganasan sebahagian yang lain”. Qs Al-An’am 65          Menurut Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- itu adalah “hawa nafsu dan perselisihan”. Hukuman dosa perpecahan yang disegerakan adalah dominasi musuh. Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan kepada Nabi-Nya :” أَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا ” رواه مسلم“Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang kelompok mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” HR. MuslimPersengketaan, perselisihan dan perpecahan, berakibat hilangnya kebenaran, hancurnya sendi-sendi agama, munculnya peyerupaan terhadap kaum musyrikin, merajalelanya kesesatan dan komentar-komentar tanpa dasar ilmu yang dapat mengalihkan seseorang dari pengamalan agama, pengkajian ajarannya dan penyebaran dakwahnya, disamping dapat melumpuhkan simbul-simbul agama yang nampak, seperti beramar makruf dan nahi mungkar (kontrol sosial). Akibat perpecahan pula nikmat yang merupakan karunia Allah menghilang.          Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah diperlihatkan tentang nikmat Lailatul-Qadr, lalu beliau keluar untuk memberitahukan hal itu. Namun ada dua lelaki di antara kaum muslimin yang adu mulut (cekcok), maka beliau bersabda :” إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ” رواه البخاري“Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang anugerah Lailatul-Qadr, namun karena si Fulan dan si Fulan saling memaki, maka ditariklah kembali anugerah itu”.HR Bukhari.          Petaka akibat perpecahan adalah kehancuran. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَا تَخْتَلفُوْا ، فَإنَّ مَنْ كَانَ قَبلكم اخْتلفوا فَهَلكوْا ” رواه البخاري“Janganlah kalian berselisih! Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah berselisih lalu mereka binasa.” HR. BukhariDi akhirat kelak wajah-wajah orang yang berpecah belah itu terlihat hitam. Firman Allah :يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ [ آل عمران/ 106]“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam  muram  mukanya (kepada mereka dikatakan): “kenapa kalian kafir sesudah kalian beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu”. Qs Ali Imran: 106Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata : “Wajah-wajah ahlus-Sunnah wal Jama’ah nampak putih, sedangkan wajah-wajah pelaku bid’ah dan perpecahan terlihat hitam”. Tangan Allah menggandeng orang-orang yang bersatu. Barangsiapa memencar, maka ia akan terpencar di neraka”.Kaum muslimin sekalian!          Perpecahan adalah kenistaan, persengketaan adalah kejahatan, perselisihan adalah kelemahan, dan perceraian adalah kerusakan urusan agama sekaligus dunia. Semua itu akan membuat musuh senang, melemahkan kekuatan umat, menghambat laju dakwah kepada Allah, menghalangi upaya penyebaran ilmu, menyempitkan dada, membuat hati gelap, mempersulit penghidupan, merampas waktu, mengalihkan perhatian seseorang dari beramal kebajikan dan berbuat aniaya terhadap generasi yang akan datang akibat tidak tersedianya sarana yang berguna bagi mereka.          Orang yang cerdas adalah orang yang meninggalkan persengketaan dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta melakukan perbaikan untuk dirinya dan orang lain.أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا [ النساء/59]“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kakalian. kemudian jika kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah  kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik ta’wilnya”. Qs An-Nisa’ : 59Semoga Allah mencurahkan keberkahan bagiku dan kalian semua berkat Al-Qur’an yang agung …. ============   Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbinganNya dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya sebagai sikap pengagungan terhadap urusanNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan RasulNya. Semoga Allah selalu menambah curahan rahmat dan salam kepada beliau beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!          Termasuk tujuan Islam terpenting ialah menyatukan kaum mulimin dan memadukan hati mereka serta mendamaikan persengketaan di antara mereka. Kondisi suatu umat tidak akan baik kecuali ketika mereka bersatu padu dalam kebenaran dan Islam. Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan pentingnya persaudaraan kaum mukminin sebagaimana firmanNya:”  إنَّمَا المُؤْمِنُوْنَ إخْوَةٌ ” [ الحجرات / 10]“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”. Qs: Al-Hujurat: 10Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan gambaran tentang keberadaan orang-orang beriman dalam sabda beliau.” مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ” رواه مسلم“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. HR. MuslimDan sabda beliau :” الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ” متفق عليه “ Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”. Muttafaq alaihiItulah nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya sebagai anugerah dan kemurahan dariNya. Firman Allah :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ [ الأنفال/63]“Dan yang mempersatukan hati mereka, walaupun  kamu membelanjakan semua (kekayaan) di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” Qs Al-Anfal : 63Maka, kewajiban seorang muslim adalah menjaga nikmat itu dengan lapang dada dan mencintai sesama serta selalu memberi nasihat kepada orang lain.Ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian bershalawat dan salam kepada Nabi-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang penuh hikmah :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب/ 56] “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat dan salamlah kalian kepadanya dengan sesungguhnya”. Qs Al-Ahzab: 56 == Doa Penutup == 
Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 11Shafar 1438 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Muhammad Al-QasimPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya.Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba Allah – dengan sesungguhnya. Mendekatlah kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian. Kaum muslimin!          Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan Nabi Adam dan menugaskannya sebagai khalifah di bumi untuk beribadah kepadaNya.  Sepeninggal Nabi Adam, seluruh anak cucunya berada dalam ketauhidan dan kecintaan kepada Allah, lalu setan menggelincirkan dan membuat mereka menyimpang dari agama dan ketaatan kepada Allah sehingga bercerai-berai setelah sebelumnya utuh sebagai umat yang satu. Firman Allah dalam hadis Qudsi:“خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“ Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu semuanya hunafaa’ (bersih dari kemusyrikan), dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan-setan, lalu mereka disesatkan dari agama mereka” HR MuslimAllah mencela mereka karena berpecah, maka ia mengutus para rasul kepada mereka untuk mempersatukan mereka kembali dan mempertemukan hati mereka pada kebenaran. Firman Allah :وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ [ يونس / 19 ]“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih, kalau sekiranya bukan karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu , pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. Qs Yunus : 19Allah memilih Bani Israel dengan mengutus beberapa para nabi dan rasul dari kalangan mereka, namun mereka melanggar dan mencampakkan Kitab ke belakang yang akhirnya mereka berpecah menjadi berbagai golongan dan kelompok. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ، وَاَفَترَقتِ النَّصَارَى عَلٰى اثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ، وَتَفْتَرِقُ إُمَّتِيْ عَلٰى ثَلاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ” رواه ابن حبان”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, kaum Nashrani telah terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan”. HR Ibnu HibanNabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan akan bahaya perpecahan sebagaimana sabda beliau :” وَإيَّاكمْ وَالفرْقة ” رواه الترمذي“Jauhilah perpecahan” HR TirmiziBeliau mengabarkan sebagai warning bakal terjadinya perpecahan itu pada umat ini. Sabda beliau :” فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثيْراً ““Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian sesudah aku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.  HR AhmadAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang hamba-hambaNya berbecah. Firman Allah:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران/ 103]“Dan berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. Qs Ali Imran: 103DijelaskanNya bahwa jalan Allah hanyalah satu; maka setiap jalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan setan yang akan mencerai-beraikan dan menjauhkan manusia dari Tuhannya yang Maha Penyayang. Firman Allah:وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/153]“Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”. Qs Al-An’am : 153Allah –subhanahu wa ta’ala- berpesan kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang Dia pesankan kepada para nabi, yaitu menegakkan agama karena Allah dan menjauhi perpecahan. Firman Allah:شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [ شورى / 13]“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada kalian dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah”. Qs Syura : 13 Allah –subhanahu wa ta’ala- mencela perpecahan sekaligus pelakunya. Firman Allah:” وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ” [ البقرة/ 176]“ Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”. Qs Albaqarah : 176Allah –subhanahu wa ta’ala- menggambarkan kondisi riel mereka dalam firmanNya:فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [ المؤمنون/ 53]“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada masing-masing”. Qs Al-Mu’minun : 53Bergelimang dalam kondisi yang demikian merupakan ciri-ciri orang-orang munafik.  Firman Allah:وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ [ التوبة / 107]“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ialah orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin”. Qs At-Taubah : 107Itu menjadi watak mereka. Firman Allah :تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ [ الحشر/ 14]“ Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah”. Qs Al-Hasyr : 14Dan itu pula ciri khas tradisi Jahiliyah. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:“مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه مسلم“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan kelompok (kaum muslimin) lalu ia mati, maka matinya dalam kondisi jahiliyah.” HR. MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang meniru dan menempuh jalan kaum yang suka berpecah belah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ [ آل عمران/ 105]“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. Qs Ali Imran : 105Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan terbebasnya Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dari kaum yang bercerai-berai itu. Firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ [ الأنعام / 159 ]“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka”. Qs Al-An’am : 159Mereka menyempal dari ajaran Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan berseberangan dengan kaum muslimin. Firman Allah:وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [ النساء / 115]“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. Qs An-Nisa : 115Perpecahan yang paling berat adalah berpaling dari Tauhid (peng-Esaan) kepada Allah Tuhan semesta alam. Firman Allah :وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [ يونس/ 106]“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian),  maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim”. Qs Yunis : 106Sebagaimana halnya perbuatan mengada-ada dalam beragama merupakan penyimpangan pula dalam meneladani sebaik-baik Rasul. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ” متفق عليه “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. Muttafaq alaihiMenyempal dari para pemimpin dan penguasa, demikian pula merebut kekuasaan dari pemiliknya merupakan kerusakan besar. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” مَنْ نَزَعَ يَدًا مَنْ طَاعَةِ اللهِ ،  فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مَفَارِقٌ لِلْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه أحمد“Barangsiapa yang mencabut tangannya dari mentaati imam, maka dia kelak hari kiamat tidak memiliki argumen. Dan barangsiapa mati dalam kondisi memisahkan diri dari kelompok kaum muslimin, maka ia mati dalam kondisi Jahiliyah”. HR AhmadPara Ulama adalah teladan baik dalam masyarakat. Mereka adalah figur-figur yang paling layak untuk hidup rukun dan bersatu padu, sebab perpecahan di antara mereka akan memicu tertolaknya kehadiran mereka.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Muaz dan Abu Musa Asy’ari –radhiyallahu anhuma- ketika beliau mengutus mereka ke Yaman :” يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا،وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا ” متفق عليه“Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, jangan kalian takut-takuti. Bekerjasamalah, janganlah berselisih”. Muttafaq alaihiRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – melarang kita berpecah-belah dalam kebenaran. Sabda beliau :” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا ” متفق عليه“Bacalah Al-Qur’an selama menjadikan hati kalian bersatu padu, namun jika kalian berselisih, tinggalkanlah”. Muttafaq alaihiBercerai-berai dan tidak bersatu dalam melaksanakan shalat merupakan buah dominasi setan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ ” رواه أبو داود“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah mendominasi mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang mencar”. HR Abu DawudNabi –shallallahu alaihi wa sallam- menyatakan ketidak sukaannya terhadap sikap cerai-berai ketika menunggu shalat. Jabir Bin Samurah –radhiyallahu anhu- berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- datang menemui kami. Jabir menuturkan : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- melihat kami saling mengelompok, lalu berkata :” مَا لِى أرَاكُمْ عِزيْنَ – يَعْنِى مُتفرقين ” رواه مسلم“Mengapa kalian aku lihat saling mengelompok, artinya saling memencar ?”. HR Muslim.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang membuat perselisihan shaf-shaf dalam shalat. Beliau memperingatkan keras kepada para pelakunya akan perpecahan mereka dalam haluan. Menurut beliau hal itu akan mengakibatkan perselisihan hati mereka. Sebab perselisihan di permukaan akan membawa perselisihan dalam batin mereka. Sabda nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ ” رواه مسلم“Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara haluan kalian.” HR. MuslimBerselisih dengan Imam dalam shalat adalah bentuk perselisihan dan perpecahan yang dilarang oleh Islam. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا علَيْهِ ” رواه البخاري“Seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih dengannya”. HR BukhariSebagaimana perpecahan dalam urusan agama dilarang, Islam-pun melarang perpecahan dalam urusan duniawi; Oleh karenanya, berkumpul mengerumuni makanan dapat mendatangkan keberkahan, sedangkan bercerai-berai ketika makan dapat menghinlangkan keberkahan makanan.          Ada sekelompok orang mengadu kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kata mereka : “Kami semua makan tetapi tidak merasa kenyang”. Sabda beliau : “Mungkin kalian memencar”. Jawab mereka, “Ya, benar”. Beliau bersabda : “Mengumpullah kalian di depan hidangan kalian, dan sebutlah nama Allah ketika makan, maka kalian mendapatkan keberkahan pada makanan itu”. HR Abu Dawud.Ketika dalam bepergian, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- anggap memencar dari rombongan sebagai langkah menempuh jalan setan. Sabda beliau:” إنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِيْ هَذِهِ الشِّعَابِ وَ الأوِدِيَةَ إنَّما ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ ” رواه أبو داود“Sesungguhnya berpencarnya kalian ke bukit-bukit dan lembah-lembah merupakan langkah setan”. HR Abu DawudDalam hubungan dengan sesama dalam masyarakat, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap saling tidak menegur dan saling memutuskan hubungan antara kaum muslimin. Sabda Nabi :” لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ ” متفق عليه“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; saat keduanya bertemu yang ini berpaling dan yang lain juga berpaling. Namun yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq alaihiDalam sabdanya, beliau mengabarkan :” إنَّ أبْوَابَ الجَنَّةِ يَوْمَ الاثنَيْنِ وَيَوْمَ الخَمِيْسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٌ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَه وَبَيْنَ أخِيْهِ شَحْنَاء فيُقالُ: أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، ” رواه مسلم“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dirinya dengan saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah  kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.” HR MuslimNabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap fanatisme golongan dan yel-yel jahiliah. Ada seorang lelaki Anshar memanggil : “Wahai kebanggaanku kaum Anshar”, lalu di pihak lain-pun memanggil, “Wahai kebanggaanku kaum Muhajirin”. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berseru :” مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ، دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ ” متفق عليه “Mengapakah masih ada yel-yel Jahiliyah, tinggalkanlah karena semua itu telah membusuk”. Muttafaq alaihi.          Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menyukai dan tidak meridhai perpecahan  pada hamba-hambaNya dalam urusan agama dan duniawi. Tidaklah muncul suatu perpecahan di antara mereka melainkan datang dari selain Allah. Dasar-dasar syariat menunjukkan larangan setiap faktor yang dapat menimbulkan perpecahan dan persengketaan. Itulah hikmah yang dimaksudkan dalam pelarangan menurut agama yang dibawa oleh para rasul. Oleh sebab itu, setiap faktor yang menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dilarang; seperti berburuk sangka, mendengki, memata-matai, mengadu-domba, praktek riba, menjual suatu barang yang telah dibeli orang lain, meminang atas peminangan saudara sesama muslim, mengintip aurat sesama dan melakukan penipuan.          Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan berkata yang manis, dan melarang ucapan yang kotor demi keutuhan dan persatuan serta mencegah kebalikannya. Firman Allah :وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ [ الإسراء / 53]“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan  itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”. Qs Al-Isra’ : 53Faktor terbesar yang menyebabkan perpecahan adalah menyekutukan Allah. Itulah pencetus perselisihan dengan memunculkan berbagai macam sesembahan selain Allah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا [ الروم/ 31-32]“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan”. Qs Al-Rum : 31-32Sementara itu, kaum muslimin semenjak Allah menciptakan Adam –alaihissalam- sampai hari kiamat tidaklah menyembah kecuali kepada Tuhan yang Esa. Demikian pula berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan jalan mulus bagi munculnya perpecahan dan persengketaan. Maka orang-orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesungguhnya adalah kelompok orang-orang yang bercerai-berai hingga hari kiamat.Setiap manusia yang meninggalkan sebagian perintah Allah, akan muncul di antara mereka permusuhan dan perpecahan. Maka orang yang mengamalkan sebagian isi Al-Qur’an dan meninggalkan sebagian lainnya, dapat diserupakan dengan orang-orang yang disindir oleh Allah dalam firmanNya :وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [ المائدة/ 14]“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang terlah diperingatkan kepada mereka itu; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian  sampai hari kiamat. Qs Al-Maidah : 14Mengikuti teks-teks suci yang tergolong mutasyabihat (mengandung multi makna) berpotensi menyimpang bagi pengikutnya, dan itu merupakan ujian bagi manusia. Firman Allah :فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ [آل عمران/ 7]“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya”. Qs Ali Imran : 7Memasuki pintu syubhat dan mengikuti kemauan hawa nafsu merupakan penyakit yang merusak umat dan memecah-belah generasi muslim. Firman Allah :كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالا وَأَوْلادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [التوبة/ 69]“Seperti keadaan orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat dari pada kalian, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya kalian. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kalian telah menikmati bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagian mereka, dan kalian membicarakan (hal yang batil) sebagaimana mereka membicarakannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka adalah orang-orang yang merugi”. Qs At-Taubah : 69Mengikuti jalur setan akan berujung pada perpecahan, sebagaimana firman Allah:وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/ 153]“Dan janganlah kalian  mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalanNya”. Qs Al-An’am: 153Tidak ada suatu kaum yang arogan melainkan mereka terpecah. Firman Allah :وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ[آل عمران/ 19]“Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka”. Qs Ali Imran : 19Apapun perbedaan yang muncul dari hawa nafsu, fanatisme, arogansi, sikap mengekor, kepongahan dan keberpihakan, sesungguhnya adalah jalan menuju perpecahan yang harus dihindari.          Persaingan urusan duniawi menyebabkan permusuhan dan kebencian. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ ” متفق عليه“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun bersaing dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa, sebagaimana telah membinasakan mereka”. Muttafaq alaihi           Kehidupan masyarakat yang terpecah-belah selalu terpencar. Setan mengalami frustrasi untuk disembah oleh para penyembahnya di Jazirah Arab, tetapi dia merasa puas dengan memprofokasi antar mereka. Sebab bagi setan sangat sulit menguasai suatu kaum kecuali setelah mereka terpecah belah. Itulah sebabnya, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan :“عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ” رواه الترمذي“Berpegang-teguhlah pada kelompok kaum muslimin dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya setan itu  menyertai orang yang sendirian, sedangkan pada dua orang ia lebih jauh”. HR TirmiziPrajurit Iblis yang kedudukannya paling dekat kepadanya adalah setan yang paling mampu memecah-belah umat. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ ” رواه مسلم “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus pasukannya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling lihai cara menggodanya. Datanglah salah seorang di antara pasukannya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali belum berbuat apa-apa”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak membiarkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat setan seperti engkau”. HR MuslimPerselisihan dalam beragama, tunduk pada hawa nafsu dan pendapat yang menyesatkan dapat menghambat jalan Allah dan agamaNya, berikut menyimpang dari jalan para nabi dan pandangan hidup mereka. Semua para Nabi diperintahkan untuk menegakkan agama karena Allah dan bersatu-padu membela kebenaran, jauh dari perpecahan.Jika terjadi perselisihan, maka rusaklah agama para pelakunya, pesan Al-Qur’an terabaikan, hawa nafsu menguasai mereka, dan hilanglah otoritas ilmu dan petunjuk. Akibat perpecahan, hati mereka berselisih dan ikatan persaudaraan terputus. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ ” رواه أبو داود“Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian akan berselisih pula.”. HR Abu Dawud.Perpecahan menyebabkan permusuhan dan kebencian. Firman Allah :وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ [ آل عمران/ 103]“Dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian  ketika kalian dahulu saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian”. Qs Ali Imran : 103Bilamana terjadi perpecahan, maka terpampanglah beban yang memberatkan, berikut meletuslah peperangan dan pertumpahan darah. Firman Allah :وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا[البقرة / 253]“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, setelah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih”. Qs Albaqarah: 203Tidak ada suatu kaum yang berpecah-belah melainkan mereka akan nista dan lemah. Firman Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian”. Qs Al-Anfal : 46Bilamana perpecahan telah terjadi pada suatu umat, itu pertanda turunnya kemurkaan Allah terhadap mereka. Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ” [ الأنعام / 65]“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan (yang saling bertentangan) dan  merasakan kepada sebahagian kalian  keganasan sebahagian yang lain”. Qs Al-An’am 65          Menurut Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- itu adalah “hawa nafsu dan perselisihan”. Hukuman dosa perpecahan yang disegerakan adalah dominasi musuh. Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan kepada Nabi-Nya :” أَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا ” رواه مسلم“Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang kelompok mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” HR. MuslimPersengketaan, perselisihan dan perpecahan, berakibat hilangnya kebenaran, hancurnya sendi-sendi agama, munculnya peyerupaan terhadap kaum musyrikin, merajalelanya kesesatan dan komentar-komentar tanpa dasar ilmu yang dapat mengalihkan seseorang dari pengamalan agama, pengkajian ajarannya dan penyebaran dakwahnya, disamping dapat melumpuhkan simbul-simbul agama yang nampak, seperti beramar makruf dan nahi mungkar (kontrol sosial). Akibat perpecahan pula nikmat yang merupakan karunia Allah menghilang.          Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah diperlihatkan tentang nikmat Lailatul-Qadr, lalu beliau keluar untuk memberitahukan hal itu. Namun ada dua lelaki di antara kaum muslimin yang adu mulut (cekcok), maka beliau bersabda :” إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ” رواه البخاري“Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang anugerah Lailatul-Qadr, namun karena si Fulan dan si Fulan saling memaki, maka ditariklah kembali anugerah itu”.HR Bukhari.          Petaka akibat perpecahan adalah kehancuran. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَا تَخْتَلفُوْا ، فَإنَّ مَنْ كَانَ قَبلكم اخْتلفوا فَهَلكوْا ” رواه البخاري“Janganlah kalian berselisih! Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah berselisih lalu mereka binasa.” HR. BukhariDi akhirat kelak wajah-wajah orang yang berpecah belah itu terlihat hitam. Firman Allah :يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ [ آل عمران/ 106]“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam  muram  mukanya (kepada mereka dikatakan): “kenapa kalian kafir sesudah kalian beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu”. Qs Ali Imran: 106Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata : “Wajah-wajah ahlus-Sunnah wal Jama’ah nampak putih, sedangkan wajah-wajah pelaku bid’ah dan perpecahan terlihat hitam”. Tangan Allah menggandeng orang-orang yang bersatu. Barangsiapa memencar, maka ia akan terpencar di neraka”.Kaum muslimin sekalian!          Perpecahan adalah kenistaan, persengketaan adalah kejahatan, perselisihan adalah kelemahan, dan perceraian adalah kerusakan urusan agama sekaligus dunia. Semua itu akan membuat musuh senang, melemahkan kekuatan umat, menghambat laju dakwah kepada Allah, menghalangi upaya penyebaran ilmu, menyempitkan dada, membuat hati gelap, mempersulit penghidupan, merampas waktu, mengalihkan perhatian seseorang dari beramal kebajikan dan berbuat aniaya terhadap generasi yang akan datang akibat tidak tersedianya sarana yang berguna bagi mereka.          Orang yang cerdas adalah orang yang meninggalkan persengketaan dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta melakukan perbaikan untuk dirinya dan orang lain.أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا [ النساء/59]“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kakalian. kemudian jika kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah  kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik ta’wilnya”. Qs An-Nisa’ : 59Semoga Allah mencurahkan keberkahan bagiku dan kalian semua berkat Al-Qur’an yang agung …. ============   Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbinganNya dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya sebagai sikap pengagungan terhadap urusanNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan RasulNya. Semoga Allah selalu menambah curahan rahmat dan salam kepada beliau beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!          Termasuk tujuan Islam terpenting ialah menyatukan kaum mulimin dan memadukan hati mereka serta mendamaikan persengketaan di antara mereka. Kondisi suatu umat tidak akan baik kecuali ketika mereka bersatu padu dalam kebenaran dan Islam. Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan pentingnya persaudaraan kaum mukminin sebagaimana firmanNya:”  إنَّمَا المُؤْمِنُوْنَ إخْوَةٌ ” [ الحجرات / 10]“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”. Qs: Al-Hujurat: 10Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan gambaran tentang keberadaan orang-orang beriman dalam sabda beliau.” مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ” رواه مسلم“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. HR. MuslimDan sabda beliau :” الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ” متفق عليه “ Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”. Muttafaq alaihiItulah nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya sebagai anugerah dan kemurahan dariNya. Firman Allah :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ [ الأنفال/63]“Dan yang mempersatukan hati mereka, walaupun  kamu membelanjakan semua (kekayaan) di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” Qs Al-Anfal : 63Maka, kewajiban seorang muslim adalah menjaga nikmat itu dengan lapang dada dan mencintai sesama serta selalu memberi nasihat kepada orang lain.Ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian bershalawat dan salam kepada Nabi-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang penuh hikmah :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب/ 56] “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat dan salamlah kalian kepadanya dengan sesungguhnya”. Qs Al-Ahzab: 56 == Doa Penutup == 


Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 11Shafar 1438 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Muhammad Al-QasimPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya.Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba Allah – dengan sesungguhnya. Mendekatlah kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian. Kaum muslimin!          Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan Nabi Adam dan menugaskannya sebagai khalifah di bumi untuk beribadah kepadaNya.  Sepeninggal Nabi Adam, seluruh anak cucunya berada dalam ketauhidan dan kecintaan kepada Allah, lalu setan menggelincirkan dan membuat mereka menyimpang dari agama dan ketaatan kepada Allah sehingga bercerai-berai setelah sebelumnya utuh sebagai umat yang satu. Firman Allah dalam hadis Qudsi:“خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“ Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu semuanya hunafaa’ (bersih dari kemusyrikan), dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan-setan, lalu mereka disesatkan dari agama mereka” HR MuslimAllah mencela mereka karena berpecah, maka ia mengutus para rasul kepada mereka untuk mempersatukan mereka kembali dan mempertemukan hati mereka pada kebenaran. Firman Allah :وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ [ يونس / 19 ]“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih, kalau sekiranya bukan karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu , pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. Qs Yunus : 19Allah memilih Bani Israel dengan mengutus beberapa para nabi dan rasul dari kalangan mereka, namun mereka melanggar dan mencampakkan Kitab ke belakang yang akhirnya mereka berpecah menjadi berbagai golongan dan kelompok. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ، وَاَفَترَقتِ النَّصَارَى عَلٰى اثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ، وَتَفْتَرِقُ إُمَّتِيْ عَلٰى ثَلاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةَ ” رواه ابن حبان”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, kaum Nashrani telah terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan”. HR Ibnu HibanNabi –shallallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan akan bahaya perpecahan sebagaimana sabda beliau :” وَإيَّاكمْ وَالفرْقة ” رواه الترمذي“Jauhilah perpecahan” HR TirmiziBeliau mengabarkan sebagai warning bakal terjadinya perpecahan itu pada umat ini. Sabda beliau :” فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثيْراً ““Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian sesudah aku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.  HR AhmadAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang hamba-hambaNya berbecah. Firman Allah:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [ آل عمران/ 103]“Dan berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. Qs Ali Imran: 103DijelaskanNya bahwa jalan Allah hanyalah satu; maka setiap jalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan setan yang akan mencerai-beraikan dan menjauhkan manusia dari Tuhannya yang Maha Penyayang. Firman Allah:وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/153]“Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”. Qs Al-An’am : 153Allah –subhanahu wa ta’ala- berpesan kepada seluruh umat manusia sebagaimana yang Dia pesankan kepada para nabi, yaitu menegakkan agama karena Allah dan menjauhi perpecahan. Firman Allah:شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [ شورى / 13]“Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepada kalian dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah”. Qs Syura : 13 Allah –subhanahu wa ta’ala- mencela perpecahan sekaligus pelakunya. Firman Allah:” وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ” [ البقرة/ 176]“ Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”. Qs Albaqarah : 176Allah –subhanahu wa ta’ala- menggambarkan kondisi riel mereka dalam firmanNya:فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [ المؤمنون/ 53]“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada masing-masing”. Qs Al-Mu’minun : 53Bergelimang dalam kondisi yang demikian merupakan ciri-ciri orang-orang munafik.  Firman Allah:وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ [ التوبة / 107]“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ialah orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin”. Qs At-Taubah : 107Itu menjadi watak mereka. Firman Allah :تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ [ الحشر/ 14]“ Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah”. Qs Al-Hasyr : 14Dan itu pula ciri khas tradisi Jahiliyah. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:“مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه مسلم“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan kelompok (kaum muslimin) lalu ia mati, maka matinya dalam kondisi jahiliyah.” HR. MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- melarang meniru dan menempuh jalan kaum yang suka berpecah belah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ [ آل عمران/ 105]“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. Qs Ali Imran : 105Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan terbebasnya Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dari kaum yang bercerai-berai itu. Firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ [ الأنعام / 159 ]“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka”. Qs Al-An’am : 159Mereka menyempal dari ajaran Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan berseberangan dengan kaum muslimin. Firman Allah:وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [ النساء / 115]“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. Qs An-Nisa : 115Perpecahan yang paling berat adalah berpaling dari Tauhid (peng-Esaan) kepada Allah Tuhan semesta alam. Firman Allah :وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [ يونس/ 106]“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian),  maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim”. Qs Yunis : 106Sebagaimana halnya perbuatan mengada-ada dalam beragama merupakan penyimpangan pula dalam meneladani sebaik-baik Rasul. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ” متفق عليه “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. Muttafaq alaihiMenyempal dari para pemimpin dan penguasa, demikian pula merebut kekuasaan dari pemiliknya merupakan kerusakan besar. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” مَنْ نَزَعَ يَدًا مَنْ طَاعَةِ اللهِ ،  فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مَفَارِقٌ لِلْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” رواه أحمد“Barangsiapa yang mencabut tangannya dari mentaati imam, maka dia kelak hari kiamat tidak memiliki argumen. Dan barangsiapa mati dalam kondisi memisahkan diri dari kelompok kaum muslimin, maka ia mati dalam kondisi Jahiliyah”. HR AhmadPara Ulama adalah teladan baik dalam masyarakat. Mereka adalah figur-figur yang paling layak untuk hidup rukun dan bersatu padu, sebab perpecahan di antara mereka akan memicu tertolaknya kehadiran mereka.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Muaz dan Abu Musa Asy’ari –radhiyallahu anhuma- ketika beliau mengutus mereka ke Yaman :” يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا،وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا ” متفق عليه“Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, jangan kalian takut-takuti. Bekerjasamalah, janganlah berselisih”. Muttafaq alaihiRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – melarang kita berpecah-belah dalam kebenaran. Sabda beliau :” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُومُوا ” متفق عليه“Bacalah Al-Qur’an selama menjadikan hati kalian bersatu padu, namun jika kalian berselisih, tinggalkanlah”. Muttafaq alaihiBercerai-berai dan tidak bersatu dalam melaksanakan shalat merupakan buah dominasi setan. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ ” رواه أبو داود“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah mendominasi mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang mencar”. HR Abu DawudNabi –shallallahu alaihi wa sallam- menyatakan ketidak sukaannya terhadap sikap cerai-berai ketika menunggu shalat. Jabir Bin Samurah –radhiyallahu anhu- berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- datang menemui kami. Jabir menuturkan : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- melihat kami saling mengelompok, lalu berkata :” مَا لِى أرَاكُمْ عِزيْنَ – يَعْنِى مُتفرقين ” رواه مسلم“Mengapa kalian aku lihat saling mengelompok, artinya saling memencar ?”. HR Muslim.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang membuat perselisihan shaf-shaf dalam shalat. Beliau memperingatkan keras kepada para pelakunya akan perpecahan mereka dalam haluan. Menurut beliau hal itu akan mengakibatkan perselisihan hati mereka. Sebab perselisihan di permukaan akan membawa perselisihan dalam batin mereka. Sabda nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ ” رواه مسلم“Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara haluan kalian.” HR. MuslimBerselisih dengan Imam dalam shalat adalah bentuk perselisihan dan perpecahan yang dilarang oleh Islam. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا علَيْهِ ” رواه البخاري“Seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih dengannya”. HR BukhariSebagaimana perpecahan dalam urusan agama dilarang, Islam-pun melarang perpecahan dalam urusan duniawi; Oleh karenanya, berkumpul mengerumuni makanan dapat mendatangkan keberkahan, sedangkan bercerai-berai ketika makan dapat menghinlangkan keberkahan makanan.          Ada sekelompok orang mengadu kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kata mereka : “Kami semua makan tetapi tidak merasa kenyang”. Sabda beliau : “Mungkin kalian memencar”. Jawab mereka, “Ya, benar”. Beliau bersabda : “Mengumpullah kalian di depan hidangan kalian, dan sebutlah nama Allah ketika makan, maka kalian mendapatkan keberkahan pada makanan itu”. HR Abu Dawud.Ketika dalam bepergian, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- anggap memencar dari rombongan sebagai langkah menempuh jalan setan. Sabda beliau:” إنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِيْ هَذِهِ الشِّعَابِ وَ الأوِدِيَةَ إنَّما ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ ” رواه أبو داود“Sesungguhnya berpencarnya kalian ke bukit-bukit dan lembah-lembah merupakan langkah setan”. HR Abu DawudDalam hubungan dengan sesama dalam masyarakat, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap saling tidak menegur dan saling memutuskan hubungan antara kaum muslimin. Sabda Nabi :” لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ ” متفق عليه“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; saat keduanya bertemu yang ini berpaling dan yang lain juga berpaling. Namun yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq alaihiDalam sabdanya, beliau mengabarkan :” إنَّ أبْوَابَ الجَنَّةِ يَوْمَ الاثنَيْنِ وَيَوْمَ الخَمِيْسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٌ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَه وَبَيْنَ أخِيْهِ شَحْنَاء فيُقالُ: أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أنظُرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، ” رواه مسلم“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dirinya dengan saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah  kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.” HR MuslimNabi –shallallahu alaihi wa sallam- melarang sikap fanatisme golongan dan yel-yel jahiliah. Ada seorang lelaki Anshar memanggil : “Wahai kebanggaanku kaum Anshar”, lalu di pihak lain-pun memanggil, “Wahai kebanggaanku kaum Muhajirin”. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berseru :” مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ، دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ ” متفق عليه “Mengapakah masih ada yel-yel Jahiliyah, tinggalkanlah karena semua itu telah membusuk”. Muttafaq alaihi.          Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menyukai dan tidak meridhai perpecahan  pada hamba-hambaNya dalam urusan agama dan duniawi. Tidaklah muncul suatu perpecahan di antara mereka melainkan datang dari selain Allah. Dasar-dasar syariat menunjukkan larangan setiap faktor yang dapat menimbulkan perpecahan dan persengketaan. Itulah hikmah yang dimaksudkan dalam pelarangan menurut agama yang dibawa oleh para rasul. Oleh sebab itu, setiap faktor yang menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dilarang; seperti berburuk sangka, mendengki, memata-matai, mengadu-domba, praktek riba, menjual suatu barang yang telah dibeli orang lain, meminang atas peminangan saudara sesama muslim, mengintip aurat sesama dan melakukan penipuan.          Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan berkata yang manis, dan melarang ucapan yang kotor demi keutuhan dan persatuan serta mencegah kebalikannya. Firman Allah :وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ [ الإسراء / 53]“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan  itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”. Qs Al-Isra’ : 53Faktor terbesar yang menyebabkan perpecahan adalah menyekutukan Allah. Itulah pencetus perselisihan dengan memunculkan berbagai macam sesembahan selain Allah. Firman Allah :وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا [ الروم/ 31-32]“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan”. Qs Al-Rum : 31-32Sementara itu, kaum muslimin semenjak Allah menciptakan Adam –alaihissalam- sampai hari kiamat tidaklah menyembah kecuali kepada Tuhan yang Esa. Demikian pula berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan jalan mulus bagi munculnya perpecahan dan persengketaan. Maka orang-orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesungguhnya adalah kelompok orang-orang yang bercerai-berai hingga hari kiamat.Setiap manusia yang meninggalkan sebagian perintah Allah, akan muncul di antara mereka permusuhan dan perpecahan. Maka orang yang mengamalkan sebagian isi Al-Qur’an dan meninggalkan sebagian lainnya, dapat diserupakan dengan orang-orang yang disindir oleh Allah dalam firmanNya :وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [ المائدة/ 14]“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang terlah diperingatkan kepada mereka itu; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian  sampai hari kiamat. Qs Al-Maidah : 14Mengikuti teks-teks suci yang tergolong mutasyabihat (mengandung multi makna) berpotensi menyimpang bagi pengikutnya, dan itu merupakan ujian bagi manusia. Firman Allah :فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ [آل عمران/ 7]“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya”. Qs Ali Imran : 7Memasuki pintu syubhat dan mengikuti kemauan hawa nafsu merupakan penyakit yang merusak umat dan memecah-belah generasi muslim. Firman Allah :كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالا وَأَوْلادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [التوبة/ 69]“Seperti keadaan orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat dari pada kalian, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya kalian. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kalian telah menikmati bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagian mereka, dan kalian membicarakan (hal yang batil) sebagaimana mereka membicarakannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka adalah orang-orang yang merugi”. Qs At-Taubah : 69Mengikuti jalur setan akan berujung pada perpecahan, sebagaimana firman Allah:وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [ الأنعام/ 153]“Dan janganlah kalian  mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalanNya”. Qs Al-An’am: 153Tidak ada suatu kaum yang arogan melainkan mereka terpecah. Firman Allah :وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ[آل عمران/ 19]“Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka”. Qs Ali Imran : 19Apapun perbedaan yang muncul dari hawa nafsu, fanatisme, arogansi, sikap mengekor, kepongahan dan keberpihakan, sesungguhnya adalah jalan menuju perpecahan yang harus dihindari.          Persaingan urusan duniawi menyebabkan permusuhan dan kebencian. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ ” متفق عليه“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun bersaing dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa, sebagaimana telah membinasakan mereka”. Muttafaq alaihi           Kehidupan masyarakat yang terpecah-belah selalu terpencar. Setan mengalami frustrasi untuk disembah oleh para penyembahnya di Jazirah Arab, tetapi dia merasa puas dengan memprofokasi antar mereka. Sebab bagi setan sangat sulit menguasai suatu kaum kecuali setelah mereka terpecah belah. Itulah sebabnya, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berpesan :“عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ” رواه الترمذي“Berpegang-teguhlah pada kelompok kaum muslimin dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya setan itu  menyertai orang yang sendirian, sedangkan pada dua orang ia lebih jauh”. HR TirmiziPrajurit Iblis yang kedudukannya paling dekat kepadanya adalah setan yang paling mampu memecah-belah umat. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ ” رواه مسلم “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus pasukannya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling lihai cara menggodanya. Datanglah salah seorang di antara pasukannya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali belum berbuat apa-apa”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak membiarkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat setan seperti engkau”. HR MuslimPerselisihan dalam beragama, tunduk pada hawa nafsu dan pendapat yang menyesatkan dapat menghambat jalan Allah dan agamaNya, berikut menyimpang dari jalan para nabi dan pandangan hidup mereka. Semua para Nabi diperintahkan untuk menegakkan agama karena Allah dan bersatu-padu membela kebenaran, jauh dari perpecahan.Jika terjadi perselisihan, maka rusaklah agama para pelakunya, pesan Al-Qur’an terabaikan, hawa nafsu menguasai mereka, dan hilanglah otoritas ilmu dan petunjuk. Akibat perpecahan, hati mereka berselisih dan ikatan persaudaraan terputus. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ ” رواه أبو داود“Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian akan berselisih pula.”. HR Abu Dawud.Perpecahan menyebabkan permusuhan dan kebencian. Firman Allah :وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ [ آل عمران/ 103]“Dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian  ketika kalian dahulu saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian”. Qs Ali Imran : 103Bilamana terjadi perpecahan, maka terpampanglah beban yang memberatkan, berikut meletuslah peperangan dan pertumpahan darah. Firman Allah :وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا[البقرة / 253]“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, setelah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih”. Qs Albaqarah: 203Tidak ada suatu kaum yang berpecah-belah melainkan mereka akan nista dan lemah. Firman Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian”. Qs Al-Anfal : 46Bilamana perpecahan telah terjadi pada suatu umat, itu pertanda turunnya kemurkaan Allah terhadap mereka. Firman Allah :قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ” [ الأنعام / 65]“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan (yang saling bertentangan) dan  merasakan kepada sebahagian kalian  keganasan sebahagian yang lain”. Qs Al-An’am 65          Menurut Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- itu adalah “hawa nafsu dan perselisihan”. Hukuman dosa perpecahan yang disegerakan adalah dominasi musuh. Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan kepada Nabi-Nya :” أَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا ” رواه مسلم“Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang kelompok mereka, walaupun musuh mengepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” HR. MuslimPersengketaan, perselisihan dan perpecahan, berakibat hilangnya kebenaran, hancurnya sendi-sendi agama, munculnya peyerupaan terhadap kaum musyrikin, merajalelanya kesesatan dan komentar-komentar tanpa dasar ilmu yang dapat mengalihkan seseorang dari pengamalan agama, pengkajian ajarannya dan penyebaran dakwahnya, disamping dapat melumpuhkan simbul-simbul agama yang nampak, seperti beramar makruf dan nahi mungkar (kontrol sosial). Akibat perpecahan pula nikmat yang merupakan karunia Allah menghilang.          Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah diperlihatkan tentang nikmat Lailatul-Qadr, lalu beliau keluar untuk memberitahukan hal itu. Namun ada dua lelaki di antara kaum muslimin yang adu mulut (cekcok), maka beliau bersabda :” إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ” رواه البخاري“Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang anugerah Lailatul-Qadr, namun karena si Fulan dan si Fulan saling memaki, maka ditariklah kembali anugerah itu”.HR Bukhari.          Petaka akibat perpecahan adalah kehancuran. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:” لَا تَخْتَلفُوْا ، فَإنَّ مَنْ كَانَ قَبلكم اخْتلفوا فَهَلكوْا ” رواه البخاري“Janganlah kalian berselisih! Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah berselisih lalu mereka binasa.” HR. BukhariDi akhirat kelak wajah-wajah orang yang berpecah belah itu terlihat hitam. Firman Allah :يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ [ آل عمران/ 106]“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam  muram  mukanya (kepada mereka dikatakan): “kenapa kalian kafir sesudah kalian beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu”. Qs Ali Imran: 106Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata : “Wajah-wajah ahlus-Sunnah wal Jama’ah nampak putih, sedangkan wajah-wajah pelaku bid’ah dan perpecahan terlihat hitam”. Tangan Allah menggandeng orang-orang yang bersatu. Barangsiapa memencar, maka ia akan terpencar di neraka”.Kaum muslimin sekalian!          Perpecahan adalah kenistaan, persengketaan adalah kejahatan, perselisihan adalah kelemahan, dan perceraian adalah kerusakan urusan agama sekaligus dunia. Semua itu akan membuat musuh senang, melemahkan kekuatan umat, menghambat laju dakwah kepada Allah, menghalangi upaya penyebaran ilmu, menyempitkan dada, membuat hati gelap, mempersulit penghidupan, merampas waktu, mengalihkan perhatian seseorang dari beramal kebajikan dan berbuat aniaya terhadap generasi yang akan datang akibat tidak tersedianya sarana yang berguna bagi mereka.          Orang yang cerdas adalah orang yang meninggalkan persengketaan dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta melakukan perbaikan untuk dirinya dan orang lain.أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا [ النساء/59]“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kakalian. kemudian jika kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah  kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik ta’wilnya”. Qs An-Nisa’ : 59Semoga Allah mencurahkan keberkahan bagiku dan kalian semua berkat Al-Qur’an yang agung …. ============   Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbinganNya dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya sebagai sikap pengagungan terhadap urusanNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan RasulNya. Semoga Allah selalu menambah curahan rahmat dan salam kepada beliau beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!          Termasuk tujuan Islam terpenting ialah menyatukan kaum mulimin dan memadukan hati mereka serta mendamaikan persengketaan di antara mereka. Kondisi suatu umat tidak akan baik kecuali ketika mereka bersatu padu dalam kebenaran dan Islam. Allah –subhanahu wa ta’ala- menyatakan pentingnya persaudaraan kaum mukminin sebagaimana firmanNya:”  إنَّمَا المُؤْمِنُوْنَ إخْوَةٌ ” [ الحجرات / 10]“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”. Qs: Al-Hujurat: 10Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan gambaran tentang keberadaan orang-orang beriman dalam sabda beliau.” مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ” رواه مسلم“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. HR. MuslimDan sabda beliau :” الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ” متفق عليه “ Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”. Muttafaq alaihiItulah nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya sebagai anugerah dan kemurahan dariNya. Firman Allah :وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ [ الأنفال/63]“Dan yang mempersatukan hati mereka, walaupun  kamu membelanjakan semua (kekayaan) di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” Qs Al-Anfal : 63Maka, kewajiban seorang muslim adalah menjaga nikmat itu dengan lapang dada dan mencintai sesama serta selalu memberi nasihat kepada orang lain.Ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian bershalawat dan salam kepada Nabi-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang penuh hikmah :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب/ 56] “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat dan salamlah kalian kepadanya dengan sesungguhnya”. Qs Al-Ahzab: 56 == Doa Penutup == 

Suksesnya Pelaksanaan Haji Tahun Ini

Suksesnya pelaksanaan haji tahun ini tentu menjengkelkan kaum musyrikin (yang bercita-cita timbulnya kekacauan dalam proses pelaksanaan haji). Membuktikan akan betapa semangat ahlus sunnah wal jamaah (yang selalu dituduh suka mengkafirkan dan gemar menumpahkan darah kaum muslimin) dalam memberi pelayanan yang terbaik bagi kaum muslimin yang berhaji dari seluruh penjuru dunia.Bahkan yang aneh…sebagian orang yang suka menuduh tersebut pernah hidup tentram dan nyaman bertahun-tahun dan mendapat beasiswa dari negeri ahlus sunnah (yang dicap sebagai wahabi)Apakah para penuduh tersebut merasa ketakutan dibunuh oleh kaum wahabi tatkala berhaji dan berumroh di negeri wahabi? Ataukah rasa aman yang mereka dapatkan tatkala mengunjungi negeri wahabi?Namun bersikap adil itu sulit…

Suksesnya Pelaksanaan Haji Tahun Ini

Suksesnya pelaksanaan haji tahun ini tentu menjengkelkan kaum musyrikin (yang bercita-cita timbulnya kekacauan dalam proses pelaksanaan haji). Membuktikan akan betapa semangat ahlus sunnah wal jamaah (yang selalu dituduh suka mengkafirkan dan gemar menumpahkan darah kaum muslimin) dalam memberi pelayanan yang terbaik bagi kaum muslimin yang berhaji dari seluruh penjuru dunia.Bahkan yang aneh…sebagian orang yang suka menuduh tersebut pernah hidup tentram dan nyaman bertahun-tahun dan mendapat beasiswa dari negeri ahlus sunnah (yang dicap sebagai wahabi)Apakah para penuduh tersebut merasa ketakutan dibunuh oleh kaum wahabi tatkala berhaji dan berumroh di negeri wahabi? Ataukah rasa aman yang mereka dapatkan tatkala mengunjungi negeri wahabi?Namun bersikap adil itu sulit…
Suksesnya pelaksanaan haji tahun ini tentu menjengkelkan kaum musyrikin (yang bercita-cita timbulnya kekacauan dalam proses pelaksanaan haji). Membuktikan akan betapa semangat ahlus sunnah wal jamaah (yang selalu dituduh suka mengkafirkan dan gemar menumpahkan darah kaum muslimin) dalam memberi pelayanan yang terbaik bagi kaum muslimin yang berhaji dari seluruh penjuru dunia.Bahkan yang aneh…sebagian orang yang suka menuduh tersebut pernah hidup tentram dan nyaman bertahun-tahun dan mendapat beasiswa dari negeri ahlus sunnah (yang dicap sebagai wahabi)Apakah para penuduh tersebut merasa ketakutan dibunuh oleh kaum wahabi tatkala berhaji dan berumroh di negeri wahabi? Ataukah rasa aman yang mereka dapatkan tatkala mengunjungi negeri wahabi?Namun bersikap adil itu sulit…


Suksesnya pelaksanaan haji tahun ini tentu menjengkelkan kaum musyrikin (yang bercita-cita timbulnya kekacauan dalam proses pelaksanaan haji). Membuktikan akan betapa semangat ahlus sunnah wal jamaah (yang selalu dituduh suka mengkafirkan dan gemar menumpahkan darah kaum muslimin) dalam memberi pelayanan yang terbaik bagi kaum muslimin yang berhaji dari seluruh penjuru dunia.Bahkan yang aneh…sebagian orang yang suka menuduh tersebut pernah hidup tentram dan nyaman bertahun-tahun dan mendapat beasiswa dari negeri ahlus sunnah (yang dicap sebagai wahabi)Apakah para penuduh tersebut merasa ketakutan dibunuh oleh kaum wahabi tatkala berhaji dan berumroh di negeri wahabi? Ataukah rasa aman yang mereka dapatkan tatkala mengunjungi negeri wahabi?Namun bersikap adil itu sulit…

Sebab Iran Tidak Haji Tahun Ini Bukan krn Ditolak oleh Arab Saudi

Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016

Sebab Iran Tidak Haji Tahun Ini Bukan krn Ditolak oleh Arab Saudi

Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016
Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016


Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016

Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (6)

3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti

Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (6)

3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti
3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti


3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti
Prev     Next