Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (4)

Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (4)

Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13
Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13


Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)

Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)

Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin
Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin


Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin

Menjadi Teman Ahok (Presentasi dan Video)

  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok

Menjadi Teman Ahok (Presentasi dan Video)

  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok
  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok


  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok

Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim

Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat

Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim

Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat
Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat


Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (3)

RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (3)

RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul
RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul


RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul

Menerima Sumbangan Dari Non-Muslim Untuk Membangun Masjid Dan Pesantren

Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman

Menerima Sumbangan Dari Non-Muslim Untuk Membangun Masjid Dan Pesantren

Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman
Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman


Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (1)

Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (1)

Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit
Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit


Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (2)

Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (2)

Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik
Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik


Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik

Bid’ah yang Paling Parah

  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah

Bid’ah yang Paling Parah

  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah
  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah


  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah

Natal Emangnya Hari Raya Siapa?

Natal emangnya hari raya siapa? Tahu tidak maksud perayaan natal? Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Menyatakan Allah memiliki anak, sungguh pernyataan yang kufur. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92) Jika natal itu memperingati kelahiran Yesus, berarti Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Itu berarti seorang muslim yang mengucapkan selamat natal pada teman atau rekan kerjanya sama saja mengucapkan, “Selamat atas kelahiran anak Tuhan.” Ingin tahu balasan lengkapnya milikilah segera buku saku berikut: Judul: Natal, Hari Raya Siapa Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Ukuran: buku saku Jumlah halaman: 132 Harga: Rp.12.000,- (dua belas ribu rupiah) Segera order! Hubungi 085200171222 (SMS/ WA) Format: Buku natal# Nama lengkap# Alamat # No. Hp# Jumlah buku — Info Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru natal

Natal Emangnya Hari Raya Siapa?

Natal emangnya hari raya siapa? Tahu tidak maksud perayaan natal? Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Menyatakan Allah memiliki anak, sungguh pernyataan yang kufur. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92) Jika natal itu memperingati kelahiran Yesus, berarti Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Itu berarti seorang muslim yang mengucapkan selamat natal pada teman atau rekan kerjanya sama saja mengucapkan, “Selamat atas kelahiran anak Tuhan.” Ingin tahu balasan lengkapnya milikilah segera buku saku berikut: Judul: Natal, Hari Raya Siapa Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Ukuran: buku saku Jumlah halaman: 132 Harga: Rp.12.000,- (dua belas ribu rupiah) Segera order! Hubungi 085200171222 (SMS/ WA) Format: Buku natal# Nama lengkap# Alamat # No. Hp# Jumlah buku — Info Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru natal
Natal emangnya hari raya siapa? Tahu tidak maksud perayaan natal? Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Menyatakan Allah memiliki anak, sungguh pernyataan yang kufur. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92) Jika natal itu memperingati kelahiran Yesus, berarti Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Itu berarti seorang muslim yang mengucapkan selamat natal pada teman atau rekan kerjanya sama saja mengucapkan, “Selamat atas kelahiran anak Tuhan.” Ingin tahu balasan lengkapnya milikilah segera buku saku berikut: Judul: Natal, Hari Raya Siapa Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Ukuran: buku saku Jumlah halaman: 132 Harga: Rp.12.000,- (dua belas ribu rupiah) Segera order! Hubungi 085200171222 (SMS/ WA) Format: Buku natal# Nama lengkap# Alamat # No. Hp# Jumlah buku — Info Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru natal


Natal emangnya hari raya siapa? Tahu tidak maksud perayaan natal? Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Menyatakan Allah memiliki anak, sungguh pernyataan yang kufur. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92) Jika natal itu memperingati kelahiran Yesus, berarti Natal itu memperingati kelahiran anak Tuhan. Itu berarti seorang muslim yang mengucapkan selamat natal pada teman atau rekan kerjanya sama saja mengucapkan, “Selamat atas kelahiran anak Tuhan.” Ingin tahu balasan lengkapnya milikilah segera buku saku berikut: Judul: Natal, Hari Raya Siapa Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Ukuran: buku saku Jumlah halaman: 132 Harga: Rp.12.000,- (dua belas ribu rupiah) Segera order! Hubungi 085200171222 (SMS/ WA) Format: Buku natal# Nama lengkap# Alamat # No. Hp# Jumlah buku — Info Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku terbaru natal

Memakai Nama Abdul Muhsin

Bolehkah memakai nama Abdul Muhsin? From: Trisno Pamuji (@Trisnowman) Answer /puterabertanya__answer359 Date: 2016-10-14 Ustadz, apakah Al Muhsin merupakan salahsatu nama dari nama-nama Allah ta’ala? Artinya apa dan apakah memang boleh memberi nama ‘Abdul muhsin misalnya. Jazakumullah khayr — Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh Al-Muhsin adalah di antara nama Allah sehingga boleh bernama dengan Abdul Muhsin. Perhatikan hadits berikut: 1. حديث شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( إِنَّ اللهَ مُحْسِنٌ فَأَحْسِنُوا وَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا قِتْلَتَكُمْ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ) . رواه عبد الرزاق في ” المصنف ” ( 4 / 292 ) والطبراني في ” المعجم الكبير ” ( 7 / 257 ) وصححه الألباني في ” صحيح الجامع ” ( 1824 ) . Dari Syaddad bin Aws, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah itu Muhsin (Yang terus berbuat baik). Maka hendaklah kalian berbuat baik. Jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika ingin menyembelih tajamkanlah pisau kalian dan senangkanlah hewan yang akan disembelih. HR. Abdurrazaq dalam mushannafnya, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.   — @ DS Panggang Gunungkidul, 10 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah hari lahir pemberian nama

Memakai Nama Abdul Muhsin

Bolehkah memakai nama Abdul Muhsin? From: Trisno Pamuji (@Trisnowman) Answer /puterabertanya__answer359 Date: 2016-10-14 Ustadz, apakah Al Muhsin merupakan salahsatu nama dari nama-nama Allah ta’ala? Artinya apa dan apakah memang boleh memberi nama ‘Abdul muhsin misalnya. Jazakumullah khayr — Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh Al-Muhsin adalah di antara nama Allah sehingga boleh bernama dengan Abdul Muhsin. Perhatikan hadits berikut: 1. حديث شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( إِنَّ اللهَ مُحْسِنٌ فَأَحْسِنُوا وَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا قِتْلَتَكُمْ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ) . رواه عبد الرزاق في ” المصنف ” ( 4 / 292 ) والطبراني في ” المعجم الكبير ” ( 7 / 257 ) وصححه الألباني في ” صحيح الجامع ” ( 1824 ) . Dari Syaddad bin Aws, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah itu Muhsin (Yang terus berbuat baik). Maka hendaklah kalian berbuat baik. Jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika ingin menyembelih tajamkanlah pisau kalian dan senangkanlah hewan yang akan disembelih. HR. Abdurrazaq dalam mushannafnya, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.   — @ DS Panggang Gunungkidul, 10 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah hari lahir pemberian nama
Bolehkah memakai nama Abdul Muhsin? From: Trisno Pamuji (@Trisnowman) Answer /puterabertanya__answer359 Date: 2016-10-14 Ustadz, apakah Al Muhsin merupakan salahsatu nama dari nama-nama Allah ta’ala? Artinya apa dan apakah memang boleh memberi nama ‘Abdul muhsin misalnya. Jazakumullah khayr — Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh Al-Muhsin adalah di antara nama Allah sehingga boleh bernama dengan Abdul Muhsin. Perhatikan hadits berikut: 1. حديث شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( إِنَّ اللهَ مُحْسِنٌ فَأَحْسِنُوا وَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا قِتْلَتَكُمْ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ) . رواه عبد الرزاق في ” المصنف ” ( 4 / 292 ) والطبراني في ” المعجم الكبير ” ( 7 / 257 ) وصححه الألباني في ” صحيح الجامع ” ( 1824 ) . Dari Syaddad bin Aws, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah itu Muhsin (Yang terus berbuat baik). Maka hendaklah kalian berbuat baik. Jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika ingin menyembelih tajamkanlah pisau kalian dan senangkanlah hewan yang akan disembelih. HR. Abdurrazaq dalam mushannafnya, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.   — @ DS Panggang Gunungkidul, 10 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah hari lahir pemberian nama


Bolehkah memakai nama Abdul Muhsin? From: Trisno Pamuji (@Trisnowman) Answer /puterabertanya__answer359 Date: 2016-10-14 Ustadz, apakah Al Muhsin merupakan salahsatu nama dari nama-nama Allah ta’ala? Artinya apa dan apakah memang boleh memberi nama ‘Abdul muhsin misalnya. Jazakumullah khayr — Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh Al-Muhsin adalah di antara nama Allah sehingga boleh bernama dengan Abdul Muhsin. Perhatikan hadits berikut: 1. حديث شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( إِنَّ اللهَ مُحْسِنٌ فَأَحْسِنُوا وَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا قِتْلَتَكُمْ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ) . رواه عبد الرزاق في ” المصنف ” ( 4 / 292 ) والطبراني في ” المعجم الكبير ” ( 7 / 257 ) وصححه الألباني في ” صحيح الجامع ” ( 1824 ) . Dari Syaddad bin Aws, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah itu Muhsin (Yang terus berbuat baik). Maka hendaklah kalian berbuat baik. Jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika ingin menyembelih tajamkanlah pisau kalian dan senangkanlah hewan yang akan disembelih. HR. Abdurrazaq dalam mushannafnya, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.   — @ DS Panggang Gunungkidul, 10 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah hari lahir pemberian nama

Doa Meminta Perlindungan dari Santet dan Sihir

  Mau tahu doa agar kita terlindungi dari santet dan sihir? Ini amat baik sekali jika bisa dibaca dan diamalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “‘Audzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6: 212) Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 12 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa santet sihir

Doa Meminta Perlindungan dari Santet dan Sihir

  Mau tahu doa agar kita terlindungi dari santet dan sihir? Ini amat baik sekali jika bisa dibaca dan diamalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “‘Audzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6: 212) Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 12 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa santet sihir
  Mau tahu doa agar kita terlindungi dari santet dan sihir? Ini amat baik sekali jika bisa dibaca dan diamalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “‘Audzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6: 212) Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 12 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa santet sihir


  Mau tahu doa agar kita terlindungi dari santet dan sihir? Ini amat baik sekali jika bisa dibaca dan diamalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “‘Audzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6: 212) Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 12 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa santet sihir

Senantiasa Bergaul Dengan Para Ustadz Dan Ulama

Hendaklah Kita selalu Bersama dengan Ilmu dan UlamaDi antara sebab terputusnya seseorang dari jalan ilmu sebagaimana yang terjadi pada generasi muda selama ini adalah bahwasannya mereka tidaklah terus-menerus bergaul/bersahabat dengan para ulama atau ustadz. Bahkan waktunya untuk bersama ilmu dan ulama hanyalah pada saat pelajaran berlangsung saja. Di luar waktu itu, mereka bersahabat dengan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Maka jiwanya tidaklah senantiasa tergerak untuk meraih ilmu, bahkan hanya tegerak dalam waktu yang sedikit saja, yaitu pada waktu pelajaran saja. Setelah itu, maka sebagian besar aktivitasnya tidaklah berkaitan dengan ilmu. Hal ini menjadikannya tidak selalu terpaut dengan ilmu. Padahal ilmu membutuhkan agar pemiliknya selalu terpaut dengannya selamanya (jiwanya selalu bersama dengan ilmu dalam setiap keadaan). Terkadang beberapa ulama berpaling dari kenikmatan duniawi yang mubah (diperbolehkan) demi meraih ilmu agama, seperti harta, istri, pandangan yang mubah, atau manusia, dan tidak menyibukkan diri dengannya. Sebagian penyair bercerita tentang hal tersebut ketika seorang ulama didatangi oleh seorang budak wanita. Beliau tidak menoleh kepadanya meskipun budak wanita tersebut memiliki akhlak yang mulia dan sangat cantik. Penyair tersebut berkata dalam beberapa bait syair:Maka aku katakan, tinggalkanlah aku dan maafkanlah aku Karena aku telah disibukkan dengan ilmu dan mencarinya Bagiku (lebih utama) belajar ilmu, keutamaan, dan ketakwaanYang tidak butuh kepada nyanyian para penyanyi dan musiknyaMaksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Maksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Kebodohan adalah Penyakit, Obatnya adalah Ilmu dan UlamaKebodohan adalah lawan dari ilmu. Kebodohan adalah penyakit sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh pemiliknya tanpa disadari. Beliau rahimahullah berkata di dalam kitab An-Nuniyyah: Kebodohan adalah penyakit yang membunuh Obatnya adalah 2 hal yang berurutan (Pertama) yaitu ilmu dari Al Quran dan Sunnah (Ke dua) dan dokternya adalah seorang alim robbaniTidak diragukan lagi bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh manusia yang tersesat dari kewajiban agamanya. Sehingga menjadikan pemiliknya tidak termasuk orang-orang yang hidup (hatinya). Maka para ulama adalah orang yang hidup, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang mati. Sebab kematiannya adalah kebodohan tentang agama mereka, karena kebodohan adalah sesuatu yang menyebabkan kematian. Sehingga setiap orang yang bodoh, dia terbunuh dan mati. Adapun kebodohan itu sendiri tidaklah berada dalam satu tingkatan saja. Akan tetapi, kebodohan itu bermacam-macam. Setiap orang yang bodoh terhadap sesuatu, dia tertimpa kematian dari sisi kebodohannya terhadap sesuatu tersebut. Perkataan beliau rahimahullah,“Kebodohan adalah penyakit yang membunuh, obatnya adalah 2 hal yang berurutan, (pertama) yaitu ilmu dari Al–Qur’an dan Sunnah.” Dua hal ini –yaitu ilmu Al–Qur’an dan Sunnah- adalah ilmu yang menjelaskan dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, menggunakan sesuai dengan tempatnya, serta membawanya kepada makna yang benar (shahih). Sedangkan perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, maksudnya, tidak setiap orang alim. Akan tetapi seorang alim robbani, yaitu seorang ulama yang takut kepada Allah Ta’ala, bertakwa kepada-Nya dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah adalah obat bagi orang-orang yang bodoh. Sebagian besar manusia ingin menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri. Mereka bersemangat mempelajari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun mereka tidak mengambil bimbingan dari penjelasan ahlul ilmi. Dan ketika mereka tidak mengambil bimbingan dari para ulama, maka mereka pun tertimpa kesesatan (kebodohan yang mematikan). Perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, adalah ungkapan yang menjelaskan kepadamu bahwa ilmu adalah obat. Jika seseorang datang dan mengambil obat yang tidak sesuai untuknya, maka apakah dia celaka ataukah tidak? Jelas, dia akan celaka. Kelompok khawarij, mereka tersesat karena mengambil dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun tidak menerapkannya dengan tepat. Mereka mengambil (sebagian) dalil dari Al–Qur’an yang menunjukkan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا”Dan barangsiapa membunuh orang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 93). Orang-orang khawarij berkata,”Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah kafir”.Contoh lain, kelompok murji’ah mengambil sebagian dalil dari Al–Qur’an dan tidak menerapkannya dengan tepat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ”Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah), maka dia masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 2849. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 2638). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ”Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallah, maka dia masuk surga.” (HR. Abu Dawud no. 3118. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Misykatul Mashobih, hadits no. 1621).Demikian juga dengan dalil-dalil yang lain. Sehingga kelompok murji’ah meniadakan amal (anggota badan) dari definisi iman. Mereka hanya menetapkan perkataan dan keyakinan sebagai bagian dari keimanan. Mereka menyepelekan amal perbuatan sehingga tertimpa sesuatu yang membunuh mereka, yaitu kebodohan. Mengapa bisa demikian?Karena mereka tidaklah menjadikan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama di zaman mereka sebagai pembimbing dalam memahami dalil-dalil agama. Mereka hanya mengambil ilmu dari diri mereka sendiri, dan tidak mengikuti ahlul ilmi yang telah mendalam ilmunya. Maka mereka tertimpa sesuatu yang membunuh mereka. Demikianlah pada setiap masa, semangat untuk menuntut ilmu adalah sesuatu yang diharuskan. Namun tidaklah mungkin hanya semangat mencari ilmu saja. Supaya tidak keliru dalam memahami ilmu, maka harus dengan mengambil petunjuk dari pemahaman ahlul ilmi (ulama). Karena sesungguhnya ilmu pada umat ini adalah sesuatu yang diwariskan, bukan sesuatu yang dikarang dan dibuat-buat pada setiap masa dimana manusia dapat membuat dan mengarang-ngarang ilmu baru yang tidak dikenal pada masa sebelumnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ”Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia mendapatkan bagian yang besar” (HR. Ibnu Majah no. 228. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah, hadits no. 223).Perhatikanlah dasar yang agung ini, yaitu semangat di dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, hendaknya yang menjadi pembimbing semangat itu (dalam mempelajari dalil-dalil) adalah seorang ulama, seorang alim robbani. Jika tidak seorang alim robbani, maka kita akan dibimbing oleh orang yang memiliki hawa nafsu, yang memiliki maksud dan tujuan duniawi tertentu. Sehingga kita akan tertimpa musibah, berupa kebodohan dan tidak adanya pemahaman terhadap dalil-dalil Al–Qur’an dan As-Sunnah. ***Catatan:Tulisan ini dicuplik dari ceramah Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah yang berjudul “Asbaabu Ats-Tsabaat ‘ala Thalabil ’Ilmi” (Sebab-sebab untuk istiqamah di jalan ilmu).Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL, 4 Rabiul ‘Awwal 1438Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id 🔍 Penyakit Ain Pada Wanita, Orang Minta Minta, Ayat Alquran Tentang Pengobatan, Cara Menghadapi Orang Yang Menghina Kita Menurut Islam, Cara Berdoa Setelah Shalat Fardhu

Senantiasa Bergaul Dengan Para Ustadz Dan Ulama

Hendaklah Kita selalu Bersama dengan Ilmu dan UlamaDi antara sebab terputusnya seseorang dari jalan ilmu sebagaimana yang terjadi pada generasi muda selama ini adalah bahwasannya mereka tidaklah terus-menerus bergaul/bersahabat dengan para ulama atau ustadz. Bahkan waktunya untuk bersama ilmu dan ulama hanyalah pada saat pelajaran berlangsung saja. Di luar waktu itu, mereka bersahabat dengan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Maka jiwanya tidaklah senantiasa tergerak untuk meraih ilmu, bahkan hanya tegerak dalam waktu yang sedikit saja, yaitu pada waktu pelajaran saja. Setelah itu, maka sebagian besar aktivitasnya tidaklah berkaitan dengan ilmu. Hal ini menjadikannya tidak selalu terpaut dengan ilmu. Padahal ilmu membutuhkan agar pemiliknya selalu terpaut dengannya selamanya (jiwanya selalu bersama dengan ilmu dalam setiap keadaan). Terkadang beberapa ulama berpaling dari kenikmatan duniawi yang mubah (diperbolehkan) demi meraih ilmu agama, seperti harta, istri, pandangan yang mubah, atau manusia, dan tidak menyibukkan diri dengannya. Sebagian penyair bercerita tentang hal tersebut ketika seorang ulama didatangi oleh seorang budak wanita. Beliau tidak menoleh kepadanya meskipun budak wanita tersebut memiliki akhlak yang mulia dan sangat cantik. Penyair tersebut berkata dalam beberapa bait syair:Maka aku katakan, tinggalkanlah aku dan maafkanlah aku Karena aku telah disibukkan dengan ilmu dan mencarinya Bagiku (lebih utama) belajar ilmu, keutamaan, dan ketakwaanYang tidak butuh kepada nyanyian para penyanyi dan musiknyaMaksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Maksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Kebodohan adalah Penyakit, Obatnya adalah Ilmu dan UlamaKebodohan adalah lawan dari ilmu. Kebodohan adalah penyakit sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh pemiliknya tanpa disadari. Beliau rahimahullah berkata di dalam kitab An-Nuniyyah: Kebodohan adalah penyakit yang membunuh Obatnya adalah 2 hal yang berurutan (Pertama) yaitu ilmu dari Al Quran dan Sunnah (Ke dua) dan dokternya adalah seorang alim robbaniTidak diragukan lagi bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh manusia yang tersesat dari kewajiban agamanya. Sehingga menjadikan pemiliknya tidak termasuk orang-orang yang hidup (hatinya). Maka para ulama adalah orang yang hidup, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang mati. Sebab kematiannya adalah kebodohan tentang agama mereka, karena kebodohan adalah sesuatu yang menyebabkan kematian. Sehingga setiap orang yang bodoh, dia terbunuh dan mati. Adapun kebodohan itu sendiri tidaklah berada dalam satu tingkatan saja. Akan tetapi, kebodohan itu bermacam-macam. Setiap orang yang bodoh terhadap sesuatu, dia tertimpa kematian dari sisi kebodohannya terhadap sesuatu tersebut. Perkataan beliau rahimahullah,“Kebodohan adalah penyakit yang membunuh, obatnya adalah 2 hal yang berurutan, (pertama) yaitu ilmu dari Al–Qur’an dan Sunnah.” Dua hal ini –yaitu ilmu Al–Qur’an dan Sunnah- adalah ilmu yang menjelaskan dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, menggunakan sesuai dengan tempatnya, serta membawanya kepada makna yang benar (shahih). Sedangkan perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, maksudnya, tidak setiap orang alim. Akan tetapi seorang alim robbani, yaitu seorang ulama yang takut kepada Allah Ta’ala, bertakwa kepada-Nya dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah adalah obat bagi orang-orang yang bodoh. Sebagian besar manusia ingin menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri. Mereka bersemangat mempelajari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun mereka tidak mengambil bimbingan dari penjelasan ahlul ilmi. Dan ketika mereka tidak mengambil bimbingan dari para ulama, maka mereka pun tertimpa kesesatan (kebodohan yang mematikan). Perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, adalah ungkapan yang menjelaskan kepadamu bahwa ilmu adalah obat. Jika seseorang datang dan mengambil obat yang tidak sesuai untuknya, maka apakah dia celaka ataukah tidak? Jelas, dia akan celaka. Kelompok khawarij, mereka tersesat karena mengambil dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun tidak menerapkannya dengan tepat. Mereka mengambil (sebagian) dalil dari Al–Qur’an yang menunjukkan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا”Dan barangsiapa membunuh orang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 93). Orang-orang khawarij berkata,”Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah kafir”.Contoh lain, kelompok murji’ah mengambil sebagian dalil dari Al–Qur’an dan tidak menerapkannya dengan tepat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ”Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah), maka dia masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 2849. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 2638). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ”Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallah, maka dia masuk surga.” (HR. Abu Dawud no. 3118. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Misykatul Mashobih, hadits no. 1621).Demikian juga dengan dalil-dalil yang lain. Sehingga kelompok murji’ah meniadakan amal (anggota badan) dari definisi iman. Mereka hanya menetapkan perkataan dan keyakinan sebagai bagian dari keimanan. Mereka menyepelekan amal perbuatan sehingga tertimpa sesuatu yang membunuh mereka, yaitu kebodohan. Mengapa bisa demikian?Karena mereka tidaklah menjadikan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama di zaman mereka sebagai pembimbing dalam memahami dalil-dalil agama. Mereka hanya mengambil ilmu dari diri mereka sendiri, dan tidak mengikuti ahlul ilmi yang telah mendalam ilmunya. Maka mereka tertimpa sesuatu yang membunuh mereka. Demikianlah pada setiap masa, semangat untuk menuntut ilmu adalah sesuatu yang diharuskan. Namun tidaklah mungkin hanya semangat mencari ilmu saja. Supaya tidak keliru dalam memahami ilmu, maka harus dengan mengambil petunjuk dari pemahaman ahlul ilmi (ulama). Karena sesungguhnya ilmu pada umat ini adalah sesuatu yang diwariskan, bukan sesuatu yang dikarang dan dibuat-buat pada setiap masa dimana manusia dapat membuat dan mengarang-ngarang ilmu baru yang tidak dikenal pada masa sebelumnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ”Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia mendapatkan bagian yang besar” (HR. Ibnu Majah no. 228. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah, hadits no. 223).Perhatikanlah dasar yang agung ini, yaitu semangat di dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, hendaknya yang menjadi pembimbing semangat itu (dalam mempelajari dalil-dalil) adalah seorang ulama, seorang alim robbani. Jika tidak seorang alim robbani, maka kita akan dibimbing oleh orang yang memiliki hawa nafsu, yang memiliki maksud dan tujuan duniawi tertentu. Sehingga kita akan tertimpa musibah, berupa kebodohan dan tidak adanya pemahaman terhadap dalil-dalil Al–Qur’an dan As-Sunnah. ***Catatan:Tulisan ini dicuplik dari ceramah Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah yang berjudul “Asbaabu Ats-Tsabaat ‘ala Thalabil ’Ilmi” (Sebab-sebab untuk istiqamah di jalan ilmu).Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL, 4 Rabiul ‘Awwal 1438Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id 🔍 Penyakit Ain Pada Wanita, Orang Minta Minta, Ayat Alquran Tentang Pengobatan, Cara Menghadapi Orang Yang Menghina Kita Menurut Islam, Cara Berdoa Setelah Shalat Fardhu
Hendaklah Kita selalu Bersama dengan Ilmu dan UlamaDi antara sebab terputusnya seseorang dari jalan ilmu sebagaimana yang terjadi pada generasi muda selama ini adalah bahwasannya mereka tidaklah terus-menerus bergaul/bersahabat dengan para ulama atau ustadz. Bahkan waktunya untuk bersama ilmu dan ulama hanyalah pada saat pelajaran berlangsung saja. Di luar waktu itu, mereka bersahabat dengan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Maka jiwanya tidaklah senantiasa tergerak untuk meraih ilmu, bahkan hanya tegerak dalam waktu yang sedikit saja, yaitu pada waktu pelajaran saja. Setelah itu, maka sebagian besar aktivitasnya tidaklah berkaitan dengan ilmu. Hal ini menjadikannya tidak selalu terpaut dengan ilmu. Padahal ilmu membutuhkan agar pemiliknya selalu terpaut dengannya selamanya (jiwanya selalu bersama dengan ilmu dalam setiap keadaan). Terkadang beberapa ulama berpaling dari kenikmatan duniawi yang mubah (diperbolehkan) demi meraih ilmu agama, seperti harta, istri, pandangan yang mubah, atau manusia, dan tidak menyibukkan diri dengannya. Sebagian penyair bercerita tentang hal tersebut ketika seorang ulama didatangi oleh seorang budak wanita. Beliau tidak menoleh kepadanya meskipun budak wanita tersebut memiliki akhlak yang mulia dan sangat cantik. Penyair tersebut berkata dalam beberapa bait syair:Maka aku katakan, tinggalkanlah aku dan maafkanlah aku Karena aku telah disibukkan dengan ilmu dan mencarinya Bagiku (lebih utama) belajar ilmu, keutamaan, dan ketakwaanYang tidak butuh kepada nyanyian para penyanyi dan musiknyaMaksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Maksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Kebodohan adalah Penyakit, Obatnya adalah Ilmu dan UlamaKebodohan adalah lawan dari ilmu. Kebodohan adalah penyakit sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh pemiliknya tanpa disadari. Beliau rahimahullah berkata di dalam kitab An-Nuniyyah: Kebodohan adalah penyakit yang membunuh Obatnya adalah 2 hal yang berurutan (Pertama) yaitu ilmu dari Al Quran dan Sunnah (Ke dua) dan dokternya adalah seorang alim robbaniTidak diragukan lagi bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh manusia yang tersesat dari kewajiban agamanya. Sehingga menjadikan pemiliknya tidak termasuk orang-orang yang hidup (hatinya). Maka para ulama adalah orang yang hidup, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang mati. Sebab kematiannya adalah kebodohan tentang agama mereka, karena kebodohan adalah sesuatu yang menyebabkan kematian. Sehingga setiap orang yang bodoh, dia terbunuh dan mati. Adapun kebodohan itu sendiri tidaklah berada dalam satu tingkatan saja. Akan tetapi, kebodohan itu bermacam-macam. Setiap orang yang bodoh terhadap sesuatu, dia tertimpa kematian dari sisi kebodohannya terhadap sesuatu tersebut. Perkataan beliau rahimahullah,“Kebodohan adalah penyakit yang membunuh, obatnya adalah 2 hal yang berurutan, (pertama) yaitu ilmu dari Al–Qur’an dan Sunnah.” Dua hal ini –yaitu ilmu Al–Qur’an dan Sunnah- adalah ilmu yang menjelaskan dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, menggunakan sesuai dengan tempatnya, serta membawanya kepada makna yang benar (shahih). Sedangkan perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, maksudnya, tidak setiap orang alim. Akan tetapi seorang alim robbani, yaitu seorang ulama yang takut kepada Allah Ta’ala, bertakwa kepada-Nya dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah adalah obat bagi orang-orang yang bodoh. Sebagian besar manusia ingin menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri. Mereka bersemangat mempelajari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun mereka tidak mengambil bimbingan dari penjelasan ahlul ilmi. Dan ketika mereka tidak mengambil bimbingan dari para ulama, maka mereka pun tertimpa kesesatan (kebodohan yang mematikan). Perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, adalah ungkapan yang menjelaskan kepadamu bahwa ilmu adalah obat. Jika seseorang datang dan mengambil obat yang tidak sesuai untuknya, maka apakah dia celaka ataukah tidak? Jelas, dia akan celaka. Kelompok khawarij, mereka tersesat karena mengambil dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun tidak menerapkannya dengan tepat. Mereka mengambil (sebagian) dalil dari Al–Qur’an yang menunjukkan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا”Dan barangsiapa membunuh orang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 93). Orang-orang khawarij berkata,”Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah kafir”.Contoh lain, kelompok murji’ah mengambil sebagian dalil dari Al–Qur’an dan tidak menerapkannya dengan tepat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ”Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah), maka dia masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 2849. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 2638). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ”Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallah, maka dia masuk surga.” (HR. Abu Dawud no. 3118. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Misykatul Mashobih, hadits no. 1621).Demikian juga dengan dalil-dalil yang lain. Sehingga kelompok murji’ah meniadakan amal (anggota badan) dari definisi iman. Mereka hanya menetapkan perkataan dan keyakinan sebagai bagian dari keimanan. Mereka menyepelekan amal perbuatan sehingga tertimpa sesuatu yang membunuh mereka, yaitu kebodohan. Mengapa bisa demikian?Karena mereka tidaklah menjadikan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama di zaman mereka sebagai pembimbing dalam memahami dalil-dalil agama. Mereka hanya mengambil ilmu dari diri mereka sendiri, dan tidak mengikuti ahlul ilmi yang telah mendalam ilmunya. Maka mereka tertimpa sesuatu yang membunuh mereka. Demikianlah pada setiap masa, semangat untuk menuntut ilmu adalah sesuatu yang diharuskan. Namun tidaklah mungkin hanya semangat mencari ilmu saja. Supaya tidak keliru dalam memahami ilmu, maka harus dengan mengambil petunjuk dari pemahaman ahlul ilmi (ulama). Karena sesungguhnya ilmu pada umat ini adalah sesuatu yang diwariskan, bukan sesuatu yang dikarang dan dibuat-buat pada setiap masa dimana manusia dapat membuat dan mengarang-ngarang ilmu baru yang tidak dikenal pada masa sebelumnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ”Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia mendapatkan bagian yang besar” (HR. Ibnu Majah no. 228. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah, hadits no. 223).Perhatikanlah dasar yang agung ini, yaitu semangat di dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, hendaknya yang menjadi pembimbing semangat itu (dalam mempelajari dalil-dalil) adalah seorang ulama, seorang alim robbani. Jika tidak seorang alim robbani, maka kita akan dibimbing oleh orang yang memiliki hawa nafsu, yang memiliki maksud dan tujuan duniawi tertentu. Sehingga kita akan tertimpa musibah, berupa kebodohan dan tidak adanya pemahaman terhadap dalil-dalil Al–Qur’an dan As-Sunnah. ***Catatan:Tulisan ini dicuplik dari ceramah Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah yang berjudul “Asbaabu Ats-Tsabaat ‘ala Thalabil ’Ilmi” (Sebab-sebab untuk istiqamah di jalan ilmu).Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL, 4 Rabiul ‘Awwal 1438Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id 🔍 Penyakit Ain Pada Wanita, Orang Minta Minta, Ayat Alquran Tentang Pengobatan, Cara Menghadapi Orang Yang Menghina Kita Menurut Islam, Cara Berdoa Setelah Shalat Fardhu


Hendaklah Kita selalu Bersama dengan Ilmu dan UlamaDi antara sebab terputusnya seseorang dari jalan ilmu sebagaimana yang terjadi pada generasi muda selama ini adalah bahwasannya mereka tidaklah terus-menerus bergaul/bersahabat dengan para ulama atau ustadz. Bahkan waktunya untuk bersama ilmu dan ulama hanyalah pada saat pelajaran berlangsung saja. Di luar waktu itu, mereka bersahabat dengan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Maka jiwanya tidaklah senantiasa tergerak untuk meraih ilmu, bahkan hanya tegerak dalam waktu yang sedikit saja, yaitu pada waktu pelajaran saja. Setelah itu, maka sebagian besar aktivitasnya tidaklah berkaitan dengan ilmu. Hal ini menjadikannya tidak selalu terpaut dengan ilmu. Padahal ilmu membutuhkan agar pemiliknya selalu terpaut dengannya selamanya (jiwanya selalu bersama dengan ilmu dalam setiap keadaan). Terkadang beberapa ulama berpaling dari kenikmatan duniawi yang mubah (diperbolehkan) demi meraih ilmu agama, seperti harta, istri, pandangan yang mubah, atau manusia, dan tidak menyibukkan diri dengannya. Sebagian penyair bercerita tentang hal tersebut ketika seorang ulama didatangi oleh seorang budak wanita. Beliau tidak menoleh kepadanya meskipun budak wanita tersebut memiliki akhlak yang mulia dan sangat cantik. Penyair tersebut berkata dalam beberapa bait syair:Maka aku katakan, tinggalkanlah aku dan maafkanlah aku Karena aku telah disibukkan dengan ilmu dan mencarinya Bagiku (lebih utama) belajar ilmu, keutamaan, dan ketakwaanYang tidak butuh kepada nyanyian para penyanyi dan musiknyaMaksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Maksudnya, bahwa dirinya disibukkan dengan sesuatu yang lebih besar yang telah menguasai dirinya. Hal ini akan tercapai jika seseorang selalu bersama dengan ilmu. Dia bersahabat dengan orang-orang yang membicarakan dan menyampaikan ilmu, selalu bersama para ulama dalam pembicaraan mereka, dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka.Niscaya kita akan mendapati sebuah jiwa yang selalu disibukkan dengan ilmu. Sehingga ilmu itu akan menjadi tabiat dan aktivitas keseharian kita. Awalnya hal itu mungkin menyusahkan kita. Akan tetapi, pada akhirnya bisa menjadi tabiat. Sehingga ketika kita berbicara, maka kita berbicara dengan ilmu. Jika menasihati, maka kita memberikan nasihat dengan ilmu. Jika menjelaskan sesuatu, maka kita menjelaskan dengan ilmu. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mudah bagi kita. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini membutuhkan perjuangan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al ’Ankabuut [29] : 69).Kebodohan adalah Penyakit, Obatnya adalah Ilmu dan UlamaKebodohan adalah lawan dari ilmu. Kebodohan adalah penyakit sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh pemiliknya tanpa disadari. Beliau rahimahullah berkata di dalam kitab An-Nuniyyah: Kebodohan adalah penyakit yang membunuh Obatnya adalah 2 hal yang berurutan (Pertama) yaitu ilmu dari Al Quran dan Sunnah (Ke dua) dan dokternya adalah seorang alim robbaniTidak diragukan lagi bahwa kebodohan adalah penyakit yang membunuh manusia yang tersesat dari kewajiban agamanya. Sehingga menjadikan pemiliknya tidak termasuk orang-orang yang hidup (hatinya). Maka para ulama adalah orang yang hidup, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang mati. Sebab kematiannya adalah kebodohan tentang agama mereka, karena kebodohan adalah sesuatu yang menyebabkan kematian. Sehingga setiap orang yang bodoh, dia terbunuh dan mati. Adapun kebodohan itu sendiri tidaklah berada dalam satu tingkatan saja. Akan tetapi, kebodohan itu bermacam-macam. Setiap orang yang bodoh terhadap sesuatu, dia tertimpa kematian dari sisi kebodohannya terhadap sesuatu tersebut. Perkataan beliau rahimahullah,“Kebodohan adalah penyakit yang membunuh, obatnya adalah 2 hal yang berurutan, (pertama) yaitu ilmu dari Al–Qur’an dan Sunnah.” Dua hal ini –yaitu ilmu Al–Qur’an dan Sunnah- adalah ilmu yang menjelaskan dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, menggunakan sesuai dengan tempatnya, serta membawanya kepada makna yang benar (shahih). Sedangkan perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, maksudnya, tidak setiap orang alim. Akan tetapi seorang alim robbani, yaitu seorang ulama yang takut kepada Allah Ta’ala, bertakwa kepada-Nya dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah adalah obat bagi orang-orang yang bodoh. Sebagian besar manusia ingin menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri. Mereka bersemangat mempelajari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun mereka tidak mengambil bimbingan dari penjelasan ahlul ilmi. Dan ketika mereka tidak mengambil bimbingan dari para ulama, maka mereka pun tertimpa kesesatan (kebodohan yang mematikan). Perkataan beliau rahimahullah,“Dan dokternya adalah seorang alim robbani”, adalah ungkapan yang menjelaskan kepadamu bahwa ilmu adalah obat. Jika seseorang datang dan mengambil obat yang tidak sesuai untuknya, maka apakah dia celaka ataukah tidak? Jelas, dia akan celaka. Kelompok khawarij, mereka tersesat karena mengambil dalil-dalil dari Al–Qur’an dan As–Sunnah, namun tidak menerapkannya dengan tepat. Mereka mengambil (sebagian) dalil dari Al–Qur’an yang menunjukkan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا”Dan barangsiapa membunuh orang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 93). Orang-orang khawarij berkata,”Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah kafir”.Contoh lain, kelompok murji’ah mengambil sebagian dalil dari Al–Qur’an dan tidak menerapkannya dengan tepat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ”Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah), maka dia masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 2849. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 2638). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ”Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallah, maka dia masuk surga.” (HR. Abu Dawud no. 3118. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Misykatul Mashobih, hadits no. 1621).Demikian juga dengan dalil-dalil yang lain. Sehingga kelompok murji’ah meniadakan amal (anggota badan) dari definisi iman. Mereka hanya menetapkan perkataan dan keyakinan sebagai bagian dari keimanan. Mereka menyepelekan amal perbuatan sehingga tertimpa sesuatu yang membunuh mereka, yaitu kebodohan. Mengapa bisa demikian?Karena mereka tidaklah menjadikan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama di zaman mereka sebagai pembimbing dalam memahami dalil-dalil agama. Mereka hanya mengambil ilmu dari diri mereka sendiri, dan tidak mengikuti ahlul ilmi yang telah mendalam ilmunya. Maka mereka tertimpa sesuatu yang membunuh mereka. Demikianlah pada setiap masa, semangat untuk menuntut ilmu adalah sesuatu yang diharuskan. Namun tidaklah mungkin hanya semangat mencari ilmu saja. Supaya tidak keliru dalam memahami ilmu, maka harus dengan mengambil petunjuk dari pemahaman ahlul ilmi (ulama). Karena sesungguhnya ilmu pada umat ini adalah sesuatu yang diwariskan, bukan sesuatu yang dikarang dan dibuat-buat pada setiap masa dimana manusia dapat membuat dan mengarang-ngarang ilmu baru yang tidak dikenal pada masa sebelumnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ”Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia mendapatkan bagian yang besar” (HR. Ibnu Majah no. 228. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah, hadits no. 223).Perhatikanlah dasar yang agung ini, yaitu semangat di dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, hendaknya yang menjadi pembimbing semangat itu (dalam mempelajari dalil-dalil) adalah seorang ulama, seorang alim robbani. Jika tidak seorang alim robbani, maka kita akan dibimbing oleh orang yang memiliki hawa nafsu, yang memiliki maksud dan tujuan duniawi tertentu. Sehingga kita akan tertimpa musibah, berupa kebodohan dan tidak adanya pemahaman terhadap dalil-dalil Al–Qur’an dan As-Sunnah. ***Catatan:Tulisan ini dicuplik dari ceramah Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah yang berjudul “Asbaabu Ats-Tsabaat ‘ala Thalabil ’Ilmi” (Sebab-sebab untuk istiqamah di jalan ilmu).Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL, 4 Rabiul ‘Awwal 1438Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id 🔍 Penyakit Ain Pada Wanita, Orang Minta Minta, Ayat Alquran Tentang Pengobatan, Cara Menghadapi Orang Yang Menghina Kita Menurut Islam, Cara Berdoa Setelah Shalat Fardhu

Fatwa Ulama: Membaca Qur’an Di Masjid Dengan Suara Keras

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum membaca Al Qur’an di masjid dengan suara keras yang menyebabkan terganggunya orang-orang yang sedang shalat?Jawab:Membaca Al Qur’an di masjid ketika itu bisa menganggu orang lain yang sedang shalat atau orang yang sedang mengajar pengajian, atau menganggu pembaca Al Qur’an yang lain, ini hukumnya haram.Karena termasuk dalam larangan yang disebutkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Terdapat hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwatha dari Al Bayqadhi (yaitu Farwah bin ‘Amr), bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi orang-orang ketika itu mereka sedang shalat (sunnah) dan sebagian mereka meninggikan suara bacaan Qur’annya. Lalu Nabi bersabda:إن المصلي يناجي ربه فلينظر بما يناجيه به ولا يجهر بعضكم على بعض بالقرآن“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Maka perhatikanlah apa yang ia munajatkan kepada Rabb-nya, dan janganlah mengeraskan suara bacaan Qur’an-nya satu sama lain“.Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu.***Sumber: Majmu’ Fatawa War Rasail Ibnu Utsaimin jilid ke 3, dari web: http://ar.islamway.net/fatwa/73343Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id 🔍 Dalil Isra Mi'raj, Arti Hasad, Hukum Shalat Istikharah, Download Islam, Menghadapi Suami Marah Menurut Islam

Fatwa Ulama: Membaca Qur’an Di Masjid Dengan Suara Keras

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum membaca Al Qur’an di masjid dengan suara keras yang menyebabkan terganggunya orang-orang yang sedang shalat?Jawab:Membaca Al Qur’an di masjid ketika itu bisa menganggu orang lain yang sedang shalat atau orang yang sedang mengajar pengajian, atau menganggu pembaca Al Qur’an yang lain, ini hukumnya haram.Karena termasuk dalam larangan yang disebutkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Terdapat hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwatha dari Al Bayqadhi (yaitu Farwah bin ‘Amr), bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi orang-orang ketika itu mereka sedang shalat (sunnah) dan sebagian mereka meninggikan suara bacaan Qur’annya. Lalu Nabi bersabda:إن المصلي يناجي ربه فلينظر بما يناجيه به ولا يجهر بعضكم على بعض بالقرآن“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Maka perhatikanlah apa yang ia munajatkan kepada Rabb-nya, dan janganlah mengeraskan suara bacaan Qur’an-nya satu sama lain“.Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu.***Sumber: Majmu’ Fatawa War Rasail Ibnu Utsaimin jilid ke 3, dari web: http://ar.islamway.net/fatwa/73343Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id 🔍 Dalil Isra Mi'raj, Arti Hasad, Hukum Shalat Istikharah, Download Islam, Menghadapi Suami Marah Menurut Islam
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum membaca Al Qur’an di masjid dengan suara keras yang menyebabkan terganggunya orang-orang yang sedang shalat?Jawab:Membaca Al Qur’an di masjid ketika itu bisa menganggu orang lain yang sedang shalat atau orang yang sedang mengajar pengajian, atau menganggu pembaca Al Qur’an yang lain, ini hukumnya haram.Karena termasuk dalam larangan yang disebutkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Terdapat hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwatha dari Al Bayqadhi (yaitu Farwah bin ‘Amr), bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi orang-orang ketika itu mereka sedang shalat (sunnah) dan sebagian mereka meninggikan suara bacaan Qur’annya. Lalu Nabi bersabda:إن المصلي يناجي ربه فلينظر بما يناجيه به ولا يجهر بعضكم على بعض بالقرآن“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Maka perhatikanlah apa yang ia munajatkan kepada Rabb-nya, dan janganlah mengeraskan suara bacaan Qur’an-nya satu sama lain“.Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu.***Sumber: Majmu’ Fatawa War Rasail Ibnu Utsaimin jilid ke 3, dari web: http://ar.islamway.net/fatwa/73343Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id 🔍 Dalil Isra Mi'raj, Arti Hasad, Hukum Shalat Istikharah, Download Islam, Menghadapi Suami Marah Menurut Islam


Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum membaca Al Qur’an di masjid dengan suara keras yang menyebabkan terganggunya orang-orang yang sedang shalat?Jawab:Membaca Al Qur’an di masjid ketika itu bisa menganggu orang lain yang sedang shalat atau orang yang sedang mengajar pengajian, atau menganggu pembaca Al Qur’an yang lain, ini hukumnya haram.Karena termasuk dalam larangan yang disebutkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Terdapat hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwatha dari Al Bayqadhi (yaitu Farwah bin ‘Amr), bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi orang-orang ketika itu mereka sedang shalat (sunnah) dan sebagian mereka meninggikan suara bacaan Qur’annya. Lalu Nabi bersabda:إن المصلي يناجي ربه فلينظر بما يناجيه به ولا يجهر بعضكم على بعض بالقرآن“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Maka perhatikanlah apa yang ia munajatkan kepada Rabb-nya, dan janganlah mengeraskan suara bacaan Qur’an-nya satu sama lain“.Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu.***Sumber: Majmu’ Fatawa War Rasail Ibnu Utsaimin jilid ke 3, dari web: http://ar.islamway.net/fatwa/73343Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id 🔍 Dalil Isra Mi'raj, Arti Hasad, Hukum Shalat Istikharah, Download Islam, Menghadapi Suami Marah Menurut Islam
Prev     Next