Kapan Bisa menasehati Secara Terang-Terangan

Hukum Asal NasehatHukum asal menasehati adalah dengan cara empat mata atau sembunyi-sembunyi. Tidak dilakukan di depan publik baik di dunia maya maupun dunia nyata. Karena jika kita menasehati di depan publik itu sama saja dengan membongkar aibnya bahkan bisa jadi itu adalah hinaan meskipun dalam bentuk nasehat.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan hal ini dalam sya’ir beliau:تعمدني بنصحك في انفرادي** وجنبْني النصيحة في الجماعهْفإن النصح بين الناس نوع** من التوبيخ لا أرضى استماعهْوإن خالفتني وعصيت قولي** فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْBerilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaianSesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuksesuatuPelecehan yang aku tidak suka mendengarkannyaJika engkau menyelisihi dan menolak sarankuMaka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti [1] Nasehat secara empat mata adalah dalam rangka “menginginkan kebaikan” kepada yang diberi nasehat. Inilah tujuan utama dari nasehat. Sebagaimana dalam hadits,ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ“Agama adalah nasehat” (HR. Muslim).Ibnul Atsir menjelaskan,ﻧَﺼﻴﺤﺔ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ : ﺇﺭﺷﺎﺩُﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﺼﺎﻟِﺤِﻬﻢ“Nasehat bagi kaum muslimin yaitu memberikan petunjuk untuk kemashalatan mereka” [2] Nasehat Secara Terang-TeranganAkan tetapi ada keadaan di mana nasehat atau kritikan bisa dilakukan di depan publik dan secara terang-terangan, yaitu ketika kesalahan/kemungkaran yang dilakukan juga secara terang-terangan dan kesalahan ini sudah tersebar luas dan ia-pun menyebarluaskannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini, beliau berkata:المنكر إذا أعلن فيجب إنكاره علناً“Kemungkaran apabila dilakukan secara terang-terangan maka wajib mengingkarinya secara terang terangan juga.” [2] Contoh Nasehat Secara Terang-TeranganContoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan pengingkaran secara terang-terangan dan bahkan menyebut nama, yaitu ketika Khalid bin Walid melakukan suatu kesalahan (wajar saja manusia pasti salah dan khalid sebagai sahabat tidak boleh kita cela). Nabi shallalahu alaihi wa sallam berdoa di hadapan para sahabat-sahabatnya mengingkari perbuatan Khalid bin WalidIbnu Umar berkata,ﺭَﻓَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺑْﺮَﺃُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻤَّﺎ ﺻَﻨَﻊَ ﺧَﺎﻟِﺪٌNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lantas berdo’a, ”Wahai, Allah. Aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid (bin Walid).” [4] Hendaknya benar-benar dipertimbangkan kapan nasehat itu dilakukan di depan publik atau terang-terangkan, menimbang mashlahat dan mafasadatnya, karena inti dari nasehat adalah menginginkan kebaikan kepada yang dinasehati.@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel: muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Ibnu Utsaimin, Tema Kajian Ramadhan, Larangan Adzan, Dalil Sholat Jumat, Dakwah Sunnah Com

Kapan Bisa menasehati Secara Terang-Terangan

Hukum Asal NasehatHukum asal menasehati adalah dengan cara empat mata atau sembunyi-sembunyi. Tidak dilakukan di depan publik baik di dunia maya maupun dunia nyata. Karena jika kita menasehati di depan publik itu sama saja dengan membongkar aibnya bahkan bisa jadi itu adalah hinaan meskipun dalam bentuk nasehat.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan hal ini dalam sya’ir beliau:تعمدني بنصحك في انفرادي** وجنبْني النصيحة في الجماعهْفإن النصح بين الناس نوع** من التوبيخ لا أرضى استماعهْوإن خالفتني وعصيت قولي** فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْBerilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaianSesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuksesuatuPelecehan yang aku tidak suka mendengarkannyaJika engkau menyelisihi dan menolak sarankuMaka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti [1] Nasehat secara empat mata adalah dalam rangka “menginginkan kebaikan” kepada yang diberi nasehat. Inilah tujuan utama dari nasehat. Sebagaimana dalam hadits,ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ“Agama adalah nasehat” (HR. Muslim).Ibnul Atsir menjelaskan,ﻧَﺼﻴﺤﺔ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ : ﺇﺭﺷﺎﺩُﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﺼﺎﻟِﺤِﻬﻢ“Nasehat bagi kaum muslimin yaitu memberikan petunjuk untuk kemashalatan mereka” [2] Nasehat Secara Terang-TeranganAkan tetapi ada keadaan di mana nasehat atau kritikan bisa dilakukan di depan publik dan secara terang-terangan, yaitu ketika kesalahan/kemungkaran yang dilakukan juga secara terang-terangan dan kesalahan ini sudah tersebar luas dan ia-pun menyebarluaskannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini, beliau berkata:المنكر إذا أعلن فيجب إنكاره علناً“Kemungkaran apabila dilakukan secara terang-terangan maka wajib mengingkarinya secara terang terangan juga.” [2] Contoh Nasehat Secara Terang-TeranganContoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan pengingkaran secara terang-terangan dan bahkan menyebut nama, yaitu ketika Khalid bin Walid melakukan suatu kesalahan (wajar saja manusia pasti salah dan khalid sebagai sahabat tidak boleh kita cela). Nabi shallalahu alaihi wa sallam berdoa di hadapan para sahabat-sahabatnya mengingkari perbuatan Khalid bin WalidIbnu Umar berkata,ﺭَﻓَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺑْﺮَﺃُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻤَّﺎ ﺻَﻨَﻊَ ﺧَﺎﻟِﺪٌNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lantas berdo’a, ”Wahai, Allah. Aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid (bin Walid).” [4] Hendaknya benar-benar dipertimbangkan kapan nasehat itu dilakukan di depan publik atau terang-terangkan, menimbang mashlahat dan mafasadatnya, karena inti dari nasehat adalah menginginkan kebaikan kepada yang dinasehati.@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel: muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Ibnu Utsaimin, Tema Kajian Ramadhan, Larangan Adzan, Dalil Sholat Jumat, Dakwah Sunnah Com
Hukum Asal NasehatHukum asal menasehati adalah dengan cara empat mata atau sembunyi-sembunyi. Tidak dilakukan di depan publik baik di dunia maya maupun dunia nyata. Karena jika kita menasehati di depan publik itu sama saja dengan membongkar aibnya bahkan bisa jadi itu adalah hinaan meskipun dalam bentuk nasehat.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan hal ini dalam sya’ir beliau:تعمدني بنصحك في انفرادي** وجنبْني النصيحة في الجماعهْفإن النصح بين الناس نوع** من التوبيخ لا أرضى استماعهْوإن خالفتني وعصيت قولي** فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْBerilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaianSesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuksesuatuPelecehan yang aku tidak suka mendengarkannyaJika engkau menyelisihi dan menolak sarankuMaka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti [1] Nasehat secara empat mata adalah dalam rangka “menginginkan kebaikan” kepada yang diberi nasehat. Inilah tujuan utama dari nasehat. Sebagaimana dalam hadits,ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ“Agama adalah nasehat” (HR. Muslim).Ibnul Atsir menjelaskan,ﻧَﺼﻴﺤﺔ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ : ﺇﺭﺷﺎﺩُﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﺼﺎﻟِﺤِﻬﻢ“Nasehat bagi kaum muslimin yaitu memberikan petunjuk untuk kemashalatan mereka” [2] Nasehat Secara Terang-TeranganAkan tetapi ada keadaan di mana nasehat atau kritikan bisa dilakukan di depan publik dan secara terang-terangan, yaitu ketika kesalahan/kemungkaran yang dilakukan juga secara terang-terangan dan kesalahan ini sudah tersebar luas dan ia-pun menyebarluaskannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini, beliau berkata:المنكر إذا أعلن فيجب إنكاره علناً“Kemungkaran apabila dilakukan secara terang-terangan maka wajib mengingkarinya secara terang terangan juga.” [2] Contoh Nasehat Secara Terang-TeranganContoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan pengingkaran secara terang-terangan dan bahkan menyebut nama, yaitu ketika Khalid bin Walid melakukan suatu kesalahan (wajar saja manusia pasti salah dan khalid sebagai sahabat tidak boleh kita cela). Nabi shallalahu alaihi wa sallam berdoa di hadapan para sahabat-sahabatnya mengingkari perbuatan Khalid bin WalidIbnu Umar berkata,ﺭَﻓَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺑْﺮَﺃُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻤَّﺎ ﺻَﻨَﻊَ ﺧَﺎﻟِﺪٌNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lantas berdo’a, ”Wahai, Allah. Aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid (bin Walid).” [4] Hendaknya benar-benar dipertimbangkan kapan nasehat itu dilakukan di depan publik atau terang-terangkan, menimbang mashlahat dan mafasadatnya, karena inti dari nasehat adalah menginginkan kebaikan kepada yang dinasehati.@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel: muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Ibnu Utsaimin, Tema Kajian Ramadhan, Larangan Adzan, Dalil Sholat Jumat, Dakwah Sunnah Com


Hukum Asal NasehatHukum asal menasehati adalah dengan cara empat mata atau sembunyi-sembunyi. Tidak dilakukan di depan publik baik di dunia maya maupun dunia nyata. Karena jika kita menasehati di depan publik itu sama saja dengan membongkar aibnya bahkan bisa jadi itu adalah hinaan meskipun dalam bentuk nasehat.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan hal ini dalam sya’ir beliau:تعمدني بنصحك في انفرادي** وجنبْني النصيحة في الجماعهْفإن النصح بين الناس نوع** من التوبيخ لا أرضى استماعهْوإن خالفتني وعصيت قولي** فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْBerilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaianSesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuksesuatuPelecehan yang aku tidak suka mendengarkannyaJika engkau menyelisihi dan menolak sarankuMaka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti [1] Nasehat secara empat mata adalah dalam rangka “menginginkan kebaikan” kepada yang diberi nasehat. Inilah tujuan utama dari nasehat. Sebagaimana dalam hadits,ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ“Agama adalah nasehat” (HR. Muslim).Ibnul Atsir menjelaskan,ﻧَﺼﻴﺤﺔ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ : ﺇﺭﺷﺎﺩُﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﺼﺎﻟِﺤِﻬﻢ“Nasehat bagi kaum muslimin yaitu memberikan petunjuk untuk kemashalatan mereka” [2] Nasehat Secara Terang-TeranganAkan tetapi ada keadaan di mana nasehat atau kritikan bisa dilakukan di depan publik dan secara terang-terangan, yaitu ketika kesalahan/kemungkaran yang dilakukan juga secara terang-terangan dan kesalahan ini sudah tersebar luas dan ia-pun menyebarluaskannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini, beliau berkata:المنكر إذا أعلن فيجب إنكاره علناً“Kemungkaran apabila dilakukan secara terang-terangan maka wajib mengingkarinya secara terang terangan juga.” [2] Contoh Nasehat Secara Terang-TeranganContoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan pengingkaran secara terang-terangan dan bahkan menyebut nama, yaitu ketika Khalid bin Walid melakukan suatu kesalahan (wajar saja manusia pasti salah dan khalid sebagai sahabat tidak boleh kita cela). Nabi shallalahu alaihi wa sallam berdoa di hadapan para sahabat-sahabatnya mengingkari perbuatan Khalid bin WalidIbnu Umar berkata,ﺭَﻓَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺑْﺮَﺃُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻤَّﺎ ﺻَﻨَﻊَ ﺧَﺎﻟِﺪٌNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lantas berdo’a, ”Wahai, Allah. Aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid (bin Walid).” [4] Hendaknya benar-benar dipertimbangkan kapan nasehat itu dilakukan di depan publik atau terang-terangkan, menimbang mashlahat dan mafasadatnya, karena inti dari nasehat adalah menginginkan kebaikan kepada yang dinasehati.@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel: muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Ibnu Utsaimin, Tema Kajian Ramadhan, Larangan Adzan, Dalil Sholat Jumat, Dakwah Sunnah Com

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2)Rujukan Ketiga: Ucapan Sahabat radhiyallahu anhum.Ucapan sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an, apalagi orang-orang yang dikenal sebagai ulama tafsir di kalangan mereka. Alasannya, karena Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka dan pada masa mereka. Di samping itu juga dikarenakan -setelah para nabi alaihimush shalatu was salam- merekalah orang-orang yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, paling selamat dari hawa nafsu, dan paling suci dari segala penyimpangan yang menghalangi seseorang dari mendapatkan kebenaran. As-Suyuthi rahimahullah menyebutkan beberapa nama sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum yang terkenal keahliannya dalam menafsirkan Al-Qur`an, nama-nama mereka masyhur tercatat di kitab-kitab tafsir, diantaranya adalah empat Al-Khulafa` Ar-Rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, hanya saja riwayat tafsir dari ketiga orang yang pertama disebutkan itu tidaklah banyak jumlahnya, karena kesibukan mereka mengurus pemerintahan dan sedikitnya kebutuhan menukilkan tafsir dari mereka bertiga, karena tatkala itu masih banyak para sahabat yang ahli dalam ilmu tafsir selain mereka bertiga.Di antara yang masyhur dalam ilmu tafsirnya dikalangan para sahabat adalah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud), Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), dan Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhum, yang -bitaufiqillah- melalui didikan ketiganyalah, beberapa mufassirin besar dari kalangan tabi’in bermunculan.Contoh Penafsiran Para Sahabat1. Firman Allah Ta’alaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam safar atau datang dari tempat buang air atau kamu telah “menyentuh” istri(mu), kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); usaplah mukamu dan tanganmu (dengan debu). Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (QS. An-Nisa`: 43).Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menafsirkan makna menyentuh istri(mu) yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsirnya,قال ابن أبي حاتم عن ابن عباس في قوله { أو لامستم النساء} قال: الجماع“Berkata Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas terkait dengan tafsir firman-Nya, atau kamu telah menyentuh istri(mu), beliau berkata, ‘(maksudnya adalah) berhubungan badan (jima’).’”2. Allah Ta’ala berfirmanوَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf: 106).Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan,قال ابن عباس: من إيمانهم أنهم إذا قيل لهم: من خلق السماوات ومن خلق الأرض ومن خلق الجبال؟ قالوا: اللّه وهم مشركون به“Berkata Ibnu Abbas, ‘Termasuk keimanan mereka (yang dimaksud dalam ayat ini), apabila dikatakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, siapakah yang menciptakan bumi, dan siapakah menciptakan gunung?’ Mereka menjawab, ‘Allah,’ namun mereka menyekutukan-Nya (dalam ibadah mereka).’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Labaikallah Humma Labaik Png, Hadist Ibu, Karya Karya Imam Al Ghazali, Menurut Agama Islam, Sunnah Qurban Idul Adha

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2)Rujukan Ketiga: Ucapan Sahabat radhiyallahu anhum.Ucapan sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an, apalagi orang-orang yang dikenal sebagai ulama tafsir di kalangan mereka. Alasannya, karena Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka dan pada masa mereka. Di samping itu juga dikarenakan -setelah para nabi alaihimush shalatu was salam- merekalah orang-orang yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, paling selamat dari hawa nafsu, dan paling suci dari segala penyimpangan yang menghalangi seseorang dari mendapatkan kebenaran. As-Suyuthi rahimahullah menyebutkan beberapa nama sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum yang terkenal keahliannya dalam menafsirkan Al-Qur`an, nama-nama mereka masyhur tercatat di kitab-kitab tafsir, diantaranya adalah empat Al-Khulafa` Ar-Rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, hanya saja riwayat tafsir dari ketiga orang yang pertama disebutkan itu tidaklah banyak jumlahnya, karena kesibukan mereka mengurus pemerintahan dan sedikitnya kebutuhan menukilkan tafsir dari mereka bertiga, karena tatkala itu masih banyak para sahabat yang ahli dalam ilmu tafsir selain mereka bertiga.Di antara yang masyhur dalam ilmu tafsirnya dikalangan para sahabat adalah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud), Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), dan Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhum, yang -bitaufiqillah- melalui didikan ketiganyalah, beberapa mufassirin besar dari kalangan tabi’in bermunculan.Contoh Penafsiran Para Sahabat1. Firman Allah Ta’alaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam safar atau datang dari tempat buang air atau kamu telah “menyentuh” istri(mu), kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); usaplah mukamu dan tanganmu (dengan debu). Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (QS. An-Nisa`: 43).Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menafsirkan makna menyentuh istri(mu) yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsirnya,قال ابن أبي حاتم عن ابن عباس في قوله { أو لامستم النساء} قال: الجماع“Berkata Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas terkait dengan tafsir firman-Nya, atau kamu telah menyentuh istri(mu), beliau berkata, ‘(maksudnya adalah) berhubungan badan (jima’).’”2. Allah Ta’ala berfirmanوَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf: 106).Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan,قال ابن عباس: من إيمانهم أنهم إذا قيل لهم: من خلق السماوات ومن خلق الأرض ومن خلق الجبال؟ قالوا: اللّه وهم مشركون به“Berkata Ibnu Abbas, ‘Termasuk keimanan mereka (yang dimaksud dalam ayat ini), apabila dikatakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, siapakah yang menciptakan bumi, dan siapakah menciptakan gunung?’ Mereka menjawab, ‘Allah,’ namun mereka menyekutukan-Nya (dalam ibadah mereka).’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Labaikallah Humma Labaik Png, Hadist Ibu, Karya Karya Imam Al Ghazali, Menurut Agama Islam, Sunnah Qurban Idul Adha
Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2)Rujukan Ketiga: Ucapan Sahabat radhiyallahu anhum.Ucapan sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an, apalagi orang-orang yang dikenal sebagai ulama tafsir di kalangan mereka. Alasannya, karena Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka dan pada masa mereka. Di samping itu juga dikarenakan -setelah para nabi alaihimush shalatu was salam- merekalah orang-orang yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, paling selamat dari hawa nafsu, dan paling suci dari segala penyimpangan yang menghalangi seseorang dari mendapatkan kebenaran. As-Suyuthi rahimahullah menyebutkan beberapa nama sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum yang terkenal keahliannya dalam menafsirkan Al-Qur`an, nama-nama mereka masyhur tercatat di kitab-kitab tafsir, diantaranya adalah empat Al-Khulafa` Ar-Rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, hanya saja riwayat tafsir dari ketiga orang yang pertama disebutkan itu tidaklah banyak jumlahnya, karena kesibukan mereka mengurus pemerintahan dan sedikitnya kebutuhan menukilkan tafsir dari mereka bertiga, karena tatkala itu masih banyak para sahabat yang ahli dalam ilmu tafsir selain mereka bertiga.Di antara yang masyhur dalam ilmu tafsirnya dikalangan para sahabat adalah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud), Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), dan Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhum, yang -bitaufiqillah- melalui didikan ketiganyalah, beberapa mufassirin besar dari kalangan tabi’in bermunculan.Contoh Penafsiran Para Sahabat1. Firman Allah Ta’alaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam safar atau datang dari tempat buang air atau kamu telah “menyentuh” istri(mu), kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); usaplah mukamu dan tanganmu (dengan debu). Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (QS. An-Nisa`: 43).Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menafsirkan makna menyentuh istri(mu) yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsirnya,قال ابن أبي حاتم عن ابن عباس في قوله { أو لامستم النساء} قال: الجماع“Berkata Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas terkait dengan tafsir firman-Nya, atau kamu telah menyentuh istri(mu), beliau berkata, ‘(maksudnya adalah) berhubungan badan (jima’).’”2. Allah Ta’ala berfirmanوَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf: 106).Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan,قال ابن عباس: من إيمانهم أنهم إذا قيل لهم: من خلق السماوات ومن خلق الأرض ومن خلق الجبال؟ قالوا: اللّه وهم مشركون به“Berkata Ibnu Abbas, ‘Termasuk keimanan mereka (yang dimaksud dalam ayat ini), apabila dikatakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, siapakah yang menciptakan bumi, dan siapakah menciptakan gunung?’ Mereka menjawab, ‘Allah,’ namun mereka menyekutukan-Nya (dalam ibadah mereka).’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Labaikallah Humma Labaik Png, Hadist Ibu, Karya Karya Imam Al Ghazali, Menurut Agama Islam, Sunnah Qurban Idul Adha


Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2)Rujukan Ketiga: Ucapan Sahabat radhiyallahu anhum.Ucapan sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an, apalagi orang-orang yang dikenal sebagai ulama tafsir di kalangan mereka. Alasannya, karena Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka dan pada masa mereka. Di samping itu juga dikarenakan -setelah para nabi alaihimush shalatu was salam- merekalah orang-orang yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, paling selamat dari hawa nafsu, dan paling suci dari segala penyimpangan yang menghalangi seseorang dari mendapatkan kebenaran. As-Suyuthi rahimahullah menyebutkan beberapa nama sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum yang terkenal keahliannya dalam menafsirkan Al-Qur`an, nama-nama mereka masyhur tercatat di kitab-kitab tafsir, diantaranya adalah empat Al-Khulafa` Ar-Rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, hanya saja riwayat tafsir dari ketiga orang yang pertama disebutkan itu tidaklah banyak jumlahnya, karena kesibukan mereka mengurus pemerintahan dan sedikitnya kebutuhan menukilkan tafsir dari mereka bertiga, karena tatkala itu masih banyak para sahabat yang ahli dalam ilmu tafsir selain mereka bertiga.Di antara yang masyhur dalam ilmu tafsirnya dikalangan para sahabat adalah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud), Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), dan Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhum, yang -bitaufiqillah- melalui didikan ketiganyalah, beberapa mufassirin besar dari kalangan tabi’in bermunculan.Contoh Penafsiran Para Sahabat1. Firman Allah Ta’alaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam safar atau datang dari tempat buang air atau kamu telah “menyentuh” istri(mu), kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); usaplah mukamu dan tanganmu (dengan debu). Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (QS. An-Nisa`: 43).Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menafsirkan makna menyentuh istri(mu) yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsirnya,قال ابن أبي حاتم عن ابن عباس في قوله { أو لامستم النساء} قال: الجماع“Berkata Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas terkait dengan tafsir firman-Nya, atau kamu telah menyentuh istri(mu), beliau berkata, ‘(maksudnya adalah) berhubungan badan (jima’).’”2. Allah Ta’ala berfirmanوَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf: 106).Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan,قال ابن عباس: من إيمانهم أنهم إذا قيل لهم: من خلق السماوات ومن خلق الأرض ومن خلق الجبال؟ قالوا: اللّه وهم مشركون به“Berkata Ibnu Abbas, ‘Termasuk keimanan mereka (yang dimaksud dalam ayat ini), apabila dikatakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, siapakah yang menciptakan bumi, dan siapakah menciptakan gunung?’ Mereka menjawab, ‘Allah,’ namun mereka menyekutukan-Nya (dalam ibadah mereka).’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Labaikallah Humma Labaik Png, Hadist Ibu, Karya Karya Imam Al Ghazali, Menurut Agama Islam, Sunnah Qurban Idul Adha

Orang Islam kok Malas Berdoa? (3)

Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2)Doa Para Nabi alaihimush shalatu was salamAllah Ta’ala berfirman,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (Al-Anbiya`: 90).Dan di antara doa para nabi alaihimush shalatu was salam adalah doa Nabi Ibrahim alaihis salam yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surat Ibrahim,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (lagi mengabulkan) doa.” رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku”رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS.Ibrahim: 39-41). Allah Ta’ala juga menyebutkan doa nabi-Nya, Nuh alaihis salam ketika memohon kepada Allah Ta’ala agar menolongnya dalam menghadapi kaumnya yang mendustakannya dan memusuhinya,كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan diusirnya (dengan ancaman dan celaan).”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ“Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,”تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ“Yang berlayar dengan penglihatan (dan pemeliharaan) Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (QS.Al-Qamar: 9-14).Di akhir-akhir surat Nuh, Allah Ta’ala juga menyebutkan doa Nabi Nuh alaihis salam yang lainnya,وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ingin Mati Dalam Islam, Macam Macam Tauhid Dan Penjelasannya, Duduk Tawaruk Artinya, Prinsip Akidah, Ayat Alquran Tentang Kebaikan

Orang Islam kok Malas Berdoa? (3)

Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2)Doa Para Nabi alaihimush shalatu was salamAllah Ta’ala berfirman,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (Al-Anbiya`: 90).Dan di antara doa para nabi alaihimush shalatu was salam adalah doa Nabi Ibrahim alaihis salam yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surat Ibrahim,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (lagi mengabulkan) doa.” رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku”رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS.Ibrahim: 39-41). Allah Ta’ala juga menyebutkan doa nabi-Nya, Nuh alaihis salam ketika memohon kepada Allah Ta’ala agar menolongnya dalam menghadapi kaumnya yang mendustakannya dan memusuhinya,كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan diusirnya (dengan ancaman dan celaan).”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ“Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,”تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ“Yang berlayar dengan penglihatan (dan pemeliharaan) Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (QS.Al-Qamar: 9-14).Di akhir-akhir surat Nuh, Allah Ta’ala juga menyebutkan doa Nabi Nuh alaihis salam yang lainnya,وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ingin Mati Dalam Islam, Macam Macam Tauhid Dan Penjelasannya, Duduk Tawaruk Artinya, Prinsip Akidah, Ayat Alquran Tentang Kebaikan
Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2)Doa Para Nabi alaihimush shalatu was salamAllah Ta’ala berfirman,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (Al-Anbiya`: 90).Dan di antara doa para nabi alaihimush shalatu was salam adalah doa Nabi Ibrahim alaihis salam yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surat Ibrahim,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (lagi mengabulkan) doa.” رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku”رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS.Ibrahim: 39-41). Allah Ta’ala juga menyebutkan doa nabi-Nya, Nuh alaihis salam ketika memohon kepada Allah Ta’ala agar menolongnya dalam menghadapi kaumnya yang mendustakannya dan memusuhinya,كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan diusirnya (dengan ancaman dan celaan).”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ“Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,”تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ“Yang berlayar dengan penglihatan (dan pemeliharaan) Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (QS.Al-Qamar: 9-14).Di akhir-akhir surat Nuh, Allah Ta’ala juga menyebutkan doa Nabi Nuh alaihis salam yang lainnya,وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ingin Mati Dalam Islam, Macam Macam Tauhid Dan Penjelasannya, Duduk Tawaruk Artinya, Prinsip Akidah, Ayat Alquran Tentang Kebaikan


Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2)Doa Para Nabi alaihimush shalatu was salamAllah Ta’ala berfirman,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (Al-Anbiya`: 90).Dan di antara doa para nabi alaihimush shalatu was salam adalah doa Nabi Ibrahim alaihis salam yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surat Ibrahim,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (lagi mengabulkan) doa.” رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku”رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS.Ibrahim: 39-41). Allah Ta’ala juga menyebutkan doa nabi-Nya, Nuh alaihis salam ketika memohon kepada Allah Ta’ala agar menolongnya dalam menghadapi kaumnya yang mendustakannya dan memusuhinya,كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan diusirnya (dengan ancaman dan celaan).”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ“Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,”تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ“Yang berlayar dengan penglihatan (dan pemeliharaan) Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (QS.Al-Qamar: 9-14).Di akhir-akhir surat Nuh, Allah Ta’ala juga menyebutkan doa Nabi Nuh alaihis salam yang lainnya,وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.’”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ingin Mati Dalam Islam, Macam Macam Tauhid Dan Penjelasannya, Duduk Tawaruk Artinya, Prinsip Akidah, Ayat Alquran Tentang Kebaikan

Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1)Dorongan Allah Ta’ala pada Para Hamba agar BerdoaKarena demikian agungnya ibadah yang satu ini, maka Allah Ta’ala mendorong hamba-hamba-Nya untuk berdoa dalam banyak ayat Alquran Al-Karim, seperti firman Allah Ta’ala,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf: 55-56).هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada-Nya dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Ghafir: 65).Dan Allah Ta’ala–pun mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia dekat dengan hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dan menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186).أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (lain yang berhak disembah)? Amat sedikitlah kamu mengingat(-Nya)” (An-Naml: 62).Siapakah Mereka yang Paling Banyak Berdoa?Sebagaimana diketahui bahwa doa adalah ibadah yang agung, sedangkan ulama telah menjelaskan bahwa kesempurnaan seseorang dalam beribadah kepada Allah dipengaruhi oleh seberapa besar pengetahuan seseorang tentang-Nya dan pengamalan sesuatu yang menjadi tuntutan pengetahuan tersebut.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,أكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna peribadahannya adalah orang yang beribadah (dengan melaksanakan tuntutan peribadahan) yang terdapat dalam semua nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia” (Madarjus Salikin).Oleh karena itulah, setiapkali pengetahuan seseorang tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah semakin tinggi dan hubungannya dengan-Nya semakin dekat, maka ia akan semakin merasa sangat membutuhkan Allah Ta’ala dan semakin memperbanyak doa kepada-Nya semata. Maka pantaslah jika golongan hamba-hamba Allah yang paling sempurna dalam melaksanakan ibadah doa kepada Rabb mereka dalam seluruh keadaan dan urusan mereka adalah para nabi dan rasul-Nya ‘alaihimush shalatu was salam.Allah Ta’ala telah memuji mereka karena ibadah doa mereka yang sempurna dalam Alquran Al-Karim, dan menyebutkan beberapa doa mereka dalam beberapa keadaan di dalam Kitab-Nya.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Lauh Mahfudz, Hikmah Kisah Nabi Yusuf, Hutang Yang Tidak Dibayar, Memilih Wanita Menurut Islam, Nabi Muhammad Menerima Wahyu Pertama

Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1)Dorongan Allah Ta’ala pada Para Hamba agar BerdoaKarena demikian agungnya ibadah yang satu ini, maka Allah Ta’ala mendorong hamba-hamba-Nya untuk berdoa dalam banyak ayat Alquran Al-Karim, seperti firman Allah Ta’ala,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf: 55-56).هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada-Nya dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Ghafir: 65).Dan Allah Ta’ala–pun mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia dekat dengan hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dan menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186).أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (lain yang berhak disembah)? Amat sedikitlah kamu mengingat(-Nya)” (An-Naml: 62).Siapakah Mereka yang Paling Banyak Berdoa?Sebagaimana diketahui bahwa doa adalah ibadah yang agung, sedangkan ulama telah menjelaskan bahwa kesempurnaan seseorang dalam beribadah kepada Allah dipengaruhi oleh seberapa besar pengetahuan seseorang tentang-Nya dan pengamalan sesuatu yang menjadi tuntutan pengetahuan tersebut.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,أكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna peribadahannya adalah orang yang beribadah (dengan melaksanakan tuntutan peribadahan) yang terdapat dalam semua nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia” (Madarjus Salikin).Oleh karena itulah, setiapkali pengetahuan seseorang tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah semakin tinggi dan hubungannya dengan-Nya semakin dekat, maka ia akan semakin merasa sangat membutuhkan Allah Ta’ala dan semakin memperbanyak doa kepada-Nya semata. Maka pantaslah jika golongan hamba-hamba Allah yang paling sempurna dalam melaksanakan ibadah doa kepada Rabb mereka dalam seluruh keadaan dan urusan mereka adalah para nabi dan rasul-Nya ‘alaihimush shalatu was salam.Allah Ta’ala telah memuji mereka karena ibadah doa mereka yang sempurna dalam Alquran Al-Karim, dan menyebutkan beberapa doa mereka dalam beberapa keadaan di dalam Kitab-Nya.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Lauh Mahfudz, Hikmah Kisah Nabi Yusuf, Hutang Yang Tidak Dibayar, Memilih Wanita Menurut Islam, Nabi Muhammad Menerima Wahyu Pertama
Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1)Dorongan Allah Ta’ala pada Para Hamba agar BerdoaKarena demikian agungnya ibadah yang satu ini, maka Allah Ta’ala mendorong hamba-hamba-Nya untuk berdoa dalam banyak ayat Alquran Al-Karim, seperti firman Allah Ta’ala,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf: 55-56).هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada-Nya dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Ghafir: 65).Dan Allah Ta’ala–pun mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia dekat dengan hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dan menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186).أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (lain yang berhak disembah)? Amat sedikitlah kamu mengingat(-Nya)” (An-Naml: 62).Siapakah Mereka yang Paling Banyak Berdoa?Sebagaimana diketahui bahwa doa adalah ibadah yang agung, sedangkan ulama telah menjelaskan bahwa kesempurnaan seseorang dalam beribadah kepada Allah dipengaruhi oleh seberapa besar pengetahuan seseorang tentang-Nya dan pengamalan sesuatu yang menjadi tuntutan pengetahuan tersebut.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,أكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna peribadahannya adalah orang yang beribadah (dengan melaksanakan tuntutan peribadahan) yang terdapat dalam semua nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia” (Madarjus Salikin).Oleh karena itulah, setiapkali pengetahuan seseorang tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah semakin tinggi dan hubungannya dengan-Nya semakin dekat, maka ia akan semakin merasa sangat membutuhkan Allah Ta’ala dan semakin memperbanyak doa kepada-Nya semata. Maka pantaslah jika golongan hamba-hamba Allah yang paling sempurna dalam melaksanakan ibadah doa kepada Rabb mereka dalam seluruh keadaan dan urusan mereka adalah para nabi dan rasul-Nya ‘alaihimush shalatu was salam.Allah Ta’ala telah memuji mereka karena ibadah doa mereka yang sempurna dalam Alquran Al-Karim, dan menyebutkan beberapa doa mereka dalam beberapa keadaan di dalam Kitab-Nya.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Lauh Mahfudz, Hikmah Kisah Nabi Yusuf, Hutang Yang Tidak Dibayar, Memilih Wanita Menurut Islam, Nabi Muhammad Menerima Wahyu Pertama


Baca pembahasan sebelumnya: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1)Dorongan Allah Ta’ala pada Para Hamba agar BerdoaKarena demikian agungnya ibadah yang satu ini, maka Allah Ta’ala mendorong hamba-hamba-Nya untuk berdoa dalam banyak ayat Alquran Al-Karim, seperti firman Allah Ta’ala,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf: 55-56).هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada-Nya dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Ghafir: 65).Dan Allah Ta’ala–pun mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia dekat dengan hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dan menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186).أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (lain yang berhak disembah)? Amat sedikitlah kamu mengingat(-Nya)” (An-Naml: 62).Siapakah Mereka yang Paling Banyak Berdoa?Sebagaimana diketahui bahwa doa adalah ibadah yang agung, sedangkan ulama telah menjelaskan bahwa kesempurnaan seseorang dalam beribadah kepada Allah dipengaruhi oleh seberapa besar pengetahuan seseorang tentang-Nya dan pengamalan sesuatu yang menjadi tuntutan pengetahuan tersebut.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,أكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Manusia yang paling sempurna peribadahannya adalah orang yang beribadah (dengan melaksanakan tuntutan peribadahan) yang terdapat dalam semua nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia” (Madarjus Salikin).Oleh karena itulah, setiapkali pengetahuan seseorang tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah semakin tinggi dan hubungannya dengan-Nya semakin dekat, maka ia akan semakin merasa sangat membutuhkan Allah Ta’ala dan semakin memperbanyak doa kepada-Nya semata. Maka pantaslah jika golongan hamba-hamba Allah yang paling sempurna dalam melaksanakan ibadah doa kepada Rabb mereka dalam seluruh keadaan dan urusan mereka adalah para nabi dan rasul-Nya ‘alaihimush shalatu was salam.Allah Ta’ala telah memuji mereka karena ibadah doa mereka yang sempurna dalam Alquran Al-Karim, dan menyebutkan beberapa doa mereka dalam beberapa keadaan di dalam Kitab-Nya.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Lauh Mahfudz, Hikmah Kisah Nabi Yusuf, Hutang Yang Tidak Dibayar, Memilih Wanita Menurut Islam, Nabi Muhammad Menerima Wahyu Pertama

Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1)

Doa Merupakan Ibadah yang Agung dalam IslamBerdoa merupakan perkara yang agung dalam Islam. Kedudukannya sangatlah tinggi. Hal itu dikarenakan doa termasuk ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling mulia, dan bentuk taqarrub yang paling bermanfaat. Oleh karena itu dalam Alquran dan As-Sunnah terdapat banyak penjelasan mengenai keutamaan, kedudukan, keagungan, dan kebaikan yang terkandung dalam doa guna mendorong seorang hamba untuk melakukan ibadah tersebut dan mencintainya.Macam-Macam Indikasi (dalalah) yang Menunjukkan Keutamaan DoaDalam dalil-dalil, terdapat berbagai macam indikasi (dalalah) yang menunjukkan keutamaan doa. Dalam sebagian dalil terdapat dorongan dan perintah Allah terhadap hamba-Nya untuk berdoa.Pada sebagian lainnya terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan berdoa kepada Allah dan sombong dari melakukannya. Dalam sebagian dalil lainnya terdapat penyebutan pahala yang besar di sisi Allah bagi orang yang berdoa. Pada dalil lainnya terdapat pujian bagi kaum mukminin karena mereka berdoa kepada Allah semata. Selain itu, terdapat banyak indikasi (dalalah) lain dalam dalil-dalil yang menunjukkan besarnya keutamaan doa.Allah Ta’ala Membuka Kitab-Nya yang Agung dengan Doa dan Menutupnya dengan DoaBahkan Allah Ta’ala telah membuka Kitab-Nya yang agung dengan doa dan menutupnya dengan doa pula. Dalam surat pertama: Al-Fatihah, mengandung doa kepada Allah dengan isi doa yang paling agung dan tujuan yang paling sempurna, yaitu permohonan kepada Allah Ta’ala agar ditunjuki hidayah kepada jalan yang lurus dan pertolongan dalam beribadah kepada-Nya semata. Sedangkan dalam surat terakhir, An-Nas, mengandung juga doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan memohon perlindungan kepada-Nya semata dari keburukan al-waswas al-khannas yang menggoda manusia. Tentu tiada keraguan sama sekali bahwa dibukanya Kitabullah dengan doa dan ditutupnya dengan doa menunjukkan agungnya ibadah doa dan ketinggian kedudukannya.Nama Lain dari Doa dalam Alquran Al-Karim dan Rahasia yang Terkandung dalam PenamaannyaKetahuilah bahwa doa adalah ruh dari ibadah dan intisarinya, bahkan Allah Ta’ala menyebut doa dengan nama “ibadah” dalam banyak ayat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’” (QS. Ghafir: 60).وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi” (QS. Maryam: 48- 49).Dan Allah-pun menyebut doa dengan nama ad-diin, sebagaimana firman Allah berikut ini,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah yang agung dan doa merupakan asas dan ruh dari peribadahan. Doa juga merupakan gambaran perendahan diri, ketundukan, rasa tidak berdaya, dan sangat butuhnya seorang hamba di hadapan Rabb-nya, Allah ‘Azza wa Jalla. [Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kedudukan Wanita Dalam Islam, Hadis Akhlak, Materi Dasar Islam, Siksa Neraka Paling Berat, Hukum Talak 1

Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1)

Doa Merupakan Ibadah yang Agung dalam IslamBerdoa merupakan perkara yang agung dalam Islam. Kedudukannya sangatlah tinggi. Hal itu dikarenakan doa termasuk ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling mulia, dan bentuk taqarrub yang paling bermanfaat. Oleh karena itu dalam Alquran dan As-Sunnah terdapat banyak penjelasan mengenai keutamaan, kedudukan, keagungan, dan kebaikan yang terkandung dalam doa guna mendorong seorang hamba untuk melakukan ibadah tersebut dan mencintainya.Macam-Macam Indikasi (dalalah) yang Menunjukkan Keutamaan DoaDalam dalil-dalil, terdapat berbagai macam indikasi (dalalah) yang menunjukkan keutamaan doa. Dalam sebagian dalil terdapat dorongan dan perintah Allah terhadap hamba-Nya untuk berdoa.Pada sebagian lainnya terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan berdoa kepada Allah dan sombong dari melakukannya. Dalam sebagian dalil lainnya terdapat penyebutan pahala yang besar di sisi Allah bagi orang yang berdoa. Pada dalil lainnya terdapat pujian bagi kaum mukminin karena mereka berdoa kepada Allah semata. Selain itu, terdapat banyak indikasi (dalalah) lain dalam dalil-dalil yang menunjukkan besarnya keutamaan doa.Allah Ta’ala Membuka Kitab-Nya yang Agung dengan Doa dan Menutupnya dengan DoaBahkan Allah Ta’ala telah membuka Kitab-Nya yang agung dengan doa dan menutupnya dengan doa pula. Dalam surat pertama: Al-Fatihah, mengandung doa kepada Allah dengan isi doa yang paling agung dan tujuan yang paling sempurna, yaitu permohonan kepada Allah Ta’ala agar ditunjuki hidayah kepada jalan yang lurus dan pertolongan dalam beribadah kepada-Nya semata. Sedangkan dalam surat terakhir, An-Nas, mengandung juga doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan memohon perlindungan kepada-Nya semata dari keburukan al-waswas al-khannas yang menggoda manusia. Tentu tiada keraguan sama sekali bahwa dibukanya Kitabullah dengan doa dan ditutupnya dengan doa menunjukkan agungnya ibadah doa dan ketinggian kedudukannya.Nama Lain dari Doa dalam Alquran Al-Karim dan Rahasia yang Terkandung dalam PenamaannyaKetahuilah bahwa doa adalah ruh dari ibadah dan intisarinya, bahkan Allah Ta’ala menyebut doa dengan nama “ibadah” dalam banyak ayat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’” (QS. Ghafir: 60).وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi” (QS. Maryam: 48- 49).Dan Allah-pun menyebut doa dengan nama ad-diin, sebagaimana firman Allah berikut ini,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah yang agung dan doa merupakan asas dan ruh dari peribadahan. Doa juga merupakan gambaran perendahan diri, ketundukan, rasa tidak berdaya, dan sangat butuhnya seorang hamba di hadapan Rabb-nya, Allah ‘Azza wa Jalla. [Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kedudukan Wanita Dalam Islam, Hadis Akhlak, Materi Dasar Islam, Siksa Neraka Paling Berat, Hukum Talak 1
Doa Merupakan Ibadah yang Agung dalam IslamBerdoa merupakan perkara yang agung dalam Islam. Kedudukannya sangatlah tinggi. Hal itu dikarenakan doa termasuk ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling mulia, dan bentuk taqarrub yang paling bermanfaat. Oleh karena itu dalam Alquran dan As-Sunnah terdapat banyak penjelasan mengenai keutamaan, kedudukan, keagungan, dan kebaikan yang terkandung dalam doa guna mendorong seorang hamba untuk melakukan ibadah tersebut dan mencintainya.Macam-Macam Indikasi (dalalah) yang Menunjukkan Keutamaan DoaDalam dalil-dalil, terdapat berbagai macam indikasi (dalalah) yang menunjukkan keutamaan doa. Dalam sebagian dalil terdapat dorongan dan perintah Allah terhadap hamba-Nya untuk berdoa.Pada sebagian lainnya terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan berdoa kepada Allah dan sombong dari melakukannya. Dalam sebagian dalil lainnya terdapat penyebutan pahala yang besar di sisi Allah bagi orang yang berdoa. Pada dalil lainnya terdapat pujian bagi kaum mukminin karena mereka berdoa kepada Allah semata. Selain itu, terdapat banyak indikasi (dalalah) lain dalam dalil-dalil yang menunjukkan besarnya keutamaan doa.Allah Ta’ala Membuka Kitab-Nya yang Agung dengan Doa dan Menutupnya dengan DoaBahkan Allah Ta’ala telah membuka Kitab-Nya yang agung dengan doa dan menutupnya dengan doa pula. Dalam surat pertama: Al-Fatihah, mengandung doa kepada Allah dengan isi doa yang paling agung dan tujuan yang paling sempurna, yaitu permohonan kepada Allah Ta’ala agar ditunjuki hidayah kepada jalan yang lurus dan pertolongan dalam beribadah kepada-Nya semata. Sedangkan dalam surat terakhir, An-Nas, mengandung juga doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan memohon perlindungan kepada-Nya semata dari keburukan al-waswas al-khannas yang menggoda manusia. Tentu tiada keraguan sama sekali bahwa dibukanya Kitabullah dengan doa dan ditutupnya dengan doa menunjukkan agungnya ibadah doa dan ketinggian kedudukannya.Nama Lain dari Doa dalam Alquran Al-Karim dan Rahasia yang Terkandung dalam PenamaannyaKetahuilah bahwa doa adalah ruh dari ibadah dan intisarinya, bahkan Allah Ta’ala menyebut doa dengan nama “ibadah” dalam banyak ayat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’” (QS. Ghafir: 60).وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi” (QS. Maryam: 48- 49).Dan Allah-pun menyebut doa dengan nama ad-diin, sebagaimana firman Allah berikut ini,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah yang agung dan doa merupakan asas dan ruh dari peribadahan. Doa juga merupakan gambaran perendahan diri, ketundukan, rasa tidak berdaya, dan sangat butuhnya seorang hamba di hadapan Rabb-nya, Allah ‘Azza wa Jalla. [Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kedudukan Wanita Dalam Islam, Hadis Akhlak, Materi Dasar Islam, Siksa Neraka Paling Berat, Hukum Talak 1


Doa Merupakan Ibadah yang Agung dalam IslamBerdoa merupakan perkara yang agung dalam Islam. Kedudukannya sangatlah tinggi. Hal itu dikarenakan doa termasuk ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling mulia, dan bentuk taqarrub yang paling bermanfaat. Oleh karena itu dalam Alquran dan As-Sunnah terdapat banyak penjelasan mengenai keutamaan, kedudukan, keagungan, dan kebaikan yang terkandung dalam doa guna mendorong seorang hamba untuk melakukan ibadah tersebut dan mencintainya.Macam-Macam Indikasi (dalalah) yang Menunjukkan Keutamaan DoaDalam dalil-dalil, terdapat berbagai macam indikasi (dalalah) yang menunjukkan keutamaan doa. Dalam sebagian dalil terdapat dorongan dan perintah Allah terhadap hamba-Nya untuk berdoa.Pada sebagian lainnya terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan berdoa kepada Allah dan sombong dari melakukannya. Dalam sebagian dalil lainnya terdapat penyebutan pahala yang besar di sisi Allah bagi orang yang berdoa. Pada dalil lainnya terdapat pujian bagi kaum mukminin karena mereka berdoa kepada Allah semata. Selain itu, terdapat banyak indikasi (dalalah) lain dalam dalil-dalil yang menunjukkan besarnya keutamaan doa.Allah Ta’ala Membuka Kitab-Nya yang Agung dengan Doa dan Menutupnya dengan DoaBahkan Allah Ta’ala telah membuka Kitab-Nya yang agung dengan doa dan menutupnya dengan doa pula. Dalam surat pertama: Al-Fatihah, mengandung doa kepada Allah dengan isi doa yang paling agung dan tujuan yang paling sempurna, yaitu permohonan kepada Allah Ta’ala agar ditunjuki hidayah kepada jalan yang lurus dan pertolongan dalam beribadah kepada-Nya semata. Sedangkan dalam surat terakhir, An-Nas, mengandung juga doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan memohon perlindungan kepada-Nya semata dari keburukan al-waswas al-khannas yang menggoda manusia. Tentu tiada keraguan sama sekali bahwa dibukanya Kitabullah dengan doa dan ditutupnya dengan doa menunjukkan agungnya ibadah doa dan ketinggian kedudukannya.Nama Lain dari Doa dalam Alquran Al-Karim dan Rahasia yang Terkandung dalam PenamaannyaKetahuilah bahwa doa adalah ruh dari ibadah dan intisarinya, bahkan Allah Ta’ala menyebut doa dengan nama “ibadah” dalam banyak ayat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’” (QS. Ghafir: 60).وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi” (QS. Maryam: 48- 49).Dan Allah-pun menyebut doa dengan nama ad-diin, sebagaimana firman Allah berikut ini,فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah yang agung dan doa merupakan asas dan ruh dari peribadahan. Doa juga merupakan gambaran perendahan diri, ketundukan, rasa tidak berdaya, dan sangat butuhnya seorang hamba di hadapan Rabb-nya, Allah ‘Azza wa Jalla. [Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Orang Islam kok Enggan Berdoa? (1) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (2) Orang Islam kok Enggan Berdoa? (3) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kedudukan Wanita Dalam Islam, Hadis Akhlak, Materi Dasar Islam, Siksa Neraka Paling Berat, Hukum Talak 1

Bolehkah Memamerkan Body Six Pack?

Aurat pria memang antara pusat dan lutut. Namun pantaskah seorang pria membuka dadanya atau memamerkan bodynya yang six pack? Tidak pantas seorang laki-laki memamerkan bodynya yang six pack, lebih-lebih lagi di hadapan para wanita. Taruhlah dada tidak termasuk aurat, namun memamerkan dada semacam itu termasuk khawarim al-muruah (menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang). Memamerkan body seperti itu pula termasuk perilaku orang fasik yang tidak pantas untuk diikuti. Ada kaedah pula yang perlu dipahami bahwa perkara mubah jika berdampak jelek (mafsadat), maka perkara mubah tersebut menjadi terlarang karena adanya dampak tadi. Jikalau memamerkan dada akan menimbulkan godaan syahwat atau membuka pintu kejelekan, perbuata tersebut menjadi terlarang. Kita berpakaian itu punya beberapa tujuan (hikmah): secara fitrah kita dituntut berpakaian berpakaian untuk berpenampilan atau tampil menawan berpakaian untuk melindungi diri dari panas dan dingin berpakaian untuk menutup aurat. Namun ada pakaian yang lebih dituntut bagi kita untuk memakainya yaitu libasut taqwa (pakaian takwa). Disebutkan dalam ayat Al-Qur’an, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ , يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.” (QS. Al-A’raf: 26-27) Silakan jika ingin memiliki body six pack. Namun perhatikan pakaian takwa, ingat, pakaian takwa. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, https://islamqa.info/ar/49836 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Kamis Pagi, 16 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaurat

Bolehkah Memamerkan Body Six Pack?

Aurat pria memang antara pusat dan lutut. Namun pantaskah seorang pria membuka dadanya atau memamerkan bodynya yang six pack? Tidak pantas seorang laki-laki memamerkan bodynya yang six pack, lebih-lebih lagi di hadapan para wanita. Taruhlah dada tidak termasuk aurat, namun memamerkan dada semacam itu termasuk khawarim al-muruah (menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang). Memamerkan body seperti itu pula termasuk perilaku orang fasik yang tidak pantas untuk diikuti. Ada kaedah pula yang perlu dipahami bahwa perkara mubah jika berdampak jelek (mafsadat), maka perkara mubah tersebut menjadi terlarang karena adanya dampak tadi. Jikalau memamerkan dada akan menimbulkan godaan syahwat atau membuka pintu kejelekan, perbuata tersebut menjadi terlarang. Kita berpakaian itu punya beberapa tujuan (hikmah): secara fitrah kita dituntut berpakaian berpakaian untuk berpenampilan atau tampil menawan berpakaian untuk melindungi diri dari panas dan dingin berpakaian untuk menutup aurat. Namun ada pakaian yang lebih dituntut bagi kita untuk memakainya yaitu libasut taqwa (pakaian takwa). Disebutkan dalam ayat Al-Qur’an, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ , يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.” (QS. Al-A’raf: 26-27) Silakan jika ingin memiliki body six pack. Namun perhatikan pakaian takwa, ingat, pakaian takwa. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, https://islamqa.info/ar/49836 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Kamis Pagi, 16 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaurat
Aurat pria memang antara pusat dan lutut. Namun pantaskah seorang pria membuka dadanya atau memamerkan bodynya yang six pack? Tidak pantas seorang laki-laki memamerkan bodynya yang six pack, lebih-lebih lagi di hadapan para wanita. Taruhlah dada tidak termasuk aurat, namun memamerkan dada semacam itu termasuk khawarim al-muruah (menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang). Memamerkan body seperti itu pula termasuk perilaku orang fasik yang tidak pantas untuk diikuti. Ada kaedah pula yang perlu dipahami bahwa perkara mubah jika berdampak jelek (mafsadat), maka perkara mubah tersebut menjadi terlarang karena adanya dampak tadi. Jikalau memamerkan dada akan menimbulkan godaan syahwat atau membuka pintu kejelekan, perbuata tersebut menjadi terlarang. Kita berpakaian itu punya beberapa tujuan (hikmah): secara fitrah kita dituntut berpakaian berpakaian untuk berpenampilan atau tampil menawan berpakaian untuk melindungi diri dari panas dan dingin berpakaian untuk menutup aurat. Namun ada pakaian yang lebih dituntut bagi kita untuk memakainya yaitu libasut taqwa (pakaian takwa). Disebutkan dalam ayat Al-Qur’an, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ , يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.” (QS. Al-A’raf: 26-27) Silakan jika ingin memiliki body six pack. Namun perhatikan pakaian takwa, ingat, pakaian takwa. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, https://islamqa.info/ar/49836 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Kamis Pagi, 16 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaurat


Aurat pria memang antara pusat dan lutut. Namun pantaskah seorang pria membuka dadanya atau memamerkan bodynya yang six pack? Tidak pantas seorang laki-laki memamerkan bodynya yang six pack, lebih-lebih lagi di hadapan para wanita. Taruhlah dada tidak termasuk aurat, namun memamerkan dada semacam itu termasuk khawarim al-muruah (menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang). Memamerkan body seperti itu pula termasuk perilaku orang fasik yang tidak pantas untuk diikuti. Ada kaedah pula yang perlu dipahami bahwa perkara mubah jika berdampak jelek (mafsadat), maka perkara mubah tersebut menjadi terlarang karena adanya dampak tadi. Jikalau memamerkan dada akan menimbulkan godaan syahwat atau membuka pintu kejelekan, perbuata tersebut menjadi terlarang. Kita berpakaian itu punya beberapa tujuan (hikmah): secara fitrah kita dituntut berpakaian berpakaian untuk berpenampilan atau tampil menawan berpakaian untuk melindungi diri dari panas dan dingin berpakaian untuk menutup aurat. Namun ada pakaian yang lebih dituntut bagi kita untuk memakainya yaitu libasut taqwa (pakaian takwa). Disebutkan dalam ayat Al-Qur’an, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ , يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.” (QS. Al-A’raf: 26-27) Silakan jika ingin memiliki body six pack. Namun perhatikan pakaian takwa, ingat, pakaian takwa. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, https://islamqa.info/ar/49836 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Kamis Pagi, 16 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaurat

5 Manfaat Memiliki Sifat Qanaah

Qana’ah artinya selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Apa manfaat kita memiliki sifat qana’ah?   1- Mendapatkan dunia seluruhnya Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   2- Menjadi orang yang beruntung Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).   3- Mudah bersyukur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).   4- Menjauhkan diri dari hasad (iri, cemburu pada nikmat orang lain) Kenapa harus cemburu pada orang kalau kita sendiri sudah merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri? Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyyah, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi sasaran hasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111). Adapun menurut kebanyakan ulama, hasad adalah menginginkan suatu nikmat orang lain itu hilang. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 17:269) Hasad itu begitu bahaya karena seolah-olah protes akan takdir Allah. Sebagaimana disebut dalam ayat, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf : 32) Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِىَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ “Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, yaitu hasad dan permusuhan. Dan permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Tirmidzi, no. 2510 dan Ahmad, 1: 164. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَيُصِيْبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا دَاءُ الأُمَمِ ؟ قَالَ : الأَشْرُ، وَالْبَطْرُ والتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ “Umatku akan ditimpa penyakit berbagai umat.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat (terdahulu)?” Rasulullah berkata, “Kufur Nikmat, menyalahgunakan nikmat, saling berlomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy (mengelabui dalam penawaran, pen.), saling memusuhi, dan saling hasad-menghasadi hingga timbulnya sikap melampaui batas (kezaliman).” (HR. Al-Hakim, 4: 168 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 2/275/9173. Al-Hakim menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk perawi Imam Muslim. Imam Adz-Dzahabi menyetujui sanadnya yang shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 680) Orang yang selamat dari hasad adalah jalan menuju surga. Coba perhatikan kisah berikut. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga.’ Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?” Maka orang tersebut menjawab, “Silakan.” Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya, وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ “Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. ‘Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.’ Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga. Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apakah yang telah membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Orang itu berkata, ‘Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat.’ Abdullah bertutur, ‘Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.’ Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, pen.) dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR. Ahmad, 3: 166. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Kalau qana’ah dimiliki, sifat hasad akan hilang dan semakin memudahkan ke surga.   5- Mengatasi berbagai problema hidup seperti berutang Karena kalau seseorang memiliki sifat qana’ah, ia akan menjadikan kebutuhan hidupnya sesuai standar kemampuan, tak perlu lagi baginya menambah utangan.   Ingatlah, orang yang memiliki sifat qana’ah sungguh terpuji. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta dalam doa beliau sifat qana’ah (selalu merasa cukup) seperti dalam doa berikut, اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah). ‘Afaf artinya menjaga iffah, menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik, termasuk juga menjauhkan diri dari syubhat (hal yang masih samar). Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “’Afaf adalah menahan diri dari yang haram, juga menjauhkan dari hal-hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Ulama lain mengungkapkan ‘iffah (sama dengan ‘afaf) adalah menahan diri dari yang tidak halal.” (Syarh Shahih Muslim, 12: 94) Semoga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsqanaah

5 Manfaat Memiliki Sifat Qanaah

Qana’ah artinya selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Apa manfaat kita memiliki sifat qana’ah?   1- Mendapatkan dunia seluruhnya Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   2- Menjadi orang yang beruntung Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).   3- Mudah bersyukur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).   4- Menjauhkan diri dari hasad (iri, cemburu pada nikmat orang lain) Kenapa harus cemburu pada orang kalau kita sendiri sudah merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri? Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyyah, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi sasaran hasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111). Adapun menurut kebanyakan ulama, hasad adalah menginginkan suatu nikmat orang lain itu hilang. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 17:269) Hasad itu begitu bahaya karena seolah-olah protes akan takdir Allah. Sebagaimana disebut dalam ayat, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf : 32) Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِىَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ “Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, yaitu hasad dan permusuhan. Dan permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Tirmidzi, no. 2510 dan Ahmad, 1: 164. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَيُصِيْبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا دَاءُ الأُمَمِ ؟ قَالَ : الأَشْرُ، وَالْبَطْرُ والتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ “Umatku akan ditimpa penyakit berbagai umat.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat (terdahulu)?” Rasulullah berkata, “Kufur Nikmat, menyalahgunakan nikmat, saling berlomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy (mengelabui dalam penawaran, pen.), saling memusuhi, dan saling hasad-menghasadi hingga timbulnya sikap melampaui batas (kezaliman).” (HR. Al-Hakim, 4: 168 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 2/275/9173. Al-Hakim menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk perawi Imam Muslim. Imam Adz-Dzahabi menyetujui sanadnya yang shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 680) Orang yang selamat dari hasad adalah jalan menuju surga. Coba perhatikan kisah berikut. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga.’ Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?” Maka orang tersebut menjawab, “Silakan.” Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya, وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ “Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. ‘Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.’ Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga. Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apakah yang telah membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Orang itu berkata, ‘Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat.’ Abdullah bertutur, ‘Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.’ Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, pen.) dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR. Ahmad, 3: 166. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Kalau qana’ah dimiliki, sifat hasad akan hilang dan semakin memudahkan ke surga.   5- Mengatasi berbagai problema hidup seperti berutang Karena kalau seseorang memiliki sifat qana’ah, ia akan menjadikan kebutuhan hidupnya sesuai standar kemampuan, tak perlu lagi baginya menambah utangan.   Ingatlah, orang yang memiliki sifat qana’ah sungguh terpuji. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta dalam doa beliau sifat qana’ah (selalu merasa cukup) seperti dalam doa berikut, اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah). ‘Afaf artinya menjaga iffah, menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik, termasuk juga menjauhkan diri dari syubhat (hal yang masih samar). Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “’Afaf adalah menahan diri dari yang haram, juga menjauhkan dari hal-hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Ulama lain mengungkapkan ‘iffah (sama dengan ‘afaf) adalah menahan diri dari yang tidak halal.” (Syarh Shahih Muslim, 12: 94) Semoga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsqanaah
Qana’ah artinya selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Apa manfaat kita memiliki sifat qana’ah?   1- Mendapatkan dunia seluruhnya Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   2- Menjadi orang yang beruntung Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).   3- Mudah bersyukur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).   4- Menjauhkan diri dari hasad (iri, cemburu pada nikmat orang lain) Kenapa harus cemburu pada orang kalau kita sendiri sudah merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri? Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyyah, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi sasaran hasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111). Adapun menurut kebanyakan ulama, hasad adalah menginginkan suatu nikmat orang lain itu hilang. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 17:269) Hasad itu begitu bahaya karena seolah-olah protes akan takdir Allah. Sebagaimana disebut dalam ayat, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf : 32) Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِىَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ “Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, yaitu hasad dan permusuhan. Dan permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Tirmidzi, no. 2510 dan Ahmad, 1: 164. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَيُصِيْبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا دَاءُ الأُمَمِ ؟ قَالَ : الأَشْرُ، وَالْبَطْرُ والتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ “Umatku akan ditimpa penyakit berbagai umat.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat (terdahulu)?” Rasulullah berkata, “Kufur Nikmat, menyalahgunakan nikmat, saling berlomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy (mengelabui dalam penawaran, pen.), saling memusuhi, dan saling hasad-menghasadi hingga timbulnya sikap melampaui batas (kezaliman).” (HR. Al-Hakim, 4: 168 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 2/275/9173. Al-Hakim menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk perawi Imam Muslim. Imam Adz-Dzahabi menyetujui sanadnya yang shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 680) Orang yang selamat dari hasad adalah jalan menuju surga. Coba perhatikan kisah berikut. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga.’ Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?” Maka orang tersebut menjawab, “Silakan.” Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya, وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ “Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. ‘Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.’ Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga. Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apakah yang telah membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Orang itu berkata, ‘Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat.’ Abdullah bertutur, ‘Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.’ Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, pen.) dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR. Ahmad, 3: 166. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Kalau qana’ah dimiliki, sifat hasad akan hilang dan semakin memudahkan ke surga.   5- Mengatasi berbagai problema hidup seperti berutang Karena kalau seseorang memiliki sifat qana’ah, ia akan menjadikan kebutuhan hidupnya sesuai standar kemampuan, tak perlu lagi baginya menambah utangan.   Ingatlah, orang yang memiliki sifat qana’ah sungguh terpuji. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta dalam doa beliau sifat qana’ah (selalu merasa cukup) seperti dalam doa berikut, اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah). ‘Afaf artinya menjaga iffah, menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik, termasuk juga menjauhkan diri dari syubhat (hal yang masih samar). Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “’Afaf adalah menahan diri dari yang haram, juga menjauhkan dari hal-hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Ulama lain mengungkapkan ‘iffah (sama dengan ‘afaf) adalah menahan diri dari yang tidak halal.” (Syarh Shahih Muslim, 12: 94) Semoga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsqanaah


Qana’ah artinya selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Apa manfaat kita memiliki sifat qana’ah?   1- Mendapatkan dunia seluruhnya Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   2- Menjadi orang yang beruntung Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).   3- Mudah bersyukur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).   4- Menjauhkan diri dari hasad (iri, cemburu pada nikmat orang lain) Kenapa harus cemburu pada orang kalau kita sendiri sudah merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri? Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyyah, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi sasaran hasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111). Adapun menurut kebanyakan ulama, hasad adalah menginginkan suatu nikmat orang lain itu hilang. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 17:269) Hasad itu begitu bahaya karena seolah-olah protes akan takdir Allah. Sebagaimana disebut dalam ayat, أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf : 32) Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِىَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ “Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, yaitu hasad dan permusuhan. Dan permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Tirmidzi, no. 2510 dan Ahmad, 1: 164. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَيُصِيْبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا دَاءُ الأُمَمِ ؟ قَالَ : الأَشْرُ، وَالْبَطْرُ والتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ “Umatku akan ditimpa penyakit berbagai umat.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat (terdahulu)?” Rasulullah berkata, “Kufur Nikmat, menyalahgunakan nikmat, saling berlomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy (mengelabui dalam penawaran, pen.), saling memusuhi, dan saling hasad-menghasadi hingga timbulnya sikap melampaui batas (kezaliman).” (HR. Al-Hakim, 4: 168 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 2/275/9173. Al-Hakim menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk perawi Imam Muslim. Imam Adz-Dzahabi menyetujui sanadnya yang shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 680) Orang yang selamat dari hasad adalah jalan menuju surga. Coba perhatikan kisah berikut. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga.’ Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?” Maka orang tersebut menjawab, “Silakan.” Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya, وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ “Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. ‘Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.’ Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga. Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apakah yang telah membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Orang itu berkata, ‘Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat.’ Abdullah bertutur, ‘Tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.’ Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, pen.) dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR. Ahmad, 3: 166. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Kalau qana’ah dimiliki, sifat hasad akan hilang dan semakin memudahkan ke surga.   5- Mengatasi berbagai problema hidup seperti berutang Karena kalau seseorang memiliki sifat qana’ah, ia akan menjadikan kebutuhan hidupnya sesuai standar kemampuan, tak perlu lagi baginya menambah utangan.   Ingatlah, orang yang memiliki sifat qana’ah sungguh terpuji. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta dalam doa beliau sifat qana’ah (selalu merasa cukup) seperti dalam doa berikut, اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah). ‘Afaf artinya menjaga iffah, menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik, termasuk juga menjauhkan diri dari syubhat (hal yang masih samar). Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “’Afaf adalah menahan diri dari yang haram, juga menjauhkan dari hal-hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Ulama lain mengungkapkan ‘iffah (sama dengan ‘afaf) adalah menahan diri dari yang tidak halal.” (Syarh Shahih Muslim, 12: 94) Semoga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsqanaah

Menunggu Shalat akan Didoakan Malaikat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ الَّذِى صَلَّى فِيهِ ، مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ “Para malaikat akan mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia tetap berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Bukhari, no. 445)   Kesimpulan Mutiara Hadits Malaikat mendoakan dan memohonkan ampun untuk orang beriman. Dosa-dosa manusia ditampakkan pada malaikat. Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Disunnahkan bagi yang menunggu shalat untuk berada dalam keadaan punya wudhu. Masjid hendaknya dijaga dari hadats. Orang yang dalam keadaan hadats (selain junub) masih boleh berada di masjid. Hadats yang dimaksud dalam hadits adalah kentut atau semacamnya. Sebagian ulama lainnya, menafsirkan hadats ini adalah hadats umum. Kentut menurut sebagian ulama seperti Ibnu ‘Abidin dihukumi makruh jika dikeluarkan di masjid. Namun ulama lainnya tidak melarangnya, karena tidur di masjid masih boleh. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa doa malaikat adalah doa yang diharapkan terkabul.   * Hadats itu menunjukkan keadaan seseorang yang tidak suci. Hadats itu hadats besar dan kecil. Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 342-341. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 241. Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani terbita Dar Thiybah, 1: 539   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah

Menunggu Shalat akan Didoakan Malaikat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ الَّذِى صَلَّى فِيهِ ، مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ “Para malaikat akan mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia tetap berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Bukhari, no. 445)   Kesimpulan Mutiara Hadits Malaikat mendoakan dan memohonkan ampun untuk orang beriman. Dosa-dosa manusia ditampakkan pada malaikat. Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Disunnahkan bagi yang menunggu shalat untuk berada dalam keadaan punya wudhu. Masjid hendaknya dijaga dari hadats. Orang yang dalam keadaan hadats (selain junub) masih boleh berada di masjid. Hadats yang dimaksud dalam hadits adalah kentut atau semacamnya. Sebagian ulama lainnya, menafsirkan hadats ini adalah hadats umum. Kentut menurut sebagian ulama seperti Ibnu ‘Abidin dihukumi makruh jika dikeluarkan di masjid. Namun ulama lainnya tidak melarangnya, karena tidur di masjid masih boleh. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa doa malaikat adalah doa yang diharapkan terkabul.   * Hadats itu menunjukkan keadaan seseorang yang tidak suci. Hadats itu hadats besar dan kecil. Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 342-341. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 241. Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani terbita Dar Thiybah, 1: 539   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ الَّذِى صَلَّى فِيهِ ، مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ “Para malaikat akan mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia tetap berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Bukhari, no. 445)   Kesimpulan Mutiara Hadits Malaikat mendoakan dan memohonkan ampun untuk orang beriman. Dosa-dosa manusia ditampakkan pada malaikat. Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Disunnahkan bagi yang menunggu shalat untuk berada dalam keadaan punya wudhu. Masjid hendaknya dijaga dari hadats. Orang yang dalam keadaan hadats (selain junub) masih boleh berada di masjid. Hadats yang dimaksud dalam hadits adalah kentut atau semacamnya. Sebagian ulama lainnya, menafsirkan hadats ini adalah hadats umum. Kentut menurut sebagian ulama seperti Ibnu ‘Abidin dihukumi makruh jika dikeluarkan di masjid. Namun ulama lainnya tidak melarangnya, karena tidur di masjid masih boleh. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa doa malaikat adalah doa yang diharapkan terkabul.   * Hadats itu menunjukkan keadaan seseorang yang tidak suci. Hadats itu hadats besar dan kecil. Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 342-341. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 241. Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani terbita Dar Thiybah, 1: 539   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ الَّذِى صَلَّى فِيهِ ، مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ “Para malaikat akan mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia tetap berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Bukhari, no. 445)   Kesimpulan Mutiara Hadits Malaikat mendoakan dan memohonkan ampun untuk orang beriman. Dosa-dosa manusia ditampakkan pada malaikat. Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Disunnahkan bagi yang menunggu shalat untuk berada dalam keadaan punya wudhu. Masjid hendaknya dijaga dari hadats. Orang yang dalam keadaan hadats (selain junub) masih boleh berada di masjid. Hadats yang dimaksud dalam hadits adalah kentut atau semacamnya. Sebagian ulama lainnya, menafsirkan hadats ini adalah hadats umum. Kentut menurut sebagian ulama seperti Ibnu ‘Abidin dihukumi makruh jika dikeluarkan di masjid. Namun ulama lainnya tidak melarangnya, karena tidur di masjid masih boleh. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa doa malaikat adalah doa yang diharapkan terkabul.   * Hadats itu menunjukkan keadaan seseorang yang tidak suci. Hadats itu hadats besar dan kecil. Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 342-341. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 241. Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani terbita Dar Thiybah, 1: 539   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Senin pagi, 13 Rajab 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Mengenal istilah TafsirTafsir, secara bahasa bermakna menyingkap sesuatu yang tertutup. Adapun secara istilah adalah penjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.[1]Kewajiban Seorang Muslim dalam Menafsirkan Al-Qur`an Al-KarimKewajiban seorang muslim dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim adalah memposisikan dirinya sebagai penyampai maksud Allah Ta’ala, ia bersaksi atas maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya, sehingga ia mengagungkan persaksian dirinya tersebut. Iapun wajib takut akan terjatuh kedalam kesalahan berupa mengatakan tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu, sehingga iapun terjatuh kedalam perkara yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.Allah Ta’ala mengharamkan sikap berbicara tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu dalam firmannya berikut.قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’” (QS. Al-A’raf: 33).Allah Ta’ala mengancam orang yang berbicara tentang-Nya dengan berdusta:وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ“Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri” (QS. Az-Zumar: 60).Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`anUntuk bisa terhindar dari kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur`an, maka para ulama telah merumuskan sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an. Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan hal ini dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir.Sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah sebagai  berikut:Rujukan Pertama: KalamullahAyat Al-Qur`an ditafsirkan dengan ayat Al-Qur`an yang lainnya, firman Allah Ta’ala ditafsirkan dengan firman Allah Ta’ala yang lainnya, karena Allah Ta’ala lah yang berfirman dengannya, sehingga Allah Ta’ala lah pula yang paling tahu tentang makna firman-Nya sendiri.Diantara Contoh Penafsiran Ayat Al-Qur`an dengan Ayat Al-Qur`an Lainnya, yaitu: Firman Allah Ta’ala أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.Yunus: 62), makna wali Allah dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya:الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (QS.Yunus: 63). Firman Allah Ta’ala وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ“Tahukah kamu apakah Ath-Thariq itu?” (QS.At-Thariq: 2),makna “Ath-Thariq” dalam firman Allah Ta’ala di atas ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya,النَّجْمُ الثَّاقِبُ“(yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS.At-Thariq: 2). Firman Allah Ta’ala, وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (QS.An-Nazi’at: 30), makna “dihamparkan-Nya” dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan dua ayat yang selanjutnya:أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا“Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (QS.An-Nazi`at : 31-32).[Bersambung]Sumber Rujukan:[1]. Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23.Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Berpakaian, Doa Minta Anak Soleh, Cara Menyembuhkan Penyakit Gay, Akad Nikah Islam, Astagfirullah Waatubu Ilaik Artinya

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Mengenal istilah TafsirTafsir, secara bahasa bermakna menyingkap sesuatu yang tertutup. Adapun secara istilah adalah penjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.[1]Kewajiban Seorang Muslim dalam Menafsirkan Al-Qur`an Al-KarimKewajiban seorang muslim dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim adalah memposisikan dirinya sebagai penyampai maksud Allah Ta’ala, ia bersaksi atas maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya, sehingga ia mengagungkan persaksian dirinya tersebut. Iapun wajib takut akan terjatuh kedalam kesalahan berupa mengatakan tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu, sehingga iapun terjatuh kedalam perkara yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.Allah Ta’ala mengharamkan sikap berbicara tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu dalam firmannya berikut.قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’” (QS. Al-A’raf: 33).Allah Ta’ala mengancam orang yang berbicara tentang-Nya dengan berdusta:وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ“Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri” (QS. Az-Zumar: 60).Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`anUntuk bisa terhindar dari kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur`an, maka para ulama telah merumuskan sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an. Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan hal ini dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir.Sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah sebagai  berikut:Rujukan Pertama: KalamullahAyat Al-Qur`an ditafsirkan dengan ayat Al-Qur`an yang lainnya, firman Allah Ta’ala ditafsirkan dengan firman Allah Ta’ala yang lainnya, karena Allah Ta’ala lah yang berfirman dengannya, sehingga Allah Ta’ala lah pula yang paling tahu tentang makna firman-Nya sendiri.Diantara Contoh Penafsiran Ayat Al-Qur`an dengan Ayat Al-Qur`an Lainnya, yaitu: Firman Allah Ta’ala أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.Yunus: 62), makna wali Allah dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya:الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (QS.Yunus: 63). Firman Allah Ta’ala وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ“Tahukah kamu apakah Ath-Thariq itu?” (QS.At-Thariq: 2),makna “Ath-Thariq” dalam firman Allah Ta’ala di atas ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya,النَّجْمُ الثَّاقِبُ“(yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS.At-Thariq: 2). Firman Allah Ta’ala, وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (QS.An-Nazi’at: 30), makna “dihamparkan-Nya” dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan dua ayat yang selanjutnya:أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا“Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (QS.An-Nazi`at : 31-32).[Bersambung]Sumber Rujukan:[1]. Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23.Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Berpakaian, Doa Minta Anak Soleh, Cara Menyembuhkan Penyakit Gay, Akad Nikah Islam, Astagfirullah Waatubu Ilaik Artinya
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Mengenal istilah TafsirTafsir, secara bahasa bermakna menyingkap sesuatu yang tertutup. Adapun secara istilah adalah penjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.[1]Kewajiban Seorang Muslim dalam Menafsirkan Al-Qur`an Al-KarimKewajiban seorang muslim dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim adalah memposisikan dirinya sebagai penyampai maksud Allah Ta’ala, ia bersaksi atas maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya, sehingga ia mengagungkan persaksian dirinya tersebut. Iapun wajib takut akan terjatuh kedalam kesalahan berupa mengatakan tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu, sehingga iapun terjatuh kedalam perkara yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.Allah Ta’ala mengharamkan sikap berbicara tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu dalam firmannya berikut.قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’” (QS. Al-A’raf: 33).Allah Ta’ala mengancam orang yang berbicara tentang-Nya dengan berdusta:وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ“Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri” (QS. Az-Zumar: 60).Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`anUntuk bisa terhindar dari kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur`an, maka para ulama telah merumuskan sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an. Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan hal ini dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir.Sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah sebagai  berikut:Rujukan Pertama: KalamullahAyat Al-Qur`an ditafsirkan dengan ayat Al-Qur`an yang lainnya, firman Allah Ta’ala ditafsirkan dengan firman Allah Ta’ala yang lainnya, karena Allah Ta’ala lah yang berfirman dengannya, sehingga Allah Ta’ala lah pula yang paling tahu tentang makna firman-Nya sendiri.Diantara Contoh Penafsiran Ayat Al-Qur`an dengan Ayat Al-Qur`an Lainnya, yaitu: Firman Allah Ta’ala أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.Yunus: 62), makna wali Allah dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya:الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (QS.Yunus: 63). Firman Allah Ta’ala وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ“Tahukah kamu apakah Ath-Thariq itu?” (QS.At-Thariq: 2),makna “Ath-Thariq” dalam firman Allah Ta’ala di atas ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya,النَّجْمُ الثَّاقِبُ“(yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS.At-Thariq: 2). Firman Allah Ta’ala, وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (QS.An-Nazi’at: 30), makna “dihamparkan-Nya” dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan dua ayat yang selanjutnya:أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا“Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (QS.An-Nazi`at : 31-32).[Bersambung]Sumber Rujukan:[1]. Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23.Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Berpakaian, Doa Minta Anak Soleh, Cara Menyembuhkan Penyakit Gay, Akad Nikah Islam, Astagfirullah Waatubu Ilaik Artinya


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Mengenal istilah TafsirTafsir, secara bahasa bermakna menyingkap sesuatu yang tertutup. Adapun secara istilah adalah penjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.[1]Kewajiban Seorang Muslim dalam Menafsirkan Al-Qur`an Al-KarimKewajiban seorang muslim dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim adalah memposisikan dirinya sebagai penyampai maksud Allah Ta’ala, ia bersaksi atas maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya, sehingga ia mengagungkan persaksian dirinya tersebut. Iapun wajib takut akan terjatuh kedalam kesalahan berupa mengatakan tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu, sehingga iapun terjatuh kedalam perkara yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.Allah Ta’ala mengharamkan sikap berbicara tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu dalam firmannya berikut.قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’” (QS. Al-A’raf: 33).Allah Ta’ala mengancam orang yang berbicara tentang-Nya dengan berdusta:وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ“Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri” (QS. Az-Zumar: 60).Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`anUntuk bisa terhindar dari kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur`an, maka para ulama telah merumuskan sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an. Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan hal ini dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir.Sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah sebagai  berikut:Rujukan Pertama: KalamullahAyat Al-Qur`an ditafsirkan dengan ayat Al-Qur`an yang lainnya, firman Allah Ta’ala ditafsirkan dengan firman Allah Ta’ala yang lainnya, karena Allah Ta’ala lah yang berfirman dengannya, sehingga Allah Ta’ala lah pula yang paling tahu tentang makna firman-Nya sendiri.Diantara Contoh Penafsiran Ayat Al-Qur`an dengan Ayat Al-Qur`an Lainnya, yaitu: Firman Allah Ta’ala أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.Yunus: 62), makna wali Allah dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya:الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (QS.Yunus: 63). Firman Allah Ta’ala وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ“Tahukah kamu apakah Ath-Thariq itu?” (QS.At-Thariq: 2),makna “Ath-Thariq” dalam firman Allah Ta’ala di atas ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya,النَّجْمُ الثَّاقِبُ“(yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS.At-Thariq: 2). Firman Allah Ta’ala, وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (QS.An-Nazi’at: 30), makna “dihamparkan-Nya” dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan dua ayat yang selanjutnya:أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا“Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (QS.An-Nazi`at : 31-32).[Bersambung]Sumber Rujukan:[1]. Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23.Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Berpakaian, Doa Minta Anak Soleh, Cara Menyembuhkan Penyakit Gay, Akad Nikah Islam, Astagfirullah Waatubu Ilaik Artinya

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1)Rujukan Kedua: Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (As-Sunnah)Al-Qur`an Al-Karim ditafsirkan dengan Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah), karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah utusan Allah Ta’ala yang menyampaikan firman Allah Ta’ala kepada umatnya, sehingga beliaulah manusia yang paling mengetahui tentang maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya.Beberapa Contoh Penafsiran Al-Qur`an dengan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya: Firman Allah Ta’ala لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS.Yunus : 26).Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan tambahannya dalam ayat yang mulia di atas dengan melihat wajah Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Syuhaib bin Sinan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا دخل أهل الجنة الجنة قال يقول الله تبارك وتعالى تريدون شيئا أزيدكم فيقولون ألم تبيض وجوهنا ألم تدخلنا الجنة وتنجنا من النار قال فيكشف الحجاب فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم عز وجل“Apabila penduduk surga masuk kedalam surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan kepada kalian.’ Maka mereka pun menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami?’ Bukankah Engkau telah memasukkan kami kedalam surga, dan Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu Allah menyingkap tabir, maka tidaklah mereka diberi suatu anugerah yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka Azza wa Jalla.’ Dalam jalur riwayat lain, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat yang agung ini,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“ Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah)” ([QS.Yunus: 26] HR. Imam Muslim: 181). Firman Allah Ta’ala, وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS.Al-Anfal: 60),  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan kekuatan dalam ayat ini dengan lemparan (anak panah). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu mengatakan,“Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sedangkan beliau berada di atas mimbar,{وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ} ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS.Al-Anfal: 60), ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah)” (HR. Imam Muslim: 1917).Dari tafsir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan perang untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala itu adalah lontaran senjata perang, dan ini sesuai dengan perkembangan zaman. Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lontaran itu dengan menggunakan busur dan anak panah, adapun zaman sekarang, lontaran itu dengan senapan, rudal, dan senjata yang semisalnya. Demikianlah penjelasan Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Ruqyah Dalam Islam, Orang Yahudi Menghina Islam, Hati Yang Tenang Dalam Islam, Memilih Calon Istri, Kabiro Walhamdulillahi Katsiro

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1)Rujukan Kedua: Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (As-Sunnah)Al-Qur`an Al-Karim ditafsirkan dengan Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah), karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah utusan Allah Ta’ala yang menyampaikan firman Allah Ta’ala kepada umatnya, sehingga beliaulah manusia yang paling mengetahui tentang maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya.Beberapa Contoh Penafsiran Al-Qur`an dengan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya: Firman Allah Ta’ala لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS.Yunus : 26).Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan tambahannya dalam ayat yang mulia di atas dengan melihat wajah Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Syuhaib bin Sinan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا دخل أهل الجنة الجنة قال يقول الله تبارك وتعالى تريدون شيئا أزيدكم فيقولون ألم تبيض وجوهنا ألم تدخلنا الجنة وتنجنا من النار قال فيكشف الحجاب فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم عز وجل“Apabila penduduk surga masuk kedalam surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan kepada kalian.’ Maka mereka pun menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami?’ Bukankah Engkau telah memasukkan kami kedalam surga, dan Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu Allah menyingkap tabir, maka tidaklah mereka diberi suatu anugerah yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka Azza wa Jalla.’ Dalam jalur riwayat lain, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat yang agung ini,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“ Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah)” ([QS.Yunus: 26] HR. Imam Muslim: 181). Firman Allah Ta’ala, وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS.Al-Anfal: 60),  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan kekuatan dalam ayat ini dengan lemparan (anak panah). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu mengatakan,“Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sedangkan beliau berada di atas mimbar,{وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ} ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS.Al-Anfal: 60), ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah)” (HR. Imam Muslim: 1917).Dari tafsir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan perang untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala itu adalah lontaran senjata perang, dan ini sesuai dengan perkembangan zaman. Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lontaran itu dengan menggunakan busur dan anak panah, adapun zaman sekarang, lontaran itu dengan senapan, rudal, dan senjata yang semisalnya. Demikianlah penjelasan Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Ruqyah Dalam Islam, Orang Yahudi Menghina Islam, Hati Yang Tenang Dalam Islam, Memilih Calon Istri, Kabiro Walhamdulillahi Katsiro
Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1)Rujukan Kedua: Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (As-Sunnah)Al-Qur`an Al-Karim ditafsirkan dengan Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah), karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah utusan Allah Ta’ala yang menyampaikan firman Allah Ta’ala kepada umatnya, sehingga beliaulah manusia yang paling mengetahui tentang maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya.Beberapa Contoh Penafsiran Al-Qur`an dengan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya: Firman Allah Ta’ala لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS.Yunus : 26).Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan tambahannya dalam ayat yang mulia di atas dengan melihat wajah Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Syuhaib bin Sinan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا دخل أهل الجنة الجنة قال يقول الله تبارك وتعالى تريدون شيئا أزيدكم فيقولون ألم تبيض وجوهنا ألم تدخلنا الجنة وتنجنا من النار قال فيكشف الحجاب فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم عز وجل“Apabila penduduk surga masuk kedalam surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan kepada kalian.’ Maka mereka pun menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami?’ Bukankah Engkau telah memasukkan kami kedalam surga, dan Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu Allah menyingkap tabir, maka tidaklah mereka diberi suatu anugerah yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka Azza wa Jalla.’ Dalam jalur riwayat lain, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat yang agung ini,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“ Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah)” ([QS.Yunus: 26] HR. Imam Muslim: 181). Firman Allah Ta’ala, وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS.Al-Anfal: 60),  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan kekuatan dalam ayat ini dengan lemparan (anak panah). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu mengatakan,“Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sedangkan beliau berada di atas mimbar,{وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ} ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS.Al-Anfal: 60), ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah)” (HR. Imam Muslim: 1917).Dari tafsir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan perang untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala itu adalah lontaran senjata perang, dan ini sesuai dengan perkembangan zaman. Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lontaran itu dengan menggunakan busur dan anak panah, adapun zaman sekarang, lontaran itu dengan senapan, rudal, dan senjata yang semisalnya. Demikianlah penjelasan Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Ruqyah Dalam Islam, Orang Yahudi Menghina Islam, Hati Yang Tenang Dalam Islam, Memilih Calon Istri, Kabiro Walhamdulillahi Katsiro


Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1)Rujukan Kedua: Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (As-Sunnah)Al-Qur`an Al-Karim ditafsirkan dengan Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah), karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah utusan Allah Ta’ala yang menyampaikan firman Allah Ta’ala kepada umatnya, sehingga beliaulah manusia yang paling mengetahui tentang maksud Allah Ta’ala dalam firman-Nya.Beberapa Contoh Penafsiran Al-Qur`an dengan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya: Firman Allah Ta’ala لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS.Yunus : 26).Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan tambahannya dalam ayat yang mulia di atas dengan melihat wajah Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Syuhaib bin Sinan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إذا دخل أهل الجنة الجنة قال يقول الله تبارك وتعالى تريدون شيئا أزيدكم فيقولون ألم تبيض وجوهنا ألم تدخلنا الجنة وتنجنا من النار قال فيكشف الحجاب فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم عز وجل“Apabila penduduk surga masuk kedalam surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan kepada kalian.’ Maka mereka pun menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami?’ Bukankah Engkau telah memasukkan kami kedalam surga, dan Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu Allah menyingkap tabir, maka tidaklah mereka diberi suatu anugerah yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka Azza wa Jalla.’ Dalam jalur riwayat lain, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat yang agung ini,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“ Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah)” ([QS.Yunus: 26] HR. Imam Muslim: 181). Firman Allah Ta’ala, وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS.Al-Anfal: 60),  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan kekuatan dalam ayat ini dengan lemparan (anak panah). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu mengatakan,“Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sedangkan beliau berada di atas mimbar,{وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ} ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS.Al-Anfal: 60), ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah). Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah lontaran (anak panah)” (HR. Imam Muslim: 1917).Dari tafsir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan perang untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala itu adalah lontaran senjata perang, dan ini sesuai dengan perkembangan zaman. Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lontaran itu dengan menggunakan busur dan anak panah, adapun zaman sekarang, lontaran itu dengan senapan, rudal, dan senjata yang semisalnya. Demikianlah penjelasan Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin.[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Ruqyah Dalam Islam, Orang Yahudi Menghina Islam, Hati Yang Tenang Dalam Islam, Memilih Calon Istri, Kabiro Walhamdulillahi Katsiro

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3)Rujukan Keempat:Ucapan Tabi’in rahimahumullah yang Mengambil Ilmu Tafsir dari Sahabat radhiyallahu ‘anhumUcapan Tabi’in rahimahumullah tersebut merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an karena para tabi’in adalah sebaik-baik manusia setelah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, dan paling selamat dari hawa nafsu, serta bahasa Arab di masa tabi’in belumlah banyak mengalami perubahan. Oleh karena itu, mereka itu lebih dekat kepada kebenaran dalam memahami Al-Qur`an dibandingkan generasi setelah mereka.Beberapa nama Tabi’in rahimahumullah yang masyhur dengan ilmu Tafsirnya, dan nama-nama mereka menghiasi kitab-kitab Tafsir, di antaranya yaitu: Penduduk Mekkah: Mereka ini adalah murid-murid mufassir, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, seperti Mujahid, Ikrimah, dan Atha` bin Abi Rabah rahimahumullah. Penduduk Madinah: Mereka adalah murid-murid mufassir Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, seperti Zaid bin Aslam, Abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurthubi rahimahumullah. Penduduk Kufah: Mereka adalah murid-murid Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, seperti Qatadah, Alqamah, dan Asy-Sya’bi rahimahumullah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Apabila mereka (Tabi’in) bersepakat (ijma’) atas sesuatu, maka tidak ada keraguan tentang status kesepakatan tersebut sebagai hujjah, namun jika mereka berselisih, maka pendapat sebagian mereka tidaklah bisa menjadi hujjah atas sebagian tabi’in yang lainnya dan tidak pula menjadi hujjah atas orang yang setelah mereka. Maka dalam hal itu dikembalikan kepada bahasa Al-Qur`an atau As-Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para sahabat tentangnya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/37).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyatakan, “Barangsiapa yang berpaling dari madzhab para sahabat dan tabi’in serta tafsir mereka, beralih kepada pendapat yang menyelisihinya, maka ia telah terjatuh kedalam kesalahan dalam hal itu, bahkan ia adalah seorang pelaku bid’ah (mubtadi’), namun jika ia (orang yang terjatuh kedalam kesalahan tersebut) seorang ulama mujtahid, maka ia diampuni kesalahannya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/361).Beliau rahimahullah juga berkata, “Maka barangsiapa yang menyelisihi pendapat mereka, dan ia menafsirkan Al-Qur`an dengan menyelisihi tafsir mereka, maka berarti ia telah salah dalam berdalil dan salah (pula) dalam menyimpulkan dalil sekaligus” (Majmu’ Al-Fatawa 13/362).Contoh Penafsiran Mereka Banyak Jumlahnya: Allah Ta’ala berfirman وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur” (Faathir: 10).Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan tafsir Salafus Saleh dalam kitab Tafsirnya, hal. 276, dengan mengatakan,وقوله : { والذين يمكرون السيئات} : قال مجاهد ، وسعيد بن جبير ، وشهر بن حوشب : هم المراءون بأعمالهم ، يعني : يمكرون بالناس ، يوهمون أنهم في طاعة الله ، وهم بغضاء إلى الله عز وجل“Dan firman-Nya dan orang-orang yang merencanakan kejahatan” Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Syahr bin Hausyab berkata (tentangnya), “Mereka adalah para pelaku riya`(memamerkan ibadah agar dipuji manusia) amal-amal mereka, yaitu mereka berbuat tipu daya kepada manusia, menampakkan seolah-olah mereka berada dalam keta’atan kepada Allah, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah.” Allah Ta’ala berfirman, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Huud : 15-16).Salafus Shaleh menyebutkan bahwa yang termasuk kedalam kandungan ayat ini, diantaranya adalah orang yang melakukan riya’ (memamerkan ibadah agar dipuji manusia), seperti yang disebutkan oleh Al-Baghawi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya 2/391, قال مجاهد : هم أهل الرياء“Berkata Mujahid mereka adalah para pelaku riya`”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ilmu Syar'i, Materi Tentang Hijab, Suami Istri Muslim, Hukum Sunat Anak Perempuan, Fiqih Jima

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3)Rujukan Keempat:Ucapan Tabi’in rahimahumullah yang Mengambil Ilmu Tafsir dari Sahabat radhiyallahu ‘anhumUcapan Tabi’in rahimahumullah tersebut merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an karena para tabi’in adalah sebaik-baik manusia setelah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, dan paling selamat dari hawa nafsu, serta bahasa Arab di masa tabi’in belumlah banyak mengalami perubahan. Oleh karena itu, mereka itu lebih dekat kepada kebenaran dalam memahami Al-Qur`an dibandingkan generasi setelah mereka.Beberapa nama Tabi’in rahimahumullah yang masyhur dengan ilmu Tafsirnya, dan nama-nama mereka menghiasi kitab-kitab Tafsir, di antaranya yaitu: Penduduk Mekkah: Mereka ini adalah murid-murid mufassir, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, seperti Mujahid, Ikrimah, dan Atha` bin Abi Rabah rahimahumullah. Penduduk Madinah: Mereka adalah murid-murid mufassir Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, seperti Zaid bin Aslam, Abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurthubi rahimahumullah. Penduduk Kufah: Mereka adalah murid-murid Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, seperti Qatadah, Alqamah, dan Asy-Sya’bi rahimahumullah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Apabila mereka (Tabi’in) bersepakat (ijma’) atas sesuatu, maka tidak ada keraguan tentang status kesepakatan tersebut sebagai hujjah, namun jika mereka berselisih, maka pendapat sebagian mereka tidaklah bisa menjadi hujjah atas sebagian tabi’in yang lainnya dan tidak pula menjadi hujjah atas orang yang setelah mereka. Maka dalam hal itu dikembalikan kepada bahasa Al-Qur`an atau As-Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para sahabat tentangnya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/37).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyatakan, “Barangsiapa yang berpaling dari madzhab para sahabat dan tabi’in serta tafsir mereka, beralih kepada pendapat yang menyelisihinya, maka ia telah terjatuh kedalam kesalahan dalam hal itu, bahkan ia adalah seorang pelaku bid’ah (mubtadi’), namun jika ia (orang yang terjatuh kedalam kesalahan tersebut) seorang ulama mujtahid, maka ia diampuni kesalahannya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/361).Beliau rahimahullah juga berkata, “Maka barangsiapa yang menyelisihi pendapat mereka, dan ia menafsirkan Al-Qur`an dengan menyelisihi tafsir mereka, maka berarti ia telah salah dalam berdalil dan salah (pula) dalam menyimpulkan dalil sekaligus” (Majmu’ Al-Fatawa 13/362).Contoh Penafsiran Mereka Banyak Jumlahnya: Allah Ta’ala berfirman وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur” (Faathir: 10).Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan tafsir Salafus Saleh dalam kitab Tafsirnya, hal. 276, dengan mengatakan,وقوله : { والذين يمكرون السيئات} : قال مجاهد ، وسعيد بن جبير ، وشهر بن حوشب : هم المراءون بأعمالهم ، يعني : يمكرون بالناس ، يوهمون أنهم في طاعة الله ، وهم بغضاء إلى الله عز وجل“Dan firman-Nya dan orang-orang yang merencanakan kejahatan” Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Syahr bin Hausyab berkata (tentangnya), “Mereka adalah para pelaku riya`(memamerkan ibadah agar dipuji manusia) amal-amal mereka, yaitu mereka berbuat tipu daya kepada manusia, menampakkan seolah-olah mereka berada dalam keta’atan kepada Allah, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah.” Allah Ta’ala berfirman, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Huud : 15-16).Salafus Shaleh menyebutkan bahwa yang termasuk kedalam kandungan ayat ini, diantaranya adalah orang yang melakukan riya’ (memamerkan ibadah agar dipuji manusia), seperti yang disebutkan oleh Al-Baghawi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya 2/391, قال مجاهد : هم أهل الرياء“Berkata Mujahid mereka adalah para pelaku riya`”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ilmu Syar'i, Materi Tentang Hijab, Suami Istri Muslim, Hukum Sunat Anak Perempuan, Fiqih Jima
Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3)Rujukan Keempat:Ucapan Tabi’in rahimahumullah yang Mengambil Ilmu Tafsir dari Sahabat radhiyallahu ‘anhumUcapan Tabi’in rahimahumullah tersebut merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an karena para tabi’in adalah sebaik-baik manusia setelah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, dan paling selamat dari hawa nafsu, serta bahasa Arab di masa tabi’in belumlah banyak mengalami perubahan. Oleh karena itu, mereka itu lebih dekat kepada kebenaran dalam memahami Al-Qur`an dibandingkan generasi setelah mereka.Beberapa nama Tabi’in rahimahumullah yang masyhur dengan ilmu Tafsirnya, dan nama-nama mereka menghiasi kitab-kitab Tafsir, di antaranya yaitu: Penduduk Mekkah: Mereka ini adalah murid-murid mufassir, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, seperti Mujahid, Ikrimah, dan Atha` bin Abi Rabah rahimahumullah. Penduduk Madinah: Mereka adalah murid-murid mufassir Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, seperti Zaid bin Aslam, Abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurthubi rahimahumullah. Penduduk Kufah: Mereka adalah murid-murid Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, seperti Qatadah, Alqamah, dan Asy-Sya’bi rahimahumullah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Apabila mereka (Tabi’in) bersepakat (ijma’) atas sesuatu, maka tidak ada keraguan tentang status kesepakatan tersebut sebagai hujjah, namun jika mereka berselisih, maka pendapat sebagian mereka tidaklah bisa menjadi hujjah atas sebagian tabi’in yang lainnya dan tidak pula menjadi hujjah atas orang yang setelah mereka. Maka dalam hal itu dikembalikan kepada bahasa Al-Qur`an atau As-Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para sahabat tentangnya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/37).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyatakan, “Barangsiapa yang berpaling dari madzhab para sahabat dan tabi’in serta tafsir mereka, beralih kepada pendapat yang menyelisihinya, maka ia telah terjatuh kedalam kesalahan dalam hal itu, bahkan ia adalah seorang pelaku bid’ah (mubtadi’), namun jika ia (orang yang terjatuh kedalam kesalahan tersebut) seorang ulama mujtahid, maka ia diampuni kesalahannya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/361).Beliau rahimahullah juga berkata, “Maka barangsiapa yang menyelisihi pendapat mereka, dan ia menafsirkan Al-Qur`an dengan menyelisihi tafsir mereka, maka berarti ia telah salah dalam berdalil dan salah (pula) dalam menyimpulkan dalil sekaligus” (Majmu’ Al-Fatawa 13/362).Contoh Penafsiran Mereka Banyak Jumlahnya: Allah Ta’ala berfirman وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur” (Faathir: 10).Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan tafsir Salafus Saleh dalam kitab Tafsirnya, hal. 276, dengan mengatakan,وقوله : { والذين يمكرون السيئات} : قال مجاهد ، وسعيد بن جبير ، وشهر بن حوشب : هم المراءون بأعمالهم ، يعني : يمكرون بالناس ، يوهمون أنهم في طاعة الله ، وهم بغضاء إلى الله عز وجل“Dan firman-Nya dan orang-orang yang merencanakan kejahatan” Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Syahr bin Hausyab berkata (tentangnya), “Mereka adalah para pelaku riya`(memamerkan ibadah agar dipuji manusia) amal-amal mereka, yaitu mereka berbuat tipu daya kepada manusia, menampakkan seolah-olah mereka berada dalam keta’atan kepada Allah, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah.” Allah Ta’ala berfirman, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Huud : 15-16).Salafus Shaleh menyebutkan bahwa yang termasuk kedalam kandungan ayat ini, diantaranya adalah orang yang melakukan riya’ (memamerkan ibadah agar dipuji manusia), seperti yang disebutkan oleh Al-Baghawi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya 2/391, قال مجاهد : هم أهل الرياء“Berkata Mujahid mereka adalah para pelaku riya`”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ilmu Syar'i, Materi Tentang Hijab, Suami Istri Muslim, Hukum Sunat Anak Perempuan, Fiqih Jima


Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3)Rujukan Keempat:Ucapan Tabi’in rahimahumullah yang Mengambil Ilmu Tafsir dari Sahabat radhiyallahu ‘anhumUcapan Tabi’in rahimahumullah tersebut merupakan salah satu rujukan tafsir Al-Qur`an karena para tabi’in adalah sebaik-baik manusia setelah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang paling terpercaya dalam mencari kebenaran, dan paling selamat dari hawa nafsu, serta bahasa Arab di masa tabi’in belumlah banyak mengalami perubahan. Oleh karena itu, mereka itu lebih dekat kepada kebenaran dalam memahami Al-Qur`an dibandingkan generasi setelah mereka.Beberapa nama Tabi’in rahimahumullah yang masyhur dengan ilmu Tafsirnya, dan nama-nama mereka menghiasi kitab-kitab Tafsir, di antaranya yaitu: Penduduk Mekkah: Mereka ini adalah murid-murid mufassir, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, seperti Mujahid, Ikrimah, dan Atha` bin Abi Rabah rahimahumullah. Penduduk Madinah: Mereka adalah murid-murid mufassir Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, seperti Zaid bin Aslam, Abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurthubi rahimahumullah. Penduduk Kufah: Mereka adalah murid-murid Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, seperti Qatadah, Alqamah, dan Asy-Sya’bi rahimahumullah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Apabila mereka (Tabi’in) bersepakat (ijma’) atas sesuatu, maka tidak ada keraguan tentang status kesepakatan tersebut sebagai hujjah, namun jika mereka berselisih, maka pendapat sebagian mereka tidaklah bisa menjadi hujjah atas sebagian tabi’in yang lainnya dan tidak pula menjadi hujjah atas orang yang setelah mereka. Maka dalam hal itu dikembalikan kepada bahasa Al-Qur`an atau As-Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para sahabat tentangnya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/37).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyatakan, “Barangsiapa yang berpaling dari madzhab para sahabat dan tabi’in serta tafsir mereka, beralih kepada pendapat yang menyelisihinya, maka ia telah terjatuh kedalam kesalahan dalam hal itu, bahkan ia adalah seorang pelaku bid’ah (mubtadi’), namun jika ia (orang yang terjatuh kedalam kesalahan tersebut) seorang ulama mujtahid, maka ia diampuni kesalahannya” (Majmu’ Al-Fatawa 13/361).Beliau rahimahullah juga berkata, “Maka barangsiapa yang menyelisihi pendapat mereka, dan ia menafsirkan Al-Qur`an dengan menyelisihi tafsir mereka, maka berarti ia telah salah dalam berdalil dan salah (pula) dalam menyimpulkan dalil sekaligus” (Majmu’ Al-Fatawa 13/362).Contoh Penafsiran Mereka Banyak Jumlahnya: Allah Ta’ala berfirman وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur” (Faathir: 10).Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan tafsir Salafus Saleh dalam kitab Tafsirnya, hal. 276, dengan mengatakan,وقوله : { والذين يمكرون السيئات} : قال مجاهد ، وسعيد بن جبير ، وشهر بن حوشب : هم المراءون بأعمالهم ، يعني : يمكرون بالناس ، يوهمون أنهم في طاعة الله ، وهم بغضاء إلى الله عز وجل“Dan firman-Nya dan orang-orang yang merencanakan kejahatan” Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Syahr bin Hausyab berkata (tentangnya), “Mereka adalah para pelaku riya`(memamerkan ibadah agar dipuji manusia) amal-amal mereka, yaitu mereka berbuat tipu daya kepada manusia, menampakkan seolah-olah mereka berada dalam keta’atan kepada Allah, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah.” Allah Ta’ala berfirman, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Huud : 15-16).Salafus Shaleh menyebutkan bahwa yang termasuk kedalam kandungan ayat ini, diantaranya adalah orang yang melakukan riya’ (memamerkan ibadah agar dipuji manusia), seperti yang disebutkan oleh Al-Baghawi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya 2/391, قال مجاهد : هم أهل الرياء“Berkata Mujahid mereka adalah para pelaku riya`”[Bersambung]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ilmu Syar'i, Materi Tentang Hijab, Suami Istri Muslim, Hukum Sunat Anak Perempuan, Fiqih Jima

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4)Rujukan Kelima:Makna Syar’i atau Bahasa (Arab) yang Ditunjukkan oleh Kata-Kata dalam Al-Qur`an Sesuai dengan Konteks KalimatnyaMakna Syar’i atau bahasa (Arab) yang terkandung dalam sebuah ayat merupakan salah satu rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” (QS.An-Nisa’: 105).إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur`an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)” (QS.Az-Zukhruf: 3).وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.Ibrahim: 4).Apabila terjadi ketidaksesuaian antara makna syar’i dengan makna bahasa, maka dipilih makna syar’i, karena Al-Qur`an pada asalnya diturunkan bukanlah untuk menjelaskan bahasa, namun diturunkan untuk menjelaskan syari’at, kecuali apabila terdapat dalil yang menguatkan untuk dibawakan kepada makna bahasa, maka dibawakan kepada makna bahasa. Terkait dengan ada atau tidak adanya perselisihan antar kedua makna tersebut, maka hal ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu: Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Syar’inya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di sisi kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik” (QS.At-Taubah: 84).Terkait dengan makna menyolatkan dalam ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa kata shalat dalam bahasa Arab bermakna doa.Adapun makna syar’i di sini adalah berdiri di sisi mayat untuk mendoakannya dengan tata cara tertentu (shalat jenazah). Dengan demikian pada ayat ini, dipilih makna syar’i, yaitu shalat jenazah, karena makna syar’ilah yang dikehendaki dalam ayat ini yang sesuai dengan konteks kalimat. Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Bahasanya, Karena Terdapat Dalil yang Menguatkan Makna Bahasanya. Allah Ta’ala berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS.At-Taubah: 103).Maksud shalat dalam {وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ } adalah berdoa. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dari Abdullah bin Abu Aufa berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika dibawakan kepadanya harta zakat dari suatu kaum, beliau mendoakan shalawat bagi mereka, lalu (suatu saat) datanglah ayahku membawa zakat, lalu beliau pun bersabda,اللهم صل على آل أبي أوفى“Ya Allah, pujilah keluarga Abu Aufa (di sisi malaikat muqarrabin)”[1] (HR. Muslim dan Al-Bukhari). Sesuai Antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, Sehingga Keduanya Saling Mendukung dalam Penafsiran Untuk jenis ini, contohnya banyak, seperti makna:السماء (langit), الأرض (bumi), الصدق (jujur), الكذب (dusta), dan الإنسان (manusia).Demikian, sepintas penjelasan tentang sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim, semoga bermanfaat luas. Wa shallallahu wa sallama ‘ala Rasulillah wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin.[Selesai]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Keluarga, Materi Agama, Surat Alquran Tentang Poligami, Fatwa Rokok Haram, Dahsyatnya Hari Kiamat

Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5)

Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4)Rujukan Kelima:Makna Syar’i atau Bahasa (Arab) yang Ditunjukkan oleh Kata-Kata dalam Al-Qur`an Sesuai dengan Konteks KalimatnyaMakna Syar’i atau bahasa (Arab) yang terkandung dalam sebuah ayat merupakan salah satu rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” (QS.An-Nisa’: 105).إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur`an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)” (QS.Az-Zukhruf: 3).وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.Ibrahim: 4).Apabila terjadi ketidaksesuaian antara makna syar’i dengan makna bahasa, maka dipilih makna syar’i, karena Al-Qur`an pada asalnya diturunkan bukanlah untuk menjelaskan bahasa, namun diturunkan untuk menjelaskan syari’at, kecuali apabila terdapat dalil yang menguatkan untuk dibawakan kepada makna bahasa, maka dibawakan kepada makna bahasa. Terkait dengan ada atau tidak adanya perselisihan antar kedua makna tersebut, maka hal ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu: Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Syar’inya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di sisi kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik” (QS.At-Taubah: 84).Terkait dengan makna menyolatkan dalam ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa kata shalat dalam bahasa Arab bermakna doa.Adapun makna syar’i di sini adalah berdiri di sisi mayat untuk mendoakannya dengan tata cara tertentu (shalat jenazah). Dengan demikian pada ayat ini, dipilih makna syar’i, yaitu shalat jenazah, karena makna syar’ilah yang dikehendaki dalam ayat ini yang sesuai dengan konteks kalimat. Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Bahasanya, Karena Terdapat Dalil yang Menguatkan Makna Bahasanya. Allah Ta’ala berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS.At-Taubah: 103).Maksud shalat dalam {وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ } adalah berdoa. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dari Abdullah bin Abu Aufa berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika dibawakan kepadanya harta zakat dari suatu kaum, beliau mendoakan shalawat bagi mereka, lalu (suatu saat) datanglah ayahku membawa zakat, lalu beliau pun bersabda,اللهم صل على آل أبي أوفى“Ya Allah, pujilah keluarga Abu Aufa (di sisi malaikat muqarrabin)”[1] (HR. Muslim dan Al-Bukhari). Sesuai Antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, Sehingga Keduanya Saling Mendukung dalam Penafsiran Untuk jenis ini, contohnya banyak, seperti makna:السماء (langit), الأرض (bumi), الصدق (jujur), الكذب (dusta), dan الإنسان (manusia).Demikian, sepintas penjelasan tentang sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim, semoga bermanfaat luas. Wa shallallahu wa sallama ‘ala Rasulillah wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin.[Selesai]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Keluarga, Materi Agama, Surat Alquran Tentang Poligami, Fatwa Rokok Haram, Dahsyatnya Hari Kiamat
Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4)Rujukan Kelima:Makna Syar’i atau Bahasa (Arab) yang Ditunjukkan oleh Kata-Kata dalam Al-Qur`an Sesuai dengan Konteks KalimatnyaMakna Syar’i atau bahasa (Arab) yang terkandung dalam sebuah ayat merupakan salah satu rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” (QS.An-Nisa’: 105).إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur`an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)” (QS.Az-Zukhruf: 3).وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.Ibrahim: 4).Apabila terjadi ketidaksesuaian antara makna syar’i dengan makna bahasa, maka dipilih makna syar’i, karena Al-Qur`an pada asalnya diturunkan bukanlah untuk menjelaskan bahasa, namun diturunkan untuk menjelaskan syari’at, kecuali apabila terdapat dalil yang menguatkan untuk dibawakan kepada makna bahasa, maka dibawakan kepada makna bahasa. Terkait dengan ada atau tidak adanya perselisihan antar kedua makna tersebut, maka hal ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu: Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Syar’inya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di sisi kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik” (QS.At-Taubah: 84).Terkait dengan makna menyolatkan dalam ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa kata shalat dalam bahasa Arab bermakna doa.Adapun makna syar’i di sini adalah berdiri di sisi mayat untuk mendoakannya dengan tata cara tertentu (shalat jenazah). Dengan demikian pada ayat ini, dipilih makna syar’i, yaitu shalat jenazah, karena makna syar’ilah yang dikehendaki dalam ayat ini yang sesuai dengan konteks kalimat. Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Bahasanya, Karena Terdapat Dalil yang Menguatkan Makna Bahasanya. Allah Ta’ala berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS.At-Taubah: 103).Maksud shalat dalam {وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ } adalah berdoa. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dari Abdullah bin Abu Aufa berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika dibawakan kepadanya harta zakat dari suatu kaum, beliau mendoakan shalawat bagi mereka, lalu (suatu saat) datanglah ayahku membawa zakat, lalu beliau pun bersabda,اللهم صل على آل أبي أوفى“Ya Allah, pujilah keluarga Abu Aufa (di sisi malaikat muqarrabin)”[1] (HR. Muslim dan Al-Bukhari). Sesuai Antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, Sehingga Keduanya Saling Mendukung dalam Penafsiran Untuk jenis ini, contohnya banyak, seperti makna:السماء (langit), الأرض (bumi), الصدق (jujur), الكذب (dusta), dan الإنسان (manusia).Demikian, sepintas penjelasan tentang sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim, semoga bermanfaat luas. Wa shallallahu wa sallama ‘ala Rasulillah wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin.[Selesai]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Keluarga, Materi Agama, Surat Alquran Tentang Poligami, Fatwa Rokok Haram, Dahsyatnya Hari Kiamat


Baca pembahasan sebelumnya: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4)Rujukan Kelima:Makna Syar’i atau Bahasa (Arab) yang Ditunjukkan oleh Kata-Kata dalam Al-Qur`an Sesuai dengan Konteks KalimatnyaMakna Syar’i atau bahasa (Arab) yang terkandung dalam sebuah ayat merupakan salah satu rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” (QS.An-Nisa’: 105).إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur`an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)” (QS.Az-Zukhruf: 3).وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.Ibrahim: 4).Apabila terjadi ketidaksesuaian antara makna syar’i dengan makna bahasa, maka dipilih makna syar’i, karena Al-Qur`an pada asalnya diturunkan bukanlah untuk menjelaskan bahasa, namun diturunkan untuk menjelaskan syari’at, kecuali apabila terdapat dalil yang menguatkan untuk dibawakan kepada makna bahasa, maka dibawakan kepada makna bahasa. Terkait dengan ada atau tidak adanya perselisihan antar kedua makna tersebut, maka hal ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu: Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Syar’inya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di sisi kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik” (QS.At-Taubah: 84).Terkait dengan makna menyolatkan dalam ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa kata shalat dalam bahasa Arab bermakna doa.Adapun makna syar’i di sini adalah berdiri di sisi mayat untuk mendoakannya dengan tata cara tertentu (shalat jenazah). Dengan demikian pada ayat ini, dipilih makna syar’i, yaitu shalat jenazah, karena makna syar’ilah yang dikehendaki dalam ayat ini yang sesuai dengan konteks kalimat. Terjadi Perselisihan antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, dan Dipilih Makna Bahasanya, Karena Terdapat Dalil yang Menguatkan Makna Bahasanya. Allah Ta’ala berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS.At-Taubah: 103).Maksud shalat dalam {وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ } adalah berdoa. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dari Abdullah bin Abu Aufa berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika dibawakan kepadanya harta zakat dari suatu kaum, beliau mendoakan shalawat bagi mereka, lalu (suatu saat) datanglah ayahku membawa zakat, lalu beliau pun bersabda,اللهم صل على آل أبي أوفى“Ya Allah, pujilah keluarga Abu Aufa (di sisi malaikat muqarrabin)”[1] (HR. Muslim dan Al-Bukhari). Sesuai Antara Makna Syar’i dengan Makna Bahasa, Sehingga Keduanya Saling Mendukung dalam Penafsiran Untuk jenis ini, contohnya banyak, seperti makna:السماء (langit), الأرض (bumi), الصدق (jujur), الكذب (dusta), dan الإنسان (manusia).Demikian, sepintas penjelasan tentang sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur`an Al-Karim, semoga bermanfaat luas. Wa shallallahu wa sallama ‘ala Rasulillah wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin.[Selesai]Anda sedang membaca: “Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an”, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini: Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (1) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (3) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (4) Sumber Rujukan dalam Menafsirkan Al-Qur`an (5) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Keluarga, Materi Agama, Surat Alquran Tentang Poligami, Fatwa Rokok Haram, Dahsyatnya Hari Kiamat
Prev     Next