Mengendalikan Syahwat di Zaman Fitnah

Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Mengendalikan Syahwat di Zaman Fitnah

Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Musuh No.1 & Sebab Gagalnya Penuntut Ilmu Zaman Now! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ

Musuh No.1 & Sebab Gagalnya Penuntut Ilmu Zaman Now! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ
Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ


Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ

Fikih Penyembelihan Hewan (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePenyembelihan mekanis dengan mesinPenyembelihan tanpa menyebut nama AllahPembiusan sebelum penyembelihanSeiring berkembangnya zaman dan teknologi, praktik penyembelihan hewan pun mengalami perubahan signifikan. Di berbagai rumah potong modern, penyembelihan sering kali dilakukan secara mekanis dengan mesin, menggunakan peralatan otomatis, bahkan didahului dengan pembiusan atau pingsan sebelum penyembelihan. Di sisi lain, muncul pula kelalaian atau kesengajaan dalam tidak menyebut nama Allah saat penyembelihan.Pada artikel kedua ini, kita akan membahas tiga permasalahan penting: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan.Penyembelihan mekanis dengan mesinJumlah manusia semakin banyak dan kebutuhan terhadap hewan yang boleh dimakan pun meningkat dalam jumlah besar, sehingga menyulitkan proses penyembelihan dan pensyariatan secara manual seperti cara-cara lama. Oleh karena itu, metode penyembelihan pun mengalami perubahan dari cara-cara sebelumnya, seiring dengan banyaknya jumlah hewan yang disembelih dan kemudahan dalam distribusinya. Hal ini menuntut penggunaan alat (mesin) yang modern, untuk mempercepat proses penyembelihan. [1]Para ulama telah mengumpulkan syarat-syarat penyembelihan, yang jika terpenuhi syarat-syarat tersebut, dan tidak ada penghalangnya; maka penyembelihan dianggap sah, dan hewan hasil penyembelihan halal dikonsumsi. [2]Ada empat syarat agar penyembelihan dianggap sah menurut syariat:Pertama: Kelayakan penyembelih, yaitu orang yang berakal dan bermaksud menyembelih secara syar‘i. Maka tidak sah sembelihan dari orang gila, orang mabuk, atau anak kecil yang belum mumayyiz, karena mereka tidak memiliki maksud (niat) yang sah.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على إباحة ذبيحة المرأة والصبي“Seluruh ulama yang kami ketahui bersepakat bahwa sembelihan perempuan dan anak kecil yang sudah mumayyiz adalah halal.” [3]Kedua: Menggunakan alat yang tajam dan bisa memotong karena ketajamannya, bukan karena beratnya. Baik itu dari besi, batu, kayu, atau selainnya, asalkan bukan dari tulang atau kuku. Ini merupakan pendapat yang disepakati oleh para ulama tentang keabsahan penyembelihannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Rafi‘ bin Khadij,ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السن والظفر“Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah padanya, maka makanlah. Kecuali gigi dan kuku.” (HR. Bukhari no. 2488 dan Muslim no. 5065) [4]Ketiga: Memotong al-halqūm (tenggorokan, yaitu saluran napas), al-marī’ (kerongkongan, yaitu saluran makanan dan minuman), dan salah satu dari dua wadajain (dua urat nadi di leher, yaitu pembuluh darah besar).Keempat: Penyembelih mengucapkan bismillah ( باسم الله ) saat menggerakkan tangannya untuk menyembelih, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْق“Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya, karena sesungguhnya itu adalah kefasikan.” (QS. Al-An‘ām: 121) [5]Namun demikian, para ulama berselisih pendapat tentang keabsahan penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, yang akan dijelaskan di sub bab berikut ini:Penyembelihan tanpa menyebut nama AllahSyekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan, “Masalah ini —yakni tentang menyebut nama Allah saat menyembelih atau saat berburu— diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat:Pendapat pertama: Menyebut nama Allah tidak wajib baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan, tetapi hanya sunah. Mereka berdalil dengan hadis yang tidak sahih:ذبيحة المسلم حلال وإن لم يذكر اسم الله عليها“Sembelihan seorang Muslim itu halal meskipun ia tidak menyebut nama Allah atasnya.”Pendapat kedua: Menyebut nama Allah wajib, tetapi gugur jika karena lupa atau tidak tahu, baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan.Pendapat ketiga: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan dan perburuan, namun gugur karena lupa dalam penyembelihan, tidak gugur dalam perburuan. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan fuqaha Hanabilah.Pendapat keempat: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan maupun perburuan, dan tidak gugur karena lupa atau karena tidak tahu. Ini adalah pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan merupakan pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil-dalil yang ada. [6]Di tempat yang lain, beliau menyebutkan dalil tersebut, dengan mengatakan, “Menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih adalah syarat sahnya penyembelihan. Ia tidak gugur —baik karena sengaja, lupa, maupun karena tidak tahu— karena ia termasuk syarat, dan syarat tidak gugur baik secara sengaja, lupa, ataupun karena kebodohan. Hal ini karena Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ‘Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya.’ (QS. Al-An‘ām: 121)Dalam ayat tersebut, Allah berfirman (yang artinya) ‘yang tidak disebut nama Allah atasnya’, tanpa membatasi apakah ditinggalkan secara sengaja atau karena lupa.” [7]Pembiusan sebelum penyembelihanSeiring dengan keperluan terhadap penyembelihan dalam jumlah yang sangat banyak, mulai ditemukan dan digunakan alat listrik untuk menyetrum hewan sebelum disembelih. Persoalan ini telah dikaji oleh lembaga-lembaga fikih, di antaranya Majelis Fikih yang berada di bawah naungan Rabithah ‘Alam Islami, dalam sidangnya yang ke-10 yang diselenggarakan di Makkah, mulai hari Sabtu, 24 Safar 1408 hingga Rabu, 28 Safar 1408.Sidang tersebut mengeluarkan keputusan dengan menetapkan beberapa syarat agar sembelihan dianggap sah, yaitu:Pertama: Jika hewan yang boleh dimakan disetrum dengan arus listrik, kemudian disembelih atau ditusuk (nahr) dalam keadaan masih hidup, maka sembelihannya sah secara syar’i dan halal dimakan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ“Kecuali yang sempat kalian sembelih …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Kedua: Jika ruh hewan tersebut hilang (mati) karena setruman sebelum sempat disembelih, maka statusnya adalah bangkai dan haram dimakan, karena keumuman firman Allah Ta‘ala,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ“Diharamkan atas kalian bangkai …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Ketiga: Jika arus listrik yang digunakan bertegangan rendah, ringan, dan tidak menyiksa hewan, serta terdapat maslahat —seperti meringankan rasa sakit saat disembelih atau menenangkan hewan agar tidak melawan—, maka hal tersebut diperbolehkan secara syar’i dengan mempertimbangkan maslahat.Disebutkan pula dalam keputusan Majma‘ Fiqh Islami Internasional, yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam, keputusan nomor 94 (3/10), dalam pembahasan seputar penyembelihan unggas, bahwa:لا يجوز تدويخ الدواجن بالصدمة الكهربائية؛ لما ثبت بالتجربة من إفضاء ذلك إلى موت نسبة غير قليلة منها قبل التذكية“Tidak boleh membius unggas dengan setrum listrik, karena terbukti dari hasil eksperimen bahwa sebagian besar unggas mati sebelum sempat disembelih secara syar’i.”Keputusan tersebut juga memuat beberapa syarat teknis terkait penggunaan alat listrik untuk pembiusan sebelum penyembelihan. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut, silakan merujuk langsung ke dokumen keputusannya. [8]Demikian pembahasan tentang tiga permasalahan kontemporer seputar penyembelihan hewan: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan. Wallaahu a’lam bish showaab.Pada artikel ketiga, insya Allah akan dibahas dua hal penting lainnya: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta jawaban terhadap kritik para aktivis hewan tentang penyembelihan dalam Islam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Rumdin PPIA Sragen, 2 Safar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Al-Mulakhkhash al-Fiqhi. Mesir: Dar al-‘Aqidah, 2009.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439/ 2018. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.[2] Lihat Syarh Nadzm Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah, hal. 49.[3] Al-‘Uddah Syarḥ al-‘Umdah, hal. 447. Dinukil dari Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[4] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[5] Lihat Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, 2: 430-432.[6] Diringkas dari Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 445-446.[7] Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 443.[8] Disarikan dari Al-Fiqh al-Muyassar, 4: 120-121.[9] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.

Fikih Penyembelihan Hewan (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePenyembelihan mekanis dengan mesinPenyembelihan tanpa menyebut nama AllahPembiusan sebelum penyembelihanSeiring berkembangnya zaman dan teknologi, praktik penyembelihan hewan pun mengalami perubahan signifikan. Di berbagai rumah potong modern, penyembelihan sering kali dilakukan secara mekanis dengan mesin, menggunakan peralatan otomatis, bahkan didahului dengan pembiusan atau pingsan sebelum penyembelihan. Di sisi lain, muncul pula kelalaian atau kesengajaan dalam tidak menyebut nama Allah saat penyembelihan.Pada artikel kedua ini, kita akan membahas tiga permasalahan penting: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan.Penyembelihan mekanis dengan mesinJumlah manusia semakin banyak dan kebutuhan terhadap hewan yang boleh dimakan pun meningkat dalam jumlah besar, sehingga menyulitkan proses penyembelihan dan pensyariatan secara manual seperti cara-cara lama. Oleh karena itu, metode penyembelihan pun mengalami perubahan dari cara-cara sebelumnya, seiring dengan banyaknya jumlah hewan yang disembelih dan kemudahan dalam distribusinya. Hal ini menuntut penggunaan alat (mesin) yang modern, untuk mempercepat proses penyembelihan. [1]Para ulama telah mengumpulkan syarat-syarat penyembelihan, yang jika terpenuhi syarat-syarat tersebut, dan tidak ada penghalangnya; maka penyembelihan dianggap sah, dan hewan hasil penyembelihan halal dikonsumsi. [2]Ada empat syarat agar penyembelihan dianggap sah menurut syariat:Pertama: Kelayakan penyembelih, yaitu orang yang berakal dan bermaksud menyembelih secara syar‘i. Maka tidak sah sembelihan dari orang gila, orang mabuk, atau anak kecil yang belum mumayyiz, karena mereka tidak memiliki maksud (niat) yang sah.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على إباحة ذبيحة المرأة والصبي“Seluruh ulama yang kami ketahui bersepakat bahwa sembelihan perempuan dan anak kecil yang sudah mumayyiz adalah halal.” [3]Kedua: Menggunakan alat yang tajam dan bisa memotong karena ketajamannya, bukan karena beratnya. Baik itu dari besi, batu, kayu, atau selainnya, asalkan bukan dari tulang atau kuku. Ini merupakan pendapat yang disepakati oleh para ulama tentang keabsahan penyembelihannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Rafi‘ bin Khadij,ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السن والظفر“Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah padanya, maka makanlah. Kecuali gigi dan kuku.” (HR. Bukhari no. 2488 dan Muslim no. 5065) [4]Ketiga: Memotong al-halqūm (tenggorokan, yaitu saluran napas), al-marī’ (kerongkongan, yaitu saluran makanan dan minuman), dan salah satu dari dua wadajain (dua urat nadi di leher, yaitu pembuluh darah besar).Keempat: Penyembelih mengucapkan bismillah ( باسم الله ) saat menggerakkan tangannya untuk menyembelih, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْق“Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya, karena sesungguhnya itu adalah kefasikan.” (QS. Al-An‘ām: 121) [5]Namun demikian, para ulama berselisih pendapat tentang keabsahan penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, yang akan dijelaskan di sub bab berikut ini:Penyembelihan tanpa menyebut nama AllahSyekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan, “Masalah ini —yakni tentang menyebut nama Allah saat menyembelih atau saat berburu— diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat:Pendapat pertama: Menyebut nama Allah tidak wajib baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan, tetapi hanya sunah. Mereka berdalil dengan hadis yang tidak sahih:ذبيحة المسلم حلال وإن لم يذكر اسم الله عليها“Sembelihan seorang Muslim itu halal meskipun ia tidak menyebut nama Allah atasnya.”Pendapat kedua: Menyebut nama Allah wajib, tetapi gugur jika karena lupa atau tidak tahu, baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan.Pendapat ketiga: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan dan perburuan, namun gugur karena lupa dalam penyembelihan, tidak gugur dalam perburuan. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan fuqaha Hanabilah.Pendapat keempat: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan maupun perburuan, dan tidak gugur karena lupa atau karena tidak tahu. Ini adalah pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan merupakan pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil-dalil yang ada. [6]Di tempat yang lain, beliau menyebutkan dalil tersebut, dengan mengatakan, “Menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih adalah syarat sahnya penyembelihan. Ia tidak gugur —baik karena sengaja, lupa, maupun karena tidak tahu— karena ia termasuk syarat, dan syarat tidak gugur baik secara sengaja, lupa, ataupun karena kebodohan. Hal ini karena Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ‘Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya.’ (QS. Al-An‘ām: 121)Dalam ayat tersebut, Allah berfirman (yang artinya) ‘yang tidak disebut nama Allah atasnya’, tanpa membatasi apakah ditinggalkan secara sengaja atau karena lupa.” [7]Pembiusan sebelum penyembelihanSeiring dengan keperluan terhadap penyembelihan dalam jumlah yang sangat banyak, mulai ditemukan dan digunakan alat listrik untuk menyetrum hewan sebelum disembelih. Persoalan ini telah dikaji oleh lembaga-lembaga fikih, di antaranya Majelis Fikih yang berada di bawah naungan Rabithah ‘Alam Islami, dalam sidangnya yang ke-10 yang diselenggarakan di Makkah, mulai hari Sabtu, 24 Safar 1408 hingga Rabu, 28 Safar 1408.Sidang tersebut mengeluarkan keputusan dengan menetapkan beberapa syarat agar sembelihan dianggap sah, yaitu:Pertama: Jika hewan yang boleh dimakan disetrum dengan arus listrik, kemudian disembelih atau ditusuk (nahr) dalam keadaan masih hidup, maka sembelihannya sah secara syar’i dan halal dimakan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ“Kecuali yang sempat kalian sembelih …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Kedua: Jika ruh hewan tersebut hilang (mati) karena setruman sebelum sempat disembelih, maka statusnya adalah bangkai dan haram dimakan, karena keumuman firman Allah Ta‘ala,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ“Diharamkan atas kalian bangkai …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Ketiga: Jika arus listrik yang digunakan bertegangan rendah, ringan, dan tidak menyiksa hewan, serta terdapat maslahat —seperti meringankan rasa sakit saat disembelih atau menenangkan hewan agar tidak melawan—, maka hal tersebut diperbolehkan secara syar’i dengan mempertimbangkan maslahat.Disebutkan pula dalam keputusan Majma‘ Fiqh Islami Internasional, yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam, keputusan nomor 94 (3/10), dalam pembahasan seputar penyembelihan unggas, bahwa:لا يجوز تدويخ الدواجن بالصدمة الكهربائية؛ لما ثبت بالتجربة من إفضاء ذلك إلى موت نسبة غير قليلة منها قبل التذكية“Tidak boleh membius unggas dengan setrum listrik, karena terbukti dari hasil eksperimen bahwa sebagian besar unggas mati sebelum sempat disembelih secara syar’i.”Keputusan tersebut juga memuat beberapa syarat teknis terkait penggunaan alat listrik untuk pembiusan sebelum penyembelihan. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut, silakan merujuk langsung ke dokumen keputusannya. [8]Demikian pembahasan tentang tiga permasalahan kontemporer seputar penyembelihan hewan: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan. Wallaahu a’lam bish showaab.Pada artikel ketiga, insya Allah akan dibahas dua hal penting lainnya: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta jawaban terhadap kritik para aktivis hewan tentang penyembelihan dalam Islam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Rumdin PPIA Sragen, 2 Safar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Al-Mulakhkhash al-Fiqhi. Mesir: Dar al-‘Aqidah, 2009.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439/ 2018. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.[2] Lihat Syarh Nadzm Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah, hal. 49.[3] Al-‘Uddah Syarḥ al-‘Umdah, hal. 447. Dinukil dari Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[4] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[5] Lihat Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, 2: 430-432.[6] Diringkas dari Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 445-446.[7] Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 443.[8] Disarikan dari Al-Fiqh al-Muyassar, 4: 120-121.[9] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.
Daftar Isi TogglePenyembelihan mekanis dengan mesinPenyembelihan tanpa menyebut nama AllahPembiusan sebelum penyembelihanSeiring berkembangnya zaman dan teknologi, praktik penyembelihan hewan pun mengalami perubahan signifikan. Di berbagai rumah potong modern, penyembelihan sering kali dilakukan secara mekanis dengan mesin, menggunakan peralatan otomatis, bahkan didahului dengan pembiusan atau pingsan sebelum penyembelihan. Di sisi lain, muncul pula kelalaian atau kesengajaan dalam tidak menyebut nama Allah saat penyembelihan.Pada artikel kedua ini, kita akan membahas tiga permasalahan penting: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan.Penyembelihan mekanis dengan mesinJumlah manusia semakin banyak dan kebutuhan terhadap hewan yang boleh dimakan pun meningkat dalam jumlah besar, sehingga menyulitkan proses penyembelihan dan pensyariatan secara manual seperti cara-cara lama. Oleh karena itu, metode penyembelihan pun mengalami perubahan dari cara-cara sebelumnya, seiring dengan banyaknya jumlah hewan yang disembelih dan kemudahan dalam distribusinya. Hal ini menuntut penggunaan alat (mesin) yang modern, untuk mempercepat proses penyembelihan. [1]Para ulama telah mengumpulkan syarat-syarat penyembelihan, yang jika terpenuhi syarat-syarat tersebut, dan tidak ada penghalangnya; maka penyembelihan dianggap sah, dan hewan hasil penyembelihan halal dikonsumsi. [2]Ada empat syarat agar penyembelihan dianggap sah menurut syariat:Pertama: Kelayakan penyembelih, yaitu orang yang berakal dan bermaksud menyembelih secara syar‘i. Maka tidak sah sembelihan dari orang gila, orang mabuk, atau anak kecil yang belum mumayyiz, karena mereka tidak memiliki maksud (niat) yang sah.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على إباحة ذبيحة المرأة والصبي“Seluruh ulama yang kami ketahui bersepakat bahwa sembelihan perempuan dan anak kecil yang sudah mumayyiz adalah halal.” [3]Kedua: Menggunakan alat yang tajam dan bisa memotong karena ketajamannya, bukan karena beratnya. Baik itu dari besi, batu, kayu, atau selainnya, asalkan bukan dari tulang atau kuku. Ini merupakan pendapat yang disepakati oleh para ulama tentang keabsahan penyembelihannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Rafi‘ bin Khadij,ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السن والظفر“Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah padanya, maka makanlah. Kecuali gigi dan kuku.” (HR. Bukhari no. 2488 dan Muslim no. 5065) [4]Ketiga: Memotong al-halqūm (tenggorokan, yaitu saluran napas), al-marī’ (kerongkongan, yaitu saluran makanan dan minuman), dan salah satu dari dua wadajain (dua urat nadi di leher, yaitu pembuluh darah besar).Keempat: Penyembelih mengucapkan bismillah ( باسم الله ) saat menggerakkan tangannya untuk menyembelih, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْق“Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya, karena sesungguhnya itu adalah kefasikan.” (QS. Al-An‘ām: 121) [5]Namun demikian, para ulama berselisih pendapat tentang keabsahan penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, yang akan dijelaskan di sub bab berikut ini:Penyembelihan tanpa menyebut nama AllahSyekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan, “Masalah ini —yakni tentang menyebut nama Allah saat menyembelih atau saat berburu— diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat:Pendapat pertama: Menyebut nama Allah tidak wajib baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan, tetapi hanya sunah. Mereka berdalil dengan hadis yang tidak sahih:ذبيحة المسلم حلال وإن لم يذكر اسم الله عليها“Sembelihan seorang Muslim itu halal meskipun ia tidak menyebut nama Allah atasnya.”Pendapat kedua: Menyebut nama Allah wajib, tetapi gugur jika karena lupa atau tidak tahu, baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan.Pendapat ketiga: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan dan perburuan, namun gugur karena lupa dalam penyembelihan, tidak gugur dalam perburuan. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan fuqaha Hanabilah.Pendapat keempat: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan maupun perburuan, dan tidak gugur karena lupa atau karena tidak tahu. Ini adalah pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan merupakan pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil-dalil yang ada. [6]Di tempat yang lain, beliau menyebutkan dalil tersebut, dengan mengatakan, “Menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih adalah syarat sahnya penyembelihan. Ia tidak gugur —baik karena sengaja, lupa, maupun karena tidak tahu— karena ia termasuk syarat, dan syarat tidak gugur baik secara sengaja, lupa, ataupun karena kebodohan. Hal ini karena Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ‘Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya.’ (QS. Al-An‘ām: 121)Dalam ayat tersebut, Allah berfirman (yang artinya) ‘yang tidak disebut nama Allah atasnya’, tanpa membatasi apakah ditinggalkan secara sengaja atau karena lupa.” [7]Pembiusan sebelum penyembelihanSeiring dengan keperluan terhadap penyembelihan dalam jumlah yang sangat banyak, mulai ditemukan dan digunakan alat listrik untuk menyetrum hewan sebelum disembelih. Persoalan ini telah dikaji oleh lembaga-lembaga fikih, di antaranya Majelis Fikih yang berada di bawah naungan Rabithah ‘Alam Islami, dalam sidangnya yang ke-10 yang diselenggarakan di Makkah, mulai hari Sabtu, 24 Safar 1408 hingga Rabu, 28 Safar 1408.Sidang tersebut mengeluarkan keputusan dengan menetapkan beberapa syarat agar sembelihan dianggap sah, yaitu:Pertama: Jika hewan yang boleh dimakan disetrum dengan arus listrik, kemudian disembelih atau ditusuk (nahr) dalam keadaan masih hidup, maka sembelihannya sah secara syar’i dan halal dimakan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ“Kecuali yang sempat kalian sembelih …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Kedua: Jika ruh hewan tersebut hilang (mati) karena setruman sebelum sempat disembelih, maka statusnya adalah bangkai dan haram dimakan, karena keumuman firman Allah Ta‘ala,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ“Diharamkan atas kalian bangkai …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Ketiga: Jika arus listrik yang digunakan bertegangan rendah, ringan, dan tidak menyiksa hewan, serta terdapat maslahat —seperti meringankan rasa sakit saat disembelih atau menenangkan hewan agar tidak melawan—, maka hal tersebut diperbolehkan secara syar’i dengan mempertimbangkan maslahat.Disebutkan pula dalam keputusan Majma‘ Fiqh Islami Internasional, yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam, keputusan nomor 94 (3/10), dalam pembahasan seputar penyembelihan unggas, bahwa:لا يجوز تدويخ الدواجن بالصدمة الكهربائية؛ لما ثبت بالتجربة من إفضاء ذلك إلى موت نسبة غير قليلة منها قبل التذكية“Tidak boleh membius unggas dengan setrum listrik, karena terbukti dari hasil eksperimen bahwa sebagian besar unggas mati sebelum sempat disembelih secara syar’i.”Keputusan tersebut juga memuat beberapa syarat teknis terkait penggunaan alat listrik untuk pembiusan sebelum penyembelihan. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut, silakan merujuk langsung ke dokumen keputusannya. [8]Demikian pembahasan tentang tiga permasalahan kontemporer seputar penyembelihan hewan: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan. Wallaahu a’lam bish showaab.Pada artikel ketiga, insya Allah akan dibahas dua hal penting lainnya: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta jawaban terhadap kritik para aktivis hewan tentang penyembelihan dalam Islam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Rumdin PPIA Sragen, 2 Safar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Al-Mulakhkhash al-Fiqhi. Mesir: Dar al-‘Aqidah, 2009.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439/ 2018. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.[2] Lihat Syarh Nadzm Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah, hal. 49.[3] Al-‘Uddah Syarḥ al-‘Umdah, hal. 447. Dinukil dari Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[4] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[5] Lihat Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, 2: 430-432.[6] Diringkas dari Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 445-446.[7] Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 443.[8] Disarikan dari Al-Fiqh al-Muyassar, 4: 120-121.[9] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.


Daftar Isi TogglePenyembelihan mekanis dengan mesinPenyembelihan tanpa menyebut nama AllahPembiusan sebelum penyembelihanSeiring berkembangnya zaman dan teknologi, praktik penyembelihan hewan pun mengalami perubahan signifikan. Di berbagai rumah potong modern, penyembelihan sering kali dilakukan secara mekanis dengan mesin, menggunakan peralatan otomatis, bahkan didahului dengan pembiusan atau pingsan sebelum penyembelihan. Di sisi lain, muncul pula kelalaian atau kesengajaan dalam tidak menyebut nama Allah saat penyembelihan.Pada artikel kedua ini, kita akan membahas tiga permasalahan penting: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan.Penyembelihan mekanis dengan mesinJumlah manusia semakin banyak dan kebutuhan terhadap hewan yang boleh dimakan pun meningkat dalam jumlah besar, sehingga menyulitkan proses penyembelihan dan pensyariatan secara manual seperti cara-cara lama. Oleh karena itu, metode penyembelihan pun mengalami perubahan dari cara-cara sebelumnya, seiring dengan banyaknya jumlah hewan yang disembelih dan kemudahan dalam distribusinya. Hal ini menuntut penggunaan alat (mesin) yang modern, untuk mempercepat proses penyembelihan. [1]Para ulama telah mengumpulkan syarat-syarat penyembelihan, yang jika terpenuhi syarat-syarat tersebut, dan tidak ada penghalangnya; maka penyembelihan dianggap sah, dan hewan hasil penyembelihan halal dikonsumsi. [2]Ada empat syarat agar penyembelihan dianggap sah menurut syariat:Pertama: Kelayakan penyembelih, yaitu orang yang berakal dan bermaksud menyembelih secara syar‘i. Maka tidak sah sembelihan dari orang gila, orang mabuk, atau anak kecil yang belum mumayyiz, karena mereka tidak memiliki maksud (niat) yang sah.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على إباحة ذبيحة المرأة والصبي“Seluruh ulama yang kami ketahui bersepakat bahwa sembelihan perempuan dan anak kecil yang sudah mumayyiz adalah halal.” [3]Kedua: Menggunakan alat yang tajam dan bisa memotong karena ketajamannya, bukan karena beratnya. Baik itu dari besi, batu, kayu, atau selainnya, asalkan bukan dari tulang atau kuku. Ini merupakan pendapat yang disepakati oleh para ulama tentang keabsahan penyembelihannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Rafi‘ bin Khadij,ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السن والظفر“Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah padanya, maka makanlah. Kecuali gigi dan kuku.” (HR. Bukhari no. 2488 dan Muslim no. 5065) [4]Ketiga: Memotong al-halqūm (tenggorokan, yaitu saluran napas), al-marī’ (kerongkongan, yaitu saluran makanan dan minuman), dan salah satu dari dua wadajain (dua urat nadi di leher, yaitu pembuluh darah besar).Keempat: Penyembelih mengucapkan bismillah ( باسم الله ) saat menggerakkan tangannya untuk menyembelih, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْق“Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya, karena sesungguhnya itu adalah kefasikan.” (QS. Al-An‘ām: 121) [5]Namun demikian, para ulama berselisih pendapat tentang keabsahan penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, yang akan dijelaskan di sub bab berikut ini:Penyembelihan tanpa menyebut nama AllahSyekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan, “Masalah ini —yakni tentang menyebut nama Allah saat menyembelih atau saat berburu— diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat:Pendapat pertama: Menyebut nama Allah tidak wajib baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan, tetapi hanya sunah. Mereka berdalil dengan hadis yang tidak sahih:ذبيحة المسلم حلال وإن لم يذكر اسم الله عليها“Sembelihan seorang Muslim itu halal meskipun ia tidak menyebut nama Allah atasnya.”Pendapat kedua: Menyebut nama Allah wajib, tetapi gugur jika karena lupa atau tidak tahu, baik dalam penyembelihan maupun dalam perburuan.Pendapat ketiga: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan dan perburuan, namun gugur karena lupa dalam penyembelihan, tidak gugur dalam perburuan. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan fuqaha Hanabilah.Pendapat keempat: Menyebut nama Allah adalah syarat dalam penyembelihan maupun perburuan, dan tidak gugur karena lupa atau karena tidak tahu. Ini adalah pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan merupakan pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil-dalil yang ada. [6]Di tempat yang lain, beliau menyebutkan dalil tersebut, dengan mengatakan, “Menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih adalah syarat sahnya penyembelihan. Ia tidak gugur —baik karena sengaja, lupa, maupun karena tidak tahu— karena ia termasuk syarat, dan syarat tidak gugur baik secara sengaja, lupa, ataupun karena kebodohan. Hal ini karena Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ‘Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya.’ (QS. Al-An‘ām: 121)Dalam ayat tersebut, Allah berfirman (yang artinya) ‘yang tidak disebut nama Allah atasnya’, tanpa membatasi apakah ditinggalkan secara sengaja atau karena lupa.” [7]Pembiusan sebelum penyembelihanSeiring dengan keperluan terhadap penyembelihan dalam jumlah yang sangat banyak, mulai ditemukan dan digunakan alat listrik untuk menyetrum hewan sebelum disembelih. Persoalan ini telah dikaji oleh lembaga-lembaga fikih, di antaranya Majelis Fikih yang berada di bawah naungan Rabithah ‘Alam Islami, dalam sidangnya yang ke-10 yang diselenggarakan di Makkah, mulai hari Sabtu, 24 Safar 1408 hingga Rabu, 28 Safar 1408.Sidang tersebut mengeluarkan keputusan dengan menetapkan beberapa syarat agar sembelihan dianggap sah, yaitu:Pertama: Jika hewan yang boleh dimakan disetrum dengan arus listrik, kemudian disembelih atau ditusuk (nahr) dalam keadaan masih hidup, maka sembelihannya sah secara syar’i dan halal dimakan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala,إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ“Kecuali yang sempat kalian sembelih …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Kedua: Jika ruh hewan tersebut hilang (mati) karena setruman sebelum sempat disembelih, maka statusnya adalah bangkai dan haram dimakan, karena keumuman firman Allah Ta‘ala,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ“Diharamkan atas kalian bangkai …” (QS. Al-Mā’idah: 3)Ketiga: Jika arus listrik yang digunakan bertegangan rendah, ringan, dan tidak menyiksa hewan, serta terdapat maslahat —seperti meringankan rasa sakit saat disembelih atau menenangkan hewan agar tidak melawan—, maka hal tersebut diperbolehkan secara syar’i dengan mempertimbangkan maslahat.Disebutkan pula dalam keputusan Majma‘ Fiqh Islami Internasional, yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam, keputusan nomor 94 (3/10), dalam pembahasan seputar penyembelihan unggas, bahwa:لا يجوز تدويخ الدواجن بالصدمة الكهربائية؛ لما ثبت بالتجربة من إفضاء ذلك إلى موت نسبة غير قليلة منها قبل التذكية“Tidak boleh membius unggas dengan setrum listrik, karena terbukti dari hasil eksperimen bahwa sebagian besar unggas mati sebelum sempat disembelih secara syar’i.”Keputusan tersebut juga memuat beberapa syarat teknis terkait penggunaan alat listrik untuk pembiusan sebelum penyembelihan. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut, silakan merujuk langsung ke dokumen keputusannya. [8]Demikian pembahasan tentang tiga permasalahan kontemporer seputar penyembelihan hewan: (1) penyembelihan mekanis dengan mesin, (2) penyembelihan tanpa menyebut nama Allah, dan (3) pembiusan sebelum penyembelihan. Wallaahu a’lam bish showaab.Pada artikel ketiga, insya Allah akan dibahas dua hal penting lainnya: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta jawaban terhadap kritik para aktivis hewan tentang penyembelihan dalam Islam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Rumdin PPIA Sragen, 2 Safar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Al-Mulakhkhash al-Fiqhi. Mesir: Dar al-‘Aqidah, 2009.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439/ 2018. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.[2] Lihat Syarh Nadzm Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah, hal. 49.[3] Al-‘Uddah Syarḥ al-‘Umdah, hal. 447. Dinukil dari Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[4] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 17.[5] Lihat Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, 2: 430-432.[6] Diringkas dari Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 445-446.[7] Syarḥ al-Mumti‘ ‘ala Zād al-Mustaqni‘, 7: 443.[8] Disarikan dari Al-Fiqh al-Muyassar, 4: 120-121.[9] Al-Fiqh al-Muyassar, 13: 38.

Fikih Utang Piutang (Bag. 4): Objek Utang Piutang

Daftar Isi ToggleSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPerselisihan ulama perihal objek utangHanafiyahJumhur ulamaHanabilahObjek utang dari komoditi ribawiSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan soal rukun dan syarat-syarat utang piutang. Selain hal-hal tersebut, tentunya terdapat hal yang tidak kalah penting untuk diketahui, yaitu jenis-jenis harta yang boleh untuk dijadikan sebagai objek utang.Secara umum, seluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Inilah kaidah utama tentang objek utang. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Rafi’, beliau berkata,أَنَّ رَسُول اللَّهِ اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِل الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُل بَكْرَهُ ، فَرَجَعَ أَبُو رَافِعٍ فَقَال: لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلاَّ خِيَارًا بَعِيرًا رُبَاعِيًّا، فَقَال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ، إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah meminjam seekor unta muda (bakr) dari seorang laki-laki. Kemudian datanglah kepadanya unta-unta dari unta-unta sedekah. Maka beliau memerintahkan Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta muda laki-laki tersebut. Lalu Abu Rafi’ kembali kepadanya dan berkata, ‘Aku tidak menemukan di antara unta-unta itu kecuali seekor unta pilihan yang telah mencapai usia ruba’i (gigi seri depannya telah tumbuh semua).’ Maka beliau bersabda, ‘Berikanlah kepadanya unta itu, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim no. 1600)Sisi pendalilan dari hadis tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam seekor unta muda. Dan unta adalah salah satu hewan yang boleh diperjualbelikan. Oleh karena itu, boleh pula untuk dijadikan sebagai objek dari utang piutang.  Sehingga para ulama mengambil kaidah dari hadis di atas bahwa segala hal yang boleh diperjualbelikan, maka boleh pula untuk dijadikan objek utang.Perselisihan ulama perihal objek utangPara ulama berselisih pendapat tentang apa saja yang bisa dijadikan sebagai objek utang [1],HanafiyahQardh (utang) hanyalah sah pada barang yang sifatnya bisa diganti dengan yang serupa. Tidak sah jika dalam bentuk nominal yang sifatnya tidak stabil dan tidak serupa dalam taksiran harganya. Seperti yang berkaitan dengan hewan, properti, dan sejenisnya. Alasannya, hal itu akan menyebabkan perselisihan akibat perbedaan penilaian terhadap harga barang yang dipinjam. Maka disyaratkan barang yang dipinjam adalah barang senilai nominalnya.Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwa sah hukumnya meminjam segala hal yang boleh dilakukan akad salam atasnya, baik berupa hewan atau selainnya, selama bisa dimiliki dengan cara jual beli dan dapat ditentukan sifatnya, walaupun termasuk barang-barang yang taksiran harganya berbeda-beda.Hal ini karena keabsahan akad qardh itu termasuk bentuk tolong-menolong. Sebagaimana terdapat hadis sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau meminjam seekor unta muda dan mengembalikannya dengan unta yang lebih baik. Sehingga diqiyaskan dengan hal tersebut.Adapun sesuatu yang tidak boleh dijadikan objek salam (jual beli pesanan), yaitu sesuatu yang tidak dapat ditentukan dengan sifatnya, seperti permata dan sejenisnya, maka tidak sah untuk dipinjamkan menurut mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah.HanabilahPendapat mu’tamad (resmi) menurut mazhab Hanbali yaitu membolehkan untuk meminjam segala barang yang bisa dijadikan objek jual beli, berupa utang yang sifatnya barang senilai atau yang sifatnya utang harta (nominal), baik bisa ditentukan sifatnya ataupun tidak.Objek utang dari komoditi ribawiTimbul pertanyaan, apakah boleh menjadikan komoditi ribawi sebagai objek dari utang? Dari perselisihan di atas, dapat diketahui bahwasanya tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwasanya akad utang piutang sah dengan menggunakan komoditi ribawi yang enam. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum bulat dijual dengan gandum bulat, sya’ir (salah satu jenis gandum panjang) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim)Berikut ini komoditi ribawi yang enam dari hadis di atas:EmasPerakGandum bulatGandum panjangKurmaGaramArtinya, keenam komoditi ini boleh untuk dilakukan pinjaman atau utang. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ كُلُّ مَنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ اسْتِقْرَاضَ الدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ، وَالْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالتَّمْرِ، وَمَا كَانَ لَهُ مِثْلٌ مِنْ سَائِرِ الْأَطْعِمَةِ الْمَكِيلِ مِنْهَا وَالْمَوْزُونِ جَائِزٌ“Seluruh ulama yang kita ketahui telah sepakat bahwa meminjam dinar (emas), dirham (perak), gandum bulat, gandum panjang, anggur kering (kismis), kurma, dan seluruh jenis makanan yang memiliki padanan (yang sejenis), baik yang ditakar maupun ditimbang, hukumnya boleh.” [2]Kembali kepada definisi qardh (utang) yaitu,دَفْعُ مَالٍ لِمَنْ يَنْتَفِعُ بِهِ وَيَرُدُّ بَدَلَهُ“Memberikan harta kepada orang lain agar ia memanfaatkan, dengan syarat akan dikembalikan ganti (yang serupa).” Maka, objek utang dalam fikih adalah sesuatu yang memiliki nilai harta (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah harus dikembalikan dengan nominal yang serupa ketika meminjam? Atau menyesuaikan nominal pada hari mengembalikan emas tersebut?In syaa Allah akan dijelaskan pada pembahasan setelahnya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 3 Lanjut ke bagian 5***Depok, 1 Safar 1447/ 25 Juli 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Isyraf ‘Ala Madzaahibil ‘Ulama, karya Ibnul Mundzir. Catatan kaki:[1] Shahih Fiqh Sunnah, 5: 72-73.[2] Al-Isyraf ‘ala Madzaahibil ‘Ulama, 6: 142.

Fikih Utang Piutang (Bag. 4): Objek Utang Piutang

Daftar Isi ToggleSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPerselisihan ulama perihal objek utangHanafiyahJumhur ulamaHanabilahObjek utang dari komoditi ribawiSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan soal rukun dan syarat-syarat utang piutang. Selain hal-hal tersebut, tentunya terdapat hal yang tidak kalah penting untuk diketahui, yaitu jenis-jenis harta yang boleh untuk dijadikan sebagai objek utang.Secara umum, seluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Inilah kaidah utama tentang objek utang. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Rafi’, beliau berkata,أَنَّ رَسُول اللَّهِ اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِل الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُل بَكْرَهُ ، فَرَجَعَ أَبُو رَافِعٍ فَقَال: لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلاَّ خِيَارًا بَعِيرًا رُبَاعِيًّا، فَقَال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ، إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah meminjam seekor unta muda (bakr) dari seorang laki-laki. Kemudian datanglah kepadanya unta-unta dari unta-unta sedekah. Maka beliau memerintahkan Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta muda laki-laki tersebut. Lalu Abu Rafi’ kembali kepadanya dan berkata, ‘Aku tidak menemukan di antara unta-unta itu kecuali seekor unta pilihan yang telah mencapai usia ruba’i (gigi seri depannya telah tumbuh semua).’ Maka beliau bersabda, ‘Berikanlah kepadanya unta itu, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim no. 1600)Sisi pendalilan dari hadis tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam seekor unta muda. Dan unta adalah salah satu hewan yang boleh diperjualbelikan. Oleh karena itu, boleh pula untuk dijadikan sebagai objek dari utang piutang.  Sehingga para ulama mengambil kaidah dari hadis di atas bahwa segala hal yang boleh diperjualbelikan, maka boleh pula untuk dijadikan objek utang.Perselisihan ulama perihal objek utangPara ulama berselisih pendapat tentang apa saja yang bisa dijadikan sebagai objek utang [1],HanafiyahQardh (utang) hanyalah sah pada barang yang sifatnya bisa diganti dengan yang serupa. Tidak sah jika dalam bentuk nominal yang sifatnya tidak stabil dan tidak serupa dalam taksiran harganya. Seperti yang berkaitan dengan hewan, properti, dan sejenisnya. Alasannya, hal itu akan menyebabkan perselisihan akibat perbedaan penilaian terhadap harga barang yang dipinjam. Maka disyaratkan barang yang dipinjam adalah barang senilai nominalnya.Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwa sah hukumnya meminjam segala hal yang boleh dilakukan akad salam atasnya, baik berupa hewan atau selainnya, selama bisa dimiliki dengan cara jual beli dan dapat ditentukan sifatnya, walaupun termasuk barang-barang yang taksiran harganya berbeda-beda.Hal ini karena keabsahan akad qardh itu termasuk bentuk tolong-menolong. Sebagaimana terdapat hadis sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau meminjam seekor unta muda dan mengembalikannya dengan unta yang lebih baik. Sehingga diqiyaskan dengan hal tersebut.Adapun sesuatu yang tidak boleh dijadikan objek salam (jual beli pesanan), yaitu sesuatu yang tidak dapat ditentukan dengan sifatnya, seperti permata dan sejenisnya, maka tidak sah untuk dipinjamkan menurut mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah.HanabilahPendapat mu’tamad (resmi) menurut mazhab Hanbali yaitu membolehkan untuk meminjam segala barang yang bisa dijadikan objek jual beli, berupa utang yang sifatnya barang senilai atau yang sifatnya utang harta (nominal), baik bisa ditentukan sifatnya ataupun tidak.Objek utang dari komoditi ribawiTimbul pertanyaan, apakah boleh menjadikan komoditi ribawi sebagai objek dari utang? Dari perselisihan di atas, dapat diketahui bahwasanya tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwasanya akad utang piutang sah dengan menggunakan komoditi ribawi yang enam. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum bulat dijual dengan gandum bulat, sya’ir (salah satu jenis gandum panjang) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim)Berikut ini komoditi ribawi yang enam dari hadis di atas:EmasPerakGandum bulatGandum panjangKurmaGaramArtinya, keenam komoditi ini boleh untuk dilakukan pinjaman atau utang. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ كُلُّ مَنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ اسْتِقْرَاضَ الدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ، وَالْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالتَّمْرِ، وَمَا كَانَ لَهُ مِثْلٌ مِنْ سَائِرِ الْأَطْعِمَةِ الْمَكِيلِ مِنْهَا وَالْمَوْزُونِ جَائِزٌ“Seluruh ulama yang kita ketahui telah sepakat bahwa meminjam dinar (emas), dirham (perak), gandum bulat, gandum panjang, anggur kering (kismis), kurma, dan seluruh jenis makanan yang memiliki padanan (yang sejenis), baik yang ditakar maupun ditimbang, hukumnya boleh.” [2]Kembali kepada definisi qardh (utang) yaitu,دَفْعُ مَالٍ لِمَنْ يَنْتَفِعُ بِهِ وَيَرُدُّ بَدَلَهُ“Memberikan harta kepada orang lain agar ia memanfaatkan, dengan syarat akan dikembalikan ganti (yang serupa).” Maka, objek utang dalam fikih adalah sesuatu yang memiliki nilai harta (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah harus dikembalikan dengan nominal yang serupa ketika meminjam? Atau menyesuaikan nominal pada hari mengembalikan emas tersebut?In syaa Allah akan dijelaskan pada pembahasan setelahnya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 3 Lanjut ke bagian 5***Depok, 1 Safar 1447/ 25 Juli 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Isyraf ‘Ala Madzaahibil ‘Ulama, karya Ibnul Mundzir. Catatan kaki:[1] Shahih Fiqh Sunnah, 5: 72-73.[2] Al-Isyraf ‘ala Madzaahibil ‘Ulama, 6: 142.
Daftar Isi ToggleSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPerselisihan ulama perihal objek utangHanafiyahJumhur ulamaHanabilahObjek utang dari komoditi ribawiSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan soal rukun dan syarat-syarat utang piutang. Selain hal-hal tersebut, tentunya terdapat hal yang tidak kalah penting untuk diketahui, yaitu jenis-jenis harta yang boleh untuk dijadikan sebagai objek utang.Secara umum, seluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Inilah kaidah utama tentang objek utang. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Rafi’, beliau berkata,أَنَّ رَسُول اللَّهِ اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِل الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُل بَكْرَهُ ، فَرَجَعَ أَبُو رَافِعٍ فَقَال: لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلاَّ خِيَارًا بَعِيرًا رُبَاعِيًّا، فَقَال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ، إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah meminjam seekor unta muda (bakr) dari seorang laki-laki. Kemudian datanglah kepadanya unta-unta dari unta-unta sedekah. Maka beliau memerintahkan Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta muda laki-laki tersebut. Lalu Abu Rafi’ kembali kepadanya dan berkata, ‘Aku tidak menemukan di antara unta-unta itu kecuali seekor unta pilihan yang telah mencapai usia ruba’i (gigi seri depannya telah tumbuh semua).’ Maka beliau bersabda, ‘Berikanlah kepadanya unta itu, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim no. 1600)Sisi pendalilan dari hadis tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam seekor unta muda. Dan unta adalah salah satu hewan yang boleh diperjualbelikan. Oleh karena itu, boleh pula untuk dijadikan sebagai objek dari utang piutang.  Sehingga para ulama mengambil kaidah dari hadis di atas bahwa segala hal yang boleh diperjualbelikan, maka boleh pula untuk dijadikan objek utang.Perselisihan ulama perihal objek utangPara ulama berselisih pendapat tentang apa saja yang bisa dijadikan sebagai objek utang [1],HanafiyahQardh (utang) hanyalah sah pada barang yang sifatnya bisa diganti dengan yang serupa. Tidak sah jika dalam bentuk nominal yang sifatnya tidak stabil dan tidak serupa dalam taksiran harganya. Seperti yang berkaitan dengan hewan, properti, dan sejenisnya. Alasannya, hal itu akan menyebabkan perselisihan akibat perbedaan penilaian terhadap harga barang yang dipinjam. Maka disyaratkan barang yang dipinjam adalah barang senilai nominalnya.Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwa sah hukumnya meminjam segala hal yang boleh dilakukan akad salam atasnya, baik berupa hewan atau selainnya, selama bisa dimiliki dengan cara jual beli dan dapat ditentukan sifatnya, walaupun termasuk barang-barang yang taksiran harganya berbeda-beda.Hal ini karena keabsahan akad qardh itu termasuk bentuk tolong-menolong. Sebagaimana terdapat hadis sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau meminjam seekor unta muda dan mengembalikannya dengan unta yang lebih baik. Sehingga diqiyaskan dengan hal tersebut.Adapun sesuatu yang tidak boleh dijadikan objek salam (jual beli pesanan), yaitu sesuatu yang tidak dapat ditentukan dengan sifatnya, seperti permata dan sejenisnya, maka tidak sah untuk dipinjamkan menurut mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah.HanabilahPendapat mu’tamad (resmi) menurut mazhab Hanbali yaitu membolehkan untuk meminjam segala barang yang bisa dijadikan objek jual beli, berupa utang yang sifatnya barang senilai atau yang sifatnya utang harta (nominal), baik bisa ditentukan sifatnya ataupun tidak.Objek utang dari komoditi ribawiTimbul pertanyaan, apakah boleh menjadikan komoditi ribawi sebagai objek dari utang? Dari perselisihan di atas, dapat diketahui bahwasanya tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwasanya akad utang piutang sah dengan menggunakan komoditi ribawi yang enam. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum bulat dijual dengan gandum bulat, sya’ir (salah satu jenis gandum panjang) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim)Berikut ini komoditi ribawi yang enam dari hadis di atas:EmasPerakGandum bulatGandum panjangKurmaGaramArtinya, keenam komoditi ini boleh untuk dilakukan pinjaman atau utang. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ كُلُّ مَنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ اسْتِقْرَاضَ الدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ، وَالْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالتَّمْرِ، وَمَا كَانَ لَهُ مِثْلٌ مِنْ سَائِرِ الْأَطْعِمَةِ الْمَكِيلِ مِنْهَا وَالْمَوْزُونِ جَائِزٌ“Seluruh ulama yang kita ketahui telah sepakat bahwa meminjam dinar (emas), dirham (perak), gandum bulat, gandum panjang, anggur kering (kismis), kurma, dan seluruh jenis makanan yang memiliki padanan (yang sejenis), baik yang ditakar maupun ditimbang, hukumnya boleh.” [2]Kembali kepada definisi qardh (utang) yaitu,دَفْعُ مَالٍ لِمَنْ يَنْتَفِعُ بِهِ وَيَرُدُّ بَدَلَهُ“Memberikan harta kepada orang lain agar ia memanfaatkan, dengan syarat akan dikembalikan ganti (yang serupa).” Maka, objek utang dalam fikih adalah sesuatu yang memiliki nilai harta (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah harus dikembalikan dengan nominal yang serupa ketika meminjam? Atau menyesuaikan nominal pada hari mengembalikan emas tersebut?In syaa Allah akan dijelaskan pada pembahasan setelahnya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 3 Lanjut ke bagian 5***Depok, 1 Safar 1447/ 25 Juli 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Isyraf ‘Ala Madzaahibil ‘Ulama, karya Ibnul Mundzir. Catatan kaki:[1] Shahih Fiqh Sunnah, 5: 72-73.[2] Al-Isyraf ‘ala Madzaahibil ‘Ulama, 6: 142.


Daftar Isi ToggleSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPerselisihan ulama perihal objek utangHanafiyahJumhur ulamaHanabilahObjek utang dari komoditi ribawiSeluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutangPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan soal rukun dan syarat-syarat utang piutang. Selain hal-hal tersebut, tentunya terdapat hal yang tidak kalah penting untuk diketahui, yaitu jenis-jenis harta yang boleh untuk dijadikan sebagai objek utang.Secara umum, seluruh jenis harta yang sah diperjualbelikan, maka sah pula untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Inilah kaidah utama tentang objek utang. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Rafi’, beliau berkata,أَنَّ رَسُول اللَّهِ اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِل الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُل بَكْرَهُ ، فَرَجَعَ أَبُو رَافِعٍ فَقَال: لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلاَّ خِيَارًا بَعِيرًا رُبَاعِيًّا، فَقَال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ، إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah meminjam seekor unta muda (bakr) dari seorang laki-laki. Kemudian datanglah kepadanya unta-unta dari unta-unta sedekah. Maka beliau memerintahkan Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta muda laki-laki tersebut. Lalu Abu Rafi’ kembali kepadanya dan berkata, ‘Aku tidak menemukan di antara unta-unta itu kecuali seekor unta pilihan yang telah mencapai usia ruba’i (gigi seri depannya telah tumbuh semua).’ Maka beliau bersabda, ‘Berikanlah kepadanya unta itu, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim no. 1600)Sisi pendalilan dari hadis tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam seekor unta muda. Dan unta adalah salah satu hewan yang boleh diperjualbelikan. Oleh karena itu, boleh pula untuk dijadikan sebagai objek dari utang piutang.  Sehingga para ulama mengambil kaidah dari hadis di atas bahwa segala hal yang boleh diperjualbelikan, maka boleh pula untuk dijadikan objek utang.Perselisihan ulama perihal objek utangPara ulama berselisih pendapat tentang apa saja yang bisa dijadikan sebagai objek utang [1],HanafiyahQardh (utang) hanyalah sah pada barang yang sifatnya bisa diganti dengan yang serupa. Tidak sah jika dalam bentuk nominal yang sifatnya tidak stabil dan tidak serupa dalam taksiran harganya. Seperti yang berkaitan dengan hewan, properti, dan sejenisnya. Alasannya, hal itu akan menyebabkan perselisihan akibat perbedaan penilaian terhadap harga barang yang dipinjam. Maka disyaratkan barang yang dipinjam adalah barang senilai nominalnya.Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwa sah hukumnya meminjam segala hal yang boleh dilakukan akad salam atasnya, baik berupa hewan atau selainnya, selama bisa dimiliki dengan cara jual beli dan dapat ditentukan sifatnya, walaupun termasuk barang-barang yang taksiran harganya berbeda-beda.Hal ini karena keabsahan akad qardh itu termasuk bentuk tolong-menolong. Sebagaimana terdapat hadis sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau meminjam seekor unta muda dan mengembalikannya dengan unta yang lebih baik. Sehingga diqiyaskan dengan hal tersebut.Adapun sesuatu yang tidak boleh dijadikan objek salam (jual beli pesanan), yaitu sesuatu yang tidak dapat ditentukan dengan sifatnya, seperti permata dan sejenisnya, maka tidak sah untuk dipinjamkan menurut mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah.HanabilahPendapat mu’tamad (resmi) menurut mazhab Hanbali yaitu membolehkan untuk meminjam segala barang yang bisa dijadikan objek jual beli, berupa utang yang sifatnya barang senilai atau yang sifatnya utang harta (nominal), baik bisa ditentukan sifatnya ataupun tidak.Objek utang dari komoditi ribawiTimbul pertanyaan, apakah boleh menjadikan komoditi ribawi sebagai objek dari utang? Dari perselisihan di atas, dapat diketahui bahwasanya tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwasanya akad utang piutang sah dengan menggunakan komoditi ribawi yang enam. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum bulat dijual dengan gandum bulat, sya’ir (salah satu jenis gandum panjang) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim)Berikut ini komoditi ribawi yang enam dari hadis di atas:EmasPerakGandum bulatGandum panjangKurmaGaramArtinya, keenam komoditi ini boleh untuk dilakukan pinjaman atau utang. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ كُلُّ مَنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ اسْتِقْرَاضَ الدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ، وَالْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالتَّمْرِ، وَمَا كَانَ لَهُ مِثْلٌ مِنْ سَائِرِ الْأَطْعِمَةِ الْمَكِيلِ مِنْهَا وَالْمَوْزُونِ جَائِزٌ“Seluruh ulama yang kita ketahui telah sepakat bahwa meminjam dinar (emas), dirham (perak), gandum bulat, gandum panjang, anggur kering (kismis), kurma, dan seluruh jenis makanan yang memiliki padanan (yang sejenis), baik yang ditakar maupun ditimbang, hukumnya boleh.” [2]Kembali kepada definisi qardh (utang) yaitu,دَفْعُ مَالٍ لِمَنْ يَنْتَفِعُ بِهِ وَيَرُدُّ بَدَلَهُ“Memberikan harta kepada orang lain agar ia memanfaatkan, dengan syarat akan dikembalikan ganti (yang serupa).” Maka, objek utang dalam fikih adalah sesuatu yang memiliki nilai harta (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah harus dikembalikan dengan nominal yang serupa ketika meminjam? Atau menyesuaikan nominal pada hari mengembalikan emas tersebut?In syaa Allah akan dijelaskan pada pembahasan setelahnya.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 3 Lanjut ke bagian 5***Depok, 1 Safar 1447/ 25 Juli 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamud.Shahih Fiqh Sunnah (Jilid 5), karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Al-Isyraf ‘Ala Madzaahibil ‘Ulama, karya Ibnul Mundzir. Catatan kaki:[1] Shahih Fiqh Sunnah, 5: 72-73.[2] Al-Isyraf ‘ala Madzaahibil ‘Ulama, 6: 142.

Doa Agar Dicintai Allah dan Penduduk Langit – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Manusia yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang mencintai Allah ‘Azza wa Jalla dan dicintai oleh-Nya. Karena itu, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam senantiasa berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amalan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.” Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril ‘alaihissalam: ‘Wahai Jibril, Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka Jibril ‘alaihissalam pun mencintainya. Kemudian, jika Jibril telah mencintainya, ia menyeru kepada para penghuni langit: ‘Wahai para penghuni langit! Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka seluruh penghuni langit pun mencintainya. Lalu apabila para penghuni langit telah mencintainya, dia pun mendapat penerimaan di bumi.” (HR. Muslim, disampaikan Syaikh secara makna). Ini benar-benar nyata. Kadang kamu melihat seseorang berjalan di tengah-tengah manusia, tapi hati mereka menyimpan rasa hormat dan cinta kepadanya, penghargaan, dan pengagungan. Itu semua bukan karena hal lain, melainkan karena Allah ‘Azza wa Jalla mencintainya. ==== إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا هُوَ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَحَبَّهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لِذَلِكَ فَإِنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دَائِمًا فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا جِبْرِيلُ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرَائِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِذَا أَحَبَّهُ جِبْرَائِيلُ نَادَى فِي أَهْلِ السَّمَاءِ يَا أَهْلَ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ كُلُّهُمْ فَإِذَا أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ طُرِحَ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَهَذَا حَقٌّ فَإِنَّكَ تَرَى الرَّجُلَ يَمْشِي بَيْنَ ظَهْرَانَي النَّاسِ وَالْقُلُوبُ تُكِنُّ لَهُ إِجْلَالًا وَمَحَبَّةً وَتَوْقِيرًا وَتَعْظِيمًا لَا لِشَيْءٍ إِلَّا لِمَحَبَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Doa Agar Dicintai Allah dan Penduduk Langit – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Manusia yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang mencintai Allah ‘Azza wa Jalla dan dicintai oleh-Nya. Karena itu, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam senantiasa berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amalan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.” Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril ‘alaihissalam: ‘Wahai Jibril, Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka Jibril ‘alaihissalam pun mencintainya. Kemudian, jika Jibril telah mencintainya, ia menyeru kepada para penghuni langit: ‘Wahai para penghuni langit! Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka seluruh penghuni langit pun mencintainya. Lalu apabila para penghuni langit telah mencintainya, dia pun mendapat penerimaan di bumi.” (HR. Muslim, disampaikan Syaikh secara makna). Ini benar-benar nyata. Kadang kamu melihat seseorang berjalan di tengah-tengah manusia, tapi hati mereka menyimpan rasa hormat dan cinta kepadanya, penghargaan, dan pengagungan. Itu semua bukan karena hal lain, melainkan karena Allah ‘Azza wa Jalla mencintainya. ==== إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا هُوَ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَحَبَّهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لِذَلِكَ فَإِنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دَائِمًا فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا جِبْرِيلُ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرَائِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِذَا أَحَبَّهُ جِبْرَائِيلُ نَادَى فِي أَهْلِ السَّمَاءِ يَا أَهْلَ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ كُلُّهُمْ فَإِذَا أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ طُرِحَ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَهَذَا حَقٌّ فَإِنَّكَ تَرَى الرَّجُلَ يَمْشِي بَيْنَ ظَهْرَانَي النَّاسِ وَالْقُلُوبُ تُكِنُّ لَهُ إِجْلَالًا وَمَحَبَّةً وَتَوْقِيرًا وَتَعْظِيمًا لَا لِشَيْءٍ إِلَّا لِمَحَبَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Manusia yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang mencintai Allah ‘Azza wa Jalla dan dicintai oleh-Nya. Karena itu, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam senantiasa berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amalan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.” Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril ‘alaihissalam: ‘Wahai Jibril, Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka Jibril ‘alaihissalam pun mencintainya. Kemudian, jika Jibril telah mencintainya, ia menyeru kepada para penghuni langit: ‘Wahai para penghuni langit! Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka seluruh penghuni langit pun mencintainya. Lalu apabila para penghuni langit telah mencintainya, dia pun mendapat penerimaan di bumi.” (HR. Muslim, disampaikan Syaikh secara makna). Ini benar-benar nyata. Kadang kamu melihat seseorang berjalan di tengah-tengah manusia, tapi hati mereka menyimpan rasa hormat dan cinta kepadanya, penghargaan, dan pengagungan. Itu semua bukan karena hal lain, melainkan karena Allah ‘Azza wa Jalla mencintainya. ==== إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا هُوَ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَحَبَّهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لِذَلِكَ فَإِنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دَائِمًا فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا جِبْرِيلُ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرَائِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِذَا أَحَبَّهُ جِبْرَائِيلُ نَادَى فِي أَهْلِ السَّمَاءِ يَا أَهْلَ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ كُلُّهُمْ فَإِذَا أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ طُرِحَ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَهَذَا حَقٌّ فَإِنَّكَ تَرَى الرَّجُلَ يَمْشِي بَيْنَ ظَهْرَانَي النَّاسِ وَالْقُلُوبُ تُكِنُّ لَهُ إِجْلَالًا وَمَحَبَّةً وَتَوْقِيرًا وَتَعْظِيمًا لَا لِشَيْءٍ إِلَّا لِمَحَبَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ


Manusia yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang mencintai Allah ‘Azza wa Jalla dan dicintai oleh-Nya. Karena itu, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam senantiasa berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amalan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.” Dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril ‘alaihissalam: ‘Wahai Jibril, Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka Jibril ‘alaihissalam pun mencintainya. Kemudian, jika Jibril telah mencintainya, ia menyeru kepada para penghuni langit: ‘Wahai para penghuni langit! Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Maka seluruh penghuni langit pun mencintainya. Lalu apabila para penghuni langit telah mencintainya, dia pun mendapat penerimaan di bumi.” (HR. Muslim, disampaikan Syaikh secara makna). Ini benar-benar nyata. Kadang kamu melihat seseorang berjalan di tengah-tengah manusia, tapi hati mereka menyimpan rasa hormat dan cinta kepadanya, penghargaan, dan pengagungan. Itu semua bukan karena hal lain, melainkan karena Allah ‘Azza wa Jalla mencintainya. ==== إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا هُوَ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَحَبَّهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لِذَلِكَ فَإِنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دَائِمًا فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا جِبْرِيلُ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرَائِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِذَا أَحَبَّهُ جِبْرَائِيلُ نَادَى فِي أَهْلِ السَّمَاءِ يَا أَهْلَ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ كُلُّهُمْ فَإِذَا أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ طُرِحَ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَهَذَا حَقٌّ فَإِنَّكَ تَرَى الرَّجُلَ يَمْشِي بَيْنَ ظَهْرَانَي النَّاسِ وَالْقُلُوبُ تُكِنُّ لَهُ إِجْلَالًا وَمَحَبَّةً وَتَوْقِيرًا وَتَعْظِيمًا لَا لِشَيْءٍ إِلَّا لِمَحَبَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Jauhilah Muhaqqarat Dzunub, Dosa yang [Dianggap] Remeh

إياكم ومحقرات الذنوب Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله لم يزل عليًّا، ولم يزل في علاه سميًّا، قطرة من بحر جوده تملأ الأرض ريًّا، نظرة من عين رضاه تجعل الكافر وليًّا، الجنة لمن أطاعه ولو كان عبدًا حبشيًّا والنار لمن عصاه ولو شريفًا قرشيًّا، أنزل على نبيه ومصطفاه قولًا بهيًّا ﴿ تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا ﴾ [مريم: 63]. Segala puji hanya bagi Allah Yang Senantiasa Maha Tinggi, dan senantiasa mulia dalam kemahatinggian-Nya. Setetes dari samudera kemurahan-Nya memenuhi bumi, dan tatapan mata keridaan-Nya dapat mengubah orang kafir menjadi kekasih-Nya. Surga bagi orang yang menaati-Nya, meskipun ia hanya seorang budak berkulit hitam, dan neraka bagi orang yang membangkang terhadap-Nya, meskipun ia adalah orang terhormat dari suku Quraisy. Dia menurunkan kepada Nabi dan manusia pilihan-Nya, firman yang menakjubkan: “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63). فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثاتها بدعة، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. Sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar. Seluruh perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. اللهم لا تعذب جمعًا التقى فيك ولك، ولا تعذب ألسنًا تخبر عنك، ولا تعذب قلوبًا تشتاق إلى لذة النظر إلى وجهك الكريم. Ya Allah, janganlah Engkau mengazab sekumpulan orang yang bertemu karena dan untuk Engkau! Janganlah Engkau mengazab lisan yang menyampaikan kabar tentang Engkau! Dan janganlah Engkau mengazab hati yang merindukan nikmatnya melihat wajah-Mu Yang Mulia. إخوة الإسلام ومعاشر الصائمين، حديثنا عن أمر ربما يستهين به كثيرٌ منا، ويحسبه هين، وقد يوصله إلى الأمور العظام التي تفسد على العبد منا دينه ودنياه وآخرته، إنها محقرات الذنوب Saudara-saudara seiman! Wahai kaum yang sedang berpuasa! Pembahasan kita kali ini tentang perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian besar dari kita. Ia mengira perkara ini kecil, tapi bisa mengantarkannya kepada perkara-perkara besar yang dapat merusak agama, dunia, dan akhirat seseorang dari kita. Perkara ini adalah muhaqqarat dzunub. محقرات الذنوب تحتمل معان: الأول:ما يفعله العبد من الذنوب، متوهمًا أنه من صغارها، وهو من كبار الذنوب عند الله تعالى. الثاني: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب دون مبالاةٍ بها، ولا توبة منها، فتجتمع عليه هذه الصغائر حتى تُهلكه. الثالث: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب، لا يبالي بها، فتكون سببًا لوقوعه في الكبائر المهلكة؛ عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال لي رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم: “يا عائشة، إياك ومُحقرات الأعمال، فإن لها من الله طالبًا”[صحيح ابن ماجه 3421]. Muhaqqarat dzunub memiliki beberapa makna, yaitu: Dosa yang dilakukan seseorang, dan ia mengira itu sebagai dosa kecil, padahal itu salah satu dosa besar di sisi Allah Ta’ala. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan dan tanpa bertobat darinya, sehingga dosa-dosa kecil itu bertumpuk hingga membinasakannya. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan, sehingga itu menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan.  Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallampernah bersabda kepadaku: يا عائِشةُ، إيَّاكِ ومُحقَّراتِ الأعمالِ؛ فإنَّ لها مِن اللهِ طالِبًا ‘Wahai Aisyah! Berhati-hatilah dari amalan-amalan kecil, karena ia juga punya penuntutnya (malaikat yang mencatatnya) dari Allah.’” (Shahih Ibnu Majah No. 3421). في هذه الوصية التي تكشف له عن أمر من الأمور خطير لا يبالي به كثيرٌ من الخلق ويتهاونون به، ويحسبونه هينًا وهو عند الله تعالى عظيم، ألا وهو الاستهانة بصغائر الذنوب والإكثار منها، ويقوله لقمان الحكيم لابنه: (ولا تَحقِرنَّ من الأمور صغارها، فإن الصغار غدًا تصير كبارًا)، وذلك أمر يجب أن يحذَر منه، وأن تُكشَفَ حقيقته للأبناء والبنات، وذلك من باب الرحمة والوقاية لهم من عذاب الله؛ لأن الله تعالى يقول: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾ [التحريم: 6]. Dalam wasiat ini terungkap suatu perkara penting yang sering diabaikan dan diremehkan banyak orang, mereka mengira perkara itu kecil, tapi di sisi Allah Ta’ala merupakan perkara besar, yakni perkara meremehkan dosa-dosa kecil dan banyak terjerumus ke dalamnya. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan urusan kecil, karena sesuatu yang kecil kelak akan menjadi besar.” Ini merupakan perkara yang harus diperhatikan dan hakikatnya harus dijelaskan kepada putra dan putri kita, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan bagi mereka dari azab Allah, karena Allah Ta’ala telah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ”[أخرجه أحمد في المسند (331/ 5) بسند صحيح]، وعن عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: “مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ”[صحيح: أخرجه معمر في “جامعه” (20278)، وابن أبي شيبة (13/ 289)]. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ “Jauhilah muhaqqarat dzunub, karena perumpamaan muhaqqarat dzunub bagaikan suatu kaum yang singgah di tengah lembah, lalu seseorang dari mereka datang membawa satu ranting pohon, dan orang-orang lain juga membawa satu ranting pohon, hingga mereka dapat mematangkan roti mereka (dengan kumpulan ranting-ranting itu). Sesungguhnya apabila pelaku muhaqqarat dzunub itu diberi balasannya, niscaya itu dapat membinasakannya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad jilid 5 hlm. 331 dengan sanad yang shahih). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ “Perumpamaan muhaqqarat dzunub seperti suatu kaum yang sedang bersafar lalu singgah di dataran luas. Mereka memiliki bekal yang tidak dapat dimakan kecuali harus dimasak terlebih dulu, sehingga mereka menyebar (untuk mencari kayu bakar). Lalu ada yang datang membawa kotoran hewan yang sudah kering, ada yang datang membawa tulang, dan ada yang datang membawa ranting, hingga mereka mengumpulkan bahan bakar untuk memasak makanan mereka. Demikianlah pelaku muhaqqarat dzunub, ia berdusta, berbuat dosa, dan terkumpul dari dosa-dosa itu hingga bisa jadi dengannya Allah menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka Jahannam.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ma’mar dalam Al-Jami No. 20278 dan Ibnu Abi Syaibah, jilid 13 hlm. 289). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ» [إسناده صحيح: أخرجه أحمد (2/ 368)]. خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى  كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى  لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk dapat disembah di tanah kalian ini, tapi ia puas terhadap kalian dengan dosa-dosa yang diremehkan.” (Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, jilid 2 hlm. 368). Dalam bait-bait syair disebutkan: خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa-dosa yang kecil dan banyak  dan itulah ketakwaan كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah penuh duri Yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Janganlah sekali-kali meremehkan dosa kecil Karena pegunungan berasal dari pasir-pasir قال أنس بن مالك رضي الله عنه: “إنكم لتعملون أعمالًا هي أدق في أعينكم من الشعر، وإن كنا لنَعدها على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من الموبقات” [البخاري ج5، ح 6127]، وعن بلال بن سعد قال: لا تنظر إلى صِغر الخطيئة، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت) [سير أعلام النبلاء، 5-91]؛ يقول ابن القيم: إذا يئس الشيطان من إيقاع الإنسان في ارتكاب الكبائر، فإنه يدعوه إلى ارتكاب الصغائر التي إذا اجتمعت على الإنسان ربما أهلكته [التفسير القيم ص613]. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian itu lebih tipis daripada sehelai rambut, tapi dulu kami (para sahabat Nabi) menganggapnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamShallallahu Alaihi wa Sallam termasuk perbuatan yang dapat membinasakan!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari No. 6127). Diriwayatkan dari Bilal bin Sa’d, ia berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kebesaran Dzat Yang kamu maksiati.” (Kitab Siyar A’lam An-Nubala jilid 5 hlm. 91). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila setan telah berputus asa dari menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, maka ia akan menggoda untuk melakukan dosa-dosa kecil, yang jika terkumpul pada diri seseorang mungkin akan membinasakannya.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). وروى الترمذي عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم قال: “إن العبد إذا أخطأ نُكتت في قلبه نكتةٌ سوداء، فإذا نزَع واستغفر وتاب صُقِل قلبه، وإن عاد زيد فيها حتى تَعلو قلبَه، وهو الران الذي ذكر الله: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] [صحيح الترمذي 2654]. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ‏كلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ‏ “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan (dosa), maka akan diberi satu titik hitam dalam hatinya. Lalu apabila ia berhenti dari dosanya, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, akan ditambahkan titik hitam dalam hatinya, hingga menutupi seluruh hatinya, dan itulah ‘Ran’ (penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (Kitab Shahih At-Tirmidzi No. 2654). قال ابن حجر العسقلاني: رُوي عن أسد بن موسى في الزهد، عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: “إن الرجل ليعمل الحسنة، فيثق بها وينسى المحقرات، فيلقى الله وقد أحاطت به، وإن الرجل ليعمل السيئة فلا يزال مشفقًا حتى يلقى الله آمنًا”. قال ابن بطال: المحقرات إذا كثرت صارت كبارًا مع الإصرار [فتح الباري ج11، ص 337]. قال ابن القيم: ولا يزال الشيطان يُسهل على الإنسان محقرات الذنوب حتى يستهين بها، فيكون صاحب الكبيرة الخائف منها أحسن حالًا منه [التفسير القيم ص613]. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan dari Asad bin Musa dalam kitab Az-Zuhd dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, ‘Sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amal kebaikan, lalu ia terlalu percaya diri dengan amal kebaikan itu sehingga ia lalai terhadap dosa-dosa yang diremehkan. Lalu ketika ia berjumpa dengan Allah, ternyata dosa-dosa yang diremehkan itu telah mengepungnya. Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amal keburukan, tapi ia terus merasa bersalah hingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan aman.” Ibnu Baththal berkata, “Dosa-dosa yang dianggap kecil apabila jumlahnya banyak dan dilakukan terus menerus akan menjadi besar.” (Kitab Fath Al-Bari jilid 11 hlm. 337). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Setan akan terus berusaha memudahkan manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil agar ia meremehkannya, sehingga pelaku dosa besar yang takut terhadap dosa besarnya akan menjadi lebih baik keadaannya daripada orang tersebut.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: “إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه، وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مرَّ على أنفه، فقال به هكذا – أي بيده – فذبَّه عنه” [أخرجه أحمد (1/ 383) (3629، 3627)، والبخاري، (8/ 83)، ومسلم، (8/ 92)، وأخرجه عبدالله بن المبارك في “الزهد”، (68)، و( 69 )، والترمذي (2497)، وأبو نعيم في الحلية، 4/ 129، والبيهقي في 10/ 188 – 189 وفي شعب الإيمان له ( 7104 )]. وقد ذكر أهل العلم أن الصغيرة قد يَقترن بها من قلة الحياء وعدم المبالاة، وترك الخوف من الله، مع الاستهانة بها – ما يُلحقها بالكبائر، بل يجعلها في رُتبتها، ولأجل ذلك لا صغيرة مع الإصرار، ولا كبيرة مع الاستغفار. ونقول لمن هذه حاله: لا تنظر إلى صِغر المعصية، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Seorang mukmin akan memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan khawatir akan menimpanya, sedangkan orang fasik akan memandang dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di depan hidungnya, lalu ia hanya mengibaskan tangannya untuk mengusirnya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad jilid 1 hlm. 383, No. 3627 dan 3629, Imam Al-Bukhari 8/83, Imam Muslim 8/92, Abdullah bin Al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd No. 68 dan 69, At-Tirmidzi No. 2497, Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah, jilid 4 hlm. 129, dan Al-Baihaqi jilid 10 hlm. 188-189, dan dalam Kitab Syuab Al-Iman, No. 7104). Para ulama menyebutkan bahwa dosa kecil seringkali akan disertai dengan rendahnya rasa malu, sikap abai, tidak takut kepada Allah, dan meremehkannya, sehingga membuatnya seperti dosa besar atau bahkan setara dengannya. Oleh sebab itulah, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan permohonan ampun. Kami katakan kepada orang yang keadaannya demikian bahwa janganlah kamu melihat kecilnya kemaksiatan, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat. إنها محقرات الذنوب: التي حملت مَن قبلنا على ترك دينهم، والانسلاخ من عقيدتهم، قيل لحُذَيْفَةَ بن اليمان رَضِيَ اللَّهُ عَنْه: أفِي يَوْمٍ وَاحِدٍ تَرَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ دِينَهُمْ؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أُمِرُوا بِشَيْءٍ تَرَكُوهُ، وَإِذَا نُهُوا عَنْ شَيْءٍ رَكِبُوهُ، حَتَّى انْسَلَخُوا مِنْ دِينِهِمْ كَمَا يَنْسَلِخُ الرَّجُلُ مِنْ قَمِيصِهِ [الداء والدواء (ص: 50).]. Dosa-dosa kecillah yang menjadikan kaum sebelum kita meninggalkan agama mereka dan melunturkan akidah mereka. Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Apakah Bani Israil meninggalkan agama mereka sekaligus dalam satu hari?” Beliau menjawab, “Tidak! Tapi dulu apabila mereka diperintahkan melakukan sesuatu, mereka mengabaikannya, dan apabila mereka dilarang dari sesuatu, mereka justru mengerjakannya, sehingga mereka terlepas dari agama mereka sebagaimana seseorang yang terlepas dari pakaiannya.” (Kitab Ad-Da’ wa ad-Dawa hlm. 50). إياك إياك ومحقرات الذنوب: قَالَ الإِمَامُ ابنُ القَيِّمِ رحمه الله: يَا مَغرُورًا بِالأَمَانيِّ، لُعِنَ إِبلِيسُ وَأُهبِطَ مِن مَنزِلِ العِزِّ بِتَركِ سَجدَةٍ وَاحِدَةٍ أُمِرَ بها، وَأُخرِجَ آدَمُ مِنَ الجَنَّةِ بِلُقمَةٍ تَنَاوَلَهَا، وَحُجِبَ القَاتِلُ عَنهَا بَعدَ أَن رَآهَا عِيَانًا بِمَلءِ كَفٍّ مِن دَمٍ، وَأُمِرَ بِقَتلِ الزَّاني أَشنَعَ القِتلاتِ بِإِيلاجِ قَدرَ الأَنمُلَةِ فِيمَا لا يَحِلُّ، وَأُمِرَ بِإِيسَاعِ الظَّهرِ سِيَاطًا بِكَلِمَةِ قَذفٍ أَو بِقَطرَةٍ مِن مُسكِرٍ، وَأَبَانَ عُضوًا مِن أَعضَائِكَ بِثَلاثَةِ دَرَاهِمَ، فَلا تَأمَنْهُ أَن يَحبِسَكَ في النَّارِ بِمَعصِيَةٍ وَاحِدَةٍ مِن مَعَاصِيهِ ﴿ وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا ﴾ [الشمس: 15] الفوائد لابن القيم (ص: 63). Jauhilah dosa-dosa (yang dianggap) kecil. Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Wahai orang yang terbuai oleh angan-angan! Iblis menjadi terlaknat dan diturunkan dari kedudukan yang mulia karena enggan melakukan satu kali sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam dikeluarkan dari surga akibat satu suapan yang beliau makan, pembunuh terhalangi dari surga setelah ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri akibat setangkup darah yang ia tumpahkan, pezina diperintahkan untuk dihukum mati dengan cara yang tragis akibat masuknya kemaluan seujung jari ke tempat yang tidak dihalalkan, diperintahkan hukuman cambuk bagi orang yang mengucapkan satu kata tuduhan dusta atau meminum satu tetes minuman keras, dan anggota badanmu (tangan atau kaki) diperintahkan untuk dipotong akibat tiga dirham yang kamu curi. Oleh sebab itu, janganlah kamu merasa aman dari satu kemaksiatan kepada Allah yang membuatmu tertahan di neraka. ‘Dia tidak takut terhadap akibatnya.’” (QS. Asy-Syams: 15). (Kitab Al-Fawaid karya Ibnu Al-Qayyim, hlm. 63). Sumber:https://www.alukah.net/إياكم ومحقرات الذنوب Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 291 QRIS donasi Yufid

Jauhilah Muhaqqarat Dzunub, Dosa yang [Dianggap] Remeh

إياكم ومحقرات الذنوب Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله لم يزل عليًّا، ولم يزل في علاه سميًّا، قطرة من بحر جوده تملأ الأرض ريًّا، نظرة من عين رضاه تجعل الكافر وليًّا، الجنة لمن أطاعه ولو كان عبدًا حبشيًّا والنار لمن عصاه ولو شريفًا قرشيًّا، أنزل على نبيه ومصطفاه قولًا بهيًّا ﴿ تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا ﴾ [مريم: 63]. Segala puji hanya bagi Allah Yang Senantiasa Maha Tinggi, dan senantiasa mulia dalam kemahatinggian-Nya. Setetes dari samudera kemurahan-Nya memenuhi bumi, dan tatapan mata keridaan-Nya dapat mengubah orang kafir menjadi kekasih-Nya. Surga bagi orang yang menaati-Nya, meskipun ia hanya seorang budak berkulit hitam, dan neraka bagi orang yang membangkang terhadap-Nya, meskipun ia adalah orang terhormat dari suku Quraisy. Dia menurunkan kepada Nabi dan manusia pilihan-Nya, firman yang menakjubkan: “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63). فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثاتها بدعة، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. Sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar. Seluruh perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. اللهم لا تعذب جمعًا التقى فيك ولك، ولا تعذب ألسنًا تخبر عنك، ولا تعذب قلوبًا تشتاق إلى لذة النظر إلى وجهك الكريم. Ya Allah, janganlah Engkau mengazab sekumpulan orang yang bertemu karena dan untuk Engkau! Janganlah Engkau mengazab lisan yang menyampaikan kabar tentang Engkau! Dan janganlah Engkau mengazab hati yang merindukan nikmatnya melihat wajah-Mu Yang Mulia. إخوة الإسلام ومعاشر الصائمين، حديثنا عن أمر ربما يستهين به كثيرٌ منا، ويحسبه هين، وقد يوصله إلى الأمور العظام التي تفسد على العبد منا دينه ودنياه وآخرته، إنها محقرات الذنوب Saudara-saudara seiman! Wahai kaum yang sedang berpuasa! Pembahasan kita kali ini tentang perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian besar dari kita. Ia mengira perkara ini kecil, tapi bisa mengantarkannya kepada perkara-perkara besar yang dapat merusak agama, dunia, dan akhirat seseorang dari kita. Perkara ini adalah muhaqqarat dzunub. محقرات الذنوب تحتمل معان: الأول:ما يفعله العبد من الذنوب، متوهمًا أنه من صغارها، وهو من كبار الذنوب عند الله تعالى. الثاني: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب دون مبالاةٍ بها، ولا توبة منها، فتجتمع عليه هذه الصغائر حتى تُهلكه. الثالث: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب، لا يبالي بها، فتكون سببًا لوقوعه في الكبائر المهلكة؛ عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال لي رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم: “يا عائشة، إياك ومُحقرات الأعمال، فإن لها من الله طالبًا”[صحيح ابن ماجه 3421]. Muhaqqarat dzunub memiliki beberapa makna, yaitu: Dosa yang dilakukan seseorang, dan ia mengira itu sebagai dosa kecil, padahal itu salah satu dosa besar di sisi Allah Ta’ala. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan dan tanpa bertobat darinya, sehingga dosa-dosa kecil itu bertumpuk hingga membinasakannya. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan, sehingga itu menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan.  Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallampernah bersabda kepadaku: يا عائِشةُ، إيَّاكِ ومُحقَّراتِ الأعمالِ؛ فإنَّ لها مِن اللهِ طالِبًا ‘Wahai Aisyah! Berhati-hatilah dari amalan-amalan kecil, karena ia juga punya penuntutnya (malaikat yang mencatatnya) dari Allah.’” (Shahih Ibnu Majah No. 3421). في هذه الوصية التي تكشف له عن أمر من الأمور خطير لا يبالي به كثيرٌ من الخلق ويتهاونون به، ويحسبونه هينًا وهو عند الله تعالى عظيم، ألا وهو الاستهانة بصغائر الذنوب والإكثار منها، ويقوله لقمان الحكيم لابنه: (ولا تَحقِرنَّ من الأمور صغارها، فإن الصغار غدًا تصير كبارًا)، وذلك أمر يجب أن يحذَر منه، وأن تُكشَفَ حقيقته للأبناء والبنات، وذلك من باب الرحمة والوقاية لهم من عذاب الله؛ لأن الله تعالى يقول: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾ [التحريم: 6]. Dalam wasiat ini terungkap suatu perkara penting yang sering diabaikan dan diremehkan banyak orang, mereka mengira perkara itu kecil, tapi di sisi Allah Ta’ala merupakan perkara besar, yakni perkara meremehkan dosa-dosa kecil dan banyak terjerumus ke dalamnya. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan urusan kecil, karena sesuatu yang kecil kelak akan menjadi besar.” Ini merupakan perkara yang harus diperhatikan dan hakikatnya harus dijelaskan kepada putra dan putri kita, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan bagi mereka dari azab Allah, karena Allah Ta’ala telah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ”[أخرجه أحمد في المسند (331/ 5) بسند صحيح]، وعن عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: “مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ”[صحيح: أخرجه معمر في “جامعه” (20278)، وابن أبي شيبة (13/ 289)]. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ “Jauhilah muhaqqarat dzunub, karena perumpamaan muhaqqarat dzunub bagaikan suatu kaum yang singgah di tengah lembah, lalu seseorang dari mereka datang membawa satu ranting pohon, dan orang-orang lain juga membawa satu ranting pohon, hingga mereka dapat mematangkan roti mereka (dengan kumpulan ranting-ranting itu). Sesungguhnya apabila pelaku muhaqqarat dzunub itu diberi balasannya, niscaya itu dapat membinasakannya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad jilid 5 hlm. 331 dengan sanad yang shahih). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ “Perumpamaan muhaqqarat dzunub seperti suatu kaum yang sedang bersafar lalu singgah di dataran luas. Mereka memiliki bekal yang tidak dapat dimakan kecuali harus dimasak terlebih dulu, sehingga mereka menyebar (untuk mencari kayu bakar). Lalu ada yang datang membawa kotoran hewan yang sudah kering, ada yang datang membawa tulang, dan ada yang datang membawa ranting, hingga mereka mengumpulkan bahan bakar untuk memasak makanan mereka. Demikianlah pelaku muhaqqarat dzunub, ia berdusta, berbuat dosa, dan terkumpul dari dosa-dosa itu hingga bisa jadi dengannya Allah menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka Jahannam.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ma’mar dalam Al-Jami No. 20278 dan Ibnu Abi Syaibah, jilid 13 hlm. 289). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ» [إسناده صحيح: أخرجه أحمد (2/ 368)]. خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى  كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى  لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk dapat disembah di tanah kalian ini, tapi ia puas terhadap kalian dengan dosa-dosa yang diremehkan.” (Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, jilid 2 hlm. 368). Dalam bait-bait syair disebutkan: خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa-dosa yang kecil dan banyak  dan itulah ketakwaan كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah penuh duri Yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Janganlah sekali-kali meremehkan dosa kecil Karena pegunungan berasal dari pasir-pasir قال أنس بن مالك رضي الله عنه: “إنكم لتعملون أعمالًا هي أدق في أعينكم من الشعر، وإن كنا لنَعدها على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من الموبقات” [البخاري ج5، ح 6127]، وعن بلال بن سعد قال: لا تنظر إلى صِغر الخطيئة، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت) [سير أعلام النبلاء، 5-91]؛ يقول ابن القيم: إذا يئس الشيطان من إيقاع الإنسان في ارتكاب الكبائر، فإنه يدعوه إلى ارتكاب الصغائر التي إذا اجتمعت على الإنسان ربما أهلكته [التفسير القيم ص613]. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian itu lebih tipis daripada sehelai rambut, tapi dulu kami (para sahabat Nabi) menganggapnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamShallallahu Alaihi wa Sallam termasuk perbuatan yang dapat membinasakan!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari No. 6127). Diriwayatkan dari Bilal bin Sa’d, ia berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kebesaran Dzat Yang kamu maksiati.” (Kitab Siyar A’lam An-Nubala jilid 5 hlm. 91). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila setan telah berputus asa dari menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, maka ia akan menggoda untuk melakukan dosa-dosa kecil, yang jika terkumpul pada diri seseorang mungkin akan membinasakannya.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). وروى الترمذي عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم قال: “إن العبد إذا أخطأ نُكتت في قلبه نكتةٌ سوداء، فإذا نزَع واستغفر وتاب صُقِل قلبه، وإن عاد زيد فيها حتى تَعلو قلبَه، وهو الران الذي ذكر الله: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] [صحيح الترمذي 2654]. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ‏كلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ‏ “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan (dosa), maka akan diberi satu titik hitam dalam hatinya. Lalu apabila ia berhenti dari dosanya, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, akan ditambahkan titik hitam dalam hatinya, hingga menutupi seluruh hatinya, dan itulah ‘Ran’ (penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (Kitab Shahih At-Tirmidzi No. 2654). قال ابن حجر العسقلاني: رُوي عن أسد بن موسى في الزهد، عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: “إن الرجل ليعمل الحسنة، فيثق بها وينسى المحقرات، فيلقى الله وقد أحاطت به، وإن الرجل ليعمل السيئة فلا يزال مشفقًا حتى يلقى الله آمنًا”. قال ابن بطال: المحقرات إذا كثرت صارت كبارًا مع الإصرار [فتح الباري ج11، ص 337]. قال ابن القيم: ولا يزال الشيطان يُسهل على الإنسان محقرات الذنوب حتى يستهين بها، فيكون صاحب الكبيرة الخائف منها أحسن حالًا منه [التفسير القيم ص613]. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan dari Asad bin Musa dalam kitab Az-Zuhd dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, ‘Sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amal kebaikan, lalu ia terlalu percaya diri dengan amal kebaikan itu sehingga ia lalai terhadap dosa-dosa yang diremehkan. Lalu ketika ia berjumpa dengan Allah, ternyata dosa-dosa yang diremehkan itu telah mengepungnya. Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amal keburukan, tapi ia terus merasa bersalah hingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan aman.” Ibnu Baththal berkata, “Dosa-dosa yang dianggap kecil apabila jumlahnya banyak dan dilakukan terus menerus akan menjadi besar.” (Kitab Fath Al-Bari jilid 11 hlm. 337). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Setan akan terus berusaha memudahkan manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil agar ia meremehkannya, sehingga pelaku dosa besar yang takut terhadap dosa besarnya akan menjadi lebih baik keadaannya daripada orang tersebut.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: “إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه، وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مرَّ على أنفه، فقال به هكذا – أي بيده – فذبَّه عنه” [أخرجه أحمد (1/ 383) (3629، 3627)، والبخاري، (8/ 83)، ومسلم، (8/ 92)، وأخرجه عبدالله بن المبارك في “الزهد”، (68)، و( 69 )، والترمذي (2497)، وأبو نعيم في الحلية، 4/ 129، والبيهقي في 10/ 188 – 189 وفي شعب الإيمان له ( 7104 )]. وقد ذكر أهل العلم أن الصغيرة قد يَقترن بها من قلة الحياء وعدم المبالاة، وترك الخوف من الله، مع الاستهانة بها – ما يُلحقها بالكبائر، بل يجعلها في رُتبتها، ولأجل ذلك لا صغيرة مع الإصرار، ولا كبيرة مع الاستغفار. ونقول لمن هذه حاله: لا تنظر إلى صِغر المعصية، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Seorang mukmin akan memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan khawatir akan menimpanya, sedangkan orang fasik akan memandang dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di depan hidungnya, lalu ia hanya mengibaskan tangannya untuk mengusirnya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad jilid 1 hlm. 383, No. 3627 dan 3629, Imam Al-Bukhari 8/83, Imam Muslim 8/92, Abdullah bin Al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd No. 68 dan 69, At-Tirmidzi No. 2497, Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah, jilid 4 hlm. 129, dan Al-Baihaqi jilid 10 hlm. 188-189, dan dalam Kitab Syuab Al-Iman, No. 7104). Para ulama menyebutkan bahwa dosa kecil seringkali akan disertai dengan rendahnya rasa malu, sikap abai, tidak takut kepada Allah, dan meremehkannya, sehingga membuatnya seperti dosa besar atau bahkan setara dengannya. Oleh sebab itulah, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan permohonan ampun. Kami katakan kepada orang yang keadaannya demikian bahwa janganlah kamu melihat kecilnya kemaksiatan, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat. إنها محقرات الذنوب: التي حملت مَن قبلنا على ترك دينهم، والانسلاخ من عقيدتهم، قيل لحُذَيْفَةَ بن اليمان رَضِيَ اللَّهُ عَنْه: أفِي يَوْمٍ وَاحِدٍ تَرَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ دِينَهُمْ؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أُمِرُوا بِشَيْءٍ تَرَكُوهُ، وَإِذَا نُهُوا عَنْ شَيْءٍ رَكِبُوهُ، حَتَّى انْسَلَخُوا مِنْ دِينِهِمْ كَمَا يَنْسَلِخُ الرَّجُلُ مِنْ قَمِيصِهِ [الداء والدواء (ص: 50).]. Dosa-dosa kecillah yang menjadikan kaum sebelum kita meninggalkan agama mereka dan melunturkan akidah mereka. Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Apakah Bani Israil meninggalkan agama mereka sekaligus dalam satu hari?” Beliau menjawab, “Tidak! Tapi dulu apabila mereka diperintahkan melakukan sesuatu, mereka mengabaikannya, dan apabila mereka dilarang dari sesuatu, mereka justru mengerjakannya, sehingga mereka terlepas dari agama mereka sebagaimana seseorang yang terlepas dari pakaiannya.” (Kitab Ad-Da’ wa ad-Dawa hlm. 50). إياك إياك ومحقرات الذنوب: قَالَ الإِمَامُ ابنُ القَيِّمِ رحمه الله: يَا مَغرُورًا بِالأَمَانيِّ، لُعِنَ إِبلِيسُ وَأُهبِطَ مِن مَنزِلِ العِزِّ بِتَركِ سَجدَةٍ وَاحِدَةٍ أُمِرَ بها، وَأُخرِجَ آدَمُ مِنَ الجَنَّةِ بِلُقمَةٍ تَنَاوَلَهَا، وَحُجِبَ القَاتِلُ عَنهَا بَعدَ أَن رَآهَا عِيَانًا بِمَلءِ كَفٍّ مِن دَمٍ، وَأُمِرَ بِقَتلِ الزَّاني أَشنَعَ القِتلاتِ بِإِيلاجِ قَدرَ الأَنمُلَةِ فِيمَا لا يَحِلُّ، وَأُمِرَ بِإِيسَاعِ الظَّهرِ سِيَاطًا بِكَلِمَةِ قَذفٍ أَو بِقَطرَةٍ مِن مُسكِرٍ، وَأَبَانَ عُضوًا مِن أَعضَائِكَ بِثَلاثَةِ دَرَاهِمَ، فَلا تَأمَنْهُ أَن يَحبِسَكَ في النَّارِ بِمَعصِيَةٍ وَاحِدَةٍ مِن مَعَاصِيهِ ﴿ وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا ﴾ [الشمس: 15] الفوائد لابن القيم (ص: 63). Jauhilah dosa-dosa (yang dianggap) kecil. Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Wahai orang yang terbuai oleh angan-angan! Iblis menjadi terlaknat dan diturunkan dari kedudukan yang mulia karena enggan melakukan satu kali sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam dikeluarkan dari surga akibat satu suapan yang beliau makan, pembunuh terhalangi dari surga setelah ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri akibat setangkup darah yang ia tumpahkan, pezina diperintahkan untuk dihukum mati dengan cara yang tragis akibat masuknya kemaluan seujung jari ke tempat yang tidak dihalalkan, diperintahkan hukuman cambuk bagi orang yang mengucapkan satu kata tuduhan dusta atau meminum satu tetes minuman keras, dan anggota badanmu (tangan atau kaki) diperintahkan untuk dipotong akibat tiga dirham yang kamu curi. Oleh sebab itu, janganlah kamu merasa aman dari satu kemaksiatan kepada Allah yang membuatmu tertahan di neraka. ‘Dia tidak takut terhadap akibatnya.’” (QS. Asy-Syams: 15). (Kitab Al-Fawaid karya Ibnu Al-Qayyim, hlm. 63). Sumber:https://www.alukah.net/إياكم ومحقرات الذنوب Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 291 QRIS donasi Yufid
إياكم ومحقرات الذنوب Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله لم يزل عليًّا، ولم يزل في علاه سميًّا، قطرة من بحر جوده تملأ الأرض ريًّا، نظرة من عين رضاه تجعل الكافر وليًّا، الجنة لمن أطاعه ولو كان عبدًا حبشيًّا والنار لمن عصاه ولو شريفًا قرشيًّا، أنزل على نبيه ومصطفاه قولًا بهيًّا ﴿ تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا ﴾ [مريم: 63]. Segala puji hanya bagi Allah Yang Senantiasa Maha Tinggi, dan senantiasa mulia dalam kemahatinggian-Nya. Setetes dari samudera kemurahan-Nya memenuhi bumi, dan tatapan mata keridaan-Nya dapat mengubah orang kafir menjadi kekasih-Nya. Surga bagi orang yang menaati-Nya, meskipun ia hanya seorang budak berkulit hitam, dan neraka bagi orang yang membangkang terhadap-Nya, meskipun ia adalah orang terhormat dari suku Quraisy. Dia menurunkan kepada Nabi dan manusia pilihan-Nya, firman yang menakjubkan: “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63). فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثاتها بدعة، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. Sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar. Seluruh perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. اللهم لا تعذب جمعًا التقى فيك ولك، ولا تعذب ألسنًا تخبر عنك، ولا تعذب قلوبًا تشتاق إلى لذة النظر إلى وجهك الكريم. Ya Allah, janganlah Engkau mengazab sekumpulan orang yang bertemu karena dan untuk Engkau! Janganlah Engkau mengazab lisan yang menyampaikan kabar tentang Engkau! Dan janganlah Engkau mengazab hati yang merindukan nikmatnya melihat wajah-Mu Yang Mulia. إخوة الإسلام ومعاشر الصائمين، حديثنا عن أمر ربما يستهين به كثيرٌ منا، ويحسبه هين، وقد يوصله إلى الأمور العظام التي تفسد على العبد منا دينه ودنياه وآخرته، إنها محقرات الذنوب Saudara-saudara seiman! Wahai kaum yang sedang berpuasa! Pembahasan kita kali ini tentang perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian besar dari kita. Ia mengira perkara ini kecil, tapi bisa mengantarkannya kepada perkara-perkara besar yang dapat merusak agama, dunia, dan akhirat seseorang dari kita. Perkara ini adalah muhaqqarat dzunub. محقرات الذنوب تحتمل معان: الأول:ما يفعله العبد من الذنوب، متوهمًا أنه من صغارها، وهو من كبار الذنوب عند الله تعالى. الثاني: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب دون مبالاةٍ بها، ولا توبة منها، فتجتمع عليه هذه الصغائر حتى تُهلكه. الثالث: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب، لا يبالي بها، فتكون سببًا لوقوعه في الكبائر المهلكة؛ عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال لي رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم: “يا عائشة، إياك ومُحقرات الأعمال، فإن لها من الله طالبًا”[صحيح ابن ماجه 3421]. Muhaqqarat dzunub memiliki beberapa makna, yaitu: Dosa yang dilakukan seseorang, dan ia mengira itu sebagai dosa kecil, padahal itu salah satu dosa besar di sisi Allah Ta’ala. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan dan tanpa bertobat darinya, sehingga dosa-dosa kecil itu bertumpuk hingga membinasakannya. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan, sehingga itu menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan.  Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallampernah bersabda kepadaku: يا عائِشةُ، إيَّاكِ ومُحقَّراتِ الأعمالِ؛ فإنَّ لها مِن اللهِ طالِبًا ‘Wahai Aisyah! Berhati-hatilah dari amalan-amalan kecil, karena ia juga punya penuntutnya (malaikat yang mencatatnya) dari Allah.’” (Shahih Ibnu Majah No. 3421). في هذه الوصية التي تكشف له عن أمر من الأمور خطير لا يبالي به كثيرٌ من الخلق ويتهاونون به، ويحسبونه هينًا وهو عند الله تعالى عظيم، ألا وهو الاستهانة بصغائر الذنوب والإكثار منها، ويقوله لقمان الحكيم لابنه: (ولا تَحقِرنَّ من الأمور صغارها، فإن الصغار غدًا تصير كبارًا)، وذلك أمر يجب أن يحذَر منه، وأن تُكشَفَ حقيقته للأبناء والبنات، وذلك من باب الرحمة والوقاية لهم من عذاب الله؛ لأن الله تعالى يقول: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾ [التحريم: 6]. Dalam wasiat ini terungkap suatu perkara penting yang sering diabaikan dan diremehkan banyak orang, mereka mengira perkara itu kecil, tapi di sisi Allah Ta’ala merupakan perkara besar, yakni perkara meremehkan dosa-dosa kecil dan banyak terjerumus ke dalamnya. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan urusan kecil, karena sesuatu yang kecil kelak akan menjadi besar.” Ini merupakan perkara yang harus diperhatikan dan hakikatnya harus dijelaskan kepada putra dan putri kita, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan bagi mereka dari azab Allah, karena Allah Ta’ala telah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ”[أخرجه أحمد في المسند (331/ 5) بسند صحيح]، وعن عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: “مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ”[صحيح: أخرجه معمر في “جامعه” (20278)، وابن أبي شيبة (13/ 289)]. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ “Jauhilah muhaqqarat dzunub, karena perumpamaan muhaqqarat dzunub bagaikan suatu kaum yang singgah di tengah lembah, lalu seseorang dari mereka datang membawa satu ranting pohon, dan orang-orang lain juga membawa satu ranting pohon, hingga mereka dapat mematangkan roti mereka (dengan kumpulan ranting-ranting itu). Sesungguhnya apabila pelaku muhaqqarat dzunub itu diberi balasannya, niscaya itu dapat membinasakannya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad jilid 5 hlm. 331 dengan sanad yang shahih). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ “Perumpamaan muhaqqarat dzunub seperti suatu kaum yang sedang bersafar lalu singgah di dataran luas. Mereka memiliki bekal yang tidak dapat dimakan kecuali harus dimasak terlebih dulu, sehingga mereka menyebar (untuk mencari kayu bakar). Lalu ada yang datang membawa kotoran hewan yang sudah kering, ada yang datang membawa tulang, dan ada yang datang membawa ranting, hingga mereka mengumpulkan bahan bakar untuk memasak makanan mereka. Demikianlah pelaku muhaqqarat dzunub, ia berdusta, berbuat dosa, dan terkumpul dari dosa-dosa itu hingga bisa jadi dengannya Allah menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka Jahannam.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ma’mar dalam Al-Jami No. 20278 dan Ibnu Abi Syaibah, jilid 13 hlm. 289). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ» [إسناده صحيح: أخرجه أحمد (2/ 368)]. خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى  كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى  لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk dapat disembah di tanah kalian ini, tapi ia puas terhadap kalian dengan dosa-dosa yang diremehkan.” (Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, jilid 2 hlm. 368). Dalam bait-bait syair disebutkan: خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa-dosa yang kecil dan banyak  dan itulah ketakwaan كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah penuh duri Yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Janganlah sekali-kali meremehkan dosa kecil Karena pegunungan berasal dari pasir-pasir قال أنس بن مالك رضي الله عنه: “إنكم لتعملون أعمالًا هي أدق في أعينكم من الشعر، وإن كنا لنَعدها على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من الموبقات” [البخاري ج5، ح 6127]، وعن بلال بن سعد قال: لا تنظر إلى صِغر الخطيئة، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت) [سير أعلام النبلاء، 5-91]؛ يقول ابن القيم: إذا يئس الشيطان من إيقاع الإنسان في ارتكاب الكبائر، فإنه يدعوه إلى ارتكاب الصغائر التي إذا اجتمعت على الإنسان ربما أهلكته [التفسير القيم ص613]. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian itu lebih tipis daripada sehelai rambut, tapi dulu kami (para sahabat Nabi) menganggapnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamShallallahu Alaihi wa Sallam termasuk perbuatan yang dapat membinasakan!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari No. 6127). Diriwayatkan dari Bilal bin Sa’d, ia berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kebesaran Dzat Yang kamu maksiati.” (Kitab Siyar A’lam An-Nubala jilid 5 hlm. 91). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila setan telah berputus asa dari menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, maka ia akan menggoda untuk melakukan dosa-dosa kecil, yang jika terkumpul pada diri seseorang mungkin akan membinasakannya.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). وروى الترمذي عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم قال: “إن العبد إذا أخطأ نُكتت في قلبه نكتةٌ سوداء، فإذا نزَع واستغفر وتاب صُقِل قلبه، وإن عاد زيد فيها حتى تَعلو قلبَه، وهو الران الذي ذكر الله: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] [صحيح الترمذي 2654]. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ‏كلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ‏ “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan (dosa), maka akan diberi satu titik hitam dalam hatinya. Lalu apabila ia berhenti dari dosanya, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, akan ditambahkan titik hitam dalam hatinya, hingga menutupi seluruh hatinya, dan itulah ‘Ran’ (penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (Kitab Shahih At-Tirmidzi No. 2654). قال ابن حجر العسقلاني: رُوي عن أسد بن موسى في الزهد، عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: “إن الرجل ليعمل الحسنة، فيثق بها وينسى المحقرات، فيلقى الله وقد أحاطت به، وإن الرجل ليعمل السيئة فلا يزال مشفقًا حتى يلقى الله آمنًا”. قال ابن بطال: المحقرات إذا كثرت صارت كبارًا مع الإصرار [فتح الباري ج11، ص 337]. قال ابن القيم: ولا يزال الشيطان يُسهل على الإنسان محقرات الذنوب حتى يستهين بها، فيكون صاحب الكبيرة الخائف منها أحسن حالًا منه [التفسير القيم ص613]. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan dari Asad bin Musa dalam kitab Az-Zuhd dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, ‘Sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amal kebaikan, lalu ia terlalu percaya diri dengan amal kebaikan itu sehingga ia lalai terhadap dosa-dosa yang diremehkan. Lalu ketika ia berjumpa dengan Allah, ternyata dosa-dosa yang diremehkan itu telah mengepungnya. Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amal keburukan, tapi ia terus merasa bersalah hingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan aman.” Ibnu Baththal berkata, “Dosa-dosa yang dianggap kecil apabila jumlahnya banyak dan dilakukan terus menerus akan menjadi besar.” (Kitab Fath Al-Bari jilid 11 hlm. 337). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Setan akan terus berusaha memudahkan manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil agar ia meremehkannya, sehingga pelaku dosa besar yang takut terhadap dosa besarnya akan menjadi lebih baik keadaannya daripada orang tersebut.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: “إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه، وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مرَّ على أنفه، فقال به هكذا – أي بيده – فذبَّه عنه” [أخرجه أحمد (1/ 383) (3629، 3627)، والبخاري، (8/ 83)، ومسلم، (8/ 92)، وأخرجه عبدالله بن المبارك في “الزهد”، (68)، و( 69 )، والترمذي (2497)، وأبو نعيم في الحلية، 4/ 129، والبيهقي في 10/ 188 – 189 وفي شعب الإيمان له ( 7104 )]. وقد ذكر أهل العلم أن الصغيرة قد يَقترن بها من قلة الحياء وعدم المبالاة، وترك الخوف من الله، مع الاستهانة بها – ما يُلحقها بالكبائر، بل يجعلها في رُتبتها، ولأجل ذلك لا صغيرة مع الإصرار، ولا كبيرة مع الاستغفار. ونقول لمن هذه حاله: لا تنظر إلى صِغر المعصية، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Seorang mukmin akan memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan khawatir akan menimpanya, sedangkan orang fasik akan memandang dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di depan hidungnya, lalu ia hanya mengibaskan tangannya untuk mengusirnya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad jilid 1 hlm. 383, No. 3627 dan 3629, Imam Al-Bukhari 8/83, Imam Muslim 8/92, Abdullah bin Al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd No. 68 dan 69, At-Tirmidzi No. 2497, Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah, jilid 4 hlm. 129, dan Al-Baihaqi jilid 10 hlm. 188-189, dan dalam Kitab Syuab Al-Iman, No. 7104). Para ulama menyebutkan bahwa dosa kecil seringkali akan disertai dengan rendahnya rasa malu, sikap abai, tidak takut kepada Allah, dan meremehkannya, sehingga membuatnya seperti dosa besar atau bahkan setara dengannya. Oleh sebab itulah, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan permohonan ampun. Kami katakan kepada orang yang keadaannya demikian bahwa janganlah kamu melihat kecilnya kemaksiatan, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat. إنها محقرات الذنوب: التي حملت مَن قبلنا على ترك دينهم، والانسلاخ من عقيدتهم، قيل لحُذَيْفَةَ بن اليمان رَضِيَ اللَّهُ عَنْه: أفِي يَوْمٍ وَاحِدٍ تَرَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ دِينَهُمْ؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أُمِرُوا بِشَيْءٍ تَرَكُوهُ، وَإِذَا نُهُوا عَنْ شَيْءٍ رَكِبُوهُ، حَتَّى انْسَلَخُوا مِنْ دِينِهِمْ كَمَا يَنْسَلِخُ الرَّجُلُ مِنْ قَمِيصِهِ [الداء والدواء (ص: 50).]. Dosa-dosa kecillah yang menjadikan kaum sebelum kita meninggalkan agama mereka dan melunturkan akidah mereka. Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Apakah Bani Israil meninggalkan agama mereka sekaligus dalam satu hari?” Beliau menjawab, “Tidak! Tapi dulu apabila mereka diperintahkan melakukan sesuatu, mereka mengabaikannya, dan apabila mereka dilarang dari sesuatu, mereka justru mengerjakannya, sehingga mereka terlepas dari agama mereka sebagaimana seseorang yang terlepas dari pakaiannya.” (Kitab Ad-Da’ wa ad-Dawa hlm. 50). إياك إياك ومحقرات الذنوب: قَالَ الإِمَامُ ابنُ القَيِّمِ رحمه الله: يَا مَغرُورًا بِالأَمَانيِّ، لُعِنَ إِبلِيسُ وَأُهبِطَ مِن مَنزِلِ العِزِّ بِتَركِ سَجدَةٍ وَاحِدَةٍ أُمِرَ بها، وَأُخرِجَ آدَمُ مِنَ الجَنَّةِ بِلُقمَةٍ تَنَاوَلَهَا، وَحُجِبَ القَاتِلُ عَنهَا بَعدَ أَن رَآهَا عِيَانًا بِمَلءِ كَفٍّ مِن دَمٍ، وَأُمِرَ بِقَتلِ الزَّاني أَشنَعَ القِتلاتِ بِإِيلاجِ قَدرَ الأَنمُلَةِ فِيمَا لا يَحِلُّ، وَأُمِرَ بِإِيسَاعِ الظَّهرِ سِيَاطًا بِكَلِمَةِ قَذفٍ أَو بِقَطرَةٍ مِن مُسكِرٍ، وَأَبَانَ عُضوًا مِن أَعضَائِكَ بِثَلاثَةِ دَرَاهِمَ، فَلا تَأمَنْهُ أَن يَحبِسَكَ في النَّارِ بِمَعصِيَةٍ وَاحِدَةٍ مِن مَعَاصِيهِ ﴿ وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا ﴾ [الشمس: 15] الفوائد لابن القيم (ص: 63). Jauhilah dosa-dosa (yang dianggap) kecil. Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Wahai orang yang terbuai oleh angan-angan! Iblis menjadi terlaknat dan diturunkan dari kedudukan yang mulia karena enggan melakukan satu kali sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam dikeluarkan dari surga akibat satu suapan yang beliau makan, pembunuh terhalangi dari surga setelah ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri akibat setangkup darah yang ia tumpahkan, pezina diperintahkan untuk dihukum mati dengan cara yang tragis akibat masuknya kemaluan seujung jari ke tempat yang tidak dihalalkan, diperintahkan hukuman cambuk bagi orang yang mengucapkan satu kata tuduhan dusta atau meminum satu tetes minuman keras, dan anggota badanmu (tangan atau kaki) diperintahkan untuk dipotong akibat tiga dirham yang kamu curi. Oleh sebab itu, janganlah kamu merasa aman dari satu kemaksiatan kepada Allah yang membuatmu tertahan di neraka. ‘Dia tidak takut terhadap akibatnya.’” (QS. Asy-Syams: 15). (Kitab Al-Fawaid karya Ibnu Al-Qayyim, hlm. 63). Sumber:https://www.alukah.net/إياكم ومحقرات الذنوب Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 291 QRIS donasi Yufid


إياكم ومحقرات الذنوب Oleh: As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله لم يزل عليًّا، ولم يزل في علاه سميًّا، قطرة من بحر جوده تملأ الأرض ريًّا، نظرة من عين رضاه تجعل الكافر وليًّا، الجنة لمن أطاعه ولو كان عبدًا حبشيًّا والنار لمن عصاه ولو شريفًا قرشيًّا، أنزل على نبيه ومصطفاه قولًا بهيًّا ﴿ تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا ﴾ [مريم: 63]. Segala puji hanya bagi Allah Yang Senantiasa Maha Tinggi, dan senantiasa mulia dalam kemahatinggian-Nya. Setetes dari samudera kemurahan-Nya memenuhi bumi, dan tatapan mata keridaan-Nya dapat mengubah orang kafir menjadi kekasih-Nya. Surga bagi orang yang menaati-Nya, meskipun ia hanya seorang budak berkulit hitam, dan neraka bagi orang yang membangkang terhadap-Nya, meskipun ia adalah orang terhormat dari suku Quraisy. Dia menurunkan kepada Nabi dan manusia pilihan-Nya, firman yang menakjubkan: “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63). فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثاتها بدعة، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. Sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar. Seluruh perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa dasar adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. اللهم لا تعذب جمعًا التقى فيك ولك، ولا تعذب ألسنًا تخبر عنك، ولا تعذب قلوبًا تشتاق إلى لذة النظر إلى وجهك الكريم. Ya Allah, janganlah Engkau mengazab sekumpulan orang yang bertemu karena dan untuk Engkau! Janganlah Engkau mengazab lisan yang menyampaikan kabar tentang Engkau! Dan janganlah Engkau mengazab hati yang merindukan nikmatnya melihat wajah-Mu Yang Mulia. إخوة الإسلام ومعاشر الصائمين، حديثنا عن أمر ربما يستهين به كثيرٌ منا، ويحسبه هين، وقد يوصله إلى الأمور العظام التي تفسد على العبد منا دينه ودنياه وآخرته، إنها محقرات الذنوب Saudara-saudara seiman! Wahai kaum yang sedang berpuasa! Pembahasan kita kali ini tentang perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian besar dari kita. Ia mengira perkara ini kecil, tapi bisa mengantarkannya kepada perkara-perkara besar yang dapat merusak agama, dunia, dan akhirat seseorang dari kita. Perkara ini adalah muhaqqarat dzunub. محقرات الذنوب تحتمل معان: الأول:ما يفعله العبد من الذنوب، متوهمًا أنه من صغارها، وهو من كبار الذنوب عند الله تعالى. الثاني: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب دون مبالاةٍ بها، ولا توبة منها، فتجتمع عليه هذه الصغائر حتى تُهلكه. الثالث: ما يفعله العبد من صغائر الذنوب، لا يبالي بها، فتكون سببًا لوقوعه في الكبائر المهلكة؛ عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال لي رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم: “يا عائشة، إياك ومُحقرات الأعمال، فإن لها من الله طالبًا”[صحيح ابن ماجه 3421]. Muhaqqarat dzunub memiliki beberapa makna, yaitu: Dosa yang dilakukan seseorang, dan ia mengira itu sebagai dosa kecil, padahal itu salah satu dosa besar di sisi Allah Ta’ala. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan dan tanpa bertobat darinya, sehingga dosa-dosa kecil itu bertumpuk hingga membinasakannya. Dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang tanpa ia pedulikan, sehingga itu menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan.  Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallampernah bersabda kepadaku: يا عائِشةُ، إيَّاكِ ومُحقَّراتِ الأعمالِ؛ فإنَّ لها مِن اللهِ طالِبًا ‘Wahai Aisyah! Berhati-hatilah dari amalan-amalan kecil, karena ia juga punya penuntutnya (malaikat yang mencatatnya) dari Allah.’” (Shahih Ibnu Majah No. 3421). في هذه الوصية التي تكشف له عن أمر من الأمور خطير لا يبالي به كثيرٌ من الخلق ويتهاونون به، ويحسبونه هينًا وهو عند الله تعالى عظيم، ألا وهو الاستهانة بصغائر الذنوب والإكثار منها، ويقوله لقمان الحكيم لابنه: (ولا تَحقِرنَّ من الأمور صغارها، فإن الصغار غدًا تصير كبارًا)، وذلك أمر يجب أن يحذَر منه، وأن تُكشَفَ حقيقته للأبناء والبنات، وذلك من باب الرحمة والوقاية لهم من عذاب الله؛ لأن الله تعالى يقول: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾ [التحريم: 6]. Dalam wasiat ini terungkap suatu perkara penting yang sering diabaikan dan diremehkan banyak orang, mereka mengira perkara itu kecil, tapi di sisi Allah Ta’ala merupakan perkara besar, yakni perkara meremehkan dosa-dosa kecil dan banyak terjerumus ke dalamnya. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan urusan kecil, karena sesuatu yang kecil kelak akan menjadi besar.” Ini merupakan perkara yang harus diperhatikan dan hakikatnya harus dijelaskan kepada putra dan putri kita, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan bagi mereka dari azab Allah, karena Allah Ta’ala telah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ”[أخرجه أحمد في المسند (331/ 5) بسند صحيح]، وعن عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: “مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ”[صحيح: أخرجه معمر في “جامعه” (20278)، وابن أبي شيبة (13/ 289)]. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ “Jauhilah muhaqqarat dzunub, karena perumpamaan muhaqqarat dzunub bagaikan suatu kaum yang singgah di tengah lembah, lalu seseorang dari mereka datang membawa satu ranting pohon, dan orang-orang lain juga membawa satu ranting pohon, hingga mereka dapat mematangkan roti mereka (dengan kumpulan ranting-ranting itu). Sesungguhnya apabila pelaku muhaqqarat dzunub itu diberi balasannya, niscaya itu dapat membinasakannya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad jilid 5 hlm. 331 dengan sanad yang shahih). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ سَفْرٍ نَزَلُوا بِأَرْضٍ قَفْرٍ مَعَهُمْ طَعَامٌ لَا يُصْلِحُهُمْ إِلَّا النَّارُ، فَتَفَرَّقُوا فَجَعَلَ هَذَا يَجِيءُ بِالرَّوْثَةِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعَظْمِ، وَيَجِيءُ هَذَا بِالْعُودِ، حَتَّى جَمَعُوا مِنْ ذَلِكَ مَا أَصْلَحُوا بِهِ طَعَامَهُمْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْمُحَقَّرَاتِ، يَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، وَيُذْنِبُ الذَّنْبَ، وَيَجْمَعُ مِنْ ذَلِكَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ “Perumpamaan muhaqqarat dzunub seperti suatu kaum yang sedang bersafar lalu singgah di dataran luas. Mereka memiliki bekal yang tidak dapat dimakan kecuali harus dimasak terlebih dulu, sehingga mereka menyebar (untuk mencari kayu bakar). Lalu ada yang datang membawa kotoran hewan yang sudah kering, ada yang datang membawa tulang, dan ada yang datang membawa ranting, hingga mereka mengumpulkan bahan bakar untuk memasak makanan mereka. Demikianlah pelaku muhaqqarat dzunub, ia berdusta, berbuat dosa, dan terkumpul dari dosa-dosa itu hingga bisa jadi dengannya Allah menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka Jahannam.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ma’mar dalam Al-Jami No. 20278 dan Ibnu Abi Syaibah, jilid 13 hlm. 289). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ» [إسناده صحيح: أخرجه أحمد (2/ 368)]. خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى  كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى  لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk dapat disembah di tanah kalian ini, tapi ia puas terhadap kalian dengan dosa-dosa yang diremehkan.” (Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, jilid 2 hlm. 368). Dalam bait-bait syair disebutkan: خَلِّ الذُّنُوبَ حَقِيرَهَا وَكَثِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa-dosa yang kecil dan banyak  dan itulah ketakwaan كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْ ضِ الشَّوْكِ يحْذَرُ مَا يَرَى Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah penuh duri Yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Janganlah sekali-kali meremehkan dosa kecil Karena pegunungan berasal dari pasir-pasir قال أنس بن مالك رضي الله عنه: “إنكم لتعملون أعمالًا هي أدق في أعينكم من الشعر، وإن كنا لنَعدها على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من الموبقات” [البخاري ج5، ح 6127]، وعن بلال بن سعد قال: لا تنظر إلى صِغر الخطيئة، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت) [سير أعلام النبلاء، 5-91]؛ يقول ابن القيم: إذا يئس الشيطان من إيقاع الإنسان في ارتكاب الكبائر، فإنه يدعوه إلى ارتكاب الصغائر التي إذا اجتمعت على الإنسان ربما أهلكته [التفسير القيم ص613]. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian itu lebih tipis daripada sehelai rambut, tapi dulu kami (para sahabat Nabi) menganggapnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamShallallahu Alaihi wa Sallam termasuk perbuatan yang dapat membinasakan!” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari No. 6127). Diriwayatkan dari Bilal bin Sa’d, ia berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kebesaran Dzat Yang kamu maksiati.” (Kitab Siyar A’lam An-Nubala jilid 5 hlm. 91). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila setan telah berputus asa dari menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, maka ia akan menggoda untuk melakukan dosa-dosa kecil, yang jika terkumpul pada diri seseorang mungkin akan membinasakannya.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). وروى الترمذي عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم قال: “إن العبد إذا أخطأ نُكتت في قلبه نكتةٌ سوداء، فإذا نزَع واستغفر وتاب صُقِل قلبه، وإن عاد زيد فيها حتى تَعلو قلبَه، وهو الران الذي ذكر الله: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] [صحيح الترمذي 2654]. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ‏كلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ‏ “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan (dosa), maka akan diberi satu titik hitam dalam hatinya. Lalu apabila ia berhenti dari dosanya, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, akan ditambahkan titik hitam dalam hatinya, hingga menutupi seluruh hatinya, dan itulah ‘Ran’ (penutup) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (Kitab Shahih At-Tirmidzi No. 2654). قال ابن حجر العسقلاني: رُوي عن أسد بن موسى في الزهد، عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: “إن الرجل ليعمل الحسنة، فيثق بها وينسى المحقرات، فيلقى الله وقد أحاطت به، وإن الرجل ليعمل السيئة فلا يزال مشفقًا حتى يلقى الله آمنًا”. قال ابن بطال: المحقرات إذا كثرت صارت كبارًا مع الإصرار [فتح الباري ج11، ص 337]. قال ابن القيم: ولا يزال الشيطان يُسهل على الإنسان محقرات الذنوب حتى يستهين بها، فيكون صاحب الكبيرة الخائف منها أحسن حالًا منه [التفسير القيم ص613]. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan dari Asad bin Musa dalam kitab Az-Zuhd dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, ‘Sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amal kebaikan, lalu ia terlalu percaya diri dengan amal kebaikan itu sehingga ia lalai terhadap dosa-dosa yang diremehkan. Lalu ketika ia berjumpa dengan Allah, ternyata dosa-dosa yang diremehkan itu telah mengepungnya. Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amal keburukan, tapi ia terus merasa bersalah hingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan aman.” Ibnu Baththal berkata, “Dosa-dosa yang dianggap kecil apabila jumlahnya banyak dan dilakukan terus menerus akan menjadi besar.” (Kitab Fath Al-Bari jilid 11 hlm. 337). Ibnu Al-Qayyim berkata, “Setan akan terus berusaha memudahkan manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil agar ia meremehkannya, sehingga pelaku dosa besar yang takut terhadap dosa besarnya akan menjadi lebih baik keadaannya daripada orang tersebut.” (Kitab At-Tafsir Al-Qayyim hlm. 613). عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: “إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه، وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مرَّ على أنفه، فقال به هكذا – أي بيده – فذبَّه عنه” [أخرجه أحمد (1/ 383) (3629، 3627)، والبخاري، (8/ 83)، ومسلم، (8/ 92)، وأخرجه عبدالله بن المبارك في “الزهد”، (68)، و( 69 )، والترمذي (2497)، وأبو نعيم في الحلية، 4/ 129، والبيهقي في 10/ 188 – 189 وفي شعب الإيمان له ( 7104 )]. وقد ذكر أهل العلم أن الصغيرة قد يَقترن بها من قلة الحياء وعدم المبالاة، وترك الخوف من الله، مع الاستهانة بها – ما يُلحقها بالكبائر، بل يجعلها في رُتبتها، ولأجل ذلك لا صغيرة مع الإصرار، ولا كبيرة مع الاستغفار. ونقول لمن هذه حاله: لا تنظر إلى صِغر المعصية، ولكن انظر إلى عِظَم مَن عصيت. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Seorang mukmin akan memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan khawatir akan menimpanya, sedangkan orang fasik akan memandang dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di depan hidungnya, lalu ia hanya mengibaskan tangannya untuk mengusirnya.” (Diriwayatkan Imam Ahmad jilid 1 hlm. 383, No. 3627 dan 3629, Imam Al-Bukhari 8/83, Imam Muslim 8/92, Abdullah bin Al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd No. 68 dan 69, At-Tirmidzi No. 2497, Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah, jilid 4 hlm. 129, dan Al-Baihaqi jilid 10 hlm. 188-189, dan dalam Kitab Syuab Al-Iman, No. 7104). Para ulama menyebutkan bahwa dosa kecil seringkali akan disertai dengan rendahnya rasa malu, sikap abai, tidak takut kepada Allah, dan meremehkannya, sehingga membuatnya seperti dosa besar atau bahkan setara dengannya. Oleh sebab itulah, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan permohonan ampun. Kami katakan kepada orang yang keadaannya demikian bahwa janganlah kamu melihat kecilnya kemaksiatan, tapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat. إنها محقرات الذنوب: التي حملت مَن قبلنا على ترك دينهم، والانسلاخ من عقيدتهم، قيل لحُذَيْفَةَ بن اليمان رَضِيَ اللَّهُ عَنْه: أفِي يَوْمٍ وَاحِدٍ تَرَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ دِينَهُمْ؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أُمِرُوا بِشَيْءٍ تَرَكُوهُ، وَإِذَا نُهُوا عَنْ شَيْءٍ رَكِبُوهُ، حَتَّى انْسَلَخُوا مِنْ دِينِهِمْ كَمَا يَنْسَلِخُ الرَّجُلُ مِنْ قَمِيصِهِ [الداء والدواء (ص: 50).]. Dosa-dosa kecillah yang menjadikan kaum sebelum kita meninggalkan agama mereka dan melunturkan akidah mereka. Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Apakah Bani Israil meninggalkan agama mereka sekaligus dalam satu hari?” Beliau menjawab, “Tidak! Tapi dulu apabila mereka diperintahkan melakukan sesuatu, mereka mengabaikannya, dan apabila mereka dilarang dari sesuatu, mereka justru mengerjakannya, sehingga mereka terlepas dari agama mereka sebagaimana seseorang yang terlepas dari pakaiannya.” (Kitab Ad-Da’ wa ad-Dawa hlm. 50). إياك إياك ومحقرات الذنوب: قَالَ الإِمَامُ ابنُ القَيِّمِ رحمه الله: يَا مَغرُورًا بِالأَمَانيِّ، لُعِنَ إِبلِيسُ وَأُهبِطَ مِن مَنزِلِ العِزِّ بِتَركِ سَجدَةٍ وَاحِدَةٍ أُمِرَ بها، وَأُخرِجَ آدَمُ مِنَ الجَنَّةِ بِلُقمَةٍ تَنَاوَلَهَا، وَحُجِبَ القَاتِلُ عَنهَا بَعدَ أَن رَآهَا عِيَانًا بِمَلءِ كَفٍّ مِن دَمٍ، وَأُمِرَ بِقَتلِ الزَّاني أَشنَعَ القِتلاتِ بِإِيلاجِ قَدرَ الأَنمُلَةِ فِيمَا لا يَحِلُّ، وَأُمِرَ بِإِيسَاعِ الظَّهرِ سِيَاطًا بِكَلِمَةِ قَذفٍ أَو بِقَطرَةٍ مِن مُسكِرٍ، وَأَبَانَ عُضوًا مِن أَعضَائِكَ بِثَلاثَةِ دَرَاهِمَ، فَلا تَأمَنْهُ أَن يَحبِسَكَ في النَّارِ بِمَعصِيَةٍ وَاحِدَةٍ مِن مَعَاصِيهِ ﴿ وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا ﴾ [الشمس: 15] الفوائد لابن القيم (ص: 63). Jauhilah dosa-dosa (yang dianggap) kecil. Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Wahai orang yang terbuai oleh angan-angan! Iblis menjadi terlaknat dan diturunkan dari kedudukan yang mulia karena enggan melakukan satu kali sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam dikeluarkan dari surga akibat satu suapan yang beliau makan, pembunuh terhalangi dari surga setelah ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri akibat setangkup darah yang ia tumpahkan, pezina diperintahkan untuk dihukum mati dengan cara yang tragis akibat masuknya kemaluan seujung jari ke tempat yang tidak dihalalkan, diperintahkan hukuman cambuk bagi orang yang mengucapkan satu kata tuduhan dusta atau meminum satu tetes minuman keras, dan anggota badanmu (tangan atau kaki) diperintahkan untuk dipotong akibat tiga dirham yang kamu curi. Oleh sebab itu, janganlah kamu merasa aman dari satu kemaksiatan kepada Allah yang membuatmu tertahan di neraka. ‘Dia tidak takut terhadap akibatnya.’” (QS. Asy-Syams: 15). (Kitab Al-Fawaid karya Ibnu Al-Qayyim, hlm. 63). Sumber:https://www.alukah.net/إياكم ومحقرات الذنوب Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 291 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Segera Bersihkan Hatimu dengan Tauhid dan Keikhlasan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePentingnya membersihkan dan mengobati hatiHadis tentang ikhlasBahaya penyakit hatiIkhlas dalam menimba ilmuPentingnya membersihkan dan mengobati hatiSeorang ulama tabi’in bernama Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan,داو قلبك فإنَّ حاجة الله عز وجل إلى العباد صلاح قلوبهم“Obatilah hatimu, karena sesungguhnya ‘kebutuhan’ Allah ‘Azza wa Jalla terhadap para hamba adalah baiknya hati-hati mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam at-Tawadhu’ wal Khumul)Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menerangkan,يعني أن مراده منهم ومطلوبه صلاحُ قلوبهم، فلا صلاح للقلوب حتى يستقر فيها معرفة الله وعظمته ومحبته وخشيته ومهابته ورجاؤه والتوكل عليه ويمتلئ من ذلك،“Maksudnya adalah yang dikehendaki oleh Allah dari mereka dan tuntutan dari-Nya adalah baiknya hati-hati mereka. Maka, kebaikan hati tidak akan terwujud sampai bersemayam di dalamnya ma’rifatullah, pengagungan kepada-Nya, kecintaan, rasa takut, segan, berharap dan tawakal kepada-Nya; dan hatinya pun penuh dengan perasaan (keyakinan) itu…”وهذا هو حقيقة التوحيد، وهو معنى قول لا إله إلا الله، فلا صلاح للقلوب حتى يكون إلهها الذي تألهه وتعرفه وتحبه وتخشاه هو إله واحد لا شريك له“Inilah hakikat tauhid dan inilah makna dari ucapan laa ilaha illallah. Maka tidak ada kebaikan bagi hati hingga ilah (sesembahan) dan tempat bergantungnya, yang paling dikenali olehnya dan dicintainya, yang paling ditakutinya hanya satu, yaitu Allah; ilah (sesembahan) yang esa, yang tiada sekutu bagi-Nya…” (Lihat dalam kitab beliau, Jami’ul ‘Ulul wal Hikam)Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada kalian atau menampakkannya, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Di dalam ayat ini terkandung bimbingan untuk membersihkan hati dan menghadirkan di dalam hati tentang pengetahuan Allah terhadap dirinya di sepanjang waktu. Oleh sebab itu, seorang hamba akan merasa malu apabila Allah melihat hatinya penuh dengan pikiran kotor sehingga dia akan berusaha menyibukkan hatinya dalam hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan cara merenungkan ayat, memahami hadis, dan sebagainya. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 128)Hadis tentang ikhlasDari Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia peroleh atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Syekh Muhammad Hayat as-Sindi rahimahullah (wafat 1163 H) berkata, “Hadis ini merupakan pokok yang agung di antara pokok-pokok agama. Semestinya setiap hamba menghendaki wajah Allah Ta’ala dalam amal-amalnya serta menjauhi pujaan (sesembahan) selain-Nya. Karena orang yang ikhlas itulah yang beruntung; sedangkan orang yang riya’, dia pasti merugi. Dan ikhlas itu tidak bisa dicapai kecuali oleh orang yang mengetahui (meyakini) keagungan Allah Ta’ala dan pengawasan-Nya terhadap segenap makhluk-Nya…” (Lihat Tuhfatul Muhibbin bi Syarhil Arba’in, hal. 39)Hadis ini mengandung pelajaran bahwasanya barangsiapa melakukan amal karena riya’ atau ingin dipuji, maka dia berdosa. Barangsiapa berjihad dengan niat semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah, maka sempurna balasan untuknya. Barangsiapa berjihad karena Allah dan juga karena ingin mendapat ghanimah (harta rampasan perang), maka pahalanya berkurang. Oleh sebab itu, niat yang ikhlas merupakan syarat diterimanya seluruh amal. (Lihat keterangan Syekh Abdullah alu Bassam rahimahullah dalam Taisir al-‘Allam, hal. 16)Hadis ini adalah hadis pertama yang dibawakan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitabnya, Shahih Bukhari. Hadis ini termasuk kelompok hadis yang disebut oleh para ulama sebagai hadis-hadis yang menjadi poros ajaran agama. Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan yang lainnya menganggap hadis ini sebagai salah satu hadis pokok agama Islam. (Lihat keterangan Syekh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah dalam transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 5-6)Imam Ibnu Baththal menjelaskan mengapa Imam Bukhari meletakkan hadis niat ini di dalam Kitab al-Iman; yaitu disebabkan Bukhari ingin memberikan bantahan kepada Murji’ah yang menganggap bahwa iman itu cukup dengan ucapan lisan tanpa dilandasi oleh keyakinan hati. (Lihat Lubb al-Lubab fi at-Tarajim wal Abwab, 1: 123; karya al-’Allamah Abdul Haq al-Hasyimi)Hadis ini menunjukkan bahwa niat adalah syarat diterimanya amalan. Apabila suatu amalan tidak disertai dengan niat, maka ia tidak akan diterima. Hadis ini juga menjadi dalil bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya seluruh amalan. Niat dalam artian ikhlas inilah yang dibahas di dalam kitab-kitab akidah. Adapun niat yang dibahas dalam kitab-kitab fikih adalah niat yang berfungsi untuk membedakan ibadah yang satu dengan ibadah yang lain atau untuk membedakan antara ibadah dan bukan ibadah (kebiasaan). (Lihat transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 6-8; oleh Syekh Ibrahim ar-Ruhaili)Hadis ini juga memberikan pelajaran bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah harus disertai niat untuk mencari pahala di akhirat. Apabila misalnya ada orang yang melakukan salat tanpa menyimpan niat mencari pahala di akhirat, maka orang itu tidak akan mendapatkan pahala di akhirat atas perbuatannya itu. (Lihat keterangan Syekh Sa’ad asy-Syatsri hafizhahullah dalam Syarh Umdatul Ahkam, 1: 14)Hadis ini merupakan pondasi agama. Ia mengandung perealisasian syahadat laa ilaha illallah. Yaitu wajibnya memurnikan amal ibadah untuk Allah. Hadis ini berisi setengah dalil agama, sedangkan setengahnya lagi ada di dalam hadis,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak termasuk ajarannya maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam hadis ini terkandung makna syahadat “Muhammad rasulullah”. Oleh sebab itu, amal yang diterima adalah yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat keterangan Syekh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Minhatul Malik, 1: 26)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (1: 60-61).Syekh as-Si’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya, maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. al-Furqan: 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14; cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Hadis ini juga menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan orang musyrik itu tidak diterima oleh Allah disebabkan mereka mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, niscaya akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. az-Zumar: 65)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, pastilah akan terhapus semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 88)Demikian pula orang yang murtad, maka semua amalnya akan terhapus. (Lihat at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, hal. 73-74)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam.Oleh sebab itulah, pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Baca juga: Tepatkah Ucapan, “Iman Itu Letaknya di Hati”?Bahaya penyakit hatiAllah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ“Dan sebagian orang ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’; padahal mereka bukanlah kaum beriman. Mereka berusaha mengelabui Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tidaklah mengelabui kecuali dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari. Dalam hati mereka terdapat penyakit, maka Allah pun tambahkan padanya penyakit yang lain…” (QS. al-Baqarah: 8-10)Kerusakan yang menimpa hati kaum munafik inilah yang meruntuhkan segala amal kebaikan yang mereka tampakkan. Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud “penyakit” dalam ayat itu adalah keragu-raguan, syubhat, dan kemunafikan. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 42)Allah Ta’ala mengisahkan,أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ“Apakah orang yang membangun pondasi bangunannya di atas takwa kepada Allah dan mencari keridaan-Nya itukah yang lebih baik ataukah orang yang membangun pondasi bangunannya di tepi jurang yang miring lalu runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahanam?” (QS. at-Taubah: 109)Syekh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan, bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang membangun masjid untuk salat di dalamnya. Akan tetapi, disebabkan amal yang agung ini mereka lakukan tanpa disertai dengan keikhlasan, maka amalan itu tidak bermanfaat untuk mereka sedikit pun, bahkan ia justru menyeret dan menjerumuskan mereka ke dalam neraka Jahanam. (Lihat Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, hal. 13)Akibat penyakit yang menjangkiti hati inilah, orang kemudian menolak kebenaran dan menerima kebatilan, dan demikian itulah karakter yang melekat pada diri orang-orang munafik. Sementara baik buruknya hati menentukan baik buruknya amalan. Oleh sebab itu, sudah semestinya seorang insan memperhatikan keadaan hatinya; apakah hatinya sehat atau sakit. Apabila hatinya sedang sakit, hendaklah dia bersemangat untuk segera mencari obatnya. Apabila hatinya sehat, hendaklah dia memuji Allah atas nikmat itu dan memohon kepada-Nya agar tetap tegar di atasnya. Banyak orang berusaha keras untuk mencari obat bagi penyakit fisik sehingga berupaya mencari pengobatan kepada semua dokter yang bisa ditemui. Akan tetapi anehnya, banyak orang tidak perhatian terhadap penyakit hati yang bersarang di dalam dirinya. Padahal penyakit hati lebih berat bahayanya dan lebih mematikan daripada penyakit badan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 86-87)Kebanyakan orang beranggapan bahwa musibah yang menyakitkan itu adalah yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah (materi) atau keduniaan saja. Padahal sesungguhnya musibah akibat penyakit hati dan rusaknya nurani lebih dahsyat dan lebih mengerikan daripada musibah akibat perkara-perkara dunia. Bahkan tidak sedikit manusia yang berada dalam keadaan hatinya telah mati sampai-sampai tidak bisa lagi merasakan musibah yang menimpa dirinya berupa kefasikan dan kemaksiatan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 87)Sebagian orang yang arif mengatakan, “Bukankah orang yang sakit apabila terhalang dari makanan dan minuman serta obat-obatan lambat laun akan menjadi mati?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian dia berkata, “Demikian pula hati; apabila ia terhalang dari ilmu dan hikmah selama tiga hari saja, niscaya dia akan mati.”Sungguh benar kalimat ini. Sesungguhnya ilmu merupakan makanan, minuman, sekaligus obat bagi hati. Kehidupan hati sangat bergantung padanya. Apabila hati kehilangan ilmu, ia pun menjadi mati. Akan tetapi seringkali pemiliknya tidak menyadari akan kematian hati, Allahul musta’aan. (Lihat al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 144-145)Ikhlas dalam menimba ilmuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ“Barangsiapa menimba ilmu (agama) untuk bersikap lancang (membanggakan) diri kepada para ulama, atau untuk mendebat (melecehkan) orang-orang dungu, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya (mencari ketenaran), maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi, al-Albani mengatakan hadis ini shahih lighairihi) (Lihat al-’Ilmu, Wasa-iluhu wa Tsimaruhu, hal. 18; oleh Syekh Sulaiman ar-Ruhaili)Hal ini mengisyaratkan bahwa penimba ilmu harus membersihkan hatinya dari segala hal yang merusak berupa tipu daya (sifat curang), kotoran dosa, iri dan dengki, ataupun keburukan akidah dan kejelekan akhlak. Ilmu adalah ibadah hati, dan tidak mungkin ilmu bisa diserap dengan baik kecuali apabila hati itu bersih dari segala hal yang mengotorinya. Sahl rahimahullah berkata, “Haram bagi hati yang memendam sesuatu yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk dimasuki cahaya (ilmu).” (Lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah, hal. 86)Salah satu fenomena yang menunjukkan kerusakan niat adalah ketika sebagian orang membahas suatu perkara yang rumit dan pelik, lalu dia bersemangat menelaah hal itu dengan sebaik-baiknya, kemudian dia sebarkan hasilnya di sebagian majelis, sementara tidak ada niat (motivasi) di dalam hatinya ketika membahas masalah itu secara detail selain demi menampakkan kehebatan (berbangga diri) di hadapan para ulama. Selain itu, ada pula sebagian orang yang membahas beberapa perkara ilmu hanya untuk tujuan mendebat (melecehkan) orang-orang dungu (bodoh) atau menyulut pertengkaran dan perdebatan yang tidak bijaksana. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 94)Karena itulah seorang penimba ilmu hendaknya menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebagaimana telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada (hati) kalian atau kalian tampakkan, maka Allah Maha mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Setiap amalan dinilai dengan niatnya dan setiap orang akan diberi balasan selaras dengan niat yang tertanam di dalam hatinya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Silahkan baca nasihat Syekh Husain al-’Awaisyah hafizhahullah dalam Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 10)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) yang seharusnya dia pelajari demi mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan ternyata dia justru mempelajarinya untuk mencari suatu bentuk kesenangan (perhiasan dunia), maka dia tidak akan mendapatkan bau harum surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain; dan dinyatakan shahih lighairihi oleh al-Albani) (Lihat Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 11)Ma’khul berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadis demi mendebat orang-orang bodoh atau berbangga-bangga di hadapan para ulama, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka dia di neraka.” (Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 227)Syekh Shalih al-Fauzan berkata, “Ikhlas itu adalah seorang insan berniat dengan amalnya untuk mencari wajah Allah. Dan dia tidak bermaksud untuk mencari kepentingan dunia apapun atau mencari pujian dan sanjungan dari manusia. Dia tidak mendengarkan celaan mereka ketika mencelanya. Seperti perkataan mereka, ‘Si fulan mutasyaddid (keras)’ atau ‘Si fulan itu begini dan begitu’. Selama dia berada di atas jalan yang benar dan di atas Sunnah, maka tidak membahayakan dirinya apa yang diucapkan oleh orang-orang. Dan tidak menggoyahkannya dari jalan Allah celaan dari siapa pun juga.” (Lihat I’anatul Mustafid, 1: 104)[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id

Segera Bersihkan Hatimu dengan Tauhid dan Keikhlasan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePentingnya membersihkan dan mengobati hatiHadis tentang ikhlasBahaya penyakit hatiIkhlas dalam menimba ilmuPentingnya membersihkan dan mengobati hatiSeorang ulama tabi’in bernama Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan,داو قلبك فإنَّ حاجة الله عز وجل إلى العباد صلاح قلوبهم“Obatilah hatimu, karena sesungguhnya ‘kebutuhan’ Allah ‘Azza wa Jalla terhadap para hamba adalah baiknya hati-hati mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam at-Tawadhu’ wal Khumul)Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menerangkan,يعني أن مراده منهم ومطلوبه صلاحُ قلوبهم، فلا صلاح للقلوب حتى يستقر فيها معرفة الله وعظمته ومحبته وخشيته ومهابته ورجاؤه والتوكل عليه ويمتلئ من ذلك،“Maksudnya adalah yang dikehendaki oleh Allah dari mereka dan tuntutan dari-Nya adalah baiknya hati-hati mereka. Maka, kebaikan hati tidak akan terwujud sampai bersemayam di dalamnya ma’rifatullah, pengagungan kepada-Nya, kecintaan, rasa takut, segan, berharap dan tawakal kepada-Nya; dan hatinya pun penuh dengan perasaan (keyakinan) itu…”وهذا هو حقيقة التوحيد، وهو معنى قول لا إله إلا الله، فلا صلاح للقلوب حتى يكون إلهها الذي تألهه وتعرفه وتحبه وتخشاه هو إله واحد لا شريك له“Inilah hakikat tauhid dan inilah makna dari ucapan laa ilaha illallah. Maka tidak ada kebaikan bagi hati hingga ilah (sesembahan) dan tempat bergantungnya, yang paling dikenali olehnya dan dicintainya, yang paling ditakutinya hanya satu, yaitu Allah; ilah (sesembahan) yang esa, yang tiada sekutu bagi-Nya…” (Lihat dalam kitab beliau, Jami’ul ‘Ulul wal Hikam)Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada kalian atau menampakkannya, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Di dalam ayat ini terkandung bimbingan untuk membersihkan hati dan menghadirkan di dalam hati tentang pengetahuan Allah terhadap dirinya di sepanjang waktu. Oleh sebab itu, seorang hamba akan merasa malu apabila Allah melihat hatinya penuh dengan pikiran kotor sehingga dia akan berusaha menyibukkan hatinya dalam hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan cara merenungkan ayat, memahami hadis, dan sebagainya. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 128)Hadis tentang ikhlasDari Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia peroleh atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Syekh Muhammad Hayat as-Sindi rahimahullah (wafat 1163 H) berkata, “Hadis ini merupakan pokok yang agung di antara pokok-pokok agama. Semestinya setiap hamba menghendaki wajah Allah Ta’ala dalam amal-amalnya serta menjauhi pujaan (sesembahan) selain-Nya. Karena orang yang ikhlas itulah yang beruntung; sedangkan orang yang riya’, dia pasti merugi. Dan ikhlas itu tidak bisa dicapai kecuali oleh orang yang mengetahui (meyakini) keagungan Allah Ta’ala dan pengawasan-Nya terhadap segenap makhluk-Nya…” (Lihat Tuhfatul Muhibbin bi Syarhil Arba’in, hal. 39)Hadis ini mengandung pelajaran bahwasanya barangsiapa melakukan amal karena riya’ atau ingin dipuji, maka dia berdosa. Barangsiapa berjihad dengan niat semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah, maka sempurna balasan untuknya. Barangsiapa berjihad karena Allah dan juga karena ingin mendapat ghanimah (harta rampasan perang), maka pahalanya berkurang. Oleh sebab itu, niat yang ikhlas merupakan syarat diterimanya seluruh amal. (Lihat keterangan Syekh Abdullah alu Bassam rahimahullah dalam Taisir al-‘Allam, hal. 16)Hadis ini adalah hadis pertama yang dibawakan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitabnya, Shahih Bukhari. Hadis ini termasuk kelompok hadis yang disebut oleh para ulama sebagai hadis-hadis yang menjadi poros ajaran agama. Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan yang lainnya menganggap hadis ini sebagai salah satu hadis pokok agama Islam. (Lihat keterangan Syekh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah dalam transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 5-6)Imam Ibnu Baththal menjelaskan mengapa Imam Bukhari meletakkan hadis niat ini di dalam Kitab al-Iman; yaitu disebabkan Bukhari ingin memberikan bantahan kepada Murji’ah yang menganggap bahwa iman itu cukup dengan ucapan lisan tanpa dilandasi oleh keyakinan hati. (Lihat Lubb al-Lubab fi at-Tarajim wal Abwab, 1: 123; karya al-’Allamah Abdul Haq al-Hasyimi)Hadis ini menunjukkan bahwa niat adalah syarat diterimanya amalan. Apabila suatu amalan tidak disertai dengan niat, maka ia tidak akan diterima. Hadis ini juga menjadi dalil bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya seluruh amalan. Niat dalam artian ikhlas inilah yang dibahas di dalam kitab-kitab akidah. Adapun niat yang dibahas dalam kitab-kitab fikih adalah niat yang berfungsi untuk membedakan ibadah yang satu dengan ibadah yang lain atau untuk membedakan antara ibadah dan bukan ibadah (kebiasaan). (Lihat transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 6-8; oleh Syekh Ibrahim ar-Ruhaili)Hadis ini juga memberikan pelajaran bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah harus disertai niat untuk mencari pahala di akhirat. Apabila misalnya ada orang yang melakukan salat tanpa menyimpan niat mencari pahala di akhirat, maka orang itu tidak akan mendapatkan pahala di akhirat atas perbuatannya itu. (Lihat keterangan Syekh Sa’ad asy-Syatsri hafizhahullah dalam Syarh Umdatul Ahkam, 1: 14)Hadis ini merupakan pondasi agama. Ia mengandung perealisasian syahadat laa ilaha illallah. Yaitu wajibnya memurnikan amal ibadah untuk Allah. Hadis ini berisi setengah dalil agama, sedangkan setengahnya lagi ada di dalam hadis,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak termasuk ajarannya maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam hadis ini terkandung makna syahadat “Muhammad rasulullah”. Oleh sebab itu, amal yang diterima adalah yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat keterangan Syekh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Minhatul Malik, 1: 26)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (1: 60-61).Syekh as-Si’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya, maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. al-Furqan: 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14; cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Hadis ini juga menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan orang musyrik itu tidak diterima oleh Allah disebabkan mereka mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, niscaya akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. az-Zumar: 65)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, pastilah akan terhapus semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 88)Demikian pula orang yang murtad, maka semua amalnya akan terhapus. (Lihat at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, hal. 73-74)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam.Oleh sebab itulah, pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Baca juga: Tepatkah Ucapan, “Iman Itu Letaknya di Hati”?Bahaya penyakit hatiAllah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ“Dan sebagian orang ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’; padahal mereka bukanlah kaum beriman. Mereka berusaha mengelabui Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tidaklah mengelabui kecuali dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari. Dalam hati mereka terdapat penyakit, maka Allah pun tambahkan padanya penyakit yang lain…” (QS. al-Baqarah: 8-10)Kerusakan yang menimpa hati kaum munafik inilah yang meruntuhkan segala amal kebaikan yang mereka tampakkan. Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud “penyakit” dalam ayat itu adalah keragu-raguan, syubhat, dan kemunafikan. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 42)Allah Ta’ala mengisahkan,أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ“Apakah orang yang membangun pondasi bangunannya di atas takwa kepada Allah dan mencari keridaan-Nya itukah yang lebih baik ataukah orang yang membangun pondasi bangunannya di tepi jurang yang miring lalu runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahanam?” (QS. at-Taubah: 109)Syekh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan, bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang membangun masjid untuk salat di dalamnya. Akan tetapi, disebabkan amal yang agung ini mereka lakukan tanpa disertai dengan keikhlasan, maka amalan itu tidak bermanfaat untuk mereka sedikit pun, bahkan ia justru menyeret dan menjerumuskan mereka ke dalam neraka Jahanam. (Lihat Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, hal. 13)Akibat penyakit yang menjangkiti hati inilah, orang kemudian menolak kebenaran dan menerima kebatilan, dan demikian itulah karakter yang melekat pada diri orang-orang munafik. Sementara baik buruknya hati menentukan baik buruknya amalan. Oleh sebab itu, sudah semestinya seorang insan memperhatikan keadaan hatinya; apakah hatinya sehat atau sakit. Apabila hatinya sedang sakit, hendaklah dia bersemangat untuk segera mencari obatnya. Apabila hatinya sehat, hendaklah dia memuji Allah atas nikmat itu dan memohon kepada-Nya agar tetap tegar di atasnya. Banyak orang berusaha keras untuk mencari obat bagi penyakit fisik sehingga berupaya mencari pengobatan kepada semua dokter yang bisa ditemui. Akan tetapi anehnya, banyak orang tidak perhatian terhadap penyakit hati yang bersarang di dalam dirinya. Padahal penyakit hati lebih berat bahayanya dan lebih mematikan daripada penyakit badan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 86-87)Kebanyakan orang beranggapan bahwa musibah yang menyakitkan itu adalah yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah (materi) atau keduniaan saja. Padahal sesungguhnya musibah akibat penyakit hati dan rusaknya nurani lebih dahsyat dan lebih mengerikan daripada musibah akibat perkara-perkara dunia. Bahkan tidak sedikit manusia yang berada dalam keadaan hatinya telah mati sampai-sampai tidak bisa lagi merasakan musibah yang menimpa dirinya berupa kefasikan dan kemaksiatan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 87)Sebagian orang yang arif mengatakan, “Bukankah orang yang sakit apabila terhalang dari makanan dan minuman serta obat-obatan lambat laun akan menjadi mati?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian dia berkata, “Demikian pula hati; apabila ia terhalang dari ilmu dan hikmah selama tiga hari saja, niscaya dia akan mati.”Sungguh benar kalimat ini. Sesungguhnya ilmu merupakan makanan, minuman, sekaligus obat bagi hati. Kehidupan hati sangat bergantung padanya. Apabila hati kehilangan ilmu, ia pun menjadi mati. Akan tetapi seringkali pemiliknya tidak menyadari akan kematian hati, Allahul musta’aan. (Lihat al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 144-145)Ikhlas dalam menimba ilmuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ“Barangsiapa menimba ilmu (agama) untuk bersikap lancang (membanggakan) diri kepada para ulama, atau untuk mendebat (melecehkan) orang-orang dungu, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya (mencari ketenaran), maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi, al-Albani mengatakan hadis ini shahih lighairihi) (Lihat al-’Ilmu, Wasa-iluhu wa Tsimaruhu, hal. 18; oleh Syekh Sulaiman ar-Ruhaili)Hal ini mengisyaratkan bahwa penimba ilmu harus membersihkan hatinya dari segala hal yang merusak berupa tipu daya (sifat curang), kotoran dosa, iri dan dengki, ataupun keburukan akidah dan kejelekan akhlak. Ilmu adalah ibadah hati, dan tidak mungkin ilmu bisa diserap dengan baik kecuali apabila hati itu bersih dari segala hal yang mengotorinya. Sahl rahimahullah berkata, “Haram bagi hati yang memendam sesuatu yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk dimasuki cahaya (ilmu).” (Lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah, hal. 86)Salah satu fenomena yang menunjukkan kerusakan niat adalah ketika sebagian orang membahas suatu perkara yang rumit dan pelik, lalu dia bersemangat menelaah hal itu dengan sebaik-baiknya, kemudian dia sebarkan hasilnya di sebagian majelis, sementara tidak ada niat (motivasi) di dalam hatinya ketika membahas masalah itu secara detail selain demi menampakkan kehebatan (berbangga diri) di hadapan para ulama. Selain itu, ada pula sebagian orang yang membahas beberapa perkara ilmu hanya untuk tujuan mendebat (melecehkan) orang-orang dungu (bodoh) atau menyulut pertengkaran dan perdebatan yang tidak bijaksana. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 94)Karena itulah seorang penimba ilmu hendaknya menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebagaimana telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada (hati) kalian atau kalian tampakkan, maka Allah Maha mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Setiap amalan dinilai dengan niatnya dan setiap orang akan diberi balasan selaras dengan niat yang tertanam di dalam hatinya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Silahkan baca nasihat Syekh Husain al-’Awaisyah hafizhahullah dalam Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 10)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) yang seharusnya dia pelajari demi mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan ternyata dia justru mempelajarinya untuk mencari suatu bentuk kesenangan (perhiasan dunia), maka dia tidak akan mendapatkan bau harum surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain; dan dinyatakan shahih lighairihi oleh al-Albani) (Lihat Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 11)Ma’khul berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadis demi mendebat orang-orang bodoh atau berbangga-bangga di hadapan para ulama, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka dia di neraka.” (Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 227)Syekh Shalih al-Fauzan berkata, “Ikhlas itu adalah seorang insan berniat dengan amalnya untuk mencari wajah Allah. Dan dia tidak bermaksud untuk mencari kepentingan dunia apapun atau mencari pujian dan sanjungan dari manusia. Dia tidak mendengarkan celaan mereka ketika mencelanya. Seperti perkataan mereka, ‘Si fulan mutasyaddid (keras)’ atau ‘Si fulan itu begini dan begitu’. Selama dia berada di atas jalan yang benar dan di atas Sunnah, maka tidak membahayakan dirinya apa yang diucapkan oleh orang-orang. Dan tidak menggoyahkannya dari jalan Allah celaan dari siapa pun juga.” (Lihat I’anatul Mustafid, 1: 104)[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePentingnya membersihkan dan mengobati hatiHadis tentang ikhlasBahaya penyakit hatiIkhlas dalam menimba ilmuPentingnya membersihkan dan mengobati hatiSeorang ulama tabi’in bernama Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan,داو قلبك فإنَّ حاجة الله عز وجل إلى العباد صلاح قلوبهم“Obatilah hatimu, karena sesungguhnya ‘kebutuhan’ Allah ‘Azza wa Jalla terhadap para hamba adalah baiknya hati-hati mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam at-Tawadhu’ wal Khumul)Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menerangkan,يعني أن مراده منهم ومطلوبه صلاحُ قلوبهم، فلا صلاح للقلوب حتى يستقر فيها معرفة الله وعظمته ومحبته وخشيته ومهابته ورجاؤه والتوكل عليه ويمتلئ من ذلك،“Maksudnya adalah yang dikehendaki oleh Allah dari mereka dan tuntutan dari-Nya adalah baiknya hati-hati mereka. Maka, kebaikan hati tidak akan terwujud sampai bersemayam di dalamnya ma’rifatullah, pengagungan kepada-Nya, kecintaan, rasa takut, segan, berharap dan tawakal kepada-Nya; dan hatinya pun penuh dengan perasaan (keyakinan) itu…”وهذا هو حقيقة التوحيد، وهو معنى قول لا إله إلا الله، فلا صلاح للقلوب حتى يكون إلهها الذي تألهه وتعرفه وتحبه وتخشاه هو إله واحد لا شريك له“Inilah hakikat tauhid dan inilah makna dari ucapan laa ilaha illallah. Maka tidak ada kebaikan bagi hati hingga ilah (sesembahan) dan tempat bergantungnya, yang paling dikenali olehnya dan dicintainya, yang paling ditakutinya hanya satu, yaitu Allah; ilah (sesembahan) yang esa, yang tiada sekutu bagi-Nya…” (Lihat dalam kitab beliau, Jami’ul ‘Ulul wal Hikam)Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada kalian atau menampakkannya, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Di dalam ayat ini terkandung bimbingan untuk membersihkan hati dan menghadirkan di dalam hati tentang pengetahuan Allah terhadap dirinya di sepanjang waktu. Oleh sebab itu, seorang hamba akan merasa malu apabila Allah melihat hatinya penuh dengan pikiran kotor sehingga dia akan berusaha menyibukkan hatinya dalam hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan cara merenungkan ayat, memahami hadis, dan sebagainya. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 128)Hadis tentang ikhlasDari Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia peroleh atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Syekh Muhammad Hayat as-Sindi rahimahullah (wafat 1163 H) berkata, “Hadis ini merupakan pokok yang agung di antara pokok-pokok agama. Semestinya setiap hamba menghendaki wajah Allah Ta’ala dalam amal-amalnya serta menjauhi pujaan (sesembahan) selain-Nya. Karena orang yang ikhlas itulah yang beruntung; sedangkan orang yang riya’, dia pasti merugi. Dan ikhlas itu tidak bisa dicapai kecuali oleh orang yang mengetahui (meyakini) keagungan Allah Ta’ala dan pengawasan-Nya terhadap segenap makhluk-Nya…” (Lihat Tuhfatul Muhibbin bi Syarhil Arba’in, hal. 39)Hadis ini mengandung pelajaran bahwasanya barangsiapa melakukan amal karena riya’ atau ingin dipuji, maka dia berdosa. Barangsiapa berjihad dengan niat semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah, maka sempurna balasan untuknya. Barangsiapa berjihad karena Allah dan juga karena ingin mendapat ghanimah (harta rampasan perang), maka pahalanya berkurang. Oleh sebab itu, niat yang ikhlas merupakan syarat diterimanya seluruh amal. (Lihat keterangan Syekh Abdullah alu Bassam rahimahullah dalam Taisir al-‘Allam, hal. 16)Hadis ini adalah hadis pertama yang dibawakan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitabnya, Shahih Bukhari. Hadis ini termasuk kelompok hadis yang disebut oleh para ulama sebagai hadis-hadis yang menjadi poros ajaran agama. Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan yang lainnya menganggap hadis ini sebagai salah satu hadis pokok agama Islam. (Lihat keterangan Syekh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah dalam transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 5-6)Imam Ibnu Baththal menjelaskan mengapa Imam Bukhari meletakkan hadis niat ini di dalam Kitab al-Iman; yaitu disebabkan Bukhari ingin memberikan bantahan kepada Murji’ah yang menganggap bahwa iman itu cukup dengan ucapan lisan tanpa dilandasi oleh keyakinan hati. (Lihat Lubb al-Lubab fi at-Tarajim wal Abwab, 1: 123; karya al-’Allamah Abdul Haq al-Hasyimi)Hadis ini menunjukkan bahwa niat adalah syarat diterimanya amalan. Apabila suatu amalan tidak disertai dengan niat, maka ia tidak akan diterima. Hadis ini juga menjadi dalil bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya seluruh amalan. Niat dalam artian ikhlas inilah yang dibahas di dalam kitab-kitab akidah. Adapun niat yang dibahas dalam kitab-kitab fikih adalah niat yang berfungsi untuk membedakan ibadah yang satu dengan ibadah yang lain atau untuk membedakan antara ibadah dan bukan ibadah (kebiasaan). (Lihat transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 6-8; oleh Syekh Ibrahim ar-Ruhaili)Hadis ini juga memberikan pelajaran bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah harus disertai niat untuk mencari pahala di akhirat. Apabila misalnya ada orang yang melakukan salat tanpa menyimpan niat mencari pahala di akhirat, maka orang itu tidak akan mendapatkan pahala di akhirat atas perbuatannya itu. (Lihat keterangan Syekh Sa’ad asy-Syatsri hafizhahullah dalam Syarh Umdatul Ahkam, 1: 14)Hadis ini merupakan pondasi agama. Ia mengandung perealisasian syahadat laa ilaha illallah. Yaitu wajibnya memurnikan amal ibadah untuk Allah. Hadis ini berisi setengah dalil agama, sedangkan setengahnya lagi ada di dalam hadis,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak termasuk ajarannya maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam hadis ini terkandung makna syahadat “Muhammad rasulullah”. Oleh sebab itu, amal yang diterima adalah yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat keterangan Syekh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Minhatul Malik, 1: 26)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (1: 60-61).Syekh as-Si’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya, maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. al-Furqan: 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14; cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Hadis ini juga menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan orang musyrik itu tidak diterima oleh Allah disebabkan mereka mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, niscaya akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. az-Zumar: 65)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, pastilah akan terhapus semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 88)Demikian pula orang yang murtad, maka semua amalnya akan terhapus. (Lihat at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, hal. 73-74)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam.Oleh sebab itulah, pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Baca juga: Tepatkah Ucapan, “Iman Itu Letaknya di Hati”?Bahaya penyakit hatiAllah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ“Dan sebagian orang ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’; padahal mereka bukanlah kaum beriman. Mereka berusaha mengelabui Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tidaklah mengelabui kecuali dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari. Dalam hati mereka terdapat penyakit, maka Allah pun tambahkan padanya penyakit yang lain…” (QS. al-Baqarah: 8-10)Kerusakan yang menimpa hati kaum munafik inilah yang meruntuhkan segala amal kebaikan yang mereka tampakkan. Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud “penyakit” dalam ayat itu adalah keragu-raguan, syubhat, dan kemunafikan. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 42)Allah Ta’ala mengisahkan,أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ“Apakah orang yang membangun pondasi bangunannya di atas takwa kepada Allah dan mencari keridaan-Nya itukah yang lebih baik ataukah orang yang membangun pondasi bangunannya di tepi jurang yang miring lalu runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahanam?” (QS. at-Taubah: 109)Syekh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan, bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang membangun masjid untuk salat di dalamnya. Akan tetapi, disebabkan amal yang agung ini mereka lakukan tanpa disertai dengan keikhlasan, maka amalan itu tidak bermanfaat untuk mereka sedikit pun, bahkan ia justru menyeret dan menjerumuskan mereka ke dalam neraka Jahanam. (Lihat Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, hal. 13)Akibat penyakit yang menjangkiti hati inilah, orang kemudian menolak kebenaran dan menerima kebatilan, dan demikian itulah karakter yang melekat pada diri orang-orang munafik. Sementara baik buruknya hati menentukan baik buruknya amalan. Oleh sebab itu, sudah semestinya seorang insan memperhatikan keadaan hatinya; apakah hatinya sehat atau sakit. Apabila hatinya sedang sakit, hendaklah dia bersemangat untuk segera mencari obatnya. Apabila hatinya sehat, hendaklah dia memuji Allah atas nikmat itu dan memohon kepada-Nya agar tetap tegar di atasnya. Banyak orang berusaha keras untuk mencari obat bagi penyakit fisik sehingga berupaya mencari pengobatan kepada semua dokter yang bisa ditemui. Akan tetapi anehnya, banyak orang tidak perhatian terhadap penyakit hati yang bersarang di dalam dirinya. Padahal penyakit hati lebih berat bahayanya dan lebih mematikan daripada penyakit badan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 86-87)Kebanyakan orang beranggapan bahwa musibah yang menyakitkan itu adalah yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah (materi) atau keduniaan saja. Padahal sesungguhnya musibah akibat penyakit hati dan rusaknya nurani lebih dahsyat dan lebih mengerikan daripada musibah akibat perkara-perkara dunia. Bahkan tidak sedikit manusia yang berada dalam keadaan hatinya telah mati sampai-sampai tidak bisa lagi merasakan musibah yang menimpa dirinya berupa kefasikan dan kemaksiatan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 87)Sebagian orang yang arif mengatakan, “Bukankah orang yang sakit apabila terhalang dari makanan dan minuman serta obat-obatan lambat laun akan menjadi mati?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian dia berkata, “Demikian pula hati; apabila ia terhalang dari ilmu dan hikmah selama tiga hari saja, niscaya dia akan mati.”Sungguh benar kalimat ini. Sesungguhnya ilmu merupakan makanan, minuman, sekaligus obat bagi hati. Kehidupan hati sangat bergantung padanya. Apabila hati kehilangan ilmu, ia pun menjadi mati. Akan tetapi seringkali pemiliknya tidak menyadari akan kematian hati, Allahul musta’aan. (Lihat al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 144-145)Ikhlas dalam menimba ilmuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ“Barangsiapa menimba ilmu (agama) untuk bersikap lancang (membanggakan) diri kepada para ulama, atau untuk mendebat (melecehkan) orang-orang dungu, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya (mencari ketenaran), maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi, al-Albani mengatakan hadis ini shahih lighairihi) (Lihat al-’Ilmu, Wasa-iluhu wa Tsimaruhu, hal. 18; oleh Syekh Sulaiman ar-Ruhaili)Hal ini mengisyaratkan bahwa penimba ilmu harus membersihkan hatinya dari segala hal yang merusak berupa tipu daya (sifat curang), kotoran dosa, iri dan dengki, ataupun keburukan akidah dan kejelekan akhlak. Ilmu adalah ibadah hati, dan tidak mungkin ilmu bisa diserap dengan baik kecuali apabila hati itu bersih dari segala hal yang mengotorinya. Sahl rahimahullah berkata, “Haram bagi hati yang memendam sesuatu yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk dimasuki cahaya (ilmu).” (Lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah, hal. 86)Salah satu fenomena yang menunjukkan kerusakan niat adalah ketika sebagian orang membahas suatu perkara yang rumit dan pelik, lalu dia bersemangat menelaah hal itu dengan sebaik-baiknya, kemudian dia sebarkan hasilnya di sebagian majelis, sementara tidak ada niat (motivasi) di dalam hatinya ketika membahas masalah itu secara detail selain demi menampakkan kehebatan (berbangga diri) di hadapan para ulama. Selain itu, ada pula sebagian orang yang membahas beberapa perkara ilmu hanya untuk tujuan mendebat (melecehkan) orang-orang dungu (bodoh) atau menyulut pertengkaran dan perdebatan yang tidak bijaksana. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 94)Karena itulah seorang penimba ilmu hendaknya menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebagaimana telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada (hati) kalian atau kalian tampakkan, maka Allah Maha mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Setiap amalan dinilai dengan niatnya dan setiap orang akan diberi balasan selaras dengan niat yang tertanam di dalam hatinya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Silahkan baca nasihat Syekh Husain al-’Awaisyah hafizhahullah dalam Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 10)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) yang seharusnya dia pelajari demi mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan ternyata dia justru mempelajarinya untuk mencari suatu bentuk kesenangan (perhiasan dunia), maka dia tidak akan mendapatkan bau harum surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain; dan dinyatakan shahih lighairihi oleh al-Albani) (Lihat Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 11)Ma’khul berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadis demi mendebat orang-orang bodoh atau berbangga-bangga di hadapan para ulama, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka dia di neraka.” (Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 227)Syekh Shalih al-Fauzan berkata, “Ikhlas itu adalah seorang insan berniat dengan amalnya untuk mencari wajah Allah. Dan dia tidak bermaksud untuk mencari kepentingan dunia apapun atau mencari pujian dan sanjungan dari manusia. Dia tidak mendengarkan celaan mereka ketika mencelanya. Seperti perkataan mereka, ‘Si fulan mutasyaddid (keras)’ atau ‘Si fulan itu begini dan begitu’. Selama dia berada di atas jalan yang benar dan di atas Sunnah, maka tidak membahayakan dirinya apa yang diucapkan oleh orang-orang. Dan tidak menggoyahkannya dari jalan Allah celaan dari siapa pun juga.” (Lihat I’anatul Mustafid, 1: 104)[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePentingnya membersihkan dan mengobati hatiHadis tentang ikhlasBahaya penyakit hatiIkhlas dalam menimba ilmuPentingnya membersihkan dan mengobati hatiSeorang ulama tabi’in bernama Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan,داو قلبك فإنَّ حاجة الله عز وجل إلى العباد صلاح قلوبهم“Obatilah hatimu, karena sesungguhnya ‘kebutuhan’ Allah ‘Azza wa Jalla terhadap para hamba adalah baiknya hati-hati mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam at-Tawadhu’ wal Khumul)Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menerangkan,يعني أن مراده منهم ومطلوبه صلاحُ قلوبهم، فلا صلاح للقلوب حتى يستقر فيها معرفة الله وعظمته ومحبته وخشيته ومهابته ورجاؤه والتوكل عليه ويمتلئ من ذلك،“Maksudnya adalah yang dikehendaki oleh Allah dari mereka dan tuntutan dari-Nya adalah baiknya hati-hati mereka. Maka, kebaikan hati tidak akan terwujud sampai bersemayam di dalamnya ma’rifatullah, pengagungan kepada-Nya, kecintaan, rasa takut, segan, berharap dan tawakal kepada-Nya; dan hatinya pun penuh dengan perasaan (keyakinan) itu…”وهذا هو حقيقة التوحيد، وهو معنى قول لا إله إلا الله، فلا صلاح للقلوب حتى يكون إلهها الذي تألهه وتعرفه وتحبه وتخشاه هو إله واحد لا شريك له“Inilah hakikat tauhid dan inilah makna dari ucapan laa ilaha illallah. Maka tidak ada kebaikan bagi hati hingga ilah (sesembahan) dan tempat bergantungnya, yang paling dikenali olehnya dan dicintainya, yang paling ditakutinya hanya satu, yaitu Allah; ilah (sesembahan) yang esa, yang tiada sekutu bagi-Nya…” (Lihat dalam kitab beliau, Jami’ul ‘Ulul wal Hikam)Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada kalian atau menampakkannya, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Di dalam ayat ini terkandung bimbingan untuk membersihkan hati dan menghadirkan di dalam hati tentang pengetahuan Allah terhadap dirinya di sepanjang waktu. Oleh sebab itu, seorang hamba akan merasa malu apabila Allah melihat hatinya penuh dengan pikiran kotor sehingga dia akan berusaha menyibukkan hatinya dalam hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan cara merenungkan ayat, memahami hadis, dan sebagainya. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 128)Hadis tentang ikhlasDari Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia peroleh atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Syekh Muhammad Hayat as-Sindi rahimahullah (wafat 1163 H) berkata, “Hadis ini merupakan pokok yang agung di antara pokok-pokok agama. Semestinya setiap hamba menghendaki wajah Allah Ta’ala dalam amal-amalnya serta menjauhi pujaan (sesembahan) selain-Nya. Karena orang yang ikhlas itulah yang beruntung; sedangkan orang yang riya’, dia pasti merugi. Dan ikhlas itu tidak bisa dicapai kecuali oleh orang yang mengetahui (meyakini) keagungan Allah Ta’ala dan pengawasan-Nya terhadap segenap makhluk-Nya…” (Lihat Tuhfatul Muhibbin bi Syarhil Arba’in, hal. 39)Hadis ini mengandung pelajaran bahwasanya barangsiapa melakukan amal karena riya’ atau ingin dipuji, maka dia berdosa. Barangsiapa berjihad dengan niat semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah, maka sempurna balasan untuknya. Barangsiapa berjihad karena Allah dan juga karena ingin mendapat ghanimah (harta rampasan perang), maka pahalanya berkurang. Oleh sebab itu, niat yang ikhlas merupakan syarat diterimanya seluruh amal. (Lihat keterangan Syekh Abdullah alu Bassam rahimahullah dalam Taisir al-‘Allam, hal. 16)Hadis ini adalah hadis pertama yang dibawakan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitabnya, Shahih Bukhari. Hadis ini termasuk kelompok hadis yang disebut oleh para ulama sebagai hadis-hadis yang menjadi poros ajaran agama. Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan yang lainnya menganggap hadis ini sebagai salah satu hadis pokok agama Islam. (Lihat keterangan Syekh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah dalam transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 5-6)Imam Ibnu Baththal menjelaskan mengapa Imam Bukhari meletakkan hadis niat ini di dalam Kitab al-Iman; yaitu disebabkan Bukhari ingin memberikan bantahan kepada Murji’ah yang menganggap bahwa iman itu cukup dengan ucapan lisan tanpa dilandasi oleh keyakinan hati. (Lihat Lubb al-Lubab fi at-Tarajim wal Abwab, 1: 123; karya al-’Allamah Abdul Haq al-Hasyimi)Hadis ini menunjukkan bahwa niat adalah syarat diterimanya amalan. Apabila suatu amalan tidak disertai dengan niat, maka ia tidak akan diterima. Hadis ini juga menjadi dalil bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya seluruh amalan. Niat dalam artian ikhlas inilah yang dibahas di dalam kitab-kitab akidah. Adapun niat yang dibahas dalam kitab-kitab fikih adalah niat yang berfungsi untuk membedakan ibadah yang satu dengan ibadah yang lain atau untuk membedakan antara ibadah dan bukan ibadah (kebiasaan). (Lihat transkrip Syarh al-Arba’in, 1: 6-8; oleh Syekh Ibrahim ar-Ruhaili)Hadis ini juga memberikan pelajaran bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah harus disertai niat untuk mencari pahala di akhirat. Apabila misalnya ada orang yang melakukan salat tanpa menyimpan niat mencari pahala di akhirat, maka orang itu tidak akan mendapatkan pahala di akhirat atas perbuatannya itu. (Lihat keterangan Syekh Sa’ad asy-Syatsri hafizhahullah dalam Syarh Umdatul Ahkam, 1: 14)Hadis ini merupakan pondasi agama. Ia mengandung perealisasian syahadat laa ilaha illallah. Yaitu wajibnya memurnikan amal ibadah untuk Allah. Hadis ini berisi setengah dalil agama, sedangkan setengahnya lagi ada di dalam hadis,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak termasuk ajarannya maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam hadis ini terkandung makna syahadat “Muhammad rasulullah”. Oleh sebab itu, amal yang diterima adalah yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat keterangan Syekh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Minhatul Malik, 1: 26)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (1: 60-61).Syekh as-Si’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya, maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. al-Furqan: 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14; cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Hadis ini juga menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan orang musyrik itu tidak diterima oleh Allah disebabkan mereka mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, niscaya akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. az-Zumar: 65)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, pastilah akan terhapus semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 88)Demikian pula orang yang murtad, maka semua amalnya akan terhapus. (Lihat at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, hal. 73-74)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam.Oleh sebab itulah, pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Baca juga: Tepatkah Ucapan, “Iman Itu Letaknya di Hati”?Bahaya penyakit hatiAllah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ“Dan sebagian orang ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’; padahal mereka bukanlah kaum beriman. Mereka berusaha mengelabui Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tidaklah mengelabui kecuali dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari. Dalam hati mereka terdapat penyakit, maka Allah pun tambahkan padanya penyakit yang lain…” (QS. al-Baqarah: 8-10)Kerusakan yang menimpa hati kaum munafik inilah yang meruntuhkan segala amal kebaikan yang mereka tampakkan. Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud “penyakit” dalam ayat itu adalah keragu-raguan, syubhat, dan kemunafikan. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 42)Allah Ta’ala mengisahkan,أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ“Apakah orang yang membangun pondasi bangunannya di atas takwa kepada Allah dan mencari keridaan-Nya itukah yang lebih baik ataukah orang yang membangun pondasi bangunannya di tepi jurang yang miring lalu runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahanam?” (QS. at-Taubah: 109)Syekh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan, bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang membangun masjid untuk salat di dalamnya. Akan tetapi, disebabkan amal yang agung ini mereka lakukan tanpa disertai dengan keikhlasan, maka amalan itu tidak bermanfaat untuk mereka sedikit pun, bahkan ia justru menyeret dan menjerumuskan mereka ke dalam neraka Jahanam. (Lihat Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, hal. 13)Akibat penyakit yang menjangkiti hati inilah, orang kemudian menolak kebenaran dan menerima kebatilan, dan demikian itulah karakter yang melekat pada diri orang-orang munafik. Sementara baik buruknya hati menentukan baik buruknya amalan. Oleh sebab itu, sudah semestinya seorang insan memperhatikan keadaan hatinya; apakah hatinya sehat atau sakit. Apabila hatinya sedang sakit, hendaklah dia bersemangat untuk segera mencari obatnya. Apabila hatinya sehat, hendaklah dia memuji Allah atas nikmat itu dan memohon kepada-Nya agar tetap tegar di atasnya. Banyak orang berusaha keras untuk mencari obat bagi penyakit fisik sehingga berupaya mencari pengobatan kepada semua dokter yang bisa ditemui. Akan tetapi anehnya, banyak orang tidak perhatian terhadap penyakit hati yang bersarang di dalam dirinya. Padahal penyakit hati lebih berat bahayanya dan lebih mematikan daripada penyakit badan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 86-87)Kebanyakan orang beranggapan bahwa musibah yang menyakitkan itu adalah yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah (materi) atau keduniaan saja. Padahal sesungguhnya musibah akibat penyakit hati dan rusaknya nurani lebih dahsyat dan lebih mengerikan daripada musibah akibat perkara-perkara dunia. Bahkan tidak sedikit manusia yang berada dalam keadaan hatinya telah mati sampai-sampai tidak bisa lagi merasakan musibah yang menimpa dirinya berupa kefasikan dan kemaksiatan. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1: 87)Sebagian orang yang arif mengatakan, “Bukankah orang yang sakit apabila terhalang dari makanan dan minuman serta obat-obatan lambat laun akan menjadi mati?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian dia berkata, “Demikian pula hati; apabila ia terhalang dari ilmu dan hikmah selama tiga hari saja, niscaya dia akan mati.”Sungguh benar kalimat ini. Sesungguhnya ilmu merupakan makanan, minuman, sekaligus obat bagi hati. Kehidupan hati sangat bergantung padanya. Apabila hati kehilangan ilmu, ia pun menjadi mati. Akan tetapi seringkali pemiliknya tidak menyadari akan kematian hati, Allahul musta’aan. (Lihat al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 144-145)Ikhlas dalam menimba ilmuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ“Barangsiapa menimba ilmu (agama) untuk bersikap lancang (membanggakan) diri kepada para ulama, atau untuk mendebat (melecehkan) orang-orang dungu, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya (mencari ketenaran), maka Allah akan masukkan dia ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi, al-Albani mengatakan hadis ini shahih lighairihi) (Lihat al-’Ilmu, Wasa-iluhu wa Tsimaruhu, hal. 18; oleh Syekh Sulaiman ar-Ruhaili)Hal ini mengisyaratkan bahwa penimba ilmu harus membersihkan hatinya dari segala hal yang merusak berupa tipu daya (sifat curang), kotoran dosa, iri dan dengki, ataupun keburukan akidah dan kejelekan akhlak. Ilmu adalah ibadah hati, dan tidak mungkin ilmu bisa diserap dengan baik kecuali apabila hati itu bersih dari segala hal yang mengotorinya. Sahl rahimahullah berkata, “Haram bagi hati yang memendam sesuatu yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk dimasuki cahaya (ilmu).” (Lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah, hal. 86)Salah satu fenomena yang menunjukkan kerusakan niat adalah ketika sebagian orang membahas suatu perkara yang rumit dan pelik, lalu dia bersemangat menelaah hal itu dengan sebaik-baiknya, kemudian dia sebarkan hasilnya di sebagian majelis, sementara tidak ada niat (motivasi) di dalam hatinya ketika membahas masalah itu secara detail selain demi menampakkan kehebatan (berbangga diri) di hadapan para ulama. Selain itu, ada pula sebagian orang yang membahas beberapa perkara ilmu hanya untuk tujuan mendebat (melecehkan) orang-orang dungu (bodoh) atau menyulut pertengkaran dan perdebatan yang tidak bijaksana. (Lihat keterangan Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 94)Karena itulah seorang penimba ilmu hendaknya menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebagaimana telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ“Katakanlah; Jika kalian menyembunyikan apa-apa yang ada di dalam dada (hati) kalian atau kalian tampakkan, maka Allah Maha mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)Setiap amalan dinilai dengan niatnya dan setiap orang akan diberi balasan selaras dengan niat yang tertanam di dalam hatinya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Silahkan baca nasihat Syekh Husain al-’Awaisyah hafizhahullah dalam Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 10)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) yang seharusnya dia pelajari demi mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan ternyata dia justru mempelajarinya untuk mencari suatu bentuk kesenangan (perhiasan dunia), maka dia tidak akan mendapatkan bau harum surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain; dan dinyatakan shahih lighairihi oleh al-Albani) (Lihat Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hal. 11)Ma’khul berkata, “Barangsiapa menimba ilmu hadis demi mendebat orang-orang bodoh atau berbangga-bangga di hadapan para ulama, atau demi memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka dia di neraka.” (Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 227)Syekh Shalih al-Fauzan berkata, “Ikhlas itu adalah seorang insan berniat dengan amalnya untuk mencari wajah Allah. Dan dia tidak bermaksud untuk mencari kepentingan dunia apapun atau mencari pujian dan sanjungan dari manusia. Dia tidak mendengarkan celaan mereka ketika mencelanya. Seperti perkataan mereka, ‘Si fulan mutasyaddid (keras)’ atau ‘Si fulan itu begini dan begitu’. Selama dia berada di atas jalan yang benar dan di atas Sunnah, maka tidak membahayakan dirinya apa yang diucapkan oleh orang-orang. Dan tidak menggoyahkannya dari jalan Allah celaan dari siapa pun juga.” (Lihat I’anatul Mustafid, 1: 104)[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id

3 Sebab Terangkatnya Bala Bencana Menurut Al-Qur’an dan Sunnah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ

3 Sebab Terangkatnya Bala Bencana Menurut Al-Qur’an dan Sunnah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ
Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ


Ada pertanyaan dari Saudari Amatullah. Ia bertanya, “Apa saja sebab-sebab yang dapat mengangkat bala (musibah)?” [PERTAMA]Sebab-sebab yang dapat mengangkat bala adalah doa, dan ini sebab yang paling agung. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, lalu Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka merendahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 42) Allah mencintai hamba-Nya yang merendahkan diri dan berdoa kepada-Nya. Maka, di antara sebab terbesar terangkatnya bala adalah kerendahan diri di hadapan Allah. Merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Serta memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah mengangkat bala tersebut. [KEDUA]Begitu pula sedekah, karena sedekah dapat menolak dan mengangkat bala. Banyak kisah yang mutawatir menunjukkan bahwa sedekah bisa mengangkat bala. [KETIGA]Demikian pula tobat dan istigfar. Keduanya termasuk sebab terangkatnya bala. Sebagaimana riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah bala turun kecuali karena dosa, dan tidaklah diangkat kecuali dengan tobat.” Jadi, tobat dan istigfar adalah salah satu sebab diangkatnya bala bencana. Maka seseorang hendaknya memeriksa dirinya. Jika tertimpa musibah, hendaknya ia mengevaluasi diri. Musibah itu bisa jadi adalah hukuman, dan bisa jadi pula merupakan ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Namun, Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Istigfar adalah salah satu sebab yang menghalangi turunnya azab. Sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (wahai Nabi) berada di antara mereka…Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan dua perlindungan dari azab: Perlindungan pertama telah hilang dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu saat beliau masih hidup di tengah-tengah mereka. Adapun perlindungan kedua tetap berlaku hingga hari kiamat.” Maksudnya adalah firman Allah, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar adalah salah satu sebab penghalang terjadinya azab, baik dalam lingkup pribadi atau masyarakat. Karena itu, orang yang memperbanyak istigfar—dengan izin Allah—akan berada dalam perlindungan. Aman dari hukuman dan turunnya azab. Begitu pula masyarakat yang memperbanyak istigfar. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, istigfar yang disertai dengan tobat adalah salah satu sebab penghalang turunnya azab, juga termasuk sebab diangkatnya azab setelah azab itu turun. ==== هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ أَمَةِ اللَّهِ قَالَتْ مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ؟ الْأَسْبَابُ الَّتِي يُرْفَعُ بِهَا الْبَلَاءُ أَوَّلًا الدُّعَاءُ وَهُوَ أَعْظَمُهَا فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَقَالَ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ اللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ يَتَضَرَّعُوا وَأَنْ يَدْعُوهُ فَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ التَّضَرُّعُ التَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدُعَاءُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْفَعَ الْبَلَاءَ كَذَلِكَ أَيْضًا الصَّدَقَةُ فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ وَتَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَالْقَصَصُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ تَرْفَعُ الْبَلَاءَ وَكَذَلِكَ أَيْضًا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهِيَ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ فَالتَّوْبَةُ مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ فَالِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ وَعَلَى الْإِنْسَانِ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَعْنِي إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ قَدْ تَكُونُ مُصِيبَةٌ قَدْ تَكُونُ هَذِهِ الْمُصِيبَةُ عُقُوبَةً وَقَدْ تَكُونُ ابْتِلَاءً وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنْزَلَ اللَّهُ أَمَانَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ أَمَانٌ انْقَضَى بِوَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ وَأَنْتَ فِيهِمْ يَعْنِي وُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ وَأَمَانٌ بَاقٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ يُرِيدُ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَالِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ وُقُوعِ الْعَذَابِ سَوَاءٌ عَلَى مُسْتَوَى الْفَرْدِ أَوِ الْمُجْتَمَعِ وَلِذَلِكَ الَّذِي يُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ هَذَا بِإِذْنِ اللَّهِ يَكُوْنُ فِي مَأْمَنٍ مَأْمَنٌ مِنَ الْعُقُوبَاتِ وَمِنْ نُزُولِ الْعَذَابِ وَهَكَذَا أَيْضًا مُجْتَمَعٌ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ فَإِذًا الِاسْتِغْفَارُ الْمَقْرُونُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ نُزُولِ الْعَذَابِ وَمِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْبَلَاءِ بَعْدَ وُقُوعِهِ

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Hamba yang Takut kepada Allah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Hamba yang Takut kepada Allah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِJemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala, di masa-masa sekarang, di mana fitnah syahwat dan syubhat begitu dahsyat menyerang kita semua, bahkan tak jarang saat kita sedang berada di rumah Allah sekalipun, fitnah tersebut mengintai kita dalam bentuk gadget yang senantiasa menyertai kita semua. Di zaman ketika keikhlasan dalam beribadah memiliki tantangan tersendiri, begitu kuatnya dorongan nafsu untuk memposting, flexing, dan mengabarkan semua aktifitas yang kita lakukan, pada akhirnya seringkali mempengaruhi niat kita di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Di zaman seperti ini, wahai jemaah sekalian, kita sangat butuh untuk membekali diri dengan rasa khauf dan khasy-yah, rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya di hari akhir nanti.Dengan rasa takut tersebut, wahai jemaah sekalian, kita akan terhindarkan dari bahaya syubhat dan syahwat serta ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang salaf pernah mengatakan, إِذَا سَكَنَ الخَوْفُ القُلُوبَ، أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهَا، وَطَرَدَ الدُّنْيَا عَنْهَا“Kalau rasa takut kepada Allah bersemayam di hati seseorang, maka ia akan membakar syahwatnya. Dan mengusir cinta dunia dari hatinya.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Ketauhilah, rasa takut yang sejati adalah rasa takut yang menghalangi seseorang dari apa yang Allah haramkan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang menghalangimu dari apa yang Allah haramkan.” (Dinukil oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madariju As-Saalikiin, 1: 508)Di dalam Al-Qur’an, begitu sering Allah menyebutkan ayat ayat yang yang menjelaskan tentang keagungan dan kebesaran-Nya, agar timbul dan hadir di hati manusia kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala serta memunculkan rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)Di banyak ayat lainnya, Allah juga menjelaskan bahwa Dia memiliki hukuman yang keras di negeri akhirat bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)Ayat-ayat tersebut tentu akan mencukupkan seorang mukmin, sehingga muncul rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Takut apabila ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan takut apabila amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala karena ternodai kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, terkait ibadah takut ini, ada beberapa poin penting yang sudah sepantasnya kita ingat bersama.Yang pertama, Allah telah mewajibkan kepada manusia seluruhnya untuk takut kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)Allah Ta’ala juga berfirman,فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)Yang kedua, rasa takut ini tidak hanya kita hadirkan tatkala akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala saja, namun juga tatkala sedang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang hamba haruslah takut apabila amal ketaatannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mukminun: 60)Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri?”  لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai Binti Ash-Shiddiq, mereka berpuasa, salat, dan bersedekah; akan tetapi, mereka takut (amalannya) tidak diterima.” (HR. At-Tirmidzi no. 3175)Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mereka yang disebutkan di dalam ayat tersebut benar-benar mengerjakan ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Namun, mereka takut amalan mereka itu ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan perbuatan baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik itu menggabungkan perbuatan buruk dan rasa aman dari hukuman Allah Ta’ala.Yang ketiga, mereka yang senantiasa takut kepada Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar baginya. Allah menjamin orang-orang beriman dan memiliki rasa takut kepada-Nya dengan surga-Nya,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)Marilah senantiasa kita perbaiki kualitas rasa takut kita kepada Allah Ta’ala, baik itu dengan memperbanyak berzikir dan membaca Al-Qur’an ataupun dengan amal ibadah lainnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga: Tutupi Aib Saudaramu, Apalagi Jika Dia Telah Bertobat!Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.Ibadallah, wahai jemaah sekalian,Ketika seorang hamba semakin dekat dan semakin mengenal Tuhannya, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Rasa takut adalah penanada sejauh mana diri kita mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka para ulama (orang orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)Semakin lama seorang hamba belajar dan menuntut ilmu serta mengenal Tuhannya, maka seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إنَّ أتقاكم و أعلمَكم باللهِ أنا“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah  orang yang paling bertakwa (takut kepada Allah) di antara kalian dan aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian.” (HR. Bukhari no. 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak menyaksikan tentang kebaikan dan keburukan yang lebih jelas seperti hari ini. Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, engkau benar-benar akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari no. 2801 dan Muslim no. 2359)Sungguh rasa takut kepada Allah akan mengendalikan syahwat kita dan hati kita. Serta membantu diri kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.Jemaah salat Jumat sekalian,Dalam perjalanan kita menaati Allah, hendaknya kita meniru seekor burung yang terbang. Rasa cinta kepada Allah ibarat kepala burung. Sedangkan rasa takut dan harap kepada Allah ibarat dua sayap burung terebut. Seorang mukmin yang sejati menggabungkan rasa takutnya kepada Allah dengan rasa harap dan penuh semangat untuk meraih pahala dan karunia-Nya. Serta menjadikan rasa cinta kepada Allah sebagai motivasi dalam beribadah kepada-Nya. Allah mengumpulkan ketiga rukun ini dalam satu ayat dari surah Al-Isra’,أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَاللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِوَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Mewujudkan Rasa Syukur dengan Berkurban***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

7+ Faedah Sabar dalam Al-Quran: Kabar Gembira untuk Anda – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

7+ Faedah Sabar dalam Al-Quran: Kabar Gembira untuk Anda – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ


Kemudian Allah menyebutkan manfaat-manfaat dari kesabaran. “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Apa makna selawat dari Allah? Artinya, pujian Allah untuk hamba-Nya di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman, “…dan rahmat.” Laa ilaaha illallaah! Bagaimana bisa musibah berubah menjadi rahmat! Dan cobaan, menjadi apa, wahai saudara-saudaraku? Menjadi karunia. Benar! Musibah itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, apabila manusia melihat dan mencermati kesudahan dan hasilnya. “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Mereka dirahmati dengan rahmat Rabb semesta alam, dan diberi petunjuk di atas jalan yang lurus. Perhatikan ayat ini, wahai saudara-saudaraku, lalu sebutkanlah kepadaku beberapa faedah sabar yang terkandung di dalamnya. Ini sangat kita butuhkan, saudara-saudara. Artinya, saat kamu mendatangi seseorang yang terkena musibah, kamu menenangkannya dan menguatkan kesabarannya, dan mengingatkannya akan sebagian faedah kesabaran. Kesabaran punya banyak faedah, faedah di ayat ini apa? Dari awal, yaitu dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Maka kamu bisa katakan, “Wahai saudaraku, bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…Jika kamu bersabar, maka Allah akan bersamamu.” Lalu faedah lainnya? “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Kabar gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Faedah lainnya? “Mereka itulah yang memperoleh selawat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157). Jadi, berapa faedah yang bisa kita ambil? Empat atau lima? Lima. Baik, sekarang sebutkan faedah lainnya dari ayat Al-Qur’an yang lain! “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Pahala mereka tidak dapat dihitung dan tidak terbatas. Pahala mereka di sisi Allah sangatlah besar. Ini faedah keenam. Lalu faedah selanjutnya? “Mereka itu akan diberi balasan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka …” (QS. Al-Furqan: 75) “…dan para malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu…(sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian’…Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Saat Allah menyebutkan penghuni surga – semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk penghuni surga –Dia menyebutkan sifat pertama mereka dalam surat Ali Imran:“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang selalu taat…” (QS. Ali Imran: 17) “Dan Allah memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, (yaitu) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 12) Demikianlah beberapa faedah kesabaran, bagi orang yang bersabar dan memaksakan dirinya untuk sabar, serta mengharapkan pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== ثُمَّ قَالَ فِي ذِكْرِ فَوَائِدِ الصَّبْرِ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ مَا مَعْنَاهَا؟ ثَنَاؤُهُ عَلَى عَبْدِهِ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى ثُمَّ قَالَ وَرَحْمَةٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَيْفَ تَنْقَلِبُ الْمُصِيبَةُ إِلَى رَحْمَةٍ وَالْمِحْنَةُ إِلَى مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ إِلَى مِنْحَةٍ نَعَمْ هِيَ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ نَظَرَ الْإِنْسَانُ وَتَأَمَّلَ فِي عَوَاقِبِهَا وَنَتَائِجِهَا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ فَهُمْ مَرْحُومُونَ بِرَحْمَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمُهْتَدُوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَأَمَّلُوا هَذِهِ الْآيَةَ يَا إِخْوَانِي وَاذْكُرُوا لِي شَيْءً مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ فِيهَا وَهَذِهِ نَحْتَاجُهَا كَثِيرًا يَا إِخْوَانُ يَعْنِي تَذْهَبُ إِلَى شَخْصٍ وَتُطَمْئِنُهُ وَتُصَبِّرُهُ وَتُذَكِّرُ لِأَيِّ شَيْءٍ مِنْ فَوَائِدَ لِلصَّبْرِ فَوَائِدُ هُنَا هَا؟ مِنْ أَوَّلِ شَيْءٍ مِنْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ فَتَقُولُ يَا أُخَيَّ اصْبِرْ فَاللَّهُ تَعَالَى مَعَ الصَّابِرِينَ إِنْ صَبَرْتَ فَاللَّهُ مَعَكَ وَأَيْضًا وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ بِشَارَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَيْضًا أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِذًا كَمْ فَائِدَة؟ أَرْبَعٌ وَلَا خَمْسٌ خَمْسٌ هَاتُوا غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَجْرُهُمْ لَا حَسْبَ لَهُ وَلَا عَدَّ فَأَجْرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى عَظِيمٌ هَذِهِ الْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَيَضًا أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ وَلَمَّا ذَكَرَ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ أَهْلِهَا قَالَ فِي أَوَّلِ صِفَاتِهِمْ فِي آلِ عِمْرَانَ الصَّابِرِيْنَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِيْنَ وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيْرًا فَهَذِهِ بَعْضٌ مِنْ فَوَائِدِ الصَّبْرِ لِمَنْ صَبَرَ وَصَابَرَ نَفْسَهُ وَاحْتَسَبَ الْأَجْرَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Rahasia 40 Rakaat Nabi Setiap Hari – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً

Rahasia 40 Rakaat Nabi Setiap Hari – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً
Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً


Anda menyebutkan dalam jawaban sebelumnya bahwa seorang Muslim dianjurkan agar salatnya dalam sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Bagaimana penjelasannya? Benar. Ini disebutkan oleh Ibnu Al-Qayyim dan beberapa ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa Salat Fardu berjumlah 17 rakaat. Salat Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, dan Asar 4 rakaat. Berarti totalnya menjadi 10 rakaat. 4 tambah 4, tambah 2. Magrib 3 rakaat, jadi totalnya 13 rakaat. Isya 4 rakaat, maka keseluruhan Salat Fardu menjadi 17 rakaat. Sedangkan Salat Sunah Rawatib ada 12 rakaat: 4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat setelahnya. 2 rakaat setelah Magrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum Subuh. Jika kita jumlahkan 12 rakaat dengan 17 rakaat, maka totalnya 29 rakaat. Sedangkan Salat Malam dan Witir ada 11 rakaat. Jika kita jumlahkan 11 rakaat dengan 29 rakaat, hasilnya menjadi 40 rakaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjaga pelaksanaan 40 rakaat ini saat beliau dalam keadaan mukim. Maka seorang Muslim sepatutnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Yaitu dengan memastikan salatnya selama sehari semalam tidak kurang dari 40 rakaat. Boleh lebih, namun jangan kurang dari 40 rakaat ini. ==== ذَكَرْتُمْ فِي إِجَابَةِ سُؤَالٍ سَابِقٍ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ أَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً فَكَيْفَ هَذَا؟ نَعَمْ هَذَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِنَّ الْفَرَائِضَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً الْفَجْرُ رَكْعَتَانِ وَالظُّهْرُ أَرْبَعٌ وَالْعَصْرُ أَرْبَعٌ هَذِهِ الْآنَ عَشْرٌ أَرْبَعٌ وَأَرْبَعٌ وَاثْنَتَيْنِ وَالْمَغْرِبُ ثَلاَثٌ أَيْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَالْعِشَاءُ أَرْبَعٌ يَعْنِي سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً هَذِهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْفَجْرِ فَإِذَا أَضَفْنَا اثْنَيْ عَشَرَ إِلَى سَبْعَةَ عَشَرَ النَّاتِجُ تِسْعٌ وَعِشْرِيْنَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَإِذَا أَضَفْنَا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَصْبَحَ الْمَجْمُوعُ أَرْبَعِيْنَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَافِظُ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً فِي الْحَضَرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَدِيَ الْمُسْلِمُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا وَأَلَّا تَقِلَّ صَلَاتُهُ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَنْ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً قَدْ يَزِيدُ لَكِنْ لَا تَقِلُّ عَنْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً

Berhati-Hati Terhadap Doa Orang Terzalimi

التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 QRIS donasi Yufid

Berhati-Hati Terhadap Doa Orang Terzalimi

التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 QRIS donasi Yufid
التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 QRIS donasi Yufid


التحذير من دعوة المظلوم Oleh: ad-Dakhlawi ‘Allal الدخلاوي علال الحمد لله رب العالمين، الملك الحق المبين، أحمده سبحانه وتعالى على جليل نِعَمِهِ وعظيم إحسانه في كل وقت وحينٍ، وأصلي وأسلم على النبي المصطفى الأمين، وعلى آله وصحابته والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين؛ أما بعد: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Menerangkan. Saya bersyukur memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala atas kebesaran nikmat-nikmat-Nya dan keagungan karunia-Nya di setiap waktu, dan saya menghaturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, sahabat, dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari Kiamat.  Amma ba’du: فإنه من جملة العبادات، وأمهات الطاعات والقربات، دعاء الله عز وجل والتضرع إليه، وفي الحديث: « الدعاء مخ العبادة » سنن الترمذي، باب ما جاء في فضل الدعاء. فهو عُدَّةُ المؤمن عند حلول البلاء، وزادُهُ عند نزول الشدائد والضراء، وهو أيضًا سلاحه المتين، ودرعه الحصين، في وجه المعتدين الآثمين؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾ [غافر: 60]، وإنه من الدعوات المستجابات: دعوة المظلوم. Di antara bentuk ibadah, serta inti ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah berdoa dan tunduk bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits disebutkan: الدعاء مخ العبادة “Doa merupakan inti ibadah.” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang keutamaan doa). Doa merupakan bekal seorang mukmin ketika tertimpa musibah, dan penyokong di saat datang kesulitan dan cobaan. Doa juga merupakan senjatanya yang tajam dan tamengnya yang kokoh dalam melawan orang-orang yang zalim dan pelaku dosa. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan) ’” (QS. Ghafir: 60). Ini merupakan doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi. فقد وعد سبحانه وتعالى بنصرة المظلوم، ودفع الأذى عن الضعيف المكلوم؛ ففي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثلاث لا تُرَدُّ دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يُفطر، ودعوة المظلوم يرفعها فوق الغمام، وتُفتح لها أبواب السماء، ويقول الرب عز وجل: وعزتي لأنصرنك ولو بعد حين » سنن الترمذي، باب ما جاء في صفة الجنة ونعيمها. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menolong orang yang terzalimi, dan menyingkap gangguan dari orang yang lemah dan tersakiti. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنَ  “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat hendak berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa itu di atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi Kemuliaan-Ku! Sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (Kitab Sunan At-Tirmidzi dalam bab riwayat-riwayat tentang ciri-ciri surga dan kenikmatan-kenikmatannya). فمَن حملته نفسه على ظلم ضعيفٍ ليس له ناصرٌ، فليتذكر قدرة الله القوي القاهر؛ وفي الحديث عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنت أضرب غلامًا لي، فسمعت من خلفي صوتًا: « اعلم، أبا مسعود، لَلَّهُ أقدر عليك منك عليه، فالتفتُّ فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، هو حرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل لَلَفَحَتْكَ النار، أو لمسَّتْكَ النار)) صحيح مسلم، باب صحبة المماليك، وكفارة من لطم عبده. Barang siapa yang terbawa oleh hawa nafsunya untuk menzalimi orang lemah yang tidak mempunyai penolong, maka hendaklah ia mengingat kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia berkata, “Aku pernah memukul budakku, kemudian aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada kuasamu atas orang itu!’ Akupun menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah! Budak ini saya merdekakan karena mengharap keridhaan Allah!’ Beliau pun menanggapi, ‘Seandainya itu tidak kamu lakukan (memerdekakan budak itu), niscaya kamu akan dihanguskan oleh api neraka atau tersentuh api neraka!’” (Kitab Shahih Muslim dalam bab interaksi dengan budak-budak dan kafarat bagi orang yang memukul budaknya). فالظلم مُؤذِن بالخراب، وجالب للنقم وسرعة العقاب؛ ولهذا لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذًا رضي الله عنه إلى اليمن أرشده إلى ما يعينه، وحذَّره من أمور؛ منها: اجتناب دعوة المظلوم؛ حيث قال له:((إنك تأتي قومًا منأهل الكتابفادْعُهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله،فإن هم أطاعوا لذلك، فأعْلِمْهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوا لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقةً تُؤخذ من أغنيائهم فتُرد في فقرائهم، فإن هم أطاعوا لذلك، فإياك وكرائمَ أموالهم، واتَّقِ دعوة المظلوم؛ فإنه ليس بينها وبين الله حجاب)) صحيح مسلم – كتاب الإيمان – باب الدعاء إلى الشهادتين وشرائع الإسلام. فحذَّره صلى الله عليه وسلم من دعوة المظلوم، لأنها من الدعوات المستجابة التي تُفتح لها أبواب السماء، وينتصر فيها الحق سبحانه وتعالى للمظلوم ممن آذاه. Perbuatan zalim merupakan deklarasi kehancuran, dan pengundang siksaan dan cepatnya balasan. Oleh sebab itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang dapat memudahkannya dan memperingatkannya dari beberapa perkara, di antaranya adalah menghindarkan diri dari doa orang yang terzalimi. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ajaklah mereka untuk bersyahadat, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan hindarkanlah dirimu dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab iman, subbab mendakwahkan dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan Muadz dari doa orang yang terzalimi, karena itu adalah doa yang mustajab (mudah dikabulkan), yang pintu-pintu langit dibukakan untuknya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi pertolongan bagi orang yang terzalimi itu terhadap orang yang telah menzaliminya. هذا، وقد وردت في كتاب الله، وفي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم نماذجُ كثيرة تبين مدى قدرة الله عز وجل على نصرة المظلوم؛ فقد روى الإمام مسلم في صحيحه من حديث عروة بن الزبير، ((أن أروى بنت أويس، ادَّعت على سعيد بن زيد أنه أخذ شيئًا من أرضها، فخاصمته إلى مروان بن الحكم، فقال سعيد: أنا كنت آخذ من أرضها شيئًا بعد الذي سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من أخذ شبرًا من الأرض ظلمًا، طوِّقه إلى سبع أرضين، فقال له مروان: لا أسألك بينةً بعد هذا، فقال: اللهم، إن كانت كاذبةً فعمِّ بصرها، واقتلها في أرضها، قال: فما ماتت حتى ذهب بصرها، ثم بينا هي تمشي في أرضها، إذ وقعت في حفرة فماتت)) صحيح مسلم – باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها. فاستجاب الله دعوةَ سعيد بن زيد في المرأة؛ لأنها اعتدت عليه وظلمته بغير وجه حق، وصادف ذلك أيضًا أن سعيد بن زيد كان مستجاب الدعوة، وهو أمر يخص الله به بعض أوليائه الصالحين؛ وصدق من قال: لا تظلمن إذا ما كنت مقتدرًا فالظلم آخره يأتيك بالندمِ  تنام عيناك والمظلوم منتصب يدعو عليك وعين الله لم تنمِ  التبصرة لابن الجوزي، ص: 92. Demikianlah, banyak disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contoh-contoh yang menjelaskan tingkat kuasa Allah ‘Azza wa Jalla dalam menolong orang yang terzalimi. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari riwayat Urwah bin az-Zubair bahwa Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid mengambil sebagian dari tanahnya, sehingga Arwa mengajukan perkara ini ke Marwan bin Al-Hakam (pemimpin ketika itu). Said bin Zaid lalu membela diri, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun dari tanahnya setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, niscaya Allah akan mengalungkan kepadanya tujuh bumi.’” Marwan lalu berkata, “Aku tidak perlu meminta bukti darimu setelah ini.” Kemudian Said bin Zaid berdoa, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya.” Akhirnya wanita itu kehilangan penglihatannya sebelum meninggal dunia, dan suatu hari ia berjalan di tanahnya, lalu terperosok ke dalam lubang hingga meninggal dunia. (Kitab Shahih Muslim dalam bab haramnya kezaliman, serta merampas tanah dan lain sebagainya). Allah mengabulkan doa Said bin Zaid terhadap Arwa binti Uwais, karena wanita ini menzaliminya dan berbuat aniaya terhadapnya tanpa sebab yang dibenarkan. Selain itu, Said bin Zaid juga termasuk orang yang doanya mudah dikabulkan, dan ini merupakan perkara yang Allah karuniakan kepada beberapa kekasih-Nya yang saleh. Benarlah syair yang berbunyi: لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيْكَ بِالنَّدَمِ Janganlah sekali-kali kamu berbuat zalim jika kamu sedang punya kekuasaan Karena akhir dari kezaliman adalah akan datang kepadamu membawa penyesalan تَنَامُ عَيْنَاكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَصِبٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَمِ Kedua matamu terlelap sedangkan orang yang kamu zalimi sedang terbangun Untuk mendoakan keburukan terhadapmu sedangkan mata Allah tidak pernah tidur (Kitab At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi hlm. 92). وإنه إذا كان الإحسان إلى الخلق وحسن معاملتهم من الأسباب الموجبة للمحبة بينهم، فإن الاعتداء عليهم وسوء معاملتهم من أسباب فشوِّ وانتشار الكراهية والبغضاء. وقد حذَّر عليه الصلاة والسلام المسلم من سوء معاملة الخلق أو الاعتداء عليهم بغير وجه حق؛ فقد قال صلى الله عليه وسلم كما ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: ((لاتحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا،ولا يَبِعْ بعضكم على بَيْعِ بعض، وكونوا عباد الله إخوانًا، المسلم أخو المسلم؛ لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يحقِره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقِرَ أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه وماله وعرضه))صحيح مسلم- كتاب البر والصلة والآداب -باب تحريم ظلم المسلم وخذله واحتقاره ودمه وعرضه وماله.. Apabila berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan baik merupakan salah satu sebab yang mendatangkan rasa cinta, maka bersikap zalim terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk merupakan salah satu sebab kerusakan hubungan, dan tersebarnya kebencian dan permusuhan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan bagi setiap muslim dari sikap buruk dan aniaya terhadap orang lain tanpa sebab yang benar. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ “Janganlah kalian saling dengki, saling melakukan najasy (berpura-pura menawar barang dagangan agar orang lain terkecoh), saling membenci, saling berpaling, dan menjual kepada orang lain barang yang sudah dibeli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini —sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali—. Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya itu haram darah, harta, dan kehormatannya.” (Kitab Shahih Muslim dalam bab berbakti, silaturahmi, dan adab-adab, subbab keharaman menzalimi, menghina, merendahkan seorang muslim, dan merenggut harta, kehormatan, dan hartanya). Sumber: https://www.alukah.net/التحذير من دعوة المظلوم Sumber PDF 🔍 Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Apakah Bekicot Haram, Sujud Shalat, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Hadits Keutamaan Umroh Visited 393 times, 1 visit(s) today Post Views: 455 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 5): Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 5): Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.


Daftar Isi ToggleKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahTidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKesimpulanSalah satu penyebab banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin adalah sikap meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seringkali perdebatan muncul dikarenakan seseorang mengemukakan pendapat yang tidak datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendapat yang muncul datang dari hawa nafsu, baik dorongan kepentingan pribadi, kelompok, maupun faktor pendorong lainnya. Akhirnya, tersebarlah pendapat nyeleneh yang menyelisihi makna yang disepakati ahli ilmu sehingga muncullah kekacauan dan menghasilkan perdebatan.Hal ini sebagaimana yang terjadi pada bidang ilmu kalam, pertentangan di antara penafsiran dalil yang menjadi akidah dan keyakinan kuat tentang zat Allah ﷻ dan perbuatan-Nya misalnya. Apabila tidak kemasukan pendapat aneh dari kalangan penikmat filsafat Yunani tentang ketuhanan, tentu tidak akan ada perpecahan kelompok di tubuh Islam sebanyak hari ini. Tentu ini adalah takdir dari Allah ﷻ yang telah ditetapkan dalam lisan Nabi ﷺ yang pasti benar. Akan tetapi, penyebab terjadinya perpecahan umat ini dapat kita ambil sebagai pelajaran di hari ini dan nantinya.Akibat meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah perselisihan. Dan akibat dari terus-menerus meninggalkannya dan mengedepankan hawa nafsu adalah perpecahan. Sebab apabila hawa nafsu telah menjadi komando, maka akan banyak sikap melampau yang betul-betul jauh dari adab dalam berselisih. Maka, hendaknya kita semua menyeru kepada persatuan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah agar kita menjadi umat terbaik sebagaimana para sahabat dan salaf mulia rahimahumullah.Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj salafKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tatkala berselisih adalah manhaj Nabi ﷺ dan para salaf shalih. Hal ini ditunjukkan dalam banyak atsar melalui jalur periwayatan yang sahih. Metode ini dapat menyelesaikan beragam tema permasalahan dari isu fikih, bahkan akidah dan juga politik.Landasan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah saat berselisih adalah surah An-Nisa ayat 59. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Dalam sebuah hadis terkenal dari sahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dinilai sahih oleh Al Albani)Mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu hizbiyahMengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan meredam hawa nafsu untuk membela golongan. Sehingga argumentasi menjadi rasional, serta tidak membela ataupun membantah secara membabi-buta. Bahkan meskipun ia adalah murid dari seorang guru, ataupun pembelajar dari salah satu mazhab, semua label yang melekat padanya tidak akan menghalanginya mengatakan kebenaran dan mengakui kekurangan.Ambillah nasihat yang indah dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut, فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله ، ولا لقول إلا لكتاب الله ، ومن نصب شخصاً كائناً من كان فوالى وعادي على موافقته في القول والفعل؛ فهو مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ  وَكَانُوا شِيَعًا “Maka tidak halal bagi siapa pun menjadikan seseorang sebagai pokok dalam agama, selain Rasulullah ﷺ. Dan tidak pula menjadikan suatu ucapan sebagai sumber utama selain Kitabullah. Barang siapa menjadikan seseorang—siapapun dia—sebagai tolok ukur, lalu loyal dan memusuhi berdasarkan kesesuaian orang itu dalam ucapan dan perbuatan, maka ia termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan.’ (QS. Ar-Rum: 32)” (Majmu’ Fatawa, 20: 8)Tidak boleh menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranوإذا تفقه الرجل وتأدب بطريقة قوم من المؤمنين مثل: أتباع الأئمة والمشايخ؛ فليس له أن يجعل قدوته وأصحابه هم العيار، فيوالي من وافقهم ويعادي من خالفهم.“Jika seseorang mendalami ilmu dan beradab dengan cara sekelompok kaum mukminin, seperti mengikuti imam-imam atau para masyaikh, maka tidak boleh menjadikan panutan dan teman-temannya sebagai standar kebenaran, lalu ia berloyalitas pada siapa yang sejalan dengan mereka dan bermusuhan dengan siapa yang menyelisihi mereka.وليس لأحد أن يدعو إلى مقالة أو يعتقدها لكونها قول أصحابه، ولا يناجز عليها، بل لأجل أنها مما أمر الله به ورسوله، أو أخبر الله به ورسوله؛ لكون ذلك طاعة الله ورسولهTidak boleh juga seseorang menyeru kepada suatu pendapat atau meyakininya hanya karena itu adalah ucapan kelompoknya, atau berkonflik karena hal itu, melainkan karena hal itu merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau termasuk hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 20: 9)Sehebat apapun guru dan kelompok belajar seseorang, tidak dapat menjadikannya alasan yang benar untuk menyandarkan pendapatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Kebenaran tetap dinilai berdasarkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh ia menjadikan wala’ dan bara’ dalam beramal dan berdakwah dengan alasan, “Ini pendapat guruku” atau “Ini pendapat mazhabku.” Kecuali semua pendapat itu didasarkan kepada Kalamullah dan kalam Rasulillah ﷺ.Berargumentasi dengan pandangan seorang guru dan mazhab atau juga kelompok diperbolehkan jika dalam rangka menerangkan makna atau ijtihad. Namun, dalam perkara ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa kaum muslimin mengikuti pendapat guru ataupun mazhab tertentu. Maka, kesimpulannya adalah pendapat selain yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak bisa dijadikan bahan perdebatan karena ia bukanlah standar kebenaran mutlak.Inilah keindahan kaidah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah dan berselisih pendapat. Sebab, Al-Qur’an diturunkan Allah ﷻ menjadi hakim. Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’: 61)Dalam ayat lain, Allah ﷻ menegaskan bahwa hakikat keimanan tidak akan tercapai kecuali dengan menjadikan Nabi ﷺ dengan sunnahnya sebagai hakim pemutus perselisihan. Allah ﷻ berfirman,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Kita sangat butuh hidayah ketika berselisihDalam perselisihan, kita sangat membutuhkan hidayah petunjuk sehingga dapat keluar dari ruwetnya perdebatan. Allah ﷻ memberikan jalan agar kita mendapatkan hidayah, yakni dengan beriman kepada-Nya dan mengikuti Nabi ﷺ. Dalam potongan ayat-Nya, Allah ﷻ berfirman,فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jujurKembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah jangan hanya dijadikan sekadar slogan apalagi kebanggaan kelompok semata. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hendaknya dijalani dengan kejujuran dan ketulusan. Sehingga ketika telah dibentangkan dalil dan argumentasi yang terang darinya, maka tidak sulit baginya untuk merujuk pendapatnya. Bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ sebagai alasan untuk berkilah dengan memelintir maknanya atau bahkan menyimpangkan lafaznya.Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menggandengkan seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf shalih. Karena dengan acuan pemahaman salaf-lah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat disimpangkan pemaknaannya. Berpegang teguh terhadap metode mereka, melihat praktik yang mereka jalankan, memahami perbedaan di antara mereka sehingga mengetahui keluasan berbeda pendapat. Dengan demikian, kita bisa menjadi umat yang beragama dalam koridor kebenaran yang dijamin oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)Keridaan Allah ﷻ atas para sahabat dan keadaan mereka adalah argumen yang sangat kuat untuk menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan paradigma dan konstruksi keilmuan para salaf. Karena Allah ﷻ menghimpun keridaannya kepada para sahabat Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, di dalamnya terkandung perintah untuk menyocoki mereka semaksimal mungkin sehingga Allah ﷻ meridai serta memberikan ganjaran surga dan kemenangan yang besar.KesimpulanDengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perselisihan dapat dipadamkan. Baik benar-benar selesai secara materi pembahasan, maupun selesai proses berselisihnya meskipun salah satu pihak masih terus menyelisihi atau bahkan menyerang. Setidaknya bagi mereka yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menemukan kebenarannya, lalu tenang dalam mengamalkannya, kemudian berpaling dari orang yang menyelisihinya sebagaimana firman Allah ﷻ (yang artinya), “Berpalinglah dari orang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)Karena hakikatnya, dakwah dan adu argumen bagi seorang muslim adalah seruan dan ajakan menuju kebenaran. Oleh karena itu, apabila kebenaran telah ditemukan, yakni di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk berlarut-larut dalam perselisihan.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:أدب الاختلاف بين الصحابة وأثره على الواقع الإسلامي المعاصر karya Syekh Saad bin Sayyid bin Quthb hafizhahullah.Al-Bahits Al-Hadits, dari sunnah.one.Ushul Naqd Al-Mukhalifihi, karya Syekh Fathi Al-Maushuli hafizhahullah. Diringkas oleh Faris Al-Mishry hafizhahullah.Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Satu Kalimat Nabi yang Membuat Ibnu Mas’ud Langsung Duduk! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً

Satu Kalimat Nabi yang Membuat Ibnu Mas’ud Langsung Duduk! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً
Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً


Seorang mukmin akan bergembira ketika mengetahui satu sunnah baru yang bisa diamalkannya. Saya akan bercerita kepada kalian sebuah kisah singkat. agar saya tetap memenuhi janji saya, insya Allah, tidak berbicara melebihi 5 menit. Suatu hari Ibnu Mas’ud masuk ke masjid ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar dua orang saling bertengkar dan meninggikan suara mereka di dalam masjid. Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Duduklah kalian!” Ternyata Ibnu Mas’ud duduk di ambang pintu masjid, hingga menutup jalan masuk. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, kenapa kamu duduk di situ?” Ia menjawab, “Aku mendengar Anda bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah!’” “Maka aku khawatir menyelisihi perintahmu, hingga aku celaka.” Jadi, seorang muslim harus bersemangat dalam mengikuti sunnah. Para ulama hadis adalah sahabat Nabi, meskipun mereka tidak hidup sezaman dengan beliau. Setiap kali engkau menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bershalawatlah kepadanya. Setiap kali mendengar sunnah, maka teladanilah. Dengan itulah engkau menjadi orang yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. ==== يَفْرَحُ المُؤمِنُ أَنْ يَعْرِفَ سُنَّةً جَدِيدَةً لِيَعْمَلَ بِهَا سَأَذْكُرُ لَكُمْ قِصَّةً قَصِيرَةً لِكَيْ أَفِي بِمَوْعِدَتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ لَا أُجَاوِزَ خَمْسَ دَقَائِقَ جَاءَ ابْنُ مَسْعُودٍ مَرَّةً دَخَلَ الْمَسْجِدَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِرَجُلَيْنِ تَلَاحَيَا أَيْ رَفَعَا صَوْتَيهِمَا فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ لَهُمْ اجْلِسُوا فَإِذَا بِابْنِ مَسْعُودٍ يَجْلِسُ عَلَى عَتَبَةَ بَابِ الْمَسْجِدِ سَادًّا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا هَذَا الْمَجْلِسُ الَّذِي تَجْلِسُهُ؟ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ لِلنَّاسِ اجْلِسُوا فَخَشِيتُ أَنْ أُخَالِفَ أَمْرَكَ فَأَهْلِكُ إِذًا الْمُسْلِمُ يَحْرِصُ عَلَى اتِّبَاعِ السُّنَّةِ أَهْلُ الْحَدِيثِ هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ أَنْفَاسَهُ صَاحِبُهُ كُلَّمَا ذَكَرْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّيْتَ عَلَيْهِ كُلَّمَا سَمِعْتَ بِسُنَّةٍ اِقْتَدَيْتَ بِهَا وَلِذَلِكَ تَكُونُ أَقْرَبَ وَأَدْنَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةً
Prev     Next