Khutbah Jumat: Syukur atas Kemerdekaan dengan Ibadah, Taat, dan Persatuan

Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah yang wajib disyukuri dengan tindakan nyata, bukan sekadar seremonial tahunan. Syukur atas nikmat ini ditunjukkan dengan bertakwa, meninggalkan maksiat, dan membangun kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam. Persatuan, akhlak, dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi masyarakat merdeka. Inilah saatnya mengisi kemerdekaan dengan ilmu, karya, dan amal yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA 2. 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan Ibadah 3. 2. Bertaubat dan Meninggalkan Maksiat 4. 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan Benar 5. 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang Makruf 6. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan Keadilan 7. 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum Merdeka 8. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Karya 9. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah Bangsa 10. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan Bermasyarakat 11. 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas Bermanfaat 12. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMAاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَنِعْمَةِ الْأَمْنِ، وَفَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ ، فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah …Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita nikmat besar berupa nikmat Islam, nikmat keamanan, dan nikmat kemerdekaan. Kita berada di bulan Safar, yang menjadi momen tepat untuk merenungi nikmat dan menata langkah ke depan dengan ketakwaan. Cara kita bersyukur kepada Allah bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan ketaatan yang nyata: menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mengisi kemerdekaan ini dengan amal saleh, persatuan, ilmu, dan pengabdian yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pembawa petunjuk yang telah mengajarkan kepada kita jalan keselamatan, menunjukkan kita cara bersyukur, serta memperingatkan kita agar jangan lalai dalam kenikmatan dunia yang fana.Nikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah yang tidak boleh disia-siakan. Di tengah bangsa yang merdeka, kita bisa beribadah dengan leluasa, menuntut ilmu dengan tenang, dan membangun masa depan dengan penuh harapan. Namun, nikmat ini bisa menjadi azab jika tidak disyukuri. Berikut ini beberapa langkah nyata untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan menurut pandangan Islam: 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan IbadahKemerdekaan sejati adalah ketika hati terlepas dari penghambaan kepada selain Allah.وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” — (QS. Adz-Dzariyat: 56)Tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Maka, kemerdekaan hakiki bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi bebas dari perbudakan hawa nafsu, dunia, dan sesembahan selain Allah.Bentuk syukur tertinggi atas kemerdekaan adalah menggunakan kebebasan ini untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai kita lalai dan justru menggunakan kemerdekaan untuk bermaksiat. Karena kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan lahiriah, tetapi juga kesempatan untuk menunaikan ketaatan dengan lebih leluasa. Maka, nikmat ini semestinya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang taat dan penuh rasa syukur, sebagaimana diilustrasikan dalam doa seorang mukmin yang telah mencapai usia kematangan:حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat tersebut menunjukkan bahwa syukur yang sejati bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan dorongan kuat untuk beramal saleh yang diridhai Allah. Inilah bentuk syukur yang hidup—syukur yang menuntun pada ketaatan, dan bukan syukur yang berhenti pada retorika atau seremoni tahunan.Menariknya, semangat yang sama juga diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat tercinta beliau, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Dalam sebuah hadits yang sangat menyentuh, Nabi ﷺ bersabda:يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, “Aku memberikanmu nasihat, wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat bacaan doa:اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).”Disebutkan di akhir hadits, “Mu’adz mewasiatkan seperti itu kepada Ash-Shunabihi. Lalu Ash-Shunabihi mewasiatkannya lagi kepada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2. Bertaubat dan Meninggalkan MaksiatNikmat tak akan bertahan jika maksiat dibiarkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِ الذُّنُوبِ: أَنَّهَا تُزِيلُ النِّعَمَ، وَتُحِلُّ النِّقَمَ، “Salah satu hukuman dari dosa adalah hilangnya nikmat dan datangnya bencana.”Taubat adalah tanda kesadaran bahwa kita masih sering menyia-nyiakan nikmat Allah. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk membersihkan diri dan masyarakat dari dosa yang tersembunyi maupun terang-terangan.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)Ulama besar seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taubat yang tulus itu mengandung empat unsur penting:Berhenti dari dosa seketika itu juga — tidak menundanya lagi.Menyesali dosa yang telah dilakukan, dengan penyesalan yang lahir dari kesadaran akan kesalahan.Berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulanginya di masa depan.Dan jika dosa itu menyangkut hak orang lain, maka wajib diselesaikan atau dikembalikan haknya.Dengan kata lain, taubat yang sejati bukan hanya ucapan di lisan, tapi sikap total dalam hati, tindakan nyata dalam perbaikan diri, dan keberanian untuk bertanggung jawab.Dalam sebuah hadits dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim, no. 2759)Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537) 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan BenarKemerdekaan memberi ruang bagi kita untuk hidup sesuai tuntunan agama. Di negeri ini, kita bebas untuk menegakkan salat, menutup aurat, mendidik anak dengan nilai Islam, dan berdakwah tanpa harus bersembunyi. Maka, tidak ada alasan untuk tidak menjalani hidup sebagai Muslim yang taat.Justru inilah saatnya menjadikan kemerdekaan sebagai peluang untuk menghidupkan syariat dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Inilah bentuk syukur yang konkret dan berkelanjutan. Karena iman bukan hanya di hati, tapi juga harus nampak dalam tindakan nyata.Namun kita juga tak menutup mata. Di tengah zaman yang penuh ujian iman, menjalani hidup sesuai syariat tidak selalu mudah. Godaan dunia, tekanan sosial, bahkan cibiran terhadap ajaran Islam bisa datang dari berbagai arah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat tentang kondisi ini dalam sabdanya:يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).Bayangkan menggenggam bara api—perih, panas, dan menyakitkan. Tapi ia tetap menggenggam, karena ia tahu itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya.Di tengah zaman seperti inilah, umat Islam dituntut untuk tetap berpegang teguh pada petunjuk yang tak akan pernah menyesatkan, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13). 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang MakrufTaat kepada pemimpin adalah bagian dari menjaga stabilitas negeri.Dalam Islam, ketaatan kepada pemimpin—selama tidak memerintahkan maksiat—adalah bagian dari menjaga keamanan dan kemaslahatan umat.Murid dari Imam Syafii, yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah dalam kitab beliau “Syarhus Sunnah” berkata,وَالطَّاعَةُ لِأُوْلِي الأَمْرِ فِيْمَا كَانَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَرْضِيًّا وَاجْتِنَابِ مَا كَانَ عِنْدَ اللهِ مُسْخِطًاوَتَرْكُ الخُرُوْجِ عِنْدَ تَعَدِّيْهِمْ وَجَوْرِهِمْ وَالتَّوْبَةُ عِنْدَ اللهِ كَيْمَا يَعْطِفُ بِهِمْ عَلَى رَعِيَّتِهِمْ“Taatlah kepada para pemimpin dalam hal-hal yang diridai oleh Allah ‘azza wa jalla, dan tinggalkan ketaatan jika mereka memerintahkan sesuatu yang dimurkai oleh Allah.Jika para pemimpin berlaku zalim atau melampaui batas, janganlah memberontak. Sebaliknya, bertaubatlah kepada Allah dan perbaiki diri, agar Allah melembutkan hati para pemimpin dan menjadikan mereka lebih sayang kepada rakyatnya.”Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah saat haji wada’ dan mengucapkan,اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ“Bertakwalah pada Allah Rabb kalian, laksanakanlah shalat limat waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dari harta kalian, taatilah penguasa yang mengatur urusan kalian, maka kalian akan memasuki surga Rabb kalian.” (HR. Tirmidzi no. 616 dan Ahmad 5: 262. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu—sahabat mulia sekaligus khalifah keempat—pernah menyampaikan sebuah perkataan yang sangat dalam tentang pentingnya kehadiran seorang pemimpin dalam kehidupan masyarakat. Beliau berkata:لَا يَصْلُحُ لِلنَّاسِ إِلَّا أَمِيرٌ عَادِلٌ أَوْ جَائِرٌ“Masyarakat tidak akan menjadi baik kecuali dengan adanya pemimpin—baik pemimpin yang adil maupun yang zalim.”Sebagian orang saat itu merasa keberatan dengan pernyataan beliau tentang “pemimpin yang zalim”. Namun Ali menjelaskan maksudnya:نَعَمْ، يُؤْمِنُ السَّبِيلَ، وَيُمَكِّنُ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَوَاتِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ“Benar. Karena bahkan dengan adanya pemimpin yang zalim, jalan-jalan bisa aman, masyarakat tetap bisa melaksanakan salat, dan pergi haji ke Baitullah dengan tenang.”Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghayb (13:204), dan menjadi pelajaran besar bahwa keberadaan pemimpin, bagaimana pun keadaannya, jauh lebih baik daripada hidup tanpa pemerintahan yang sah. Sebab, kekacauan dan kerusuhan justru akan lebih merusak tatanan masyarakat.Imam Fakhruddin Ar-Razi juga menambahkan nasihat yang tak kalah penting: “Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim, maka hendaklah mereka terlebih dahulu meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan sendiri.” (Tafsir At-Taḥrīr wa At-Tanwīr karya Ibnu ‘Āsyūr, 8:74)Pesan ini menyadarkan kita bahwa keadilan tidak hanya dituntut dari atas (pemimpin), tetapi juga harus dimulai dari bawah—dari masyarakat. Ketika rakyat meninggalkan kezaliman, Allah akan memperbaiki keadaan penguasanya. Tapi jika rakyat terus dalam maksiat dan kezaliman, jangan heran jika Allah memberi pemimpin yang menjadi cerminan mereka sendiri. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan KeadilanDoa adalah senjata orang beriman. Jangan biarkan pemimpin berjalan sendiri tanpa kita iringi dengan doa agar mereka mampu memimpin dengan amanah.Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata,لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا إِلَّا فِي الْإِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)Baca juga: Kumpulan Doa untuk Pemimpin Negeri 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum MerdekaMensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan berpesta atau mengikuti upacara, tapi dengan menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap mereka yang belum merasakan nikmat yang sama. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah salah seorang dari kalian benar-benar beriman, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45)Kalau kita mencintai keamanan, kita harus ikut peduli pada mereka yang kehilangan rumah dan keluarga. Kalau kita mencintai ketenangan, kita tidak boleh tutup mata saat anak-anak Palestina kehilangan masa depannya. Inilah wujud iman yang hidup—iman yang tidak egois. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ“Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk surga, hendaknya ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hendaknya ia memperlakukan manusia sebagaimana ia senang diperlakukan oleh mereka.” (HR. Muslim, no. 1844)Membela Palestina adalah bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah, karena mereka adalah saudara seiman yang sedang tertindas. Di sana juga terdapat Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama dan salah satu dari tiga masjid suci yang dimuliakan dalam Islam. Membantu mereka berarti menjaga kehormatan simbol-simbol agama dan tanah suci umat Islam. Islam memerintahkan kita untuk membela kaum yang lemah dan terzalimi. Maka, membela Palestina adalah bagian dari iman, syukur atas kemerdekaan, dan tanggung jawab bersama umat Islam. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina, jadilah penolong dan pelindung mereka. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan KaryaSyukur itu bukan hanya diam, tapi bergerak dan memberi manfaat.Kemerdekaan bukan hanya soal bebas bicara, tapi juga bebas berkarya. Jadikan setiap potensi yang Allah berikan sebagai kontribusi nyata untuk bangsa dan umat.خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ibn Hibban dalam al-Majruhin [2/1], al-Qudha‘i dalam Musnad al-Shihab no. 1234, dan al-Ṭabarani dalam al-Mu‘jam al-Awsaṭ no. 5787).Hadits ini sangat tepat untuk mendasari bahwa mengisi kemerdekaan dengan ilmu dan karya yang bermanfaat adalah bentuk amal terbaik dan bentuk syukur yang nyata. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah BangsaSetan senang melihat umat Islam terpecah.Salah satu nikmat besar pascakemerdekaan adalah persatuan. Jangan hancurkan dengan fanatisme golongan, politik, atau kepentingan pribadi.وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103)Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallāhu ‘anhu, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Karena siapa yang hidup sepeninggalku nanti, ia akan melihat banyak sekali perpecahan. Maka tetaplah berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah sepeninggalku yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676; dinyatakan hasan sahih oleh Imam Tirmidzi, dan sanadnya sahih menurut Al-Hafizh Abu Thahir).Sebab, nikmat kemerdekaan bisa hilang jika umat terpecah oleh fanatisme golongan, kebencian, atau bid’ah yang mengaburkan jalan kebenaran. Maka, menjaga ukhuwah dan arah perjuangan umat adalah bagian penting dari rasa syukur yang sejati. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan BermasyarakatMembangun masyarakat yang beradab bukan cukup dengan merdeka secara politik, tetapi harus ditopang oleh akhlak yang kokoh. Karena hanya dengan akhlak, kemerdekaan akan membawa berkah—bukan kehancuran.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad no. 8729, dinilai sahih oleh Al-Albani) 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas BermanfaatJangan habiskan peringatan kemerdekaan hanya dengan lomba tanpa makna, apalagi lomba yang mengandung unsur perjudian.Allah Ta’ala mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (maysir), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90)Dalam Islam, suatu aktivitas disebut judi (maysir) jika memenuhi empat syarat: (1) adanya dua pihak atau lebih yang saling bertaruh; (2) masing-masing mempertaruhkan harta atau barang bernilai; (3) terdapat pihak yang menang dan kalah di akhir permainan; (4) serta pihak yang kalah harus rela kehilangan hartanya tanpa ada timbal balik yang setara.Maka, jika perlombaan dalam rangka hari kemerdekaan melibatkan taruhan uang atau barang berharga dengan hasil menang-kalah yang menyebabkan salah satu pihak kehilangan miliknya, hal itu termasuk bentuk perjudian yang diharamkan. Sebaliknya, isi kemerdekaan dengan kegiatan yang menguatkan nilai kebersamaan, menambah ilmu, atau amal sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.Wahai kaum Muslimin, mari kita syukuri nikmat kemerdekaan ini dengan tauhid, taubat, amal saleh, menjaga syariat, taat dan mendoakan pemimpin, menjaga persatuan, akhlak, serta mengisi hari-hari dengan ilmu, karya, dan kepedulian sosial. Jangan lupa, doakan pemimpin kita agar diberi hidayah dan keadilan, serta doakan saudara-saudara kita di Palestina agar diberi kemenangan dan pertolongan.بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًااَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا فِي فِلَسْطِينَ عَوْنًا وَنَصِيرًا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَارَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْBaca Juga:Khutbah Jumat: Rahmat Allah untuk Negeri yang Kita CintaiBentuk Syukur kepada Allah– Naskah Khutbah Jumat Wage, 21 Safar 1447 H (15 Agustus 2025)@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibadah dan kemerdekaan kemerdekaan kemerdekaan dalam islam khutbah akhlak khutbah bermanfaat untuk umat khutbah doa untuk pemimpin khutbah islam khutbah jihad tanpa kekerasan khutbah jumat khutbah kemerdekaan khutbah membangun bangsa khutbah membela kaum tertindas khutbah nasionalisme islami khutbah palestina khutbah persatuan khutbah taat pemimpin khutbah tauhid khutbah ukhuwah islamiyah mensyukuri nikmat merdeka merdeka nikmat merdeka syukur kemerdekaan syukur nikmat

Khutbah Jumat: Syukur atas Kemerdekaan dengan Ibadah, Taat, dan Persatuan

Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah yang wajib disyukuri dengan tindakan nyata, bukan sekadar seremonial tahunan. Syukur atas nikmat ini ditunjukkan dengan bertakwa, meninggalkan maksiat, dan membangun kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam. Persatuan, akhlak, dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi masyarakat merdeka. Inilah saatnya mengisi kemerdekaan dengan ilmu, karya, dan amal yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA 2. 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan Ibadah 3. 2. Bertaubat dan Meninggalkan Maksiat 4. 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan Benar 5. 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang Makruf 6. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan Keadilan 7. 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum Merdeka 8. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Karya 9. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah Bangsa 10. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan Bermasyarakat 11. 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas Bermanfaat 12. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMAاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَنِعْمَةِ الْأَمْنِ، وَفَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ ، فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah …Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita nikmat besar berupa nikmat Islam, nikmat keamanan, dan nikmat kemerdekaan. Kita berada di bulan Safar, yang menjadi momen tepat untuk merenungi nikmat dan menata langkah ke depan dengan ketakwaan. Cara kita bersyukur kepada Allah bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan ketaatan yang nyata: menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mengisi kemerdekaan ini dengan amal saleh, persatuan, ilmu, dan pengabdian yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pembawa petunjuk yang telah mengajarkan kepada kita jalan keselamatan, menunjukkan kita cara bersyukur, serta memperingatkan kita agar jangan lalai dalam kenikmatan dunia yang fana.Nikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah yang tidak boleh disia-siakan. Di tengah bangsa yang merdeka, kita bisa beribadah dengan leluasa, menuntut ilmu dengan tenang, dan membangun masa depan dengan penuh harapan. Namun, nikmat ini bisa menjadi azab jika tidak disyukuri. Berikut ini beberapa langkah nyata untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan menurut pandangan Islam: 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan IbadahKemerdekaan sejati adalah ketika hati terlepas dari penghambaan kepada selain Allah.وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” — (QS. Adz-Dzariyat: 56)Tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Maka, kemerdekaan hakiki bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi bebas dari perbudakan hawa nafsu, dunia, dan sesembahan selain Allah.Bentuk syukur tertinggi atas kemerdekaan adalah menggunakan kebebasan ini untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai kita lalai dan justru menggunakan kemerdekaan untuk bermaksiat. Karena kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan lahiriah, tetapi juga kesempatan untuk menunaikan ketaatan dengan lebih leluasa. Maka, nikmat ini semestinya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang taat dan penuh rasa syukur, sebagaimana diilustrasikan dalam doa seorang mukmin yang telah mencapai usia kematangan:حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat tersebut menunjukkan bahwa syukur yang sejati bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan dorongan kuat untuk beramal saleh yang diridhai Allah. Inilah bentuk syukur yang hidup—syukur yang menuntun pada ketaatan, dan bukan syukur yang berhenti pada retorika atau seremoni tahunan.Menariknya, semangat yang sama juga diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat tercinta beliau, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Dalam sebuah hadits yang sangat menyentuh, Nabi ﷺ bersabda:يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, “Aku memberikanmu nasihat, wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat bacaan doa:اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).”Disebutkan di akhir hadits, “Mu’adz mewasiatkan seperti itu kepada Ash-Shunabihi. Lalu Ash-Shunabihi mewasiatkannya lagi kepada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2. Bertaubat dan Meninggalkan MaksiatNikmat tak akan bertahan jika maksiat dibiarkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِ الذُّنُوبِ: أَنَّهَا تُزِيلُ النِّعَمَ، وَتُحِلُّ النِّقَمَ، “Salah satu hukuman dari dosa adalah hilangnya nikmat dan datangnya bencana.”Taubat adalah tanda kesadaran bahwa kita masih sering menyia-nyiakan nikmat Allah. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk membersihkan diri dan masyarakat dari dosa yang tersembunyi maupun terang-terangan.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)Ulama besar seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taubat yang tulus itu mengandung empat unsur penting:Berhenti dari dosa seketika itu juga — tidak menundanya lagi.Menyesali dosa yang telah dilakukan, dengan penyesalan yang lahir dari kesadaran akan kesalahan.Berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulanginya di masa depan.Dan jika dosa itu menyangkut hak orang lain, maka wajib diselesaikan atau dikembalikan haknya.Dengan kata lain, taubat yang sejati bukan hanya ucapan di lisan, tapi sikap total dalam hati, tindakan nyata dalam perbaikan diri, dan keberanian untuk bertanggung jawab.Dalam sebuah hadits dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim, no. 2759)Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537) 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan BenarKemerdekaan memberi ruang bagi kita untuk hidup sesuai tuntunan agama. Di negeri ini, kita bebas untuk menegakkan salat, menutup aurat, mendidik anak dengan nilai Islam, dan berdakwah tanpa harus bersembunyi. Maka, tidak ada alasan untuk tidak menjalani hidup sebagai Muslim yang taat.Justru inilah saatnya menjadikan kemerdekaan sebagai peluang untuk menghidupkan syariat dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Inilah bentuk syukur yang konkret dan berkelanjutan. Karena iman bukan hanya di hati, tapi juga harus nampak dalam tindakan nyata.Namun kita juga tak menutup mata. Di tengah zaman yang penuh ujian iman, menjalani hidup sesuai syariat tidak selalu mudah. Godaan dunia, tekanan sosial, bahkan cibiran terhadap ajaran Islam bisa datang dari berbagai arah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat tentang kondisi ini dalam sabdanya:يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).Bayangkan menggenggam bara api—perih, panas, dan menyakitkan. Tapi ia tetap menggenggam, karena ia tahu itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya.Di tengah zaman seperti inilah, umat Islam dituntut untuk tetap berpegang teguh pada petunjuk yang tak akan pernah menyesatkan, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13). 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang MakrufTaat kepada pemimpin adalah bagian dari menjaga stabilitas negeri.Dalam Islam, ketaatan kepada pemimpin—selama tidak memerintahkan maksiat—adalah bagian dari menjaga keamanan dan kemaslahatan umat.Murid dari Imam Syafii, yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah dalam kitab beliau “Syarhus Sunnah” berkata,وَالطَّاعَةُ لِأُوْلِي الأَمْرِ فِيْمَا كَانَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَرْضِيًّا وَاجْتِنَابِ مَا كَانَ عِنْدَ اللهِ مُسْخِطًاوَتَرْكُ الخُرُوْجِ عِنْدَ تَعَدِّيْهِمْ وَجَوْرِهِمْ وَالتَّوْبَةُ عِنْدَ اللهِ كَيْمَا يَعْطِفُ بِهِمْ عَلَى رَعِيَّتِهِمْ“Taatlah kepada para pemimpin dalam hal-hal yang diridai oleh Allah ‘azza wa jalla, dan tinggalkan ketaatan jika mereka memerintahkan sesuatu yang dimurkai oleh Allah.Jika para pemimpin berlaku zalim atau melampaui batas, janganlah memberontak. Sebaliknya, bertaubatlah kepada Allah dan perbaiki diri, agar Allah melembutkan hati para pemimpin dan menjadikan mereka lebih sayang kepada rakyatnya.”Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah saat haji wada’ dan mengucapkan,اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ“Bertakwalah pada Allah Rabb kalian, laksanakanlah shalat limat waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dari harta kalian, taatilah penguasa yang mengatur urusan kalian, maka kalian akan memasuki surga Rabb kalian.” (HR. Tirmidzi no. 616 dan Ahmad 5: 262. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu—sahabat mulia sekaligus khalifah keempat—pernah menyampaikan sebuah perkataan yang sangat dalam tentang pentingnya kehadiran seorang pemimpin dalam kehidupan masyarakat. Beliau berkata:لَا يَصْلُحُ لِلنَّاسِ إِلَّا أَمِيرٌ عَادِلٌ أَوْ جَائِرٌ“Masyarakat tidak akan menjadi baik kecuali dengan adanya pemimpin—baik pemimpin yang adil maupun yang zalim.”Sebagian orang saat itu merasa keberatan dengan pernyataan beliau tentang “pemimpin yang zalim”. Namun Ali menjelaskan maksudnya:نَعَمْ، يُؤْمِنُ السَّبِيلَ، وَيُمَكِّنُ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَوَاتِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ“Benar. Karena bahkan dengan adanya pemimpin yang zalim, jalan-jalan bisa aman, masyarakat tetap bisa melaksanakan salat, dan pergi haji ke Baitullah dengan tenang.”Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghayb (13:204), dan menjadi pelajaran besar bahwa keberadaan pemimpin, bagaimana pun keadaannya, jauh lebih baik daripada hidup tanpa pemerintahan yang sah. Sebab, kekacauan dan kerusuhan justru akan lebih merusak tatanan masyarakat.Imam Fakhruddin Ar-Razi juga menambahkan nasihat yang tak kalah penting: “Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim, maka hendaklah mereka terlebih dahulu meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan sendiri.” (Tafsir At-Taḥrīr wa At-Tanwīr karya Ibnu ‘Āsyūr, 8:74)Pesan ini menyadarkan kita bahwa keadilan tidak hanya dituntut dari atas (pemimpin), tetapi juga harus dimulai dari bawah—dari masyarakat. Ketika rakyat meninggalkan kezaliman, Allah akan memperbaiki keadaan penguasanya. Tapi jika rakyat terus dalam maksiat dan kezaliman, jangan heran jika Allah memberi pemimpin yang menjadi cerminan mereka sendiri. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan KeadilanDoa adalah senjata orang beriman. Jangan biarkan pemimpin berjalan sendiri tanpa kita iringi dengan doa agar mereka mampu memimpin dengan amanah.Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata,لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا إِلَّا فِي الْإِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)Baca juga: Kumpulan Doa untuk Pemimpin Negeri 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum MerdekaMensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan berpesta atau mengikuti upacara, tapi dengan menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap mereka yang belum merasakan nikmat yang sama. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah salah seorang dari kalian benar-benar beriman, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45)Kalau kita mencintai keamanan, kita harus ikut peduli pada mereka yang kehilangan rumah dan keluarga. Kalau kita mencintai ketenangan, kita tidak boleh tutup mata saat anak-anak Palestina kehilangan masa depannya. Inilah wujud iman yang hidup—iman yang tidak egois. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ“Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk surga, hendaknya ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hendaknya ia memperlakukan manusia sebagaimana ia senang diperlakukan oleh mereka.” (HR. Muslim, no. 1844)Membela Palestina adalah bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah, karena mereka adalah saudara seiman yang sedang tertindas. Di sana juga terdapat Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama dan salah satu dari tiga masjid suci yang dimuliakan dalam Islam. Membantu mereka berarti menjaga kehormatan simbol-simbol agama dan tanah suci umat Islam. Islam memerintahkan kita untuk membela kaum yang lemah dan terzalimi. Maka, membela Palestina adalah bagian dari iman, syukur atas kemerdekaan, dan tanggung jawab bersama umat Islam. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina, jadilah penolong dan pelindung mereka. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan KaryaSyukur itu bukan hanya diam, tapi bergerak dan memberi manfaat.Kemerdekaan bukan hanya soal bebas bicara, tapi juga bebas berkarya. Jadikan setiap potensi yang Allah berikan sebagai kontribusi nyata untuk bangsa dan umat.خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ibn Hibban dalam al-Majruhin [2/1], al-Qudha‘i dalam Musnad al-Shihab no. 1234, dan al-Ṭabarani dalam al-Mu‘jam al-Awsaṭ no. 5787).Hadits ini sangat tepat untuk mendasari bahwa mengisi kemerdekaan dengan ilmu dan karya yang bermanfaat adalah bentuk amal terbaik dan bentuk syukur yang nyata. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah BangsaSetan senang melihat umat Islam terpecah.Salah satu nikmat besar pascakemerdekaan adalah persatuan. Jangan hancurkan dengan fanatisme golongan, politik, atau kepentingan pribadi.وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103)Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallāhu ‘anhu, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Karena siapa yang hidup sepeninggalku nanti, ia akan melihat banyak sekali perpecahan. Maka tetaplah berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah sepeninggalku yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676; dinyatakan hasan sahih oleh Imam Tirmidzi, dan sanadnya sahih menurut Al-Hafizh Abu Thahir).Sebab, nikmat kemerdekaan bisa hilang jika umat terpecah oleh fanatisme golongan, kebencian, atau bid’ah yang mengaburkan jalan kebenaran. Maka, menjaga ukhuwah dan arah perjuangan umat adalah bagian penting dari rasa syukur yang sejati. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan BermasyarakatMembangun masyarakat yang beradab bukan cukup dengan merdeka secara politik, tetapi harus ditopang oleh akhlak yang kokoh. Karena hanya dengan akhlak, kemerdekaan akan membawa berkah—bukan kehancuran.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad no. 8729, dinilai sahih oleh Al-Albani) 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas BermanfaatJangan habiskan peringatan kemerdekaan hanya dengan lomba tanpa makna, apalagi lomba yang mengandung unsur perjudian.Allah Ta’ala mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (maysir), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90)Dalam Islam, suatu aktivitas disebut judi (maysir) jika memenuhi empat syarat: (1) adanya dua pihak atau lebih yang saling bertaruh; (2) masing-masing mempertaruhkan harta atau barang bernilai; (3) terdapat pihak yang menang dan kalah di akhir permainan; (4) serta pihak yang kalah harus rela kehilangan hartanya tanpa ada timbal balik yang setara.Maka, jika perlombaan dalam rangka hari kemerdekaan melibatkan taruhan uang atau barang berharga dengan hasil menang-kalah yang menyebabkan salah satu pihak kehilangan miliknya, hal itu termasuk bentuk perjudian yang diharamkan. Sebaliknya, isi kemerdekaan dengan kegiatan yang menguatkan nilai kebersamaan, menambah ilmu, atau amal sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.Wahai kaum Muslimin, mari kita syukuri nikmat kemerdekaan ini dengan tauhid, taubat, amal saleh, menjaga syariat, taat dan mendoakan pemimpin, menjaga persatuan, akhlak, serta mengisi hari-hari dengan ilmu, karya, dan kepedulian sosial. Jangan lupa, doakan pemimpin kita agar diberi hidayah dan keadilan, serta doakan saudara-saudara kita di Palestina agar diberi kemenangan dan pertolongan.بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًااَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا فِي فِلَسْطِينَ عَوْنًا وَنَصِيرًا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَارَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْBaca Juga:Khutbah Jumat: Rahmat Allah untuk Negeri yang Kita CintaiBentuk Syukur kepada Allah– Naskah Khutbah Jumat Wage, 21 Safar 1447 H (15 Agustus 2025)@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibadah dan kemerdekaan kemerdekaan kemerdekaan dalam islam khutbah akhlak khutbah bermanfaat untuk umat khutbah doa untuk pemimpin khutbah islam khutbah jihad tanpa kekerasan khutbah jumat khutbah kemerdekaan khutbah membangun bangsa khutbah membela kaum tertindas khutbah nasionalisme islami khutbah palestina khutbah persatuan khutbah taat pemimpin khutbah tauhid khutbah ukhuwah islamiyah mensyukuri nikmat merdeka merdeka nikmat merdeka syukur kemerdekaan syukur nikmat
Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah yang wajib disyukuri dengan tindakan nyata, bukan sekadar seremonial tahunan. Syukur atas nikmat ini ditunjukkan dengan bertakwa, meninggalkan maksiat, dan membangun kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam. Persatuan, akhlak, dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi masyarakat merdeka. Inilah saatnya mengisi kemerdekaan dengan ilmu, karya, dan amal yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA 2. 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan Ibadah 3. 2. Bertaubat dan Meninggalkan Maksiat 4. 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan Benar 5. 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang Makruf 6. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan Keadilan 7. 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum Merdeka 8. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Karya 9. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah Bangsa 10. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan Bermasyarakat 11. 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas Bermanfaat 12. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMAاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَنِعْمَةِ الْأَمْنِ، وَفَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ ، فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah …Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita nikmat besar berupa nikmat Islam, nikmat keamanan, dan nikmat kemerdekaan. Kita berada di bulan Safar, yang menjadi momen tepat untuk merenungi nikmat dan menata langkah ke depan dengan ketakwaan. Cara kita bersyukur kepada Allah bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan ketaatan yang nyata: menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mengisi kemerdekaan ini dengan amal saleh, persatuan, ilmu, dan pengabdian yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pembawa petunjuk yang telah mengajarkan kepada kita jalan keselamatan, menunjukkan kita cara bersyukur, serta memperingatkan kita agar jangan lalai dalam kenikmatan dunia yang fana.Nikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah yang tidak boleh disia-siakan. Di tengah bangsa yang merdeka, kita bisa beribadah dengan leluasa, menuntut ilmu dengan tenang, dan membangun masa depan dengan penuh harapan. Namun, nikmat ini bisa menjadi azab jika tidak disyukuri. Berikut ini beberapa langkah nyata untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan menurut pandangan Islam: 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan IbadahKemerdekaan sejati adalah ketika hati terlepas dari penghambaan kepada selain Allah.وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” — (QS. Adz-Dzariyat: 56)Tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Maka, kemerdekaan hakiki bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi bebas dari perbudakan hawa nafsu, dunia, dan sesembahan selain Allah.Bentuk syukur tertinggi atas kemerdekaan adalah menggunakan kebebasan ini untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai kita lalai dan justru menggunakan kemerdekaan untuk bermaksiat. Karena kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan lahiriah, tetapi juga kesempatan untuk menunaikan ketaatan dengan lebih leluasa. Maka, nikmat ini semestinya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang taat dan penuh rasa syukur, sebagaimana diilustrasikan dalam doa seorang mukmin yang telah mencapai usia kematangan:حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat tersebut menunjukkan bahwa syukur yang sejati bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan dorongan kuat untuk beramal saleh yang diridhai Allah. Inilah bentuk syukur yang hidup—syukur yang menuntun pada ketaatan, dan bukan syukur yang berhenti pada retorika atau seremoni tahunan.Menariknya, semangat yang sama juga diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat tercinta beliau, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Dalam sebuah hadits yang sangat menyentuh, Nabi ﷺ bersabda:يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, “Aku memberikanmu nasihat, wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat bacaan doa:اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).”Disebutkan di akhir hadits, “Mu’adz mewasiatkan seperti itu kepada Ash-Shunabihi. Lalu Ash-Shunabihi mewasiatkannya lagi kepada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2. Bertaubat dan Meninggalkan MaksiatNikmat tak akan bertahan jika maksiat dibiarkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِ الذُّنُوبِ: أَنَّهَا تُزِيلُ النِّعَمَ، وَتُحِلُّ النِّقَمَ، “Salah satu hukuman dari dosa adalah hilangnya nikmat dan datangnya bencana.”Taubat adalah tanda kesadaran bahwa kita masih sering menyia-nyiakan nikmat Allah. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk membersihkan diri dan masyarakat dari dosa yang tersembunyi maupun terang-terangan.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)Ulama besar seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taubat yang tulus itu mengandung empat unsur penting:Berhenti dari dosa seketika itu juga — tidak menundanya lagi.Menyesali dosa yang telah dilakukan, dengan penyesalan yang lahir dari kesadaran akan kesalahan.Berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulanginya di masa depan.Dan jika dosa itu menyangkut hak orang lain, maka wajib diselesaikan atau dikembalikan haknya.Dengan kata lain, taubat yang sejati bukan hanya ucapan di lisan, tapi sikap total dalam hati, tindakan nyata dalam perbaikan diri, dan keberanian untuk bertanggung jawab.Dalam sebuah hadits dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim, no. 2759)Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537) 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan BenarKemerdekaan memberi ruang bagi kita untuk hidup sesuai tuntunan agama. Di negeri ini, kita bebas untuk menegakkan salat, menutup aurat, mendidik anak dengan nilai Islam, dan berdakwah tanpa harus bersembunyi. Maka, tidak ada alasan untuk tidak menjalani hidup sebagai Muslim yang taat.Justru inilah saatnya menjadikan kemerdekaan sebagai peluang untuk menghidupkan syariat dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Inilah bentuk syukur yang konkret dan berkelanjutan. Karena iman bukan hanya di hati, tapi juga harus nampak dalam tindakan nyata.Namun kita juga tak menutup mata. Di tengah zaman yang penuh ujian iman, menjalani hidup sesuai syariat tidak selalu mudah. Godaan dunia, tekanan sosial, bahkan cibiran terhadap ajaran Islam bisa datang dari berbagai arah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat tentang kondisi ini dalam sabdanya:يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).Bayangkan menggenggam bara api—perih, panas, dan menyakitkan. Tapi ia tetap menggenggam, karena ia tahu itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya.Di tengah zaman seperti inilah, umat Islam dituntut untuk tetap berpegang teguh pada petunjuk yang tak akan pernah menyesatkan, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13). 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang MakrufTaat kepada pemimpin adalah bagian dari menjaga stabilitas negeri.Dalam Islam, ketaatan kepada pemimpin—selama tidak memerintahkan maksiat—adalah bagian dari menjaga keamanan dan kemaslahatan umat.Murid dari Imam Syafii, yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah dalam kitab beliau “Syarhus Sunnah” berkata,وَالطَّاعَةُ لِأُوْلِي الأَمْرِ فِيْمَا كَانَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَرْضِيًّا وَاجْتِنَابِ مَا كَانَ عِنْدَ اللهِ مُسْخِطًاوَتَرْكُ الخُرُوْجِ عِنْدَ تَعَدِّيْهِمْ وَجَوْرِهِمْ وَالتَّوْبَةُ عِنْدَ اللهِ كَيْمَا يَعْطِفُ بِهِمْ عَلَى رَعِيَّتِهِمْ“Taatlah kepada para pemimpin dalam hal-hal yang diridai oleh Allah ‘azza wa jalla, dan tinggalkan ketaatan jika mereka memerintahkan sesuatu yang dimurkai oleh Allah.Jika para pemimpin berlaku zalim atau melampaui batas, janganlah memberontak. Sebaliknya, bertaubatlah kepada Allah dan perbaiki diri, agar Allah melembutkan hati para pemimpin dan menjadikan mereka lebih sayang kepada rakyatnya.”Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah saat haji wada’ dan mengucapkan,اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ“Bertakwalah pada Allah Rabb kalian, laksanakanlah shalat limat waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dari harta kalian, taatilah penguasa yang mengatur urusan kalian, maka kalian akan memasuki surga Rabb kalian.” (HR. Tirmidzi no. 616 dan Ahmad 5: 262. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu—sahabat mulia sekaligus khalifah keempat—pernah menyampaikan sebuah perkataan yang sangat dalam tentang pentingnya kehadiran seorang pemimpin dalam kehidupan masyarakat. Beliau berkata:لَا يَصْلُحُ لِلنَّاسِ إِلَّا أَمِيرٌ عَادِلٌ أَوْ جَائِرٌ“Masyarakat tidak akan menjadi baik kecuali dengan adanya pemimpin—baik pemimpin yang adil maupun yang zalim.”Sebagian orang saat itu merasa keberatan dengan pernyataan beliau tentang “pemimpin yang zalim”. Namun Ali menjelaskan maksudnya:نَعَمْ، يُؤْمِنُ السَّبِيلَ، وَيُمَكِّنُ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَوَاتِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ“Benar. Karena bahkan dengan adanya pemimpin yang zalim, jalan-jalan bisa aman, masyarakat tetap bisa melaksanakan salat, dan pergi haji ke Baitullah dengan tenang.”Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghayb (13:204), dan menjadi pelajaran besar bahwa keberadaan pemimpin, bagaimana pun keadaannya, jauh lebih baik daripada hidup tanpa pemerintahan yang sah. Sebab, kekacauan dan kerusuhan justru akan lebih merusak tatanan masyarakat.Imam Fakhruddin Ar-Razi juga menambahkan nasihat yang tak kalah penting: “Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim, maka hendaklah mereka terlebih dahulu meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan sendiri.” (Tafsir At-Taḥrīr wa At-Tanwīr karya Ibnu ‘Āsyūr, 8:74)Pesan ini menyadarkan kita bahwa keadilan tidak hanya dituntut dari atas (pemimpin), tetapi juga harus dimulai dari bawah—dari masyarakat. Ketika rakyat meninggalkan kezaliman, Allah akan memperbaiki keadaan penguasanya. Tapi jika rakyat terus dalam maksiat dan kezaliman, jangan heran jika Allah memberi pemimpin yang menjadi cerminan mereka sendiri. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan KeadilanDoa adalah senjata orang beriman. Jangan biarkan pemimpin berjalan sendiri tanpa kita iringi dengan doa agar mereka mampu memimpin dengan amanah.Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata,لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا إِلَّا فِي الْإِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)Baca juga: Kumpulan Doa untuk Pemimpin Negeri 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum MerdekaMensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan berpesta atau mengikuti upacara, tapi dengan menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap mereka yang belum merasakan nikmat yang sama. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah salah seorang dari kalian benar-benar beriman, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45)Kalau kita mencintai keamanan, kita harus ikut peduli pada mereka yang kehilangan rumah dan keluarga. Kalau kita mencintai ketenangan, kita tidak boleh tutup mata saat anak-anak Palestina kehilangan masa depannya. Inilah wujud iman yang hidup—iman yang tidak egois. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ“Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk surga, hendaknya ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hendaknya ia memperlakukan manusia sebagaimana ia senang diperlakukan oleh mereka.” (HR. Muslim, no. 1844)Membela Palestina adalah bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah, karena mereka adalah saudara seiman yang sedang tertindas. Di sana juga terdapat Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama dan salah satu dari tiga masjid suci yang dimuliakan dalam Islam. Membantu mereka berarti menjaga kehormatan simbol-simbol agama dan tanah suci umat Islam. Islam memerintahkan kita untuk membela kaum yang lemah dan terzalimi. Maka, membela Palestina adalah bagian dari iman, syukur atas kemerdekaan, dan tanggung jawab bersama umat Islam. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina, jadilah penolong dan pelindung mereka. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan KaryaSyukur itu bukan hanya diam, tapi bergerak dan memberi manfaat.Kemerdekaan bukan hanya soal bebas bicara, tapi juga bebas berkarya. Jadikan setiap potensi yang Allah berikan sebagai kontribusi nyata untuk bangsa dan umat.خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ibn Hibban dalam al-Majruhin [2/1], al-Qudha‘i dalam Musnad al-Shihab no. 1234, dan al-Ṭabarani dalam al-Mu‘jam al-Awsaṭ no. 5787).Hadits ini sangat tepat untuk mendasari bahwa mengisi kemerdekaan dengan ilmu dan karya yang bermanfaat adalah bentuk amal terbaik dan bentuk syukur yang nyata. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah BangsaSetan senang melihat umat Islam terpecah.Salah satu nikmat besar pascakemerdekaan adalah persatuan. Jangan hancurkan dengan fanatisme golongan, politik, atau kepentingan pribadi.وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103)Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallāhu ‘anhu, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Karena siapa yang hidup sepeninggalku nanti, ia akan melihat banyak sekali perpecahan. Maka tetaplah berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah sepeninggalku yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676; dinyatakan hasan sahih oleh Imam Tirmidzi, dan sanadnya sahih menurut Al-Hafizh Abu Thahir).Sebab, nikmat kemerdekaan bisa hilang jika umat terpecah oleh fanatisme golongan, kebencian, atau bid’ah yang mengaburkan jalan kebenaran. Maka, menjaga ukhuwah dan arah perjuangan umat adalah bagian penting dari rasa syukur yang sejati. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan BermasyarakatMembangun masyarakat yang beradab bukan cukup dengan merdeka secara politik, tetapi harus ditopang oleh akhlak yang kokoh. Karena hanya dengan akhlak, kemerdekaan akan membawa berkah—bukan kehancuran.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad no. 8729, dinilai sahih oleh Al-Albani) 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas BermanfaatJangan habiskan peringatan kemerdekaan hanya dengan lomba tanpa makna, apalagi lomba yang mengandung unsur perjudian.Allah Ta’ala mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (maysir), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90)Dalam Islam, suatu aktivitas disebut judi (maysir) jika memenuhi empat syarat: (1) adanya dua pihak atau lebih yang saling bertaruh; (2) masing-masing mempertaruhkan harta atau barang bernilai; (3) terdapat pihak yang menang dan kalah di akhir permainan; (4) serta pihak yang kalah harus rela kehilangan hartanya tanpa ada timbal balik yang setara.Maka, jika perlombaan dalam rangka hari kemerdekaan melibatkan taruhan uang atau barang berharga dengan hasil menang-kalah yang menyebabkan salah satu pihak kehilangan miliknya, hal itu termasuk bentuk perjudian yang diharamkan. Sebaliknya, isi kemerdekaan dengan kegiatan yang menguatkan nilai kebersamaan, menambah ilmu, atau amal sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.Wahai kaum Muslimin, mari kita syukuri nikmat kemerdekaan ini dengan tauhid, taubat, amal saleh, menjaga syariat, taat dan mendoakan pemimpin, menjaga persatuan, akhlak, serta mengisi hari-hari dengan ilmu, karya, dan kepedulian sosial. Jangan lupa, doakan pemimpin kita agar diberi hidayah dan keadilan, serta doakan saudara-saudara kita di Palestina agar diberi kemenangan dan pertolongan.بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًااَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا فِي فِلَسْطِينَ عَوْنًا وَنَصِيرًا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَارَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْBaca Juga:Khutbah Jumat: Rahmat Allah untuk Negeri yang Kita CintaiBentuk Syukur kepada Allah– Naskah Khutbah Jumat Wage, 21 Safar 1447 H (15 Agustus 2025)@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibadah dan kemerdekaan kemerdekaan kemerdekaan dalam islam khutbah akhlak khutbah bermanfaat untuk umat khutbah doa untuk pemimpin khutbah islam khutbah jihad tanpa kekerasan khutbah jumat khutbah kemerdekaan khutbah membangun bangsa khutbah membela kaum tertindas khutbah nasionalisme islami khutbah palestina khutbah persatuan khutbah taat pemimpin khutbah tauhid khutbah ukhuwah islamiyah mensyukuri nikmat merdeka merdeka nikmat merdeka syukur kemerdekaan syukur nikmat


Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah yang wajib disyukuri dengan tindakan nyata, bukan sekadar seremonial tahunan. Syukur atas nikmat ini ditunjukkan dengan bertakwa, meninggalkan maksiat, dan membangun kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam. Persatuan, akhlak, dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi masyarakat merdeka. Inilah saatnya mengisi kemerdekaan dengan ilmu, karya, dan amal yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA 2. 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan Ibadah 3. 2. Bertaubat dan Meninggalkan Maksiat 4. 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan Benar 5. 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang Makruf 6. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan Keadilan 7. 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum Merdeka 8. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Karya 9. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah Bangsa 10. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan Bermasyarakat 11. 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas Bermanfaat 12. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMAاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَنِعْمَةِ الْأَمْنِ، وَفَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ ، فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah …Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita nikmat besar berupa nikmat Islam, nikmat keamanan, dan nikmat kemerdekaan. Kita berada di bulan Safar, yang menjadi momen tepat untuk merenungi nikmat dan menata langkah ke depan dengan ketakwaan. Cara kita bersyukur kepada Allah bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan ketaatan yang nyata: menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mengisi kemerdekaan ini dengan amal saleh, persatuan, ilmu, dan pengabdian yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pembawa petunjuk yang telah mengajarkan kepada kita jalan keselamatan, menunjukkan kita cara bersyukur, serta memperingatkan kita agar jangan lalai dalam kenikmatan dunia yang fana.Nikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah yang tidak boleh disia-siakan. Di tengah bangsa yang merdeka, kita bisa beribadah dengan leluasa, menuntut ilmu dengan tenang, dan membangun masa depan dengan penuh harapan. Namun, nikmat ini bisa menjadi azab jika tidak disyukuri. Berikut ini beberapa langkah nyata untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan menurut pandangan Islam: 1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan IbadahKemerdekaan sejati adalah ketika hati terlepas dari penghambaan kepada selain Allah.وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” — (QS. Adz-Dzariyat: 56)Tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Maka, kemerdekaan hakiki bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi bebas dari perbudakan hawa nafsu, dunia, dan sesembahan selain Allah.Bentuk syukur tertinggi atas kemerdekaan adalah menggunakan kebebasan ini untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai kita lalai dan justru menggunakan kemerdekaan untuk bermaksiat. Karena kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan lahiriah, tetapi juga kesempatan untuk menunaikan ketaatan dengan lebih leluasa. Maka, nikmat ini semestinya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang taat dan penuh rasa syukur, sebagaimana diilustrasikan dalam doa seorang mukmin yang telah mencapai usia kematangan:حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat tersebut menunjukkan bahwa syukur yang sejati bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan dorongan kuat untuk beramal saleh yang diridhai Allah. Inilah bentuk syukur yang hidup—syukur yang menuntun pada ketaatan, dan bukan syukur yang berhenti pada retorika atau seremoni tahunan.Menariknya, semangat yang sama juga diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat tercinta beliau, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Dalam sebuah hadits yang sangat menyentuh, Nabi ﷺ bersabda:يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda, “Aku memberikanmu nasihat, wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat bacaan doa:اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).”Disebutkan di akhir hadits, “Mu’adz mewasiatkan seperti itu kepada Ash-Shunabihi. Lalu Ash-Shunabihi mewasiatkannya lagi kepada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2. Bertaubat dan Meninggalkan MaksiatNikmat tak akan bertahan jika maksiat dibiarkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِ الذُّنُوبِ: أَنَّهَا تُزِيلُ النِّعَمَ، وَتُحِلُّ النِّقَمَ، “Salah satu hukuman dari dosa adalah hilangnya nikmat dan datangnya bencana.”Taubat adalah tanda kesadaran bahwa kita masih sering menyia-nyiakan nikmat Allah. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk membersihkan diri dan masyarakat dari dosa yang tersembunyi maupun terang-terangan.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)Ulama besar seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taubat yang tulus itu mengandung empat unsur penting:Berhenti dari dosa seketika itu juga — tidak menundanya lagi.Menyesali dosa yang telah dilakukan, dengan penyesalan yang lahir dari kesadaran akan kesalahan.Berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulanginya di masa depan.Dan jika dosa itu menyangkut hak orang lain, maka wajib diselesaikan atau dikembalikan haknya.Dengan kata lain, taubat yang sejati bukan hanya ucapan di lisan, tapi sikap total dalam hati, tindakan nyata dalam perbaikan diri, dan keberanian untuk bertanggung jawab.Dalam sebuah hadits dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim, no. 2759)Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537) 3. Menjadi Muslim yang Menjalankan Syariat Islam dengan BenarKemerdekaan memberi ruang bagi kita untuk hidup sesuai tuntunan agama. Di negeri ini, kita bebas untuk menegakkan salat, menutup aurat, mendidik anak dengan nilai Islam, dan berdakwah tanpa harus bersembunyi. Maka, tidak ada alasan untuk tidak menjalani hidup sebagai Muslim yang taat.Justru inilah saatnya menjadikan kemerdekaan sebagai peluang untuk menghidupkan syariat dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Inilah bentuk syukur yang konkret dan berkelanjutan. Karena iman bukan hanya di hati, tapi juga harus nampak dalam tindakan nyata.Namun kita juga tak menutup mata. Di tengah zaman yang penuh ujian iman, menjalani hidup sesuai syariat tidak selalu mudah. Godaan dunia, tekanan sosial, bahkan cibiran terhadap ajaran Islam bisa datang dari berbagai arah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat tentang kondisi ini dalam sabdanya:يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).Bayangkan menggenggam bara api—perih, panas, dan menyakitkan. Tapi ia tetap menggenggam, karena ia tahu itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya.Di tengah zaman seperti inilah, umat Islam dituntut untuk tetap berpegang teguh pada petunjuk yang tak akan pernah menyesatkan, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13). 4. Taat kepada Pemimpin dalam Perkara yang MakrufTaat kepada pemimpin adalah bagian dari menjaga stabilitas negeri.Dalam Islam, ketaatan kepada pemimpin—selama tidak memerintahkan maksiat—adalah bagian dari menjaga keamanan dan kemaslahatan umat.Murid dari Imam Syafii, yaitu Imam Al-Muzani rahimahullah dalam kitab beliau “Syarhus Sunnah” berkata,وَالطَّاعَةُ لِأُوْلِي الأَمْرِ فِيْمَا كَانَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَرْضِيًّا وَاجْتِنَابِ مَا كَانَ عِنْدَ اللهِ مُسْخِطًاوَتَرْكُ الخُرُوْجِ عِنْدَ تَعَدِّيْهِمْ وَجَوْرِهِمْ وَالتَّوْبَةُ عِنْدَ اللهِ كَيْمَا يَعْطِفُ بِهِمْ عَلَى رَعِيَّتِهِمْ“Taatlah kepada para pemimpin dalam hal-hal yang diridai oleh Allah ‘azza wa jalla, dan tinggalkan ketaatan jika mereka memerintahkan sesuatu yang dimurkai oleh Allah.Jika para pemimpin berlaku zalim atau melampaui batas, janganlah memberontak. Sebaliknya, bertaubatlah kepada Allah dan perbaiki diri, agar Allah melembutkan hati para pemimpin dan menjadikan mereka lebih sayang kepada rakyatnya.”Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah saat haji wada’ dan mengucapkan,اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ“Bertakwalah pada Allah Rabb kalian, laksanakanlah shalat limat waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dari harta kalian, taatilah penguasa yang mengatur urusan kalian, maka kalian akan memasuki surga Rabb kalian.” (HR. Tirmidzi no. 616 dan Ahmad 5: 262. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu—sahabat mulia sekaligus khalifah keempat—pernah menyampaikan sebuah perkataan yang sangat dalam tentang pentingnya kehadiran seorang pemimpin dalam kehidupan masyarakat. Beliau berkata:لَا يَصْلُحُ لِلنَّاسِ إِلَّا أَمِيرٌ عَادِلٌ أَوْ جَائِرٌ“Masyarakat tidak akan menjadi baik kecuali dengan adanya pemimpin—baik pemimpin yang adil maupun yang zalim.”Sebagian orang saat itu merasa keberatan dengan pernyataan beliau tentang “pemimpin yang zalim”. Namun Ali menjelaskan maksudnya:نَعَمْ، يُؤْمِنُ السَّبِيلَ، وَيُمَكِّنُ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَوَاتِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ“Benar. Karena bahkan dengan adanya pemimpin yang zalim, jalan-jalan bisa aman, masyarakat tetap bisa melaksanakan salat, dan pergi haji ke Baitullah dengan tenang.”Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghayb (13:204), dan menjadi pelajaran besar bahwa keberadaan pemimpin, bagaimana pun keadaannya, jauh lebih baik daripada hidup tanpa pemerintahan yang sah. Sebab, kekacauan dan kerusuhan justru akan lebih merusak tatanan masyarakat.Imam Fakhruddin Ar-Razi juga menambahkan nasihat yang tak kalah penting: “Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim, maka hendaklah mereka terlebih dahulu meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan sendiri.” (Tafsir At-Taḥrīr wa At-Tanwīr karya Ibnu ‘Āsyūr, 8:74)Pesan ini menyadarkan kita bahwa keadilan tidak hanya dituntut dari atas (pemimpin), tetapi juga harus dimulai dari bawah—dari masyarakat. Ketika rakyat meninggalkan kezaliman, Allah akan memperbaiki keadaan penguasanya. Tapi jika rakyat terus dalam maksiat dan kezaliman, jangan heran jika Allah memberi pemimpin yang menjadi cerminan mereka sendiri. 5. Mendoakan Pemimpin agar Diberi Hidayah dan KeadilanDoa adalah senjata orang beriman. Jangan biarkan pemimpin berjalan sendiri tanpa kita iringi dengan doa agar mereka mampu memimpin dengan amanah.Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata,لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا صَيَّرْتُهَا إِلَّا فِي الْإِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)Baca juga: Kumpulan Doa untuk Pemimpin Negeri 6. Mendoakan Negeri-Negeri yang Belum MerdekaMensyukuri kemerdekaan bukan hanya dengan berpesta atau mengikuti upacara, tapi dengan menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap mereka yang belum merasakan nikmat yang sama. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah salah seorang dari kalian benar-benar beriman, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45)Kalau kita mencintai keamanan, kita harus ikut peduli pada mereka yang kehilangan rumah dan keluarga. Kalau kita mencintai ketenangan, kita tidak boleh tutup mata saat anak-anak Palestina kehilangan masa depannya. Inilah wujud iman yang hidup—iman yang tidak egois. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ“Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk surga, hendaknya ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hendaknya ia memperlakukan manusia sebagaimana ia senang diperlakukan oleh mereka.” (HR. Muslim, no. 1844)Membela Palestina adalah bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah, karena mereka adalah saudara seiman yang sedang tertindas. Di sana juga terdapat Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama dan salah satu dari tiga masjid suci yang dimuliakan dalam Islam. Membantu mereka berarti menjaga kehormatan simbol-simbol agama dan tanah suci umat Islam. Islam memerintahkan kita untuk membela kaum yang lemah dan terzalimi. Maka, membela Palestina adalah bagian dari iman, syukur atas kemerdekaan, dan tanggung jawab bersama umat Islam. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina, jadilah penolong dan pelindung mereka. 7. Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan KaryaSyukur itu bukan hanya diam, tapi bergerak dan memberi manfaat.Kemerdekaan bukan hanya soal bebas bicara, tapi juga bebas berkarya. Jadikan setiap potensi yang Allah berikan sebagai kontribusi nyata untuk bangsa dan umat.خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ibn Hibban dalam al-Majruhin [2/1], al-Qudha‘i dalam Musnad al-Shihab no. 1234, dan al-Ṭabarani dalam al-Mu‘jam al-Awsaṭ no. 5787).Hadits ini sangat tepat untuk mendasari bahwa mengisi kemerdekaan dengan ilmu dan karya yang bermanfaat adalah bentuk amal terbaik dan bentuk syukur yang nyata. 8. Menjaga Persatuan dan Tidak Memecah Belah BangsaSetan senang melihat umat Islam terpecah.Salah satu nikmat besar pascakemerdekaan adalah persatuan. Jangan hancurkan dengan fanatisme golongan, politik, atau kepentingan pribadi.وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103)Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallāhu ‘anhu, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Karena siapa yang hidup sepeninggalku nanti, ia akan melihat banyak sekali perpecahan. Maka tetaplah berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah sepeninggalku yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676; dinyatakan hasan sahih oleh Imam Tirmidzi, dan sanadnya sahih menurut Al-Hafizh Abu Thahir).Sebab, nikmat kemerdekaan bisa hilang jika umat terpecah oleh fanatisme golongan, kebencian, atau bid’ah yang mengaburkan jalan kebenaran. Maka, menjaga ukhuwah dan arah perjuangan umat adalah bagian penting dari rasa syukur yang sejati. 9. Menjaga Akhlak dan Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan BermasyarakatMembangun masyarakat yang beradab bukan cukup dengan merdeka secara politik, tetapi harus ditopang oleh akhlak yang kokoh. Karena hanya dengan akhlak, kemerdekaan akan membawa berkah—bukan kehancuran.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad no. 8729, dinilai sahih oleh Al-Albani) 10. Mengisi Hari Kemerdekaan dengan Aktivitas BermanfaatJangan habiskan peringatan kemerdekaan hanya dengan lomba tanpa makna, apalagi lomba yang mengandung unsur perjudian.Allah Ta’ala mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (maysir), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90)Dalam Islam, suatu aktivitas disebut judi (maysir) jika memenuhi empat syarat: (1) adanya dua pihak atau lebih yang saling bertaruh; (2) masing-masing mempertaruhkan harta atau barang bernilai; (3) terdapat pihak yang menang dan kalah di akhir permainan; (4) serta pihak yang kalah harus rela kehilangan hartanya tanpa ada timbal balik yang setara.Maka, jika perlombaan dalam rangka hari kemerdekaan melibatkan taruhan uang atau barang berharga dengan hasil menang-kalah yang menyebabkan salah satu pihak kehilangan miliknya, hal itu termasuk bentuk perjudian yang diharamkan. Sebaliknya, isi kemerdekaan dengan kegiatan yang menguatkan nilai kebersamaan, menambah ilmu, atau amal sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.Wahai kaum Muslimin, mari kita syukuri nikmat kemerdekaan ini dengan tauhid, taubat, amal saleh, menjaga syariat, taat dan mendoakan pemimpin, menjaga persatuan, akhlak, serta mengisi hari-hari dengan ilmu, karya, dan kepedulian sosial. Jangan lupa, doakan pemimpin kita agar diberi hidayah dan keadilan, serta doakan saudara-saudara kita di Palestina agar diberi kemenangan dan pertolongan.بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًااَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا فِي فِلَسْطِينَ عَوْنًا وَنَصِيرًا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَارَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًااللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْBaca Juga:Khutbah Jumat: Rahmat Allah untuk Negeri yang Kita CintaiBentuk Syukur kepada Allah– Naskah Khutbah Jumat Wage, 21 Safar 1447 H (15 Agustus 2025)@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibadah dan kemerdekaan kemerdekaan kemerdekaan dalam islam khutbah akhlak khutbah bermanfaat untuk umat khutbah doa untuk pemimpin khutbah islam khutbah jihad tanpa kekerasan khutbah jumat khutbah kemerdekaan khutbah membangun bangsa khutbah membela kaum tertindas khutbah nasionalisme islami khutbah palestina khutbah persatuan khutbah taat pemimpin khutbah tauhid khutbah ukhuwah islamiyah mensyukuri nikmat merdeka merdeka nikmat merdeka syukur kemerdekaan syukur nikmat

Stop Overthinking! Inilah Resep Bahagia dari Nabi – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

Stop Overthinking! Inilah Resep Bahagia dari Nabi – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ


Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

Panduan Shalat Orang Sakit: Shalat Duduk, Berbaring, dan Isyarat Sesuai Sunnah

Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring.  PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi

Panduan Shalat Orang Sakit: Shalat Duduk, Berbaring, dan Isyarat Sesuai Sunnah

Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring.  PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi
Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring.  PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi


Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring.  PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi

Doa Nabi Yunus yang Luar Biasa

Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 QRIS donasi Yufid

Doa Nabi Yunus yang Luar Biasa

Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 QRIS donasi Yufid
Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 QRIS donasi Yufid


Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cara Paling Mudah Masuk Surga dan Dicintai Allah – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً

Cara Paling Mudah Masuk Surga dan Dicintai Allah – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً
Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً


Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Hukum Meminang Wanita dalam Berbagai Kondisi Menurut Islam

Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.”  PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah

Hukum Meminang Wanita dalam Berbagai Kondisi Menurut Islam

Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.”  PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah
Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.”  PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah


Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.”  PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 6): Kepercayaan dan Agama Bangsa Arab

Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 6): Kepercayaan dan Agama Bangsa Arab

Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.
Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.


Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Rahasia Amalan Termudah Pahala Melimpah – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri #NasehatUlama

Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ

Rahasia Amalan Termudah Pahala Melimpah – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri #NasehatUlama

Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ
Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ


Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ

Haji Mabrur

الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid

Haji Mabrur

الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid
الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid


الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cara Berdoa yang Tidak Akan Ditolak – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ

Cara Berdoa yang Tidak Akan Ditolak – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ
Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ


Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ

Teguran Allah kepada Rasulullah dalam Al-Qur’an

Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Teguran Allah kepada Rasulullah dalam Al-Qur’an

Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.


Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Mengendalikan Syahwat di Zaman Fitnah

Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Mengendalikan Syahwat di Zaman Fitnah

Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKeberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMenyentuh logika dan hatiDoa Rasulullah ﷺFitnah syahwat zaman iniDari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء“Seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina!’ Maka orang-orang yang hadir pun menghampirinya dan memarahinya seraya berkata, ‘Cukup! Cukup!’Nabi bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Maka pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat beliau.Beliau bertanya, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?’Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.’Beliau bertanya lagi. ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ayah)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ayah).’Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau suka perbuatan itu dilakukan terhadap bibimu (dari pihak ibu)?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Dan orang-orang pun tidak suka hal itu dilakukan terhadap bibi-bibi mereka (dari pihak ibu).’Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau pada pemuda itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’Setelah itu, pemuda itu tidak lagi terlintas untuk melakukan perbuatan tersebut.” (HR. Ahmad)Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan beliau berdoa, ‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.’ Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci setelah itu daripada perbuatan zina.”—Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju surga. Tanpa ilmu, seorang muslim akan tersesat di tengah gelapnya godaan dunia. Karena itu, kesabaran dalam menuntut ilmu adalah keniscayaan, bahkan ketika kondisi fisik tidak mendukung, seperti cuaca panas ataupun lelah yang mendera.Lantas, bagaimana menghadapi dorongan syahwat yang begitu kuat, khususnya di era penuh fitnah dan keterbukaan aurat yang masif? Fitnah syahwat telah menyelinap ke dalam genggaman setiap orang, bahkan anak-anak kecil, melalui media sosial dan internet.Kesabaran dalam menuntut ilmu amatlah penting, karena di balik kesabaran itu terdapat ilmu yang menyelamatkan dari kehancuran moral. Kisah di atas mengandung banyak hikmah yang luar biasa dari kehidupan Rasulullah ﷺ, yaitu tentang seorang pemuda yang datang dan secara terang-terangan meminta izin untuk berzina. Kisah ini mengandung pelajaran penting dalam menghadapi nafsu dan mendidik generasi muda di era yang penuh jebakan maksiat ini.Keberanian pemuda dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺMari kita renungkan kembali hadis pada awal pendahuluan di atas, di mana seorang pemuda datang langsung kepada Rasulullah ﷺ dan berkata dengan polos, “Izinkan aku untuk berzina.” Sebuah pernyataan yang mengejutkan, membuat para sahabat yang hadir langsung bereaksi keras. Mereka ingin menghentikan pemuda itu dengan cara yang tegas. Namun, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang penuh hikmah, tidak serta merta membentak atau mengusirnya, tapi justru berkata, “Mendekatlah.”Inilah awal mula pendekatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak menolak niat buruk itu dengan kemarahan, tapi dengan membuka ruang dialog. Beliau memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menyambut kejujuran seorang anak muda yang tengah bergumul dengan nafsunya. Rasulullah ﷺ paham bahwa ini adalah momen langka — seorang pemuda terbuka tentang gejolak syahwatnya. Maka, beliau memilih untuk membimbing, bukan menghakimi.Di sinilah para pendidik dan orang tua perlu bercermin. Seringkali, kita justru mematikan kejujuran anak-anak dengan kemarahan dan hukuman. Padahal, jika seorang anak berani mengungkapkan niat buruknya, itu tanda adanya kepercayaan dan peluang emas untuk membimbing hatinya ke jalan yang benar. Nabi ﷺ telah memberikan contoh kebesaran jiwa dalam menghadapi pernyataan yang bisa saja dianggap hina oleh masyarakat.Kisah ini menunjukkan bahwa keberanian anak muda tidak selalu harus dihadapi dengan keras. Sebaliknya, pemuda itu justru menemukan ketenangan dan jawaban yang menyentuh hati dari Nabi ﷺ. Maka kita pun sebagai umatnya harus meneladani pendekatan ini dalam mendidik dan membina anak-anak kita yang hidup di zaman penuh fitnah ini.Baca juga: Ujian Tersulit untuk Laki-LakiMenyentuh logika dan hatiRasulullah ﷺ melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan yang sangat menyentuh perasaan pemuda tersebut. “Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pertanyaan serupa diajukan untuk anak perempuan, saudari perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu — semuanya dijawab dengan penolakan yang tegas.Melalui pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ mengajak pemuda itu berpikir dari sudut pandang empati. Sebuah pendekatan yang membangkitkan perasaan dan kesadaran sosial. Betapa banyak orang yang merasa wajar berzina, namun akan marah besar bila hal itu menimpa keluarganya. Di sinilah letak keadilan: seseorang harus membenci kemaksiatan bukan hanya karena itu dosa, tapi karena itu juga menyakitkan bagi sesama manusia.Kebanyakan pendekatan dakwah atau pendidikan hari ini terjebak pada ceramah satu arah yang hanya menekankan larangan, tanpa membangun kesadaran batin. Rasulullah ﷺ justru membangun dialog dua arah, menyentuh akar emosional dari niat buruk itu, dan perlahan-lahan membalikkan hati pemuda tersebut dengan kasih dan logika yang menyentuh.Inilah metode yang perlu kita tiru dalam menghadapi anak-anak, remaja, atau siapa pun yang sedang tergoda oleh syahwat. Jangan langsung mencaci, tetapi ajak mereka berpikir: bagaimana jika itu terjadi pada keluargamu? Maka, pelan-pelan hati yang keras akan melunak, dan nafsu akan tunduk kepada akal yang tercerahkan oleh cahaya iman.Doa Rasulullah ﷺSetelah menyadarkan pemuda itu secara emosional dan intelektual, Rasulullah ﷺ menutup momen tersebut dengan meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan lindungi kemaluannya.” Doa yang penuh makna ini menjadi penutup proses tarbiyah yang paripurna — dari akal, perasaan, hingga ruhaniyah.Doa ini menunjukkan bahwa perubahan hakiki tidak cukup hanya dengan nasihat atau logika semata. Hati manusia adalah milik Allah ﷻ. Maka setelah segala upaya dialog dan penjelasan, Rasulullah ﷺ menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala dalam bentuk doa. Dan Allah pun mengabulkan doa itu. Dalam riwayat disebutkan, pemuda itu tidak lagi pernah mendekati zina, bahkan hal-hal yang mengarah ke sana.Transformasi ini begitu luar biasa dan menjadi bukti bahwa hidayah Allah bisa datang melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan, hanya kasih sayang dan doa. Hasilnya: perubahan total dalam hidup seorang pemuda yang sebelumnya terjerumus dalam gejolak syahwat.Bagi para orang tua, guru, dan pendidik, ini menjadi pelajaran penting. Jangan hanya fokus pada larangan, tapi bimbing dengan kasih, doakan dengan tulus, dan jangan pernah putus asa dari perubahan seseorang — karena hati bisa berubah dalam sekejap bila Allah menghendaki.Fitnah syahwat zaman ini Jika godaan zina di masa Rasulullah ﷺ sudah begitu menggoda, maka godaan di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform lain bahkan menjadikan aurat sebagai komoditas. Bahkan anak-anak berusia 8 tahun sudah bisa dengan mudah mengakses konten yang sangat merusak moral. Maka tidak heran apabila dorongan syahwat hari ini lebih brutal dan masif.Di sinilah hadis ini menemukan relevansinya. Generasi muda hari ini membutuhkan bimbingan yang lebih sabar, pendekatan yang lebih empatik, dan doa yang lebih sering. Jika Nabi ﷺ saja membimbing pemuda dengan kasih sayang dalam kondisi godaan yang lebih kecil, maka kita lebih wajib lagi bersikap lembut menghadapi fitnah syahwat hari ini.Orang tua harus sadar, pendekatan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik anak. Jadilah ayah yang mau mendengar, ibu yang bisa dipercaya anak-anaknya. Bila anak berani berkata, “Aku tergoda untuk berzina,” jangan marah — bersyukurlah karena anak membuka hatinya. Itulah kesempatan untuk membimbing sebelum terlambat.Ajak anak berdialog, berikan nasihat yang menyentuh, dan jangan lupa panjatkan doa yang tulus untuk hati mereka. Hanya dengan bimbingan seperti ini, kita bisa berharap agar generasi kita tetap bertahan dalam kesucian, di tengah badai fitnah yang tak pernah reda. Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah syahwat yang menjerumuskan. Aamiin.Wallahu a’lam.Baca juga: Sebab Keselamatan dari Fitnah Syahwat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Prev     Next