Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 8)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 7)Sanggahan Ulama Ahlus Sunnah terhadap Aqidah Asy’ariyyahTidaklah muncul suatu aqidah (pemikiran) yang menyimpang, kecuali akan bangkitlah para ulama ahlus sunnah untuk membantah dan meluruskan aqidah yang menyimpang tersebut. Demikian pula dengan aqidah Asy’ariyyah yang berkaitan dengan kalam Allah dan Al-Qur’an. Kita jumpai pengingkaran para ulama ahlus sunnah terhadap aqidah Asy’ariyyah yang menyimpang tersebut.Syaikhul Islam Al-Hafidz Abu ‘Ismail ‘Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi rahimahullah (wafat tahun 481 H) berkata ketika mengingkari aqidah Asy’ariyyah yang menafikan huruf dan suara,ثم قالوا: ليس له صوت و لا حروف“Kemudian mereka (Asy’ariyyah) berkata bahwa Allah tidak (berbicara) dengan suara dan huruf.” (Dzammul Kalam wa Ahlihi, 5/136) Al-Hafidz Abul Qasim Isma’il bin Muhammad At-Taimi Al-Ashbahani rahimahullah (wafat tahun 535 H) berkata ketika membantah Asy’ariyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan tidak dalam bentuk huruf dan suara,دليل أهل السنة: قوله تعالى: (حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ)، والمسموع إنما هو الحرف والصوت، لأن المعنى لايسمع بل يفهم. يقال في اللغة : سمعت الكلام و فهمت المعنى، فلما قال: حتى يسمع: دل على أنه حرف و صوت“Dalil ahlus sunnah adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “supaya dia sempat mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 6) “Sesuatu yang didengar” hanyalah berupa huruf dan suara. Karena jika sekedar “makna”, tidak dikatakan “didengar”, tetapi “dipahami”. Dalam bahasa (Arab) dikatakan, “Aku mendengar kalimat dan aku memahami maknanya.” Ketika mengatakan, “sampai dia sempat mendengar”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah huruf dan suara.” (Al-Hujjah fii Bayaan Al-Mahajjah, 2/479)Perkataan beliau ini membantah aqidah Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya maknanya saja yang berasal dari Allah Ta’ala, sedangkan lafadz Al-Qur’an yang kita baca berasal dari Jibril ‘alaihis salaam atau Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Syaikh Abul Bayan Muhammad bin Mahfudz Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 551 H) berkata,وأنتم إذا قيل لكم: ماالدليل على أن القرآن معنى في النفس؟ قلتم: قال الأخطل: إن الكلام لفي الفؤاد، إيش هذا الأخطل نصراني خبيث بنيتم مذهبكم على بيت شعر من قوله، وتركتم الكتاب و السنة“Jika dikatakan kepada kalian, “Apa dalil bahwa Al-Qur’an itu hanyalah makna yang ada dalam jiwa (Allah)?” Kalian mengatakan, “Akhthal berkata, ‘Sesungguhnya ucapan itu yang ada di dalam hati.’” Tinggalkan Akhthal yang notabene orang Nashrani yang kotor itu. Kalian membangun aqidah kalian di atas bait syair dari ucapan Akhthal, lalu kalian tinggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Al-‘Uluww, hal. 260)Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah (wafat tahun 561 H) berkata,وقد نص الإمام أحمد رحمه الله تعالى على إثبات الصوت في رواية جماعة من الأصحاب رضوان الله عليهم أجمعين، خلاف ماقالت الأشعرية من أن كلام الله تعالى معنى قائم بنفسه، والله حسيب كل مبتدع ضال مضل“Imam Ahmad telah menegaskan tentang penetapan suara dari riwayat yang disampaikan oleh para sahabatnya (atau murid-muridnya, pen.) -semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semuanya-, bertentangan dengan ucapan Asy’ariyyah bahwa kalam Allah hanyalah makna yang ada dalam Dzat-Nya. Dan Allah Ta’ala akan menghisab setiap ahlul bid’ah yang sesat dan menyesatkan.” (Al-Ghunyah, 1/130-131)Taqiyudin Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah (wafat tahun 600 H) berkata,ونعتقد أن الحروف المكتوبة و الأصوات المسموعة: عين كلام الله عز و جل لا حكاية و لاعبارة … ومن أنكر أن يكون حروفا فقد كابر العيان و أتى بالبهتان“Aku beriman bahwa huruf yang ditulis dan suara yang didengar itu adalah kalam Allah ‘Azza wa Jalla yang asli, bukan hikayat, dan bukan pula ibarat (dari kalam Allah). … Dan barangsiapa yang mengingkari bahwa kalam Allah itu berupa huruf dan suara, sungguh dia telah sombong dan membuat kedustaan.” (‘Aqaaid Aimmatis Salaf, hal. 98-104) [1]Selain itu, telah kami sebutkan kutipan perkataan imam mereka sendiri di seri ke lima tulisan ini, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, yang menetapkan adanya huruf dan suara dalam kalam Allah Ta’ala.Abul Hasan Al-Asy’ari juga tidak meyakini (menetapkan) “kalam nafsi”, sebagaimana yang diyakini oleh Asy’ariyyah. Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata ketika menyebutkan aqidah beliau tentang sifat kalam, دليل آخر:و قد قال الله عز و جل: (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا) و التكليم هو المشافهة بالكلام …“Dalil yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ [4] : 164) Yang dimaksud dengan “taklim” (dalam ayat tersebut) adalah “musyaafahah bil kalaam” (berbicara, bercakap-cakap atau berdialog secara langsung, pen.).” (Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, hal. 318-319)Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa beliau tidak meyakini kalam nafsi. Karena dalam bahasa Arab, “musyaafahah” itu adalah berdialog atau bercakap-cakap dari mulut ke mulut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh ulama pakar bahasa Arab, Ibnul Mandzur rahimahullah dalam Lisaanul ‘Arab (13/507). Hal ini menunjukkan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah menetapkan bahwa Allah Ta’ala berdialog atau bercakap-cakap dengan Musa ‘alaihis salaam secara langsung. Maksudnya, Allah Ta’ala berkata kepada Musa dan Musa mendengar firman Allah tersebut ketika itu tanpa ada perantara apa pun. Ini menunjukkan bahwa firman Allah Ta’ala tersebut adalah dengan huruf dan suara yang didengar oleh Musa ‘alaihis salaam.Hal ini, sekali lagi, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata antara ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari (aqidah ahlus sunnah) dengan “aqidah Asy’ariyyah” (aqidah tokoh-tokoh yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari). Maka renungkanlah.Sanggahan dan bantahan yang lebih detil terhadap aqidah Asy’ariyyah ini dapat disimak di tulisan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan kami mencukupkan diri dengan sanggahan yang sangat bagus tersebut [2].Konsekuensi dari ‘Aqidah Asy’ariyyah: Jangan Pahami Al-Qur’an secara TekstualAqidah Asy’ariyyah mengatakan bahwa lafadz Al-Qur’an yang kita baca ini berasal dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memahamkan (mengungkapkan) kalam nafsi Allah kepada umatnya. Inilah “celah” yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyelewengkan makna Al-Qur’an. Menurut mereka, ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan kalam nafsi Allah dengan bahasa Muhammad sendiri (bahasa Arab), proses itu sangat dipengaruhi oleh zaman ketika itu, budaya Arab yang ada ketika itu, serta dipengaruhi juga oleh karakter dan adat kebiasaan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia biasa. Lihatlah betapa kejinya ‘aqidah semacam ini.Oleh karena itu, jika kita membaca Al-Qur’an, jangan dipahami secara tekstual. Namun ambillah “makna” di balik lafadz tersebut. “Makna” itu adalah maksud asli dari Allah Ta’ala, menurut versi mereka. Jadilah (misalnya) homoseksual itu tidak haram, karena ini hanyalah tekstual Al-Qur’an. Yang haram (menurut mereka) adalah “cara berhubungan badan yang tidak aman”. Artinya, jika pelaku homoseksual itu berhubungan sesama jenis dengan cara atau metode yang aman dan tidak berisiko penyakit, maka boleh, tidak dilarang. Inilah “makna” di balik teks Al-Qur’an yang mereka klaim. Dan seperti inilah metode tafsir hermeneutika ala orang-orang penganut Islam Liberal, mengambil ide dari aqidah Asy’ariyyah bahwa Al-Qur’an itu “maknanya” berasal dari Allah (kalam nafsi), adapun lafadznya (yang kita baca) berasal dari lafadz Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. PenutupMelalui serial tulisan ini, kami telah memaparkan “sejarah pemikiran” orang-orang atau kelompok yang menyimpang dari ‘aqidah ahlus sunnah tentang penetapan sifat kalam Allah dan tentang Al-Qur’an. Semoga penjelasan ini memotivasi kita untuk mempelajari aqidah shahihah, yaitu aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan mewaspadai setiap keyakinan atau pemikiran yang menyimpang dari jalan yang lurus.[Selesai]***Diselesaikan ba’da maghrib, Rotterdam NL, 1 Sya’ban 1439/18 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:[1]     Kutipan perkataan para ulama ahlus sunnah di atas adalah melalui perantaraan kitab: Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 513-524.[2]    Silakan disimak tulisan beliau di sini (ada dua seri tulisan):http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1153-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-pertamahttp://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1154-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-kedua🔍 Situs Islam Terpopuler, Hadits Berteman Dengan Penjual Minyak Wangi, Rizki Dalam Islam, Hadits Tentang Kesabaran Hati, Hadist Tentang Hidup

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 8)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 7)Sanggahan Ulama Ahlus Sunnah terhadap Aqidah Asy’ariyyahTidaklah muncul suatu aqidah (pemikiran) yang menyimpang, kecuali akan bangkitlah para ulama ahlus sunnah untuk membantah dan meluruskan aqidah yang menyimpang tersebut. Demikian pula dengan aqidah Asy’ariyyah yang berkaitan dengan kalam Allah dan Al-Qur’an. Kita jumpai pengingkaran para ulama ahlus sunnah terhadap aqidah Asy’ariyyah yang menyimpang tersebut.Syaikhul Islam Al-Hafidz Abu ‘Ismail ‘Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi rahimahullah (wafat tahun 481 H) berkata ketika mengingkari aqidah Asy’ariyyah yang menafikan huruf dan suara,ثم قالوا: ليس له صوت و لا حروف“Kemudian mereka (Asy’ariyyah) berkata bahwa Allah tidak (berbicara) dengan suara dan huruf.” (Dzammul Kalam wa Ahlihi, 5/136) Al-Hafidz Abul Qasim Isma’il bin Muhammad At-Taimi Al-Ashbahani rahimahullah (wafat tahun 535 H) berkata ketika membantah Asy’ariyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan tidak dalam bentuk huruf dan suara,دليل أهل السنة: قوله تعالى: (حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ)، والمسموع إنما هو الحرف والصوت، لأن المعنى لايسمع بل يفهم. يقال في اللغة : سمعت الكلام و فهمت المعنى، فلما قال: حتى يسمع: دل على أنه حرف و صوت“Dalil ahlus sunnah adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “supaya dia sempat mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 6) “Sesuatu yang didengar” hanyalah berupa huruf dan suara. Karena jika sekedar “makna”, tidak dikatakan “didengar”, tetapi “dipahami”. Dalam bahasa (Arab) dikatakan, “Aku mendengar kalimat dan aku memahami maknanya.” Ketika mengatakan, “sampai dia sempat mendengar”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah huruf dan suara.” (Al-Hujjah fii Bayaan Al-Mahajjah, 2/479)Perkataan beliau ini membantah aqidah Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya maknanya saja yang berasal dari Allah Ta’ala, sedangkan lafadz Al-Qur’an yang kita baca berasal dari Jibril ‘alaihis salaam atau Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Syaikh Abul Bayan Muhammad bin Mahfudz Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 551 H) berkata,وأنتم إذا قيل لكم: ماالدليل على أن القرآن معنى في النفس؟ قلتم: قال الأخطل: إن الكلام لفي الفؤاد، إيش هذا الأخطل نصراني خبيث بنيتم مذهبكم على بيت شعر من قوله، وتركتم الكتاب و السنة“Jika dikatakan kepada kalian, “Apa dalil bahwa Al-Qur’an itu hanyalah makna yang ada dalam jiwa (Allah)?” Kalian mengatakan, “Akhthal berkata, ‘Sesungguhnya ucapan itu yang ada di dalam hati.’” Tinggalkan Akhthal yang notabene orang Nashrani yang kotor itu. Kalian membangun aqidah kalian di atas bait syair dari ucapan Akhthal, lalu kalian tinggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Al-‘Uluww, hal. 260)Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah (wafat tahun 561 H) berkata,وقد نص الإمام أحمد رحمه الله تعالى على إثبات الصوت في رواية جماعة من الأصحاب رضوان الله عليهم أجمعين، خلاف ماقالت الأشعرية من أن كلام الله تعالى معنى قائم بنفسه، والله حسيب كل مبتدع ضال مضل“Imam Ahmad telah menegaskan tentang penetapan suara dari riwayat yang disampaikan oleh para sahabatnya (atau murid-muridnya, pen.) -semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semuanya-, bertentangan dengan ucapan Asy’ariyyah bahwa kalam Allah hanyalah makna yang ada dalam Dzat-Nya. Dan Allah Ta’ala akan menghisab setiap ahlul bid’ah yang sesat dan menyesatkan.” (Al-Ghunyah, 1/130-131)Taqiyudin Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah (wafat tahun 600 H) berkata,ونعتقد أن الحروف المكتوبة و الأصوات المسموعة: عين كلام الله عز و جل لا حكاية و لاعبارة … ومن أنكر أن يكون حروفا فقد كابر العيان و أتى بالبهتان“Aku beriman bahwa huruf yang ditulis dan suara yang didengar itu adalah kalam Allah ‘Azza wa Jalla yang asli, bukan hikayat, dan bukan pula ibarat (dari kalam Allah). … Dan barangsiapa yang mengingkari bahwa kalam Allah itu berupa huruf dan suara, sungguh dia telah sombong dan membuat kedustaan.” (‘Aqaaid Aimmatis Salaf, hal. 98-104) [1]Selain itu, telah kami sebutkan kutipan perkataan imam mereka sendiri di seri ke lima tulisan ini, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, yang menetapkan adanya huruf dan suara dalam kalam Allah Ta’ala.Abul Hasan Al-Asy’ari juga tidak meyakini (menetapkan) “kalam nafsi”, sebagaimana yang diyakini oleh Asy’ariyyah. Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata ketika menyebutkan aqidah beliau tentang sifat kalam, دليل آخر:و قد قال الله عز و جل: (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا) و التكليم هو المشافهة بالكلام …“Dalil yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ [4] : 164) Yang dimaksud dengan “taklim” (dalam ayat tersebut) adalah “musyaafahah bil kalaam” (berbicara, bercakap-cakap atau berdialog secara langsung, pen.).” (Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, hal. 318-319)Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa beliau tidak meyakini kalam nafsi. Karena dalam bahasa Arab, “musyaafahah” itu adalah berdialog atau bercakap-cakap dari mulut ke mulut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh ulama pakar bahasa Arab, Ibnul Mandzur rahimahullah dalam Lisaanul ‘Arab (13/507). Hal ini menunjukkan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah menetapkan bahwa Allah Ta’ala berdialog atau bercakap-cakap dengan Musa ‘alaihis salaam secara langsung. Maksudnya, Allah Ta’ala berkata kepada Musa dan Musa mendengar firman Allah tersebut ketika itu tanpa ada perantara apa pun. Ini menunjukkan bahwa firman Allah Ta’ala tersebut adalah dengan huruf dan suara yang didengar oleh Musa ‘alaihis salaam.Hal ini, sekali lagi, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata antara ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari (aqidah ahlus sunnah) dengan “aqidah Asy’ariyyah” (aqidah tokoh-tokoh yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari). Maka renungkanlah.Sanggahan dan bantahan yang lebih detil terhadap aqidah Asy’ariyyah ini dapat disimak di tulisan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan kami mencukupkan diri dengan sanggahan yang sangat bagus tersebut [2].Konsekuensi dari ‘Aqidah Asy’ariyyah: Jangan Pahami Al-Qur’an secara TekstualAqidah Asy’ariyyah mengatakan bahwa lafadz Al-Qur’an yang kita baca ini berasal dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memahamkan (mengungkapkan) kalam nafsi Allah kepada umatnya. Inilah “celah” yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyelewengkan makna Al-Qur’an. Menurut mereka, ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan kalam nafsi Allah dengan bahasa Muhammad sendiri (bahasa Arab), proses itu sangat dipengaruhi oleh zaman ketika itu, budaya Arab yang ada ketika itu, serta dipengaruhi juga oleh karakter dan adat kebiasaan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia biasa. Lihatlah betapa kejinya ‘aqidah semacam ini.Oleh karena itu, jika kita membaca Al-Qur’an, jangan dipahami secara tekstual. Namun ambillah “makna” di balik lafadz tersebut. “Makna” itu adalah maksud asli dari Allah Ta’ala, menurut versi mereka. Jadilah (misalnya) homoseksual itu tidak haram, karena ini hanyalah tekstual Al-Qur’an. Yang haram (menurut mereka) adalah “cara berhubungan badan yang tidak aman”. Artinya, jika pelaku homoseksual itu berhubungan sesama jenis dengan cara atau metode yang aman dan tidak berisiko penyakit, maka boleh, tidak dilarang. Inilah “makna” di balik teks Al-Qur’an yang mereka klaim. Dan seperti inilah metode tafsir hermeneutika ala orang-orang penganut Islam Liberal, mengambil ide dari aqidah Asy’ariyyah bahwa Al-Qur’an itu “maknanya” berasal dari Allah (kalam nafsi), adapun lafadznya (yang kita baca) berasal dari lafadz Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. PenutupMelalui serial tulisan ini, kami telah memaparkan “sejarah pemikiran” orang-orang atau kelompok yang menyimpang dari ‘aqidah ahlus sunnah tentang penetapan sifat kalam Allah dan tentang Al-Qur’an. Semoga penjelasan ini memotivasi kita untuk mempelajari aqidah shahihah, yaitu aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan mewaspadai setiap keyakinan atau pemikiran yang menyimpang dari jalan yang lurus.[Selesai]***Diselesaikan ba’da maghrib, Rotterdam NL, 1 Sya’ban 1439/18 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:[1]     Kutipan perkataan para ulama ahlus sunnah di atas adalah melalui perantaraan kitab: Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 513-524.[2]    Silakan disimak tulisan beliau di sini (ada dua seri tulisan):http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1153-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-pertamahttp://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1154-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-kedua🔍 Situs Islam Terpopuler, Hadits Berteman Dengan Penjual Minyak Wangi, Rizki Dalam Islam, Hadits Tentang Kesabaran Hati, Hadist Tentang Hidup
Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 7)Sanggahan Ulama Ahlus Sunnah terhadap Aqidah Asy’ariyyahTidaklah muncul suatu aqidah (pemikiran) yang menyimpang, kecuali akan bangkitlah para ulama ahlus sunnah untuk membantah dan meluruskan aqidah yang menyimpang tersebut. Demikian pula dengan aqidah Asy’ariyyah yang berkaitan dengan kalam Allah dan Al-Qur’an. Kita jumpai pengingkaran para ulama ahlus sunnah terhadap aqidah Asy’ariyyah yang menyimpang tersebut.Syaikhul Islam Al-Hafidz Abu ‘Ismail ‘Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi rahimahullah (wafat tahun 481 H) berkata ketika mengingkari aqidah Asy’ariyyah yang menafikan huruf dan suara,ثم قالوا: ليس له صوت و لا حروف“Kemudian mereka (Asy’ariyyah) berkata bahwa Allah tidak (berbicara) dengan suara dan huruf.” (Dzammul Kalam wa Ahlihi, 5/136) Al-Hafidz Abul Qasim Isma’il bin Muhammad At-Taimi Al-Ashbahani rahimahullah (wafat tahun 535 H) berkata ketika membantah Asy’ariyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan tidak dalam bentuk huruf dan suara,دليل أهل السنة: قوله تعالى: (حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ)، والمسموع إنما هو الحرف والصوت، لأن المعنى لايسمع بل يفهم. يقال في اللغة : سمعت الكلام و فهمت المعنى، فلما قال: حتى يسمع: دل على أنه حرف و صوت“Dalil ahlus sunnah adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “supaya dia sempat mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 6) “Sesuatu yang didengar” hanyalah berupa huruf dan suara. Karena jika sekedar “makna”, tidak dikatakan “didengar”, tetapi “dipahami”. Dalam bahasa (Arab) dikatakan, “Aku mendengar kalimat dan aku memahami maknanya.” Ketika mengatakan, “sampai dia sempat mendengar”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah huruf dan suara.” (Al-Hujjah fii Bayaan Al-Mahajjah, 2/479)Perkataan beliau ini membantah aqidah Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya maknanya saja yang berasal dari Allah Ta’ala, sedangkan lafadz Al-Qur’an yang kita baca berasal dari Jibril ‘alaihis salaam atau Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Syaikh Abul Bayan Muhammad bin Mahfudz Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 551 H) berkata,وأنتم إذا قيل لكم: ماالدليل على أن القرآن معنى في النفس؟ قلتم: قال الأخطل: إن الكلام لفي الفؤاد، إيش هذا الأخطل نصراني خبيث بنيتم مذهبكم على بيت شعر من قوله، وتركتم الكتاب و السنة“Jika dikatakan kepada kalian, “Apa dalil bahwa Al-Qur’an itu hanyalah makna yang ada dalam jiwa (Allah)?” Kalian mengatakan, “Akhthal berkata, ‘Sesungguhnya ucapan itu yang ada di dalam hati.’” Tinggalkan Akhthal yang notabene orang Nashrani yang kotor itu. Kalian membangun aqidah kalian di atas bait syair dari ucapan Akhthal, lalu kalian tinggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Al-‘Uluww, hal. 260)Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah (wafat tahun 561 H) berkata,وقد نص الإمام أحمد رحمه الله تعالى على إثبات الصوت في رواية جماعة من الأصحاب رضوان الله عليهم أجمعين، خلاف ماقالت الأشعرية من أن كلام الله تعالى معنى قائم بنفسه، والله حسيب كل مبتدع ضال مضل“Imam Ahmad telah menegaskan tentang penetapan suara dari riwayat yang disampaikan oleh para sahabatnya (atau murid-muridnya, pen.) -semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semuanya-, bertentangan dengan ucapan Asy’ariyyah bahwa kalam Allah hanyalah makna yang ada dalam Dzat-Nya. Dan Allah Ta’ala akan menghisab setiap ahlul bid’ah yang sesat dan menyesatkan.” (Al-Ghunyah, 1/130-131)Taqiyudin Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah (wafat tahun 600 H) berkata,ونعتقد أن الحروف المكتوبة و الأصوات المسموعة: عين كلام الله عز و جل لا حكاية و لاعبارة … ومن أنكر أن يكون حروفا فقد كابر العيان و أتى بالبهتان“Aku beriman bahwa huruf yang ditulis dan suara yang didengar itu adalah kalam Allah ‘Azza wa Jalla yang asli, bukan hikayat, dan bukan pula ibarat (dari kalam Allah). … Dan barangsiapa yang mengingkari bahwa kalam Allah itu berupa huruf dan suara, sungguh dia telah sombong dan membuat kedustaan.” (‘Aqaaid Aimmatis Salaf, hal. 98-104) [1]Selain itu, telah kami sebutkan kutipan perkataan imam mereka sendiri di seri ke lima tulisan ini, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, yang menetapkan adanya huruf dan suara dalam kalam Allah Ta’ala.Abul Hasan Al-Asy’ari juga tidak meyakini (menetapkan) “kalam nafsi”, sebagaimana yang diyakini oleh Asy’ariyyah. Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata ketika menyebutkan aqidah beliau tentang sifat kalam, دليل آخر:و قد قال الله عز و جل: (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا) و التكليم هو المشافهة بالكلام …“Dalil yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ [4] : 164) Yang dimaksud dengan “taklim” (dalam ayat tersebut) adalah “musyaafahah bil kalaam” (berbicara, bercakap-cakap atau berdialog secara langsung, pen.).” (Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, hal. 318-319)Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa beliau tidak meyakini kalam nafsi. Karena dalam bahasa Arab, “musyaafahah” itu adalah berdialog atau bercakap-cakap dari mulut ke mulut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh ulama pakar bahasa Arab, Ibnul Mandzur rahimahullah dalam Lisaanul ‘Arab (13/507). Hal ini menunjukkan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah menetapkan bahwa Allah Ta’ala berdialog atau bercakap-cakap dengan Musa ‘alaihis salaam secara langsung. Maksudnya, Allah Ta’ala berkata kepada Musa dan Musa mendengar firman Allah tersebut ketika itu tanpa ada perantara apa pun. Ini menunjukkan bahwa firman Allah Ta’ala tersebut adalah dengan huruf dan suara yang didengar oleh Musa ‘alaihis salaam.Hal ini, sekali lagi, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata antara ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari (aqidah ahlus sunnah) dengan “aqidah Asy’ariyyah” (aqidah tokoh-tokoh yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari). Maka renungkanlah.Sanggahan dan bantahan yang lebih detil terhadap aqidah Asy’ariyyah ini dapat disimak di tulisan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan kami mencukupkan diri dengan sanggahan yang sangat bagus tersebut [2].Konsekuensi dari ‘Aqidah Asy’ariyyah: Jangan Pahami Al-Qur’an secara TekstualAqidah Asy’ariyyah mengatakan bahwa lafadz Al-Qur’an yang kita baca ini berasal dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memahamkan (mengungkapkan) kalam nafsi Allah kepada umatnya. Inilah “celah” yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyelewengkan makna Al-Qur’an. Menurut mereka, ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan kalam nafsi Allah dengan bahasa Muhammad sendiri (bahasa Arab), proses itu sangat dipengaruhi oleh zaman ketika itu, budaya Arab yang ada ketika itu, serta dipengaruhi juga oleh karakter dan adat kebiasaan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia biasa. Lihatlah betapa kejinya ‘aqidah semacam ini.Oleh karena itu, jika kita membaca Al-Qur’an, jangan dipahami secara tekstual. Namun ambillah “makna” di balik lafadz tersebut. “Makna” itu adalah maksud asli dari Allah Ta’ala, menurut versi mereka. Jadilah (misalnya) homoseksual itu tidak haram, karena ini hanyalah tekstual Al-Qur’an. Yang haram (menurut mereka) adalah “cara berhubungan badan yang tidak aman”. Artinya, jika pelaku homoseksual itu berhubungan sesama jenis dengan cara atau metode yang aman dan tidak berisiko penyakit, maka boleh, tidak dilarang. Inilah “makna” di balik teks Al-Qur’an yang mereka klaim. Dan seperti inilah metode tafsir hermeneutika ala orang-orang penganut Islam Liberal, mengambil ide dari aqidah Asy’ariyyah bahwa Al-Qur’an itu “maknanya” berasal dari Allah (kalam nafsi), adapun lafadznya (yang kita baca) berasal dari lafadz Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. PenutupMelalui serial tulisan ini, kami telah memaparkan “sejarah pemikiran” orang-orang atau kelompok yang menyimpang dari ‘aqidah ahlus sunnah tentang penetapan sifat kalam Allah dan tentang Al-Qur’an. Semoga penjelasan ini memotivasi kita untuk mempelajari aqidah shahihah, yaitu aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan mewaspadai setiap keyakinan atau pemikiran yang menyimpang dari jalan yang lurus.[Selesai]***Diselesaikan ba’da maghrib, Rotterdam NL, 1 Sya’ban 1439/18 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:[1]     Kutipan perkataan para ulama ahlus sunnah di atas adalah melalui perantaraan kitab: Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 513-524.[2]    Silakan disimak tulisan beliau di sini (ada dua seri tulisan):http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1153-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-pertamahttp://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1154-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-kedua🔍 Situs Islam Terpopuler, Hadits Berteman Dengan Penjual Minyak Wangi, Rizki Dalam Islam, Hadits Tentang Kesabaran Hati, Hadist Tentang Hidup


Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 7)Sanggahan Ulama Ahlus Sunnah terhadap Aqidah Asy’ariyyahTidaklah muncul suatu aqidah (pemikiran) yang menyimpang, kecuali akan bangkitlah para ulama ahlus sunnah untuk membantah dan meluruskan aqidah yang menyimpang tersebut. Demikian pula dengan aqidah Asy’ariyyah yang berkaitan dengan kalam Allah dan Al-Qur’an. Kita jumpai pengingkaran para ulama ahlus sunnah terhadap aqidah Asy’ariyyah yang menyimpang tersebut.Syaikhul Islam Al-Hafidz Abu ‘Ismail ‘Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi rahimahullah (wafat tahun 481 H) berkata ketika mengingkari aqidah Asy’ariyyah yang menafikan huruf dan suara,ثم قالوا: ليس له صوت و لا حروف“Kemudian mereka (Asy’ariyyah) berkata bahwa Allah tidak (berbicara) dengan suara dan huruf.” (Dzammul Kalam wa Ahlihi, 5/136) Al-Hafidz Abul Qasim Isma’il bin Muhammad At-Taimi Al-Ashbahani rahimahullah (wafat tahun 535 H) berkata ketika membantah Asy’ariyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan tidak dalam bentuk huruf dan suara,دليل أهل السنة: قوله تعالى: (حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ)، والمسموع إنما هو الحرف والصوت، لأن المعنى لايسمع بل يفهم. يقال في اللغة : سمعت الكلام و فهمت المعنى، فلما قال: حتى يسمع: دل على أنه حرف و صوت“Dalil ahlus sunnah adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “supaya dia sempat mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 6) “Sesuatu yang didengar” hanyalah berupa huruf dan suara. Karena jika sekedar “makna”, tidak dikatakan “didengar”, tetapi “dipahami”. Dalam bahasa (Arab) dikatakan, “Aku mendengar kalimat dan aku memahami maknanya.” Ketika mengatakan, “sampai dia sempat mendengar”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah huruf dan suara.” (Al-Hujjah fii Bayaan Al-Mahajjah, 2/479)Perkataan beliau ini membantah aqidah Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya maknanya saja yang berasal dari Allah Ta’ala, sedangkan lafadz Al-Qur’an yang kita baca berasal dari Jibril ‘alaihis salaam atau Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Syaikh Abul Bayan Muhammad bin Mahfudz Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 551 H) berkata,وأنتم إذا قيل لكم: ماالدليل على أن القرآن معنى في النفس؟ قلتم: قال الأخطل: إن الكلام لفي الفؤاد، إيش هذا الأخطل نصراني خبيث بنيتم مذهبكم على بيت شعر من قوله، وتركتم الكتاب و السنة“Jika dikatakan kepada kalian, “Apa dalil bahwa Al-Qur’an itu hanyalah makna yang ada dalam jiwa (Allah)?” Kalian mengatakan, “Akhthal berkata, ‘Sesungguhnya ucapan itu yang ada di dalam hati.’” Tinggalkan Akhthal yang notabene orang Nashrani yang kotor itu. Kalian membangun aqidah kalian di atas bait syair dari ucapan Akhthal, lalu kalian tinggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Al-‘Uluww, hal. 260)Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah (wafat tahun 561 H) berkata,وقد نص الإمام أحمد رحمه الله تعالى على إثبات الصوت في رواية جماعة من الأصحاب رضوان الله عليهم أجمعين، خلاف ماقالت الأشعرية من أن كلام الله تعالى معنى قائم بنفسه، والله حسيب كل مبتدع ضال مضل“Imam Ahmad telah menegaskan tentang penetapan suara dari riwayat yang disampaikan oleh para sahabatnya (atau murid-muridnya, pen.) -semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semuanya-, bertentangan dengan ucapan Asy’ariyyah bahwa kalam Allah hanyalah makna yang ada dalam Dzat-Nya. Dan Allah Ta’ala akan menghisab setiap ahlul bid’ah yang sesat dan menyesatkan.” (Al-Ghunyah, 1/130-131)Taqiyudin Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah (wafat tahun 600 H) berkata,ونعتقد أن الحروف المكتوبة و الأصوات المسموعة: عين كلام الله عز و جل لا حكاية و لاعبارة … ومن أنكر أن يكون حروفا فقد كابر العيان و أتى بالبهتان“Aku beriman bahwa huruf yang ditulis dan suara yang didengar itu adalah kalam Allah ‘Azza wa Jalla yang asli, bukan hikayat, dan bukan pula ibarat (dari kalam Allah). … Dan barangsiapa yang mengingkari bahwa kalam Allah itu berupa huruf dan suara, sungguh dia telah sombong dan membuat kedustaan.” (‘Aqaaid Aimmatis Salaf, hal. 98-104) [1]Selain itu, telah kami sebutkan kutipan perkataan imam mereka sendiri di seri ke lima tulisan ini, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, yang menetapkan adanya huruf dan suara dalam kalam Allah Ta’ala.Abul Hasan Al-Asy’ari juga tidak meyakini (menetapkan) “kalam nafsi”, sebagaimana yang diyakini oleh Asy’ariyyah. Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata ketika menyebutkan aqidah beliau tentang sifat kalam, دليل آخر:و قد قال الله عز و جل: (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا) و التكليم هو المشافهة بالكلام …“Dalil yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ [4] : 164) Yang dimaksud dengan “taklim” (dalam ayat tersebut) adalah “musyaafahah bil kalaam” (berbicara, bercakap-cakap atau berdialog secara langsung, pen.).” (Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, hal. 318-319)Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa beliau tidak meyakini kalam nafsi. Karena dalam bahasa Arab, “musyaafahah” itu adalah berdialog atau bercakap-cakap dari mulut ke mulut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh ulama pakar bahasa Arab, Ibnul Mandzur rahimahullah dalam Lisaanul ‘Arab (13/507). Hal ini menunjukkan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah menetapkan bahwa Allah Ta’ala berdialog atau bercakap-cakap dengan Musa ‘alaihis salaam secara langsung. Maksudnya, Allah Ta’ala berkata kepada Musa dan Musa mendengar firman Allah tersebut ketika itu tanpa ada perantara apa pun. Ini menunjukkan bahwa firman Allah Ta’ala tersebut adalah dengan huruf dan suara yang didengar oleh Musa ‘alaihis salaam.Hal ini, sekali lagi, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata antara ‘aqidah Abul Hasan Al-Asy’ari (aqidah ahlus sunnah) dengan “aqidah Asy’ariyyah” (aqidah tokoh-tokoh yang mengaku mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari). Maka renungkanlah.Sanggahan dan bantahan yang lebih detil terhadap aqidah Asy’ariyyah ini dapat disimak di tulisan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan kami mencukupkan diri dengan sanggahan yang sangat bagus tersebut [2].Konsekuensi dari ‘Aqidah Asy’ariyyah: Jangan Pahami Al-Qur’an secara TekstualAqidah Asy’ariyyah mengatakan bahwa lafadz Al-Qur’an yang kita baca ini berasal dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memahamkan (mengungkapkan) kalam nafsi Allah kepada umatnya. Inilah “celah” yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyelewengkan makna Al-Qur’an. Menurut mereka, ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan kalam nafsi Allah dengan bahasa Muhammad sendiri (bahasa Arab), proses itu sangat dipengaruhi oleh zaman ketika itu, budaya Arab yang ada ketika itu, serta dipengaruhi juga oleh karakter dan adat kebiasaan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia biasa. Lihatlah betapa kejinya ‘aqidah semacam ini.Oleh karena itu, jika kita membaca Al-Qur’an, jangan dipahami secara tekstual. Namun ambillah “makna” di balik lafadz tersebut. “Makna” itu adalah maksud asli dari Allah Ta’ala, menurut versi mereka. Jadilah (misalnya) homoseksual itu tidak haram, karena ini hanyalah tekstual Al-Qur’an. Yang haram (menurut mereka) adalah “cara berhubungan badan yang tidak aman”. Artinya, jika pelaku homoseksual itu berhubungan sesama jenis dengan cara atau metode yang aman dan tidak berisiko penyakit, maka boleh, tidak dilarang. Inilah “makna” di balik teks Al-Qur’an yang mereka klaim. Dan seperti inilah metode tafsir hermeneutika ala orang-orang penganut Islam Liberal, mengambil ide dari aqidah Asy’ariyyah bahwa Al-Qur’an itu “maknanya” berasal dari Allah (kalam nafsi), adapun lafadznya (yang kita baca) berasal dari lafadz Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. PenutupMelalui serial tulisan ini, kami telah memaparkan “sejarah pemikiran” orang-orang atau kelompok yang menyimpang dari ‘aqidah ahlus sunnah tentang penetapan sifat kalam Allah dan tentang Al-Qur’an. Semoga penjelasan ini memotivasi kita untuk mempelajari aqidah shahihah, yaitu aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan mewaspadai setiap keyakinan atau pemikiran yang menyimpang dari jalan yang lurus.[Selesai]***Diselesaikan ba’da maghrib, Rotterdam NL, 1 Sya’ban 1439/18 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:[1]     Kutipan perkataan para ulama ahlus sunnah di atas adalah melalui perantaraan kitab: Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim, penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 513-524.[2]    Silakan disimak tulisan beliau di sini (ada dua seri tulisan):http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1153-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-pertamahttp://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1154-al-qur-an-yang-kita-baca-adalah-makhluk-menurut-asyairoh-bagian-kedua🔍 Situs Islam Terpopuler, Hadits Berteman Dengan Penjual Minyak Wangi, Rizki Dalam Islam, Hadits Tentang Kesabaran Hati, Hadist Tentang Hidup

PPDB SMA BP IBS (Bintang Pelajar Islamic Boarding School)

Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya

PPDB SMA BP IBS (Bintang Pelajar Islamic Boarding School)

Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya
Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya


Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya

Kutunggu Engkau di Telagaku (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Kutunggu Engkau di Telagaku (Bag. 3)Letak Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkaitan dengan di manakah letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ulama berbeda menjadi dua pendapat.Pendapat pertama, letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah shirath (jembatan di atas neraka jahannam). Pendapat ini adalah dzahir dari pendapat Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala, karena di dalam kitab Shahih-nya, beliau meletakkan bab al-haudh setelah bab shirath. Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala berkata,“Penyebutan hadits-hadits al-haudh oleh Imam Bukhari setelah menyebutkan hadits-hadits tentang syafa’at dan setelah shirath, adalah isyarat dari beliau bahwa letak telaga Nabi adalah setelah melewati shirath.” [1]Pendapat ke dua, telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terletak sebelum shirath, yaitu ketika di padang Mahsyar. Inilah yang dipilih oleh Al-Qurthubi, Ibnu Katsir rahimahumullah dan dikuatkan oleh banyak ulama lainnya.Alasannya adalah terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa sebagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari telaga, sebagaimana yang telah kami jelaskan di seri sebelumnya. Mereka ini adalah orang-orang yang murtad, pelaku dosa besar yang jatuh ke neraka ketika tidak berhasil melewati shirath. Sehingga orang-orang yang melewati shirath adalah yang selamat dari neraka. Jika telaga itu terletak setelah shirath, bagaimana mungkin orang-orang yang sudah jatuh ke dalam neraka tersebut, mereka masih bisa mendatangi shirath, meskipun kemudian diusir?Hal ini pun sesuai dengan kondisi ketika itu, yaitu manusia sangat butuh air minum ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di Mahsyar. Ketika itu, mereka menunggu dalam waktu yang sangat lama sehingga mereka pun akhirnya kehausan. Sehingga tepatlah ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu umatnya di telaga sehingga meskipun masa penantian di Mahsyar sangat lama, mereka tidak pernah kehausan.Berapakah Jumlah Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Pembahasan yang terkait dengan letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang jumlah telaga yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak ulama menyebutkan bahwa telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua. Telaga pertama terletak sebelum shirath (yaitu di padang Mahsyar), sedangkan telaga ke dua terletak setelah shirath yang disebut dengan telaga al-kautsar. Sehingga umat beliau minum dari telaga Nabi sebelum melintasi shirath, dan juga minum di telaga Nabi setelah melintasi shirath, yaitu ketika sudah di dekat surga atau ketika di surga.Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa telaga Nabi hanya satu saja, yaitu yang ada sebelum shirath. Adapun setelah shirath, yaitu al-kautsar, adalah nama sungai yang terletak di surga, yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)Al-kautsar adalah nama sungai di surga adalah berdasarkan hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِنَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِينُهُ – أَوْ طِيبُهُ – مِسْكٌ أَذْفَرُ“Ketika kami berjalan di surga, tiba-tiba ada sungai yang pinggirnya berupa kubah dari mutiara berongga. Aku bertanya, ‘Apa ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Inilah al-kautsar yang Allah Ta’ala berikan untukmu.’ Ternyata tanahnya atau bau wanginya terbuat dari minyak misk adzfar.” (HR. Bukhari no. 6581)Wallahu Ta’ala a’lam, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama, yang menyatakan bahwa telaga Nabi ada dua [2].  Hal ini karena dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut telaga beliau dengan sebutan al-kautsar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa setelah turun surat Al-Kautsar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya,أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ؟“Apakah kalian tahu, apakah al-kautsar itu?”Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasu-Nya yang lebih mengetahui.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ، هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya al-kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabb-ku kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Al-kautsar adalah telaga yang didatangi umatku pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 400)Telaga Nabi disebut juga dengan al-kautsar berdasarkan tinjauan bahwa kedua telaga tersebut saling bersambung, yaitu antara yang terletak setelah shirath dan telaga yang terletak di Mahsyar. Oleh karena itu, terdapat hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa terdapat dua saluran (pancuran) yang mensuplai air di telaga Nabi yang terdapat di Mahsyar. Suplai air tersebut berasal dari telaga al-kautsar yang ada di surga. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ، أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ“Airnya lebih putih daripada susu, dan lebih manis daripada madu. Di dalamnya ada dua saluran yang memancarkan air (dengan kencang) dari surga. Satu saluran terbuat dari emas, dan yang satu lagi terbuat dari perak.” (HR. Muslim no. 2301)Dikuatkan dengan hadits riwayat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَشْخَبُ فِيهِ مِيزَابَانِ مِنَ الْجَنَّةِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ“Di telaga tersebut terdapat dua saluran air yang tersambung ke surga. Barangsiapa meminum airnya, maka dia tidak akan merasa haus.” (HR. Muslim no. 2300)Kesimpulan dalam masalah ini, telaga Nabi ada dua, satu terletak di Mahsyar (sebelum shirath) dan satu lagi terletak setelah shirath, yaitu di surga. Air telaga Nabi di Mahsyar disuplai dari telaga Nabi (al-kaustar) yang ada di surga. Sehingga jadilah air telaga Nabi yang ada di Mahsyar itu lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu dan lebih harum dari minyak misk [2].[Bersambung] ***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 26 Rabi’uts Tsani 1439/ 13 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Baca juga: Apakah Penduduk Surga Mengalami Tidur? Sifat-Sifat Khamr Surgawi Tunaikan Amalan Wajib, Berhak Atas Surga Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Catatan kaki:[1]     Fathul Baari, 11/466.[2]    Faidah ini kami dapatkan dari penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA dalam salah satu majelis beliau: https://www.youtube.com/watch?v=g603s6BUrag&t=1203s🔍 Syekh Al Bani, Tentang Iman, Alam Barzah Dalam Al Quran, Biaya Ibnu Hajar Boarding School, Jadwal Waktu Sholat Ashar

Kutunggu Engkau di Telagaku (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Kutunggu Engkau di Telagaku (Bag. 3)Letak Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkaitan dengan di manakah letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ulama berbeda menjadi dua pendapat.Pendapat pertama, letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah shirath (jembatan di atas neraka jahannam). Pendapat ini adalah dzahir dari pendapat Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala, karena di dalam kitab Shahih-nya, beliau meletakkan bab al-haudh setelah bab shirath. Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala berkata,“Penyebutan hadits-hadits al-haudh oleh Imam Bukhari setelah menyebutkan hadits-hadits tentang syafa’at dan setelah shirath, adalah isyarat dari beliau bahwa letak telaga Nabi adalah setelah melewati shirath.” [1]Pendapat ke dua, telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terletak sebelum shirath, yaitu ketika di padang Mahsyar. Inilah yang dipilih oleh Al-Qurthubi, Ibnu Katsir rahimahumullah dan dikuatkan oleh banyak ulama lainnya.Alasannya adalah terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa sebagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari telaga, sebagaimana yang telah kami jelaskan di seri sebelumnya. Mereka ini adalah orang-orang yang murtad, pelaku dosa besar yang jatuh ke neraka ketika tidak berhasil melewati shirath. Sehingga orang-orang yang melewati shirath adalah yang selamat dari neraka. Jika telaga itu terletak setelah shirath, bagaimana mungkin orang-orang yang sudah jatuh ke dalam neraka tersebut, mereka masih bisa mendatangi shirath, meskipun kemudian diusir?Hal ini pun sesuai dengan kondisi ketika itu, yaitu manusia sangat butuh air minum ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di Mahsyar. Ketika itu, mereka menunggu dalam waktu yang sangat lama sehingga mereka pun akhirnya kehausan. Sehingga tepatlah ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu umatnya di telaga sehingga meskipun masa penantian di Mahsyar sangat lama, mereka tidak pernah kehausan.Berapakah Jumlah Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Pembahasan yang terkait dengan letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang jumlah telaga yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak ulama menyebutkan bahwa telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua. Telaga pertama terletak sebelum shirath (yaitu di padang Mahsyar), sedangkan telaga ke dua terletak setelah shirath yang disebut dengan telaga al-kautsar. Sehingga umat beliau minum dari telaga Nabi sebelum melintasi shirath, dan juga minum di telaga Nabi setelah melintasi shirath, yaitu ketika sudah di dekat surga atau ketika di surga.Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa telaga Nabi hanya satu saja, yaitu yang ada sebelum shirath. Adapun setelah shirath, yaitu al-kautsar, adalah nama sungai yang terletak di surga, yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)Al-kautsar adalah nama sungai di surga adalah berdasarkan hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِنَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِينُهُ – أَوْ طِيبُهُ – مِسْكٌ أَذْفَرُ“Ketika kami berjalan di surga, tiba-tiba ada sungai yang pinggirnya berupa kubah dari mutiara berongga. Aku bertanya, ‘Apa ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Inilah al-kautsar yang Allah Ta’ala berikan untukmu.’ Ternyata tanahnya atau bau wanginya terbuat dari minyak misk adzfar.” (HR. Bukhari no. 6581)Wallahu Ta’ala a’lam, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama, yang menyatakan bahwa telaga Nabi ada dua [2].  Hal ini karena dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut telaga beliau dengan sebutan al-kautsar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa setelah turun surat Al-Kautsar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya,أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ؟“Apakah kalian tahu, apakah al-kautsar itu?”Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasu-Nya yang lebih mengetahui.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ، هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya al-kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabb-ku kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Al-kautsar adalah telaga yang didatangi umatku pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 400)Telaga Nabi disebut juga dengan al-kautsar berdasarkan tinjauan bahwa kedua telaga tersebut saling bersambung, yaitu antara yang terletak setelah shirath dan telaga yang terletak di Mahsyar. Oleh karena itu, terdapat hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa terdapat dua saluran (pancuran) yang mensuplai air di telaga Nabi yang terdapat di Mahsyar. Suplai air tersebut berasal dari telaga al-kautsar yang ada di surga. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ، أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ“Airnya lebih putih daripada susu, dan lebih manis daripada madu. Di dalamnya ada dua saluran yang memancarkan air (dengan kencang) dari surga. Satu saluran terbuat dari emas, dan yang satu lagi terbuat dari perak.” (HR. Muslim no. 2301)Dikuatkan dengan hadits riwayat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَشْخَبُ فِيهِ مِيزَابَانِ مِنَ الْجَنَّةِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ“Di telaga tersebut terdapat dua saluran air yang tersambung ke surga. Barangsiapa meminum airnya, maka dia tidak akan merasa haus.” (HR. Muslim no. 2300)Kesimpulan dalam masalah ini, telaga Nabi ada dua, satu terletak di Mahsyar (sebelum shirath) dan satu lagi terletak setelah shirath, yaitu di surga. Air telaga Nabi di Mahsyar disuplai dari telaga Nabi (al-kaustar) yang ada di surga. Sehingga jadilah air telaga Nabi yang ada di Mahsyar itu lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu dan lebih harum dari minyak misk [2].[Bersambung] ***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 26 Rabi’uts Tsani 1439/ 13 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Baca juga: Apakah Penduduk Surga Mengalami Tidur? Sifat-Sifat Khamr Surgawi Tunaikan Amalan Wajib, Berhak Atas Surga Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Catatan kaki:[1]     Fathul Baari, 11/466.[2]    Faidah ini kami dapatkan dari penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA dalam salah satu majelis beliau: https://www.youtube.com/watch?v=g603s6BUrag&t=1203s🔍 Syekh Al Bani, Tentang Iman, Alam Barzah Dalam Al Quran, Biaya Ibnu Hajar Boarding School, Jadwal Waktu Sholat Ashar
Baca pembahasan sebelumnya Kutunggu Engkau di Telagaku (Bag. 3)Letak Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkaitan dengan di manakah letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ulama berbeda menjadi dua pendapat.Pendapat pertama, letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah shirath (jembatan di atas neraka jahannam). Pendapat ini adalah dzahir dari pendapat Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala, karena di dalam kitab Shahih-nya, beliau meletakkan bab al-haudh setelah bab shirath. Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala berkata,“Penyebutan hadits-hadits al-haudh oleh Imam Bukhari setelah menyebutkan hadits-hadits tentang syafa’at dan setelah shirath, adalah isyarat dari beliau bahwa letak telaga Nabi adalah setelah melewati shirath.” [1]Pendapat ke dua, telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terletak sebelum shirath, yaitu ketika di padang Mahsyar. Inilah yang dipilih oleh Al-Qurthubi, Ibnu Katsir rahimahumullah dan dikuatkan oleh banyak ulama lainnya.Alasannya adalah terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa sebagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari telaga, sebagaimana yang telah kami jelaskan di seri sebelumnya. Mereka ini adalah orang-orang yang murtad, pelaku dosa besar yang jatuh ke neraka ketika tidak berhasil melewati shirath. Sehingga orang-orang yang melewati shirath adalah yang selamat dari neraka. Jika telaga itu terletak setelah shirath, bagaimana mungkin orang-orang yang sudah jatuh ke dalam neraka tersebut, mereka masih bisa mendatangi shirath, meskipun kemudian diusir?Hal ini pun sesuai dengan kondisi ketika itu, yaitu manusia sangat butuh air minum ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di Mahsyar. Ketika itu, mereka menunggu dalam waktu yang sangat lama sehingga mereka pun akhirnya kehausan. Sehingga tepatlah ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu umatnya di telaga sehingga meskipun masa penantian di Mahsyar sangat lama, mereka tidak pernah kehausan.Berapakah Jumlah Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Pembahasan yang terkait dengan letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang jumlah telaga yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak ulama menyebutkan bahwa telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua. Telaga pertama terletak sebelum shirath (yaitu di padang Mahsyar), sedangkan telaga ke dua terletak setelah shirath yang disebut dengan telaga al-kautsar. Sehingga umat beliau minum dari telaga Nabi sebelum melintasi shirath, dan juga minum di telaga Nabi setelah melintasi shirath, yaitu ketika sudah di dekat surga atau ketika di surga.Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa telaga Nabi hanya satu saja, yaitu yang ada sebelum shirath. Adapun setelah shirath, yaitu al-kautsar, adalah nama sungai yang terletak di surga, yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)Al-kautsar adalah nama sungai di surga adalah berdasarkan hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِنَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِينُهُ – أَوْ طِيبُهُ – مِسْكٌ أَذْفَرُ“Ketika kami berjalan di surga, tiba-tiba ada sungai yang pinggirnya berupa kubah dari mutiara berongga. Aku bertanya, ‘Apa ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Inilah al-kautsar yang Allah Ta’ala berikan untukmu.’ Ternyata tanahnya atau bau wanginya terbuat dari minyak misk adzfar.” (HR. Bukhari no. 6581)Wallahu Ta’ala a’lam, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama, yang menyatakan bahwa telaga Nabi ada dua [2].  Hal ini karena dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut telaga beliau dengan sebutan al-kautsar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa setelah turun surat Al-Kautsar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya,أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ؟“Apakah kalian tahu, apakah al-kautsar itu?”Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasu-Nya yang lebih mengetahui.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ، هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya al-kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabb-ku kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Al-kautsar adalah telaga yang didatangi umatku pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 400)Telaga Nabi disebut juga dengan al-kautsar berdasarkan tinjauan bahwa kedua telaga tersebut saling bersambung, yaitu antara yang terletak setelah shirath dan telaga yang terletak di Mahsyar. Oleh karena itu, terdapat hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa terdapat dua saluran (pancuran) yang mensuplai air di telaga Nabi yang terdapat di Mahsyar. Suplai air tersebut berasal dari telaga al-kautsar yang ada di surga. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ، أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ“Airnya lebih putih daripada susu, dan lebih manis daripada madu. Di dalamnya ada dua saluran yang memancarkan air (dengan kencang) dari surga. Satu saluran terbuat dari emas, dan yang satu lagi terbuat dari perak.” (HR. Muslim no. 2301)Dikuatkan dengan hadits riwayat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَشْخَبُ فِيهِ مِيزَابَانِ مِنَ الْجَنَّةِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ“Di telaga tersebut terdapat dua saluran air yang tersambung ke surga. Barangsiapa meminum airnya, maka dia tidak akan merasa haus.” (HR. Muslim no. 2300)Kesimpulan dalam masalah ini, telaga Nabi ada dua, satu terletak di Mahsyar (sebelum shirath) dan satu lagi terletak setelah shirath, yaitu di surga. Air telaga Nabi di Mahsyar disuplai dari telaga Nabi (al-kaustar) yang ada di surga. Sehingga jadilah air telaga Nabi yang ada di Mahsyar itu lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu dan lebih harum dari minyak misk [2].[Bersambung] ***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 26 Rabi’uts Tsani 1439/ 13 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Baca juga: Apakah Penduduk Surga Mengalami Tidur? Sifat-Sifat Khamr Surgawi Tunaikan Amalan Wajib, Berhak Atas Surga Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Catatan kaki:[1]     Fathul Baari, 11/466.[2]    Faidah ini kami dapatkan dari penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA dalam salah satu majelis beliau: https://www.youtube.com/watch?v=g603s6BUrag&t=1203s🔍 Syekh Al Bani, Tentang Iman, Alam Barzah Dalam Al Quran, Biaya Ibnu Hajar Boarding School, Jadwal Waktu Sholat Ashar


Baca pembahasan sebelumnya Kutunggu Engkau di Telagaku (Bag. 3)Letak Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkaitan dengan di manakah letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ulama berbeda menjadi dua pendapat.Pendapat pertama, letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah shirath (jembatan di atas neraka jahannam). Pendapat ini adalah dzahir dari pendapat Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala, karena di dalam kitab Shahih-nya, beliau meletakkan bab al-haudh setelah bab shirath. Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala berkata,“Penyebutan hadits-hadits al-haudh oleh Imam Bukhari setelah menyebutkan hadits-hadits tentang syafa’at dan setelah shirath, adalah isyarat dari beliau bahwa letak telaga Nabi adalah setelah melewati shirath.” [1]Pendapat ke dua, telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terletak sebelum shirath, yaitu ketika di padang Mahsyar. Inilah yang dipilih oleh Al-Qurthubi, Ibnu Katsir rahimahumullah dan dikuatkan oleh banyak ulama lainnya.Alasannya adalah terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa sebagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari telaga, sebagaimana yang telah kami jelaskan di seri sebelumnya. Mereka ini adalah orang-orang yang murtad, pelaku dosa besar yang jatuh ke neraka ketika tidak berhasil melewati shirath. Sehingga orang-orang yang melewati shirath adalah yang selamat dari neraka. Jika telaga itu terletak setelah shirath, bagaimana mungkin orang-orang yang sudah jatuh ke dalam neraka tersebut, mereka masih bisa mendatangi shirath, meskipun kemudian diusir?Hal ini pun sesuai dengan kondisi ketika itu, yaitu manusia sangat butuh air minum ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di Mahsyar. Ketika itu, mereka menunggu dalam waktu yang sangat lama sehingga mereka pun akhirnya kehausan. Sehingga tepatlah ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu umatnya di telaga sehingga meskipun masa penantian di Mahsyar sangat lama, mereka tidak pernah kehausan.Berapakah Jumlah Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Pembahasan yang terkait dengan letak telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang jumlah telaga yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak ulama menyebutkan bahwa telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua. Telaga pertama terletak sebelum shirath (yaitu di padang Mahsyar), sedangkan telaga ke dua terletak setelah shirath yang disebut dengan telaga al-kautsar. Sehingga umat beliau minum dari telaga Nabi sebelum melintasi shirath, dan juga minum di telaga Nabi setelah melintasi shirath, yaitu ketika sudah di dekat surga atau ketika di surga.Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa telaga Nabi hanya satu saja, yaitu yang ada sebelum shirath. Adapun setelah shirath, yaitu al-kautsar, adalah nama sungai yang terletak di surga, yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)Al-kautsar adalah nama sungai di surga adalah berdasarkan hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِنَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِينُهُ – أَوْ طِيبُهُ – مِسْكٌ أَذْفَرُ“Ketika kami berjalan di surga, tiba-tiba ada sungai yang pinggirnya berupa kubah dari mutiara berongga. Aku bertanya, ‘Apa ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Inilah al-kautsar yang Allah Ta’ala berikan untukmu.’ Ternyata tanahnya atau bau wanginya terbuat dari minyak misk adzfar.” (HR. Bukhari no. 6581)Wallahu Ta’ala a’lam, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama, yang menyatakan bahwa telaga Nabi ada dua [2].  Hal ini karena dalam sebagian riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut telaga beliau dengan sebutan al-kautsar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa setelah turun surat Al-Kautsar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya,أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ؟“Apakah kalian tahu, apakah al-kautsar itu?”Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasu-Nya yang lebih mengetahui.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ، هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya al-kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabb-ku kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Al-kautsar adalah telaga yang didatangi umatku pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 400)Telaga Nabi disebut juga dengan al-kautsar berdasarkan tinjauan bahwa kedua telaga tersebut saling bersambung, yaitu antara yang terletak setelah shirath dan telaga yang terletak di Mahsyar. Oleh karena itu, terdapat hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa terdapat dua saluran (pancuran) yang mensuplai air di telaga Nabi yang terdapat di Mahsyar. Suplai air tersebut berasal dari telaga al-kautsar yang ada di surga. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ، أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ“Airnya lebih putih daripada susu, dan lebih manis daripada madu. Di dalamnya ada dua saluran yang memancarkan air (dengan kencang) dari surga. Satu saluran terbuat dari emas, dan yang satu lagi terbuat dari perak.” (HR. Muslim no. 2301)Dikuatkan dengan hadits riwayat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَشْخَبُ فِيهِ مِيزَابَانِ مِنَ الْجَنَّةِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ“Di telaga tersebut terdapat dua saluran air yang tersambung ke surga. Barangsiapa meminum airnya, maka dia tidak akan merasa haus.” (HR. Muslim no. 2300)Kesimpulan dalam masalah ini, telaga Nabi ada dua, satu terletak di Mahsyar (sebelum shirath) dan satu lagi terletak setelah shirath, yaitu di surga. Air telaga Nabi di Mahsyar disuplai dari telaga Nabi (al-kaustar) yang ada di surga. Sehingga jadilah air telaga Nabi yang ada di Mahsyar itu lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu dan lebih harum dari minyak misk [2].[Bersambung] ***Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 26 Rabi’uts Tsani 1439/ 13 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Baca juga: Apakah Penduduk Surga Mengalami Tidur? Sifat-Sifat Khamr Surgawi Tunaikan Amalan Wajib, Berhak Atas Surga Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Catatan kaki:[1]     Fathul Baari, 11/466.[2]    Faidah ini kami dapatkan dari penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA dalam salah satu majelis beliau: https://www.youtube.com/watch?v=g603s6BUrag&t=1203s🔍 Syekh Al Bani, Tentang Iman, Alam Barzah Dalam Al Quran, Biaya Ibnu Hajar Boarding School, Jadwal Waktu Sholat Ashar

Gempa Bumi Bukan Sekedar Fenomena Alam

Memang benar, gempa bumi terjadi karena fenomena alam semisal pergerakan lempeng bumi dan lain-lain, akan tetapi bagi orang yang beriman, gempa bukan hanya sekedar bencana alam, akan tetapi juga tanda peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada agamanya dan menjauhi maksiat. Allah yang menjadikan pergerakan lempeng bumi dan terjadilah gempa atas izin Allah.Allah mengirim gempa dan bencana alam sebagai peringatan kepada manusia.Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻧُﺮْﺳِﻞُ ﺑِﺎﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﺨْﻮِﻳﻔًﺎ“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS:Al-Isra’: 59).Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa agar dengan sebab ini manusia sadar dan jera dari bermaksiat terus-menerus, beliau berkataالمقصود منها التخويف والترهيب ليرتدعوا عن ما هم عليه“Maksud ayat ini adalah memberikan rasa takut agar manusia jera (efek jera dan berhenti) melakukan maksiat saat itu” (Tafsir As-Sa’di).Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata,ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺘﻨﻔﺲ ﻓﺘﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﺍﻟﻌﻈﺎﻡ ﻓﻴﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﺍﻟﺨﺸﻴﺔ ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﻭﺍﻹﻗﻼﻉ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺍﻟﻨﺪﻡ“Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” (Miftah Daris Sa’adah 1/221).Musibah karena akibat perbuatan kita sendiriPerlu diketahui bahwa segala musibah dan kesusahan dunia adalah disebabkan dosa kita dan akibat perbuatan manusia sendiri.Allah Ta’ala berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rum: 41).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).Allah Ta’ala berfirman,مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (An-Nisa: 79).Dan peringatan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kerusakan dan musibah yang terjadi pada manusia karena banyaknya maksiat. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ وَمَا لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا ظَهَرَ فِيهِمُ الأَمْرَاضُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أَسْلَافِهِمِ وَمَا مَنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَ مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. Tidaklah muncul perbuatan keji (Zina,merampok, minum khamr, judi, dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka menahan (tidak mengeluarkan) zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka” (HR Ibnu Majah, ash-Shahihah no. 106).Kita pun diperintahkan agar beristigfar ketika terjadi gempa. Istigfar sangat mudah dilakukan dan itulah seharusnya yang dilakukan ketika terjadi gempa, bukan teriak-teriak atau kata-kata yang menunjukkan penyesalan dan murka atas takdir Allah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,” الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه , والضراعة إليه وسؤاله العافية , والإكثار من ذكره واستغفاره“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” (Majmu’ Fatawa 150/152-9).@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rahasia Surat Al Fatihah, Hadits Tentang Bela Negara, Do A Iftitah, Hadits Lengkap, Makna Iman Kepada Malaikat Berdasarkan Dalil Naqli

Gempa Bumi Bukan Sekedar Fenomena Alam

Memang benar, gempa bumi terjadi karena fenomena alam semisal pergerakan lempeng bumi dan lain-lain, akan tetapi bagi orang yang beriman, gempa bukan hanya sekedar bencana alam, akan tetapi juga tanda peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada agamanya dan menjauhi maksiat. Allah yang menjadikan pergerakan lempeng bumi dan terjadilah gempa atas izin Allah.Allah mengirim gempa dan bencana alam sebagai peringatan kepada manusia.Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻧُﺮْﺳِﻞُ ﺑِﺎﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﺨْﻮِﻳﻔًﺎ“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS:Al-Isra’: 59).Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa agar dengan sebab ini manusia sadar dan jera dari bermaksiat terus-menerus, beliau berkataالمقصود منها التخويف والترهيب ليرتدعوا عن ما هم عليه“Maksud ayat ini adalah memberikan rasa takut agar manusia jera (efek jera dan berhenti) melakukan maksiat saat itu” (Tafsir As-Sa’di).Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata,ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺘﻨﻔﺲ ﻓﺘﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﺍﻟﻌﻈﺎﻡ ﻓﻴﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﺍﻟﺨﺸﻴﺔ ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﻭﺍﻹﻗﻼﻉ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺍﻟﻨﺪﻡ“Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” (Miftah Daris Sa’adah 1/221).Musibah karena akibat perbuatan kita sendiriPerlu diketahui bahwa segala musibah dan kesusahan dunia adalah disebabkan dosa kita dan akibat perbuatan manusia sendiri.Allah Ta’ala berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rum: 41).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).Allah Ta’ala berfirman,مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (An-Nisa: 79).Dan peringatan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kerusakan dan musibah yang terjadi pada manusia karena banyaknya maksiat. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ وَمَا لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا ظَهَرَ فِيهِمُ الأَمْرَاضُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أَسْلَافِهِمِ وَمَا مَنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَ مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. Tidaklah muncul perbuatan keji (Zina,merampok, minum khamr, judi, dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka menahan (tidak mengeluarkan) zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka” (HR Ibnu Majah, ash-Shahihah no. 106).Kita pun diperintahkan agar beristigfar ketika terjadi gempa. Istigfar sangat mudah dilakukan dan itulah seharusnya yang dilakukan ketika terjadi gempa, bukan teriak-teriak atau kata-kata yang menunjukkan penyesalan dan murka atas takdir Allah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,” الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه , والضراعة إليه وسؤاله العافية , والإكثار من ذكره واستغفاره“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” (Majmu’ Fatawa 150/152-9).@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rahasia Surat Al Fatihah, Hadits Tentang Bela Negara, Do A Iftitah, Hadits Lengkap, Makna Iman Kepada Malaikat Berdasarkan Dalil Naqli
Memang benar, gempa bumi terjadi karena fenomena alam semisal pergerakan lempeng bumi dan lain-lain, akan tetapi bagi orang yang beriman, gempa bukan hanya sekedar bencana alam, akan tetapi juga tanda peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada agamanya dan menjauhi maksiat. Allah yang menjadikan pergerakan lempeng bumi dan terjadilah gempa atas izin Allah.Allah mengirim gempa dan bencana alam sebagai peringatan kepada manusia.Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻧُﺮْﺳِﻞُ ﺑِﺎﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﺨْﻮِﻳﻔًﺎ“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS:Al-Isra’: 59).Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa agar dengan sebab ini manusia sadar dan jera dari bermaksiat terus-menerus, beliau berkataالمقصود منها التخويف والترهيب ليرتدعوا عن ما هم عليه“Maksud ayat ini adalah memberikan rasa takut agar manusia jera (efek jera dan berhenti) melakukan maksiat saat itu” (Tafsir As-Sa’di).Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata,ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺘﻨﻔﺲ ﻓﺘﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﺍﻟﻌﻈﺎﻡ ﻓﻴﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﺍﻟﺨﺸﻴﺔ ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﻭﺍﻹﻗﻼﻉ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺍﻟﻨﺪﻡ“Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” (Miftah Daris Sa’adah 1/221).Musibah karena akibat perbuatan kita sendiriPerlu diketahui bahwa segala musibah dan kesusahan dunia adalah disebabkan dosa kita dan akibat perbuatan manusia sendiri.Allah Ta’ala berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rum: 41).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).Allah Ta’ala berfirman,مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (An-Nisa: 79).Dan peringatan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kerusakan dan musibah yang terjadi pada manusia karena banyaknya maksiat. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ وَمَا لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا ظَهَرَ فِيهِمُ الأَمْرَاضُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أَسْلَافِهِمِ وَمَا مَنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَ مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. Tidaklah muncul perbuatan keji (Zina,merampok, minum khamr, judi, dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka menahan (tidak mengeluarkan) zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka” (HR Ibnu Majah, ash-Shahihah no. 106).Kita pun diperintahkan agar beristigfar ketika terjadi gempa. Istigfar sangat mudah dilakukan dan itulah seharusnya yang dilakukan ketika terjadi gempa, bukan teriak-teriak atau kata-kata yang menunjukkan penyesalan dan murka atas takdir Allah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,” الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه , والضراعة إليه وسؤاله العافية , والإكثار من ذكره واستغفاره“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” (Majmu’ Fatawa 150/152-9).@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rahasia Surat Al Fatihah, Hadits Tentang Bela Negara, Do A Iftitah, Hadits Lengkap, Makna Iman Kepada Malaikat Berdasarkan Dalil Naqli


Memang benar, gempa bumi terjadi karena fenomena alam semisal pergerakan lempeng bumi dan lain-lain, akan tetapi bagi orang yang beriman, gempa bukan hanya sekedar bencana alam, akan tetapi juga tanda peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada agamanya dan menjauhi maksiat. Allah yang menjadikan pergerakan lempeng bumi dan terjadilah gempa atas izin Allah.Allah mengirim gempa dan bencana alam sebagai peringatan kepada manusia.Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻧُﺮْﺳِﻞُ ﺑِﺎﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﺨْﻮِﻳﻔًﺎ“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS:Al-Isra’: 59).Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa agar dengan sebab ini manusia sadar dan jera dari bermaksiat terus-menerus, beliau berkataالمقصود منها التخويف والترهيب ليرتدعوا عن ما هم عليه“Maksud ayat ini adalah memberikan rasa takut agar manusia jera (efek jera dan berhenti) melakukan maksiat saat itu” (Tafsir As-Sa’di).Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata,ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺘﻨﻔﺲ ﻓﺘﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﺍﻟﻌﻈﺎﻡ ﻓﻴﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﺍﻟﺨﺸﻴﺔ ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﻭﺍﻹﻗﻼﻉ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺍﻟﻨﺪﻡ“Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” (Miftah Daris Sa’adah 1/221).Musibah karena akibat perbuatan kita sendiriPerlu diketahui bahwa segala musibah dan kesusahan dunia adalah disebabkan dosa kita dan akibat perbuatan manusia sendiri.Allah Ta’ala berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rum: 41).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).Allah Ta’ala berfirman,مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (An-Nisa: 79).Dan peringatan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kerusakan dan musibah yang terjadi pada manusia karena banyaknya maksiat. Beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ وَمَا لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا ظَهَرَ فِيهِمُ الأَمْرَاضُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أَسْلَافِهِمِ وَمَا مَنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَ مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. Tidaklah muncul perbuatan keji (Zina,merampok, minum khamr, judi, dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka menahan (tidak mengeluarkan) zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka” (HR Ibnu Majah, ash-Shahihah no. 106).Kita pun diperintahkan agar beristigfar ketika terjadi gempa. Istigfar sangat mudah dilakukan dan itulah seharusnya yang dilakukan ketika terjadi gempa, bukan teriak-teriak atau kata-kata yang menunjukkan penyesalan dan murka atas takdir Allah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,” الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه , والضراعة إليه وسؤاله العافية , والإكثار من ذكره واستغفاره“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” (Majmu’ Fatawa 150/152-9).@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rahasia Surat Al Fatihah, Hadits Tentang Bela Negara, Do A Iftitah, Hadits Lengkap, Makna Iman Kepada Malaikat Berdasarkan Dalil Naqli

Tanda Kiamat: Munculnya Gunung Emas

Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi

Tanda Kiamat: Munculnya Gunung Emas

Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi
Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi


Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi

Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyyah (Bag. 1)

Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh

Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyyah (Bag. 1)

Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh
Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh


Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam
Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam


Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 2)Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Ilmu yang Paling Utama dan Paling Penting Secara MutlakSesungguhnya kemuliaan sebuah ilmu itu mengikuti kemuliaan sesuatu yang dipelajarinya. Terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan di dunia ini, di antaranya ilmu tentang lautan, lapisan-lapisan bumi, hewan-hewan, astronomi/perbintangan, dan lainnya. Selain itu, terdapat juga ilmu tentang mengenal Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Maka tidaklah diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia dan paling agung adalah pengetahuan tentang Allah Ta’ala. Dia-lah Rabb alam semesta ini, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Manusia sangat butuh untuk mempelajari ilmu ini karena begitu agungnya manfaat yang akan didapatkan. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung. Membandingkannya dengan seluruh ilmu lainnya seperti membandingkan objek yang dipelajarinya (yaitu Allah Ta’ala) dengan seluruh objek ilmu yang lainnya. [1]Senada dengan penjelasan di atas adalah perkatan Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,فَإِنَّ شَرَفَ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ ، وَالْبَارِي أَشْرَفُ الْمَعْلُومَاتِ ؛ فَالْعِلْمُ بِأَسْمَائِهِ أَشْرَفُ الْعُلُومِ”Kemuliaan sebuah ilmu itu tergantung pada kemuliaan objek yang dipelajarinya. Sedangkan Al-Baari (yaitu Allah) adalah Dzat yang paling mulia. Maka ilmu tentang nama-namaNya adalah ilmu yang paling mulia.” [2]Jika ada yang bertanya,”Ilmu hanyalah sarana untuk beramal dan dimaksudkan untuk beramal. Sedangkan tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk diamalkan. Dan telah diketahui bahwa tujuan itu lebih mulia daripada sarana. Maka bagaimana Engkau lebih mengutamakan sarana (ilmu) daripada tujuan (beramal)?”Maka kita katakan kepadanya, bahwa ilmu dan amal itu sendiri masing-masing terbagi menjadi dua macam. Di antaranya ada yang menjadi sarana, dan ada pula yang merupakan tujuan. Sehingga tidaklah semua ilmu itu merupakan sarana untuk meraih yang lainnya. Adapun ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia secara mutlak serta merupakan tujuan itu sendiri (bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lainnya).Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 12)Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Dia menciptakan langit dan bumi serta di antara keduanya agar hamba-Nya mengetahui bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga ilmu ini merupakan tujuan dari penciptaan. Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”Ketahuilah bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19)Maka ilmu tentang keesaan Allah Ta’ala, bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata, merupakan tujuan itu sendiri, dan bukan sarana. Meskipun tidaklah cukup ilmu tentang hal itu saja, akan tetapi harus disertai pula dengan peribadatan kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya.Oleh karena itu, terdapat dua tujuan yang harus diraih oleh manusia. Pertama, mengenal Allah Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifatNya. Ke dua, beribadah kepada Allah Ta’ala sebagai tuntutan dan konsekuensi dari pengenalannya kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ibadah merupakan tujuan yang ingin dicapai, maka demikian pula ilmu dan pengenalan tentang Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya ilmu merupakan ibadah yang paling utama. [3]Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Pokok Ilmu AgamaSebagaimana ilmu tentang nama dan sifat Allah Ta’ala merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung, maka ilmu tersebut merupakan pokok segala jenis ilmu. Setiap ilmu lainnya merupakan cabang dari ilmu tentang-Nya dan sangat membutuhkannya. Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan dasar dan pokok segala ilmu. Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia akan mengenal selain-Nya. Dan barangsiapa yang bodoh tentang Allah, maka dia akan lebih bodoh lagi terhadap selain-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Renungkanlah ayat ini, maka akan kita dapatkan makna yang dalam. Yaitu, barangsiapa yang lupa terhadap Rabb-nya, niscaya Allah Ta’ala akan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri. Dia tidak lagi mengenal hakikat dirinya sendiri dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan dia akan lupa terhadap sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya. Karena dia telah keluar dari fitrah penciptaannya sehingga lupa kepada Rabb-nya. Sehingga Allah Ta’ala pun membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri dan kepada apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Mereka lalai dari mengingat Rabb-nya sehingga membuat dirinya melampaui batas. Dia tidak lagi memperhatikan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya serta apa yang dapat membersihkan dirinya. Bahkan dia telah mencerai-beraikan isi hatinya, menyia-nyiakannya, melalaikan kebaikannya, dan dia pun kebingungan tanpa arah.Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan modal berharga bagi seorang hamba untuk meraih kebahagiaan, kesempurnaan, dan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sedangkan kebodohan tentang ilmu tersebut, menimbulkan konsekuensi bodohnya dirinya terhadap dirinya sendiri, kebaikannya, dan kesempurnaannya serta bodoh tentang hal-hal yang bisa membahagiakan dirinya. Maka ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kebahagiaan seorang hamba, sedangkan bodoh tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kesengsaraan dirinya.[Bersambung]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Miftaah Daaris Sa’adah, 1/86; Al-Mujalla, hal. 22.[2]     Ahkaam Al-Qur’an, 4/39.[3]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/178.[4]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/86.🔍 Tertawa Dalam Islam, Hukum Shalat Berjamaah Di Masjid Bagi Wanita, Doa Sholat Dhuha Shahih, Surah Tentang Ramadhan, Hari Keberapa Boleh Berhubungan Setelah Haid

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 2)Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Ilmu yang Paling Utama dan Paling Penting Secara MutlakSesungguhnya kemuliaan sebuah ilmu itu mengikuti kemuliaan sesuatu yang dipelajarinya. Terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan di dunia ini, di antaranya ilmu tentang lautan, lapisan-lapisan bumi, hewan-hewan, astronomi/perbintangan, dan lainnya. Selain itu, terdapat juga ilmu tentang mengenal Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Maka tidaklah diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia dan paling agung adalah pengetahuan tentang Allah Ta’ala. Dia-lah Rabb alam semesta ini, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Manusia sangat butuh untuk mempelajari ilmu ini karena begitu agungnya manfaat yang akan didapatkan. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung. Membandingkannya dengan seluruh ilmu lainnya seperti membandingkan objek yang dipelajarinya (yaitu Allah Ta’ala) dengan seluruh objek ilmu yang lainnya. [1]Senada dengan penjelasan di atas adalah perkatan Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,فَإِنَّ شَرَفَ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ ، وَالْبَارِي أَشْرَفُ الْمَعْلُومَاتِ ؛ فَالْعِلْمُ بِأَسْمَائِهِ أَشْرَفُ الْعُلُومِ”Kemuliaan sebuah ilmu itu tergantung pada kemuliaan objek yang dipelajarinya. Sedangkan Al-Baari (yaitu Allah) adalah Dzat yang paling mulia. Maka ilmu tentang nama-namaNya adalah ilmu yang paling mulia.” [2]Jika ada yang bertanya,”Ilmu hanyalah sarana untuk beramal dan dimaksudkan untuk beramal. Sedangkan tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk diamalkan. Dan telah diketahui bahwa tujuan itu lebih mulia daripada sarana. Maka bagaimana Engkau lebih mengutamakan sarana (ilmu) daripada tujuan (beramal)?”Maka kita katakan kepadanya, bahwa ilmu dan amal itu sendiri masing-masing terbagi menjadi dua macam. Di antaranya ada yang menjadi sarana, dan ada pula yang merupakan tujuan. Sehingga tidaklah semua ilmu itu merupakan sarana untuk meraih yang lainnya. Adapun ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia secara mutlak serta merupakan tujuan itu sendiri (bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lainnya).Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 12)Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Dia menciptakan langit dan bumi serta di antara keduanya agar hamba-Nya mengetahui bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga ilmu ini merupakan tujuan dari penciptaan. Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”Ketahuilah bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19)Maka ilmu tentang keesaan Allah Ta’ala, bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata, merupakan tujuan itu sendiri, dan bukan sarana. Meskipun tidaklah cukup ilmu tentang hal itu saja, akan tetapi harus disertai pula dengan peribadatan kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya.Oleh karena itu, terdapat dua tujuan yang harus diraih oleh manusia. Pertama, mengenal Allah Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifatNya. Ke dua, beribadah kepada Allah Ta’ala sebagai tuntutan dan konsekuensi dari pengenalannya kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ibadah merupakan tujuan yang ingin dicapai, maka demikian pula ilmu dan pengenalan tentang Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya ilmu merupakan ibadah yang paling utama. [3]Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Pokok Ilmu AgamaSebagaimana ilmu tentang nama dan sifat Allah Ta’ala merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung, maka ilmu tersebut merupakan pokok segala jenis ilmu. Setiap ilmu lainnya merupakan cabang dari ilmu tentang-Nya dan sangat membutuhkannya. Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan dasar dan pokok segala ilmu. Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia akan mengenal selain-Nya. Dan barangsiapa yang bodoh tentang Allah, maka dia akan lebih bodoh lagi terhadap selain-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Renungkanlah ayat ini, maka akan kita dapatkan makna yang dalam. Yaitu, barangsiapa yang lupa terhadap Rabb-nya, niscaya Allah Ta’ala akan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri. Dia tidak lagi mengenal hakikat dirinya sendiri dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan dia akan lupa terhadap sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya. Karena dia telah keluar dari fitrah penciptaannya sehingga lupa kepada Rabb-nya. Sehingga Allah Ta’ala pun membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri dan kepada apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Mereka lalai dari mengingat Rabb-nya sehingga membuat dirinya melampaui batas. Dia tidak lagi memperhatikan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya serta apa yang dapat membersihkan dirinya. Bahkan dia telah mencerai-beraikan isi hatinya, menyia-nyiakannya, melalaikan kebaikannya, dan dia pun kebingungan tanpa arah.Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan modal berharga bagi seorang hamba untuk meraih kebahagiaan, kesempurnaan, dan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sedangkan kebodohan tentang ilmu tersebut, menimbulkan konsekuensi bodohnya dirinya terhadap dirinya sendiri, kebaikannya, dan kesempurnaannya serta bodoh tentang hal-hal yang bisa membahagiakan dirinya. Maka ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kebahagiaan seorang hamba, sedangkan bodoh tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kesengsaraan dirinya.[Bersambung]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Miftaah Daaris Sa’adah, 1/86; Al-Mujalla, hal. 22.[2]     Ahkaam Al-Qur’an, 4/39.[3]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/178.[4]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/86.🔍 Tertawa Dalam Islam, Hukum Shalat Berjamaah Di Masjid Bagi Wanita, Doa Sholat Dhuha Shahih, Surah Tentang Ramadhan, Hari Keberapa Boleh Berhubungan Setelah Haid
Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 2)Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Ilmu yang Paling Utama dan Paling Penting Secara MutlakSesungguhnya kemuliaan sebuah ilmu itu mengikuti kemuliaan sesuatu yang dipelajarinya. Terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan di dunia ini, di antaranya ilmu tentang lautan, lapisan-lapisan bumi, hewan-hewan, astronomi/perbintangan, dan lainnya. Selain itu, terdapat juga ilmu tentang mengenal Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Maka tidaklah diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia dan paling agung adalah pengetahuan tentang Allah Ta’ala. Dia-lah Rabb alam semesta ini, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Manusia sangat butuh untuk mempelajari ilmu ini karena begitu agungnya manfaat yang akan didapatkan. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung. Membandingkannya dengan seluruh ilmu lainnya seperti membandingkan objek yang dipelajarinya (yaitu Allah Ta’ala) dengan seluruh objek ilmu yang lainnya. [1]Senada dengan penjelasan di atas adalah perkatan Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,فَإِنَّ شَرَفَ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ ، وَالْبَارِي أَشْرَفُ الْمَعْلُومَاتِ ؛ فَالْعِلْمُ بِأَسْمَائِهِ أَشْرَفُ الْعُلُومِ”Kemuliaan sebuah ilmu itu tergantung pada kemuliaan objek yang dipelajarinya. Sedangkan Al-Baari (yaitu Allah) adalah Dzat yang paling mulia. Maka ilmu tentang nama-namaNya adalah ilmu yang paling mulia.” [2]Jika ada yang bertanya,”Ilmu hanyalah sarana untuk beramal dan dimaksudkan untuk beramal. Sedangkan tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk diamalkan. Dan telah diketahui bahwa tujuan itu lebih mulia daripada sarana. Maka bagaimana Engkau lebih mengutamakan sarana (ilmu) daripada tujuan (beramal)?”Maka kita katakan kepadanya, bahwa ilmu dan amal itu sendiri masing-masing terbagi menjadi dua macam. Di antaranya ada yang menjadi sarana, dan ada pula yang merupakan tujuan. Sehingga tidaklah semua ilmu itu merupakan sarana untuk meraih yang lainnya. Adapun ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia secara mutlak serta merupakan tujuan itu sendiri (bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lainnya).Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 12)Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Dia menciptakan langit dan bumi serta di antara keduanya agar hamba-Nya mengetahui bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga ilmu ini merupakan tujuan dari penciptaan. Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”Ketahuilah bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19)Maka ilmu tentang keesaan Allah Ta’ala, bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata, merupakan tujuan itu sendiri, dan bukan sarana. Meskipun tidaklah cukup ilmu tentang hal itu saja, akan tetapi harus disertai pula dengan peribadatan kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya.Oleh karena itu, terdapat dua tujuan yang harus diraih oleh manusia. Pertama, mengenal Allah Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifatNya. Ke dua, beribadah kepada Allah Ta’ala sebagai tuntutan dan konsekuensi dari pengenalannya kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ibadah merupakan tujuan yang ingin dicapai, maka demikian pula ilmu dan pengenalan tentang Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya ilmu merupakan ibadah yang paling utama. [3]Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Pokok Ilmu AgamaSebagaimana ilmu tentang nama dan sifat Allah Ta’ala merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung, maka ilmu tersebut merupakan pokok segala jenis ilmu. Setiap ilmu lainnya merupakan cabang dari ilmu tentang-Nya dan sangat membutuhkannya. Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan dasar dan pokok segala ilmu. Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia akan mengenal selain-Nya. Dan barangsiapa yang bodoh tentang Allah, maka dia akan lebih bodoh lagi terhadap selain-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Renungkanlah ayat ini, maka akan kita dapatkan makna yang dalam. Yaitu, barangsiapa yang lupa terhadap Rabb-nya, niscaya Allah Ta’ala akan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri. Dia tidak lagi mengenal hakikat dirinya sendiri dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan dia akan lupa terhadap sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya. Karena dia telah keluar dari fitrah penciptaannya sehingga lupa kepada Rabb-nya. Sehingga Allah Ta’ala pun membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri dan kepada apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Mereka lalai dari mengingat Rabb-nya sehingga membuat dirinya melampaui batas. Dia tidak lagi memperhatikan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya serta apa yang dapat membersihkan dirinya. Bahkan dia telah mencerai-beraikan isi hatinya, menyia-nyiakannya, melalaikan kebaikannya, dan dia pun kebingungan tanpa arah.Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan modal berharga bagi seorang hamba untuk meraih kebahagiaan, kesempurnaan, dan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sedangkan kebodohan tentang ilmu tersebut, menimbulkan konsekuensi bodohnya dirinya terhadap dirinya sendiri, kebaikannya, dan kesempurnaannya serta bodoh tentang hal-hal yang bisa membahagiakan dirinya. Maka ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kebahagiaan seorang hamba, sedangkan bodoh tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kesengsaraan dirinya.[Bersambung]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Miftaah Daaris Sa’adah, 1/86; Al-Mujalla, hal. 22.[2]     Ahkaam Al-Qur’an, 4/39.[3]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/178.[4]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/86.🔍 Tertawa Dalam Islam, Hukum Shalat Berjamaah Di Masjid Bagi Wanita, Doa Sholat Dhuha Shahih, Surah Tentang Ramadhan, Hari Keberapa Boleh Berhubungan Setelah Haid


Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 2)Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Ilmu yang Paling Utama dan Paling Penting Secara MutlakSesungguhnya kemuliaan sebuah ilmu itu mengikuti kemuliaan sesuatu yang dipelajarinya. Terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan di dunia ini, di antaranya ilmu tentang lautan, lapisan-lapisan bumi, hewan-hewan, astronomi/perbintangan, dan lainnya. Selain itu, terdapat juga ilmu tentang mengenal Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Maka tidaklah diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia dan paling agung adalah pengetahuan tentang Allah Ta’ala. Dia-lah Rabb alam semesta ini, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Manusia sangat butuh untuk mempelajari ilmu ini karena begitu agungnya manfaat yang akan didapatkan. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung. Membandingkannya dengan seluruh ilmu lainnya seperti membandingkan objek yang dipelajarinya (yaitu Allah Ta’ala) dengan seluruh objek ilmu yang lainnya. [1]Senada dengan penjelasan di atas adalah perkatan Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,فَإِنَّ شَرَفَ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ ، وَالْبَارِي أَشْرَفُ الْمَعْلُومَاتِ ؛ فَالْعِلْمُ بِأَسْمَائِهِ أَشْرَفُ الْعُلُومِ”Kemuliaan sebuah ilmu itu tergantung pada kemuliaan objek yang dipelajarinya. Sedangkan Al-Baari (yaitu Allah) adalah Dzat yang paling mulia. Maka ilmu tentang nama-namaNya adalah ilmu yang paling mulia.” [2]Jika ada yang bertanya,”Ilmu hanyalah sarana untuk beramal dan dimaksudkan untuk beramal. Sedangkan tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk diamalkan. Dan telah diketahui bahwa tujuan itu lebih mulia daripada sarana. Maka bagaimana Engkau lebih mengutamakan sarana (ilmu) daripada tujuan (beramal)?”Maka kita katakan kepadanya, bahwa ilmu dan amal itu sendiri masing-masing terbagi menjadi dua macam. Di antaranya ada yang menjadi sarana, dan ada pula yang merupakan tujuan. Sehingga tidaklah semua ilmu itu merupakan sarana untuk meraih yang lainnya. Adapun ilmu tentang Allah, tentang nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia secara mutlak serta merupakan tujuan itu sendiri (bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lainnya).Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 12)Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Dia menciptakan langit dan bumi serta di antara keduanya agar hamba-Nya mengetahui bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga ilmu ini merupakan tujuan dari penciptaan. Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”Ketahuilah bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19)Maka ilmu tentang keesaan Allah Ta’ala, bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata, merupakan tujuan itu sendiri, dan bukan sarana. Meskipun tidaklah cukup ilmu tentang hal itu saja, akan tetapi harus disertai pula dengan peribadatan kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya.Oleh karena itu, terdapat dua tujuan yang harus diraih oleh manusia. Pertama, mengenal Allah Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifatNya. Ke dua, beribadah kepada Allah Ta’ala sebagai tuntutan dan konsekuensi dari pengenalannya kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana ibadah merupakan tujuan yang ingin dicapai, maka demikian pula ilmu dan pengenalan tentang Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya ilmu merupakan ibadah yang paling utama. [3]Tauhid Asma’ wa Shifat Merupakan Pokok Ilmu AgamaSebagaimana ilmu tentang nama dan sifat Allah Ta’ala merupakan ilmu yang paling mulia dan paling agung, maka ilmu tersebut merupakan pokok segala jenis ilmu. Setiap ilmu lainnya merupakan cabang dari ilmu tentang-Nya dan sangat membutuhkannya. Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan dasar dan pokok segala ilmu. Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia akan mengenal selain-Nya. Dan barangsiapa yang bodoh tentang Allah, maka dia akan lebih bodoh lagi terhadap selain-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Renungkanlah ayat ini, maka akan kita dapatkan makna yang dalam. Yaitu, barangsiapa yang lupa terhadap Rabb-nya, niscaya Allah Ta’ala akan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri. Dia tidak lagi mengenal hakikat dirinya sendiri dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan dia akan lupa terhadap sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya. Karena dia telah keluar dari fitrah penciptaannya sehingga lupa kepada Rabb-nya. Sehingga Allah Ta’ala pun membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri dan kepada apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhiratnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Mereka lalai dari mengingat Rabb-nya sehingga membuat dirinya melampaui batas. Dia tidak lagi memperhatikan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya serta apa yang dapat membersihkan dirinya. Bahkan dia telah mencerai-beraikan isi hatinya, menyia-nyiakannya, melalaikan kebaikannya, dan dia pun kebingungan tanpa arah.Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan modal berharga bagi seorang hamba untuk meraih kebahagiaan, kesempurnaan, dan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sedangkan kebodohan tentang ilmu tersebut, menimbulkan konsekuensi bodohnya dirinya terhadap dirinya sendiri, kebaikannya, dan kesempurnaannya serta bodoh tentang hal-hal yang bisa membahagiakan dirinya. Maka ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kebahagiaan seorang hamba, sedangkan bodoh tentang Allah Ta’ala merupakan sumber kesengsaraan dirinya.[Bersambung]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Lihat Miftaah Daaris Sa’adah, 1/86; Al-Mujalla, hal. 22.[2]     Ahkaam Al-Qur’an, 4/39.[3]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/178.[4]     Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/86.🔍 Tertawa Dalam Islam, Hukum Shalat Berjamaah Di Masjid Bagi Wanita, Doa Sholat Dhuha Shahih, Surah Tentang Ramadhan, Hari Keberapa Boleh Berhubungan Setelah Haid

Bahaya Takhbib: Merusak Rumah Tangga Orang lain

Merusak rumah tangga orang lain merupakan dosa besar, menyebabkan rumah tangga pasangan muslim menjadi hancur dan tercerai-berai. Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraianAl-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)Merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, selain ada ancaman khusus, ia juga telah membantu Iblis untuk mensukseskan programnya menyesatkan manusia.Bentuk “takhbib” bisa berupa:Menggoda salah satu pasangan pasutri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnyaMenggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui SMS, WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah di kantor seharian.Bisa juga bentuknya menggoda suami orang lain dan mengajaknya berzina atau di zaman ini di kenal dengan istilah “PELAKOR” (Perebut Laki Orang).Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannyaSemisalnya sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dengan dirinya atau suami orang lain. Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya.Ancaman dosa melakukan “takhbib” terdapat pada hadits berikut:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291)Demikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Khauf, Kumpulan Doa Ulama Salaf, Memperbaiki Shalat, Wanita Berambut Panjang Dalam Islam, Teks Adzan Dan Iqomah

Bahaya Takhbib: Merusak Rumah Tangga Orang lain

Merusak rumah tangga orang lain merupakan dosa besar, menyebabkan rumah tangga pasangan muslim menjadi hancur dan tercerai-berai. Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraianAl-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)Merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, selain ada ancaman khusus, ia juga telah membantu Iblis untuk mensukseskan programnya menyesatkan manusia.Bentuk “takhbib” bisa berupa:Menggoda salah satu pasangan pasutri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnyaMenggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui SMS, WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah di kantor seharian.Bisa juga bentuknya menggoda suami orang lain dan mengajaknya berzina atau di zaman ini di kenal dengan istilah “PELAKOR” (Perebut Laki Orang).Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannyaSemisalnya sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dengan dirinya atau suami orang lain. Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya.Ancaman dosa melakukan “takhbib” terdapat pada hadits berikut:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291)Demikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Khauf, Kumpulan Doa Ulama Salaf, Memperbaiki Shalat, Wanita Berambut Panjang Dalam Islam, Teks Adzan Dan Iqomah
Merusak rumah tangga orang lain merupakan dosa besar, menyebabkan rumah tangga pasangan muslim menjadi hancur dan tercerai-berai. Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraianAl-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)Merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, selain ada ancaman khusus, ia juga telah membantu Iblis untuk mensukseskan programnya menyesatkan manusia.Bentuk “takhbib” bisa berupa:Menggoda salah satu pasangan pasutri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnyaMenggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui SMS, WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah di kantor seharian.Bisa juga bentuknya menggoda suami orang lain dan mengajaknya berzina atau di zaman ini di kenal dengan istilah “PELAKOR” (Perebut Laki Orang).Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannyaSemisalnya sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dengan dirinya atau suami orang lain. Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya.Ancaman dosa melakukan “takhbib” terdapat pada hadits berikut:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291)Demikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Khauf, Kumpulan Doa Ulama Salaf, Memperbaiki Shalat, Wanita Berambut Panjang Dalam Islam, Teks Adzan Dan Iqomah


Merusak rumah tangga orang lain merupakan dosa besar, menyebabkan rumah tangga pasangan muslim menjadi hancur dan tercerai-berai. Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraianAl-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)Merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, selain ada ancaman khusus, ia juga telah membantu Iblis untuk mensukseskan programnya menyesatkan manusia.Bentuk “takhbib” bisa berupa:Menggoda salah satu pasangan pasutri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnyaMenggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui SMS, WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah di kantor seharian.Bisa juga bentuknya menggoda suami orang lain dan mengajaknya berzina atau di zaman ini di kenal dengan istilah “PELAKOR” (Perebut Laki Orang).Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannyaSemisalnya sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dengan dirinya atau suami orang lain. Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya.Ancaman dosa melakukan “takhbib” terdapat pada hadits berikut:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291)Demikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Khauf, Kumpulan Doa Ulama Salaf, Memperbaiki Shalat, Wanita Berambut Panjang Dalam Islam, Teks Adzan Dan Iqomah

Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 1)Penyelewengan Makna “An-Nuzul”Berkaitan dengan hadits nuzul, sebagian orang mengatakan, “Kami juga beriman terhadap hadits nuzul. Akan tetapi, kami memahami hadits ini tidak sebagaimana pemahaman kalian. Tidak mungkin Allah yang turun, karena zona waktu di setiap tempat berbeda. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “turun” dalam hadits ini adalah Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya.”Sebagian orang yang lain mengatakan, “Yang turun adalah malaikat Allah, bukan Allah itu sendiri.”Anggapan atau pendapat semacam ini dapat kita jawab atau kita sanggah dari beberapa sisi:Pertama, dalam hadits an-nuzul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkan perbuatan (turun) kepada Allah Ta’ala, bukan yang lainnya. Jika yang beliau maksudkan adalah turunnya rahmat Allah atau turunnya malaikat Allah, maka tentu akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada sahabatnya, dan penjelasan ini tentu akan diriwayatkan sehingga sampai kepada kita. Oleh karena itu, ketika mereka katakan bahwa yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya mereka telah menyelewengkan makna hadits tersebut kepada makna yang batil, yaitu makna yang menyelisihi ijma’ ahlus sunnah.Ke dua, jika turun tersebut kita maknai sebagai turunnya rahmat Allah Ta’ala, maka ini makna yang batil. Karena rahmat Allah Ta’ala turun setiap saat kepada hamba-Nya, tidak hanya turun di waktu tertentu saja (sepertiga malam yang terahir).Ke tiga, jika yang mereka maksudkan adalah “rahmat Allah yang bersifat khusus”, maka ini pun juga makna yang batil. Karena apa faidahnya jika rahmat yang khusus tersebut hanya turun sampai langit dunia, sehingga tidak sampai ke hamba-Nya yang ada di bumi? Jelaslah bahwa hal ini adalah penyelewengan makna yang batil.Ke empat, hadits an-nuzul menunjukkan bahwa yang turun tersebut mengatakan,مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Perkataan ini jelas menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah, karena tidak mungkin hal itu diucapkan oleh satu pun kecuali Allah Ta’ala. Tidak mungkin perkataan tersebut diucapkan oleh malaikat Allah. [1]Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan makna hadits an-nuzul kepada makna yang batil semacam turunnya malaikat atau rahmat Allah Ta’ala, pada hakikatnya dia telah terjerumus ke dalam penyimpangan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فَمن أنكر النُّزُول أَو تَأَول فَهُوَ مُبْتَدع ضال“Barangsiapa yang mengingkari an-nuzuul dan menyelewengkan maknanya (kepada makna yang batil), maka dia adalah ahli bid’ah yang sesat.” [2]Kewajiban Kita dalam Beriman terhadap Hadits tentang An-NuzulOleh karena itu, kewajiban kita sebagai seorang mukmin yang beriman terhadap hadits-hadits yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Ta’ala seperti hadits an-nuzul adalah:Pertama, beriman dengan makna atau sifat yang terdapat dalam dalil-dalil yang shahih sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.Ke dua, tidak bertanya bagaimananya serta menggambarkannya (mem-visualisasi-kannya), baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata tentang Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Sedangkan hakikat Allah Ta’ala tidak dapat dijangkau dengan akal fikiran dan ilmu manusia. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ’Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-A’raf [7]: 33)Ke tiga, tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Apabila kita memahami kewajiban ini, maka tidak ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau hadits lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah Ta’ala. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada umatnya bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Berita ini termasuk ilmu ghaib yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Dzat yang memberitakan hal itu, yaitu Allah Ta’ala, mengetahui perubahan waktu yang terjadi di muka bumi. Allah Ta’ala mengetahui bahwa sepertiga malam di suatu daerah mungkin menjadi setengah siang di daerah yang lain. [3][Selesai] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah  hal. 54-55, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]     Al-Istiqamah, 1/169.[3]    Lihat Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 1/136-137.🔍 Cara Memperkuat Iman, Tulisan Ta'awudz, Materi Kultum Tentang Akhlak, Sunnah Hari Jumat Rumaysho, Bacaan Tahmid

Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 1)Penyelewengan Makna “An-Nuzul”Berkaitan dengan hadits nuzul, sebagian orang mengatakan, “Kami juga beriman terhadap hadits nuzul. Akan tetapi, kami memahami hadits ini tidak sebagaimana pemahaman kalian. Tidak mungkin Allah yang turun, karena zona waktu di setiap tempat berbeda. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “turun” dalam hadits ini adalah Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya.”Sebagian orang yang lain mengatakan, “Yang turun adalah malaikat Allah, bukan Allah itu sendiri.”Anggapan atau pendapat semacam ini dapat kita jawab atau kita sanggah dari beberapa sisi:Pertama, dalam hadits an-nuzul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkan perbuatan (turun) kepada Allah Ta’ala, bukan yang lainnya. Jika yang beliau maksudkan adalah turunnya rahmat Allah atau turunnya malaikat Allah, maka tentu akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada sahabatnya, dan penjelasan ini tentu akan diriwayatkan sehingga sampai kepada kita. Oleh karena itu, ketika mereka katakan bahwa yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya mereka telah menyelewengkan makna hadits tersebut kepada makna yang batil, yaitu makna yang menyelisihi ijma’ ahlus sunnah.Ke dua, jika turun tersebut kita maknai sebagai turunnya rahmat Allah Ta’ala, maka ini makna yang batil. Karena rahmat Allah Ta’ala turun setiap saat kepada hamba-Nya, tidak hanya turun di waktu tertentu saja (sepertiga malam yang terahir).Ke tiga, jika yang mereka maksudkan adalah “rahmat Allah yang bersifat khusus”, maka ini pun juga makna yang batil. Karena apa faidahnya jika rahmat yang khusus tersebut hanya turun sampai langit dunia, sehingga tidak sampai ke hamba-Nya yang ada di bumi? Jelaslah bahwa hal ini adalah penyelewengan makna yang batil.Ke empat, hadits an-nuzul menunjukkan bahwa yang turun tersebut mengatakan,مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Perkataan ini jelas menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah, karena tidak mungkin hal itu diucapkan oleh satu pun kecuali Allah Ta’ala. Tidak mungkin perkataan tersebut diucapkan oleh malaikat Allah. [1]Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan makna hadits an-nuzul kepada makna yang batil semacam turunnya malaikat atau rahmat Allah Ta’ala, pada hakikatnya dia telah terjerumus ke dalam penyimpangan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فَمن أنكر النُّزُول أَو تَأَول فَهُوَ مُبْتَدع ضال“Barangsiapa yang mengingkari an-nuzuul dan menyelewengkan maknanya (kepada makna yang batil), maka dia adalah ahli bid’ah yang sesat.” [2]Kewajiban Kita dalam Beriman terhadap Hadits tentang An-NuzulOleh karena itu, kewajiban kita sebagai seorang mukmin yang beriman terhadap hadits-hadits yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Ta’ala seperti hadits an-nuzul adalah:Pertama, beriman dengan makna atau sifat yang terdapat dalam dalil-dalil yang shahih sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.Ke dua, tidak bertanya bagaimananya serta menggambarkannya (mem-visualisasi-kannya), baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata tentang Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Sedangkan hakikat Allah Ta’ala tidak dapat dijangkau dengan akal fikiran dan ilmu manusia. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ’Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-A’raf [7]: 33)Ke tiga, tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Apabila kita memahami kewajiban ini, maka tidak ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau hadits lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah Ta’ala. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada umatnya bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Berita ini termasuk ilmu ghaib yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Dzat yang memberitakan hal itu, yaitu Allah Ta’ala, mengetahui perubahan waktu yang terjadi di muka bumi. Allah Ta’ala mengetahui bahwa sepertiga malam di suatu daerah mungkin menjadi setengah siang di daerah yang lain. [3][Selesai] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah  hal. 54-55, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]     Al-Istiqamah, 1/169.[3]    Lihat Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 1/136-137.🔍 Cara Memperkuat Iman, Tulisan Ta'awudz, Materi Kultum Tentang Akhlak, Sunnah Hari Jumat Rumaysho, Bacaan Tahmid
Baca pembahasan sebelumnya Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 1)Penyelewengan Makna “An-Nuzul”Berkaitan dengan hadits nuzul, sebagian orang mengatakan, “Kami juga beriman terhadap hadits nuzul. Akan tetapi, kami memahami hadits ini tidak sebagaimana pemahaman kalian. Tidak mungkin Allah yang turun, karena zona waktu di setiap tempat berbeda. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “turun” dalam hadits ini adalah Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya.”Sebagian orang yang lain mengatakan, “Yang turun adalah malaikat Allah, bukan Allah itu sendiri.”Anggapan atau pendapat semacam ini dapat kita jawab atau kita sanggah dari beberapa sisi:Pertama, dalam hadits an-nuzul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkan perbuatan (turun) kepada Allah Ta’ala, bukan yang lainnya. Jika yang beliau maksudkan adalah turunnya rahmat Allah atau turunnya malaikat Allah, maka tentu akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada sahabatnya, dan penjelasan ini tentu akan diriwayatkan sehingga sampai kepada kita. Oleh karena itu, ketika mereka katakan bahwa yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya mereka telah menyelewengkan makna hadits tersebut kepada makna yang batil, yaitu makna yang menyelisihi ijma’ ahlus sunnah.Ke dua, jika turun tersebut kita maknai sebagai turunnya rahmat Allah Ta’ala, maka ini makna yang batil. Karena rahmat Allah Ta’ala turun setiap saat kepada hamba-Nya, tidak hanya turun di waktu tertentu saja (sepertiga malam yang terahir).Ke tiga, jika yang mereka maksudkan adalah “rahmat Allah yang bersifat khusus”, maka ini pun juga makna yang batil. Karena apa faidahnya jika rahmat yang khusus tersebut hanya turun sampai langit dunia, sehingga tidak sampai ke hamba-Nya yang ada di bumi? Jelaslah bahwa hal ini adalah penyelewengan makna yang batil.Ke empat, hadits an-nuzul menunjukkan bahwa yang turun tersebut mengatakan,مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Perkataan ini jelas menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah, karena tidak mungkin hal itu diucapkan oleh satu pun kecuali Allah Ta’ala. Tidak mungkin perkataan tersebut diucapkan oleh malaikat Allah. [1]Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan makna hadits an-nuzul kepada makna yang batil semacam turunnya malaikat atau rahmat Allah Ta’ala, pada hakikatnya dia telah terjerumus ke dalam penyimpangan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فَمن أنكر النُّزُول أَو تَأَول فَهُوَ مُبْتَدع ضال“Barangsiapa yang mengingkari an-nuzuul dan menyelewengkan maknanya (kepada makna yang batil), maka dia adalah ahli bid’ah yang sesat.” [2]Kewajiban Kita dalam Beriman terhadap Hadits tentang An-NuzulOleh karena itu, kewajiban kita sebagai seorang mukmin yang beriman terhadap hadits-hadits yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Ta’ala seperti hadits an-nuzul adalah:Pertama, beriman dengan makna atau sifat yang terdapat dalam dalil-dalil yang shahih sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.Ke dua, tidak bertanya bagaimananya serta menggambarkannya (mem-visualisasi-kannya), baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata tentang Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Sedangkan hakikat Allah Ta’ala tidak dapat dijangkau dengan akal fikiran dan ilmu manusia. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ’Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-A’raf [7]: 33)Ke tiga, tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Apabila kita memahami kewajiban ini, maka tidak ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau hadits lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah Ta’ala. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada umatnya bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Berita ini termasuk ilmu ghaib yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Dzat yang memberitakan hal itu, yaitu Allah Ta’ala, mengetahui perubahan waktu yang terjadi di muka bumi. Allah Ta’ala mengetahui bahwa sepertiga malam di suatu daerah mungkin menjadi setengah siang di daerah yang lain. [3][Selesai] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah  hal. 54-55, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]     Al-Istiqamah, 1/169.[3]    Lihat Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 1/136-137.🔍 Cara Memperkuat Iman, Tulisan Ta'awudz, Materi Kultum Tentang Akhlak, Sunnah Hari Jumat Rumaysho, Bacaan Tahmid


Baca pembahasan sebelumnya Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag. 1)Penyelewengan Makna “An-Nuzul”Berkaitan dengan hadits nuzul, sebagian orang mengatakan, “Kami juga beriman terhadap hadits nuzul. Akan tetapi, kami memahami hadits ini tidak sebagaimana pemahaman kalian. Tidak mungkin Allah yang turun, karena zona waktu di setiap tempat berbeda. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “turun” dalam hadits ini adalah Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya.”Sebagian orang yang lain mengatakan, “Yang turun adalah malaikat Allah, bukan Allah itu sendiri.”Anggapan atau pendapat semacam ini dapat kita jawab atau kita sanggah dari beberapa sisi:Pertama, dalam hadits an-nuzul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkan perbuatan (turun) kepada Allah Ta’ala, bukan yang lainnya. Jika yang beliau maksudkan adalah turunnya rahmat Allah atau turunnya malaikat Allah, maka tentu akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada sahabatnya, dan penjelasan ini tentu akan diriwayatkan sehingga sampai kepada kita. Oleh karena itu, ketika mereka katakan bahwa yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya mereka telah menyelewengkan makna hadits tersebut kepada makna yang batil, yaitu makna yang menyelisihi ijma’ ahlus sunnah.Ke dua, jika turun tersebut kita maknai sebagai turunnya rahmat Allah Ta’ala, maka ini makna yang batil. Karena rahmat Allah Ta’ala turun setiap saat kepada hamba-Nya, tidak hanya turun di waktu tertentu saja (sepertiga malam yang terahir).Ke tiga, jika yang mereka maksudkan adalah “rahmat Allah yang bersifat khusus”, maka ini pun juga makna yang batil. Karena apa faidahnya jika rahmat yang khusus tersebut hanya turun sampai langit dunia, sehingga tidak sampai ke hamba-Nya yang ada di bumi? Jelaslah bahwa hal ini adalah penyelewengan makna yang batil.Ke empat, hadits an-nuzul menunjukkan bahwa yang turun tersebut mengatakan,مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Perkataan ini jelas menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah, karena tidak mungkin hal itu diucapkan oleh satu pun kecuali Allah Ta’ala. Tidak mungkin perkataan tersebut diucapkan oleh malaikat Allah. [1]Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan makna hadits an-nuzul kepada makna yang batil semacam turunnya malaikat atau rahmat Allah Ta’ala, pada hakikatnya dia telah terjerumus ke dalam penyimpangan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فَمن أنكر النُّزُول أَو تَأَول فَهُوَ مُبْتَدع ضال“Barangsiapa yang mengingkari an-nuzuul dan menyelewengkan maknanya (kepada makna yang batil), maka dia adalah ahli bid’ah yang sesat.” [2]Kewajiban Kita dalam Beriman terhadap Hadits tentang An-NuzulOleh karena itu, kewajiban kita sebagai seorang mukmin yang beriman terhadap hadits-hadits yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Ta’ala seperti hadits an-nuzul adalah:Pertama, beriman dengan makna atau sifat yang terdapat dalam dalil-dalil yang shahih sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.Ke dua, tidak bertanya bagaimananya serta menggambarkannya (mem-visualisasi-kannya), baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata tentang Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Sedangkan hakikat Allah Ta’ala tidak dapat dijangkau dengan akal fikiran dan ilmu manusia. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ’Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-A’raf [7]: 33)Ke tiga, tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Apabila kita memahami kewajiban ini, maka tidak ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau hadits lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah Ta’ala. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada umatnya bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Berita ini termasuk ilmu ghaib yang Allah Ta’ala tunjukkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Dzat yang memberitakan hal itu, yaitu Allah Ta’ala, mengetahui perubahan waktu yang terjadi di muka bumi. Allah Ta’ala mengetahui bahwa sepertiga malam di suatu daerah mungkin menjadi setengah siang di daerah yang lain. [3][Selesai] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah  hal. 54-55, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]     Al-Istiqamah, 1/169.[3]    Lihat Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 1/136-137.🔍 Cara Memperkuat Iman, Tulisan Ta'awudz, Materi Kultum Tentang Akhlak, Sunnah Hari Jumat Rumaysho, Bacaan Tahmid

Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag.1)

Ada seseorang yang berusaha untuk mem-bagaimana-kan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan akalnya. Dia berusaha berangan-angan untuk mem-visualisasi-kan sifat Allah Ta’ala. Dan ketika akalnya tidak sampai, dia serta merta menolak sifat Allah Ta’ala tersebut. Padahal telah dimaklumi, kita tidak memiliki ilmu tentang hakikat sifat-sifat Allah Ta’ala yang sebenarnya. Karena Allah Ta’ala hanya memberitahukan sifat-sifatNya saja, namun tidak pernah memberitahukan bagaimana hakikat sebenarnya dari sifat-sifat tersebut.Contohnya adalah seseorang yang menolak sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir) hanya karena tidak dapat dijangkau oleh visualisasinya. Orang tersebut mengatakan, ”Dunia ini ‘kan bundar, malam di suatu tempat dan siang di tempat yang lain. Kalau di Indonesia malam, di Eropa masih siang. Dan begitu seterusnya di belahan dunia yang lain. Kalau  Allah turun pada sepertiga malam, maka pekerjaan Allah hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu sepertiga malam terakhir berganti-ganti di seluruh dunia, sedangkan Allah itu hanya satu.”Demikianlah, dia berusaha untuk menggambarkan turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia. Dan ketika akalnya tidak mampu, dia pun menolak dan mengingkari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Meyakini Sifat “Nuzul” adalah Ijma’ (Konsensus) Ahlus SunnahHadits-hadits yang menjelaskan tentang turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat [1], sehingga mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, ahlus sunnah menetapkan dan meyakini sifat nuzul bagi Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia tanpa menyerupakannya dengan satu pun dari makhluk-Nya dan tanpa mem-visualisasikan bagaimanakah bentuk (cara) dan hakikatnya. Hal ini adalah salah satu ijma’ (konsensus) ahlus sunnah.Ibnu Abi Zamanin Al-Maliki rahimahullah (wafat tahun 399H) berkata,وَأَخْبَرَنِي وَهْبٌ عَنْ اِبْنِ وَضَّاحٍ، عَنْ زُهَيْرِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ: كُلُّ مَنْ أَدْرَكْتُ مِنْ اَلْمَشَايِخِ: مَالِكٍ وَسُفْيَانَ وَفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ وَعِيسَى وَابْنِ اَلْمُبَارَكِ وَوَكِيعٍ كَانُوا يَقُولُونَ: اَلنُّزُولُ حَقٌّ. “Mengabarkan kepadaku Wahb, dari Ibnu Wadhdhah, dari Zuhair bin ‘Ubadah, beliau berkata, “Semua guru yang aku temui, yaitu Malik, Sufyan, Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Isa, Ibnul Mubarak, dan Waki’, mereka semua mengatakan, “An-nuzuul adalah haq (benar).” [2]Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat tahun 311 H) berkata,بَابُ ذِكْرِ أَخْبَارٍ ثَابِتَةِ السِّنْدِ صَحِيحَةِ الْقَوَامِ رَوَاهَا عُلَمَاءُ الْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نُزُولِ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، نَشْهَدُ شَهَادَةَ مُقِرٍّ بِلِسَانِهِ، مُصَدِّقٍ بِقَلْبِهِ  ، مُسْتَيْقِنٍ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ نُزُولِ الرَّبِّ مِنْ غَيْرِ أَنْ نَصِفَ الْكَيْفِيَّةَ، لِأَنَّ نَبِيَّنَا الْمُصْطَفَى لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ نُزُولِ خَالِقِنَا إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، أَعْلَمَنَا أَنَّهُ يَنْزِلُ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَمْ يَتْرُكْ، وَلَا نَبِيُّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَيَانَ مَا بِالْمُسْلِمِينَ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ، مِنْ أَمْرِ دِينِهِمْ فَنَحْنُ قَائِلُونَ مُصَدِّقُونَ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ النُّزُولِ غَيْرِ مُتَكَلِّفِينَ الْقَوْلَ بِصِفَتِهِ أَوْ بِصِفَةِ الْكَيْفِيَّةِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ النُّزُولِ وَفِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مَا بَانَ وَثَبَتَ وَصَحَّ: أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا فَوْقَ سَمَاءِ الدُّنْيَا، الَّذِي أَخْبَرَنَا نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَنْزِلُ إِلَيْهِ، إِذْ مُحَالٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ أَنْ يَقُولَ: نَزَلَ مِنْ أَسْفَلَ إِلَى أَعْلَى، وَمَفْهُومٌ فِي الْخِطَابِ أَنَّ النُّزُولَ مِنْ أَعْلَى إِلَى أَسْفَلَ“Pembahasan tentang berita-berita (hadits) yang valid (shahih), diriwayatkan oleh para ulama Hijaz dan Irak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kami bersaksi dengan persaksian lisan dan meyakini (membenarkan) di dalam hati tentang isi (kandungan) ini yaitu turunnya Allah Ta’ala tanpa kita gambarkan bagaimana bentuknya. Hal ini karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kita bagaimana bentuk turunnya Rabb kita ke langit dunia. Rasulullah (hanya) memberitahukan  kepada kita bahwa Allah turun. Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan suatu penjelasan tentang perkara agama mereka yang dibutuhkan oleh kaum muslimin.Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan isi kandungan hadits ini yang menyebutkan turunnya Allah ke langit dunia tanpa membebani diri untuk menggambarkan bagaimanakah bentuknya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menggambarkan kepada kita bagaimanakah cara (bentuk) turunnya Allah.Dalam berita-berita (hadits) ini terdapat perkara yang jelas dan valid bahwa Allah Ta’ala di atas langit dunia, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia. Karena mustahil dalam bahasa Arab dikatakan “turun dari bawah ke atas”. Sedangkan yang dipahami dalam pembicaraan (bahasa Arab) adalah turun itu dari atas ke bawah.” [3]Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah (wafat tahun 449 H) membawakan suatu riwayat dari Ishaq bin Ibrahim (Ibnu Rahuyah),“Pada suatu hari Ibnu Rahuyah menghadiri majelis gubernur Abdullah bin Thahir. Ibnu Rahuyah ditanya tentang hadits nuzul, ‘Apakah hadits itu shahih?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’Maka sebagian ajudan gubernur Abdullah pun bertanya, ‘Wahai Abu Ya’qub (yaitu Ibnu Rahuyah). Apakah Engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala turun setiap malam?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’ Dia berkata, ‘Bagaimana cara Allah turun?’Ibnu Rahuyah pun berkata kepadanya, ‘Tetapkan (yakini) dulu bahwa Allah ada di atas, baru akan aku jelaskan tentang turunnya Allah.’Dia pun berkata, ‘Aku menetapkan bahwa Allah di atas.’Kemudian Ibnu Rahuyah berkata, ‘Allah Ta’ala berfirman,وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Rabb-mu, dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr [89]: 22)Maka sang gubernur berkata, ‘Wahai Abu Ya’qub (Ibnu Rahuyah), bukankah hal itu terjadi pada hari kiamat?’Ibnu Rahuyah pun berkata,أعز الله الأمير، ومن يجيء يوم القيامة من يمنعه اليوم؟‘Semoga Allah memuliakanmu wahai gubernur. Siapa yang (berkuasa) untuk datang pada hari kiamat (yaitu Allah, pen.), maka siapakah yang mampu mencegah-Nya (untuk turun ke langit dunia) setiap malam?’” [4]Dari kutipan-kutipan di atas, kita mengetahui bahwa ahlus sunnah menetapkan dan meyakini turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia, yang terkait dengan kehendak dan hikmah-Nya. “Turun” yang dimaksud adalah turun yang hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak serupa dengan satu pun makhluk-Nya. [5] Oleh karena itu, ahlus sunnah pun berdalil dengan hadits-hadits nuzul untuk menunjukkan ketinggian Dzat Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. [6][Bersambung] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah hal. 54 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]    Ushuulus Sunnah, 1/113.[3]    Kitab At-Tauhiid, 1/289-290.    [4]    ‘Aqidatus Salaf  wa Ash-haabul Hadits, 1/13.[5]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 54.[6]    Lihat Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah hal. 414-421, karya Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari dan Tahdzib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah hal. 57, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin rahimahumullah.🔍 Allah Dimana, Definisi Kafir Menurut Islam, Amalan Sunnah Di Bulan Rajab, Sirr Bismillah, Hukum Menyukai Lawan Jenis Dalam Islam

Allah Ta’ala Turun ke Langit Dunia (Bag.1)

Ada seseorang yang berusaha untuk mem-bagaimana-kan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan akalnya. Dia berusaha berangan-angan untuk mem-visualisasi-kan sifat Allah Ta’ala. Dan ketika akalnya tidak sampai, dia serta merta menolak sifat Allah Ta’ala tersebut. Padahal telah dimaklumi, kita tidak memiliki ilmu tentang hakikat sifat-sifat Allah Ta’ala yang sebenarnya. Karena Allah Ta’ala hanya memberitahukan sifat-sifatNya saja, namun tidak pernah memberitahukan bagaimana hakikat sebenarnya dari sifat-sifat tersebut.Contohnya adalah seseorang yang menolak sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir) hanya karena tidak dapat dijangkau oleh visualisasinya. Orang tersebut mengatakan, ”Dunia ini ‘kan bundar, malam di suatu tempat dan siang di tempat yang lain. Kalau di Indonesia malam, di Eropa masih siang. Dan begitu seterusnya di belahan dunia yang lain. Kalau  Allah turun pada sepertiga malam, maka pekerjaan Allah hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu sepertiga malam terakhir berganti-ganti di seluruh dunia, sedangkan Allah itu hanya satu.”Demikianlah, dia berusaha untuk menggambarkan turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia. Dan ketika akalnya tidak mampu, dia pun menolak dan mengingkari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Meyakini Sifat “Nuzul” adalah Ijma’ (Konsensus) Ahlus SunnahHadits-hadits yang menjelaskan tentang turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat [1], sehingga mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, ahlus sunnah menetapkan dan meyakini sifat nuzul bagi Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia tanpa menyerupakannya dengan satu pun dari makhluk-Nya dan tanpa mem-visualisasikan bagaimanakah bentuk (cara) dan hakikatnya. Hal ini adalah salah satu ijma’ (konsensus) ahlus sunnah.Ibnu Abi Zamanin Al-Maliki rahimahullah (wafat tahun 399H) berkata,وَأَخْبَرَنِي وَهْبٌ عَنْ اِبْنِ وَضَّاحٍ، عَنْ زُهَيْرِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ: كُلُّ مَنْ أَدْرَكْتُ مِنْ اَلْمَشَايِخِ: مَالِكٍ وَسُفْيَانَ وَفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ وَعِيسَى وَابْنِ اَلْمُبَارَكِ وَوَكِيعٍ كَانُوا يَقُولُونَ: اَلنُّزُولُ حَقٌّ. “Mengabarkan kepadaku Wahb, dari Ibnu Wadhdhah, dari Zuhair bin ‘Ubadah, beliau berkata, “Semua guru yang aku temui, yaitu Malik, Sufyan, Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Isa, Ibnul Mubarak, dan Waki’, mereka semua mengatakan, “An-nuzuul adalah haq (benar).” [2]Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat tahun 311 H) berkata,بَابُ ذِكْرِ أَخْبَارٍ ثَابِتَةِ السِّنْدِ صَحِيحَةِ الْقَوَامِ رَوَاهَا عُلَمَاءُ الْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نُزُولِ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، نَشْهَدُ شَهَادَةَ مُقِرٍّ بِلِسَانِهِ، مُصَدِّقٍ بِقَلْبِهِ  ، مُسْتَيْقِنٍ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ نُزُولِ الرَّبِّ مِنْ غَيْرِ أَنْ نَصِفَ الْكَيْفِيَّةَ، لِأَنَّ نَبِيَّنَا الْمُصْطَفَى لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ نُزُولِ خَالِقِنَا إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، أَعْلَمَنَا أَنَّهُ يَنْزِلُ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَمْ يَتْرُكْ، وَلَا نَبِيُّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَيَانَ مَا بِالْمُسْلِمِينَ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ، مِنْ أَمْرِ دِينِهِمْ فَنَحْنُ قَائِلُونَ مُصَدِّقُونَ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ النُّزُولِ غَيْرِ مُتَكَلِّفِينَ الْقَوْلَ بِصِفَتِهِ أَوْ بِصِفَةِ الْكَيْفِيَّةِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ النُّزُولِ وَفِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مَا بَانَ وَثَبَتَ وَصَحَّ: أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا فَوْقَ سَمَاءِ الدُّنْيَا، الَّذِي أَخْبَرَنَا نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَنْزِلُ إِلَيْهِ، إِذْ مُحَالٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ أَنْ يَقُولَ: نَزَلَ مِنْ أَسْفَلَ إِلَى أَعْلَى، وَمَفْهُومٌ فِي الْخِطَابِ أَنَّ النُّزُولَ مِنْ أَعْلَى إِلَى أَسْفَلَ“Pembahasan tentang berita-berita (hadits) yang valid (shahih), diriwayatkan oleh para ulama Hijaz dan Irak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kami bersaksi dengan persaksian lisan dan meyakini (membenarkan) di dalam hati tentang isi (kandungan) ini yaitu turunnya Allah Ta’ala tanpa kita gambarkan bagaimana bentuknya. Hal ini karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kita bagaimana bentuk turunnya Rabb kita ke langit dunia. Rasulullah (hanya) memberitahukan  kepada kita bahwa Allah turun. Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan suatu penjelasan tentang perkara agama mereka yang dibutuhkan oleh kaum muslimin.Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan isi kandungan hadits ini yang menyebutkan turunnya Allah ke langit dunia tanpa membebani diri untuk menggambarkan bagaimanakah bentuknya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menggambarkan kepada kita bagaimanakah cara (bentuk) turunnya Allah.Dalam berita-berita (hadits) ini terdapat perkara yang jelas dan valid bahwa Allah Ta’ala di atas langit dunia, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia. Karena mustahil dalam bahasa Arab dikatakan “turun dari bawah ke atas”. Sedangkan yang dipahami dalam pembicaraan (bahasa Arab) adalah turun itu dari atas ke bawah.” [3]Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah (wafat tahun 449 H) membawakan suatu riwayat dari Ishaq bin Ibrahim (Ibnu Rahuyah),“Pada suatu hari Ibnu Rahuyah menghadiri majelis gubernur Abdullah bin Thahir. Ibnu Rahuyah ditanya tentang hadits nuzul, ‘Apakah hadits itu shahih?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’Maka sebagian ajudan gubernur Abdullah pun bertanya, ‘Wahai Abu Ya’qub (yaitu Ibnu Rahuyah). Apakah Engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala turun setiap malam?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’ Dia berkata, ‘Bagaimana cara Allah turun?’Ibnu Rahuyah pun berkata kepadanya, ‘Tetapkan (yakini) dulu bahwa Allah ada di atas, baru akan aku jelaskan tentang turunnya Allah.’Dia pun berkata, ‘Aku menetapkan bahwa Allah di atas.’Kemudian Ibnu Rahuyah berkata, ‘Allah Ta’ala berfirman,وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Rabb-mu, dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr [89]: 22)Maka sang gubernur berkata, ‘Wahai Abu Ya’qub (Ibnu Rahuyah), bukankah hal itu terjadi pada hari kiamat?’Ibnu Rahuyah pun berkata,أعز الله الأمير، ومن يجيء يوم القيامة من يمنعه اليوم؟‘Semoga Allah memuliakanmu wahai gubernur. Siapa yang (berkuasa) untuk datang pada hari kiamat (yaitu Allah, pen.), maka siapakah yang mampu mencegah-Nya (untuk turun ke langit dunia) setiap malam?’” [4]Dari kutipan-kutipan di atas, kita mengetahui bahwa ahlus sunnah menetapkan dan meyakini turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia, yang terkait dengan kehendak dan hikmah-Nya. “Turun” yang dimaksud adalah turun yang hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak serupa dengan satu pun makhluk-Nya. [5] Oleh karena itu, ahlus sunnah pun berdalil dengan hadits-hadits nuzul untuk menunjukkan ketinggian Dzat Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. [6][Bersambung] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah hal. 54 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]    Ushuulus Sunnah, 1/113.[3]    Kitab At-Tauhiid, 1/289-290.    [4]    ‘Aqidatus Salaf  wa Ash-haabul Hadits, 1/13.[5]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 54.[6]    Lihat Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah hal. 414-421, karya Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari dan Tahdzib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah hal. 57, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin rahimahumullah.🔍 Allah Dimana, Definisi Kafir Menurut Islam, Amalan Sunnah Di Bulan Rajab, Sirr Bismillah, Hukum Menyukai Lawan Jenis Dalam Islam
Ada seseorang yang berusaha untuk mem-bagaimana-kan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan akalnya. Dia berusaha berangan-angan untuk mem-visualisasi-kan sifat Allah Ta’ala. Dan ketika akalnya tidak sampai, dia serta merta menolak sifat Allah Ta’ala tersebut. Padahal telah dimaklumi, kita tidak memiliki ilmu tentang hakikat sifat-sifat Allah Ta’ala yang sebenarnya. Karena Allah Ta’ala hanya memberitahukan sifat-sifatNya saja, namun tidak pernah memberitahukan bagaimana hakikat sebenarnya dari sifat-sifat tersebut.Contohnya adalah seseorang yang menolak sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir) hanya karena tidak dapat dijangkau oleh visualisasinya. Orang tersebut mengatakan, ”Dunia ini ‘kan bundar, malam di suatu tempat dan siang di tempat yang lain. Kalau di Indonesia malam, di Eropa masih siang. Dan begitu seterusnya di belahan dunia yang lain. Kalau  Allah turun pada sepertiga malam, maka pekerjaan Allah hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu sepertiga malam terakhir berganti-ganti di seluruh dunia, sedangkan Allah itu hanya satu.”Demikianlah, dia berusaha untuk menggambarkan turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia. Dan ketika akalnya tidak mampu, dia pun menolak dan mengingkari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Meyakini Sifat “Nuzul” adalah Ijma’ (Konsensus) Ahlus SunnahHadits-hadits yang menjelaskan tentang turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat [1], sehingga mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, ahlus sunnah menetapkan dan meyakini sifat nuzul bagi Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia tanpa menyerupakannya dengan satu pun dari makhluk-Nya dan tanpa mem-visualisasikan bagaimanakah bentuk (cara) dan hakikatnya. Hal ini adalah salah satu ijma’ (konsensus) ahlus sunnah.Ibnu Abi Zamanin Al-Maliki rahimahullah (wafat tahun 399H) berkata,وَأَخْبَرَنِي وَهْبٌ عَنْ اِبْنِ وَضَّاحٍ، عَنْ زُهَيْرِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ: كُلُّ مَنْ أَدْرَكْتُ مِنْ اَلْمَشَايِخِ: مَالِكٍ وَسُفْيَانَ وَفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ وَعِيسَى وَابْنِ اَلْمُبَارَكِ وَوَكِيعٍ كَانُوا يَقُولُونَ: اَلنُّزُولُ حَقٌّ. “Mengabarkan kepadaku Wahb, dari Ibnu Wadhdhah, dari Zuhair bin ‘Ubadah, beliau berkata, “Semua guru yang aku temui, yaitu Malik, Sufyan, Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Isa, Ibnul Mubarak, dan Waki’, mereka semua mengatakan, “An-nuzuul adalah haq (benar).” [2]Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat tahun 311 H) berkata,بَابُ ذِكْرِ أَخْبَارٍ ثَابِتَةِ السِّنْدِ صَحِيحَةِ الْقَوَامِ رَوَاهَا عُلَمَاءُ الْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نُزُولِ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، نَشْهَدُ شَهَادَةَ مُقِرٍّ بِلِسَانِهِ، مُصَدِّقٍ بِقَلْبِهِ  ، مُسْتَيْقِنٍ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ نُزُولِ الرَّبِّ مِنْ غَيْرِ أَنْ نَصِفَ الْكَيْفِيَّةَ، لِأَنَّ نَبِيَّنَا الْمُصْطَفَى لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ نُزُولِ خَالِقِنَا إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، أَعْلَمَنَا أَنَّهُ يَنْزِلُ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَمْ يَتْرُكْ، وَلَا نَبِيُّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَيَانَ مَا بِالْمُسْلِمِينَ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ، مِنْ أَمْرِ دِينِهِمْ فَنَحْنُ قَائِلُونَ مُصَدِّقُونَ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ النُّزُولِ غَيْرِ مُتَكَلِّفِينَ الْقَوْلَ بِصِفَتِهِ أَوْ بِصِفَةِ الْكَيْفِيَّةِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ النُّزُولِ وَفِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مَا بَانَ وَثَبَتَ وَصَحَّ: أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا فَوْقَ سَمَاءِ الدُّنْيَا، الَّذِي أَخْبَرَنَا نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَنْزِلُ إِلَيْهِ، إِذْ مُحَالٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ أَنْ يَقُولَ: نَزَلَ مِنْ أَسْفَلَ إِلَى أَعْلَى، وَمَفْهُومٌ فِي الْخِطَابِ أَنَّ النُّزُولَ مِنْ أَعْلَى إِلَى أَسْفَلَ“Pembahasan tentang berita-berita (hadits) yang valid (shahih), diriwayatkan oleh para ulama Hijaz dan Irak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kami bersaksi dengan persaksian lisan dan meyakini (membenarkan) di dalam hati tentang isi (kandungan) ini yaitu turunnya Allah Ta’ala tanpa kita gambarkan bagaimana bentuknya. Hal ini karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kita bagaimana bentuk turunnya Rabb kita ke langit dunia. Rasulullah (hanya) memberitahukan  kepada kita bahwa Allah turun. Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan suatu penjelasan tentang perkara agama mereka yang dibutuhkan oleh kaum muslimin.Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan isi kandungan hadits ini yang menyebutkan turunnya Allah ke langit dunia tanpa membebani diri untuk menggambarkan bagaimanakah bentuknya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menggambarkan kepada kita bagaimanakah cara (bentuk) turunnya Allah.Dalam berita-berita (hadits) ini terdapat perkara yang jelas dan valid bahwa Allah Ta’ala di atas langit dunia, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia. Karena mustahil dalam bahasa Arab dikatakan “turun dari bawah ke atas”. Sedangkan yang dipahami dalam pembicaraan (bahasa Arab) adalah turun itu dari atas ke bawah.” [3]Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah (wafat tahun 449 H) membawakan suatu riwayat dari Ishaq bin Ibrahim (Ibnu Rahuyah),“Pada suatu hari Ibnu Rahuyah menghadiri majelis gubernur Abdullah bin Thahir. Ibnu Rahuyah ditanya tentang hadits nuzul, ‘Apakah hadits itu shahih?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’Maka sebagian ajudan gubernur Abdullah pun bertanya, ‘Wahai Abu Ya’qub (yaitu Ibnu Rahuyah). Apakah Engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala turun setiap malam?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’ Dia berkata, ‘Bagaimana cara Allah turun?’Ibnu Rahuyah pun berkata kepadanya, ‘Tetapkan (yakini) dulu bahwa Allah ada di atas, baru akan aku jelaskan tentang turunnya Allah.’Dia pun berkata, ‘Aku menetapkan bahwa Allah di atas.’Kemudian Ibnu Rahuyah berkata, ‘Allah Ta’ala berfirman,وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Rabb-mu, dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr [89]: 22)Maka sang gubernur berkata, ‘Wahai Abu Ya’qub (Ibnu Rahuyah), bukankah hal itu terjadi pada hari kiamat?’Ibnu Rahuyah pun berkata,أعز الله الأمير، ومن يجيء يوم القيامة من يمنعه اليوم؟‘Semoga Allah memuliakanmu wahai gubernur. Siapa yang (berkuasa) untuk datang pada hari kiamat (yaitu Allah, pen.), maka siapakah yang mampu mencegah-Nya (untuk turun ke langit dunia) setiap malam?’” [4]Dari kutipan-kutipan di atas, kita mengetahui bahwa ahlus sunnah menetapkan dan meyakini turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia, yang terkait dengan kehendak dan hikmah-Nya. “Turun” yang dimaksud adalah turun yang hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak serupa dengan satu pun makhluk-Nya. [5] Oleh karena itu, ahlus sunnah pun berdalil dengan hadits-hadits nuzul untuk menunjukkan ketinggian Dzat Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. [6][Bersambung] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah hal. 54 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]    Ushuulus Sunnah, 1/113.[3]    Kitab At-Tauhiid, 1/289-290.    [4]    ‘Aqidatus Salaf  wa Ash-haabul Hadits, 1/13.[5]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 54.[6]    Lihat Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah hal. 414-421, karya Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari dan Tahdzib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah hal. 57, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin rahimahumullah.🔍 Allah Dimana, Definisi Kafir Menurut Islam, Amalan Sunnah Di Bulan Rajab, Sirr Bismillah, Hukum Menyukai Lawan Jenis Dalam Islam


Ada seseorang yang berusaha untuk mem-bagaimana-kan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan akalnya. Dia berusaha berangan-angan untuk mem-visualisasi-kan sifat Allah Ta’ala. Dan ketika akalnya tidak sampai, dia serta merta menolak sifat Allah Ta’ala tersebut. Padahal telah dimaklumi, kita tidak memiliki ilmu tentang hakikat sifat-sifat Allah Ta’ala yang sebenarnya. Karena Allah Ta’ala hanya memberitahukan sifat-sifatNya saja, namun tidak pernah memberitahukan bagaimana hakikat sebenarnya dari sifat-sifat tersebut.Contohnya adalah seseorang yang menolak sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir) hanya karena tidak dapat dijangkau oleh visualisasinya. Orang tersebut mengatakan, ”Dunia ini ‘kan bundar, malam di suatu tempat dan siang di tempat yang lain. Kalau di Indonesia malam, di Eropa masih siang. Dan begitu seterusnya di belahan dunia yang lain. Kalau  Allah turun pada sepertiga malam, maka pekerjaan Allah hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu sepertiga malam terakhir berganti-ganti di seluruh dunia, sedangkan Allah itu hanya satu.”Demikianlah, dia berusaha untuk menggambarkan turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia. Dan ketika akalnya tidak mampu, dia pun menolak dan mengingkari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ ”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)Meyakini Sifat “Nuzul” adalah Ijma’ (Konsensus) Ahlus SunnahHadits-hadits yang menjelaskan tentang turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat [1], sehingga mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, ahlus sunnah menetapkan dan meyakini sifat nuzul bagi Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia tanpa menyerupakannya dengan satu pun dari makhluk-Nya dan tanpa mem-visualisasikan bagaimanakah bentuk (cara) dan hakikatnya. Hal ini adalah salah satu ijma’ (konsensus) ahlus sunnah.Ibnu Abi Zamanin Al-Maliki rahimahullah (wafat tahun 399H) berkata,وَأَخْبَرَنِي وَهْبٌ عَنْ اِبْنِ وَضَّاحٍ، عَنْ زُهَيْرِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ: كُلُّ مَنْ أَدْرَكْتُ مِنْ اَلْمَشَايِخِ: مَالِكٍ وَسُفْيَانَ وَفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ وَعِيسَى وَابْنِ اَلْمُبَارَكِ وَوَكِيعٍ كَانُوا يَقُولُونَ: اَلنُّزُولُ حَقٌّ. “Mengabarkan kepadaku Wahb, dari Ibnu Wadhdhah, dari Zuhair bin ‘Ubadah, beliau berkata, “Semua guru yang aku temui, yaitu Malik, Sufyan, Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Isa, Ibnul Mubarak, dan Waki’, mereka semua mengatakan, “An-nuzuul adalah haq (benar).” [2]Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat tahun 311 H) berkata,بَابُ ذِكْرِ أَخْبَارٍ ثَابِتَةِ السِّنْدِ صَحِيحَةِ الْقَوَامِ رَوَاهَا عُلَمَاءُ الْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نُزُولِ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، نَشْهَدُ شَهَادَةَ مُقِرٍّ بِلِسَانِهِ، مُصَدِّقٍ بِقَلْبِهِ  ، مُسْتَيْقِنٍ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ نُزُولِ الرَّبِّ مِنْ غَيْرِ أَنْ نَصِفَ الْكَيْفِيَّةَ، لِأَنَّ نَبِيَّنَا الْمُصْطَفَى لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ نُزُولِ خَالِقِنَا إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، أَعْلَمَنَا أَنَّهُ يَنْزِلُ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا لَمْ يَتْرُكْ، وَلَا نَبِيُّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَيَانَ مَا بِالْمُسْلِمِينَ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ، مِنْ أَمْرِ دِينِهِمْ فَنَحْنُ قَائِلُونَ مُصَدِّقُونَ بِمَا فِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مِنْ ذِكْرِ النُّزُولِ غَيْرِ مُتَكَلِّفِينَ الْقَوْلَ بِصِفَتِهِ أَوْ بِصِفَةِ الْكَيْفِيَّةِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصِفْ لَنَا كَيْفِيَّةَ النُّزُولِ وَفِي هَذِهِ الْأَخْبَارِ مَا بَانَ وَثَبَتَ وَصَحَّ: أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا فَوْقَ سَمَاءِ الدُّنْيَا، الَّذِي أَخْبَرَنَا نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَنْزِلُ إِلَيْهِ، إِذْ مُحَالٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ أَنْ يَقُولَ: نَزَلَ مِنْ أَسْفَلَ إِلَى أَعْلَى، وَمَفْهُومٌ فِي الْخِطَابِ أَنَّ النُّزُولَ مِنْ أَعْلَى إِلَى أَسْفَلَ“Pembahasan tentang berita-berita (hadits) yang valid (shahih), diriwayatkan oleh para ulama Hijaz dan Irak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kami bersaksi dengan persaksian lisan dan meyakini (membenarkan) di dalam hati tentang isi (kandungan) ini yaitu turunnya Allah Ta’ala tanpa kita gambarkan bagaimana bentuknya. Hal ini karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kita bagaimana bentuk turunnya Rabb kita ke langit dunia. Rasulullah (hanya) memberitahukan  kepada kita bahwa Allah turun. Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meninggalkan suatu penjelasan tentang perkara agama mereka yang dibutuhkan oleh kaum muslimin.Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan isi kandungan hadits ini yang menyebutkan turunnya Allah ke langit dunia tanpa membebani diri untuk menggambarkan bagaimanakah bentuknya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menggambarkan kepada kita bagaimanakah cara (bentuk) turunnya Allah.Dalam berita-berita (hadits) ini terdapat perkara yang jelas dan valid bahwa Allah Ta’ala di atas langit dunia, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia. Karena mustahil dalam bahasa Arab dikatakan “turun dari bawah ke atas”. Sedangkan yang dipahami dalam pembicaraan (bahasa Arab) adalah turun itu dari atas ke bawah.” [3]Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah (wafat tahun 449 H) membawakan suatu riwayat dari Ishaq bin Ibrahim (Ibnu Rahuyah),“Pada suatu hari Ibnu Rahuyah menghadiri majelis gubernur Abdullah bin Thahir. Ibnu Rahuyah ditanya tentang hadits nuzul, ‘Apakah hadits itu shahih?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’Maka sebagian ajudan gubernur Abdullah pun bertanya, ‘Wahai Abu Ya’qub (yaitu Ibnu Rahuyah). Apakah Engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala turun setiap malam?’ Ibnu Rahuyah berkata, ‘Iya.’ Dia berkata, ‘Bagaimana cara Allah turun?’Ibnu Rahuyah pun berkata kepadanya, ‘Tetapkan (yakini) dulu bahwa Allah ada di atas, baru akan aku jelaskan tentang turunnya Allah.’Dia pun berkata, ‘Aku menetapkan bahwa Allah di atas.’Kemudian Ibnu Rahuyah berkata, ‘Allah Ta’ala berfirman,وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Rabb-mu, dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr [89]: 22)Maka sang gubernur berkata, ‘Wahai Abu Ya’qub (Ibnu Rahuyah), bukankah hal itu terjadi pada hari kiamat?’Ibnu Rahuyah pun berkata,أعز الله الأمير، ومن يجيء يوم القيامة من يمنعه اليوم؟‘Semoga Allah memuliakanmu wahai gubernur. Siapa yang (berkuasa) untuk datang pada hari kiamat (yaitu Allah, pen.), maka siapakah yang mampu mencegah-Nya (untuk turun ke langit dunia) setiap malam?’” [4]Dari kutipan-kutipan di atas, kita mengetahui bahwa ahlus sunnah menetapkan dan meyakini turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia, yang terkait dengan kehendak dan hikmah-Nya. “Turun” yang dimaksud adalah turun yang hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala, tidak serupa dengan satu pun makhluk-Nya. [5] Oleh karena itu, ahlus sunnah pun berdalil dengan hadits-hadits nuzul untuk menunjukkan ketinggian Dzat Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. [6][Bersambung] ***Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 10 Jumadil awwal 1439/28 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah hal. 54 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.[2]    Ushuulus Sunnah, 1/113.[3]    Kitab At-Tauhiid, 1/289-290.    [4]    ‘Aqidatus Salaf  wa Ash-haabul Hadits, 1/13.[5]    Lihat Fathu Rabbil Bariyyah, hal. 54.[6]    Lihat Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah hal. 414-421, karya Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari dan Tahdzib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah hal. 57, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin rahimahumullah.🔍 Allah Dimana, Definisi Kafir Menurut Islam, Amalan Sunnah Di Bulan Rajab, Sirr Bismillah, Hukum Menyukai Lawan Jenis Dalam Islam

Klasifikasi Kitab Tafsir Al Qur’an (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Sebelum penyusun sampaikan tentang “Klasfikasi kitab-kitab Tafsir Alquran”, maka akan kami jelaskan terlebih dahulu perkara yang menjadi istilah pokok pembahasan, yaitu:  pengertian tafsir dan hukum mempelajarinya.DEFINISI TAFSIRTafsir (التفسير), secara bahasa diambil dari kata الفسر yang bermakna: menyingkap sesuatu yang tertutup sehingga menjadi jelas. Jadi, sebagaimana dijelaskan oleh pakar bahasa Arab, Ibnul Faris dalam Mu’jam Maqayis Al-Lughah bahwa makna bahasa dari kata “Tafsir” itu kembalinya kepada penjelasan sesuatu, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :{وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا}(33)Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) syubhat, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[QS. Al-Furqan: 33].Adapun secara istilah, beragam para ulama dalam mendefinisikannya, Syaikh Al-Utaimin dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir mendefinisikan istilah “Tafsir” dengan:بيان معاني القرآن الكريمPenjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.HUKUM TAFSIRHukum mempelajari tafsir Alquran adalah wajib atas umat ini secara umum, sedangkan untuk masing-masing individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir AlquranHal ini berdasarkan dalil dan alasan pendalilan sebagai berikut :Hikmah penurunan Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya Allah telah menjelaskan  hikmah diturunkannya Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِIni adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka metadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran (sehat) mendapat pelajaran.(QS. Shaad :29)Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah –dalam kitab beliau Ushulun fit Tafsir– menjelaskan makna tadabbur dalam ayat di atas, yaitu:“Memperhatikan lafadz untuk bisa memahami maknanya” , maka dari itu, tidak mungkin seseorang bisa mentadabburi Alquran dengan baik, tanpa mempelajari maknanya (tafsirnya).Ketahuilah, Alquran itu jika tidak ditadabburi menyebabkan terluputnya hikmah diturunkannya Alquran, sehingga Alquran menjadi sebatas lafadz-lafadznya saja yang tidak ada pengaruh besar terhadap pembacanya.Allah mengancam orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an adalah akan dikunci hatinya!Firman Allah Ta’ala :أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?”. [QS. Muhammad:24].Ibnu Katsir rahimahullah berkata :يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه ، وناهيا عن الإعراض عنه ، فقال : { أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها } أي : بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman,memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya,dengan berfirman :{ أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها },yaitu : bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya”. [Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah,jilid.4 hal.459].Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“…bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka.” [Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.23].Berkata DR. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir :وتعلُّم التفسير واجب على الأمة من حيث العموم، فلا يجوز أن تخلو الأمة من عالم بالتفسير يعلّم الأمة معاني كلام ربها. أما الأفراد فعلى كلٍّ منهم واجبٌ منه، وهو ما يقيمون به فرائضهم، ويعرفون به ربهم. ولابن عباس تقسيم للتفسير، ويمكن تقسيم الحكم على كل قسم بحسبه، ومنه معرفة ما يجب على أفراد الأمة“Secara umum, (hukum) mempelajari tafsir (Alquran) itu wajib atas umat, maka di tengah umat ini tidak boleh sampai kosong dari orang yang mengetahui tafsir Alquran, ia mengajarkan makna firman Rabbnya kepada umat.Sedangkan untuk (masing-masing) individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir Alquran, yaitu : perkara yang menyebabkan terlaksananya kewajiban mereka dan dengannya mereka dapat mengenal Rabb mereka.Ibnu Abbas telah membagi tafsir (kedalam beberapa bagian), dan memungkinkan pembagian hukumnya disesuaikan masing-masing bagian tersebut, dan diantaranya adalah perkara yang wajib dipelajari oleh (masing-masing) individu umat ini”.Referensi :Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir. (Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat

Klasifikasi Kitab Tafsir Al Qur’an (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Sebelum penyusun sampaikan tentang “Klasfikasi kitab-kitab Tafsir Alquran”, maka akan kami jelaskan terlebih dahulu perkara yang menjadi istilah pokok pembahasan, yaitu:  pengertian tafsir dan hukum mempelajarinya.DEFINISI TAFSIRTafsir (التفسير), secara bahasa diambil dari kata الفسر yang bermakna: menyingkap sesuatu yang tertutup sehingga menjadi jelas. Jadi, sebagaimana dijelaskan oleh pakar bahasa Arab, Ibnul Faris dalam Mu’jam Maqayis Al-Lughah bahwa makna bahasa dari kata “Tafsir” itu kembalinya kepada penjelasan sesuatu, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :{وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا}(33)Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) syubhat, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[QS. Al-Furqan: 33].Adapun secara istilah, beragam para ulama dalam mendefinisikannya, Syaikh Al-Utaimin dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir mendefinisikan istilah “Tafsir” dengan:بيان معاني القرآن الكريمPenjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.HUKUM TAFSIRHukum mempelajari tafsir Alquran adalah wajib atas umat ini secara umum, sedangkan untuk masing-masing individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir AlquranHal ini berdasarkan dalil dan alasan pendalilan sebagai berikut :Hikmah penurunan Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya Allah telah menjelaskan  hikmah diturunkannya Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِIni adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka metadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran (sehat) mendapat pelajaran.(QS. Shaad :29)Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah –dalam kitab beliau Ushulun fit Tafsir– menjelaskan makna tadabbur dalam ayat di atas, yaitu:“Memperhatikan lafadz untuk bisa memahami maknanya” , maka dari itu, tidak mungkin seseorang bisa mentadabburi Alquran dengan baik, tanpa mempelajari maknanya (tafsirnya).Ketahuilah, Alquran itu jika tidak ditadabburi menyebabkan terluputnya hikmah diturunkannya Alquran, sehingga Alquran menjadi sebatas lafadz-lafadznya saja yang tidak ada pengaruh besar terhadap pembacanya.Allah mengancam orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an adalah akan dikunci hatinya!Firman Allah Ta’ala :أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?”. [QS. Muhammad:24].Ibnu Katsir rahimahullah berkata :يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه ، وناهيا عن الإعراض عنه ، فقال : { أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها } أي : بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman,memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya,dengan berfirman :{ أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها },yaitu : bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya”. [Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah,jilid.4 hal.459].Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“…bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka.” [Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.23].Berkata DR. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir :وتعلُّم التفسير واجب على الأمة من حيث العموم، فلا يجوز أن تخلو الأمة من عالم بالتفسير يعلّم الأمة معاني كلام ربها. أما الأفراد فعلى كلٍّ منهم واجبٌ منه، وهو ما يقيمون به فرائضهم، ويعرفون به ربهم. ولابن عباس تقسيم للتفسير، ويمكن تقسيم الحكم على كل قسم بحسبه، ومنه معرفة ما يجب على أفراد الأمة“Secara umum, (hukum) mempelajari tafsir (Alquran) itu wajib atas umat, maka di tengah umat ini tidak boleh sampai kosong dari orang yang mengetahui tafsir Alquran, ia mengajarkan makna firman Rabbnya kepada umat.Sedangkan untuk (masing-masing) individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir Alquran, yaitu : perkara yang menyebabkan terlaksananya kewajiban mereka dan dengannya mereka dapat mengenal Rabb mereka.Ibnu Abbas telah membagi tafsir (kedalam beberapa bagian), dan memungkinkan pembagian hukumnya disesuaikan masing-masing bagian tersebut, dan diantaranya adalah perkara yang wajib dipelajari oleh (masing-masing) individu umat ini”.Referensi :Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir. (Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Sebelum penyusun sampaikan tentang “Klasfikasi kitab-kitab Tafsir Alquran”, maka akan kami jelaskan terlebih dahulu perkara yang menjadi istilah pokok pembahasan, yaitu:  pengertian tafsir dan hukum mempelajarinya.DEFINISI TAFSIRTafsir (التفسير), secara bahasa diambil dari kata الفسر yang bermakna: menyingkap sesuatu yang tertutup sehingga menjadi jelas. Jadi, sebagaimana dijelaskan oleh pakar bahasa Arab, Ibnul Faris dalam Mu’jam Maqayis Al-Lughah bahwa makna bahasa dari kata “Tafsir” itu kembalinya kepada penjelasan sesuatu, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :{وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا}(33)Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) syubhat, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[QS. Al-Furqan: 33].Adapun secara istilah, beragam para ulama dalam mendefinisikannya, Syaikh Al-Utaimin dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir mendefinisikan istilah “Tafsir” dengan:بيان معاني القرآن الكريمPenjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.HUKUM TAFSIRHukum mempelajari tafsir Alquran adalah wajib atas umat ini secara umum, sedangkan untuk masing-masing individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir AlquranHal ini berdasarkan dalil dan alasan pendalilan sebagai berikut :Hikmah penurunan Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya Allah telah menjelaskan  hikmah diturunkannya Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِIni adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka metadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran (sehat) mendapat pelajaran.(QS. Shaad :29)Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah –dalam kitab beliau Ushulun fit Tafsir– menjelaskan makna tadabbur dalam ayat di atas, yaitu:“Memperhatikan lafadz untuk bisa memahami maknanya” , maka dari itu, tidak mungkin seseorang bisa mentadabburi Alquran dengan baik, tanpa mempelajari maknanya (tafsirnya).Ketahuilah, Alquran itu jika tidak ditadabburi menyebabkan terluputnya hikmah diturunkannya Alquran, sehingga Alquran menjadi sebatas lafadz-lafadznya saja yang tidak ada pengaruh besar terhadap pembacanya.Allah mengancam orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an adalah akan dikunci hatinya!Firman Allah Ta’ala :أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?”. [QS. Muhammad:24].Ibnu Katsir rahimahullah berkata :يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه ، وناهيا عن الإعراض عنه ، فقال : { أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها } أي : بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman,memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya,dengan berfirman :{ أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها },yaitu : bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya”. [Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah,jilid.4 hal.459].Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“…bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka.” [Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.23].Berkata DR. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir :وتعلُّم التفسير واجب على الأمة من حيث العموم، فلا يجوز أن تخلو الأمة من عالم بالتفسير يعلّم الأمة معاني كلام ربها. أما الأفراد فعلى كلٍّ منهم واجبٌ منه، وهو ما يقيمون به فرائضهم، ويعرفون به ربهم. ولابن عباس تقسيم للتفسير، ويمكن تقسيم الحكم على كل قسم بحسبه، ومنه معرفة ما يجب على أفراد الأمة“Secara umum, (hukum) mempelajari tafsir (Alquran) itu wajib atas umat, maka di tengah umat ini tidak boleh sampai kosong dari orang yang mengetahui tafsir Alquran, ia mengajarkan makna firman Rabbnya kepada umat.Sedangkan untuk (masing-masing) individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir Alquran, yaitu : perkara yang menyebabkan terlaksananya kewajiban mereka dan dengannya mereka dapat mengenal Rabb mereka.Ibnu Abbas telah membagi tafsir (kedalam beberapa bagian), dan memungkinkan pembagian hukumnya disesuaikan masing-masing bagian tersebut, dan diantaranya adalah perkara yang wajib dipelajari oleh (masing-masing) individu umat ini”.Referensi :Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir. (Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Sebelum penyusun sampaikan tentang “Klasfikasi kitab-kitab Tafsir Alquran”, maka akan kami jelaskan terlebih dahulu perkara yang menjadi istilah pokok pembahasan, yaitu:  pengertian tafsir dan hukum mempelajarinya.DEFINISI TAFSIRTafsir (التفسير), secara bahasa diambil dari kata الفسر yang bermakna: menyingkap sesuatu yang tertutup sehingga menjadi jelas. Jadi, sebagaimana dijelaskan oleh pakar bahasa Arab, Ibnul Faris dalam Mu’jam Maqayis Al-Lughah bahwa makna bahasa dari kata “Tafsir” itu kembalinya kepada penjelasan sesuatu, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :{وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا}(33)Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) syubhat, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[QS. Al-Furqan: 33].Adapun secara istilah, beragam para ulama dalam mendefinisikannya, Syaikh Al-Utaimin dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir mendefinisikan istilah “Tafsir” dengan:بيان معاني القرآن الكريمPenjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.HUKUM TAFSIRHukum mempelajari tafsir Alquran adalah wajib atas umat ini secara umum, sedangkan untuk masing-masing individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir AlquranHal ini berdasarkan dalil dan alasan pendalilan sebagai berikut :Hikmah penurunan Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya Allah telah menjelaskan  hikmah diturunkannya Alquran adalah untuk ditadabburi dan diambil pelajarannya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِIni adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka metadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran (sehat) mendapat pelajaran.(QS. Shaad :29)Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah –dalam kitab beliau Ushulun fit Tafsir– menjelaskan makna tadabbur dalam ayat di atas, yaitu:“Memperhatikan lafadz untuk bisa memahami maknanya” , maka dari itu, tidak mungkin seseorang bisa mentadabburi Alquran dengan baik, tanpa mempelajari maknanya (tafsirnya).Ketahuilah, Alquran itu jika tidak ditadabburi menyebabkan terluputnya hikmah diturunkannya Alquran, sehingga Alquran menjadi sebatas lafadz-lafadznya saja yang tidak ada pengaruh besar terhadap pembacanya.Allah mengancam orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an adalah akan dikunci hatinya!Firman Allah Ta’ala :أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?”. [QS. Muhammad:24].Ibnu Katsir rahimahullah berkata :يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه ، وناهيا عن الإعراض عنه ، فقال : { أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها } أي : بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman,memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya,dengan berfirman :{ أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها },yaitu : bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya”. [Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah,jilid.4 hal.459].Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“…bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka.” [Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.23].Berkata DR. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir :وتعلُّم التفسير واجب على الأمة من حيث العموم، فلا يجوز أن تخلو الأمة من عالم بالتفسير يعلّم الأمة معاني كلام ربها. أما الأفراد فعلى كلٍّ منهم واجبٌ منه، وهو ما يقيمون به فرائضهم، ويعرفون به ربهم. ولابن عباس تقسيم للتفسير، ويمكن تقسيم الحكم على كل قسم بحسبه، ومنه معرفة ما يجب على أفراد الأمة“Secara umum, (hukum) mempelajari tafsir (Alquran) itu wajib atas umat, maka di tengah umat ini tidak boleh sampai kosong dari orang yang mengetahui tafsir Alquran, ia mengajarkan makna firman Rabbnya kepada umat.Sedangkan untuk (masing-masing) individu, maka bagi setiap orang wajib mempelajari tafsir sebatas kadar wajib dari tafsir Alquran, yaitu : perkara yang menyebabkan terlaksananya kewajiban mereka dan dengannya mereka dapat mengenal Rabb mereka.Ibnu Abbas telah membagi tafsir (kedalam beberapa bagian), dan memungkinkan pembagian hukumnya disesuaikan masing-masing bagian tersebut, dan diantaranya adalah perkara yang wajib dipelajari oleh (masing-masing) individu umat ini”.Referensi :Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin. Musa’id Sulaiman Ath-Thayyar dalam kitabnya Fushulun fi Ushulit Tafsir. (Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat

Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 2)Kerinduan Melihat Wajah-MuLihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sang idola. Pecinta (maniak) sepak bola akan rindu, sangat ingin bertemu dan melihat langsung pesebak bola dunia yang selama ini hanya bisa dia saksikan di layar kaca. Lihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sanga artis idola. Mereka teriak-teriak histeris ketika bertemu langsung dengan sang pujaan hati. Potret kecintaan seperti ini, bisa kita saksikan dalam dunia nyata kita.Namun, wahai hati yang lalai, pernahkah kita merasa rindu untuk melihat wajah-Nya? Kita setiap hari beribadah dan menghamba kepada Allah Ta’ala dalam ruku’ dan sujud kita. Kita memuji Allah dan mengagungkan-Nya dalam setiap detik ibadah kita, meskipun kita tidak bisa melihat-Nya di dunia. Namun seorang mukmin yakin dan percaya bahwa Allah Ta’ala itu ada dan pasti selalu rindu untuk melihat wajah-Nya. Melihat wajah Allah Ta’ala, inilah kenikmatan yang akan Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang beriman.Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS. Yunus [10]: 26).Apakah yang dimaksud dengan “tambahan” dalam ayat ini? Penjelasan tentang hal ini diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ “Bila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?’ Penduduk surga menjawab, ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami menjadi putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menjauhkan kami dari neraka?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ“Lalu Allah membukakan pembatas (hijab). Tidak ada satu pun anugerah yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada anugerah dapat memandang Rabb mereka” (HR. Muslim no. 181).Dalam Tafsir Jalalain (1/270) disebutkan,{وَزِيَادَة} هِيَ النَّظَر إلَيْهِ تَعَالَى كَمَا فِي حَدِيث مُسْلِم“(Yang dimaksud dengan) ’tambahan’ yaitu melihat (wajah) Allah Ta’ala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.”Demikianlah pahala orang-orang yang beriman dan beramal shalih, yaitu Allah siapkan untuknya surga dan nikmat yang paling nikmat, yaitu melihat wajah Allah Ta’ala.Inilah yang akan dirindukan oleh setiap mukmin di detik-detik ketika ajal menjemputnya. Ketika sakaratul maut, seorang mukmin akan diperlihatkan amal ibadahnya ketika masih hidup di dunia sehingga dia pun rindu untuk segera bertemu dengan Rabb-nya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. (Sebaliknya), barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, Allah pun membenci perjumpaan dengannya.”Mendengar hadits ini, ‘Aisyah atau sebagian istri Nabi berkata,إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ“Sesungguhnya kami cemas (menunggu) kematian.”‘Aisyah menyangka bahwa ketika mereka merasa cemas terhadap kematian, berarti dia benci untuk bertemu dengan Allah Ta’ala. Sehingga anggapan seperti ini pun diluruskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Bukan begitu. Namun yang benar, seorang mukmin jika dijemput kematian, dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah Ta’ala dan karamah-Nya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih dia cintai daripada apa yang di hadapannya. Dia pun mencintai untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala, dan Allah pun cinta untuk berjumpa dengannya.”“Sebaliknya orang kafir, jika mereka dijemput kematian, dia diberi kabar buruk dengan siksa (adzab) Allah dan hukuman-Nya. Sehingga tidak ada yang lebih dia cemaskan (dia takutkan) daripada sesuatu yang ada di hadapannya. Dia pun membenci berjumpa dengan Allah, dan Allah benci untuk berjumpa dengannya.” (HR. Bukhari no. 6507)Setiap orang yang merasakan cinta, tentu dia akan gundah gulana ketika lama tidak berjumpa dengan kekasihnya. Dan demikianlah hakikat cinta seorang mukmin kepada Rabb-nya.[Selesai]***Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam NL, 16 Jumadil awwal 1439/ 3 Februari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim🔍 Sum'ah, Bolehkah Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Pengertian Fathu Makkah, Hadist Menahan Amarah, Yang Berhak Menerima Fidyah

Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 2)Kerinduan Melihat Wajah-MuLihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sang idola. Pecinta (maniak) sepak bola akan rindu, sangat ingin bertemu dan melihat langsung pesebak bola dunia yang selama ini hanya bisa dia saksikan di layar kaca. Lihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sanga artis idola. Mereka teriak-teriak histeris ketika bertemu langsung dengan sang pujaan hati. Potret kecintaan seperti ini, bisa kita saksikan dalam dunia nyata kita.Namun, wahai hati yang lalai, pernahkah kita merasa rindu untuk melihat wajah-Nya? Kita setiap hari beribadah dan menghamba kepada Allah Ta’ala dalam ruku’ dan sujud kita. Kita memuji Allah dan mengagungkan-Nya dalam setiap detik ibadah kita, meskipun kita tidak bisa melihat-Nya di dunia. Namun seorang mukmin yakin dan percaya bahwa Allah Ta’ala itu ada dan pasti selalu rindu untuk melihat wajah-Nya. Melihat wajah Allah Ta’ala, inilah kenikmatan yang akan Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang beriman.Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS. Yunus [10]: 26).Apakah yang dimaksud dengan “tambahan” dalam ayat ini? Penjelasan tentang hal ini diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ “Bila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?’ Penduduk surga menjawab, ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami menjadi putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menjauhkan kami dari neraka?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ“Lalu Allah membukakan pembatas (hijab). Tidak ada satu pun anugerah yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada anugerah dapat memandang Rabb mereka” (HR. Muslim no. 181).Dalam Tafsir Jalalain (1/270) disebutkan,{وَزِيَادَة} هِيَ النَّظَر إلَيْهِ تَعَالَى كَمَا فِي حَدِيث مُسْلِم“(Yang dimaksud dengan) ’tambahan’ yaitu melihat (wajah) Allah Ta’ala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.”Demikianlah pahala orang-orang yang beriman dan beramal shalih, yaitu Allah siapkan untuknya surga dan nikmat yang paling nikmat, yaitu melihat wajah Allah Ta’ala.Inilah yang akan dirindukan oleh setiap mukmin di detik-detik ketika ajal menjemputnya. Ketika sakaratul maut, seorang mukmin akan diperlihatkan amal ibadahnya ketika masih hidup di dunia sehingga dia pun rindu untuk segera bertemu dengan Rabb-nya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. (Sebaliknya), barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, Allah pun membenci perjumpaan dengannya.”Mendengar hadits ini, ‘Aisyah atau sebagian istri Nabi berkata,إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ“Sesungguhnya kami cemas (menunggu) kematian.”‘Aisyah menyangka bahwa ketika mereka merasa cemas terhadap kematian, berarti dia benci untuk bertemu dengan Allah Ta’ala. Sehingga anggapan seperti ini pun diluruskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Bukan begitu. Namun yang benar, seorang mukmin jika dijemput kematian, dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah Ta’ala dan karamah-Nya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih dia cintai daripada apa yang di hadapannya. Dia pun mencintai untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala, dan Allah pun cinta untuk berjumpa dengannya.”“Sebaliknya orang kafir, jika mereka dijemput kematian, dia diberi kabar buruk dengan siksa (adzab) Allah dan hukuman-Nya. Sehingga tidak ada yang lebih dia cemaskan (dia takutkan) daripada sesuatu yang ada di hadapannya. Dia pun membenci berjumpa dengan Allah, dan Allah benci untuk berjumpa dengannya.” (HR. Bukhari no. 6507)Setiap orang yang merasakan cinta, tentu dia akan gundah gulana ketika lama tidak berjumpa dengan kekasihnya. Dan demikianlah hakikat cinta seorang mukmin kepada Rabb-nya.[Selesai]***Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam NL, 16 Jumadil awwal 1439/ 3 Februari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim🔍 Sum'ah, Bolehkah Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Pengertian Fathu Makkah, Hadist Menahan Amarah, Yang Berhak Menerima Fidyah
Baca pembahasan sebelumnya Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 2)Kerinduan Melihat Wajah-MuLihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sang idola. Pecinta (maniak) sepak bola akan rindu, sangat ingin bertemu dan melihat langsung pesebak bola dunia yang selama ini hanya bisa dia saksikan di layar kaca. Lihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sanga artis idola. Mereka teriak-teriak histeris ketika bertemu langsung dengan sang pujaan hati. Potret kecintaan seperti ini, bisa kita saksikan dalam dunia nyata kita.Namun, wahai hati yang lalai, pernahkah kita merasa rindu untuk melihat wajah-Nya? Kita setiap hari beribadah dan menghamba kepada Allah Ta’ala dalam ruku’ dan sujud kita. Kita memuji Allah dan mengagungkan-Nya dalam setiap detik ibadah kita, meskipun kita tidak bisa melihat-Nya di dunia. Namun seorang mukmin yakin dan percaya bahwa Allah Ta’ala itu ada dan pasti selalu rindu untuk melihat wajah-Nya. Melihat wajah Allah Ta’ala, inilah kenikmatan yang akan Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang beriman.Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS. Yunus [10]: 26).Apakah yang dimaksud dengan “tambahan” dalam ayat ini? Penjelasan tentang hal ini diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ “Bila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?’ Penduduk surga menjawab, ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami menjadi putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menjauhkan kami dari neraka?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ“Lalu Allah membukakan pembatas (hijab). Tidak ada satu pun anugerah yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada anugerah dapat memandang Rabb mereka” (HR. Muslim no. 181).Dalam Tafsir Jalalain (1/270) disebutkan,{وَزِيَادَة} هِيَ النَّظَر إلَيْهِ تَعَالَى كَمَا فِي حَدِيث مُسْلِم“(Yang dimaksud dengan) ’tambahan’ yaitu melihat (wajah) Allah Ta’ala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.”Demikianlah pahala orang-orang yang beriman dan beramal shalih, yaitu Allah siapkan untuknya surga dan nikmat yang paling nikmat, yaitu melihat wajah Allah Ta’ala.Inilah yang akan dirindukan oleh setiap mukmin di detik-detik ketika ajal menjemputnya. Ketika sakaratul maut, seorang mukmin akan diperlihatkan amal ibadahnya ketika masih hidup di dunia sehingga dia pun rindu untuk segera bertemu dengan Rabb-nya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. (Sebaliknya), barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, Allah pun membenci perjumpaan dengannya.”Mendengar hadits ini, ‘Aisyah atau sebagian istri Nabi berkata,إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ“Sesungguhnya kami cemas (menunggu) kematian.”‘Aisyah menyangka bahwa ketika mereka merasa cemas terhadap kematian, berarti dia benci untuk bertemu dengan Allah Ta’ala. Sehingga anggapan seperti ini pun diluruskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Bukan begitu. Namun yang benar, seorang mukmin jika dijemput kematian, dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah Ta’ala dan karamah-Nya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih dia cintai daripada apa yang di hadapannya. Dia pun mencintai untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala, dan Allah pun cinta untuk berjumpa dengannya.”“Sebaliknya orang kafir, jika mereka dijemput kematian, dia diberi kabar buruk dengan siksa (adzab) Allah dan hukuman-Nya. Sehingga tidak ada yang lebih dia cemaskan (dia takutkan) daripada sesuatu yang ada di hadapannya. Dia pun membenci berjumpa dengan Allah, dan Allah benci untuk berjumpa dengannya.” (HR. Bukhari no. 6507)Setiap orang yang merasakan cinta, tentu dia akan gundah gulana ketika lama tidak berjumpa dengan kekasihnya. Dan demikianlah hakikat cinta seorang mukmin kepada Rabb-nya.[Selesai]***Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam NL, 16 Jumadil awwal 1439/ 3 Februari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim🔍 Sum'ah, Bolehkah Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Pengertian Fathu Makkah, Hadist Menahan Amarah, Yang Berhak Menerima Fidyah


Baca pembahasan sebelumnya Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 2)Kerinduan Melihat Wajah-MuLihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sang idola. Pecinta (maniak) sepak bola akan rindu, sangat ingin bertemu dan melihat langsung pesebak bola dunia yang selama ini hanya bisa dia saksikan di layar kaca. Lihatlah mereka yang memiliki cinta palsu kepada sanga artis idola. Mereka teriak-teriak histeris ketika bertemu langsung dengan sang pujaan hati. Potret kecintaan seperti ini, bisa kita saksikan dalam dunia nyata kita.Namun, wahai hati yang lalai, pernahkah kita merasa rindu untuk melihat wajah-Nya? Kita setiap hari beribadah dan menghamba kepada Allah Ta’ala dalam ruku’ dan sujud kita. Kita memuji Allah dan mengagungkan-Nya dalam setiap detik ibadah kita, meskipun kita tidak bisa melihat-Nya di dunia. Namun seorang mukmin yakin dan percaya bahwa Allah Ta’ala itu ada dan pasti selalu rindu untuk melihat wajah-Nya. Melihat wajah Allah Ta’ala, inilah kenikmatan yang akan Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang beriman.Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS. Yunus [10]: 26).Apakah yang dimaksud dengan “tambahan” dalam ayat ini? Penjelasan tentang hal ini diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ “Bila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?’ Penduduk surga menjawab, ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami menjadi putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menjauhkan kami dari neraka?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ“Lalu Allah membukakan pembatas (hijab). Tidak ada satu pun anugerah yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada anugerah dapat memandang Rabb mereka” (HR. Muslim no. 181).Dalam Tafsir Jalalain (1/270) disebutkan,{وَزِيَادَة} هِيَ النَّظَر إلَيْهِ تَعَالَى كَمَا فِي حَدِيث مُسْلِم“(Yang dimaksud dengan) ’tambahan’ yaitu melihat (wajah) Allah Ta’ala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.”Demikianlah pahala orang-orang yang beriman dan beramal shalih, yaitu Allah siapkan untuknya surga dan nikmat yang paling nikmat, yaitu melihat wajah Allah Ta’ala.Inilah yang akan dirindukan oleh setiap mukmin di detik-detik ketika ajal menjemputnya. Ketika sakaratul maut, seorang mukmin akan diperlihatkan amal ibadahnya ketika masih hidup di dunia sehingga dia pun rindu untuk segera bertemu dengan Rabb-nya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. (Sebaliknya), barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, Allah pun membenci perjumpaan dengannya.”Mendengar hadits ini, ‘Aisyah atau sebagian istri Nabi berkata,إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ“Sesungguhnya kami cemas (menunggu) kematian.”‘Aisyah menyangka bahwa ketika mereka merasa cemas terhadap kematian, berarti dia benci untuk bertemu dengan Allah Ta’ala. Sehingga anggapan seperti ini pun diluruskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Bukan begitu. Namun yang benar, seorang mukmin jika dijemput kematian, dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah Ta’ala dan karamah-Nya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih dia cintai daripada apa yang di hadapannya. Dia pun mencintai untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala, dan Allah pun cinta untuk berjumpa dengannya.”“Sebaliknya orang kafir, jika mereka dijemput kematian, dia diberi kabar buruk dengan siksa (adzab) Allah dan hukuman-Nya. Sehingga tidak ada yang lebih dia cemaskan (dia takutkan) daripada sesuatu yang ada di hadapannya. Dia pun membenci berjumpa dengan Allah, dan Allah benci untuk berjumpa dengannya.” (HR. Bukhari no. 6507)Setiap orang yang merasakan cinta, tentu dia akan gundah gulana ketika lama tidak berjumpa dengan kekasihnya. Dan demikianlah hakikat cinta seorang mukmin kepada Rabb-nya.[Selesai]***Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam NL, 16 Jumadil awwal 1439/ 3 Februari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim🔍 Sum'ah, Bolehkah Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Pengertian Fathu Makkah, Hadist Menahan Amarah, Yang Berhak Menerima Fidyah

10 Terapi Mabuk Cinta

Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat

10 Terapi Mabuk Cinta

Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat
Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat


Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat
Prev     Next