Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!

Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!

Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA

Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA

Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN

Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN

Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!

Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!

Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1

Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1

Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik: IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya: Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1434 / 3 Juni 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1Next Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik: IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya: Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1434 / 3 Juni 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1Next Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik: IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya: Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1434 / 3 Juni 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1Next Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik: IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya: Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1434 / 3 Juni 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1Next Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah?

Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2Next Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan Korupsi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah?

Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2Next Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan Korupsi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2Next Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan Korupsi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2Next Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan Korupsi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan Korupsi

Post navigation Previous Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah?Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan Korupsi

Post navigation Previous Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah?Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Post navigation Previous Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah?Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Post navigation Previous Kajian Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah?Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam! Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Ramadhan 1434 / 29 Juli 2013 Post navigation Previous Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan KorupsiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam! Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Ramadhan 1434 / 29 Juli 2013 Post navigation Previous Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan KorupsiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam! Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Ramadhan 1434 / 29 Juli 2013 Post navigation Previous Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan KorupsiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam! Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Ramadhan 1434 / 29 Juli 2013 Post navigation Previous Video Ceramah Kultum Ramadhan 2013: Antara Puasa dan KorupsiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next