Jadi Hamba yang Bersyukur dengan Tahajud

Jadi hamba yang bersyukur bisa dengan shalat tahajud. Daftar Isi tutup 1. Bab Keutamaan Qiyamul Lail 1.1. Hadits #1160 1.2. Faedah Hadits 1.2.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail   Hadits #1160 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : (( أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً! )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَعَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ نَحْوُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820] Dari Al-Mughirah bin Syu’bah seperti di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari, no. 4836 dan Muslim, no. 2819]   Faedah Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Setiap nikmat patut disyukuri. Nikmat itu harusnya jadi sebab untuk kita makin bersyukur. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam. Shalat tahajud itu tanda hamba itu bersyukur atas nikmat. Baca Juga: Pamer Status Facebook “Alhamdulillah, Sudah Bangun Tahajud”, Baikkah? Keutamaan Shalat Tahajud Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.       Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagskeutamaan shalat malam keutamaan shalat tahajud riyadhus sholihin shalat malam shalat tahajud

Jadi Hamba yang Bersyukur dengan Tahajud

Jadi hamba yang bersyukur bisa dengan shalat tahajud. Daftar Isi tutup 1. Bab Keutamaan Qiyamul Lail 1.1. Hadits #1160 1.2. Faedah Hadits 1.2.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail   Hadits #1160 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : (( أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً! )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَعَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ نَحْوُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820] Dari Al-Mughirah bin Syu’bah seperti di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari, no. 4836 dan Muslim, no. 2819]   Faedah Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Setiap nikmat patut disyukuri. Nikmat itu harusnya jadi sebab untuk kita makin bersyukur. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam. Shalat tahajud itu tanda hamba itu bersyukur atas nikmat. Baca Juga: Pamer Status Facebook “Alhamdulillah, Sudah Bangun Tahajud”, Baikkah? Keutamaan Shalat Tahajud Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.       Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagskeutamaan shalat malam keutamaan shalat tahajud riyadhus sholihin shalat malam shalat tahajud
Jadi hamba yang bersyukur bisa dengan shalat tahajud. Daftar Isi tutup 1. Bab Keutamaan Qiyamul Lail 1.1. Hadits #1160 1.2. Faedah Hadits 1.2.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail   Hadits #1160 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : (( أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً! )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَعَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ نَحْوُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820] Dari Al-Mughirah bin Syu’bah seperti di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari, no. 4836 dan Muslim, no. 2819]   Faedah Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Setiap nikmat patut disyukuri. Nikmat itu harusnya jadi sebab untuk kita makin bersyukur. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam. Shalat tahajud itu tanda hamba itu bersyukur atas nikmat. Baca Juga: Pamer Status Facebook “Alhamdulillah, Sudah Bangun Tahajud”, Baikkah? Keutamaan Shalat Tahajud Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.       Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagskeutamaan shalat malam keutamaan shalat tahajud riyadhus sholihin shalat malam shalat tahajud


Jadi hamba yang bersyukur bisa dengan shalat tahajud. Daftar Isi tutup 1. Bab Keutamaan Qiyamul Lail 1.1. Hadits #1160 1.2. Faedah Hadits 1.2.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail   Hadits #1160 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : (( أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً! )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَعَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ نَحْوُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya pecah-pecah, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820] Dari Al-Mughirah bin Syu’bah seperti di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari, no. 4836 dan Muslim, no. 2819]   Faedah Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Setiap nikmat patut disyukuri. Nikmat itu harusnya jadi sebab untuk kita makin bersyukur. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam. Shalat tahajud itu tanda hamba itu bersyukur atas nikmat. Baca Juga: Pamer Status Facebook “Alhamdulillah, Sudah Bangun Tahajud”, Baikkah? Keutamaan Shalat Tahajud Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.       Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagskeutamaan shalat malam keutamaan shalat tahajud riyadhus sholihin shalat malam shalat tahajud

Apa itu Kaedah Fikih dan Manfaat Mempelajarinya?

Kaedah fikih (al-qawa’id al-fiqhiyyah) menurut para ulama adalah kaedah aghlabiy (umum) yang bisa diterapkan dalam mayoritas masalah juziyyah (parsial) dan dapat diketahui hukumnya. Kaedah fikih ini harus dibangun di atas dalil dari Al-Kitab, As-Sunnah, ijmak, atau qiyas, atau dibangun di atas ushul syari dan maqashidnya. Misalnya kaedah yang berbunyi, المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ “Kesulitan itu mendatangkan kemudahan.” Kaedah ini berdasarkan dalil, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Juga kaedah, اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ “Yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu.” Dalilnya adalah hadits dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا “Janganlah berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” (HR. Bukhari, no. 177 dan Muslim, no. 361). Ada juga kaedah fikih dibangun di atas dalil ijmak atau kata sepakat para ulama seperti kaedah, لاَ اجْتِهَادَ مَعَ النَّصِّ “Tidak ada ijtihad selama masih ada nash (dalil).” Para ulama sepakat bahwa harus mendahulukan dalil dari ijtihad. Daftar Isi tutup 1. Manfaat mempelajari kaedah fikih 2. Lima kaedah besar 2.1. Referensi: Manfaat mempelajari kaedah fikih   Pertama: Kaedah fikih adalah di antara ilmu syari yang jika dipelajari termasuk dalam beribadah kepada Allah. Kedua: Kaedah fikih akan menolong para penuntut ilmu dalam menyelesaikan masalah fikih yang masih rancu. Ketiga: Kaedah fikih dapat menyelesaikan berbagai masalah-masalah baru. Keempat: Kaedah fikih sudah dapat dijadikan dalil karena kaedah ini sendiri diambil dari dalil syari. Kelima: Cukup mempelajari kaedah fikih yang sifatnya umum, maka berbagai juz masalah fikih mudah dipahami. Keenam: Kaedah fikih akan menolong para qadhi dan para hakim untuk menyelesaikan berbagai masalah terkini. Ketujuh: Kaedah fikih akan membantu mengaitkan masalah-masalah antar madzhab dan sebab bisa terjadinya perbedaan pendapat. Kedelapan: Kaedah fikih mengajarkan bagaimana baiknya agama ini karena mengajarkan kaedah umum, bukan hanya mengurus masalah parsial saja. Baca Juga: Empat Kaedah dalam Berdakwah Lima kaedah besar   Ada lima kaedah fikih yang besar (al-qawa’id al-kulliyah al-kubra): القَاعِدَةُ الأُوْلَى: الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا Kaedah pertama: setiap perkara tergantung niatnya. القَاعِدَةُ الثَّانِيَّةُ: الضَّرَرُ يُزَالُ Kaedah kedua: bahaya (mudarat) itu dihilangkan. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ Kaedah ketiga: Adat itu jadi sandaran hukum. القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ Kaedah keempat: kesulitan mendatangkan kemudahan. القَاعِدَةُ الخَامِسَةُ: اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ Kaedah kelima: yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu. Materi kaedah fikih, sudah dibahas oleh Rumaysho.Com secara rutin di sini: Kaedah Fikih – Rumaysho   Referensi: Syarh Manzhumah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan pertama, Tahun 1436. Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Imam Adz-Dzahabi.     Disusun di BSD, 6 Shafar 1441 H, 5 Oktober 2019, Sabtu Pagi Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsapa itu kaedah fikih ilmu ushul kaedah fikih manfaat kaedah fikih

Apa itu Kaedah Fikih dan Manfaat Mempelajarinya?

Kaedah fikih (al-qawa’id al-fiqhiyyah) menurut para ulama adalah kaedah aghlabiy (umum) yang bisa diterapkan dalam mayoritas masalah juziyyah (parsial) dan dapat diketahui hukumnya. Kaedah fikih ini harus dibangun di atas dalil dari Al-Kitab, As-Sunnah, ijmak, atau qiyas, atau dibangun di atas ushul syari dan maqashidnya. Misalnya kaedah yang berbunyi, المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ “Kesulitan itu mendatangkan kemudahan.” Kaedah ini berdasarkan dalil, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Juga kaedah, اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ “Yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu.” Dalilnya adalah hadits dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا “Janganlah berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” (HR. Bukhari, no. 177 dan Muslim, no. 361). Ada juga kaedah fikih dibangun di atas dalil ijmak atau kata sepakat para ulama seperti kaedah, لاَ اجْتِهَادَ مَعَ النَّصِّ “Tidak ada ijtihad selama masih ada nash (dalil).” Para ulama sepakat bahwa harus mendahulukan dalil dari ijtihad. Daftar Isi tutup 1. Manfaat mempelajari kaedah fikih 2. Lima kaedah besar 2.1. Referensi: Manfaat mempelajari kaedah fikih   Pertama: Kaedah fikih adalah di antara ilmu syari yang jika dipelajari termasuk dalam beribadah kepada Allah. Kedua: Kaedah fikih akan menolong para penuntut ilmu dalam menyelesaikan masalah fikih yang masih rancu. Ketiga: Kaedah fikih dapat menyelesaikan berbagai masalah-masalah baru. Keempat: Kaedah fikih sudah dapat dijadikan dalil karena kaedah ini sendiri diambil dari dalil syari. Kelima: Cukup mempelajari kaedah fikih yang sifatnya umum, maka berbagai juz masalah fikih mudah dipahami. Keenam: Kaedah fikih akan menolong para qadhi dan para hakim untuk menyelesaikan berbagai masalah terkini. Ketujuh: Kaedah fikih akan membantu mengaitkan masalah-masalah antar madzhab dan sebab bisa terjadinya perbedaan pendapat. Kedelapan: Kaedah fikih mengajarkan bagaimana baiknya agama ini karena mengajarkan kaedah umum, bukan hanya mengurus masalah parsial saja. Baca Juga: Empat Kaedah dalam Berdakwah Lima kaedah besar   Ada lima kaedah fikih yang besar (al-qawa’id al-kulliyah al-kubra): القَاعِدَةُ الأُوْلَى: الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا Kaedah pertama: setiap perkara tergantung niatnya. القَاعِدَةُ الثَّانِيَّةُ: الضَّرَرُ يُزَالُ Kaedah kedua: bahaya (mudarat) itu dihilangkan. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ Kaedah ketiga: Adat itu jadi sandaran hukum. القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ Kaedah keempat: kesulitan mendatangkan kemudahan. القَاعِدَةُ الخَامِسَةُ: اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ Kaedah kelima: yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu. Materi kaedah fikih, sudah dibahas oleh Rumaysho.Com secara rutin di sini: Kaedah Fikih – Rumaysho   Referensi: Syarh Manzhumah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan pertama, Tahun 1436. Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Imam Adz-Dzahabi.     Disusun di BSD, 6 Shafar 1441 H, 5 Oktober 2019, Sabtu Pagi Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsapa itu kaedah fikih ilmu ushul kaedah fikih manfaat kaedah fikih
Kaedah fikih (al-qawa’id al-fiqhiyyah) menurut para ulama adalah kaedah aghlabiy (umum) yang bisa diterapkan dalam mayoritas masalah juziyyah (parsial) dan dapat diketahui hukumnya. Kaedah fikih ini harus dibangun di atas dalil dari Al-Kitab, As-Sunnah, ijmak, atau qiyas, atau dibangun di atas ushul syari dan maqashidnya. Misalnya kaedah yang berbunyi, المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ “Kesulitan itu mendatangkan kemudahan.” Kaedah ini berdasarkan dalil, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Juga kaedah, اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ “Yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu.” Dalilnya adalah hadits dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا “Janganlah berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” (HR. Bukhari, no. 177 dan Muslim, no. 361). Ada juga kaedah fikih dibangun di atas dalil ijmak atau kata sepakat para ulama seperti kaedah, لاَ اجْتِهَادَ مَعَ النَّصِّ “Tidak ada ijtihad selama masih ada nash (dalil).” Para ulama sepakat bahwa harus mendahulukan dalil dari ijtihad. Daftar Isi tutup 1. Manfaat mempelajari kaedah fikih 2. Lima kaedah besar 2.1. Referensi: Manfaat mempelajari kaedah fikih   Pertama: Kaedah fikih adalah di antara ilmu syari yang jika dipelajari termasuk dalam beribadah kepada Allah. Kedua: Kaedah fikih akan menolong para penuntut ilmu dalam menyelesaikan masalah fikih yang masih rancu. Ketiga: Kaedah fikih dapat menyelesaikan berbagai masalah-masalah baru. Keempat: Kaedah fikih sudah dapat dijadikan dalil karena kaedah ini sendiri diambil dari dalil syari. Kelima: Cukup mempelajari kaedah fikih yang sifatnya umum, maka berbagai juz masalah fikih mudah dipahami. Keenam: Kaedah fikih akan menolong para qadhi dan para hakim untuk menyelesaikan berbagai masalah terkini. Ketujuh: Kaedah fikih akan membantu mengaitkan masalah-masalah antar madzhab dan sebab bisa terjadinya perbedaan pendapat. Kedelapan: Kaedah fikih mengajarkan bagaimana baiknya agama ini karena mengajarkan kaedah umum, bukan hanya mengurus masalah parsial saja. Baca Juga: Empat Kaedah dalam Berdakwah Lima kaedah besar   Ada lima kaedah fikih yang besar (al-qawa’id al-kulliyah al-kubra): القَاعِدَةُ الأُوْلَى: الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا Kaedah pertama: setiap perkara tergantung niatnya. القَاعِدَةُ الثَّانِيَّةُ: الضَّرَرُ يُزَالُ Kaedah kedua: bahaya (mudarat) itu dihilangkan. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ Kaedah ketiga: Adat itu jadi sandaran hukum. القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ Kaedah keempat: kesulitan mendatangkan kemudahan. القَاعِدَةُ الخَامِسَةُ: اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ Kaedah kelima: yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu. Materi kaedah fikih, sudah dibahas oleh Rumaysho.Com secara rutin di sini: Kaedah Fikih – Rumaysho   Referensi: Syarh Manzhumah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan pertama, Tahun 1436. Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Imam Adz-Dzahabi.     Disusun di BSD, 6 Shafar 1441 H, 5 Oktober 2019, Sabtu Pagi Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsapa itu kaedah fikih ilmu ushul kaedah fikih manfaat kaedah fikih


Kaedah fikih (al-qawa’id al-fiqhiyyah) menurut para ulama adalah kaedah aghlabiy (umum) yang bisa diterapkan dalam mayoritas masalah juziyyah (parsial) dan dapat diketahui hukumnya. Kaedah fikih ini harus dibangun di atas dalil dari Al-Kitab, As-Sunnah, ijmak, atau qiyas, atau dibangun di atas ushul syari dan maqashidnya. Misalnya kaedah yang berbunyi, المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ “Kesulitan itu mendatangkan kemudahan.” Kaedah ini berdasarkan dalil, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Juga kaedah, اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ “Yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu.” Dalilnya adalah hadits dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا “Janganlah berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” (HR. Bukhari, no. 177 dan Muslim, no. 361). Ada juga kaedah fikih dibangun di atas dalil ijmak atau kata sepakat para ulama seperti kaedah, لاَ اجْتِهَادَ مَعَ النَّصِّ “Tidak ada ijtihad selama masih ada nash (dalil).” Para ulama sepakat bahwa harus mendahulukan dalil dari ijtihad. Daftar Isi tutup 1. Manfaat mempelajari kaedah fikih 2. Lima kaedah besar 2.1. Referensi: Manfaat mempelajari kaedah fikih   Pertama: Kaedah fikih adalah di antara ilmu syari yang jika dipelajari termasuk dalam beribadah kepada Allah. Kedua: Kaedah fikih akan menolong para penuntut ilmu dalam menyelesaikan masalah fikih yang masih rancu. Ketiga: Kaedah fikih dapat menyelesaikan berbagai masalah-masalah baru. Keempat: Kaedah fikih sudah dapat dijadikan dalil karena kaedah ini sendiri diambil dari dalil syari. Kelima: Cukup mempelajari kaedah fikih yang sifatnya umum, maka berbagai juz masalah fikih mudah dipahami. Keenam: Kaedah fikih akan menolong para qadhi dan para hakim untuk menyelesaikan berbagai masalah terkini. Ketujuh: Kaedah fikih akan membantu mengaitkan masalah-masalah antar madzhab dan sebab bisa terjadinya perbedaan pendapat. Kedelapan: Kaedah fikih mengajarkan bagaimana baiknya agama ini karena mengajarkan kaedah umum, bukan hanya mengurus masalah parsial saja. Baca Juga: Empat Kaedah dalam Berdakwah Lima kaedah besar   Ada lima kaedah fikih yang besar (al-qawa’id al-kulliyah al-kubra): القَاعِدَةُ الأُوْلَى: الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا Kaedah pertama: setiap perkara tergantung niatnya. القَاعِدَةُ الثَّانِيَّةُ: الضَّرَرُ يُزَالُ Kaedah kedua: bahaya (mudarat) itu dihilangkan. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ Kaedah ketiga: Adat itu jadi sandaran hukum. القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: المشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُ Kaedah keempat: kesulitan mendatangkan kemudahan. القَاعِدَةُ الخَامِسَةُ: اليَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ Kaedah kelima: yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu. Materi kaedah fikih, sudah dibahas oleh Rumaysho.Com secara rutin di sini: Kaedah Fikih – Rumaysho   Referensi: Syarh Manzhumah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan pertama, Tahun 1436. Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Imam Adz-Dzahabi.     Disusun di BSD, 6 Shafar 1441 H, 5 Oktober 2019, Sabtu Pagi Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsapa itu kaedah fikih ilmu ushul kaedah fikih manfaat kaedah fikih

Memberi Syafaat, Menolong Orang, dan Sedekah Termasuk Amalan Muta’addi

Di antara amalan muta’addi adalah memberi syafaat (perantara dalam menolong orang), menolong hajat yang lain, dan bersedekah. Daftar Isi tutup 1. Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi 2. Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah 3. Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar 3.1. Referensi: Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi   Bisa saja seseorang menjadi perantara untuk muslim lainnya dalam memperoleh manfaat atau terselamatkan dari mudarat. Inilah memberi manfaat pada muslim dengan kedudukan. Dari Abu Musa beliau berkata, pernah suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang peminta-minta -atau sepertinya ia berkata ‘ditemui (bukan didatangi) seorang peminta-minta’, atau orang yang mempunyai keperluan-, maka beliau bersabda: اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ “Berilah syafaat (pertolongan) niscaya kalian diberi ganjaran, dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6027 dan Muslim, no. 2627). Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan hadits ini berisi anjuran untuk memberikan syafaat kepada orang yang memiliki hajat, bisa jadi syafaat (perantaraan) itu pada sulthan (penguasa), pada wali, dan semacamnya, atau kepada seseorang. Maksud syafaat itu bisa jadi meminta kepada penguasa untuk menahan orang yang berbuat zalim, atau menghapus hukuman orang yang dihukum, memberi kemudahan kepada orang yang sedang butuh bantuan, atau semacamnya. Namun syafaat dalam hukuman hadd dihukumi haram. Syafaat dalam melakukan kebatilan, sama juga dengan syafaat ketika membatalkan kebenaran, dan semacam itu dihukumi haram. Kalimat “dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya”, maksudnya adalah orang yang sudah berusaha walaupun tidak berhasil, maka tetap mendapatkan ganjaran pahala.   Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Muslim yang satu dan muslim lainnya itu bersaudara. Maka hendaklah tidak menzalimi, jangan biarkan saudaramu (yang menzalimi dan dizalimi). Siapa yang selalu menolong saudaranya dalam hajatnya, maka Allah juga akan menolong hajatnya pula. Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya dari berbagai kesulitan yang dihadapi pada hari kiamat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)   Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Manfaat sedekah di antaranya adalah dapat menjaga badan serta dapat menolak berbagai musibah dan penyakit. Dari Al-Aswad bin Yazid, dari ‘Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ “Mintalah kesembuhan penyakitmu (kepada Allah) dengan bersedekah.” (HR. Al-Baihaqi, 3:193. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al-Jaami’, 3358) Ada cerita, penulis kitab Al-Mustadrak, Imam Abu ‘Abdillah Al-Hakim pernah mengalami cacar selama hampir setahun. Lantas ia meminta doa kepada orang-orang saleh, dia terus memperbanyak itu. Ia pun rajin bersedekah kepada kaum muslimin dengan memberikan minum pada rumah-rumah mereka. Orang-orang pun memanfaatkan minuman tersebut. Ternyata lewat beberapa pekan, Allah tampakkan kesembuhan baginya, cacar tadi hilang dan wajahnya kembali seperti sedia kala. Lihat Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil, hlm. 45. Baca Juga: Sedekah Membawa Ketenangan Jangan Khawatir Kesulitan Keuangan di Awal Nikah Referensi: Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Madarul Wathan.     Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagsamalan muta'addi amalan ringan amalan ringan berpahala besar menolong sedekah

Memberi Syafaat, Menolong Orang, dan Sedekah Termasuk Amalan Muta’addi

Di antara amalan muta’addi adalah memberi syafaat (perantara dalam menolong orang), menolong hajat yang lain, dan bersedekah. Daftar Isi tutup 1. Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi 2. Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah 3. Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar 3.1. Referensi: Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi   Bisa saja seseorang menjadi perantara untuk muslim lainnya dalam memperoleh manfaat atau terselamatkan dari mudarat. Inilah memberi manfaat pada muslim dengan kedudukan. Dari Abu Musa beliau berkata, pernah suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang peminta-minta -atau sepertinya ia berkata ‘ditemui (bukan didatangi) seorang peminta-minta’, atau orang yang mempunyai keperluan-, maka beliau bersabda: اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ “Berilah syafaat (pertolongan) niscaya kalian diberi ganjaran, dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6027 dan Muslim, no. 2627). Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan hadits ini berisi anjuran untuk memberikan syafaat kepada orang yang memiliki hajat, bisa jadi syafaat (perantaraan) itu pada sulthan (penguasa), pada wali, dan semacamnya, atau kepada seseorang. Maksud syafaat itu bisa jadi meminta kepada penguasa untuk menahan orang yang berbuat zalim, atau menghapus hukuman orang yang dihukum, memberi kemudahan kepada orang yang sedang butuh bantuan, atau semacamnya. Namun syafaat dalam hukuman hadd dihukumi haram. Syafaat dalam melakukan kebatilan, sama juga dengan syafaat ketika membatalkan kebenaran, dan semacam itu dihukumi haram. Kalimat “dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya”, maksudnya adalah orang yang sudah berusaha walaupun tidak berhasil, maka tetap mendapatkan ganjaran pahala.   Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Muslim yang satu dan muslim lainnya itu bersaudara. Maka hendaklah tidak menzalimi, jangan biarkan saudaramu (yang menzalimi dan dizalimi). Siapa yang selalu menolong saudaranya dalam hajatnya, maka Allah juga akan menolong hajatnya pula. Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya dari berbagai kesulitan yang dihadapi pada hari kiamat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)   Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Manfaat sedekah di antaranya adalah dapat menjaga badan serta dapat menolak berbagai musibah dan penyakit. Dari Al-Aswad bin Yazid, dari ‘Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ “Mintalah kesembuhan penyakitmu (kepada Allah) dengan bersedekah.” (HR. Al-Baihaqi, 3:193. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al-Jaami’, 3358) Ada cerita, penulis kitab Al-Mustadrak, Imam Abu ‘Abdillah Al-Hakim pernah mengalami cacar selama hampir setahun. Lantas ia meminta doa kepada orang-orang saleh, dia terus memperbanyak itu. Ia pun rajin bersedekah kepada kaum muslimin dengan memberikan minum pada rumah-rumah mereka. Orang-orang pun memanfaatkan minuman tersebut. Ternyata lewat beberapa pekan, Allah tampakkan kesembuhan baginya, cacar tadi hilang dan wajahnya kembali seperti sedia kala. Lihat Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil, hlm. 45. Baca Juga: Sedekah Membawa Ketenangan Jangan Khawatir Kesulitan Keuangan di Awal Nikah Referensi: Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Madarul Wathan.     Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagsamalan muta'addi amalan ringan amalan ringan berpahala besar menolong sedekah
Di antara amalan muta’addi adalah memberi syafaat (perantara dalam menolong orang), menolong hajat yang lain, dan bersedekah. Daftar Isi tutup 1. Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi 2. Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah 3. Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar 3.1. Referensi: Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi   Bisa saja seseorang menjadi perantara untuk muslim lainnya dalam memperoleh manfaat atau terselamatkan dari mudarat. Inilah memberi manfaat pada muslim dengan kedudukan. Dari Abu Musa beliau berkata, pernah suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang peminta-minta -atau sepertinya ia berkata ‘ditemui (bukan didatangi) seorang peminta-minta’, atau orang yang mempunyai keperluan-, maka beliau bersabda: اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ “Berilah syafaat (pertolongan) niscaya kalian diberi ganjaran, dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6027 dan Muslim, no. 2627). Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan hadits ini berisi anjuran untuk memberikan syafaat kepada orang yang memiliki hajat, bisa jadi syafaat (perantaraan) itu pada sulthan (penguasa), pada wali, dan semacamnya, atau kepada seseorang. Maksud syafaat itu bisa jadi meminta kepada penguasa untuk menahan orang yang berbuat zalim, atau menghapus hukuman orang yang dihukum, memberi kemudahan kepada orang yang sedang butuh bantuan, atau semacamnya. Namun syafaat dalam hukuman hadd dihukumi haram. Syafaat dalam melakukan kebatilan, sama juga dengan syafaat ketika membatalkan kebenaran, dan semacam itu dihukumi haram. Kalimat “dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya”, maksudnya adalah orang yang sudah berusaha walaupun tidak berhasil, maka tetap mendapatkan ganjaran pahala.   Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Muslim yang satu dan muslim lainnya itu bersaudara. Maka hendaklah tidak menzalimi, jangan biarkan saudaramu (yang menzalimi dan dizalimi). Siapa yang selalu menolong saudaranya dalam hajatnya, maka Allah juga akan menolong hajatnya pula. Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya dari berbagai kesulitan yang dihadapi pada hari kiamat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)   Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Manfaat sedekah di antaranya adalah dapat menjaga badan serta dapat menolak berbagai musibah dan penyakit. Dari Al-Aswad bin Yazid, dari ‘Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ “Mintalah kesembuhan penyakitmu (kepada Allah) dengan bersedekah.” (HR. Al-Baihaqi, 3:193. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al-Jaami’, 3358) Ada cerita, penulis kitab Al-Mustadrak, Imam Abu ‘Abdillah Al-Hakim pernah mengalami cacar selama hampir setahun. Lantas ia meminta doa kepada orang-orang saleh, dia terus memperbanyak itu. Ia pun rajin bersedekah kepada kaum muslimin dengan memberikan minum pada rumah-rumah mereka. Orang-orang pun memanfaatkan minuman tersebut. Ternyata lewat beberapa pekan, Allah tampakkan kesembuhan baginya, cacar tadi hilang dan wajahnya kembali seperti sedia kala. Lihat Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil, hlm. 45. Baca Juga: Sedekah Membawa Ketenangan Jangan Khawatir Kesulitan Keuangan di Awal Nikah Referensi: Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Madarul Wathan.     Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagsamalan muta'addi amalan ringan amalan ringan berpahala besar menolong sedekah


Di antara amalan muta’addi adalah memberi syafaat (perantara dalam menolong orang), menolong hajat yang lain, dan bersedekah. Daftar Isi tutup 1. Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi 2. Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah 3. Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar 3.1. Referensi: Contoh Amalan Muta’addi #08: Memberi syafaat dan menolong orang yang dizalimi   Bisa saja seseorang menjadi perantara untuk muslim lainnya dalam memperoleh manfaat atau terselamatkan dari mudarat. Inilah memberi manfaat pada muslim dengan kedudukan. Dari Abu Musa beliau berkata, pernah suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang peminta-minta -atau sepertinya ia berkata ‘ditemui (bukan didatangi) seorang peminta-minta’, atau orang yang mempunyai keperluan-, maka beliau bersabda: اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ “Berilah syafaat (pertolongan) niscaya kalian diberi ganjaran, dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (HR. Bukhari, no. 6027 dan Muslim, no. 2627). Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan hadits ini berisi anjuran untuk memberikan syafaat kepada orang yang memiliki hajat, bisa jadi syafaat (perantaraan) itu pada sulthan (penguasa), pada wali, dan semacamnya, atau kepada seseorang. Maksud syafaat itu bisa jadi meminta kepada penguasa untuk menahan orang yang berbuat zalim, atau menghapus hukuman orang yang dihukum, memberi kemudahan kepada orang yang sedang butuh bantuan, atau semacamnya. Namun syafaat dalam hukuman hadd dihukumi haram. Syafaat dalam melakukan kebatilan, sama juga dengan syafaat ketika membatalkan kebenaran, dan semacam itu dihukumi haram. Kalimat “dan Allah memutuskan melalui lisan rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya”, maksudnya adalah orang yang sudah berusaha walaupun tidak berhasil, maka tetap mendapatkan ganjaran pahala.   Contoh Amalan Muta’addi #09: Membantu hajat kaum muslimin, memberi mereka pertolongan ketika tertimpa musibah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Muslim yang satu dan muslim lainnya itu bersaudara. Maka hendaklah tidak menzalimi, jangan biarkan saudaramu (yang menzalimi dan dizalimi). Siapa yang selalu menolong saudaranya dalam hajatnya, maka Allah juga akan menolong hajatnya pula. Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya dari berbagai kesulitan yang dihadapi pada hari kiamat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)   Contoh Amalan Muta’addi #10: Sedekah dengan harta diberikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan untuk membuat pahala semakin besar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Manfaat sedekah di antaranya adalah dapat menjaga badan serta dapat menolak berbagai musibah dan penyakit. Dari Al-Aswad bin Yazid, dari ‘Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ “Mintalah kesembuhan penyakitmu (kepada Allah) dengan bersedekah.” (HR. Al-Baihaqi, 3:193. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al-Jaami’, 3358) Ada cerita, penulis kitab Al-Mustadrak, Imam Abu ‘Abdillah Al-Hakim pernah mengalami cacar selama hampir setahun. Lantas ia meminta doa kepada orang-orang saleh, dia terus memperbanyak itu. Ia pun rajin bersedekah kepada kaum muslimin dengan memberikan minum pada rumah-rumah mereka. Orang-orang pun memanfaatkan minuman tersebut. Ternyata lewat beberapa pekan, Allah tampakkan kesembuhan baginya, cacar tadi hilang dan wajahnya kembali seperti sedia kala. Lihat Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil, hlm. 45. Baca Juga: Sedekah Membawa Ketenangan Jangan Khawatir Kesulitan Keuangan di Awal Nikah Referensi: Utruk Atsaran Qabla Ar-Rahil. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Madarul Wathan.     Disusun @ Darush Sholihin, 11 Shafar 1441 H (9 Oktober 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download   Tagsamalan muta'addi amalan ringan amalan ringan berpahala besar menolong sedekah

Haram Mengucapkan Salam kepada Orang Kafir

Apakah boleh kita mengucapkan salam kepada orang kafir? Kalau di tempat tersebut bercampur antara muslim dan kafir, bagaimana mengucapkan salamnya? Daftar Isi tutup 1. Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir 1.1. Hadits #866 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #867 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #868 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُتَحْرِيْمِ ابْتِدَائِنَا الكَافِرِ بِالسَّلاَمِ وَكَيْفِيَّةِ الرَّدِّ عَلَيْهِمْ وَاسْتِحْبَابِ السَّلاَمِ عَلَى أَهْلِ مَجْلِسٍ فِيْهِمْ مُسْلِمُوْنَ وَكُفَّارٍ Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir   Hadits #866 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2167]   Faedah Hadits Diharamkan memulai mengucapkan salam pada Yahudi dan Nashrani. Hendaklah menampakkan keislaman dengan mendesak Yahudi dan Nasrani pada jalan yang sempit. Tetap berbuat baik pada ahli kitab, walaupun dengan mempersempit jalannya.   Hadits #867 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا : وَعَلَيْكُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah, ‘Wa ‘alaikum (Dan atas kalian).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6257 dan Muslim, no. 2163]   Faedah Hadits Membalas salam Ahli Kitab dengan ucapan WA’ALAIKUM. Bentuk berbuat baik pada mereka adalah menghormati hingga mereka tidak mengganggu kaum muslimin.   Hadits #868 وَعَنْ أُسَامَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النَّبِيُّ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat pada satu majelis yang di dalamnya bercampur antara kaum muslim dan musyrikin—para penyembah berhala dan orang-orang Yahudi—maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6254 dan Muslim, no. 1798]   Faedah Hadits Jika ada satu majelis berkumpul muslim dan kafir, maka salam yang diucapkan bentuknya umum, namun maksudnya ditujukan pada yang muslim. Boleh duduk-duduk dengan yang berbeda keyakinan beragama, selama duduk-duduknya bukan membahas hal haram atau berbicara yang punya manfaat pada agama dan hamba. Boleh duduk-duduk dengan non-muslim untuk tujuan mendakwahi. Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis Faedah Surat Yasin: Salam untuk Penduduk Surga Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsriyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam salam salam pada orang kafir ucapan salam

Haram Mengucapkan Salam kepada Orang Kafir

Apakah boleh kita mengucapkan salam kepada orang kafir? Kalau di tempat tersebut bercampur antara muslim dan kafir, bagaimana mengucapkan salamnya? Daftar Isi tutup 1. Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir 1.1. Hadits #866 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #867 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #868 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُتَحْرِيْمِ ابْتِدَائِنَا الكَافِرِ بِالسَّلاَمِ وَكَيْفِيَّةِ الرَّدِّ عَلَيْهِمْ وَاسْتِحْبَابِ السَّلاَمِ عَلَى أَهْلِ مَجْلِسٍ فِيْهِمْ مُسْلِمُوْنَ وَكُفَّارٍ Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir   Hadits #866 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2167]   Faedah Hadits Diharamkan memulai mengucapkan salam pada Yahudi dan Nashrani. Hendaklah menampakkan keislaman dengan mendesak Yahudi dan Nasrani pada jalan yang sempit. Tetap berbuat baik pada ahli kitab, walaupun dengan mempersempit jalannya.   Hadits #867 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا : وَعَلَيْكُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah, ‘Wa ‘alaikum (Dan atas kalian).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6257 dan Muslim, no. 2163]   Faedah Hadits Membalas salam Ahli Kitab dengan ucapan WA’ALAIKUM. Bentuk berbuat baik pada mereka adalah menghormati hingga mereka tidak mengganggu kaum muslimin.   Hadits #868 وَعَنْ أُسَامَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النَّبِيُّ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat pada satu majelis yang di dalamnya bercampur antara kaum muslim dan musyrikin—para penyembah berhala dan orang-orang Yahudi—maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6254 dan Muslim, no. 1798]   Faedah Hadits Jika ada satu majelis berkumpul muslim dan kafir, maka salam yang diucapkan bentuknya umum, namun maksudnya ditujukan pada yang muslim. Boleh duduk-duduk dengan yang berbeda keyakinan beragama, selama duduk-duduknya bukan membahas hal haram atau berbicara yang punya manfaat pada agama dan hamba. Boleh duduk-duduk dengan non-muslim untuk tujuan mendakwahi. Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis Faedah Surat Yasin: Salam untuk Penduduk Surga Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsriyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam salam salam pada orang kafir ucapan salam
Apakah boleh kita mengucapkan salam kepada orang kafir? Kalau di tempat tersebut bercampur antara muslim dan kafir, bagaimana mengucapkan salamnya? Daftar Isi tutup 1. Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir 1.1. Hadits #866 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #867 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #868 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُتَحْرِيْمِ ابْتِدَائِنَا الكَافِرِ بِالسَّلاَمِ وَكَيْفِيَّةِ الرَّدِّ عَلَيْهِمْ وَاسْتِحْبَابِ السَّلاَمِ عَلَى أَهْلِ مَجْلِسٍ فِيْهِمْ مُسْلِمُوْنَ وَكُفَّارٍ Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir   Hadits #866 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2167]   Faedah Hadits Diharamkan memulai mengucapkan salam pada Yahudi dan Nashrani. Hendaklah menampakkan keislaman dengan mendesak Yahudi dan Nasrani pada jalan yang sempit. Tetap berbuat baik pada ahli kitab, walaupun dengan mempersempit jalannya.   Hadits #867 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا : وَعَلَيْكُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah, ‘Wa ‘alaikum (Dan atas kalian).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6257 dan Muslim, no. 2163]   Faedah Hadits Membalas salam Ahli Kitab dengan ucapan WA’ALAIKUM. Bentuk berbuat baik pada mereka adalah menghormati hingga mereka tidak mengganggu kaum muslimin.   Hadits #868 وَعَنْ أُسَامَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النَّبِيُّ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat pada satu majelis yang di dalamnya bercampur antara kaum muslim dan musyrikin—para penyembah berhala dan orang-orang Yahudi—maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6254 dan Muslim, no. 1798]   Faedah Hadits Jika ada satu majelis berkumpul muslim dan kafir, maka salam yang diucapkan bentuknya umum, namun maksudnya ditujukan pada yang muslim. Boleh duduk-duduk dengan yang berbeda keyakinan beragama, selama duduk-duduknya bukan membahas hal haram atau berbicara yang punya manfaat pada agama dan hamba. Boleh duduk-duduk dengan non-muslim untuk tujuan mendakwahi. Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis Faedah Surat Yasin: Salam untuk Penduduk Surga Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsriyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam salam salam pada orang kafir ucapan salam


Apakah boleh kita mengucapkan salam kepada orang kafir? Kalau di tempat tersebut bercampur antara muslim dan kafir, bagaimana mengucapkan salamnya? Daftar Isi tutup 1. Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir 1.1. Hadits #866 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #867 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #868 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُتَحْرِيْمِ ابْتِدَائِنَا الكَافِرِ بِالسَّلاَمِ وَكَيْفِيَّةِ الرَّدِّ عَلَيْهِمْ وَاسْتِحْبَابِ السَّلاَمِ عَلَى أَهْلِ مَجْلِسٍ فِيْهِمْ مُسْلِمُوْنَ وَكُفَّارٍ Bab 138. Pengharaman Memulai Salam kepada Orang Kafir dan Cara Menjawab Salam Mereka, serta Sunnahnya Mengucapkan Salam kepada Orang-Orang yang Berkumpul yang Bercampur antara Muslim dan Kafir   Hadits #866 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2167]   Faedah Hadits Diharamkan memulai mengucapkan salam pada Yahudi dan Nashrani. Hendaklah menampakkan keislaman dengan mendesak Yahudi dan Nasrani pada jalan yang sempit. Tetap berbuat baik pada ahli kitab, walaupun dengan mempersempit jalannya.   Hadits #867 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا : وَعَلَيْكُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah, ‘Wa ‘alaikum (Dan atas kalian).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6257 dan Muslim, no. 2163]   Faedah Hadits Membalas salam Ahli Kitab dengan ucapan WA’ALAIKUM. Bentuk berbuat baik pada mereka adalah menghormati hingga mereka tidak mengganggu kaum muslimin.   Hadits #868 وَعَنْ أُسَامَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النَّبِيُّ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat pada satu majelis yang di dalamnya bercampur antara kaum muslim dan musyrikin—para penyembah berhala dan orang-orang Yahudi—maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6254 dan Muslim, no. 1798]   Faedah Hadits Jika ada satu majelis berkumpul muslim dan kafir, maka salam yang diucapkan bentuknya umum, namun maksudnya ditujukan pada yang muslim. Boleh duduk-duduk dengan yang berbeda keyakinan beragama, selama duduk-duduknya bukan membahas hal haram atau berbicara yang punya manfaat pada agama dan hamba. Boleh duduk-duduk dengan non-muslim untuk tujuan mendakwahi. Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis Faedah Surat Yasin: Salam untuk Penduduk Surga Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsriyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam salam salam pada orang kafir ucapan salam

Batasan Wanita Boleh Bekerja

Hukum Wanita Muslimah Bekerja Assalamu’alaikum, afwan ustadz ada keluarga yg kondisi keuangannya sangat minim sekali. Nah kebetulan sang istri berniat untuk membantu ekonomi suaminya. Pertanyaannya bagaimana batas-batas wanita boleh bekerja ustadz. Syukron Jawab: Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’du. Islam adalah agama yang menata kehidupan manusia dengan melihat seluruh sisinya secara berimbang, dan meletakkan tugas dan fungsi sesuatu sesuai tabiatnya. Membangun umat Islam dimulai dari membangun pondasi dasarnya, yang merupakan kumpulan terkecil dalam suatu masyarakat, yaitu keluarga. Kesepakatan seorang laki-laki dan perempuan menjadi suami istri untuk membangun sebuah keluarga, artinya mereka telah membagi tugas dan wewenang, sehingga keutuhan rumah tangga bisa terbangun dengan baik. Pekerjaan mencari nafkah diluar rumah adalah pekerjaan suami dan pekerjaan di dalam rumah, mengurus rumah tangga serta mendidik anak adalah tugas pokok istri; seorang ibu rumah tangga adalah seorang pekerja, dia bekerja untuk menghasilkan manusia yang beriman dan unggul. Kalau kita perhatikan secara mendalam, pekerjaan bapak adalah mencari nafkah, nafkah untuk keluarga, pekerjaan ibu adalah guru dan outputnya adalah manusia; bukankah sumber daya manusia lebih tinggi nilainya dari uang dan gaji yang didapatkan oleh seorang suami? Asal dari pembagian kerja adalah laki-laki diluar rumah dan perempuan bertugas di dalam rumah tangga. Lalu, apakah hukumnya wanita keluar dari kondisi ini, dimana seorang istri atau seorang ibu harus bekerja di luar rumah? Mari kita ambil petunjuk dari firman Allah ta’ala di dalam surat Al-Qashash 23-26: {وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (25) قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)} [القصص: 23 – 26] 23. Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.  24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.  25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.  26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Kisah di atas memberikan petunjuk kepada kita bagaimana wanita jika bekerja di luar rumah, mari kita perhatikan point-point berikut: Dua orang perempuan dalam kisah tersebut bekerja di luar rumah yaitu membawa kambing gembalaan mereka untuk minum dari mata air, ini menunjukkan bolehnya wanita bekerja di luar rumah. Dan ini juga ditunjukan oleh hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1483, bahwa Bibinya Jabir ketika menjadi janda, dia bertanya kepada Nabi shalallahu alaihissalam tentang pekerjaannya mengairi kebun korma miliknya, maka Nabi menyetujuinya. Mereka berdua bekerja karena kebutuhan yang disebabkan bapak mereka sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi, artinya perempuan bekerja diluar rumah karena adanya kebutuhan untuk itu. Kebutuhan seorang wanita kerja diluar rumah terbagi menjadi dua, kebutuhan dia untuk mencari nafkah karena tidak ada atau kurangnya nafkah hidupnya dan kebutuhan masyarakat akan tenaga khusus wanita, seperti guru-guru perempuan, dokter kandungan perempuan dan yang serupa dengannya. Pekerjaan keduanya adalah membawa kambing gembalaan menuju tempat mata air untuk mendapatkan minum, dan pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh wanita dan tidak bertentangan dengan tabiatnya sebagai wanita. Wanita ketika bekerja di luar rumah dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiatnya, tidak bekerja pada bidang pekerjaan berat yang hanya cocok untuk laki-laki, seperti pertukangan dan pertambangan. Mereka menunggu kaum laki-laki selesai memberi minum hewan ternak mereka, setelah itu baru mereka memberi minum hewan ternak mereka. Artinya mereka menjauhi bercampur baurnya laki-laki dan perempuan di tempat kerja. Seorang wanita tidak boleh bekerja di tempat kerja yang dia khalwat berduan dengan seorang laki-laki seperti menjadi sekertaris, atau terjadi ikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan pada satu tempat) yang terprogram, dalam arti dia bersama laki-laki bukan muhrim dalam satu ruangan walaupun tidak berduaan sepanjang waktu kerja. Adapun ikhtilat yang hanya terjadi sebentar dan berganti seperti jualan di pasar, maka hal tersebut diperbolehkan oleh para ulama. Allah ta’ala menyebutkan bahwa dia berjalan malu-malu, ini menjelaskan bahwa seorang wanita jika bekerja di luar rumah dia harus menjaga akhlak dan adabnya sebagai wanita. Dia harus berpakaian syar’i, tidak berdandan atau memakai parfum yang menarik perhatian lawan jenis. Keduanya menceritakan kepada Nabi Musa bahwa orang tua mereka mengajaknya untuk datang ke rumah mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka bekerja di luar atas pengetahuan dan ijin dari orang tua mereka. Jika seorang wanita bersuami, maka dia bekerja setelah mendapatkan ijin suaminya, jika tinggal bersama orang tuanya, maka dia harus meminta ijin orang tuanya. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar Nabi Musa bekerja dengan orang tua mereka. Seorang wanita jika ada yang mengantikan pekerjaan mereka di luar rumah, maka ia kembali kepada tugas asalnya yaitu mengurus pekerjaan di dalam rumah. Dan ini menunjukkan bahwa pekerjaan seorang wanita diluar adalah sesuai dengan kebutuhan dan kalau kebutuhan selesai maka dia kembali. Dan dapat dipahami bahwa tidak boleh bekerja diluar rumah yang melalaikan dari tugas pokoknya di dalam rumah. Setelah kita bersama kisah Nabi Musa dan dua orang perempuan di negeri Madyan, kita dapat menjawab pertanyaan diatas, bahwa seorang wanita boleh bekerja di luar rumah dengan syarat sebagai berikut: Seorang wanita bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya di dalam mengurus rumah tangga. Dia bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya, jika tinggal bersama mereka. Dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiat perempuan. Dia bekerja pada tempat kerja yang tidak ada khalwat atau ikhtilat. Menjaga adabnya sebagai wanita Muslimah dan menjauhi hal yang terlarang seperti berdandan dan memakai parfum. Semoga Allah ta’ala memudahkan urusan kita semua dan memberikan taufiq dan hidayah kepada wanita-wanita dalam pekerjaan di rumah mereka, untuk melahirkan generasi Islam yang tangguh. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf , Lc. MA. (Dosen Ilmu Hadits STDI Jember) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Bai At, Ayat Alquran Tentang Penciptaan Alam Semesta, Bertaubat Dari Dosa Besar, Jabat Tangan Wallpaper, Doa Safar Sesuai Sunnah, Hukum Istri Meninggalkan Suami Dan Anak Visited 193 times, 1 visit(s) today Post Views: 642 QRIS donasi Yufid

Batasan Wanita Boleh Bekerja

Hukum Wanita Muslimah Bekerja Assalamu’alaikum, afwan ustadz ada keluarga yg kondisi keuangannya sangat minim sekali. Nah kebetulan sang istri berniat untuk membantu ekonomi suaminya. Pertanyaannya bagaimana batas-batas wanita boleh bekerja ustadz. Syukron Jawab: Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’du. Islam adalah agama yang menata kehidupan manusia dengan melihat seluruh sisinya secara berimbang, dan meletakkan tugas dan fungsi sesuatu sesuai tabiatnya. Membangun umat Islam dimulai dari membangun pondasi dasarnya, yang merupakan kumpulan terkecil dalam suatu masyarakat, yaitu keluarga. Kesepakatan seorang laki-laki dan perempuan menjadi suami istri untuk membangun sebuah keluarga, artinya mereka telah membagi tugas dan wewenang, sehingga keutuhan rumah tangga bisa terbangun dengan baik. Pekerjaan mencari nafkah diluar rumah adalah pekerjaan suami dan pekerjaan di dalam rumah, mengurus rumah tangga serta mendidik anak adalah tugas pokok istri; seorang ibu rumah tangga adalah seorang pekerja, dia bekerja untuk menghasilkan manusia yang beriman dan unggul. Kalau kita perhatikan secara mendalam, pekerjaan bapak adalah mencari nafkah, nafkah untuk keluarga, pekerjaan ibu adalah guru dan outputnya adalah manusia; bukankah sumber daya manusia lebih tinggi nilainya dari uang dan gaji yang didapatkan oleh seorang suami? Asal dari pembagian kerja adalah laki-laki diluar rumah dan perempuan bertugas di dalam rumah tangga. Lalu, apakah hukumnya wanita keluar dari kondisi ini, dimana seorang istri atau seorang ibu harus bekerja di luar rumah? Mari kita ambil petunjuk dari firman Allah ta’ala di dalam surat Al-Qashash 23-26: {وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (25) قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)} [القصص: 23 – 26] 23. Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.  24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.  25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.  26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Kisah di atas memberikan petunjuk kepada kita bagaimana wanita jika bekerja di luar rumah, mari kita perhatikan point-point berikut: Dua orang perempuan dalam kisah tersebut bekerja di luar rumah yaitu membawa kambing gembalaan mereka untuk minum dari mata air, ini menunjukkan bolehnya wanita bekerja di luar rumah. Dan ini juga ditunjukan oleh hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1483, bahwa Bibinya Jabir ketika menjadi janda, dia bertanya kepada Nabi shalallahu alaihissalam tentang pekerjaannya mengairi kebun korma miliknya, maka Nabi menyetujuinya. Mereka berdua bekerja karena kebutuhan yang disebabkan bapak mereka sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi, artinya perempuan bekerja diluar rumah karena adanya kebutuhan untuk itu. Kebutuhan seorang wanita kerja diluar rumah terbagi menjadi dua, kebutuhan dia untuk mencari nafkah karena tidak ada atau kurangnya nafkah hidupnya dan kebutuhan masyarakat akan tenaga khusus wanita, seperti guru-guru perempuan, dokter kandungan perempuan dan yang serupa dengannya. Pekerjaan keduanya adalah membawa kambing gembalaan menuju tempat mata air untuk mendapatkan minum, dan pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh wanita dan tidak bertentangan dengan tabiatnya sebagai wanita. Wanita ketika bekerja di luar rumah dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiatnya, tidak bekerja pada bidang pekerjaan berat yang hanya cocok untuk laki-laki, seperti pertukangan dan pertambangan. Mereka menunggu kaum laki-laki selesai memberi minum hewan ternak mereka, setelah itu baru mereka memberi minum hewan ternak mereka. Artinya mereka menjauhi bercampur baurnya laki-laki dan perempuan di tempat kerja. Seorang wanita tidak boleh bekerja di tempat kerja yang dia khalwat berduan dengan seorang laki-laki seperti menjadi sekertaris, atau terjadi ikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan pada satu tempat) yang terprogram, dalam arti dia bersama laki-laki bukan muhrim dalam satu ruangan walaupun tidak berduaan sepanjang waktu kerja. Adapun ikhtilat yang hanya terjadi sebentar dan berganti seperti jualan di pasar, maka hal tersebut diperbolehkan oleh para ulama. Allah ta’ala menyebutkan bahwa dia berjalan malu-malu, ini menjelaskan bahwa seorang wanita jika bekerja di luar rumah dia harus menjaga akhlak dan adabnya sebagai wanita. Dia harus berpakaian syar’i, tidak berdandan atau memakai parfum yang menarik perhatian lawan jenis. Keduanya menceritakan kepada Nabi Musa bahwa orang tua mereka mengajaknya untuk datang ke rumah mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka bekerja di luar atas pengetahuan dan ijin dari orang tua mereka. Jika seorang wanita bersuami, maka dia bekerja setelah mendapatkan ijin suaminya, jika tinggal bersama orang tuanya, maka dia harus meminta ijin orang tuanya. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar Nabi Musa bekerja dengan orang tua mereka. Seorang wanita jika ada yang mengantikan pekerjaan mereka di luar rumah, maka ia kembali kepada tugas asalnya yaitu mengurus pekerjaan di dalam rumah. Dan ini menunjukkan bahwa pekerjaan seorang wanita diluar adalah sesuai dengan kebutuhan dan kalau kebutuhan selesai maka dia kembali. Dan dapat dipahami bahwa tidak boleh bekerja diluar rumah yang melalaikan dari tugas pokoknya di dalam rumah. Setelah kita bersama kisah Nabi Musa dan dua orang perempuan di negeri Madyan, kita dapat menjawab pertanyaan diatas, bahwa seorang wanita boleh bekerja di luar rumah dengan syarat sebagai berikut: Seorang wanita bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya di dalam mengurus rumah tangga. Dia bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya, jika tinggal bersama mereka. Dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiat perempuan. Dia bekerja pada tempat kerja yang tidak ada khalwat atau ikhtilat. Menjaga adabnya sebagai wanita Muslimah dan menjauhi hal yang terlarang seperti berdandan dan memakai parfum. Semoga Allah ta’ala memudahkan urusan kita semua dan memberikan taufiq dan hidayah kepada wanita-wanita dalam pekerjaan di rumah mereka, untuk melahirkan generasi Islam yang tangguh. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf , Lc. MA. (Dosen Ilmu Hadits STDI Jember) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Bai At, Ayat Alquran Tentang Penciptaan Alam Semesta, Bertaubat Dari Dosa Besar, Jabat Tangan Wallpaper, Doa Safar Sesuai Sunnah, Hukum Istri Meninggalkan Suami Dan Anak Visited 193 times, 1 visit(s) today Post Views: 642 QRIS donasi Yufid
Hukum Wanita Muslimah Bekerja Assalamu’alaikum, afwan ustadz ada keluarga yg kondisi keuangannya sangat minim sekali. Nah kebetulan sang istri berniat untuk membantu ekonomi suaminya. Pertanyaannya bagaimana batas-batas wanita boleh bekerja ustadz. Syukron Jawab: Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’du. Islam adalah agama yang menata kehidupan manusia dengan melihat seluruh sisinya secara berimbang, dan meletakkan tugas dan fungsi sesuatu sesuai tabiatnya. Membangun umat Islam dimulai dari membangun pondasi dasarnya, yang merupakan kumpulan terkecil dalam suatu masyarakat, yaitu keluarga. Kesepakatan seorang laki-laki dan perempuan menjadi suami istri untuk membangun sebuah keluarga, artinya mereka telah membagi tugas dan wewenang, sehingga keutuhan rumah tangga bisa terbangun dengan baik. Pekerjaan mencari nafkah diluar rumah adalah pekerjaan suami dan pekerjaan di dalam rumah, mengurus rumah tangga serta mendidik anak adalah tugas pokok istri; seorang ibu rumah tangga adalah seorang pekerja, dia bekerja untuk menghasilkan manusia yang beriman dan unggul. Kalau kita perhatikan secara mendalam, pekerjaan bapak adalah mencari nafkah, nafkah untuk keluarga, pekerjaan ibu adalah guru dan outputnya adalah manusia; bukankah sumber daya manusia lebih tinggi nilainya dari uang dan gaji yang didapatkan oleh seorang suami? Asal dari pembagian kerja adalah laki-laki diluar rumah dan perempuan bertugas di dalam rumah tangga. Lalu, apakah hukumnya wanita keluar dari kondisi ini, dimana seorang istri atau seorang ibu harus bekerja di luar rumah? Mari kita ambil petunjuk dari firman Allah ta’ala di dalam surat Al-Qashash 23-26: {وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (25) قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)} [القصص: 23 – 26] 23. Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.  24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.  25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.  26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Kisah di atas memberikan petunjuk kepada kita bagaimana wanita jika bekerja di luar rumah, mari kita perhatikan point-point berikut: Dua orang perempuan dalam kisah tersebut bekerja di luar rumah yaitu membawa kambing gembalaan mereka untuk minum dari mata air, ini menunjukkan bolehnya wanita bekerja di luar rumah. Dan ini juga ditunjukan oleh hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1483, bahwa Bibinya Jabir ketika menjadi janda, dia bertanya kepada Nabi shalallahu alaihissalam tentang pekerjaannya mengairi kebun korma miliknya, maka Nabi menyetujuinya. Mereka berdua bekerja karena kebutuhan yang disebabkan bapak mereka sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi, artinya perempuan bekerja diluar rumah karena adanya kebutuhan untuk itu. Kebutuhan seorang wanita kerja diluar rumah terbagi menjadi dua, kebutuhan dia untuk mencari nafkah karena tidak ada atau kurangnya nafkah hidupnya dan kebutuhan masyarakat akan tenaga khusus wanita, seperti guru-guru perempuan, dokter kandungan perempuan dan yang serupa dengannya. Pekerjaan keduanya adalah membawa kambing gembalaan menuju tempat mata air untuk mendapatkan minum, dan pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh wanita dan tidak bertentangan dengan tabiatnya sebagai wanita. Wanita ketika bekerja di luar rumah dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiatnya, tidak bekerja pada bidang pekerjaan berat yang hanya cocok untuk laki-laki, seperti pertukangan dan pertambangan. Mereka menunggu kaum laki-laki selesai memberi minum hewan ternak mereka, setelah itu baru mereka memberi minum hewan ternak mereka. Artinya mereka menjauhi bercampur baurnya laki-laki dan perempuan di tempat kerja. Seorang wanita tidak boleh bekerja di tempat kerja yang dia khalwat berduan dengan seorang laki-laki seperti menjadi sekertaris, atau terjadi ikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan pada satu tempat) yang terprogram, dalam arti dia bersama laki-laki bukan muhrim dalam satu ruangan walaupun tidak berduaan sepanjang waktu kerja. Adapun ikhtilat yang hanya terjadi sebentar dan berganti seperti jualan di pasar, maka hal tersebut diperbolehkan oleh para ulama. Allah ta’ala menyebutkan bahwa dia berjalan malu-malu, ini menjelaskan bahwa seorang wanita jika bekerja di luar rumah dia harus menjaga akhlak dan adabnya sebagai wanita. Dia harus berpakaian syar’i, tidak berdandan atau memakai parfum yang menarik perhatian lawan jenis. Keduanya menceritakan kepada Nabi Musa bahwa orang tua mereka mengajaknya untuk datang ke rumah mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka bekerja di luar atas pengetahuan dan ijin dari orang tua mereka. Jika seorang wanita bersuami, maka dia bekerja setelah mendapatkan ijin suaminya, jika tinggal bersama orang tuanya, maka dia harus meminta ijin orang tuanya. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar Nabi Musa bekerja dengan orang tua mereka. Seorang wanita jika ada yang mengantikan pekerjaan mereka di luar rumah, maka ia kembali kepada tugas asalnya yaitu mengurus pekerjaan di dalam rumah. Dan ini menunjukkan bahwa pekerjaan seorang wanita diluar adalah sesuai dengan kebutuhan dan kalau kebutuhan selesai maka dia kembali. Dan dapat dipahami bahwa tidak boleh bekerja diluar rumah yang melalaikan dari tugas pokoknya di dalam rumah. Setelah kita bersama kisah Nabi Musa dan dua orang perempuan di negeri Madyan, kita dapat menjawab pertanyaan diatas, bahwa seorang wanita boleh bekerja di luar rumah dengan syarat sebagai berikut: Seorang wanita bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya di dalam mengurus rumah tangga. Dia bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya, jika tinggal bersama mereka. Dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiat perempuan. Dia bekerja pada tempat kerja yang tidak ada khalwat atau ikhtilat. Menjaga adabnya sebagai wanita Muslimah dan menjauhi hal yang terlarang seperti berdandan dan memakai parfum. Semoga Allah ta’ala memudahkan urusan kita semua dan memberikan taufiq dan hidayah kepada wanita-wanita dalam pekerjaan di rumah mereka, untuk melahirkan generasi Islam yang tangguh. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf , Lc. MA. (Dosen Ilmu Hadits STDI Jember) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Bai At, Ayat Alquran Tentang Penciptaan Alam Semesta, Bertaubat Dari Dosa Besar, Jabat Tangan Wallpaper, Doa Safar Sesuai Sunnah, Hukum Istri Meninggalkan Suami Dan Anak Visited 193 times, 1 visit(s) today Post Views: 642 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1347093562&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Hukum Wanita Muslimah Bekerja Assalamu’alaikum, afwan ustadz ada keluarga yg kondisi keuangannya sangat minim sekali. Nah kebetulan sang istri berniat untuk membantu ekonomi suaminya. Pertanyaannya bagaimana batas-batas wanita boleh bekerja ustadz. Syukron Jawab: Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’du. Islam adalah agama yang menata kehidupan manusia dengan melihat seluruh sisinya secara berimbang, dan meletakkan tugas dan fungsi sesuatu sesuai tabiatnya. Membangun umat Islam dimulai dari membangun pondasi dasarnya, yang merupakan kumpulan terkecil dalam suatu masyarakat, yaitu keluarga. Kesepakatan seorang laki-laki dan perempuan menjadi suami istri untuk membangun sebuah keluarga, artinya mereka telah membagi tugas dan wewenang, sehingga keutuhan rumah tangga bisa terbangun dengan baik. Pekerjaan mencari nafkah diluar rumah adalah pekerjaan suami dan pekerjaan di dalam rumah, mengurus rumah tangga serta mendidik anak adalah tugas pokok istri; seorang ibu rumah tangga adalah seorang pekerja, dia bekerja untuk menghasilkan manusia yang beriman dan unggul. Kalau kita perhatikan secara mendalam, pekerjaan bapak adalah mencari nafkah, nafkah untuk keluarga, pekerjaan ibu adalah guru dan outputnya adalah manusia; bukankah sumber daya manusia lebih tinggi nilainya dari uang dan gaji yang didapatkan oleh seorang suami? Asal dari pembagian kerja adalah laki-laki diluar rumah dan perempuan bertugas di dalam rumah tangga. Lalu, apakah hukumnya wanita keluar dari kondisi ini, dimana seorang istri atau seorang ibu harus bekerja di luar rumah? Mari kita ambil petunjuk dari firman Allah ta’ala di dalam surat Al-Qashash 23-26: {وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (25) قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)} [القصص: 23 – 26] 23. Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.  24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.  25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.  26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Kisah di atas memberikan petunjuk kepada kita bagaimana wanita jika bekerja di luar rumah, mari kita perhatikan point-point berikut: Dua orang perempuan dalam kisah tersebut bekerja di luar rumah yaitu membawa kambing gembalaan mereka untuk minum dari mata air, ini menunjukkan bolehnya wanita bekerja di luar rumah. Dan ini juga ditunjukan oleh hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1483, bahwa Bibinya Jabir ketika menjadi janda, dia bertanya kepada Nabi shalallahu alaihissalam tentang pekerjaannya mengairi kebun korma miliknya, maka Nabi menyetujuinya. Mereka berdua bekerja karena kebutuhan yang disebabkan bapak mereka sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi, artinya perempuan bekerja diluar rumah karena adanya kebutuhan untuk itu. Kebutuhan seorang wanita kerja diluar rumah terbagi menjadi dua, kebutuhan dia untuk mencari nafkah karena tidak ada atau kurangnya nafkah hidupnya dan kebutuhan masyarakat akan tenaga khusus wanita, seperti guru-guru perempuan, dokter kandungan perempuan dan yang serupa dengannya. Pekerjaan keduanya adalah membawa kambing gembalaan menuju tempat mata air untuk mendapatkan minum, dan pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh wanita dan tidak bertentangan dengan tabiatnya sebagai wanita. Wanita ketika bekerja di luar rumah dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiatnya, tidak bekerja pada bidang pekerjaan berat yang hanya cocok untuk laki-laki, seperti pertukangan dan pertambangan. Mereka menunggu kaum laki-laki selesai memberi minum hewan ternak mereka, setelah itu baru mereka memberi minum hewan ternak mereka. Artinya mereka menjauhi bercampur baurnya laki-laki dan perempuan di tempat kerja. Seorang wanita tidak boleh bekerja di tempat kerja yang dia khalwat berduan dengan seorang laki-laki seperti menjadi sekertaris, atau terjadi ikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan pada satu tempat) yang terprogram, dalam arti dia bersama laki-laki bukan muhrim dalam satu ruangan walaupun tidak berduaan sepanjang waktu kerja. Adapun ikhtilat yang hanya terjadi sebentar dan berganti seperti jualan di pasar, maka hal tersebut diperbolehkan oleh para ulama. Allah ta’ala menyebutkan bahwa dia berjalan malu-malu, ini menjelaskan bahwa seorang wanita jika bekerja di luar rumah dia harus menjaga akhlak dan adabnya sebagai wanita. Dia harus berpakaian syar’i, tidak berdandan atau memakai parfum yang menarik perhatian lawan jenis. Keduanya menceritakan kepada Nabi Musa bahwa orang tua mereka mengajaknya untuk datang ke rumah mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka bekerja di luar atas pengetahuan dan ijin dari orang tua mereka. Jika seorang wanita bersuami, maka dia bekerja setelah mendapatkan ijin suaminya, jika tinggal bersama orang tuanya, maka dia harus meminta ijin orang tuanya. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar Nabi Musa bekerja dengan orang tua mereka. Seorang wanita jika ada yang mengantikan pekerjaan mereka di luar rumah, maka ia kembali kepada tugas asalnya yaitu mengurus pekerjaan di dalam rumah. Dan ini menunjukkan bahwa pekerjaan seorang wanita diluar adalah sesuai dengan kebutuhan dan kalau kebutuhan selesai maka dia kembali. Dan dapat dipahami bahwa tidak boleh bekerja diluar rumah yang melalaikan dari tugas pokoknya di dalam rumah. Setelah kita bersama kisah Nabi Musa dan dua orang perempuan di negeri Madyan, kita dapat menjawab pertanyaan diatas, bahwa seorang wanita boleh bekerja di luar rumah dengan syarat sebagai berikut: Seorang wanita bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya di dalam mengurus rumah tangga. Dia bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya, jika tinggal bersama mereka. Dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiat perempuan. Dia bekerja pada tempat kerja yang tidak ada khalwat atau ikhtilat. Menjaga adabnya sebagai wanita Muslimah dan menjauhi hal yang terlarang seperti berdandan dan memakai parfum. Semoga Allah ta’ala memudahkan urusan kita semua dan memberikan taufiq dan hidayah kepada wanita-wanita dalam pekerjaan di rumah mereka, untuk melahirkan generasi Islam yang tangguh. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf , Lc. MA. (Dosen Ilmu Hadits STDI Jember) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Bai At, Ayat Alquran Tentang Penciptaan Alam Semesta, Bertaubat Dari Dosa Besar, Jabat Tangan Wallpaper, Doa Safar Sesuai Sunnah, Hukum Istri Meninggalkan Suami Dan Anak Visited 193 times, 1 visit(s) today Post Views: 642 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis

Bagaimana hukum mengucapkan salam kepada lawan jenis? Boleh ataukah tidak? Daftar Isi tutup 1. Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah) 1.1. Hadits #863 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #864 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #865 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُسَلاَمُ الرَّجُلِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَالمرْأَةِ مِنْ مَحَارِمِهِ وَعَلَى أَجْنَبِيَةٍ وَأَجْنَبِيَاتٍ لاَ يَخَافُ الفِتْنَة بِهِنَّ وَسَلاَمِهِنَّ بِهَذَا الشَّرْطِ Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah)   Hadits #863 عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَتْ فِينَا امْرَأةٌ – وَفِي رِوَايَةٍ : كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ – تَأخُذُ مِنْ أصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي القِدْرِ ، وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ ، فَإذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ ، وَانْصَرَفْنَا ، نُسَلِّمُ عَلَيْهَا ، فَتُقَدِّمُهُ إلَيْنَا . رَوَاهُ البُخَارِي. قَوْله : (( تُكَرْكِرُ )) أيْ : تَطْحَنُ. Sahl bin Sa’ad berkata, “Di antara kami ada seorang perempuan—dalam riwayat lain disebutkan, di antara kami ada seorang nenek—yang biasa mengambil pokok silq (nama tumbuhan) lalu meletakkannya di dalam panci, dan ia menumbuk biji-biji gandum. Apabila kami telah selesai melaksanakan shalat Jumat dan pulang, kami sering mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menyuguhkan makanan tersebut kepada kami.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6248]. Makna dari “tukarkiru” adalah tath-hanu, artinya menggiling.   Faedah Hadits Perintah untuk menyebar ke muka bumi bakda shalat Jumat, hukumnya adalah boleh. Disunnahkan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan baik, walau jumlahnya sedikit. Boleh mengucapkan salam kepada wanita bukan mahram, asal aman dari godaan. Sifat sahabat itu qana’ah, pekerja keras, dan bersegera melakukan ketaatan kepada Allah.   Hadits #864 وَعَنْ أُمِّ هَانِىءٍ فَاخِتَةَ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الفَتْحِ وَهُوَ يَغْتَسِلُ ، وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ ، فَسَلَّمْتُ … وَذَكَرَتِ الحَدِيْثَ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Ummu Hani’ Fakhitah binti Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Fathu Makkah. Saat itu, beliau sedang mandi dan Fathimah menutupi beliau dengan sehelai pakaian. Maka aku mengucapkan salam, lalu ia pun mengucapkan hadits tersebut (secara lengkap).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 336]   Faedah Hadits Boleh pria mengucapkan salam kepada wanita selama aman dari godaan.   Hadits #865 وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيْدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : مَرّ عَلَيْنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) ، وَهَذَا لَفْظُ أَبِي دَاوُدَ. وَلَفْظُ التِّرْمِذِي : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ فِي المَسْجِدِ يَوْماً ، وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ ، فَأَلْوَى بِيَدِهِ بالتَّسْلِيمِ. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati kami, sekelompok perempuan. Lantas beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan. Lafazhnya adalah milik Abu Daud). Tirmidzi mengatakan, haditsnya hasan. Dan hadits ini adalah berdasarkan lafazh Abu Daud. Sedangkan lafazh Tirmidzi yaitu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari lewat di masjid, sekelompok perempuan sedang duduk-duduk. Maka, beliau melambaikan tangannya dengan (mengucapkan) salam.”   Faedah Hadits Bolehnya wanita itu duduk-duduk bersama wanita lainnya di tempat yang tidak menimbulkan godaan atau menimbulkan mudarat bagi orang yang lewat. Boleh mengucapkan salam pada wanita. Baca Juga: Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Non Mahram Mencium Wanita Non Mahram Termasuk Dosa Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagslawan jenis mahram riyadhus sholihin salam ucapan salam

Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis

Bagaimana hukum mengucapkan salam kepada lawan jenis? Boleh ataukah tidak? Daftar Isi tutup 1. Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah) 1.1. Hadits #863 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #864 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #865 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُسَلاَمُ الرَّجُلِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَالمرْأَةِ مِنْ مَحَارِمِهِ وَعَلَى أَجْنَبِيَةٍ وَأَجْنَبِيَاتٍ لاَ يَخَافُ الفِتْنَة بِهِنَّ وَسَلاَمِهِنَّ بِهَذَا الشَّرْطِ Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah)   Hadits #863 عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَتْ فِينَا امْرَأةٌ – وَفِي رِوَايَةٍ : كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ – تَأخُذُ مِنْ أصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي القِدْرِ ، وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ ، فَإذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ ، وَانْصَرَفْنَا ، نُسَلِّمُ عَلَيْهَا ، فَتُقَدِّمُهُ إلَيْنَا . رَوَاهُ البُخَارِي. قَوْله : (( تُكَرْكِرُ )) أيْ : تَطْحَنُ. Sahl bin Sa’ad berkata, “Di antara kami ada seorang perempuan—dalam riwayat lain disebutkan, di antara kami ada seorang nenek—yang biasa mengambil pokok silq (nama tumbuhan) lalu meletakkannya di dalam panci, dan ia menumbuk biji-biji gandum. Apabila kami telah selesai melaksanakan shalat Jumat dan pulang, kami sering mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menyuguhkan makanan tersebut kepada kami.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6248]. Makna dari “tukarkiru” adalah tath-hanu, artinya menggiling.   Faedah Hadits Perintah untuk menyebar ke muka bumi bakda shalat Jumat, hukumnya adalah boleh. Disunnahkan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan baik, walau jumlahnya sedikit. Boleh mengucapkan salam kepada wanita bukan mahram, asal aman dari godaan. Sifat sahabat itu qana’ah, pekerja keras, dan bersegera melakukan ketaatan kepada Allah.   Hadits #864 وَعَنْ أُمِّ هَانِىءٍ فَاخِتَةَ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الفَتْحِ وَهُوَ يَغْتَسِلُ ، وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ ، فَسَلَّمْتُ … وَذَكَرَتِ الحَدِيْثَ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Ummu Hani’ Fakhitah binti Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Fathu Makkah. Saat itu, beliau sedang mandi dan Fathimah menutupi beliau dengan sehelai pakaian. Maka aku mengucapkan salam, lalu ia pun mengucapkan hadits tersebut (secara lengkap).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 336]   Faedah Hadits Boleh pria mengucapkan salam kepada wanita selama aman dari godaan.   Hadits #865 وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيْدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : مَرّ عَلَيْنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) ، وَهَذَا لَفْظُ أَبِي دَاوُدَ. وَلَفْظُ التِّرْمِذِي : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ فِي المَسْجِدِ يَوْماً ، وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ ، فَأَلْوَى بِيَدِهِ بالتَّسْلِيمِ. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati kami, sekelompok perempuan. Lantas beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan. Lafazhnya adalah milik Abu Daud). Tirmidzi mengatakan, haditsnya hasan. Dan hadits ini adalah berdasarkan lafazh Abu Daud. Sedangkan lafazh Tirmidzi yaitu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari lewat di masjid, sekelompok perempuan sedang duduk-duduk. Maka, beliau melambaikan tangannya dengan (mengucapkan) salam.”   Faedah Hadits Bolehnya wanita itu duduk-duduk bersama wanita lainnya di tempat yang tidak menimbulkan godaan atau menimbulkan mudarat bagi orang yang lewat. Boleh mengucapkan salam pada wanita. Baca Juga: Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Non Mahram Mencium Wanita Non Mahram Termasuk Dosa Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagslawan jenis mahram riyadhus sholihin salam ucapan salam
Bagaimana hukum mengucapkan salam kepada lawan jenis? Boleh ataukah tidak? Daftar Isi tutup 1. Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah) 1.1. Hadits #863 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #864 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #865 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُسَلاَمُ الرَّجُلِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَالمرْأَةِ مِنْ مَحَارِمِهِ وَعَلَى أَجْنَبِيَةٍ وَأَجْنَبِيَاتٍ لاَ يَخَافُ الفِتْنَة بِهِنَّ وَسَلاَمِهِنَّ بِهَذَا الشَّرْطِ Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah)   Hadits #863 عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَتْ فِينَا امْرَأةٌ – وَفِي رِوَايَةٍ : كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ – تَأخُذُ مِنْ أصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي القِدْرِ ، وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ ، فَإذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ ، وَانْصَرَفْنَا ، نُسَلِّمُ عَلَيْهَا ، فَتُقَدِّمُهُ إلَيْنَا . رَوَاهُ البُخَارِي. قَوْله : (( تُكَرْكِرُ )) أيْ : تَطْحَنُ. Sahl bin Sa’ad berkata, “Di antara kami ada seorang perempuan—dalam riwayat lain disebutkan, di antara kami ada seorang nenek—yang biasa mengambil pokok silq (nama tumbuhan) lalu meletakkannya di dalam panci, dan ia menumbuk biji-biji gandum. Apabila kami telah selesai melaksanakan shalat Jumat dan pulang, kami sering mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menyuguhkan makanan tersebut kepada kami.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6248]. Makna dari “tukarkiru” adalah tath-hanu, artinya menggiling.   Faedah Hadits Perintah untuk menyebar ke muka bumi bakda shalat Jumat, hukumnya adalah boleh. Disunnahkan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan baik, walau jumlahnya sedikit. Boleh mengucapkan salam kepada wanita bukan mahram, asal aman dari godaan. Sifat sahabat itu qana’ah, pekerja keras, dan bersegera melakukan ketaatan kepada Allah.   Hadits #864 وَعَنْ أُمِّ هَانِىءٍ فَاخِتَةَ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الفَتْحِ وَهُوَ يَغْتَسِلُ ، وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ ، فَسَلَّمْتُ … وَذَكَرَتِ الحَدِيْثَ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Ummu Hani’ Fakhitah binti Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Fathu Makkah. Saat itu, beliau sedang mandi dan Fathimah menutupi beliau dengan sehelai pakaian. Maka aku mengucapkan salam, lalu ia pun mengucapkan hadits tersebut (secara lengkap).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 336]   Faedah Hadits Boleh pria mengucapkan salam kepada wanita selama aman dari godaan.   Hadits #865 وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيْدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : مَرّ عَلَيْنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) ، وَهَذَا لَفْظُ أَبِي دَاوُدَ. وَلَفْظُ التِّرْمِذِي : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ فِي المَسْجِدِ يَوْماً ، وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ ، فَأَلْوَى بِيَدِهِ بالتَّسْلِيمِ. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati kami, sekelompok perempuan. Lantas beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan. Lafazhnya adalah milik Abu Daud). Tirmidzi mengatakan, haditsnya hasan. Dan hadits ini adalah berdasarkan lafazh Abu Daud. Sedangkan lafazh Tirmidzi yaitu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari lewat di masjid, sekelompok perempuan sedang duduk-duduk. Maka, beliau melambaikan tangannya dengan (mengucapkan) salam.”   Faedah Hadits Bolehnya wanita itu duduk-duduk bersama wanita lainnya di tempat yang tidak menimbulkan godaan atau menimbulkan mudarat bagi orang yang lewat. Boleh mengucapkan salam pada wanita. Baca Juga: Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Non Mahram Mencium Wanita Non Mahram Termasuk Dosa Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagslawan jenis mahram riyadhus sholihin salam ucapan salam


Bagaimana hukum mengucapkan salam kepada lawan jenis? Boleh ataukah tidak? Daftar Isi tutup 1. Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah) 1.1. Hadits #863 1.1.1. Faedah Hadits 1.2. Hadits #864 1.2.1. Faedah Hadits 1.3. Hadits #865 1.3.1. Faedah Hadits 1.3.2. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَاب ُسَلاَمُ الرَّجُلِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَالمرْأَةِ مِنْ مَحَارِمِهِ وَعَلَى أَجْنَبِيَةٍ وَأَجْنَبِيَاتٍ لاَ يَخَافُ الفِتْنَة بِهِنَّ وَسَلاَمِهِنَّ بِهَذَا الشَّرْطِ Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah)   Hadits #863 عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَتْ فِينَا امْرَأةٌ – وَفِي رِوَايَةٍ : كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ – تَأخُذُ مِنْ أصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي القِدْرِ ، وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ ، فَإذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ ، وَانْصَرَفْنَا ، نُسَلِّمُ عَلَيْهَا ، فَتُقَدِّمُهُ إلَيْنَا . رَوَاهُ البُخَارِي. قَوْله : (( تُكَرْكِرُ )) أيْ : تَطْحَنُ. Sahl bin Sa’ad berkata, “Di antara kami ada seorang perempuan—dalam riwayat lain disebutkan, di antara kami ada seorang nenek—yang biasa mengambil pokok silq (nama tumbuhan) lalu meletakkannya di dalam panci, dan ia menumbuk biji-biji gandum. Apabila kami telah selesai melaksanakan shalat Jumat dan pulang, kami sering mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menyuguhkan makanan tersebut kepada kami.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6248]. Makna dari “tukarkiru” adalah tath-hanu, artinya menggiling.   Faedah Hadits Perintah untuk menyebar ke muka bumi bakda shalat Jumat, hukumnya adalah boleh. Disunnahkan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan baik, walau jumlahnya sedikit. Boleh mengucapkan salam kepada wanita bukan mahram, asal aman dari godaan. Sifat sahabat itu qana’ah, pekerja keras, dan bersegera melakukan ketaatan kepada Allah.   Hadits #864 وَعَنْ أُمِّ هَانِىءٍ فَاخِتَةَ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الفَتْحِ وَهُوَ يَغْتَسِلُ ، وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ ، فَسَلَّمْتُ … وَذَكَرَتِ الحَدِيْثَ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Ummu Hani’ Fakhitah binti Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Fathu Makkah. Saat itu, beliau sedang mandi dan Fathimah menutupi beliau dengan sehelai pakaian. Maka aku mengucapkan salam, lalu ia pun mengucapkan hadits tersebut (secara lengkap).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 336]   Faedah Hadits Boleh pria mengucapkan salam kepada wanita selama aman dari godaan.   Hadits #865 وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيْدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : مَرّ عَلَيْنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) ، وَهَذَا لَفْظُ أَبِي دَاوُدَ. وَلَفْظُ التِّرْمِذِي : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ فِي المَسْجِدِ يَوْماً ، وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ ، فَأَلْوَى بِيَدِهِ بالتَّسْلِيمِ. Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati kami, sekelompok perempuan. Lantas beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan. Lafazhnya adalah milik Abu Daud). Tirmidzi mengatakan, haditsnya hasan. Dan hadits ini adalah berdasarkan lafazh Abu Daud. Sedangkan lafazh Tirmidzi yaitu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari lewat di masjid, sekelompok perempuan sedang duduk-duduk. Maka, beliau melambaikan tangannya dengan (mengucapkan) salam.”   Faedah Hadits Bolehnya wanita itu duduk-duduk bersama wanita lainnya di tempat yang tidak menimbulkan godaan atau menimbulkan mudarat bagi orang yang lewat. Boleh mengucapkan salam pada wanita. Baca Juga: Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Non Mahram Mencium Wanita Non Mahram Termasuk Dosa Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagslawan jenis mahram riyadhus sholihin salam ucapan salam

Batu-batu Neraka

Batu-batu Neraka Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Qur’an surat at Tahrim ayat 6 diterangkan, bahwa bahan bakar neraka ada dua macamnya yaitu manusia dan batu. Allahu Subhanahu wa ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6) Dalam surat yang lain, Allah ta’ala berfirman, فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ Takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 24) Melalui dua ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa batu merupakan salah satu bahan bakar neraka. Dan kita wajib meyakini hal ini, karena masalah ini adalah bagian dari rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir. Kemudian muncul pertanyaan, batu yang bagaimana? Ada dua macam batu neraka: Pertama, batu berhala yang disembah oleh orang-orang kafir. Sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an, إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya. (QS. Al-Anbiya’ : 98) Dimasukkannya berhala ke dalam neraka, bukan untuk mengadzab batu-batu berhala tersebut. Namun, untuk semakin membuat sedih dan menyesal setiap orang yang menyembahnya. Ternyata Tuhan yang mereka sembah dahulu di dunia, menggantungkan harap dan tawakkal kepadanya, akan masuk ke neraka bersama penyembahnya. Tak bisa menolong. Hanya akan menjadi bahan bakar neraka yang semakin menambah panas api yang membakar mereka. Imam Al Qurtubi rahimahullah menerangkan, وأن النار لا تكون على الأصنام عذابا ولا عقوبة ؛ لأنها لم تذنب ،ولكن تكون عذابا على من عبدها : أول شيء بالحسرة Api neraka bagi berhala-berhala itu tidak sebagai azab atau hukuman. Karena berhala tidak berbuat dosa (benda mati, red). Namun menjadi azab bagi para menyembahnya. Azab pertama yang mereka rasakan saat melihat berhala itu berada di neraka adalah, penyesalan. (Tafsir Al Qurtubi). Kedua, batu belerang atau dalam bahasa Arab disebut kibriit كبريت. Namun untuk jenis batu yang kedua ini, belum finish. Para ulama berbeda pendapat tentangnya. Mayoritas ulama tafsir memegang pendapat ini, bahwa yang dimaksud batu bahan bakar neraka adalah batu kibriit/belerang. Sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, هي حجارة من كبريت، خلقها الله يوم خلق السماوات والأرض في السماء الدنيا يعدها للكافرين Batu yang menjadi bahan bakar neraka adalah batu belerang. Allah menciptakannya di langit dunia saat hari penciptaan langit dan bumi. Allah siapkan untuk mengazab orang – orang kafir. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al Hakim dalam Al Mustadrok) Ulama yang lain berpandangan, bahwa maknanya tidak mesti batu belerang. Para ulama klasik menafsirkannya dengan batu belerang, karena itulah jenis batu paling panas yang mereka ketahui. Padahal, masih ada batu lain yang lebih panas dan lebih kuat dalam memberikan dampak azab, daripada batu belerang. Lantas batu apakah itu? Dalam buku Al Jannatu Wan Nar (Surga dan Neraka), Prof. Dr. Umar Sulaiman Al Asqor menjelaskan, yaitu batu yang memiliki lima karakteristik berikut : [1] Cepat menyala, (سرعة الإيقاد) [2] Mengeluarkan bau yang tidak sedap, (نتن الرائحة) [3] Mengeluarkan banyak asap, (كثرة الدخان) [4] Mudah menempel kuat ditubuh manusia, (شدة الالتصاق بالأبدان) [5] Memiliki kekuatan panas yang dahsyat. (قوة حرها) (Al Jannatu Wan Nar, hal. 31, menukil dari ket. Imam Ibnu Rojab Al Hambali, dalam At Takhwif Minan Naar, hal. 107) Kesimpulan terakhir ini lebih tepat insyaallah. Karena kalaupun ditafsirkan batu belerang, penafsiran tersebut fungsinya sebagai pendekatan untuk memahami. Tidak untuk menjelaskan hakikat batu neraka. Ibnu Abbas radhiyallahuma pernah mengatakan, ليس في الدنيا مما في الآخرة إلا الأسماء. Tidaklah benda-benda yang ada di dunia ini, tersebut sama dengan benda-benda di akhirat, melainkan sama dalam penamaan saja. (Majmu’Fatawa Ibnu Taimiyah, 5/159) Sehingga, menafsirkannya global, dengan menjelaskan kriteria-kriteria seperti di atas, lebih tepat insyaallah. Karena adanya kemungkinan batu lain yang lebih panas dan lebih menyiksa dari belerang, mungkin batu bara atau yang lainnya. Sehingga lebih dekat dalam memahamkan batu neraka yang tersebut dalam ayat di atas. Syeikh Umar Sulaiman Al Asqor memberikan keterangan dalam Al Jannatu Wan Nar (hal. 31), وقد يوجد الله من أنواع الحجارة ما يفوق ما في الكبريت من خصائص، ونحن نجزم أن ما في الآخرة مغاير لما في الدنيا Bisa jadi ada jenis batu lain yang Allah ciptakan, yang kriteria azabnya melebihi batu belerang. Dan kita meyakini bahwa, alam akhirat berbeda dengan alam dunia. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kitab Syiah, Kisah Kehidupan Di Surga, Suhuf Nabi Adam, Kursi Sholat Lansia, Allahummaghfirlaha Warhamha Arab, Surat Al Kahfi Berapa Ayat Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 QRIS donasi Yufid

Batu-batu Neraka

Batu-batu Neraka Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Qur’an surat at Tahrim ayat 6 diterangkan, bahwa bahan bakar neraka ada dua macamnya yaitu manusia dan batu. Allahu Subhanahu wa ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6) Dalam surat yang lain, Allah ta’ala berfirman, فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ Takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 24) Melalui dua ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa batu merupakan salah satu bahan bakar neraka. Dan kita wajib meyakini hal ini, karena masalah ini adalah bagian dari rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir. Kemudian muncul pertanyaan, batu yang bagaimana? Ada dua macam batu neraka: Pertama, batu berhala yang disembah oleh orang-orang kafir. Sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an, إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya. (QS. Al-Anbiya’ : 98) Dimasukkannya berhala ke dalam neraka, bukan untuk mengadzab batu-batu berhala tersebut. Namun, untuk semakin membuat sedih dan menyesal setiap orang yang menyembahnya. Ternyata Tuhan yang mereka sembah dahulu di dunia, menggantungkan harap dan tawakkal kepadanya, akan masuk ke neraka bersama penyembahnya. Tak bisa menolong. Hanya akan menjadi bahan bakar neraka yang semakin menambah panas api yang membakar mereka. Imam Al Qurtubi rahimahullah menerangkan, وأن النار لا تكون على الأصنام عذابا ولا عقوبة ؛ لأنها لم تذنب ،ولكن تكون عذابا على من عبدها : أول شيء بالحسرة Api neraka bagi berhala-berhala itu tidak sebagai azab atau hukuman. Karena berhala tidak berbuat dosa (benda mati, red). Namun menjadi azab bagi para menyembahnya. Azab pertama yang mereka rasakan saat melihat berhala itu berada di neraka adalah, penyesalan. (Tafsir Al Qurtubi). Kedua, batu belerang atau dalam bahasa Arab disebut kibriit كبريت. Namun untuk jenis batu yang kedua ini, belum finish. Para ulama berbeda pendapat tentangnya. Mayoritas ulama tafsir memegang pendapat ini, bahwa yang dimaksud batu bahan bakar neraka adalah batu kibriit/belerang. Sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, هي حجارة من كبريت، خلقها الله يوم خلق السماوات والأرض في السماء الدنيا يعدها للكافرين Batu yang menjadi bahan bakar neraka adalah batu belerang. Allah menciptakannya di langit dunia saat hari penciptaan langit dan bumi. Allah siapkan untuk mengazab orang – orang kafir. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al Hakim dalam Al Mustadrok) Ulama yang lain berpandangan, bahwa maknanya tidak mesti batu belerang. Para ulama klasik menafsirkannya dengan batu belerang, karena itulah jenis batu paling panas yang mereka ketahui. Padahal, masih ada batu lain yang lebih panas dan lebih kuat dalam memberikan dampak azab, daripada batu belerang. Lantas batu apakah itu? Dalam buku Al Jannatu Wan Nar (Surga dan Neraka), Prof. Dr. Umar Sulaiman Al Asqor menjelaskan, yaitu batu yang memiliki lima karakteristik berikut : [1] Cepat menyala, (سرعة الإيقاد) [2] Mengeluarkan bau yang tidak sedap, (نتن الرائحة) [3] Mengeluarkan banyak asap, (كثرة الدخان) [4] Mudah menempel kuat ditubuh manusia, (شدة الالتصاق بالأبدان) [5] Memiliki kekuatan panas yang dahsyat. (قوة حرها) (Al Jannatu Wan Nar, hal. 31, menukil dari ket. Imam Ibnu Rojab Al Hambali, dalam At Takhwif Minan Naar, hal. 107) Kesimpulan terakhir ini lebih tepat insyaallah. Karena kalaupun ditafsirkan batu belerang, penafsiran tersebut fungsinya sebagai pendekatan untuk memahami. Tidak untuk menjelaskan hakikat batu neraka. Ibnu Abbas radhiyallahuma pernah mengatakan, ليس في الدنيا مما في الآخرة إلا الأسماء. Tidaklah benda-benda yang ada di dunia ini, tersebut sama dengan benda-benda di akhirat, melainkan sama dalam penamaan saja. (Majmu’Fatawa Ibnu Taimiyah, 5/159) Sehingga, menafsirkannya global, dengan menjelaskan kriteria-kriteria seperti di atas, lebih tepat insyaallah. Karena adanya kemungkinan batu lain yang lebih panas dan lebih menyiksa dari belerang, mungkin batu bara atau yang lainnya. Sehingga lebih dekat dalam memahamkan batu neraka yang tersebut dalam ayat di atas. Syeikh Umar Sulaiman Al Asqor memberikan keterangan dalam Al Jannatu Wan Nar (hal. 31), وقد يوجد الله من أنواع الحجارة ما يفوق ما في الكبريت من خصائص، ونحن نجزم أن ما في الآخرة مغاير لما في الدنيا Bisa jadi ada jenis batu lain yang Allah ciptakan, yang kriteria azabnya melebihi batu belerang. Dan kita meyakini bahwa, alam akhirat berbeda dengan alam dunia. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kitab Syiah, Kisah Kehidupan Di Surga, Suhuf Nabi Adam, Kursi Sholat Lansia, Allahummaghfirlaha Warhamha Arab, Surat Al Kahfi Berapa Ayat Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 QRIS donasi Yufid
Batu-batu Neraka Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Qur’an surat at Tahrim ayat 6 diterangkan, bahwa bahan bakar neraka ada dua macamnya yaitu manusia dan batu. Allahu Subhanahu wa ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6) Dalam surat yang lain, Allah ta’ala berfirman, فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ Takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 24) Melalui dua ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa batu merupakan salah satu bahan bakar neraka. Dan kita wajib meyakini hal ini, karena masalah ini adalah bagian dari rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir. Kemudian muncul pertanyaan, batu yang bagaimana? Ada dua macam batu neraka: Pertama, batu berhala yang disembah oleh orang-orang kafir. Sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an, إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya. (QS. Al-Anbiya’ : 98) Dimasukkannya berhala ke dalam neraka, bukan untuk mengadzab batu-batu berhala tersebut. Namun, untuk semakin membuat sedih dan menyesal setiap orang yang menyembahnya. Ternyata Tuhan yang mereka sembah dahulu di dunia, menggantungkan harap dan tawakkal kepadanya, akan masuk ke neraka bersama penyembahnya. Tak bisa menolong. Hanya akan menjadi bahan bakar neraka yang semakin menambah panas api yang membakar mereka. Imam Al Qurtubi rahimahullah menerangkan, وأن النار لا تكون على الأصنام عذابا ولا عقوبة ؛ لأنها لم تذنب ،ولكن تكون عذابا على من عبدها : أول شيء بالحسرة Api neraka bagi berhala-berhala itu tidak sebagai azab atau hukuman. Karena berhala tidak berbuat dosa (benda mati, red). Namun menjadi azab bagi para menyembahnya. Azab pertama yang mereka rasakan saat melihat berhala itu berada di neraka adalah, penyesalan. (Tafsir Al Qurtubi). Kedua, batu belerang atau dalam bahasa Arab disebut kibriit كبريت. Namun untuk jenis batu yang kedua ini, belum finish. Para ulama berbeda pendapat tentangnya. Mayoritas ulama tafsir memegang pendapat ini, bahwa yang dimaksud batu bahan bakar neraka adalah batu kibriit/belerang. Sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, هي حجارة من كبريت، خلقها الله يوم خلق السماوات والأرض في السماء الدنيا يعدها للكافرين Batu yang menjadi bahan bakar neraka adalah batu belerang. Allah menciptakannya di langit dunia saat hari penciptaan langit dan bumi. Allah siapkan untuk mengazab orang – orang kafir. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al Hakim dalam Al Mustadrok) Ulama yang lain berpandangan, bahwa maknanya tidak mesti batu belerang. Para ulama klasik menafsirkannya dengan batu belerang, karena itulah jenis batu paling panas yang mereka ketahui. Padahal, masih ada batu lain yang lebih panas dan lebih kuat dalam memberikan dampak azab, daripada batu belerang. Lantas batu apakah itu? Dalam buku Al Jannatu Wan Nar (Surga dan Neraka), Prof. Dr. Umar Sulaiman Al Asqor menjelaskan, yaitu batu yang memiliki lima karakteristik berikut : [1] Cepat menyala, (سرعة الإيقاد) [2] Mengeluarkan bau yang tidak sedap, (نتن الرائحة) [3] Mengeluarkan banyak asap, (كثرة الدخان) [4] Mudah menempel kuat ditubuh manusia, (شدة الالتصاق بالأبدان) [5] Memiliki kekuatan panas yang dahsyat. (قوة حرها) (Al Jannatu Wan Nar, hal. 31, menukil dari ket. Imam Ibnu Rojab Al Hambali, dalam At Takhwif Minan Naar, hal. 107) Kesimpulan terakhir ini lebih tepat insyaallah. Karena kalaupun ditafsirkan batu belerang, penafsiran tersebut fungsinya sebagai pendekatan untuk memahami. Tidak untuk menjelaskan hakikat batu neraka. Ibnu Abbas radhiyallahuma pernah mengatakan, ليس في الدنيا مما في الآخرة إلا الأسماء. Tidaklah benda-benda yang ada di dunia ini, tersebut sama dengan benda-benda di akhirat, melainkan sama dalam penamaan saja. (Majmu’Fatawa Ibnu Taimiyah, 5/159) Sehingga, menafsirkannya global, dengan menjelaskan kriteria-kriteria seperti di atas, lebih tepat insyaallah. Karena adanya kemungkinan batu lain yang lebih panas dan lebih menyiksa dari belerang, mungkin batu bara atau yang lainnya. Sehingga lebih dekat dalam memahamkan batu neraka yang tersebut dalam ayat di atas. Syeikh Umar Sulaiman Al Asqor memberikan keterangan dalam Al Jannatu Wan Nar (hal. 31), وقد يوجد الله من أنواع الحجارة ما يفوق ما في الكبريت من خصائص، ونحن نجزم أن ما في الآخرة مغاير لما في الدنيا Bisa jadi ada jenis batu lain yang Allah ciptakan, yang kriteria azabnya melebihi batu belerang. Dan kita meyakini bahwa, alam akhirat berbeda dengan alam dunia. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kitab Syiah, Kisah Kehidupan Di Surga, Suhuf Nabi Adam, Kursi Sholat Lansia, Allahummaghfirlaha Warhamha Arab, Surat Al Kahfi Berapa Ayat Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/706245970&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Batu-batu Neraka Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Qur’an surat at Tahrim ayat 6 diterangkan, bahwa bahan bakar neraka ada dua macamnya yaitu manusia dan batu. Allahu Subhanahu wa ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6) Dalam surat yang lain, Allah ta’ala berfirman, فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ Takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 24) Melalui dua ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa batu merupakan salah satu bahan bakar neraka. Dan kita wajib meyakini hal ini, karena masalah ini adalah bagian dari rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir. Kemudian muncul pertanyaan, batu yang bagaimana? Ada dua macam batu neraka: Pertama, batu berhala yang disembah oleh orang-orang kafir. Sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an, إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya. (QS. Al-Anbiya’ : 98) Dimasukkannya berhala ke dalam neraka, bukan untuk mengadzab batu-batu berhala tersebut. Namun, untuk semakin membuat sedih dan menyesal setiap orang yang menyembahnya. Ternyata Tuhan yang mereka sembah dahulu di dunia, menggantungkan harap dan tawakkal kepadanya, akan masuk ke neraka bersama penyembahnya. Tak bisa menolong. Hanya akan menjadi bahan bakar neraka yang semakin menambah panas api yang membakar mereka. Imam Al Qurtubi rahimahullah menerangkan, وأن النار لا تكون على الأصنام عذابا ولا عقوبة ؛ لأنها لم تذنب ،ولكن تكون عذابا على من عبدها : أول شيء بالحسرة Api neraka bagi berhala-berhala itu tidak sebagai azab atau hukuman. Karena berhala tidak berbuat dosa (benda mati, red). Namun menjadi azab bagi para menyembahnya. Azab pertama yang mereka rasakan saat melihat berhala itu berada di neraka adalah, penyesalan. (Tafsir Al Qurtubi). Kedua, batu belerang atau dalam bahasa Arab disebut kibriit كبريت. Namun untuk jenis batu yang kedua ini, belum finish. Para ulama berbeda pendapat tentangnya. Mayoritas ulama tafsir memegang pendapat ini, bahwa yang dimaksud batu bahan bakar neraka adalah batu kibriit/belerang. Sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, هي حجارة من كبريت، خلقها الله يوم خلق السماوات والأرض في السماء الدنيا يعدها للكافرين Batu yang menjadi bahan bakar neraka adalah batu belerang. Allah menciptakannya di langit dunia saat hari penciptaan langit dan bumi. Allah siapkan untuk mengazab orang – orang kafir. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al Hakim dalam Al Mustadrok) Ulama yang lain berpandangan, bahwa maknanya tidak mesti batu belerang. Para ulama klasik menafsirkannya dengan batu belerang, karena itulah jenis batu paling panas yang mereka ketahui. Padahal, masih ada batu lain yang lebih panas dan lebih kuat dalam memberikan dampak azab, daripada batu belerang. Lantas batu apakah itu? Dalam buku Al Jannatu Wan Nar (Surga dan Neraka), Prof. Dr. Umar Sulaiman Al Asqor menjelaskan, yaitu batu yang memiliki lima karakteristik berikut : [1] Cepat menyala, (سرعة الإيقاد) [2] Mengeluarkan bau yang tidak sedap, (نتن الرائحة) [3] Mengeluarkan banyak asap, (كثرة الدخان) [4] Mudah menempel kuat ditubuh manusia, (شدة الالتصاق بالأبدان) [5] Memiliki kekuatan panas yang dahsyat. (قوة حرها) (Al Jannatu Wan Nar, hal. 31, menukil dari ket. Imam Ibnu Rojab Al Hambali, dalam At Takhwif Minan Naar, hal. 107) Kesimpulan terakhir ini lebih tepat insyaallah. Karena kalaupun ditafsirkan batu belerang, penafsiran tersebut fungsinya sebagai pendekatan untuk memahami. Tidak untuk menjelaskan hakikat batu neraka. Ibnu Abbas radhiyallahuma pernah mengatakan, ليس في الدنيا مما في الآخرة إلا الأسماء. Tidaklah benda-benda yang ada di dunia ini, tersebut sama dengan benda-benda di akhirat, melainkan sama dalam penamaan saja. (Majmu’Fatawa Ibnu Taimiyah, 5/159) Sehingga, menafsirkannya global, dengan menjelaskan kriteria-kriteria seperti di atas, lebih tepat insyaallah. Karena adanya kemungkinan batu lain yang lebih panas dan lebih menyiksa dari belerang, mungkin batu bara atau yang lainnya. Sehingga lebih dekat dalam memahamkan batu neraka yang tersebut dalam ayat di atas. Syeikh Umar Sulaiman Al Asqor memberikan keterangan dalam Al Jannatu Wan Nar (hal. 31), وقد يوجد الله من أنواع الحجارة ما يفوق ما في الكبريت من خصائص، ونحن نجزم أن ما في الآخرة مغاير لما في الدنيا Bisa jadi ada jenis batu lain yang Allah ciptakan, yang kriteria azabnya melebihi batu belerang. Dan kita meyakini bahwa, alam akhirat berbeda dengan alam dunia. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kitab Syiah, Kisah Kehidupan Di Surga, Suhuf Nabi Adam, Kursi Sholat Lansia, Allahummaghfirlaha Warhamha Arab, Surat Al Kahfi Berapa Ayat Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 243 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Banci, Kaum yang Dilaknat Allah

Banci, Kaum yang Dilaknat Allah Bagaimana sebenarnya banci dalam fikih islam itu ustadz, karena sekarang banyak orang meniru-niru gaya perempuan apakah itu banci yg sesuai fikih islam. Dari : Uma Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tindakan laki-laki meniru perempuan, atau perempuan meniru laki-laki, dalam Islam sangat diharamkan. Bahkan, Nabi shallallahu’alaihi wasallam tegas melarangnya. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885). Hadis di atas, jelas menunjukkan menyerupai lawan jenis tergolong perbuatan dosa besar. Karena adanya ancaman laknat, adalah diantara ciri dosa besar. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, كل ما لعن الله ورسوله فهو كبيرة Setiap dosa yang diancam laknat Allah dan RasulNya, adalah dosa besar. (Lihat : Ad-Da’ wad Dawa’ hal. 293) Laknat maknanya adalah, dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. Mengapa seorang laki-laki yang menyerupai (tasyabbuh) wanita, atau sebaliknya, sampai diancam laknat oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam? Syekh Abu Muhammad bin Abu Hamzah rahimahullah menerangkan, والحكمة في لعن مَن تشبه: إخراجُه الشيء عن الصفة التي وضعها عليه أحكمُ الحكماء، وقد أشار إلى ذلك في لعن الواصلات بقوله: (الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله) Hikmah balasan berupa laknat Allah, bagi orang yang menyerupai lawan jenis adalah, karena dia telah berupaya keluar dari sifat yang telah ditetapkan/diciptakan Tuhan yang maha hikmah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberi isyarat hal ini saat menerangkan ancaman orang yang menyambung rambut, الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله Mereka telah mengubah ciptaan Allah. (Lihat : Fathul Bari Ibnu Hajar, 13/382) Sampai dinyatakan dalam Badaa-i’ As-Shonaa-i’ (9/21), ولا عدالة للمخنث، لأن فعله وعمله كبيرة. “Orang menyengaja banci, tidak bisa dinilai sholih. Karena perbuatannya, termasuk dosa besar.” Semoga Allah mengampuni dosa kita semua, dan menolong kepada saudara-saudara kami yang diuji dengan kecondongan suka menyerupai lawan jenis, untuk kembali kepada fitrahnya. Hanya Allah yang dapat memberi taufik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Mimpi Buruk Dalam Islam, Was Was Kentut, Zakat Tanah Kosong, Larangan Saat Berpuasa, Tanggal Baik Menikah Di Bulan Dzulhijjah, Dzikir Setelah Sholat Sesuai Sunnah Nabi Visited 234 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid

Banci, Kaum yang Dilaknat Allah

Banci, Kaum yang Dilaknat Allah Bagaimana sebenarnya banci dalam fikih islam itu ustadz, karena sekarang banyak orang meniru-niru gaya perempuan apakah itu banci yg sesuai fikih islam. Dari : Uma Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tindakan laki-laki meniru perempuan, atau perempuan meniru laki-laki, dalam Islam sangat diharamkan. Bahkan, Nabi shallallahu’alaihi wasallam tegas melarangnya. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885). Hadis di atas, jelas menunjukkan menyerupai lawan jenis tergolong perbuatan dosa besar. Karena adanya ancaman laknat, adalah diantara ciri dosa besar. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, كل ما لعن الله ورسوله فهو كبيرة Setiap dosa yang diancam laknat Allah dan RasulNya, adalah dosa besar. (Lihat : Ad-Da’ wad Dawa’ hal. 293) Laknat maknanya adalah, dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. Mengapa seorang laki-laki yang menyerupai (tasyabbuh) wanita, atau sebaliknya, sampai diancam laknat oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam? Syekh Abu Muhammad bin Abu Hamzah rahimahullah menerangkan, والحكمة في لعن مَن تشبه: إخراجُه الشيء عن الصفة التي وضعها عليه أحكمُ الحكماء، وقد أشار إلى ذلك في لعن الواصلات بقوله: (الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله) Hikmah balasan berupa laknat Allah, bagi orang yang menyerupai lawan jenis adalah, karena dia telah berupaya keluar dari sifat yang telah ditetapkan/diciptakan Tuhan yang maha hikmah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberi isyarat hal ini saat menerangkan ancaman orang yang menyambung rambut, الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله Mereka telah mengubah ciptaan Allah. (Lihat : Fathul Bari Ibnu Hajar, 13/382) Sampai dinyatakan dalam Badaa-i’ As-Shonaa-i’ (9/21), ولا عدالة للمخنث، لأن فعله وعمله كبيرة. “Orang menyengaja banci, tidak bisa dinilai sholih. Karena perbuatannya, termasuk dosa besar.” Semoga Allah mengampuni dosa kita semua, dan menolong kepada saudara-saudara kami yang diuji dengan kecondongan suka menyerupai lawan jenis, untuk kembali kepada fitrahnya. Hanya Allah yang dapat memberi taufik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Mimpi Buruk Dalam Islam, Was Was Kentut, Zakat Tanah Kosong, Larangan Saat Berpuasa, Tanggal Baik Menikah Di Bulan Dzulhijjah, Dzikir Setelah Sholat Sesuai Sunnah Nabi Visited 234 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid
Banci, Kaum yang Dilaknat Allah Bagaimana sebenarnya banci dalam fikih islam itu ustadz, karena sekarang banyak orang meniru-niru gaya perempuan apakah itu banci yg sesuai fikih islam. Dari : Uma Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tindakan laki-laki meniru perempuan, atau perempuan meniru laki-laki, dalam Islam sangat diharamkan. Bahkan, Nabi shallallahu’alaihi wasallam tegas melarangnya. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885). Hadis di atas, jelas menunjukkan menyerupai lawan jenis tergolong perbuatan dosa besar. Karena adanya ancaman laknat, adalah diantara ciri dosa besar. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, كل ما لعن الله ورسوله فهو كبيرة Setiap dosa yang diancam laknat Allah dan RasulNya, adalah dosa besar. (Lihat : Ad-Da’ wad Dawa’ hal. 293) Laknat maknanya adalah, dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. Mengapa seorang laki-laki yang menyerupai (tasyabbuh) wanita, atau sebaliknya, sampai diancam laknat oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam? Syekh Abu Muhammad bin Abu Hamzah rahimahullah menerangkan, والحكمة في لعن مَن تشبه: إخراجُه الشيء عن الصفة التي وضعها عليه أحكمُ الحكماء، وقد أشار إلى ذلك في لعن الواصلات بقوله: (الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله) Hikmah balasan berupa laknat Allah, bagi orang yang menyerupai lawan jenis adalah, karena dia telah berupaya keluar dari sifat yang telah ditetapkan/diciptakan Tuhan yang maha hikmah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberi isyarat hal ini saat menerangkan ancaman orang yang menyambung rambut, الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله Mereka telah mengubah ciptaan Allah. (Lihat : Fathul Bari Ibnu Hajar, 13/382) Sampai dinyatakan dalam Badaa-i’ As-Shonaa-i’ (9/21), ولا عدالة للمخنث، لأن فعله وعمله كبيرة. “Orang menyengaja banci, tidak bisa dinilai sholih. Karena perbuatannya, termasuk dosa besar.” Semoga Allah mengampuni dosa kita semua, dan menolong kepada saudara-saudara kami yang diuji dengan kecondongan suka menyerupai lawan jenis, untuk kembali kepada fitrahnya. Hanya Allah yang dapat memberi taufik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Mimpi Buruk Dalam Islam, Was Was Kentut, Zakat Tanah Kosong, Larangan Saat Berpuasa, Tanggal Baik Menikah Di Bulan Dzulhijjah, Dzikir Setelah Sholat Sesuai Sunnah Nabi Visited 234 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1347093379&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Banci, Kaum yang Dilaknat Allah Bagaimana sebenarnya banci dalam fikih islam itu ustadz, karena sekarang banyak orang meniru-niru gaya perempuan apakah itu banci yg sesuai fikih islam. Dari : Uma Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tindakan laki-laki meniru perempuan, atau perempuan meniru laki-laki, dalam Islam sangat diharamkan. Bahkan, Nabi shallallahu’alaihi wasallam tegas melarangnya. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885). Hadis di atas, jelas menunjukkan menyerupai lawan jenis tergolong perbuatan dosa besar. Karena adanya ancaman laknat, adalah diantara ciri dosa besar. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, كل ما لعن الله ورسوله فهو كبيرة Setiap dosa yang diancam laknat Allah dan RasulNya, adalah dosa besar. (Lihat : Ad-Da’ wad Dawa’ hal. 293) Laknat maknanya adalah, dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. Mengapa seorang laki-laki yang menyerupai (tasyabbuh) wanita, atau sebaliknya, sampai diancam laknat oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam? Syekh Abu Muhammad bin Abu Hamzah rahimahullah menerangkan, والحكمة في لعن مَن تشبه: إخراجُه الشيء عن الصفة التي وضعها عليه أحكمُ الحكماء، وقد أشار إلى ذلك في لعن الواصلات بقوله: (الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله) Hikmah balasan berupa laknat Allah, bagi orang yang menyerupai lawan jenis adalah, karena dia telah berupaya keluar dari sifat yang telah ditetapkan/diciptakan Tuhan yang maha hikmah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberi isyarat hal ini saat menerangkan ancaman orang yang menyambung rambut, الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ الله Mereka telah mengubah ciptaan Allah. (Lihat : Fathul Bari Ibnu Hajar, 13/382) Sampai dinyatakan dalam Badaa-i’ As-Shonaa-i’ (9/21), ولا عدالة للمخنث، لأن فعله وعمله كبيرة. “Orang menyengaja banci, tidak bisa dinilai sholih. Karena perbuatannya, termasuk dosa besar.” Semoga Allah mengampuni dosa kita semua, dan menolong kepada saudara-saudara kami yang diuji dengan kecondongan suka menyerupai lawan jenis, untuk kembali kepada fitrahnya. Hanya Allah yang dapat memberi taufik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Mimpi Buruk Dalam Islam, Was Was Kentut, Zakat Tanah Kosong, Larangan Saat Berpuasa, Tanggal Baik Menikah Di Bulan Dzulhijjah, Dzikir Setelah Sholat Sesuai Sunnah Nabi Visited 234 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Doa Meminta Perlindungan dari Kelaparan dan Sifat Khianat

Doa ini juga bagus diamalkan yaitu meminta perlindungan dari dua keburukan yaitu lapar dan khianat. Daftar Isi tutup 1. Hadits #1485 1.1. Keterangan hadits 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Hadits #1485 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُوعِ ، فَإنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخِيَانَةِ ، فَإِنَّهَا بِئْسَتِ البِطَانَةُ )) . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL JUU’, FA-INNAHU BI’SADH-DHOJII’, WA A’UDZU BIKA MINAL KHIYAANAH, FA-INNAHAA BI’SATIL BITHOONAH (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, karena ia adalah sejelek-jeleknya teman tidur. Dan aku berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan, karena ia sejelek-jeleknya teman yang menyertai).” (HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih) [HR. Abu Daud, no. 1547 dan An-Nasai dari jalur ‘Abdullah bin Idris, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan, dari Sa’id bin Abu Sa’id darinya dengannya. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan, perawinya tsiqqah yaitu terpercaya, selain Muhammad bin ‘Ajlan di mana ia adalah perawi yang shaduq, jujur].   Keterangan hadits Adh-dhajii’ artinya yang menemani engkau ketika tidur pada satu ranjang. Khianat artinya tidak menunaikan amanat pada Allah Sang Khaliq dan pada makhluk. Al-bithanah adalah berlaku khusus pada laki-laki yang dimaksud adalah sifat khusus yang ada dalam batin.   Faedah hadits Sifat lapar menghalangi dari istirahatnya jiwa dan hati. Lapar melemahkan kekuatan dan berpengaruh pada pikiran yang kotor, dan berkhayal yang rusak, sehingga ibadah seseorang jadi berkurang. Oleh karena itu, Islam melarang puasa wishal, lanjut berpuasa tanpa berbuka. Hendaklah kita menunaikan amanah dengan baik. Hendaklah kita bisa istiqamah dan kokoh dalam berakhlak yang mulia dalam setiap keadaan. Siapa saja yang mendapati sifat-sifat tercela pada dirinya, segeralah untuk memperbaiki diri, menghapus sifat jelek tadi, menyucikan diri, dan taat pada Rabbnya. Siapa saja yang selamat dari sifat-sifat tercela, maka pujilah Allah yang telah menyempurnakan nikmat kepada kita, dan kita terus meminta kepada Allah agar bisa istiqamah. Baca Juga: Doa Agar Nikmat Tidak Hilang dan Musibah Tidak Datang Secara Mendadak Doa Agar Tidak Malas dan Terbebas dari Lilitan Utang Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamanat cara istiqamah doa istiqamah khianat kiat istiqamah lapar pegawai amanat

Doa Meminta Perlindungan dari Kelaparan dan Sifat Khianat

Doa ini juga bagus diamalkan yaitu meminta perlindungan dari dua keburukan yaitu lapar dan khianat. Daftar Isi tutup 1. Hadits #1485 1.1. Keterangan hadits 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Hadits #1485 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُوعِ ، فَإنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخِيَانَةِ ، فَإِنَّهَا بِئْسَتِ البِطَانَةُ )) . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL JUU’, FA-INNAHU BI’SADH-DHOJII’, WA A’UDZU BIKA MINAL KHIYAANAH, FA-INNAHAA BI’SATIL BITHOONAH (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, karena ia adalah sejelek-jeleknya teman tidur. Dan aku berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan, karena ia sejelek-jeleknya teman yang menyertai).” (HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih) [HR. Abu Daud, no. 1547 dan An-Nasai dari jalur ‘Abdullah bin Idris, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan, dari Sa’id bin Abu Sa’id darinya dengannya. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan, perawinya tsiqqah yaitu terpercaya, selain Muhammad bin ‘Ajlan di mana ia adalah perawi yang shaduq, jujur].   Keterangan hadits Adh-dhajii’ artinya yang menemani engkau ketika tidur pada satu ranjang. Khianat artinya tidak menunaikan amanat pada Allah Sang Khaliq dan pada makhluk. Al-bithanah adalah berlaku khusus pada laki-laki yang dimaksud adalah sifat khusus yang ada dalam batin.   Faedah hadits Sifat lapar menghalangi dari istirahatnya jiwa dan hati. Lapar melemahkan kekuatan dan berpengaruh pada pikiran yang kotor, dan berkhayal yang rusak, sehingga ibadah seseorang jadi berkurang. Oleh karena itu, Islam melarang puasa wishal, lanjut berpuasa tanpa berbuka. Hendaklah kita menunaikan amanah dengan baik. Hendaklah kita bisa istiqamah dan kokoh dalam berakhlak yang mulia dalam setiap keadaan. Siapa saja yang mendapati sifat-sifat tercela pada dirinya, segeralah untuk memperbaiki diri, menghapus sifat jelek tadi, menyucikan diri, dan taat pada Rabbnya. Siapa saja yang selamat dari sifat-sifat tercela, maka pujilah Allah yang telah menyempurnakan nikmat kepada kita, dan kita terus meminta kepada Allah agar bisa istiqamah. Baca Juga: Doa Agar Nikmat Tidak Hilang dan Musibah Tidak Datang Secara Mendadak Doa Agar Tidak Malas dan Terbebas dari Lilitan Utang Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamanat cara istiqamah doa istiqamah khianat kiat istiqamah lapar pegawai amanat
Doa ini juga bagus diamalkan yaitu meminta perlindungan dari dua keburukan yaitu lapar dan khianat. Daftar Isi tutup 1. Hadits #1485 1.1. Keterangan hadits 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Hadits #1485 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُوعِ ، فَإنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخِيَانَةِ ، فَإِنَّهَا بِئْسَتِ البِطَانَةُ )) . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL JUU’, FA-INNAHU BI’SADH-DHOJII’, WA A’UDZU BIKA MINAL KHIYAANAH, FA-INNAHAA BI’SATIL BITHOONAH (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, karena ia adalah sejelek-jeleknya teman tidur. Dan aku berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan, karena ia sejelek-jeleknya teman yang menyertai).” (HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih) [HR. Abu Daud, no. 1547 dan An-Nasai dari jalur ‘Abdullah bin Idris, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan, dari Sa’id bin Abu Sa’id darinya dengannya. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan, perawinya tsiqqah yaitu terpercaya, selain Muhammad bin ‘Ajlan di mana ia adalah perawi yang shaduq, jujur].   Keterangan hadits Adh-dhajii’ artinya yang menemani engkau ketika tidur pada satu ranjang. Khianat artinya tidak menunaikan amanat pada Allah Sang Khaliq dan pada makhluk. Al-bithanah adalah berlaku khusus pada laki-laki yang dimaksud adalah sifat khusus yang ada dalam batin.   Faedah hadits Sifat lapar menghalangi dari istirahatnya jiwa dan hati. Lapar melemahkan kekuatan dan berpengaruh pada pikiran yang kotor, dan berkhayal yang rusak, sehingga ibadah seseorang jadi berkurang. Oleh karena itu, Islam melarang puasa wishal, lanjut berpuasa tanpa berbuka. Hendaklah kita menunaikan amanah dengan baik. Hendaklah kita bisa istiqamah dan kokoh dalam berakhlak yang mulia dalam setiap keadaan. Siapa saja yang mendapati sifat-sifat tercela pada dirinya, segeralah untuk memperbaiki diri, menghapus sifat jelek tadi, menyucikan diri, dan taat pada Rabbnya. Siapa saja yang selamat dari sifat-sifat tercela, maka pujilah Allah yang telah menyempurnakan nikmat kepada kita, dan kita terus meminta kepada Allah agar bisa istiqamah. Baca Juga: Doa Agar Nikmat Tidak Hilang dan Musibah Tidak Datang Secara Mendadak Doa Agar Tidak Malas dan Terbebas dari Lilitan Utang Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamanat cara istiqamah doa istiqamah khianat kiat istiqamah lapar pegawai amanat


Doa ini juga bagus diamalkan yaitu meminta perlindungan dari dua keburukan yaitu lapar dan khianat. Daftar Isi tutup 1. Hadits #1485 1.1. Keterangan hadits 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Hadits #1485 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُوعِ ، فَإنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخِيَانَةِ ، فَإِنَّهَا بِئْسَتِ البِطَانَةُ )) . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL JUU’, FA-INNAHU BI’SADH-DHOJII’, WA A’UDZU BIKA MINAL KHIYAANAH, FA-INNAHAA BI’SATIL BITHOONAH (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, karena ia adalah sejelek-jeleknya teman tidur. Dan aku berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan, karena ia sejelek-jeleknya teman yang menyertai).” (HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih) [HR. Abu Daud, no. 1547 dan An-Nasai dari jalur ‘Abdullah bin Idris, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan, dari Sa’id bin Abu Sa’id darinya dengannya. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan, perawinya tsiqqah yaitu terpercaya, selain Muhammad bin ‘Ajlan di mana ia adalah perawi yang shaduq, jujur].   Keterangan hadits Adh-dhajii’ artinya yang menemani engkau ketika tidur pada satu ranjang. Khianat artinya tidak menunaikan amanat pada Allah Sang Khaliq dan pada makhluk. Al-bithanah adalah berlaku khusus pada laki-laki yang dimaksud adalah sifat khusus yang ada dalam batin.   Faedah hadits Sifat lapar menghalangi dari istirahatnya jiwa dan hati. Lapar melemahkan kekuatan dan berpengaruh pada pikiran yang kotor, dan berkhayal yang rusak, sehingga ibadah seseorang jadi berkurang. Oleh karena itu, Islam melarang puasa wishal, lanjut berpuasa tanpa berbuka. Hendaklah kita menunaikan amanah dengan baik. Hendaklah kita bisa istiqamah dan kokoh dalam berakhlak yang mulia dalam setiap keadaan. Siapa saja yang mendapati sifat-sifat tercela pada dirinya, segeralah untuk memperbaiki diri, menghapus sifat jelek tadi, menyucikan diri, dan taat pada Rabbnya. Siapa saja yang selamat dari sifat-sifat tercela, maka pujilah Allah yang telah menyempurnakan nikmat kepada kita, dan kita terus meminta kepada Allah agar bisa istiqamah. Baca Juga: Doa Agar Nikmat Tidak Hilang dan Musibah Tidak Datang Secara Mendadak Doa Agar Tidak Malas dan Terbebas dari Lilitan Utang Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamanat cara istiqamah doa istiqamah khianat kiat istiqamah lapar pegawai amanat

Kaedah Fikih (24): Terburu-Buru Sebelum Waktunya, Akhirnya Tidak Dapat

Ini kaedah yang bagus sekali untuk dipelajari. Masih belajar dari kaedah fikih Syaikh As-Sa’di: Siapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka ia dihukumi tidak mendapatkannya.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, مُعَاجِلُ المحْظُوْرِ قَبْلَ آنِهِ قَدْ بَاء َبِالخُسْرَانِ مَعْ حِرْمَانِهِ “Orang yang menyegerakan hal yang dilarang sebelum waktunya … sungguh memperoleh kerugian serta keharamannya.”   Para ulama menyebut dengan kaedah, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang buru-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukumi haram untuk mendapatkannya.” Daftar Isi tutup 1. Dalil kaedah 2. Penerapan kaedah 3. Yang tidak masuk dalam kaedah 4. Kaedah turunan Dalil kaedah Yang menjadi dalil adalah dalil tentang saddu adz-dzaro-i’ (untuk mencegah dari sesuatu yang haram yang lebih parah). Seperti ayat yang membicarakan seorang mukmin dilarang mencela sesembahan orang kafir yang mengakibatkan Allah dicela. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108) Juga larangan wanita menghentakkan kakinya yang memiliki perhiasan di tanah agar tidak menimbulkan godaan. Sebagaimana disebutkan, وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚوَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits juga disebutkan tentang seorang anak yang menjadikan orang tuanya dicela. وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – مِنْ اَلْكَبَائِرِ شَتْمُ اَلرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ اَلرَّجُلُ وَالِدَيْهِ? قَالَ: نَعَمْ. يَسُبُّ أَبَا اَلرَّجُلِ, فَيَسُبُّ أَبَاهُ, وَيَسُبُّ أُمَّهُ, فَيَسُبُّ أُمَّهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.”(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5973 dan Muslim, no. 90).   Catatan: Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu dengan cara yang haram, maka ia diharamkan untuk mendapatkannya. Adapun yang terburu-buru pada sesuatu dengan cara yang mubah, maka ia boleh mendapatkan tujuannya. Contoh kedua ini adalah ada yang bersegera pergi berjihad untuk mendapatkan tujuan mati syahid dan masuk surga. Akhirnya ia meninggal dunia, maka itu bukan bersegera dalam hal yang haram, namun dalam hal yang dibolehkan.   Penerapan kaedah Jika khamar (yang dihukumi najis) berubah menjadi cuka dengan menambahkan sesuatu di dalamnya (usaha manusia), maka khamar tersebut dihukumi tidak suci. Beda halnya jika khamar dibiarkan begitu saja, prosesnya berjalan secara natural berubah menjadi cuka, maka dihukumi suci. Jika ahli waris terburu-buru membunuh pemberi waris supaya cepat-cepat mendapatkan warisan, maka ia terhalang mendapatkan warisan. Budak mudabbar yang bebas dengan kematian majikannya, jika budak tersebut membunuh tuannya sendiri, maka ia tidaklah bebas (merdeka). Ia diharamkan mendapatkan kebebasan yang ia tuju.   Yang tidak masuk dalam kaedah Masalah puasa, yaitu jika seseorang minum agar bisa jatuh sakit dan minumnya sebelum masuk Shubuh, lalu benar ia jatuh sakit, maka ia boleh tidak puasa ketika itu. Seseorang membatalkan puasa dengan makan dengan sengaja lalu ia berhubungan intim, maka tidak ada kafarat. Jika khamar itu menjadi cuka bukan dengan menambahkan suatu zat, namun dengan cara dijemur di bawah terik matahari, maka tetap dihukumi suci. Tiga contoh masalah di atas menyelisihi kaedah yang disebutkan di awal. Sehingga ada ulama yang membuat kaedah yang lebih bagus, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ ، وَلَمْ تَكُنِ المصْلَحَةُ فِي ثُبُوْتِهِ ، عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, selama tidak ada maslahat dengan keberadaannya, maka ia dihukumi haram mendapatkannya.” Baca Juga: Jika Mau Sabar, Bagimu Surga Kaedah turunan Pertama: Siapa yang terburu-buru dalam hal yang diharamkan di dunia, maka hukumannya ia tidak mendapatkannya di akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهُ فِي الْآخِرَةِ , وَمَنْ شَرِبَ فِي آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ لَمْ يَشْرَبْ بِهِمَا فِي الْآخِرَةِ  ثُمَّ قَالَ :لِبَاسُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَشَرَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَآنِيَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Barang siapa yang memakai kain sutera di dunia, maka ia tidak akan (diizinkan) untuk memakainya di akhirat, dan barang siapa yang meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat, dan barang siapa yang meminum dengan cawan dari perak dan emas, maka ia tidak akan minum dengannya di akhirat”. Lalu beliau bersabda: “Pakaian penduduk surga, minumannya penduduk surga dan cawannya pendudul surga.” (HR. An-Nasa’i di dalam As-Sunan Al-Kubro, 6869. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 384). Jika sesuatu yang haram ada yang serupa dengannya di akhirat, maka sebagian ulama berpendapat bahwa barang siapa yang telah melakukan sesuatu yang haram tersebut di dunia, maka akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkannya di akhirat, seperti; musik dan menikmati wanita yang tidak halal baginya. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Barang siapa yang berpuasa satu hari dari (menahan) syahwatnya, maka ia akan berbuka dengan syahwat itu setelah ia meninggal dunia, dan barang siapa yang mensegerakan diri untuk mengerjakan yang haram sebelum ia meninggal dunia, maka ia akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkan dan tidak menikmatinya di akhirat, yang menjadi bukti dalam hal ini adalah firman Allah Ta’ala, أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (QS. Al-Ahqaf: 20) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang telah meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat dan barang siapa yang telah memakai sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat”. (Lathaif Al-Ma’arif, 147) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pada saat beliau mengkalkulasi sanksi yang akan diterima bagi pezina jika belum bertaubat, “Di antaranya bahwa pezina itu nanti akan terlewat dari menikmati bidadari di tempat tinggal-tempat tinggal yang baik di dalam surga, dan Allah subhanahu wa ta’ala jika Dia telah memberikan sanksi kepada pemakai sutera di dunia dengan tidak bisa memakainya pada hari kiamat, peminum khamar di dunia dengan tidak bisa meminumnya nanti pada hari kiamat, maka demikian juga mereka yang telah menikmati gambar-gambar yang diharamkan di dunia, bahkan semua yang telah didapatkan oleh seorang hamba di dunia dari perbuatan haram, maka ia akan terlewat dari yang serupa dengannya pada hari kiamat.” (Raudhah Al-Muhibbin, hlm. 360-368)   Kedua: Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Semoga bermanfaat. Baca Juga: Meninggalkan Sesuatu Karena Allah Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat     Disusun di Darush Sholihin, 04 Shafar 1441 H (Kamis dini hari, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com     Tagshalal haram haram kaedah fikih terburu-buru

Kaedah Fikih (24): Terburu-Buru Sebelum Waktunya, Akhirnya Tidak Dapat

Ini kaedah yang bagus sekali untuk dipelajari. Masih belajar dari kaedah fikih Syaikh As-Sa’di: Siapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka ia dihukumi tidak mendapatkannya.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, مُعَاجِلُ المحْظُوْرِ قَبْلَ آنِهِ قَدْ بَاء َبِالخُسْرَانِ مَعْ حِرْمَانِهِ “Orang yang menyegerakan hal yang dilarang sebelum waktunya … sungguh memperoleh kerugian serta keharamannya.”   Para ulama menyebut dengan kaedah, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang buru-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukumi haram untuk mendapatkannya.” Daftar Isi tutup 1. Dalil kaedah 2. Penerapan kaedah 3. Yang tidak masuk dalam kaedah 4. Kaedah turunan Dalil kaedah Yang menjadi dalil adalah dalil tentang saddu adz-dzaro-i’ (untuk mencegah dari sesuatu yang haram yang lebih parah). Seperti ayat yang membicarakan seorang mukmin dilarang mencela sesembahan orang kafir yang mengakibatkan Allah dicela. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108) Juga larangan wanita menghentakkan kakinya yang memiliki perhiasan di tanah agar tidak menimbulkan godaan. Sebagaimana disebutkan, وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚوَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits juga disebutkan tentang seorang anak yang menjadikan orang tuanya dicela. وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – مِنْ اَلْكَبَائِرِ شَتْمُ اَلرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ اَلرَّجُلُ وَالِدَيْهِ? قَالَ: نَعَمْ. يَسُبُّ أَبَا اَلرَّجُلِ, فَيَسُبُّ أَبَاهُ, وَيَسُبُّ أُمَّهُ, فَيَسُبُّ أُمَّهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.”(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5973 dan Muslim, no. 90).   Catatan: Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu dengan cara yang haram, maka ia diharamkan untuk mendapatkannya. Adapun yang terburu-buru pada sesuatu dengan cara yang mubah, maka ia boleh mendapatkan tujuannya. Contoh kedua ini adalah ada yang bersegera pergi berjihad untuk mendapatkan tujuan mati syahid dan masuk surga. Akhirnya ia meninggal dunia, maka itu bukan bersegera dalam hal yang haram, namun dalam hal yang dibolehkan.   Penerapan kaedah Jika khamar (yang dihukumi najis) berubah menjadi cuka dengan menambahkan sesuatu di dalamnya (usaha manusia), maka khamar tersebut dihukumi tidak suci. Beda halnya jika khamar dibiarkan begitu saja, prosesnya berjalan secara natural berubah menjadi cuka, maka dihukumi suci. Jika ahli waris terburu-buru membunuh pemberi waris supaya cepat-cepat mendapatkan warisan, maka ia terhalang mendapatkan warisan. Budak mudabbar yang bebas dengan kematian majikannya, jika budak tersebut membunuh tuannya sendiri, maka ia tidaklah bebas (merdeka). Ia diharamkan mendapatkan kebebasan yang ia tuju.   Yang tidak masuk dalam kaedah Masalah puasa, yaitu jika seseorang minum agar bisa jatuh sakit dan minumnya sebelum masuk Shubuh, lalu benar ia jatuh sakit, maka ia boleh tidak puasa ketika itu. Seseorang membatalkan puasa dengan makan dengan sengaja lalu ia berhubungan intim, maka tidak ada kafarat. Jika khamar itu menjadi cuka bukan dengan menambahkan suatu zat, namun dengan cara dijemur di bawah terik matahari, maka tetap dihukumi suci. Tiga contoh masalah di atas menyelisihi kaedah yang disebutkan di awal. Sehingga ada ulama yang membuat kaedah yang lebih bagus, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ ، وَلَمْ تَكُنِ المصْلَحَةُ فِي ثُبُوْتِهِ ، عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, selama tidak ada maslahat dengan keberadaannya, maka ia dihukumi haram mendapatkannya.” Baca Juga: Jika Mau Sabar, Bagimu Surga Kaedah turunan Pertama: Siapa yang terburu-buru dalam hal yang diharamkan di dunia, maka hukumannya ia tidak mendapatkannya di akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهُ فِي الْآخِرَةِ , وَمَنْ شَرِبَ فِي آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ لَمْ يَشْرَبْ بِهِمَا فِي الْآخِرَةِ  ثُمَّ قَالَ :لِبَاسُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَشَرَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَآنِيَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Barang siapa yang memakai kain sutera di dunia, maka ia tidak akan (diizinkan) untuk memakainya di akhirat, dan barang siapa yang meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat, dan barang siapa yang meminum dengan cawan dari perak dan emas, maka ia tidak akan minum dengannya di akhirat”. Lalu beliau bersabda: “Pakaian penduduk surga, minumannya penduduk surga dan cawannya pendudul surga.” (HR. An-Nasa’i di dalam As-Sunan Al-Kubro, 6869. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 384). Jika sesuatu yang haram ada yang serupa dengannya di akhirat, maka sebagian ulama berpendapat bahwa barang siapa yang telah melakukan sesuatu yang haram tersebut di dunia, maka akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkannya di akhirat, seperti; musik dan menikmati wanita yang tidak halal baginya. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Barang siapa yang berpuasa satu hari dari (menahan) syahwatnya, maka ia akan berbuka dengan syahwat itu setelah ia meninggal dunia, dan barang siapa yang mensegerakan diri untuk mengerjakan yang haram sebelum ia meninggal dunia, maka ia akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkan dan tidak menikmatinya di akhirat, yang menjadi bukti dalam hal ini adalah firman Allah Ta’ala, أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (QS. Al-Ahqaf: 20) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang telah meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat dan barang siapa yang telah memakai sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat”. (Lathaif Al-Ma’arif, 147) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pada saat beliau mengkalkulasi sanksi yang akan diterima bagi pezina jika belum bertaubat, “Di antaranya bahwa pezina itu nanti akan terlewat dari menikmati bidadari di tempat tinggal-tempat tinggal yang baik di dalam surga, dan Allah subhanahu wa ta’ala jika Dia telah memberikan sanksi kepada pemakai sutera di dunia dengan tidak bisa memakainya pada hari kiamat, peminum khamar di dunia dengan tidak bisa meminumnya nanti pada hari kiamat, maka demikian juga mereka yang telah menikmati gambar-gambar yang diharamkan di dunia, bahkan semua yang telah didapatkan oleh seorang hamba di dunia dari perbuatan haram, maka ia akan terlewat dari yang serupa dengannya pada hari kiamat.” (Raudhah Al-Muhibbin, hlm. 360-368)   Kedua: Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Semoga bermanfaat. Baca Juga: Meninggalkan Sesuatu Karena Allah Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat     Disusun di Darush Sholihin, 04 Shafar 1441 H (Kamis dini hari, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com     Tagshalal haram haram kaedah fikih terburu-buru
Ini kaedah yang bagus sekali untuk dipelajari. Masih belajar dari kaedah fikih Syaikh As-Sa’di: Siapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka ia dihukumi tidak mendapatkannya.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, مُعَاجِلُ المحْظُوْرِ قَبْلَ آنِهِ قَدْ بَاء َبِالخُسْرَانِ مَعْ حِرْمَانِهِ “Orang yang menyegerakan hal yang dilarang sebelum waktunya … sungguh memperoleh kerugian serta keharamannya.”   Para ulama menyebut dengan kaedah, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang buru-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukumi haram untuk mendapatkannya.” Daftar Isi tutup 1. Dalil kaedah 2. Penerapan kaedah 3. Yang tidak masuk dalam kaedah 4. Kaedah turunan Dalil kaedah Yang menjadi dalil adalah dalil tentang saddu adz-dzaro-i’ (untuk mencegah dari sesuatu yang haram yang lebih parah). Seperti ayat yang membicarakan seorang mukmin dilarang mencela sesembahan orang kafir yang mengakibatkan Allah dicela. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108) Juga larangan wanita menghentakkan kakinya yang memiliki perhiasan di tanah agar tidak menimbulkan godaan. Sebagaimana disebutkan, وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚوَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits juga disebutkan tentang seorang anak yang menjadikan orang tuanya dicela. وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – مِنْ اَلْكَبَائِرِ شَتْمُ اَلرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ اَلرَّجُلُ وَالِدَيْهِ? قَالَ: نَعَمْ. يَسُبُّ أَبَا اَلرَّجُلِ, فَيَسُبُّ أَبَاهُ, وَيَسُبُّ أُمَّهُ, فَيَسُبُّ أُمَّهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.”(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5973 dan Muslim, no. 90).   Catatan: Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu dengan cara yang haram, maka ia diharamkan untuk mendapatkannya. Adapun yang terburu-buru pada sesuatu dengan cara yang mubah, maka ia boleh mendapatkan tujuannya. Contoh kedua ini adalah ada yang bersegera pergi berjihad untuk mendapatkan tujuan mati syahid dan masuk surga. Akhirnya ia meninggal dunia, maka itu bukan bersegera dalam hal yang haram, namun dalam hal yang dibolehkan.   Penerapan kaedah Jika khamar (yang dihukumi najis) berubah menjadi cuka dengan menambahkan sesuatu di dalamnya (usaha manusia), maka khamar tersebut dihukumi tidak suci. Beda halnya jika khamar dibiarkan begitu saja, prosesnya berjalan secara natural berubah menjadi cuka, maka dihukumi suci. Jika ahli waris terburu-buru membunuh pemberi waris supaya cepat-cepat mendapatkan warisan, maka ia terhalang mendapatkan warisan. Budak mudabbar yang bebas dengan kematian majikannya, jika budak tersebut membunuh tuannya sendiri, maka ia tidaklah bebas (merdeka). Ia diharamkan mendapatkan kebebasan yang ia tuju.   Yang tidak masuk dalam kaedah Masalah puasa, yaitu jika seseorang minum agar bisa jatuh sakit dan minumnya sebelum masuk Shubuh, lalu benar ia jatuh sakit, maka ia boleh tidak puasa ketika itu. Seseorang membatalkan puasa dengan makan dengan sengaja lalu ia berhubungan intim, maka tidak ada kafarat. Jika khamar itu menjadi cuka bukan dengan menambahkan suatu zat, namun dengan cara dijemur di bawah terik matahari, maka tetap dihukumi suci. Tiga contoh masalah di atas menyelisihi kaedah yang disebutkan di awal. Sehingga ada ulama yang membuat kaedah yang lebih bagus, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ ، وَلَمْ تَكُنِ المصْلَحَةُ فِي ثُبُوْتِهِ ، عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, selama tidak ada maslahat dengan keberadaannya, maka ia dihukumi haram mendapatkannya.” Baca Juga: Jika Mau Sabar, Bagimu Surga Kaedah turunan Pertama: Siapa yang terburu-buru dalam hal yang diharamkan di dunia, maka hukumannya ia tidak mendapatkannya di akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهُ فِي الْآخِرَةِ , وَمَنْ شَرِبَ فِي آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ لَمْ يَشْرَبْ بِهِمَا فِي الْآخِرَةِ  ثُمَّ قَالَ :لِبَاسُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَشَرَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَآنِيَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Barang siapa yang memakai kain sutera di dunia, maka ia tidak akan (diizinkan) untuk memakainya di akhirat, dan barang siapa yang meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat, dan barang siapa yang meminum dengan cawan dari perak dan emas, maka ia tidak akan minum dengannya di akhirat”. Lalu beliau bersabda: “Pakaian penduduk surga, minumannya penduduk surga dan cawannya pendudul surga.” (HR. An-Nasa’i di dalam As-Sunan Al-Kubro, 6869. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 384). Jika sesuatu yang haram ada yang serupa dengannya di akhirat, maka sebagian ulama berpendapat bahwa barang siapa yang telah melakukan sesuatu yang haram tersebut di dunia, maka akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkannya di akhirat, seperti; musik dan menikmati wanita yang tidak halal baginya. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Barang siapa yang berpuasa satu hari dari (menahan) syahwatnya, maka ia akan berbuka dengan syahwat itu setelah ia meninggal dunia, dan barang siapa yang mensegerakan diri untuk mengerjakan yang haram sebelum ia meninggal dunia, maka ia akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkan dan tidak menikmatinya di akhirat, yang menjadi bukti dalam hal ini adalah firman Allah Ta’ala, أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (QS. Al-Ahqaf: 20) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang telah meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat dan barang siapa yang telah memakai sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat”. (Lathaif Al-Ma’arif, 147) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pada saat beliau mengkalkulasi sanksi yang akan diterima bagi pezina jika belum bertaubat, “Di antaranya bahwa pezina itu nanti akan terlewat dari menikmati bidadari di tempat tinggal-tempat tinggal yang baik di dalam surga, dan Allah subhanahu wa ta’ala jika Dia telah memberikan sanksi kepada pemakai sutera di dunia dengan tidak bisa memakainya pada hari kiamat, peminum khamar di dunia dengan tidak bisa meminumnya nanti pada hari kiamat, maka demikian juga mereka yang telah menikmati gambar-gambar yang diharamkan di dunia, bahkan semua yang telah didapatkan oleh seorang hamba di dunia dari perbuatan haram, maka ia akan terlewat dari yang serupa dengannya pada hari kiamat.” (Raudhah Al-Muhibbin, hlm. 360-368)   Kedua: Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Semoga bermanfaat. Baca Juga: Meninggalkan Sesuatu Karena Allah Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat     Disusun di Darush Sholihin, 04 Shafar 1441 H (Kamis dini hari, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com     Tagshalal haram haram kaedah fikih terburu-buru


Ini kaedah yang bagus sekali untuk dipelajari. Masih belajar dari kaedah fikih Syaikh As-Sa’di: Siapa yang terburu-buru sebelum waktunya, maka ia dihukumi tidak mendapatkannya.   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, مُعَاجِلُ المحْظُوْرِ قَبْلَ آنِهِ قَدْ بَاء َبِالخُسْرَانِ مَعْ حِرْمَانِهِ “Orang yang menyegerakan hal yang dilarang sebelum waktunya … sungguh memperoleh kerugian serta keharamannya.”   Para ulama menyebut dengan kaedah, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang buru-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukumi haram untuk mendapatkannya.” Daftar Isi tutup 1. Dalil kaedah 2. Penerapan kaedah 3. Yang tidak masuk dalam kaedah 4. Kaedah turunan Dalil kaedah Yang menjadi dalil adalah dalil tentang saddu adz-dzaro-i’ (untuk mencegah dari sesuatu yang haram yang lebih parah). Seperti ayat yang membicarakan seorang mukmin dilarang mencela sesembahan orang kafir yang mengakibatkan Allah dicela. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108) Juga larangan wanita menghentakkan kakinya yang memiliki perhiasan di tanah agar tidak menimbulkan godaan. Sebagaimana disebutkan, وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚوَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits juga disebutkan tentang seorang anak yang menjadikan orang tuanya dicela. وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – مِنْ اَلْكَبَائِرِ شَتْمُ اَلرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ اَلرَّجُلُ وَالِدَيْهِ? قَالَ: نَعَمْ. يَسُبُّ أَبَا اَلرَّجُلِ, فَيَسُبُّ أَبَاهُ, وَيَسُبُّ أُمَّهُ, فَيَسُبُّ أُمَّهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.”(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5973 dan Muslim, no. 90).   Catatan: Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu dengan cara yang haram, maka ia diharamkan untuk mendapatkannya. Adapun yang terburu-buru pada sesuatu dengan cara yang mubah, maka ia boleh mendapatkan tujuannya. Contoh kedua ini adalah ada yang bersegera pergi berjihad untuk mendapatkan tujuan mati syahid dan masuk surga. Akhirnya ia meninggal dunia, maka itu bukan bersegera dalam hal yang haram, namun dalam hal yang dibolehkan.   Penerapan kaedah Jika khamar (yang dihukumi najis) berubah menjadi cuka dengan menambahkan sesuatu di dalamnya (usaha manusia), maka khamar tersebut dihukumi tidak suci. Beda halnya jika khamar dibiarkan begitu saja, prosesnya berjalan secara natural berubah menjadi cuka, maka dihukumi suci. Jika ahli waris terburu-buru membunuh pemberi waris supaya cepat-cepat mendapatkan warisan, maka ia terhalang mendapatkan warisan. Budak mudabbar yang bebas dengan kematian majikannya, jika budak tersebut membunuh tuannya sendiri, maka ia tidaklah bebas (merdeka). Ia diharamkan mendapatkan kebebasan yang ia tuju.   Yang tidak masuk dalam kaedah Masalah puasa, yaitu jika seseorang minum agar bisa jatuh sakit dan minumnya sebelum masuk Shubuh, lalu benar ia jatuh sakit, maka ia boleh tidak puasa ketika itu. Seseorang membatalkan puasa dengan makan dengan sengaja lalu ia berhubungan intim, maka tidak ada kafarat. Jika khamar itu menjadi cuka bukan dengan menambahkan suatu zat, namun dengan cara dijemur di bawah terik matahari, maka tetap dihukumi suci. Tiga contoh masalah di atas menyelisihi kaedah yang disebutkan di awal. Sehingga ada ulama yang membuat kaedah yang lebih bagus, مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ ، وَلَمْ تَكُنِ المصْلَحَةُ فِي ثُبُوْتِهِ ، عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ “Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, selama tidak ada maslahat dengan keberadaannya, maka ia dihukumi haram mendapatkannya.” Baca Juga: Jika Mau Sabar, Bagimu Surga Kaedah turunan Pertama: Siapa yang terburu-buru dalam hal yang diharamkan di dunia, maka hukumannya ia tidak mendapatkannya di akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهُ فِي الْآخِرَةِ , وَمَنْ شَرِبَ فِي آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ لَمْ يَشْرَبْ بِهِمَا فِي الْآخِرَةِ  ثُمَّ قَالَ :لِبَاسُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَشَرَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ , وَآنِيَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Barang siapa yang memakai kain sutera di dunia, maka ia tidak akan (diizinkan) untuk memakainya di akhirat, dan barang siapa yang meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat, dan barang siapa yang meminum dengan cawan dari perak dan emas, maka ia tidak akan minum dengannya di akhirat”. Lalu beliau bersabda: “Pakaian penduduk surga, minumannya penduduk surga dan cawannya pendudul surga.” (HR. An-Nasa’i di dalam As-Sunan Al-Kubro, 6869. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 384). Jika sesuatu yang haram ada yang serupa dengannya di akhirat, maka sebagian ulama berpendapat bahwa barang siapa yang telah melakukan sesuatu yang haram tersebut di dunia, maka akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkannya di akhirat, seperti; musik dan menikmati wanita yang tidak halal baginya. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Barang siapa yang berpuasa satu hari dari (menahan) syahwatnya, maka ia akan berbuka dengan syahwat itu setelah ia meninggal dunia, dan barang siapa yang mensegerakan diri untuk mengerjakan yang haram sebelum ia meninggal dunia, maka ia akan diberi sanksi dengan tidak mendapatkan dan tidak menikmatinya di akhirat, yang menjadi bukti dalam hal ini adalah firman Allah Ta’ala, أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (QS. Al-Ahqaf: 20) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang telah meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat dan barang siapa yang telah memakai sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat”. (Lathaif Al-Ma’arif, 147) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata pada saat beliau mengkalkulasi sanksi yang akan diterima bagi pezina jika belum bertaubat, “Di antaranya bahwa pezina itu nanti akan terlewat dari menikmati bidadari di tempat tinggal-tempat tinggal yang baik di dalam surga, dan Allah subhanahu wa ta’ala jika Dia telah memberikan sanksi kepada pemakai sutera di dunia dengan tidak bisa memakainya pada hari kiamat, peminum khamar di dunia dengan tidak bisa meminumnya nanti pada hari kiamat, maka demikian juga mereka yang telah menikmati gambar-gambar yang diharamkan di dunia, bahkan semua yang telah didapatkan oleh seorang hamba di dunia dari perbuatan haram, maka ia akan terlewat dari yang serupa dengannya pada hari kiamat.” (Raudhah Al-Muhibbin, hlm. 360-368)   Kedua: Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Semoga bermanfaat. Baca Juga: Meninggalkan Sesuatu Karena Allah Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat     Disusun di Darush Sholihin, 04 Shafar 1441 H (Kamis dini hari, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com     Tagshalal haram haram kaedah fikih terburu-buru

Hukum Shalat Jum’at di Kapal Pesiar

Hukum Shalat Jum’at di Kapal Pesiar Tanya: Ustadz Apa Hukum Shalat Jumat di Kapal Pesiar? Via Tanya Ustadz Jawaban: Bismillaah. Alhamdulillaahi Rabbi-l aalamiin, wa-sh shalaatu wa-s salaamu ala asyrafi-l anbiyaa’i wa-l mursaliin, wa alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin, ammaa ba’du… Saudaraku penanya, perlu diketahui bahwa salah satu syarat sah shalat Jum’at yang diharuskan oleh mayoritas ulama (diantaranya Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) adalah al-istiithaan. Dan makna al-istiithaan adalah dilaksanakan di sebuah daerah/wilayah/perkampungan yang dijadikan tempat tinggal tetap (wathan), dan juga oleh sekelompok orang yang mukim di wathan tersebut. (Lihat: Minhaaj ath-Thaalibiin karya An-Nawawi dan Al-Mughni karya Ibn Qudamah). Maka, pendapat yang kuat adalah tidak sah jika shalat Jumat dilaksanakan di atas kapal pesiar, dan oleh sekelompok/rombongan musafir. Adapun solusinya, sebagaimana diterangkan oleh para ulama, adalah melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah, baik dengan qashar (2 rakaat), atau pun itmaam (4 rakaat). Baca Artikel Terkait: Hukum Shalat Jumat di Rumah, Jama’ah Kurang dari 40 Orang Dan anda tidak perlu bersedih kehilangan pahala dan keutamaan salat Jumat, karena demikianlah kemudahan yang Allah –subhaanahu wa ta’aala– berikan kepada seorang musafir, dan Allah –subhaanahu wa ta’aala– suka jika keringanan yang Ia tawarkan dipergunakan oleh hamba-Nya. Dan juga demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullaah –shallallaahu alaihi wa sallam- dalam seluruh perjalanan Beliau, dan di antaranya adalah safar yang paling mulia, yaitu di Haji Wada’, di Hari Arafah yang ketika itu bertepatan dengan hari Jumat. Beliau melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah dan qashar bersama puluhan ribu sahabatnya. Dan demikian pula yang kemudian dipraktekkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam setiap safar mereka, termasuk setiap safar mereka ketika memimpin rombongan haji kaum muslimin. Semoga jawaban di atas dapat menjawab pertanyaan dan kekhawatiran anda. Wallaahu ta’aala a’lam, wa-sh shalaatu alaa Nabiyyinaa khairi-l anaam. Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Flek Coklat Sebelum Haid Bolehkah Sholat, Doa Menyembuhkan Orang Kesurupan, Definisi Anak Yatim, Bacaan Takbir Sholat Idul Fitri, Arti Dari Valentine Day, Jari Masuk Ke Vagina Visited 57 times, 1 visit(s) today Post Views: 270 QRIS donasi Yufid

Hukum Shalat Jum’at di Kapal Pesiar

Hukum Shalat Jum’at di Kapal Pesiar Tanya: Ustadz Apa Hukum Shalat Jumat di Kapal Pesiar? Via Tanya Ustadz Jawaban: Bismillaah. Alhamdulillaahi Rabbi-l aalamiin, wa-sh shalaatu wa-s salaamu ala asyrafi-l anbiyaa’i wa-l mursaliin, wa alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin, ammaa ba’du… Saudaraku penanya, perlu diketahui bahwa salah satu syarat sah shalat Jum’at yang diharuskan oleh mayoritas ulama (diantaranya Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) adalah al-istiithaan. Dan makna al-istiithaan adalah dilaksanakan di sebuah daerah/wilayah/perkampungan yang dijadikan tempat tinggal tetap (wathan), dan juga oleh sekelompok orang yang mukim di wathan tersebut. (Lihat: Minhaaj ath-Thaalibiin karya An-Nawawi dan Al-Mughni karya Ibn Qudamah). Maka, pendapat yang kuat adalah tidak sah jika shalat Jumat dilaksanakan di atas kapal pesiar, dan oleh sekelompok/rombongan musafir. Adapun solusinya, sebagaimana diterangkan oleh para ulama, adalah melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah, baik dengan qashar (2 rakaat), atau pun itmaam (4 rakaat). Baca Artikel Terkait: Hukum Shalat Jumat di Rumah, Jama’ah Kurang dari 40 Orang Dan anda tidak perlu bersedih kehilangan pahala dan keutamaan salat Jumat, karena demikianlah kemudahan yang Allah –subhaanahu wa ta’aala– berikan kepada seorang musafir, dan Allah –subhaanahu wa ta’aala– suka jika keringanan yang Ia tawarkan dipergunakan oleh hamba-Nya. Dan juga demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullaah –shallallaahu alaihi wa sallam- dalam seluruh perjalanan Beliau, dan di antaranya adalah safar yang paling mulia, yaitu di Haji Wada’, di Hari Arafah yang ketika itu bertepatan dengan hari Jumat. Beliau melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah dan qashar bersama puluhan ribu sahabatnya. Dan demikian pula yang kemudian dipraktekkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam setiap safar mereka, termasuk setiap safar mereka ketika memimpin rombongan haji kaum muslimin. Semoga jawaban di atas dapat menjawab pertanyaan dan kekhawatiran anda. Wallaahu ta’aala a’lam, wa-sh shalaatu alaa Nabiyyinaa khairi-l anaam. Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Flek Coklat Sebelum Haid Bolehkah Sholat, Doa Menyembuhkan Orang Kesurupan, Definisi Anak Yatim, Bacaan Takbir Sholat Idul Fitri, Arti Dari Valentine Day, Jari Masuk Ke Vagina Visited 57 times, 1 visit(s) today Post Views: 270 QRIS donasi Yufid
Hukum Shalat Jum’at di Kapal Pesiar Tanya: Ustadz Apa Hukum Shalat Jumat di Kapal Pesiar? Via Tanya Ustadz Jawaban: Bismillaah. Alhamdulillaahi Rabbi-l aalamiin, wa-sh shalaatu wa-s salaamu ala asyrafi-l anbiyaa’i wa-l mursaliin, wa alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin, ammaa ba’du… Saudaraku penanya, perlu diketahui bahwa salah satu syarat sah shalat Jum’at yang diharuskan oleh mayoritas ulama (diantaranya Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) adalah al-istiithaan. Dan makna al-istiithaan adalah dilaksanakan di sebuah daerah/wilayah/perkampungan yang dijadikan tempat tinggal tetap (wathan), dan juga oleh sekelompok orang yang mukim di wathan tersebut. (Lihat: Minhaaj ath-Thaalibiin karya An-Nawawi dan Al-Mughni karya Ibn Qudamah). Maka, pendapat yang kuat adalah tidak sah jika shalat Jumat dilaksanakan di atas kapal pesiar, dan oleh sekelompok/rombongan musafir. Adapun solusinya, sebagaimana diterangkan oleh para ulama, adalah melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah, baik dengan qashar (2 rakaat), atau pun itmaam (4 rakaat). Baca Artikel Terkait: Hukum Shalat Jumat di Rumah, Jama’ah Kurang dari 40 Orang Dan anda tidak perlu bersedih kehilangan pahala dan keutamaan salat Jumat, karena demikianlah kemudahan yang Allah –subhaanahu wa ta’aala– berikan kepada seorang musafir, dan Allah –subhaanahu wa ta’aala– suka jika keringanan yang Ia tawarkan dipergunakan oleh hamba-Nya. Dan juga demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullaah –shallallaahu alaihi wa sallam- dalam seluruh perjalanan Beliau, dan di antaranya adalah safar yang paling mulia, yaitu di Haji Wada’, di Hari Arafah yang ketika itu bertepatan dengan hari Jumat. Beliau melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah dan qashar bersama puluhan ribu sahabatnya. Dan demikian pula yang kemudian dipraktekkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam setiap safar mereka, termasuk setiap safar mereka ketika memimpin rombongan haji kaum muslimin. Semoga jawaban di atas dapat menjawab pertanyaan dan kekhawatiran anda. Wallaahu ta’aala a’lam, wa-sh shalaatu alaa Nabiyyinaa khairi-l anaam. Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Flek Coklat Sebelum Haid Bolehkah Sholat, Doa Menyembuhkan Orang Kesurupan, Definisi Anak Yatim, Bacaan Takbir Sholat Idul Fitri, Arti Dari Valentine Day, Jari Masuk Ke Vagina Visited 57 times, 1 visit(s) today Post Views: 270 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1347206014&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Hukum Shalat Jum’at di Kapal Pesiar Tanya: Ustadz Apa Hukum Shalat Jumat di Kapal Pesiar? Via Tanya Ustadz Jawaban: Bismillaah. Alhamdulillaahi Rabbi-l aalamiin, wa-sh shalaatu wa-s salaamu ala asyrafi-l anbiyaa’i wa-l mursaliin, wa alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin, ammaa ba’du… Saudaraku penanya, perlu diketahui bahwa salah satu syarat sah shalat Jum’at yang diharuskan oleh mayoritas ulama (diantaranya Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) adalah al-istiithaan. Dan makna al-istiithaan adalah dilaksanakan di sebuah daerah/wilayah/perkampungan yang dijadikan tempat tinggal tetap (wathan), dan juga oleh sekelompok orang yang mukim di wathan tersebut. (Lihat: Minhaaj ath-Thaalibiin karya An-Nawawi dan Al-Mughni karya Ibn Qudamah). Maka, pendapat yang kuat adalah tidak sah jika shalat Jumat dilaksanakan di atas kapal pesiar, dan oleh sekelompok/rombongan musafir. Adapun solusinya, sebagaimana diterangkan oleh para ulama, adalah melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah, baik dengan qashar (2 rakaat), atau pun itmaam (4 rakaat). Baca Artikel Terkait: Hukum Shalat Jumat di Rumah, Jama’ah Kurang dari 40 Orang <iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="&#8220;Hukum Shalat Jumat di Rumah, Jama&#8217;ah Kurang dari 40 Orang&#8221; &#8212; KonsultasiSyariah.com" src="https://konsultasisyariah.com/35357-hukum-shalat-jumat-di-rumah-jamaah-kurang-dari-40-orang.html/embed#?secret=Gj5PqXU6DZ#?secret=yIpEyMUf4O" data-secret="yIpEyMUf4O" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe> Dan anda tidak perlu bersedih kehilangan pahala dan keutamaan salat Jumat, karena demikianlah kemudahan yang Allah –subhaanahu wa ta’aala– berikan kepada seorang musafir, dan Allah –subhaanahu wa ta’aala– suka jika keringanan yang Ia tawarkan dipergunakan oleh hamba-Nya. Dan juga demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullaah –shallallaahu alaihi wa sallam- dalam seluruh perjalanan Beliau, dan di antaranya adalah safar yang paling mulia, yaitu di Haji Wada’, di Hari Arafah yang ketika itu bertepatan dengan hari Jumat. Beliau melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah dan qashar bersama puluhan ribu sahabatnya. Dan demikian pula yang kemudian dipraktekkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam setiap safar mereka, termasuk setiap safar mereka ketika memimpin rombongan haji kaum muslimin. Semoga jawaban di atas dapat menjawab pertanyaan dan kekhawatiran anda. Wallaahu ta’aala a’lam, wa-sh shalaatu alaa Nabiyyinaa khairi-l anaam. Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Flek Coklat Sebelum Haid Bolehkah Sholat, Doa Menyembuhkan Orang Kesurupan, Definisi Anak Yatim, Bacaan Takbir Sholat Idul Fitri, Arti Dari Valentine Day, Jari Masuk Ke Vagina Visited 57 times, 1 visit(s) today Post Views: 270 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Manhajus Salikin: Tata Cara Duduk Tasyahud Awal dan Bacaannya

Berikut kelanjutan dari sifat shalat nabi, yaitu mengenai tata cara duduk tasyahud awal dan bacaannya. Daftar Isi tutup 1. Kitab Shalat 1.1. Cara duduk tasyahud awal 1.1.1. Pertama, duduknya adalah iftirasy. 1.1.2. Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. 1.1.3. Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. 1.2. Bacaan tasyahud awal 1.2.1. Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. 1.2.2. Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. 1.3. Referensi: # Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Kitab Shalat   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, ثُمَّ يَجْلِسُ لِلتَّشَهُّدِ اَلْأَوَّلِ. وَصِفَتُهُ: “اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ, وَالصَّلَوَاتُ, وَالطَّيِّبَاتُ, اَلسَّلَام عَلَيْك أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ, اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ” “Kemudian duduk tasyahud awal. Dan bacaannya adalah AT-TAHIYYATU LILLAH WASH SHALAWAATU WATH-THAYYIBAAT, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAHI WA BAROKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN, ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUUH.”   Cara duduk tasyahud awal Pertama, duduknya adalah iftirasy. Dari hadits Abu Humaid As-Sa’idiy disebutkan, فَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ “Jika duduk di rakaat kedua, beliau duduk di kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (baca: duduk iftirasy). Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya, duduk di lantai saat itu (baca: duduk tawarruk).” (HR. Bukhari, no. 828). Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. Dari Ibnu ‘Umar disebutkan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا قَعَدَ فِى التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلاَثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk tasyahud, tangan kiri diletakkan di lutut kiri, sedangkan tangan kanan diletakkan di lutut kanan. Lalu ia berisyarat dengan menggenggam simbol lima puluh tiga dan berisyarat dengan jari telunjuk (maksudnya: jari kelingking, jari manis dan jari tengah digenggam, lalu jari telunjuk memberi isyarat, sedangkan jari jempol berada di samping jari telunjuk). (HR. Muslim, no. 580). Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. Al-Baihaqi berdalil dengan hadits dari Abdullah bin Zubair bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya dan berisyarat dengan jarinya dan pandangannya tidak melebihi isyarat tersebut. Dalam hadits disebutkan, لاَ يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ “Janganlah pandangannya melebihi isyarat jarinya.” (HR. Abu Daud, no. 990. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Bacaan tasyahud awal Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, عَلَّمَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَفِّى بَيْنَ كَفَّيْهِ التَّشَهُّدَ ، كَمَا يُعَلِّمُنِى السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .وَهْوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا ، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا السَّلاَمُ . يَعْنِى عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajariku tasyahud–dan telapak tanganku berada di dalam genggaman kedua telapak tangan beliau–sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Quran: ‘AT TAHIYYAATU LILLAAH, WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBAAT, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WARAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH, AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH-SHAALIHIIN. ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)’. Bacaan itu kami ucapkan ketika beliau masih ada di antara kami. Adapun setelah beliau meninggal, kami mengucapkan ‘as salaamu ‘alan nabiy (shallallaahu ‘alaihi wa sallam).” (HR. Bukhari, no. 6265). Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ “AT TAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUTH THOYYIBAAT LILLAH. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BAROKAATUH. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN. ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, keberkahan, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)” (HR. Muslim, no. 403). Sebagaimana disebutkan dalam Ghayah Al-Muqtashidin (1:241), ada bacaan tasyahud lainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini termasuk perbedaan pendapat yang sifatnya variatif (ikhtilaf tanawwu’). Baca Juga: Berlindung dari Empat Perkara pada Tasyahud Akhir Aturan Berisyarat dengan Jari Ketika Tasyahud Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsmanhajus salikin sifat shalat nabi tasyahud akhir tasyahud awal

Manhajus Salikin: Tata Cara Duduk Tasyahud Awal dan Bacaannya

Berikut kelanjutan dari sifat shalat nabi, yaitu mengenai tata cara duduk tasyahud awal dan bacaannya. Daftar Isi tutup 1. Kitab Shalat 1.1. Cara duduk tasyahud awal 1.1.1. Pertama, duduknya adalah iftirasy. 1.1.2. Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. 1.1.3. Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. 1.2. Bacaan tasyahud awal 1.2.1. Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. 1.2.2. Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. 1.3. Referensi: # Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Kitab Shalat   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, ثُمَّ يَجْلِسُ لِلتَّشَهُّدِ اَلْأَوَّلِ. وَصِفَتُهُ: “اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ, وَالصَّلَوَاتُ, وَالطَّيِّبَاتُ, اَلسَّلَام عَلَيْك أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ, اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ” “Kemudian duduk tasyahud awal. Dan bacaannya adalah AT-TAHIYYATU LILLAH WASH SHALAWAATU WATH-THAYYIBAAT, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAHI WA BAROKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN, ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUUH.”   Cara duduk tasyahud awal Pertama, duduknya adalah iftirasy. Dari hadits Abu Humaid As-Sa’idiy disebutkan, فَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ “Jika duduk di rakaat kedua, beliau duduk di kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (baca: duduk iftirasy). Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya, duduk di lantai saat itu (baca: duduk tawarruk).” (HR. Bukhari, no. 828). Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. Dari Ibnu ‘Umar disebutkan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا قَعَدَ فِى التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلاَثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk tasyahud, tangan kiri diletakkan di lutut kiri, sedangkan tangan kanan diletakkan di lutut kanan. Lalu ia berisyarat dengan menggenggam simbol lima puluh tiga dan berisyarat dengan jari telunjuk (maksudnya: jari kelingking, jari manis dan jari tengah digenggam, lalu jari telunjuk memberi isyarat, sedangkan jari jempol berada di samping jari telunjuk). (HR. Muslim, no. 580). Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. Al-Baihaqi berdalil dengan hadits dari Abdullah bin Zubair bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya dan berisyarat dengan jarinya dan pandangannya tidak melebihi isyarat tersebut. Dalam hadits disebutkan, لاَ يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ “Janganlah pandangannya melebihi isyarat jarinya.” (HR. Abu Daud, no. 990. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Bacaan tasyahud awal Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, عَلَّمَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَفِّى بَيْنَ كَفَّيْهِ التَّشَهُّدَ ، كَمَا يُعَلِّمُنِى السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .وَهْوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا ، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا السَّلاَمُ . يَعْنِى عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajariku tasyahud–dan telapak tanganku berada di dalam genggaman kedua telapak tangan beliau–sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Quran: ‘AT TAHIYYAATU LILLAAH, WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBAAT, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WARAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH, AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH-SHAALIHIIN. ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)’. Bacaan itu kami ucapkan ketika beliau masih ada di antara kami. Adapun setelah beliau meninggal, kami mengucapkan ‘as salaamu ‘alan nabiy (shallallaahu ‘alaihi wa sallam).” (HR. Bukhari, no. 6265). Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ “AT TAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUTH THOYYIBAAT LILLAH. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BAROKAATUH. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN. ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, keberkahan, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)” (HR. Muslim, no. 403). Sebagaimana disebutkan dalam Ghayah Al-Muqtashidin (1:241), ada bacaan tasyahud lainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini termasuk perbedaan pendapat yang sifatnya variatif (ikhtilaf tanawwu’). Baca Juga: Berlindung dari Empat Perkara pada Tasyahud Akhir Aturan Berisyarat dengan Jari Ketika Tasyahud Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsmanhajus salikin sifat shalat nabi tasyahud akhir tasyahud awal
Berikut kelanjutan dari sifat shalat nabi, yaitu mengenai tata cara duduk tasyahud awal dan bacaannya. Daftar Isi tutup 1. Kitab Shalat 1.1. Cara duduk tasyahud awal 1.1.1. Pertama, duduknya adalah iftirasy. 1.1.2. Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. 1.1.3. Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. 1.2. Bacaan tasyahud awal 1.2.1. Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. 1.2.2. Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. 1.3. Referensi: # Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Kitab Shalat   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, ثُمَّ يَجْلِسُ لِلتَّشَهُّدِ اَلْأَوَّلِ. وَصِفَتُهُ: “اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ, وَالصَّلَوَاتُ, وَالطَّيِّبَاتُ, اَلسَّلَام عَلَيْك أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ, اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ” “Kemudian duduk tasyahud awal. Dan bacaannya adalah AT-TAHIYYATU LILLAH WASH SHALAWAATU WATH-THAYYIBAAT, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAHI WA BAROKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN, ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUUH.”   Cara duduk tasyahud awal Pertama, duduknya adalah iftirasy. Dari hadits Abu Humaid As-Sa’idiy disebutkan, فَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ “Jika duduk di rakaat kedua, beliau duduk di kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (baca: duduk iftirasy). Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya, duduk di lantai saat itu (baca: duduk tawarruk).” (HR. Bukhari, no. 828). Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. Dari Ibnu ‘Umar disebutkan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا قَعَدَ فِى التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلاَثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk tasyahud, tangan kiri diletakkan di lutut kiri, sedangkan tangan kanan diletakkan di lutut kanan. Lalu ia berisyarat dengan menggenggam simbol lima puluh tiga dan berisyarat dengan jari telunjuk (maksudnya: jari kelingking, jari manis dan jari tengah digenggam, lalu jari telunjuk memberi isyarat, sedangkan jari jempol berada di samping jari telunjuk). (HR. Muslim, no. 580). Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. Al-Baihaqi berdalil dengan hadits dari Abdullah bin Zubair bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya dan berisyarat dengan jarinya dan pandangannya tidak melebihi isyarat tersebut. Dalam hadits disebutkan, لاَ يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ “Janganlah pandangannya melebihi isyarat jarinya.” (HR. Abu Daud, no. 990. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Bacaan tasyahud awal Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, عَلَّمَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَفِّى بَيْنَ كَفَّيْهِ التَّشَهُّدَ ، كَمَا يُعَلِّمُنِى السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .وَهْوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا ، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا السَّلاَمُ . يَعْنِى عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajariku tasyahud–dan telapak tanganku berada di dalam genggaman kedua telapak tangan beliau–sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Quran: ‘AT TAHIYYAATU LILLAAH, WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBAAT, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WARAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH, AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH-SHAALIHIIN. ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)’. Bacaan itu kami ucapkan ketika beliau masih ada di antara kami. Adapun setelah beliau meninggal, kami mengucapkan ‘as salaamu ‘alan nabiy (shallallaahu ‘alaihi wa sallam).” (HR. Bukhari, no. 6265). Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ “AT TAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUTH THOYYIBAAT LILLAH. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BAROKAATUH. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN. ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, keberkahan, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)” (HR. Muslim, no. 403). Sebagaimana disebutkan dalam Ghayah Al-Muqtashidin (1:241), ada bacaan tasyahud lainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini termasuk perbedaan pendapat yang sifatnya variatif (ikhtilaf tanawwu’). Baca Juga: Berlindung dari Empat Perkara pada Tasyahud Akhir Aturan Berisyarat dengan Jari Ketika Tasyahud Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsmanhajus salikin sifat shalat nabi tasyahud akhir tasyahud awal


Berikut kelanjutan dari sifat shalat nabi, yaitu mengenai tata cara duduk tasyahud awal dan bacaannya. Daftar Isi tutup 1. Kitab Shalat 1.1. Cara duduk tasyahud awal 1.1.1. Pertama, duduknya adalah iftirasy. 1.1.2. Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. 1.1.3. Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. 1.2. Bacaan tasyahud awal 1.2.1. Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. 1.2.2. Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. 1.3. Referensi: # Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Kitab Shalat   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, ثُمَّ يَجْلِسُ لِلتَّشَهُّدِ اَلْأَوَّلِ. وَصِفَتُهُ: “اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ, وَالصَّلَوَاتُ, وَالطَّيِّبَاتُ, اَلسَّلَام عَلَيْك أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ, اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ” “Kemudian duduk tasyahud awal. Dan bacaannya adalah AT-TAHIYYATU LILLAH WASH SHALAWAATU WATH-THAYYIBAAT, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAHI WA BAROKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN, ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUUH.”   Cara duduk tasyahud awal Pertama, duduknya adalah iftirasy. Dari hadits Abu Humaid As-Sa’idiy disebutkan, فَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ “Jika duduk di rakaat kedua, beliau duduk di kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (baca: duduk iftirasy). Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya, duduk di lantai saat itu (baca: duduk tawarruk).” (HR. Bukhari, no. 828). Kedua, bagaimana posisi tangan dan jari saat tasyahud awal. Dari Ibnu ‘Umar disebutkan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا قَعَدَ فِى التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلاَثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk tasyahud, tangan kiri diletakkan di lutut kiri, sedangkan tangan kanan diletakkan di lutut kanan. Lalu ia berisyarat dengan menggenggam simbol lima puluh tiga dan berisyarat dengan jari telunjuk (maksudnya: jari kelingking, jari manis dan jari tengah digenggam, lalu jari telunjuk memberi isyarat, sedangkan jari jempol berada di samping jari telunjuk). (HR. Muslim, no. 580). Ketiga, pandangan ketika itu tidak melebihi isyarat jari. Al-Baihaqi berdalil dengan hadits dari Abdullah bin Zubair bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya dan berisyarat dengan jarinya dan pandangannya tidak melebihi isyarat tersebut. Dalam hadits disebutkan, لاَ يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ “Janganlah pandangannya melebihi isyarat jarinya.” (HR. Abu Daud, no. 990. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Bacaan tasyahud awal Pertama, hadits Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, عَلَّمَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَفِّى بَيْنَ كَفَّيْهِ التَّشَهُّدَ ، كَمَا يُعَلِّمُنِى السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .وَهْوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا ، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا السَّلاَمُ . يَعْنِى عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajariku tasyahud–dan telapak tanganku berada di dalam genggaman kedua telapak tangan beliau–sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Quran: ‘AT TAHIYYAATU LILLAAH, WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBAAT, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WARAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH, AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH-SHAALIHIIN. ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)’. Bacaan itu kami ucapkan ketika beliau masih ada di antara kami. Adapun setelah beliau meninggal, kami mengucapkan ‘as salaamu ‘alan nabiy (shallallaahu ‘alaihi wa sallam).” (HR. Bukhari, no. 6265). Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas. التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ “AT TAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUTH THOYYIBAAT LILLAH. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BAROKAATUH. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHISH SHOLIHIIN. ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, keberkahan, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)” (HR. Muslim, no. 403). Sebagaimana disebutkan dalam Ghayah Al-Muqtashidin (1:241), ada bacaan tasyahud lainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini termasuk perbedaan pendapat yang sifatnya variatif (ikhtilaf tanawwu’). Baca Juga: Berlindung dari Empat Perkara pada Tasyahud Akhir Aturan Berisyarat dengan Jari Ketika Tasyahud Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.     Disusun di perjalanan Jakarta – Jogja, 04 Shafar 1441 H (Kamis, 3 Oktober 2019) Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsmanhajus salikin sifat shalat nabi tasyahud akhir tasyahud awal

Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat

Tertidur Ketika Khutbah JumatBisa jadi ketika khutbah Jumat, ada beberapa jamaah yang sangat mengantuk. Jika sampai tertidur ketika khutbah, tentu hal ini sangat tidak disukai oleh syariat. Seorang Ulama di kalangan tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata,كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. قال ابن عون: ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا“Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”Ibnu Aun mengatakan, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan mendapatkan ghanimah).” [1] Tips Mudah Menghalau Rasa Kantuk Saat Khutbah JumatAda tips yang mudah dan insyaallah bisa segera menghilangkan rasa mengantuk ketika khutbah Jumat berlangsung, yaitu segera pindah tempat1. Berpindah Tempat DudukRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”[2] Hikmahnya adalah perpindahan dan bergerak akan menghilanhkan rasa ngantuk dengan mudah. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan hadits ini, beliau berkata,ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﺤﻮﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺗﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻌﺎﺱ“Hikmah perintah untuk pindah tempat adalah pergerakan pindah akan menghilangkan rasa ngantuk.”[3] 2. Mandi sebelum berangkat shalat JumatKarena mandi memberikan rasa segar dan menghilangkan penat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتل“Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”[4] 3. Berusaha fokus mendengarkan khutbahDengan cara menghadapkan muka ke arah khatib dam fokus memperhatikan khatibIbnu Mas’ud berkata,قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.”[5]  Untuk bisa fokus, perlu juga menghindari hal-hal atau perbuatan yang bisa melalaikan dari khutbah seperti memainkan ujung baju, mengelupas kuku, memainkan kunci dan lain-lain.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَ“Barangsiapa yang memegang (memain-mainkan) batu kerikilberarti dia telah berbuat sia-sia.”[6] 4. Hindari duduk memeluk lututKarena ini adalah posisi yang bisa menyebabkan mengantukMuadz bin Jabal berkata,أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah.”[7] Imam Al-Khattabi menjelaskan hadits ini, beliau berkata,نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة“Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk,sehingga bisa jadi wudhunya batal (jika tertidur sangat pulas, adapun hanya tidur ringan maka tidak batal, pent), dan terhalangi mendengarkan khutbah.”[8] Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:

Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat

Tertidur Ketika Khutbah JumatBisa jadi ketika khutbah Jumat, ada beberapa jamaah yang sangat mengantuk. Jika sampai tertidur ketika khutbah, tentu hal ini sangat tidak disukai oleh syariat. Seorang Ulama di kalangan tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata,كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. قال ابن عون: ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا“Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”Ibnu Aun mengatakan, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan mendapatkan ghanimah).” [1] Tips Mudah Menghalau Rasa Kantuk Saat Khutbah JumatAda tips yang mudah dan insyaallah bisa segera menghilangkan rasa mengantuk ketika khutbah Jumat berlangsung, yaitu segera pindah tempat1. Berpindah Tempat DudukRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”[2] Hikmahnya adalah perpindahan dan bergerak akan menghilanhkan rasa ngantuk dengan mudah. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan hadits ini, beliau berkata,ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﺤﻮﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺗﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻌﺎﺱ“Hikmah perintah untuk pindah tempat adalah pergerakan pindah akan menghilangkan rasa ngantuk.”[3] 2. Mandi sebelum berangkat shalat JumatKarena mandi memberikan rasa segar dan menghilangkan penat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتل“Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”[4] 3. Berusaha fokus mendengarkan khutbahDengan cara menghadapkan muka ke arah khatib dam fokus memperhatikan khatibIbnu Mas’ud berkata,قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.”[5]  Untuk bisa fokus, perlu juga menghindari hal-hal atau perbuatan yang bisa melalaikan dari khutbah seperti memainkan ujung baju, mengelupas kuku, memainkan kunci dan lain-lain.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَ“Barangsiapa yang memegang (memain-mainkan) batu kerikilberarti dia telah berbuat sia-sia.”[6] 4. Hindari duduk memeluk lututKarena ini adalah posisi yang bisa menyebabkan mengantukMuadz bin Jabal berkata,أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah.”[7] Imam Al-Khattabi menjelaskan hadits ini, beliau berkata,نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة“Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk,sehingga bisa jadi wudhunya batal (jika tertidur sangat pulas, adapun hanya tidur ringan maka tidak batal, pent), dan terhalangi mendengarkan khutbah.”[8] Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:
Tertidur Ketika Khutbah JumatBisa jadi ketika khutbah Jumat, ada beberapa jamaah yang sangat mengantuk. Jika sampai tertidur ketika khutbah, tentu hal ini sangat tidak disukai oleh syariat. Seorang Ulama di kalangan tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata,كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. قال ابن عون: ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا“Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”Ibnu Aun mengatakan, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan mendapatkan ghanimah).” [1] Tips Mudah Menghalau Rasa Kantuk Saat Khutbah JumatAda tips yang mudah dan insyaallah bisa segera menghilangkan rasa mengantuk ketika khutbah Jumat berlangsung, yaitu segera pindah tempat1. Berpindah Tempat DudukRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”[2] Hikmahnya adalah perpindahan dan bergerak akan menghilanhkan rasa ngantuk dengan mudah. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan hadits ini, beliau berkata,ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﺤﻮﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺗﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻌﺎﺱ“Hikmah perintah untuk pindah tempat adalah pergerakan pindah akan menghilangkan rasa ngantuk.”[3] 2. Mandi sebelum berangkat shalat JumatKarena mandi memberikan rasa segar dan menghilangkan penat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتل“Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”[4] 3. Berusaha fokus mendengarkan khutbahDengan cara menghadapkan muka ke arah khatib dam fokus memperhatikan khatibIbnu Mas’ud berkata,قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.”[5]  Untuk bisa fokus, perlu juga menghindari hal-hal atau perbuatan yang bisa melalaikan dari khutbah seperti memainkan ujung baju, mengelupas kuku, memainkan kunci dan lain-lain.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَ“Barangsiapa yang memegang (memain-mainkan) batu kerikilberarti dia telah berbuat sia-sia.”[6] 4. Hindari duduk memeluk lututKarena ini adalah posisi yang bisa menyebabkan mengantukMuadz bin Jabal berkata,أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah.”[7] Imam Al-Khattabi menjelaskan hadits ini, beliau berkata,نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة“Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk,sehingga bisa jadi wudhunya batal (jika tertidur sangat pulas, adapun hanya tidur ringan maka tidak batal, pent), dan terhalangi mendengarkan khutbah.”[8] Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:


Tertidur Ketika Khutbah JumatBisa jadi ketika khutbah Jumat, ada beberapa jamaah yang sangat mengantuk. Jika sampai tertidur ketika khutbah, tentu hal ini sangat tidak disukai oleh syariat. Seorang Ulama di kalangan tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata,كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. قال ابن عون: ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا“Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”Ibnu Aun mengatakan, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan mendapatkan ghanimah).” [1] Tips Mudah Menghalau Rasa Kantuk Saat Khutbah JumatAda tips yang mudah dan insyaallah bisa segera menghilangkan rasa mengantuk ketika khutbah Jumat berlangsung, yaitu segera pindah tempat1. Berpindah Tempat DudukRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”[2] Hikmahnya adalah perpindahan dan bergerak akan menghilanhkan rasa ngantuk dengan mudah. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan hadits ini, beliau berkata,ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﺤﻮﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺗﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻌﺎﺱ“Hikmah perintah untuk pindah tempat adalah pergerakan pindah akan menghilangkan rasa ngantuk.”[3] 2. Mandi sebelum berangkat shalat JumatKarena mandi memberikan rasa segar dan menghilangkan penat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتل“Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”[4] 3. Berusaha fokus mendengarkan khutbahDengan cara menghadapkan muka ke arah khatib dam fokus memperhatikan khatibIbnu Mas’ud berkata,قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.”[5]  Untuk bisa fokus, perlu juga menghindari hal-hal atau perbuatan yang bisa melalaikan dari khutbah seperti memainkan ujung baju, mengelupas kuku, memainkan kunci dan lain-lain.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَ“Barangsiapa yang memegang (memain-mainkan) batu kerikilberarti dia telah berbuat sia-sia.”[6] 4. Hindari duduk memeluk lututKarena ini adalah posisi yang bisa menyebabkan mengantukMuadz bin Jabal berkata,أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah.”[7] Imam Al-Khattabi menjelaskan hadits ini, beliau berkata,نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة“Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk,sehingga bisa jadi wudhunya batal (jika tertidur sangat pulas, adapun hanya tidur ringan maka tidak batal, pent), dan terhalangi mendengarkan khutbah.”[8] Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:

Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat Berjamaah

Sadarilah Bau Badanmu Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSangat penting memperhatikan aroma tubuh ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bisa jadi seseorang tidak sadar bahwa tubuhnya mengeluarkan aroma yang tidak sedap, akan tetapi orang di sekitarnya merasakan aroma tersebut, misalnya bau keringat, bau pakaian atau bau ketiaknya. Bisa juga aroma tidak sedap itu berasal dari bau mulutnya, terutama jika ia adalah seorang perokok. Tentu hal ini sangat menganggu orang yang shalat berjamaah karena posisi shaf saat shalat sangat berdekatan bahkan sampai menempel.Jika bau tubuh yang tidak sedap itu tercium tentu akan menganggu jamaah yang lain. Bisa jadi ada orang yang sensitif dengan bau-bau tertentu, ia bisa merasa mual bahkan pusing karena tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap. Hal ini akan menganggu konsentrasi dan kekhusyukan para jamaah saat melaksanakan shalat, padahal khusyuk dan tumakninah (tenang) dalam shalat termasuk rukun shalat. Jika tidak ada keduanya maka shalatnya tidak sah.Larangan Shalat Berjamaah Karena Bau Badan yang Tidak SedapNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang pada dirinya ada aroma tidak sedap untuk menghadiri shalat berjamaah, hal ini termasuk uzur tidak shalat berjamaah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ, الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثّومَ وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”. (رواه مسلم)“Barangsiapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, “Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats -sejenis daun bawang-), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal (bau) yang membuat manusia terganggu.”[1] Perhatikan Bau Mulut Anda Wahai Para PerokokMohon diperhatikan khususnya bagi para perokok, dalam hadis di atas dijelaskan bahwa orang yang mulutnya bau karena memakan bawang putih saja tidak boleh menghadiri shalat berjamaah, maka bagaimana lagi dengan orang yang mulutnya bau rokok? Semoga kaum muslimin bisa meninggalkan benda yang sangat merugikan ini.Boleh Meninggalkan Shalat Berjamaah Untuk Sementara WaktuHukumnya wajib meninggalkan shalat berjamaah untuk sementara waktu bagi seseorang yang pada tubuhnya ada aroma tidak sedap, mencakup semua bau menyengat dan tidak sedap pada mulut, hidung atau ketiak. Setelah bau tersebut hilang maka dia wajib untuk kembali shalat berjamaah di masjid.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa bau bawang itu hanya contoh saja. Bau yang dimaksud adalah semua bau yang menyengat dan tidak sedap. Beliau berkataوقال ابن حجر : وقد ألْحَقَ بها الفقهاء ما في معناها من البقول الكريهة الرائحة ، كالفجل“Para ulama ahli fikih menyamakan hal ini kepada sesuatu yang semakna dengannya (bawang) seperti sayuran (polongan) dan lobak yang menyengat.”[2] Al-Maziriy juga menjelaskan bahwa hal ini mencakup bau keringat, bau-bau karena pekerjaan dan sebagainya. Beliau berkata,قال المازري : وألْحَق الفقهاء بالروائح أصحاب المصانِع : كالقصّاب والسَّمّاك . نقله ابن الملقِّن “Para ulama ahli fikih menyamakannya dengan bau para pekerja pabrik seperti tukang giling daging dan tukang ikan.”[3] Bau Tidak Sedap yang Timbul Dari PenyakitSyaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan bahwa termasuk juga apabila bau menyengat tersebut muncul akibat penyakit (misalnya terkena penyakit mulut yang sangat bau atau penyakit badan yang anggota tubuhnya ada yang membusuk), maka tidak boleh menghadiri shalat berjamaah sampai penyakitnya sembuh. Beliau berkata,قال العلماء : إن ما كان من الله ، ولا صنع للآدمي فيه إذا كان يؤذي المصلين فإنه يَخرج ( يعني من المسجد ) ، كالبخر في الفم ، أو الأنف ، أو من يخرج من إبطيه رائحة كريهة ، فإذا كان فيك رائحة تؤذي فلا تقرب المسجد“Para ulama berkata, jika penyakit tersebut dari Allah dan bukan karena perbuatan manusia, apabila berpotensi menggangu orang yang salat maka sebaiknya ia keluar dari masjid (tidak ikut salat berjamaah), seperti bau pada uap mulut (bau mulut), bau hidung atau apa yang keluar dari ketiaknya berupa bau yang menyengat. Maka jika pada mulut anda terdapat bau yang dapat menganggu maka jangalah anda mendekati masjid (jangan ikut salat berjamaah).”[4] Secara umum, jika memang ada penyakit yang bisa menghalangi salat berjamaah, maka ia mendapat uzur untuk tidak menghadiri salat jamaah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab,نعم هذا عذر شرعي ، إذا كان فيه بخر شديد الرائحة الكريهة ولم يتيسر له ما يزيله فهو عذر ، كما أن البصل والكراث عذر ، أما إن وجد دواءً وحيلة تزيله فعليه أن يفعل ذلك حتى لا يتأخر عن صلاة الجمعة والجماعة ، ولكن متى عجز عن ذلك ولم يتيسر فهو معذور أشد من عذر صاحب البصل ، والبخر لا شك أنه مؤذٍ لمن حوله ، إذا كان رائحته ظاهرة“Ya, ini adalah uzur menurut syariat. Jika pada mulutnya terdapat bau yang sangat menyengat dan tidak mudah baginya untuk menghilangkannya maka ini merupakan uzur, sebagaimana bawang putih dan kurrats (sejenis daun bawang) adalah uzur. Akan tetapi jika didapatkan obat dan cara untuk menghilangkannya maka wajib ia lakukan agar tidak tertinggal shalat Jumat dan salah berjamaah. Akan tetapi kapan saja ia tidak mampu dan tidak mudah baginya maka ia mendapatkan uzur yang lebih daripada mereka yang makan bawang putih. Bau mulut tidak diragukan lagi akan menganggu orang di sekitarnya jika baunya jelas.”[6] Mari kita perhatikan aroma tubuh kita ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bagi laki-laki disunahkan memakai parfum dan wewangian yang sewajarnya.@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan Kaki:

Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat Berjamaah

Sadarilah Bau Badanmu Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSangat penting memperhatikan aroma tubuh ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bisa jadi seseorang tidak sadar bahwa tubuhnya mengeluarkan aroma yang tidak sedap, akan tetapi orang di sekitarnya merasakan aroma tersebut, misalnya bau keringat, bau pakaian atau bau ketiaknya. Bisa juga aroma tidak sedap itu berasal dari bau mulutnya, terutama jika ia adalah seorang perokok. Tentu hal ini sangat menganggu orang yang shalat berjamaah karena posisi shaf saat shalat sangat berdekatan bahkan sampai menempel.Jika bau tubuh yang tidak sedap itu tercium tentu akan menganggu jamaah yang lain. Bisa jadi ada orang yang sensitif dengan bau-bau tertentu, ia bisa merasa mual bahkan pusing karena tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap. Hal ini akan menganggu konsentrasi dan kekhusyukan para jamaah saat melaksanakan shalat, padahal khusyuk dan tumakninah (tenang) dalam shalat termasuk rukun shalat. Jika tidak ada keduanya maka shalatnya tidak sah.Larangan Shalat Berjamaah Karena Bau Badan yang Tidak SedapNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang pada dirinya ada aroma tidak sedap untuk menghadiri shalat berjamaah, hal ini termasuk uzur tidak shalat berjamaah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ, الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثّومَ وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”. (رواه مسلم)“Barangsiapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, “Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats -sejenis daun bawang-), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal (bau) yang membuat manusia terganggu.”[1] Perhatikan Bau Mulut Anda Wahai Para PerokokMohon diperhatikan khususnya bagi para perokok, dalam hadis di atas dijelaskan bahwa orang yang mulutnya bau karena memakan bawang putih saja tidak boleh menghadiri shalat berjamaah, maka bagaimana lagi dengan orang yang mulutnya bau rokok? Semoga kaum muslimin bisa meninggalkan benda yang sangat merugikan ini.Boleh Meninggalkan Shalat Berjamaah Untuk Sementara WaktuHukumnya wajib meninggalkan shalat berjamaah untuk sementara waktu bagi seseorang yang pada tubuhnya ada aroma tidak sedap, mencakup semua bau menyengat dan tidak sedap pada mulut, hidung atau ketiak. Setelah bau tersebut hilang maka dia wajib untuk kembali shalat berjamaah di masjid.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa bau bawang itu hanya contoh saja. Bau yang dimaksud adalah semua bau yang menyengat dan tidak sedap. Beliau berkataوقال ابن حجر : وقد ألْحَقَ بها الفقهاء ما في معناها من البقول الكريهة الرائحة ، كالفجل“Para ulama ahli fikih menyamakan hal ini kepada sesuatu yang semakna dengannya (bawang) seperti sayuran (polongan) dan lobak yang menyengat.”[2] Al-Maziriy juga menjelaskan bahwa hal ini mencakup bau keringat, bau-bau karena pekerjaan dan sebagainya. Beliau berkata,قال المازري : وألْحَق الفقهاء بالروائح أصحاب المصانِع : كالقصّاب والسَّمّاك . نقله ابن الملقِّن “Para ulama ahli fikih menyamakannya dengan bau para pekerja pabrik seperti tukang giling daging dan tukang ikan.”[3] Bau Tidak Sedap yang Timbul Dari PenyakitSyaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan bahwa termasuk juga apabila bau menyengat tersebut muncul akibat penyakit (misalnya terkena penyakit mulut yang sangat bau atau penyakit badan yang anggota tubuhnya ada yang membusuk), maka tidak boleh menghadiri shalat berjamaah sampai penyakitnya sembuh. Beliau berkata,قال العلماء : إن ما كان من الله ، ولا صنع للآدمي فيه إذا كان يؤذي المصلين فإنه يَخرج ( يعني من المسجد ) ، كالبخر في الفم ، أو الأنف ، أو من يخرج من إبطيه رائحة كريهة ، فإذا كان فيك رائحة تؤذي فلا تقرب المسجد“Para ulama berkata, jika penyakit tersebut dari Allah dan bukan karena perbuatan manusia, apabila berpotensi menggangu orang yang salat maka sebaiknya ia keluar dari masjid (tidak ikut salat berjamaah), seperti bau pada uap mulut (bau mulut), bau hidung atau apa yang keluar dari ketiaknya berupa bau yang menyengat. Maka jika pada mulut anda terdapat bau yang dapat menganggu maka jangalah anda mendekati masjid (jangan ikut salat berjamaah).”[4] Secara umum, jika memang ada penyakit yang bisa menghalangi salat berjamaah, maka ia mendapat uzur untuk tidak menghadiri salat jamaah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab,نعم هذا عذر شرعي ، إذا كان فيه بخر شديد الرائحة الكريهة ولم يتيسر له ما يزيله فهو عذر ، كما أن البصل والكراث عذر ، أما إن وجد دواءً وحيلة تزيله فعليه أن يفعل ذلك حتى لا يتأخر عن صلاة الجمعة والجماعة ، ولكن متى عجز عن ذلك ولم يتيسر فهو معذور أشد من عذر صاحب البصل ، والبخر لا شك أنه مؤذٍ لمن حوله ، إذا كان رائحته ظاهرة“Ya, ini adalah uzur menurut syariat. Jika pada mulutnya terdapat bau yang sangat menyengat dan tidak mudah baginya untuk menghilangkannya maka ini merupakan uzur, sebagaimana bawang putih dan kurrats (sejenis daun bawang) adalah uzur. Akan tetapi jika didapatkan obat dan cara untuk menghilangkannya maka wajib ia lakukan agar tidak tertinggal shalat Jumat dan salah berjamaah. Akan tetapi kapan saja ia tidak mampu dan tidak mudah baginya maka ia mendapatkan uzur yang lebih daripada mereka yang makan bawang putih. Bau mulut tidak diragukan lagi akan menganggu orang di sekitarnya jika baunya jelas.”[6] Mari kita perhatikan aroma tubuh kita ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bagi laki-laki disunahkan memakai parfum dan wewangian yang sewajarnya.@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan Kaki:
Sadarilah Bau Badanmu Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSangat penting memperhatikan aroma tubuh ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bisa jadi seseorang tidak sadar bahwa tubuhnya mengeluarkan aroma yang tidak sedap, akan tetapi orang di sekitarnya merasakan aroma tersebut, misalnya bau keringat, bau pakaian atau bau ketiaknya. Bisa juga aroma tidak sedap itu berasal dari bau mulutnya, terutama jika ia adalah seorang perokok. Tentu hal ini sangat menganggu orang yang shalat berjamaah karena posisi shaf saat shalat sangat berdekatan bahkan sampai menempel.Jika bau tubuh yang tidak sedap itu tercium tentu akan menganggu jamaah yang lain. Bisa jadi ada orang yang sensitif dengan bau-bau tertentu, ia bisa merasa mual bahkan pusing karena tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap. Hal ini akan menganggu konsentrasi dan kekhusyukan para jamaah saat melaksanakan shalat, padahal khusyuk dan tumakninah (tenang) dalam shalat termasuk rukun shalat. Jika tidak ada keduanya maka shalatnya tidak sah.Larangan Shalat Berjamaah Karena Bau Badan yang Tidak SedapNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang pada dirinya ada aroma tidak sedap untuk menghadiri shalat berjamaah, hal ini termasuk uzur tidak shalat berjamaah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ, الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثّومَ وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”. (رواه مسلم)“Barangsiapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, “Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats -sejenis daun bawang-), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal (bau) yang membuat manusia terganggu.”[1] Perhatikan Bau Mulut Anda Wahai Para PerokokMohon diperhatikan khususnya bagi para perokok, dalam hadis di atas dijelaskan bahwa orang yang mulutnya bau karena memakan bawang putih saja tidak boleh menghadiri shalat berjamaah, maka bagaimana lagi dengan orang yang mulutnya bau rokok? Semoga kaum muslimin bisa meninggalkan benda yang sangat merugikan ini.Boleh Meninggalkan Shalat Berjamaah Untuk Sementara WaktuHukumnya wajib meninggalkan shalat berjamaah untuk sementara waktu bagi seseorang yang pada tubuhnya ada aroma tidak sedap, mencakup semua bau menyengat dan tidak sedap pada mulut, hidung atau ketiak. Setelah bau tersebut hilang maka dia wajib untuk kembali shalat berjamaah di masjid.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa bau bawang itu hanya contoh saja. Bau yang dimaksud adalah semua bau yang menyengat dan tidak sedap. Beliau berkataوقال ابن حجر : وقد ألْحَقَ بها الفقهاء ما في معناها من البقول الكريهة الرائحة ، كالفجل“Para ulama ahli fikih menyamakan hal ini kepada sesuatu yang semakna dengannya (bawang) seperti sayuran (polongan) dan lobak yang menyengat.”[2] Al-Maziriy juga menjelaskan bahwa hal ini mencakup bau keringat, bau-bau karena pekerjaan dan sebagainya. Beliau berkata,قال المازري : وألْحَق الفقهاء بالروائح أصحاب المصانِع : كالقصّاب والسَّمّاك . نقله ابن الملقِّن “Para ulama ahli fikih menyamakannya dengan bau para pekerja pabrik seperti tukang giling daging dan tukang ikan.”[3] Bau Tidak Sedap yang Timbul Dari PenyakitSyaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan bahwa termasuk juga apabila bau menyengat tersebut muncul akibat penyakit (misalnya terkena penyakit mulut yang sangat bau atau penyakit badan yang anggota tubuhnya ada yang membusuk), maka tidak boleh menghadiri shalat berjamaah sampai penyakitnya sembuh. Beliau berkata,قال العلماء : إن ما كان من الله ، ولا صنع للآدمي فيه إذا كان يؤذي المصلين فإنه يَخرج ( يعني من المسجد ) ، كالبخر في الفم ، أو الأنف ، أو من يخرج من إبطيه رائحة كريهة ، فإذا كان فيك رائحة تؤذي فلا تقرب المسجد“Para ulama berkata, jika penyakit tersebut dari Allah dan bukan karena perbuatan manusia, apabila berpotensi menggangu orang yang salat maka sebaiknya ia keluar dari masjid (tidak ikut salat berjamaah), seperti bau pada uap mulut (bau mulut), bau hidung atau apa yang keluar dari ketiaknya berupa bau yang menyengat. Maka jika pada mulut anda terdapat bau yang dapat menganggu maka jangalah anda mendekati masjid (jangan ikut salat berjamaah).”[4] Secara umum, jika memang ada penyakit yang bisa menghalangi salat berjamaah, maka ia mendapat uzur untuk tidak menghadiri salat jamaah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab,نعم هذا عذر شرعي ، إذا كان فيه بخر شديد الرائحة الكريهة ولم يتيسر له ما يزيله فهو عذر ، كما أن البصل والكراث عذر ، أما إن وجد دواءً وحيلة تزيله فعليه أن يفعل ذلك حتى لا يتأخر عن صلاة الجمعة والجماعة ، ولكن متى عجز عن ذلك ولم يتيسر فهو معذور أشد من عذر صاحب البصل ، والبخر لا شك أنه مؤذٍ لمن حوله ، إذا كان رائحته ظاهرة“Ya, ini adalah uzur menurut syariat. Jika pada mulutnya terdapat bau yang sangat menyengat dan tidak mudah baginya untuk menghilangkannya maka ini merupakan uzur, sebagaimana bawang putih dan kurrats (sejenis daun bawang) adalah uzur. Akan tetapi jika didapatkan obat dan cara untuk menghilangkannya maka wajib ia lakukan agar tidak tertinggal shalat Jumat dan salah berjamaah. Akan tetapi kapan saja ia tidak mampu dan tidak mudah baginya maka ia mendapatkan uzur yang lebih daripada mereka yang makan bawang putih. Bau mulut tidak diragukan lagi akan menganggu orang di sekitarnya jika baunya jelas.”[6] Mari kita perhatikan aroma tubuh kita ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bagi laki-laki disunahkan memakai parfum dan wewangian yang sewajarnya.@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan Kaki:


Sadarilah Bau Badanmu Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSangat penting memperhatikan aroma tubuh ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bisa jadi seseorang tidak sadar bahwa tubuhnya mengeluarkan aroma yang tidak sedap, akan tetapi orang di sekitarnya merasakan aroma tersebut, misalnya bau keringat, bau pakaian atau bau ketiaknya. Bisa juga aroma tidak sedap itu berasal dari bau mulutnya, terutama jika ia adalah seorang perokok. Tentu hal ini sangat menganggu orang yang shalat berjamaah karena posisi shaf saat shalat sangat berdekatan bahkan sampai menempel.Jika bau tubuh yang tidak sedap itu tercium tentu akan menganggu jamaah yang lain. Bisa jadi ada orang yang sensitif dengan bau-bau tertentu, ia bisa merasa mual bahkan pusing karena tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap. Hal ini akan menganggu konsentrasi dan kekhusyukan para jamaah saat melaksanakan shalat, padahal khusyuk dan tumakninah (tenang) dalam shalat termasuk rukun shalat. Jika tidak ada keduanya maka shalatnya tidak sah.Larangan Shalat Berjamaah Karena Bau Badan yang Tidak SedapNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang pada dirinya ada aroma tidak sedap untuk menghadiri shalat berjamaah, hal ini termasuk uzur tidak shalat berjamaah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ, الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثّومَ وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”. (رواه مسلم)“Barangsiapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, “Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats -sejenis daun bawang-), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal (bau) yang membuat manusia terganggu.”[1] Perhatikan Bau Mulut Anda Wahai Para PerokokMohon diperhatikan khususnya bagi para perokok, dalam hadis di atas dijelaskan bahwa orang yang mulutnya bau karena memakan bawang putih saja tidak boleh menghadiri shalat berjamaah, maka bagaimana lagi dengan orang yang mulutnya bau rokok? Semoga kaum muslimin bisa meninggalkan benda yang sangat merugikan ini.Boleh Meninggalkan Shalat Berjamaah Untuk Sementara WaktuHukumnya wajib meninggalkan shalat berjamaah untuk sementara waktu bagi seseorang yang pada tubuhnya ada aroma tidak sedap, mencakup semua bau menyengat dan tidak sedap pada mulut, hidung atau ketiak. Setelah bau tersebut hilang maka dia wajib untuk kembali shalat berjamaah di masjid.Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa bau bawang itu hanya contoh saja. Bau yang dimaksud adalah semua bau yang menyengat dan tidak sedap. Beliau berkataوقال ابن حجر : وقد ألْحَقَ بها الفقهاء ما في معناها من البقول الكريهة الرائحة ، كالفجل“Para ulama ahli fikih menyamakan hal ini kepada sesuatu yang semakna dengannya (bawang) seperti sayuran (polongan) dan lobak yang menyengat.”[2] Al-Maziriy juga menjelaskan bahwa hal ini mencakup bau keringat, bau-bau karena pekerjaan dan sebagainya. Beliau berkata,قال المازري : وألْحَق الفقهاء بالروائح أصحاب المصانِع : كالقصّاب والسَّمّاك . نقله ابن الملقِّن “Para ulama ahli fikih menyamakannya dengan bau para pekerja pabrik seperti tukang giling daging dan tukang ikan.”[3] Bau Tidak Sedap yang Timbul Dari PenyakitSyaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan bahwa termasuk juga apabila bau menyengat tersebut muncul akibat penyakit (misalnya terkena penyakit mulut yang sangat bau atau penyakit badan yang anggota tubuhnya ada yang membusuk), maka tidak boleh menghadiri shalat berjamaah sampai penyakitnya sembuh. Beliau berkata,قال العلماء : إن ما كان من الله ، ولا صنع للآدمي فيه إذا كان يؤذي المصلين فإنه يَخرج ( يعني من المسجد ) ، كالبخر في الفم ، أو الأنف ، أو من يخرج من إبطيه رائحة كريهة ، فإذا كان فيك رائحة تؤذي فلا تقرب المسجد“Para ulama berkata, jika penyakit tersebut dari Allah dan bukan karena perbuatan manusia, apabila berpotensi menggangu orang yang salat maka sebaiknya ia keluar dari masjid (tidak ikut salat berjamaah), seperti bau pada uap mulut (bau mulut), bau hidung atau apa yang keluar dari ketiaknya berupa bau yang menyengat. Maka jika pada mulut anda terdapat bau yang dapat menganggu maka jangalah anda mendekati masjid (jangan ikut salat berjamaah).”[4] Secara umum, jika memang ada penyakit yang bisa menghalangi salat berjamaah, maka ia mendapat uzur untuk tidak menghadiri salat jamaah.Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab,نعم هذا عذر شرعي ، إذا كان فيه بخر شديد الرائحة الكريهة ولم يتيسر له ما يزيله فهو عذر ، كما أن البصل والكراث عذر ، أما إن وجد دواءً وحيلة تزيله فعليه أن يفعل ذلك حتى لا يتأخر عن صلاة الجمعة والجماعة ، ولكن متى عجز عن ذلك ولم يتيسر فهو معذور أشد من عذر صاحب البصل ، والبخر لا شك أنه مؤذٍ لمن حوله ، إذا كان رائحته ظاهرة“Ya, ini adalah uzur menurut syariat. Jika pada mulutnya terdapat bau yang sangat menyengat dan tidak mudah baginya untuk menghilangkannya maka ini merupakan uzur, sebagaimana bawang putih dan kurrats (sejenis daun bawang) adalah uzur. Akan tetapi jika didapatkan obat dan cara untuk menghilangkannya maka wajib ia lakukan agar tidak tertinggal shalat Jumat dan salah berjamaah. Akan tetapi kapan saja ia tidak mampu dan tidak mudah baginya maka ia mendapatkan uzur yang lebih daripada mereka yang makan bawang putih. Bau mulut tidak diragukan lagi akan menganggu orang di sekitarnya jika baunya jelas.”[6] Mari kita perhatikan aroma tubuh kita ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bagi laki-laki disunahkan memakai parfum dan wewangian yang sewajarnya.@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan Kaki:
Prev     Next