Berzikir Tapi Pikiran Melayang, Dapatkah Pahala? Simak Penjelasannya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Syaikh kami yang mulia, semoga Allah melimpahkan kebaikan bagi Anda. Ummu Ali dari Saudi bertanya mengenai zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Tanpa kehadiran hati (khusyuk), apakah seseorang tetap mendapatkan pahala atas zikirnya?” Ya, seorang muslim tetap mendapatkan pahala atas zikir kepada Allah Ta’ala meskipun tanpa kehadiran hati. Kehadiran hati memang sering kali tidak dapat dilakukan setiap saat, karena manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Manusia bisa ditimpa berbagai hal manusiawi seperti sakit, keresahan, serta pikiran yang terbagi, dan banyak perkara lain yang kerap dialami oleh seseorang. Sehingga, ia tidak selalu berada dalam kondisi ideal dengan hati yang sepenuhnya fokus saat berzikir. Padahal, ia dianjurkan untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala keadaan, baik dengan kehadiran hati maupun tidak, berzikir tetaplah utama. Jika disertai kehadiran hati, tentu itu yang lebih sempurna. Jika dilakukan tanpa kehadiran hati sekalipun, ia tetap akan diberi pahala atas amal tersebut. Sebagian orang, ketika ingin berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, setan mendatanginya dan membisikkan: “Pikiranmu sedang kacau sekarang, hatimu tidak sedang fokus, (jangan berzikir).” Akhirnya ia pun meninggalkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena alasan tersebut. Sungguh, ini adalah bagian dari tipu daya setan yang terkutuk. Maka kami katakan, hendaknya seseorang memperbanyak zikir kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42). “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin…” hingga firman-Nya, “…serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا الْكَرِيم شَيْخَنَا أُمُّ عَلِيٍّ مِنَ السُّعُودِيَّةِ تَسْأَلُ وَتَقُولُ بِالنِّسْبَةِ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ هَلْ يُؤْجَرُ الْإِنْسَانُ عَلَيْهِ؟ نَعَمْ يُؤْجَرُ الْمُسْلِمُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَوْ كَانَ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ وَحُضُورُ قَلْبٍ قَدْ لَا يَتَأَتَّى لِلْإِنْسَانِ فِي كُلِّ وَقْتٍ الْإِنْسَانُ بَشَرٌ مَا يَعْتَرِيهِ بَشَرٌ مِنَ الْمَرَضِ وَمِنَ الْهَمِّ وَانْشِغَالِ الذِّهْنِ وَأُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَعْتَرِي الْإِنْسَانَ فَلَا يَكُونُ دَائِمًا عَلَى الْحَالَةِ الْمِثَالِيَّةِ الَّتِي يَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا مَعَ ذِكْرٍ وَيَنْبَغِي أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ سَوَاءً كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ أَوْ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ إِنْ كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ هَذَا هُوَ الْأَكْمَلُ وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ حُضُورِ قَلْبٍ فَهُوَ مَأْجُورٌ عَلَيْهِ وَبَعْضُ النَّاسِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَتَاهُ الشَّيْطَانُ قَالَ لَا أَنْتَ الْآنَ مَشْغُولُ الذِّهْنِ قَلْبُكَ غَيْرُ حَاضِرٍ فَيَتْرُكُ ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَجْلِ ذَلِكَ وَهَذَا مِنْ حِيَلِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَنَقُولُ يَنْبَغِي الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ إِلَى قَوْلِهِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Berzikir Tapi Pikiran Melayang, Dapatkah Pahala? Simak Penjelasannya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Syaikh kami yang mulia, semoga Allah melimpahkan kebaikan bagi Anda. Ummu Ali dari Saudi bertanya mengenai zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Tanpa kehadiran hati (khusyuk), apakah seseorang tetap mendapatkan pahala atas zikirnya?” Ya, seorang muslim tetap mendapatkan pahala atas zikir kepada Allah Ta’ala meskipun tanpa kehadiran hati. Kehadiran hati memang sering kali tidak dapat dilakukan setiap saat, karena manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Manusia bisa ditimpa berbagai hal manusiawi seperti sakit, keresahan, serta pikiran yang terbagi, dan banyak perkara lain yang kerap dialami oleh seseorang. Sehingga, ia tidak selalu berada dalam kondisi ideal dengan hati yang sepenuhnya fokus saat berzikir. Padahal, ia dianjurkan untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala keadaan, baik dengan kehadiran hati maupun tidak, berzikir tetaplah utama. Jika disertai kehadiran hati, tentu itu yang lebih sempurna. Jika dilakukan tanpa kehadiran hati sekalipun, ia tetap akan diberi pahala atas amal tersebut. Sebagian orang, ketika ingin berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, setan mendatanginya dan membisikkan: “Pikiranmu sedang kacau sekarang, hatimu tidak sedang fokus, (jangan berzikir).” Akhirnya ia pun meninggalkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena alasan tersebut. Sungguh, ini adalah bagian dari tipu daya setan yang terkutuk. Maka kami katakan, hendaknya seseorang memperbanyak zikir kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42). “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin…” hingga firman-Nya, “…serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا الْكَرِيم شَيْخَنَا أُمُّ عَلِيٍّ مِنَ السُّعُودِيَّةِ تَسْأَلُ وَتَقُولُ بِالنِّسْبَةِ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ هَلْ يُؤْجَرُ الْإِنْسَانُ عَلَيْهِ؟ نَعَمْ يُؤْجَرُ الْمُسْلِمُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَوْ كَانَ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ وَحُضُورُ قَلْبٍ قَدْ لَا يَتَأَتَّى لِلْإِنْسَانِ فِي كُلِّ وَقْتٍ الْإِنْسَانُ بَشَرٌ مَا يَعْتَرِيهِ بَشَرٌ مِنَ الْمَرَضِ وَمِنَ الْهَمِّ وَانْشِغَالِ الذِّهْنِ وَأُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَعْتَرِي الْإِنْسَانَ فَلَا يَكُونُ دَائِمًا عَلَى الْحَالَةِ الْمِثَالِيَّةِ الَّتِي يَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا مَعَ ذِكْرٍ وَيَنْبَغِي أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ سَوَاءً كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ أَوْ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ إِنْ كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ هَذَا هُوَ الْأَكْمَلُ وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ حُضُورِ قَلْبٍ فَهُوَ مَأْجُورٌ عَلَيْهِ وَبَعْضُ النَّاسِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَتَاهُ الشَّيْطَانُ قَالَ لَا أَنْتَ الْآنَ مَشْغُولُ الذِّهْنِ قَلْبُكَ غَيْرُ حَاضِرٍ فَيَتْرُكُ ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَجْلِ ذَلِكَ وَهَذَا مِنْ حِيَلِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَنَقُولُ يَنْبَغِي الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ إِلَى قَوْلِهِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Syaikh kami yang mulia, semoga Allah melimpahkan kebaikan bagi Anda. Ummu Ali dari Saudi bertanya mengenai zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Tanpa kehadiran hati (khusyuk), apakah seseorang tetap mendapatkan pahala atas zikirnya?” Ya, seorang muslim tetap mendapatkan pahala atas zikir kepada Allah Ta’ala meskipun tanpa kehadiran hati. Kehadiran hati memang sering kali tidak dapat dilakukan setiap saat, karena manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Manusia bisa ditimpa berbagai hal manusiawi seperti sakit, keresahan, serta pikiran yang terbagi, dan banyak perkara lain yang kerap dialami oleh seseorang. Sehingga, ia tidak selalu berada dalam kondisi ideal dengan hati yang sepenuhnya fokus saat berzikir. Padahal, ia dianjurkan untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala keadaan, baik dengan kehadiran hati maupun tidak, berzikir tetaplah utama. Jika disertai kehadiran hati, tentu itu yang lebih sempurna. Jika dilakukan tanpa kehadiran hati sekalipun, ia tetap akan diberi pahala atas amal tersebut. Sebagian orang, ketika ingin berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, setan mendatanginya dan membisikkan: “Pikiranmu sedang kacau sekarang, hatimu tidak sedang fokus, (jangan berzikir).” Akhirnya ia pun meninggalkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena alasan tersebut. Sungguh, ini adalah bagian dari tipu daya setan yang terkutuk. Maka kami katakan, hendaknya seseorang memperbanyak zikir kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42). “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin…” hingga firman-Nya, “…serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا الْكَرِيم شَيْخَنَا أُمُّ عَلِيٍّ مِنَ السُّعُودِيَّةِ تَسْأَلُ وَتَقُولُ بِالنِّسْبَةِ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ هَلْ يُؤْجَرُ الْإِنْسَانُ عَلَيْهِ؟ نَعَمْ يُؤْجَرُ الْمُسْلِمُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَوْ كَانَ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ وَحُضُورُ قَلْبٍ قَدْ لَا يَتَأَتَّى لِلْإِنْسَانِ فِي كُلِّ وَقْتٍ الْإِنْسَانُ بَشَرٌ مَا يَعْتَرِيهِ بَشَرٌ مِنَ الْمَرَضِ وَمِنَ الْهَمِّ وَانْشِغَالِ الذِّهْنِ وَأُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَعْتَرِي الْإِنْسَانَ فَلَا يَكُونُ دَائِمًا عَلَى الْحَالَةِ الْمِثَالِيَّةِ الَّتِي يَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا مَعَ ذِكْرٍ وَيَنْبَغِي أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ سَوَاءً كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ أَوْ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ إِنْ كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ هَذَا هُوَ الْأَكْمَلُ وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ حُضُورِ قَلْبٍ فَهُوَ مَأْجُورٌ عَلَيْهِ وَبَعْضُ النَّاسِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَتَاهُ الشَّيْطَانُ قَالَ لَا أَنْتَ الْآنَ مَشْغُولُ الذِّهْنِ قَلْبُكَ غَيْرُ حَاضِرٍ فَيَتْرُكُ ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَجْلِ ذَلِكَ وَهَذَا مِنْ حِيَلِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَنَقُولُ يَنْبَغِي الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ إِلَى قَوْلِهِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا


Syaikh kami yang mulia, semoga Allah melimpahkan kebaikan bagi Anda. Ummu Ali dari Saudi bertanya mengenai zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Tanpa kehadiran hati (khusyuk), apakah seseorang tetap mendapatkan pahala atas zikirnya?” Ya, seorang muslim tetap mendapatkan pahala atas zikir kepada Allah Ta’ala meskipun tanpa kehadiran hati. Kehadiran hati memang sering kali tidak dapat dilakukan setiap saat, karena manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Manusia bisa ditimpa berbagai hal manusiawi seperti sakit, keresahan, serta pikiran yang terbagi, dan banyak perkara lain yang kerap dialami oleh seseorang. Sehingga, ia tidak selalu berada dalam kondisi ideal dengan hati yang sepenuhnya fokus saat berzikir. Padahal, ia dianjurkan untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala keadaan, baik dengan kehadiran hati maupun tidak, berzikir tetaplah utama. Jika disertai kehadiran hati, tentu itu yang lebih sempurna. Jika dilakukan tanpa kehadiran hati sekalipun, ia tetap akan diberi pahala atas amal tersebut. Sebagian orang, ketika ingin berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, setan mendatanginya dan membisikkan: “Pikiranmu sedang kacau sekarang, hatimu tidak sedang fokus, (jangan berzikir).” Akhirnya ia pun meninggalkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena alasan tersebut. Sungguh, ini adalah bagian dari tipu daya setan yang terkutuk. Maka kami katakan, hendaknya seseorang memperbanyak zikir kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42). “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin…” hingga firman-Nya, “…serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا الْكَرِيم شَيْخَنَا أُمُّ عَلِيٍّ مِنَ السُّعُودِيَّةِ تَسْأَلُ وَتَقُولُ بِالنِّسْبَةِ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ هَلْ يُؤْجَرُ الْإِنْسَانُ عَلَيْهِ؟ نَعَمْ يُؤْجَرُ الْمُسْلِمُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَوْ كَانَ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ وَحُضُورُ قَلْبٍ قَدْ لَا يَتَأَتَّى لِلْإِنْسَانِ فِي كُلِّ وَقْتٍ الْإِنْسَانُ بَشَرٌ مَا يَعْتَرِيهِ بَشَرٌ مِنَ الْمَرَضِ وَمِنَ الْهَمِّ وَانْشِغَالِ الذِّهْنِ وَأُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَعْتَرِي الْإِنْسَانَ فَلَا يَكُونُ دَائِمًا عَلَى الْحَالَةِ الْمِثَالِيَّةِ الَّتِي يَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا مَعَ ذِكْرٍ وَيَنْبَغِي أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ سَوَاءً كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ أَوْ بِدُونِ حُضُورِ قَلْبٍ إِنْ كَانَ بِحُضُورِ قَلْبٍ هَذَا هُوَ الْأَكْمَلُ وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ حُضُورِ قَلْبٍ فَهُوَ مَأْجُورٌ عَلَيْهِ وَبَعْضُ النَّاسِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَتَاهُ الشَّيْطَانُ قَالَ لَا أَنْتَ الْآنَ مَشْغُولُ الذِّهْنِ قَلْبُكَ غَيْرُ حَاضِرٍ فَيَتْرُكُ ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَجْلِ ذَلِكَ وَهَذَا مِنْ حِيَلِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَنَقُولُ يَنْبَغِي الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ إِلَى قَوْلِهِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 3)

Daftar Isi TogglePengikut-pengikut DajjalBentuk fitnah DajjalKehancuran DajjalPengikut-pengikut DajjalMayoritas pengikut Dajjal berasal dari kalangan Yahudi, bangsa-bangsa asing (‘ajam), suku Turk, dan berbagai golongan manusia lainnya. Di antara mereka yang paling banyak mengikutinya adalah orang-orang Arab pedalaman (Badui) dan kaum wanita.Dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يتبع الدَّجَّال من يهود أصبهان سبعون ألفًا عليهم الطَّيالسة“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka mengenakan thiyalisa (pakaian mantel panjang).” (HR. Muslim)Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan,سبعون ألفًا عليهم التَيجان“Tujuh puluh ribu orang, mengenakan mahkota.”Dalam hadis Abu Bakar yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat keterangan,يتبعه أقوامٌ كأنَّ وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة“Akan mengikutinya kaum yang wajahnya seperti perisai yang ditempa.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tampaknya, wallahu a‘lam, yang dimaksud dengan mereka yang berwajah seperti perisai itu adalah suku Turk, para pendukung Dajjal.Demikian pula sebagian bangsa asing lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,لا تقوم السّاعة حتّى تقاتلوا خوزًا وكرمان من الأعاجم، حمر الوجو، فطس الأنوف، صغار الأعين، كأن وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة، نعالهم الشعر“Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suku Khuz dan Kirman dari bangsa ‘ajam, berwajah merah, berhidung pesek, bermata kecil, wajah mereka seperti perisai yang ditempa, dan sandal mereka terbuat dari rambut.” (HR. Bukhari)Adapun banyaknya orang Arab pedalaman yang menjadi pengikutnya, hal itu karena kebodohan yang banyak menyelimuti mereka. Ini sesuai dengan hadis panjang Abu Umamah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah Dajjal,“Di antara fitnahnya, ia berkata kepada seorang Arab Badui, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku hidupkan kembali ayah dan ibumu, apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah tuhanmu?’ Orang itu menjawab, ‘Ya.’ Maka dua setan tampil menyerupai ayah dan ibunya lalu berkata, ‘Wahai anakku, ikutilah dia, sungguh dialah tuhanmu.’” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Sementara kaum wanita justru lebih banyak terjerumus daripada orang Arab pedalaman. Karena mereka lebih mudah terpengaruh dan kebodohan banyak menguasai mereka. Dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ينزل الدَّجَّال في هذه السبخة بمرقناة، فيكون أكثر من يخرج إليه النِّساء، حتّى إن الرَّجل يرجع إلى حميمه وإلى أمه وابنته وأخته وعمَّته فيوثقها رباطًا؛ مخافة أن تخرج إليه“Dajjal akan turun di tanah berawa dekat Marqana, dan yang paling banyak keluar mengikutinya adalah kaum wanita. Hingga seorang laki-laki kembali kepada keluarganya, kepada ibu, anak perempuan, saudari, dan bibinya, lalu mengikat mereka kuat-kuat, karena khawatir mereka keluar mengikuti Dajjal.” (HR. Ahmad)Bentuk fitnah DajjalFitnah Dajjal adalah fitnah terbesar sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Dahsyatnya fitnah ini disebabkan berbagai keajaiban dan kemampuan luar biasa yang Allah berikan kepadanya, yang membuat akal manusia terpesona dan bingung.Dalam riwayat disebutkan bahwa Dajjal membawa “surga” dan “neraka”. Namun surga versinya sebenarnya neraka, dan nerakanya justru menjadi surga. Ia memiliki aliran-aliran air dan gunung-gunung yang penuh roti. Ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun turun. Ia memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka bumi pun menumbuhkan. Harta karun bumi mengikuti perintahnya. Ia bergerak sangat cepat melintasi bumi seperti hujan badai yang ditiup angin. Dan masih banyak lagi kejadian luar biasa yang menyertainya. Semua itu disebutkan dalam hadis-hadis sahih.Di antaranya riwayat Muslim dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أعورُ العين اليسرى، جفال الشعر، معه جنَّةٌ ونارٌ، فناره جنَّة، وجنَّتُه نارٌ“Dajjal itu bermata kiri buta, rambutnya lebat, bersamanya ada surga dan neraka; namun nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لأنا أعلم بما مع الدَّجَّال منه، معه نهران يجريان، أحدهما رأي العين ماءٌ أبيض، والآخر رأي العين نارٌ تأجَّج، فإمَّا أدركن أحدٌ؛ فليأت النهر الّذي يراه نارًا، وليغمض، ثمَّ ليطأطئ رأسه، فيشرب منه؛ فإنَّه ماءٌ باردٌ“Aku lebih mengetahui apa yang dibawa Dajjal daripada dirinya sendiri. Bersamanya ada dua sungai yang mengalir; yang satu tampak seperti air putih, dan yang lain tampak seperti api yang menyala. Barang siapa menjumpainya, hendaklah menuju sungai yang tampak seperti api itu, memejamkan mata, lalu menundukkan kepala, kemudian minum darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin.”Dalam hadis panjang yang diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu tentang Dajjal, disebutkan bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama ia akan tinggal di bumi?” Beliau menjawab,أربعون يومًا: يوم كسنة، ويوم كشهر، ويوم كجمعة، وسائر أيامه كأيامكم“Empat puluh hari: satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari selebihnya seperti hari-hari kalian biasa.”Mereka bertanya lagi, “Bagaimana cepatnya ia berjalan di bumi?” Beliau menjawab, “Secepat hujan yang ditiup angin kencang. Ia mendatangi suatu kaum, lalu mengajak mereka. Bila mereka membenarkannya dan mengikuti seruannya, ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, dan bumi untuk menumbuhkan tanaman. Hewan ternak mereka pun pulang dengan tubuh paling gemuk, susu paling deras, dan perut yang penuh.Kemudian ia mendatangi kaum lain, mengajak mereka, tetapi mereka menolak ucapannya. Ia pun berpaling dari mereka, dan keesokan harinya mereka bangun dalam keadaan miskin, tidak tersisa harta sedikit pun.Ia juga melewati sebuah tanah lapang yang telah hancur, lalu berkata kepadanya, ‘Keluarkanlah harta-hartamu!’ Maka keluarlah seluruh harta itu mengikutinya seperti kawanan lebah yang mengikuti ratunya.Kemudian ia memanggil seorang pemuda yang kuat dan sehat, lalu menebasnya dengan pedang hingga tubuhnya terbelah menjadi dua bagian yang terpisah. Setelah itu ia memanggil pemuda itu kembali, dan pemuda itu pun hidup kembali, maju ke arahnya dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa lelaki yang dibunuh oleh Dajjal itu adalah termasuk manusia terbaik, atau bahkan yang terbaik pada masanya. Ia keluar menemui Dajjal dari Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika berhadapan dengannya, ia berkata kepada Dajjal,أشهد أنك الدَّجَّال الّذي حدَّثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثه“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Dajjal berkata kepada orang-orang,أرأيتُم إن قتلتُ هذا ثمّ أحييتُه؛ هل تشكُّون في الأمر؟“Bagaimana menurut kalian bila aku membunuhnya kemudian menghidupkannya kembali, apakah kalian masih akan ragu terhadap apa yang aku klaim?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka Dajjal membunuh lelaki itu, lalu menghidupkannya kembali. Namun setelah hidup kembali, lelaki itu berkata,والله ما كنتُ فيك أشدُّ بصيرة مني اليوم“Demi Allah, aku tidak pernah sejelas dan seyakin hari ini bahwa engkau benar-benar (Dajjal).”Kemudian Dajjal ingin membunuhnya lagi, tetapi ia tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk melakukannya. (HR. Bukhari)Baca juga: Kengerian di Hari KiamatKehancuran DajjalDajjal akan dibinasakan oleh al-Masih ‘Isa bin Maryam sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis sahih. Dajjal akan muncul dan menjelajah seluruh penjuru bumi kecuali Makkah dan Madinah. Pengikutnya akan sangat banyak, fitnahnya meluas, dan hanya sedikit dari kaum beriman yang selamat darinya.Pada saat keadaan mencapai puncaknya, ‘Isa bin Maryam akan turun dari langit di menara putih sebelah timur Damaskus. Para hamba Allah yang beriman segera berkumpul di sekelilingnya. Ia lalu memimpin mereka menuju tempat Dajjal. Ketika itu, Dajjal sedang bergerak menuju Baitul Maqdis. ‘Isa akan menyusulnya hingga bertemu dengannya di gerbang kota Ludd.Begitu Dajjal melihat ‘Isa, ia melebur dan hancur seperti garam yang larut dalam air. Lalu ‘Isa berkata kepadanya, “Aku punya satu tebasan untukmu, dan engkau tidak akan bisa menghindar darinya.” ‘Isa pun mengejarnya dan membunuhnya dengan tombaknya. Para pengikut Dajjal kemudian lari tercerai-berai, dan kaum beriman mengejar mereka serta membunuh mereka semua. Hingga pohon dan batu pun berkata, “Wahai Muslim! Wahai hamba Allah! Ada seorang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh dia.” Kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohon milik orang Yahudi.Beberapa hadis yang menjelaskan tentang kematian Dajjal dan pengikutnya antara lain:Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال في أمَّتي … (فذكر الحديث، وفيه:) فيبعث الله عيسى بن مريم كأنّه عروة بن مسعود، فيطلبه، فيهلكه“Dajjal akan keluar di tengah umatku … lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam yang wajahnya seperti ‘Urwah bin Mas‘ud. Ia mengejar Dajjal dan membinasakannya.”Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Majma‘ bin Jariyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقتل ابنُ مريم الدَّجَّالَ بباب لد“Ibnu Maryam akan membunuh Dajjal di gerbang Ludd.”Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dajjal akan keluar ketika agama mulai melemah dan ilmu mulai hilang… kemudian ‘Isa bin Maryam turun; dan saat waktu sahur, ia berseru, ‘Wahai manusia! Apa yang menghalangi kalian untuk keluar menghadapi pendusta keji itu?’ Mereka menjawab, ‘Yang keluar itu pasti jin!’ Mereka pun berangkat, lalu mendapati ‘Isa bin Maryam. Ketika salat ditegakkan, mereka memintanya untuk maju menjadi imam, namun ia berkata, ‘Imam kalian tetap dari kalian sendiri.’ Usai salat Subuh, mereka keluar menuju Dajjal. Saat pendusta itu melihat ‘Isa, ia meleleh seperti garam dalam air. Lalu ‘Isa mendekatinya dan membunuhnya. Hingga pohon dan batu menyeru, ‘Wahai Ruh Allah! Ini dia orang Yahudi!’ Tidak ada satu pun dari pengikut Dajjal yang tersisa, kecuali dibinasakan.”Dengan terbunuhnya Dajjal, semoga Allah melaknatnya, berakhirlah fitnah besar yang mengguncang dunia. Allah menyelamatkan kaum beriman dari kejahatannya melalui ‘Isa bin Maryam dan para pengikutnya yang beriman. Segala puji bagi Allah atas nikmat dan pertolongan-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Diselesaikan di Jember, 11 Rajab 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 238-291.

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 3)

Daftar Isi TogglePengikut-pengikut DajjalBentuk fitnah DajjalKehancuran DajjalPengikut-pengikut DajjalMayoritas pengikut Dajjal berasal dari kalangan Yahudi, bangsa-bangsa asing (‘ajam), suku Turk, dan berbagai golongan manusia lainnya. Di antara mereka yang paling banyak mengikutinya adalah orang-orang Arab pedalaman (Badui) dan kaum wanita.Dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يتبع الدَّجَّال من يهود أصبهان سبعون ألفًا عليهم الطَّيالسة“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka mengenakan thiyalisa (pakaian mantel panjang).” (HR. Muslim)Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan,سبعون ألفًا عليهم التَيجان“Tujuh puluh ribu orang, mengenakan mahkota.”Dalam hadis Abu Bakar yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat keterangan,يتبعه أقوامٌ كأنَّ وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة“Akan mengikutinya kaum yang wajahnya seperti perisai yang ditempa.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tampaknya, wallahu a‘lam, yang dimaksud dengan mereka yang berwajah seperti perisai itu adalah suku Turk, para pendukung Dajjal.Demikian pula sebagian bangsa asing lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,لا تقوم السّاعة حتّى تقاتلوا خوزًا وكرمان من الأعاجم، حمر الوجو، فطس الأنوف، صغار الأعين، كأن وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة، نعالهم الشعر“Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suku Khuz dan Kirman dari bangsa ‘ajam, berwajah merah, berhidung pesek, bermata kecil, wajah mereka seperti perisai yang ditempa, dan sandal mereka terbuat dari rambut.” (HR. Bukhari)Adapun banyaknya orang Arab pedalaman yang menjadi pengikutnya, hal itu karena kebodohan yang banyak menyelimuti mereka. Ini sesuai dengan hadis panjang Abu Umamah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah Dajjal,“Di antara fitnahnya, ia berkata kepada seorang Arab Badui, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku hidupkan kembali ayah dan ibumu, apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah tuhanmu?’ Orang itu menjawab, ‘Ya.’ Maka dua setan tampil menyerupai ayah dan ibunya lalu berkata, ‘Wahai anakku, ikutilah dia, sungguh dialah tuhanmu.’” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Sementara kaum wanita justru lebih banyak terjerumus daripada orang Arab pedalaman. Karena mereka lebih mudah terpengaruh dan kebodohan banyak menguasai mereka. Dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ينزل الدَّجَّال في هذه السبخة بمرقناة، فيكون أكثر من يخرج إليه النِّساء، حتّى إن الرَّجل يرجع إلى حميمه وإلى أمه وابنته وأخته وعمَّته فيوثقها رباطًا؛ مخافة أن تخرج إليه“Dajjal akan turun di tanah berawa dekat Marqana, dan yang paling banyak keluar mengikutinya adalah kaum wanita. Hingga seorang laki-laki kembali kepada keluarganya, kepada ibu, anak perempuan, saudari, dan bibinya, lalu mengikat mereka kuat-kuat, karena khawatir mereka keluar mengikuti Dajjal.” (HR. Ahmad)Bentuk fitnah DajjalFitnah Dajjal adalah fitnah terbesar sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Dahsyatnya fitnah ini disebabkan berbagai keajaiban dan kemampuan luar biasa yang Allah berikan kepadanya, yang membuat akal manusia terpesona dan bingung.Dalam riwayat disebutkan bahwa Dajjal membawa “surga” dan “neraka”. Namun surga versinya sebenarnya neraka, dan nerakanya justru menjadi surga. Ia memiliki aliran-aliran air dan gunung-gunung yang penuh roti. Ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun turun. Ia memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka bumi pun menumbuhkan. Harta karun bumi mengikuti perintahnya. Ia bergerak sangat cepat melintasi bumi seperti hujan badai yang ditiup angin. Dan masih banyak lagi kejadian luar biasa yang menyertainya. Semua itu disebutkan dalam hadis-hadis sahih.Di antaranya riwayat Muslim dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أعورُ العين اليسرى، جفال الشعر، معه جنَّةٌ ونارٌ، فناره جنَّة، وجنَّتُه نارٌ“Dajjal itu bermata kiri buta, rambutnya lebat, bersamanya ada surga dan neraka; namun nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لأنا أعلم بما مع الدَّجَّال منه، معه نهران يجريان، أحدهما رأي العين ماءٌ أبيض، والآخر رأي العين نارٌ تأجَّج، فإمَّا أدركن أحدٌ؛ فليأت النهر الّذي يراه نارًا، وليغمض، ثمَّ ليطأطئ رأسه، فيشرب منه؛ فإنَّه ماءٌ باردٌ“Aku lebih mengetahui apa yang dibawa Dajjal daripada dirinya sendiri. Bersamanya ada dua sungai yang mengalir; yang satu tampak seperti air putih, dan yang lain tampak seperti api yang menyala. Barang siapa menjumpainya, hendaklah menuju sungai yang tampak seperti api itu, memejamkan mata, lalu menundukkan kepala, kemudian minum darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin.”Dalam hadis panjang yang diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu tentang Dajjal, disebutkan bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama ia akan tinggal di bumi?” Beliau menjawab,أربعون يومًا: يوم كسنة، ويوم كشهر، ويوم كجمعة، وسائر أيامه كأيامكم“Empat puluh hari: satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari selebihnya seperti hari-hari kalian biasa.”Mereka bertanya lagi, “Bagaimana cepatnya ia berjalan di bumi?” Beliau menjawab, “Secepat hujan yang ditiup angin kencang. Ia mendatangi suatu kaum, lalu mengajak mereka. Bila mereka membenarkannya dan mengikuti seruannya, ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, dan bumi untuk menumbuhkan tanaman. Hewan ternak mereka pun pulang dengan tubuh paling gemuk, susu paling deras, dan perut yang penuh.Kemudian ia mendatangi kaum lain, mengajak mereka, tetapi mereka menolak ucapannya. Ia pun berpaling dari mereka, dan keesokan harinya mereka bangun dalam keadaan miskin, tidak tersisa harta sedikit pun.Ia juga melewati sebuah tanah lapang yang telah hancur, lalu berkata kepadanya, ‘Keluarkanlah harta-hartamu!’ Maka keluarlah seluruh harta itu mengikutinya seperti kawanan lebah yang mengikuti ratunya.Kemudian ia memanggil seorang pemuda yang kuat dan sehat, lalu menebasnya dengan pedang hingga tubuhnya terbelah menjadi dua bagian yang terpisah. Setelah itu ia memanggil pemuda itu kembali, dan pemuda itu pun hidup kembali, maju ke arahnya dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa lelaki yang dibunuh oleh Dajjal itu adalah termasuk manusia terbaik, atau bahkan yang terbaik pada masanya. Ia keluar menemui Dajjal dari Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika berhadapan dengannya, ia berkata kepada Dajjal,أشهد أنك الدَّجَّال الّذي حدَّثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثه“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Dajjal berkata kepada orang-orang,أرأيتُم إن قتلتُ هذا ثمّ أحييتُه؛ هل تشكُّون في الأمر؟“Bagaimana menurut kalian bila aku membunuhnya kemudian menghidupkannya kembali, apakah kalian masih akan ragu terhadap apa yang aku klaim?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka Dajjal membunuh lelaki itu, lalu menghidupkannya kembali. Namun setelah hidup kembali, lelaki itu berkata,والله ما كنتُ فيك أشدُّ بصيرة مني اليوم“Demi Allah, aku tidak pernah sejelas dan seyakin hari ini bahwa engkau benar-benar (Dajjal).”Kemudian Dajjal ingin membunuhnya lagi, tetapi ia tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk melakukannya. (HR. Bukhari)Baca juga: Kengerian di Hari KiamatKehancuran DajjalDajjal akan dibinasakan oleh al-Masih ‘Isa bin Maryam sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis sahih. Dajjal akan muncul dan menjelajah seluruh penjuru bumi kecuali Makkah dan Madinah. Pengikutnya akan sangat banyak, fitnahnya meluas, dan hanya sedikit dari kaum beriman yang selamat darinya.Pada saat keadaan mencapai puncaknya, ‘Isa bin Maryam akan turun dari langit di menara putih sebelah timur Damaskus. Para hamba Allah yang beriman segera berkumpul di sekelilingnya. Ia lalu memimpin mereka menuju tempat Dajjal. Ketika itu, Dajjal sedang bergerak menuju Baitul Maqdis. ‘Isa akan menyusulnya hingga bertemu dengannya di gerbang kota Ludd.Begitu Dajjal melihat ‘Isa, ia melebur dan hancur seperti garam yang larut dalam air. Lalu ‘Isa berkata kepadanya, “Aku punya satu tebasan untukmu, dan engkau tidak akan bisa menghindar darinya.” ‘Isa pun mengejarnya dan membunuhnya dengan tombaknya. Para pengikut Dajjal kemudian lari tercerai-berai, dan kaum beriman mengejar mereka serta membunuh mereka semua. Hingga pohon dan batu pun berkata, “Wahai Muslim! Wahai hamba Allah! Ada seorang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh dia.” Kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohon milik orang Yahudi.Beberapa hadis yang menjelaskan tentang kematian Dajjal dan pengikutnya antara lain:Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال في أمَّتي … (فذكر الحديث، وفيه:) فيبعث الله عيسى بن مريم كأنّه عروة بن مسعود، فيطلبه، فيهلكه“Dajjal akan keluar di tengah umatku … lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam yang wajahnya seperti ‘Urwah bin Mas‘ud. Ia mengejar Dajjal dan membinasakannya.”Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Majma‘ bin Jariyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقتل ابنُ مريم الدَّجَّالَ بباب لد“Ibnu Maryam akan membunuh Dajjal di gerbang Ludd.”Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dajjal akan keluar ketika agama mulai melemah dan ilmu mulai hilang… kemudian ‘Isa bin Maryam turun; dan saat waktu sahur, ia berseru, ‘Wahai manusia! Apa yang menghalangi kalian untuk keluar menghadapi pendusta keji itu?’ Mereka menjawab, ‘Yang keluar itu pasti jin!’ Mereka pun berangkat, lalu mendapati ‘Isa bin Maryam. Ketika salat ditegakkan, mereka memintanya untuk maju menjadi imam, namun ia berkata, ‘Imam kalian tetap dari kalian sendiri.’ Usai salat Subuh, mereka keluar menuju Dajjal. Saat pendusta itu melihat ‘Isa, ia meleleh seperti garam dalam air. Lalu ‘Isa mendekatinya dan membunuhnya. Hingga pohon dan batu menyeru, ‘Wahai Ruh Allah! Ini dia orang Yahudi!’ Tidak ada satu pun dari pengikut Dajjal yang tersisa, kecuali dibinasakan.”Dengan terbunuhnya Dajjal, semoga Allah melaknatnya, berakhirlah fitnah besar yang mengguncang dunia. Allah menyelamatkan kaum beriman dari kejahatannya melalui ‘Isa bin Maryam dan para pengikutnya yang beriman. Segala puji bagi Allah atas nikmat dan pertolongan-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Diselesaikan di Jember, 11 Rajab 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 238-291.
Daftar Isi TogglePengikut-pengikut DajjalBentuk fitnah DajjalKehancuran DajjalPengikut-pengikut DajjalMayoritas pengikut Dajjal berasal dari kalangan Yahudi, bangsa-bangsa asing (‘ajam), suku Turk, dan berbagai golongan manusia lainnya. Di antara mereka yang paling banyak mengikutinya adalah orang-orang Arab pedalaman (Badui) dan kaum wanita.Dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يتبع الدَّجَّال من يهود أصبهان سبعون ألفًا عليهم الطَّيالسة“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka mengenakan thiyalisa (pakaian mantel panjang).” (HR. Muslim)Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan,سبعون ألفًا عليهم التَيجان“Tujuh puluh ribu orang, mengenakan mahkota.”Dalam hadis Abu Bakar yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat keterangan,يتبعه أقوامٌ كأنَّ وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة“Akan mengikutinya kaum yang wajahnya seperti perisai yang ditempa.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tampaknya, wallahu a‘lam, yang dimaksud dengan mereka yang berwajah seperti perisai itu adalah suku Turk, para pendukung Dajjal.Demikian pula sebagian bangsa asing lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,لا تقوم السّاعة حتّى تقاتلوا خوزًا وكرمان من الأعاجم، حمر الوجو، فطس الأنوف، صغار الأعين، كأن وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة، نعالهم الشعر“Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suku Khuz dan Kirman dari bangsa ‘ajam, berwajah merah, berhidung pesek, bermata kecil, wajah mereka seperti perisai yang ditempa, dan sandal mereka terbuat dari rambut.” (HR. Bukhari)Adapun banyaknya orang Arab pedalaman yang menjadi pengikutnya, hal itu karena kebodohan yang banyak menyelimuti mereka. Ini sesuai dengan hadis panjang Abu Umamah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah Dajjal,“Di antara fitnahnya, ia berkata kepada seorang Arab Badui, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku hidupkan kembali ayah dan ibumu, apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah tuhanmu?’ Orang itu menjawab, ‘Ya.’ Maka dua setan tampil menyerupai ayah dan ibunya lalu berkata, ‘Wahai anakku, ikutilah dia, sungguh dialah tuhanmu.’” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Sementara kaum wanita justru lebih banyak terjerumus daripada orang Arab pedalaman. Karena mereka lebih mudah terpengaruh dan kebodohan banyak menguasai mereka. Dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ينزل الدَّجَّال في هذه السبخة بمرقناة، فيكون أكثر من يخرج إليه النِّساء، حتّى إن الرَّجل يرجع إلى حميمه وإلى أمه وابنته وأخته وعمَّته فيوثقها رباطًا؛ مخافة أن تخرج إليه“Dajjal akan turun di tanah berawa dekat Marqana, dan yang paling banyak keluar mengikutinya adalah kaum wanita. Hingga seorang laki-laki kembali kepada keluarganya, kepada ibu, anak perempuan, saudari, dan bibinya, lalu mengikat mereka kuat-kuat, karena khawatir mereka keluar mengikuti Dajjal.” (HR. Ahmad)Bentuk fitnah DajjalFitnah Dajjal adalah fitnah terbesar sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Dahsyatnya fitnah ini disebabkan berbagai keajaiban dan kemampuan luar biasa yang Allah berikan kepadanya, yang membuat akal manusia terpesona dan bingung.Dalam riwayat disebutkan bahwa Dajjal membawa “surga” dan “neraka”. Namun surga versinya sebenarnya neraka, dan nerakanya justru menjadi surga. Ia memiliki aliran-aliran air dan gunung-gunung yang penuh roti. Ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun turun. Ia memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka bumi pun menumbuhkan. Harta karun bumi mengikuti perintahnya. Ia bergerak sangat cepat melintasi bumi seperti hujan badai yang ditiup angin. Dan masih banyak lagi kejadian luar biasa yang menyertainya. Semua itu disebutkan dalam hadis-hadis sahih.Di antaranya riwayat Muslim dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أعورُ العين اليسرى، جفال الشعر، معه جنَّةٌ ونارٌ، فناره جنَّة، وجنَّتُه نارٌ“Dajjal itu bermata kiri buta, rambutnya lebat, bersamanya ada surga dan neraka; namun nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لأنا أعلم بما مع الدَّجَّال منه، معه نهران يجريان، أحدهما رأي العين ماءٌ أبيض، والآخر رأي العين نارٌ تأجَّج، فإمَّا أدركن أحدٌ؛ فليأت النهر الّذي يراه نارًا، وليغمض، ثمَّ ليطأطئ رأسه، فيشرب منه؛ فإنَّه ماءٌ باردٌ“Aku lebih mengetahui apa yang dibawa Dajjal daripada dirinya sendiri. Bersamanya ada dua sungai yang mengalir; yang satu tampak seperti air putih, dan yang lain tampak seperti api yang menyala. Barang siapa menjumpainya, hendaklah menuju sungai yang tampak seperti api itu, memejamkan mata, lalu menundukkan kepala, kemudian minum darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin.”Dalam hadis panjang yang diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu tentang Dajjal, disebutkan bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama ia akan tinggal di bumi?” Beliau menjawab,أربعون يومًا: يوم كسنة، ويوم كشهر، ويوم كجمعة، وسائر أيامه كأيامكم“Empat puluh hari: satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari selebihnya seperti hari-hari kalian biasa.”Mereka bertanya lagi, “Bagaimana cepatnya ia berjalan di bumi?” Beliau menjawab, “Secepat hujan yang ditiup angin kencang. Ia mendatangi suatu kaum, lalu mengajak mereka. Bila mereka membenarkannya dan mengikuti seruannya, ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, dan bumi untuk menumbuhkan tanaman. Hewan ternak mereka pun pulang dengan tubuh paling gemuk, susu paling deras, dan perut yang penuh.Kemudian ia mendatangi kaum lain, mengajak mereka, tetapi mereka menolak ucapannya. Ia pun berpaling dari mereka, dan keesokan harinya mereka bangun dalam keadaan miskin, tidak tersisa harta sedikit pun.Ia juga melewati sebuah tanah lapang yang telah hancur, lalu berkata kepadanya, ‘Keluarkanlah harta-hartamu!’ Maka keluarlah seluruh harta itu mengikutinya seperti kawanan lebah yang mengikuti ratunya.Kemudian ia memanggil seorang pemuda yang kuat dan sehat, lalu menebasnya dengan pedang hingga tubuhnya terbelah menjadi dua bagian yang terpisah. Setelah itu ia memanggil pemuda itu kembali, dan pemuda itu pun hidup kembali, maju ke arahnya dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa lelaki yang dibunuh oleh Dajjal itu adalah termasuk manusia terbaik, atau bahkan yang terbaik pada masanya. Ia keluar menemui Dajjal dari Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika berhadapan dengannya, ia berkata kepada Dajjal,أشهد أنك الدَّجَّال الّذي حدَّثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثه“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Dajjal berkata kepada orang-orang,أرأيتُم إن قتلتُ هذا ثمّ أحييتُه؛ هل تشكُّون في الأمر؟“Bagaimana menurut kalian bila aku membunuhnya kemudian menghidupkannya kembali, apakah kalian masih akan ragu terhadap apa yang aku klaim?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka Dajjal membunuh lelaki itu, lalu menghidupkannya kembali. Namun setelah hidup kembali, lelaki itu berkata,والله ما كنتُ فيك أشدُّ بصيرة مني اليوم“Demi Allah, aku tidak pernah sejelas dan seyakin hari ini bahwa engkau benar-benar (Dajjal).”Kemudian Dajjal ingin membunuhnya lagi, tetapi ia tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk melakukannya. (HR. Bukhari)Baca juga: Kengerian di Hari KiamatKehancuran DajjalDajjal akan dibinasakan oleh al-Masih ‘Isa bin Maryam sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis sahih. Dajjal akan muncul dan menjelajah seluruh penjuru bumi kecuali Makkah dan Madinah. Pengikutnya akan sangat banyak, fitnahnya meluas, dan hanya sedikit dari kaum beriman yang selamat darinya.Pada saat keadaan mencapai puncaknya, ‘Isa bin Maryam akan turun dari langit di menara putih sebelah timur Damaskus. Para hamba Allah yang beriman segera berkumpul di sekelilingnya. Ia lalu memimpin mereka menuju tempat Dajjal. Ketika itu, Dajjal sedang bergerak menuju Baitul Maqdis. ‘Isa akan menyusulnya hingga bertemu dengannya di gerbang kota Ludd.Begitu Dajjal melihat ‘Isa, ia melebur dan hancur seperti garam yang larut dalam air. Lalu ‘Isa berkata kepadanya, “Aku punya satu tebasan untukmu, dan engkau tidak akan bisa menghindar darinya.” ‘Isa pun mengejarnya dan membunuhnya dengan tombaknya. Para pengikut Dajjal kemudian lari tercerai-berai, dan kaum beriman mengejar mereka serta membunuh mereka semua. Hingga pohon dan batu pun berkata, “Wahai Muslim! Wahai hamba Allah! Ada seorang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh dia.” Kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohon milik orang Yahudi.Beberapa hadis yang menjelaskan tentang kematian Dajjal dan pengikutnya antara lain:Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال في أمَّتي … (فذكر الحديث، وفيه:) فيبعث الله عيسى بن مريم كأنّه عروة بن مسعود، فيطلبه، فيهلكه“Dajjal akan keluar di tengah umatku … lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam yang wajahnya seperti ‘Urwah bin Mas‘ud. Ia mengejar Dajjal dan membinasakannya.”Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Majma‘ bin Jariyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقتل ابنُ مريم الدَّجَّالَ بباب لد“Ibnu Maryam akan membunuh Dajjal di gerbang Ludd.”Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dajjal akan keluar ketika agama mulai melemah dan ilmu mulai hilang… kemudian ‘Isa bin Maryam turun; dan saat waktu sahur, ia berseru, ‘Wahai manusia! Apa yang menghalangi kalian untuk keluar menghadapi pendusta keji itu?’ Mereka menjawab, ‘Yang keluar itu pasti jin!’ Mereka pun berangkat, lalu mendapati ‘Isa bin Maryam. Ketika salat ditegakkan, mereka memintanya untuk maju menjadi imam, namun ia berkata, ‘Imam kalian tetap dari kalian sendiri.’ Usai salat Subuh, mereka keluar menuju Dajjal. Saat pendusta itu melihat ‘Isa, ia meleleh seperti garam dalam air. Lalu ‘Isa mendekatinya dan membunuhnya. Hingga pohon dan batu menyeru, ‘Wahai Ruh Allah! Ini dia orang Yahudi!’ Tidak ada satu pun dari pengikut Dajjal yang tersisa, kecuali dibinasakan.”Dengan terbunuhnya Dajjal, semoga Allah melaknatnya, berakhirlah fitnah besar yang mengguncang dunia. Allah menyelamatkan kaum beriman dari kejahatannya melalui ‘Isa bin Maryam dan para pengikutnya yang beriman. Segala puji bagi Allah atas nikmat dan pertolongan-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Diselesaikan di Jember, 11 Rajab 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 238-291.


Daftar Isi TogglePengikut-pengikut DajjalBentuk fitnah DajjalKehancuran DajjalPengikut-pengikut DajjalMayoritas pengikut Dajjal berasal dari kalangan Yahudi, bangsa-bangsa asing (‘ajam), suku Turk, dan berbagai golongan manusia lainnya. Di antara mereka yang paling banyak mengikutinya adalah orang-orang Arab pedalaman (Badui) dan kaum wanita.Dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يتبع الدَّجَّال من يهود أصبهان سبعون ألفًا عليهم الطَّيالسة“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka mengenakan thiyalisa (pakaian mantel panjang).” (HR. Muslim)Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan,سبعون ألفًا عليهم التَيجان“Tujuh puluh ribu orang, mengenakan mahkota.”Dalam hadis Abu Bakar yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat keterangan,يتبعه أقوامٌ كأنَّ وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة“Akan mengikutinya kaum yang wajahnya seperti perisai yang ditempa.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tampaknya, wallahu a‘lam, yang dimaksud dengan mereka yang berwajah seperti perisai itu adalah suku Turk, para pendukung Dajjal.Demikian pula sebagian bangsa asing lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,لا تقوم السّاعة حتّى تقاتلوا خوزًا وكرمان من الأعاجم، حمر الوجو، فطس الأنوف، صغار الأعين، كأن وجوههم المَجانُّ المُطْرَقة، نعالهم الشعر“Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suku Khuz dan Kirman dari bangsa ‘ajam, berwajah merah, berhidung pesek, bermata kecil, wajah mereka seperti perisai yang ditempa, dan sandal mereka terbuat dari rambut.” (HR. Bukhari)Adapun banyaknya orang Arab pedalaman yang menjadi pengikutnya, hal itu karena kebodohan yang banyak menyelimuti mereka. Ini sesuai dengan hadis panjang Abu Umamah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah Dajjal,“Di antara fitnahnya, ia berkata kepada seorang Arab Badui, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku hidupkan kembali ayah dan ibumu, apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah tuhanmu?’ Orang itu menjawab, ‘Ya.’ Maka dua setan tampil menyerupai ayah dan ibunya lalu berkata, ‘Wahai anakku, ikutilah dia, sungguh dialah tuhanmu.’” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Sementara kaum wanita justru lebih banyak terjerumus daripada orang Arab pedalaman. Karena mereka lebih mudah terpengaruh dan kebodohan banyak menguasai mereka. Dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ينزل الدَّجَّال في هذه السبخة بمرقناة، فيكون أكثر من يخرج إليه النِّساء، حتّى إن الرَّجل يرجع إلى حميمه وإلى أمه وابنته وأخته وعمَّته فيوثقها رباطًا؛ مخافة أن تخرج إليه“Dajjal akan turun di tanah berawa dekat Marqana, dan yang paling banyak keluar mengikutinya adalah kaum wanita. Hingga seorang laki-laki kembali kepada keluarganya, kepada ibu, anak perempuan, saudari, dan bibinya, lalu mengikat mereka kuat-kuat, karena khawatir mereka keluar mengikuti Dajjal.” (HR. Ahmad)Bentuk fitnah DajjalFitnah Dajjal adalah fitnah terbesar sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Dahsyatnya fitnah ini disebabkan berbagai keajaiban dan kemampuan luar biasa yang Allah berikan kepadanya, yang membuat akal manusia terpesona dan bingung.Dalam riwayat disebutkan bahwa Dajjal membawa “surga” dan “neraka”. Namun surga versinya sebenarnya neraka, dan nerakanya justru menjadi surga. Ia memiliki aliran-aliran air dan gunung-gunung yang penuh roti. Ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun turun. Ia memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka bumi pun menumbuhkan. Harta karun bumi mengikuti perintahnya. Ia bergerak sangat cepat melintasi bumi seperti hujan badai yang ditiup angin. Dan masih banyak lagi kejadian luar biasa yang menyertainya. Semua itu disebutkan dalam hadis-hadis sahih.Di antaranya riwayat Muslim dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أعورُ العين اليسرى، جفال الشعر، معه جنَّةٌ ونارٌ، فناره جنَّة، وجنَّتُه نارٌ“Dajjal itu bermata kiri buta, rambutnya lebat, bersamanya ada surga dan neraka; namun nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لأنا أعلم بما مع الدَّجَّال منه، معه نهران يجريان، أحدهما رأي العين ماءٌ أبيض، والآخر رأي العين نارٌ تأجَّج، فإمَّا أدركن أحدٌ؛ فليأت النهر الّذي يراه نارًا، وليغمض، ثمَّ ليطأطئ رأسه، فيشرب منه؛ فإنَّه ماءٌ باردٌ“Aku lebih mengetahui apa yang dibawa Dajjal daripada dirinya sendiri. Bersamanya ada dua sungai yang mengalir; yang satu tampak seperti air putih, dan yang lain tampak seperti api yang menyala. Barang siapa menjumpainya, hendaklah menuju sungai yang tampak seperti api itu, memejamkan mata, lalu menundukkan kepala, kemudian minum darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin.”Dalam hadis panjang yang diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu tentang Dajjal, disebutkan bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama ia akan tinggal di bumi?” Beliau menjawab,أربعون يومًا: يوم كسنة، ويوم كشهر، ويوم كجمعة، وسائر أيامه كأيامكم“Empat puluh hari: satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari selebihnya seperti hari-hari kalian biasa.”Mereka bertanya lagi, “Bagaimana cepatnya ia berjalan di bumi?” Beliau menjawab, “Secepat hujan yang ditiup angin kencang. Ia mendatangi suatu kaum, lalu mengajak mereka. Bila mereka membenarkannya dan mengikuti seruannya, ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, dan bumi untuk menumbuhkan tanaman. Hewan ternak mereka pun pulang dengan tubuh paling gemuk, susu paling deras, dan perut yang penuh.Kemudian ia mendatangi kaum lain, mengajak mereka, tetapi mereka menolak ucapannya. Ia pun berpaling dari mereka, dan keesokan harinya mereka bangun dalam keadaan miskin, tidak tersisa harta sedikit pun.Ia juga melewati sebuah tanah lapang yang telah hancur, lalu berkata kepadanya, ‘Keluarkanlah harta-hartamu!’ Maka keluarlah seluruh harta itu mengikutinya seperti kawanan lebah yang mengikuti ratunya.Kemudian ia memanggil seorang pemuda yang kuat dan sehat, lalu menebasnya dengan pedang hingga tubuhnya terbelah menjadi dua bagian yang terpisah. Setelah itu ia memanggil pemuda itu kembali, dan pemuda itu pun hidup kembali, maju ke arahnya dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.” (HR. Muslim)Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa lelaki yang dibunuh oleh Dajjal itu adalah termasuk manusia terbaik, atau bahkan yang terbaik pada masanya. Ia keluar menemui Dajjal dari Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika berhadapan dengannya, ia berkata kepada Dajjal,أشهد أنك الدَّجَّال الّذي حدَّثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثه“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Dajjal berkata kepada orang-orang,أرأيتُم إن قتلتُ هذا ثمّ أحييتُه؛ هل تشكُّون في الأمر؟“Bagaimana menurut kalian bila aku membunuhnya kemudian menghidupkannya kembali, apakah kalian masih akan ragu terhadap apa yang aku klaim?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka Dajjal membunuh lelaki itu, lalu menghidupkannya kembali. Namun setelah hidup kembali, lelaki itu berkata,والله ما كنتُ فيك أشدُّ بصيرة مني اليوم“Demi Allah, aku tidak pernah sejelas dan seyakin hari ini bahwa engkau benar-benar (Dajjal).”Kemudian Dajjal ingin membunuhnya lagi, tetapi ia tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk melakukannya. (HR. Bukhari)Baca juga: Kengerian di Hari KiamatKehancuran DajjalDajjal akan dibinasakan oleh al-Masih ‘Isa bin Maryam sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis sahih. Dajjal akan muncul dan menjelajah seluruh penjuru bumi kecuali Makkah dan Madinah. Pengikutnya akan sangat banyak, fitnahnya meluas, dan hanya sedikit dari kaum beriman yang selamat darinya.Pada saat keadaan mencapai puncaknya, ‘Isa bin Maryam akan turun dari langit di menara putih sebelah timur Damaskus. Para hamba Allah yang beriman segera berkumpul di sekelilingnya. Ia lalu memimpin mereka menuju tempat Dajjal. Ketika itu, Dajjal sedang bergerak menuju Baitul Maqdis. ‘Isa akan menyusulnya hingga bertemu dengannya di gerbang kota Ludd.Begitu Dajjal melihat ‘Isa, ia melebur dan hancur seperti garam yang larut dalam air. Lalu ‘Isa berkata kepadanya, “Aku punya satu tebasan untukmu, dan engkau tidak akan bisa menghindar darinya.” ‘Isa pun mengejarnya dan membunuhnya dengan tombaknya. Para pengikut Dajjal kemudian lari tercerai-berai, dan kaum beriman mengejar mereka serta membunuh mereka semua. Hingga pohon dan batu pun berkata, “Wahai Muslim! Wahai hamba Allah! Ada seorang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh dia.” Kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohon milik orang Yahudi.Beberapa hadis yang menjelaskan tentang kematian Dajjal dan pengikutnya antara lain:Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال في أمَّتي … (فذكر الحديث، وفيه:) فيبعث الله عيسى بن مريم كأنّه عروة بن مسعود، فيطلبه، فيهلكه“Dajjal akan keluar di tengah umatku … lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam yang wajahnya seperti ‘Urwah bin Mas‘ud. Ia mengejar Dajjal dan membinasakannya.”Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Majma‘ bin Jariyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقتل ابنُ مريم الدَّجَّالَ بباب لد“Ibnu Maryam akan membunuh Dajjal di gerbang Ludd.”Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dajjal akan keluar ketika agama mulai melemah dan ilmu mulai hilang… kemudian ‘Isa bin Maryam turun; dan saat waktu sahur, ia berseru, ‘Wahai manusia! Apa yang menghalangi kalian untuk keluar menghadapi pendusta keji itu?’ Mereka menjawab, ‘Yang keluar itu pasti jin!’ Mereka pun berangkat, lalu mendapati ‘Isa bin Maryam. Ketika salat ditegakkan, mereka memintanya untuk maju menjadi imam, namun ia berkata, ‘Imam kalian tetap dari kalian sendiri.’ Usai salat Subuh, mereka keluar menuju Dajjal. Saat pendusta itu melihat ‘Isa, ia meleleh seperti garam dalam air. Lalu ‘Isa mendekatinya dan membunuhnya. Hingga pohon dan batu menyeru, ‘Wahai Ruh Allah! Ini dia orang Yahudi!’ Tidak ada satu pun dari pengikut Dajjal yang tersisa, kecuali dibinasakan.”Dengan terbunuhnya Dajjal, semoga Allah melaknatnya, berakhirlah fitnah besar yang mengguncang dunia. Allah menyelamatkan kaum beriman dari kejahatannya melalui ‘Isa bin Maryam dan para pengikutnya yang beriman. Segala puji bagi Allah atas nikmat dan pertolongan-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Diselesaikan di Jember, 11 Rajab 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 238-291.

4 Cara Mudah Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan adalah musim ampunan, saat pintu rahmat dibuka lebar dan dosa-dosa berpeluang dihapus oleh Allah Ta‘ala. Di antara nama-Nya yang agung adalah Al-‘Afuw, Dzat Yang bukan sekadar menutupi dosa, tetapi menghapusnya hingga tak tersisa. Karena itu, seorang hamba dituntun untuk memperbanyak doa, istigfar, tobat yang jujur, serta memaafkan sesama agar layak meraih ampunan-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna ‘Afwu vs Maghfirah? 2. Memaafkan itu Seperti Apa? 3. Cara Meraih Ampunan Allah 3.1. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan? 4. Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Makna ‘Afwu vs Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Memaafkan itu Seperti Apa?Islam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Cara Meraih Ampunan AllahCara untuk meraih ampunan Allah, maka jalannya sangat banyak, di antaranya:Pertama, memperbanyak doa, khususnya doa memohon ampunan sebagaimana doa yang diajarkan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّىALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Kedua, bersegera beristigfar dan menyesal setelah melakukan dosa, serta tidak menunda-nundanya. Sebab, penundaan bisa membuat dosa itu terlupakan. Dalam hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:«إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لَيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ أَوِ الْمُسِيءِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا، وَإِلَّا كُتِبَتْ وَاحِدَةً»“Sesungguhnya malaikat pencatat keburukan menahan pena selama enam jam dari seorang hamba muslim yang berbuat kesalahan atau keburukan. Jika ia menyesal dan memohon ampun kepada Allah, maka dosa itu dihapus. Namun jika tidak, maka dicatat satu keburukan.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani) Hal ini berbeda dengan amal kebaikan, karena kebaikan langsung dicatat oleh malaikat pencatat kebaikan dan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Semua ini merupakan bentuk keringanan dan rahmat dari Tuhan kalian.Ketiga, melakukan tobat yang jujur dan sungguh-sungguh, serta melakukan amalan saleh. Tobat merupakan amal saleh yang dapat menghapus amal buruk. Nabi ﷺ bersabda:«وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا»“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)Yang dimaksud Hadits di atas adalah mengikuti kejelekan dengan taubat. Bisa juga maksudnya adalah kebaikan di sini bukan hanya taubat saja yang mengikuti kejelekan, namun lebih umum. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚإِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Ada hadits dari Mu’adz yang menyatakan bahwa ada orang yang ayat ini turun karenanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan dia untuk wudhu dan shalat. (HR. Tirmidzi, no. 3113. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).Para ulama berselisih pendapat apakah amalan shalih bisa menghapuskan dosa besar (al-kabair) dan dosa kecil (ash-shaghair) sekaligus atau amalan shalih hanya menghapuskan dosa kecil saja.Yang jelas jika itu dosa besar, maka menghapusnya mesti dengan taubat. Karena Allah perintahkan untuk bertaubat kalau tidak masih berstatus orang yang zalim. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11). Yang menjadi pendapat jumhur ulama, dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat.Jadi amalan shalih seperti amalan wajib hanya khusus menghapus dosa kecil saja. Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 525 dan Muslim, no. 144).Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚوَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath-Taghabun: 15) (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 3:194, Asy-Syamilah)Namun, menurut Ibnu Taimiyyah dosa kecil juga bisa terhapus dengan amalan saleh. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan?1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim, no. 233)2- Amalan puasa RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 38; Muslim, no. 760)Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 3586; Muslim, no. 144)3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37; Muslim, no. 759)4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul QadarDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366)5- Zakat fitrahDari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377)Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy,يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ“Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa.Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa.Qatadah rahimahullah mengatakan,مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ“Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ“Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Keempat, memaafkan orang yang berbuat salah dan menerima permintaan maaf orang yang meminta maaf, dengan harapan Allah akan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terhadap Misthah bin Utsatsah, setelah Misthah terlibat dalam penyebaran tuduhan keji terhadap putrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika Allah menurunkan firman-Nya:وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Abu Bakar langsung memahaminya dan mengamalkannya saat itu juga. Ia berkata, “Benar, demi Allah, sungguh aku ingin Allah mengampuniku.”Lalu ia pun memaafkan Misthah. PenutupSebesar apa pun dosa seorang hamba, pintu ampunan Allah selalu terbuka selama ia mau kembali dengan doa, istigfar, tobat yang jujur, dan hati yang lapang untuk memaafkan sesama. Ramadan adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri dan meraih sifat al-‘afwu dari Allah, yaitu penghapusan dosa secara sempurna, bukan sekadar penutupan semata.اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”  —-Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 23 Syakban 1447 H, 11 Februari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan ampunan Allah ampunan Ramadhan

4 Cara Mudah Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan adalah musim ampunan, saat pintu rahmat dibuka lebar dan dosa-dosa berpeluang dihapus oleh Allah Ta‘ala. Di antara nama-Nya yang agung adalah Al-‘Afuw, Dzat Yang bukan sekadar menutupi dosa, tetapi menghapusnya hingga tak tersisa. Karena itu, seorang hamba dituntun untuk memperbanyak doa, istigfar, tobat yang jujur, serta memaafkan sesama agar layak meraih ampunan-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna ‘Afwu vs Maghfirah? 2. Memaafkan itu Seperti Apa? 3. Cara Meraih Ampunan Allah 3.1. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan? 4. Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Makna ‘Afwu vs Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Memaafkan itu Seperti Apa?Islam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Cara Meraih Ampunan AllahCara untuk meraih ampunan Allah, maka jalannya sangat banyak, di antaranya:Pertama, memperbanyak doa, khususnya doa memohon ampunan sebagaimana doa yang diajarkan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّىALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Kedua, bersegera beristigfar dan menyesal setelah melakukan dosa, serta tidak menunda-nundanya. Sebab, penundaan bisa membuat dosa itu terlupakan. Dalam hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:«إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لَيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ أَوِ الْمُسِيءِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا، وَإِلَّا كُتِبَتْ وَاحِدَةً»“Sesungguhnya malaikat pencatat keburukan menahan pena selama enam jam dari seorang hamba muslim yang berbuat kesalahan atau keburukan. Jika ia menyesal dan memohon ampun kepada Allah, maka dosa itu dihapus. Namun jika tidak, maka dicatat satu keburukan.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani) Hal ini berbeda dengan amal kebaikan, karena kebaikan langsung dicatat oleh malaikat pencatat kebaikan dan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Semua ini merupakan bentuk keringanan dan rahmat dari Tuhan kalian.Ketiga, melakukan tobat yang jujur dan sungguh-sungguh, serta melakukan amalan saleh. Tobat merupakan amal saleh yang dapat menghapus amal buruk. Nabi ﷺ bersabda:«وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا»“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)Yang dimaksud Hadits di atas adalah mengikuti kejelekan dengan taubat. Bisa juga maksudnya adalah kebaikan di sini bukan hanya taubat saja yang mengikuti kejelekan, namun lebih umum. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚإِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Ada hadits dari Mu’adz yang menyatakan bahwa ada orang yang ayat ini turun karenanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan dia untuk wudhu dan shalat. (HR. Tirmidzi, no. 3113. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).Para ulama berselisih pendapat apakah amalan shalih bisa menghapuskan dosa besar (al-kabair) dan dosa kecil (ash-shaghair) sekaligus atau amalan shalih hanya menghapuskan dosa kecil saja.Yang jelas jika itu dosa besar, maka menghapusnya mesti dengan taubat. Karena Allah perintahkan untuk bertaubat kalau tidak masih berstatus orang yang zalim. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11). Yang menjadi pendapat jumhur ulama, dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat.Jadi amalan shalih seperti amalan wajib hanya khusus menghapus dosa kecil saja. Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 525 dan Muslim, no. 144).Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚوَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath-Taghabun: 15) (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 3:194, Asy-Syamilah)Namun, menurut Ibnu Taimiyyah dosa kecil juga bisa terhapus dengan amalan saleh. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan?1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim, no. 233)2- Amalan puasa RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 38; Muslim, no. 760)Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 3586; Muslim, no. 144)3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37; Muslim, no. 759)4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul QadarDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366)5- Zakat fitrahDari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377)Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy,يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ“Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa.Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa.Qatadah rahimahullah mengatakan,مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ“Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ“Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Keempat, memaafkan orang yang berbuat salah dan menerima permintaan maaf orang yang meminta maaf, dengan harapan Allah akan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terhadap Misthah bin Utsatsah, setelah Misthah terlibat dalam penyebaran tuduhan keji terhadap putrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika Allah menurunkan firman-Nya:وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Abu Bakar langsung memahaminya dan mengamalkannya saat itu juga. Ia berkata, “Benar, demi Allah, sungguh aku ingin Allah mengampuniku.”Lalu ia pun memaafkan Misthah. PenutupSebesar apa pun dosa seorang hamba, pintu ampunan Allah selalu terbuka selama ia mau kembali dengan doa, istigfar, tobat yang jujur, dan hati yang lapang untuk memaafkan sesama. Ramadan adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri dan meraih sifat al-‘afwu dari Allah, yaitu penghapusan dosa secara sempurna, bukan sekadar penutupan semata.اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”  —-Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 23 Syakban 1447 H, 11 Februari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan ampunan Allah ampunan Ramadhan
Bulan Ramadan adalah musim ampunan, saat pintu rahmat dibuka lebar dan dosa-dosa berpeluang dihapus oleh Allah Ta‘ala. Di antara nama-Nya yang agung adalah Al-‘Afuw, Dzat Yang bukan sekadar menutupi dosa, tetapi menghapusnya hingga tak tersisa. Karena itu, seorang hamba dituntun untuk memperbanyak doa, istigfar, tobat yang jujur, serta memaafkan sesama agar layak meraih ampunan-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna ‘Afwu vs Maghfirah? 2. Memaafkan itu Seperti Apa? 3. Cara Meraih Ampunan Allah 3.1. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan? 4. Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Makna ‘Afwu vs Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Memaafkan itu Seperti Apa?Islam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Cara Meraih Ampunan AllahCara untuk meraih ampunan Allah, maka jalannya sangat banyak, di antaranya:Pertama, memperbanyak doa, khususnya doa memohon ampunan sebagaimana doa yang diajarkan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّىALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Kedua, bersegera beristigfar dan menyesal setelah melakukan dosa, serta tidak menunda-nundanya. Sebab, penundaan bisa membuat dosa itu terlupakan. Dalam hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:«إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لَيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ أَوِ الْمُسِيءِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا، وَإِلَّا كُتِبَتْ وَاحِدَةً»“Sesungguhnya malaikat pencatat keburukan menahan pena selama enam jam dari seorang hamba muslim yang berbuat kesalahan atau keburukan. Jika ia menyesal dan memohon ampun kepada Allah, maka dosa itu dihapus. Namun jika tidak, maka dicatat satu keburukan.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani) Hal ini berbeda dengan amal kebaikan, karena kebaikan langsung dicatat oleh malaikat pencatat kebaikan dan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Semua ini merupakan bentuk keringanan dan rahmat dari Tuhan kalian.Ketiga, melakukan tobat yang jujur dan sungguh-sungguh, serta melakukan amalan saleh. Tobat merupakan amal saleh yang dapat menghapus amal buruk. Nabi ﷺ bersabda:«وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا»“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)Yang dimaksud Hadits di atas adalah mengikuti kejelekan dengan taubat. Bisa juga maksudnya adalah kebaikan di sini bukan hanya taubat saja yang mengikuti kejelekan, namun lebih umum. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚإِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Ada hadits dari Mu’adz yang menyatakan bahwa ada orang yang ayat ini turun karenanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan dia untuk wudhu dan shalat. (HR. Tirmidzi, no. 3113. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).Para ulama berselisih pendapat apakah amalan shalih bisa menghapuskan dosa besar (al-kabair) dan dosa kecil (ash-shaghair) sekaligus atau amalan shalih hanya menghapuskan dosa kecil saja.Yang jelas jika itu dosa besar, maka menghapusnya mesti dengan taubat. Karena Allah perintahkan untuk bertaubat kalau tidak masih berstatus orang yang zalim. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11). Yang menjadi pendapat jumhur ulama, dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat.Jadi amalan shalih seperti amalan wajib hanya khusus menghapus dosa kecil saja. Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 525 dan Muslim, no. 144).Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚوَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath-Taghabun: 15) (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 3:194, Asy-Syamilah)Namun, menurut Ibnu Taimiyyah dosa kecil juga bisa terhapus dengan amalan saleh. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan?1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim, no. 233)2- Amalan puasa RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 38; Muslim, no. 760)Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 3586; Muslim, no. 144)3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37; Muslim, no. 759)4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul QadarDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366)5- Zakat fitrahDari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377)Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy,يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ“Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa.Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa.Qatadah rahimahullah mengatakan,مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ“Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ“Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Keempat, memaafkan orang yang berbuat salah dan menerima permintaan maaf orang yang meminta maaf, dengan harapan Allah akan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terhadap Misthah bin Utsatsah, setelah Misthah terlibat dalam penyebaran tuduhan keji terhadap putrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika Allah menurunkan firman-Nya:وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Abu Bakar langsung memahaminya dan mengamalkannya saat itu juga. Ia berkata, “Benar, demi Allah, sungguh aku ingin Allah mengampuniku.”Lalu ia pun memaafkan Misthah. PenutupSebesar apa pun dosa seorang hamba, pintu ampunan Allah selalu terbuka selama ia mau kembali dengan doa, istigfar, tobat yang jujur, dan hati yang lapang untuk memaafkan sesama. Ramadan adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri dan meraih sifat al-‘afwu dari Allah, yaitu penghapusan dosa secara sempurna, bukan sekadar penutupan semata.اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”  —-Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 23 Syakban 1447 H, 11 Februari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan ampunan Allah ampunan Ramadhan


Bulan Ramadan adalah musim ampunan, saat pintu rahmat dibuka lebar dan dosa-dosa berpeluang dihapus oleh Allah Ta‘ala. Di antara nama-Nya yang agung adalah Al-‘Afuw, Dzat Yang bukan sekadar menutupi dosa, tetapi menghapusnya hingga tak tersisa. Karena itu, seorang hamba dituntun untuk memperbanyak doa, istigfar, tobat yang jujur, serta memaafkan sesama agar layak meraih ampunan-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna ‘Afwu vs Maghfirah? 2. Memaafkan itu Seperti Apa? 3. Cara Meraih Ampunan Allah 3.1. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan? 4. Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Makna ‘Afwu vs Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Memaafkan itu Seperti Apa?Islam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Cara Meraih Ampunan AllahCara untuk meraih ampunan Allah, maka jalannya sangat banyak, di antaranya:Pertama, memperbanyak doa, khususnya doa memohon ampunan sebagaimana doa yang diajarkan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّىALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Kedua, bersegera beristigfar dan menyesal setelah melakukan dosa, serta tidak menunda-nundanya. Sebab, penundaan bisa membuat dosa itu terlupakan. Dalam hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:«إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لَيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ أَوِ الْمُسِيءِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا، وَإِلَّا كُتِبَتْ وَاحِدَةً»“Sesungguhnya malaikat pencatat keburukan menahan pena selama enam jam dari seorang hamba muslim yang berbuat kesalahan atau keburukan. Jika ia menyesal dan memohon ampun kepada Allah, maka dosa itu dihapus. Namun jika tidak, maka dicatat satu keburukan.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani) Hal ini berbeda dengan amal kebaikan, karena kebaikan langsung dicatat oleh malaikat pencatat kebaikan dan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Semua ini merupakan bentuk keringanan dan rahmat dari Tuhan kalian.Ketiga, melakukan tobat yang jujur dan sungguh-sungguh, serta melakukan amalan saleh. Tobat merupakan amal saleh yang dapat menghapus amal buruk. Nabi ﷺ bersabda:«وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا»“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)Yang dimaksud Hadits di atas adalah mengikuti kejelekan dengan taubat. Bisa juga maksudnya adalah kebaikan di sini bukan hanya taubat saja yang mengikuti kejelekan, namun lebih umum. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚإِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Ada hadits dari Mu’adz yang menyatakan bahwa ada orang yang ayat ini turun karenanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan dia untuk wudhu dan shalat. (HR. Tirmidzi, no. 3113. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).Para ulama berselisih pendapat apakah amalan shalih bisa menghapuskan dosa besar (al-kabair) dan dosa kecil (ash-shaghair) sekaligus atau amalan shalih hanya menghapuskan dosa kecil saja.Yang jelas jika itu dosa besar, maka menghapusnya mesti dengan taubat. Karena Allah perintahkan untuk bertaubat kalau tidak masih berstatus orang yang zalim. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11). Yang menjadi pendapat jumhur ulama, dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat.Jadi amalan shalih seperti amalan wajib hanya khusus menghapus dosa kecil saja. Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 525 dan Muslim, no. 144).Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚوَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath-Taghabun: 15) (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 3:194, Asy-Syamilah)Namun, menurut Ibnu Taimiyyah dosa kecil juga bisa terhapus dengan amalan saleh. Amal saleh apa saja yang bisa menghapuskan dosa di bulan Ramadhan?1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim, no. 233)2- Amalan puasa RamadhanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 38; Muslim, no. 760)Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari, no. 3586; Muslim, no. 144)3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37; Muslim, no. 759)4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul QadarDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366)5- Zakat fitrahDari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377)Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy,يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ“Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa.Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa.Qatadah rahimahullah mengatakan,مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ“Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ“Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)Keempat, memaafkan orang yang berbuat salah dan menerima permintaan maaf orang yang meminta maaf, dengan harapan Allah akan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terhadap Misthah bin Utsatsah, setelah Misthah terlibat dalam penyebaran tuduhan keji terhadap putrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika Allah menurunkan firman-Nya:وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Abu Bakar langsung memahaminya dan mengamalkannya saat itu juga. Ia berkata, “Benar, demi Allah, sungguh aku ingin Allah mengampuniku.”Lalu ia pun memaafkan Misthah. PenutupSebesar apa pun dosa seorang hamba, pintu ampunan Allah selalu terbuka selama ia mau kembali dengan doa, istigfar, tobat yang jujur, dan hati yang lapang untuk memaafkan sesama. Ramadan adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri dan meraih sifat al-‘afwu dari Allah, yaitu penghapusan dosa secara sempurna, bukan sekadar penutupan semata.اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”  —-Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 23 Syakban 1447 H, 11 Februari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan ampunan Allah ampunan Ramadhan

Kunci Memahami Tauhid: Allah Maha Melihat, Tapi Tidak Sama dengan Makhluk? Simak Penjelasannya

Di sini, Anda harus memperhatikan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya…” Lalu Allah berfirman: “…dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Mengapa Allah menyebutkan secara spesifik dua nama ini, “As-Sami’ (Yang Maha Mendengar)” dan “Al-Bashir (Yang Maha Melihat)”, setelah firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”? Sebab, sifat pendengaran dan penglihatan dimiliki oleh sebagian besar makhluk, bahkan dimiliki oleh seluruh makhluk hidup yang kehidupannya disertai dengan nyawa. Karena kehidupan makhluk itu ada dua jenis: Ada yang hidup dengan bertumbuh dan ada yang hidup dengan nyawa. Yakni dengan bersemayamnya nyawa di dalamnya. Sifat mendengar dan melihat merupakan sifat yang juga ada pada makhluk. Sebab, nyamuk pun memiliki pendengaran dan penglihatan. Semut juga memiliki pendengaran dan penglihatan. “…Seekor semut berkata, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Lalu Sulaiman tertawa karena ucapan semut itu.” (QS. An-Naml: 18-19). Semut memiliki indra, pendengaran, dan juga penglihatan. Demikian pula burung, ia memiliki pendengaran dan penglihatan yang ukurannya lebih besar daripada semut. Begitu pula hewan-hewan yang lebih besar darinya, mereka memiliki pendengaran dan penglihatan. Manusia pun punya pendengaran dan penglihatan. Namun, pada semua makhluk ini, terlepas dari perbedaan tingkat dan jenisnya, apakah pendengaran mereka sama? Apakah penglihatan mereka sama? Tentu tidak demikian. Pendengaran manusia tidak sama dengan pendengaran hewan. Penglihatan manusia pun tidak sama dengan penglihatan hewan. Pendengaran nyamuk tidak sama dengan pendengaran manusia, dan seterusnya. Meskipun dasar sifatnya sama, yakni dari sisi memiliki pendengaran dan penglihatan. Namun jangkauan serta kekuatan pendengaran dan penglihatannya berbeda-beda. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala memberi penegasan bahwa tidak ada siapa pun yang serupa dengan-Nya dalam sifat pendengaran dan penglihatan. Sebab, Dialah Yang Maha Suci, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. Meskipun banyak makhluk-Nya yang juga bisa mendengar dan melihat, tetapi pendengaran Allah tidak seperti pendengaran makhluk, dan penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan mereka. Maka, penetapan kita terhadap Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat Allah yang mulia adalah dengan menetapkannya sesuai makna lahiriah berdasarkan dalil, tapi tanpa mencari-cari seluk-beluk hakikatnya, dan disertai keyakinan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah. “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). ===== هُنَا تَنْتَبِهُ إِلَى أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا قَالَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ لِمَاذَا خَصَّ هَذَيْنِ الِاسْمَيْنِ بِالذِّكْرِ السَّمِيعَ الْبَصِيرَ بَعْدَ قَوْلِهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ؟ لِأَنَّ صِفَةَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ أَكْثَرِ الْمَخْلُوقَاتِ بَلْ بَيْنَ كُلِّ الْمَخْلُوقَاتِ الْحَيَّةِ الَّتِي حَيَاتُهَا بِالرُّوحِ لِأَنَّ الْحَيَاةَ حَيَاةَ الْمَخْلُوقَاتِ قِسْمَانِ مِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّمَاءِ وَمِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّفْسِ بِحُلُولِ النَّفْسِ فِيهِ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ مُشْتَرَكٌ لِأَنَّ الْبَعُوضَةَ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ النَّمْلَةُ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا لَهَا إِحْسَاسٌ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ كَذَلِكَ الطَّيْرُ لَهُ سَمْعٌ وَبَصَرٌ أَكْبَرُ مِنَ النَّمْلَةِ فِي الْحَجْمِ كَذَلِكَ الَّذِي أَكْبَرُ مِنْهَا مِنَ الْحَيَوَانَاتِ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ الْإِنْسَانُ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ لَكِنْ فِي هَذِهِ جَمِيعًا عَلَى اخْتِلَافِ طَبَقَاتِهَا وَأَنْوَاعِهَا هَلْ السَّمْعُ وَاحِدٌ؟ هَلْ الْبَصَرُ وَاحِدٌ؟ لَيْسَ كَذَلِكَ فَسَمْعُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْحَيَوَانِ بَصَرُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَبَصَرِ الْحَيَوَانِ سَمْعُ الْبَعُوضَةِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْإِنْسَانِ وَهَكَذَا وَإِنْ اشْتَرَكُوا فِي أَصْلِ الصِّفَةِ فِي أَصْلِ وُجُودِ السَّمْعِ فِي أَصْلِ وُجُودِ الْبَصَرِ لَكِنْ سَعَةُ الصِّفَةِ وَقُوَّةُ الصِّفَةِ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُخْتَلَفٌ لِهَذَا نَبَّهَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى عَدَمِ مُمَاثَلَةِ أَحَدٍ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ بِصِفَتَيْ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَكَثِيرٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ سَمِيعٌ بَصِيرٌ لَكِن السَّمْعُ لَيْسَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرُ لَيْسَ كَالْبَصَرِ فَإِذًا إِثْبَاتُنَا لِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتِ الْعُلَى إِثْبَاتٌ لَهَا عَلَى ظَاهِرِهَا بِمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ قَطْعِ الطَّمْعِ فِي إِدْرَاكِ الْكَيْفِيَّاتِ وَمَع الْيَقِينِ بِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ لَا مُمَاثِلَ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Kunci Memahami Tauhid: Allah Maha Melihat, Tapi Tidak Sama dengan Makhluk? Simak Penjelasannya

Di sini, Anda harus memperhatikan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya…” Lalu Allah berfirman: “…dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Mengapa Allah menyebutkan secara spesifik dua nama ini, “As-Sami’ (Yang Maha Mendengar)” dan “Al-Bashir (Yang Maha Melihat)”, setelah firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”? Sebab, sifat pendengaran dan penglihatan dimiliki oleh sebagian besar makhluk, bahkan dimiliki oleh seluruh makhluk hidup yang kehidupannya disertai dengan nyawa. Karena kehidupan makhluk itu ada dua jenis: Ada yang hidup dengan bertumbuh dan ada yang hidup dengan nyawa. Yakni dengan bersemayamnya nyawa di dalamnya. Sifat mendengar dan melihat merupakan sifat yang juga ada pada makhluk. Sebab, nyamuk pun memiliki pendengaran dan penglihatan. Semut juga memiliki pendengaran dan penglihatan. “…Seekor semut berkata, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Lalu Sulaiman tertawa karena ucapan semut itu.” (QS. An-Naml: 18-19). Semut memiliki indra, pendengaran, dan juga penglihatan. Demikian pula burung, ia memiliki pendengaran dan penglihatan yang ukurannya lebih besar daripada semut. Begitu pula hewan-hewan yang lebih besar darinya, mereka memiliki pendengaran dan penglihatan. Manusia pun punya pendengaran dan penglihatan. Namun, pada semua makhluk ini, terlepas dari perbedaan tingkat dan jenisnya, apakah pendengaran mereka sama? Apakah penglihatan mereka sama? Tentu tidak demikian. Pendengaran manusia tidak sama dengan pendengaran hewan. Penglihatan manusia pun tidak sama dengan penglihatan hewan. Pendengaran nyamuk tidak sama dengan pendengaran manusia, dan seterusnya. Meskipun dasar sifatnya sama, yakni dari sisi memiliki pendengaran dan penglihatan. Namun jangkauan serta kekuatan pendengaran dan penglihatannya berbeda-beda. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala memberi penegasan bahwa tidak ada siapa pun yang serupa dengan-Nya dalam sifat pendengaran dan penglihatan. Sebab, Dialah Yang Maha Suci, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. Meskipun banyak makhluk-Nya yang juga bisa mendengar dan melihat, tetapi pendengaran Allah tidak seperti pendengaran makhluk, dan penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan mereka. Maka, penetapan kita terhadap Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat Allah yang mulia adalah dengan menetapkannya sesuai makna lahiriah berdasarkan dalil, tapi tanpa mencari-cari seluk-beluk hakikatnya, dan disertai keyakinan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah. “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). ===== هُنَا تَنْتَبِهُ إِلَى أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا قَالَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ لِمَاذَا خَصَّ هَذَيْنِ الِاسْمَيْنِ بِالذِّكْرِ السَّمِيعَ الْبَصِيرَ بَعْدَ قَوْلِهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ؟ لِأَنَّ صِفَةَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ أَكْثَرِ الْمَخْلُوقَاتِ بَلْ بَيْنَ كُلِّ الْمَخْلُوقَاتِ الْحَيَّةِ الَّتِي حَيَاتُهَا بِالرُّوحِ لِأَنَّ الْحَيَاةَ حَيَاةَ الْمَخْلُوقَاتِ قِسْمَانِ مِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّمَاءِ وَمِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّفْسِ بِحُلُولِ النَّفْسِ فِيهِ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ مُشْتَرَكٌ لِأَنَّ الْبَعُوضَةَ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ النَّمْلَةُ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا لَهَا إِحْسَاسٌ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ كَذَلِكَ الطَّيْرُ لَهُ سَمْعٌ وَبَصَرٌ أَكْبَرُ مِنَ النَّمْلَةِ فِي الْحَجْمِ كَذَلِكَ الَّذِي أَكْبَرُ مِنْهَا مِنَ الْحَيَوَانَاتِ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ الْإِنْسَانُ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ لَكِنْ فِي هَذِهِ جَمِيعًا عَلَى اخْتِلَافِ طَبَقَاتِهَا وَأَنْوَاعِهَا هَلْ السَّمْعُ وَاحِدٌ؟ هَلْ الْبَصَرُ وَاحِدٌ؟ لَيْسَ كَذَلِكَ فَسَمْعُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْحَيَوَانِ بَصَرُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَبَصَرِ الْحَيَوَانِ سَمْعُ الْبَعُوضَةِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْإِنْسَانِ وَهَكَذَا وَإِنْ اشْتَرَكُوا فِي أَصْلِ الصِّفَةِ فِي أَصْلِ وُجُودِ السَّمْعِ فِي أَصْلِ وُجُودِ الْبَصَرِ لَكِنْ سَعَةُ الصِّفَةِ وَقُوَّةُ الصِّفَةِ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُخْتَلَفٌ لِهَذَا نَبَّهَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى عَدَمِ مُمَاثَلَةِ أَحَدٍ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ بِصِفَتَيْ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَكَثِيرٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ سَمِيعٌ بَصِيرٌ لَكِن السَّمْعُ لَيْسَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرُ لَيْسَ كَالْبَصَرِ فَإِذًا إِثْبَاتُنَا لِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتِ الْعُلَى إِثْبَاتٌ لَهَا عَلَى ظَاهِرِهَا بِمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ قَطْعِ الطَّمْعِ فِي إِدْرَاكِ الْكَيْفِيَّاتِ وَمَع الْيَقِينِ بِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ لَا مُمَاثِلَ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Di sini, Anda harus memperhatikan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya…” Lalu Allah berfirman: “…dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Mengapa Allah menyebutkan secara spesifik dua nama ini, “As-Sami’ (Yang Maha Mendengar)” dan “Al-Bashir (Yang Maha Melihat)”, setelah firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”? Sebab, sifat pendengaran dan penglihatan dimiliki oleh sebagian besar makhluk, bahkan dimiliki oleh seluruh makhluk hidup yang kehidupannya disertai dengan nyawa. Karena kehidupan makhluk itu ada dua jenis: Ada yang hidup dengan bertumbuh dan ada yang hidup dengan nyawa. Yakni dengan bersemayamnya nyawa di dalamnya. Sifat mendengar dan melihat merupakan sifat yang juga ada pada makhluk. Sebab, nyamuk pun memiliki pendengaran dan penglihatan. Semut juga memiliki pendengaran dan penglihatan. “…Seekor semut berkata, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Lalu Sulaiman tertawa karena ucapan semut itu.” (QS. An-Naml: 18-19). Semut memiliki indra, pendengaran, dan juga penglihatan. Demikian pula burung, ia memiliki pendengaran dan penglihatan yang ukurannya lebih besar daripada semut. Begitu pula hewan-hewan yang lebih besar darinya, mereka memiliki pendengaran dan penglihatan. Manusia pun punya pendengaran dan penglihatan. Namun, pada semua makhluk ini, terlepas dari perbedaan tingkat dan jenisnya, apakah pendengaran mereka sama? Apakah penglihatan mereka sama? Tentu tidak demikian. Pendengaran manusia tidak sama dengan pendengaran hewan. Penglihatan manusia pun tidak sama dengan penglihatan hewan. Pendengaran nyamuk tidak sama dengan pendengaran manusia, dan seterusnya. Meskipun dasar sifatnya sama, yakni dari sisi memiliki pendengaran dan penglihatan. Namun jangkauan serta kekuatan pendengaran dan penglihatannya berbeda-beda. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala memberi penegasan bahwa tidak ada siapa pun yang serupa dengan-Nya dalam sifat pendengaran dan penglihatan. Sebab, Dialah Yang Maha Suci, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. Meskipun banyak makhluk-Nya yang juga bisa mendengar dan melihat, tetapi pendengaran Allah tidak seperti pendengaran makhluk, dan penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan mereka. Maka, penetapan kita terhadap Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat Allah yang mulia adalah dengan menetapkannya sesuai makna lahiriah berdasarkan dalil, tapi tanpa mencari-cari seluk-beluk hakikatnya, dan disertai keyakinan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah. “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). ===== هُنَا تَنْتَبِهُ إِلَى أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا قَالَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ لِمَاذَا خَصَّ هَذَيْنِ الِاسْمَيْنِ بِالذِّكْرِ السَّمِيعَ الْبَصِيرَ بَعْدَ قَوْلِهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ؟ لِأَنَّ صِفَةَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ أَكْثَرِ الْمَخْلُوقَاتِ بَلْ بَيْنَ كُلِّ الْمَخْلُوقَاتِ الْحَيَّةِ الَّتِي حَيَاتُهَا بِالرُّوحِ لِأَنَّ الْحَيَاةَ حَيَاةَ الْمَخْلُوقَاتِ قِسْمَانِ مِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّمَاءِ وَمِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّفْسِ بِحُلُولِ النَّفْسِ فِيهِ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ مُشْتَرَكٌ لِأَنَّ الْبَعُوضَةَ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ النَّمْلَةُ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا لَهَا إِحْسَاسٌ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ كَذَلِكَ الطَّيْرُ لَهُ سَمْعٌ وَبَصَرٌ أَكْبَرُ مِنَ النَّمْلَةِ فِي الْحَجْمِ كَذَلِكَ الَّذِي أَكْبَرُ مِنْهَا مِنَ الْحَيَوَانَاتِ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ الْإِنْسَانُ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ لَكِنْ فِي هَذِهِ جَمِيعًا عَلَى اخْتِلَافِ طَبَقَاتِهَا وَأَنْوَاعِهَا هَلْ السَّمْعُ وَاحِدٌ؟ هَلْ الْبَصَرُ وَاحِدٌ؟ لَيْسَ كَذَلِكَ فَسَمْعُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْحَيَوَانِ بَصَرُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَبَصَرِ الْحَيَوَانِ سَمْعُ الْبَعُوضَةِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْإِنْسَانِ وَهَكَذَا وَإِنْ اشْتَرَكُوا فِي أَصْلِ الصِّفَةِ فِي أَصْلِ وُجُودِ السَّمْعِ فِي أَصْلِ وُجُودِ الْبَصَرِ لَكِنْ سَعَةُ الصِّفَةِ وَقُوَّةُ الصِّفَةِ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُخْتَلَفٌ لِهَذَا نَبَّهَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى عَدَمِ مُمَاثَلَةِ أَحَدٍ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ بِصِفَتَيْ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَكَثِيرٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ سَمِيعٌ بَصِيرٌ لَكِن السَّمْعُ لَيْسَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرُ لَيْسَ كَالْبَصَرِ فَإِذًا إِثْبَاتُنَا لِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتِ الْعُلَى إِثْبَاتٌ لَهَا عَلَى ظَاهِرِهَا بِمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ قَطْعِ الطَّمْعِ فِي إِدْرَاكِ الْكَيْفِيَّاتِ وَمَع الْيَقِينِ بِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ لَا مُمَاثِلَ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Di sini, Anda harus memperhatikan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya…” Lalu Allah berfirman: “…dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Mengapa Allah menyebutkan secara spesifik dua nama ini, “As-Sami’ (Yang Maha Mendengar)” dan “Al-Bashir (Yang Maha Melihat)”, setelah firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”? Sebab, sifat pendengaran dan penglihatan dimiliki oleh sebagian besar makhluk, bahkan dimiliki oleh seluruh makhluk hidup yang kehidupannya disertai dengan nyawa. Karena kehidupan makhluk itu ada dua jenis: Ada yang hidup dengan bertumbuh dan ada yang hidup dengan nyawa. Yakni dengan bersemayamnya nyawa di dalamnya. Sifat mendengar dan melihat merupakan sifat yang juga ada pada makhluk. Sebab, nyamuk pun memiliki pendengaran dan penglihatan. Semut juga memiliki pendengaran dan penglihatan. “…Seekor semut berkata, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Lalu Sulaiman tertawa karena ucapan semut itu.” (QS. An-Naml: 18-19). Semut memiliki indra, pendengaran, dan juga penglihatan. Demikian pula burung, ia memiliki pendengaran dan penglihatan yang ukurannya lebih besar daripada semut. Begitu pula hewan-hewan yang lebih besar darinya, mereka memiliki pendengaran dan penglihatan. Manusia pun punya pendengaran dan penglihatan. Namun, pada semua makhluk ini, terlepas dari perbedaan tingkat dan jenisnya, apakah pendengaran mereka sama? Apakah penglihatan mereka sama? Tentu tidak demikian. Pendengaran manusia tidak sama dengan pendengaran hewan. Penglihatan manusia pun tidak sama dengan penglihatan hewan. Pendengaran nyamuk tidak sama dengan pendengaran manusia, dan seterusnya. Meskipun dasar sifatnya sama, yakni dari sisi memiliki pendengaran dan penglihatan. Namun jangkauan serta kekuatan pendengaran dan penglihatannya berbeda-beda. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala memberi penegasan bahwa tidak ada siapa pun yang serupa dengan-Nya dalam sifat pendengaran dan penglihatan. Sebab, Dialah Yang Maha Suci, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. Meskipun banyak makhluk-Nya yang juga bisa mendengar dan melihat, tetapi pendengaran Allah tidak seperti pendengaran makhluk, dan penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan mereka. Maka, penetapan kita terhadap Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat Allah yang mulia adalah dengan menetapkannya sesuai makna lahiriah berdasarkan dalil, tapi tanpa mencari-cari seluk-beluk hakikatnya, dan disertai keyakinan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah. “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). ===== هُنَا تَنْتَبِهُ إِلَى أَنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا قَالَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ لِمَاذَا خَصَّ هَذَيْنِ الِاسْمَيْنِ بِالذِّكْرِ السَّمِيعَ الْبَصِيرَ بَعْدَ قَوْلِهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ؟ لِأَنَّ صِفَةَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ أَكْثَرِ الْمَخْلُوقَاتِ بَلْ بَيْنَ كُلِّ الْمَخْلُوقَاتِ الْحَيَّةِ الَّتِي حَيَاتُهَا بِالرُّوحِ لِأَنَّ الْحَيَاةَ حَيَاةَ الْمَخْلُوقَاتِ قِسْمَانِ مِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّمَاءِ وَمِنْهَا مَا حَيَاتُهَا بِالنَّفْسِ بِحُلُولِ النَّفْسِ فِيهِ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ مُشْتَرَكٌ لِأَنَّ الْبَعُوضَةَ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ النَّمْلَةُ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا لَهَا إِحْسَاسٌ لَهَا سَمْعٌ وَلَهَا بَصَرٌ كَذَلِكَ الطَّيْرُ لَهُ سَمْعٌ وَبَصَرٌ أَكْبَرُ مِنَ النَّمْلَةِ فِي الْحَجْمِ كَذَلِكَ الَّذِي أَكْبَرُ مِنْهَا مِنَ الْحَيَوَانَاتِ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ الْإِنْسَانُ لَهُ سَمْعٌ وَلَهُ بَصَرٌ لَكِنْ فِي هَذِهِ جَمِيعًا عَلَى اخْتِلَافِ طَبَقَاتِهَا وَأَنْوَاعِهَا هَلْ السَّمْعُ وَاحِدٌ؟ هَلْ الْبَصَرُ وَاحِدٌ؟ لَيْسَ كَذَلِكَ فَسَمْعُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْحَيَوَانِ بَصَرُ الْإِنْسَانِ لَيْسَ كَبَصَرِ الْحَيَوَانِ سَمْعُ الْبَعُوضَةِ لَيْسَ كَسَمْعِ الْإِنْسَانِ وَهَكَذَا وَإِنْ اشْتَرَكُوا فِي أَصْلِ الصِّفَةِ فِي أَصْلِ وُجُودِ السَّمْعِ فِي أَصْلِ وُجُودِ الْبَصَرِ لَكِنْ سَعَةُ الصِّفَةِ وَقُوَّةُ الصِّفَةِ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ مُخْتَلَفٌ لِهَذَا نَبَّهَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى عَدَمِ مُمَاثَلَةِ أَحَدٍ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ بِصِفَتَيْ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَكَثِيرٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ سَمِيعٌ بَصِيرٌ لَكِن السَّمْعُ لَيْسَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرُ لَيْسَ كَالْبَصَرِ فَإِذًا إِثْبَاتُنَا لِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتِ الْعُلَى إِثْبَاتٌ لَهَا عَلَى ظَاهِرِهَا بِمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ لَكِنْ مَعَ قَطْعِ الطَّمْعِ فِي إِدْرَاكِ الْكَيْفِيَّاتِ وَمَع الْيَقِينِ بِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ لَا مُمَاثِلَ لَهُ جَلَّ جَلَالُهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Fatwa Ulama: Sifat Ahli Bid’ah

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kapan seorang pria disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah)? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma Ba’du.Ketahuilah bahwa nash-nash syar’i telah menunjukkan bahwa setiap bid’ah itu buruk dan sesat, dan tidak ada satupun yang baik; berdasarkan firman Allah Ta’ala,ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah; karena Allah berfirman, ‘ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ’. Maka apa yang pada hari itu (di masa Rasulullah) bukan merupakan agama, maka pada hari ini juga bukanlah (bagian dari) agama.” [1]Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Dan setiap bid’ah itu sesat.” [2]Serta sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka (amalan) itu tertolak.” [3]Ketahuilah bahwa bid’ah tidak berlaku dalam urusan adat (kebiasaan) karena ia mengikuti tradisi (urf). Sesuatu yang bersifat adat -meskipun disebut bid’ah secara bahasa- bukanlah bid’ah dalam pengertian syar’i.Adapun bid’ah dalam pengertian syar’i dan agama adalah hal yang mendapat celaan dan peringatan, yaitu beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Dia syariatkan dan tidak pernah menjadi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta para khulafaur rasyidin. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham.” [4]Para salaf umat dan para imamnya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik telah bersepakat untuk mencela semua bid’ah -baik yang besar maupun yang kecil-, menganggapnya buruk, memperingatkan darinya, serta menjauhi segala perantara yang mengarah kepadanya. Mereka juga melarang duduk-duduk dan mendekati pelakunya, karena bid’ah bertentangan dengan sunah dan mengabaikan syariat.Tidak samar lagi bahwa secara syar’i dan akal, perbuatan yang menentang atau berlawanan dengan Pembuat Syariat tidak boleh dianggap baik, yaitu suatu amalan yang menyalahi agama dan syariat-Nya.Namun, kita tidak boleh tergesa-gesa dalam melontarkan sebutan “mubtadi'” (ahli bid’ah) kepada setiap orang yang melakukan sebagian penyimpangan (maksiat). Siapa saja yang melakukan sesuatu yang haram, terjatuh dalam dosa besar, atau maksiat, maka ia disebut ‘ashi (pelaku maksiat) atau fasiq, dan tidak setiap pelaku maksiat atau kesalahan adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).Para salaf hanya menyifati (perbuatannya) dengan bid’ah (baik dalam keyakinan maupun perbuatan) kepada orang yang melakukan suatu perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah karena kebodohan yang buta, hawa nafsu, taklid buta kepada nenek moyang, atau menyerupai (tasyabbuh) orang-orang kafir. Semua itu dilakukan tanpa didasari bashirah (ilmu) dan hujjah yang mendukung perbuatannya yang tertolak, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka itu tertolak” – sebagaimana telah disebutkan – [5]Dan dalam riwayat lain,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” [6]Berdasarkan hal itu, barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama tanpa didasari dalil syar’i, yang perbuatannya tersebut tidak sampai tingkat kekufuran, maka ia disebut ahli bid’ah atau pengikut hawa nafsu.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menegakkan hujjah (argumentasi) kepadanya.Menghilangkan keraguan (syubhat) yang ia pegang.Menasihatinya hingga ia kembali dari pendiriannya.Jika ia menolak untuk kembali atau tidak menerima nasihat sama sekali, maka barulah ia disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang fasik karena bid’ah-nya. Pelaku bid’ah hanya dihukumi fasik karena bid’ah-nya jika bid’ah yang dilakukannya itu menyangkut perkara yang telah disepakati (tentang kesalahannya) berdasarkan kaidah semua imam (Ahlus Sunnah). [7]Perlu diketahui bahwa hawa nafsu dan bid’ah tidak menjamin keselamatan dari dusta dan pemalsuan. Oleh karena itu, dalam menerima riwayat hadisnya, para ahli hadis berbeda pendapat:Sebagian menolak riwayat ahli bid’ah secara mutlak.Sebagian lain menerimanya secara mutlak jika perawi tersebut dikenal menjaga diri dari dusta, terkenal selamat dari cacat moral (muru’ah), serta dikenal sebagai orang yang taat beragama dan rajin beribadah.Sebagian lagi membedakan antara ahli bid’ah yang aktif mengajak orang lain kepada bid’ah-nya (dai) dan yang tidak.Dan masih terdapat pendapat-pendapat terperinci lainnya. [8]Namun, tidak sepatutnya menyebarluaskan urusan ahli bid’ah atau mengangkat namanya. Jika terdapat maslahat yang mengharuskan untuk memboikotnya, maka ia boleh diboikot sebagai bentuk pendidikan dan pencegahan agar ia jera dari kefasikannya, serta untuk memadamkan api bid’ah-nya. Hal ini seperti halnya seseorang yang mencari obat untuk menyembuhkan penyakit bid’ah-nya.Adapun jika bid’ah-nya termasuk yang mengkafirkan, maka penetapan kekafirannya harus didasarkan pada kesepakatan dari kaidah-kaidah semua imam (Ahlus Sunnah), baik karena kekafiran yang jelas dari ucapannya, atau karena konsekuensi logis (lazim) dari ucapannya yang ia tetap pertahankan ketika dikonfirmasi.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menjelaskan keadaannya yang sebenarnya.Memperkenalkan kebatilannya kepada orang-orang.Terutama jika telah tampak darinya sifat zalim, sombong, membangkang, dan permusuhan. Debat dengannya harus ditinggalkan untuk menghindari ucapan kotor, pelampauan batas, banyaknya kerancuan, dan fanatisme darinya.Tidak diterima perkataan orang yang mengingkari suatu perkara yang mutawatir dari syariat, yang telah diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama (ma’lum minad-din bid-dharurah). Dan tanpa diragukan lagi, riwayatnya harus ditolak. [9]Wajib hukumnya dalam menangani dirinya untuk mengutamakan maslahat memboikot dan memperingatkan orang lain dari bid’ah-nya, sebagai bentuk:Perlindungan dari terpengaruhnya orang lain.Penyempitan ruang geraknya.Pembatasan penyebarannya.Hal itu karena orang kafir tidak dapat digambarkan memiliki ketakwaan dan ibadah (yang benar), juga tidak terjamin selamat dari cacat moral. Lalu, bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki ikatan (agama) dan perjanjian (dengan Allah) dapat dipercaya dalam urusan agama?!Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga:Mengenal Seluk Beluk BID’AH: Pengertian Bid’ah10 Bahaya Bid’ah dalam Agama***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-272Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham (1: 49).[2] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Jumu’ah (no. 867) dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma.[3] Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim, maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz, “Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang tidak ada padanya…”, dari hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam As-Sunnah, bab: Tentang kewajiban berpegang pada sunah (no. 4607), At-Tirmidzi dalam Al-‘Ilm, bab: Apa yang datang tentang mengambil sunnah dan menjauhi bid’ah (no. 2676), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah, bab: Mengikuti sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk (no. 42, 43), dari hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dihasankan oleh Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (1: 205), Al-Wadi’iy dalam Ash-Shahihul Musnad (no. 938), disahihkan oleh Ibnul Mulqin dalam Al-Badrul Munir (9: 582), Ibnu Hajar dalam Muwafaqatul Khubril Khabar (1: 136), Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 2549) dan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (no. 937, 2735), dan Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq-nya terhadap Musnad Ahmad (4: 126).[5] Muttafaq ‘alaih: Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz: “…yang tidak ada padanya…”, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[6] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718).[7] Lihat Hadyu As-Sari karya Ibnu Hajar (hal. 385).[8] Lihat Ibid, dan Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).[9] Lihat Ikhtisharu ‘Ulumil Hadits karya Ibnu Katsir (hal. 99), Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).

Fatwa Ulama: Sifat Ahli Bid’ah

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kapan seorang pria disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah)? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma Ba’du.Ketahuilah bahwa nash-nash syar’i telah menunjukkan bahwa setiap bid’ah itu buruk dan sesat, dan tidak ada satupun yang baik; berdasarkan firman Allah Ta’ala,ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah; karena Allah berfirman, ‘ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ’. Maka apa yang pada hari itu (di masa Rasulullah) bukan merupakan agama, maka pada hari ini juga bukanlah (bagian dari) agama.” [1]Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Dan setiap bid’ah itu sesat.” [2]Serta sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka (amalan) itu tertolak.” [3]Ketahuilah bahwa bid’ah tidak berlaku dalam urusan adat (kebiasaan) karena ia mengikuti tradisi (urf). Sesuatu yang bersifat adat -meskipun disebut bid’ah secara bahasa- bukanlah bid’ah dalam pengertian syar’i.Adapun bid’ah dalam pengertian syar’i dan agama adalah hal yang mendapat celaan dan peringatan, yaitu beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Dia syariatkan dan tidak pernah menjadi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta para khulafaur rasyidin. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham.” [4]Para salaf umat dan para imamnya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik telah bersepakat untuk mencela semua bid’ah -baik yang besar maupun yang kecil-, menganggapnya buruk, memperingatkan darinya, serta menjauhi segala perantara yang mengarah kepadanya. Mereka juga melarang duduk-duduk dan mendekati pelakunya, karena bid’ah bertentangan dengan sunah dan mengabaikan syariat.Tidak samar lagi bahwa secara syar’i dan akal, perbuatan yang menentang atau berlawanan dengan Pembuat Syariat tidak boleh dianggap baik, yaitu suatu amalan yang menyalahi agama dan syariat-Nya.Namun, kita tidak boleh tergesa-gesa dalam melontarkan sebutan “mubtadi'” (ahli bid’ah) kepada setiap orang yang melakukan sebagian penyimpangan (maksiat). Siapa saja yang melakukan sesuatu yang haram, terjatuh dalam dosa besar, atau maksiat, maka ia disebut ‘ashi (pelaku maksiat) atau fasiq, dan tidak setiap pelaku maksiat atau kesalahan adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).Para salaf hanya menyifati (perbuatannya) dengan bid’ah (baik dalam keyakinan maupun perbuatan) kepada orang yang melakukan suatu perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah karena kebodohan yang buta, hawa nafsu, taklid buta kepada nenek moyang, atau menyerupai (tasyabbuh) orang-orang kafir. Semua itu dilakukan tanpa didasari bashirah (ilmu) dan hujjah yang mendukung perbuatannya yang tertolak, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka itu tertolak” – sebagaimana telah disebutkan – [5]Dan dalam riwayat lain,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” [6]Berdasarkan hal itu, barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama tanpa didasari dalil syar’i, yang perbuatannya tersebut tidak sampai tingkat kekufuran, maka ia disebut ahli bid’ah atau pengikut hawa nafsu.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menegakkan hujjah (argumentasi) kepadanya.Menghilangkan keraguan (syubhat) yang ia pegang.Menasihatinya hingga ia kembali dari pendiriannya.Jika ia menolak untuk kembali atau tidak menerima nasihat sama sekali, maka barulah ia disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang fasik karena bid’ah-nya. Pelaku bid’ah hanya dihukumi fasik karena bid’ah-nya jika bid’ah yang dilakukannya itu menyangkut perkara yang telah disepakati (tentang kesalahannya) berdasarkan kaidah semua imam (Ahlus Sunnah). [7]Perlu diketahui bahwa hawa nafsu dan bid’ah tidak menjamin keselamatan dari dusta dan pemalsuan. Oleh karena itu, dalam menerima riwayat hadisnya, para ahli hadis berbeda pendapat:Sebagian menolak riwayat ahli bid’ah secara mutlak.Sebagian lain menerimanya secara mutlak jika perawi tersebut dikenal menjaga diri dari dusta, terkenal selamat dari cacat moral (muru’ah), serta dikenal sebagai orang yang taat beragama dan rajin beribadah.Sebagian lagi membedakan antara ahli bid’ah yang aktif mengajak orang lain kepada bid’ah-nya (dai) dan yang tidak.Dan masih terdapat pendapat-pendapat terperinci lainnya. [8]Namun, tidak sepatutnya menyebarluaskan urusan ahli bid’ah atau mengangkat namanya. Jika terdapat maslahat yang mengharuskan untuk memboikotnya, maka ia boleh diboikot sebagai bentuk pendidikan dan pencegahan agar ia jera dari kefasikannya, serta untuk memadamkan api bid’ah-nya. Hal ini seperti halnya seseorang yang mencari obat untuk menyembuhkan penyakit bid’ah-nya.Adapun jika bid’ah-nya termasuk yang mengkafirkan, maka penetapan kekafirannya harus didasarkan pada kesepakatan dari kaidah-kaidah semua imam (Ahlus Sunnah), baik karena kekafiran yang jelas dari ucapannya, atau karena konsekuensi logis (lazim) dari ucapannya yang ia tetap pertahankan ketika dikonfirmasi.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menjelaskan keadaannya yang sebenarnya.Memperkenalkan kebatilannya kepada orang-orang.Terutama jika telah tampak darinya sifat zalim, sombong, membangkang, dan permusuhan. Debat dengannya harus ditinggalkan untuk menghindari ucapan kotor, pelampauan batas, banyaknya kerancuan, dan fanatisme darinya.Tidak diterima perkataan orang yang mengingkari suatu perkara yang mutawatir dari syariat, yang telah diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama (ma’lum minad-din bid-dharurah). Dan tanpa diragukan lagi, riwayatnya harus ditolak. [9]Wajib hukumnya dalam menangani dirinya untuk mengutamakan maslahat memboikot dan memperingatkan orang lain dari bid’ah-nya, sebagai bentuk:Perlindungan dari terpengaruhnya orang lain.Penyempitan ruang geraknya.Pembatasan penyebarannya.Hal itu karena orang kafir tidak dapat digambarkan memiliki ketakwaan dan ibadah (yang benar), juga tidak terjamin selamat dari cacat moral. Lalu, bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki ikatan (agama) dan perjanjian (dengan Allah) dapat dipercaya dalam urusan agama?!Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga:Mengenal Seluk Beluk BID’AH: Pengertian Bid’ah10 Bahaya Bid’ah dalam Agama***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-272Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham (1: 49).[2] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Jumu’ah (no. 867) dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma.[3] Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim, maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz, “Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang tidak ada padanya…”, dari hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam As-Sunnah, bab: Tentang kewajiban berpegang pada sunah (no. 4607), At-Tirmidzi dalam Al-‘Ilm, bab: Apa yang datang tentang mengambil sunnah dan menjauhi bid’ah (no. 2676), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah, bab: Mengikuti sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk (no. 42, 43), dari hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dihasankan oleh Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (1: 205), Al-Wadi’iy dalam Ash-Shahihul Musnad (no. 938), disahihkan oleh Ibnul Mulqin dalam Al-Badrul Munir (9: 582), Ibnu Hajar dalam Muwafaqatul Khubril Khabar (1: 136), Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 2549) dan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (no. 937, 2735), dan Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq-nya terhadap Musnad Ahmad (4: 126).[5] Muttafaq ‘alaih: Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz: “…yang tidak ada padanya…”, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[6] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718).[7] Lihat Hadyu As-Sari karya Ibnu Hajar (hal. 385).[8] Lihat Ibid, dan Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).[9] Lihat Ikhtisharu ‘Ulumil Hadits karya Ibnu Katsir (hal. 99), Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kapan seorang pria disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah)? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma Ba’du.Ketahuilah bahwa nash-nash syar’i telah menunjukkan bahwa setiap bid’ah itu buruk dan sesat, dan tidak ada satupun yang baik; berdasarkan firman Allah Ta’ala,ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah; karena Allah berfirman, ‘ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ’. Maka apa yang pada hari itu (di masa Rasulullah) bukan merupakan agama, maka pada hari ini juga bukanlah (bagian dari) agama.” [1]Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Dan setiap bid’ah itu sesat.” [2]Serta sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka (amalan) itu tertolak.” [3]Ketahuilah bahwa bid’ah tidak berlaku dalam urusan adat (kebiasaan) karena ia mengikuti tradisi (urf). Sesuatu yang bersifat adat -meskipun disebut bid’ah secara bahasa- bukanlah bid’ah dalam pengertian syar’i.Adapun bid’ah dalam pengertian syar’i dan agama adalah hal yang mendapat celaan dan peringatan, yaitu beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Dia syariatkan dan tidak pernah menjadi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta para khulafaur rasyidin. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham.” [4]Para salaf umat dan para imamnya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik telah bersepakat untuk mencela semua bid’ah -baik yang besar maupun yang kecil-, menganggapnya buruk, memperingatkan darinya, serta menjauhi segala perantara yang mengarah kepadanya. Mereka juga melarang duduk-duduk dan mendekati pelakunya, karena bid’ah bertentangan dengan sunah dan mengabaikan syariat.Tidak samar lagi bahwa secara syar’i dan akal, perbuatan yang menentang atau berlawanan dengan Pembuat Syariat tidak boleh dianggap baik, yaitu suatu amalan yang menyalahi agama dan syariat-Nya.Namun, kita tidak boleh tergesa-gesa dalam melontarkan sebutan “mubtadi'” (ahli bid’ah) kepada setiap orang yang melakukan sebagian penyimpangan (maksiat). Siapa saja yang melakukan sesuatu yang haram, terjatuh dalam dosa besar, atau maksiat, maka ia disebut ‘ashi (pelaku maksiat) atau fasiq, dan tidak setiap pelaku maksiat atau kesalahan adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).Para salaf hanya menyifati (perbuatannya) dengan bid’ah (baik dalam keyakinan maupun perbuatan) kepada orang yang melakukan suatu perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah karena kebodohan yang buta, hawa nafsu, taklid buta kepada nenek moyang, atau menyerupai (tasyabbuh) orang-orang kafir. Semua itu dilakukan tanpa didasari bashirah (ilmu) dan hujjah yang mendukung perbuatannya yang tertolak, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka itu tertolak” – sebagaimana telah disebutkan – [5]Dan dalam riwayat lain,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” [6]Berdasarkan hal itu, barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama tanpa didasari dalil syar’i, yang perbuatannya tersebut tidak sampai tingkat kekufuran, maka ia disebut ahli bid’ah atau pengikut hawa nafsu.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menegakkan hujjah (argumentasi) kepadanya.Menghilangkan keraguan (syubhat) yang ia pegang.Menasihatinya hingga ia kembali dari pendiriannya.Jika ia menolak untuk kembali atau tidak menerima nasihat sama sekali, maka barulah ia disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang fasik karena bid’ah-nya. Pelaku bid’ah hanya dihukumi fasik karena bid’ah-nya jika bid’ah yang dilakukannya itu menyangkut perkara yang telah disepakati (tentang kesalahannya) berdasarkan kaidah semua imam (Ahlus Sunnah). [7]Perlu diketahui bahwa hawa nafsu dan bid’ah tidak menjamin keselamatan dari dusta dan pemalsuan. Oleh karena itu, dalam menerima riwayat hadisnya, para ahli hadis berbeda pendapat:Sebagian menolak riwayat ahli bid’ah secara mutlak.Sebagian lain menerimanya secara mutlak jika perawi tersebut dikenal menjaga diri dari dusta, terkenal selamat dari cacat moral (muru’ah), serta dikenal sebagai orang yang taat beragama dan rajin beribadah.Sebagian lagi membedakan antara ahli bid’ah yang aktif mengajak orang lain kepada bid’ah-nya (dai) dan yang tidak.Dan masih terdapat pendapat-pendapat terperinci lainnya. [8]Namun, tidak sepatutnya menyebarluaskan urusan ahli bid’ah atau mengangkat namanya. Jika terdapat maslahat yang mengharuskan untuk memboikotnya, maka ia boleh diboikot sebagai bentuk pendidikan dan pencegahan agar ia jera dari kefasikannya, serta untuk memadamkan api bid’ah-nya. Hal ini seperti halnya seseorang yang mencari obat untuk menyembuhkan penyakit bid’ah-nya.Adapun jika bid’ah-nya termasuk yang mengkafirkan, maka penetapan kekafirannya harus didasarkan pada kesepakatan dari kaidah-kaidah semua imam (Ahlus Sunnah), baik karena kekafiran yang jelas dari ucapannya, atau karena konsekuensi logis (lazim) dari ucapannya yang ia tetap pertahankan ketika dikonfirmasi.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menjelaskan keadaannya yang sebenarnya.Memperkenalkan kebatilannya kepada orang-orang.Terutama jika telah tampak darinya sifat zalim, sombong, membangkang, dan permusuhan. Debat dengannya harus ditinggalkan untuk menghindari ucapan kotor, pelampauan batas, banyaknya kerancuan, dan fanatisme darinya.Tidak diterima perkataan orang yang mengingkari suatu perkara yang mutawatir dari syariat, yang telah diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama (ma’lum minad-din bid-dharurah). Dan tanpa diragukan lagi, riwayatnya harus ditolak. [9]Wajib hukumnya dalam menangani dirinya untuk mengutamakan maslahat memboikot dan memperingatkan orang lain dari bid’ah-nya, sebagai bentuk:Perlindungan dari terpengaruhnya orang lain.Penyempitan ruang geraknya.Pembatasan penyebarannya.Hal itu karena orang kafir tidak dapat digambarkan memiliki ketakwaan dan ibadah (yang benar), juga tidak terjamin selamat dari cacat moral. Lalu, bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki ikatan (agama) dan perjanjian (dengan Allah) dapat dipercaya dalam urusan agama?!Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga:Mengenal Seluk Beluk BID’AH: Pengertian Bid’ah10 Bahaya Bid’ah dalam Agama***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-272Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham (1: 49).[2] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Jumu’ah (no. 867) dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma.[3] Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim, maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz, “Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang tidak ada padanya…”, dari hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam As-Sunnah, bab: Tentang kewajiban berpegang pada sunah (no. 4607), At-Tirmidzi dalam Al-‘Ilm, bab: Apa yang datang tentang mengambil sunnah dan menjauhi bid’ah (no. 2676), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah, bab: Mengikuti sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk (no. 42, 43), dari hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dihasankan oleh Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (1: 205), Al-Wadi’iy dalam Ash-Shahihul Musnad (no. 938), disahihkan oleh Ibnul Mulqin dalam Al-Badrul Munir (9: 582), Ibnu Hajar dalam Muwafaqatul Khubril Khabar (1: 136), Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 2549) dan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (no. 937, 2735), dan Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq-nya terhadap Musnad Ahmad (4: 126).[5] Muttafaq ‘alaih: Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz: “…yang tidak ada padanya…”, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[6] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718).[7] Lihat Hadyu As-Sari karya Ibnu Hajar (hal. 385).[8] Lihat Ibid, dan Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).[9] Lihat Ikhtisharu ‘Ulumil Hadits karya Ibnu Katsir (hal. 99), Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kapan seorang pria disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah)? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma Ba’du.Ketahuilah bahwa nash-nash syar’i telah menunjukkan bahwa setiap bid’ah itu buruk dan sesat, dan tidak ada satupun yang baik; berdasarkan firman Allah Ta’ala,ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah; karena Allah berfirman, ‘ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ’. Maka apa yang pada hari itu (di masa Rasulullah) bukan merupakan agama, maka pada hari ini juga bukanlah (bagian dari) agama.” [1]Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Dan setiap bid’ah itu sesat.” [2]Serta sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka (amalan) itu tertolak.” [3]Ketahuilah bahwa bid’ah tidak berlaku dalam urusan adat (kebiasaan) karena ia mengikuti tradisi (urf). Sesuatu yang bersifat adat -meskipun disebut bid’ah secara bahasa- bukanlah bid’ah dalam pengertian syar’i.Adapun bid’ah dalam pengertian syar’i dan agama adalah hal yang mendapat celaan dan peringatan, yaitu beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Dia syariatkan dan tidak pernah menjadi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta para khulafaur rasyidin. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ“Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham.” [4]Para salaf umat dan para imamnya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik telah bersepakat untuk mencela semua bid’ah -baik yang besar maupun yang kecil-, menganggapnya buruk, memperingatkan darinya, serta menjauhi segala perantara yang mengarah kepadanya. Mereka juga melarang duduk-duduk dan mendekati pelakunya, karena bid’ah bertentangan dengan sunah dan mengabaikan syariat.Tidak samar lagi bahwa secara syar’i dan akal, perbuatan yang menentang atau berlawanan dengan Pembuat Syariat tidak boleh dianggap baik, yaitu suatu amalan yang menyalahi agama dan syariat-Nya.Namun, kita tidak boleh tergesa-gesa dalam melontarkan sebutan “mubtadi'” (ahli bid’ah) kepada setiap orang yang melakukan sebagian penyimpangan (maksiat). Siapa saja yang melakukan sesuatu yang haram, terjatuh dalam dosa besar, atau maksiat, maka ia disebut ‘ashi (pelaku maksiat) atau fasiq, dan tidak setiap pelaku maksiat atau kesalahan adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).Para salaf hanya menyifati (perbuatannya) dengan bid’ah (baik dalam keyakinan maupun perbuatan) kepada orang yang melakukan suatu perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah karena kebodohan yang buta, hawa nafsu, taklid buta kepada nenek moyang, atau menyerupai (tasyabbuh) orang-orang kafir. Semua itu dilakukan tanpa didasari bashirah (ilmu) dan hujjah yang mendukung perbuatannya yang tertolak, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka itu tertolak” – sebagaimana telah disebutkan – [5]Dan dalam riwayat lain,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” [6]Berdasarkan hal itu, barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama tanpa didasari dalil syar’i, yang perbuatannya tersebut tidak sampai tingkat kekufuran, maka ia disebut ahli bid’ah atau pengikut hawa nafsu.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menegakkan hujjah (argumentasi) kepadanya.Menghilangkan keraguan (syubhat) yang ia pegang.Menasihatinya hingga ia kembali dari pendiriannya.Jika ia menolak untuk kembali atau tidak menerima nasihat sama sekali, maka barulah ia disebut sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang fasik karena bid’ah-nya. Pelaku bid’ah hanya dihukumi fasik karena bid’ah-nya jika bid’ah yang dilakukannya itu menyangkut perkara yang telah disepakati (tentang kesalahannya) berdasarkan kaidah semua imam (Ahlus Sunnah). [7]Perlu diketahui bahwa hawa nafsu dan bid’ah tidak menjamin keselamatan dari dusta dan pemalsuan. Oleh karena itu, dalam menerima riwayat hadisnya, para ahli hadis berbeda pendapat:Sebagian menolak riwayat ahli bid’ah secara mutlak.Sebagian lain menerimanya secara mutlak jika perawi tersebut dikenal menjaga diri dari dusta, terkenal selamat dari cacat moral (muru’ah), serta dikenal sebagai orang yang taat beragama dan rajin beribadah.Sebagian lagi membedakan antara ahli bid’ah yang aktif mengajak orang lain kepada bid’ah-nya (dai) dan yang tidak.Dan masih terdapat pendapat-pendapat terperinci lainnya. [8]Namun, tidak sepatutnya menyebarluaskan urusan ahli bid’ah atau mengangkat namanya. Jika terdapat maslahat yang mengharuskan untuk memboikotnya, maka ia boleh diboikot sebagai bentuk pendidikan dan pencegahan agar ia jera dari kefasikannya, serta untuk memadamkan api bid’ah-nya. Hal ini seperti halnya seseorang yang mencari obat untuk menyembuhkan penyakit bid’ah-nya.Adapun jika bid’ah-nya termasuk yang mengkafirkan, maka penetapan kekafirannya harus didasarkan pada kesepakatan dari kaidah-kaidah semua imam (Ahlus Sunnah), baik karena kekafiran yang jelas dari ucapannya, atau karena konsekuensi logis (lazim) dari ucapannya yang ia tetap pertahankan ketika dikonfirmasi.Kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya adalah:Menjelaskan keadaannya yang sebenarnya.Memperkenalkan kebatilannya kepada orang-orang.Terutama jika telah tampak darinya sifat zalim, sombong, membangkang, dan permusuhan. Debat dengannya harus ditinggalkan untuk menghindari ucapan kotor, pelampauan batas, banyaknya kerancuan, dan fanatisme darinya.Tidak diterima perkataan orang yang mengingkari suatu perkara yang mutawatir dari syariat, yang telah diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama (ma’lum minad-din bid-dharurah). Dan tanpa diragukan lagi, riwayatnya harus ditolak. [9]Wajib hukumnya dalam menangani dirinya untuk mengutamakan maslahat memboikot dan memperingatkan orang lain dari bid’ah-nya, sebagai bentuk:Perlindungan dari terpengaruhnya orang lain.Penyempitan ruang geraknya.Pembatasan penyebarannya.Hal itu karena orang kafir tidak dapat digambarkan memiliki ketakwaan dan ibadah (yang benar), juga tidak terjamin selamat dari cacat moral. Lalu, bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki ikatan (agama) dan perjanjian (dengan Allah) dapat dipercaya dalam urusan agama?!Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga:Mengenal Seluk Beluk BID’AH: Pengertian Bid’ah10 Bahaya Bid’ah dalam Agama***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-272Catatan kaki:[1] Disebutkan oleh Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham (1: 49).[2] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Jumu’ah (no. 867) dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma.[3] Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim, maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz, “Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang tidak ada padanya…”, dari hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam As-Sunnah, bab: Tentang kewajiban berpegang pada sunah (no. 4607), At-Tirmidzi dalam Al-‘Ilm, bab: Apa yang datang tentang mengambil sunnah dan menjauhi bid’ah (no. 2676), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah, bab: Mengikuti sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk (no. 42, 43), dari hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dihasankan oleh Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (1: 205), Al-Wadi’iy dalam Ash-Shahihul Musnad (no. 938), disahihkan oleh Ibnul Mulqin dalam Al-Badrul Munir (9: 582), Ibnu Hajar dalam Muwafaqatul Khubril Khabar (1: 136), Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 2549) dan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (no. 937, 2735), dan Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq-nya terhadap Musnad Ahmad (4: 126).[5] Muttafaq ‘alaih: Diriwayatkan dengan lafaz ini oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718), dan Al-Bukhari dalam Ash-Shulh, bab: Jika mereka berdamai dengan perdamaian yang zalim maka perdamaian itu tertolak (no. 2697) dengan lafaz: “…yang tidak ada padanya…”, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[6] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (no. 1718).[7] Lihat Hadyu As-Sari karya Ibnu Hajar (hal. 385).[8] Lihat Ibid, dan Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).[9] Lihat Ikhtisharu ‘Ulumil Hadits karya Ibnu Katsir (hal. 99), Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar (hal. 53).

Sudah Wafat Ratusan Tahun Tapi Masih Panen Pahala? Ini Rahasianya – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Wahai para hamba Allah! Perkara kedua yang pahalanya terus mengalir bagi seseorang setelah kematiannya adalah ilmu yang bermanfaat. Adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu ini dapat diwariskan dengan mengajarkannya, menulisnya, menyebarkannya, dan lain sebagainya. Lihatlah saat ini kita menyebut nama para ulama yang telah wafat ratusan tahun silam. Namun, hingga kini kita tetap memohonkan rahmat serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Inilah ilmu bermanfaat yang tetap kekal bagi seseorang setelah ia wafat. Semakin besar manfaat ilmu tersebut dan semakin luas penyebarannya, maka semakin besar balasan dan pahalanya. Termasuk dalam hal ini, orang yang mengajak kepada kebaikan, dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, meskipun itu setelah kematiannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim) ===== عِبَادَ اللَّه وَالْأَمْرُ الثَّانِي مِمَّا يَسْتَمِرُّ أَجْرُهُ وَثَوَابُهُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَمَاتِهِ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَالْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ الْمُسْتَمَدُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَكُونُ تَوْرِيثُهُ بِالتَّعْلِيمِ وَالتَّأْلِيفِ وَالنَّشْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَهَا نَحْنُ نَذْكُرُ عُلَمَاءَ مَاتُوا مِنْ مِئَاتِ السِّنِينَ وَنَتَرَحَّمُ عَلَيْهِمْ وَنَدْعُوا لَهُمْ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ النَّافِعُ الَّذِي يَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْعِلْمُ أَكْثَرَ نَفْعًا وَأَوْسَعَ انْتِشَارًا كَانَ أَعْظَمَ ثَوَابًا وَأَجْرًا وَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مَنْ دَعَا إلَى هُدًى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ مَمَاتِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقِصُهُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Sudah Wafat Ratusan Tahun Tapi Masih Panen Pahala? Ini Rahasianya – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Wahai para hamba Allah! Perkara kedua yang pahalanya terus mengalir bagi seseorang setelah kematiannya adalah ilmu yang bermanfaat. Adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu ini dapat diwariskan dengan mengajarkannya, menulisnya, menyebarkannya, dan lain sebagainya. Lihatlah saat ini kita menyebut nama para ulama yang telah wafat ratusan tahun silam. Namun, hingga kini kita tetap memohonkan rahmat serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Inilah ilmu bermanfaat yang tetap kekal bagi seseorang setelah ia wafat. Semakin besar manfaat ilmu tersebut dan semakin luas penyebarannya, maka semakin besar balasan dan pahalanya. Termasuk dalam hal ini, orang yang mengajak kepada kebaikan, dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, meskipun itu setelah kematiannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim) ===== عِبَادَ اللَّه وَالْأَمْرُ الثَّانِي مِمَّا يَسْتَمِرُّ أَجْرُهُ وَثَوَابُهُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَمَاتِهِ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَالْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ الْمُسْتَمَدُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَكُونُ تَوْرِيثُهُ بِالتَّعْلِيمِ وَالتَّأْلِيفِ وَالنَّشْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَهَا نَحْنُ نَذْكُرُ عُلَمَاءَ مَاتُوا مِنْ مِئَاتِ السِّنِينَ وَنَتَرَحَّمُ عَلَيْهِمْ وَنَدْعُوا لَهُمْ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ النَّافِعُ الَّذِي يَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْعِلْمُ أَكْثَرَ نَفْعًا وَأَوْسَعَ انْتِشَارًا كَانَ أَعْظَمَ ثَوَابًا وَأَجْرًا وَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مَنْ دَعَا إلَى هُدًى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ مَمَاتِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقِصُهُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Wahai para hamba Allah! Perkara kedua yang pahalanya terus mengalir bagi seseorang setelah kematiannya adalah ilmu yang bermanfaat. Adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu ini dapat diwariskan dengan mengajarkannya, menulisnya, menyebarkannya, dan lain sebagainya. Lihatlah saat ini kita menyebut nama para ulama yang telah wafat ratusan tahun silam. Namun, hingga kini kita tetap memohonkan rahmat serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Inilah ilmu bermanfaat yang tetap kekal bagi seseorang setelah ia wafat. Semakin besar manfaat ilmu tersebut dan semakin luas penyebarannya, maka semakin besar balasan dan pahalanya. Termasuk dalam hal ini, orang yang mengajak kepada kebaikan, dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, meskipun itu setelah kematiannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim) ===== عِبَادَ اللَّه وَالْأَمْرُ الثَّانِي مِمَّا يَسْتَمِرُّ أَجْرُهُ وَثَوَابُهُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَمَاتِهِ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَالْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ الْمُسْتَمَدُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَكُونُ تَوْرِيثُهُ بِالتَّعْلِيمِ وَالتَّأْلِيفِ وَالنَّشْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَهَا نَحْنُ نَذْكُرُ عُلَمَاءَ مَاتُوا مِنْ مِئَاتِ السِّنِينَ وَنَتَرَحَّمُ عَلَيْهِمْ وَنَدْعُوا لَهُمْ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ النَّافِعُ الَّذِي يَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْعِلْمُ أَكْثَرَ نَفْعًا وَأَوْسَعَ انْتِشَارًا كَانَ أَعْظَمَ ثَوَابًا وَأَجْرًا وَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مَنْ دَعَا إلَى هُدًى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ مَمَاتِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقِصُهُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا


Wahai para hamba Allah! Perkara kedua yang pahalanya terus mengalir bagi seseorang setelah kematiannya adalah ilmu yang bermanfaat. Adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu ini dapat diwariskan dengan mengajarkannya, menulisnya, menyebarkannya, dan lain sebagainya. Lihatlah saat ini kita menyebut nama para ulama yang telah wafat ratusan tahun silam. Namun, hingga kini kita tetap memohonkan rahmat serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Inilah ilmu bermanfaat yang tetap kekal bagi seseorang setelah ia wafat. Semakin besar manfaat ilmu tersebut dan semakin luas penyebarannya, maka semakin besar balasan dan pahalanya. Termasuk dalam hal ini, orang yang mengajak kepada kebaikan, dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, meskipun itu setelah kematiannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim) ===== عِبَادَ اللَّه وَالْأَمْرُ الثَّانِي مِمَّا يَسْتَمِرُّ أَجْرُهُ وَثَوَابُهُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَمَاتِهِ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَالْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ الْمُسْتَمَدُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَكُونُ تَوْرِيثُهُ بِالتَّعْلِيمِ وَالتَّأْلِيفِ وَالنَّشْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَهَا نَحْنُ نَذْكُرُ عُلَمَاءَ مَاتُوا مِنْ مِئَاتِ السِّنِينَ وَنَتَرَحَّمُ عَلَيْهِمْ وَنَدْعُوا لَهُمْ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ النَّافِعُ الَّذِي يَبْقَى لِلْإِنْسَانِ بَعْدَ مَمَاتِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْعِلْمُ أَكْثَرَ نَفْعًا وَأَوْسَعَ انْتِشَارًا كَانَ أَعْظَمَ ثَوَابًا وَأَجْرًا وَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مَنْ دَعَا إلَى هُدًى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ مَمَاتِهِ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقِصُهُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Pernah Hafal Al-Qur’an Lalu Lupa? Simak Hukum dan Solusinya – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri #NasehatUlama

Syaikh kami, saudari Ummu Muhammad dari Qatar bertanya: Ada wanita yang dulunya hafal kira-kira separuh Al-Qur’an, tapi sekarang hafalannya hanya tersisa tiga surah pertama setelah Al-Fatihah, yakni Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa’. Apakah dia berdosa karena lupa surat-surat dan ayat-ayat yang pernah dia hafal? Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya yang tepercaya. Amma ba’du: Pertama, menghafal Al-Qur’an adalah amal saleh yang agung dan mengandung pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut: 49). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Rongga hati yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Al-Qur’an, bagaikan rumah yang runtuh.” Oleh karena itu, menghafal Al-Qur’an termasuk amal saleh, dan menjadi salah satu sebab tingginya derajat seorang hamba pada hari kiamat. Terdapat riwayat bahwa akan dikatakan kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Baca dan naiklah, seperti dulu kamu membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada ayat terakhir yang kamu baca.” Hadits ini terdapat dalam kitab As-Sunan, meski sebagian ulama menilai sanadnya lemah. Ketiga [kedua], mengenai perkara melupakan Al-Qur’an. Apabila hal itu terjadi karena kelalaian seseorang, ia wajib mengulang kembali hafalan yang telah terlupa tersebut, dengan mengerahkan usaha untuk menghafalnya kembali. Adapun hafalan yang ia lupa tanpa sengaja, serta bukan karena sikap abai, maka hal itu tidak membuatnya berdosa. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Aku telah terlupa ayat ini dan itu…” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan: “Lalu si Fulan mengingatkanku…”Hal ini menunjukkan bahwa sifat lupa bukan atas kehendak hamba, dan ia tidak dihukum atas hal itu selama tidak ada unsur kelalaian. Kemudian wasiat kami yang keempat [ketiga], untuk saudari yang bertanya, maupun orang yang ditanyakannya: Hendaklah engkau senantiasa mengulang hafalan Al-Qur’anmu, dan menyusun jadwal tilawah mingguan untuk menjaga hafalan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jagalah hafalan Al-Qur’an, karena ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatan talinya.” Maka dari itu, ia perlu memperbanyak membaca Al-Qur’an, agar hafalannya tetap terjaga, sehingga ia mendapat manfaatnya pada hari perjumpaan dengan Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. ===== شَيْخَنَا الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنْ قَطَر تَقُولُ امْرَأَةٌ كَانَتْ تَحْفَظُ تَقْرِيبًا نِصْفَ الْقُرْآنِ الْآنَ لَا تَحْفَظُ إِلَّا ثَلَاثَ السُّوَرِ الْأُوَلِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ وَالنِّسَاءَ فَهَلْ عَلَيْهَا شَيْءٌ فِي نِسْيَانِ تِلْكَ السُّوَرِ وَتِلْكَ الْايَاتِ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ وَبَعْدُ أَوَّلًا حِفْظُ الْقُرْآنِ عَمَلٌ صَالِحٌ جَلِيلٌ وَفِيهِ ثَوَابٌ كَبِيرٌ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْجَوْفُ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ مِنْ هُنَا فَإِنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَمِمَّا يَكُونُ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ رُقِيِّ دَرَجَةِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّهُ يُقَالُ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَأْ وَارْتَقِ كَمَا كُنْتَ تَقْرَأُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي السُّنَنِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ ضَعَّفَ إِسْنَادَهُ ثَالِثًا بِالنِّسْبَةِ لِنِسْيَانِ الْقُرْآنِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ بِتَفْرِيطٍ مِنَ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِإِعَادَةِ هَذَا الَّذِي نَسِيَهُ بِبَذْلِ الْأَسْبَابِ لِحِفْظِهِ مَرَّةً أُخْرَى وَالَّذِي نَسِيَهُ بِدُونِ قَصْدٍ مِنْهُ وَبِدُونِ إِهْمَالٍ مِنْهُ فَهَذَا لَا يَلْحَقُهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَأْثَمِ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ إِنِّي نَسِيتُ آيَةَ كَذَا وَكَذَا يَقُولُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذْكَرَنِيْهَا فُلَانٌ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ النِّسْيَانَ لَيْسَ مِنْ فِعْلِ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْهُ تَفْرِيطٌ وَوَصِيَّتُنَا رَابِعًا لِأُخْتِنَا السَّائِلَةِ أَوِ الْمَسْؤُولِ عَنْهَا أَنْ تُكَرِّرَ حِفْظَهَا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَقُومَ بِتَرْتِيبِ قِرَاءَةٍ أُسْبُوعِيَّةٍ لِمَحْفُوظَاتِهَا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُصِيِّهَا وَبِالتَّالِي عَلَيْهَا أَنْ تُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَبْقَى لِتَسْتَفِيدَ مِنْهُ يَوْمَ لِقَائِهَا لِرَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

Pernah Hafal Al-Qur’an Lalu Lupa? Simak Hukum dan Solusinya – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri #NasehatUlama

Syaikh kami, saudari Ummu Muhammad dari Qatar bertanya: Ada wanita yang dulunya hafal kira-kira separuh Al-Qur’an, tapi sekarang hafalannya hanya tersisa tiga surah pertama setelah Al-Fatihah, yakni Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa’. Apakah dia berdosa karena lupa surat-surat dan ayat-ayat yang pernah dia hafal? Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya yang tepercaya. Amma ba’du: Pertama, menghafal Al-Qur’an adalah amal saleh yang agung dan mengandung pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut: 49). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Rongga hati yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Al-Qur’an, bagaikan rumah yang runtuh.” Oleh karena itu, menghafal Al-Qur’an termasuk amal saleh, dan menjadi salah satu sebab tingginya derajat seorang hamba pada hari kiamat. Terdapat riwayat bahwa akan dikatakan kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Baca dan naiklah, seperti dulu kamu membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada ayat terakhir yang kamu baca.” Hadits ini terdapat dalam kitab As-Sunan, meski sebagian ulama menilai sanadnya lemah. Ketiga [kedua], mengenai perkara melupakan Al-Qur’an. Apabila hal itu terjadi karena kelalaian seseorang, ia wajib mengulang kembali hafalan yang telah terlupa tersebut, dengan mengerahkan usaha untuk menghafalnya kembali. Adapun hafalan yang ia lupa tanpa sengaja, serta bukan karena sikap abai, maka hal itu tidak membuatnya berdosa. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Aku telah terlupa ayat ini dan itu…” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan: “Lalu si Fulan mengingatkanku…”Hal ini menunjukkan bahwa sifat lupa bukan atas kehendak hamba, dan ia tidak dihukum atas hal itu selama tidak ada unsur kelalaian. Kemudian wasiat kami yang keempat [ketiga], untuk saudari yang bertanya, maupun orang yang ditanyakannya: Hendaklah engkau senantiasa mengulang hafalan Al-Qur’anmu, dan menyusun jadwal tilawah mingguan untuk menjaga hafalan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jagalah hafalan Al-Qur’an, karena ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatan talinya.” Maka dari itu, ia perlu memperbanyak membaca Al-Qur’an, agar hafalannya tetap terjaga, sehingga ia mendapat manfaatnya pada hari perjumpaan dengan Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. ===== شَيْخَنَا الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنْ قَطَر تَقُولُ امْرَأَةٌ كَانَتْ تَحْفَظُ تَقْرِيبًا نِصْفَ الْقُرْآنِ الْآنَ لَا تَحْفَظُ إِلَّا ثَلَاثَ السُّوَرِ الْأُوَلِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ وَالنِّسَاءَ فَهَلْ عَلَيْهَا شَيْءٌ فِي نِسْيَانِ تِلْكَ السُّوَرِ وَتِلْكَ الْايَاتِ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ وَبَعْدُ أَوَّلًا حِفْظُ الْقُرْآنِ عَمَلٌ صَالِحٌ جَلِيلٌ وَفِيهِ ثَوَابٌ كَبِيرٌ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْجَوْفُ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ مِنْ هُنَا فَإِنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَمِمَّا يَكُونُ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ رُقِيِّ دَرَجَةِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّهُ يُقَالُ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَأْ وَارْتَقِ كَمَا كُنْتَ تَقْرَأُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي السُّنَنِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ ضَعَّفَ إِسْنَادَهُ ثَالِثًا بِالنِّسْبَةِ لِنِسْيَانِ الْقُرْآنِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ بِتَفْرِيطٍ مِنَ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِإِعَادَةِ هَذَا الَّذِي نَسِيَهُ بِبَذْلِ الْأَسْبَابِ لِحِفْظِهِ مَرَّةً أُخْرَى وَالَّذِي نَسِيَهُ بِدُونِ قَصْدٍ مِنْهُ وَبِدُونِ إِهْمَالٍ مِنْهُ فَهَذَا لَا يَلْحَقُهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَأْثَمِ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ إِنِّي نَسِيتُ آيَةَ كَذَا وَكَذَا يَقُولُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذْكَرَنِيْهَا فُلَانٌ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ النِّسْيَانَ لَيْسَ مِنْ فِعْلِ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْهُ تَفْرِيطٌ وَوَصِيَّتُنَا رَابِعًا لِأُخْتِنَا السَّائِلَةِ أَوِ الْمَسْؤُولِ عَنْهَا أَنْ تُكَرِّرَ حِفْظَهَا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَقُومَ بِتَرْتِيبِ قِرَاءَةٍ أُسْبُوعِيَّةٍ لِمَحْفُوظَاتِهَا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُصِيِّهَا وَبِالتَّالِي عَلَيْهَا أَنْ تُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَبْقَى لِتَسْتَفِيدَ مِنْهُ يَوْمَ لِقَائِهَا لِرَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ
Syaikh kami, saudari Ummu Muhammad dari Qatar bertanya: Ada wanita yang dulunya hafal kira-kira separuh Al-Qur’an, tapi sekarang hafalannya hanya tersisa tiga surah pertama setelah Al-Fatihah, yakni Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa’. Apakah dia berdosa karena lupa surat-surat dan ayat-ayat yang pernah dia hafal? Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya yang tepercaya. Amma ba’du: Pertama, menghafal Al-Qur’an adalah amal saleh yang agung dan mengandung pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut: 49). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Rongga hati yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Al-Qur’an, bagaikan rumah yang runtuh.” Oleh karena itu, menghafal Al-Qur’an termasuk amal saleh, dan menjadi salah satu sebab tingginya derajat seorang hamba pada hari kiamat. Terdapat riwayat bahwa akan dikatakan kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Baca dan naiklah, seperti dulu kamu membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada ayat terakhir yang kamu baca.” Hadits ini terdapat dalam kitab As-Sunan, meski sebagian ulama menilai sanadnya lemah. Ketiga [kedua], mengenai perkara melupakan Al-Qur’an. Apabila hal itu terjadi karena kelalaian seseorang, ia wajib mengulang kembali hafalan yang telah terlupa tersebut, dengan mengerahkan usaha untuk menghafalnya kembali. Adapun hafalan yang ia lupa tanpa sengaja, serta bukan karena sikap abai, maka hal itu tidak membuatnya berdosa. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Aku telah terlupa ayat ini dan itu…” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan: “Lalu si Fulan mengingatkanku…”Hal ini menunjukkan bahwa sifat lupa bukan atas kehendak hamba, dan ia tidak dihukum atas hal itu selama tidak ada unsur kelalaian. Kemudian wasiat kami yang keempat [ketiga], untuk saudari yang bertanya, maupun orang yang ditanyakannya: Hendaklah engkau senantiasa mengulang hafalan Al-Qur’anmu, dan menyusun jadwal tilawah mingguan untuk menjaga hafalan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jagalah hafalan Al-Qur’an, karena ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatan talinya.” Maka dari itu, ia perlu memperbanyak membaca Al-Qur’an, agar hafalannya tetap terjaga, sehingga ia mendapat manfaatnya pada hari perjumpaan dengan Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. ===== شَيْخَنَا الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنْ قَطَر تَقُولُ امْرَأَةٌ كَانَتْ تَحْفَظُ تَقْرِيبًا نِصْفَ الْقُرْآنِ الْآنَ لَا تَحْفَظُ إِلَّا ثَلَاثَ السُّوَرِ الْأُوَلِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ وَالنِّسَاءَ فَهَلْ عَلَيْهَا شَيْءٌ فِي نِسْيَانِ تِلْكَ السُّوَرِ وَتِلْكَ الْايَاتِ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ وَبَعْدُ أَوَّلًا حِفْظُ الْقُرْآنِ عَمَلٌ صَالِحٌ جَلِيلٌ وَفِيهِ ثَوَابٌ كَبِيرٌ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْجَوْفُ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ مِنْ هُنَا فَإِنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَمِمَّا يَكُونُ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ رُقِيِّ دَرَجَةِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّهُ يُقَالُ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَأْ وَارْتَقِ كَمَا كُنْتَ تَقْرَأُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي السُّنَنِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ ضَعَّفَ إِسْنَادَهُ ثَالِثًا بِالنِّسْبَةِ لِنِسْيَانِ الْقُرْآنِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ بِتَفْرِيطٍ مِنَ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِإِعَادَةِ هَذَا الَّذِي نَسِيَهُ بِبَذْلِ الْأَسْبَابِ لِحِفْظِهِ مَرَّةً أُخْرَى وَالَّذِي نَسِيَهُ بِدُونِ قَصْدٍ مِنْهُ وَبِدُونِ إِهْمَالٍ مِنْهُ فَهَذَا لَا يَلْحَقُهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَأْثَمِ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ إِنِّي نَسِيتُ آيَةَ كَذَا وَكَذَا يَقُولُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذْكَرَنِيْهَا فُلَانٌ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ النِّسْيَانَ لَيْسَ مِنْ فِعْلِ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْهُ تَفْرِيطٌ وَوَصِيَّتُنَا رَابِعًا لِأُخْتِنَا السَّائِلَةِ أَوِ الْمَسْؤُولِ عَنْهَا أَنْ تُكَرِّرَ حِفْظَهَا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَقُومَ بِتَرْتِيبِ قِرَاءَةٍ أُسْبُوعِيَّةٍ لِمَحْفُوظَاتِهَا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُصِيِّهَا وَبِالتَّالِي عَلَيْهَا أَنْ تُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَبْقَى لِتَسْتَفِيدَ مِنْهُ يَوْمَ لِقَائِهَا لِرَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ


Syaikh kami, saudari Ummu Muhammad dari Qatar bertanya: Ada wanita yang dulunya hafal kira-kira separuh Al-Qur’an, tapi sekarang hafalannya hanya tersisa tiga surah pertama setelah Al-Fatihah, yakni Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa’. Apakah dia berdosa karena lupa surat-surat dan ayat-ayat yang pernah dia hafal? Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya yang tepercaya. Amma ba’du: Pertama, menghafal Al-Qur’an adalah amal saleh yang agung dan mengandung pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut: 49). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Rongga hati yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Al-Qur’an, bagaikan rumah yang runtuh.” Oleh karena itu, menghafal Al-Qur’an termasuk amal saleh, dan menjadi salah satu sebab tingginya derajat seorang hamba pada hari kiamat. Terdapat riwayat bahwa akan dikatakan kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Baca dan naiklah, seperti dulu kamu membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada ayat terakhir yang kamu baca.” Hadits ini terdapat dalam kitab As-Sunan, meski sebagian ulama menilai sanadnya lemah. Ketiga [kedua], mengenai perkara melupakan Al-Qur’an. Apabila hal itu terjadi karena kelalaian seseorang, ia wajib mengulang kembali hafalan yang telah terlupa tersebut, dengan mengerahkan usaha untuk menghafalnya kembali. Adapun hafalan yang ia lupa tanpa sengaja, serta bukan karena sikap abai, maka hal itu tidak membuatnya berdosa. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Aku telah terlupa ayat ini dan itu…” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan: “Lalu si Fulan mengingatkanku…”Hal ini menunjukkan bahwa sifat lupa bukan atas kehendak hamba, dan ia tidak dihukum atas hal itu selama tidak ada unsur kelalaian. Kemudian wasiat kami yang keempat [ketiga], untuk saudari yang bertanya, maupun orang yang ditanyakannya: Hendaklah engkau senantiasa mengulang hafalan Al-Qur’anmu, dan menyusun jadwal tilawah mingguan untuk menjaga hafalan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jagalah hafalan Al-Qur’an, karena ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatan talinya.” Maka dari itu, ia perlu memperbanyak membaca Al-Qur’an, agar hafalannya tetap terjaga, sehingga ia mendapat manfaatnya pada hari perjumpaan dengan Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. ===== شَيْخَنَا الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنْ قَطَر تَقُولُ امْرَأَةٌ كَانَتْ تَحْفَظُ تَقْرِيبًا نِصْفَ الْقُرْآنِ الْآنَ لَا تَحْفَظُ إِلَّا ثَلَاثَ السُّوَرِ الْأُوَلِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ وَالنِّسَاءَ فَهَلْ عَلَيْهَا شَيْءٌ فِي نِسْيَانِ تِلْكَ السُّوَرِ وَتِلْكَ الْايَاتِ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ وَبَعْدُ أَوَّلًا حِفْظُ الْقُرْآنِ عَمَلٌ صَالِحٌ جَلِيلٌ وَفِيهِ ثَوَابٌ كَبِيرٌ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْجَوْفُ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ مِنْ هُنَا فَإِنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَمِمَّا يَكُونُ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ رُقِيِّ دَرَجَةِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّهُ يُقَالُ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَأْ وَارْتَقِ كَمَا كُنْتَ تَقْرَأُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي السُّنَنِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ ضَعَّفَ إِسْنَادَهُ ثَالِثًا بِالنِّسْبَةِ لِنِسْيَانِ الْقُرْآنِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ بِتَفْرِيطٍ مِنَ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِإِعَادَةِ هَذَا الَّذِي نَسِيَهُ بِبَذْلِ الْأَسْبَابِ لِحِفْظِهِ مَرَّةً أُخْرَى وَالَّذِي نَسِيَهُ بِدُونِ قَصْدٍ مِنْهُ وَبِدُونِ إِهْمَالٍ مِنْهُ فَهَذَا لَا يَلْحَقُهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَأْثَمِ وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ إِنِّي نَسِيتُ آيَةَ كَذَا وَكَذَا يَقُولُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذْكَرَنِيْهَا فُلَانٌ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ النِّسْيَانَ لَيْسَ مِنْ فِعْلِ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْهُ تَفْرِيطٌ وَوَصِيَّتُنَا رَابِعًا لِأُخْتِنَا السَّائِلَةِ أَوِ الْمَسْؤُولِ عَنْهَا أَنْ تُكَرِّرَ حِفْظَهَا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَقُومَ بِتَرْتِيبِ قِرَاءَةٍ أُسْبُوعِيَّةٍ لِمَحْفُوظَاتِهَا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُصِيِّهَا وَبِالتَّالِي عَلَيْهَا أَنْ تُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَبْقَى لِتَسْتَفِيدَ مِنْهُ يَوْمَ لِقَائِهَا لِرَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

Taat Kepada Syariat Tanpa Syarat

Daftar Isi ToggleAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Kedua, aturan Allah “pasti benar”Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatIslam adalah penyerahan diri sepenuhnyaKetaatan bukan beban, tapi kemuliaanDalam perjalanan hidup seorang mukmin, tidak ada prinsip yang lebih agung, lebih menenangkan, dan lebih menyelamatkan selain sikap tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ia bukan sekadar aturan agama, tetapi fondasi keimanan bahwasanya hati mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan raga membuktikannya dengan ketaatan.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)Ayat ini menjadi kaidah penting yang membantu seorang mukmin untuk menundukkan hatinya kepada Allah sang pemilik alam semesta dan mendidik amalannya agar sesuai dengan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti ia telah menaati Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ“Barang siapa taat kepada Rasul, sungguh ia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 80)Ayat di atas juga menggambarkan bahwa kepatuhan seorang hamba kepada Rabbnya, berbeda dengan kepatuhannya kepada manusia. Karena kepatuhan seseorang kepada Allah sifatnya adalah mutlak (tanpa syarat), sedangkan kepatuhan seseorang kepada manusia adalah relatif. Jika manusia memerintahkan kepada kebaikan, maka kita patuhi; namun jika buruk, kita tinggalkan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Taat dan Maksiat Akan Mengajak SaudaranyaAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Bagaimana kita tidak tunduk kepada Allah Ta’ala, sementara setiap detik hidup kita adalah bukti kasih sayang-Nya?Mulai dari nikmat dunia yang kita rasakan tanpa diminta, seperti udara yang mengisi paru-paru, jantung yang berdenyut tanpa kita perintah, rezeki yang datang dari arah tak terduga, keselamatan yang Allah Ta’ala jaga dari bahaya yang tak terlihat, hingga nikmat ibadah yang mengangkat derajat kita di sisi-Nya.Betapa agung karunia Allah Ta’ala yang menghadiahkan kita hidayah Islam, kemampuan untuk berdiri dalam salat, kekuatan untuk berpuasa, kelembutan dalam bersedekah, dan ketenangan yang turun ketika kita mengingat-Nya. Setiap nikmat itu adalah rahmat dan karunia dari Allah Ta’ala agar kita tunduk tanpa syarat, karena semua yang kita miliki hanyalah titipan-Nya, dan semua kebaikan berasal dari tangan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ“Apa pun nikmat yang ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Jika semua nikmat berasal dari-Nya, maka pantaslah ketaatan kita diberikan sepenuhnya kepada-Nya.Kedua, aturan Allah “pasti benar”Allah Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, tidak pernah salah dan tidak mungkin khilaf. Sementara aturan manusia bisa benar, bisa salah. Undang-undang saja direvisi, peraturan diganti, kebijakan berubah. Apa yang hari ini dianggap benar, besok bisa dianggap keliru. Begitulah keterbatasan manusia.Namun, aturan Allah Ta’ala tidak pernah berubah dan tidak membutuhkan perbaikan. Ia turun dari Zat Yang Maha Benar dan Maha Bijaksana, yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan sempurna. Allah mengetahui apa yang mendatangkan manfaat bagi hamba-Nya dan apa yang membinasakan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ“Bukankah Allah yang menciptakan (manusia) lebih mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Allah Ta’ala tidak pernah membuat aturan untuk menyulitkan hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ“Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (QS. Al-Baqarah: 185)Jika ada suatu aturan yang dianggap susah oleh sebagian manusia, maka susah tersebut pasti berbuah kebaikan (ada hikmah yang besar di baliknya). Sebagai contoh, bayi yang belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali, menangis, bangun lagi, dan jatuh lagi. Proses itu berat, tetapi itu satu-satunya cara agar ia dapat berjalan dengan sempurna.Demikian pula syariat; puasa terasa berat, tetapi menyehatkan tubuh dan membersihkan jiwa. Salat membutuhkan waktu, tetapi menenteramkan hati dan menahan dari keburukan. Menahan diri dari maksiat memang terasa sulit, tetapi itu yang menjaga kehormatan dan keberkahan hidup.Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatPerhatikan bagaimana Allah Ta’ala mengatur hidup kita dengan melihat bahwasanya sesuatu yang dihalalkan sangatlah banyak dan yang diharamkan relatif sedikit. Kita boleh makan ribuan jenis makanan, sementara yang diharamkan hanya beberapa. Bahkan makanan manusia itu jauh lebih beragam daripada makanan hewan: mulai dari buah, sayur, daging, susu, biji-bijian, ikan, dan banyak lainnya.Maksiat yang Allah Ta’ala haramkan, seperti zina, riba, minuman keras, pasti membawa kerusakan fisik, moral, maupun sosial. Sehingga ia akan merugi; tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Allah Ta’ala tidak melarang manusia dari sesuatu kecuali karena mudaratnya yang besar.Islam adalah penyerahan diri sepenuhnyaMakna Islam sendiri berasal dari kata:اَلْإِسْلَامُ هُوَ الِاسْتِسْلَامُ لِلّٰهِ“Islam adalah pasrah, tunduk, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.” (Lihat Ta’limush Shibyan At-Tauhid, hal. 16-18)Seorang muslim adalah yang menundukkan ego ketika wahyu berbicara, mengalahkan hawa nafsu demi mendapatkan rida-Nya, serta menerima seluruh syariat dengan penuh kepasrahan meski belum mengetahui seluruh hikmah-Nya.Ketika hati tunduk, akal merendah, dan tubuh patuh mengikuti perintah Allah Ta’ala, di situlah letak hakikat keislaman. Inilah bentuk kepatuhan tanpa syarat, yaitu ketaatan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah, tidak pernah menzalimi hamba-Nya, dan tidak pernah memberi aturan kecuali untuk mengangkat derajat mereka.Ketaatan bukan beban, tapi kemuliaanKetaatan kepada Allah Ta’ala bukanlah beban, ia adalah kemuliaan. Bukan pula paksaan, ia adalah jalan kebahagiaan. Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala, ia telah memilih tempat paling aman di dunia dan akhirat.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima setiap perintah-Nya dengan ringan, mengamalkannya dengan ikhlas, dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran.Baca juga: Taat Beragama = Fanatik Beragama?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Taat Kepada Syariat Tanpa Syarat

Daftar Isi ToggleAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Kedua, aturan Allah “pasti benar”Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatIslam adalah penyerahan diri sepenuhnyaKetaatan bukan beban, tapi kemuliaanDalam perjalanan hidup seorang mukmin, tidak ada prinsip yang lebih agung, lebih menenangkan, dan lebih menyelamatkan selain sikap tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ia bukan sekadar aturan agama, tetapi fondasi keimanan bahwasanya hati mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan raga membuktikannya dengan ketaatan.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)Ayat ini menjadi kaidah penting yang membantu seorang mukmin untuk menundukkan hatinya kepada Allah sang pemilik alam semesta dan mendidik amalannya agar sesuai dengan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti ia telah menaati Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ“Barang siapa taat kepada Rasul, sungguh ia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 80)Ayat di atas juga menggambarkan bahwa kepatuhan seorang hamba kepada Rabbnya, berbeda dengan kepatuhannya kepada manusia. Karena kepatuhan seseorang kepada Allah sifatnya adalah mutlak (tanpa syarat), sedangkan kepatuhan seseorang kepada manusia adalah relatif. Jika manusia memerintahkan kepada kebaikan, maka kita patuhi; namun jika buruk, kita tinggalkan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Taat dan Maksiat Akan Mengajak SaudaranyaAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Bagaimana kita tidak tunduk kepada Allah Ta’ala, sementara setiap detik hidup kita adalah bukti kasih sayang-Nya?Mulai dari nikmat dunia yang kita rasakan tanpa diminta, seperti udara yang mengisi paru-paru, jantung yang berdenyut tanpa kita perintah, rezeki yang datang dari arah tak terduga, keselamatan yang Allah Ta’ala jaga dari bahaya yang tak terlihat, hingga nikmat ibadah yang mengangkat derajat kita di sisi-Nya.Betapa agung karunia Allah Ta’ala yang menghadiahkan kita hidayah Islam, kemampuan untuk berdiri dalam salat, kekuatan untuk berpuasa, kelembutan dalam bersedekah, dan ketenangan yang turun ketika kita mengingat-Nya. Setiap nikmat itu adalah rahmat dan karunia dari Allah Ta’ala agar kita tunduk tanpa syarat, karena semua yang kita miliki hanyalah titipan-Nya, dan semua kebaikan berasal dari tangan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ“Apa pun nikmat yang ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Jika semua nikmat berasal dari-Nya, maka pantaslah ketaatan kita diberikan sepenuhnya kepada-Nya.Kedua, aturan Allah “pasti benar”Allah Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, tidak pernah salah dan tidak mungkin khilaf. Sementara aturan manusia bisa benar, bisa salah. Undang-undang saja direvisi, peraturan diganti, kebijakan berubah. Apa yang hari ini dianggap benar, besok bisa dianggap keliru. Begitulah keterbatasan manusia.Namun, aturan Allah Ta’ala tidak pernah berubah dan tidak membutuhkan perbaikan. Ia turun dari Zat Yang Maha Benar dan Maha Bijaksana, yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan sempurna. Allah mengetahui apa yang mendatangkan manfaat bagi hamba-Nya dan apa yang membinasakan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ“Bukankah Allah yang menciptakan (manusia) lebih mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Allah Ta’ala tidak pernah membuat aturan untuk menyulitkan hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ“Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (QS. Al-Baqarah: 185)Jika ada suatu aturan yang dianggap susah oleh sebagian manusia, maka susah tersebut pasti berbuah kebaikan (ada hikmah yang besar di baliknya). Sebagai contoh, bayi yang belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali, menangis, bangun lagi, dan jatuh lagi. Proses itu berat, tetapi itu satu-satunya cara agar ia dapat berjalan dengan sempurna.Demikian pula syariat; puasa terasa berat, tetapi menyehatkan tubuh dan membersihkan jiwa. Salat membutuhkan waktu, tetapi menenteramkan hati dan menahan dari keburukan. Menahan diri dari maksiat memang terasa sulit, tetapi itu yang menjaga kehormatan dan keberkahan hidup.Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatPerhatikan bagaimana Allah Ta’ala mengatur hidup kita dengan melihat bahwasanya sesuatu yang dihalalkan sangatlah banyak dan yang diharamkan relatif sedikit. Kita boleh makan ribuan jenis makanan, sementara yang diharamkan hanya beberapa. Bahkan makanan manusia itu jauh lebih beragam daripada makanan hewan: mulai dari buah, sayur, daging, susu, biji-bijian, ikan, dan banyak lainnya.Maksiat yang Allah Ta’ala haramkan, seperti zina, riba, minuman keras, pasti membawa kerusakan fisik, moral, maupun sosial. Sehingga ia akan merugi; tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Allah Ta’ala tidak melarang manusia dari sesuatu kecuali karena mudaratnya yang besar.Islam adalah penyerahan diri sepenuhnyaMakna Islam sendiri berasal dari kata:اَلْإِسْلَامُ هُوَ الِاسْتِسْلَامُ لِلّٰهِ“Islam adalah pasrah, tunduk, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.” (Lihat Ta’limush Shibyan At-Tauhid, hal. 16-18)Seorang muslim adalah yang menundukkan ego ketika wahyu berbicara, mengalahkan hawa nafsu demi mendapatkan rida-Nya, serta menerima seluruh syariat dengan penuh kepasrahan meski belum mengetahui seluruh hikmah-Nya.Ketika hati tunduk, akal merendah, dan tubuh patuh mengikuti perintah Allah Ta’ala, di situlah letak hakikat keislaman. Inilah bentuk kepatuhan tanpa syarat, yaitu ketaatan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah, tidak pernah menzalimi hamba-Nya, dan tidak pernah memberi aturan kecuali untuk mengangkat derajat mereka.Ketaatan bukan beban, tapi kemuliaanKetaatan kepada Allah Ta’ala bukanlah beban, ia adalah kemuliaan. Bukan pula paksaan, ia adalah jalan kebahagiaan. Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala, ia telah memilih tempat paling aman di dunia dan akhirat.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima setiap perintah-Nya dengan ringan, mengamalkannya dengan ikhlas, dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran.Baca juga: Taat Beragama = Fanatik Beragama?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
Daftar Isi ToggleAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Kedua, aturan Allah “pasti benar”Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatIslam adalah penyerahan diri sepenuhnyaKetaatan bukan beban, tapi kemuliaanDalam perjalanan hidup seorang mukmin, tidak ada prinsip yang lebih agung, lebih menenangkan, dan lebih menyelamatkan selain sikap tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ia bukan sekadar aturan agama, tetapi fondasi keimanan bahwasanya hati mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan raga membuktikannya dengan ketaatan.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)Ayat ini menjadi kaidah penting yang membantu seorang mukmin untuk menundukkan hatinya kepada Allah sang pemilik alam semesta dan mendidik amalannya agar sesuai dengan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti ia telah menaati Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ“Barang siapa taat kepada Rasul, sungguh ia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 80)Ayat di atas juga menggambarkan bahwa kepatuhan seorang hamba kepada Rabbnya, berbeda dengan kepatuhannya kepada manusia. Karena kepatuhan seseorang kepada Allah sifatnya adalah mutlak (tanpa syarat), sedangkan kepatuhan seseorang kepada manusia adalah relatif. Jika manusia memerintahkan kepada kebaikan, maka kita patuhi; namun jika buruk, kita tinggalkan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Taat dan Maksiat Akan Mengajak SaudaranyaAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Bagaimana kita tidak tunduk kepada Allah Ta’ala, sementara setiap detik hidup kita adalah bukti kasih sayang-Nya?Mulai dari nikmat dunia yang kita rasakan tanpa diminta, seperti udara yang mengisi paru-paru, jantung yang berdenyut tanpa kita perintah, rezeki yang datang dari arah tak terduga, keselamatan yang Allah Ta’ala jaga dari bahaya yang tak terlihat, hingga nikmat ibadah yang mengangkat derajat kita di sisi-Nya.Betapa agung karunia Allah Ta’ala yang menghadiahkan kita hidayah Islam, kemampuan untuk berdiri dalam salat, kekuatan untuk berpuasa, kelembutan dalam bersedekah, dan ketenangan yang turun ketika kita mengingat-Nya. Setiap nikmat itu adalah rahmat dan karunia dari Allah Ta’ala agar kita tunduk tanpa syarat, karena semua yang kita miliki hanyalah titipan-Nya, dan semua kebaikan berasal dari tangan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ“Apa pun nikmat yang ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Jika semua nikmat berasal dari-Nya, maka pantaslah ketaatan kita diberikan sepenuhnya kepada-Nya.Kedua, aturan Allah “pasti benar”Allah Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, tidak pernah salah dan tidak mungkin khilaf. Sementara aturan manusia bisa benar, bisa salah. Undang-undang saja direvisi, peraturan diganti, kebijakan berubah. Apa yang hari ini dianggap benar, besok bisa dianggap keliru. Begitulah keterbatasan manusia.Namun, aturan Allah Ta’ala tidak pernah berubah dan tidak membutuhkan perbaikan. Ia turun dari Zat Yang Maha Benar dan Maha Bijaksana, yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan sempurna. Allah mengetahui apa yang mendatangkan manfaat bagi hamba-Nya dan apa yang membinasakan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ“Bukankah Allah yang menciptakan (manusia) lebih mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Allah Ta’ala tidak pernah membuat aturan untuk menyulitkan hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ“Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (QS. Al-Baqarah: 185)Jika ada suatu aturan yang dianggap susah oleh sebagian manusia, maka susah tersebut pasti berbuah kebaikan (ada hikmah yang besar di baliknya). Sebagai contoh, bayi yang belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali, menangis, bangun lagi, dan jatuh lagi. Proses itu berat, tetapi itu satu-satunya cara agar ia dapat berjalan dengan sempurna.Demikian pula syariat; puasa terasa berat, tetapi menyehatkan tubuh dan membersihkan jiwa. Salat membutuhkan waktu, tetapi menenteramkan hati dan menahan dari keburukan. Menahan diri dari maksiat memang terasa sulit, tetapi itu yang menjaga kehormatan dan keberkahan hidup.Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatPerhatikan bagaimana Allah Ta’ala mengatur hidup kita dengan melihat bahwasanya sesuatu yang dihalalkan sangatlah banyak dan yang diharamkan relatif sedikit. Kita boleh makan ribuan jenis makanan, sementara yang diharamkan hanya beberapa. Bahkan makanan manusia itu jauh lebih beragam daripada makanan hewan: mulai dari buah, sayur, daging, susu, biji-bijian, ikan, dan banyak lainnya.Maksiat yang Allah Ta’ala haramkan, seperti zina, riba, minuman keras, pasti membawa kerusakan fisik, moral, maupun sosial. Sehingga ia akan merugi; tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Allah Ta’ala tidak melarang manusia dari sesuatu kecuali karena mudaratnya yang besar.Islam adalah penyerahan diri sepenuhnyaMakna Islam sendiri berasal dari kata:اَلْإِسْلَامُ هُوَ الِاسْتِسْلَامُ لِلّٰهِ“Islam adalah pasrah, tunduk, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.” (Lihat Ta’limush Shibyan At-Tauhid, hal. 16-18)Seorang muslim adalah yang menundukkan ego ketika wahyu berbicara, mengalahkan hawa nafsu demi mendapatkan rida-Nya, serta menerima seluruh syariat dengan penuh kepasrahan meski belum mengetahui seluruh hikmah-Nya.Ketika hati tunduk, akal merendah, dan tubuh patuh mengikuti perintah Allah Ta’ala, di situlah letak hakikat keislaman. Inilah bentuk kepatuhan tanpa syarat, yaitu ketaatan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah, tidak pernah menzalimi hamba-Nya, dan tidak pernah memberi aturan kecuali untuk mengangkat derajat mereka.Ketaatan bukan beban, tapi kemuliaanKetaatan kepada Allah Ta’ala bukanlah beban, ia adalah kemuliaan. Bukan pula paksaan, ia adalah jalan kebahagiaan. Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala, ia telah memilih tempat paling aman di dunia dan akhirat.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima setiap perintah-Nya dengan ringan, mengamalkannya dengan ikhlas, dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran.Baca juga: Taat Beragama = Fanatik Beragama?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.


Daftar Isi ToggleAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Kedua, aturan Allah “pasti benar”Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatIslam adalah penyerahan diri sepenuhnyaKetaatan bukan beban, tapi kemuliaanDalam perjalanan hidup seorang mukmin, tidak ada prinsip yang lebih agung, lebih menenangkan, dan lebih menyelamatkan selain sikap tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ia bukan sekadar aturan agama, tetapi fondasi keimanan bahwasanya hati mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan raga membuktikannya dengan ketaatan.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)Ayat ini menjadi kaidah penting yang membantu seorang mukmin untuk menundukkan hatinya kepada Allah sang pemilik alam semesta dan mendidik amalannya agar sesuai dengan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti ia telah menaati Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ“Barang siapa taat kepada Rasul, sungguh ia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 80)Ayat di atas juga menggambarkan bahwa kepatuhan seorang hamba kepada Rabbnya, berbeda dengan kepatuhannya kepada manusia. Karena kepatuhan seseorang kepada Allah sifatnya adalah mutlak (tanpa syarat), sedangkan kepatuhan seseorang kepada manusia adalah relatif. Jika manusia memerintahkan kepada kebaikan, maka kita patuhi; namun jika buruk, kita tinggalkan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Taat dan Maksiat Akan Mengajak SaudaranyaAlasan taat tanpa syaratPertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”Bagaimana kita tidak tunduk kepada Allah Ta’ala, sementara setiap detik hidup kita adalah bukti kasih sayang-Nya?Mulai dari nikmat dunia yang kita rasakan tanpa diminta, seperti udara yang mengisi paru-paru, jantung yang berdenyut tanpa kita perintah, rezeki yang datang dari arah tak terduga, keselamatan yang Allah Ta’ala jaga dari bahaya yang tak terlihat, hingga nikmat ibadah yang mengangkat derajat kita di sisi-Nya.Betapa agung karunia Allah Ta’ala yang menghadiahkan kita hidayah Islam, kemampuan untuk berdiri dalam salat, kekuatan untuk berpuasa, kelembutan dalam bersedekah, dan ketenangan yang turun ketika kita mengingat-Nya. Setiap nikmat itu adalah rahmat dan karunia dari Allah Ta’ala agar kita tunduk tanpa syarat, karena semua yang kita miliki hanyalah titipan-Nya, dan semua kebaikan berasal dari tangan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ“Apa pun nikmat yang ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Jika semua nikmat berasal dari-Nya, maka pantaslah ketaatan kita diberikan sepenuhnya kepada-Nya.Kedua, aturan Allah “pasti benar”Allah Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, tidak pernah salah dan tidak mungkin khilaf. Sementara aturan manusia bisa benar, bisa salah. Undang-undang saja direvisi, peraturan diganti, kebijakan berubah. Apa yang hari ini dianggap benar, besok bisa dianggap keliru. Begitulah keterbatasan manusia.Namun, aturan Allah Ta’ala tidak pernah berubah dan tidak membutuhkan perbaikan. Ia turun dari Zat Yang Maha Benar dan Maha Bijaksana, yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan sempurna. Allah mengetahui apa yang mendatangkan manfaat bagi hamba-Nya dan apa yang membinasakan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ“Bukankah Allah yang menciptakan (manusia) lebih mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)Ketiga, aturan Allah “pasti baik”Allah Ta’ala tidak pernah membuat aturan untuk menyulitkan hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ“Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (QS. Al-Baqarah: 185)Jika ada suatu aturan yang dianggap susah oleh sebagian manusia, maka susah tersebut pasti berbuah kebaikan (ada hikmah yang besar di baliknya). Sebagai contoh, bayi yang belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali, menangis, bangun lagi, dan jatuh lagi. Proses itu berat, tetapi itu satu-satunya cara agar ia dapat berjalan dengan sempurna.Demikian pula syariat; puasa terasa berat, tetapi menyehatkan tubuh dan membersihkan jiwa. Salat membutuhkan waktu, tetapi menenteramkan hati dan menahan dari keburukan. Menahan diri dari maksiat memang terasa sulit, tetapi itu yang menjaga kehormatan dan keberkahan hidup.Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaatPerhatikan bagaimana Allah Ta’ala mengatur hidup kita dengan melihat bahwasanya sesuatu yang dihalalkan sangatlah banyak dan yang diharamkan relatif sedikit. Kita boleh makan ribuan jenis makanan, sementara yang diharamkan hanya beberapa. Bahkan makanan manusia itu jauh lebih beragam daripada makanan hewan: mulai dari buah, sayur, daging, susu, biji-bijian, ikan, dan banyak lainnya.Maksiat yang Allah Ta’ala haramkan, seperti zina, riba, minuman keras, pasti membawa kerusakan fisik, moral, maupun sosial. Sehingga ia akan merugi; tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Allah Ta’ala tidak melarang manusia dari sesuatu kecuali karena mudaratnya yang besar.Islam adalah penyerahan diri sepenuhnyaMakna Islam sendiri berasal dari kata:اَلْإِسْلَامُ هُوَ الِاسْتِسْلَامُ لِلّٰهِ“Islam adalah pasrah, tunduk, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.” (Lihat Ta’limush Shibyan At-Tauhid, hal. 16-18)Seorang muslim adalah yang menundukkan ego ketika wahyu berbicara, mengalahkan hawa nafsu demi mendapatkan rida-Nya, serta menerima seluruh syariat dengan penuh kepasrahan meski belum mengetahui seluruh hikmah-Nya.Ketika hati tunduk, akal merendah, dan tubuh patuh mengikuti perintah Allah Ta’ala, di situlah letak hakikat keislaman. Inilah bentuk kepatuhan tanpa syarat, yaitu ketaatan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah, tidak pernah menzalimi hamba-Nya, dan tidak pernah memberi aturan kecuali untuk mengangkat derajat mereka.Ketaatan bukan beban, tapi kemuliaanKetaatan kepada Allah Ta’ala bukanlah beban, ia adalah kemuliaan. Bukan pula paksaan, ia adalah jalan kebahagiaan. Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala, ia telah memilih tempat paling aman di dunia dan akhirat.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima setiap perintah-Nya dengan ringan, mengamalkannya dengan ikhlas, dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran.Baca juga: Taat Beragama = Fanatik Beragama?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anDajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’anAl-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaBahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaTempat munculnya DajjalDajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahPenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anPara ulama pernah mempertanyakan hikmah di balik tidak disebutkannya Dajjal secara jelas dalam Al-Qur’an, padahal fitnahnya sangat besar, para Nabi memperingatkan umatnya darinya, dan kita pun diperintahkan untuk berlindung dari fitnahnya dalam salat. Para ulama kemudian memberikan beberapa jawaban, di antaranya:Dajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’an Allah Azza wa Jalla berfirman,{يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا…}“Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang sebelumnya belum beriman atau belum berbuat kebaikan dalam imannya.” (QS. Al-An‘am: 158)Yang dimaksud dengan “sebagian ayat” di sini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya Dabbah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث إذا خرجْنَ لا ينفع نفسًا إيمانُها لم تكنْ آمنت من قبلُ أوكسبت في إيمانِها خيرًا: طلوع الشّمس من مغربها، والدَّجَّال، ودابَّة الأرض“Tiga perkara yang apabila telah muncul, tidak lagi bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman atau tidak pernah berbuat kebaikan dalam imannya: terbitnya matahari dari arah barat, keluarnya Dajjal, dan munculnya Dabbah (binatang) dari dalam bumi.”Al-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaNabi Isa lah yang akan membunuh Dajjal. Maka Al-Qur’an cukup menyebutkan “al-Masih yang benar” (yaitu Nabi Isa) tanpa perlu menyebut “al-Masih pendusta” (yaitu Dajjal), karena sesuai kebiasaan bahasa Arab yang sering menyebut salah satu dari dua hal yang saling berlawanan.Bahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Allah Azza wa Jalla berfirman,{لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ}“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.” (QS. Ghafir: 57)Yang dimaksud dengan “manusia” pada ayat ini berdasarkan sebagian penafsiran adalah Dajjal. Abu Al-‘Aliyah berkata, “Yakni bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan Dajjal, ketika orang-orang Yahudi mengagungkan dirinya.”Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Penafsiran ini, jika memang benar, merupakan jawaban yang terbaik. Bisa jadi ini termasuk bagian dari hal-hal yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Dan ilmu yang paling benar hanyalah milik Allah.”Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaAl-Qur’an tidak menyebutkan Dajjal karena rendahnya kedudukannya. Ia mengaku sebagai tuhan, padahal ia hanyalah manusia yang penuh kekurangan yang sangat jauh dari keagungan, kesempurnaan, dan kemuliaan Rabbul ‘Alamin yang Mahasuci dari segala sifat cacat. Karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah terlalu kecil dan hina untuk disebutkan dalam kitab-Nya. Meski begitu, para Nabi tetap memperingatkan umat mereka tentang bahaya dan fitnahnya, sebagaimana telah disebutkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun melainkan memberi peringatan tentang Dajjal.Muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa Al-Qur’an menyebut Fir‘aun, padahal ia juga mengaku sebagai tuhan?”Jawabannya, kisah Fir‘aun telah berakhir, dan penyebutannya di dalam Al-Qur’an adalah sebagai pelajaran dan ibrah. Adapun Dajjal, maka fitnahnya akan terjadi di akhir zaman, sehingga penyebutannya ditiadakan sebagai bentuk ujian bagi manusia. Bahkan, klaim ketuhanannya begitu jelas kebatilannya, karena Dajjal secara lahiriah tampak penuh kekurangan dan kehinaan serta sangat jauh dari kedudukan yang ia klaim.Allah pun tidak menyebutkannya karena mengetahui bahwa para hamba-Nya yang beriman tidak akan gentar dengan makhluk seperti itu. Justru mereka akan semakin teguh dan yakin, seperti ucapan pemuda yang dibunuh oleh Dajjal lalu dihidupkan kembali,والله ما كنت فيك أشد بصيرة مني اليوم“Demi Allah, hari ini keyakinanku tentang dirimu lebih kuat daripada sebelumnya.” (HR. Bukhari)Suatu perkara kadang memang ditinggalkan penyebutannya karena saking jelasnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sakit menjelang wafat, tidak menuliskan wasiat tentang kepemimpinan Abu Bakar. Hal itu karena kedudukan Abu Bakar sudah sangat jelas bagi para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,يأبى الله والمؤمنون إِلَّا أبا بكر“Allah dan kaum mukminin tidak meridai kecuali Abu Bakar.” (HR. Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal secara eksplisit dalam Al-Qur’an tetap relevan, karena Allah telah menyebut Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an, sedangkan fitnah mereka mirip dengan fitnah Dajjal.Meskipun demikian, kemungkinan besar jawaban pertama adalah yang paling kuat, wallahu a‘lam, yaitu bahwa Dajjal sebenarnya sudah disebutkan secara tersirat dalam sebagian ayat. Adapun rincian dan penjelasan tentangnya, hal itu disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dari tugas beliau untuk menjelaskan perkara-perkara yang masih global.Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tempat munculnya DajjalDajjal akan muncul dari arah timur, tepatnya dari wilayah Khurasan, dari tempat yang banyak orang Yahudi di kota Isfahan. Setelah itu, ia akan berkeliling ke seluruh penjuru bumi; dan tidak ada satu negeri pun yang luput darinya, kecuali Makkah dan Madinah. Ia tidak akan mampu memasuki dua kota suci itu karena keduanya dijaga oleh para malaikat.Dalam hadis Fathimah binti Qais yang telah disebutkan sebelumnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal,ألَّا إنّه في بحر الشّام، أو بحر اليمن، لا بل من قِبَل المشرق ما هو، من قبل المشرق ما هو (وأومأ بيده إلى المشرق)“Ketahuilah, ia berada di laut Syam atau laut Yaman… tidak, tetapi dari arah timur, dari arah timur dia datang.” (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur). (HR. Muslim)Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ يخرج من أرض بالمشرق؛ يُقالُ لها: خراسان“Dajjal akan muncul dari sebuah negeri di wilayah timur, yang disebut Khurasan.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani)Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال من يهودية أصبهان، معه سبعونٍ ألفًا من اليهود“Dajjal akan keluar dari daerah Yahudi di Isfahan, bersama tujuh puluh ribu orang Yahudi.” (HR. Ahmad; Ibnu Hajar berkata: sahih)Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun dari mana ia muncul, maka pastilah dari arah timur.”Ibnu Katsir rahimahullah juga mengatakan, “Kemunculan pertamanya berasal dari Isfahan, dari sebuah perkampungan bernama al-Yahudiyyah.”Dajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahDajjal diharamkan memasuki Makkah dan Madinah ketika ia keluar pada akhir zaman. Hal ini ditegaskan oleh banyak hadis sahih. Adapun negeri-negeri selain keduanya, Dajjal akan memasukinya satu per satu. Dalam hadis Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa Dajjal berkata,فأخرج، فأسير في الأرض، فلا أدع قرية إِلَّا هبطتُها في أربعين ليلة؛ غير مكّة وطيبة، فهما محرَّمتان على كلتاهما، كلما أردت أن أدخل واحدة – أو واحدًا- منهما؛ استقبلني مَلَك بيده السيف صلتًا يصدُّني عنها، وإن على كلّ نقبٍ منها ملائكة يحرسونها“Aku keluar, lalu berjalan di muka bumi. Tidak ada satu pun kampung yang tidak aku datangi dalam empat puluh malam, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Keduanya diharamkan bagiku. Setiap kali aku berniat memasuki salah satu darinya, seorang malaikat akan menghadangku dengan pedang terhunus dan menghalangiku. Pada setiap jalan menuju dua kota itu, terdapat malaikat-malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim)Terdapat pula riwayat yang menetapkan bahwa Dajjal tidak akan dapat memasuki empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, ia berkata,“Aku dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar pergi menemui salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata, ‘Sampaikan kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang Dajjal.’ … (Ia menyebutkan hadis lengkapnya, lalu berkata), ‘Dajjal tinggal di bumi selama empat puluh hari, dan ia akan menjangkau seluruh sumber air. Namun, ia tidak akan mendekati empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.’”Adapun riwayat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang berambut ikal, keriting, dan buta sebelah mata dalam keadaan menaruh kedua tangannya di pundak seorang laki-laki sambil bertawaf di Kakbah dan para sahabat berkata bahwa itu adalah Dajjal, maka para ulama menjelaskan bahwa larangan Dajjal untuk memasuki kota Makkah dan Madinah hanya berlaku ketika Dajjal keluar di akhir zaman. Sementara sosok yang terlihat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bentuk penampakan atau gambaran tentangnya, bukan kemunculan Dajjal yang asli pada saat itu.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 2)

Daftar Isi TogglePenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anDajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’anAl-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaBahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaTempat munculnya DajjalDajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahPenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anPara ulama pernah mempertanyakan hikmah di balik tidak disebutkannya Dajjal secara jelas dalam Al-Qur’an, padahal fitnahnya sangat besar, para Nabi memperingatkan umatnya darinya, dan kita pun diperintahkan untuk berlindung dari fitnahnya dalam salat. Para ulama kemudian memberikan beberapa jawaban, di antaranya:Dajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’an Allah Azza wa Jalla berfirman,{يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا…}“Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang sebelumnya belum beriman atau belum berbuat kebaikan dalam imannya.” (QS. Al-An‘am: 158)Yang dimaksud dengan “sebagian ayat” di sini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya Dabbah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث إذا خرجْنَ لا ينفع نفسًا إيمانُها لم تكنْ آمنت من قبلُ أوكسبت في إيمانِها خيرًا: طلوع الشّمس من مغربها، والدَّجَّال، ودابَّة الأرض“Tiga perkara yang apabila telah muncul, tidak lagi bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman atau tidak pernah berbuat kebaikan dalam imannya: terbitnya matahari dari arah barat, keluarnya Dajjal, dan munculnya Dabbah (binatang) dari dalam bumi.”Al-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaNabi Isa lah yang akan membunuh Dajjal. Maka Al-Qur’an cukup menyebutkan “al-Masih yang benar” (yaitu Nabi Isa) tanpa perlu menyebut “al-Masih pendusta” (yaitu Dajjal), karena sesuai kebiasaan bahasa Arab yang sering menyebut salah satu dari dua hal yang saling berlawanan.Bahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Allah Azza wa Jalla berfirman,{لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ}“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.” (QS. Ghafir: 57)Yang dimaksud dengan “manusia” pada ayat ini berdasarkan sebagian penafsiran adalah Dajjal. Abu Al-‘Aliyah berkata, “Yakni bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan Dajjal, ketika orang-orang Yahudi mengagungkan dirinya.”Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Penafsiran ini, jika memang benar, merupakan jawaban yang terbaik. Bisa jadi ini termasuk bagian dari hal-hal yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Dan ilmu yang paling benar hanyalah milik Allah.”Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaAl-Qur’an tidak menyebutkan Dajjal karena rendahnya kedudukannya. Ia mengaku sebagai tuhan, padahal ia hanyalah manusia yang penuh kekurangan yang sangat jauh dari keagungan, kesempurnaan, dan kemuliaan Rabbul ‘Alamin yang Mahasuci dari segala sifat cacat. Karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah terlalu kecil dan hina untuk disebutkan dalam kitab-Nya. Meski begitu, para Nabi tetap memperingatkan umat mereka tentang bahaya dan fitnahnya, sebagaimana telah disebutkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun melainkan memberi peringatan tentang Dajjal.Muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa Al-Qur’an menyebut Fir‘aun, padahal ia juga mengaku sebagai tuhan?”Jawabannya, kisah Fir‘aun telah berakhir, dan penyebutannya di dalam Al-Qur’an adalah sebagai pelajaran dan ibrah. Adapun Dajjal, maka fitnahnya akan terjadi di akhir zaman, sehingga penyebutannya ditiadakan sebagai bentuk ujian bagi manusia. Bahkan, klaim ketuhanannya begitu jelas kebatilannya, karena Dajjal secara lahiriah tampak penuh kekurangan dan kehinaan serta sangat jauh dari kedudukan yang ia klaim.Allah pun tidak menyebutkannya karena mengetahui bahwa para hamba-Nya yang beriman tidak akan gentar dengan makhluk seperti itu. Justru mereka akan semakin teguh dan yakin, seperti ucapan pemuda yang dibunuh oleh Dajjal lalu dihidupkan kembali,والله ما كنت فيك أشد بصيرة مني اليوم“Demi Allah, hari ini keyakinanku tentang dirimu lebih kuat daripada sebelumnya.” (HR. Bukhari)Suatu perkara kadang memang ditinggalkan penyebutannya karena saking jelasnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sakit menjelang wafat, tidak menuliskan wasiat tentang kepemimpinan Abu Bakar. Hal itu karena kedudukan Abu Bakar sudah sangat jelas bagi para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,يأبى الله والمؤمنون إِلَّا أبا بكر“Allah dan kaum mukminin tidak meridai kecuali Abu Bakar.” (HR. Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal secara eksplisit dalam Al-Qur’an tetap relevan, karena Allah telah menyebut Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an, sedangkan fitnah mereka mirip dengan fitnah Dajjal.Meskipun demikian, kemungkinan besar jawaban pertama adalah yang paling kuat, wallahu a‘lam, yaitu bahwa Dajjal sebenarnya sudah disebutkan secara tersirat dalam sebagian ayat. Adapun rincian dan penjelasan tentangnya, hal itu disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dari tugas beliau untuk menjelaskan perkara-perkara yang masih global.Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tempat munculnya DajjalDajjal akan muncul dari arah timur, tepatnya dari wilayah Khurasan, dari tempat yang banyak orang Yahudi di kota Isfahan. Setelah itu, ia akan berkeliling ke seluruh penjuru bumi; dan tidak ada satu negeri pun yang luput darinya, kecuali Makkah dan Madinah. Ia tidak akan mampu memasuki dua kota suci itu karena keduanya dijaga oleh para malaikat.Dalam hadis Fathimah binti Qais yang telah disebutkan sebelumnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal,ألَّا إنّه في بحر الشّام، أو بحر اليمن، لا بل من قِبَل المشرق ما هو، من قبل المشرق ما هو (وأومأ بيده إلى المشرق)“Ketahuilah, ia berada di laut Syam atau laut Yaman… tidak, tetapi dari arah timur, dari arah timur dia datang.” (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur). (HR. Muslim)Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ يخرج من أرض بالمشرق؛ يُقالُ لها: خراسان“Dajjal akan muncul dari sebuah negeri di wilayah timur, yang disebut Khurasan.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani)Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال من يهودية أصبهان، معه سبعونٍ ألفًا من اليهود“Dajjal akan keluar dari daerah Yahudi di Isfahan, bersama tujuh puluh ribu orang Yahudi.” (HR. Ahmad; Ibnu Hajar berkata: sahih)Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun dari mana ia muncul, maka pastilah dari arah timur.”Ibnu Katsir rahimahullah juga mengatakan, “Kemunculan pertamanya berasal dari Isfahan, dari sebuah perkampungan bernama al-Yahudiyyah.”Dajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahDajjal diharamkan memasuki Makkah dan Madinah ketika ia keluar pada akhir zaman. Hal ini ditegaskan oleh banyak hadis sahih. Adapun negeri-negeri selain keduanya, Dajjal akan memasukinya satu per satu. Dalam hadis Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa Dajjal berkata,فأخرج، فأسير في الأرض، فلا أدع قرية إِلَّا هبطتُها في أربعين ليلة؛ غير مكّة وطيبة، فهما محرَّمتان على كلتاهما، كلما أردت أن أدخل واحدة – أو واحدًا- منهما؛ استقبلني مَلَك بيده السيف صلتًا يصدُّني عنها، وإن على كلّ نقبٍ منها ملائكة يحرسونها“Aku keluar, lalu berjalan di muka bumi. Tidak ada satu pun kampung yang tidak aku datangi dalam empat puluh malam, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Keduanya diharamkan bagiku. Setiap kali aku berniat memasuki salah satu darinya, seorang malaikat akan menghadangku dengan pedang terhunus dan menghalangiku. Pada setiap jalan menuju dua kota itu, terdapat malaikat-malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim)Terdapat pula riwayat yang menetapkan bahwa Dajjal tidak akan dapat memasuki empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, ia berkata,“Aku dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar pergi menemui salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata, ‘Sampaikan kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang Dajjal.’ … (Ia menyebutkan hadis lengkapnya, lalu berkata), ‘Dajjal tinggal di bumi selama empat puluh hari, dan ia akan menjangkau seluruh sumber air. Namun, ia tidak akan mendekati empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.’”Adapun riwayat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang berambut ikal, keriting, dan buta sebelah mata dalam keadaan menaruh kedua tangannya di pundak seorang laki-laki sambil bertawaf di Kakbah dan para sahabat berkata bahwa itu adalah Dajjal, maka para ulama menjelaskan bahwa larangan Dajjal untuk memasuki kota Makkah dan Madinah hanya berlaku ketika Dajjal keluar di akhir zaman. Sementara sosok yang terlihat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bentuk penampakan atau gambaran tentangnya, bukan kemunculan Dajjal yang asli pada saat itu.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anDajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’anAl-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaBahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaTempat munculnya DajjalDajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahPenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anPara ulama pernah mempertanyakan hikmah di balik tidak disebutkannya Dajjal secara jelas dalam Al-Qur’an, padahal fitnahnya sangat besar, para Nabi memperingatkan umatnya darinya, dan kita pun diperintahkan untuk berlindung dari fitnahnya dalam salat. Para ulama kemudian memberikan beberapa jawaban, di antaranya:Dajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’an Allah Azza wa Jalla berfirman,{يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا…}“Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang sebelumnya belum beriman atau belum berbuat kebaikan dalam imannya.” (QS. Al-An‘am: 158)Yang dimaksud dengan “sebagian ayat” di sini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya Dabbah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث إذا خرجْنَ لا ينفع نفسًا إيمانُها لم تكنْ آمنت من قبلُ أوكسبت في إيمانِها خيرًا: طلوع الشّمس من مغربها، والدَّجَّال، ودابَّة الأرض“Tiga perkara yang apabila telah muncul, tidak lagi bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman atau tidak pernah berbuat kebaikan dalam imannya: terbitnya matahari dari arah barat, keluarnya Dajjal, dan munculnya Dabbah (binatang) dari dalam bumi.”Al-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaNabi Isa lah yang akan membunuh Dajjal. Maka Al-Qur’an cukup menyebutkan “al-Masih yang benar” (yaitu Nabi Isa) tanpa perlu menyebut “al-Masih pendusta” (yaitu Dajjal), karena sesuai kebiasaan bahasa Arab yang sering menyebut salah satu dari dua hal yang saling berlawanan.Bahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Allah Azza wa Jalla berfirman,{لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ}“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.” (QS. Ghafir: 57)Yang dimaksud dengan “manusia” pada ayat ini berdasarkan sebagian penafsiran adalah Dajjal. Abu Al-‘Aliyah berkata, “Yakni bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan Dajjal, ketika orang-orang Yahudi mengagungkan dirinya.”Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Penafsiran ini, jika memang benar, merupakan jawaban yang terbaik. Bisa jadi ini termasuk bagian dari hal-hal yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Dan ilmu yang paling benar hanyalah milik Allah.”Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaAl-Qur’an tidak menyebutkan Dajjal karena rendahnya kedudukannya. Ia mengaku sebagai tuhan, padahal ia hanyalah manusia yang penuh kekurangan yang sangat jauh dari keagungan, kesempurnaan, dan kemuliaan Rabbul ‘Alamin yang Mahasuci dari segala sifat cacat. Karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah terlalu kecil dan hina untuk disebutkan dalam kitab-Nya. Meski begitu, para Nabi tetap memperingatkan umat mereka tentang bahaya dan fitnahnya, sebagaimana telah disebutkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun melainkan memberi peringatan tentang Dajjal.Muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa Al-Qur’an menyebut Fir‘aun, padahal ia juga mengaku sebagai tuhan?”Jawabannya, kisah Fir‘aun telah berakhir, dan penyebutannya di dalam Al-Qur’an adalah sebagai pelajaran dan ibrah. Adapun Dajjal, maka fitnahnya akan terjadi di akhir zaman, sehingga penyebutannya ditiadakan sebagai bentuk ujian bagi manusia. Bahkan, klaim ketuhanannya begitu jelas kebatilannya, karena Dajjal secara lahiriah tampak penuh kekurangan dan kehinaan serta sangat jauh dari kedudukan yang ia klaim.Allah pun tidak menyebutkannya karena mengetahui bahwa para hamba-Nya yang beriman tidak akan gentar dengan makhluk seperti itu. Justru mereka akan semakin teguh dan yakin, seperti ucapan pemuda yang dibunuh oleh Dajjal lalu dihidupkan kembali,والله ما كنت فيك أشد بصيرة مني اليوم“Demi Allah, hari ini keyakinanku tentang dirimu lebih kuat daripada sebelumnya.” (HR. Bukhari)Suatu perkara kadang memang ditinggalkan penyebutannya karena saking jelasnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sakit menjelang wafat, tidak menuliskan wasiat tentang kepemimpinan Abu Bakar. Hal itu karena kedudukan Abu Bakar sudah sangat jelas bagi para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,يأبى الله والمؤمنون إِلَّا أبا بكر“Allah dan kaum mukminin tidak meridai kecuali Abu Bakar.” (HR. Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal secara eksplisit dalam Al-Qur’an tetap relevan, karena Allah telah menyebut Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an, sedangkan fitnah mereka mirip dengan fitnah Dajjal.Meskipun demikian, kemungkinan besar jawaban pertama adalah yang paling kuat, wallahu a‘lam, yaitu bahwa Dajjal sebenarnya sudah disebutkan secara tersirat dalam sebagian ayat. Adapun rincian dan penjelasan tentangnya, hal itu disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dari tugas beliau untuk menjelaskan perkara-perkara yang masih global.Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tempat munculnya DajjalDajjal akan muncul dari arah timur, tepatnya dari wilayah Khurasan, dari tempat yang banyak orang Yahudi di kota Isfahan. Setelah itu, ia akan berkeliling ke seluruh penjuru bumi; dan tidak ada satu negeri pun yang luput darinya, kecuali Makkah dan Madinah. Ia tidak akan mampu memasuki dua kota suci itu karena keduanya dijaga oleh para malaikat.Dalam hadis Fathimah binti Qais yang telah disebutkan sebelumnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal,ألَّا إنّه في بحر الشّام، أو بحر اليمن، لا بل من قِبَل المشرق ما هو، من قبل المشرق ما هو (وأومأ بيده إلى المشرق)“Ketahuilah, ia berada di laut Syam atau laut Yaman… tidak, tetapi dari arah timur, dari arah timur dia datang.” (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur). (HR. Muslim)Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ يخرج من أرض بالمشرق؛ يُقالُ لها: خراسان“Dajjal akan muncul dari sebuah negeri di wilayah timur, yang disebut Khurasan.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani)Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال من يهودية أصبهان، معه سبعونٍ ألفًا من اليهود“Dajjal akan keluar dari daerah Yahudi di Isfahan, bersama tujuh puluh ribu orang Yahudi.” (HR. Ahmad; Ibnu Hajar berkata: sahih)Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun dari mana ia muncul, maka pastilah dari arah timur.”Ibnu Katsir rahimahullah juga mengatakan, “Kemunculan pertamanya berasal dari Isfahan, dari sebuah perkampungan bernama al-Yahudiyyah.”Dajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahDajjal diharamkan memasuki Makkah dan Madinah ketika ia keluar pada akhir zaman. Hal ini ditegaskan oleh banyak hadis sahih. Adapun negeri-negeri selain keduanya, Dajjal akan memasukinya satu per satu. Dalam hadis Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa Dajjal berkata,فأخرج، فأسير في الأرض، فلا أدع قرية إِلَّا هبطتُها في أربعين ليلة؛ غير مكّة وطيبة، فهما محرَّمتان على كلتاهما، كلما أردت أن أدخل واحدة – أو واحدًا- منهما؛ استقبلني مَلَك بيده السيف صلتًا يصدُّني عنها، وإن على كلّ نقبٍ منها ملائكة يحرسونها“Aku keluar, lalu berjalan di muka bumi. Tidak ada satu pun kampung yang tidak aku datangi dalam empat puluh malam, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Keduanya diharamkan bagiku. Setiap kali aku berniat memasuki salah satu darinya, seorang malaikat akan menghadangku dengan pedang terhunus dan menghalangiku. Pada setiap jalan menuju dua kota itu, terdapat malaikat-malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim)Terdapat pula riwayat yang menetapkan bahwa Dajjal tidak akan dapat memasuki empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, ia berkata,“Aku dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar pergi menemui salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata, ‘Sampaikan kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang Dajjal.’ … (Ia menyebutkan hadis lengkapnya, lalu berkata), ‘Dajjal tinggal di bumi selama empat puluh hari, dan ia akan menjangkau seluruh sumber air. Namun, ia tidak akan mendekati empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.’”Adapun riwayat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang berambut ikal, keriting, dan buta sebelah mata dalam keadaan menaruh kedua tangannya di pundak seorang laki-laki sambil bertawaf di Kakbah dan para sahabat berkata bahwa itu adalah Dajjal, maka para ulama menjelaskan bahwa larangan Dajjal untuk memasuki kota Makkah dan Madinah hanya berlaku ketika Dajjal keluar di akhir zaman. Sementara sosok yang terlihat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bentuk penampakan atau gambaran tentangnya, bukan kemunculan Dajjal yang asli pada saat itu.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anDajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’anAl-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaBahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaTempat munculnya DajjalDajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahPenyebutan Dajjal dalam Al-Qur’anPara ulama pernah mempertanyakan hikmah di balik tidak disebutkannya Dajjal secara jelas dalam Al-Qur’an, padahal fitnahnya sangat besar, para Nabi memperingatkan umatnya darinya, dan kita pun diperintahkan untuk berlindung dari fitnahnya dalam salat. Para ulama kemudian memberikan beberapa jawaban, di antaranya:Dajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’an Allah Azza wa Jalla berfirman,{يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا…}“Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang sebelumnya belum beriman atau belum berbuat kebaikan dalam imannya.” (QS. Al-An‘am: 158)Yang dimaksud dengan “sebagian ayat” di sini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya Dabbah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث إذا خرجْنَ لا ينفع نفسًا إيمانُها لم تكنْ آمنت من قبلُ أوكسبت في إيمانِها خيرًا: طلوع الشّمس من مغربها، والدَّجَّال، ودابَّة الأرض“Tiga perkara yang apabila telah muncul, tidak lagi bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman atau tidak pernah berbuat kebaikan dalam imannya: terbitnya matahari dari arah barat, keluarnya Dajjal, dan munculnya Dabbah (binatang) dari dalam bumi.”Al-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi IsaNabi Isa lah yang akan membunuh Dajjal. Maka Al-Qur’an cukup menyebutkan “al-Masih yang benar” (yaitu Nabi Isa) tanpa perlu menyebut “al-Masih pendusta” (yaitu Dajjal), karena sesuai kebiasaan bahasa Arab yang sering menyebut salah satu dari dua hal yang saling berlawanan.Bahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57 Allah Azza wa Jalla berfirman,{لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ}“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.” (QS. Ghafir: 57)Yang dimaksud dengan “manusia” pada ayat ini berdasarkan sebagian penafsiran adalah Dajjal. Abu Al-‘Aliyah berkata, “Yakni bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan Dajjal, ketika orang-orang Yahudi mengagungkan dirinya.”Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Penafsiran ini, jika memang benar, merupakan jawaban yang terbaik. Bisa jadi ini termasuk bagian dari hal-hal yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Dan ilmu yang paling benar hanyalah milik Allah.”Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannyaAl-Qur’an tidak menyebutkan Dajjal karena rendahnya kedudukannya. Ia mengaku sebagai tuhan, padahal ia hanyalah manusia yang penuh kekurangan yang sangat jauh dari keagungan, kesempurnaan, dan kemuliaan Rabbul ‘Alamin yang Mahasuci dari segala sifat cacat. Karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah terlalu kecil dan hina untuk disebutkan dalam kitab-Nya. Meski begitu, para Nabi tetap memperingatkan umat mereka tentang bahaya dan fitnahnya, sebagaimana telah disebutkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun melainkan memberi peringatan tentang Dajjal.Muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa Al-Qur’an menyebut Fir‘aun, padahal ia juga mengaku sebagai tuhan?”Jawabannya, kisah Fir‘aun telah berakhir, dan penyebutannya di dalam Al-Qur’an adalah sebagai pelajaran dan ibrah. Adapun Dajjal, maka fitnahnya akan terjadi di akhir zaman, sehingga penyebutannya ditiadakan sebagai bentuk ujian bagi manusia. Bahkan, klaim ketuhanannya begitu jelas kebatilannya, karena Dajjal secara lahiriah tampak penuh kekurangan dan kehinaan serta sangat jauh dari kedudukan yang ia klaim.Allah pun tidak menyebutkannya karena mengetahui bahwa para hamba-Nya yang beriman tidak akan gentar dengan makhluk seperti itu. Justru mereka akan semakin teguh dan yakin, seperti ucapan pemuda yang dibunuh oleh Dajjal lalu dihidupkan kembali,والله ما كنت فيك أشد بصيرة مني اليوم“Demi Allah, hari ini keyakinanku tentang dirimu lebih kuat daripada sebelumnya.” (HR. Bukhari)Suatu perkara kadang memang ditinggalkan penyebutannya karena saking jelasnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sakit menjelang wafat, tidak menuliskan wasiat tentang kepemimpinan Abu Bakar. Hal itu karena kedudukan Abu Bakar sudah sangat jelas bagi para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,يأبى الله والمؤمنون إِلَّا أبا بكر“Allah dan kaum mukminin tidak meridai kecuali Abu Bakar.” (HR. Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal secara eksplisit dalam Al-Qur’an tetap relevan, karena Allah telah menyebut Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an, sedangkan fitnah mereka mirip dengan fitnah Dajjal.Meskipun demikian, kemungkinan besar jawaban pertama adalah yang paling kuat, wallahu a‘lam, yaitu bahwa Dajjal sebenarnya sudah disebutkan secara tersirat dalam sebagian ayat. Adapun rincian dan penjelasan tentangnya, hal itu disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dari tugas beliau untuk menjelaskan perkara-perkara yang masih global.Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tempat munculnya DajjalDajjal akan muncul dari arah timur, tepatnya dari wilayah Khurasan, dari tempat yang banyak orang Yahudi di kota Isfahan. Setelah itu, ia akan berkeliling ke seluruh penjuru bumi; dan tidak ada satu negeri pun yang luput darinya, kecuali Makkah dan Madinah. Ia tidak akan mampu memasuki dua kota suci itu karena keduanya dijaga oleh para malaikat.Dalam hadis Fathimah binti Qais yang telah disebutkan sebelumnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal,ألَّا إنّه في بحر الشّام، أو بحر اليمن، لا بل من قِبَل المشرق ما هو، من قبل المشرق ما هو (وأومأ بيده إلى المشرق)“Ketahuilah, ia berada di laut Syam atau laut Yaman… tidak, tetapi dari arah timur, dari arah timur dia datang.” (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur). (HR. Muslim)Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ يخرج من أرض بالمشرق؛ يُقالُ لها: خراسان“Dajjal akan muncul dari sebuah negeri di wilayah timur, yang disebut Khurasan.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani)Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يخرج الدَّجَّال من يهودية أصبهان، معه سبعونٍ ألفًا من اليهود“Dajjal akan keluar dari daerah Yahudi di Isfahan, bersama tujuh puluh ribu orang Yahudi.” (HR. Ahmad; Ibnu Hajar berkata: sahih)Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun dari mana ia muncul, maka pastilah dari arah timur.”Ibnu Katsir rahimahullah juga mengatakan, “Kemunculan pertamanya berasal dari Isfahan, dari sebuah perkampungan bernama al-Yahudiyyah.”Dajjal tidak akan masuk Makkah dan MadinahDajjal diharamkan memasuki Makkah dan Madinah ketika ia keluar pada akhir zaman. Hal ini ditegaskan oleh banyak hadis sahih. Adapun negeri-negeri selain keduanya, Dajjal akan memasukinya satu per satu. Dalam hadis Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa Dajjal berkata,فأخرج، فأسير في الأرض، فلا أدع قرية إِلَّا هبطتُها في أربعين ليلة؛ غير مكّة وطيبة، فهما محرَّمتان على كلتاهما، كلما أردت أن أدخل واحدة – أو واحدًا- منهما؛ استقبلني مَلَك بيده السيف صلتًا يصدُّني عنها، وإن على كلّ نقبٍ منها ملائكة يحرسونها“Aku keluar, lalu berjalan di muka bumi. Tidak ada satu pun kampung yang tidak aku datangi dalam empat puluh malam, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Keduanya diharamkan bagiku. Setiap kali aku berniat memasuki salah satu darinya, seorang malaikat akan menghadangku dengan pedang terhunus dan menghalangiku. Pada setiap jalan menuju dua kota itu, terdapat malaikat-malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim)Terdapat pula riwayat yang menetapkan bahwa Dajjal tidak akan dapat memasuki empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, ia berkata,“Aku dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar pergi menemui salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata, ‘Sampaikan kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang Dajjal.’ … (Ia menyebutkan hadis lengkapnya, lalu berkata), ‘Dajjal tinggal di bumi selama empat puluh hari, dan ia akan menjangkau seluruh sumber air. Namun, ia tidak akan mendekati empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.’”Adapun riwayat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang berambut ikal, keriting, dan buta sebelah mata dalam keadaan menaruh kedua tangannya di pundak seorang laki-laki sambil bertawaf di Kakbah dan para sahabat berkata bahwa itu adalah Dajjal, maka para ulama menjelaskan bahwa larangan Dajjal untuk memasuki kota Makkah dan Madinah hanya berlaku ketika Dajjal keluar di akhir zaman. Sementara sosok yang terlihat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bentuk penampakan atau gambaran tentangnya, bukan kemunculan Dajjal yang asli pada saat itu.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Tafsir Surah An-Naba (Bag. 2): Alam Semesta adalah Bukti Adanya Hari Kiamat

Terkait tadabbur dan tafsir surah An-Naba, kita sekarang memasuki bagian yang kedua, yaitu tentang perenungan adanya alam semesta yang ada di hadapan kita, yang bermula dari ketiadaan, menjadi bukti bahwa Allah mampu membangkitkan segala sesuatu yang dulunya hidup lalu mengalami kematian.Hal ini menjadi bantahan telak bagi kaum musyrikin yang ragu, “Apakah benar Allah bisa menghidupkan saya lagi setelah saya mati dan menjadi tulang belulang?”Berkaitan dengan rangkaian ayat yang akan kita renungi, yaitu ayat keenam sampai enam belas, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni memberikan munasabah yang luar biasa indah. Beliau menulis,ثم أشار تعالى إِلى الأدلة الدالة على قدرته تعالى، ليقيم الحجة على الكفار فيما أنكروه من أمر البعث، وكأنه يقول: إِن الإِله الذي قدر على إِيجاد هذه المخلوقات العظام، قادرٌ على إِحياء الناس بعد موتهم“Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan isyarat yang menunjukkan atas kekuasaan-Nya. Isyarat ini sebagai hujjah kepada kaum kafir yang mengingkari adanya hari berbangkit, yaitu hari kiamat. Seakan-akan dikatakan kepada mereka, ‘Bahwa Allah yang mampu untuk menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini dari nol, juga mampu untuk menghidupkan kembali manusia setelah mereka mati’.” (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Ibnu Juzay rahimahullah dalam At-Tashil menulis,كأنه يقول: إن الإله الذي قدر على خلقة هذه المخلوقات العظام قادر على إحياء الناس بعد موتهم، ويحتمل أنه ذكرها حجة على التوحيد لأن الذي خلق هذه المخلوقات هو الإله وحده لا شريك له“Seakan-akan Allah berkata, “Bahwa Ilaah yang mampu menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini, pastinya juga mampu untuk menghidupkan manusia setelah mereka wafat”. Ayat ini juga menjadi bukti atas tauhid, dikarenakan Zat yang menciptakan semua makhluk ini adalah ilaah yang satu, tiada kesyirikan baginya.” (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444)Mari kita renungi segala makhluk Allah yang luar biasa ini, agar semakin kokoh keyakinan kita tentang adanya hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan.” (QS. An-Naba’ [78]: 6)Bumi Allah jadikan hamparan, bahkan dijadikan nyaman seperti kasur atau ranjang agar manusia bisa menetap di atas bumi, bisa hidup disana, serta Allah berikan kemudahan untuk ditanami berbagai macam tanaman. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ [78]: 7)Allah serupakan gunung sebagai pasak dikarenakan dengan gunung-gunung tersebut, bumi menjadi stabil dan tidak bergoyang kesana kemari, tidak pula terjadi gempa yang terjadi setiap hari yang akan menghancurkan kehidupan manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ“Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba’ [78]: 8)Allah menjadikan kehidupan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan, agar terlaksana pernikahan. Dengan demikian, manusia memiliki keturunan dan kehidupan di muka bumi tidak terputus. Allah ciptakan pasangan dari masing-masing jenisnya, bukan jenis yang lain, agar seseorang bisa mendapatkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Baca juga: Di antara Istilah yang Perlu Diketahui dalam Belajar Tafsir Al-Qur’anAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ“Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’ [78]: 9)Allah menjadikan tidur sebagai waktu istirahatnya badan, memutus kesibukan mencari penghidupan di siang harinya. Allah jadikan rasa ngantuk dan tidur bagi manusia sebagai nikmat, agar manusia bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang senantiasa menuntut gerakan badan; yang jika tidak dihentikan, akan menimbulkan bahaya bagi manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ“Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba’ [78]: 10)Malam diumpamakan seperti pakaian, karena malam menutup muka bumi dengan kegelapan seperti pakaian menutup anggota tubuh. Selain itu juga karena kegelapan malam menutupi pandangan mata. (Shofwatut Tafasir, 3: 483; At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ“Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 11)Siang dijadikan waktu untuk bekerja, menggunakan potensi raga dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Allah menjadikan adanya siang dan malam agar hidup manusia teratur, ada waktu bekerja dan ada waktu istirahat. Seandainya Allah membuat semua waktu sebagai siang, manusia pasti akan binasa karena kelelahan tidak bisa istirahat. Demikian pula, jika Allah membuat semua waktu adalah malam, maka manusia akan kesulitan dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ“Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.” (QS. An-Naba’ [78]: 12)Allah membangun tujuh lapis langit di atas manusia. Tujuh lapis langit dengan penciptaan dari awal yang sempurna, dengan pengaturan yang tidak pernah salah, serta tidak rusak meskipun telah berlalu masa jutaan tahun lamanya. Langit Allah buat seperti atap bagi manusia, yang melindungi mereka dari berbagai kejadian berbahaya di luar angkasa yang bisa saja membinasakan mereka. (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ“Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).” (QS. An-Naba’ [78]: 13)Allah menjadikan di langit adanya matahari yang bersinar menerangi bumi. Sinarnya menerangi dan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi. Panasnya sangat cocok untuk kehidupan bumi, serta stabil dalam waktu yang panjang. Siapa yang bisa menyalakan matahari dengan suhu yang pas itu untuk kehidupan bumi? Tentu hanya Allah yang mampu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ“Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras.” (QS. An-Naba’ [78]: 14)Allah menurunkan air hujan dari awan mendung. Awan mendung disebut dengan al-mu’shirot, yang artinya perasan, karena awan seakan diperas sehingga turunlan hujan, seperti seseorang memeras batang tebu kemudian turunlah air tebu karena diperas. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ“Agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman.” (QS. An-Naba’ [78]: 15)Allah mengeluarkan dengan satu jenis air hujan yang sama, berbagai macam biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, sebagai makanan bagi manusia dan hewan-hewan, suatu hal yang sangat luar biasa. Allah sebutkan biji-bijian dahulu (seperti beras, jagung, gandum, dan semisalnya) karena kebutuhan manusia atas biji-bijian lebih urgent, karena itu secara umum merupakan makanan pokok bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ“Dan kebun-kebun yang rindang.” (QS. An-Naba’ [78]: 16)Allah juga menumbuhkan berbagai macam tanaman dengan barbagai fungsinya. Tanaman yang memiliki batang keras digunakan untuk bahan pembuat rumah; tanaman yang harum digunakan untuk minyak wangi; tanaman yang rindang digunakan untuk berteduh, sehingga semuanya bermanfaat untuk manusia.Demikianlah tafsir ringkas yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Daftar PustakaAbu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.Alusi, Syihabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar Ihya At-Turats.Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Tafsir Al-Muyassar.Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). Al-Nukat wa Al-Uyun (Vols. 1-6). Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.

Tafsir Surah An-Naba (Bag. 2): Alam Semesta adalah Bukti Adanya Hari Kiamat

Terkait tadabbur dan tafsir surah An-Naba, kita sekarang memasuki bagian yang kedua, yaitu tentang perenungan adanya alam semesta yang ada di hadapan kita, yang bermula dari ketiadaan, menjadi bukti bahwa Allah mampu membangkitkan segala sesuatu yang dulunya hidup lalu mengalami kematian.Hal ini menjadi bantahan telak bagi kaum musyrikin yang ragu, “Apakah benar Allah bisa menghidupkan saya lagi setelah saya mati dan menjadi tulang belulang?”Berkaitan dengan rangkaian ayat yang akan kita renungi, yaitu ayat keenam sampai enam belas, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni memberikan munasabah yang luar biasa indah. Beliau menulis,ثم أشار تعالى إِلى الأدلة الدالة على قدرته تعالى، ليقيم الحجة على الكفار فيما أنكروه من أمر البعث، وكأنه يقول: إِن الإِله الذي قدر على إِيجاد هذه المخلوقات العظام، قادرٌ على إِحياء الناس بعد موتهم“Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan isyarat yang menunjukkan atas kekuasaan-Nya. Isyarat ini sebagai hujjah kepada kaum kafir yang mengingkari adanya hari berbangkit, yaitu hari kiamat. Seakan-akan dikatakan kepada mereka, ‘Bahwa Allah yang mampu untuk menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini dari nol, juga mampu untuk menghidupkan kembali manusia setelah mereka mati’.” (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Ibnu Juzay rahimahullah dalam At-Tashil menulis,كأنه يقول: إن الإله الذي قدر على خلقة هذه المخلوقات العظام قادر على إحياء الناس بعد موتهم، ويحتمل أنه ذكرها حجة على التوحيد لأن الذي خلق هذه المخلوقات هو الإله وحده لا شريك له“Seakan-akan Allah berkata, “Bahwa Ilaah yang mampu menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini, pastinya juga mampu untuk menghidupkan manusia setelah mereka wafat”. Ayat ini juga menjadi bukti atas tauhid, dikarenakan Zat yang menciptakan semua makhluk ini adalah ilaah yang satu, tiada kesyirikan baginya.” (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444)Mari kita renungi segala makhluk Allah yang luar biasa ini, agar semakin kokoh keyakinan kita tentang adanya hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan.” (QS. An-Naba’ [78]: 6)Bumi Allah jadikan hamparan, bahkan dijadikan nyaman seperti kasur atau ranjang agar manusia bisa menetap di atas bumi, bisa hidup disana, serta Allah berikan kemudahan untuk ditanami berbagai macam tanaman. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ [78]: 7)Allah serupakan gunung sebagai pasak dikarenakan dengan gunung-gunung tersebut, bumi menjadi stabil dan tidak bergoyang kesana kemari, tidak pula terjadi gempa yang terjadi setiap hari yang akan menghancurkan kehidupan manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ“Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba’ [78]: 8)Allah menjadikan kehidupan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan, agar terlaksana pernikahan. Dengan demikian, manusia memiliki keturunan dan kehidupan di muka bumi tidak terputus. Allah ciptakan pasangan dari masing-masing jenisnya, bukan jenis yang lain, agar seseorang bisa mendapatkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Baca juga: Di antara Istilah yang Perlu Diketahui dalam Belajar Tafsir Al-Qur’anAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ“Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’ [78]: 9)Allah menjadikan tidur sebagai waktu istirahatnya badan, memutus kesibukan mencari penghidupan di siang harinya. Allah jadikan rasa ngantuk dan tidur bagi manusia sebagai nikmat, agar manusia bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang senantiasa menuntut gerakan badan; yang jika tidak dihentikan, akan menimbulkan bahaya bagi manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ“Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba’ [78]: 10)Malam diumpamakan seperti pakaian, karena malam menutup muka bumi dengan kegelapan seperti pakaian menutup anggota tubuh. Selain itu juga karena kegelapan malam menutupi pandangan mata. (Shofwatut Tafasir, 3: 483; At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ“Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 11)Siang dijadikan waktu untuk bekerja, menggunakan potensi raga dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Allah menjadikan adanya siang dan malam agar hidup manusia teratur, ada waktu bekerja dan ada waktu istirahat. Seandainya Allah membuat semua waktu sebagai siang, manusia pasti akan binasa karena kelelahan tidak bisa istirahat. Demikian pula, jika Allah membuat semua waktu adalah malam, maka manusia akan kesulitan dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ“Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.” (QS. An-Naba’ [78]: 12)Allah membangun tujuh lapis langit di atas manusia. Tujuh lapis langit dengan penciptaan dari awal yang sempurna, dengan pengaturan yang tidak pernah salah, serta tidak rusak meskipun telah berlalu masa jutaan tahun lamanya. Langit Allah buat seperti atap bagi manusia, yang melindungi mereka dari berbagai kejadian berbahaya di luar angkasa yang bisa saja membinasakan mereka. (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ“Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).” (QS. An-Naba’ [78]: 13)Allah menjadikan di langit adanya matahari yang bersinar menerangi bumi. Sinarnya menerangi dan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi. Panasnya sangat cocok untuk kehidupan bumi, serta stabil dalam waktu yang panjang. Siapa yang bisa menyalakan matahari dengan suhu yang pas itu untuk kehidupan bumi? Tentu hanya Allah yang mampu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ“Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras.” (QS. An-Naba’ [78]: 14)Allah menurunkan air hujan dari awan mendung. Awan mendung disebut dengan al-mu’shirot, yang artinya perasan, karena awan seakan diperas sehingga turunlan hujan, seperti seseorang memeras batang tebu kemudian turunlah air tebu karena diperas. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ“Agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman.” (QS. An-Naba’ [78]: 15)Allah mengeluarkan dengan satu jenis air hujan yang sama, berbagai macam biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, sebagai makanan bagi manusia dan hewan-hewan, suatu hal yang sangat luar biasa. Allah sebutkan biji-bijian dahulu (seperti beras, jagung, gandum, dan semisalnya) karena kebutuhan manusia atas biji-bijian lebih urgent, karena itu secara umum merupakan makanan pokok bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ“Dan kebun-kebun yang rindang.” (QS. An-Naba’ [78]: 16)Allah juga menumbuhkan berbagai macam tanaman dengan barbagai fungsinya. Tanaman yang memiliki batang keras digunakan untuk bahan pembuat rumah; tanaman yang harum digunakan untuk minyak wangi; tanaman yang rindang digunakan untuk berteduh, sehingga semuanya bermanfaat untuk manusia.Demikianlah tafsir ringkas yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Daftar PustakaAbu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.Alusi, Syihabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar Ihya At-Turats.Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Tafsir Al-Muyassar.Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). Al-Nukat wa Al-Uyun (Vols. 1-6). Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.
Terkait tadabbur dan tafsir surah An-Naba, kita sekarang memasuki bagian yang kedua, yaitu tentang perenungan adanya alam semesta yang ada di hadapan kita, yang bermula dari ketiadaan, menjadi bukti bahwa Allah mampu membangkitkan segala sesuatu yang dulunya hidup lalu mengalami kematian.Hal ini menjadi bantahan telak bagi kaum musyrikin yang ragu, “Apakah benar Allah bisa menghidupkan saya lagi setelah saya mati dan menjadi tulang belulang?”Berkaitan dengan rangkaian ayat yang akan kita renungi, yaitu ayat keenam sampai enam belas, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni memberikan munasabah yang luar biasa indah. Beliau menulis,ثم أشار تعالى إِلى الأدلة الدالة على قدرته تعالى، ليقيم الحجة على الكفار فيما أنكروه من أمر البعث، وكأنه يقول: إِن الإِله الذي قدر على إِيجاد هذه المخلوقات العظام، قادرٌ على إِحياء الناس بعد موتهم“Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan isyarat yang menunjukkan atas kekuasaan-Nya. Isyarat ini sebagai hujjah kepada kaum kafir yang mengingkari adanya hari berbangkit, yaitu hari kiamat. Seakan-akan dikatakan kepada mereka, ‘Bahwa Allah yang mampu untuk menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini dari nol, juga mampu untuk menghidupkan kembali manusia setelah mereka mati’.” (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Ibnu Juzay rahimahullah dalam At-Tashil menulis,كأنه يقول: إن الإله الذي قدر على خلقة هذه المخلوقات العظام قادر على إحياء الناس بعد موتهم، ويحتمل أنه ذكرها حجة على التوحيد لأن الذي خلق هذه المخلوقات هو الإله وحده لا شريك له“Seakan-akan Allah berkata, “Bahwa Ilaah yang mampu menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini, pastinya juga mampu untuk menghidupkan manusia setelah mereka wafat”. Ayat ini juga menjadi bukti atas tauhid, dikarenakan Zat yang menciptakan semua makhluk ini adalah ilaah yang satu, tiada kesyirikan baginya.” (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444)Mari kita renungi segala makhluk Allah yang luar biasa ini, agar semakin kokoh keyakinan kita tentang adanya hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan.” (QS. An-Naba’ [78]: 6)Bumi Allah jadikan hamparan, bahkan dijadikan nyaman seperti kasur atau ranjang agar manusia bisa menetap di atas bumi, bisa hidup disana, serta Allah berikan kemudahan untuk ditanami berbagai macam tanaman. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ [78]: 7)Allah serupakan gunung sebagai pasak dikarenakan dengan gunung-gunung tersebut, bumi menjadi stabil dan tidak bergoyang kesana kemari, tidak pula terjadi gempa yang terjadi setiap hari yang akan menghancurkan kehidupan manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ“Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba’ [78]: 8)Allah menjadikan kehidupan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan, agar terlaksana pernikahan. Dengan demikian, manusia memiliki keturunan dan kehidupan di muka bumi tidak terputus. Allah ciptakan pasangan dari masing-masing jenisnya, bukan jenis yang lain, agar seseorang bisa mendapatkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Baca juga: Di antara Istilah yang Perlu Diketahui dalam Belajar Tafsir Al-Qur’anAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ“Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’ [78]: 9)Allah menjadikan tidur sebagai waktu istirahatnya badan, memutus kesibukan mencari penghidupan di siang harinya. Allah jadikan rasa ngantuk dan tidur bagi manusia sebagai nikmat, agar manusia bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang senantiasa menuntut gerakan badan; yang jika tidak dihentikan, akan menimbulkan bahaya bagi manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ“Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba’ [78]: 10)Malam diumpamakan seperti pakaian, karena malam menutup muka bumi dengan kegelapan seperti pakaian menutup anggota tubuh. Selain itu juga karena kegelapan malam menutupi pandangan mata. (Shofwatut Tafasir, 3: 483; At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ“Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 11)Siang dijadikan waktu untuk bekerja, menggunakan potensi raga dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Allah menjadikan adanya siang dan malam agar hidup manusia teratur, ada waktu bekerja dan ada waktu istirahat. Seandainya Allah membuat semua waktu sebagai siang, manusia pasti akan binasa karena kelelahan tidak bisa istirahat. Demikian pula, jika Allah membuat semua waktu adalah malam, maka manusia akan kesulitan dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ“Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.” (QS. An-Naba’ [78]: 12)Allah membangun tujuh lapis langit di atas manusia. Tujuh lapis langit dengan penciptaan dari awal yang sempurna, dengan pengaturan yang tidak pernah salah, serta tidak rusak meskipun telah berlalu masa jutaan tahun lamanya. Langit Allah buat seperti atap bagi manusia, yang melindungi mereka dari berbagai kejadian berbahaya di luar angkasa yang bisa saja membinasakan mereka. (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ“Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).” (QS. An-Naba’ [78]: 13)Allah menjadikan di langit adanya matahari yang bersinar menerangi bumi. Sinarnya menerangi dan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi. Panasnya sangat cocok untuk kehidupan bumi, serta stabil dalam waktu yang panjang. Siapa yang bisa menyalakan matahari dengan suhu yang pas itu untuk kehidupan bumi? Tentu hanya Allah yang mampu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ“Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras.” (QS. An-Naba’ [78]: 14)Allah menurunkan air hujan dari awan mendung. Awan mendung disebut dengan al-mu’shirot, yang artinya perasan, karena awan seakan diperas sehingga turunlan hujan, seperti seseorang memeras batang tebu kemudian turunlah air tebu karena diperas. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ“Agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman.” (QS. An-Naba’ [78]: 15)Allah mengeluarkan dengan satu jenis air hujan yang sama, berbagai macam biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, sebagai makanan bagi manusia dan hewan-hewan, suatu hal yang sangat luar biasa. Allah sebutkan biji-bijian dahulu (seperti beras, jagung, gandum, dan semisalnya) karena kebutuhan manusia atas biji-bijian lebih urgent, karena itu secara umum merupakan makanan pokok bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ“Dan kebun-kebun yang rindang.” (QS. An-Naba’ [78]: 16)Allah juga menumbuhkan berbagai macam tanaman dengan barbagai fungsinya. Tanaman yang memiliki batang keras digunakan untuk bahan pembuat rumah; tanaman yang harum digunakan untuk minyak wangi; tanaman yang rindang digunakan untuk berteduh, sehingga semuanya bermanfaat untuk manusia.Demikianlah tafsir ringkas yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Daftar PustakaAbu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.Alusi, Syihabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar Ihya At-Turats.Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Tafsir Al-Muyassar.Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). Al-Nukat wa Al-Uyun (Vols. 1-6). Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.


Terkait tadabbur dan tafsir surah An-Naba, kita sekarang memasuki bagian yang kedua, yaitu tentang perenungan adanya alam semesta yang ada di hadapan kita, yang bermula dari ketiadaan, menjadi bukti bahwa Allah mampu membangkitkan segala sesuatu yang dulunya hidup lalu mengalami kematian.Hal ini menjadi bantahan telak bagi kaum musyrikin yang ragu, “Apakah benar Allah bisa menghidupkan saya lagi setelah saya mati dan menjadi tulang belulang?”Berkaitan dengan rangkaian ayat yang akan kita renungi, yaitu ayat keenam sampai enam belas, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni memberikan munasabah yang luar biasa indah. Beliau menulis,ثم أشار تعالى إِلى الأدلة الدالة على قدرته تعالى، ليقيم الحجة على الكفار فيما أنكروه من أمر البعث، وكأنه يقول: إِن الإِله الذي قدر على إِيجاد هذه المخلوقات العظام، قادرٌ على إِحياء الناس بعد موتهم“Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan isyarat yang menunjukkan atas kekuasaan-Nya. Isyarat ini sebagai hujjah kepada kaum kafir yang mengingkari adanya hari berbangkit, yaitu hari kiamat. Seakan-akan dikatakan kepada mereka, ‘Bahwa Allah yang mampu untuk menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini dari nol, juga mampu untuk menghidupkan kembali manusia setelah mereka mati’.” (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Ibnu Juzay rahimahullah dalam At-Tashil menulis,كأنه يقول: إن الإله الذي قدر على خلقة هذه المخلوقات العظام قادر على إحياء الناس بعد موتهم، ويحتمل أنه ذكرها حجة على التوحيد لأن الذي خلق هذه المخلوقات هو الإله وحده لا شريك له“Seakan-akan Allah berkata, “Bahwa Ilaah yang mampu menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini, pastinya juga mampu untuk menghidupkan manusia setelah mereka wafat”. Ayat ini juga menjadi bukti atas tauhid, dikarenakan Zat yang menciptakan semua makhluk ini adalah ilaah yang satu, tiada kesyirikan baginya.” (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444)Mari kita renungi segala makhluk Allah yang luar biasa ini, agar semakin kokoh keyakinan kita tentang adanya hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan.” (QS. An-Naba’ [78]: 6)Bumi Allah jadikan hamparan, bahkan dijadikan nyaman seperti kasur atau ranjang agar manusia bisa menetap di atas bumi, bisa hidup disana, serta Allah berikan kemudahan untuk ditanami berbagai macam tanaman. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ [78]: 7)Allah serupakan gunung sebagai pasak dikarenakan dengan gunung-gunung tersebut, bumi menjadi stabil dan tidak bergoyang kesana kemari, tidak pula terjadi gempa yang terjadi setiap hari yang akan menghancurkan kehidupan manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ“Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba’ [78]: 8)Allah menjadikan kehidupan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan, agar terlaksana pernikahan. Dengan demikian, manusia memiliki keturunan dan kehidupan di muka bumi tidak terputus. Allah ciptakan pasangan dari masing-masing jenisnya, bukan jenis yang lain, agar seseorang bisa mendapatkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Baca juga: Di antara Istilah yang Perlu Diketahui dalam Belajar Tafsir Al-Qur’anAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ“Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’ [78]: 9)Allah menjadikan tidur sebagai waktu istirahatnya badan, memutus kesibukan mencari penghidupan di siang harinya. Allah jadikan rasa ngantuk dan tidur bagi manusia sebagai nikmat, agar manusia bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang senantiasa menuntut gerakan badan; yang jika tidak dihentikan, akan menimbulkan bahaya bagi manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ“Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba’ [78]: 10)Malam diumpamakan seperti pakaian, karena malam menutup muka bumi dengan kegelapan seperti pakaian menutup anggota tubuh. Selain itu juga karena kegelapan malam menutupi pandangan mata. (Shofwatut Tafasir, 3: 483; At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ“Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 11)Siang dijadikan waktu untuk bekerja, menggunakan potensi raga dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Allah menjadikan adanya siang dan malam agar hidup manusia teratur, ada waktu bekerja dan ada waktu istirahat. Seandainya Allah membuat semua waktu sebagai siang, manusia pasti akan binasa karena kelelahan tidak bisa istirahat. Demikian pula, jika Allah membuat semua waktu adalah malam, maka manusia akan kesulitan dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ“Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.” (QS. An-Naba’ [78]: 12)Allah membangun tujuh lapis langit di atas manusia. Tujuh lapis langit dengan penciptaan dari awal yang sempurna, dengan pengaturan yang tidak pernah salah, serta tidak rusak meskipun telah berlalu masa jutaan tahun lamanya. Langit Allah buat seperti atap bagi manusia, yang melindungi mereka dari berbagai kejadian berbahaya di luar angkasa yang bisa saja membinasakan mereka. (Shofwatut Tafasir, 3: 483)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ“Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).” (QS. An-Naba’ [78]: 13)Allah menjadikan di langit adanya matahari yang bersinar menerangi bumi. Sinarnya menerangi dan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi. Panasnya sangat cocok untuk kehidupan bumi, serta stabil dalam waktu yang panjang. Siapa yang bisa menyalakan matahari dengan suhu yang pas itu untuk kehidupan bumi? Tentu hanya Allah yang mampu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ“Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras.” (QS. An-Naba’ [78]: 14)Allah menurunkan air hujan dari awan mendung. Awan mendung disebut dengan al-mu’shirot, yang artinya perasan, karena awan seakan diperas sehingga turunlan hujan, seperti seseorang memeras batang tebu kemudian turunlah air tebu karena diperas. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ“Agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman.” (QS. An-Naba’ [78]: 15)Allah mengeluarkan dengan satu jenis air hujan yang sama, berbagai macam biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, sebagai makanan bagi manusia dan hewan-hewan, suatu hal yang sangat luar biasa. Allah sebutkan biji-bijian dahulu (seperti beras, jagung, gandum, dan semisalnya) karena kebutuhan manusia atas biji-bijian lebih urgent, karena itu secara umum merupakan makanan pokok bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ“Dan kebun-kebun yang rindang.” (QS. An-Naba’ [78]: 16)Allah juga menumbuhkan berbagai macam tanaman dengan barbagai fungsinya. Tanaman yang memiliki batang keras digunakan untuk bahan pembuat rumah; tanaman yang harum digunakan untuk minyak wangi; tanaman yang rindang digunakan untuk berteduh, sehingga semuanya bermanfaat untuk manusia.Demikianlah tafsir ringkas yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Daftar PustakaAbu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.Alusi, Syihabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar Ihya At-Turats.Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Tafsir Al-Muyassar.Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). Al-Nukat wa Al-Uyun (Vols. 1-6). Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

Daftar Isi ToggleSekilas tentang pemikiran KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijKosa kata hadis-hadis di atasFaidah hadis-hadis di atasPemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan sebagai jemaah yang selamat setelah kepergian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,افترقتِ اليهودُ على إحدَى وسبعينَ فرقةً , وافترقتِ النصارَى على اثنتَينِ وسبعينَ فرقةً , وستفترقُ هذه الأمةُ على ثلاثٍ وسبعينَ فرقةً كلُّها في النارِ إلا واحدةً، قيل : من هي يا رسولَ اللهِ؟ فقال صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : مَن كان على مِثلِ ما أنا عليه وأصحابِي“Bani Israil dahulu terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada dalam kesesatan yang mengantarkan ke neraka, kecuali satu golongan saja.” Para sahabat bertanya, “Siapakah golongan yang satu itu, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu golongan yang mengikuti ajaran yang aku jalani dan yang dipegang oleh para sahabatku.” [1]Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, kaum muslim akan terpecah menjadi golongan-golongan. Setiap golongan yang berselisih dengan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, mereka tidak lepas dari kesesatan. Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan,فعلامتهم كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنهم يكونون على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه فتلك ميزة تميزت بها عقيدة أهل السنة والجماعة لا توجد“Tanda golongan yang selamat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mereka berpegang pada ajaran yang sama dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Inilah ciri khusus akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh keyakinan kelompok-kelompok lainnya.” [2]Sekilas tentang pemikiran KhawarijKelompok Khawarij adalah kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Mereka menentang apa yang pemerintah sah perintahkan. Padahal, menaati perintah pemerintah yang sah merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. an-Nisa: 59)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, akan melihat banyak perbedaan dan perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk (sepeninggalku).” [3]Kelompok Khawarij juga adalah kelompok pertama yang mengkafirkan orang-orang Islam yang tidak ada di kelompok mereka. Bahkan, mereka juga mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa dengan selain dosa syirik. Mereka menganggap bahwa siapa saja yang menyelisihi pemikiran kelompok mereka berpotensi sesat bahkan kafir, meskipun yang menyelisihi mereka adalah pemerintah yang sah sekalipun. Syekh al-Qahthani berkata dalam kitabnya, menukil perkataan Syekh Shalih Fauzan rahimahumallah,الخوارج هم أول من كفر المسلمين، يكفرون بالذنوب-يعني التي هي دون الشرك- ويكفرون من خالفهم في بدعتهم ويستحلون دمه وماله. وهذه حال أهل البدع، يبتدعون بدعة ويكفرون من خالفهم فيها“Mereka adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin. Mereka menganggap seseorang kafir hanya karena melakukan dosa, yaitu dosa-dosa yang tidak sampai pada syirik. Mereka juga mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan bidah (ajaran menyimpang) mereka, lalu menghalalkan darah dan harta orang tersebut.” [4]Awal mula bibit kemunculan mereka telah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seseorang yang tidak suka dengan kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia memprotes kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sana lah sikap yang serupa bermunculan, bahkan menjadi lebih parah.Naasnya, pemikiran menyimpang ini justru dilakukan oleh sebagian orang yang secara lahiriah tampak memiliki amaliah peribadatan yang baik. Kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah-olah pemikiran mereka pun benar dan lurus. Padahal pada hakikatnya, pemikiran yang mereka anut termasuk pemikiran yang telah dicela oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bisa terjadi karena sebagian dari mereka hanya berupaya menampakkan amalan-amalan baik secara lahiriah, sementara secara pemikiran mereka tidak benar-benar menginginkan kebaikan yang diajarkan oleh Islam. Selain itu, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh kebodohan mereka terhadap manhaj dan akidah yang benar.Di dalam beberapa hadis, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan, selain mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan yang secara lahiriah tampak baik, mereka juga memiliki ciri fisik, yaitu botak (dalam beberapa riwayat gundul secara menyeluruh). Pada poin ini lah pembahasan dari tulisan ini berfokus.Baca juga: Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijPertama, hadis Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik radhiyallah ‘anhuma, dari beberapa jalur imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سيكونُ في أُمَّتِي اختلافٌ وفُرقةٌ، وقومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ، ويَقرؤونَ القرآنَ لا يُجاوِزُ تَرَاقِيَهُم ، يَحقِرُ أحدُكم صلاتَه مع صلاتِهم، وصيامَه مع صيامِهم، يمرُقونَ مِن الإسلامِ كما يمرُقُ السهمُ مِن الرَّمِيَّةِ، ثمَّ لا يَرجِعونَ إليه حتى (يَرْتَدَّ) على فُوقِه، هم شَرُّ الخَلْقِ والخَليقةِ، طُوبَى لمَن قتَلَهم وقتَلُوه، يَدْعُونَ إلى كِتابِ اللهِ عزَّ وجلَّ وليسوا منه في شيءٍ، ومَن قاتَلَهم كان أَوْلى باللهِ عزَّ وجلَّ منهم، قالوا: يا رسولَ اللهِ، ما سِيماهُم؟ قال: سِيماهُم التَّحْلِيقُ“Akan terjadi di tengah umatku banyak perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum yang lisannya tampak baik, tetapi perbuatannya buruk. Mereka membaca Al-Qur’an, namun bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak meresap ke hati). Salah seorang dari kalian akan merasa salat dan puasanya kecil dibanding salat dan puasa mereka. Namun, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan buruan, dan tidak akan kembali lagi kepadanya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Beruntunglah orang yang memerangi mereka atau yang gugur terbunuh oleh mereka. Mereka menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka tidak berada di atas ajarannya sedikit pun. Orang yang memerangi mereka lebih dekat kepada Allah dibanding mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri-ciri (fisik) mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhuma. Hadis tersebut diriwayatkan oleh at-Thahawi dalam Syarḥ Musykil al-Ātsār (no. 4073), Abū Dāwūd (no. 4765), dan Imām Aḥmad dalam Musnad-nya (no. 13338) dengan redaksi yang sama. Syekh Syu‘aib al-Arna’ūṭ menilai hadis ini dengan menyatakan, “إسناده صحيح على شرط البخاري” (Sanadnya sahih seperti syarat milik Imam Bukhari) [5]Kedua, hadis Abu Sa’id al-Khudri melalui jalur muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أنَّ نبيَّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذكَر ناسًا يكونونَ في أمَّتِه يخرُجونَ في فِرقةٍ مِن النَّاسِ سِيماهُم التَّحليقُ هم مِن شِرارِ النَّاسِ أو هم مِن شرِّ الخَلْقِ تقتُلُهم أدنى الطَّائفتَيْنِ إلى الحقِّ“Sesungguhnya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan akan ada sekelompok orang di tengah umat beliau. Mereka keluar memisahkan diri dari kaum muslimin. Ciri mereka adalah mencukur habis rambut kepala. Mereka termasuk seburuk-buruk manusia atau seburuk-buruk makhluk. Kelompok ini akan diperangi dan dibinasakan oleh golongan kaum muslimin yang paling dekat dengan kebenaran.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Said al Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 1065, 2: 745). Hadis ini juga di-takhrij oleh Syekh Syuaib al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban (no. 6740), dan beliau menegaskan bahwa hadis ini berstatus sahih. [6]Ketiga, hadis Abu Sa’id al-Khudri, melalui jalur Bukhari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، وَيَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ قِيلَ: مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ، أَوْ قَالَ: التَّسْبِيدُ“Akan muncul sekelompok orang dari arah timur. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak masuk ke hati dan tidak diamalkan). Mereka keluar dari agama seperti anak panah yang melesat keluar dari tubuh hewan buruan, lalu tidak akan kembali lagi ke dalamnya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya semula.” Lalu ditanyakan, “Apa tanda-tanda mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala,” atau beliau bersabda, “menggundul rambut sampai licin.” Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (no. 7562, 9: 162). Hadis ini berstatus sahih karena diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. [7]Kosa kata hadis-hadis di atasيَخْرُجُ نَاسٌ : Sekelompok manusia (akan) keluarمِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ : Dari arah timurيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan merekaيَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ : Keluar dari agama Islamكَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ : Sebagaimana anak panah keluar dari busurnyaسِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ : Ciri mereka botak (mencukur habis rambut mereka)يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ : Berkata-kata manis namun berbuat jelekلَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Tidak Keluar dari mulut merekaالتَّسْبِيدُ: Botak sampai licinFaidah hadis-hadis di atasPertama, mereka mempunyai ciri fisik membotaki kepala mereka. Mereka melakukan itu karena mencintai perbuatan tersebut dan menjadikan hal tersebut sebagai ciri mereka. Syekh Bin Baz rahimahullah mengatakan menjelaskan maksud dari teks hadis سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ “ciri mereka botak”,وهَؤلَاءِ هم الخَوَارجِ؛ لأنهم يُوجِبُونَ التَّحلِيقَ، وهو مِنْ خِصَالِهِم“Mereka adalah Khawarij, karena mereka mewajibkan menggundul kepala. Hal tersebut merupakan ciri khas mereka.” [8]Kaum Khawarij menjadikan mencukur habis rambut kepala sebagai kewajiban agama. Sikap ini muncul karena mereka bersikap berlebihan dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam, hingga melewati batas yang dibolehkan dalam beragama,جعلوا ذلك علامةً لهم على رفضهم زينة الدّنيا، وشعارًا ليعرفوا به، كما يفعل البعض من رهبان النصارى“Mereka menjadikan hal itu (mencukur habis rambut) sebagai penolakan mereka terhadap perhiasan dunia, agar mereka dikenal dengan hal tersebut. Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh sebagian pemuka agama Nasrani.” [9]Berlebihannya dalam beragama menjadikan mereka mengada-adakan batasan beragama, yang hal tersebut akan menyulitkan diri mereka sendiri.Namun, perlu diingat bahwa membotaki rambut hukumnya boleh, sebagaimana memanjangkan rambut dengan urf berlaku. Terlebih ketika umrah dan haji, maka hal ini menjadi hal yang sangat dianjurkan. Adapun mencukur habis kepala yang tidak dibolehkan adalah mencukur habis rambut kepala dengan niat dan tujuan seperti yang dimiliki mereka atau menjadikan mereka sebagai panutan. Syekh Abdul Muhsin rahimahullah pernah ditanya tentang mencukur habis kepala, maka beliau menjawab,الخوارج علامتهم التحليق، وهذه سمة وعلامة لهم، ولكن قد جاء في السنة ما يدل على أن التحليق في غير الحج والعمرة سائغ وأنه لا بأس به، وإنما المحذور أن يتخذ اقتداءً بالخوارج وتشبهاً بهم“Ciri khas kaum Khawarij adalah mencukur habis rambut kepala. Ini menjadi tanda dan ciri mereka. Namun, dalam sunah Nabi ﷺ disebutkan bahwa mencukur rambut di luar ibadah haji dan umrah itu diperbolehkan dan tidak masalah. Yang perlu dihindari adalah menjadikan hal itu sebagai cara meniru atau menyesuaikan diri dengan kaum Khawarij.” [10]Maka, mencukur habis rambut kepala diperbolehkan, selama tidak dilakukan dengan alasan seperti yang dipakai oleh kaum Khawarij.Kedua, kebaikan yang seseorang tampakkan tidak selalu linear dengan kebaikan hatinya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij. Mereka memiliki amalan-amalan yang tampak baik, namun perilaku mereka keluar dari syariat sebagaimana anak panah yang keluar dari busurnya. Maksudnya, menyimpang dengan penyimpangan yang sangat jauh. Mereka disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang-orang yang beramal, namun amalannya tidak masuk ke hati mereka dengan sabdanya,وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ“mereka membaca al-Quran, namun tidak melewati tenggorokan mereka”; maksudnya bacaan mereka tidaklah menyerap ke hati. [11]Ketiga, kemahiran berbicara atau retorika tanpa disertai ilmu dan amal yang benar adalah sangat berbahaya dalam agama. Kaum Khawarij adalah contoh nyata dari hal ini: ucapan mereka terdengar manis dan meyakinkan, seolah-olah indah dan benar, tetapi perbuatan mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam yang lurus. Kesesatan mereka sering tampak lebih meyakinkan karena kemampuan berbicara yang fasih, sehingga orang yang kurang ilmu bisa terpesona dan tersesat mengikuti mereka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,قومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ“(Mereka) adalah kaum yang baik ucapannya dan jelek perbuatannya.” [12]Hal tersebut memiliki 2 maksud, yaitu tidak sesuainya perkataan dengan perbuatan dan perbuatan mereka adalah perbuatan yang buruk, tidak merepresentasikan agama Islam. Padahal, Allah berfirman mencela perbuatan yang tidak sesuai dengan perkataan,كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ“Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaf: 3)Allah juga berfirman sebagai penegasan bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kebaikan. Allah berfirman,وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ“Sesungguhnya tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali merupakan kebaikan untuk alam semesta.” (QS. al-Anbiya: 107)Baca juga: Ibnu ‘Abbas Mendebat Kaum Khawarij***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam at-Tirmizi, Sunan at-Tirmizi, no. 2641; dinilai hasan oleh Syekh Muhammad Nasir ad-Din al-Albani.[2] Imam Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz adz-Dzahabi, al-Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi, 1: 8.[3] Imam Ibn Rajab al-Hanbali, Jami al-Ulum wa al-Hikam, 2: 109.[4] Syekh Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran al-Qahtani, Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabriat Dawah wa Atba Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab, hal. 240.[5] Imam at-Tahawi, Syarh Musykil al-Atsar, no. 4073; Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 4765; Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, no. 13338. Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu. Takhrij: Syekh Syu’aib al-Arnaut, dengan penilaian sanad sahih ala syarṭ al-Bukhari.[6] Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi, 2: 745; no. 1065; di-takhrij oleh Syu’aib al-Arnaut dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban, no. 6740, dan dinilai sahih.[7] Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, 9: 162, no. 7562.[8] Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz, Syarh Kitab at-Tauhid min Shahih al-Bukhari, hal. 433.[9] Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, 3: 122.[10] Syekh Abd al-Muhsin bin Hamad al-Abbad al-Badr, Syarh Sunan Abi Dawud, 20: 466.[11] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461.[12] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461-462.Daftar PustakaAlbani, Muhammad Nasir ad-Din. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. Beirut: al-Maktab al-Islami.Al-Qurthubi, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim. al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim. Beirut: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim ath-Thayyib, 1417 H / 1996 M.Al-Qahtani, Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran. Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabri’at Da’wah wa Atba’ Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab. Riyadh: Dar al-Awfiyā’Al-Tahawi, Abu Jafar Ahmad bin Muhammad bin Salamah. Syarh Musykil al-Atsar. Takhrij: Syaikh Syu’aib al-Arna’ut. Diakses melalui Dorar.netAl-Abbad al-Badr, Abd al-Muhsin bin Hamad. Sharh Sunan Abu Dawud. Jild 20. Diakses dari: http://www.islamweb.netAdz-Dzahabi, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz. al-Arsy. Tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi. Cetakan kedua. Madinah al-Munawwarah: Imadah al-Bahth al-Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H / 2003 M.Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Tahqiq: Jama’ah min al-‘Ulama. Sultanīyah, Bulāq, Mesir, 1311 H. Disunting: Dr. Muhammad Zuhair al-Nasir, Dar Tawk al-Najat, Beirut, 1422 H.Ibn Rajab al-Hanbali, Abd ar-Rahman bin Ahmad. Jami’ al-Ulum wa al-Hikam. Diakses melalui islamweb.netMuslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi. Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, 1374 H / 1955 M. Terdiri dari 5 jilid.Hawwa, Said. al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqa’id al-Islamiyyah. Dar al-Salam, cetakan kedua, 1412 H / 1992 M. Disiapkan untuk Al-Shamilah oleh Abu Yasir al-Jazairi.

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

Daftar Isi ToggleSekilas tentang pemikiran KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijKosa kata hadis-hadis di atasFaidah hadis-hadis di atasPemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan sebagai jemaah yang selamat setelah kepergian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,افترقتِ اليهودُ على إحدَى وسبعينَ فرقةً , وافترقتِ النصارَى على اثنتَينِ وسبعينَ فرقةً , وستفترقُ هذه الأمةُ على ثلاثٍ وسبعينَ فرقةً كلُّها في النارِ إلا واحدةً، قيل : من هي يا رسولَ اللهِ؟ فقال صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : مَن كان على مِثلِ ما أنا عليه وأصحابِي“Bani Israil dahulu terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada dalam kesesatan yang mengantarkan ke neraka, kecuali satu golongan saja.” Para sahabat bertanya, “Siapakah golongan yang satu itu, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu golongan yang mengikuti ajaran yang aku jalani dan yang dipegang oleh para sahabatku.” [1]Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, kaum muslim akan terpecah menjadi golongan-golongan. Setiap golongan yang berselisih dengan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, mereka tidak lepas dari kesesatan. Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan,فعلامتهم كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنهم يكونون على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه فتلك ميزة تميزت بها عقيدة أهل السنة والجماعة لا توجد“Tanda golongan yang selamat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mereka berpegang pada ajaran yang sama dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Inilah ciri khusus akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh keyakinan kelompok-kelompok lainnya.” [2]Sekilas tentang pemikiran KhawarijKelompok Khawarij adalah kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Mereka menentang apa yang pemerintah sah perintahkan. Padahal, menaati perintah pemerintah yang sah merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. an-Nisa: 59)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, akan melihat banyak perbedaan dan perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk (sepeninggalku).” [3]Kelompok Khawarij juga adalah kelompok pertama yang mengkafirkan orang-orang Islam yang tidak ada di kelompok mereka. Bahkan, mereka juga mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa dengan selain dosa syirik. Mereka menganggap bahwa siapa saja yang menyelisihi pemikiran kelompok mereka berpotensi sesat bahkan kafir, meskipun yang menyelisihi mereka adalah pemerintah yang sah sekalipun. Syekh al-Qahthani berkata dalam kitabnya, menukil perkataan Syekh Shalih Fauzan rahimahumallah,الخوارج هم أول من كفر المسلمين، يكفرون بالذنوب-يعني التي هي دون الشرك- ويكفرون من خالفهم في بدعتهم ويستحلون دمه وماله. وهذه حال أهل البدع، يبتدعون بدعة ويكفرون من خالفهم فيها“Mereka adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin. Mereka menganggap seseorang kafir hanya karena melakukan dosa, yaitu dosa-dosa yang tidak sampai pada syirik. Mereka juga mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan bidah (ajaran menyimpang) mereka, lalu menghalalkan darah dan harta orang tersebut.” [4]Awal mula bibit kemunculan mereka telah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seseorang yang tidak suka dengan kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia memprotes kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sana lah sikap yang serupa bermunculan, bahkan menjadi lebih parah.Naasnya, pemikiran menyimpang ini justru dilakukan oleh sebagian orang yang secara lahiriah tampak memiliki amaliah peribadatan yang baik. Kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah-olah pemikiran mereka pun benar dan lurus. Padahal pada hakikatnya, pemikiran yang mereka anut termasuk pemikiran yang telah dicela oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bisa terjadi karena sebagian dari mereka hanya berupaya menampakkan amalan-amalan baik secara lahiriah, sementara secara pemikiran mereka tidak benar-benar menginginkan kebaikan yang diajarkan oleh Islam. Selain itu, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh kebodohan mereka terhadap manhaj dan akidah yang benar.Di dalam beberapa hadis, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan, selain mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan yang secara lahiriah tampak baik, mereka juga memiliki ciri fisik, yaitu botak (dalam beberapa riwayat gundul secara menyeluruh). Pada poin ini lah pembahasan dari tulisan ini berfokus.Baca juga: Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijPertama, hadis Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik radhiyallah ‘anhuma, dari beberapa jalur imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سيكونُ في أُمَّتِي اختلافٌ وفُرقةٌ، وقومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ، ويَقرؤونَ القرآنَ لا يُجاوِزُ تَرَاقِيَهُم ، يَحقِرُ أحدُكم صلاتَه مع صلاتِهم، وصيامَه مع صيامِهم، يمرُقونَ مِن الإسلامِ كما يمرُقُ السهمُ مِن الرَّمِيَّةِ، ثمَّ لا يَرجِعونَ إليه حتى (يَرْتَدَّ) على فُوقِه، هم شَرُّ الخَلْقِ والخَليقةِ، طُوبَى لمَن قتَلَهم وقتَلُوه، يَدْعُونَ إلى كِتابِ اللهِ عزَّ وجلَّ وليسوا منه في شيءٍ، ومَن قاتَلَهم كان أَوْلى باللهِ عزَّ وجلَّ منهم، قالوا: يا رسولَ اللهِ، ما سِيماهُم؟ قال: سِيماهُم التَّحْلِيقُ“Akan terjadi di tengah umatku banyak perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum yang lisannya tampak baik, tetapi perbuatannya buruk. Mereka membaca Al-Qur’an, namun bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak meresap ke hati). Salah seorang dari kalian akan merasa salat dan puasanya kecil dibanding salat dan puasa mereka. Namun, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan buruan, dan tidak akan kembali lagi kepadanya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Beruntunglah orang yang memerangi mereka atau yang gugur terbunuh oleh mereka. Mereka menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka tidak berada di atas ajarannya sedikit pun. Orang yang memerangi mereka lebih dekat kepada Allah dibanding mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri-ciri (fisik) mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhuma. Hadis tersebut diriwayatkan oleh at-Thahawi dalam Syarḥ Musykil al-Ātsār (no. 4073), Abū Dāwūd (no. 4765), dan Imām Aḥmad dalam Musnad-nya (no. 13338) dengan redaksi yang sama. Syekh Syu‘aib al-Arna’ūṭ menilai hadis ini dengan menyatakan, “إسناده صحيح على شرط البخاري” (Sanadnya sahih seperti syarat milik Imam Bukhari) [5]Kedua, hadis Abu Sa’id al-Khudri melalui jalur muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أنَّ نبيَّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذكَر ناسًا يكونونَ في أمَّتِه يخرُجونَ في فِرقةٍ مِن النَّاسِ سِيماهُم التَّحليقُ هم مِن شِرارِ النَّاسِ أو هم مِن شرِّ الخَلْقِ تقتُلُهم أدنى الطَّائفتَيْنِ إلى الحقِّ“Sesungguhnya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan akan ada sekelompok orang di tengah umat beliau. Mereka keluar memisahkan diri dari kaum muslimin. Ciri mereka adalah mencukur habis rambut kepala. Mereka termasuk seburuk-buruk manusia atau seburuk-buruk makhluk. Kelompok ini akan diperangi dan dibinasakan oleh golongan kaum muslimin yang paling dekat dengan kebenaran.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Said al Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 1065, 2: 745). Hadis ini juga di-takhrij oleh Syekh Syuaib al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban (no. 6740), dan beliau menegaskan bahwa hadis ini berstatus sahih. [6]Ketiga, hadis Abu Sa’id al-Khudri, melalui jalur Bukhari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، وَيَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ قِيلَ: مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ، أَوْ قَالَ: التَّسْبِيدُ“Akan muncul sekelompok orang dari arah timur. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak masuk ke hati dan tidak diamalkan). Mereka keluar dari agama seperti anak panah yang melesat keluar dari tubuh hewan buruan, lalu tidak akan kembali lagi ke dalamnya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya semula.” Lalu ditanyakan, “Apa tanda-tanda mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala,” atau beliau bersabda, “menggundul rambut sampai licin.” Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (no. 7562, 9: 162). Hadis ini berstatus sahih karena diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. [7]Kosa kata hadis-hadis di atasيَخْرُجُ نَاسٌ : Sekelompok manusia (akan) keluarمِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ : Dari arah timurيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan merekaيَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ : Keluar dari agama Islamكَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ : Sebagaimana anak panah keluar dari busurnyaسِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ : Ciri mereka botak (mencukur habis rambut mereka)يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ : Berkata-kata manis namun berbuat jelekلَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Tidak Keluar dari mulut merekaالتَّسْبِيدُ: Botak sampai licinFaidah hadis-hadis di atasPertama, mereka mempunyai ciri fisik membotaki kepala mereka. Mereka melakukan itu karena mencintai perbuatan tersebut dan menjadikan hal tersebut sebagai ciri mereka. Syekh Bin Baz rahimahullah mengatakan menjelaskan maksud dari teks hadis سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ “ciri mereka botak”,وهَؤلَاءِ هم الخَوَارجِ؛ لأنهم يُوجِبُونَ التَّحلِيقَ، وهو مِنْ خِصَالِهِم“Mereka adalah Khawarij, karena mereka mewajibkan menggundul kepala. Hal tersebut merupakan ciri khas mereka.” [8]Kaum Khawarij menjadikan mencukur habis rambut kepala sebagai kewajiban agama. Sikap ini muncul karena mereka bersikap berlebihan dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam, hingga melewati batas yang dibolehkan dalam beragama,جعلوا ذلك علامةً لهم على رفضهم زينة الدّنيا، وشعارًا ليعرفوا به، كما يفعل البعض من رهبان النصارى“Mereka menjadikan hal itu (mencukur habis rambut) sebagai penolakan mereka terhadap perhiasan dunia, agar mereka dikenal dengan hal tersebut. Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh sebagian pemuka agama Nasrani.” [9]Berlebihannya dalam beragama menjadikan mereka mengada-adakan batasan beragama, yang hal tersebut akan menyulitkan diri mereka sendiri.Namun, perlu diingat bahwa membotaki rambut hukumnya boleh, sebagaimana memanjangkan rambut dengan urf berlaku. Terlebih ketika umrah dan haji, maka hal ini menjadi hal yang sangat dianjurkan. Adapun mencukur habis kepala yang tidak dibolehkan adalah mencukur habis rambut kepala dengan niat dan tujuan seperti yang dimiliki mereka atau menjadikan mereka sebagai panutan. Syekh Abdul Muhsin rahimahullah pernah ditanya tentang mencukur habis kepala, maka beliau menjawab,الخوارج علامتهم التحليق، وهذه سمة وعلامة لهم، ولكن قد جاء في السنة ما يدل على أن التحليق في غير الحج والعمرة سائغ وأنه لا بأس به، وإنما المحذور أن يتخذ اقتداءً بالخوارج وتشبهاً بهم“Ciri khas kaum Khawarij adalah mencukur habis rambut kepala. Ini menjadi tanda dan ciri mereka. Namun, dalam sunah Nabi ﷺ disebutkan bahwa mencukur rambut di luar ibadah haji dan umrah itu diperbolehkan dan tidak masalah. Yang perlu dihindari adalah menjadikan hal itu sebagai cara meniru atau menyesuaikan diri dengan kaum Khawarij.” [10]Maka, mencukur habis rambut kepala diperbolehkan, selama tidak dilakukan dengan alasan seperti yang dipakai oleh kaum Khawarij.Kedua, kebaikan yang seseorang tampakkan tidak selalu linear dengan kebaikan hatinya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij. Mereka memiliki amalan-amalan yang tampak baik, namun perilaku mereka keluar dari syariat sebagaimana anak panah yang keluar dari busurnya. Maksudnya, menyimpang dengan penyimpangan yang sangat jauh. Mereka disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang-orang yang beramal, namun amalannya tidak masuk ke hati mereka dengan sabdanya,وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ“mereka membaca al-Quran, namun tidak melewati tenggorokan mereka”; maksudnya bacaan mereka tidaklah menyerap ke hati. [11]Ketiga, kemahiran berbicara atau retorika tanpa disertai ilmu dan amal yang benar adalah sangat berbahaya dalam agama. Kaum Khawarij adalah contoh nyata dari hal ini: ucapan mereka terdengar manis dan meyakinkan, seolah-olah indah dan benar, tetapi perbuatan mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam yang lurus. Kesesatan mereka sering tampak lebih meyakinkan karena kemampuan berbicara yang fasih, sehingga orang yang kurang ilmu bisa terpesona dan tersesat mengikuti mereka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,قومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ“(Mereka) adalah kaum yang baik ucapannya dan jelek perbuatannya.” [12]Hal tersebut memiliki 2 maksud, yaitu tidak sesuainya perkataan dengan perbuatan dan perbuatan mereka adalah perbuatan yang buruk, tidak merepresentasikan agama Islam. Padahal, Allah berfirman mencela perbuatan yang tidak sesuai dengan perkataan,كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ“Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaf: 3)Allah juga berfirman sebagai penegasan bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kebaikan. Allah berfirman,وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ“Sesungguhnya tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali merupakan kebaikan untuk alam semesta.” (QS. al-Anbiya: 107)Baca juga: Ibnu ‘Abbas Mendebat Kaum Khawarij***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam at-Tirmizi, Sunan at-Tirmizi, no. 2641; dinilai hasan oleh Syekh Muhammad Nasir ad-Din al-Albani.[2] Imam Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz adz-Dzahabi, al-Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi, 1: 8.[3] Imam Ibn Rajab al-Hanbali, Jami al-Ulum wa al-Hikam, 2: 109.[4] Syekh Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran al-Qahtani, Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabriat Dawah wa Atba Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab, hal. 240.[5] Imam at-Tahawi, Syarh Musykil al-Atsar, no. 4073; Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 4765; Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, no. 13338. Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu. Takhrij: Syekh Syu’aib al-Arnaut, dengan penilaian sanad sahih ala syarṭ al-Bukhari.[6] Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi, 2: 745; no. 1065; di-takhrij oleh Syu’aib al-Arnaut dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban, no. 6740, dan dinilai sahih.[7] Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, 9: 162, no. 7562.[8] Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz, Syarh Kitab at-Tauhid min Shahih al-Bukhari, hal. 433.[9] Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, 3: 122.[10] Syekh Abd al-Muhsin bin Hamad al-Abbad al-Badr, Syarh Sunan Abi Dawud, 20: 466.[11] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461.[12] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461-462.Daftar PustakaAlbani, Muhammad Nasir ad-Din. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. Beirut: al-Maktab al-Islami.Al-Qurthubi, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim. al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim. Beirut: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim ath-Thayyib, 1417 H / 1996 M.Al-Qahtani, Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran. Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabri’at Da’wah wa Atba’ Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab. Riyadh: Dar al-Awfiyā’Al-Tahawi, Abu Jafar Ahmad bin Muhammad bin Salamah. Syarh Musykil al-Atsar. Takhrij: Syaikh Syu’aib al-Arna’ut. Diakses melalui Dorar.netAl-Abbad al-Badr, Abd al-Muhsin bin Hamad. Sharh Sunan Abu Dawud. Jild 20. Diakses dari: http://www.islamweb.netAdz-Dzahabi, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz. al-Arsy. Tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi. Cetakan kedua. Madinah al-Munawwarah: Imadah al-Bahth al-Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H / 2003 M.Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Tahqiq: Jama’ah min al-‘Ulama. Sultanīyah, Bulāq, Mesir, 1311 H. Disunting: Dr. Muhammad Zuhair al-Nasir, Dar Tawk al-Najat, Beirut, 1422 H.Ibn Rajab al-Hanbali, Abd ar-Rahman bin Ahmad. Jami’ al-Ulum wa al-Hikam. Diakses melalui islamweb.netMuslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi. Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, 1374 H / 1955 M. Terdiri dari 5 jilid.Hawwa, Said. al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqa’id al-Islamiyyah. Dar al-Salam, cetakan kedua, 1412 H / 1992 M. Disiapkan untuk Al-Shamilah oleh Abu Yasir al-Jazairi.
Daftar Isi ToggleSekilas tentang pemikiran KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijKosa kata hadis-hadis di atasFaidah hadis-hadis di atasPemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan sebagai jemaah yang selamat setelah kepergian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,افترقتِ اليهودُ على إحدَى وسبعينَ فرقةً , وافترقتِ النصارَى على اثنتَينِ وسبعينَ فرقةً , وستفترقُ هذه الأمةُ على ثلاثٍ وسبعينَ فرقةً كلُّها في النارِ إلا واحدةً، قيل : من هي يا رسولَ اللهِ؟ فقال صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : مَن كان على مِثلِ ما أنا عليه وأصحابِي“Bani Israil dahulu terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada dalam kesesatan yang mengantarkan ke neraka, kecuali satu golongan saja.” Para sahabat bertanya, “Siapakah golongan yang satu itu, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu golongan yang mengikuti ajaran yang aku jalani dan yang dipegang oleh para sahabatku.” [1]Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, kaum muslim akan terpecah menjadi golongan-golongan. Setiap golongan yang berselisih dengan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, mereka tidak lepas dari kesesatan. Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan,فعلامتهم كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنهم يكونون على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه فتلك ميزة تميزت بها عقيدة أهل السنة والجماعة لا توجد“Tanda golongan yang selamat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mereka berpegang pada ajaran yang sama dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Inilah ciri khusus akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh keyakinan kelompok-kelompok lainnya.” [2]Sekilas tentang pemikiran KhawarijKelompok Khawarij adalah kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Mereka menentang apa yang pemerintah sah perintahkan. Padahal, menaati perintah pemerintah yang sah merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. an-Nisa: 59)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, akan melihat banyak perbedaan dan perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk (sepeninggalku).” [3]Kelompok Khawarij juga adalah kelompok pertama yang mengkafirkan orang-orang Islam yang tidak ada di kelompok mereka. Bahkan, mereka juga mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa dengan selain dosa syirik. Mereka menganggap bahwa siapa saja yang menyelisihi pemikiran kelompok mereka berpotensi sesat bahkan kafir, meskipun yang menyelisihi mereka adalah pemerintah yang sah sekalipun. Syekh al-Qahthani berkata dalam kitabnya, menukil perkataan Syekh Shalih Fauzan rahimahumallah,الخوارج هم أول من كفر المسلمين، يكفرون بالذنوب-يعني التي هي دون الشرك- ويكفرون من خالفهم في بدعتهم ويستحلون دمه وماله. وهذه حال أهل البدع، يبتدعون بدعة ويكفرون من خالفهم فيها“Mereka adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin. Mereka menganggap seseorang kafir hanya karena melakukan dosa, yaitu dosa-dosa yang tidak sampai pada syirik. Mereka juga mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan bidah (ajaran menyimpang) mereka, lalu menghalalkan darah dan harta orang tersebut.” [4]Awal mula bibit kemunculan mereka telah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seseorang yang tidak suka dengan kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia memprotes kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sana lah sikap yang serupa bermunculan, bahkan menjadi lebih parah.Naasnya, pemikiran menyimpang ini justru dilakukan oleh sebagian orang yang secara lahiriah tampak memiliki amaliah peribadatan yang baik. Kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah-olah pemikiran mereka pun benar dan lurus. Padahal pada hakikatnya, pemikiran yang mereka anut termasuk pemikiran yang telah dicela oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bisa terjadi karena sebagian dari mereka hanya berupaya menampakkan amalan-amalan baik secara lahiriah, sementara secara pemikiran mereka tidak benar-benar menginginkan kebaikan yang diajarkan oleh Islam. Selain itu, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh kebodohan mereka terhadap manhaj dan akidah yang benar.Di dalam beberapa hadis, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan, selain mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan yang secara lahiriah tampak baik, mereka juga memiliki ciri fisik, yaitu botak (dalam beberapa riwayat gundul secara menyeluruh). Pada poin ini lah pembahasan dari tulisan ini berfokus.Baca juga: Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijPertama, hadis Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik radhiyallah ‘anhuma, dari beberapa jalur imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سيكونُ في أُمَّتِي اختلافٌ وفُرقةٌ، وقومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ، ويَقرؤونَ القرآنَ لا يُجاوِزُ تَرَاقِيَهُم ، يَحقِرُ أحدُكم صلاتَه مع صلاتِهم، وصيامَه مع صيامِهم، يمرُقونَ مِن الإسلامِ كما يمرُقُ السهمُ مِن الرَّمِيَّةِ، ثمَّ لا يَرجِعونَ إليه حتى (يَرْتَدَّ) على فُوقِه، هم شَرُّ الخَلْقِ والخَليقةِ، طُوبَى لمَن قتَلَهم وقتَلُوه، يَدْعُونَ إلى كِتابِ اللهِ عزَّ وجلَّ وليسوا منه في شيءٍ، ومَن قاتَلَهم كان أَوْلى باللهِ عزَّ وجلَّ منهم، قالوا: يا رسولَ اللهِ، ما سِيماهُم؟ قال: سِيماهُم التَّحْلِيقُ“Akan terjadi di tengah umatku banyak perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum yang lisannya tampak baik, tetapi perbuatannya buruk. Mereka membaca Al-Qur’an, namun bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak meresap ke hati). Salah seorang dari kalian akan merasa salat dan puasanya kecil dibanding salat dan puasa mereka. Namun, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan buruan, dan tidak akan kembali lagi kepadanya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Beruntunglah orang yang memerangi mereka atau yang gugur terbunuh oleh mereka. Mereka menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka tidak berada di atas ajarannya sedikit pun. Orang yang memerangi mereka lebih dekat kepada Allah dibanding mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri-ciri (fisik) mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhuma. Hadis tersebut diriwayatkan oleh at-Thahawi dalam Syarḥ Musykil al-Ātsār (no. 4073), Abū Dāwūd (no. 4765), dan Imām Aḥmad dalam Musnad-nya (no. 13338) dengan redaksi yang sama. Syekh Syu‘aib al-Arna’ūṭ menilai hadis ini dengan menyatakan, “إسناده صحيح على شرط البخاري” (Sanadnya sahih seperti syarat milik Imam Bukhari) [5]Kedua, hadis Abu Sa’id al-Khudri melalui jalur muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أنَّ نبيَّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذكَر ناسًا يكونونَ في أمَّتِه يخرُجونَ في فِرقةٍ مِن النَّاسِ سِيماهُم التَّحليقُ هم مِن شِرارِ النَّاسِ أو هم مِن شرِّ الخَلْقِ تقتُلُهم أدنى الطَّائفتَيْنِ إلى الحقِّ“Sesungguhnya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan akan ada sekelompok orang di tengah umat beliau. Mereka keluar memisahkan diri dari kaum muslimin. Ciri mereka adalah mencukur habis rambut kepala. Mereka termasuk seburuk-buruk manusia atau seburuk-buruk makhluk. Kelompok ini akan diperangi dan dibinasakan oleh golongan kaum muslimin yang paling dekat dengan kebenaran.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Said al Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 1065, 2: 745). Hadis ini juga di-takhrij oleh Syekh Syuaib al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban (no. 6740), dan beliau menegaskan bahwa hadis ini berstatus sahih. [6]Ketiga, hadis Abu Sa’id al-Khudri, melalui jalur Bukhari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، وَيَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ قِيلَ: مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ، أَوْ قَالَ: التَّسْبِيدُ“Akan muncul sekelompok orang dari arah timur. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak masuk ke hati dan tidak diamalkan). Mereka keluar dari agama seperti anak panah yang melesat keluar dari tubuh hewan buruan, lalu tidak akan kembali lagi ke dalamnya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya semula.” Lalu ditanyakan, “Apa tanda-tanda mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala,” atau beliau bersabda, “menggundul rambut sampai licin.” Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (no. 7562, 9: 162). Hadis ini berstatus sahih karena diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. [7]Kosa kata hadis-hadis di atasيَخْرُجُ نَاسٌ : Sekelompok manusia (akan) keluarمِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ : Dari arah timurيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan merekaيَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ : Keluar dari agama Islamكَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ : Sebagaimana anak panah keluar dari busurnyaسِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ : Ciri mereka botak (mencukur habis rambut mereka)يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ : Berkata-kata manis namun berbuat jelekلَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Tidak Keluar dari mulut merekaالتَّسْبِيدُ: Botak sampai licinFaidah hadis-hadis di atasPertama, mereka mempunyai ciri fisik membotaki kepala mereka. Mereka melakukan itu karena mencintai perbuatan tersebut dan menjadikan hal tersebut sebagai ciri mereka. Syekh Bin Baz rahimahullah mengatakan menjelaskan maksud dari teks hadis سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ “ciri mereka botak”,وهَؤلَاءِ هم الخَوَارجِ؛ لأنهم يُوجِبُونَ التَّحلِيقَ، وهو مِنْ خِصَالِهِم“Mereka adalah Khawarij, karena mereka mewajibkan menggundul kepala. Hal tersebut merupakan ciri khas mereka.” [8]Kaum Khawarij menjadikan mencukur habis rambut kepala sebagai kewajiban agama. Sikap ini muncul karena mereka bersikap berlebihan dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam, hingga melewati batas yang dibolehkan dalam beragama,جعلوا ذلك علامةً لهم على رفضهم زينة الدّنيا، وشعارًا ليعرفوا به، كما يفعل البعض من رهبان النصارى“Mereka menjadikan hal itu (mencukur habis rambut) sebagai penolakan mereka terhadap perhiasan dunia, agar mereka dikenal dengan hal tersebut. Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh sebagian pemuka agama Nasrani.” [9]Berlebihannya dalam beragama menjadikan mereka mengada-adakan batasan beragama, yang hal tersebut akan menyulitkan diri mereka sendiri.Namun, perlu diingat bahwa membotaki rambut hukumnya boleh, sebagaimana memanjangkan rambut dengan urf berlaku. Terlebih ketika umrah dan haji, maka hal ini menjadi hal yang sangat dianjurkan. Adapun mencukur habis kepala yang tidak dibolehkan adalah mencukur habis rambut kepala dengan niat dan tujuan seperti yang dimiliki mereka atau menjadikan mereka sebagai panutan. Syekh Abdul Muhsin rahimahullah pernah ditanya tentang mencukur habis kepala, maka beliau menjawab,الخوارج علامتهم التحليق، وهذه سمة وعلامة لهم، ولكن قد جاء في السنة ما يدل على أن التحليق في غير الحج والعمرة سائغ وأنه لا بأس به، وإنما المحذور أن يتخذ اقتداءً بالخوارج وتشبهاً بهم“Ciri khas kaum Khawarij adalah mencukur habis rambut kepala. Ini menjadi tanda dan ciri mereka. Namun, dalam sunah Nabi ﷺ disebutkan bahwa mencukur rambut di luar ibadah haji dan umrah itu diperbolehkan dan tidak masalah. Yang perlu dihindari adalah menjadikan hal itu sebagai cara meniru atau menyesuaikan diri dengan kaum Khawarij.” [10]Maka, mencukur habis rambut kepala diperbolehkan, selama tidak dilakukan dengan alasan seperti yang dipakai oleh kaum Khawarij.Kedua, kebaikan yang seseorang tampakkan tidak selalu linear dengan kebaikan hatinya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij. Mereka memiliki amalan-amalan yang tampak baik, namun perilaku mereka keluar dari syariat sebagaimana anak panah yang keluar dari busurnya. Maksudnya, menyimpang dengan penyimpangan yang sangat jauh. Mereka disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang-orang yang beramal, namun amalannya tidak masuk ke hati mereka dengan sabdanya,وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ“mereka membaca al-Quran, namun tidak melewati tenggorokan mereka”; maksudnya bacaan mereka tidaklah menyerap ke hati. [11]Ketiga, kemahiran berbicara atau retorika tanpa disertai ilmu dan amal yang benar adalah sangat berbahaya dalam agama. Kaum Khawarij adalah contoh nyata dari hal ini: ucapan mereka terdengar manis dan meyakinkan, seolah-olah indah dan benar, tetapi perbuatan mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam yang lurus. Kesesatan mereka sering tampak lebih meyakinkan karena kemampuan berbicara yang fasih, sehingga orang yang kurang ilmu bisa terpesona dan tersesat mengikuti mereka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,قومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ“(Mereka) adalah kaum yang baik ucapannya dan jelek perbuatannya.” [12]Hal tersebut memiliki 2 maksud, yaitu tidak sesuainya perkataan dengan perbuatan dan perbuatan mereka adalah perbuatan yang buruk, tidak merepresentasikan agama Islam. Padahal, Allah berfirman mencela perbuatan yang tidak sesuai dengan perkataan,كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ“Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaf: 3)Allah juga berfirman sebagai penegasan bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kebaikan. Allah berfirman,وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ“Sesungguhnya tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali merupakan kebaikan untuk alam semesta.” (QS. al-Anbiya: 107)Baca juga: Ibnu ‘Abbas Mendebat Kaum Khawarij***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam at-Tirmizi, Sunan at-Tirmizi, no. 2641; dinilai hasan oleh Syekh Muhammad Nasir ad-Din al-Albani.[2] Imam Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz adz-Dzahabi, al-Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi, 1: 8.[3] Imam Ibn Rajab al-Hanbali, Jami al-Ulum wa al-Hikam, 2: 109.[4] Syekh Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran al-Qahtani, Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabriat Dawah wa Atba Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab, hal. 240.[5] Imam at-Tahawi, Syarh Musykil al-Atsar, no. 4073; Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 4765; Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, no. 13338. Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu. Takhrij: Syekh Syu’aib al-Arnaut, dengan penilaian sanad sahih ala syarṭ al-Bukhari.[6] Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi, 2: 745; no. 1065; di-takhrij oleh Syu’aib al-Arnaut dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban, no. 6740, dan dinilai sahih.[7] Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, 9: 162, no. 7562.[8] Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz, Syarh Kitab at-Tauhid min Shahih al-Bukhari, hal. 433.[9] Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, 3: 122.[10] Syekh Abd al-Muhsin bin Hamad al-Abbad al-Badr, Syarh Sunan Abi Dawud, 20: 466.[11] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461.[12] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461-462.Daftar PustakaAlbani, Muhammad Nasir ad-Din. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. Beirut: al-Maktab al-Islami.Al-Qurthubi, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim. al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim. Beirut: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim ath-Thayyib, 1417 H / 1996 M.Al-Qahtani, Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran. Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabri’at Da’wah wa Atba’ Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab. Riyadh: Dar al-Awfiyā’Al-Tahawi, Abu Jafar Ahmad bin Muhammad bin Salamah. Syarh Musykil al-Atsar. Takhrij: Syaikh Syu’aib al-Arna’ut. Diakses melalui Dorar.netAl-Abbad al-Badr, Abd al-Muhsin bin Hamad. Sharh Sunan Abu Dawud. Jild 20. Diakses dari: http://www.islamweb.netAdz-Dzahabi, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz. al-Arsy. Tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi. Cetakan kedua. Madinah al-Munawwarah: Imadah al-Bahth al-Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H / 2003 M.Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Tahqiq: Jama’ah min al-‘Ulama. Sultanīyah, Bulāq, Mesir, 1311 H. Disunting: Dr. Muhammad Zuhair al-Nasir, Dar Tawk al-Najat, Beirut, 1422 H.Ibn Rajab al-Hanbali, Abd ar-Rahman bin Ahmad. Jami’ al-Ulum wa al-Hikam. Diakses melalui islamweb.netMuslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi. Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, 1374 H / 1955 M. Terdiri dari 5 jilid.Hawwa, Said. al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqa’id al-Islamiyyah. Dar al-Salam, cetakan kedua, 1412 H / 1992 M. Disiapkan untuk Al-Shamilah oleh Abu Yasir al-Jazairi.


Daftar Isi ToggleSekilas tentang pemikiran KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijKosa kata hadis-hadis di atasFaidah hadis-hadis di atasPemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan sebagai jemaah yang selamat setelah kepergian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,افترقتِ اليهودُ على إحدَى وسبعينَ فرقةً , وافترقتِ النصارَى على اثنتَينِ وسبعينَ فرقةً , وستفترقُ هذه الأمةُ على ثلاثٍ وسبعينَ فرقةً كلُّها في النارِ إلا واحدةً، قيل : من هي يا رسولَ اللهِ؟ فقال صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : مَن كان على مِثلِ ما أنا عليه وأصحابِي“Bani Israil dahulu terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada dalam kesesatan yang mengantarkan ke neraka, kecuali satu golongan saja.” Para sahabat bertanya, “Siapakah golongan yang satu itu, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu golongan yang mengikuti ajaran yang aku jalani dan yang dipegang oleh para sahabatku.” [1]Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, kaum muslim akan terpecah menjadi golongan-golongan. Setiap golongan yang berselisih dengan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, mereka tidak lepas dari kesesatan. Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan,فعلامتهم كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنهم يكونون على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه فتلك ميزة تميزت بها عقيدة أهل السنة والجماعة لا توجد“Tanda golongan yang selamat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mereka berpegang pada ajaran yang sama dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Inilah ciri khusus akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh keyakinan kelompok-kelompok lainnya.” [2]Sekilas tentang pemikiran KhawarijKelompok Khawarij adalah kelompok yang keluar dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Mereka menentang apa yang pemerintah sah perintahkan. Padahal, menaati perintah pemerintah yang sah merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. an-Nisa: 59)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, akan melihat banyak perbedaan dan perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk (sepeninggalku).” [3]Kelompok Khawarij juga adalah kelompok pertama yang mengkafirkan orang-orang Islam yang tidak ada di kelompok mereka. Bahkan, mereka juga mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa dengan selain dosa syirik. Mereka menganggap bahwa siapa saja yang menyelisihi pemikiran kelompok mereka berpotensi sesat bahkan kafir, meskipun yang menyelisihi mereka adalah pemerintah yang sah sekalipun. Syekh al-Qahthani berkata dalam kitabnya, menukil perkataan Syekh Shalih Fauzan rahimahumallah,الخوارج هم أول من كفر المسلمين، يكفرون بالذنوب-يعني التي هي دون الشرك- ويكفرون من خالفهم في بدعتهم ويستحلون دمه وماله. وهذه حال أهل البدع، يبتدعون بدعة ويكفرون من خالفهم فيها“Mereka adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin. Mereka menganggap seseorang kafir hanya karena melakukan dosa, yaitu dosa-dosa yang tidak sampai pada syirik. Mereka juga mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan bidah (ajaran menyimpang) mereka, lalu menghalalkan darah dan harta orang tersebut.” [4]Awal mula bibit kemunculan mereka telah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seseorang yang tidak suka dengan kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia memprotes kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sana lah sikap yang serupa bermunculan, bahkan menjadi lebih parah.Naasnya, pemikiran menyimpang ini justru dilakukan oleh sebagian orang yang secara lahiriah tampak memiliki amaliah peribadatan yang baik. Kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah-olah pemikiran mereka pun benar dan lurus. Padahal pada hakikatnya, pemikiran yang mereka anut termasuk pemikiran yang telah dicela oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bisa terjadi karena sebagian dari mereka hanya berupaya menampakkan amalan-amalan baik secara lahiriah, sementara secara pemikiran mereka tidak benar-benar menginginkan kebaikan yang diajarkan oleh Islam. Selain itu, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh kebodohan mereka terhadap manhaj dan akidah yang benar.Di dalam beberapa hadis, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan, selain mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan yang secara lahiriah tampak baik, mereka juga memiliki ciri fisik, yaitu botak (dalam beberapa riwayat gundul secara menyeluruh). Pada poin ini lah pembahasan dari tulisan ini berfokus.Baca juga: Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum KhawarijHadis-hadis yang datang menjelaskan botak sebagai ciri fisik KhawarijPertama, hadis Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik radhiyallah ‘anhuma, dari beberapa jalur imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سيكونُ في أُمَّتِي اختلافٌ وفُرقةٌ، وقومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ، ويَقرؤونَ القرآنَ لا يُجاوِزُ تَرَاقِيَهُم ، يَحقِرُ أحدُكم صلاتَه مع صلاتِهم، وصيامَه مع صيامِهم، يمرُقونَ مِن الإسلامِ كما يمرُقُ السهمُ مِن الرَّمِيَّةِ، ثمَّ لا يَرجِعونَ إليه حتى (يَرْتَدَّ) على فُوقِه، هم شَرُّ الخَلْقِ والخَليقةِ، طُوبَى لمَن قتَلَهم وقتَلُوه، يَدْعُونَ إلى كِتابِ اللهِ عزَّ وجلَّ وليسوا منه في شيءٍ، ومَن قاتَلَهم كان أَوْلى باللهِ عزَّ وجلَّ منهم، قالوا: يا رسولَ اللهِ، ما سِيماهُم؟ قال: سِيماهُم التَّحْلِيقُ“Akan terjadi di tengah umatku banyak perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum yang lisannya tampak baik, tetapi perbuatannya buruk. Mereka membaca Al-Qur’an, namun bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak meresap ke hati). Salah seorang dari kalian akan merasa salat dan puasanya kecil dibanding salat dan puasa mereka. Namun, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan buruan, dan tidak akan kembali lagi kepadanya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Beruntunglah orang yang memerangi mereka atau yang gugur terbunuh oleh mereka. Mereka menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka tidak berada di atas ajarannya sedikit pun. Orang yang memerangi mereka lebih dekat kepada Allah dibanding mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri-ciri (fisik) mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhuma. Hadis tersebut diriwayatkan oleh at-Thahawi dalam Syarḥ Musykil al-Ātsār (no. 4073), Abū Dāwūd (no. 4765), dan Imām Aḥmad dalam Musnad-nya (no. 13338) dengan redaksi yang sama. Syekh Syu‘aib al-Arna’ūṭ menilai hadis ini dengan menyatakan, “إسناده صحيح على شرط البخاري” (Sanadnya sahih seperti syarat milik Imam Bukhari) [5]Kedua, hadis Abu Sa’id al-Khudri melalui jalur muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أنَّ نبيَّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذكَر ناسًا يكونونَ في أمَّتِه يخرُجونَ في فِرقةٍ مِن النَّاسِ سِيماهُم التَّحليقُ هم مِن شِرارِ النَّاسِ أو هم مِن شرِّ الخَلْقِ تقتُلُهم أدنى الطَّائفتَيْنِ إلى الحقِّ“Sesungguhnya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan akan ada sekelompok orang di tengah umat beliau. Mereka keluar memisahkan diri dari kaum muslimin. Ciri mereka adalah mencukur habis rambut kepala. Mereka termasuk seburuk-buruk manusia atau seburuk-buruk makhluk. Kelompok ini akan diperangi dan dibinasakan oleh golongan kaum muslimin yang paling dekat dengan kebenaran.”Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Said al Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 1065, 2: 745). Hadis ini juga di-takhrij oleh Syekh Syuaib al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban (no. 6740), dan beliau menegaskan bahwa hadis ini berstatus sahih. [6]Ketiga, hadis Abu Sa’id al-Khudri, melalui jalur Bukhari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، وَيَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ قِيلَ: مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ، أَوْ قَالَ: التَّسْبِيدُ“Akan muncul sekelompok orang dari arah timur. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak masuk ke hati dan tidak diamalkan). Mereka keluar dari agama seperti anak panah yang melesat keluar dari tubuh hewan buruan, lalu tidak akan kembali lagi ke dalamnya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya semula.” Lalu ditanyakan, “Apa tanda-tanda mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur habis rambut kepala,” atau beliau bersabda, “menggundul rambut sampai licin.” Riwayat hadis:Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (no. 7562, 9: 162). Hadis ini berstatus sahih karena diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. [7]Kosa kata hadis-hadis di atasيَخْرُجُ نَاسٌ : Sekelompok manusia (akan) keluarمِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ : Dari arah timurيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan merekaيَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ : Keluar dari agama Islamكَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ : Sebagaimana anak panah keluar dari busurnyaسِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ : Ciri mereka botak (mencukur habis rambut mereka)يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ : Berkata-kata manis namun berbuat jelekلَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Tidak Keluar dari mulut merekaالتَّسْبِيدُ: Botak sampai licinFaidah hadis-hadis di atasPertama, mereka mempunyai ciri fisik membotaki kepala mereka. Mereka melakukan itu karena mencintai perbuatan tersebut dan menjadikan hal tersebut sebagai ciri mereka. Syekh Bin Baz rahimahullah mengatakan menjelaskan maksud dari teks hadis سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ “ciri mereka botak”,وهَؤلَاءِ هم الخَوَارجِ؛ لأنهم يُوجِبُونَ التَّحلِيقَ، وهو مِنْ خِصَالِهِم“Mereka adalah Khawarij, karena mereka mewajibkan menggundul kepala. Hal tersebut merupakan ciri khas mereka.” [8]Kaum Khawarij menjadikan mencukur habis rambut kepala sebagai kewajiban agama. Sikap ini muncul karena mereka bersikap berlebihan dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam, hingga melewati batas yang dibolehkan dalam beragama,جعلوا ذلك علامةً لهم على رفضهم زينة الدّنيا، وشعارًا ليعرفوا به، كما يفعل البعض من رهبان النصارى“Mereka menjadikan hal itu (mencukur habis rambut) sebagai penolakan mereka terhadap perhiasan dunia, agar mereka dikenal dengan hal tersebut. Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh sebagian pemuka agama Nasrani.” [9]Berlebihannya dalam beragama menjadikan mereka mengada-adakan batasan beragama, yang hal tersebut akan menyulitkan diri mereka sendiri.Namun, perlu diingat bahwa membotaki rambut hukumnya boleh, sebagaimana memanjangkan rambut dengan urf berlaku. Terlebih ketika umrah dan haji, maka hal ini menjadi hal yang sangat dianjurkan. Adapun mencukur habis kepala yang tidak dibolehkan adalah mencukur habis rambut kepala dengan niat dan tujuan seperti yang dimiliki mereka atau menjadikan mereka sebagai panutan. Syekh Abdul Muhsin rahimahullah pernah ditanya tentang mencukur habis kepala, maka beliau menjawab,الخوارج علامتهم التحليق، وهذه سمة وعلامة لهم، ولكن قد جاء في السنة ما يدل على أن التحليق في غير الحج والعمرة سائغ وأنه لا بأس به، وإنما المحذور أن يتخذ اقتداءً بالخوارج وتشبهاً بهم“Ciri khas kaum Khawarij adalah mencukur habis rambut kepala. Ini menjadi tanda dan ciri mereka. Namun, dalam sunah Nabi ﷺ disebutkan bahwa mencukur rambut di luar ibadah haji dan umrah itu diperbolehkan dan tidak masalah. Yang perlu dihindari adalah menjadikan hal itu sebagai cara meniru atau menyesuaikan diri dengan kaum Khawarij.” [10]Maka, mencukur habis rambut kepala diperbolehkan, selama tidak dilakukan dengan alasan seperti yang dipakai oleh kaum Khawarij.Kedua, kebaikan yang seseorang tampakkan tidak selalu linear dengan kebaikan hatinya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij. Mereka memiliki amalan-amalan yang tampak baik, namun perilaku mereka keluar dari syariat sebagaimana anak panah yang keluar dari busurnya. Maksudnya, menyimpang dengan penyimpangan yang sangat jauh. Mereka disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang-orang yang beramal, namun amalannya tidak masuk ke hati mereka dengan sabdanya,وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ“mereka membaca al-Quran, namun tidak melewati tenggorokan mereka”; maksudnya bacaan mereka tidaklah menyerap ke hati. [11]Ketiga, kemahiran berbicara atau retorika tanpa disertai ilmu dan amal yang benar adalah sangat berbahaya dalam agama. Kaum Khawarij adalah contoh nyata dari hal ini: ucapan mereka terdengar manis dan meyakinkan, seolah-olah indah dan benar, tetapi perbuatan mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam yang lurus. Kesesatan mereka sering tampak lebih meyakinkan karena kemampuan berbicara yang fasih, sehingga orang yang kurang ilmu bisa terpesona dan tersesat mengikuti mereka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,قومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ“(Mereka) adalah kaum yang baik ucapannya dan jelek perbuatannya.” [12]Hal tersebut memiliki 2 maksud, yaitu tidak sesuainya perkataan dengan perbuatan dan perbuatan mereka adalah perbuatan yang buruk, tidak merepresentasikan agama Islam. Padahal, Allah berfirman mencela perbuatan yang tidak sesuai dengan perkataan,كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ“Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaf: 3)Allah juga berfirman sebagai penegasan bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kebaikan. Allah berfirman,وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ“Sesungguhnya tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali merupakan kebaikan untuk alam semesta.” (QS. al-Anbiya: 107)Baca juga: Ibnu ‘Abbas Mendebat Kaum Khawarij***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam at-Tirmizi, Sunan at-Tirmizi, no. 2641; dinilai hasan oleh Syekh Muhammad Nasir ad-Din al-Albani.[2] Imam Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz adz-Dzahabi, al-Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi, 1: 8.[3] Imam Ibn Rajab al-Hanbali, Jami al-Ulum wa al-Hikam, 2: 109.[4] Syekh Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran al-Qahtani, Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabriat Dawah wa Atba Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab, hal. 240.[5] Imam at-Tahawi, Syarh Musykil al-Atsar, no. 4073; Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 4765; Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, no. 13338. Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu. Takhrij: Syekh Syu’aib al-Arnaut, dengan penilaian sanad sahih ala syarṭ al-Bukhari.[6] Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi, 2: 745; no. 1065; di-takhrij oleh Syu’aib al-Arnaut dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban, no. 6740, dan dinilai sahih.[7] Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, 9: 162, no. 7562.[8] Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz, Syarh Kitab at-Tauhid min Shahih al-Bukhari, hal. 433.[9] Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, 3: 122.[10] Syekh Abd al-Muhsin bin Hamad al-Abbad al-Badr, Syarh Sunan Abi Dawud, 20: 466.[11] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461.[12] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461-462.Daftar PustakaAlbani, Muhammad Nasir ad-Din. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. Beirut: al-Maktab al-Islami.Al-Qurthubi, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim. al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim. Beirut: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim ath-Thayyib, 1417 H / 1996 M.Al-Qahtani, Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran. Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabri’at Da’wah wa Atba’ Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab. Riyadh: Dar al-Awfiyā’Al-Tahawi, Abu Jafar Ahmad bin Muhammad bin Salamah. Syarh Musykil al-Atsar. Takhrij: Syaikh Syu’aib al-Arna’ut. Diakses melalui Dorar.netAl-Abbad al-Badr, Abd al-Muhsin bin Hamad. Sharh Sunan Abu Dawud. Jild 20. Diakses dari: http://www.islamweb.netAdz-Dzahabi, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz. al-Arsy. Tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi. Cetakan kedua. Madinah al-Munawwarah: Imadah al-Bahth al-Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H / 2003 M.Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Tahqiq: Jama’ah min al-‘Ulama. Sultanīyah, Bulāq, Mesir, 1311 H. Disunting: Dr. Muhammad Zuhair al-Nasir, Dar Tawk al-Najat, Beirut, 1422 H.Ibn Rajab al-Hanbali, Abd ar-Rahman bin Ahmad. Jami’ al-Ulum wa al-Hikam. Diakses melalui islamweb.netMuslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi. Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, 1374 H / 1955 M. Terdiri dari 5 jilid.Hawwa, Said. al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqa’id al-Islamiyyah. Dar al-Salam, cetakan kedua, 1412 H / 1992 M. Disiapkan untuk Al-Shamilah oleh Abu Yasir al-Jazairi.

Jangan Remehkan Amal Kecil, Bisa Jadi Penentu Nasibmu di Akhirat – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8) Yang dimaksud dengan zarrah adalah semut.Istilah ini dipakai orang Arab untuk mengungkapkan hal yang paling kecil.Kata “seberat zarrah (semut)” dipakai untuk mengungkapkan hal yang terkecil.Sehingga makna ayat ini adalah: Siapa yang melakukan amalan apa pun,meski bobotnya hanya seberat semut, atau bahkan lebih kecil dari itu. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla mengungkapkannya dengan kalimat “seberat semut”, karena orang Arab memakainya untuk mengungkapkan hal yang terkecil. Sehingga makna ayat ini: siapa yang melakukan amal kebaikan seberat semut, amal kebaikan apa pun, sedikit maupun banyak, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal kebaikannya. Dan barang siapa yang melakukan amal keburukan seberat semut, amal keburukan apa pun yang ia perbuat, kemaksiatan apa pun yang ia lakukan, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal keburukannya pada hari kiamat. Seluruh perbuatan manusia tercatat dan terhitung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang sedikit pun.Dan sekalipun (amal itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (untuk diperhitungkan). Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47). Negeri akhirat merupakan negeri keadilan mutlak, tidak ada kezaliman pada hari itu. Sedangkan dunia bukanlah negeri keadilan. Di dunia ada orang yang zalim dan ada yang terzalimi. Dan terkadang orang zalim mati, tapi belum mendapat balasan atas kezalimannya. Karena Allah Ta’ala menunda hukumannya hingga di akhirat kelak. Seperti yang Allah Ta’ala firmankan: “Dan janganlah engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Maka milik Allah-lah seluruh hikmah dalam memberi hukuman kepada orang zalim, dengan menyegerakannya di dunia, atau menangguhkannya sampai di akhirat kelak. Dunia bukanlah negeri keadilan. Namun, akhiratlah negeri keadilan yang mutlak. Manusia akan melihat seluruh amalan yang telah diperbuat selama di dunia. Ia melihatnya pada hari kiamat, meskipun amalnya hanya seberat semut. ====== يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ وَالذَّرَّةُ هِيَ النَّمْلَةُ وَيُضْرَبُ بِهَا الْمَثَلُ عِنْدَ الْعَرَبِ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَمَعْنَى الْآيَةِ مَنْ يَعْمَلُ أَيَّ عَمَلٍ وَإِنْ كَانَ يَزِنُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ بَلْ حَتَّى لَوْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَضْرِبُ بِهِ الْمَثَلَ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَيَكُونُ مَعْنَى الْآيَةِ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا أَيَّ عَمَلِ خَيْرٍ قَلِيلًا كَانَ أَوْ كَثِيرًا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا أَيَّ شَرٍّ يَعْمَلُهُ أَيَّ مَعْصِيَةٍ يَقَعُ فِيهَا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ سَيِّئَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكُلُّ شَيْءٍ مُحْصًى عَلَى ابْنِ آدَمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ الدَّارُ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يَمُوتُ الظَّالِمُ وَلَمْ يُعَاقَبْ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخَّرَ عُقُوبَتَهُ لِلْآخِرَةِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ فَلِلَّهِ الْحِكْمَةُ جَلَّ وَعَلَا فِي مُعَاقَبَةِ الظَّالِمِ فِي الدُّنْيَا أَوْ فِي تَأْخِيرِ عُقُوبَتِهِ فِي الْآخِرَةِ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ وَإِنَّمَا الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ يَرَى الْإِنْسَانُ جَمِيعَ أَعْمَالِهِ الَّتِي عَمِلَهَا فِي الدُّنْيَا يَرَاهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى وَإِنْ كَانَتْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

Jangan Remehkan Amal Kecil, Bisa Jadi Penentu Nasibmu di Akhirat – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8) Yang dimaksud dengan zarrah adalah semut.Istilah ini dipakai orang Arab untuk mengungkapkan hal yang paling kecil.Kata “seberat zarrah (semut)” dipakai untuk mengungkapkan hal yang terkecil.Sehingga makna ayat ini adalah: Siapa yang melakukan amalan apa pun,meski bobotnya hanya seberat semut, atau bahkan lebih kecil dari itu. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla mengungkapkannya dengan kalimat “seberat semut”, karena orang Arab memakainya untuk mengungkapkan hal yang terkecil. Sehingga makna ayat ini: siapa yang melakukan amal kebaikan seberat semut, amal kebaikan apa pun, sedikit maupun banyak, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal kebaikannya. Dan barang siapa yang melakukan amal keburukan seberat semut, amal keburukan apa pun yang ia perbuat, kemaksiatan apa pun yang ia lakukan, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal keburukannya pada hari kiamat. Seluruh perbuatan manusia tercatat dan terhitung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang sedikit pun.Dan sekalipun (amal itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (untuk diperhitungkan). Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47). Negeri akhirat merupakan negeri keadilan mutlak, tidak ada kezaliman pada hari itu. Sedangkan dunia bukanlah negeri keadilan. Di dunia ada orang yang zalim dan ada yang terzalimi. Dan terkadang orang zalim mati, tapi belum mendapat balasan atas kezalimannya. Karena Allah Ta’ala menunda hukumannya hingga di akhirat kelak. Seperti yang Allah Ta’ala firmankan: “Dan janganlah engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Maka milik Allah-lah seluruh hikmah dalam memberi hukuman kepada orang zalim, dengan menyegerakannya di dunia, atau menangguhkannya sampai di akhirat kelak. Dunia bukanlah negeri keadilan. Namun, akhiratlah negeri keadilan yang mutlak. Manusia akan melihat seluruh amalan yang telah diperbuat selama di dunia. Ia melihatnya pada hari kiamat, meskipun amalnya hanya seberat semut. ====== يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ وَالذَّرَّةُ هِيَ النَّمْلَةُ وَيُضْرَبُ بِهَا الْمَثَلُ عِنْدَ الْعَرَبِ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَمَعْنَى الْآيَةِ مَنْ يَعْمَلُ أَيَّ عَمَلٍ وَإِنْ كَانَ يَزِنُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ بَلْ حَتَّى لَوْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَضْرِبُ بِهِ الْمَثَلَ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَيَكُونُ مَعْنَى الْآيَةِ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا أَيَّ عَمَلِ خَيْرٍ قَلِيلًا كَانَ أَوْ كَثِيرًا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا أَيَّ شَرٍّ يَعْمَلُهُ أَيَّ مَعْصِيَةٍ يَقَعُ فِيهَا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ سَيِّئَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكُلُّ شَيْءٍ مُحْصًى عَلَى ابْنِ آدَمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ الدَّارُ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يَمُوتُ الظَّالِمُ وَلَمْ يُعَاقَبْ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخَّرَ عُقُوبَتَهُ لِلْآخِرَةِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ فَلِلَّهِ الْحِكْمَةُ جَلَّ وَعَلَا فِي مُعَاقَبَةِ الظَّالِمِ فِي الدُّنْيَا أَوْ فِي تَأْخِيرِ عُقُوبَتِهِ فِي الْآخِرَةِ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ وَإِنَّمَا الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ يَرَى الْإِنْسَانُ جَمِيعَ أَعْمَالِهِ الَّتِي عَمِلَهَا فِي الدُّنْيَا يَرَاهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى وَإِنْ كَانَتْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8) Yang dimaksud dengan zarrah adalah semut.Istilah ini dipakai orang Arab untuk mengungkapkan hal yang paling kecil.Kata “seberat zarrah (semut)” dipakai untuk mengungkapkan hal yang terkecil.Sehingga makna ayat ini adalah: Siapa yang melakukan amalan apa pun,meski bobotnya hanya seberat semut, atau bahkan lebih kecil dari itu. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla mengungkapkannya dengan kalimat “seberat semut”, karena orang Arab memakainya untuk mengungkapkan hal yang terkecil. Sehingga makna ayat ini: siapa yang melakukan amal kebaikan seberat semut, amal kebaikan apa pun, sedikit maupun banyak, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal kebaikannya. Dan barang siapa yang melakukan amal keburukan seberat semut, amal keburukan apa pun yang ia perbuat, kemaksiatan apa pun yang ia lakukan, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal keburukannya pada hari kiamat. Seluruh perbuatan manusia tercatat dan terhitung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang sedikit pun.Dan sekalipun (amal itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (untuk diperhitungkan). Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47). Negeri akhirat merupakan negeri keadilan mutlak, tidak ada kezaliman pada hari itu. Sedangkan dunia bukanlah negeri keadilan. Di dunia ada orang yang zalim dan ada yang terzalimi. Dan terkadang orang zalim mati, tapi belum mendapat balasan atas kezalimannya. Karena Allah Ta’ala menunda hukumannya hingga di akhirat kelak. Seperti yang Allah Ta’ala firmankan: “Dan janganlah engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Maka milik Allah-lah seluruh hikmah dalam memberi hukuman kepada orang zalim, dengan menyegerakannya di dunia, atau menangguhkannya sampai di akhirat kelak. Dunia bukanlah negeri keadilan. Namun, akhiratlah negeri keadilan yang mutlak. Manusia akan melihat seluruh amalan yang telah diperbuat selama di dunia. Ia melihatnya pada hari kiamat, meskipun amalnya hanya seberat semut. ====== يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ وَالذَّرَّةُ هِيَ النَّمْلَةُ وَيُضْرَبُ بِهَا الْمَثَلُ عِنْدَ الْعَرَبِ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَمَعْنَى الْآيَةِ مَنْ يَعْمَلُ أَيَّ عَمَلٍ وَإِنْ كَانَ يَزِنُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ بَلْ حَتَّى لَوْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَضْرِبُ بِهِ الْمَثَلَ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَيَكُونُ مَعْنَى الْآيَةِ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا أَيَّ عَمَلِ خَيْرٍ قَلِيلًا كَانَ أَوْ كَثِيرًا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا أَيَّ شَرٍّ يَعْمَلُهُ أَيَّ مَعْصِيَةٍ يَقَعُ فِيهَا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ سَيِّئَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكُلُّ شَيْءٍ مُحْصًى عَلَى ابْنِ آدَمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ الدَّارُ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يَمُوتُ الظَّالِمُ وَلَمْ يُعَاقَبْ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخَّرَ عُقُوبَتَهُ لِلْآخِرَةِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ فَلِلَّهِ الْحِكْمَةُ جَلَّ وَعَلَا فِي مُعَاقَبَةِ الظَّالِمِ فِي الدُّنْيَا أَوْ فِي تَأْخِيرِ عُقُوبَتِهِ فِي الْآخِرَةِ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ وَإِنَّمَا الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ يَرَى الْإِنْسَانُ جَمِيعَ أَعْمَالِهِ الَّتِي عَمِلَهَا فِي الدُّنْيَا يَرَاهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى وَإِنْ كَانَتْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8) Yang dimaksud dengan zarrah adalah semut.Istilah ini dipakai orang Arab untuk mengungkapkan hal yang paling kecil.Kata “seberat zarrah (semut)” dipakai untuk mengungkapkan hal yang terkecil.Sehingga makna ayat ini adalah: Siapa yang melakukan amalan apa pun,meski bobotnya hanya seberat semut, atau bahkan lebih kecil dari itu. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla mengungkapkannya dengan kalimat “seberat semut”, karena orang Arab memakainya untuk mengungkapkan hal yang terkecil. Sehingga makna ayat ini: siapa yang melakukan amal kebaikan seberat semut, amal kebaikan apa pun, sedikit maupun banyak, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal kebaikannya. Dan barang siapa yang melakukan amal keburukan seberat semut, amal keburukan apa pun yang ia perbuat, kemaksiatan apa pun yang ia lakukan, maka kelak ia akan melihatnya tercatat dalam timbangan amal keburukannya pada hari kiamat. Seluruh perbuatan manusia tercatat dan terhitung. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang sedikit pun.Dan sekalipun (amal itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (untuk diperhitungkan). Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47). Negeri akhirat merupakan negeri keadilan mutlak, tidak ada kezaliman pada hari itu. Sedangkan dunia bukanlah negeri keadilan. Di dunia ada orang yang zalim dan ada yang terzalimi. Dan terkadang orang zalim mati, tapi belum mendapat balasan atas kezalimannya. Karena Allah Ta’ala menunda hukumannya hingga di akhirat kelak. Seperti yang Allah Ta’ala firmankan: “Dan janganlah engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Maka milik Allah-lah seluruh hikmah dalam memberi hukuman kepada orang zalim, dengan menyegerakannya di dunia, atau menangguhkannya sampai di akhirat kelak. Dunia bukanlah negeri keadilan. Namun, akhiratlah negeri keadilan yang mutlak. Manusia akan melihat seluruh amalan yang telah diperbuat selama di dunia. Ia melihatnya pada hari kiamat, meskipun amalnya hanya seberat semut. ====== يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ وَالذَّرَّةُ هِيَ النَّمْلَةُ وَيُضْرَبُ بِهَا الْمَثَلُ عِنْدَ الْعَرَبِ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ يُضْرَبُ بِهِ الْمَثَلُ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَمَعْنَى الْآيَةِ مَنْ يَعْمَلُ أَيَّ عَمَلٍ وَإِنْ كَانَ يَزِنُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ بَلْ حَتَّى لَوْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَضْرِبُ بِهِ الْمَثَلَ فِي أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ فَيَكُونُ مَعْنَى الْآيَةِ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا أَيَّ عَمَلِ خَيْرٍ قَلِيلًا كَانَ أَوْ كَثِيرًا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا أَيَّ شَرٍّ يَعْمَلُهُ أَيَّ مَعْصِيَةٍ يَقَعُ فِيهَا يَرَى ذَلِكَ فِي مِيزَانِ سَيِّئَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكُلُّ شَيْءٍ مُحْصًى عَلَى ابْنِ آدَمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ الدَّارُ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يَمُوتُ الظَّالِمُ وَلَمْ يُعَاقَبْ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخَّرَ عُقُوبَتَهُ لِلْآخِرَةِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ فَلِلَّهِ الْحِكْمَةُ جَلَّ وَعَلَا فِي مُعَاقَبَةِ الظَّالِمِ فِي الدُّنْيَا أَوْ فِي تَأْخِيرِ عُقُوبَتِهِ فِي الْآخِرَةِ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ وَإِنَّمَا الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ يَرَى الْإِنْسَانُ جَمِيعَ أَعْمَالِهِ الَّتِي عَمِلَهَا فِي الدُّنْيَا يَرَاهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى وَإِنْ كَانَتْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

Hukum Wanita Dipaksa Menikah oleh Walinya

Pertanyaan:  Ini juga ada sebuah surat, wahai Syekh Yang Mulia, yang ditujukan kepada Anda secara pribadi, dikirim oleh Al-Mahd ‘Uwaidah ‘Āyid Al-Muṭairī.  Ia berkata: “Wahai Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, aku memohon kepada Anda Yang Mulia agar berkenan memberi penjelasan kepada kami tentang permasalahan berikut. Aku sampaikan kepada Anda bahwa putriku dan walinya —yaitu saudara laki-lakinya— telah mengatakan.”  Surat ini sebenarnya panjang, dan ringkasannya adalah bahwa dia memaparkan keadaannya bersama putrinya dan saudara laki-laki putrinya tersebut, yang mana saudara laki-laki putrinya itu asalnya dari laki-laki yang bukan suami suaminya.  Ia (Sang Ibu) mengatakan bahwa saudara laki-laki tersebut ingin menikahkan saudarinya dengan seorang laki-laki yang tidak saudarinya sukai, dan ibu ini mengikuti keinginannya, yakni ingin menyenangkan hati si saudara laki-laki tersebut, sehingga ia menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang tidak ia sukai. Apakah ibu tersebut berdosa atas perbuatannya itu? Jawaban: Pertanyaan ini memerlukan perincian. Jika sang anak perempuan tidak menyukainya, maka tidak boleh menikahkannya sama sekali.   Presenter: Ia mengatakan bahwa anak perempuan tersebut tidak menyukainya. فالحاصل: أن المرأة لا تزوج إلا بإذنها، فكون أمها أو أخيها يجبرانها على الزواج لا يجوز لهما ذلك، كما أنه لا يجوز لأبيها إجبارها على الصحيح أيضاً، إذا كانت بكراً مكلفة أو بنت تسع على الأقل، إذا كانت بنت تسع فأكثر فإنها لابد أن تستشار، فإن أذنت وإلا لم تزوج، وإذنها يكفي فيه السكوت، لأبيها وغير أبيها، لأبيها ولغير أبيها من باب أولى، فأخوها هذا إن كان لأمها فليس ولياً لها، إن كان أخاً من الأم فليس ولياً لها، وإنما أولياؤها العصبة؛ إخوتها الأشقاء، وإخوتها من الأب، هؤلاء هم أولياؤها، أما إن كان أخاً لها من أبيها أو من أبيها وأمها فهو عصبة، لكن ليس له أن يزوجها إلا بإذنها، تزويجها بغير إذنها يكون فاسداً ليس بصحيح، فلابد من أخذ إذنها في الزواج مطلقاً، لكن إذنها صماتها إذا كانت بكراً، أما الثيب التي قد تزوجت فلابد من تصريحها بالإذن، لابد أن تنطق بالإذن. نعم. Syekh: Tidak boleh menikahkannya, baik ayahnya maupun selain ayahnya, tidak pula ibunya, saudara laki-lakinya, atau siapa pun selain mereka.  Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang menikahkan perempuan kecuali dengan izin mereka. Beliau bersabda:  لا تزوجوا البكر حتى تستأذن، ولا تزوجوا الأيم حتى تستأمر “Janganlah kalian menikahkan gadis hingga dimintai izinnya, dan janganlah kalian menikahkan janda hingga dimintai persetujuannya.”  Para sahabat bertanya:  يا رسول الله! في البكر إنها تستحي “Wahai Rasulullah, jika gadis, tentu ia malu.”  Beliau bersabda:  إذنها سكوتها “Izinnya adalah dengan diamnya.”  Maka kesimpulannya, seorang perempuan tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Maka tindakan ibunya atau saudara laki-lakinya yang memaksanya menikah tidaklah dibolehkan. Bahkan pendapat yang tepat bahwa ayahnya pun tidak boleh memaksanya, apabila ia seorang gadis yang sudah balig dan berakal, atau berusia minimal sembilan tahun. Jika ia berusia sembilan tahun atau lebih, maka ia wajib dimintai pendapat, jika ia memberi izin maka boleh, jika tidak maka tidak boleh dinikahkan. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya maupun selain ayahnya. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya, apalagi kepada selain ayahnya.  Adapun saudara laki-laki tersebut, jika ia hanya saudara seibu, maka ia bukan wali baginya. Jika hubungan saudaranya adalah dari ibu, maka ia bukan wali baginya. Yang menjadi wali-walinya hanyalah para ‘ashabah, yaitu saudara-saudara kandungnya dan saudara-saudara seayahnya, merekalah wali-walinya. Jika ia adalah saudara seayah atau saudara seayah dan seibu (saudara kandung), maka ia termasuk ‘ashabah, pun ia tetap tidak boleh menikahkannya kecuali dengan izinnya. Menikahkannya tanpa izin si wanita adalah pernikahan fasid dan tidak sah.  Karena itu, mutlak harus meminta izin perempuan tersebut, hanya saja jika ia masih gadis maka izinnya cukup dengan diamnya. Adapun janda yang sudah pernah menikah, maka harus ada pernyataan izin dengan jelas, yakni ia harus mengucapkan izinnya. Demikian. Syaikh Bin Baz Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/4452/حكم-اجبار-المراة-على-الزواج Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 429 times, 1 visit(s) today Post Views: 654

Hukum Wanita Dipaksa Menikah oleh Walinya

Pertanyaan:  Ini juga ada sebuah surat, wahai Syekh Yang Mulia, yang ditujukan kepada Anda secara pribadi, dikirim oleh Al-Mahd ‘Uwaidah ‘Āyid Al-Muṭairī.  Ia berkata: “Wahai Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, aku memohon kepada Anda Yang Mulia agar berkenan memberi penjelasan kepada kami tentang permasalahan berikut. Aku sampaikan kepada Anda bahwa putriku dan walinya —yaitu saudara laki-lakinya— telah mengatakan.”  Surat ini sebenarnya panjang, dan ringkasannya adalah bahwa dia memaparkan keadaannya bersama putrinya dan saudara laki-laki putrinya tersebut, yang mana saudara laki-laki putrinya itu asalnya dari laki-laki yang bukan suami suaminya.  Ia (Sang Ibu) mengatakan bahwa saudara laki-laki tersebut ingin menikahkan saudarinya dengan seorang laki-laki yang tidak saudarinya sukai, dan ibu ini mengikuti keinginannya, yakni ingin menyenangkan hati si saudara laki-laki tersebut, sehingga ia menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang tidak ia sukai. Apakah ibu tersebut berdosa atas perbuatannya itu? Jawaban: Pertanyaan ini memerlukan perincian. Jika sang anak perempuan tidak menyukainya, maka tidak boleh menikahkannya sama sekali.   Presenter: Ia mengatakan bahwa anak perempuan tersebut tidak menyukainya. فالحاصل: أن المرأة لا تزوج إلا بإذنها، فكون أمها أو أخيها يجبرانها على الزواج لا يجوز لهما ذلك، كما أنه لا يجوز لأبيها إجبارها على الصحيح أيضاً، إذا كانت بكراً مكلفة أو بنت تسع على الأقل، إذا كانت بنت تسع فأكثر فإنها لابد أن تستشار، فإن أذنت وإلا لم تزوج، وإذنها يكفي فيه السكوت، لأبيها وغير أبيها، لأبيها ولغير أبيها من باب أولى، فأخوها هذا إن كان لأمها فليس ولياً لها، إن كان أخاً من الأم فليس ولياً لها، وإنما أولياؤها العصبة؛ إخوتها الأشقاء، وإخوتها من الأب، هؤلاء هم أولياؤها، أما إن كان أخاً لها من أبيها أو من أبيها وأمها فهو عصبة، لكن ليس له أن يزوجها إلا بإذنها، تزويجها بغير إذنها يكون فاسداً ليس بصحيح، فلابد من أخذ إذنها في الزواج مطلقاً، لكن إذنها صماتها إذا كانت بكراً، أما الثيب التي قد تزوجت فلابد من تصريحها بالإذن، لابد أن تنطق بالإذن. نعم. Syekh: Tidak boleh menikahkannya, baik ayahnya maupun selain ayahnya, tidak pula ibunya, saudara laki-lakinya, atau siapa pun selain mereka.  Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang menikahkan perempuan kecuali dengan izin mereka. Beliau bersabda:  لا تزوجوا البكر حتى تستأذن، ولا تزوجوا الأيم حتى تستأمر “Janganlah kalian menikahkan gadis hingga dimintai izinnya, dan janganlah kalian menikahkan janda hingga dimintai persetujuannya.”  Para sahabat bertanya:  يا رسول الله! في البكر إنها تستحي “Wahai Rasulullah, jika gadis, tentu ia malu.”  Beliau bersabda:  إذنها سكوتها “Izinnya adalah dengan diamnya.”  Maka kesimpulannya, seorang perempuan tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Maka tindakan ibunya atau saudara laki-lakinya yang memaksanya menikah tidaklah dibolehkan. Bahkan pendapat yang tepat bahwa ayahnya pun tidak boleh memaksanya, apabila ia seorang gadis yang sudah balig dan berakal, atau berusia minimal sembilan tahun. Jika ia berusia sembilan tahun atau lebih, maka ia wajib dimintai pendapat, jika ia memberi izin maka boleh, jika tidak maka tidak boleh dinikahkan. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya maupun selain ayahnya. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya, apalagi kepada selain ayahnya.  Adapun saudara laki-laki tersebut, jika ia hanya saudara seibu, maka ia bukan wali baginya. Jika hubungan saudaranya adalah dari ibu, maka ia bukan wali baginya. Yang menjadi wali-walinya hanyalah para ‘ashabah, yaitu saudara-saudara kandungnya dan saudara-saudara seayahnya, merekalah wali-walinya. Jika ia adalah saudara seayah atau saudara seayah dan seibu (saudara kandung), maka ia termasuk ‘ashabah, pun ia tetap tidak boleh menikahkannya kecuali dengan izinnya. Menikahkannya tanpa izin si wanita adalah pernikahan fasid dan tidak sah.  Karena itu, mutlak harus meminta izin perempuan tersebut, hanya saja jika ia masih gadis maka izinnya cukup dengan diamnya. Adapun janda yang sudah pernah menikah, maka harus ada pernyataan izin dengan jelas, yakni ia harus mengucapkan izinnya. Demikian. Syaikh Bin Baz Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/4452/حكم-اجبار-المراة-على-الزواج Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 429 times, 1 visit(s) today Post Views: 654
Pertanyaan:  Ini juga ada sebuah surat, wahai Syekh Yang Mulia, yang ditujukan kepada Anda secara pribadi, dikirim oleh Al-Mahd ‘Uwaidah ‘Āyid Al-Muṭairī.  Ia berkata: “Wahai Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, aku memohon kepada Anda Yang Mulia agar berkenan memberi penjelasan kepada kami tentang permasalahan berikut. Aku sampaikan kepada Anda bahwa putriku dan walinya —yaitu saudara laki-lakinya— telah mengatakan.”  Surat ini sebenarnya panjang, dan ringkasannya adalah bahwa dia memaparkan keadaannya bersama putrinya dan saudara laki-laki putrinya tersebut, yang mana saudara laki-laki putrinya itu asalnya dari laki-laki yang bukan suami suaminya.  Ia (Sang Ibu) mengatakan bahwa saudara laki-laki tersebut ingin menikahkan saudarinya dengan seorang laki-laki yang tidak saudarinya sukai, dan ibu ini mengikuti keinginannya, yakni ingin menyenangkan hati si saudara laki-laki tersebut, sehingga ia menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang tidak ia sukai. Apakah ibu tersebut berdosa atas perbuatannya itu? Jawaban: Pertanyaan ini memerlukan perincian. Jika sang anak perempuan tidak menyukainya, maka tidak boleh menikahkannya sama sekali.   Presenter: Ia mengatakan bahwa anak perempuan tersebut tidak menyukainya. فالحاصل: أن المرأة لا تزوج إلا بإذنها، فكون أمها أو أخيها يجبرانها على الزواج لا يجوز لهما ذلك، كما أنه لا يجوز لأبيها إجبارها على الصحيح أيضاً، إذا كانت بكراً مكلفة أو بنت تسع على الأقل، إذا كانت بنت تسع فأكثر فإنها لابد أن تستشار، فإن أذنت وإلا لم تزوج، وإذنها يكفي فيه السكوت، لأبيها وغير أبيها، لأبيها ولغير أبيها من باب أولى، فأخوها هذا إن كان لأمها فليس ولياً لها، إن كان أخاً من الأم فليس ولياً لها، وإنما أولياؤها العصبة؛ إخوتها الأشقاء، وإخوتها من الأب، هؤلاء هم أولياؤها، أما إن كان أخاً لها من أبيها أو من أبيها وأمها فهو عصبة، لكن ليس له أن يزوجها إلا بإذنها، تزويجها بغير إذنها يكون فاسداً ليس بصحيح، فلابد من أخذ إذنها في الزواج مطلقاً، لكن إذنها صماتها إذا كانت بكراً، أما الثيب التي قد تزوجت فلابد من تصريحها بالإذن، لابد أن تنطق بالإذن. نعم. Syekh: Tidak boleh menikahkannya, baik ayahnya maupun selain ayahnya, tidak pula ibunya, saudara laki-lakinya, atau siapa pun selain mereka.  Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang menikahkan perempuan kecuali dengan izin mereka. Beliau bersabda:  لا تزوجوا البكر حتى تستأذن، ولا تزوجوا الأيم حتى تستأمر “Janganlah kalian menikahkan gadis hingga dimintai izinnya, dan janganlah kalian menikahkan janda hingga dimintai persetujuannya.”  Para sahabat bertanya:  يا رسول الله! في البكر إنها تستحي “Wahai Rasulullah, jika gadis, tentu ia malu.”  Beliau bersabda:  إذنها سكوتها “Izinnya adalah dengan diamnya.”  Maka kesimpulannya, seorang perempuan tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Maka tindakan ibunya atau saudara laki-lakinya yang memaksanya menikah tidaklah dibolehkan. Bahkan pendapat yang tepat bahwa ayahnya pun tidak boleh memaksanya, apabila ia seorang gadis yang sudah balig dan berakal, atau berusia minimal sembilan tahun. Jika ia berusia sembilan tahun atau lebih, maka ia wajib dimintai pendapat, jika ia memberi izin maka boleh, jika tidak maka tidak boleh dinikahkan. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya maupun selain ayahnya. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya, apalagi kepada selain ayahnya.  Adapun saudara laki-laki tersebut, jika ia hanya saudara seibu, maka ia bukan wali baginya. Jika hubungan saudaranya adalah dari ibu, maka ia bukan wali baginya. Yang menjadi wali-walinya hanyalah para ‘ashabah, yaitu saudara-saudara kandungnya dan saudara-saudara seayahnya, merekalah wali-walinya. Jika ia adalah saudara seayah atau saudara seayah dan seibu (saudara kandung), maka ia termasuk ‘ashabah, pun ia tetap tidak boleh menikahkannya kecuali dengan izinnya. Menikahkannya tanpa izin si wanita adalah pernikahan fasid dan tidak sah.  Karena itu, mutlak harus meminta izin perempuan tersebut, hanya saja jika ia masih gadis maka izinnya cukup dengan diamnya. Adapun janda yang sudah pernah menikah, maka harus ada pernyataan izin dengan jelas, yakni ia harus mengucapkan izinnya. Demikian. Syaikh Bin Baz Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/4452/حكم-اجبار-المراة-على-الزواج Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 429 times, 1 visit(s) today Post Views: 654


Pertanyaan:  Ini juga ada sebuah surat, wahai Syekh Yang Mulia, yang ditujukan kepada Anda secara pribadi, dikirim oleh Al-Mahd ‘Uwaidah ‘Āyid Al-Muṭairī.  Ia berkata: “Wahai Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, aku memohon kepada Anda Yang Mulia agar berkenan memberi penjelasan kepada kami tentang permasalahan berikut. Aku sampaikan kepada Anda bahwa putriku dan walinya —yaitu saudara laki-lakinya— telah mengatakan.”  Surat ini sebenarnya panjang, dan ringkasannya adalah bahwa dia memaparkan keadaannya bersama putrinya dan saudara laki-laki putrinya tersebut, yang mana saudara laki-laki putrinya itu asalnya dari laki-laki yang bukan suami suaminya.  Ia (Sang Ibu) mengatakan bahwa saudara laki-laki tersebut ingin menikahkan saudarinya dengan seorang laki-laki yang tidak saudarinya sukai, dan ibu ini mengikuti keinginannya, yakni ingin menyenangkan hati si saudara laki-laki tersebut, sehingga ia menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang tidak ia sukai. Apakah ibu tersebut berdosa atas perbuatannya itu? Jawaban: Pertanyaan ini memerlukan perincian. Jika sang anak perempuan tidak menyukainya, maka tidak boleh menikahkannya sama sekali.   Presenter: Ia mengatakan bahwa anak perempuan tersebut tidak menyukainya. فالحاصل: أن المرأة لا تزوج إلا بإذنها، فكون أمها أو أخيها يجبرانها على الزواج لا يجوز لهما ذلك، كما أنه لا يجوز لأبيها إجبارها على الصحيح أيضاً، إذا كانت بكراً مكلفة أو بنت تسع على الأقل، إذا كانت بنت تسع فأكثر فإنها لابد أن تستشار، فإن أذنت وإلا لم تزوج، وإذنها يكفي فيه السكوت، لأبيها وغير أبيها، لأبيها ولغير أبيها من باب أولى، فأخوها هذا إن كان لأمها فليس ولياً لها، إن كان أخاً من الأم فليس ولياً لها، وإنما أولياؤها العصبة؛ إخوتها الأشقاء، وإخوتها من الأب، هؤلاء هم أولياؤها، أما إن كان أخاً لها من أبيها أو من أبيها وأمها فهو عصبة، لكن ليس له أن يزوجها إلا بإذنها، تزويجها بغير إذنها يكون فاسداً ليس بصحيح، فلابد من أخذ إذنها في الزواج مطلقاً، لكن إذنها صماتها إذا كانت بكراً، أما الثيب التي قد تزوجت فلابد من تصريحها بالإذن، لابد أن تنطق بالإذن. نعم. Syekh: Tidak boleh menikahkannya, baik ayahnya maupun selain ayahnya, tidak pula ibunya, saudara laki-lakinya, atau siapa pun selain mereka.  Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang menikahkan perempuan kecuali dengan izin mereka. Beliau bersabda:  لا تزوجوا البكر حتى تستأذن، ولا تزوجوا الأيم حتى تستأمر “Janganlah kalian menikahkan gadis hingga dimintai izinnya, dan janganlah kalian menikahkan janda hingga dimintai persetujuannya.”  Para sahabat bertanya:  يا رسول الله! في البكر إنها تستحي “Wahai Rasulullah, jika gadis, tentu ia malu.”  Beliau bersabda:  إذنها سكوتها “Izinnya adalah dengan diamnya.”  Maka kesimpulannya, seorang perempuan tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Maka tindakan ibunya atau saudara laki-lakinya yang memaksanya menikah tidaklah dibolehkan. Bahkan pendapat yang tepat bahwa ayahnya pun tidak boleh memaksanya, apabila ia seorang gadis yang sudah balig dan berakal, atau berusia minimal sembilan tahun. Jika ia berusia sembilan tahun atau lebih, maka ia wajib dimintai pendapat, jika ia memberi izin maka boleh, jika tidak maka tidak boleh dinikahkan. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya maupun selain ayahnya. Izinnya cukup dengan diam, baik kepada ayahnya, apalagi kepada selain ayahnya.  Adapun saudara laki-laki tersebut, jika ia hanya saudara seibu, maka ia bukan wali baginya. Jika hubungan saudaranya adalah dari ibu, maka ia bukan wali baginya. Yang menjadi wali-walinya hanyalah para ‘ashabah, yaitu saudara-saudara kandungnya dan saudara-saudara seayahnya, merekalah wali-walinya. Jika ia adalah saudara seayah atau saudara seayah dan seibu (saudara kandung), maka ia termasuk ‘ashabah, pun ia tetap tidak boleh menikahkannya kecuali dengan izinnya. Menikahkannya tanpa izin si wanita adalah pernikahan fasid dan tidak sah.  Karena itu, mutlak harus meminta izin perempuan tersebut, hanya saja jika ia masih gadis maka izinnya cukup dengan diamnya. Adapun janda yang sudah pernah menikah, maka harus ada pernyataan izin dengan jelas, yakni ia harus mengucapkan izinnya. Demikian. Syaikh Bin Baz Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/4452/حكم-اجبار-المراة-على-الزواج Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 429 times, 1 visit(s) today Post Views: 654

Fikih Riba (Bag. 7): Jenis-Jenis Riba (1)

Daftar Isi TogglePertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli)Riba fadlDefinisi riba fadlRiba nasi’ahDefinisi riba nasi’ahJenis-jenis harta ribawiRiba tidak selalu hadir dalam bentuk bunga pinjaman yang terang-terangan. Ia tidak selalu datang dengan papan nama besar bertuliskan “INI RIBA”. Justru, seringkali riba menyelinap lewat transaksi yang tampak biasa, bahkan terlihat adil, saling rida, dan dianggap “sekedar selisih kecil.” Oleh karena itu, memahami riba tidak cukup dengan mengetahui bahwa “riba itu haram.” Di antara yang sangat ditekankan adalah mengenali jenis-jenis riba, agar kehati-hatian dalam muamalah tidak berhenti pada niat baik saja, tetapi juga tepat secara syariat.Secara garis besar, riba terbagi menjadi dua:Pertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Para ulama ijma’ tentang haramnya segala jenis riba duyun. Adapun riba ini terbagi menjadi dua jenis:– Jenis yang pertama adalah mensyaratkan adanya tambahan dalam utang. Seperti seseorang mengatakan, “Saya pinjamkan kepadamu uang seratus ribu dengan syarat kembalikan dua ratus ribu kepada saya.” Maka, tambahan dari pengembalian utang ini dinamakan dengan riba duyun.– Jenis yang kedua adalah mensyaratkan adanya tambahan ketika tiba waktu pelunasan. Misalnya ketika seseorang mengatakan, “Lunasi utangmu sekarang atau nominal (utang) akan bertambah.” Inilah riba yang dikenal dengan riba jahiliyyah. (Hal ini sudah di bahas di artikel Fikih Utang Piutang).Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli) Riba buyu’ (jual beli) juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu riba fadl dan riba nasi’ah. Dari kedua jenis riba ini, akan dapat kita pahami bagaimana bentuk-bentuk riba dalam transaksi jual beli.Riba fadlDefinisi riba fadlSecara bahasa, fadl adalah az-ziyadah (bertambah).Secara istilah, riba fadl adalah,بَيْعُ شَيْءٍ مِنَ الأَمْوَالِ الرِّبَوِيَّةِ بِجِنْسِهِ مُتَفَاضِلاً“Menjual (atau menukar) salah satu dari harta ribawi dengan sejenisnya sendiri secara tidak sama (ada kelebihan).” Contohnya: menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas.Hal ini tidak diperbolehkan dan termasuk dalam kategori riba, karena emas termasuk dari harta ribawi. Sehingga tidak boleh menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas, dan adanya tambahan ini dinamakan dengan riba fadl.Baca juga: Riba dan PengertiannyaRiba nasi’ah Definisi riba nasi’ahSecara bahasa, nasi’ah adalah penundaan.Adapun secara istilah adalah menunda serah terima (qabḍ) pada salah satu dari dua barang ribawi yang memiliki kesamaan ‘illat riba faḍl.Contohnya: Menukar satu kilogram gandum dengan satu kilogram gandum dengan menunda serah terima salah satunya. Atau menukar uang sejumlah seratus ribu dengan seratus ribu pecahan (misalnya, ditukar dengan 5 lembar uang dua puluh ribuan) dengan menunda serah terima salah satunya. Hal ini termasuk dalam riba nasi’ah, yaitu ketika adanya penundaan penyerahan salah satu dari harta atau barang ribawi.Kalau riba fadl adalah lebih dalam nominal atau jumlah barang, sedangkan riba nasi’ah disebabkan adanya penundaan waktu dalam serah terima barang ribawi.Jenis-jenis harta ribawiDijelaskan bahwasanya harta ribawi ada enam, yaitu emas, perak, gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum), kurma, dan garam.Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)Dan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,فَهِذِهِ الأَعْيَانُ المَنْصُوْص عَلَيْهَا يَثْبُتُ الرِّبَا فِيْهَا بِالنَّصِّ وَالإِجْمَاعِ“Maka benda-benda (harta) yang disebutkan secara tegas ini, riba ditetapkan padanya berdasarkan nash (dalil) dan ijma’.”Dari hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, dapat diambil kesimpulan bahwasanya boleh ada tambahan jika jenisnya berbeda, namun tetap harus kontan (tunai). Sehingga boleh menukar antara emas dan perak dalam jumlah yang berbeda, namun tetap dengan syarat kontan (langsung terjadi serah terima).Dapat diambil kesimpulan dari hadis ‘Ubadah di atas bahwa jenis-jenis barang tersebut dapat masuk dalam kategori riba pada tiga keadaan: Pertama: Menjual satu jenis harta ribawi dengan jenis yang sama, seperti halnya emas dengan emas atau perak dengan perak, dengan tidak sama (ada kelebihan).Kedua: Menjual dua jenis barang ribawi yang berbeda, seperti emas dengan perak, kurma dengan gandum, namun salah satunya diserahkan secara tunai dan yang lainnya ditunda.Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الذَّهَبُ بِالوَرِقِ رِباً إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan perak adalah riba kecuali diserahkan secara tunai (serah terima langsung).” (Muttafaqun ‘alaih)Dan juga larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjual satu jenis dari jenis-jenis benda ribawi tersebut secara tunai dengan yang lainnya secara tidak tunai, dengan sabdanya:لَا تَبِيْعُوا مِنْهَا غَائِبَا بِنَاجِزٍ“‘Janganlah kalian menjual darinya yang tunai dengan yang tidak tunai.’” Ketiga: menjual satu jenis yang sama dalam keadaan sama (takaran atau timbangan), namun salah satunya tidak hadir (tidak diserahkan secara tunai), seperti menjual emas dengan emas secara sama dan setara, tetapi salah satunya ditunda. Inipun termasuk riba.Kaidah fikih dalam hal ini adalah:“Jika antara kedua barang ribawi sejenis, maka haram hukumnya ada tambahan dan tidak kontan dalam transaksi. Namun jika berbeda jenis, maka boleh untuk adanya tambahan dengan tetap transaksi secara kontan.” Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6 LANJUT KE BAGIAN 8 ***Depok, 1 Sya’ban 1447/ 20 Januari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diringkas dan disarikan dari beberapa rujukan, di antaranya: Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar, karya Dr. ‘Abdurrahman bin Hamud (hal. 137); Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt, karya Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali al-Musyayīqih (hal. 63); serta At-Tarhīb min ar-Ribā, karya Muhammad bin Sa‘id Ruslan (hal. 53–55).Referensi:Abdurrahman bin Hamud. Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar. Cet. ke-3. Kuwait: Maktabah Imam adz-Dzahabi, 2018/ 1440 H.Al-Musyayīqih, Khalid bin ‘Ali. Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt. Cet. ke-2. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2013/ 1434 H.Ruslan, Muhammad bin Sa‘id. At-Tarhīb min ar-Ribā. Cet. ke-2. Mesir: Dar Adhwa as-Salaf, 2010/ 1431 H.

Fikih Riba (Bag. 7): Jenis-Jenis Riba (1)

Daftar Isi TogglePertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli)Riba fadlDefinisi riba fadlRiba nasi’ahDefinisi riba nasi’ahJenis-jenis harta ribawiRiba tidak selalu hadir dalam bentuk bunga pinjaman yang terang-terangan. Ia tidak selalu datang dengan papan nama besar bertuliskan “INI RIBA”. Justru, seringkali riba menyelinap lewat transaksi yang tampak biasa, bahkan terlihat adil, saling rida, dan dianggap “sekedar selisih kecil.” Oleh karena itu, memahami riba tidak cukup dengan mengetahui bahwa “riba itu haram.” Di antara yang sangat ditekankan adalah mengenali jenis-jenis riba, agar kehati-hatian dalam muamalah tidak berhenti pada niat baik saja, tetapi juga tepat secara syariat.Secara garis besar, riba terbagi menjadi dua:Pertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Para ulama ijma’ tentang haramnya segala jenis riba duyun. Adapun riba ini terbagi menjadi dua jenis:– Jenis yang pertama adalah mensyaratkan adanya tambahan dalam utang. Seperti seseorang mengatakan, “Saya pinjamkan kepadamu uang seratus ribu dengan syarat kembalikan dua ratus ribu kepada saya.” Maka, tambahan dari pengembalian utang ini dinamakan dengan riba duyun.– Jenis yang kedua adalah mensyaratkan adanya tambahan ketika tiba waktu pelunasan. Misalnya ketika seseorang mengatakan, “Lunasi utangmu sekarang atau nominal (utang) akan bertambah.” Inilah riba yang dikenal dengan riba jahiliyyah. (Hal ini sudah di bahas di artikel Fikih Utang Piutang).Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli) Riba buyu’ (jual beli) juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu riba fadl dan riba nasi’ah. Dari kedua jenis riba ini, akan dapat kita pahami bagaimana bentuk-bentuk riba dalam transaksi jual beli.Riba fadlDefinisi riba fadlSecara bahasa, fadl adalah az-ziyadah (bertambah).Secara istilah, riba fadl adalah,بَيْعُ شَيْءٍ مِنَ الأَمْوَالِ الرِّبَوِيَّةِ بِجِنْسِهِ مُتَفَاضِلاً“Menjual (atau menukar) salah satu dari harta ribawi dengan sejenisnya sendiri secara tidak sama (ada kelebihan).” Contohnya: menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas.Hal ini tidak diperbolehkan dan termasuk dalam kategori riba, karena emas termasuk dari harta ribawi. Sehingga tidak boleh menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas, dan adanya tambahan ini dinamakan dengan riba fadl.Baca juga: Riba dan PengertiannyaRiba nasi’ah Definisi riba nasi’ahSecara bahasa, nasi’ah adalah penundaan.Adapun secara istilah adalah menunda serah terima (qabḍ) pada salah satu dari dua barang ribawi yang memiliki kesamaan ‘illat riba faḍl.Contohnya: Menukar satu kilogram gandum dengan satu kilogram gandum dengan menunda serah terima salah satunya. Atau menukar uang sejumlah seratus ribu dengan seratus ribu pecahan (misalnya, ditukar dengan 5 lembar uang dua puluh ribuan) dengan menunda serah terima salah satunya. Hal ini termasuk dalam riba nasi’ah, yaitu ketika adanya penundaan penyerahan salah satu dari harta atau barang ribawi.Kalau riba fadl adalah lebih dalam nominal atau jumlah barang, sedangkan riba nasi’ah disebabkan adanya penundaan waktu dalam serah terima barang ribawi.Jenis-jenis harta ribawiDijelaskan bahwasanya harta ribawi ada enam, yaitu emas, perak, gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum), kurma, dan garam.Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)Dan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,فَهِذِهِ الأَعْيَانُ المَنْصُوْص عَلَيْهَا يَثْبُتُ الرِّبَا فِيْهَا بِالنَّصِّ وَالإِجْمَاعِ“Maka benda-benda (harta) yang disebutkan secara tegas ini, riba ditetapkan padanya berdasarkan nash (dalil) dan ijma’.”Dari hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, dapat diambil kesimpulan bahwasanya boleh ada tambahan jika jenisnya berbeda, namun tetap harus kontan (tunai). Sehingga boleh menukar antara emas dan perak dalam jumlah yang berbeda, namun tetap dengan syarat kontan (langsung terjadi serah terima).Dapat diambil kesimpulan dari hadis ‘Ubadah di atas bahwa jenis-jenis barang tersebut dapat masuk dalam kategori riba pada tiga keadaan: Pertama: Menjual satu jenis harta ribawi dengan jenis yang sama, seperti halnya emas dengan emas atau perak dengan perak, dengan tidak sama (ada kelebihan).Kedua: Menjual dua jenis barang ribawi yang berbeda, seperti emas dengan perak, kurma dengan gandum, namun salah satunya diserahkan secara tunai dan yang lainnya ditunda.Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الذَّهَبُ بِالوَرِقِ رِباً إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan perak adalah riba kecuali diserahkan secara tunai (serah terima langsung).” (Muttafaqun ‘alaih)Dan juga larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjual satu jenis dari jenis-jenis benda ribawi tersebut secara tunai dengan yang lainnya secara tidak tunai, dengan sabdanya:لَا تَبِيْعُوا مِنْهَا غَائِبَا بِنَاجِزٍ“‘Janganlah kalian menjual darinya yang tunai dengan yang tidak tunai.’” Ketiga: menjual satu jenis yang sama dalam keadaan sama (takaran atau timbangan), namun salah satunya tidak hadir (tidak diserahkan secara tunai), seperti menjual emas dengan emas secara sama dan setara, tetapi salah satunya ditunda. Inipun termasuk riba.Kaidah fikih dalam hal ini adalah:“Jika antara kedua barang ribawi sejenis, maka haram hukumnya ada tambahan dan tidak kontan dalam transaksi. Namun jika berbeda jenis, maka boleh untuk adanya tambahan dengan tetap transaksi secara kontan.” Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6 LANJUT KE BAGIAN 8 ***Depok, 1 Sya’ban 1447/ 20 Januari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diringkas dan disarikan dari beberapa rujukan, di antaranya: Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar, karya Dr. ‘Abdurrahman bin Hamud (hal. 137); Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt, karya Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali al-Musyayīqih (hal. 63); serta At-Tarhīb min ar-Ribā, karya Muhammad bin Sa‘id Ruslan (hal. 53–55).Referensi:Abdurrahman bin Hamud. Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar. Cet. ke-3. Kuwait: Maktabah Imam adz-Dzahabi, 2018/ 1440 H.Al-Musyayīqih, Khalid bin ‘Ali. Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt. Cet. ke-2. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2013/ 1434 H.Ruslan, Muhammad bin Sa‘id. At-Tarhīb min ar-Ribā. Cet. ke-2. Mesir: Dar Adhwa as-Salaf, 2010/ 1431 H.
Daftar Isi TogglePertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli)Riba fadlDefinisi riba fadlRiba nasi’ahDefinisi riba nasi’ahJenis-jenis harta ribawiRiba tidak selalu hadir dalam bentuk bunga pinjaman yang terang-terangan. Ia tidak selalu datang dengan papan nama besar bertuliskan “INI RIBA”. Justru, seringkali riba menyelinap lewat transaksi yang tampak biasa, bahkan terlihat adil, saling rida, dan dianggap “sekedar selisih kecil.” Oleh karena itu, memahami riba tidak cukup dengan mengetahui bahwa “riba itu haram.” Di antara yang sangat ditekankan adalah mengenali jenis-jenis riba, agar kehati-hatian dalam muamalah tidak berhenti pada niat baik saja, tetapi juga tepat secara syariat.Secara garis besar, riba terbagi menjadi dua:Pertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Para ulama ijma’ tentang haramnya segala jenis riba duyun. Adapun riba ini terbagi menjadi dua jenis:– Jenis yang pertama adalah mensyaratkan adanya tambahan dalam utang. Seperti seseorang mengatakan, “Saya pinjamkan kepadamu uang seratus ribu dengan syarat kembalikan dua ratus ribu kepada saya.” Maka, tambahan dari pengembalian utang ini dinamakan dengan riba duyun.– Jenis yang kedua adalah mensyaratkan adanya tambahan ketika tiba waktu pelunasan. Misalnya ketika seseorang mengatakan, “Lunasi utangmu sekarang atau nominal (utang) akan bertambah.” Inilah riba yang dikenal dengan riba jahiliyyah. (Hal ini sudah di bahas di artikel Fikih Utang Piutang).Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli) Riba buyu’ (jual beli) juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu riba fadl dan riba nasi’ah. Dari kedua jenis riba ini, akan dapat kita pahami bagaimana bentuk-bentuk riba dalam transaksi jual beli.Riba fadlDefinisi riba fadlSecara bahasa, fadl adalah az-ziyadah (bertambah).Secara istilah, riba fadl adalah,بَيْعُ شَيْءٍ مِنَ الأَمْوَالِ الرِّبَوِيَّةِ بِجِنْسِهِ مُتَفَاضِلاً“Menjual (atau menukar) salah satu dari harta ribawi dengan sejenisnya sendiri secara tidak sama (ada kelebihan).” Contohnya: menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas.Hal ini tidak diperbolehkan dan termasuk dalam kategori riba, karena emas termasuk dari harta ribawi. Sehingga tidak boleh menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas, dan adanya tambahan ini dinamakan dengan riba fadl.Baca juga: Riba dan PengertiannyaRiba nasi’ah Definisi riba nasi’ahSecara bahasa, nasi’ah adalah penundaan.Adapun secara istilah adalah menunda serah terima (qabḍ) pada salah satu dari dua barang ribawi yang memiliki kesamaan ‘illat riba faḍl.Contohnya: Menukar satu kilogram gandum dengan satu kilogram gandum dengan menunda serah terima salah satunya. Atau menukar uang sejumlah seratus ribu dengan seratus ribu pecahan (misalnya, ditukar dengan 5 lembar uang dua puluh ribuan) dengan menunda serah terima salah satunya. Hal ini termasuk dalam riba nasi’ah, yaitu ketika adanya penundaan penyerahan salah satu dari harta atau barang ribawi.Kalau riba fadl adalah lebih dalam nominal atau jumlah barang, sedangkan riba nasi’ah disebabkan adanya penundaan waktu dalam serah terima barang ribawi.Jenis-jenis harta ribawiDijelaskan bahwasanya harta ribawi ada enam, yaitu emas, perak, gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum), kurma, dan garam.Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)Dan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,فَهِذِهِ الأَعْيَانُ المَنْصُوْص عَلَيْهَا يَثْبُتُ الرِّبَا فِيْهَا بِالنَّصِّ وَالإِجْمَاعِ“Maka benda-benda (harta) yang disebutkan secara tegas ini, riba ditetapkan padanya berdasarkan nash (dalil) dan ijma’.”Dari hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, dapat diambil kesimpulan bahwasanya boleh ada tambahan jika jenisnya berbeda, namun tetap harus kontan (tunai). Sehingga boleh menukar antara emas dan perak dalam jumlah yang berbeda, namun tetap dengan syarat kontan (langsung terjadi serah terima).Dapat diambil kesimpulan dari hadis ‘Ubadah di atas bahwa jenis-jenis barang tersebut dapat masuk dalam kategori riba pada tiga keadaan: Pertama: Menjual satu jenis harta ribawi dengan jenis yang sama, seperti halnya emas dengan emas atau perak dengan perak, dengan tidak sama (ada kelebihan).Kedua: Menjual dua jenis barang ribawi yang berbeda, seperti emas dengan perak, kurma dengan gandum, namun salah satunya diserahkan secara tunai dan yang lainnya ditunda.Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الذَّهَبُ بِالوَرِقِ رِباً إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan perak adalah riba kecuali diserahkan secara tunai (serah terima langsung).” (Muttafaqun ‘alaih)Dan juga larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjual satu jenis dari jenis-jenis benda ribawi tersebut secara tunai dengan yang lainnya secara tidak tunai, dengan sabdanya:لَا تَبِيْعُوا مِنْهَا غَائِبَا بِنَاجِزٍ“‘Janganlah kalian menjual darinya yang tunai dengan yang tidak tunai.’” Ketiga: menjual satu jenis yang sama dalam keadaan sama (takaran atau timbangan), namun salah satunya tidak hadir (tidak diserahkan secara tunai), seperti menjual emas dengan emas secara sama dan setara, tetapi salah satunya ditunda. Inipun termasuk riba.Kaidah fikih dalam hal ini adalah:“Jika antara kedua barang ribawi sejenis, maka haram hukumnya ada tambahan dan tidak kontan dalam transaksi. Namun jika berbeda jenis, maka boleh untuk adanya tambahan dengan tetap transaksi secara kontan.” Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6 LANJUT KE BAGIAN 8 ***Depok, 1 Sya’ban 1447/ 20 Januari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diringkas dan disarikan dari beberapa rujukan, di antaranya: Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar, karya Dr. ‘Abdurrahman bin Hamud (hal. 137); Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt, karya Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali al-Musyayīqih (hal. 63); serta At-Tarhīb min ar-Ribā, karya Muhammad bin Sa‘id Ruslan (hal. 53–55).Referensi:Abdurrahman bin Hamud. Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar. Cet. ke-3. Kuwait: Maktabah Imam adz-Dzahabi, 2018/ 1440 H.Al-Musyayīqih, Khalid bin ‘Ali. Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt. Cet. ke-2. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2013/ 1434 H.Ruslan, Muhammad bin Sa‘id. At-Tarhīb min ar-Ribā. Cet. ke-2. Mesir: Dar Adhwa as-Salaf, 2010/ 1431 H.


Daftar Isi TogglePertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli)Riba fadlDefinisi riba fadlRiba nasi’ahDefinisi riba nasi’ahJenis-jenis harta ribawiRiba tidak selalu hadir dalam bentuk bunga pinjaman yang terang-terangan. Ia tidak selalu datang dengan papan nama besar bertuliskan “INI RIBA”. Justru, seringkali riba menyelinap lewat transaksi yang tampak biasa, bahkan terlihat adil, saling rida, dan dianggap “sekedar selisih kecil.” Oleh karena itu, memahami riba tidak cukup dengan mengetahui bahwa “riba itu haram.” Di antara yang sangat ditekankan adalah mengenali jenis-jenis riba, agar kehati-hatian dalam muamalah tidak berhenti pada niat baik saja, tetapi juga tepat secara syariat.Secara garis besar, riba terbagi menjadi dua:Pertama: Riba duyun (riba dalam bentuk utang)Para ulama ijma’ tentang haramnya segala jenis riba duyun. Adapun riba ini terbagi menjadi dua jenis:– Jenis yang pertama adalah mensyaratkan adanya tambahan dalam utang. Seperti seseorang mengatakan, “Saya pinjamkan kepadamu uang seratus ribu dengan syarat kembalikan dua ratus ribu kepada saya.” Maka, tambahan dari pengembalian utang ini dinamakan dengan riba duyun.– Jenis yang kedua adalah mensyaratkan adanya tambahan ketika tiba waktu pelunasan. Misalnya ketika seseorang mengatakan, “Lunasi utangmu sekarang atau nominal (utang) akan bertambah.” Inilah riba yang dikenal dengan riba jahiliyyah. (Hal ini sudah di bahas di artikel Fikih Utang Piutang).Kedua: Riba buyu’ (riba dalam bentuk jual beli) Riba buyu’ (jual beli) juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu riba fadl dan riba nasi’ah. Dari kedua jenis riba ini, akan dapat kita pahami bagaimana bentuk-bentuk riba dalam transaksi jual beli.Riba fadlDefinisi riba fadlSecara bahasa, fadl adalah az-ziyadah (bertambah).Secara istilah, riba fadl adalah,بَيْعُ شَيْءٍ مِنَ الأَمْوَالِ الرِّبَوِيَّةِ بِجِنْسِهِ مُتَفَاضِلاً“Menjual (atau menukar) salah satu dari harta ribawi dengan sejenisnya sendiri secara tidak sama (ada kelebihan).” Contohnya: menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas.Hal ini tidak diperbolehkan dan termasuk dalam kategori riba, karena emas termasuk dari harta ribawi. Sehingga tidak boleh menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas, dan adanya tambahan ini dinamakan dengan riba fadl.Baca juga: Riba dan PengertiannyaRiba nasi’ah Definisi riba nasi’ahSecara bahasa, nasi’ah adalah penundaan.Adapun secara istilah adalah menunda serah terima (qabḍ) pada salah satu dari dua barang ribawi yang memiliki kesamaan ‘illat riba faḍl.Contohnya: Menukar satu kilogram gandum dengan satu kilogram gandum dengan menunda serah terima salah satunya. Atau menukar uang sejumlah seratus ribu dengan seratus ribu pecahan (misalnya, ditukar dengan 5 lembar uang dua puluh ribuan) dengan menunda serah terima salah satunya. Hal ini termasuk dalam riba nasi’ah, yaitu ketika adanya penundaan penyerahan salah satu dari harta atau barang ribawi.Kalau riba fadl adalah lebih dalam nominal atau jumlah barang, sedangkan riba nasi’ah disebabkan adanya penundaan waktu dalam serah terima barang ribawi.Jenis-jenis harta ribawiDijelaskan bahwasanya harta ribawi ada enam, yaitu emas, perak, gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum), kurma, dan garam.Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)Dan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,فَهِذِهِ الأَعْيَانُ المَنْصُوْص عَلَيْهَا يَثْبُتُ الرِّبَا فِيْهَا بِالنَّصِّ وَالإِجْمَاعِ“Maka benda-benda (harta) yang disebutkan secara tegas ini, riba ditetapkan padanya berdasarkan nash (dalil) dan ijma’.”Dari hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu, dapat diambil kesimpulan bahwasanya boleh ada tambahan jika jenisnya berbeda, namun tetap harus kontan (tunai). Sehingga boleh menukar antara emas dan perak dalam jumlah yang berbeda, namun tetap dengan syarat kontan (langsung terjadi serah terima).Dapat diambil kesimpulan dari hadis ‘Ubadah di atas bahwa jenis-jenis barang tersebut dapat masuk dalam kategori riba pada tiga keadaan: Pertama: Menjual satu jenis harta ribawi dengan jenis yang sama, seperti halnya emas dengan emas atau perak dengan perak, dengan tidak sama (ada kelebihan).Kedua: Menjual dua jenis barang ribawi yang berbeda, seperti emas dengan perak, kurma dengan gandum, namun salah satunya diserahkan secara tunai dan yang lainnya ditunda.Sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الذَّهَبُ بِالوَرِقِ رِباً إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan perak adalah riba kecuali diserahkan secara tunai (serah terima langsung).” (Muttafaqun ‘alaih)Dan juga larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjual satu jenis dari jenis-jenis benda ribawi tersebut secara tunai dengan yang lainnya secara tidak tunai, dengan sabdanya:لَا تَبِيْعُوا مِنْهَا غَائِبَا بِنَاجِزٍ“‘Janganlah kalian menjual darinya yang tunai dengan yang tidak tunai.’” Ketiga: menjual satu jenis yang sama dalam keadaan sama (takaran atau timbangan), namun salah satunya tidak hadir (tidak diserahkan secara tunai), seperti menjual emas dengan emas secara sama dan setara, tetapi salah satunya ditunda. Inipun termasuk riba.Kaidah fikih dalam hal ini adalah:“Jika antara kedua barang ribawi sejenis, maka haram hukumnya ada tambahan dan tidak kontan dalam transaksi. Namun jika berbeda jenis, maka boleh untuk adanya tambahan dengan tetap transaksi secara kontan.” Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6 LANJUT KE BAGIAN 8 ***Depok, 1 Sya’ban 1447/ 20 Januari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diringkas dan disarikan dari beberapa rujukan, di antaranya: Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar, karya Dr. ‘Abdurrahman bin Hamud (hal. 137); Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt, karya Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali al-Musyayīqih (hal. 63); serta At-Tarhīb min ar-Ribā, karya Muhammad bin Sa‘id Ruslan (hal. 53–55).Referensi:Abdurrahman bin Hamud. Fiqhul Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassar. Cet. ke-3. Kuwait: Maktabah Imam adz-Dzahabi, 2018/ 1440 H.Al-Musyayīqih, Khalid bin ‘Ali. Al-Mukhtaṣar fī al-Mu‘āmalāt. Cet. ke-2. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2013/ 1434 H.Ruslan, Muhammad bin Sa‘id. At-Tarhīb min ar-Ribā. Cet. ke-2. Mesir: Dar Adhwa as-Salaf, 2010/ 1431 H.
Prev     Next