Harta Haram itu Sumbernya dari Zalim, Riba, dan Gharar

Hukum asal setiap muamalat adalah halal selama tidak ada dalil yang melarang dalam Alquran dan Hadits. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Dalam ayat lain juga disebutkan, لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (QS. Al-Baqarah: 198). Dalil hadits disebutkan dalam hadits dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2110 dan Muslim, no. 1532) Dalil ini pun menunjukkan halalnya jual beli. Baca Juga: Riba Sama dengan Jual Beli? Secara ijmak, para ulama sepakat akan halalnya jual beli. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Begitu pula berdasarkan qiyas. Manusia tentu amat butuh dengan jual beli. Ada ketergantungan yang satu dan lainnya dalam hal memperoleh uang dan barang. Hal itu bisa diperoleh hanya dengan adanya timbal balik. Oleh karena itu berdasarkan hikmah, jual beli itu dibolehkan untuk mencapai hal yang dimaksud. Ringkasnya, hukum asal jual beli itu halal, namun bisa keluar dari hukum asal jika terdapat hal-hal yang dilarang dalam syari’at. Jual beli yang terlarang itulah yang akan dibahas luas dalam buku ini. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Faktor yang menyebabkan sebuah muamalat diharamkan adalah karena zalim, riba, dan gharar (unsur ketidak jelasan). Inilah yang menyebabkan harta itu haram. Imam Syafii rahimahullah berkata, أَنْ يَكُوْنَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَحَلَّ البَيْعَ إِذَا كَانَ مِمَّا لَمْ يَنْهَ عَنْهُ رَسُوْلُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Allah itu menghalalkan jual beli jika tidak ditemukan larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu.” (Al-Umm, 4:5) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, أَنَّ الأَصْلَ فِي المُعَامَلاَتِ الحِلُّ وَالصِحَّةُ مَالَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى التَّحْرِيْمِ وَالفَسَادِ “Sesungguhnya hukum asal dalam muamalat adalah halal dan sah selama tidak ada dalil yang menunjukkan diharamkan dan menunjukkan rusaknya.” (Syarh Al-Mumti’, 9:120) Lalu beliau melanjutkan, مَا دَامَ لَيْسَ فِيْهِ ظُلْمٌ وَلاَ غَرَرٌ وَلاَ رِبًا فَالأَصْلُ الصِحَّةُ “Selama dalam akad tidak terdapat unsur kezaliman, gharar (ada unsur ketidakjelasan), dan riba, maka akad tersebut sah.” (Syarh Al-Mumthi’, 9:120) Semoga Allah menjauhkan kita dari harta yang haram. Baca Juga: Tujuh Dampak Harta Haram Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?     Selesai disusun pada 14 Rajab 1441 H, di Panggang Gunungkidul, Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsgharar harta haram riba zalim

Harta Haram itu Sumbernya dari Zalim, Riba, dan Gharar

Hukum asal setiap muamalat adalah halal selama tidak ada dalil yang melarang dalam Alquran dan Hadits. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Dalam ayat lain juga disebutkan, لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (QS. Al-Baqarah: 198). Dalil hadits disebutkan dalam hadits dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2110 dan Muslim, no. 1532) Dalil ini pun menunjukkan halalnya jual beli. Baca Juga: Riba Sama dengan Jual Beli? Secara ijmak, para ulama sepakat akan halalnya jual beli. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Begitu pula berdasarkan qiyas. Manusia tentu amat butuh dengan jual beli. Ada ketergantungan yang satu dan lainnya dalam hal memperoleh uang dan barang. Hal itu bisa diperoleh hanya dengan adanya timbal balik. Oleh karena itu berdasarkan hikmah, jual beli itu dibolehkan untuk mencapai hal yang dimaksud. Ringkasnya, hukum asal jual beli itu halal, namun bisa keluar dari hukum asal jika terdapat hal-hal yang dilarang dalam syari’at. Jual beli yang terlarang itulah yang akan dibahas luas dalam buku ini. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Faktor yang menyebabkan sebuah muamalat diharamkan adalah karena zalim, riba, dan gharar (unsur ketidak jelasan). Inilah yang menyebabkan harta itu haram. Imam Syafii rahimahullah berkata, أَنْ يَكُوْنَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَحَلَّ البَيْعَ إِذَا كَانَ مِمَّا لَمْ يَنْهَ عَنْهُ رَسُوْلُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Allah itu menghalalkan jual beli jika tidak ditemukan larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu.” (Al-Umm, 4:5) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, أَنَّ الأَصْلَ فِي المُعَامَلاَتِ الحِلُّ وَالصِحَّةُ مَالَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى التَّحْرِيْمِ وَالفَسَادِ “Sesungguhnya hukum asal dalam muamalat adalah halal dan sah selama tidak ada dalil yang menunjukkan diharamkan dan menunjukkan rusaknya.” (Syarh Al-Mumti’, 9:120) Lalu beliau melanjutkan, مَا دَامَ لَيْسَ فِيْهِ ظُلْمٌ وَلاَ غَرَرٌ وَلاَ رِبًا فَالأَصْلُ الصِحَّةُ “Selama dalam akad tidak terdapat unsur kezaliman, gharar (ada unsur ketidakjelasan), dan riba, maka akad tersebut sah.” (Syarh Al-Mumthi’, 9:120) Semoga Allah menjauhkan kita dari harta yang haram. Baca Juga: Tujuh Dampak Harta Haram Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?     Selesai disusun pada 14 Rajab 1441 H, di Panggang Gunungkidul, Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsgharar harta haram riba zalim
Hukum asal setiap muamalat adalah halal selama tidak ada dalil yang melarang dalam Alquran dan Hadits. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Dalam ayat lain juga disebutkan, لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (QS. Al-Baqarah: 198). Dalil hadits disebutkan dalam hadits dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2110 dan Muslim, no. 1532) Dalil ini pun menunjukkan halalnya jual beli. Baca Juga: Riba Sama dengan Jual Beli? Secara ijmak, para ulama sepakat akan halalnya jual beli. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Begitu pula berdasarkan qiyas. Manusia tentu amat butuh dengan jual beli. Ada ketergantungan yang satu dan lainnya dalam hal memperoleh uang dan barang. Hal itu bisa diperoleh hanya dengan adanya timbal balik. Oleh karena itu berdasarkan hikmah, jual beli itu dibolehkan untuk mencapai hal yang dimaksud. Ringkasnya, hukum asal jual beli itu halal, namun bisa keluar dari hukum asal jika terdapat hal-hal yang dilarang dalam syari’at. Jual beli yang terlarang itulah yang akan dibahas luas dalam buku ini. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Faktor yang menyebabkan sebuah muamalat diharamkan adalah karena zalim, riba, dan gharar (unsur ketidak jelasan). Inilah yang menyebabkan harta itu haram. Imam Syafii rahimahullah berkata, أَنْ يَكُوْنَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَحَلَّ البَيْعَ إِذَا كَانَ مِمَّا لَمْ يَنْهَ عَنْهُ رَسُوْلُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Allah itu menghalalkan jual beli jika tidak ditemukan larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu.” (Al-Umm, 4:5) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, أَنَّ الأَصْلَ فِي المُعَامَلاَتِ الحِلُّ وَالصِحَّةُ مَالَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى التَّحْرِيْمِ وَالفَسَادِ “Sesungguhnya hukum asal dalam muamalat adalah halal dan sah selama tidak ada dalil yang menunjukkan diharamkan dan menunjukkan rusaknya.” (Syarh Al-Mumti’, 9:120) Lalu beliau melanjutkan, مَا دَامَ لَيْسَ فِيْهِ ظُلْمٌ وَلاَ غَرَرٌ وَلاَ رِبًا فَالأَصْلُ الصِحَّةُ “Selama dalam akad tidak terdapat unsur kezaliman, gharar (ada unsur ketidakjelasan), dan riba, maka akad tersebut sah.” (Syarh Al-Mumthi’, 9:120) Semoga Allah menjauhkan kita dari harta yang haram. Baca Juga: Tujuh Dampak Harta Haram Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?     Selesai disusun pada 14 Rajab 1441 H, di Panggang Gunungkidul, Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsgharar harta haram riba zalim


Hukum asal setiap muamalat adalah halal selama tidak ada dalil yang melarang dalam Alquran dan Hadits. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Dalam ayat lain juga disebutkan, لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (QS. Al-Baqarah: 198). Dalil hadits disebutkan dalam hadits dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2110 dan Muslim, no. 1532) Dalil ini pun menunjukkan halalnya jual beli. Baca Juga: Riba Sama dengan Jual Beli? Secara ijmak, para ulama sepakat akan halalnya jual beli. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Begitu pula berdasarkan qiyas. Manusia tentu amat butuh dengan jual beli. Ada ketergantungan yang satu dan lainnya dalam hal memperoleh uang dan barang. Hal itu bisa diperoleh hanya dengan adanya timbal balik. Oleh karena itu berdasarkan hikmah, jual beli itu dibolehkan untuk mencapai hal yang dimaksud. Ringkasnya, hukum asal jual beli itu halal, namun bisa keluar dari hukum asal jika terdapat hal-hal yang dilarang dalam syari’at. Jual beli yang terlarang itulah yang akan dibahas luas dalam buku ini. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 9:8) Faktor yang menyebabkan sebuah muamalat diharamkan adalah karena zalim, riba, dan gharar (unsur ketidak jelasan). Inilah yang menyebabkan harta itu haram. Imam Syafii rahimahullah berkata, أَنْ يَكُوْنَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَحَلَّ البَيْعَ إِذَا كَانَ مِمَّا لَمْ يَنْهَ عَنْهُ رَسُوْلُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Allah itu menghalalkan jual beli jika tidak ditemukan larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu.” (Al-Umm, 4:5) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, أَنَّ الأَصْلَ فِي المُعَامَلاَتِ الحِلُّ وَالصِحَّةُ مَالَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى التَّحْرِيْمِ وَالفَسَادِ “Sesungguhnya hukum asal dalam muamalat adalah halal dan sah selama tidak ada dalil yang menunjukkan diharamkan dan menunjukkan rusaknya.” (Syarh Al-Mumti’, 9:120) Lalu beliau melanjutkan, مَا دَامَ لَيْسَ فِيْهِ ظُلْمٌ وَلاَ غَرَرٌ وَلاَ رِبًا فَالأَصْلُ الصِحَّةُ “Selama dalam akad tidak terdapat unsur kezaliman, gharar (ada unsur ketidakjelasan), dan riba, maka akad tersebut sah.” (Syarh Al-Mumthi’, 9:120) Semoga Allah menjauhkan kita dari harta yang haram. Baca Juga: Tujuh Dampak Harta Haram Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?     Selesai disusun pada 14 Rajab 1441 H, di Panggang Gunungkidul, Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsgharar harta haram riba zalim

Doa Berlindung dari Virus Corona

Doa Berlindung dari Virus CoronaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAPertama : Membaca di pagi hari dan di petang hari doa/dzikir berikut :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْAllahumma inni asaluka al’aafiyata fiiddunyaa wal akhiroh, Allahumma innii asalukal’afwa wal’aafiyata fii diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii, Allahummastur ‘aurootii wa aamin rou’aatii, Allahummahfadznii minbainii yadayya, wamin kholfihii, wa ‘anyamiinii, wa’ansyimaalii, wamin fauqii, wa a’uudzubi’adzhomatika an ughtaala min tahtiiArtinya : “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan berilah ketenteraman dihatiku. Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku.”  (Dibaca 1x) ([1])اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.Allahumma ‘aafinii fii badanii, Allahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allahumma ‘aafinii fii bashorii, Laa ilaaha illa anta. Allahumma innii a’uudzubika minal kufri wal faqr, Allahumma innii a’uudzubika min’adzabilqobr, Laa ilaha illa anta“Ya Allah, berilah keselamatan pada badanku. Ya Allah, berilah keselamatan pada pendengaranku. Ya Allah berilah keselamatan pada penglihatanku, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca 3x).” ([2])بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُBismillahi laa yadhurru ma’asmihi syai un fil ardi wa laa fiissamaai wahuwassamii’ul ‘aliimArtinya : “Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3x). ([3])أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَA’uudzu bikalimaatillahit taammaat min syarri maa kholaqoArtinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari keburukan makhluk yang Ia ciptakan” (Dibaca 3x) ([4])Kedua : Doa-doa khusus berlindung dari penyakit yang buruk, diantaranya :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَAllaahumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa-ati niqmatik, wa jamii’i sakhathik.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya afiat([5])-Mu (diantaranya perubahan dari sehat menjadi sakit), dari bencana yang datang tiba-tiba dan dari semua kemurkaan-Mu” ([6]).اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِAllahumma innii a úudzu bika minal baros wal junuun wal judzaam wa min sayyi il asqoom“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari penyakit baros (albino), dari kegilaan, dari kusta, dan dari penyakit-penyakit yang buruk (diantaranya virus corona)” ([7]).اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِAllahumma jannibnii munkarootil akhlaaq wal a’maal wal ahwaa’ wal adwaa’“Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak-akhlak yang munkar, perbuatan yang mungkar, hawa nafsu, dan penyakit-penyakit yang mungkar (diantaranya virus corona)” ([8])DOWNLOAD VERSI PDF_____________________________________________Footnote:([1] ) HR. Abu Daud no.5074, Ibnu Majah no.3871 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya :Doa ini sangat penting karena meminta keselamatan di dunia dan akhirat, yaitu agar diselamatkan dari segala keburukan di dunia, dari penyakit-penyakit (termasuk virus corona), malapetaka, dan bencana, serta keburukan yang berkaitan dengan diri, keluarga, maupun harta. Demikian juga keselamatan dari segala keburukan yang berkaitan dengan agama, bahkan segala keburukan di akhirat. Karenanya Nabi bersabda :سَلُوا الله العَفْوَ والعافيةَ، فإنَّ أحداً لَم يُعْطَ بعد اليَقين خَيراً من العافية“Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan, karena tidaklah seseorang diberikan setelah keyakinan sesuatu yang lebih baik dari keselamatan” (HR At-Tirmidzi no 3558 dan dashahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 3632)Demikian juga dalam doa tersebut (Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan…) yaitu perlindungan dari gangguan yang datang menyerang dari enam arah tersebut. Dan kita tidak tahu virus corona menyerang dari arah mana datangnya.([2] ) HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad dalam Musnadnya no. 20430, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrod no.701, dan dihasankan (hasan lighoirihi) oleh Al-Albani, Syu’aib Al-Arna’uth dan para pentahqiq al-Musnad karena mutabaah dan syawahid.Kandungannya :(Ya Allah, berilah keselematan pada badanku) yaitu memohon kepada Allah agar menyelamatkan badan dari penyakit (termasuk virus corona) dan gangguan agar seseorang bisa kuat menjalankan ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agamaNya. .([3] ) HR. Abu Daud no.5088, At-Tirmidzi no.3388, Ibnu Majah no.3869 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya : (Dengan nama Allah), yaitu aku menyebut nama Allah dengan mengagungkannya dan mengharapkan keberkahannya. Dengan menyebut nama-Mu aku berlindung dari seluruh bahaya yang ada di langit maupun di bumi (termasuk virus corona).(yang dengan nama-Nya maka segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya), karena segala sesuatu di tanganNya.([4] ) HR Muslim no 2709 tanpa disebutkan berapa kali, namun ada tambahan dalam Shahih Ibnu Hibban dengan 3 kali baca (HR Ibnu Hibban no 1022 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Ta’liiqoot al-Hisaan 2/328)([5]) ‘Afiat adalah keselamatan dari berbagai penyakit (lihat faidh Al-Qodir 2/110) termasuk virus corona([6]) HR. Muslim no. 2739([7]) HR. Ahmad no 13004, dan dishahihkan oleh Al-Arnauuth dan al-Albani([8]) HR  at-Thobroni (al-Mu’jam al-Kabiir) no 36 dan Ibnu Hibbaan no 960, dan dishahihkan oleh al-Albani

Doa Berlindung dari Virus Corona

Doa Berlindung dari Virus CoronaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAPertama : Membaca di pagi hari dan di petang hari doa/dzikir berikut :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْAllahumma inni asaluka al’aafiyata fiiddunyaa wal akhiroh, Allahumma innii asalukal’afwa wal’aafiyata fii diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii, Allahummastur ‘aurootii wa aamin rou’aatii, Allahummahfadznii minbainii yadayya, wamin kholfihii, wa ‘anyamiinii, wa’ansyimaalii, wamin fauqii, wa a’uudzubi’adzhomatika an ughtaala min tahtiiArtinya : “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan berilah ketenteraman dihatiku. Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku.”  (Dibaca 1x) ([1])اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.Allahumma ‘aafinii fii badanii, Allahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allahumma ‘aafinii fii bashorii, Laa ilaaha illa anta. Allahumma innii a’uudzubika minal kufri wal faqr, Allahumma innii a’uudzubika min’adzabilqobr, Laa ilaha illa anta“Ya Allah, berilah keselamatan pada badanku. Ya Allah, berilah keselamatan pada pendengaranku. Ya Allah berilah keselamatan pada penglihatanku, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca 3x).” ([2])بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُBismillahi laa yadhurru ma’asmihi syai un fil ardi wa laa fiissamaai wahuwassamii’ul ‘aliimArtinya : “Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3x). ([3])أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَA’uudzu bikalimaatillahit taammaat min syarri maa kholaqoArtinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari keburukan makhluk yang Ia ciptakan” (Dibaca 3x) ([4])Kedua : Doa-doa khusus berlindung dari penyakit yang buruk, diantaranya :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَAllaahumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa-ati niqmatik, wa jamii’i sakhathik.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya afiat([5])-Mu (diantaranya perubahan dari sehat menjadi sakit), dari bencana yang datang tiba-tiba dan dari semua kemurkaan-Mu” ([6]).اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِAllahumma innii a úudzu bika minal baros wal junuun wal judzaam wa min sayyi il asqoom“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari penyakit baros (albino), dari kegilaan, dari kusta, dan dari penyakit-penyakit yang buruk (diantaranya virus corona)” ([7]).اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِAllahumma jannibnii munkarootil akhlaaq wal a’maal wal ahwaa’ wal adwaa’“Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak-akhlak yang munkar, perbuatan yang mungkar, hawa nafsu, dan penyakit-penyakit yang mungkar (diantaranya virus corona)” ([8])DOWNLOAD VERSI PDF_____________________________________________Footnote:([1] ) HR. Abu Daud no.5074, Ibnu Majah no.3871 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya :Doa ini sangat penting karena meminta keselamatan di dunia dan akhirat, yaitu agar diselamatkan dari segala keburukan di dunia, dari penyakit-penyakit (termasuk virus corona), malapetaka, dan bencana, serta keburukan yang berkaitan dengan diri, keluarga, maupun harta. Demikian juga keselamatan dari segala keburukan yang berkaitan dengan agama, bahkan segala keburukan di akhirat. Karenanya Nabi bersabda :سَلُوا الله العَفْوَ والعافيةَ، فإنَّ أحداً لَم يُعْطَ بعد اليَقين خَيراً من العافية“Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan, karena tidaklah seseorang diberikan setelah keyakinan sesuatu yang lebih baik dari keselamatan” (HR At-Tirmidzi no 3558 dan dashahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 3632)Demikian juga dalam doa tersebut (Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan…) yaitu perlindungan dari gangguan yang datang menyerang dari enam arah tersebut. Dan kita tidak tahu virus corona menyerang dari arah mana datangnya.([2] ) HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad dalam Musnadnya no. 20430, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrod no.701, dan dihasankan (hasan lighoirihi) oleh Al-Albani, Syu’aib Al-Arna’uth dan para pentahqiq al-Musnad karena mutabaah dan syawahid.Kandungannya :(Ya Allah, berilah keselematan pada badanku) yaitu memohon kepada Allah agar menyelamatkan badan dari penyakit (termasuk virus corona) dan gangguan agar seseorang bisa kuat menjalankan ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agamaNya. .([3] ) HR. Abu Daud no.5088, At-Tirmidzi no.3388, Ibnu Majah no.3869 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya : (Dengan nama Allah), yaitu aku menyebut nama Allah dengan mengagungkannya dan mengharapkan keberkahannya. Dengan menyebut nama-Mu aku berlindung dari seluruh bahaya yang ada di langit maupun di bumi (termasuk virus corona).(yang dengan nama-Nya maka segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya), karena segala sesuatu di tanganNya.([4] ) HR Muslim no 2709 tanpa disebutkan berapa kali, namun ada tambahan dalam Shahih Ibnu Hibban dengan 3 kali baca (HR Ibnu Hibban no 1022 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Ta’liiqoot al-Hisaan 2/328)([5]) ‘Afiat adalah keselamatan dari berbagai penyakit (lihat faidh Al-Qodir 2/110) termasuk virus corona([6]) HR. Muslim no. 2739([7]) HR. Ahmad no 13004, dan dishahihkan oleh Al-Arnauuth dan al-Albani([8]) HR  at-Thobroni (al-Mu’jam al-Kabiir) no 36 dan Ibnu Hibbaan no 960, dan dishahihkan oleh al-Albani
Doa Berlindung dari Virus CoronaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAPertama : Membaca di pagi hari dan di petang hari doa/dzikir berikut :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْAllahumma inni asaluka al’aafiyata fiiddunyaa wal akhiroh, Allahumma innii asalukal’afwa wal’aafiyata fii diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii, Allahummastur ‘aurootii wa aamin rou’aatii, Allahummahfadznii minbainii yadayya, wamin kholfihii, wa ‘anyamiinii, wa’ansyimaalii, wamin fauqii, wa a’uudzubi’adzhomatika an ughtaala min tahtiiArtinya : “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan berilah ketenteraman dihatiku. Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku.”  (Dibaca 1x) ([1])اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.Allahumma ‘aafinii fii badanii, Allahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allahumma ‘aafinii fii bashorii, Laa ilaaha illa anta. Allahumma innii a’uudzubika minal kufri wal faqr, Allahumma innii a’uudzubika min’adzabilqobr, Laa ilaha illa anta“Ya Allah, berilah keselamatan pada badanku. Ya Allah, berilah keselamatan pada pendengaranku. Ya Allah berilah keselamatan pada penglihatanku, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca 3x).” ([2])بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُBismillahi laa yadhurru ma’asmihi syai un fil ardi wa laa fiissamaai wahuwassamii’ul ‘aliimArtinya : “Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3x). ([3])أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَA’uudzu bikalimaatillahit taammaat min syarri maa kholaqoArtinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari keburukan makhluk yang Ia ciptakan” (Dibaca 3x) ([4])Kedua : Doa-doa khusus berlindung dari penyakit yang buruk, diantaranya :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَAllaahumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa-ati niqmatik, wa jamii’i sakhathik.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya afiat([5])-Mu (diantaranya perubahan dari sehat menjadi sakit), dari bencana yang datang tiba-tiba dan dari semua kemurkaan-Mu” ([6]).اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِAllahumma innii a úudzu bika minal baros wal junuun wal judzaam wa min sayyi il asqoom“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari penyakit baros (albino), dari kegilaan, dari kusta, dan dari penyakit-penyakit yang buruk (diantaranya virus corona)” ([7]).اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِAllahumma jannibnii munkarootil akhlaaq wal a’maal wal ahwaa’ wal adwaa’“Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak-akhlak yang munkar, perbuatan yang mungkar, hawa nafsu, dan penyakit-penyakit yang mungkar (diantaranya virus corona)” ([8])DOWNLOAD VERSI PDF_____________________________________________Footnote:([1] ) HR. Abu Daud no.5074, Ibnu Majah no.3871 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya :Doa ini sangat penting karena meminta keselamatan di dunia dan akhirat, yaitu agar diselamatkan dari segala keburukan di dunia, dari penyakit-penyakit (termasuk virus corona), malapetaka, dan bencana, serta keburukan yang berkaitan dengan diri, keluarga, maupun harta. Demikian juga keselamatan dari segala keburukan yang berkaitan dengan agama, bahkan segala keburukan di akhirat. Karenanya Nabi bersabda :سَلُوا الله العَفْوَ والعافيةَ، فإنَّ أحداً لَم يُعْطَ بعد اليَقين خَيراً من العافية“Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan, karena tidaklah seseorang diberikan setelah keyakinan sesuatu yang lebih baik dari keselamatan” (HR At-Tirmidzi no 3558 dan dashahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 3632)Demikian juga dalam doa tersebut (Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan…) yaitu perlindungan dari gangguan yang datang menyerang dari enam arah tersebut. Dan kita tidak tahu virus corona menyerang dari arah mana datangnya.([2] ) HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad dalam Musnadnya no. 20430, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrod no.701, dan dihasankan (hasan lighoirihi) oleh Al-Albani, Syu’aib Al-Arna’uth dan para pentahqiq al-Musnad karena mutabaah dan syawahid.Kandungannya :(Ya Allah, berilah keselematan pada badanku) yaitu memohon kepada Allah agar menyelamatkan badan dari penyakit (termasuk virus corona) dan gangguan agar seseorang bisa kuat menjalankan ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agamaNya. .([3] ) HR. Abu Daud no.5088, At-Tirmidzi no.3388, Ibnu Majah no.3869 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya : (Dengan nama Allah), yaitu aku menyebut nama Allah dengan mengagungkannya dan mengharapkan keberkahannya. Dengan menyebut nama-Mu aku berlindung dari seluruh bahaya yang ada di langit maupun di bumi (termasuk virus corona).(yang dengan nama-Nya maka segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya), karena segala sesuatu di tanganNya.([4] ) HR Muslim no 2709 tanpa disebutkan berapa kali, namun ada tambahan dalam Shahih Ibnu Hibban dengan 3 kali baca (HR Ibnu Hibban no 1022 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Ta’liiqoot al-Hisaan 2/328)([5]) ‘Afiat adalah keselamatan dari berbagai penyakit (lihat faidh Al-Qodir 2/110) termasuk virus corona([6]) HR. Muslim no. 2739([7]) HR. Ahmad no 13004, dan dishahihkan oleh Al-Arnauuth dan al-Albani([8]) HR  at-Thobroni (al-Mu’jam al-Kabiir) no 36 dan Ibnu Hibbaan no 960, dan dishahihkan oleh al-Albani


Doa Berlindung dari Virus CoronaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAPertama : Membaca di pagi hari dan di petang hari doa/dzikir berikut :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْAllahumma inni asaluka al’aafiyata fiiddunyaa wal akhiroh, Allahumma innii asalukal’afwa wal’aafiyata fii diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii, Allahummastur ‘aurootii wa aamin rou’aatii, Allahummahfadznii minbainii yadayya, wamin kholfihii, wa ‘anyamiinii, wa’ansyimaalii, wamin fauqii, wa a’uudzubi’adzhomatika an ughtaala min tahtiiArtinya : “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan berilah ketenteraman dihatiku. Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku.”  (Dibaca 1x) ([1])اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.Allahumma ‘aafinii fii badanii, Allahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allahumma ‘aafinii fii bashorii, Laa ilaaha illa anta. Allahumma innii a’uudzubika minal kufri wal faqr, Allahumma innii a’uudzubika min’adzabilqobr, Laa ilaha illa anta“Ya Allah, berilah keselamatan pada badanku. Ya Allah, berilah keselamatan pada pendengaranku. Ya Allah berilah keselamatan pada penglihatanku, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca 3x).” ([2])بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُBismillahi laa yadhurru ma’asmihi syai un fil ardi wa laa fiissamaai wahuwassamii’ul ‘aliimArtinya : “Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3x). ([3])أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَA’uudzu bikalimaatillahit taammaat min syarri maa kholaqoArtinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari keburukan makhluk yang Ia ciptakan” (Dibaca 3x) ([4])Kedua : Doa-doa khusus berlindung dari penyakit yang buruk, diantaranya :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَAllaahumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa-ati niqmatik, wa jamii’i sakhathik.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya afiat([5])-Mu (diantaranya perubahan dari sehat menjadi sakit), dari bencana yang datang tiba-tiba dan dari semua kemurkaan-Mu” ([6]).اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِAllahumma innii a úudzu bika minal baros wal junuun wal judzaam wa min sayyi il asqoom“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari penyakit baros (albino), dari kegilaan, dari kusta, dan dari penyakit-penyakit yang buruk (diantaranya virus corona)” ([7]).اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِAllahumma jannibnii munkarootil akhlaaq wal a’maal wal ahwaa’ wal adwaa’“Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak-akhlak yang munkar, perbuatan yang mungkar, hawa nafsu, dan penyakit-penyakit yang mungkar (diantaranya virus corona)” ([8])DOWNLOAD VERSI PDF_____________________________________________Footnote:([1] ) HR. Abu Daud no.5074, Ibnu Majah no.3871 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya :Doa ini sangat penting karena meminta keselamatan di dunia dan akhirat, yaitu agar diselamatkan dari segala keburukan di dunia, dari penyakit-penyakit (termasuk virus corona), malapetaka, dan bencana, serta keburukan yang berkaitan dengan diri, keluarga, maupun harta. Demikian juga keselamatan dari segala keburukan yang berkaitan dengan agama, bahkan segala keburukan di akhirat. Karenanya Nabi bersabda :سَلُوا الله العَفْوَ والعافيةَ، فإنَّ أحداً لَم يُعْطَ بعد اليَقين خَيراً من العافية“Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan, karena tidaklah seseorang diberikan setelah keyakinan sesuatu yang lebih baik dari keselamatan” (HR At-Tirmidzi no 3558 dan dashahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 3632)Demikian juga dalam doa tersebut (Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan…) yaitu perlindungan dari gangguan yang datang menyerang dari enam arah tersebut. Dan kita tidak tahu virus corona menyerang dari arah mana datangnya.([2] ) HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad dalam Musnadnya no. 20430, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrod no.701, dan dihasankan (hasan lighoirihi) oleh Al-Albani, Syu’aib Al-Arna’uth dan para pentahqiq al-Musnad karena mutabaah dan syawahid.Kandungannya :(Ya Allah, berilah keselematan pada badanku) yaitu memohon kepada Allah agar menyelamatkan badan dari penyakit (termasuk virus corona) dan gangguan agar seseorang bisa kuat menjalankan ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agamaNya. .([3] ) HR. Abu Daud no.5088, At-Tirmidzi no.3388, Ibnu Majah no.3869 dan dishahihkan oleh Al-AlbaniKandungannya : (Dengan nama Allah), yaitu aku menyebut nama Allah dengan mengagungkannya dan mengharapkan keberkahannya. Dengan menyebut nama-Mu aku berlindung dari seluruh bahaya yang ada di langit maupun di bumi (termasuk virus corona).(yang dengan nama-Nya maka segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya), karena segala sesuatu di tanganNya.([4] ) HR Muslim no 2709 tanpa disebutkan berapa kali, namun ada tambahan dalam Shahih Ibnu Hibban dengan 3 kali baca (HR Ibnu Hibban no 1022 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Ta’liiqoot al-Hisaan 2/328)([5]) ‘Afiat adalah keselamatan dari berbagai penyakit (lihat faidh Al-Qodir 2/110) termasuk virus corona([6]) HR. Muslim no. 2739([7]) HR. Ahmad no 13004, dan dishahihkan oleh Al-Arnauuth dan al-Albani([8]) HR  at-Thobroni (al-Mu’jam al-Kabiir) no 36 dan Ibnu Hibbaan no 960, dan dishahihkan oleh al-Albani

Tsalatsatul Ushul: Kenalilah Sang Khaliq

Allah yang menciptakan kita, Dialah yang pantas disembah dan ditujukan setiap ibadah.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Tsalatsah Al-Ushul berkata, Apabila ditanyakan kepadamu, “Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?” Maka Jawablah, “Dengan tanda-tanda (kekuasaan) dan makhluk-makhluk-Nya.” Di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah malam dan siang, dan matahari dan bulan. Di antara makhluk-makhluk-Nya adalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh serta apa yang ada di antara keduanya. Dalilnya dalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Al-Fussilat]: 37) Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ، أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾ “Sesungguhnya Rabb-mu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia tinggi di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54) Rabb adalah yang disembah. Dalil hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾ “Hai manusia! Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, الْخَالِقُ لِهَذِهِ الْأَشْيَاءِ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ “Yang menciptakan semua ini adalah yang berhak untuk diibadahi.”   ——   Catatan #01 Bagaimana kita bisa mengenal Allah? Jawaban: Kita bisa mengenal Allah melalui ayat dan makhluk-Nya.   Catatan #02 Apa itu ayat Allah? Ayat itu artinya tanda untuk menunjukkan dan mengingatkan sesuatu. Ayat Allah itu ada dua macam: Ayat kauniyyah Ayat syariyyah Ayat kauniyyah adalah makhluk. Sedangkan ayat syariyyah adalah wahyu yang Allah turunkan pada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti mengenal Allah bisa dengan ayat kauniyyah dari makhluk-Nya dan bisa dari ayat syariyyah dari wahyu. Ayat yang menunjukkan sempurnanya qudrah dan hikmah Allah adalah dari malam, siang, matahari, rembulan. Dalam ayat disebutkan, وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushshilat: 37) Sedangkan makhluk adalah langit yang tujuh lapis dan bumi yang tujuh lapis dan yang berada di antara keduanya. إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)   Catatan #03 Pelajaran dari surah Al-A’raf ayat 54 Allah menciptakan langit dan bumi padahal keduanya adalah makhluk yang besar hanya dalam kurun waktu enam hari. Padahal Allah mampu menciptakannya langsung. Namun ada hikmah di balik penciptaan seperti itu, ada sebab musabbabbnya. Allah beristiwa di atas ‘Arsy yaitu berada tinggi dengan ketinggian yang khusus sesuai dengan keagungan Allah. Ini tanda akan sempurnanya kerajaan dan kekuasaan Allah. Malam itu menutup siang. Allah menjadi matahari, bulan, dan bintang tunduk pada Allah, Allah memerintahkan kepada mereka sesuai kehendak Allah untuk kemaslahatan hamba. Kekuasaan Allah itu sempurna, Allah yang mencipta dan memerintah bukan yang lainnya. Umumnya rububiyah Allah pada semesta alam.   Catatan #04 Rabb itulah yang berhak diibadahi. Dalilnya adalah firman Allah, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Kalian tahu kalau Allah itu tidak ada yang menandinginya dalam hal mencipta dan memberi rezeki, juga mengatur, maka jangan jadikan syarikan (sekutu) bagi Allah dalam ibadah.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hlm. 52)   Catatan #05 Ibnu Katsir itu siapa? Ibnu Katsir adalah Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar Al-Qurosyi Ad-Dimasyqi, penulis kitab tafsir “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim” dan kitab tarikh “Al-Bidayah wa An-Nihayah” merupakan murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau meninggal dunia tahun 774 H. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sang Khaliq yang menciptakan segala sesuatu, hanya kepada-Nyalah ibadah ditujukan.” Baca Juga: Syarhus Sunnah: Sifat Allah itu Mahasempurna Faedah Luar Biasa dari Nama Allah Al Hayyu Al Qayyum Referensi: Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya.   Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsmengenal Allah tsalatsatul ushul

Tsalatsatul Ushul: Kenalilah Sang Khaliq

Allah yang menciptakan kita, Dialah yang pantas disembah dan ditujukan setiap ibadah.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Tsalatsah Al-Ushul berkata, Apabila ditanyakan kepadamu, “Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?” Maka Jawablah, “Dengan tanda-tanda (kekuasaan) dan makhluk-makhluk-Nya.” Di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah malam dan siang, dan matahari dan bulan. Di antara makhluk-makhluk-Nya adalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh serta apa yang ada di antara keduanya. Dalilnya dalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Al-Fussilat]: 37) Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ، أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾ “Sesungguhnya Rabb-mu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia tinggi di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54) Rabb adalah yang disembah. Dalil hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾ “Hai manusia! Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, الْخَالِقُ لِهَذِهِ الْأَشْيَاءِ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ “Yang menciptakan semua ini adalah yang berhak untuk diibadahi.”   ——   Catatan #01 Bagaimana kita bisa mengenal Allah? Jawaban: Kita bisa mengenal Allah melalui ayat dan makhluk-Nya.   Catatan #02 Apa itu ayat Allah? Ayat itu artinya tanda untuk menunjukkan dan mengingatkan sesuatu. Ayat Allah itu ada dua macam: Ayat kauniyyah Ayat syariyyah Ayat kauniyyah adalah makhluk. Sedangkan ayat syariyyah adalah wahyu yang Allah turunkan pada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti mengenal Allah bisa dengan ayat kauniyyah dari makhluk-Nya dan bisa dari ayat syariyyah dari wahyu. Ayat yang menunjukkan sempurnanya qudrah dan hikmah Allah adalah dari malam, siang, matahari, rembulan. Dalam ayat disebutkan, وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushshilat: 37) Sedangkan makhluk adalah langit yang tujuh lapis dan bumi yang tujuh lapis dan yang berada di antara keduanya. إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)   Catatan #03 Pelajaran dari surah Al-A’raf ayat 54 Allah menciptakan langit dan bumi padahal keduanya adalah makhluk yang besar hanya dalam kurun waktu enam hari. Padahal Allah mampu menciptakannya langsung. Namun ada hikmah di balik penciptaan seperti itu, ada sebab musabbabbnya. Allah beristiwa di atas ‘Arsy yaitu berada tinggi dengan ketinggian yang khusus sesuai dengan keagungan Allah. Ini tanda akan sempurnanya kerajaan dan kekuasaan Allah. Malam itu menutup siang. Allah menjadi matahari, bulan, dan bintang tunduk pada Allah, Allah memerintahkan kepada mereka sesuai kehendak Allah untuk kemaslahatan hamba. Kekuasaan Allah itu sempurna, Allah yang mencipta dan memerintah bukan yang lainnya. Umumnya rububiyah Allah pada semesta alam.   Catatan #04 Rabb itulah yang berhak diibadahi. Dalilnya adalah firman Allah, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Kalian tahu kalau Allah itu tidak ada yang menandinginya dalam hal mencipta dan memberi rezeki, juga mengatur, maka jangan jadikan syarikan (sekutu) bagi Allah dalam ibadah.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hlm. 52)   Catatan #05 Ibnu Katsir itu siapa? Ibnu Katsir adalah Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar Al-Qurosyi Ad-Dimasyqi, penulis kitab tafsir “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim” dan kitab tarikh “Al-Bidayah wa An-Nihayah” merupakan murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau meninggal dunia tahun 774 H. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sang Khaliq yang menciptakan segala sesuatu, hanya kepada-Nyalah ibadah ditujukan.” Baca Juga: Syarhus Sunnah: Sifat Allah itu Mahasempurna Faedah Luar Biasa dari Nama Allah Al Hayyu Al Qayyum Referensi: Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya.   Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsmengenal Allah tsalatsatul ushul
Allah yang menciptakan kita, Dialah yang pantas disembah dan ditujukan setiap ibadah.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Tsalatsah Al-Ushul berkata, Apabila ditanyakan kepadamu, “Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?” Maka Jawablah, “Dengan tanda-tanda (kekuasaan) dan makhluk-makhluk-Nya.” Di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah malam dan siang, dan matahari dan bulan. Di antara makhluk-makhluk-Nya adalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh serta apa yang ada di antara keduanya. Dalilnya dalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Al-Fussilat]: 37) Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ، أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾ “Sesungguhnya Rabb-mu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia tinggi di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54) Rabb adalah yang disembah. Dalil hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾ “Hai manusia! Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, الْخَالِقُ لِهَذِهِ الْأَشْيَاءِ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ “Yang menciptakan semua ini adalah yang berhak untuk diibadahi.”   ——   Catatan #01 Bagaimana kita bisa mengenal Allah? Jawaban: Kita bisa mengenal Allah melalui ayat dan makhluk-Nya.   Catatan #02 Apa itu ayat Allah? Ayat itu artinya tanda untuk menunjukkan dan mengingatkan sesuatu. Ayat Allah itu ada dua macam: Ayat kauniyyah Ayat syariyyah Ayat kauniyyah adalah makhluk. Sedangkan ayat syariyyah adalah wahyu yang Allah turunkan pada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti mengenal Allah bisa dengan ayat kauniyyah dari makhluk-Nya dan bisa dari ayat syariyyah dari wahyu. Ayat yang menunjukkan sempurnanya qudrah dan hikmah Allah adalah dari malam, siang, matahari, rembulan. Dalam ayat disebutkan, وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushshilat: 37) Sedangkan makhluk adalah langit yang tujuh lapis dan bumi yang tujuh lapis dan yang berada di antara keduanya. إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)   Catatan #03 Pelajaran dari surah Al-A’raf ayat 54 Allah menciptakan langit dan bumi padahal keduanya adalah makhluk yang besar hanya dalam kurun waktu enam hari. Padahal Allah mampu menciptakannya langsung. Namun ada hikmah di balik penciptaan seperti itu, ada sebab musabbabbnya. Allah beristiwa di atas ‘Arsy yaitu berada tinggi dengan ketinggian yang khusus sesuai dengan keagungan Allah. Ini tanda akan sempurnanya kerajaan dan kekuasaan Allah. Malam itu menutup siang. Allah menjadi matahari, bulan, dan bintang tunduk pada Allah, Allah memerintahkan kepada mereka sesuai kehendak Allah untuk kemaslahatan hamba. Kekuasaan Allah itu sempurna, Allah yang mencipta dan memerintah bukan yang lainnya. Umumnya rububiyah Allah pada semesta alam.   Catatan #04 Rabb itulah yang berhak diibadahi. Dalilnya adalah firman Allah, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Kalian tahu kalau Allah itu tidak ada yang menandinginya dalam hal mencipta dan memberi rezeki, juga mengatur, maka jangan jadikan syarikan (sekutu) bagi Allah dalam ibadah.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hlm. 52)   Catatan #05 Ibnu Katsir itu siapa? Ibnu Katsir adalah Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar Al-Qurosyi Ad-Dimasyqi, penulis kitab tafsir “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim” dan kitab tarikh “Al-Bidayah wa An-Nihayah” merupakan murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau meninggal dunia tahun 774 H. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sang Khaliq yang menciptakan segala sesuatu, hanya kepada-Nyalah ibadah ditujukan.” Baca Juga: Syarhus Sunnah: Sifat Allah itu Mahasempurna Faedah Luar Biasa dari Nama Allah Al Hayyu Al Qayyum Referensi: Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya.   Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsmengenal Allah tsalatsatul ushul


Allah yang menciptakan kita, Dialah yang pantas disembah dan ditujukan setiap ibadah.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Tsalatsah Al-Ushul berkata, Apabila ditanyakan kepadamu, “Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?” Maka Jawablah, “Dengan tanda-tanda (kekuasaan) dan makhluk-makhluk-Nya.” Di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah malam dan siang, dan matahari dan bulan. Di antara makhluk-makhluk-Nya adalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh serta apa yang ada di antara keduanya. Dalilnya dalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Al-Fussilat]: 37) Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ، أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾ “Sesungguhnya Rabb-mu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia tinggi di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54) Rabb adalah yang disembah. Dalil hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾ “Hai manusia! Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, الْخَالِقُ لِهَذِهِ الْأَشْيَاءِ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ “Yang menciptakan semua ini adalah yang berhak untuk diibadahi.”   ——   Catatan #01 Bagaimana kita bisa mengenal Allah? Jawaban: Kita bisa mengenal Allah melalui ayat dan makhluk-Nya.   Catatan #02 Apa itu ayat Allah? Ayat itu artinya tanda untuk menunjukkan dan mengingatkan sesuatu. Ayat Allah itu ada dua macam: Ayat kauniyyah Ayat syariyyah Ayat kauniyyah adalah makhluk. Sedangkan ayat syariyyah adalah wahyu yang Allah turunkan pada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti mengenal Allah bisa dengan ayat kauniyyah dari makhluk-Nya dan bisa dari ayat syariyyah dari wahyu. Ayat yang menunjukkan sempurnanya qudrah dan hikmah Allah adalah dari malam, siang, matahari, rembulan. Dalam ayat disebutkan, وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushshilat: 37) Sedangkan makhluk adalah langit yang tujuh lapis dan bumi yang tujuh lapis dan yang berada di antara keduanya. إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)   Catatan #03 Pelajaran dari surah Al-A’raf ayat 54 Allah menciptakan langit dan bumi padahal keduanya adalah makhluk yang besar hanya dalam kurun waktu enam hari. Padahal Allah mampu menciptakannya langsung. Namun ada hikmah di balik penciptaan seperti itu, ada sebab musabbabbnya. Allah beristiwa di atas ‘Arsy yaitu berada tinggi dengan ketinggian yang khusus sesuai dengan keagungan Allah. Ini tanda akan sempurnanya kerajaan dan kekuasaan Allah. Malam itu menutup siang. Allah menjadi matahari, bulan, dan bintang tunduk pada Allah, Allah memerintahkan kepada mereka sesuai kehendak Allah untuk kemaslahatan hamba. Kekuasaan Allah itu sempurna, Allah yang mencipta dan memerintah bukan yang lainnya. Umumnya rububiyah Allah pada semesta alam.   Catatan #04 Rabb itulah yang berhak diibadahi. Dalilnya adalah firman Allah, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Kalian tahu kalau Allah itu tidak ada yang menandinginya dalam hal mencipta dan memberi rezeki, juga mengatur, maka jangan jadikan syarikan (sekutu) bagi Allah dalam ibadah.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hlm. 52)   Catatan #05 Ibnu Katsir itu siapa? Ibnu Katsir adalah Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar Al-Qurosyi Ad-Dimasyqi, penulis kitab tafsir “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim” dan kitab tarikh “Al-Bidayah wa An-Nihayah” merupakan murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau meninggal dunia tahun 774 H. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sang Khaliq yang menciptakan segala sesuatu, hanya kepada-Nyalah ibadah ditujukan.” Baca Juga: Syarhus Sunnah: Sifat Allah itu Mahasempurna Faedah Luar Biasa dari Nama Allah Al Hayyu Al Qayyum Referensi: Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya.   Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsmengenal Allah tsalatsatul ushul

Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj

Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj Ust mohon dijelskan ttg asal muasal ya’jud dan ma’jud. Dan apkh mrk itu manusia atau makhluk dari bangsa lain? Syukron Jawaban: Bismillah wal hamdulillah wassholaatu was salaam ‘ala Rasulillah. Waba’du. Sebelum masuk membahas jawaban, ada sedikit koreksi tentang penyebutan Ya’jud dan Ma’jud. Penyebutan yang tepat, bukan Ya’jud Ma’jud. Namun Ya’juj يَأْجُوجُ  dan Ma’juj  َمَأْجُوجُ , diakhiri huruf “J”. Karena demikian yang tersebut dalam Al-Quran, حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiya’ : 96) Demikian halnya yang disebut dalam hadis… Selanjutnya tentang asal muasal Ya’juj dan Ma’juj, ada dua keterangan dari para ulama hal ini: Pertama, mereka berasal dari keturunan Adam, bukan Hawa. Normalnya manusia terlahir dari perkawinan. Namun Ya’juj dan Ma’juj, mereka adalah manusia yang terlahir tidak melalui perkawinan Adam dan Hawa. Mereka muncul karena Adam mengalami mimpi basah. Kemudian air maninya bercampur dengan tanah. Dari sinilah kemudian Allah ciptakan Ya’juj dan Ma’juj. Pendapat ini termaktub dalam Al-Wasail Al-Mantsuroh, halaman 116 – 117, atau yang dikenal dengan kitab kumpulan fatwa Imam Nawawi rahimahullah (Fatawa Al-Imam An-Nawawi). Disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, beliau nisbatkan keterangan ini kepada Imam Nawawi rahimahullah. Beliau memberikan keterangan, ووقع في فتاوى محيي الدين Penjelasan ini terdapat dalam fatwanya Muhyid Din Imam Nawawi. (Fathul Bari, 13/108) Kedua, mereka adalah keturunan Yafits bin Nuh. Yafits bin Nuh merupakan moyang dari bangsa Turuk. (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/153. Tahqiq : Dr. Thoha Zaini) Pendapat yang tepat adalah pendapat yang kedua ini, wallahua’lam bis showab. Karena pendapat pertama tak satupun riwayat shahih yang mendukung keterangan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وهذا مما لا دليل عليه ولم يرد عمن يجب قبول قوله Pernyataan yang menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari campuran tanah dan air mani Adam, adalah pernyataan yang tidak berdalil. Dan tak ditemukan dalam riwayat dari seorang yang wajib diterima ucapannya (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam). (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/152-153) Sehingga kesimpulannya, Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia anak keturunan Adam dan Hawa, tepatnya moyang mereka adalah Yafits bin Nuh. Dalil yang menunjukkan mereka makhluk dari bangsa manusia, adalah hadis dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriyi –radhiyallahu’anhu-, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ﭼ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا … Allah ta’ala berfirman kepada Adam, “Ya Adam…” Maka Adam menjawab, “Labbaikka wa sa’daika wal khairu fi yadaika (Aku sambut panggilan-MUdengan senang hati dan kebaikan semuanya di tanganMu).” Kemudian Allah berfirman ,“Keluarkan utusan penghuni neraka.” “Apa itu utusan penghuni neraka?” tanya Adam. “Dari setiap seribu anak keturunanmu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang!” Jawab Allah ta’ala. Maka ketika itu anak kecil menjadi beruban, setiap yang hamil melahirkan janin yang dikandungnya, dan kamu lihat orang-orang seakan mabuk padahal mereka tidak mabuk. Tetapi karena adzab Allah yang sangat pedih. “Siapa satu yang selamat dari kita itu ya Rasulullah?” tanya heran para sahabat. Rasulullah menjawab, “Bergembiralah, sesungguhnya penghuni neraka itu dari kalian satu dan dari Ya’juj dan Ma’juj seribu….” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 6 hal. 382) Wallahua’lam bis showab.. Referensi : Asy-rotus Saa’ah , karya Syekh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil. Terbitan : Dar Ibni Al-Jauzi, KSA, cetakan ke 4, th. 1435 H. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hadist Tentang Sombong, Menjilati Kemaluan Istri Dalam Islam, Shalawat Ibrahimiyyah, Alamat Praktek Ustad Danu, Kumpulan Doa Islam, Tema Kultum Ramadhan Visited 1,243 times, 1 visit(s) today Post Views: 554 QRIS donasi Yufid

Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj

Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj Ust mohon dijelskan ttg asal muasal ya’jud dan ma’jud. Dan apkh mrk itu manusia atau makhluk dari bangsa lain? Syukron Jawaban: Bismillah wal hamdulillah wassholaatu was salaam ‘ala Rasulillah. Waba’du. Sebelum masuk membahas jawaban, ada sedikit koreksi tentang penyebutan Ya’jud dan Ma’jud. Penyebutan yang tepat, bukan Ya’jud Ma’jud. Namun Ya’juj يَأْجُوجُ  dan Ma’juj  َمَأْجُوجُ , diakhiri huruf “J”. Karena demikian yang tersebut dalam Al-Quran, حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiya’ : 96) Demikian halnya yang disebut dalam hadis… Selanjutnya tentang asal muasal Ya’juj dan Ma’juj, ada dua keterangan dari para ulama hal ini: Pertama, mereka berasal dari keturunan Adam, bukan Hawa. Normalnya manusia terlahir dari perkawinan. Namun Ya’juj dan Ma’juj, mereka adalah manusia yang terlahir tidak melalui perkawinan Adam dan Hawa. Mereka muncul karena Adam mengalami mimpi basah. Kemudian air maninya bercampur dengan tanah. Dari sinilah kemudian Allah ciptakan Ya’juj dan Ma’juj. Pendapat ini termaktub dalam Al-Wasail Al-Mantsuroh, halaman 116 – 117, atau yang dikenal dengan kitab kumpulan fatwa Imam Nawawi rahimahullah (Fatawa Al-Imam An-Nawawi). Disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, beliau nisbatkan keterangan ini kepada Imam Nawawi rahimahullah. Beliau memberikan keterangan, ووقع في فتاوى محيي الدين Penjelasan ini terdapat dalam fatwanya Muhyid Din Imam Nawawi. (Fathul Bari, 13/108) Kedua, mereka adalah keturunan Yafits bin Nuh. Yafits bin Nuh merupakan moyang dari bangsa Turuk. (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/153. Tahqiq : Dr. Thoha Zaini) Pendapat yang tepat adalah pendapat yang kedua ini, wallahua’lam bis showab. Karena pendapat pertama tak satupun riwayat shahih yang mendukung keterangan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وهذا مما لا دليل عليه ولم يرد عمن يجب قبول قوله Pernyataan yang menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari campuran tanah dan air mani Adam, adalah pernyataan yang tidak berdalil. Dan tak ditemukan dalam riwayat dari seorang yang wajib diterima ucapannya (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam). (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/152-153) Sehingga kesimpulannya, Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia anak keturunan Adam dan Hawa, tepatnya moyang mereka adalah Yafits bin Nuh. Dalil yang menunjukkan mereka makhluk dari bangsa manusia, adalah hadis dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriyi –radhiyallahu’anhu-, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ﭼ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا … Allah ta’ala berfirman kepada Adam, “Ya Adam…” Maka Adam menjawab, “Labbaikka wa sa’daika wal khairu fi yadaika (Aku sambut panggilan-MUdengan senang hati dan kebaikan semuanya di tanganMu).” Kemudian Allah berfirman ,“Keluarkan utusan penghuni neraka.” “Apa itu utusan penghuni neraka?” tanya Adam. “Dari setiap seribu anak keturunanmu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang!” Jawab Allah ta’ala. Maka ketika itu anak kecil menjadi beruban, setiap yang hamil melahirkan janin yang dikandungnya, dan kamu lihat orang-orang seakan mabuk padahal mereka tidak mabuk. Tetapi karena adzab Allah yang sangat pedih. “Siapa satu yang selamat dari kita itu ya Rasulullah?” tanya heran para sahabat. Rasulullah menjawab, “Bergembiralah, sesungguhnya penghuni neraka itu dari kalian satu dan dari Ya’juj dan Ma’juj seribu….” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 6 hal. 382) Wallahua’lam bis showab.. Referensi : Asy-rotus Saa’ah , karya Syekh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil. Terbitan : Dar Ibni Al-Jauzi, KSA, cetakan ke 4, th. 1435 H. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hadist Tentang Sombong, Menjilati Kemaluan Istri Dalam Islam, Shalawat Ibrahimiyyah, Alamat Praktek Ustad Danu, Kumpulan Doa Islam, Tema Kultum Ramadhan Visited 1,243 times, 1 visit(s) today Post Views: 554 QRIS donasi Yufid
Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj Ust mohon dijelskan ttg asal muasal ya’jud dan ma’jud. Dan apkh mrk itu manusia atau makhluk dari bangsa lain? Syukron Jawaban: Bismillah wal hamdulillah wassholaatu was salaam ‘ala Rasulillah. Waba’du. Sebelum masuk membahas jawaban, ada sedikit koreksi tentang penyebutan Ya’jud dan Ma’jud. Penyebutan yang tepat, bukan Ya’jud Ma’jud. Namun Ya’juj يَأْجُوجُ  dan Ma’juj  َمَأْجُوجُ , diakhiri huruf “J”. Karena demikian yang tersebut dalam Al-Quran, حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiya’ : 96) Demikian halnya yang disebut dalam hadis… Selanjutnya tentang asal muasal Ya’juj dan Ma’juj, ada dua keterangan dari para ulama hal ini: Pertama, mereka berasal dari keturunan Adam, bukan Hawa. Normalnya manusia terlahir dari perkawinan. Namun Ya’juj dan Ma’juj, mereka adalah manusia yang terlahir tidak melalui perkawinan Adam dan Hawa. Mereka muncul karena Adam mengalami mimpi basah. Kemudian air maninya bercampur dengan tanah. Dari sinilah kemudian Allah ciptakan Ya’juj dan Ma’juj. Pendapat ini termaktub dalam Al-Wasail Al-Mantsuroh, halaman 116 – 117, atau yang dikenal dengan kitab kumpulan fatwa Imam Nawawi rahimahullah (Fatawa Al-Imam An-Nawawi). Disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, beliau nisbatkan keterangan ini kepada Imam Nawawi rahimahullah. Beliau memberikan keterangan, ووقع في فتاوى محيي الدين Penjelasan ini terdapat dalam fatwanya Muhyid Din Imam Nawawi. (Fathul Bari, 13/108) Kedua, mereka adalah keturunan Yafits bin Nuh. Yafits bin Nuh merupakan moyang dari bangsa Turuk. (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/153. Tahqiq : Dr. Thoha Zaini) Pendapat yang tepat adalah pendapat yang kedua ini, wallahua’lam bis showab. Karena pendapat pertama tak satupun riwayat shahih yang mendukung keterangan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وهذا مما لا دليل عليه ولم يرد عمن يجب قبول قوله Pernyataan yang menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari campuran tanah dan air mani Adam, adalah pernyataan yang tidak berdalil. Dan tak ditemukan dalam riwayat dari seorang yang wajib diterima ucapannya (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam). (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/152-153) Sehingga kesimpulannya, Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia anak keturunan Adam dan Hawa, tepatnya moyang mereka adalah Yafits bin Nuh. Dalil yang menunjukkan mereka makhluk dari bangsa manusia, adalah hadis dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriyi –radhiyallahu’anhu-, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ﭼ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا … Allah ta’ala berfirman kepada Adam, “Ya Adam…” Maka Adam menjawab, “Labbaikka wa sa’daika wal khairu fi yadaika (Aku sambut panggilan-MUdengan senang hati dan kebaikan semuanya di tanganMu).” Kemudian Allah berfirman ,“Keluarkan utusan penghuni neraka.” “Apa itu utusan penghuni neraka?” tanya Adam. “Dari setiap seribu anak keturunanmu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang!” Jawab Allah ta’ala. Maka ketika itu anak kecil menjadi beruban, setiap yang hamil melahirkan janin yang dikandungnya, dan kamu lihat orang-orang seakan mabuk padahal mereka tidak mabuk. Tetapi karena adzab Allah yang sangat pedih. “Siapa satu yang selamat dari kita itu ya Rasulullah?” tanya heran para sahabat. Rasulullah menjawab, “Bergembiralah, sesungguhnya penghuni neraka itu dari kalian satu dan dari Ya’juj dan Ma’juj seribu….” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 6 hal. 382) Wallahua’lam bis showab.. Referensi : Asy-rotus Saa’ah , karya Syekh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil. Terbitan : Dar Ibni Al-Jauzi, KSA, cetakan ke 4, th. 1435 H. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hadist Tentang Sombong, Menjilati Kemaluan Istri Dalam Islam, Shalawat Ibrahimiyyah, Alamat Praktek Ustad Danu, Kumpulan Doa Islam, Tema Kultum Ramadhan Visited 1,243 times, 1 visit(s) today Post Views: 554 QRIS donasi Yufid


Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj Ust mohon dijelskan ttg asal muasal ya’jud dan ma’jud. Dan apkh mrk itu manusia atau makhluk dari bangsa lain? Syukron Jawaban: Bismillah wal hamdulillah wassholaatu was salaam ‘ala Rasulillah. Waba’du. Sebelum masuk membahas jawaban, ada sedikit koreksi tentang penyebutan Ya’jud dan Ma’jud. Penyebutan yang tepat, bukan Ya’jud Ma’jud. Namun Ya’juj يَأْجُوجُ  dan Ma’juj  َمَأْجُوجُ , diakhiri huruf “J”. Karena demikian yang tersebut dalam Al-Quran, حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiya’ : 96) Demikian halnya yang disebut dalam hadis… Selanjutnya tentang asal muasal Ya’juj dan Ma’juj, ada dua keterangan dari para ulama hal ini: Pertama, mereka berasal dari keturunan Adam, bukan Hawa. Normalnya manusia terlahir dari perkawinan. Namun Ya’juj dan Ma’juj, mereka adalah manusia yang terlahir tidak melalui perkawinan Adam dan Hawa. Mereka muncul karena Adam mengalami mimpi basah. Kemudian air maninya bercampur dengan tanah. Dari sinilah kemudian Allah ciptakan Ya’juj dan Ma’juj. Pendapat ini termaktub dalam Al-Wasail Al-Mantsuroh, halaman 116 – 117, atau yang dikenal dengan kitab kumpulan fatwa Imam Nawawi rahimahullah (Fatawa Al-Imam An-Nawawi). Disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, beliau nisbatkan keterangan ini kepada Imam Nawawi rahimahullah. Beliau memberikan keterangan, ووقع في فتاوى محيي الدين Penjelasan ini terdapat dalam fatwanya Muhyid Din Imam Nawawi. (Fathul Bari, 13/108) Kedua, mereka adalah keturunan Yafits bin Nuh. Yafits bin Nuh merupakan moyang dari bangsa Turuk. (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/153. Tahqiq : Dr. Thoha Zaini) Pendapat yang tepat adalah pendapat yang kedua ini, wallahua’lam bis showab. Karena pendapat pertama tak satupun riwayat shahih yang mendukung keterangan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وهذا مما لا دليل عليه ولم يرد عمن يجب قبول قوله Pernyataan yang menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari campuran tanah dan air mani Adam, adalah pernyataan yang tidak berdalil. Dan tak ditemukan dalam riwayat dari seorang yang wajib diterima ucapannya (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam). (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/152-153) Sehingga kesimpulannya, Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia anak keturunan Adam dan Hawa, tepatnya moyang mereka adalah Yafits bin Nuh. Dalil yang menunjukkan mereka makhluk dari bangsa manusia, adalah hadis dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriyi –radhiyallahu’anhu-, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ﭼ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا … Allah ta’ala berfirman kepada Adam, “Ya Adam…” Maka Adam menjawab, “Labbaikka wa sa’daika wal khairu fi yadaika (Aku sambut panggilan-MUdengan senang hati dan kebaikan semuanya di tanganMu).” Kemudian Allah berfirman ,“Keluarkan utusan penghuni neraka.” “Apa itu utusan penghuni neraka?” tanya Adam. “Dari setiap seribu anak keturunanmu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang!” Jawab Allah ta’ala. Maka ketika itu anak kecil menjadi beruban, setiap yang hamil melahirkan janin yang dikandungnya, dan kamu lihat orang-orang seakan mabuk padahal mereka tidak mabuk. Tetapi karena adzab Allah yang sangat pedih. “Siapa satu yang selamat dari kita itu ya Rasulullah?” tanya heran para sahabat. Rasulullah menjawab, “Bergembiralah, sesungguhnya penghuni neraka itu dari kalian satu dan dari Ya’juj dan Ma’juj seribu….” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 6 hal. 382) Wallahua’lam bis showab.. Referensi : Asy-rotus Saa’ah , karya Syekh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil. Terbitan : Dar Ibni Al-Jauzi, KSA, cetakan ke 4, th. 1435 H. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hadist Tentang Sombong, Menjilati Kemaluan Istri Dalam Islam, Shalawat Ibrahimiyyah, Alamat Praktek Ustad Danu, Kumpulan Doa Islam, Tema Kultum Ramadhan Visited 1,243 times, 1 visit(s) today Post Views: 554 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Dua Buku Gratis: Ramadhan Bersama Nabi dan 24 Jam di Bulan Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi, bagaimana persiapan Anda menuju Ramadhan? Di antaranya harus persiapan ilmu yah … Persiapan ilmu di antaranya bisa lewat buku. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com) tiap tahun mengeluarkan buku baru terkait Ramadhan terbitan Rumaysho. Dua buku ini di antaranya: • Ramadhan Bersama Nabi • 24 Jam di Bulan Ramadhan Silakan download dengan mengklik dua judul di atas atau bisa download lewat link dropbox berikut dalam bentuk e-book PDF dan versi cetak: http://bit.ly/bukuRamadhanRumaysho Info Buku Rumaysho: 085200171222 (WA Toko Online Ruwaifi.Com)   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tags24 jam di bulan ramadhan amalan ramadhan buku gratis buku ramadhan download buku gratis ramadhan bersama nabi

Dua Buku Gratis: Ramadhan Bersama Nabi dan 24 Jam di Bulan Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi, bagaimana persiapan Anda menuju Ramadhan? Di antaranya harus persiapan ilmu yah … Persiapan ilmu di antaranya bisa lewat buku. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com) tiap tahun mengeluarkan buku baru terkait Ramadhan terbitan Rumaysho. Dua buku ini di antaranya: • Ramadhan Bersama Nabi • 24 Jam di Bulan Ramadhan Silakan download dengan mengklik dua judul di atas atau bisa download lewat link dropbox berikut dalam bentuk e-book PDF dan versi cetak: http://bit.ly/bukuRamadhanRumaysho Info Buku Rumaysho: 085200171222 (WA Toko Online Ruwaifi.Com)   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tags24 jam di bulan ramadhan amalan ramadhan buku gratis buku ramadhan download buku gratis ramadhan bersama nabi
Ramadhan sebentar lagi, bagaimana persiapan Anda menuju Ramadhan? Di antaranya harus persiapan ilmu yah … Persiapan ilmu di antaranya bisa lewat buku. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com) tiap tahun mengeluarkan buku baru terkait Ramadhan terbitan Rumaysho. Dua buku ini di antaranya: • Ramadhan Bersama Nabi • 24 Jam di Bulan Ramadhan Silakan download dengan mengklik dua judul di atas atau bisa download lewat link dropbox berikut dalam bentuk e-book PDF dan versi cetak: http://bit.ly/bukuRamadhanRumaysho Info Buku Rumaysho: 085200171222 (WA Toko Online Ruwaifi.Com)   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tags24 jam di bulan ramadhan amalan ramadhan buku gratis buku ramadhan download buku gratis ramadhan bersama nabi


Ramadhan sebentar lagi, bagaimana persiapan Anda menuju Ramadhan? Di antaranya harus persiapan ilmu yah … Persiapan ilmu di antaranya bisa lewat buku. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com) tiap tahun mengeluarkan buku baru terkait Ramadhan terbitan Rumaysho. Dua buku ini di antaranya: • Ramadhan Bersama Nabi • 24 Jam di Bulan Ramadhan Silakan download dengan mengklik dua judul di atas atau bisa download lewat link dropbox berikut dalam bentuk e-book PDF dan versi cetak: http://bit.ly/bukuRamadhanRumaysho Info Buku Rumaysho: 085200171222 (WA Toko Online Ruwaifi.Com)   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tags24 jam di bulan ramadhan amalan ramadhan buku gratis buku ramadhan download buku gratis ramadhan bersama nabi

Faedah Sirah Nabi: Bersaudaranya Muhajirin dan Anshar

Sekarang kita masuk cerita bersaudaranya kaum Muhajirin dan Anshar. Di antara inti hijrah adalah kedatangan kaum Muhajirin dari suku yang berbeda menuju Madinah tanpa ada saudara dan harta. Mereka menuju ke kaum yang belum pernah dikenalnya. Begitu juga halnya dengan kaum Anshar, kaum yang sering melakukan pertumpahan darah di antara mereka, perselisihan, dan pertikaian. Namun, dengan kedatangan kaum Muhajirin, mereka pun menyambutnya dengan baik, seperti yang difirmankan oleh Allah, وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Kaum Anshar yang telah menempati kota Madinah sebagai kota Rasul dan sebagai tempat tinggal, mereka juga telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum kaum Muhajirin datang. Kaum Anshar ini mencintai kaum Muhajirin yang telah meninggalkan rumahnya untuk pindah ke tempat mereka. Hal tersebut cukup sebagai bukti kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin datang ke Madinah dengan meninggalkan keluarga dan harta mereka. Setibanya mereka di Madinah, kaum Anshar pun rela untuk meringankan beban saudara-saudara baru mereka, dengan berlomba-lomba mengeluarkan apa yang mereka miliki. Mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau membagi kurma yang mereka miliki untuk diberikan kepada kaum Muhajirin. Disebutkan dalam sebuah hadits sahih, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Orang Anshar berkata kepada Rasulullah: Bagikanlah kurma ini untuk kami dan mereka.’ Beliau menjawab, ‘Tidak. Tetapi berikanlah kami perbekalan dan kalian libatkan kami dalam perkebunan kurma kalian.’ Mereka menjawab, ‘Ya, kami dengar dan patuh (pada apa yang engkau katakan).’” Kejadian ini merupakan suatu bukti tentang persaudaraan yang sangat agung. Cerita lainnya bisa diperlihatkan dari hadits Anas bin Malik berikut ini. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Lantas ditunjukkanlah kepada ‘Abdurrahman pasar lalu ia berdagang hingga ia mendapat untung yang banyak karena berdagang keju dan samin. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pada ‘Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Apa yang terjadi padamu wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” ‘Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima dirham).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika itu, أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ “Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7:193) Baca Juga: Pelajaran dari Walimah Abdurrahman bin Auf Kaum Anshar memiliki sifat itsaar (lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri), sehingga mereka menawarkan rumah mereka kepada kaum Muhajirin, bahkan di antara mereka ada yang menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sekiranya engkau menghendaki, ambillah salah satu rumah kami untukmu.” Namun, beliau menjawabnya dengan cara yang baik.   Itsar itu apa? Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh. Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan. — Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Jumlah mereka ketika itu sembilan puluh orang; sebagian dari Muhajirin dan sebagian dari Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka atas prinsip sama rata, mereka akan menerima warisan setelah saudaranya meninggal walaupun tidak ada pertalian darah hingga terjadinya peristiwa Badar, dan Allah menurunkan firman-Nya, وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. Al-Ahzab: 9). Setelah diturunkannya ayat ini, maka hak waris hanya untuk mereka yang memiliki pertalian darah dan bukan dilandasi atas persaudaraan. (Zaad Al-Ma’ad, 3:63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat–dan pendapat ini disepakati oleh muridnya Ibnul Qayyim dan Ibnu Katsir rahimahullah–, ia berkata, “Yang dipersaudarakan oleh Rasulullah adalah antara kaum Muhajirin dan Anshar, sementara beliau tidak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin itu sendiri. Sebab mereka (Muhajirin) lebih membutuhkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan dalam bertetangga, kedekatan nasab dibandingkan dengan atas nama ikatan persaudaraan saja.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3:227) Ibnu Hajar rahimahullah berbeda dalam hal ini, beliau berkata, “Hal ini bukan berarti beliau mengabaikan hikmah dari persaudaraan itu. Sebab, orang-orang Muhajirin, sebagian di antara mereka lebih kuat dalam harta, kekuatan kekeluargaan, serta dalam hal kekuatan fisik. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dengan kata lain antara golongan atas dan bawah agar kondisi kaum Anshar terangkat dan bisa saling membantu.” (Fath Al-Bari, 7:271) Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Awal Hijrah Nabi ke Madinah Faedah Sirah Nabi: Tiba di Kota Madinah dari Hijrah Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.       Diselesaikan di Darush Sholihin, Jumat sore, 6 Maret 2020, 11 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsanshar dermawan faedah sirah nabi hijrah hijrah nabi itsar muhajirin sedekah sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Bersaudaranya Muhajirin dan Anshar

Sekarang kita masuk cerita bersaudaranya kaum Muhajirin dan Anshar. Di antara inti hijrah adalah kedatangan kaum Muhajirin dari suku yang berbeda menuju Madinah tanpa ada saudara dan harta. Mereka menuju ke kaum yang belum pernah dikenalnya. Begitu juga halnya dengan kaum Anshar, kaum yang sering melakukan pertumpahan darah di antara mereka, perselisihan, dan pertikaian. Namun, dengan kedatangan kaum Muhajirin, mereka pun menyambutnya dengan baik, seperti yang difirmankan oleh Allah, وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Kaum Anshar yang telah menempati kota Madinah sebagai kota Rasul dan sebagai tempat tinggal, mereka juga telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum kaum Muhajirin datang. Kaum Anshar ini mencintai kaum Muhajirin yang telah meninggalkan rumahnya untuk pindah ke tempat mereka. Hal tersebut cukup sebagai bukti kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin datang ke Madinah dengan meninggalkan keluarga dan harta mereka. Setibanya mereka di Madinah, kaum Anshar pun rela untuk meringankan beban saudara-saudara baru mereka, dengan berlomba-lomba mengeluarkan apa yang mereka miliki. Mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau membagi kurma yang mereka miliki untuk diberikan kepada kaum Muhajirin. Disebutkan dalam sebuah hadits sahih, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Orang Anshar berkata kepada Rasulullah: Bagikanlah kurma ini untuk kami dan mereka.’ Beliau menjawab, ‘Tidak. Tetapi berikanlah kami perbekalan dan kalian libatkan kami dalam perkebunan kurma kalian.’ Mereka menjawab, ‘Ya, kami dengar dan patuh (pada apa yang engkau katakan).’” Kejadian ini merupakan suatu bukti tentang persaudaraan yang sangat agung. Cerita lainnya bisa diperlihatkan dari hadits Anas bin Malik berikut ini. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Lantas ditunjukkanlah kepada ‘Abdurrahman pasar lalu ia berdagang hingga ia mendapat untung yang banyak karena berdagang keju dan samin. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pada ‘Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Apa yang terjadi padamu wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” ‘Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima dirham).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika itu, أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ “Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7:193) Baca Juga: Pelajaran dari Walimah Abdurrahman bin Auf Kaum Anshar memiliki sifat itsaar (lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri), sehingga mereka menawarkan rumah mereka kepada kaum Muhajirin, bahkan di antara mereka ada yang menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sekiranya engkau menghendaki, ambillah salah satu rumah kami untukmu.” Namun, beliau menjawabnya dengan cara yang baik.   Itsar itu apa? Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh. Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan. — Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Jumlah mereka ketika itu sembilan puluh orang; sebagian dari Muhajirin dan sebagian dari Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka atas prinsip sama rata, mereka akan menerima warisan setelah saudaranya meninggal walaupun tidak ada pertalian darah hingga terjadinya peristiwa Badar, dan Allah menurunkan firman-Nya, وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. Al-Ahzab: 9). Setelah diturunkannya ayat ini, maka hak waris hanya untuk mereka yang memiliki pertalian darah dan bukan dilandasi atas persaudaraan. (Zaad Al-Ma’ad, 3:63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat–dan pendapat ini disepakati oleh muridnya Ibnul Qayyim dan Ibnu Katsir rahimahullah–, ia berkata, “Yang dipersaudarakan oleh Rasulullah adalah antara kaum Muhajirin dan Anshar, sementara beliau tidak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin itu sendiri. Sebab mereka (Muhajirin) lebih membutuhkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan dalam bertetangga, kedekatan nasab dibandingkan dengan atas nama ikatan persaudaraan saja.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3:227) Ibnu Hajar rahimahullah berbeda dalam hal ini, beliau berkata, “Hal ini bukan berarti beliau mengabaikan hikmah dari persaudaraan itu. Sebab, orang-orang Muhajirin, sebagian di antara mereka lebih kuat dalam harta, kekuatan kekeluargaan, serta dalam hal kekuatan fisik. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dengan kata lain antara golongan atas dan bawah agar kondisi kaum Anshar terangkat dan bisa saling membantu.” (Fath Al-Bari, 7:271) Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Awal Hijrah Nabi ke Madinah Faedah Sirah Nabi: Tiba di Kota Madinah dari Hijrah Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.       Diselesaikan di Darush Sholihin, Jumat sore, 6 Maret 2020, 11 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsanshar dermawan faedah sirah nabi hijrah hijrah nabi itsar muhajirin sedekah sirah nabi
Sekarang kita masuk cerita bersaudaranya kaum Muhajirin dan Anshar. Di antara inti hijrah adalah kedatangan kaum Muhajirin dari suku yang berbeda menuju Madinah tanpa ada saudara dan harta. Mereka menuju ke kaum yang belum pernah dikenalnya. Begitu juga halnya dengan kaum Anshar, kaum yang sering melakukan pertumpahan darah di antara mereka, perselisihan, dan pertikaian. Namun, dengan kedatangan kaum Muhajirin, mereka pun menyambutnya dengan baik, seperti yang difirmankan oleh Allah, وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Kaum Anshar yang telah menempati kota Madinah sebagai kota Rasul dan sebagai tempat tinggal, mereka juga telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum kaum Muhajirin datang. Kaum Anshar ini mencintai kaum Muhajirin yang telah meninggalkan rumahnya untuk pindah ke tempat mereka. Hal tersebut cukup sebagai bukti kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin datang ke Madinah dengan meninggalkan keluarga dan harta mereka. Setibanya mereka di Madinah, kaum Anshar pun rela untuk meringankan beban saudara-saudara baru mereka, dengan berlomba-lomba mengeluarkan apa yang mereka miliki. Mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau membagi kurma yang mereka miliki untuk diberikan kepada kaum Muhajirin. Disebutkan dalam sebuah hadits sahih, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Orang Anshar berkata kepada Rasulullah: Bagikanlah kurma ini untuk kami dan mereka.’ Beliau menjawab, ‘Tidak. Tetapi berikanlah kami perbekalan dan kalian libatkan kami dalam perkebunan kurma kalian.’ Mereka menjawab, ‘Ya, kami dengar dan patuh (pada apa yang engkau katakan).’” Kejadian ini merupakan suatu bukti tentang persaudaraan yang sangat agung. Cerita lainnya bisa diperlihatkan dari hadits Anas bin Malik berikut ini. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Lantas ditunjukkanlah kepada ‘Abdurrahman pasar lalu ia berdagang hingga ia mendapat untung yang banyak karena berdagang keju dan samin. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pada ‘Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Apa yang terjadi padamu wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” ‘Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima dirham).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika itu, أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ “Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7:193) Baca Juga: Pelajaran dari Walimah Abdurrahman bin Auf Kaum Anshar memiliki sifat itsaar (lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri), sehingga mereka menawarkan rumah mereka kepada kaum Muhajirin, bahkan di antara mereka ada yang menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sekiranya engkau menghendaki, ambillah salah satu rumah kami untukmu.” Namun, beliau menjawabnya dengan cara yang baik.   Itsar itu apa? Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh. Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan. — Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Jumlah mereka ketika itu sembilan puluh orang; sebagian dari Muhajirin dan sebagian dari Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka atas prinsip sama rata, mereka akan menerima warisan setelah saudaranya meninggal walaupun tidak ada pertalian darah hingga terjadinya peristiwa Badar, dan Allah menurunkan firman-Nya, وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. Al-Ahzab: 9). Setelah diturunkannya ayat ini, maka hak waris hanya untuk mereka yang memiliki pertalian darah dan bukan dilandasi atas persaudaraan. (Zaad Al-Ma’ad, 3:63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat–dan pendapat ini disepakati oleh muridnya Ibnul Qayyim dan Ibnu Katsir rahimahullah–, ia berkata, “Yang dipersaudarakan oleh Rasulullah adalah antara kaum Muhajirin dan Anshar, sementara beliau tidak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin itu sendiri. Sebab mereka (Muhajirin) lebih membutuhkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan dalam bertetangga, kedekatan nasab dibandingkan dengan atas nama ikatan persaudaraan saja.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3:227) Ibnu Hajar rahimahullah berbeda dalam hal ini, beliau berkata, “Hal ini bukan berarti beliau mengabaikan hikmah dari persaudaraan itu. Sebab, orang-orang Muhajirin, sebagian di antara mereka lebih kuat dalam harta, kekuatan kekeluargaan, serta dalam hal kekuatan fisik. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dengan kata lain antara golongan atas dan bawah agar kondisi kaum Anshar terangkat dan bisa saling membantu.” (Fath Al-Bari, 7:271) Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Awal Hijrah Nabi ke Madinah Faedah Sirah Nabi: Tiba di Kota Madinah dari Hijrah Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.       Diselesaikan di Darush Sholihin, Jumat sore, 6 Maret 2020, 11 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsanshar dermawan faedah sirah nabi hijrah hijrah nabi itsar muhajirin sedekah sirah nabi


Sekarang kita masuk cerita bersaudaranya kaum Muhajirin dan Anshar. Di antara inti hijrah adalah kedatangan kaum Muhajirin dari suku yang berbeda menuju Madinah tanpa ada saudara dan harta. Mereka menuju ke kaum yang belum pernah dikenalnya. Begitu juga halnya dengan kaum Anshar, kaum yang sering melakukan pertumpahan darah di antara mereka, perselisihan, dan pertikaian. Namun, dengan kedatangan kaum Muhajirin, mereka pun menyambutnya dengan baik, seperti yang difirmankan oleh Allah, وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Kaum Anshar yang telah menempati kota Madinah sebagai kota Rasul dan sebagai tempat tinggal, mereka juga telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum kaum Muhajirin datang. Kaum Anshar ini mencintai kaum Muhajirin yang telah meninggalkan rumahnya untuk pindah ke tempat mereka. Hal tersebut cukup sebagai bukti kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin datang ke Madinah dengan meninggalkan keluarga dan harta mereka. Setibanya mereka di Madinah, kaum Anshar pun rela untuk meringankan beban saudara-saudara baru mereka, dengan berlomba-lomba mengeluarkan apa yang mereka miliki. Mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau membagi kurma yang mereka miliki untuk diberikan kepada kaum Muhajirin. Disebutkan dalam sebuah hadits sahih, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Orang Anshar berkata kepada Rasulullah: Bagikanlah kurma ini untuk kami dan mereka.’ Beliau menjawab, ‘Tidak. Tetapi berikanlah kami perbekalan dan kalian libatkan kami dalam perkebunan kurma kalian.’ Mereka menjawab, ‘Ya, kami dengar dan patuh (pada apa yang engkau katakan).’” Kejadian ini merupakan suatu bukti tentang persaudaraan yang sangat agung. Cerita lainnya bisa diperlihatkan dari hadits Anas bin Malik berikut ini. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Lantas ditunjukkanlah kepada ‘Abdurrahman pasar lalu ia berdagang hingga ia mendapat untung yang banyak karena berdagang keju dan samin. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pada ‘Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Apa yang terjadi padamu wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” ‘Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima dirham).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika itu, أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ “Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7:193) Baca Juga: Pelajaran dari Walimah Abdurrahman bin Auf Kaum Anshar memiliki sifat itsaar (lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri), sehingga mereka menawarkan rumah mereka kepada kaum Muhajirin, bahkan di antara mereka ada yang menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sekiranya engkau menghendaki, ambillah salah satu rumah kami untukmu.” Namun, beliau menjawabnya dengan cara yang baik.   Itsar itu apa? Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh. Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan. — Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Jumlah mereka ketika itu sembilan puluh orang; sebagian dari Muhajirin dan sebagian dari Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka atas prinsip sama rata, mereka akan menerima warisan setelah saudaranya meninggal walaupun tidak ada pertalian darah hingga terjadinya peristiwa Badar, dan Allah menurunkan firman-Nya, وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. Al-Ahzab: 9). Setelah diturunkannya ayat ini, maka hak waris hanya untuk mereka yang memiliki pertalian darah dan bukan dilandasi atas persaudaraan. (Zaad Al-Ma’ad, 3:63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat–dan pendapat ini disepakati oleh muridnya Ibnul Qayyim dan Ibnu Katsir rahimahullah–, ia berkata, “Yang dipersaudarakan oleh Rasulullah adalah antara kaum Muhajirin dan Anshar, sementara beliau tidak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin itu sendiri. Sebab mereka (Muhajirin) lebih membutuhkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan dalam bertetangga, kedekatan nasab dibandingkan dengan atas nama ikatan persaudaraan saja.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3:227) Ibnu Hajar rahimahullah berbeda dalam hal ini, beliau berkata, “Hal ini bukan berarti beliau mengabaikan hikmah dari persaudaraan itu. Sebab, orang-orang Muhajirin, sebagian di antara mereka lebih kuat dalam harta, kekuatan kekeluargaan, serta dalam hal kekuatan fisik. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dengan kata lain antara golongan atas dan bawah agar kondisi kaum Anshar terangkat dan bisa saling membantu.” (Fath Al-Bari, 7:271) Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Awal Hijrah Nabi ke Madinah Faedah Sirah Nabi: Tiba di Kota Madinah dari Hijrah Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.       Diselesaikan di Darush Sholihin, Jumat sore, 6 Maret 2020, 11 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download   Download Tagsanshar dermawan faedah sirah nabi hijrah hijrah nabi itsar muhajirin sedekah sirah nabi

Apakah Penjara Bisa Membebaskan Utang? 

Apakah Penjara Bisa Membebaskan Utang?  Jika ada orang yang berutang dan tidak mampu bayar, lalu dia dipenjarakan oleh pemilik utang, apakah kewajiban utangnya menjadi hangus secara otomatis? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ketika ada orang yang memiliki utang, ada 3 keadaan yang disikapi berbeda, Pertama, orang yang berutang dalam kondisi kesulitan dan tidak mampu melunasinya. Dalam kondisi ini, Hakim tidak berhak memenjarakan orang tersebut. Bahkan memenjarakannya termasuk kedzaliman. Allah wajibkan bagi orang yang berutang dan kesulitan untuk melunasi, agar diberi waktu tunda. Allah berfirman, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: 280) Dan percuma saja ketika orang yang tidak mampu dipenjarakan, tetap dia tidak akan mampu melunasi. Karena itu, dia dibiarkan agar bisa bekerja dan berusaha untuk mencicil utangnya. Kedua, Orang yang berutang mampu bayar, sementara dia tidak mau untuk membayar, maka dia boleh dipaksa dengan cara dipenjarakan. Jika setelah dipenjarakan, ternyata dia tetap tidak mau bayar maka hartanya dibekukan (al-Hajar), kemudian dijual secara paksa dan hasilnya dibagikan ke seluruh orang yang memberi utang kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيُّ الوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ Orang mampu yang tidak mau membayar utang menghalalkan kehormatan dan hukumannya. (HR. Nasai 4706,  Abu Daud 3630 dan dihasankan al-Albani) Ketiga, posisinya diragukan, apakah memiliki kemampuan ataukah tidak. Hakim berhak menahan orang ini untuk diinterogasi. Jika bisa dipastikan dia tidak mampu maka dia dilepaskan. Dan jika ternyata dia mampu, maka tetap ditahan sampai dia mau melunasi utangnya. Disimpulkan dari: Mausu’ah al-Fiqh al-Islami Apakah Jika  Sudah Dipenjara Utang Menjadi Lunas? Penjelasan di atas menunjukkan bahwa fungsi memenjarakan orang yang berutang adalah untuk memaksa dia agar mau melunasi utang, bukan untuk menebus dan memutihkan utangnya. Dan ini hanya berlaku bagi orang yang mampu, namun tidak mau bayar. Karena itu, sekalipun dia sudah dipenjarakan, utang tidak otomatis hangus, namun tetap menjadi tanggung jawabnya sampai dilunasi. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan, فما عليك من دين يبقى في ذمتك، ولا يسقطه سجنك، ويجب عليك أداؤه متى ما تمكنت من ذلك Utang yang menjadi tanggung jawab anda tetap menjadi kewajiban anda. Dan tidak gugur disebabkan anda dipenjara, dan wajib bagi anda untuk melunasinya ketika memungkinkan. (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/54380/) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Idul Fitri Artinya, Cara Menghilangkan Santet Pada Diri Sendiri, Kawin Di Kamar Mandi, Daging Kodok Untuk Ibu Hamil, Doa Solat Tahajud Visited 81 times, 1 visit(s) today Post Views: 325 QRIS donasi Yufid

Apakah Penjara Bisa Membebaskan Utang? 

Apakah Penjara Bisa Membebaskan Utang?  Jika ada orang yang berutang dan tidak mampu bayar, lalu dia dipenjarakan oleh pemilik utang, apakah kewajiban utangnya menjadi hangus secara otomatis? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ketika ada orang yang memiliki utang, ada 3 keadaan yang disikapi berbeda, Pertama, orang yang berutang dalam kondisi kesulitan dan tidak mampu melunasinya. Dalam kondisi ini, Hakim tidak berhak memenjarakan orang tersebut. Bahkan memenjarakannya termasuk kedzaliman. Allah wajibkan bagi orang yang berutang dan kesulitan untuk melunasi, agar diberi waktu tunda. Allah berfirman, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: 280) Dan percuma saja ketika orang yang tidak mampu dipenjarakan, tetap dia tidak akan mampu melunasi. Karena itu, dia dibiarkan agar bisa bekerja dan berusaha untuk mencicil utangnya. Kedua, Orang yang berutang mampu bayar, sementara dia tidak mau untuk membayar, maka dia boleh dipaksa dengan cara dipenjarakan. Jika setelah dipenjarakan, ternyata dia tetap tidak mau bayar maka hartanya dibekukan (al-Hajar), kemudian dijual secara paksa dan hasilnya dibagikan ke seluruh orang yang memberi utang kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيُّ الوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ Orang mampu yang tidak mau membayar utang menghalalkan kehormatan dan hukumannya. (HR. Nasai 4706,  Abu Daud 3630 dan dihasankan al-Albani) Ketiga, posisinya diragukan, apakah memiliki kemampuan ataukah tidak. Hakim berhak menahan orang ini untuk diinterogasi. Jika bisa dipastikan dia tidak mampu maka dia dilepaskan. Dan jika ternyata dia mampu, maka tetap ditahan sampai dia mau melunasi utangnya. Disimpulkan dari: Mausu’ah al-Fiqh al-Islami Apakah Jika  Sudah Dipenjara Utang Menjadi Lunas? Penjelasan di atas menunjukkan bahwa fungsi memenjarakan orang yang berutang adalah untuk memaksa dia agar mau melunasi utang, bukan untuk menebus dan memutihkan utangnya. Dan ini hanya berlaku bagi orang yang mampu, namun tidak mau bayar. Karena itu, sekalipun dia sudah dipenjarakan, utang tidak otomatis hangus, namun tetap menjadi tanggung jawabnya sampai dilunasi. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan, فما عليك من دين يبقى في ذمتك، ولا يسقطه سجنك، ويجب عليك أداؤه متى ما تمكنت من ذلك Utang yang menjadi tanggung jawab anda tetap menjadi kewajiban anda. Dan tidak gugur disebabkan anda dipenjara, dan wajib bagi anda untuk melunasinya ketika memungkinkan. (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/54380/) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Idul Fitri Artinya, Cara Menghilangkan Santet Pada Diri Sendiri, Kawin Di Kamar Mandi, Daging Kodok Untuk Ibu Hamil, Doa Solat Tahajud Visited 81 times, 1 visit(s) today Post Views: 325 QRIS donasi Yufid
Apakah Penjara Bisa Membebaskan Utang?  Jika ada orang yang berutang dan tidak mampu bayar, lalu dia dipenjarakan oleh pemilik utang, apakah kewajiban utangnya menjadi hangus secara otomatis? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ketika ada orang yang memiliki utang, ada 3 keadaan yang disikapi berbeda, Pertama, orang yang berutang dalam kondisi kesulitan dan tidak mampu melunasinya. Dalam kondisi ini, Hakim tidak berhak memenjarakan orang tersebut. Bahkan memenjarakannya termasuk kedzaliman. Allah wajibkan bagi orang yang berutang dan kesulitan untuk melunasi, agar diberi waktu tunda. Allah berfirman, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: 280) Dan percuma saja ketika orang yang tidak mampu dipenjarakan, tetap dia tidak akan mampu melunasi. Karena itu, dia dibiarkan agar bisa bekerja dan berusaha untuk mencicil utangnya. Kedua, Orang yang berutang mampu bayar, sementara dia tidak mau untuk membayar, maka dia boleh dipaksa dengan cara dipenjarakan. Jika setelah dipenjarakan, ternyata dia tetap tidak mau bayar maka hartanya dibekukan (al-Hajar), kemudian dijual secara paksa dan hasilnya dibagikan ke seluruh orang yang memberi utang kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيُّ الوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ Orang mampu yang tidak mau membayar utang menghalalkan kehormatan dan hukumannya. (HR. Nasai 4706,  Abu Daud 3630 dan dihasankan al-Albani) Ketiga, posisinya diragukan, apakah memiliki kemampuan ataukah tidak. Hakim berhak menahan orang ini untuk diinterogasi. Jika bisa dipastikan dia tidak mampu maka dia dilepaskan. Dan jika ternyata dia mampu, maka tetap ditahan sampai dia mau melunasi utangnya. Disimpulkan dari: Mausu’ah al-Fiqh al-Islami Apakah Jika  Sudah Dipenjara Utang Menjadi Lunas? Penjelasan di atas menunjukkan bahwa fungsi memenjarakan orang yang berutang adalah untuk memaksa dia agar mau melunasi utang, bukan untuk menebus dan memutihkan utangnya. Dan ini hanya berlaku bagi orang yang mampu, namun tidak mau bayar. Karena itu, sekalipun dia sudah dipenjarakan, utang tidak otomatis hangus, namun tetap menjadi tanggung jawabnya sampai dilunasi. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan, فما عليك من دين يبقى في ذمتك، ولا يسقطه سجنك، ويجب عليك أداؤه متى ما تمكنت من ذلك Utang yang menjadi tanggung jawab anda tetap menjadi kewajiban anda. Dan tidak gugur disebabkan anda dipenjara, dan wajib bagi anda untuk melunasinya ketika memungkinkan. (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/54380/) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Idul Fitri Artinya, Cara Menghilangkan Santet Pada Diri Sendiri, Kawin Di Kamar Mandi, Daging Kodok Untuk Ibu Hamil, Doa Solat Tahajud Visited 81 times, 1 visit(s) today Post Views: 325 QRIS donasi Yufid


Apakah Penjara Bisa Membebaskan Utang?  Jika ada orang yang berutang dan tidak mampu bayar, lalu dia dipenjarakan oleh pemilik utang, apakah kewajiban utangnya menjadi hangus secara otomatis? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ketika ada orang yang memiliki utang, ada 3 keadaan yang disikapi berbeda, Pertama, orang yang berutang dalam kondisi kesulitan dan tidak mampu melunasinya. Dalam kondisi ini, Hakim tidak berhak memenjarakan orang tersebut. Bahkan memenjarakannya termasuk kedzaliman. Allah wajibkan bagi orang yang berutang dan kesulitan untuk melunasi, agar diberi waktu tunda. Allah berfirman, وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: 280) Dan percuma saja ketika orang yang tidak mampu dipenjarakan, tetap dia tidak akan mampu melunasi. Karena itu, dia dibiarkan agar bisa bekerja dan berusaha untuk mencicil utangnya. Kedua, Orang yang berutang mampu bayar, sementara dia tidak mau untuk membayar, maka dia boleh dipaksa dengan cara dipenjarakan. Jika setelah dipenjarakan, ternyata dia tetap tidak mau bayar maka hartanya dibekukan (al-Hajar), kemudian dijual secara paksa dan hasilnya dibagikan ke seluruh orang yang memberi utang kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيُّ الوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ Orang mampu yang tidak mau membayar utang menghalalkan kehormatan dan hukumannya. (HR. Nasai 4706,  Abu Daud 3630 dan dihasankan al-Albani) Ketiga, posisinya diragukan, apakah memiliki kemampuan ataukah tidak. Hakim berhak menahan orang ini untuk diinterogasi. Jika bisa dipastikan dia tidak mampu maka dia dilepaskan. Dan jika ternyata dia mampu, maka tetap ditahan sampai dia mau melunasi utangnya. Disimpulkan dari: Mausu’ah al-Fiqh al-Islami Apakah Jika  Sudah Dipenjara Utang Menjadi Lunas? Penjelasan di atas menunjukkan bahwa fungsi memenjarakan orang yang berutang adalah untuk memaksa dia agar mau melunasi utang, bukan untuk menebus dan memutihkan utangnya. Dan ini hanya berlaku bagi orang yang mampu, namun tidak mau bayar. Karena itu, sekalipun dia sudah dipenjarakan, utang tidak otomatis hangus, namun tetap menjadi tanggung jawabnya sampai dilunasi. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan, فما عليك من دين يبقى في ذمتك، ولا يسقطه سجنك، ويجب عليك أداؤه متى ما تمكنت من ذلك Utang yang menjadi tanggung jawab anda tetap menjadi kewajiban anda. Dan tidak gugur disebabkan anda dipenjara, dan wajib bagi anda untuk melunasinya ketika memungkinkan. (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/54380/) Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Idul Fitri Artinya, Cara Menghilangkan Santet Pada Diri Sendiri, Kawin Di Kamar Mandi, Daging Kodok Untuk Ibu Hamil, Doa Solat Tahajud Visited 81 times, 1 visit(s) today Post Views: 325 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Nama Allah “As-Samii’”

Dalil-dalil yang menunjukkan nama Allah As-Samii’Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-Bashiir (Dzat yang Maha melihat).” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Demikian pula Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha Mengetahui).” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Juga firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-’Aliim (Dzat yang Maha mengetahui).” (QS. Fushilat [41]: 36) Dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang sangat banyak sebagai dalil ditetapkannya nama Allah As-Samii’.Kita pun mendapati dalil dari As-Sunnah, misalnya salah satu doa ta’awudz yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ“Aku berlindung kepada Allah, As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar), dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha mengetahui) dari setan yang terkutuk, dari gangguannya, dari tiupannya dan dari semburannya.” (HR. Abu Dawud no. 775, At-Tirmidzi no. 242, dan Ahmad 18: 51, shahih)Makna As-Samii’Nama Allah Ta’ala As-Samii’ memiliki dua makna,Pertama, mendengar dalam arti merespon (mengabulkan) permohonan hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Makna ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua-(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ke dua, mendengar dalam arti menangkap suara. Makna ke dua ini memiliki beberapa makna turunan. Turunan pertama adalah menunjukkan bahwa tidak ada satu suara pun kecuali pasti didengar oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 1) Ayat ini menunjukkan kesempurnaan sifat mendengar Allah Ta’ala. Oleh karena itu, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ“Segala puji bagi Allah yang pendengarannya meliputi semua suara.” (HR. Ahmad 40: 228)Turunan ke dua adalah mendengar dalam arti memberikan pertolongan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaaha [20]: 46)Turunan ke tiga adalah mendengar dalam arti memberikan ancaman dan peringatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ“Apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 80)Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat agar kita semakin mengenal Allah Ta’ala. Juga agar kita semakin takut kepada Allah Ta’ala karena Dia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 5 Jumadil akhir 1441/ 30 Januari 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 134-135 (cetakan ke empat tahun 1427, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA).

Mengenal Nama Allah “As-Samii’”

Dalil-dalil yang menunjukkan nama Allah As-Samii’Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-Bashiir (Dzat yang Maha melihat).” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Demikian pula Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha Mengetahui).” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Juga firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-’Aliim (Dzat yang Maha mengetahui).” (QS. Fushilat [41]: 36) Dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang sangat banyak sebagai dalil ditetapkannya nama Allah As-Samii’.Kita pun mendapati dalil dari As-Sunnah, misalnya salah satu doa ta’awudz yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ“Aku berlindung kepada Allah, As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar), dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha mengetahui) dari setan yang terkutuk, dari gangguannya, dari tiupannya dan dari semburannya.” (HR. Abu Dawud no. 775, At-Tirmidzi no. 242, dan Ahmad 18: 51, shahih)Makna As-Samii’Nama Allah Ta’ala As-Samii’ memiliki dua makna,Pertama, mendengar dalam arti merespon (mengabulkan) permohonan hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Makna ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua-(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ke dua, mendengar dalam arti menangkap suara. Makna ke dua ini memiliki beberapa makna turunan. Turunan pertama adalah menunjukkan bahwa tidak ada satu suara pun kecuali pasti didengar oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 1) Ayat ini menunjukkan kesempurnaan sifat mendengar Allah Ta’ala. Oleh karena itu, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ“Segala puji bagi Allah yang pendengarannya meliputi semua suara.” (HR. Ahmad 40: 228)Turunan ke dua adalah mendengar dalam arti memberikan pertolongan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaaha [20]: 46)Turunan ke tiga adalah mendengar dalam arti memberikan ancaman dan peringatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ“Apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 80)Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat agar kita semakin mengenal Allah Ta’ala. Juga agar kita semakin takut kepada Allah Ta’ala karena Dia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 5 Jumadil akhir 1441/ 30 Januari 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 134-135 (cetakan ke empat tahun 1427, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA).
Dalil-dalil yang menunjukkan nama Allah As-Samii’Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-Bashiir (Dzat yang Maha melihat).” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Demikian pula Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha Mengetahui).” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Juga firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-’Aliim (Dzat yang Maha mengetahui).” (QS. Fushilat [41]: 36) Dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang sangat banyak sebagai dalil ditetapkannya nama Allah As-Samii’.Kita pun mendapati dalil dari As-Sunnah, misalnya salah satu doa ta’awudz yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ“Aku berlindung kepada Allah, As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar), dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha mengetahui) dari setan yang terkutuk, dari gangguannya, dari tiupannya dan dari semburannya.” (HR. Abu Dawud no. 775, At-Tirmidzi no. 242, dan Ahmad 18: 51, shahih)Makna As-Samii’Nama Allah Ta’ala As-Samii’ memiliki dua makna,Pertama, mendengar dalam arti merespon (mengabulkan) permohonan hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Makna ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua-(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ke dua, mendengar dalam arti menangkap suara. Makna ke dua ini memiliki beberapa makna turunan. Turunan pertama adalah menunjukkan bahwa tidak ada satu suara pun kecuali pasti didengar oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 1) Ayat ini menunjukkan kesempurnaan sifat mendengar Allah Ta’ala. Oleh karena itu, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ“Segala puji bagi Allah yang pendengarannya meliputi semua suara.” (HR. Ahmad 40: 228)Turunan ke dua adalah mendengar dalam arti memberikan pertolongan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaaha [20]: 46)Turunan ke tiga adalah mendengar dalam arti memberikan ancaman dan peringatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ“Apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 80)Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat agar kita semakin mengenal Allah Ta’ala. Juga agar kita semakin takut kepada Allah Ta’ala karena Dia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 5 Jumadil akhir 1441/ 30 Januari 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 134-135 (cetakan ke empat tahun 1427, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA).


Dalil-dalil yang menunjukkan nama Allah As-Samii’Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-Bashiir (Dzat yang Maha melihat).” (QS. Asy-Syura [42]: 11)Demikian pula Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha Mengetahui).” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Juga firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-’Aliim (Dzat yang Maha mengetahui).” (QS. Fushilat [41]: 36) Dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang sangat banyak sebagai dalil ditetapkannya nama Allah As-Samii’.Kita pun mendapati dalil dari As-Sunnah, misalnya salah satu doa ta’awudz yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ“Aku berlindung kepada Allah, As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar), dan Al-‘Aliim (Dzat yang Maha mengetahui) dari setan yang terkutuk, dari gangguannya, dari tiupannya dan dari semburannya.” (HR. Abu Dawud no. 775, At-Tirmidzi no. 242, dan Ahmad 18: 51, shahih)Makna As-Samii’Nama Allah Ta’ala As-Samii’ memiliki dua makna,Pertama, mendengar dalam arti merespon (mengabulkan) permohonan hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Makna ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua-(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ke dua, mendengar dalam arti menangkap suara. Makna ke dua ini memiliki beberapa makna turunan. Turunan pertama adalah menunjukkan bahwa tidak ada satu suara pun kecuali pasti didengar oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 1) Ayat ini menunjukkan kesempurnaan sifat mendengar Allah Ta’ala. Oleh karena itu, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ“Segala puji bagi Allah yang pendengarannya meliputi semua suara.” (HR. Ahmad 40: 228)Turunan ke dua adalah mendengar dalam arti memberikan pertolongan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaaha [20]: 46)Turunan ke tiga adalah mendengar dalam arti memberikan ancaman dan peringatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ“Apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 80)Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat agar kita semakin mengenal Allah Ta’ala. Juga agar kita semakin takut kepada Allah Ta’ala karena Dia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 5 Jumadil akhir 1441/ 30 Januari 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 134-135 (cetakan ke empat tahun 1427, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA).

Belajar Tafsir Bukan Prioritas Terakhir

Belajar Tafsir Bukan Prioritas Terakhir Salah satu yang menjadi masalah besar bagi ummat Islam, yang menjadi PR besar bagi mereka, adalah kemampuan dalam memahami al-Qur’an dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan karena kebanyakan ummat Islam tidak memiliki ilmu yang cukup kuat untuk bisa memahami isi Qur’an dengan baik. Memang wajar juga dikarenakan untuk bisa mempelajari makna-makna ayat Ilahi tersebut memerlukan penguasaan terhadap berbagai bidang ilmu syar’i. Terlebih di Indonesia yang sekaligus merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim yang terbanyak, penguasaan ilmu-ilmu yang terkait Qur’an lebih susah untuk diaplikasikan. Hal ini dikarenakan kurangnya penguasaan bahasa arab di masyarakat kita, maka tantangan tersebut menjadi satu tingkat lebih tinggi dibandingkan di berbagai negara yang sudah terbiasa memakai bahasa arab dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membantu mengatasi hal itulah TafsirWeb hadir di tengah masyarakat Indonesia. Dengan visi menjadi salah satu rujukan dalam mencari tafsir ayat yang cepat dan mudah digunakan, insyaaAllah TafsirWeb berusaha menjadi salah satu alat bantu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan visi menjadi pusat rujukan tafsir terpercaya, maka bukan sembarang tafsir yang disediakan di website ini. Akan tetapi tafsir-tafsir yang dikeluarkan oleh lembaga terpercata seperti Kementrian Agama RI, dari Kementrian Agama Saudi Arabia, Tafsir al-Mukhtashar yang disupervisi Dr. Shalih Humaid (Imam Masjidil Haram) dan lain sebagainya. Tafsir Surat-Surat Populer Pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan muncul di benak kita setelah tahu tentang pentingnya belajar tafsir adalah, surat atau ayat apa saja yang perlu untuk dipelajari? Mana yang lebih perlu didahulukan? Jawaban pertanyaan pertama tentu saja semua surat dan ayat penting dan perlu untuk dipelajari. Adapun jawaban kedua, kami menyarankan untuk membaca tafsir dari berbagai surat populer terlebih dahulu, dikarenakan akrabnya kita dengan surat-surat tersebut. Adapun surat-surat yang dimaksud sebagai berikut: Yasin. Populer dibaca di Indonesia setiap malam Jum’at, atau saat beberapa hari setelah ada peristiwa kematian, dan seterusnya. Kegiatan tersebut kerap menjadi polemik di masyarakat terkait hukum fiqihnya, akan tetapi karena popularitas yang sangat tinggi dari surat inilah kami menyarankan Anda untuk mengetahui maknanya. Agar kita tahu makna surat-surat yang sering dibaca di sekitar kita. al-Kahfi. Sama dengan surat Yasin, surat al-Kahfi pun merupakan surat populer yang sering dibaca pada hari Jum’at. Hal ini didukung oleh hadits yang shahih. Karena ini pun sering dibaca, kami menyarankan Anda untuk mengetahui tafsirnya juga. Al-Waqiah. Sering disebut juga sebagai surat kekayaan karena ada hadits yang menyatakan fadhilah surat terkait masalah rezeki, sayang haditsnya palsu. Akan tetapi tidak ada salahnya membaca tafsir surat yang satu ini. ar-Rahman. Surat yang indah dengan susunan kalimat yang indah, menjadikan surat ini sering dibaca di berbagai kesempatan shalat berjama’ah. Pelajari tafsirnya agar Anda bisa memahami maknanya saat imam membaca surat ini. al-Baqarah. Sangat banyak pelajaran terkait aqidah, ibadah, kisah dan hukum dalam surat yang paling panjang di dalam al-Qur’an ini. Maka sangat layak dibaca agar tidak terlewat memahami maknanya. al-Mulk. Apa makna al-Mulk? Siapa yang menguasainya? Apa tujuan penciptaan kita? Demikianlah beberapa poin yang akan Anda pelajari dalam tafsir surat ini. al-Fatihah. Tentu tidak pas dan tidak pantas kalau kita membaca surat yang satu ini miminal 17 kali dalam sehari, akan tetapi sebanyak itu pula kita tidak mengerti maknanya. adh-Dhuha. Inilah sepenggal waktu dalam kehidupan yang kita lalui setiap harinya. Sangat layak untuk diketahui maknanya agar kita teringat maknanya dan mengambil pelajaran darinya. an-Naba. Surat pertama dari juz terakhir, juz yang sangat sering dibaca oleh ummat Islam di Indonesia. Mulailah mempelajari tafsir juz terakhir dari sini hingga berakhir di surat an-Naas insyaaAllah banyak manfaatnya. Yusuf. Apa kisah terbaik di dalam Qur’an? Baca jawabannya di awal-awal surat yang satu ini. Bagaimana kisahnya? Apa pelajarannya? Mari pelajari tafsirnya. Demikian beberapa surat dalam al-Qur’an yang banyak berisikan pelajaran berharga, yang kami urutkan berdasar popularitasnya di dunia maya, yang kami sarankan untuk dibaca tafsirnya. Mulai membaca dari yang mana pun tidak salah, bahkan membaca tafsir surat yang lainnya pun tidak masalah. Selama itu mendekatkan diri kita kepada al-Qur’an segalanya menjadi indah. 🔍 Pengertian Imam Mahdi, Roh Hewan Setelah Mati Menurut Islam, Hukum Mencicipi Masakan Saat Puasa, Suami Istri Dunia Akhirat, Doa Sholat Bahasa Indonesia, Utang Piutang Dalam Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid

Belajar Tafsir Bukan Prioritas Terakhir

Belajar Tafsir Bukan Prioritas Terakhir Salah satu yang menjadi masalah besar bagi ummat Islam, yang menjadi PR besar bagi mereka, adalah kemampuan dalam memahami al-Qur’an dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan karena kebanyakan ummat Islam tidak memiliki ilmu yang cukup kuat untuk bisa memahami isi Qur’an dengan baik. Memang wajar juga dikarenakan untuk bisa mempelajari makna-makna ayat Ilahi tersebut memerlukan penguasaan terhadap berbagai bidang ilmu syar’i. Terlebih di Indonesia yang sekaligus merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim yang terbanyak, penguasaan ilmu-ilmu yang terkait Qur’an lebih susah untuk diaplikasikan. Hal ini dikarenakan kurangnya penguasaan bahasa arab di masyarakat kita, maka tantangan tersebut menjadi satu tingkat lebih tinggi dibandingkan di berbagai negara yang sudah terbiasa memakai bahasa arab dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membantu mengatasi hal itulah TafsirWeb hadir di tengah masyarakat Indonesia. Dengan visi menjadi salah satu rujukan dalam mencari tafsir ayat yang cepat dan mudah digunakan, insyaaAllah TafsirWeb berusaha menjadi salah satu alat bantu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan visi menjadi pusat rujukan tafsir terpercaya, maka bukan sembarang tafsir yang disediakan di website ini. Akan tetapi tafsir-tafsir yang dikeluarkan oleh lembaga terpercata seperti Kementrian Agama RI, dari Kementrian Agama Saudi Arabia, Tafsir al-Mukhtashar yang disupervisi Dr. Shalih Humaid (Imam Masjidil Haram) dan lain sebagainya. Tafsir Surat-Surat Populer Pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan muncul di benak kita setelah tahu tentang pentingnya belajar tafsir adalah, surat atau ayat apa saja yang perlu untuk dipelajari? Mana yang lebih perlu didahulukan? Jawaban pertanyaan pertama tentu saja semua surat dan ayat penting dan perlu untuk dipelajari. Adapun jawaban kedua, kami menyarankan untuk membaca tafsir dari berbagai surat populer terlebih dahulu, dikarenakan akrabnya kita dengan surat-surat tersebut. Adapun surat-surat yang dimaksud sebagai berikut: Yasin. Populer dibaca di Indonesia setiap malam Jum’at, atau saat beberapa hari setelah ada peristiwa kematian, dan seterusnya. Kegiatan tersebut kerap menjadi polemik di masyarakat terkait hukum fiqihnya, akan tetapi karena popularitas yang sangat tinggi dari surat inilah kami menyarankan Anda untuk mengetahui maknanya. Agar kita tahu makna surat-surat yang sering dibaca di sekitar kita. al-Kahfi. Sama dengan surat Yasin, surat al-Kahfi pun merupakan surat populer yang sering dibaca pada hari Jum’at. Hal ini didukung oleh hadits yang shahih. Karena ini pun sering dibaca, kami menyarankan Anda untuk mengetahui tafsirnya juga. Al-Waqiah. Sering disebut juga sebagai surat kekayaan karena ada hadits yang menyatakan fadhilah surat terkait masalah rezeki, sayang haditsnya palsu. Akan tetapi tidak ada salahnya membaca tafsir surat yang satu ini. ar-Rahman. Surat yang indah dengan susunan kalimat yang indah, menjadikan surat ini sering dibaca di berbagai kesempatan shalat berjama’ah. Pelajari tafsirnya agar Anda bisa memahami maknanya saat imam membaca surat ini. al-Baqarah. Sangat banyak pelajaran terkait aqidah, ibadah, kisah dan hukum dalam surat yang paling panjang di dalam al-Qur’an ini. Maka sangat layak dibaca agar tidak terlewat memahami maknanya. al-Mulk. Apa makna al-Mulk? Siapa yang menguasainya? Apa tujuan penciptaan kita? Demikianlah beberapa poin yang akan Anda pelajari dalam tafsir surat ini. al-Fatihah. Tentu tidak pas dan tidak pantas kalau kita membaca surat yang satu ini miminal 17 kali dalam sehari, akan tetapi sebanyak itu pula kita tidak mengerti maknanya. adh-Dhuha. Inilah sepenggal waktu dalam kehidupan yang kita lalui setiap harinya. Sangat layak untuk diketahui maknanya agar kita teringat maknanya dan mengambil pelajaran darinya. an-Naba. Surat pertama dari juz terakhir, juz yang sangat sering dibaca oleh ummat Islam di Indonesia. Mulailah mempelajari tafsir juz terakhir dari sini hingga berakhir di surat an-Naas insyaaAllah banyak manfaatnya. Yusuf. Apa kisah terbaik di dalam Qur’an? Baca jawabannya di awal-awal surat yang satu ini. Bagaimana kisahnya? Apa pelajarannya? Mari pelajari tafsirnya. Demikian beberapa surat dalam al-Qur’an yang banyak berisikan pelajaran berharga, yang kami urutkan berdasar popularitasnya di dunia maya, yang kami sarankan untuk dibaca tafsirnya. Mulai membaca dari yang mana pun tidak salah, bahkan membaca tafsir surat yang lainnya pun tidak masalah. Selama itu mendekatkan diri kita kepada al-Qur’an segalanya menjadi indah. 🔍 Pengertian Imam Mahdi, Roh Hewan Setelah Mati Menurut Islam, Hukum Mencicipi Masakan Saat Puasa, Suami Istri Dunia Akhirat, Doa Sholat Bahasa Indonesia, Utang Piutang Dalam Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid
Belajar Tafsir Bukan Prioritas Terakhir Salah satu yang menjadi masalah besar bagi ummat Islam, yang menjadi PR besar bagi mereka, adalah kemampuan dalam memahami al-Qur’an dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan karena kebanyakan ummat Islam tidak memiliki ilmu yang cukup kuat untuk bisa memahami isi Qur’an dengan baik. Memang wajar juga dikarenakan untuk bisa mempelajari makna-makna ayat Ilahi tersebut memerlukan penguasaan terhadap berbagai bidang ilmu syar’i. Terlebih di Indonesia yang sekaligus merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim yang terbanyak, penguasaan ilmu-ilmu yang terkait Qur’an lebih susah untuk diaplikasikan. Hal ini dikarenakan kurangnya penguasaan bahasa arab di masyarakat kita, maka tantangan tersebut menjadi satu tingkat lebih tinggi dibandingkan di berbagai negara yang sudah terbiasa memakai bahasa arab dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membantu mengatasi hal itulah TafsirWeb hadir di tengah masyarakat Indonesia. Dengan visi menjadi salah satu rujukan dalam mencari tafsir ayat yang cepat dan mudah digunakan, insyaaAllah TafsirWeb berusaha menjadi salah satu alat bantu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan visi menjadi pusat rujukan tafsir terpercaya, maka bukan sembarang tafsir yang disediakan di website ini. Akan tetapi tafsir-tafsir yang dikeluarkan oleh lembaga terpercata seperti Kementrian Agama RI, dari Kementrian Agama Saudi Arabia, Tafsir al-Mukhtashar yang disupervisi Dr. Shalih Humaid (Imam Masjidil Haram) dan lain sebagainya. Tafsir Surat-Surat Populer Pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan muncul di benak kita setelah tahu tentang pentingnya belajar tafsir adalah, surat atau ayat apa saja yang perlu untuk dipelajari? Mana yang lebih perlu didahulukan? Jawaban pertanyaan pertama tentu saja semua surat dan ayat penting dan perlu untuk dipelajari. Adapun jawaban kedua, kami menyarankan untuk membaca tafsir dari berbagai surat populer terlebih dahulu, dikarenakan akrabnya kita dengan surat-surat tersebut. Adapun surat-surat yang dimaksud sebagai berikut: Yasin. Populer dibaca di Indonesia setiap malam Jum’at, atau saat beberapa hari setelah ada peristiwa kematian, dan seterusnya. Kegiatan tersebut kerap menjadi polemik di masyarakat terkait hukum fiqihnya, akan tetapi karena popularitas yang sangat tinggi dari surat inilah kami menyarankan Anda untuk mengetahui maknanya. Agar kita tahu makna surat-surat yang sering dibaca di sekitar kita. al-Kahfi. Sama dengan surat Yasin, surat al-Kahfi pun merupakan surat populer yang sering dibaca pada hari Jum’at. Hal ini didukung oleh hadits yang shahih. Karena ini pun sering dibaca, kami menyarankan Anda untuk mengetahui tafsirnya juga. Al-Waqiah. Sering disebut juga sebagai surat kekayaan karena ada hadits yang menyatakan fadhilah surat terkait masalah rezeki, sayang haditsnya palsu. Akan tetapi tidak ada salahnya membaca tafsir surat yang satu ini. ar-Rahman. Surat yang indah dengan susunan kalimat yang indah, menjadikan surat ini sering dibaca di berbagai kesempatan shalat berjama’ah. Pelajari tafsirnya agar Anda bisa memahami maknanya saat imam membaca surat ini. al-Baqarah. Sangat banyak pelajaran terkait aqidah, ibadah, kisah dan hukum dalam surat yang paling panjang di dalam al-Qur’an ini. Maka sangat layak dibaca agar tidak terlewat memahami maknanya. al-Mulk. Apa makna al-Mulk? Siapa yang menguasainya? Apa tujuan penciptaan kita? Demikianlah beberapa poin yang akan Anda pelajari dalam tafsir surat ini. al-Fatihah. Tentu tidak pas dan tidak pantas kalau kita membaca surat yang satu ini miminal 17 kali dalam sehari, akan tetapi sebanyak itu pula kita tidak mengerti maknanya. adh-Dhuha. Inilah sepenggal waktu dalam kehidupan yang kita lalui setiap harinya. Sangat layak untuk diketahui maknanya agar kita teringat maknanya dan mengambil pelajaran darinya. an-Naba. Surat pertama dari juz terakhir, juz yang sangat sering dibaca oleh ummat Islam di Indonesia. Mulailah mempelajari tafsir juz terakhir dari sini hingga berakhir di surat an-Naas insyaaAllah banyak manfaatnya. Yusuf. Apa kisah terbaik di dalam Qur’an? Baca jawabannya di awal-awal surat yang satu ini. Bagaimana kisahnya? Apa pelajarannya? Mari pelajari tafsirnya. Demikian beberapa surat dalam al-Qur’an yang banyak berisikan pelajaran berharga, yang kami urutkan berdasar popularitasnya di dunia maya, yang kami sarankan untuk dibaca tafsirnya. Mulai membaca dari yang mana pun tidak salah, bahkan membaca tafsir surat yang lainnya pun tidak masalah. Selama itu mendekatkan diri kita kepada al-Qur’an segalanya menjadi indah. 🔍 Pengertian Imam Mahdi, Roh Hewan Setelah Mati Menurut Islam, Hukum Mencicipi Masakan Saat Puasa, Suami Istri Dunia Akhirat, Doa Sholat Bahasa Indonesia, Utang Piutang Dalam Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1440575194&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Belajar Tafsir Bukan Prioritas Terakhir Salah satu yang menjadi masalah besar bagi ummat Islam, yang menjadi PR besar bagi mereka, adalah kemampuan dalam memahami al-Qur’an dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan karena kebanyakan ummat Islam tidak memiliki ilmu yang cukup kuat untuk bisa memahami isi Qur’an dengan baik. Memang wajar juga dikarenakan untuk bisa mempelajari makna-makna ayat Ilahi tersebut memerlukan penguasaan terhadap berbagai bidang ilmu syar’i. Terlebih di Indonesia yang sekaligus merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim yang terbanyak, penguasaan ilmu-ilmu yang terkait Qur’an lebih susah untuk diaplikasikan. Hal ini dikarenakan kurangnya penguasaan bahasa arab di masyarakat kita, maka tantangan tersebut menjadi satu tingkat lebih tinggi dibandingkan di berbagai negara yang sudah terbiasa memakai bahasa arab dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membantu mengatasi hal itulah TafsirWeb hadir di tengah masyarakat Indonesia. Dengan visi menjadi salah satu rujukan dalam mencari tafsir ayat yang cepat dan mudah digunakan, insyaaAllah TafsirWeb berusaha menjadi salah satu alat bantu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan visi menjadi pusat rujukan tafsir terpercaya, maka bukan sembarang tafsir yang disediakan di website ini. Akan tetapi tafsir-tafsir yang dikeluarkan oleh lembaga terpercata seperti Kementrian Agama RI, dari Kementrian Agama Saudi Arabia, Tafsir al-Mukhtashar yang disupervisi Dr. Shalih Humaid (Imam Masjidil Haram) dan lain sebagainya. Tafsir Surat-Surat Populer Pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan muncul di benak kita setelah tahu tentang pentingnya belajar tafsir adalah, surat atau ayat apa saja yang perlu untuk dipelajari? Mana yang lebih perlu didahulukan? Jawaban pertanyaan pertama tentu saja semua surat dan ayat penting dan perlu untuk dipelajari. Adapun jawaban kedua, kami menyarankan untuk membaca tafsir dari berbagai surat populer terlebih dahulu, dikarenakan akrabnya kita dengan surat-surat tersebut. Adapun surat-surat yang dimaksud sebagai berikut: Yasin. Populer dibaca di Indonesia setiap malam Jum’at, atau saat beberapa hari setelah ada peristiwa kematian, dan seterusnya. Kegiatan tersebut kerap menjadi polemik di masyarakat terkait hukum fiqihnya, akan tetapi karena popularitas yang sangat tinggi dari surat inilah kami menyarankan Anda untuk mengetahui maknanya. Agar kita tahu makna surat-surat yang sering dibaca di sekitar kita. al-Kahfi. Sama dengan surat Yasin, surat al-Kahfi pun merupakan surat populer yang sering dibaca pada hari Jum’at. Hal ini didukung oleh hadits yang shahih. Karena ini pun sering dibaca, kami menyarankan Anda untuk mengetahui tafsirnya juga. Al-Waqiah. Sering disebut juga sebagai surat kekayaan karena ada hadits yang menyatakan fadhilah surat terkait masalah rezeki, sayang haditsnya palsu. Akan tetapi tidak ada salahnya membaca tafsir surat yang satu ini. ar-Rahman. Surat yang indah dengan susunan kalimat yang indah, menjadikan surat ini sering dibaca di berbagai kesempatan shalat berjama’ah. Pelajari tafsirnya agar Anda bisa memahami maknanya saat imam membaca surat ini. al-Baqarah. Sangat banyak pelajaran terkait aqidah, ibadah, kisah dan hukum dalam surat yang paling panjang di dalam al-Qur’an ini. Maka sangat layak dibaca agar tidak terlewat memahami maknanya. al-Mulk. Apa makna al-Mulk? Siapa yang menguasainya? Apa tujuan penciptaan kita? Demikianlah beberapa poin yang akan Anda pelajari dalam tafsir surat ini. al-Fatihah. Tentu tidak pas dan tidak pantas kalau kita membaca surat yang satu ini miminal 17 kali dalam sehari, akan tetapi sebanyak itu pula kita tidak mengerti maknanya. adh-Dhuha. Inilah sepenggal waktu dalam kehidupan yang kita lalui setiap harinya. Sangat layak untuk diketahui maknanya agar kita teringat maknanya dan mengambil pelajaran darinya. an-Naba. Surat pertama dari juz terakhir, juz yang sangat sering dibaca oleh ummat Islam di Indonesia. Mulailah mempelajari tafsir juz terakhir dari sini hingga berakhir di surat an-Naas insyaaAllah banyak manfaatnya. Yusuf. Apa kisah terbaik di dalam Qur’an? Baca jawabannya di awal-awal surat yang satu ini. Bagaimana kisahnya? Apa pelajarannya? Mari pelajari tafsirnya. Demikian beberapa surat dalam al-Qur’an yang banyak berisikan pelajaran berharga, yang kami urutkan berdasar popularitasnya di dunia maya, yang kami sarankan untuk dibaca tafsirnya. Mulai membaca dari yang mana pun tidak salah, bahkan membaca tafsir surat yang lainnya pun tidak masalah. Selama itu mendekatkan diri kita kepada al-Qur’an segalanya menjadi indah. 🔍 Pengertian Imam Mahdi, Roh Hewan Setelah Mati Menurut Islam, Hukum Mencicipi Masakan Saat Puasa, Suami Istri Dunia Akhirat, Doa Sholat Bahasa Indonesia, Utang Piutang Dalam Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Dimana Letak Benteng Dzulqarnain?

Dimana Letak Benteng Dzulqarnain? Dmn letak benteng Dzulqarnain yg dikenal sebagai tmpt dikurung nya Ya’juj dan Ma’juj? Apkh saat ini sudah ada? Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah (situs lembaga fatwa yang bermarkas di Doha, Qatar) dijelaskan jawabannya: فإن سد ذي القرنين لا يزال موجودا إلى الآن ولن يزال كذلك حتى يأتي وعد الله بخروج يأجوج ومأجوج منه بعد أن يجعله الله دكا بعد خروج الدجال ونزول عيسى Benteng Dzulqarnain telah ada sampai sekarang. Benteng itu tetap kokoh sampai tiba waktu yang Allah janjikan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari benteng tersebut. Yaitu setelah Allah hancurkan tembok itu; sesudah kemunculan Dajjal dan setelah turunnya Nabi Isa.  وقد أخبر الرسول صلى الله عليه وسلم أنه فتح منه مثل حلقة على قدر تحليق اجتماع السبابة والإبهام، فقال كما في حديث الصحيحين: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di saat itu, benteng Dzulqarnain terbuka sebesar lingkaran dirham, seperti lingkaran jari telunjuk dan jempol. Sebagaimana Nabi sabdakan dalam hadis di Shahih Bukhori dan Shahih Muslim: لا إله إلا الله ويل للعرب من شر قد اقترب، فتح اليوم من ردم يأجوج ومأجوج مثل هذه وحلق بأصبعيه الإبهام والتي تليها. “Laa ilaaha illallah! Celaka bangsa Arab dari keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini benteng Ya’juj dan Ma’juj terbuka sebesar ini.” Beliau melingkarkan jari-jemari dengan jempol. وأما مكان وجوده فإنه ليس معروفا بالتأكيد الآن، وإنما يذكر بعض الناس أنه وراء الصين ويذكر بعضهم أنه في جورجيا في جبال القوقاز قرب أذربيجان وأرمينية ويدل له أثر مروي عن ابن عباس وقيل إنه في أواخر شمال الأرض وقيل غير ذلك، وقال الألوسي: ولعله قد حال بيننا وبين ذلك الموضع مياه عظيمة، Adapun tentang letaknya, sampai saat ini tidak bisa diketahui secara pasti. Sebagian orang berpendapat, letaknya di: – Seberang China – Georgia, tepatnya di pegunungan Kaukakus, berdekatan dengan Azerbaijan. – Ujung semenanjung timur bumi. Dalilnya adalah riwayat dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. – “Bisa jadi tempatnya terpisah dengan kita oleh air yang sangat dalam.” tutur Al-Alusi. وكلام الألوسي كلام وجيه، فقد يكون مكان السد مغمورا بمياه البحار وقد غمرت قرى كثيرة بالردم أو الحرق واكتشف بعضها ولا يزال البعض الاخر غير معروف بوجه دقيق حتى الآن كموقع إرم ذات العماد. Pendapat Al-Alusi ini cukup berdasar. Bisa jadi benteng itu tertutupi lautan. Sebagaimana ditemukannya kota-kota yang hancur ditimbun tanah atau terbakar. Sebagian kota itu dapat diketahui namun sebagiannya tidak diketahui secara detail sampai saat ini. Seperti kota tempat tinggalnya kaum yang sangat kuat; Irom (‘Ad). Wallahua’lam. Referensi: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/53805/ Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Islam Ldii, Berdzikir Dalam Hati, Berapa Surat Dalam Alquran, Doa Ruqyah Syariah, Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam, Tanda Wanita Bersuami Menyukai Kita Visited 20 times, 1 visit(s) today Post Views: 236

Dimana Letak Benteng Dzulqarnain?

Dimana Letak Benteng Dzulqarnain? Dmn letak benteng Dzulqarnain yg dikenal sebagai tmpt dikurung nya Ya’juj dan Ma’juj? Apkh saat ini sudah ada? Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah (situs lembaga fatwa yang bermarkas di Doha, Qatar) dijelaskan jawabannya: فإن سد ذي القرنين لا يزال موجودا إلى الآن ولن يزال كذلك حتى يأتي وعد الله بخروج يأجوج ومأجوج منه بعد أن يجعله الله دكا بعد خروج الدجال ونزول عيسى Benteng Dzulqarnain telah ada sampai sekarang. Benteng itu tetap kokoh sampai tiba waktu yang Allah janjikan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari benteng tersebut. Yaitu setelah Allah hancurkan tembok itu; sesudah kemunculan Dajjal dan setelah turunnya Nabi Isa.  وقد أخبر الرسول صلى الله عليه وسلم أنه فتح منه مثل حلقة على قدر تحليق اجتماع السبابة والإبهام، فقال كما في حديث الصحيحين: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di saat itu, benteng Dzulqarnain terbuka sebesar lingkaran dirham, seperti lingkaran jari telunjuk dan jempol. Sebagaimana Nabi sabdakan dalam hadis di Shahih Bukhori dan Shahih Muslim: لا إله إلا الله ويل للعرب من شر قد اقترب، فتح اليوم من ردم يأجوج ومأجوج مثل هذه وحلق بأصبعيه الإبهام والتي تليها. “Laa ilaaha illallah! Celaka bangsa Arab dari keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini benteng Ya’juj dan Ma’juj terbuka sebesar ini.” Beliau melingkarkan jari-jemari dengan jempol. وأما مكان وجوده فإنه ليس معروفا بالتأكيد الآن، وإنما يذكر بعض الناس أنه وراء الصين ويذكر بعضهم أنه في جورجيا في جبال القوقاز قرب أذربيجان وأرمينية ويدل له أثر مروي عن ابن عباس وقيل إنه في أواخر شمال الأرض وقيل غير ذلك، وقال الألوسي: ولعله قد حال بيننا وبين ذلك الموضع مياه عظيمة، Adapun tentang letaknya, sampai saat ini tidak bisa diketahui secara pasti. Sebagian orang berpendapat, letaknya di: – Seberang China – Georgia, tepatnya di pegunungan Kaukakus, berdekatan dengan Azerbaijan. – Ujung semenanjung timur bumi. Dalilnya adalah riwayat dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. – “Bisa jadi tempatnya terpisah dengan kita oleh air yang sangat dalam.” tutur Al-Alusi. وكلام الألوسي كلام وجيه، فقد يكون مكان السد مغمورا بمياه البحار وقد غمرت قرى كثيرة بالردم أو الحرق واكتشف بعضها ولا يزال البعض الاخر غير معروف بوجه دقيق حتى الآن كموقع إرم ذات العماد. Pendapat Al-Alusi ini cukup berdasar. Bisa jadi benteng itu tertutupi lautan. Sebagaimana ditemukannya kota-kota yang hancur ditimbun tanah atau terbakar. Sebagian kota itu dapat diketahui namun sebagiannya tidak diketahui secara detail sampai saat ini. Seperti kota tempat tinggalnya kaum yang sangat kuat; Irom (‘Ad). Wallahua’lam. Referensi: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/53805/ Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Islam Ldii, Berdzikir Dalam Hati, Berapa Surat Dalam Alquran, Doa Ruqyah Syariah, Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam, Tanda Wanita Bersuami Menyukai Kita Visited 20 times, 1 visit(s) today Post Views: 236
Dimana Letak Benteng Dzulqarnain? Dmn letak benteng Dzulqarnain yg dikenal sebagai tmpt dikurung nya Ya’juj dan Ma’juj? Apkh saat ini sudah ada? Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah (situs lembaga fatwa yang bermarkas di Doha, Qatar) dijelaskan jawabannya: فإن سد ذي القرنين لا يزال موجودا إلى الآن ولن يزال كذلك حتى يأتي وعد الله بخروج يأجوج ومأجوج منه بعد أن يجعله الله دكا بعد خروج الدجال ونزول عيسى Benteng Dzulqarnain telah ada sampai sekarang. Benteng itu tetap kokoh sampai tiba waktu yang Allah janjikan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari benteng tersebut. Yaitu setelah Allah hancurkan tembok itu; sesudah kemunculan Dajjal dan setelah turunnya Nabi Isa.  وقد أخبر الرسول صلى الله عليه وسلم أنه فتح منه مثل حلقة على قدر تحليق اجتماع السبابة والإبهام، فقال كما في حديث الصحيحين: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di saat itu, benteng Dzulqarnain terbuka sebesar lingkaran dirham, seperti lingkaran jari telunjuk dan jempol. Sebagaimana Nabi sabdakan dalam hadis di Shahih Bukhori dan Shahih Muslim: لا إله إلا الله ويل للعرب من شر قد اقترب، فتح اليوم من ردم يأجوج ومأجوج مثل هذه وحلق بأصبعيه الإبهام والتي تليها. “Laa ilaaha illallah! Celaka bangsa Arab dari keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini benteng Ya’juj dan Ma’juj terbuka sebesar ini.” Beliau melingkarkan jari-jemari dengan jempol. وأما مكان وجوده فإنه ليس معروفا بالتأكيد الآن، وإنما يذكر بعض الناس أنه وراء الصين ويذكر بعضهم أنه في جورجيا في جبال القوقاز قرب أذربيجان وأرمينية ويدل له أثر مروي عن ابن عباس وقيل إنه في أواخر شمال الأرض وقيل غير ذلك، وقال الألوسي: ولعله قد حال بيننا وبين ذلك الموضع مياه عظيمة، Adapun tentang letaknya, sampai saat ini tidak bisa diketahui secara pasti. Sebagian orang berpendapat, letaknya di: – Seberang China – Georgia, tepatnya di pegunungan Kaukakus, berdekatan dengan Azerbaijan. – Ujung semenanjung timur bumi. Dalilnya adalah riwayat dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. – “Bisa jadi tempatnya terpisah dengan kita oleh air yang sangat dalam.” tutur Al-Alusi. وكلام الألوسي كلام وجيه، فقد يكون مكان السد مغمورا بمياه البحار وقد غمرت قرى كثيرة بالردم أو الحرق واكتشف بعضها ولا يزال البعض الاخر غير معروف بوجه دقيق حتى الآن كموقع إرم ذات العماد. Pendapat Al-Alusi ini cukup berdasar. Bisa jadi benteng itu tertutupi lautan. Sebagaimana ditemukannya kota-kota yang hancur ditimbun tanah atau terbakar. Sebagian kota itu dapat diketahui namun sebagiannya tidak diketahui secara detail sampai saat ini. Seperti kota tempat tinggalnya kaum yang sangat kuat; Irom (‘Ad). Wallahua’lam. Referensi: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/53805/ Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Islam Ldii, Berdzikir Dalam Hati, Berapa Surat Dalam Alquran, Doa Ruqyah Syariah, Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam, Tanda Wanita Bersuami Menyukai Kita Visited 20 times, 1 visit(s) today Post Views: 236


Dimana Letak Benteng Dzulqarnain? Dmn letak benteng Dzulqarnain yg dikenal sebagai tmpt dikurung nya Ya’juj dan Ma’juj? Apkh saat ini sudah ada? Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah (situs lembaga fatwa yang bermarkas di Doha, Qatar) dijelaskan jawabannya: فإن سد ذي القرنين لا يزال موجودا إلى الآن ولن يزال كذلك حتى يأتي وعد الله بخروج يأجوج ومأجوج منه بعد أن يجعله الله دكا بعد خروج الدجال ونزول عيسى Benteng Dzulqarnain telah ada sampai sekarang. Benteng itu tetap kokoh sampai tiba waktu yang Allah janjikan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari benteng tersebut. Yaitu setelah Allah hancurkan tembok itu; sesudah kemunculan Dajjal dan setelah turunnya Nabi Isa.  وقد أخبر الرسول صلى الله عليه وسلم أنه فتح منه مثل حلقة على قدر تحليق اجتماع السبابة والإبهام، فقال كما في حديث الصحيحين: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di saat itu, benteng Dzulqarnain terbuka sebesar lingkaran dirham, seperti lingkaran jari telunjuk dan jempol. Sebagaimana Nabi sabdakan dalam hadis di Shahih Bukhori dan Shahih Muslim: لا إله إلا الله ويل للعرب من شر قد اقترب، فتح اليوم من ردم يأجوج ومأجوج مثل هذه وحلق بأصبعيه الإبهام والتي تليها. “Laa ilaaha illallah! Celaka bangsa Arab dari keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini benteng Ya’juj dan Ma’juj terbuka sebesar ini.” Beliau melingkarkan jari-jemari dengan jempol. وأما مكان وجوده فإنه ليس معروفا بالتأكيد الآن، وإنما يذكر بعض الناس أنه وراء الصين ويذكر بعضهم أنه في جورجيا في جبال القوقاز قرب أذربيجان وأرمينية ويدل له أثر مروي عن ابن عباس وقيل إنه في أواخر شمال الأرض وقيل غير ذلك، وقال الألوسي: ولعله قد حال بيننا وبين ذلك الموضع مياه عظيمة، Adapun tentang letaknya, sampai saat ini tidak bisa diketahui secara pasti. Sebagian orang berpendapat, letaknya di: – Seberang China – Georgia, tepatnya di pegunungan Kaukakus, berdekatan dengan Azerbaijan. – Ujung semenanjung timur bumi. Dalilnya adalah riwayat dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. – “Bisa jadi tempatnya terpisah dengan kita oleh air yang sangat dalam.” tutur Al-Alusi. وكلام الألوسي كلام وجيه، فقد يكون مكان السد مغمورا بمياه البحار وقد غمرت قرى كثيرة بالردم أو الحرق واكتشف بعضها ولا يزال البعض الاخر غير معروف بوجه دقيق حتى الآن كموقع إرم ذات العماد. Pendapat Al-Alusi ini cukup berdasar. Bisa jadi benteng itu tertutupi lautan. Sebagaimana ditemukannya kota-kota yang hancur ditimbun tanah atau terbakar. Sebagian kota itu dapat diketahui namun sebagiannya tidak diketahui secara detail sampai saat ini. Seperti kota tempat tinggalnya kaum yang sangat kuat; Irom (‘Ad). Wallahua’lam. Referensi: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/53805/ Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta <iframe src="https://www.youtube.com/embed/b3Xgeywxxes" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe> Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Islam Ldii, Berdzikir Dalam Hati, Berapa Surat Dalam Alquran, Doa Ruqyah Syariah, Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam, Tanda Wanita Bersuami Menyukai Kita Visited 20 times, 1 visit(s) today Post Views: 236

Hukum Mengkhususkan Hari Raya dan Hari Jum’at untuk Ziarah Kubur

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimanakah hukum mengkhususkan dua hari raya (yaitu, ‘idul fitri dan ‘idul adha) dan hari Jum’at untuk ziarah kubur? Apakah di dua kesempatan tersebut ziarah ditujukan kepada orang yang masih hidup ataukah yang sudah meninggal?Jawaban:Perbuatan tersebut tidak memiliki landasan (dari syari’at). Mengkhususkan ziarah kubur di hari ‘id dan meyakini bahwa perkara tersebut disyariatkan dinilai termasuk dalam perbuatan bid’ah. Hal ini karena perbuatan tersebut tidak berasal dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku tidak mengetahui satu pun ulama yang mengatakannya [1].Adapun (ziarah kubur) pada hari Jum’at, sebagian ulama menyebutkan bahwa hendaknya melakukan ziarah kubur di hari Jum’at [2]. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menyebutkan -berkaitan dengan anjuran tersebut- riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [3]Di kesempatan yang lain, beliau rahimahullah mengatakan,فإنه يجب على المؤمن أن يكون فيها متبعاً لا مبتدعاً متبعاً في هيئتها وفي زمنها وهذا الزمن الذي خصصه هؤلاء وهو ما بعد صلاة العيدين يخرجون إلى المقبرة هذا الزمن ليس وارداً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع“Wajib atas setiap mukmin untuk ittiba’, dan tidak berbuat bid’ah (menjadi mubtadi’). Ittiba’ (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik berkaitan dengan tatacara maupun waktu (pelaksanaan suatu ibadah). Adapun waktu yang mereka khususkan di antaranya adalah setelah shalat ‘id, mereka pun pergi menuju pemakaman. (Pengistimewaan atau pengkhususan) waktu semacam ini tidaklah berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhusukan (mengistimewakan) makam untuk diziarahi setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhusukan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu dinilai sebagai perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk mengaitkannya. Meskipun pada asalnya, ziarah kubur itu disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut (yang pada asalnya disyariatkan) dikhusukan di hari itu (hari ‘id) atau setelah shalat ‘id, inilah sisi kebid’ahannya.” [4] Catatan penting dari perkataan beliau tersebut adalah bahwa yang kita ingkari adalah mengkhususkan ziarah kubur di waktu-waktu tertentu tanpa ada landasan dalil dari syraiat. Sedangkan ziarah kubur itu sendiri, termasuk perkara yang disyariatkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 22 Jumadil akhir 1441/ 16 Februari 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Argumentasi lainnya adalah bahwa hari raya idul fitri dan idul adha adalah hari untuk bersenang-senang dan menampakkan kegembiraan, bukan untuk menunjukkan kesedihan dengan mendatangi pemakaman. Oleh karena itu, kebiasaan mengunjungi pemakaman setelah shalat ‘id merupakan kebiasaan yang tidak dibenarkan. [2] Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,استَحبَّ العُلَمَاءُ زِيَارَةَ القُبُورِ يَومَ الجُمعَةِ دونَ العِيدَينِ“Para ulama menganjurkan ziarah kubur pada hari Jum’at, namun tidak pada hari raya.” (Irsyaad Uulil Bashaair, hal. 67) [3] Diterjemahkan dari kitab 70 Su’aalan fi Ahkaamil Janaaiz hal. 39-40; karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.[4] Fataawa Nuur ‘ala Darb, 3: 40. 🔍 Hadist Tentang Sahabat, Hitungan Rakaat Makmum Masbuk, Dalil Tentang Puasa, Agama Yang Paling Benar Menurut Para Ahli, Waktu Yang Diharamkan Berpuasa

Hukum Mengkhususkan Hari Raya dan Hari Jum’at untuk Ziarah Kubur

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimanakah hukum mengkhususkan dua hari raya (yaitu, ‘idul fitri dan ‘idul adha) dan hari Jum’at untuk ziarah kubur? Apakah di dua kesempatan tersebut ziarah ditujukan kepada orang yang masih hidup ataukah yang sudah meninggal?Jawaban:Perbuatan tersebut tidak memiliki landasan (dari syari’at). Mengkhususkan ziarah kubur di hari ‘id dan meyakini bahwa perkara tersebut disyariatkan dinilai termasuk dalam perbuatan bid’ah. Hal ini karena perbuatan tersebut tidak berasal dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku tidak mengetahui satu pun ulama yang mengatakannya [1].Adapun (ziarah kubur) pada hari Jum’at, sebagian ulama menyebutkan bahwa hendaknya melakukan ziarah kubur di hari Jum’at [2]. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menyebutkan -berkaitan dengan anjuran tersebut- riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [3]Di kesempatan yang lain, beliau rahimahullah mengatakan,فإنه يجب على المؤمن أن يكون فيها متبعاً لا مبتدعاً متبعاً في هيئتها وفي زمنها وهذا الزمن الذي خصصه هؤلاء وهو ما بعد صلاة العيدين يخرجون إلى المقبرة هذا الزمن ليس وارداً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع“Wajib atas setiap mukmin untuk ittiba’, dan tidak berbuat bid’ah (menjadi mubtadi’). Ittiba’ (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik berkaitan dengan tatacara maupun waktu (pelaksanaan suatu ibadah). Adapun waktu yang mereka khususkan di antaranya adalah setelah shalat ‘id, mereka pun pergi menuju pemakaman. (Pengistimewaan atau pengkhususan) waktu semacam ini tidaklah berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhusukan (mengistimewakan) makam untuk diziarahi setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhusukan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu dinilai sebagai perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk mengaitkannya. Meskipun pada asalnya, ziarah kubur itu disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut (yang pada asalnya disyariatkan) dikhusukan di hari itu (hari ‘id) atau setelah shalat ‘id, inilah sisi kebid’ahannya.” [4] Catatan penting dari perkataan beliau tersebut adalah bahwa yang kita ingkari adalah mengkhususkan ziarah kubur di waktu-waktu tertentu tanpa ada landasan dalil dari syraiat. Sedangkan ziarah kubur itu sendiri, termasuk perkara yang disyariatkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 22 Jumadil akhir 1441/ 16 Februari 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Argumentasi lainnya adalah bahwa hari raya idul fitri dan idul adha adalah hari untuk bersenang-senang dan menampakkan kegembiraan, bukan untuk menunjukkan kesedihan dengan mendatangi pemakaman. Oleh karena itu, kebiasaan mengunjungi pemakaman setelah shalat ‘id merupakan kebiasaan yang tidak dibenarkan. [2] Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,استَحبَّ العُلَمَاءُ زِيَارَةَ القُبُورِ يَومَ الجُمعَةِ دونَ العِيدَينِ“Para ulama menganjurkan ziarah kubur pada hari Jum’at, namun tidak pada hari raya.” (Irsyaad Uulil Bashaair, hal. 67) [3] Diterjemahkan dari kitab 70 Su’aalan fi Ahkaamil Janaaiz hal. 39-40; karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.[4] Fataawa Nuur ‘ala Darb, 3: 40. 🔍 Hadist Tentang Sahabat, Hitungan Rakaat Makmum Masbuk, Dalil Tentang Puasa, Agama Yang Paling Benar Menurut Para Ahli, Waktu Yang Diharamkan Berpuasa
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimanakah hukum mengkhususkan dua hari raya (yaitu, ‘idul fitri dan ‘idul adha) dan hari Jum’at untuk ziarah kubur? Apakah di dua kesempatan tersebut ziarah ditujukan kepada orang yang masih hidup ataukah yang sudah meninggal?Jawaban:Perbuatan tersebut tidak memiliki landasan (dari syari’at). Mengkhususkan ziarah kubur di hari ‘id dan meyakini bahwa perkara tersebut disyariatkan dinilai termasuk dalam perbuatan bid’ah. Hal ini karena perbuatan tersebut tidak berasal dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku tidak mengetahui satu pun ulama yang mengatakannya [1].Adapun (ziarah kubur) pada hari Jum’at, sebagian ulama menyebutkan bahwa hendaknya melakukan ziarah kubur di hari Jum’at [2]. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menyebutkan -berkaitan dengan anjuran tersebut- riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [3]Di kesempatan yang lain, beliau rahimahullah mengatakan,فإنه يجب على المؤمن أن يكون فيها متبعاً لا مبتدعاً متبعاً في هيئتها وفي زمنها وهذا الزمن الذي خصصه هؤلاء وهو ما بعد صلاة العيدين يخرجون إلى المقبرة هذا الزمن ليس وارداً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع“Wajib atas setiap mukmin untuk ittiba’, dan tidak berbuat bid’ah (menjadi mubtadi’). Ittiba’ (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik berkaitan dengan tatacara maupun waktu (pelaksanaan suatu ibadah). Adapun waktu yang mereka khususkan di antaranya adalah setelah shalat ‘id, mereka pun pergi menuju pemakaman. (Pengistimewaan atau pengkhususan) waktu semacam ini tidaklah berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhusukan (mengistimewakan) makam untuk diziarahi setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhusukan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu dinilai sebagai perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk mengaitkannya. Meskipun pada asalnya, ziarah kubur itu disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut (yang pada asalnya disyariatkan) dikhusukan di hari itu (hari ‘id) atau setelah shalat ‘id, inilah sisi kebid’ahannya.” [4] Catatan penting dari perkataan beliau tersebut adalah bahwa yang kita ingkari adalah mengkhususkan ziarah kubur di waktu-waktu tertentu tanpa ada landasan dalil dari syraiat. Sedangkan ziarah kubur itu sendiri, termasuk perkara yang disyariatkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 22 Jumadil akhir 1441/ 16 Februari 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Argumentasi lainnya adalah bahwa hari raya idul fitri dan idul adha adalah hari untuk bersenang-senang dan menampakkan kegembiraan, bukan untuk menunjukkan kesedihan dengan mendatangi pemakaman. Oleh karena itu, kebiasaan mengunjungi pemakaman setelah shalat ‘id merupakan kebiasaan yang tidak dibenarkan. [2] Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,استَحبَّ العُلَمَاءُ زِيَارَةَ القُبُورِ يَومَ الجُمعَةِ دونَ العِيدَينِ“Para ulama menganjurkan ziarah kubur pada hari Jum’at, namun tidak pada hari raya.” (Irsyaad Uulil Bashaair, hal. 67) [3] Diterjemahkan dari kitab 70 Su’aalan fi Ahkaamil Janaaiz hal. 39-40; karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.[4] Fataawa Nuur ‘ala Darb, 3: 40. 🔍 Hadist Tentang Sahabat, Hitungan Rakaat Makmum Masbuk, Dalil Tentang Puasa, Agama Yang Paling Benar Menurut Para Ahli, Waktu Yang Diharamkan Berpuasa


Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimanakah hukum mengkhususkan dua hari raya (yaitu, ‘idul fitri dan ‘idul adha) dan hari Jum’at untuk ziarah kubur? Apakah di dua kesempatan tersebut ziarah ditujukan kepada orang yang masih hidup ataukah yang sudah meninggal?Jawaban:Perbuatan tersebut tidak memiliki landasan (dari syari’at). Mengkhususkan ziarah kubur di hari ‘id dan meyakini bahwa perkara tersebut disyariatkan dinilai termasuk dalam perbuatan bid’ah. Hal ini karena perbuatan tersebut tidak berasal dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku tidak mengetahui satu pun ulama yang mengatakannya [1].Adapun (ziarah kubur) pada hari Jum’at, sebagian ulama menyebutkan bahwa hendaknya melakukan ziarah kubur di hari Jum’at [2]. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menyebutkan -berkaitan dengan anjuran tersebut- riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [3]Di kesempatan yang lain, beliau rahimahullah mengatakan,فإنه يجب على المؤمن أن يكون فيها متبعاً لا مبتدعاً متبعاً في هيئتها وفي زمنها وهذا الزمن الذي خصصه هؤلاء وهو ما بعد صلاة العيدين يخرجون إلى المقبرة هذا الزمن ليس وارداً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع“Wajib atas setiap mukmin untuk ittiba’, dan tidak berbuat bid’ah (menjadi mubtadi’). Ittiba’ (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik berkaitan dengan tatacara maupun waktu (pelaksanaan suatu ibadah). Adapun waktu yang mereka khususkan di antaranya adalah setelah shalat ‘id, mereka pun pergi menuju pemakaman. (Pengistimewaan atau pengkhususan) waktu semacam ini tidaklah berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhusukan (mengistimewakan) makam untuk diziarahi setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhusukan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu dinilai sebagai perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk mengaitkannya. Meskipun pada asalnya, ziarah kubur itu disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut (yang pada asalnya disyariatkan) dikhusukan di hari itu (hari ‘id) atau setelah shalat ‘id, inilah sisi kebid’ahannya.” [4] Catatan penting dari perkataan beliau tersebut adalah bahwa yang kita ingkari adalah mengkhususkan ziarah kubur di waktu-waktu tertentu tanpa ada landasan dalil dari syraiat. Sedangkan ziarah kubur itu sendiri, termasuk perkara yang disyariatkan.[Selesai]***@Rumah Lendah, 22 Jumadil akhir 1441/ 16 Februari 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Argumentasi lainnya adalah bahwa hari raya idul fitri dan idul adha adalah hari untuk bersenang-senang dan menampakkan kegembiraan, bukan untuk menunjukkan kesedihan dengan mendatangi pemakaman. Oleh karena itu, kebiasaan mengunjungi pemakaman setelah shalat ‘id merupakan kebiasaan yang tidak dibenarkan. [2] Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,استَحبَّ العُلَمَاءُ زِيَارَةَ القُبُورِ يَومَ الجُمعَةِ دونَ العِيدَينِ“Para ulama menganjurkan ziarah kubur pada hari Jum’at, namun tidak pada hari raya.” (Irsyaad Uulil Bashaair, hal. 67) [3] Diterjemahkan dari kitab 70 Su’aalan fi Ahkaamil Janaaiz hal. 39-40; karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.[4] Fataawa Nuur ‘ala Darb, 3: 40. 🔍 Hadist Tentang Sahabat, Hitungan Rakaat Makmum Masbuk, Dalil Tentang Puasa, Agama Yang Paling Benar Menurut Para Ahli, Waktu Yang Diharamkan Berpuasa

Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa?

Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa? Ust, pernah denger klo yg ngga ngamalin ilmunya nanti diazab sama Allah. Klo orang salah tapi blm tau maka dimaafkan Allah. Nah, terkadang trs jadi muncul inisiatif, ngga usah belajar saja, klo tau trs ngelanggar malah berdosa… Mohon pencerahannya Ust? Syukron… Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Seringkali memang setan datang kepada kita menampakkan sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu adalah tipu muslihat agar kita jauh dari kebenaran. Terlebih menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, karena seorang hamba tak akan bisa menghamba secara profesional kepada Allah, tanpa ilmu. Setan menyadari ini sehingga mereka berusaha sekuat tenaga menghalangi manusia dari ibadah menuntut ilmu. Maka, bila mendengar bisikan seperti itu, dan bisikan-bisikan lain yang mendorong kita untuk malas menuntut ilmu, bergegaslah berlindung kepada Allah… A’udzubillahi minas syaithoonir rojiim “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Tentu kesimpulan seperti itu tidak benar. Alasannya adalah berikut: Pertama, menuntut ilmu hukumnya wajib. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah) Sehingga dengan enggan belajar agama, padahal mampu dan sarana pun ada, maka dia telah terjatuh pada dosa besar, berupa meninggalkan kewajiban. Inginnya terbebas dari dosa, saat melakukan dosa karena tidak tahu kalau itu dilarang, ternyata justru dengan sikap enggan menuntut ilmu, sudah jatuh pada dosa. Lihatlah bagaimana kelicikan setan dalam menipu manusia. Kedua, yang diberi uzur karena kebodohan adalah orang yang tidak ada akses menerima kebenaran. Seperti dia tinggal di pelosok hutan, atau di puncak gunung, yang tidak ada akses menerima dakwah Islam. Sinyal tak ada, dai yang berdakwah ke sana pun tak ada. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, mereka menganut agama nenek moyang. Orang seperti ini kondisinya, mungkin mendapatkan pemakluman karena kebodohannya. Karena Allah tak membebani manusia di luar kemampuan, Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286) وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng-azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS Al-Isra’ : 15). رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allāh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’ : 165). Adapun kita yang tinggal di lingkungan banyak pengajian, atau kalau pun jarang sekarang ada internet, parabola dan sarana lainnya, maka tak ada pemakluman atas kebodohan kita. Ketiga, itu namanya berpaling dari kebenaran (i’rodh). Saat kemampuan untuk mendengar ilmu ada, namun tetap enggan belajar, ini menunjukkan ada sikap berpaling dari kebenaran atau disebut i’rodh. Akibat dari sikap ini tak main-main, Allah memperingatkan, وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Tha-Ha : 124) Keempat, kufur nikmat. Allah bekali manusia sarana-sarana menangkap ilmu, berupa pendengaran, penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78) Cara mensyukurinya adalah, dengan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yaitu untuk menerima ilmu. Ketika seorang memiliki kemampuan untuk menggunakan penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri, artinya tak ada sedikitpun yang cacat, kemudian ia enggan menuntut Ilmu, maka ia telah kufur nikmat. Di ayat-ayat selanjutnya, Allah menjelaskan akibat dari kufur nikmat ini. فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nahl : 82) يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. (QS. An-Nahl : 83) وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) dibolehkan memohon ampunan. (QS. An-Nahl : 84) وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ Dan apabila orang zhalim telah menyaksikan azab, maka mereka tidak mendapat keringanan dan tidak (pula) diberi penangguhan. (QS. An-Nahl : 85). Demikian, Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Zarrah, Ibadah Di Bulan Rajab, Dosa Selingkuh, Arah Kepala Saat Tidur Menurut Islam, Gambar Surat Kursi, Cara Sholat Yang Benar Menurut Islam Visited 258 times, 1 visit(s) today Post Views: 635 QRIS donasi Yufid

Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa?

Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa? Ust, pernah denger klo yg ngga ngamalin ilmunya nanti diazab sama Allah. Klo orang salah tapi blm tau maka dimaafkan Allah. Nah, terkadang trs jadi muncul inisiatif, ngga usah belajar saja, klo tau trs ngelanggar malah berdosa… Mohon pencerahannya Ust? Syukron… Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Seringkali memang setan datang kepada kita menampakkan sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu adalah tipu muslihat agar kita jauh dari kebenaran. Terlebih menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, karena seorang hamba tak akan bisa menghamba secara profesional kepada Allah, tanpa ilmu. Setan menyadari ini sehingga mereka berusaha sekuat tenaga menghalangi manusia dari ibadah menuntut ilmu. Maka, bila mendengar bisikan seperti itu, dan bisikan-bisikan lain yang mendorong kita untuk malas menuntut ilmu, bergegaslah berlindung kepada Allah… A’udzubillahi minas syaithoonir rojiim “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Tentu kesimpulan seperti itu tidak benar. Alasannya adalah berikut: Pertama, menuntut ilmu hukumnya wajib. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah) Sehingga dengan enggan belajar agama, padahal mampu dan sarana pun ada, maka dia telah terjatuh pada dosa besar, berupa meninggalkan kewajiban. Inginnya terbebas dari dosa, saat melakukan dosa karena tidak tahu kalau itu dilarang, ternyata justru dengan sikap enggan menuntut ilmu, sudah jatuh pada dosa. Lihatlah bagaimana kelicikan setan dalam menipu manusia. Kedua, yang diberi uzur karena kebodohan adalah orang yang tidak ada akses menerima kebenaran. Seperti dia tinggal di pelosok hutan, atau di puncak gunung, yang tidak ada akses menerima dakwah Islam. Sinyal tak ada, dai yang berdakwah ke sana pun tak ada. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, mereka menganut agama nenek moyang. Orang seperti ini kondisinya, mungkin mendapatkan pemakluman karena kebodohannya. Karena Allah tak membebani manusia di luar kemampuan, Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286) وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng-azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS Al-Isra’ : 15). رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allāh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’ : 165). Adapun kita yang tinggal di lingkungan banyak pengajian, atau kalau pun jarang sekarang ada internet, parabola dan sarana lainnya, maka tak ada pemakluman atas kebodohan kita. Ketiga, itu namanya berpaling dari kebenaran (i’rodh). Saat kemampuan untuk mendengar ilmu ada, namun tetap enggan belajar, ini menunjukkan ada sikap berpaling dari kebenaran atau disebut i’rodh. Akibat dari sikap ini tak main-main, Allah memperingatkan, وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Tha-Ha : 124) Keempat, kufur nikmat. Allah bekali manusia sarana-sarana menangkap ilmu, berupa pendengaran, penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78) Cara mensyukurinya adalah, dengan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yaitu untuk menerima ilmu. Ketika seorang memiliki kemampuan untuk menggunakan penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri, artinya tak ada sedikitpun yang cacat, kemudian ia enggan menuntut Ilmu, maka ia telah kufur nikmat. Di ayat-ayat selanjutnya, Allah menjelaskan akibat dari kufur nikmat ini. فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nahl : 82) يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. (QS. An-Nahl : 83) وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) dibolehkan memohon ampunan. (QS. An-Nahl : 84) وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ Dan apabila orang zhalim telah menyaksikan azab, maka mereka tidak mendapat keringanan dan tidak (pula) diberi penangguhan. (QS. An-Nahl : 85). Demikian, Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Zarrah, Ibadah Di Bulan Rajab, Dosa Selingkuh, Arah Kepala Saat Tidur Menurut Islam, Gambar Surat Kursi, Cara Sholat Yang Benar Menurut Islam Visited 258 times, 1 visit(s) today Post Views: 635 QRIS donasi Yufid
Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa? Ust, pernah denger klo yg ngga ngamalin ilmunya nanti diazab sama Allah. Klo orang salah tapi blm tau maka dimaafkan Allah. Nah, terkadang trs jadi muncul inisiatif, ngga usah belajar saja, klo tau trs ngelanggar malah berdosa… Mohon pencerahannya Ust? Syukron… Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Seringkali memang setan datang kepada kita menampakkan sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu adalah tipu muslihat agar kita jauh dari kebenaran. Terlebih menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, karena seorang hamba tak akan bisa menghamba secara profesional kepada Allah, tanpa ilmu. Setan menyadari ini sehingga mereka berusaha sekuat tenaga menghalangi manusia dari ibadah menuntut ilmu. Maka, bila mendengar bisikan seperti itu, dan bisikan-bisikan lain yang mendorong kita untuk malas menuntut ilmu, bergegaslah berlindung kepada Allah… A’udzubillahi minas syaithoonir rojiim “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Tentu kesimpulan seperti itu tidak benar. Alasannya adalah berikut: Pertama, menuntut ilmu hukumnya wajib. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah) Sehingga dengan enggan belajar agama, padahal mampu dan sarana pun ada, maka dia telah terjatuh pada dosa besar, berupa meninggalkan kewajiban. Inginnya terbebas dari dosa, saat melakukan dosa karena tidak tahu kalau itu dilarang, ternyata justru dengan sikap enggan menuntut ilmu, sudah jatuh pada dosa. Lihatlah bagaimana kelicikan setan dalam menipu manusia. Kedua, yang diberi uzur karena kebodohan adalah orang yang tidak ada akses menerima kebenaran. Seperti dia tinggal di pelosok hutan, atau di puncak gunung, yang tidak ada akses menerima dakwah Islam. Sinyal tak ada, dai yang berdakwah ke sana pun tak ada. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, mereka menganut agama nenek moyang. Orang seperti ini kondisinya, mungkin mendapatkan pemakluman karena kebodohannya. Karena Allah tak membebani manusia di luar kemampuan, Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286) وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng-azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS Al-Isra’ : 15). رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allāh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’ : 165). Adapun kita yang tinggal di lingkungan banyak pengajian, atau kalau pun jarang sekarang ada internet, parabola dan sarana lainnya, maka tak ada pemakluman atas kebodohan kita. Ketiga, itu namanya berpaling dari kebenaran (i’rodh). Saat kemampuan untuk mendengar ilmu ada, namun tetap enggan belajar, ini menunjukkan ada sikap berpaling dari kebenaran atau disebut i’rodh. Akibat dari sikap ini tak main-main, Allah memperingatkan, وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Tha-Ha : 124) Keempat, kufur nikmat. Allah bekali manusia sarana-sarana menangkap ilmu, berupa pendengaran, penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78) Cara mensyukurinya adalah, dengan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yaitu untuk menerima ilmu. Ketika seorang memiliki kemampuan untuk menggunakan penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri, artinya tak ada sedikitpun yang cacat, kemudian ia enggan menuntut Ilmu, maka ia telah kufur nikmat. Di ayat-ayat selanjutnya, Allah menjelaskan akibat dari kufur nikmat ini. فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nahl : 82) يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. (QS. An-Nahl : 83) وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) dibolehkan memohon ampunan. (QS. An-Nahl : 84) وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ Dan apabila orang zhalim telah menyaksikan azab, maka mereka tidak mendapat keringanan dan tidak (pula) diberi penangguhan. (QS. An-Nahl : 85). Demikian, Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Zarrah, Ibadah Di Bulan Rajab, Dosa Selingkuh, Arah Kepala Saat Tidur Menurut Islam, Gambar Surat Kursi, Cara Sholat Yang Benar Menurut Islam Visited 258 times, 1 visit(s) today Post Views: 635 QRIS donasi Yufid


Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa? Ust, pernah denger klo yg ngga ngamalin ilmunya nanti diazab sama Allah. Klo orang salah tapi blm tau maka dimaafkan Allah. Nah, terkadang trs jadi muncul inisiatif, ngga usah belajar saja, klo tau trs ngelanggar malah berdosa… Mohon pencerahannya Ust? Syukron… Jawaban: Bismillah walhamdulillah wash sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Seringkali memang setan datang kepada kita menampakkan sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu adalah tipu muslihat agar kita jauh dari kebenaran. Terlebih menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, karena seorang hamba tak akan bisa menghamba secara profesional kepada Allah, tanpa ilmu. Setan menyadari ini sehingga mereka berusaha sekuat tenaga menghalangi manusia dari ibadah menuntut ilmu. Maka, bila mendengar bisikan seperti itu, dan bisikan-bisikan lain yang mendorong kita untuk malas menuntut ilmu, bergegaslah berlindung kepada Allah… A’udzubillahi minas syaithoonir rojiim “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Tentu kesimpulan seperti itu tidak benar. Alasannya adalah berikut: Pertama, menuntut ilmu hukumnya wajib. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah) Sehingga dengan enggan belajar agama, padahal mampu dan sarana pun ada, maka dia telah terjatuh pada dosa besar, berupa meninggalkan kewajiban. Inginnya terbebas dari dosa, saat melakukan dosa karena tidak tahu kalau itu dilarang, ternyata justru dengan sikap enggan menuntut ilmu, sudah jatuh pada dosa. Lihatlah bagaimana kelicikan setan dalam menipu manusia. Kedua, yang diberi uzur karena kebodohan adalah orang yang tidak ada akses menerima kebenaran. Seperti dia tinggal di pelosok hutan, atau di puncak gunung, yang tidak ada akses menerima dakwah Islam. Sinyal tak ada, dai yang berdakwah ke sana pun tak ada. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, mereka menganut agama nenek moyang. Orang seperti ini kondisinya, mungkin mendapatkan pemakluman karena kebodohannya. Karena Allah tak membebani manusia di luar kemampuan, Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286) وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا “Dan Kami tidak akan meng-azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS Al-Isra’ : 15). رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allāh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’ : 165). Adapun kita yang tinggal di lingkungan banyak pengajian, atau kalau pun jarang sekarang ada internet, parabola dan sarana lainnya, maka tak ada pemakluman atas kebodohan kita. Ketiga, itu namanya berpaling dari kebenaran (i’rodh). Saat kemampuan untuk mendengar ilmu ada, namun tetap enggan belajar, ini menunjukkan ada sikap berpaling dari kebenaran atau disebut i’rodh. Akibat dari sikap ini tak main-main, Allah memperingatkan, وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Tha-Ha : 124) Keempat, kufur nikmat. Allah bekali manusia sarana-sarana menangkap ilmu, berupa pendengaran, penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78) Cara mensyukurinya adalah, dengan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yaitu untuk menerima ilmu. Ketika seorang memiliki kemampuan untuk menggunakan penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri, artinya tak ada sedikitpun yang cacat, kemudian ia enggan menuntut Ilmu, maka ia telah kufur nikmat. Di ayat-ayat selanjutnya, Allah menjelaskan akibat dari kufur nikmat ini. فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nahl : 82) يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. (QS. An-Nahl : 83) وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) dibolehkan memohon ampunan. (QS. An-Nahl : 84) وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ Dan apabila orang zhalim telah menyaksikan azab, maka mereka tidak mendapat keringanan dan tidak (pula) diberi penangguhan. (QS. An-Nahl : 85). Demikian, Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Zarrah, Ibadah Di Bulan Rajab, Dosa Selingkuh, Arah Kepala Saat Tidur Menurut Islam, Gambar Surat Kursi, Cara Sholat Yang Benar Menurut Islam Visited 258 times, 1 visit(s) today Post Views: 635 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Adab Ketika Bersin dan Menguap

Bagaimana adab ketika bersin? Bagus sekali jika kita mau pelajari dari Riyadhus Sholihin kali ini. Daftar Isi tutup 1. Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap 1.1. Hadits #878 1.2. Faedah Hadits 1.3. Hadits #879 1.4. Faedah Hadits 1.5. Hadits #880 1.6. Faedah Hadits 1.7. Hadits #881 1.8. Faedah Hadits 1.9. Hadits #882 1.10. Hadits #883 1.11. Hadits #884 1.11.1. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَابُ اِسْتِحْبَابِ تَشْمِيْتِ العَاطِسِ إِذَا حَمِدَ اللهَ تَعَالَى وَكَرَاهَةَ تَشْمِيْتِهِ إِذَا لَمْ يَحْمِدِ اللهَ تَعَالَى وَبَيَانِ آدَابِ التَّشْمِيْتِ وَالعَطَاسِ وَالتَّثَاؤُبِ Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap   Hadits #878 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إَنَّ اللهَ يُحِبُّ العُطَاسَ ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ ، فَإذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى كَانَ حَقّاً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإذَا تَثَاءَبَ أحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ ، فَإنَّ أحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka, apabila salah seorang di antara kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap orang muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu)’.” Adapun menguap, maka itu adalah dari setan. Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya semampu mungkin. Karena, jika salah seorang di antara kalian menguap maka setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6223]   Faedah Hadits Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Allah memiliki sifat cinta (al-mahabbah) dan sifat benci (al-karah). Disunnahkan bersegera mengucapkan YARHAMUKALLAH ketika mendengar orang yang bersin mengucapkan ALHAMDULILLAH. Mengucapkan YARHAMUKALLAH berlaku jika mendengar orang bersin dan mendengarnya mengucapkan ALHAMDULILLAH. Jika tidak mendengar ia bersin dan tidak pula mengucapkan ALHAMDULILLAH, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Setiap yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah (mengucapkan ALHAMDULILLAH), maka hendaklah mengucapkan YARHAMUKALLAH, hukumnya fardhu ‘ain—menurut Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin–. Setan menguasai manusia ketika ia menguap, akhirnya ia malas dalam ibadah dan tidak semangat. Setiap menguap itu dari setan, maka hendaklah menguap ditahan semampunya. Setan punya sifat tertawa, di antaranya ketika melihat ada yang menguap.   Hadits #879 وَعَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : الحَمْدُ للهِ ، وَلْيَقُلْ لَهُ أخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ . فَإذَا قَالَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، فَليَقُلْ : يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, ‘ALHAMDULILLAH (artinya: segala puji bagi Allah)’. Dan hendaklah saudaranya atau rekannya mengucapkan untuknya, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: Semoga Allah merahmatimu)’. Maka apabila ia telah mengucapkan semoga Allah merahmatimu, hendaklah yang bersin mengucapkan, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSH-LIH BAALAKUM (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian)’.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6224]   Faedah Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pada umat perihal bersin dan bagaimana menjawabnya. Hadits ini menunjukkan besarnya nikmat Allah bagi orang yang bersin, dan ada kebaikan di dalamnya. Nikmat Allah diberikan lewat bersin, karena ada mudarat yang dihilangkan saat itu. Bersin menunjukkan karunia Allah pada hamba sehingga dianjurkan membaca ALHAMDULILLAH saat itu. Doa kebaikan dibalas pada orang yang memulai mendoakan kita kebaikan. Doa yang diajarkan saat bersin (yaitu YARHAMUKALLAH) berisi permintaan rahmat dan taubat atas dosa lalu dianjurkan untuk menjawabnya pula.   Hadits #880 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتُوهُ، فَإنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوهُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin lalu memuji Allah, maka hendaklah kalian mendoakannya (ucapkan YARHAMUKALLAH). Namun, jika ia tidak memuji Allah, maka janganlah kalian mendoakannya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 54/2992]   Faedah Hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya mengucapkan YARHAMUKALLAH jika ada yang mengucapkan ALHAMDULILLAH saat bersin. Hadits ini juga berisi larangan tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH jika tidak diucapkan ALHAMDULILLAH.   Hadits #881 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : عَطَسَ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الآخَرَ ، فَقَالَ الَّذِي لَمْ يُشَمِّتْهُ : عَطَسَ فُلانٌ فَشَمَّتَّهُ ، وَعَطَسْتُ فَلَمْ تُشَمِّتْنِي ؟ فَقَالَ : (( هَذَا حَمِدَ اللهَ ، وَإنَّكَ لَمْ تَحْمَدِ اللهَ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada dua orang yang sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka kemudian bersin. Maka beliau mendoakan salah satunya dan tidak yang lainnya. Lantas orang yang tidak didoakan berkata, ‘Si fulan bersin, lalu engkau mendoakannya. Sedangkan aku bersin, engkau tidak mendoakanku?’ Beliau pun menjawab, ‘Orang ini memuji Allah, sedangkan engkau tidak memuji Allah.’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6225 dan Muslim, no. 53/2991]   Faedah Hadits Jika yang bersin tidak mengucapkan ALHAMDULILLAH atau mengucapkan kalimat lainnya, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Boleh bertanya meminta penjelasan kenapa yang satu diperlakukan seperti ini, yang lain tidak.   Hadits #882 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ ، وَخَفَضَ – أَوْ غَضَّ – بِهَا صَوْتَهُ . شَكَّ الرَّاوِي . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menjelaskan, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau meletakkan tangannya atau pakaiannya pada mulutnya, dan merendahkan atau menundukkan suaranya.” Perawi hadits ragu-ragu antara keduanya. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5029 dan Tirmidzi, no. 2745]   Hadits #883 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ اليَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَرْجُونَ أنْ يَقُولَ لَهُمْ : يَرْحَمُكُمُ اللهُ ، فَيَقُولُ : (( يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Orang-orang Yahudi biasa berpura-pura bersin di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengucapkan kepada mereka ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu).’ Namun, beliau langsung berkata, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSHLIH BAALAKUM (artinya: semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian).’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5038 dan Tirmidzi, no. 2739]   Hadits #884 وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ ؛ فَإنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian akan menguap, hendaklah ia letakkan tangannya pada mulutnya, karena setan akan masuk.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2995]   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Baca Juga: Mukjizat di Balik Bersin dan Menguap Hukum Mengucapkan “Alhamdulillah” Ketika Bersin dalam Shalat   Diselesaikan di Darush Sholihin, 27 Februari 2020, 3 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsadab bersin adab dalam salam adab menguap bersin cara salam menguap riyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam

Adab Ketika Bersin dan Menguap

Bagaimana adab ketika bersin? Bagus sekali jika kita mau pelajari dari Riyadhus Sholihin kali ini. Daftar Isi tutup 1. Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap 1.1. Hadits #878 1.2. Faedah Hadits 1.3. Hadits #879 1.4. Faedah Hadits 1.5. Hadits #880 1.6. Faedah Hadits 1.7. Hadits #881 1.8. Faedah Hadits 1.9. Hadits #882 1.10. Hadits #883 1.11. Hadits #884 1.11.1. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَابُ اِسْتِحْبَابِ تَشْمِيْتِ العَاطِسِ إِذَا حَمِدَ اللهَ تَعَالَى وَكَرَاهَةَ تَشْمِيْتِهِ إِذَا لَمْ يَحْمِدِ اللهَ تَعَالَى وَبَيَانِ آدَابِ التَّشْمِيْتِ وَالعَطَاسِ وَالتَّثَاؤُبِ Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap   Hadits #878 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إَنَّ اللهَ يُحِبُّ العُطَاسَ ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ ، فَإذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى كَانَ حَقّاً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإذَا تَثَاءَبَ أحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ ، فَإنَّ أحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka, apabila salah seorang di antara kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap orang muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu)’.” Adapun menguap, maka itu adalah dari setan. Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya semampu mungkin. Karena, jika salah seorang di antara kalian menguap maka setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6223]   Faedah Hadits Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Allah memiliki sifat cinta (al-mahabbah) dan sifat benci (al-karah). Disunnahkan bersegera mengucapkan YARHAMUKALLAH ketika mendengar orang yang bersin mengucapkan ALHAMDULILLAH. Mengucapkan YARHAMUKALLAH berlaku jika mendengar orang bersin dan mendengarnya mengucapkan ALHAMDULILLAH. Jika tidak mendengar ia bersin dan tidak pula mengucapkan ALHAMDULILLAH, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Setiap yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah (mengucapkan ALHAMDULILLAH), maka hendaklah mengucapkan YARHAMUKALLAH, hukumnya fardhu ‘ain—menurut Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin–. Setan menguasai manusia ketika ia menguap, akhirnya ia malas dalam ibadah dan tidak semangat. Setiap menguap itu dari setan, maka hendaklah menguap ditahan semampunya. Setan punya sifat tertawa, di antaranya ketika melihat ada yang menguap.   Hadits #879 وَعَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : الحَمْدُ للهِ ، وَلْيَقُلْ لَهُ أخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ . فَإذَا قَالَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، فَليَقُلْ : يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, ‘ALHAMDULILLAH (artinya: segala puji bagi Allah)’. Dan hendaklah saudaranya atau rekannya mengucapkan untuknya, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: Semoga Allah merahmatimu)’. Maka apabila ia telah mengucapkan semoga Allah merahmatimu, hendaklah yang bersin mengucapkan, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSH-LIH BAALAKUM (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian)’.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6224]   Faedah Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pada umat perihal bersin dan bagaimana menjawabnya. Hadits ini menunjukkan besarnya nikmat Allah bagi orang yang bersin, dan ada kebaikan di dalamnya. Nikmat Allah diberikan lewat bersin, karena ada mudarat yang dihilangkan saat itu. Bersin menunjukkan karunia Allah pada hamba sehingga dianjurkan membaca ALHAMDULILLAH saat itu. Doa kebaikan dibalas pada orang yang memulai mendoakan kita kebaikan. Doa yang diajarkan saat bersin (yaitu YARHAMUKALLAH) berisi permintaan rahmat dan taubat atas dosa lalu dianjurkan untuk menjawabnya pula.   Hadits #880 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتُوهُ، فَإنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوهُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin lalu memuji Allah, maka hendaklah kalian mendoakannya (ucapkan YARHAMUKALLAH). Namun, jika ia tidak memuji Allah, maka janganlah kalian mendoakannya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 54/2992]   Faedah Hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya mengucapkan YARHAMUKALLAH jika ada yang mengucapkan ALHAMDULILLAH saat bersin. Hadits ini juga berisi larangan tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH jika tidak diucapkan ALHAMDULILLAH.   Hadits #881 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : عَطَسَ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الآخَرَ ، فَقَالَ الَّذِي لَمْ يُشَمِّتْهُ : عَطَسَ فُلانٌ فَشَمَّتَّهُ ، وَعَطَسْتُ فَلَمْ تُشَمِّتْنِي ؟ فَقَالَ : (( هَذَا حَمِدَ اللهَ ، وَإنَّكَ لَمْ تَحْمَدِ اللهَ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada dua orang yang sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka kemudian bersin. Maka beliau mendoakan salah satunya dan tidak yang lainnya. Lantas orang yang tidak didoakan berkata, ‘Si fulan bersin, lalu engkau mendoakannya. Sedangkan aku bersin, engkau tidak mendoakanku?’ Beliau pun menjawab, ‘Orang ini memuji Allah, sedangkan engkau tidak memuji Allah.’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6225 dan Muslim, no. 53/2991]   Faedah Hadits Jika yang bersin tidak mengucapkan ALHAMDULILLAH atau mengucapkan kalimat lainnya, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Boleh bertanya meminta penjelasan kenapa yang satu diperlakukan seperti ini, yang lain tidak.   Hadits #882 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ ، وَخَفَضَ – أَوْ غَضَّ – بِهَا صَوْتَهُ . شَكَّ الرَّاوِي . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menjelaskan, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau meletakkan tangannya atau pakaiannya pada mulutnya, dan merendahkan atau menundukkan suaranya.” Perawi hadits ragu-ragu antara keduanya. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5029 dan Tirmidzi, no. 2745]   Hadits #883 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ اليَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَرْجُونَ أنْ يَقُولَ لَهُمْ : يَرْحَمُكُمُ اللهُ ، فَيَقُولُ : (( يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Orang-orang Yahudi biasa berpura-pura bersin di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengucapkan kepada mereka ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu).’ Namun, beliau langsung berkata, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSHLIH BAALAKUM (artinya: semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian).’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5038 dan Tirmidzi, no. 2739]   Hadits #884 وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ ؛ فَإنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian akan menguap, hendaklah ia letakkan tangannya pada mulutnya, karena setan akan masuk.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2995]   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Baca Juga: Mukjizat di Balik Bersin dan Menguap Hukum Mengucapkan “Alhamdulillah” Ketika Bersin dalam Shalat   Diselesaikan di Darush Sholihin, 27 Februari 2020, 3 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsadab bersin adab dalam salam adab menguap bersin cara salam menguap riyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam
Bagaimana adab ketika bersin? Bagus sekali jika kita mau pelajari dari Riyadhus Sholihin kali ini. Daftar Isi tutup 1. Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap 1.1. Hadits #878 1.2. Faedah Hadits 1.3. Hadits #879 1.4. Faedah Hadits 1.5. Hadits #880 1.6. Faedah Hadits 1.7. Hadits #881 1.8. Faedah Hadits 1.9. Hadits #882 1.10. Hadits #883 1.11. Hadits #884 1.11.1. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَابُ اِسْتِحْبَابِ تَشْمِيْتِ العَاطِسِ إِذَا حَمِدَ اللهَ تَعَالَى وَكَرَاهَةَ تَشْمِيْتِهِ إِذَا لَمْ يَحْمِدِ اللهَ تَعَالَى وَبَيَانِ آدَابِ التَّشْمِيْتِ وَالعَطَاسِ وَالتَّثَاؤُبِ Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap   Hadits #878 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إَنَّ اللهَ يُحِبُّ العُطَاسَ ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ ، فَإذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى كَانَ حَقّاً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإذَا تَثَاءَبَ أحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ ، فَإنَّ أحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka, apabila salah seorang di antara kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap orang muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu)’.” Adapun menguap, maka itu adalah dari setan. Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya semampu mungkin. Karena, jika salah seorang di antara kalian menguap maka setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6223]   Faedah Hadits Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Allah memiliki sifat cinta (al-mahabbah) dan sifat benci (al-karah). Disunnahkan bersegera mengucapkan YARHAMUKALLAH ketika mendengar orang yang bersin mengucapkan ALHAMDULILLAH. Mengucapkan YARHAMUKALLAH berlaku jika mendengar orang bersin dan mendengarnya mengucapkan ALHAMDULILLAH. Jika tidak mendengar ia bersin dan tidak pula mengucapkan ALHAMDULILLAH, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Setiap yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah (mengucapkan ALHAMDULILLAH), maka hendaklah mengucapkan YARHAMUKALLAH, hukumnya fardhu ‘ain—menurut Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin–. Setan menguasai manusia ketika ia menguap, akhirnya ia malas dalam ibadah dan tidak semangat. Setiap menguap itu dari setan, maka hendaklah menguap ditahan semampunya. Setan punya sifat tertawa, di antaranya ketika melihat ada yang menguap.   Hadits #879 وَعَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : الحَمْدُ للهِ ، وَلْيَقُلْ لَهُ أخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ . فَإذَا قَالَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، فَليَقُلْ : يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, ‘ALHAMDULILLAH (artinya: segala puji bagi Allah)’. Dan hendaklah saudaranya atau rekannya mengucapkan untuknya, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: Semoga Allah merahmatimu)’. Maka apabila ia telah mengucapkan semoga Allah merahmatimu, hendaklah yang bersin mengucapkan, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSH-LIH BAALAKUM (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian)’.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6224]   Faedah Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pada umat perihal bersin dan bagaimana menjawabnya. Hadits ini menunjukkan besarnya nikmat Allah bagi orang yang bersin, dan ada kebaikan di dalamnya. Nikmat Allah diberikan lewat bersin, karena ada mudarat yang dihilangkan saat itu. Bersin menunjukkan karunia Allah pada hamba sehingga dianjurkan membaca ALHAMDULILLAH saat itu. Doa kebaikan dibalas pada orang yang memulai mendoakan kita kebaikan. Doa yang diajarkan saat bersin (yaitu YARHAMUKALLAH) berisi permintaan rahmat dan taubat atas dosa lalu dianjurkan untuk menjawabnya pula.   Hadits #880 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتُوهُ، فَإنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوهُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin lalu memuji Allah, maka hendaklah kalian mendoakannya (ucapkan YARHAMUKALLAH). Namun, jika ia tidak memuji Allah, maka janganlah kalian mendoakannya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 54/2992]   Faedah Hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya mengucapkan YARHAMUKALLAH jika ada yang mengucapkan ALHAMDULILLAH saat bersin. Hadits ini juga berisi larangan tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH jika tidak diucapkan ALHAMDULILLAH.   Hadits #881 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : عَطَسَ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الآخَرَ ، فَقَالَ الَّذِي لَمْ يُشَمِّتْهُ : عَطَسَ فُلانٌ فَشَمَّتَّهُ ، وَعَطَسْتُ فَلَمْ تُشَمِّتْنِي ؟ فَقَالَ : (( هَذَا حَمِدَ اللهَ ، وَإنَّكَ لَمْ تَحْمَدِ اللهَ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada dua orang yang sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka kemudian bersin. Maka beliau mendoakan salah satunya dan tidak yang lainnya. Lantas orang yang tidak didoakan berkata, ‘Si fulan bersin, lalu engkau mendoakannya. Sedangkan aku bersin, engkau tidak mendoakanku?’ Beliau pun menjawab, ‘Orang ini memuji Allah, sedangkan engkau tidak memuji Allah.’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6225 dan Muslim, no. 53/2991]   Faedah Hadits Jika yang bersin tidak mengucapkan ALHAMDULILLAH atau mengucapkan kalimat lainnya, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Boleh bertanya meminta penjelasan kenapa yang satu diperlakukan seperti ini, yang lain tidak.   Hadits #882 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ ، وَخَفَضَ – أَوْ غَضَّ – بِهَا صَوْتَهُ . شَكَّ الرَّاوِي . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menjelaskan, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau meletakkan tangannya atau pakaiannya pada mulutnya, dan merendahkan atau menundukkan suaranya.” Perawi hadits ragu-ragu antara keduanya. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5029 dan Tirmidzi, no. 2745]   Hadits #883 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ اليَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَرْجُونَ أنْ يَقُولَ لَهُمْ : يَرْحَمُكُمُ اللهُ ، فَيَقُولُ : (( يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Orang-orang Yahudi biasa berpura-pura bersin di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengucapkan kepada mereka ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu).’ Namun, beliau langsung berkata, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSHLIH BAALAKUM (artinya: semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian).’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5038 dan Tirmidzi, no. 2739]   Hadits #884 وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ ؛ فَإنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian akan menguap, hendaklah ia letakkan tangannya pada mulutnya, karena setan akan masuk.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2995]   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Baca Juga: Mukjizat di Balik Bersin dan Menguap Hukum Mengucapkan “Alhamdulillah” Ketika Bersin dalam Shalat   Diselesaikan di Darush Sholihin, 27 Februari 2020, 3 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsadab bersin adab dalam salam adab menguap bersin cara salam menguap riyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam


Bagaimana adab ketika bersin? Bagus sekali jika kita mau pelajari dari Riyadhus Sholihin kali ini. Daftar Isi tutup 1. Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap 1.1. Hadits #878 1.2. Faedah Hadits 1.3. Hadits #879 1.4. Faedah Hadits 1.5. Hadits #880 1.6. Faedah Hadits 1.7. Hadits #881 1.8. Faedah Hadits 1.9. Hadits #882 1.10. Hadits #883 1.11. Hadits #884 1.11.1. Referensi: Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi Kitab As-Salam بَابُ اِسْتِحْبَابِ تَشْمِيْتِ العَاطِسِ إِذَا حَمِدَ اللهَ تَعَالَى وَكَرَاهَةَ تَشْمِيْتِهِ إِذَا لَمْ يَحْمِدِ اللهَ تَعَالَى وَبَيَانِ آدَابِ التَّشْمِيْتِ وَالعَطَاسِ وَالتَّثَاؤُبِ Bab 142. Bab Sunnahnya Mendoakan Orang yang Bersin Apabila Ia Memuji Allah dan Makruh Mendoakannya Jika Ia Tidak Memuji Allah, serta Penjelasan Adab-Adab Mendoakan, Bersin, dan Menguap   Hadits #878 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إَنَّ اللهَ يُحِبُّ العُطَاسَ ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ ، فَإذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى كَانَ حَقّاً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإذَا تَثَاءَبَ أحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ ، فَإنَّ أحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka, apabila salah seorang di antara kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap orang muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu)’.” Adapun menguap, maka itu adalah dari setan. Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya semampu mungkin. Karena, jika salah seorang di antara kalian menguap maka setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6223]   Faedah Hadits Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Allah memiliki sifat cinta (al-mahabbah) dan sifat benci (al-karah). Disunnahkan bersegera mengucapkan YARHAMUKALLAH ketika mendengar orang yang bersin mengucapkan ALHAMDULILLAH. Mengucapkan YARHAMUKALLAH berlaku jika mendengar orang bersin dan mendengarnya mengucapkan ALHAMDULILLAH. Jika tidak mendengar ia bersin dan tidak pula mengucapkan ALHAMDULILLAH, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Setiap yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah (mengucapkan ALHAMDULILLAH), maka hendaklah mengucapkan YARHAMUKALLAH, hukumnya fardhu ‘ain—menurut Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin–. Setan menguasai manusia ketika ia menguap, akhirnya ia malas dalam ibadah dan tidak semangat. Setiap menguap itu dari setan, maka hendaklah menguap ditahan semampunya. Setan punya sifat tertawa, di antaranya ketika melihat ada yang menguap.   Hadits #879 وَعَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : الحَمْدُ للهِ ، وَلْيَقُلْ لَهُ أخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ . فَإذَا قَالَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، فَليَقُلْ : يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, ‘ALHAMDULILLAH (artinya: segala puji bagi Allah)’. Dan hendaklah saudaranya atau rekannya mengucapkan untuknya, ‘YARHAMUKALLAH (artinya: Semoga Allah merahmatimu)’. Maka apabila ia telah mengucapkan semoga Allah merahmatimu, hendaklah yang bersin mengucapkan, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSH-LIH BAALAKUM (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian)’.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6224]   Faedah Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pada umat perihal bersin dan bagaimana menjawabnya. Hadits ini menunjukkan besarnya nikmat Allah bagi orang yang bersin, dan ada kebaikan di dalamnya. Nikmat Allah diberikan lewat bersin, karena ada mudarat yang dihilangkan saat itu. Bersin menunjukkan karunia Allah pada hamba sehingga dianjurkan membaca ALHAMDULILLAH saat itu. Doa kebaikan dibalas pada orang yang memulai mendoakan kita kebaikan. Doa yang diajarkan saat bersin (yaitu YARHAMUKALLAH) berisi permintaan rahmat dan taubat atas dosa lalu dianjurkan untuk menjawabnya pula.   Hadits #880 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( إِذَا عَطَسَ أحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتُوهُ، فَإنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوهُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin lalu memuji Allah, maka hendaklah kalian mendoakannya (ucapkan YARHAMUKALLAH). Namun, jika ia tidak memuji Allah, maka janganlah kalian mendoakannya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 54/2992]   Faedah Hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya mengucapkan YARHAMUKALLAH jika ada yang mengucapkan ALHAMDULILLAH saat bersin. Hadits ini juga berisi larangan tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH jika tidak diucapkan ALHAMDULILLAH.   Hadits #881 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : عَطَسَ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الآخَرَ ، فَقَالَ الَّذِي لَمْ يُشَمِّتْهُ : عَطَسَ فُلانٌ فَشَمَّتَّهُ ، وَعَطَسْتُ فَلَمْ تُشَمِّتْنِي ؟ فَقَالَ : (( هَذَا حَمِدَ اللهَ ، وَإنَّكَ لَمْ تَحْمَدِ اللهَ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada dua orang yang sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka kemudian bersin. Maka beliau mendoakan salah satunya dan tidak yang lainnya. Lantas orang yang tidak didoakan berkata, ‘Si fulan bersin, lalu engkau mendoakannya. Sedangkan aku bersin, engkau tidak mendoakanku?’ Beliau pun menjawab, ‘Orang ini memuji Allah, sedangkan engkau tidak memuji Allah.’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6225 dan Muslim, no. 53/2991]   Faedah Hadits Jika yang bersin tidak mengucapkan ALHAMDULILLAH atau mengucapkan kalimat lainnya, maka tidak perlu mengucapkan YARHAMUKALLAH. Boleh bertanya meminta penjelasan kenapa yang satu diperlakukan seperti ini, yang lain tidak.   Hadits #882 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ ، وَخَفَضَ – أَوْ غَضَّ – بِهَا صَوْتَهُ . شَكَّ الرَّاوِي . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menjelaskan, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau meletakkan tangannya atau pakaiannya pada mulutnya, dan merendahkan atau menundukkan suaranya.” Perawi hadits ragu-ragu antara keduanya. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5029 dan Tirmidzi, no. 2745]   Hadits #883 وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ اليَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَرْجُونَ أنْ يَقُولَ لَهُمْ : يَرْحَمُكُمُ اللهُ ، فَيَقُولُ : (( يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Orang-orang Yahudi biasa berpura-pura bersin di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengucapkan kepada mereka ‘YARHAMUKALLAH (artinya: semoga Allah merahmatimu).’ Namun, beliau langsung berkata, ‘YAHDIKUMULLAH WA YUSHLIH BAALAKUM (artinya: semoga Allah memberi kalian hidayah dan membaguskan keadaan kalian).’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Abu Daud, no. 5038 dan Tirmidzi, no. 2739]   Hadits #884 وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ ؛ فَإنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian akan menguap, hendaklah ia letakkan tangannya pada mulutnya, karena setan akan masuk.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2995]   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.   Baca Juga: Mukjizat di Balik Bersin dan Menguap Hukum Mengucapkan “Alhamdulillah” Ketika Bersin dalam Shalat   Diselesaikan di Darush Sholihin, 27 Februari 2020, 3 Rajab 1441 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Download Tagsadab bersin adab dalam salam adab menguap bersin cara salam menguap riyadhus sholihin riyadhus sholihin kitab salam

Wasiat Luqman (Bag. 6) : Tiga Nasihat Penting

Baca pembahasan sebelumnya Wasiat Luqman (Bag.5) : Setiap Amal Ada Balasannya di AkhiratQS. Luqman Ayat 17Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan tiga nasihat penting yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya  :يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Hai anakku,  dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (Luqman : 17)Tiga nasihat penting dalam ayat ini yaitu tentang mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap ujian yang menimpa seorang hamba.Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan IstighfarNasihat 1: Mendirikan Shalat Perintah pertama dalam ayat ini adalah mendirikan shalat :(أَقِمِ الصَّلَاةَ)“Dirikanlah  shalat!”. Maksudnya adalah seorang hamba harus mengerjakan ibadah shalat dengan benar-benar memperhatikan secara sempurna berbagai rukun, syarat, wajib, dan hal-hal penyempurna shalat. Hal ini mencakup baik dalam melaksanakan shalat wajib maupun shalat sunnah.  Shalat merupakan tiang agama dan memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ“ Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)Shalat adalah amal yang akan dihisab pertama kali di akhirat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ” Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” (HR Tirmidzi, hasan)Shalat adalah amal penghapus dosa-dosa : الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا “ Shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)Shalat adalah Syariat Para Nabi TerdahuluShalat juga merupakan syariat para nabi dan rasul dari dahulu, di antaranya :Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa kepada Allah :رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku  “ (Ibrahim : 40)Allah juga memerintahkan kepada Musa ‘alaihis salam :إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. “ (Thaha:14)Nabi ‘Isa ‘alaihis salam berkata :وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“ dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. “ (Maryam :31)Keutamaan shalat tidak terhitung jumlahnya. Terdapat pula banyak ayat dan hadits yang memerintahkannya. Wasiat tentang shalat sangatlah banyak dan beragam. Begitu pula berbagai ancaman bagi yang meninggalkannya. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk memperhatikan anaknya tentang masalah shalat ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Luqman dan Allah abadikan dalam Al Qur’an agar bisa diambil pelajaran bagi umat manusia.Baca Juga: Maksud Sabar Itu Pada Awal MusibahNasihat 2: Amar Ma’ruf Nahi MungkarPerintah kedua dalam ayat ini adalah :(وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ )“ dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar ”Yang dimaksud perkara ma’ruf adalah segala sesuatu yang diperintahkan oleh syariat, baik itu berkaitan hak Allah ataupun hak hamba. Sedangkan yang dimaksud perkara yang mungkar adalah segala sesuatu yang diingkari dan dilarang oleh syariat baik yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak hamba.Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah tidak lain adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Rasul diutus untuk memerintahkan tauhid dan melarang dari syirik. Tidak diragukan lagi bahwa perkara ma’ruf yang paling agung adalah tauhid, dan kemungkaran yang paling jelek adalah kesyirikan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman : وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” “ ( An Nahl : 36)وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“ (Al Anbiya’:25)Baca Juga: Kapankah Seseorang Dikatakan Mendapati Shalat Jama’ah?Nasihat 3: BersabarPerintah selanjutnya adalah : (وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ) “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.”Penyebutan perintah sabar setelah perintah amar ma’ruf nahi mungkar sangatlah tepat dan sesuai, karena umumnya orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar mendapatkan bahaya atau hal-hal yang tidak disukai. Boleh jadi mendapat celaan, ancaman, kekerasan fisik, dan perkara lain yang tidak disukai. Oleh karena itu diperlukan kesabaran dalam menghadapinya. Yang semisal dengan makna ayat ini adalah firman Allah dalam surat Al ‘Ashr : وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” ( Al ‘Ashr: 1-3).Menasehati untuk melaksanakan kebenaran seringkali diiringi dengan berbagai ujian dan cobaan sehingga perlu adanya nasehat tentang kesabaran dalam menghadapainya. Tiga nasihat di atas adalah tiga nasihat yang sangat penting. Oleh karena itu di akhir ayat Allah menekankan hal ini dengan menyebutkan :إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ Semoga kita dimudahkan untuk bisa mengambil pelajaran dari nasehat Luqman dalam ayat di atas dan kemudian mengamalkannya. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhmmad.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : . Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim Surat Luqman karya Imam Ibnu Katsir rahimaullah   . Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman karya Sayaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah . Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah . At Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Surat Luqman karya Syaikh Musthofa al ‘Adawiy hafidzahullah

Wasiat Luqman (Bag. 6) : Tiga Nasihat Penting

Baca pembahasan sebelumnya Wasiat Luqman (Bag.5) : Setiap Amal Ada Balasannya di AkhiratQS. Luqman Ayat 17Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan tiga nasihat penting yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya  :يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Hai anakku,  dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (Luqman : 17)Tiga nasihat penting dalam ayat ini yaitu tentang mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap ujian yang menimpa seorang hamba.Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan IstighfarNasihat 1: Mendirikan Shalat Perintah pertama dalam ayat ini adalah mendirikan shalat :(أَقِمِ الصَّلَاةَ)“Dirikanlah  shalat!”. Maksudnya adalah seorang hamba harus mengerjakan ibadah shalat dengan benar-benar memperhatikan secara sempurna berbagai rukun, syarat, wajib, dan hal-hal penyempurna shalat. Hal ini mencakup baik dalam melaksanakan shalat wajib maupun shalat sunnah.  Shalat merupakan tiang agama dan memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ“ Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)Shalat adalah amal yang akan dihisab pertama kali di akhirat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ” Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” (HR Tirmidzi, hasan)Shalat adalah amal penghapus dosa-dosa : الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا “ Shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)Shalat adalah Syariat Para Nabi TerdahuluShalat juga merupakan syariat para nabi dan rasul dari dahulu, di antaranya :Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa kepada Allah :رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku  “ (Ibrahim : 40)Allah juga memerintahkan kepada Musa ‘alaihis salam :إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. “ (Thaha:14)Nabi ‘Isa ‘alaihis salam berkata :وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“ dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. “ (Maryam :31)Keutamaan shalat tidak terhitung jumlahnya. Terdapat pula banyak ayat dan hadits yang memerintahkannya. Wasiat tentang shalat sangatlah banyak dan beragam. Begitu pula berbagai ancaman bagi yang meninggalkannya. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk memperhatikan anaknya tentang masalah shalat ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Luqman dan Allah abadikan dalam Al Qur’an agar bisa diambil pelajaran bagi umat manusia.Baca Juga: Maksud Sabar Itu Pada Awal MusibahNasihat 2: Amar Ma’ruf Nahi MungkarPerintah kedua dalam ayat ini adalah :(وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ )“ dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar ”Yang dimaksud perkara ma’ruf adalah segala sesuatu yang diperintahkan oleh syariat, baik itu berkaitan hak Allah ataupun hak hamba. Sedangkan yang dimaksud perkara yang mungkar adalah segala sesuatu yang diingkari dan dilarang oleh syariat baik yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak hamba.Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah tidak lain adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Rasul diutus untuk memerintahkan tauhid dan melarang dari syirik. Tidak diragukan lagi bahwa perkara ma’ruf yang paling agung adalah tauhid, dan kemungkaran yang paling jelek adalah kesyirikan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman : وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” “ ( An Nahl : 36)وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“ (Al Anbiya’:25)Baca Juga: Kapankah Seseorang Dikatakan Mendapati Shalat Jama’ah?Nasihat 3: BersabarPerintah selanjutnya adalah : (وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ) “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.”Penyebutan perintah sabar setelah perintah amar ma’ruf nahi mungkar sangatlah tepat dan sesuai, karena umumnya orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar mendapatkan bahaya atau hal-hal yang tidak disukai. Boleh jadi mendapat celaan, ancaman, kekerasan fisik, dan perkara lain yang tidak disukai. Oleh karena itu diperlukan kesabaran dalam menghadapinya. Yang semisal dengan makna ayat ini adalah firman Allah dalam surat Al ‘Ashr : وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” ( Al ‘Ashr: 1-3).Menasehati untuk melaksanakan kebenaran seringkali diiringi dengan berbagai ujian dan cobaan sehingga perlu adanya nasehat tentang kesabaran dalam menghadapainya. Tiga nasihat di atas adalah tiga nasihat yang sangat penting. Oleh karena itu di akhir ayat Allah menekankan hal ini dengan menyebutkan :إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ Semoga kita dimudahkan untuk bisa mengambil pelajaran dari nasehat Luqman dalam ayat di atas dan kemudian mengamalkannya. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhmmad.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : . Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim Surat Luqman karya Imam Ibnu Katsir rahimaullah   . Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman karya Sayaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah . Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah . At Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Surat Luqman karya Syaikh Musthofa al ‘Adawiy hafidzahullah
Baca pembahasan sebelumnya Wasiat Luqman (Bag.5) : Setiap Amal Ada Balasannya di AkhiratQS. Luqman Ayat 17Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan tiga nasihat penting yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya  :يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Hai anakku,  dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (Luqman : 17)Tiga nasihat penting dalam ayat ini yaitu tentang mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap ujian yang menimpa seorang hamba.Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan IstighfarNasihat 1: Mendirikan Shalat Perintah pertama dalam ayat ini adalah mendirikan shalat :(أَقِمِ الصَّلَاةَ)“Dirikanlah  shalat!”. Maksudnya adalah seorang hamba harus mengerjakan ibadah shalat dengan benar-benar memperhatikan secara sempurna berbagai rukun, syarat, wajib, dan hal-hal penyempurna shalat. Hal ini mencakup baik dalam melaksanakan shalat wajib maupun shalat sunnah.  Shalat merupakan tiang agama dan memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ“ Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)Shalat adalah amal yang akan dihisab pertama kali di akhirat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ” Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” (HR Tirmidzi, hasan)Shalat adalah amal penghapus dosa-dosa : الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا “ Shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)Shalat adalah Syariat Para Nabi TerdahuluShalat juga merupakan syariat para nabi dan rasul dari dahulu, di antaranya :Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa kepada Allah :رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku  “ (Ibrahim : 40)Allah juga memerintahkan kepada Musa ‘alaihis salam :إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. “ (Thaha:14)Nabi ‘Isa ‘alaihis salam berkata :وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“ dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. “ (Maryam :31)Keutamaan shalat tidak terhitung jumlahnya. Terdapat pula banyak ayat dan hadits yang memerintahkannya. Wasiat tentang shalat sangatlah banyak dan beragam. Begitu pula berbagai ancaman bagi yang meninggalkannya. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk memperhatikan anaknya tentang masalah shalat ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Luqman dan Allah abadikan dalam Al Qur’an agar bisa diambil pelajaran bagi umat manusia.Baca Juga: Maksud Sabar Itu Pada Awal MusibahNasihat 2: Amar Ma’ruf Nahi MungkarPerintah kedua dalam ayat ini adalah :(وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ )“ dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar ”Yang dimaksud perkara ma’ruf adalah segala sesuatu yang diperintahkan oleh syariat, baik itu berkaitan hak Allah ataupun hak hamba. Sedangkan yang dimaksud perkara yang mungkar adalah segala sesuatu yang diingkari dan dilarang oleh syariat baik yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak hamba.Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah tidak lain adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Rasul diutus untuk memerintahkan tauhid dan melarang dari syirik. Tidak diragukan lagi bahwa perkara ma’ruf yang paling agung adalah tauhid, dan kemungkaran yang paling jelek adalah kesyirikan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman : وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” “ ( An Nahl : 36)وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“ (Al Anbiya’:25)Baca Juga: Kapankah Seseorang Dikatakan Mendapati Shalat Jama’ah?Nasihat 3: BersabarPerintah selanjutnya adalah : (وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ) “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.”Penyebutan perintah sabar setelah perintah amar ma’ruf nahi mungkar sangatlah tepat dan sesuai, karena umumnya orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar mendapatkan bahaya atau hal-hal yang tidak disukai. Boleh jadi mendapat celaan, ancaman, kekerasan fisik, dan perkara lain yang tidak disukai. Oleh karena itu diperlukan kesabaran dalam menghadapinya. Yang semisal dengan makna ayat ini adalah firman Allah dalam surat Al ‘Ashr : وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” ( Al ‘Ashr: 1-3).Menasehati untuk melaksanakan kebenaran seringkali diiringi dengan berbagai ujian dan cobaan sehingga perlu adanya nasehat tentang kesabaran dalam menghadapainya. Tiga nasihat di atas adalah tiga nasihat yang sangat penting. Oleh karena itu di akhir ayat Allah menekankan hal ini dengan menyebutkan :إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ Semoga kita dimudahkan untuk bisa mengambil pelajaran dari nasehat Luqman dalam ayat di atas dan kemudian mengamalkannya. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhmmad.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : . Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim Surat Luqman karya Imam Ibnu Katsir rahimaullah   . Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman karya Sayaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah . Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah . At Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Surat Luqman karya Syaikh Musthofa al ‘Adawiy hafidzahullah


Baca pembahasan sebelumnya Wasiat Luqman (Bag.5) : Setiap Amal Ada Balasannya di AkhiratQS. Luqman Ayat 17Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan tiga nasihat penting yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya  :يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Hai anakku,  dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (Luqman : 17)Tiga nasihat penting dalam ayat ini yaitu tentang mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap ujian yang menimpa seorang hamba.Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan IstighfarNasihat 1: Mendirikan Shalat Perintah pertama dalam ayat ini adalah mendirikan shalat :(أَقِمِ الصَّلَاةَ)“Dirikanlah  shalat!”. Maksudnya adalah seorang hamba harus mengerjakan ibadah shalat dengan benar-benar memperhatikan secara sempurna berbagai rukun, syarat, wajib, dan hal-hal penyempurna shalat. Hal ini mencakup baik dalam melaksanakan shalat wajib maupun shalat sunnah.  Shalat merupakan tiang agama dan memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ“ Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)Shalat adalah amal yang akan dihisab pertama kali di akhirat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ” Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” (HR Tirmidzi, hasan)Shalat adalah amal penghapus dosa-dosa : الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا “ Shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)Shalat adalah Syariat Para Nabi TerdahuluShalat juga merupakan syariat para nabi dan rasul dari dahulu, di antaranya :Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa kepada Allah :رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku  “ (Ibrahim : 40)Allah juga memerintahkan kepada Musa ‘alaihis salam :إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. “ (Thaha:14)Nabi ‘Isa ‘alaihis salam berkata :وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“ dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. “ (Maryam :31)Keutamaan shalat tidak terhitung jumlahnya. Terdapat pula banyak ayat dan hadits yang memerintahkannya. Wasiat tentang shalat sangatlah banyak dan beragam. Begitu pula berbagai ancaman bagi yang meninggalkannya. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk memperhatikan anaknya tentang masalah shalat ini, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Luqman dan Allah abadikan dalam Al Qur’an agar bisa diambil pelajaran bagi umat manusia.Baca Juga: Maksud Sabar Itu Pada Awal MusibahNasihat 2: Amar Ma’ruf Nahi MungkarPerintah kedua dalam ayat ini adalah :(وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ )“ dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar ”Yang dimaksud perkara ma’ruf adalah segala sesuatu yang diperintahkan oleh syariat, baik itu berkaitan hak Allah ataupun hak hamba. Sedangkan yang dimaksud perkara yang mungkar adalah segala sesuatu yang diingkari dan dilarang oleh syariat baik yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak hamba.Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah tidak lain adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Rasul diutus untuk memerintahkan tauhid dan melarang dari syirik. Tidak diragukan lagi bahwa perkara ma’ruf yang paling agung adalah tauhid, dan kemungkaran yang paling jelek adalah kesyirikan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman : وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” “ ( An Nahl : 36)وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“ (Al Anbiya’:25)Baca Juga: Kapankah Seseorang Dikatakan Mendapati Shalat Jama’ah?Nasihat 3: BersabarPerintah selanjutnya adalah : (وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ) “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.”Penyebutan perintah sabar setelah perintah amar ma’ruf nahi mungkar sangatlah tepat dan sesuai, karena umumnya orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar mendapatkan bahaya atau hal-hal yang tidak disukai. Boleh jadi mendapat celaan, ancaman, kekerasan fisik, dan perkara lain yang tidak disukai. Oleh karena itu diperlukan kesabaran dalam menghadapinya. Yang semisal dengan makna ayat ini adalah firman Allah dalam surat Al ‘Ashr : وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” ( Al ‘Ashr: 1-3).Menasehati untuk melaksanakan kebenaran seringkali diiringi dengan berbagai ujian dan cobaan sehingga perlu adanya nasehat tentang kesabaran dalam menghadapainya. Tiga nasihat di atas adalah tiga nasihat yang sangat penting. Oleh karena itu di akhir ayat Allah menekankan hal ini dengan menyebutkan :إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“ Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ Semoga kita dimudahkan untuk bisa mengambil pelajaran dari nasehat Luqman dalam ayat di atas dan kemudian mengamalkannya. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhmmad.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : . Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim Surat Luqman karya Imam Ibnu Katsir rahimaullah   . Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman karya Sayaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah . Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah . At Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Surat Luqman karya Syaikh Musthofa al ‘Adawiy hafidzahullah
Prev     Next