Trik Lawan Bisikan Malas di Bulan Ramadhan | #NasehatUlama

Walaupun sekarang kita berada di awal Ramadan, tapi hari-harinya akan berlalu dengan cepat dan malam-malamnya pun segera berakhir. Maka hendaknya setiap orang memanfaatkan kesempatan agung ini, dan berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai jiwa, boleh jadi engkau tidak akan menemui Ramadan lain setelah ini.” Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadis kepada Ibnu ‘Umar, beliau bersabda kepada Ibnu ‘Umar: “Hiduplah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari). Atas dasar itulah, Ibnu ‘Umar berpesan apa? “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi; dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore.” Maka dengan analogi yang sama, jika Anda menemui Ramadan ini, janganlah menanti-nanti Ramadan yang lain. Katakanlah: “Boleh jadi ini adalah Ramadan terakhir dalam hidupku,” agar jiwa semakin bersungguh-sungguh dan semakin giat beribadah, serta memanfaatkan bulan Ramadan yang mungkin tidak akan Anda temui kembali. Terkadang nafsu membisikkan kepada seseorang, “Di masa depanmu masih banyak Ramadan-Ramadan lainnya, apa yang terlewat sekarang, masih bisa Anda peroleh nanti.” Jangan tertipu! Katakanlah: “Boleh jadi inilah Ramadan terakhir dalam hidupku.” ===== وَلَئِنْ كُنَّا الْآنَ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فَسَرِيعًا مَا سَتَنْقَضِي أَيَّامُهُ وَتَنْتَهِي لَيَالِيهِ فَلْيَغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ الْعَظِيمَةَ، وَلْيَقُلْ لِنَفْسِهِ يَا نَفْسُ، قَدْ لَا تُدْرِكِينَ غَيْرَ هَذَا رَمَضَانَ إِذَا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَدْ قَالَ فِي الْحَدِيثِ لِابْنِ عُمَرَ قَالَ لِابْنِ عُمَرَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ فَعَلَى إِثْرِ ذَلِكَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ مَاذَا؟ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ قِيَاسًا عَلَى ذَلِكَ، إِذَا أَدْرَكْتَ هَذَا رَمَضَانَ فَلَا تَنْتَظِرْ رَمَضَانَ الْآخَرَ قُلْ: لَعَلَّهُ آخِرُ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي حَتَّى تَجْتَهِدَ النَّفْسُ أَكْثَرَ وَأَكْثَرَ وَتَغْتَنِمَ هَذَا رَمَضَانَ الَّذِي رُبَّمَا لَا تُدْرِكُ غَيْرَهُ قَدْ تَقُولُ النَّفْسُ أَحْيَانًا لِلشَّخْصِ أَمَامَكَ رَمَضَانَاتٌ عَدِيدَةٌ مَا فَاتَكَ الْآنَ تُدْرِكْهُ فِيمَا بَعْدُ لَا، قُلْ لَهَا: قَدْ يَكُونُ هَذَا آخِرَ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي

Trik Lawan Bisikan Malas di Bulan Ramadhan | #NasehatUlama

Walaupun sekarang kita berada di awal Ramadan, tapi hari-harinya akan berlalu dengan cepat dan malam-malamnya pun segera berakhir. Maka hendaknya setiap orang memanfaatkan kesempatan agung ini, dan berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai jiwa, boleh jadi engkau tidak akan menemui Ramadan lain setelah ini.” Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadis kepada Ibnu ‘Umar, beliau bersabda kepada Ibnu ‘Umar: “Hiduplah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari). Atas dasar itulah, Ibnu ‘Umar berpesan apa? “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi; dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore.” Maka dengan analogi yang sama, jika Anda menemui Ramadan ini, janganlah menanti-nanti Ramadan yang lain. Katakanlah: “Boleh jadi ini adalah Ramadan terakhir dalam hidupku,” agar jiwa semakin bersungguh-sungguh dan semakin giat beribadah, serta memanfaatkan bulan Ramadan yang mungkin tidak akan Anda temui kembali. Terkadang nafsu membisikkan kepada seseorang, “Di masa depanmu masih banyak Ramadan-Ramadan lainnya, apa yang terlewat sekarang, masih bisa Anda peroleh nanti.” Jangan tertipu! Katakanlah: “Boleh jadi inilah Ramadan terakhir dalam hidupku.” ===== وَلَئِنْ كُنَّا الْآنَ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فَسَرِيعًا مَا سَتَنْقَضِي أَيَّامُهُ وَتَنْتَهِي لَيَالِيهِ فَلْيَغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ الْعَظِيمَةَ، وَلْيَقُلْ لِنَفْسِهِ يَا نَفْسُ، قَدْ لَا تُدْرِكِينَ غَيْرَ هَذَا رَمَضَانَ إِذَا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَدْ قَالَ فِي الْحَدِيثِ لِابْنِ عُمَرَ قَالَ لِابْنِ عُمَرَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ فَعَلَى إِثْرِ ذَلِكَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ مَاذَا؟ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ قِيَاسًا عَلَى ذَلِكَ، إِذَا أَدْرَكْتَ هَذَا رَمَضَانَ فَلَا تَنْتَظِرْ رَمَضَانَ الْآخَرَ قُلْ: لَعَلَّهُ آخِرُ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي حَتَّى تَجْتَهِدَ النَّفْسُ أَكْثَرَ وَأَكْثَرَ وَتَغْتَنِمَ هَذَا رَمَضَانَ الَّذِي رُبَّمَا لَا تُدْرِكُ غَيْرَهُ قَدْ تَقُولُ النَّفْسُ أَحْيَانًا لِلشَّخْصِ أَمَامَكَ رَمَضَانَاتٌ عَدِيدَةٌ مَا فَاتَكَ الْآنَ تُدْرِكْهُ فِيمَا بَعْدُ لَا، قُلْ لَهَا: قَدْ يَكُونُ هَذَا آخِرَ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي
Walaupun sekarang kita berada di awal Ramadan, tapi hari-harinya akan berlalu dengan cepat dan malam-malamnya pun segera berakhir. Maka hendaknya setiap orang memanfaatkan kesempatan agung ini, dan berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai jiwa, boleh jadi engkau tidak akan menemui Ramadan lain setelah ini.” Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadis kepada Ibnu ‘Umar, beliau bersabda kepada Ibnu ‘Umar: “Hiduplah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari). Atas dasar itulah, Ibnu ‘Umar berpesan apa? “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi; dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore.” Maka dengan analogi yang sama, jika Anda menemui Ramadan ini, janganlah menanti-nanti Ramadan yang lain. Katakanlah: “Boleh jadi ini adalah Ramadan terakhir dalam hidupku,” agar jiwa semakin bersungguh-sungguh dan semakin giat beribadah, serta memanfaatkan bulan Ramadan yang mungkin tidak akan Anda temui kembali. Terkadang nafsu membisikkan kepada seseorang, “Di masa depanmu masih banyak Ramadan-Ramadan lainnya, apa yang terlewat sekarang, masih bisa Anda peroleh nanti.” Jangan tertipu! Katakanlah: “Boleh jadi inilah Ramadan terakhir dalam hidupku.” ===== وَلَئِنْ كُنَّا الْآنَ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فَسَرِيعًا مَا سَتَنْقَضِي أَيَّامُهُ وَتَنْتَهِي لَيَالِيهِ فَلْيَغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ الْعَظِيمَةَ، وَلْيَقُلْ لِنَفْسِهِ يَا نَفْسُ، قَدْ لَا تُدْرِكِينَ غَيْرَ هَذَا رَمَضَانَ إِذَا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَدْ قَالَ فِي الْحَدِيثِ لِابْنِ عُمَرَ قَالَ لِابْنِ عُمَرَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ فَعَلَى إِثْرِ ذَلِكَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ مَاذَا؟ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ قِيَاسًا عَلَى ذَلِكَ، إِذَا أَدْرَكْتَ هَذَا رَمَضَانَ فَلَا تَنْتَظِرْ رَمَضَانَ الْآخَرَ قُلْ: لَعَلَّهُ آخِرُ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي حَتَّى تَجْتَهِدَ النَّفْسُ أَكْثَرَ وَأَكْثَرَ وَتَغْتَنِمَ هَذَا رَمَضَانَ الَّذِي رُبَّمَا لَا تُدْرِكُ غَيْرَهُ قَدْ تَقُولُ النَّفْسُ أَحْيَانًا لِلشَّخْصِ أَمَامَكَ رَمَضَانَاتٌ عَدِيدَةٌ مَا فَاتَكَ الْآنَ تُدْرِكْهُ فِيمَا بَعْدُ لَا، قُلْ لَهَا: قَدْ يَكُونُ هَذَا آخِرَ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي


Walaupun sekarang kita berada di awal Ramadan, tapi hari-harinya akan berlalu dengan cepat dan malam-malamnya pun segera berakhir. Maka hendaknya setiap orang memanfaatkan kesempatan agung ini, dan berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai jiwa, boleh jadi engkau tidak akan menemui Ramadan lain setelah ini.” Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadis kepada Ibnu ‘Umar, beliau bersabda kepada Ibnu ‘Umar: “Hiduplah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari). Atas dasar itulah, Ibnu ‘Umar berpesan apa? “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi; dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore.” Maka dengan analogi yang sama, jika Anda menemui Ramadan ini, janganlah menanti-nanti Ramadan yang lain. Katakanlah: “Boleh jadi ini adalah Ramadan terakhir dalam hidupku,” agar jiwa semakin bersungguh-sungguh dan semakin giat beribadah, serta memanfaatkan bulan Ramadan yang mungkin tidak akan Anda temui kembali. Terkadang nafsu membisikkan kepada seseorang, “Di masa depanmu masih banyak Ramadan-Ramadan lainnya, apa yang terlewat sekarang, masih bisa Anda peroleh nanti.” Jangan tertipu! Katakanlah: “Boleh jadi inilah Ramadan terakhir dalam hidupku.” ===== وَلَئِنْ كُنَّا الْآنَ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فَسَرِيعًا مَا سَتَنْقَضِي أَيَّامُهُ وَتَنْتَهِي لَيَالِيهِ فَلْيَغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ الْعَظِيمَةَ، وَلْيَقُلْ لِنَفْسِهِ يَا نَفْسُ، قَدْ لَا تُدْرِكِينَ غَيْرَ هَذَا رَمَضَانَ إِذَا كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَدْ قَالَ فِي الْحَدِيثِ لِابْنِ عُمَرَ قَالَ لِابْنِ عُمَرَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ فَعَلَى إِثْرِ ذَلِكَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ مَاذَا؟ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ قِيَاسًا عَلَى ذَلِكَ، إِذَا أَدْرَكْتَ هَذَا رَمَضَانَ فَلَا تَنْتَظِرْ رَمَضَانَ الْآخَرَ قُلْ: لَعَلَّهُ آخِرُ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي حَتَّى تَجْتَهِدَ النَّفْسُ أَكْثَرَ وَأَكْثَرَ وَتَغْتَنِمَ هَذَا رَمَضَانَ الَّذِي رُبَّمَا لَا تُدْرِكُ غَيْرَهُ قَدْ تَقُولُ النَّفْسُ أَحْيَانًا لِلشَّخْصِ أَمَامَكَ رَمَضَانَاتٌ عَدِيدَةٌ مَا فَاتَكَ الْآنَ تُدْرِكْهُ فِيمَا بَعْدُ لَا، قُلْ لَهَا: قَدْ يَكُونُ هَذَا آخِرَ رَمَضَانَ فِي حَيَاتِي

MENYIA-NYIAKAN PAHALA RAMADHAN? – Syaikh Hasan bin Abdul Hamid Bukhari Ramadhan

Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟

MENYIA-NYIAKAN PAHALA RAMADHAN? – Syaikh Hasan bin Abdul Hamid Bukhari Ramadhan

Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟
Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟


Keenam, di antara petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan adalah perhatian besar terhadap Shalat Malam (Tarawih). Tentu kita tahu, beliau selalu menegakkan Shalat Malam di sepanjang tahun, benar bukan? Jika sepanjang tahun beliau selalu Shalat Malam, lalu apa bedanya saat Ramadan? ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (jumlah rakaat) di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Ramadan dan Shalat Malam di dalamnya adalah hal yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Mengapa demikian? Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan Shalat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wahai saudaraku, amalan dengan pahala sebesar ini, siapa yang mau menyia-nyiakannya?! ===== مِنْ هَدْيِهِ سَادِسًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي رَمَضَانَ الِاعْتِنَاءُ بِالْقِيَامِ طَيِّبٌ، وَهُوَ كَانَ يَقُومُ طِيلَةَ السَّنَةِ، صَحَّ؟ كَانَ طِيلَةَ السَّنَةِ يَقُومُ اللَّيْلَ، مَا الْفَرْقُ؟ تَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنَّ رَمَضَانَ وَالْقِيَامَ فِيهِ شَيْءٌ مُخْتَلِفٌ عَنْ بَاقِي أَيَّامِ السَّنَةِ لِيش؟ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ يَا أَخِي، مَنْ يُفَرِّطُ فِي هَذَا؟

Fenomena “Balas Dendam Makan” Ketika Berbuka, Apakah Termasuk Isrāf?

Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Fenomena “Balas Dendam Makan” Ketika Berbuka, Apakah Termasuk Isrāf?

Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleDefinisi isrāfHadis tentang larangan berlebihanPandangan ulama tentang isrāf dalam makanDampak isrāf dan hikmah laranganKesimpulan“Balas dendam makan” adalah istilah populer yang menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah ingin membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh atau dampak kesehatannya. Di balik niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: bagaimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan yang dilarang?Definisi isrāfIsrāf secara bahasa berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang semestinya (boleh), namun melebihi batas yang sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan atau menggunakan sesuatu pada perkara yang tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, ia telah jatuh dalam perangkap isrāf.Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa yang engkau kehendaki, dan pakailah apa yang engkau kehendaki, selama dua hal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) atau kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui batas alami manusia, seperti kenyang berlebihan sebab memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar batas cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)Hadis tentang larangan berlebihanRasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya yang sangat terkenal,مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)Hadis ini memberikan panduan proporsional yang sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.Pandangan ulama tentang isrāf dalam makanPara ulama salaf sangat memahami bahaya isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau anda ingin badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf telah memahami korelasi antara pola makan dan kualitas ibadah.Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang akan memiliki hati yang lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak melihat itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang yang berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) berbagai makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)Dampak isrāf dan hikmah laranganBalas dendam makan saat berbuka membawa dampak buruk, baik secara medis maupun spiritual:Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.Ketiga, mengurangi esensi puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.KesimpulanFenomena balas dendam makan saat berbuka adalah bentuk isrāf yang makruh dalam Islam, bahkan bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan hadis dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ulama salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa dampak buruk bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk bersyukur dengan makan secukupnya, bukan ajang balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, atau jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga:Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Salah Memilih Teman Berujung Penyesalan di Hari Kiamat

Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan

Salah Memilih Teman Berujung Penyesalan di Hari Kiamat

Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan
Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan


Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan

7 Sebab Manusia Menolak Dakwah Para Nabi (Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Juz 19)

Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran

7 Sebab Manusia Menolak Dakwah Para Nabi (Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Juz 19)

Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran
Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran


Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran

Rumah Tangga Penuh Masalah? Mungkin Ini Amalan Penting yang Anda Lupakan

Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ

Rumah Tangga Penuh Masalah? Mungkin Ini Amalan Penting yang Anda Lupakan

Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ
Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ


Disebutkan dalam beberapa riwayat dari Imam Muslim dan selainnya, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari menjauh dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim). Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjadikan rumah-rumah kita layaknya kuburan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Ada sebagian orang yang hanya membaca Al-Qur’an saat di masjid, tapi ia tidak membacanya ketika di rumah. Dan ini membuat dirinya melewatkan pahala, karena membaca Al-Qur’an di rumah ada pahala tersendiri. Ia juga melewatkan kebaikan bagi rumah tangganya, sehingga rumahnya dipenuhi keburukan, dimasuki oleh setan, serta didera berbagai macam masalah. Banyak orang yang datang menemui kami akhir-akhir ini, mereka mengeluh: “Wahai Syaikh, rumah tangga kami penuh dengan masalah.” Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena penghuni rumah tersebut tidak membaca Al-Qur’an di dalamnya. ===== جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَنْ نَجْعَلَ بُيُوتَنَا مَقَابِرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ الْإِنْسَانُ الْقُرْآنَ فِي بَيْتِهِ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَجْعَلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ لَا يَقْرَأُ فِي بَيْتِهِ وَهَذَا يُفَوِّتُ عَلَى نَفْسِهِ أَجْرًا لِأَنَّ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْبَيْتِ أَجْرًا وَيُفَوِّتُ عَلَى بَيْتِهِ الْخَيْرَ فَيَكْثُرُ فِيهِ الشَّرُّ وَقَدْ تَدْخُلُهُ الشَّيَاطِينُ وَقَدْ تَكُونُ فِيهِ مَشَاكِلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَأْتُونَنَا هَذِهِ الْأَيَّام يَقُولُ يَا شَيْخُ أَنَا بَيْتِي كُلُّهُ مَشَاكِلُ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَا يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ

Ramadan dan Kesempatan Emas yang Sering Disia-Siakan

Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Ramadan dan Kesempatan Emas yang Sering Disia-Siakan

Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKeutamaan amal di bulan RamadanKeutamaan Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanMenghargai waktu di bulan RamadanBulan Ramadan adalah musim kebaikan yang paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.Kesempatan berupa nyawa yang masih diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan kemampuan yang dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita mampu menjalani ibadah yang agung ini adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat yang sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang yang telah mendahului kita, yang mungkin mereka menginginkan kembali ke dunia untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran betapa bulan mulia ini amalan seorang hamba dilipatgandakan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, karena bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim keuntungan besar.Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada yang tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) karena jatah hidup kita sampai disini.Maka, sangat layak bagi kita untuk benar-benar menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala amal saleh yang bisa kita kerjakan semaksimal yang kita mampu sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Keutamaan amal di bulan RamadanSalah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala amal saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur yang panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala yang berlipat ganda atas amal saleh yang kita kerjakan pada bulan yang mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Allah Ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam amalan puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna hadis di atas. Betapa amalan puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.Banyak amal ibadah yang dapat kita lakukan di bulan mulia ini, yang kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka akan terasa berat. Jika kita tidak membekali ilmu tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh sebab itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan berbagai amalan ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.Keutamaan Lailatul QadarDi antara keutamaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung yang setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang yang lebih rugi dari mereka yang tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beribadah pada malam Lailatul Qadar.Allah Ta’ala berfirman,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)Berdasarkan hadis tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi amalan umat-umat Nabi terdahulu yang diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak memiliki umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul QadarKedermawanan Rasulullah di bulan RamadanDi bulan ini, iman yang benar tidak berhenti pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lalu mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Angin berhembus cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi manfaat luas. Demikian pula sedekah Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.Kedermawanan beliau lahir dari hati yang penuh keyakinan bahwa dunia hanyalah titipan, dan bahwa apa yang disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah yang menghidupkan hati dan sedekah yang melembutkan jiwa. Maka, siapa yang benar-benar merasakan manisnya Ramadan, ia akan ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang yang berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas manfaat untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.Menghargai waktu di bulan RamadanRamadan adalah bulan yang singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya bernilai pahala. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga waktunya dari perkara sia-sia yang tidak mendekatkannya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“(Puasa itu) dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan betapa cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lalu pergi meninggalkan bekas. Bagi yang memanfaatkannya, ia meninggalkan pahala; bagi yang lalai, ia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.Karena memahami hal ini, para ulama Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bahkan sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis hadis dan fokus membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh karena itu, ia berusaha agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Ada yang telah wafat sebelum ia datang, ada yang hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beribadah secara optimal.Semata-mata bertemu dengan Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Namun, bertemu saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang yang hadir secara fisik di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya habis dalam perkara yang tidak bernilai akhirat.Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ“Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang berhasil memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.Aamiin. Wallahu a’lam.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Kisah Nabi Yunus dalam Perut Ikan: Doa yang Menghilangkan Kesedihan

Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir

Kisah Nabi Yunus dalam Perut Ikan: Doa yang Menghilangkan Kesedihan

Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir
Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir


Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam merupakan salah satu pelajaran besar tentang taubat, kesabaran, dan harapan kepada Allah. Ketika berada dalam kegelapan perut ikan dan lautan, beliau memanjatkan doa yang penuh pengakuan dan kerendahan diri. Dari kisah ini, Allah memberikan kabar gembira bahwa siapa pun yang beriman dan kembali kepada-Nya akan diselamatkan dari kesulitan.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’an 2. Perintah Bersabar bagi Rasulullah 3. Kesimpulan  Kisah Dzun Nun dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.” (QS. Al-Anbiya’: 87)فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Maksudnya: ingatlah hamba dan rasul Kami yang bernama Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus. Ia disebut Dzun-Nun (pemilik ikan) karena peristiwa ketika ia ditelan oleh ikan besar. Sebutlah ia dengan sebutan yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala telah mengutusnya kepada kaumnya. Ia pun berdakwah kepada mereka, tetapi mereka tidak mau beriman. Maka Nabi Yunus memperingatkan mereka bahwa azab akan turun dalam waktu tertentu yang telah ia tetapkan bagi mereka.Ketika azab itu benar-benar datang dan mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka segera memohon kepada Allah, berseru dengan penuh penyesalan, dan bertaubat kepada-Nya. Lalu Allah mengangkat azab tersebut dari mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Tidak ada suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus: 98)Baca juga: Mengapa Iman Saat Azab Tidak Diterima? Kisah Kaum Yunus dalam Tafsir QS. Yunus: 98Allah juga berfirman,وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ“Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami beri mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 147–148)Kaum yang besar jumlahnya ini—yang beriman kepada dakwah Nabi Yunus—menjadi salah satu keutamaan besar bagi beliau.Namun Nabi Yunus ‘alaihis salam pernah pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya dan meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah. Ia seakan-akan “melarikan diri” dari Tuhannya karena suatu kesalahan yang dilakukannya. Kesalahan itu tidak disebutkan secara rinci oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan tidak ada kebutuhan bagi kita untuk menentukan secara pasti bentuk kesalahan tersebut.Sebagaimana firman Allah,إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ ۝ وَهُوَ مُلِيمٌ“Ketika ia melarikan diri menuju kapal, sementara ia dalam keadaan melakukan sesuatu yang patut dicela.” (QS. Ash-Shaffat: 140–142)Yang tampak adalah bahwa beliau tergesa-gesa meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka, dan keluar dari tengah-tengah mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan dirinya, yaitu dengan menempatkannya dalam kesempitan seperti di dalam perut ikan, atau ia mengira bahwa dirinya akan luput dari ketentuan Allah.Tidak mengapa jika prasangka seperti ini sempat terlintas pada manusia yang paling sempurna sekalipun, selama prasangka itu tidak menetap dan tidak terus-menerus berada dalam hatinya.Kemudian Nabi Yunus menaiki sebuah kapal bersama beberapa orang. Mereka pun melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut, karena mereka khawatir kapal akan tenggelam jika semua orang tetap berada di atasnya.Baca juga: Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Termasuk Judi?Undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dan membawanya ke dalam kegelapan lautan. Di dalam kegelapan itu ia berdoa,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)Dalam doa itu Nabi Yunus mengakui kesempurnaan keesaan Allah dalam ibadah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, cacat, dan aib, serta mengakui kesalahan dan dosa yang ia lakukan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ“Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan.”Maksudnya, dari kesempitan dan penderitaan yang menimpanya.Kemudian Allah berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”Ayat ini merupakan janji dan kabar gembira bagi setiap orang beriman yang tertimpa kesulitan dan kesedihan. Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari kesulitan itu, menghilangkan kesusahannya, dan meringankan bebannya karena keimanannya, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam.Baca juga: Mustajabnya Doa Dzun Nuun, Nabi Yunus Perintah Bersabar bagi RasulullahAllah Ta’ala berfirman,فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)لَّوْلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (QS. Al-Qalam: 49)فَٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Qalam: 50)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat ini.Setelah berbagai penentangan dari kaumnya, tidak ada yang tersisa bagi Rasul selain bersabar atas gangguan mereka, menanggung apa yang keluar dari mereka, serta terus melanjutkan dakwah kepada mereka.Karena itu Allah berfirman:فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ“Bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu.”Maksudnya, bersabarlah terhadap apa yang telah Allah tetapkan, baik secara ketetapan takdir (qadar) maupun ketetapan syariat.Ketetapan takdir disikapi dengan kesabaran, terutama ketika di dalamnya terdapat hal yang menyakitkan. Ia tidak disambut dengan kemarahan atau keluh kesah.Sedangkan ketetapan syariat disikapi dengan menerima, tunduk, dan melaksanakan sepenuhnya perintah Allah.Kemudian Allah berfirman:وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ“Dan janganlah engkau seperti pemilik ikan.”Yang dimaksud adalah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Artinya, jangan sampai engkau menyerupainya dalam keadaan yang menyebabkan beliau berada di dalam perut ikan.Keadaan itu adalah ketika beliau tidak bersabar terhadap kaumnya dengan kesabaran yang seharusnya, lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah kepada mereka sebelum datang perintah dari Allah. Ia kemudian menaiki kapal di laut.Ketika kapal itu menjadi terlalu berat dengan para penumpangnya, mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Ternyata undian itu jatuh kepada Nabi Yunus. Maka seekor ikan besar menelannya dalam keadaan beliau telah melakukan sesuatu yang patut dicela.Allah berfirman:إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ“Ketika ia berdoa dalam keadaan sangat tertekan.”Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya, atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan. Ia berdoa dengan ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”Lalu Allah mengabulkan doanya. Ikan itu pun memuntahkannya ke daratan yang kosong, sementara beliau dalam keadaan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis yaqtin (sejenis tanaman labu) untuk menaunginya dan memulihkan tubuhnya.Baca juga: Doa Agar Segala Keinginan Terkabul, Bagus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan dan KesedihanImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-Qalam:Yang dimaksud adalah Dzun-Nun, yaitu Nabi Yunus bin Matta ‘alaihis salam. Hal itu terjadi ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: ia menaiki kapal di laut, kemudian seekor ikan menelannya. Ikan itu pun membawanya berkeliling di lautan dan dalam kegelapan gelombang laut yang dalam.Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Nabi Yunus mengucapkan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَucapan itu naik dan berkeliling di sekitar ‘Arsy. Para malaikat pun berkata, “Wahai Rabb kami, ini adalah suara yang lemah tetapi dikenal, berasal dari tempat yang asing.”Allah berfirman, “Apakah kalian tidak mengenalnya?”Mereka menjawab, “Tidak.”Allah berfirman, “Itu adalah Yunus.”Para malaikat berkata, “Wahai Rabb kami, bukankah dia hamba-Mu yang selalu diangkat amal salehnya dan doanya selalu dikabulkan?”Allah berfirman, “Benar.”Mereka berkata, “Tidakkah Engkau akan merahmati amalnya di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari kesulitan ini?”Maka Allah memerintahkan ikan tersebut untuk memuntahkannya ke daratan yang kosong. Karena itulah Allah berfirman:فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.”Imam Ahmad meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى»“Tidak pantas bagi siapa pun mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Sufyan Ats-Tsauri, dan terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. KesimpulanKetika seorang hamba mengakui kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan tulus, Allah akan membukakan jalan keluar dari kesulitan yang paling gelap sekalipun. Kisah Nabi Yunus juga mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa dzun nun doa nabi yunus doa saat kesulitan kisah nabi dalam quran kisah nabi yunus kisah nabi yunus dalam perut ikan renungan ayat renungan quran tafsir al anbiya 87 tafsir al qalam 48 tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir

Bukan Cuma Sebelum Magrib! Inilah Waktu Doa Paling Mustajab Saat Puasa – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ

Bukan Cuma Sebelum Magrib! Inilah Waktu Doa Paling Mustajab Saat Puasa – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ
Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ


Saya awali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang saudara kita, dan saya merasa bahwa akan bermanfaat jika saya menjawabnya secara umum di sini. Pertanyaannya: Kapankah doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak? Saya jawab bahwasanya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa orang yang berpuasa punya doa yang tidak tertolak. Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak. Terdapat tambahan redaksi dalam sebagian riwayat yang derajatnya lemah: “…hingga ia berbuka.” Disebutkan pula dalam riwayat lemah lainnya: “…ketika ia berbuka.” Dan dalam riwayat lemah lainnya disebutkan: “…menjelang ia berbuka.” Adapun riwayat yang paling kuat dari riwayat-riwayat yang lemah ini adalah yang menggunakan redaksi: “…hingga ia berbuka.” Jadi, doa orang berpuasa yang tidak akan tertolak itu adalah selama ia masih dalam keadaan berpuasa, yaitu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keutamaan doa ini tidaklah terbatas hanya pada waktu terbenamnya matahari (ketika berbuka), sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Bisa setelah Subuh, di waktu Dhuha, setelah Zhuhur, maupun setelah Ashar. Namun, tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu terakhir dari amalan itu memiliki keistimewaan untuk berdoa, sebagaimana dalam shalat. Setelah seorang hamba mencurahkan segala upayanya dalam beramal, dan merasakan lelah hingga sampai pada ujung waktunya maka saat-saat terakhir itulah memiliki keistimewaan untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat baik apabila orang yang berpuasa itu berdoa di penghujung waktu puasanya. Tetapi, janganlah mengkhususkan doa hanya pada waktu itu saja. Hendaknya seseorang memanjatkan doa yang bersifat umum, maupun doa yang bersifat khusus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah, baik untuk umat Islam, para pemimpin, maupun para ulama. Juga untuk diri sendiri, keluarga, serta kedua orang tua, dengan segala doa yang mengandung kebaikan. ===== أَبْدَأُ بِسُؤَالٍ سَأَلَنِي إِيَّاهُ أَحَدُ الْإِخْوَةِ وَرَأَيْتُ أَنَّ مِنَ الْفَائِدَةِ أَنْ أُجِيبَ عَنْهُ جَوَابًا عَامًّا وَهُوَ مَتَى تَكُونُ دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ فَأَقُولُ ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ أَنَّ لِلصَّائِمِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ حِينَ يُفْطِرُ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَفِيهَا ضَعْفٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَأَقْوَى هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الَّتِي فِيهَا ضَعْفٌ حَتَّى يُفْطِرَ إِذًا دَعْوَةُ الصَّائِمِ الَّتِي لَا تُرَدُّ هِيَ حَالَةَ كَوْنِهِ صَائِمًا مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْسَ هَذَا خَاصًّا بِوَقْتِ الْغُرُوبِ كَمَا يَفْهَمُ بَعْضُ النَّاسِ بَعْدَ الْفَجْرِ ضُحًى بَعْدَ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ لَكِنْ لَا شَكَّ أَنَّ لِآخِرِ الْعَمَلِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ أَنْ يَبْذُلَ الْعَبْدُ مَا يَبْذُلُ فِي الْعَمَلِ وَيَتْعَبُ حَتَّى يَأْتِيَ إِلَى آخِرِهِ فَإِنَّ لِآخِرِهِ مَزِيَّةً فِي الدُّعَاءِ فَحَسَنٌ أَنْ يَدْعُوَ الصَّائِمُ عِنْدَ آخِرِ وَقْتِ صَوْمِهِ لَكِنْ لَا يُخَصَّصُ الدُّعَاءُ بِهَذَا الْوَقْتِ يَدْعُو الْإِنْسَانُ دُعَاءً عَامًّا وَيَدْعُو دُعَاءً خَاصًّا وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لِلْأُمَّةِ وَلِوُلَاةِ الْأَمْرِ وَلِلْعُلَمَاءِ وَلِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِوَالِدَيْهِ بِمَا فِيهِ الْخَيْرُ

Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Pelajaran Besar tentang Ilmu, Sabar, dan Takdir

Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam Surah Al-Kahfi mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak buruk di hadapan kita benar-benar buruk dalam takdir Allah. Melalui tiga peristiwa yang sulit dipahami secara lahir, Allah menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan hikmah-Nya meliputi masa depan yang tidak kita ketahui. Dari kisah ini, kita belajar tentang adab menuntut ilmu, pentingnya kesabaran, dan indahnya berbaik sangka kepada ketetapan Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Awal Pertemuan Nabi Musa dan Khidhir 2. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian Kesabaran 3. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata Diselamatkan 4. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang Berat 5. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak Yatim 6. Hikmah Besar di Balik Tiga Peristiwa 6.1. Peristiwa Pertama 6.2. Peristiwa Kedua 6.3. Peristiwa Ketiga 7. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan Musa 8. Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir 8.1. 1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukan 8.2. 2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurna 8.3. 3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anak  Awal Pertemuan Nabi Musa dan KhidhirAllah Ta’ala berfirman,قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَٱرْتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا“Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. “Itulah yang kita cari,” maksudnya: itulah yang kita inginkan dan kita cari.Maka keduanya pun kembali, yakni kembali menelusuri jejak perjalanan mereka. Mereka kembali dengan mengikuti bekas langkah mereka hingga sampai ke tempat di mana mereka lupa tentang ikan tersebut.Ketika mereka telah sampai di tempat itu, mereka mendapati seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang saleh, bukan seorang nabi menurut pendapat yang lebih kuat.Kami telah memberikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, yaitu Allah memberinya rahmat khusus yang dengannya bertambah ilmunya dan menjadi baik amal perbuatannya.Dan Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami, yakni ilmu yang datang langsung dari Allah.Khidhir diberi sebagian ilmu yang tidak diberikan kepada Musa. Namun demikian, Nabi Musa ‘alaihis salam tetap lebih berilmu darinya dalam banyak perkara, terutama dalam ilmu-ilmu keimanan dan prinsip-prinsip agama.Sebab Musa termasuk para rasul ulul ‘azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan yang tinggi, yang Allah lebihkan di atas seluruh makhluk dalam hal ilmu, amal, dan keutamaan lainnya.Ketika Musa bertemu dengannya, Musa berbicara kepadanya dengan penuh adab, meminta izin, dan menjelaskan maksud kedatangannya. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian KesabaranAllah Ta’ala berfirman,قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.” (QS. Al-Kahfi: 67)وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًا“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu, sebagai petunjuk bagiku?”Maksudnya, bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang Allah ajarkan kepadamu, sehingga dengan ilmu itu aku dapat memperoleh petunjuk, mengetahui jalan yang benar, dan memahami hakikat berbagai perkara tersebut.Khidhir telah diberi oleh Allah ilham dan karamah, sehingga dengannya ia dapat mengetahui sisi-sisi tersembunyi dari banyak peristiwa yang bahkan tidak diketahui oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Khidhir berkata kepada Musa, “Aku tidak menolak permintaanmu itu. Akan tetapi, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”Maksudnya, engkau tidak akan sanggup mengikuti dan menyertaiku, karena engkau akan melihat berbagai peristiwa yang secara lahir tampak sebagai kemungkaran, padahal hakikatnya tidak demikian.“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Artinya, bagaimana mungkin engkau dapat bersabar terhadap suatu perkara yang engkau belum mengetahui hakikatnya, baik dari sisi lahir maupun batinnya, dan engkau belum mengetahui tujuan serta akibat akhirnya.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.” (QS. Al-Kahfi: 69)قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا“Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.” (QS. Al-Kahfi: 70)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu.”Ucapan ini merupakan tekad dari Nabi Musa sebelum ia menghadapi ujian yang sebenarnya. Tekad untuk bersabar adalah satu hal, sedangkan benar-benar mampu bersabar ketika ujian itu datang adalah hal yang lain. Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam tidak mampu bersabar ketika peristiwa tersebut benar-benar terjadi.Maka Khidhir berkata kepadanya, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.”Maksudnya, janganlah engkau terlebih dahulu mengajukan pertanyaan atau menyatakan keberatan sebelum aku sendiri menjelaskan kepadamu tentang peristiwa tersebut pada waktu yang tepat.Dengan demikian, Khidhir melarang Musa untuk bertanya terlebih dahulu, dan ia berjanji akan menjelaskan hakikat dari setiap peristiwa itu pada saat yang semestinya. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata DiselamatkanNabi Khidr melubangi kapal milik orang-orang miskin yang telah memberi mereka tumpangan. Secara logika, ini adalah tindakan zalim dan merugikan.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِى ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا إِمْرًا“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Kahfi: 71)قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.” (QS. Al-Kahfi: 72)قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِى بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِى مِنْ أَمْرِى عُسْرًا“Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.” (QS. Al-Kahfi: 73)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya berjalan hingga ketika mereka menaiki sebuah kapal, Khidhir melubangi kapal itu. Maksudnya, Khidhir mencabut salah satu papan dari kapal tersebut. Ia memiliki tujuan tertentu dalam perbuatannya itu yang nantinya akan ia jelaskan.Namun Nabi Musa ‘alaihis salam tidak dapat bersabar melihat perbuatan itu, karena secara lahir tampak sebagai suatu kemungkaran. Tindakan tersebut terlihat sebagai kerusakan pada kapal dan bisa menjadi sebab tenggelamnya para penumpangnya.Karena itulah Musa berkata, “Apakah engkau melubangi kapal itu untuk menenggelamkan para penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat besar.”Maksudnya, suatu perbuatan yang sangat besar dan sangat buruk menurut pandangan lahir.Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam belum mampu bersabar terhadap peristiwa tersebut.Khidhir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Maksudnya, apa yang terjadi sekarang adalah sebagaimana yang telah aku sampaikan kepadamu sebelumnya.Sikap Nabi Musa ‘alaihis salam tersebut terjadi karena lupa terhadap perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.Musa berkata, “Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa, dan janganlah engkau memberatkan urusanku.”Maksudnya, janganlah engkau mempersulit urusanku dan berilah aku kelonggaran. Apa yang terjadi tadi hanyalah karena aku lupa, maka janganlah engkau menyalahkanku pada kesalahan yang pertama ini.Dengan ucapan itu, Nabi Musa ‘alaihis salam menggabungkan antara pengakuan atas kesalahannya dan permohonan maaf atas perbuatannya. Ia juga menunjukkan bahwa tidak sepantasnya Khidhir bersikap keras kepada sahabatnya dalam keadaan seperti ini.Karena itu, Khidhir pun memaafkannya. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang BeratNabi Khidr membunuh seorang anak muda yang belum baligh. Ini adalah ujian terberat bagi logika kemanusiaan Musa.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.” (QS. Al-Kahfi: 74)۞ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَىْءٍۭ بَعْدَهَا فَلَا تُصَٰحِبْنِى ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّى عُذْرًا“Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.” (QS. Al-Kahfi: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak itu masih kecil, lalu Khidhir membunuhnya.Melihat hal itu, Nabi Musa ‘alaihis salam sangat marah dan tersulut oleh semangat membela agama, karena ia menyaksikan seorang anak kecil yang tidak berdosa dibunuh.Musa berkata, “Apakah engkau membunuh jiwa yang suci, yang tidak membunuh siapa pun? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”Maksudnya, tidak ada kemungkaran yang lebih besar daripada membunuh seorang anak kecil yang tidak memiliki dosa dan tidak pernah membunuh siapa pun.Kesalahan pertama Nabi Musa terjadi karena lupa, sedangkan yang kedua ini bukan karena lupa, melainkan karena ia belum mampu bersabar.Maka Khidhir berkata kepadanya dengan nada menegur dan mengingatkan, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Musa pun berkata, “Jika setelah ini aku masih bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka janganlah engkau menyertaiku lagi.”Maksudnya, engkau berhak untuk berpisah dariku dan meninggalkan kebersamaan ini.“Sungguh, engkau telah mempunyai alasan yang cukup dariku.”Artinya, engkau telah memberikan kesempatan dan toleransi yang cukup kepadaku, sehingga engkau tidak lagi dianggap kurang bersabar terhadapku. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak YatimMereka sampai di suatu negeri yang penduduknya sangat pelit dan menolak memberi jamuan. Namun, Khidr justru memperbaiki tembok rumah yang hampir roboh di negeri tersebut tanpa meminta upah.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهْلَ قَرْيَةٍ ٱسْتَطْعَمَآ أَهْلَهَا فَأَبَوْا۟ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.” (QS. Al-Kahfi: 77)قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada penduduk suatu negeri. Mereka meminta jamuan kepada penduduk negeri itu, tetapi mereka menolak untuk menjamu keduanya.Di negeri tersebut mereka menemukan sebuah dinding yang hampir roboh, yaitu dinding yang telah retak dan hampir runtuh. Lalu Khidhir menegakkan kembali dinding itu, yakni memperbaiki dan membangunnya kembali seperti semula.Melihat hal itu, Musa berkata, “Seandainya engkau mau, tentu engkau bisa mengambil upah atas pekerjaan itu.”Maksudnya, penduduk negeri ini tidak mau menjamu kita, padahal menjamu tamu merupakan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan. Namun engkau justru memperbaiki dinding mereka tanpa mengambil upah, padahal engkau mampu mengambilnya.Pada saat itu Nabi Musa ‘alaihis salam kembali tidak menepati apa yang telah ia janjikan sebelumnya, sehingga Khidhir pun mempunyai alasan untuk berpisah darinya.Khidhir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau.”Artinya, engkau sendiri telah menetapkan syarat itu atas dirimu. Maka sekarang tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan kebersamaan ini.“Kelak aku akan memberitahukan kepadamu makna dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”Maksudnya, aku akan menjelaskan kepadamu perbuatan-perbuatan yang engkau ingkari dariku, serta tujuan yang ada di balik semua itu dan bagaimana akhirnya nanti. Hikmah Besar di Balik Tiga PeristiwaPeristiwa PertamaAllah Ta’ala berfirman,أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al-Kahfi: 79)Ibrah: Kapal itu sengaja dibuat “cacat” agar tidak dirampas oleh raja zalim yang sedang menyita setiap kapal yang bagus di depan mereka. Kerusakan kecil menyelamatkan aset besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun kapal yang aku lubangi itu, kapal tersebut milik orang-orang miskin yang bekerja di laut.Keadaan mereka sebagai orang-orang miskin menuntut adanya rasa belas kasihan dan kepedulian terhadap mereka.Karena itu aku ingin membuat kapal tersebut tampak cacat. Di hadapan mereka ada seorang raja zalim yang merampas setiap kapal yang masih baik dan tidak memiliki cacat.Maksudnya, ketika kapal-kapal yang masih bagus melewati wilayah raja tersebut, ia akan merampasnya secara paksa dan mengambilnya dengan kezaliman.Karena itu aku melubangi kapal tersebut agar tampak memiliki cacat, sehingga kapal itu selamat dari perampasan raja yang zalim tersebut. Peristiwa KeduaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَوٰةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا“Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81)Ibrah: Anak tersebut ditakdirkan akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat durhaka dan akan menjerumuskan kedua orang tuanya yang saleh ke dalam kesesatan dan kekafiran. Allah ingin menggantinya dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dan lebih kasih sayang.’Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun anak laki-laki yang aku bunuh itu, kedua orang tuanya adalah orang yang beriman.Kami khawatir jika ia dibiarkan hidup hingga dewasa, ia akan menyeret kedua orang tuanya kepada kedurhakaan dan kekafiran.Anak itu telah ditakdirkan bahwa jika ia tumbuh dewasa, ia akan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam sikap melampaui batas dan kekafiran. Maksudnya, ia akan mendorong mereka kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah.Hal itu bisa terjadi karena besarnya kecintaan kedua orang tuanya kepadanya, atau karena mereka sangat membutuhkan dirinya, atau karena anak tersebut sendiri akan menekan dan menyeret mereka kepada kekafiran.Karena itulah aku membunuhnya setelah mengetahui hakikat tersebut, demi menjaga keselamatan agama kedua orang tuanya yang beriman.Tidak ada manfaat yang lebih besar daripada manfaat yang agung seperti ini.Walaupun pada peristiwa ini terdapat kesedihan bagi kedua orang tuanya dan terputusnya keturunan dari anak tersebut, namun Allah akan mengganti bagi keduanya dengan keturunan yang lebih baik darinya.Sebagaimana firman-Nya, “Kami berharap agar Rabb mereka mengganti bagi keduanya dengan anak yang lebih baik darinya, lebih suci, dan lebih dekat kasih sayangnya.”Maksudnya, Allah akan mengganti dengan anak yang saleh, bersih jiwanya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.Sebab jika anak yang terbunuh itu dibiarkan hidup hingga dewasa, ia justru akan menjadi anak yang sangat durhaka, bahkan dapat menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah. Peristiwa KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.” (QS. Al-Kahfi: 82) Ibrah: Di bawah tembok itu tersimpan harta karun milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang yang saleh. Allah ingin menjaga harta itu tetap terpendam sampai mereka dewasa agar tidak diambil oleh penduduk kota yang serakah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun dinding yang aku tegakkan kembali itu, dinding tersebut milik dua orang anak yatim di kota tersebut.Di bawah dinding itu tersimpan sebuah harta milik mereka berdua, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.Keadaan mereka sebagai anak yatim yang masih kecil dan telah kehilangan ayah menuntut adanya rasa belas kasihan dan perhatian terhadap mereka. Allah juga menjaga keduanya karena kesalehan ayah mereka.Karena itu Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa, lalu mereka dapat mengeluarkan harta simpanan mereka tersebut.Oleh sebab itu aku menegakkan kembali dinding tersebut agar harta itu tetap tersimpan hingga keduanya dewasa.Semua itu merupakan rahmat dari Rabbmu.Artinya, apa yang aku lakukan ini adalah bentuk rahmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, yaitu Khidhir.Aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri.Maksudnya, aku tidak melakukan semua itu berdasarkan keinginanku semata, melainkan atas perintah dan rahmat dari Allah.Itulah penjelasan dari perkara-perkara yang sebelumnya engkau tidak mampu bersabar terhadapnya. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan MusaDalam kisah yang agung dan menakjubkan ini terdapat banyak pelajaran, hukum, dan kaidah penting. Dengan pertolongan Allah, sebagian di antaranya akan kita sebutkan.1. Di antaranya adalah keutamaan ilmu dan dianjurkannya melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, karena ilmu merupakan perkara yang sangat penting. Nabi Musa ‘alaihis salam bahkan menempuh perjalanan yang jauh dan merasakan kelelahan dalam menuntut ilmu. Ia meninggalkan duduk bersama Bani Israil untuk mengajar dan membimbing mereka, lalu memilih melakukan perjalanan demi menambah ilmu.2. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah pentingnya mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian yang berikutnya. Menambah ilmu dan memperluas pengetahuan seseorang lebih utama daripada meninggalkannya dan hanya sibuk mengajar tanpa terus menambah ilmu. Namun menggabungkan keduanya, yaitu belajar dan mengajar, adalah keadaan yang paling sempurna.3. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya ada dua jenis.Pertama, ilmu yang diperoleh melalui usaha, belajar, dan kesungguhan seorang hamba.Kedua, ilmu laduni, yaitu ilmu yang Allah karuniakan secara langsung kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki.Sebagaimana firman-Nya,وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا“Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami.”4. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya beradab kepada guru dan berbicara kepadanya dengan tutur kata yang lembut.Hal ini terlihat dari ucapan Nabi Musa ‘alaihis salam,هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk bagiku?”Ucapan ini disampaikan dengan penuh kelembutan dan seolah-olah sebagai permintaan izin, yaitu apakah ia diperbolehkan atau tidak. Dalam ucapan itu juga terdapat pengakuan bahwa Musa ingin belajar darinya.Berbeda dengan sikap orang yang kasar atau sombong. Mereka tidak menunjukkan bahwa dirinya membutuhkan ilmu dari gurunya. Bahkan ada yang menganggap dirinya hanya bekerja sama dengan gurunya, atau bahkan merasa seolah-olah ia juga mengajari gurunya, padahal pada hakikatnya ia sangat bodoh.Bersikap rendah hati kepada guru dan menampakkan kebutuhan terhadap ilmunya merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seorang penuntut ilmu.5. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang memiliki keutamaan tetap perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari orang yang berada di bawahnya.Sebab Nabi Musa—tanpa diragukan lagi—lebih utama daripada Khidhir, namun beliau tetap belajar darinya.6. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa seorang ulama yang memiliki keutamaan tetap perlu mempelajari ilmu yang belum ia kuasai dari orang yang lebih ahli di bidang tersebut, meskipun orang itu berada di bawahnya dalam banyak sisi ilmu lainnya.Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk para rasul ulul ‘azmi yang Allah anugerahi ilmu yang sangat luas, bahkan melebihi kebanyakan manusia. Namun dalam ilmu tertentu yang khusus, Khidhir memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu Musa sangat bersemangat untuk belajar darinya.Berdasarkan hal ini, seorang ahli fikih atau ahli hadits yang masih lemah dalam ilmu nahwu, sharaf, atau cabang ilmu lainnya, tidak sepatutnya enggan mempelajarinya dari orang yang lebih ahli dalam bidang tersebut, meskipun orang itu bukan seorang ahli hadits atau ahli fikih.7. Di antara pelajaran lainnya adalah menyandarkan ilmu dan berbagai keutamaan kepada Allah Ta’ala, mengakui bahwa semua itu berasal dari-Nya, serta mensyukuri nikmat tersebut.Sebagaimana dalam ucapan Musa,تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ“Engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu,”yaitu ilmu yang Allah ajarkan kepadamu.8. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing kepada kebaikan.Setiap ilmu yang mengandung petunjuk menuju jalan kebaikan, memperingatkan dari jalan keburukan, atau menjadi sarana untuk mencapai hal tersebut, maka itulah ilmu yang bermanfaat.Adapun ilmu selain itu, maka bisa jadi merupakan ilmu yang berbahaya atau ilmu yang tidak memiliki manfaat.Hal ini sebagaimana firman Allah,أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk.”9. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran dalam menyertai seorang guru dan menuntut ilmu darinya, serta tidak mampu istiqamah dalam proses tersebut, maka ia akan kehilangan banyak ilmu sesuai dengan kadar kurangnya kesabarannya.Orang yang tidak memiliki kesabaran tidak akan mendapatkan ilmu. Sebaliknya, siapa yang bersabar dan terus meneguhkan dirinya dalam kesabaran tersebut, ia akan dapat meraih berbagai tujuan yang ia usahakan.Hal ini sebagaimana perkataan Khidhir yang menjelaskan kepada Musa alasan mengapa Musa tidak dapat bersabar bersamanya, yaitu karena Musa tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk mengikuti semua peristiwa tersebut.10. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa sebab utama seseorang mampu bersabar adalah karena ia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang perkara yang harus ia hadapi dengan kesabaran.Adapun orang yang tidak mengetahui hakikat suatu perkara, tidak mengetahui tujuannya, hasil akhirnya, manfaatnya, ataupun buah yang akan diperoleh darinya, maka ia tidak memiliki sebab yang mendorongnya untuk bersabar.Hal ini sebagaimana firman Allah,وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Ayat ini menunjukkan bahwa sebab ketidakmampuan bersabar adalah karena tidak mengetahui hakikat suatu perkara secara menyeluruh.11. Di antara pelajaran lainnya adalah perintah untuk bersikap tenang, berhati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai suatu perkara sebelum mengetahui tujuan dan maksud yang sebenarnya dari perkara tersebut.12. Di antara pelajaran lainnya adalah dianjurkannya mengaitkan perkara-perkara yang akan datang dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, seseorang tidak sepatutnya mengatakan bahwa ia pasti akan melakukan sesuatu di masa depan, kecuali dengan mengatakan,إِنْ شَاءَ اللَّهُ“Jika Allah menghendaki.”13. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa tekad untuk melakukan sesuatu tidaklah sama dengan benar-benar melakukannya.Nabi Musa berkata,سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا“Engkau akan mendapati aku, insya Allah, sebagai orang yang sabar.”Beliau telah meneguhkan niat dalam dirinya untuk bersabar, namun ketika peristiwa itu terjadi, kesabaran tersebut belum sepenuhnya terwujud.14. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang guru boleh melihat maslahat untuk mengarahkan muridnya agar tidak langsung bertanya tentang sebagian perkara, sampai guru tersebut sendiri yang menjelaskannya pada waktu yang tepat.Hal ini dilakukan apabila pemahaman murid masih terbatas, atau jika pertanyaan yang diajukan terlalu mendalam pada perkara yang belum saatnya dibahas, atau pada hal-hal yang lebih penting masih belum dipahami, atau jika pertanyaan yang diajukan tidak berkaitan dengan pokok pembahasan.15. Di antara pelajaran lainnya adalah bolehnya melakukan perjalanan melalui laut selama tidak dalam keadaan yang membahayakan.16. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya, baik dalam perkara yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama manusia. Hal ini sebagaimana ucapan Musa,لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ“Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa.” (QS. Al-Kahfi: 73)17. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seseorang seharusnya bersikap lapang dalam berinteraksi dengan manusia, menerima apa yang mereka mampu berikan dengan kerelaan hati mereka, dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka lakukan atau yang memberatkan mereka. Sikap membebani orang lain akan menimbulkan kejenuhan dan membuat orang menjauh. Sebaliknya, seseorang hendaknya mengambil sikap yang mudah sehingga urusan pun menjadi mudah.18. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa hukum-hukum dalam kehidupan dunia berjalan berdasarkan apa yang tampak secara lahir. Dari hal-hal yang tampak itulah ditetapkan berbagai hukum yang berkaitan dengan harta, jiwa, dan perkara lainnya.Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam mengingkari tindakan Khidhir ketika melubangi kapal dan membunuh anak kecil, sebab secara lahir perbuatan tersebut tampak sebagai kemungkaran. Dalam keadaan biasa, Musa tidak boleh diam terhadap kemungkaran seperti itu.Namun dalam keadaan khusus ketika ia sedang menyertai Khidhir, seharusnya ia bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkari. Akan tetapi Musa segera menilai berdasarkan keadaan lahirnya dan tidak memperhatikan kondisi khusus yang menuntutnya untuk bersabar.19. Di antara pelajaran penting lainnya adalah kaidah besar dalam syariat: Menolak kerusakan yang lebih besar dengan melakukan kerusakan yang lebih kecil. Demikian pula memilih maslahat yang lebih besar dengan meninggalkan maslahat yang lebih kecil.Membunuh anak tersebut memang merupakan suatu keburukan, namun jika anak itu tetap hidup hingga dewasa dan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam kekafiran, maka keburukan itu jauh lebih besar.Walaupun pada pandangan pertama membiarkan anak itu hidup tampak sebagai kebaikan, namun kebaikan yang lebih besar adalah tetap terjaganya agama dan iman kedua orang tuanya. Karena itulah Khidhir membunuh anak tersebut.Di bawah kaidah ini terdapat banyak sekali cabang hukum dan manfaat yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap pertentangan antara maslahat dan mafsadat termasuk dalam pembahasan kaidah ini.20. Di antara pelajaran lainnya adalah kaidah besar bahwa seseorang boleh bertindak terhadap harta orang lain jika tujuannya untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan, meskipun tanpa izin pemiliknya, bahkan walaupun tindakan itu menyebabkan rusaknya sebagian harta tersebut. Hal ini sebagaimana tindakan Khidhir yang melubangi kapal agar kapal itu tampak cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zalim.Berdasarkan kaidah ini, apabila terjadi kebakaran, tenggelam, atau keadaan darurat lainnya pada rumah atau harta seseorang, dan untuk menyelamatkan sebagian besar harta tersebut diperlukan merusak sebagian lainnya atau merobohkan sebagian bangunan, maka hal itu boleh dilakukan, bahkan dianjurkan demi menjaga harta tersebut.Demikian pula jika seorang penguasa zalim hendak merampas seluruh harta seseorang, lalu sebagian harta diberikan untuk menyelamatkan sisanya, maka hal itu diperbolehkan meskipun tanpa izin pemilik harta tersebut.21. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa bekerja di laut diperbolehkan sebagaimana bekerja di darat. Hal ini terlihat dari firman Allah,يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ“Mereka bekerja di laut,” (QS. Al-Kahfi: 79) dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka tersebut.22. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang miskin terkadang masih memiliki sebagian harta, tetapi harta itu tidak mencukupi kebutuhannya. Karena itu ia tetap disebut miskin. Hal ini terlihat dari keterangan bahwa para nelayan tersebut adalah orang-orang miskin, padahal mereka memiliki sebuah kapal.23. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa membunuh merupakan salah satu dosa terbesar. Hal ini terlihat dari ucapan Musa ketika menanggapi pembunuhan anak kecil tersebut,لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا“Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”24. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan sebagai qishash tidak termasuk perbuatan mungkar. Hal ini tersirat dari ucapan Musa,بِغَيْرِ نَفْسٍ“Tanpa (alasan membunuh) jiwa yang lain.”25. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang hamba yang saleh akan dijaga oleh Allah, baik pada dirinya maupun pada keturunannya.Baca juga: Hadits Arbain #19: Menjaga Hak Allah dan Memahami TakdirAllah Jaga Hingga TuaKhutbah Jumat: Penjagaan Allah yang Luar Biasa bagi yang Menjaga Hak Allah26. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa melayani orang-orang saleh atau orang-orang yang berkaitan dengan mereka merupakan suatu kemuliaan. Hal ini terlihat dari alasan ditegakkannya kembali dinding tersebut dan dijaganya harta dua anak yatim itu, yaitu karena ayah mereka adalah seorang yang saleh.27. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya menjaga adab kepada Allah dalam ucapan. Khidhir menyandarkan kerusakan kapal kepada dirinya dengan mengatakan,فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا“Aku ingin membuat kapal itu cacat.”Namun ketika menyebutkan kebaikan, ia menyandarkannya kepada Allah dengan mengatakan,فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا“Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa.”Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syuara: 80)Demikian pula ucapan para jin,وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا“Kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 10)Padahal pada hakikatnya semua itu terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah.28. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang sahabat tidak seharusnya langsung memutuskan hubungan dengan sahabatnya sebelum memberikan kesempatan untuk meminta maaf dan menjelaskan kesalahannya, sebagaimana yang dilakukan Khidhir terhadap Musa.29. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa kesesuaian dan keharmonisan antara dua orang sahabat dalam perkara-perkara yang tidak terlarang menjadi sebab kuatnya persahabatan dan kelanggengan hubungan. Sebaliknya, ketidaksepahaman dapat menjadi sebab terputusnya kebersamaan.30. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa semua peristiwa yang dilakukan Khidhir dalam kisah ini pada hakikatnya merupakan takdir Allah yang dijalankan melalui tangan hamba-Nya yang saleh. Dengan peristiwa itu Allah menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kelembutan dan kasih sayang-Nya dalam berbagai ketetapan-Nya. Terkadang Allah menakdirkan sesuatu yang sangat tidak disukai oleh seorang hamba, padahal pada hakikatnya hal itu merupakan kebaikan baginya.31. Kadang kebaikan itu berkaitan dengan agama seseorang, seperti dalam peristiwa terbunuhnya anak kecil tersebut. Kadang pula berkaitan dengan urusan dunia, seperti dalam peristiwa dilubanginya kapal.Dengan demikian Allah memperlihatkan kepada manusia contoh dari kelembutan dan kemurahan-Nya, agar mereka memahami hikmah tersebut dan akhirnya rela sepenuhnya terhadap takdir-takdir Allah meskipun pada awalnya terasa tidak menyenangkan.(Pelajaran-pelajaran ini diambil dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman atau Tafsir As-Sa’di) Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukanKapal yang dilubangi, anak yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan tanpa upah tampak janggal di mata manusia. Namun semuanya ternyata menjadi jalan datangnya rahmat, perlindungan, dan kebaikan yang lebih besar. Ini mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa menilai takdir Allah hanya dari yang tampak di permukaan.2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurnaNabi Musa ‘alaihis salam saja tidak mengetahui hikmah dari tiga peristiwa itu pada awalnya. Maka manusia biasa lebih pantas lagi untuk tunduk, rendah hati, dan tidak merasa bahwa semua kejadian harus langsung bisa dipahami akalnya. Kadang Allah menyembunyikan hikmah agar hamba belajar sabar dan tawakal.3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anakPada kisah tembok dua anak yatim, Allah menjaga harta mereka karena ayah mereka adalah seorang yang saleh. Ini adalah pelajaran yang sangat menyentuh: salah satu warisan terbaik bagi anak bukan sekadar harta, tetapi kesalehan orang tuanya. Amal saleh seorang ayah atau ibu bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada keturunannya. Semoga bermanfaat. Semoga menjadi teladan. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menuntut ilmu Hikmah Takdir Husnuzan kepada Allah keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi Kisah Musa dan Khidhir kisah nabi musa Kisah Qurani nabi khidr nabi musa pelajaran al-quran pelajaran dari al-kahfi renungan ayat renungan quran surah al-kahfi surat al kahfi tafsir al-kahfi tafsir as-sa'di Ujian Kesabaran

Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Pelajaran Besar tentang Ilmu, Sabar, dan Takdir

Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam Surah Al-Kahfi mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak buruk di hadapan kita benar-benar buruk dalam takdir Allah. Melalui tiga peristiwa yang sulit dipahami secara lahir, Allah menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan hikmah-Nya meliputi masa depan yang tidak kita ketahui. Dari kisah ini, kita belajar tentang adab menuntut ilmu, pentingnya kesabaran, dan indahnya berbaik sangka kepada ketetapan Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Awal Pertemuan Nabi Musa dan Khidhir 2. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian Kesabaran 3. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata Diselamatkan 4. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang Berat 5. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak Yatim 6. Hikmah Besar di Balik Tiga Peristiwa 6.1. Peristiwa Pertama 6.2. Peristiwa Kedua 6.3. Peristiwa Ketiga 7. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan Musa 8. Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir 8.1. 1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukan 8.2. 2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurna 8.3. 3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anak  Awal Pertemuan Nabi Musa dan KhidhirAllah Ta’ala berfirman,قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَٱرْتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا“Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. “Itulah yang kita cari,” maksudnya: itulah yang kita inginkan dan kita cari.Maka keduanya pun kembali, yakni kembali menelusuri jejak perjalanan mereka. Mereka kembali dengan mengikuti bekas langkah mereka hingga sampai ke tempat di mana mereka lupa tentang ikan tersebut.Ketika mereka telah sampai di tempat itu, mereka mendapati seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang saleh, bukan seorang nabi menurut pendapat yang lebih kuat.Kami telah memberikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, yaitu Allah memberinya rahmat khusus yang dengannya bertambah ilmunya dan menjadi baik amal perbuatannya.Dan Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami, yakni ilmu yang datang langsung dari Allah.Khidhir diberi sebagian ilmu yang tidak diberikan kepada Musa. Namun demikian, Nabi Musa ‘alaihis salam tetap lebih berilmu darinya dalam banyak perkara, terutama dalam ilmu-ilmu keimanan dan prinsip-prinsip agama.Sebab Musa termasuk para rasul ulul ‘azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan yang tinggi, yang Allah lebihkan di atas seluruh makhluk dalam hal ilmu, amal, dan keutamaan lainnya.Ketika Musa bertemu dengannya, Musa berbicara kepadanya dengan penuh adab, meminta izin, dan menjelaskan maksud kedatangannya. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian KesabaranAllah Ta’ala berfirman,قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.” (QS. Al-Kahfi: 67)وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًا“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu, sebagai petunjuk bagiku?”Maksudnya, bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang Allah ajarkan kepadamu, sehingga dengan ilmu itu aku dapat memperoleh petunjuk, mengetahui jalan yang benar, dan memahami hakikat berbagai perkara tersebut.Khidhir telah diberi oleh Allah ilham dan karamah, sehingga dengannya ia dapat mengetahui sisi-sisi tersembunyi dari banyak peristiwa yang bahkan tidak diketahui oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Khidhir berkata kepada Musa, “Aku tidak menolak permintaanmu itu. Akan tetapi, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”Maksudnya, engkau tidak akan sanggup mengikuti dan menyertaiku, karena engkau akan melihat berbagai peristiwa yang secara lahir tampak sebagai kemungkaran, padahal hakikatnya tidak demikian.“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Artinya, bagaimana mungkin engkau dapat bersabar terhadap suatu perkara yang engkau belum mengetahui hakikatnya, baik dari sisi lahir maupun batinnya, dan engkau belum mengetahui tujuan serta akibat akhirnya.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.” (QS. Al-Kahfi: 69)قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا“Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.” (QS. Al-Kahfi: 70)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu.”Ucapan ini merupakan tekad dari Nabi Musa sebelum ia menghadapi ujian yang sebenarnya. Tekad untuk bersabar adalah satu hal, sedangkan benar-benar mampu bersabar ketika ujian itu datang adalah hal yang lain. Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam tidak mampu bersabar ketika peristiwa tersebut benar-benar terjadi.Maka Khidhir berkata kepadanya, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.”Maksudnya, janganlah engkau terlebih dahulu mengajukan pertanyaan atau menyatakan keberatan sebelum aku sendiri menjelaskan kepadamu tentang peristiwa tersebut pada waktu yang tepat.Dengan demikian, Khidhir melarang Musa untuk bertanya terlebih dahulu, dan ia berjanji akan menjelaskan hakikat dari setiap peristiwa itu pada saat yang semestinya. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata DiselamatkanNabi Khidr melubangi kapal milik orang-orang miskin yang telah memberi mereka tumpangan. Secara logika, ini adalah tindakan zalim dan merugikan.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِى ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا إِمْرًا“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Kahfi: 71)قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.” (QS. Al-Kahfi: 72)قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِى بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِى مِنْ أَمْرِى عُسْرًا“Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.” (QS. Al-Kahfi: 73)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya berjalan hingga ketika mereka menaiki sebuah kapal, Khidhir melubangi kapal itu. Maksudnya, Khidhir mencabut salah satu papan dari kapal tersebut. Ia memiliki tujuan tertentu dalam perbuatannya itu yang nantinya akan ia jelaskan.Namun Nabi Musa ‘alaihis salam tidak dapat bersabar melihat perbuatan itu, karena secara lahir tampak sebagai suatu kemungkaran. Tindakan tersebut terlihat sebagai kerusakan pada kapal dan bisa menjadi sebab tenggelamnya para penumpangnya.Karena itulah Musa berkata, “Apakah engkau melubangi kapal itu untuk menenggelamkan para penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat besar.”Maksudnya, suatu perbuatan yang sangat besar dan sangat buruk menurut pandangan lahir.Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam belum mampu bersabar terhadap peristiwa tersebut.Khidhir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Maksudnya, apa yang terjadi sekarang adalah sebagaimana yang telah aku sampaikan kepadamu sebelumnya.Sikap Nabi Musa ‘alaihis salam tersebut terjadi karena lupa terhadap perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.Musa berkata, “Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa, dan janganlah engkau memberatkan urusanku.”Maksudnya, janganlah engkau mempersulit urusanku dan berilah aku kelonggaran. Apa yang terjadi tadi hanyalah karena aku lupa, maka janganlah engkau menyalahkanku pada kesalahan yang pertama ini.Dengan ucapan itu, Nabi Musa ‘alaihis salam menggabungkan antara pengakuan atas kesalahannya dan permohonan maaf atas perbuatannya. Ia juga menunjukkan bahwa tidak sepantasnya Khidhir bersikap keras kepada sahabatnya dalam keadaan seperti ini.Karena itu, Khidhir pun memaafkannya. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang BeratNabi Khidr membunuh seorang anak muda yang belum baligh. Ini adalah ujian terberat bagi logika kemanusiaan Musa.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.” (QS. Al-Kahfi: 74)۞ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَىْءٍۭ بَعْدَهَا فَلَا تُصَٰحِبْنِى ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّى عُذْرًا“Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.” (QS. Al-Kahfi: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak itu masih kecil, lalu Khidhir membunuhnya.Melihat hal itu, Nabi Musa ‘alaihis salam sangat marah dan tersulut oleh semangat membela agama, karena ia menyaksikan seorang anak kecil yang tidak berdosa dibunuh.Musa berkata, “Apakah engkau membunuh jiwa yang suci, yang tidak membunuh siapa pun? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”Maksudnya, tidak ada kemungkaran yang lebih besar daripada membunuh seorang anak kecil yang tidak memiliki dosa dan tidak pernah membunuh siapa pun.Kesalahan pertama Nabi Musa terjadi karena lupa, sedangkan yang kedua ini bukan karena lupa, melainkan karena ia belum mampu bersabar.Maka Khidhir berkata kepadanya dengan nada menegur dan mengingatkan, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Musa pun berkata, “Jika setelah ini aku masih bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka janganlah engkau menyertaiku lagi.”Maksudnya, engkau berhak untuk berpisah dariku dan meninggalkan kebersamaan ini.“Sungguh, engkau telah mempunyai alasan yang cukup dariku.”Artinya, engkau telah memberikan kesempatan dan toleransi yang cukup kepadaku, sehingga engkau tidak lagi dianggap kurang bersabar terhadapku. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak YatimMereka sampai di suatu negeri yang penduduknya sangat pelit dan menolak memberi jamuan. Namun, Khidr justru memperbaiki tembok rumah yang hampir roboh di negeri tersebut tanpa meminta upah.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهْلَ قَرْيَةٍ ٱسْتَطْعَمَآ أَهْلَهَا فَأَبَوْا۟ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.” (QS. Al-Kahfi: 77)قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada penduduk suatu negeri. Mereka meminta jamuan kepada penduduk negeri itu, tetapi mereka menolak untuk menjamu keduanya.Di negeri tersebut mereka menemukan sebuah dinding yang hampir roboh, yaitu dinding yang telah retak dan hampir runtuh. Lalu Khidhir menegakkan kembali dinding itu, yakni memperbaiki dan membangunnya kembali seperti semula.Melihat hal itu, Musa berkata, “Seandainya engkau mau, tentu engkau bisa mengambil upah atas pekerjaan itu.”Maksudnya, penduduk negeri ini tidak mau menjamu kita, padahal menjamu tamu merupakan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan. Namun engkau justru memperbaiki dinding mereka tanpa mengambil upah, padahal engkau mampu mengambilnya.Pada saat itu Nabi Musa ‘alaihis salam kembali tidak menepati apa yang telah ia janjikan sebelumnya, sehingga Khidhir pun mempunyai alasan untuk berpisah darinya.Khidhir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau.”Artinya, engkau sendiri telah menetapkan syarat itu atas dirimu. Maka sekarang tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan kebersamaan ini.“Kelak aku akan memberitahukan kepadamu makna dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”Maksudnya, aku akan menjelaskan kepadamu perbuatan-perbuatan yang engkau ingkari dariku, serta tujuan yang ada di balik semua itu dan bagaimana akhirnya nanti. Hikmah Besar di Balik Tiga PeristiwaPeristiwa PertamaAllah Ta’ala berfirman,أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al-Kahfi: 79)Ibrah: Kapal itu sengaja dibuat “cacat” agar tidak dirampas oleh raja zalim yang sedang menyita setiap kapal yang bagus di depan mereka. Kerusakan kecil menyelamatkan aset besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun kapal yang aku lubangi itu, kapal tersebut milik orang-orang miskin yang bekerja di laut.Keadaan mereka sebagai orang-orang miskin menuntut adanya rasa belas kasihan dan kepedulian terhadap mereka.Karena itu aku ingin membuat kapal tersebut tampak cacat. Di hadapan mereka ada seorang raja zalim yang merampas setiap kapal yang masih baik dan tidak memiliki cacat.Maksudnya, ketika kapal-kapal yang masih bagus melewati wilayah raja tersebut, ia akan merampasnya secara paksa dan mengambilnya dengan kezaliman.Karena itu aku melubangi kapal tersebut agar tampak memiliki cacat, sehingga kapal itu selamat dari perampasan raja yang zalim tersebut. Peristiwa KeduaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَوٰةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا“Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81)Ibrah: Anak tersebut ditakdirkan akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat durhaka dan akan menjerumuskan kedua orang tuanya yang saleh ke dalam kesesatan dan kekafiran. Allah ingin menggantinya dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dan lebih kasih sayang.’Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun anak laki-laki yang aku bunuh itu, kedua orang tuanya adalah orang yang beriman.Kami khawatir jika ia dibiarkan hidup hingga dewasa, ia akan menyeret kedua orang tuanya kepada kedurhakaan dan kekafiran.Anak itu telah ditakdirkan bahwa jika ia tumbuh dewasa, ia akan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam sikap melampaui batas dan kekafiran. Maksudnya, ia akan mendorong mereka kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah.Hal itu bisa terjadi karena besarnya kecintaan kedua orang tuanya kepadanya, atau karena mereka sangat membutuhkan dirinya, atau karena anak tersebut sendiri akan menekan dan menyeret mereka kepada kekafiran.Karena itulah aku membunuhnya setelah mengetahui hakikat tersebut, demi menjaga keselamatan agama kedua orang tuanya yang beriman.Tidak ada manfaat yang lebih besar daripada manfaat yang agung seperti ini.Walaupun pada peristiwa ini terdapat kesedihan bagi kedua orang tuanya dan terputusnya keturunan dari anak tersebut, namun Allah akan mengganti bagi keduanya dengan keturunan yang lebih baik darinya.Sebagaimana firman-Nya, “Kami berharap agar Rabb mereka mengganti bagi keduanya dengan anak yang lebih baik darinya, lebih suci, dan lebih dekat kasih sayangnya.”Maksudnya, Allah akan mengganti dengan anak yang saleh, bersih jiwanya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.Sebab jika anak yang terbunuh itu dibiarkan hidup hingga dewasa, ia justru akan menjadi anak yang sangat durhaka, bahkan dapat menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah. Peristiwa KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.” (QS. Al-Kahfi: 82) Ibrah: Di bawah tembok itu tersimpan harta karun milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang yang saleh. Allah ingin menjaga harta itu tetap terpendam sampai mereka dewasa agar tidak diambil oleh penduduk kota yang serakah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun dinding yang aku tegakkan kembali itu, dinding tersebut milik dua orang anak yatim di kota tersebut.Di bawah dinding itu tersimpan sebuah harta milik mereka berdua, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.Keadaan mereka sebagai anak yatim yang masih kecil dan telah kehilangan ayah menuntut adanya rasa belas kasihan dan perhatian terhadap mereka. Allah juga menjaga keduanya karena kesalehan ayah mereka.Karena itu Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa, lalu mereka dapat mengeluarkan harta simpanan mereka tersebut.Oleh sebab itu aku menegakkan kembali dinding tersebut agar harta itu tetap tersimpan hingga keduanya dewasa.Semua itu merupakan rahmat dari Rabbmu.Artinya, apa yang aku lakukan ini adalah bentuk rahmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, yaitu Khidhir.Aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri.Maksudnya, aku tidak melakukan semua itu berdasarkan keinginanku semata, melainkan atas perintah dan rahmat dari Allah.Itulah penjelasan dari perkara-perkara yang sebelumnya engkau tidak mampu bersabar terhadapnya. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan MusaDalam kisah yang agung dan menakjubkan ini terdapat banyak pelajaran, hukum, dan kaidah penting. Dengan pertolongan Allah, sebagian di antaranya akan kita sebutkan.1. Di antaranya adalah keutamaan ilmu dan dianjurkannya melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, karena ilmu merupakan perkara yang sangat penting. Nabi Musa ‘alaihis salam bahkan menempuh perjalanan yang jauh dan merasakan kelelahan dalam menuntut ilmu. Ia meninggalkan duduk bersama Bani Israil untuk mengajar dan membimbing mereka, lalu memilih melakukan perjalanan demi menambah ilmu.2. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah pentingnya mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian yang berikutnya. Menambah ilmu dan memperluas pengetahuan seseorang lebih utama daripada meninggalkannya dan hanya sibuk mengajar tanpa terus menambah ilmu. Namun menggabungkan keduanya, yaitu belajar dan mengajar, adalah keadaan yang paling sempurna.3. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya ada dua jenis.Pertama, ilmu yang diperoleh melalui usaha, belajar, dan kesungguhan seorang hamba.Kedua, ilmu laduni, yaitu ilmu yang Allah karuniakan secara langsung kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki.Sebagaimana firman-Nya,وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا“Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami.”4. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya beradab kepada guru dan berbicara kepadanya dengan tutur kata yang lembut.Hal ini terlihat dari ucapan Nabi Musa ‘alaihis salam,هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk bagiku?”Ucapan ini disampaikan dengan penuh kelembutan dan seolah-olah sebagai permintaan izin, yaitu apakah ia diperbolehkan atau tidak. Dalam ucapan itu juga terdapat pengakuan bahwa Musa ingin belajar darinya.Berbeda dengan sikap orang yang kasar atau sombong. Mereka tidak menunjukkan bahwa dirinya membutuhkan ilmu dari gurunya. Bahkan ada yang menganggap dirinya hanya bekerja sama dengan gurunya, atau bahkan merasa seolah-olah ia juga mengajari gurunya, padahal pada hakikatnya ia sangat bodoh.Bersikap rendah hati kepada guru dan menampakkan kebutuhan terhadap ilmunya merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seorang penuntut ilmu.5. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang memiliki keutamaan tetap perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari orang yang berada di bawahnya.Sebab Nabi Musa—tanpa diragukan lagi—lebih utama daripada Khidhir, namun beliau tetap belajar darinya.6. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa seorang ulama yang memiliki keutamaan tetap perlu mempelajari ilmu yang belum ia kuasai dari orang yang lebih ahli di bidang tersebut, meskipun orang itu berada di bawahnya dalam banyak sisi ilmu lainnya.Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk para rasul ulul ‘azmi yang Allah anugerahi ilmu yang sangat luas, bahkan melebihi kebanyakan manusia. Namun dalam ilmu tertentu yang khusus, Khidhir memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu Musa sangat bersemangat untuk belajar darinya.Berdasarkan hal ini, seorang ahli fikih atau ahli hadits yang masih lemah dalam ilmu nahwu, sharaf, atau cabang ilmu lainnya, tidak sepatutnya enggan mempelajarinya dari orang yang lebih ahli dalam bidang tersebut, meskipun orang itu bukan seorang ahli hadits atau ahli fikih.7. Di antara pelajaran lainnya adalah menyandarkan ilmu dan berbagai keutamaan kepada Allah Ta’ala, mengakui bahwa semua itu berasal dari-Nya, serta mensyukuri nikmat tersebut.Sebagaimana dalam ucapan Musa,تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ“Engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu,”yaitu ilmu yang Allah ajarkan kepadamu.8. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing kepada kebaikan.Setiap ilmu yang mengandung petunjuk menuju jalan kebaikan, memperingatkan dari jalan keburukan, atau menjadi sarana untuk mencapai hal tersebut, maka itulah ilmu yang bermanfaat.Adapun ilmu selain itu, maka bisa jadi merupakan ilmu yang berbahaya atau ilmu yang tidak memiliki manfaat.Hal ini sebagaimana firman Allah,أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk.”9. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran dalam menyertai seorang guru dan menuntut ilmu darinya, serta tidak mampu istiqamah dalam proses tersebut, maka ia akan kehilangan banyak ilmu sesuai dengan kadar kurangnya kesabarannya.Orang yang tidak memiliki kesabaran tidak akan mendapatkan ilmu. Sebaliknya, siapa yang bersabar dan terus meneguhkan dirinya dalam kesabaran tersebut, ia akan dapat meraih berbagai tujuan yang ia usahakan.Hal ini sebagaimana perkataan Khidhir yang menjelaskan kepada Musa alasan mengapa Musa tidak dapat bersabar bersamanya, yaitu karena Musa tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk mengikuti semua peristiwa tersebut.10. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa sebab utama seseorang mampu bersabar adalah karena ia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang perkara yang harus ia hadapi dengan kesabaran.Adapun orang yang tidak mengetahui hakikat suatu perkara, tidak mengetahui tujuannya, hasil akhirnya, manfaatnya, ataupun buah yang akan diperoleh darinya, maka ia tidak memiliki sebab yang mendorongnya untuk bersabar.Hal ini sebagaimana firman Allah,وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Ayat ini menunjukkan bahwa sebab ketidakmampuan bersabar adalah karena tidak mengetahui hakikat suatu perkara secara menyeluruh.11. Di antara pelajaran lainnya adalah perintah untuk bersikap tenang, berhati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai suatu perkara sebelum mengetahui tujuan dan maksud yang sebenarnya dari perkara tersebut.12. Di antara pelajaran lainnya adalah dianjurkannya mengaitkan perkara-perkara yang akan datang dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, seseorang tidak sepatutnya mengatakan bahwa ia pasti akan melakukan sesuatu di masa depan, kecuali dengan mengatakan,إِنْ شَاءَ اللَّهُ“Jika Allah menghendaki.”13. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa tekad untuk melakukan sesuatu tidaklah sama dengan benar-benar melakukannya.Nabi Musa berkata,سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا“Engkau akan mendapati aku, insya Allah, sebagai orang yang sabar.”Beliau telah meneguhkan niat dalam dirinya untuk bersabar, namun ketika peristiwa itu terjadi, kesabaran tersebut belum sepenuhnya terwujud.14. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang guru boleh melihat maslahat untuk mengarahkan muridnya agar tidak langsung bertanya tentang sebagian perkara, sampai guru tersebut sendiri yang menjelaskannya pada waktu yang tepat.Hal ini dilakukan apabila pemahaman murid masih terbatas, atau jika pertanyaan yang diajukan terlalu mendalam pada perkara yang belum saatnya dibahas, atau pada hal-hal yang lebih penting masih belum dipahami, atau jika pertanyaan yang diajukan tidak berkaitan dengan pokok pembahasan.15. Di antara pelajaran lainnya adalah bolehnya melakukan perjalanan melalui laut selama tidak dalam keadaan yang membahayakan.16. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya, baik dalam perkara yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama manusia. Hal ini sebagaimana ucapan Musa,لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ“Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa.” (QS. Al-Kahfi: 73)17. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seseorang seharusnya bersikap lapang dalam berinteraksi dengan manusia, menerima apa yang mereka mampu berikan dengan kerelaan hati mereka, dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka lakukan atau yang memberatkan mereka. Sikap membebani orang lain akan menimbulkan kejenuhan dan membuat orang menjauh. Sebaliknya, seseorang hendaknya mengambil sikap yang mudah sehingga urusan pun menjadi mudah.18. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa hukum-hukum dalam kehidupan dunia berjalan berdasarkan apa yang tampak secara lahir. Dari hal-hal yang tampak itulah ditetapkan berbagai hukum yang berkaitan dengan harta, jiwa, dan perkara lainnya.Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam mengingkari tindakan Khidhir ketika melubangi kapal dan membunuh anak kecil, sebab secara lahir perbuatan tersebut tampak sebagai kemungkaran. Dalam keadaan biasa, Musa tidak boleh diam terhadap kemungkaran seperti itu.Namun dalam keadaan khusus ketika ia sedang menyertai Khidhir, seharusnya ia bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkari. Akan tetapi Musa segera menilai berdasarkan keadaan lahirnya dan tidak memperhatikan kondisi khusus yang menuntutnya untuk bersabar.19. Di antara pelajaran penting lainnya adalah kaidah besar dalam syariat: Menolak kerusakan yang lebih besar dengan melakukan kerusakan yang lebih kecil. Demikian pula memilih maslahat yang lebih besar dengan meninggalkan maslahat yang lebih kecil.Membunuh anak tersebut memang merupakan suatu keburukan, namun jika anak itu tetap hidup hingga dewasa dan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam kekafiran, maka keburukan itu jauh lebih besar.Walaupun pada pandangan pertama membiarkan anak itu hidup tampak sebagai kebaikan, namun kebaikan yang lebih besar adalah tetap terjaganya agama dan iman kedua orang tuanya. Karena itulah Khidhir membunuh anak tersebut.Di bawah kaidah ini terdapat banyak sekali cabang hukum dan manfaat yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap pertentangan antara maslahat dan mafsadat termasuk dalam pembahasan kaidah ini.20. Di antara pelajaran lainnya adalah kaidah besar bahwa seseorang boleh bertindak terhadap harta orang lain jika tujuannya untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan, meskipun tanpa izin pemiliknya, bahkan walaupun tindakan itu menyebabkan rusaknya sebagian harta tersebut. Hal ini sebagaimana tindakan Khidhir yang melubangi kapal agar kapal itu tampak cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zalim.Berdasarkan kaidah ini, apabila terjadi kebakaran, tenggelam, atau keadaan darurat lainnya pada rumah atau harta seseorang, dan untuk menyelamatkan sebagian besar harta tersebut diperlukan merusak sebagian lainnya atau merobohkan sebagian bangunan, maka hal itu boleh dilakukan, bahkan dianjurkan demi menjaga harta tersebut.Demikian pula jika seorang penguasa zalim hendak merampas seluruh harta seseorang, lalu sebagian harta diberikan untuk menyelamatkan sisanya, maka hal itu diperbolehkan meskipun tanpa izin pemilik harta tersebut.21. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa bekerja di laut diperbolehkan sebagaimana bekerja di darat. Hal ini terlihat dari firman Allah,يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ“Mereka bekerja di laut,” (QS. Al-Kahfi: 79) dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka tersebut.22. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang miskin terkadang masih memiliki sebagian harta, tetapi harta itu tidak mencukupi kebutuhannya. Karena itu ia tetap disebut miskin. Hal ini terlihat dari keterangan bahwa para nelayan tersebut adalah orang-orang miskin, padahal mereka memiliki sebuah kapal.23. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa membunuh merupakan salah satu dosa terbesar. Hal ini terlihat dari ucapan Musa ketika menanggapi pembunuhan anak kecil tersebut,لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا“Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”24. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan sebagai qishash tidak termasuk perbuatan mungkar. Hal ini tersirat dari ucapan Musa,بِغَيْرِ نَفْسٍ“Tanpa (alasan membunuh) jiwa yang lain.”25. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang hamba yang saleh akan dijaga oleh Allah, baik pada dirinya maupun pada keturunannya.Baca juga: Hadits Arbain #19: Menjaga Hak Allah dan Memahami TakdirAllah Jaga Hingga TuaKhutbah Jumat: Penjagaan Allah yang Luar Biasa bagi yang Menjaga Hak Allah26. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa melayani orang-orang saleh atau orang-orang yang berkaitan dengan mereka merupakan suatu kemuliaan. Hal ini terlihat dari alasan ditegakkannya kembali dinding tersebut dan dijaganya harta dua anak yatim itu, yaitu karena ayah mereka adalah seorang yang saleh.27. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya menjaga adab kepada Allah dalam ucapan. Khidhir menyandarkan kerusakan kapal kepada dirinya dengan mengatakan,فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا“Aku ingin membuat kapal itu cacat.”Namun ketika menyebutkan kebaikan, ia menyandarkannya kepada Allah dengan mengatakan,فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا“Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa.”Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syuara: 80)Demikian pula ucapan para jin,وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا“Kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 10)Padahal pada hakikatnya semua itu terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah.28. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang sahabat tidak seharusnya langsung memutuskan hubungan dengan sahabatnya sebelum memberikan kesempatan untuk meminta maaf dan menjelaskan kesalahannya, sebagaimana yang dilakukan Khidhir terhadap Musa.29. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa kesesuaian dan keharmonisan antara dua orang sahabat dalam perkara-perkara yang tidak terlarang menjadi sebab kuatnya persahabatan dan kelanggengan hubungan. Sebaliknya, ketidaksepahaman dapat menjadi sebab terputusnya kebersamaan.30. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa semua peristiwa yang dilakukan Khidhir dalam kisah ini pada hakikatnya merupakan takdir Allah yang dijalankan melalui tangan hamba-Nya yang saleh. Dengan peristiwa itu Allah menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kelembutan dan kasih sayang-Nya dalam berbagai ketetapan-Nya. Terkadang Allah menakdirkan sesuatu yang sangat tidak disukai oleh seorang hamba, padahal pada hakikatnya hal itu merupakan kebaikan baginya.31. Kadang kebaikan itu berkaitan dengan agama seseorang, seperti dalam peristiwa terbunuhnya anak kecil tersebut. Kadang pula berkaitan dengan urusan dunia, seperti dalam peristiwa dilubanginya kapal.Dengan demikian Allah memperlihatkan kepada manusia contoh dari kelembutan dan kemurahan-Nya, agar mereka memahami hikmah tersebut dan akhirnya rela sepenuhnya terhadap takdir-takdir Allah meskipun pada awalnya terasa tidak menyenangkan.(Pelajaran-pelajaran ini diambil dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman atau Tafsir As-Sa’di) Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukanKapal yang dilubangi, anak yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan tanpa upah tampak janggal di mata manusia. Namun semuanya ternyata menjadi jalan datangnya rahmat, perlindungan, dan kebaikan yang lebih besar. Ini mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa menilai takdir Allah hanya dari yang tampak di permukaan.2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurnaNabi Musa ‘alaihis salam saja tidak mengetahui hikmah dari tiga peristiwa itu pada awalnya. Maka manusia biasa lebih pantas lagi untuk tunduk, rendah hati, dan tidak merasa bahwa semua kejadian harus langsung bisa dipahami akalnya. Kadang Allah menyembunyikan hikmah agar hamba belajar sabar dan tawakal.3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anakPada kisah tembok dua anak yatim, Allah menjaga harta mereka karena ayah mereka adalah seorang yang saleh. Ini adalah pelajaran yang sangat menyentuh: salah satu warisan terbaik bagi anak bukan sekadar harta, tetapi kesalehan orang tuanya. Amal saleh seorang ayah atau ibu bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada keturunannya. Semoga bermanfaat. Semoga menjadi teladan. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menuntut ilmu Hikmah Takdir Husnuzan kepada Allah keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi Kisah Musa dan Khidhir kisah nabi musa Kisah Qurani nabi khidr nabi musa pelajaran al-quran pelajaran dari al-kahfi renungan ayat renungan quran surah al-kahfi surat al kahfi tafsir al-kahfi tafsir as-sa'di Ujian Kesabaran
Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam Surah Al-Kahfi mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak buruk di hadapan kita benar-benar buruk dalam takdir Allah. Melalui tiga peristiwa yang sulit dipahami secara lahir, Allah menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan hikmah-Nya meliputi masa depan yang tidak kita ketahui. Dari kisah ini, kita belajar tentang adab menuntut ilmu, pentingnya kesabaran, dan indahnya berbaik sangka kepada ketetapan Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Awal Pertemuan Nabi Musa dan Khidhir 2. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian Kesabaran 3. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata Diselamatkan 4. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang Berat 5. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak Yatim 6. Hikmah Besar di Balik Tiga Peristiwa 6.1. Peristiwa Pertama 6.2. Peristiwa Kedua 6.3. Peristiwa Ketiga 7. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan Musa 8. Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir 8.1. 1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukan 8.2. 2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurna 8.3. 3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anak  Awal Pertemuan Nabi Musa dan KhidhirAllah Ta’ala berfirman,قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَٱرْتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا“Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. “Itulah yang kita cari,” maksudnya: itulah yang kita inginkan dan kita cari.Maka keduanya pun kembali, yakni kembali menelusuri jejak perjalanan mereka. Mereka kembali dengan mengikuti bekas langkah mereka hingga sampai ke tempat di mana mereka lupa tentang ikan tersebut.Ketika mereka telah sampai di tempat itu, mereka mendapati seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang saleh, bukan seorang nabi menurut pendapat yang lebih kuat.Kami telah memberikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, yaitu Allah memberinya rahmat khusus yang dengannya bertambah ilmunya dan menjadi baik amal perbuatannya.Dan Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami, yakni ilmu yang datang langsung dari Allah.Khidhir diberi sebagian ilmu yang tidak diberikan kepada Musa. Namun demikian, Nabi Musa ‘alaihis salam tetap lebih berilmu darinya dalam banyak perkara, terutama dalam ilmu-ilmu keimanan dan prinsip-prinsip agama.Sebab Musa termasuk para rasul ulul ‘azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan yang tinggi, yang Allah lebihkan di atas seluruh makhluk dalam hal ilmu, amal, dan keutamaan lainnya.Ketika Musa bertemu dengannya, Musa berbicara kepadanya dengan penuh adab, meminta izin, dan menjelaskan maksud kedatangannya. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian KesabaranAllah Ta’ala berfirman,قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.” (QS. Al-Kahfi: 67)وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًا“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu, sebagai petunjuk bagiku?”Maksudnya, bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang Allah ajarkan kepadamu, sehingga dengan ilmu itu aku dapat memperoleh petunjuk, mengetahui jalan yang benar, dan memahami hakikat berbagai perkara tersebut.Khidhir telah diberi oleh Allah ilham dan karamah, sehingga dengannya ia dapat mengetahui sisi-sisi tersembunyi dari banyak peristiwa yang bahkan tidak diketahui oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Khidhir berkata kepada Musa, “Aku tidak menolak permintaanmu itu. Akan tetapi, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”Maksudnya, engkau tidak akan sanggup mengikuti dan menyertaiku, karena engkau akan melihat berbagai peristiwa yang secara lahir tampak sebagai kemungkaran, padahal hakikatnya tidak demikian.“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Artinya, bagaimana mungkin engkau dapat bersabar terhadap suatu perkara yang engkau belum mengetahui hakikatnya, baik dari sisi lahir maupun batinnya, dan engkau belum mengetahui tujuan serta akibat akhirnya.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.” (QS. Al-Kahfi: 69)قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا“Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.” (QS. Al-Kahfi: 70)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu.”Ucapan ini merupakan tekad dari Nabi Musa sebelum ia menghadapi ujian yang sebenarnya. Tekad untuk bersabar adalah satu hal, sedangkan benar-benar mampu bersabar ketika ujian itu datang adalah hal yang lain. Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam tidak mampu bersabar ketika peristiwa tersebut benar-benar terjadi.Maka Khidhir berkata kepadanya, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.”Maksudnya, janganlah engkau terlebih dahulu mengajukan pertanyaan atau menyatakan keberatan sebelum aku sendiri menjelaskan kepadamu tentang peristiwa tersebut pada waktu yang tepat.Dengan demikian, Khidhir melarang Musa untuk bertanya terlebih dahulu, dan ia berjanji akan menjelaskan hakikat dari setiap peristiwa itu pada saat yang semestinya. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata DiselamatkanNabi Khidr melubangi kapal milik orang-orang miskin yang telah memberi mereka tumpangan. Secara logika, ini adalah tindakan zalim dan merugikan.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِى ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا إِمْرًا“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Kahfi: 71)قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.” (QS. Al-Kahfi: 72)قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِى بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِى مِنْ أَمْرِى عُسْرًا“Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.” (QS. Al-Kahfi: 73)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya berjalan hingga ketika mereka menaiki sebuah kapal, Khidhir melubangi kapal itu. Maksudnya, Khidhir mencabut salah satu papan dari kapal tersebut. Ia memiliki tujuan tertentu dalam perbuatannya itu yang nantinya akan ia jelaskan.Namun Nabi Musa ‘alaihis salam tidak dapat bersabar melihat perbuatan itu, karena secara lahir tampak sebagai suatu kemungkaran. Tindakan tersebut terlihat sebagai kerusakan pada kapal dan bisa menjadi sebab tenggelamnya para penumpangnya.Karena itulah Musa berkata, “Apakah engkau melubangi kapal itu untuk menenggelamkan para penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat besar.”Maksudnya, suatu perbuatan yang sangat besar dan sangat buruk menurut pandangan lahir.Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam belum mampu bersabar terhadap peristiwa tersebut.Khidhir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Maksudnya, apa yang terjadi sekarang adalah sebagaimana yang telah aku sampaikan kepadamu sebelumnya.Sikap Nabi Musa ‘alaihis salam tersebut terjadi karena lupa terhadap perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.Musa berkata, “Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa, dan janganlah engkau memberatkan urusanku.”Maksudnya, janganlah engkau mempersulit urusanku dan berilah aku kelonggaran. Apa yang terjadi tadi hanyalah karena aku lupa, maka janganlah engkau menyalahkanku pada kesalahan yang pertama ini.Dengan ucapan itu, Nabi Musa ‘alaihis salam menggabungkan antara pengakuan atas kesalahannya dan permohonan maaf atas perbuatannya. Ia juga menunjukkan bahwa tidak sepantasnya Khidhir bersikap keras kepada sahabatnya dalam keadaan seperti ini.Karena itu, Khidhir pun memaafkannya. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang BeratNabi Khidr membunuh seorang anak muda yang belum baligh. Ini adalah ujian terberat bagi logika kemanusiaan Musa.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.” (QS. Al-Kahfi: 74)۞ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَىْءٍۭ بَعْدَهَا فَلَا تُصَٰحِبْنِى ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّى عُذْرًا“Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.” (QS. Al-Kahfi: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak itu masih kecil, lalu Khidhir membunuhnya.Melihat hal itu, Nabi Musa ‘alaihis salam sangat marah dan tersulut oleh semangat membela agama, karena ia menyaksikan seorang anak kecil yang tidak berdosa dibunuh.Musa berkata, “Apakah engkau membunuh jiwa yang suci, yang tidak membunuh siapa pun? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”Maksudnya, tidak ada kemungkaran yang lebih besar daripada membunuh seorang anak kecil yang tidak memiliki dosa dan tidak pernah membunuh siapa pun.Kesalahan pertama Nabi Musa terjadi karena lupa, sedangkan yang kedua ini bukan karena lupa, melainkan karena ia belum mampu bersabar.Maka Khidhir berkata kepadanya dengan nada menegur dan mengingatkan, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Musa pun berkata, “Jika setelah ini aku masih bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka janganlah engkau menyertaiku lagi.”Maksudnya, engkau berhak untuk berpisah dariku dan meninggalkan kebersamaan ini.“Sungguh, engkau telah mempunyai alasan yang cukup dariku.”Artinya, engkau telah memberikan kesempatan dan toleransi yang cukup kepadaku, sehingga engkau tidak lagi dianggap kurang bersabar terhadapku. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak YatimMereka sampai di suatu negeri yang penduduknya sangat pelit dan menolak memberi jamuan. Namun, Khidr justru memperbaiki tembok rumah yang hampir roboh di negeri tersebut tanpa meminta upah.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهْلَ قَرْيَةٍ ٱسْتَطْعَمَآ أَهْلَهَا فَأَبَوْا۟ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.” (QS. Al-Kahfi: 77)قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada penduduk suatu negeri. Mereka meminta jamuan kepada penduduk negeri itu, tetapi mereka menolak untuk menjamu keduanya.Di negeri tersebut mereka menemukan sebuah dinding yang hampir roboh, yaitu dinding yang telah retak dan hampir runtuh. Lalu Khidhir menegakkan kembali dinding itu, yakni memperbaiki dan membangunnya kembali seperti semula.Melihat hal itu, Musa berkata, “Seandainya engkau mau, tentu engkau bisa mengambil upah atas pekerjaan itu.”Maksudnya, penduduk negeri ini tidak mau menjamu kita, padahal menjamu tamu merupakan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan. Namun engkau justru memperbaiki dinding mereka tanpa mengambil upah, padahal engkau mampu mengambilnya.Pada saat itu Nabi Musa ‘alaihis salam kembali tidak menepati apa yang telah ia janjikan sebelumnya, sehingga Khidhir pun mempunyai alasan untuk berpisah darinya.Khidhir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau.”Artinya, engkau sendiri telah menetapkan syarat itu atas dirimu. Maka sekarang tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan kebersamaan ini.“Kelak aku akan memberitahukan kepadamu makna dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”Maksudnya, aku akan menjelaskan kepadamu perbuatan-perbuatan yang engkau ingkari dariku, serta tujuan yang ada di balik semua itu dan bagaimana akhirnya nanti. Hikmah Besar di Balik Tiga PeristiwaPeristiwa PertamaAllah Ta’ala berfirman,أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al-Kahfi: 79)Ibrah: Kapal itu sengaja dibuat “cacat” agar tidak dirampas oleh raja zalim yang sedang menyita setiap kapal yang bagus di depan mereka. Kerusakan kecil menyelamatkan aset besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun kapal yang aku lubangi itu, kapal tersebut milik orang-orang miskin yang bekerja di laut.Keadaan mereka sebagai orang-orang miskin menuntut adanya rasa belas kasihan dan kepedulian terhadap mereka.Karena itu aku ingin membuat kapal tersebut tampak cacat. Di hadapan mereka ada seorang raja zalim yang merampas setiap kapal yang masih baik dan tidak memiliki cacat.Maksudnya, ketika kapal-kapal yang masih bagus melewati wilayah raja tersebut, ia akan merampasnya secara paksa dan mengambilnya dengan kezaliman.Karena itu aku melubangi kapal tersebut agar tampak memiliki cacat, sehingga kapal itu selamat dari perampasan raja yang zalim tersebut. Peristiwa KeduaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَوٰةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا“Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81)Ibrah: Anak tersebut ditakdirkan akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat durhaka dan akan menjerumuskan kedua orang tuanya yang saleh ke dalam kesesatan dan kekafiran. Allah ingin menggantinya dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dan lebih kasih sayang.’Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun anak laki-laki yang aku bunuh itu, kedua orang tuanya adalah orang yang beriman.Kami khawatir jika ia dibiarkan hidup hingga dewasa, ia akan menyeret kedua orang tuanya kepada kedurhakaan dan kekafiran.Anak itu telah ditakdirkan bahwa jika ia tumbuh dewasa, ia akan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam sikap melampaui batas dan kekafiran. Maksudnya, ia akan mendorong mereka kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah.Hal itu bisa terjadi karena besarnya kecintaan kedua orang tuanya kepadanya, atau karena mereka sangat membutuhkan dirinya, atau karena anak tersebut sendiri akan menekan dan menyeret mereka kepada kekafiran.Karena itulah aku membunuhnya setelah mengetahui hakikat tersebut, demi menjaga keselamatan agama kedua orang tuanya yang beriman.Tidak ada manfaat yang lebih besar daripada manfaat yang agung seperti ini.Walaupun pada peristiwa ini terdapat kesedihan bagi kedua orang tuanya dan terputusnya keturunan dari anak tersebut, namun Allah akan mengganti bagi keduanya dengan keturunan yang lebih baik darinya.Sebagaimana firman-Nya, “Kami berharap agar Rabb mereka mengganti bagi keduanya dengan anak yang lebih baik darinya, lebih suci, dan lebih dekat kasih sayangnya.”Maksudnya, Allah akan mengganti dengan anak yang saleh, bersih jiwanya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.Sebab jika anak yang terbunuh itu dibiarkan hidup hingga dewasa, ia justru akan menjadi anak yang sangat durhaka, bahkan dapat menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah. Peristiwa KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.” (QS. Al-Kahfi: 82) Ibrah: Di bawah tembok itu tersimpan harta karun milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang yang saleh. Allah ingin menjaga harta itu tetap terpendam sampai mereka dewasa agar tidak diambil oleh penduduk kota yang serakah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun dinding yang aku tegakkan kembali itu, dinding tersebut milik dua orang anak yatim di kota tersebut.Di bawah dinding itu tersimpan sebuah harta milik mereka berdua, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.Keadaan mereka sebagai anak yatim yang masih kecil dan telah kehilangan ayah menuntut adanya rasa belas kasihan dan perhatian terhadap mereka. Allah juga menjaga keduanya karena kesalehan ayah mereka.Karena itu Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa, lalu mereka dapat mengeluarkan harta simpanan mereka tersebut.Oleh sebab itu aku menegakkan kembali dinding tersebut agar harta itu tetap tersimpan hingga keduanya dewasa.Semua itu merupakan rahmat dari Rabbmu.Artinya, apa yang aku lakukan ini adalah bentuk rahmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, yaitu Khidhir.Aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri.Maksudnya, aku tidak melakukan semua itu berdasarkan keinginanku semata, melainkan atas perintah dan rahmat dari Allah.Itulah penjelasan dari perkara-perkara yang sebelumnya engkau tidak mampu bersabar terhadapnya. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan MusaDalam kisah yang agung dan menakjubkan ini terdapat banyak pelajaran, hukum, dan kaidah penting. Dengan pertolongan Allah, sebagian di antaranya akan kita sebutkan.1. Di antaranya adalah keutamaan ilmu dan dianjurkannya melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, karena ilmu merupakan perkara yang sangat penting. Nabi Musa ‘alaihis salam bahkan menempuh perjalanan yang jauh dan merasakan kelelahan dalam menuntut ilmu. Ia meninggalkan duduk bersama Bani Israil untuk mengajar dan membimbing mereka, lalu memilih melakukan perjalanan demi menambah ilmu.2. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah pentingnya mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian yang berikutnya. Menambah ilmu dan memperluas pengetahuan seseorang lebih utama daripada meninggalkannya dan hanya sibuk mengajar tanpa terus menambah ilmu. Namun menggabungkan keduanya, yaitu belajar dan mengajar, adalah keadaan yang paling sempurna.3. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya ada dua jenis.Pertama, ilmu yang diperoleh melalui usaha, belajar, dan kesungguhan seorang hamba.Kedua, ilmu laduni, yaitu ilmu yang Allah karuniakan secara langsung kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki.Sebagaimana firman-Nya,وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا“Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami.”4. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya beradab kepada guru dan berbicara kepadanya dengan tutur kata yang lembut.Hal ini terlihat dari ucapan Nabi Musa ‘alaihis salam,هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk bagiku?”Ucapan ini disampaikan dengan penuh kelembutan dan seolah-olah sebagai permintaan izin, yaitu apakah ia diperbolehkan atau tidak. Dalam ucapan itu juga terdapat pengakuan bahwa Musa ingin belajar darinya.Berbeda dengan sikap orang yang kasar atau sombong. Mereka tidak menunjukkan bahwa dirinya membutuhkan ilmu dari gurunya. Bahkan ada yang menganggap dirinya hanya bekerja sama dengan gurunya, atau bahkan merasa seolah-olah ia juga mengajari gurunya, padahal pada hakikatnya ia sangat bodoh.Bersikap rendah hati kepada guru dan menampakkan kebutuhan terhadap ilmunya merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seorang penuntut ilmu.5. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang memiliki keutamaan tetap perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari orang yang berada di bawahnya.Sebab Nabi Musa—tanpa diragukan lagi—lebih utama daripada Khidhir, namun beliau tetap belajar darinya.6. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa seorang ulama yang memiliki keutamaan tetap perlu mempelajari ilmu yang belum ia kuasai dari orang yang lebih ahli di bidang tersebut, meskipun orang itu berada di bawahnya dalam banyak sisi ilmu lainnya.Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk para rasul ulul ‘azmi yang Allah anugerahi ilmu yang sangat luas, bahkan melebihi kebanyakan manusia. Namun dalam ilmu tertentu yang khusus, Khidhir memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu Musa sangat bersemangat untuk belajar darinya.Berdasarkan hal ini, seorang ahli fikih atau ahli hadits yang masih lemah dalam ilmu nahwu, sharaf, atau cabang ilmu lainnya, tidak sepatutnya enggan mempelajarinya dari orang yang lebih ahli dalam bidang tersebut, meskipun orang itu bukan seorang ahli hadits atau ahli fikih.7. Di antara pelajaran lainnya adalah menyandarkan ilmu dan berbagai keutamaan kepada Allah Ta’ala, mengakui bahwa semua itu berasal dari-Nya, serta mensyukuri nikmat tersebut.Sebagaimana dalam ucapan Musa,تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ“Engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu,”yaitu ilmu yang Allah ajarkan kepadamu.8. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing kepada kebaikan.Setiap ilmu yang mengandung petunjuk menuju jalan kebaikan, memperingatkan dari jalan keburukan, atau menjadi sarana untuk mencapai hal tersebut, maka itulah ilmu yang bermanfaat.Adapun ilmu selain itu, maka bisa jadi merupakan ilmu yang berbahaya atau ilmu yang tidak memiliki manfaat.Hal ini sebagaimana firman Allah,أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk.”9. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran dalam menyertai seorang guru dan menuntut ilmu darinya, serta tidak mampu istiqamah dalam proses tersebut, maka ia akan kehilangan banyak ilmu sesuai dengan kadar kurangnya kesabarannya.Orang yang tidak memiliki kesabaran tidak akan mendapatkan ilmu. Sebaliknya, siapa yang bersabar dan terus meneguhkan dirinya dalam kesabaran tersebut, ia akan dapat meraih berbagai tujuan yang ia usahakan.Hal ini sebagaimana perkataan Khidhir yang menjelaskan kepada Musa alasan mengapa Musa tidak dapat bersabar bersamanya, yaitu karena Musa tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk mengikuti semua peristiwa tersebut.10. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa sebab utama seseorang mampu bersabar adalah karena ia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang perkara yang harus ia hadapi dengan kesabaran.Adapun orang yang tidak mengetahui hakikat suatu perkara, tidak mengetahui tujuannya, hasil akhirnya, manfaatnya, ataupun buah yang akan diperoleh darinya, maka ia tidak memiliki sebab yang mendorongnya untuk bersabar.Hal ini sebagaimana firman Allah,وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Ayat ini menunjukkan bahwa sebab ketidakmampuan bersabar adalah karena tidak mengetahui hakikat suatu perkara secara menyeluruh.11. Di antara pelajaran lainnya adalah perintah untuk bersikap tenang, berhati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai suatu perkara sebelum mengetahui tujuan dan maksud yang sebenarnya dari perkara tersebut.12. Di antara pelajaran lainnya adalah dianjurkannya mengaitkan perkara-perkara yang akan datang dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, seseorang tidak sepatutnya mengatakan bahwa ia pasti akan melakukan sesuatu di masa depan, kecuali dengan mengatakan,إِنْ شَاءَ اللَّهُ“Jika Allah menghendaki.”13. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa tekad untuk melakukan sesuatu tidaklah sama dengan benar-benar melakukannya.Nabi Musa berkata,سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا“Engkau akan mendapati aku, insya Allah, sebagai orang yang sabar.”Beliau telah meneguhkan niat dalam dirinya untuk bersabar, namun ketika peristiwa itu terjadi, kesabaran tersebut belum sepenuhnya terwujud.14. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang guru boleh melihat maslahat untuk mengarahkan muridnya agar tidak langsung bertanya tentang sebagian perkara, sampai guru tersebut sendiri yang menjelaskannya pada waktu yang tepat.Hal ini dilakukan apabila pemahaman murid masih terbatas, atau jika pertanyaan yang diajukan terlalu mendalam pada perkara yang belum saatnya dibahas, atau pada hal-hal yang lebih penting masih belum dipahami, atau jika pertanyaan yang diajukan tidak berkaitan dengan pokok pembahasan.15. Di antara pelajaran lainnya adalah bolehnya melakukan perjalanan melalui laut selama tidak dalam keadaan yang membahayakan.16. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya, baik dalam perkara yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama manusia. Hal ini sebagaimana ucapan Musa,لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ“Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa.” (QS. Al-Kahfi: 73)17. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seseorang seharusnya bersikap lapang dalam berinteraksi dengan manusia, menerima apa yang mereka mampu berikan dengan kerelaan hati mereka, dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka lakukan atau yang memberatkan mereka. Sikap membebani orang lain akan menimbulkan kejenuhan dan membuat orang menjauh. Sebaliknya, seseorang hendaknya mengambil sikap yang mudah sehingga urusan pun menjadi mudah.18. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa hukum-hukum dalam kehidupan dunia berjalan berdasarkan apa yang tampak secara lahir. Dari hal-hal yang tampak itulah ditetapkan berbagai hukum yang berkaitan dengan harta, jiwa, dan perkara lainnya.Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam mengingkari tindakan Khidhir ketika melubangi kapal dan membunuh anak kecil, sebab secara lahir perbuatan tersebut tampak sebagai kemungkaran. Dalam keadaan biasa, Musa tidak boleh diam terhadap kemungkaran seperti itu.Namun dalam keadaan khusus ketika ia sedang menyertai Khidhir, seharusnya ia bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkari. Akan tetapi Musa segera menilai berdasarkan keadaan lahirnya dan tidak memperhatikan kondisi khusus yang menuntutnya untuk bersabar.19. Di antara pelajaran penting lainnya adalah kaidah besar dalam syariat: Menolak kerusakan yang lebih besar dengan melakukan kerusakan yang lebih kecil. Demikian pula memilih maslahat yang lebih besar dengan meninggalkan maslahat yang lebih kecil.Membunuh anak tersebut memang merupakan suatu keburukan, namun jika anak itu tetap hidup hingga dewasa dan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam kekafiran, maka keburukan itu jauh lebih besar.Walaupun pada pandangan pertama membiarkan anak itu hidup tampak sebagai kebaikan, namun kebaikan yang lebih besar adalah tetap terjaganya agama dan iman kedua orang tuanya. Karena itulah Khidhir membunuh anak tersebut.Di bawah kaidah ini terdapat banyak sekali cabang hukum dan manfaat yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap pertentangan antara maslahat dan mafsadat termasuk dalam pembahasan kaidah ini.20. Di antara pelajaran lainnya adalah kaidah besar bahwa seseorang boleh bertindak terhadap harta orang lain jika tujuannya untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan, meskipun tanpa izin pemiliknya, bahkan walaupun tindakan itu menyebabkan rusaknya sebagian harta tersebut. Hal ini sebagaimana tindakan Khidhir yang melubangi kapal agar kapal itu tampak cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zalim.Berdasarkan kaidah ini, apabila terjadi kebakaran, tenggelam, atau keadaan darurat lainnya pada rumah atau harta seseorang, dan untuk menyelamatkan sebagian besar harta tersebut diperlukan merusak sebagian lainnya atau merobohkan sebagian bangunan, maka hal itu boleh dilakukan, bahkan dianjurkan demi menjaga harta tersebut.Demikian pula jika seorang penguasa zalim hendak merampas seluruh harta seseorang, lalu sebagian harta diberikan untuk menyelamatkan sisanya, maka hal itu diperbolehkan meskipun tanpa izin pemilik harta tersebut.21. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa bekerja di laut diperbolehkan sebagaimana bekerja di darat. Hal ini terlihat dari firman Allah,يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ“Mereka bekerja di laut,” (QS. Al-Kahfi: 79) dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka tersebut.22. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang miskin terkadang masih memiliki sebagian harta, tetapi harta itu tidak mencukupi kebutuhannya. Karena itu ia tetap disebut miskin. Hal ini terlihat dari keterangan bahwa para nelayan tersebut adalah orang-orang miskin, padahal mereka memiliki sebuah kapal.23. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa membunuh merupakan salah satu dosa terbesar. Hal ini terlihat dari ucapan Musa ketika menanggapi pembunuhan anak kecil tersebut,لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا“Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”24. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan sebagai qishash tidak termasuk perbuatan mungkar. Hal ini tersirat dari ucapan Musa,بِغَيْرِ نَفْسٍ“Tanpa (alasan membunuh) jiwa yang lain.”25. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang hamba yang saleh akan dijaga oleh Allah, baik pada dirinya maupun pada keturunannya.Baca juga: Hadits Arbain #19: Menjaga Hak Allah dan Memahami TakdirAllah Jaga Hingga TuaKhutbah Jumat: Penjagaan Allah yang Luar Biasa bagi yang Menjaga Hak Allah26. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa melayani orang-orang saleh atau orang-orang yang berkaitan dengan mereka merupakan suatu kemuliaan. Hal ini terlihat dari alasan ditegakkannya kembali dinding tersebut dan dijaganya harta dua anak yatim itu, yaitu karena ayah mereka adalah seorang yang saleh.27. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya menjaga adab kepada Allah dalam ucapan. Khidhir menyandarkan kerusakan kapal kepada dirinya dengan mengatakan,فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا“Aku ingin membuat kapal itu cacat.”Namun ketika menyebutkan kebaikan, ia menyandarkannya kepada Allah dengan mengatakan,فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا“Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa.”Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syuara: 80)Demikian pula ucapan para jin,وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا“Kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 10)Padahal pada hakikatnya semua itu terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah.28. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang sahabat tidak seharusnya langsung memutuskan hubungan dengan sahabatnya sebelum memberikan kesempatan untuk meminta maaf dan menjelaskan kesalahannya, sebagaimana yang dilakukan Khidhir terhadap Musa.29. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa kesesuaian dan keharmonisan antara dua orang sahabat dalam perkara-perkara yang tidak terlarang menjadi sebab kuatnya persahabatan dan kelanggengan hubungan. Sebaliknya, ketidaksepahaman dapat menjadi sebab terputusnya kebersamaan.30. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa semua peristiwa yang dilakukan Khidhir dalam kisah ini pada hakikatnya merupakan takdir Allah yang dijalankan melalui tangan hamba-Nya yang saleh. Dengan peristiwa itu Allah menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kelembutan dan kasih sayang-Nya dalam berbagai ketetapan-Nya. Terkadang Allah menakdirkan sesuatu yang sangat tidak disukai oleh seorang hamba, padahal pada hakikatnya hal itu merupakan kebaikan baginya.31. Kadang kebaikan itu berkaitan dengan agama seseorang, seperti dalam peristiwa terbunuhnya anak kecil tersebut. Kadang pula berkaitan dengan urusan dunia, seperti dalam peristiwa dilubanginya kapal.Dengan demikian Allah memperlihatkan kepada manusia contoh dari kelembutan dan kemurahan-Nya, agar mereka memahami hikmah tersebut dan akhirnya rela sepenuhnya terhadap takdir-takdir Allah meskipun pada awalnya terasa tidak menyenangkan.(Pelajaran-pelajaran ini diambil dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman atau Tafsir As-Sa’di) Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukanKapal yang dilubangi, anak yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan tanpa upah tampak janggal di mata manusia. Namun semuanya ternyata menjadi jalan datangnya rahmat, perlindungan, dan kebaikan yang lebih besar. Ini mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa menilai takdir Allah hanya dari yang tampak di permukaan.2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurnaNabi Musa ‘alaihis salam saja tidak mengetahui hikmah dari tiga peristiwa itu pada awalnya. Maka manusia biasa lebih pantas lagi untuk tunduk, rendah hati, dan tidak merasa bahwa semua kejadian harus langsung bisa dipahami akalnya. Kadang Allah menyembunyikan hikmah agar hamba belajar sabar dan tawakal.3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anakPada kisah tembok dua anak yatim, Allah menjaga harta mereka karena ayah mereka adalah seorang yang saleh. Ini adalah pelajaran yang sangat menyentuh: salah satu warisan terbaik bagi anak bukan sekadar harta, tetapi kesalehan orang tuanya. Amal saleh seorang ayah atau ibu bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada keturunannya. Semoga bermanfaat. Semoga menjadi teladan. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menuntut ilmu Hikmah Takdir Husnuzan kepada Allah keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi Kisah Musa dan Khidhir kisah nabi musa Kisah Qurani nabi khidr nabi musa pelajaran al-quran pelajaran dari al-kahfi renungan ayat renungan quran surah al-kahfi surat al kahfi tafsir al-kahfi tafsir as-sa'di Ujian Kesabaran


Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam Surah Al-Kahfi mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak buruk di hadapan kita benar-benar buruk dalam takdir Allah. Melalui tiga peristiwa yang sulit dipahami secara lahir, Allah menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan hikmah-Nya meliputi masa depan yang tidak kita ketahui. Dari kisah ini, kita belajar tentang adab menuntut ilmu, pentingnya kesabaran, dan indahnya berbaik sangka kepada ketetapan Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Awal Pertemuan Nabi Musa dan Khidhir 2. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian Kesabaran 3. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata Diselamatkan 4. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang Berat 5. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak Yatim 6. Hikmah Besar di Balik Tiga Peristiwa 6.1. Peristiwa Pertama 6.2. Peristiwa Kedua 6.3. Peristiwa Ketiga 7. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan Musa 8. Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir 8.1. 1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukan 8.2. 2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurna 8.3. 3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anak  Awal Pertemuan Nabi Musa dan KhidhirAllah Ta’ala berfirman,قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَٱرْتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصًا“Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. “Itulah yang kita cari,” maksudnya: itulah yang kita inginkan dan kita cari.Maka keduanya pun kembali, yakni kembali menelusuri jejak perjalanan mereka. Mereka kembali dengan mengikuti bekas langkah mereka hingga sampai ke tempat di mana mereka lupa tentang ikan tersebut.Ketika mereka telah sampai di tempat itu, mereka mendapati seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang saleh, bukan seorang nabi menurut pendapat yang lebih kuat.Kami telah memberikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, yaitu Allah memberinya rahmat khusus yang dengannya bertambah ilmunya dan menjadi baik amal perbuatannya.Dan Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami, yakni ilmu yang datang langsung dari Allah.Khidhir diberi sebagian ilmu yang tidak diberikan kepada Musa. Namun demikian, Nabi Musa ‘alaihis salam tetap lebih berilmu darinya dalam banyak perkara, terutama dalam ilmu-ilmu keimanan dan prinsip-prinsip agama.Sebab Musa termasuk para rasul ulul ‘azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan yang tinggi, yang Allah lebihkan di atas seluruh makhluk dalam hal ilmu, amal, dan keutamaan lainnya.Ketika Musa bertemu dengannya, Musa berbicara kepadanya dengan penuh adab, meminta izin, dan menjelaskan maksud kedatangannya. Adab Menuntut Ilmu dan Ujian KesabaranAllah Ta’ala berfirman,قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.” (QS. Al-Kahfi: 67)وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًا“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu, sebagai petunjuk bagiku?”Maksudnya, bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang Allah ajarkan kepadamu, sehingga dengan ilmu itu aku dapat memperoleh petunjuk, mengetahui jalan yang benar, dan memahami hakikat berbagai perkara tersebut.Khidhir telah diberi oleh Allah ilham dan karamah, sehingga dengannya ia dapat mengetahui sisi-sisi tersembunyi dari banyak peristiwa yang bahkan tidak diketahui oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Khidhir berkata kepada Musa, “Aku tidak menolak permintaanmu itu. Akan tetapi, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”Maksudnya, engkau tidak akan sanggup mengikuti dan menyertaiku, karena engkau akan melihat berbagai peristiwa yang secara lahir tampak sebagai kemungkaran, padahal hakikatnya tidak demikian.“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Artinya, bagaimana mungkin engkau dapat bersabar terhadap suatu perkara yang engkau belum mengetahui hakikatnya, baik dari sisi lahir maupun batinnya, dan engkau belum mengetahui tujuan serta akibat akhirnya.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.” (QS. Al-Kahfi: 69)قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا“Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.” (QS. Al-Kahfi: 70)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Musa berkata, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu.”Ucapan ini merupakan tekad dari Nabi Musa sebelum ia menghadapi ujian yang sebenarnya. Tekad untuk bersabar adalah satu hal, sedangkan benar-benar mampu bersabar ketika ujian itu datang adalah hal yang lain. Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam tidak mampu bersabar ketika peristiwa tersebut benar-benar terjadi.Maka Khidhir berkata kepadanya, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.”Maksudnya, janganlah engkau terlebih dahulu mengajukan pertanyaan atau menyatakan keberatan sebelum aku sendiri menjelaskan kepadamu tentang peristiwa tersebut pada waktu yang tepat.Dengan demikian, Khidhir melarang Musa untuk bertanya terlebih dahulu, dan ia berjanji akan menjelaskan hakikat dari setiap peristiwa itu pada saat yang semestinya. Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi, Ternyata DiselamatkanNabi Khidr melubangi kapal milik orang-orang miskin yang telah memberi mereka tumpangan. Secara logika, ini adalah tindakan zalim dan merugikan.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِى ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا إِمْرًا“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Kahfi: 71)قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.” (QS. Al-Kahfi: 72)قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِى بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِى مِنْ أَمْرِى عُسْرًا“Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.” (QS. Al-Kahfi: 73)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya berjalan hingga ketika mereka menaiki sebuah kapal, Khidhir melubangi kapal itu. Maksudnya, Khidhir mencabut salah satu papan dari kapal tersebut. Ia memiliki tujuan tertentu dalam perbuatannya itu yang nantinya akan ia jelaskan.Namun Nabi Musa ‘alaihis salam tidak dapat bersabar melihat perbuatan itu, karena secara lahir tampak sebagai suatu kemungkaran. Tindakan tersebut terlihat sebagai kerusakan pada kapal dan bisa menjadi sebab tenggelamnya para penumpangnya.Karena itulah Musa berkata, “Apakah engkau melubangi kapal itu untuk menenggelamkan para penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat besar.”Maksudnya, suatu perbuatan yang sangat besar dan sangat buruk menurut pandangan lahir.Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam belum mampu bersabar terhadap peristiwa tersebut.Khidhir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Maksudnya, apa yang terjadi sekarang adalah sebagaimana yang telah aku sampaikan kepadamu sebelumnya.Sikap Nabi Musa ‘alaihis salam tersebut terjadi karena lupa terhadap perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.Musa berkata, “Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa, dan janganlah engkau memberatkan urusanku.”Maksudnya, janganlah engkau mempersulit urusanku dan berilah aku kelonggaran. Apa yang terjadi tadi hanyalah karena aku lupa, maka janganlah engkau menyalahkanku pada kesalahan yang pertama ini.Dengan ucapan itu, Nabi Musa ‘alaihis salam menggabungkan antara pengakuan atas kesalahannya dan permohonan maaf atas perbuatannya. Ia juga menunjukkan bahwa tidak sepantasnya Khidhir bersikap keras kepada sahabatnya dalam keadaan seperti ini.Karena itu, Khidhir pun memaafkannya. Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh dan Rahasia Takdir yang BeratNabi Khidr membunuh seorang anak muda yang belum baligh. Ini adalah ujian terberat bagi logika kemanusiaan Musa.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.” (QS. Al-Kahfi: 74)۞ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَىْءٍۭ بَعْدَهَا فَلَا تُصَٰحِبْنِى ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّى عُذْرًا“Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.” (QS. Al-Kahfi: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak itu masih kecil, lalu Khidhir membunuhnya.Melihat hal itu, Nabi Musa ‘alaihis salam sangat marah dan tersulut oleh semangat membela agama, karena ia menyaksikan seorang anak kecil yang tidak berdosa dibunuh.Musa berkata, “Apakah engkau membunuh jiwa yang suci, yang tidak membunuh siapa pun? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”Maksudnya, tidak ada kemungkaran yang lebih besar daripada membunuh seorang anak kecil yang tidak memiliki dosa dan tidak pernah membunuh siapa pun.Kesalahan pertama Nabi Musa terjadi karena lupa, sedangkan yang kedua ini bukan karena lupa, melainkan karena ia belum mampu bersabar.Maka Khidhir berkata kepadanya dengan nada menegur dan mengingatkan, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”Musa pun berkata, “Jika setelah ini aku masih bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka janganlah engkau menyertaiku lagi.”Maksudnya, engkau berhak untuk berpisah dariku dan meninggalkan kebersamaan ini.“Sungguh, engkau telah mempunyai alasan yang cukup dariku.”Artinya, engkau telah memberikan kesempatan dan toleransi yang cukup kepadaku, sehingga engkau tidak lagi dianggap kurang bersabar terhadapku. Peristiwa Ketiga: Tembok yang Ditegakkan untuk Dua Anak YatimMereka sampai di suatu negeri yang penduduknya sangat pelit dan menolak memberi jamuan. Namun, Khidr justru memperbaiki tembok rumah yang hampir roboh di negeri tersebut tanpa meminta upah.Allah Ta’ala berfirman,فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهْلَ قَرْيَةٍ ٱسْتَطْعَمَآ أَهْلَهَا فَأَبَوْا۟ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.” (QS. Al-Kahfi: 77)قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga sampai kepada penduduk suatu negeri. Mereka meminta jamuan kepada penduduk negeri itu, tetapi mereka menolak untuk menjamu keduanya.Di negeri tersebut mereka menemukan sebuah dinding yang hampir roboh, yaitu dinding yang telah retak dan hampir runtuh. Lalu Khidhir menegakkan kembali dinding itu, yakni memperbaiki dan membangunnya kembali seperti semula.Melihat hal itu, Musa berkata, “Seandainya engkau mau, tentu engkau bisa mengambil upah atas pekerjaan itu.”Maksudnya, penduduk negeri ini tidak mau menjamu kita, padahal menjamu tamu merupakan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan. Namun engkau justru memperbaiki dinding mereka tanpa mengambil upah, padahal engkau mampu mengambilnya.Pada saat itu Nabi Musa ‘alaihis salam kembali tidak menepati apa yang telah ia janjikan sebelumnya, sehingga Khidhir pun mempunyai alasan untuk berpisah darinya.Khidhir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau.”Artinya, engkau sendiri telah menetapkan syarat itu atas dirimu. Maka sekarang tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan kebersamaan ini.“Kelak aku akan memberitahukan kepadamu makna dari perbuatan-perbuatan yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”Maksudnya, aku akan menjelaskan kepadamu perbuatan-perbuatan yang engkau ingkari dariku, serta tujuan yang ada di balik semua itu dan bagaimana akhirnya nanti. Hikmah Besar di Balik Tiga PeristiwaPeristiwa PertamaAllah Ta’ala berfirman,أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al-Kahfi: 79)Ibrah: Kapal itu sengaja dibuat “cacat” agar tidak dirampas oleh raja zalim yang sedang menyita setiap kapal yang bagus di depan mereka. Kerusakan kecil menyelamatkan aset besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun kapal yang aku lubangi itu, kapal tersebut milik orang-orang miskin yang bekerja di laut.Keadaan mereka sebagai orang-orang miskin menuntut adanya rasa belas kasihan dan kepedulian terhadap mereka.Karena itu aku ingin membuat kapal tersebut tampak cacat. Di hadapan mereka ada seorang raja zalim yang merampas setiap kapal yang masih baik dan tidak memiliki cacat.Maksudnya, ketika kapal-kapal yang masih bagus melewati wilayah raja tersebut, ia akan merampasnya secara paksa dan mengambilnya dengan kezaliman.Karena itu aku melubangi kapal tersebut agar tampak memiliki cacat, sehingga kapal itu selamat dari perampasan raja yang zalim tersebut. Peristiwa KeduaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَوٰةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا“Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81)Ibrah: Anak tersebut ditakdirkan akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat durhaka dan akan menjerumuskan kedua orang tuanya yang saleh ke dalam kesesatan dan kekafiran. Allah ingin menggantinya dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dan lebih kasih sayang.’Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun anak laki-laki yang aku bunuh itu, kedua orang tuanya adalah orang yang beriman.Kami khawatir jika ia dibiarkan hidup hingga dewasa, ia akan menyeret kedua orang tuanya kepada kedurhakaan dan kekafiran.Anak itu telah ditakdirkan bahwa jika ia tumbuh dewasa, ia akan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam sikap melampaui batas dan kekafiran. Maksudnya, ia akan mendorong mereka kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah.Hal itu bisa terjadi karena besarnya kecintaan kedua orang tuanya kepadanya, atau karena mereka sangat membutuhkan dirinya, atau karena anak tersebut sendiri akan menekan dan menyeret mereka kepada kekafiran.Karena itulah aku membunuhnya setelah mengetahui hakikat tersebut, demi menjaga keselamatan agama kedua orang tuanya yang beriman.Tidak ada manfaat yang lebih besar daripada manfaat yang agung seperti ini.Walaupun pada peristiwa ini terdapat kesedihan bagi kedua orang tuanya dan terputusnya keturunan dari anak tersebut, namun Allah akan mengganti bagi keduanya dengan keturunan yang lebih baik darinya.Sebagaimana firman-Nya, “Kami berharap agar Rabb mereka mengganti bagi keduanya dengan anak yang lebih baik darinya, lebih suci, dan lebih dekat kasih sayangnya.”Maksudnya, Allah akan mengganti dengan anak yang saleh, bersih jiwanya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.Sebab jika anak yang terbunuh itu dibiarkan hidup hingga dewasa, ia justru akan menjadi anak yang sangat durhaka, bahkan dapat menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran dan kedurhakaan kepada Allah. Peristiwa KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.” (QS. Al-Kahfi: 82) Ibrah: Di bawah tembok itu tersimpan harta karun milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang yang saleh. Allah ingin menjaga harta itu tetap terpendam sampai mereka dewasa agar tidak diambil oleh penduduk kota yang serakah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut. Adapun dinding yang aku tegakkan kembali itu, dinding tersebut milik dua orang anak yatim di kota tersebut.Di bawah dinding itu tersimpan sebuah harta milik mereka berdua, dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.Keadaan mereka sebagai anak yatim yang masih kecil dan telah kehilangan ayah menuntut adanya rasa belas kasihan dan perhatian terhadap mereka. Allah juga menjaga keduanya karena kesalehan ayah mereka.Karena itu Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa, lalu mereka dapat mengeluarkan harta simpanan mereka tersebut.Oleh sebab itu aku menegakkan kembali dinding tersebut agar harta itu tetap tersimpan hingga keduanya dewasa.Semua itu merupakan rahmat dari Rabbmu.Artinya, apa yang aku lakukan ini adalah bentuk rahmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, yaitu Khidhir.Aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri.Maksudnya, aku tidak melakukan semua itu berdasarkan keinginanku semata, melainkan atas perintah dan rahmat dari Allah.Itulah penjelasan dari perkara-perkara yang sebelumnya engkau tidak mampu bersabar terhadapnya. 31 Pelajaran dan Kaidah Penting dari Kisah Khidir dan MusaDalam kisah yang agung dan menakjubkan ini terdapat banyak pelajaran, hukum, dan kaidah penting. Dengan pertolongan Allah, sebagian di antaranya akan kita sebutkan.1. Di antaranya adalah keutamaan ilmu dan dianjurkannya melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, karena ilmu merupakan perkara yang sangat penting. Nabi Musa ‘alaihis salam bahkan menempuh perjalanan yang jauh dan merasakan kelelahan dalam menuntut ilmu. Ia meninggalkan duduk bersama Bani Israil untuk mengajar dan membimbing mereka, lalu memilih melakukan perjalanan demi menambah ilmu.2. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah pentingnya mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian yang berikutnya. Menambah ilmu dan memperluas pengetahuan seseorang lebih utama daripada meninggalkannya dan hanya sibuk mengajar tanpa terus menambah ilmu. Namun menggabungkan keduanya, yaitu belajar dan mengajar, adalah keadaan yang paling sempurna.3. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya ada dua jenis.Pertama, ilmu yang diperoleh melalui usaha, belajar, dan kesungguhan seorang hamba.Kedua, ilmu laduni, yaitu ilmu yang Allah karuniakan secara langsung kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki.Sebagaimana firman-Nya,وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا“Kami telah mengajarinya ilmu dari sisi Kami.”4. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya beradab kepada guru dan berbicara kepadanya dengan tutur kata yang lembut.Hal ini terlihat dari ucapan Nabi Musa ‘alaihis salam,هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk bagiku?”Ucapan ini disampaikan dengan penuh kelembutan dan seolah-olah sebagai permintaan izin, yaitu apakah ia diperbolehkan atau tidak. Dalam ucapan itu juga terdapat pengakuan bahwa Musa ingin belajar darinya.Berbeda dengan sikap orang yang kasar atau sombong. Mereka tidak menunjukkan bahwa dirinya membutuhkan ilmu dari gurunya. Bahkan ada yang menganggap dirinya hanya bekerja sama dengan gurunya, atau bahkan merasa seolah-olah ia juga mengajari gurunya, padahal pada hakikatnya ia sangat bodoh.Bersikap rendah hati kepada guru dan menampakkan kebutuhan terhadap ilmunya merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seorang penuntut ilmu.5. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang memiliki keutamaan tetap perlu bersikap rendah hati untuk belajar dari orang yang berada di bawahnya.Sebab Nabi Musa—tanpa diragukan lagi—lebih utama daripada Khidhir, namun beliau tetap belajar darinya.6. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa seorang ulama yang memiliki keutamaan tetap perlu mempelajari ilmu yang belum ia kuasai dari orang yang lebih ahli di bidang tersebut, meskipun orang itu berada di bawahnya dalam banyak sisi ilmu lainnya.Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk para rasul ulul ‘azmi yang Allah anugerahi ilmu yang sangat luas, bahkan melebihi kebanyakan manusia. Namun dalam ilmu tertentu yang khusus, Khidhir memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu Musa sangat bersemangat untuk belajar darinya.Berdasarkan hal ini, seorang ahli fikih atau ahli hadits yang masih lemah dalam ilmu nahwu, sharaf, atau cabang ilmu lainnya, tidak sepatutnya enggan mempelajarinya dari orang yang lebih ahli dalam bidang tersebut, meskipun orang itu bukan seorang ahli hadits atau ahli fikih.7. Di antara pelajaran lainnya adalah menyandarkan ilmu dan berbagai keutamaan kepada Allah Ta’ala, mengakui bahwa semua itu berasal dari-Nya, serta mensyukuri nikmat tersebut.Sebagaimana dalam ucapan Musa,تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ“Engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu,”yaitu ilmu yang Allah ajarkan kepadamu.8. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing kepada kebaikan.Setiap ilmu yang mengandung petunjuk menuju jalan kebaikan, memperingatkan dari jalan keburukan, atau menjadi sarana untuk mencapai hal tersebut, maka itulah ilmu yang bermanfaat.Adapun ilmu selain itu, maka bisa jadi merupakan ilmu yang berbahaya atau ilmu yang tidak memiliki manfaat.Hal ini sebagaimana firman Allah,أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا“Agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk.”9. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran dalam menyertai seorang guru dan menuntut ilmu darinya, serta tidak mampu istiqamah dalam proses tersebut, maka ia akan kehilangan banyak ilmu sesuai dengan kadar kurangnya kesabarannya.Orang yang tidak memiliki kesabaran tidak akan mendapatkan ilmu. Sebaliknya, siapa yang bersabar dan terus meneguhkan dirinya dalam kesabaran tersebut, ia akan dapat meraih berbagai tujuan yang ia usahakan.Hal ini sebagaimana perkataan Khidhir yang menjelaskan kepada Musa alasan mengapa Musa tidak dapat bersabar bersamanya, yaitu karena Musa tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk mengikuti semua peristiwa tersebut.10. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa sebab utama seseorang mampu bersabar adalah karena ia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang perkara yang harus ia hadapi dengan kesabaran.Adapun orang yang tidak mengetahui hakikat suatu perkara, tidak mengetahui tujuannya, hasil akhirnya, manfaatnya, ataupun buah yang akan diperoleh darinya, maka ia tidak memiliki sebab yang mendorongnya untuk bersabar.Hal ini sebagaimana firman Allah,وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا“Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui secara menyeluruh?”Ayat ini menunjukkan bahwa sebab ketidakmampuan bersabar adalah karena tidak mengetahui hakikat suatu perkara secara menyeluruh.11. Di antara pelajaran lainnya adalah perintah untuk bersikap tenang, berhati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai suatu perkara sebelum mengetahui tujuan dan maksud yang sebenarnya dari perkara tersebut.12. Di antara pelajaran lainnya adalah dianjurkannya mengaitkan perkara-perkara yang akan datang dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, seseorang tidak sepatutnya mengatakan bahwa ia pasti akan melakukan sesuatu di masa depan, kecuali dengan mengatakan,إِنْ شَاءَ اللَّهُ“Jika Allah menghendaki.”13. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa tekad untuk melakukan sesuatu tidaklah sama dengan benar-benar melakukannya.Nabi Musa berkata,سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا“Engkau akan mendapati aku, insya Allah, sebagai orang yang sabar.”Beliau telah meneguhkan niat dalam dirinya untuk bersabar, namun ketika peristiwa itu terjadi, kesabaran tersebut belum sepenuhnya terwujud.14. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang guru boleh melihat maslahat untuk mengarahkan muridnya agar tidak langsung bertanya tentang sebagian perkara, sampai guru tersebut sendiri yang menjelaskannya pada waktu yang tepat.Hal ini dilakukan apabila pemahaman murid masih terbatas, atau jika pertanyaan yang diajukan terlalu mendalam pada perkara yang belum saatnya dibahas, atau pada hal-hal yang lebih penting masih belum dipahami, atau jika pertanyaan yang diajukan tidak berkaitan dengan pokok pembahasan.15. Di antara pelajaran lainnya adalah bolehnya melakukan perjalanan melalui laut selama tidak dalam keadaan yang membahayakan.16. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya, baik dalam perkara yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama manusia. Hal ini sebagaimana ucapan Musa,لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ“Janganlah engkau menghukumku karena aku lupa.” (QS. Al-Kahfi: 73)17. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seseorang seharusnya bersikap lapang dalam berinteraksi dengan manusia, menerima apa yang mereka mampu berikan dengan kerelaan hati mereka, dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka lakukan atau yang memberatkan mereka. Sikap membebani orang lain akan menimbulkan kejenuhan dan membuat orang menjauh. Sebaliknya, seseorang hendaknya mengambil sikap yang mudah sehingga urusan pun menjadi mudah.18. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa hukum-hukum dalam kehidupan dunia berjalan berdasarkan apa yang tampak secara lahir. Dari hal-hal yang tampak itulah ditetapkan berbagai hukum yang berkaitan dengan harta, jiwa, dan perkara lainnya.Karena itulah Nabi Musa ‘alaihis salam mengingkari tindakan Khidhir ketika melubangi kapal dan membunuh anak kecil, sebab secara lahir perbuatan tersebut tampak sebagai kemungkaran. Dalam keadaan biasa, Musa tidak boleh diam terhadap kemungkaran seperti itu.Namun dalam keadaan khusus ketika ia sedang menyertai Khidhir, seharusnya ia bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkari. Akan tetapi Musa segera menilai berdasarkan keadaan lahirnya dan tidak memperhatikan kondisi khusus yang menuntutnya untuk bersabar.19. Di antara pelajaran penting lainnya adalah kaidah besar dalam syariat: Menolak kerusakan yang lebih besar dengan melakukan kerusakan yang lebih kecil. Demikian pula memilih maslahat yang lebih besar dengan meninggalkan maslahat yang lebih kecil.Membunuh anak tersebut memang merupakan suatu keburukan, namun jika anak itu tetap hidup hingga dewasa dan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam kekafiran, maka keburukan itu jauh lebih besar.Walaupun pada pandangan pertama membiarkan anak itu hidup tampak sebagai kebaikan, namun kebaikan yang lebih besar adalah tetap terjaganya agama dan iman kedua orang tuanya. Karena itulah Khidhir membunuh anak tersebut.Di bawah kaidah ini terdapat banyak sekali cabang hukum dan manfaat yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap pertentangan antara maslahat dan mafsadat termasuk dalam pembahasan kaidah ini.20. Di antara pelajaran lainnya adalah kaidah besar bahwa seseorang boleh bertindak terhadap harta orang lain jika tujuannya untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan, meskipun tanpa izin pemiliknya, bahkan walaupun tindakan itu menyebabkan rusaknya sebagian harta tersebut. Hal ini sebagaimana tindakan Khidhir yang melubangi kapal agar kapal itu tampak cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zalim.Berdasarkan kaidah ini, apabila terjadi kebakaran, tenggelam, atau keadaan darurat lainnya pada rumah atau harta seseorang, dan untuk menyelamatkan sebagian besar harta tersebut diperlukan merusak sebagian lainnya atau merobohkan sebagian bangunan, maka hal itu boleh dilakukan, bahkan dianjurkan demi menjaga harta tersebut.Demikian pula jika seorang penguasa zalim hendak merampas seluruh harta seseorang, lalu sebagian harta diberikan untuk menyelamatkan sisanya, maka hal itu diperbolehkan meskipun tanpa izin pemilik harta tersebut.21. Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa bekerja di laut diperbolehkan sebagaimana bekerja di darat. Hal ini terlihat dari firman Allah,يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ“Mereka bekerja di laut,” (QS. Al-Kahfi: 79) dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka tersebut.22. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang miskin terkadang masih memiliki sebagian harta, tetapi harta itu tidak mencukupi kebutuhannya. Karena itu ia tetap disebut miskin. Hal ini terlihat dari keterangan bahwa para nelayan tersebut adalah orang-orang miskin, padahal mereka memiliki sebuah kapal.23. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa membunuh merupakan salah satu dosa terbesar. Hal ini terlihat dari ucapan Musa ketika menanggapi pembunuhan anak kecil tersebut,لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا“Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”24. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan sebagai qishash tidak termasuk perbuatan mungkar. Hal ini tersirat dari ucapan Musa,بِغَيْرِ نَفْسٍ“Tanpa (alasan membunuh) jiwa yang lain.”25. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang hamba yang saleh akan dijaga oleh Allah, baik pada dirinya maupun pada keturunannya.Baca juga: Hadits Arbain #19: Menjaga Hak Allah dan Memahami TakdirAllah Jaga Hingga TuaKhutbah Jumat: Penjagaan Allah yang Luar Biasa bagi yang Menjaga Hak Allah26. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa melayani orang-orang saleh atau orang-orang yang berkaitan dengan mereka merupakan suatu kemuliaan. Hal ini terlihat dari alasan ditegakkannya kembali dinding tersebut dan dijaganya harta dua anak yatim itu, yaitu karena ayah mereka adalah seorang yang saleh.27. Di antara pelajaran lainnya adalah pentingnya menjaga adab kepada Allah dalam ucapan. Khidhir menyandarkan kerusakan kapal kepada dirinya dengan mengatakan,فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا“Aku ingin membuat kapal itu cacat.”Namun ketika menyebutkan kebaikan, ia menyandarkannya kepada Allah dengan mengatakan,فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا“Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa.”Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syuara: 80)Demikian pula ucapan para jin,وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا“Kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 10)Padahal pada hakikatnya semua itu terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah.28. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa seorang sahabat tidak seharusnya langsung memutuskan hubungan dengan sahabatnya sebelum memberikan kesempatan untuk meminta maaf dan menjelaskan kesalahannya, sebagaimana yang dilakukan Khidhir terhadap Musa.29. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa kesesuaian dan keharmonisan antara dua orang sahabat dalam perkara-perkara yang tidak terlarang menjadi sebab kuatnya persahabatan dan kelanggengan hubungan. Sebaliknya, ketidaksepahaman dapat menjadi sebab terputusnya kebersamaan.30. Di antara pelajaran lainnya adalah bahwa semua peristiwa yang dilakukan Khidhir dalam kisah ini pada hakikatnya merupakan takdir Allah yang dijalankan melalui tangan hamba-Nya yang saleh. Dengan peristiwa itu Allah menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kelembutan dan kasih sayang-Nya dalam berbagai ketetapan-Nya. Terkadang Allah menakdirkan sesuatu yang sangat tidak disukai oleh seorang hamba, padahal pada hakikatnya hal itu merupakan kebaikan baginya.31. Kadang kebaikan itu berkaitan dengan agama seseorang, seperti dalam peristiwa terbunuhnya anak kecil tersebut. Kadang pula berkaitan dengan urusan dunia, seperti dalam peristiwa dilubanginya kapal.Dengan demikian Allah memperlihatkan kepada manusia contoh dari kelembutan dan kemurahan-Nya, agar mereka memahami hikmah tersebut dan akhirnya rela sepenuhnya terhadap takdir-takdir Allah meskipun pada awalnya terasa tidak menyenangkan.(Pelajaran-pelajaran ini diambil dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman atau Tafsir As-Sa’di) Renungan Penting dari Kisah Musa dan Khidhir1. Tidak semua yang terasa pahit adalah keburukanKapal yang dilubangi, anak yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan tanpa upah tampak janggal di mata manusia. Namun semuanya ternyata menjadi jalan datangnya rahmat, perlindungan, dan kebaikan yang lebih besar. Ini mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa menilai takdir Allah hanya dari yang tampak di permukaan.2. Ilmu manusia terbatas, sedangkan hikmah Allah sempurnaNabi Musa ‘alaihis salam saja tidak mengetahui hikmah dari tiga peristiwa itu pada awalnya. Maka manusia biasa lebih pantas lagi untuk tunduk, rendah hati, dan tidak merasa bahwa semua kejadian harus langsung bisa dipahami akalnya. Kadang Allah menyembunyikan hikmah agar hamba belajar sabar dan tawakal.3. Kesalehan orang tua bisa menjadi sebab penjagaan bagi anakPada kisah tembok dua anak yatim, Allah menjaga harta mereka karena ayah mereka adalah seorang yang saleh. Ini adalah pelajaran yang sangat menyentuh: salah satu warisan terbaik bagi anak bukan sekadar harta, tetapi kesalehan orang tuanya. Amal saleh seorang ayah atau ibu bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada keturunannya. Semoga bermanfaat. Semoga menjadi teladan. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 18 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menuntut ilmu Hikmah Takdir Husnuzan kepada Allah keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi Kisah Musa dan Khidhir kisah nabi musa Kisah Qurani nabi khidr nabi musa pelajaran al-quran pelajaran dari al-kahfi renungan ayat renungan quran surah al-kahfi surat al kahfi tafsir al-kahfi tafsir as-sa'di Ujian Kesabaran

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 6): Tersesatnya Para Pemuda, Tak Berharganya Nyawa, dan Hilangnya Rasa Aman

Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 6): Tersesatnya Para Pemuda, Tak Berharganya Nyawa, dan Hilangnya Rasa Aman

Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.
Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.


Dampak lain dari fitnah adalah bahwa fitnah seringkali dijadikan sebab dan sarana untuk menjerumuskan para pemuda dan anak-anak di bawah umur ke dalam penyimpangan dengan memperdaya mereka lewat berbagai cara, media, dan pendekatan, hingga berujung pada dampak yang fatal dan akhir yang menyedihkan.Pada bagian ini, seorang pemuda hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk propaganda, slogan yang digaungkan, maupun ungkapan-ungkapan yang dirangkai secara indah. Sebaliknya, ketika ia diajak kepada suatu urusan, hendaknya ia merujuk kepada para alim ulama dari kalangan ahli ilmu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,البركةُ مع أكابركم“Keberkahan ada bersama orang-orang yang lebih tua di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 559, ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Awsath no. 8991, dan al-Hakim [1: 131]. Al-Hakim mensahihkannya, adz-Dzahabi menyetujuinya, dan keduanya dikuatkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1778)Apabila seseorang diajak pada suatu jalan, arah, atau metode, maka hendaknya ia kembalikan kepada para alim ulama, ahli ilmu. Yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, sangat teliti dalam perkara tersebut, yang telah kokoh pijakan mereka dalam ilmu, mempelajari dan mengkajinya, serta kokoh pijakan mereka ketika berfatwa, menjelaskan, mengarahkan, menasihati, dan mengajarkan ilmu. Mereka inilah yang hendaknya dirujuk dan ditanya.Namun, ketika fitnah bergejolak, sebagian pemuda sering terjerumus dan terseret secara bertahap hingga terjerumus ke dalam perkara-perkara besar dan masalah-masalah serius, bahkan membuat mereka tidak mungkin lagi menemukan jalan keluar.Dan biasanya, perkara itu berawal dari tokoh-tokoh kecil di kalangan para penggerak fitnah, melalui hal-hal yang tampak biasa dan dikenal, seperti sekelompok orang yang berkumpul lalu saling bersepakat atas perkara-perkara yang sudah umum dan disepakati. Kemudian mereka mengatakan, “Kita berkumpul untuk beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, menegakkan salat, serta menunaikan zakat, dan kita tunduk untuk hal tersebut.”Lalu mereka membumbui dengan kesesatan dan penyimpangan yang pada akhirnya membuat seorang pemuda merasa telah terikat oleh sebuah perjanjian (baiat); bahkan bisa jadi ia telah masuk ke dalam suatu kelompok, terlibat dalam organisasi tertentu, atau terikat dalam sebuah baiat, dan semacamnya.Ia pun mendapati dirinya berada pada suatu jalan yang membingungkan, dan bisa jadi sulit baginya untuk kembali kepada kebenaran karena ia telah melangkah cukup jauh atau tercuci otaknya dan didoktrin agar terus berada dalam penyimpangan tersebut. Namun, apabila seorang pemuda diberi hidayah atau taufik dan Allah menganugerahkan kepadanya pertolongan-Nya, niscaya ia akan terselamatkan dari penyimpangan itu. Perkara semacam ini sejatinya telah ada sejak dahulu.Pada masa generasi tabi‘in, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir meriwayatkan sebuah kisah tentang dirinya ketika ia masih kecil. Ia berkata, “Kami pernah mendatangi Zaid bin Shauhan. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah dan hormatilah. Sesungguhnya kami menjadi perantara bagi para hamba menuju Allah melalui dua perkara, yaitu rasa takut dan harapan.’”Zaid bin Shauhan dikenal sebagai seorang pemberi nasihat yang senantiasa menasihati, mengingatkan, menanamkan rasa takut kepada Allah, serta mengajak manusia untuk beribadah dan menaati Allah.Ia melanjutkan, “Suatu hari, aku mendatanginya lagi, sementara mereka sedang membuat sebuah tulisan atau perjanjian dan menyusun kalimat yang maknanya seperti ini: Sesungguhnya Allah adalah Rabb kami, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kami, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami. Siapa pun yang bersama kami, ia adalah bagian dari kami; dan siapa pun yang menyelisihi kami, maka kami akan menghadapinya!” Tulisan tersebut disusun dengan kalimat-kalimat yang sekilas terkesan benar dan tidak bermasalah bagi kebanyakan orang.Ia melanjutkan lagi, “Tulisan tersebut kemudian dipertunjukkan kepada orang-orang, satu per satu. Setiap kali tulisan tersebut diajukan kepada seseorang, mereka bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai Fulan?’ Orang itu pun menjawab, ‘Ya, saya menyetujuinya.’ Sampai akhirnya giliran itu sampai kepadaku. Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau menyetujuinya, wahai pemuda?’ (yakni terhadap perkara-perkara tersebut), Aku menjawab, ‘Tidak, aku tidak menyetujuinya.’ Zaid bin Shauhan berkata di hadapan orang-orang, ‘Jangan terburu-buru terhadap pemuda ini.’ Kemudian ia bertanya lagi kepadaku, ‘Apa yang akan kamu katakan, wahai pemuda?’ Aku pun menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kepadaku dalam Kitab-Nya. Karena itu, aku tidak akan membuat hukum baru selain hukum yang telah Allah tetapkan atasku dalam Kitab-Nya.’ Akhirnya, banyak dari kelompok tersebut kembali kepada kebenaran dari apa yang mereka setujui sebelumnya. Kelompok itu pun ‘zaha’a’ atau tersisa sekitar tiga puluh orang saja.” (Lihat Hilyatul Auliya’, 2: 204 dan Tarikh Dimasyq, 58: 313)Kesimpulannya, ketika fitnah bergejolak, seringkali yang menjadi korban adalah para pemuda maupun anak-anak di bawah umur. Mereka digiring untuk bergabung ke dalam organisasi-organiasi, kelompok-kelompok, baiat yang sesat dan menyimpang, dan semisalnya yang akhirnya berdampak buruk dan bahaya lainnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah darah kaum muslimin tak ada lagi harganya di mata mereka. Mereka tak segan untuk membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan menghalalkan darah mereka yang bukan golongannnya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,في الفتنةِ لا ترونَ القتلَ شيئًا“Ketika fitnah itu bergejolak, pertumpahan darah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu (yang besar atau serius).” (HR. Ahmad no. 4871)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat tegas dalam melarang keterlibatan dalam pembunuhan, perampokan, serta pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Dalam hal ini, beliau memiliki sebuah ungkapan yang sangat agung dan indah, yang patut dihafal dan dijaga. Yaitu, bahwa ada seorang laki-laki yang menulis surat kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,اكتبْ إليَّ بالعلمِ“Tuliskanlah kepadaku tentang ilmu!”Ibnu ‘Umar pun menuliskannya untuk orang itu,إنَّ العلمَ كثيرٌ — يا ابنَ أخي — ولكن إنِ استطعتَ أن تلقى اللهَ خفيفَ الظهرِ من دماءِ المسلمينَ، خَميص البطنِ من أموالِهم، كافّ اللسانِ عن أعراضِهم، لازمًا لجماعتِهم، فافعلْ“Ilmu itu sangat banyak, wahai keponakanku. Namun, jika engkau mampu bertemu Allah tanpa memikul dosa darah kaum muslimin, tanpa memakan harta mereka, menjaga lisan dari merendahkan kehormatan mereka, dan tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin—maka itulah yang utama.” (Lihat Tarikh Dimasyq, 31: 170 dan 52: 256; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 3: 222)Wasiat ini adalah di antara wasiat yang paling agung dan paling lengkap, karena di dalamnya menghimpun intisari semua ilmu dan kebaikan di dalamnya.Dampak fitnah yang juga sangat berbahaya adalah hilangnya rasa aman. Padahal, rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman-Nya,الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ“(Allah-lah) yang telah memberi mereka makanan sehingga terbebas dari kelaparan dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)Rasa aman adalah salah satu nikmat terbesar. Dengannya, manusia terjaga darah, harta, jiwa, dan kehormatannya, dan terjaga hak-hak yang lainnya. Semua itu termasuk nikmat yang sangat agung. Namun, ketika fitnah itu bergejolak, maka terjadilah pertumpahan darah, harta benda dirampas, nyawa melayang, anak-anak menjadi yatim, para wanita menjadi janda, dan berbagai dampak buruk lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 41–44 dan hal. 47–50.

Pentingnya Niat Saat Mengeluarkan Zakat dan Cara Melakukannya

Zakat tidak hanya menuntut terpenuhinya syarat harta dan penerima, tetapi juga harus disertai dengan niat yang benar ketika menunaikannya. Niat inilah yang membedakan zakat dari sedekah biasa atau bentuk pengeluaran harta lainnya. Tulisan ini menjelaskan pentingnya niat dalam zakat, kapan niat itu dilakukan, serta bagaimana hukumnya ketika zakat disalurkan melalui wakil atau lembaga.  Niat Ketika Mengeluarkan ZakatNiat wajib ada ketika mengeluarkan zakat, agar zakat tersebut dapat dibedakan dari kafarat dan sedekah lainnya. Hal ini berdasarkan hadis yang masyhur:إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 1907)Jika seseorang mengeluarkan zakatnya sendiri, maka ia menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada orang yang berhak menerima zakat, atau ketika ia memisahkan sejumlah harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat dari harta lainnya. Artinya, apabila ketika memisahkan harta tersebut ia telah berniat bahwa jumlah itu adalah zakat hartanya, maka hal itu sudah cukup dan tidak perlu lagi menghadirkan niat saat menyerahkannya kepada penerima zakat.Jika seseorang mewakilkan penyaluran zakat kepada orang lain, maka ia harus berniat zakat ketika menyerahkan harta tersebut kepada wakilnya. Setelah itu, wakil tidak wajib menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada para penerima zakat. Namun, yang lebih baik adalah wakil juga berniat ketika membagikan harta tersebut kepada mereka. Apabila pemilik harta tidak berniat zakat saat menyerahkannya kepada wakil, maka niat wakil ketika menyerahkannya kepada para penerima tidak cukup untuk menggantikan niat pemilik harta.Jika zakat tersebut diserahkan kepada imam (pemerintah) atau wakilnya, maka pemilik harta berniat zakat ketika menyerahkannya kepada mereka. Niat tersebut sudah cukup, karena imam merupakan wakil dari para penerima zakat. Oleh karena itu, niat ketika menyerahkannya kepada imam dianggap seperti niat ketika menyerahkannya langsung kepada para penerima zakat.Namun, apabila pemilik harta tidak menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada imam, maka niat imam setelah itu tidak dapat menggantikan niat pemilik harta, dan harta yang diberikan tersebut tidak dianggap sah sebagai zakat. Hal ini karena imam—sebagaimana disebutkan—merupakan wakil bagi para penerima zakat, bukan wakil bagi pemilik harta seperti halnya seorang wakil. Karena itu, niat imam tidak dapat menggantikan niat pemilik harta. Demikian pula niat wakil tidak mencukupi apabila pemilik harta yang mewakilkan tidak berniat zakat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Referensi:Al-Khin, M., Al-Bugha, M., & Asy-Syarbaji, A. (1992). Al-fiqh al-manhaji ‘ala mazhab al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah ta‘ala (Cet. ke-4, 8 jilid). Damaskus: Dar Al-Qalam li Ath-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘.—-Kamis, 17 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsniat bayar zakat pandaun zakat fitrah panduan zakat

Pentingnya Niat Saat Mengeluarkan Zakat dan Cara Melakukannya

Zakat tidak hanya menuntut terpenuhinya syarat harta dan penerima, tetapi juga harus disertai dengan niat yang benar ketika menunaikannya. Niat inilah yang membedakan zakat dari sedekah biasa atau bentuk pengeluaran harta lainnya. Tulisan ini menjelaskan pentingnya niat dalam zakat, kapan niat itu dilakukan, serta bagaimana hukumnya ketika zakat disalurkan melalui wakil atau lembaga.  Niat Ketika Mengeluarkan ZakatNiat wajib ada ketika mengeluarkan zakat, agar zakat tersebut dapat dibedakan dari kafarat dan sedekah lainnya. Hal ini berdasarkan hadis yang masyhur:إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 1907)Jika seseorang mengeluarkan zakatnya sendiri, maka ia menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada orang yang berhak menerima zakat, atau ketika ia memisahkan sejumlah harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat dari harta lainnya. Artinya, apabila ketika memisahkan harta tersebut ia telah berniat bahwa jumlah itu adalah zakat hartanya, maka hal itu sudah cukup dan tidak perlu lagi menghadirkan niat saat menyerahkannya kepada penerima zakat.Jika seseorang mewakilkan penyaluran zakat kepada orang lain, maka ia harus berniat zakat ketika menyerahkan harta tersebut kepada wakilnya. Setelah itu, wakil tidak wajib menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada para penerima zakat. Namun, yang lebih baik adalah wakil juga berniat ketika membagikan harta tersebut kepada mereka. Apabila pemilik harta tidak berniat zakat saat menyerahkannya kepada wakil, maka niat wakil ketika menyerahkannya kepada para penerima tidak cukup untuk menggantikan niat pemilik harta.Jika zakat tersebut diserahkan kepada imam (pemerintah) atau wakilnya, maka pemilik harta berniat zakat ketika menyerahkannya kepada mereka. Niat tersebut sudah cukup, karena imam merupakan wakil dari para penerima zakat. Oleh karena itu, niat ketika menyerahkannya kepada imam dianggap seperti niat ketika menyerahkannya langsung kepada para penerima zakat.Namun, apabila pemilik harta tidak menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada imam, maka niat imam setelah itu tidak dapat menggantikan niat pemilik harta, dan harta yang diberikan tersebut tidak dianggap sah sebagai zakat. Hal ini karena imam—sebagaimana disebutkan—merupakan wakil bagi para penerima zakat, bukan wakil bagi pemilik harta seperti halnya seorang wakil. Karena itu, niat imam tidak dapat menggantikan niat pemilik harta. Demikian pula niat wakil tidak mencukupi apabila pemilik harta yang mewakilkan tidak berniat zakat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Referensi:Al-Khin, M., Al-Bugha, M., & Asy-Syarbaji, A. (1992). Al-fiqh al-manhaji ‘ala mazhab al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah ta‘ala (Cet. ke-4, 8 jilid). Damaskus: Dar Al-Qalam li Ath-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘.—-Kamis, 17 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsniat bayar zakat pandaun zakat fitrah panduan zakat
Zakat tidak hanya menuntut terpenuhinya syarat harta dan penerima, tetapi juga harus disertai dengan niat yang benar ketika menunaikannya. Niat inilah yang membedakan zakat dari sedekah biasa atau bentuk pengeluaran harta lainnya. Tulisan ini menjelaskan pentingnya niat dalam zakat, kapan niat itu dilakukan, serta bagaimana hukumnya ketika zakat disalurkan melalui wakil atau lembaga.  Niat Ketika Mengeluarkan ZakatNiat wajib ada ketika mengeluarkan zakat, agar zakat tersebut dapat dibedakan dari kafarat dan sedekah lainnya. Hal ini berdasarkan hadis yang masyhur:إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 1907)Jika seseorang mengeluarkan zakatnya sendiri, maka ia menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada orang yang berhak menerima zakat, atau ketika ia memisahkan sejumlah harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat dari harta lainnya. Artinya, apabila ketika memisahkan harta tersebut ia telah berniat bahwa jumlah itu adalah zakat hartanya, maka hal itu sudah cukup dan tidak perlu lagi menghadirkan niat saat menyerahkannya kepada penerima zakat.Jika seseorang mewakilkan penyaluran zakat kepada orang lain, maka ia harus berniat zakat ketika menyerahkan harta tersebut kepada wakilnya. Setelah itu, wakil tidak wajib menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada para penerima zakat. Namun, yang lebih baik adalah wakil juga berniat ketika membagikan harta tersebut kepada mereka. Apabila pemilik harta tidak berniat zakat saat menyerahkannya kepada wakil, maka niat wakil ketika menyerahkannya kepada para penerima tidak cukup untuk menggantikan niat pemilik harta.Jika zakat tersebut diserahkan kepada imam (pemerintah) atau wakilnya, maka pemilik harta berniat zakat ketika menyerahkannya kepada mereka. Niat tersebut sudah cukup, karena imam merupakan wakil dari para penerima zakat. Oleh karena itu, niat ketika menyerahkannya kepada imam dianggap seperti niat ketika menyerahkannya langsung kepada para penerima zakat.Namun, apabila pemilik harta tidak menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada imam, maka niat imam setelah itu tidak dapat menggantikan niat pemilik harta, dan harta yang diberikan tersebut tidak dianggap sah sebagai zakat. Hal ini karena imam—sebagaimana disebutkan—merupakan wakil bagi para penerima zakat, bukan wakil bagi pemilik harta seperti halnya seorang wakil. Karena itu, niat imam tidak dapat menggantikan niat pemilik harta. Demikian pula niat wakil tidak mencukupi apabila pemilik harta yang mewakilkan tidak berniat zakat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Referensi:Al-Khin, M., Al-Bugha, M., & Asy-Syarbaji, A. (1992). Al-fiqh al-manhaji ‘ala mazhab al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah ta‘ala (Cet. ke-4, 8 jilid). Damaskus: Dar Al-Qalam li Ath-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘.—-Kamis, 17 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsniat bayar zakat pandaun zakat fitrah panduan zakat


Zakat tidak hanya menuntut terpenuhinya syarat harta dan penerima, tetapi juga harus disertai dengan niat yang benar ketika menunaikannya. Niat inilah yang membedakan zakat dari sedekah biasa atau bentuk pengeluaran harta lainnya. Tulisan ini menjelaskan pentingnya niat dalam zakat, kapan niat itu dilakukan, serta bagaimana hukumnya ketika zakat disalurkan melalui wakil atau lembaga.  Niat Ketika Mengeluarkan ZakatNiat wajib ada ketika mengeluarkan zakat, agar zakat tersebut dapat dibedakan dari kafarat dan sedekah lainnya. Hal ini berdasarkan hadis yang masyhur:إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 1907)Jika seseorang mengeluarkan zakatnya sendiri, maka ia menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada orang yang berhak menerima zakat, atau ketika ia memisahkan sejumlah harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat dari harta lainnya. Artinya, apabila ketika memisahkan harta tersebut ia telah berniat bahwa jumlah itu adalah zakat hartanya, maka hal itu sudah cukup dan tidak perlu lagi menghadirkan niat saat menyerahkannya kepada penerima zakat.Jika seseorang mewakilkan penyaluran zakat kepada orang lain, maka ia harus berniat zakat ketika menyerahkan harta tersebut kepada wakilnya. Setelah itu, wakil tidak wajib menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada para penerima zakat. Namun, yang lebih baik adalah wakil juga berniat ketika membagikan harta tersebut kepada mereka. Apabila pemilik harta tidak berniat zakat saat menyerahkannya kepada wakil, maka niat wakil ketika menyerahkannya kepada para penerima tidak cukup untuk menggantikan niat pemilik harta.Jika zakat tersebut diserahkan kepada imam (pemerintah) atau wakilnya, maka pemilik harta berniat zakat ketika menyerahkannya kepada mereka. Niat tersebut sudah cukup, karena imam merupakan wakil dari para penerima zakat. Oleh karena itu, niat ketika menyerahkannya kepada imam dianggap seperti niat ketika menyerahkannya langsung kepada para penerima zakat.Namun, apabila pemilik harta tidak menghadirkan niat ketika menyerahkannya kepada imam, maka niat imam setelah itu tidak dapat menggantikan niat pemilik harta, dan harta yang diberikan tersebut tidak dianggap sah sebagai zakat. Hal ini karena imam—sebagaimana disebutkan—merupakan wakil bagi para penerima zakat, bukan wakil bagi pemilik harta seperti halnya seorang wakil. Karena itu, niat imam tidak dapat menggantikan niat pemilik harta. Demikian pula niat wakil tidak mencukupi apabila pemilik harta yang mewakilkan tidak berniat zakat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Referensi:Al-Khin, M., Al-Bugha, M., & Asy-Syarbaji, A. (1992). Al-fiqh al-manhaji ‘ala mazhab al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah ta‘ala (Cet. ke-4, 8 jilid). Damaskus: Dar Al-Qalam li Ath-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘.—-Kamis, 17 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsniat bayar zakat pandaun zakat fitrah panduan zakat

Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleGaya makan Nabi ﷺ sehari semalamGaya sahur Nabi ﷺApa yang dimakan ketika berbuka?Keutamaan kurma dan airTamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaMakan secukupnyaSunah Nabi ﷺ begitu lengkap dari urusan besar hingga urusan printilan kecil yang mungkin kita tidak perhatikan. Termasuk riwayat yang sampai kepada kita adalah bagaimana Nabi ﷺ mengatur pola makannya, khususnya di bulan Ramadan. Tentu ini adalah permasalahan kebiasaan dan keseharian yang tidak mutlak menjadi panduan ibadah yang harus diikuti. Namun, setidaknya kita bisa mengambil faidah dari perbuatan Nabi ﷺ dan menjadi peluang baru untuk kita mengikuti sunah Nabi ﷺ.Gaya makan Nabi ﷺ sehari semalamNabi ﷺ memulai harinya dengan meminum air putih dan terkadang dicampur dengan madu. Lalu sarapan dengan tujuh butir kurma. Nabi ﷺ kemudian melanjutkan aktivitas hariannya hingga waktu Asar tiba. Setelah melaksanakan salat Asar, Nabi ﷺ biasanya memakan roti gandum dengan minyak zaitun. Terdapat riwayat pula Nabi ﷺ memakan daging –beliau senang sekali dengan daging– atau memenuhi makan siang dengan kurma dan madu. Di malam hari, Nabi ﷺ akan makan malam setelah salat Isya dan witir dengan memakan yoghurt atau olahan susu.[1]Dalam riwayat yang menunjukkan keadaan di bulan Ramadan, Nabi ﷺ makan sedikit ketika memasuki waktu Magrib, berupa kurma dan air. Lalu, Nabi ﷺ akan makan lagi sebelum mengimami para sahabat dalam salat tarawih atau beliau salat sendiri di rumahnya.Kaidah dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad, “Makanlah sesuai kebiasaan penduduk, jangan membatasi dengan satu jenis makanan saja.”فقصرها على نوع واحد دائما – ولو أنه أفضل الأغذية – خطر مضر . بل كان يأكل ما جرت عادة أهل بلده“Membatasi diri memakan satu jenis makanan saja, meskipun itu makanan yang terbaik, berisiko membahayakan. Baginda Nabi ﷺ memakan apa yang biasa dimakan oleh penduduk setempat.” (Zaadul Ma’ad, 4: 199)[2]Dari apa yang dijelaskan oleh penulis dan Ibnul Qayyim, kita bisa ambil kesimpulan:Makanan Nabi ﷺ adalah makanan yang lazim di kaumnya, bukan makanan khusus atau mewah.Nabi ﷺ makan beragam jenis makanan, tetapi tidak terlalu banyak pula jenisnya, biasanya hanya 2-3 jenis saja.Nabi ﷺ tidak makan dengan porsi yang teramat besar, namun secukupnya.Budaya makan Nabi ﷺ adalah selalu memenuhi kebutuhan gizi:Karbohidrat = roti;Protein = daging;Vitamin = buah;Gula energi cepat = buah dan madu;Serat = buah;Mineral kompleks = buah, madu, dan minyak zaitun;Perasa makanan = cuka;Nabi ﷺ juga makan manisan, tetapi porsinya tidak besar, serta peruntukan aktivitasnya tinggi.Gaya sahur Nabi ﷺTerkadang, beliau makan sahur bersama beberapa sahabatnya. Diriwayatkan secara sahih bahwa beliau dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu makan sahur. Setelah selesai, beliau akan salat Subuh. Waktu antara sahur dan salatnya hanya cukup untuk membaca lima puluh ayat Al-Quran. Nabi ﷺ ketika sahur biasanya memakan kurma, khususnya tamr.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَ سَحورُ المؤمِنِ التَّمرُ“Sebaik-baik makanan sahur adalah tamr (kurma kering)” (HR. Abu Daud no. 2345, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Ada juga keadaan Nabi Muhammad ﷺ makan sahur, kemudian salat dua rekaat ringan salat sunah, dan menunggu di rumahnya sampai Bilal meminta izin untuk mengumandangkan azan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan rumah istri-istrinya, karena letaknya berdekatan dengan masjid, dan memimpin salat Subuh.Baca juga: Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?Apa yang dimakan ketika berbuka?Rasulullah ﷺ menganjurkan kepada umatnya agar berbuka puasa dengan urutan:Ruthab (Kurma masak berwarna coklat muda masih basah);Tamr (Kurma matang yang sudah kering);Air.Hal ini berdasarkan dalil yang sahih, yaitu,سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلّـِيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍTsabit Al-Bunani mendengar dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa ruthab sebelum melakukan salat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr; jika itu tidak ada, maka beliau meminum air beberapa kali tegukan.” (HR. Abu Dawud no. 2356)Hadis-hadis di atas mengandung beberapa pelajaran berharga, antara lain:Dianjurkannya untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah); apabila tidak ada, maka bisa dengan tamr (kurma kering); dan jika tidak ada pula, maka minumlah air.Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan salat. Hal ini merupakan strategi pengaturan yang sangat teliti, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan sehingga hati tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel tubuh. Padahal rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai hati, apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, hati pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak.Air adalah pembersih bagi usus manusia dan itulah yang berlaku alamiyah hingga saat ini.Keutamaan kurma dan airIbnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan tentang hadis di atas. Beliau berkata, “Cara Nabi ﷺ yang berbuka puasa dengan menyantap kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam sekali:Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apapun, sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air.Karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut.Terutama sekali kurma masak yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi.Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik, karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi pula.Bila tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu.”Dalam Thibbun Nabawi, Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan,وهذا من كمال شفقته -صلى الله عليه وسلم- على أمته ونصحه، فإنَّ التمر مقوٍّ للكبد ملين للطبع، وهو من أكثر الثمار تغذية للبدن، وأكله على الريق يقتل الدود، فهو فاكهة، وغذاء، ودواء، وحلوى“Ini adalah salah satu kesempurnaan kasih sayang Nabi ﷺ dan termasuk bentuk semangat memberikan kebaikan kepada umatnya, karena kurma menguatkan hati dan melancarkan buang air besar, dan termasuk buah-buahan yang paling menyehatkan tubuh, dan memakannya saat perut kosong membunuh cacing. Jadi, kurma adalah buah, makanan, obat, dan manisan.” (Thibbun Nabawi, hal. 218)[3]Kedokteran modern membuktikan bahwa kurma mengandung serat dan gula fruktosa yang menjadi sumber energi sekaligus pengatur kadar gula dalam darah. Kurma juga bermanfaat dalam memberikan ledakan energi, tetapi juga terkontrol. Serat dalam kurma cukup untuk menjaga pencernaan bekerja dengan baik di musim Ramadan yang waktu makannya bergeser dari pola harian. Keberadaan mineral dalam kurma berperan penting dalam menjaga kesehatan organ dalam.Sabda beliau,فإن لم يجد، فليفطر على ماء-: فإنَّه طهور“Jika tidak mendapatkannya, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu thahur.”Menurut Syekh Abdullah Bassam, kata thahur di sini—wallahu a’lam—yang dimaksud adalah bahwa air itu membersihkan lambung dan usus. Dan hal ini sekarang merupakan fakta ilmiah dalam dunia kedokteran. Sesungguhnya para dokter menganjurkan dan menasihati untuk minum air saat perut kosong, dan mereka mengatakan bahwa air itu membersihkan lambung dan usus serta menyeimbangkan kondisi (tabiat) tubuh manusia.” (Taudhihul Ahkam Syarh Bulughil Maram, 3: 477)[4]Tamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaDalam riwayat yang telah disebutkan, terdapat perbedaan jenis kurma yang dikonsumsi Nabi ﷺ ketika sahur dan berbuka. Tamr atau kurma kering diutamakan dikonsumsi ketika sahur dan ruthab atau kurma basah diutamakan ketika berbuka. Salah satu faidah yang kami catat dari Ustadz Abdurrahman Dani hafizhahullah adalah tamr atau kurma kering lebih tinggi kadar gulanya sehingga dapat memberikan energi yang lebih mencukupi untuk hari berpuasa dibandingkan ruthab.[5] Adapun ruthab disunahkan di waktu berbuka karena sifatnya yang lebih mudah dicerna dan sehingga energinya lebih cepat didistribusikan oleh tubuh.Kurma kering mengandung kalori gula yang lebih tinggi dibandingkan kurma basah. Selain itu, ia mengandung serat yang lebih tinggi sehingga penyaluran energinya lebih terkontrol untuk diserap tubuh. Sedangkan kurma basah memiliki kadar glukosa tinggi dibanding fruktosa, dimana glukosa lebih cepat bisa digunakan dibandingkan fruktosa. Wallahu a’lam, ini penjelasan dari kalangan ahli kesehatan klasik yang kami selaraskan dengan kedokteran modern.[6]Makan secukupnyaSalah satu adab makan yang sering terlupa ketika Ramadan adalah makan secukupnya. Beragam menu takjil dari kolak manis sampai risol mayo membuat air liur bergelegak di mulut. Padahal, esensi berpuasa adalah menahan nafsu duniawi. Inilah yang membuat badan menjadi lemah untuk beribadah di bulan Ramadan. Perhatikanlah adab makan Nabi ﷺ berikut,أنه لم يكن يملأ بطنه بالطعام والشراب إذا أكل وشرب ويدل عليه قوله صلى الله عليه وسلم: ما ملأ آدمي وعاء شراً من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه… رواه أحمد والترمذي وابن ماجهIa tidak mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika makan dan minum, dan ini ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada manusia yang mengisi bejana lebih buruk daripada perutnya. Beberapa suapan sudah cukup bagi anak Adam untuk membuatnya tetap tegak. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya…” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Beliau ﷺ diriwayatkan biasa makan sahur bersama salah satu istrinya, dengan sedikit makanan, mungkin beberapa kurma atau sedikit lebih banyak, beserta air. Bahkan ketika berbuka pun, beliau hanya mencukupkan dengan kurma, baru memakan beberapa varian makanan yang tersedia. Beliau tidak mutlak membatasi diri, terkadang beliau makan makanan yang enak seperti daging pada bagian terenaknya dan makan manisan.[7] Namun, Nabi ﷺ tidak mengonsumsinya dalam jumlah berlebih, bahkan jarang sekali beliau mencapai kenyang.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/133457/%D9%87%D8%AF%D9%8A-%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%B0%D8%A7%D8%A1[2] https://www.islamweb.net/ar/library/content/127/807/%D9%81%D8%B5%D9%84-%D9%87%D8%AF%D9%8A%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D8%B9%D9%85-%D9%88%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B4%D8%B1%D8%A8 Ini adalah bagian Zaadul Ma’ad yang dikumpulkan ke dalam Kitab Thibbun Nabawi Ibnul Qayyim rahimahullah.[3] https://shamela.ws/book/23649/216[4] https://shamela.ws/book/13604/1648#p1[5] https://youtu.be/ch-9w9KQNH4?si=np5agAVH_OpxtTk5[6] https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/nutrisi-kurma-kering-vs-kurma-segar/[7] Shaidul Khatir no. 787.

Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleGaya makan Nabi ﷺ sehari semalamGaya sahur Nabi ﷺApa yang dimakan ketika berbuka?Keutamaan kurma dan airTamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaMakan secukupnyaSunah Nabi ﷺ begitu lengkap dari urusan besar hingga urusan printilan kecil yang mungkin kita tidak perhatikan. Termasuk riwayat yang sampai kepada kita adalah bagaimana Nabi ﷺ mengatur pola makannya, khususnya di bulan Ramadan. Tentu ini adalah permasalahan kebiasaan dan keseharian yang tidak mutlak menjadi panduan ibadah yang harus diikuti. Namun, setidaknya kita bisa mengambil faidah dari perbuatan Nabi ﷺ dan menjadi peluang baru untuk kita mengikuti sunah Nabi ﷺ.Gaya makan Nabi ﷺ sehari semalamNabi ﷺ memulai harinya dengan meminum air putih dan terkadang dicampur dengan madu. Lalu sarapan dengan tujuh butir kurma. Nabi ﷺ kemudian melanjutkan aktivitas hariannya hingga waktu Asar tiba. Setelah melaksanakan salat Asar, Nabi ﷺ biasanya memakan roti gandum dengan minyak zaitun. Terdapat riwayat pula Nabi ﷺ memakan daging –beliau senang sekali dengan daging– atau memenuhi makan siang dengan kurma dan madu. Di malam hari, Nabi ﷺ akan makan malam setelah salat Isya dan witir dengan memakan yoghurt atau olahan susu.[1]Dalam riwayat yang menunjukkan keadaan di bulan Ramadan, Nabi ﷺ makan sedikit ketika memasuki waktu Magrib, berupa kurma dan air. Lalu, Nabi ﷺ akan makan lagi sebelum mengimami para sahabat dalam salat tarawih atau beliau salat sendiri di rumahnya.Kaidah dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad, “Makanlah sesuai kebiasaan penduduk, jangan membatasi dengan satu jenis makanan saja.”فقصرها على نوع واحد دائما – ولو أنه أفضل الأغذية – خطر مضر . بل كان يأكل ما جرت عادة أهل بلده“Membatasi diri memakan satu jenis makanan saja, meskipun itu makanan yang terbaik, berisiko membahayakan. Baginda Nabi ﷺ memakan apa yang biasa dimakan oleh penduduk setempat.” (Zaadul Ma’ad, 4: 199)[2]Dari apa yang dijelaskan oleh penulis dan Ibnul Qayyim, kita bisa ambil kesimpulan:Makanan Nabi ﷺ adalah makanan yang lazim di kaumnya, bukan makanan khusus atau mewah.Nabi ﷺ makan beragam jenis makanan, tetapi tidak terlalu banyak pula jenisnya, biasanya hanya 2-3 jenis saja.Nabi ﷺ tidak makan dengan porsi yang teramat besar, namun secukupnya.Budaya makan Nabi ﷺ adalah selalu memenuhi kebutuhan gizi:Karbohidrat = roti;Protein = daging;Vitamin = buah;Gula energi cepat = buah dan madu;Serat = buah;Mineral kompleks = buah, madu, dan minyak zaitun;Perasa makanan = cuka;Nabi ﷺ juga makan manisan, tetapi porsinya tidak besar, serta peruntukan aktivitasnya tinggi.Gaya sahur Nabi ﷺTerkadang, beliau makan sahur bersama beberapa sahabatnya. Diriwayatkan secara sahih bahwa beliau dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu makan sahur. Setelah selesai, beliau akan salat Subuh. Waktu antara sahur dan salatnya hanya cukup untuk membaca lima puluh ayat Al-Quran. Nabi ﷺ ketika sahur biasanya memakan kurma, khususnya tamr.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَ سَحورُ المؤمِنِ التَّمرُ“Sebaik-baik makanan sahur adalah tamr (kurma kering)” (HR. Abu Daud no. 2345, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Ada juga keadaan Nabi Muhammad ﷺ makan sahur, kemudian salat dua rekaat ringan salat sunah, dan menunggu di rumahnya sampai Bilal meminta izin untuk mengumandangkan azan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan rumah istri-istrinya, karena letaknya berdekatan dengan masjid, dan memimpin salat Subuh.Baca juga: Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?Apa yang dimakan ketika berbuka?Rasulullah ﷺ menganjurkan kepada umatnya agar berbuka puasa dengan urutan:Ruthab (Kurma masak berwarna coklat muda masih basah);Tamr (Kurma matang yang sudah kering);Air.Hal ini berdasarkan dalil yang sahih, yaitu,سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلّـِيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍTsabit Al-Bunani mendengar dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa ruthab sebelum melakukan salat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr; jika itu tidak ada, maka beliau meminum air beberapa kali tegukan.” (HR. Abu Dawud no. 2356)Hadis-hadis di atas mengandung beberapa pelajaran berharga, antara lain:Dianjurkannya untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah); apabila tidak ada, maka bisa dengan tamr (kurma kering); dan jika tidak ada pula, maka minumlah air.Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan salat. Hal ini merupakan strategi pengaturan yang sangat teliti, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan sehingga hati tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel tubuh. Padahal rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai hati, apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, hati pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak.Air adalah pembersih bagi usus manusia dan itulah yang berlaku alamiyah hingga saat ini.Keutamaan kurma dan airIbnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan tentang hadis di atas. Beliau berkata, “Cara Nabi ﷺ yang berbuka puasa dengan menyantap kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam sekali:Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apapun, sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air.Karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut.Terutama sekali kurma masak yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi.Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik, karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi pula.Bila tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu.”Dalam Thibbun Nabawi, Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan,وهذا من كمال شفقته -صلى الله عليه وسلم- على أمته ونصحه، فإنَّ التمر مقوٍّ للكبد ملين للطبع، وهو من أكثر الثمار تغذية للبدن، وأكله على الريق يقتل الدود، فهو فاكهة، وغذاء، ودواء، وحلوى“Ini adalah salah satu kesempurnaan kasih sayang Nabi ﷺ dan termasuk bentuk semangat memberikan kebaikan kepada umatnya, karena kurma menguatkan hati dan melancarkan buang air besar, dan termasuk buah-buahan yang paling menyehatkan tubuh, dan memakannya saat perut kosong membunuh cacing. Jadi, kurma adalah buah, makanan, obat, dan manisan.” (Thibbun Nabawi, hal. 218)[3]Kedokteran modern membuktikan bahwa kurma mengandung serat dan gula fruktosa yang menjadi sumber energi sekaligus pengatur kadar gula dalam darah. Kurma juga bermanfaat dalam memberikan ledakan energi, tetapi juga terkontrol. Serat dalam kurma cukup untuk menjaga pencernaan bekerja dengan baik di musim Ramadan yang waktu makannya bergeser dari pola harian. Keberadaan mineral dalam kurma berperan penting dalam menjaga kesehatan organ dalam.Sabda beliau,فإن لم يجد، فليفطر على ماء-: فإنَّه طهور“Jika tidak mendapatkannya, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu thahur.”Menurut Syekh Abdullah Bassam, kata thahur di sini—wallahu a’lam—yang dimaksud adalah bahwa air itu membersihkan lambung dan usus. Dan hal ini sekarang merupakan fakta ilmiah dalam dunia kedokteran. Sesungguhnya para dokter menganjurkan dan menasihati untuk minum air saat perut kosong, dan mereka mengatakan bahwa air itu membersihkan lambung dan usus serta menyeimbangkan kondisi (tabiat) tubuh manusia.” (Taudhihul Ahkam Syarh Bulughil Maram, 3: 477)[4]Tamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaDalam riwayat yang telah disebutkan, terdapat perbedaan jenis kurma yang dikonsumsi Nabi ﷺ ketika sahur dan berbuka. Tamr atau kurma kering diutamakan dikonsumsi ketika sahur dan ruthab atau kurma basah diutamakan ketika berbuka. Salah satu faidah yang kami catat dari Ustadz Abdurrahman Dani hafizhahullah adalah tamr atau kurma kering lebih tinggi kadar gulanya sehingga dapat memberikan energi yang lebih mencukupi untuk hari berpuasa dibandingkan ruthab.[5] Adapun ruthab disunahkan di waktu berbuka karena sifatnya yang lebih mudah dicerna dan sehingga energinya lebih cepat didistribusikan oleh tubuh.Kurma kering mengandung kalori gula yang lebih tinggi dibandingkan kurma basah. Selain itu, ia mengandung serat yang lebih tinggi sehingga penyaluran energinya lebih terkontrol untuk diserap tubuh. Sedangkan kurma basah memiliki kadar glukosa tinggi dibanding fruktosa, dimana glukosa lebih cepat bisa digunakan dibandingkan fruktosa. Wallahu a’lam, ini penjelasan dari kalangan ahli kesehatan klasik yang kami selaraskan dengan kedokteran modern.[6]Makan secukupnyaSalah satu adab makan yang sering terlupa ketika Ramadan adalah makan secukupnya. Beragam menu takjil dari kolak manis sampai risol mayo membuat air liur bergelegak di mulut. Padahal, esensi berpuasa adalah menahan nafsu duniawi. Inilah yang membuat badan menjadi lemah untuk beribadah di bulan Ramadan. Perhatikanlah adab makan Nabi ﷺ berikut,أنه لم يكن يملأ بطنه بالطعام والشراب إذا أكل وشرب ويدل عليه قوله صلى الله عليه وسلم: ما ملأ آدمي وعاء شراً من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه… رواه أحمد والترمذي وابن ماجهIa tidak mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika makan dan minum, dan ini ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada manusia yang mengisi bejana lebih buruk daripada perutnya. Beberapa suapan sudah cukup bagi anak Adam untuk membuatnya tetap tegak. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya…” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Beliau ﷺ diriwayatkan biasa makan sahur bersama salah satu istrinya, dengan sedikit makanan, mungkin beberapa kurma atau sedikit lebih banyak, beserta air. Bahkan ketika berbuka pun, beliau hanya mencukupkan dengan kurma, baru memakan beberapa varian makanan yang tersedia. Beliau tidak mutlak membatasi diri, terkadang beliau makan makanan yang enak seperti daging pada bagian terenaknya dan makan manisan.[7] Namun, Nabi ﷺ tidak mengonsumsinya dalam jumlah berlebih, bahkan jarang sekali beliau mencapai kenyang.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/133457/%D9%87%D8%AF%D9%8A-%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%B0%D8%A7%D8%A1[2] https://www.islamweb.net/ar/library/content/127/807/%D9%81%D8%B5%D9%84-%D9%87%D8%AF%D9%8A%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D8%B9%D9%85-%D9%88%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B4%D8%B1%D8%A8 Ini adalah bagian Zaadul Ma’ad yang dikumpulkan ke dalam Kitab Thibbun Nabawi Ibnul Qayyim rahimahullah.[3] https://shamela.ws/book/23649/216[4] https://shamela.ws/book/13604/1648#p1[5] https://youtu.be/ch-9w9KQNH4?si=np5agAVH_OpxtTk5[6] https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/nutrisi-kurma-kering-vs-kurma-segar/[7] Shaidul Khatir no. 787.
Daftar Isi ToggleGaya makan Nabi ﷺ sehari semalamGaya sahur Nabi ﷺApa yang dimakan ketika berbuka?Keutamaan kurma dan airTamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaMakan secukupnyaSunah Nabi ﷺ begitu lengkap dari urusan besar hingga urusan printilan kecil yang mungkin kita tidak perhatikan. Termasuk riwayat yang sampai kepada kita adalah bagaimana Nabi ﷺ mengatur pola makannya, khususnya di bulan Ramadan. Tentu ini adalah permasalahan kebiasaan dan keseharian yang tidak mutlak menjadi panduan ibadah yang harus diikuti. Namun, setidaknya kita bisa mengambil faidah dari perbuatan Nabi ﷺ dan menjadi peluang baru untuk kita mengikuti sunah Nabi ﷺ.Gaya makan Nabi ﷺ sehari semalamNabi ﷺ memulai harinya dengan meminum air putih dan terkadang dicampur dengan madu. Lalu sarapan dengan tujuh butir kurma. Nabi ﷺ kemudian melanjutkan aktivitas hariannya hingga waktu Asar tiba. Setelah melaksanakan salat Asar, Nabi ﷺ biasanya memakan roti gandum dengan minyak zaitun. Terdapat riwayat pula Nabi ﷺ memakan daging –beliau senang sekali dengan daging– atau memenuhi makan siang dengan kurma dan madu. Di malam hari, Nabi ﷺ akan makan malam setelah salat Isya dan witir dengan memakan yoghurt atau olahan susu.[1]Dalam riwayat yang menunjukkan keadaan di bulan Ramadan, Nabi ﷺ makan sedikit ketika memasuki waktu Magrib, berupa kurma dan air. Lalu, Nabi ﷺ akan makan lagi sebelum mengimami para sahabat dalam salat tarawih atau beliau salat sendiri di rumahnya.Kaidah dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad, “Makanlah sesuai kebiasaan penduduk, jangan membatasi dengan satu jenis makanan saja.”فقصرها على نوع واحد دائما – ولو أنه أفضل الأغذية – خطر مضر . بل كان يأكل ما جرت عادة أهل بلده“Membatasi diri memakan satu jenis makanan saja, meskipun itu makanan yang terbaik, berisiko membahayakan. Baginda Nabi ﷺ memakan apa yang biasa dimakan oleh penduduk setempat.” (Zaadul Ma’ad, 4: 199)[2]Dari apa yang dijelaskan oleh penulis dan Ibnul Qayyim, kita bisa ambil kesimpulan:Makanan Nabi ﷺ adalah makanan yang lazim di kaumnya, bukan makanan khusus atau mewah.Nabi ﷺ makan beragam jenis makanan, tetapi tidak terlalu banyak pula jenisnya, biasanya hanya 2-3 jenis saja.Nabi ﷺ tidak makan dengan porsi yang teramat besar, namun secukupnya.Budaya makan Nabi ﷺ adalah selalu memenuhi kebutuhan gizi:Karbohidrat = roti;Protein = daging;Vitamin = buah;Gula energi cepat = buah dan madu;Serat = buah;Mineral kompleks = buah, madu, dan minyak zaitun;Perasa makanan = cuka;Nabi ﷺ juga makan manisan, tetapi porsinya tidak besar, serta peruntukan aktivitasnya tinggi.Gaya sahur Nabi ﷺTerkadang, beliau makan sahur bersama beberapa sahabatnya. Diriwayatkan secara sahih bahwa beliau dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu makan sahur. Setelah selesai, beliau akan salat Subuh. Waktu antara sahur dan salatnya hanya cukup untuk membaca lima puluh ayat Al-Quran. Nabi ﷺ ketika sahur biasanya memakan kurma, khususnya tamr.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَ سَحورُ المؤمِنِ التَّمرُ“Sebaik-baik makanan sahur adalah tamr (kurma kering)” (HR. Abu Daud no. 2345, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Ada juga keadaan Nabi Muhammad ﷺ makan sahur, kemudian salat dua rekaat ringan salat sunah, dan menunggu di rumahnya sampai Bilal meminta izin untuk mengumandangkan azan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan rumah istri-istrinya, karena letaknya berdekatan dengan masjid, dan memimpin salat Subuh.Baca juga: Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?Apa yang dimakan ketika berbuka?Rasulullah ﷺ menganjurkan kepada umatnya agar berbuka puasa dengan urutan:Ruthab (Kurma masak berwarna coklat muda masih basah);Tamr (Kurma matang yang sudah kering);Air.Hal ini berdasarkan dalil yang sahih, yaitu,سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلّـِيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍTsabit Al-Bunani mendengar dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa ruthab sebelum melakukan salat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr; jika itu tidak ada, maka beliau meminum air beberapa kali tegukan.” (HR. Abu Dawud no. 2356)Hadis-hadis di atas mengandung beberapa pelajaran berharga, antara lain:Dianjurkannya untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah); apabila tidak ada, maka bisa dengan tamr (kurma kering); dan jika tidak ada pula, maka minumlah air.Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan salat. Hal ini merupakan strategi pengaturan yang sangat teliti, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan sehingga hati tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel tubuh. Padahal rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai hati, apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, hati pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak.Air adalah pembersih bagi usus manusia dan itulah yang berlaku alamiyah hingga saat ini.Keutamaan kurma dan airIbnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan tentang hadis di atas. Beliau berkata, “Cara Nabi ﷺ yang berbuka puasa dengan menyantap kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam sekali:Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apapun, sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air.Karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut.Terutama sekali kurma masak yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi.Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik, karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi pula.Bila tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu.”Dalam Thibbun Nabawi, Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan,وهذا من كمال شفقته -صلى الله عليه وسلم- على أمته ونصحه، فإنَّ التمر مقوٍّ للكبد ملين للطبع، وهو من أكثر الثمار تغذية للبدن، وأكله على الريق يقتل الدود، فهو فاكهة، وغذاء، ودواء، وحلوى“Ini adalah salah satu kesempurnaan kasih sayang Nabi ﷺ dan termasuk bentuk semangat memberikan kebaikan kepada umatnya, karena kurma menguatkan hati dan melancarkan buang air besar, dan termasuk buah-buahan yang paling menyehatkan tubuh, dan memakannya saat perut kosong membunuh cacing. Jadi, kurma adalah buah, makanan, obat, dan manisan.” (Thibbun Nabawi, hal. 218)[3]Kedokteran modern membuktikan bahwa kurma mengandung serat dan gula fruktosa yang menjadi sumber energi sekaligus pengatur kadar gula dalam darah. Kurma juga bermanfaat dalam memberikan ledakan energi, tetapi juga terkontrol. Serat dalam kurma cukup untuk menjaga pencernaan bekerja dengan baik di musim Ramadan yang waktu makannya bergeser dari pola harian. Keberadaan mineral dalam kurma berperan penting dalam menjaga kesehatan organ dalam.Sabda beliau,فإن لم يجد، فليفطر على ماء-: فإنَّه طهور“Jika tidak mendapatkannya, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu thahur.”Menurut Syekh Abdullah Bassam, kata thahur di sini—wallahu a’lam—yang dimaksud adalah bahwa air itu membersihkan lambung dan usus. Dan hal ini sekarang merupakan fakta ilmiah dalam dunia kedokteran. Sesungguhnya para dokter menganjurkan dan menasihati untuk minum air saat perut kosong, dan mereka mengatakan bahwa air itu membersihkan lambung dan usus serta menyeimbangkan kondisi (tabiat) tubuh manusia.” (Taudhihul Ahkam Syarh Bulughil Maram, 3: 477)[4]Tamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaDalam riwayat yang telah disebutkan, terdapat perbedaan jenis kurma yang dikonsumsi Nabi ﷺ ketika sahur dan berbuka. Tamr atau kurma kering diutamakan dikonsumsi ketika sahur dan ruthab atau kurma basah diutamakan ketika berbuka. Salah satu faidah yang kami catat dari Ustadz Abdurrahman Dani hafizhahullah adalah tamr atau kurma kering lebih tinggi kadar gulanya sehingga dapat memberikan energi yang lebih mencukupi untuk hari berpuasa dibandingkan ruthab.[5] Adapun ruthab disunahkan di waktu berbuka karena sifatnya yang lebih mudah dicerna dan sehingga energinya lebih cepat didistribusikan oleh tubuh.Kurma kering mengandung kalori gula yang lebih tinggi dibandingkan kurma basah. Selain itu, ia mengandung serat yang lebih tinggi sehingga penyaluran energinya lebih terkontrol untuk diserap tubuh. Sedangkan kurma basah memiliki kadar glukosa tinggi dibanding fruktosa, dimana glukosa lebih cepat bisa digunakan dibandingkan fruktosa. Wallahu a’lam, ini penjelasan dari kalangan ahli kesehatan klasik yang kami selaraskan dengan kedokteran modern.[6]Makan secukupnyaSalah satu adab makan yang sering terlupa ketika Ramadan adalah makan secukupnya. Beragam menu takjil dari kolak manis sampai risol mayo membuat air liur bergelegak di mulut. Padahal, esensi berpuasa adalah menahan nafsu duniawi. Inilah yang membuat badan menjadi lemah untuk beribadah di bulan Ramadan. Perhatikanlah adab makan Nabi ﷺ berikut,أنه لم يكن يملأ بطنه بالطعام والشراب إذا أكل وشرب ويدل عليه قوله صلى الله عليه وسلم: ما ملأ آدمي وعاء شراً من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه… رواه أحمد والترمذي وابن ماجهIa tidak mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika makan dan minum, dan ini ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada manusia yang mengisi bejana lebih buruk daripada perutnya. Beberapa suapan sudah cukup bagi anak Adam untuk membuatnya tetap tegak. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya…” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Beliau ﷺ diriwayatkan biasa makan sahur bersama salah satu istrinya, dengan sedikit makanan, mungkin beberapa kurma atau sedikit lebih banyak, beserta air. Bahkan ketika berbuka pun, beliau hanya mencukupkan dengan kurma, baru memakan beberapa varian makanan yang tersedia. Beliau tidak mutlak membatasi diri, terkadang beliau makan makanan yang enak seperti daging pada bagian terenaknya dan makan manisan.[7] Namun, Nabi ﷺ tidak mengonsumsinya dalam jumlah berlebih, bahkan jarang sekali beliau mencapai kenyang.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/133457/%D9%87%D8%AF%D9%8A-%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%B0%D8%A7%D8%A1[2] https://www.islamweb.net/ar/library/content/127/807/%D9%81%D8%B5%D9%84-%D9%87%D8%AF%D9%8A%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D8%B9%D9%85-%D9%88%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B4%D8%B1%D8%A8 Ini adalah bagian Zaadul Ma’ad yang dikumpulkan ke dalam Kitab Thibbun Nabawi Ibnul Qayyim rahimahullah.[3] https://shamela.ws/book/23649/216[4] https://shamela.ws/book/13604/1648#p1[5] https://youtu.be/ch-9w9KQNH4?si=np5agAVH_OpxtTk5[6] https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/nutrisi-kurma-kering-vs-kurma-segar/[7] Shaidul Khatir no. 787.


Daftar Isi ToggleGaya makan Nabi ﷺ sehari semalamGaya sahur Nabi ﷺApa yang dimakan ketika berbuka?Keutamaan kurma dan airTamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaMakan secukupnyaSunah Nabi ﷺ begitu lengkap dari urusan besar hingga urusan printilan kecil yang mungkin kita tidak perhatikan. Termasuk riwayat yang sampai kepada kita adalah bagaimana Nabi ﷺ mengatur pola makannya, khususnya di bulan Ramadan. Tentu ini adalah permasalahan kebiasaan dan keseharian yang tidak mutlak menjadi panduan ibadah yang harus diikuti. Namun, setidaknya kita bisa mengambil faidah dari perbuatan Nabi ﷺ dan menjadi peluang baru untuk kita mengikuti sunah Nabi ﷺ.Gaya makan Nabi ﷺ sehari semalamNabi ﷺ memulai harinya dengan meminum air putih dan terkadang dicampur dengan madu. Lalu sarapan dengan tujuh butir kurma. Nabi ﷺ kemudian melanjutkan aktivitas hariannya hingga waktu Asar tiba. Setelah melaksanakan salat Asar, Nabi ﷺ biasanya memakan roti gandum dengan minyak zaitun. Terdapat riwayat pula Nabi ﷺ memakan daging –beliau senang sekali dengan daging– atau memenuhi makan siang dengan kurma dan madu. Di malam hari, Nabi ﷺ akan makan malam setelah salat Isya dan witir dengan memakan yoghurt atau olahan susu.[1]Dalam riwayat yang menunjukkan keadaan di bulan Ramadan, Nabi ﷺ makan sedikit ketika memasuki waktu Magrib, berupa kurma dan air. Lalu, Nabi ﷺ akan makan lagi sebelum mengimami para sahabat dalam salat tarawih atau beliau salat sendiri di rumahnya.Kaidah dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad, “Makanlah sesuai kebiasaan penduduk, jangan membatasi dengan satu jenis makanan saja.”فقصرها على نوع واحد دائما – ولو أنه أفضل الأغذية – خطر مضر . بل كان يأكل ما جرت عادة أهل بلده“Membatasi diri memakan satu jenis makanan saja, meskipun itu makanan yang terbaik, berisiko membahayakan. Baginda Nabi ﷺ memakan apa yang biasa dimakan oleh penduduk setempat.” (Zaadul Ma’ad, 4: 199)[2]Dari apa yang dijelaskan oleh penulis dan Ibnul Qayyim, kita bisa ambil kesimpulan:Makanan Nabi ﷺ adalah makanan yang lazim di kaumnya, bukan makanan khusus atau mewah.Nabi ﷺ makan beragam jenis makanan, tetapi tidak terlalu banyak pula jenisnya, biasanya hanya 2-3 jenis saja.Nabi ﷺ tidak makan dengan porsi yang teramat besar, namun secukupnya.Budaya makan Nabi ﷺ adalah selalu memenuhi kebutuhan gizi:Karbohidrat = roti;Protein = daging;Vitamin = buah;Gula energi cepat = buah dan madu;Serat = buah;Mineral kompleks = buah, madu, dan minyak zaitun;Perasa makanan = cuka;Nabi ﷺ juga makan manisan, tetapi porsinya tidak besar, serta peruntukan aktivitasnya tinggi.Gaya sahur Nabi ﷺTerkadang, beliau makan sahur bersama beberapa sahabatnya. Diriwayatkan secara sahih bahwa beliau dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu makan sahur. Setelah selesai, beliau akan salat Subuh. Waktu antara sahur dan salatnya hanya cukup untuk membaca lima puluh ayat Al-Quran. Nabi ﷺ ketika sahur biasanya memakan kurma, khususnya tamr.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَ سَحورُ المؤمِنِ التَّمرُ“Sebaik-baik makanan sahur adalah tamr (kurma kering)” (HR. Abu Daud no. 2345, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Ada juga keadaan Nabi Muhammad ﷺ makan sahur, kemudian salat dua rekaat ringan salat sunah, dan menunggu di rumahnya sampai Bilal meminta izin untuk mengumandangkan azan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan rumah istri-istrinya, karena letaknya berdekatan dengan masjid, dan memimpin salat Subuh.Baca juga: Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?Apa yang dimakan ketika berbuka?Rasulullah ﷺ menganjurkan kepada umatnya agar berbuka puasa dengan urutan:Ruthab (Kurma masak berwarna coklat muda masih basah);Tamr (Kurma matang yang sudah kering);Air.Hal ini berdasarkan dalil yang sahih, yaitu,سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلّـِيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍTsabit Al-Bunani mendengar dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa ruthab sebelum melakukan salat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr; jika itu tidak ada, maka beliau meminum air beberapa kali tegukan.” (HR. Abu Dawud no. 2356)Hadis-hadis di atas mengandung beberapa pelajaran berharga, antara lain:Dianjurkannya untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah); apabila tidak ada, maka bisa dengan tamr (kurma kering); dan jika tidak ada pula, maka minumlah air.Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan salat. Hal ini merupakan strategi pengaturan yang sangat teliti, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan sehingga hati tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel tubuh. Padahal rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai hati, apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, hati pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak.Air adalah pembersih bagi usus manusia dan itulah yang berlaku alamiyah hingga saat ini.Keutamaan kurma dan airIbnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan tentang hadis di atas. Beliau berkata, “Cara Nabi ﷺ yang berbuka puasa dengan menyantap kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam sekali:Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apapun, sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air.Karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut.Terutama sekali kurma masak yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi.Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik, karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi pula.Bila tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu.”Dalam Thibbun Nabawi, Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan,وهذا من كمال شفقته -صلى الله عليه وسلم- على أمته ونصحه، فإنَّ التمر مقوٍّ للكبد ملين للطبع، وهو من أكثر الثمار تغذية للبدن، وأكله على الريق يقتل الدود، فهو فاكهة، وغذاء، ودواء، وحلوى“Ini adalah salah satu kesempurnaan kasih sayang Nabi ﷺ dan termasuk bentuk semangat memberikan kebaikan kepada umatnya, karena kurma menguatkan hati dan melancarkan buang air besar, dan termasuk buah-buahan yang paling menyehatkan tubuh, dan memakannya saat perut kosong membunuh cacing. Jadi, kurma adalah buah, makanan, obat, dan manisan.” (Thibbun Nabawi, hal. 218)[3]Kedokteran modern membuktikan bahwa kurma mengandung serat dan gula fruktosa yang menjadi sumber energi sekaligus pengatur kadar gula dalam darah. Kurma juga bermanfaat dalam memberikan ledakan energi, tetapi juga terkontrol. Serat dalam kurma cukup untuk menjaga pencernaan bekerja dengan baik di musim Ramadan yang waktu makannya bergeser dari pola harian. Keberadaan mineral dalam kurma berperan penting dalam menjaga kesehatan organ dalam.Sabda beliau,فإن لم يجد، فليفطر على ماء-: فإنَّه طهور“Jika tidak mendapatkannya, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu thahur.”Menurut Syekh Abdullah Bassam, kata thahur di sini—wallahu a’lam—yang dimaksud adalah bahwa air itu membersihkan lambung dan usus. Dan hal ini sekarang merupakan fakta ilmiah dalam dunia kedokteran. Sesungguhnya para dokter menganjurkan dan menasihati untuk minum air saat perut kosong, dan mereka mengatakan bahwa air itu membersihkan lambung dan usus serta menyeimbangkan kondisi (tabiat) tubuh manusia.” (Taudhihul Ahkam Syarh Bulughil Maram, 3: 477)[4]Tamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbukaDalam riwayat yang telah disebutkan, terdapat perbedaan jenis kurma yang dikonsumsi Nabi ﷺ ketika sahur dan berbuka. Tamr atau kurma kering diutamakan dikonsumsi ketika sahur dan ruthab atau kurma basah diutamakan ketika berbuka. Salah satu faidah yang kami catat dari Ustadz Abdurrahman Dani hafizhahullah adalah tamr atau kurma kering lebih tinggi kadar gulanya sehingga dapat memberikan energi yang lebih mencukupi untuk hari berpuasa dibandingkan ruthab.[5] Adapun ruthab disunahkan di waktu berbuka karena sifatnya yang lebih mudah dicerna dan sehingga energinya lebih cepat didistribusikan oleh tubuh.Kurma kering mengandung kalori gula yang lebih tinggi dibandingkan kurma basah. Selain itu, ia mengandung serat yang lebih tinggi sehingga penyaluran energinya lebih terkontrol untuk diserap tubuh. Sedangkan kurma basah memiliki kadar glukosa tinggi dibanding fruktosa, dimana glukosa lebih cepat bisa digunakan dibandingkan fruktosa. Wallahu a’lam, ini penjelasan dari kalangan ahli kesehatan klasik yang kami selaraskan dengan kedokteran modern.[6]Makan secukupnyaSalah satu adab makan yang sering terlupa ketika Ramadan adalah makan secukupnya. Beragam menu takjil dari kolak manis sampai risol mayo membuat air liur bergelegak di mulut. Padahal, esensi berpuasa adalah menahan nafsu duniawi. Inilah yang membuat badan menjadi lemah untuk beribadah di bulan Ramadan. Perhatikanlah adab makan Nabi ﷺ berikut,أنه لم يكن يملأ بطنه بالطعام والشراب إذا أكل وشرب ويدل عليه قوله صلى الله عليه وسلم: ما ملأ آدمي وعاء شراً من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه… رواه أحمد والترمذي وابن ماجهIa tidak mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika makan dan minum, dan ini ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada manusia yang mengisi bejana lebih buruk daripada perutnya. Beberapa suapan sudah cukup bagi anak Adam untuk membuatnya tetap tegak. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya…” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Beliau ﷺ diriwayatkan biasa makan sahur bersama salah satu istrinya, dengan sedikit makanan, mungkin beberapa kurma atau sedikit lebih banyak, beserta air. Bahkan ketika berbuka pun, beliau hanya mencukupkan dengan kurma, baru memakan beberapa varian makanan yang tersedia. Beliau tidak mutlak membatasi diri, terkadang beliau makan makanan yang enak seperti daging pada bagian terenaknya dan makan manisan.[7] Namun, Nabi ﷺ tidak mengonsumsinya dalam jumlah berlebih, bahkan jarang sekali beliau mencapai kenyang.Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/133457/%D9%87%D8%AF%D9%8A-%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%B0%D8%A7%D8%A1[2] https://www.islamweb.net/ar/library/content/127/807/%D9%81%D8%B5%D9%84-%D9%87%D8%AF%D9%8A%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D8%B9%D9%85-%D9%88%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B4%D8%B1%D8%A8 Ini adalah bagian Zaadul Ma’ad yang dikumpulkan ke dalam Kitab Thibbun Nabawi Ibnul Qayyim rahimahullah.[3] https://shamela.ws/book/23649/216[4] https://shamela.ws/book/13604/1648#p1[5] https://youtu.be/ch-9w9KQNH4?si=np5agAVH_OpxtTk5[6] https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/nutrisi-kurma-kering-vs-kurma-segar/[7] Shaidul Khatir no. 787.

Hukum Masturbasi saat Puasa Ramadhan: Batal atau Tidak? – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

Ia bertanya: “Wahai Syaikh yang mulia, mohon jelaskan hukum masturbasi pada siang hari di bulan Ramadan.” Masturbasi adalah amalan mengeluarkan air mani secara sengaja, baik dengan tangan maupun sarana lainnya. Ini hukumnya haram, baik dilakukan pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Dalil pengharamannya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 5-7). Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun, barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa.” (HR. Bukhari & Muslim). Sisi pendalilannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Beliau tidak bersabda: “Barang siapa yang belum mampu, maka keluarkanlah air maninya dengan cara apa pun.” Seandainya masturbasi dibolehkan, niscaya Rasulullah tidak akan mengalihkan perintahnya kepada amalan puasa. Sebab, puasa itu jauh lebih berat, lebih berat bebannya daripada melakukan masturbasi. Pada intinya, melakukan masturbasi hukumnya haram. Baik di bulan Ramadan maupun bulan-bulan lainnya. Apabila hal itu dilakukan saat sedang berpuasa, maka puasanya batal. Puasanya batal jika sampai mengeluarkan air mani. Jika terjadi di bulan Ramadan, maka ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga Magrib (meskipun puasanya telah batal), dan wajib mengqadha (mengganti) puasa tersebut di hari yang lain. Kita memohon kepada Allah agar memudahkan generasi muda kita untuk segera menikah, dengan biaya mahar yang terjangkau, dan melunakkan hati para wali nikah. Karena tantangan saat ini terkadang justru datang dari pihak wali. Terkadang juga karena mahalnya mahar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman). Nabi juga pernah ingin menikahkan seseorang dengan mahar cincin besi. Jika cincin besi saja sudah cukup menjadi mahar, dan pernikahan yang paling berkah adalah yang paling ringan biayanya, maka marilah kita tempuh jalan ini, agar para pemuda dan pemudi kita tidak terjerumus ke dalam kerusakan. ===== يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَرْجُو تَوْضِيحَ حُكْمِ الْعَادَةِ السِّرِّيَّةِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ الْعَادَةُ السِّرِّيَّةُ يَعْنِي بِهَا الإِسْتِمْنَاء بِالْيَدِ أَوْ بِغَيْرِهَا وَهِيَ حَرَامٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِ رَمَضَانَ وَالدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيمِهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ أَنَّ الرَّسُولَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمَرَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَصُومَ وَلَمْ يَقُلْ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيُخْرِجْ مَاءَهُ بِأَيِّ وَسِيلَةٍ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ جَائِزاً مَا عَدَلَ عَنْهُ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى الصَّوْمِ لِأَنَّ الصَّوْمَ أَشَقُّ أَشَقُّ مِنَ الإِسْتِمْنَاءِ فَعَلَى كُلِّ حَالٍ الإِسْتِمْنَاءُ مُحَرَّمٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا وَقَعَ وَالْإِنْسَانُ صَائِمٌ فَسَدَ صَوْمُهُ فَسَدَ صَوْمُهُ إِنْ أَنْزَلَ وَإِذَا كَانَ فِي رَمَضَانَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُمْسِكَ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَيَقْضِيَ يَوْمًا مَكَانَهُ نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُهَيِّئَ لِشَبَابِنَا نِكَاحًا عَاجِلًا فِي رُخَصِ الْمُهُورِ وَخُضُوعِ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ لِأَنَّ الْبَلَاءَ الْآنَ مِنْ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ أَحْيَانًا وَمِنْ كَثْرَةِ الْمُهُورِ أَحْيَانًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً وَأَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَ شَخْصًا عَلَى خَاتَمٍ مِنْ حَدِيدٍ فَإِذَا كَانَ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ يَكْفِي مَهْرًا وَأَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً فَلْنَسْلُكْ هَذَا الْمَسْلَكَ حَتَّى لَا يَضِيعَ شَبَابُنَا مِنْ ذُكُورٍ وَإِنَاثٍ

Hukum Masturbasi saat Puasa Ramadhan: Batal atau Tidak? – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

Ia bertanya: “Wahai Syaikh yang mulia, mohon jelaskan hukum masturbasi pada siang hari di bulan Ramadan.” Masturbasi adalah amalan mengeluarkan air mani secara sengaja, baik dengan tangan maupun sarana lainnya. Ini hukumnya haram, baik dilakukan pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Dalil pengharamannya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 5-7). Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun, barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa.” (HR. Bukhari & Muslim). Sisi pendalilannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Beliau tidak bersabda: “Barang siapa yang belum mampu, maka keluarkanlah air maninya dengan cara apa pun.” Seandainya masturbasi dibolehkan, niscaya Rasulullah tidak akan mengalihkan perintahnya kepada amalan puasa. Sebab, puasa itu jauh lebih berat, lebih berat bebannya daripada melakukan masturbasi. Pada intinya, melakukan masturbasi hukumnya haram. Baik di bulan Ramadan maupun bulan-bulan lainnya. Apabila hal itu dilakukan saat sedang berpuasa, maka puasanya batal. Puasanya batal jika sampai mengeluarkan air mani. Jika terjadi di bulan Ramadan, maka ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga Magrib (meskipun puasanya telah batal), dan wajib mengqadha (mengganti) puasa tersebut di hari yang lain. Kita memohon kepada Allah agar memudahkan generasi muda kita untuk segera menikah, dengan biaya mahar yang terjangkau, dan melunakkan hati para wali nikah. Karena tantangan saat ini terkadang justru datang dari pihak wali. Terkadang juga karena mahalnya mahar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman). Nabi juga pernah ingin menikahkan seseorang dengan mahar cincin besi. Jika cincin besi saja sudah cukup menjadi mahar, dan pernikahan yang paling berkah adalah yang paling ringan biayanya, maka marilah kita tempuh jalan ini, agar para pemuda dan pemudi kita tidak terjerumus ke dalam kerusakan. ===== يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَرْجُو تَوْضِيحَ حُكْمِ الْعَادَةِ السِّرِّيَّةِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ الْعَادَةُ السِّرِّيَّةُ يَعْنِي بِهَا الإِسْتِمْنَاء بِالْيَدِ أَوْ بِغَيْرِهَا وَهِيَ حَرَامٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِ رَمَضَانَ وَالدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيمِهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ أَنَّ الرَّسُولَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمَرَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَصُومَ وَلَمْ يَقُلْ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيُخْرِجْ مَاءَهُ بِأَيِّ وَسِيلَةٍ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ جَائِزاً مَا عَدَلَ عَنْهُ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى الصَّوْمِ لِأَنَّ الصَّوْمَ أَشَقُّ أَشَقُّ مِنَ الإِسْتِمْنَاءِ فَعَلَى كُلِّ حَالٍ الإِسْتِمْنَاءُ مُحَرَّمٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا وَقَعَ وَالْإِنْسَانُ صَائِمٌ فَسَدَ صَوْمُهُ فَسَدَ صَوْمُهُ إِنْ أَنْزَلَ وَإِذَا كَانَ فِي رَمَضَانَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُمْسِكَ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَيَقْضِيَ يَوْمًا مَكَانَهُ نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُهَيِّئَ لِشَبَابِنَا نِكَاحًا عَاجِلًا فِي رُخَصِ الْمُهُورِ وَخُضُوعِ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ لِأَنَّ الْبَلَاءَ الْآنَ مِنْ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ أَحْيَانًا وَمِنْ كَثْرَةِ الْمُهُورِ أَحْيَانًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً وَأَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَ شَخْصًا عَلَى خَاتَمٍ مِنْ حَدِيدٍ فَإِذَا كَانَ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ يَكْفِي مَهْرًا وَأَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً فَلْنَسْلُكْ هَذَا الْمَسْلَكَ حَتَّى لَا يَضِيعَ شَبَابُنَا مِنْ ذُكُورٍ وَإِنَاثٍ
Ia bertanya: “Wahai Syaikh yang mulia, mohon jelaskan hukum masturbasi pada siang hari di bulan Ramadan.” Masturbasi adalah amalan mengeluarkan air mani secara sengaja, baik dengan tangan maupun sarana lainnya. Ini hukumnya haram, baik dilakukan pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Dalil pengharamannya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 5-7). Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun, barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa.” (HR. Bukhari & Muslim). Sisi pendalilannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Beliau tidak bersabda: “Barang siapa yang belum mampu, maka keluarkanlah air maninya dengan cara apa pun.” Seandainya masturbasi dibolehkan, niscaya Rasulullah tidak akan mengalihkan perintahnya kepada amalan puasa. Sebab, puasa itu jauh lebih berat, lebih berat bebannya daripada melakukan masturbasi. Pada intinya, melakukan masturbasi hukumnya haram. Baik di bulan Ramadan maupun bulan-bulan lainnya. Apabila hal itu dilakukan saat sedang berpuasa, maka puasanya batal. Puasanya batal jika sampai mengeluarkan air mani. Jika terjadi di bulan Ramadan, maka ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga Magrib (meskipun puasanya telah batal), dan wajib mengqadha (mengganti) puasa tersebut di hari yang lain. Kita memohon kepada Allah agar memudahkan generasi muda kita untuk segera menikah, dengan biaya mahar yang terjangkau, dan melunakkan hati para wali nikah. Karena tantangan saat ini terkadang justru datang dari pihak wali. Terkadang juga karena mahalnya mahar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman). Nabi juga pernah ingin menikahkan seseorang dengan mahar cincin besi. Jika cincin besi saja sudah cukup menjadi mahar, dan pernikahan yang paling berkah adalah yang paling ringan biayanya, maka marilah kita tempuh jalan ini, agar para pemuda dan pemudi kita tidak terjerumus ke dalam kerusakan. ===== يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَرْجُو تَوْضِيحَ حُكْمِ الْعَادَةِ السِّرِّيَّةِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ الْعَادَةُ السِّرِّيَّةُ يَعْنِي بِهَا الإِسْتِمْنَاء بِالْيَدِ أَوْ بِغَيْرِهَا وَهِيَ حَرَامٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِ رَمَضَانَ وَالدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيمِهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ أَنَّ الرَّسُولَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمَرَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَصُومَ وَلَمْ يَقُلْ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيُخْرِجْ مَاءَهُ بِأَيِّ وَسِيلَةٍ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ جَائِزاً مَا عَدَلَ عَنْهُ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى الصَّوْمِ لِأَنَّ الصَّوْمَ أَشَقُّ أَشَقُّ مِنَ الإِسْتِمْنَاءِ فَعَلَى كُلِّ حَالٍ الإِسْتِمْنَاءُ مُحَرَّمٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا وَقَعَ وَالْإِنْسَانُ صَائِمٌ فَسَدَ صَوْمُهُ فَسَدَ صَوْمُهُ إِنْ أَنْزَلَ وَإِذَا كَانَ فِي رَمَضَانَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُمْسِكَ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَيَقْضِيَ يَوْمًا مَكَانَهُ نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُهَيِّئَ لِشَبَابِنَا نِكَاحًا عَاجِلًا فِي رُخَصِ الْمُهُورِ وَخُضُوعِ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ لِأَنَّ الْبَلَاءَ الْآنَ مِنْ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ أَحْيَانًا وَمِنْ كَثْرَةِ الْمُهُورِ أَحْيَانًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً وَأَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَ شَخْصًا عَلَى خَاتَمٍ مِنْ حَدِيدٍ فَإِذَا كَانَ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ يَكْفِي مَهْرًا وَأَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً فَلْنَسْلُكْ هَذَا الْمَسْلَكَ حَتَّى لَا يَضِيعَ شَبَابُنَا مِنْ ذُكُورٍ وَإِنَاثٍ


Ia bertanya: “Wahai Syaikh yang mulia, mohon jelaskan hukum masturbasi pada siang hari di bulan Ramadan.” Masturbasi adalah amalan mengeluarkan air mani secara sengaja, baik dengan tangan maupun sarana lainnya. Ini hukumnya haram, baik dilakukan pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Dalil pengharamannya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 5-7). Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun, barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa.” (HR. Bukhari & Muslim). Sisi pendalilannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Beliau tidak bersabda: “Barang siapa yang belum mampu, maka keluarkanlah air maninya dengan cara apa pun.” Seandainya masturbasi dibolehkan, niscaya Rasulullah tidak akan mengalihkan perintahnya kepada amalan puasa. Sebab, puasa itu jauh lebih berat, lebih berat bebannya daripada melakukan masturbasi. Pada intinya, melakukan masturbasi hukumnya haram. Baik di bulan Ramadan maupun bulan-bulan lainnya. Apabila hal itu dilakukan saat sedang berpuasa, maka puasanya batal. Puasanya batal jika sampai mengeluarkan air mani. Jika terjadi di bulan Ramadan, maka ia tetap wajib melanjutkan puasanya hingga Magrib (meskipun puasanya telah batal), dan wajib mengqadha (mengganti) puasa tersebut di hari yang lain. Kita memohon kepada Allah agar memudahkan generasi muda kita untuk segera menikah, dengan biaya mahar yang terjangkau, dan melunakkan hati para wali nikah. Karena tantangan saat ini terkadang justru datang dari pihak wali. Terkadang juga karena mahalnya mahar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman). Nabi juga pernah ingin menikahkan seseorang dengan mahar cincin besi. Jika cincin besi saja sudah cukup menjadi mahar, dan pernikahan yang paling berkah adalah yang paling ringan biayanya, maka marilah kita tempuh jalan ini, agar para pemuda dan pemudi kita tidak terjerumus ke dalam kerusakan. ===== يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَرْجُو تَوْضِيحَ حُكْمِ الْعَادَةِ السِّرِّيَّةِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ الْعَادَةُ السِّرِّيَّةُ يَعْنِي بِهَا الإِسْتِمْنَاء بِالْيَدِ أَوْ بِغَيْرِهَا وَهِيَ حَرَامٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِ رَمَضَانَ وَالدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيمِهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ أَنَّ الرَّسُولَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمَرَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَصُومَ وَلَمْ يَقُلْ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيُخْرِجْ مَاءَهُ بِأَيِّ وَسِيلَةٍ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ جَائِزاً مَا عَدَلَ عَنْهُ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى الصَّوْمِ لِأَنَّ الصَّوْمَ أَشَقُّ أَشَقُّ مِنَ الإِسْتِمْنَاءِ فَعَلَى كُلِّ حَالٍ الإِسْتِمْنَاءُ مُحَرَّمٌ سَوَاءٌ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا وَقَعَ وَالْإِنْسَانُ صَائِمٌ فَسَدَ صَوْمُهُ فَسَدَ صَوْمُهُ إِنْ أَنْزَلَ وَإِذَا كَانَ فِي رَمَضَانَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُمْسِكَ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَيَقْضِيَ يَوْمًا مَكَانَهُ نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُهَيِّئَ لِشَبَابِنَا نِكَاحًا عَاجِلًا فِي رُخَصِ الْمُهُورِ وَخُضُوعِ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ لِأَنَّ الْبَلَاءَ الْآنَ مِنْ أَوْلِيَاءِ الْأُمُورِ أَحْيَانًا وَمِنْ كَثْرَةِ الْمُهُورِ أَحْيَانًا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً وَأَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَ شَخْصًا عَلَى خَاتَمٍ مِنْ حَدِيدٍ فَإِذَا كَانَ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ يَكْفِي مَهْرًا وَأَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَئُونَةً فَلْنَسْلُكْ هَذَا الْمَسْلَكَ حَتَّى لَا يَضِيعَ شَبَابُنَا مِنْ ذُكُورٍ وَإِنَاثٍ
Prev     Next