Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an

Allah memerintahkan kepada kita untuk tilawah (membaca) Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya orang-orang yang selalu tilawah (membaca) kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.“ (QS. Al Fathiir: 29-30)Tilawah Al Qur’an ada dua jenis, yaitu tilawah lafdziyyah dan tilawah hukmiyyah.Tilawah Pertama: Tilawah LafdziyyahYang dimaksud tilawah lafdziyyah adalah tilawah secara lafaz, yaitu dengan membacanya. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al Qur’an, baik secara keseluruhan atapun untuk beberapa ayat dan surat tertentu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ“Orang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)Masih banyak dalil-dalil lainnya yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an.  Khususnya di bulan Ramadan ini, marilah kita memperbanyak tilawah jenis pertama ini. Dahulu para salafus shalih sangat bersemangat untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an baik di dalam ataupun di luar shalatBaca Juga: Panduan Sujud Tilawah dan Sujud SyukurTilawah Kedua: Tilawah HukmiyyahYang dimaksud tilawah hukmiyyah yaitu membenarkan berita-berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ini adalah tujuan terpenting diturunkannya Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfiman,كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran “ (QS. Shaad: 29)Para shalafus shalih menjalani berbagai tahapan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Mereka mempelajari, membenarkan, dan merealisasikan hukumnya secara nyata. Semua itu lahir dari akidah yang kokoh dan keyakinan yang benar terhadap Al-Qur’an.Abu ‘Abdirrahman as-Sulami rahimahullah berkata, “Kami diberitahu oleh orang-orang yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas’ud, dan yang lainnya bahwa jika mereka mempelajari Al-Qur’an dari Nabi sebanyak sepuluh ayat, maka mereka tidak melewatinya sampai mereka mempelajari kandungannya berupa ilmu dan amal. Mereka berkata,فتعلم القرآن  و العلم و العمل جميعًا “Mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal bersamaan secara keseluruhan. “Inilah bentuk tilawah yang padanya berkisar antara  kebahagiaan atau kesengsaran. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعاً بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى “Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (QS. Thaaha: 123-127)Di dalam ayat yang mulia di atas, Allah Ta’ala menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya yang diwahyukan kepada para rasul, dan wahyu yang terbesar adalah Al-Qur’an. Allah juga menjelaskan balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang berpaling dari petunjuk-Nya. Adapun ganjaran bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya adalah mereka tidak akan tersesat dan sengsara. Ditiadakannya kesesatan dan kesengsaraan ini mengandung kesempurnaan petunjuk dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Sementara balasan bagi orang-orang yang berpaling dan sombong dari petunjuk-Nya adalah kesengsaraan dan kesesatan di dunia dan di akhirat. Dia akan mengalami kehidupan yang sempit. Di dunia dia akan merasakan kesedihan, kegundahan, dan jiwa yang hampa dari aqidah yang benar dan amal yang saleh.  Allah menyifati mereka melalui firman-Nya,أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ“ Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.“ (QS. Al A’raf: 79)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuknya, maka dia akan menuntunnya menuju surga. Sebaliknya, barangsiapa yang meletakkannya di belakang punggungnya dan tidak mau mengikutinya, maka dia akan menggiringnya menuju neraka.”Kedua jenis tilawah di atas harus kita amalkan dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan kita. Ya Allah, berilah anugerah kepada kami untuk dapat melakukan tilawah kitab-Mu dengan sebenar-benarnya, dan jadikanlah kami mendapat kemenangan dan kebahagiaan dengannya.Demikian, semoga bermanfaat. Walllahu waliyyu at-taufiq.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:Kitab Majaalisu Syahri Ramadhan karya Syaikh Muhammad bin Shalih ‘al-Utsaimin rahimahullah

Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an

Allah memerintahkan kepada kita untuk tilawah (membaca) Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya orang-orang yang selalu tilawah (membaca) kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.“ (QS. Al Fathiir: 29-30)Tilawah Al Qur’an ada dua jenis, yaitu tilawah lafdziyyah dan tilawah hukmiyyah.Tilawah Pertama: Tilawah LafdziyyahYang dimaksud tilawah lafdziyyah adalah tilawah secara lafaz, yaitu dengan membacanya. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al Qur’an, baik secara keseluruhan atapun untuk beberapa ayat dan surat tertentu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ“Orang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)Masih banyak dalil-dalil lainnya yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an.  Khususnya di bulan Ramadan ini, marilah kita memperbanyak tilawah jenis pertama ini. Dahulu para salafus shalih sangat bersemangat untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an baik di dalam ataupun di luar shalatBaca Juga: Panduan Sujud Tilawah dan Sujud SyukurTilawah Kedua: Tilawah HukmiyyahYang dimaksud tilawah hukmiyyah yaitu membenarkan berita-berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ini adalah tujuan terpenting diturunkannya Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfiman,كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran “ (QS. Shaad: 29)Para shalafus shalih menjalani berbagai tahapan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Mereka mempelajari, membenarkan, dan merealisasikan hukumnya secara nyata. Semua itu lahir dari akidah yang kokoh dan keyakinan yang benar terhadap Al-Qur’an.Abu ‘Abdirrahman as-Sulami rahimahullah berkata, “Kami diberitahu oleh orang-orang yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas’ud, dan yang lainnya bahwa jika mereka mempelajari Al-Qur’an dari Nabi sebanyak sepuluh ayat, maka mereka tidak melewatinya sampai mereka mempelajari kandungannya berupa ilmu dan amal. Mereka berkata,فتعلم القرآن  و العلم و العمل جميعًا “Mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal bersamaan secara keseluruhan. “Inilah bentuk tilawah yang padanya berkisar antara  kebahagiaan atau kesengsaran. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعاً بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى “Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (QS. Thaaha: 123-127)Di dalam ayat yang mulia di atas, Allah Ta’ala menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya yang diwahyukan kepada para rasul, dan wahyu yang terbesar adalah Al-Qur’an. Allah juga menjelaskan balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang berpaling dari petunjuk-Nya. Adapun ganjaran bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya adalah mereka tidak akan tersesat dan sengsara. Ditiadakannya kesesatan dan kesengsaraan ini mengandung kesempurnaan petunjuk dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Sementara balasan bagi orang-orang yang berpaling dan sombong dari petunjuk-Nya adalah kesengsaraan dan kesesatan di dunia dan di akhirat. Dia akan mengalami kehidupan yang sempit. Di dunia dia akan merasakan kesedihan, kegundahan, dan jiwa yang hampa dari aqidah yang benar dan amal yang saleh.  Allah menyifati mereka melalui firman-Nya,أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ“ Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.“ (QS. Al A’raf: 79)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuknya, maka dia akan menuntunnya menuju surga. Sebaliknya, barangsiapa yang meletakkannya di belakang punggungnya dan tidak mau mengikutinya, maka dia akan menggiringnya menuju neraka.”Kedua jenis tilawah di atas harus kita amalkan dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan kita. Ya Allah, berilah anugerah kepada kami untuk dapat melakukan tilawah kitab-Mu dengan sebenar-benarnya, dan jadikanlah kami mendapat kemenangan dan kebahagiaan dengannya.Demikian, semoga bermanfaat. Walllahu waliyyu at-taufiq.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:Kitab Majaalisu Syahri Ramadhan karya Syaikh Muhammad bin Shalih ‘al-Utsaimin rahimahullah
Allah memerintahkan kepada kita untuk tilawah (membaca) Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya orang-orang yang selalu tilawah (membaca) kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.“ (QS. Al Fathiir: 29-30)Tilawah Al Qur’an ada dua jenis, yaitu tilawah lafdziyyah dan tilawah hukmiyyah.Tilawah Pertama: Tilawah LafdziyyahYang dimaksud tilawah lafdziyyah adalah tilawah secara lafaz, yaitu dengan membacanya. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al Qur’an, baik secara keseluruhan atapun untuk beberapa ayat dan surat tertentu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ“Orang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)Masih banyak dalil-dalil lainnya yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an.  Khususnya di bulan Ramadan ini, marilah kita memperbanyak tilawah jenis pertama ini. Dahulu para salafus shalih sangat bersemangat untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an baik di dalam ataupun di luar shalatBaca Juga: Panduan Sujud Tilawah dan Sujud SyukurTilawah Kedua: Tilawah HukmiyyahYang dimaksud tilawah hukmiyyah yaitu membenarkan berita-berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ini adalah tujuan terpenting diturunkannya Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfiman,كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran “ (QS. Shaad: 29)Para shalafus shalih menjalani berbagai tahapan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Mereka mempelajari, membenarkan, dan merealisasikan hukumnya secara nyata. Semua itu lahir dari akidah yang kokoh dan keyakinan yang benar terhadap Al-Qur’an.Abu ‘Abdirrahman as-Sulami rahimahullah berkata, “Kami diberitahu oleh orang-orang yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas’ud, dan yang lainnya bahwa jika mereka mempelajari Al-Qur’an dari Nabi sebanyak sepuluh ayat, maka mereka tidak melewatinya sampai mereka mempelajari kandungannya berupa ilmu dan amal. Mereka berkata,فتعلم القرآن  و العلم و العمل جميعًا “Mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal bersamaan secara keseluruhan. “Inilah bentuk tilawah yang padanya berkisar antara  kebahagiaan atau kesengsaran. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعاً بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى “Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (QS. Thaaha: 123-127)Di dalam ayat yang mulia di atas, Allah Ta’ala menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya yang diwahyukan kepada para rasul, dan wahyu yang terbesar adalah Al-Qur’an. Allah juga menjelaskan balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang berpaling dari petunjuk-Nya. Adapun ganjaran bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya adalah mereka tidak akan tersesat dan sengsara. Ditiadakannya kesesatan dan kesengsaraan ini mengandung kesempurnaan petunjuk dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Sementara balasan bagi orang-orang yang berpaling dan sombong dari petunjuk-Nya adalah kesengsaraan dan kesesatan di dunia dan di akhirat. Dia akan mengalami kehidupan yang sempit. Di dunia dia akan merasakan kesedihan, kegundahan, dan jiwa yang hampa dari aqidah yang benar dan amal yang saleh.  Allah menyifati mereka melalui firman-Nya,أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ“ Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.“ (QS. Al A’raf: 79)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuknya, maka dia akan menuntunnya menuju surga. Sebaliknya, barangsiapa yang meletakkannya di belakang punggungnya dan tidak mau mengikutinya, maka dia akan menggiringnya menuju neraka.”Kedua jenis tilawah di atas harus kita amalkan dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan kita. Ya Allah, berilah anugerah kepada kami untuk dapat melakukan tilawah kitab-Mu dengan sebenar-benarnya, dan jadikanlah kami mendapat kemenangan dan kebahagiaan dengannya.Demikian, semoga bermanfaat. Walllahu waliyyu at-taufiq.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:Kitab Majaalisu Syahri Ramadhan karya Syaikh Muhammad bin Shalih ‘al-Utsaimin rahimahullah


Allah memerintahkan kepada kita untuk tilawah (membaca) Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya orang-orang yang selalu tilawah (membaca) kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.“ (QS. Al Fathiir: 29-30)Tilawah Al Qur’an ada dua jenis, yaitu tilawah lafdziyyah dan tilawah hukmiyyah.Tilawah Pertama: Tilawah LafdziyyahYang dimaksud tilawah lafdziyyah adalah tilawah secara lafaz, yaitu dengan membacanya. Terdapat banyak dalil yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al Qur’an, baik secara keseluruhan atapun untuk beberapa ayat dan surat tertentu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ“Orang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)Masih banyak dalil-dalil lainnya yang menjelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an.  Khususnya di bulan Ramadan ini, marilah kita memperbanyak tilawah jenis pertama ini. Dahulu para salafus shalih sangat bersemangat untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an baik di dalam ataupun di luar shalatBaca Juga: Panduan Sujud Tilawah dan Sujud SyukurTilawah Kedua: Tilawah HukmiyyahYang dimaksud tilawah hukmiyyah yaitu membenarkan berita-berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ini adalah tujuan terpenting diturunkannya Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfiman,كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran “ (QS. Shaad: 29)Para shalafus shalih menjalani berbagai tahapan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Mereka mempelajari, membenarkan, dan merealisasikan hukumnya secara nyata. Semua itu lahir dari akidah yang kokoh dan keyakinan yang benar terhadap Al-Qur’an.Abu ‘Abdirrahman as-Sulami rahimahullah berkata, “Kami diberitahu oleh orang-orang yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas’ud, dan yang lainnya bahwa jika mereka mempelajari Al-Qur’an dari Nabi sebanyak sepuluh ayat, maka mereka tidak melewatinya sampai mereka mempelajari kandungannya berupa ilmu dan amal. Mereka berkata,فتعلم القرآن  و العلم و العمل جميعًا “Mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal bersamaan secara keseluruhan. “Inilah bentuk tilawah yang padanya berkisar antara  kebahagiaan atau kesengsaran. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعاً بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى “Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (QS. Thaaha: 123-127)Di dalam ayat yang mulia di atas, Allah Ta’ala menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya yang diwahyukan kepada para rasul, dan wahyu yang terbesar adalah Al-Qur’an. Allah juga menjelaskan balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang berpaling dari petunjuk-Nya. Adapun ganjaran bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya adalah mereka tidak akan tersesat dan sengsara. Ditiadakannya kesesatan dan kesengsaraan ini mengandung kesempurnaan petunjuk dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Sementara balasan bagi orang-orang yang berpaling dan sombong dari petunjuk-Nya adalah kesengsaraan dan kesesatan di dunia dan di akhirat. Dia akan mengalami kehidupan yang sempit. Di dunia dia akan merasakan kesedihan, kegundahan, dan jiwa yang hampa dari aqidah yang benar dan amal yang saleh.  Allah menyifati mereka melalui firman-Nya,أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ“ Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.“ (QS. Al A’raf: 79)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at yang diizinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at. Barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuknya, maka dia akan menuntunnya menuju surga. Sebaliknya, barangsiapa yang meletakkannya di belakang punggungnya dan tidak mau mengikutinya, maka dia akan menggiringnya menuju neraka.”Kedua jenis tilawah di atas harus kita amalkan dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan kita. Ya Allah, berilah anugerah kepada kami untuk dapat melakukan tilawah kitab-Mu dengan sebenar-benarnya, dan jadikanlah kami mendapat kemenangan dan kebahagiaan dengannya.Demikian, semoga bermanfaat. Walllahu waliyyu at-taufiq.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi:Kitab Majaalisu Syahri Ramadhan karya Syaikh Muhammad bin Shalih ‘al-Utsaimin rahimahullah

Makna Hadits: Sebaik-Baik Kalian adalah yang Mempelajari Alquran dan Mengajarkannya

Meluruskan pemahaman keliru terhadap maksud dari hadits belajar Al-Qur’an: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :Pemahaman yang salah!Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :خيركم من تعلم القرآن وعلمه “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).Di antara pemahaman yang salah dalam memahami hadis di atas adalah membatasi golongan manusia yang layak disebut sebagai orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya hanyalah sebatas orang yang mempelajari dan mengajarkan huruf dan lafadz Al-Qur’an, Tajwid dan ilmu Qiro`ahnya semata! Ini adalah sebuah keyakinan yang salah!Akibat dari meyakini pemahaman yang salah tersebutKetika seseorang meyakini keyakinan yang salah ini, maka sangat memungkinkan ia akan merasa cukup bila sudah menguasai ilmu Tajwid dan Qiro`ah atau sudah hafal Al-Qur’an, maka bisa jadi ia akan berhenti ataupun malas dari melanjutkan mempelajari tafsir Al-Qur’an, memahami makna dan penjelasan kandungannya, baik berupa aqidah yang shohihah, ibadah, akhlak karimah serta hukum-hukum Syari’at.Karena ia merasa sudah mengamalkan hadits ini, guna meraih derajat yang terbaik!Tujuan Al-Qur’an diturunkanSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan :فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya”Lihatlah, di sini Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an, tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah,Kedua,  memahami makna atau tafsirnya,Ketiga,  mengamalkannya.Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan meraih dua perkara yang lainnya.Makna yang benar dari hadits di atasImam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits di atas,lalu menjelaskan maknanya  :وتعلم القرآن وتعليمه يتناول تعلم حروفه وتعليمها , وتعلم معانيه وتعليمها Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup: Mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya Mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya وهو أشرف قسمي تعلمه وتعليمه , فإن المعنى هو المقصود , واللفظ وسيلة إليه ,Yang terakhir inilah (yaitu no.2, pent.) merupakan jenis mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya yang paling mulia, karena makna Al-Qur’an itulah yang menjadi tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur’an  adalah sarana untuk mencapai maknanya.  فتعلم المعنى وتعليمه تعلم الغاية وتعليمها Maka  mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan tujuan.وتعلم اللفظ المجرد وتعليمه  تعلم الوسائل وتعليمهاsedangkan mempelajari dan mengajarkan lafadz semata (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan sarana وبينهما كما بين الغايات والوسائل “Dan (perbandingan) diantara keduanya seperti perbandingan antara tujuan dan sarana.Kesimpulan Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup dua macam sekaligus,yaitu : Lafadz dan maknanya. Berarti kedua-duanya sama-sama pentingnya. Perbandingan keduanya, seperti perbandingan antara tujuan dan sarana. Berarti, jenis yang satu lebih mulia dari yang lainnya. Mempelajari makna-maknanya dan mengajarkan makna-maknanya (tafsirnya) lebih mulia dari mempelajari huruf-hurufnya dan mengajarkan huruf-hurufnya saja (tajwidnya semata). Oleh karena itu, pantaslah jika dua orang yang masyhur disebut sebagai pakar Tafsir di kalangan Sahabat, yaitu: Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selain keduanya, berpandangan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan mentadabburi (merenungi) maknanya -walaupun sedikit jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya- lebih utama daripada orang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an, sehingga banyak jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya, namun tanpa mentadabburi maknanya.Di zaman Al-Fudhail rahimahullah pun sudah dijumpai adanya orang yang didalam mengamalkan Al-Qur’an lebih kepada “sebatas membacanya semata”, padahal sesungguhnya mengamalkan Al-Qur’an lebih luas daripada sekedar membacanya saja, karena dalam Al-Qur’an terdapat aqidah, ibadah, mu’amalah dan hukum-hukum Islam yang tertuntut untuk kita amalkan. Berkata Al-Fudhail rahimahullah menuturkan fenomena yang beliau lihat di masanya :إنما نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذ الناس قراءته عملا “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun ternyata ada saja orang yang menjadikan (sebatas) membacanya sebagai sebuah bentuk pengamalannya”,Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah setelah membawakan perkataan Al-Fudhail di atas, bertutur :فأهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، لا بمجرد إقامة الحروف“Ahlul Qur’an, mereka adalah orang-orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar melafadzkan huruf-hurufnya dengan benar.”Catatan Penting!Semoga Allah menjadikan kita termasuk kedalam barisan orang-orang yang terbaik di masyarakat kita, Aamiin.Wallahu a’lam.Untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, coba baca artikel berikut. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id

Makna Hadits: Sebaik-Baik Kalian adalah yang Mempelajari Alquran dan Mengajarkannya

Meluruskan pemahaman keliru terhadap maksud dari hadits belajar Al-Qur’an: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :Pemahaman yang salah!Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :خيركم من تعلم القرآن وعلمه “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).Di antara pemahaman yang salah dalam memahami hadis di atas adalah membatasi golongan manusia yang layak disebut sebagai orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya hanyalah sebatas orang yang mempelajari dan mengajarkan huruf dan lafadz Al-Qur’an, Tajwid dan ilmu Qiro`ahnya semata! Ini adalah sebuah keyakinan yang salah!Akibat dari meyakini pemahaman yang salah tersebutKetika seseorang meyakini keyakinan yang salah ini, maka sangat memungkinkan ia akan merasa cukup bila sudah menguasai ilmu Tajwid dan Qiro`ah atau sudah hafal Al-Qur’an, maka bisa jadi ia akan berhenti ataupun malas dari melanjutkan mempelajari tafsir Al-Qur’an, memahami makna dan penjelasan kandungannya, baik berupa aqidah yang shohihah, ibadah, akhlak karimah serta hukum-hukum Syari’at.Karena ia merasa sudah mengamalkan hadits ini, guna meraih derajat yang terbaik!Tujuan Al-Qur’an diturunkanSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan :فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya”Lihatlah, di sini Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an, tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah,Kedua,  memahami makna atau tafsirnya,Ketiga,  mengamalkannya.Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan meraih dua perkara yang lainnya.Makna yang benar dari hadits di atasImam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits di atas,lalu menjelaskan maknanya  :وتعلم القرآن وتعليمه يتناول تعلم حروفه وتعليمها , وتعلم معانيه وتعليمها Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup: Mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya Mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya وهو أشرف قسمي تعلمه وتعليمه , فإن المعنى هو المقصود , واللفظ وسيلة إليه ,Yang terakhir inilah (yaitu no.2, pent.) merupakan jenis mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya yang paling mulia, karena makna Al-Qur’an itulah yang menjadi tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur’an  adalah sarana untuk mencapai maknanya.  فتعلم المعنى وتعليمه تعلم الغاية وتعليمها Maka  mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan tujuan.وتعلم اللفظ المجرد وتعليمه  تعلم الوسائل وتعليمهاsedangkan mempelajari dan mengajarkan lafadz semata (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan sarana وبينهما كما بين الغايات والوسائل “Dan (perbandingan) diantara keduanya seperti perbandingan antara tujuan dan sarana.Kesimpulan Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup dua macam sekaligus,yaitu : Lafadz dan maknanya. Berarti kedua-duanya sama-sama pentingnya. Perbandingan keduanya, seperti perbandingan antara tujuan dan sarana. Berarti, jenis yang satu lebih mulia dari yang lainnya. Mempelajari makna-maknanya dan mengajarkan makna-maknanya (tafsirnya) lebih mulia dari mempelajari huruf-hurufnya dan mengajarkan huruf-hurufnya saja (tajwidnya semata). Oleh karena itu, pantaslah jika dua orang yang masyhur disebut sebagai pakar Tafsir di kalangan Sahabat, yaitu: Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selain keduanya, berpandangan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan mentadabburi (merenungi) maknanya -walaupun sedikit jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya- lebih utama daripada orang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an, sehingga banyak jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya, namun tanpa mentadabburi maknanya.Di zaman Al-Fudhail rahimahullah pun sudah dijumpai adanya orang yang didalam mengamalkan Al-Qur’an lebih kepada “sebatas membacanya semata”, padahal sesungguhnya mengamalkan Al-Qur’an lebih luas daripada sekedar membacanya saja, karena dalam Al-Qur’an terdapat aqidah, ibadah, mu’amalah dan hukum-hukum Islam yang tertuntut untuk kita amalkan. Berkata Al-Fudhail rahimahullah menuturkan fenomena yang beliau lihat di masanya :إنما نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذ الناس قراءته عملا “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun ternyata ada saja orang yang menjadikan (sebatas) membacanya sebagai sebuah bentuk pengamalannya”,Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah setelah membawakan perkataan Al-Fudhail di atas, bertutur :فأهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، لا بمجرد إقامة الحروف“Ahlul Qur’an, mereka adalah orang-orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar melafadzkan huruf-hurufnya dengan benar.”Catatan Penting!Semoga Allah menjadikan kita termasuk kedalam barisan orang-orang yang terbaik di masyarakat kita, Aamiin.Wallahu a’lam.Untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, coba baca artikel berikut. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id
Meluruskan pemahaman keliru terhadap maksud dari hadits belajar Al-Qur’an: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :Pemahaman yang salah!Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :خيركم من تعلم القرآن وعلمه “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).Di antara pemahaman yang salah dalam memahami hadis di atas adalah membatasi golongan manusia yang layak disebut sebagai orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya hanyalah sebatas orang yang mempelajari dan mengajarkan huruf dan lafadz Al-Qur’an, Tajwid dan ilmu Qiro`ahnya semata! Ini adalah sebuah keyakinan yang salah!Akibat dari meyakini pemahaman yang salah tersebutKetika seseorang meyakini keyakinan yang salah ini, maka sangat memungkinkan ia akan merasa cukup bila sudah menguasai ilmu Tajwid dan Qiro`ah atau sudah hafal Al-Qur’an, maka bisa jadi ia akan berhenti ataupun malas dari melanjutkan mempelajari tafsir Al-Qur’an, memahami makna dan penjelasan kandungannya, baik berupa aqidah yang shohihah, ibadah, akhlak karimah serta hukum-hukum Syari’at.Karena ia merasa sudah mengamalkan hadits ini, guna meraih derajat yang terbaik!Tujuan Al-Qur’an diturunkanSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan :فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya”Lihatlah, di sini Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an, tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah,Kedua,  memahami makna atau tafsirnya,Ketiga,  mengamalkannya.Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan meraih dua perkara yang lainnya.Makna yang benar dari hadits di atasImam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits di atas,lalu menjelaskan maknanya  :وتعلم القرآن وتعليمه يتناول تعلم حروفه وتعليمها , وتعلم معانيه وتعليمها Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup: Mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya Mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya وهو أشرف قسمي تعلمه وتعليمه , فإن المعنى هو المقصود , واللفظ وسيلة إليه ,Yang terakhir inilah (yaitu no.2, pent.) merupakan jenis mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya yang paling mulia, karena makna Al-Qur’an itulah yang menjadi tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur’an  adalah sarana untuk mencapai maknanya.  فتعلم المعنى وتعليمه تعلم الغاية وتعليمها Maka  mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan tujuan.وتعلم اللفظ المجرد وتعليمه  تعلم الوسائل وتعليمهاsedangkan mempelajari dan mengajarkan lafadz semata (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan sarana وبينهما كما بين الغايات والوسائل “Dan (perbandingan) diantara keduanya seperti perbandingan antara tujuan dan sarana.Kesimpulan Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup dua macam sekaligus,yaitu : Lafadz dan maknanya. Berarti kedua-duanya sama-sama pentingnya. Perbandingan keduanya, seperti perbandingan antara tujuan dan sarana. Berarti, jenis yang satu lebih mulia dari yang lainnya. Mempelajari makna-maknanya dan mengajarkan makna-maknanya (tafsirnya) lebih mulia dari mempelajari huruf-hurufnya dan mengajarkan huruf-hurufnya saja (tajwidnya semata). Oleh karena itu, pantaslah jika dua orang yang masyhur disebut sebagai pakar Tafsir di kalangan Sahabat, yaitu: Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selain keduanya, berpandangan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan mentadabburi (merenungi) maknanya -walaupun sedikit jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya- lebih utama daripada orang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an, sehingga banyak jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya, namun tanpa mentadabburi maknanya.Di zaman Al-Fudhail rahimahullah pun sudah dijumpai adanya orang yang didalam mengamalkan Al-Qur’an lebih kepada “sebatas membacanya semata”, padahal sesungguhnya mengamalkan Al-Qur’an lebih luas daripada sekedar membacanya saja, karena dalam Al-Qur’an terdapat aqidah, ibadah, mu’amalah dan hukum-hukum Islam yang tertuntut untuk kita amalkan. Berkata Al-Fudhail rahimahullah menuturkan fenomena yang beliau lihat di masanya :إنما نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذ الناس قراءته عملا “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun ternyata ada saja orang yang menjadikan (sebatas) membacanya sebagai sebuah bentuk pengamalannya”,Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah setelah membawakan perkataan Al-Fudhail di atas, bertutur :فأهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، لا بمجرد إقامة الحروف“Ahlul Qur’an, mereka adalah orang-orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar melafadzkan huruf-hurufnya dengan benar.”Catatan Penting!Semoga Allah menjadikan kita termasuk kedalam barisan orang-orang yang terbaik di masyarakat kita, Aamiin.Wallahu a’lam.Untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, coba baca artikel berikut. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id


Meluruskan pemahaman keliru terhadap maksud dari hadits belajar Al-Qur’an: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :Pemahaman yang salah!Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :خيركم من تعلم القرآن وعلمه “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).Di antara pemahaman yang salah dalam memahami hadis di atas adalah membatasi golongan manusia yang layak disebut sebagai orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya hanyalah sebatas orang yang mempelajari dan mengajarkan huruf dan lafadz Al-Qur’an, Tajwid dan ilmu Qiro`ahnya semata! Ini adalah sebuah keyakinan yang salah!Akibat dari meyakini pemahaman yang salah tersebutKetika seseorang meyakini keyakinan yang salah ini, maka sangat memungkinkan ia akan merasa cukup bila sudah menguasai ilmu Tajwid dan Qiro`ah atau sudah hafal Al-Qur’an, maka bisa jadi ia akan berhenti ataupun malas dari melanjutkan mempelajari tafsir Al-Qur’an, memahami makna dan penjelasan kandungannya, baik berupa aqidah yang shohihah, ibadah, akhlak karimah serta hukum-hukum Syari’at.Karena ia merasa sudah mengamalkan hadits ini, guna meraih derajat yang terbaik!Tujuan Al-Qur’an diturunkanSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan :فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya”Lihatlah, di sini Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an, tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah,Kedua,  memahami makna atau tafsirnya,Ketiga,  mengamalkannya.Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan meraih dua perkara yang lainnya.Makna yang benar dari hadits di atasImam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits di atas,lalu menjelaskan maknanya  :وتعلم القرآن وتعليمه يتناول تعلم حروفه وتعليمها , وتعلم معانيه وتعليمها Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup: Mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya Mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya وهو أشرف قسمي تعلمه وتعليمه , فإن المعنى هو المقصود , واللفظ وسيلة إليه ,Yang terakhir inilah (yaitu no.2, pent.) merupakan jenis mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya yang paling mulia, karena makna Al-Qur’an itulah yang menjadi tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur’an  adalah sarana untuk mencapai maknanya.  فتعلم المعنى وتعليمه تعلم الغاية وتعليمها Maka  mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan tujuan.وتعلم اللفظ المجرد وتعليمه  تعلم الوسائل وتعليمهاsedangkan mempelajari dan mengajarkan lafadz semata (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan sarana وبينهما كما بين الغايات والوسائل “Dan (perbandingan) diantara keduanya seperti perbandingan antara tujuan dan sarana.Kesimpulan Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup dua macam sekaligus,yaitu : Lafadz dan maknanya. Berarti kedua-duanya sama-sama pentingnya. Perbandingan keduanya, seperti perbandingan antara tujuan dan sarana. Berarti, jenis yang satu lebih mulia dari yang lainnya. Mempelajari makna-maknanya dan mengajarkan makna-maknanya (tafsirnya) lebih mulia dari mempelajari huruf-hurufnya dan mengajarkan huruf-hurufnya saja (tajwidnya semata). Oleh karena itu, pantaslah jika dua orang yang masyhur disebut sebagai pakar Tafsir di kalangan Sahabat, yaitu: Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selain keduanya, berpandangan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan mentadabburi (merenungi) maknanya -walaupun sedikit jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya- lebih utama daripada orang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an, sehingga banyak jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya, namun tanpa mentadabburi maknanya.Di zaman Al-Fudhail rahimahullah pun sudah dijumpai adanya orang yang didalam mengamalkan Al-Qur’an lebih kepada “sebatas membacanya semata”, padahal sesungguhnya mengamalkan Al-Qur’an lebih luas daripada sekedar membacanya saja, karena dalam Al-Qur’an terdapat aqidah, ibadah, mu’amalah dan hukum-hukum Islam yang tertuntut untuk kita amalkan. Berkata Al-Fudhail rahimahullah menuturkan fenomena yang beliau lihat di masanya :إنما نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذ الناس قراءته عملا “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun ternyata ada saja orang yang menjadikan (sebatas) membacanya sebagai sebuah bentuk pengamalannya”,Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah setelah membawakan perkataan Al-Fudhail di atas, bertutur :فأهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، لا بمجرد إقامة الحروف“Ahlul Qur’an, mereka adalah orang-orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar melafadzkan huruf-hurufnya dengan benar.”Catatan Penting!Semoga Allah menjadikan kita termasuk kedalam barisan orang-orang yang terbaik di masyarakat kita, Aamiin.Wallahu a’lam.Untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, coba baca artikel berikut. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id

Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Pembahasan kali ini adalah tentang bersungguh-sungguh beramal shalih. Amal shalih ini sangat penting dalam merealisasikan dan menambah iman seseorang. Amal shalih pada satu sisinya adalah bagian dari iman itu sendiri, turunannya dan cabangnya. Dan pada sisi lainnya, amal shalih itu adalah praktek nyata dari iman seseorang. Oleh karena itulah seorang hamba perlu untuk ‘berjanji’ kepada dirinya sendiri untuk selalu konsisten di atas amal shalih yang mendekatkan dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Menjaga amal shalih ini merupakan salah satu hal terpenting yang bisa membantu seseorang menguatkan, mempertahankan dan menjaga imannya agar tidak hilang. Contohnya, shalat, Allah ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut: 45) Betapa shalat itu mampu memperbaharui iman seseorang dan menjadi penghubung antara dia dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Lihat diri Anda! Ketika Anda mampu menjaga shalat ini; yaitu ketika Anda mengagungkan shalat dan meminta pertolongan Allah dengan mendirikan shalat, betapa ini memiliki pengaruh besar terhadap iman dalam hati Anda. Dan lihatlah keadaan orang yang jauh dari shalat! Perhatikan bagaimana jauhnya ia dari shalat membuat lemah iman dalam hatinya. Oleh sebab itulah ulama salaf -rahimahumullah- berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Taat itu akan menambah dan menguatkan iman; semakin Anda taat dan rajin ibadah maka itu akan menjadi sebab dan wasilah yang akan menguatkan iman Anda. ================================================================================ أَيْضًا فِي هَذَا الْمَقَامِ مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ ضَرُورِيَّةٌ جِدًّا فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَتَنْمِيَتِهِ فَكَمَا أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ مِنْ جِهَةٍ هِيَ مِنَ الْإِيمَانِ وَخِصَالِهِ وَشُعَبِهِ فَإِنَّ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى تُحَقِّقَ الْإِيمَانَ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْعَبْدُ إِلَى تَعَاهُدِ نَفْسِهِ دَائِمًا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ الْمُقَرِّبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ مَعُونَةً عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَبَقَائِهِ وَحِفْظِهِ خُذْ مِثَالًا عَلَى ذَلِكَ الصَّلَاةَ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ الْعَنْكَبُوتُ – الْآيَةُ 45 كَمْ فِي الصَّلَاةِ مِنْ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ كَمْ فِيهَا مِنْ صِلَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ فِي نَفْسِكَ عِنْدَمَا تَكُونُ مُحَافِظًا عَلَى هَذِهِ الصَّلَاةِ مُعَظِّمًا لَهَا مُعْتَنِيًا بِهَا كَمْ لَهَا مِنَ الْأَثَرِ عَلَى قَلْبِكَ فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَانْظُرْ حَالَ مَنِ ابْتَعَدَ عَنْ هَذِهِ الصَّلَاةِ كَيْفَ أَنَّ بُعْدَهُ عَنْهَا تَوَلَّدَ عَنْهُ ضَعْفَ إِيمَانٍ فِي قَلْبِهِ أَوْ ضَعْفَ الْإِيمَانِ فِي قَلْبِهِ وَلِهَذَا قَالَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ فَالطَّاعَةُ تَزِيدُ الْإِيمَانَ وَتُقَوِّي الْإِيمَانَ كُلَّمَا ازْدَدْتَ طَاعَةً وَعِبَادَةً وَتَقَرُّبًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَانَ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ الْمُعِينَةِ عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَتَمْتِينِهِ

Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Pembahasan kali ini adalah tentang bersungguh-sungguh beramal shalih. Amal shalih ini sangat penting dalam merealisasikan dan menambah iman seseorang. Amal shalih pada satu sisinya adalah bagian dari iman itu sendiri, turunannya dan cabangnya. Dan pada sisi lainnya, amal shalih itu adalah praktek nyata dari iman seseorang. Oleh karena itulah seorang hamba perlu untuk ‘berjanji’ kepada dirinya sendiri untuk selalu konsisten di atas amal shalih yang mendekatkan dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Menjaga amal shalih ini merupakan salah satu hal terpenting yang bisa membantu seseorang menguatkan, mempertahankan dan menjaga imannya agar tidak hilang. Contohnya, shalat, Allah ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut: 45) Betapa shalat itu mampu memperbaharui iman seseorang dan menjadi penghubung antara dia dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Lihat diri Anda! Ketika Anda mampu menjaga shalat ini; yaitu ketika Anda mengagungkan shalat dan meminta pertolongan Allah dengan mendirikan shalat, betapa ini memiliki pengaruh besar terhadap iman dalam hati Anda. Dan lihatlah keadaan orang yang jauh dari shalat! Perhatikan bagaimana jauhnya ia dari shalat membuat lemah iman dalam hatinya. Oleh sebab itulah ulama salaf -rahimahumullah- berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Taat itu akan menambah dan menguatkan iman; semakin Anda taat dan rajin ibadah maka itu akan menjadi sebab dan wasilah yang akan menguatkan iman Anda. ================================================================================ أَيْضًا فِي هَذَا الْمَقَامِ مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ ضَرُورِيَّةٌ جِدًّا فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَتَنْمِيَتِهِ فَكَمَا أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ مِنْ جِهَةٍ هِيَ مِنَ الْإِيمَانِ وَخِصَالِهِ وَشُعَبِهِ فَإِنَّ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى تُحَقِّقَ الْإِيمَانَ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْعَبْدُ إِلَى تَعَاهُدِ نَفْسِهِ دَائِمًا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ الْمُقَرِّبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ مَعُونَةً عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَبَقَائِهِ وَحِفْظِهِ خُذْ مِثَالًا عَلَى ذَلِكَ الصَّلَاةَ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ الْعَنْكَبُوتُ – الْآيَةُ 45 كَمْ فِي الصَّلَاةِ مِنْ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ كَمْ فِيهَا مِنْ صِلَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ فِي نَفْسِكَ عِنْدَمَا تَكُونُ مُحَافِظًا عَلَى هَذِهِ الصَّلَاةِ مُعَظِّمًا لَهَا مُعْتَنِيًا بِهَا كَمْ لَهَا مِنَ الْأَثَرِ عَلَى قَلْبِكَ فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَانْظُرْ حَالَ مَنِ ابْتَعَدَ عَنْ هَذِهِ الصَّلَاةِ كَيْفَ أَنَّ بُعْدَهُ عَنْهَا تَوَلَّدَ عَنْهُ ضَعْفَ إِيمَانٍ فِي قَلْبِهِ أَوْ ضَعْفَ الْإِيمَانِ فِي قَلْبِهِ وَلِهَذَا قَالَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ فَالطَّاعَةُ تَزِيدُ الْإِيمَانَ وَتُقَوِّي الْإِيمَانَ كُلَّمَا ازْدَدْتَ طَاعَةً وَعِبَادَةً وَتَقَرُّبًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَانَ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ الْمُعِينَةِ عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَتَمْتِينِهِ
Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Pembahasan kali ini adalah tentang bersungguh-sungguh beramal shalih. Amal shalih ini sangat penting dalam merealisasikan dan menambah iman seseorang. Amal shalih pada satu sisinya adalah bagian dari iman itu sendiri, turunannya dan cabangnya. Dan pada sisi lainnya, amal shalih itu adalah praktek nyata dari iman seseorang. Oleh karena itulah seorang hamba perlu untuk ‘berjanji’ kepada dirinya sendiri untuk selalu konsisten di atas amal shalih yang mendekatkan dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Menjaga amal shalih ini merupakan salah satu hal terpenting yang bisa membantu seseorang menguatkan, mempertahankan dan menjaga imannya agar tidak hilang. Contohnya, shalat, Allah ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut: 45) Betapa shalat itu mampu memperbaharui iman seseorang dan menjadi penghubung antara dia dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Lihat diri Anda! Ketika Anda mampu menjaga shalat ini; yaitu ketika Anda mengagungkan shalat dan meminta pertolongan Allah dengan mendirikan shalat, betapa ini memiliki pengaruh besar terhadap iman dalam hati Anda. Dan lihatlah keadaan orang yang jauh dari shalat! Perhatikan bagaimana jauhnya ia dari shalat membuat lemah iman dalam hatinya. Oleh sebab itulah ulama salaf -rahimahumullah- berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Taat itu akan menambah dan menguatkan iman; semakin Anda taat dan rajin ibadah maka itu akan menjadi sebab dan wasilah yang akan menguatkan iman Anda. ================================================================================ أَيْضًا فِي هَذَا الْمَقَامِ مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ ضَرُورِيَّةٌ جِدًّا فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَتَنْمِيَتِهِ فَكَمَا أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ مِنْ جِهَةٍ هِيَ مِنَ الْإِيمَانِ وَخِصَالِهِ وَشُعَبِهِ فَإِنَّ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى تُحَقِّقَ الْإِيمَانَ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْعَبْدُ إِلَى تَعَاهُدِ نَفْسِهِ دَائِمًا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ الْمُقَرِّبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ مَعُونَةً عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَبَقَائِهِ وَحِفْظِهِ خُذْ مِثَالًا عَلَى ذَلِكَ الصَّلَاةَ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ الْعَنْكَبُوتُ – الْآيَةُ 45 كَمْ فِي الصَّلَاةِ مِنْ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ كَمْ فِيهَا مِنْ صِلَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ فِي نَفْسِكَ عِنْدَمَا تَكُونُ مُحَافِظًا عَلَى هَذِهِ الصَّلَاةِ مُعَظِّمًا لَهَا مُعْتَنِيًا بِهَا كَمْ لَهَا مِنَ الْأَثَرِ عَلَى قَلْبِكَ فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَانْظُرْ حَالَ مَنِ ابْتَعَدَ عَنْ هَذِهِ الصَّلَاةِ كَيْفَ أَنَّ بُعْدَهُ عَنْهَا تَوَلَّدَ عَنْهُ ضَعْفَ إِيمَانٍ فِي قَلْبِهِ أَوْ ضَعْفَ الْإِيمَانِ فِي قَلْبِهِ وَلِهَذَا قَالَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ فَالطَّاعَةُ تَزِيدُ الْإِيمَانَ وَتُقَوِّي الْإِيمَانَ كُلَّمَا ازْدَدْتَ طَاعَةً وَعِبَادَةً وَتَقَرُّبًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَانَ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ الْمُعِينَةِ عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَتَمْتِينِهِ


Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Pembahasan kali ini adalah tentang bersungguh-sungguh beramal shalih. Amal shalih ini sangat penting dalam merealisasikan dan menambah iman seseorang. Amal shalih pada satu sisinya adalah bagian dari iman itu sendiri, turunannya dan cabangnya. Dan pada sisi lainnya, amal shalih itu adalah praktek nyata dari iman seseorang. Oleh karena itulah seorang hamba perlu untuk ‘berjanji’ kepada dirinya sendiri untuk selalu konsisten di atas amal shalih yang mendekatkan dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Menjaga amal shalih ini merupakan salah satu hal terpenting yang bisa membantu seseorang menguatkan, mempertahankan dan menjaga imannya agar tidak hilang. Contohnya, shalat, Allah ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut: 45) Betapa shalat itu mampu memperbaharui iman seseorang dan menjadi penghubung antara dia dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Lihat diri Anda! Ketika Anda mampu menjaga shalat ini; yaitu ketika Anda mengagungkan shalat dan meminta pertolongan Allah dengan mendirikan shalat, betapa ini memiliki pengaruh besar terhadap iman dalam hati Anda. Dan lihatlah keadaan orang yang jauh dari shalat! Perhatikan bagaimana jauhnya ia dari shalat membuat lemah iman dalam hatinya. Oleh sebab itulah ulama salaf -rahimahumullah- berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Taat itu akan menambah dan menguatkan iman; semakin Anda taat dan rajin ibadah maka itu akan menjadi sebab dan wasilah yang akan menguatkan iman Anda. ================================================================================ أَيْضًا فِي هَذَا الْمَقَامِ مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ ضَرُورِيَّةٌ جِدًّا فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَتَنْمِيَتِهِ فَكَمَا أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ مِنْ جِهَةٍ هِيَ مِنَ الْإِيمَانِ وَخِصَالِهِ وَشُعَبِهِ فَإِنَّ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى تُحَقِّقَ الْإِيمَانَ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْعَبْدُ إِلَى تَعَاهُدِ نَفْسِهِ دَائِمًا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ الْمُقَرِّبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ مَعُونَةً عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَبَقَائِهِ وَحِفْظِهِ خُذْ مِثَالًا عَلَى ذَلِكَ الصَّلَاةَ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ الْعَنْكَبُوتُ – الْآيَةُ 45 كَمْ فِي الصَّلَاةِ مِنْ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ كَمْ فِيهَا مِنْ صِلَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى انْظُرْ فِي نَفْسِكَ عِنْدَمَا تَكُونُ مُحَافِظًا عَلَى هَذِهِ الصَّلَاةِ مُعَظِّمًا لَهَا مُعْتَنِيًا بِهَا كَمْ لَهَا مِنَ الْأَثَرِ عَلَى قَلْبِكَ فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَانْظُرْ حَالَ مَنِ ابْتَعَدَ عَنْ هَذِهِ الصَّلَاةِ كَيْفَ أَنَّ بُعْدَهُ عَنْهَا تَوَلَّدَ عَنْهُ ضَعْفَ إِيمَانٍ فِي قَلْبِهِ أَوْ ضَعْفَ الْإِيمَانِ فِي قَلْبِهِ وَلِهَذَا قَالَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ فَالطَّاعَةُ تَزِيدُ الْإِيمَانَ وَتُقَوِّي الْإِيمَانَ كُلَّمَا ازْدَدْتَ طَاعَةً وَعِبَادَةً وَتَقَرُّبًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَانَ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ الْمُعِينَةِ عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَتَمْتِينِهِ

Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih?

Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih? Saudara kita ini bertanya -semoga Allah memberimu kebaikan-: Mana yang lebih baik, mempelajari fiqih dari madzhab atau dari pendapat yang rajih (lebih kuat)? Apa itu pendapat yang rajih? Apa itu pendapat yang rajih?. Wahai para saudaraku, ini merupakan cara yang tidak benar dalam menuntut ilmu. Pendapat rajih adalah pendapat yang dipilih oleh seorang mujtahid mutlaq atau muqayyad, inilah pendapat rajih. Pendapat rajih adalah ijtihad yang dihasilkan oleh seorang mujtahid muqayyad atau mutlaq. Yaitu pendapat mujtahid yang ijtihadnya masih terikat dalam suatu permasalahan atau mujtahid yang telah memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam setiap permasalahan, itulah pendapat yang lebih kuat menurut mujtahid tersebut maka jika kamu hendak belajar fiqih dari pendapat yang rajih Apakah yang dimaksud itu rajih menurut as-Syeikh Abdul Aziz bin Baz? Atau rajih menurut as-Syeikh Muhammad bin ‘Utsaimin? Atau rajih menurut as-Syeikh Shalih al-Fauzan? Atau ulama lainnya yang mengajarkan fiqih di negeri kita pada tahun-tahun terakhir ini yang telah memiliki pilihan pendapat dalam berbagai masalah? Maka pendapat rajih adalah hal yang terikat dengan siapa yang berijtihad. Dan kamu tidak mungkin dapat mempelajari ilmu fiqih dengan metode seperti itu. Karena ijtihad seseorang berbeda dengan ijtihad orang lain Ini adalah satu hal yang harus diperhatikan. Dan hal lainnya, siapa yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam perkara fiqih?. Karena ijtihad dalam perkara fiqih bukan sekedar kamu mendalami suatu masalah. Kemudian kamu dapat mengatakan pendapat ini rajih (lebih kuat) yang merupakan pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama kontemporer adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Sehingga itulah yang menjadi pendapat yang rajih menurut orang banyak itu adalah pendapat yang menurut Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah sebagai pendapat yang lebih kuat. Sedangkan hai orang yang menganut pilihan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah; kamu hanyalah muqallid (pengikut suatu pendapat) dan kamu bukan seorang mujtahid Buktinya, jika kamu bertanya kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantah dalil dari pendapat tersebut. Maka kamu akan mendapatinya tidak memiliki kemampuan untuk menjawab bantahan tersebut. Karena dia hanya mengikuti ijtihad dari Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan inilah mayoritas ijtihad ulama-ulama kontemporer. Sehingga pendapat rajih yang kamu pelajari di kuliah syariah semuanya mengatakan ini pendapat rajih; Si Fulan berpendapat seperti ini, dan yang rajih adalah ini dan ini Padahal sesungguhnya semua itu merujuk pada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Kalau begitu, yang mana ilmu fiqih itu? Jika demikian, maka kalian tidak dapat mempelajari fiqih kecuali dengan mempelajari pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Sedangkan pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah tidak mencakup seluruh ilmu fiqih, karena tidak sampai kepada kita semuanya Dan dalam kitab-kitab beliau -rahimahullah Ta’ala- yang sampai kepada kita, terkadang memiliki lebih dari satu pendapat dalam suatu permasalahan. Karena sebagian kitab-kitab itu telah ditulis sejak lama, seperti kitab Syarh al-‘Umdah; dan sebagian lainnya ditulis lebih akhir Sehingga untuk mengetahui pendapat yang beliau pilih, harus bersandar pada para muridnya, terutama Ibnu Muflih. Dan jika kamu mendapati perbedaan pada pendapat yang ditetapkan sebagai pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah dalam suatu permasalahan. Maka rujukannya adalah pada pendapat yang ditetapkan muridnya, Ibnu Muflih dalam kitab al-Furu’ Atau kitab al-Adab asy-Syar’iyyah Dan Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- juga merujuk kepada Ibnu Muflih dalam mengetahui pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dalam berbagai permasalahan hukum dan fiqih -rahimahumullah-. Maka dari itu, pendapat yang rajih hanyalah anggapan semata dan hakikatnya tidak ada Sedangkan madzhab-madzhab yang disepakati, telah ada sejak ratusan tahun yang lalu Maka jika ada yang hendak mempelajari ilmu fiqih, maka dia harus mempelajarinya dari salah satu madzhab yang boleh diikuti. Dan tujuan dari mempelajarinya dari salah satu madzhab adalah untuk membantunya mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya sebagaimana yang disebutkan as-Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam kitab Taisir al-Aziz al-Hamid dalam bab orang yang mentaati ulama dan umara dalam menghalalkan yang Allah halalkan dan mengharamkan yang Allah haramkan beliau menjelaskan bahwa mempelajari fiqih dari kitab-kitab fiqih bertujuan untuk memberi gambaran terhadap berbagai permasalahan yang dibahas di dalamnya. Dengan begitu kamu dapat memiliki gambaran berbagai pembahasannya sedikit demi sedikit. Dan para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- telah Menyusun ilmu fiqih secara bertahap. Pertama mereka menulis rangkuman singkat, kemudian yang lebih luas lagi Kemudian lebih luas lagi dan lebih luas lagi Sehingga seseorang dapat memiliki gambaran terhadap berbagai macam pembahasannya Baik itu dalam madzhab Hanbali, Syafi’i, Malliki, atau Hanafi Setiap madzhab memiliki kitab-kitab yang bertahap Sehingga ketika kamu mempelajarinya secara bertahap, maka kamu dapat memiliki gambaran pembahasannya sedikit demi sedikit Kemudian kamu dapat naik ke tingkat yang lebih luas pembahasannya. Kemudian kamu dapat mencakup seluruh pembahasan ilmu fiqih Kemudian kamu dapat mengetahui dalil dalam suatu madzhab Dan kemudian kamu dapat mengetahui pendapat-pendapat dalam empat madzhab Dan jika syeikh yang mengajarkanmu fiqih memiliki pendapat dalam suatu permasalahan maka sesungguhnya kamu sedang belajar kepada seorang murajjih. Adapun jika ia mengatakan, ‘Pendapat yang lebih kuat adalah ini’, sedangkan itu adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah maka syeikh itu adalah seorang muqallid, dan bukan syeikh yang mampu berijtihad Karena ijtihad mengharuskan seseorang untuk memiliki ilmu tentang dalil-dalil yang berhubungan dengan pendapat yang dia pilih Dan kemampuan untuk menjawab tentang dalil-dalil itu. Oleh sebab itu, aku dapat menyebutkan salah satu contoh kepada kalian Para ulama kontemporer berkata tentang pendapat yang ada dalam madzhab Hanbali: “Dan mengeluarkan sisa air kencing sebanyak tiga kali adalah perbuatan yang mustahab (dianjurkan)” Para ulama kontemporer itu mengatakan itu adalah bid’ah sebagaimana yang disebutkan oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan oleh murid beliau, Ibnu al-Qayyim dalam kitab Ighatsah al-Lahfan Itulah pendapat yang rajih menurut mereka, benar begitu?. Kalian mengetahui hal ini Akan tetapi jika kita dalami perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini menurut para ulama besar seperti asy-Syafi’i Maka menurut mereka perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini memiliki dua maksud Pertama, membersihkan air kencing yang tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan cara ini Yaitu dengan mengejan untuk mengeluarkan sisa air kencing Sehingga tidak tersisa lagi di dalamnya Dan ini adalah hal yang harus dilakukan, dan disepakati secara ijma’ Sehingga tidak mungkin dikatakan itu adalah perbuatan bid’ah Karena pembersihan najis yang diperintahkan syariat tidak mungkin tercapai kecuali dengan melakukan itu Kedua, perbuatan yang lebih dari hal itu, yaitu mengeluarkan sisa air kencing dengan bantuan tangan Para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- menyebutkan perbuatan mengeluarkan sisa air kencing secara mutlak. Namun kemudian para ulama kontemporer memaksudkannya dengan mengeluarkan sisa air kencing menggunakan tangan Padahal itu bukanlah yang dimaksud secara tepat, namun hanya sebagian dari maksudnya saja Sehingga pendapat yang rajih dalam perkara mengeluarkan sisa air kencing dengan mengejan untuk membersihkan sisa najis merupakan perkara yang diperintahkan bahkan wajib dilakukan Adapun membersihkan sisa kencing dengan bantuan tangan, maka inilah yang dimaksud pada pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Dan demikian pula dalam berbagai permasalahan lainnya, baik itu yang ada dalam madzhab Hanbali atau madzhab lainnya Oleh sebab itu, jika kamu ingin mendapat manfaat dari belajar fiqih Maka pelajarilah secara bertahap dan teratur melalui salah satu madzhab yang diakui Aku tidak berkata, “Berpeganglah selalu pada pendapat yang ada dalam madzhab”. Namun aku katakan, “Senantiasalah mempelajarinya dari madzhab”. Dan jika kamu memilih suatu pendapat, atau syeikhmu memilih suatu pendapat Atau hatimu lebih condong kepada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, Kemudian kamu mengikutinya; maka itu adalah urusanmu. Akan tetapi kamu tidak akan menguasai pembahasan-pembahasan ilmu fiqih kecuali dengan metode seperti ini Adapun orang yang belajar ilmu fiqih secara asal-asalan, maka itu tidak akan mendatangkan manfaat. Dan hanya menghasilkan orang-orang yang tidak menguasai ilmu fiqih dengan baik Dan aku pernah membaca makalah salah satu dari mereka yang ditulis beberapa lembar Di dalamnya terdapat potongan kutipan-kutipan dari pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dari kutipan-kutipan itu, orang tersebut menyimpulkan dibolehkannya lagu, Dan dibolehkannya mendengarkan lagu dari suara wanita, Serta perkara-perkara lainnya yang masih banyak lagi Hal ini karena dia tidak memahami hakikat perkataan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam perkara tersebut. Dan dia tidak memahami fiqih dengan sebenar-benarnya Mereka tidak memiliki gambaran yang benar dalam ilmu fiqih Kemudian mereka hendak memahami para ahli fiqih seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala- Dan dari sinilah masuk banyak masalah kepada kaum muslimin akhir-akhir ini Sehingga sekarang pendapat-pendapat yang dhaif (lemah) menjadi tuntunan agama Padahal para ahli fiqih bersepakat tentang haramnya memberi fatwa menggunakan pendapat yang dhaif Tidak boleh memberi fatwa dengan pendapat yang lemah. Mereka masih membolehkan fatwa dengan pendapat yang marjuh (di bawah tingkat rajih) Karena pendapat marjuh masih memiliki tingkat kekuatan, hanya saja masih ada yang lebih kuat Sedangkan pendapat dhaif adalah mendapat yang tidak benar, sehingga tidak boleh digunakan untuk berfatwa Kemudian sekarang orang yang tidak memahami fiqih bersandar pada pendapat-pendapat yang lemah ini. Dan menjadikannya sebagai tuntunan agama bagi orang banyak Oleh sebab itu, yang dulunya haram, sekarang menjadi halal Akibat orang yang berbicara dalam masalah fiqih tidak memiliki keahlian. Dan jika orang yang tidak memiliki keahlian telah berbicara dalam perkara agama maka dia akan mendatangkan berbagai musibah bagi umat. Dan kekurangan yang terjadi ini adalah karena lemahnya ghirah terhadap agama Allah Azza wa Jalla yang dimiliki oleh para menuntut ilmu dan para pengajarnya. Dan karena tidak teguh di atas jalan para salaf dalam menuntut ilmu .Dan janganlah sekali-kali kalian terlena oleh ketenaran; karena waktu akan terus berganti dan berubah Sedangkan agama Islam tidak akan berubah oleh waktu Dan betapa seringnya orang-orang digemparkan oleh suatu perkara, namun selang beberapa tahun kemudian perkara itu lenyap dan hilang. Dan yang tetap ada adalah yang bermanfaat bagi manusia. Dan cermatilah hal ini pada keadaan-keadaan yang terjadi belum lama ini Betapa banyak fitnah dan cobaan yang menimpa kaum muslimin. Kemudian fitnah itu menyeret beberapa orang yang dikenal sebagai orang yang memahami agama. Pada awalnya mereka memiliki kedudukan dan derajat Namun selang beberapa tahun yang penuh tipudaya itu, ternyata mereka menjadi seakan-akan tidak pernah ada Dan lihatlah masa kejayaan nasionalisme dan komunisme, dan orang yang menggaungkan islam sosialis Dan lihatlah Abu Dzar, pemimpin kaum sosialis yang memiliki banyak fatwa tentang sosialisme dan lainnya. Namun pada akhirnya mereka lenyap, disingkirkan oleh Allah Azza wa Jalla Dan yang tetap ada adalah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Maka kekhawatiran ini bukan terhadap agama, namun terhadap dirimu Khawatir kamu akan salah dalam memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu yang dapat melindungimu -biidznillah- adalah dengan mengetahui jalan yang benar dalam mempelajari agama, dan berpegang teguh kepada jalan para salaf dan berpegang pada wasiat mereka,. ‘Kalian harus berpegang pada perkara yang pertama dan ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti pendapat-pendapat orang, meskipun mereka menghiasinya dengan kalimat yang indah’ karena hiasan itu akan lenyap, sedangkan kebenaran akan tetap ada Hal yang batil hanya bertahan sekejap, sedangkan hal yang benar akan bertahan hingga akhir zaman. Dan jalan yang telah ditetapkan oleh para ulama ahli fiqih, ahli hadits, dan ahli tafsir Tidak akan dapat dilenyapkan oleh jalan-jalan kecil Tidak akan! Karena mau tidak mau, jalan itu akan tetap ada Dahulu banyak orang yang meremehkan kitab Zad al-Mustaqni’ Mereka mencelanya dan menghina orang yang belajar dan mengajarkannya serta menghafalnya. Namun selang beberapa tahun kemudian, orang-orang itu akhirnya menyadari Bahwa tidak ada jalan untuk mempelajari fiqih kecuali melalui kitab-kitab seperti ini Kitab-kitab yang mereka sebut sebagai kitab kuning, kitab klasik, atau kitab kuno Akan tetapi kitab-kitab itu akan tetap ada, karena agama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap ada Allah Ta’ala berfirman “Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya” [QS. Az-Zukhruf: 28]. Maka selama keturunan Nabi Ibrahim masih ada, maka kalimat tauhid dan agama Islam akan tetap ada Kalianpun telah hafal hadits-hadits tentang tha’ifah manshurah dan firqah najiyah. Dan yang saya maksud di sini adalah agar kamu berhati-hati Terhadap setiap kelompok yang disambut dan mendapat perhatian banyak orang Janganlah kamu mudah tertipu dengan kelompok tersebut. Bahkan jangan mudah tertipu oleh apa yang aku katakan kepadamu. Hingga kamu melihatnya, apakah sesuai dengan jalan para salaf atau tidak? Jika sesuai dengan jalan para salaf, maka berpegang teguhlah padanya. Namun jika itu hanya omong kosong dari orang shalih (yang tidak berilmu), maka lempar perkataan itu ke dinding Karena perkataan itu tidak akan mendatangkan manfaat bagimu Dan kamu akan meraih keselamatan dengan menempuh jalan para salaf. Ini lebih selamat bagimu dalam agamamu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala Karena jika kamu menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan hujjahmu adalah para ulama besar. Dari kalangan para sahabat, tabi’in Dan ulama-ulama besar seperti Imam Ahmad, asy-Syafi’i, Malik, al-Bukhari, ad-Darimi, Dan ulama setelah mereka seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, dan muridnya, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Muflih, dan Ibnu Rajab. Maka itu lebih baik bagimu; daripada jika kamu menghadap kepada Allah sedangkan hujjahmu adalah Si Fulan dan Si Fulan yang hidup di zaman ini Aku memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung agar memberi kita semua taufik menuju apa yang Dia ridhai Dengan ini selesai sudah jawaban tiga pertanyaan sekaligus Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ============================================================================== يَقُوْلُ هَذَا الْأَخُ يَقُوْلُ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ دِرَاسَةُ الْمَذْهَبِ أَمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ وَأَيْش الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ مَا هُوَ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ هَذِهِ يَا إِخْوَانُ مِنَ الْغَلَطِ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الْاِخْتِيَارُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ مُجْتَهِدٌ مُقَيَّدٌ أَوْ مُطْلَقٌ هَذَا الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الاِجْتِهَادُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ أَوْ مُطْلَقٍ فَهُوَ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ فِي مَسْأَلَةٍ أَوْ عِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْاِجْتِهَادِ كُلِّهِ فَهُوَ رَاجِحٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ فَأَنْتَ إِذَا أَرَدْتَ الْآنَ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ بِالرَّاجِحِ هَلِ الرَّاجِحُ تَقْصُدُ مَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ بَازٍ؟ أَوِ الرَّاجِحُ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بْنِ عُثَيْمِيْنَ أَوِ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ صَالِحِ الْفَوْزَانِ أَوْ غَيْرُهُمْ مِمَّنْ دَرَسَ الْفِقْهَ فِي قَطْرِنَا فِي هَذِهِ السَّنَوَاتِ الْأَخِيْرَةِ وَلَهُ فِي ذَلِكَ اخْتِيَارَاتٌ فَالرَّاجِحُ شَيْءٌ مُقَيَّدٌ بِالنِّسْبِةِ لِمُجْتَهِدٍ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ فَاجْتِهَادُ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ هَذَا شَيْءٌ وَالشَّيْءُ الْآخَرُ مَنْ ذَا الَّذِيْ عِنْدَهُ مُكْنَةٌ فِي الْاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ فَإِنَّ الاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ لَيْسَ هُوَ تَبْحَثُ الْمَسْأَلَةَ ثُمَّ تَقُوْلُ وَالرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فَإِنَّ الرَّاجِحَ عِنْدَ الْمُتَأّخِّرِيْنَ عَامَّتِهِمْ هُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَصَارَ هَذَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ النَّاسِ فَيَكُوْنُ هَذَا رَاجِحاً بِالنِّسْبَةِ لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ أَمَّا أَنْتَ أَيُّهَا النَّاقِلُ لِاخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَإِنَّكَ مُقَلِّدٌ وَلَسْتَ مُجْتَهِداً وَالدَّلِيْلُ أَنَّكَ إِذَا أَوْرَدْتَ عَلَيْهِ مَا يَقَعُ مِنَ الْإيْرَادَاتِ الَّتِي تُعْرَفُ فِي عِلْمِ الْخِلَافِ فِي إِبْطَالِ دَلِيْلِهِ أَوْ إِبْطَالِ وَجْهِ اسْتِدْلَالِهِ لَا تَجِدُ لَهُ مُكْنَةً فِي الْمُنَاقَشَةِ فِي ذَلِكَ فَهُوَ مُقَلَّدٌ لِاجْتِهَادِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ وَهَذَا هُوَ الْغَالِبُ فِي اجْتِهَادَاتِ الْمُتَأّخِّرِيْنِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِيْ تَدْرُسُهُ فِي كُلِّيَّةِ الشَّرِيْعَةِ كُلٌّ يَقُوْلُ الرَّاجِحُ الرَّاجِحُ فُلَانٌ قَالَ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا هُوَ فِي الْحَقِيْقَةِ مَآلُهُ إِلَى اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الُحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَحِيْنَئِذٍ أَيْنَ هَذَا الْفِقْهُ؟ إذاً لَا يُقَابِلُ هَذَا إِلَّا أَنْ تَدْرُسَ اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَاخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ لَا تَشْمَلُ الْفِقْةَ كُلَّهُ فَإِنَّهَا لَمْ تَحْفَظْ لَنَا وَهُوَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كُتُبِهِ الْمَوْجُوْدَةِ فِي أَيْدِيْنَا لَهُ قَوْلٌ فِي مَسْأَلَةٍ وَلَهُ قَوْلٌ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلٌ آخَرُ لِأَنَّ بَعْضَهَا قَدِيْمُ التَّصْنِيْفِ كَشَرْحِ الْعُمْدَةِ وَبَعْضَهَا مُتَأَخِّرٌ وَلِذَلِكَ يُعَوَّلُ عَلَى تَلَامِيْذِهِ وَلَا سِيَّمَا ابْنُ مُفْلِحٍ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِهِ فَاخْتِيَارُ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ فِي مَسْأَلَةٍ إِذَا وَجَدْتَ فِيْهِ اخْتِلَافاً مَرَدُّهُ إِلَى مَا قَرَّرَهُ تِلْمِيْذُهُ ابْنُ مُفْلِحٍ فِي كِتَابِ الْفُرُوْعِ أَوْ فِي كِتَابِ الْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَقَدْ كَانَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَرْجِعُ إِلَيْهِ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فِي مَسَائِلِ الْأَحْكَامِ وَالْفِقْهِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى جَمِيْعاً فَحِيْنَئِذٍ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ مُتَوَهِّمٌ لَا وُجُوْدَ لَهُ وَالْمَذَاهِبُ الْمَتْبُوْعَةُ مَوْجُوْدَةٌ مُسْتَقِرَّةٌ مُنْذُ مِئَاتِ السِّنِيْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْفِقْهَ فَلَا بُدَّ أَنْ يَقْرَأَهُ بِدِرَاسَةٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ وَدِرَاسَتِهِ عَلَى مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ الْمَقْصُوْدُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ مَسَائِلِهِ كَمَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ ابْنُ عَبْدِ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ فِي تِيْسِيْرِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ فِي بَابِ مَنْ أَطَاعَ الْعُلَمَاءَ وَالْأُمَرَاءَ فِي تَحْلِيْلِ مَا أَحَلَّ اللهُ وَتَحْرِيْمِ مَا حَرَّمَ اللهُ فَإِنَّهُ ذَكَرَ هَذَا الْمَعْنَى وَبَيَّنَ أَنَّ دِرَاسَةَ الْفِقْهِ فِي كُتُبِ الْفُرُوْعِ الْمُرَادُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ فَأَنْتَ تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً وَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى رَتَّبُوا الْفِقْهَ عَلَى التَّدْرِيْجِ فَأَلَّفُوا مُخْتَصَرَاتٍ وَجِيْزَةٍ ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا حَتَّى يَتَمَكَّنَ الْإِنْسَانُ مِنْ تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ سَوَاءٌ كَانَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَكُّ مَذْهَبٌ مِنْ هَذَا التَّدْرِيْجِ فَعِنْدَمَا تَأْخُذُهُ مُدَرَّجاً تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً ثُمَّ تَرْتَقِي بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى اسْتِيْفَاءِ مَسَائِلَ أَكْثَرُ مِنَ الْمَبَادِئِ ثُمَّ تَسْتَوْعِبُ الْفِقْهَ كُلَّهُ ثُمَّ تَعْرِفُ دَلِيْلَ الْمَذْهَبِ ثُمَّ تَعْرِفُ أَقْوَالَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ ثُمَّ إِنْ كَانَ لِشَيْخِكَ الْمُفَقِّهِ لَكَ نَظَرٌ فِي الْفِقْهِ فَحِيْنَئِذٍ أَنْتَ تَقْرَأُ عَلَى مُرَجِّحٍ وَأَمَّا أَنْ يَأْتِي فَيَقُوْلُ لَكَ الرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فَهَذَا مُقَلِّدٌ وَلَيْسَ لَهُ اجْتِهَادٌ لِأَنَّ اْلاِجْتِهَادَ يَقْتَضِي أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَهُ عِلًمٌ بِالْأَدِلَّةِ الَّتِي عُلِّقَ بِهَا هَذَا الْاِخْتِيَارُ وَقُدْرَةُ عَلَى الْإِجَابَةِ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ إِذَا قُلْتُ لَكُمْ مَثَلاً يُذْكَرُ عِنْدَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ عِنْدَ قَوْلِ الْحَنَابِلَةِ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ نَثْرُ ذَكَرِهِ ثَلَاثاً قَالُوْا وَهُوَ بِدْعَةٌ كَمَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ وَتِلْمِيْذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي إِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ هَذَا الرَّاجِحٌ صَحّ؟ تَعْرِفُوْنَ هَذَا أَنْتُمْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا لَكِنْ إِذَا جِئْنَا إِلَى النَّثْرِ وَنَجِدُ أَئِمَّةَ كِبَارٍ كَالشَّافِعِيِّ يَذْكُرُهُ وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّ النَّثْرَ حَاصِلُ كَلَامِهِمْ النَّثْرُ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا مَا لَا يُمْكِنُ الْاِسْتِبْرَاءُ إِلَّا بِهِ وَهُوَ أَنْ يُحَرِّكَ ذَكَرَهُ بِدَفْعِ الْبَوْلِ فِيْهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهُ الْبَوْلُ وَلَا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ فِي ذَكَرِهِ وَهَذَا قَدْرٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ إِجْمَاعَا وَلَا يُمْكِنُ الْقَوْلُ بِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لِأَنَّ الْاِسْتِبْرَاءَ الْمَأْمُوْرَ بِهِ شَرْعاً لَا يَقَعُ إِلَّا بِهِ وَالثَّانِيْ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ ذَلِكَ وَهُوَ اسْتِعْمَالُ آلَةِ يَدٍ فِيْهِ فَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى ذَكَرُوا النَّثْرَ مُطْلَقاً ثُمَّ خَصَّصَهُ الْمُتَأَخِّرُوْنَ بِإِرَادَةِ النَّثْرِ بِالْيَدِ وَهَذَا لَيْسَ كُلَّ مَعْنَاهُ بَلْ هُوَ بَعْضُ مَعْنَاهُ وَحِيْنَئِذٍ فَالرَّاجِحُ أَنَّ النَّثْرَ الَّذِيْ يَرْجِعُ إِلَى أَصْلِ اسْتِبْرَاءِ مَأْمُوْرٌ بِهِ بَلْ هُوَ وَاجِبٌ وَأَمَّا النَّثْرُ الَّذِيْ يَكُوْنُ بِاسْتِعْمَالِ آلَةِ الْيَدِ فَهُوَ الَّذِيْ يَأْتِيْ عَلَيْهِ كَلَامُ أَبِيْ الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِسْ عَلَى هَذَا فِي مَسَائِلِ عِدَّةٍ سَوَاءً عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ غَيْرِهِمْ وَلِذَلِكَ إَذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَفِيْدَ فِيْ قِرَاءَةِ الْفِقْهِ فَالْزَمْ قِرَاءَتَهُ عَلَى تَدْرِيْجٍ مُرَتَّبٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمُعْتَمَدَةِ وَلَا أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قَوْلَ الْمَذْهَبِ بَلْ أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قِرَاءَتَهُ كَذَلِكَ فَإِنْ كَانَ لَكَ اخْتِيَارٌ أَوْ شَيْخُكَ لَهُ اخْتِيَارٌ أَوْ تَرَى أَنَّ قَلْبَكَ يَمِيْلُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ فَتُقَلِّدَهُ بِذَلِكَ فَهَذَا شَأْنُكَ لَكِنْ تَصَوُّرُكَ لِلْمَسَائِلَ لَا يَمْكِنُ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ وَأَمَّا طَلَبُ الْفِقْهِ عَلَى وَجْهِ الْفَوْضَى فَهَذَا لَا يَنْفَعُ وَيُخْرِجُ لَنَا أُنَاساً لَا يَتَصَوَّرُوْنَ الْفِقْهَ كَمَا يَنْبَغِيْ وَقَدْ رَأّيْتُ لِأَحَدِهِمْ مَقَالَةً فِي عِدَّةِ وَرَقَاتٍ مُذَكِّرَةً اجْتَزَأَ فِيْهَا كَلَاماً لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ خَرَجَ بِهِ هَذَا الرَّجُلَ فِي إِبَاحَةِ الْغِنَاءِ وَجَوَازِ سَمَاعِهِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِلَى آخِرِ قَائِمَةٍ طَوِيْلَةٍ لِأَنَّهُ لَا يَفْهَمُ حَقِيْقَةَ كَلَامِ أَبِي الْعَبَّاسِ لِابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فِيْهَا وَلَمْ يَفْهَمِ الْفِقْهَ حَقِيْقَةً فَهَؤُلَاءِ يَأْتُوْنَ وَلَيْسَ لَهُمْ تَصَوُّرٌ فِي الْفِقْهِ ثُمَّ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَفْهَمُوا كَلَامَ الْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِيْنَ كَأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَمِنْ هُنَا دَخَلَ الْخَلَلُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بِأَخَرَةِ فَصَارَتِ الْأَقْوَالُ الضَّعِيْفَةُ فِي الْمَذَاهِبِ دِيْنًا وَالْفُقَهَاءُ مُجْمِعُوْنَ عَلَى حُرْمَةِ الْإِفْتَاءِ بِالضَّعِيْفِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِالضَّعِيْفِ وَإِنَّمَا ذَكَرُوْا الْإِفْتَاءِ بِالْمَرْجُوْحِ وَالْمَرْجُوْحُ لَهُ وَجْهُ قُوَّةٍ لَكِنَّهُ مَرْجُوْحٌ أَمَّا الضَّعِيْفُ وَهُوَ مَا كَانَ مُتَوَهَّماً لَا حَقِيْقَةَ لَهُ فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِهِ وَالْيَوْمَ يَأْتِيْ مَنْ لَا يَفْهَمُ فِي صِنْعَةِ الْفِقْهِ فَيَأْخُذُ هَذِهِ الْأَقْوَالَ الضَّعِيْفَةَ وَيَجْعَلُهَا دِيْناً يَتَدَيَّنُ النَّاسُ بِهِ وَلِذَلِكَ صَارَ مَا كَانَ حَرَاماً بِالْأَمْسِ حَلَالَا بِالْيَوْمِ لِأَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي الْفِقْهِ مَنْ لَيْسَ بِأَهْلِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ فِي الدِّيْنَ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ جَاءَ بِمِثْلِ هَذِهِ الطَّامَّاتِ وَالْبَوَاقِعِ الَّتِي عَمَّتِ الْأُمَّةَ وَإِنَّمَا حَصَلَ النَّقْصُ بِقِلَّةِ الْغِيْرَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمِيْنَ وَعَدَمُ لُزُوْمِ جَادَّةِ مَنْ سَبَقَ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ وَلَا تَغُرَّكُمُ الطُّبُوْلِيَّاتُ وَالشُّهْرَةُ فَإِنَّ الْأَيَّامَ صِرَامٌ وَالْإِسْلَامُ لَا تُغَيِّرُهُ الْأَيَّامُ وَكَمْ مِنْ وَقْتٍ أَزْبَدَ النَّاسُ فِيْهِ وَأَرْعَدُوا لِأَمْرٍ ضَجُّوا فِيْهِ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ حَتَّى يَكُوْنَ زَبَداً يَذْهَبُ وَيَبْقَى مَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَاعْتَبِرْ هَذَا فِي أَحْوَالٍ قَرِيْبَةٍ فَكَمْ مِنْ بَاقِعَةٍ وَفِتْنَةِ أَلَمَّتْ بِالْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ جَرَفَتْ مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّيْنِ وَالشَّرِيْعَةِ قَوْماً كَانَ لَهُمْ فِيْهَا شَارَةٌ وَرِئَاسَةٌ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ وَإِذَا بِهِمْ كَأَنْ لَمْ يَكُوْنُوْا وَانْظُرْ إِلَى فَتْرَةِ الْقَوْمِيَّةِ أَوْ فَتْرَةِ الشُّيُوْعِيَّةِ وَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهَا مِمَّنْ أًلَّفَ الْإِسْلَامَ الْاِشْتِرَاكِيَّ وَأَبُو ذَرٍّ إِمَامُ الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَلَهُ فَتَاوَى فِي الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ثُمَّ إِذَا بِهِمْ زَبَدٌ جُفَاءٌ قَدْ أَزَالَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَبَقِيَ دِيْنُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَلَيْسَ الْخَوْفُ عَلَى الدِّيْنِ وَلَكِنِ الْخَوْفُ عَلَيْكَ أَنْتَ أَنْ تَغْلَطَ فِي فَهْمِ دِيْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِمَّا يَعْصِمُكَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَعْرِفَ طَرِيْقَ أَخْذِ دِيْنِكَ وَأَنْ تَتَمَسَّكَ بِجَادَةِ مَنْ سَبَقَ وَأَنْ تَلْزَمَ وَصِيَّتَهُمْ عَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ وَالْاِتِّبَاعِ وَإِيَّاكُمْ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهَا لَكُمْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّ الزُّخْرُفَ يَزُوْلُ وَالْحَقُّ يَبْقَى وَدَوْلَةُ البَّاطِلِ سَاعَةٌ وَدَوْلَةُ الْحَقِّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ وَمَا قَرَّرَهُ الْأَئِمَّةَ الْعُظَمَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُزِيْلَهُ بُنِيَّاتُ الطَّرِيْقِ أَبَداً فَهُوَ بَاقٍ بَاقٍ شَاءَ مَنْ شَاءَ وَأَبَى مَنْ أَبَى وَقَدْ كَانَ فِيْمَا مَضَى قَوْمٌ يَأْنَفُوْنَ مِنْ زَادِ الْمُسْتَقْنِعِ وَيَسْخَرُوْنَ بِهِ وَيَسْتَهْزِئُوْنَ بِمَنْ يَقْرَأُهُ وَيُقْرِئُهُ وَيَحْفَظَهُ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ وَإِذَا بِبَعْضِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ يَرْجِعُوْنَ إِلَى عُقُوْلِهِمْ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ لَا سَبِيْلَ يَتَفَقَّهُ إِلَّا بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ الَّتِيْ يَنْعَتُوْنَهَا بِالصَّفْرَاءِ أَوِ بِالتَّقْلِيْدِيَّةِ أَوْ بِالرَّتْكَارِيَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ أَوِ الرَّجْعِيَّةِ وَهِيَ سَتَبْقَى سَتَبْقَى لِأَنَّ دِيْنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَاقٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ فَمَا بَقِيَ عَقِبُ إِبْرَاهِيْمَ فَإِنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ وَدِيْنَ الْإِسْلَامِ بَاقٍ وَأَنْتُمْ تَحْفَظُوْنَ أَحَادِيْثَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ وَالْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ وَالْمَقْصُوْدُ أَنْ تَحْذَرَ مِنْ كُلِّ هَيْئَةٍ يَخْرُجُ إِلَيْهَا النَّاسُ وَتَمْتَدُّ إِلَيْهَا أَعْنَاقُهُمْ فَلَا تَغْتَرَّ بِهَا حَتَّى مَا أَقُوْلُ لَكَ أَنَا لَا تّغْتَرَّ بِهِ اُنْظُرْ هَلْ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ أَوْ لَا؟ إِذَا كَانَ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ تَمَسَّكْ بِهِ وَإِذَا كَانَ مِنْ فَلَتَاتِ كَلَامِ صَالِحٍ أَلْقِهِ وَرَاءَ الْجِدَارِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُكَ وَالسَّلَامَةُ أَنْ تَكُوْنَ عَلَى طَرِيْقَةِ مَنْ سَبَقَ فَهَذَا أَسْلَمُ لَكَ فِي دِيْنِكَ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحُجَّتُكَ فِي دِيْنِكَ الْأَئِمَّةُ الْعُظَمَاءُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَأَئِمَّةِ الْهُدَى كَأَحْمَدَ وَالشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَالْبُخَارِيِّ وَالدَّارِمِيِّ وَمَنْ بَعْدَهُمْ كَأَبُو العَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ وَتِلْمِيْذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَابْنِ مُفْلِحٍ وَابْنِ رَجَبٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حُجَّتُكَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَصْرِ أَسْأَلُ اللهَ الْعَلِيَّ الْعَظِيْمَ أَنْ يُوَفِّقَ جَمِيْعاً إِلَى مَا رَضِيَهُ بِهِذِهِ يَنْتَهِي الْإِجَابَةُ عَنْ نَفْسِهِ الثَّلَاثَةِ وَفَّقَ اللهُ الْجَمِيْعَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  

Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih?

Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih? Saudara kita ini bertanya -semoga Allah memberimu kebaikan-: Mana yang lebih baik, mempelajari fiqih dari madzhab atau dari pendapat yang rajih (lebih kuat)? Apa itu pendapat yang rajih? Apa itu pendapat yang rajih?. Wahai para saudaraku, ini merupakan cara yang tidak benar dalam menuntut ilmu. Pendapat rajih adalah pendapat yang dipilih oleh seorang mujtahid mutlaq atau muqayyad, inilah pendapat rajih. Pendapat rajih adalah ijtihad yang dihasilkan oleh seorang mujtahid muqayyad atau mutlaq. Yaitu pendapat mujtahid yang ijtihadnya masih terikat dalam suatu permasalahan atau mujtahid yang telah memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam setiap permasalahan, itulah pendapat yang lebih kuat menurut mujtahid tersebut maka jika kamu hendak belajar fiqih dari pendapat yang rajih Apakah yang dimaksud itu rajih menurut as-Syeikh Abdul Aziz bin Baz? Atau rajih menurut as-Syeikh Muhammad bin ‘Utsaimin? Atau rajih menurut as-Syeikh Shalih al-Fauzan? Atau ulama lainnya yang mengajarkan fiqih di negeri kita pada tahun-tahun terakhir ini yang telah memiliki pilihan pendapat dalam berbagai masalah? Maka pendapat rajih adalah hal yang terikat dengan siapa yang berijtihad. Dan kamu tidak mungkin dapat mempelajari ilmu fiqih dengan metode seperti itu. Karena ijtihad seseorang berbeda dengan ijtihad orang lain Ini adalah satu hal yang harus diperhatikan. Dan hal lainnya, siapa yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam perkara fiqih?. Karena ijtihad dalam perkara fiqih bukan sekedar kamu mendalami suatu masalah. Kemudian kamu dapat mengatakan pendapat ini rajih (lebih kuat) yang merupakan pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama kontemporer adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Sehingga itulah yang menjadi pendapat yang rajih menurut orang banyak itu adalah pendapat yang menurut Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah sebagai pendapat yang lebih kuat. Sedangkan hai orang yang menganut pilihan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah; kamu hanyalah muqallid (pengikut suatu pendapat) dan kamu bukan seorang mujtahid Buktinya, jika kamu bertanya kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantah dalil dari pendapat tersebut. Maka kamu akan mendapatinya tidak memiliki kemampuan untuk menjawab bantahan tersebut. Karena dia hanya mengikuti ijtihad dari Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan inilah mayoritas ijtihad ulama-ulama kontemporer. Sehingga pendapat rajih yang kamu pelajari di kuliah syariah semuanya mengatakan ini pendapat rajih; Si Fulan berpendapat seperti ini, dan yang rajih adalah ini dan ini Padahal sesungguhnya semua itu merujuk pada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Kalau begitu, yang mana ilmu fiqih itu? Jika demikian, maka kalian tidak dapat mempelajari fiqih kecuali dengan mempelajari pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Sedangkan pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah tidak mencakup seluruh ilmu fiqih, karena tidak sampai kepada kita semuanya Dan dalam kitab-kitab beliau -rahimahullah Ta’ala- yang sampai kepada kita, terkadang memiliki lebih dari satu pendapat dalam suatu permasalahan. Karena sebagian kitab-kitab itu telah ditulis sejak lama, seperti kitab Syarh al-‘Umdah; dan sebagian lainnya ditulis lebih akhir Sehingga untuk mengetahui pendapat yang beliau pilih, harus bersandar pada para muridnya, terutama Ibnu Muflih. Dan jika kamu mendapati perbedaan pada pendapat yang ditetapkan sebagai pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah dalam suatu permasalahan. Maka rujukannya adalah pada pendapat yang ditetapkan muridnya, Ibnu Muflih dalam kitab al-Furu’ Atau kitab al-Adab asy-Syar’iyyah Dan Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- juga merujuk kepada Ibnu Muflih dalam mengetahui pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dalam berbagai permasalahan hukum dan fiqih -rahimahumullah-. Maka dari itu, pendapat yang rajih hanyalah anggapan semata dan hakikatnya tidak ada Sedangkan madzhab-madzhab yang disepakati, telah ada sejak ratusan tahun yang lalu Maka jika ada yang hendak mempelajari ilmu fiqih, maka dia harus mempelajarinya dari salah satu madzhab yang boleh diikuti. Dan tujuan dari mempelajarinya dari salah satu madzhab adalah untuk membantunya mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya sebagaimana yang disebutkan as-Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam kitab Taisir al-Aziz al-Hamid dalam bab orang yang mentaati ulama dan umara dalam menghalalkan yang Allah halalkan dan mengharamkan yang Allah haramkan beliau menjelaskan bahwa mempelajari fiqih dari kitab-kitab fiqih bertujuan untuk memberi gambaran terhadap berbagai permasalahan yang dibahas di dalamnya. Dengan begitu kamu dapat memiliki gambaran berbagai pembahasannya sedikit demi sedikit. Dan para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- telah Menyusun ilmu fiqih secara bertahap. Pertama mereka menulis rangkuman singkat, kemudian yang lebih luas lagi Kemudian lebih luas lagi dan lebih luas lagi Sehingga seseorang dapat memiliki gambaran terhadap berbagai macam pembahasannya Baik itu dalam madzhab Hanbali, Syafi’i, Malliki, atau Hanafi Setiap madzhab memiliki kitab-kitab yang bertahap Sehingga ketika kamu mempelajarinya secara bertahap, maka kamu dapat memiliki gambaran pembahasannya sedikit demi sedikit Kemudian kamu dapat naik ke tingkat yang lebih luas pembahasannya. Kemudian kamu dapat mencakup seluruh pembahasan ilmu fiqih Kemudian kamu dapat mengetahui dalil dalam suatu madzhab Dan kemudian kamu dapat mengetahui pendapat-pendapat dalam empat madzhab Dan jika syeikh yang mengajarkanmu fiqih memiliki pendapat dalam suatu permasalahan maka sesungguhnya kamu sedang belajar kepada seorang murajjih. Adapun jika ia mengatakan, ‘Pendapat yang lebih kuat adalah ini’, sedangkan itu adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah maka syeikh itu adalah seorang muqallid, dan bukan syeikh yang mampu berijtihad Karena ijtihad mengharuskan seseorang untuk memiliki ilmu tentang dalil-dalil yang berhubungan dengan pendapat yang dia pilih Dan kemampuan untuk menjawab tentang dalil-dalil itu. Oleh sebab itu, aku dapat menyebutkan salah satu contoh kepada kalian Para ulama kontemporer berkata tentang pendapat yang ada dalam madzhab Hanbali: “Dan mengeluarkan sisa air kencing sebanyak tiga kali adalah perbuatan yang mustahab (dianjurkan)” Para ulama kontemporer itu mengatakan itu adalah bid’ah sebagaimana yang disebutkan oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan oleh murid beliau, Ibnu al-Qayyim dalam kitab Ighatsah al-Lahfan Itulah pendapat yang rajih menurut mereka, benar begitu?. Kalian mengetahui hal ini Akan tetapi jika kita dalami perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini menurut para ulama besar seperti asy-Syafi’i Maka menurut mereka perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini memiliki dua maksud Pertama, membersihkan air kencing yang tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan cara ini Yaitu dengan mengejan untuk mengeluarkan sisa air kencing Sehingga tidak tersisa lagi di dalamnya Dan ini adalah hal yang harus dilakukan, dan disepakati secara ijma’ Sehingga tidak mungkin dikatakan itu adalah perbuatan bid’ah Karena pembersihan najis yang diperintahkan syariat tidak mungkin tercapai kecuali dengan melakukan itu Kedua, perbuatan yang lebih dari hal itu, yaitu mengeluarkan sisa air kencing dengan bantuan tangan Para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- menyebutkan perbuatan mengeluarkan sisa air kencing secara mutlak. Namun kemudian para ulama kontemporer memaksudkannya dengan mengeluarkan sisa air kencing menggunakan tangan Padahal itu bukanlah yang dimaksud secara tepat, namun hanya sebagian dari maksudnya saja Sehingga pendapat yang rajih dalam perkara mengeluarkan sisa air kencing dengan mengejan untuk membersihkan sisa najis merupakan perkara yang diperintahkan bahkan wajib dilakukan Adapun membersihkan sisa kencing dengan bantuan tangan, maka inilah yang dimaksud pada pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Dan demikian pula dalam berbagai permasalahan lainnya, baik itu yang ada dalam madzhab Hanbali atau madzhab lainnya Oleh sebab itu, jika kamu ingin mendapat manfaat dari belajar fiqih Maka pelajarilah secara bertahap dan teratur melalui salah satu madzhab yang diakui Aku tidak berkata, “Berpeganglah selalu pada pendapat yang ada dalam madzhab”. Namun aku katakan, “Senantiasalah mempelajarinya dari madzhab”. Dan jika kamu memilih suatu pendapat, atau syeikhmu memilih suatu pendapat Atau hatimu lebih condong kepada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, Kemudian kamu mengikutinya; maka itu adalah urusanmu. Akan tetapi kamu tidak akan menguasai pembahasan-pembahasan ilmu fiqih kecuali dengan metode seperti ini Adapun orang yang belajar ilmu fiqih secara asal-asalan, maka itu tidak akan mendatangkan manfaat. Dan hanya menghasilkan orang-orang yang tidak menguasai ilmu fiqih dengan baik Dan aku pernah membaca makalah salah satu dari mereka yang ditulis beberapa lembar Di dalamnya terdapat potongan kutipan-kutipan dari pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dari kutipan-kutipan itu, orang tersebut menyimpulkan dibolehkannya lagu, Dan dibolehkannya mendengarkan lagu dari suara wanita, Serta perkara-perkara lainnya yang masih banyak lagi Hal ini karena dia tidak memahami hakikat perkataan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam perkara tersebut. Dan dia tidak memahami fiqih dengan sebenar-benarnya Mereka tidak memiliki gambaran yang benar dalam ilmu fiqih Kemudian mereka hendak memahami para ahli fiqih seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala- Dan dari sinilah masuk banyak masalah kepada kaum muslimin akhir-akhir ini Sehingga sekarang pendapat-pendapat yang dhaif (lemah) menjadi tuntunan agama Padahal para ahli fiqih bersepakat tentang haramnya memberi fatwa menggunakan pendapat yang dhaif Tidak boleh memberi fatwa dengan pendapat yang lemah. Mereka masih membolehkan fatwa dengan pendapat yang marjuh (di bawah tingkat rajih) Karena pendapat marjuh masih memiliki tingkat kekuatan, hanya saja masih ada yang lebih kuat Sedangkan pendapat dhaif adalah mendapat yang tidak benar, sehingga tidak boleh digunakan untuk berfatwa Kemudian sekarang orang yang tidak memahami fiqih bersandar pada pendapat-pendapat yang lemah ini. Dan menjadikannya sebagai tuntunan agama bagi orang banyak Oleh sebab itu, yang dulunya haram, sekarang menjadi halal Akibat orang yang berbicara dalam masalah fiqih tidak memiliki keahlian. Dan jika orang yang tidak memiliki keahlian telah berbicara dalam perkara agama maka dia akan mendatangkan berbagai musibah bagi umat. Dan kekurangan yang terjadi ini adalah karena lemahnya ghirah terhadap agama Allah Azza wa Jalla yang dimiliki oleh para menuntut ilmu dan para pengajarnya. Dan karena tidak teguh di atas jalan para salaf dalam menuntut ilmu .Dan janganlah sekali-kali kalian terlena oleh ketenaran; karena waktu akan terus berganti dan berubah Sedangkan agama Islam tidak akan berubah oleh waktu Dan betapa seringnya orang-orang digemparkan oleh suatu perkara, namun selang beberapa tahun kemudian perkara itu lenyap dan hilang. Dan yang tetap ada adalah yang bermanfaat bagi manusia. Dan cermatilah hal ini pada keadaan-keadaan yang terjadi belum lama ini Betapa banyak fitnah dan cobaan yang menimpa kaum muslimin. Kemudian fitnah itu menyeret beberapa orang yang dikenal sebagai orang yang memahami agama. Pada awalnya mereka memiliki kedudukan dan derajat Namun selang beberapa tahun yang penuh tipudaya itu, ternyata mereka menjadi seakan-akan tidak pernah ada Dan lihatlah masa kejayaan nasionalisme dan komunisme, dan orang yang menggaungkan islam sosialis Dan lihatlah Abu Dzar, pemimpin kaum sosialis yang memiliki banyak fatwa tentang sosialisme dan lainnya. Namun pada akhirnya mereka lenyap, disingkirkan oleh Allah Azza wa Jalla Dan yang tetap ada adalah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Maka kekhawatiran ini bukan terhadap agama, namun terhadap dirimu Khawatir kamu akan salah dalam memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu yang dapat melindungimu -biidznillah- adalah dengan mengetahui jalan yang benar dalam mempelajari agama, dan berpegang teguh kepada jalan para salaf dan berpegang pada wasiat mereka,. ‘Kalian harus berpegang pada perkara yang pertama dan ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti pendapat-pendapat orang, meskipun mereka menghiasinya dengan kalimat yang indah’ karena hiasan itu akan lenyap, sedangkan kebenaran akan tetap ada Hal yang batil hanya bertahan sekejap, sedangkan hal yang benar akan bertahan hingga akhir zaman. Dan jalan yang telah ditetapkan oleh para ulama ahli fiqih, ahli hadits, dan ahli tafsir Tidak akan dapat dilenyapkan oleh jalan-jalan kecil Tidak akan! Karena mau tidak mau, jalan itu akan tetap ada Dahulu banyak orang yang meremehkan kitab Zad al-Mustaqni’ Mereka mencelanya dan menghina orang yang belajar dan mengajarkannya serta menghafalnya. Namun selang beberapa tahun kemudian, orang-orang itu akhirnya menyadari Bahwa tidak ada jalan untuk mempelajari fiqih kecuali melalui kitab-kitab seperti ini Kitab-kitab yang mereka sebut sebagai kitab kuning, kitab klasik, atau kitab kuno Akan tetapi kitab-kitab itu akan tetap ada, karena agama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap ada Allah Ta’ala berfirman “Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya” [QS. Az-Zukhruf: 28]. Maka selama keturunan Nabi Ibrahim masih ada, maka kalimat tauhid dan agama Islam akan tetap ada Kalianpun telah hafal hadits-hadits tentang tha’ifah manshurah dan firqah najiyah. Dan yang saya maksud di sini adalah agar kamu berhati-hati Terhadap setiap kelompok yang disambut dan mendapat perhatian banyak orang Janganlah kamu mudah tertipu dengan kelompok tersebut. Bahkan jangan mudah tertipu oleh apa yang aku katakan kepadamu. Hingga kamu melihatnya, apakah sesuai dengan jalan para salaf atau tidak? Jika sesuai dengan jalan para salaf, maka berpegang teguhlah padanya. Namun jika itu hanya omong kosong dari orang shalih (yang tidak berilmu), maka lempar perkataan itu ke dinding Karena perkataan itu tidak akan mendatangkan manfaat bagimu Dan kamu akan meraih keselamatan dengan menempuh jalan para salaf. Ini lebih selamat bagimu dalam agamamu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala Karena jika kamu menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan hujjahmu adalah para ulama besar. Dari kalangan para sahabat, tabi’in Dan ulama-ulama besar seperti Imam Ahmad, asy-Syafi’i, Malik, al-Bukhari, ad-Darimi, Dan ulama setelah mereka seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, dan muridnya, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Muflih, dan Ibnu Rajab. Maka itu lebih baik bagimu; daripada jika kamu menghadap kepada Allah sedangkan hujjahmu adalah Si Fulan dan Si Fulan yang hidup di zaman ini Aku memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung agar memberi kita semua taufik menuju apa yang Dia ridhai Dengan ini selesai sudah jawaban tiga pertanyaan sekaligus Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ============================================================================== يَقُوْلُ هَذَا الْأَخُ يَقُوْلُ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ دِرَاسَةُ الْمَذْهَبِ أَمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ وَأَيْش الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ مَا هُوَ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ هَذِهِ يَا إِخْوَانُ مِنَ الْغَلَطِ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الْاِخْتِيَارُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ مُجْتَهِدٌ مُقَيَّدٌ أَوْ مُطْلَقٌ هَذَا الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الاِجْتِهَادُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ أَوْ مُطْلَقٍ فَهُوَ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ فِي مَسْأَلَةٍ أَوْ عِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْاِجْتِهَادِ كُلِّهِ فَهُوَ رَاجِحٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ فَأَنْتَ إِذَا أَرَدْتَ الْآنَ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ بِالرَّاجِحِ هَلِ الرَّاجِحُ تَقْصُدُ مَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ بَازٍ؟ أَوِ الرَّاجِحُ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بْنِ عُثَيْمِيْنَ أَوِ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ صَالِحِ الْفَوْزَانِ أَوْ غَيْرُهُمْ مِمَّنْ دَرَسَ الْفِقْهَ فِي قَطْرِنَا فِي هَذِهِ السَّنَوَاتِ الْأَخِيْرَةِ وَلَهُ فِي ذَلِكَ اخْتِيَارَاتٌ فَالرَّاجِحُ شَيْءٌ مُقَيَّدٌ بِالنِّسْبِةِ لِمُجْتَهِدٍ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ فَاجْتِهَادُ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ هَذَا شَيْءٌ وَالشَّيْءُ الْآخَرُ مَنْ ذَا الَّذِيْ عِنْدَهُ مُكْنَةٌ فِي الْاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ فَإِنَّ الاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ لَيْسَ هُوَ تَبْحَثُ الْمَسْأَلَةَ ثُمَّ تَقُوْلُ وَالرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فَإِنَّ الرَّاجِحَ عِنْدَ الْمُتَأّخِّرِيْنَ عَامَّتِهِمْ هُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَصَارَ هَذَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ النَّاسِ فَيَكُوْنُ هَذَا رَاجِحاً بِالنِّسْبَةِ لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ أَمَّا أَنْتَ أَيُّهَا النَّاقِلُ لِاخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَإِنَّكَ مُقَلِّدٌ وَلَسْتَ مُجْتَهِداً وَالدَّلِيْلُ أَنَّكَ إِذَا أَوْرَدْتَ عَلَيْهِ مَا يَقَعُ مِنَ الْإيْرَادَاتِ الَّتِي تُعْرَفُ فِي عِلْمِ الْخِلَافِ فِي إِبْطَالِ دَلِيْلِهِ أَوْ إِبْطَالِ وَجْهِ اسْتِدْلَالِهِ لَا تَجِدُ لَهُ مُكْنَةً فِي الْمُنَاقَشَةِ فِي ذَلِكَ فَهُوَ مُقَلَّدٌ لِاجْتِهَادِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ وَهَذَا هُوَ الْغَالِبُ فِي اجْتِهَادَاتِ الْمُتَأّخِّرِيْنِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِيْ تَدْرُسُهُ فِي كُلِّيَّةِ الشَّرِيْعَةِ كُلٌّ يَقُوْلُ الرَّاجِحُ الرَّاجِحُ فُلَانٌ قَالَ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا هُوَ فِي الْحَقِيْقَةِ مَآلُهُ إِلَى اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الُحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَحِيْنَئِذٍ أَيْنَ هَذَا الْفِقْهُ؟ إذاً لَا يُقَابِلُ هَذَا إِلَّا أَنْ تَدْرُسَ اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَاخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ لَا تَشْمَلُ الْفِقْةَ كُلَّهُ فَإِنَّهَا لَمْ تَحْفَظْ لَنَا وَهُوَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كُتُبِهِ الْمَوْجُوْدَةِ فِي أَيْدِيْنَا لَهُ قَوْلٌ فِي مَسْأَلَةٍ وَلَهُ قَوْلٌ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلٌ آخَرُ لِأَنَّ بَعْضَهَا قَدِيْمُ التَّصْنِيْفِ كَشَرْحِ الْعُمْدَةِ وَبَعْضَهَا مُتَأَخِّرٌ وَلِذَلِكَ يُعَوَّلُ عَلَى تَلَامِيْذِهِ وَلَا سِيَّمَا ابْنُ مُفْلِحٍ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِهِ فَاخْتِيَارُ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ فِي مَسْأَلَةٍ إِذَا وَجَدْتَ فِيْهِ اخْتِلَافاً مَرَدُّهُ إِلَى مَا قَرَّرَهُ تِلْمِيْذُهُ ابْنُ مُفْلِحٍ فِي كِتَابِ الْفُرُوْعِ أَوْ فِي كِتَابِ الْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَقَدْ كَانَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَرْجِعُ إِلَيْهِ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فِي مَسَائِلِ الْأَحْكَامِ وَالْفِقْهِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى جَمِيْعاً فَحِيْنَئِذٍ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ مُتَوَهِّمٌ لَا وُجُوْدَ لَهُ وَالْمَذَاهِبُ الْمَتْبُوْعَةُ مَوْجُوْدَةٌ مُسْتَقِرَّةٌ مُنْذُ مِئَاتِ السِّنِيْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْفِقْهَ فَلَا بُدَّ أَنْ يَقْرَأَهُ بِدِرَاسَةٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ وَدِرَاسَتِهِ عَلَى مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ الْمَقْصُوْدُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ مَسَائِلِهِ كَمَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ ابْنُ عَبْدِ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ فِي تِيْسِيْرِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ فِي بَابِ مَنْ أَطَاعَ الْعُلَمَاءَ وَالْأُمَرَاءَ فِي تَحْلِيْلِ مَا أَحَلَّ اللهُ وَتَحْرِيْمِ مَا حَرَّمَ اللهُ فَإِنَّهُ ذَكَرَ هَذَا الْمَعْنَى وَبَيَّنَ أَنَّ دِرَاسَةَ الْفِقْهِ فِي كُتُبِ الْفُرُوْعِ الْمُرَادُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ فَأَنْتَ تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً وَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى رَتَّبُوا الْفِقْهَ عَلَى التَّدْرِيْجِ فَأَلَّفُوا مُخْتَصَرَاتٍ وَجِيْزَةٍ ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا حَتَّى يَتَمَكَّنَ الْإِنْسَانُ مِنْ تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ سَوَاءٌ كَانَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَكُّ مَذْهَبٌ مِنْ هَذَا التَّدْرِيْجِ فَعِنْدَمَا تَأْخُذُهُ مُدَرَّجاً تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً ثُمَّ تَرْتَقِي بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى اسْتِيْفَاءِ مَسَائِلَ أَكْثَرُ مِنَ الْمَبَادِئِ ثُمَّ تَسْتَوْعِبُ الْفِقْهَ كُلَّهُ ثُمَّ تَعْرِفُ دَلِيْلَ الْمَذْهَبِ ثُمَّ تَعْرِفُ أَقْوَالَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ ثُمَّ إِنْ كَانَ لِشَيْخِكَ الْمُفَقِّهِ لَكَ نَظَرٌ فِي الْفِقْهِ فَحِيْنَئِذٍ أَنْتَ تَقْرَأُ عَلَى مُرَجِّحٍ وَأَمَّا أَنْ يَأْتِي فَيَقُوْلُ لَكَ الرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فَهَذَا مُقَلِّدٌ وَلَيْسَ لَهُ اجْتِهَادٌ لِأَنَّ اْلاِجْتِهَادَ يَقْتَضِي أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَهُ عِلًمٌ بِالْأَدِلَّةِ الَّتِي عُلِّقَ بِهَا هَذَا الْاِخْتِيَارُ وَقُدْرَةُ عَلَى الْإِجَابَةِ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ إِذَا قُلْتُ لَكُمْ مَثَلاً يُذْكَرُ عِنْدَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ عِنْدَ قَوْلِ الْحَنَابِلَةِ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ نَثْرُ ذَكَرِهِ ثَلَاثاً قَالُوْا وَهُوَ بِدْعَةٌ كَمَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ وَتِلْمِيْذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي إِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ هَذَا الرَّاجِحٌ صَحّ؟ تَعْرِفُوْنَ هَذَا أَنْتُمْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا لَكِنْ إِذَا جِئْنَا إِلَى النَّثْرِ وَنَجِدُ أَئِمَّةَ كِبَارٍ كَالشَّافِعِيِّ يَذْكُرُهُ وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّ النَّثْرَ حَاصِلُ كَلَامِهِمْ النَّثْرُ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا مَا لَا يُمْكِنُ الْاِسْتِبْرَاءُ إِلَّا بِهِ وَهُوَ أَنْ يُحَرِّكَ ذَكَرَهُ بِدَفْعِ الْبَوْلِ فِيْهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهُ الْبَوْلُ وَلَا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ فِي ذَكَرِهِ وَهَذَا قَدْرٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ إِجْمَاعَا وَلَا يُمْكِنُ الْقَوْلُ بِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لِأَنَّ الْاِسْتِبْرَاءَ الْمَأْمُوْرَ بِهِ شَرْعاً لَا يَقَعُ إِلَّا بِهِ وَالثَّانِيْ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ ذَلِكَ وَهُوَ اسْتِعْمَالُ آلَةِ يَدٍ فِيْهِ فَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى ذَكَرُوا النَّثْرَ مُطْلَقاً ثُمَّ خَصَّصَهُ الْمُتَأَخِّرُوْنَ بِإِرَادَةِ النَّثْرِ بِالْيَدِ وَهَذَا لَيْسَ كُلَّ مَعْنَاهُ بَلْ هُوَ بَعْضُ مَعْنَاهُ وَحِيْنَئِذٍ فَالرَّاجِحُ أَنَّ النَّثْرَ الَّذِيْ يَرْجِعُ إِلَى أَصْلِ اسْتِبْرَاءِ مَأْمُوْرٌ بِهِ بَلْ هُوَ وَاجِبٌ وَأَمَّا النَّثْرُ الَّذِيْ يَكُوْنُ بِاسْتِعْمَالِ آلَةِ الْيَدِ فَهُوَ الَّذِيْ يَأْتِيْ عَلَيْهِ كَلَامُ أَبِيْ الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِسْ عَلَى هَذَا فِي مَسَائِلِ عِدَّةٍ سَوَاءً عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ غَيْرِهِمْ وَلِذَلِكَ إَذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَفِيْدَ فِيْ قِرَاءَةِ الْفِقْهِ فَالْزَمْ قِرَاءَتَهُ عَلَى تَدْرِيْجٍ مُرَتَّبٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمُعْتَمَدَةِ وَلَا أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قَوْلَ الْمَذْهَبِ بَلْ أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قِرَاءَتَهُ كَذَلِكَ فَإِنْ كَانَ لَكَ اخْتِيَارٌ أَوْ شَيْخُكَ لَهُ اخْتِيَارٌ أَوْ تَرَى أَنَّ قَلْبَكَ يَمِيْلُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ فَتُقَلِّدَهُ بِذَلِكَ فَهَذَا شَأْنُكَ لَكِنْ تَصَوُّرُكَ لِلْمَسَائِلَ لَا يَمْكِنُ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ وَأَمَّا طَلَبُ الْفِقْهِ عَلَى وَجْهِ الْفَوْضَى فَهَذَا لَا يَنْفَعُ وَيُخْرِجُ لَنَا أُنَاساً لَا يَتَصَوَّرُوْنَ الْفِقْهَ كَمَا يَنْبَغِيْ وَقَدْ رَأّيْتُ لِأَحَدِهِمْ مَقَالَةً فِي عِدَّةِ وَرَقَاتٍ مُذَكِّرَةً اجْتَزَأَ فِيْهَا كَلَاماً لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ خَرَجَ بِهِ هَذَا الرَّجُلَ فِي إِبَاحَةِ الْغِنَاءِ وَجَوَازِ سَمَاعِهِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِلَى آخِرِ قَائِمَةٍ طَوِيْلَةٍ لِأَنَّهُ لَا يَفْهَمُ حَقِيْقَةَ كَلَامِ أَبِي الْعَبَّاسِ لِابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فِيْهَا وَلَمْ يَفْهَمِ الْفِقْهَ حَقِيْقَةً فَهَؤُلَاءِ يَأْتُوْنَ وَلَيْسَ لَهُمْ تَصَوُّرٌ فِي الْفِقْهِ ثُمَّ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَفْهَمُوا كَلَامَ الْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِيْنَ كَأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَمِنْ هُنَا دَخَلَ الْخَلَلُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بِأَخَرَةِ فَصَارَتِ الْأَقْوَالُ الضَّعِيْفَةُ فِي الْمَذَاهِبِ دِيْنًا وَالْفُقَهَاءُ مُجْمِعُوْنَ عَلَى حُرْمَةِ الْإِفْتَاءِ بِالضَّعِيْفِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِالضَّعِيْفِ وَإِنَّمَا ذَكَرُوْا الْإِفْتَاءِ بِالْمَرْجُوْحِ وَالْمَرْجُوْحُ لَهُ وَجْهُ قُوَّةٍ لَكِنَّهُ مَرْجُوْحٌ أَمَّا الضَّعِيْفُ وَهُوَ مَا كَانَ مُتَوَهَّماً لَا حَقِيْقَةَ لَهُ فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِهِ وَالْيَوْمَ يَأْتِيْ مَنْ لَا يَفْهَمُ فِي صِنْعَةِ الْفِقْهِ فَيَأْخُذُ هَذِهِ الْأَقْوَالَ الضَّعِيْفَةَ وَيَجْعَلُهَا دِيْناً يَتَدَيَّنُ النَّاسُ بِهِ وَلِذَلِكَ صَارَ مَا كَانَ حَرَاماً بِالْأَمْسِ حَلَالَا بِالْيَوْمِ لِأَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي الْفِقْهِ مَنْ لَيْسَ بِأَهْلِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ فِي الدِّيْنَ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ جَاءَ بِمِثْلِ هَذِهِ الطَّامَّاتِ وَالْبَوَاقِعِ الَّتِي عَمَّتِ الْأُمَّةَ وَإِنَّمَا حَصَلَ النَّقْصُ بِقِلَّةِ الْغِيْرَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمِيْنَ وَعَدَمُ لُزُوْمِ جَادَّةِ مَنْ سَبَقَ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ وَلَا تَغُرَّكُمُ الطُّبُوْلِيَّاتُ وَالشُّهْرَةُ فَإِنَّ الْأَيَّامَ صِرَامٌ وَالْإِسْلَامُ لَا تُغَيِّرُهُ الْأَيَّامُ وَكَمْ مِنْ وَقْتٍ أَزْبَدَ النَّاسُ فِيْهِ وَأَرْعَدُوا لِأَمْرٍ ضَجُّوا فِيْهِ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ حَتَّى يَكُوْنَ زَبَداً يَذْهَبُ وَيَبْقَى مَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَاعْتَبِرْ هَذَا فِي أَحْوَالٍ قَرِيْبَةٍ فَكَمْ مِنْ بَاقِعَةٍ وَفِتْنَةِ أَلَمَّتْ بِالْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ جَرَفَتْ مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّيْنِ وَالشَّرِيْعَةِ قَوْماً كَانَ لَهُمْ فِيْهَا شَارَةٌ وَرِئَاسَةٌ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ وَإِذَا بِهِمْ كَأَنْ لَمْ يَكُوْنُوْا وَانْظُرْ إِلَى فَتْرَةِ الْقَوْمِيَّةِ أَوْ فَتْرَةِ الشُّيُوْعِيَّةِ وَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهَا مِمَّنْ أًلَّفَ الْإِسْلَامَ الْاِشْتِرَاكِيَّ وَأَبُو ذَرٍّ إِمَامُ الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَلَهُ فَتَاوَى فِي الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ثُمَّ إِذَا بِهِمْ زَبَدٌ جُفَاءٌ قَدْ أَزَالَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَبَقِيَ دِيْنُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَلَيْسَ الْخَوْفُ عَلَى الدِّيْنِ وَلَكِنِ الْخَوْفُ عَلَيْكَ أَنْتَ أَنْ تَغْلَطَ فِي فَهْمِ دِيْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِمَّا يَعْصِمُكَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَعْرِفَ طَرِيْقَ أَخْذِ دِيْنِكَ وَأَنْ تَتَمَسَّكَ بِجَادَةِ مَنْ سَبَقَ وَأَنْ تَلْزَمَ وَصِيَّتَهُمْ عَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ وَالْاِتِّبَاعِ وَإِيَّاكُمْ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهَا لَكُمْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّ الزُّخْرُفَ يَزُوْلُ وَالْحَقُّ يَبْقَى وَدَوْلَةُ البَّاطِلِ سَاعَةٌ وَدَوْلَةُ الْحَقِّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ وَمَا قَرَّرَهُ الْأَئِمَّةَ الْعُظَمَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُزِيْلَهُ بُنِيَّاتُ الطَّرِيْقِ أَبَداً فَهُوَ بَاقٍ بَاقٍ شَاءَ مَنْ شَاءَ وَأَبَى مَنْ أَبَى وَقَدْ كَانَ فِيْمَا مَضَى قَوْمٌ يَأْنَفُوْنَ مِنْ زَادِ الْمُسْتَقْنِعِ وَيَسْخَرُوْنَ بِهِ وَيَسْتَهْزِئُوْنَ بِمَنْ يَقْرَأُهُ وَيُقْرِئُهُ وَيَحْفَظَهُ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ وَإِذَا بِبَعْضِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ يَرْجِعُوْنَ إِلَى عُقُوْلِهِمْ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ لَا سَبِيْلَ يَتَفَقَّهُ إِلَّا بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ الَّتِيْ يَنْعَتُوْنَهَا بِالصَّفْرَاءِ أَوِ بِالتَّقْلِيْدِيَّةِ أَوْ بِالرَّتْكَارِيَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ أَوِ الرَّجْعِيَّةِ وَهِيَ سَتَبْقَى سَتَبْقَى لِأَنَّ دِيْنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَاقٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ فَمَا بَقِيَ عَقِبُ إِبْرَاهِيْمَ فَإِنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ وَدِيْنَ الْإِسْلَامِ بَاقٍ وَأَنْتُمْ تَحْفَظُوْنَ أَحَادِيْثَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ وَالْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ وَالْمَقْصُوْدُ أَنْ تَحْذَرَ مِنْ كُلِّ هَيْئَةٍ يَخْرُجُ إِلَيْهَا النَّاسُ وَتَمْتَدُّ إِلَيْهَا أَعْنَاقُهُمْ فَلَا تَغْتَرَّ بِهَا حَتَّى مَا أَقُوْلُ لَكَ أَنَا لَا تّغْتَرَّ بِهِ اُنْظُرْ هَلْ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ أَوْ لَا؟ إِذَا كَانَ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ تَمَسَّكْ بِهِ وَإِذَا كَانَ مِنْ فَلَتَاتِ كَلَامِ صَالِحٍ أَلْقِهِ وَرَاءَ الْجِدَارِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُكَ وَالسَّلَامَةُ أَنْ تَكُوْنَ عَلَى طَرِيْقَةِ مَنْ سَبَقَ فَهَذَا أَسْلَمُ لَكَ فِي دِيْنِكَ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحُجَّتُكَ فِي دِيْنِكَ الْأَئِمَّةُ الْعُظَمَاءُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَأَئِمَّةِ الْهُدَى كَأَحْمَدَ وَالشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَالْبُخَارِيِّ وَالدَّارِمِيِّ وَمَنْ بَعْدَهُمْ كَأَبُو العَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ وَتِلْمِيْذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَابْنِ مُفْلِحٍ وَابْنِ رَجَبٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حُجَّتُكَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَصْرِ أَسْأَلُ اللهَ الْعَلِيَّ الْعَظِيْمَ أَنْ يُوَفِّقَ جَمِيْعاً إِلَى مَا رَضِيَهُ بِهِذِهِ يَنْتَهِي الْإِجَابَةُ عَنْ نَفْسِهِ الثَّلَاثَةِ وَفَّقَ اللهُ الْجَمِيْعَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  
Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih? Saudara kita ini bertanya -semoga Allah memberimu kebaikan-: Mana yang lebih baik, mempelajari fiqih dari madzhab atau dari pendapat yang rajih (lebih kuat)? Apa itu pendapat yang rajih? Apa itu pendapat yang rajih?. Wahai para saudaraku, ini merupakan cara yang tidak benar dalam menuntut ilmu. Pendapat rajih adalah pendapat yang dipilih oleh seorang mujtahid mutlaq atau muqayyad, inilah pendapat rajih. Pendapat rajih adalah ijtihad yang dihasilkan oleh seorang mujtahid muqayyad atau mutlaq. Yaitu pendapat mujtahid yang ijtihadnya masih terikat dalam suatu permasalahan atau mujtahid yang telah memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam setiap permasalahan, itulah pendapat yang lebih kuat menurut mujtahid tersebut maka jika kamu hendak belajar fiqih dari pendapat yang rajih Apakah yang dimaksud itu rajih menurut as-Syeikh Abdul Aziz bin Baz? Atau rajih menurut as-Syeikh Muhammad bin ‘Utsaimin? Atau rajih menurut as-Syeikh Shalih al-Fauzan? Atau ulama lainnya yang mengajarkan fiqih di negeri kita pada tahun-tahun terakhir ini yang telah memiliki pilihan pendapat dalam berbagai masalah? Maka pendapat rajih adalah hal yang terikat dengan siapa yang berijtihad. Dan kamu tidak mungkin dapat mempelajari ilmu fiqih dengan metode seperti itu. Karena ijtihad seseorang berbeda dengan ijtihad orang lain Ini adalah satu hal yang harus diperhatikan. Dan hal lainnya, siapa yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam perkara fiqih?. Karena ijtihad dalam perkara fiqih bukan sekedar kamu mendalami suatu masalah. Kemudian kamu dapat mengatakan pendapat ini rajih (lebih kuat) yang merupakan pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama kontemporer adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Sehingga itulah yang menjadi pendapat yang rajih menurut orang banyak itu adalah pendapat yang menurut Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah sebagai pendapat yang lebih kuat. Sedangkan hai orang yang menganut pilihan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah; kamu hanyalah muqallid (pengikut suatu pendapat) dan kamu bukan seorang mujtahid Buktinya, jika kamu bertanya kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantah dalil dari pendapat tersebut. Maka kamu akan mendapatinya tidak memiliki kemampuan untuk menjawab bantahan tersebut. Karena dia hanya mengikuti ijtihad dari Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan inilah mayoritas ijtihad ulama-ulama kontemporer. Sehingga pendapat rajih yang kamu pelajari di kuliah syariah semuanya mengatakan ini pendapat rajih; Si Fulan berpendapat seperti ini, dan yang rajih adalah ini dan ini Padahal sesungguhnya semua itu merujuk pada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Kalau begitu, yang mana ilmu fiqih itu? Jika demikian, maka kalian tidak dapat mempelajari fiqih kecuali dengan mempelajari pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Sedangkan pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah tidak mencakup seluruh ilmu fiqih, karena tidak sampai kepada kita semuanya Dan dalam kitab-kitab beliau -rahimahullah Ta’ala- yang sampai kepada kita, terkadang memiliki lebih dari satu pendapat dalam suatu permasalahan. Karena sebagian kitab-kitab itu telah ditulis sejak lama, seperti kitab Syarh al-‘Umdah; dan sebagian lainnya ditulis lebih akhir Sehingga untuk mengetahui pendapat yang beliau pilih, harus bersandar pada para muridnya, terutama Ibnu Muflih. Dan jika kamu mendapati perbedaan pada pendapat yang ditetapkan sebagai pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah dalam suatu permasalahan. Maka rujukannya adalah pada pendapat yang ditetapkan muridnya, Ibnu Muflih dalam kitab al-Furu’ Atau kitab al-Adab asy-Syar’iyyah Dan Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- juga merujuk kepada Ibnu Muflih dalam mengetahui pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dalam berbagai permasalahan hukum dan fiqih -rahimahumullah-. Maka dari itu, pendapat yang rajih hanyalah anggapan semata dan hakikatnya tidak ada Sedangkan madzhab-madzhab yang disepakati, telah ada sejak ratusan tahun yang lalu Maka jika ada yang hendak mempelajari ilmu fiqih, maka dia harus mempelajarinya dari salah satu madzhab yang boleh diikuti. Dan tujuan dari mempelajarinya dari salah satu madzhab adalah untuk membantunya mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya sebagaimana yang disebutkan as-Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam kitab Taisir al-Aziz al-Hamid dalam bab orang yang mentaati ulama dan umara dalam menghalalkan yang Allah halalkan dan mengharamkan yang Allah haramkan beliau menjelaskan bahwa mempelajari fiqih dari kitab-kitab fiqih bertujuan untuk memberi gambaran terhadap berbagai permasalahan yang dibahas di dalamnya. Dengan begitu kamu dapat memiliki gambaran berbagai pembahasannya sedikit demi sedikit. Dan para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- telah Menyusun ilmu fiqih secara bertahap. Pertama mereka menulis rangkuman singkat, kemudian yang lebih luas lagi Kemudian lebih luas lagi dan lebih luas lagi Sehingga seseorang dapat memiliki gambaran terhadap berbagai macam pembahasannya Baik itu dalam madzhab Hanbali, Syafi’i, Malliki, atau Hanafi Setiap madzhab memiliki kitab-kitab yang bertahap Sehingga ketika kamu mempelajarinya secara bertahap, maka kamu dapat memiliki gambaran pembahasannya sedikit demi sedikit Kemudian kamu dapat naik ke tingkat yang lebih luas pembahasannya. Kemudian kamu dapat mencakup seluruh pembahasan ilmu fiqih Kemudian kamu dapat mengetahui dalil dalam suatu madzhab Dan kemudian kamu dapat mengetahui pendapat-pendapat dalam empat madzhab Dan jika syeikh yang mengajarkanmu fiqih memiliki pendapat dalam suatu permasalahan maka sesungguhnya kamu sedang belajar kepada seorang murajjih. Adapun jika ia mengatakan, ‘Pendapat yang lebih kuat adalah ini’, sedangkan itu adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah maka syeikh itu adalah seorang muqallid, dan bukan syeikh yang mampu berijtihad Karena ijtihad mengharuskan seseorang untuk memiliki ilmu tentang dalil-dalil yang berhubungan dengan pendapat yang dia pilih Dan kemampuan untuk menjawab tentang dalil-dalil itu. Oleh sebab itu, aku dapat menyebutkan salah satu contoh kepada kalian Para ulama kontemporer berkata tentang pendapat yang ada dalam madzhab Hanbali: “Dan mengeluarkan sisa air kencing sebanyak tiga kali adalah perbuatan yang mustahab (dianjurkan)” Para ulama kontemporer itu mengatakan itu adalah bid’ah sebagaimana yang disebutkan oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan oleh murid beliau, Ibnu al-Qayyim dalam kitab Ighatsah al-Lahfan Itulah pendapat yang rajih menurut mereka, benar begitu?. Kalian mengetahui hal ini Akan tetapi jika kita dalami perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini menurut para ulama besar seperti asy-Syafi’i Maka menurut mereka perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini memiliki dua maksud Pertama, membersihkan air kencing yang tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan cara ini Yaitu dengan mengejan untuk mengeluarkan sisa air kencing Sehingga tidak tersisa lagi di dalamnya Dan ini adalah hal yang harus dilakukan, dan disepakati secara ijma’ Sehingga tidak mungkin dikatakan itu adalah perbuatan bid’ah Karena pembersihan najis yang diperintahkan syariat tidak mungkin tercapai kecuali dengan melakukan itu Kedua, perbuatan yang lebih dari hal itu, yaitu mengeluarkan sisa air kencing dengan bantuan tangan Para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- menyebutkan perbuatan mengeluarkan sisa air kencing secara mutlak. Namun kemudian para ulama kontemporer memaksudkannya dengan mengeluarkan sisa air kencing menggunakan tangan Padahal itu bukanlah yang dimaksud secara tepat, namun hanya sebagian dari maksudnya saja Sehingga pendapat yang rajih dalam perkara mengeluarkan sisa air kencing dengan mengejan untuk membersihkan sisa najis merupakan perkara yang diperintahkan bahkan wajib dilakukan Adapun membersihkan sisa kencing dengan bantuan tangan, maka inilah yang dimaksud pada pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Dan demikian pula dalam berbagai permasalahan lainnya, baik itu yang ada dalam madzhab Hanbali atau madzhab lainnya Oleh sebab itu, jika kamu ingin mendapat manfaat dari belajar fiqih Maka pelajarilah secara bertahap dan teratur melalui salah satu madzhab yang diakui Aku tidak berkata, “Berpeganglah selalu pada pendapat yang ada dalam madzhab”. Namun aku katakan, “Senantiasalah mempelajarinya dari madzhab”. Dan jika kamu memilih suatu pendapat, atau syeikhmu memilih suatu pendapat Atau hatimu lebih condong kepada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, Kemudian kamu mengikutinya; maka itu adalah urusanmu. Akan tetapi kamu tidak akan menguasai pembahasan-pembahasan ilmu fiqih kecuali dengan metode seperti ini Adapun orang yang belajar ilmu fiqih secara asal-asalan, maka itu tidak akan mendatangkan manfaat. Dan hanya menghasilkan orang-orang yang tidak menguasai ilmu fiqih dengan baik Dan aku pernah membaca makalah salah satu dari mereka yang ditulis beberapa lembar Di dalamnya terdapat potongan kutipan-kutipan dari pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dari kutipan-kutipan itu, orang tersebut menyimpulkan dibolehkannya lagu, Dan dibolehkannya mendengarkan lagu dari suara wanita, Serta perkara-perkara lainnya yang masih banyak lagi Hal ini karena dia tidak memahami hakikat perkataan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam perkara tersebut. Dan dia tidak memahami fiqih dengan sebenar-benarnya Mereka tidak memiliki gambaran yang benar dalam ilmu fiqih Kemudian mereka hendak memahami para ahli fiqih seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala- Dan dari sinilah masuk banyak masalah kepada kaum muslimin akhir-akhir ini Sehingga sekarang pendapat-pendapat yang dhaif (lemah) menjadi tuntunan agama Padahal para ahli fiqih bersepakat tentang haramnya memberi fatwa menggunakan pendapat yang dhaif Tidak boleh memberi fatwa dengan pendapat yang lemah. Mereka masih membolehkan fatwa dengan pendapat yang marjuh (di bawah tingkat rajih) Karena pendapat marjuh masih memiliki tingkat kekuatan, hanya saja masih ada yang lebih kuat Sedangkan pendapat dhaif adalah mendapat yang tidak benar, sehingga tidak boleh digunakan untuk berfatwa Kemudian sekarang orang yang tidak memahami fiqih bersandar pada pendapat-pendapat yang lemah ini. Dan menjadikannya sebagai tuntunan agama bagi orang banyak Oleh sebab itu, yang dulunya haram, sekarang menjadi halal Akibat orang yang berbicara dalam masalah fiqih tidak memiliki keahlian. Dan jika orang yang tidak memiliki keahlian telah berbicara dalam perkara agama maka dia akan mendatangkan berbagai musibah bagi umat. Dan kekurangan yang terjadi ini adalah karena lemahnya ghirah terhadap agama Allah Azza wa Jalla yang dimiliki oleh para menuntut ilmu dan para pengajarnya. Dan karena tidak teguh di atas jalan para salaf dalam menuntut ilmu .Dan janganlah sekali-kali kalian terlena oleh ketenaran; karena waktu akan terus berganti dan berubah Sedangkan agama Islam tidak akan berubah oleh waktu Dan betapa seringnya orang-orang digemparkan oleh suatu perkara, namun selang beberapa tahun kemudian perkara itu lenyap dan hilang. Dan yang tetap ada adalah yang bermanfaat bagi manusia. Dan cermatilah hal ini pada keadaan-keadaan yang terjadi belum lama ini Betapa banyak fitnah dan cobaan yang menimpa kaum muslimin. Kemudian fitnah itu menyeret beberapa orang yang dikenal sebagai orang yang memahami agama. Pada awalnya mereka memiliki kedudukan dan derajat Namun selang beberapa tahun yang penuh tipudaya itu, ternyata mereka menjadi seakan-akan tidak pernah ada Dan lihatlah masa kejayaan nasionalisme dan komunisme, dan orang yang menggaungkan islam sosialis Dan lihatlah Abu Dzar, pemimpin kaum sosialis yang memiliki banyak fatwa tentang sosialisme dan lainnya. Namun pada akhirnya mereka lenyap, disingkirkan oleh Allah Azza wa Jalla Dan yang tetap ada adalah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Maka kekhawatiran ini bukan terhadap agama, namun terhadap dirimu Khawatir kamu akan salah dalam memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu yang dapat melindungimu -biidznillah- adalah dengan mengetahui jalan yang benar dalam mempelajari agama, dan berpegang teguh kepada jalan para salaf dan berpegang pada wasiat mereka,. ‘Kalian harus berpegang pada perkara yang pertama dan ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti pendapat-pendapat orang, meskipun mereka menghiasinya dengan kalimat yang indah’ karena hiasan itu akan lenyap, sedangkan kebenaran akan tetap ada Hal yang batil hanya bertahan sekejap, sedangkan hal yang benar akan bertahan hingga akhir zaman. Dan jalan yang telah ditetapkan oleh para ulama ahli fiqih, ahli hadits, dan ahli tafsir Tidak akan dapat dilenyapkan oleh jalan-jalan kecil Tidak akan! Karena mau tidak mau, jalan itu akan tetap ada Dahulu banyak orang yang meremehkan kitab Zad al-Mustaqni’ Mereka mencelanya dan menghina orang yang belajar dan mengajarkannya serta menghafalnya. Namun selang beberapa tahun kemudian, orang-orang itu akhirnya menyadari Bahwa tidak ada jalan untuk mempelajari fiqih kecuali melalui kitab-kitab seperti ini Kitab-kitab yang mereka sebut sebagai kitab kuning, kitab klasik, atau kitab kuno Akan tetapi kitab-kitab itu akan tetap ada, karena agama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap ada Allah Ta’ala berfirman “Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya” [QS. Az-Zukhruf: 28]. Maka selama keturunan Nabi Ibrahim masih ada, maka kalimat tauhid dan agama Islam akan tetap ada Kalianpun telah hafal hadits-hadits tentang tha’ifah manshurah dan firqah najiyah. Dan yang saya maksud di sini adalah agar kamu berhati-hati Terhadap setiap kelompok yang disambut dan mendapat perhatian banyak orang Janganlah kamu mudah tertipu dengan kelompok tersebut. Bahkan jangan mudah tertipu oleh apa yang aku katakan kepadamu. Hingga kamu melihatnya, apakah sesuai dengan jalan para salaf atau tidak? Jika sesuai dengan jalan para salaf, maka berpegang teguhlah padanya. Namun jika itu hanya omong kosong dari orang shalih (yang tidak berilmu), maka lempar perkataan itu ke dinding Karena perkataan itu tidak akan mendatangkan manfaat bagimu Dan kamu akan meraih keselamatan dengan menempuh jalan para salaf. Ini lebih selamat bagimu dalam agamamu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala Karena jika kamu menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan hujjahmu adalah para ulama besar. Dari kalangan para sahabat, tabi’in Dan ulama-ulama besar seperti Imam Ahmad, asy-Syafi’i, Malik, al-Bukhari, ad-Darimi, Dan ulama setelah mereka seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, dan muridnya, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Muflih, dan Ibnu Rajab. Maka itu lebih baik bagimu; daripada jika kamu menghadap kepada Allah sedangkan hujjahmu adalah Si Fulan dan Si Fulan yang hidup di zaman ini Aku memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung agar memberi kita semua taufik menuju apa yang Dia ridhai Dengan ini selesai sudah jawaban tiga pertanyaan sekaligus Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ============================================================================== يَقُوْلُ هَذَا الْأَخُ يَقُوْلُ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ دِرَاسَةُ الْمَذْهَبِ أَمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ وَأَيْش الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ مَا هُوَ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ هَذِهِ يَا إِخْوَانُ مِنَ الْغَلَطِ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الْاِخْتِيَارُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ مُجْتَهِدٌ مُقَيَّدٌ أَوْ مُطْلَقٌ هَذَا الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الاِجْتِهَادُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ أَوْ مُطْلَقٍ فَهُوَ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ فِي مَسْأَلَةٍ أَوْ عِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْاِجْتِهَادِ كُلِّهِ فَهُوَ رَاجِحٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ فَأَنْتَ إِذَا أَرَدْتَ الْآنَ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ بِالرَّاجِحِ هَلِ الرَّاجِحُ تَقْصُدُ مَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ بَازٍ؟ أَوِ الرَّاجِحُ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بْنِ عُثَيْمِيْنَ أَوِ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ صَالِحِ الْفَوْزَانِ أَوْ غَيْرُهُمْ مِمَّنْ دَرَسَ الْفِقْهَ فِي قَطْرِنَا فِي هَذِهِ السَّنَوَاتِ الْأَخِيْرَةِ وَلَهُ فِي ذَلِكَ اخْتِيَارَاتٌ فَالرَّاجِحُ شَيْءٌ مُقَيَّدٌ بِالنِّسْبِةِ لِمُجْتَهِدٍ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ فَاجْتِهَادُ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ هَذَا شَيْءٌ وَالشَّيْءُ الْآخَرُ مَنْ ذَا الَّذِيْ عِنْدَهُ مُكْنَةٌ فِي الْاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ فَإِنَّ الاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ لَيْسَ هُوَ تَبْحَثُ الْمَسْأَلَةَ ثُمَّ تَقُوْلُ وَالرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فَإِنَّ الرَّاجِحَ عِنْدَ الْمُتَأّخِّرِيْنَ عَامَّتِهِمْ هُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَصَارَ هَذَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ النَّاسِ فَيَكُوْنُ هَذَا رَاجِحاً بِالنِّسْبَةِ لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ أَمَّا أَنْتَ أَيُّهَا النَّاقِلُ لِاخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَإِنَّكَ مُقَلِّدٌ وَلَسْتَ مُجْتَهِداً وَالدَّلِيْلُ أَنَّكَ إِذَا أَوْرَدْتَ عَلَيْهِ مَا يَقَعُ مِنَ الْإيْرَادَاتِ الَّتِي تُعْرَفُ فِي عِلْمِ الْخِلَافِ فِي إِبْطَالِ دَلِيْلِهِ أَوْ إِبْطَالِ وَجْهِ اسْتِدْلَالِهِ لَا تَجِدُ لَهُ مُكْنَةً فِي الْمُنَاقَشَةِ فِي ذَلِكَ فَهُوَ مُقَلَّدٌ لِاجْتِهَادِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ وَهَذَا هُوَ الْغَالِبُ فِي اجْتِهَادَاتِ الْمُتَأّخِّرِيْنِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِيْ تَدْرُسُهُ فِي كُلِّيَّةِ الشَّرِيْعَةِ كُلٌّ يَقُوْلُ الرَّاجِحُ الرَّاجِحُ فُلَانٌ قَالَ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا هُوَ فِي الْحَقِيْقَةِ مَآلُهُ إِلَى اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الُحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَحِيْنَئِذٍ أَيْنَ هَذَا الْفِقْهُ؟ إذاً لَا يُقَابِلُ هَذَا إِلَّا أَنْ تَدْرُسَ اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَاخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ لَا تَشْمَلُ الْفِقْةَ كُلَّهُ فَإِنَّهَا لَمْ تَحْفَظْ لَنَا وَهُوَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كُتُبِهِ الْمَوْجُوْدَةِ فِي أَيْدِيْنَا لَهُ قَوْلٌ فِي مَسْأَلَةٍ وَلَهُ قَوْلٌ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلٌ آخَرُ لِأَنَّ بَعْضَهَا قَدِيْمُ التَّصْنِيْفِ كَشَرْحِ الْعُمْدَةِ وَبَعْضَهَا مُتَأَخِّرٌ وَلِذَلِكَ يُعَوَّلُ عَلَى تَلَامِيْذِهِ وَلَا سِيَّمَا ابْنُ مُفْلِحٍ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِهِ فَاخْتِيَارُ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ فِي مَسْأَلَةٍ إِذَا وَجَدْتَ فِيْهِ اخْتِلَافاً مَرَدُّهُ إِلَى مَا قَرَّرَهُ تِلْمِيْذُهُ ابْنُ مُفْلِحٍ فِي كِتَابِ الْفُرُوْعِ أَوْ فِي كِتَابِ الْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَقَدْ كَانَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَرْجِعُ إِلَيْهِ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فِي مَسَائِلِ الْأَحْكَامِ وَالْفِقْهِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى جَمِيْعاً فَحِيْنَئِذٍ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ مُتَوَهِّمٌ لَا وُجُوْدَ لَهُ وَالْمَذَاهِبُ الْمَتْبُوْعَةُ مَوْجُوْدَةٌ مُسْتَقِرَّةٌ مُنْذُ مِئَاتِ السِّنِيْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْفِقْهَ فَلَا بُدَّ أَنْ يَقْرَأَهُ بِدِرَاسَةٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ وَدِرَاسَتِهِ عَلَى مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ الْمَقْصُوْدُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ مَسَائِلِهِ كَمَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ ابْنُ عَبْدِ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ فِي تِيْسِيْرِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ فِي بَابِ مَنْ أَطَاعَ الْعُلَمَاءَ وَالْأُمَرَاءَ فِي تَحْلِيْلِ مَا أَحَلَّ اللهُ وَتَحْرِيْمِ مَا حَرَّمَ اللهُ فَإِنَّهُ ذَكَرَ هَذَا الْمَعْنَى وَبَيَّنَ أَنَّ دِرَاسَةَ الْفِقْهِ فِي كُتُبِ الْفُرُوْعِ الْمُرَادُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ فَأَنْتَ تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً وَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى رَتَّبُوا الْفِقْهَ عَلَى التَّدْرِيْجِ فَأَلَّفُوا مُخْتَصَرَاتٍ وَجِيْزَةٍ ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا حَتَّى يَتَمَكَّنَ الْإِنْسَانُ مِنْ تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ سَوَاءٌ كَانَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَكُّ مَذْهَبٌ مِنْ هَذَا التَّدْرِيْجِ فَعِنْدَمَا تَأْخُذُهُ مُدَرَّجاً تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً ثُمَّ تَرْتَقِي بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى اسْتِيْفَاءِ مَسَائِلَ أَكْثَرُ مِنَ الْمَبَادِئِ ثُمَّ تَسْتَوْعِبُ الْفِقْهَ كُلَّهُ ثُمَّ تَعْرِفُ دَلِيْلَ الْمَذْهَبِ ثُمَّ تَعْرِفُ أَقْوَالَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ ثُمَّ إِنْ كَانَ لِشَيْخِكَ الْمُفَقِّهِ لَكَ نَظَرٌ فِي الْفِقْهِ فَحِيْنَئِذٍ أَنْتَ تَقْرَأُ عَلَى مُرَجِّحٍ وَأَمَّا أَنْ يَأْتِي فَيَقُوْلُ لَكَ الرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فَهَذَا مُقَلِّدٌ وَلَيْسَ لَهُ اجْتِهَادٌ لِأَنَّ اْلاِجْتِهَادَ يَقْتَضِي أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَهُ عِلًمٌ بِالْأَدِلَّةِ الَّتِي عُلِّقَ بِهَا هَذَا الْاِخْتِيَارُ وَقُدْرَةُ عَلَى الْإِجَابَةِ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ إِذَا قُلْتُ لَكُمْ مَثَلاً يُذْكَرُ عِنْدَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ عِنْدَ قَوْلِ الْحَنَابِلَةِ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ نَثْرُ ذَكَرِهِ ثَلَاثاً قَالُوْا وَهُوَ بِدْعَةٌ كَمَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ وَتِلْمِيْذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي إِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ هَذَا الرَّاجِحٌ صَحّ؟ تَعْرِفُوْنَ هَذَا أَنْتُمْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا لَكِنْ إِذَا جِئْنَا إِلَى النَّثْرِ وَنَجِدُ أَئِمَّةَ كِبَارٍ كَالشَّافِعِيِّ يَذْكُرُهُ وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّ النَّثْرَ حَاصِلُ كَلَامِهِمْ النَّثْرُ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا مَا لَا يُمْكِنُ الْاِسْتِبْرَاءُ إِلَّا بِهِ وَهُوَ أَنْ يُحَرِّكَ ذَكَرَهُ بِدَفْعِ الْبَوْلِ فِيْهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهُ الْبَوْلُ وَلَا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ فِي ذَكَرِهِ وَهَذَا قَدْرٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ إِجْمَاعَا وَلَا يُمْكِنُ الْقَوْلُ بِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لِأَنَّ الْاِسْتِبْرَاءَ الْمَأْمُوْرَ بِهِ شَرْعاً لَا يَقَعُ إِلَّا بِهِ وَالثَّانِيْ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ ذَلِكَ وَهُوَ اسْتِعْمَالُ آلَةِ يَدٍ فِيْهِ فَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى ذَكَرُوا النَّثْرَ مُطْلَقاً ثُمَّ خَصَّصَهُ الْمُتَأَخِّرُوْنَ بِإِرَادَةِ النَّثْرِ بِالْيَدِ وَهَذَا لَيْسَ كُلَّ مَعْنَاهُ بَلْ هُوَ بَعْضُ مَعْنَاهُ وَحِيْنَئِذٍ فَالرَّاجِحُ أَنَّ النَّثْرَ الَّذِيْ يَرْجِعُ إِلَى أَصْلِ اسْتِبْرَاءِ مَأْمُوْرٌ بِهِ بَلْ هُوَ وَاجِبٌ وَأَمَّا النَّثْرُ الَّذِيْ يَكُوْنُ بِاسْتِعْمَالِ آلَةِ الْيَدِ فَهُوَ الَّذِيْ يَأْتِيْ عَلَيْهِ كَلَامُ أَبِيْ الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِسْ عَلَى هَذَا فِي مَسَائِلِ عِدَّةٍ سَوَاءً عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ غَيْرِهِمْ وَلِذَلِكَ إَذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَفِيْدَ فِيْ قِرَاءَةِ الْفِقْهِ فَالْزَمْ قِرَاءَتَهُ عَلَى تَدْرِيْجٍ مُرَتَّبٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمُعْتَمَدَةِ وَلَا أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قَوْلَ الْمَذْهَبِ بَلْ أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قِرَاءَتَهُ كَذَلِكَ فَإِنْ كَانَ لَكَ اخْتِيَارٌ أَوْ شَيْخُكَ لَهُ اخْتِيَارٌ أَوْ تَرَى أَنَّ قَلْبَكَ يَمِيْلُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ فَتُقَلِّدَهُ بِذَلِكَ فَهَذَا شَأْنُكَ لَكِنْ تَصَوُّرُكَ لِلْمَسَائِلَ لَا يَمْكِنُ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ وَأَمَّا طَلَبُ الْفِقْهِ عَلَى وَجْهِ الْفَوْضَى فَهَذَا لَا يَنْفَعُ وَيُخْرِجُ لَنَا أُنَاساً لَا يَتَصَوَّرُوْنَ الْفِقْهَ كَمَا يَنْبَغِيْ وَقَدْ رَأّيْتُ لِأَحَدِهِمْ مَقَالَةً فِي عِدَّةِ وَرَقَاتٍ مُذَكِّرَةً اجْتَزَأَ فِيْهَا كَلَاماً لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ خَرَجَ بِهِ هَذَا الرَّجُلَ فِي إِبَاحَةِ الْغِنَاءِ وَجَوَازِ سَمَاعِهِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِلَى آخِرِ قَائِمَةٍ طَوِيْلَةٍ لِأَنَّهُ لَا يَفْهَمُ حَقِيْقَةَ كَلَامِ أَبِي الْعَبَّاسِ لِابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فِيْهَا وَلَمْ يَفْهَمِ الْفِقْهَ حَقِيْقَةً فَهَؤُلَاءِ يَأْتُوْنَ وَلَيْسَ لَهُمْ تَصَوُّرٌ فِي الْفِقْهِ ثُمَّ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَفْهَمُوا كَلَامَ الْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِيْنَ كَأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَمِنْ هُنَا دَخَلَ الْخَلَلُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بِأَخَرَةِ فَصَارَتِ الْأَقْوَالُ الضَّعِيْفَةُ فِي الْمَذَاهِبِ دِيْنًا وَالْفُقَهَاءُ مُجْمِعُوْنَ عَلَى حُرْمَةِ الْإِفْتَاءِ بِالضَّعِيْفِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِالضَّعِيْفِ وَإِنَّمَا ذَكَرُوْا الْإِفْتَاءِ بِالْمَرْجُوْحِ وَالْمَرْجُوْحُ لَهُ وَجْهُ قُوَّةٍ لَكِنَّهُ مَرْجُوْحٌ أَمَّا الضَّعِيْفُ وَهُوَ مَا كَانَ مُتَوَهَّماً لَا حَقِيْقَةَ لَهُ فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِهِ وَالْيَوْمَ يَأْتِيْ مَنْ لَا يَفْهَمُ فِي صِنْعَةِ الْفِقْهِ فَيَأْخُذُ هَذِهِ الْأَقْوَالَ الضَّعِيْفَةَ وَيَجْعَلُهَا دِيْناً يَتَدَيَّنُ النَّاسُ بِهِ وَلِذَلِكَ صَارَ مَا كَانَ حَرَاماً بِالْأَمْسِ حَلَالَا بِالْيَوْمِ لِأَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي الْفِقْهِ مَنْ لَيْسَ بِأَهْلِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ فِي الدِّيْنَ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ جَاءَ بِمِثْلِ هَذِهِ الطَّامَّاتِ وَالْبَوَاقِعِ الَّتِي عَمَّتِ الْأُمَّةَ وَإِنَّمَا حَصَلَ النَّقْصُ بِقِلَّةِ الْغِيْرَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمِيْنَ وَعَدَمُ لُزُوْمِ جَادَّةِ مَنْ سَبَقَ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ وَلَا تَغُرَّكُمُ الطُّبُوْلِيَّاتُ وَالشُّهْرَةُ فَإِنَّ الْأَيَّامَ صِرَامٌ وَالْإِسْلَامُ لَا تُغَيِّرُهُ الْأَيَّامُ وَكَمْ مِنْ وَقْتٍ أَزْبَدَ النَّاسُ فِيْهِ وَأَرْعَدُوا لِأَمْرٍ ضَجُّوا فِيْهِ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ حَتَّى يَكُوْنَ زَبَداً يَذْهَبُ وَيَبْقَى مَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَاعْتَبِرْ هَذَا فِي أَحْوَالٍ قَرِيْبَةٍ فَكَمْ مِنْ بَاقِعَةٍ وَفِتْنَةِ أَلَمَّتْ بِالْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ جَرَفَتْ مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّيْنِ وَالشَّرِيْعَةِ قَوْماً كَانَ لَهُمْ فِيْهَا شَارَةٌ وَرِئَاسَةٌ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ وَإِذَا بِهِمْ كَأَنْ لَمْ يَكُوْنُوْا وَانْظُرْ إِلَى فَتْرَةِ الْقَوْمِيَّةِ أَوْ فَتْرَةِ الشُّيُوْعِيَّةِ وَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهَا مِمَّنْ أًلَّفَ الْإِسْلَامَ الْاِشْتِرَاكِيَّ وَأَبُو ذَرٍّ إِمَامُ الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَلَهُ فَتَاوَى فِي الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ثُمَّ إِذَا بِهِمْ زَبَدٌ جُفَاءٌ قَدْ أَزَالَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَبَقِيَ دِيْنُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَلَيْسَ الْخَوْفُ عَلَى الدِّيْنِ وَلَكِنِ الْخَوْفُ عَلَيْكَ أَنْتَ أَنْ تَغْلَطَ فِي فَهْمِ دِيْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِمَّا يَعْصِمُكَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَعْرِفَ طَرِيْقَ أَخْذِ دِيْنِكَ وَأَنْ تَتَمَسَّكَ بِجَادَةِ مَنْ سَبَقَ وَأَنْ تَلْزَمَ وَصِيَّتَهُمْ عَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ وَالْاِتِّبَاعِ وَإِيَّاكُمْ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهَا لَكُمْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّ الزُّخْرُفَ يَزُوْلُ وَالْحَقُّ يَبْقَى وَدَوْلَةُ البَّاطِلِ سَاعَةٌ وَدَوْلَةُ الْحَقِّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ وَمَا قَرَّرَهُ الْأَئِمَّةَ الْعُظَمَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُزِيْلَهُ بُنِيَّاتُ الطَّرِيْقِ أَبَداً فَهُوَ بَاقٍ بَاقٍ شَاءَ مَنْ شَاءَ وَأَبَى مَنْ أَبَى وَقَدْ كَانَ فِيْمَا مَضَى قَوْمٌ يَأْنَفُوْنَ مِنْ زَادِ الْمُسْتَقْنِعِ وَيَسْخَرُوْنَ بِهِ وَيَسْتَهْزِئُوْنَ بِمَنْ يَقْرَأُهُ وَيُقْرِئُهُ وَيَحْفَظَهُ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ وَإِذَا بِبَعْضِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ يَرْجِعُوْنَ إِلَى عُقُوْلِهِمْ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ لَا سَبِيْلَ يَتَفَقَّهُ إِلَّا بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ الَّتِيْ يَنْعَتُوْنَهَا بِالصَّفْرَاءِ أَوِ بِالتَّقْلِيْدِيَّةِ أَوْ بِالرَّتْكَارِيَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ أَوِ الرَّجْعِيَّةِ وَهِيَ سَتَبْقَى سَتَبْقَى لِأَنَّ دِيْنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَاقٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ فَمَا بَقِيَ عَقِبُ إِبْرَاهِيْمَ فَإِنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ وَدِيْنَ الْإِسْلَامِ بَاقٍ وَأَنْتُمْ تَحْفَظُوْنَ أَحَادِيْثَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ وَالْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ وَالْمَقْصُوْدُ أَنْ تَحْذَرَ مِنْ كُلِّ هَيْئَةٍ يَخْرُجُ إِلَيْهَا النَّاسُ وَتَمْتَدُّ إِلَيْهَا أَعْنَاقُهُمْ فَلَا تَغْتَرَّ بِهَا حَتَّى مَا أَقُوْلُ لَكَ أَنَا لَا تّغْتَرَّ بِهِ اُنْظُرْ هَلْ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ أَوْ لَا؟ إِذَا كَانَ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ تَمَسَّكْ بِهِ وَإِذَا كَانَ مِنْ فَلَتَاتِ كَلَامِ صَالِحٍ أَلْقِهِ وَرَاءَ الْجِدَارِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُكَ وَالسَّلَامَةُ أَنْ تَكُوْنَ عَلَى طَرِيْقَةِ مَنْ سَبَقَ فَهَذَا أَسْلَمُ لَكَ فِي دِيْنِكَ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحُجَّتُكَ فِي دِيْنِكَ الْأَئِمَّةُ الْعُظَمَاءُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَأَئِمَّةِ الْهُدَى كَأَحْمَدَ وَالشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَالْبُخَارِيِّ وَالدَّارِمِيِّ وَمَنْ بَعْدَهُمْ كَأَبُو العَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ وَتِلْمِيْذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَابْنِ مُفْلِحٍ وَابْنِ رَجَبٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حُجَّتُكَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَصْرِ أَسْأَلُ اللهَ الْعَلِيَّ الْعَظِيْمَ أَنْ يُوَفِّقَ جَمِيْعاً إِلَى مَا رَضِيَهُ بِهِذِهِ يَنْتَهِي الْإِجَابَةُ عَنْ نَفْسِهِ الثَّلَاثَةِ وَفَّقَ اللهُ الْجَمِيْعَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  


Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih? Saudara kita ini bertanya -semoga Allah memberimu kebaikan-: Mana yang lebih baik, mempelajari fiqih dari madzhab atau dari pendapat yang rajih (lebih kuat)? Apa itu pendapat yang rajih? Apa itu pendapat yang rajih?. Wahai para saudaraku, ini merupakan cara yang tidak benar dalam menuntut ilmu. Pendapat rajih adalah pendapat yang dipilih oleh seorang mujtahid mutlaq atau muqayyad, inilah pendapat rajih. Pendapat rajih adalah ijtihad yang dihasilkan oleh seorang mujtahid muqayyad atau mutlaq. Yaitu pendapat mujtahid yang ijtihadnya masih terikat dalam suatu permasalahan atau mujtahid yang telah memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam setiap permasalahan, itulah pendapat yang lebih kuat menurut mujtahid tersebut maka jika kamu hendak belajar fiqih dari pendapat yang rajih Apakah yang dimaksud itu rajih menurut as-Syeikh Abdul Aziz bin Baz? Atau rajih menurut as-Syeikh Muhammad bin ‘Utsaimin? Atau rajih menurut as-Syeikh Shalih al-Fauzan? Atau ulama lainnya yang mengajarkan fiqih di negeri kita pada tahun-tahun terakhir ini yang telah memiliki pilihan pendapat dalam berbagai masalah? Maka pendapat rajih adalah hal yang terikat dengan siapa yang berijtihad. Dan kamu tidak mungkin dapat mempelajari ilmu fiqih dengan metode seperti itu. Karena ijtihad seseorang berbeda dengan ijtihad orang lain Ini adalah satu hal yang harus diperhatikan. Dan hal lainnya, siapa yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam perkara fiqih?. Karena ijtihad dalam perkara fiqih bukan sekedar kamu mendalami suatu masalah. Kemudian kamu dapat mengatakan pendapat ini rajih (lebih kuat) yang merupakan pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama kontemporer adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Sehingga itulah yang menjadi pendapat yang rajih menurut orang banyak itu adalah pendapat yang menurut Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah sebagai pendapat yang lebih kuat. Sedangkan hai orang yang menganut pilihan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah; kamu hanyalah muqallid (pengikut suatu pendapat) dan kamu bukan seorang mujtahid Buktinya, jika kamu bertanya kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantah dalil dari pendapat tersebut. Maka kamu akan mendapatinya tidak memiliki kemampuan untuk menjawab bantahan tersebut. Karena dia hanya mengikuti ijtihad dari Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan inilah mayoritas ijtihad ulama-ulama kontemporer. Sehingga pendapat rajih yang kamu pelajari di kuliah syariah semuanya mengatakan ini pendapat rajih; Si Fulan berpendapat seperti ini, dan yang rajih adalah ini dan ini Padahal sesungguhnya semua itu merujuk pada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Kalau begitu, yang mana ilmu fiqih itu? Jika demikian, maka kalian tidak dapat mempelajari fiqih kecuali dengan mempelajari pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Sedangkan pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah tidak mencakup seluruh ilmu fiqih, karena tidak sampai kepada kita semuanya Dan dalam kitab-kitab beliau -rahimahullah Ta’ala- yang sampai kepada kita, terkadang memiliki lebih dari satu pendapat dalam suatu permasalahan. Karena sebagian kitab-kitab itu telah ditulis sejak lama, seperti kitab Syarh al-‘Umdah; dan sebagian lainnya ditulis lebih akhir Sehingga untuk mengetahui pendapat yang beliau pilih, harus bersandar pada para muridnya, terutama Ibnu Muflih. Dan jika kamu mendapati perbedaan pada pendapat yang ditetapkan sebagai pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah dalam suatu permasalahan. Maka rujukannya adalah pada pendapat yang ditetapkan muridnya, Ibnu Muflih dalam kitab al-Furu’ Atau kitab al-Adab asy-Syar’iyyah Dan Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- juga merujuk kepada Ibnu Muflih dalam mengetahui pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dalam berbagai permasalahan hukum dan fiqih -rahimahumullah-. Maka dari itu, pendapat yang rajih hanyalah anggapan semata dan hakikatnya tidak ada Sedangkan madzhab-madzhab yang disepakati, telah ada sejak ratusan tahun yang lalu Maka jika ada yang hendak mempelajari ilmu fiqih, maka dia harus mempelajarinya dari salah satu madzhab yang boleh diikuti. Dan tujuan dari mempelajarinya dari salah satu madzhab adalah untuk membantunya mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya sebagaimana yang disebutkan as-Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam kitab Taisir al-Aziz al-Hamid dalam bab orang yang mentaati ulama dan umara dalam menghalalkan yang Allah halalkan dan mengharamkan yang Allah haramkan beliau menjelaskan bahwa mempelajari fiqih dari kitab-kitab fiqih bertujuan untuk memberi gambaran terhadap berbagai permasalahan yang dibahas di dalamnya. Dengan begitu kamu dapat memiliki gambaran berbagai pembahasannya sedikit demi sedikit. Dan para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- telah Menyusun ilmu fiqih secara bertahap. Pertama mereka menulis rangkuman singkat, kemudian yang lebih luas lagi Kemudian lebih luas lagi dan lebih luas lagi Sehingga seseorang dapat memiliki gambaran terhadap berbagai macam pembahasannya Baik itu dalam madzhab Hanbali, Syafi’i, Malliki, atau Hanafi Setiap madzhab memiliki kitab-kitab yang bertahap Sehingga ketika kamu mempelajarinya secara bertahap, maka kamu dapat memiliki gambaran pembahasannya sedikit demi sedikit Kemudian kamu dapat naik ke tingkat yang lebih luas pembahasannya. Kemudian kamu dapat mencakup seluruh pembahasan ilmu fiqih Kemudian kamu dapat mengetahui dalil dalam suatu madzhab Dan kemudian kamu dapat mengetahui pendapat-pendapat dalam empat madzhab Dan jika syeikh yang mengajarkanmu fiqih memiliki pendapat dalam suatu permasalahan maka sesungguhnya kamu sedang belajar kepada seorang murajjih. Adapun jika ia mengatakan, ‘Pendapat yang lebih kuat adalah ini’, sedangkan itu adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah maka syeikh itu adalah seorang muqallid, dan bukan syeikh yang mampu berijtihad Karena ijtihad mengharuskan seseorang untuk memiliki ilmu tentang dalil-dalil yang berhubungan dengan pendapat yang dia pilih Dan kemampuan untuk menjawab tentang dalil-dalil itu. Oleh sebab itu, aku dapat menyebutkan salah satu contoh kepada kalian Para ulama kontemporer berkata tentang pendapat yang ada dalam madzhab Hanbali: “Dan mengeluarkan sisa air kencing sebanyak tiga kali adalah perbuatan yang mustahab (dianjurkan)” Para ulama kontemporer itu mengatakan itu adalah bid’ah sebagaimana yang disebutkan oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dan oleh murid beliau, Ibnu al-Qayyim dalam kitab Ighatsah al-Lahfan Itulah pendapat yang rajih menurut mereka, benar begitu?. Kalian mengetahui hal ini Akan tetapi jika kita dalami perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini menurut para ulama besar seperti asy-Syafi’i Maka menurut mereka perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini memiliki dua maksud Pertama, membersihkan air kencing yang tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan cara ini Yaitu dengan mengejan untuk mengeluarkan sisa air kencing Sehingga tidak tersisa lagi di dalamnya Dan ini adalah hal yang harus dilakukan, dan disepakati secara ijma’ Sehingga tidak mungkin dikatakan itu adalah perbuatan bid’ah Karena pembersihan najis yang diperintahkan syariat tidak mungkin tercapai kecuali dengan melakukan itu Kedua, perbuatan yang lebih dari hal itu, yaitu mengeluarkan sisa air kencing dengan bantuan tangan Para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- menyebutkan perbuatan mengeluarkan sisa air kencing secara mutlak. Namun kemudian para ulama kontemporer memaksudkannya dengan mengeluarkan sisa air kencing menggunakan tangan Padahal itu bukanlah yang dimaksud secara tepat, namun hanya sebagian dari maksudnya saja Sehingga pendapat yang rajih dalam perkara mengeluarkan sisa air kencing dengan mengejan untuk membersihkan sisa najis merupakan perkara yang diperintahkan bahkan wajib dilakukan Adapun membersihkan sisa kencing dengan bantuan tangan, maka inilah yang dimaksud pada pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-. Dan demikian pula dalam berbagai permasalahan lainnya, baik itu yang ada dalam madzhab Hanbali atau madzhab lainnya Oleh sebab itu, jika kamu ingin mendapat manfaat dari belajar fiqih Maka pelajarilah secara bertahap dan teratur melalui salah satu madzhab yang diakui Aku tidak berkata, “Berpeganglah selalu pada pendapat yang ada dalam madzhab”. Namun aku katakan, “Senantiasalah mempelajarinya dari madzhab”. Dan jika kamu memilih suatu pendapat, atau syeikhmu memilih suatu pendapat Atau hatimu lebih condong kepada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, Kemudian kamu mengikutinya; maka itu adalah urusanmu. Akan tetapi kamu tidak akan menguasai pembahasan-pembahasan ilmu fiqih kecuali dengan metode seperti ini Adapun orang yang belajar ilmu fiqih secara asal-asalan, maka itu tidak akan mendatangkan manfaat. Dan hanya menghasilkan orang-orang yang tidak menguasai ilmu fiqih dengan baik Dan aku pernah membaca makalah salah satu dari mereka yang ditulis beberapa lembar Di dalamnya terdapat potongan kutipan-kutipan dari pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Dari kutipan-kutipan itu, orang tersebut menyimpulkan dibolehkannya lagu, Dan dibolehkannya mendengarkan lagu dari suara wanita, Serta perkara-perkara lainnya yang masih banyak lagi Hal ini karena dia tidak memahami hakikat perkataan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam perkara tersebut. Dan dia tidak memahami fiqih dengan sebenar-benarnya Mereka tidak memiliki gambaran yang benar dalam ilmu fiqih Kemudian mereka hendak memahami para ahli fiqih seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala- Dan dari sinilah masuk banyak masalah kepada kaum muslimin akhir-akhir ini Sehingga sekarang pendapat-pendapat yang dhaif (lemah) menjadi tuntunan agama Padahal para ahli fiqih bersepakat tentang haramnya memberi fatwa menggunakan pendapat yang dhaif Tidak boleh memberi fatwa dengan pendapat yang lemah. Mereka masih membolehkan fatwa dengan pendapat yang marjuh (di bawah tingkat rajih) Karena pendapat marjuh masih memiliki tingkat kekuatan, hanya saja masih ada yang lebih kuat Sedangkan pendapat dhaif adalah mendapat yang tidak benar, sehingga tidak boleh digunakan untuk berfatwa Kemudian sekarang orang yang tidak memahami fiqih bersandar pada pendapat-pendapat yang lemah ini. Dan menjadikannya sebagai tuntunan agama bagi orang banyak Oleh sebab itu, yang dulunya haram, sekarang menjadi halal Akibat orang yang berbicara dalam masalah fiqih tidak memiliki keahlian. Dan jika orang yang tidak memiliki keahlian telah berbicara dalam perkara agama maka dia akan mendatangkan berbagai musibah bagi umat. Dan kekurangan yang terjadi ini adalah karena lemahnya ghirah terhadap agama Allah Azza wa Jalla yang dimiliki oleh para menuntut ilmu dan para pengajarnya. Dan karena tidak teguh di atas jalan para salaf dalam menuntut ilmu .Dan janganlah sekali-kali kalian terlena oleh ketenaran; karena waktu akan terus berganti dan berubah Sedangkan agama Islam tidak akan berubah oleh waktu Dan betapa seringnya orang-orang digemparkan oleh suatu perkara, namun selang beberapa tahun kemudian perkara itu lenyap dan hilang. Dan yang tetap ada adalah yang bermanfaat bagi manusia. Dan cermatilah hal ini pada keadaan-keadaan yang terjadi belum lama ini Betapa banyak fitnah dan cobaan yang menimpa kaum muslimin. Kemudian fitnah itu menyeret beberapa orang yang dikenal sebagai orang yang memahami agama. Pada awalnya mereka memiliki kedudukan dan derajat Namun selang beberapa tahun yang penuh tipudaya itu, ternyata mereka menjadi seakan-akan tidak pernah ada Dan lihatlah masa kejayaan nasionalisme dan komunisme, dan orang yang menggaungkan islam sosialis Dan lihatlah Abu Dzar, pemimpin kaum sosialis yang memiliki banyak fatwa tentang sosialisme dan lainnya. Namun pada akhirnya mereka lenyap, disingkirkan oleh Allah Azza wa Jalla Dan yang tetap ada adalah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Maka kekhawatiran ini bukan terhadap agama, namun terhadap dirimu Khawatir kamu akan salah dalam memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu yang dapat melindungimu -biidznillah- adalah dengan mengetahui jalan yang benar dalam mempelajari agama, dan berpegang teguh kepada jalan para salaf dan berpegang pada wasiat mereka,. ‘Kalian harus berpegang pada perkara yang pertama dan ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti pendapat-pendapat orang, meskipun mereka menghiasinya dengan kalimat yang indah’ karena hiasan itu akan lenyap, sedangkan kebenaran akan tetap ada Hal yang batil hanya bertahan sekejap, sedangkan hal yang benar akan bertahan hingga akhir zaman. Dan jalan yang telah ditetapkan oleh para ulama ahli fiqih, ahli hadits, dan ahli tafsir Tidak akan dapat dilenyapkan oleh jalan-jalan kecil Tidak akan! Karena mau tidak mau, jalan itu akan tetap ada Dahulu banyak orang yang meremehkan kitab Zad al-Mustaqni’ Mereka mencelanya dan menghina orang yang belajar dan mengajarkannya serta menghafalnya. Namun selang beberapa tahun kemudian, orang-orang itu akhirnya menyadari Bahwa tidak ada jalan untuk mempelajari fiqih kecuali melalui kitab-kitab seperti ini Kitab-kitab yang mereka sebut sebagai kitab kuning, kitab klasik, atau kitab kuno Akan tetapi kitab-kitab itu akan tetap ada, karena agama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap ada Allah Ta’ala berfirman “Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya” [QS. Az-Zukhruf: 28]. Maka selama keturunan Nabi Ibrahim masih ada, maka kalimat tauhid dan agama Islam akan tetap ada Kalianpun telah hafal hadits-hadits tentang tha’ifah manshurah dan firqah najiyah. Dan yang saya maksud di sini adalah agar kamu berhati-hati Terhadap setiap kelompok yang disambut dan mendapat perhatian banyak orang Janganlah kamu mudah tertipu dengan kelompok tersebut. Bahkan jangan mudah tertipu oleh apa yang aku katakan kepadamu. Hingga kamu melihatnya, apakah sesuai dengan jalan para salaf atau tidak? Jika sesuai dengan jalan para salaf, maka berpegang teguhlah padanya. Namun jika itu hanya omong kosong dari orang shalih (yang tidak berilmu), maka lempar perkataan itu ke dinding Karena perkataan itu tidak akan mendatangkan manfaat bagimu Dan kamu akan meraih keselamatan dengan menempuh jalan para salaf. Ini lebih selamat bagimu dalam agamamu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala Karena jika kamu menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan hujjahmu adalah para ulama besar. Dari kalangan para sahabat, tabi’in Dan ulama-ulama besar seperti Imam Ahmad, asy-Syafi’i, Malik, al-Bukhari, ad-Darimi, Dan ulama setelah mereka seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, dan muridnya, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Muflih, dan Ibnu Rajab. Maka itu lebih baik bagimu; daripada jika kamu menghadap kepada Allah sedangkan hujjahmu adalah Si Fulan dan Si Fulan yang hidup di zaman ini Aku memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung agar memberi kita semua taufik menuju apa yang Dia ridhai Dengan ini selesai sudah jawaban tiga pertanyaan sekaligus Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ============================================================================== يَقُوْلُ هَذَا الْأَخُ يَقُوْلُ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ دِرَاسَةُ الْمَذْهَبِ أَمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ وَأَيْش الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ مَا هُوَ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟ هَذِهِ يَا إِخْوَانُ مِنَ الْغَلَطِ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الْاِخْتِيَارُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ مُجْتَهِدٌ مُقَيَّدٌ أَوْ مُطْلَقٌ هَذَا الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الاِجْتِهَادُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ أَوْ مُطْلَقٍ فَهُوَ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ فِي مَسْأَلَةٍ أَوْ عِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْاِجْتِهَادِ كُلِّهِ فَهُوَ رَاجِحٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ فَأَنْتَ إِذَا أَرَدْتَ الْآنَ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ بِالرَّاجِحِ هَلِ الرَّاجِحُ تَقْصُدُ مَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ بَازٍ؟ أَوِ الرَّاجِحُ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بْنِ عُثَيْمِيْنَ أَوِ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ صَالِحِ الْفَوْزَانِ أَوْ غَيْرُهُمْ مِمَّنْ دَرَسَ الْفِقْهَ فِي قَطْرِنَا فِي هَذِهِ السَّنَوَاتِ الْأَخِيْرَةِ وَلَهُ فِي ذَلِكَ اخْتِيَارَاتٌ فَالرَّاجِحُ شَيْءٌ مُقَيَّدٌ بِالنِّسْبِةِ لِمُجْتَهِدٍ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ فَاجْتِهَادُ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ هَذَا شَيْءٌ وَالشَّيْءُ الْآخَرُ مَنْ ذَا الَّذِيْ عِنْدَهُ مُكْنَةٌ فِي الْاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ فَإِنَّ الاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ لَيْسَ هُوَ تَبْحَثُ الْمَسْأَلَةَ ثُمَّ تَقُوْلُ وَالرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فَإِنَّ الرَّاجِحَ عِنْدَ الْمُتَأّخِّرِيْنَ عَامَّتِهِمْ هُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَصَارَ هَذَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ النَّاسِ فَيَكُوْنُ هَذَا رَاجِحاً بِالنِّسْبَةِ لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ أَمَّا أَنْتَ أَيُّهَا النَّاقِلُ لِاخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَإِنَّكَ مُقَلِّدٌ وَلَسْتَ مُجْتَهِداً وَالدَّلِيْلُ أَنَّكَ إِذَا أَوْرَدْتَ عَلَيْهِ مَا يَقَعُ مِنَ الْإيْرَادَاتِ الَّتِي تُعْرَفُ فِي عِلْمِ الْخِلَافِ فِي إِبْطَالِ دَلِيْلِهِ أَوْ إِبْطَالِ وَجْهِ اسْتِدْلَالِهِ لَا تَجِدُ لَهُ مُكْنَةً فِي الْمُنَاقَشَةِ فِي ذَلِكَ فَهُوَ مُقَلَّدٌ لِاجْتِهَادِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ وَهَذَا هُوَ الْغَالِبُ فِي اجْتِهَادَاتِ الْمُتَأّخِّرِيْنِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِيْ تَدْرُسُهُ فِي كُلِّيَّةِ الشَّرِيْعَةِ كُلٌّ يَقُوْلُ الرَّاجِحُ الرَّاجِحُ فُلَانٌ قَالَ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا هُوَ فِي الْحَقِيْقَةِ مَآلُهُ إِلَى اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الُحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَحِيْنَئِذٍ أَيْنَ هَذَا الْفِقْهُ؟ إذاً لَا يُقَابِلُ هَذَا إِلَّا أَنْ تَدْرُسَ اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَاخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ لَا تَشْمَلُ الْفِقْةَ كُلَّهُ فَإِنَّهَا لَمْ تَحْفَظْ لَنَا وَهُوَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كُتُبِهِ الْمَوْجُوْدَةِ فِي أَيْدِيْنَا لَهُ قَوْلٌ فِي مَسْأَلَةٍ وَلَهُ قَوْلٌ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلٌ آخَرُ لِأَنَّ بَعْضَهَا قَدِيْمُ التَّصْنِيْفِ كَشَرْحِ الْعُمْدَةِ وَبَعْضَهَا مُتَأَخِّرٌ وَلِذَلِكَ يُعَوَّلُ عَلَى تَلَامِيْذِهِ وَلَا سِيَّمَا ابْنُ مُفْلِحٍ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِهِ فَاخْتِيَارُ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ فِي مَسْأَلَةٍ إِذَا وَجَدْتَ فِيْهِ اخْتِلَافاً مَرَدُّهُ إِلَى مَا قَرَّرَهُ تِلْمِيْذُهُ ابْنُ مُفْلِحٍ فِي كِتَابِ الْفُرُوْعِ أَوْ فِي كِتَابِ الْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَقَدْ كَانَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَرْجِعُ إِلَيْهِ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ فِي مَسَائِلِ الْأَحْكَامِ وَالْفِقْهِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى جَمِيْعاً فَحِيْنَئِذٍ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ مُتَوَهِّمٌ لَا وُجُوْدَ لَهُ وَالْمَذَاهِبُ الْمَتْبُوْعَةُ مَوْجُوْدَةٌ مُسْتَقِرَّةٌ مُنْذُ مِئَاتِ السِّنِيْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْفِقْهَ فَلَا بُدَّ أَنْ يَقْرَأَهُ بِدِرَاسَةٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ وَدِرَاسَتِهِ عَلَى مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ الْمَقْصُوْدُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ مَسَائِلِهِ كَمَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ ابْنُ عَبْدِ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ فِي تِيْسِيْرِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ فِي بَابِ مَنْ أَطَاعَ الْعُلَمَاءَ وَالْأُمَرَاءَ فِي تَحْلِيْلِ مَا أَحَلَّ اللهُ وَتَحْرِيْمِ مَا حَرَّمَ اللهُ فَإِنَّهُ ذَكَرَ هَذَا الْمَعْنَى وَبَيَّنَ أَنَّ دِرَاسَةَ الْفِقْهِ فِي كُتُبِ الْفُرُوْعِ الْمُرَادُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ فَأَنْتَ تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً وَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى رَتَّبُوا الْفِقْهَ عَلَى التَّدْرِيْجِ فَأَلَّفُوا مُخْتَصَرَاتٍ وَجِيْزَةٍ ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا حَتَّى يَتَمَكَّنَ الْإِنْسَانُ مِنْ تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ سَوَاءٌ كَانَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَكُّ مَذْهَبٌ مِنْ هَذَا التَّدْرِيْجِ فَعِنْدَمَا تَأْخُذُهُ مُدَرَّجاً تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً ثُمَّ تَرْتَقِي بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى اسْتِيْفَاءِ مَسَائِلَ أَكْثَرُ مِنَ الْمَبَادِئِ ثُمَّ تَسْتَوْعِبُ الْفِقْهَ كُلَّهُ ثُمَّ تَعْرِفُ دَلِيْلَ الْمَذْهَبِ ثُمَّ تَعْرِفُ أَقْوَالَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ ثُمَّ إِنْ كَانَ لِشَيْخِكَ الْمُفَقِّهِ لَكَ نَظَرٌ فِي الْفِقْهِ فَحِيْنَئِذٍ أَنْتَ تَقْرَأُ عَلَى مُرَجِّحٍ وَأَمَّا أَنْ يَأْتِي فَيَقُوْلُ لَكَ الرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فَهَذَا مُقَلِّدٌ وَلَيْسَ لَهُ اجْتِهَادٌ لِأَنَّ اْلاِجْتِهَادَ يَقْتَضِي أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَهُ عِلًمٌ بِالْأَدِلَّةِ الَّتِي عُلِّقَ بِهَا هَذَا الْاِخْتِيَارُ وَقُدْرَةُ عَلَى الْإِجَابَةِ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ إِذَا قُلْتُ لَكُمْ مَثَلاً يُذْكَرُ عِنْدَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ عِنْدَ قَوْلِ الْحَنَابِلَةِ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ نَثْرُ ذَكَرِهِ ثَلَاثاً قَالُوْا وَهُوَ بِدْعَةٌ كَمَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ وَتِلْمِيْذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي إِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ هَذَا الرَّاجِحٌ صَحّ؟ تَعْرِفُوْنَ هَذَا أَنْتُمْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا لَكِنْ إِذَا جِئْنَا إِلَى النَّثْرِ وَنَجِدُ أَئِمَّةَ كِبَارٍ كَالشَّافِعِيِّ يَذْكُرُهُ وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّ النَّثْرَ حَاصِلُ كَلَامِهِمْ النَّثْرُ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا مَا لَا يُمْكِنُ الْاِسْتِبْرَاءُ إِلَّا بِهِ وَهُوَ أَنْ يُحَرِّكَ ذَكَرَهُ بِدَفْعِ الْبَوْلِ فِيْهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهُ الْبَوْلُ وَلَا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ فِي ذَكَرِهِ وَهَذَا قَدْرٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ إِجْمَاعَا وَلَا يُمْكِنُ الْقَوْلُ بِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لِأَنَّ الْاِسْتِبْرَاءَ الْمَأْمُوْرَ بِهِ شَرْعاً لَا يَقَعُ إِلَّا بِهِ وَالثَّانِيْ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ ذَلِكَ وَهُوَ اسْتِعْمَالُ آلَةِ يَدٍ فِيْهِ فَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى ذَكَرُوا النَّثْرَ مُطْلَقاً ثُمَّ خَصَّصَهُ الْمُتَأَخِّرُوْنَ بِإِرَادَةِ النَّثْرِ بِالْيَدِ وَهَذَا لَيْسَ كُلَّ مَعْنَاهُ بَلْ هُوَ بَعْضُ مَعْنَاهُ وَحِيْنَئِذٍ فَالرَّاجِحُ أَنَّ النَّثْرَ الَّذِيْ يَرْجِعُ إِلَى أَصْلِ اسْتِبْرَاءِ مَأْمُوْرٌ بِهِ بَلْ هُوَ وَاجِبٌ وَأَمَّا النَّثْرُ الَّذِيْ يَكُوْنُ بِاسْتِعْمَالِ آلَةِ الْيَدِ فَهُوَ الَّذِيْ يَأْتِيْ عَلَيْهِ كَلَامُ أَبِيْ الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِسْ عَلَى هَذَا فِي مَسَائِلِ عِدَّةٍ سَوَاءً عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ غَيْرِهِمْ وَلِذَلِكَ إَذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَفِيْدَ فِيْ قِرَاءَةِ الْفِقْهِ فَالْزَمْ قِرَاءَتَهُ عَلَى تَدْرِيْجٍ مُرَتَّبٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمُعْتَمَدَةِ وَلَا أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قَوْلَ الْمَذْهَبِ بَلْ أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قِرَاءَتَهُ كَذَلِكَ فَإِنْ كَانَ لَكَ اخْتِيَارٌ أَوْ شَيْخُكَ لَهُ اخْتِيَارٌ أَوْ تَرَى أَنَّ قَلْبَكَ يَمِيْلُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ فَتُقَلِّدَهُ بِذَلِكَ فَهَذَا شَأْنُكَ لَكِنْ تَصَوُّرُكَ لِلْمَسَائِلَ لَا يَمْكِنُ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ وَأَمَّا طَلَبُ الْفِقْهِ عَلَى وَجْهِ الْفَوْضَى فَهَذَا لَا يَنْفَعُ وَيُخْرِجُ لَنَا أُنَاساً لَا يَتَصَوَّرُوْنَ الْفِقْهَ كَمَا يَنْبَغِيْ وَقَدْ رَأّيْتُ لِأَحَدِهِمْ مَقَالَةً فِي عِدَّةِ وَرَقَاتٍ مُذَكِّرَةً اجْتَزَأَ فِيْهَا كَلَاماً لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ خَرَجَ بِهِ هَذَا الرَّجُلَ فِي إِبَاحَةِ الْغِنَاءِ وَجَوَازِ سَمَاعِهِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِلَى آخِرِ قَائِمَةٍ طَوِيْلَةٍ لِأَنَّهُ لَا يَفْهَمُ حَقِيْقَةَ كَلَامِ أَبِي الْعَبَّاسِ لِابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فِيْهَا وَلَمْ يَفْهَمِ الْفِقْهَ حَقِيْقَةً فَهَؤُلَاءِ يَأْتُوْنَ وَلَيْسَ لَهُمْ تَصَوُّرٌ فِي الْفِقْهِ ثُمَّ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَفْهَمُوا كَلَامَ الْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِيْنَ كَأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَمِنْ هُنَا دَخَلَ الْخَلَلُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بِأَخَرَةِ فَصَارَتِ الْأَقْوَالُ الضَّعِيْفَةُ فِي الْمَذَاهِبِ دِيْنًا وَالْفُقَهَاءُ مُجْمِعُوْنَ عَلَى حُرْمَةِ الْإِفْتَاءِ بِالضَّعِيْفِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِالضَّعِيْفِ وَإِنَّمَا ذَكَرُوْا الْإِفْتَاءِ بِالْمَرْجُوْحِ وَالْمَرْجُوْحُ لَهُ وَجْهُ قُوَّةٍ لَكِنَّهُ مَرْجُوْحٌ أَمَّا الضَّعِيْفُ وَهُوَ مَا كَانَ مُتَوَهَّماً لَا حَقِيْقَةَ لَهُ فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِهِ وَالْيَوْمَ يَأْتِيْ مَنْ لَا يَفْهَمُ فِي صِنْعَةِ الْفِقْهِ فَيَأْخُذُ هَذِهِ الْأَقْوَالَ الضَّعِيْفَةَ وَيَجْعَلُهَا دِيْناً يَتَدَيَّنُ النَّاسُ بِهِ وَلِذَلِكَ صَارَ مَا كَانَ حَرَاماً بِالْأَمْسِ حَلَالَا بِالْيَوْمِ لِأَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي الْفِقْهِ مَنْ لَيْسَ بِأَهْلِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ فِي الدِّيْنَ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ جَاءَ بِمِثْلِ هَذِهِ الطَّامَّاتِ وَالْبَوَاقِعِ الَّتِي عَمَّتِ الْأُمَّةَ وَإِنَّمَا حَصَلَ النَّقْصُ بِقِلَّةِ الْغِيْرَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمِيْنَ وَعَدَمُ لُزُوْمِ جَادَّةِ مَنْ سَبَقَ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ وَلَا تَغُرَّكُمُ الطُّبُوْلِيَّاتُ وَالشُّهْرَةُ فَإِنَّ الْأَيَّامَ صِرَامٌ وَالْإِسْلَامُ لَا تُغَيِّرُهُ الْأَيَّامُ وَكَمْ مِنْ وَقْتٍ أَزْبَدَ النَّاسُ فِيْهِ وَأَرْعَدُوا لِأَمْرٍ ضَجُّوا فِيْهِ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ حَتَّى يَكُوْنَ زَبَداً يَذْهَبُ وَيَبْقَى مَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَاعْتَبِرْ هَذَا فِي أَحْوَالٍ قَرِيْبَةٍ فَكَمْ مِنْ بَاقِعَةٍ وَفِتْنَةِ أَلَمَّتْ بِالْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ جَرَفَتْ مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّيْنِ وَالشَّرِيْعَةِ قَوْماً كَانَ لَهُمْ فِيْهَا شَارَةٌ وَرِئَاسَةٌ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ وَإِذَا بِهِمْ كَأَنْ لَمْ يَكُوْنُوْا وَانْظُرْ إِلَى فَتْرَةِ الْقَوْمِيَّةِ أَوْ فَتْرَةِ الشُّيُوْعِيَّةِ وَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهَا مِمَّنْ أًلَّفَ الْإِسْلَامَ الْاِشْتِرَاكِيَّ وَأَبُو ذَرٍّ إِمَامُ الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَلَهُ فَتَاوَى فِي الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ثُمَّ إِذَا بِهِمْ زَبَدٌ جُفَاءٌ قَدْ أَزَالَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَبَقِيَ دِيْنُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَلَيْسَ الْخَوْفُ عَلَى الدِّيْنِ وَلَكِنِ الْخَوْفُ عَلَيْكَ أَنْتَ أَنْ تَغْلَطَ فِي فَهْمِ دِيْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِمَّا يَعْصِمُكَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَعْرِفَ طَرِيْقَ أَخْذِ دِيْنِكَ وَأَنْ تَتَمَسَّكَ بِجَادَةِ مَنْ سَبَقَ وَأَنْ تَلْزَمَ وَصِيَّتَهُمْ عَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ وَالْاِتِّبَاعِ وَإِيَّاكُمْ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهَا لَكُمْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّ الزُّخْرُفَ يَزُوْلُ وَالْحَقُّ يَبْقَى وَدَوْلَةُ البَّاطِلِ سَاعَةٌ وَدَوْلَةُ الْحَقِّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ وَمَا قَرَّرَهُ الْأَئِمَّةَ الْعُظَمَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُزِيْلَهُ بُنِيَّاتُ الطَّرِيْقِ أَبَداً فَهُوَ بَاقٍ بَاقٍ شَاءَ مَنْ شَاءَ وَأَبَى مَنْ أَبَى وَقَدْ كَانَ فِيْمَا مَضَى قَوْمٌ يَأْنَفُوْنَ مِنْ زَادِ الْمُسْتَقْنِعِ وَيَسْخَرُوْنَ بِهِ وَيَسْتَهْزِئُوْنَ بِمَنْ يَقْرَأُهُ وَيُقْرِئُهُ وَيَحْفَظَهُ فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ وَإِذَا بِبَعْضِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ يَرْجِعُوْنَ إِلَى عُقُوْلِهِمْ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ لَا سَبِيْلَ يَتَفَقَّهُ إِلَّا بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ الَّتِيْ يَنْعَتُوْنَهَا بِالصَّفْرَاءِ أَوِ بِالتَّقْلِيْدِيَّةِ أَوْ بِالرَّتْكَارِيَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ أَوِ الرَّجْعِيَّةِ وَهِيَ سَتَبْقَى سَتَبْقَى لِأَنَّ دِيْنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَاقٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ فَمَا بَقِيَ عَقِبُ إِبْرَاهِيْمَ فَإِنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ وَدِيْنَ الْإِسْلَامِ بَاقٍ وَأَنْتُمْ تَحْفَظُوْنَ أَحَادِيْثَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ وَالْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ وَالْمَقْصُوْدُ أَنْ تَحْذَرَ مِنْ كُلِّ هَيْئَةٍ يَخْرُجُ إِلَيْهَا النَّاسُ وَتَمْتَدُّ إِلَيْهَا أَعْنَاقُهُمْ فَلَا تَغْتَرَّ بِهَا حَتَّى مَا أَقُوْلُ لَكَ أَنَا لَا تّغْتَرَّ بِهِ اُنْظُرْ هَلْ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ أَوْ لَا؟ إِذَا كَانَ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ تَمَسَّكْ بِهِ وَإِذَا كَانَ مِنْ فَلَتَاتِ كَلَامِ صَالِحٍ أَلْقِهِ وَرَاءَ الْجِدَارِ فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُكَ وَالسَّلَامَةُ أَنْ تَكُوْنَ عَلَى طَرِيْقَةِ مَنْ سَبَقَ فَهَذَا أَسْلَمُ لَكَ فِي دِيْنِكَ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحُجَّتُكَ فِي دِيْنِكَ الْأَئِمَّةُ الْعُظَمَاءُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَأَئِمَّةِ الْهُدَى كَأَحْمَدَ وَالشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَالْبُخَارِيِّ وَالدَّارِمِيِّ وَمَنْ بَعْدَهُمْ كَأَبُو العَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ وَتِلْمِيْذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَابْنِ مُفْلِحٍ وَابْنِ رَجَبٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حُجَّتُكَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَصْرِ أَسْأَلُ اللهَ الْعَلِيَّ الْعَظِيْمَ أَنْ يُوَفِّقَ جَمِيْعاً إِلَى مَا رَضِيَهُ بِهِذِهِ يَنْتَهِي الْإِجَابَةُ عَنْ نَفْسِهِ الثَّلَاثَةِ وَفَّقَ اللهُ الْجَمِيْعَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  

Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Berdasarkan pengalaman, kami tidak mengetahui ada hal yang lebih efektif untuk menguatkan hafalan al-Quran selain salat malam. Jika Anda memurajaah (mengulang-ulang) hafalan al-Quran Anda di salat malam, tentu ini adalah cara murajaah yang terbaik. Baik Anda melakukan salat malam langsung setelah salat Isya’ atau di akhir malam. Namun, hendaknya murajaah Anda; misalkan Anda memiliki target pribadi murajaah setengah juz setiap harinya, maka target setengah juz ini hendaklah Anda baca dalam salat, hal ini akan memperkuat hafalan, kenapa? Karena seseorang ketika dia sedang salat akan mengerahkan seluruh kemampuannya karena dia tidak memegang mushaf, mushafnya jauh darinya. Dia akan memaksimalkan segala kemampuannya sehingga ingatannya lebih kuat dan hafalannya semakin kokoh. Jika kalian menginginkan bukti, buktinya gampang! Kalian akan dapati bahwa orang yang jadi imam salat akan lebih hafal ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salatnya. Bahkan walaupun dia telah menghafal 30 juz al-Quran, tetap saja ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salat lebih kuat dalam ingatannya daripada ayat-ayat lainnya. Dan hal ini sudah kita ketahui bersama. ======================= وَلَمْ نَعْلَمْ بِحَسَبِ التَّجْرِبَةِ أَقْوَى فِي تَثْبِيتِ الْحِفْظِ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ لَوْ جَعَلْتَ مُرَاجَعَتَكَ لِمَا تَحْفَظُ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكَانَتْ هَذِهِ أَحْسَنَ مُرَاجَعَةٍ سَوَاءً كُنْتَ تُصَلِّي فِي أَوَّلِ اللَّيْلِ بَعْدَ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً أَوْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ لَكِنْ اِجْعَلْ مُرَاجَعَتَكَ مَثَلًا لَوْ أَنَّكَ جَعَلْتَ لِنَفْسِكَ مُرَاجِعَةً لِنِصْفِ جُزْءٍ يَوْمِيًّا هَذَا النِّصْفُ اقْرَأْهُ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذَا أَقْوَى فِي الْحِفْظِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ لَيْسَ مَعَهُ الْمُصْحَفُ الْمُصْحَفُ بَعِيدٌ عَنْهُ فَيَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ فَتَكُوْنُ ذَاكِرَتُهُ أَقْوَى وَيَثْبُتُ الْحِفْظُ وَإِنْ شِئْتُمْ دَلِيلًا فَالدَّلِيلُ سَهْلٌ تَجِدُ أَنَّ الْإِمَامَ الَّذِي يُصَلِّي بِالنَّاسِ أَحْفَظُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا عَادَةً فِي الصَّلَاةِ حَتَّى لَوْ كَانَ حَافِظًا لِلْقُرْآنِ كُلِّهِ تَجِدُ أَنَّ حِفْظَهُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا بِالصَّلَاةِ أَقْوَى مِنْ حِفْظِهِ لِبَقِيَّةِ الْآيَاتِ وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ

Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Berdasarkan pengalaman, kami tidak mengetahui ada hal yang lebih efektif untuk menguatkan hafalan al-Quran selain salat malam. Jika Anda memurajaah (mengulang-ulang) hafalan al-Quran Anda di salat malam, tentu ini adalah cara murajaah yang terbaik. Baik Anda melakukan salat malam langsung setelah salat Isya’ atau di akhir malam. Namun, hendaknya murajaah Anda; misalkan Anda memiliki target pribadi murajaah setengah juz setiap harinya, maka target setengah juz ini hendaklah Anda baca dalam salat, hal ini akan memperkuat hafalan, kenapa? Karena seseorang ketika dia sedang salat akan mengerahkan seluruh kemampuannya karena dia tidak memegang mushaf, mushafnya jauh darinya. Dia akan memaksimalkan segala kemampuannya sehingga ingatannya lebih kuat dan hafalannya semakin kokoh. Jika kalian menginginkan bukti, buktinya gampang! Kalian akan dapati bahwa orang yang jadi imam salat akan lebih hafal ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salatnya. Bahkan walaupun dia telah menghafal 30 juz al-Quran, tetap saja ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salat lebih kuat dalam ingatannya daripada ayat-ayat lainnya. Dan hal ini sudah kita ketahui bersama. ======================= وَلَمْ نَعْلَمْ بِحَسَبِ التَّجْرِبَةِ أَقْوَى فِي تَثْبِيتِ الْحِفْظِ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ لَوْ جَعَلْتَ مُرَاجَعَتَكَ لِمَا تَحْفَظُ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكَانَتْ هَذِهِ أَحْسَنَ مُرَاجَعَةٍ سَوَاءً كُنْتَ تُصَلِّي فِي أَوَّلِ اللَّيْلِ بَعْدَ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً أَوْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ لَكِنْ اِجْعَلْ مُرَاجَعَتَكَ مَثَلًا لَوْ أَنَّكَ جَعَلْتَ لِنَفْسِكَ مُرَاجِعَةً لِنِصْفِ جُزْءٍ يَوْمِيًّا هَذَا النِّصْفُ اقْرَأْهُ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذَا أَقْوَى فِي الْحِفْظِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ لَيْسَ مَعَهُ الْمُصْحَفُ الْمُصْحَفُ بَعِيدٌ عَنْهُ فَيَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ فَتَكُوْنُ ذَاكِرَتُهُ أَقْوَى وَيَثْبُتُ الْحِفْظُ وَإِنْ شِئْتُمْ دَلِيلًا فَالدَّلِيلُ سَهْلٌ تَجِدُ أَنَّ الْإِمَامَ الَّذِي يُصَلِّي بِالنَّاسِ أَحْفَظُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا عَادَةً فِي الصَّلَاةِ حَتَّى لَوْ كَانَ حَافِظًا لِلْقُرْآنِ كُلِّهِ تَجِدُ أَنَّ حِفْظَهُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا بِالصَّلَاةِ أَقْوَى مِنْ حِفْظِهِ لِبَقِيَّةِ الْآيَاتِ وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ
Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Berdasarkan pengalaman, kami tidak mengetahui ada hal yang lebih efektif untuk menguatkan hafalan al-Quran selain salat malam. Jika Anda memurajaah (mengulang-ulang) hafalan al-Quran Anda di salat malam, tentu ini adalah cara murajaah yang terbaik. Baik Anda melakukan salat malam langsung setelah salat Isya’ atau di akhir malam. Namun, hendaknya murajaah Anda; misalkan Anda memiliki target pribadi murajaah setengah juz setiap harinya, maka target setengah juz ini hendaklah Anda baca dalam salat, hal ini akan memperkuat hafalan, kenapa? Karena seseorang ketika dia sedang salat akan mengerahkan seluruh kemampuannya karena dia tidak memegang mushaf, mushafnya jauh darinya. Dia akan memaksimalkan segala kemampuannya sehingga ingatannya lebih kuat dan hafalannya semakin kokoh. Jika kalian menginginkan bukti, buktinya gampang! Kalian akan dapati bahwa orang yang jadi imam salat akan lebih hafal ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salatnya. Bahkan walaupun dia telah menghafal 30 juz al-Quran, tetap saja ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salat lebih kuat dalam ingatannya daripada ayat-ayat lainnya. Dan hal ini sudah kita ketahui bersama. ======================= وَلَمْ نَعْلَمْ بِحَسَبِ التَّجْرِبَةِ أَقْوَى فِي تَثْبِيتِ الْحِفْظِ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ لَوْ جَعَلْتَ مُرَاجَعَتَكَ لِمَا تَحْفَظُ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكَانَتْ هَذِهِ أَحْسَنَ مُرَاجَعَةٍ سَوَاءً كُنْتَ تُصَلِّي فِي أَوَّلِ اللَّيْلِ بَعْدَ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً أَوْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ لَكِنْ اِجْعَلْ مُرَاجَعَتَكَ مَثَلًا لَوْ أَنَّكَ جَعَلْتَ لِنَفْسِكَ مُرَاجِعَةً لِنِصْفِ جُزْءٍ يَوْمِيًّا هَذَا النِّصْفُ اقْرَأْهُ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذَا أَقْوَى فِي الْحِفْظِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ لَيْسَ مَعَهُ الْمُصْحَفُ الْمُصْحَفُ بَعِيدٌ عَنْهُ فَيَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ فَتَكُوْنُ ذَاكِرَتُهُ أَقْوَى وَيَثْبُتُ الْحِفْظُ وَإِنْ شِئْتُمْ دَلِيلًا فَالدَّلِيلُ سَهْلٌ تَجِدُ أَنَّ الْإِمَامَ الَّذِي يُصَلِّي بِالنَّاسِ أَحْفَظُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا عَادَةً فِي الصَّلَاةِ حَتَّى لَوْ كَانَ حَافِظًا لِلْقُرْآنِ كُلِّهِ تَجِدُ أَنَّ حِفْظَهُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا بِالصَّلَاةِ أَقْوَى مِنْ حِفْظِهِ لِبَقِيَّةِ الْآيَاتِ وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ


Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Berdasarkan pengalaman, kami tidak mengetahui ada hal yang lebih efektif untuk menguatkan hafalan al-Quran selain salat malam. Jika Anda memurajaah (mengulang-ulang) hafalan al-Quran Anda di salat malam, tentu ini adalah cara murajaah yang terbaik. Baik Anda melakukan salat malam langsung setelah salat Isya’ atau di akhir malam. Namun, hendaknya murajaah Anda; misalkan Anda memiliki target pribadi murajaah setengah juz setiap harinya, maka target setengah juz ini hendaklah Anda baca dalam salat, hal ini akan memperkuat hafalan, kenapa? Karena seseorang ketika dia sedang salat akan mengerahkan seluruh kemampuannya karena dia tidak memegang mushaf, mushafnya jauh darinya. Dia akan memaksimalkan segala kemampuannya sehingga ingatannya lebih kuat dan hafalannya semakin kokoh. Jika kalian menginginkan bukti, buktinya gampang! Kalian akan dapati bahwa orang yang jadi imam salat akan lebih hafal ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salatnya. Bahkan walaupun dia telah menghafal 30 juz al-Quran, tetap saja ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salat lebih kuat dalam ingatannya daripada ayat-ayat lainnya. Dan hal ini sudah kita ketahui bersama. ======================= وَلَمْ نَعْلَمْ بِحَسَبِ التَّجْرِبَةِ أَقْوَى فِي تَثْبِيتِ الْحِفْظِ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ لَوْ جَعَلْتَ مُرَاجَعَتَكَ لِمَا تَحْفَظُ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكَانَتْ هَذِهِ أَحْسَنَ مُرَاجَعَةٍ سَوَاءً كُنْتَ تُصَلِّي فِي أَوَّلِ اللَّيْلِ بَعْدَ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً أَوْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ لَكِنْ اِجْعَلْ مُرَاجَعَتَكَ مَثَلًا لَوْ أَنَّكَ جَعَلْتَ لِنَفْسِكَ مُرَاجِعَةً لِنِصْفِ جُزْءٍ يَوْمِيًّا هَذَا النِّصْفُ اقْرَأْهُ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذَا أَقْوَى فِي الْحِفْظِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ لَيْسَ مَعَهُ الْمُصْحَفُ الْمُصْحَفُ بَعِيدٌ عَنْهُ فَيَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ فَتَكُوْنُ ذَاكِرَتُهُ أَقْوَى وَيَثْبُتُ الْحِفْظُ وَإِنْ شِئْتُمْ دَلِيلًا فَالدَّلِيلُ سَهْلٌ تَجِدُ أَنَّ الْإِمَامَ الَّذِي يُصَلِّي بِالنَّاسِ أَحْفَظُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا عَادَةً فِي الصَّلَاةِ حَتَّى لَوْ كَانَ حَافِظًا لِلْقُرْآنِ كُلِّهِ تَجِدُ أَنَّ حِفْظَهُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا بِالصَّلَاةِ أَقْوَى مِنْ حِفْظِهِ لِبَقِيَّةِ الْآيَاتِ وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ

Apakah ad-Dahr Termasuk Nama Allah? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah ad-Dahr Termasuk Nama Allah? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apa makna perkataan Allah subhanahu wa ta’ala ‘Aku adalah ad-Dahr (Masa)’? Yaitu dalam hadis dari Abu Hurairah yang telah berlalu pembahasannya pada bab tentang larangan mencela masa dalam kitab Tauhid. Jawabannya adalah bahwa makna perkataan Allah ini adalah sebagaimana terdapat dalam hadis itu sendiri, “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” Dan dalam riwayat Muslim, “… Dan hanya di tangan-Ku segala urusan.” Maksudnya, pergantian siang dan malam serta semua hal yang terjadi pada keduanya merupakan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Bukanlah maksudnya “ad-Dahr” adalah salah satu nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala. Pendapat ini salah satu kekeliruan Abu Muhammad bin Hazm. Karena nama-nama yang dikhususkan bagi Allah hanyalah nama-nama yang terbaik (asmaul husna). Allah berfirman: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” (QS. al-A’raf: 180) Adapun ad-Dahr tidak mengandung kebagusan sehingga ia bukanlah nama Allah subhanahu wa ta’ala. ================================================================================ هَذَا السَّائِلُ يَقُولُ مَا مَعْنَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَا الدَّهْرُ أَيْ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الَّذِي مَرَّ عَلَيْنَا فِي بَابِ مَا جَاءَ فِي سَبِّ الدَّهْرِ فِي كِتَابِ التَّوْحِيدِ؟ وَالْجَوَابُ أَنَّ مَعْنَى هَذَا الْقَوْلِ هُوَ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ نَفْسِهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَفِي لَفْظٍ عِنْدَ مُسْلِمٍ بِيَدِي الْأَمْرُ أَيْ أَنَّ تَقْلِيبَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَجَرَيَانَ الْأَمْرِ فِيهِمَا هُوَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا أَنَّ الدَّهْرَ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذَا الْقَوْلُ مِمَّا عُدَّ مِنْ غَلَطَاتِ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ حَزْمٍ فَأَسْمَاءُ اللهِ مُخْتَصَّةٌ بِكَوْنِهَا حُسْنَى قَالَ تَعَالَى وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا الأَعْرَافُ – الآيَةُ 180 وَالْاِسْمُ الْمَذْكُورُ لَا حُسْنَ فِيهِ فَلَيْسَ اسْمًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  

Apakah ad-Dahr Termasuk Nama Allah? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah ad-Dahr Termasuk Nama Allah? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apa makna perkataan Allah subhanahu wa ta’ala ‘Aku adalah ad-Dahr (Masa)’? Yaitu dalam hadis dari Abu Hurairah yang telah berlalu pembahasannya pada bab tentang larangan mencela masa dalam kitab Tauhid. Jawabannya adalah bahwa makna perkataan Allah ini adalah sebagaimana terdapat dalam hadis itu sendiri, “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” Dan dalam riwayat Muslim, “… Dan hanya di tangan-Ku segala urusan.” Maksudnya, pergantian siang dan malam serta semua hal yang terjadi pada keduanya merupakan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Bukanlah maksudnya “ad-Dahr” adalah salah satu nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala. Pendapat ini salah satu kekeliruan Abu Muhammad bin Hazm. Karena nama-nama yang dikhususkan bagi Allah hanyalah nama-nama yang terbaik (asmaul husna). Allah berfirman: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” (QS. al-A’raf: 180) Adapun ad-Dahr tidak mengandung kebagusan sehingga ia bukanlah nama Allah subhanahu wa ta’ala. ================================================================================ هَذَا السَّائِلُ يَقُولُ مَا مَعْنَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَا الدَّهْرُ أَيْ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الَّذِي مَرَّ عَلَيْنَا فِي بَابِ مَا جَاءَ فِي سَبِّ الدَّهْرِ فِي كِتَابِ التَّوْحِيدِ؟ وَالْجَوَابُ أَنَّ مَعْنَى هَذَا الْقَوْلِ هُوَ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ نَفْسِهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَفِي لَفْظٍ عِنْدَ مُسْلِمٍ بِيَدِي الْأَمْرُ أَيْ أَنَّ تَقْلِيبَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَجَرَيَانَ الْأَمْرِ فِيهِمَا هُوَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا أَنَّ الدَّهْرَ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذَا الْقَوْلُ مِمَّا عُدَّ مِنْ غَلَطَاتِ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ حَزْمٍ فَأَسْمَاءُ اللهِ مُخْتَصَّةٌ بِكَوْنِهَا حُسْنَى قَالَ تَعَالَى وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا الأَعْرَافُ – الآيَةُ 180 وَالْاِسْمُ الْمَذْكُورُ لَا حُسْنَ فِيهِ فَلَيْسَ اسْمًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  
Apakah ad-Dahr Termasuk Nama Allah? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apa makna perkataan Allah subhanahu wa ta’ala ‘Aku adalah ad-Dahr (Masa)’? Yaitu dalam hadis dari Abu Hurairah yang telah berlalu pembahasannya pada bab tentang larangan mencela masa dalam kitab Tauhid. Jawabannya adalah bahwa makna perkataan Allah ini adalah sebagaimana terdapat dalam hadis itu sendiri, “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” Dan dalam riwayat Muslim, “… Dan hanya di tangan-Ku segala urusan.” Maksudnya, pergantian siang dan malam serta semua hal yang terjadi pada keduanya merupakan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Bukanlah maksudnya “ad-Dahr” adalah salah satu nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala. Pendapat ini salah satu kekeliruan Abu Muhammad bin Hazm. Karena nama-nama yang dikhususkan bagi Allah hanyalah nama-nama yang terbaik (asmaul husna). Allah berfirman: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” (QS. al-A’raf: 180) Adapun ad-Dahr tidak mengandung kebagusan sehingga ia bukanlah nama Allah subhanahu wa ta’ala. ================================================================================ هَذَا السَّائِلُ يَقُولُ مَا مَعْنَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَا الدَّهْرُ أَيْ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الَّذِي مَرَّ عَلَيْنَا فِي بَابِ مَا جَاءَ فِي سَبِّ الدَّهْرِ فِي كِتَابِ التَّوْحِيدِ؟ وَالْجَوَابُ أَنَّ مَعْنَى هَذَا الْقَوْلِ هُوَ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ نَفْسِهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَفِي لَفْظٍ عِنْدَ مُسْلِمٍ بِيَدِي الْأَمْرُ أَيْ أَنَّ تَقْلِيبَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَجَرَيَانَ الْأَمْرِ فِيهِمَا هُوَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا أَنَّ الدَّهْرَ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذَا الْقَوْلُ مِمَّا عُدَّ مِنْ غَلَطَاتِ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ حَزْمٍ فَأَسْمَاءُ اللهِ مُخْتَصَّةٌ بِكَوْنِهَا حُسْنَى قَالَ تَعَالَى وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا الأَعْرَافُ – الآيَةُ 180 وَالْاِسْمُ الْمَذْكُورُ لَا حُسْنَ فِيهِ فَلَيْسَ اسْمًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  


Apakah ad-Dahr Termasuk Nama Allah? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apa makna perkataan Allah subhanahu wa ta’ala ‘Aku adalah ad-Dahr (Masa)’? Yaitu dalam hadis dari Abu Hurairah yang telah berlalu pembahasannya pada bab tentang larangan mencela masa dalam kitab Tauhid. Jawabannya adalah bahwa makna perkataan Allah ini adalah sebagaimana terdapat dalam hadis itu sendiri, “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” Dan dalam riwayat Muslim, “… Dan hanya di tangan-Ku segala urusan.” Maksudnya, pergantian siang dan malam serta semua hal yang terjadi pada keduanya merupakan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Bukanlah maksudnya “ad-Dahr” adalah salah satu nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala. Pendapat ini salah satu kekeliruan Abu Muhammad bin Hazm. Karena nama-nama yang dikhususkan bagi Allah hanyalah nama-nama yang terbaik (asmaul husna). Allah berfirman: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” (QS. al-A’raf: 180) Adapun ad-Dahr tidak mengandung kebagusan sehingga ia bukanlah nama Allah subhanahu wa ta’ala. ================================================================================ هَذَا السَّائِلُ يَقُولُ مَا مَعْنَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَا الدَّهْرُ أَيْ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الَّذِي مَرَّ عَلَيْنَا فِي بَابِ مَا جَاءَ فِي سَبِّ الدَّهْرِ فِي كِتَابِ التَّوْحِيدِ؟ وَالْجَوَابُ أَنَّ مَعْنَى هَذَا الْقَوْلِ هُوَ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ نَفْسِهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَفِي لَفْظٍ عِنْدَ مُسْلِمٍ بِيَدِي الْأَمْرُ أَيْ أَنَّ تَقْلِيبَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَجَرَيَانَ الْأَمْرِ فِيهِمَا هُوَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا أَنَّ الدَّهْرَ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذَا الْقَوْلُ مِمَّا عُدَّ مِنْ غَلَطَاتِ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ حَزْمٍ فَأَسْمَاءُ اللهِ مُخْتَصَّةٌ بِكَوْنِهَا حُسْنَى قَالَ تَعَالَى وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا الأَعْرَافُ – الآيَةُ 180 وَالْاِسْمُ الْمَذْكُورُ لَا حُسْنَ فِيهِ فَلَيْسَ اسْمًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  

Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari Jumat

Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram

Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari Jumat

Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram
Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram


Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    
Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    


Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    

Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang

Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang

Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang

Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang
Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang


Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟
Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟


Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ
Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ


Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  
Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  


Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ
Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ


Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ
Prev     Next