Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Dengarkan, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi keadaan manusia berdasarkan niat hanya menjadi empat kelompok. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dunia ini hanya terdapat empat jenis orang, empat kelompok manusia, …. PERTAMA: Seseorang yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta dan ilmu sehingga dia mengerti hak Allah pada harta tersebut, dia menyambung silaturahmi dan bertakwa kepada Allah dengan harta tersebut, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia. KEDUA: Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu namun tidak Allah berikan harta. Dia memiliki niat yang jujur. Dia berkata, ‘Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti si fulan.’ Dan dia konsisten dengan niatnya maka pahala mereka berdua sama. … KETIGA: Seorang hamba yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta namun tidak Allah berikan ilmu sehingga dia berlaku sembarangan pada hartanya dan tidak pula bertakwa pada Allah dengan harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan dia tidak mengerti hak Allah, maka orang ini berada pada derajat yang paling buruk. … KEEMPAT: Seorang hamba yang tidak Allah berikan kepadanya harta dan tidak pula ilmu, dan dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki harta, pasti aku akan berbuat seperti si fulan.’ Dan dia dengan niatnya tersebut maka dosa mereka berdua sama.” (HR. Tirmizi) Renungkan, wahai saudara-saudara! Dampak niat terhadap keadaan manusia! Orang pertama berniat baik dan mengamalkannya sehingga dia berada pada kedudukan yang paling utama dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang kedua tidak memiliki harta namun dia memiliki niat yang baik dan berkata, “Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amal perbuatan orang baik ini.” Dan dia konsisten di atas niatnya sehingga pahala mereka berdua sama. Maksudnya, dia mendapat pahala sama besarnya seperti orang yang sudah bersedekah di jalan Allah, menurut pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat ulama, walaupun kedudukan orang yang sudah bersedekah tetap lebih tinggi, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.” Adapun orang ketiga adalah orang yang Allah berikan rezeki berupa harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia berbuat sembarangan dalam hartanya, tidak membedakan yang halal dan yang haram, tidak menyambung silaturahmi, tidak mengerti hak Allah pada harta tersebut, orang ini berada pada derajat yang paling buruk. Dan seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu namun karena dia memiliki niat buruk dan berkata, “Seandainya saya memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti si fulan.” Maka dosa mereka berdua sama. Dengarkan, wahai saudara-saudara! Ini adalah kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan dampak niat terhadap keadaan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidur dalam keadaan berniat untuk kemudian bangun salat malam namun kemudian dia tertidur pulas hingga pagi tiba, ditulis baginya pahala sesuai niatnya dan tidurnya adalah sedekah dari Allah kepadanya.” (HR. An-Nasa’i) Barang siapa yang sebelum tidur berniat bahwa dia sungguh akan bangun di akhir malam untuk salat karena Allah ‘azza wa jalla namun tertidur pulas hingga pagi hari, dia tidak bangun kecuali setelah muazin mengumandangkan azan salat Subuh, apa kabar gembira untuknya? Dituliskan baginya pahala sebagaimana yang dia niatkan. Apabila dia berniat untuk salat sebelas rakaat, akan ditulis baginya pahala salat sebelas rakaat. Apabila dia berniat untuk salat tujuh rakaat, akan ditulis baginya pahala salat tujuh rakaat pula. Kemudian perhatikan kebalikannya, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertarung dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja masuk neraka, namun kok yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau bersabda, “Sungguh karena dia juga berniat sangat ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika dua pedang sudah saling bertemu, masing-masing ingin membunuh saudaranya namun salah seorang dari mereka lebih duluan membunuh sehingga dia berada di neraka karena membunuh saudaranya. Demikian juga yang terbunuh juga di neraka karena sebenarnya dia juga berniat ingin membunuh saudaranya dan telah berusaha melakukannya dengan menebaskan pedangnya ke arah saudaranya. =============================================================================== بَلِ اسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصَرَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِي أَرْبَعَةٍ تَتْبَعُ النِّيَّةَ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًا وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَا عَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ وَلَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ… لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ تَأَمَّلُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَثَرَ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ الْأَوَّلُ نَوَى الْخَيْرَ وَعَمِلَ فَهُوَ بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ بِشَهَادَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالثَّانِي لَا مَالَ عِنْدَهُ لَكِنَّ لَهُ نِيَّةً طَيِّبَةً فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ هَذَا الرَّجُلِ الطَّيِّبِ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ أَيْ أَنَّهُ يُؤْجَرُ كَمَنْ تَصَدَّقَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَإِنْ كَانَ الَّذِي تَصَدَّقَ أَعْلَى مِنْهُ بِدَلِيلِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ رَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْ… رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي الْمَالِ لَا يَعْرِفُ حَلَالًا مِنْ حَرَامٍ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْرِفُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَرَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا لَكِنَّ نِيَّتَهُ خَبِيثَةٌ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ اِسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذِهِ الْبِشَارَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى أَثَرِ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنَ اللهِ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مَنْ جَاءَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَوَى عِنْدَ نَوْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ مَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَالْمُؤَذِّنُ يُنَادِي لِصَلَاةِ الْفَجْرِ مَا بِشَارَتُهُ؟ يُكْتَبُ لَهُ مَا نَوَاهُ إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كُتِبَ لَهُ أَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ سَبْعَ رَكَعَاتٍ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ سَبْعِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ اُنْظُرُوا فِي الْمُقَابِلِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ قَالُوْا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ سَيْفَانِ تَقَابَلَا كُلٌّ مِنْهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ فَسَبَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ الْقَاتِلُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ قَتَلَ أَخَاهُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ وَقَدْ سَعَى فِي هَذَا وَشَهَرَ سَيْفَهُ عَلَى أَخِيهِ

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Dengarkan, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi keadaan manusia berdasarkan niat hanya menjadi empat kelompok. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dunia ini hanya terdapat empat jenis orang, empat kelompok manusia, …. PERTAMA: Seseorang yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta dan ilmu sehingga dia mengerti hak Allah pada harta tersebut, dia menyambung silaturahmi dan bertakwa kepada Allah dengan harta tersebut, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia. KEDUA: Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu namun tidak Allah berikan harta. Dia memiliki niat yang jujur. Dia berkata, ‘Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti si fulan.’ Dan dia konsisten dengan niatnya maka pahala mereka berdua sama. … KETIGA: Seorang hamba yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta namun tidak Allah berikan ilmu sehingga dia berlaku sembarangan pada hartanya dan tidak pula bertakwa pada Allah dengan harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan dia tidak mengerti hak Allah, maka orang ini berada pada derajat yang paling buruk. … KEEMPAT: Seorang hamba yang tidak Allah berikan kepadanya harta dan tidak pula ilmu, dan dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki harta, pasti aku akan berbuat seperti si fulan.’ Dan dia dengan niatnya tersebut maka dosa mereka berdua sama.” (HR. Tirmizi) Renungkan, wahai saudara-saudara! Dampak niat terhadap keadaan manusia! Orang pertama berniat baik dan mengamalkannya sehingga dia berada pada kedudukan yang paling utama dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang kedua tidak memiliki harta namun dia memiliki niat yang baik dan berkata, “Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amal perbuatan orang baik ini.” Dan dia konsisten di atas niatnya sehingga pahala mereka berdua sama. Maksudnya, dia mendapat pahala sama besarnya seperti orang yang sudah bersedekah di jalan Allah, menurut pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat ulama, walaupun kedudukan orang yang sudah bersedekah tetap lebih tinggi, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.” Adapun orang ketiga adalah orang yang Allah berikan rezeki berupa harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia berbuat sembarangan dalam hartanya, tidak membedakan yang halal dan yang haram, tidak menyambung silaturahmi, tidak mengerti hak Allah pada harta tersebut, orang ini berada pada derajat yang paling buruk. Dan seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu namun karena dia memiliki niat buruk dan berkata, “Seandainya saya memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti si fulan.” Maka dosa mereka berdua sama. Dengarkan, wahai saudara-saudara! Ini adalah kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan dampak niat terhadap keadaan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidur dalam keadaan berniat untuk kemudian bangun salat malam namun kemudian dia tertidur pulas hingga pagi tiba, ditulis baginya pahala sesuai niatnya dan tidurnya adalah sedekah dari Allah kepadanya.” (HR. An-Nasa’i) Barang siapa yang sebelum tidur berniat bahwa dia sungguh akan bangun di akhir malam untuk salat karena Allah ‘azza wa jalla namun tertidur pulas hingga pagi hari, dia tidak bangun kecuali setelah muazin mengumandangkan azan salat Subuh, apa kabar gembira untuknya? Dituliskan baginya pahala sebagaimana yang dia niatkan. Apabila dia berniat untuk salat sebelas rakaat, akan ditulis baginya pahala salat sebelas rakaat. Apabila dia berniat untuk salat tujuh rakaat, akan ditulis baginya pahala salat tujuh rakaat pula. Kemudian perhatikan kebalikannya, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertarung dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja masuk neraka, namun kok yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau bersabda, “Sungguh karena dia juga berniat sangat ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika dua pedang sudah saling bertemu, masing-masing ingin membunuh saudaranya namun salah seorang dari mereka lebih duluan membunuh sehingga dia berada di neraka karena membunuh saudaranya. Demikian juga yang terbunuh juga di neraka karena sebenarnya dia juga berniat ingin membunuh saudaranya dan telah berusaha melakukannya dengan menebaskan pedangnya ke arah saudaranya. =============================================================================== بَلِ اسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصَرَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِي أَرْبَعَةٍ تَتْبَعُ النِّيَّةَ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًا وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَا عَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ وَلَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ… لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ تَأَمَّلُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَثَرَ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ الْأَوَّلُ نَوَى الْخَيْرَ وَعَمِلَ فَهُوَ بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ بِشَهَادَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالثَّانِي لَا مَالَ عِنْدَهُ لَكِنَّ لَهُ نِيَّةً طَيِّبَةً فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ هَذَا الرَّجُلِ الطَّيِّبِ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ أَيْ أَنَّهُ يُؤْجَرُ كَمَنْ تَصَدَّقَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَإِنْ كَانَ الَّذِي تَصَدَّقَ أَعْلَى مِنْهُ بِدَلِيلِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ رَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْ… رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي الْمَالِ لَا يَعْرِفُ حَلَالًا مِنْ حَرَامٍ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْرِفُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَرَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا لَكِنَّ نِيَّتَهُ خَبِيثَةٌ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ اِسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذِهِ الْبِشَارَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى أَثَرِ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنَ اللهِ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مَنْ جَاءَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَوَى عِنْدَ نَوْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ مَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَالْمُؤَذِّنُ يُنَادِي لِصَلَاةِ الْفَجْرِ مَا بِشَارَتُهُ؟ يُكْتَبُ لَهُ مَا نَوَاهُ إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كُتِبَ لَهُ أَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ سَبْعَ رَكَعَاتٍ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ سَبْعِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ اُنْظُرُوا فِي الْمُقَابِلِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ قَالُوْا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ سَيْفَانِ تَقَابَلَا كُلٌّ مِنْهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ فَسَبَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ الْقَاتِلُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ قَتَلَ أَخَاهُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ وَقَدْ سَعَى فِي هَذَا وَشَهَرَ سَيْفَهُ عَلَى أَخِيهِ
Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Dengarkan, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi keadaan manusia berdasarkan niat hanya menjadi empat kelompok. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dunia ini hanya terdapat empat jenis orang, empat kelompok manusia, …. PERTAMA: Seseorang yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta dan ilmu sehingga dia mengerti hak Allah pada harta tersebut, dia menyambung silaturahmi dan bertakwa kepada Allah dengan harta tersebut, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia. KEDUA: Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu namun tidak Allah berikan harta. Dia memiliki niat yang jujur. Dia berkata, ‘Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti si fulan.’ Dan dia konsisten dengan niatnya maka pahala mereka berdua sama. … KETIGA: Seorang hamba yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta namun tidak Allah berikan ilmu sehingga dia berlaku sembarangan pada hartanya dan tidak pula bertakwa pada Allah dengan harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan dia tidak mengerti hak Allah, maka orang ini berada pada derajat yang paling buruk. … KEEMPAT: Seorang hamba yang tidak Allah berikan kepadanya harta dan tidak pula ilmu, dan dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki harta, pasti aku akan berbuat seperti si fulan.’ Dan dia dengan niatnya tersebut maka dosa mereka berdua sama.” (HR. Tirmizi) Renungkan, wahai saudara-saudara! Dampak niat terhadap keadaan manusia! Orang pertama berniat baik dan mengamalkannya sehingga dia berada pada kedudukan yang paling utama dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang kedua tidak memiliki harta namun dia memiliki niat yang baik dan berkata, “Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amal perbuatan orang baik ini.” Dan dia konsisten di atas niatnya sehingga pahala mereka berdua sama. Maksudnya, dia mendapat pahala sama besarnya seperti orang yang sudah bersedekah di jalan Allah, menurut pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat ulama, walaupun kedudukan orang yang sudah bersedekah tetap lebih tinggi, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.” Adapun orang ketiga adalah orang yang Allah berikan rezeki berupa harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia berbuat sembarangan dalam hartanya, tidak membedakan yang halal dan yang haram, tidak menyambung silaturahmi, tidak mengerti hak Allah pada harta tersebut, orang ini berada pada derajat yang paling buruk. Dan seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu namun karena dia memiliki niat buruk dan berkata, “Seandainya saya memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti si fulan.” Maka dosa mereka berdua sama. Dengarkan, wahai saudara-saudara! Ini adalah kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan dampak niat terhadap keadaan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidur dalam keadaan berniat untuk kemudian bangun salat malam namun kemudian dia tertidur pulas hingga pagi tiba, ditulis baginya pahala sesuai niatnya dan tidurnya adalah sedekah dari Allah kepadanya.” (HR. An-Nasa’i) Barang siapa yang sebelum tidur berniat bahwa dia sungguh akan bangun di akhir malam untuk salat karena Allah ‘azza wa jalla namun tertidur pulas hingga pagi hari, dia tidak bangun kecuali setelah muazin mengumandangkan azan salat Subuh, apa kabar gembira untuknya? Dituliskan baginya pahala sebagaimana yang dia niatkan. Apabila dia berniat untuk salat sebelas rakaat, akan ditulis baginya pahala salat sebelas rakaat. Apabila dia berniat untuk salat tujuh rakaat, akan ditulis baginya pahala salat tujuh rakaat pula. Kemudian perhatikan kebalikannya, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertarung dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja masuk neraka, namun kok yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau bersabda, “Sungguh karena dia juga berniat sangat ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika dua pedang sudah saling bertemu, masing-masing ingin membunuh saudaranya namun salah seorang dari mereka lebih duluan membunuh sehingga dia berada di neraka karena membunuh saudaranya. Demikian juga yang terbunuh juga di neraka karena sebenarnya dia juga berniat ingin membunuh saudaranya dan telah berusaha melakukannya dengan menebaskan pedangnya ke arah saudaranya. =============================================================================== بَلِ اسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصَرَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِي أَرْبَعَةٍ تَتْبَعُ النِّيَّةَ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًا وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَا عَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ وَلَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ… لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ تَأَمَّلُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَثَرَ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ الْأَوَّلُ نَوَى الْخَيْرَ وَعَمِلَ فَهُوَ بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ بِشَهَادَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالثَّانِي لَا مَالَ عِنْدَهُ لَكِنَّ لَهُ نِيَّةً طَيِّبَةً فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ هَذَا الرَّجُلِ الطَّيِّبِ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ أَيْ أَنَّهُ يُؤْجَرُ كَمَنْ تَصَدَّقَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَإِنْ كَانَ الَّذِي تَصَدَّقَ أَعْلَى مِنْهُ بِدَلِيلِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ رَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْ… رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي الْمَالِ لَا يَعْرِفُ حَلَالًا مِنْ حَرَامٍ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْرِفُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَرَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا لَكِنَّ نِيَّتَهُ خَبِيثَةٌ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ اِسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذِهِ الْبِشَارَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى أَثَرِ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنَ اللهِ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مَنْ جَاءَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَوَى عِنْدَ نَوْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ مَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَالْمُؤَذِّنُ يُنَادِي لِصَلَاةِ الْفَجْرِ مَا بِشَارَتُهُ؟ يُكْتَبُ لَهُ مَا نَوَاهُ إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كُتِبَ لَهُ أَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ سَبْعَ رَكَعَاتٍ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ سَبْعِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ اُنْظُرُوا فِي الْمُقَابِلِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ قَالُوْا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ سَيْفَانِ تَقَابَلَا كُلٌّ مِنْهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ فَسَبَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ الْقَاتِلُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ قَتَلَ أَخَاهُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ وَقَدْ سَعَى فِي هَذَا وَشَهَرَ سَيْفَهُ عَلَى أَخِيهِ


Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Dengarkan, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi keadaan manusia berdasarkan niat hanya menjadi empat kelompok. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dunia ini hanya terdapat empat jenis orang, empat kelompok manusia, …. PERTAMA: Seseorang yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta dan ilmu sehingga dia mengerti hak Allah pada harta tersebut, dia menyambung silaturahmi dan bertakwa kepada Allah dengan harta tersebut, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia. KEDUA: Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu namun tidak Allah berikan harta. Dia memiliki niat yang jujur. Dia berkata, ‘Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti si fulan.’ Dan dia konsisten dengan niatnya maka pahala mereka berdua sama. … KETIGA: Seorang hamba yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta namun tidak Allah berikan ilmu sehingga dia berlaku sembarangan pada hartanya dan tidak pula bertakwa pada Allah dengan harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan dia tidak mengerti hak Allah, maka orang ini berada pada derajat yang paling buruk. … KEEMPAT: Seorang hamba yang tidak Allah berikan kepadanya harta dan tidak pula ilmu, dan dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki harta, pasti aku akan berbuat seperti si fulan.’ Dan dia dengan niatnya tersebut maka dosa mereka berdua sama.” (HR. Tirmizi) Renungkan, wahai saudara-saudara! Dampak niat terhadap keadaan manusia! Orang pertama berniat baik dan mengamalkannya sehingga dia berada pada kedudukan yang paling utama dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang kedua tidak memiliki harta namun dia memiliki niat yang baik dan berkata, “Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amal perbuatan orang baik ini.” Dan dia konsisten di atas niatnya sehingga pahala mereka berdua sama. Maksudnya, dia mendapat pahala sama besarnya seperti orang yang sudah bersedekah di jalan Allah, menurut pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat ulama, walaupun kedudukan orang yang sudah bersedekah tetap lebih tinggi, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.” Adapun orang ketiga adalah orang yang Allah berikan rezeki berupa harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia berbuat sembarangan dalam hartanya, tidak membedakan yang halal dan yang haram, tidak menyambung silaturahmi, tidak mengerti hak Allah pada harta tersebut, orang ini berada pada derajat yang paling buruk. Dan seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu namun karena dia memiliki niat buruk dan berkata, “Seandainya saya memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti si fulan.” Maka dosa mereka berdua sama. Dengarkan, wahai saudara-saudara! Ini adalah kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan dampak niat terhadap keadaan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidur dalam keadaan berniat untuk kemudian bangun salat malam namun kemudian dia tertidur pulas hingga pagi tiba, ditulis baginya pahala sesuai niatnya dan tidurnya adalah sedekah dari Allah kepadanya.” (HR. An-Nasa’i) Barang siapa yang sebelum tidur berniat bahwa dia sungguh akan bangun di akhir malam untuk salat karena Allah ‘azza wa jalla namun tertidur pulas hingga pagi hari, dia tidak bangun kecuali setelah muazin mengumandangkan azan salat Subuh, apa kabar gembira untuknya? Dituliskan baginya pahala sebagaimana yang dia niatkan. Apabila dia berniat untuk salat sebelas rakaat, akan ditulis baginya pahala salat sebelas rakaat. Apabila dia berniat untuk salat tujuh rakaat, akan ditulis baginya pahala salat tujuh rakaat pula. Kemudian perhatikan kebalikannya, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertarung dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja masuk neraka, namun kok yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau bersabda, “Sungguh karena dia juga berniat sangat ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika dua pedang sudah saling bertemu, masing-masing ingin membunuh saudaranya namun salah seorang dari mereka lebih duluan membunuh sehingga dia berada di neraka karena membunuh saudaranya. Demikian juga yang terbunuh juga di neraka karena sebenarnya dia juga berniat ingin membunuh saudaranya dan telah berusaha melakukannya dengan menebaskan pedangnya ke arah saudaranya. =============================================================================== بَلِ اسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصَرَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِي أَرْبَعَةٍ تَتْبَعُ النِّيَّةَ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًا وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَا عَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ وَلَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ… لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ تَأَمَّلُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَثَرَ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ الْأَوَّلُ نَوَى الْخَيْرَ وَعَمِلَ فَهُوَ بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ بِشَهَادَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالثَّانِي لَا مَالَ عِنْدَهُ لَكِنَّ لَهُ نِيَّةً طَيِّبَةً فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ هَذَا الرَّجُلِ الطَّيِّبِ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ أَيْ أَنَّهُ يُؤْجَرُ كَمَنْ تَصَدَّقَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَإِنْ كَانَ الَّذِي تَصَدَّقَ أَعْلَى مِنْهُ بِدَلِيلِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ رَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْ… رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي الْمَالِ لَا يَعْرِفُ حَلَالًا مِنْ حَرَامٍ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْرِفُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَرَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا لَكِنَّ نِيَّتَهُ خَبِيثَةٌ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ اِسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذِهِ الْبِشَارَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى أَثَرِ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنَ اللهِ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مَنْ جَاءَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَوَى عِنْدَ نَوْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ مَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَالْمُؤَذِّنُ يُنَادِي لِصَلَاةِ الْفَجْرِ مَا بِشَارَتُهُ؟ يُكْتَبُ لَهُ مَا نَوَاهُ إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كُتِبَ لَهُ أَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ سَبْعَ رَكَعَاتٍ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ سَبْعِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ اُنْظُرُوا فِي الْمُقَابِلِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ قَالُوْا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ سَيْفَانِ تَقَابَلَا كُلٌّ مِنْهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ فَسَبَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ الْقَاتِلُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ قَتَلَ أَخَاهُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ وَقَدْ سَعَى فِي هَذَا وَشَهَرَ سَيْفَهُ عَلَى أَخِيهِ

Bersedekah dengan Harta yang Paling Dicintai (Teladan dari Abu Thalhah)

Sepertinya bersedekah dengan harta yang kita cintai itu amat berat. Karena sifat manusia itu sangat mencintai harta, enggan mengeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20). Ibnu Katsir menafsirkan “jammaa” dengan katsiroon (banyak). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:563. Artinya, manusia itu sangat berlebihan dalam mencintai hartanya. Dalam ayat lainnya disebutkan, وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8). Ada dua makna yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah mengenai ayat ini: Manusia itu sangat cinta pada harta. Manusia sangat tamak dan bakhil (pelit) dengan harta sehingga mencintainya berlebihan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:635. Baca juga: Tafsir Surat Al-‘Adiyaat   Sehingga jika ada yang bisa mengeluarkan harta yang ia cintai untuk bersedekah, itu sangat luar biasa. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.” Anas berkata, “Ketika turun ayat, لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.   Pelajaran dari hadits Keutamaan menafkahi dan memberi sedekah kepada kerabat, istri, anak, dan orang tua walau mereka musyrik. Sebagaimana Imam Nawawi membuat judul bab untuk hadits di atas dalam Syarh Shahih Muslim. Kerabat harusnya lebih diperhatikan dalam silaturahim. Abu Thalhah akhirnya memberikan kebunnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Hassan bin Tsabit. Bersedekah kepada kerabat punya dua pahala yaitu pahala menjalin hubungan kerabat (silaturahim) dan pahala sedekah.   Bisakah kita bersedekah dengan harta yang kita cintai seperti Abu Thalhah?   Semoga Allah memberikan keberkahan untuk harta kita dan terus semangat bersedekah. Baca Juga: Rajin Bersedekah, Mudah Memaafkan dan Menahan Marah Keutamaan Sedekah Sumur dan Memberi Minum Air   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Catatan 4 Dzulqa’dah 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsabu thalhah itsar keutamaan silaturahim sedekah silaturahim zakat untuk kerabat

Bersedekah dengan Harta yang Paling Dicintai (Teladan dari Abu Thalhah)

Sepertinya bersedekah dengan harta yang kita cintai itu amat berat. Karena sifat manusia itu sangat mencintai harta, enggan mengeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20). Ibnu Katsir menafsirkan “jammaa” dengan katsiroon (banyak). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:563. Artinya, manusia itu sangat berlebihan dalam mencintai hartanya. Dalam ayat lainnya disebutkan, وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8). Ada dua makna yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah mengenai ayat ini: Manusia itu sangat cinta pada harta. Manusia sangat tamak dan bakhil (pelit) dengan harta sehingga mencintainya berlebihan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:635. Baca juga: Tafsir Surat Al-‘Adiyaat   Sehingga jika ada yang bisa mengeluarkan harta yang ia cintai untuk bersedekah, itu sangat luar biasa. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.” Anas berkata, “Ketika turun ayat, لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.   Pelajaran dari hadits Keutamaan menafkahi dan memberi sedekah kepada kerabat, istri, anak, dan orang tua walau mereka musyrik. Sebagaimana Imam Nawawi membuat judul bab untuk hadits di atas dalam Syarh Shahih Muslim. Kerabat harusnya lebih diperhatikan dalam silaturahim. Abu Thalhah akhirnya memberikan kebunnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Hassan bin Tsabit. Bersedekah kepada kerabat punya dua pahala yaitu pahala menjalin hubungan kerabat (silaturahim) dan pahala sedekah.   Bisakah kita bersedekah dengan harta yang kita cintai seperti Abu Thalhah?   Semoga Allah memberikan keberkahan untuk harta kita dan terus semangat bersedekah. Baca Juga: Rajin Bersedekah, Mudah Memaafkan dan Menahan Marah Keutamaan Sedekah Sumur dan Memberi Minum Air   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Catatan 4 Dzulqa’dah 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsabu thalhah itsar keutamaan silaturahim sedekah silaturahim zakat untuk kerabat
Sepertinya bersedekah dengan harta yang kita cintai itu amat berat. Karena sifat manusia itu sangat mencintai harta, enggan mengeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20). Ibnu Katsir menafsirkan “jammaa” dengan katsiroon (banyak). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:563. Artinya, manusia itu sangat berlebihan dalam mencintai hartanya. Dalam ayat lainnya disebutkan, وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8). Ada dua makna yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah mengenai ayat ini: Manusia itu sangat cinta pada harta. Manusia sangat tamak dan bakhil (pelit) dengan harta sehingga mencintainya berlebihan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:635. Baca juga: Tafsir Surat Al-‘Adiyaat   Sehingga jika ada yang bisa mengeluarkan harta yang ia cintai untuk bersedekah, itu sangat luar biasa. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.” Anas berkata, “Ketika turun ayat, لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.   Pelajaran dari hadits Keutamaan menafkahi dan memberi sedekah kepada kerabat, istri, anak, dan orang tua walau mereka musyrik. Sebagaimana Imam Nawawi membuat judul bab untuk hadits di atas dalam Syarh Shahih Muslim. Kerabat harusnya lebih diperhatikan dalam silaturahim. Abu Thalhah akhirnya memberikan kebunnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Hassan bin Tsabit. Bersedekah kepada kerabat punya dua pahala yaitu pahala menjalin hubungan kerabat (silaturahim) dan pahala sedekah.   Bisakah kita bersedekah dengan harta yang kita cintai seperti Abu Thalhah?   Semoga Allah memberikan keberkahan untuk harta kita dan terus semangat bersedekah. Baca Juga: Rajin Bersedekah, Mudah Memaafkan dan Menahan Marah Keutamaan Sedekah Sumur dan Memberi Minum Air   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Catatan 4 Dzulqa’dah 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsabu thalhah itsar keutamaan silaturahim sedekah silaturahim zakat untuk kerabat


Sepertinya bersedekah dengan harta yang kita cintai itu amat berat. Karena sifat manusia itu sangat mencintai harta, enggan mengeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman, وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20). Ibnu Katsir menafsirkan “jammaa” dengan katsiroon (banyak). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:563. Artinya, manusia itu sangat berlebihan dalam mencintai hartanya. Dalam ayat lainnya disebutkan, وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8). Ada dua makna yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah mengenai ayat ini: Manusia itu sangat cinta pada harta. Manusia sangat tamak dan bakhil (pelit) dengan harta sehingga mencintainya berlebihan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:635. Baca juga: Tafsir Surat Al-‘Adiyaat   Sehingga jika ada yang bisa mengeluarkan harta yang ia cintai untuk bersedekah, itu sangat luar biasa. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.” Anas berkata, “Ketika turun ayat, لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.   Pelajaran dari hadits Keutamaan menafkahi dan memberi sedekah kepada kerabat, istri, anak, dan orang tua walau mereka musyrik. Sebagaimana Imam Nawawi membuat judul bab untuk hadits di atas dalam Syarh Shahih Muslim. Kerabat harusnya lebih diperhatikan dalam silaturahim. Abu Thalhah akhirnya memberikan kebunnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Hassan bin Tsabit. Bersedekah kepada kerabat punya dua pahala yaitu pahala menjalin hubungan kerabat (silaturahim) dan pahala sedekah.   Bisakah kita bersedekah dengan harta yang kita cintai seperti Abu Thalhah?   Semoga Allah memberikan keberkahan untuk harta kita dan terus semangat bersedekah. Baca Juga: Rajin Bersedekah, Mudah Memaafkan dan Menahan Marah Keutamaan Sedekah Sumur dan Memberi Minum Air   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Catatan 4 Dzulqa’dah 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsabu thalhah itsar keutamaan silaturahim sedekah silaturahim zakat untuk kerabat

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan bahwa kitabnya mengandung tiga jenis ‘Ulumul Qur’an. Yaitu ilmu aqidah dan asas-asas tauhid. Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menyebutkan bahwa ini adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak, paling utama dan paling sempurna. Dengan ilmu ini, hati dapat teguh di atas aqidah yang benar. Dengan ilmu ini, akhlak akan menjadi baik dan terpuji. Dan dengan ilmu ini, amalan menjadi sah dan sempurna. Ilmu aqidah menjadi ilmu yang paling mulia karena dua perkara: PERTAMA: Dari sisi apa yang dipelajari; Yaitu ilmu tentang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Ilmu tentang Allah tentu lebih mulia daripada ilmu tentang selain-Nya. KEDUA: Dari sisi manfaat yang dihasilkan darinya. Di antaranya adalah rasa takut kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, cinta dan tunduk kepada-Nya, dan ingin selalu dekat dengan-Nya. Inilah yang menjadikan ilmu aqidah lebih utama dari ilmu lainnya. Karena keagungan Dzat yang dipelajari di dalamnya dan besarnya manfaat yang dihasilkannya, maka ilmu aqidah menjadi lebih utama daripada ilmu lainnya. ================================================================================ بَيَّنَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ كِتَابَهُ حَاوٍ لِأَنْوَاعٍ ثَلَاثَةٍ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ شَرَعَ يُبَيِّنُ النَّوْعَ الْأَوَّلَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ وَهُوَ عِلْمُ الْعَقَائِدِ وَأُصُولُ التَّوْحِيدِ وَذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ هَذَا الْعِلْمَ هُوَ أَشْرَفُ الْعُلُومِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَأَفْضَلُهَا وَأَكْمَلُهَا وَبِهِ تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ عَلَى الْعَقَائِدِ الصَّحِيحَةِ وَبِهِ تَزْكُو الْأَخْلَاقُ وَتَنْمُو وَبِهِ تَصِحُّ الْأَعْمَالُ وَتَكْمُلُ وَإِنَّمَا كَانَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ أَشَرَفَ الْعُلُومِ لِأَمْرَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا بِالنَّظَرِ إِلَى مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ أَشْرَفُ مِنَ الْعِلْمِ بِغَيْرِهِ وَالثَّانِي بِالنَّظَرِ إِلَى الثَّمَرَةِ النَّاتِجَةِ مِنْهُ فَإِنَّمَا يُثْمِرُهُ هَذَا الْعِلْمُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَحَبَّتِهِ وَالْإِخْبَاتِ لَهُ وَطَلَبِ الزُّلْفَى عِنْدَهُ يَجْعَلُهُ مُقَدَّمًا عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ فَلِأَجْلِ عِظَمِ مُتَعَلَّقِهِ وَجَلَالَةِ ثَمَرَتِهِ صَارَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ الْعِلْمُ الْمُقَدَّمُ عَلَى الْعُلُومِ كَافَّةً

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan bahwa kitabnya mengandung tiga jenis ‘Ulumul Qur’an. Yaitu ilmu aqidah dan asas-asas tauhid. Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menyebutkan bahwa ini adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak, paling utama dan paling sempurna. Dengan ilmu ini, hati dapat teguh di atas aqidah yang benar. Dengan ilmu ini, akhlak akan menjadi baik dan terpuji. Dan dengan ilmu ini, amalan menjadi sah dan sempurna. Ilmu aqidah menjadi ilmu yang paling mulia karena dua perkara: PERTAMA: Dari sisi apa yang dipelajari; Yaitu ilmu tentang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Ilmu tentang Allah tentu lebih mulia daripada ilmu tentang selain-Nya. KEDUA: Dari sisi manfaat yang dihasilkan darinya. Di antaranya adalah rasa takut kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, cinta dan tunduk kepada-Nya, dan ingin selalu dekat dengan-Nya. Inilah yang menjadikan ilmu aqidah lebih utama dari ilmu lainnya. Karena keagungan Dzat yang dipelajari di dalamnya dan besarnya manfaat yang dihasilkannya, maka ilmu aqidah menjadi lebih utama daripada ilmu lainnya. ================================================================================ بَيَّنَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ كِتَابَهُ حَاوٍ لِأَنْوَاعٍ ثَلَاثَةٍ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ شَرَعَ يُبَيِّنُ النَّوْعَ الْأَوَّلَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ وَهُوَ عِلْمُ الْعَقَائِدِ وَأُصُولُ التَّوْحِيدِ وَذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ هَذَا الْعِلْمَ هُوَ أَشْرَفُ الْعُلُومِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَأَفْضَلُهَا وَأَكْمَلُهَا وَبِهِ تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ عَلَى الْعَقَائِدِ الصَّحِيحَةِ وَبِهِ تَزْكُو الْأَخْلَاقُ وَتَنْمُو وَبِهِ تَصِحُّ الْأَعْمَالُ وَتَكْمُلُ وَإِنَّمَا كَانَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ أَشَرَفَ الْعُلُومِ لِأَمْرَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا بِالنَّظَرِ إِلَى مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ أَشْرَفُ مِنَ الْعِلْمِ بِغَيْرِهِ وَالثَّانِي بِالنَّظَرِ إِلَى الثَّمَرَةِ النَّاتِجَةِ مِنْهُ فَإِنَّمَا يُثْمِرُهُ هَذَا الْعِلْمُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَحَبَّتِهِ وَالْإِخْبَاتِ لَهُ وَطَلَبِ الزُّلْفَى عِنْدَهُ يَجْعَلُهُ مُقَدَّمًا عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ فَلِأَجْلِ عِظَمِ مُتَعَلَّقِهِ وَجَلَالَةِ ثَمَرَتِهِ صَارَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ الْعِلْمُ الْمُقَدَّمُ عَلَى الْعُلُومِ كَافَّةً
Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan bahwa kitabnya mengandung tiga jenis ‘Ulumul Qur’an. Yaitu ilmu aqidah dan asas-asas tauhid. Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menyebutkan bahwa ini adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak, paling utama dan paling sempurna. Dengan ilmu ini, hati dapat teguh di atas aqidah yang benar. Dengan ilmu ini, akhlak akan menjadi baik dan terpuji. Dan dengan ilmu ini, amalan menjadi sah dan sempurna. Ilmu aqidah menjadi ilmu yang paling mulia karena dua perkara: PERTAMA: Dari sisi apa yang dipelajari; Yaitu ilmu tentang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Ilmu tentang Allah tentu lebih mulia daripada ilmu tentang selain-Nya. KEDUA: Dari sisi manfaat yang dihasilkan darinya. Di antaranya adalah rasa takut kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, cinta dan tunduk kepada-Nya, dan ingin selalu dekat dengan-Nya. Inilah yang menjadikan ilmu aqidah lebih utama dari ilmu lainnya. Karena keagungan Dzat yang dipelajari di dalamnya dan besarnya manfaat yang dihasilkannya, maka ilmu aqidah menjadi lebih utama daripada ilmu lainnya. ================================================================================ بَيَّنَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ كِتَابَهُ حَاوٍ لِأَنْوَاعٍ ثَلَاثَةٍ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ شَرَعَ يُبَيِّنُ النَّوْعَ الْأَوَّلَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ وَهُوَ عِلْمُ الْعَقَائِدِ وَأُصُولُ التَّوْحِيدِ وَذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ هَذَا الْعِلْمَ هُوَ أَشْرَفُ الْعُلُومِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَأَفْضَلُهَا وَأَكْمَلُهَا وَبِهِ تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ عَلَى الْعَقَائِدِ الصَّحِيحَةِ وَبِهِ تَزْكُو الْأَخْلَاقُ وَتَنْمُو وَبِهِ تَصِحُّ الْأَعْمَالُ وَتَكْمُلُ وَإِنَّمَا كَانَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ أَشَرَفَ الْعُلُومِ لِأَمْرَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا بِالنَّظَرِ إِلَى مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ أَشْرَفُ مِنَ الْعِلْمِ بِغَيْرِهِ وَالثَّانِي بِالنَّظَرِ إِلَى الثَّمَرَةِ النَّاتِجَةِ مِنْهُ فَإِنَّمَا يُثْمِرُهُ هَذَا الْعِلْمُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَحَبَّتِهِ وَالْإِخْبَاتِ لَهُ وَطَلَبِ الزُّلْفَى عِنْدَهُ يَجْعَلُهُ مُقَدَّمًا عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ فَلِأَجْلِ عِظَمِ مُتَعَلَّقِهِ وَجَلَالَةِ ثَمَرَتِهِ صَارَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ الْعِلْمُ الْمُقَدَّمُ عَلَى الْعُلُومِ كَافَّةً


Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan bahwa kitabnya mengandung tiga jenis ‘Ulumul Qur’an. Yaitu ilmu aqidah dan asas-asas tauhid. Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menyebutkan bahwa ini adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak, paling utama dan paling sempurna. Dengan ilmu ini, hati dapat teguh di atas aqidah yang benar. Dengan ilmu ini, akhlak akan menjadi baik dan terpuji. Dan dengan ilmu ini, amalan menjadi sah dan sempurna. Ilmu aqidah menjadi ilmu yang paling mulia karena dua perkara: PERTAMA: Dari sisi apa yang dipelajari; Yaitu ilmu tentang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Ilmu tentang Allah tentu lebih mulia daripada ilmu tentang selain-Nya. KEDUA: Dari sisi manfaat yang dihasilkan darinya. Di antaranya adalah rasa takut kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, cinta dan tunduk kepada-Nya, dan ingin selalu dekat dengan-Nya. Inilah yang menjadikan ilmu aqidah lebih utama dari ilmu lainnya. Karena keagungan Dzat yang dipelajari di dalamnya dan besarnya manfaat yang dihasilkannya, maka ilmu aqidah menjadi lebih utama daripada ilmu lainnya. ================================================================================ بَيَّنَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ كِتَابَهُ حَاوٍ لِأَنْوَاعٍ ثَلَاثَةٍ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ شَرَعَ يُبَيِّنُ النَّوْعَ الْأَوَّلَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ وَهُوَ عِلْمُ الْعَقَائِدِ وَأُصُولُ التَّوْحِيدِ وَذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ هَذَا الْعِلْمَ هُوَ أَشْرَفُ الْعُلُومِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَأَفْضَلُهَا وَأَكْمَلُهَا وَبِهِ تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ عَلَى الْعَقَائِدِ الصَّحِيحَةِ وَبِهِ تَزْكُو الْأَخْلَاقُ وَتَنْمُو وَبِهِ تَصِحُّ الْأَعْمَالُ وَتَكْمُلُ وَإِنَّمَا كَانَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ أَشَرَفَ الْعُلُومِ لِأَمْرَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا بِالنَّظَرِ إِلَى مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ أَشْرَفُ مِنَ الْعِلْمِ بِغَيْرِهِ وَالثَّانِي بِالنَّظَرِ إِلَى الثَّمَرَةِ النَّاتِجَةِ مِنْهُ فَإِنَّمَا يُثْمِرُهُ هَذَا الْعِلْمُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَحَبَّتِهِ وَالْإِخْبَاتِ لَهُ وَطَلَبِ الزُّلْفَى عِنْدَهُ يَجْعَلُهُ مُقَدَّمًا عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ فَلِأَجْلِ عِظَمِ مُتَعَلَّقِهِ وَجَلَالَةِ ثَمَرَتِهِ صَارَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ الْعِلْمُ الْمُقَدَّمُ عَلَى الْعُلُومِ كَافَّةً

Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 1)

Setiap orang tentu ingin doanya dikabulkan. Untuk mewujudkannya, kita harus memperhatikan sebab-sebab terkabulnya doa. Dalam kesempatan ini, kami akan sampaikan tulisan yang sangat apik dari Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah yang berjudul Ad-Du’aa alladzii Laa Yurod yang menjelaskan tentang kiat-kiat agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.Janji Allah kepada Setiap Hamba yang BerdoaSesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan kepada mereka pengkabulan doa pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’.” (QS. Ghafir: 60)إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء“Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.” (QS. Ibrahim: 39)وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (QS. Al-Baqarah: 186)ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 55-56).Ayat-ayat lain yang semakna dengan ini sangat banyak.Allah juga mencintai para hamba yang berdoa dan memotivasi  mereka untuk melakukannya, padahal Allah tidak butuh sama sekali kepada hamba dan doa-doa mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak dapat menimpakan bahaya kepada-Ku dan tidak pula dapat memberikan manfaat kepada-Ku.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling bertakwa di antara kalian, maka itu tidak menambah kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling berdosa di antara kalian, maka itu tidak mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua berada di satu tempat, kemudian semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku mengabulkan permintaan setiap makhluk, maka tidaklah berkurang apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum apabila dicelupkan ke laut.” (HR. Muslim)Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Bahkan semakin besar perhatian hamba dalam berdoa semakin besar pula kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”.  (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَن لم يسألِ اللهَ يغضبْ علَيهِ“ Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.“ (HR. Tirmidzi, hasan)اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ“Allah murka jika engkau tidak meminta kepada-Nya. Sementara manusia ketika diminta maka ia akan murka.”13 Kiat terkabulnya Doa Menurut Ibnul Qayyim rahimahullahAllah Rabbul ‘aalamiin mencintai orang yang berdoa, dan berjanji mengkabulkan doa-doa mereka, memenuhi harapan-harapan mereka, dan memberi permintaan mereka, jika terpenuhi syarat-syarat terkabulnya berdoa dan tidak terdapat penghalang terkabulnya doa. Sungguh telah banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadis bahwasanya doa yang mustajab memiliki ketentuan yang hendaknya dipenuhi oleh orang yang berdoa. Demikian pula terdapat penghalang-penghalang terkabulnya doa yang hendaknya dihindari sehingga doa tidak akan tertolak.Ibnul Qayyim rahimahullah telah mengumpulkan ringkasan tentang hal ini dengan sangat baik. Beliau menjelaskan hal-hal penting yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala. Di akhir penjelasan setelah beliau memaparkan tentang ketentuan-ketentuan dalam berdoa, beliau rahimahullah menutup dengan perkataan,فان هذا الدعاء لا يكاد يردّ أبدا“Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. ”Oleh karena itu, dalam rangka memberikan nasihat dan kebaikan, maka kita akan membahas ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah ini secara lengkap disertai beberapa penjelasan dan faidah yang ada di dalamnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak“Jika terkumpul dalam doa: Hadirnya hati dan terkumpul seluruhnya untuk sungguh-sungguh menyampaikan permintaan. Bertepatan dengan waktu ijabah (waktu terkabulmya doa), yaitu (di antaranya) sepertiga malam terakhir, ketika azan, antara azan dan iqomat, di akhir salat wajib, ketika khatib naik mimbar di hari Jumat sampai selesai salat, atau waktu setelah asar hari Jumat. Khusyuknya hati disertai merasa lemah di hadapan Rabb-Nya, menghinakan diri, dan merendahkan diri kepada-Nya. Menghadap kiblat ketika berdoa. Dalam keadaan bersuci. Mengangkat tangan kepada Allah Ta’ala. Mengucapkan selawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum menyampaikan kebutuhannya, didahului dengan taubat dan istighfar. Bersikap lembut dan penuh adab dalam berdoa. Berdoa dengan disertai penuh harap dan takut. Bertawasul dengan nama dan sifat Allah Ta’ala. Mendahului doa dengan bersedekah. Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. Apalagi jika doa yang diucapkan adalah apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa yang merupakan jaminan mustajab, di antaranya adalah doa yang mangandung nama Allah Ta’ala yang termasuk Al-ismu al-A’dzom. “ (Al-Jawaabul Kaafiy) Penjelasan ketiga belas poin di atas akan disampaikan pada lanjutan tulisan berikutnya.[Bersambung] Referensi:Ad-Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah, dapat diunduh dari: https://www.al-badr.net/ebook/192Baca Juga:Penyusun : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.id

Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 1)

Setiap orang tentu ingin doanya dikabulkan. Untuk mewujudkannya, kita harus memperhatikan sebab-sebab terkabulnya doa. Dalam kesempatan ini, kami akan sampaikan tulisan yang sangat apik dari Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah yang berjudul Ad-Du’aa alladzii Laa Yurod yang menjelaskan tentang kiat-kiat agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.Janji Allah kepada Setiap Hamba yang BerdoaSesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan kepada mereka pengkabulan doa pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’.” (QS. Ghafir: 60)إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء“Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.” (QS. Ibrahim: 39)وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (QS. Al-Baqarah: 186)ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 55-56).Ayat-ayat lain yang semakna dengan ini sangat banyak.Allah juga mencintai para hamba yang berdoa dan memotivasi  mereka untuk melakukannya, padahal Allah tidak butuh sama sekali kepada hamba dan doa-doa mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak dapat menimpakan bahaya kepada-Ku dan tidak pula dapat memberikan manfaat kepada-Ku.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling bertakwa di antara kalian, maka itu tidak menambah kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling berdosa di antara kalian, maka itu tidak mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua berada di satu tempat, kemudian semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku mengabulkan permintaan setiap makhluk, maka tidaklah berkurang apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum apabila dicelupkan ke laut.” (HR. Muslim)Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Bahkan semakin besar perhatian hamba dalam berdoa semakin besar pula kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”.  (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَن لم يسألِ اللهَ يغضبْ علَيهِ“ Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.“ (HR. Tirmidzi, hasan)اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ“Allah murka jika engkau tidak meminta kepada-Nya. Sementara manusia ketika diminta maka ia akan murka.”13 Kiat terkabulnya Doa Menurut Ibnul Qayyim rahimahullahAllah Rabbul ‘aalamiin mencintai orang yang berdoa, dan berjanji mengkabulkan doa-doa mereka, memenuhi harapan-harapan mereka, dan memberi permintaan mereka, jika terpenuhi syarat-syarat terkabulnya berdoa dan tidak terdapat penghalang terkabulnya doa. Sungguh telah banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadis bahwasanya doa yang mustajab memiliki ketentuan yang hendaknya dipenuhi oleh orang yang berdoa. Demikian pula terdapat penghalang-penghalang terkabulnya doa yang hendaknya dihindari sehingga doa tidak akan tertolak.Ibnul Qayyim rahimahullah telah mengumpulkan ringkasan tentang hal ini dengan sangat baik. Beliau menjelaskan hal-hal penting yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala. Di akhir penjelasan setelah beliau memaparkan tentang ketentuan-ketentuan dalam berdoa, beliau rahimahullah menutup dengan perkataan,فان هذا الدعاء لا يكاد يردّ أبدا“Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. ”Oleh karena itu, dalam rangka memberikan nasihat dan kebaikan, maka kita akan membahas ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah ini secara lengkap disertai beberapa penjelasan dan faidah yang ada di dalamnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak“Jika terkumpul dalam doa: Hadirnya hati dan terkumpul seluruhnya untuk sungguh-sungguh menyampaikan permintaan. Bertepatan dengan waktu ijabah (waktu terkabulmya doa), yaitu (di antaranya) sepertiga malam terakhir, ketika azan, antara azan dan iqomat, di akhir salat wajib, ketika khatib naik mimbar di hari Jumat sampai selesai salat, atau waktu setelah asar hari Jumat. Khusyuknya hati disertai merasa lemah di hadapan Rabb-Nya, menghinakan diri, dan merendahkan diri kepada-Nya. Menghadap kiblat ketika berdoa. Dalam keadaan bersuci. Mengangkat tangan kepada Allah Ta’ala. Mengucapkan selawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum menyampaikan kebutuhannya, didahului dengan taubat dan istighfar. Bersikap lembut dan penuh adab dalam berdoa. Berdoa dengan disertai penuh harap dan takut. Bertawasul dengan nama dan sifat Allah Ta’ala. Mendahului doa dengan bersedekah. Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. Apalagi jika doa yang diucapkan adalah apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa yang merupakan jaminan mustajab, di antaranya adalah doa yang mangandung nama Allah Ta’ala yang termasuk Al-ismu al-A’dzom. “ (Al-Jawaabul Kaafiy) Penjelasan ketiga belas poin di atas akan disampaikan pada lanjutan tulisan berikutnya.[Bersambung] Referensi:Ad-Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah, dapat diunduh dari: https://www.al-badr.net/ebook/192Baca Juga:Penyusun : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.id
Setiap orang tentu ingin doanya dikabulkan. Untuk mewujudkannya, kita harus memperhatikan sebab-sebab terkabulnya doa. Dalam kesempatan ini, kami akan sampaikan tulisan yang sangat apik dari Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah yang berjudul Ad-Du’aa alladzii Laa Yurod yang menjelaskan tentang kiat-kiat agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.Janji Allah kepada Setiap Hamba yang BerdoaSesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan kepada mereka pengkabulan doa pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’.” (QS. Ghafir: 60)إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء“Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.” (QS. Ibrahim: 39)وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (QS. Al-Baqarah: 186)ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 55-56).Ayat-ayat lain yang semakna dengan ini sangat banyak.Allah juga mencintai para hamba yang berdoa dan memotivasi  mereka untuk melakukannya, padahal Allah tidak butuh sama sekali kepada hamba dan doa-doa mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak dapat menimpakan bahaya kepada-Ku dan tidak pula dapat memberikan manfaat kepada-Ku.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling bertakwa di antara kalian, maka itu tidak menambah kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling berdosa di antara kalian, maka itu tidak mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua berada di satu tempat, kemudian semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku mengabulkan permintaan setiap makhluk, maka tidaklah berkurang apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum apabila dicelupkan ke laut.” (HR. Muslim)Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Bahkan semakin besar perhatian hamba dalam berdoa semakin besar pula kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”.  (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَن لم يسألِ اللهَ يغضبْ علَيهِ“ Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.“ (HR. Tirmidzi, hasan)اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ“Allah murka jika engkau tidak meminta kepada-Nya. Sementara manusia ketika diminta maka ia akan murka.”13 Kiat terkabulnya Doa Menurut Ibnul Qayyim rahimahullahAllah Rabbul ‘aalamiin mencintai orang yang berdoa, dan berjanji mengkabulkan doa-doa mereka, memenuhi harapan-harapan mereka, dan memberi permintaan mereka, jika terpenuhi syarat-syarat terkabulnya berdoa dan tidak terdapat penghalang terkabulnya doa. Sungguh telah banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadis bahwasanya doa yang mustajab memiliki ketentuan yang hendaknya dipenuhi oleh orang yang berdoa. Demikian pula terdapat penghalang-penghalang terkabulnya doa yang hendaknya dihindari sehingga doa tidak akan tertolak.Ibnul Qayyim rahimahullah telah mengumpulkan ringkasan tentang hal ini dengan sangat baik. Beliau menjelaskan hal-hal penting yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala. Di akhir penjelasan setelah beliau memaparkan tentang ketentuan-ketentuan dalam berdoa, beliau rahimahullah menutup dengan perkataan,فان هذا الدعاء لا يكاد يردّ أبدا“Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. ”Oleh karena itu, dalam rangka memberikan nasihat dan kebaikan, maka kita akan membahas ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah ini secara lengkap disertai beberapa penjelasan dan faidah yang ada di dalamnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak“Jika terkumpul dalam doa: Hadirnya hati dan terkumpul seluruhnya untuk sungguh-sungguh menyampaikan permintaan. Bertepatan dengan waktu ijabah (waktu terkabulmya doa), yaitu (di antaranya) sepertiga malam terakhir, ketika azan, antara azan dan iqomat, di akhir salat wajib, ketika khatib naik mimbar di hari Jumat sampai selesai salat, atau waktu setelah asar hari Jumat. Khusyuknya hati disertai merasa lemah di hadapan Rabb-Nya, menghinakan diri, dan merendahkan diri kepada-Nya. Menghadap kiblat ketika berdoa. Dalam keadaan bersuci. Mengangkat tangan kepada Allah Ta’ala. Mengucapkan selawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum menyampaikan kebutuhannya, didahului dengan taubat dan istighfar. Bersikap lembut dan penuh adab dalam berdoa. Berdoa dengan disertai penuh harap dan takut. Bertawasul dengan nama dan sifat Allah Ta’ala. Mendahului doa dengan bersedekah. Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. Apalagi jika doa yang diucapkan adalah apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa yang merupakan jaminan mustajab, di antaranya adalah doa yang mangandung nama Allah Ta’ala yang termasuk Al-ismu al-A’dzom. “ (Al-Jawaabul Kaafiy) Penjelasan ketiga belas poin di atas akan disampaikan pada lanjutan tulisan berikutnya.[Bersambung] Referensi:Ad-Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah, dapat diunduh dari: https://www.al-badr.net/ebook/192Baca Juga:Penyusun : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.id


Setiap orang tentu ingin doanya dikabulkan. Untuk mewujudkannya, kita harus memperhatikan sebab-sebab terkabulnya doa. Dalam kesempatan ini, kami akan sampaikan tulisan yang sangat apik dari Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah yang berjudul Ad-Du’aa alladzii Laa Yurod yang menjelaskan tentang kiat-kiat agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.Janji Allah kepada Setiap Hamba yang BerdoaSesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan kepada mereka pengkabulan doa pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’.” (QS. Ghafir: 60)إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء“Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.” (QS. Ibrahim: 39)وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (QS. Al-Baqarah: 186)ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 55-56).Ayat-ayat lain yang semakna dengan ini sangat banyak.Allah juga mencintai para hamba yang berdoa dan memotivasi  mereka untuk melakukannya, padahal Allah tidak butuh sama sekali kepada hamba dan doa-doa mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak dapat menimpakan bahaya kepada-Ku dan tidak pula dapat memberikan manfaat kepada-Ku.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling bertakwa di antara kalian, maka itu tidak menambah kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua menjadi seperti orang yang hatinya paling berdosa di antara kalian, maka itu tidak mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun.Wahai hamba-hamba-Ku, andai makhluk yang pertama, sampai yang terakhir, manusia dan jin semua berada di satu tempat, kemudian semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku mengabulkan permintaan setiap makhluk, maka tidaklah berkurang apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum apabila dicelupkan ke laut.” (HR. Muslim)Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Bahkan semakin besar perhatian hamba dalam berdoa semakin besar pula kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”.  (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَن لم يسألِ اللهَ يغضبْ علَيهِ“ Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.“ (HR. Tirmidzi, hasan)اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ“Allah murka jika engkau tidak meminta kepada-Nya. Sementara manusia ketika diminta maka ia akan murka.”13 Kiat terkabulnya Doa Menurut Ibnul Qayyim rahimahullahAllah Rabbul ‘aalamiin mencintai orang yang berdoa, dan berjanji mengkabulkan doa-doa mereka, memenuhi harapan-harapan mereka, dan memberi permintaan mereka, jika terpenuhi syarat-syarat terkabulnya berdoa dan tidak terdapat penghalang terkabulnya doa. Sungguh telah banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadis bahwasanya doa yang mustajab memiliki ketentuan yang hendaknya dipenuhi oleh orang yang berdoa. Demikian pula terdapat penghalang-penghalang terkabulnya doa yang hendaknya dihindari sehingga doa tidak akan tertolak.Ibnul Qayyim rahimahullah telah mengumpulkan ringkasan tentang hal ini dengan sangat baik. Beliau menjelaskan hal-hal penting yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala. Di akhir penjelasan setelah beliau memaparkan tentang ketentuan-ketentuan dalam berdoa, beliau rahimahullah menutup dengan perkataan,فان هذا الدعاء لا يكاد يردّ أبدا“Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. ”Oleh karena itu, dalam rangka memberikan nasihat dan kebaikan, maka kita akan membahas ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah ini secara lengkap disertai beberapa penjelasan dan faidah yang ada di dalamnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak“Jika terkumpul dalam doa: Hadirnya hati dan terkumpul seluruhnya untuk sungguh-sungguh menyampaikan permintaan. Bertepatan dengan waktu ijabah (waktu terkabulmya doa), yaitu (di antaranya) sepertiga malam terakhir, ketika azan, antara azan dan iqomat, di akhir salat wajib, ketika khatib naik mimbar di hari Jumat sampai selesai salat, atau waktu setelah asar hari Jumat. Khusyuknya hati disertai merasa lemah di hadapan Rabb-Nya, menghinakan diri, dan merendahkan diri kepada-Nya. Menghadap kiblat ketika berdoa. Dalam keadaan bersuci. Mengangkat tangan kepada Allah Ta’ala. Mengucapkan selawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum menyampaikan kebutuhannya, didahului dengan taubat dan istighfar. Bersikap lembut dan penuh adab dalam berdoa. Berdoa dengan disertai penuh harap dan takut. Bertawasul dengan nama dan sifat Allah Ta’ala. Mendahului doa dengan bersedekah. Sesungguhnya doa yang dilakukan seperti ini hampir-hampir tidak akan pernah tertolak. Apalagi jika doa yang diucapkan adalah apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa yang merupakan jaminan mustajab, di antaranya adalah doa yang mangandung nama Allah Ta’ala yang termasuk Al-ismu al-A’dzom. “ (Al-Jawaabul Kaafiy) Penjelasan ketiga belas poin di atas akan disampaikan pada lanjutan tulisan berikutnya.[Bersambung] Referensi:Ad-Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah, dapat diunduh dari: https://www.al-badr.net/ebook/192Baca Juga:Penyusun : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.id

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Sudah semestinya wanita dipahami berdasarkan sifat bawaannya, karena ini adalah sifat seorang wanita; baik itu ia seorang wanita berpendidikan tinggi, guru, atau yang lainnya. Wanita tidak akan selamat dari kekurangan ini, oleh karena itu para suami hendaknya memperlakukan istri-istri mereka dengan memperhatikan kondisinya ini. Dan ini adalah tabiat bawaan yang tidak mungkin dihilangkan dari dalam diri wanita. Aku ceritakan sebuah nasehat indah dari imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau- ketika aku dulu bersama beberapa teman mengunjungi rumah beliau di Thaif, setelah salat subuh. Ketika kami sedang bermajelis bersama beliau, seseorang menelepon beliau dan aku menduga bahwa dia adalah seorang pemuda karena aku mendengar syeikh berkata, “Wahai anakku!” Dan beliau mengulang-ulanginya. Pemuda tersebut telah menceraikan istrinya dan aku mendengar syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- menasehati pemuda tersebut, beliau mengucapkan nasehat yang indah, yang beliau ulangi berkali-kali. Beliau berkata, “Wahai anakku, di dunia ini tidak ada bidadari, di dunia ini tidak ada bidadari.” Beliau ulang-ulangi perkataan ini, -Semoga Allah merahmati beliau-. Maksudnya, seorang wanita, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan, wanita manapun itu pasti memiliki kekurangan, tidak ada yang terbebas dari hal tersebut. =============================================================================== إِذَنْ يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ الْمَرْأَةُ عَلَى هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَأَنَّ هَذِهِ حَالُ الْمَرْأَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ كَمَا يُقَالُ مُثَقَّفَةً أَوْ مُتَعَلِّمَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْأَزْوَاجِ أَنْ يَتَعَامَلُوْا مَعَ الزَّوْجَاتِ مُرَاعِيْنِ هَذَا… هَذِهِ الْحَالَة وَهَذَا… وَهَذِهِ الطَّبِيعَةُ الَّتِي فِي الْمَرْأَةِ وَالَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْهَا وَأَذْكُرُ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةً جَمِيلَةً لِلْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ كُنْتُ مَعَ بَعْضِ الْإِخْوَةِ فِي زِيَارَةٍ لَهُ فِي بَيْتِهِ فِي الطَّائِفِ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَكُنَّا فِي مَجْلِسِهِ فَاتَّصَلَ بِهِ مُتَّصِلٌ وَأَظُنُّهُ مِنَ الشَّبَابِ لِأَنِّي أَسْمَعُ الشَّيْخَ يَقُولُ لَهُ يَا ابْنِي وَيُكَرِّرُهَا وَكَانَ قَدْ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فَسَمِعْتُ الشَّيْخَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَهُوَ يُهَاتِفُ الشَّابَّ وَيُنَاصِحُهُ قَالَ كَلِمَةً جَمِيلَةً كَرَّرَهَا مَرَّاتٍ قَالَ لَهُ يَا… يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ يُكَرِّرُهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَعْنِي أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ لَا تَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Sudah semestinya wanita dipahami berdasarkan sifat bawaannya, karena ini adalah sifat seorang wanita; baik itu ia seorang wanita berpendidikan tinggi, guru, atau yang lainnya. Wanita tidak akan selamat dari kekurangan ini, oleh karena itu para suami hendaknya memperlakukan istri-istri mereka dengan memperhatikan kondisinya ini. Dan ini adalah tabiat bawaan yang tidak mungkin dihilangkan dari dalam diri wanita. Aku ceritakan sebuah nasehat indah dari imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau- ketika aku dulu bersama beberapa teman mengunjungi rumah beliau di Thaif, setelah salat subuh. Ketika kami sedang bermajelis bersama beliau, seseorang menelepon beliau dan aku menduga bahwa dia adalah seorang pemuda karena aku mendengar syeikh berkata, “Wahai anakku!” Dan beliau mengulang-ulanginya. Pemuda tersebut telah menceraikan istrinya dan aku mendengar syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- menasehati pemuda tersebut, beliau mengucapkan nasehat yang indah, yang beliau ulangi berkali-kali. Beliau berkata, “Wahai anakku, di dunia ini tidak ada bidadari, di dunia ini tidak ada bidadari.” Beliau ulang-ulangi perkataan ini, -Semoga Allah merahmati beliau-. Maksudnya, seorang wanita, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan, wanita manapun itu pasti memiliki kekurangan, tidak ada yang terbebas dari hal tersebut. =============================================================================== إِذَنْ يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ الْمَرْأَةُ عَلَى هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَأَنَّ هَذِهِ حَالُ الْمَرْأَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ كَمَا يُقَالُ مُثَقَّفَةً أَوْ مُتَعَلِّمَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْأَزْوَاجِ أَنْ يَتَعَامَلُوْا مَعَ الزَّوْجَاتِ مُرَاعِيْنِ هَذَا… هَذِهِ الْحَالَة وَهَذَا… وَهَذِهِ الطَّبِيعَةُ الَّتِي فِي الْمَرْأَةِ وَالَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْهَا وَأَذْكُرُ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةً جَمِيلَةً لِلْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ كُنْتُ مَعَ بَعْضِ الْإِخْوَةِ فِي زِيَارَةٍ لَهُ فِي بَيْتِهِ فِي الطَّائِفِ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَكُنَّا فِي مَجْلِسِهِ فَاتَّصَلَ بِهِ مُتَّصِلٌ وَأَظُنُّهُ مِنَ الشَّبَابِ لِأَنِّي أَسْمَعُ الشَّيْخَ يَقُولُ لَهُ يَا ابْنِي وَيُكَرِّرُهَا وَكَانَ قَدْ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فَسَمِعْتُ الشَّيْخَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَهُوَ يُهَاتِفُ الشَّابَّ وَيُنَاصِحُهُ قَالَ كَلِمَةً جَمِيلَةً كَرَّرَهَا مَرَّاتٍ قَالَ لَهُ يَا… يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ يُكَرِّرُهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَعْنِي أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ لَا تَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ
Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Sudah semestinya wanita dipahami berdasarkan sifat bawaannya, karena ini adalah sifat seorang wanita; baik itu ia seorang wanita berpendidikan tinggi, guru, atau yang lainnya. Wanita tidak akan selamat dari kekurangan ini, oleh karena itu para suami hendaknya memperlakukan istri-istri mereka dengan memperhatikan kondisinya ini. Dan ini adalah tabiat bawaan yang tidak mungkin dihilangkan dari dalam diri wanita. Aku ceritakan sebuah nasehat indah dari imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau- ketika aku dulu bersama beberapa teman mengunjungi rumah beliau di Thaif, setelah salat subuh. Ketika kami sedang bermajelis bersama beliau, seseorang menelepon beliau dan aku menduga bahwa dia adalah seorang pemuda karena aku mendengar syeikh berkata, “Wahai anakku!” Dan beliau mengulang-ulanginya. Pemuda tersebut telah menceraikan istrinya dan aku mendengar syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- menasehati pemuda tersebut, beliau mengucapkan nasehat yang indah, yang beliau ulangi berkali-kali. Beliau berkata, “Wahai anakku, di dunia ini tidak ada bidadari, di dunia ini tidak ada bidadari.” Beliau ulang-ulangi perkataan ini, -Semoga Allah merahmati beliau-. Maksudnya, seorang wanita, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan, wanita manapun itu pasti memiliki kekurangan, tidak ada yang terbebas dari hal tersebut. =============================================================================== إِذَنْ يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ الْمَرْأَةُ عَلَى هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَأَنَّ هَذِهِ حَالُ الْمَرْأَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ كَمَا يُقَالُ مُثَقَّفَةً أَوْ مُتَعَلِّمَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْأَزْوَاجِ أَنْ يَتَعَامَلُوْا مَعَ الزَّوْجَاتِ مُرَاعِيْنِ هَذَا… هَذِهِ الْحَالَة وَهَذَا… وَهَذِهِ الطَّبِيعَةُ الَّتِي فِي الْمَرْأَةِ وَالَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْهَا وَأَذْكُرُ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةً جَمِيلَةً لِلْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ كُنْتُ مَعَ بَعْضِ الْإِخْوَةِ فِي زِيَارَةٍ لَهُ فِي بَيْتِهِ فِي الطَّائِفِ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَكُنَّا فِي مَجْلِسِهِ فَاتَّصَلَ بِهِ مُتَّصِلٌ وَأَظُنُّهُ مِنَ الشَّبَابِ لِأَنِّي أَسْمَعُ الشَّيْخَ يَقُولُ لَهُ يَا ابْنِي وَيُكَرِّرُهَا وَكَانَ قَدْ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فَسَمِعْتُ الشَّيْخَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَهُوَ يُهَاتِفُ الشَّابَّ وَيُنَاصِحُهُ قَالَ كَلِمَةً جَمِيلَةً كَرَّرَهَا مَرَّاتٍ قَالَ لَهُ يَا… يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ يُكَرِّرُهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَعْنِي أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ لَا تَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ


Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Sudah semestinya wanita dipahami berdasarkan sifat bawaannya, karena ini adalah sifat seorang wanita; baik itu ia seorang wanita berpendidikan tinggi, guru, atau yang lainnya. Wanita tidak akan selamat dari kekurangan ini, oleh karena itu para suami hendaknya memperlakukan istri-istri mereka dengan memperhatikan kondisinya ini. Dan ini adalah tabiat bawaan yang tidak mungkin dihilangkan dari dalam diri wanita. Aku ceritakan sebuah nasehat indah dari imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau- ketika aku dulu bersama beberapa teman mengunjungi rumah beliau di Thaif, setelah salat subuh. Ketika kami sedang bermajelis bersama beliau, seseorang menelepon beliau dan aku menduga bahwa dia adalah seorang pemuda karena aku mendengar syeikh berkata, “Wahai anakku!” Dan beliau mengulang-ulanginya. Pemuda tersebut telah menceraikan istrinya dan aku mendengar syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- menasehati pemuda tersebut, beliau mengucapkan nasehat yang indah, yang beliau ulangi berkali-kali. Beliau berkata, “Wahai anakku, di dunia ini tidak ada bidadari, di dunia ini tidak ada bidadari.” Beliau ulang-ulangi perkataan ini, -Semoga Allah merahmati beliau-. Maksudnya, seorang wanita, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan, wanita manapun itu pasti memiliki kekurangan, tidak ada yang terbebas dari hal tersebut. =============================================================================== إِذَنْ يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ الْمَرْأَةُ عَلَى هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَأَنَّ هَذِهِ حَالُ الْمَرْأَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ كَمَا يُقَالُ مُثَقَّفَةً أَوْ مُتَعَلِّمَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْأَزْوَاجِ أَنْ يَتَعَامَلُوْا مَعَ الزَّوْجَاتِ مُرَاعِيْنِ هَذَا… هَذِهِ الْحَالَة وَهَذَا… وَهَذِهِ الطَّبِيعَةُ الَّتِي فِي الْمَرْأَةِ وَالَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْهَا وَأَذْكُرُ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةً جَمِيلَةً لِلْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ كُنْتُ مَعَ بَعْضِ الْإِخْوَةِ فِي زِيَارَةٍ لَهُ فِي بَيْتِهِ فِي الطَّائِفِ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَكُنَّا فِي مَجْلِسِهِ فَاتَّصَلَ بِهِ مُتَّصِلٌ وَأَظُنُّهُ مِنَ الشَّبَابِ لِأَنِّي أَسْمَعُ الشَّيْخَ يَقُولُ لَهُ يَا ابْنِي وَيُكَرِّرُهَا وَكَانَ قَدْ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فَسَمِعْتُ الشَّيْخَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَهُوَ يُهَاتِفُ الشَّابَّ وَيُنَاصِحُهُ قَالَ كَلِمَةً جَمِيلَةً كَرَّرَهَا مَرَّاتٍ قَالَ لَهُ يَا… يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ يُكَرِّرُهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَعْنِي أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ لَا تَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ

Menuju Kesempurnaan Ibadah Salat (Bag. 8): Hukum dan Kedudukan Salat

Baca pembahasan sebelumnya : Memahami tentang Haid, Nifas dan IstihadahPembahasan perihal ibadah salat dalam artikel sebelumnya merupakan rukun-rukun yang mesti diketahui oleh setiap muslim sebelum melaksanakan ibadah salat itu sendiri. Pada artikel kali ini, pembahasan seputar salat mulai masuk kepada perkara inti dalam ibadah salat yang dimulai dari kedudukan, keutamaan, dan hukum meninggalkan salat.Pada hakikatnya salat merupakan doa dengan dua maksud, yaitu doa permohonan dan ibadah. Memohon segala hal hanya kepada Allah Ta’ala untuk diberikan suatu manfaat atau dihindarkan dari suatu bahaya. Juga beribadah kepada Allah Ta’ala melalui berbagai macam amal salih, yaitu berdiri, duduk, ruku’, i’tidal, dan sujud (1).Hukum SalatSalat adalah ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang dikenal dan khusus, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam (2). Salat merupakan hal yang diwajibkan bagi setiap muslim yang telah baligh dan berakal menurut ketetapan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma‘ ulama.Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak menjelaskan tentang wajibnya salat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda melalui hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.“Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada ilah (yang haq) selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan”. (HR. Bukhari dan Muslim)Adapun ijma‘ ulama dapat dilihat dalam banyak nash tentang kesepakatan mereka tentang wajibnya salat lima waktu dalam satu hari dan satu malam.(3)Perintah wajibnya salat bagi setiap muslim ini tentu dikecualikan bagi wanita yang sedang haid atau tengah menjalani nifas -sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya-. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ“Bukankah jika wanita sedang haid tidak salat dan tidak puasa.” (HR. Bukhari)Baca Juga: Shalat Ghaib Untuk Prajurit TNI AL KRI Nanggala 402 yang GugurKedudukan Salat dalam IslamSalat menempati kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Di antara bukti betapa pentingnya salat dalam Islam adalah sebagai berikut: Salat merupakan tiang agama. (4) Salat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Baik atau buruknya salat seseorang berbanding lurus dengan rusak atau tidaknya amal perbuatan seseorang. (5) Salat merupakan amalan agama yang paling terakhir hilang. Apabila salat hilang dari agama, maka tidak ada lagi yang tersisa dari agama. (6) Salat adalah wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya. (7) Perintah salat langsung dari Allah Ta’ala kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara Jibril ‘alaihissalam. Pada awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu salat. Kemudian Allah memberi keringanan dengan hanya mewajibkan lima waktu salat dengan kedudukan lima puluh dalam timbangan (pahala) dan lima (kali) dalam pelaksanaan. (8) Allah memuji orang-orang yang mengerjakan salat dan yang menyuruh keluarganya mengerjakan salat. (9) Allah mencela orang-orang yang mengabaikan salat. (10) Allah mempertegas pentingnya salat sampai-sampai orang yang tertidur dan lupa tetap diperintahkan untuk meng-qadha salatnya. (11) Keutamaan SalatKetahuilah bahwa keagungan ibadah salat dapat dilihat dari betapa syari’at sangat mempertegas keutamaan ibadah mulia ini. Di antara keutamaan salat adalah: Salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (12) Salat merupakan amal yang paling baik setelah dua kalimat syahadat. (13) Salat dapat membersihkan dari dosa-dosa. (14) Salat dapat menghapuskan berbagai macam dosa. (15) Salat menjadi cahaya bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. (16) Dengan salat Allah akan meninggikan derajat dan menghapuskan dosa. (17) Di antara sebab dimasukkannya seseorang ke dalam surga dan menjadi teman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salat. (18) Berjalan menuju tempat salat (masjid) akan dicatat baginya kebaikan-kebaikan, ditinggikan beberapa derajat, dan dihapuskan kesalahan-kesalahan. (19) Akan disediakan jamuan di surga setiap kali seorang berangkat di masjid untuk mengerjakan salat baik pada pagi maupun sore hari. (20) Dengan salat Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang terjadi antara satu salat dengan salat berikutnya. (21) Salat juga akan menghapuskan dosa-dosa yang terjadi sebelum salat. (22) Malaikat akan bersalawat kepada orang yang mengerjakan salat selama dia masih tetap berada di tempat salatnya. Dia masih dianggap mengerjakan salat selama salat masih tetap menahannya. (23) Menunggu salat merupakan ribath (perjuangan) di jalan Allah. (24) Pahala orang yang berangkat menunaikan salat itu sama seperti pahala orang yang berhaji dengan berihram. (25) Barang siapa yang berangkat ke masjid terlambat, dan dia mendapatkan orang-orang telah selesai menunaikan salat, maka baginya pahala seperti pahala orang yang ikut mengerjakan salat dengan jamaah. (26) Jika seseorang telah bersuci lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan salat, dia akan selalu berada dalam keadaan salat sampai dia kembali. Sedangkan kepergian dan kepulangannya ditetapkan mendapatkan pahala. (27) Baca Juga: Hukum Takbir Setelah Salam dalam ShalatHukum Meninggalkan SalatDi antara poin penting yang mesti diketahui oleh seorang muslim perihal ibadah salat adalah tentang hukum bagi orang yang meninggalkan salat. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadis sangat jelas menggambarkan betapa pentingnya ibadah yang agung ini dan kedudukan orang-orang yang meninggalkannya.Orang yang meninggalkan salat wajib secara syari’at dihukumi kufur dengan ketentuan bahwa apabila orang tersebut mengingkari hukum wajibnya salat, maka menurut kesepakatan (ijma’) para ulama termasuk dalam kategori kufur besar, meskipun terkadang dia juga mengerjakannya (28). Sedangkan orang yang meninggalkan secara total, sementara dia meyakini hukum wajibnya dan tidak mengingkarinya, dia tetap termasuk kufur. Menurut pendapat para ulama bahwa kufurnya tersebut adalah kufur besar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (29).Hal itu didasarkan pada banyak dalil yang menegaskan hukum bagi orang yang meninggalkan salat sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ  ۝ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ  ۝“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.”  (QS. al-Qalam : 42-43)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِینَةٌ ۝  إِلَّاۤ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡیَمِینِ ۝  فِی جَنَّـٰتࣲ یَتَسَاۤءَلُونَ ۝  عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ ۝  مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ ۝  قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ ۝  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِینَ ۝  وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَاۤىِٕضِینَ ۝  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِیَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan”. (QS. al-Muddatstsir: 38-46)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan pemisah antara seorang muslim dari kesyirikan dan kekufuran adalah shalat. Sebagaimana hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat”. (HR. Muslim no. 82; Abu Dawud no. 4678; At-Tirmidzi no. 2620; dan Ibnu Majah no. 1078)Begitu pula hadis dari ‘Abdullah bin Buraidah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir”. (HR. Ibnu Majah no. 1079; At-Tirmidzi no. 2621, dan an-Nasa-i I/231-232)KesimpulanIbadah salat menempati posisi yang sangat agung dalam syari’at Islam. Setelah syahadat, salat merupakan hal yang pertama yang menjadi rukun keislaman seseorang. Keutamaan dan keistimewaan salat juga dipertegas dengan dalil-dalil sahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma‘ para ulama. Di samping itu, ketegasan syari’at dalam menghukumi orang-orang yang meninggalkan salat secara sengaja -dengan kekufuran- semakin membuktikan keagungan dan kemuliaan ibadah salat yang mesti diprioritaskan oleh seorang muslim. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk terus menimba ilmu tentang perkara-perkara agama yang dapat menghantarkan kita menuju husnul khotimah kelak di hadapan-Nya.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idReferensi : (1)  Lihat Kitab Fathul Majid li Syarhi Kitaabit Tauhid, hlm. 180.(2) Lihat Kitab al-Mughni (III/5) karya Ibnu Qudamah(3) Kitab al-Mughni (III/6)(4) Lihat Kitab al-Iimaan bab maa Jaa-aa fii Hurmatish Shalaah (V/11) no. 2616 karya at-Tirmidzi(5) Lihat Kitab al-Ausatf (I/409) karya ath-Thabrani.(6) Lihat Kitab al-Jaami’ ashShagiir (VII/263) karya ath-Thabrani(7) Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanaya ia pernah berkata, ‘Wasiat terakhir kali yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah, ‘Jagalah salat, jagalah salat, dan budak-budak yang kalian miliki. ‘Sampai-sampai Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengulang-ulangnya di dalam dada dan tidak dapat mengucapkan melalui lisannya dengan jelas’. (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghalil (VII/238)(8) Lihat Kitab al-Iimaan bab al-Israi bi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa Fardhi Shalawat no 162, karya Muslim.(9) QS. Maryam: 54-55(10) QS. Maryam: 9(11) Lihat  Kitab Mawaaqiitush Shalaah Bab Man Nasiya Shlaatan Falyushalliihaa Idzaa Dzakaraha (I/166) no. 597 karya al-Bukhari.(12) QS. al-Ankabuut: 45(13) Lihat Kitab at-Tauhid Bab Wa Samman Nabiyu ash-Shalaata Amalan (VIII/265) no. 7534 karya al-Bukhari.(14) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 668 Karya Muslim.(15) Lihat Kitab ath-Thahaarah  Bab ash_Shalawaatul Khamsu wal Jumu’atu ilal Jumu’ati wa Ramadhani ilaa Ramadhaana Mukaffiratun Lima Bainahunna Majtunibail Kabaa’ir (I/209) no. 233 Karya Muslim.(16) Lihat Kitab al-Musnad (II/169) karya Ahmad.(17) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Fadhlus Sujuud wal Hatstsu ‘Alaihi (I/253) no. 448 karya Muslim.(18) Ibid. No. 849(19) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 666 karya Muslim.(20) Lihat Kitab al-Adzaan Bab Fadhlu Man Ghadaa Ilal Masjid au Raaha (I/182) no. 662 karya al-Bukhari.(21) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Fadhluul Wudhu wash Shalaati Aqibahu (I/206) no. 227 karya Muslim.(22) Ibid no. 288.(23) Lihat Kitab al-Buyuu’ Bab Maa Dzukira dil Aswaaq no. 2119 karya al-Bukhaari.(24) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Isbaaghul Wudhu ‘alal makaarih no. 251 karya Muslim.(25) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Maa Jaa-a fii Fadhlil Masy-yi ilash Shalaah no. 558 karya Abu Dawud.(26) Ibid, Bab Fii Man Kharaja Yuridush Shalaata Fasubiqa Bihaa  no. 564(27) Lihat Kitab Shahiih (I/229) karya Ibnu Khuzaimah.(28) Lihat Kitab Tuhfatul al-Ikhwaan bi ajwibatin Muhimmatin Tata’allaqu bi arkaanil Islam halaman 73 karya al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz.(29) Lihat Kitab Shalatul Mu’min/Ensiklopedi Shalat Shalat Bab Hukum Meinggalkan Shalat halaman 165 karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani.

Menuju Kesempurnaan Ibadah Salat (Bag. 8): Hukum dan Kedudukan Salat

Baca pembahasan sebelumnya : Memahami tentang Haid, Nifas dan IstihadahPembahasan perihal ibadah salat dalam artikel sebelumnya merupakan rukun-rukun yang mesti diketahui oleh setiap muslim sebelum melaksanakan ibadah salat itu sendiri. Pada artikel kali ini, pembahasan seputar salat mulai masuk kepada perkara inti dalam ibadah salat yang dimulai dari kedudukan, keutamaan, dan hukum meninggalkan salat.Pada hakikatnya salat merupakan doa dengan dua maksud, yaitu doa permohonan dan ibadah. Memohon segala hal hanya kepada Allah Ta’ala untuk diberikan suatu manfaat atau dihindarkan dari suatu bahaya. Juga beribadah kepada Allah Ta’ala melalui berbagai macam amal salih, yaitu berdiri, duduk, ruku’, i’tidal, dan sujud (1).Hukum SalatSalat adalah ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang dikenal dan khusus, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam (2). Salat merupakan hal yang diwajibkan bagi setiap muslim yang telah baligh dan berakal menurut ketetapan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma‘ ulama.Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak menjelaskan tentang wajibnya salat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda melalui hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.“Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada ilah (yang haq) selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan”. (HR. Bukhari dan Muslim)Adapun ijma‘ ulama dapat dilihat dalam banyak nash tentang kesepakatan mereka tentang wajibnya salat lima waktu dalam satu hari dan satu malam.(3)Perintah wajibnya salat bagi setiap muslim ini tentu dikecualikan bagi wanita yang sedang haid atau tengah menjalani nifas -sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya-. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ“Bukankah jika wanita sedang haid tidak salat dan tidak puasa.” (HR. Bukhari)Baca Juga: Shalat Ghaib Untuk Prajurit TNI AL KRI Nanggala 402 yang GugurKedudukan Salat dalam IslamSalat menempati kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Di antara bukti betapa pentingnya salat dalam Islam adalah sebagai berikut: Salat merupakan tiang agama. (4) Salat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Baik atau buruknya salat seseorang berbanding lurus dengan rusak atau tidaknya amal perbuatan seseorang. (5) Salat merupakan amalan agama yang paling terakhir hilang. Apabila salat hilang dari agama, maka tidak ada lagi yang tersisa dari agama. (6) Salat adalah wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya. (7) Perintah salat langsung dari Allah Ta’ala kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara Jibril ‘alaihissalam. Pada awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu salat. Kemudian Allah memberi keringanan dengan hanya mewajibkan lima waktu salat dengan kedudukan lima puluh dalam timbangan (pahala) dan lima (kali) dalam pelaksanaan. (8) Allah memuji orang-orang yang mengerjakan salat dan yang menyuruh keluarganya mengerjakan salat. (9) Allah mencela orang-orang yang mengabaikan salat. (10) Allah mempertegas pentingnya salat sampai-sampai orang yang tertidur dan lupa tetap diperintahkan untuk meng-qadha salatnya. (11) Keutamaan SalatKetahuilah bahwa keagungan ibadah salat dapat dilihat dari betapa syari’at sangat mempertegas keutamaan ibadah mulia ini. Di antara keutamaan salat adalah: Salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (12) Salat merupakan amal yang paling baik setelah dua kalimat syahadat. (13) Salat dapat membersihkan dari dosa-dosa. (14) Salat dapat menghapuskan berbagai macam dosa. (15) Salat menjadi cahaya bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. (16) Dengan salat Allah akan meninggikan derajat dan menghapuskan dosa. (17) Di antara sebab dimasukkannya seseorang ke dalam surga dan menjadi teman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salat. (18) Berjalan menuju tempat salat (masjid) akan dicatat baginya kebaikan-kebaikan, ditinggikan beberapa derajat, dan dihapuskan kesalahan-kesalahan. (19) Akan disediakan jamuan di surga setiap kali seorang berangkat di masjid untuk mengerjakan salat baik pada pagi maupun sore hari. (20) Dengan salat Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang terjadi antara satu salat dengan salat berikutnya. (21) Salat juga akan menghapuskan dosa-dosa yang terjadi sebelum salat. (22) Malaikat akan bersalawat kepada orang yang mengerjakan salat selama dia masih tetap berada di tempat salatnya. Dia masih dianggap mengerjakan salat selama salat masih tetap menahannya. (23) Menunggu salat merupakan ribath (perjuangan) di jalan Allah. (24) Pahala orang yang berangkat menunaikan salat itu sama seperti pahala orang yang berhaji dengan berihram. (25) Barang siapa yang berangkat ke masjid terlambat, dan dia mendapatkan orang-orang telah selesai menunaikan salat, maka baginya pahala seperti pahala orang yang ikut mengerjakan salat dengan jamaah. (26) Jika seseorang telah bersuci lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan salat, dia akan selalu berada dalam keadaan salat sampai dia kembali. Sedangkan kepergian dan kepulangannya ditetapkan mendapatkan pahala. (27) Baca Juga: Hukum Takbir Setelah Salam dalam ShalatHukum Meninggalkan SalatDi antara poin penting yang mesti diketahui oleh seorang muslim perihal ibadah salat adalah tentang hukum bagi orang yang meninggalkan salat. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadis sangat jelas menggambarkan betapa pentingnya ibadah yang agung ini dan kedudukan orang-orang yang meninggalkannya.Orang yang meninggalkan salat wajib secara syari’at dihukumi kufur dengan ketentuan bahwa apabila orang tersebut mengingkari hukum wajibnya salat, maka menurut kesepakatan (ijma’) para ulama termasuk dalam kategori kufur besar, meskipun terkadang dia juga mengerjakannya (28). Sedangkan orang yang meninggalkan secara total, sementara dia meyakini hukum wajibnya dan tidak mengingkarinya, dia tetap termasuk kufur. Menurut pendapat para ulama bahwa kufurnya tersebut adalah kufur besar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (29).Hal itu didasarkan pada banyak dalil yang menegaskan hukum bagi orang yang meninggalkan salat sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ  ۝ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ  ۝“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.”  (QS. al-Qalam : 42-43)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِینَةٌ ۝  إِلَّاۤ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡیَمِینِ ۝  فِی جَنَّـٰتࣲ یَتَسَاۤءَلُونَ ۝  عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ ۝  مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ ۝  قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ ۝  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِینَ ۝  وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَاۤىِٕضِینَ ۝  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِیَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan”. (QS. al-Muddatstsir: 38-46)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan pemisah antara seorang muslim dari kesyirikan dan kekufuran adalah shalat. Sebagaimana hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat”. (HR. Muslim no. 82; Abu Dawud no. 4678; At-Tirmidzi no. 2620; dan Ibnu Majah no. 1078)Begitu pula hadis dari ‘Abdullah bin Buraidah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir”. (HR. Ibnu Majah no. 1079; At-Tirmidzi no. 2621, dan an-Nasa-i I/231-232)KesimpulanIbadah salat menempati posisi yang sangat agung dalam syari’at Islam. Setelah syahadat, salat merupakan hal yang pertama yang menjadi rukun keislaman seseorang. Keutamaan dan keistimewaan salat juga dipertegas dengan dalil-dalil sahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma‘ para ulama. Di samping itu, ketegasan syari’at dalam menghukumi orang-orang yang meninggalkan salat secara sengaja -dengan kekufuran- semakin membuktikan keagungan dan kemuliaan ibadah salat yang mesti diprioritaskan oleh seorang muslim. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk terus menimba ilmu tentang perkara-perkara agama yang dapat menghantarkan kita menuju husnul khotimah kelak di hadapan-Nya.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idReferensi : (1)  Lihat Kitab Fathul Majid li Syarhi Kitaabit Tauhid, hlm. 180.(2) Lihat Kitab al-Mughni (III/5) karya Ibnu Qudamah(3) Kitab al-Mughni (III/6)(4) Lihat Kitab al-Iimaan bab maa Jaa-aa fii Hurmatish Shalaah (V/11) no. 2616 karya at-Tirmidzi(5) Lihat Kitab al-Ausatf (I/409) karya ath-Thabrani.(6) Lihat Kitab al-Jaami’ ashShagiir (VII/263) karya ath-Thabrani(7) Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanaya ia pernah berkata, ‘Wasiat terakhir kali yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah, ‘Jagalah salat, jagalah salat, dan budak-budak yang kalian miliki. ‘Sampai-sampai Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengulang-ulangnya di dalam dada dan tidak dapat mengucapkan melalui lisannya dengan jelas’. (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghalil (VII/238)(8) Lihat Kitab al-Iimaan bab al-Israi bi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa Fardhi Shalawat no 162, karya Muslim.(9) QS. Maryam: 54-55(10) QS. Maryam: 9(11) Lihat  Kitab Mawaaqiitush Shalaah Bab Man Nasiya Shlaatan Falyushalliihaa Idzaa Dzakaraha (I/166) no. 597 karya al-Bukhari.(12) QS. al-Ankabuut: 45(13) Lihat Kitab at-Tauhid Bab Wa Samman Nabiyu ash-Shalaata Amalan (VIII/265) no. 7534 karya al-Bukhari.(14) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 668 Karya Muslim.(15) Lihat Kitab ath-Thahaarah  Bab ash_Shalawaatul Khamsu wal Jumu’atu ilal Jumu’ati wa Ramadhani ilaa Ramadhaana Mukaffiratun Lima Bainahunna Majtunibail Kabaa’ir (I/209) no. 233 Karya Muslim.(16) Lihat Kitab al-Musnad (II/169) karya Ahmad.(17) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Fadhlus Sujuud wal Hatstsu ‘Alaihi (I/253) no. 448 karya Muslim.(18) Ibid. No. 849(19) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 666 karya Muslim.(20) Lihat Kitab al-Adzaan Bab Fadhlu Man Ghadaa Ilal Masjid au Raaha (I/182) no. 662 karya al-Bukhari.(21) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Fadhluul Wudhu wash Shalaati Aqibahu (I/206) no. 227 karya Muslim.(22) Ibid no. 288.(23) Lihat Kitab al-Buyuu’ Bab Maa Dzukira dil Aswaaq no. 2119 karya al-Bukhaari.(24) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Isbaaghul Wudhu ‘alal makaarih no. 251 karya Muslim.(25) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Maa Jaa-a fii Fadhlil Masy-yi ilash Shalaah no. 558 karya Abu Dawud.(26) Ibid, Bab Fii Man Kharaja Yuridush Shalaata Fasubiqa Bihaa  no. 564(27) Lihat Kitab Shahiih (I/229) karya Ibnu Khuzaimah.(28) Lihat Kitab Tuhfatul al-Ikhwaan bi ajwibatin Muhimmatin Tata’allaqu bi arkaanil Islam halaman 73 karya al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz.(29) Lihat Kitab Shalatul Mu’min/Ensiklopedi Shalat Shalat Bab Hukum Meinggalkan Shalat halaman 165 karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani.
Baca pembahasan sebelumnya : Memahami tentang Haid, Nifas dan IstihadahPembahasan perihal ibadah salat dalam artikel sebelumnya merupakan rukun-rukun yang mesti diketahui oleh setiap muslim sebelum melaksanakan ibadah salat itu sendiri. Pada artikel kali ini, pembahasan seputar salat mulai masuk kepada perkara inti dalam ibadah salat yang dimulai dari kedudukan, keutamaan, dan hukum meninggalkan salat.Pada hakikatnya salat merupakan doa dengan dua maksud, yaitu doa permohonan dan ibadah. Memohon segala hal hanya kepada Allah Ta’ala untuk diberikan suatu manfaat atau dihindarkan dari suatu bahaya. Juga beribadah kepada Allah Ta’ala melalui berbagai macam amal salih, yaitu berdiri, duduk, ruku’, i’tidal, dan sujud (1).Hukum SalatSalat adalah ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang dikenal dan khusus, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam (2). Salat merupakan hal yang diwajibkan bagi setiap muslim yang telah baligh dan berakal menurut ketetapan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma‘ ulama.Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak menjelaskan tentang wajibnya salat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda melalui hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.“Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada ilah (yang haq) selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan”. (HR. Bukhari dan Muslim)Adapun ijma‘ ulama dapat dilihat dalam banyak nash tentang kesepakatan mereka tentang wajibnya salat lima waktu dalam satu hari dan satu malam.(3)Perintah wajibnya salat bagi setiap muslim ini tentu dikecualikan bagi wanita yang sedang haid atau tengah menjalani nifas -sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya-. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ“Bukankah jika wanita sedang haid tidak salat dan tidak puasa.” (HR. Bukhari)Baca Juga: Shalat Ghaib Untuk Prajurit TNI AL KRI Nanggala 402 yang GugurKedudukan Salat dalam IslamSalat menempati kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Di antara bukti betapa pentingnya salat dalam Islam adalah sebagai berikut: Salat merupakan tiang agama. (4) Salat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Baik atau buruknya salat seseorang berbanding lurus dengan rusak atau tidaknya amal perbuatan seseorang. (5) Salat merupakan amalan agama yang paling terakhir hilang. Apabila salat hilang dari agama, maka tidak ada lagi yang tersisa dari agama. (6) Salat adalah wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya. (7) Perintah salat langsung dari Allah Ta’ala kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara Jibril ‘alaihissalam. Pada awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu salat. Kemudian Allah memberi keringanan dengan hanya mewajibkan lima waktu salat dengan kedudukan lima puluh dalam timbangan (pahala) dan lima (kali) dalam pelaksanaan. (8) Allah memuji orang-orang yang mengerjakan salat dan yang menyuruh keluarganya mengerjakan salat. (9) Allah mencela orang-orang yang mengabaikan salat. (10) Allah mempertegas pentingnya salat sampai-sampai orang yang tertidur dan lupa tetap diperintahkan untuk meng-qadha salatnya. (11) Keutamaan SalatKetahuilah bahwa keagungan ibadah salat dapat dilihat dari betapa syari’at sangat mempertegas keutamaan ibadah mulia ini. Di antara keutamaan salat adalah: Salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (12) Salat merupakan amal yang paling baik setelah dua kalimat syahadat. (13) Salat dapat membersihkan dari dosa-dosa. (14) Salat dapat menghapuskan berbagai macam dosa. (15) Salat menjadi cahaya bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. (16) Dengan salat Allah akan meninggikan derajat dan menghapuskan dosa. (17) Di antara sebab dimasukkannya seseorang ke dalam surga dan menjadi teman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salat. (18) Berjalan menuju tempat salat (masjid) akan dicatat baginya kebaikan-kebaikan, ditinggikan beberapa derajat, dan dihapuskan kesalahan-kesalahan. (19) Akan disediakan jamuan di surga setiap kali seorang berangkat di masjid untuk mengerjakan salat baik pada pagi maupun sore hari. (20) Dengan salat Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang terjadi antara satu salat dengan salat berikutnya. (21) Salat juga akan menghapuskan dosa-dosa yang terjadi sebelum salat. (22) Malaikat akan bersalawat kepada orang yang mengerjakan salat selama dia masih tetap berada di tempat salatnya. Dia masih dianggap mengerjakan salat selama salat masih tetap menahannya. (23) Menunggu salat merupakan ribath (perjuangan) di jalan Allah. (24) Pahala orang yang berangkat menunaikan salat itu sama seperti pahala orang yang berhaji dengan berihram. (25) Barang siapa yang berangkat ke masjid terlambat, dan dia mendapatkan orang-orang telah selesai menunaikan salat, maka baginya pahala seperti pahala orang yang ikut mengerjakan salat dengan jamaah. (26) Jika seseorang telah bersuci lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan salat, dia akan selalu berada dalam keadaan salat sampai dia kembali. Sedangkan kepergian dan kepulangannya ditetapkan mendapatkan pahala. (27) Baca Juga: Hukum Takbir Setelah Salam dalam ShalatHukum Meninggalkan SalatDi antara poin penting yang mesti diketahui oleh seorang muslim perihal ibadah salat adalah tentang hukum bagi orang yang meninggalkan salat. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadis sangat jelas menggambarkan betapa pentingnya ibadah yang agung ini dan kedudukan orang-orang yang meninggalkannya.Orang yang meninggalkan salat wajib secara syari’at dihukumi kufur dengan ketentuan bahwa apabila orang tersebut mengingkari hukum wajibnya salat, maka menurut kesepakatan (ijma’) para ulama termasuk dalam kategori kufur besar, meskipun terkadang dia juga mengerjakannya (28). Sedangkan orang yang meninggalkan secara total, sementara dia meyakini hukum wajibnya dan tidak mengingkarinya, dia tetap termasuk kufur. Menurut pendapat para ulama bahwa kufurnya tersebut adalah kufur besar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (29).Hal itu didasarkan pada banyak dalil yang menegaskan hukum bagi orang yang meninggalkan salat sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ  ۝ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ  ۝“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.”  (QS. al-Qalam : 42-43)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِینَةٌ ۝  إِلَّاۤ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡیَمِینِ ۝  فِی جَنَّـٰتࣲ یَتَسَاۤءَلُونَ ۝  عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ ۝  مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ ۝  قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ ۝  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِینَ ۝  وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَاۤىِٕضِینَ ۝  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِیَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan”. (QS. al-Muddatstsir: 38-46)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan pemisah antara seorang muslim dari kesyirikan dan kekufuran adalah shalat. Sebagaimana hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat”. (HR. Muslim no. 82; Abu Dawud no. 4678; At-Tirmidzi no. 2620; dan Ibnu Majah no. 1078)Begitu pula hadis dari ‘Abdullah bin Buraidah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir”. (HR. Ibnu Majah no. 1079; At-Tirmidzi no. 2621, dan an-Nasa-i I/231-232)KesimpulanIbadah salat menempati posisi yang sangat agung dalam syari’at Islam. Setelah syahadat, salat merupakan hal yang pertama yang menjadi rukun keislaman seseorang. Keutamaan dan keistimewaan salat juga dipertegas dengan dalil-dalil sahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma‘ para ulama. Di samping itu, ketegasan syari’at dalam menghukumi orang-orang yang meninggalkan salat secara sengaja -dengan kekufuran- semakin membuktikan keagungan dan kemuliaan ibadah salat yang mesti diprioritaskan oleh seorang muslim. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk terus menimba ilmu tentang perkara-perkara agama yang dapat menghantarkan kita menuju husnul khotimah kelak di hadapan-Nya.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idReferensi : (1)  Lihat Kitab Fathul Majid li Syarhi Kitaabit Tauhid, hlm. 180.(2) Lihat Kitab al-Mughni (III/5) karya Ibnu Qudamah(3) Kitab al-Mughni (III/6)(4) Lihat Kitab al-Iimaan bab maa Jaa-aa fii Hurmatish Shalaah (V/11) no. 2616 karya at-Tirmidzi(5) Lihat Kitab al-Ausatf (I/409) karya ath-Thabrani.(6) Lihat Kitab al-Jaami’ ashShagiir (VII/263) karya ath-Thabrani(7) Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanaya ia pernah berkata, ‘Wasiat terakhir kali yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah, ‘Jagalah salat, jagalah salat, dan budak-budak yang kalian miliki. ‘Sampai-sampai Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengulang-ulangnya di dalam dada dan tidak dapat mengucapkan melalui lisannya dengan jelas’. (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghalil (VII/238)(8) Lihat Kitab al-Iimaan bab al-Israi bi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa Fardhi Shalawat no 162, karya Muslim.(9) QS. Maryam: 54-55(10) QS. Maryam: 9(11) Lihat  Kitab Mawaaqiitush Shalaah Bab Man Nasiya Shlaatan Falyushalliihaa Idzaa Dzakaraha (I/166) no. 597 karya al-Bukhari.(12) QS. al-Ankabuut: 45(13) Lihat Kitab at-Tauhid Bab Wa Samman Nabiyu ash-Shalaata Amalan (VIII/265) no. 7534 karya al-Bukhari.(14) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 668 Karya Muslim.(15) Lihat Kitab ath-Thahaarah  Bab ash_Shalawaatul Khamsu wal Jumu’atu ilal Jumu’ati wa Ramadhani ilaa Ramadhaana Mukaffiratun Lima Bainahunna Majtunibail Kabaa’ir (I/209) no. 233 Karya Muslim.(16) Lihat Kitab al-Musnad (II/169) karya Ahmad.(17) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Fadhlus Sujuud wal Hatstsu ‘Alaihi (I/253) no. 448 karya Muslim.(18) Ibid. No. 849(19) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 666 karya Muslim.(20) Lihat Kitab al-Adzaan Bab Fadhlu Man Ghadaa Ilal Masjid au Raaha (I/182) no. 662 karya al-Bukhari.(21) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Fadhluul Wudhu wash Shalaati Aqibahu (I/206) no. 227 karya Muslim.(22) Ibid no. 288.(23) Lihat Kitab al-Buyuu’ Bab Maa Dzukira dil Aswaaq no. 2119 karya al-Bukhaari.(24) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Isbaaghul Wudhu ‘alal makaarih no. 251 karya Muslim.(25) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Maa Jaa-a fii Fadhlil Masy-yi ilash Shalaah no. 558 karya Abu Dawud.(26) Ibid, Bab Fii Man Kharaja Yuridush Shalaata Fasubiqa Bihaa  no. 564(27) Lihat Kitab Shahiih (I/229) karya Ibnu Khuzaimah.(28) Lihat Kitab Tuhfatul al-Ikhwaan bi ajwibatin Muhimmatin Tata’allaqu bi arkaanil Islam halaman 73 karya al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz.(29) Lihat Kitab Shalatul Mu’min/Ensiklopedi Shalat Shalat Bab Hukum Meinggalkan Shalat halaman 165 karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani.


Baca pembahasan sebelumnya : Memahami tentang Haid, Nifas dan IstihadahPembahasan perihal ibadah salat dalam artikel sebelumnya merupakan rukun-rukun yang mesti diketahui oleh setiap muslim sebelum melaksanakan ibadah salat itu sendiri. Pada artikel kali ini, pembahasan seputar salat mulai masuk kepada perkara inti dalam ibadah salat yang dimulai dari kedudukan, keutamaan, dan hukum meninggalkan salat.Pada hakikatnya salat merupakan doa dengan dua maksud, yaitu doa permohonan dan ibadah. Memohon segala hal hanya kepada Allah Ta’ala untuk diberikan suatu manfaat atau dihindarkan dari suatu bahaya. Juga beribadah kepada Allah Ta’ala melalui berbagai macam amal salih, yaitu berdiri, duduk, ruku’, i’tidal, dan sujud (1).Hukum SalatSalat adalah ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang dikenal dan khusus, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam (2). Salat merupakan hal yang diwajibkan bagi setiap muslim yang telah baligh dan berakal menurut ketetapan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma‘ ulama.Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak menjelaskan tentang wajibnya salat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda melalui hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.“Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada ilah (yang haq) selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan”. (HR. Bukhari dan Muslim)Adapun ijma‘ ulama dapat dilihat dalam banyak nash tentang kesepakatan mereka tentang wajibnya salat lima waktu dalam satu hari dan satu malam.(3)Perintah wajibnya salat bagi setiap muslim ini tentu dikecualikan bagi wanita yang sedang haid atau tengah menjalani nifas -sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya-. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ“Bukankah jika wanita sedang haid tidak salat dan tidak puasa.” (HR. Bukhari)Baca Juga: Shalat Ghaib Untuk Prajurit TNI AL KRI Nanggala 402 yang GugurKedudukan Salat dalam IslamSalat menempati kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Di antara bukti betapa pentingnya salat dalam Islam adalah sebagai berikut: Salat merupakan tiang agama. (4) Salat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Baik atau buruknya salat seseorang berbanding lurus dengan rusak atau tidaknya amal perbuatan seseorang. (5) Salat merupakan amalan agama yang paling terakhir hilang. Apabila salat hilang dari agama, maka tidak ada lagi yang tersisa dari agama. (6) Salat adalah wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya. (7) Perintah salat langsung dari Allah Ta’ala kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara Jibril ‘alaihissalam. Pada awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu salat. Kemudian Allah memberi keringanan dengan hanya mewajibkan lima waktu salat dengan kedudukan lima puluh dalam timbangan (pahala) dan lima (kali) dalam pelaksanaan. (8) Allah memuji orang-orang yang mengerjakan salat dan yang menyuruh keluarganya mengerjakan salat. (9) Allah mencela orang-orang yang mengabaikan salat. (10) Allah mempertegas pentingnya salat sampai-sampai orang yang tertidur dan lupa tetap diperintahkan untuk meng-qadha salatnya. (11) Keutamaan SalatKetahuilah bahwa keagungan ibadah salat dapat dilihat dari betapa syari’at sangat mempertegas keutamaan ibadah mulia ini. Di antara keutamaan salat adalah: Salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (12) Salat merupakan amal yang paling baik setelah dua kalimat syahadat. (13) Salat dapat membersihkan dari dosa-dosa. (14) Salat dapat menghapuskan berbagai macam dosa. (15) Salat menjadi cahaya bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. (16) Dengan salat Allah akan meninggikan derajat dan menghapuskan dosa. (17) Di antara sebab dimasukkannya seseorang ke dalam surga dan menjadi teman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salat. (18) Berjalan menuju tempat salat (masjid) akan dicatat baginya kebaikan-kebaikan, ditinggikan beberapa derajat, dan dihapuskan kesalahan-kesalahan. (19) Akan disediakan jamuan di surga setiap kali seorang berangkat di masjid untuk mengerjakan salat baik pada pagi maupun sore hari. (20) Dengan salat Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang terjadi antara satu salat dengan salat berikutnya. (21) Salat juga akan menghapuskan dosa-dosa yang terjadi sebelum salat. (22) Malaikat akan bersalawat kepada orang yang mengerjakan salat selama dia masih tetap berada di tempat salatnya. Dia masih dianggap mengerjakan salat selama salat masih tetap menahannya. (23) Menunggu salat merupakan ribath (perjuangan) di jalan Allah. (24) Pahala orang yang berangkat menunaikan salat itu sama seperti pahala orang yang berhaji dengan berihram. (25) Barang siapa yang berangkat ke masjid terlambat, dan dia mendapatkan orang-orang telah selesai menunaikan salat, maka baginya pahala seperti pahala orang yang ikut mengerjakan salat dengan jamaah. (26) Jika seseorang telah bersuci lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan salat, dia akan selalu berada dalam keadaan salat sampai dia kembali. Sedangkan kepergian dan kepulangannya ditetapkan mendapatkan pahala. (27) Baca Juga: Hukum Takbir Setelah Salam dalam ShalatHukum Meninggalkan SalatDi antara poin penting yang mesti diketahui oleh seorang muslim perihal ibadah salat adalah tentang hukum bagi orang yang meninggalkan salat. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadis sangat jelas menggambarkan betapa pentingnya ibadah yang agung ini dan kedudukan orang-orang yang meninggalkannya.Orang yang meninggalkan salat wajib secara syari’at dihukumi kufur dengan ketentuan bahwa apabila orang tersebut mengingkari hukum wajibnya salat, maka menurut kesepakatan (ijma’) para ulama termasuk dalam kategori kufur besar, meskipun terkadang dia juga mengerjakannya (28). Sedangkan orang yang meninggalkan secara total, sementara dia meyakini hukum wajibnya dan tidak mengingkarinya, dia tetap termasuk kufur. Menurut pendapat para ulama bahwa kufurnya tersebut adalah kufur besar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (29).Hal itu didasarkan pada banyak dalil yang menegaskan hukum bagi orang yang meninggalkan salat sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ  ۝ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ  ۝“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.”  (QS. al-Qalam : 42-43)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِینَةٌ ۝  إِلَّاۤ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡیَمِینِ ۝  فِی جَنَّـٰتࣲ یَتَسَاۤءَلُونَ ۝  عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ ۝  مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ ۝  قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ ۝  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِینَ ۝  وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَاۤىِٕضِینَ ۝  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِیَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan”. (QS. al-Muddatstsir: 38-46)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan pemisah antara seorang muslim dari kesyirikan dan kekufuran adalah shalat. Sebagaimana hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat”. (HR. Muslim no. 82; Abu Dawud no. 4678; At-Tirmidzi no. 2620; dan Ibnu Majah no. 1078)Begitu pula hadis dari ‘Abdullah bin Buraidah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir”. (HR. Ibnu Majah no. 1079; At-Tirmidzi no. 2621, dan an-Nasa-i I/231-232)KesimpulanIbadah salat menempati posisi yang sangat agung dalam syari’at Islam. Setelah syahadat, salat merupakan hal yang pertama yang menjadi rukun keislaman seseorang. Keutamaan dan keistimewaan salat juga dipertegas dengan dalil-dalil sahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma‘ para ulama. Di samping itu, ketegasan syari’at dalam menghukumi orang-orang yang meninggalkan salat secara sengaja -dengan kekufuran- semakin membuktikan keagungan dan kemuliaan ibadah salat yang mesti diprioritaskan oleh seorang muslim. Wallahu Ta’ala a’lam.Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk terus menimba ilmu tentang perkara-perkara agama yang dapat menghantarkan kita menuju husnul khotimah kelak di hadapan-Nya.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.idReferensi : (1)  Lihat Kitab Fathul Majid li Syarhi Kitaabit Tauhid, hlm. 180.(2) Lihat Kitab al-Mughni (III/5) karya Ibnu Qudamah(3) Kitab al-Mughni (III/6)(4) Lihat Kitab al-Iimaan bab maa Jaa-aa fii Hurmatish Shalaah (V/11) no. 2616 karya at-Tirmidzi(5) Lihat Kitab al-Ausatf (I/409) karya ath-Thabrani.(6) Lihat Kitab al-Jaami’ ashShagiir (VII/263) karya ath-Thabrani(7) Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanaya ia pernah berkata, ‘Wasiat terakhir kali yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah, ‘Jagalah salat, jagalah salat, dan budak-budak yang kalian miliki. ‘Sampai-sampai Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengulang-ulangnya di dalam dada dan tidak dapat mengucapkan melalui lisannya dengan jelas’. (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghalil (VII/238)(8) Lihat Kitab al-Iimaan bab al-Israi bi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa Fardhi Shalawat no 162, karya Muslim.(9) QS. Maryam: 54-55(10) QS. Maryam: 9(11) Lihat  Kitab Mawaaqiitush Shalaah Bab Man Nasiya Shlaatan Falyushalliihaa Idzaa Dzakaraha (I/166) no. 597 karya al-Bukhari.(12) QS. al-Ankabuut: 45(13) Lihat Kitab at-Tauhid Bab Wa Samman Nabiyu ash-Shalaata Amalan (VIII/265) no. 7534 karya al-Bukhari.(14) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 668 Karya Muslim.(15) Lihat Kitab ath-Thahaarah  Bab ash_Shalawaatul Khamsu wal Jumu’atu ilal Jumu’ati wa Ramadhani ilaa Ramadhaana Mukaffiratun Lima Bainahunna Majtunibail Kabaa’ir (I/209) no. 233 Karya Muslim.(16) Lihat Kitab al-Musnad (II/169) karya Ahmad.(17) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Fadhlus Sujuud wal Hatstsu ‘Alaihi (I/253) no. 448 karya Muslim.(18) Ibid. No. 849(19) Lihat Kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah Bab al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat (I/463) no. 666 karya Muslim.(20) Lihat Kitab al-Adzaan Bab Fadhlu Man Ghadaa Ilal Masjid au Raaha (I/182) no. 662 karya al-Bukhari.(21) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Fadhluul Wudhu wash Shalaati Aqibahu (I/206) no. 227 karya Muslim.(22) Ibid no. 288.(23) Lihat Kitab al-Buyuu’ Bab Maa Dzukira dil Aswaaq no. 2119 karya al-Bukhaari.(24) Lihat Kitab ath-Thahaarah Bab Isbaaghul Wudhu ‘alal makaarih no. 251 karya Muslim.(25) Lihat Kitab ash-Shalaah Bab Maa Jaa-a fii Fadhlil Masy-yi ilash Shalaah no. 558 karya Abu Dawud.(26) Ibid, Bab Fii Man Kharaja Yuridush Shalaata Fasubiqa Bihaa  no. 564(27) Lihat Kitab Shahiih (I/229) karya Ibnu Khuzaimah.(28) Lihat Kitab Tuhfatul al-Ikhwaan bi ajwibatin Muhimmatin Tata’allaqu bi arkaanil Islam halaman 73 karya al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz.(29) Lihat Kitab Shalatul Mu’min/Ensiklopedi Shalat Shalat Bab Hukum Meinggalkan Shalat halaman 165 karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani.

Fikih Puasa Syawal

Di antara rahmat Allah ta’ala bagi hamba-Nya adalah Ia mensyariatkan puasa Syawal setelah bulan Ramadan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Berikut ini pembahasan ringkas mengenai fikih puasa Syawal, semoga bermanfaat.Hukum Puasa SyawalPuasa Syawal hukumnya mustahab (sunah), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ“Puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab menurut mayoritas para ulama” (Al-Mughni, 3/176).Dijelaskan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (28/92): “Jumhur ulama dari Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama Hanafiyah yang muta’akhir (kontemporer) berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadan itu mustahab. Dan dinukil dari Abu Hanifah bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh secara mutlak, baik jika dilaksanakan berurutan atau tidak berurutan. Dan dinukil dari Abu Yusuf (ulama Hanafi) bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh jika berurutan, namun boleh jika tidak berurutan. Namun jumhur (mayoritas) ulama Hanafiyah muta’akhirin berpendapat hukumnya tidak mengapa. Ibnu Abidin (ulama Hanafi) dalam kitab At-Tajnis menukil dari kitab Al-Hidayah yang mengatakan: ‘Pendapat yang dipilih para ulama Hanafi muta’akhirin hukumnya tidak mengapa. Karena yang makruh adalah jika puasa Syawal berisiko dianggap sebagai perpanjangan puasa Ramadan, sehingga ini tasyabbuh terhadap Nasrani. Adapun sekarang, ini sudah tidak mungkin lagi’. Al-Kasani mengatakan: ‘Yang makruh adalah puasa di hari Id, lalu puasa lima hari setelahnya. Adapun jika di hari Id tidak puasa lalu besoknya baru puasa enam hari, ini tidak makruh, bahkan mustahab dan sunah’.”Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yaitu puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab (sunah) sebagaimana ditunjukkan oleh hadis.Keutamaan puasa SyawalSecara umum, semua keutamaan ibadah puasa juga terdapat dalam puasa Syawal. Mengenai keutamaan ibadah puasa, simak artikel tulisan kami “Ternyata Puasa Itu Luar Biasa”Namun puasa Syawal memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام ستَّةَ أيَّامٍ بعد الفطرِ كان تمامَ السَّنةِ من جاء بالحسنةِ فله عشرُ أمثالِها“Barangsiapa yang puasa enam hari setelah Idul Fitri, maka baginya pahala puasa setahun penuh. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, baginya ganjaran sepuluh kali lipatnya“Dalam riwayat lain:جعل اللهُ الحسنةَ بعشر أمثالِها ، فشهرٌ بعشرةِ أشهرٍ ، وصيامُ ستَّةِ أيامٍ بعد الفطرِ تمامُ السَّنةِ“Allah menjadikan satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya, maka puasa sebulan senilai dengan puasa sepuluh bulan. Ditambah puasa enam hari setelah Idul Fitri membuatnya sempurna satu tahun” (HR. Ibnu Majah no. 1402, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no.1402 dan Shahih At-Targhib no. 1007).Imam An-Nawawi mengatakan:وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ“Pahala puasa Syawal seperti puasa setahun penuh. Karena satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. Puasa Ramadan sebulan senilai dengan sepuluh bulan, dan puasa 6 hari senilai dengan dua bulan (60 hari)” (Syarah Shahih Muslim, 8/56).Buah dari puasa Syawal Puasa Syawal menyempurnakan pahala puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. Puasa Syawal dan puasa Sya’ban sebagaimana salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat, ia menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada pada ibadah yang wajib. Karena ibadah-ibadah wajib akan disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunah pada hari kiamat kelak. Kebanyakan orang, puasa Ramadannya mengandung kekurangan dan cacat, maka membutuhkan amalan-amalan yang bisa menyempurnakannya. Terbiasa puasa selepas puasa Ramadan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena ketika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberikan ia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya. Sebagaimana perkataan sebagian salaf: ثواب الحسنة الحسنة بعدها “Balasan dari kebaikan adalah (diberi taufik untuk melakukan) kebaikan selanjutnya” Maka barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, lalu diikuti dengan kebaikan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut diterima oleh Allah. Sebagaimana barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, namun kemudian diikuti dengan keburukan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut tidak diterima oleh Allah. Orang-orang yang berpuasa Ramadan disempurnakan pahalanya di hari Idul Fitri dan diampuni dosa-dosanya. Maka hari Idul Fitri adalah hari pemberian ganjaran kebaikan. Sehingga puasa setelah hari Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat tersebut. Sedangkan tidak ada nikmat yang lebih besar selain pahala dari Allah ta’ala dan ampunan dari Allah. Tata cara puasa SyawalTata cara puasa Syawal secara umum sama dengan tata cara puasa Ramadan. Silakan simak tata cara puasa Ramadan pada artikel kami Ringkasan Fikih Puasa Ramadhan. Perbedaannya ada pada beberapa hal:1. Boleh niat puasa setelah terbit fajarTelah kita ketahui bersama bahwa disyaratkan untuk menghadirkan niat pada malam hari sebelum puasa, yaitu sebelum terbit fajar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ“Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasai no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)Namun para ulama menjelaskan bahwa ini berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunah) maka boleh menghadirkan niat setelah terbit fajar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut. Sebagaimana dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍيا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌءقال فإني صائمٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘kalau begitu aku akan puasa’” (HR. Muslim no. 1154).Imam An-Nawawi mengatakan:وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَذْهَبِ الْجُمْهُورِ أَنَّ صَوْمَ النَّافِلَةِ يَجُوزُ بِنِيَّةٍ فِي النَّهَارِ قَبْلَ زَوَالِ الشَّمْسِ“Hadits ini merupakan dalil bagi jumhur ulama bahwa dalam puasa sunah boleh menghadirkan niat di siang hari sebelum zawal (matahari mulai bergeser dari tegak lurus)” (Syarah Shahih Muslim, 8/35).2. Tidak harus berurutanTidak sebagaimana puasa Ramadan, puasa Syawal tidak disyaratkan harus berurutan (mutatabi’ah) dalam pelaksanaannya. Boleh dilakukan secara terpisah-pisah (mutafarriqah) harinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan,صيام ست من شوال سنة ثابتة عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة ؛ لأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أطلق صيامها ولم يذكر تتابعاً ولا تفريقاً ، حيث قال – صلى الله عليه وسلممن صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهرأخرجه الإمام مسلم في صحيحه“Puasa enam hari di bulan Syawal telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi’ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlaq (baca: tanpa sifat-sifat tambahan) dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia mendapatkan pahala puasa setahun penuh‘ (HR. Muslim dalam Shahihnya)” (Majmu’ Fatawa wa Maqalah Mutanawwi’ah, 15/391).3. Boleh membatalkan puasa dengan atau tanpa uzurDibolehkan membatalkan puasa nafilah (sunnah) baik karena suatu udzur syar’i maupun tanpa udzur. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu’anha,دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’. Aisyah menjawab: ‘tidak’. Beliau bersabda: ‘kalau begitu aku akan berpuasa’. Kemudian di lain hari beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma)’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi aku berpuasa’. Lalu Nabi memakannya” (HR. Muslim no. 1154).Juga berdasarkan hadis dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya:لقدْ أفطرتُ وكنتُ صائمةً فقال لها أكنتِ تقضينَ شيئًا قالتْ لا قالَ فلا يضرُّكِ إنْ كانَ تطوعًا“Wahai Rasulullah, aku baru saja membatalkan puasa sedangkan tadi aku berpuasa, bolehkah? Nabi bertanya: ‘apakah itu puasa qadha?’ Aku menjawab: ‘bukan’. Nabi bersabda: ‘Jika demikian maka tidak mengapa, yaitu jika puasa tersebut puasa tathawwu’ (sunah)‘” (HR. Abu Daud no. 2456, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:إذا كان الصوم نافلة فله أن يفطر، ليس بلازم، له الفطر مطلقاً، لكن الأفضل ألا يفطر إلا لأسباب شرعية: مثل شدة الحر، مثل ضيف نزل به، مثل جماعة لزَّموا عليه أن يحضر زواج أو غيره يجبرهم بذلك فلا بأس“Jika puasa tersebut adalah puasa sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa.” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/11778)4. Bagi wanita hendaknya meminta izin kepada suaminyaBila seorang wanita ingin mengerjakan puasa sunah, termasuk puasa Syawal, maka wajib meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu atau ia mengetahui bahwa suaminya mengizinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا يحِلُّ للمرأةِ أن تصومَ وزَوجُها شاهِدٌ إلَّا بإذنِه، ولا تأذَنْ في بيته إلا بإذنِه“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Bukhari no. 5195).Dan puasa yang dimaksud dalam hadis ini adalah puasa sunah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا تصومُ المرأةُ وبعلُها شاهدٌ إلا بإذنِه غيرَ رمضانَ ولا تأذنْ في بيتِه وهو شاهدٌ إلا بإذنِه“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya, jika puasa tersebut selain puasa Ramadan. Dan tidak boleh seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Sunan Abu Daud).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:قَوْلُهُ شَاهِدٌ أَيْ حَاضِرٌ قَوْلُهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْنِي فِي غَيْرِ صِيَامِ أَيَّامِ رَمَضَانَ وَكَذَا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ مِنَ الْوَاجِبِ إِذَا تَضَيَّقَ الْوَقْتُ“Sabda beliau [sedangkan suaminya hadir] maksudnya sedang tidak safar. [kecuali dengan seizinnya] maksudnya selain puasa Ramadan. Demikian juga berlaku pada puasa wajib selain puasa Ramadan jika waktunya sempit (maka tidak perlu izin, -pent.)”.Beliau juga mengatakan:وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ حَقَّ الزَّوْجِ آكَدُ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ التَّطَوُّعِ بِالْخَيْرِ لِأَنَّ حَقَّهُ وَاجِبٌ وَالْقِيَامُ بِالْوَاجِبِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْقِيَامِ بِالتَّطَوُّعِ“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa hak suami lebih ditekankan bagi wanita daripada ibadah sunah. Karena menunaikan hak suami itu wajib dan wajib mendahulukan yang wajib daripada yang sunah” (Fathul Baari, 9/296).Bolehkah mendahulukan puasa Syawal sebelum menunaikan hutang puasa?Dalam masalah ini kami nukilkan penjelasan bagus dari Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi dan ini pendapat yang lebih kami condongi dalam masalah ini:“Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan dan kebolehan puasa sunah sebelum qadha puasa. Mereka khilaf (berselisih) dalam dua pendapat dan dua riwayat dari Imam Ahmad ada pada dua pendapat tersebut. Dan yang sahih hukumnya boleh.Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits sahih yang marfu’:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Sabda beliau “…puasa Ramadan lalu mengikutinya…” dimaknai oleh sejumlah ulama kepada wajibnya menyempurnakan puasa Ramadan sebelum mengerjakan puasa sunah. Dan ini juga zahir perkataan dari Sa’id bin Musayyab yang dibawakan Al-Bukhari secara mu’allaq (tidak menyebutkan sanad secara lengkap), beliau berkata tentang puasa sunah sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sebelum qadha puasa Ramadan:لا يصلح حتى يبدأ برمضان“Tidak dibenarkan kecuali diawali dengan (qadha) puasa Ramadan“Al-Baihaqi dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Utsman bin Muhib, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah ketika ditanya seseorang:إن عليّ أياماً من رمضان أفأصوم العشر تطوعاً؟ قال: لا، ولم؟ إبدأ بحق الله ثم تطوع بعد ما شت“Saya memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah saya puasa sunah sepuluh hari? Abu Hurairah menjawab: tidak boleh. Orang tersebut bertanya: mengapa? Abu Hurairah menjawab: dahulukan hak Allah, kemudian baru kerjakan yang sunah semaumu“.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha bahwa beliau menganggap hal itu makruh.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Sufyan, dari Hammad bahwa ia berkata:سألت إبراهيم وسعيد بن جبير عن رجل عليه أيام من رمضان أيتطوع في العشر؟ قالا: يبدأ بالفريضة“Aku bertanya kepada Ibrahim bin Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah ia puasa sunah sepuluh hari? Ibrahim bin Sa’id berkata: tidak boleh, dahulukan yang wajib.“Dan mengakhirkan qadha puasa Ramadan hingga bulan Sya’ban hukumnya boleh, berdasarkan perbuatan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Salamah, ia berkata: aku mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:كان يكون عليَّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa menunaikannya hingga di bulan Sya’ban“Pendapat yang sahih adalah boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan walaupun bukan karena darurat, dengan cacatan bahwa menyegerakannya lebih utama. Jika tanpa darurat saja boleh, tentu mengakhirkannya karena mengerjakan puasa Syawal lebih layak untuk dibolehkan. Dan ini adalah salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Dengan catatan, bahwa ulama sepakat bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan qadha puasa dan melepaskan diri dari tanggungan. Dalam pandangan kami, inilah makna yang diinginkan oleh Abu Hurairah, Sa’id bin Musayyib, Atha, Sa’id bin Jubair, Ibrahim bin Sa’id pada riwayat-riwayat di atas.Dan perlu dicatat juga, bahwa orang yang tidak puasa Ramadan karena suatu uzur maka ditulis baginya pahala puasa untuk hari yang ia tinggalkan tersebut walaupun ia belum menunaikan qadha puasanya. Karena orang yang terhalang karena suatu uzur itu dihukumi sebagaimana orang yang mengamalkan amalan yang sah. Sebagaimana dalam sebuah hadis:إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل وهو صحيح مقيم“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar, maka ditulis baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan dalam keadaan sehat dan tidak safar” (HR. Bukhari no. 2996).Dan qadha puasa Ramadan waktunya luas, sedangkan puasa Syawal waktunya terbatas, sempit dan cepat berlalu” (Sumber: http://www.altarefe.com/cnt/ftawa/312).Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnyaMasalah ini dikenal dalam ilmu fikih sebagai masalah tasyrik an niyyat atau tasyrik ibadatain fi niyyah (menggabung beberapa niat dalam ibadah). Ada tiga rincian dalam masalah ini, yaitu sebagai berikut:فَإِنْ كَانَ مَبْنَاهُمَا عَلَى التَّدَاخُل كَغُسْلَيِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ، أَوِ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ، أَوْ غُسْل الْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا غَيْرَ مَقْصُودَةٍ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ مَعَ فَرْضٍ أَوْ سُنَّةٍ أُخْرَى، فَلاَ يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي الْعِبَادَةِ؛ لأِنَّ مَبْنَى الطَّهَارَةِ عَلَى التَّدَاخُل، وَالتَّحِيَّةُ وَأَمْثَالُهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ بِذَاتِهَا، بَل الْمَقْصُودُ شَغْل الْمَكَانِ بِالصَّلاَةِ، فَيَنْدَرِجُ فِي غَيْرِهِ.أَمَّا التَّشْرِيكُ بَيْنَ عِبَادَتَيْنِ مَقْصُودَتَيْنِ بِذَاتِهَا كَالظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، فَلاَ يَصِحُّ تَشْرِيكُهُمَا فِي نِيَّةٍ وَاحِدَةٍ؛ لأِنَّهُمَا عِبَادَتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ لاَ تَنْدَرِجُ إِحْدَاهُمَا فِي الأْخْرَى“[1] Jika latar belakang pelaksanaan kedua ibadah tersebut karena sifatnya tadakhul (saling bertemu satu sama lain), sebagaimana mandi Jum’at dan mandi janabah (ketika dalam kondisi junub di hari Jum’at, -pent.), atau mandi janabah dan mandi haid, atau mandi Jum’at dan mandi untuk salat Id, atau [2] salah satu dari ibadah tersebut ghayru maqshudah bidzatiha (yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, -pent.) sedangkan ibadah yang lain adalah ibadah wajib atau sunah, maka ini tidak mencacati ibadah (baca: boleh). Karena landasan dari taharah memang at-tadakhul dan salat tahiyyatul masjid dan yang semisalnya yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, namun yang dituntut adalah mengerjakan shalat ketika masuk masjid (apapun salat itu, -pent.). Maka ibadah tersebut bisa masuk pada ibadah yang lain. Adapun [3] menggabungkan niat antara dua ibadah maqshudah bi dzatiha (yang dituntut adalah dzat ibadahnya), seperti menggabungkan salat zuhur dengan salat rawatib zuhur, maka tidak sah menggabungkan keduanya dalam satu niat, karena keduanya adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, yang tidak bisa masuk antara satu dengan yang lain” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 12/24).Maka dari kaidah ini bisa kita jawab permasalah-permasalahan berikut:1. Menggabung puasa Syawal dengan qadha puasaHukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena puasa Syawal dan qadha puasa Ramadan keduanya adalah ibadah yang maqshudah bi dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أما أن تصوم الست بنية القضاء والست فلا يظهر لنا أنه يحصل لها بذلك أجر الست، الست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة“Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/4607).2. Menggabung puasa Syawal dengan puasa ayyamul bidhHukumnya boleh dan sah. Karena puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan:إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد“Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid” (Sumber: https://islamqa.info/ar/4015).3. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-KamisHukumnya boleh dan sah. Karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Karena puasa Senin-Kamis disyariatkan bukan karena dzatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الأعمال ترفع يوم الاثنين والخميس فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Sesungguhnya catatan amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika catatan amalanku diangkat ketika aku sedang puasa” (HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami’, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1583).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan:إذا اتفق أن يكون صيام هذه الأيام الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على أجر الاثنين بنية أجر الأيام الستة، وبنية أجر يوم الاثنين أو الخميس“Jika puasa Syawal bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka ia mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis dengan niat puasa Syawal atau dengan puasa Senin-Kamis” (Fatawa Al-Islamiyah, 2/154).Demikian pembahasan singkat mengenai fikih puasa Syawal. Semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua, dan semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkannya.Wabillahi at-taufiq was-sadaad.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idReferensi: Ahkam Shiyamis Sitt min Syawal, Muhammad bin Abdillah bin Shalih Al-Habdan, Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, Departemen Agama Kuwait, Asy-Syamilah Fatwa-fatwa dari para ulama dari berbagai sumber

Fikih Puasa Syawal

Di antara rahmat Allah ta’ala bagi hamba-Nya adalah Ia mensyariatkan puasa Syawal setelah bulan Ramadan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Berikut ini pembahasan ringkas mengenai fikih puasa Syawal, semoga bermanfaat.Hukum Puasa SyawalPuasa Syawal hukumnya mustahab (sunah), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ“Puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab menurut mayoritas para ulama” (Al-Mughni, 3/176).Dijelaskan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (28/92): “Jumhur ulama dari Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama Hanafiyah yang muta’akhir (kontemporer) berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadan itu mustahab. Dan dinukil dari Abu Hanifah bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh secara mutlak, baik jika dilaksanakan berurutan atau tidak berurutan. Dan dinukil dari Abu Yusuf (ulama Hanafi) bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh jika berurutan, namun boleh jika tidak berurutan. Namun jumhur (mayoritas) ulama Hanafiyah muta’akhirin berpendapat hukumnya tidak mengapa. Ibnu Abidin (ulama Hanafi) dalam kitab At-Tajnis menukil dari kitab Al-Hidayah yang mengatakan: ‘Pendapat yang dipilih para ulama Hanafi muta’akhirin hukumnya tidak mengapa. Karena yang makruh adalah jika puasa Syawal berisiko dianggap sebagai perpanjangan puasa Ramadan, sehingga ini tasyabbuh terhadap Nasrani. Adapun sekarang, ini sudah tidak mungkin lagi’. Al-Kasani mengatakan: ‘Yang makruh adalah puasa di hari Id, lalu puasa lima hari setelahnya. Adapun jika di hari Id tidak puasa lalu besoknya baru puasa enam hari, ini tidak makruh, bahkan mustahab dan sunah’.”Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yaitu puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab (sunah) sebagaimana ditunjukkan oleh hadis.Keutamaan puasa SyawalSecara umum, semua keutamaan ibadah puasa juga terdapat dalam puasa Syawal. Mengenai keutamaan ibadah puasa, simak artikel tulisan kami “Ternyata Puasa Itu Luar Biasa”Namun puasa Syawal memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام ستَّةَ أيَّامٍ بعد الفطرِ كان تمامَ السَّنةِ من جاء بالحسنةِ فله عشرُ أمثالِها“Barangsiapa yang puasa enam hari setelah Idul Fitri, maka baginya pahala puasa setahun penuh. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, baginya ganjaran sepuluh kali lipatnya“Dalam riwayat lain:جعل اللهُ الحسنةَ بعشر أمثالِها ، فشهرٌ بعشرةِ أشهرٍ ، وصيامُ ستَّةِ أيامٍ بعد الفطرِ تمامُ السَّنةِ“Allah menjadikan satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya, maka puasa sebulan senilai dengan puasa sepuluh bulan. Ditambah puasa enam hari setelah Idul Fitri membuatnya sempurna satu tahun” (HR. Ibnu Majah no. 1402, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no.1402 dan Shahih At-Targhib no. 1007).Imam An-Nawawi mengatakan:وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ“Pahala puasa Syawal seperti puasa setahun penuh. Karena satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. Puasa Ramadan sebulan senilai dengan sepuluh bulan, dan puasa 6 hari senilai dengan dua bulan (60 hari)” (Syarah Shahih Muslim, 8/56).Buah dari puasa Syawal Puasa Syawal menyempurnakan pahala puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. Puasa Syawal dan puasa Sya’ban sebagaimana salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat, ia menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada pada ibadah yang wajib. Karena ibadah-ibadah wajib akan disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunah pada hari kiamat kelak. Kebanyakan orang, puasa Ramadannya mengandung kekurangan dan cacat, maka membutuhkan amalan-amalan yang bisa menyempurnakannya. Terbiasa puasa selepas puasa Ramadan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena ketika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberikan ia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya. Sebagaimana perkataan sebagian salaf: ثواب الحسنة الحسنة بعدها “Balasan dari kebaikan adalah (diberi taufik untuk melakukan) kebaikan selanjutnya” Maka barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, lalu diikuti dengan kebaikan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut diterima oleh Allah. Sebagaimana barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, namun kemudian diikuti dengan keburukan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut tidak diterima oleh Allah. Orang-orang yang berpuasa Ramadan disempurnakan pahalanya di hari Idul Fitri dan diampuni dosa-dosanya. Maka hari Idul Fitri adalah hari pemberian ganjaran kebaikan. Sehingga puasa setelah hari Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat tersebut. Sedangkan tidak ada nikmat yang lebih besar selain pahala dari Allah ta’ala dan ampunan dari Allah. Tata cara puasa SyawalTata cara puasa Syawal secara umum sama dengan tata cara puasa Ramadan. Silakan simak tata cara puasa Ramadan pada artikel kami Ringkasan Fikih Puasa Ramadhan. Perbedaannya ada pada beberapa hal:1. Boleh niat puasa setelah terbit fajarTelah kita ketahui bersama bahwa disyaratkan untuk menghadirkan niat pada malam hari sebelum puasa, yaitu sebelum terbit fajar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ“Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasai no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)Namun para ulama menjelaskan bahwa ini berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunah) maka boleh menghadirkan niat setelah terbit fajar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut. Sebagaimana dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍيا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌءقال فإني صائمٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘kalau begitu aku akan puasa’” (HR. Muslim no. 1154).Imam An-Nawawi mengatakan:وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَذْهَبِ الْجُمْهُورِ أَنَّ صَوْمَ النَّافِلَةِ يَجُوزُ بِنِيَّةٍ فِي النَّهَارِ قَبْلَ زَوَالِ الشَّمْسِ“Hadits ini merupakan dalil bagi jumhur ulama bahwa dalam puasa sunah boleh menghadirkan niat di siang hari sebelum zawal (matahari mulai bergeser dari tegak lurus)” (Syarah Shahih Muslim, 8/35).2. Tidak harus berurutanTidak sebagaimana puasa Ramadan, puasa Syawal tidak disyaratkan harus berurutan (mutatabi’ah) dalam pelaksanaannya. Boleh dilakukan secara terpisah-pisah (mutafarriqah) harinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan,صيام ست من شوال سنة ثابتة عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة ؛ لأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أطلق صيامها ولم يذكر تتابعاً ولا تفريقاً ، حيث قال – صلى الله عليه وسلممن صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهرأخرجه الإمام مسلم في صحيحه“Puasa enam hari di bulan Syawal telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi’ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlaq (baca: tanpa sifat-sifat tambahan) dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia mendapatkan pahala puasa setahun penuh‘ (HR. Muslim dalam Shahihnya)” (Majmu’ Fatawa wa Maqalah Mutanawwi’ah, 15/391).3. Boleh membatalkan puasa dengan atau tanpa uzurDibolehkan membatalkan puasa nafilah (sunnah) baik karena suatu udzur syar’i maupun tanpa udzur. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu’anha,دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’. Aisyah menjawab: ‘tidak’. Beliau bersabda: ‘kalau begitu aku akan berpuasa’. Kemudian di lain hari beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma)’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi aku berpuasa’. Lalu Nabi memakannya” (HR. Muslim no. 1154).Juga berdasarkan hadis dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya:لقدْ أفطرتُ وكنتُ صائمةً فقال لها أكنتِ تقضينَ شيئًا قالتْ لا قالَ فلا يضرُّكِ إنْ كانَ تطوعًا“Wahai Rasulullah, aku baru saja membatalkan puasa sedangkan tadi aku berpuasa, bolehkah? Nabi bertanya: ‘apakah itu puasa qadha?’ Aku menjawab: ‘bukan’. Nabi bersabda: ‘Jika demikian maka tidak mengapa, yaitu jika puasa tersebut puasa tathawwu’ (sunah)‘” (HR. Abu Daud no. 2456, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:إذا كان الصوم نافلة فله أن يفطر، ليس بلازم، له الفطر مطلقاً، لكن الأفضل ألا يفطر إلا لأسباب شرعية: مثل شدة الحر، مثل ضيف نزل به، مثل جماعة لزَّموا عليه أن يحضر زواج أو غيره يجبرهم بذلك فلا بأس“Jika puasa tersebut adalah puasa sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa.” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/11778)4. Bagi wanita hendaknya meminta izin kepada suaminyaBila seorang wanita ingin mengerjakan puasa sunah, termasuk puasa Syawal, maka wajib meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu atau ia mengetahui bahwa suaminya mengizinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا يحِلُّ للمرأةِ أن تصومَ وزَوجُها شاهِدٌ إلَّا بإذنِه، ولا تأذَنْ في بيته إلا بإذنِه“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Bukhari no. 5195).Dan puasa yang dimaksud dalam hadis ini adalah puasa sunah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا تصومُ المرأةُ وبعلُها شاهدٌ إلا بإذنِه غيرَ رمضانَ ولا تأذنْ في بيتِه وهو شاهدٌ إلا بإذنِه“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya, jika puasa tersebut selain puasa Ramadan. Dan tidak boleh seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Sunan Abu Daud).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:قَوْلُهُ شَاهِدٌ أَيْ حَاضِرٌ قَوْلُهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْنِي فِي غَيْرِ صِيَامِ أَيَّامِ رَمَضَانَ وَكَذَا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ مِنَ الْوَاجِبِ إِذَا تَضَيَّقَ الْوَقْتُ“Sabda beliau [sedangkan suaminya hadir] maksudnya sedang tidak safar. [kecuali dengan seizinnya] maksudnya selain puasa Ramadan. Demikian juga berlaku pada puasa wajib selain puasa Ramadan jika waktunya sempit (maka tidak perlu izin, -pent.)”.Beliau juga mengatakan:وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ حَقَّ الزَّوْجِ آكَدُ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ التَّطَوُّعِ بِالْخَيْرِ لِأَنَّ حَقَّهُ وَاجِبٌ وَالْقِيَامُ بِالْوَاجِبِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْقِيَامِ بِالتَّطَوُّعِ“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa hak suami lebih ditekankan bagi wanita daripada ibadah sunah. Karena menunaikan hak suami itu wajib dan wajib mendahulukan yang wajib daripada yang sunah” (Fathul Baari, 9/296).Bolehkah mendahulukan puasa Syawal sebelum menunaikan hutang puasa?Dalam masalah ini kami nukilkan penjelasan bagus dari Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi dan ini pendapat yang lebih kami condongi dalam masalah ini:“Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan dan kebolehan puasa sunah sebelum qadha puasa. Mereka khilaf (berselisih) dalam dua pendapat dan dua riwayat dari Imam Ahmad ada pada dua pendapat tersebut. Dan yang sahih hukumnya boleh.Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits sahih yang marfu’:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Sabda beliau “…puasa Ramadan lalu mengikutinya…” dimaknai oleh sejumlah ulama kepada wajibnya menyempurnakan puasa Ramadan sebelum mengerjakan puasa sunah. Dan ini juga zahir perkataan dari Sa’id bin Musayyab yang dibawakan Al-Bukhari secara mu’allaq (tidak menyebutkan sanad secara lengkap), beliau berkata tentang puasa sunah sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sebelum qadha puasa Ramadan:لا يصلح حتى يبدأ برمضان“Tidak dibenarkan kecuali diawali dengan (qadha) puasa Ramadan“Al-Baihaqi dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Utsman bin Muhib, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah ketika ditanya seseorang:إن عليّ أياماً من رمضان أفأصوم العشر تطوعاً؟ قال: لا، ولم؟ إبدأ بحق الله ثم تطوع بعد ما شت“Saya memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah saya puasa sunah sepuluh hari? Abu Hurairah menjawab: tidak boleh. Orang tersebut bertanya: mengapa? Abu Hurairah menjawab: dahulukan hak Allah, kemudian baru kerjakan yang sunah semaumu“.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha bahwa beliau menganggap hal itu makruh.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Sufyan, dari Hammad bahwa ia berkata:سألت إبراهيم وسعيد بن جبير عن رجل عليه أيام من رمضان أيتطوع في العشر؟ قالا: يبدأ بالفريضة“Aku bertanya kepada Ibrahim bin Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah ia puasa sunah sepuluh hari? Ibrahim bin Sa’id berkata: tidak boleh, dahulukan yang wajib.“Dan mengakhirkan qadha puasa Ramadan hingga bulan Sya’ban hukumnya boleh, berdasarkan perbuatan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Salamah, ia berkata: aku mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:كان يكون عليَّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa menunaikannya hingga di bulan Sya’ban“Pendapat yang sahih adalah boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan walaupun bukan karena darurat, dengan cacatan bahwa menyegerakannya lebih utama. Jika tanpa darurat saja boleh, tentu mengakhirkannya karena mengerjakan puasa Syawal lebih layak untuk dibolehkan. Dan ini adalah salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Dengan catatan, bahwa ulama sepakat bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan qadha puasa dan melepaskan diri dari tanggungan. Dalam pandangan kami, inilah makna yang diinginkan oleh Abu Hurairah, Sa’id bin Musayyib, Atha, Sa’id bin Jubair, Ibrahim bin Sa’id pada riwayat-riwayat di atas.Dan perlu dicatat juga, bahwa orang yang tidak puasa Ramadan karena suatu uzur maka ditulis baginya pahala puasa untuk hari yang ia tinggalkan tersebut walaupun ia belum menunaikan qadha puasanya. Karena orang yang terhalang karena suatu uzur itu dihukumi sebagaimana orang yang mengamalkan amalan yang sah. Sebagaimana dalam sebuah hadis:إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل وهو صحيح مقيم“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar, maka ditulis baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan dalam keadaan sehat dan tidak safar” (HR. Bukhari no. 2996).Dan qadha puasa Ramadan waktunya luas, sedangkan puasa Syawal waktunya terbatas, sempit dan cepat berlalu” (Sumber: http://www.altarefe.com/cnt/ftawa/312).Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnyaMasalah ini dikenal dalam ilmu fikih sebagai masalah tasyrik an niyyat atau tasyrik ibadatain fi niyyah (menggabung beberapa niat dalam ibadah). Ada tiga rincian dalam masalah ini, yaitu sebagai berikut:فَإِنْ كَانَ مَبْنَاهُمَا عَلَى التَّدَاخُل كَغُسْلَيِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ، أَوِ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ، أَوْ غُسْل الْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا غَيْرَ مَقْصُودَةٍ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ مَعَ فَرْضٍ أَوْ سُنَّةٍ أُخْرَى، فَلاَ يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي الْعِبَادَةِ؛ لأِنَّ مَبْنَى الطَّهَارَةِ عَلَى التَّدَاخُل، وَالتَّحِيَّةُ وَأَمْثَالُهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ بِذَاتِهَا، بَل الْمَقْصُودُ شَغْل الْمَكَانِ بِالصَّلاَةِ، فَيَنْدَرِجُ فِي غَيْرِهِ.أَمَّا التَّشْرِيكُ بَيْنَ عِبَادَتَيْنِ مَقْصُودَتَيْنِ بِذَاتِهَا كَالظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، فَلاَ يَصِحُّ تَشْرِيكُهُمَا فِي نِيَّةٍ وَاحِدَةٍ؛ لأِنَّهُمَا عِبَادَتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ لاَ تَنْدَرِجُ إِحْدَاهُمَا فِي الأْخْرَى“[1] Jika latar belakang pelaksanaan kedua ibadah tersebut karena sifatnya tadakhul (saling bertemu satu sama lain), sebagaimana mandi Jum’at dan mandi janabah (ketika dalam kondisi junub di hari Jum’at, -pent.), atau mandi janabah dan mandi haid, atau mandi Jum’at dan mandi untuk salat Id, atau [2] salah satu dari ibadah tersebut ghayru maqshudah bidzatiha (yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, -pent.) sedangkan ibadah yang lain adalah ibadah wajib atau sunah, maka ini tidak mencacati ibadah (baca: boleh). Karena landasan dari taharah memang at-tadakhul dan salat tahiyyatul masjid dan yang semisalnya yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, namun yang dituntut adalah mengerjakan shalat ketika masuk masjid (apapun salat itu, -pent.). Maka ibadah tersebut bisa masuk pada ibadah yang lain. Adapun [3] menggabungkan niat antara dua ibadah maqshudah bi dzatiha (yang dituntut adalah dzat ibadahnya), seperti menggabungkan salat zuhur dengan salat rawatib zuhur, maka tidak sah menggabungkan keduanya dalam satu niat, karena keduanya adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, yang tidak bisa masuk antara satu dengan yang lain” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 12/24).Maka dari kaidah ini bisa kita jawab permasalah-permasalahan berikut:1. Menggabung puasa Syawal dengan qadha puasaHukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena puasa Syawal dan qadha puasa Ramadan keduanya adalah ibadah yang maqshudah bi dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أما أن تصوم الست بنية القضاء والست فلا يظهر لنا أنه يحصل لها بذلك أجر الست، الست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة“Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/4607).2. Menggabung puasa Syawal dengan puasa ayyamul bidhHukumnya boleh dan sah. Karena puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan:إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد“Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid” (Sumber: https://islamqa.info/ar/4015).3. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-KamisHukumnya boleh dan sah. Karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Karena puasa Senin-Kamis disyariatkan bukan karena dzatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الأعمال ترفع يوم الاثنين والخميس فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Sesungguhnya catatan amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika catatan amalanku diangkat ketika aku sedang puasa” (HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami’, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1583).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan:إذا اتفق أن يكون صيام هذه الأيام الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على أجر الاثنين بنية أجر الأيام الستة، وبنية أجر يوم الاثنين أو الخميس“Jika puasa Syawal bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka ia mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis dengan niat puasa Syawal atau dengan puasa Senin-Kamis” (Fatawa Al-Islamiyah, 2/154).Demikian pembahasan singkat mengenai fikih puasa Syawal. Semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua, dan semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkannya.Wabillahi at-taufiq was-sadaad.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idReferensi: Ahkam Shiyamis Sitt min Syawal, Muhammad bin Abdillah bin Shalih Al-Habdan, Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, Departemen Agama Kuwait, Asy-Syamilah Fatwa-fatwa dari para ulama dari berbagai sumber
Di antara rahmat Allah ta’ala bagi hamba-Nya adalah Ia mensyariatkan puasa Syawal setelah bulan Ramadan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Berikut ini pembahasan ringkas mengenai fikih puasa Syawal, semoga bermanfaat.Hukum Puasa SyawalPuasa Syawal hukumnya mustahab (sunah), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ“Puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab menurut mayoritas para ulama” (Al-Mughni, 3/176).Dijelaskan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (28/92): “Jumhur ulama dari Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama Hanafiyah yang muta’akhir (kontemporer) berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadan itu mustahab. Dan dinukil dari Abu Hanifah bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh secara mutlak, baik jika dilaksanakan berurutan atau tidak berurutan. Dan dinukil dari Abu Yusuf (ulama Hanafi) bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh jika berurutan, namun boleh jika tidak berurutan. Namun jumhur (mayoritas) ulama Hanafiyah muta’akhirin berpendapat hukumnya tidak mengapa. Ibnu Abidin (ulama Hanafi) dalam kitab At-Tajnis menukil dari kitab Al-Hidayah yang mengatakan: ‘Pendapat yang dipilih para ulama Hanafi muta’akhirin hukumnya tidak mengapa. Karena yang makruh adalah jika puasa Syawal berisiko dianggap sebagai perpanjangan puasa Ramadan, sehingga ini tasyabbuh terhadap Nasrani. Adapun sekarang, ini sudah tidak mungkin lagi’. Al-Kasani mengatakan: ‘Yang makruh adalah puasa di hari Id, lalu puasa lima hari setelahnya. Adapun jika di hari Id tidak puasa lalu besoknya baru puasa enam hari, ini tidak makruh, bahkan mustahab dan sunah’.”Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yaitu puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab (sunah) sebagaimana ditunjukkan oleh hadis.Keutamaan puasa SyawalSecara umum, semua keutamaan ibadah puasa juga terdapat dalam puasa Syawal. Mengenai keutamaan ibadah puasa, simak artikel tulisan kami “Ternyata Puasa Itu Luar Biasa”Namun puasa Syawal memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام ستَّةَ أيَّامٍ بعد الفطرِ كان تمامَ السَّنةِ من جاء بالحسنةِ فله عشرُ أمثالِها“Barangsiapa yang puasa enam hari setelah Idul Fitri, maka baginya pahala puasa setahun penuh. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, baginya ganjaran sepuluh kali lipatnya“Dalam riwayat lain:جعل اللهُ الحسنةَ بعشر أمثالِها ، فشهرٌ بعشرةِ أشهرٍ ، وصيامُ ستَّةِ أيامٍ بعد الفطرِ تمامُ السَّنةِ“Allah menjadikan satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya, maka puasa sebulan senilai dengan puasa sepuluh bulan. Ditambah puasa enam hari setelah Idul Fitri membuatnya sempurna satu tahun” (HR. Ibnu Majah no. 1402, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no.1402 dan Shahih At-Targhib no. 1007).Imam An-Nawawi mengatakan:وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ“Pahala puasa Syawal seperti puasa setahun penuh. Karena satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. Puasa Ramadan sebulan senilai dengan sepuluh bulan, dan puasa 6 hari senilai dengan dua bulan (60 hari)” (Syarah Shahih Muslim, 8/56).Buah dari puasa Syawal Puasa Syawal menyempurnakan pahala puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. Puasa Syawal dan puasa Sya’ban sebagaimana salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat, ia menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada pada ibadah yang wajib. Karena ibadah-ibadah wajib akan disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunah pada hari kiamat kelak. Kebanyakan orang, puasa Ramadannya mengandung kekurangan dan cacat, maka membutuhkan amalan-amalan yang bisa menyempurnakannya. Terbiasa puasa selepas puasa Ramadan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena ketika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberikan ia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya. Sebagaimana perkataan sebagian salaf: ثواب الحسنة الحسنة بعدها “Balasan dari kebaikan adalah (diberi taufik untuk melakukan) kebaikan selanjutnya” Maka barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, lalu diikuti dengan kebaikan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut diterima oleh Allah. Sebagaimana barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, namun kemudian diikuti dengan keburukan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut tidak diterima oleh Allah. Orang-orang yang berpuasa Ramadan disempurnakan pahalanya di hari Idul Fitri dan diampuni dosa-dosanya. Maka hari Idul Fitri adalah hari pemberian ganjaran kebaikan. Sehingga puasa setelah hari Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat tersebut. Sedangkan tidak ada nikmat yang lebih besar selain pahala dari Allah ta’ala dan ampunan dari Allah. Tata cara puasa SyawalTata cara puasa Syawal secara umum sama dengan tata cara puasa Ramadan. Silakan simak tata cara puasa Ramadan pada artikel kami Ringkasan Fikih Puasa Ramadhan. Perbedaannya ada pada beberapa hal:1. Boleh niat puasa setelah terbit fajarTelah kita ketahui bersama bahwa disyaratkan untuk menghadirkan niat pada malam hari sebelum puasa, yaitu sebelum terbit fajar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ“Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasai no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)Namun para ulama menjelaskan bahwa ini berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunah) maka boleh menghadirkan niat setelah terbit fajar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut. Sebagaimana dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍيا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌءقال فإني صائمٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘kalau begitu aku akan puasa’” (HR. Muslim no. 1154).Imam An-Nawawi mengatakan:وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَذْهَبِ الْجُمْهُورِ أَنَّ صَوْمَ النَّافِلَةِ يَجُوزُ بِنِيَّةٍ فِي النَّهَارِ قَبْلَ زَوَالِ الشَّمْسِ“Hadits ini merupakan dalil bagi jumhur ulama bahwa dalam puasa sunah boleh menghadirkan niat di siang hari sebelum zawal (matahari mulai bergeser dari tegak lurus)” (Syarah Shahih Muslim, 8/35).2. Tidak harus berurutanTidak sebagaimana puasa Ramadan, puasa Syawal tidak disyaratkan harus berurutan (mutatabi’ah) dalam pelaksanaannya. Boleh dilakukan secara terpisah-pisah (mutafarriqah) harinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan,صيام ست من شوال سنة ثابتة عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة ؛ لأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أطلق صيامها ولم يذكر تتابعاً ولا تفريقاً ، حيث قال – صلى الله عليه وسلممن صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهرأخرجه الإمام مسلم في صحيحه“Puasa enam hari di bulan Syawal telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi’ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlaq (baca: tanpa sifat-sifat tambahan) dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia mendapatkan pahala puasa setahun penuh‘ (HR. Muslim dalam Shahihnya)” (Majmu’ Fatawa wa Maqalah Mutanawwi’ah, 15/391).3. Boleh membatalkan puasa dengan atau tanpa uzurDibolehkan membatalkan puasa nafilah (sunnah) baik karena suatu udzur syar’i maupun tanpa udzur. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu’anha,دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’. Aisyah menjawab: ‘tidak’. Beliau bersabda: ‘kalau begitu aku akan berpuasa’. Kemudian di lain hari beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma)’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi aku berpuasa’. Lalu Nabi memakannya” (HR. Muslim no. 1154).Juga berdasarkan hadis dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya:لقدْ أفطرتُ وكنتُ صائمةً فقال لها أكنتِ تقضينَ شيئًا قالتْ لا قالَ فلا يضرُّكِ إنْ كانَ تطوعًا“Wahai Rasulullah, aku baru saja membatalkan puasa sedangkan tadi aku berpuasa, bolehkah? Nabi bertanya: ‘apakah itu puasa qadha?’ Aku menjawab: ‘bukan’. Nabi bersabda: ‘Jika demikian maka tidak mengapa, yaitu jika puasa tersebut puasa tathawwu’ (sunah)‘” (HR. Abu Daud no. 2456, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:إذا كان الصوم نافلة فله أن يفطر، ليس بلازم، له الفطر مطلقاً، لكن الأفضل ألا يفطر إلا لأسباب شرعية: مثل شدة الحر، مثل ضيف نزل به، مثل جماعة لزَّموا عليه أن يحضر زواج أو غيره يجبرهم بذلك فلا بأس“Jika puasa tersebut adalah puasa sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa.” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/11778)4. Bagi wanita hendaknya meminta izin kepada suaminyaBila seorang wanita ingin mengerjakan puasa sunah, termasuk puasa Syawal, maka wajib meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu atau ia mengetahui bahwa suaminya mengizinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا يحِلُّ للمرأةِ أن تصومَ وزَوجُها شاهِدٌ إلَّا بإذنِه، ولا تأذَنْ في بيته إلا بإذنِه“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Bukhari no. 5195).Dan puasa yang dimaksud dalam hadis ini adalah puasa sunah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا تصومُ المرأةُ وبعلُها شاهدٌ إلا بإذنِه غيرَ رمضانَ ولا تأذنْ في بيتِه وهو شاهدٌ إلا بإذنِه“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya, jika puasa tersebut selain puasa Ramadan. Dan tidak boleh seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Sunan Abu Daud).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:قَوْلُهُ شَاهِدٌ أَيْ حَاضِرٌ قَوْلُهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْنِي فِي غَيْرِ صِيَامِ أَيَّامِ رَمَضَانَ وَكَذَا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ مِنَ الْوَاجِبِ إِذَا تَضَيَّقَ الْوَقْتُ“Sabda beliau [sedangkan suaminya hadir] maksudnya sedang tidak safar. [kecuali dengan seizinnya] maksudnya selain puasa Ramadan. Demikian juga berlaku pada puasa wajib selain puasa Ramadan jika waktunya sempit (maka tidak perlu izin, -pent.)”.Beliau juga mengatakan:وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ حَقَّ الزَّوْجِ آكَدُ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ التَّطَوُّعِ بِالْخَيْرِ لِأَنَّ حَقَّهُ وَاجِبٌ وَالْقِيَامُ بِالْوَاجِبِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْقِيَامِ بِالتَّطَوُّعِ“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa hak suami lebih ditekankan bagi wanita daripada ibadah sunah. Karena menunaikan hak suami itu wajib dan wajib mendahulukan yang wajib daripada yang sunah” (Fathul Baari, 9/296).Bolehkah mendahulukan puasa Syawal sebelum menunaikan hutang puasa?Dalam masalah ini kami nukilkan penjelasan bagus dari Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi dan ini pendapat yang lebih kami condongi dalam masalah ini:“Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan dan kebolehan puasa sunah sebelum qadha puasa. Mereka khilaf (berselisih) dalam dua pendapat dan dua riwayat dari Imam Ahmad ada pada dua pendapat tersebut. Dan yang sahih hukumnya boleh.Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits sahih yang marfu’:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Sabda beliau “…puasa Ramadan lalu mengikutinya…” dimaknai oleh sejumlah ulama kepada wajibnya menyempurnakan puasa Ramadan sebelum mengerjakan puasa sunah. Dan ini juga zahir perkataan dari Sa’id bin Musayyab yang dibawakan Al-Bukhari secara mu’allaq (tidak menyebutkan sanad secara lengkap), beliau berkata tentang puasa sunah sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sebelum qadha puasa Ramadan:لا يصلح حتى يبدأ برمضان“Tidak dibenarkan kecuali diawali dengan (qadha) puasa Ramadan“Al-Baihaqi dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Utsman bin Muhib, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah ketika ditanya seseorang:إن عليّ أياماً من رمضان أفأصوم العشر تطوعاً؟ قال: لا، ولم؟ إبدأ بحق الله ثم تطوع بعد ما شت“Saya memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah saya puasa sunah sepuluh hari? Abu Hurairah menjawab: tidak boleh. Orang tersebut bertanya: mengapa? Abu Hurairah menjawab: dahulukan hak Allah, kemudian baru kerjakan yang sunah semaumu“.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha bahwa beliau menganggap hal itu makruh.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Sufyan, dari Hammad bahwa ia berkata:سألت إبراهيم وسعيد بن جبير عن رجل عليه أيام من رمضان أيتطوع في العشر؟ قالا: يبدأ بالفريضة“Aku bertanya kepada Ibrahim bin Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah ia puasa sunah sepuluh hari? Ibrahim bin Sa’id berkata: tidak boleh, dahulukan yang wajib.“Dan mengakhirkan qadha puasa Ramadan hingga bulan Sya’ban hukumnya boleh, berdasarkan perbuatan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Salamah, ia berkata: aku mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:كان يكون عليَّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa menunaikannya hingga di bulan Sya’ban“Pendapat yang sahih adalah boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan walaupun bukan karena darurat, dengan cacatan bahwa menyegerakannya lebih utama. Jika tanpa darurat saja boleh, tentu mengakhirkannya karena mengerjakan puasa Syawal lebih layak untuk dibolehkan. Dan ini adalah salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Dengan catatan, bahwa ulama sepakat bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan qadha puasa dan melepaskan diri dari tanggungan. Dalam pandangan kami, inilah makna yang diinginkan oleh Abu Hurairah, Sa’id bin Musayyib, Atha, Sa’id bin Jubair, Ibrahim bin Sa’id pada riwayat-riwayat di atas.Dan perlu dicatat juga, bahwa orang yang tidak puasa Ramadan karena suatu uzur maka ditulis baginya pahala puasa untuk hari yang ia tinggalkan tersebut walaupun ia belum menunaikan qadha puasanya. Karena orang yang terhalang karena suatu uzur itu dihukumi sebagaimana orang yang mengamalkan amalan yang sah. Sebagaimana dalam sebuah hadis:إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل وهو صحيح مقيم“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar, maka ditulis baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan dalam keadaan sehat dan tidak safar” (HR. Bukhari no. 2996).Dan qadha puasa Ramadan waktunya luas, sedangkan puasa Syawal waktunya terbatas, sempit dan cepat berlalu” (Sumber: http://www.altarefe.com/cnt/ftawa/312).Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnyaMasalah ini dikenal dalam ilmu fikih sebagai masalah tasyrik an niyyat atau tasyrik ibadatain fi niyyah (menggabung beberapa niat dalam ibadah). Ada tiga rincian dalam masalah ini, yaitu sebagai berikut:فَإِنْ كَانَ مَبْنَاهُمَا عَلَى التَّدَاخُل كَغُسْلَيِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ، أَوِ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ، أَوْ غُسْل الْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا غَيْرَ مَقْصُودَةٍ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ مَعَ فَرْضٍ أَوْ سُنَّةٍ أُخْرَى، فَلاَ يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي الْعِبَادَةِ؛ لأِنَّ مَبْنَى الطَّهَارَةِ عَلَى التَّدَاخُل، وَالتَّحِيَّةُ وَأَمْثَالُهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ بِذَاتِهَا، بَل الْمَقْصُودُ شَغْل الْمَكَانِ بِالصَّلاَةِ، فَيَنْدَرِجُ فِي غَيْرِهِ.أَمَّا التَّشْرِيكُ بَيْنَ عِبَادَتَيْنِ مَقْصُودَتَيْنِ بِذَاتِهَا كَالظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، فَلاَ يَصِحُّ تَشْرِيكُهُمَا فِي نِيَّةٍ وَاحِدَةٍ؛ لأِنَّهُمَا عِبَادَتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ لاَ تَنْدَرِجُ إِحْدَاهُمَا فِي الأْخْرَى“[1] Jika latar belakang pelaksanaan kedua ibadah tersebut karena sifatnya tadakhul (saling bertemu satu sama lain), sebagaimana mandi Jum’at dan mandi janabah (ketika dalam kondisi junub di hari Jum’at, -pent.), atau mandi janabah dan mandi haid, atau mandi Jum’at dan mandi untuk salat Id, atau [2] salah satu dari ibadah tersebut ghayru maqshudah bidzatiha (yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, -pent.) sedangkan ibadah yang lain adalah ibadah wajib atau sunah, maka ini tidak mencacati ibadah (baca: boleh). Karena landasan dari taharah memang at-tadakhul dan salat tahiyyatul masjid dan yang semisalnya yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, namun yang dituntut adalah mengerjakan shalat ketika masuk masjid (apapun salat itu, -pent.). Maka ibadah tersebut bisa masuk pada ibadah yang lain. Adapun [3] menggabungkan niat antara dua ibadah maqshudah bi dzatiha (yang dituntut adalah dzat ibadahnya), seperti menggabungkan salat zuhur dengan salat rawatib zuhur, maka tidak sah menggabungkan keduanya dalam satu niat, karena keduanya adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, yang tidak bisa masuk antara satu dengan yang lain” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 12/24).Maka dari kaidah ini bisa kita jawab permasalah-permasalahan berikut:1. Menggabung puasa Syawal dengan qadha puasaHukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena puasa Syawal dan qadha puasa Ramadan keduanya adalah ibadah yang maqshudah bi dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أما أن تصوم الست بنية القضاء والست فلا يظهر لنا أنه يحصل لها بذلك أجر الست، الست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة“Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/4607).2. Menggabung puasa Syawal dengan puasa ayyamul bidhHukumnya boleh dan sah. Karena puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan:إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد“Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid” (Sumber: https://islamqa.info/ar/4015).3. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-KamisHukumnya boleh dan sah. Karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Karena puasa Senin-Kamis disyariatkan bukan karena dzatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الأعمال ترفع يوم الاثنين والخميس فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Sesungguhnya catatan amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika catatan amalanku diangkat ketika aku sedang puasa” (HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami’, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1583).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan:إذا اتفق أن يكون صيام هذه الأيام الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على أجر الاثنين بنية أجر الأيام الستة، وبنية أجر يوم الاثنين أو الخميس“Jika puasa Syawal bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka ia mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis dengan niat puasa Syawal atau dengan puasa Senin-Kamis” (Fatawa Al-Islamiyah, 2/154).Demikian pembahasan singkat mengenai fikih puasa Syawal. Semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua, dan semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkannya.Wabillahi at-taufiq was-sadaad.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idReferensi: Ahkam Shiyamis Sitt min Syawal, Muhammad bin Abdillah bin Shalih Al-Habdan, Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, Departemen Agama Kuwait, Asy-Syamilah Fatwa-fatwa dari para ulama dari berbagai sumber


Di antara rahmat Allah ta’ala bagi hamba-Nya adalah Ia mensyariatkan puasa Syawal setelah bulan Ramadan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Berikut ini pembahasan ringkas mengenai fikih puasa Syawal, semoga bermanfaat.Hukum Puasa SyawalPuasa Syawal hukumnya mustahab (sunah), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ“Puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab menurut mayoritas para ulama” (Al-Mughni, 3/176).Dijelaskan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (28/92): “Jumhur ulama dari Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama Hanafiyah yang muta’akhir (kontemporer) berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadan itu mustahab. Dan dinukil dari Abu Hanifah bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh secara mutlak, baik jika dilaksanakan berurutan atau tidak berurutan. Dan dinukil dari Abu Yusuf (ulama Hanafi) bahwa beliau berpendapat hukumnya makruh jika berurutan, namun boleh jika tidak berurutan. Namun jumhur (mayoritas) ulama Hanafiyah muta’akhirin berpendapat hukumnya tidak mengapa. Ibnu Abidin (ulama Hanafi) dalam kitab At-Tajnis menukil dari kitab Al-Hidayah yang mengatakan: ‘Pendapat yang dipilih para ulama Hanafi muta’akhirin hukumnya tidak mengapa. Karena yang makruh adalah jika puasa Syawal berisiko dianggap sebagai perpanjangan puasa Ramadan, sehingga ini tasyabbuh terhadap Nasrani. Adapun sekarang, ini sudah tidak mungkin lagi’. Al-Kasani mengatakan: ‘Yang makruh adalah puasa di hari Id, lalu puasa lima hari setelahnya. Adapun jika di hari Id tidak puasa lalu besoknya baru puasa enam hari, ini tidak makruh, bahkan mustahab dan sunah’.”Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yaitu puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya mustahab (sunah) sebagaimana ditunjukkan oleh hadis.Keutamaan puasa SyawalSecara umum, semua keutamaan ibadah puasa juga terdapat dalam puasa Syawal. Mengenai keutamaan ibadah puasa, simak artikel tulisan kami “Ternyata Puasa Itu Luar Biasa”Namun puasa Syawal memiliki keutamaan khusus, yaitu menyempurnakan ibadah puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:من صام ستَّةَ أيَّامٍ بعد الفطرِ كان تمامَ السَّنةِ من جاء بالحسنةِ فله عشرُ أمثالِها“Barangsiapa yang puasa enam hari setelah Idul Fitri, maka baginya pahala puasa setahun penuh. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan, baginya ganjaran sepuluh kali lipatnya“Dalam riwayat lain:جعل اللهُ الحسنةَ بعشر أمثالِها ، فشهرٌ بعشرةِ أشهرٍ ، وصيامُ ستَّةِ أيامٍ بعد الفطرِ تمامُ السَّنةِ“Allah menjadikan satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya, maka puasa sebulan senilai dengan puasa sepuluh bulan. Ditambah puasa enam hari setelah Idul Fitri membuatnya sempurna satu tahun” (HR. Ibnu Majah no. 1402, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no.1402 dan Shahih At-Targhib no. 1007).Imam An-Nawawi mengatakan:وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ“Pahala puasa Syawal seperti puasa setahun penuh. Karena satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. Puasa Ramadan sebulan senilai dengan sepuluh bulan, dan puasa 6 hari senilai dengan dua bulan (60 hari)” (Syarah Shahih Muslim, 8/56).Buah dari puasa Syawal Puasa Syawal menyempurnakan pahala puasa Ramadan sehingga senilai dengan puasa setahun penuh. Puasa Syawal dan puasa Sya’ban sebagaimana salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat, ia menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada pada ibadah yang wajib. Karena ibadah-ibadah wajib akan disempurnakan dengan ibadah-ibadah sunah pada hari kiamat kelak. Kebanyakan orang, puasa Ramadannya mengandung kekurangan dan cacat, maka membutuhkan amalan-amalan yang bisa menyempurnakannya. Terbiasa puasa selepas puasa Ramadan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena ketika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberikan ia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya. Sebagaimana perkataan sebagian salaf: ثواب الحسنة الحسنة بعدها “Balasan dari kebaikan adalah (diberi taufik untuk melakukan) kebaikan selanjutnya” Maka barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, lalu diikuti dengan kebaikan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut diterima oleh Allah. Sebagaimana barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan, namun kemudian diikuti dengan keburukan lainnya, ini merupakan tanda amalan kebaikannya tersebut tidak diterima oleh Allah. Orang-orang yang berpuasa Ramadan disempurnakan pahalanya di hari Idul Fitri dan diampuni dosa-dosanya. Maka hari Idul Fitri adalah hari pemberian ganjaran kebaikan. Sehingga puasa setelah hari Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat tersebut. Sedangkan tidak ada nikmat yang lebih besar selain pahala dari Allah ta’ala dan ampunan dari Allah. Tata cara puasa SyawalTata cara puasa Syawal secara umum sama dengan tata cara puasa Ramadan. Silakan simak tata cara puasa Ramadan pada artikel kami Ringkasan Fikih Puasa Ramadhan. Perbedaannya ada pada beberapa hal:1. Boleh niat puasa setelah terbit fajarTelah kita ketahui bersama bahwa disyaratkan untuk menghadirkan niat pada malam hari sebelum puasa, yaitu sebelum terbit fajar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ“Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasai no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)Namun para ulama menjelaskan bahwa ini berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunah) maka boleh menghadirkan niat setelah terbit fajar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut. Sebagaimana dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍيا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌءقال فإني صائمٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘kalau begitu aku akan puasa’” (HR. Muslim no. 1154).Imam An-Nawawi mengatakan:وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَذْهَبِ الْجُمْهُورِ أَنَّ صَوْمَ النَّافِلَةِ يَجُوزُ بِنِيَّةٍ فِي النَّهَارِ قَبْلَ زَوَالِ الشَّمْسِ“Hadits ini merupakan dalil bagi jumhur ulama bahwa dalam puasa sunah boleh menghadirkan niat di siang hari sebelum zawal (matahari mulai bergeser dari tegak lurus)” (Syarah Shahih Muslim, 8/35).2. Tidak harus berurutanTidak sebagaimana puasa Ramadan, puasa Syawal tidak disyaratkan harus berurutan (mutatabi’ah) dalam pelaksanaannya. Boleh dilakukan secara terpisah-pisah (mutafarriqah) harinya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan,صيام ست من شوال سنة ثابتة عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة ؛ لأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أطلق صيامها ولم يذكر تتابعاً ولا تفريقاً ، حيث قال – صلى الله عليه وسلممن صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهرأخرجه الإمام مسلم في صحيحه“Puasa enam hari di bulan Syawal telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi’ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlaq (baca: tanpa sifat-sifat tambahan) dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia mendapatkan pahala puasa setahun penuh‘ (HR. Muslim dalam Shahihnya)” (Majmu’ Fatawa wa Maqalah Mutanawwi’ah, 15/391).3. Boleh membatalkan puasa dengan atau tanpa uzurDibolehkan membatalkan puasa nafilah (sunnah) baik karena suatu udzur syar’i maupun tanpa udzur. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu’anha,دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’. Aisyah menjawab: ‘tidak’. Beliau bersabda: ‘kalau begitu aku akan berpuasa’. Kemudian di lain hari beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma)’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi aku berpuasa’. Lalu Nabi memakannya” (HR. Muslim no. 1154).Juga berdasarkan hadis dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya:لقدْ أفطرتُ وكنتُ صائمةً فقال لها أكنتِ تقضينَ شيئًا قالتْ لا قالَ فلا يضرُّكِ إنْ كانَ تطوعًا“Wahai Rasulullah, aku baru saja membatalkan puasa sedangkan tadi aku berpuasa, bolehkah? Nabi bertanya: ‘apakah itu puasa qadha?’ Aku menjawab: ‘bukan’. Nabi bersabda: ‘Jika demikian maka tidak mengapa, yaitu jika puasa tersebut puasa tathawwu’ (sunah)‘” (HR. Abu Daud no. 2456, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:إذا كان الصوم نافلة فله أن يفطر، ليس بلازم، له الفطر مطلقاً، لكن الأفضل ألا يفطر إلا لأسباب شرعية: مثل شدة الحر، مثل ضيف نزل به، مثل جماعة لزَّموا عليه أن يحضر زواج أو غيره يجبرهم بذلك فلا بأس“Jika puasa tersebut adalah puasa sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syar’i, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa.” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/11778)4. Bagi wanita hendaknya meminta izin kepada suaminyaBila seorang wanita ingin mengerjakan puasa sunah, termasuk puasa Syawal, maka wajib meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu atau ia mengetahui bahwa suaminya mengizinkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا يحِلُّ للمرأةِ أن تصومَ وزَوجُها شاهِدٌ إلَّا بإذنِه، ولا تأذَنْ في بيته إلا بإذنِه“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Bukhari no. 5195).Dan puasa yang dimaksud dalam hadis ini adalah puasa sunah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لا تصومُ المرأةُ وبعلُها شاهدٌ إلا بإذنِه غيرَ رمضانَ ولا تأذنْ في بيتِه وهو شاهدٌ إلا بإذنِه“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya hadir (tidak sedang safar) kecuali dengan seizinnya, jika puasa tersebut selain puasa Ramadan. Dan tidak boleh seorang wanita membiarkan orang lain masuk kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Abu Daud no. 2458, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Sunan Abu Daud).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:قَوْلُهُ شَاهِدٌ أَيْ حَاضِرٌ قَوْلُهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْنِي فِي غَيْرِ صِيَامِ أَيَّامِ رَمَضَانَ وَكَذَا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ مِنَ الْوَاجِبِ إِذَا تَضَيَّقَ الْوَقْتُ“Sabda beliau [sedangkan suaminya hadir] maksudnya sedang tidak safar. [kecuali dengan seizinnya] maksudnya selain puasa Ramadan. Demikian juga berlaku pada puasa wajib selain puasa Ramadan jika waktunya sempit (maka tidak perlu izin, -pent.)”.Beliau juga mengatakan:وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ حَقَّ الزَّوْجِ آكَدُ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ التَّطَوُّعِ بِالْخَيْرِ لِأَنَّ حَقَّهُ وَاجِبٌ وَالْقِيَامُ بِالْوَاجِبِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْقِيَامِ بِالتَّطَوُّعِ“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa hak suami lebih ditekankan bagi wanita daripada ibadah sunah. Karena menunaikan hak suami itu wajib dan wajib mendahulukan yang wajib daripada yang sunah” (Fathul Baari, 9/296).Bolehkah mendahulukan puasa Syawal sebelum menunaikan hutang puasa?Dalam masalah ini kami nukilkan penjelasan bagus dari Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi dan ini pendapat yang lebih kami condongi dalam masalah ini:“Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan dan kebolehan puasa sunah sebelum qadha puasa. Mereka khilaf (berselisih) dalam dua pendapat dan dua riwayat dari Imam Ahmad ada pada dua pendapat tersebut. Dan yang sahih hukumnya boleh.Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits sahih yang marfu’:من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر“Barangsiapa yang puasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).Sabda beliau “…puasa Ramadan lalu mengikutinya…” dimaknai oleh sejumlah ulama kepada wajibnya menyempurnakan puasa Ramadan sebelum mengerjakan puasa sunah. Dan ini juga zahir perkataan dari Sa’id bin Musayyab yang dibawakan Al-Bukhari secara mu’allaq (tidak menyebutkan sanad secara lengkap), beliau berkata tentang puasa sunah sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sebelum qadha puasa Ramadan:لا يصلح حتى يبدأ برمضان“Tidak dibenarkan kecuali diawali dengan (qadha) puasa Ramadan“Al-Baihaqi dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Utsman bin Muhib, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah ketika ditanya seseorang:إن عليّ أياماً من رمضان أفأصوم العشر تطوعاً؟ قال: لا، ولم؟ إبدأ بحق الله ثم تطوع بعد ما شت“Saya memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah saya puasa sunah sepuluh hari? Abu Hurairah menjawab: tidak boleh. Orang tersebut bertanya: mengapa? Abu Hurairah menjawab: dahulukan hak Allah, kemudian baru kerjakan yang sunah semaumu“.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha bahwa beliau menganggap hal itu makruh.Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Sufyan, dari Hammad bahwa ia berkata:سألت إبراهيم وسعيد بن جبير عن رجل عليه أيام من رمضان أيتطوع في العشر؟ قالا: يبدأ بالفريضة“Aku bertanya kepada Ibrahim bin Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadan, bolehkah ia puasa sunah sepuluh hari? Ibrahim bin Sa’id berkata: tidak boleh, dahulukan yang wajib.“Dan mengakhirkan qadha puasa Ramadan hingga bulan Sya’ban hukumnya boleh, berdasarkan perbuatan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Salamah, ia berkata: aku mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:كان يكون عليَّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa menunaikannya hingga di bulan Sya’ban“Pendapat yang sahih adalah boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan walaupun bukan karena darurat, dengan cacatan bahwa menyegerakannya lebih utama. Jika tanpa darurat saja boleh, tentu mengakhirkannya karena mengerjakan puasa Syawal lebih layak untuk dibolehkan. Dan ini adalah salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Dengan catatan, bahwa ulama sepakat bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan qadha puasa dan melepaskan diri dari tanggungan. Dalam pandangan kami, inilah makna yang diinginkan oleh Abu Hurairah, Sa’id bin Musayyib, Atha, Sa’id bin Jubair, Ibrahim bin Sa’id pada riwayat-riwayat di atas.Dan perlu dicatat juga, bahwa orang yang tidak puasa Ramadan karena suatu uzur maka ditulis baginya pahala puasa untuk hari yang ia tinggalkan tersebut walaupun ia belum menunaikan qadha puasanya. Karena orang yang terhalang karena suatu uzur itu dihukumi sebagaimana orang yang mengamalkan amalan yang sah. Sebagaimana dalam sebuah hadis:إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل وهو صحيح مقيم“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar, maka ditulis baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan dalam keadaan sehat dan tidak safar” (HR. Bukhari no. 2996).Dan qadha puasa Ramadan waktunya luas, sedangkan puasa Syawal waktunya terbatas, sempit dan cepat berlalu” (Sumber: http://www.altarefe.com/cnt/ftawa/312).Menggabung niat puasa Syawal dengan puasa lainnyaMasalah ini dikenal dalam ilmu fikih sebagai masalah tasyrik an niyyat atau tasyrik ibadatain fi niyyah (menggabung beberapa niat dalam ibadah). Ada tiga rincian dalam masalah ini, yaitu sebagai berikut:فَإِنْ كَانَ مَبْنَاهُمَا عَلَى التَّدَاخُل كَغُسْلَيِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ، أَوِ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ، أَوْ غُسْل الْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا غَيْرَ مَقْصُودَةٍ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ مَعَ فَرْضٍ أَوْ سُنَّةٍ أُخْرَى، فَلاَ يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي الْعِبَادَةِ؛ لأِنَّ مَبْنَى الطَّهَارَةِ عَلَى التَّدَاخُل، وَالتَّحِيَّةُ وَأَمْثَالُهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ بِذَاتِهَا، بَل الْمَقْصُودُ شَغْل الْمَكَانِ بِالصَّلاَةِ، فَيَنْدَرِجُ فِي غَيْرِهِ.أَمَّا التَّشْرِيكُ بَيْنَ عِبَادَتَيْنِ مَقْصُودَتَيْنِ بِذَاتِهَا كَالظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، فَلاَ يَصِحُّ تَشْرِيكُهُمَا فِي نِيَّةٍ وَاحِدَةٍ؛ لأِنَّهُمَا عِبَادَتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ لاَ تَنْدَرِجُ إِحْدَاهُمَا فِي الأْخْرَى“[1] Jika latar belakang pelaksanaan kedua ibadah tersebut karena sifatnya tadakhul (saling bertemu satu sama lain), sebagaimana mandi Jum’at dan mandi janabah (ketika dalam kondisi junub di hari Jum’at, -pent.), atau mandi janabah dan mandi haid, atau mandi Jum’at dan mandi untuk salat Id, atau [2] salah satu dari ibadah tersebut ghayru maqshudah bidzatiha (yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, -pent.) sedangkan ibadah yang lain adalah ibadah wajib atau sunah, maka ini tidak mencacati ibadah (baca: boleh). Karena landasan dari taharah memang at-tadakhul dan salat tahiyyatul masjid dan yang semisalnya yang dituntut bukan dzat dari ibadahnya, namun yang dituntut adalah mengerjakan shalat ketika masuk masjid (apapun salat itu, -pent.). Maka ibadah tersebut bisa masuk pada ibadah yang lain. Adapun [3] menggabungkan niat antara dua ibadah maqshudah bi dzatiha (yang dituntut adalah dzat ibadahnya), seperti menggabungkan salat zuhur dengan salat rawatib zuhur, maka tidak sah menggabungkan keduanya dalam satu niat, karena keduanya adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, yang tidak bisa masuk antara satu dengan yang lain” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 12/24).Maka dari kaidah ini bisa kita jawab permasalah-permasalahan berikut:1. Menggabung puasa Syawal dengan qadha puasaHukumnya tidak boleh dan tidak sah, karena puasa Syawal dan qadha puasa Ramadan keduanya adalah ibadah yang maqshudah bi dzatiha. Keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga tidak sah jika digabungkan dalam satu niat.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أما أن تصوم الست بنية القضاء والست فلا يظهر لنا أنه يحصل لها بذلك أجر الست، الست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة“Adapun jika anda puasa Syawal dengan menggabung niat puasa qadha dan puasa Syawal, maka saya memandang puasa Syawalnya tidak sah. Karena puasa Syawal membutuhkan niat khusus dan membutuhkan hari-hari yang khusus” (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/4607).2. Menggabung puasa Syawal dengan puasa ayyamul bidhHukumnya boleh dan sah. Karena puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Ketika seseorang melaksanakan puasa 3 hari dalam satu bulan, kapanpun harinya dan apapun jenis puasa yang ia lakukan (yang disyariatkan) maka ia sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan:إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد“Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya’. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid” (Sumber: https://islamqa.info/ar/4015).3. Menggabung puasa Syawal dengan puasa Senin-KamisHukumnya boleh dan sah. Karena puasa Senin-Kamis adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha. Karena puasa Senin-Kamis disyariatkan bukan karena dzatnya, namun karena diangkatnya amalan di hari itu sehingga dianjurkan berpuasa, apapun puasa yang dilakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الأعمال ترفع يوم الاثنين والخميس فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Sesungguhnya catatan amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika catatan amalanku diangkat ketika aku sedang puasa” (HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami’, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1583).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan:إذا اتفق أن يكون صيام هذه الأيام الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على أجر الاثنين بنية أجر الأيام الستة، وبنية أجر يوم الاثنين أو الخميس“Jika puasa Syawal bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka ia mendapatkan pahala puasa Senin-Kamis dengan niat puasa Syawal atau dengan puasa Senin-Kamis” (Fatawa Al-Islamiyah, 2/154).Demikian pembahasan singkat mengenai fikih puasa Syawal. Semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua, dan semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkannya.Wabillahi at-taufiq was-sadaad.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.idReferensi: Ahkam Shiyamis Sitt min Syawal, Muhammad bin Abdillah bin Shalih Al-Habdan, Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, Departemen Agama Kuwait, Asy-Syamilah Fatwa-fatwa dari para ulama dari berbagai sumber

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama تَقُولُ هَذِهِ الْأُخْتُ Saudari kita ini bertanya: طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتِمِ الْقُرْآنَ بَعْدُ Penuntut ilmu yang belum selesai menghafal al-Qur’an, وَهُوَ مَعَ حِفْظِ الْقُرْآنِ يَحْفَظُ الْمُتُونَ وَيَتَلَقَّى شَرْحَهَا bersamaan dengan itu, dia juga menghafal matan-matan dan mempelajari penjelasannya, وَيَضِيقُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِقِرَاءةِ تَفْسِيرِهَا sehingga dia tidak memiliki waktu lagi untuk membaca tafsir al-Qur’an, فَيَمْضِي فِي الْحِفْظِ فَقَطْ hanya fokus menghafal al-Qur’an saja. هَلْ هُنَاكَ طَرِيقَةٌ يَتْبَعُهَا لِتَحْصِيلِ مَا فَعَلَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ؟ Apakah ada metode agar dapat meraih seperti yang diraih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum? مَا هِي التَّفَاسِيرُ الَّتِي تَنْصَحُونَ بِهَا لِتَحْقِيقِ هَذَا؟ Kitab-kitab tafsir apa saja yang Anda sarankan untuk merealisasikan ini? الْجَوَابُ أَنَّ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي تَقَعُ فِي نُفُوسِ الطَّلَبَةِ وَالطَّالِبَاتِ Jawabannya: Kegalauan yang ada dalam diri para penuntut ilmu مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعِلْمِ yang berkaitan dengan ilmu, لَا يَمْحُوهَا إِلَّا إِرْشَادُ مُرْشِدٍ tidak akan sirna kecuali dengan bimbingan dari orang yang berpengalaman. فَإِنِ ابْتَدَأَ الْمُتَعَلِّمُ النَّظَرَ مِنْ نَفْسِهِ Jika seorang murid mulai mencermati dirinya, (dia akan mendapati dirinya)… يَسْلُكُ طَرِيقًا يَنْدَمُ عَلَيْهِ menempuh suatu metode yang kemudian dia sesali… ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ ثُمَّ يَشْرَعُ فِيهِ Lalu dia berpindah ke metode lain dan menempuhnya. ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ Lalu berpindah lagi ke metode lainnya. فَلَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا لَا يَهْتَدِي إِلَى صَوَابٍ Dan begitu seterusnya tanpa menemukan metode yang benar, فَيَنْبَغِي أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مَنْ يَسْتَرْشِدُ بِهِ Maka hendaklah dia menghadap kepada orang yang dapat menuntunnya… وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ سَأَلَهُ رَجُلٌ Imam Ahmad pernah ditanya seorang lelaki, هَلْ أَطْلُبُ الْعِلْمَ أَمْ أَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟ “Apakah lebih baik aku menuntut ilmu atau menghafal al-Qur’an?” فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَهُ كَبِيرًا beliau mencermati lelaki itu, dan mendapatinya telah dewasa. فَقَالَ اُطْلُبِ الْعِلْمَ Maka beliau menjawab, “Tuntutlah ilmu!” أَيْ إِنَّ مَا يَلْزَمُ الْإِنْسَانَ بَعْدَ بُلُوغِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ Yakni karena tuntutan hukum-hukum Islam terhadapnya setelah dia baligh,… فَوْقَ مَا يَلْزَمُهُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ lebih besar daripada tuntutannya untuk menghafal al-Qur’an… إِذْ حِفْظُ الْقُرْآنِ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ هُوَ الْفَاتِحَةُ Karena hafalan al-Qur’an yang wajib dia miliki hanyalah al-Fatihah وَيَتْبَعُهُ مَا تَقُومُ بِهِ صَلَاةُ الْإِنْسَانِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ dan ilmu yang dia gunakan agar dapat mendirikan shalat secara sempurna. فَمِنْهُ وَاجِبٌ وَمِنْهُ مُسْتَحَبٌّ Di antara ilmu itu ada yang wajib, dan ada pula yang mustahab (sunnah) وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ Serta ilmu lainnya di samping semua itu. وَالْبُلُوغُ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَظِيمَةٌ Adapun menghafal al-Qur’an merupakan kedudukan agung yang memiliki banyak keutamaan فِيهَا فَضَائِلُ وَثَبَتَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ yang disebutkan dalam al-Qur’an as-Sunnah dan al-Ijma’. خِلَافًا لِمَنْ يُمَوِّهُ بِأَنَّهُ Bukan seperti perkataan orang bahwa,.. لَيْسَ مِنْ هَدْيِ الْإِسْلَامِ الْحِرْصَ عَلَى الْحِفْظِ وَإِنَّمَا الْحِرْصُ عَلَى الْفَهْمِ “Tuntunan agama Islam tidak tertaut pada menghafal, namun pada memahami.” فَهَدْيُ الْإِسْلَامِ الْحِرْصُ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِهِ Sebab tuntunan agama Islam memberi perhatian pada menghafal al-Qur’an dan memahaminya لَكِنْ بِاعْتِبَارِ مَا يَحُفُّ بِذَلِكَ مِنَ الْقَرَائِنِ Namun itu tergantung pada keadaan-keadaan yang melingkupi; فَالْمُتَعَلِّمُ إِذَا كَانَ صَغِيرًا وُجِّهَ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأُفْرِغَ لَهُ Jika penuntut ilmu masih kecil, maka dianjurkan untuk fokus menghafal al-Qur’an أَمَّا إِذَا كَانَ كَبِيرًا Namun jika telah dewasa,… فَإِنَّهُ يَطْلُبُ مِنَ الْعِلْمِ الْمُتَأَكِّدِ فِي حَقِّهِ وَمَا بَعْدَهُ maka ia harus mencari ilmu yang sangat berkaitan dengan kewajibannya dan lain sebagainya. فَيَحْفَظُ وَيَسْتَشْرِحُ بُطُونَ الْعِلْمِ Maka ia harus menghafal dan mempelajari ilmu yang mendalam, مَعَ الْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْاِجْتِهَادِ بِذَلِكَ بِحَسَبِ وُسْعِهِ sembari tetap berusaha keras menghafal al-Qur’an sesuai kemampuannya, وَيَأْخُذُ كُلَّ ذَلِكَ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى يَصِلَ serta melakukan semua itu sedikit demi sedikit hingga dapat mencapainya. فَإِنَّ الْعُمُرَ لَوْ كَانَ كَعُمُرِ نُوْحٍ لَمْ يَفْرَغْ لِلْعِلْمِ Karena umur manusia meski sepanjang umur Nabi Nuh, tetap tidak cukup untuk mencari ilmu. فَالْعِلْمُ بَحْرٌ وَاسِعٌ Karena ilmu adalah lautan luas. لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْخُذُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا مَعَ مُهِمَّاتِهِ Namun manusia harus berusaha mencarinya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhannya. وَمَنْ صَبَرَ وَثَابَرَ Barangsiapa yang bersabar dan berjuang فَسَيَصِلُ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ مِنْهُ niscaya akan meraih banyak kebaikan. وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ Dalam hadits shahih, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-… ذَكَرَ مِنْ أَحْوَالِ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُخِلَّةِ menyebutkan salah satu keadaan umat ini yang tidak baik بِسَيْرِهَا الْاِسْتِعْجَال yaitu yang berjalan dengan terburu-buru. أَيْ قَالَ وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ Yakni beliau bersabda, “Namun kalian kaum yang terburu-buru.” وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي أَحْوَالِ النَّاسِ فِي بَابِ الْعِلْمِ Dan hal ini tampak sekali dalam perkara mencari ilmu,.. أَوْ فِي بَابِ الْعَمَلِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ dalam bekerja, atau dalam perkara lainnya. فَيَنْبَغِي أَنْ يَسِيرَ الْإِنْسَانُ سَيْرًا وَئِيدًا مُسْتَرْشِدًا Maka hendaklah seseorang berjalan dengan tenang sesuai petunjuk. وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقْرِنَ بَيْنَ الْحِفْظِ وَمَعْرِفَةِ الْمَعَانِي Tidak harus menghafal al-Qur’an dan mengetahui makna-maknanya sekaligus, فَهَذِهِ مَرْتَبَةٌ كُمْلَى karena ini merupakan derajat yang tertinggi. وَمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Adapun dahulu para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- (dalam mencari ilmu), كَانَ لَهُمْ فِيهِ مَا يُسَاعِدُهُمْ mereka memiliki banyak aspek pendukung; مِنْ صِحَّةِ فُهُوْمِهِمْ وَسَلَامَةِ أَلْسَنَتِهِمْ seperti pemahaman yang benar, kefasihan bahasa, وَشُهُودِهِمُ التَّنْزِيلَ dan berada di zaman turunnya wahyu, فَيَظْهَرُ لَهُمْ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ sehingga makna-makna al-Qur’an jelas bagi mereka, meski baru pertama mereka dengar… مَا لَا يَظْهَرُ لَنَا yang bagi kita belum jelas. فَأَنْتَ إِذَا سَأَلْتَ جُمْهُورَ النَّاسِ Jika kamu bertanya pada kebanyakan orang… مَا مَعْنَى أَنْ تُبْسَلَ ؟ Apa makna kalimat “An Tubsala”? رُبَّمَا لَمْ تَخْرُجْ إِلَّا بِقَلِيلٍ مِنْهُمْ Mungkin yang dapat menjawabmu hanya sedikit saja. وَأَمَّا الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Sedangkan para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-, فَكَانُوا يَتَكَلَّمُونَ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ mereka berbicara dengan bahasa arab tulen فَيَعْرِفُونَ غَالِبَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي sehingga mereka mengetahui mayoritas makna kalimat dalam al-Qur’an. وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ أَخْذَ الْعِلْمِ فِي الْأُمَّةِ Dan yang harus diketahui bahwa metode menuntut ilmu pada umat ini تَتَطَوَّرُ أَحْوَالُهُ بِقَدْرِ مَا يُحْفَظُ فِيهَا telah mengalami perkembangan, sejalan dengan metode yang dapat menjaga ilmu itu. فَقَدْ يَكُونُ شَيْئًا كَانَ فِي الْأَوَّلِ Sehingga terkadang suatu metode pada awalnya dipakai… غَيْرَ مَعْمُولٍ بِهِ فِي الْآخِرِ namun kemudian tidak berlaku lagi. وَهَذَا لَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا هَذِهِ الْمُتُونُ Ada banyak sekali contohnya, di antaranya adalah matan-matan ilmu ini. فَلَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ أَبِي بِكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Di zaman Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman -radhiyallahu ‘anhum- فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِينَ شَيْءٌ اسْمُهُ الْمُتُونُ juga di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak ada sesuatu yang dinamakan dengan matan. وَلَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ اِسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا Namun setelah itu, matan-matan ini banyak digunakan. وَأَيْضًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مَا يُسَمَّى بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ Dan juga, di zaman mereka tidak ada yang dinamakan pengumpulan qira’at al-Qur’an. وَبَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا صَارُوا يَقْرَؤُونَ بِهَا كَانُوا يُفْرِدُونَ الرِّوَايَةَ الْوَاحِدَةَ Namun setelah itu; ketika mereka membaca dengan berbagai qira’at, mereka memilih satu riwayat ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ بَعْدَ خَمْسِ مِئَةٍ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ الْقِرَاءَاتِ kemudian setelah berjalan 500 tahun, orang-orang mulai terbiasa mengumpulkan bacaan qira’at. وَأَنَّ هَذَا الطَّرِيقَ لِحِفْظِ الْعِلْمِ لِئَلَّا يَضِيْعَ Dan ini merupakan metode untuk menjaga ilmu agar tidak lenyap. وَإِدْرَاكُ هَذِهِ الْمَعَانِي مَوْكُوْلٌ لِمَنْ لَهُمْ مَعْرِفَةٌ بِالتَّرْبِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ Dan untuk mengetahui hal ini, harus diserahkan kepada orang yang memahami tarbiyah ilmiyah. الَّذِينَ امْتَزَجَتْ قَلُوبُهُمْ بِالْعِلْمِ Yang hati mereka telah menyatu dengan ilmu, فَأَحَبُّوا الْعِلْمَ وَعَاشُوا لَهُ sehingga mereka mencintai ilmu dan hidup untuk itu. فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَهُ لَهُمْ بَصيرَةٌ Merekalah yang memiliki kejernihan pandangan إِذَا وَفَّقَهُمُ اللهُ وَاسْتَعَانُوا بِهِ jika mereka mendapat taufik, dan memohon pertolongan kepada Allah. وَأَمَّا النَّاعِتُونَ طَرِيقَ الْعِلْمِ Adapun orang yang mengada-ada metode menuntut ilmu… فَكَمْ مِنْ نَاعِتٍ نَاعِقٌ ؟ maka betapa banyak dari mereka yang hanya berbual إِذْ يُرْشِدُ إِلَى أَشْيَاءَ هِي مِنْ ضَرْبِ الْخَيَالِ karena mereka hanya memberi arahan yang mustahil dilakukan, وَيَقِلُّ انْتِفَاعُ النَّاسِ بِهَا dan sedikit sekali yang mendapat manfaat darinya. فَأَنَا كَمَا نَبَّهْتُ إِلَى أَصْلٍ كُلِّيّ فِي هَذَا الْأَمْرِ Dan aku menjelaskan kaidah umum dalam hal ini, أُنَبِّهُ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِسْتِرْشَادِ selain itu aku juga menganjurkan untuk selalu meminta bimbingan… بِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ وَالْأَخْذِ لِلْعِلْمِ فِي هَذَا وَمِثْلِهِ kepada orang yang berpengalaman dalam bidang ilmu dan menuntut ilmu dalam hal ini dan lainnya.

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama تَقُولُ هَذِهِ الْأُخْتُ Saudari kita ini bertanya: طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتِمِ الْقُرْآنَ بَعْدُ Penuntut ilmu yang belum selesai menghafal al-Qur’an, وَهُوَ مَعَ حِفْظِ الْقُرْآنِ يَحْفَظُ الْمُتُونَ وَيَتَلَقَّى شَرْحَهَا bersamaan dengan itu, dia juga menghafal matan-matan dan mempelajari penjelasannya, وَيَضِيقُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِقِرَاءةِ تَفْسِيرِهَا sehingga dia tidak memiliki waktu lagi untuk membaca tafsir al-Qur’an, فَيَمْضِي فِي الْحِفْظِ فَقَطْ hanya fokus menghafal al-Qur’an saja. هَلْ هُنَاكَ طَرِيقَةٌ يَتْبَعُهَا لِتَحْصِيلِ مَا فَعَلَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ؟ Apakah ada metode agar dapat meraih seperti yang diraih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum? مَا هِي التَّفَاسِيرُ الَّتِي تَنْصَحُونَ بِهَا لِتَحْقِيقِ هَذَا؟ Kitab-kitab tafsir apa saja yang Anda sarankan untuk merealisasikan ini? الْجَوَابُ أَنَّ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي تَقَعُ فِي نُفُوسِ الطَّلَبَةِ وَالطَّالِبَاتِ Jawabannya: Kegalauan yang ada dalam diri para penuntut ilmu مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعِلْمِ yang berkaitan dengan ilmu, لَا يَمْحُوهَا إِلَّا إِرْشَادُ مُرْشِدٍ tidak akan sirna kecuali dengan bimbingan dari orang yang berpengalaman. فَإِنِ ابْتَدَأَ الْمُتَعَلِّمُ النَّظَرَ مِنْ نَفْسِهِ Jika seorang murid mulai mencermati dirinya, (dia akan mendapati dirinya)… يَسْلُكُ طَرِيقًا يَنْدَمُ عَلَيْهِ menempuh suatu metode yang kemudian dia sesali… ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ ثُمَّ يَشْرَعُ فِيهِ Lalu dia berpindah ke metode lain dan menempuhnya. ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ Lalu berpindah lagi ke metode lainnya. فَلَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا لَا يَهْتَدِي إِلَى صَوَابٍ Dan begitu seterusnya tanpa menemukan metode yang benar, فَيَنْبَغِي أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مَنْ يَسْتَرْشِدُ بِهِ Maka hendaklah dia menghadap kepada orang yang dapat menuntunnya… وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ سَأَلَهُ رَجُلٌ Imam Ahmad pernah ditanya seorang lelaki, هَلْ أَطْلُبُ الْعِلْمَ أَمْ أَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟ “Apakah lebih baik aku menuntut ilmu atau menghafal al-Qur’an?” فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَهُ كَبِيرًا beliau mencermati lelaki itu, dan mendapatinya telah dewasa. فَقَالَ اُطْلُبِ الْعِلْمَ Maka beliau menjawab, “Tuntutlah ilmu!” أَيْ إِنَّ مَا يَلْزَمُ الْإِنْسَانَ بَعْدَ بُلُوغِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ Yakni karena tuntutan hukum-hukum Islam terhadapnya setelah dia baligh,… فَوْقَ مَا يَلْزَمُهُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ lebih besar daripada tuntutannya untuk menghafal al-Qur’an… إِذْ حِفْظُ الْقُرْآنِ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ هُوَ الْفَاتِحَةُ Karena hafalan al-Qur’an yang wajib dia miliki hanyalah al-Fatihah وَيَتْبَعُهُ مَا تَقُومُ بِهِ صَلَاةُ الْإِنْسَانِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ dan ilmu yang dia gunakan agar dapat mendirikan shalat secara sempurna. فَمِنْهُ وَاجِبٌ وَمِنْهُ مُسْتَحَبٌّ Di antara ilmu itu ada yang wajib, dan ada pula yang mustahab (sunnah) وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ Serta ilmu lainnya di samping semua itu. وَالْبُلُوغُ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَظِيمَةٌ Adapun menghafal al-Qur’an merupakan kedudukan agung yang memiliki banyak keutamaan فِيهَا فَضَائِلُ وَثَبَتَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ yang disebutkan dalam al-Qur’an as-Sunnah dan al-Ijma’. خِلَافًا لِمَنْ يُمَوِّهُ بِأَنَّهُ Bukan seperti perkataan orang bahwa,.. لَيْسَ مِنْ هَدْيِ الْإِسْلَامِ الْحِرْصَ عَلَى الْحِفْظِ وَإِنَّمَا الْحِرْصُ عَلَى الْفَهْمِ “Tuntunan agama Islam tidak tertaut pada menghafal, namun pada memahami.” فَهَدْيُ الْإِسْلَامِ الْحِرْصُ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِهِ Sebab tuntunan agama Islam memberi perhatian pada menghafal al-Qur’an dan memahaminya لَكِنْ بِاعْتِبَارِ مَا يَحُفُّ بِذَلِكَ مِنَ الْقَرَائِنِ Namun itu tergantung pada keadaan-keadaan yang melingkupi; فَالْمُتَعَلِّمُ إِذَا كَانَ صَغِيرًا وُجِّهَ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأُفْرِغَ لَهُ Jika penuntut ilmu masih kecil, maka dianjurkan untuk fokus menghafal al-Qur’an أَمَّا إِذَا كَانَ كَبِيرًا Namun jika telah dewasa,… فَإِنَّهُ يَطْلُبُ مِنَ الْعِلْمِ الْمُتَأَكِّدِ فِي حَقِّهِ وَمَا بَعْدَهُ maka ia harus mencari ilmu yang sangat berkaitan dengan kewajibannya dan lain sebagainya. فَيَحْفَظُ وَيَسْتَشْرِحُ بُطُونَ الْعِلْمِ Maka ia harus menghafal dan mempelajari ilmu yang mendalam, مَعَ الْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْاِجْتِهَادِ بِذَلِكَ بِحَسَبِ وُسْعِهِ sembari tetap berusaha keras menghafal al-Qur’an sesuai kemampuannya, وَيَأْخُذُ كُلَّ ذَلِكَ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى يَصِلَ serta melakukan semua itu sedikit demi sedikit hingga dapat mencapainya. فَإِنَّ الْعُمُرَ لَوْ كَانَ كَعُمُرِ نُوْحٍ لَمْ يَفْرَغْ لِلْعِلْمِ Karena umur manusia meski sepanjang umur Nabi Nuh, tetap tidak cukup untuk mencari ilmu. فَالْعِلْمُ بَحْرٌ وَاسِعٌ Karena ilmu adalah lautan luas. لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْخُذُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا مَعَ مُهِمَّاتِهِ Namun manusia harus berusaha mencarinya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhannya. وَمَنْ صَبَرَ وَثَابَرَ Barangsiapa yang bersabar dan berjuang فَسَيَصِلُ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ مِنْهُ niscaya akan meraih banyak kebaikan. وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ Dalam hadits shahih, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-… ذَكَرَ مِنْ أَحْوَالِ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُخِلَّةِ menyebutkan salah satu keadaan umat ini yang tidak baik بِسَيْرِهَا الْاِسْتِعْجَال yaitu yang berjalan dengan terburu-buru. أَيْ قَالَ وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ Yakni beliau bersabda, “Namun kalian kaum yang terburu-buru.” وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي أَحْوَالِ النَّاسِ فِي بَابِ الْعِلْمِ Dan hal ini tampak sekali dalam perkara mencari ilmu,.. أَوْ فِي بَابِ الْعَمَلِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ dalam bekerja, atau dalam perkara lainnya. فَيَنْبَغِي أَنْ يَسِيرَ الْإِنْسَانُ سَيْرًا وَئِيدًا مُسْتَرْشِدًا Maka hendaklah seseorang berjalan dengan tenang sesuai petunjuk. وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقْرِنَ بَيْنَ الْحِفْظِ وَمَعْرِفَةِ الْمَعَانِي Tidak harus menghafal al-Qur’an dan mengetahui makna-maknanya sekaligus, فَهَذِهِ مَرْتَبَةٌ كُمْلَى karena ini merupakan derajat yang tertinggi. وَمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Adapun dahulu para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- (dalam mencari ilmu), كَانَ لَهُمْ فِيهِ مَا يُسَاعِدُهُمْ mereka memiliki banyak aspek pendukung; مِنْ صِحَّةِ فُهُوْمِهِمْ وَسَلَامَةِ أَلْسَنَتِهِمْ seperti pemahaman yang benar, kefasihan bahasa, وَشُهُودِهِمُ التَّنْزِيلَ dan berada di zaman turunnya wahyu, فَيَظْهَرُ لَهُمْ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ sehingga makna-makna al-Qur’an jelas bagi mereka, meski baru pertama mereka dengar… مَا لَا يَظْهَرُ لَنَا yang bagi kita belum jelas. فَأَنْتَ إِذَا سَأَلْتَ جُمْهُورَ النَّاسِ Jika kamu bertanya pada kebanyakan orang… مَا مَعْنَى أَنْ تُبْسَلَ ؟ Apa makna kalimat “An Tubsala”? رُبَّمَا لَمْ تَخْرُجْ إِلَّا بِقَلِيلٍ مِنْهُمْ Mungkin yang dapat menjawabmu hanya sedikit saja. وَأَمَّا الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Sedangkan para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-, فَكَانُوا يَتَكَلَّمُونَ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ mereka berbicara dengan bahasa arab tulen فَيَعْرِفُونَ غَالِبَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي sehingga mereka mengetahui mayoritas makna kalimat dalam al-Qur’an. وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ أَخْذَ الْعِلْمِ فِي الْأُمَّةِ Dan yang harus diketahui bahwa metode menuntut ilmu pada umat ini تَتَطَوَّرُ أَحْوَالُهُ بِقَدْرِ مَا يُحْفَظُ فِيهَا telah mengalami perkembangan, sejalan dengan metode yang dapat menjaga ilmu itu. فَقَدْ يَكُونُ شَيْئًا كَانَ فِي الْأَوَّلِ Sehingga terkadang suatu metode pada awalnya dipakai… غَيْرَ مَعْمُولٍ بِهِ فِي الْآخِرِ namun kemudian tidak berlaku lagi. وَهَذَا لَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا هَذِهِ الْمُتُونُ Ada banyak sekali contohnya, di antaranya adalah matan-matan ilmu ini. فَلَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ أَبِي بِكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Di zaman Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman -radhiyallahu ‘anhum- فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِينَ شَيْءٌ اسْمُهُ الْمُتُونُ juga di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak ada sesuatu yang dinamakan dengan matan. وَلَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ اِسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا Namun setelah itu, matan-matan ini banyak digunakan. وَأَيْضًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مَا يُسَمَّى بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ Dan juga, di zaman mereka tidak ada yang dinamakan pengumpulan qira’at al-Qur’an. وَبَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا صَارُوا يَقْرَؤُونَ بِهَا كَانُوا يُفْرِدُونَ الرِّوَايَةَ الْوَاحِدَةَ Namun setelah itu; ketika mereka membaca dengan berbagai qira’at, mereka memilih satu riwayat ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ بَعْدَ خَمْسِ مِئَةٍ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ الْقِرَاءَاتِ kemudian setelah berjalan 500 tahun, orang-orang mulai terbiasa mengumpulkan bacaan qira’at. وَأَنَّ هَذَا الطَّرِيقَ لِحِفْظِ الْعِلْمِ لِئَلَّا يَضِيْعَ Dan ini merupakan metode untuk menjaga ilmu agar tidak lenyap. وَإِدْرَاكُ هَذِهِ الْمَعَانِي مَوْكُوْلٌ لِمَنْ لَهُمْ مَعْرِفَةٌ بِالتَّرْبِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ Dan untuk mengetahui hal ini, harus diserahkan kepada orang yang memahami tarbiyah ilmiyah. الَّذِينَ امْتَزَجَتْ قَلُوبُهُمْ بِالْعِلْمِ Yang hati mereka telah menyatu dengan ilmu, فَأَحَبُّوا الْعِلْمَ وَعَاشُوا لَهُ sehingga mereka mencintai ilmu dan hidup untuk itu. فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَهُ لَهُمْ بَصيرَةٌ Merekalah yang memiliki kejernihan pandangan إِذَا وَفَّقَهُمُ اللهُ وَاسْتَعَانُوا بِهِ jika mereka mendapat taufik, dan memohon pertolongan kepada Allah. وَأَمَّا النَّاعِتُونَ طَرِيقَ الْعِلْمِ Adapun orang yang mengada-ada metode menuntut ilmu… فَكَمْ مِنْ نَاعِتٍ نَاعِقٌ ؟ maka betapa banyak dari mereka yang hanya berbual إِذْ يُرْشِدُ إِلَى أَشْيَاءَ هِي مِنْ ضَرْبِ الْخَيَالِ karena mereka hanya memberi arahan yang mustahil dilakukan, وَيَقِلُّ انْتِفَاعُ النَّاسِ بِهَا dan sedikit sekali yang mendapat manfaat darinya. فَأَنَا كَمَا نَبَّهْتُ إِلَى أَصْلٍ كُلِّيّ فِي هَذَا الْأَمْرِ Dan aku menjelaskan kaidah umum dalam hal ini, أُنَبِّهُ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِسْتِرْشَادِ selain itu aku juga menganjurkan untuk selalu meminta bimbingan… بِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ وَالْأَخْذِ لِلْعِلْمِ فِي هَذَا وَمِثْلِهِ kepada orang yang berpengalaman dalam bidang ilmu dan menuntut ilmu dalam hal ini dan lainnya.
Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama تَقُولُ هَذِهِ الْأُخْتُ Saudari kita ini bertanya: طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتِمِ الْقُرْآنَ بَعْدُ Penuntut ilmu yang belum selesai menghafal al-Qur’an, وَهُوَ مَعَ حِفْظِ الْقُرْآنِ يَحْفَظُ الْمُتُونَ وَيَتَلَقَّى شَرْحَهَا bersamaan dengan itu, dia juga menghafal matan-matan dan mempelajari penjelasannya, وَيَضِيقُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِقِرَاءةِ تَفْسِيرِهَا sehingga dia tidak memiliki waktu lagi untuk membaca tafsir al-Qur’an, فَيَمْضِي فِي الْحِفْظِ فَقَطْ hanya fokus menghafal al-Qur’an saja. هَلْ هُنَاكَ طَرِيقَةٌ يَتْبَعُهَا لِتَحْصِيلِ مَا فَعَلَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ؟ Apakah ada metode agar dapat meraih seperti yang diraih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum? مَا هِي التَّفَاسِيرُ الَّتِي تَنْصَحُونَ بِهَا لِتَحْقِيقِ هَذَا؟ Kitab-kitab tafsir apa saja yang Anda sarankan untuk merealisasikan ini? الْجَوَابُ أَنَّ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي تَقَعُ فِي نُفُوسِ الطَّلَبَةِ وَالطَّالِبَاتِ Jawabannya: Kegalauan yang ada dalam diri para penuntut ilmu مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعِلْمِ yang berkaitan dengan ilmu, لَا يَمْحُوهَا إِلَّا إِرْشَادُ مُرْشِدٍ tidak akan sirna kecuali dengan bimbingan dari orang yang berpengalaman. فَإِنِ ابْتَدَأَ الْمُتَعَلِّمُ النَّظَرَ مِنْ نَفْسِهِ Jika seorang murid mulai mencermati dirinya, (dia akan mendapati dirinya)… يَسْلُكُ طَرِيقًا يَنْدَمُ عَلَيْهِ menempuh suatu metode yang kemudian dia sesali… ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ ثُمَّ يَشْرَعُ فِيهِ Lalu dia berpindah ke metode lain dan menempuhnya. ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ Lalu berpindah lagi ke metode lainnya. فَلَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا لَا يَهْتَدِي إِلَى صَوَابٍ Dan begitu seterusnya tanpa menemukan metode yang benar, فَيَنْبَغِي أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مَنْ يَسْتَرْشِدُ بِهِ Maka hendaklah dia menghadap kepada orang yang dapat menuntunnya… وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ سَأَلَهُ رَجُلٌ Imam Ahmad pernah ditanya seorang lelaki, هَلْ أَطْلُبُ الْعِلْمَ أَمْ أَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟ “Apakah lebih baik aku menuntut ilmu atau menghafal al-Qur’an?” فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَهُ كَبِيرًا beliau mencermati lelaki itu, dan mendapatinya telah dewasa. فَقَالَ اُطْلُبِ الْعِلْمَ Maka beliau menjawab, “Tuntutlah ilmu!” أَيْ إِنَّ مَا يَلْزَمُ الْإِنْسَانَ بَعْدَ بُلُوغِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ Yakni karena tuntutan hukum-hukum Islam terhadapnya setelah dia baligh,… فَوْقَ مَا يَلْزَمُهُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ lebih besar daripada tuntutannya untuk menghafal al-Qur’an… إِذْ حِفْظُ الْقُرْآنِ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ هُوَ الْفَاتِحَةُ Karena hafalan al-Qur’an yang wajib dia miliki hanyalah al-Fatihah وَيَتْبَعُهُ مَا تَقُومُ بِهِ صَلَاةُ الْإِنْسَانِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ dan ilmu yang dia gunakan agar dapat mendirikan shalat secara sempurna. فَمِنْهُ وَاجِبٌ وَمِنْهُ مُسْتَحَبٌّ Di antara ilmu itu ada yang wajib, dan ada pula yang mustahab (sunnah) وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ Serta ilmu lainnya di samping semua itu. وَالْبُلُوغُ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَظِيمَةٌ Adapun menghafal al-Qur’an merupakan kedudukan agung yang memiliki banyak keutamaan فِيهَا فَضَائِلُ وَثَبَتَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ yang disebutkan dalam al-Qur’an as-Sunnah dan al-Ijma’. خِلَافًا لِمَنْ يُمَوِّهُ بِأَنَّهُ Bukan seperti perkataan orang bahwa,.. لَيْسَ مِنْ هَدْيِ الْإِسْلَامِ الْحِرْصَ عَلَى الْحِفْظِ وَإِنَّمَا الْحِرْصُ عَلَى الْفَهْمِ “Tuntunan agama Islam tidak tertaut pada menghafal, namun pada memahami.” فَهَدْيُ الْإِسْلَامِ الْحِرْصُ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِهِ Sebab tuntunan agama Islam memberi perhatian pada menghafal al-Qur’an dan memahaminya لَكِنْ بِاعْتِبَارِ مَا يَحُفُّ بِذَلِكَ مِنَ الْقَرَائِنِ Namun itu tergantung pada keadaan-keadaan yang melingkupi; فَالْمُتَعَلِّمُ إِذَا كَانَ صَغِيرًا وُجِّهَ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأُفْرِغَ لَهُ Jika penuntut ilmu masih kecil, maka dianjurkan untuk fokus menghafal al-Qur’an أَمَّا إِذَا كَانَ كَبِيرًا Namun jika telah dewasa,… فَإِنَّهُ يَطْلُبُ مِنَ الْعِلْمِ الْمُتَأَكِّدِ فِي حَقِّهِ وَمَا بَعْدَهُ maka ia harus mencari ilmu yang sangat berkaitan dengan kewajibannya dan lain sebagainya. فَيَحْفَظُ وَيَسْتَشْرِحُ بُطُونَ الْعِلْمِ Maka ia harus menghafal dan mempelajari ilmu yang mendalam, مَعَ الْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْاِجْتِهَادِ بِذَلِكَ بِحَسَبِ وُسْعِهِ sembari tetap berusaha keras menghafal al-Qur’an sesuai kemampuannya, وَيَأْخُذُ كُلَّ ذَلِكَ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى يَصِلَ serta melakukan semua itu sedikit demi sedikit hingga dapat mencapainya. فَإِنَّ الْعُمُرَ لَوْ كَانَ كَعُمُرِ نُوْحٍ لَمْ يَفْرَغْ لِلْعِلْمِ Karena umur manusia meski sepanjang umur Nabi Nuh, tetap tidak cukup untuk mencari ilmu. فَالْعِلْمُ بَحْرٌ وَاسِعٌ Karena ilmu adalah lautan luas. لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْخُذُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا مَعَ مُهِمَّاتِهِ Namun manusia harus berusaha mencarinya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhannya. وَمَنْ صَبَرَ وَثَابَرَ Barangsiapa yang bersabar dan berjuang فَسَيَصِلُ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ مِنْهُ niscaya akan meraih banyak kebaikan. وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ Dalam hadits shahih, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-… ذَكَرَ مِنْ أَحْوَالِ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُخِلَّةِ menyebutkan salah satu keadaan umat ini yang tidak baik بِسَيْرِهَا الْاِسْتِعْجَال yaitu yang berjalan dengan terburu-buru. أَيْ قَالَ وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ Yakni beliau bersabda, “Namun kalian kaum yang terburu-buru.” وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي أَحْوَالِ النَّاسِ فِي بَابِ الْعِلْمِ Dan hal ini tampak sekali dalam perkara mencari ilmu,.. أَوْ فِي بَابِ الْعَمَلِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ dalam bekerja, atau dalam perkara lainnya. فَيَنْبَغِي أَنْ يَسِيرَ الْإِنْسَانُ سَيْرًا وَئِيدًا مُسْتَرْشِدًا Maka hendaklah seseorang berjalan dengan tenang sesuai petunjuk. وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقْرِنَ بَيْنَ الْحِفْظِ وَمَعْرِفَةِ الْمَعَانِي Tidak harus menghafal al-Qur’an dan mengetahui makna-maknanya sekaligus, فَهَذِهِ مَرْتَبَةٌ كُمْلَى karena ini merupakan derajat yang tertinggi. وَمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Adapun dahulu para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- (dalam mencari ilmu), كَانَ لَهُمْ فِيهِ مَا يُسَاعِدُهُمْ mereka memiliki banyak aspek pendukung; مِنْ صِحَّةِ فُهُوْمِهِمْ وَسَلَامَةِ أَلْسَنَتِهِمْ seperti pemahaman yang benar, kefasihan bahasa, وَشُهُودِهِمُ التَّنْزِيلَ dan berada di zaman turunnya wahyu, فَيَظْهَرُ لَهُمْ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ sehingga makna-makna al-Qur’an jelas bagi mereka, meski baru pertama mereka dengar… مَا لَا يَظْهَرُ لَنَا yang bagi kita belum jelas. فَأَنْتَ إِذَا سَأَلْتَ جُمْهُورَ النَّاسِ Jika kamu bertanya pada kebanyakan orang… مَا مَعْنَى أَنْ تُبْسَلَ ؟ Apa makna kalimat “An Tubsala”? رُبَّمَا لَمْ تَخْرُجْ إِلَّا بِقَلِيلٍ مِنْهُمْ Mungkin yang dapat menjawabmu hanya sedikit saja. وَأَمَّا الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Sedangkan para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-, فَكَانُوا يَتَكَلَّمُونَ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ mereka berbicara dengan bahasa arab tulen فَيَعْرِفُونَ غَالِبَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي sehingga mereka mengetahui mayoritas makna kalimat dalam al-Qur’an. وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ أَخْذَ الْعِلْمِ فِي الْأُمَّةِ Dan yang harus diketahui bahwa metode menuntut ilmu pada umat ini تَتَطَوَّرُ أَحْوَالُهُ بِقَدْرِ مَا يُحْفَظُ فِيهَا telah mengalami perkembangan, sejalan dengan metode yang dapat menjaga ilmu itu. فَقَدْ يَكُونُ شَيْئًا كَانَ فِي الْأَوَّلِ Sehingga terkadang suatu metode pada awalnya dipakai… غَيْرَ مَعْمُولٍ بِهِ فِي الْآخِرِ namun kemudian tidak berlaku lagi. وَهَذَا لَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا هَذِهِ الْمُتُونُ Ada banyak sekali contohnya, di antaranya adalah matan-matan ilmu ini. فَلَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ أَبِي بِكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Di zaman Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman -radhiyallahu ‘anhum- فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِينَ شَيْءٌ اسْمُهُ الْمُتُونُ juga di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak ada sesuatu yang dinamakan dengan matan. وَلَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ اِسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا Namun setelah itu, matan-matan ini banyak digunakan. وَأَيْضًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مَا يُسَمَّى بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ Dan juga, di zaman mereka tidak ada yang dinamakan pengumpulan qira’at al-Qur’an. وَبَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا صَارُوا يَقْرَؤُونَ بِهَا كَانُوا يُفْرِدُونَ الرِّوَايَةَ الْوَاحِدَةَ Namun setelah itu; ketika mereka membaca dengan berbagai qira’at, mereka memilih satu riwayat ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ بَعْدَ خَمْسِ مِئَةٍ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ الْقِرَاءَاتِ kemudian setelah berjalan 500 tahun, orang-orang mulai terbiasa mengumpulkan bacaan qira’at. وَأَنَّ هَذَا الطَّرِيقَ لِحِفْظِ الْعِلْمِ لِئَلَّا يَضِيْعَ Dan ini merupakan metode untuk menjaga ilmu agar tidak lenyap. وَإِدْرَاكُ هَذِهِ الْمَعَانِي مَوْكُوْلٌ لِمَنْ لَهُمْ مَعْرِفَةٌ بِالتَّرْبِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ Dan untuk mengetahui hal ini, harus diserahkan kepada orang yang memahami tarbiyah ilmiyah. الَّذِينَ امْتَزَجَتْ قَلُوبُهُمْ بِالْعِلْمِ Yang hati mereka telah menyatu dengan ilmu, فَأَحَبُّوا الْعِلْمَ وَعَاشُوا لَهُ sehingga mereka mencintai ilmu dan hidup untuk itu. فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَهُ لَهُمْ بَصيرَةٌ Merekalah yang memiliki kejernihan pandangan إِذَا وَفَّقَهُمُ اللهُ وَاسْتَعَانُوا بِهِ jika mereka mendapat taufik, dan memohon pertolongan kepada Allah. وَأَمَّا النَّاعِتُونَ طَرِيقَ الْعِلْمِ Adapun orang yang mengada-ada metode menuntut ilmu… فَكَمْ مِنْ نَاعِتٍ نَاعِقٌ ؟ maka betapa banyak dari mereka yang hanya berbual إِذْ يُرْشِدُ إِلَى أَشْيَاءَ هِي مِنْ ضَرْبِ الْخَيَالِ karena mereka hanya memberi arahan yang mustahil dilakukan, وَيَقِلُّ انْتِفَاعُ النَّاسِ بِهَا dan sedikit sekali yang mendapat manfaat darinya. فَأَنَا كَمَا نَبَّهْتُ إِلَى أَصْلٍ كُلِّيّ فِي هَذَا الْأَمْرِ Dan aku menjelaskan kaidah umum dalam hal ini, أُنَبِّهُ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِسْتِرْشَادِ selain itu aku juga menganjurkan untuk selalu meminta bimbingan… بِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ وَالْأَخْذِ لِلْعِلْمِ فِي هَذَا وَمِثْلِهِ kepada orang yang berpengalaman dalam bidang ilmu dan menuntut ilmu dalam hal ini dan lainnya.


Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama تَقُولُ هَذِهِ الْأُخْتُ Saudari kita ini bertanya: طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتِمِ الْقُرْآنَ بَعْدُ Penuntut ilmu yang belum selesai menghafal al-Qur’an, وَهُوَ مَعَ حِفْظِ الْقُرْآنِ يَحْفَظُ الْمُتُونَ وَيَتَلَقَّى شَرْحَهَا bersamaan dengan itu, dia juga menghafal matan-matan dan mempelajari penjelasannya, وَيَضِيقُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِقِرَاءةِ تَفْسِيرِهَا sehingga dia tidak memiliki waktu lagi untuk membaca tafsir al-Qur’an, فَيَمْضِي فِي الْحِفْظِ فَقَطْ hanya fokus menghafal al-Qur’an saja. هَلْ هُنَاكَ طَرِيقَةٌ يَتْبَعُهَا لِتَحْصِيلِ مَا فَعَلَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ؟ Apakah ada metode agar dapat meraih seperti yang diraih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum? مَا هِي التَّفَاسِيرُ الَّتِي تَنْصَحُونَ بِهَا لِتَحْقِيقِ هَذَا؟ Kitab-kitab tafsir apa saja yang Anda sarankan untuk merealisasikan ini? الْجَوَابُ أَنَّ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي تَقَعُ فِي نُفُوسِ الطَّلَبَةِ وَالطَّالِبَاتِ Jawabannya: Kegalauan yang ada dalam diri para penuntut ilmu مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعِلْمِ yang berkaitan dengan ilmu, لَا يَمْحُوهَا إِلَّا إِرْشَادُ مُرْشِدٍ tidak akan sirna kecuali dengan bimbingan dari orang yang berpengalaman. فَإِنِ ابْتَدَأَ الْمُتَعَلِّمُ النَّظَرَ مِنْ نَفْسِهِ Jika seorang murid mulai mencermati dirinya, (dia akan mendapati dirinya)… يَسْلُكُ طَرِيقًا يَنْدَمُ عَلَيْهِ menempuh suatu metode yang kemudian dia sesali… ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ ثُمَّ يَشْرَعُ فِيهِ Lalu dia berpindah ke metode lain dan menempuhnya. ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ Lalu berpindah lagi ke metode lainnya. فَلَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا لَا يَهْتَدِي إِلَى صَوَابٍ Dan begitu seterusnya tanpa menemukan metode yang benar, فَيَنْبَغِي أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مَنْ يَسْتَرْشِدُ بِهِ Maka hendaklah dia menghadap kepada orang yang dapat menuntunnya… وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ سَأَلَهُ رَجُلٌ Imam Ahmad pernah ditanya seorang lelaki, هَلْ أَطْلُبُ الْعِلْمَ أَمْ أَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟ “Apakah lebih baik aku menuntut ilmu atau menghafal al-Qur’an?” فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَهُ كَبِيرًا beliau mencermati lelaki itu, dan mendapatinya telah dewasa. فَقَالَ اُطْلُبِ الْعِلْمَ Maka beliau menjawab, “Tuntutlah ilmu!” أَيْ إِنَّ مَا يَلْزَمُ الْإِنْسَانَ بَعْدَ بُلُوغِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ Yakni karena tuntutan hukum-hukum Islam terhadapnya setelah dia baligh,… فَوْقَ مَا يَلْزَمُهُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ lebih besar daripada tuntutannya untuk menghafal al-Qur’an… إِذْ حِفْظُ الْقُرْآنِ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ هُوَ الْفَاتِحَةُ Karena hafalan al-Qur’an yang wajib dia miliki hanyalah al-Fatihah وَيَتْبَعُهُ مَا تَقُومُ بِهِ صَلَاةُ الْإِنْسَانِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ dan ilmu yang dia gunakan agar dapat mendirikan shalat secara sempurna. فَمِنْهُ وَاجِبٌ وَمِنْهُ مُسْتَحَبٌّ Di antara ilmu itu ada yang wajib, dan ada pula yang mustahab (sunnah) وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ Serta ilmu lainnya di samping semua itu. وَالْبُلُوغُ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَظِيمَةٌ Adapun menghafal al-Qur’an merupakan kedudukan agung yang memiliki banyak keutamaan فِيهَا فَضَائِلُ وَثَبَتَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ yang disebutkan dalam al-Qur’an as-Sunnah dan al-Ijma’. خِلَافًا لِمَنْ يُمَوِّهُ بِأَنَّهُ Bukan seperti perkataan orang bahwa,.. لَيْسَ مِنْ هَدْيِ الْإِسْلَامِ الْحِرْصَ عَلَى الْحِفْظِ وَإِنَّمَا الْحِرْصُ عَلَى الْفَهْمِ “Tuntunan agama Islam tidak tertaut pada menghafal, namun pada memahami.” فَهَدْيُ الْإِسْلَامِ الْحِرْصُ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِهِ Sebab tuntunan agama Islam memberi perhatian pada menghafal al-Qur’an dan memahaminya لَكِنْ بِاعْتِبَارِ مَا يَحُفُّ بِذَلِكَ مِنَ الْقَرَائِنِ Namun itu tergantung pada keadaan-keadaan yang melingkupi; فَالْمُتَعَلِّمُ إِذَا كَانَ صَغِيرًا وُجِّهَ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأُفْرِغَ لَهُ Jika penuntut ilmu masih kecil, maka dianjurkan untuk fokus menghafal al-Qur’an أَمَّا إِذَا كَانَ كَبِيرًا Namun jika telah dewasa,… فَإِنَّهُ يَطْلُبُ مِنَ الْعِلْمِ الْمُتَأَكِّدِ فِي حَقِّهِ وَمَا بَعْدَهُ maka ia harus mencari ilmu yang sangat berkaitan dengan kewajibannya dan lain sebagainya. فَيَحْفَظُ وَيَسْتَشْرِحُ بُطُونَ الْعِلْمِ Maka ia harus menghafal dan mempelajari ilmu yang mendalam, مَعَ الْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْاِجْتِهَادِ بِذَلِكَ بِحَسَبِ وُسْعِهِ sembari tetap berusaha keras menghafal al-Qur’an sesuai kemampuannya, وَيَأْخُذُ كُلَّ ذَلِكَ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى يَصِلَ serta melakukan semua itu sedikit demi sedikit hingga dapat mencapainya. فَإِنَّ الْعُمُرَ لَوْ كَانَ كَعُمُرِ نُوْحٍ لَمْ يَفْرَغْ لِلْعِلْمِ Karena umur manusia meski sepanjang umur Nabi Nuh, tetap tidak cukup untuk mencari ilmu. فَالْعِلْمُ بَحْرٌ وَاسِعٌ Karena ilmu adalah lautan luas. لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْخُذُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا مَعَ مُهِمَّاتِهِ Namun manusia harus berusaha mencarinya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhannya. وَمَنْ صَبَرَ وَثَابَرَ Barangsiapa yang bersabar dan berjuang فَسَيَصِلُ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ مِنْهُ niscaya akan meraih banyak kebaikan. وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ Dalam hadits shahih, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-… ذَكَرَ مِنْ أَحْوَالِ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُخِلَّةِ menyebutkan salah satu keadaan umat ini yang tidak baik بِسَيْرِهَا الْاِسْتِعْجَال yaitu yang berjalan dengan terburu-buru. أَيْ قَالَ وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ Yakni beliau bersabda, “Namun kalian kaum yang terburu-buru.” وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي أَحْوَالِ النَّاسِ فِي بَابِ الْعِلْمِ Dan hal ini tampak sekali dalam perkara mencari ilmu,.. أَوْ فِي بَابِ الْعَمَلِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ dalam bekerja, atau dalam perkara lainnya. فَيَنْبَغِي أَنْ يَسِيرَ الْإِنْسَانُ سَيْرًا وَئِيدًا مُسْتَرْشِدًا Maka hendaklah seseorang berjalan dengan tenang sesuai petunjuk. وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقْرِنَ بَيْنَ الْحِفْظِ وَمَعْرِفَةِ الْمَعَانِي Tidak harus menghafal al-Qur’an dan mengetahui makna-maknanya sekaligus, فَهَذِهِ مَرْتَبَةٌ كُمْلَى karena ini merupakan derajat yang tertinggi. وَمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Adapun dahulu para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- (dalam mencari ilmu), كَانَ لَهُمْ فِيهِ مَا يُسَاعِدُهُمْ mereka memiliki banyak aspek pendukung; مِنْ صِحَّةِ فُهُوْمِهِمْ وَسَلَامَةِ أَلْسَنَتِهِمْ seperti pemahaman yang benar, kefasihan bahasa, وَشُهُودِهِمُ التَّنْزِيلَ dan berada di zaman turunnya wahyu, فَيَظْهَرُ لَهُمْ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ sehingga makna-makna al-Qur’an jelas bagi mereka, meski baru pertama mereka dengar… مَا لَا يَظْهَرُ لَنَا yang bagi kita belum jelas. فَأَنْتَ إِذَا سَأَلْتَ جُمْهُورَ النَّاسِ Jika kamu bertanya pada kebanyakan orang… مَا مَعْنَى أَنْ تُبْسَلَ ؟ Apa makna kalimat “An Tubsala”? رُبَّمَا لَمْ تَخْرُجْ إِلَّا بِقَلِيلٍ مِنْهُمْ Mungkin yang dapat menjawabmu hanya sedikit saja. وَأَمَّا الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Sedangkan para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-, فَكَانُوا يَتَكَلَّمُونَ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ mereka berbicara dengan bahasa arab tulen فَيَعْرِفُونَ غَالِبَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي sehingga mereka mengetahui mayoritas makna kalimat dalam al-Qur’an. وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ أَخْذَ الْعِلْمِ فِي الْأُمَّةِ Dan yang harus diketahui bahwa metode menuntut ilmu pada umat ini تَتَطَوَّرُ أَحْوَالُهُ بِقَدْرِ مَا يُحْفَظُ فِيهَا telah mengalami perkembangan, sejalan dengan metode yang dapat menjaga ilmu itu. فَقَدْ يَكُونُ شَيْئًا كَانَ فِي الْأَوَّلِ Sehingga terkadang suatu metode pada awalnya dipakai… غَيْرَ مَعْمُولٍ بِهِ فِي الْآخِرِ namun kemudian tidak berlaku lagi. وَهَذَا لَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا هَذِهِ الْمُتُونُ Ada banyak sekali contohnya, di antaranya adalah matan-matan ilmu ini. فَلَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ أَبِي بِكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ Di zaman Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman -radhiyallahu ‘anhum- فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِينَ شَيْءٌ اسْمُهُ الْمُتُونُ juga di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak ada sesuatu yang dinamakan dengan matan. وَلَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ اِسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا Namun setelah itu, matan-matan ini banyak digunakan. وَأَيْضًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مَا يُسَمَّى بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ Dan juga, di zaman mereka tidak ada yang dinamakan pengumpulan qira’at al-Qur’an. وَبَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا صَارُوا يَقْرَؤُونَ بِهَا كَانُوا يُفْرِدُونَ الرِّوَايَةَ الْوَاحِدَةَ Namun setelah itu; ketika mereka membaca dengan berbagai qira’at, mereka memilih satu riwayat ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ بَعْدَ خَمْسِ مِئَةٍ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ الْقِرَاءَاتِ kemudian setelah berjalan 500 tahun, orang-orang mulai terbiasa mengumpulkan bacaan qira’at. وَأَنَّ هَذَا الطَّرِيقَ لِحِفْظِ الْعِلْمِ لِئَلَّا يَضِيْعَ Dan ini merupakan metode untuk menjaga ilmu agar tidak lenyap. وَإِدْرَاكُ هَذِهِ الْمَعَانِي مَوْكُوْلٌ لِمَنْ لَهُمْ مَعْرِفَةٌ بِالتَّرْبِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ Dan untuk mengetahui hal ini, harus diserahkan kepada orang yang memahami tarbiyah ilmiyah. الَّذِينَ امْتَزَجَتْ قَلُوبُهُمْ بِالْعِلْمِ Yang hati mereka telah menyatu dengan ilmu, فَأَحَبُّوا الْعِلْمَ وَعَاشُوا لَهُ sehingga mereka mencintai ilmu dan hidup untuk itu. فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَهُ لَهُمْ بَصيرَةٌ Merekalah yang memiliki kejernihan pandangan إِذَا وَفَّقَهُمُ اللهُ وَاسْتَعَانُوا بِهِ jika mereka mendapat taufik, dan memohon pertolongan kepada Allah. وَأَمَّا النَّاعِتُونَ طَرِيقَ الْعِلْمِ Adapun orang yang mengada-ada metode menuntut ilmu… فَكَمْ مِنْ نَاعِتٍ نَاعِقٌ ؟ maka betapa banyak dari mereka yang hanya berbual إِذْ يُرْشِدُ إِلَى أَشْيَاءَ هِي مِنْ ضَرْبِ الْخَيَالِ karena mereka hanya memberi arahan yang mustahil dilakukan, وَيَقِلُّ انْتِفَاعُ النَّاسِ بِهَا dan sedikit sekali yang mendapat manfaat darinya. فَأَنَا كَمَا نَبَّهْتُ إِلَى أَصْلٍ كُلِّيّ فِي هَذَا الْأَمْرِ Dan aku menjelaskan kaidah umum dalam hal ini, أُنَبِّهُ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِسْتِرْشَادِ selain itu aku juga menganjurkan untuk selalu meminta bimbingan… بِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ وَالْأَخْذِ لِلْعِلْمِ فِي هَذَا وَمِثْلِهِ kepada orang yang berpengalaman dalam bidang ilmu dan menuntut ilmu dalam hal ini dan lainnya.

Polemik Status Orang Tua Nabi ﷺ – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Polemik Status Orang Tua Nabi ﷺ – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Polemik Status Orang Tua Nabi ﷺ – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Polemik Status Orang Tua Nabi ﷺ – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/
Polemik Status Orang Tua Nabi ﷺ – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/


Polemik Status Orang Tua Nabi ﷺ – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits. Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-, “Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), pelajarilah fiqih hadits.” “Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.” Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih. Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar. Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu. Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir. Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi; mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini. Padahal Abu Abdillah al-Hakim, pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits. Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits. Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi, karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya; yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya, sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar, maka kamu baru dapat mengamalkannya. Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini, kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini, dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin. Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits, meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab, maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya, yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman, karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal bukan seperti itu maknanya. Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena jika ia memahaminya dengan benar, maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut. Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat, karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata. Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits. Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.” Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya. Namun jika kamu mencarinya, kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu. Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan adalah bagian dari makna hadits itu. Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat, dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in, dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in, begitu seterusnya di setiap generasi umat. Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits, kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu. Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits. Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar. Karena salah satu hal yang merusak pemahaman adalah kerusakan bahasa arab. Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan, bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah, yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab, menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat. Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran. Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab, namun lisan mereka bukan lisan arab. Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja, namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka, kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab, padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami. Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya, maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat? Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala- =============================================================================== وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟ وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى  

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits. Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-, “Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), pelajarilah fiqih hadits.” “Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.” Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih. Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar. Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu. Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir. Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi; mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini. Padahal Abu Abdillah al-Hakim, pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits. Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits. Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi, karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya; yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya, sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar, maka kamu baru dapat mengamalkannya. Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini, kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini, dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin. Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits, meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab, maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya, yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman, karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal bukan seperti itu maknanya. Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena jika ia memahaminya dengan benar, maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut. Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat, karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata. Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits. Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.” Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya. Namun jika kamu mencarinya, kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu. Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan adalah bagian dari makna hadits itu. Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat, dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in, dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in, begitu seterusnya di setiap generasi umat. Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits, kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu. Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits. Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar. Karena salah satu hal yang merusak pemahaman adalah kerusakan bahasa arab. Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan, bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah, yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab, menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat. Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran. Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab, namun lisan mereka bukan lisan arab. Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja, namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka, kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab, padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami. Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya, maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat? Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala- =============================================================================== وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟ وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى  
Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits. Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-, “Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), pelajarilah fiqih hadits.” “Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.” Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih. Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar. Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu. Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir. Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi; mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini. Padahal Abu Abdillah al-Hakim, pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits. Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits. Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi, karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya; yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya, sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar, maka kamu baru dapat mengamalkannya. Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini, kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini, dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin. Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits, meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab, maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya, yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman, karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal bukan seperti itu maknanya. Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena jika ia memahaminya dengan benar, maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut. Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat, karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata. Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits. Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.” Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya. Namun jika kamu mencarinya, kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu. Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan adalah bagian dari makna hadits itu. Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat, dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in, dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in, begitu seterusnya di setiap generasi umat. Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits, kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu. Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits. Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar. Karena salah satu hal yang merusak pemahaman adalah kerusakan bahasa arab. Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan, bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah, yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab, menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat. Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran. Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab, namun lisan mereka bukan lisan arab. Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja, namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka, kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab, padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami. Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya, maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat? Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala- =============================================================================== وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟ وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى  


Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits. Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-, “Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), pelajarilah fiqih hadits.” “Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.” Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih. Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar. Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu. Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir. Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi; mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini. Padahal Abu Abdillah al-Hakim, pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits. Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits. Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi, karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya; yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya, sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar, maka kamu baru dapat mengamalkannya. Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini, kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini, dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin. Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits, meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab, maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya, yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman, karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal bukan seperti itu maknanya. Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena jika ia memahaminya dengan benar, maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut. Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat, karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata. Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits. Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.” Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya. Namun jika kamu mencarinya, kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu. Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan adalah bagian dari makna hadits itu. Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat, dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in, dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in, begitu seterusnya di setiap generasi umat. Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits, kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu. Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits. Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar. Karena salah satu hal yang merusak pemahaman adalah kerusakan bahasa arab. Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan, bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah, yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab, menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat. Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran. Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab, namun lisan mereka bukan lisan arab. Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja, namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka, kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab, padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami. Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya, maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat? Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala- =============================================================================== وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟ وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى  

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Terdapat 6 zikir setelah shalat. Pertama: Membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH) Inilah zikir pertama yang dapat dibaca setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu, yaitu membaca istighfar sebanyak tiga kali, berdasarkan riwayat Imam Muslim dari al-Walid bin Muslim, dari Abu ‘Amr al-Auza’i, dari Syaddad bin ‘Ammar, dari Abu Asma’ ar-Rahabi, Dari Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata: Bahwa apabila Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyelesaikan shalatnya, beliau membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan makna dari kata (انْصَرَفَ) yakni telah melakukan salam. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi memiliki dua makna. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…memiliki dua makna. Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Kedua: Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Dan makna yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang pertama (yaitu telah melakukan salam di akhir shalat) Yakni apabila Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menutup shalatnya dengan salam, beliau beristighfar sebanyak 3 kali. Hadits ini menyatakan bahwa beliau beristighfar, tanpa menentukan lafazh istighfarnya. Dan pada lanjutan riwayat Imam Muslim disebutkan, al-Walid bin Muslim berkata, “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” Inilah lafazh yang paling minimal. Karena permohonan ampun terkandung pada lafazh itu, sebab seorang yang memohon ampunan secara pasti mengucapkan ‘Astaghfirullah’ (Aku memohon ampun kepada Allah) Dia memohon ampun dengan lafazh tersebut. Dan imam al-Auza’i tidak menyebutkannya sebagai riwayat hadits, sehingga ia tidak menisbatkannya kepada perawi sebelumnya. Ini kemungkinan ia mengatakannya berdasarkan pemahamannya, yakni permohonan ampun yang harus diucapkan seseorang adalah dengan ucapan (ASTAGHFIRULLAAH) Dan aku belum menemukan hadits Nabi atau ucapan para salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in yang menetapkan lafazh istighfar yang dibaca setelah shalat dengan lafazh tertentu. Dan lafazh istighfar yang paling baik adalah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Ali -radhiyallahu ‘anhu-, Ia berkata: Jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebelum melakukan salam di akhir shalatnya beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMAGHFIR LII MAA QODDAMTU WAMAA AKH-KHORTU WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU WAMAA ASROFTU WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MU-AKH-KHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA.” Para perawinya tsiqat (dapat dipercaya), namun yang lebih kuat (terkait dengan doa istighfar tersebut) adalah lafazh pada riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, yang di Shahih Muslim itu disebutkan bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaca istighfar dengan lafazh tersebut sebelum melakukan salam. Yakni ia termasuk zikir yang dibaca sebelum seseorang melakukan salam. Sehingga makna kalimat dalam riwayat ini (كَانَ إذَا سَلَّمَ) yakni jika telah dekat melakukan salam (sebelum salam), maka ia adalah doa terakhir yang ia baca sebelum salam. Dengan demikian, tidak ada satu riwayat yang menetapkan lafazh khusus istighfar yang dimaksud dalam riwayat Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, “Membaca istighfar sebanyak tiga kali”. Dan beberapa ulama fiqih menyebutkan beberapa lafazh tambahan dari (Astaghfirullah) Seperti dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIM) Atau (ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUM) Yakni mereka menyebutkan bahwa Nabi beristighfar dengan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), atau dengan lafazh lainnya yang telah kita sebutkan itu. Dan penetapan lafazh (Astaghfirullah) merupakan yang paling pendek, karena ia yang paling minimal. Karena jika seseorang mengucapkan (Astaghfirullah), maka dapat dikatakan ia telah memohon ampun. Namun lafazh ini tidak dapat ditetapkan sebagai lafazh satu-satunya, karena dalam hadits tidak ada hal yang menunjukkan penetapan lafazh ini saja. Dan lafazh istighfar yang paling sempurna adalah yang senantiasa dibaca Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau setelah surat an-Nasr diturunkan kepada beliau. Yaitu dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI)Inilah lafazh istighfar yang paling banyak diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim Namun -sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim, yang sebenarnya ada dalam Shahih al-Bukhari-bahwa lafazh ini tidak menyelisihi hadits riwayat Syaddad bin Aus dalam Shahih al-Bukhari tentang bacaan Sayyidul Istighfar, dan hadits itu menyebutkan zikir yang telah banyak dikenal ini. Zikir ini adalah Sayyidul Istighfar (tuan atau rajanya istighfar) dari sisi keagungan kandungannya. Adapun dari sisi pengamalan, maka disebutkan dalam sunnah bahwa bacaan Sayyidul Istighfar dibaca pada zikir pagi dan sore. Sedangkan dari sisi banyaknya istighfar yang harus dibaca seseorang maka lafazh zikirnya adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperbanyak bacaan istighfar ini. Sehingga lafazh istighfar yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH) Dan para ulama yang membahas zikir-zikir, hanya menyebutkan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), karena ia adalah kadar minimal ucapan istighfar. Dengan demikian, orang yang selesai shalat fardhu disyariatkan untuk beristighfar dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAH), atau (ASTAGHFIRULLAAHA… ================================================================================ وَهِيَ سِتَّةُ أَذْكَارٍ الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا وَأَكْمَلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَدْنَاهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ وَهُو الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ شَدَّادِ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَمَعْنَى انْصَرَفَ سَلَّمَ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا وَالْآخَرُ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُرَادُ هُنَا هُوَ الْأَوَّلُ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ مُسَلِّمًا اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَالْحَدِيْثُ خَبَرٌ عَنْ وُقُوعِ الِاسْتِغْفَارِ دُونَ تَعْيِينِ صِيْغَتِهِ وَعِنْدَ مُسْلِمٍ بَعْدَهُ قَالَ الْوَلِيدُ ابْنُ مُسْلِمٍ قُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُلْت لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَهَذَا قَدْرٌ مَجْزُوْمٌ بِهِ لِأَنَّ الْخَبَرَ عَنْ سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ يَقَعُ بِهِ فَإِنَّ الْمُسْتَغْفِرَ يَقُولُ جَزْمًا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهُ يَطْلُبُ الْمَغْفِرَةَ وَيَسْتَدْعِيْهَا بِهَذَا الْقَوْلِ وَلَمْ يَذْكُرِ الْأَوْزَاعِيُّ كَوْنَهُ مُسْنَدًا فَلَمْ يَأْثُرْهُ عَمَّن فَوْقَهُ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ قَالَهُ مِنْ قِبَلِ فَهْمِهِ أَيْ أَنَّ مَعْنَى الِاسْتِغْفَارِ الْمَطْلُوبِ مِنَ الْعَبْدِ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَلَمْ أَجِدْ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ وَلَا الْآثَارِ السَّلَفِيَّةِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالتَّابِعِيْهِمْ مَا يُعَيِّنُ الِاسْتِغْفَارَ الْوَارِدَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي صِيغَتِهِ وَأَمْثَلُ مَا جَاءَ فِيهِ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ . الْحَدِيثَ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ لَكِنَّ الْمَحْفُوظَ فِيهِ لَفْظُ مُسْلِمٍ فِي صَحِيحِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ بَيْنَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ يَعْنِي فِي الْأَذْكَارِ الَّتِي تَكُونُ قَبْلَ سَلَامِ الْإِنْسَانِ فَمَعْنَى قَوْلِهِ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ كَانَ إذَا سَلَّمَ يَعْنِي إذَا قَرُبَ مِنَ التَّسْلِيمِ فَيَجْعَلُهُ مِنْ آخِرِ دُعَائِهِ فَلَمْ يُؤْثَرْ شَيْءٌ مُعَيَّنٌ فِي تَبْيِينِ صِيْغَةِ الِاسْتِغْفَارِ الْمُرَادَةِ فِي قَوْلِ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اسْتَغْفَرَ ثَلاثًا وَوَقَعَ فِي كَلَامِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ الزِّيَادَةُ عَلَى أَسْتَغْفِرُ اللهَ بِأَنَّ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ أَوْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَذَكَرُوا أَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ بِقَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِهَذِهِ الصِّيَغِ الَّتِي ذَكَرْنَا وَالْحُكْمُ بِأَنَّ قَوْلَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هُوَ الْأَقَلُّ لِأَنَّهُ الْمَجْزُومُ بِهِ فَإِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُطِعَ بِأَنَّهُ اسْتَغْفَرَ لَكِنْ يَتَعَذَّرُ تَعْيِيْنُهُ جَزْمًا دُونَ غَيْرِهِ إِذْ لَيْسَ فِي الْأَخْبَارِ مَا يَقْتَضِي تَعْيِينَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دُونَ غَيْرِهَا وَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ مَا كَانَ يُلَازِمُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ بَعْدَ نُزُوْلِ سُورَةِ النَّصْرِ عَلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَإِنَّ هَذَا كَانَ أَكْثَرَ اسْتِغْفَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ عُمُرِهِ كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ وَأَصْلُهُ عِنْدَ الْبُخَارِي وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى هَذَا حَدِيثُ شَدَّادِ ابْنِ أَوْسٍ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَذَكَرَ الْذِكْرَ الْمَشْهُورَ فَإِنَّ هَذَا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ بِاعْتِبَارِ عَظَمَةِ مَا فِيهِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فَإِنَّ الْوَارِدَ فِي السُّنَّةِ جَعَلَهُ فِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فِيمَا يُكْثِرُ مِنْهُ الْعَبْدُ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ ذَلِكَ فَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ هُوَ قَوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَاقْتَصَرَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي الْأَذْكَارِ عَلَى قَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهَا أَقَلُّ الْقَدْرِ الْمَجْزُومِ بِهِ فَيُشْرَعُ لِلْفَارِغِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ أَنْ يَسْتَغْفِرَ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَهِيَ أَكْمَلُ وَاللهُ أَعْلَمُ  

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Terdapat 6 zikir setelah shalat. Pertama: Membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH) Inilah zikir pertama yang dapat dibaca setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu, yaitu membaca istighfar sebanyak tiga kali, berdasarkan riwayat Imam Muslim dari al-Walid bin Muslim, dari Abu ‘Amr al-Auza’i, dari Syaddad bin ‘Ammar, dari Abu Asma’ ar-Rahabi, Dari Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata: Bahwa apabila Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyelesaikan shalatnya, beliau membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan makna dari kata (انْصَرَفَ) yakni telah melakukan salam. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi memiliki dua makna. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…memiliki dua makna. Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Kedua: Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Dan makna yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang pertama (yaitu telah melakukan salam di akhir shalat) Yakni apabila Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menutup shalatnya dengan salam, beliau beristighfar sebanyak 3 kali. Hadits ini menyatakan bahwa beliau beristighfar, tanpa menentukan lafazh istighfarnya. Dan pada lanjutan riwayat Imam Muslim disebutkan, al-Walid bin Muslim berkata, “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” Inilah lafazh yang paling minimal. Karena permohonan ampun terkandung pada lafazh itu, sebab seorang yang memohon ampunan secara pasti mengucapkan ‘Astaghfirullah’ (Aku memohon ampun kepada Allah) Dia memohon ampun dengan lafazh tersebut. Dan imam al-Auza’i tidak menyebutkannya sebagai riwayat hadits, sehingga ia tidak menisbatkannya kepada perawi sebelumnya. Ini kemungkinan ia mengatakannya berdasarkan pemahamannya, yakni permohonan ampun yang harus diucapkan seseorang adalah dengan ucapan (ASTAGHFIRULLAAH) Dan aku belum menemukan hadits Nabi atau ucapan para salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in yang menetapkan lafazh istighfar yang dibaca setelah shalat dengan lafazh tertentu. Dan lafazh istighfar yang paling baik adalah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Ali -radhiyallahu ‘anhu-, Ia berkata: Jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebelum melakukan salam di akhir shalatnya beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMAGHFIR LII MAA QODDAMTU WAMAA AKH-KHORTU WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU WAMAA ASROFTU WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MU-AKH-KHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA.” Para perawinya tsiqat (dapat dipercaya), namun yang lebih kuat (terkait dengan doa istighfar tersebut) adalah lafazh pada riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, yang di Shahih Muslim itu disebutkan bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaca istighfar dengan lafazh tersebut sebelum melakukan salam. Yakni ia termasuk zikir yang dibaca sebelum seseorang melakukan salam. Sehingga makna kalimat dalam riwayat ini (كَانَ إذَا سَلَّمَ) yakni jika telah dekat melakukan salam (sebelum salam), maka ia adalah doa terakhir yang ia baca sebelum salam. Dengan demikian, tidak ada satu riwayat yang menetapkan lafazh khusus istighfar yang dimaksud dalam riwayat Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, “Membaca istighfar sebanyak tiga kali”. Dan beberapa ulama fiqih menyebutkan beberapa lafazh tambahan dari (Astaghfirullah) Seperti dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIM) Atau (ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUM) Yakni mereka menyebutkan bahwa Nabi beristighfar dengan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), atau dengan lafazh lainnya yang telah kita sebutkan itu. Dan penetapan lafazh (Astaghfirullah) merupakan yang paling pendek, karena ia yang paling minimal. Karena jika seseorang mengucapkan (Astaghfirullah), maka dapat dikatakan ia telah memohon ampun. Namun lafazh ini tidak dapat ditetapkan sebagai lafazh satu-satunya, karena dalam hadits tidak ada hal yang menunjukkan penetapan lafazh ini saja. Dan lafazh istighfar yang paling sempurna adalah yang senantiasa dibaca Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau setelah surat an-Nasr diturunkan kepada beliau. Yaitu dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI)Inilah lafazh istighfar yang paling banyak diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim Namun -sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim, yang sebenarnya ada dalam Shahih al-Bukhari-bahwa lafazh ini tidak menyelisihi hadits riwayat Syaddad bin Aus dalam Shahih al-Bukhari tentang bacaan Sayyidul Istighfar, dan hadits itu menyebutkan zikir yang telah banyak dikenal ini. Zikir ini adalah Sayyidul Istighfar (tuan atau rajanya istighfar) dari sisi keagungan kandungannya. Adapun dari sisi pengamalan, maka disebutkan dalam sunnah bahwa bacaan Sayyidul Istighfar dibaca pada zikir pagi dan sore. Sedangkan dari sisi banyaknya istighfar yang harus dibaca seseorang maka lafazh zikirnya adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperbanyak bacaan istighfar ini. Sehingga lafazh istighfar yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH) Dan para ulama yang membahas zikir-zikir, hanya menyebutkan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), karena ia adalah kadar minimal ucapan istighfar. Dengan demikian, orang yang selesai shalat fardhu disyariatkan untuk beristighfar dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAH), atau (ASTAGHFIRULLAAHA… ================================================================================ وَهِيَ سِتَّةُ أَذْكَارٍ الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا وَأَكْمَلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَدْنَاهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ وَهُو الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ شَدَّادِ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَمَعْنَى انْصَرَفَ سَلَّمَ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا وَالْآخَرُ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُرَادُ هُنَا هُوَ الْأَوَّلُ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ مُسَلِّمًا اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَالْحَدِيْثُ خَبَرٌ عَنْ وُقُوعِ الِاسْتِغْفَارِ دُونَ تَعْيِينِ صِيْغَتِهِ وَعِنْدَ مُسْلِمٍ بَعْدَهُ قَالَ الْوَلِيدُ ابْنُ مُسْلِمٍ قُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُلْت لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَهَذَا قَدْرٌ مَجْزُوْمٌ بِهِ لِأَنَّ الْخَبَرَ عَنْ سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ يَقَعُ بِهِ فَإِنَّ الْمُسْتَغْفِرَ يَقُولُ جَزْمًا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهُ يَطْلُبُ الْمَغْفِرَةَ وَيَسْتَدْعِيْهَا بِهَذَا الْقَوْلِ وَلَمْ يَذْكُرِ الْأَوْزَاعِيُّ كَوْنَهُ مُسْنَدًا فَلَمْ يَأْثُرْهُ عَمَّن فَوْقَهُ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ قَالَهُ مِنْ قِبَلِ فَهْمِهِ أَيْ أَنَّ مَعْنَى الِاسْتِغْفَارِ الْمَطْلُوبِ مِنَ الْعَبْدِ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَلَمْ أَجِدْ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ وَلَا الْآثَارِ السَّلَفِيَّةِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالتَّابِعِيْهِمْ مَا يُعَيِّنُ الِاسْتِغْفَارَ الْوَارِدَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي صِيغَتِهِ وَأَمْثَلُ مَا جَاءَ فِيهِ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ . الْحَدِيثَ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ لَكِنَّ الْمَحْفُوظَ فِيهِ لَفْظُ مُسْلِمٍ فِي صَحِيحِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ بَيْنَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ يَعْنِي فِي الْأَذْكَارِ الَّتِي تَكُونُ قَبْلَ سَلَامِ الْإِنْسَانِ فَمَعْنَى قَوْلِهِ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ كَانَ إذَا سَلَّمَ يَعْنِي إذَا قَرُبَ مِنَ التَّسْلِيمِ فَيَجْعَلُهُ مِنْ آخِرِ دُعَائِهِ فَلَمْ يُؤْثَرْ شَيْءٌ مُعَيَّنٌ فِي تَبْيِينِ صِيْغَةِ الِاسْتِغْفَارِ الْمُرَادَةِ فِي قَوْلِ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اسْتَغْفَرَ ثَلاثًا وَوَقَعَ فِي كَلَامِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ الزِّيَادَةُ عَلَى أَسْتَغْفِرُ اللهَ بِأَنَّ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ أَوْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَذَكَرُوا أَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ بِقَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِهَذِهِ الصِّيَغِ الَّتِي ذَكَرْنَا وَالْحُكْمُ بِأَنَّ قَوْلَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هُوَ الْأَقَلُّ لِأَنَّهُ الْمَجْزُومُ بِهِ فَإِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُطِعَ بِأَنَّهُ اسْتَغْفَرَ لَكِنْ يَتَعَذَّرُ تَعْيِيْنُهُ جَزْمًا دُونَ غَيْرِهِ إِذْ لَيْسَ فِي الْأَخْبَارِ مَا يَقْتَضِي تَعْيِينَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دُونَ غَيْرِهَا وَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ مَا كَانَ يُلَازِمُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ بَعْدَ نُزُوْلِ سُورَةِ النَّصْرِ عَلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَإِنَّ هَذَا كَانَ أَكْثَرَ اسْتِغْفَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ عُمُرِهِ كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ وَأَصْلُهُ عِنْدَ الْبُخَارِي وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى هَذَا حَدِيثُ شَدَّادِ ابْنِ أَوْسٍ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَذَكَرَ الْذِكْرَ الْمَشْهُورَ فَإِنَّ هَذَا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ بِاعْتِبَارِ عَظَمَةِ مَا فِيهِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فَإِنَّ الْوَارِدَ فِي السُّنَّةِ جَعَلَهُ فِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فِيمَا يُكْثِرُ مِنْهُ الْعَبْدُ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ ذَلِكَ فَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ هُوَ قَوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَاقْتَصَرَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي الْأَذْكَارِ عَلَى قَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهَا أَقَلُّ الْقَدْرِ الْمَجْزُومِ بِهِ فَيُشْرَعُ لِلْفَارِغِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ أَنْ يَسْتَغْفِرَ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَهِيَ أَكْمَلُ وَاللهُ أَعْلَمُ  
Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Terdapat 6 zikir setelah shalat. Pertama: Membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH) Inilah zikir pertama yang dapat dibaca setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu, yaitu membaca istighfar sebanyak tiga kali, berdasarkan riwayat Imam Muslim dari al-Walid bin Muslim, dari Abu ‘Amr al-Auza’i, dari Syaddad bin ‘Ammar, dari Abu Asma’ ar-Rahabi, Dari Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata: Bahwa apabila Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyelesaikan shalatnya, beliau membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan makna dari kata (انْصَرَفَ) yakni telah melakukan salam. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi memiliki dua makna. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…memiliki dua makna. Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Kedua: Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Dan makna yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang pertama (yaitu telah melakukan salam di akhir shalat) Yakni apabila Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menutup shalatnya dengan salam, beliau beristighfar sebanyak 3 kali. Hadits ini menyatakan bahwa beliau beristighfar, tanpa menentukan lafazh istighfarnya. Dan pada lanjutan riwayat Imam Muslim disebutkan, al-Walid bin Muslim berkata, “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” Inilah lafazh yang paling minimal. Karena permohonan ampun terkandung pada lafazh itu, sebab seorang yang memohon ampunan secara pasti mengucapkan ‘Astaghfirullah’ (Aku memohon ampun kepada Allah) Dia memohon ampun dengan lafazh tersebut. Dan imam al-Auza’i tidak menyebutkannya sebagai riwayat hadits, sehingga ia tidak menisbatkannya kepada perawi sebelumnya. Ini kemungkinan ia mengatakannya berdasarkan pemahamannya, yakni permohonan ampun yang harus diucapkan seseorang adalah dengan ucapan (ASTAGHFIRULLAAH) Dan aku belum menemukan hadits Nabi atau ucapan para salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in yang menetapkan lafazh istighfar yang dibaca setelah shalat dengan lafazh tertentu. Dan lafazh istighfar yang paling baik adalah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Ali -radhiyallahu ‘anhu-, Ia berkata: Jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebelum melakukan salam di akhir shalatnya beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMAGHFIR LII MAA QODDAMTU WAMAA AKH-KHORTU WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU WAMAA ASROFTU WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MU-AKH-KHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA.” Para perawinya tsiqat (dapat dipercaya), namun yang lebih kuat (terkait dengan doa istighfar tersebut) adalah lafazh pada riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, yang di Shahih Muslim itu disebutkan bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaca istighfar dengan lafazh tersebut sebelum melakukan salam. Yakni ia termasuk zikir yang dibaca sebelum seseorang melakukan salam. Sehingga makna kalimat dalam riwayat ini (كَانَ إذَا سَلَّمَ) yakni jika telah dekat melakukan salam (sebelum salam), maka ia adalah doa terakhir yang ia baca sebelum salam. Dengan demikian, tidak ada satu riwayat yang menetapkan lafazh khusus istighfar yang dimaksud dalam riwayat Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, “Membaca istighfar sebanyak tiga kali”. Dan beberapa ulama fiqih menyebutkan beberapa lafazh tambahan dari (Astaghfirullah) Seperti dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIM) Atau (ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUM) Yakni mereka menyebutkan bahwa Nabi beristighfar dengan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), atau dengan lafazh lainnya yang telah kita sebutkan itu. Dan penetapan lafazh (Astaghfirullah) merupakan yang paling pendek, karena ia yang paling minimal. Karena jika seseorang mengucapkan (Astaghfirullah), maka dapat dikatakan ia telah memohon ampun. Namun lafazh ini tidak dapat ditetapkan sebagai lafazh satu-satunya, karena dalam hadits tidak ada hal yang menunjukkan penetapan lafazh ini saja. Dan lafazh istighfar yang paling sempurna adalah yang senantiasa dibaca Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau setelah surat an-Nasr diturunkan kepada beliau. Yaitu dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI)Inilah lafazh istighfar yang paling banyak diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim Namun -sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim, yang sebenarnya ada dalam Shahih al-Bukhari-bahwa lafazh ini tidak menyelisihi hadits riwayat Syaddad bin Aus dalam Shahih al-Bukhari tentang bacaan Sayyidul Istighfar, dan hadits itu menyebutkan zikir yang telah banyak dikenal ini. Zikir ini adalah Sayyidul Istighfar (tuan atau rajanya istighfar) dari sisi keagungan kandungannya. Adapun dari sisi pengamalan, maka disebutkan dalam sunnah bahwa bacaan Sayyidul Istighfar dibaca pada zikir pagi dan sore. Sedangkan dari sisi banyaknya istighfar yang harus dibaca seseorang maka lafazh zikirnya adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperbanyak bacaan istighfar ini. Sehingga lafazh istighfar yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH) Dan para ulama yang membahas zikir-zikir, hanya menyebutkan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), karena ia adalah kadar minimal ucapan istighfar. Dengan demikian, orang yang selesai shalat fardhu disyariatkan untuk beristighfar dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAH), atau (ASTAGHFIRULLAAHA… ================================================================================ وَهِيَ سِتَّةُ أَذْكَارٍ الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا وَأَكْمَلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَدْنَاهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ وَهُو الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ شَدَّادِ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَمَعْنَى انْصَرَفَ سَلَّمَ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا وَالْآخَرُ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُرَادُ هُنَا هُوَ الْأَوَّلُ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ مُسَلِّمًا اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَالْحَدِيْثُ خَبَرٌ عَنْ وُقُوعِ الِاسْتِغْفَارِ دُونَ تَعْيِينِ صِيْغَتِهِ وَعِنْدَ مُسْلِمٍ بَعْدَهُ قَالَ الْوَلِيدُ ابْنُ مُسْلِمٍ قُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُلْت لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَهَذَا قَدْرٌ مَجْزُوْمٌ بِهِ لِأَنَّ الْخَبَرَ عَنْ سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ يَقَعُ بِهِ فَإِنَّ الْمُسْتَغْفِرَ يَقُولُ جَزْمًا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهُ يَطْلُبُ الْمَغْفِرَةَ وَيَسْتَدْعِيْهَا بِهَذَا الْقَوْلِ وَلَمْ يَذْكُرِ الْأَوْزَاعِيُّ كَوْنَهُ مُسْنَدًا فَلَمْ يَأْثُرْهُ عَمَّن فَوْقَهُ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ قَالَهُ مِنْ قِبَلِ فَهْمِهِ أَيْ أَنَّ مَعْنَى الِاسْتِغْفَارِ الْمَطْلُوبِ مِنَ الْعَبْدِ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَلَمْ أَجِدْ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ وَلَا الْآثَارِ السَّلَفِيَّةِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالتَّابِعِيْهِمْ مَا يُعَيِّنُ الِاسْتِغْفَارَ الْوَارِدَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي صِيغَتِهِ وَأَمْثَلُ مَا جَاءَ فِيهِ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ . الْحَدِيثَ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ لَكِنَّ الْمَحْفُوظَ فِيهِ لَفْظُ مُسْلِمٍ فِي صَحِيحِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ بَيْنَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ يَعْنِي فِي الْأَذْكَارِ الَّتِي تَكُونُ قَبْلَ سَلَامِ الْإِنْسَانِ فَمَعْنَى قَوْلِهِ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ كَانَ إذَا سَلَّمَ يَعْنِي إذَا قَرُبَ مِنَ التَّسْلِيمِ فَيَجْعَلُهُ مِنْ آخِرِ دُعَائِهِ فَلَمْ يُؤْثَرْ شَيْءٌ مُعَيَّنٌ فِي تَبْيِينِ صِيْغَةِ الِاسْتِغْفَارِ الْمُرَادَةِ فِي قَوْلِ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اسْتَغْفَرَ ثَلاثًا وَوَقَعَ فِي كَلَامِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ الزِّيَادَةُ عَلَى أَسْتَغْفِرُ اللهَ بِأَنَّ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ أَوْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَذَكَرُوا أَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ بِقَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِهَذِهِ الصِّيَغِ الَّتِي ذَكَرْنَا وَالْحُكْمُ بِأَنَّ قَوْلَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هُوَ الْأَقَلُّ لِأَنَّهُ الْمَجْزُومُ بِهِ فَإِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُطِعَ بِأَنَّهُ اسْتَغْفَرَ لَكِنْ يَتَعَذَّرُ تَعْيِيْنُهُ جَزْمًا دُونَ غَيْرِهِ إِذْ لَيْسَ فِي الْأَخْبَارِ مَا يَقْتَضِي تَعْيِينَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دُونَ غَيْرِهَا وَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ مَا كَانَ يُلَازِمُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ بَعْدَ نُزُوْلِ سُورَةِ النَّصْرِ عَلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَإِنَّ هَذَا كَانَ أَكْثَرَ اسْتِغْفَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ عُمُرِهِ كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ وَأَصْلُهُ عِنْدَ الْبُخَارِي وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى هَذَا حَدِيثُ شَدَّادِ ابْنِ أَوْسٍ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَذَكَرَ الْذِكْرَ الْمَشْهُورَ فَإِنَّ هَذَا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ بِاعْتِبَارِ عَظَمَةِ مَا فِيهِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فَإِنَّ الْوَارِدَ فِي السُّنَّةِ جَعَلَهُ فِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فِيمَا يُكْثِرُ مِنْهُ الْعَبْدُ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ ذَلِكَ فَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ هُوَ قَوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَاقْتَصَرَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي الْأَذْكَارِ عَلَى قَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهَا أَقَلُّ الْقَدْرِ الْمَجْزُومِ بِهِ فَيُشْرَعُ لِلْفَارِغِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ أَنْ يَسْتَغْفِرَ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَهِيَ أَكْمَلُ وَاللهُ أَعْلَمُ  


Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Terdapat 6 zikir setelah shalat. Pertama: Membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH) Inilah zikir pertama yang dapat dibaca setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu, yaitu membaca istighfar sebanyak tiga kali, berdasarkan riwayat Imam Muslim dari al-Walid bin Muslim, dari Abu ‘Amr al-Auza’i, dari Syaddad bin ‘Ammar, dari Abu Asma’ ar-Rahabi, Dari Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata: Bahwa apabila Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyelesaikan shalatnya, beliau membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan makna dari kata (انْصَرَفَ) yakni telah melakukan salam. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi memiliki dua makna. Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…memiliki dua makna. Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat) Kedua: Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid. Dan makna yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang pertama (yaitu telah melakukan salam di akhir shalat) Yakni apabila Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menutup shalatnya dengan salam, beliau beristighfar sebanyak 3 kali. Hadits ini menyatakan bahwa beliau beristighfar, tanpa menentukan lafazh istighfarnya. Dan pada lanjutan riwayat Imam Muslim disebutkan, al-Walid bin Muslim berkata, “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” “Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?” Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.” Inilah lafazh yang paling minimal. Karena permohonan ampun terkandung pada lafazh itu, sebab seorang yang memohon ampunan secara pasti mengucapkan ‘Astaghfirullah’ (Aku memohon ampun kepada Allah) Dia memohon ampun dengan lafazh tersebut. Dan imam al-Auza’i tidak menyebutkannya sebagai riwayat hadits, sehingga ia tidak menisbatkannya kepada perawi sebelumnya. Ini kemungkinan ia mengatakannya berdasarkan pemahamannya, yakni permohonan ampun yang harus diucapkan seseorang adalah dengan ucapan (ASTAGHFIRULLAAH) Dan aku belum menemukan hadits Nabi atau ucapan para salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in yang menetapkan lafazh istighfar yang dibaca setelah shalat dengan lafazh tertentu. Dan lafazh istighfar yang paling baik adalah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Ali -radhiyallahu ‘anhu-, Ia berkata: Jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebelum melakukan salam di akhir shalatnya beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMAGHFIR LII MAA QODDAMTU WAMAA AKH-KHORTU WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU WAMAA ASROFTU WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MU-AKH-KHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA.” Para perawinya tsiqat (dapat dipercaya), namun yang lebih kuat (terkait dengan doa istighfar tersebut) adalah lafazh pada riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, yang di Shahih Muslim itu disebutkan bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaca istighfar dengan lafazh tersebut sebelum melakukan salam. Yakni ia termasuk zikir yang dibaca sebelum seseorang melakukan salam. Sehingga makna kalimat dalam riwayat ini (كَانَ إذَا سَلَّمَ) yakni jika telah dekat melakukan salam (sebelum salam), maka ia adalah doa terakhir yang ia baca sebelum salam. Dengan demikian, tidak ada satu riwayat yang menetapkan lafazh khusus istighfar yang dimaksud dalam riwayat Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, “Membaca istighfar sebanyak tiga kali”. Dan beberapa ulama fiqih menyebutkan beberapa lafazh tambahan dari (Astaghfirullah) Seperti dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIM) Atau (ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUM) Yakni mereka menyebutkan bahwa Nabi beristighfar dengan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), atau dengan lafazh lainnya yang telah kita sebutkan itu. Dan penetapan lafazh (Astaghfirullah) merupakan yang paling pendek, karena ia yang paling minimal. Karena jika seseorang mengucapkan (Astaghfirullah), maka dapat dikatakan ia telah memohon ampun. Namun lafazh ini tidak dapat ditetapkan sebagai lafazh satu-satunya, karena dalam hadits tidak ada hal yang menunjukkan penetapan lafazh ini saja. Dan lafazh istighfar yang paling sempurna adalah yang senantiasa dibaca Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau setelah surat an-Nasr diturunkan kepada beliau. Yaitu dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI)Inilah lafazh istighfar yang paling banyak diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di akhir-akhir masa hidup beliau, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim Namun -sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim, yang sebenarnya ada dalam Shahih al-Bukhari-bahwa lafazh ini tidak menyelisihi hadits riwayat Syaddad bin Aus dalam Shahih al-Bukhari tentang bacaan Sayyidul Istighfar, dan hadits itu menyebutkan zikir yang telah banyak dikenal ini. Zikir ini adalah Sayyidul Istighfar (tuan atau rajanya istighfar) dari sisi keagungan kandungannya. Adapun dari sisi pengamalan, maka disebutkan dalam sunnah bahwa bacaan Sayyidul Istighfar dibaca pada zikir pagi dan sore. Sedangkan dari sisi banyaknya istighfar yang harus dibaca seseorang maka lafazh zikirnya adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperbanyak bacaan istighfar ini. Sehingga lafazh istighfar yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH) Dan para ulama yang membahas zikir-zikir, hanya menyebutkan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), karena ia adalah kadar minimal ucapan istighfar. Dengan demikian, orang yang selesai shalat fardhu disyariatkan untuk beristighfar dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAH), atau (ASTAGHFIRULLAAHA… ================================================================================ وَهِيَ سِتَّةُ أَذْكَارٍ الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا وَأَكْمَلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَدْنَاهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ وَهُو الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ شَدَّادِ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَمَعْنَى انْصَرَفَ سَلَّمَ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ لَهُ مَعْنَيَانِ أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا وَالْآخَرُ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُرَادُ هُنَا هُوَ الْأَوَّلُ فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ مُسَلِّمًا اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَالْحَدِيْثُ خَبَرٌ عَنْ وُقُوعِ الِاسْتِغْفَارِ دُونَ تَعْيِينِ صِيْغَتِهِ وَعِنْدَ مُسْلِمٍ بَعْدَهُ قَالَ الْوَلِيدُ ابْنُ مُسْلِمٍ قُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُلْت لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَهَذَا قَدْرٌ مَجْزُوْمٌ بِهِ لِأَنَّ الْخَبَرَ عَنْ سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ يَقَعُ بِهِ فَإِنَّ الْمُسْتَغْفِرَ يَقُولُ جَزْمًا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهُ يَطْلُبُ الْمَغْفِرَةَ وَيَسْتَدْعِيْهَا بِهَذَا الْقَوْلِ وَلَمْ يَذْكُرِ الْأَوْزَاعِيُّ كَوْنَهُ مُسْنَدًا فَلَمْ يَأْثُرْهُ عَمَّن فَوْقَهُ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ قَالَهُ مِنْ قِبَلِ فَهْمِهِ أَيْ أَنَّ مَعْنَى الِاسْتِغْفَارِ الْمَطْلُوبِ مِنَ الْعَبْدِ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَلَمْ أَجِدْ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ وَلَا الْآثَارِ السَّلَفِيَّةِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالتَّابِعِيْهِمْ مَا يُعَيِّنُ الِاسْتِغْفَارَ الْوَارِدَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي صِيغَتِهِ وَأَمْثَلُ مَا جَاءَ فِيهِ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ . الْحَدِيثَ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ لَكِنَّ الْمَحْفُوظَ فِيهِ لَفْظُ مُسْلِمٍ فِي صَحِيحِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ بَيْنَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ يَعْنِي فِي الْأَذْكَارِ الَّتِي تَكُونُ قَبْلَ سَلَامِ الْإِنْسَانِ فَمَعْنَى قَوْلِهِ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ كَانَ إذَا سَلَّمَ يَعْنِي إذَا قَرُبَ مِنَ التَّسْلِيمِ فَيَجْعَلُهُ مِنْ آخِرِ دُعَائِهِ فَلَمْ يُؤْثَرْ شَيْءٌ مُعَيَّنٌ فِي تَبْيِينِ صِيْغَةِ الِاسْتِغْفَارِ الْمُرَادَةِ فِي قَوْلِ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اسْتَغْفَرَ ثَلاثًا وَوَقَعَ فِي كَلَامِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ الزِّيَادَةُ عَلَى أَسْتَغْفِرُ اللهَ بِأَنَّ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ أَوْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَذَكَرُوا أَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ بِقَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِهَذِهِ الصِّيَغِ الَّتِي ذَكَرْنَا وَالْحُكْمُ بِأَنَّ قَوْلَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هُوَ الْأَقَلُّ لِأَنَّهُ الْمَجْزُومُ بِهِ فَإِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ قُطِعَ بِأَنَّهُ اسْتَغْفَرَ لَكِنْ يَتَعَذَّرُ تَعْيِيْنُهُ جَزْمًا دُونَ غَيْرِهِ إِذْ لَيْسَ فِي الْأَخْبَارِ مَا يَقْتَضِي تَعْيِينَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دُونَ غَيْرِهَا وَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ مَا كَانَ يُلَازِمُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ بَعْدَ نُزُوْلِ سُورَةِ النَّصْرِ عَلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَإِنَّ هَذَا كَانَ أَكْثَرَ اسْتِغْفَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ عُمُرِهِ كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَلَا يُعَكِّرُ كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ وَأَصْلُهُ عِنْدَ الْبُخَارِي وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى هَذَا حَدِيثُ شَدَّادِ ابْنِ أَوْسٍ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ وَذَكَرَ الْذِكْرَ الْمَشْهُورَ فَإِنَّ هَذَا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ بِاعْتِبَارِ عَظَمَةِ مَا فِيهِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فَإِنَّ الْوَارِدَ فِي السُّنَّةِ جَعَلَهُ فِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فِيمَا يُكْثِرُ مِنْهُ الْعَبْدُ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ ذَلِكَ فَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ هُوَ قَوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَاقْتَصَرَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي الْأَذْكَارِ عَلَى قَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهَا أَقَلُّ الْقَدْرِ الْمَجْزُومِ بِهِ فَيُشْرَعُ لِلْفَارِغِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ أَنْ يَسْتَغْفِرَ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَوْ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَهِيَ أَكْمَلُ وَاللهُ أَعْلَمُ  

Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak

Lingkungan adalah salah satu faktor paling menentukan untuk anak menjadi saleh atau tholeh (buruk). Oleh karena itu, banyak di antara orang tua sekarang yang lebih memilih menyekolahkan buah hati tercinta di pesantren-pesantren, sekolah-sekolah berbasis keislaman, atau home schooling di rumah dengan biaya yang tentu tidak murah. Hal ini karena mereka ingin mencari lingkungan tempat belajar yang baik dan kondusif. Hal tersebut semoga menjadi pahala yang besar bagi orang tua tersebut karena telah memikirkan dengan susah payah dan bekerja keras untuk kebaikan putra putri mereka.Namun nyatanya, terkadang realitas tidak sesuai dengan harapan orang tua. Walaupun anak belajar di pondok pesantren, sekolah-sekolah keislaman, mengikuti TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), sang anak ternyata tetap jauh dari kata “saleh”. Tentunya dengan sebab-sebab dan faktor-faktor lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Di sisi yang berbeda, kita lihat ada sebagian orang tua yang kurang agamis, mereka menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri atau sekolah umum, namun atas taufik dan hidayah dari Allah Ta’ala, sang anak menjadi anak yang baik dan saleh. Karena sebab-sebab lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik itu karena faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Ibrah yang bisa diambil adalah, Allah Ta’ala zat yang Maha Perkasa berkuasa mengatur segala makhluk-Nya dan akal manusia begitu lemah sehingga tidak akan mampu bersandar pada dirinya sendiri. Mungkin sebagian orang tua yang sudah “hijrah” berpikir keras dan berjuang untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lain-lain. Akan tetapi, dia lupa untuk menyerahkan urusan pendidikan anak kepada Rabbul ‘alamin, Rabb yang mengatur jagat raya. Lupa berdoa kepada Allah agar Allah memberikan anaknya taufik dan hidayah-Nya. Padahal, doa merupakan salah satu sebab yang paling utama untuk si anak bisa menjadi hamba Allah yang taat.Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam berdoa untuk kesalehan keturunannya, sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” (QS. Ash-Shafat: 100).Allah Ta’ala juga berfirman,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam merupakan bapak para Nabi dan merupakan salah satu dari Ulul ‘Azmi. Tentu tidak ada yang meragukan kemampuan beliau dalam mendidik anak-anaknya. Namun beliau tetap berdoa kepada Allah Ta’ala, menyerahkan urusan ini kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala menganugerahkan kepadanya keturunan yang saleh.Tentu tulisan ini tidak mengandung pesan meremehkan usaha sebagian orang tua yang telah berjuang dan bersusah payah untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lembaga pendidikan lainnya. Namun tulisan ini sekedar pengingat bagi kita semua agar kita tidak lupa untuk selalu berdoa dan menyandarkan hati dalam urusan ini kepada Allah Azza wa Jalla.Dan juga bagi sebagian orang tua yang tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya di pesantren dan sekolah Islam agar tidak berkecil hati dan tidak berputus asa. Karena tentu banyak sebab-sebab lainnya yang dapat diusahakan orang tua dalam mendidik anak. Dengan terus berdoa meminta hidayah kepada Allah dan juga tawakal hanya kepada-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Muhammad Bimo P.Artikel: Muslim.or.id🔍 Gambar Makhluk Hidup, Gambar Orang Berdoa Kepada Allah, Hukum Doa Berjamaah, Hukum Berjilbab Menurut Syariat Islam, 10 Muharram 2019

Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak

Lingkungan adalah salah satu faktor paling menentukan untuk anak menjadi saleh atau tholeh (buruk). Oleh karena itu, banyak di antara orang tua sekarang yang lebih memilih menyekolahkan buah hati tercinta di pesantren-pesantren, sekolah-sekolah berbasis keislaman, atau home schooling di rumah dengan biaya yang tentu tidak murah. Hal ini karena mereka ingin mencari lingkungan tempat belajar yang baik dan kondusif. Hal tersebut semoga menjadi pahala yang besar bagi orang tua tersebut karena telah memikirkan dengan susah payah dan bekerja keras untuk kebaikan putra putri mereka.Namun nyatanya, terkadang realitas tidak sesuai dengan harapan orang tua. Walaupun anak belajar di pondok pesantren, sekolah-sekolah keislaman, mengikuti TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), sang anak ternyata tetap jauh dari kata “saleh”. Tentunya dengan sebab-sebab dan faktor-faktor lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Di sisi yang berbeda, kita lihat ada sebagian orang tua yang kurang agamis, mereka menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri atau sekolah umum, namun atas taufik dan hidayah dari Allah Ta’ala, sang anak menjadi anak yang baik dan saleh. Karena sebab-sebab lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik itu karena faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Ibrah yang bisa diambil adalah, Allah Ta’ala zat yang Maha Perkasa berkuasa mengatur segala makhluk-Nya dan akal manusia begitu lemah sehingga tidak akan mampu bersandar pada dirinya sendiri. Mungkin sebagian orang tua yang sudah “hijrah” berpikir keras dan berjuang untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lain-lain. Akan tetapi, dia lupa untuk menyerahkan urusan pendidikan anak kepada Rabbul ‘alamin, Rabb yang mengatur jagat raya. Lupa berdoa kepada Allah agar Allah memberikan anaknya taufik dan hidayah-Nya. Padahal, doa merupakan salah satu sebab yang paling utama untuk si anak bisa menjadi hamba Allah yang taat.Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam berdoa untuk kesalehan keturunannya, sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” (QS. Ash-Shafat: 100).Allah Ta’ala juga berfirman,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam merupakan bapak para Nabi dan merupakan salah satu dari Ulul ‘Azmi. Tentu tidak ada yang meragukan kemampuan beliau dalam mendidik anak-anaknya. Namun beliau tetap berdoa kepada Allah Ta’ala, menyerahkan urusan ini kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala menganugerahkan kepadanya keturunan yang saleh.Tentu tulisan ini tidak mengandung pesan meremehkan usaha sebagian orang tua yang telah berjuang dan bersusah payah untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lembaga pendidikan lainnya. Namun tulisan ini sekedar pengingat bagi kita semua agar kita tidak lupa untuk selalu berdoa dan menyandarkan hati dalam urusan ini kepada Allah Azza wa Jalla.Dan juga bagi sebagian orang tua yang tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya di pesantren dan sekolah Islam agar tidak berkecil hati dan tidak berputus asa. Karena tentu banyak sebab-sebab lainnya yang dapat diusahakan orang tua dalam mendidik anak. Dengan terus berdoa meminta hidayah kepada Allah dan juga tawakal hanya kepada-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Muhammad Bimo P.Artikel: Muslim.or.id🔍 Gambar Makhluk Hidup, Gambar Orang Berdoa Kepada Allah, Hukum Doa Berjamaah, Hukum Berjilbab Menurut Syariat Islam, 10 Muharram 2019
Lingkungan adalah salah satu faktor paling menentukan untuk anak menjadi saleh atau tholeh (buruk). Oleh karena itu, banyak di antara orang tua sekarang yang lebih memilih menyekolahkan buah hati tercinta di pesantren-pesantren, sekolah-sekolah berbasis keislaman, atau home schooling di rumah dengan biaya yang tentu tidak murah. Hal ini karena mereka ingin mencari lingkungan tempat belajar yang baik dan kondusif. Hal tersebut semoga menjadi pahala yang besar bagi orang tua tersebut karena telah memikirkan dengan susah payah dan bekerja keras untuk kebaikan putra putri mereka.Namun nyatanya, terkadang realitas tidak sesuai dengan harapan orang tua. Walaupun anak belajar di pondok pesantren, sekolah-sekolah keislaman, mengikuti TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), sang anak ternyata tetap jauh dari kata “saleh”. Tentunya dengan sebab-sebab dan faktor-faktor lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Di sisi yang berbeda, kita lihat ada sebagian orang tua yang kurang agamis, mereka menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri atau sekolah umum, namun atas taufik dan hidayah dari Allah Ta’ala, sang anak menjadi anak yang baik dan saleh. Karena sebab-sebab lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik itu karena faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Ibrah yang bisa diambil adalah, Allah Ta’ala zat yang Maha Perkasa berkuasa mengatur segala makhluk-Nya dan akal manusia begitu lemah sehingga tidak akan mampu bersandar pada dirinya sendiri. Mungkin sebagian orang tua yang sudah “hijrah” berpikir keras dan berjuang untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lain-lain. Akan tetapi, dia lupa untuk menyerahkan urusan pendidikan anak kepada Rabbul ‘alamin, Rabb yang mengatur jagat raya. Lupa berdoa kepada Allah agar Allah memberikan anaknya taufik dan hidayah-Nya. Padahal, doa merupakan salah satu sebab yang paling utama untuk si anak bisa menjadi hamba Allah yang taat.Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam berdoa untuk kesalehan keturunannya, sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” (QS. Ash-Shafat: 100).Allah Ta’ala juga berfirman,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam merupakan bapak para Nabi dan merupakan salah satu dari Ulul ‘Azmi. Tentu tidak ada yang meragukan kemampuan beliau dalam mendidik anak-anaknya. Namun beliau tetap berdoa kepada Allah Ta’ala, menyerahkan urusan ini kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala menganugerahkan kepadanya keturunan yang saleh.Tentu tulisan ini tidak mengandung pesan meremehkan usaha sebagian orang tua yang telah berjuang dan bersusah payah untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lembaga pendidikan lainnya. Namun tulisan ini sekedar pengingat bagi kita semua agar kita tidak lupa untuk selalu berdoa dan menyandarkan hati dalam urusan ini kepada Allah Azza wa Jalla.Dan juga bagi sebagian orang tua yang tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya di pesantren dan sekolah Islam agar tidak berkecil hati dan tidak berputus asa. Karena tentu banyak sebab-sebab lainnya yang dapat diusahakan orang tua dalam mendidik anak. Dengan terus berdoa meminta hidayah kepada Allah dan juga tawakal hanya kepada-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Muhammad Bimo P.Artikel: Muslim.or.id🔍 Gambar Makhluk Hidup, Gambar Orang Berdoa Kepada Allah, Hukum Doa Berjamaah, Hukum Berjilbab Menurut Syariat Islam, 10 Muharram 2019


Lingkungan adalah salah satu faktor paling menentukan untuk anak menjadi saleh atau tholeh (buruk). Oleh karena itu, banyak di antara orang tua sekarang yang lebih memilih menyekolahkan buah hati tercinta di pesantren-pesantren, sekolah-sekolah berbasis keislaman, atau home schooling di rumah dengan biaya yang tentu tidak murah. Hal ini karena mereka ingin mencari lingkungan tempat belajar yang baik dan kondusif. Hal tersebut semoga menjadi pahala yang besar bagi orang tua tersebut karena telah memikirkan dengan susah payah dan bekerja keras untuk kebaikan putra putri mereka.Namun nyatanya, terkadang realitas tidak sesuai dengan harapan orang tua. Walaupun anak belajar di pondok pesantren, sekolah-sekolah keislaman, mengikuti TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), sang anak ternyata tetap jauh dari kata “saleh”. Tentunya dengan sebab-sebab dan faktor-faktor lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Di sisi yang berbeda, kita lihat ada sebagian orang tua yang kurang agamis, mereka menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri atau sekolah umum, namun atas taufik dan hidayah dari Allah Ta’ala, sang anak menjadi anak yang baik dan saleh. Karena sebab-sebab lain yang mungkin disadari ataupun tidak disadari oleh orang tuanya. Baik itu karena faktor teman, lingkungan, pergaulan, bacaan, tontonan, dan faktor-faktor lainnya.Ibrah yang bisa diambil adalah, Allah Ta’ala zat yang Maha Perkasa berkuasa mengatur segala makhluk-Nya dan akal manusia begitu lemah sehingga tidak akan mampu bersandar pada dirinya sendiri. Mungkin sebagian orang tua yang sudah “hijrah” berpikir keras dan berjuang untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lain-lain. Akan tetapi, dia lupa untuk menyerahkan urusan pendidikan anak kepada Rabbul ‘alamin, Rabb yang mengatur jagat raya. Lupa berdoa kepada Allah agar Allah memberikan anaknya taufik dan hidayah-Nya. Padahal, doa merupakan salah satu sebab yang paling utama untuk si anak bisa menjadi hamba Allah yang taat.Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam berdoa untuk kesalehan keturunannya, sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” (QS. Ash-Shafat: 100).Allah Ta’ala juga berfirman,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam merupakan bapak para Nabi dan merupakan salah satu dari Ulul ‘Azmi. Tentu tidak ada yang meragukan kemampuan beliau dalam mendidik anak-anaknya. Namun beliau tetap berdoa kepada Allah Ta’ala, menyerahkan urusan ini kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala menganugerahkan kepadanya keturunan yang saleh.Tentu tulisan ini tidak mengandung pesan meremehkan usaha sebagian orang tua yang telah berjuang dan bersusah payah untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, sekolah Islam, dan lembaga pendidikan lainnya. Namun tulisan ini sekedar pengingat bagi kita semua agar kita tidak lupa untuk selalu berdoa dan menyandarkan hati dalam urusan ini kepada Allah Azza wa Jalla.Dan juga bagi sebagian orang tua yang tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya di pesantren dan sekolah Islam agar tidak berkecil hati dan tidak berputus asa. Karena tentu banyak sebab-sebab lainnya yang dapat diusahakan orang tua dalam mendidik anak. Dengan terus berdoa meminta hidayah kepada Allah dan juga tawakal hanya kepada-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Muhammad Bimo P.Artikel: Muslim.or.id🔍 Gambar Makhluk Hidup, Gambar Orang Berdoa Kepada Allah, Hukum Doa Berjamaah, Hukum Berjilbab Menurut Syariat Islam, 10 Muharram 2019

Amal Kita Masih Sedikit

Berbuatlah ikhlas untuk amal yang sedikit. Abul Qosim Al-Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.” Baca juga: Berusaha untuk Ikhlas Maimun bin Mihran rahimahullah (seorang tabiin) berkata: ‏إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيلَةٌ ‏فَأَخْلِصُوا هَذَا الْقَلِيلَ … Sungguh amal kalian itu amatlah sedikit. Berbuat ikhlaslah untuk yang sedikit ini. (Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, 4:29) Pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan Maimun bin Mihran: 1. Kita jangan merasa telah beramal banyak. 2. Selalulah merasa kurang dalam beramal, jangan pernah puas dengan yang sedikit. 3. Ibadah itu harus ikhlas, cari ridha Allah. 4. Amalan yang kecil saja harus ikhlas, apalagi amalan yang besar. Semoga semua amal kita diterima oleh Allah dan selalu ikhlas meraih rida-Nya. — Catatan 29 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amalan ikhlas tauhid

Amal Kita Masih Sedikit

Berbuatlah ikhlas untuk amal yang sedikit. Abul Qosim Al-Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.” Baca juga: Berusaha untuk Ikhlas Maimun bin Mihran rahimahullah (seorang tabiin) berkata: ‏إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيلَةٌ ‏فَأَخْلِصُوا هَذَا الْقَلِيلَ … Sungguh amal kalian itu amatlah sedikit. Berbuat ikhlaslah untuk yang sedikit ini. (Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, 4:29) Pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan Maimun bin Mihran: 1. Kita jangan merasa telah beramal banyak. 2. Selalulah merasa kurang dalam beramal, jangan pernah puas dengan yang sedikit. 3. Ibadah itu harus ikhlas, cari ridha Allah. 4. Amalan yang kecil saja harus ikhlas, apalagi amalan yang besar. Semoga semua amal kita diterima oleh Allah dan selalu ikhlas meraih rida-Nya. — Catatan 29 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amalan ikhlas tauhid
Berbuatlah ikhlas untuk amal yang sedikit. Abul Qosim Al-Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.” Baca juga: Berusaha untuk Ikhlas Maimun bin Mihran rahimahullah (seorang tabiin) berkata: ‏إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيلَةٌ ‏فَأَخْلِصُوا هَذَا الْقَلِيلَ … Sungguh amal kalian itu amatlah sedikit. Berbuat ikhlaslah untuk yang sedikit ini. (Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, 4:29) Pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan Maimun bin Mihran: 1. Kita jangan merasa telah beramal banyak. 2. Selalulah merasa kurang dalam beramal, jangan pernah puas dengan yang sedikit. 3. Ibadah itu harus ikhlas, cari ridha Allah. 4. Amalan yang kecil saja harus ikhlas, apalagi amalan yang besar. Semoga semua amal kita diterima oleh Allah dan selalu ikhlas meraih rida-Nya. — Catatan 29 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amalan ikhlas tauhid


Berbuatlah ikhlas untuk amal yang sedikit. Abul Qosim Al-Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.” Baca juga: Berusaha untuk Ikhlas Maimun bin Mihran rahimahullah (seorang tabiin) berkata: ‏إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيلَةٌ ‏فَأَخْلِصُوا هَذَا الْقَلِيلَ … Sungguh amal kalian itu amatlah sedikit. Berbuat ikhlaslah untuk yang sedikit ini. (Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, 4:29) Pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan Maimun bin Mihran: 1. Kita jangan merasa telah beramal banyak. 2. Selalulah merasa kurang dalam beramal, jangan pernah puas dengan yang sedikit. 3. Ibadah itu harus ikhlas, cari ridha Allah. 4. Amalan yang kecil saja harus ikhlas, apalagi amalan yang besar. Semoga semua amal kita diterima oleh Allah dan selalu ikhlas meraih rida-Nya. — Catatan 29 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amalan ikhlas tauhid

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Jika seseorang memulai shalatnya, Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah: Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih. Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi” ..bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an, yaitu periwayatan para ulama qira’at. Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berbagai macam lafazh ta’awwudz, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini. Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Jika kamu membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Inilah lafazh yang diutamakan, sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya, “Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.” Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini. Dan jika hendak menambah lafazhnya, hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at. Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim” Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.” Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.” membacanya dengan idgham atau tidak. Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at. Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at, karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan oleh sekelompok ulama salaf. Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih. Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat, sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan. Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah karena seorang hamba tidak memiliki cara lain kecuali dengan berlindung kepada Allah. Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia, maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik, maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.” Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata, “Setanmu yang menggoda adalah musuhmu maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya, dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu). =============================================================================== إِذَا اسْتَفْتَحَ الْمُصَلِّيُّ شُرِعَتْ لَهُ سُنَّتَانِ اثْنَتَانِ السُّنَّةُ الْأُوْلَى أَنْ يَتَعَوَّذَ وَتَعَوُّذُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَنْقُولُ بِالطُّرُقِ الْحَديثِيَّةِ فِي السُّنَنِ وَغَيْرِهَا لَا يَثْبُتُ مِنْهُ حَديثٌ وَاحِدٌ فَكُلُّ الْأَحَادِيثِ الْمَرْوِيَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ مِثْلُ أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَإِنَّمَا تَثْبُتُ الْاِسْتِعَاذَةُ بِطَرِيقِ النَّقْلِ الْقُرْآنِيِّ وَهُوَ نَقْلُ عُلَمَاءِ الْقِرَاءَاتِ وَقَدْ نَقَلَ عُلَمَاءُ الْقِرَاءَاتِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْوَاعًا عِدَّةً ذَكَرَهَا ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّشْرِ وَغَيْرُهِ أَجَمْعُهَا وَهُوَ الَّذِي وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ جَمْعَاءٌ بَيْنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ هُوَ قَوْلُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ اِئْتِمَارًا بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَهَذَا هُوَ اللَّفْظُ الْمُقَدَّمُ كَمَا قَالَ الشَّاطِبِيُّ فِي قَصِيدَتِهِ إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ جِهَارًا مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلًا عَلَى مَا أَتَى فِي النَّحْلِ يُسْرًا وَإِنْ تَزِدْ لِرَبِّكَ تَنْزِيهًا فَلَسْتَ مُجَهَّلًا فَالْعَبْدُ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِهَذَا اللَّفْظِ الَّذِي اتُّفِقَ عَلَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ الزِّيَادَةَ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِالْإِدْغَامِ وَعَدَمِهِ وَثَمَّ أَوْجُهٌ أُخْرَى ذَكَرَهَا الْقُرَّاءُ وَالْمَقْصُودُ أَنْ تَعْرِفَ أَنَّ الْاِسْتِعَاذَةَ الثَّابِتَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِي بِطَرِيقِ نَقْلِ الْقِرَاءَاتِ لِأَنَّ الْقِرَاءَاتِ مُتَلَقَّاةٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالْقِرَاءةُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ كَمَا صَحَّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَأَمَّا الْأَحَادِيْثُ الْمَروِيَّةُ فِي صِفَةِ صِلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فَلَا يَثْبُتُ مِنْهَا حَدِيثٌ وَإِنَّمَا شُرِعَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي صَدْرِ صِلَاتِهِ لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِذَلِكَ عَدُوَّ الْبَاطِنِ عَنْهُ فَإِنَّ الْمَرْءَ لَهُ نَوْعَانِ مِنَ الْأَعْدَاءِ أَحَدُهُمَا عَدُوُّ الْبَاطِنِ وَهُوَ الشَّيْطَانُ وَالثَّانِي عَدُوُّ الظَّاهِرِ وَهُمْ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ وَقَدْ دَلَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ عَلَى أَنَّ عَدُوَّ الْبَاطِنِ يُدْفَعُ بِالْاِسْتِعَاذَةِ بِاللهِ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَيْهِ إِلَّا بِالْاِلْتِجَاءِ وَالْاِعْتِصَامِ إِلَى اللهِ أَمَّا عَدُوُّ الظَّاهِرِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ فَإِنَّهُ يُدْفَعُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ كَمَا قَالَ تَعَالَى اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ شَيْطَانُكَ الْمُغْوِي عَدُوٌّ فَاعْتَصِمْ بِاللهِ مِنْهُ وَالْتَجِي وَتَعَوَّذِ وَعَدُوُّكَ الْإِنْسِيُّ دَارِ وِدَادَهُ تَمْلِكُهُ وَادْفَعْ بِالَّتِي فَإِذَا الَّذِي  

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Jika seseorang memulai shalatnya, Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah: Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih. Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi” ..bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an, yaitu periwayatan para ulama qira’at. Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berbagai macam lafazh ta’awwudz, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini. Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Jika kamu membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Inilah lafazh yang diutamakan, sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya, “Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.” Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini. Dan jika hendak menambah lafazhnya, hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at. Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim” Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.” Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.” membacanya dengan idgham atau tidak. Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at. Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at, karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan oleh sekelompok ulama salaf. Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih. Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat, sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan. Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah karena seorang hamba tidak memiliki cara lain kecuali dengan berlindung kepada Allah. Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia, maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik, maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.” Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata, “Setanmu yang menggoda adalah musuhmu maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya, dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu). =============================================================================== إِذَا اسْتَفْتَحَ الْمُصَلِّيُّ شُرِعَتْ لَهُ سُنَّتَانِ اثْنَتَانِ السُّنَّةُ الْأُوْلَى أَنْ يَتَعَوَّذَ وَتَعَوُّذُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَنْقُولُ بِالطُّرُقِ الْحَديثِيَّةِ فِي السُّنَنِ وَغَيْرِهَا لَا يَثْبُتُ مِنْهُ حَديثٌ وَاحِدٌ فَكُلُّ الْأَحَادِيثِ الْمَرْوِيَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ مِثْلُ أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَإِنَّمَا تَثْبُتُ الْاِسْتِعَاذَةُ بِطَرِيقِ النَّقْلِ الْقُرْآنِيِّ وَهُوَ نَقْلُ عُلَمَاءِ الْقِرَاءَاتِ وَقَدْ نَقَلَ عُلَمَاءُ الْقِرَاءَاتِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْوَاعًا عِدَّةً ذَكَرَهَا ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّشْرِ وَغَيْرُهِ أَجَمْعُهَا وَهُوَ الَّذِي وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ جَمْعَاءٌ بَيْنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ هُوَ قَوْلُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ اِئْتِمَارًا بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَهَذَا هُوَ اللَّفْظُ الْمُقَدَّمُ كَمَا قَالَ الشَّاطِبِيُّ فِي قَصِيدَتِهِ إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ جِهَارًا مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلًا عَلَى مَا أَتَى فِي النَّحْلِ يُسْرًا وَإِنْ تَزِدْ لِرَبِّكَ تَنْزِيهًا فَلَسْتَ مُجَهَّلًا فَالْعَبْدُ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِهَذَا اللَّفْظِ الَّذِي اتُّفِقَ عَلَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ الزِّيَادَةَ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِالْإِدْغَامِ وَعَدَمِهِ وَثَمَّ أَوْجُهٌ أُخْرَى ذَكَرَهَا الْقُرَّاءُ وَالْمَقْصُودُ أَنْ تَعْرِفَ أَنَّ الْاِسْتِعَاذَةَ الثَّابِتَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِي بِطَرِيقِ نَقْلِ الْقِرَاءَاتِ لِأَنَّ الْقِرَاءَاتِ مُتَلَقَّاةٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالْقِرَاءةُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ كَمَا صَحَّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَأَمَّا الْأَحَادِيْثُ الْمَروِيَّةُ فِي صِفَةِ صِلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فَلَا يَثْبُتُ مِنْهَا حَدِيثٌ وَإِنَّمَا شُرِعَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي صَدْرِ صِلَاتِهِ لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِذَلِكَ عَدُوَّ الْبَاطِنِ عَنْهُ فَإِنَّ الْمَرْءَ لَهُ نَوْعَانِ مِنَ الْأَعْدَاءِ أَحَدُهُمَا عَدُوُّ الْبَاطِنِ وَهُوَ الشَّيْطَانُ وَالثَّانِي عَدُوُّ الظَّاهِرِ وَهُمْ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ وَقَدْ دَلَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ عَلَى أَنَّ عَدُوَّ الْبَاطِنِ يُدْفَعُ بِالْاِسْتِعَاذَةِ بِاللهِ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَيْهِ إِلَّا بِالْاِلْتِجَاءِ وَالْاِعْتِصَامِ إِلَى اللهِ أَمَّا عَدُوُّ الظَّاهِرِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ فَإِنَّهُ يُدْفَعُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ كَمَا قَالَ تَعَالَى اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ شَيْطَانُكَ الْمُغْوِي عَدُوٌّ فَاعْتَصِمْ بِاللهِ مِنْهُ وَالْتَجِي وَتَعَوَّذِ وَعَدُوُّكَ الْإِنْسِيُّ دَارِ وِدَادَهُ تَمْلِكُهُ وَادْفَعْ بِالَّتِي فَإِذَا الَّذِي  
Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Jika seseorang memulai shalatnya, Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah: Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih. Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi” ..bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an, yaitu periwayatan para ulama qira’at. Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berbagai macam lafazh ta’awwudz, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini. Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Jika kamu membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Inilah lafazh yang diutamakan, sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya, “Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.” Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini. Dan jika hendak menambah lafazhnya, hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at. Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim” Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.” Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.” membacanya dengan idgham atau tidak. Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at. Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at, karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan oleh sekelompok ulama salaf. Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih. Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat, sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan. Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah karena seorang hamba tidak memiliki cara lain kecuali dengan berlindung kepada Allah. Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia, maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik, maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.” Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata, “Setanmu yang menggoda adalah musuhmu maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya, dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu). =============================================================================== إِذَا اسْتَفْتَحَ الْمُصَلِّيُّ شُرِعَتْ لَهُ سُنَّتَانِ اثْنَتَانِ السُّنَّةُ الْأُوْلَى أَنْ يَتَعَوَّذَ وَتَعَوُّذُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَنْقُولُ بِالطُّرُقِ الْحَديثِيَّةِ فِي السُّنَنِ وَغَيْرِهَا لَا يَثْبُتُ مِنْهُ حَديثٌ وَاحِدٌ فَكُلُّ الْأَحَادِيثِ الْمَرْوِيَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ مِثْلُ أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَإِنَّمَا تَثْبُتُ الْاِسْتِعَاذَةُ بِطَرِيقِ النَّقْلِ الْقُرْآنِيِّ وَهُوَ نَقْلُ عُلَمَاءِ الْقِرَاءَاتِ وَقَدْ نَقَلَ عُلَمَاءُ الْقِرَاءَاتِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْوَاعًا عِدَّةً ذَكَرَهَا ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّشْرِ وَغَيْرُهِ أَجَمْعُهَا وَهُوَ الَّذِي وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ جَمْعَاءٌ بَيْنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ هُوَ قَوْلُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ اِئْتِمَارًا بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَهَذَا هُوَ اللَّفْظُ الْمُقَدَّمُ كَمَا قَالَ الشَّاطِبِيُّ فِي قَصِيدَتِهِ إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ جِهَارًا مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلًا عَلَى مَا أَتَى فِي النَّحْلِ يُسْرًا وَإِنْ تَزِدْ لِرَبِّكَ تَنْزِيهًا فَلَسْتَ مُجَهَّلًا فَالْعَبْدُ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِهَذَا اللَّفْظِ الَّذِي اتُّفِقَ عَلَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ الزِّيَادَةَ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِالْإِدْغَامِ وَعَدَمِهِ وَثَمَّ أَوْجُهٌ أُخْرَى ذَكَرَهَا الْقُرَّاءُ وَالْمَقْصُودُ أَنْ تَعْرِفَ أَنَّ الْاِسْتِعَاذَةَ الثَّابِتَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِي بِطَرِيقِ نَقْلِ الْقِرَاءَاتِ لِأَنَّ الْقِرَاءَاتِ مُتَلَقَّاةٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالْقِرَاءةُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ كَمَا صَحَّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَأَمَّا الْأَحَادِيْثُ الْمَروِيَّةُ فِي صِفَةِ صِلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فَلَا يَثْبُتُ مِنْهَا حَدِيثٌ وَإِنَّمَا شُرِعَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي صَدْرِ صِلَاتِهِ لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِذَلِكَ عَدُوَّ الْبَاطِنِ عَنْهُ فَإِنَّ الْمَرْءَ لَهُ نَوْعَانِ مِنَ الْأَعْدَاءِ أَحَدُهُمَا عَدُوُّ الْبَاطِنِ وَهُوَ الشَّيْطَانُ وَالثَّانِي عَدُوُّ الظَّاهِرِ وَهُمْ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ وَقَدْ دَلَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ عَلَى أَنَّ عَدُوَّ الْبَاطِنِ يُدْفَعُ بِالْاِسْتِعَاذَةِ بِاللهِ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَيْهِ إِلَّا بِالْاِلْتِجَاءِ وَالْاِعْتِصَامِ إِلَى اللهِ أَمَّا عَدُوُّ الظَّاهِرِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ فَإِنَّهُ يُدْفَعُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ كَمَا قَالَ تَعَالَى اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ شَيْطَانُكَ الْمُغْوِي عَدُوٌّ فَاعْتَصِمْ بِاللهِ مِنْهُ وَالْتَجِي وَتَعَوَّذِ وَعَدُوُّكَ الْإِنْسِيُّ دَارِ وِدَادَهُ تَمْلِكُهُ وَادْفَعْ بِالَّتِي فَإِذَا الَّذِي  


Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Jika seseorang memulai shalatnya, Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah: Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih. Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi” ..bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an, yaitu periwayatan para ulama qira’at. Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berbagai macam lafazh ta’awwudz, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini. Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Jika kamu membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Inilah lafazh yang diutamakan, sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya, “Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.” Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini. Dan jika hendak menambah lafazhnya, hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at. Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim” Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.” Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.” membacanya dengan idgham atau tidak. Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at. Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at, karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan oleh sekelompok ulama salaf. Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih. Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat, sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan. Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah karena seorang hamba tidak memiliki cara lain kecuali dengan berlindung kepada Allah. Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia, maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik, maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.” Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata, “Setanmu yang menggoda adalah musuhmu maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya, dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu). =============================================================================== إِذَا اسْتَفْتَحَ الْمُصَلِّيُّ شُرِعَتْ لَهُ سُنَّتَانِ اثْنَتَانِ السُّنَّةُ الْأُوْلَى أَنْ يَتَعَوَّذَ وَتَعَوُّذُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَنْقُولُ بِالطُّرُقِ الْحَديثِيَّةِ فِي السُّنَنِ وَغَيْرِهَا لَا يَثْبُتُ مِنْهُ حَديثٌ وَاحِدٌ فَكُلُّ الْأَحَادِيثِ الْمَرْوِيَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ مِثْلُ أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَإِنَّمَا تَثْبُتُ الْاِسْتِعَاذَةُ بِطَرِيقِ النَّقْلِ الْقُرْآنِيِّ وَهُوَ نَقْلُ عُلَمَاءِ الْقِرَاءَاتِ وَقَدْ نَقَلَ عُلَمَاءُ الْقِرَاءَاتِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْوَاعًا عِدَّةً ذَكَرَهَا ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّشْرِ وَغَيْرُهِ أَجَمْعُهَا وَهُوَ الَّذِي وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ جَمْعَاءٌ بَيْنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ هُوَ قَوْلُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ اِئْتِمَارًا بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَهَذَا هُوَ اللَّفْظُ الْمُقَدَّمُ كَمَا قَالَ الشَّاطِبِيُّ فِي قَصِيدَتِهِ إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ جِهَارًا مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلًا عَلَى مَا أَتَى فِي النَّحْلِ يُسْرًا وَإِنْ تَزِدْ لِرَبِّكَ تَنْزِيهًا فَلَسْتَ مُجَهَّلًا فَالْعَبْدُ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِهَذَا اللَّفْظِ الَّذِي اتُّفِقَ عَلَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ الزِّيَادَةَ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِالْإِدْغَامِ وَعَدَمِهِ وَثَمَّ أَوْجُهٌ أُخْرَى ذَكَرَهَا الْقُرَّاءُ وَالْمَقْصُودُ أَنْ تَعْرِفَ أَنَّ الْاِسْتِعَاذَةَ الثَّابِتَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِي بِطَرِيقِ نَقْلِ الْقِرَاءَاتِ لِأَنَّ الْقِرَاءَاتِ مُتَلَقَّاةٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالْقِرَاءةُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ كَمَا صَحَّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَأَمَّا الْأَحَادِيْثُ الْمَروِيَّةُ فِي صِفَةِ صِلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فَلَا يَثْبُتُ مِنْهَا حَدِيثٌ وَإِنَّمَا شُرِعَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي صَدْرِ صِلَاتِهِ لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِذَلِكَ عَدُوَّ الْبَاطِنِ عَنْهُ فَإِنَّ الْمَرْءَ لَهُ نَوْعَانِ مِنَ الْأَعْدَاءِ أَحَدُهُمَا عَدُوُّ الْبَاطِنِ وَهُوَ الشَّيْطَانُ وَالثَّانِي عَدُوُّ الظَّاهِرِ وَهُمْ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ وَقَدْ دَلَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ عَلَى أَنَّ عَدُوَّ الْبَاطِنِ يُدْفَعُ بِالْاِسْتِعَاذَةِ بِاللهِ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَيْهِ إِلَّا بِالْاِلْتِجَاءِ وَالْاِعْتِصَامِ إِلَى اللهِ أَمَّا عَدُوُّ الظَّاهِرِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ فَإِنَّهُ يُدْفَعُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ كَمَا قَالَ تَعَالَى اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ شَيْطَانُكَ الْمُغْوِي عَدُوٌّ فَاعْتَصِمْ بِاللهِ مِنْهُ وَالْتَجِي وَتَعَوَّذِ وَعَدُوُّكَ الْإِنْسِيُّ دَارِ وِدَادَهُ تَمْلِكُهُ وَادْفَعْ بِالَّتِي فَإِذَا الَّذِي  
Prev     Next