Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Keutamaan dan Keberkahan Waktu Pagi

Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112

Keutamaan dan Keberkahan Waktu Pagi

Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112
Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112


Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112

Penjelasan Hadits: “Allah Menciptakan Adam dalam Bentuk-Nya”

Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Penjelasan Hadits: “Allah Menciptakan Adam dalam Bentuk-Nya”

Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Bagaimanakah Para Salaf Menjaga Takbiratul Ihram Bersama Imam

Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Bagaimanakah Para Salaf Menjaga Takbiratul Ihram Bersama Imam

Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.
Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.


Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Shalat, di antara Wasiat Terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Akhir hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sahabat mendirikan salat berjamaahMusibah paling besar yang menimpa umat ini adalah musibah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada umat ini dengan mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memberikan petunjuk jalan menuju surga dan menuntun umat ini menuju kemuliaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam (pemimpin) dalam semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Dalam ungkapan tersebut, terdapat banyak nasihat dan pelajaran yang selayaknya untuk diperhatikan. Di antara yang paling penting adalah yang berkaitan dengan masalah salat dan kedudukannya dalam Islam.Salat terakhir yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah salat Zuhur pada hari Kamis. Setelah itu, sakit beliau bertambah parah dan selama tiga hari berikutnya beliau tidak mampu keluar rumah untuk salat berjamaah, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Yang menggantikan posisi beliau sebagai imam salat bagi kaum muslimin adalah sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Di waktu fajar hari Senin, hari ketika beliau wafat, beliau membuka jendela kamarnya untuk melihat para sahabatnya dengan tatapan mata perpisahan. Betapa besarnya perpisahan yang terjadi pada hari itu. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلاَةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا وَهُوَ قَائِمٌ كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنَ الفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلاَةِ «فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلاَتَكُمْ وَأَرْخَى السِّتْرَ فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ“Abu Bakar pernah mengimami mereka salat di saat sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pada kewafatannya. Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (saf) salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap tabir kamar dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas. Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan saf karena menduga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar untuk salat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat kepada kami agar, “Teruskanlah salat kalian.” Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga.” (HR. Bukhari no. 680 dan Muslim no. 419)Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Salat BerjamaahRenungkanlah hal ini, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya di masjid dengan tatapan mata perpisahan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya dengan pandangan yang menyejukkan dan menyenangkan hati karena melihat para sahabatnya sedang mendirikan salat. Memang, salat adalah qurrota a’yun (penyenang hati) di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah menjadikan akhir hidup beliau dengan melihat umatnya berkumpul di masjid di pagi hari mendirikan salat jamaah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan penuh kebahagiaan melihat umatnya mendirikan salat jamaah, yang merupakan pemandangan yang menyejukkan dan menggembirakan hati beliau.Salat, di antara wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSalat juga menjadi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir kehidupannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Kerjakanlah) salat, (kerjakanlah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4616)Dalam riwayat yang lain, terdapat penegasan yang lebih lagi, sebagaimana teks hadis dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ: الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, ketika beliau sakaratul maut yaitu, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” (HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2178)Demikian pula dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,كَانَ مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِي صَدْرِهِ، وَمَا يَفِيصُ بِهَا لِسَانُهُ“Sesungguhnya wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat adalah, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” Beliau terus-menerus mengulang perkataan tersebut dan lisan beliau tidak berhenti.” (HR. Ahmad no. 26483, 26684 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 7060. Sanadnya dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 7: 238)Hal ini, tanpa diragukan lagi menunjukkan tingginya kedudukan salat dalam Islam dan betapa besar perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah salat. [1]Baca Juga: Salat Sambil Membaca Mushaf Al-Qur’anIronisnya, banyak di tengah-tengah kaum muslimin yang menjadikan malam isra’ mi’raj sebagai malam perayaan, namun di saat yang sama mereka meninggalkan dan menyia-nyiakan salat jama’ah! Betapa banyak di antara kaum muslimin yang tidak melewatkan perayaan malam isra’ dan mi’raj ini, namun di saat yang sama mereka meremehkan salat? Lalu, di manakah sisi ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam salat?Jangan tinggalkan salatDari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang salat dan bersabda,مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ“Siapa saja yang menjaga ibadah salat, maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan siapa saja yang tidak menjaga ibadah salat, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan pada hari kiamat, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576 dan Ibnu Hibban no. 1467. Syaikh Ibnu Baaz berkata dalam Majmu’ Fataawa (10: 278), “Sanadnya hasan.”)Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan salat dan tidak mau menjaga salat, mereka akan dikumpulkan bersama-sama dengan pembesar orang kafir. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari hal itu.Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sungguh, yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82)Dari sahabat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dan mereka adalah salat. Siapa saja yang meninggalkan salat, sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad no. 22937, At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 4143)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ“Barangsiapa salat seperti salat kita, menghadap ke arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim. Dia memiliki perlindungan dari Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” (HR. Bukhari no. 391)Hadis-hadis tentang masalah ini sangatlah banyak.Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan melaksanakan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 21 Rabi’ul awwal 1442/ 7 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Silakan dibaca kembali tulisan-tulisan sebelumnya yang membahas hal ini:Keistimewaan Ibadah Shalat[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 17-22, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Shalat, di antara Wasiat Terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Akhir hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sahabat mendirikan salat berjamaahMusibah paling besar yang menimpa umat ini adalah musibah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada umat ini dengan mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memberikan petunjuk jalan menuju surga dan menuntun umat ini menuju kemuliaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam (pemimpin) dalam semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Dalam ungkapan tersebut, terdapat banyak nasihat dan pelajaran yang selayaknya untuk diperhatikan. Di antara yang paling penting adalah yang berkaitan dengan masalah salat dan kedudukannya dalam Islam.Salat terakhir yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah salat Zuhur pada hari Kamis. Setelah itu, sakit beliau bertambah parah dan selama tiga hari berikutnya beliau tidak mampu keluar rumah untuk salat berjamaah, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Yang menggantikan posisi beliau sebagai imam salat bagi kaum muslimin adalah sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Di waktu fajar hari Senin, hari ketika beliau wafat, beliau membuka jendela kamarnya untuk melihat para sahabatnya dengan tatapan mata perpisahan. Betapa besarnya perpisahan yang terjadi pada hari itu. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلاَةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا وَهُوَ قَائِمٌ كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنَ الفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلاَةِ «فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلاَتَكُمْ وَأَرْخَى السِّتْرَ فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ“Abu Bakar pernah mengimami mereka salat di saat sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pada kewafatannya. Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (saf) salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap tabir kamar dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas. Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan saf karena menduga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar untuk salat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat kepada kami agar, “Teruskanlah salat kalian.” Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga.” (HR. Bukhari no. 680 dan Muslim no. 419)Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Salat BerjamaahRenungkanlah hal ini, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya di masjid dengan tatapan mata perpisahan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya dengan pandangan yang menyejukkan dan menyenangkan hati karena melihat para sahabatnya sedang mendirikan salat. Memang, salat adalah qurrota a’yun (penyenang hati) di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah menjadikan akhir hidup beliau dengan melihat umatnya berkumpul di masjid di pagi hari mendirikan salat jamaah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan penuh kebahagiaan melihat umatnya mendirikan salat jamaah, yang merupakan pemandangan yang menyejukkan dan menggembirakan hati beliau.Salat, di antara wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSalat juga menjadi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir kehidupannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Kerjakanlah) salat, (kerjakanlah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4616)Dalam riwayat yang lain, terdapat penegasan yang lebih lagi, sebagaimana teks hadis dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ: الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, ketika beliau sakaratul maut yaitu, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” (HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2178)Demikian pula dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,كَانَ مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِي صَدْرِهِ، وَمَا يَفِيصُ بِهَا لِسَانُهُ“Sesungguhnya wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat adalah, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” Beliau terus-menerus mengulang perkataan tersebut dan lisan beliau tidak berhenti.” (HR. Ahmad no. 26483, 26684 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 7060. Sanadnya dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 7: 238)Hal ini, tanpa diragukan lagi menunjukkan tingginya kedudukan salat dalam Islam dan betapa besar perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah salat. [1]Baca Juga: Salat Sambil Membaca Mushaf Al-Qur’anIronisnya, banyak di tengah-tengah kaum muslimin yang menjadikan malam isra’ mi’raj sebagai malam perayaan, namun di saat yang sama mereka meninggalkan dan menyia-nyiakan salat jama’ah! Betapa banyak di antara kaum muslimin yang tidak melewatkan perayaan malam isra’ dan mi’raj ini, namun di saat yang sama mereka meremehkan salat? Lalu, di manakah sisi ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam salat?Jangan tinggalkan salatDari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang salat dan bersabda,مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ“Siapa saja yang menjaga ibadah salat, maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan siapa saja yang tidak menjaga ibadah salat, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan pada hari kiamat, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576 dan Ibnu Hibban no. 1467. Syaikh Ibnu Baaz berkata dalam Majmu’ Fataawa (10: 278), “Sanadnya hasan.”)Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan salat dan tidak mau menjaga salat, mereka akan dikumpulkan bersama-sama dengan pembesar orang kafir. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari hal itu.Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sungguh, yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82)Dari sahabat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dan mereka adalah salat. Siapa saja yang meninggalkan salat, sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad no. 22937, At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 4143)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ“Barangsiapa salat seperti salat kita, menghadap ke arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim. Dia memiliki perlindungan dari Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” (HR. Bukhari no. 391)Hadis-hadis tentang masalah ini sangatlah banyak.Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan melaksanakan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 21 Rabi’ul awwal 1442/ 7 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Silakan dibaca kembali tulisan-tulisan sebelumnya yang membahas hal ini:Keistimewaan Ibadah Shalat[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 17-22, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.
Akhir hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sahabat mendirikan salat berjamaahMusibah paling besar yang menimpa umat ini adalah musibah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada umat ini dengan mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memberikan petunjuk jalan menuju surga dan menuntun umat ini menuju kemuliaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam (pemimpin) dalam semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Dalam ungkapan tersebut, terdapat banyak nasihat dan pelajaran yang selayaknya untuk diperhatikan. Di antara yang paling penting adalah yang berkaitan dengan masalah salat dan kedudukannya dalam Islam.Salat terakhir yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah salat Zuhur pada hari Kamis. Setelah itu, sakit beliau bertambah parah dan selama tiga hari berikutnya beliau tidak mampu keluar rumah untuk salat berjamaah, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Yang menggantikan posisi beliau sebagai imam salat bagi kaum muslimin adalah sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Di waktu fajar hari Senin, hari ketika beliau wafat, beliau membuka jendela kamarnya untuk melihat para sahabatnya dengan tatapan mata perpisahan. Betapa besarnya perpisahan yang terjadi pada hari itu. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلاَةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا وَهُوَ قَائِمٌ كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنَ الفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلاَةِ «فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلاَتَكُمْ وَأَرْخَى السِّتْرَ فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ“Abu Bakar pernah mengimami mereka salat di saat sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pada kewafatannya. Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (saf) salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap tabir kamar dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas. Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan saf karena menduga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar untuk salat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat kepada kami agar, “Teruskanlah salat kalian.” Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga.” (HR. Bukhari no. 680 dan Muslim no. 419)Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Salat BerjamaahRenungkanlah hal ini, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya di masjid dengan tatapan mata perpisahan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya dengan pandangan yang menyejukkan dan menyenangkan hati karena melihat para sahabatnya sedang mendirikan salat. Memang, salat adalah qurrota a’yun (penyenang hati) di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah menjadikan akhir hidup beliau dengan melihat umatnya berkumpul di masjid di pagi hari mendirikan salat jamaah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan penuh kebahagiaan melihat umatnya mendirikan salat jamaah, yang merupakan pemandangan yang menyejukkan dan menggembirakan hati beliau.Salat, di antara wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSalat juga menjadi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir kehidupannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Kerjakanlah) salat, (kerjakanlah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4616)Dalam riwayat yang lain, terdapat penegasan yang lebih lagi, sebagaimana teks hadis dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ: الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, ketika beliau sakaratul maut yaitu, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” (HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2178)Demikian pula dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,كَانَ مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِي صَدْرِهِ، وَمَا يَفِيصُ بِهَا لِسَانُهُ“Sesungguhnya wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat adalah, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” Beliau terus-menerus mengulang perkataan tersebut dan lisan beliau tidak berhenti.” (HR. Ahmad no. 26483, 26684 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 7060. Sanadnya dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 7: 238)Hal ini, tanpa diragukan lagi menunjukkan tingginya kedudukan salat dalam Islam dan betapa besar perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah salat. [1]Baca Juga: Salat Sambil Membaca Mushaf Al-Qur’anIronisnya, banyak di tengah-tengah kaum muslimin yang menjadikan malam isra’ mi’raj sebagai malam perayaan, namun di saat yang sama mereka meninggalkan dan menyia-nyiakan salat jama’ah! Betapa banyak di antara kaum muslimin yang tidak melewatkan perayaan malam isra’ dan mi’raj ini, namun di saat yang sama mereka meremehkan salat? Lalu, di manakah sisi ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam salat?Jangan tinggalkan salatDari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang salat dan bersabda,مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ“Siapa saja yang menjaga ibadah salat, maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan siapa saja yang tidak menjaga ibadah salat, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan pada hari kiamat, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576 dan Ibnu Hibban no. 1467. Syaikh Ibnu Baaz berkata dalam Majmu’ Fataawa (10: 278), “Sanadnya hasan.”)Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan salat dan tidak mau menjaga salat, mereka akan dikumpulkan bersama-sama dengan pembesar orang kafir. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari hal itu.Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sungguh, yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82)Dari sahabat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dan mereka adalah salat. Siapa saja yang meninggalkan salat, sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad no. 22937, At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 4143)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ“Barangsiapa salat seperti salat kita, menghadap ke arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim. Dia memiliki perlindungan dari Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” (HR. Bukhari no. 391)Hadis-hadis tentang masalah ini sangatlah banyak.Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan melaksanakan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 21 Rabi’ul awwal 1442/ 7 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Silakan dibaca kembali tulisan-tulisan sebelumnya yang membahas hal ini:Keistimewaan Ibadah Shalat[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 17-22, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.


Akhir hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sahabat mendirikan salat berjamaahMusibah paling besar yang menimpa umat ini adalah musibah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada umat ini dengan mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memberikan petunjuk jalan menuju surga dan menuntun umat ini menuju kemuliaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam (pemimpin) dalam semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Dalam ungkapan tersebut, terdapat banyak nasihat dan pelajaran yang selayaknya untuk diperhatikan. Di antara yang paling penting adalah yang berkaitan dengan masalah salat dan kedudukannya dalam Islam.Salat terakhir yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah salat Zuhur pada hari Kamis. Setelah itu, sakit beliau bertambah parah dan selama tiga hari berikutnya beliau tidak mampu keluar rumah untuk salat berjamaah, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Yang menggantikan posisi beliau sebagai imam salat bagi kaum muslimin adalah sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Di waktu fajar hari Senin, hari ketika beliau wafat, beliau membuka jendela kamarnya untuk melihat para sahabatnya dengan tatapan mata perpisahan. Betapa besarnya perpisahan yang terjadi pada hari itu. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلاَةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا وَهُوَ قَائِمٌ كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنَ الفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلاَةِ «فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلاَتَكُمْ وَأَرْخَى السِّتْرَ فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ“Abu Bakar pernah mengimami mereka salat di saat sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pada kewafatannya. Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (saf) salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap tabir kamar dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas. Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan saf karena menduga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar untuk salat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat kepada kami agar, “Teruskanlah salat kalian.” Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga.” (HR. Bukhari no. 680 dan Muslim no. 419)Baca Juga: Keutamaan dan Kewajiban Salat BerjamaahRenungkanlah hal ini, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya di masjid dengan tatapan mata perpisahan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya dengan pandangan yang menyejukkan dan menyenangkan hati karena melihat para sahabatnya sedang mendirikan salat. Memang, salat adalah qurrota a’yun (penyenang hati) di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah menjadikan akhir hidup beliau dengan melihat umatnya berkumpul di masjid di pagi hari mendirikan salat jamaah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan penuh kebahagiaan melihat umatnya mendirikan salat jamaah, yang merupakan pemandangan yang menyejukkan dan menggembirakan hati beliau.Salat, di antara wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSalat juga menjadi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir kehidupannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Kerjakanlah) salat, (kerjakanlah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4616)Dalam riwayat yang lain, terdapat penegasan yang lebih lagi, sebagaimana teks hadis dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ: الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, ketika beliau sakaratul maut yaitu, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” (HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2178)Demikian pula dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,كَانَ مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِي صَدْرِهِ، وَمَا يَفِيصُ بِهَا لِسَانُهُ“Sesungguhnya wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat adalah, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” Beliau terus-menerus mengulang perkataan tersebut dan lisan beliau tidak berhenti.” (HR. Ahmad no. 26483, 26684 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 7060. Sanadnya dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 7: 238)Hal ini, tanpa diragukan lagi menunjukkan tingginya kedudukan salat dalam Islam dan betapa besar perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah salat. [1]Baca Juga: Salat Sambil Membaca Mushaf Al-Qur’anIronisnya, banyak di tengah-tengah kaum muslimin yang menjadikan malam isra’ mi’raj sebagai malam perayaan, namun di saat yang sama mereka meninggalkan dan menyia-nyiakan salat jama’ah! Betapa banyak di antara kaum muslimin yang tidak melewatkan perayaan malam isra’ dan mi’raj ini, namun di saat yang sama mereka meremehkan salat? Lalu, di manakah sisi ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam salat?Jangan tinggalkan salatDari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang salat dan bersabda,مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ“Siapa saja yang menjaga ibadah salat, maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan siapa saja yang tidak menjaga ibadah salat, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan pada hari kiamat, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576 dan Ibnu Hibban no. 1467. Syaikh Ibnu Baaz berkata dalam Majmu’ Fataawa (10: 278), “Sanadnya hasan.”)Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan salat dan tidak mau menjaga salat, mereka akan dikumpulkan bersama-sama dengan pembesar orang kafir. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari hal itu.Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ“Sungguh, yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82)Dari sahabat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ“Perjanjian antara kita dan mereka adalah salat. Siapa saja yang meninggalkan salat, sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad no. 22937, At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 4143)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ“Barangsiapa salat seperti salat kita, menghadap ke arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim. Dia memiliki perlindungan dari Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” (HR. Bukhari no. 391)Hadis-hadis tentang masalah ini sangatlah banyak.Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan melaksanakan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 21 Rabi’ul awwal 1442/ 7 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Silakan dibaca kembali tulisan-tulisan sebelumnya yang membahas hal ini:Keistimewaan Ibadah Shalat<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Keistimewaan Ibadah Shalat” — Muslim.Or.Id" src="https://muslim.or.id/59159-keistimewaan-ibadah-shalat.html/embed#?secret=QzGDLtPkGR" data-secret="QzGDLtPkGR" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 17-22, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

4 Langkah Setan: Banyak Memandang, Makan, Bicara, dan Bergaul

Empat langkah inilah yang menjadi langkah setan dalam menyesatkan manusia menurut Ibnul Qayyim rahimahullah.   Dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:816), Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, إِمْسَاكُ فُضُوْلِ النَّظَرِ وَالكَلاَمِ وَالطَّعَامِ وَمُخَالَطَةِ النَّاسِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِنَّمَا يَتَسَلَّطُ عَلَى اِبْنِ آدَمَوَيَنَالُ مِنْهُ غَرَضَهُ مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ الأَرْبَعَةِ فَإِنَّ فُضُوْلَ النَّظَرِ يَدْعُو إِلَى الإِسْتِحْسَانِ وَوُقُوْعِ صُوْرَةِالمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ فِي القَلْبِ وَالإِشْتِغَالِ بِهِ وَالفِكْرَةِ فِي الظَفْرِ بِهِ “Hendaknya menahan diri dari pandangan yang tak bisa terjaga, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul. Hal-hal ini merupakan empat pintu setan dalam menguasai manusia dan jalan setan mencapai tujuannya. Enggan menundukkan pandangan akan mengantarkan pada menganggap baik (istihsan), yang dilihat akan menancap dalam hati, pikiran pun akan sibuk membayangkannya, hingga berpikiran agar tercapai tujuan.” Empat hal ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam poin kesepuluh setelah menyebutkan sembilan kaidah bermanfaat untuk melindungi hamba dari setan dan menyelamatkan dari gangguannya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid, 2:809-816.   Pertama: Banyak memandang Contohnya adalah memandang lawan jenis. Dalam surah An-Nuur sendiri diperintahkan untuk menundukkan pandangan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُم “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30) Wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits disebutkan, فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ “Zina kedua mata adalah dengan melihat.” (HR. Muslim, no. 6925) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Kedua: Banyak bicara Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik, ataukah diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ “Semoga ibumu kehilanganmu! (Kalimat ini maksudnya adalah untuk memperhatikan ucapan selanjutnya). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.’” (HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan).   Ketiga: Banyak makan Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, 4:132; Tirmidzi, no. 2380; Ibnu Majah, no. 3349. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiqqah, terpercaya). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Manfaat dari sedikit makan bagi baiknya hati adalah hati akan semakin lembut, pemahaman semakin mantap, jiwa semakin tenang, hawa nafsu jelek tertahan, dan marah semakin terkendali. Hal ini berbeda dengan kondisi seseorang yang banyak makan.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:469)   Keempat: Banyak bergaul Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim dalam Badaai’ Al-Fawaid: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya.   Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:824-825), “Siapa yang tersadarkan dengan menjaga diri dari empat hal yang merusak yaitu tidak menjaga pandangan, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul, padahal empat hal ini adalah yang merusak alam, lalu ia menempuh sembilan langkah untuk menjaga diri dari godaan setan tersebut, maka ia berarti telah mendapatkan taufik, mencegah dirinya dari pintu Jahannam, dan membuka pintu rahmat.” Semoga Allah menyelamatkan kita dari gangguan setan. Referensi At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Badaa-i’ Al-Fawaid. Cetakan ketiga, Tahun 1433 H. Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid. Baca Juga: Faedah Surat Yasin: Langkah Setan dalam Menjauhkan dari Jalan yang Lurus Faedah Surah An-Nuur #12: Jangan Ikuti Langkah Setan! — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsagar tidak diganggu setan gangguan setan godaan setan langkah setan setan

4 Langkah Setan: Banyak Memandang, Makan, Bicara, dan Bergaul

Empat langkah inilah yang menjadi langkah setan dalam menyesatkan manusia menurut Ibnul Qayyim rahimahullah.   Dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:816), Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, إِمْسَاكُ فُضُوْلِ النَّظَرِ وَالكَلاَمِ وَالطَّعَامِ وَمُخَالَطَةِ النَّاسِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِنَّمَا يَتَسَلَّطُ عَلَى اِبْنِ آدَمَوَيَنَالُ مِنْهُ غَرَضَهُ مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ الأَرْبَعَةِ فَإِنَّ فُضُوْلَ النَّظَرِ يَدْعُو إِلَى الإِسْتِحْسَانِ وَوُقُوْعِ صُوْرَةِالمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ فِي القَلْبِ وَالإِشْتِغَالِ بِهِ وَالفِكْرَةِ فِي الظَفْرِ بِهِ “Hendaknya menahan diri dari pandangan yang tak bisa terjaga, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul. Hal-hal ini merupakan empat pintu setan dalam menguasai manusia dan jalan setan mencapai tujuannya. Enggan menundukkan pandangan akan mengantarkan pada menganggap baik (istihsan), yang dilihat akan menancap dalam hati, pikiran pun akan sibuk membayangkannya, hingga berpikiran agar tercapai tujuan.” Empat hal ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam poin kesepuluh setelah menyebutkan sembilan kaidah bermanfaat untuk melindungi hamba dari setan dan menyelamatkan dari gangguannya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid, 2:809-816.   Pertama: Banyak memandang Contohnya adalah memandang lawan jenis. Dalam surah An-Nuur sendiri diperintahkan untuk menundukkan pandangan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُم “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30) Wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits disebutkan, فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ “Zina kedua mata adalah dengan melihat.” (HR. Muslim, no. 6925) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Kedua: Banyak bicara Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik, ataukah diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ “Semoga ibumu kehilanganmu! (Kalimat ini maksudnya adalah untuk memperhatikan ucapan selanjutnya). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.’” (HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan).   Ketiga: Banyak makan Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, 4:132; Tirmidzi, no. 2380; Ibnu Majah, no. 3349. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiqqah, terpercaya). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Manfaat dari sedikit makan bagi baiknya hati adalah hati akan semakin lembut, pemahaman semakin mantap, jiwa semakin tenang, hawa nafsu jelek tertahan, dan marah semakin terkendali. Hal ini berbeda dengan kondisi seseorang yang banyak makan.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:469)   Keempat: Banyak bergaul Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim dalam Badaai’ Al-Fawaid: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya.   Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:824-825), “Siapa yang tersadarkan dengan menjaga diri dari empat hal yang merusak yaitu tidak menjaga pandangan, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul, padahal empat hal ini adalah yang merusak alam, lalu ia menempuh sembilan langkah untuk menjaga diri dari godaan setan tersebut, maka ia berarti telah mendapatkan taufik, mencegah dirinya dari pintu Jahannam, dan membuka pintu rahmat.” Semoga Allah menyelamatkan kita dari gangguan setan. Referensi At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Badaa-i’ Al-Fawaid. Cetakan ketiga, Tahun 1433 H. Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid. Baca Juga: Faedah Surat Yasin: Langkah Setan dalam Menjauhkan dari Jalan yang Lurus Faedah Surah An-Nuur #12: Jangan Ikuti Langkah Setan! — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsagar tidak diganggu setan gangguan setan godaan setan langkah setan setan
Empat langkah inilah yang menjadi langkah setan dalam menyesatkan manusia menurut Ibnul Qayyim rahimahullah.   Dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:816), Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, إِمْسَاكُ فُضُوْلِ النَّظَرِ وَالكَلاَمِ وَالطَّعَامِ وَمُخَالَطَةِ النَّاسِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِنَّمَا يَتَسَلَّطُ عَلَى اِبْنِ آدَمَوَيَنَالُ مِنْهُ غَرَضَهُ مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ الأَرْبَعَةِ فَإِنَّ فُضُوْلَ النَّظَرِ يَدْعُو إِلَى الإِسْتِحْسَانِ وَوُقُوْعِ صُوْرَةِالمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ فِي القَلْبِ وَالإِشْتِغَالِ بِهِ وَالفِكْرَةِ فِي الظَفْرِ بِهِ “Hendaknya menahan diri dari pandangan yang tak bisa terjaga, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul. Hal-hal ini merupakan empat pintu setan dalam menguasai manusia dan jalan setan mencapai tujuannya. Enggan menundukkan pandangan akan mengantarkan pada menganggap baik (istihsan), yang dilihat akan menancap dalam hati, pikiran pun akan sibuk membayangkannya, hingga berpikiran agar tercapai tujuan.” Empat hal ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam poin kesepuluh setelah menyebutkan sembilan kaidah bermanfaat untuk melindungi hamba dari setan dan menyelamatkan dari gangguannya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid, 2:809-816.   Pertama: Banyak memandang Contohnya adalah memandang lawan jenis. Dalam surah An-Nuur sendiri diperintahkan untuk menundukkan pandangan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُم “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30) Wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits disebutkan, فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ “Zina kedua mata adalah dengan melihat.” (HR. Muslim, no. 6925) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Kedua: Banyak bicara Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik, ataukah diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ “Semoga ibumu kehilanganmu! (Kalimat ini maksudnya adalah untuk memperhatikan ucapan selanjutnya). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.’” (HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan).   Ketiga: Banyak makan Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, 4:132; Tirmidzi, no. 2380; Ibnu Majah, no. 3349. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiqqah, terpercaya). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Manfaat dari sedikit makan bagi baiknya hati adalah hati akan semakin lembut, pemahaman semakin mantap, jiwa semakin tenang, hawa nafsu jelek tertahan, dan marah semakin terkendali. Hal ini berbeda dengan kondisi seseorang yang banyak makan.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:469)   Keempat: Banyak bergaul Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim dalam Badaai’ Al-Fawaid: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya.   Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:824-825), “Siapa yang tersadarkan dengan menjaga diri dari empat hal yang merusak yaitu tidak menjaga pandangan, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul, padahal empat hal ini adalah yang merusak alam, lalu ia menempuh sembilan langkah untuk menjaga diri dari godaan setan tersebut, maka ia berarti telah mendapatkan taufik, mencegah dirinya dari pintu Jahannam, dan membuka pintu rahmat.” Semoga Allah menyelamatkan kita dari gangguan setan. Referensi At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Badaa-i’ Al-Fawaid. Cetakan ketiga, Tahun 1433 H. Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid. Baca Juga: Faedah Surat Yasin: Langkah Setan dalam Menjauhkan dari Jalan yang Lurus Faedah Surah An-Nuur #12: Jangan Ikuti Langkah Setan! — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsagar tidak diganggu setan gangguan setan godaan setan langkah setan setan


Empat langkah inilah yang menjadi langkah setan dalam menyesatkan manusia menurut Ibnul Qayyim rahimahullah.   Dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:816), Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, إِمْسَاكُ فُضُوْلِ النَّظَرِ وَالكَلاَمِ وَالطَّعَامِ وَمُخَالَطَةِ النَّاسِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِنَّمَا يَتَسَلَّطُ عَلَى اِبْنِ آدَمَوَيَنَالُ مِنْهُ غَرَضَهُ مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ الأَرْبَعَةِ فَإِنَّ فُضُوْلَ النَّظَرِ يَدْعُو إِلَى الإِسْتِحْسَانِ وَوُقُوْعِ صُوْرَةِالمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ فِي القَلْبِ وَالإِشْتِغَالِ بِهِ وَالفِكْرَةِ فِي الظَفْرِ بِهِ “Hendaknya menahan diri dari pandangan yang tak bisa terjaga, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul. Hal-hal ini merupakan empat pintu setan dalam menguasai manusia dan jalan setan mencapai tujuannya. Enggan menundukkan pandangan akan mengantarkan pada menganggap baik (istihsan), yang dilihat akan menancap dalam hati, pikiran pun akan sibuk membayangkannya, hingga berpikiran agar tercapai tujuan.” Empat hal ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam poin kesepuluh setelah menyebutkan sembilan kaidah bermanfaat untuk melindungi hamba dari setan dan menyelamatkan dari gangguannya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid, 2:809-816.   Pertama: Banyak memandang Contohnya adalah memandang lawan jenis. Dalam surah An-Nuur sendiri diperintahkan untuk menundukkan pandangan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُم “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30) Wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31) Dalam hadits disebutkan, فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ “Zina kedua mata adalah dengan melihat.” (HR. Muslim, no. 6925) Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى. “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)   Kedua: Banyak bicara Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik, ataukah diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ “Semoga ibumu kehilanganmu! (Kalimat ini maksudnya adalah untuk memperhatikan ucapan selanjutnya). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.’” (HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan).   Ketiga: Banyak makan Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, 4:132; Tirmidzi, no. 2380; Ibnu Majah, no. 3349. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiqqah, terpercaya). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Manfaat dari sedikit makan bagi baiknya hati adalah hati akan semakin lembut, pemahaman semakin mantap, jiwa semakin tenang, hawa nafsu jelek tertahan, dan marah semakin terkendali. Hal ini berbeda dengan kondisi seseorang yang banyak makan.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:469)   Keempat: Banyak bergaul Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim dalam Badaai’ Al-Fawaid: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya.   Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:824-825), “Siapa yang tersadarkan dengan menjaga diri dari empat hal yang merusak yaitu tidak menjaga pandangan, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul, padahal empat hal ini adalah yang merusak alam, lalu ia menempuh sembilan langkah untuk menjaga diri dari godaan setan tersebut, maka ia berarti telah mendapatkan taufik, mencegah dirinya dari pintu Jahannam, dan membuka pintu rahmat.” Semoga Allah menyelamatkan kita dari gangguan setan. Referensi At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Badaa-i’ Al-Fawaid. Cetakan ketiga, Tahun 1433 H. Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid. Baca Juga: Faedah Surat Yasin: Langkah Setan dalam Menjauhkan dari Jalan yang Lurus Faedah Surah An-Nuur #12: Jangan Ikuti Langkah Setan! — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsagar tidak diganggu setan gangguan setan godaan setan langkah setan setan

Larangan Mendahului Imam ketika Shalat

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ – أَوْ: لاَ يَخْشَى أَحَدُكُمْ – إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ، أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ“Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika dia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai?” (HR. Bukhari no. 691 dan Muslim no. 427)Hukuman ini karena dia telah berbuat jelek (melakukan pelanggaran) dalam shalat, yaitu mendahului imam dengan sengaja. Seandainya dia shalat dalam rangka mengharap pahala, namun tidak takut dengan hukuman ini, maka Allah Ta’ala akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai.Baca Juga: Shalat Tarawih Lebih Baik Di Awal Malam Bersama ImamDari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ، حَتَّى يَقَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا، ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH”, tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar (meletakkan kepalanya) bersimpuh dalam sujud, barulah setelah itu kami bersujud.” (HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 474)Dulu, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menunggu di belakang Nabi yang bertindak sebagai imam, dalam kondisi mereka tetap berdiri (i’tidal). Sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membungkukkan badan dan bertakbir, kemudian meletakkan dahinya di lantai (sudah benar-benar dalam posisi sujud), barulah mereka mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk turun sujud.Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا وحدك صليت، ولا بإمامك اقتديت“Engkau tidak shalat sendirian, dan tidak pula menjadikan seseorang sebagai imam yang diikuti.”Orang yang dinilai tidak shalat sendirian dan juga tidak shalat berjamaah, berarti shalatnya tidak sah.Juga terdapat riwayat dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau melihat seseorang yang mendahului imam dengan sengaja, kemudian berkata kepadanya,لا صليت وحدك، ولا صليت مع الإمام، ثم ضربه، وأمره أن يعيد الصلاة“Engkau tidak shalat sendirian, tidak pula shalat bersama imam. Kemudian Ibnu ‘Umar memukulnya dan memerintahkannya untuk mengulang shalat.”Baca Juga: Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid?Seandainya shalat orang itu sah, tentu sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tidak memerintahkannya untuk mengulang shalat.Dari Hiththan bin ‘Abdullah bin Ar-Raqasyi dia berkata, “Saya shalat bersama Abu Musa Al-Asy’ari dengan sebuah shalat. Pada waktu duduk (tahiyat), seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Shalat diidentikkan dengan kebaikan dan mengeluarkan zakat.”Ketika Abu Musa selesai melaksanakan shalat dan salam, dia berpaling seraya berkata, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?”Perawi berkata, “Lalu mereka diam kemudian dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?” Mereka pun tetap diam.Lalu dia bertanya lagi, “Boleh jadi kamu wahai Hiththan, yang telah mengucapkannya?”Hiththan menjawab, “Aku tidak mengatakannya. Dan aku khawatir kamu menghardikku dengannya.”Lalu seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Akulah yang mengatakannya dan tidaklah aku bermaksud mengatakannya melainkan suatu kebaikan.”Lalu Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidakkah kalian mengetahui bagaimana kalian (seharusnya) mengucapkan (zikir) dalam shalat kalian? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kita, lalu menjelaskan kepada kita sunnah-sunnahnya, dan mengajarkan kepada kita tentang shalat kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذْ قَالَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] ، فَقُولُوا: آمِينَ، يُجِبْكُمُ اللهُ فَإِذَا كَبَّرَ وَرَكَعَ فَكَبِّرُوا وَارْكَعُوا، فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْكَعُ قَبْلَكُمْ، وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Apabila kalian shalat, luruskanlah shaf-shaf kalian, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian mengimami kalian. Apabila dia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Dan apabila dia mengucapkan, “Ghairil maghdhubi ‘alaihim wala adh-dhallin (Bukan jalan orang yang dimurkai dan tidak pula jalan orang yang sesat)”, maka katakanlah, “Amin.” Niscaya Allah mencintai kalian. Apabila dia bertakbir dan rukuk, maka bertakbir dan rukuklah kalian, karena imam harus rukuk sebelum kalian dan mengangkat (kepala) dari rukuk sebelum kalian.”Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَتِلْكَ بِتِلْكَ وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ يَسْمَعُ اللهُ لَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَإِذَا كَبَّرَ وَسَجَدَ فَكَبِّرُوا وَاسْجُدُوا فَإِنَّ الْإِمَامَ يَسْجُدُ قَبْلَكُمْ وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Lalu gerakan demikian diikuti dengan gerakan demikian. Apabila dia berkata, “Sami’allahu liman hamidah (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujinya)”, maka katakanlah, ‘Allahumma Rabbana laka al-hamdu’ (Ya Allah, Rabb kami, segala puji untuk-Mu), niscaya Allah akan mendengarkan kalian. Karena Allah berkata melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sami’allahu liman hamidah.” Dan apabila imam bertakbir dan sujud, maka bertakbir dan sujudlah kalian, karena imam sujud sebelum kalian, dan bangkit sebelum kalian.”Baca Juga: Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang ShalihLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi,فَتِلْكَ بِتِلْكَ، وَإِذَا كَانَ عِنْدَ الْقَعْدَةِ فَلْيَكُنْ مِنْ أَوَّلِ قَوْلِ أَحَدِكُمْ: التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ“Lalu gerakan tersebut diikuti dengan gerakan tersebut. Dan apabila sedang duduk tahiyat, maka hendaklah doa pertama kalian adalah, “At-tahiyyatut-thayyibaatus-shalawaatu lillahi … (sampai akhir doa tasyahhud).” (HR. Muslim no. 404)Banyak orang awam salah dan keliru dalam memahami hadits ini. Sesaat ketika imam mulai bertakbir, mereka pun langsung ikut takbir, dan ini adalah suatu kesalahan. Tidak sepatutnya makmum bertakbir, sampai dia menunggu imam betul-betul selesai bertakbir dan diam. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Imam itu tidak dikatakan bertakbir sampai mengatakan, “Allahu akbar.” Seandainya imam baru mengatakan, “Allah”, kemudian diam, itu belum dikatakan bertakbir, sampai imam mengatakan, “Allahu akbar.” Makmum baru bertakbir setelah imam mengatakan, “Allahu akbar.”Ketika mereka takbir berbarengan dengan imam, mereka pun salah dan meninggalkan perkataan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandanya Engkau mengatakan,إذا صلى فلان فكلمه“Jika fulan (selesai) shalat, bicaralah dengannya.”Maksudnya, Engkau harus menunggunya ketika shalat, dan jika dia selesai shalat, Engkau baru bisa bicara dengannya. Bukanlah maknanya, “Engkau berbicara dengannya ketika dia sedang shalat.”Demikian pula makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Terkadang, imam bertakbir agak lama karena ketidaktahuannya. Sedangkan makmum di belakangnya bertakbir secara singkat, sehingga dia (makmum) sudah selesai takbir, sebelum imam selesai takbir. Siapa saja yang bertakbir sebelum imam takbir, shalatnya tidak sah. Karena dia memulai shalat sebelum imam memulai shalat, dan bertakbir sebelum imam. Maka tidak sah shalatnya.Ketahuilah bahwa mayoritas manusia pada hari ini, tidak sah salatnya karena mereka mendahului imam dengan sengaja, baik ketika rukuk dan sujud, baik ketika mengangkat ataupun membungkukkan badan. Seandainya aku shalat di seratus masjid, aku tidak melihat satu pun orang yang shalat di masjid itu mendirikan shalat sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya. Maka bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan lihatlah shalat kalian dan shalat orang-orang yang shalat bersama kalian. [1] [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 15 Rabi’ul awwal 1442/ 1 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Dikutip dari kitab “Ash-Shalat” karya Imam Ahmad rahimahullah. Terdapat dalam kitab “Thabaqaat Al-Hanabilah”, 1: 353.[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 77-79, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Sumber Aqidah Islam, Nasehat Suami Istri Dalam Islam, Pengertian Iman Menurut Para Ahli, 19 Macam Macam Syirik Kecil, Sebab Sujud Syukur

Larangan Mendahului Imam ketika Shalat

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ – أَوْ: لاَ يَخْشَى أَحَدُكُمْ – إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ، أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ“Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika dia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai?” (HR. Bukhari no. 691 dan Muslim no. 427)Hukuman ini karena dia telah berbuat jelek (melakukan pelanggaran) dalam shalat, yaitu mendahului imam dengan sengaja. Seandainya dia shalat dalam rangka mengharap pahala, namun tidak takut dengan hukuman ini, maka Allah Ta’ala akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai.Baca Juga: Shalat Tarawih Lebih Baik Di Awal Malam Bersama ImamDari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ، حَتَّى يَقَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا، ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH”, tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar (meletakkan kepalanya) bersimpuh dalam sujud, barulah setelah itu kami bersujud.” (HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 474)Dulu, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menunggu di belakang Nabi yang bertindak sebagai imam, dalam kondisi mereka tetap berdiri (i’tidal). Sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membungkukkan badan dan bertakbir, kemudian meletakkan dahinya di lantai (sudah benar-benar dalam posisi sujud), barulah mereka mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk turun sujud.Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا وحدك صليت، ولا بإمامك اقتديت“Engkau tidak shalat sendirian, dan tidak pula menjadikan seseorang sebagai imam yang diikuti.”Orang yang dinilai tidak shalat sendirian dan juga tidak shalat berjamaah, berarti shalatnya tidak sah.Juga terdapat riwayat dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau melihat seseorang yang mendahului imam dengan sengaja, kemudian berkata kepadanya,لا صليت وحدك، ولا صليت مع الإمام، ثم ضربه، وأمره أن يعيد الصلاة“Engkau tidak shalat sendirian, tidak pula shalat bersama imam. Kemudian Ibnu ‘Umar memukulnya dan memerintahkannya untuk mengulang shalat.”Baca Juga: Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid?Seandainya shalat orang itu sah, tentu sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tidak memerintahkannya untuk mengulang shalat.Dari Hiththan bin ‘Abdullah bin Ar-Raqasyi dia berkata, “Saya shalat bersama Abu Musa Al-Asy’ari dengan sebuah shalat. Pada waktu duduk (tahiyat), seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Shalat diidentikkan dengan kebaikan dan mengeluarkan zakat.”Ketika Abu Musa selesai melaksanakan shalat dan salam, dia berpaling seraya berkata, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?”Perawi berkata, “Lalu mereka diam kemudian dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?” Mereka pun tetap diam.Lalu dia bertanya lagi, “Boleh jadi kamu wahai Hiththan, yang telah mengucapkannya?”Hiththan menjawab, “Aku tidak mengatakannya. Dan aku khawatir kamu menghardikku dengannya.”Lalu seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Akulah yang mengatakannya dan tidaklah aku bermaksud mengatakannya melainkan suatu kebaikan.”Lalu Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidakkah kalian mengetahui bagaimana kalian (seharusnya) mengucapkan (zikir) dalam shalat kalian? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kita, lalu menjelaskan kepada kita sunnah-sunnahnya, dan mengajarkan kepada kita tentang shalat kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذْ قَالَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] ، فَقُولُوا: آمِينَ، يُجِبْكُمُ اللهُ فَإِذَا كَبَّرَ وَرَكَعَ فَكَبِّرُوا وَارْكَعُوا، فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْكَعُ قَبْلَكُمْ، وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Apabila kalian shalat, luruskanlah shaf-shaf kalian, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian mengimami kalian. Apabila dia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Dan apabila dia mengucapkan, “Ghairil maghdhubi ‘alaihim wala adh-dhallin (Bukan jalan orang yang dimurkai dan tidak pula jalan orang yang sesat)”, maka katakanlah, “Amin.” Niscaya Allah mencintai kalian. Apabila dia bertakbir dan rukuk, maka bertakbir dan rukuklah kalian, karena imam harus rukuk sebelum kalian dan mengangkat (kepala) dari rukuk sebelum kalian.”Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَتِلْكَ بِتِلْكَ وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ يَسْمَعُ اللهُ لَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَإِذَا كَبَّرَ وَسَجَدَ فَكَبِّرُوا وَاسْجُدُوا فَإِنَّ الْإِمَامَ يَسْجُدُ قَبْلَكُمْ وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Lalu gerakan demikian diikuti dengan gerakan demikian. Apabila dia berkata, “Sami’allahu liman hamidah (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujinya)”, maka katakanlah, ‘Allahumma Rabbana laka al-hamdu’ (Ya Allah, Rabb kami, segala puji untuk-Mu), niscaya Allah akan mendengarkan kalian. Karena Allah berkata melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sami’allahu liman hamidah.” Dan apabila imam bertakbir dan sujud, maka bertakbir dan sujudlah kalian, karena imam sujud sebelum kalian, dan bangkit sebelum kalian.”Baca Juga: Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang ShalihLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi,فَتِلْكَ بِتِلْكَ، وَإِذَا كَانَ عِنْدَ الْقَعْدَةِ فَلْيَكُنْ مِنْ أَوَّلِ قَوْلِ أَحَدِكُمْ: التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ“Lalu gerakan tersebut diikuti dengan gerakan tersebut. Dan apabila sedang duduk tahiyat, maka hendaklah doa pertama kalian adalah, “At-tahiyyatut-thayyibaatus-shalawaatu lillahi … (sampai akhir doa tasyahhud).” (HR. Muslim no. 404)Banyak orang awam salah dan keliru dalam memahami hadits ini. Sesaat ketika imam mulai bertakbir, mereka pun langsung ikut takbir, dan ini adalah suatu kesalahan. Tidak sepatutnya makmum bertakbir, sampai dia menunggu imam betul-betul selesai bertakbir dan diam. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Imam itu tidak dikatakan bertakbir sampai mengatakan, “Allahu akbar.” Seandainya imam baru mengatakan, “Allah”, kemudian diam, itu belum dikatakan bertakbir, sampai imam mengatakan, “Allahu akbar.” Makmum baru bertakbir setelah imam mengatakan, “Allahu akbar.”Ketika mereka takbir berbarengan dengan imam, mereka pun salah dan meninggalkan perkataan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandanya Engkau mengatakan,إذا صلى فلان فكلمه“Jika fulan (selesai) shalat, bicaralah dengannya.”Maksudnya, Engkau harus menunggunya ketika shalat, dan jika dia selesai shalat, Engkau baru bisa bicara dengannya. Bukanlah maknanya, “Engkau berbicara dengannya ketika dia sedang shalat.”Demikian pula makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Terkadang, imam bertakbir agak lama karena ketidaktahuannya. Sedangkan makmum di belakangnya bertakbir secara singkat, sehingga dia (makmum) sudah selesai takbir, sebelum imam selesai takbir. Siapa saja yang bertakbir sebelum imam takbir, shalatnya tidak sah. Karena dia memulai shalat sebelum imam memulai shalat, dan bertakbir sebelum imam. Maka tidak sah shalatnya.Ketahuilah bahwa mayoritas manusia pada hari ini, tidak sah salatnya karena mereka mendahului imam dengan sengaja, baik ketika rukuk dan sujud, baik ketika mengangkat ataupun membungkukkan badan. Seandainya aku shalat di seratus masjid, aku tidak melihat satu pun orang yang shalat di masjid itu mendirikan shalat sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya. Maka bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan lihatlah shalat kalian dan shalat orang-orang yang shalat bersama kalian. [1] [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 15 Rabi’ul awwal 1442/ 1 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Dikutip dari kitab “Ash-Shalat” karya Imam Ahmad rahimahullah. Terdapat dalam kitab “Thabaqaat Al-Hanabilah”, 1: 353.[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 77-79, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Sumber Aqidah Islam, Nasehat Suami Istri Dalam Islam, Pengertian Iman Menurut Para Ahli, 19 Macam Macam Syirik Kecil, Sebab Sujud Syukur
Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ – أَوْ: لاَ يَخْشَى أَحَدُكُمْ – إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ، أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ“Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika dia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai?” (HR. Bukhari no. 691 dan Muslim no. 427)Hukuman ini karena dia telah berbuat jelek (melakukan pelanggaran) dalam shalat, yaitu mendahului imam dengan sengaja. Seandainya dia shalat dalam rangka mengharap pahala, namun tidak takut dengan hukuman ini, maka Allah Ta’ala akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai.Baca Juga: Shalat Tarawih Lebih Baik Di Awal Malam Bersama ImamDari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ، حَتَّى يَقَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا، ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH”, tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar (meletakkan kepalanya) bersimpuh dalam sujud, barulah setelah itu kami bersujud.” (HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 474)Dulu, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menunggu di belakang Nabi yang bertindak sebagai imam, dalam kondisi mereka tetap berdiri (i’tidal). Sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membungkukkan badan dan bertakbir, kemudian meletakkan dahinya di lantai (sudah benar-benar dalam posisi sujud), barulah mereka mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk turun sujud.Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا وحدك صليت، ولا بإمامك اقتديت“Engkau tidak shalat sendirian, dan tidak pula menjadikan seseorang sebagai imam yang diikuti.”Orang yang dinilai tidak shalat sendirian dan juga tidak shalat berjamaah, berarti shalatnya tidak sah.Juga terdapat riwayat dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau melihat seseorang yang mendahului imam dengan sengaja, kemudian berkata kepadanya,لا صليت وحدك، ولا صليت مع الإمام، ثم ضربه، وأمره أن يعيد الصلاة“Engkau tidak shalat sendirian, tidak pula shalat bersama imam. Kemudian Ibnu ‘Umar memukulnya dan memerintahkannya untuk mengulang shalat.”Baca Juga: Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid?Seandainya shalat orang itu sah, tentu sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tidak memerintahkannya untuk mengulang shalat.Dari Hiththan bin ‘Abdullah bin Ar-Raqasyi dia berkata, “Saya shalat bersama Abu Musa Al-Asy’ari dengan sebuah shalat. Pada waktu duduk (tahiyat), seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Shalat diidentikkan dengan kebaikan dan mengeluarkan zakat.”Ketika Abu Musa selesai melaksanakan shalat dan salam, dia berpaling seraya berkata, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?”Perawi berkata, “Lalu mereka diam kemudian dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?” Mereka pun tetap diam.Lalu dia bertanya lagi, “Boleh jadi kamu wahai Hiththan, yang telah mengucapkannya?”Hiththan menjawab, “Aku tidak mengatakannya. Dan aku khawatir kamu menghardikku dengannya.”Lalu seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Akulah yang mengatakannya dan tidaklah aku bermaksud mengatakannya melainkan suatu kebaikan.”Lalu Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidakkah kalian mengetahui bagaimana kalian (seharusnya) mengucapkan (zikir) dalam shalat kalian? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kita, lalu menjelaskan kepada kita sunnah-sunnahnya, dan mengajarkan kepada kita tentang shalat kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذْ قَالَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] ، فَقُولُوا: آمِينَ، يُجِبْكُمُ اللهُ فَإِذَا كَبَّرَ وَرَكَعَ فَكَبِّرُوا وَارْكَعُوا، فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْكَعُ قَبْلَكُمْ، وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Apabila kalian shalat, luruskanlah shaf-shaf kalian, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian mengimami kalian. Apabila dia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Dan apabila dia mengucapkan, “Ghairil maghdhubi ‘alaihim wala adh-dhallin (Bukan jalan orang yang dimurkai dan tidak pula jalan orang yang sesat)”, maka katakanlah, “Amin.” Niscaya Allah mencintai kalian. Apabila dia bertakbir dan rukuk, maka bertakbir dan rukuklah kalian, karena imam harus rukuk sebelum kalian dan mengangkat (kepala) dari rukuk sebelum kalian.”Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَتِلْكَ بِتِلْكَ وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ يَسْمَعُ اللهُ لَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَإِذَا كَبَّرَ وَسَجَدَ فَكَبِّرُوا وَاسْجُدُوا فَإِنَّ الْإِمَامَ يَسْجُدُ قَبْلَكُمْ وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Lalu gerakan demikian diikuti dengan gerakan demikian. Apabila dia berkata, “Sami’allahu liman hamidah (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujinya)”, maka katakanlah, ‘Allahumma Rabbana laka al-hamdu’ (Ya Allah, Rabb kami, segala puji untuk-Mu), niscaya Allah akan mendengarkan kalian. Karena Allah berkata melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sami’allahu liman hamidah.” Dan apabila imam bertakbir dan sujud, maka bertakbir dan sujudlah kalian, karena imam sujud sebelum kalian, dan bangkit sebelum kalian.”Baca Juga: Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang ShalihLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi,فَتِلْكَ بِتِلْكَ، وَإِذَا كَانَ عِنْدَ الْقَعْدَةِ فَلْيَكُنْ مِنْ أَوَّلِ قَوْلِ أَحَدِكُمْ: التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ“Lalu gerakan tersebut diikuti dengan gerakan tersebut. Dan apabila sedang duduk tahiyat, maka hendaklah doa pertama kalian adalah, “At-tahiyyatut-thayyibaatus-shalawaatu lillahi … (sampai akhir doa tasyahhud).” (HR. Muslim no. 404)Banyak orang awam salah dan keliru dalam memahami hadits ini. Sesaat ketika imam mulai bertakbir, mereka pun langsung ikut takbir, dan ini adalah suatu kesalahan. Tidak sepatutnya makmum bertakbir, sampai dia menunggu imam betul-betul selesai bertakbir dan diam. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Imam itu tidak dikatakan bertakbir sampai mengatakan, “Allahu akbar.” Seandainya imam baru mengatakan, “Allah”, kemudian diam, itu belum dikatakan bertakbir, sampai imam mengatakan, “Allahu akbar.” Makmum baru bertakbir setelah imam mengatakan, “Allahu akbar.”Ketika mereka takbir berbarengan dengan imam, mereka pun salah dan meninggalkan perkataan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandanya Engkau mengatakan,إذا صلى فلان فكلمه“Jika fulan (selesai) shalat, bicaralah dengannya.”Maksudnya, Engkau harus menunggunya ketika shalat, dan jika dia selesai shalat, Engkau baru bisa bicara dengannya. Bukanlah maknanya, “Engkau berbicara dengannya ketika dia sedang shalat.”Demikian pula makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Terkadang, imam bertakbir agak lama karena ketidaktahuannya. Sedangkan makmum di belakangnya bertakbir secara singkat, sehingga dia (makmum) sudah selesai takbir, sebelum imam selesai takbir. Siapa saja yang bertakbir sebelum imam takbir, shalatnya tidak sah. Karena dia memulai shalat sebelum imam memulai shalat, dan bertakbir sebelum imam. Maka tidak sah shalatnya.Ketahuilah bahwa mayoritas manusia pada hari ini, tidak sah salatnya karena mereka mendahului imam dengan sengaja, baik ketika rukuk dan sujud, baik ketika mengangkat ataupun membungkukkan badan. Seandainya aku shalat di seratus masjid, aku tidak melihat satu pun orang yang shalat di masjid itu mendirikan shalat sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya. Maka bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan lihatlah shalat kalian dan shalat orang-orang yang shalat bersama kalian. [1] [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 15 Rabi’ul awwal 1442/ 1 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Dikutip dari kitab “Ash-Shalat” karya Imam Ahmad rahimahullah. Terdapat dalam kitab “Thabaqaat Al-Hanabilah”, 1: 353.[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 77-79, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Sumber Aqidah Islam, Nasehat Suami Istri Dalam Islam, Pengertian Iman Menurut Para Ahli, 19 Macam Macam Syirik Kecil, Sebab Sujud Syukur


Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ – أَوْ: لاَ يَخْشَى أَحَدُكُمْ – إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ، أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ“Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika dia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai?” (HR. Bukhari no. 691 dan Muslim no. 427)Hukuman ini karena dia telah berbuat jelek (melakukan pelanggaran) dalam shalat, yaitu mendahului imam dengan sengaja. Seandainya dia shalat dalam rangka mengharap pahala, namun tidak takut dengan hukuman ini, maka Allah Ta’ala akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai.Baca Juga: Shalat Tarawih Lebih Baik Di Awal Malam Bersama ImamDari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ، حَتَّى يَقَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا، ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH”, tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar (meletakkan kepalanya) bersimpuh dalam sujud, barulah setelah itu kami bersujud.” (HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 474)Dulu, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menunggu di belakang Nabi yang bertindak sebagai imam, dalam kondisi mereka tetap berdiri (i’tidal). Sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membungkukkan badan dan bertakbir, kemudian meletakkan dahinya di lantai (sudah benar-benar dalam posisi sujud), barulah mereka mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk turun sujud.Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا وحدك صليت، ولا بإمامك اقتديت“Engkau tidak shalat sendirian, dan tidak pula menjadikan seseorang sebagai imam yang diikuti.”Orang yang dinilai tidak shalat sendirian dan juga tidak shalat berjamaah, berarti shalatnya tidak sah.Juga terdapat riwayat dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau melihat seseorang yang mendahului imam dengan sengaja, kemudian berkata kepadanya,لا صليت وحدك، ولا صليت مع الإمام، ثم ضربه، وأمره أن يعيد الصلاة“Engkau tidak shalat sendirian, tidak pula shalat bersama imam. Kemudian Ibnu ‘Umar memukulnya dan memerintahkannya untuk mengulang shalat.”Baca Juga: Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid?Seandainya shalat orang itu sah, tentu sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tidak memerintahkannya untuk mengulang shalat.Dari Hiththan bin ‘Abdullah bin Ar-Raqasyi dia berkata, “Saya shalat bersama Abu Musa Al-Asy’ari dengan sebuah shalat. Pada waktu duduk (tahiyat), seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Shalat diidentikkan dengan kebaikan dan mengeluarkan zakat.”Ketika Abu Musa selesai melaksanakan shalat dan salam, dia berpaling seraya berkata, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?”Perawi berkata, “Lalu mereka diam kemudian dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?” Mereka pun tetap diam.Lalu dia bertanya lagi, “Boleh jadi kamu wahai Hiththan, yang telah mengucapkannya?”Hiththan menjawab, “Aku tidak mengatakannya. Dan aku khawatir kamu menghardikku dengannya.”Lalu seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Akulah yang mengatakannya dan tidaklah aku bermaksud mengatakannya melainkan suatu kebaikan.”Lalu Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidakkah kalian mengetahui bagaimana kalian (seharusnya) mengucapkan (zikir) dalam shalat kalian? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kita, lalu menjelaskan kepada kita sunnah-sunnahnya, dan mengajarkan kepada kita tentang shalat kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذْ قَالَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] ، فَقُولُوا: آمِينَ، يُجِبْكُمُ اللهُ فَإِذَا كَبَّرَ وَرَكَعَ فَكَبِّرُوا وَارْكَعُوا، فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْكَعُ قَبْلَكُمْ، وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Apabila kalian shalat, luruskanlah shaf-shaf kalian, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian mengimami kalian. Apabila dia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Dan apabila dia mengucapkan, “Ghairil maghdhubi ‘alaihim wala adh-dhallin (Bukan jalan orang yang dimurkai dan tidak pula jalan orang yang sesat)”, maka katakanlah, “Amin.” Niscaya Allah mencintai kalian. Apabila dia bertakbir dan rukuk, maka bertakbir dan rukuklah kalian, karena imam harus rukuk sebelum kalian dan mengangkat (kepala) dari rukuk sebelum kalian.”Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَتِلْكَ بِتِلْكَ وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ يَسْمَعُ اللهُ لَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَإِذَا كَبَّرَ وَسَجَدَ فَكَبِّرُوا وَاسْجُدُوا فَإِنَّ الْإِمَامَ يَسْجُدُ قَبْلَكُمْ وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ“Lalu gerakan demikian diikuti dengan gerakan demikian. Apabila dia berkata, “Sami’allahu liman hamidah (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujinya)”, maka katakanlah, ‘Allahumma Rabbana laka al-hamdu’ (Ya Allah, Rabb kami, segala puji untuk-Mu), niscaya Allah akan mendengarkan kalian. Karena Allah berkata melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sami’allahu liman hamidah.” Dan apabila imam bertakbir dan sujud, maka bertakbir dan sujudlah kalian, karena imam sujud sebelum kalian, dan bangkit sebelum kalian.”Baca Juga: Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang ShalihLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi,فَتِلْكَ بِتِلْكَ، وَإِذَا كَانَ عِنْدَ الْقَعْدَةِ فَلْيَكُنْ مِنْ أَوَّلِ قَوْلِ أَحَدِكُمْ: التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ“Lalu gerakan tersebut diikuti dengan gerakan tersebut. Dan apabila sedang duduk tahiyat, maka hendaklah doa pertama kalian adalah, “At-tahiyyatut-thayyibaatus-shalawaatu lillahi … (sampai akhir doa tasyahhud).” (HR. Muslim no. 404)Banyak orang awam salah dan keliru dalam memahami hadits ini. Sesaat ketika imam mulai bertakbir, mereka pun langsung ikut takbir, dan ini adalah suatu kesalahan. Tidak sepatutnya makmum bertakbir, sampai dia menunggu imam betul-betul selesai bertakbir dan diam. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Imam itu tidak dikatakan bertakbir sampai mengatakan, “Allahu akbar.” Seandainya imam baru mengatakan, “Allah”, kemudian diam, itu belum dikatakan bertakbir, sampai imam mengatakan, “Allahu akbar.” Makmum baru bertakbir setelah imam mengatakan, “Allahu akbar.”Ketika mereka takbir berbarengan dengan imam, mereka pun salah dan meninggalkan perkataan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandanya Engkau mengatakan,إذا صلى فلان فكلمه“Jika fulan (selesai) shalat, bicaralah dengannya.”Maksudnya, Engkau harus menunggunya ketika shalat, dan jika dia selesai shalat, Engkau baru bisa bicara dengannya. Bukanlah maknanya, “Engkau berbicara dengannya ketika dia sedang shalat.”Demikian pula makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”Terkadang, imam bertakbir agak lama karena ketidaktahuannya. Sedangkan makmum di belakangnya bertakbir secara singkat, sehingga dia (makmum) sudah selesai takbir, sebelum imam selesai takbir. Siapa saja yang bertakbir sebelum imam takbir, shalatnya tidak sah. Karena dia memulai shalat sebelum imam memulai shalat, dan bertakbir sebelum imam. Maka tidak sah shalatnya.Ketahuilah bahwa mayoritas manusia pada hari ini, tidak sah salatnya karena mereka mendahului imam dengan sengaja, baik ketika rukuk dan sujud, baik ketika mengangkat ataupun membungkukkan badan. Seandainya aku shalat di seratus masjid, aku tidak melihat satu pun orang yang shalat di masjid itu mendirikan shalat sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semuanya. Maka bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan lihatlah shalat kalian dan shalat orang-orang yang shalat bersama kalian. [1] [2]Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 15 Rabi’ul awwal 1442/ 1 November 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Dikutip dari kitab “Ash-Shalat” karya Imam Ahmad rahimahullah. Terdapat dalam kitab “Thabaqaat Al-Hanabilah”, 1: 353.[2] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 77-79, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Sumber Aqidah Islam, Nasehat Suami Istri Dalam Islam, Pengertian Iman Menurut Para Ahli, 19 Macam Macam Syirik Kecil, Sebab Sujud Syukur

Membaca Al-Quran dari Mushaf Lebih Utama dari Handphone/Aplikasi

Kemudahan di zaman ini adalah adanya aplikasi Al-Quran di gadget dan HP yang memudahkan orang membaca Al-Quran di mana saja, karena umumnya manusia lebih ingat dan lebih mudah membawa gadget/HP daripada membawa mushaf, mengingat gadget adalah kebutuhan pokok manusia di zaman ini.Perlu diketahui bahwa ada ulama yang berpendapat bahwa membaca Al-Quran lebih baik dan lebih utama daripada membacanya di Aplikasi/gadget, sehingga hendaknya kita sebisa mungkin membaca Al-Quran dari mushaf jika memungkinkan.Dalilnya adalah hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan membaca dari mushaf,ﻣﻦ ﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﻓﻠﻴﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“ Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah mushaf .”[1] Demikian juga pendapat Syaikh Khalid Al-Mushlih. Beliau ditanya,ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ : ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ : ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ؟“Mana yang lebih utama membaca Al-Quran dari handphone/gadget atau dari mushaf?”ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺑﺎﻟﺘﺄﻛﻴﺪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺃﻓﻀﻞ، ﻭﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮًﺍ، ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻋﺒﺎﺩﺓ، ﻟﻜﻦ ﻣﻴﺰﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﺄﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﻳﺴﺮ ﻟﻬﻢ، ﻭﺃﻳﻀًﺎ ﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺇﻟﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺟﻬﺰﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﺔ ﺃﻳﺴﺮ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻗﺎﺕ ﻭﺃﻣﺎﻛﻦ ﺍﻻﻧﺘﻈﺎﺭ، ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“Tentu saja membaca dari mushaf lebih utama bahkan lebih besar pahalanya. Melihat pada mushaf adalah ibasah, akan tetapi keistimewaan membaca dari handphone adalah lebih mudah, dan juga tidak mengharuskan memegang handphone (aplikasi Al-Quran) dalam keadaan suci. Oleh karena itu membaca dengan gadget modern seperti ini lebih memudahkan bagi manusia daripada membaca melalui mushaf. Lebih-lebih pada kondisi sedang menunggu (antri pada suatu tempat) di mana tidak memungkinkan bagi manusia membaca dari mushaf.” [2] Bahkan syaikh Shalih Al-Fauzan menegaskan jika ada mushaf dan Ada handphone, maka pilihlah membaca dengan mushaf, beliau berkata,ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﻑ ﺍﻟﺬﻱ ﻇﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻣﺘﻮﻓﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺑﻄﺒﺎﻋﺔ ﻓﺎﺧﺮﺓ ، ﻓﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﻟﻠﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ“Ini termasuk kemewahan pada manusia (memakai handphone). Mushaf sangat banyak di masjid dengan cetakan yang bagus. (Dalam keadaan ini) tidak perlu membaca dengan handphone.”[3] Kesimpulan dan catatan:1. Kita usahakan semampu kita membaca Al-Quran dari mushaf2. Bagi yang bisa membaca Al-Quran ukuran saku, ini lebih baik karena ia bisa membawa Al-Quran ke mana saja3. Al-Quran dalam aplikasi lebih memudahkan bagi mereka yang mungkin susah membawa Al-Quran ukuran besar ke mana-mana sehingga bisa saja ia baca dari aplikasi4. Al-Quran dalam aplikasi juga memudahkan wanita haid dan nifas serta yang tidak dalam keadaan suci untuk membaca Al-Quran karena hukumnya berbeda antara mushaf dengan Al-Quran di aplikasi. Salah satu pendapat ulama adalah menyentuh mushaf harus dalam keadaan suci.@ Masjid Ibnu Sina, FK UGMPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.mualim.or.idCatatan kaki:🔍 Sejarah Nabi Isa Menurut Alquran, Syura, Keutamaan Membaca Ayat Kursi Setelah Sholat, Cara Ber Kb, Hadits Sholawat 1000 Kali

Membaca Al-Quran dari Mushaf Lebih Utama dari Handphone/Aplikasi

Kemudahan di zaman ini adalah adanya aplikasi Al-Quran di gadget dan HP yang memudahkan orang membaca Al-Quran di mana saja, karena umumnya manusia lebih ingat dan lebih mudah membawa gadget/HP daripada membawa mushaf, mengingat gadget adalah kebutuhan pokok manusia di zaman ini.Perlu diketahui bahwa ada ulama yang berpendapat bahwa membaca Al-Quran lebih baik dan lebih utama daripada membacanya di Aplikasi/gadget, sehingga hendaknya kita sebisa mungkin membaca Al-Quran dari mushaf jika memungkinkan.Dalilnya adalah hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan membaca dari mushaf,ﻣﻦ ﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﻓﻠﻴﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“ Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah mushaf .”[1] Demikian juga pendapat Syaikh Khalid Al-Mushlih. Beliau ditanya,ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ : ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ : ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ؟“Mana yang lebih utama membaca Al-Quran dari handphone/gadget atau dari mushaf?”ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺑﺎﻟﺘﺄﻛﻴﺪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺃﻓﻀﻞ، ﻭﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮًﺍ، ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻋﺒﺎﺩﺓ، ﻟﻜﻦ ﻣﻴﺰﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﺄﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﻳﺴﺮ ﻟﻬﻢ، ﻭﺃﻳﻀًﺎ ﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺇﻟﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺟﻬﺰﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﺔ ﺃﻳﺴﺮ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻗﺎﺕ ﻭﺃﻣﺎﻛﻦ ﺍﻻﻧﺘﻈﺎﺭ، ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“Tentu saja membaca dari mushaf lebih utama bahkan lebih besar pahalanya. Melihat pada mushaf adalah ibasah, akan tetapi keistimewaan membaca dari handphone adalah lebih mudah, dan juga tidak mengharuskan memegang handphone (aplikasi Al-Quran) dalam keadaan suci. Oleh karena itu membaca dengan gadget modern seperti ini lebih memudahkan bagi manusia daripada membaca melalui mushaf. Lebih-lebih pada kondisi sedang menunggu (antri pada suatu tempat) di mana tidak memungkinkan bagi manusia membaca dari mushaf.” [2] Bahkan syaikh Shalih Al-Fauzan menegaskan jika ada mushaf dan Ada handphone, maka pilihlah membaca dengan mushaf, beliau berkata,ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﻑ ﺍﻟﺬﻱ ﻇﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻣﺘﻮﻓﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺑﻄﺒﺎﻋﺔ ﻓﺎﺧﺮﺓ ، ﻓﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﻟﻠﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ“Ini termasuk kemewahan pada manusia (memakai handphone). Mushaf sangat banyak di masjid dengan cetakan yang bagus. (Dalam keadaan ini) tidak perlu membaca dengan handphone.”[3] Kesimpulan dan catatan:1. Kita usahakan semampu kita membaca Al-Quran dari mushaf2. Bagi yang bisa membaca Al-Quran ukuran saku, ini lebih baik karena ia bisa membawa Al-Quran ke mana saja3. Al-Quran dalam aplikasi lebih memudahkan bagi mereka yang mungkin susah membawa Al-Quran ukuran besar ke mana-mana sehingga bisa saja ia baca dari aplikasi4. Al-Quran dalam aplikasi juga memudahkan wanita haid dan nifas serta yang tidak dalam keadaan suci untuk membaca Al-Quran karena hukumnya berbeda antara mushaf dengan Al-Quran di aplikasi. Salah satu pendapat ulama adalah menyentuh mushaf harus dalam keadaan suci.@ Masjid Ibnu Sina, FK UGMPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.mualim.or.idCatatan kaki:🔍 Sejarah Nabi Isa Menurut Alquran, Syura, Keutamaan Membaca Ayat Kursi Setelah Sholat, Cara Ber Kb, Hadits Sholawat 1000 Kali
Kemudahan di zaman ini adalah adanya aplikasi Al-Quran di gadget dan HP yang memudahkan orang membaca Al-Quran di mana saja, karena umumnya manusia lebih ingat dan lebih mudah membawa gadget/HP daripada membawa mushaf, mengingat gadget adalah kebutuhan pokok manusia di zaman ini.Perlu diketahui bahwa ada ulama yang berpendapat bahwa membaca Al-Quran lebih baik dan lebih utama daripada membacanya di Aplikasi/gadget, sehingga hendaknya kita sebisa mungkin membaca Al-Quran dari mushaf jika memungkinkan.Dalilnya adalah hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan membaca dari mushaf,ﻣﻦ ﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﻓﻠﻴﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“ Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah mushaf .”[1] Demikian juga pendapat Syaikh Khalid Al-Mushlih. Beliau ditanya,ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ : ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ : ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ؟“Mana yang lebih utama membaca Al-Quran dari handphone/gadget atau dari mushaf?”ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺑﺎﻟﺘﺄﻛﻴﺪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺃﻓﻀﻞ، ﻭﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮًﺍ، ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻋﺒﺎﺩﺓ، ﻟﻜﻦ ﻣﻴﺰﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﺄﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﻳﺴﺮ ﻟﻬﻢ، ﻭﺃﻳﻀًﺎ ﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺇﻟﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺟﻬﺰﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﺔ ﺃﻳﺴﺮ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻗﺎﺕ ﻭﺃﻣﺎﻛﻦ ﺍﻻﻧﺘﻈﺎﺭ، ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“Tentu saja membaca dari mushaf lebih utama bahkan lebih besar pahalanya. Melihat pada mushaf adalah ibasah, akan tetapi keistimewaan membaca dari handphone adalah lebih mudah, dan juga tidak mengharuskan memegang handphone (aplikasi Al-Quran) dalam keadaan suci. Oleh karena itu membaca dengan gadget modern seperti ini lebih memudahkan bagi manusia daripada membaca melalui mushaf. Lebih-lebih pada kondisi sedang menunggu (antri pada suatu tempat) di mana tidak memungkinkan bagi manusia membaca dari mushaf.” [2] Bahkan syaikh Shalih Al-Fauzan menegaskan jika ada mushaf dan Ada handphone, maka pilihlah membaca dengan mushaf, beliau berkata,ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﻑ ﺍﻟﺬﻱ ﻇﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻣﺘﻮﻓﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺑﻄﺒﺎﻋﺔ ﻓﺎﺧﺮﺓ ، ﻓﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﻟﻠﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ“Ini termasuk kemewahan pada manusia (memakai handphone). Mushaf sangat banyak di masjid dengan cetakan yang bagus. (Dalam keadaan ini) tidak perlu membaca dengan handphone.”[3] Kesimpulan dan catatan:1. Kita usahakan semampu kita membaca Al-Quran dari mushaf2. Bagi yang bisa membaca Al-Quran ukuran saku, ini lebih baik karena ia bisa membawa Al-Quran ke mana saja3. Al-Quran dalam aplikasi lebih memudahkan bagi mereka yang mungkin susah membawa Al-Quran ukuran besar ke mana-mana sehingga bisa saja ia baca dari aplikasi4. Al-Quran dalam aplikasi juga memudahkan wanita haid dan nifas serta yang tidak dalam keadaan suci untuk membaca Al-Quran karena hukumnya berbeda antara mushaf dengan Al-Quran di aplikasi. Salah satu pendapat ulama adalah menyentuh mushaf harus dalam keadaan suci.@ Masjid Ibnu Sina, FK UGMPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.mualim.or.idCatatan kaki:🔍 Sejarah Nabi Isa Menurut Alquran, Syura, Keutamaan Membaca Ayat Kursi Setelah Sholat, Cara Ber Kb, Hadits Sholawat 1000 Kali


Kemudahan di zaman ini adalah adanya aplikasi Al-Quran di gadget dan HP yang memudahkan orang membaca Al-Quran di mana saja, karena umumnya manusia lebih ingat dan lebih mudah membawa gadget/HP daripada membawa mushaf, mengingat gadget adalah kebutuhan pokok manusia di zaman ini.Perlu diketahui bahwa ada ulama yang berpendapat bahwa membaca Al-Quran lebih baik dan lebih utama daripada membacanya di Aplikasi/gadget, sehingga hendaknya kita sebisa mungkin membaca Al-Quran dari mushaf jika memungkinkan.Dalilnya adalah hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan membaca dari mushaf,ﻣﻦ ﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﻓﻠﻴﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“ Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah mushaf .”[1] Demikian juga pendapat Syaikh Khalid Al-Mushlih. Beliau ditanya,ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ : ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ : ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ؟“Mana yang lebih utama membaca Al-Quran dari handphone/gadget atau dari mushaf?”ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺑﺎﻟﺘﺄﻛﻴﺪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺃﻓﻀﻞ، ﻭﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮًﺍ، ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻋﺒﺎﺩﺓ، ﻟﻜﻦ ﻣﻴﺰﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﺄﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﻳﺴﺮ ﻟﻬﻢ، ﻭﺃﻳﻀًﺎ ﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺇﻟﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺟﻬﺰﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﺔ ﺃﻳﺴﺮ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻗﺎﺕ ﻭﺃﻣﺎﻛﻦ ﺍﻻﻧﺘﻈﺎﺭ، ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ“Tentu saja membaca dari mushaf lebih utama bahkan lebih besar pahalanya. Melihat pada mushaf adalah ibasah, akan tetapi keistimewaan membaca dari handphone adalah lebih mudah, dan juga tidak mengharuskan memegang handphone (aplikasi Al-Quran) dalam keadaan suci. Oleh karena itu membaca dengan gadget modern seperti ini lebih memudahkan bagi manusia daripada membaca melalui mushaf. Lebih-lebih pada kondisi sedang menunggu (antri pada suatu tempat) di mana tidak memungkinkan bagi manusia membaca dari mushaf.” [2] Bahkan syaikh Shalih Al-Fauzan menegaskan jika ada mushaf dan Ada handphone, maka pilihlah membaca dengan mushaf, beliau berkata,ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﻑ ﺍﻟﺬﻱ ﻇﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻣﺘﻮﻓﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺑﻄﺒﺎﻋﺔ ﻓﺎﺧﺮﺓ ، ﻓﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﻟﻠﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ“Ini termasuk kemewahan pada manusia (memakai handphone). Mushaf sangat banyak di masjid dengan cetakan yang bagus. (Dalam keadaan ini) tidak perlu membaca dengan handphone.”[3] Kesimpulan dan catatan:1. Kita usahakan semampu kita membaca Al-Quran dari mushaf2. Bagi yang bisa membaca Al-Quran ukuran saku, ini lebih baik karena ia bisa membawa Al-Quran ke mana saja3. Al-Quran dalam aplikasi lebih memudahkan bagi mereka yang mungkin susah membawa Al-Quran ukuran besar ke mana-mana sehingga bisa saja ia baca dari aplikasi4. Al-Quran dalam aplikasi juga memudahkan wanita haid dan nifas serta yang tidak dalam keadaan suci untuk membaca Al-Quran karena hukumnya berbeda antara mushaf dengan Al-Quran di aplikasi. Salah satu pendapat ulama adalah menyentuh mushaf harus dalam keadaan suci.@ Masjid Ibnu Sina, FK UGMPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.mualim.or.idCatatan kaki:🔍 Sejarah Nabi Isa Menurut Alquran, Syura, Keutamaan Membaca Ayat Kursi Setelah Sholat, Cara Ber Kb, Hadits Sholawat 1000 Kali

Nasehat Indah Syaikh bin Baz Tentang Takwa #NasehatUlama

Dan takwa ini menguat, membesar, bertambah kokoh dan terus ada karena buah dari seorang hamba yang takut kepada Allah, menjaga perintah-perintah-Nya, menghindari apa yang Dia haramkan dan tidak melanggar batasan-batasan-Nya. Maka semakin hal-hal ini dijaga dan dilaksanakan dengan baik, ketakwaannya kepada Allah akan semakin baik dan sempurna. Dan setiap kali kaki seorang hamba tergelincir pada sesuatu yang membuat Allah murka, berkuranglah ketakwaan ini dan semakin melemah. Ketakwaan adalah iman dan petunjuk sebagaimana keyakinan Ahlu Sunah wal Jama’ah, iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, yakni bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat. Keimanan adalah ketakwaan, sehingga takwa juga perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, karena takwa adalah iman. Dengan pengertian lain yang dijelaskan oleh Ahlu Sunah bahwa iman adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan. Dengan kata lain, perkataan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan dan keyakinan dalam diri, dengan hati, semua itu adalah definisi milik Ahlu Sunah. Keimanan, ketakwaan, petunjuk, keislaman, kebaikan, kesalehan dan petunjuk semua itu berupa perkataan dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan, perkataan dengan hati dan lisan dan perbuatan dengan hati dan anggota badan. Maka dengan berbagai ketaatan menguatlah iman dan semakin besar dan semakin sempurna pula takwanya sehingga bisa mencapai puncak kesempurnaannya. Dan dengan segala bentuk kemaksiatan melemahlah keimanan dan ketakwaan, menjadi sedikit dan semakin sedikit. Maka sesuai kadar kesungguhan seorang mukmin dalam takwanya kepada Allah, tidak melanggar apa yang Allah haramkan, menjauhi hal-hal yang mengundang murka Allah, merasa diawasi oleh Tuhan-Nya dan berhenti di belakang batasan-batasan Allah, semakin sempurnalah takwanya dan semakin besar pula imannya, islamnya, kebaikannya, petunjuknya dan kesalehannya. Dan seberapa besar pula dia terjatuh dalam dosa berupa berkataan atau perbuatan, sebesar itu pula berkurang imannya dan melemah takwanya dan kebaikannya, sesuai kadar dosa yang dia lakukan. Dan kadang kala dosa-dosa tersebut banyak sehingga membuat iman dan takwa ini terkikis dan tidak tersisa kecuali sedikit saja. Dan terkadang juga ada kesalahan yang mengakibatkan imannya hilang secara keseluruhan, menghilangkan semua takwanya, yaitu kesalahan berupa pembatal-pembatal keislaman. Apabila dia melakukan kesalahan yang merupakan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman maka hilanglah seluruh imannya dan semua takwanya sehingga dia menjadi murtad dan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya selama-lamanya jika dia mati dalam keadaan demikian. Maka dengan ini seorang mukmin dan penuntut ilmu paham bahwa ini adalah masalah yang penting sehingga harus diperhatikan baik-baik dan bahwa dunia ini adalah tempat untuk beramal, tempat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan dan tempat yang penuh dengan mara bahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang shahih, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena adanya fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim) Dan dalam riwayat lain, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena akan datang banyak fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita sehingga seseorang di pagi hari beragama Islam dan menjadi kafir pada sore harinya atau di sore hari dia masih beriman dan telah kafir pada esok harinya, karena dia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim) Demikian hadis ini datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyak seseorang di pagi hari beriman kemudian di sore harinya telah kafir dan betapa banyak orang yang beriman di sore hari dan keesokan harinya telah kafir, sungguh tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah. Kenapa dia jadi kafir? Penyebabnya banyak, diantaranya mencela Allah, atau mencela rasul-Nya, atau mencerca agama Allah, atau mencerca al-Qur’an atau merendahkannya, atau mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencerca beliau dan merendahkan beliau, atau mengolok-olok agama Allah atau mengolok-olok masalah surga, neraka, salat, puasa, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya. Dengan demikian dia menjadi kafir setelah berislam dan beriman, murtad dan halal darah dan hartanya, kecuali apabila dia kembali, kecuali apabila dia bertaubat. Dan termasuk pembatal keislaman adalah mengingkari sebagian perkara yang telah Allah wajibkan berupa syariat yang telah dikenal secara luas sebagai bagian dari agama. Seperti apabila seseorang mengingkari wajibnya mengucapkan dua kalimat syahadat atau mengingkari wajibnya mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya, sehingga dia berkata, “Tidak mengapa meminta kepada patung dan berhala dan berdoa kepada selain Allah.” Padahal dia telah terjatuh dalam syirik akbar. Atau mengingkari wajibnya beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berkata bahwa beliau bukanlah rasul untuk seluruh manusia melainkan hanya untuk bangsa Arab saja, sebagaimana diucapkan oleh sebagian orang Yahudi dan Nasrani non-Arab. Atau mengingkari wajibnya salat, mengingkari wajibnya zakat, mengingkari wajibnya puasa Ramadan, mengingkari wajibnya haji bagi yang mampu, mengingkari syariat jihad, mengingkari haramnya zina dan minuman keras, haramnya durhaka kepada orang tua dan memutuskan hubungan silaturahmi, atau juga mengingkari haramnya riba dan haramnya minum minuman keras. Semua ini dan yang semisalnya adalah kemurtadan, satu saja sudah cukup, satu saja dari perbuatan-perbuatan ini sudah menghilangkan keimanan dari pangkalnya, dan menghilangkan ketakwaan dari pangkalnya sehingga dia menjadi kafir, murtad dan halal darah dan hartanya, kita memohon keselamatan kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari) Ini adalah masalah yang berbahaya di dunia ini, maka wajib bagi orang yang beriman untuk berhati-hati, senantiasa khawatir dan takut karena Allah, selalu istiqamah dan selalu menjaga agamanya. Dan termasuk pembatal keislaman adalah meninggalkan salat dengan sengaja walaupun dia mengakui kewajibannya, walaupun dia berkata bahwa salat itu wajib namun dia tidak salat dan tidak peduli dengan salat. Ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama, dan sebagian mereka berkata bahwa pelakunya menjadi kafir dan murtad walaupun tidak mengingkari kewajibannya. Dan sebagian yang lain berkata bahwa dia tidak murtad kecuali bila mengingkari kewajibannya. Namun dia kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama dan dia telah melakukan kemungkaran yang besar yang lebih besar dan lebih buruk dari pada zina, minum minuman keras dan yang semisalnya. Dan yang benar dalam masalah ini adalah bahwa pelakunya kafir walaupun dia tidak mengingkari kewajibannya, kafir keluar dari agama, berdasarkan dalil yang banyak, diantaranya perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlu Sunan dengan sanad yang sahih dari Buraidah -Semoga Allah meridai beliau-dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah salat, barang siapa meninggalkannya dia telah kafir.” Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih beliau dari Jabir -Semoga Allah meridhai beliau- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemisah antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat.” Dua hadis ini dan hadis lain yang semakna dengan keduanya adalah hujah dari Allah yang telah tegak bagi setiap orang yang meninggalkan salat walau tidak mengingkari kewajibannya. Dan Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah menceritakan adanya konsensus para sahabat Nabi akan hal ini, bahwa meninggalkan salat adalah kekafiran. Maka kita wajib untuk berhati-hati dan saling menasehati masalah salat ini dan menjaganya dan saling menasehati agar senantiasa istikamah di atas agama Allah, menjaga ketakwaan dan bersemangat untuk menguatkannya dengan menaati Allah dan rasul-Nya dan menghindari dari bermaksiat kepada-Nya, sebagaimana kita juga harus berhati-hati terhadap hal-hal yang bisa mengurangi ketakwaan dan melemahkan iman berupa semua bentuk kemaksiatan dan penyimpangan. Saya memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung agar memberikan kita dan kalian semua taufik kepada segala hal yang membuat-Nya ridha, memberikan kepada kita dan kalian semua keistiqamahan di atas agama-Nya, membantu kita semua agar senantiasa ingat pada-Nya, bersyukur pada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya, dan memberikan taufik pada kita untuk istikamah di atas ketaatan pada-Nya dan pada rasul-Nya dan istiqamah menjaga ketakwaan pada-Nya sampai kita bertemu Dia yang Maha Suci. Sungguh Dialah yang Maha Baik lagi Maha Dermawan, semoga Allah limpahkan selawat, salam dan berkah-Nya kepada hamba-Nya sekaligus utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, dan juga kepada keluarga beliau dan sahabat-sahabat beliau, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik. ======= وَهَذِهِ التَّقْوَى تَقْوَى وَتَكْبُرُ وَتَثْبُتُ وَتَسْتَقِرُّ مِنْ ثِمَارِ الْعَبْدِ فِي خَوْفِ اللهِ وَحِفَاظِهِ عَلَى أَوَامِرِ اللهِ وَانْكِفَافِهِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ وَوُقُوفِهِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ فَكُلَّمَا كَانَ لِهَذِهِ الْمَسَائِلِ أَرْعَى وَأَقْوَمَ صَارَتْ تَقْوَاهُ لِلهِ أكَمَلَ وَأَتَمَّ وَكُلَّمَا زَلَّتْ فِيهِ الْقَدَمُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يُغْضِبُ اللهُ نَقَصَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَضَعُفَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَذَلِكَ هُوَ الْإيمَانُ وَهُوَ الْهُدَى كَمَا قَالَ أهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَعْنِي يَزِيدُ بِالطَّاعَاتِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعَاصِي وَهُوَ التَّقْوَى أَيْضًا وَكَذَلِكَ التَّقْوَى قَوْلٌ وَعَمَلُ تَزِيدُ وَتَنْقُصُ لِأنَّ التَّقْوَى هِيَ الْإِيمَانُ وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى لِأَهْلِ السُّنَّةِ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَ عَقِيدَةٌ بِلَفْظٍ آخَرَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَ اعْتِقَادٌ بِالْجَنَانِ بِالْقَلْبِ كُلُّهَا عِبَارَاتٌ لِأهْلِ السُّنَّةِ الْإِيمَانُ وَالتَّقْوَى وَالْهُدَى وَالْإِسْلَامُ وَالْبِرُّ وَ الْإِصْلَاحُ وَالْهُدَى كُلُّهُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ فَبِالطَّاعَاتِ يَقْوَى الْإِيمَانُ وَيَكْبُرُ وَتَكْمُلُ التَّقْوَى حَتَّى يَصِلَ إِلَى الْقِمَّةِ وَبِكُلِّ مَعْصِيَةٍ يَنْقُصُ هَذَا الْإِيمَانُ وَتَنْقُصُ التَّقْوَى فَمُقِلٌّ وَمُسْتَقِلٌّ فَعَلَى حَسَبِ نَشَاطِ الْمُؤْمِنِ فِي تَقْوَى اللهِ وَ الْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِهِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَسَاخِطِهِ وَ مُرَاقَبَتِهِ رَبَّهُ وَالْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ تَكْمُلُ تَقْوَاهُ وَيَكْبُرُ إيمَانُهُ وَيَكْبُرُ إِسْلَامُهُ وَ يَكْبُرُ بِرُّهُ وَهُدَاهُ وَصَلَاحُهُ وَعَلَى حَسَبِ مَا يَقَعُ مِنْهُ مِنَ الزَّلَلِ الْقَوْلِيِّ أَوِ الْعَمَلِيِّ يَنْقُصُ الْإِيمَانُ وَتَضْعُفُ التَّقْوَى وَ يَنْقُصُ الْبِرُّ عَلَى حَسَبِ مَا وَقَعَ مِنَ الزَّلَلِ وَقَدْ يَكْثُرُ الزَلَلُ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنْ هَذَا الْإِيمَانِ وَمِنَ التَّقْوَى إِلَّا شَيْءٌ يَسِيرٌ وَقَدْ تَقَعُ مِنْهُ زَلَّةٌ تُزِيلُ إِيمَانَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَتُزِيلُ تَقْوَاهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَهِيَ النَّاقِضُ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ زَلَّةٌ تُعْتَبَرُ نَاقِضٌ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ زَالَ هَذَا الْإيمَانُ بِالْكُلِّيَّةِ وَزَالَتْ هَذِهِ التَّقْوَى بِالْكُلِّيَّةِ وَصَارَ مِنَ الْمُرْتَدِّينَ وَمِنْ أهْلِ النَّارِ الْمُخَلَّدِينَ فِيهَا أَبَدَ الْآبَادِ إِذَا مَاتَ عَلَى ذَلِكَ وَبِهَذَا يَعْلَمُ مُؤْمِنٌ وَطَالِبُ الْعِلْمِ أَنَّ الْأَمْرَ خَطِيرٌ وَأَنَّهُ يَجِبُ بِالْعِنَايَةِ وَأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ دَارُ الْعَمَلِ وَدَارُ الصِّرَاعِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وَ دَارُ الْأَخْطَارِ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ آخَرَ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فَسَتَكُونُ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُسْلِماً وَيُمْسِي كَافِراً وَ يُمْسِي مُؤْمِناً وَيُصْبِحُ كَافِراً يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ هَكَذَا جَاءَ الْحَديثُ عَنْ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَمْ مِنْ مُصْبِحٍ مُؤْمِنٍ أَمْسَى كَافِراً وَكَمْ مِنْ مُمْسٍ مُؤْمِنٍ أَصْبَحَ كَافِراً وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله بِمَاذَا ؟ بِأُمُورٍ مِنْهَا سَبُّ اللهِ أَوْ سَبُّ رَسُولِهِ أَوِ الْطَعْنُ فِي دِيْنِ الله أَوِ الْطَعْنُ فِي الْقُرْآنِ وَ تَنَقُّصُهُ أَوْ سَبُّ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوِ الْطَعْنُ فِيهِ أَوْ تَنَقُّصُهُ أَوِ الْاِسْتِهْزَاءُ بِدِيْنِ اللهِ أَوْ بِالْجَنَّةِ أَوْ بِالنَّارِ أَوْ بِالصَّلَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوْ بِالزَّكَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوِ الْحَجِّ أَوْ غَيْرِ هَذَا فَيُصْبِحُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ وَإيمَانِهِ كَافِراً مُرْتَدًّا حَلَالَ الدَّمِ وَالْمَالِ إِلَّا أَنْ يُرَاجِعَ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَجْحَدَ بَعْضَ مَا أَوْجَبَ اللهُ مِنَ الْأُمُورِ الْمَعْرُوفَةِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ كَأَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالشَّهَادَتَيْنِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ تَوْحِيدِ اللهِ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَيَقُولُ لَا مَانِعَ مِنْ دَعْوَةِ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ وَدَعْوَةِ غَيْرِ اللهِ فَيَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَر ِ أَوْ يَجْحَدَ الْإيمَانَ بِالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَوْ يَقُولُ لَيْسَ بِرَسُولٍ لِلنَّاسِ كَافَّةً بَلْ لِلْعَرَبِ فَقَطْ كَمَا يَقُولُ بَعْضُ الْأَعَاجِمِ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى أَوْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الصَّلَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الزَّكَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ صِيَامِ رَمَضَانَ أَوْ وُجُوبَ الْحَجِّ مَعَ الْاِسْتِطَاعَةِ أَوْ شَرْعِيَّةَ الْجِهَادِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الزِّنَا أَوْ تَحْرِيمَ الْخَمْرِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ عُقُوقِ الْوَالِدَيْنِ أَوْ قَطِيعَةِ الرَّحِمِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الرِّبَا أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ شُرْبِ الْخَمْرِ هَذِهِ وَأَشْبَهُهَا رِدَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنهَا تَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ تُزِيْلُ هَذَا الإِيمَانَ مِنْ أَصْلِهِ وَتُزِيلُ هَذِهِ التَّقْوَى مِنْ أَصْلِهَا فَيَبْقَى صَاحِبُ ذَلِكَ كَافِرًا مُرْتَدًّا حَلالَ دَمِهِ وَمَالِهِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَالْأَمْرُ خَطِيرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى الْوَجِلِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ هِيَ وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَ لَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِراً كُفْرًا دُونَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكِرًا عَظِيماً أَكْبَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَنَحوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ لِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةُ اللهِ الْقَائِمَةُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ وَحَكَى عَبْدُ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيِّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَالرَّسُولِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمُ الْاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَّادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ

Nasehat Indah Syaikh bin Baz Tentang Takwa #NasehatUlama

Dan takwa ini menguat, membesar, bertambah kokoh dan terus ada karena buah dari seorang hamba yang takut kepada Allah, menjaga perintah-perintah-Nya, menghindari apa yang Dia haramkan dan tidak melanggar batasan-batasan-Nya. Maka semakin hal-hal ini dijaga dan dilaksanakan dengan baik, ketakwaannya kepada Allah akan semakin baik dan sempurna. Dan setiap kali kaki seorang hamba tergelincir pada sesuatu yang membuat Allah murka, berkuranglah ketakwaan ini dan semakin melemah. Ketakwaan adalah iman dan petunjuk sebagaimana keyakinan Ahlu Sunah wal Jama’ah, iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, yakni bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat. Keimanan adalah ketakwaan, sehingga takwa juga perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, karena takwa adalah iman. Dengan pengertian lain yang dijelaskan oleh Ahlu Sunah bahwa iman adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan. Dengan kata lain, perkataan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan dan keyakinan dalam diri, dengan hati, semua itu adalah definisi milik Ahlu Sunah. Keimanan, ketakwaan, petunjuk, keislaman, kebaikan, kesalehan dan petunjuk semua itu berupa perkataan dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan, perkataan dengan hati dan lisan dan perbuatan dengan hati dan anggota badan. Maka dengan berbagai ketaatan menguatlah iman dan semakin besar dan semakin sempurna pula takwanya sehingga bisa mencapai puncak kesempurnaannya. Dan dengan segala bentuk kemaksiatan melemahlah keimanan dan ketakwaan, menjadi sedikit dan semakin sedikit. Maka sesuai kadar kesungguhan seorang mukmin dalam takwanya kepada Allah, tidak melanggar apa yang Allah haramkan, menjauhi hal-hal yang mengundang murka Allah, merasa diawasi oleh Tuhan-Nya dan berhenti di belakang batasan-batasan Allah, semakin sempurnalah takwanya dan semakin besar pula imannya, islamnya, kebaikannya, petunjuknya dan kesalehannya. Dan seberapa besar pula dia terjatuh dalam dosa berupa berkataan atau perbuatan, sebesar itu pula berkurang imannya dan melemah takwanya dan kebaikannya, sesuai kadar dosa yang dia lakukan. Dan kadang kala dosa-dosa tersebut banyak sehingga membuat iman dan takwa ini terkikis dan tidak tersisa kecuali sedikit saja. Dan terkadang juga ada kesalahan yang mengakibatkan imannya hilang secara keseluruhan, menghilangkan semua takwanya, yaitu kesalahan berupa pembatal-pembatal keislaman. Apabila dia melakukan kesalahan yang merupakan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman maka hilanglah seluruh imannya dan semua takwanya sehingga dia menjadi murtad dan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya selama-lamanya jika dia mati dalam keadaan demikian. Maka dengan ini seorang mukmin dan penuntut ilmu paham bahwa ini adalah masalah yang penting sehingga harus diperhatikan baik-baik dan bahwa dunia ini adalah tempat untuk beramal, tempat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan dan tempat yang penuh dengan mara bahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang shahih, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena adanya fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim) Dan dalam riwayat lain, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena akan datang banyak fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita sehingga seseorang di pagi hari beragama Islam dan menjadi kafir pada sore harinya atau di sore hari dia masih beriman dan telah kafir pada esok harinya, karena dia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim) Demikian hadis ini datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyak seseorang di pagi hari beriman kemudian di sore harinya telah kafir dan betapa banyak orang yang beriman di sore hari dan keesokan harinya telah kafir, sungguh tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah. Kenapa dia jadi kafir? Penyebabnya banyak, diantaranya mencela Allah, atau mencela rasul-Nya, atau mencerca agama Allah, atau mencerca al-Qur’an atau merendahkannya, atau mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencerca beliau dan merendahkan beliau, atau mengolok-olok agama Allah atau mengolok-olok masalah surga, neraka, salat, puasa, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya. Dengan demikian dia menjadi kafir setelah berislam dan beriman, murtad dan halal darah dan hartanya, kecuali apabila dia kembali, kecuali apabila dia bertaubat. Dan termasuk pembatal keislaman adalah mengingkari sebagian perkara yang telah Allah wajibkan berupa syariat yang telah dikenal secara luas sebagai bagian dari agama. Seperti apabila seseorang mengingkari wajibnya mengucapkan dua kalimat syahadat atau mengingkari wajibnya mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya, sehingga dia berkata, “Tidak mengapa meminta kepada patung dan berhala dan berdoa kepada selain Allah.” Padahal dia telah terjatuh dalam syirik akbar. Atau mengingkari wajibnya beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berkata bahwa beliau bukanlah rasul untuk seluruh manusia melainkan hanya untuk bangsa Arab saja, sebagaimana diucapkan oleh sebagian orang Yahudi dan Nasrani non-Arab. Atau mengingkari wajibnya salat, mengingkari wajibnya zakat, mengingkari wajibnya puasa Ramadan, mengingkari wajibnya haji bagi yang mampu, mengingkari syariat jihad, mengingkari haramnya zina dan minuman keras, haramnya durhaka kepada orang tua dan memutuskan hubungan silaturahmi, atau juga mengingkari haramnya riba dan haramnya minum minuman keras. Semua ini dan yang semisalnya adalah kemurtadan, satu saja sudah cukup, satu saja dari perbuatan-perbuatan ini sudah menghilangkan keimanan dari pangkalnya, dan menghilangkan ketakwaan dari pangkalnya sehingga dia menjadi kafir, murtad dan halal darah dan hartanya, kita memohon keselamatan kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari) Ini adalah masalah yang berbahaya di dunia ini, maka wajib bagi orang yang beriman untuk berhati-hati, senantiasa khawatir dan takut karena Allah, selalu istiqamah dan selalu menjaga agamanya. Dan termasuk pembatal keislaman adalah meninggalkan salat dengan sengaja walaupun dia mengakui kewajibannya, walaupun dia berkata bahwa salat itu wajib namun dia tidak salat dan tidak peduli dengan salat. Ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama, dan sebagian mereka berkata bahwa pelakunya menjadi kafir dan murtad walaupun tidak mengingkari kewajibannya. Dan sebagian yang lain berkata bahwa dia tidak murtad kecuali bila mengingkari kewajibannya. Namun dia kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama dan dia telah melakukan kemungkaran yang besar yang lebih besar dan lebih buruk dari pada zina, minum minuman keras dan yang semisalnya. Dan yang benar dalam masalah ini adalah bahwa pelakunya kafir walaupun dia tidak mengingkari kewajibannya, kafir keluar dari agama, berdasarkan dalil yang banyak, diantaranya perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlu Sunan dengan sanad yang sahih dari Buraidah -Semoga Allah meridai beliau-dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah salat, barang siapa meninggalkannya dia telah kafir.” Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih beliau dari Jabir -Semoga Allah meridhai beliau- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemisah antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat.” Dua hadis ini dan hadis lain yang semakna dengan keduanya adalah hujah dari Allah yang telah tegak bagi setiap orang yang meninggalkan salat walau tidak mengingkari kewajibannya. Dan Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah menceritakan adanya konsensus para sahabat Nabi akan hal ini, bahwa meninggalkan salat adalah kekafiran. Maka kita wajib untuk berhati-hati dan saling menasehati masalah salat ini dan menjaganya dan saling menasehati agar senantiasa istikamah di atas agama Allah, menjaga ketakwaan dan bersemangat untuk menguatkannya dengan menaati Allah dan rasul-Nya dan menghindari dari bermaksiat kepada-Nya, sebagaimana kita juga harus berhati-hati terhadap hal-hal yang bisa mengurangi ketakwaan dan melemahkan iman berupa semua bentuk kemaksiatan dan penyimpangan. Saya memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung agar memberikan kita dan kalian semua taufik kepada segala hal yang membuat-Nya ridha, memberikan kepada kita dan kalian semua keistiqamahan di atas agama-Nya, membantu kita semua agar senantiasa ingat pada-Nya, bersyukur pada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya, dan memberikan taufik pada kita untuk istikamah di atas ketaatan pada-Nya dan pada rasul-Nya dan istiqamah menjaga ketakwaan pada-Nya sampai kita bertemu Dia yang Maha Suci. Sungguh Dialah yang Maha Baik lagi Maha Dermawan, semoga Allah limpahkan selawat, salam dan berkah-Nya kepada hamba-Nya sekaligus utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, dan juga kepada keluarga beliau dan sahabat-sahabat beliau, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik. ======= وَهَذِهِ التَّقْوَى تَقْوَى وَتَكْبُرُ وَتَثْبُتُ وَتَسْتَقِرُّ مِنْ ثِمَارِ الْعَبْدِ فِي خَوْفِ اللهِ وَحِفَاظِهِ عَلَى أَوَامِرِ اللهِ وَانْكِفَافِهِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ وَوُقُوفِهِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ فَكُلَّمَا كَانَ لِهَذِهِ الْمَسَائِلِ أَرْعَى وَأَقْوَمَ صَارَتْ تَقْوَاهُ لِلهِ أكَمَلَ وَأَتَمَّ وَكُلَّمَا زَلَّتْ فِيهِ الْقَدَمُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يُغْضِبُ اللهُ نَقَصَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَضَعُفَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَذَلِكَ هُوَ الْإيمَانُ وَهُوَ الْهُدَى كَمَا قَالَ أهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَعْنِي يَزِيدُ بِالطَّاعَاتِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعَاصِي وَهُوَ التَّقْوَى أَيْضًا وَكَذَلِكَ التَّقْوَى قَوْلٌ وَعَمَلُ تَزِيدُ وَتَنْقُصُ لِأنَّ التَّقْوَى هِيَ الْإِيمَانُ وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى لِأَهْلِ السُّنَّةِ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَ عَقِيدَةٌ بِلَفْظٍ آخَرَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَ اعْتِقَادٌ بِالْجَنَانِ بِالْقَلْبِ كُلُّهَا عِبَارَاتٌ لِأهْلِ السُّنَّةِ الْإِيمَانُ وَالتَّقْوَى وَالْهُدَى وَالْإِسْلَامُ وَالْبِرُّ وَ الْإِصْلَاحُ وَالْهُدَى كُلُّهُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ فَبِالطَّاعَاتِ يَقْوَى الْإِيمَانُ وَيَكْبُرُ وَتَكْمُلُ التَّقْوَى حَتَّى يَصِلَ إِلَى الْقِمَّةِ وَبِكُلِّ مَعْصِيَةٍ يَنْقُصُ هَذَا الْإِيمَانُ وَتَنْقُصُ التَّقْوَى فَمُقِلٌّ وَمُسْتَقِلٌّ فَعَلَى حَسَبِ نَشَاطِ الْمُؤْمِنِ فِي تَقْوَى اللهِ وَ الْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِهِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَسَاخِطِهِ وَ مُرَاقَبَتِهِ رَبَّهُ وَالْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ تَكْمُلُ تَقْوَاهُ وَيَكْبُرُ إيمَانُهُ وَيَكْبُرُ إِسْلَامُهُ وَ يَكْبُرُ بِرُّهُ وَهُدَاهُ وَصَلَاحُهُ وَعَلَى حَسَبِ مَا يَقَعُ مِنْهُ مِنَ الزَّلَلِ الْقَوْلِيِّ أَوِ الْعَمَلِيِّ يَنْقُصُ الْإِيمَانُ وَتَضْعُفُ التَّقْوَى وَ يَنْقُصُ الْبِرُّ عَلَى حَسَبِ مَا وَقَعَ مِنَ الزَّلَلِ وَقَدْ يَكْثُرُ الزَلَلُ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنْ هَذَا الْإِيمَانِ وَمِنَ التَّقْوَى إِلَّا شَيْءٌ يَسِيرٌ وَقَدْ تَقَعُ مِنْهُ زَلَّةٌ تُزِيلُ إِيمَانَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَتُزِيلُ تَقْوَاهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَهِيَ النَّاقِضُ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ زَلَّةٌ تُعْتَبَرُ نَاقِضٌ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ زَالَ هَذَا الْإيمَانُ بِالْكُلِّيَّةِ وَزَالَتْ هَذِهِ التَّقْوَى بِالْكُلِّيَّةِ وَصَارَ مِنَ الْمُرْتَدِّينَ وَمِنْ أهْلِ النَّارِ الْمُخَلَّدِينَ فِيهَا أَبَدَ الْآبَادِ إِذَا مَاتَ عَلَى ذَلِكَ وَبِهَذَا يَعْلَمُ مُؤْمِنٌ وَطَالِبُ الْعِلْمِ أَنَّ الْأَمْرَ خَطِيرٌ وَأَنَّهُ يَجِبُ بِالْعِنَايَةِ وَأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ دَارُ الْعَمَلِ وَدَارُ الصِّرَاعِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وَ دَارُ الْأَخْطَارِ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ آخَرَ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فَسَتَكُونُ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُسْلِماً وَيُمْسِي كَافِراً وَ يُمْسِي مُؤْمِناً وَيُصْبِحُ كَافِراً يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ هَكَذَا جَاءَ الْحَديثُ عَنْ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَمْ مِنْ مُصْبِحٍ مُؤْمِنٍ أَمْسَى كَافِراً وَكَمْ مِنْ مُمْسٍ مُؤْمِنٍ أَصْبَحَ كَافِراً وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله بِمَاذَا ؟ بِأُمُورٍ مِنْهَا سَبُّ اللهِ أَوْ سَبُّ رَسُولِهِ أَوِ الْطَعْنُ فِي دِيْنِ الله أَوِ الْطَعْنُ فِي الْقُرْآنِ وَ تَنَقُّصُهُ أَوْ سَبُّ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوِ الْطَعْنُ فِيهِ أَوْ تَنَقُّصُهُ أَوِ الْاِسْتِهْزَاءُ بِدِيْنِ اللهِ أَوْ بِالْجَنَّةِ أَوْ بِالنَّارِ أَوْ بِالصَّلَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوْ بِالزَّكَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوِ الْحَجِّ أَوْ غَيْرِ هَذَا فَيُصْبِحُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ وَإيمَانِهِ كَافِراً مُرْتَدًّا حَلَالَ الدَّمِ وَالْمَالِ إِلَّا أَنْ يُرَاجِعَ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَجْحَدَ بَعْضَ مَا أَوْجَبَ اللهُ مِنَ الْأُمُورِ الْمَعْرُوفَةِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ كَأَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالشَّهَادَتَيْنِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ تَوْحِيدِ اللهِ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَيَقُولُ لَا مَانِعَ مِنْ دَعْوَةِ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ وَدَعْوَةِ غَيْرِ اللهِ فَيَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَر ِ أَوْ يَجْحَدَ الْإيمَانَ بِالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَوْ يَقُولُ لَيْسَ بِرَسُولٍ لِلنَّاسِ كَافَّةً بَلْ لِلْعَرَبِ فَقَطْ كَمَا يَقُولُ بَعْضُ الْأَعَاجِمِ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى أَوْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الصَّلَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الزَّكَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ صِيَامِ رَمَضَانَ أَوْ وُجُوبَ الْحَجِّ مَعَ الْاِسْتِطَاعَةِ أَوْ شَرْعِيَّةَ الْجِهَادِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الزِّنَا أَوْ تَحْرِيمَ الْخَمْرِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ عُقُوقِ الْوَالِدَيْنِ أَوْ قَطِيعَةِ الرَّحِمِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الرِّبَا أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ شُرْبِ الْخَمْرِ هَذِهِ وَأَشْبَهُهَا رِدَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنهَا تَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ تُزِيْلُ هَذَا الإِيمَانَ مِنْ أَصْلِهِ وَتُزِيلُ هَذِهِ التَّقْوَى مِنْ أَصْلِهَا فَيَبْقَى صَاحِبُ ذَلِكَ كَافِرًا مُرْتَدًّا حَلالَ دَمِهِ وَمَالِهِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَالْأَمْرُ خَطِيرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى الْوَجِلِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ هِيَ وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَ لَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِراً كُفْرًا دُونَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكِرًا عَظِيماً أَكْبَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَنَحوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ لِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةُ اللهِ الْقَائِمَةُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ وَحَكَى عَبْدُ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيِّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَالرَّسُولِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمُ الْاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَّادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ
Dan takwa ini menguat, membesar, bertambah kokoh dan terus ada karena buah dari seorang hamba yang takut kepada Allah, menjaga perintah-perintah-Nya, menghindari apa yang Dia haramkan dan tidak melanggar batasan-batasan-Nya. Maka semakin hal-hal ini dijaga dan dilaksanakan dengan baik, ketakwaannya kepada Allah akan semakin baik dan sempurna. Dan setiap kali kaki seorang hamba tergelincir pada sesuatu yang membuat Allah murka, berkuranglah ketakwaan ini dan semakin melemah. Ketakwaan adalah iman dan petunjuk sebagaimana keyakinan Ahlu Sunah wal Jama’ah, iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, yakni bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat. Keimanan adalah ketakwaan, sehingga takwa juga perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, karena takwa adalah iman. Dengan pengertian lain yang dijelaskan oleh Ahlu Sunah bahwa iman adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan. Dengan kata lain, perkataan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan dan keyakinan dalam diri, dengan hati, semua itu adalah definisi milik Ahlu Sunah. Keimanan, ketakwaan, petunjuk, keislaman, kebaikan, kesalehan dan petunjuk semua itu berupa perkataan dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan, perkataan dengan hati dan lisan dan perbuatan dengan hati dan anggota badan. Maka dengan berbagai ketaatan menguatlah iman dan semakin besar dan semakin sempurna pula takwanya sehingga bisa mencapai puncak kesempurnaannya. Dan dengan segala bentuk kemaksiatan melemahlah keimanan dan ketakwaan, menjadi sedikit dan semakin sedikit. Maka sesuai kadar kesungguhan seorang mukmin dalam takwanya kepada Allah, tidak melanggar apa yang Allah haramkan, menjauhi hal-hal yang mengundang murka Allah, merasa diawasi oleh Tuhan-Nya dan berhenti di belakang batasan-batasan Allah, semakin sempurnalah takwanya dan semakin besar pula imannya, islamnya, kebaikannya, petunjuknya dan kesalehannya. Dan seberapa besar pula dia terjatuh dalam dosa berupa berkataan atau perbuatan, sebesar itu pula berkurang imannya dan melemah takwanya dan kebaikannya, sesuai kadar dosa yang dia lakukan. Dan kadang kala dosa-dosa tersebut banyak sehingga membuat iman dan takwa ini terkikis dan tidak tersisa kecuali sedikit saja. Dan terkadang juga ada kesalahan yang mengakibatkan imannya hilang secara keseluruhan, menghilangkan semua takwanya, yaitu kesalahan berupa pembatal-pembatal keislaman. Apabila dia melakukan kesalahan yang merupakan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman maka hilanglah seluruh imannya dan semua takwanya sehingga dia menjadi murtad dan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya selama-lamanya jika dia mati dalam keadaan demikian. Maka dengan ini seorang mukmin dan penuntut ilmu paham bahwa ini adalah masalah yang penting sehingga harus diperhatikan baik-baik dan bahwa dunia ini adalah tempat untuk beramal, tempat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan dan tempat yang penuh dengan mara bahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang shahih, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena adanya fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim) Dan dalam riwayat lain, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena akan datang banyak fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita sehingga seseorang di pagi hari beragama Islam dan menjadi kafir pada sore harinya atau di sore hari dia masih beriman dan telah kafir pada esok harinya, karena dia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim) Demikian hadis ini datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyak seseorang di pagi hari beriman kemudian di sore harinya telah kafir dan betapa banyak orang yang beriman di sore hari dan keesokan harinya telah kafir, sungguh tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah. Kenapa dia jadi kafir? Penyebabnya banyak, diantaranya mencela Allah, atau mencela rasul-Nya, atau mencerca agama Allah, atau mencerca al-Qur’an atau merendahkannya, atau mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencerca beliau dan merendahkan beliau, atau mengolok-olok agama Allah atau mengolok-olok masalah surga, neraka, salat, puasa, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya. Dengan demikian dia menjadi kafir setelah berislam dan beriman, murtad dan halal darah dan hartanya, kecuali apabila dia kembali, kecuali apabila dia bertaubat. Dan termasuk pembatal keislaman adalah mengingkari sebagian perkara yang telah Allah wajibkan berupa syariat yang telah dikenal secara luas sebagai bagian dari agama. Seperti apabila seseorang mengingkari wajibnya mengucapkan dua kalimat syahadat atau mengingkari wajibnya mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya, sehingga dia berkata, “Tidak mengapa meminta kepada patung dan berhala dan berdoa kepada selain Allah.” Padahal dia telah terjatuh dalam syirik akbar. Atau mengingkari wajibnya beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berkata bahwa beliau bukanlah rasul untuk seluruh manusia melainkan hanya untuk bangsa Arab saja, sebagaimana diucapkan oleh sebagian orang Yahudi dan Nasrani non-Arab. Atau mengingkari wajibnya salat, mengingkari wajibnya zakat, mengingkari wajibnya puasa Ramadan, mengingkari wajibnya haji bagi yang mampu, mengingkari syariat jihad, mengingkari haramnya zina dan minuman keras, haramnya durhaka kepada orang tua dan memutuskan hubungan silaturahmi, atau juga mengingkari haramnya riba dan haramnya minum minuman keras. Semua ini dan yang semisalnya adalah kemurtadan, satu saja sudah cukup, satu saja dari perbuatan-perbuatan ini sudah menghilangkan keimanan dari pangkalnya, dan menghilangkan ketakwaan dari pangkalnya sehingga dia menjadi kafir, murtad dan halal darah dan hartanya, kita memohon keselamatan kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari) Ini adalah masalah yang berbahaya di dunia ini, maka wajib bagi orang yang beriman untuk berhati-hati, senantiasa khawatir dan takut karena Allah, selalu istiqamah dan selalu menjaga agamanya. Dan termasuk pembatal keislaman adalah meninggalkan salat dengan sengaja walaupun dia mengakui kewajibannya, walaupun dia berkata bahwa salat itu wajib namun dia tidak salat dan tidak peduli dengan salat. Ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama, dan sebagian mereka berkata bahwa pelakunya menjadi kafir dan murtad walaupun tidak mengingkari kewajibannya. Dan sebagian yang lain berkata bahwa dia tidak murtad kecuali bila mengingkari kewajibannya. Namun dia kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama dan dia telah melakukan kemungkaran yang besar yang lebih besar dan lebih buruk dari pada zina, minum minuman keras dan yang semisalnya. Dan yang benar dalam masalah ini adalah bahwa pelakunya kafir walaupun dia tidak mengingkari kewajibannya, kafir keluar dari agama, berdasarkan dalil yang banyak, diantaranya perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlu Sunan dengan sanad yang sahih dari Buraidah -Semoga Allah meridai beliau-dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah salat, barang siapa meninggalkannya dia telah kafir.” Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih beliau dari Jabir -Semoga Allah meridhai beliau- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemisah antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat.” Dua hadis ini dan hadis lain yang semakna dengan keduanya adalah hujah dari Allah yang telah tegak bagi setiap orang yang meninggalkan salat walau tidak mengingkari kewajibannya. Dan Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah menceritakan adanya konsensus para sahabat Nabi akan hal ini, bahwa meninggalkan salat adalah kekafiran. Maka kita wajib untuk berhati-hati dan saling menasehati masalah salat ini dan menjaganya dan saling menasehati agar senantiasa istikamah di atas agama Allah, menjaga ketakwaan dan bersemangat untuk menguatkannya dengan menaati Allah dan rasul-Nya dan menghindari dari bermaksiat kepada-Nya, sebagaimana kita juga harus berhati-hati terhadap hal-hal yang bisa mengurangi ketakwaan dan melemahkan iman berupa semua bentuk kemaksiatan dan penyimpangan. Saya memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung agar memberikan kita dan kalian semua taufik kepada segala hal yang membuat-Nya ridha, memberikan kepada kita dan kalian semua keistiqamahan di atas agama-Nya, membantu kita semua agar senantiasa ingat pada-Nya, bersyukur pada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya, dan memberikan taufik pada kita untuk istikamah di atas ketaatan pada-Nya dan pada rasul-Nya dan istiqamah menjaga ketakwaan pada-Nya sampai kita bertemu Dia yang Maha Suci. Sungguh Dialah yang Maha Baik lagi Maha Dermawan, semoga Allah limpahkan selawat, salam dan berkah-Nya kepada hamba-Nya sekaligus utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, dan juga kepada keluarga beliau dan sahabat-sahabat beliau, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik. ======= وَهَذِهِ التَّقْوَى تَقْوَى وَتَكْبُرُ وَتَثْبُتُ وَتَسْتَقِرُّ مِنْ ثِمَارِ الْعَبْدِ فِي خَوْفِ اللهِ وَحِفَاظِهِ عَلَى أَوَامِرِ اللهِ وَانْكِفَافِهِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ وَوُقُوفِهِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ فَكُلَّمَا كَانَ لِهَذِهِ الْمَسَائِلِ أَرْعَى وَأَقْوَمَ صَارَتْ تَقْوَاهُ لِلهِ أكَمَلَ وَأَتَمَّ وَكُلَّمَا زَلَّتْ فِيهِ الْقَدَمُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يُغْضِبُ اللهُ نَقَصَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَضَعُفَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَذَلِكَ هُوَ الْإيمَانُ وَهُوَ الْهُدَى كَمَا قَالَ أهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَعْنِي يَزِيدُ بِالطَّاعَاتِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعَاصِي وَهُوَ التَّقْوَى أَيْضًا وَكَذَلِكَ التَّقْوَى قَوْلٌ وَعَمَلُ تَزِيدُ وَتَنْقُصُ لِأنَّ التَّقْوَى هِيَ الْإِيمَانُ وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى لِأَهْلِ السُّنَّةِ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَ عَقِيدَةٌ بِلَفْظٍ آخَرَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَ اعْتِقَادٌ بِالْجَنَانِ بِالْقَلْبِ كُلُّهَا عِبَارَاتٌ لِأهْلِ السُّنَّةِ الْإِيمَانُ وَالتَّقْوَى وَالْهُدَى وَالْإِسْلَامُ وَالْبِرُّ وَ الْإِصْلَاحُ وَالْهُدَى كُلُّهُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ فَبِالطَّاعَاتِ يَقْوَى الْإِيمَانُ وَيَكْبُرُ وَتَكْمُلُ التَّقْوَى حَتَّى يَصِلَ إِلَى الْقِمَّةِ وَبِكُلِّ مَعْصِيَةٍ يَنْقُصُ هَذَا الْإِيمَانُ وَتَنْقُصُ التَّقْوَى فَمُقِلٌّ وَمُسْتَقِلٌّ فَعَلَى حَسَبِ نَشَاطِ الْمُؤْمِنِ فِي تَقْوَى اللهِ وَ الْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِهِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَسَاخِطِهِ وَ مُرَاقَبَتِهِ رَبَّهُ وَالْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ تَكْمُلُ تَقْوَاهُ وَيَكْبُرُ إيمَانُهُ وَيَكْبُرُ إِسْلَامُهُ وَ يَكْبُرُ بِرُّهُ وَهُدَاهُ وَصَلَاحُهُ وَعَلَى حَسَبِ مَا يَقَعُ مِنْهُ مِنَ الزَّلَلِ الْقَوْلِيِّ أَوِ الْعَمَلِيِّ يَنْقُصُ الْإِيمَانُ وَتَضْعُفُ التَّقْوَى وَ يَنْقُصُ الْبِرُّ عَلَى حَسَبِ مَا وَقَعَ مِنَ الزَّلَلِ وَقَدْ يَكْثُرُ الزَلَلُ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنْ هَذَا الْإِيمَانِ وَمِنَ التَّقْوَى إِلَّا شَيْءٌ يَسِيرٌ وَقَدْ تَقَعُ مِنْهُ زَلَّةٌ تُزِيلُ إِيمَانَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَتُزِيلُ تَقْوَاهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَهِيَ النَّاقِضُ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ زَلَّةٌ تُعْتَبَرُ نَاقِضٌ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ زَالَ هَذَا الْإيمَانُ بِالْكُلِّيَّةِ وَزَالَتْ هَذِهِ التَّقْوَى بِالْكُلِّيَّةِ وَصَارَ مِنَ الْمُرْتَدِّينَ وَمِنْ أهْلِ النَّارِ الْمُخَلَّدِينَ فِيهَا أَبَدَ الْآبَادِ إِذَا مَاتَ عَلَى ذَلِكَ وَبِهَذَا يَعْلَمُ مُؤْمِنٌ وَطَالِبُ الْعِلْمِ أَنَّ الْأَمْرَ خَطِيرٌ وَأَنَّهُ يَجِبُ بِالْعِنَايَةِ وَأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ دَارُ الْعَمَلِ وَدَارُ الصِّرَاعِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وَ دَارُ الْأَخْطَارِ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ آخَرَ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فَسَتَكُونُ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُسْلِماً وَيُمْسِي كَافِراً وَ يُمْسِي مُؤْمِناً وَيُصْبِحُ كَافِراً يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ هَكَذَا جَاءَ الْحَديثُ عَنْ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَمْ مِنْ مُصْبِحٍ مُؤْمِنٍ أَمْسَى كَافِراً وَكَمْ مِنْ مُمْسٍ مُؤْمِنٍ أَصْبَحَ كَافِراً وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله بِمَاذَا ؟ بِأُمُورٍ مِنْهَا سَبُّ اللهِ أَوْ سَبُّ رَسُولِهِ أَوِ الْطَعْنُ فِي دِيْنِ الله أَوِ الْطَعْنُ فِي الْقُرْآنِ وَ تَنَقُّصُهُ أَوْ سَبُّ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوِ الْطَعْنُ فِيهِ أَوْ تَنَقُّصُهُ أَوِ الْاِسْتِهْزَاءُ بِدِيْنِ اللهِ أَوْ بِالْجَنَّةِ أَوْ بِالنَّارِ أَوْ بِالصَّلَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوْ بِالزَّكَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوِ الْحَجِّ أَوْ غَيْرِ هَذَا فَيُصْبِحُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ وَإيمَانِهِ كَافِراً مُرْتَدًّا حَلَالَ الدَّمِ وَالْمَالِ إِلَّا أَنْ يُرَاجِعَ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَجْحَدَ بَعْضَ مَا أَوْجَبَ اللهُ مِنَ الْأُمُورِ الْمَعْرُوفَةِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ كَأَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالشَّهَادَتَيْنِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ تَوْحِيدِ اللهِ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَيَقُولُ لَا مَانِعَ مِنْ دَعْوَةِ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ وَدَعْوَةِ غَيْرِ اللهِ فَيَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَر ِ أَوْ يَجْحَدَ الْإيمَانَ بِالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَوْ يَقُولُ لَيْسَ بِرَسُولٍ لِلنَّاسِ كَافَّةً بَلْ لِلْعَرَبِ فَقَطْ كَمَا يَقُولُ بَعْضُ الْأَعَاجِمِ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى أَوْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الصَّلَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الزَّكَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ صِيَامِ رَمَضَانَ أَوْ وُجُوبَ الْحَجِّ مَعَ الْاِسْتِطَاعَةِ أَوْ شَرْعِيَّةَ الْجِهَادِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الزِّنَا أَوْ تَحْرِيمَ الْخَمْرِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ عُقُوقِ الْوَالِدَيْنِ أَوْ قَطِيعَةِ الرَّحِمِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الرِّبَا أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ شُرْبِ الْخَمْرِ هَذِهِ وَأَشْبَهُهَا رِدَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنهَا تَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ تُزِيْلُ هَذَا الإِيمَانَ مِنْ أَصْلِهِ وَتُزِيلُ هَذِهِ التَّقْوَى مِنْ أَصْلِهَا فَيَبْقَى صَاحِبُ ذَلِكَ كَافِرًا مُرْتَدًّا حَلالَ دَمِهِ وَمَالِهِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَالْأَمْرُ خَطِيرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى الْوَجِلِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ هِيَ وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَ لَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِراً كُفْرًا دُونَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكِرًا عَظِيماً أَكْبَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَنَحوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ لِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةُ اللهِ الْقَائِمَةُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ وَحَكَى عَبْدُ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيِّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَالرَّسُولِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمُ الْاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَّادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ


Dan takwa ini menguat, membesar, bertambah kokoh dan terus ada karena buah dari seorang hamba yang takut kepada Allah, menjaga perintah-perintah-Nya, menghindari apa yang Dia haramkan dan tidak melanggar batasan-batasan-Nya. Maka semakin hal-hal ini dijaga dan dilaksanakan dengan baik, ketakwaannya kepada Allah akan semakin baik dan sempurna. Dan setiap kali kaki seorang hamba tergelincir pada sesuatu yang membuat Allah murka, berkuranglah ketakwaan ini dan semakin melemah. Ketakwaan adalah iman dan petunjuk sebagaimana keyakinan Ahlu Sunah wal Jama’ah, iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, yakni bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat. Keimanan adalah ketakwaan, sehingga takwa juga perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, karena takwa adalah iman. Dengan pengertian lain yang dijelaskan oleh Ahlu Sunah bahwa iman adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan. Dengan kata lain, perkataan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan dan keyakinan dalam diri, dengan hati, semua itu adalah definisi milik Ahlu Sunah. Keimanan, ketakwaan, petunjuk, keislaman, kebaikan, kesalehan dan petunjuk semua itu berupa perkataan dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan, perkataan dengan hati dan lisan dan perbuatan dengan hati dan anggota badan. Maka dengan berbagai ketaatan menguatlah iman dan semakin besar dan semakin sempurna pula takwanya sehingga bisa mencapai puncak kesempurnaannya. Dan dengan segala bentuk kemaksiatan melemahlah keimanan dan ketakwaan, menjadi sedikit dan semakin sedikit. Maka sesuai kadar kesungguhan seorang mukmin dalam takwanya kepada Allah, tidak melanggar apa yang Allah haramkan, menjauhi hal-hal yang mengundang murka Allah, merasa diawasi oleh Tuhan-Nya dan berhenti di belakang batasan-batasan Allah, semakin sempurnalah takwanya dan semakin besar pula imannya, islamnya, kebaikannya, petunjuknya dan kesalehannya. Dan seberapa besar pula dia terjatuh dalam dosa berupa berkataan atau perbuatan, sebesar itu pula berkurang imannya dan melemah takwanya dan kebaikannya, sesuai kadar dosa yang dia lakukan. Dan kadang kala dosa-dosa tersebut banyak sehingga membuat iman dan takwa ini terkikis dan tidak tersisa kecuali sedikit saja. Dan terkadang juga ada kesalahan yang mengakibatkan imannya hilang secara keseluruhan, menghilangkan semua takwanya, yaitu kesalahan berupa pembatal-pembatal keislaman. Apabila dia melakukan kesalahan yang merupakan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman maka hilanglah seluruh imannya dan semua takwanya sehingga dia menjadi murtad dan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya selama-lamanya jika dia mati dalam keadaan demikian. Maka dengan ini seorang mukmin dan penuntut ilmu paham bahwa ini adalah masalah yang penting sehingga harus diperhatikan baik-baik dan bahwa dunia ini adalah tempat untuk beramal, tempat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan dan tempat yang penuh dengan mara bahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang shahih, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena adanya fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim) Dan dalam riwayat lain, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena akan datang banyak fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita sehingga seseorang di pagi hari beragama Islam dan menjadi kafir pada sore harinya atau di sore hari dia masih beriman dan telah kafir pada esok harinya, karena dia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim) Demikian hadis ini datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyak seseorang di pagi hari beriman kemudian di sore harinya telah kafir dan betapa banyak orang yang beriman di sore hari dan keesokan harinya telah kafir, sungguh tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah. Kenapa dia jadi kafir? Penyebabnya banyak, diantaranya mencela Allah, atau mencela rasul-Nya, atau mencerca agama Allah, atau mencerca al-Qur’an atau merendahkannya, atau mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencerca beliau dan merendahkan beliau, atau mengolok-olok agama Allah atau mengolok-olok masalah surga, neraka, salat, puasa, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya. Dengan demikian dia menjadi kafir setelah berislam dan beriman, murtad dan halal darah dan hartanya, kecuali apabila dia kembali, kecuali apabila dia bertaubat. Dan termasuk pembatal keislaman adalah mengingkari sebagian perkara yang telah Allah wajibkan berupa syariat yang telah dikenal secara luas sebagai bagian dari agama. Seperti apabila seseorang mengingkari wajibnya mengucapkan dua kalimat syahadat atau mengingkari wajibnya mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya, sehingga dia berkata, “Tidak mengapa meminta kepada patung dan berhala dan berdoa kepada selain Allah.” Padahal dia telah terjatuh dalam syirik akbar. Atau mengingkari wajibnya beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berkata bahwa beliau bukanlah rasul untuk seluruh manusia melainkan hanya untuk bangsa Arab saja, sebagaimana diucapkan oleh sebagian orang Yahudi dan Nasrani non-Arab. Atau mengingkari wajibnya salat, mengingkari wajibnya zakat, mengingkari wajibnya puasa Ramadan, mengingkari wajibnya haji bagi yang mampu, mengingkari syariat jihad, mengingkari haramnya zina dan minuman keras, haramnya durhaka kepada orang tua dan memutuskan hubungan silaturahmi, atau juga mengingkari haramnya riba dan haramnya minum minuman keras. Semua ini dan yang semisalnya adalah kemurtadan, satu saja sudah cukup, satu saja dari perbuatan-perbuatan ini sudah menghilangkan keimanan dari pangkalnya, dan menghilangkan ketakwaan dari pangkalnya sehingga dia menjadi kafir, murtad dan halal darah dan hartanya, kita memohon keselamatan kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari) Ini adalah masalah yang berbahaya di dunia ini, maka wajib bagi orang yang beriman untuk berhati-hati, senantiasa khawatir dan takut karena Allah, selalu istiqamah dan selalu menjaga agamanya. Dan termasuk pembatal keislaman adalah meninggalkan salat dengan sengaja walaupun dia mengakui kewajibannya, walaupun dia berkata bahwa salat itu wajib namun dia tidak salat dan tidak peduli dengan salat. Ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama, dan sebagian mereka berkata bahwa pelakunya menjadi kafir dan murtad walaupun tidak mengingkari kewajibannya. Dan sebagian yang lain berkata bahwa dia tidak murtad kecuali bila mengingkari kewajibannya. Namun dia kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama dan dia telah melakukan kemungkaran yang besar yang lebih besar dan lebih buruk dari pada zina, minum minuman keras dan yang semisalnya. Dan yang benar dalam masalah ini adalah bahwa pelakunya kafir walaupun dia tidak mengingkari kewajibannya, kafir keluar dari agama, berdasarkan dalil yang banyak, diantaranya perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlu Sunan dengan sanad yang sahih dari Buraidah -Semoga Allah meridai beliau-dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah salat, barang siapa meninggalkannya dia telah kafir.” Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih beliau dari Jabir -Semoga Allah meridhai beliau- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemisah antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat.” Dua hadis ini dan hadis lain yang semakna dengan keduanya adalah hujah dari Allah yang telah tegak bagi setiap orang yang meninggalkan salat walau tidak mengingkari kewajibannya. Dan Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah menceritakan adanya konsensus para sahabat Nabi akan hal ini, bahwa meninggalkan salat adalah kekafiran. Maka kita wajib untuk berhati-hati dan saling menasehati masalah salat ini dan menjaganya dan saling menasehati agar senantiasa istikamah di atas agama Allah, menjaga ketakwaan dan bersemangat untuk menguatkannya dengan menaati Allah dan rasul-Nya dan menghindari dari bermaksiat kepada-Nya, sebagaimana kita juga harus berhati-hati terhadap hal-hal yang bisa mengurangi ketakwaan dan melemahkan iman berupa semua bentuk kemaksiatan dan penyimpangan. Saya memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung agar memberikan kita dan kalian semua taufik kepada segala hal yang membuat-Nya ridha, memberikan kepada kita dan kalian semua keistiqamahan di atas agama-Nya, membantu kita semua agar senantiasa ingat pada-Nya, bersyukur pada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya, dan memberikan taufik pada kita untuk istikamah di atas ketaatan pada-Nya dan pada rasul-Nya dan istiqamah menjaga ketakwaan pada-Nya sampai kita bertemu Dia yang Maha Suci. Sungguh Dialah yang Maha Baik lagi Maha Dermawan, semoga Allah limpahkan selawat, salam dan berkah-Nya kepada hamba-Nya sekaligus utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, dan juga kepada keluarga beliau dan sahabat-sahabat beliau, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik. ======= وَهَذِهِ التَّقْوَى تَقْوَى وَتَكْبُرُ وَتَثْبُتُ وَتَسْتَقِرُّ مِنْ ثِمَارِ الْعَبْدِ فِي خَوْفِ اللهِ وَحِفَاظِهِ عَلَى أَوَامِرِ اللهِ وَانْكِفَافِهِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ وَوُقُوفِهِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ فَكُلَّمَا كَانَ لِهَذِهِ الْمَسَائِلِ أَرْعَى وَأَقْوَمَ صَارَتْ تَقْوَاهُ لِلهِ أكَمَلَ وَأَتَمَّ وَكُلَّمَا زَلَّتْ فِيهِ الْقَدَمُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يُغْضِبُ اللهُ نَقَصَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَضَعُفَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَذَلِكَ هُوَ الْإيمَانُ وَهُوَ الْهُدَى كَمَا قَالَ أهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَعْنِي يَزِيدُ بِالطَّاعَاتِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعَاصِي وَهُوَ التَّقْوَى أَيْضًا وَكَذَلِكَ التَّقْوَى قَوْلٌ وَعَمَلُ تَزِيدُ وَتَنْقُصُ لِأنَّ التَّقْوَى هِيَ الْإِيمَانُ وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى لِأَهْلِ السُّنَّةِ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَ عَقِيدَةٌ بِلَفْظٍ آخَرَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَ اعْتِقَادٌ بِالْجَنَانِ بِالْقَلْبِ كُلُّهَا عِبَارَاتٌ لِأهْلِ السُّنَّةِ الْإِيمَانُ وَالتَّقْوَى وَالْهُدَى وَالْإِسْلَامُ وَالْبِرُّ وَ الْإِصْلَاحُ وَالْهُدَى كُلُّهُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ فَبِالطَّاعَاتِ يَقْوَى الْإِيمَانُ وَيَكْبُرُ وَتَكْمُلُ التَّقْوَى حَتَّى يَصِلَ إِلَى الْقِمَّةِ وَبِكُلِّ مَعْصِيَةٍ يَنْقُصُ هَذَا الْإِيمَانُ وَتَنْقُصُ التَّقْوَى فَمُقِلٌّ وَمُسْتَقِلٌّ فَعَلَى حَسَبِ نَشَاطِ الْمُؤْمِنِ فِي تَقْوَى اللهِ وَ الْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِهِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَسَاخِطِهِ وَ مُرَاقَبَتِهِ رَبَّهُ وَالْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ تَكْمُلُ تَقْوَاهُ وَيَكْبُرُ إيمَانُهُ وَيَكْبُرُ إِسْلَامُهُ وَ يَكْبُرُ بِرُّهُ وَهُدَاهُ وَصَلَاحُهُ وَعَلَى حَسَبِ مَا يَقَعُ مِنْهُ مِنَ الزَّلَلِ الْقَوْلِيِّ أَوِ الْعَمَلِيِّ يَنْقُصُ الْإِيمَانُ وَتَضْعُفُ التَّقْوَى وَ يَنْقُصُ الْبِرُّ عَلَى حَسَبِ مَا وَقَعَ مِنَ الزَّلَلِ وَقَدْ يَكْثُرُ الزَلَلُ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنْ هَذَا الْإِيمَانِ وَمِنَ التَّقْوَى إِلَّا شَيْءٌ يَسِيرٌ وَقَدْ تَقَعُ مِنْهُ زَلَّةٌ تُزِيلُ إِيمَانَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَتُزِيلُ تَقْوَاهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَهِيَ النَّاقِضُ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ زَلَّةٌ تُعْتَبَرُ نَاقِضٌ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ زَالَ هَذَا الْإيمَانُ بِالْكُلِّيَّةِ وَزَالَتْ هَذِهِ التَّقْوَى بِالْكُلِّيَّةِ وَصَارَ مِنَ الْمُرْتَدِّينَ وَمِنْ أهْلِ النَّارِ الْمُخَلَّدِينَ فِيهَا أَبَدَ الْآبَادِ إِذَا مَاتَ عَلَى ذَلِكَ وَبِهَذَا يَعْلَمُ مُؤْمِنٌ وَطَالِبُ الْعِلْمِ أَنَّ الْأَمْرَ خَطِيرٌ وَأَنَّهُ يَجِبُ بِالْعِنَايَةِ وَأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ دَارُ الْعَمَلِ وَدَارُ الصِّرَاعِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وَ دَارُ الْأَخْطَارِ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ آخَرَ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فَسَتَكُونُ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُسْلِماً وَيُمْسِي كَافِراً وَ يُمْسِي مُؤْمِناً وَيُصْبِحُ كَافِراً يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ هَكَذَا جَاءَ الْحَديثُ عَنْ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَمْ مِنْ مُصْبِحٍ مُؤْمِنٍ أَمْسَى كَافِراً وَكَمْ مِنْ مُمْسٍ مُؤْمِنٍ أَصْبَحَ كَافِراً وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله بِمَاذَا ؟ بِأُمُورٍ مِنْهَا سَبُّ اللهِ أَوْ سَبُّ رَسُولِهِ أَوِ الْطَعْنُ فِي دِيْنِ الله أَوِ الْطَعْنُ فِي الْقُرْآنِ وَ تَنَقُّصُهُ أَوْ سَبُّ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوِ الْطَعْنُ فِيهِ أَوْ تَنَقُّصُهُ أَوِ الْاِسْتِهْزَاءُ بِدِيْنِ اللهِ أَوْ بِالْجَنَّةِ أَوْ بِالنَّارِ أَوْ بِالصَّلَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوْ بِالزَّكَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوِ الْحَجِّ أَوْ غَيْرِ هَذَا فَيُصْبِحُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ وَإيمَانِهِ كَافِراً مُرْتَدًّا حَلَالَ الدَّمِ وَالْمَالِ إِلَّا أَنْ يُرَاجِعَ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَجْحَدَ بَعْضَ مَا أَوْجَبَ اللهُ مِنَ الْأُمُورِ الْمَعْرُوفَةِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ كَأَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالشَّهَادَتَيْنِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ تَوْحِيدِ اللهِ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ وَيَقُولُ لَا مَانِعَ مِنْ دَعْوَةِ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ وَدَعْوَةِ غَيْرِ اللهِ فَيَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَر ِ أَوْ يَجْحَدَ الْإيمَانَ بِالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَوْ يَقُولُ لَيْسَ بِرَسُولٍ لِلنَّاسِ كَافَّةً بَلْ لِلْعَرَبِ فَقَطْ كَمَا يَقُولُ بَعْضُ الْأَعَاجِمِ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى أَوْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الصَّلَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الزَّكَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ صِيَامِ رَمَضَانَ أَوْ وُجُوبَ الْحَجِّ مَعَ الْاِسْتِطَاعَةِ أَوْ شَرْعِيَّةَ الْجِهَادِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الزِّنَا أَوْ تَحْرِيمَ الْخَمْرِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ عُقُوقِ الْوَالِدَيْنِ أَوْ قَطِيعَةِ الرَّحِمِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الرِّبَا أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ شُرْبِ الْخَمْرِ هَذِهِ وَأَشْبَهُهَا رِدَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنهَا تَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ تُزِيْلُ هَذَا الإِيمَانَ مِنْ أَصْلِهِ وَتُزِيلُ هَذِهِ التَّقْوَى مِنْ أَصْلِهَا فَيَبْقَى صَاحِبُ ذَلِكَ كَافِرًا مُرْتَدًّا حَلالَ دَمِهِ وَمَالِهِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ فَالْأَمْرُ خَطِيرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى الْوَجِلِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ هِيَ وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَ لَا يُبَالِي فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِراً كُفْرًا دُونَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكِرًا عَظِيماً أَكْبَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَنَحوِ ذَلِكَ وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ لِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةُ اللهِ الْقَائِمَةُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ وَحَكَى عَبْدُ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيِّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَالرَّسُولِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَعَاصِي اللهِ كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُرْضِيهِ وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمُ الْاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ جَوَّادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ

Hukum Ayam, Sapi, dan Kambing Disembelih dengan Alat Modern dan Dibius

Ada beberapa bahasan terkait dengan bangkai, yaitu penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern, sampai pada penyembelihan sapi dan kambing dengan menggunakan obat bius. Bagaimanakah hukumnya?   Baca selengkapnya bahasan: Seputar Bangkai   Penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern Urat tidak terputus sempurna (saluran nafas, saluran makan), hukum: BANGKAI. Tidak dibacakan bismillah pada tiap hewan yang disembelih, hukum: BANGKAI.   Penjagalan sapi dan kambing dengan cara modern, yaitu hewannya dibius terlebih dahulu Dibius dengan: suntik, muatan listrik, mengurung hewan di sebuah ruangan dan diberi gas CO2 hingga hewan tersebut pingsan. Yang benar, cara pembiusan sebelum disembelih, wajib dihindari. Hewan yang dibius disembelih bisa halal jika: Disembelih saat hewan itu masih hidup Memenuhi aturan hukum syari lainnya Menembakkan jarum itu dihindari, juga dibius dengan muatan listrik pada ayam baiknya dihindari.   Anggota hewan yang dipotong saat masih hidup Statusnya bangkai, seperti punuk dan ekor. Dalam hadits disebutkan: مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai. (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 2 Rabiuts Tsani 1442 H (18 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal

Hukum Ayam, Sapi, dan Kambing Disembelih dengan Alat Modern dan Dibius

Ada beberapa bahasan terkait dengan bangkai, yaitu penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern, sampai pada penyembelihan sapi dan kambing dengan menggunakan obat bius. Bagaimanakah hukumnya?   Baca selengkapnya bahasan: Seputar Bangkai   Penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern Urat tidak terputus sempurna (saluran nafas, saluran makan), hukum: BANGKAI. Tidak dibacakan bismillah pada tiap hewan yang disembelih, hukum: BANGKAI.   Penjagalan sapi dan kambing dengan cara modern, yaitu hewannya dibius terlebih dahulu Dibius dengan: suntik, muatan listrik, mengurung hewan di sebuah ruangan dan diberi gas CO2 hingga hewan tersebut pingsan. Yang benar, cara pembiusan sebelum disembelih, wajib dihindari. Hewan yang dibius disembelih bisa halal jika: Disembelih saat hewan itu masih hidup Memenuhi aturan hukum syari lainnya Menembakkan jarum itu dihindari, juga dibius dengan muatan listrik pada ayam baiknya dihindari.   Anggota hewan yang dipotong saat masih hidup Statusnya bangkai, seperti punuk dan ekor. Dalam hadits disebutkan: مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai. (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 2 Rabiuts Tsani 1442 H (18 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal
Ada beberapa bahasan terkait dengan bangkai, yaitu penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern, sampai pada penyembelihan sapi dan kambing dengan menggunakan obat bius. Bagaimanakah hukumnya?   Baca selengkapnya bahasan: Seputar Bangkai   Penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern Urat tidak terputus sempurna (saluran nafas, saluran makan), hukum: BANGKAI. Tidak dibacakan bismillah pada tiap hewan yang disembelih, hukum: BANGKAI.   Penjagalan sapi dan kambing dengan cara modern, yaitu hewannya dibius terlebih dahulu Dibius dengan: suntik, muatan listrik, mengurung hewan di sebuah ruangan dan diberi gas CO2 hingga hewan tersebut pingsan. Yang benar, cara pembiusan sebelum disembelih, wajib dihindari. Hewan yang dibius disembelih bisa halal jika: Disembelih saat hewan itu masih hidup Memenuhi aturan hukum syari lainnya Menembakkan jarum itu dihindari, juga dibius dengan muatan listrik pada ayam baiknya dihindari.   Anggota hewan yang dipotong saat masih hidup Statusnya bangkai, seperti punuk dan ekor. Dalam hadits disebutkan: مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai. (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 2 Rabiuts Tsani 1442 H (18 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal


Ada beberapa bahasan terkait dengan bangkai, yaitu penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern, sampai pada penyembelihan sapi dan kambing dengan menggunakan obat bius. Bagaimanakah hukumnya?   Baca selengkapnya bahasan: Seputar Bangkai   Penyembelihan ayam dengan menggunakan alat modern Urat tidak terputus sempurna (saluran nafas, saluran makan), hukum: BANGKAI. Tidak dibacakan bismillah pada tiap hewan yang disembelih, hukum: BANGKAI.   Penjagalan sapi dan kambing dengan cara modern, yaitu hewannya dibius terlebih dahulu Dibius dengan: suntik, muatan listrik, mengurung hewan di sebuah ruangan dan diberi gas CO2 hingga hewan tersebut pingsan. Yang benar, cara pembiusan sebelum disembelih, wajib dihindari. Hewan yang dibius disembelih bisa halal jika: Disembelih saat hewan itu masih hidup Memenuhi aturan hukum syari lainnya Menembakkan jarum itu dihindari, juga dibius dengan muatan listrik pada ayam baiknya dihindari.   Anggota hewan yang dipotong saat masih hidup Statusnya bangkai, seperti punuk dan ekor. Dalam hadits disebutkan: مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai. (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 2 Rabiuts Tsani 1442 H (18 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal

Bangkai dan Makan Daging Hewan Sembelihan di Luar Negeri

Bagaimanakah hukum makan daging hewan sembelikan ketika berada di luar negeri?   Bangkai adalah hewan darat yang mati tanpa disembelih atau dibunuh dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Bangkai hewan yang hidup di darat dan mengalir darahnya saat di potong bagian tubuhnya (lahu nafsun sailah) disepakati oleh para ulama hukumnya najis. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)   Bangkai diharamkan karena sifat najisnya. Yang termasuk bangkai Hewan yang mati tanpa diputuskan urat saluran pernafasan dan urat saluran makanan, seperti disebut dalam surah Al-Maidah ayat 3. Hewan ternak yang disembelih tanpa mengucapkan bismillah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan yang disembelih tidak menyebut bismillah, statusnya adalah bangkai. Hewan yang disembelih oleh non-muslim. Non-muslim ada dua yaitu ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan bukan ahli kitab (Hindu, Budha, Sintho). Non-muslim yang bukan ahli kitab (tidak memiliki kitab samawi), daging sembelihannya dianggap bangkai. Adapun non-muslim ahli kitab (Yahudi dan Nasrani yang memiliki kitab samawi) daging sembelihannya halal. Lihat surah Al-Maidah ayat 5. Allah Ta’ala berfiman, الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al Maidah: 5).   Keabsahan sembelihan ahli kitab dengan memenuhi beberapa syarat: Ahli kitab itu adalah Yahudi dan Nasrani, baik ahli kitab sebelum Nabi Muhammad diutus atau setelahnya. Hewan yang disembelih adalah hewan yang dihalalkan Islam. Tidak diketahui bahwa mereka menyembelih nama selain Allah saat penyembelihan.   Bagi yang berada di luar negeri, daging sembelihan: Ada label halal dari lembaga Islam resmi, hukum: HALAL. Negara ahli kitab, hukum: HALAL. Negara non ahli kitab (India, Jepang), hukum: HARAM.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal

Bangkai dan Makan Daging Hewan Sembelihan di Luar Negeri

Bagaimanakah hukum makan daging hewan sembelikan ketika berada di luar negeri?   Bangkai adalah hewan darat yang mati tanpa disembelih atau dibunuh dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Bangkai hewan yang hidup di darat dan mengalir darahnya saat di potong bagian tubuhnya (lahu nafsun sailah) disepakati oleh para ulama hukumnya najis. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)   Bangkai diharamkan karena sifat najisnya. Yang termasuk bangkai Hewan yang mati tanpa diputuskan urat saluran pernafasan dan urat saluran makanan, seperti disebut dalam surah Al-Maidah ayat 3. Hewan ternak yang disembelih tanpa mengucapkan bismillah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan yang disembelih tidak menyebut bismillah, statusnya adalah bangkai. Hewan yang disembelih oleh non-muslim. Non-muslim ada dua yaitu ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan bukan ahli kitab (Hindu, Budha, Sintho). Non-muslim yang bukan ahli kitab (tidak memiliki kitab samawi), daging sembelihannya dianggap bangkai. Adapun non-muslim ahli kitab (Yahudi dan Nasrani yang memiliki kitab samawi) daging sembelihannya halal. Lihat surah Al-Maidah ayat 5. Allah Ta’ala berfiman, الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al Maidah: 5).   Keabsahan sembelihan ahli kitab dengan memenuhi beberapa syarat: Ahli kitab itu adalah Yahudi dan Nasrani, baik ahli kitab sebelum Nabi Muhammad diutus atau setelahnya. Hewan yang disembelih adalah hewan yang dihalalkan Islam. Tidak diketahui bahwa mereka menyembelih nama selain Allah saat penyembelihan.   Bagi yang berada di luar negeri, daging sembelihan: Ada label halal dari lembaga Islam resmi, hukum: HALAL. Negara ahli kitab, hukum: HALAL. Negara non ahli kitab (India, Jepang), hukum: HARAM.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal
Bagaimanakah hukum makan daging hewan sembelikan ketika berada di luar negeri?   Bangkai adalah hewan darat yang mati tanpa disembelih atau dibunuh dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Bangkai hewan yang hidup di darat dan mengalir darahnya saat di potong bagian tubuhnya (lahu nafsun sailah) disepakati oleh para ulama hukumnya najis. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)   Bangkai diharamkan karena sifat najisnya. Yang termasuk bangkai Hewan yang mati tanpa diputuskan urat saluran pernafasan dan urat saluran makanan, seperti disebut dalam surah Al-Maidah ayat 3. Hewan ternak yang disembelih tanpa mengucapkan bismillah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan yang disembelih tidak menyebut bismillah, statusnya adalah bangkai. Hewan yang disembelih oleh non-muslim. Non-muslim ada dua yaitu ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan bukan ahli kitab (Hindu, Budha, Sintho). Non-muslim yang bukan ahli kitab (tidak memiliki kitab samawi), daging sembelihannya dianggap bangkai. Adapun non-muslim ahli kitab (Yahudi dan Nasrani yang memiliki kitab samawi) daging sembelihannya halal. Lihat surah Al-Maidah ayat 5. Allah Ta’ala berfiman, الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al Maidah: 5).   Keabsahan sembelihan ahli kitab dengan memenuhi beberapa syarat: Ahli kitab itu adalah Yahudi dan Nasrani, baik ahli kitab sebelum Nabi Muhammad diutus atau setelahnya. Hewan yang disembelih adalah hewan yang dihalalkan Islam. Tidak diketahui bahwa mereka menyembelih nama selain Allah saat penyembelihan.   Bagi yang berada di luar negeri, daging sembelihan: Ada label halal dari lembaga Islam resmi, hukum: HALAL. Negara ahli kitab, hukum: HALAL. Negara non ahli kitab (India, Jepang), hukum: HARAM.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal


Bagaimanakah hukum makan daging hewan sembelikan ketika berada di luar negeri?   Bangkai adalah hewan darat yang mati tanpa disembelih atau dibunuh dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Bangkai hewan yang hidup di darat dan mengalir darahnya saat di potong bagian tubuhnya (lahu nafsun sailah) disepakati oleh para ulama hukumnya najis. Allah Ta’ala berfirman, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)   Bangkai diharamkan karena sifat najisnya. Yang termasuk bangkai Hewan yang mati tanpa diputuskan urat saluran pernafasan dan urat saluran makanan, seperti disebut dalam surah Al-Maidah ayat 3. Hewan ternak yang disembelih tanpa mengucapkan bismillah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan yang disembelih tidak menyebut bismillah, statusnya adalah bangkai. Hewan yang disembelih oleh non-muslim. Non-muslim ada dua yaitu ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan bukan ahli kitab (Hindu, Budha, Sintho). Non-muslim yang bukan ahli kitab (tidak memiliki kitab samawi), daging sembelihannya dianggap bangkai. Adapun non-muslim ahli kitab (Yahudi dan Nasrani yang memiliki kitab samawi) daging sembelihannya halal. Lihat surah Al-Maidah ayat 5. Allah Ta’ala berfiman, الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al Maidah: 5).   Keabsahan sembelihan ahli kitab dengan memenuhi beberapa syarat: Ahli kitab itu adalah Yahudi dan Nasrani, baik ahli kitab sebelum Nabi Muhammad diutus atau setelahnya. Hewan yang disembelih adalah hewan yang dihalalkan Islam. Tidak diketahui bahwa mereka menyembelih nama selain Allah saat penyembelihan.   Bagi yang berada di luar negeri, daging sembelihan: Ada label halal dari lembaga Islam resmi, hukum: HALAL. Negara ahli kitab, hukum: HALAL. Negara non ahli kitab (India, Jepang), hukum: HARAM.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.   — Disusun di Darush Sholihin, Selasa, 1 Rabiuts Tsani 1442 H (17 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram makanan halal

Pentingnya Mempelajari Bahasa al-Quran – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

 Yang pertama, bahwa at-Thufi atau Sulaiman Najmuddin at-Thufi dalam kitab al-Iksir berkata, “Sesungguhnya orang-orang dan para ahli tafsir ketika mempelajari kitab Allah ‘azza wa jalla dari banyak sisinya, mereka lupa mempelajari tujuan terbesar dalam al-Qur’an setelah tujuan menunjukkan eksistensi Allah ‘azza wa jalla dan keesaan-Nya, yaitu keajaiban tata bahasanya.” Maka wajib bagi seseorang untuk memberikan perhatian terhadap kitab ini, kitab Allah ‘azza wa jalla, dan memperhatikan sisi kebahasaannya. Dan cara pertama yang bisa dilakukan seseorang adalah dengan mendalami pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib), ini yang pertama, dan tentu ini tidak harus runtut. Dan pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib) bisa didapatkan dengan membaca kitab-kitab bahasa dan syair orang-orang terdahulu, maka bacalah kitab-kitab terdahulu yang terdapat padanya kata-kata sukar (ghorib) sehingga Anda bisa mengerti sinonim dan maksud katanya. Mungkin ada kata yang sudah Anda ketahui, namun apabila kata tersebut ditemukan pada beberapa konteks, Anda akan lebih memahami maksudnya. Adapun membaca kamus, iya, ini juga salah satu cara, namun menghafalkan kamus dan definisi-definisi kata sangatlah sulit, namun dengan membacalah Anda akan mendapatkan pengetahuan, jadi inilah masalah yang berhubungan dengan kata-kata sukar (ghorib), Anda harus mengerti arti kata sukar (ghorib) dan kosa-kata bahasa. Sebagaimana telah saya katakan pada kalian bahwa imam asy-Syafi’i berkata, “Tidaklah mungkin seseorang bisa menguasai seluruh makna kata-kata sukar (ghorib).” Dan kita sudah membahas tentang kata-kata sukar (ghorib). Yang kedua, Anda harus meng-i’rab kalimat dan maksud dari i’rab ini adalah tidak ada kekeliruan tata bahasa. Dan sungguh dahulu Abu Bakar ash-Shiddiq -semoga Allah meridai beliau- berkhutbah di hadapan kaum muslimin ketika dilantik menjadi khalifah. Beliau berkata, “Wahai kaum muslimin, i’rab-lah al-Qur’an.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah berkata demikian, kenapa? Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berbicara kepada penutur asli bahasa Arab yang murni. Dan barulah orang-orang non-Arab datang di penghujung masa pemerintahan Abu Bakar. Bukankah Umar, setelah beliau ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi, berkata kepada Ibnu Abbas, “Bukankah itu adalah orang yang dahulu kamu dan ayahmu perdebatkan tentang kedatangannya?” Yaitu tentang masuknya orang-orang non-Arab ke kota Madinah. Umar berpendapat bahwa orang non-Arab tidak boleh masuk Madinah namun beliau mengikuti pendapat para sahabat (yang berpendapat) bolehnya orang-orang non-Arab masuk. Kemudian masuklah orang-orang non-Arab sehingga Abu Bakar berkata, “I’rab-lah al-Qur’an.” Dan dahulu Abdullah bin Umar -semoga Allah meridai beliau berdua- memukul anaknya apabila keliru dalam tata bahasa al-Qur’an namun tidak memukulnya apabila tidak bisa menghafalnya. Inilah i’rab, memperhatikan ketepatan tata bahasa dalam kalimat. Diantara cara memahami i’rab adalah dengan memahami ilmu Nahwu meskipun sebagian orang mampu menerapkan tata bahasa dengan benar walaupun tidak mengerti nahwu secara keseluruhannya. Saya mengenal orang Cina, atau berasal dari Cina namun hidup di Mekkah, dia berkata, “Wahai Abdussalaam, saya tidak memahami Nahwu kecuali hanya sedikit saja.” Tapi jika dia berkata kepada saya atau saya berbicara dengannya dengan bahasa Arab, dia tidak keliru tata bahasanya, dia seorang mahasiswa di sebuah universitas. Dia berkata, “Aku memperbanyak membaca al-Qur’an.” Ini perkataan dia, “Dan aku menyetorkan bacaanku di hadapan para syeikh.” Dia membaca dengan suara keras dan ketika bahasa sudah ada di lisannya, didapatlah kemahiran bahasanya. Dan Anda tahu sebuah kisah, disebutkan bahwa al-Ashma’i ketika masuk ke semenanjung Arab untuk mempelajari bahasa Arab, ternyata pendapatannya tidak mencukupi, sehingga dia ingin mencukupi nafkah dengan mengajarkan al-Qur’an kepada manusia, kepada anak-anak. Ketika dia ingin mengajari mereka al-Qur’an, dia datang kepada seorang anak untuk mengajarinya. Dia mengajarinya surat al-Masad, dia berkata, “Ucapkanlah; ‘Bismillahirrahmanirrahim.'” Anak tersebut mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” (Ucapkan,) “Tabbat yadaa…” Anak itu mengucapkan, “Tabbat yadaan…” “Nak, ucapkan ‘Tabbat yadaa…'” “Tabbat yadaan…” “Tabbat yadaa…!” Dia mengira anak ini sedang bermain-main. Anak ini mengucapkan, “Tabbat yadaan…” Dia berkata, “Ucapkan; ‘Tabbat yadaa abi lahab‘” (QS. Al-Masad: 1) Anak itu baru mengucapkan, “Tabbat yadaa abi lahab…” (QS. Al-Masad: 1) Seorang anak kecil lima tahun perkiraanya atau paling tua enam tahun, bagaimana lisannya tidak bisa salah dalam tata bahasa padahal dia tidak memahami Nahwu? Sebabnya adalah karena seringnya berbicara. Oleh sebab itulah dahulu orang-orang Arab tidak belajar Nahwu dan disebutkan bahwa orang pertama yang meletakkan kaidah-kaidah Nahwu adalah Ali -semoga Allah meridai beliau- atau Abu Aswad ad-Du’ali atas perintah Ali -semoga Allah meridai beliau- dan sebenarnya sama saja bahwa Ali -semoga Allah meridai beliau- memiliki peran dalam hal ini. Dan maksudnya, bahwa banyaknya berbicara dengan bahasa Arab, banyak mendengarnya dan membacanya membuat seseorang tidak salah dalam masalah tata bahasa. Jadi, yang pertama, kita sudah membahas tentang kata-kata asing, dan kedua kita membahas tentang kesalahan tata bahasa, yaitu i’rab. Inilah salah satu cara memahami ilmu Nahwu, dan ini bukan satu-satunya cara, namun kita harus meningkatkan frekuensi dalam berbicara, membaca di hadapan para guru dan membaca al-Qur’an. Yang ketiga, memahami maksud-maksud sebuah kata. Dan para ulama Ushul Fikih telah meletakkan banyak sekali kaidah-kaidah untuk memahami maksud-maksud sebuah kata, yaitu ilmu Balaghah atau menjadi salah satu pembahasan dalam pembahasan Balaghah. Oleh sebab itulah ulama Ushul Fikih membahas masalah Fahwul Khitab, Lahnul Khitab dan Dalilul Khitab. Mereka menjelaskan tentang manthuq (makna tersurat) dan mafhum (makna tersirat); mafhum al-muwafaqah dan mafhum al-mukhalafah. Dan makna tersirat berlawanan ada sepuluh macam atau lebih, ada mafhum ‘adad, mafhum mukhalafah al-‘adad, mafhum laqab, mafhum al-wasf, mafhum al-‘alam, dan seterusnya, mafhum as-syart, mafhum al-hasr, dan ini yang paling kuat, dan lain sebagainya. Sehingga maksud-maksud kata ini dari mana Anda memahaminya? Dari memahami ilmu Balaghah, ini tentang maksud-maksud kata. Semua ini bisa Anda ketahui dari banyaknya kepahaman dan penjelasan yang Anda baca, maka membaca teks bahasa Arab itu teramat penting. Dan imam asy-Syafi’i -semoga Allah merahmati beliau- apa yang beliau lakukan pertama kali ketika menuntut ilmu? Beliau pergi ke kabilah Huzail, kabilah terkenal yang sekarang masih ada di pinggiran kota Mekkah. Beliau tinggal bersama mereka untuk belajar bahasa Arab kepada mereka sehingga beliau menjadi orang yang paling paham bahasa Arab. Maka al-Baihaqi atau Abu Bakar al-Baihaqi mengarang sebuah kitab, yang sudah dicetak, yang beliau beri judul “Berhujah (berargumentasi) dengan Perkataan Imam asy-Syafi’i dalam Bahasa.” Karena perkataan asy-Syafi’i adalah hujah walaupun beliau hidup setelah masa kehujahan bahasa Arab, karena para ulama Nahwu berkata bahwa perkataan orang Arab yang berasal dari daerah perkotaan adalah hujah sampai pada tahun 100 hijriah, dan orang Arab yang berasal dari daerah pedalaman adalah hingga tahun 150 hijriah. Dan asy-Syafi’i wafat setelah masa itu, sepertinya pada tahun 204 hijriah atau beberapa tahun setelahnya. Maksud dari perkataan saya, bahwa banyaknya mendengar dan berbicara akan membangun bahasa Anda. Dan saya sampaikan ini tanpa saya ringkas karena, sangat disayangkan, kita mendengar bahwa sebagian orang tidak memberikan perhatian terhadap bahasa Arab, menyepelekannya dan enggan menghafal bait-bait syair padahal bait-bait syair banyak sekali manfaatnya. Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- berkata, “Aku tidak paham maksud ayat ‘Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi.'” (QS. Fatir: 1) sampai ada dua orang arab badui berselisih di dekatku dan salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Aku yang membuatnya lebih dulu dari pada kamu.’ …” Maksudnya membelahnya. “Kemudian aku paham bahwa maksud dari Pencipta langit dan bumi adalah yang membelah, yakni yang memisahkan keduanya.” Yakni dahulu keduanya adalah satu kesatuan kemudian Allah subhanahu wa ta’ala pisahkan keduanya. Maksud saya, bahwa memahami bahasa amatlah penting dan tingkat kepahaman tiap-tiap orang berbeda-beda. Oleh sebab itu banyak orang menyatakan, “Sungguh apabila aku melihat seseorang yang penampilannya membuat aku kagum, kemudian dia berbicara dengan tata bahasa yang salah, maka saat itu harga dirinya jatuh di hadapanku.” Banyak saudara-saudara kita yang memiliki perhatian terhadap bahasa Arab berkata, “Apabila aku duduk dan mendengarkan ceramah di masjid, kemudian yang menyampaikan ceramah salah dalam tata bahasanya, aku merasa seperti didera dengan cambuk. Kemudian aku keluar karena tidak sanggup lagi duduk.” Lihatlah bagaimana kesalahan tata bahasa bisa menyakiti (membuat tidak nyaman) orang lain. Siapa sih di antara kita yang tidak pernah salah dalam tata bahasa (lahn)? ================= يَعْنِي أَوَّلُ الشَّيْءِ يَقُولُ الطُّوْفِيُّ أَوْ سُلَيْمَانُ نَجْمُ الدِّينِ الطُّوْفِيُّ فِي كِتَابِ الْإِكْسِيرِ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ وَالْمُفَسِّرِينَ عِنْدَمَا نَظَرُوا فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ نَحوَ مَنَاحِي شَتَّى وَأَغْفَلُوْا أَهَمَّ الْمَقْصُودِ لِلْقُرْآنِ بَعْدَ مَقْصُودِ الدِّلَالَةِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَوْحِيدِهِ وَهُوَ الإِعْجَازُ فِي بَلَاغَتِهِ فَيَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّظَرِ فِي لُغَتِهِ أَوَّلُ وَسِيلَةٍ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِمَعْرِفَةِ الْغَرِيبِ أَوَّلُ الشَّيْءِ طَبْعًا لَيْسَ بِالتَّرْتِيبِ وَمَعْرِفَةُ الْغَرِيبِ تَكُونُ بِالْقِرَاءةِ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ مِنَ اللُّغَةِ وَالشِّعْرِ فَتَقْرَأُ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ الَّتِي فِيهَا الْغَرِيبُ كَيْ تَعْرِفَ مُتَرَادِفَاتٍ وَتَعْرِفَ دِلَالَةَ اللَّفْظَةِ فَإِنَّ اللَّفْظَ تَعْرِفُهَا وَلَكِنْ إِذَا جَاءَ سِيَاقُهَا فِي أَكْثَرَ مِنْ جُمْلَةٍ عَرَفْتَ مَا مَعْنَاهَا أَمَّا رُجُوعُ الْمُعْجَامَاتِ نَعَمْ هُوَ الطَّرِيقُ لَكِنَّ الصَّعْبَ أَنْ تَحْفَظَ الْمُعْجَمَ أَوْ تَعْرِيفَاتٍ صَعْبٌ جِدًّا لَكِنَّ الْقِرَاءَةَ هِيَ الَّتِي تُكْسِبُكَ الْمَعْرِفَةَ إِذَنْ هَذَا الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْغَرِيبِ أَنْ تَعْرِفَ الْغَرِيبَ وَأَلْفَاظَ اللُّغَةِ كَمَا قَلْتُ لَكَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُحِيطَ أحَدٌ حَتَّى بِغَرِيبِ اللُّغَةِ وَقَدْ تَكَلَّمْنَا عَنِ الْغَرِيبِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تُعْرِبَ الْكَلَامَ وَنَعْنِي بِالْإِعْرَابِ عَدَمَ اللَّحْنِ وَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُومُ فِي الْمُسْلِمِيْنَ خَطِيبًا لَمَّا وُلِيَ الْخِلَافَةَ فَيَقُولُ أَيَّهَا الْمُسْلِمُونَ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ لَمْ يَقُلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَاطِبُ أَعْرَابًا أَقْحَاحًا وَإِنَّمَا دَخَلَ الْأَعَاجِمُ فِي آخِرِ عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ أَلَمْ يَقُلْ عُمَرُ لَمَّا طُعِنَ مِنْ أَبِي لُؤْلُؤَةَ الْمَجُوسِيِّ لِابْنِ عَبَّاسٍ ذَاكَ الَّذِي كُنْتُمْ تُجَادِلُ أَنْتَ وَأَبُوكَ عَنْهُمْ وَهُوَ إِدْخَالُ الأَعَاجِمِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَكَانَ عُمَرُ يَرَى أَنْ لَا يَدْخُلَ الْأَعَاجِمُ الْمَدِينَةَ وَ لَكِنَّهُ رَضِيَ فِي قَوْلِ الصَّحَابَةِ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَضْرِبُ ابْنَهُ إِذَا تَرَكَ إِعْرَابَ الْقُرْآنِ وَلَا يَضْرِبُهُ عَلَى تَرْكِ الْحِفْظِ فَالْعِنَايَةُ بِإِعْرَابِ الْكَلَامِ الْإِعْرَابُ مِنْ وَسَائِلِ الْمَعْرِفَةِ الْإِعْرَابِ مَعْرِفَةُ النَّحْوِ وَ لَكِن مِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْرِبُ وَلَا يَعْرِفُ مِنَ النَّحوِ إِلَّا بَعْضَهُ وَأَعْرِفُ رَجُلًا صِيْنِيَّا أَوْ صِيْنِيَّ الْأَصْلِيَّ وَ يَعِيشُ فِي مَكَّةَ يَقُولُ يَا عَبْدَ السَّلَامِ لَا أَعْرِفُ مِنْ النَّحوِ شَيْئًا إِلَّا لِمَامًا وَلَوْ كَلَّمْتَنِي بِالْعَرَبِيَّةِ وَكَلَّمْتُهُ لَا يَلْحَنُ وَهُوَ مِنْ طُلَّابِ الْجَامِعَةِ يَقُولُ أَنَا أُكْثِرُ مِنْ قِرَاءةِ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَلَامُهُ وَ أَقْرَأُ عَلَى الْمَشَايِخِ يَقْرَأُ بِصَوْتٍ عَالٍ فَإِذَا تَكُونُ فِي لِسَانِهِ كَانَ لَهُ مَلَكَةٌ وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْقِصَّةَ الَّتِي قِيلَ إِنَّ… يَقُولُونَ إِنَّ الْأَصْمَعِيَّ لَمَّا جَاءَ إِلَى الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِيَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ نَقَصَتْ نَفَقَتُهُ فَأَرَادَ أَنْ يَتَكَسَّبَ مِنْ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْقُرْآنَ لِلصِّبْيَانِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَهُمُ الْقُرْآنَ جَاءَ لِلصَّبِيِّ يُعَلِّمُهُ فَعَلَّمَهُ سُورَةَ الْمَسَدِ فَقَالَ لَهُ اِقْرَأْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ تَبَّتْ يَدَا قَالَ الْوَلَدُ تَبَّتْ يَدَانِ يَا وَلَدٌ تَبَّتْ يَدَا تَبَّتْ يَدَانِ تَبَّتْ يَدَا – وَظَنَّ أَنَّ الْوَلَدَ يَلْعَبُ قَالَ تَبَّتْ يَدَانِ قَالَ قُلْ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 قَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 صَبِيُّ عُمْرُهُ خَمْسُ سِتُّ سَنوَاتٍ عَلَى أَقْصَى التَّقْدِيرِ كَيْفَ لِسَانُهُ لَمْ يَسْتَطِعِ اللَّحْنَ مَعَ أَنَّهُ لَا يَعْرِفُ النَّحْوَ إِنَّمَا هُوَ مَعَ كَثْرَةِ الْكَلَامِ وَلِذَلِكَ الْعَرَبُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ النَّحْوَ قِيلَ إِنَّ أَوَّلَ مَنْ وَضَعَ النَّحْوَ هُوَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقِيلَ إِنَّهُ أَبُو الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيُّ بِأَمْرِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالْمَعْنَى وَاحِدٌ فَإِنَّ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوْرًا فِي ذَلِكَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ وَ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَالقِرَاءةَ بِهِ تَجْعَلُ الشَّخْصَ لَا يَلْحَنُ إِذَنْ تَكَلَّمْنَا أَوَّلًا عَنِ الْغَرِيبِ وَتَكَلَّمْنَا ثَانِيًا عَنِ اللَّحْنِ وَهُوَ الْإِعْرَابُ وَمِنْ وَسَائِلِ مَعْرِفَةِ النَّحْوِ وَلَيْسَ هُوَ الْوَسِيلَةَ الْوَحِيدَةَ وَلَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ نُنَمَّى بِالْكَلَامِ وَبِالْقِرَاءةِ عَلَى الْمَشَايِخِ وَبِقِرَاءةِ الْقُرْآنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ مَعْرِفَةُ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ وَالْأُصُولِيُّونَ ذَكَرُوْا مِنَ التَّقْعِيدِ فِي مَعْرِفَةِ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ الَّذِي هُوَ عِلْمُ الْبَلَاغَةِ أَوْ هُوَ جُزْءٌ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ وَلِذَلِكَ الْأُصُولِيُّونَ تَكَلَّمُوْا عَنْ فَحْوَى الْخِطَابِ وَ لَحْنِ الْخِطَابِ وَدَلِيلِ الْخِطَابِ وَتَكَلَّمُوا عَنِ الْمَنْطُوقِ وَالْمَفْهُومِ وَمَفْهُومِ الْمُوَافَقَةِ وَمَفْهُومِ الْمُخَالَفَةِ وَمَفْهُومُ الْمُخَالَفَةِ عَشْرَةُ أَنْوَاعٍ أَوْ أَكْثَرَ مَفْهُومُ الْعَدَدِ مَفْهُومُ مُخَالَفَةِ الْعَدَدِ مَفْهُومُ اللَّقَبِ مَفْهُومُ الْوَصْفِ مَفْهُومُ الْعَلَمِ وَهَكَذَا مَفْهُومُ الشَّرْطِ مَفْهُومُ الْحَصْرِ وَهُوَ أَقْوَاهَا وَهَكَذَا إِذَنْ هَذِهِ الدَّلَائِلُ اللَّفْظِيَّةُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُهَا؟ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ دَلَائِلُ الْأَلْفَاظِ هَذِهِ تُعْرَفُ مِنَ الْفُهُومَاتِ وَالشُّرُوحَاتِ الَّتِي تُقْرَأُ فَالْقِرَاءَةُ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ مُهِمٌّ جِدًّ وَالشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي أَوَّلِ شَأْنِهِ مَاذَا كَانَ ؟ ذَهَبَ لِهُذَيْلٍ قَبِيلَةِ هُذَيْلٍ الْمَعْرُوفَةِ وَمَا زَالَتْ بِجَانِبِ مَكَّةَ ذَهَبَ عِنْدَهُمْ وَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ عِنْدَهُمْ فَكَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِلِسَانِ الْعَرَبِ وَأَلَّفَ الْبَيْهَقِيُّ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ كِتَابًا طُبِعَ سَمَّاهُ الْاِحْتِجَاجَ بالشَّافِعِيِّ فِي اللُّغَةِ فَإِنَّ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ حُجَّةٌ مَعَ أَنَّهُ جَاءَ بَعْدَ احْتِجَاجِ اللُّغَةِ فَإِنَّ النَّحْوِيِّينَ يَقُولُونَ إِنَّ كَلَامَ الْعَرَبِ حُجَّةٌ إِنْ كَانُوا مِنْ أهْلِ الْأَمْصَارِ فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ مِنَ الْهِجْرَةِ وَإِنْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْبَوَادِي فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ وَ خَمْسِينَ وَالشَّافِعِيُّ تُوُفِّيَ سَنَةَ بَعْدَ ذَلِكَ مِائِتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ أَظَنُّ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَكَثْرَةَ الكَلَامِ هِيَ الَّتِي تَجْعَلُ اللُّغَةَ أَنَا أَقُولُ هَذَا مَا رَكَّزْتُ عَلَيْهِ لِأَنَّنَا نَسْمَعُ لِلْأَسَفِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ عَدَمَ عِنَايَةٍ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَالْإِحْجَامَ عَنْهَا وَعَدَمَ حِفْظٍ بِأَبْيَاتِ الشِّعْرِ فَإِنَّ أَبْيَاتِ الشِّعْرِ مُفِيدَةٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمْ أَكُ أَعْرِفْ مَا مَعْنَى الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فاطر – الآية 1 حَتَّى اخْتَصَمَ عِنْدِي أَعْرَبِيَّانِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ أَنَا فَطَرْتُهَا قَبْلَكَ أَيْ شَقَقْتُهَا فَعَرَفْتُ أَنَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَيْ شَاقُّهُ أَيْ شَاقُّهُمَا أَيْ كَانَتَا مُتَّصِلَتَيْنِ فَشَقَّهُمَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ مَعْرِفَةَ اللُّغَةِ مُهِمَّةٌ وَالنَّاسُ يَخْتَلِفُونَ بَيْنَ شَخْصٍ وَآخَرَ وَلِذَلِكَ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ إِنِّي لَأَرَى الرَّجُلَ فَتُعْجِبُنِي هَيْئَتُهُ فَإِذَا تَكَلَّمَ فَلَحَنَ سَقَطَ مِنْ عَيْنِي كَثِيرٌ مِنَ الْإِخْوَانِ الَّذِي يُعْنَى بِالْعَرَبِيَّةِ يَقُولُ إِنْ أَجْلِسْ أَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فِي الْمَسْجِدِ فَإِذَا لَحَنَ الَّذِي يُلْقِي الْكَلِمَةَ كَأَنِّي مَضْرُوبٌ بِالسِّيَاطِ فَأَخْرُجُ مَا أَسْتَطِيعُ الْجُلُوسَ فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّحْنَ يَعْنِي مُضِرٌّ فِي الْمَرْءِ وَمَنْ مِنَّا لَايَلْحَنُ؟  

Pentingnya Mempelajari Bahasa al-Quran – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

 Yang pertama, bahwa at-Thufi atau Sulaiman Najmuddin at-Thufi dalam kitab al-Iksir berkata, “Sesungguhnya orang-orang dan para ahli tafsir ketika mempelajari kitab Allah ‘azza wa jalla dari banyak sisinya, mereka lupa mempelajari tujuan terbesar dalam al-Qur’an setelah tujuan menunjukkan eksistensi Allah ‘azza wa jalla dan keesaan-Nya, yaitu keajaiban tata bahasanya.” Maka wajib bagi seseorang untuk memberikan perhatian terhadap kitab ini, kitab Allah ‘azza wa jalla, dan memperhatikan sisi kebahasaannya. Dan cara pertama yang bisa dilakukan seseorang adalah dengan mendalami pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib), ini yang pertama, dan tentu ini tidak harus runtut. Dan pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib) bisa didapatkan dengan membaca kitab-kitab bahasa dan syair orang-orang terdahulu, maka bacalah kitab-kitab terdahulu yang terdapat padanya kata-kata sukar (ghorib) sehingga Anda bisa mengerti sinonim dan maksud katanya. Mungkin ada kata yang sudah Anda ketahui, namun apabila kata tersebut ditemukan pada beberapa konteks, Anda akan lebih memahami maksudnya. Adapun membaca kamus, iya, ini juga salah satu cara, namun menghafalkan kamus dan definisi-definisi kata sangatlah sulit, namun dengan membacalah Anda akan mendapatkan pengetahuan, jadi inilah masalah yang berhubungan dengan kata-kata sukar (ghorib), Anda harus mengerti arti kata sukar (ghorib) dan kosa-kata bahasa. Sebagaimana telah saya katakan pada kalian bahwa imam asy-Syafi’i berkata, “Tidaklah mungkin seseorang bisa menguasai seluruh makna kata-kata sukar (ghorib).” Dan kita sudah membahas tentang kata-kata sukar (ghorib). Yang kedua, Anda harus meng-i’rab kalimat dan maksud dari i’rab ini adalah tidak ada kekeliruan tata bahasa. Dan sungguh dahulu Abu Bakar ash-Shiddiq -semoga Allah meridai beliau- berkhutbah di hadapan kaum muslimin ketika dilantik menjadi khalifah. Beliau berkata, “Wahai kaum muslimin, i’rab-lah al-Qur’an.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah berkata demikian, kenapa? Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berbicara kepada penutur asli bahasa Arab yang murni. Dan barulah orang-orang non-Arab datang di penghujung masa pemerintahan Abu Bakar. Bukankah Umar, setelah beliau ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi, berkata kepada Ibnu Abbas, “Bukankah itu adalah orang yang dahulu kamu dan ayahmu perdebatkan tentang kedatangannya?” Yaitu tentang masuknya orang-orang non-Arab ke kota Madinah. Umar berpendapat bahwa orang non-Arab tidak boleh masuk Madinah namun beliau mengikuti pendapat para sahabat (yang berpendapat) bolehnya orang-orang non-Arab masuk. Kemudian masuklah orang-orang non-Arab sehingga Abu Bakar berkata, “I’rab-lah al-Qur’an.” Dan dahulu Abdullah bin Umar -semoga Allah meridai beliau berdua- memukul anaknya apabila keliru dalam tata bahasa al-Qur’an namun tidak memukulnya apabila tidak bisa menghafalnya. Inilah i’rab, memperhatikan ketepatan tata bahasa dalam kalimat. Diantara cara memahami i’rab adalah dengan memahami ilmu Nahwu meskipun sebagian orang mampu menerapkan tata bahasa dengan benar walaupun tidak mengerti nahwu secara keseluruhannya. Saya mengenal orang Cina, atau berasal dari Cina namun hidup di Mekkah, dia berkata, “Wahai Abdussalaam, saya tidak memahami Nahwu kecuali hanya sedikit saja.” Tapi jika dia berkata kepada saya atau saya berbicara dengannya dengan bahasa Arab, dia tidak keliru tata bahasanya, dia seorang mahasiswa di sebuah universitas. Dia berkata, “Aku memperbanyak membaca al-Qur’an.” Ini perkataan dia, “Dan aku menyetorkan bacaanku di hadapan para syeikh.” Dia membaca dengan suara keras dan ketika bahasa sudah ada di lisannya, didapatlah kemahiran bahasanya. Dan Anda tahu sebuah kisah, disebutkan bahwa al-Ashma’i ketika masuk ke semenanjung Arab untuk mempelajari bahasa Arab, ternyata pendapatannya tidak mencukupi, sehingga dia ingin mencukupi nafkah dengan mengajarkan al-Qur’an kepada manusia, kepada anak-anak. Ketika dia ingin mengajari mereka al-Qur’an, dia datang kepada seorang anak untuk mengajarinya. Dia mengajarinya surat al-Masad, dia berkata, “Ucapkanlah; ‘Bismillahirrahmanirrahim.'” Anak tersebut mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” (Ucapkan,) “Tabbat yadaa…” Anak itu mengucapkan, “Tabbat yadaan…” “Nak, ucapkan ‘Tabbat yadaa…'” “Tabbat yadaan…” “Tabbat yadaa…!” Dia mengira anak ini sedang bermain-main. Anak ini mengucapkan, “Tabbat yadaan…” Dia berkata, “Ucapkan; ‘Tabbat yadaa abi lahab‘” (QS. Al-Masad: 1) Anak itu baru mengucapkan, “Tabbat yadaa abi lahab…” (QS. Al-Masad: 1) Seorang anak kecil lima tahun perkiraanya atau paling tua enam tahun, bagaimana lisannya tidak bisa salah dalam tata bahasa padahal dia tidak memahami Nahwu? Sebabnya adalah karena seringnya berbicara. Oleh sebab itulah dahulu orang-orang Arab tidak belajar Nahwu dan disebutkan bahwa orang pertama yang meletakkan kaidah-kaidah Nahwu adalah Ali -semoga Allah meridai beliau- atau Abu Aswad ad-Du’ali atas perintah Ali -semoga Allah meridai beliau- dan sebenarnya sama saja bahwa Ali -semoga Allah meridai beliau- memiliki peran dalam hal ini. Dan maksudnya, bahwa banyaknya berbicara dengan bahasa Arab, banyak mendengarnya dan membacanya membuat seseorang tidak salah dalam masalah tata bahasa. Jadi, yang pertama, kita sudah membahas tentang kata-kata asing, dan kedua kita membahas tentang kesalahan tata bahasa, yaitu i’rab. Inilah salah satu cara memahami ilmu Nahwu, dan ini bukan satu-satunya cara, namun kita harus meningkatkan frekuensi dalam berbicara, membaca di hadapan para guru dan membaca al-Qur’an. Yang ketiga, memahami maksud-maksud sebuah kata. Dan para ulama Ushul Fikih telah meletakkan banyak sekali kaidah-kaidah untuk memahami maksud-maksud sebuah kata, yaitu ilmu Balaghah atau menjadi salah satu pembahasan dalam pembahasan Balaghah. Oleh sebab itulah ulama Ushul Fikih membahas masalah Fahwul Khitab, Lahnul Khitab dan Dalilul Khitab. Mereka menjelaskan tentang manthuq (makna tersurat) dan mafhum (makna tersirat); mafhum al-muwafaqah dan mafhum al-mukhalafah. Dan makna tersirat berlawanan ada sepuluh macam atau lebih, ada mafhum ‘adad, mafhum mukhalafah al-‘adad, mafhum laqab, mafhum al-wasf, mafhum al-‘alam, dan seterusnya, mafhum as-syart, mafhum al-hasr, dan ini yang paling kuat, dan lain sebagainya. Sehingga maksud-maksud kata ini dari mana Anda memahaminya? Dari memahami ilmu Balaghah, ini tentang maksud-maksud kata. Semua ini bisa Anda ketahui dari banyaknya kepahaman dan penjelasan yang Anda baca, maka membaca teks bahasa Arab itu teramat penting. Dan imam asy-Syafi’i -semoga Allah merahmati beliau- apa yang beliau lakukan pertama kali ketika menuntut ilmu? Beliau pergi ke kabilah Huzail, kabilah terkenal yang sekarang masih ada di pinggiran kota Mekkah. Beliau tinggal bersama mereka untuk belajar bahasa Arab kepada mereka sehingga beliau menjadi orang yang paling paham bahasa Arab. Maka al-Baihaqi atau Abu Bakar al-Baihaqi mengarang sebuah kitab, yang sudah dicetak, yang beliau beri judul “Berhujah (berargumentasi) dengan Perkataan Imam asy-Syafi’i dalam Bahasa.” Karena perkataan asy-Syafi’i adalah hujah walaupun beliau hidup setelah masa kehujahan bahasa Arab, karena para ulama Nahwu berkata bahwa perkataan orang Arab yang berasal dari daerah perkotaan adalah hujah sampai pada tahun 100 hijriah, dan orang Arab yang berasal dari daerah pedalaman adalah hingga tahun 150 hijriah. Dan asy-Syafi’i wafat setelah masa itu, sepertinya pada tahun 204 hijriah atau beberapa tahun setelahnya. Maksud dari perkataan saya, bahwa banyaknya mendengar dan berbicara akan membangun bahasa Anda. Dan saya sampaikan ini tanpa saya ringkas karena, sangat disayangkan, kita mendengar bahwa sebagian orang tidak memberikan perhatian terhadap bahasa Arab, menyepelekannya dan enggan menghafal bait-bait syair padahal bait-bait syair banyak sekali manfaatnya. Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- berkata, “Aku tidak paham maksud ayat ‘Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi.'” (QS. Fatir: 1) sampai ada dua orang arab badui berselisih di dekatku dan salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Aku yang membuatnya lebih dulu dari pada kamu.’ …” Maksudnya membelahnya. “Kemudian aku paham bahwa maksud dari Pencipta langit dan bumi adalah yang membelah, yakni yang memisahkan keduanya.” Yakni dahulu keduanya adalah satu kesatuan kemudian Allah subhanahu wa ta’ala pisahkan keduanya. Maksud saya, bahwa memahami bahasa amatlah penting dan tingkat kepahaman tiap-tiap orang berbeda-beda. Oleh sebab itu banyak orang menyatakan, “Sungguh apabila aku melihat seseorang yang penampilannya membuat aku kagum, kemudian dia berbicara dengan tata bahasa yang salah, maka saat itu harga dirinya jatuh di hadapanku.” Banyak saudara-saudara kita yang memiliki perhatian terhadap bahasa Arab berkata, “Apabila aku duduk dan mendengarkan ceramah di masjid, kemudian yang menyampaikan ceramah salah dalam tata bahasanya, aku merasa seperti didera dengan cambuk. Kemudian aku keluar karena tidak sanggup lagi duduk.” Lihatlah bagaimana kesalahan tata bahasa bisa menyakiti (membuat tidak nyaman) orang lain. Siapa sih di antara kita yang tidak pernah salah dalam tata bahasa (lahn)? ================= يَعْنِي أَوَّلُ الشَّيْءِ يَقُولُ الطُّوْفِيُّ أَوْ سُلَيْمَانُ نَجْمُ الدِّينِ الطُّوْفِيُّ فِي كِتَابِ الْإِكْسِيرِ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ وَالْمُفَسِّرِينَ عِنْدَمَا نَظَرُوا فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ نَحوَ مَنَاحِي شَتَّى وَأَغْفَلُوْا أَهَمَّ الْمَقْصُودِ لِلْقُرْآنِ بَعْدَ مَقْصُودِ الدِّلَالَةِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَوْحِيدِهِ وَهُوَ الإِعْجَازُ فِي بَلَاغَتِهِ فَيَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّظَرِ فِي لُغَتِهِ أَوَّلُ وَسِيلَةٍ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِمَعْرِفَةِ الْغَرِيبِ أَوَّلُ الشَّيْءِ طَبْعًا لَيْسَ بِالتَّرْتِيبِ وَمَعْرِفَةُ الْغَرِيبِ تَكُونُ بِالْقِرَاءةِ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ مِنَ اللُّغَةِ وَالشِّعْرِ فَتَقْرَأُ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ الَّتِي فِيهَا الْغَرِيبُ كَيْ تَعْرِفَ مُتَرَادِفَاتٍ وَتَعْرِفَ دِلَالَةَ اللَّفْظَةِ فَإِنَّ اللَّفْظَ تَعْرِفُهَا وَلَكِنْ إِذَا جَاءَ سِيَاقُهَا فِي أَكْثَرَ مِنْ جُمْلَةٍ عَرَفْتَ مَا مَعْنَاهَا أَمَّا رُجُوعُ الْمُعْجَامَاتِ نَعَمْ هُوَ الطَّرِيقُ لَكِنَّ الصَّعْبَ أَنْ تَحْفَظَ الْمُعْجَمَ أَوْ تَعْرِيفَاتٍ صَعْبٌ جِدًّا لَكِنَّ الْقِرَاءَةَ هِيَ الَّتِي تُكْسِبُكَ الْمَعْرِفَةَ إِذَنْ هَذَا الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْغَرِيبِ أَنْ تَعْرِفَ الْغَرِيبَ وَأَلْفَاظَ اللُّغَةِ كَمَا قَلْتُ لَكَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُحِيطَ أحَدٌ حَتَّى بِغَرِيبِ اللُّغَةِ وَقَدْ تَكَلَّمْنَا عَنِ الْغَرِيبِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تُعْرِبَ الْكَلَامَ وَنَعْنِي بِالْإِعْرَابِ عَدَمَ اللَّحْنِ وَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُومُ فِي الْمُسْلِمِيْنَ خَطِيبًا لَمَّا وُلِيَ الْخِلَافَةَ فَيَقُولُ أَيَّهَا الْمُسْلِمُونَ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ لَمْ يَقُلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَاطِبُ أَعْرَابًا أَقْحَاحًا وَإِنَّمَا دَخَلَ الْأَعَاجِمُ فِي آخِرِ عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ أَلَمْ يَقُلْ عُمَرُ لَمَّا طُعِنَ مِنْ أَبِي لُؤْلُؤَةَ الْمَجُوسِيِّ لِابْنِ عَبَّاسٍ ذَاكَ الَّذِي كُنْتُمْ تُجَادِلُ أَنْتَ وَأَبُوكَ عَنْهُمْ وَهُوَ إِدْخَالُ الأَعَاجِمِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَكَانَ عُمَرُ يَرَى أَنْ لَا يَدْخُلَ الْأَعَاجِمُ الْمَدِينَةَ وَ لَكِنَّهُ رَضِيَ فِي قَوْلِ الصَّحَابَةِ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَضْرِبُ ابْنَهُ إِذَا تَرَكَ إِعْرَابَ الْقُرْآنِ وَلَا يَضْرِبُهُ عَلَى تَرْكِ الْحِفْظِ فَالْعِنَايَةُ بِإِعْرَابِ الْكَلَامِ الْإِعْرَابُ مِنْ وَسَائِلِ الْمَعْرِفَةِ الْإِعْرَابِ مَعْرِفَةُ النَّحْوِ وَ لَكِن مِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْرِبُ وَلَا يَعْرِفُ مِنَ النَّحوِ إِلَّا بَعْضَهُ وَأَعْرِفُ رَجُلًا صِيْنِيَّا أَوْ صِيْنِيَّ الْأَصْلِيَّ وَ يَعِيشُ فِي مَكَّةَ يَقُولُ يَا عَبْدَ السَّلَامِ لَا أَعْرِفُ مِنْ النَّحوِ شَيْئًا إِلَّا لِمَامًا وَلَوْ كَلَّمْتَنِي بِالْعَرَبِيَّةِ وَكَلَّمْتُهُ لَا يَلْحَنُ وَهُوَ مِنْ طُلَّابِ الْجَامِعَةِ يَقُولُ أَنَا أُكْثِرُ مِنْ قِرَاءةِ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَلَامُهُ وَ أَقْرَأُ عَلَى الْمَشَايِخِ يَقْرَأُ بِصَوْتٍ عَالٍ فَإِذَا تَكُونُ فِي لِسَانِهِ كَانَ لَهُ مَلَكَةٌ وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْقِصَّةَ الَّتِي قِيلَ إِنَّ… يَقُولُونَ إِنَّ الْأَصْمَعِيَّ لَمَّا جَاءَ إِلَى الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِيَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ نَقَصَتْ نَفَقَتُهُ فَأَرَادَ أَنْ يَتَكَسَّبَ مِنْ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْقُرْآنَ لِلصِّبْيَانِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَهُمُ الْقُرْآنَ جَاءَ لِلصَّبِيِّ يُعَلِّمُهُ فَعَلَّمَهُ سُورَةَ الْمَسَدِ فَقَالَ لَهُ اِقْرَأْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ تَبَّتْ يَدَا قَالَ الْوَلَدُ تَبَّتْ يَدَانِ يَا وَلَدٌ تَبَّتْ يَدَا تَبَّتْ يَدَانِ تَبَّتْ يَدَا – وَظَنَّ أَنَّ الْوَلَدَ يَلْعَبُ قَالَ تَبَّتْ يَدَانِ قَالَ قُلْ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 قَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 صَبِيُّ عُمْرُهُ خَمْسُ سِتُّ سَنوَاتٍ عَلَى أَقْصَى التَّقْدِيرِ كَيْفَ لِسَانُهُ لَمْ يَسْتَطِعِ اللَّحْنَ مَعَ أَنَّهُ لَا يَعْرِفُ النَّحْوَ إِنَّمَا هُوَ مَعَ كَثْرَةِ الْكَلَامِ وَلِذَلِكَ الْعَرَبُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ النَّحْوَ قِيلَ إِنَّ أَوَّلَ مَنْ وَضَعَ النَّحْوَ هُوَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقِيلَ إِنَّهُ أَبُو الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيُّ بِأَمْرِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالْمَعْنَى وَاحِدٌ فَإِنَّ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوْرًا فِي ذَلِكَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ وَ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَالقِرَاءةَ بِهِ تَجْعَلُ الشَّخْصَ لَا يَلْحَنُ إِذَنْ تَكَلَّمْنَا أَوَّلًا عَنِ الْغَرِيبِ وَتَكَلَّمْنَا ثَانِيًا عَنِ اللَّحْنِ وَهُوَ الْإِعْرَابُ وَمِنْ وَسَائِلِ مَعْرِفَةِ النَّحْوِ وَلَيْسَ هُوَ الْوَسِيلَةَ الْوَحِيدَةَ وَلَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ نُنَمَّى بِالْكَلَامِ وَبِالْقِرَاءةِ عَلَى الْمَشَايِخِ وَبِقِرَاءةِ الْقُرْآنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ مَعْرِفَةُ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ وَالْأُصُولِيُّونَ ذَكَرُوْا مِنَ التَّقْعِيدِ فِي مَعْرِفَةِ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ الَّذِي هُوَ عِلْمُ الْبَلَاغَةِ أَوْ هُوَ جُزْءٌ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ وَلِذَلِكَ الْأُصُولِيُّونَ تَكَلَّمُوْا عَنْ فَحْوَى الْخِطَابِ وَ لَحْنِ الْخِطَابِ وَدَلِيلِ الْخِطَابِ وَتَكَلَّمُوا عَنِ الْمَنْطُوقِ وَالْمَفْهُومِ وَمَفْهُومِ الْمُوَافَقَةِ وَمَفْهُومِ الْمُخَالَفَةِ وَمَفْهُومُ الْمُخَالَفَةِ عَشْرَةُ أَنْوَاعٍ أَوْ أَكْثَرَ مَفْهُومُ الْعَدَدِ مَفْهُومُ مُخَالَفَةِ الْعَدَدِ مَفْهُومُ اللَّقَبِ مَفْهُومُ الْوَصْفِ مَفْهُومُ الْعَلَمِ وَهَكَذَا مَفْهُومُ الشَّرْطِ مَفْهُومُ الْحَصْرِ وَهُوَ أَقْوَاهَا وَهَكَذَا إِذَنْ هَذِهِ الدَّلَائِلُ اللَّفْظِيَّةُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُهَا؟ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ دَلَائِلُ الْأَلْفَاظِ هَذِهِ تُعْرَفُ مِنَ الْفُهُومَاتِ وَالشُّرُوحَاتِ الَّتِي تُقْرَأُ فَالْقِرَاءَةُ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ مُهِمٌّ جِدًّ وَالشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي أَوَّلِ شَأْنِهِ مَاذَا كَانَ ؟ ذَهَبَ لِهُذَيْلٍ قَبِيلَةِ هُذَيْلٍ الْمَعْرُوفَةِ وَمَا زَالَتْ بِجَانِبِ مَكَّةَ ذَهَبَ عِنْدَهُمْ وَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ عِنْدَهُمْ فَكَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِلِسَانِ الْعَرَبِ وَأَلَّفَ الْبَيْهَقِيُّ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ كِتَابًا طُبِعَ سَمَّاهُ الْاِحْتِجَاجَ بالشَّافِعِيِّ فِي اللُّغَةِ فَإِنَّ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ حُجَّةٌ مَعَ أَنَّهُ جَاءَ بَعْدَ احْتِجَاجِ اللُّغَةِ فَإِنَّ النَّحْوِيِّينَ يَقُولُونَ إِنَّ كَلَامَ الْعَرَبِ حُجَّةٌ إِنْ كَانُوا مِنْ أهْلِ الْأَمْصَارِ فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ مِنَ الْهِجْرَةِ وَإِنْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْبَوَادِي فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ وَ خَمْسِينَ وَالشَّافِعِيُّ تُوُفِّيَ سَنَةَ بَعْدَ ذَلِكَ مِائِتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ أَظَنُّ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَكَثْرَةَ الكَلَامِ هِيَ الَّتِي تَجْعَلُ اللُّغَةَ أَنَا أَقُولُ هَذَا مَا رَكَّزْتُ عَلَيْهِ لِأَنَّنَا نَسْمَعُ لِلْأَسَفِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ عَدَمَ عِنَايَةٍ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَالْإِحْجَامَ عَنْهَا وَعَدَمَ حِفْظٍ بِأَبْيَاتِ الشِّعْرِ فَإِنَّ أَبْيَاتِ الشِّعْرِ مُفِيدَةٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمْ أَكُ أَعْرِفْ مَا مَعْنَى الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فاطر – الآية 1 حَتَّى اخْتَصَمَ عِنْدِي أَعْرَبِيَّانِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ أَنَا فَطَرْتُهَا قَبْلَكَ أَيْ شَقَقْتُهَا فَعَرَفْتُ أَنَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَيْ شَاقُّهُ أَيْ شَاقُّهُمَا أَيْ كَانَتَا مُتَّصِلَتَيْنِ فَشَقَّهُمَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ مَعْرِفَةَ اللُّغَةِ مُهِمَّةٌ وَالنَّاسُ يَخْتَلِفُونَ بَيْنَ شَخْصٍ وَآخَرَ وَلِذَلِكَ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ إِنِّي لَأَرَى الرَّجُلَ فَتُعْجِبُنِي هَيْئَتُهُ فَإِذَا تَكَلَّمَ فَلَحَنَ سَقَطَ مِنْ عَيْنِي كَثِيرٌ مِنَ الْإِخْوَانِ الَّذِي يُعْنَى بِالْعَرَبِيَّةِ يَقُولُ إِنْ أَجْلِسْ أَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فِي الْمَسْجِدِ فَإِذَا لَحَنَ الَّذِي يُلْقِي الْكَلِمَةَ كَأَنِّي مَضْرُوبٌ بِالسِّيَاطِ فَأَخْرُجُ مَا أَسْتَطِيعُ الْجُلُوسَ فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّحْنَ يَعْنِي مُضِرٌّ فِي الْمَرْءِ وَمَنْ مِنَّا لَايَلْحَنُ؟  
 Yang pertama, bahwa at-Thufi atau Sulaiman Najmuddin at-Thufi dalam kitab al-Iksir berkata, “Sesungguhnya orang-orang dan para ahli tafsir ketika mempelajari kitab Allah ‘azza wa jalla dari banyak sisinya, mereka lupa mempelajari tujuan terbesar dalam al-Qur’an setelah tujuan menunjukkan eksistensi Allah ‘azza wa jalla dan keesaan-Nya, yaitu keajaiban tata bahasanya.” Maka wajib bagi seseorang untuk memberikan perhatian terhadap kitab ini, kitab Allah ‘azza wa jalla, dan memperhatikan sisi kebahasaannya. Dan cara pertama yang bisa dilakukan seseorang adalah dengan mendalami pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib), ini yang pertama, dan tentu ini tidak harus runtut. Dan pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib) bisa didapatkan dengan membaca kitab-kitab bahasa dan syair orang-orang terdahulu, maka bacalah kitab-kitab terdahulu yang terdapat padanya kata-kata sukar (ghorib) sehingga Anda bisa mengerti sinonim dan maksud katanya. Mungkin ada kata yang sudah Anda ketahui, namun apabila kata tersebut ditemukan pada beberapa konteks, Anda akan lebih memahami maksudnya. Adapun membaca kamus, iya, ini juga salah satu cara, namun menghafalkan kamus dan definisi-definisi kata sangatlah sulit, namun dengan membacalah Anda akan mendapatkan pengetahuan, jadi inilah masalah yang berhubungan dengan kata-kata sukar (ghorib), Anda harus mengerti arti kata sukar (ghorib) dan kosa-kata bahasa. Sebagaimana telah saya katakan pada kalian bahwa imam asy-Syafi’i berkata, “Tidaklah mungkin seseorang bisa menguasai seluruh makna kata-kata sukar (ghorib).” Dan kita sudah membahas tentang kata-kata sukar (ghorib). Yang kedua, Anda harus meng-i’rab kalimat dan maksud dari i’rab ini adalah tidak ada kekeliruan tata bahasa. Dan sungguh dahulu Abu Bakar ash-Shiddiq -semoga Allah meridai beliau- berkhutbah di hadapan kaum muslimin ketika dilantik menjadi khalifah. Beliau berkata, “Wahai kaum muslimin, i’rab-lah al-Qur’an.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah berkata demikian, kenapa? Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berbicara kepada penutur asli bahasa Arab yang murni. Dan barulah orang-orang non-Arab datang di penghujung masa pemerintahan Abu Bakar. Bukankah Umar, setelah beliau ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi, berkata kepada Ibnu Abbas, “Bukankah itu adalah orang yang dahulu kamu dan ayahmu perdebatkan tentang kedatangannya?” Yaitu tentang masuknya orang-orang non-Arab ke kota Madinah. Umar berpendapat bahwa orang non-Arab tidak boleh masuk Madinah namun beliau mengikuti pendapat para sahabat (yang berpendapat) bolehnya orang-orang non-Arab masuk. Kemudian masuklah orang-orang non-Arab sehingga Abu Bakar berkata, “I’rab-lah al-Qur’an.” Dan dahulu Abdullah bin Umar -semoga Allah meridai beliau berdua- memukul anaknya apabila keliru dalam tata bahasa al-Qur’an namun tidak memukulnya apabila tidak bisa menghafalnya. Inilah i’rab, memperhatikan ketepatan tata bahasa dalam kalimat. Diantara cara memahami i’rab adalah dengan memahami ilmu Nahwu meskipun sebagian orang mampu menerapkan tata bahasa dengan benar walaupun tidak mengerti nahwu secara keseluruhannya. Saya mengenal orang Cina, atau berasal dari Cina namun hidup di Mekkah, dia berkata, “Wahai Abdussalaam, saya tidak memahami Nahwu kecuali hanya sedikit saja.” Tapi jika dia berkata kepada saya atau saya berbicara dengannya dengan bahasa Arab, dia tidak keliru tata bahasanya, dia seorang mahasiswa di sebuah universitas. Dia berkata, “Aku memperbanyak membaca al-Qur’an.” Ini perkataan dia, “Dan aku menyetorkan bacaanku di hadapan para syeikh.” Dia membaca dengan suara keras dan ketika bahasa sudah ada di lisannya, didapatlah kemahiran bahasanya. Dan Anda tahu sebuah kisah, disebutkan bahwa al-Ashma’i ketika masuk ke semenanjung Arab untuk mempelajari bahasa Arab, ternyata pendapatannya tidak mencukupi, sehingga dia ingin mencukupi nafkah dengan mengajarkan al-Qur’an kepada manusia, kepada anak-anak. Ketika dia ingin mengajari mereka al-Qur’an, dia datang kepada seorang anak untuk mengajarinya. Dia mengajarinya surat al-Masad, dia berkata, “Ucapkanlah; ‘Bismillahirrahmanirrahim.'” Anak tersebut mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” (Ucapkan,) “Tabbat yadaa…” Anak itu mengucapkan, “Tabbat yadaan…” “Nak, ucapkan ‘Tabbat yadaa…'” “Tabbat yadaan…” “Tabbat yadaa…!” Dia mengira anak ini sedang bermain-main. Anak ini mengucapkan, “Tabbat yadaan…” Dia berkata, “Ucapkan; ‘Tabbat yadaa abi lahab‘” (QS. Al-Masad: 1) Anak itu baru mengucapkan, “Tabbat yadaa abi lahab…” (QS. Al-Masad: 1) Seorang anak kecil lima tahun perkiraanya atau paling tua enam tahun, bagaimana lisannya tidak bisa salah dalam tata bahasa padahal dia tidak memahami Nahwu? Sebabnya adalah karena seringnya berbicara. Oleh sebab itulah dahulu orang-orang Arab tidak belajar Nahwu dan disebutkan bahwa orang pertama yang meletakkan kaidah-kaidah Nahwu adalah Ali -semoga Allah meridai beliau- atau Abu Aswad ad-Du’ali atas perintah Ali -semoga Allah meridai beliau- dan sebenarnya sama saja bahwa Ali -semoga Allah meridai beliau- memiliki peran dalam hal ini. Dan maksudnya, bahwa banyaknya berbicara dengan bahasa Arab, banyak mendengarnya dan membacanya membuat seseorang tidak salah dalam masalah tata bahasa. Jadi, yang pertama, kita sudah membahas tentang kata-kata asing, dan kedua kita membahas tentang kesalahan tata bahasa, yaitu i’rab. Inilah salah satu cara memahami ilmu Nahwu, dan ini bukan satu-satunya cara, namun kita harus meningkatkan frekuensi dalam berbicara, membaca di hadapan para guru dan membaca al-Qur’an. Yang ketiga, memahami maksud-maksud sebuah kata. Dan para ulama Ushul Fikih telah meletakkan banyak sekali kaidah-kaidah untuk memahami maksud-maksud sebuah kata, yaitu ilmu Balaghah atau menjadi salah satu pembahasan dalam pembahasan Balaghah. Oleh sebab itulah ulama Ushul Fikih membahas masalah Fahwul Khitab, Lahnul Khitab dan Dalilul Khitab. Mereka menjelaskan tentang manthuq (makna tersurat) dan mafhum (makna tersirat); mafhum al-muwafaqah dan mafhum al-mukhalafah. Dan makna tersirat berlawanan ada sepuluh macam atau lebih, ada mafhum ‘adad, mafhum mukhalafah al-‘adad, mafhum laqab, mafhum al-wasf, mafhum al-‘alam, dan seterusnya, mafhum as-syart, mafhum al-hasr, dan ini yang paling kuat, dan lain sebagainya. Sehingga maksud-maksud kata ini dari mana Anda memahaminya? Dari memahami ilmu Balaghah, ini tentang maksud-maksud kata. Semua ini bisa Anda ketahui dari banyaknya kepahaman dan penjelasan yang Anda baca, maka membaca teks bahasa Arab itu teramat penting. Dan imam asy-Syafi’i -semoga Allah merahmati beliau- apa yang beliau lakukan pertama kali ketika menuntut ilmu? Beliau pergi ke kabilah Huzail, kabilah terkenal yang sekarang masih ada di pinggiran kota Mekkah. Beliau tinggal bersama mereka untuk belajar bahasa Arab kepada mereka sehingga beliau menjadi orang yang paling paham bahasa Arab. Maka al-Baihaqi atau Abu Bakar al-Baihaqi mengarang sebuah kitab, yang sudah dicetak, yang beliau beri judul “Berhujah (berargumentasi) dengan Perkataan Imam asy-Syafi’i dalam Bahasa.” Karena perkataan asy-Syafi’i adalah hujah walaupun beliau hidup setelah masa kehujahan bahasa Arab, karena para ulama Nahwu berkata bahwa perkataan orang Arab yang berasal dari daerah perkotaan adalah hujah sampai pada tahun 100 hijriah, dan orang Arab yang berasal dari daerah pedalaman adalah hingga tahun 150 hijriah. Dan asy-Syafi’i wafat setelah masa itu, sepertinya pada tahun 204 hijriah atau beberapa tahun setelahnya. Maksud dari perkataan saya, bahwa banyaknya mendengar dan berbicara akan membangun bahasa Anda. Dan saya sampaikan ini tanpa saya ringkas karena, sangat disayangkan, kita mendengar bahwa sebagian orang tidak memberikan perhatian terhadap bahasa Arab, menyepelekannya dan enggan menghafal bait-bait syair padahal bait-bait syair banyak sekali manfaatnya. Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- berkata, “Aku tidak paham maksud ayat ‘Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi.'” (QS. Fatir: 1) sampai ada dua orang arab badui berselisih di dekatku dan salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Aku yang membuatnya lebih dulu dari pada kamu.’ …” Maksudnya membelahnya. “Kemudian aku paham bahwa maksud dari Pencipta langit dan bumi adalah yang membelah, yakni yang memisahkan keduanya.” Yakni dahulu keduanya adalah satu kesatuan kemudian Allah subhanahu wa ta’ala pisahkan keduanya. Maksud saya, bahwa memahami bahasa amatlah penting dan tingkat kepahaman tiap-tiap orang berbeda-beda. Oleh sebab itu banyak orang menyatakan, “Sungguh apabila aku melihat seseorang yang penampilannya membuat aku kagum, kemudian dia berbicara dengan tata bahasa yang salah, maka saat itu harga dirinya jatuh di hadapanku.” Banyak saudara-saudara kita yang memiliki perhatian terhadap bahasa Arab berkata, “Apabila aku duduk dan mendengarkan ceramah di masjid, kemudian yang menyampaikan ceramah salah dalam tata bahasanya, aku merasa seperti didera dengan cambuk. Kemudian aku keluar karena tidak sanggup lagi duduk.” Lihatlah bagaimana kesalahan tata bahasa bisa menyakiti (membuat tidak nyaman) orang lain. Siapa sih di antara kita yang tidak pernah salah dalam tata bahasa (lahn)? ================= يَعْنِي أَوَّلُ الشَّيْءِ يَقُولُ الطُّوْفِيُّ أَوْ سُلَيْمَانُ نَجْمُ الدِّينِ الطُّوْفِيُّ فِي كِتَابِ الْإِكْسِيرِ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ وَالْمُفَسِّرِينَ عِنْدَمَا نَظَرُوا فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ نَحوَ مَنَاحِي شَتَّى وَأَغْفَلُوْا أَهَمَّ الْمَقْصُودِ لِلْقُرْآنِ بَعْدَ مَقْصُودِ الدِّلَالَةِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَوْحِيدِهِ وَهُوَ الإِعْجَازُ فِي بَلَاغَتِهِ فَيَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّظَرِ فِي لُغَتِهِ أَوَّلُ وَسِيلَةٍ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِمَعْرِفَةِ الْغَرِيبِ أَوَّلُ الشَّيْءِ طَبْعًا لَيْسَ بِالتَّرْتِيبِ وَمَعْرِفَةُ الْغَرِيبِ تَكُونُ بِالْقِرَاءةِ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ مِنَ اللُّغَةِ وَالشِّعْرِ فَتَقْرَأُ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ الَّتِي فِيهَا الْغَرِيبُ كَيْ تَعْرِفَ مُتَرَادِفَاتٍ وَتَعْرِفَ دِلَالَةَ اللَّفْظَةِ فَإِنَّ اللَّفْظَ تَعْرِفُهَا وَلَكِنْ إِذَا جَاءَ سِيَاقُهَا فِي أَكْثَرَ مِنْ جُمْلَةٍ عَرَفْتَ مَا مَعْنَاهَا أَمَّا رُجُوعُ الْمُعْجَامَاتِ نَعَمْ هُوَ الطَّرِيقُ لَكِنَّ الصَّعْبَ أَنْ تَحْفَظَ الْمُعْجَمَ أَوْ تَعْرِيفَاتٍ صَعْبٌ جِدًّا لَكِنَّ الْقِرَاءَةَ هِيَ الَّتِي تُكْسِبُكَ الْمَعْرِفَةَ إِذَنْ هَذَا الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْغَرِيبِ أَنْ تَعْرِفَ الْغَرِيبَ وَأَلْفَاظَ اللُّغَةِ كَمَا قَلْتُ لَكَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُحِيطَ أحَدٌ حَتَّى بِغَرِيبِ اللُّغَةِ وَقَدْ تَكَلَّمْنَا عَنِ الْغَرِيبِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تُعْرِبَ الْكَلَامَ وَنَعْنِي بِالْإِعْرَابِ عَدَمَ اللَّحْنِ وَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُومُ فِي الْمُسْلِمِيْنَ خَطِيبًا لَمَّا وُلِيَ الْخِلَافَةَ فَيَقُولُ أَيَّهَا الْمُسْلِمُونَ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ لَمْ يَقُلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَاطِبُ أَعْرَابًا أَقْحَاحًا وَإِنَّمَا دَخَلَ الْأَعَاجِمُ فِي آخِرِ عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ أَلَمْ يَقُلْ عُمَرُ لَمَّا طُعِنَ مِنْ أَبِي لُؤْلُؤَةَ الْمَجُوسِيِّ لِابْنِ عَبَّاسٍ ذَاكَ الَّذِي كُنْتُمْ تُجَادِلُ أَنْتَ وَأَبُوكَ عَنْهُمْ وَهُوَ إِدْخَالُ الأَعَاجِمِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَكَانَ عُمَرُ يَرَى أَنْ لَا يَدْخُلَ الْأَعَاجِمُ الْمَدِينَةَ وَ لَكِنَّهُ رَضِيَ فِي قَوْلِ الصَّحَابَةِ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَضْرِبُ ابْنَهُ إِذَا تَرَكَ إِعْرَابَ الْقُرْآنِ وَلَا يَضْرِبُهُ عَلَى تَرْكِ الْحِفْظِ فَالْعِنَايَةُ بِإِعْرَابِ الْكَلَامِ الْإِعْرَابُ مِنْ وَسَائِلِ الْمَعْرِفَةِ الْإِعْرَابِ مَعْرِفَةُ النَّحْوِ وَ لَكِن مِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْرِبُ وَلَا يَعْرِفُ مِنَ النَّحوِ إِلَّا بَعْضَهُ وَأَعْرِفُ رَجُلًا صِيْنِيَّا أَوْ صِيْنِيَّ الْأَصْلِيَّ وَ يَعِيشُ فِي مَكَّةَ يَقُولُ يَا عَبْدَ السَّلَامِ لَا أَعْرِفُ مِنْ النَّحوِ شَيْئًا إِلَّا لِمَامًا وَلَوْ كَلَّمْتَنِي بِالْعَرَبِيَّةِ وَكَلَّمْتُهُ لَا يَلْحَنُ وَهُوَ مِنْ طُلَّابِ الْجَامِعَةِ يَقُولُ أَنَا أُكْثِرُ مِنْ قِرَاءةِ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَلَامُهُ وَ أَقْرَأُ عَلَى الْمَشَايِخِ يَقْرَأُ بِصَوْتٍ عَالٍ فَإِذَا تَكُونُ فِي لِسَانِهِ كَانَ لَهُ مَلَكَةٌ وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْقِصَّةَ الَّتِي قِيلَ إِنَّ… يَقُولُونَ إِنَّ الْأَصْمَعِيَّ لَمَّا جَاءَ إِلَى الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِيَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ نَقَصَتْ نَفَقَتُهُ فَأَرَادَ أَنْ يَتَكَسَّبَ مِنْ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْقُرْآنَ لِلصِّبْيَانِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَهُمُ الْقُرْآنَ جَاءَ لِلصَّبِيِّ يُعَلِّمُهُ فَعَلَّمَهُ سُورَةَ الْمَسَدِ فَقَالَ لَهُ اِقْرَأْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ تَبَّتْ يَدَا قَالَ الْوَلَدُ تَبَّتْ يَدَانِ يَا وَلَدٌ تَبَّتْ يَدَا تَبَّتْ يَدَانِ تَبَّتْ يَدَا – وَظَنَّ أَنَّ الْوَلَدَ يَلْعَبُ قَالَ تَبَّتْ يَدَانِ قَالَ قُلْ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 قَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 صَبِيُّ عُمْرُهُ خَمْسُ سِتُّ سَنوَاتٍ عَلَى أَقْصَى التَّقْدِيرِ كَيْفَ لِسَانُهُ لَمْ يَسْتَطِعِ اللَّحْنَ مَعَ أَنَّهُ لَا يَعْرِفُ النَّحْوَ إِنَّمَا هُوَ مَعَ كَثْرَةِ الْكَلَامِ وَلِذَلِكَ الْعَرَبُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ النَّحْوَ قِيلَ إِنَّ أَوَّلَ مَنْ وَضَعَ النَّحْوَ هُوَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقِيلَ إِنَّهُ أَبُو الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيُّ بِأَمْرِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالْمَعْنَى وَاحِدٌ فَإِنَّ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوْرًا فِي ذَلِكَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ وَ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَالقِرَاءةَ بِهِ تَجْعَلُ الشَّخْصَ لَا يَلْحَنُ إِذَنْ تَكَلَّمْنَا أَوَّلًا عَنِ الْغَرِيبِ وَتَكَلَّمْنَا ثَانِيًا عَنِ اللَّحْنِ وَهُوَ الْإِعْرَابُ وَمِنْ وَسَائِلِ مَعْرِفَةِ النَّحْوِ وَلَيْسَ هُوَ الْوَسِيلَةَ الْوَحِيدَةَ وَلَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ نُنَمَّى بِالْكَلَامِ وَبِالْقِرَاءةِ عَلَى الْمَشَايِخِ وَبِقِرَاءةِ الْقُرْآنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ مَعْرِفَةُ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ وَالْأُصُولِيُّونَ ذَكَرُوْا مِنَ التَّقْعِيدِ فِي مَعْرِفَةِ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ الَّذِي هُوَ عِلْمُ الْبَلَاغَةِ أَوْ هُوَ جُزْءٌ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ وَلِذَلِكَ الْأُصُولِيُّونَ تَكَلَّمُوْا عَنْ فَحْوَى الْخِطَابِ وَ لَحْنِ الْخِطَابِ وَدَلِيلِ الْخِطَابِ وَتَكَلَّمُوا عَنِ الْمَنْطُوقِ وَالْمَفْهُومِ وَمَفْهُومِ الْمُوَافَقَةِ وَمَفْهُومِ الْمُخَالَفَةِ وَمَفْهُومُ الْمُخَالَفَةِ عَشْرَةُ أَنْوَاعٍ أَوْ أَكْثَرَ مَفْهُومُ الْعَدَدِ مَفْهُومُ مُخَالَفَةِ الْعَدَدِ مَفْهُومُ اللَّقَبِ مَفْهُومُ الْوَصْفِ مَفْهُومُ الْعَلَمِ وَهَكَذَا مَفْهُومُ الشَّرْطِ مَفْهُومُ الْحَصْرِ وَهُوَ أَقْوَاهَا وَهَكَذَا إِذَنْ هَذِهِ الدَّلَائِلُ اللَّفْظِيَّةُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُهَا؟ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ دَلَائِلُ الْأَلْفَاظِ هَذِهِ تُعْرَفُ مِنَ الْفُهُومَاتِ وَالشُّرُوحَاتِ الَّتِي تُقْرَأُ فَالْقِرَاءَةُ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ مُهِمٌّ جِدًّ وَالشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي أَوَّلِ شَأْنِهِ مَاذَا كَانَ ؟ ذَهَبَ لِهُذَيْلٍ قَبِيلَةِ هُذَيْلٍ الْمَعْرُوفَةِ وَمَا زَالَتْ بِجَانِبِ مَكَّةَ ذَهَبَ عِنْدَهُمْ وَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ عِنْدَهُمْ فَكَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِلِسَانِ الْعَرَبِ وَأَلَّفَ الْبَيْهَقِيُّ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ كِتَابًا طُبِعَ سَمَّاهُ الْاِحْتِجَاجَ بالشَّافِعِيِّ فِي اللُّغَةِ فَإِنَّ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ حُجَّةٌ مَعَ أَنَّهُ جَاءَ بَعْدَ احْتِجَاجِ اللُّغَةِ فَإِنَّ النَّحْوِيِّينَ يَقُولُونَ إِنَّ كَلَامَ الْعَرَبِ حُجَّةٌ إِنْ كَانُوا مِنْ أهْلِ الْأَمْصَارِ فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ مِنَ الْهِجْرَةِ وَإِنْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْبَوَادِي فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ وَ خَمْسِينَ وَالشَّافِعِيُّ تُوُفِّيَ سَنَةَ بَعْدَ ذَلِكَ مِائِتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ أَظَنُّ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَكَثْرَةَ الكَلَامِ هِيَ الَّتِي تَجْعَلُ اللُّغَةَ أَنَا أَقُولُ هَذَا مَا رَكَّزْتُ عَلَيْهِ لِأَنَّنَا نَسْمَعُ لِلْأَسَفِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ عَدَمَ عِنَايَةٍ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَالْإِحْجَامَ عَنْهَا وَعَدَمَ حِفْظٍ بِأَبْيَاتِ الشِّعْرِ فَإِنَّ أَبْيَاتِ الشِّعْرِ مُفِيدَةٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمْ أَكُ أَعْرِفْ مَا مَعْنَى الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فاطر – الآية 1 حَتَّى اخْتَصَمَ عِنْدِي أَعْرَبِيَّانِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ أَنَا فَطَرْتُهَا قَبْلَكَ أَيْ شَقَقْتُهَا فَعَرَفْتُ أَنَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَيْ شَاقُّهُ أَيْ شَاقُّهُمَا أَيْ كَانَتَا مُتَّصِلَتَيْنِ فَشَقَّهُمَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ مَعْرِفَةَ اللُّغَةِ مُهِمَّةٌ وَالنَّاسُ يَخْتَلِفُونَ بَيْنَ شَخْصٍ وَآخَرَ وَلِذَلِكَ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ إِنِّي لَأَرَى الرَّجُلَ فَتُعْجِبُنِي هَيْئَتُهُ فَإِذَا تَكَلَّمَ فَلَحَنَ سَقَطَ مِنْ عَيْنِي كَثِيرٌ مِنَ الْإِخْوَانِ الَّذِي يُعْنَى بِالْعَرَبِيَّةِ يَقُولُ إِنْ أَجْلِسْ أَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فِي الْمَسْجِدِ فَإِذَا لَحَنَ الَّذِي يُلْقِي الْكَلِمَةَ كَأَنِّي مَضْرُوبٌ بِالسِّيَاطِ فَأَخْرُجُ مَا أَسْتَطِيعُ الْجُلُوسَ فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّحْنَ يَعْنِي مُضِرٌّ فِي الْمَرْءِ وَمَنْ مِنَّا لَايَلْحَنُ؟  


<span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start"></span> Yang pertama, bahwa at-Thufi atau Sulaiman Najmuddin at-Thufi dalam kitab al-Iksir berkata, “Sesungguhnya orang-orang dan para ahli tafsir ketika mempelajari kitab Allah ‘azza wa jalla dari banyak sisinya, mereka lupa mempelajari tujuan terbesar dalam al-Qur’an setelah tujuan menunjukkan eksistensi Allah ‘azza wa jalla dan keesaan-Nya, yaitu keajaiban tata bahasanya.” Maka wajib bagi seseorang untuk memberikan perhatian terhadap kitab ini, kitab Allah ‘azza wa jalla, dan memperhatikan sisi kebahasaannya. Dan cara pertama yang bisa dilakukan seseorang adalah dengan mendalami pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib), ini yang pertama, dan tentu ini tidak harus runtut. Dan pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib) bisa didapatkan dengan membaca kitab-kitab bahasa dan syair orang-orang terdahulu, maka bacalah kitab-kitab terdahulu yang terdapat padanya kata-kata sukar (ghorib) sehingga Anda bisa mengerti sinonim dan maksud katanya. Mungkin ada kata yang sudah Anda ketahui, namun apabila kata tersebut ditemukan pada beberapa konteks, Anda akan lebih memahami maksudnya. Adapun membaca kamus, iya, ini juga salah satu cara, namun menghafalkan kamus dan definisi-definisi kata sangatlah sulit, namun dengan membacalah Anda akan mendapatkan pengetahuan, jadi inilah masalah yang berhubungan dengan kata-kata sukar (ghorib), Anda harus mengerti arti kata sukar (ghorib) dan kosa-kata bahasa. Sebagaimana telah saya katakan pada kalian bahwa imam asy-Syafi’i berkata, “Tidaklah mungkin seseorang bisa menguasai seluruh makna kata-kata sukar (ghorib).” Dan kita sudah membahas tentang kata-kata sukar (ghorib). Yang kedua, Anda harus meng-i’rab kalimat dan maksud dari i’rab ini adalah tidak ada kekeliruan tata bahasa. Dan sungguh dahulu Abu Bakar ash-Shiddiq -semoga Allah meridai beliau- berkhutbah di hadapan kaum muslimin ketika dilantik menjadi khalifah. Beliau berkata, “Wahai kaum muslimin, i’rab-lah al-Qur’an.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah berkata demikian, kenapa? Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berbicara kepada penutur asli bahasa Arab yang murni. Dan barulah orang-orang non-Arab datang di penghujung masa pemerintahan Abu Bakar. Bukankah Umar, setelah beliau ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi, berkata kepada Ibnu Abbas, “Bukankah itu adalah orang yang dahulu kamu dan ayahmu perdebatkan tentang kedatangannya?” Yaitu tentang masuknya orang-orang non-Arab ke kota Madinah. Umar berpendapat bahwa orang non-Arab tidak boleh masuk Madinah namun beliau mengikuti pendapat para sahabat (yang berpendapat) bolehnya orang-orang non-Arab masuk. Kemudian masuklah orang-orang non-Arab sehingga Abu Bakar berkata, “I’rab-lah al-Qur’an.” Dan dahulu Abdullah bin Umar -semoga Allah meridai beliau berdua- memukul anaknya apabila keliru dalam tata bahasa al-Qur’an namun tidak memukulnya apabila tidak bisa menghafalnya. Inilah i’rab, memperhatikan ketepatan tata bahasa dalam kalimat. Diantara cara memahami i’rab adalah dengan memahami ilmu Nahwu meskipun sebagian orang mampu menerapkan tata bahasa dengan benar walaupun tidak mengerti nahwu secara keseluruhannya. Saya mengenal orang Cina, atau berasal dari Cina namun hidup di Mekkah, dia berkata, “Wahai Abdussalaam, saya tidak memahami Nahwu kecuali hanya sedikit saja.” Tapi jika dia berkata kepada saya atau saya berbicara dengannya dengan bahasa Arab, dia tidak keliru tata bahasanya, dia seorang mahasiswa di sebuah universitas. Dia berkata, “Aku memperbanyak membaca al-Qur’an.” Ini perkataan dia, “Dan aku menyetorkan bacaanku di hadapan para syeikh.” Dia membaca dengan suara keras dan ketika bahasa sudah ada di lisannya, didapatlah kemahiran bahasanya. Dan Anda tahu sebuah kisah, disebutkan bahwa al-Ashma’i ketika masuk ke semenanjung Arab untuk mempelajari bahasa Arab, ternyata pendapatannya tidak mencukupi, sehingga dia ingin mencukupi nafkah dengan mengajarkan al-Qur’an kepada manusia, kepada anak-anak. Ketika dia ingin mengajari mereka al-Qur’an, dia datang kepada seorang anak untuk mengajarinya. Dia mengajarinya surat al-Masad, dia berkata, “Ucapkanlah; ‘Bismillahirrahmanirrahim.'” Anak tersebut mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” (Ucapkan,) “Tabbat yadaa…” Anak itu mengucapkan, “Tabbat yadaan…” “Nak, ucapkan ‘Tabbat yadaa…'” “Tabbat yadaan…” “Tabbat yadaa…!” Dia mengira anak ini sedang bermain-main. Anak ini mengucapkan, “Tabbat yadaan…” Dia berkata, “Ucapkan; ‘Tabbat yadaa abi lahab‘” (QS. Al-Masad: 1) Anak itu baru mengucapkan, “Tabbat yadaa abi lahab…” (QS. Al-Masad: 1) Seorang anak kecil lima tahun perkiraanya atau paling tua enam tahun, bagaimana lisannya tidak bisa salah dalam tata bahasa padahal dia tidak memahami Nahwu? Sebabnya adalah karena seringnya berbicara. Oleh sebab itulah dahulu orang-orang Arab tidak belajar Nahwu dan disebutkan bahwa orang pertama yang meletakkan kaidah-kaidah Nahwu adalah Ali -semoga Allah meridai beliau- atau Abu Aswad ad-Du’ali atas perintah Ali -semoga Allah meridai beliau- dan sebenarnya sama saja bahwa Ali -semoga Allah meridai beliau- memiliki peran dalam hal ini. Dan maksudnya, bahwa banyaknya berbicara dengan bahasa Arab, banyak mendengarnya dan membacanya membuat seseorang tidak salah dalam masalah tata bahasa. Jadi, yang pertama, kita sudah membahas tentang kata-kata asing, dan kedua kita membahas tentang kesalahan tata bahasa, yaitu i’rab. Inilah salah satu cara memahami ilmu Nahwu, dan ini bukan satu-satunya cara, namun kita harus meningkatkan frekuensi dalam berbicara, membaca di hadapan para guru dan membaca al-Qur’an. Yang ketiga, memahami maksud-maksud sebuah kata. Dan para ulama Ushul Fikih telah meletakkan banyak sekali kaidah-kaidah untuk memahami maksud-maksud sebuah kata, yaitu ilmu Balaghah atau menjadi salah satu pembahasan dalam pembahasan Balaghah. Oleh sebab itulah ulama Ushul Fikih membahas masalah Fahwul Khitab, Lahnul Khitab dan Dalilul Khitab. Mereka menjelaskan tentang manthuq (makna tersurat) dan mafhum (makna tersirat); mafhum al-muwafaqah dan mafhum al-mukhalafah. Dan makna tersirat berlawanan ada sepuluh macam atau lebih, ada mafhum ‘adad, mafhum mukhalafah al-‘adad, mafhum laqab, mafhum al-wasf, mafhum al-‘alam, dan seterusnya, mafhum as-syart, mafhum al-hasr, dan ini yang paling kuat, dan lain sebagainya. Sehingga maksud-maksud kata ini dari mana Anda memahaminya? Dari memahami ilmu Balaghah, ini tentang maksud-maksud kata. Semua ini bisa Anda ketahui dari banyaknya kepahaman dan penjelasan yang Anda baca, maka membaca teks bahasa Arab itu teramat penting. Dan imam asy-Syafi’i -semoga Allah merahmati beliau- apa yang beliau lakukan pertama kali ketika menuntut ilmu? Beliau pergi ke kabilah Huzail, kabilah terkenal yang sekarang masih ada di pinggiran kota Mekkah. Beliau tinggal bersama mereka untuk belajar bahasa Arab kepada mereka sehingga beliau menjadi orang yang paling paham bahasa Arab. Maka al-Baihaqi atau Abu Bakar al-Baihaqi mengarang sebuah kitab, yang sudah dicetak, yang beliau beri judul “Berhujah (berargumentasi) dengan Perkataan Imam asy-Syafi’i dalam Bahasa.” Karena perkataan asy-Syafi’i adalah hujah walaupun beliau hidup setelah masa kehujahan bahasa Arab, karena para ulama Nahwu berkata bahwa perkataan orang Arab yang berasal dari daerah perkotaan adalah hujah sampai pada tahun 100 hijriah, dan orang Arab yang berasal dari daerah pedalaman adalah hingga tahun 150 hijriah. Dan asy-Syafi’i wafat setelah masa itu, sepertinya pada tahun 204 hijriah atau beberapa tahun setelahnya. Maksud dari perkataan saya, bahwa banyaknya mendengar dan berbicara akan membangun bahasa Anda. Dan saya sampaikan ini tanpa saya ringkas karena, sangat disayangkan, kita mendengar bahwa sebagian orang tidak memberikan perhatian terhadap bahasa Arab, menyepelekannya dan enggan menghafal bait-bait syair padahal bait-bait syair banyak sekali manfaatnya. Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- berkata, “Aku tidak paham maksud ayat ‘Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi.'” (QS. Fatir: 1) sampai ada dua orang arab badui berselisih di dekatku dan salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Aku yang membuatnya lebih dulu dari pada kamu.’ …” Maksudnya membelahnya. “Kemudian aku paham bahwa maksud dari Pencipta langit dan bumi adalah yang membelah, yakni yang memisahkan keduanya.” Yakni dahulu keduanya adalah satu kesatuan kemudian Allah subhanahu wa ta’ala pisahkan keduanya. Maksud saya, bahwa memahami bahasa amatlah penting dan tingkat kepahaman tiap-tiap orang berbeda-beda. Oleh sebab itu banyak orang menyatakan, “Sungguh apabila aku melihat seseorang yang penampilannya membuat aku kagum, kemudian dia berbicara dengan tata bahasa yang salah, maka saat itu harga dirinya jatuh di hadapanku.” Banyak saudara-saudara kita yang memiliki perhatian terhadap bahasa Arab berkata, “Apabila aku duduk dan mendengarkan ceramah di masjid, kemudian yang menyampaikan ceramah salah dalam tata bahasanya, aku merasa seperti didera dengan cambuk. Kemudian aku keluar karena tidak sanggup lagi duduk.” Lihatlah bagaimana kesalahan tata bahasa bisa menyakiti (membuat tidak nyaman) orang lain. Siapa sih di antara kita yang tidak pernah salah dalam tata bahasa (lahn)? ================= يَعْنِي أَوَّلُ الشَّيْءِ يَقُولُ الطُّوْفِيُّ أَوْ سُلَيْمَانُ نَجْمُ الدِّينِ الطُّوْفِيُّ فِي كِتَابِ الْإِكْسِيرِ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ وَالْمُفَسِّرِينَ عِنْدَمَا نَظَرُوا فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ نَحوَ مَنَاحِي شَتَّى وَأَغْفَلُوْا أَهَمَّ الْمَقْصُودِ لِلْقُرْآنِ بَعْدَ مَقْصُودِ الدِّلَالَةِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَوْحِيدِهِ وَهُوَ الإِعْجَازُ فِي بَلَاغَتِهِ فَيَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّظَرِ فِي لُغَتِهِ أَوَّلُ وَسِيلَةٍ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِمَعْرِفَةِ الْغَرِيبِ أَوَّلُ الشَّيْءِ طَبْعًا لَيْسَ بِالتَّرْتِيبِ وَمَعْرِفَةُ الْغَرِيبِ تَكُونُ بِالْقِرَاءةِ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ مِنَ اللُّغَةِ وَالشِّعْرِ فَتَقْرَأُ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ الَّتِي فِيهَا الْغَرِيبُ كَيْ تَعْرِفَ مُتَرَادِفَاتٍ وَتَعْرِفَ دِلَالَةَ اللَّفْظَةِ فَإِنَّ اللَّفْظَ تَعْرِفُهَا وَلَكِنْ إِذَا جَاءَ سِيَاقُهَا فِي أَكْثَرَ مِنْ جُمْلَةٍ عَرَفْتَ مَا مَعْنَاهَا أَمَّا رُجُوعُ الْمُعْجَامَاتِ نَعَمْ هُوَ الطَّرِيقُ لَكِنَّ الصَّعْبَ أَنْ تَحْفَظَ الْمُعْجَمَ أَوْ تَعْرِيفَاتٍ صَعْبٌ جِدًّا لَكِنَّ الْقِرَاءَةَ هِيَ الَّتِي تُكْسِبُكَ الْمَعْرِفَةَ إِذَنْ هَذَا الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْغَرِيبِ أَنْ تَعْرِفَ الْغَرِيبَ وَأَلْفَاظَ اللُّغَةِ كَمَا قَلْتُ لَكَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُحِيطَ أحَدٌ حَتَّى بِغَرِيبِ اللُّغَةِ وَقَدْ تَكَلَّمْنَا عَنِ الْغَرِيبِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تُعْرِبَ الْكَلَامَ وَنَعْنِي بِالْإِعْرَابِ عَدَمَ اللَّحْنِ وَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُومُ فِي الْمُسْلِمِيْنَ خَطِيبًا لَمَّا وُلِيَ الْخِلَافَةَ فَيَقُولُ أَيَّهَا الْمُسْلِمُونَ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ لَمْ يَقُلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَاطِبُ أَعْرَابًا أَقْحَاحًا وَإِنَّمَا دَخَلَ الْأَعَاجِمُ فِي آخِرِ عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ أَلَمْ يَقُلْ عُمَرُ لَمَّا طُعِنَ مِنْ أَبِي لُؤْلُؤَةَ الْمَجُوسِيِّ لِابْنِ عَبَّاسٍ ذَاكَ الَّذِي كُنْتُمْ تُجَادِلُ أَنْتَ وَأَبُوكَ عَنْهُمْ وَهُوَ إِدْخَالُ الأَعَاجِمِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَكَانَ عُمَرُ يَرَى أَنْ لَا يَدْخُلَ الْأَعَاجِمُ الْمَدِينَةَ وَ لَكِنَّهُ رَضِيَ فِي قَوْلِ الصَّحَابَةِ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَضْرِبُ ابْنَهُ إِذَا تَرَكَ إِعْرَابَ الْقُرْآنِ وَلَا يَضْرِبُهُ عَلَى تَرْكِ الْحِفْظِ فَالْعِنَايَةُ بِإِعْرَابِ الْكَلَامِ الْإِعْرَابُ مِنْ وَسَائِلِ الْمَعْرِفَةِ الْإِعْرَابِ مَعْرِفَةُ النَّحْوِ وَ لَكِن مِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْرِبُ وَلَا يَعْرِفُ مِنَ النَّحوِ إِلَّا بَعْضَهُ وَأَعْرِفُ رَجُلًا صِيْنِيَّا أَوْ صِيْنِيَّ الْأَصْلِيَّ وَ يَعِيشُ فِي مَكَّةَ يَقُولُ يَا عَبْدَ السَّلَامِ لَا أَعْرِفُ مِنْ النَّحوِ شَيْئًا إِلَّا لِمَامًا وَلَوْ كَلَّمْتَنِي بِالْعَرَبِيَّةِ وَكَلَّمْتُهُ لَا يَلْحَنُ وَهُوَ مِنْ طُلَّابِ الْجَامِعَةِ يَقُولُ أَنَا أُكْثِرُ مِنْ قِرَاءةِ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَلَامُهُ وَ أَقْرَأُ عَلَى الْمَشَايِخِ يَقْرَأُ بِصَوْتٍ عَالٍ فَإِذَا تَكُونُ فِي لِسَانِهِ كَانَ لَهُ مَلَكَةٌ وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْقِصَّةَ الَّتِي قِيلَ إِنَّ… يَقُولُونَ إِنَّ الْأَصْمَعِيَّ لَمَّا جَاءَ إِلَى الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِيَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ نَقَصَتْ نَفَقَتُهُ فَأَرَادَ أَنْ يَتَكَسَّبَ مِنْ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْقُرْآنَ لِلصِّبْيَانِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَهُمُ الْقُرْآنَ جَاءَ لِلصَّبِيِّ يُعَلِّمُهُ فَعَلَّمَهُ سُورَةَ الْمَسَدِ فَقَالَ لَهُ اِقْرَأْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ تَبَّتْ يَدَا قَالَ الْوَلَدُ تَبَّتْ يَدَانِ يَا وَلَدٌ تَبَّتْ يَدَا تَبَّتْ يَدَانِ تَبَّتْ يَدَا – وَظَنَّ أَنَّ الْوَلَدَ يَلْعَبُ قَالَ تَبَّتْ يَدَانِ قَالَ قُلْ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 قَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ المسد – الآية 1 صَبِيُّ عُمْرُهُ خَمْسُ سِتُّ سَنوَاتٍ عَلَى أَقْصَى التَّقْدِيرِ كَيْفَ لِسَانُهُ لَمْ يَسْتَطِعِ اللَّحْنَ مَعَ أَنَّهُ لَا يَعْرِفُ النَّحْوَ إِنَّمَا هُوَ مَعَ كَثْرَةِ الْكَلَامِ وَلِذَلِكَ الْعَرَبُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ النَّحْوَ قِيلَ إِنَّ أَوَّلَ مَنْ وَضَعَ النَّحْوَ هُوَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقِيلَ إِنَّهُ أَبُو الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيُّ بِأَمْرِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالْمَعْنَى وَاحِدٌ فَإِنَّ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوْرًا فِي ذَلِكَ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ وَ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَالقِرَاءةَ بِهِ تَجْعَلُ الشَّخْصَ لَا يَلْحَنُ إِذَنْ تَكَلَّمْنَا أَوَّلًا عَنِ الْغَرِيبِ وَتَكَلَّمْنَا ثَانِيًا عَنِ اللَّحْنِ وَهُوَ الْإِعْرَابُ وَمِنْ وَسَائِلِ مَعْرِفَةِ النَّحْوِ وَلَيْسَ هُوَ الْوَسِيلَةَ الْوَحِيدَةَ وَلَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ نُنَمَّى بِالْكَلَامِ وَبِالْقِرَاءةِ عَلَى الْمَشَايِخِ وَبِقِرَاءةِ الْقُرْآنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ مَعْرِفَةُ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ وَالْأُصُولِيُّونَ ذَكَرُوْا مِنَ التَّقْعِيدِ فِي مَعْرِفَةِ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ الَّذِي هُوَ عِلْمُ الْبَلَاغَةِ أَوْ هُوَ جُزْءٌ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ وَلِذَلِكَ الْأُصُولِيُّونَ تَكَلَّمُوْا عَنْ فَحْوَى الْخِطَابِ وَ لَحْنِ الْخِطَابِ وَدَلِيلِ الْخِطَابِ وَتَكَلَّمُوا عَنِ الْمَنْطُوقِ وَالْمَفْهُومِ وَمَفْهُومِ الْمُوَافَقَةِ وَمَفْهُومِ الْمُخَالَفَةِ وَمَفْهُومُ الْمُخَالَفَةِ عَشْرَةُ أَنْوَاعٍ أَوْ أَكْثَرَ مَفْهُومُ الْعَدَدِ مَفْهُومُ مُخَالَفَةِ الْعَدَدِ مَفْهُومُ اللَّقَبِ مَفْهُومُ الْوَصْفِ مَفْهُومُ الْعَلَمِ وَهَكَذَا مَفْهُومُ الشَّرْطِ مَفْهُومُ الْحَصْرِ وَهُوَ أَقْوَاهَا وَهَكَذَا إِذَنْ هَذِهِ الدَّلَائِلُ اللَّفْظِيَّةُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُهَا؟ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ دَلَائِلُ الْأَلْفَاظِ هَذِهِ تُعْرَفُ مِنَ الْفُهُومَاتِ وَالشُّرُوحَاتِ الَّتِي تُقْرَأُ فَالْقِرَاءَةُ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ مُهِمٌّ جِدًّ وَالشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي أَوَّلِ شَأْنِهِ مَاذَا كَانَ ؟ ذَهَبَ لِهُذَيْلٍ قَبِيلَةِ هُذَيْلٍ الْمَعْرُوفَةِ وَمَا زَالَتْ بِجَانِبِ مَكَّةَ ذَهَبَ عِنْدَهُمْ وَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ عِنْدَهُمْ فَكَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِلِسَانِ الْعَرَبِ وَأَلَّفَ الْبَيْهَقِيُّ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ كِتَابًا طُبِعَ سَمَّاهُ الْاِحْتِجَاجَ بالشَّافِعِيِّ فِي اللُّغَةِ فَإِنَّ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ حُجَّةٌ مَعَ أَنَّهُ جَاءَ بَعْدَ احْتِجَاجِ اللُّغَةِ فَإِنَّ النَّحْوِيِّينَ يَقُولُونَ إِنَّ كَلَامَ الْعَرَبِ حُجَّةٌ إِنْ كَانُوا مِنْ أهْلِ الْأَمْصَارِ فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ مِنَ الْهِجْرَةِ وَإِنْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْبَوَادِي فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ وَ خَمْسِينَ وَالشَّافِعِيُّ تُوُفِّيَ سَنَةَ بَعْدَ ذَلِكَ مِائِتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ أَظَنُّ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَكَثْرَةَ الكَلَامِ هِيَ الَّتِي تَجْعَلُ اللُّغَةَ أَنَا أَقُولُ هَذَا مَا رَكَّزْتُ عَلَيْهِ لِأَنَّنَا نَسْمَعُ لِلْأَسَفِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ عَدَمَ عِنَايَةٍ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَالْإِحْجَامَ عَنْهَا وَعَدَمَ حِفْظٍ بِأَبْيَاتِ الشِّعْرِ فَإِنَّ أَبْيَاتِ الشِّعْرِ مُفِيدَةٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمْ أَكُ أَعْرِفْ مَا مَعْنَى الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فاطر – الآية 1 حَتَّى اخْتَصَمَ عِنْدِي أَعْرَبِيَّانِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ أَنَا فَطَرْتُهَا قَبْلَكَ أَيْ شَقَقْتُهَا فَعَرَفْتُ أَنَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَيْ شَاقُّهُ أَيْ شَاقُّهُمَا أَيْ كَانَتَا مُتَّصِلَتَيْنِ فَشَقَّهُمَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ مَعْرِفَةَ اللُّغَةِ مُهِمَّةٌ وَالنَّاسُ يَخْتَلِفُونَ بَيْنَ شَخْصٍ وَآخَرَ وَلِذَلِكَ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ إِنِّي لَأَرَى الرَّجُلَ فَتُعْجِبُنِي هَيْئَتُهُ فَإِذَا تَكَلَّمَ فَلَحَنَ سَقَطَ مِنْ عَيْنِي كَثِيرٌ مِنَ الْإِخْوَانِ الَّذِي يُعْنَى بِالْعَرَبِيَّةِ يَقُولُ إِنْ أَجْلِسْ أَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فِي الْمَسْجِدِ فَإِذَا لَحَنَ الَّذِي يُلْقِي الْكَلِمَةَ كَأَنِّي مَضْرُوبٌ بِالسِّيَاطِ فَأَخْرُجُ مَا أَسْتَطِيعُ الْجُلُوسَ فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّحْنَ يَعْنِي مُضِرٌّ فِي الْمَرْءِ وَمَنْ مِنَّا لَايَلْحَنُ؟  

Kambing Akikah Harus Beli?

Kambing Akikah Harus Beli? Ust, didaerah ana ada keyakinan, klo akikah itu kambing nya harus beli. Tdk boleh pake dari kambing ternaknya atau pemberian. Karena klo tdk beli, akikahnya bisa tidak sah. Apa benar keyakinan demikian Ust? Mohon pencerahannya… Matur suwun jazakumullah Khaira Dari: Abid Muhajirin di Magelang. Jawaban: Bismillah Wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa ba’du. Syarat kambing akikah sama dengan syarat yang berlaku pada hewan kurban. Apakah ada syarat harus beli kambing untuk kurban ataukah tidak? Jika iya, maka demikian pula yang berlaku pada akikah. Jika tidak maka tidak pula berlaku pada akikah. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menerangkan, ويجتنب فيها من العيب ما يجتنب في الأضحية ، وجملته : أن حكم العقيقة حكم الأضحية ، في سنها , وأنه يمنع فيها من العيب ما يمنع فيها “Hewan akikah harus terhindar dari aib sebagaimana diharuskan terhindar dari hewan kurban. Kesimpulannya: hukum yang berlaku di akikah, sama dengan hukum yang berlaku pada kurban. Seperti pada umur hewan dan terhindar dari cacat yang tidak boleh ada pada hewan kurban.” (Lihat: Al-Mughni 7/366) Kami simpelkan lagi syarat kurban yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah di atas: 1. Sampai batas umur yang ditentukan syari’at: 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing. 2. Terbebas dari aib atau sakit yang parah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya bahwa hewan kurban harus terhindar dari cacat apa saja? Beliau berisyarat dengan jari beliau lalu menjelaskan, أربعاً : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقى “Empat cacat: pincang yang jelas, buta sebelah, sakit yang jelas sakitnya, dan yang sangat kurus”. (HR. Malik di dalam Muwatha’, hadis dari sahabat al Barra’ bin ‘Azib) Adakah syarat hewan kurban harus beli? Ternyata tidak. Maka demikian juga yang berlaku pada hewan akikah, juga hewannya tidak harus beli, dari piaraan atau ternak sendiri boleh, dari pemberian orang juga boleh. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Niat Puasa Qadha Dan Sunat, Besaran Fidyah, Cara Mencintai Nabi Muhammad Saw, Buku Belajar Sholat, Dokter Laki Laki, Doa Agar Pacar Makin Sayang Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 256 QRIS donasi Yufid

Kambing Akikah Harus Beli?

Kambing Akikah Harus Beli? Ust, didaerah ana ada keyakinan, klo akikah itu kambing nya harus beli. Tdk boleh pake dari kambing ternaknya atau pemberian. Karena klo tdk beli, akikahnya bisa tidak sah. Apa benar keyakinan demikian Ust? Mohon pencerahannya… Matur suwun jazakumullah Khaira Dari: Abid Muhajirin di Magelang. Jawaban: Bismillah Wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa ba’du. Syarat kambing akikah sama dengan syarat yang berlaku pada hewan kurban. Apakah ada syarat harus beli kambing untuk kurban ataukah tidak? Jika iya, maka demikian pula yang berlaku pada akikah. Jika tidak maka tidak pula berlaku pada akikah. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menerangkan, ويجتنب فيها من العيب ما يجتنب في الأضحية ، وجملته : أن حكم العقيقة حكم الأضحية ، في سنها , وأنه يمنع فيها من العيب ما يمنع فيها “Hewan akikah harus terhindar dari aib sebagaimana diharuskan terhindar dari hewan kurban. Kesimpulannya: hukum yang berlaku di akikah, sama dengan hukum yang berlaku pada kurban. Seperti pada umur hewan dan terhindar dari cacat yang tidak boleh ada pada hewan kurban.” (Lihat: Al-Mughni 7/366) Kami simpelkan lagi syarat kurban yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah di atas: 1. Sampai batas umur yang ditentukan syari’at: 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing. 2. Terbebas dari aib atau sakit yang parah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya bahwa hewan kurban harus terhindar dari cacat apa saja? Beliau berisyarat dengan jari beliau lalu menjelaskan, أربعاً : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقى “Empat cacat: pincang yang jelas, buta sebelah, sakit yang jelas sakitnya, dan yang sangat kurus”. (HR. Malik di dalam Muwatha’, hadis dari sahabat al Barra’ bin ‘Azib) Adakah syarat hewan kurban harus beli? Ternyata tidak. Maka demikian juga yang berlaku pada hewan akikah, juga hewannya tidak harus beli, dari piaraan atau ternak sendiri boleh, dari pemberian orang juga boleh. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Niat Puasa Qadha Dan Sunat, Besaran Fidyah, Cara Mencintai Nabi Muhammad Saw, Buku Belajar Sholat, Dokter Laki Laki, Doa Agar Pacar Makin Sayang Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 256 QRIS donasi Yufid
Kambing Akikah Harus Beli? Ust, didaerah ana ada keyakinan, klo akikah itu kambing nya harus beli. Tdk boleh pake dari kambing ternaknya atau pemberian. Karena klo tdk beli, akikahnya bisa tidak sah. Apa benar keyakinan demikian Ust? Mohon pencerahannya… Matur suwun jazakumullah Khaira Dari: Abid Muhajirin di Magelang. Jawaban: Bismillah Wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa ba’du. Syarat kambing akikah sama dengan syarat yang berlaku pada hewan kurban. Apakah ada syarat harus beli kambing untuk kurban ataukah tidak? Jika iya, maka demikian pula yang berlaku pada akikah. Jika tidak maka tidak pula berlaku pada akikah. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menerangkan, ويجتنب فيها من العيب ما يجتنب في الأضحية ، وجملته : أن حكم العقيقة حكم الأضحية ، في سنها , وأنه يمنع فيها من العيب ما يمنع فيها “Hewan akikah harus terhindar dari aib sebagaimana diharuskan terhindar dari hewan kurban. Kesimpulannya: hukum yang berlaku di akikah, sama dengan hukum yang berlaku pada kurban. Seperti pada umur hewan dan terhindar dari cacat yang tidak boleh ada pada hewan kurban.” (Lihat: Al-Mughni 7/366) Kami simpelkan lagi syarat kurban yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah di atas: 1. Sampai batas umur yang ditentukan syari’at: 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing. 2. Terbebas dari aib atau sakit yang parah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya bahwa hewan kurban harus terhindar dari cacat apa saja? Beliau berisyarat dengan jari beliau lalu menjelaskan, أربعاً : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقى “Empat cacat: pincang yang jelas, buta sebelah, sakit yang jelas sakitnya, dan yang sangat kurus”. (HR. Malik di dalam Muwatha’, hadis dari sahabat al Barra’ bin ‘Azib) Adakah syarat hewan kurban harus beli? Ternyata tidak. Maka demikian juga yang berlaku pada hewan akikah, juga hewannya tidak harus beli, dari piaraan atau ternak sendiri boleh, dari pemberian orang juga boleh. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Niat Puasa Qadha Dan Sunat, Besaran Fidyah, Cara Mencintai Nabi Muhammad Saw, Buku Belajar Sholat, Dokter Laki Laki, Doa Agar Pacar Makin Sayang Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 256 QRIS donasi Yufid


Kambing Akikah Harus Beli? Ust, didaerah ana ada keyakinan, klo akikah itu kambing nya harus beli. Tdk boleh pake dari kambing ternaknya atau pemberian. Karena klo tdk beli, akikahnya bisa tidak sah. Apa benar keyakinan demikian Ust? Mohon pencerahannya… Matur suwun jazakumullah Khaira Dari: Abid Muhajirin di Magelang. Jawaban: Bismillah Wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa ba’du. Syarat kambing akikah sama dengan syarat yang berlaku pada hewan kurban. Apakah ada syarat harus beli kambing untuk kurban ataukah tidak? Jika iya, maka demikian pula yang berlaku pada akikah. Jika tidak maka tidak pula berlaku pada akikah. Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menerangkan, ويجتنب فيها من العيب ما يجتنب في الأضحية ، وجملته : أن حكم العقيقة حكم الأضحية ، في سنها , وأنه يمنع فيها من العيب ما يمنع فيها “Hewan akikah harus terhindar dari aib sebagaimana diharuskan terhindar dari hewan kurban. Kesimpulannya: hukum yang berlaku di akikah, sama dengan hukum yang berlaku pada kurban. Seperti pada umur hewan dan terhindar dari cacat yang tidak boleh ada pada hewan kurban.” (Lihat: Al-Mughni 7/366) Kami simpelkan lagi syarat kurban yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah di atas: 1. Sampai batas umur yang ditentukan syari’at: 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing. 2. Terbebas dari aib atau sakit yang parah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya bahwa hewan kurban harus terhindar dari cacat apa saja? Beliau berisyarat dengan jari beliau lalu menjelaskan, أربعاً : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقى “Empat cacat: pincang yang jelas, buta sebelah, sakit yang jelas sakitnya, dan yang sangat kurus”. (HR. Malik di dalam Muwatha’, hadis dari sahabat al Barra’ bin ‘Azib) Adakah syarat hewan kurban harus beli? Ternyata tidak. Maka demikian juga yang berlaku pada hewan akikah, juga hewannya tidak harus beli, dari piaraan atau ternak sendiri boleh, dari pemberian orang juga boleh. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Niat Puasa Qadha Dan Sunat, Besaran Fidyah, Cara Mencintai Nabi Muhammad Saw, Buku Belajar Sholat, Dokter Laki Laki, Doa Agar Pacar Makin Sayang Visited 128 times, 1 visit(s) today Post Views: 256 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Syirik adalah Kezaliman Terbesar

Saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, mari kita renungkan, apabila ada seseorang yang menzalimi ibu Anda, orang tersebut adalah orang yang baik akhlaknya di masyarakat, muamalahnya bagus, tetapi dia hanya zalim kepada ibu anda saja. Bagaimana penilaian Anda terhadap orang tersebut? Tentu saja, Anda akan menilai orang tersebut buruk dan jelek, meskipun dia baik ke semua orang, kecuali kepada ibu Anda saja.Nah, demikianlah orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala, melakukan berbagai macam pelanggaran tauhid serta tidak menunaikan hak Allah Ta’ala di muka bumi, bahkan tidak beriman kepada Allah Ta’ala alias kafir. Meskipun dia baik ke semua orang, tetapi dia telah melakukan hal buruk kepada Allah Ta’ala karena telah melakukan kezaliman terbesar, yaitu kesyirikan.Baca Juga: Kesyirikan Pertama di Muka BumiAllah Ta’ala berfirman bahwa dosa syirik adalah dosa dan kezaliman terbesar,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)Maksud dari kezaliman yang besar adalah kezaliman yang paling zalim, yaitu syirik. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : هو أعظم الظلم“Yaitu (syirik adalah) kezaliman yang paling besar.” (Tafsir Ibnu Katsir)Dalam berbagai nash (dalil tegas) disebutkan dosa kesyirikan adalah dosa dan kezaliman yang terbesar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Meskipun mereka (orang kafir) adalah orang yang baik akhlaknya dan bagus muamalahnya, akan tetapi Allah Ta’ala menyebutkan mereka adalah seburuk-buruk makhluk.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Walau mereka seburuk-buruk makhluk, tentu kita tidak boleh menzalimi mereka, tetap bergaul dan bermuamalah yang baik selama mereka tidak mengganggu kita dan memerangi Islam.Mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa ada orang kafir yang baik akhlaknya dan sering melakukan kegiatan sosial membantu sesama, lalu mati dalam keadaan kafir dan tidak beriman, lalu Allah memasukkan dia ke dalam neraka? Sepertinya tidak adil.”Jawabannya:Ini bahkan keadilan, karena dia telah zalim dan melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Dia baik kepada manusia tetapi tidak baik terhadap penciptanya yang telah memberikan kehidupan, rezeki, dan segalanya kepadanya. Demikian juga bisa kita buat permisalan, apabila ada orang yang tidak daftar sekolah, dia ikut semua pelajaran dengan baik, apakah dia dapat ijazah? Tentu tidak, demikian juga orang kafir yang tidak beriman.Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Thogut Artinya, Hadits Gembira Menyambut Ramadhan, Rabbana Walakal Hamdu, Cara Muhasabah Diri, Sehat’ Dalam Bahasa Arab

Syirik adalah Kezaliman Terbesar

Saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, mari kita renungkan, apabila ada seseorang yang menzalimi ibu Anda, orang tersebut adalah orang yang baik akhlaknya di masyarakat, muamalahnya bagus, tetapi dia hanya zalim kepada ibu anda saja. Bagaimana penilaian Anda terhadap orang tersebut? Tentu saja, Anda akan menilai orang tersebut buruk dan jelek, meskipun dia baik ke semua orang, kecuali kepada ibu Anda saja.Nah, demikianlah orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala, melakukan berbagai macam pelanggaran tauhid serta tidak menunaikan hak Allah Ta’ala di muka bumi, bahkan tidak beriman kepada Allah Ta’ala alias kafir. Meskipun dia baik ke semua orang, tetapi dia telah melakukan hal buruk kepada Allah Ta’ala karena telah melakukan kezaliman terbesar, yaitu kesyirikan.Baca Juga: Kesyirikan Pertama di Muka BumiAllah Ta’ala berfirman bahwa dosa syirik adalah dosa dan kezaliman terbesar,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)Maksud dari kezaliman yang besar adalah kezaliman yang paling zalim, yaitu syirik. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : هو أعظم الظلم“Yaitu (syirik adalah) kezaliman yang paling besar.” (Tafsir Ibnu Katsir)Dalam berbagai nash (dalil tegas) disebutkan dosa kesyirikan adalah dosa dan kezaliman yang terbesar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Meskipun mereka (orang kafir) adalah orang yang baik akhlaknya dan bagus muamalahnya, akan tetapi Allah Ta’ala menyebutkan mereka adalah seburuk-buruk makhluk.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Walau mereka seburuk-buruk makhluk, tentu kita tidak boleh menzalimi mereka, tetap bergaul dan bermuamalah yang baik selama mereka tidak mengganggu kita dan memerangi Islam.Mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa ada orang kafir yang baik akhlaknya dan sering melakukan kegiatan sosial membantu sesama, lalu mati dalam keadaan kafir dan tidak beriman, lalu Allah memasukkan dia ke dalam neraka? Sepertinya tidak adil.”Jawabannya:Ini bahkan keadilan, karena dia telah zalim dan melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Dia baik kepada manusia tetapi tidak baik terhadap penciptanya yang telah memberikan kehidupan, rezeki, dan segalanya kepadanya. Demikian juga bisa kita buat permisalan, apabila ada orang yang tidak daftar sekolah, dia ikut semua pelajaran dengan baik, apakah dia dapat ijazah? Tentu tidak, demikian juga orang kafir yang tidak beriman.Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Thogut Artinya, Hadits Gembira Menyambut Ramadhan, Rabbana Walakal Hamdu, Cara Muhasabah Diri, Sehat’ Dalam Bahasa Arab
Saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, mari kita renungkan, apabila ada seseorang yang menzalimi ibu Anda, orang tersebut adalah orang yang baik akhlaknya di masyarakat, muamalahnya bagus, tetapi dia hanya zalim kepada ibu anda saja. Bagaimana penilaian Anda terhadap orang tersebut? Tentu saja, Anda akan menilai orang tersebut buruk dan jelek, meskipun dia baik ke semua orang, kecuali kepada ibu Anda saja.Nah, demikianlah orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala, melakukan berbagai macam pelanggaran tauhid serta tidak menunaikan hak Allah Ta’ala di muka bumi, bahkan tidak beriman kepada Allah Ta’ala alias kafir. Meskipun dia baik ke semua orang, tetapi dia telah melakukan hal buruk kepada Allah Ta’ala karena telah melakukan kezaliman terbesar, yaitu kesyirikan.Baca Juga: Kesyirikan Pertama di Muka BumiAllah Ta’ala berfirman bahwa dosa syirik adalah dosa dan kezaliman terbesar,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)Maksud dari kezaliman yang besar adalah kezaliman yang paling zalim, yaitu syirik. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : هو أعظم الظلم“Yaitu (syirik adalah) kezaliman yang paling besar.” (Tafsir Ibnu Katsir)Dalam berbagai nash (dalil tegas) disebutkan dosa kesyirikan adalah dosa dan kezaliman yang terbesar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Meskipun mereka (orang kafir) adalah orang yang baik akhlaknya dan bagus muamalahnya, akan tetapi Allah Ta’ala menyebutkan mereka adalah seburuk-buruk makhluk.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Walau mereka seburuk-buruk makhluk, tentu kita tidak boleh menzalimi mereka, tetap bergaul dan bermuamalah yang baik selama mereka tidak mengganggu kita dan memerangi Islam.Mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa ada orang kafir yang baik akhlaknya dan sering melakukan kegiatan sosial membantu sesama, lalu mati dalam keadaan kafir dan tidak beriman, lalu Allah memasukkan dia ke dalam neraka? Sepertinya tidak adil.”Jawabannya:Ini bahkan keadilan, karena dia telah zalim dan melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Dia baik kepada manusia tetapi tidak baik terhadap penciptanya yang telah memberikan kehidupan, rezeki, dan segalanya kepadanya. Demikian juga bisa kita buat permisalan, apabila ada orang yang tidak daftar sekolah, dia ikut semua pelajaran dengan baik, apakah dia dapat ijazah? Tentu tidak, demikian juga orang kafir yang tidak beriman.Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Thogut Artinya, Hadits Gembira Menyambut Ramadhan, Rabbana Walakal Hamdu, Cara Muhasabah Diri, Sehat’ Dalam Bahasa Arab


Saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, mari kita renungkan, apabila ada seseorang yang menzalimi ibu Anda, orang tersebut adalah orang yang baik akhlaknya di masyarakat, muamalahnya bagus, tetapi dia hanya zalim kepada ibu anda saja. Bagaimana penilaian Anda terhadap orang tersebut? Tentu saja, Anda akan menilai orang tersebut buruk dan jelek, meskipun dia baik ke semua orang, kecuali kepada ibu Anda saja.Nah, demikianlah orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala, melakukan berbagai macam pelanggaran tauhid serta tidak menunaikan hak Allah Ta’ala di muka bumi, bahkan tidak beriman kepada Allah Ta’ala alias kafir. Meskipun dia baik ke semua orang, tetapi dia telah melakukan hal buruk kepada Allah Ta’ala karena telah melakukan kezaliman terbesar, yaitu kesyirikan.Baca Juga: Kesyirikan Pertama di Muka BumiAllah Ta’ala berfirman bahwa dosa syirik adalah dosa dan kezaliman terbesar,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)Maksud dari kezaliman yang besar adalah kezaliman yang paling zalim, yaitu syirik. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,أي : هو أعظم الظلم“Yaitu (syirik adalah) kezaliman yang paling besar.” (Tafsir Ibnu Katsir)Dalam berbagai nash (dalil tegas) disebutkan dosa kesyirikan adalah dosa dan kezaliman yang terbesar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Meskipun mereka (orang kafir) adalah orang yang baik akhlaknya dan bagus muamalahnya, akan tetapi Allah Ta’ala menyebutkan mereka adalah seburuk-buruk makhluk.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)Walau mereka seburuk-buruk makhluk, tentu kita tidak boleh menzalimi mereka, tetap bergaul dan bermuamalah yang baik selama mereka tidak mengganggu kita dan memerangi Islam.Mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa ada orang kafir yang baik akhlaknya dan sering melakukan kegiatan sosial membantu sesama, lalu mati dalam keadaan kafir dan tidak beriman, lalu Allah memasukkan dia ke dalam neraka? Sepertinya tidak adil.”Jawabannya:Ini bahkan keadilan, karena dia telah zalim dan melakukan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Dia baik kepada manusia tetapi tidak baik terhadap penciptanya yang telah memberikan kehidupan, rezeki, dan segalanya kepadanya. Demikian juga bisa kita buat permisalan, apabila ada orang yang tidak daftar sekolah, dia ikut semua pelajaran dengan baik, apakah dia dapat ijazah? Tentu tidak, demikian juga orang kafir yang tidak beriman.Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Thogut Artinya, Hadits Gembira Menyambut Ramadhan, Rabbana Walakal Hamdu, Cara Muhasabah Diri, Sehat’ Dalam Bahasa Arab
Prev     Next