Beriman terhadap Datangnya Kematian

Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap kematian. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, kematian itu pasti datang 2. Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepat 3. Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematian 4. Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanya 5. Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Pertama, kematian itu pasti datangKita harus meyakini bahwa siapa saja yang ada di dunia ini, baik penghuni langit dan bumi, baik manusia, jin, dan malaikat, dan makhluk Allah Ta’ala lainnya, pasti akan menjumpai kematian. Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash: 88)Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa, أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ“A’UUDZU BI’IZZATILLAHILLLADZII LAA ILAAHA ILLAA ANTAL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA (Saya berlindung dengan kekuasaan-Mu yang tiada sesembahan yang hak selain Engkau, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepatAllah Ta’ala berfirman,وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ummu Habibah -istri Rasulullah- pernah berdoa sebagai berikut, ‘Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.’”Mendengar doa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada istrinya Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha,قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ، وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ“Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal, kematian, dan rezeki yang telah ditentukan. Allah tidak akan mengajukan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Apabila kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka dan siksa kubur, maka hal itu lebih baik bagimu dan lebih utama.” (HR. Muslim no. 2663)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Kematian SeseorangAdapun makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)adalah “keberkahan dalam amal dan waktu”. Sehingga seseorang bisa mengerjakan banyak amal saleh di waktu yang sebentar (sedikit).Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematianWaktu datangnya kematian termasuk bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Maka, tidak ada yang mengetahui kapankah kematian menjemputnya, kecuali Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanyaSebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu, kematian).” (HR. Tirmidzi no. 3207, An-Nasa’i no. 1824, dan Ibnu Majah no. 4258, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian, dan juga mempersiapkan dirinya dengan hal-hal setelah kematian, baik azab atau nikmat kubur, hari kiamat, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minuun: 99-100)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Kematian Pasti DatangBegini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Maqshadul Ma’muul Min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 200-202.🔍 Yajuj Majuj, Kenapa Orang Kristen Disebut Kafir, Islam Agama Yang Benar Dan Sempurna, Taman Surga Dunia, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi PdfTags: Aqidahaqidah islamdatangnya kematianimankeimanankematianManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsakaratul maut

Beriman terhadap Datangnya Kematian

Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap kematian. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, kematian itu pasti datang 2. Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepat 3. Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematian 4. Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanya 5. Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Pertama, kematian itu pasti datangKita harus meyakini bahwa siapa saja yang ada di dunia ini, baik penghuni langit dan bumi, baik manusia, jin, dan malaikat, dan makhluk Allah Ta’ala lainnya, pasti akan menjumpai kematian. Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash: 88)Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa, أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ“A’UUDZU BI’IZZATILLAHILLLADZII LAA ILAAHA ILLAA ANTAL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA (Saya berlindung dengan kekuasaan-Mu yang tiada sesembahan yang hak selain Engkau, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepatAllah Ta’ala berfirman,وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ummu Habibah -istri Rasulullah- pernah berdoa sebagai berikut, ‘Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.’”Mendengar doa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada istrinya Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha,قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ، وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ“Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal, kematian, dan rezeki yang telah ditentukan. Allah tidak akan mengajukan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Apabila kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka dan siksa kubur, maka hal itu lebih baik bagimu dan lebih utama.” (HR. Muslim no. 2663)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Kematian SeseorangAdapun makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)adalah “keberkahan dalam amal dan waktu”. Sehingga seseorang bisa mengerjakan banyak amal saleh di waktu yang sebentar (sedikit).Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematianWaktu datangnya kematian termasuk bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Maka, tidak ada yang mengetahui kapankah kematian menjemputnya, kecuali Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanyaSebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu, kematian).” (HR. Tirmidzi no. 3207, An-Nasa’i no. 1824, dan Ibnu Majah no. 4258, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian, dan juga mempersiapkan dirinya dengan hal-hal setelah kematian, baik azab atau nikmat kubur, hari kiamat, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minuun: 99-100)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Kematian Pasti DatangBegini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Maqshadul Ma’muul Min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 200-202.🔍 Yajuj Majuj, Kenapa Orang Kristen Disebut Kafir, Islam Agama Yang Benar Dan Sempurna, Taman Surga Dunia, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi PdfTags: Aqidahaqidah islamdatangnya kematianimankeimanankematianManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsakaratul maut
Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap kematian. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, kematian itu pasti datang 2. Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepat 3. Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematian 4. Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanya 5. Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Pertama, kematian itu pasti datangKita harus meyakini bahwa siapa saja yang ada di dunia ini, baik penghuni langit dan bumi, baik manusia, jin, dan malaikat, dan makhluk Allah Ta’ala lainnya, pasti akan menjumpai kematian. Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash: 88)Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa, أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ“A’UUDZU BI’IZZATILLAHILLLADZII LAA ILAAHA ILLAA ANTAL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA (Saya berlindung dengan kekuasaan-Mu yang tiada sesembahan yang hak selain Engkau, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepatAllah Ta’ala berfirman,وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ummu Habibah -istri Rasulullah- pernah berdoa sebagai berikut, ‘Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.’”Mendengar doa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada istrinya Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha,قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ، وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ“Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal, kematian, dan rezeki yang telah ditentukan. Allah tidak akan mengajukan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Apabila kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka dan siksa kubur, maka hal itu lebih baik bagimu dan lebih utama.” (HR. Muslim no. 2663)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Kematian SeseorangAdapun makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)adalah “keberkahan dalam amal dan waktu”. Sehingga seseorang bisa mengerjakan banyak amal saleh di waktu yang sebentar (sedikit).Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematianWaktu datangnya kematian termasuk bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Maka, tidak ada yang mengetahui kapankah kematian menjemputnya, kecuali Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanyaSebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu, kematian).” (HR. Tirmidzi no. 3207, An-Nasa’i no. 1824, dan Ibnu Majah no. 4258, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian, dan juga mempersiapkan dirinya dengan hal-hal setelah kematian, baik azab atau nikmat kubur, hari kiamat, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minuun: 99-100)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Kematian Pasti DatangBegini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Maqshadul Ma’muul Min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 200-202.🔍 Yajuj Majuj, Kenapa Orang Kristen Disebut Kafir, Islam Agama Yang Benar Dan Sempurna, Taman Surga Dunia, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi PdfTags: Aqidahaqidah islamdatangnya kematianimankeimanankematianManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsakaratul maut


Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap kematian. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama, kematian itu pasti datang 2. Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepat 3. Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematian 4. Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanya 5. Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Pertama, kematian itu pasti datangKita harus meyakini bahwa siapa saja yang ada di dunia ini, baik penghuni langit dan bumi, baik manusia, jin, dan malaikat, dan makhluk Allah Ta’ala lainnya, pasti akan menjumpai kematian. Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash: 88)Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa, أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ“A’UUDZU BI’IZZATILLAHILLLADZII LAA ILAAHA ILLAA ANTAL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA (Saya berlindung dengan kekuasaan-Mu yang tiada sesembahan yang hak selain Engkau, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepatAllah Ta’ala berfirman,وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ummu Habibah -istri Rasulullah- pernah berdoa sebagai berikut, ‘Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.’”Mendengar doa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada istrinya Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha,قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ، وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ“Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal, kematian, dan rezeki yang telah ditentukan. Allah tidak akan mengajukan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Apabila kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka dan siksa kubur, maka hal itu lebih baik bagimu dan lebih utama.” (HR. Muslim no. 2663)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Kematian SeseorangAdapun makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)adalah “keberkahan dalam amal dan waktu”. Sehingga seseorang bisa mengerjakan banyak amal saleh di waktu yang sebentar (sedikit).Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematianWaktu datangnya kematian termasuk bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Maka, tidak ada yang mengetahui kapankah kematian menjemputnya, kecuali Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanyaSebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu, kematian).” (HR. Tirmidzi no. 3207, An-Nasa’i no. 1824, dan Ibnu Majah no. 4258, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian, dan juga mempersiapkan dirinya dengan hal-hal setelah kematian, baik azab atau nikmat kubur, hari kiamat, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minuun: 99-100)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Kematian Pasti DatangBegini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Maqshadul Ma’muul Min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 200-202.🔍 Yajuj Majuj, Kenapa Orang Kristen Disebut Kafir, Islam Agama Yang Benar Dan Sempurna, Taman Surga Dunia, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi PdfTags: Aqidahaqidah islamdatangnya kematianimankeimanankematianManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsakaratul maut

Buah Manis Keikhlasan

Ikhlas mengandung faedah yang luar biasa banyaknya. Apabila ikhlas benar-benar tertanam dalam hati seorang hamba, maka akan menghasilkan buah manis sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Diterimanya Amal 2. Kedua: Mendapatkan Pahala 3. Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi Besar 4. Keempat: Mendapatkan Ampunan Dosa 5. Kelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu Melaksanakan 6. Keenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai Ibadah 7. Ketujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan 8. Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’ 9. Kesembilan: Selamat dari Fitnah 10. Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak Rezeki 11. Kesebelas: Terhindar dari Kesulitan 12. Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru 13. Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Pertama: Diterimanya AmalDari sahabat Abu Umamah Al-Baahily radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللهَ لا يقبلُ من العملِ إلَّا ما كان خالصًا وابتُغي به وجهُه“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan pernah menerima amal, kecuali amal yang ikhlas mengharap wajah-Nya.“ (HR. An Nasa-i, shahih)Kedua: Mendapatkan  Pahala Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqosh radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا “Sesungguhnya tidaklah Engkau memberikan nafkah dengan niat ikhlas mengharap wajah-Nya, melainkan Engkau akan mendapat pahala kebaikan.“ (HR. Bukhari)Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi BesarIbnul Mubarak rahimahullah mengatakan,رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية“Betapa banyak amal yang kecil menjadi  besar nilainya karena niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil nilainya karena niat.“ (Jaami’ul ‘Uluuum wal Hikam)Keempat: Mendapatkan Ampunan DosaIkhlas adalah sebab terbesar diampuninya dosa-dosa. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ada satu jenis amal yang apabila dilakukan oleh seorang hamba dengan penuh keikhlasan, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar yang pernah dilakukan dengan sebab amalan tersebut. Ini seperti yang terdapat dari hadis ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda,يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ“Ada seseorang dari umatku pada hari kiamat nanti yang dihadapkan di hadapan manusia pada hari kiamat. Lalu, dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 gulungan. Setiap gulungan jika dibentangkan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, ‘Apakah Engkau mengingkari sesuatu dari gulungan catatanmu ini?’ Ia menjawab, ‘Tidak sama sekali wahai Rabbku.’ Allah bertanya lagi, ‘Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?’ Lalu ditanyakan pula, ‘Apakah Engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?’ Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, ‘Tidak.’ Allah pun berfirman, ‘Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.’ Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu) yang bertuliskan syahadat laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Lalu ia bertanya, ‘Apalah artinya kartu ini dibanding dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?’ Allah berkata padanya, ‘Sesungguhnya Engkau tidak dizalimi.’ Lantas diletakkanlah gulungan catatan dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ‘laa ilaha illalah’ tadi. ” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, shahih)Demikianlah kondisi orang yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas dan jujur, seperti yang dialami orang dalam hadis ini. Meskipun demikian, pelaku dosa yang masuk neraka dan mereka mengucapkan laa ilaaha illallah tidak otomatis akan mengalami seperti yang didapatkan oleh pemilik kartu yang disebutkan dalam hadis.Disebutkan pula dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu, wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalnya tersebut.” (HR. Muslim)Wanita ini menolong anjing tersebut karena iman dan keikhlasan di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala mengampuninya. Akan tetapi, tidak setiap orang yang menolong anjing akan mendapat ampunan seperti dirinya.Dua kisah di atas menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan dengan jujur dan penuh ikhlas dalam hatinya bisa menghapus dosa-dosa besar yang banyak. Inilah buah manis kekuatan ikhlas.Baca Juga: Perintah untuk Ikhlas BeribadahKelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu MelaksanakanKeenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai IbadahPenjelasan mengenai dua poin di atas bisa dilihat di artikel berikut: https://muslim.or.id/72504-faidah-penting-menata-niat.htmlKetujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan Ketika setan berjanji kepada dirinya sendiri akan mengganggu seluruh hamba Allah, maka dikecualikan darinya orang-orang yang ikhlas sebagaimana ucapan iblis yang disampaikan di dalam Al-Qur’an,إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ“kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka“ (QS. Al Hijr: 40)Setan tidak akan mampu menyesatkan orang-orang yang dirinya telah dijaga dengan keikhlasan.Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’Abu Sulaiman Ad-Daarany rahimahullah  berkata,إذا أخلص العبد انقطعت عنه كثرة الوساوس والرياء“Jika seorang hamba ikhlas, maka akan hilang dari dirinya berbagai sikap was-was dan riya’.”Kesembilan: Selamat dari Fitnah Seseorang akan selamat dari fitnah dengan sebab ikhlas. Selain itu juga akan mendapat penjagaan dari terjerumus pada godaan syahwat dan terjatuh dalam gangguan orang fasik. Dengan sebab ikhlas, maka Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Yusuf dari fitnah istri raja sehingga tidak terjerumus dalam godaannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu. Andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.“ (QS. Yusuf :24)Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak RezekiDari sahabat Anas bin Malik , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلا مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa akhirat menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kecukupan pada hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan terhina. Namun, barangsiapa dunia menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, menjadikan urusannya bercerai-berai, dan tidaklah dunia datang kepadanya, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan baginya.” (HR Tirmidzi, shahih)Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasKesebelas: Terhindar dari Kesulitan Hal ini seperti kisah yang dialami oleh tiga orang yang terjebak dalam gua. Masing-masing berdoa kepada Allah degan berwasilah meyebut amalan kebaikannya. Orang pertama menyebut tentang kebaikannya berbakti kepada kedua orang tua. Orang kedua menyebut mengenai amalnya menjaga diri dari zina. Orang ketiga menyebut amalnya menjaga amanah yang dititipkan kepadanya. Ketiganya melakukannya dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Maka, dengan sebab amalan ikhlas ketiga orang tersebut, Allah Ta’ala pun membuka pintu gua dan meyelamatkan mereka bertiga. Hadis tentang kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru Orang yang berijtihad dengan sungguh-sungguh berdasarkan ilmu yang dimilikinya, jika dia niatkan karena Allah Ta’ala, maka meskipun salah, dia akan tetap mendapatkan pahala atas usahanya tersebut.Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Dawud Ath-Thaa’i rahimahullah mengatakan,رأيت الخير كله إنما يجمعه حسن النية ، وكفاك بها خيراً وإن لم تنصب“Aku melihat seluruh kebaikan semuanya terkumpul dalam niat yang benar dalam hati. Cukuplah dengan ini, maka Engkau akan mendapat kebaikan, meskipun Engkau belum mampu melakukannya.“Semoga Allah mejadikan kita semua temasuk hamba-hamba yang senantiasa ikhlas kepada-Nya.Baca Juga:Agar Tumbuh KeikhlasanTanda Ikhlas: Menganggap Sama Pujian dan Celaan***Penulis: dr. Adika Mianoki, SpS.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:A’maalul Quluub karya Syekh Shalih Al-Munajjid hafidzhahullah🔍 Ayat Tentang Puasa, Tafsir Surah Al Ashr, Hadist Tentang Dosa Besar, Rahasia Surah Al Jin, Mp3 DakwahTags: adabAkhlakcara ikhlasikhlasikhlas beramalkeikhlasankeutamaan ikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamtazkiyatun nafs

Buah Manis Keikhlasan

Ikhlas mengandung faedah yang luar biasa banyaknya. Apabila ikhlas benar-benar tertanam dalam hati seorang hamba, maka akan menghasilkan buah manis sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Diterimanya Amal 2. Kedua: Mendapatkan Pahala 3. Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi Besar 4. Keempat: Mendapatkan Ampunan Dosa 5. Kelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu Melaksanakan 6. Keenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai Ibadah 7. Ketujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan 8. Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’ 9. Kesembilan: Selamat dari Fitnah 10. Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak Rezeki 11. Kesebelas: Terhindar dari Kesulitan 12. Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru 13. Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Pertama: Diterimanya AmalDari sahabat Abu Umamah Al-Baahily radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللهَ لا يقبلُ من العملِ إلَّا ما كان خالصًا وابتُغي به وجهُه“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan pernah menerima amal, kecuali amal yang ikhlas mengharap wajah-Nya.“ (HR. An Nasa-i, shahih)Kedua: Mendapatkan  Pahala Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqosh radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا “Sesungguhnya tidaklah Engkau memberikan nafkah dengan niat ikhlas mengharap wajah-Nya, melainkan Engkau akan mendapat pahala kebaikan.“ (HR. Bukhari)Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi BesarIbnul Mubarak rahimahullah mengatakan,رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية“Betapa banyak amal yang kecil menjadi  besar nilainya karena niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil nilainya karena niat.“ (Jaami’ul ‘Uluuum wal Hikam)Keempat: Mendapatkan Ampunan DosaIkhlas adalah sebab terbesar diampuninya dosa-dosa. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ada satu jenis amal yang apabila dilakukan oleh seorang hamba dengan penuh keikhlasan, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar yang pernah dilakukan dengan sebab amalan tersebut. Ini seperti yang terdapat dari hadis ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda,يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ“Ada seseorang dari umatku pada hari kiamat nanti yang dihadapkan di hadapan manusia pada hari kiamat. Lalu, dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 gulungan. Setiap gulungan jika dibentangkan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, ‘Apakah Engkau mengingkari sesuatu dari gulungan catatanmu ini?’ Ia menjawab, ‘Tidak sama sekali wahai Rabbku.’ Allah bertanya lagi, ‘Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?’ Lalu ditanyakan pula, ‘Apakah Engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?’ Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, ‘Tidak.’ Allah pun berfirman, ‘Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.’ Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu) yang bertuliskan syahadat laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Lalu ia bertanya, ‘Apalah artinya kartu ini dibanding dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?’ Allah berkata padanya, ‘Sesungguhnya Engkau tidak dizalimi.’ Lantas diletakkanlah gulungan catatan dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ‘laa ilaha illalah’ tadi. ” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, shahih)Demikianlah kondisi orang yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas dan jujur, seperti yang dialami orang dalam hadis ini. Meskipun demikian, pelaku dosa yang masuk neraka dan mereka mengucapkan laa ilaaha illallah tidak otomatis akan mengalami seperti yang didapatkan oleh pemilik kartu yang disebutkan dalam hadis.Disebutkan pula dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu, wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalnya tersebut.” (HR. Muslim)Wanita ini menolong anjing tersebut karena iman dan keikhlasan di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala mengampuninya. Akan tetapi, tidak setiap orang yang menolong anjing akan mendapat ampunan seperti dirinya.Dua kisah di atas menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan dengan jujur dan penuh ikhlas dalam hatinya bisa menghapus dosa-dosa besar yang banyak. Inilah buah manis kekuatan ikhlas.Baca Juga: Perintah untuk Ikhlas BeribadahKelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu MelaksanakanKeenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai IbadahPenjelasan mengenai dua poin di atas bisa dilihat di artikel berikut: https://muslim.or.id/72504-faidah-penting-menata-niat.htmlKetujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan Ketika setan berjanji kepada dirinya sendiri akan mengganggu seluruh hamba Allah, maka dikecualikan darinya orang-orang yang ikhlas sebagaimana ucapan iblis yang disampaikan di dalam Al-Qur’an,إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ“kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka“ (QS. Al Hijr: 40)Setan tidak akan mampu menyesatkan orang-orang yang dirinya telah dijaga dengan keikhlasan.Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’Abu Sulaiman Ad-Daarany rahimahullah  berkata,إذا أخلص العبد انقطعت عنه كثرة الوساوس والرياء“Jika seorang hamba ikhlas, maka akan hilang dari dirinya berbagai sikap was-was dan riya’.”Kesembilan: Selamat dari Fitnah Seseorang akan selamat dari fitnah dengan sebab ikhlas. Selain itu juga akan mendapat penjagaan dari terjerumus pada godaan syahwat dan terjatuh dalam gangguan orang fasik. Dengan sebab ikhlas, maka Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Yusuf dari fitnah istri raja sehingga tidak terjerumus dalam godaannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu. Andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.“ (QS. Yusuf :24)Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak RezekiDari sahabat Anas bin Malik , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلا مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa akhirat menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kecukupan pada hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan terhina. Namun, barangsiapa dunia menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, menjadikan urusannya bercerai-berai, dan tidaklah dunia datang kepadanya, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan baginya.” (HR Tirmidzi, shahih)Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasKesebelas: Terhindar dari Kesulitan Hal ini seperti kisah yang dialami oleh tiga orang yang terjebak dalam gua. Masing-masing berdoa kepada Allah degan berwasilah meyebut amalan kebaikannya. Orang pertama menyebut tentang kebaikannya berbakti kepada kedua orang tua. Orang kedua menyebut mengenai amalnya menjaga diri dari zina. Orang ketiga menyebut amalnya menjaga amanah yang dititipkan kepadanya. Ketiganya melakukannya dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Maka, dengan sebab amalan ikhlas ketiga orang tersebut, Allah Ta’ala pun membuka pintu gua dan meyelamatkan mereka bertiga. Hadis tentang kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru Orang yang berijtihad dengan sungguh-sungguh berdasarkan ilmu yang dimilikinya, jika dia niatkan karena Allah Ta’ala, maka meskipun salah, dia akan tetap mendapatkan pahala atas usahanya tersebut.Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Dawud Ath-Thaa’i rahimahullah mengatakan,رأيت الخير كله إنما يجمعه حسن النية ، وكفاك بها خيراً وإن لم تنصب“Aku melihat seluruh kebaikan semuanya terkumpul dalam niat yang benar dalam hati. Cukuplah dengan ini, maka Engkau akan mendapat kebaikan, meskipun Engkau belum mampu melakukannya.“Semoga Allah mejadikan kita semua temasuk hamba-hamba yang senantiasa ikhlas kepada-Nya.Baca Juga:Agar Tumbuh KeikhlasanTanda Ikhlas: Menganggap Sama Pujian dan Celaan***Penulis: dr. Adika Mianoki, SpS.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:A’maalul Quluub karya Syekh Shalih Al-Munajjid hafidzhahullah🔍 Ayat Tentang Puasa, Tafsir Surah Al Ashr, Hadist Tentang Dosa Besar, Rahasia Surah Al Jin, Mp3 DakwahTags: adabAkhlakcara ikhlasikhlasikhlas beramalkeikhlasankeutamaan ikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamtazkiyatun nafs
Ikhlas mengandung faedah yang luar biasa banyaknya. Apabila ikhlas benar-benar tertanam dalam hati seorang hamba, maka akan menghasilkan buah manis sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Diterimanya Amal 2. Kedua: Mendapatkan Pahala 3. Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi Besar 4. Keempat: Mendapatkan Ampunan Dosa 5. Kelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu Melaksanakan 6. Keenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai Ibadah 7. Ketujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan 8. Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’ 9. Kesembilan: Selamat dari Fitnah 10. Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak Rezeki 11. Kesebelas: Terhindar dari Kesulitan 12. Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru 13. Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Pertama: Diterimanya AmalDari sahabat Abu Umamah Al-Baahily radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللهَ لا يقبلُ من العملِ إلَّا ما كان خالصًا وابتُغي به وجهُه“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan pernah menerima amal, kecuali amal yang ikhlas mengharap wajah-Nya.“ (HR. An Nasa-i, shahih)Kedua: Mendapatkan  Pahala Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqosh radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا “Sesungguhnya tidaklah Engkau memberikan nafkah dengan niat ikhlas mengharap wajah-Nya, melainkan Engkau akan mendapat pahala kebaikan.“ (HR. Bukhari)Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi BesarIbnul Mubarak rahimahullah mengatakan,رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية“Betapa banyak amal yang kecil menjadi  besar nilainya karena niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil nilainya karena niat.“ (Jaami’ul ‘Uluuum wal Hikam)Keempat: Mendapatkan Ampunan DosaIkhlas adalah sebab terbesar diampuninya dosa-dosa. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ada satu jenis amal yang apabila dilakukan oleh seorang hamba dengan penuh keikhlasan, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar yang pernah dilakukan dengan sebab amalan tersebut. Ini seperti yang terdapat dari hadis ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda,يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ“Ada seseorang dari umatku pada hari kiamat nanti yang dihadapkan di hadapan manusia pada hari kiamat. Lalu, dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 gulungan. Setiap gulungan jika dibentangkan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, ‘Apakah Engkau mengingkari sesuatu dari gulungan catatanmu ini?’ Ia menjawab, ‘Tidak sama sekali wahai Rabbku.’ Allah bertanya lagi, ‘Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?’ Lalu ditanyakan pula, ‘Apakah Engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?’ Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, ‘Tidak.’ Allah pun berfirman, ‘Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.’ Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu) yang bertuliskan syahadat laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Lalu ia bertanya, ‘Apalah artinya kartu ini dibanding dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?’ Allah berkata padanya, ‘Sesungguhnya Engkau tidak dizalimi.’ Lantas diletakkanlah gulungan catatan dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ‘laa ilaha illalah’ tadi. ” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, shahih)Demikianlah kondisi orang yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas dan jujur, seperti yang dialami orang dalam hadis ini. Meskipun demikian, pelaku dosa yang masuk neraka dan mereka mengucapkan laa ilaaha illallah tidak otomatis akan mengalami seperti yang didapatkan oleh pemilik kartu yang disebutkan dalam hadis.Disebutkan pula dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu, wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalnya tersebut.” (HR. Muslim)Wanita ini menolong anjing tersebut karena iman dan keikhlasan di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala mengampuninya. Akan tetapi, tidak setiap orang yang menolong anjing akan mendapat ampunan seperti dirinya.Dua kisah di atas menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan dengan jujur dan penuh ikhlas dalam hatinya bisa menghapus dosa-dosa besar yang banyak. Inilah buah manis kekuatan ikhlas.Baca Juga: Perintah untuk Ikhlas BeribadahKelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu MelaksanakanKeenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai IbadahPenjelasan mengenai dua poin di atas bisa dilihat di artikel berikut: https://muslim.or.id/72504-faidah-penting-menata-niat.htmlKetujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan Ketika setan berjanji kepada dirinya sendiri akan mengganggu seluruh hamba Allah, maka dikecualikan darinya orang-orang yang ikhlas sebagaimana ucapan iblis yang disampaikan di dalam Al-Qur’an,إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ“kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka“ (QS. Al Hijr: 40)Setan tidak akan mampu menyesatkan orang-orang yang dirinya telah dijaga dengan keikhlasan.Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’Abu Sulaiman Ad-Daarany rahimahullah  berkata,إذا أخلص العبد انقطعت عنه كثرة الوساوس والرياء“Jika seorang hamba ikhlas, maka akan hilang dari dirinya berbagai sikap was-was dan riya’.”Kesembilan: Selamat dari Fitnah Seseorang akan selamat dari fitnah dengan sebab ikhlas. Selain itu juga akan mendapat penjagaan dari terjerumus pada godaan syahwat dan terjatuh dalam gangguan orang fasik. Dengan sebab ikhlas, maka Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Yusuf dari fitnah istri raja sehingga tidak terjerumus dalam godaannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu. Andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.“ (QS. Yusuf :24)Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak RezekiDari sahabat Anas bin Malik , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلا مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa akhirat menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kecukupan pada hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan terhina. Namun, barangsiapa dunia menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, menjadikan urusannya bercerai-berai, dan tidaklah dunia datang kepadanya, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan baginya.” (HR Tirmidzi, shahih)Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasKesebelas: Terhindar dari Kesulitan Hal ini seperti kisah yang dialami oleh tiga orang yang terjebak dalam gua. Masing-masing berdoa kepada Allah degan berwasilah meyebut amalan kebaikannya. Orang pertama menyebut tentang kebaikannya berbakti kepada kedua orang tua. Orang kedua menyebut mengenai amalnya menjaga diri dari zina. Orang ketiga menyebut amalnya menjaga amanah yang dititipkan kepadanya. Ketiganya melakukannya dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Maka, dengan sebab amalan ikhlas ketiga orang tersebut, Allah Ta’ala pun membuka pintu gua dan meyelamatkan mereka bertiga. Hadis tentang kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru Orang yang berijtihad dengan sungguh-sungguh berdasarkan ilmu yang dimilikinya, jika dia niatkan karena Allah Ta’ala, maka meskipun salah, dia akan tetap mendapatkan pahala atas usahanya tersebut.Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Dawud Ath-Thaa’i rahimahullah mengatakan,رأيت الخير كله إنما يجمعه حسن النية ، وكفاك بها خيراً وإن لم تنصب“Aku melihat seluruh kebaikan semuanya terkumpul dalam niat yang benar dalam hati. Cukuplah dengan ini, maka Engkau akan mendapat kebaikan, meskipun Engkau belum mampu melakukannya.“Semoga Allah mejadikan kita semua temasuk hamba-hamba yang senantiasa ikhlas kepada-Nya.Baca Juga:Agar Tumbuh KeikhlasanTanda Ikhlas: Menganggap Sama Pujian dan Celaan***Penulis: dr. Adika Mianoki, SpS.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:A’maalul Quluub karya Syekh Shalih Al-Munajjid hafidzhahullah🔍 Ayat Tentang Puasa, Tafsir Surah Al Ashr, Hadist Tentang Dosa Besar, Rahasia Surah Al Jin, Mp3 DakwahTags: adabAkhlakcara ikhlasikhlasikhlas beramalkeikhlasankeutamaan ikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamtazkiyatun nafs


Ikhlas mengandung faedah yang luar biasa banyaknya. Apabila ikhlas benar-benar tertanam dalam hati seorang hamba, maka akan menghasilkan buah manis sebagai berikut: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Diterimanya Amal 2. Kedua: Mendapatkan Pahala 3. Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi Besar 4. Keempat: Mendapatkan Ampunan Dosa 5. Kelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu Melaksanakan 6. Keenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai Ibadah 7. Ketujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan 8. Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’ 9. Kesembilan: Selamat dari Fitnah 10. Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak Rezeki 11. Kesebelas: Terhindar dari Kesulitan 12. Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru 13. Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Pertama: Diterimanya AmalDari sahabat Abu Umamah Al-Baahily radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللهَ لا يقبلُ من العملِ إلَّا ما كان خالصًا وابتُغي به وجهُه“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan pernah menerima amal, kecuali amal yang ikhlas mengharap wajah-Nya.“ (HR. An Nasa-i, shahih)Kedua: Mendapatkan  Pahala Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqosh radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا “Sesungguhnya tidaklah Engkau memberikan nafkah dengan niat ikhlas mengharap wajah-Nya, melainkan Engkau akan mendapat pahala kebaikan.“ (HR. Bukhari)Ketiga: Amalan Kecil Bisa Menjadi BesarIbnul Mubarak rahimahullah mengatakan,رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية“Betapa banyak amal yang kecil menjadi  besar nilainya karena niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil nilainya karena niat.“ (Jaami’ul ‘Uluuum wal Hikam)Keempat: Mendapatkan Ampunan DosaIkhlas adalah sebab terbesar diampuninya dosa-dosa. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ada satu jenis amal yang apabila dilakukan oleh seorang hamba dengan penuh keikhlasan, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar yang pernah dilakukan dengan sebab amalan tersebut. Ini seperti yang terdapat dari hadis ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda,يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ“Ada seseorang dari umatku pada hari kiamat nanti yang dihadapkan di hadapan manusia pada hari kiamat. Lalu, dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 gulungan. Setiap gulungan jika dibentangkan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, ‘Apakah Engkau mengingkari sesuatu dari gulungan catatanmu ini?’ Ia menjawab, ‘Tidak sama sekali wahai Rabbku.’ Allah bertanya lagi, ‘Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?’ Lalu ditanyakan pula, ‘Apakah Engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?’ Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, ‘Tidak.’ Allah pun berfirman, ‘Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.’ Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu) yang bertuliskan syahadat laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Lalu ia bertanya, ‘Apalah artinya kartu ini dibanding dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?’ Allah berkata padanya, ‘Sesungguhnya Engkau tidak dizalimi.’ Lantas diletakkanlah gulungan catatan dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ‘laa ilaha illalah’ tadi. ” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, shahih)Demikianlah kondisi orang yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas dan jujur, seperti yang dialami orang dalam hadis ini. Meskipun demikian, pelaku dosa yang masuk neraka dan mereka mengucapkan laa ilaaha illallah tidak otomatis akan mengalami seperti yang didapatkan oleh pemilik kartu yang disebutkan dalam hadis.Disebutkan pula dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu, wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalnya tersebut.” (HR. Muslim)Wanita ini menolong anjing tersebut karena iman dan keikhlasan di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala mengampuninya. Akan tetapi, tidak setiap orang yang menolong anjing akan mendapat ampunan seperti dirinya.Dua kisah di atas menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan dengan jujur dan penuh ikhlas dalam hatinya bisa menghapus dosa-dosa besar yang banyak. Inilah buah manis kekuatan ikhlas.Baca Juga: Perintah untuk Ikhlas BeribadahKelima: Tetap Mendapat Pahala Amal, Meskipun Belum Mampu MelaksanakanKeenam: Amalan Mubah dan Adat Kebiasaan Menjadi Bernilai IbadahPenjelasan mengenai dua poin di atas bisa dilihat di artikel berikut: https://muslim.or.id/72504-faidah-penting-menata-niat.htmlKetujuh: Terjaganya Diri dari Gangguan Setan Ketika setan berjanji kepada dirinya sendiri akan mengganggu seluruh hamba Allah, maka dikecualikan darinya orang-orang yang ikhlas sebagaimana ucapan iblis yang disampaikan di dalam Al-Qur’an,إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ“kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka“ (QS. Al Hijr: 40)Setan tidak akan mampu menyesatkan orang-orang yang dirinya telah dijaga dengan keikhlasan.Kedelapan: Terhindar dari Was-Was dan Terjauhkan dari Riya’Abu Sulaiman Ad-Daarany rahimahullah  berkata,إذا أخلص العبد انقطعت عنه كثرة الوساوس والرياء“Jika seorang hamba ikhlas, maka akan hilang dari dirinya berbagai sikap was-was dan riya’.”Kesembilan: Selamat dari Fitnah Seseorang akan selamat dari fitnah dengan sebab ikhlas. Selain itu juga akan mendapat penjagaan dari terjerumus pada godaan syahwat dan terjatuh dalam gangguan orang fasik. Dengan sebab ikhlas, maka Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Yusuf dari fitnah istri raja sehingga tidak terjerumus dalam godaannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu. Andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.“ (QS. Yusuf :24)Kesepuluh: Hilangnya Kegalauan dan Mendapat Banyak RezekiDari sahabat Anas bin Malik , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلا مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa akhirat menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kecukupan pada hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan terhina. Namun, barangsiapa dunia menjadi tujuan utamanya, maka Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, menjadikan urusannya bercerai-berai, dan tidaklah dunia datang kepadanya, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan baginya.” (HR Tirmidzi, shahih)Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasKesebelas: Terhindar dari Kesulitan Hal ini seperti kisah yang dialami oleh tiga orang yang terjebak dalam gua. Masing-masing berdoa kepada Allah degan berwasilah meyebut amalan kebaikannya. Orang pertama menyebut tentang kebaikannya berbakti kepada kedua orang tua. Orang kedua menyebut mengenai amalnya menjaga diri dari zina. Orang ketiga menyebut amalnya menjaga amanah yang dititipkan kepadanya. Ketiganya melakukannya dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Maka, dengan sebab amalan ikhlas ketiga orang tersebut, Allah Ta’ala pun membuka pintu gua dan meyelamatkan mereka bertiga. Hadis tentang kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.Kedua Belas: Mendapat Pahala Meskipun Keliru Orang yang berijtihad dengan sungguh-sungguh berdasarkan ilmu yang dimilikinya, jika dia niatkan karena Allah Ta’ala, maka meskipun salah, dia akan tetap mendapatkan pahala atas usahanya tersebut.Ketiga Belas: Ikhlas Mencakup Seluruh Kebaikan Dawud Ath-Thaa’i rahimahullah mengatakan,رأيت الخير كله إنما يجمعه حسن النية ، وكفاك بها خيراً وإن لم تنصب“Aku melihat seluruh kebaikan semuanya terkumpul dalam niat yang benar dalam hati. Cukuplah dengan ini, maka Engkau akan mendapat kebaikan, meskipun Engkau belum mampu melakukannya.“Semoga Allah mejadikan kita semua temasuk hamba-hamba yang senantiasa ikhlas kepada-Nya.Baca Juga:Agar Tumbuh KeikhlasanTanda Ikhlas: Menganggap Sama Pujian dan Celaan***Penulis: dr. Adika Mianoki, SpS.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:A’maalul Quluub karya Syekh Shalih Al-Munajjid hafidzhahullah🔍 Ayat Tentang Puasa, Tafsir Surah Al Ashr, Hadist Tentang Dosa Besar, Rahasia Surah Al Jin, Mp3 DakwahTags: adabAkhlakcara ikhlasikhlasikhlas beramalkeikhlasankeutamaan ikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamtazkiyatun nafs

Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)

Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah demikian besar dan banyak, di antaranya adalah: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab 1.1. Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernya 1.2. Alasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salat 2. Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang Terbesar 3. Keutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat 4. Keutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan Badan Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul KitabAda beraneka ragam nama untuk Al-Fatihah, Imam As-Suyuthi rahimahullah sampai menyebutkan ada 25 nama. Dan termasuk nama Al-Fatihah yang paling masyhur adalah Ummul Qur’an (Induk Alquran) & Ummul Kitab (Induk Kitabullah).Dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحمدُ للَّهِ ربِّ العالمينَ أمُّ القرآنِ، وأمُّ الْكتابِ، والسَّبعُ المثاني“(Surah) Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (yaitu Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab serta As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).” (HR. Abu Dawud, Sahih)Alasan Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an dan Ummul Kitab adalah:Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernyaJadi, nasihat, hukum, kisah, khabar, dan surah-surah selainnya dalam Alquran, semuanya kembali kepada surah Al-Fatihah. Itulah hakikat sesuatu berstatus “induk”, bahwa sesuatu yang lainnya kembali kepadanya. Oleh karena itu, setiap surah dalam Alquran, pasti ada isyaratnya dalam surah Al-Fatihah. Ini adalah mukjizat yang sangat mengagumkan yang tidak didapatkan dalam kitab-kitab Allah yang sebelumnya. Semua ini menunjukkan kesempurnaan lafaz dan makna Al-Fatihah, Allahu Akbar!Berikut contoh-contohnya:– Surah Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maidah, dan At-Taubah mengandung pembahasan tentang kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani. Dan ini berarti perincian tentang ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ-Surah Al-Anbiya’, Al-Mukminun, dan Asy-Syu’ara’ mengandung berita para Nabi ’alaihimush shalatu wassalam. Maka, hakikatnya ini adalah penjelasan dari ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ-Surah Al-Qiyamah, At-Takwir, Al-Infithar, dan Al-Insyiqaq mengisahkan tentang Hari Akhir. Berarti ini adalah penjelasan dari ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ-Surah An-Nisa’ menyebutkan hak-hak anak, pria, dan wanita, sedangkan manusia itu -sebagaimana makhluk selainnya- semuanya lemah, mereka membutuhkan pertolongan kepada Allah Ta’ala agar bisa beribadah kepada Allah semata. Maka, ini mengisyaratkan kepada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُAlasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salatImam Al-Bukhari rahimahullah berkata,وسميت (أم الكتاب) لأنه يبدأ بكتابتها في المصاحف، ويبدأ بقراءتها في الصلاة“(Al-Fatihah) dinamakan Ummul Kitab, karena penulisan Alquran dimulai dengannya dan bacaan Alquran dalam salat dimulai dengannya.”Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang TerbesarRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ“(Surah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, ia disebut As-Sab’ul Matsani dan disebut juga Alquran Al-‘Azhim yang dianugerahkan kepadaku.”Baca Juga: Membaca Surat Al-Kahfi dan Cahaya dari Dua JumatAl-Fatihah di dalam hadis yang mulia ini disebut As-Sab’ul Matsani dan Alquran Al-‘Azhim. Disebut dengan “Alquran Al-‘Azhim” karena meskipun surah ini pendek, namun mengandung maksud Alquran Al-Karim yang terbesar.Beraneka ragam ungkapan ulama rahimahumullah tentang penentuan maksud-maksud Alquran yang terbesar. Di antara mereka ada yang menyatakan tiga, empat, dan ada pula yang lebih dari empat maksud-maksud Alquran yang terbesar.Maksud-maksud Alquran yang terbesar, yaitu:Pertama: Penetapan tauhid, pada ayat:اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙKedua: Janji dan ancaman, pada ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِKetiga: Perintah dan larangan Allah (ibadah), pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ Keempat: Jalan kebahagiaan dan bagaimana melaluinya, pada ayat:اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  *  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْKelima: Kisah-kisah orang yang melanggar hukum Allah, pada ayat:غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَKeutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa ShifatDalam Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa meskipun pendek, surah Al-Fatihah mencakup tiga macam tauhid sekaligus.Tauhid Rububiyyah pada ayat: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙTauhid Uluhiyyah pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُTauhid Asma’ dan Sifat pada ayat:الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِKeutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan BadanIbnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa status Al-Fatihah obat bagi hati, karena inti penyakit hati itu ada dua, yaitu: rusaknya ilmu dan rusaknya niat/kehendak. Keduanya mengakibatkan dua bahaya, yaitu: kesesatan, karena rusaknya ilmu, dan murka Allah, karena rusaknya niat/kehendak. Maka, Ash-Shirath Al-Mustaqim mengandung obat dari kesesatan dan obat untuk menghindari dari kemurkaan Allah. Adapun status Al-Fatihah sebagai obat bagi badan, maka hal itu terdapat dalam hadis sahih dan terbukti dalam pengalaman.[Bersambung]Baca Juga:Khasiat Rahasia Surat Al-FatihahSurat Maryam Ayat 33 Apakah Dalil Bolehnya Ucapan Selamat Natal?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fathu Makkah, Istianah, Kesaksian Palsu, Cara Sabar Menghadapi Cobaan Hidup, Faedah Membaca Al QuranTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah

Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)

Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah demikian besar dan banyak, di antaranya adalah: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab 1.1. Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernya 1.2. Alasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salat 2. Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang Terbesar 3. Keutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat 4. Keutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan Badan Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul KitabAda beraneka ragam nama untuk Al-Fatihah, Imam As-Suyuthi rahimahullah sampai menyebutkan ada 25 nama. Dan termasuk nama Al-Fatihah yang paling masyhur adalah Ummul Qur’an (Induk Alquran) & Ummul Kitab (Induk Kitabullah).Dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحمدُ للَّهِ ربِّ العالمينَ أمُّ القرآنِ، وأمُّ الْكتابِ، والسَّبعُ المثاني“(Surah) Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (yaitu Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab serta As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).” (HR. Abu Dawud, Sahih)Alasan Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an dan Ummul Kitab adalah:Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernyaJadi, nasihat, hukum, kisah, khabar, dan surah-surah selainnya dalam Alquran, semuanya kembali kepada surah Al-Fatihah. Itulah hakikat sesuatu berstatus “induk”, bahwa sesuatu yang lainnya kembali kepadanya. Oleh karena itu, setiap surah dalam Alquran, pasti ada isyaratnya dalam surah Al-Fatihah. Ini adalah mukjizat yang sangat mengagumkan yang tidak didapatkan dalam kitab-kitab Allah yang sebelumnya. Semua ini menunjukkan kesempurnaan lafaz dan makna Al-Fatihah, Allahu Akbar!Berikut contoh-contohnya:– Surah Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maidah, dan At-Taubah mengandung pembahasan tentang kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani. Dan ini berarti perincian tentang ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ-Surah Al-Anbiya’, Al-Mukminun, dan Asy-Syu’ara’ mengandung berita para Nabi ’alaihimush shalatu wassalam. Maka, hakikatnya ini adalah penjelasan dari ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ-Surah Al-Qiyamah, At-Takwir, Al-Infithar, dan Al-Insyiqaq mengisahkan tentang Hari Akhir. Berarti ini adalah penjelasan dari ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ-Surah An-Nisa’ menyebutkan hak-hak anak, pria, dan wanita, sedangkan manusia itu -sebagaimana makhluk selainnya- semuanya lemah, mereka membutuhkan pertolongan kepada Allah Ta’ala agar bisa beribadah kepada Allah semata. Maka, ini mengisyaratkan kepada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُAlasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salatImam Al-Bukhari rahimahullah berkata,وسميت (أم الكتاب) لأنه يبدأ بكتابتها في المصاحف، ويبدأ بقراءتها في الصلاة“(Al-Fatihah) dinamakan Ummul Kitab, karena penulisan Alquran dimulai dengannya dan bacaan Alquran dalam salat dimulai dengannya.”Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang TerbesarRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ“(Surah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, ia disebut As-Sab’ul Matsani dan disebut juga Alquran Al-‘Azhim yang dianugerahkan kepadaku.”Baca Juga: Membaca Surat Al-Kahfi dan Cahaya dari Dua JumatAl-Fatihah di dalam hadis yang mulia ini disebut As-Sab’ul Matsani dan Alquran Al-‘Azhim. Disebut dengan “Alquran Al-‘Azhim” karena meskipun surah ini pendek, namun mengandung maksud Alquran Al-Karim yang terbesar.Beraneka ragam ungkapan ulama rahimahumullah tentang penentuan maksud-maksud Alquran yang terbesar. Di antara mereka ada yang menyatakan tiga, empat, dan ada pula yang lebih dari empat maksud-maksud Alquran yang terbesar.Maksud-maksud Alquran yang terbesar, yaitu:Pertama: Penetapan tauhid, pada ayat:اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙKedua: Janji dan ancaman, pada ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِKetiga: Perintah dan larangan Allah (ibadah), pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ Keempat: Jalan kebahagiaan dan bagaimana melaluinya, pada ayat:اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  *  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْKelima: Kisah-kisah orang yang melanggar hukum Allah, pada ayat:غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَKeutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa ShifatDalam Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa meskipun pendek, surah Al-Fatihah mencakup tiga macam tauhid sekaligus.Tauhid Rububiyyah pada ayat: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙTauhid Uluhiyyah pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُTauhid Asma’ dan Sifat pada ayat:الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِKeutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan BadanIbnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa status Al-Fatihah obat bagi hati, karena inti penyakit hati itu ada dua, yaitu: rusaknya ilmu dan rusaknya niat/kehendak. Keduanya mengakibatkan dua bahaya, yaitu: kesesatan, karena rusaknya ilmu, dan murka Allah, karena rusaknya niat/kehendak. Maka, Ash-Shirath Al-Mustaqim mengandung obat dari kesesatan dan obat untuk menghindari dari kemurkaan Allah. Adapun status Al-Fatihah sebagai obat bagi badan, maka hal itu terdapat dalam hadis sahih dan terbukti dalam pengalaman.[Bersambung]Baca Juga:Khasiat Rahasia Surat Al-FatihahSurat Maryam Ayat 33 Apakah Dalil Bolehnya Ucapan Selamat Natal?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fathu Makkah, Istianah, Kesaksian Palsu, Cara Sabar Menghadapi Cobaan Hidup, Faedah Membaca Al QuranTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah
Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah demikian besar dan banyak, di antaranya adalah: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab 1.1. Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernya 1.2. Alasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salat 2. Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang Terbesar 3. Keutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat 4. Keutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan Badan Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul KitabAda beraneka ragam nama untuk Al-Fatihah, Imam As-Suyuthi rahimahullah sampai menyebutkan ada 25 nama. Dan termasuk nama Al-Fatihah yang paling masyhur adalah Ummul Qur’an (Induk Alquran) & Ummul Kitab (Induk Kitabullah).Dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحمدُ للَّهِ ربِّ العالمينَ أمُّ القرآنِ، وأمُّ الْكتابِ، والسَّبعُ المثاني“(Surah) Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (yaitu Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab serta As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).” (HR. Abu Dawud, Sahih)Alasan Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an dan Ummul Kitab adalah:Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernyaJadi, nasihat, hukum, kisah, khabar, dan surah-surah selainnya dalam Alquran, semuanya kembali kepada surah Al-Fatihah. Itulah hakikat sesuatu berstatus “induk”, bahwa sesuatu yang lainnya kembali kepadanya. Oleh karena itu, setiap surah dalam Alquran, pasti ada isyaratnya dalam surah Al-Fatihah. Ini adalah mukjizat yang sangat mengagumkan yang tidak didapatkan dalam kitab-kitab Allah yang sebelumnya. Semua ini menunjukkan kesempurnaan lafaz dan makna Al-Fatihah, Allahu Akbar!Berikut contoh-contohnya:– Surah Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maidah, dan At-Taubah mengandung pembahasan tentang kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani. Dan ini berarti perincian tentang ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ-Surah Al-Anbiya’, Al-Mukminun, dan Asy-Syu’ara’ mengandung berita para Nabi ’alaihimush shalatu wassalam. Maka, hakikatnya ini adalah penjelasan dari ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ-Surah Al-Qiyamah, At-Takwir, Al-Infithar, dan Al-Insyiqaq mengisahkan tentang Hari Akhir. Berarti ini adalah penjelasan dari ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ-Surah An-Nisa’ menyebutkan hak-hak anak, pria, dan wanita, sedangkan manusia itu -sebagaimana makhluk selainnya- semuanya lemah, mereka membutuhkan pertolongan kepada Allah Ta’ala agar bisa beribadah kepada Allah semata. Maka, ini mengisyaratkan kepada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُAlasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salatImam Al-Bukhari rahimahullah berkata,وسميت (أم الكتاب) لأنه يبدأ بكتابتها في المصاحف، ويبدأ بقراءتها في الصلاة“(Al-Fatihah) dinamakan Ummul Kitab, karena penulisan Alquran dimulai dengannya dan bacaan Alquran dalam salat dimulai dengannya.”Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang TerbesarRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ“(Surah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, ia disebut As-Sab’ul Matsani dan disebut juga Alquran Al-‘Azhim yang dianugerahkan kepadaku.”Baca Juga: Membaca Surat Al-Kahfi dan Cahaya dari Dua JumatAl-Fatihah di dalam hadis yang mulia ini disebut As-Sab’ul Matsani dan Alquran Al-‘Azhim. Disebut dengan “Alquran Al-‘Azhim” karena meskipun surah ini pendek, namun mengandung maksud Alquran Al-Karim yang terbesar.Beraneka ragam ungkapan ulama rahimahumullah tentang penentuan maksud-maksud Alquran yang terbesar. Di antara mereka ada yang menyatakan tiga, empat, dan ada pula yang lebih dari empat maksud-maksud Alquran yang terbesar.Maksud-maksud Alquran yang terbesar, yaitu:Pertama: Penetapan tauhid, pada ayat:اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙKedua: Janji dan ancaman, pada ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِKetiga: Perintah dan larangan Allah (ibadah), pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ Keempat: Jalan kebahagiaan dan bagaimana melaluinya, pada ayat:اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  *  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْKelima: Kisah-kisah orang yang melanggar hukum Allah, pada ayat:غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَKeutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa ShifatDalam Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa meskipun pendek, surah Al-Fatihah mencakup tiga macam tauhid sekaligus.Tauhid Rububiyyah pada ayat: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙTauhid Uluhiyyah pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُTauhid Asma’ dan Sifat pada ayat:الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِKeutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan BadanIbnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa status Al-Fatihah obat bagi hati, karena inti penyakit hati itu ada dua, yaitu: rusaknya ilmu dan rusaknya niat/kehendak. Keduanya mengakibatkan dua bahaya, yaitu: kesesatan, karena rusaknya ilmu, dan murka Allah, karena rusaknya niat/kehendak. Maka, Ash-Shirath Al-Mustaqim mengandung obat dari kesesatan dan obat untuk menghindari dari kemurkaan Allah. Adapun status Al-Fatihah sebagai obat bagi badan, maka hal itu terdapat dalam hadis sahih dan terbukti dalam pengalaman.[Bersambung]Baca Juga:Khasiat Rahasia Surat Al-FatihahSurat Maryam Ayat 33 Apakah Dalil Bolehnya Ucapan Selamat Natal?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fathu Makkah, Istianah, Kesaksian Palsu, Cara Sabar Menghadapi Cobaan Hidup, Faedah Membaca Al QuranTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah


Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah demikian besar dan banyak, di antaranya adalah: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab 1.1. Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernya 1.2. Alasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salat 2. Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang Terbesar 3. Keutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat 4. Keutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan Badan Keutamaan Pertama: Surah Al-Fatihah adalah Ummul Qur’an dan Ummul KitabAda beraneka ragam nama untuk Al-Fatihah, Imam As-Suyuthi rahimahullah sampai menyebutkan ada 25 nama. Dan termasuk nama Al-Fatihah yang paling masyhur adalah Ummul Qur’an (Induk Alquran) & Ummul Kitab (Induk Kitabullah).Dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الحمدُ للَّهِ ربِّ العالمينَ أمُّ القرآنِ، وأمُّ الْكتابِ، والسَّبعُ المثاني“(Surah) Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (yaitu Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an dan Ummul Kitab serta As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).” (HR. Abu Dawud, Sahih)Alasan Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an dan Ummul Kitab adalah:Alasan Pertama: Al-Fatihah mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan sumbernyaJadi, nasihat, hukum, kisah, khabar, dan surah-surah selainnya dalam Alquran, semuanya kembali kepada surah Al-Fatihah. Itulah hakikat sesuatu berstatus “induk”, bahwa sesuatu yang lainnya kembali kepadanya. Oleh karena itu, setiap surah dalam Alquran, pasti ada isyaratnya dalam surah Al-Fatihah. Ini adalah mukjizat yang sangat mengagumkan yang tidak didapatkan dalam kitab-kitab Allah yang sebelumnya. Semua ini menunjukkan kesempurnaan lafaz dan makna Al-Fatihah, Allahu Akbar!Berikut contoh-contohnya:– Surah Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maidah, dan At-Taubah mengandung pembahasan tentang kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani. Dan ini berarti perincian tentang ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ-Surah Al-Anbiya’, Al-Mukminun, dan Asy-Syu’ara’ mengandung berita para Nabi ’alaihimush shalatu wassalam. Maka, hakikatnya ini adalah penjelasan dari ayat:صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ-Surah Al-Qiyamah, At-Takwir, Al-Infithar, dan Al-Insyiqaq mengisahkan tentang Hari Akhir. Berarti ini adalah penjelasan dari ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ-Surah An-Nisa’ menyebutkan hak-hak anak, pria, dan wanita, sedangkan manusia itu -sebagaimana makhluk selainnya- semuanya lemah, mereka membutuhkan pertolongan kepada Allah Ta’ala agar bisa beribadah kepada Allah semata. Maka, ini mengisyaratkan kepada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُAlasan kedua: Al-Fatihah sebagai pembuka Alquran dalam urutan surah-surah di mushaf Alquran dan menjadi surah pertama kali yang dibaca di dalam salatImam Al-Bukhari rahimahullah berkata,وسميت (أم الكتاب) لأنه يبدأ بكتابتها في المصاحف، ويبدأ بقراءتها في الصلاة“(Al-Fatihah) dinamakan Ummul Kitab, karena penulisan Alquran dimulai dengannya dan bacaan Alquran dalam salat dimulai dengannya.”Keutamaan Kedua: Mengandung Maksud-Maksud Alquran Al-Karim yang TerbesarRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ“(Surah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, ia disebut As-Sab’ul Matsani dan disebut juga Alquran Al-‘Azhim yang dianugerahkan kepadaku.”Baca Juga: Membaca Surat Al-Kahfi dan Cahaya dari Dua JumatAl-Fatihah di dalam hadis yang mulia ini disebut As-Sab’ul Matsani dan Alquran Al-‘Azhim. Disebut dengan “Alquran Al-‘Azhim” karena meskipun surah ini pendek, namun mengandung maksud Alquran Al-Karim yang terbesar.Beraneka ragam ungkapan ulama rahimahumullah tentang penentuan maksud-maksud Alquran yang terbesar. Di antara mereka ada yang menyatakan tiga, empat, dan ada pula yang lebih dari empat maksud-maksud Alquran yang terbesar.Maksud-maksud Alquran yang terbesar, yaitu:Pertama: Penetapan tauhid, pada ayat:اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙKedua: Janji dan ancaman, pada ayat:مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِKetiga: Perintah dan larangan Allah (ibadah), pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ Keempat: Jalan kebahagiaan dan bagaimana melaluinya, pada ayat:اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  *  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْKelima: Kisah-kisah orang yang melanggar hukum Allah, pada ayat:غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَKeutamaan Ketiga: Surah Al-Fatihah Mencakup Tiga Macam Tauhid: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa ShifatDalam Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa meskipun pendek, surah Al-Fatihah mencakup tiga macam tauhid sekaligus.Tauhid Rububiyyah pada ayat: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙTauhid Uluhiyyah pada ayat:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُTauhid Asma’ dan Sifat pada ayat:الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِKeutamaan Keempat: Al-Fatihah Mencakup Obat bagi Hati dan BadanIbnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa status Al-Fatihah obat bagi hati, karena inti penyakit hati itu ada dua, yaitu: rusaknya ilmu dan rusaknya niat/kehendak. Keduanya mengakibatkan dua bahaya, yaitu: kesesatan, karena rusaknya ilmu, dan murka Allah, karena rusaknya niat/kehendak. Maka, Ash-Shirath Al-Mustaqim mengandung obat dari kesesatan dan obat untuk menghindari dari kemurkaan Allah. Adapun status Al-Fatihah sebagai obat bagi badan, maka hal itu terdapat dalam hadis sahih dan terbukti dalam pengalaman.[Bersambung]Baca Juga:Khasiat Rahasia Surat Al-FatihahSurat Maryam Ayat 33 Apakah Dalil Bolehnya Ucapan Selamat Natal?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fathu Makkah, Istianah, Kesaksian Palsu, Cara Sabar Menghadapi Cobaan Hidup, Faedah Membaca Al QuranTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah

Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 1)

MuqaddimahAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Artikel berikut ini merupakan terjemahan tulisan Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti Hafizhahullah yang berjudul “Nidaatu Rabbinnaas Linnaasi Kaaffatan”. Tulisan tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi seruan Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang dimulai dengan “Yaa ayyuhannaas (artinya: wahai manusia)”. Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti adalah guru besar ilmu hadis di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga salah seorang murid Imam al-Albani Rahimahullah. Selamat mengikuti. (Penerjemah)===BismillahirrahmanirrahimAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, wa ba’du.Allah telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi alam semesta. Beliau adalah utusan Allah untuk seluruh manusia dan jin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’” (QS. Al-A’raf: 158).Allah Ta’ala pun berfirman,وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan” (QS. Saba: 28).Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta, dengan sebab risalah yang Allah Ta’ala turunkan dan dengan sebab mengikuti perintahnya serta menjauhi larangannya.Siapa saja yang menjalankan risalah tersebut, maka dia mendapatkan rahmat yang sempurna. Dia akan masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Siapa saja yang tidak menegakkan risalah tersebut, maka hujah telah tegak atasnya dan tidak ada lagi alasan untuknya. Dia pun sebenarnya telah mendapatkan rahmat dari sisi penyampaian dan peringatan. Sehingga dia tak bisa lagi beralasan, “Tidak ada yang datang kepadaku untuk memberi kabar gembira ataupun peringatan.” Dengan demikian, ini juga merupakan rahmat dari Allah Ta’ala.Selanjutnya, segala kebaikan berupa hujan, keamanan, dan perjanjian damai yang dirasakan oleh seorang muslim dan yang lainnya merupakan rahmat Allah. Tujuannya agar dirasakan manfaatnya oleh seluruh manusia apapun agama mereka. Bahkan kebaikan-kebaikan Islam juga dirasakan oleh hewan. Oleh sebab itu, Islam adalah agama rahmat dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.Ayat-ayat yang akan kami sebutkan dalam tulisan ini adalah di antara firman Allah kepada seluruh manusia dalam Al Quranul Karim disertai tafsir ringkas dari ayat tersebut. Sebagian besar tafsirannya kami ambil dari tafsir Syekh As-Sa’di Rahimahullah, semoga Allah memberikan taufik. Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidApa maksud seruan “wahai manusia!’ dalam Al-Quranul Karim?Kita akan temukan dalam Al-Qur’an ada 15 ayat di mana Allah Ta’ala menyeru seluruh manusia dengan seruan, “Wahai manusia!”.Itu adalah seruan Allah pada seluruh anak manusia di setiap waktu dan tempat. Seruan itu menunjukkan pentingnya apa yang hendak disampaikan. Hal ini bertujuan agar setiap telinga mendengarnya dan agar orang yang diseru menyadari bahwa isi seruan tersebut adalah perkara yang sangat agung yang perlu diperhatikan dengan sempurna oleh hati manusia. Allah Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang lebih menyayangi hamba-Nya daripada diri hamba itu sendiri, menyeru para hamba agar mereka memperhatikan seruan sang pencipta.Setiap perintah Allah Ta’ala pada manusia adalah kebaikan untuk mereka di dunia dan akhirat. Segala sesuatu yang Allah Ta’ala perintahkan untuk dijauhi adalah keburukan yang bisa menimpa manusia di dunia dan akhirat. Dialah yang lebih mengetahui tentang manusia dan tentang apa yang bermanfaat atau berbahaya buat mereka daripada diri mereka sendiri.Poin terakhir (yang mesti kita renungkan, pent), ketika yang menyeru dalam ayat-ayat ini adalah Allah Ta’ala, sang pencipta dan pemberi rezeki kepada kita, bukankah kita perlu benar-benar memperhatikan seruan ini dengan perhatian yang sempurna? Layakkah bagi kita menyepelekan seruan dari dzat yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya pada kita?Ditulis oleh Prof. Dr Ashim bin Abdillah al Qaryuti20 Rajab 1443 H/21 Februari 2022Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Catatan Ringan Seputar Aqidah***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Sedekah Di Bulan Ramadhan, Cara Sholat Agar Khusyu, Hukum Berjilbab Dalam Al Quran, Pencuri Sholat, Puasa Yg Diharamkan Dalam IslamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid

Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 1)

MuqaddimahAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Artikel berikut ini merupakan terjemahan tulisan Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti Hafizhahullah yang berjudul “Nidaatu Rabbinnaas Linnaasi Kaaffatan”. Tulisan tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi seruan Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang dimulai dengan “Yaa ayyuhannaas (artinya: wahai manusia)”. Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti adalah guru besar ilmu hadis di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga salah seorang murid Imam al-Albani Rahimahullah. Selamat mengikuti. (Penerjemah)===BismillahirrahmanirrahimAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, wa ba’du.Allah telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi alam semesta. Beliau adalah utusan Allah untuk seluruh manusia dan jin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’” (QS. Al-A’raf: 158).Allah Ta’ala pun berfirman,وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan” (QS. Saba: 28).Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta, dengan sebab risalah yang Allah Ta’ala turunkan dan dengan sebab mengikuti perintahnya serta menjauhi larangannya.Siapa saja yang menjalankan risalah tersebut, maka dia mendapatkan rahmat yang sempurna. Dia akan masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Siapa saja yang tidak menegakkan risalah tersebut, maka hujah telah tegak atasnya dan tidak ada lagi alasan untuknya. Dia pun sebenarnya telah mendapatkan rahmat dari sisi penyampaian dan peringatan. Sehingga dia tak bisa lagi beralasan, “Tidak ada yang datang kepadaku untuk memberi kabar gembira ataupun peringatan.” Dengan demikian, ini juga merupakan rahmat dari Allah Ta’ala.Selanjutnya, segala kebaikan berupa hujan, keamanan, dan perjanjian damai yang dirasakan oleh seorang muslim dan yang lainnya merupakan rahmat Allah. Tujuannya agar dirasakan manfaatnya oleh seluruh manusia apapun agama mereka. Bahkan kebaikan-kebaikan Islam juga dirasakan oleh hewan. Oleh sebab itu, Islam adalah agama rahmat dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.Ayat-ayat yang akan kami sebutkan dalam tulisan ini adalah di antara firman Allah kepada seluruh manusia dalam Al Quranul Karim disertai tafsir ringkas dari ayat tersebut. Sebagian besar tafsirannya kami ambil dari tafsir Syekh As-Sa’di Rahimahullah, semoga Allah memberikan taufik. Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidApa maksud seruan “wahai manusia!’ dalam Al-Quranul Karim?Kita akan temukan dalam Al-Qur’an ada 15 ayat di mana Allah Ta’ala menyeru seluruh manusia dengan seruan, “Wahai manusia!”.Itu adalah seruan Allah pada seluruh anak manusia di setiap waktu dan tempat. Seruan itu menunjukkan pentingnya apa yang hendak disampaikan. Hal ini bertujuan agar setiap telinga mendengarnya dan agar orang yang diseru menyadari bahwa isi seruan tersebut adalah perkara yang sangat agung yang perlu diperhatikan dengan sempurna oleh hati manusia. Allah Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang lebih menyayangi hamba-Nya daripada diri hamba itu sendiri, menyeru para hamba agar mereka memperhatikan seruan sang pencipta.Setiap perintah Allah Ta’ala pada manusia adalah kebaikan untuk mereka di dunia dan akhirat. Segala sesuatu yang Allah Ta’ala perintahkan untuk dijauhi adalah keburukan yang bisa menimpa manusia di dunia dan akhirat. Dialah yang lebih mengetahui tentang manusia dan tentang apa yang bermanfaat atau berbahaya buat mereka daripada diri mereka sendiri.Poin terakhir (yang mesti kita renungkan, pent), ketika yang menyeru dalam ayat-ayat ini adalah Allah Ta’ala, sang pencipta dan pemberi rezeki kepada kita, bukankah kita perlu benar-benar memperhatikan seruan ini dengan perhatian yang sempurna? Layakkah bagi kita menyepelekan seruan dari dzat yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya pada kita?Ditulis oleh Prof. Dr Ashim bin Abdillah al Qaryuti20 Rajab 1443 H/21 Februari 2022Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Catatan Ringan Seputar Aqidah***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Sedekah Di Bulan Ramadhan, Cara Sholat Agar Khusyu, Hukum Berjilbab Dalam Al Quran, Pencuri Sholat, Puasa Yg Diharamkan Dalam IslamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid
MuqaddimahAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Artikel berikut ini merupakan terjemahan tulisan Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti Hafizhahullah yang berjudul “Nidaatu Rabbinnaas Linnaasi Kaaffatan”. Tulisan tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi seruan Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang dimulai dengan “Yaa ayyuhannaas (artinya: wahai manusia)”. Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti adalah guru besar ilmu hadis di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga salah seorang murid Imam al-Albani Rahimahullah. Selamat mengikuti. (Penerjemah)===BismillahirrahmanirrahimAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, wa ba’du.Allah telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi alam semesta. Beliau adalah utusan Allah untuk seluruh manusia dan jin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’” (QS. Al-A’raf: 158).Allah Ta’ala pun berfirman,وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan” (QS. Saba: 28).Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta, dengan sebab risalah yang Allah Ta’ala turunkan dan dengan sebab mengikuti perintahnya serta menjauhi larangannya.Siapa saja yang menjalankan risalah tersebut, maka dia mendapatkan rahmat yang sempurna. Dia akan masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Siapa saja yang tidak menegakkan risalah tersebut, maka hujah telah tegak atasnya dan tidak ada lagi alasan untuknya. Dia pun sebenarnya telah mendapatkan rahmat dari sisi penyampaian dan peringatan. Sehingga dia tak bisa lagi beralasan, “Tidak ada yang datang kepadaku untuk memberi kabar gembira ataupun peringatan.” Dengan demikian, ini juga merupakan rahmat dari Allah Ta’ala.Selanjutnya, segala kebaikan berupa hujan, keamanan, dan perjanjian damai yang dirasakan oleh seorang muslim dan yang lainnya merupakan rahmat Allah. Tujuannya agar dirasakan manfaatnya oleh seluruh manusia apapun agama mereka. Bahkan kebaikan-kebaikan Islam juga dirasakan oleh hewan. Oleh sebab itu, Islam adalah agama rahmat dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.Ayat-ayat yang akan kami sebutkan dalam tulisan ini adalah di antara firman Allah kepada seluruh manusia dalam Al Quranul Karim disertai tafsir ringkas dari ayat tersebut. Sebagian besar tafsirannya kami ambil dari tafsir Syekh As-Sa’di Rahimahullah, semoga Allah memberikan taufik. Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidApa maksud seruan “wahai manusia!’ dalam Al-Quranul Karim?Kita akan temukan dalam Al-Qur’an ada 15 ayat di mana Allah Ta’ala menyeru seluruh manusia dengan seruan, “Wahai manusia!”.Itu adalah seruan Allah pada seluruh anak manusia di setiap waktu dan tempat. Seruan itu menunjukkan pentingnya apa yang hendak disampaikan. Hal ini bertujuan agar setiap telinga mendengarnya dan agar orang yang diseru menyadari bahwa isi seruan tersebut adalah perkara yang sangat agung yang perlu diperhatikan dengan sempurna oleh hati manusia. Allah Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang lebih menyayangi hamba-Nya daripada diri hamba itu sendiri, menyeru para hamba agar mereka memperhatikan seruan sang pencipta.Setiap perintah Allah Ta’ala pada manusia adalah kebaikan untuk mereka di dunia dan akhirat. Segala sesuatu yang Allah Ta’ala perintahkan untuk dijauhi adalah keburukan yang bisa menimpa manusia di dunia dan akhirat. Dialah yang lebih mengetahui tentang manusia dan tentang apa yang bermanfaat atau berbahaya buat mereka daripada diri mereka sendiri.Poin terakhir (yang mesti kita renungkan, pent), ketika yang menyeru dalam ayat-ayat ini adalah Allah Ta’ala, sang pencipta dan pemberi rezeki kepada kita, bukankah kita perlu benar-benar memperhatikan seruan ini dengan perhatian yang sempurna? Layakkah bagi kita menyepelekan seruan dari dzat yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya pada kita?Ditulis oleh Prof. Dr Ashim bin Abdillah al Qaryuti20 Rajab 1443 H/21 Februari 2022Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Catatan Ringan Seputar Aqidah***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Sedekah Di Bulan Ramadhan, Cara Sholat Agar Khusyu, Hukum Berjilbab Dalam Al Quran, Pencuri Sholat, Puasa Yg Diharamkan Dalam IslamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid


MuqaddimahAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Artikel berikut ini merupakan terjemahan tulisan Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti Hafizhahullah yang berjudul “Nidaatu Rabbinnaas Linnaasi Kaaffatan”. Tulisan tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi seruan Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang dimulai dengan “Yaa ayyuhannaas (artinya: wahai manusia)”. Syekh Prof. Dr. Ashim al-Qaryuti adalah guru besar ilmu hadis di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga salah seorang murid Imam al-Albani Rahimahullah. Selamat mengikuti. (Penerjemah)===BismillahirrahmanirrahimAlhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, wa ba’du.Allah telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi alam semesta. Beliau adalah utusan Allah untuk seluruh manusia dan jin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’” (QS. Al-A’raf: 158).Allah Ta’ala pun berfirman,وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan” (QS. Saba: 28).Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta, dengan sebab risalah yang Allah Ta’ala turunkan dan dengan sebab mengikuti perintahnya serta menjauhi larangannya.Siapa saja yang menjalankan risalah tersebut, maka dia mendapatkan rahmat yang sempurna. Dia akan masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Siapa saja yang tidak menegakkan risalah tersebut, maka hujah telah tegak atasnya dan tidak ada lagi alasan untuknya. Dia pun sebenarnya telah mendapatkan rahmat dari sisi penyampaian dan peringatan. Sehingga dia tak bisa lagi beralasan, “Tidak ada yang datang kepadaku untuk memberi kabar gembira ataupun peringatan.” Dengan demikian, ini juga merupakan rahmat dari Allah Ta’ala.Selanjutnya, segala kebaikan berupa hujan, keamanan, dan perjanjian damai yang dirasakan oleh seorang muslim dan yang lainnya merupakan rahmat Allah. Tujuannya agar dirasakan manfaatnya oleh seluruh manusia apapun agama mereka. Bahkan kebaikan-kebaikan Islam juga dirasakan oleh hewan. Oleh sebab itu, Islam adalah agama rahmat dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.Ayat-ayat yang akan kami sebutkan dalam tulisan ini adalah di antara firman Allah kepada seluruh manusia dalam Al Quranul Karim disertai tafsir ringkas dari ayat tersebut. Sebagian besar tafsirannya kami ambil dari tafsir Syekh As-Sa’di Rahimahullah, semoga Allah memberikan taufik. Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidApa maksud seruan “wahai manusia!’ dalam Al-Quranul Karim?Kita akan temukan dalam Al-Qur’an ada 15 ayat di mana Allah Ta’ala menyeru seluruh manusia dengan seruan, “Wahai manusia!”.Itu adalah seruan Allah pada seluruh anak manusia di setiap waktu dan tempat. Seruan itu menunjukkan pentingnya apa yang hendak disampaikan. Hal ini bertujuan agar setiap telinga mendengarnya dan agar orang yang diseru menyadari bahwa isi seruan tersebut adalah perkara yang sangat agung yang perlu diperhatikan dengan sempurna oleh hati manusia. Allah Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang lebih menyayangi hamba-Nya daripada diri hamba itu sendiri, menyeru para hamba agar mereka memperhatikan seruan sang pencipta.Setiap perintah Allah Ta’ala pada manusia adalah kebaikan untuk mereka di dunia dan akhirat. Segala sesuatu yang Allah Ta’ala perintahkan untuk dijauhi adalah keburukan yang bisa menimpa manusia di dunia dan akhirat. Dialah yang lebih mengetahui tentang manusia dan tentang apa yang bermanfaat atau berbahaya buat mereka daripada diri mereka sendiri.Poin terakhir (yang mesti kita renungkan, pent), ketika yang menyeru dalam ayat-ayat ini adalah Allah Ta’ala, sang pencipta dan pemberi rezeki kepada kita, bukankah kita perlu benar-benar memperhatikan seruan ini dengan perhatian yang sempurna? Layakkah bagi kita menyepelekan seruan dari dzat yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya pada kita?Ditulis oleh Prof. Dr Ashim bin Abdillah al Qaryuti20 Rajab 1443 H/21 Februari 2022Baca Juga:Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Catatan Ringan Seputar Aqidah***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, ST.Artikel: Muslim.or.id🔍 Sedekah Di Bulan Ramadhan, Cara Sholat Agar Khusyu, Hukum Berjilbab Dalam Al Quran, Pencuri Sholat, Puasa Yg Diharamkan Dalam IslamTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid

Muslim Harus Bergembira Menyambut Ramadhan

Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud KeimananSalah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“[1] Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada AllahKabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”[2] Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“[3] Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan, ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan).[4] Catatan: Hadits Dhaif Terkait Kegembiraan Menyambut RamadhanAda hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu)ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadhan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambut Ramadhan agar Ramadhan yang kita jalankan bisa maksimal.Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:

Muslim Harus Bergembira Menyambut Ramadhan

Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud KeimananSalah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“[1] Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada AllahKabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”[2] Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“[3] Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan, ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan).[4] Catatan: Hadits Dhaif Terkait Kegembiraan Menyambut RamadhanAda hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu)ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadhan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambut Ramadhan agar Ramadhan yang kita jalankan bisa maksimal.Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:
Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud KeimananSalah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“[1] Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada AllahKabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”[2] Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“[3] Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan, ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan).[4] Catatan: Hadits Dhaif Terkait Kegembiraan Menyambut RamadhanAda hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu)ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadhan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambut Ramadhan agar Ramadhan yang kita jalankan bisa maksimal.Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:


Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud KeimananSalah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“[1] Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada AllahKabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”[2] Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“[3] Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan, ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan).[4] Catatan: Hadits Dhaif Terkait Kegembiraan Menyambut RamadhanAda hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu)ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadhan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambut Ramadhan agar Ramadhan yang kita jalankan bisa maksimal.Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:

Mengenal Prinsip-Prinsip Ubudiyyah

Beribadah kepada Allah Ta’ala merupakan hikmah penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Sehingga, seorang mukmin hendaklah mengetahui bagaimanakah prinsip-prinsip menegakkan ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah Ta’ala dengan benar. Dalam tulisan singkat ini, akan dibahas prinsip-prinsip dasar penegakan ubudiyyah yang perlu diketahui oleh seorang muslim.Jenis-jenis ubudiyyahPertama, ubudiyyah ‘ammah (ubudiyyah yang bersifat umum). Ubudiyyah ini bermakna “ketundukan”, dan meliputi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, baik berakal ataupun tidak, baik yang ada di daratan maupun di lautan, baik yang mukmin ataupun yang kafir. Semuanya adalah makhluk yang tunduk dengan takdir dan pengaturan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)Kedua, ubudiyyah khashshah (ubudiyyah yang bersifat khusus). Yang dimaksud ubudiyyah khusus adalah aktivitas peribadatan yang dilakukan oleh hamba yang beriman (mukmin) saja dengan terpenuhi syarat dan rukunnya, sebagaimana yang akan dijelaskan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)Baca Juga: Rububiyyah dan ‘Ubudiyyah yang Bersifat Umum dan Khusus (Bag. 1)Pengertian ibadahSecara bahasa, ibadah berarti “merendahkan diri” atau “tunduk”. Adapun definisi secara syar’i, yang paling bagus adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu “suatu istilah yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin.” (Majmu’ Al-Fataawa, 10: 149)Contoh perkataan lahiriyah adalah berbagai macam ibadah lisan, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, mengucapkan tasbih, tahlil, atau membalas ucapan salam.Contoh perkataan batin adalah berbagai ucapan hati, seperti yakin dan membenarkan (tashdiq).Contoh perbuatan (amal) lahiriyah adalah salat, puasa, zakat, dan menunaikan nazar.Contoh perbuatan (amal) batin adalah berbagai macam amalan hati, seperti rasa takut (al-khauf), rasa harap (ar-raja’), dan rasa cinta (al-mahabbah).Rukun ibadahSetiap ibadah yang kita lakukan kepada Allah Ta’ala, harus memenuhi tiga rukun ini, yaitu:Pertama, adanya rasa cinta (al-mahabbah)Maksudnya, kita beribadah karena didorong oleh rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Rasa cinta ini adalah ruh ibadah. Setiap kali rasa cinta kepada Allah Ta’ala menggerakkan seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya, maka akan semakin dekat dengan keikhlasan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ“Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Kedua, adanya rasa harap (ar-raja’)Maksudnya, kita beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengharap pahala dan balasan dari Allah Ta’ala, juga berharap rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Rasa harap ini juga menuntun seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)Ketiga, adanya rasa takut (al-khauf)Maksudnya takut kepada Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba bisa menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 57 yang telah disebutkan di atas.Tiga rukun ibadah ini harus menyertai aktivitas ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba tidak boleh beribadah kepada Allah Ta’ala hanya karena rasa cinta saja, atau karena rasa takut saja, atau hanya karena rasa harap saja. Akan tetapi, ketiga rukun ibadah ini harus hadir dalam diri seseorang ketika beribadah kepada-Nya.Ulama salaf mengatakan, “Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa cinta saja, itulah orang-orang zindiq. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa harap saja, itulah orang-orang murji’. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa takut saja, itulah orang-orang haruri. Dan siapa saja yang beribadah kepada Allah karena rasa cinta, takut, dan berharap, itulah seorang mukmin yang mentauhidkan Allah Ta’ala.” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 112)Baca Juga: Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam ShalatDua syarat diterimanya ibadah Setelah memahami rukun-rukun ibadah, maka perlu diketahui ada dua syarat agar ibadah itu diterima di sisi Allah Ta’ala. Pertama, ikhlas.Yaitu, menujukan ibadah tersebut hanya kepada Allah Ta’ala saja, tidak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amal, kecuali amal yang ikhlas ditujukan hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah Ta’ala berfirman,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِي“Katakanlah, “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (QS. Az-Zumar: 14)Kedua, mutaba’ah.Yaitu, mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalankan tata cara ibadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) ini yang bukan dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Oleh karena itu, suatu amal tidak akan teranggap kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas dan mengikuti sunah (tuntunan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Amal yang dilakukan dengan ikhlas dan benar (sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) inilah yang merupakan amal terbaik sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)Tentang ayat di atas, Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah berkata,أخلصُه وأصوبُه . وقال : إنَّ العملَ إذا كان خالصاً ، ولم يكن صواباً ، لم يقبل ، وإذا كان صواباً ، ولم يكن خالصاً ، لم يقبل حتّى يكونَ خالصاً صواباً ، قال : والخالصُ إذا كان لله – عز وجل – ، والصَّوابُ إذا كان على السُّنَّة”(Yaitu amal) yang paling ikhlas dan paling benar”. Beliau rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya apabila suatu amalan sudah dilakukan dengan ikhlas, namun tidak benar, maka amalan tersebut tidak diterima. Dan apabila amalan tersebut sudah benar, namun tidak ikhlas, maka amalan tersebut juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Ikhlas jika ditujukan kepada Allah Ta’ala, dan benar jika sesuai dengan sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 72)Dua syarat diterimanya ibadah ini terkumpul dalam firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)“Amal saleh” dalam ayat di atas adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” adalah ikhlas. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal SederhanaModal Dasar Berdoa pada Allah***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Al-Maqshadul Ma’muul min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 98-101.🔍 Labaikallah Humma Labaik Arab, Kemewahan Dunia, Download Artikel Islam, Makna Takbir, Arti TasbihTags: Aqidahaqidah islamkeutamaan ibadahnasihatnasihat islamprinsip UbudiyyahTauhidubudiyyah

Mengenal Prinsip-Prinsip Ubudiyyah

Beribadah kepada Allah Ta’ala merupakan hikmah penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Sehingga, seorang mukmin hendaklah mengetahui bagaimanakah prinsip-prinsip menegakkan ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah Ta’ala dengan benar. Dalam tulisan singkat ini, akan dibahas prinsip-prinsip dasar penegakan ubudiyyah yang perlu diketahui oleh seorang muslim.Jenis-jenis ubudiyyahPertama, ubudiyyah ‘ammah (ubudiyyah yang bersifat umum). Ubudiyyah ini bermakna “ketundukan”, dan meliputi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, baik berakal ataupun tidak, baik yang ada di daratan maupun di lautan, baik yang mukmin ataupun yang kafir. Semuanya adalah makhluk yang tunduk dengan takdir dan pengaturan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)Kedua, ubudiyyah khashshah (ubudiyyah yang bersifat khusus). Yang dimaksud ubudiyyah khusus adalah aktivitas peribadatan yang dilakukan oleh hamba yang beriman (mukmin) saja dengan terpenuhi syarat dan rukunnya, sebagaimana yang akan dijelaskan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)Baca Juga: Rububiyyah dan ‘Ubudiyyah yang Bersifat Umum dan Khusus (Bag. 1)Pengertian ibadahSecara bahasa, ibadah berarti “merendahkan diri” atau “tunduk”. Adapun definisi secara syar’i, yang paling bagus adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu “suatu istilah yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin.” (Majmu’ Al-Fataawa, 10: 149)Contoh perkataan lahiriyah adalah berbagai macam ibadah lisan, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, mengucapkan tasbih, tahlil, atau membalas ucapan salam.Contoh perkataan batin adalah berbagai ucapan hati, seperti yakin dan membenarkan (tashdiq).Contoh perbuatan (amal) lahiriyah adalah salat, puasa, zakat, dan menunaikan nazar.Contoh perbuatan (amal) batin adalah berbagai macam amalan hati, seperti rasa takut (al-khauf), rasa harap (ar-raja’), dan rasa cinta (al-mahabbah).Rukun ibadahSetiap ibadah yang kita lakukan kepada Allah Ta’ala, harus memenuhi tiga rukun ini, yaitu:Pertama, adanya rasa cinta (al-mahabbah)Maksudnya, kita beribadah karena didorong oleh rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Rasa cinta ini adalah ruh ibadah. Setiap kali rasa cinta kepada Allah Ta’ala menggerakkan seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya, maka akan semakin dekat dengan keikhlasan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ“Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Kedua, adanya rasa harap (ar-raja’)Maksudnya, kita beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengharap pahala dan balasan dari Allah Ta’ala, juga berharap rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Rasa harap ini juga menuntun seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)Ketiga, adanya rasa takut (al-khauf)Maksudnya takut kepada Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba bisa menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 57 yang telah disebutkan di atas.Tiga rukun ibadah ini harus menyertai aktivitas ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba tidak boleh beribadah kepada Allah Ta’ala hanya karena rasa cinta saja, atau karena rasa takut saja, atau hanya karena rasa harap saja. Akan tetapi, ketiga rukun ibadah ini harus hadir dalam diri seseorang ketika beribadah kepada-Nya.Ulama salaf mengatakan, “Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa cinta saja, itulah orang-orang zindiq. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa harap saja, itulah orang-orang murji’. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa takut saja, itulah orang-orang haruri. Dan siapa saja yang beribadah kepada Allah karena rasa cinta, takut, dan berharap, itulah seorang mukmin yang mentauhidkan Allah Ta’ala.” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 112)Baca Juga: Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam ShalatDua syarat diterimanya ibadah Setelah memahami rukun-rukun ibadah, maka perlu diketahui ada dua syarat agar ibadah itu diterima di sisi Allah Ta’ala. Pertama, ikhlas.Yaitu, menujukan ibadah tersebut hanya kepada Allah Ta’ala saja, tidak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amal, kecuali amal yang ikhlas ditujukan hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah Ta’ala berfirman,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِي“Katakanlah, “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (QS. Az-Zumar: 14)Kedua, mutaba’ah.Yaitu, mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalankan tata cara ibadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) ini yang bukan dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Oleh karena itu, suatu amal tidak akan teranggap kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas dan mengikuti sunah (tuntunan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Amal yang dilakukan dengan ikhlas dan benar (sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) inilah yang merupakan amal terbaik sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)Tentang ayat di atas, Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah berkata,أخلصُه وأصوبُه . وقال : إنَّ العملَ إذا كان خالصاً ، ولم يكن صواباً ، لم يقبل ، وإذا كان صواباً ، ولم يكن خالصاً ، لم يقبل حتّى يكونَ خالصاً صواباً ، قال : والخالصُ إذا كان لله – عز وجل – ، والصَّوابُ إذا كان على السُّنَّة”(Yaitu amal) yang paling ikhlas dan paling benar”. Beliau rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya apabila suatu amalan sudah dilakukan dengan ikhlas, namun tidak benar, maka amalan tersebut tidak diterima. Dan apabila amalan tersebut sudah benar, namun tidak ikhlas, maka amalan tersebut juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Ikhlas jika ditujukan kepada Allah Ta’ala, dan benar jika sesuai dengan sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 72)Dua syarat diterimanya ibadah ini terkumpul dalam firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)“Amal saleh” dalam ayat di atas adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” adalah ikhlas. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal SederhanaModal Dasar Berdoa pada Allah***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Al-Maqshadul Ma’muul min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 98-101.🔍 Labaikallah Humma Labaik Arab, Kemewahan Dunia, Download Artikel Islam, Makna Takbir, Arti TasbihTags: Aqidahaqidah islamkeutamaan ibadahnasihatnasihat islamprinsip UbudiyyahTauhidubudiyyah
Beribadah kepada Allah Ta’ala merupakan hikmah penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Sehingga, seorang mukmin hendaklah mengetahui bagaimanakah prinsip-prinsip menegakkan ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah Ta’ala dengan benar. Dalam tulisan singkat ini, akan dibahas prinsip-prinsip dasar penegakan ubudiyyah yang perlu diketahui oleh seorang muslim.Jenis-jenis ubudiyyahPertama, ubudiyyah ‘ammah (ubudiyyah yang bersifat umum). Ubudiyyah ini bermakna “ketundukan”, dan meliputi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, baik berakal ataupun tidak, baik yang ada di daratan maupun di lautan, baik yang mukmin ataupun yang kafir. Semuanya adalah makhluk yang tunduk dengan takdir dan pengaturan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)Kedua, ubudiyyah khashshah (ubudiyyah yang bersifat khusus). Yang dimaksud ubudiyyah khusus adalah aktivitas peribadatan yang dilakukan oleh hamba yang beriman (mukmin) saja dengan terpenuhi syarat dan rukunnya, sebagaimana yang akan dijelaskan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)Baca Juga: Rububiyyah dan ‘Ubudiyyah yang Bersifat Umum dan Khusus (Bag. 1)Pengertian ibadahSecara bahasa, ibadah berarti “merendahkan diri” atau “tunduk”. Adapun definisi secara syar’i, yang paling bagus adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu “suatu istilah yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin.” (Majmu’ Al-Fataawa, 10: 149)Contoh perkataan lahiriyah adalah berbagai macam ibadah lisan, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, mengucapkan tasbih, tahlil, atau membalas ucapan salam.Contoh perkataan batin adalah berbagai ucapan hati, seperti yakin dan membenarkan (tashdiq).Contoh perbuatan (amal) lahiriyah adalah salat, puasa, zakat, dan menunaikan nazar.Contoh perbuatan (amal) batin adalah berbagai macam amalan hati, seperti rasa takut (al-khauf), rasa harap (ar-raja’), dan rasa cinta (al-mahabbah).Rukun ibadahSetiap ibadah yang kita lakukan kepada Allah Ta’ala, harus memenuhi tiga rukun ini, yaitu:Pertama, adanya rasa cinta (al-mahabbah)Maksudnya, kita beribadah karena didorong oleh rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Rasa cinta ini adalah ruh ibadah. Setiap kali rasa cinta kepada Allah Ta’ala menggerakkan seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya, maka akan semakin dekat dengan keikhlasan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ“Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Kedua, adanya rasa harap (ar-raja’)Maksudnya, kita beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengharap pahala dan balasan dari Allah Ta’ala, juga berharap rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Rasa harap ini juga menuntun seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)Ketiga, adanya rasa takut (al-khauf)Maksudnya takut kepada Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba bisa menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 57 yang telah disebutkan di atas.Tiga rukun ibadah ini harus menyertai aktivitas ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba tidak boleh beribadah kepada Allah Ta’ala hanya karena rasa cinta saja, atau karena rasa takut saja, atau hanya karena rasa harap saja. Akan tetapi, ketiga rukun ibadah ini harus hadir dalam diri seseorang ketika beribadah kepada-Nya.Ulama salaf mengatakan, “Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa cinta saja, itulah orang-orang zindiq. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa harap saja, itulah orang-orang murji’. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa takut saja, itulah orang-orang haruri. Dan siapa saja yang beribadah kepada Allah karena rasa cinta, takut, dan berharap, itulah seorang mukmin yang mentauhidkan Allah Ta’ala.” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 112)Baca Juga: Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam ShalatDua syarat diterimanya ibadah Setelah memahami rukun-rukun ibadah, maka perlu diketahui ada dua syarat agar ibadah itu diterima di sisi Allah Ta’ala. Pertama, ikhlas.Yaitu, menujukan ibadah tersebut hanya kepada Allah Ta’ala saja, tidak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amal, kecuali amal yang ikhlas ditujukan hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah Ta’ala berfirman,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِي“Katakanlah, “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (QS. Az-Zumar: 14)Kedua, mutaba’ah.Yaitu, mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalankan tata cara ibadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) ini yang bukan dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Oleh karena itu, suatu amal tidak akan teranggap kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas dan mengikuti sunah (tuntunan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Amal yang dilakukan dengan ikhlas dan benar (sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) inilah yang merupakan amal terbaik sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)Tentang ayat di atas, Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah berkata,أخلصُه وأصوبُه . وقال : إنَّ العملَ إذا كان خالصاً ، ولم يكن صواباً ، لم يقبل ، وإذا كان صواباً ، ولم يكن خالصاً ، لم يقبل حتّى يكونَ خالصاً صواباً ، قال : والخالصُ إذا كان لله – عز وجل – ، والصَّوابُ إذا كان على السُّنَّة”(Yaitu amal) yang paling ikhlas dan paling benar”. Beliau rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya apabila suatu amalan sudah dilakukan dengan ikhlas, namun tidak benar, maka amalan tersebut tidak diterima. Dan apabila amalan tersebut sudah benar, namun tidak ikhlas, maka amalan tersebut juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Ikhlas jika ditujukan kepada Allah Ta’ala, dan benar jika sesuai dengan sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 72)Dua syarat diterimanya ibadah ini terkumpul dalam firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)“Amal saleh” dalam ayat di atas adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” adalah ikhlas. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal SederhanaModal Dasar Berdoa pada Allah***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Al-Maqshadul Ma’muul min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 98-101.🔍 Labaikallah Humma Labaik Arab, Kemewahan Dunia, Download Artikel Islam, Makna Takbir, Arti TasbihTags: Aqidahaqidah islamkeutamaan ibadahnasihatnasihat islamprinsip UbudiyyahTauhidubudiyyah


Beribadah kepada Allah Ta’ala merupakan hikmah penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Sehingga, seorang mukmin hendaklah mengetahui bagaimanakah prinsip-prinsip menegakkan ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah Ta’ala dengan benar. Dalam tulisan singkat ini, akan dibahas prinsip-prinsip dasar penegakan ubudiyyah yang perlu diketahui oleh seorang muslim.Jenis-jenis ubudiyyahPertama, ubudiyyah ‘ammah (ubudiyyah yang bersifat umum). Ubudiyyah ini bermakna “ketundukan”, dan meliputi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, baik berakal ataupun tidak, baik yang ada di daratan maupun di lautan, baik yang mukmin ataupun yang kafir. Semuanya adalah makhluk yang tunduk dengan takdir dan pengaturan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)Kedua, ubudiyyah khashshah (ubudiyyah yang bersifat khusus). Yang dimaksud ubudiyyah khusus adalah aktivitas peribadatan yang dilakukan oleh hamba yang beriman (mukmin) saja dengan terpenuhi syarat dan rukunnya, sebagaimana yang akan dijelaskan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)Baca Juga: Rububiyyah dan ‘Ubudiyyah yang Bersifat Umum dan Khusus (Bag. 1)Pengertian ibadahSecara bahasa, ibadah berarti “merendahkan diri” atau “tunduk”. Adapun definisi secara syar’i, yang paling bagus adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu “suatu istilah yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin.” (Majmu’ Al-Fataawa, 10: 149)Contoh perkataan lahiriyah adalah berbagai macam ibadah lisan, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, mengucapkan tasbih, tahlil, atau membalas ucapan salam.Contoh perkataan batin adalah berbagai ucapan hati, seperti yakin dan membenarkan (tashdiq).Contoh perbuatan (amal) lahiriyah adalah salat, puasa, zakat, dan menunaikan nazar.Contoh perbuatan (amal) batin adalah berbagai macam amalan hati, seperti rasa takut (al-khauf), rasa harap (ar-raja’), dan rasa cinta (al-mahabbah).Rukun ibadahSetiap ibadah yang kita lakukan kepada Allah Ta’ala, harus memenuhi tiga rukun ini, yaitu:Pertama, adanya rasa cinta (al-mahabbah)Maksudnya, kita beribadah karena didorong oleh rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Rasa cinta ini adalah ruh ibadah. Setiap kali rasa cinta kepada Allah Ta’ala menggerakkan seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya, maka akan semakin dekat dengan keikhlasan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ“Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Kedua, adanya rasa harap (ar-raja’)Maksudnya, kita beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengharap pahala dan balasan dari Allah Ta’ala, juga berharap rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Rasa harap ini juga menuntun seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)Ketiga, adanya rasa takut (al-khauf)Maksudnya takut kepada Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba bisa menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 57 yang telah disebutkan di atas.Tiga rukun ibadah ini harus menyertai aktivitas ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba tidak boleh beribadah kepada Allah Ta’ala hanya karena rasa cinta saja, atau karena rasa takut saja, atau hanya karena rasa harap saja. Akan tetapi, ketiga rukun ibadah ini harus hadir dalam diri seseorang ketika beribadah kepada-Nya.Ulama salaf mengatakan, “Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa cinta saja, itulah orang-orang zindiq. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa harap saja, itulah orang-orang murji’. Siapa saja yang beribadah kepada Allah hanya karena rasa takut saja, itulah orang-orang haruri. Dan siapa saja yang beribadah kepada Allah karena rasa cinta, takut, dan berharap, itulah seorang mukmin yang mentauhidkan Allah Ta’ala.” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 112)Baca Juga: Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam ShalatDua syarat diterimanya ibadah Setelah memahami rukun-rukun ibadah, maka perlu diketahui ada dua syarat agar ibadah itu diterima di sisi Allah Ta’ala. Pertama, ikhlas.Yaitu, menujukan ibadah tersebut hanya kepada Allah Ta’ala saja, tidak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amal, kecuali amal yang ikhlas ditujukan hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah Ta’ala berfirman,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِي“Katakanlah, “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (QS. Az-Zumar: 14)Kedua, mutaba’ah.Yaitu, mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalankan tata cara ibadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) ini yang bukan dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Oleh karena itu, suatu amal tidak akan teranggap kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas dan mengikuti sunah (tuntunan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Amal yang dilakukan dengan ikhlas dan benar (sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) inilah yang merupakan amal terbaik sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)Tentang ayat di atas, Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah berkata,أخلصُه وأصوبُه . وقال : إنَّ العملَ إذا كان خالصاً ، ولم يكن صواباً ، لم يقبل ، وإذا كان صواباً ، ولم يكن خالصاً ، لم يقبل حتّى يكونَ خالصاً صواباً ، قال : والخالصُ إذا كان لله – عز وجل – ، والصَّوابُ إذا كان على السُّنَّة”(Yaitu amal) yang paling ikhlas dan paling benar”. Beliau rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya apabila suatu amalan sudah dilakukan dengan ikhlas, namun tidak benar, maka amalan tersebut tidak diterima. Dan apabila amalan tersebut sudah benar, namun tidak ikhlas, maka amalan tersebut juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Ikhlas jika ditujukan kepada Allah Ta’ala, dan benar jika sesuai dengan sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 72)Dua syarat diterimanya ibadah ini terkumpul dalam firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)“Amal saleh” dalam ayat di atas adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” adalah ikhlas. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal SederhanaModal Dasar Berdoa pada Allah***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Al-Maqshadul Ma’muul min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 98-101.🔍 Labaikallah Humma Labaik Arab, Kemewahan Dunia, Download Artikel Islam, Makna Takbir, Arti TasbihTags: Aqidahaqidah islamkeutamaan ibadahnasihatnasihat islamprinsip UbudiyyahTauhidubudiyyah

Qadha Shalat bagi Orang yang Telah Meninggal Dunia, Adakah?

Adakah qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia?   Daftar Isi tutup 1. Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia 1.1. Referensi:   Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia Menurut pandangan jumhur ulama dan pendapat mu’tamad (pendapat resmi) dalam madzhab Syafii tidak ada qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia.   Dalam Kitab Fatawa Darul Ifta Al-Mishriyyah disebutkan: ولأن الأصل فى الفروض العينية أن يؤديها الشخص بنفسه إلا ما استثنى كالصوم والزكاة والحج، فإنه يمكن أن يؤديها عنه غيره لورود النص الصريح فى ذلك. Hukum asal untuk suatu kewajiban yang fardhu ‘ain hanya boleh dilaksanakan oleh individu itu sendiri. Namun, ada yang dikecualikan masih boleh ditunaikan oleh orang lain yaitu puasa, zakat, dan haji. Orang lain masih boleh menunaikan tiga ibadah tersebut karena ada dalil tegas yang membolehkan ditunaikan oleh orang lain. Syaikh Al-‘Allamah Zainud Ad-Din Al-Malibari Asy-Syafi’i (w. 987 H) menyatakan : مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةُ فَرْضٍ لَمْ تُقْضَ وَلَمْ تُفْدَ عَنْهُ.وَفِيْ قَوْلٍ أَنَّهَا تُفْعَلُ عَنْهُ أَوْصَى بِهَا أَمْ لاَ حَكَاهُ العَبَّادِيْ عَنِ الشَّافِعِيِّ لِخَبَرٍ فِيْهِ وَفَعَلَ بِهِ السُّبْكِيْ عَنْ بَعْضِ أَقَارِبِهِ “Barang siapa yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang salat fardhu, tidak bisa diqadha (dibayar) dan ditebus (oleh yang masih hidup). Dalam pendapat lain dinyatakan : sesungguhnya hal itu boleh dilakukan untuknya, baik dia (mayit) mewasiatkan ataupun tidak. Imam Al-‘Abbadi menghikayatkan hal ini dari imam Asy-Syafi’i berdasarkan sebuah khabar (hadis) di dalam masalah ini. Dan Imam As-Subki mengamalkan hal ini untuk sebagian kerabatnya.” (Fath Al-Mu’in, hlm. 3, Maktabah Madinah Jombang Jawa Timur) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa penyamaan qadha’ bagi orang yang telah meninggal dunia dengan dalil bolehnya doa pada orang yang telah meninggal dunia, begitu pula sedekah dan haji bagi orang yang telah meninggal dunia adalah dalil yang lemah. Kalau kita memilih pendapat tidak adanya qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia, menunjukkan bahwa shalat itu amalan individu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim. Baca Juga: Adakah Qadha Shalat bagi Wanita Haidh? (Sudah Mendapati Waktu Shalat Lantas Datang Haidh) Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim Referensi: http://islamport.com/w/ftw/Web/953/3818.htm (diakses pada 10 Maret 2022) Fath Al-Mu’iin bi Syarh Qurrah Al-‘Ain. Syaikh Zain Ad-Diin bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Malibari. Penerbit Maktabah Madinah. — Kamis siang, 6 Syakban 1443 H, 10 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmeninggal dunia meninggalkan shalat qadha qadha shalat

Qadha Shalat bagi Orang yang Telah Meninggal Dunia, Adakah?

Adakah qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia?   Daftar Isi tutup 1. Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia 1.1. Referensi:   Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia Menurut pandangan jumhur ulama dan pendapat mu’tamad (pendapat resmi) dalam madzhab Syafii tidak ada qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia.   Dalam Kitab Fatawa Darul Ifta Al-Mishriyyah disebutkan: ولأن الأصل فى الفروض العينية أن يؤديها الشخص بنفسه إلا ما استثنى كالصوم والزكاة والحج، فإنه يمكن أن يؤديها عنه غيره لورود النص الصريح فى ذلك. Hukum asal untuk suatu kewajiban yang fardhu ‘ain hanya boleh dilaksanakan oleh individu itu sendiri. Namun, ada yang dikecualikan masih boleh ditunaikan oleh orang lain yaitu puasa, zakat, dan haji. Orang lain masih boleh menunaikan tiga ibadah tersebut karena ada dalil tegas yang membolehkan ditunaikan oleh orang lain. Syaikh Al-‘Allamah Zainud Ad-Din Al-Malibari Asy-Syafi’i (w. 987 H) menyatakan : مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةُ فَرْضٍ لَمْ تُقْضَ وَلَمْ تُفْدَ عَنْهُ.وَفِيْ قَوْلٍ أَنَّهَا تُفْعَلُ عَنْهُ أَوْصَى بِهَا أَمْ لاَ حَكَاهُ العَبَّادِيْ عَنِ الشَّافِعِيِّ لِخَبَرٍ فِيْهِ وَفَعَلَ بِهِ السُّبْكِيْ عَنْ بَعْضِ أَقَارِبِهِ “Barang siapa yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang salat fardhu, tidak bisa diqadha (dibayar) dan ditebus (oleh yang masih hidup). Dalam pendapat lain dinyatakan : sesungguhnya hal itu boleh dilakukan untuknya, baik dia (mayit) mewasiatkan ataupun tidak. Imam Al-‘Abbadi menghikayatkan hal ini dari imam Asy-Syafi’i berdasarkan sebuah khabar (hadis) di dalam masalah ini. Dan Imam As-Subki mengamalkan hal ini untuk sebagian kerabatnya.” (Fath Al-Mu’in, hlm. 3, Maktabah Madinah Jombang Jawa Timur) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa penyamaan qadha’ bagi orang yang telah meninggal dunia dengan dalil bolehnya doa pada orang yang telah meninggal dunia, begitu pula sedekah dan haji bagi orang yang telah meninggal dunia adalah dalil yang lemah. Kalau kita memilih pendapat tidak adanya qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia, menunjukkan bahwa shalat itu amalan individu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim. Baca Juga: Adakah Qadha Shalat bagi Wanita Haidh? (Sudah Mendapati Waktu Shalat Lantas Datang Haidh) Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim Referensi: http://islamport.com/w/ftw/Web/953/3818.htm (diakses pada 10 Maret 2022) Fath Al-Mu’iin bi Syarh Qurrah Al-‘Ain. Syaikh Zain Ad-Diin bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Malibari. Penerbit Maktabah Madinah. — Kamis siang, 6 Syakban 1443 H, 10 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmeninggal dunia meninggalkan shalat qadha qadha shalat
Adakah qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia?   Daftar Isi tutup 1. Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia 1.1. Referensi:   Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia Menurut pandangan jumhur ulama dan pendapat mu’tamad (pendapat resmi) dalam madzhab Syafii tidak ada qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia.   Dalam Kitab Fatawa Darul Ifta Al-Mishriyyah disebutkan: ولأن الأصل فى الفروض العينية أن يؤديها الشخص بنفسه إلا ما استثنى كالصوم والزكاة والحج، فإنه يمكن أن يؤديها عنه غيره لورود النص الصريح فى ذلك. Hukum asal untuk suatu kewajiban yang fardhu ‘ain hanya boleh dilaksanakan oleh individu itu sendiri. Namun, ada yang dikecualikan masih boleh ditunaikan oleh orang lain yaitu puasa, zakat, dan haji. Orang lain masih boleh menunaikan tiga ibadah tersebut karena ada dalil tegas yang membolehkan ditunaikan oleh orang lain. Syaikh Al-‘Allamah Zainud Ad-Din Al-Malibari Asy-Syafi’i (w. 987 H) menyatakan : مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةُ فَرْضٍ لَمْ تُقْضَ وَلَمْ تُفْدَ عَنْهُ.وَفِيْ قَوْلٍ أَنَّهَا تُفْعَلُ عَنْهُ أَوْصَى بِهَا أَمْ لاَ حَكَاهُ العَبَّادِيْ عَنِ الشَّافِعِيِّ لِخَبَرٍ فِيْهِ وَفَعَلَ بِهِ السُّبْكِيْ عَنْ بَعْضِ أَقَارِبِهِ “Barang siapa yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang salat fardhu, tidak bisa diqadha (dibayar) dan ditebus (oleh yang masih hidup). Dalam pendapat lain dinyatakan : sesungguhnya hal itu boleh dilakukan untuknya, baik dia (mayit) mewasiatkan ataupun tidak. Imam Al-‘Abbadi menghikayatkan hal ini dari imam Asy-Syafi’i berdasarkan sebuah khabar (hadis) di dalam masalah ini. Dan Imam As-Subki mengamalkan hal ini untuk sebagian kerabatnya.” (Fath Al-Mu’in, hlm. 3, Maktabah Madinah Jombang Jawa Timur) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa penyamaan qadha’ bagi orang yang telah meninggal dunia dengan dalil bolehnya doa pada orang yang telah meninggal dunia, begitu pula sedekah dan haji bagi orang yang telah meninggal dunia adalah dalil yang lemah. Kalau kita memilih pendapat tidak adanya qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia, menunjukkan bahwa shalat itu amalan individu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim. Baca Juga: Adakah Qadha Shalat bagi Wanita Haidh? (Sudah Mendapati Waktu Shalat Lantas Datang Haidh) Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim Referensi: http://islamport.com/w/ftw/Web/953/3818.htm (diakses pada 10 Maret 2022) Fath Al-Mu’iin bi Syarh Qurrah Al-‘Ain. Syaikh Zain Ad-Diin bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Malibari. Penerbit Maktabah Madinah. — Kamis siang, 6 Syakban 1443 H, 10 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmeninggal dunia meninggalkan shalat qadha qadha shalat


Adakah qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia?   Daftar Isi tutup 1. Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia 1.1. Referensi:   Asalnya Tidak Ada Qadha Shalat bagi Orang yang Meninggal Dunia Menurut pandangan jumhur ulama dan pendapat mu’tamad (pendapat resmi) dalam madzhab Syafii tidak ada qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia.   Dalam Kitab Fatawa Darul Ifta Al-Mishriyyah disebutkan: ولأن الأصل فى الفروض العينية أن يؤديها الشخص بنفسه إلا ما استثنى كالصوم والزكاة والحج، فإنه يمكن أن يؤديها عنه غيره لورود النص الصريح فى ذلك. Hukum asal untuk suatu kewajiban yang fardhu ‘ain hanya boleh dilaksanakan oleh individu itu sendiri. Namun, ada yang dikecualikan masih boleh ditunaikan oleh orang lain yaitu puasa, zakat, dan haji. Orang lain masih boleh menunaikan tiga ibadah tersebut karena ada dalil tegas yang membolehkan ditunaikan oleh orang lain. Syaikh Al-‘Allamah Zainud Ad-Din Al-Malibari Asy-Syafi’i (w. 987 H) menyatakan : مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةُ فَرْضٍ لَمْ تُقْضَ وَلَمْ تُفْدَ عَنْهُ.وَفِيْ قَوْلٍ أَنَّهَا تُفْعَلُ عَنْهُ أَوْصَى بِهَا أَمْ لاَ حَكَاهُ العَبَّادِيْ عَنِ الشَّافِعِيِّ لِخَبَرٍ فِيْهِ وَفَعَلَ بِهِ السُّبْكِيْ عَنْ بَعْضِ أَقَارِبِهِ “Barang siapa yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang salat fardhu, tidak bisa diqadha (dibayar) dan ditebus (oleh yang masih hidup). Dalam pendapat lain dinyatakan : sesungguhnya hal itu boleh dilakukan untuknya, baik dia (mayit) mewasiatkan ataupun tidak. Imam Al-‘Abbadi menghikayatkan hal ini dari imam Asy-Syafi’i berdasarkan sebuah khabar (hadis) di dalam masalah ini. Dan Imam As-Subki mengamalkan hal ini untuk sebagian kerabatnya.” (Fath Al-Mu’in, hlm. 3, Maktabah Madinah Jombang Jawa Timur) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa penyamaan qadha’ bagi orang yang telah meninggal dunia dengan dalil bolehnya doa pada orang yang telah meninggal dunia, begitu pula sedekah dan haji bagi orang yang telah meninggal dunia adalah dalil yang lemah. Kalau kita memilih pendapat tidak adanya qadha’ shalat bagi orang yang telah meninggal dunia, menunjukkan bahwa shalat itu amalan individu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim. Baca Juga: Adakah Qadha Shalat bagi Wanita Haidh? (Sudah Mendapati Waktu Shalat Lantas Datang Haidh) Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim Referensi: http://islamport.com/w/ftw/Web/953/3818.htm (diakses pada 10 Maret 2022) Fath Al-Mu’iin bi Syarh Qurrah Al-‘Ain. Syaikh Zain Ad-Diin bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Malibari. Penerbit Maktabah Madinah. — Kamis siang, 6 Syakban 1443 H, 10 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmeninggal dunia meninggalkan shalat qadha qadha shalat

Khotbah Jumat: Jangan Sampai Amalan Sunah Melalaikan dari Yang Wajib

(NASIHAT RAMADAN)JANGAN SAMPAI AMALAN SUNNAHMU MELALAIKAN DARI YANG WAJIB!Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Terutama menjaga ketakwaan kita di bulan Sya’ban ini, agar nantinya diri kita siap menyambut datangnya bulan Ramadan yang mulia.Ramadan sebentar lagi akan menghampiri kita, bulan yang penuh berkah dan keutamaan, bulan di mana setiap amalan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Ta’ala, dan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dosanya dari bulan-bulan sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebutkan,المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.” (Al-Adab As-Syar’iyah, 3: 430) Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Di antaranya, firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan zalim di tanah haram Mekah, Allah Ta’ala beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kezaliman itu. Alasannya, karena orang ini melakukan kezaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia, yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 535).Baca Juga: Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanBegitu pula dengan bermaksiat di bulan Ramadan, maka dia telah melakukan dua kesalahan:Pertama, melanggar larangan Allah.Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.Sehingga dosanya lebih berat dari bermaksiat di selain bulan Ramadan.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah.Di antara keteledoran dan kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang muslim di dalam bulan Ramadan adalah salah prioritas di dalam beribadah. Entah itu karena ketidaktahuan ataupun karena terlalu semangatnya dia di dalam melakukan amalan, seringkali akhirnya orang tersebut mengorbankan dan mengalahkan ibadah yang wajib karena terlalu disibukkan dengan amalan-amalan sunah.Sering kita jumpai, mereka yang rajin melaksanakan qiyamullail dan salat tarawih, tetapi bermalas-malasan melaksanakan salat wajib lima waktu secara berjemaah di masjid. Bergadang malam di bulan Ramadan untuk membaca Al-Qur’an, namun terlewat dari salat subuh berjemaah. Tentu saja hal seperti ini adalah keliru.Sungguh banyak sekali ayat dan hadis yang menunjukkan tentang wajibnya salat lima waktu secara umum, dan tentang keutamaan salat berjemaah secara khusus. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah salatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka seluruh amalnya baik dan jika salatnya rusak, maka seluruh amalnya rusak.” (HR. Ath-Thobrani, Ash-Shahihah: 1358)Adapun hadis-hadis mengenai keutamaan salat jemaah secara khusus adalah:Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً. “Salat berjemaah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada salat sendirian.”  (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)Kedua, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ. ‘Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik di waktu pagi atau sore hari, maka Allah menyediakan baginya hidangan di surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)Ketiga, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ. “Barangsiapa salat jemaah dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama (takbiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.” (Hasan. HR. At-Tirmidzi no. 241. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2652)Dari ayat dan hadis di atas jelas sekali menyebutkan bahwa salat wajib lima waktu merupakan kewajiban yang harus diprioritaskan oleh seorang mukmin, terlebih di bulan Ramadan. Sehingga ketika ia mengorbankan salat wajib ini karena ibadah yang sifatnya sunah, sungguh itu merupakan kesalahan dan kezaliman di dalam beribadah. Wal’iyyadzu Billah …Maasyiral Mukminin rahimakumullah…Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini, lalu beliau memberikan nasehat yang sangat indah,“Ini adalah kesalahan besar. Seorang muslim harus lebih menjaga kewajiban dan lebih memperhatikannya, rajin melakukan apa yang Allah wajibkan, waspada dan menghindari  apa yang dilarang Allah. Dan apabila ia diberikan rezeki oleh Allah Ta’ala di dalam perihal menjaga dan  memperhatikan amalan sunah, maka ini merupakan kebaikan setelah kebaikan. Akan tetapi, kewajiban haruslah lebih ia perhatikan, seperti salat wajib, zakat, puasa Ramadan, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Kemudian haruslah dia berhati-hati dari bermalas-malasan dan bermudah-mudahan di dalam perkara yang wajib. Adapun amalan sunah, maka perkaranya lebih luas. Jika Allah mudahkan baginya untuk melakukannya, maka hendaklah ia memuji Allah Ta’ala. Adapun jika ia tidak bisa dan tidak mampu, maka tidak ada keberatan dan dosa baginya.”Terdapat sebuah hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasannya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari no. 6502)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Hadis ini menekankan bahwasanya tidak ada amalan yang lebih utama dari apa-apa yang telah Allah wajibkan kepada hambanya. Sehingga tidak masuk akal ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan suatu amalan yang mubah ataupun sunah, namun di waktu yang sama orang tersebut meremehkan yang wajib. Padahal hal ini sudah Allah Ta’ala perintahkan dan wajibkan baginya. Maka, tidaklah terwujud ketaatan kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Karena hal tersebut merupakan pembeda antara hamba yang taat dan hamba yang suka maksiat.Sedangkan amalan nawafil (sunah) tidaklah Allah Ta’ala syariatkan, kecuali sebagai pelengkap dan penyempurna ketaatan pada hal yang wajib dan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala serta bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Sunah yang Sering DitinggalkanDalil lain yang menunjukkan tentang pentingnya mendahulukan yang wajib dari yang sunah adalah hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,قيلَ للنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ و سلَّمَ : يا رَسولَ اللهِ ! إنَّ فلانةَ تقومُ اللَّيلَ و تَصومُ النَّهارَ و تفعلُ ، و تصدَّقُ ، و تُؤذي جيرانَهابلِسانِها ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليهِ و سلم لا خَيرَ فيها ، هيَ من أهلِ النَّارِ . قالوا : و فُلانةُ تصلِّي المكتوبةَ ، و تصدَّقُ بأثوارٍ ، و لا تُؤذي أحدًا ؟ فقال رسولُ اللهِ : هيَ من أهلِ الجنَّةِ“Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah rajin salat sunah malam, puasa di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, tetapi ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tiada kebaikan padanya. Dia termasuk penghuni neraka.’ Mereka bertanya lagi, ‘Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) salat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorang pun?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dia termasuk penghuni surga.’” (HR. Ahmad no. 9675 dan Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod: 119)Banyaknya perempuan tersebut di dalam melakukan amalan (sunah) tidaklah menyelamatkan dirinya dari api neraka, dikarenakan pada waktu bersamaan dia abai dan lalai dari hak-hak tetangganya (yang mana hal tersebut hukumnya wajib untuk diperhatikan). Sungguh Allah Ta’ala tidak akan mencintai seseorang yang lalai dalam perkara wajibnya walaupun amalan sunah yang ia kerjakan sangatlah banyak.Maasyiral Mukminin rahimakumullah.Sungguh miris, pengetahuan skala prioritas dalam beribadah seperti ini sangatlah tidak diperhatikan oleh kaum muslimin di zaman sekarang. Semoga Allah Ta’ala menjadikan diri kita hamba yang cerdas dalam beribadah, hamba yang mengetahui skala prioritas dalam beribadah, sehingga diri kita lebih bijak di dalam beramal, Amiin Ya Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Jumlah Minimal Jemaah Salat JumatSunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatPenulis: Muhammad Idris Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qowaidul Arba, Hadist Tentang Berjilbab, Belajar Sholat Khusyu, Menyampaikan Nasihat Melalui Ceramah Termasuk Kategori Dakwah, Mengganti Nama Dalam IslamTags: amalan sunnahfikihfikih ibadahkutbahkutbah jumatmateri kutbah jumatteks kutbah jumattema kutbah jumat

Khotbah Jumat: Jangan Sampai Amalan Sunah Melalaikan dari Yang Wajib

(NASIHAT RAMADAN)JANGAN SAMPAI AMALAN SUNNAHMU MELALAIKAN DARI YANG WAJIB!Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Terutama menjaga ketakwaan kita di bulan Sya’ban ini, agar nantinya diri kita siap menyambut datangnya bulan Ramadan yang mulia.Ramadan sebentar lagi akan menghampiri kita, bulan yang penuh berkah dan keutamaan, bulan di mana setiap amalan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Ta’ala, dan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dosanya dari bulan-bulan sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebutkan,المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.” (Al-Adab As-Syar’iyah, 3: 430) Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Di antaranya, firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan zalim di tanah haram Mekah, Allah Ta’ala beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kezaliman itu. Alasannya, karena orang ini melakukan kezaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia, yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 535).Baca Juga: Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanBegitu pula dengan bermaksiat di bulan Ramadan, maka dia telah melakukan dua kesalahan:Pertama, melanggar larangan Allah.Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.Sehingga dosanya lebih berat dari bermaksiat di selain bulan Ramadan.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah.Di antara keteledoran dan kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang muslim di dalam bulan Ramadan adalah salah prioritas di dalam beribadah. Entah itu karena ketidaktahuan ataupun karena terlalu semangatnya dia di dalam melakukan amalan, seringkali akhirnya orang tersebut mengorbankan dan mengalahkan ibadah yang wajib karena terlalu disibukkan dengan amalan-amalan sunah.Sering kita jumpai, mereka yang rajin melaksanakan qiyamullail dan salat tarawih, tetapi bermalas-malasan melaksanakan salat wajib lima waktu secara berjemaah di masjid. Bergadang malam di bulan Ramadan untuk membaca Al-Qur’an, namun terlewat dari salat subuh berjemaah. Tentu saja hal seperti ini adalah keliru.Sungguh banyak sekali ayat dan hadis yang menunjukkan tentang wajibnya salat lima waktu secara umum, dan tentang keutamaan salat berjemaah secara khusus. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah salatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka seluruh amalnya baik dan jika salatnya rusak, maka seluruh amalnya rusak.” (HR. Ath-Thobrani, Ash-Shahihah: 1358)Adapun hadis-hadis mengenai keutamaan salat jemaah secara khusus adalah:Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً. “Salat berjemaah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada salat sendirian.”  (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)Kedua, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ. ‘Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik di waktu pagi atau sore hari, maka Allah menyediakan baginya hidangan di surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)Ketiga, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ. “Barangsiapa salat jemaah dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama (takbiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.” (Hasan. HR. At-Tirmidzi no. 241. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2652)Dari ayat dan hadis di atas jelas sekali menyebutkan bahwa salat wajib lima waktu merupakan kewajiban yang harus diprioritaskan oleh seorang mukmin, terlebih di bulan Ramadan. Sehingga ketika ia mengorbankan salat wajib ini karena ibadah yang sifatnya sunah, sungguh itu merupakan kesalahan dan kezaliman di dalam beribadah. Wal’iyyadzu Billah …Maasyiral Mukminin rahimakumullah…Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini, lalu beliau memberikan nasehat yang sangat indah,“Ini adalah kesalahan besar. Seorang muslim harus lebih menjaga kewajiban dan lebih memperhatikannya, rajin melakukan apa yang Allah wajibkan, waspada dan menghindari  apa yang dilarang Allah. Dan apabila ia diberikan rezeki oleh Allah Ta’ala di dalam perihal menjaga dan  memperhatikan amalan sunah, maka ini merupakan kebaikan setelah kebaikan. Akan tetapi, kewajiban haruslah lebih ia perhatikan, seperti salat wajib, zakat, puasa Ramadan, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Kemudian haruslah dia berhati-hati dari bermalas-malasan dan bermudah-mudahan di dalam perkara yang wajib. Adapun amalan sunah, maka perkaranya lebih luas. Jika Allah mudahkan baginya untuk melakukannya, maka hendaklah ia memuji Allah Ta’ala. Adapun jika ia tidak bisa dan tidak mampu, maka tidak ada keberatan dan dosa baginya.”Terdapat sebuah hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasannya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari no. 6502)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Hadis ini menekankan bahwasanya tidak ada amalan yang lebih utama dari apa-apa yang telah Allah wajibkan kepada hambanya. Sehingga tidak masuk akal ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan suatu amalan yang mubah ataupun sunah, namun di waktu yang sama orang tersebut meremehkan yang wajib. Padahal hal ini sudah Allah Ta’ala perintahkan dan wajibkan baginya. Maka, tidaklah terwujud ketaatan kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Karena hal tersebut merupakan pembeda antara hamba yang taat dan hamba yang suka maksiat.Sedangkan amalan nawafil (sunah) tidaklah Allah Ta’ala syariatkan, kecuali sebagai pelengkap dan penyempurna ketaatan pada hal yang wajib dan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala serta bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Sunah yang Sering DitinggalkanDalil lain yang menunjukkan tentang pentingnya mendahulukan yang wajib dari yang sunah adalah hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,قيلَ للنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ و سلَّمَ : يا رَسولَ اللهِ ! إنَّ فلانةَ تقومُ اللَّيلَ و تَصومُ النَّهارَ و تفعلُ ، و تصدَّقُ ، و تُؤذي جيرانَهابلِسانِها ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليهِ و سلم لا خَيرَ فيها ، هيَ من أهلِ النَّارِ . قالوا : و فُلانةُ تصلِّي المكتوبةَ ، و تصدَّقُ بأثوارٍ ، و لا تُؤذي أحدًا ؟ فقال رسولُ اللهِ : هيَ من أهلِ الجنَّةِ“Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah rajin salat sunah malam, puasa di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, tetapi ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tiada kebaikan padanya. Dia termasuk penghuni neraka.’ Mereka bertanya lagi, ‘Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) salat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorang pun?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dia termasuk penghuni surga.’” (HR. Ahmad no. 9675 dan Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod: 119)Banyaknya perempuan tersebut di dalam melakukan amalan (sunah) tidaklah menyelamatkan dirinya dari api neraka, dikarenakan pada waktu bersamaan dia abai dan lalai dari hak-hak tetangganya (yang mana hal tersebut hukumnya wajib untuk diperhatikan). Sungguh Allah Ta’ala tidak akan mencintai seseorang yang lalai dalam perkara wajibnya walaupun amalan sunah yang ia kerjakan sangatlah banyak.Maasyiral Mukminin rahimakumullah.Sungguh miris, pengetahuan skala prioritas dalam beribadah seperti ini sangatlah tidak diperhatikan oleh kaum muslimin di zaman sekarang. Semoga Allah Ta’ala menjadikan diri kita hamba yang cerdas dalam beribadah, hamba yang mengetahui skala prioritas dalam beribadah, sehingga diri kita lebih bijak di dalam beramal, Amiin Ya Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Jumlah Minimal Jemaah Salat JumatSunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatPenulis: Muhammad Idris Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qowaidul Arba, Hadist Tentang Berjilbab, Belajar Sholat Khusyu, Menyampaikan Nasihat Melalui Ceramah Termasuk Kategori Dakwah, Mengganti Nama Dalam IslamTags: amalan sunnahfikihfikih ibadahkutbahkutbah jumatmateri kutbah jumatteks kutbah jumattema kutbah jumat
(NASIHAT RAMADAN)JANGAN SAMPAI AMALAN SUNNAHMU MELALAIKAN DARI YANG WAJIB!Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Terutama menjaga ketakwaan kita di bulan Sya’ban ini, agar nantinya diri kita siap menyambut datangnya bulan Ramadan yang mulia.Ramadan sebentar lagi akan menghampiri kita, bulan yang penuh berkah dan keutamaan, bulan di mana setiap amalan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Ta’ala, dan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dosanya dari bulan-bulan sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebutkan,المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.” (Al-Adab As-Syar’iyah, 3: 430) Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Di antaranya, firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan zalim di tanah haram Mekah, Allah Ta’ala beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kezaliman itu. Alasannya, karena orang ini melakukan kezaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia, yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 535).Baca Juga: Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanBegitu pula dengan bermaksiat di bulan Ramadan, maka dia telah melakukan dua kesalahan:Pertama, melanggar larangan Allah.Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.Sehingga dosanya lebih berat dari bermaksiat di selain bulan Ramadan.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah.Di antara keteledoran dan kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang muslim di dalam bulan Ramadan adalah salah prioritas di dalam beribadah. Entah itu karena ketidaktahuan ataupun karena terlalu semangatnya dia di dalam melakukan amalan, seringkali akhirnya orang tersebut mengorbankan dan mengalahkan ibadah yang wajib karena terlalu disibukkan dengan amalan-amalan sunah.Sering kita jumpai, mereka yang rajin melaksanakan qiyamullail dan salat tarawih, tetapi bermalas-malasan melaksanakan salat wajib lima waktu secara berjemaah di masjid. Bergadang malam di bulan Ramadan untuk membaca Al-Qur’an, namun terlewat dari salat subuh berjemaah. Tentu saja hal seperti ini adalah keliru.Sungguh banyak sekali ayat dan hadis yang menunjukkan tentang wajibnya salat lima waktu secara umum, dan tentang keutamaan salat berjemaah secara khusus. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah salatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka seluruh amalnya baik dan jika salatnya rusak, maka seluruh amalnya rusak.” (HR. Ath-Thobrani, Ash-Shahihah: 1358)Adapun hadis-hadis mengenai keutamaan salat jemaah secara khusus adalah:Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً. “Salat berjemaah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada salat sendirian.”  (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)Kedua, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ. ‘Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik di waktu pagi atau sore hari, maka Allah menyediakan baginya hidangan di surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)Ketiga, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ. “Barangsiapa salat jemaah dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama (takbiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.” (Hasan. HR. At-Tirmidzi no. 241. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2652)Dari ayat dan hadis di atas jelas sekali menyebutkan bahwa salat wajib lima waktu merupakan kewajiban yang harus diprioritaskan oleh seorang mukmin, terlebih di bulan Ramadan. Sehingga ketika ia mengorbankan salat wajib ini karena ibadah yang sifatnya sunah, sungguh itu merupakan kesalahan dan kezaliman di dalam beribadah. Wal’iyyadzu Billah …Maasyiral Mukminin rahimakumullah…Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini, lalu beliau memberikan nasehat yang sangat indah,“Ini adalah kesalahan besar. Seorang muslim harus lebih menjaga kewajiban dan lebih memperhatikannya, rajin melakukan apa yang Allah wajibkan, waspada dan menghindari  apa yang dilarang Allah. Dan apabila ia diberikan rezeki oleh Allah Ta’ala di dalam perihal menjaga dan  memperhatikan amalan sunah, maka ini merupakan kebaikan setelah kebaikan. Akan tetapi, kewajiban haruslah lebih ia perhatikan, seperti salat wajib, zakat, puasa Ramadan, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Kemudian haruslah dia berhati-hati dari bermalas-malasan dan bermudah-mudahan di dalam perkara yang wajib. Adapun amalan sunah, maka perkaranya lebih luas. Jika Allah mudahkan baginya untuk melakukannya, maka hendaklah ia memuji Allah Ta’ala. Adapun jika ia tidak bisa dan tidak mampu, maka tidak ada keberatan dan dosa baginya.”Terdapat sebuah hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasannya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari no. 6502)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Hadis ini menekankan bahwasanya tidak ada amalan yang lebih utama dari apa-apa yang telah Allah wajibkan kepada hambanya. Sehingga tidak masuk akal ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan suatu amalan yang mubah ataupun sunah, namun di waktu yang sama orang tersebut meremehkan yang wajib. Padahal hal ini sudah Allah Ta’ala perintahkan dan wajibkan baginya. Maka, tidaklah terwujud ketaatan kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Karena hal tersebut merupakan pembeda antara hamba yang taat dan hamba yang suka maksiat.Sedangkan amalan nawafil (sunah) tidaklah Allah Ta’ala syariatkan, kecuali sebagai pelengkap dan penyempurna ketaatan pada hal yang wajib dan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala serta bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Sunah yang Sering DitinggalkanDalil lain yang menunjukkan tentang pentingnya mendahulukan yang wajib dari yang sunah adalah hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,قيلَ للنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ و سلَّمَ : يا رَسولَ اللهِ ! إنَّ فلانةَ تقومُ اللَّيلَ و تَصومُ النَّهارَ و تفعلُ ، و تصدَّقُ ، و تُؤذي جيرانَهابلِسانِها ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليهِ و سلم لا خَيرَ فيها ، هيَ من أهلِ النَّارِ . قالوا : و فُلانةُ تصلِّي المكتوبةَ ، و تصدَّقُ بأثوارٍ ، و لا تُؤذي أحدًا ؟ فقال رسولُ اللهِ : هيَ من أهلِ الجنَّةِ“Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah rajin salat sunah malam, puasa di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, tetapi ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tiada kebaikan padanya. Dia termasuk penghuni neraka.’ Mereka bertanya lagi, ‘Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) salat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorang pun?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dia termasuk penghuni surga.’” (HR. Ahmad no. 9675 dan Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod: 119)Banyaknya perempuan tersebut di dalam melakukan amalan (sunah) tidaklah menyelamatkan dirinya dari api neraka, dikarenakan pada waktu bersamaan dia abai dan lalai dari hak-hak tetangganya (yang mana hal tersebut hukumnya wajib untuk diperhatikan). Sungguh Allah Ta’ala tidak akan mencintai seseorang yang lalai dalam perkara wajibnya walaupun amalan sunah yang ia kerjakan sangatlah banyak.Maasyiral Mukminin rahimakumullah.Sungguh miris, pengetahuan skala prioritas dalam beribadah seperti ini sangatlah tidak diperhatikan oleh kaum muslimin di zaman sekarang. Semoga Allah Ta’ala menjadikan diri kita hamba yang cerdas dalam beribadah, hamba yang mengetahui skala prioritas dalam beribadah, sehingga diri kita lebih bijak di dalam beramal, Amiin Ya Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Jumlah Minimal Jemaah Salat JumatSunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatPenulis: Muhammad Idris Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qowaidul Arba, Hadist Tentang Berjilbab, Belajar Sholat Khusyu, Menyampaikan Nasihat Melalui Ceramah Termasuk Kategori Dakwah, Mengganti Nama Dalam IslamTags: amalan sunnahfikihfikih ibadahkutbahkutbah jumatmateri kutbah jumatteks kutbah jumattema kutbah jumat


(NASIHAT RAMADAN)JANGAN SAMPAI AMALAN SUNNAHMU MELALAIKAN DARI YANG WAJIB!Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Terutama menjaga ketakwaan kita di bulan Sya’ban ini, agar nantinya diri kita siap menyambut datangnya bulan Ramadan yang mulia.Ramadan sebentar lagi akan menghampiri kita, bulan yang penuh berkah dan keutamaan, bulan di mana setiap amalan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Ta’ala, dan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dosanya dari bulan-bulan sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebutkan,المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.” (Al-Adab As-Syar’iyah, 3: 430) Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Di antaranya, firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan zalim di tanah haram Mekah, Allah Ta’ala beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kezaliman itu. Alasannya, karena orang ini melakukan kezaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia, yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 535).Baca Juga: Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanBegitu pula dengan bermaksiat di bulan Ramadan, maka dia telah melakukan dua kesalahan:Pertama, melanggar larangan Allah.Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.Sehingga dosanya lebih berat dari bermaksiat di selain bulan Ramadan.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah.Di antara keteledoran dan kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang muslim di dalam bulan Ramadan adalah salah prioritas di dalam beribadah. Entah itu karena ketidaktahuan ataupun karena terlalu semangatnya dia di dalam melakukan amalan, seringkali akhirnya orang tersebut mengorbankan dan mengalahkan ibadah yang wajib karena terlalu disibukkan dengan amalan-amalan sunah.Sering kita jumpai, mereka yang rajin melaksanakan qiyamullail dan salat tarawih, tetapi bermalas-malasan melaksanakan salat wajib lima waktu secara berjemaah di masjid. Bergadang malam di bulan Ramadan untuk membaca Al-Qur’an, namun terlewat dari salat subuh berjemaah. Tentu saja hal seperti ini adalah keliru.Sungguh banyak sekali ayat dan hadis yang menunjukkan tentang wajibnya salat lima waktu secara umum, dan tentang keutamaan salat berjemaah secara khusus. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah salatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka seluruh amalnya baik dan jika salatnya rusak, maka seluruh amalnya rusak.” (HR. Ath-Thobrani, Ash-Shahihah: 1358)Adapun hadis-hadis mengenai keutamaan salat jemaah secara khusus adalah:Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً. “Salat berjemaah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada salat sendirian.”  (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)Kedua, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ. ‘Barangsiapa pergi (berangkat) ke masjid baik di waktu pagi atau sore hari, maka Allah menyediakan baginya hidangan di surga setiap kali ia berangkat di waktu pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)Ketiga, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ. “Barangsiapa salat jemaah dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama (takbiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.” (Hasan. HR. At-Tirmidzi no. 241. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2652)Dari ayat dan hadis di atas jelas sekali menyebutkan bahwa salat wajib lima waktu merupakan kewajiban yang harus diprioritaskan oleh seorang mukmin, terlebih di bulan Ramadan. Sehingga ketika ia mengorbankan salat wajib ini karena ibadah yang sifatnya sunah, sungguh itu merupakan kesalahan dan kezaliman di dalam beribadah. Wal’iyyadzu Billah …Maasyiral Mukminin rahimakumullah…Syekh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini, lalu beliau memberikan nasehat yang sangat indah,“Ini adalah kesalahan besar. Seorang muslim harus lebih menjaga kewajiban dan lebih memperhatikannya, rajin melakukan apa yang Allah wajibkan, waspada dan menghindari  apa yang dilarang Allah. Dan apabila ia diberikan rezeki oleh Allah Ta’ala di dalam perihal menjaga dan  memperhatikan amalan sunah, maka ini merupakan kebaikan setelah kebaikan. Akan tetapi, kewajiban haruslah lebih ia perhatikan, seperti salat wajib, zakat, puasa Ramadan, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Kemudian haruslah dia berhati-hati dari bermalas-malasan dan bermudah-mudahan di dalam perkara yang wajib. Adapun amalan sunah, maka perkaranya lebih luas. Jika Allah mudahkan baginya untuk melakukannya, maka hendaklah ia memuji Allah Ta’ala. Adapun jika ia tidak bisa dan tidak mampu, maka tidak ada keberatan dan dosa baginya.”Terdapat sebuah hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasannya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari no. 6502)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Hadis ini menekankan bahwasanya tidak ada amalan yang lebih utama dari apa-apa yang telah Allah wajibkan kepada hambanya. Sehingga tidak masuk akal ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan suatu amalan yang mubah ataupun sunah, namun di waktu yang sama orang tersebut meremehkan yang wajib. Padahal hal ini sudah Allah Ta’ala perintahkan dan wajibkan baginya. Maka, tidaklah terwujud ketaatan kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Karena hal tersebut merupakan pembeda antara hamba yang taat dan hamba yang suka maksiat.Sedangkan amalan nawafil (sunah) tidaklah Allah Ta’ala syariatkan, kecuali sebagai pelengkap dan penyempurna ketaatan pada hal yang wajib dan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala serta bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Sunah yang Sering DitinggalkanDalil lain yang menunjukkan tentang pentingnya mendahulukan yang wajib dari yang sunah adalah hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,قيلَ للنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ و سلَّمَ : يا رَسولَ اللهِ ! إنَّ فلانةَ تقومُ اللَّيلَ و تَصومُ النَّهارَ و تفعلُ ، و تصدَّقُ ، و تُؤذي جيرانَهابلِسانِها ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليهِ و سلم لا خَيرَ فيها ، هيَ من أهلِ النَّارِ . قالوا : و فُلانةُ تصلِّي المكتوبةَ ، و تصدَّقُ بأثوارٍ ، و لا تُؤذي أحدًا ؟ فقال رسولُ اللهِ : هيَ من أهلِ الجنَّةِ“Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah rajin salat sunah malam, puasa di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, tetapi ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tiada kebaikan padanya. Dia termasuk penghuni neraka.’ Mereka bertanya lagi, ‘Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) salat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorang pun?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dia termasuk penghuni surga.’” (HR. Ahmad no. 9675 dan Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod: 119)Banyaknya perempuan tersebut di dalam melakukan amalan (sunah) tidaklah menyelamatkan dirinya dari api neraka, dikarenakan pada waktu bersamaan dia abai dan lalai dari hak-hak tetangganya (yang mana hal tersebut hukumnya wajib untuk diperhatikan). Sungguh Allah Ta’ala tidak akan mencintai seseorang yang lalai dalam perkara wajibnya walaupun amalan sunah yang ia kerjakan sangatlah banyak.Maasyiral Mukminin rahimakumullah.Sungguh miris, pengetahuan skala prioritas dalam beribadah seperti ini sangatlah tidak diperhatikan oleh kaum muslimin di zaman sekarang. Semoga Allah Ta’ala menjadikan diri kita hamba yang cerdas dalam beribadah, hamba yang mengetahui skala prioritas dalam beribadah, sehingga diri kita lebih bijak di dalam beramal, Amiin Ya Rabbal Aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Jumlah Minimal Jemaah Salat JumatSunnah Menghadapkan Wajah ke Arah Khatib Shalat JumatPenulis: Muhammad Idris Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qowaidul Arba, Hadist Tentang Berjilbab, Belajar Sholat Khusyu, Menyampaikan Nasihat Melalui Ceramah Termasuk Kategori Dakwah, Mengganti Nama Dalam IslamTags: amalan sunnahfikihfikih ibadahkutbahkutbah jumatmateri kutbah jumatteks kutbah jumattema kutbah jumat

Tauhid, Fitrah Seluruh Manusia

Terkadang terbesit satu pertanyaan pada diri seseorang, “Mengapa Allah Ta’ala tidak menciptakan seluruh manusia dalam keadaan muslim? Mengapa Allah Ta’ala menciptakan mereka, sedangkan Dia mengetahui bahwasanya mereka akan mengingkari dan kufur terhadap-Nya?”Perlu kita ketahui dan kita perhatikan, pentingnya dan wajibnya kita beradab kepada Allah Ta’ala. Karena sejatinya, tidak ada yang menjadi kewajiban bagi Allah untuk Dia tunaikan dan lakukan terhadap hamba-hamba-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Sehingga kita tidak boleh menanyakan dan mengatakan “mengapa” terhadap apa-apa yang diperbuat oleh Allah Ta’ala. Karena Dialah Zat Mahakuasa yang melakukan apapun yang Dia kehendaki. Tidak boleh menghakimi keputusan-Nya. Tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya. Tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan. Allah Ta’ala berfirman,لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’: 23)وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُود ، ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ ، فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapengasih, yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj 14-16)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاللّٰهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهٖۗ وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dia Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Daftar Isi sembunyikan 1. Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’ala 2. Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir? Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’alaSetelah mengetahui bahwa di antara adab kepada Allah Ta’ala adalah tidak boleh menghakimi keputusan-Nya, tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya, dan tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan, maka wajib untuk kita ketahui bahwasanya Allah Ta’ala memberikan fitrah kepada manusia dan menciptakan mereka agar hanya menyembah kepada-Nya serta mentauhidkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰه“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia barada di atas (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Makna (Al-Fithrah) adalah agama Islam sebagaimana tafsir dari Mujahid (Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 20/97).Di dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan, “Dan teguhlah di atas agama Islam. Ia merupakan agama Allah yang manusia diciptakan Allah dengan agama Islam sejak kelahiran mereka. Maka, janganlah merubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya itu. Namun, teguhlah di atas agama yang agung dan jalan yang dapat mengantarkan kepada keridaan Allah. Akan tetapi, mayoritas hamba tidak mengetahui keagungan agama yang benar ini.”Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)As-Sa’di Rahimahullah di dalam tafsirnya berkata, “Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Dan Allah mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah. Sebab kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Dan Allah menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah.”Bahkan, semenjak masih menjadi janin, sejatinya seluruh manusia telah bersaksi bahwa Allah Ta’ala adalah sesembahan satu-satunya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).’” (QS. Al-A’raf: 172)Oleh sebab itu, setiap manusia yang lahir, maka dia lahir dalam keadaan Islam, mengenal Allah Rabb semesta alam, dan mengakui-Nya sebagai sesembahannya.Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir?Saat Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh janin dengan kondisi mereka telah menjadi muslim, lalu bagaimana bisa ada orang yang kafir?Di dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (Islam) semuanya. Kemudian setan datang. Lalu memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangannya.” (HR. Muslim no. 2865)Allah Ta’ala mengabarkan dalam hadis qudsi ini bahwa kita pada asalnya diciptakan dalam keadaan hunafa’. Makna (hunafa’) adalah dalam keadaan Islam sebagaimana penjelasan An-Nawawi Rahimahullah (lihat Syarh Shahih Muslim, 9: 247). Kemudian setan dari kalangan jin dan manusialah yang menjadikan manusia berubah fitrahnya.Di antara faktor terbesar yang menjadikan seorang manusia itu menjadi kafir adalah orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau menjadikannya Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)Maksudnya, hewan ternak itu semula lahir dalam keadaan sehat tanpa cacat. Kemudian setelah lahir, terjadi perubahan, telinganya putus karena dipotong oleh manusia. Demikian pula manusia, ia terlahir dalam keadaan fitrah, tetapi karena keadaan orang tuanyalah atau karena pola pendidikan orang tuanyalah hingga terjadi perubahan pada diri anak manusia yang tidak sesuai dengan fitrahnya.Orang tua yang Yahudi, Nasrani, atau Majusi akan dapat mengubah anaknya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bukan itu saja, bahkan orang tua yang muslim pun akan dapat mengubah fitrah buah hatinya dari Islam menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau minimal berkarakter seperti Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Kenapa bisa begitu?Lemahnya keislaman orang tua, serta ketidakmampuan mereka di dalam mendidik dan mengarahkan anaknyalah yang akan menyebabkan perubahan fitrah seorang anak. Dan hal itu akan berpengaruh besar bagi perkembangan negatif fitrah anak-anaknya.Orang tua yang demikian tidak pernah peduli terhadap pendidikan Islam anak-anaknya. Jangankan berpikir tentang pendidikan keislaman anaknya, untuk berpikir tentang keislaman dirinya sendiri pun tidak peduli.Tidak heran jika mereka menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada orang atau lembaga yang cita-cita tertingginya adalah sukses duniawi. Bukan membentuk anak saleh atau salehah yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpikir tentang sukses akhirat. Padahal Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir Rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Penjagaan terhadap diri dan keluarga dari siksa api neraka adalah dengan memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik kepada keluarga termasuk putra-putrinya.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan kita di atas fitrah yang lurus, memberikan kita kekuatan di dalam beribadah dan bertauhid kepada-Nya, serta menjaga seluruh keluarga kita dan anak cucu kita di dalam kalimat tauhid. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian TauhidPenulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Kitab Tafsir Al-Madinah Al-MunawwarahKitab Tafsir As-Sa’di karya Syekh As-Sa’diKitab Tafsirul Qur’an Al-Adziim karya Imam Ibnu KatsirFatawa As-Syabakiyyah Al-Islamiyyah🔍 Imam Muslim, Tauhid Dibagi 3, Fatamorgana Dunia, Kata Kata Maksiat, Azab Penyebar FitnahTags: Aqidahaqidah islamfitrah manusiaIndonesia bertauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampengertian tauhidTauhid

Tauhid, Fitrah Seluruh Manusia

Terkadang terbesit satu pertanyaan pada diri seseorang, “Mengapa Allah Ta’ala tidak menciptakan seluruh manusia dalam keadaan muslim? Mengapa Allah Ta’ala menciptakan mereka, sedangkan Dia mengetahui bahwasanya mereka akan mengingkari dan kufur terhadap-Nya?”Perlu kita ketahui dan kita perhatikan, pentingnya dan wajibnya kita beradab kepada Allah Ta’ala. Karena sejatinya, tidak ada yang menjadi kewajiban bagi Allah untuk Dia tunaikan dan lakukan terhadap hamba-hamba-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Sehingga kita tidak boleh menanyakan dan mengatakan “mengapa” terhadap apa-apa yang diperbuat oleh Allah Ta’ala. Karena Dialah Zat Mahakuasa yang melakukan apapun yang Dia kehendaki. Tidak boleh menghakimi keputusan-Nya. Tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya. Tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan. Allah Ta’ala berfirman,لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’: 23)وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُود ، ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ ، فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapengasih, yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj 14-16)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاللّٰهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهٖۗ وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dia Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Daftar Isi sembunyikan 1. Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’ala 2. Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir? Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’alaSetelah mengetahui bahwa di antara adab kepada Allah Ta’ala adalah tidak boleh menghakimi keputusan-Nya, tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya, dan tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan, maka wajib untuk kita ketahui bahwasanya Allah Ta’ala memberikan fitrah kepada manusia dan menciptakan mereka agar hanya menyembah kepada-Nya serta mentauhidkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰه“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia barada di atas (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Makna (Al-Fithrah) adalah agama Islam sebagaimana tafsir dari Mujahid (Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 20/97).Di dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan, “Dan teguhlah di atas agama Islam. Ia merupakan agama Allah yang manusia diciptakan Allah dengan agama Islam sejak kelahiran mereka. Maka, janganlah merubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya itu. Namun, teguhlah di atas agama yang agung dan jalan yang dapat mengantarkan kepada keridaan Allah. Akan tetapi, mayoritas hamba tidak mengetahui keagungan agama yang benar ini.”Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)As-Sa’di Rahimahullah di dalam tafsirnya berkata, “Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Dan Allah mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah. Sebab kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Dan Allah menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah.”Bahkan, semenjak masih menjadi janin, sejatinya seluruh manusia telah bersaksi bahwa Allah Ta’ala adalah sesembahan satu-satunya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).’” (QS. Al-A’raf: 172)Oleh sebab itu, setiap manusia yang lahir, maka dia lahir dalam keadaan Islam, mengenal Allah Rabb semesta alam, dan mengakui-Nya sebagai sesembahannya.Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir?Saat Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh janin dengan kondisi mereka telah menjadi muslim, lalu bagaimana bisa ada orang yang kafir?Di dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (Islam) semuanya. Kemudian setan datang. Lalu memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangannya.” (HR. Muslim no. 2865)Allah Ta’ala mengabarkan dalam hadis qudsi ini bahwa kita pada asalnya diciptakan dalam keadaan hunafa’. Makna (hunafa’) adalah dalam keadaan Islam sebagaimana penjelasan An-Nawawi Rahimahullah (lihat Syarh Shahih Muslim, 9: 247). Kemudian setan dari kalangan jin dan manusialah yang menjadikan manusia berubah fitrahnya.Di antara faktor terbesar yang menjadikan seorang manusia itu menjadi kafir adalah orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau menjadikannya Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)Maksudnya, hewan ternak itu semula lahir dalam keadaan sehat tanpa cacat. Kemudian setelah lahir, terjadi perubahan, telinganya putus karena dipotong oleh manusia. Demikian pula manusia, ia terlahir dalam keadaan fitrah, tetapi karena keadaan orang tuanyalah atau karena pola pendidikan orang tuanyalah hingga terjadi perubahan pada diri anak manusia yang tidak sesuai dengan fitrahnya.Orang tua yang Yahudi, Nasrani, atau Majusi akan dapat mengubah anaknya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bukan itu saja, bahkan orang tua yang muslim pun akan dapat mengubah fitrah buah hatinya dari Islam menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau minimal berkarakter seperti Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Kenapa bisa begitu?Lemahnya keislaman orang tua, serta ketidakmampuan mereka di dalam mendidik dan mengarahkan anaknyalah yang akan menyebabkan perubahan fitrah seorang anak. Dan hal itu akan berpengaruh besar bagi perkembangan negatif fitrah anak-anaknya.Orang tua yang demikian tidak pernah peduli terhadap pendidikan Islam anak-anaknya. Jangankan berpikir tentang pendidikan keislaman anaknya, untuk berpikir tentang keislaman dirinya sendiri pun tidak peduli.Tidak heran jika mereka menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada orang atau lembaga yang cita-cita tertingginya adalah sukses duniawi. Bukan membentuk anak saleh atau salehah yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpikir tentang sukses akhirat. Padahal Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir Rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Penjagaan terhadap diri dan keluarga dari siksa api neraka adalah dengan memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik kepada keluarga termasuk putra-putrinya.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan kita di atas fitrah yang lurus, memberikan kita kekuatan di dalam beribadah dan bertauhid kepada-Nya, serta menjaga seluruh keluarga kita dan anak cucu kita di dalam kalimat tauhid. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian TauhidPenulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Kitab Tafsir Al-Madinah Al-MunawwarahKitab Tafsir As-Sa’di karya Syekh As-Sa’diKitab Tafsirul Qur’an Al-Adziim karya Imam Ibnu KatsirFatawa As-Syabakiyyah Al-Islamiyyah🔍 Imam Muslim, Tauhid Dibagi 3, Fatamorgana Dunia, Kata Kata Maksiat, Azab Penyebar FitnahTags: Aqidahaqidah islamfitrah manusiaIndonesia bertauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampengertian tauhidTauhid
Terkadang terbesit satu pertanyaan pada diri seseorang, “Mengapa Allah Ta’ala tidak menciptakan seluruh manusia dalam keadaan muslim? Mengapa Allah Ta’ala menciptakan mereka, sedangkan Dia mengetahui bahwasanya mereka akan mengingkari dan kufur terhadap-Nya?”Perlu kita ketahui dan kita perhatikan, pentingnya dan wajibnya kita beradab kepada Allah Ta’ala. Karena sejatinya, tidak ada yang menjadi kewajiban bagi Allah untuk Dia tunaikan dan lakukan terhadap hamba-hamba-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Sehingga kita tidak boleh menanyakan dan mengatakan “mengapa” terhadap apa-apa yang diperbuat oleh Allah Ta’ala. Karena Dialah Zat Mahakuasa yang melakukan apapun yang Dia kehendaki. Tidak boleh menghakimi keputusan-Nya. Tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya. Tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan. Allah Ta’ala berfirman,لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’: 23)وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُود ، ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ ، فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapengasih, yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj 14-16)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاللّٰهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهٖۗ وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dia Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Daftar Isi sembunyikan 1. Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’ala 2. Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir? Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’alaSetelah mengetahui bahwa di antara adab kepada Allah Ta’ala adalah tidak boleh menghakimi keputusan-Nya, tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya, dan tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan, maka wajib untuk kita ketahui bahwasanya Allah Ta’ala memberikan fitrah kepada manusia dan menciptakan mereka agar hanya menyembah kepada-Nya serta mentauhidkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰه“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia barada di atas (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Makna (Al-Fithrah) adalah agama Islam sebagaimana tafsir dari Mujahid (Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 20/97).Di dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan, “Dan teguhlah di atas agama Islam. Ia merupakan agama Allah yang manusia diciptakan Allah dengan agama Islam sejak kelahiran mereka. Maka, janganlah merubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya itu. Namun, teguhlah di atas agama yang agung dan jalan yang dapat mengantarkan kepada keridaan Allah. Akan tetapi, mayoritas hamba tidak mengetahui keagungan agama yang benar ini.”Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)As-Sa’di Rahimahullah di dalam tafsirnya berkata, “Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Dan Allah mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah. Sebab kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Dan Allah menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah.”Bahkan, semenjak masih menjadi janin, sejatinya seluruh manusia telah bersaksi bahwa Allah Ta’ala adalah sesembahan satu-satunya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).’” (QS. Al-A’raf: 172)Oleh sebab itu, setiap manusia yang lahir, maka dia lahir dalam keadaan Islam, mengenal Allah Rabb semesta alam, dan mengakui-Nya sebagai sesembahannya.Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir?Saat Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh janin dengan kondisi mereka telah menjadi muslim, lalu bagaimana bisa ada orang yang kafir?Di dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (Islam) semuanya. Kemudian setan datang. Lalu memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangannya.” (HR. Muslim no. 2865)Allah Ta’ala mengabarkan dalam hadis qudsi ini bahwa kita pada asalnya diciptakan dalam keadaan hunafa’. Makna (hunafa’) adalah dalam keadaan Islam sebagaimana penjelasan An-Nawawi Rahimahullah (lihat Syarh Shahih Muslim, 9: 247). Kemudian setan dari kalangan jin dan manusialah yang menjadikan manusia berubah fitrahnya.Di antara faktor terbesar yang menjadikan seorang manusia itu menjadi kafir adalah orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau menjadikannya Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)Maksudnya, hewan ternak itu semula lahir dalam keadaan sehat tanpa cacat. Kemudian setelah lahir, terjadi perubahan, telinganya putus karena dipotong oleh manusia. Demikian pula manusia, ia terlahir dalam keadaan fitrah, tetapi karena keadaan orang tuanyalah atau karena pola pendidikan orang tuanyalah hingga terjadi perubahan pada diri anak manusia yang tidak sesuai dengan fitrahnya.Orang tua yang Yahudi, Nasrani, atau Majusi akan dapat mengubah anaknya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bukan itu saja, bahkan orang tua yang muslim pun akan dapat mengubah fitrah buah hatinya dari Islam menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau minimal berkarakter seperti Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Kenapa bisa begitu?Lemahnya keislaman orang tua, serta ketidakmampuan mereka di dalam mendidik dan mengarahkan anaknyalah yang akan menyebabkan perubahan fitrah seorang anak. Dan hal itu akan berpengaruh besar bagi perkembangan negatif fitrah anak-anaknya.Orang tua yang demikian tidak pernah peduli terhadap pendidikan Islam anak-anaknya. Jangankan berpikir tentang pendidikan keislaman anaknya, untuk berpikir tentang keislaman dirinya sendiri pun tidak peduli.Tidak heran jika mereka menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada orang atau lembaga yang cita-cita tertingginya adalah sukses duniawi. Bukan membentuk anak saleh atau salehah yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpikir tentang sukses akhirat. Padahal Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir Rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Penjagaan terhadap diri dan keluarga dari siksa api neraka adalah dengan memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik kepada keluarga termasuk putra-putrinya.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan kita di atas fitrah yang lurus, memberikan kita kekuatan di dalam beribadah dan bertauhid kepada-Nya, serta menjaga seluruh keluarga kita dan anak cucu kita di dalam kalimat tauhid. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian TauhidPenulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Kitab Tafsir Al-Madinah Al-MunawwarahKitab Tafsir As-Sa’di karya Syekh As-Sa’diKitab Tafsirul Qur’an Al-Adziim karya Imam Ibnu KatsirFatawa As-Syabakiyyah Al-Islamiyyah🔍 Imam Muslim, Tauhid Dibagi 3, Fatamorgana Dunia, Kata Kata Maksiat, Azab Penyebar FitnahTags: Aqidahaqidah islamfitrah manusiaIndonesia bertauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampengertian tauhidTauhid


Terkadang terbesit satu pertanyaan pada diri seseorang, “Mengapa Allah Ta’ala tidak menciptakan seluruh manusia dalam keadaan muslim? Mengapa Allah Ta’ala menciptakan mereka, sedangkan Dia mengetahui bahwasanya mereka akan mengingkari dan kufur terhadap-Nya?”Perlu kita ketahui dan kita perhatikan, pentingnya dan wajibnya kita beradab kepada Allah Ta’ala. Karena sejatinya, tidak ada yang menjadi kewajiban bagi Allah untuk Dia tunaikan dan lakukan terhadap hamba-hamba-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Sehingga kita tidak boleh menanyakan dan mengatakan “mengapa” terhadap apa-apa yang diperbuat oleh Allah Ta’ala. Karena Dialah Zat Mahakuasa yang melakukan apapun yang Dia kehendaki. Tidak boleh menghakimi keputusan-Nya. Tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya. Tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan. Allah Ta’ala berfirman,لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’: 23)وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُود ، ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ ، فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapengasih, yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj 14-16)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاللّٰهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهٖۗ وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dia Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Daftar Isi sembunyikan 1. Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’ala 2. Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir? Fitrah Manusia adalah Beribadah dan Mentauhidkan Allah Ta’alaSetelah mengetahui bahwa di antara adab kepada Allah Ta’ala adalah tidak boleh menghakimi keputusan-Nya, tidak boleh menghalangi ketetapan-Nya, dan tidak boleh bertanya tentang apa yang Dia lakukan, maka wajib untuk kita ketahui bahwasanya Allah Ta’ala memberikan fitrah kepada manusia dan menciptakan mereka agar hanya menyembah kepada-Nya serta mentauhidkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰه“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia barada di atas (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Makna (Al-Fithrah) adalah agama Islam sebagaimana tafsir dari Mujahid (Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 20/97).Di dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan, “Dan teguhlah di atas agama Islam. Ia merupakan agama Allah yang manusia diciptakan Allah dengan agama Islam sejak kelahiran mereka. Maka, janganlah merubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya itu. Namun, teguhlah di atas agama yang agung dan jalan yang dapat mengantarkan kepada keridaan Allah. Akan tetapi, mayoritas hamba tidak mengetahui keagungan agama yang benar ini.”Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)As-Sa’di Rahimahullah di dalam tafsirnya berkata, “Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Dan Allah mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Semua tujuan itu tergantung pada ilmu tentang Allah. Sebab kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Dan Allah menciptakan mereka bukan karena mereka diperlukan oleh Allah.”Bahkan, semenjak masih menjadi janin, sejatinya seluruh manusia telah bersaksi bahwa Allah Ta’ala adalah sesembahan satu-satunya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).’” (QS. Al-A’raf: 172)Oleh sebab itu, setiap manusia yang lahir, maka dia lahir dalam keadaan Islam, mengenal Allah Rabb semesta alam, dan mengakui-Nya sebagai sesembahannya.Lalu Apa yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir?Saat Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh janin dengan kondisi mereka telah menjadi muslim, lalu bagaimana bisa ada orang yang kafir?Di dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (Islam) semuanya. Kemudian setan datang. Lalu memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangannya.” (HR. Muslim no. 2865)Allah Ta’ala mengabarkan dalam hadis qudsi ini bahwa kita pada asalnya diciptakan dalam keadaan hunafa’. Makna (hunafa’) adalah dalam keadaan Islam sebagaimana penjelasan An-Nawawi Rahimahullah (lihat Syarh Shahih Muslim, 9: 247). Kemudian setan dari kalangan jin dan manusialah yang menjadikan manusia berubah fitrahnya.Di antara faktor terbesar yang menjadikan seorang manusia itu menjadi kafir adalah orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau menjadikannya Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)Maksudnya, hewan ternak itu semula lahir dalam keadaan sehat tanpa cacat. Kemudian setelah lahir, terjadi perubahan, telinganya putus karena dipotong oleh manusia. Demikian pula manusia, ia terlahir dalam keadaan fitrah, tetapi karena keadaan orang tuanyalah atau karena pola pendidikan orang tuanyalah hingga terjadi perubahan pada diri anak manusia yang tidak sesuai dengan fitrahnya.Orang tua yang Yahudi, Nasrani, atau Majusi akan dapat mengubah anaknya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bukan itu saja, bahkan orang tua yang muslim pun akan dapat mengubah fitrah buah hatinya dari Islam menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau minimal berkarakter seperti Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Kenapa bisa begitu?Lemahnya keislaman orang tua, serta ketidakmampuan mereka di dalam mendidik dan mengarahkan anaknyalah yang akan menyebabkan perubahan fitrah seorang anak. Dan hal itu akan berpengaruh besar bagi perkembangan negatif fitrah anak-anaknya.Orang tua yang demikian tidak pernah peduli terhadap pendidikan Islam anak-anaknya. Jangankan berpikir tentang pendidikan keislaman anaknya, untuk berpikir tentang keislaman dirinya sendiri pun tidak peduli.Tidak heran jika mereka menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada orang atau lembaga yang cita-cita tertingginya adalah sukses duniawi. Bukan membentuk anak saleh atau salehah yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpikir tentang sukses akhirat. Padahal Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir Rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Penjagaan terhadap diri dan keluarga dari siksa api neraka adalah dengan memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik kepada keluarga termasuk putra-putrinya.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan kita di atas fitrah yang lurus, memberikan kita kekuatan di dalam beribadah dan bertauhid kepada-Nya, serta menjaga seluruh keluarga kita dan anak cucu kita di dalam kalimat tauhid. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian TauhidPenulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Kitab Tafsir Al-Madinah Al-MunawwarahKitab Tafsir As-Sa’di karya Syekh As-Sa’diKitab Tafsirul Qur’an Al-Adziim karya Imam Ibnu KatsirFatawa As-Syabakiyyah Al-Islamiyyah🔍 Imam Muslim, Tauhid Dibagi 3, Fatamorgana Dunia, Kata Kata Maksiat, Azab Penyebar FitnahTags: Aqidahaqidah islamfitrah manusiaIndonesia bertauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampengertian tauhidTauhid

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 14): Muliakan Ulama

Baca pembahasan sebelumnya pada artikel Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 13): Hafalkan, Diskusikan, dan Bertanyalah Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil memuliakan ulama 2. Contoh adab memuliakan ulama 3. Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru Bismillah…Ulama itu ibarat ayah untuk ruh, seperti bapak adalah ayah untuk jasmani. Sebagaimana dikatakan oleh ulama kita,الشيخ أب للروح كما أن الوالد أب للجسد“Ulama/guru/ustadz adalah ayah untuk ruh, sebagaimana bapak adalah ayah untuk jasad.”Sebagaimana kita wajib menghormati ayah kandung, demikian pula para ustaz, kyai, atau ulama yang telah mengajarkan ilmu kepada kita juga harus dihormati.Kita simak bagaimana keteladanan para ulama dalam menghormati guru mereka. Kita coba resapi ungkapan Syu’bah bin Hajaj Rahimahullah ini,كل من سمعت مته حديثا فأنا له عبد “Siapa pun yang pernah aku dengarkan hadis darinya, maka aku adalah budaknya.”Dalil memuliakan ulamaMuhammad bin Ali Al-Udfuwi Rahimahullah mengungkap sebuah ayat yang mendasari ucapan Syu’bah Rahimahullah di atas,إذا تعلم الإنسان من العالم واستفاد منه الفوائد فهو له عبد، قال تعالى (وإذ قال موسى لفتاه)، وهو يوشع بن نون، ولم يكن مملوكا له، وإنما كان متلمذا له متبعا له، فجعله الله فتاه لذلك“Bila seorang belajar kepada seorang berilmu (alim), lalu dia mendapat manfaat dari ilmunya, maka dia adalah budak bagi orang alim itu. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ‘Ingatlah ketika Musa berkata kepada budaknya‘ (QS. Al-Kahfi : 60).Budak yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun. Padahal sebenarnya Yusya’ bukanlah budaknya Musa. Sejatinya beliau adalah murid dan pengikut setia Musa. Namun, ternyata Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa.”Kita semua mengenal siapakah Yusya’ bin Nun ‘Alaihissalam. Beliau juga nabi sebagaimana Musa ‘Alaihissalam. Meskipun beliau juga nabi, saat beliau berguru kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa ‘Alaihissalam. Beliau yang nabi saja seperti itu kedudukannya di hadapan gurunya, bagaimana lagi kita orang yang bukan nabi dan bukan orang saleh? Wallahu a’lam. Oleh karena itu, kita lebih butuh lagi untuk memuliakan para guru dan ulama kita.Islam secara tegas memerintahkan kita memuliakan para ulama. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis dari sahabat Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه“Bukan termasuk umatku, siapa saja yang tidak mengormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, atau tidak tahu hak-hak para alim ulamanya umat kami.”Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaContoh adab memuliakan ulamaPertama, berperilaku tawadu’ (rendah hati) di depannya.Kedua, memperhatikan dan mendengarkan petuahnya.Ketiga, perhatian kepadanya.Keempat, berbicara santun dan sopan saat mengobrol dengannya.Kelima, mengharumkan nama guru saat bercerita tentangnya dengan pemuliaan yang wajar kepada guru yang juga manusia.Keenam, berterima kasih atau merasa berhutang budi karena ilmu yang telah beliau ajarkan.Ketujuh, tidak menampakkan ketidaktertarikan pada kajian atau nasihat-nasihatnya.Kedelapan, berhati-hati dengan tidak menyakiti beliau, baik dengan ucapan ataupun perbuatan.Kesembilan, mengingatkan beliau jika salah dengan cara yang santun dan lembut.Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guruMurid juga perlu mengingatkan gurunya dengan cara yang santun dan lembut jika gurunya melakukan kesalahan. Hal ini karena beliau juga manusia, walaupun setinggi apapun ilmu dan ketakwaannya. Manusia adalah tempatnya salah dan aib. Ada saatnya juga guru itu berbuat salah. Sebagaimana murid juga bisa berbuat salah.Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah menerangkan ada enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru/ustaz, yakni:Pertama, tabayun atau mencari penjelasan apakah benar sang guru melakukan kesalahan tersebut.Kedua, berikutnya mencari penjelasan apakah benar kesalahan tersebut benar-benar tepat dinilai sebagai kesalahan. Bisa jadi sebab kesalahan yang dituduhkan adalah karena salah paham. Padahal apa yang dituduhkan kepada sang guru sejatinya bukan kekeliruan. Seperti kata penyair,وكم من عائب قولا صحيحا    #    وآفاته من الفهم السقيم“Betapa banyak orang menyalahkan ucapan yang benar, sebabnya hanya salah paham.”Cara tabayun langkah ke dua ini adalah dengan bertanya kepada ustaz yang lain atau orang yang dipandang berilmu. Karena hanya orang berilmu yang tahu apakah kesalahan yang dituduhkan adalah benar kesalahan ataukah tidak.Ketiga, tetap kita katakan salah jika guru terbukti melakukan kesalahan, meskipun yang melakukan adalah orang yang sangat kita hormati dan kita pandang berilmu.Keempat, berusaha keras mencari alasan untuk berpikir positif.Kelima, menyampaikan masukan dengan cara yang santun dan lembut. Jangan bersikap dan berkata kasar, apalagi memviralkan ketergelinciran guru.Keenam, tidak merendahkan nama baik guru, walaupun guru telah terjatuh pada kesalahan. Tetap jagalah nama baiknya di hadapan kaum muslimin. Agar kebaikan yang beliau dakwahkan tetap bermanfaat untuk masyarakat luas.Sekian penjelasan dari kami. Wallahul muwaffiq, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kami dan pembaca sekalian untuk dapat memuliakan guru dan ulama.Baca Juga:Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahPenuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk Belajar***Referensi :Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah.Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Adab Bertamu, Keutamaan Sahur, Pertanyaan Tentang Jual Beli Dan Riba, Adab Berbicara Wanita Muslimah, Niat Dan Tata Cara TayamumTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 14): Muliakan Ulama

Baca pembahasan sebelumnya pada artikel Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 13): Hafalkan, Diskusikan, dan Bertanyalah Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil memuliakan ulama 2. Contoh adab memuliakan ulama 3. Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru Bismillah…Ulama itu ibarat ayah untuk ruh, seperti bapak adalah ayah untuk jasmani. Sebagaimana dikatakan oleh ulama kita,الشيخ أب للروح كما أن الوالد أب للجسد“Ulama/guru/ustadz adalah ayah untuk ruh, sebagaimana bapak adalah ayah untuk jasad.”Sebagaimana kita wajib menghormati ayah kandung, demikian pula para ustaz, kyai, atau ulama yang telah mengajarkan ilmu kepada kita juga harus dihormati.Kita simak bagaimana keteladanan para ulama dalam menghormati guru mereka. Kita coba resapi ungkapan Syu’bah bin Hajaj Rahimahullah ini,كل من سمعت مته حديثا فأنا له عبد “Siapa pun yang pernah aku dengarkan hadis darinya, maka aku adalah budaknya.”Dalil memuliakan ulamaMuhammad bin Ali Al-Udfuwi Rahimahullah mengungkap sebuah ayat yang mendasari ucapan Syu’bah Rahimahullah di atas,إذا تعلم الإنسان من العالم واستفاد منه الفوائد فهو له عبد، قال تعالى (وإذ قال موسى لفتاه)، وهو يوشع بن نون، ولم يكن مملوكا له، وإنما كان متلمذا له متبعا له، فجعله الله فتاه لذلك“Bila seorang belajar kepada seorang berilmu (alim), lalu dia mendapat manfaat dari ilmunya, maka dia adalah budak bagi orang alim itu. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ‘Ingatlah ketika Musa berkata kepada budaknya‘ (QS. Al-Kahfi : 60).Budak yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun. Padahal sebenarnya Yusya’ bukanlah budaknya Musa. Sejatinya beliau adalah murid dan pengikut setia Musa. Namun, ternyata Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa.”Kita semua mengenal siapakah Yusya’ bin Nun ‘Alaihissalam. Beliau juga nabi sebagaimana Musa ‘Alaihissalam. Meskipun beliau juga nabi, saat beliau berguru kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa ‘Alaihissalam. Beliau yang nabi saja seperti itu kedudukannya di hadapan gurunya, bagaimana lagi kita orang yang bukan nabi dan bukan orang saleh? Wallahu a’lam. Oleh karena itu, kita lebih butuh lagi untuk memuliakan para guru dan ulama kita.Islam secara tegas memerintahkan kita memuliakan para ulama. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis dari sahabat Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه“Bukan termasuk umatku, siapa saja yang tidak mengormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, atau tidak tahu hak-hak para alim ulamanya umat kami.”Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaContoh adab memuliakan ulamaPertama, berperilaku tawadu’ (rendah hati) di depannya.Kedua, memperhatikan dan mendengarkan petuahnya.Ketiga, perhatian kepadanya.Keempat, berbicara santun dan sopan saat mengobrol dengannya.Kelima, mengharumkan nama guru saat bercerita tentangnya dengan pemuliaan yang wajar kepada guru yang juga manusia.Keenam, berterima kasih atau merasa berhutang budi karena ilmu yang telah beliau ajarkan.Ketujuh, tidak menampakkan ketidaktertarikan pada kajian atau nasihat-nasihatnya.Kedelapan, berhati-hati dengan tidak menyakiti beliau, baik dengan ucapan ataupun perbuatan.Kesembilan, mengingatkan beliau jika salah dengan cara yang santun dan lembut.Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guruMurid juga perlu mengingatkan gurunya dengan cara yang santun dan lembut jika gurunya melakukan kesalahan. Hal ini karena beliau juga manusia, walaupun setinggi apapun ilmu dan ketakwaannya. Manusia adalah tempatnya salah dan aib. Ada saatnya juga guru itu berbuat salah. Sebagaimana murid juga bisa berbuat salah.Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah menerangkan ada enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru/ustaz, yakni:Pertama, tabayun atau mencari penjelasan apakah benar sang guru melakukan kesalahan tersebut.Kedua, berikutnya mencari penjelasan apakah benar kesalahan tersebut benar-benar tepat dinilai sebagai kesalahan. Bisa jadi sebab kesalahan yang dituduhkan adalah karena salah paham. Padahal apa yang dituduhkan kepada sang guru sejatinya bukan kekeliruan. Seperti kata penyair,وكم من عائب قولا صحيحا    #    وآفاته من الفهم السقيم“Betapa banyak orang menyalahkan ucapan yang benar, sebabnya hanya salah paham.”Cara tabayun langkah ke dua ini adalah dengan bertanya kepada ustaz yang lain atau orang yang dipandang berilmu. Karena hanya orang berilmu yang tahu apakah kesalahan yang dituduhkan adalah benar kesalahan ataukah tidak.Ketiga, tetap kita katakan salah jika guru terbukti melakukan kesalahan, meskipun yang melakukan adalah orang yang sangat kita hormati dan kita pandang berilmu.Keempat, berusaha keras mencari alasan untuk berpikir positif.Kelima, menyampaikan masukan dengan cara yang santun dan lembut. Jangan bersikap dan berkata kasar, apalagi memviralkan ketergelinciran guru.Keenam, tidak merendahkan nama baik guru, walaupun guru telah terjatuh pada kesalahan. Tetap jagalah nama baiknya di hadapan kaum muslimin. Agar kebaikan yang beliau dakwahkan tetap bermanfaat untuk masyarakat luas.Sekian penjelasan dari kami. Wallahul muwaffiq, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kami dan pembaca sekalian untuk dapat memuliakan guru dan ulama.Baca Juga:Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahPenuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk Belajar***Referensi :Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah.Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Adab Bertamu, Keutamaan Sahur, Pertanyaan Tentang Jual Beli Dan Riba, Adab Berbicara Wanita Muslimah, Niat Dan Tata Cara TayamumTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu
Baca pembahasan sebelumnya pada artikel Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 13): Hafalkan, Diskusikan, dan Bertanyalah Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil memuliakan ulama 2. Contoh adab memuliakan ulama 3. Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru Bismillah…Ulama itu ibarat ayah untuk ruh, seperti bapak adalah ayah untuk jasmani. Sebagaimana dikatakan oleh ulama kita,الشيخ أب للروح كما أن الوالد أب للجسد“Ulama/guru/ustadz adalah ayah untuk ruh, sebagaimana bapak adalah ayah untuk jasad.”Sebagaimana kita wajib menghormati ayah kandung, demikian pula para ustaz, kyai, atau ulama yang telah mengajarkan ilmu kepada kita juga harus dihormati.Kita simak bagaimana keteladanan para ulama dalam menghormati guru mereka. Kita coba resapi ungkapan Syu’bah bin Hajaj Rahimahullah ini,كل من سمعت مته حديثا فأنا له عبد “Siapa pun yang pernah aku dengarkan hadis darinya, maka aku adalah budaknya.”Dalil memuliakan ulamaMuhammad bin Ali Al-Udfuwi Rahimahullah mengungkap sebuah ayat yang mendasari ucapan Syu’bah Rahimahullah di atas,إذا تعلم الإنسان من العالم واستفاد منه الفوائد فهو له عبد، قال تعالى (وإذ قال موسى لفتاه)، وهو يوشع بن نون، ولم يكن مملوكا له، وإنما كان متلمذا له متبعا له، فجعله الله فتاه لذلك“Bila seorang belajar kepada seorang berilmu (alim), lalu dia mendapat manfaat dari ilmunya, maka dia adalah budak bagi orang alim itu. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ‘Ingatlah ketika Musa berkata kepada budaknya‘ (QS. Al-Kahfi : 60).Budak yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun. Padahal sebenarnya Yusya’ bukanlah budaknya Musa. Sejatinya beliau adalah murid dan pengikut setia Musa. Namun, ternyata Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa.”Kita semua mengenal siapakah Yusya’ bin Nun ‘Alaihissalam. Beliau juga nabi sebagaimana Musa ‘Alaihissalam. Meskipun beliau juga nabi, saat beliau berguru kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa ‘Alaihissalam. Beliau yang nabi saja seperti itu kedudukannya di hadapan gurunya, bagaimana lagi kita orang yang bukan nabi dan bukan orang saleh? Wallahu a’lam. Oleh karena itu, kita lebih butuh lagi untuk memuliakan para guru dan ulama kita.Islam secara tegas memerintahkan kita memuliakan para ulama. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis dari sahabat Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه“Bukan termasuk umatku, siapa saja yang tidak mengormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, atau tidak tahu hak-hak para alim ulamanya umat kami.”Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaContoh adab memuliakan ulamaPertama, berperilaku tawadu’ (rendah hati) di depannya.Kedua, memperhatikan dan mendengarkan petuahnya.Ketiga, perhatian kepadanya.Keempat, berbicara santun dan sopan saat mengobrol dengannya.Kelima, mengharumkan nama guru saat bercerita tentangnya dengan pemuliaan yang wajar kepada guru yang juga manusia.Keenam, berterima kasih atau merasa berhutang budi karena ilmu yang telah beliau ajarkan.Ketujuh, tidak menampakkan ketidaktertarikan pada kajian atau nasihat-nasihatnya.Kedelapan, berhati-hati dengan tidak menyakiti beliau, baik dengan ucapan ataupun perbuatan.Kesembilan, mengingatkan beliau jika salah dengan cara yang santun dan lembut.Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guruMurid juga perlu mengingatkan gurunya dengan cara yang santun dan lembut jika gurunya melakukan kesalahan. Hal ini karena beliau juga manusia, walaupun setinggi apapun ilmu dan ketakwaannya. Manusia adalah tempatnya salah dan aib. Ada saatnya juga guru itu berbuat salah. Sebagaimana murid juga bisa berbuat salah.Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah menerangkan ada enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru/ustaz, yakni:Pertama, tabayun atau mencari penjelasan apakah benar sang guru melakukan kesalahan tersebut.Kedua, berikutnya mencari penjelasan apakah benar kesalahan tersebut benar-benar tepat dinilai sebagai kesalahan. Bisa jadi sebab kesalahan yang dituduhkan adalah karena salah paham. Padahal apa yang dituduhkan kepada sang guru sejatinya bukan kekeliruan. Seperti kata penyair,وكم من عائب قولا صحيحا    #    وآفاته من الفهم السقيم“Betapa banyak orang menyalahkan ucapan yang benar, sebabnya hanya salah paham.”Cara tabayun langkah ke dua ini adalah dengan bertanya kepada ustaz yang lain atau orang yang dipandang berilmu. Karena hanya orang berilmu yang tahu apakah kesalahan yang dituduhkan adalah benar kesalahan ataukah tidak.Ketiga, tetap kita katakan salah jika guru terbukti melakukan kesalahan, meskipun yang melakukan adalah orang yang sangat kita hormati dan kita pandang berilmu.Keempat, berusaha keras mencari alasan untuk berpikir positif.Kelima, menyampaikan masukan dengan cara yang santun dan lembut. Jangan bersikap dan berkata kasar, apalagi memviralkan ketergelinciran guru.Keenam, tidak merendahkan nama baik guru, walaupun guru telah terjatuh pada kesalahan. Tetap jagalah nama baiknya di hadapan kaum muslimin. Agar kebaikan yang beliau dakwahkan tetap bermanfaat untuk masyarakat luas.Sekian penjelasan dari kami. Wallahul muwaffiq, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kami dan pembaca sekalian untuk dapat memuliakan guru dan ulama.Baca Juga:Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahPenuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk Belajar***Referensi :Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah.Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Adab Bertamu, Keutamaan Sahur, Pertanyaan Tentang Jual Beli Dan Riba, Adab Berbicara Wanita Muslimah, Niat Dan Tata Cara TayamumTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu


Baca pembahasan sebelumnya pada artikel Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 13): Hafalkan, Diskusikan, dan Bertanyalah Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil memuliakan ulama 2. Contoh adab memuliakan ulama 3. Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru Bismillah…Ulama itu ibarat ayah untuk ruh, seperti bapak adalah ayah untuk jasmani. Sebagaimana dikatakan oleh ulama kita,الشيخ أب للروح كما أن الوالد أب للجسد“Ulama/guru/ustadz adalah ayah untuk ruh, sebagaimana bapak adalah ayah untuk jasad.”Sebagaimana kita wajib menghormati ayah kandung, demikian pula para ustaz, kyai, atau ulama yang telah mengajarkan ilmu kepada kita juga harus dihormati.Kita simak bagaimana keteladanan para ulama dalam menghormati guru mereka. Kita coba resapi ungkapan Syu’bah bin Hajaj Rahimahullah ini,كل من سمعت مته حديثا فأنا له عبد “Siapa pun yang pernah aku dengarkan hadis darinya, maka aku adalah budaknya.”Dalil memuliakan ulamaMuhammad bin Ali Al-Udfuwi Rahimahullah mengungkap sebuah ayat yang mendasari ucapan Syu’bah Rahimahullah di atas,إذا تعلم الإنسان من العالم واستفاد منه الفوائد فهو له عبد، قال تعالى (وإذ قال موسى لفتاه)، وهو يوشع بن نون، ولم يكن مملوكا له، وإنما كان متلمذا له متبعا له، فجعله الله فتاه لذلك“Bila seorang belajar kepada seorang berilmu (alim), lalu dia mendapat manfaat dari ilmunya, maka dia adalah budak bagi orang alim itu. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ‘Ingatlah ketika Musa berkata kepada budaknya‘ (QS. Al-Kahfi : 60).Budak yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun. Padahal sebenarnya Yusya’ bukanlah budaknya Musa. Sejatinya beliau adalah murid dan pengikut setia Musa. Namun, ternyata Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa.”Kita semua mengenal siapakah Yusya’ bin Nun ‘Alaihissalam. Beliau juga nabi sebagaimana Musa ‘Alaihissalam. Meskipun beliau juga nabi, saat beliau berguru kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa ‘Alaihissalam. Beliau yang nabi saja seperti itu kedudukannya di hadapan gurunya, bagaimana lagi kita orang yang bukan nabi dan bukan orang saleh? Wallahu a’lam. Oleh karena itu, kita lebih butuh lagi untuk memuliakan para guru dan ulama kita.Islam secara tegas memerintahkan kita memuliakan para ulama. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis dari sahabat Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه“Bukan termasuk umatku, siapa saja yang tidak mengormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, atau tidak tahu hak-hak para alim ulamanya umat kami.”Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaContoh adab memuliakan ulamaPertama, berperilaku tawadu’ (rendah hati) di depannya.Kedua, memperhatikan dan mendengarkan petuahnya.Ketiga, perhatian kepadanya.Keempat, berbicara santun dan sopan saat mengobrol dengannya.Kelima, mengharumkan nama guru saat bercerita tentangnya dengan pemuliaan yang wajar kepada guru yang juga manusia.Keenam, berterima kasih atau merasa berhutang budi karena ilmu yang telah beliau ajarkan.Ketujuh, tidak menampakkan ketidaktertarikan pada kajian atau nasihat-nasihatnya.Kedelapan, berhati-hati dengan tidak menyakiti beliau, baik dengan ucapan ataupun perbuatan.Kesembilan, mengingatkan beliau jika salah dengan cara yang santun dan lembut.Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guruMurid juga perlu mengingatkan gurunya dengan cara yang santun dan lembut jika gurunya melakukan kesalahan. Hal ini karena beliau juga manusia, walaupun setinggi apapun ilmu dan ketakwaannya. Manusia adalah tempatnya salah dan aib. Ada saatnya juga guru itu berbuat salah. Sebagaimana murid juga bisa berbuat salah.Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah menerangkan ada enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru/ustaz, yakni:Pertama, tabayun atau mencari penjelasan apakah benar sang guru melakukan kesalahan tersebut.Kedua, berikutnya mencari penjelasan apakah benar kesalahan tersebut benar-benar tepat dinilai sebagai kesalahan. Bisa jadi sebab kesalahan yang dituduhkan adalah karena salah paham. Padahal apa yang dituduhkan kepada sang guru sejatinya bukan kekeliruan. Seperti kata penyair,وكم من عائب قولا صحيحا    #    وآفاته من الفهم السقيم“Betapa banyak orang menyalahkan ucapan yang benar, sebabnya hanya salah paham.”Cara tabayun langkah ke dua ini adalah dengan bertanya kepada ustaz yang lain atau orang yang dipandang berilmu. Karena hanya orang berilmu yang tahu apakah kesalahan yang dituduhkan adalah benar kesalahan ataukah tidak.Ketiga, tetap kita katakan salah jika guru terbukti melakukan kesalahan, meskipun yang melakukan adalah orang yang sangat kita hormati dan kita pandang berilmu.Keempat, berusaha keras mencari alasan untuk berpikir positif.Kelima, menyampaikan masukan dengan cara yang santun dan lembut. Jangan bersikap dan berkata kasar, apalagi memviralkan ketergelinciran guru.Keenam, tidak merendahkan nama baik guru, walaupun guru telah terjatuh pada kesalahan. Tetap jagalah nama baiknya di hadapan kaum muslimin. Agar kebaikan yang beliau dakwahkan tetap bermanfaat untuk masyarakat luas.Sekian penjelasan dari kami. Wallahul muwaffiq, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kami dan pembaca sekalian untuk dapat memuliakan guru dan ulama.Baca Juga:Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahPenuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk Belajar***Referensi :Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah.Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Adab Bertamu, Keutamaan Sahur, Pertanyaan Tentang Jual Beli Dan Riba, Adab Berbicara Wanita Muslimah, Niat Dan Tata Cara TayamumTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu

Bulughul Maram – Shalat: Cara Membaca Shalawat Bakda Tasyahud

Bagaimana shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tasyahud? Berikut keterangannya di kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud 2. Hadits #317 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud Hadits #317 عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَمَرَنَا اللهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ فَسَكَتَ، ثمَّ قَالَ: «قُولُوا: اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلّيْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا عَلِمْتُمْ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ: فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ، إذَا نَحُنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلاَتِنَا؟ Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Basyir bin Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?” Beliau diam kemudian bersabda, “Ucapkanlah: ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAAROKTA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, FIL ‘AALAAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID. (Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim. Di seluruh alam ini, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung). Kemudian ucapan salam (keselamatan) sebagaimana yang telah kalian ketahui (atau yang telah aku ajarkan kepada kalian).” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 405] Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu jika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?” [HR. Ibnu Khuzaimah, no. 711; Abu Daud, no. 981; An-Nasai, 9:26; Ahmad, 28:304; Ibnu Hibban, no. 1959; Ad-Daruquthni, 1:354; Al-Hakim, 1:268; Al-Baihaqi, 2:146 dengan sand ini. Di antara mereka menyebutkan tambahan ini, sebagian yang lain tidak menyebutnya. Ad-Daruquthni berkata, “Sanad hadits ini muttashil, bersambung.” Namun, tambahan ini dikritik oleh Ibnul Qayyim dengan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq itu bersendirian. Al-Hafizh Ibnu Hajar hanya memaksudkan tambahan ini mengenai bagaimanakah cara bershalawat ketika tasyahud di dalam shalat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:162-163].   Faedah hadits Maksud shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian kepada beliau dengan sanjungan yang indah pada sisi penduduk langit yang tinggi. Yang dimaksud keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mengikuti beliau dalam hal agama. Namun, yang masuk pertama kali dalam keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengikut dari keluarga dekat beliau. Karena keluarga dekat yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sisi keutamaan sebagai pengikut dan sebagai keluarga dekat. KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim, huruf KAAF di depan bermakna tasybih, berarti menyerupai. Disebut Nabi Ibrahim adalah karena beliau itu keluarganya dan Nabi Ibrahim adalah asal silsilah keturunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tetaplah Nabi Muhammad dan keluarganya lebih utama dari Nabi Ibrahim dan keluarganya. Huruf KAAF juga bisa bermakna ta’lil (alasan), dan MAA adalah mashdariyyah. Sehingga kalimat ini bermakna, “Sebagaimana Engkau telah memberikan nikmat berupa shalawat kepada keluarga Ibrahim, berilah shalawat pula kepada Muhammad dan keluarganya.” Maka di situ menyebutkan dahulu nikmat sebelumnya kepada Nabi Ibrahim sebagai tawassul (perantara) lalu menyebut shalawat kepada Nabi Muhammad. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, berkahilah Muhammad dan keluarganya, ini adalah doa. Doa ini meminta diturunkannya berkah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarganya. FIIL ‘AALAMIINA, kata ‘aalamiina berasal dari kata tunggal ‘aalam yaitu segala sesuatu selain Allah. Maknanya adalah tampakkanlah shalawat dan keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya di alam semesta sebagaimana ditampakkan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya di alam semesta. INNAKA HAMIIDUN MAJIID, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung. HAMIID bisa bermaksa faa’il (Yang Memuji hamba dan wali Allah yang menjalankan perintah-Nya) atau maf’uul (Yang Terpuji di mana Allah itu Maha Terpuji karena sifatnya yang sempurna). Adapun MAJIID, maksudnya adalah bermakna fa’iil, Mahaagung dan Maha Memiliki Kekuasaan. Nama Allah Al-Hamiid dan Al-Majiid dijadikan sebagai penutup doa shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maksudnya adalah karena Allah itu telah memuliakan Nabi Muhammad, memujinya, dan dekat dengan-Nya. Yang membuat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin agung dan mulia adalah Allah Yang Maha Terpuji dan Mahaagung. Ucapan salam sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pada ucapan dalam tasyahud “ASSALAAMU ’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUH”. Hadits ini mengajarkan bagaimana bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tahiyat dalam shalat. Lafaz shalawat itu beragam sehingga bisa memilih dengan lafaz ini dan berganti dengan lafaz yang lain. Namun, jika membatasi hanya pada satu lafaz shalawat saja, hal itu dibolehkan. Hendaknya membatasi shalawat terbatas pada yang memiliki dalil tanpa menambah atau mengurangi. Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahud akhir dihukumi wajib, termasuk rukun shalat dan inilah pendapat ulama Syafiiyah. Pada tasyahud awal, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap disyariatkan, yaitu dihukumi sunnah (sunnah ab’adh). Pendapat sunnah inilah pendapat jadiid (terakhir) dari Imam Syafii. Shalawat kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk sunnah, tepatnya sunnah ab’adh saat tasyahud akhir. Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah bacaan tasyahud, sebelum berdoa.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:162-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Tasyahud dari Ibnu Masud dan Kandungannya Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan — Rabu sore, 5 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi

Bulughul Maram – Shalat: Cara Membaca Shalawat Bakda Tasyahud

Bagaimana shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tasyahud? Berikut keterangannya di kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud 2. Hadits #317 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud Hadits #317 عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَمَرَنَا اللهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ فَسَكَتَ، ثمَّ قَالَ: «قُولُوا: اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلّيْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا عَلِمْتُمْ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ: فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ، إذَا نَحُنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلاَتِنَا؟ Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Basyir bin Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?” Beliau diam kemudian bersabda, “Ucapkanlah: ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAAROKTA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, FIL ‘AALAAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID. (Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim. Di seluruh alam ini, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung). Kemudian ucapan salam (keselamatan) sebagaimana yang telah kalian ketahui (atau yang telah aku ajarkan kepada kalian).” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 405] Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu jika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?” [HR. Ibnu Khuzaimah, no. 711; Abu Daud, no. 981; An-Nasai, 9:26; Ahmad, 28:304; Ibnu Hibban, no. 1959; Ad-Daruquthni, 1:354; Al-Hakim, 1:268; Al-Baihaqi, 2:146 dengan sand ini. Di antara mereka menyebutkan tambahan ini, sebagian yang lain tidak menyebutnya. Ad-Daruquthni berkata, “Sanad hadits ini muttashil, bersambung.” Namun, tambahan ini dikritik oleh Ibnul Qayyim dengan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq itu bersendirian. Al-Hafizh Ibnu Hajar hanya memaksudkan tambahan ini mengenai bagaimanakah cara bershalawat ketika tasyahud di dalam shalat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:162-163].   Faedah hadits Maksud shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian kepada beliau dengan sanjungan yang indah pada sisi penduduk langit yang tinggi. Yang dimaksud keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mengikuti beliau dalam hal agama. Namun, yang masuk pertama kali dalam keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengikut dari keluarga dekat beliau. Karena keluarga dekat yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sisi keutamaan sebagai pengikut dan sebagai keluarga dekat. KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim, huruf KAAF di depan bermakna tasybih, berarti menyerupai. Disebut Nabi Ibrahim adalah karena beliau itu keluarganya dan Nabi Ibrahim adalah asal silsilah keturunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tetaplah Nabi Muhammad dan keluarganya lebih utama dari Nabi Ibrahim dan keluarganya. Huruf KAAF juga bisa bermakna ta’lil (alasan), dan MAA adalah mashdariyyah. Sehingga kalimat ini bermakna, “Sebagaimana Engkau telah memberikan nikmat berupa shalawat kepada keluarga Ibrahim, berilah shalawat pula kepada Muhammad dan keluarganya.” Maka di situ menyebutkan dahulu nikmat sebelumnya kepada Nabi Ibrahim sebagai tawassul (perantara) lalu menyebut shalawat kepada Nabi Muhammad. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, berkahilah Muhammad dan keluarganya, ini adalah doa. Doa ini meminta diturunkannya berkah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarganya. FIIL ‘AALAMIINA, kata ‘aalamiina berasal dari kata tunggal ‘aalam yaitu segala sesuatu selain Allah. Maknanya adalah tampakkanlah shalawat dan keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya di alam semesta sebagaimana ditampakkan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya di alam semesta. INNAKA HAMIIDUN MAJIID, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung. HAMIID bisa bermaksa faa’il (Yang Memuji hamba dan wali Allah yang menjalankan perintah-Nya) atau maf’uul (Yang Terpuji di mana Allah itu Maha Terpuji karena sifatnya yang sempurna). Adapun MAJIID, maksudnya adalah bermakna fa’iil, Mahaagung dan Maha Memiliki Kekuasaan. Nama Allah Al-Hamiid dan Al-Majiid dijadikan sebagai penutup doa shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maksudnya adalah karena Allah itu telah memuliakan Nabi Muhammad, memujinya, dan dekat dengan-Nya. Yang membuat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin agung dan mulia adalah Allah Yang Maha Terpuji dan Mahaagung. Ucapan salam sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pada ucapan dalam tasyahud “ASSALAAMU ’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUH”. Hadits ini mengajarkan bagaimana bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tahiyat dalam shalat. Lafaz shalawat itu beragam sehingga bisa memilih dengan lafaz ini dan berganti dengan lafaz yang lain. Namun, jika membatasi hanya pada satu lafaz shalawat saja, hal itu dibolehkan. Hendaknya membatasi shalawat terbatas pada yang memiliki dalil tanpa menambah atau mengurangi. Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahud akhir dihukumi wajib, termasuk rukun shalat dan inilah pendapat ulama Syafiiyah. Pada tasyahud awal, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap disyariatkan, yaitu dihukumi sunnah (sunnah ab’adh). Pendapat sunnah inilah pendapat jadiid (terakhir) dari Imam Syafii. Shalawat kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk sunnah, tepatnya sunnah ab’adh saat tasyahud akhir. Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah bacaan tasyahud, sebelum berdoa.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:162-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Tasyahud dari Ibnu Masud dan Kandungannya Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan — Rabu sore, 5 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi
Bagaimana shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tasyahud? Berikut keterangannya di kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud 2. Hadits #317 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud Hadits #317 عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَمَرَنَا اللهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ فَسَكَتَ، ثمَّ قَالَ: «قُولُوا: اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلّيْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا عَلِمْتُمْ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ: فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ، إذَا نَحُنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلاَتِنَا؟ Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Basyir bin Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?” Beliau diam kemudian bersabda, “Ucapkanlah: ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAAROKTA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, FIL ‘AALAAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID. (Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim. Di seluruh alam ini, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung). Kemudian ucapan salam (keselamatan) sebagaimana yang telah kalian ketahui (atau yang telah aku ajarkan kepada kalian).” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 405] Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu jika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?” [HR. Ibnu Khuzaimah, no. 711; Abu Daud, no. 981; An-Nasai, 9:26; Ahmad, 28:304; Ibnu Hibban, no. 1959; Ad-Daruquthni, 1:354; Al-Hakim, 1:268; Al-Baihaqi, 2:146 dengan sand ini. Di antara mereka menyebutkan tambahan ini, sebagian yang lain tidak menyebutnya. Ad-Daruquthni berkata, “Sanad hadits ini muttashil, bersambung.” Namun, tambahan ini dikritik oleh Ibnul Qayyim dengan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq itu bersendirian. Al-Hafizh Ibnu Hajar hanya memaksudkan tambahan ini mengenai bagaimanakah cara bershalawat ketika tasyahud di dalam shalat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:162-163].   Faedah hadits Maksud shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian kepada beliau dengan sanjungan yang indah pada sisi penduduk langit yang tinggi. Yang dimaksud keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mengikuti beliau dalam hal agama. Namun, yang masuk pertama kali dalam keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengikut dari keluarga dekat beliau. Karena keluarga dekat yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sisi keutamaan sebagai pengikut dan sebagai keluarga dekat. KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim, huruf KAAF di depan bermakna tasybih, berarti menyerupai. Disebut Nabi Ibrahim adalah karena beliau itu keluarganya dan Nabi Ibrahim adalah asal silsilah keturunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tetaplah Nabi Muhammad dan keluarganya lebih utama dari Nabi Ibrahim dan keluarganya. Huruf KAAF juga bisa bermakna ta’lil (alasan), dan MAA adalah mashdariyyah. Sehingga kalimat ini bermakna, “Sebagaimana Engkau telah memberikan nikmat berupa shalawat kepada keluarga Ibrahim, berilah shalawat pula kepada Muhammad dan keluarganya.” Maka di situ menyebutkan dahulu nikmat sebelumnya kepada Nabi Ibrahim sebagai tawassul (perantara) lalu menyebut shalawat kepada Nabi Muhammad. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, berkahilah Muhammad dan keluarganya, ini adalah doa. Doa ini meminta diturunkannya berkah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarganya. FIIL ‘AALAMIINA, kata ‘aalamiina berasal dari kata tunggal ‘aalam yaitu segala sesuatu selain Allah. Maknanya adalah tampakkanlah shalawat dan keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya di alam semesta sebagaimana ditampakkan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya di alam semesta. INNAKA HAMIIDUN MAJIID, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung. HAMIID bisa bermaksa faa’il (Yang Memuji hamba dan wali Allah yang menjalankan perintah-Nya) atau maf’uul (Yang Terpuji di mana Allah itu Maha Terpuji karena sifatnya yang sempurna). Adapun MAJIID, maksudnya adalah bermakna fa’iil, Mahaagung dan Maha Memiliki Kekuasaan. Nama Allah Al-Hamiid dan Al-Majiid dijadikan sebagai penutup doa shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maksudnya adalah karena Allah itu telah memuliakan Nabi Muhammad, memujinya, dan dekat dengan-Nya. Yang membuat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin agung dan mulia adalah Allah Yang Maha Terpuji dan Mahaagung. Ucapan salam sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pada ucapan dalam tasyahud “ASSALAAMU ’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUH”. Hadits ini mengajarkan bagaimana bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tahiyat dalam shalat. Lafaz shalawat itu beragam sehingga bisa memilih dengan lafaz ini dan berganti dengan lafaz yang lain. Namun, jika membatasi hanya pada satu lafaz shalawat saja, hal itu dibolehkan. Hendaknya membatasi shalawat terbatas pada yang memiliki dalil tanpa menambah atau mengurangi. Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahud akhir dihukumi wajib, termasuk rukun shalat dan inilah pendapat ulama Syafiiyah. Pada tasyahud awal, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap disyariatkan, yaitu dihukumi sunnah (sunnah ab’adh). Pendapat sunnah inilah pendapat jadiid (terakhir) dari Imam Syafii. Shalawat kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk sunnah, tepatnya sunnah ab’adh saat tasyahud akhir. Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah bacaan tasyahud, sebelum berdoa.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:162-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Tasyahud dari Ibnu Masud dan Kandungannya Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan — Rabu sore, 5 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi


Bagaimana shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tasyahud? Berikut keterangannya di kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud 2. Hadits #317 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud Hadits #317 عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَمَرَنَا اللهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ فَسَكَتَ، ثمَّ قَالَ: «قُولُوا: اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلّيْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا عَلِمْتُمْ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ: فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ، إذَا نَحُنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلاَتِنَا؟ Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Basyir bin Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?” Beliau diam kemudian bersabda, “Ucapkanlah: ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAAROKTA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, FIL ‘AALAAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID. (Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim. Di seluruh alam ini, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung). Kemudian ucapan salam (keselamatan) sebagaimana yang telah kalian ketahui (atau yang telah aku ajarkan kepada kalian).” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 405] Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu jika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?” [HR. Ibnu Khuzaimah, no. 711; Abu Daud, no. 981; An-Nasai, 9:26; Ahmad, 28:304; Ibnu Hibban, no. 1959; Ad-Daruquthni, 1:354; Al-Hakim, 1:268; Al-Baihaqi, 2:146 dengan sand ini. Di antara mereka menyebutkan tambahan ini, sebagian yang lain tidak menyebutnya. Ad-Daruquthni berkata, “Sanad hadits ini muttashil, bersambung.” Namun, tambahan ini dikritik oleh Ibnul Qayyim dengan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq itu bersendirian. Al-Hafizh Ibnu Hajar hanya memaksudkan tambahan ini mengenai bagaimanakah cara bershalawat ketika tasyahud di dalam shalat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:162-163].   Faedah hadits Maksud shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian kepada beliau dengan sanjungan yang indah pada sisi penduduk langit yang tinggi. Yang dimaksud keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mengikuti beliau dalam hal agama. Namun, yang masuk pertama kali dalam keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengikut dari keluarga dekat beliau. Karena keluarga dekat yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sisi keutamaan sebagai pengikut dan sebagai keluarga dekat. KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim, huruf KAAF di depan bermakna tasybih, berarti menyerupai. Disebut Nabi Ibrahim adalah karena beliau itu keluarganya dan Nabi Ibrahim adalah asal silsilah keturunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tetaplah Nabi Muhammad dan keluarganya lebih utama dari Nabi Ibrahim dan keluarganya. Huruf KAAF juga bisa bermakna ta’lil (alasan), dan MAA adalah mashdariyyah. Sehingga kalimat ini bermakna, “Sebagaimana Engkau telah memberikan nikmat berupa shalawat kepada keluarga Ibrahim, berilah shalawat pula kepada Muhammad dan keluarganya.” Maka di situ menyebutkan dahulu nikmat sebelumnya kepada Nabi Ibrahim sebagai tawassul (perantara) lalu menyebut shalawat kepada Nabi Muhammad. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, berkahilah Muhammad dan keluarganya, ini adalah doa. Doa ini meminta diturunkannya berkah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarganya. FIIL ‘AALAMIINA, kata ‘aalamiina berasal dari kata tunggal ‘aalam yaitu segala sesuatu selain Allah. Maknanya adalah tampakkanlah shalawat dan keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya di alam semesta sebagaimana ditampakkan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya di alam semesta. INNAKA HAMIIDUN MAJIID, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung. HAMIID bisa bermaksa faa’il (Yang Memuji hamba dan wali Allah yang menjalankan perintah-Nya) atau maf’uul (Yang Terpuji di mana Allah itu Maha Terpuji karena sifatnya yang sempurna). Adapun MAJIID, maksudnya adalah bermakna fa’iil, Mahaagung dan Maha Memiliki Kekuasaan. Nama Allah Al-Hamiid dan Al-Majiid dijadikan sebagai penutup doa shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maksudnya adalah karena Allah itu telah memuliakan Nabi Muhammad, memujinya, dan dekat dengan-Nya. Yang membuat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin agung dan mulia adalah Allah Yang Maha Terpuji dan Mahaagung. Ucapan salam sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pada ucapan dalam tasyahud “ASSALAAMU ’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUH”. Hadits ini mengajarkan bagaimana bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tahiyat dalam shalat. Lafaz shalawat itu beragam sehingga bisa memilih dengan lafaz ini dan berganti dengan lafaz yang lain. Namun, jika membatasi hanya pada satu lafaz shalawat saja, hal itu dibolehkan. Hendaknya membatasi shalawat terbatas pada yang memiliki dalil tanpa menambah atau mengurangi. Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahud akhir dihukumi wajib, termasuk rukun shalat dan inilah pendapat ulama Syafiiyah. Pada tasyahud awal, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap disyariatkan, yaitu dihukumi sunnah (sunnah ab’adh). Pendapat sunnah inilah pendapat jadiid (terakhir) dari Imam Syafii. Shalawat kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk sunnah, tepatnya sunnah ab’adh saat tasyahud akhir. Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah bacaan tasyahud, sebelum berdoa.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:162-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Tasyahud dari Ibnu Masud dan Kandungannya Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan — Rabu sore, 5 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi

Bulughul Maram – Shalat: Doa Berlindung dari Empat Hal, Disunnahkan Dibaca Saat Tasyahud Akhir

Kali ini mengenai doa berlindung dari empat hal yang penting dibaca bakda bacaan tasyahud. Yuk kita kaji lagi dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud 2. Hadits #318 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud Hadits #318 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ومِنْ عَذَابِ القَبْرِ ومِنْ فِتْنَةِ المَحْيا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَالِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: (إِذَا فَرغَ أَحَدُكُم مِنَ التَّشَهُّدِ الأَخِيرِ). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: ‘ALLOHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM WA MIN ‘ADZAABIL QOBRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati, dan dari fitnah Dajjal).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Muslim, no. 588] Dalam riwayat Muslim, “Jika salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir.”   Faedah hadits Doa berlindung dari empat hal dibaca saat tasyahud. Yang dimaksud dengan tasyahud di sini adalah tasyahud akhir. Sedangkan tasyahud awal sifatnya itu takhfiif (lebih ringan). Jahannam adalah di antara nama neraka yang menunjukkan makna api yang besar yang jauh dan dalam. Meminta perlindungan dari neraka Jahannam, maksudnya adalah: (1) meminta perlindungan dari sebab yang mengantarkan kepada siksa Jahannam agar dijauhkan dari kekafiran dan maksiat; (2) meminta perlindungan dari siksa dan hukuman di neraka. Asalnya kubur itu bermakna tempat dimakamkannya jenazah. Namun, kubur yang dimaksud di sini adalah makna umum yaitu suatu alam antara kematian dan hari kiamat, walaupun jenazah tidak dikuburkan, seperti orang yang terbakar yang akhirnya menjadi arang dan yang dimakan binatang buas yang tidak dikubur. Siksa kubur adalah sika yang dialami di kubur pada ruh dan badan sekaligus. Ruh bisa jadi bersatu dengan badan, bisa pula terpisah. Fitnah hidup dan mati, maksud fitnah adalah cobaan atau ujian. Fitnah hidup artinya cobaan yang dialami manusia ketika hidup berupa syubhat (yang mengaburkan antara kebenaran dan kebatilan) dan syahwat (yang menjadikan cinta dunia secara berlebihan) sehingga seseorang menjadi menyimpang dan sesat. Fitnah mati terdapat dua makna yaitu: (1) cobaan saat sakratul maut (menjelang meninggal dunia); (2) ujian pada mayit setelah kematian di mana ia ditanya di kubur dengan tiga pertanyaan mengenai siapa Rabbb, apa agama, dan siapa nabinya. Yang kedua inilah yang menjadi patokan seseorang mendapatkan nikmat ataukah siksa ketika berhasil menjawabnya ataukah tidak. Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal adalah fitnah terbesar di muka bumi di mana orang-orang jadi tersesat karena Dajjal. Dajjal ini termasuk fitnah hidup. Al-Masiih Ad-Dajjal adalah lelaki buta sebelah, keluar pada akhir zaman, ia mengakui dirinya sebagai tuhan. Di antara dua matanya tertulis huruf KAF, FAA’, ROO, dibaca KAAFIR. Yang bisa membaca tulisan tersebut adalah seorang mukmin walaupun ia bukan seorang qaari’ (yang bisa membaca). Dajjal disebut Al-Masiih karena matanya itu diusap atau karena Dajjal akan mengusap muka bumi dengan mengelilinginya. Arti Dajjal adalah banyak berdusta. Dajjal akan keluar dari daerah timur dan keluarnya Dajjal merupakan tanda kiamat besar. Disunnahkan untuk berdoa meminta perlindungan dari empat hal ini pada tasyahud akhir dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Jumhur ulama menghukumi membacanya adalah sunnah. Bacaan doa ini tidak dibaca pada tasyahud awal karena tasyahud tersebut biasanya takhfif (diperingan). Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan Bulughul Maram – Shalat: Cara Membaca Shalawat Bakda Tasyahud Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:514-515. — Malam Kamis, 6 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi

Bulughul Maram – Shalat: Doa Berlindung dari Empat Hal, Disunnahkan Dibaca Saat Tasyahud Akhir

Kali ini mengenai doa berlindung dari empat hal yang penting dibaca bakda bacaan tasyahud. Yuk kita kaji lagi dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud 2. Hadits #318 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud Hadits #318 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ومِنْ عَذَابِ القَبْرِ ومِنْ فِتْنَةِ المَحْيا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَالِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: (إِذَا فَرغَ أَحَدُكُم مِنَ التَّشَهُّدِ الأَخِيرِ). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: ‘ALLOHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM WA MIN ‘ADZAABIL QOBRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati, dan dari fitnah Dajjal).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Muslim, no. 588] Dalam riwayat Muslim, “Jika salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir.”   Faedah hadits Doa berlindung dari empat hal dibaca saat tasyahud. Yang dimaksud dengan tasyahud di sini adalah tasyahud akhir. Sedangkan tasyahud awal sifatnya itu takhfiif (lebih ringan). Jahannam adalah di antara nama neraka yang menunjukkan makna api yang besar yang jauh dan dalam. Meminta perlindungan dari neraka Jahannam, maksudnya adalah: (1) meminta perlindungan dari sebab yang mengantarkan kepada siksa Jahannam agar dijauhkan dari kekafiran dan maksiat; (2) meminta perlindungan dari siksa dan hukuman di neraka. Asalnya kubur itu bermakna tempat dimakamkannya jenazah. Namun, kubur yang dimaksud di sini adalah makna umum yaitu suatu alam antara kematian dan hari kiamat, walaupun jenazah tidak dikuburkan, seperti orang yang terbakar yang akhirnya menjadi arang dan yang dimakan binatang buas yang tidak dikubur. Siksa kubur adalah sika yang dialami di kubur pada ruh dan badan sekaligus. Ruh bisa jadi bersatu dengan badan, bisa pula terpisah. Fitnah hidup dan mati, maksud fitnah adalah cobaan atau ujian. Fitnah hidup artinya cobaan yang dialami manusia ketika hidup berupa syubhat (yang mengaburkan antara kebenaran dan kebatilan) dan syahwat (yang menjadikan cinta dunia secara berlebihan) sehingga seseorang menjadi menyimpang dan sesat. Fitnah mati terdapat dua makna yaitu: (1) cobaan saat sakratul maut (menjelang meninggal dunia); (2) ujian pada mayit setelah kematian di mana ia ditanya di kubur dengan tiga pertanyaan mengenai siapa Rabbb, apa agama, dan siapa nabinya. Yang kedua inilah yang menjadi patokan seseorang mendapatkan nikmat ataukah siksa ketika berhasil menjawabnya ataukah tidak. Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal adalah fitnah terbesar di muka bumi di mana orang-orang jadi tersesat karena Dajjal. Dajjal ini termasuk fitnah hidup. Al-Masiih Ad-Dajjal adalah lelaki buta sebelah, keluar pada akhir zaman, ia mengakui dirinya sebagai tuhan. Di antara dua matanya tertulis huruf KAF, FAA’, ROO, dibaca KAAFIR. Yang bisa membaca tulisan tersebut adalah seorang mukmin walaupun ia bukan seorang qaari’ (yang bisa membaca). Dajjal disebut Al-Masiih karena matanya itu diusap atau karena Dajjal akan mengusap muka bumi dengan mengelilinginya. Arti Dajjal adalah banyak berdusta. Dajjal akan keluar dari daerah timur dan keluarnya Dajjal merupakan tanda kiamat besar. Disunnahkan untuk berdoa meminta perlindungan dari empat hal ini pada tasyahud akhir dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Jumhur ulama menghukumi membacanya adalah sunnah. Bacaan doa ini tidak dibaca pada tasyahud awal karena tasyahud tersebut biasanya takhfif (diperingan). Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan Bulughul Maram – Shalat: Cara Membaca Shalawat Bakda Tasyahud Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:514-515. — Malam Kamis, 6 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi
Kali ini mengenai doa berlindung dari empat hal yang penting dibaca bakda bacaan tasyahud. Yuk kita kaji lagi dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud 2. Hadits #318 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud Hadits #318 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ومِنْ عَذَابِ القَبْرِ ومِنْ فِتْنَةِ المَحْيا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَالِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: (إِذَا فَرغَ أَحَدُكُم مِنَ التَّشَهُّدِ الأَخِيرِ). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: ‘ALLOHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM WA MIN ‘ADZAABIL QOBRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati, dan dari fitnah Dajjal).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Muslim, no. 588] Dalam riwayat Muslim, “Jika salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir.”   Faedah hadits Doa berlindung dari empat hal dibaca saat tasyahud. Yang dimaksud dengan tasyahud di sini adalah tasyahud akhir. Sedangkan tasyahud awal sifatnya itu takhfiif (lebih ringan). Jahannam adalah di antara nama neraka yang menunjukkan makna api yang besar yang jauh dan dalam. Meminta perlindungan dari neraka Jahannam, maksudnya adalah: (1) meminta perlindungan dari sebab yang mengantarkan kepada siksa Jahannam agar dijauhkan dari kekafiran dan maksiat; (2) meminta perlindungan dari siksa dan hukuman di neraka. Asalnya kubur itu bermakna tempat dimakamkannya jenazah. Namun, kubur yang dimaksud di sini adalah makna umum yaitu suatu alam antara kematian dan hari kiamat, walaupun jenazah tidak dikuburkan, seperti orang yang terbakar yang akhirnya menjadi arang dan yang dimakan binatang buas yang tidak dikubur. Siksa kubur adalah sika yang dialami di kubur pada ruh dan badan sekaligus. Ruh bisa jadi bersatu dengan badan, bisa pula terpisah. Fitnah hidup dan mati, maksud fitnah adalah cobaan atau ujian. Fitnah hidup artinya cobaan yang dialami manusia ketika hidup berupa syubhat (yang mengaburkan antara kebenaran dan kebatilan) dan syahwat (yang menjadikan cinta dunia secara berlebihan) sehingga seseorang menjadi menyimpang dan sesat. Fitnah mati terdapat dua makna yaitu: (1) cobaan saat sakratul maut (menjelang meninggal dunia); (2) ujian pada mayit setelah kematian di mana ia ditanya di kubur dengan tiga pertanyaan mengenai siapa Rabbb, apa agama, dan siapa nabinya. Yang kedua inilah yang menjadi patokan seseorang mendapatkan nikmat ataukah siksa ketika berhasil menjawabnya ataukah tidak. Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal adalah fitnah terbesar di muka bumi di mana orang-orang jadi tersesat karena Dajjal. Dajjal ini termasuk fitnah hidup. Al-Masiih Ad-Dajjal adalah lelaki buta sebelah, keluar pada akhir zaman, ia mengakui dirinya sebagai tuhan. Di antara dua matanya tertulis huruf KAF, FAA’, ROO, dibaca KAAFIR. Yang bisa membaca tulisan tersebut adalah seorang mukmin walaupun ia bukan seorang qaari’ (yang bisa membaca). Dajjal disebut Al-Masiih karena matanya itu diusap atau karena Dajjal akan mengusap muka bumi dengan mengelilinginya. Arti Dajjal adalah banyak berdusta. Dajjal akan keluar dari daerah timur dan keluarnya Dajjal merupakan tanda kiamat besar. Disunnahkan untuk berdoa meminta perlindungan dari empat hal ini pada tasyahud akhir dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Jumhur ulama menghukumi membacanya adalah sunnah. Bacaan doa ini tidak dibaca pada tasyahud awal karena tasyahud tersebut biasanya takhfif (diperingan). Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan Bulughul Maram – Shalat: Cara Membaca Shalawat Bakda Tasyahud Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:514-515. — Malam Kamis, 6 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi


Kali ini mengenai doa berlindung dari empat hal yang penting dibaca bakda bacaan tasyahud. Yuk kita kaji lagi dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud 2. Hadits #318 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud Hadits #318 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ومِنْ عَذَابِ القَبْرِ ومِنْ فِتْنَةِ المَحْيا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَالِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: (إِذَا فَرغَ أَحَدُكُم مِنَ التَّشَهُّدِ الأَخِيرِ). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: ‘ALLOHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM WA MIN ‘ADZAABIL QOBRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati, dan dari fitnah Dajjal).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Muslim, no. 588] Dalam riwayat Muslim, “Jika salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir.”   Faedah hadits Doa berlindung dari empat hal dibaca saat tasyahud. Yang dimaksud dengan tasyahud di sini adalah tasyahud akhir. Sedangkan tasyahud awal sifatnya itu takhfiif (lebih ringan). Jahannam adalah di antara nama neraka yang menunjukkan makna api yang besar yang jauh dan dalam. Meminta perlindungan dari neraka Jahannam, maksudnya adalah: (1) meminta perlindungan dari sebab yang mengantarkan kepada siksa Jahannam agar dijauhkan dari kekafiran dan maksiat; (2) meminta perlindungan dari siksa dan hukuman di neraka. Asalnya kubur itu bermakna tempat dimakamkannya jenazah. Namun, kubur yang dimaksud di sini adalah makna umum yaitu suatu alam antara kematian dan hari kiamat, walaupun jenazah tidak dikuburkan, seperti orang yang terbakar yang akhirnya menjadi arang dan yang dimakan binatang buas yang tidak dikubur. Siksa kubur adalah sika yang dialami di kubur pada ruh dan badan sekaligus. Ruh bisa jadi bersatu dengan badan, bisa pula terpisah. Fitnah hidup dan mati, maksud fitnah adalah cobaan atau ujian. Fitnah hidup artinya cobaan yang dialami manusia ketika hidup berupa syubhat (yang mengaburkan antara kebenaran dan kebatilan) dan syahwat (yang menjadikan cinta dunia secara berlebihan) sehingga seseorang menjadi menyimpang dan sesat. Fitnah mati terdapat dua makna yaitu: (1) cobaan saat sakratul maut (menjelang meninggal dunia); (2) ujian pada mayit setelah kematian di mana ia ditanya di kubur dengan tiga pertanyaan mengenai siapa Rabbb, apa agama, dan siapa nabinya. Yang kedua inilah yang menjadi patokan seseorang mendapatkan nikmat ataukah siksa ketika berhasil menjawabnya ataukah tidak. Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal adalah fitnah terbesar di muka bumi di mana orang-orang jadi tersesat karena Dajjal. Dajjal ini termasuk fitnah hidup. Al-Masiih Ad-Dajjal adalah lelaki buta sebelah, keluar pada akhir zaman, ia mengakui dirinya sebagai tuhan. Di antara dua matanya tertulis huruf KAF, FAA’, ROO, dibaca KAAFIR. Yang bisa membaca tulisan tersebut adalah seorang mukmin walaupun ia bukan seorang qaari’ (yang bisa membaca). Dajjal disebut Al-Masiih karena matanya itu diusap atau karena Dajjal akan mengusap muka bumi dengan mengelilinginya. Arti Dajjal adalah banyak berdusta. Dajjal akan keluar dari daerah timur dan keluarnya Dajjal merupakan tanda kiamat besar. Disunnahkan untuk berdoa meminta perlindungan dari empat hal ini pada tasyahud akhir dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Jumhur ulama menghukumi membacanya adalah sunnah. Bacaan doa ini tidak dibaca pada tasyahud awal karena tasyahud tersebut biasanya takhfif (diperingan). Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan Bulughul Maram – Shalat: Cara Membaca Shalawat Bakda Tasyahud Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:514-515. — Malam Kamis, 6 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat shalawat nabi shalawat saat tasyahud shalawatin saja sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 13): Hafalkan, Diskusikan, dan Bertanyalah

Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 12): Carilah Teman yang Mendukungmu Belajar AgamaBismillah…Ada tiga hal yang jika diupayakan seorang penuntut ilmu, maka ilmu akan bersemai di dalam jiwanya:Pertama, menghafal.Kedua, berdiskusi dengan rekan belajar/kajian.Ketiga, bertanya kepada ahli ilmuSyekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah menerangkan di dalam kitab Khulashoh karyanya,إذ تلقيه عن الشيخ لا ينفع بلا حفظ له ومذاكرة به وسؤال عنه، فهؤلاء تحقق في قلب طالب العلم تعظيمه، بكمال الالتفات إليه والاشتغال به، فالحفظ خلوة بالنفس، والمذاكرة جلوس إلى القرين والسؤال إقبال على العالم“Belajar kepada seorang guru (syekh, ustaz, dll) tidak bermanfaat tanpa menghafal, berdiskusi, dan bertanya kepada guru. Tiga hal itu akan mewujudkan pengagungan ilmu di dalam dada sesuai kadar totalitas mempelajarinya. Menghafal adalah khalwat seorang penuntut ilmu dengan dirinya sendiri. Berdiskusi adalah duduk bersama rekan-rekannya. Bertanya adalah menghadap kepada ulama.” Dengan mengupayakan tiga hal di atas, seorang penuntut ilmu menjadi seimbang waktu belajarnya. Ada saat-saat dia harus menyendiri dengan dirinya, itulah saat menghafal. Ada saat-saat ia harus bersosialisasi dengan teman-temannya, itulah saat ia berdiskusi. Ada saat-saat ia harus welcome, konsentrasi kepada gurunya, yaitu saat bertanya kepada guru.Ketiga poin di atas kita perjelas lagi dengan catatan di bawah ini: Daftar Isi sembunyikan 1. Menghafal 2. Berdiskusi 3. Bertanya MenghafalOrang-orang yang sukses dalam menuntut ilmu, yakni para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar rahimahumullah, dan yang lainnya, perjuangan belajar mereka tidak lepas dari upaya menghafalkan ilmu. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyampaikan testimoni dari kegiatan menghafal beliau di masa-masa belajar,حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا“Kami menghafal sedikit dan banyak membaca. Ternyata manfaat yang kami dapat dari hafalan lebih banyak daripada yang didapat dari membaca.”Karena ilmu yang didapat dari menghafal, akan lebih kokoh tersimpan di dalam jiwa daripada yang didapat dari membaca. Meski kedua metode ini sangat bermanfaat. Ada ilmu yang memang harus dihafal. Ada yang cukup dengan membaca. Namun, jangan pernah menganggap sepele metode menghafal dalam belajar, kemudian mencukupkan dengan pemahaman. Manfaat menghafal bagi penuntut ilmu telah dirasakan sendiri oleh orang-orang yang telah sukses belajar.Baca Juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan SombongBerdiskusiSering terjadi pada diri pelajar, pemahaman-pemahaman yang rinci atau detail itu bisa didapat setelah berdiskusi dengan rekan sesama pelajar. Dan pemahaman yang remang-remang menjadi terang benderang setelah berdiskusi. Tentu saja diskusi yang didasari niat yang baik, dari hati yang bersih dari egois, untuk belajar, untuk mengasah ketajaman ilmu kita, bukan untuk menang-menangan atau saling menjatuhkan. Tetapi, diskusi untuk belajar mendengar dari orang lain, menerima masukan, dan legowo mendapatkan koreksi jika ternyata pemahaman kita terbukti salah. Jika niat yang baik ini menjadi dasar diskusi, maka keberkahan diskusi akan kita dapatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh para ulama,وبالمذاكرة تدوم حياة العلم في النفس“Dengan berdiskusi, kehidupan ilmu di dalam jiwa akan langgeng.”Al-Quran sebagai ilmu yang telah Allah mudahkan. Itu saja masih perlu muraja’ah agar hafalan Al-Qur’an terjaga dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنما مثل صاحب القرآن كمثل صاحب الإبل المعلقة“Sesungguhnya permisalan penghafal Al-Qur’an itu seperti pemilik unta yang untanya terikat.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan hafalan Al-Qur’an itu seperti unta yang terikat, karena unta adalah binatang yang jika terlepas, susah ditangkap. Hafalan Al-Qur’an memiliki karakter yang sama. Jika telah lepas dengan tidak di-muraja’ah, maka menghafalnya kembali susah. Ini benar-benar kenyataan, silahkan anda bisa bertanya kepada para penghafal Al-Qur’an.Jika demikian bentuk arahan Nabi kita shallallahu ’alaihi wasallam kepada Al-Qur’an, ilmu yang telah ditegaskan Allah Ta’ala sebagai ilmu yang Allah mudahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikatnya baik-baik. Maka bagaimana gerangan dengan ilmu syar’i selain Al-Qur’an?!Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan,وإذا كان القرآن الميسر للذكر كلإبل المعلقة من تعاهدها أمسكها فكيف بسائر العلوم؟!“Jika Al-Qur’an yang dimudahkan untuk diingat seperti unta yang terikat. Jika diikat, maka tuannya bisa menguasainya. Maka, bagaimana lagi dengan ilmu yang lain?!” (At-Tamhid)Poin yang menjadi titik temu antara muraja’ah Al-Qur’an dengan motivasi untuk mempersering diskusi adalah bahwa metode menjaga hafalan Al-Qur’an yang terbaik adalah dengan menyimakkan hafalan kepada yang lain. Sebagaimana petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, beliau sering menyimakkan hafalan Al-Qur’annya kepada malaikat Jibril ‘alaihissalam. Maka demikianlah, cara menjaga ilmu yang paling mujarab. Paling baik adalah dengan ‘menyimakkan’ ilmu itu kepada orang lain, yaitu dengan cara diskusi bersama rekan-rekan sesama penuntut ilmu.BertanyaKata Syekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah,وبالسؤال عن العلم تفتتح خزائنه“Dengan bertanya, akan terbukalah perbendaharaan ilmu.” (Mukhtashor Ta’dzhiimil ‘Ilmi)Bahkan para ulama salaf menilai bahwa baiknya pertanyaan adalah setengahnya ilmu.Salah satu bukti nyata belajar dengan model bertanya itu sangat bermanfaat adalah tanya jawab murid-murid Imam Ahmad rahimahullah kepada beliau yang kemudian diriwayatkan dan dikumpulkan menjadi buku. Sungguh manfaatnya sangat terasa.Betapa sering ilmu yang samar menjadi terang benderang setelah bertanya. Atau faedah -faedah tersembunyi yang tidak tertulis di kitab atau tidak tersebut di kajian bisa kita dapatkan dari bertanya. Inilah tiga hal yang bisa merawat ilmu:Menghafal, itu ibarat menamam.Berdiskusi, itu ibarat menyirami dan memupuk.Lalu, bertanya itu ibarat mengembangbiakkan atau menambah ilmu.DemikianWaffaqanallah waiyyakum.Baca Juga:3 Wasiat untuk Para Penuntut IlmuPenuntut Ilmu dan yang Mengajarkan Ilmu***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.idReferensi:Mukhtashor Ta’dzhiim Al-‘Ilmi beserta Syarahnya, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi –hafidzhohullah–🔍 Fiqih, Nabi Danial, Hadits Shahih Tentang Ramadhan, Firman Allah Tentang Syukur Nikmat, Cara Membuat Istri Jadi PenurutTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 13): Hafalkan, Diskusikan, dan Bertanyalah

Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 12): Carilah Teman yang Mendukungmu Belajar AgamaBismillah…Ada tiga hal yang jika diupayakan seorang penuntut ilmu, maka ilmu akan bersemai di dalam jiwanya:Pertama, menghafal.Kedua, berdiskusi dengan rekan belajar/kajian.Ketiga, bertanya kepada ahli ilmuSyekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah menerangkan di dalam kitab Khulashoh karyanya,إذ تلقيه عن الشيخ لا ينفع بلا حفظ له ومذاكرة به وسؤال عنه، فهؤلاء تحقق في قلب طالب العلم تعظيمه، بكمال الالتفات إليه والاشتغال به، فالحفظ خلوة بالنفس، والمذاكرة جلوس إلى القرين والسؤال إقبال على العالم“Belajar kepada seorang guru (syekh, ustaz, dll) tidak bermanfaat tanpa menghafal, berdiskusi, dan bertanya kepada guru. Tiga hal itu akan mewujudkan pengagungan ilmu di dalam dada sesuai kadar totalitas mempelajarinya. Menghafal adalah khalwat seorang penuntut ilmu dengan dirinya sendiri. Berdiskusi adalah duduk bersama rekan-rekannya. Bertanya adalah menghadap kepada ulama.” Dengan mengupayakan tiga hal di atas, seorang penuntut ilmu menjadi seimbang waktu belajarnya. Ada saat-saat dia harus menyendiri dengan dirinya, itulah saat menghafal. Ada saat-saat ia harus bersosialisasi dengan teman-temannya, itulah saat ia berdiskusi. Ada saat-saat ia harus welcome, konsentrasi kepada gurunya, yaitu saat bertanya kepada guru.Ketiga poin di atas kita perjelas lagi dengan catatan di bawah ini: Daftar Isi sembunyikan 1. Menghafal 2. Berdiskusi 3. Bertanya MenghafalOrang-orang yang sukses dalam menuntut ilmu, yakni para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar rahimahumullah, dan yang lainnya, perjuangan belajar mereka tidak lepas dari upaya menghafalkan ilmu. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyampaikan testimoni dari kegiatan menghafal beliau di masa-masa belajar,حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا“Kami menghafal sedikit dan banyak membaca. Ternyata manfaat yang kami dapat dari hafalan lebih banyak daripada yang didapat dari membaca.”Karena ilmu yang didapat dari menghafal, akan lebih kokoh tersimpan di dalam jiwa daripada yang didapat dari membaca. Meski kedua metode ini sangat bermanfaat. Ada ilmu yang memang harus dihafal. Ada yang cukup dengan membaca. Namun, jangan pernah menganggap sepele metode menghafal dalam belajar, kemudian mencukupkan dengan pemahaman. Manfaat menghafal bagi penuntut ilmu telah dirasakan sendiri oleh orang-orang yang telah sukses belajar.Baca Juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan SombongBerdiskusiSering terjadi pada diri pelajar, pemahaman-pemahaman yang rinci atau detail itu bisa didapat setelah berdiskusi dengan rekan sesama pelajar. Dan pemahaman yang remang-remang menjadi terang benderang setelah berdiskusi. Tentu saja diskusi yang didasari niat yang baik, dari hati yang bersih dari egois, untuk belajar, untuk mengasah ketajaman ilmu kita, bukan untuk menang-menangan atau saling menjatuhkan. Tetapi, diskusi untuk belajar mendengar dari orang lain, menerima masukan, dan legowo mendapatkan koreksi jika ternyata pemahaman kita terbukti salah. Jika niat yang baik ini menjadi dasar diskusi, maka keberkahan diskusi akan kita dapatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh para ulama,وبالمذاكرة تدوم حياة العلم في النفس“Dengan berdiskusi, kehidupan ilmu di dalam jiwa akan langgeng.”Al-Quran sebagai ilmu yang telah Allah mudahkan. Itu saja masih perlu muraja’ah agar hafalan Al-Qur’an terjaga dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنما مثل صاحب القرآن كمثل صاحب الإبل المعلقة“Sesungguhnya permisalan penghafal Al-Qur’an itu seperti pemilik unta yang untanya terikat.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan hafalan Al-Qur’an itu seperti unta yang terikat, karena unta adalah binatang yang jika terlepas, susah ditangkap. Hafalan Al-Qur’an memiliki karakter yang sama. Jika telah lepas dengan tidak di-muraja’ah, maka menghafalnya kembali susah. Ini benar-benar kenyataan, silahkan anda bisa bertanya kepada para penghafal Al-Qur’an.Jika demikian bentuk arahan Nabi kita shallallahu ’alaihi wasallam kepada Al-Qur’an, ilmu yang telah ditegaskan Allah Ta’ala sebagai ilmu yang Allah mudahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikatnya baik-baik. Maka bagaimana gerangan dengan ilmu syar’i selain Al-Qur’an?!Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan,وإذا كان القرآن الميسر للذكر كلإبل المعلقة من تعاهدها أمسكها فكيف بسائر العلوم؟!“Jika Al-Qur’an yang dimudahkan untuk diingat seperti unta yang terikat. Jika diikat, maka tuannya bisa menguasainya. Maka, bagaimana lagi dengan ilmu yang lain?!” (At-Tamhid)Poin yang menjadi titik temu antara muraja’ah Al-Qur’an dengan motivasi untuk mempersering diskusi adalah bahwa metode menjaga hafalan Al-Qur’an yang terbaik adalah dengan menyimakkan hafalan kepada yang lain. Sebagaimana petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, beliau sering menyimakkan hafalan Al-Qur’annya kepada malaikat Jibril ‘alaihissalam. Maka demikianlah, cara menjaga ilmu yang paling mujarab. Paling baik adalah dengan ‘menyimakkan’ ilmu itu kepada orang lain, yaitu dengan cara diskusi bersama rekan-rekan sesama penuntut ilmu.BertanyaKata Syekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah,وبالسؤال عن العلم تفتتح خزائنه“Dengan bertanya, akan terbukalah perbendaharaan ilmu.” (Mukhtashor Ta’dzhiimil ‘Ilmi)Bahkan para ulama salaf menilai bahwa baiknya pertanyaan adalah setengahnya ilmu.Salah satu bukti nyata belajar dengan model bertanya itu sangat bermanfaat adalah tanya jawab murid-murid Imam Ahmad rahimahullah kepada beliau yang kemudian diriwayatkan dan dikumpulkan menjadi buku. Sungguh manfaatnya sangat terasa.Betapa sering ilmu yang samar menjadi terang benderang setelah bertanya. Atau faedah -faedah tersembunyi yang tidak tertulis di kitab atau tidak tersebut di kajian bisa kita dapatkan dari bertanya. Inilah tiga hal yang bisa merawat ilmu:Menghafal, itu ibarat menamam.Berdiskusi, itu ibarat menyirami dan memupuk.Lalu, bertanya itu ibarat mengembangbiakkan atau menambah ilmu.DemikianWaffaqanallah waiyyakum.Baca Juga:3 Wasiat untuk Para Penuntut IlmuPenuntut Ilmu dan yang Mengajarkan Ilmu***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.idReferensi:Mukhtashor Ta’dzhiim Al-‘Ilmi beserta Syarahnya, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi –hafidzhohullah–🔍 Fiqih, Nabi Danial, Hadits Shahih Tentang Ramadhan, Firman Allah Tentang Syukur Nikmat, Cara Membuat Istri Jadi PenurutTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu
Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 12): Carilah Teman yang Mendukungmu Belajar AgamaBismillah…Ada tiga hal yang jika diupayakan seorang penuntut ilmu, maka ilmu akan bersemai di dalam jiwanya:Pertama, menghafal.Kedua, berdiskusi dengan rekan belajar/kajian.Ketiga, bertanya kepada ahli ilmuSyekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah menerangkan di dalam kitab Khulashoh karyanya,إذ تلقيه عن الشيخ لا ينفع بلا حفظ له ومذاكرة به وسؤال عنه، فهؤلاء تحقق في قلب طالب العلم تعظيمه، بكمال الالتفات إليه والاشتغال به، فالحفظ خلوة بالنفس، والمذاكرة جلوس إلى القرين والسؤال إقبال على العالم“Belajar kepada seorang guru (syekh, ustaz, dll) tidak bermanfaat tanpa menghafal, berdiskusi, dan bertanya kepada guru. Tiga hal itu akan mewujudkan pengagungan ilmu di dalam dada sesuai kadar totalitas mempelajarinya. Menghafal adalah khalwat seorang penuntut ilmu dengan dirinya sendiri. Berdiskusi adalah duduk bersama rekan-rekannya. Bertanya adalah menghadap kepada ulama.” Dengan mengupayakan tiga hal di atas, seorang penuntut ilmu menjadi seimbang waktu belajarnya. Ada saat-saat dia harus menyendiri dengan dirinya, itulah saat menghafal. Ada saat-saat ia harus bersosialisasi dengan teman-temannya, itulah saat ia berdiskusi. Ada saat-saat ia harus welcome, konsentrasi kepada gurunya, yaitu saat bertanya kepada guru.Ketiga poin di atas kita perjelas lagi dengan catatan di bawah ini: Daftar Isi sembunyikan 1. Menghafal 2. Berdiskusi 3. Bertanya MenghafalOrang-orang yang sukses dalam menuntut ilmu, yakni para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar rahimahumullah, dan yang lainnya, perjuangan belajar mereka tidak lepas dari upaya menghafalkan ilmu. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyampaikan testimoni dari kegiatan menghafal beliau di masa-masa belajar,حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا“Kami menghafal sedikit dan banyak membaca. Ternyata manfaat yang kami dapat dari hafalan lebih banyak daripada yang didapat dari membaca.”Karena ilmu yang didapat dari menghafal, akan lebih kokoh tersimpan di dalam jiwa daripada yang didapat dari membaca. Meski kedua metode ini sangat bermanfaat. Ada ilmu yang memang harus dihafal. Ada yang cukup dengan membaca. Namun, jangan pernah menganggap sepele metode menghafal dalam belajar, kemudian mencukupkan dengan pemahaman. Manfaat menghafal bagi penuntut ilmu telah dirasakan sendiri oleh orang-orang yang telah sukses belajar.Baca Juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan SombongBerdiskusiSering terjadi pada diri pelajar, pemahaman-pemahaman yang rinci atau detail itu bisa didapat setelah berdiskusi dengan rekan sesama pelajar. Dan pemahaman yang remang-remang menjadi terang benderang setelah berdiskusi. Tentu saja diskusi yang didasari niat yang baik, dari hati yang bersih dari egois, untuk belajar, untuk mengasah ketajaman ilmu kita, bukan untuk menang-menangan atau saling menjatuhkan. Tetapi, diskusi untuk belajar mendengar dari orang lain, menerima masukan, dan legowo mendapatkan koreksi jika ternyata pemahaman kita terbukti salah. Jika niat yang baik ini menjadi dasar diskusi, maka keberkahan diskusi akan kita dapatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh para ulama,وبالمذاكرة تدوم حياة العلم في النفس“Dengan berdiskusi, kehidupan ilmu di dalam jiwa akan langgeng.”Al-Quran sebagai ilmu yang telah Allah mudahkan. Itu saja masih perlu muraja’ah agar hafalan Al-Qur’an terjaga dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنما مثل صاحب القرآن كمثل صاحب الإبل المعلقة“Sesungguhnya permisalan penghafal Al-Qur’an itu seperti pemilik unta yang untanya terikat.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan hafalan Al-Qur’an itu seperti unta yang terikat, karena unta adalah binatang yang jika terlepas, susah ditangkap. Hafalan Al-Qur’an memiliki karakter yang sama. Jika telah lepas dengan tidak di-muraja’ah, maka menghafalnya kembali susah. Ini benar-benar kenyataan, silahkan anda bisa bertanya kepada para penghafal Al-Qur’an.Jika demikian bentuk arahan Nabi kita shallallahu ’alaihi wasallam kepada Al-Qur’an, ilmu yang telah ditegaskan Allah Ta’ala sebagai ilmu yang Allah mudahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikatnya baik-baik. Maka bagaimana gerangan dengan ilmu syar’i selain Al-Qur’an?!Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan,وإذا كان القرآن الميسر للذكر كلإبل المعلقة من تعاهدها أمسكها فكيف بسائر العلوم؟!“Jika Al-Qur’an yang dimudahkan untuk diingat seperti unta yang terikat. Jika diikat, maka tuannya bisa menguasainya. Maka, bagaimana lagi dengan ilmu yang lain?!” (At-Tamhid)Poin yang menjadi titik temu antara muraja’ah Al-Qur’an dengan motivasi untuk mempersering diskusi adalah bahwa metode menjaga hafalan Al-Qur’an yang terbaik adalah dengan menyimakkan hafalan kepada yang lain. Sebagaimana petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, beliau sering menyimakkan hafalan Al-Qur’annya kepada malaikat Jibril ‘alaihissalam. Maka demikianlah, cara menjaga ilmu yang paling mujarab. Paling baik adalah dengan ‘menyimakkan’ ilmu itu kepada orang lain, yaitu dengan cara diskusi bersama rekan-rekan sesama penuntut ilmu.BertanyaKata Syekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah,وبالسؤال عن العلم تفتتح خزائنه“Dengan bertanya, akan terbukalah perbendaharaan ilmu.” (Mukhtashor Ta’dzhiimil ‘Ilmi)Bahkan para ulama salaf menilai bahwa baiknya pertanyaan adalah setengahnya ilmu.Salah satu bukti nyata belajar dengan model bertanya itu sangat bermanfaat adalah tanya jawab murid-murid Imam Ahmad rahimahullah kepada beliau yang kemudian diriwayatkan dan dikumpulkan menjadi buku. Sungguh manfaatnya sangat terasa.Betapa sering ilmu yang samar menjadi terang benderang setelah bertanya. Atau faedah -faedah tersembunyi yang tidak tertulis di kitab atau tidak tersebut di kajian bisa kita dapatkan dari bertanya. Inilah tiga hal yang bisa merawat ilmu:Menghafal, itu ibarat menamam.Berdiskusi, itu ibarat menyirami dan memupuk.Lalu, bertanya itu ibarat mengembangbiakkan atau menambah ilmu.DemikianWaffaqanallah waiyyakum.Baca Juga:3 Wasiat untuk Para Penuntut IlmuPenuntut Ilmu dan yang Mengajarkan Ilmu***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.idReferensi:Mukhtashor Ta’dzhiim Al-‘Ilmi beserta Syarahnya, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi –hafidzhohullah–🔍 Fiqih, Nabi Danial, Hadits Shahih Tentang Ramadhan, Firman Allah Tentang Syukur Nikmat, Cara Membuat Istri Jadi PenurutTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu


Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 12): Carilah Teman yang Mendukungmu Belajar AgamaBismillah…Ada tiga hal yang jika diupayakan seorang penuntut ilmu, maka ilmu akan bersemai di dalam jiwanya:Pertama, menghafal.Kedua, berdiskusi dengan rekan belajar/kajian.Ketiga, bertanya kepada ahli ilmuSyekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah menerangkan di dalam kitab Khulashoh karyanya,إذ تلقيه عن الشيخ لا ينفع بلا حفظ له ومذاكرة به وسؤال عنه، فهؤلاء تحقق في قلب طالب العلم تعظيمه، بكمال الالتفات إليه والاشتغال به، فالحفظ خلوة بالنفس، والمذاكرة جلوس إلى القرين والسؤال إقبال على العالم“Belajar kepada seorang guru (syekh, ustaz, dll) tidak bermanfaat tanpa menghafal, berdiskusi, dan bertanya kepada guru. Tiga hal itu akan mewujudkan pengagungan ilmu di dalam dada sesuai kadar totalitas mempelajarinya. Menghafal adalah khalwat seorang penuntut ilmu dengan dirinya sendiri. Berdiskusi adalah duduk bersama rekan-rekannya. Bertanya adalah menghadap kepada ulama.” Dengan mengupayakan tiga hal di atas, seorang penuntut ilmu menjadi seimbang waktu belajarnya. Ada saat-saat dia harus menyendiri dengan dirinya, itulah saat menghafal. Ada saat-saat ia harus bersosialisasi dengan teman-temannya, itulah saat ia berdiskusi. Ada saat-saat ia harus welcome, konsentrasi kepada gurunya, yaitu saat bertanya kepada guru.Ketiga poin di atas kita perjelas lagi dengan catatan di bawah ini: Daftar Isi sembunyikan 1. Menghafal 2. Berdiskusi 3. Bertanya MenghafalOrang-orang yang sukses dalam menuntut ilmu, yakni para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar rahimahumullah, dan yang lainnya, perjuangan belajar mereka tidak lepas dari upaya menghafalkan ilmu. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyampaikan testimoni dari kegiatan menghafal beliau di masa-masa belajar,حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا“Kami menghafal sedikit dan banyak membaca. Ternyata manfaat yang kami dapat dari hafalan lebih banyak daripada yang didapat dari membaca.”Karena ilmu yang didapat dari menghafal, akan lebih kokoh tersimpan di dalam jiwa daripada yang didapat dari membaca. Meski kedua metode ini sangat bermanfaat. Ada ilmu yang memang harus dihafal. Ada yang cukup dengan membaca. Namun, jangan pernah menganggap sepele metode menghafal dalam belajar, kemudian mencukupkan dengan pemahaman. Manfaat menghafal bagi penuntut ilmu telah dirasakan sendiri oleh orang-orang yang telah sukses belajar.Baca Juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan SombongBerdiskusiSering terjadi pada diri pelajar, pemahaman-pemahaman yang rinci atau detail itu bisa didapat setelah berdiskusi dengan rekan sesama pelajar. Dan pemahaman yang remang-remang menjadi terang benderang setelah berdiskusi. Tentu saja diskusi yang didasari niat yang baik, dari hati yang bersih dari egois, untuk belajar, untuk mengasah ketajaman ilmu kita, bukan untuk menang-menangan atau saling menjatuhkan. Tetapi, diskusi untuk belajar mendengar dari orang lain, menerima masukan, dan legowo mendapatkan koreksi jika ternyata pemahaman kita terbukti salah. Jika niat yang baik ini menjadi dasar diskusi, maka keberkahan diskusi akan kita dapatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh para ulama,وبالمذاكرة تدوم حياة العلم في النفس“Dengan berdiskusi, kehidupan ilmu di dalam jiwa akan langgeng.”Al-Quran sebagai ilmu yang telah Allah mudahkan. Itu saja masih perlu muraja’ah agar hafalan Al-Qur’an terjaga dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ“Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنما مثل صاحب القرآن كمثل صاحب الإبل المعلقة“Sesungguhnya permisalan penghafal Al-Qur’an itu seperti pemilik unta yang untanya terikat.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan hafalan Al-Qur’an itu seperti unta yang terikat, karena unta adalah binatang yang jika terlepas, susah ditangkap. Hafalan Al-Qur’an memiliki karakter yang sama. Jika telah lepas dengan tidak di-muraja’ah, maka menghafalnya kembali susah. Ini benar-benar kenyataan, silahkan anda bisa bertanya kepada para penghafal Al-Qur’an.Jika demikian bentuk arahan Nabi kita shallallahu ’alaihi wasallam kepada Al-Qur’an, ilmu yang telah ditegaskan Allah Ta’ala sebagai ilmu yang Allah mudahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikatnya baik-baik. Maka bagaimana gerangan dengan ilmu syar’i selain Al-Qur’an?!Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan,وإذا كان القرآن الميسر للذكر كلإبل المعلقة من تعاهدها أمسكها فكيف بسائر العلوم؟!“Jika Al-Qur’an yang dimudahkan untuk diingat seperti unta yang terikat. Jika diikat, maka tuannya bisa menguasainya. Maka, bagaimana lagi dengan ilmu yang lain?!” (At-Tamhid)Poin yang menjadi titik temu antara muraja’ah Al-Qur’an dengan motivasi untuk mempersering diskusi adalah bahwa metode menjaga hafalan Al-Qur’an yang terbaik adalah dengan menyimakkan hafalan kepada yang lain. Sebagaimana petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, beliau sering menyimakkan hafalan Al-Qur’annya kepada malaikat Jibril ‘alaihissalam. Maka demikianlah, cara menjaga ilmu yang paling mujarab. Paling baik adalah dengan ‘menyimakkan’ ilmu itu kepada orang lain, yaitu dengan cara diskusi bersama rekan-rekan sesama penuntut ilmu.BertanyaKata Syekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah,وبالسؤال عن العلم تفتتح خزائنه“Dengan bertanya, akan terbukalah perbendaharaan ilmu.” (Mukhtashor Ta’dzhiimil ‘Ilmi)Bahkan para ulama salaf menilai bahwa baiknya pertanyaan adalah setengahnya ilmu.Salah satu bukti nyata belajar dengan model bertanya itu sangat bermanfaat adalah tanya jawab murid-murid Imam Ahmad rahimahullah kepada beliau yang kemudian diriwayatkan dan dikumpulkan menjadi buku. Sungguh manfaatnya sangat terasa.Betapa sering ilmu yang samar menjadi terang benderang setelah bertanya. Atau faedah -faedah tersembunyi yang tidak tertulis di kitab atau tidak tersebut di kajian bisa kita dapatkan dari bertanya. Inilah tiga hal yang bisa merawat ilmu:Menghafal, itu ibarat menamam.Berdiskusi, itu ibarat menyirami dan memupuk.Lalu, bertanya itu ibarat mengembangbiakkan atau menambah ilmu.DemikianWaffaqanallah waiyyakum.Baca Juga:3 Wasiat untuk Para Penuntut IlmuPenuntut Ilmu dan yang Mengajarkan Ilmu***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.idReferensi:Mukhtashor Ta’dzhiim Al-‘Ilmi beserta Syarahnya, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi –hafidzhohullah–🔍 Fiqih, Nabi Danial, Hadits Shahih Tentang Ramadhan, Firman Allah Tentang Syukur Nikmat, Cara Membuat Istri Jadi PenurutTags: adabadab Islamadab penuntut ilmuAkhlakakhlak penuntut ilmuberadabilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmunasihatnasihat islamnasihat penuntut ilmu

Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan

Bagaimana agar doa-doa kita mudah dikabulkan? Kita bisa ambil pelajaran dari doa ketika tasyahud akhir, di situ diajarkan memuji Allah dahulu, bershalawat, lalu berdoa. Hal ini bisa dikaji dari Kitab Bulughul Maram berikut ini.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Adab Doa Ketika Tasyahud 2. Hadits #316 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Adab Doa Ketika Tasyahud Hadits #316 عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً يَدْعُو فِي صَلاَتِهِ، لَمْ يَحْمَدِ اللهَ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: «عَجِلَ هذَا» ثمَّ دَعَاهُ، فَقَالَ: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالثَّلاَثَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالحَاكِمُ. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Orang ini tergesa-gesa.’ Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian shalat, maka hendaknya ia memulai dengan memuji Rabbnya dan menyanjung-Nya, kemudian membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdoa dengan doa yang dikehendakinya.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang tiga. Hadits ini sahih menurut Imam Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 1481; Tirmidzi, no. 3477; An-Nasai, 3:44-45; Ahmad, 39:363; Ibnu Hibban, no. 1960; Al-Hakim, 1:230-268. Lafaz hadits ini adalah dari Abu Daud. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan, sedangkan Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih sesuai syarat Muslim. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengkritik bahwa hadits ini ada perawi yang bernama ‘Amr bin Malik tidak dikeluarkan oleh Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:159-160].   Faedah hadits Orang yang berdoa ini disebut tergesa-gesa karena ia langsung berdoa tanpa terlebih dahulu memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya. Hadits ini menjadi dalil bahwa termasuk adab dalam berdoa adalah memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengajukan permintaan. Adab ini ada ketika tasyahud, karena di dalamnya diawali dengan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa dengan memenuhi adab seperti ini lebih dekat pada ijabah (pengabulan). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Jalaa’ Al-Afham (hlm. 189), “Tidak ada tempat dalam shalat yang disyariatkan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Rasul-Nya, lalu berdoa, selain pada tasyahud akhir dalam shalat. Hal seperti ini disepakati tidak disyariatkan ketika berdiri, rukuk, dan sujud.” Adab doa secara umum baik dalam shalat maupun di luar shalat adalah memuji Allah, lalu bershalawat, kemudian berdoa. Hal ini juga berlaku ketika sujud saat sujudnya lama seperti dalam shalat tahajud. Shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk wajib menurut sebagian ulama ketika tasyahud karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan orang dalam hadits ini untuk mengulangi shalat. Dalam madzhab Syafii, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sunnah ab’adh pada tasyahud awal. Sedangkan saat tasyahud akhir, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk rukun shalat, lalu shalawat kepada keluarga Nabi termasuk sunnah ab’adh. Wallahu a’lam. Hadits ini menjadi dalil bahwa perantara doa itu didahulukan dari mengajukan permasalah dalam doa, atau disebut taqdiimul wasaa-il bayna yaday al-masaa-il, yaitu mendahulukan perantara dari masalah. Jika seseorang telah selesai dari membaca tasyahud, lalu shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, ia boleh berdoa sekehendaknya untuk urusan dunia dan akhirat. Yang lebih afdal adalah berdoa dengan doa-doa yang ada riwayatnya (ma’tsur). Namun, jika ia berdoa untuk suatu yang haram, shalatnya batal. Adapun, yang tidak sanggup berdoa dengan bahasa Arab, ia berdoa dengan terjemahannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:159-161. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:510-511. Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Mustajabnya Doa Ketika Sujud — Selasa pagi, 4 Syakban 1443 H, 8 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi

Bulughul Maram – Shalat: Adab Berdoa Ketika Tasyahud Agar Mudah Dikabulkan

Bagaimana agar doa-doa kita mudah dikabulkan? Kita bisa ambil pelajaran dari doa ketika tasyahud akhir, di situ diajarkan memuji Allah dahulu, bershalawat, lalu berdoa. Hal ini bisa dikaji dari Kitab Bulughul Maram berikut ini.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Adab Doa Ketika Tasyahud 2. Hadits #316 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Adab Doa Ketika Tasyahud Hadits #316 عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً يَدْعُو فِي صَلاَتِهِ، لَمْ يَحْمَدِ اللهَ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: «عَجِلَ هذَا» ثمَّ دَعَاهُ، فَقَالَ: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالثَّلاَثَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالحَاكِمُ. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Orang ini tergesa-gesa.’ Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian shalat, maka hendaknya ia memulai dengan memuji Rabbnya dan menyanjung-Nya, kemudian membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdoa dengan doa yang dikehendakinya.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang tiga. Hadits ini sahih menurut Imam Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 1481; Tirmidzi, no. 3477; An-Nasai, 3:44-45; Ahmad, 39:363; Ibnu Hibban, no. 1960; Al-Hakim, 1:230-268. Lafaz hadits ini adalah dari Abu Daud. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan, sedangkan Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih sesuai syarat Muslim. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengkritik bahwa hadits ini ada perawi yang bernama ‘Amr bin Malik tidak dikeluarkan oleh Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:159-160].   Faedah hadits Orang yang berdoa ini disebut tergesa-gesa karena ia langsung berdoa tanpa terlebih dahulu memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya. Hadits ini menjadi dalil bahwa termasuk adab dalam berdoa adalah memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengajukan permintaan. Adab ini ada ketika tasyahud, karena di dalamnya diawali dengan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa dengan memenuhi adab seperti ini lebih dekat pada ijabah (pengabulan). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Jalaa’ Al-Afham (hlm. 189), “Tidak ada tempat dalam shalat yang disyariatkan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Rasul-Nya, lalu berdoa, selain pada tasyahud akhir dalam shalat. Hal seperti ini disepakati tidak disyariatkan ketika berdiri, rukuk, dan sujud.” Adab doa secara umum baik dalam shalat maupun di luar shalat adalah memuji Allah, lalu bershalawat, kemudian berdoa. Hal ini juga berlaku ketika sujud saat sujudnya lama seperti dalam shalat tahajud. Shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk wajib menurut sebagian ulama ketika tasyahud karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan orang dalam hadits ini untuk mengulangi shalat. Dalam madzhab Syafii, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sunnah ab’adh pada tasyahud awal. Sedangkan saat tasyahud akhir, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk rukun shalat, lalu shalawat kepada keluarga Nabi termasuk sunnah ab’adh. Wallahu a’lam. Hadits ini menjadi dalil bahwa perantara doa itu didahulukan dari mengajukan permasalah dalam doa, atau disebut taqdiimul wasaa-il bayna yaday al-masaa-il, yaitu mendahulukan perantara dari masalah. Jika seseorang telah selesai dari membaca tasyahud, lalu shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, ia boleh berdoa sekehendaknya untuk urusan dunia dan akhirat. Yang lebih afdal adalah berdoa dengan doa-doa yang ada riwayatnya (ma’tsur). Namun, jika ia berdoa untuk suatu yang haram, shalatnya batal. Adapun, yang tidak sanggup berdoa dengan bahasa Arab, ia berdoa dengan terjemahannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:159-161. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:510-511. Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Mustajabnya Doa Ketika Sujud — Selasa pagi, 4 Syakban 1443 H, 8 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi
Bagaimana agar doa-doa kita mudah dikabulkan? Kita bisa ambil pelajaran dari doa ketika tasyahud akhir, di situ diajarkan memuji Allah dahulu, bershalawat, lalu berdoa. Hal ini bisa dikaji dari Kitab Bulughul Maram berikut ini.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Adab Doa Ketika Tasyahud 2. Hadits #316 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Adab Doa Ketika Tasyahud Hadits #316 عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً يَدْعُو فِي صَلاَتِهِ، لَمْ يَحْمَدِ اللهَ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: «عَجِلَ هذَا» ثمَّ دَعَاهُ، فَقَالَ: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالثَّلاَثَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالحَاكِمُ. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Orang ini tergesa-gesa.’ Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian shalat, maka hendaknya ia memulai dengan memuji Rabbnya dan menyanjung-Nya, kemudian membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdoa dengan doa yang dikehendakinya.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang tiga. Hadits ini sahih menurut Imam Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 1481; Tirmidzi, no. 3477; An-Nasai, 3:44-45; Ahmad, 39:363; Ibnu Hibban, no. 1960; Al-Hakim, 1:230-268. Lafaz hadits ini adalah dari Abu Daud. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan, sedangkan Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih sesuai syarat Muslim. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengkritik bahwa hadits ini ada perawi yang bernama ‘Amr bin Malik tidak dikeluarkan oleh Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:159-160].   Faedah hadits Orang yang berdoa ini disebut tergesa-gesa karena ia langsung berdoa tanpa terlebih dahulu memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya. Hadits ini menjadi dalil bahwa termasuk adab dalam berdoa adalah memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengajukan permintaan. Adab ini ada ketika tasyahud, karena di dalamnya diawali dengan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa dengan memenuhi adab seperti ini lebih dekat pada ijabah (pengabulan). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Jalaa’ Al-Afham (hlm. 189), “Tidak ada tempat dalam shalat yang disyariatkan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Rasul-Nya, lalu berdoa, selain pada tasyahud akhir dalam shalat. Hal seperti ini disepakati tidak disyariatkan ketika berdiri, rukuk, dan sujud.” Adab doa secara umum baik dalam shalat maupun di luar shalat adalah memuji Allah, lalu bershalawat, kemudian berdoa. Hal ini juga berlaku ketika sujud saat sujudnya lama seperti dalam shalat tahajud. Shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk wajib menurut sebagian ulama ketika tasyahud karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan orang dalam hadits ini untuk mengulangi shalat. Dalam madzhab Syafii, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sunnah ab’adh pada tasyahud awal. Sedangkan saat tasyahud akhir, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk rukun shalat, lalu shalawat kepada keluarga Nabi termasuk sunnah ab’adh. Wallahu a’lam. Hadits ini menjadi dalil bahwa perantara doa itu didahulukan dari mengajukan permasalah dalam doa, atau disebut taqdiimul wasaa-il bayna yaday al-masaa-il, yaitu mendahulukan perantara dari masalah. Jika seseorang telah selesai dari membaca tasyahud, lalu shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, ia boleh berdoa sekehendaknya untuk urusan dunia dan akhirat. Yang lebih afdal adalah berdoa dengan doa-doa yang ada riwayatnya (ma’tsur). Namun, jika ia berdoa untuk suatu yang haram, shalatnya batal. Adapun, yang tidak sanggup berdoa dengan bahasa Arab, ia berdoa dengan terjemahannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:159-161. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:510-511. Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Mustajabnya Doa Ketika Sujud — Selasa pagi, 4 Syakban 1443 H, 8 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi


Bagaimana agar doa-doa kita mudah dikabulkan? Kita bisa ambil pelajaran dari doa ketika tasyahud akhir, di situ diajarkan memuji Allah dahulu, bershalawat, lalu berdoa. Hal ini bisa dikaji dari Kitab Bulughul Maram berikut ini.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Adab Doa Ketika Tasyahud 2. Hadits #316 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi   Adab Doa Ketika Tasyahud Hadits #316 عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً يَدْعُو فِي صَلاَتِهِ، لَمْ يَحْمَدِ اللهَ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: «عَجِلَ هذَا» ثمَّ دَعَاهُ، فَقَالَ: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالثَّلاَثَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالحَاكِمُ. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Orang ini tergesa-gesa.’ Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian shalat, maka hendaknya ia memulai dengan memuji Rabbnya dan menyanjung-Nya, kemudian membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdoa dengan doa yang dikehendakinya.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang tiga. Hadits ini sahih menurut Imam Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 1481; Tirmidzi, no. 3477; An-Nasai, 3:44-45; Ahmad, 39:363; Ibnu Hibban, no. 1960; Al-Hakim, 1:230-268. Lafaz hadits ini adalah dari Abu Daud. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan, sedangkan Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih sesuai syarat Muslim. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengkritik bahwa hadits ini ada perawi yang bernama ‘Amr bin Malik tidak dikeluarkan oleh Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:159-160].   Faedah hadits Orang yang berdoa ini disebut tergesa-gesa karena ia langsung berdoa tanpa terlebih dahulu memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya. Hadits ini menjadi dalil bahwa termasuk adab dalam berdoa adalah memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengajukan permintaan. Adab ini ada ketika tasyahud, karena di dalamnya diawali dengan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doa dengan memenuhi adab seperti ini lebih dekat pada ijabah (pengabulan). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Jalaa’ Al-Afham (hlm. 189), “Tidak ada tempat dalam shalat yang disyariatkan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Rasul-Nya, lalu berdoa, selain pada tasyahud akhir dalam shalat. Hal seperti ini disepakati tidak disyariatkan ketika berdiri, rukuk, dan sujud.” Adab doa secara umum baik dalam shalat maupun di luar shalat adalah memuji Allah, lalu bershalawat, kemudian berdoa. Hal ini juga berlaku ketika sujud saat sujudnya lama seperti dalam shalat tahajud. Shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk wajib menurut sebagian ulama ketika tasyahud karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan orang dalam hadits ini untuk mengulangi shalat. Dalam madzhab Syafii, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sunnah ab’adh pada tasyahud awal. Sedangkan saat tasyahud akhir, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk rukun shalat, lalu shalawat kepada keluarga Nabi termasuk sunnah ab’adh. Wallahu a’lam. Hadits ini menjadi dalil bahwa perantara doa itu didahulukan dari mengajukan permasalah dalam doa, atau disebut taqdiimul wasaa-il bayna yaday al-masaa-il, yaitu mendahulukan perantara dari masalah. Jika seseorang telah selesai dari membaca tasyahud, lalu shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, ia boleh berdoa sekehendaknya untuk urusan dunia dan akhirat. Yang lebih afdal adalah berdoa dengan doa-doa yang ada riwayatnya (ma’tsur). Namun, jika ia berdoa untuk suatu yang haram, shalatnya batal. Adapun, yang tidak sanggup berdoa dengan bahasa Arab, ia berdoa dengan terjemahannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:159-161. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:510-511. Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Mustajabnya Doa Ketika Sujud — Selasa pagi, 4 Syakban 1443 H, 8 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tahiyat duduk tasyahud rukun shalat shalawat sunnah ab'adh tahiyat tahiyat akhir tahiyat awal tasyahud tasyahud akhir tasyahud awal tata cara shalat tata cara shalat nabi
Prev     Next