Faedah Surat An-Nuur #48: Adab Terhadap Rasulullah, Tidak Boleh Menyelisihi Perintahnya

Ada adab terhadap Rasulullah yang mesti seorang muslim penuhi yaitu tidak boleh menyelisihi perintah beliau.   Daftar Isi tutup 1. TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 1.1. Penjelasan ayat 1.2. Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Faedah Ayat 2.1. Referensi:   TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 62. Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 63. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. 64. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu. (QS. An-Nuur: 62-64)   Penjelasan ayat Dalam Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir disebutkan: 62. “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar mukmin lagi jujur dalam keimanan mereka ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila mereka berada bersama-sama Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dalam suatu urusan yang merupakan maslahat umat Islam, mereka tidak meninggalkan Rasulullah sebelum meminta izin kepadanya untuk pergi. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu -wahai Rasul- tatkala meninggalkanmu, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara jujur. Apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan yang penting bagi mereka, maka izinkanlah bagi siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba yang bertobat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. 63. Wahai orang-orang mukmin! Muliakanlah Rasulullah bila kalian memanggilnya. Janganlah kalian memanggilnya seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yaitu dengan menyebut namanya, seperti, ‘Wahai Muhammad’, atau dengan menyebut nama ayahnya, seperti, Wahai putra Abdullah. Akan tetapi katakanlah, Wahai Rasulullah, Wahai Nabi Allah. Dan apabila dia menyeru kalian untuk perkara umum, maka janganlah kalian menjadikan seruannya seperti seruan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yang biasanya terjadi dalam perkara-perkara yang kurang penting, akan tetapi bersegeralah untuk memenuhi seruannya. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian secara sembunyi-sembunyi tanpa izin, maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- takut akan ditimpa cobaan dan bencana, atau ditimpa azab yang pedih, yang mereka tidak sanggup menahannya. 64. Ketahuilah! Sesungguhnya kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia lah yang menciptakan, menguasai dan mengatur semuanya. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang sedang kalian alami -wahai sekalian manusia-, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun. Dan pada hari Kiamat kelak, mereka semua akan dikembalikan kepada-Nya dengan dibangkitkan setelah mati, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan di dunia. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya baik di langit maupun di bumi. Baca juga: Sikap Bijak Menyikapi Qunut Shubuh   Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat lain, Allah berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115) Dalam surah yang dibahas kali ini disebutkan, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63) Baca juga: Ikutilah Sunnah Nabi, Tinggalkanlah Bid’ah (Hadits Arbain 28) Dalam ayat lainnya disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 1-2) Baca juga: Fenomena Pelecehan pada Nabi Kita shallallahu ‘alaihi wa sallam  Dalam hadits disebutkan, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku.” (HR. Bukhari, no. 5063 dan Muslim, no. 1401) Baca juga: Berbagai Artikel tentang Bid’ah Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718) Baca juga: Peringatan Bahaya Bid’ah (Hadits Arbain 05) Dalam riwayat Muslim, disebutkan, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718) Lihat bahasan di At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab, hlm. 319-320. Baca juga: Agar Tidak Terjatuh dalam Bid’ah, Sesuaikan Ibadah dalam Enam Hal Ini   Faedah Ayat Iman itu ada yang naaqish (kurang) dan ada yang kaamil (sempurna). Ulil amri hendaklah memberikan kemudahan kepada siapa saja di bawah kekuasannya. Dalam surah An-Nuur ayat 62 disebutkan, “maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.” Boleh menyerahkan suatu urusan kepada yang lain. Orang akan mendapatkan manfaat dengan doa orang lain. Kita harus memperhatikan adab meminta izin ketika meninggalkan majelis. Kita wajib memuliakan dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati-hati menyelisihi Rasul karena akan terkena fitnah yaitu kesyirikan dan kejelekan atau terkena siksa yang pedih. Adab memanggil nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda dengan memanggil lainnya. Wajib menjawab panggilan rasul bahkan ketika kita sedang shalat. Perkataan yang wajib diterima dan diamalkan dari umat ini hanyalah perkataan Rasul karena kemaksuman dan kita diperintahkan mengikuti beliau. Ayat “sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya)”, ini disebut tasallul. Hal ini dilarang tanpa uzur dan tanpa meminta izin lebih dahulu. Allah memiliki langit dan bumi. Luasnya ilmu Allah mencakup saat ini dan akan datang. Penetapan hari kembali dan hari berbangkit. Penetapan adanya hisab. Umumnya ilmu Allah. Ini adalah peringatan mengenai ilmu Allah, kita tak bisa lepas dari ilmu-Nya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur, hlm. 419-423; Tafsir As-Sa’di, hlm. 607. Baca juga: Tiga Syarat Disebut Bid’ah   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir. Penerbit Markaz Tafsir li Ad-Dirosaat Al-Qur’aniyyah. At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab. Cetakan kedua, Tahun 1423 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 21 Ramadhan 1443 H, Sabtu Sore Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bid'ah hasanah faedah surat an nuur hawa nafsu ittiba mengikuti rasul salam surah an nuur surat an nuur taat rasul tafsir an nuur tafsir surat an nuur

Faedah Surat An-Nuur #48: Adab Terhadap Rasulullah, Tidak Boleh Menyelisihi Perintahnya

Ada adab terhadap Rasulullah yang mesti seorang muslim penuhi yaitu tidak boleh menyelisihi perintah beliau.   Daftar Isi tutup 1. TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 1.1. Penjelasan ayat 1.2. Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Faedah Ayat 2.1. Referensi:   TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 62. Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 63. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. 64. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu. (QS. An-Nuur: 62-64)   Penjelasan ayat Dalam Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir disebutkan: 62. “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar mukmin lagi jujur dalam keimanan mereka ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila mereka berada bersama-sama Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dalam suatu urusan yang merupakan maslahat umat Islam, mereka tidak meninggalkan Rasulullah sebelum meminta izin kepadanya untuk pergi. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu -wahai Rasul- tatkala meninggalkanmu, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara jujur. Apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan yang penting bagi mereka, maka izinkanlah bagi siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba yang bertobat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. 63. Wahai orang-orang mukmin! Muliakanlah Rasulullah bila kalian memanggilnya. Janganlah kalian memanggilnya seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yaitu dengan menyebut namanya, seperti, ‘Wahai Muhammad’, atau dengan menyebut nama ayahnya, seperti, Wahai putra Abdullah. Akan tetapi katakanlah, Wahai Rasulullah, Wahai Nabi Allah. Dan apabila dia menyeru kalian untuk perkara umum, maka janganlah kalian menjadikan seruannya seperti seruan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yang biasanya terjadi dalam perkara-perkara yang kurang penting, akan tetapi bersegeralah untuk memenuhi seruannya. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian secara sembunyi-sembunyi tanpa izin, maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- takut akan ditimpa cobaan dan bencana, atau ditimpa azab yang pedih, yang mereka tidak sanggup menahannya. 64. Ketahuilah! Sesungguhnya kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia lah yang menciptakan, menguasai dan mengatur semuanya. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang sedang kalian alami -wahai sekalian manusia-, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun. Dan pada hari Kiamat kelak, mereka semua akan dikembalikan kepada-Nya dengan dibangkitkan setelah mati, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan di dunia. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya baik di langit maupun di bumi. Baca juga: Sikap Bijak Menyikapi Qunut Shubuh   Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat lain, Allah berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115) Dalam surah yang dibahas kali ini disebutkan, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63) Baca juga: Ikutilah Sunnah Nabi, Tinggalkanlah Bid’ah (Hadits Arbain 28) Dalam ayat lainnya disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 1-2) Baca juga: Fenomena Pelecehan pada Nabi Kita shallallahu ‘alaihi wa sallam  Dalam hadits disebutkan, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku.” (HR. Bukhari, no. 5063 dan Muslim, no. 1401) Baca juga: Berbagai Artikel tentang Bid’ah Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718) Baca juga: Peringatan Bahaya Bid’ah (Hadits Arbain 05) Dalam riwayat Muslim, disebutkan, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718) Lihat bahasan di At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab, hlm. 319-320. Baca juga: Agar Tidak Terjatuh dalam Bid’ah, Sesuaikan Ibadah dalam Enam Hal Ini   Faedah Ayat Iman itu ada yang naaqish (kurang) dan ada yang kaamil (sempurna). Ulil amri hendaklah memberikan kemudahan kepada siapa saja di bawah kekuasannya. Dalam surah An-Nuur ayat 62 disebutkan, “maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.” Boleh menyerahkan suatu urusan kepada yang lain. Orang akan mendapatkan manfaat dengan doa orang lain. Kita harus memperhatikan adab meminta izin ketika meninggalkan majelis. Kita wajib memuliakan dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati-hati menyelisihi Rasul karena akan terkena fitnah yaitu kesyirikan dan kejelekan atau terkena siksa yang pedih. Adab memanggil nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda dengan memanggil lainnya. Wajib menjawab panggilan rasul bahkan ketika kita sedang shalat. Perkataan yang wajib diterima dan diamalkan dari umat ini hanyalah perkataan Rasul karena kemaksuman dan kita diperintahkan mengikuti beliau. Ayat “sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya)”, ini disebut tasallul. Hal ini dilarang tanpa uzur dan tanpa meminta izin lebih dahulu. Allah memiliki langit dan bumi. Luasnya ilmu Allah mencakup saat ini dan akan datang. Penetapan hari kembali dan hari berbangkit. Penetapan adanya hisab. Umumnya ilmu Allah. Ini adalah peringatan mengenai ilmu Allah, kita tak bisa lepas dari ilmu-Nya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur, hlm. 419-423; Tafsir As-Sa’di, hlm. 607. Baca juga: Tiga Syarat Disebut Bid’ah   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir. Penerbit Markaz Tafsir li Ad-Dirosaat Al-Qur’aniyyah. At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab. Cetakan kedua, Tahun 1423 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 21 Ramadhan 1443 H, Sabtu Sore Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bid'ah hasanah faedah surat an nuur hawa nafsu ittiba mengikuti rasul salam surah an nuur surat an nuur taat rasul tafsir an nuur tafsir surat an nuur
Ada adab terhadap Rasulullah yang mesti seorang muslim penuhi yaitu tidak boleh menyelisihi perintah beliau.   Daftar Isi tutup 1. TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 1.1. Penjelasan ayat 1.2. Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Faedah Ayat 2.1. Referensi:   TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 62. Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 63. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. 64. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu. (QS. An-Nuur: 62-64)   Penjelasan ayat Dalam Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir disebutkan: 62. “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar mukmin lagi jujur dalam keimanan mereka ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila mereka berada bersama-sama Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dalam suatu urusan yang merupakan maslahat umat Islam, mereka tidak meninggalkan Rasulullah sebelum meminta izin kepadanya untuk pergi. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu -wahai Rasul- tatkala meninggalkanmu, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara jujur. Apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan yang penting bagi mereka, maka izinkanlah bagi siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba yang bertobat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. 63. Wahai orang-orang mukmin! Muliakanlah Rasulullah bila kalian memanggilnya. Janganlah kalian memanggilnya seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yaitu dengan menyebut namanya, seperti, ‘Wahai Muhammad’, atau dengan menyebut nama ayahnya, seperti, Wahai putra Abdullah. Akan tetapi katakanlah, Wahai Rasulullah, Wahai Nabi Allah. Dan apabila dia menyeru kalian untuk perkara umum, maka janganlah kalian menjadikan seruannya seperti seruan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yang biasanya terjadi dalam perkara-perkara yang kurang penting, akan tetapi bersegeralah untuk memenuhi seruannya. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian secara sembunyi-sembunyi tanpa izin, maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- takut akan ditimpa cobaan dan bencana, atau ditimpa azab yang pedih, yang mereka tidak sanggup menahannya. 64. Ketahuilah! Sesungguhnya kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia lah yang menciptakan, menguasai dan mengatur semuanya. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang sedang kalian alami -wahai sekalian manusia-, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun. Dan pada hari Kiamat kelak, mereka semua akan dikembalikan kepada-Nya dengan dibangkitkan setelah mati, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan di dunia. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya baik di langit maupun di bumi. Baca juga: Sikap Bijak Menyikapi Qunut Shubuh   Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat lain, Allah berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115) Dalam surah yang dibahas kali ini disebutkan, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63) Baca juga: Ikutilah Sunnah Nabi, Tinggalkanlah Bid’ah (Hadits Arbain 28) Dalam ayat lainnya disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 1-2) Baca juga: Fenomena Pelecehan pada Nabi Kita shallallahu ‘alaihi wa sallam  Dalam hadits disebutkan, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku.” (HR. Bukhari, no. 5063 dan Muslim, no. 1401) Baca juga: Berbagai Artikel tentang Bid’ah Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718) Baca juga: Peringatan Bahaya Bid’ah (Hadits Arbain 05) Dalam riwayat Muslim, disebutkan, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718) Lihat bahasan di At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab, hlm. 319-320. Baca juga: Agar Tidak Terjatuh dalam Bid’ah, Sesuaikan Ibadah dalam Enam Hal Ini   Faedah Ayat Iman itu ada yang naaqish (kurang) dan ada yang kaamil (sempurna). Ulil amri hendaklah memberikan kemudahan kepada siapa saja di bawah kekuasannya. Dalam surah An-Nuur ayat 62 disebutkan, “maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.” Boleh menyerahkan suatu urusan kepada yang lain. Orang akan mendapatkan manfaat dengan doa orang lain. Kita harus memperhatikan adab meminta izin ketika meninggalkan majelis. Kita wajib memuliakan dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati-hati menyelisihi Rasul karena akan terkena fitnah yaitu kesyirikan dan kejelekan atau terkena siksa yang pedih. Adab memanggil nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda dengan memanggil lainnya. Wajib menjawab panggilan rasul bahkan ketika kita sedang shalat. Perkataan yang wajib diterima dan diamalkan dari umat ini hanyalah perkataan Rasul karena kemaksuman dan kita diperintahkan mengikuti beliau. Ayat “sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya)”, ini disebut tasallul. Hal ini dilarang tanpa uzur dan tanpa meminta izin lebih dahulu. Allah memiliki langit dan bumi. Luasnya ilmu Allah mencakup saat ini dan akan datang. Penetapan hari kembali dan hari berbangkit. Penetapan adanya hisab. Umumnya ilmu Allah. Ini adalah peringatan mengenai ilmu Allah, kita tak bisa lepas dari ilmu-Nya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur, hlm. 419-423; Tafsir As-Sa’di, hlm. 607. Baca juga: Tiga Syarat Disebut Bid’ah   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir. Penerbit Markaz Tafsir li Ad-Dirosaat Al-Qur’aniyyah. At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab. Cetakan kedua, Tahun 1423 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 21 Ramadhan 1443 H, Sabtu Sore Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bid'ah hasanah faedah surat an nuur hawa nafsu ittiba mengikuti rasul salam surah an nuur surat an nuur taat rasul tafsir an nuur tafsir surat an nuur


Ada adab terhadap Rasulullah yang mesti seorang muslim penuhi yaitu tidak boleh menyelisihi perintah beliau.   Daftar Isi tutup 1. TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 1.1. Penjelasan ayat 1.2. Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Faedah Ayat 2.1. Referensi:   TAFSIR SURAH AN-NUUR AYAT 62-64 Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 62. Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 63. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. 64. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu. (QS. An-Nuur: 62-64)   Penjelasan ayat Dalam Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir disebutkan: 62. “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar mukmin lagi jujur dalam keimanan mereka ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila mereka berada bersama-sama Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dalam suatu urusan yang merupakan maslahat umat Islam, mereka tidak meninggalkan Rasulullah sebelum meminta izin kepadanya untuk pergi. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu -wahai Rasul- tatkala meninggalkanmu, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara jujur. Apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan yang penting bagi mereka, maka izinkanlah bagi siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba yang bertobat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. 63. Wahai orang-orang mukmin! Muliakanlah Rasulullah bila kalian memanggilnya. Janganlah kalian memanggilnya seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yaitu dengan menyebut namanya, seperti, ‘Wahai Muhammad’, atau dengan menyebut nama ayahnya, seperti, Wahai putra Abdullah. Akan tetapi katakanlah, Wahai Rasulullah, Wahai Nabi Allah. Dan apabila dia menyeru kalian untuk perkara umum, maka janganlah kalian menjadikan seruannya seperti seruan sebagian kalian kepada sebagian yang lain yang biasanya terjadi dalam perkara-perkara yang kurang penting, akan tetapi bersegeralah untuk memenuhi seruannya. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian secara sembunyi-sembunyi tanpa izin, maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- takut akan ditimpa cobaan dan bencana, atau ditimpa azab yang pedih, yang mereka tidak sanggup menahannya. 64. Ketahuilah! Sesungguhnya kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan di bumi. Dia lah yang menciptakan, menguasai dan mengatur semuanya. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang sedang kalian alami -wahai sekalian manusia-, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun. Dan pada hari Kiamat kelak, mereka semua akan dikembalikan kepada-Nya dengan dibangkitkan setelah mati, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan di dunia. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya baik di langit maupun di bumi. Baca juga: Sikap Bijak Menyikapi Qunut Shubuh   Kita tidak boleh menyelisihi perintah rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam ayat lain, Allah berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115) Dalam surah yang dibahas kali ini disebutkan, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63) Baca juga: Ikutilah Sunnah Nabi, Tinggalkanlah Bid’ah (Hadits Arbain 28) Dalam ayat lainnya disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 1-2) Baca juga: Fenomena Pelecehan pada Nabi Kita shallallahu ‘alaihi wa sallam  Dalam hadits disebutkan, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي “Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku.” (HR. Bukhari, no. 5063 dan Muslim, no. 1401) Baca juga: Berbagai Artikel tentang Bid’ah Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718) Baca juga: Peringatan Bahaya Bid’ah (Hadits Arbain 05) Dalam riwayat Muslim, disebutkan, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718) Lihat bahasan di At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab, hlm. 319-320. Baca juga: Agar Tidak Terjatuh dalam Bid’ah, Sesuaikan Ibadah dalam Enam Hal Ini   Faedah Ayat Iman itu ada yang naaqish (kurang) dan ada yang kaamil (sempurna). Ulil amri hendaklah memberikan kemudahan kepada siapa saja di bawah kekuasannya. Dalam surah An-Nuur ayat 62 disebutkan, “maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka.” Boleh menyerahkan suatu urusan kepada yang lain. Orang akan mendapatkan manfaat dengan doa orang lain. Kita harus memperhatikan adab meminta izin ketika meninggalkan majelis. Kita wajib memuliakan dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati-hati menyelisihi Rasul karena akan terkena fitnah yaitu kesyirikan dan kejelekan atau terkena siksa yang pedih. Adab memanggil nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda dengan memanggil lainnya. Wajib menjawab panggilan rasul bahkan ketika kita sedang shalat. Perkataan yang wajib diterima dan diamalkan dari umat ini hanyalah perkataan Rasul karena kemaksuman dan kita diperintahkan mengikuti beliau. Ayat “sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya)”, ini disebut tasallul. Hal ini dilarang tanpa uzur dan tanpa meminta izin lebih dahulu. Allah memiliki langit dan bumi. Luasnya ilmu Allah mencakup saat ini dan akan datang. Penetapan hari kembali dan hari berbangkit. Penetapan adanya hisab. Umumnya ilmu Allah. Ini adalah peringatan mengenai ilmu Allah, kita tak bisa lepas dari ilmu-Nya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur, hlm. 419-423; Tafsir As-Sa’di, hlm. 607. Baca juga: Tiga Syarat Disebut Bid’ah   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsiir. Penerbit Markaz Tafsir li Ad-Dirosaat Al-Qur’aniyyah. At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur fii Sual wa Jawab. Cetakan kedua, Tahun 1423 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul 21 Ramadhan 1443 H, Sabtu Sore Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bid'ah hasanah faedah surat an nuur hawa nafsu ittiba mengikuti rasul salam surah an nuur surat an nuur taat rasul tafsir an nuur tafsir surat an nuur

Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah Sedekah 1.1. Kisah Sedekah Umar dan Abu Bakr 1.2. Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin Ubaidillah 1.3. Sedekah di Bulan Ramadan Lebih Istimewa 2. Kisah Membaca Al-Qur’an 2.1. Banyak Membaca Al-Quran 2.1.1. Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari? 2.2. Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-Quran 2.2.1. Tangisan Rasulullah 2.2.2. Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi) 2.2.3. Tangisan Sahabat Ibnu Umar 2.2.4. Tangisan Sufyan As-Tsauri 2.2.5. Tangisan Fudhail bin Iyadh Kisah SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Di saat itu kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi angin yang berhembus. (HR. Bukhari, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,أفضل الصدقة صدقة في رمضان“Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik)Kisah Sedekah Umar dan Abu BakrZaid bin Aslam meriwayatkan kisah dari ayahnya, “Aku mendengar Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu berkata, ‘Rasulullah memerintah kami untuk bersedekah. Kebetulan ketika itu aku sedang ada harta. Aku bergumam, ‘Hari ini aku akan bisa mengalahkan Abu Bakr.’ Ketika itu, aku sedekahkan setengah hartaku.’”ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah.Aku jawab, “Sejumlah yang saya sedekahkan ini, ya Rasulullah.”Tak berselang lama Abu Bakr datang, ternyata dia menyedekahkan semua harta yang beliau miliki.ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah kepada Abu Bakr.“Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”, jawab Abu Bakr.Aku kemudian berkata kepada Abu Bakr,لا أسابقك لا أسابقك إلى شيء  أبدا“Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu dalam amal saleh.”Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin UbaidillahDari Thalhah bin Yahya bin Thalhah, dia bercerita, “Nenekku Sa’di binti ‘Auf Al-Mariyah -istri dari sahabat Thalhah bin Ubaidillah- bercerita kepadaku.”Suatu hari Thalhah menemuiku dalam keadaan gelisah.Aku bertanya, “Apa gerangan yang membuatmu gelisah? Apa yang bisa saya bantu?”“Tidak ada.” jawab Thalhah.“Tapi kamu adalah istri orang yang muslim”, lanjutnya.Aku bertanya kembali, “Apa yang sedang kamu alami?”“Hartaku makin banyak dan menyusahkanku”, kata Thalhah.“Oh tidak mengapa, dibagi saja harta itu”, sambutku.Lalu, harta itu pun aku bagi–bagi sampai hanya tersisa 1 dirham.Thalhah bin Yahya (perawi kisah) berkata, “Aku kemudian bertanya kepada berdaharanya Thalhah, “Berapa duitnya ketika itu?” Dia menjawab, “400.000 dirham.”Sedekah di Bulan Ramadan Lebih IstimewaSedekah di bulan Ramadan tentu lebih istimewa. Maka, segeralah lakukan. Tunaikan semampu anda. Berikut ini jenis sedekah yang prioritas dilakukan di bulan Ramadan:Pertama, memberi makan orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala telah memotivasi kita melakukan amal ini,وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ‎﴿٨﴾‏ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ‎﴿٩﴾‏ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ‎﴿١٠﴾‏ فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا ‎﴿١١﴾‏ وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا“Penduduk surga itu di dunia gemar memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (8) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (9) Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (10) Maka, Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (11) Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 8-12)Para Salafush Shalih sangat semangat dalam beramal sosial yang mereka niatkan ibadah dengan berbagi makanan kepada orang yang membutuhkan. Bahkan, sering kali mereka mengedepankan amalan ini dari banyak ibadah. Baik dengan cara membantu orang yang kelaparan atau sekedar berbagi makanan dengan rekan-rekan yang saleh. Karena ibadah memberi makan tidak disyaratkan hanya kepada fakir miskin saja. Ibadah yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,يا أيها الناس أفشوا السلام أطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام“Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makan, sambung silaturahmi dan salat malamlah ketika manusia tidur. Maka, Engkau pun akan masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)Sebagian ulama mengatakan,لأن أدعو عشرة من أصحابي فأطعمهم طعاما يشتهونه أحب إلي من أن أعتق عشرة من ولد إسماعيل“Aku mengundang sepuluh temanku untuk makan makanan yang mereka sukai, itu lebih aku sukai daripada membebaskan sepuluh budak dari keturunan Nabi Ismail.”Banyak pula ulama salaf yang membatalkan puasa sunahnya saat diundang makan. Seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, Dawud At-Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal.Ibnu Umar tidak berbuka puasa, kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.Ada pula ulama salaf yang menyuguhkan makanan kepada rekan-rekannya, padahal dia sedang sendiri puasa. Dia duduk menemani makan dan menuangkan minuman kepada para tamu. Contohnya seperti Hasan Al-Basri dan Abdullah bin Mubarak.Abu Suwar Al-‘Adawi berkabar,كان رجال من بني عدي يصلوم في هذا المسجد، ما أفطر أحد منهم على طعام قط وحده، إن وجد من يأكل معه أكل، وإلا أخرج طعامه إلى المسجد فأكله مع الناس وأكل الناس معه“Masyarakat Bani ‘Adi salat magrib di masjid ini. Mereka tidak pernah berbuka puasa sendirian. Di saat ada orang yang bisa mereka ajak buka bersama, barulah mereka makan. Jika tidak ada, maka mereka bawa makanan ke masjid, kemudian berbuka bersama dengan para jemaah masjid.”Ada banyak ibadah yang terkandung di dalam ibadah berupa berbagi makanan. Di antaranya menumbuhkan kasih sayang pada saudara anda yang Anda beri makanan. Amalan seperti ini bisa memasukkan Anda ke surga. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لن تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا و لن تؤمنوا حتى تحابوا“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan tidak akan menjadi orang mukmin, kecuali kalian saling mencintai.” (HR. HR. Muslim)Kedua, memberi makan buka untuk orang yang puasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Barangsiapa yang memberi makan buka puasa orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR.  Ahmad, An-Nasai, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kisah Membaca Al-Qur’anKami akan paparkan dua keadaan terkait para salaf bersama Al-Quran:Pertama, mereka banyak membaca Al-Qur’an.Kedua, mudah menangis saat membaca atau mendengarkan ayat Al-Qur’an. Karena khusyuknya hati mereka  serta tunduk kepada Allah yang Mahamulia.Banyak Membaca Al-QuranBulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Sebuah momen yang tepat bagi seorang muslim untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan ini. Para pendahulu kita (Salafus Shalih) adalah teladan dalam membaca Al-Quran. Berikut ini teladan yang dapat diambil.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyimakkan hafalan Al-Qur’an beliau kepada malaikat Jibril di bulan Ramadan.‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ketika bulan Ramadan mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari.Sebagian salafush shalih mengkhatamkan Al-Qur’an di dalam salat malam Ramadan selama tiga hari. Ada pula yang mengkhatamkan sepekan sekali. Ada yang khatam sepuluh hari sekali. Mereka membaca Al-Qur’an baik ketika salat maupun di luar salat.Imam Syafi’i rahimahullah kalau bulan Ramadan khatam Al-Qur’an enam puluh kali. Itu yang beliau baca di luar salat.Qotadah rahimahullah biasa menghatamkan Al-Qur’an sepekan sekali. Namun, untuk bulan Ramadan, beliau menghatamkannya dalam tiga hari. Saat sepuluh hari terakhir, beliau khatamkan dalam satu malam.Az-Zuhri rahimahullah apabila tiba Ramadan, beliau meliburkan aktivitas membaca hadis dan bermajlis dengan para ulama. Beliau habiskan waktu untuk membaca Al-Qur’an pada mushaf.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah apabila masuk bulan Ramadan, beliau meliburkan semua ibadah, kemudian beliau fokuskan semua waktu untuk membaca Al-Qur’an.Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari?Ibnu Rajab rahimahullah telah menjawabnya,وإنما ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاث على المداومة على ذلك ، فأما في الأوقات المفضلة كشهر رمضان خصوصاً الليالي التي يطلب فيها ليلة القدر، أو في الأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها فيستحب الإكثار فيها من تلاوة القرآن اغتناماً للزمان والمكان ، وهو قول أحمد وإسحاق وغيرهما من الأئمة“Sesungguhnya riwayat yang menerangkan larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari hanya berlaku jika dilakukan terus menerus. Namun, pada waktu-waktu mulia seperti bulan Ramadan, lebih-lebih di malam-malam yang terdapat lailatul qadr, atau di tempat-tempat mulia seperti Mekah bagi pengunjung yang tidak menetap di sana, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Dalam rangka optimalisasi waktu dan tempat yang mulia. Inilah pendapat Ahmad bin Hambal, Ishaq, dan para imam lainnya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 171)Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-QuranMelantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan syahdu layaknya syair, namun tanpa tadabur, bukan termasuk petunjuk dari Salafus Shalih. Mereka itu orang-orang yang mudah tersentuh dengan ayat Al-Quran. Berikut kisah mereka:Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanTangisan RasulullahSahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu pernah menceritakan, “Rasulullah pernah memintaku,اقْرَأْ عَلَيَّ القُرْآنَ“Tolong bacakan ayat Al-Quran kepadaku.”Aku jawab,يَا رسولَ الله، أَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟!“Bagaimana mungkin, ya Rasulullah? Aku membaca Al-Quran kepadamu padahal Al-Qur’an diturunkan pada Anda?”إنِّي أُحِبُّ أَنْ أسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي“Aku senang mendengar bacaan Al-Quran dari selainku”, jawab Nabi.فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى جِئْتُ إِلَى هذِهِ الآية: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} قَالَ: «حَسْبُكَ الآنَ» فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ، فَإذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ. متفقٌ عَلَيْهِ.“Saya lalu membacakan ayat dalam surah An-Nisa’. Saat sampai pada ayat ini (yang artinya), “Bagaimanakah jika Kami datangkan kepada setiap umat seorang saksi dan Engkau Kami jadikan saksi atas umat ini?” (QS. An-Nisa’ 42).Setelah itu beliau bersabda, “Cukup … cukup.”Saya menoleh ke arah beliau. Ternyata, beliau bercucuran air mata.” (Muttafaq ‘alaih)Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi)Al-Baihaqi rahimahullah menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Beliau berkisah, “Di saat turun ayat أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ ‎﴿٥٩﴾‏ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ ‎﴿٦٠﴾“Apa kamu merasa heran kepada kabar ini? Kamu mentertawakan dan tidak menangis?!” (QS. An-Najm: 59-60)para Ahlu Sufah ketika itu menangis, sampai air mata menetes dari dagu mereka. Ketika Rasulullah mendengar tangisan Ahlu Sufah ketika itu, beliau pun ikut menangis. Kami pun menangis melihat Rasulullah menangis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يلج النار من بكى من خشية الله“Orang yang menangis karena takut kepada Allah, tak akan disentuh oleh api neraka.”Baca Juga: Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Tangisan Sahabat Ibnu UmarKetika Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu membaca surat Al-Muthaffifin sampai pada ayat,يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Hari kebangkitan adalah hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.”Beliau menangis sampai jatuh tersungkur, sampai tak mampu melanjutkan bacaan.Tangisan Sufyan As-TsauriDari Muzahim bin Zufar, beliau menceritakan, ”Kami pernah salat magrib bersama Sufyan As-Tsauri rahimahullah. Di saat beliau membaca ayatإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)beliau menangis sampai tak sanggup melanjutkan ayat. Kemudian beliau mengulang lagi dari “Alhamdu…”Tangisan Fudhail bin IyadhDari Ibrahim bin Al-Asy’ats, beliau berkisah, ”Pada suatu malam aku mendengar Fudhail membaca surah Muhammad. Beliau menangis mengulang-ulang ayat ini,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ“Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami mengabarkan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)Beliau selalu mengulang kalimat ayat “Wa nabluwa akh-baarokum.. (Kami menguji (baik buruknya) hal ihwalmu).”“Engkau akan menguji ihwal kami?! Bila Engkau menguji baik buruknya hal ihwal kami, sungguh aib kami akan tampak, menjadi tersingkaplah yang tertutupi dari kami. Jika Engkau menguji keadaan kami, sungguh kami bisa binasa dan Engkau akan mengazab kami”, lanjut beliau. Kemudian beliau menangis.[Bersambung]Baca Juga:Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanPerbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Bermanhaj Salaf, Doa Agar Terhindar Dari Kejahatan Manusia, Sunnah Khutbah Jumat, Kumpulan Hadits Bukhari MuslimTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama 351

Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah Sedekah 1.1. Kisah Sedekah Umar dan Abu Bakr 1.2. Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin Ubaidillah 1.3. Sedekah di Bulan Ramadan Lebih Istimewa 2. Kisah Membaca Al-Qur’an 2.1. Banyak Membaca Al-Quran 2.1.1. Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari? 2.2. Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-Quran 2.2.1. Tangisan Rasulullah 2.2.2. Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi) 2.2.3. Tangisan Sahabat Ibnu Umar 2.2.4. Tangisan Sufyan As-Tsauri 2.2.5. Tangisan Fudhail bin Iyadh Kisah SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Di saat itu kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi angin yang berhembus. (HR. Bukhari, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,أفضل الصدقة صدقة في رمضان“Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik)Kisah Sedekah Umar dan Abu BakrZaid bin Aslam meriwayatkan kisah dari ayahnya, “Aku mendengar Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu berkata, ‘Rasulullah memerintah kami untuk bersedekah. Kebetulan ketika itu aku sedang ada harta. Aku bergumam, ‘Hari ini aku akan bisa mengalahkan Abu Bakr.’ Ketika itu, aku sedekahkan setengah hartaku.’”ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah.Aku jawab, “Sejumlah yang saya sedekahkan ini, ya Rasulullah.”Tak berselang lama Abu Bakr datang, ternyata dia menyedekahkan semua harta yang beliau miliki.ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah kepada Abu Bakr.“Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”, jawab Abu Bakr.Aku kemudian berkata kepada Abu Bakr,لا أسابقك لا أسابقك إلى شيء  أبدا“Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu dalam amal saleh.”Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin UbaidillahDari Thalhah bin Yahya bin Thalhah, dia bercerita, “Nenekku Sa’di binti ‘Auf Al-Mariyah -istri dari sahabat Thalhah bin Ubaidillah- bercerita kepadaku.”Suatu hari Thalhah menemuiku dalam keadaan gelisah.Aku bertanya, “Apa gerangan yang membuatmu gelisah? Apa yang bisa saya bantu?”“Tidak ada.” jawab Thalhah.“Tapi kamu adalah istri orang yang muslim”, lanjutnya.Aku bertanya kembali, “Apa yang sedang kamu alami?”“Hartaku makin banyak dan menyusahkanku”, kata Thalhah.“Oh tidak mengapa, dibagi saja harta itu”, sambutku.Lalu, harta itu pun aku bagi–bagi sampai hanya tersisa 1 dirham.Thalhah bin Yahya (perawi kisah) berkata, “Aku kemudian bertanya kepada berdaharanya Thalhah, “Berapa duitnya ketika itu?” Dia menjawab, “400.000 dirham.”Sedekah di Bulan Ramadan Lebih IstimewaSedekah di bulan Ramadan tentu lebih istimewa. Maka, segeralah lakukan. Tunaikan semampu anda. Berikut ini jenis sedekah yang prioritas dilakukan di bulan Ramadan:Pertama, memberi makan orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala telah memotivasi kita melakukan amal ini,وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ‎﴿٨﴾‏ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ‎﴿٩﴾‏ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ‎﴿١٠﴾‏ فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا ‎﴿١١﴾‏ وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا“Penduduk surga itu di dunia gemar memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (8) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (9) Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (10) Maka, Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (11) Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 8-12)Para Salafush Shalih sangat semangat dalam beramal sosial yang mereka niatkan ibadah dengan berbagi makanan kepada orang yang membutuhkan. Bahkan, sering kali mereka mengedepankan amalan ini dari banyak ibadah. Baik dengan cara membantu orang yang kelaparan atau sekedar berbagi makanan dengan rekan-rekan yang saleh. Karena ibadah memberi makan tidak disyaratkan hanya kepada fakir miskin saja. Ibadah yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,يا أيها الناس أفشوا السلام أطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام“Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makan, sambung silaturahmi dan salat malamlah ketika manusia tidur. Maka, Engkau pun akan masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)Sebagian ulama mengatakan,لأن أدعو عشرة من أصحابي فأطعمهم طعاما يشتهونه أحب إلي من أن أعتق عشرة من ولد إسماعيل“Aku mengundang sepuluh temanku untuk makan makanan yang mereka sukai, itu lebih aku sukai daripada membebaskan sepuluh budak dari keturunan Nabi Ismail.”Banyak pula ulama salaf yang membatalkan puasa sunahnya saat diundang makan. Seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, Dawud At-Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal.Ibnu Umar tidak berbuka puasa, kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.Ada pula ulama salaf yang menyuguhkan makanan kepada rekan-rekannya, padahal dia sedang sendiri puasa. Dia duduk menemani makan dan menuangkan minuman kepada para tamu. Contohnya seperti Hasan Al-Basri dan Abdullah bin Mubarak.Abu Suwar Al-‘Adawi berkabar,كان رجال من بني عدي يصلوم في هذا المسجد، ما أفطر أحد منهم على طعام قط وحده، إن وجد من يأكل معه أكل، وإلا أخرج طعامه إلى المسجد فأكله مع الناس وأكل الناس معه“Masyarakat Bani ‘Adi salat magrib di masjid ini. Mereka tidak pernah berbuka puasa sendirian. Di saat ada orang yang bisa mereka ajak buka bersama, barulah mereka makan. Jika tidak ada, maka mereka bawa makanan ke masjid, kemudian berbuka bersama dengan para jemaah masjid.”Ada banyak ibadah yang terkandung di dalam ibadah berupa berbagi makanan. Di antaranya menumbuhkan kasih sayang pada saudara anda yang Anda beri makanan. Amalan seperti ini bisa memasukkan Anda ke surga. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لن تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا و لن تؤمنوا حتى تحابوا“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan tidak akan menjadi orang mukmin, kecuali kalian saling mencintai.” (HR. HR. Muslim)Kedua, memberi makan buka untuk orang yang puasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Barangsiapa yang memberi makan buka puasa orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR.  Ahmad, An-Nasai, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kisah Membaca Al-Qur’anKami akan paparkan dua keadaan terkait para salaf bersama Al-Quran:Pertama, mereka banyak membaca Al-Qur’an.Kedua, mudah menangis saat membaca atau mendengarkan ayat Al-Qur’an. Karena khusyuknya hati mereka  serta tunduk kepada Allah yang Mahamulia.Banyak Membaca Al-QuranBulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Sebuah momen yang tepat bagi seorang muslim untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan ini. Para pendahulu kita (Salafus Shalih) adalah teladan dalam membaca Al-Quran. Berikut ini teladan yang dapat diambil.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyimakkan hafalan Al-Qur’an beliau kepada malaikat Jibril di bulan Ramadan.‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ketika bulan Ramadan mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari.Sebagian salafush shalih mengkhatamkan Al-Qur’an di dalam salat malam Ramadan selama tiga hari. Ada pula yang mengkhatamkan sepekan sekali. Ada yang khatam sepuluh hari sekali. Mereka membaca Al-Qur’an baik ketika salat maupun di luar salat.Imam Syafi’i rahimahullah kalau bulan Ramadan khatam Al-Qur’an enam puluh kali. Itu yang beliau baca di luar salat.Qotadah rahimahullah biasa menghatamkan Al-Qur’an sepekan sekali. Namun, untuk bulan Ramadan, beliau menghatamkannya dalam tiga hari. Saat sepuluh hari terakhir, beliau khatamkan dalam satu malam.Az-Zuhri rahimahullah apabila tiba Ramadan, beliau meliburkan aktivitas membaca hadis dan bermajlis dengan para ulama. Beliau habiskan waktu untuk membaca Al-Qur’an pada mushaf.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah apabila masuk bulan Ramadan, beliau meliburkan semua ibadah, kemudian beliau fokuskan semua waktu untuk membaca Al-Qur’an.Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari?Ibnu Rajab rahimahullah telah menjawabnya,وإنما ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاث على المداومة على ذلك ، فأما في الأوقات المفضلة كشهر رمضان خصوصاً الليالي التي يطلب فيها ليلة القدر، أو في الأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها فيستحب الإكثار فيها من تلاوة القرآن اغتناماً للزمان والمكان ، وهو قول أحمد وإسحاق وغيرهما من الأئمة“Sesungguhnya riwayat yang menerangkan larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari hanya berlaku jika dilakukan terus menerus. Namun, pada waktu-waktu mulia seperti bulan Ramadan, lebih-lebih di malam-malam yang terdapat lailatul qadr, atau di tempat-tempat mulia seperti Mekah bagi pengunjung yang tidak menetap di sana, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Dalam rangka optimalisasi waktu dan tempat yang mulia. Inilah pendapat Ahmad bin Hambal, Ishaq, dan para imam lainnya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 171)Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-QuranMelantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan syahdu layaknya syair, namun tanpa tadabur, bukan termasuk petunjuk dari Salafus Shalih. Mereka itu orang-orang yang mudah tersentuh dengan ayat Al-Quran. Berikut kisah mereka:Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanTangisan RasulullahSahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu pernah menceritakan, “Rasulullah pernah memintaku,اقْرَأْ عَلَيَّ القُرْآنَ“Tolong bacakan ayat Al-Quran kepadaku.”Aku jawab,يَا رسولَ الله، أَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟!“Bagaimana mungkin, ya Rasulullah? Aku membaca Al-Quran kepadamu padahal Al-Qur’an diturunkan pada Anda?”إنِّي أُحِبُّ أَنْ أسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي“Aku senang mendengar bacaan Al-Quran dari selainku”, jawab Nabi.فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى جِئْتُ إِلَى هذِهِ الآية: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} قَالَ: «حَسْبُكَ الآنَ» فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ، فَإذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ. متفقٌ عَلَيْهِ.“Saya lalu membacakan ayat dalam surah An-Nisa’. Saat sampai pada ayat ini (yang artinya), “Bagaimanakah jika Kami datangkan kepada setiap umat seorang saksi dan Engkau Kami jadikan saksi atas umat ini?” (QS. An-Nisa’ 42).Setelah itu beliau bersabda, “Cukup … cukup.”Saya menoleh ke arah beliau. Ternyata, beliau bercucuran air mata.” (Muttafaq ‘alaih)Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi)Al-Baihaqi rahimahullah menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Beliau berkisah, “Di saat turun ayat أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ ‎﴿٥٩﴾‏ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ ‎﴿٦٠﴾“Apa kamu merasa heran kepada kabar ini? Kamu mentertawakan dan tidak menangis?!” (QS. An-Najm: 59-60)para Ahlu Sufah ketika itu menangis, sampai air mata menetes dari dagu mereka. Ketika Rasulullah mendengar tangisan Ahlu Sufah ketika itu, beliau pun ikut menangis. Kami pun menangis melihat Rasulullah menangis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يلج النار من بكى من خشية الله“Orang yang menangis karena takut kepada Allah, tak akan disentuh oleh api neraka.”Baca Juga: Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Tangisan Sahabat Ibnu UmarKetika Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu membaca surat Al-Muthaffifin sampai pada ayat,يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Hari kebangkitan adalah hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.”Beliau menangis sampai jatuh tersungkur, sampai tak mampu melanjutkan bacaan.Tangisan Sufyan As-TsauriDari Muzahim bin Zufar, beliau menceritakan, ”Kami pernah salat magrib bersama Sufyan As-Tsauri rahimahullah. Di saat beliau membaca ayatإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)beliau menangis sampai tak sanggup melanjutkan ayat. Kemudian beliau mengulang lagi dari “Alhamdu…”Tangisan Fudhail bin IyadhDari Ibrahim bin Al-Asy’ats, beliau berkisah, ”Pada suatu malam aku mendengar Fudhail membaca surah Muhammad. Beliau menangis mengulang-ulang ayat ini,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ“Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami mengabarkan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)Beliau selalu mengulang kalimat ayat “Wa nabluwa akh-baarokum.. (Kami menguji (baik buruknya) hal ihwalmu).”“Engkau akan menguji ihwal kami?! Bila Engkau menguji baik buruknya hal ihwal kami, sungguh aib kami akan tampak, menjadi tersingkaplah yang tertutupi dari kami. Jika Engkau menguji keadaan kami, sungguh kami bisa binasa dan Engkau akan mengazab kami”, lanjut beliau. Kemudian beliau menangis.[Bersambung]Baca Juga:Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanPerbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Bermanhaj Salaf, Doa Agar Terhindar Dari Kejahatan Manusia, Sunnah Khutbah Jumat, Kumpulan Hadits Bukhari MuslimTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama 351
Baca pembahasan sebelumnya Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah Sedekah 1.1. Kisah Sedekah Umar dan Abu Bakr 1.2. Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin Ubaidillah 1.3. Sedekah di Bulan Ramadan Lebih Istimewa 2. Kisah Membaca Al-Qur’an 2.1. Banyak Membaca Al-Quran 2.1.1. Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari? 2.2. Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-Quran 2.2.1. Tangisan Rasulullah 2.2.2. Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi) 2.2.3. Tangisan Sahabat Ibnu Umar 2.2.4. Tangisan Sufyan As-Tsauri 2.2.5. Tangisan Fudhail bin Iyadh Kisah SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Di saat itu kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi angin yang berhembus. (HR. Bukhari, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,أفضل الصدقة صدقة في رمضان“Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik)Kisah Sedekah Umar dan Abu BakrZaid bin Aslam meriwayatkan kisah dari ayahnya, “Aku mendengar Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu berkata, ‘Rasulullah memerintah kami untuk bersedekah. Kebetulan ketika itu aku sedang ada harta. Aku bergumam, ‘Hari ini aku akan bisa mengalahkan Abu Bakr.’ Ketika itu, aku sedekahkan setengah hartaku.’”ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah.Aku jawab, “Sejumlah yang saya sedekahkan ini, ya Rasulullah.”Tak berselang lama Abu Bakr datang, ternyata dia menyedekahkan semua harta yang beliau miliki.ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah kepada Abu Bakr.“Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”, jawab Abu Bakr.Aku kemudian berkata kepada Abu Bakr,لا أسابقك لا أسابقك إلى شيء  أبدا“Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu dalam amal saleh.”Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin UbaidillahDari Thalhah bin Yahya bin Thalhah, dia bercerita, “Nenekku Sa’di binti ‘Auf Al-Mariyah -istri dari sahabat Thalhah bin Ubaidillah- bercerita kepadaku.”Suatu hari Thalhah menemuiku dalam keadaan gelisah.Aku bertanya, “Apa gerangan yang membuatmu gelisah? Apa yang bisa saya bantu?”“Tidak ada.” jawab Thalhah.“Tapi kamu adalah istri orang yang muslim”, lanjutnya.Aku bertanya kembali, “Apa yang sedang kamu alami?”“Hartaku makin banyak dan menyusahkanku”, kata Thalhah.“Oh tidak mengapa, dibagi saja harta itu”, sambutku.Lalu, harta itu pun aku bagi–bagi sampai hanya tersisa 1 dirham.Thalhah bin Yahya (perawi kisah) berkata, “Aku kemudian bertanya kepada berdaharanya Thalhah, “Berapa duitnya ketika itu?” Dia menjawab, “400.000 dirham.”Sedekah di Bulan Ramadan Lebih IstimewaSedekah di bulan Ramadan tentu lebih istimewa. Maka, segeralah lakukan. Tunaikan semampu anda. Berikut ini jenis sedekah yang prioritas dilakukan di bulan Ramadan:Pertama, memberi makan orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala telah memotivasi kita melakukan amal ini,وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ‎﴿٨﴾‏ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ‎﴿٩﴾‏ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ‎﴿١٠﴾‏ فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا ‎﴿١١﴾‏ وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا“Penduduk surga itu di dunia gemar memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (8) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (9) Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (10) Maka, Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (11) Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 8-12)Para Salafush Shalih sangat semangat dalam beramal sosial yang mereka niatkan ibadah dengan berbagi makanan kepada orang yang membutuhkan. Bahkan, sering kali mereka mengedepankan amalan ini dari banyak ibadah. Baik dengan cara membantu orang yang kelaparan atau sekedar berbagi makanan dengan rekan-rekan yang saleh. Karena ibadah memberi makan tidak disyaratkan hanya kepada fakir miskin saja. Ibadah yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,يا أيها الناس أفشوا السلام أطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام“Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makan, sambung silaturahmi dan salat malamlah ketika manusia tidur. Maka, Engkau pun akan masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)Sebagian ulama mengatakan,لأن أدعو عشرة من أصحابي فأطعمهم طعاما يشتهونه أحب إلي من أن أعتق عشرة من ولد إسماعيل“Aku mengundang sepuluh temanku untuk makan makanan yang mereka sukai, itu lebih aku sukai daripada membebaskan sepuluh budak dari keturunan Nabi Ismail.”Banyak pula ulama salaf yang membatalkan puasa sunahnya saat diundang makan. Seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, Dawud At-Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal.Ibnu Umar tidak berbuka puasa, kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.Ada pula ulama salaf yang menyuguhkan makanan kepada rekan-rekannya, padahal dia sedang sendiri puasa. Dia duduk menemani makan dan menuangkan minuman kepada para tamu. Contohnya seperti Hasan Al-Basri dan Abdullah bin Mubarak.Abu Suwar Al-‘Adawi berkabar,كان رجال من بني عدي يصلوم في هذا المسجد، ما أفطر أحد منهم على طعام قط وحده، إن وجد من يأكل معه أكل، وإلا أخرج طعامه إلى المسجد فأكله مع الناس وأكل الناس معه“Masyarakat Bani ‘Adi salat magrib di masjid ini. Mereka tidak pernah berbuka puasa sendirian. Di saat ada orang yang bisa mereka ajak buka bersama, barulah mereka makan. Jika tidak ada, maka mereka bawa makanan ke masjid, kemudian berbuka bersama dengan para jemaah masjid.”Ada banyak ibadah yang terkandung di dalam ibadah berupa berbagi makanan. Di antaranya menumbuhkan kasih sayang pada saudara anda yang Anda beri makanan. Amalan seperti ini bisa memasukkan Anda ke surga. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لن تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا و لن تؤمنوا حتى تحابوا“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan tidak akan menjadi orang mukmin, kecuali kalian saling mencintai.” (HR. HR. Muslim)Kedua, memberi makan buka untuk orang yang puasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Barangsiapa yang memberi makan buka puasa orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR.  Ahmad, An-Nasai, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kisah Membaca Al-Qur’anKami akan paparkan dua keadaan terkait para salaf bersama Al-Quran:Pertama, mereka banyak membaca Al-Qur’an.Kedua, mudah menangis saat membaca atau mendengarkan ayat Al-Qur’an. Karena khusyuknya hati mereka  serta tunduk kepada Allah yang Mahamulia.Banyak Membaca Al-QuranBulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Sebuah momen yang tepat bagi seorang muslim untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan ini. Para pendahulu kita (Salafus Shalih) adalah teladan dalam membaca Al-Quran. Berikut ini teladan yang dapat diambil.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyimakkan hafalan Al-Qur’an beliau kepada malaikat Jibril di bulan Ramadan.‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ketika bulan Ramadan mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari.Sebagian salafush shalih mengkhatamkan Al-Qur’an di dalam salat malam Ramadan selama tiga hari. Ada pula yang mengkhatamkan sepekan sekali. Ada yang khatam sepuluh hari sekali. Mereka membaca Al-Qur’an baik ketika salat maupun di luar salat.Imam Syafi’i rahimahullah kalau bulan Ramadan khatam Al-Qur’an enam puluh kali. Itu yang beliau baca di luar salat.Qotadah rahimahullah biasa menghatamkan Al-Qur’an sepekan sekali. Namun, untuk bulan Ramadan, beliau menghatamkannya dalam tiga hari. Saat sepuluh hari terakhir, beliau khatamkan dalam satu malam.Az-Zuhri rahimahullah apabila tiba Ramadan, beliau meliburkan aktivitas membaca hadis dan bermajlis dengan para ulama. Beliau habiskan waktu untuk membaca Al-Qur’an pada mushaf.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah apabila masuk bulan Ramadan, beliau meliburkan semua ibadah, kemudian beliau fokuskan semua waktu untuk membaca Al-Qur’an.Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari?Ibnu Rajab rahimahullah telah menjawabnya,وإنما ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاث على المداومة على ذلك ، فأما في الأوقات المفضلة كشهر رمضان خصوصاً الليالي التي يطلب فيها ليلة القدر، أو في الأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها فيستحب الإكثار فيها من تلاوة القرآن اغتناماً للزمان والمكان ، وهو قول أحمد وإسحاق وغيرهما من الأئمة“Sesungguhnya riwayat yang menerangkan larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari hanya berlaku jika dilakukan terus menerus. Namun, pada waktu-waktu mulia seperti bulan Ramadan, lebih-lebih di malam-malam yang terdapat lailatul qadr, atau di tempat-tempat mulia seperti Mekah bagi pengunjung yang tidak menetap di sana, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Dalam rangka optimalisasi waktu dan tempat yang mulia. Inilah pendapat Ahmad bin Hambal, Ishaq, dan para imam lainnya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 171)Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-QuranMelantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan syahdu layaknya syair, namun tanpa tadabur, bukan termasuk petunjuk dari Salafus Shalih. Mereka itu orang-orang yang mudah tersentuh dengan ayat Al-Quran. Berikut kisah mereka:Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanTangisan RasulullahSahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu pernah menceritakan, “Rasulullah pernah memintaku,اقْرَأْ عَلَيَّ القُرْآنَ“Tolong bacakan ayat Al-Quran kepadaku.”Aku jawab,يَا رسولَ الله، أَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟!“Bagaimana mungkin, ya Rasulullah? Aku membaca Al-Quran kepadamu padahal Al-Qur’an diturunkan pada Anda?”إنِّي أُحِبُّ أَنْ أسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي“Aku senang mendengar bacaan Al-Quran dari selainku”, jawab Nabi.فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى جِئْتُ إِلَى هذِهِ الآية: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} قَالَ: «حَسْبُكَ الآنَ» فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ، فَإذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ. متفقٌ عَلَيْهِ.“Saya lalu membacakan ayat dalam surah An-Nisa’. Saat sampai pada ayat ini (yang artinya), “Bagaimanakah jika Kami datangkan kepada setiap umat seorang saksi dan Engkau Kami jadikan saksi atas umat ini?” (QS. An-Nisa’ 42).Setelah itu beliau bersabda, “Cukup … cukup.”Saya menoleh ke arah beliau. Ternyata, beliau bercucuran air mata.” (Muttafaq ‘alaih)Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi)Al-Baihaqi rahimahullah menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Beliau berkisah, “Di saat turun ayat أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ ‎﴿٥٩﴾‏ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ ‎﴿٦٠﴾“Apa kamu merasa heran kepada kabar ini? Kamu mentertawakan dan tidak menangis?!” (QS. An-Najm: 59-60)para Ahlu Sufah ketika itu menangis, sampai air mata menetes dari dagu mereka. Ketika Rasulullah mendengar tangisan Ahlu Sufah ketika itu, beliau pun ikut menangis. Kami pun menangis melihat Rasulullah menangis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يلج النار من بكى من خشية الله“Orang yang menangis karena takut kepada Allah, tak akan disentuh oleh api neraka.”Baca Juga: Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Tangisan Sahabat Ibnu UmarKetika Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu membaca surat Al-Muthaffifin sampai pada ayat,يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Hari kebangkitan adalah hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.”Beliau menangis sampai jatuh tersungkur, sampai tak mampu melanjutkan bacaan.Tangisan Sufyan As-TsauriDari Muzahim bin Zufar, beliau menceritakan, ”Kami pernah salat magrib bersama Sufyan As-Tsauri rahimahullah. Di saat beliau membaca ayatإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)beliau menangis sampai tak sanggup melanjutkan ayat. Kemudian beliau mengulang lagi dari “Alhamdu…”Tangisan Fudhail bin IyadhDari Ibrahim bin Al-Asy’ats, beliau berkisah, ”Pada suatu malam aku mendengar Fudhail membaca surah Muhammad. Beliau menangis mengulang-ulang ayat ini,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ“Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami mengabarkan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)Beliau selalu mengulang kalimat ayat “Wa nabluwa akh-baarokum.. (Kami menguji (baik buruknya) hal ihwalmu).”“Engkau akan menguji ihwal kami?! Bila Engkau menguji baik buruknya hal ihwal kami, sungguh aib kami akan tampak, menjadi tersingkaplah yang tertutupi dari kami. Jika Engkau menguji keadaan kami, sungguh kami bisa binasa dan Engkau akan mengazab kami”, lanjut beliau. Kemudian beliau menangis.[Bersambung]Baca Juga:Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanPerbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Bermanhaj Salaf, Doa Agar Terhindar Dari Kejahatan Manusia, Sunnah Khutbah Jumat, Kumpulan Hadits Bukhari MuslimTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama 351


Baca pembahasan sebelumnya Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah Sedekah 1.1. Kisah Sedekah Umar dan Abu Bakr 1.2. Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin Ubaidillah 1.3. Sedekah di Bulan Ramadan Lebih Istimewa 2. Kisah Membaca Al-Qur’an 2.1. Banyak Membaca Al-Quran 2.1.1. Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari? 2.2. Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-Quran 2.2.1. Tangisan Rasulullah 2.2.2. Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi) 2.2.3. Tangisan Sahabat Ibnu Umar 2.2.4. Tangisan Sufyan As-Tsauri 2.2.5. Tangisan Fudhail bin Iyadh Kisah SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Di saat itu kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi angin yang berhembus. (HR. Bukhari, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,أفضل الصدقة صدقة في رمضان“Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik)Kisah Sedekah Umar dan Abu BakrZaid bin Aslam meriwayatkan kisah dari ayahnya, “Aku mendengar Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu berkata, ‘Rasulullah memerintah kami untuk bersedekah. Kebetulan ketika itu aku sedang ada harta. Aku bergumam, ‘Hari ini aku akan bisa mengalahkan Abu Bakr.’ Ketika itu, aku sedekahkan setengah hartaku.’”ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah.Aku jawab, “Sejumlah yang saya sedekahkan ini, ya Rasulullah.”Tak berselang lama Abu Bakr datang, ternyata dia menyedekahkan semua harta yang beliau miliki.ما أبقيت لأهلك؟“Berapa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah kepada Abu Bakr.“Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”, jawab Abu Bakr.Aku kemudian berkata kepada Abu Bakr,لا أسابقك لا أسابقك إلى شيء  أبدا“Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu dalam amal saleh.”Kisah Sedekah Sahabat Thalhah bin UbaidillahDari Thalhah bin Yahya bin Thalhah, dia bercerita, “Nenekku Sa’di binti ‘Auf Al-Mariyah -istri dari sahabat Thalhah bin Ubaidillah- bercerita kepadaku.”Suatu hari Thalhah menemuiku dalam keadaan gelisah.Aku bertanya, “Apa gerangan yang membuatmu gelisah? Apa yang bisa saya bantu?”“Tidak ada.” jawab Thalhah.“Tapi kamu adalah istri orang yang muslim”, lanjutnya.Aku bertanya kembali, “Apa yang sedang kamu alami?”“Hartaku makin banyak dan menyusahkanku”, kata Thalhah.“Oh tidak mengapa, dibagi saja harta itu”, sambutku.Lalu, harta itu pun aku bagi–bagi sampai hanya tersisa 1 dirham.Thalhah bin Yahya (perawi kisah) berkata, “Aku kemudian bertanya kepada berdaharanya Thalhah, “Berapa duitnya ketika itu?” Dia menjawab, “400.000 dirham.”Sedekah di Bulan Ramadan Lebih IstimewaSedekah di bulan Ramadan tentu lebih istimewa. Maka, segeralah lakukan. Tunaikan semampu anda. Berikut ini jenis sedekah yang prioritas dilakukan di bulan Ramadan:Pertama, memberi makan orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala telah memotivasi kita melakukan amal ini,وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ‎﴿٨﴾‏ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ‎﴿٩﴾‏ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ‎﴿١٠﴾‏ فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا ‎﴿١١﴾‏ وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا“Penduduk surga itu di dunia gemar memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (8) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (9) Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (10) Maka, Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (11) Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Insan: 8-12)Para Salafush Shalih sangat semangat dalam beramal sosial yang mereka niatkan ibadah dengan berbagi makanan kepada orang yang membutuhkan. Bahkan, sering kali mereka mengedepankan amalan ini dari banyak ibadah. Baik dengan cara membantu orang yang kelaparan atau sekedar berbagi makanan dengan rekan-rekan yang saleh. Karena ibadah memberi makan tidak disyaratkan hanya kepada fakir miskin saja. Ibadah yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,يا أيها الناس أفشوا السلام أطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام“Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makan, sambung silaturahmi dan salat malamlah ketika manusia tidur. Maka, Engkau pun akan masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)Sebagian ulama mengatakan,لأن أدعو عشرة من أصحابي فأطعمهم طعاما يشتهونه أحب إلي من أن أعتق عشرة من ولد إسماعيل“Aku mengundang sepuluh temanku untuk makan makanan yang mereka sukai, itu lebih aku sukai daripada membebaskan sepuluh budak dari keturunan Nabi Ismail.”Banyak pula ulama salaf yang membatalkan puasa sunahnya saat diundang makan. Seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, Dawud At-Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal.Ibnu Umar tidak berbuka puasa, kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.Ada pula ulama salaf yang menyuguhkan makanan kepada rekan-rekannya, padahal dia sedang sendiri puasa. Dia duduk menemani makan dan menuangkan minuman kepada para tamu. Contohnya seperti Hasan Al-Basri dan Abdullah bin Mubarak.Abu Suwar Al-‘Adawi berkabar,كان رجال من بني عدي يصلوم في هذا المسجد، ما أفطر أحد منهم على طعام قط وحده، إن وجد من يأكل معه أكل، وإلا أخرج طعامه إلى المسجد فأكله مع الناس وأكل الناس معه“Masyarakat Bani ‘Adi salat magrib di masjid ini. Mereka tidak pernah berbuka puasa sendirian. Di saat ada orang yang bisa mereka ajak buka bersama, barulah mereka makan. Jika tidak ada, maka mereka bawa makanan ke masjid, kemudian berbuka bersama dengan para jemaah masjid.”Ada banyak ibadah yang terkandung di dalam ibadah berupa berbagi makanan. Di antaranya menumbuhkan kasih sayang pada saudara anda yang Anda beri makanan. Amalan seperti ini bisa memasukkan Anda ke surga. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,لن تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا و لن تؤمنوا حتى تحابوا“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan tidak akan menjadi orang mukmin, kecuali kalian saling mencintai.” (HR. HR. Muslim)Kedua, memberi makan buka untuk orang yang puasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Barangsiapa yang memberi makan buka puasa orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR.  Ahmad, An-Nasai, dinilai sahih oleh Al-Albani)Kisah Membaca Al-Qur’anKami akan paparkan dua keadaan terkait para salaf bersama Al-Quran:Pertama, mereka banyak membaca Al-Qur’an.Kedua, mudah menangis saat membaca atau mendengarkan ayat Al-Qur’an. Karena khusyuknya hati mereka  serta tunduk kepada Allah yang Mahamulia.Banyak Membaca Al-QuranBulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Sebuah momen yang tepat bagi seorang muslim untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan ini. Para pendahulu kita (Salafus Shalih) adalah teladan dalam membaca Al-Quran. Berikut ini teladan yang dapat diambil.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyimakkan hafalan Al-Qur’an beliau kepada malaikat Jibril di bulan Ramadan.‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ketika bulan Ramadan mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari.Sebagian salafush shalih mengkhatamkan Al-Qur’an di dalam salat malam Ramadan selama tiga hari. Ada pula yang mengkhatamkan sepekan sekali. Ada yang khatam sepuluh hari sekali. Mereka membaca Al-Qur’an baik ketika salat maupun di luar salat.Imam Syafi’i rahimahullah kalau bulan Ramadan khatam Al-Qur’an enam puluh kali. Itu yang beliau baca di luar salat.Qotadah rahimahullah biasa menghatamkan Al-Qur’an sepekan sekali. Namun, untuk bulan Ramadan, beliau menghatamkannya dalam tiga hari. Saat sepuluh hari terakhir, beliau khatamkan dalam satu malam.Az-Zuhri rahimahullah apabila tiba Ramadan, beliau meliburkan aktivitas membaca hadis dan bermajlis dengan para ulama. Beliau habiskan waktu untuk membaca Al-Qur’an pada mushaf.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah apabila masuk bulan Ramadan, beliau meliburkan semua ibadah, kemudian beliau fokuskan semua waktu untuk membaca Al-Qur’an.Bukankah ada hadis yang melarang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari?Ibnu Rajab rahimahullah telah menjawabnya,وإنما ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاث على المداومة على ذلك ، فأما في الأوقات المفضلة كشهر رمضان خصوصاً الليالي التي يطلب فيها ليلة القدر، أو في الأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها فيستحب الإكثار فيها من تلاوة القرآن اغتناماً للزمان والمكان ، وهو قول أحمد وإسحاق وغيرهما من الأئمة“Sesungguhnya riwayat yang menerangkan larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari hanya berlaku jika dilakukan terus menerus. Namun, pada waktu-waktu mulia seperti bulan Ramadan, lebih-lebih di malam-malam yang terdapat lailatul qadr, atau di tempat-tempat mulia seperti Mekah bagi pengunjung yang tidak menetap di sana, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Dalam rangka optimalisasi waktu dan tempat yang mulia. Inilah pendapat Ahmad bin Hambal, Ishaq, dan para imam lainnya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 171)Menangis Saat Membaca dan Mendengar Al-QuranMelantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan syahdu layaknya syair, namun tanpa tadabur, bukan termasuk petunjuk dari Salafus Shalih. Mereka itu orang-orang yang mudah tersentuh dengan ayat Al-Quran. Berikut kisah mereka:Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanTangisan RasulullahSahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu pernah menceritakan, “Rasulullah pernah memintaku,اقْرَأْ عَلَيَّ القُرْآنَ“Tolong bacakan ayat Al-Quran kepadaku.”Aku jawab,يَا رسولَ الله، أَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟!“Bagaimana mungkin, ya Rasulullah? Aku membaca Al-Quran kepadamu padahal Al-Qur’an diturunkan pada Anda?”إنِّي أُحِبُّ أَنْ أسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي“Aku senang mendengar bacaan Al-Quran dari selainku”, jawab Nabi.فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى جِئْتُ إِلَى هذِهِ الآية: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} قَالَ: «حَسْبُكَ الآنَ» فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ، فَإذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ. متفقٌ عَلَيْهِ.“Saya lalu membacakan ayat dalam surah An-Nisa’. Saat sampai pada ayat ini (yang artinya), “Bagaimanakah jika Kami datangkan kepada setiap umat seorang saksi dan Engkau Kami jadikan saksi atas umat ini?” (QS. An-Nisa’ 42).Setelah itu beliau bersabda, “Cukup … cukup.”Saya menoleh ke arah beliau. Ternyata, beliau bercucuran air mata.” (Muttafaq ‘alaih)Tangisan Ahlu Sufah (para sahabat yang tinggal di emperan masjid Nabawi)Al-Baihaqi rahimahullah menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Beliau berkisah, “Di saat turun ayat أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ ‎﴿٥٩﴾‏ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ ‎﴿٦٠﴾“Apa kamu merasa heran kepada kabar ini? Kamu mentertawakan dan tidak menangis?!” (QS. An-Najm: 59-60)para Ahlu Sufah ketika itu menangis, sampai air mata menetes dari dagu mereka. Ketika Rasulullah mendengar tangisan Ahlu Sufah ketika itu, beliau pun ikut menangis. Kami pun menangis melihat Rasulullah menangis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يلج النار من بكى من خشية الله“Orang yang menangis karena takut kepada Allah, tak akan disentuh oleh api neraka.”Baca Juga: Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Tangisan Sahabat Ibnu UmarKetika Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu membaca surat Al-Muthaffifin sampai pada ayat,يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Hari kebangkitan adalah hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.”Beliau menangis sampai jatuh tersungkur, sampai tak mampu melanjutkan bacaan.Tangisan Sufyan As-TsauriDari Muzahim bin Zufar, beliau menceritakan, ”Kami pernah salat magrib bersama Sufyan As-Tsauri rahimahullah. Di saat beliau membaca ayatإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)beliau menangis sampai tak sanggup melanjutkan ayat. Kemudian beliau mengulang lagi dari “Alhamdu…”Tangisan Fudhail bin IyadhDari Ibrahim bin Al-Asy’ats, beliau berkisah, ”Pada suatu malam aku mendengar Fudhail membaca surah Muhammad. Beliau menangis mengulang-ulang ayat ini,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ“Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami mengabarkan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)Beliau selalu mengulang kalimat ayat “Wa nabluwa akh-baarokum.. (Kami menguji (baik buruknya) hal ihwalmu).”“Engkau akan menguji ihwal kami?! Bila Engkau menguji baik buruknya hal ihwal kami, sungguh aib kami akan tampak, menjadi tersingkaplah yang tertutupi dari kami. Jika Engkau menguji keadaan kami, sungguh kami bisa binasa dan Engkau akan mengazab kami”, lanjut beliau. Kemudian beliau menangis.[Bersambung]Baca Juga:Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanPerbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Bermanhaj Salaf, Doa Agar Terhindar Dari Kejahatan Manusia, Sunnah Khutbah Jumat, Kumpulan Hadits Bukhari MuslimTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama 351

Khutbah Jumat: Cerdas dalam Memanfaatkan Harta

Bagaimana cara memanfaatkan harta agar harta kita diberkahi dan bawa manfaat? Coba perhatikan khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta” 2. Khutbah Pertama 3. Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. 3.1. Pertama: Carilah harta yang halal. 3.2. Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. 3.3. Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). 3.4. Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan. 4. Khutbah Kedua 5. Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta”    Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (سورة سبأ: ٣٩) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Nikmat harta adalah nikmat yang patut disyukuri. Nikmat itu disyukuri dengan menjalankan tiga rukun yaitu bersyukur dengan hati, ucapan, dan menggunakannya untuk hal-hal kebaikan. Baca jugu: Cara Kita Bersyukur, Ada Tiga Rukun   Ingatlah kaidah: Yang menjadi prioritas dalam mengeluarkan harta adalah untuk memenuhi yang wajib lalu memperhatikan yang sunnah sebagaimana kaidah dalam amal saleh seperti itu pula.   Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. Pertama: Carilah harta yang halal. Ingat kaidah dari Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, وَالقَلِيْلُ مِنَ الحَلاَلِ يُبَارَكُ فِيْهِ وَالحَرَامُ الكَثِيْرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللهُ تَعَالَى “Rezeki halal walau sedikit, itu lebih berkah daripada rezeki haram yang banyak. Rezeki haram itu akan cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) Pekerjaan itu yang penting halal. Coba perhatikan hadits berikut ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, no. 2144, dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani). Ingat, jika ada yang memiliki penghasilan yang haram, kita tidak boleh memanfaatkannya. Kita harus mengeluarkan semuanya untuk selain kepentingan pribadi dan bangun masjid. Demikian dijelaskan oleh para ulama. Baca juga: Inilah Tujuh Dampak Harta Haram Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar.” (HR. Muslim, no. 995). Utang itu adalah tanggungan yang mesti kita bayar. Karena bila utang itu dibawa mati amatlah merugikan kita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1079 dan Ibnu Majah, no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Utangnya   Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). Allah memerintahkan untuk menarik zakat dari orang kaya sebagaimana disebutkan dalam ayat, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Lihatlah tujuan zakat adalah untuk membersihkan diri dari dosa dan akhlak yang jelek. Lalu zakat juga untuk mentazkiyah, menyucikan orang yang berzakat, membuat akhlak dan amalnya jadi baik. Zakat ini akan berdampak baik pada dunia dan akhiratnya, serta harta orang yang berzakat juga akan berkembang. Demikian kata Syaikh As-Sa’di mengenai tafsiran ayat di atas. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Hanya harta tertentu yang terkena zakat. Contoh harta di tengah-tengah kita yang terkena zakat: Emas jika telah mencapai 20 dinar atau 85 gram emas murni dan perak jika telah mencapai 200 dirham atau 595 gram perak murni. Zakatnya, 2,5% dari emas atau perak tersimpan. Uang dan barang dagangan (manakah yang tercapai terlebih dahulu antara nishab emas atau perak, yaitu 85 gram emas 24 karat atau 595 gram perak murni). Nishab perak lebih rendah dalam hal ini sekitar 7 juta rupiah. Zakatnya, 2,5% dari saldo simpanan terakhir atau 2,5% dari total harga stok nilai barang dagangan sesuai harga pasar pada hari bayar zakat. Baca juga: Cara Bayar Zakat dan Harta yang Wajib Dizakati Selain zakat maal (harta), ada juga zakat fitrah (zakat yang terkait dengan badan) yang dikeluarkan menjelang Idulfitri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat Id.” (HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984). Satu sha’ di sini adalah kewajiban zakat fitrah yang dikeluarkan oleh orang yang masih hidup ketika bertemu dengan tenggelamnya matahari pada malam Idulfitri. Satu sha’ adalah 2,5 kg seperti umumnya kita mengeluarkannya. Zakat di atas disalurkan pada delapan golongan seperti yang disebutkan dalam ayat, إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanya untuk: (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amil zakat, (4) para muallaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, (6) orang-orang yang terlilit utang, (7) untuk jalan Allah, dan (8) untuk mereka yang sedang terputus perjalanan jauh (untuk melanjutkan perjalanan), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60) Baca juga: Siapa Saja Kerabat yang Boleh Diberi Zakat? Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?   Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan.   Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Barang siapa menyalurkan harta untuk tiga jalan (nafkah, zakat wajib, dan sedekah sunnah), maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).” (Lihat Syarh Bukhari, Ibnu Baththal, 5:454, Asy-Syamilah). Baca juga: Cara Mengatur Gaji Bulanan Menurut Syariat   Hadirin yang dirahmati Allah. Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga Allah memberkahi semua harta kita. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. — Disusun #DarushSholihin, 20 Ramadhan 1443 H (22 April 2022) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Download Tagscara bayar zakat dampak harta haram harta yang dizakati harta zakat keutamaan sedekah khutbah jumat sedekah harta sedekah ramadhan Zakat

Khutbah Jumat: Cerdas dalam Memanfaatkan Harta

Bagaimana cara memanfaatkan harta agar harta kita diberkahi dan bawa manfaat? Coba perhatikan khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta” 2. Khutbah Pertama 3. Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. 3.1. Pertama: Carilah harta yang halal. 3.2. Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. 3.3. Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). 3.4. Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan. 4. Khutbah Kedua 5. Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta”    Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (سورة سبأ: ٣٩) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Nikmat harta adalah nikmat yang patut disyukuri. Nikmat itu disyukuri dengan menjalankan tiga rukun yaitu bersyukur dengan hati, ucapan, dan menggunakannya untuk hal-hal kebaikan. Baca jugu: Cara Kita Bersyukur, Ada Tiga Rukun   Ingatlah kaidah: Yang menjadi prioritas dalam mengeluarkan harta adalah untuk memenuhi yang wajib lalu memperhatikan yang sunnah sebagaimana kaidah dalam amal saleh seperti itu pula.   Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. Pertama: Carilah harta yang halal. Ingat kaidah dari Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, وَالقَلِيْلُ مِنَ الحَلاَلِ يُبَارَكُ فِيْهِ وَالحَرَامُ الكَثِيْرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللهُ تَعَالَى “Rezeki halal walau sedikit, itu lebih berkah daripada rezeki haram yang banyak. Rezeki haram itu akan cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) Pekerjaan itu yang penting halal. Coba perhatikan hadits berikut ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, no. 2144, dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani). Ingat, jika ada yang memiliki penghasilan yang haram, kita tidak boleh memanfaatkannya. Kita harus mengeluarkan semuanya untuk selain kepentingan pribadi dan bangun masjid. Demikian dijelaskan oleh para ulama. Baca juga: Inilah Tujuh Dampak Harta Haram Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar.” (HR. Muslim, no. 995). Utang itu adalah tanggungan yang mesti kita bayar. Karena bila utang itu dibawa mati amatlah merugikan kita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1079 dan Ibnu Majah, no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Utangnya   Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). Allah memerintahkan untuk menarik zakat dari orang kaya sebagaimana disebutkan dalam ayat, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Lihatlah tujuan zakat adalah untuk membersihkan diri dari dosa dan akhlak yang jelek. Lalu zakat juga untuk mentazkiyah, menyucikan orang yang berzakat, membuat akhlak dan amalnya jadi baik. Zakat ini akan berdampak baik pada dunia dan akhiratnya, serta harta orang yang berzakat juga akan berkembang. Demikian kata Syaikh As-Sa’di mengenai tafsiran ayat di atas. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Hanya harta tertentu yang terkena zakat. Contoh harta di tengah-tengah kita yang terkena zakat: Emas jika telah mencapai 20 dinar atau 85 gram emas murni dan perak jika telah mencapai 200 dirham atau 595 gram perak murni. Zakatnya, 2,5% dari emas atau perak tersimpan. Uang dan barang dagangan (manakah yang tercapai terlebih dahulu antara nishab emas atau perak, yaitu 85 gram emas 24 karat atau 595 gram perak murni). Nishab perak lebih rendah dalam hal ini sekitar 7 juta rupiah. Zakatnya, 2,5% dari saldo simpanan terakhir atau 2,5% dari total harga stok nilai barang dagangan sesuai harga pasar pada hari bayar zakat. Baca juga: Cara Bayar Zakat dan Harta yang Wajib Dizakati Selain zakat maal (harta), ada juga zakat fitrah (zakat yang terkait dengan badan) yang dikeluarkan menjelang Idulfitri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat Id.” (HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984). Satu sha’ di sini adalah kewajiban zakat fitrah yang dikeluarkan oleh orang yang masih hidup ketika bertemu dengan tenggelamnya matahari pada malam Idulfitri. Satu sha’ adalah 2,5 kg seperti umumnya kita mengeluarkannya. Zakat di atas disalurkan pada delapan golongan seperti yang disebutkan dalam ayat, إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanya untuk: (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amil zakat, (4) para muallaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, (6) orang-orang yang terlilit utang, (7) untuk jalan Allah, dan (8) untuk mereka yang sedang terputus perjalanan jauh (untuk melanjutkan perjalanan), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60) Baca juga: Siapa Saja Kerabat yang Boleh Diberi Zakat? Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?   Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan.   Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Barang siapa menyalurkan harta untuk tiga jalan (nafkah, zakat wajib, dan sedekah sunnah), maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).” (Lihat Syarh Bukhari, Ibnu Baththal, 5:454, Asy-Syamilah). Baca juga: Cara Mengatur Gaji Bulanan Menurut Syariat   Hadirin yang dirahmati Allah. Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga Allah memberkahi semua harta kita. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. — Disusun #DarushSholihin, 20 Ramadhan 1443 H (22 April 2022) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Download Tagscara bayar zakat dampak harta haram harta yang dizakati harta zakat keutamaan sedekah khutbah jumat sedekah harta sedekah ramadhan Zakat
Bagaimana cara memanfaatkan harta agar harta kita diberkahi dan bawa manfaat? Coba perhatikan khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta” 2. Khutbah Pertama 3. Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. 3.1. Pertama: Carilah harta yang halal. 3.2. Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. 3.3. Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). 3.4. Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan. 4. Khutbah Kedua 5. Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta”    Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (سورة سبأ: ٣٩) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Nikmat harta adalah nikmat yang patut disyukuri. Nikmat itu disyukuri dengan menjalankan tiga rukun yaitu bersyukur dengan hati, ucapan, dan menggunakannya untuk hal-hal kebaikan. Baca jugu: Cara Kita Bersyukur, Ada Tiga Rukun   Ingatlah kaidah: Yang menjadi prioritas dalam mengeluarkan harta adalah untuk memenuhi yang wajib lalu memperhatikan yang sunnah sebagaimana kaidah dalam amal saleh seperti itu pula.   Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. Pertama: Carilah harta yang halal. Ingat kaidah dari Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, وَالقَلِيْلُ مِنَ الحَلاَلِ يُبَارَكُ فِيْهِ وَالحَرَامُ الكَثِيْرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللهُ تَعَالَى “Rezeki halal walau sedikit, itu lebih berkah daripada rezeki haram yang banyak. Rezeki haram itu akan cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) Pekerjaan itu yang penting halal. Coba perhatikan hadits berikut ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, no. 2144, dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani). Ingat, jika ada yang memiliki penghasilan yang haram, kita tidak boleh memanfaatkannya. Kita harus mengeluarkan semuanya untuk selain kepentingan pribadi dan bangun masjid. Demikian dijelaskan oleh para ulama. Baca juga: Inilah Tujuh Dampak Harta Haram Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar.” (HR. Muslim, no. 995). Utang itu adalah tanggungan yang mesti kita bayar. Karena bila utang itu dibawa mati amatlah merugikan kita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1079 dan Ibnu Majah, no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Utangnya   Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). Allah memerintahkan untuk menarik zakat dari orang kaya sebagaimana disebutkan dalam ayat, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Lihatlah tujuan zakat adalah untuk membersihkan diri dari dosa dan akhlak yang jelek. Lalu zakat juga untuk mentazkiyah, menyucikan orang yang berzakat, membuat akhlak dan amalnya jadi baik. Zakat ini akan berdampak baik pada dunia dan akhiratnya, serta harta orang yang berzakat juga akan berkembang. Demikian kata Syaikh As-Sa’di mengenai tafsiran ayat di atas. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Hanya harta tertentu yang terkena zakat. Contoh harta di tengah-tengah kita yang terkena zakat: Emas jika telah mencapai 20 dinar atau 85 gram emas murni dan perak jika telah mencapai 200 dirham atau 595 gram perak murni. Zakatnya, 2,5% dari emas atau perak tersimpan. Uang dan barang dagangan (manakah yang tercapai terlebih dahulu antara nishab emas atau perak, yaitu 85 gram emas 24 karat atau 595 gram perak murni). Nishab perak lebih rendah dalam hal ini sekitar 7 juta rupiah. Zakatnya, 2,5% dari saldo simpanan terakhir atau 2,5% dari total harga stok nilai barang dagangan sesuai harga pasar pada hari bayar zakat. Baca juga: Cara Bayar Zakat dan Harta yang Wajib Dizakati Selain zakat maal (harta), ada juga zakat fitrah (zakat yang terkait dengan badan) yang dikeluarkan menjelang Idulfitri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat Id.” (HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984). Satu sha’ di sini adalah kewajiban zakat fitrah yang dikeluarkan oleh orang yang masih hidup ketika bertemu dengan tenggelamnya matahari pada malam Idulfitri. Satu sha’ adalah 2,5 kg seperti umumnya kita mengeluarkannya. Zakat di atas disalurkan pada delapan golongan seperti yang disebutkan dalam ayat, إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanya untuk: (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amil zakat, (4) para muallaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, (6) orang-orang yang terlilit utang, (7) untuk jalan Allah, dan (8) untuk mereka yang sedang terputus perjalanan jauh (untuk melanjutkan perjalanan), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60) Baca juga: Siapa Saja Kerabat yang Boleh Diberi Zakat? Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?   Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan.   Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Barang siapa menyalurkan harta untuk tiga jalan (nafkah, zakat wajib, dan sedekah sunnah), maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).” (Lihat Syarh Bukhari, Ibnu Baththal, 5:454, Asy-Syamilah). Baca juga: Cara Mengatur Gaji Bulanan Menurut Syariat   Hadirin yang dirahmati Allah. Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga Allah memberkahi semua harta kita. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. — Disusun #DarushSholihin, 20 Ramadhan 1443 H (22 April 2022) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Download Tagscara bayar zakat dampak harta haram harta yang dizakati harta zakat keutamaan sedekah khutbah jumat sedekah harta sedekah ramadhan Zakat


Bagaimana cara memanfaatkan harta agar harta kita diberkahi dan bawa manfaat? Coba perhatikan khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta” 2. Khutbah Pertama 3. Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. 3.1. Pertama: Carilah harta yang halal. 3.2. Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. 3.3. Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). 3.4. Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan. 4. Khutbah Kedua 5. Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Dengarkan dahulu Khutbah Jumat “Cerdas dalam Memanfaatkan Harta”   <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span> Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (سورة سبأ: ٣٩) Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Nikmat harta adalah nikmat yang patut disyukuri. Nikmat itu disyukuri dengan menjalankan tiga rukun yaitu bersyukur dengan hati, ucapan, dan menggunakannya untuk hal-hal kebaikan. Baca jugu: Cara Kita Bersyukur, Ada Tiga Rukun   Ingatlah kaidah: Yang menjadi prioritas dalam mengeluarkan harta adalah untuk memenuhi yang wajib lalu memperhatikan yang sunnah sebagaimana kaidah dalam amal saleh seperti itu pula.   Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada beberapa aturan mengenai harta yang perlu dipahami. Pertama: Carilah harta yang halal. Ingat kaidah dari Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, وَالقَلِيْلُ مِنَ الحَلاَلِ يُبَارَكُ فِيْهِ وَالحَرَامُ الكَثِيْرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللهُ تَعَالَى “Rezeki halal walau sedikit, itu lebih berkah daripada rezeki haram yang banyak. Rezeki haram itu akan cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:646) Pekerjaan itu yang penting halal. Coba perhatikan hadits berikut ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, no. 2144, dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani). Ingat, jika ada yang memiliki penghasilan yang haram, kita tidak boleh memanfaatkannya. Kita harus mengeluarkan semuanya untuk selain kepentingan pribadi dan bangun masjid. Demikian dijelaskan oleh para ulama. Baca juga: Inilah Tujuh Dampak Harta Haram Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Kedua: Prioritaskan memenuhi yang wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar.” (HR. Muslim, no. 995). Utang itu adalah tanggungan yang mesti kita bayar. Karena bila utang itu dibawa mati amatlah merugikan kita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1079 dan Ibnu Majah, no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Baca juga: Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Utangnya   Ketiga: Jika masih ada simpanan, prioritaskan untuk menunaikan zakat apabila telah memenuhi nishab (kadar minimal untuk terkena zakat) dan haul (bertahan setahun hijriyah). Allah memerintahkan untuk menarik zakat dari orang kaya sebagaimana disebutkan dalam ayat, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Lihatlah tujuan zakat adalah untuk membersihkan diri dari dosa dan akhlak yang jelek. Lalu zakat juga untuk mentazkiyah, menyucikan orang yang berzakat, membuat akhlak dan amalnya jadi baik. Zakat ini akan berdampak baik pada dunia dan akhiratnya, serta harta orang yang berzakat juga akan berkembang. Demikian kata Syaikh As-Sa’di mengenai tafsiran ayat di atas. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Hanya harta tertentu yang terkena zakat. Contoh harta di tengah-tengah kita yang terkena zakat: Emas jika telah mencapai 20 dinar atau 85 gram emas murni dan perak jika telah mencapai 200 dirham atau 595 gram perak murni. Zakatnya, 2,5% dari emas atau perak tersimpan. Uang dan barang dagangan (manakah yang tercapai terlebih dahulu antara nishab emas atau perak, yaitu 85 gram emas 24 karat atau 595 gram perak murni). Nishab perak lebih rendah dalam hal ini sekitar 7 juta rupiah. Zakatnya, 2,5% dari saldo simpanan terakhir atau 2,5% dari total harga stok nilai barang dagangan sesuai harga pasar pada hari bayar zakat. Baca juga: Cara Bayar Zakat dan Harta yang Wajib Dizakati Selain zakat maal (harta), ada juga zakat fitrah (zakat yang terkait dengan badan) yang dikeluarkan menjelang Idulfitri. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat Id.” (HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984). Satu sha’ di sini adalah kewajiban zakat fitrah yang dikeluarkan oleh orang yang masih hidup ketika bertemu dengan tenggelamnya matahari pada malam Idulfitri. Satu sha’ adalah 2,5 kg seperti umumnya kita mengeluarkannya. Zakat di atas disalurkan pada delapan golongan seperti yang disebutkan dalam ayat, إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanya untuk: (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amil zakat, (4) para muallaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, (6) orang-orang yang terlilit utang, (7) untuk jalan Allah, dan (8) untuk mereka yang sedang terputus perjalanan jauh (untuk melanjutkan perjalanan), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60) Baca juga: Siapa Saja Kerabat yang Boleh Diberi Zakat? Bagaimana Harta Bisa Berkah di Akhir Ramadhan?   Keempat: Harta yang tersisa, setelah itu dimanfaatkan untuk sedekah sunnah (termasuk untuk amal jariyah), investasi, hingga tabungan untuk masa depan.   Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Barang siapa menyalurkan harta untuk tiga jalan (nafkah, zakat wajib, dan sedekah sunnah), maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).” (Lihat Syarh Bukhari, Ibnu Baththal, 5:454, Asy-Syamilah). Baca juga: Cara Mengatur Gaji Bulanan Menurut Syariat   Hadirin yang dirahmati Allah. Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga Allah memberkahi semua harta kita. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. — Disusun #DarushSholihin, 20 Ramadhan 1443 H (22 April 2022) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com   Silakan Unduh Khutbah Jumat: Cerdas Memanfaatkan Harta Download Tagscara bayar zakat dampak harta haram harta yang dizakati harta zakat keutamaan sedekah khutbah jumat sedekah harta sedekah ramadhan Zakat

4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  

4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  
  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  


  4 Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Para ulama rahimahumullahu Ta’ala telah menegaskan, bahwa amalan yang paling utama untuk dilakukan di sepuluh hari terakhir ini, ada empat amalan: PERTAMA: Amalan yang pertama adalah melazimi masjid dan banyak menetap di sana, dan salah satu cara melazimi masjid adalah dengan beriktikaf di dalamnya. Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. KEDUA: Dan amalan kedua yang ditekankan untuk dilakukan pada 10 hari ini adalah setiap orang harus memberi perhatian besar kepada al-Quran dan banyak membacanya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadan, dan beliau bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya. Dan para tabi’in dan generasi setelah mereka memahami ini untuk memperbanyak membaca al-Quran, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, bahkan sebagian mereka dapat mengkhatamkan al-Quran setiap harinya. KETIGA: Amalan ketiga yang menjadi amalan yang lebih utama dari amalan lainnya adalah Qiyamul Lail dan memperbanyak salat di malam hari. Karena barang siapa yang mendirikan Salat Malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mendirikan salat di malam Lailatul Qadar, atas dasar iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. an-Nasai) KEEMPAT: Dan amalan keempat yang ditekankan adalah yang akan kita bahas pada sore ini, yaitu berdoa. Karena berdoa di bulan Ramadan, secara umum, memiliki keistimewaan, dan di akhir bulan Ramadan lebih ditekankan lagi daripada di hari-hari lainnya. ================================================================================ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُشْتَغَلُ بِهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ أَعْنِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَرْبَعَةُ أَعْمَالٍ أَوَّلُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ وَكَثْرَةُ الْمُكْثِ فِيهَا وَمِنْ لُزُومِ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ فِيهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْعَمَلُ الثَّانِي الَّذِي يَتَأَكَّدُ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَتِهِ وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا وَفَهِمَ مِنْ ذَلِكَ التَّابِعُونَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ زِيَادَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَخْتِمُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَتْمَةً الْعَمَلُ الثَّالِثُ الَّذِيْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنْ غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَكَثْرَةُ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى اللَّيْلَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ ذَنْبُهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ الْعَمَلُ الرَّابِعُ الَّذِيْ يَتَأَكَّدُ هُوَ الَّذِي سَنَتَحَدَّثُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسَاءِ وَهُوَ الدُّعَاءُ فَإِنَّ لِلدُّعَاءِ فِي رَمَضَانَ عُمُومًا خَصِيصَةً وَفِي آخِرِهِ تَأْكِيدٌ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ  

Sembuh Sakit karena Bersedekah

Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 QRIS donasi Yufid

Sembuh Sakit karena Bersedekah

Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 QRIS donasi Yufid
Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1353212983&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya

Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal

Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya

Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal
Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal


Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal

Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)

PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama

Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)

PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama
PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama


PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  
Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  


Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  
Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  


Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  
Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  


Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  
Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  


Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  
Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  


Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  
Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  


Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid
Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1331523286&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next