Fikih Utang Piutang (Bag. 6): Hukum Utang dalam Bentuk Manfaat

Daftar Isi ToggleHukum utang dalam bentuk manfaatPendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaatPendapat kedua: Sah meminjamkan manfaatKesimpulanHukum utang dalam bentuk manfaatDi antara pembahasan fikih utang piutang yang perlu diketahui adalah terkait dengan hukum “utang dalam bentuk manfaat” [1]. Manfaat dalam arti kegunaan yang dihasilkan dari benda-benda, seperti menempati rumah, menaiki kendaraan, dan lain-lain.Muncul pertanyaan: Apakah sah meminjamkan manfaat?Gambaran sederhananya: Seseorang meminjamkan manfaat untuk ikut membantu memanen bersama temannya sehari. Keesokan harinya, temannya yang memanen bersamanya selama sehari.Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, dan setidaknya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaat Ini merupakan pendapat dari mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Hanafi. Mereka berpendapat demikian karena manfaat dianggap tidak bisa dimiliki. Dalil mereka antara lain sebagai berikut:Pertama: Salah satu syarat sahnya pinjaman adalah objek pinjaman harus jelas takarannya, sehingga bisa digantikan dalam bentuk yang sama. Sedangkan manfaat itu sulit untuk ditakar, dan konsekuensinya, pengembalian dalam bentuk yang sama sulit untuk terealisasi.Kedua: Sebagai contoh, jika ada seseorang yang meminjamkan rumahnya agar bisa mendapatkan pinjaman rumah dari orang lain, sebagai bentuk meminjam manfaat, maka hakikatnya ini adalah bagian dari utang piutang yang menghasilkan manfaat. Dan hukumya adalah haram.Ketiga: Bahwasanya utang dalam bentuk manfaat tidak dikenal secara adat kebiasaan, karenanya hal tersebut tidak diperbolehkan.Syekh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullah (penulis kitab Shahih Fikih Sunnah) memberikan catatan terhadap ketiga poin di atas,– Catatan poin pertama: Sejatinya manfaat pun dapat diperjelas takarannya, sehingga ketidakjelasan pada takaran dapat ditiadakan atau dihilangkan. Selain itu, masalah utang piutang dibangun di atas kemudahan dan toleransi. Artinya, jika memang ada kelebihan yang tidak disengaja atau tanpa ada maksud dan tujuan, maka tidak masalah.– Catatan poin kedua: Di antara para ulama, ada yang mengkategorikan utang manfaat ini sebagai bentuk dari ijarah (sewa menyewa) dan ‘aariyah (pinjam pakai). Dalam hal ini, tidak ada masalah yang signifikan. Selain itu, manfaat di sini bukan hanya untuk satu pihak saja, namun untuk kedua pihak tanpa memudaratkan pihak yang lain. Dan hal ini pun tidak terlarang.– Catatan poin ketiga: Ketidak-adaan utang manfaat dalam suatu kebiasaan atau adat, bukan berarti menunjukkan akan keharaman suatu hukum. Karena hukum asal pada masalah muamalah adalah mubah (boleh).Pendapat kedua: Sah meminjamkan manfaat Yang berpendapat demikian adalah mazhab Maliki, sebagian pendapat Syafi’, pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah.Mereka berpendapat bahwa meminjamkan manfaat sah hukumnya, dengan dalil bahwasanya utang manfaat ini adalah akad yang bentuknya irfaq (akad tolong menolong non komersial) dan juga akad qurbah (mendekatkan diri kepada Allah). Sehingga pada utang manfaat diberikan toleransi, yang toleransi ini tidak diberikan pada akad-akad non komersial yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,يصح قرض المنافع؛ لأن المنافع يجوز بيعها مثل الممر في الدار، فأملك المنفعة في هذا الممر لكن لا أملك الممر، فبيع المنافع جائز أما إقراضها، فالمذهب لا يجوز“Sah hukumnya menjadikan manfaat sebagai utang, karena manfaat pun boleh untuk diperjualbelikan. Seperti (hak) lewat jalan di depan rumah, artinya saya memiliki manfaat pada jalan ini, akan tetapi saya tidak memiliki jalan ini (sepenuhnya). Oleh karena itu, menjual manfaat hukumnya boleh. Adapun pendapat mazhab (yaitu mazhab Hanbali, pent.) tidak memperbolehkannya.” [2]Syekh Al-Utsaimin berpendapat bahwasanya sah meminjamkan manfaat, karena dua hal:أولاً: أن الأصل في المعاملات الإباحةثانياً: أن المنافع تجوز المعاوضة عنها، فإذا كانت تجوز المعاوضة عنها فإنه يجوز إقراضهاPertama: Hukum asal dalam masalah mu’amalah adalah mubah.Kedua: Bahwa manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah (akad pertukaran/kompensasi). Jika manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah, maka boleh pula menjadikannya sebagai objek qardh (pinjaman). [3]Gambaran sederhananya:A mengatakan kepada B, bekerjalah untuk saya selama satu hari di hari ini dan saya akan bekerja untuk anda di hari lain selama satu hari.Dari gambaran di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa “kerja” adalah sebuah manfaat yang dipinjamkan, kemudian dikembalikan dengan manfaat yang serupa. Andaikata ada sedikit perbedaan antara waktu atau jenis kerja, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Kecuali memang terdapat perbedaan yang besar dari segi waktu dan kerja, maka tentunya hal ini tidak menjadi keridaan antara salah satu dari kedua belah pihak.Terdapat penjelasan yang sangat bagus dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terkait dengan masalah utang dalam bentuk manfaat. Dalam Majmu’ Fatawa [4], beliau menjelaskan,‌فإن ‌القرض ‌من ‌جنس التبرع بالمنافع كالعارية… وباب العارية أصله أن يعطيه أصل المال لينتفع بما يستخلف منه ثم يعيده إليه فتارة ينتفع بالمنافع كما في عارية العقار وتارة يمنحه ماشية ليشرب لبنها ثم يعيدها وتارة يعيره شجرة ليأكل ثمرها ثم يعيدها فإن اللبن والثمر يستخلف شيئا بعد شيء بمنزلة المنافع“Sejatinya, utang piutang itu termasuk dalam jenis tabarru’ (akad sosial) dengan memberikan manfaat, sebagaimana halnya ‘ariyah (pinjam pakai). Adapun asal dari bab ‘ariyah adalah seseorang memberikan barang pokoknya agar dipakai manfaat yang muncul darinya, kemudian dikembalikan lagi kepadanya. Kadang merupakan pemanfaatan manfaat yang murni, seperti pinjam pakai tanah atau bangunan. Kadang seseorang meminjamkan hewan ternak untuk diperah susunya kemudian dikembalikan lagi; kadang meminjamkan pohon untuk dimakan buahnya, kemudian pohon itu dikembalikan lagi; karena sejatinya susu dan buah itu senantiasa berganti dan muncul terus-menerus, sama halnya seperti manfaat.” Beliau rahimahullah menyamakan antara pinjam meminjam manfaat dengan ‘ariyah (pinjam pakai). Sama-sama akad sosial non komersil, yaitu setelah digunakan (dimanfaatkan), maka dikembalikan. Dan tidak ada permasalahan padanya.Beliau rahimahullah melanjutkan,والمقرض يقرضه ما يقرضه لينتفع به ثم يعيد له بمثله فإن إعادة المثل تقوم مقام إعادة العين ولهذا نهي أن يشترط زيادة على المثل كما لو شرط في العارية أن يرد مع الأصل غيره“Dan pemberi pinjaman, memberikan pinjaman agar penerima pinjaman dapat mengambil manfaat darinya, lalu ia mengembalikannya dengan yang semisal. Sejatinya pengembalian dengan yang semisal itu, kedudukannya sama dengan pengembalian barang asal (pada ‘ariyah). Karena itu, dilarang mensyaratkan tambahan atas yang semisal, sebagaimana (dilarang juga) jika disyaratkan pada ‘ariyah untuk mengembalikan barang asal bersama tambahan yang lain.”Artinya, pada utang yang berbentuk manfaat pun tidak boleh disyaratkan di awal akad adanya tambahan manfaat yang diberikan. Kembali kepada kaidah, “Setiap utang piutang yang memberikan manfaat, maka itu adalah riba.”KesimpulanKesimpulan pada pembahasan ini, utang piutang dalam bentuk manfaat hukumnya sah dan boleh. Dengan beberapa hal yang perlu diketahui,Manfaat boleh dijadikan utang piutang, karena manfaat boleh diperjualbelikan. Kaidahnya, “Setiap yang boleh diperjualbelikan, maka boleh untuk dijadikan utang piutang.” Utang piutang dalam bentuk manfaat adalah bentuk dari akad sosial (non komersial).Tambahan ketika mengembalikan utang dalam bentuk manfaat, jika bentuknya hal yang kecil, maka tidak masalah. Jika bentuknya besar, maka tentu tidak diperbolehkan.Pada akad utang piutang dalam bentuk manfaat, para ulama menyamakannya dengan ‘ariyah (pinjam pakai).Utang piutang dalam bentuk manfaat berbeda dengan sewa menyewa jasa. Karena akad sewa menyewa jasa adalah mu’awadhoh (komersil). Adapun utang piutang dalam bentuk manfaat, akadnya adalah tabarru’at (akad sosial alias non komersil).Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Depok, 27 Safar 1447/ 21 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Shahih Fiqih Sunnah, karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab Shahih Fiqih Sunnah, 5: 74-76.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[3] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[4] Majmu’ Fatawa, 20: 514-515.

Fikih Utang Piutang (Bag. 6): Hukum Utang dalam Bentuk Manfaat

Daftar Isi ToggleHukum utang dalam bentuk manfaatPendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaatPendapat kedua: Sah meminjamkan manfaatKesimpulanHukum utang dalam bentuk manfaatDi antara pembahasan fikih utang piutang yang perlu diketahui adalah terkait dengan hukum “utang dalam bentuk manfaat” [1]. Manfaat dalam arti kegunaan yang dihasilkan dari benda-benda, seperti menempati rumah, menaiki kendaraan, dan lain-lain.Muncul pertanyaan: Apakah sah meminjamkan manfaat?Gambaran sederhananya: Seseorang meminjamkan manfaat untuk ikut membantu memanen bersama temannya sehari. Keesokan harinya, temannya yang memanen bersamanya selama sehari.Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, dan setidaknya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaat Ini merupakan pendapat dari mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Hanafi. Mereka berpendapat demikian karena manfaat dianggap tidak bisa dimiliki. Dalil mereka antara lain sebagai berikut:Pertama: Salah satu syarat sahnya pinjaman adalah objek pinjaman harus jelas takarannya, sehingga bisa digantikan dalam bentuk yang sama. Sedangkan manfaat itu sulit untuk ditakar, dan konsekuensinya, pengembalian dalam bentuk yang sama sulit untuk terealisasi.Kedua: Sebagai contoh, jika ada seseorang yang meminjamkan rumahnya agar bisa mendapatkan pinjaman rumah dari orang lain, sebagai bentuk meminjam manfaat, maka hakikatnya ini adalah bagian dari utang piutang yang menghasilkan manfaat. Dan hukumya adalah haram.Ketiga: Bahwasanya utang dalam bentuk manfaat tidak dikenal secara adat kebiasaan, karenanya hal tersebut tidak diperbolehkan.Syekh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullah (penulis kitab Shahih Fikih Sunnah) memberikan catatan terhadap ketiga poin di atas,– Catatan poin pertama: Sejatinya manfaat pun dapat diperjelas takarannya, sehingga ketidakjelasan pada takaran dapat ditiadakan atau dihilangkan. Selain itu, masalah utang piutang dibangun di atas kemudahan dan toleransi. Artinya, jika memang ada kelebihan yang tidak disengaja atau tanpa ada maksud dan tujuan, maka tidak masalah.– Catatan poin kedua: Di antara para ulama, ada yang mengkategorikan utang manfaat ini sebagai bentuk dari ijarah (sewa menyewa) dan ‘aariyah (pinjam pakai). Dalam hal ini, tidak ada masalah yang signifikan. Selain itu, manfaat di sini bukan hanya untuk satu pihak saja, namun untuk kedua pihak tanpa memudaratkan pihak yang lain. Dan hal ini pun tidak terlarang.– Catatan poin ketiga: Ketidak-adaan utang manfaat dalam suatu kebiasaan atau adat, bukan berarti menunjukkan akan keharaman suatu hukum. Karena hukum asal pada masalah muamalah adalah mubah (boleh).Pendapat kedua: Sah meminjamkan manfaat Yang berpendapat demikian adalah mazhab Maliki, sebagian pendapat Syafi’, pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah.Mereka berpendapat bahwa meminjamkan manfaat sah hukumnya, dengan dalil bahwasanya utang manfaat ini adalah akad yang bentuknya irfaq (akad tolong menolong non komersial) dan juga akad qurbah (mendekatkan diri kepada Allah). Sehingga pada utang manfaat diberikan toleransi, yang toleransi ini tidak diberikan pada akad-akad non komersial yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,يصح قرض المنافع؛ لأن المنافع يجوز بيعها مثل الممر في الدار، فأملك المنفعة في هذا الممر لكن لا أملك الممر، فبيع المنافع جائز أما إقراضها، فالمذهب لا يجوز“Sah hukumnya menjadikan manfaat sebagai utang, karena manfaat pun boleh untuk diperjualbelikan. Seperti (hak) lewat jalan di depan rumah, artinya saya memiliki manfaat pada jalan ini, akan tetapi saya tidak memiliki jalan ini (sepenuhnya). Oleh karena itu, menjual manfaat hukumnya boleh. Adapun pendapat mazhab (yaitu mazhab Hanbali, pent.) tidak memperbolehkannya.” [2]Syekh Al-Utsaimin berpendapat bahwasanya sah meminjamkan manfaat, karena dua hal:أولاً: أن الأصل في المعاملات الإباحةثانياً: أن المنافع تجوز المعاوضة عنها، فإذا كانت تجوز المعاوضة عنها فإنه يجوز إقراضهاPertama: Hukum asal dalam masalah mu’amalah adalah mubah.Kedua: Bahwa manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah (akad pertukaran/kompensasi). Jika manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah, maka boleh pula menjadikannya sebagai objek qardh (pinjaman). [3]Gambaran sederhananya:A mengatakan kepada B, bekerjalah untuk saya selama satu hari di hari ini dan saya akan bekerja untuk anda di hari lain selama satu hari.Dari gambaran di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa “kerja” adalah sebuah manfaat yang dipinjamkan, kemudian dikembalikan dengan manfaat yang serupa. Andaikata ada sedikit perbedaan antara waktu atau jenis kerja, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Kecuali memang terdapat perbedaan yang besar dari segi waktu dan kerja, maka tentunya hal ini tidak menjadi keridaan antara salah satu dari kedua belah pihak.Terdapat penjelasan yang sangat bagus dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terkait dengan masalah utang dalam bentuk manfaat. Dalam Majmu’ Fatawa [4], beliau menjelaskan,‌فإن ‌القرض ‌من ‌جنس التبرع بالمنافع كالعارية… وباب العارية أصله أن يعطيه أصل المال لينتفع بما يستخلف منه ثم يعيده إليه فتارة ينتفع بالمنافع كما في عارية العقار وتارة يمنحه ماشية ليشرب لبنها ثم يعيدها وتارة يعيره شجرة ليأكل ثمرها ثم يعيدها فإن اللبن والثمر يستخلف شيئا بعد شيء بمنزلة المنافع“Sejatinya, utang piutang itu termasuk dalam jenis tabarru’ (akad sosial) dengan memberikan manfaat, sebagaimana halnya ‘ariyah (pinjam pakai). Adapun asal dari bab ‘ariyah adalah seseorang memberikan barang pokoknya agar dipakai manfaat yang muncul darinya, kemudian dikembalikan lagi kepadanya. Kadang merupakan pemanfaatan manfaat yang murni, seperti pinjam pakai tanah atau bangunan. Kadang seseorang meminjamkan hewan ternak untuk diperah susunya kemudian dikembalikan lagi; kadang meminjamkan pohon untuk dimakan buahnya, kemudian pohon itu dikembalikan lagi; karena sejatinya susu dan buah itu senantiasa berganti dan muncul terus-menerus, sama halnya seperti manfaat.” Beliau rahimahullah menyamakan antara pinjam meminjam manfaat dengan ‘ariyah (pinjam pakai). Sama-sama akad sosial non komersil, yaitu setelah digunakan (dimanfaatkan), maka dikembalikan. Dan tidak ada permasalahan padanya.Beliau rahimahullah melanjutkan,والمقرض يقرضه ما يقرضه لينتفع به ثم يعيد له بمثله فإن إعادة المثل تقوم مقام إعادة العين ولهذا نهي أن يشترط زيادة على المثل كما لو شرط في العارية أن يرد مع الأصل غيره“Dan pemberi pinjaman, memberikan pinjaman agar penerima pinjaman dapat mengambil manfaat darinya, lalu ia mengembalikannya dengan yang semisal. Sejatinya pengembalian dengan yang semisal itu, kedudukannya sama dengan pengembalian barang asal (pada ‘ariyah). Karena itu, dilarang mensyaratkan tambahan atas yang semisal, sebagaimana (dilarang juga) jika disyaratkan pada ‘ariyah untuk mengembalikan barang asal bersama tambahan yang lain.”Artinya, pada utang yang berbentuk manfaat pun tidak boleh disyaratkan di awal akad adanya tambahan manfaat yang diberikan. Kembali kepada kaidah, “Setiap utang piutang yang memberikan manfaat, maka itu adalah riba.”KesimpulanKesimpulan pada pembahasan ini, utang piutang dalam bentuk manfaat hukumnya sah dan boleh. Dengan beberapa hal yang perlu diketahui,Manfaat boleh dijadikan utang piutang, karena manfaat boleh diperjualbelikan. Kaidahnya, “Setiap yang boleh diperjualbelikan, maka boleh untuk dijadikan utang piutang.” Utang piutang dalam bentuk manfaat adalah bentuk dari akad sosial (non komersial).Tambahan ketika mengembalikan utang dalam bentuk manfaat, jika bentuknya hal yang kecil, maka tidak masalah. Jika bentuknya besar, maka tentu tidak diperbolehkan.Pada akad utang piutang dalam bentuk manfaat, para ulama menyamakannya dengan ‘ariyah (pinjam pakai).Utang piutang dalam bentuk manfaat berbeda dengan sewa menyewa jasa. Karena akad sewa menyewa jasa adalah mu’awadhoh (komersil). Adapun utang piutang dalam bentuk manfaat, akadnya adalah tabarru’at (akad sosial alias non komersil).Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Depok, 27 Safar 1447/ 21 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Shahih Fiqih Sunnah, karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab Shahih Fiqih Sunnah, 5: 74-76.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[3] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[4] Majmu’ Fatawa, 20: 514-515.
Daftar Isi ToggleHukum utang dalam bentuk manfaatPendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaatPendapat kedua: Sah meminjamkan manfaatKesimpulanHukum utang dalam bentuk manfaatDi antara pembahasan fikih utang piutang yang perlu diketahui adalah terkait dengan hukum “utang dalam bentuk manfaat” [1]. Manfaat dalam arti kegunaan yang dihasilkan dari benda-benda, seperti menempati rumah, menaiki kendaraan, dan lain-lain.Muncul pertanyaan: Apakah sah meminjamkan manfaat?Gambaran sederhananya: Seseorang meminjamkan manfaat untuk ikut membantu memanen bersama temannya sehari. Keesokan harinya, temannya yang memanen bersamanya selama sehari.Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, dan setidaknya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaat Ini merupakan pendapat dari mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Hanafi. Mereka berpendapat demikian karena manfaat dianggap tidak bisa dimiliki. Dalil mereka antara lain sebagai berikut:Pertama: Salah satu syarat sahnya pinjaman adalah objek pinjaman harus jelas takarannya, sehingga bisa digantikan dalam bentuk yang sama. Sedangkan manfaat itu sulit untuk ditakar, dan konsekuensinya, pengembalian dalam bentuk yang sama sulit untuk terealisasi.Kedua: Sebagai contoh, jika ada seseorang yang meminjamkan rumahnya agar bisa mendapatkan pinjaman rumah dari orang lain, sebagai bentuk meminjam manfaat, maka hakikatnya ini adalah bagian dari utang piutang yang menghasilkan manfaat. Dan hukumya adalah haram.Ketiga: Bahwasanya utang dalam bentuk manfaat tidak dikenal secara adat kebiasaan, karenanya hal tersebut tidak diperbolehkan.Syekh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullah (penulis kitab Shahih Fikih Sunnah) memberikan catatan terhadap ketiga poin di atas,– Catatan poin pertama: Sejatinya manfaat pun dapat diperjelas takarannya, sehingga ketidakjelasan pada takaran dapat ditiadakan atau dihilangkan. Selain itu, masalah utang piutang dibangun di atas kemudahan dan toleransi. Artinya, jika memang ada kelebihan yang tidak disengaja atau tanpa ada maksud dan tujuan, maka tidak masalah.– Catatan poin kedua: Di antara para ulama, ada yang mengkategorikan utang manfaat ini sebagai bentuk dari ijarah (sewa menyewa) dan ‘aariyah (pinjam pakai). Dalam hal ini, tidak ada masalah yang signifikan. Selain itu, manfaat di sini bukan hanya untuk satu pihak saja, namun untuk kedua pihak tanpa memudaratkan pihak yang lain. Dan hal ini pun tidak terlarang.– Catatan poin ketiga: Ketidak-adaan utang manfaat dalam suatu kebiasaan atau adat, bukan berarti menunjukkan akan keharaman suatu hukum. Karena hukum asal pada masalah muamalah adalah mubah (boleh).Pendapat kedua: Sah meminjamkan manfaat Yang berpendapat demikian adalah mazhab Maliki, sebagian pendapat Syafi’, pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah.Mereka berpendapat bahwa meminjamkan manfaat sah hukumnya, dengan dalil bahwasanya utang manfaat ini adalah akad yang bentuknya irfaq (akad tolong menolong non komersial) dan juga akad qurbah (mendekatkan diri kepada Allah). Sehingga pada utang manfaat diberikan toleransi, yang toleransi ini tidak diberikan pada akad-akad non komersial yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,يصح قرض المنافع؛ لأن المنافع يجوز بيعها مثل الممر في الدار، فأملك المنفعة في هذا الممر لكن لا أملك الممر، فبيع المنافع جائز أما إقراضها، فالمذهب لا يجوز“Sah hukumnya menjadikan manfaat sebagai utang, karena manfaat pun boleh untuk diperjualbelikan. Seperti (hak) lewat jalan di depan rumah, artinya saya memiliki manfaat pada jalan ini, akan tetapi saya tidak memiliki jalan ini (sepenuhnya). Oleh karena itu, menjual manfaat hukumnya boleh. Adapun pendapat mazhab (yaitu mazhab Hanbali, pent.) tidak memperbolehkannya.” [2]Syekh Al-Utsaimin berpendapat bahwasanya sah meminjamkan manfaat, karena dua hal:أولاً: أن الأصل في المعاملات الإباحةثانياً: أن المنافع تجوز المعاوضة عنها، فإذا كانت تجوز المعاوضة عنها فإنه يجوز إقراضهاPertama: Hukum asal dalam masalah mu’amalah adalah mubah.Kedua: Bahwa manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah (akad pertukaran/kompensasi). Jika manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah, maka boleh pula menjadikannya sebagai objek qardh (pinjaman). [3]Gambaran sederhananya:A mengatakan kepada B, bekerjalah untuk saya selama satu hari di hari ini dan saya akan bekerja untuk anda di hari lain selama satu hari.Dari gambaran di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa “kerja” adalah sebuah manfaat yang dipinjamkan, kemudian dikembalikan dengan manfaat yang serupa. Andaikata ada sedikit perbedaan antara waktu atau jenis kerja, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Kecuali memang terdapat perbedaan yang besar dari segi waktu dan kerja, maka tentunya hal ini tidak menjadi keridaan antara salah satu dari kedua belah pihak.Terdapat penjelasan yang sangat bagus dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terkait dengan masalah utang dalam bentuk manfaat. Dalam Majmu’ Fatawa [4], beliau menjelaskan,‌فإن ‌القرض ‌من ‌جنس التبرع بالمنافع كالعارية… وباب العارية أصله أن يعطيه أصل المال لينتفع بما يستخلف منه ثم يعيده إليه فتارة ينتفع بالمنافع كما في عارية العقار وتارة يمنحه ماشية ليشرب لبنها ثم يعيدها وتارة يعيره شجرة ليأكل ثمرها ثم يعيدها فإن اللبن والثمر يستخلف شيئا بعد شيء بمنزلة المنافع“Sejatinya, utang piutang itu termasuk dalam jenis tabarru’ (akad sosial) dengan memberikan manfaat, sebagaimana halnya ‘ariyah (pinjam pakai). Adapun asal dari bab ‘ariyah adalah seseorang memberikan barang pokoknya agar dipakai manfaat yang muncul darinya, kemudian dikembalikan lagi kepadanya. Kadang merupakan pemanfaatan manfaat yang murni, seperti pinjam pakai tanah atau bangunan. Kadang seseorang meminjamkan hewan ternak untuk diperah susunya kemudian dikembalikan lagi; kadang meminjamkan pohon untuk dimakan buahnya, kemudian pohon itu dikembalikan lagi; karena sejatinya susu dan buah itu senantiasa berganti dan muncul terus-menerus, sama halnya seperti manfaat.” Beliau rahimahullah menyamakan antara pinjam meminjam manfaat dengan ‘ariyah (pinjam pakai). Sama-sama akad sosial non komersil, yaitu setelah digunakan (dimanfaatkan), maka dikembalikan. Dan tidak ada permasalahan padanya.Beliau rahimahullah melanjutkan,والمقرض يقرضه ما يقرضه لينتفع به ثم يعيد له بمثله فإن إعادة المثل تقوم مقام إعادة العين ولهذا نهي أن يشترط زيادة على المثل كما لو شرط في العارية أن يرد مع الأصل غيره“Dan pemberi pinjaman, memberikan pinjaman agar penerima pinjaman dapat mengambil manfaat darinya, lalu ia mengembalikannya dengan yang semisal. Sejatinya pengembalian dengan yang semisal itu, kedudukannya sama dengan pengembalian barang asal (pada ‘ariyah). Karena itu, dilarang mensyaratkan tambahan atas yang semisal, sebagaimana (dilarang juga) jika disyaratkan pada ‘ariyah untuk mengembalikan barang asal bersama tambahan yang lain.”Artinya, pada utang yang berbentuk manfaat pun tidak boleh disyaratkan di awal akad adanya tambahan manfaat yang diberikan. Kembali kepada kaidah, “Setiap utang piutang yang memberikan manfaat, maka itu adalah riba.”KesimpulanKesimpulan pada pembahasan ini, utang piutang dalam bentuk manfaat hukumnya sah dan boleh. Dengan beberapa hal yang perlu diketahui,Manfaat boleh dijadikan utang piutang, karena manfaat boleh diperjualbelikan. Kaidahnya, “Setiap yang boleh diperjualbelikan, maka boleh untuk dijadikan utang piutang.” Utang piutang dalam bentuk manfaat adalah bentuk dari akad sosial (non komersial).Tambahan ketika mengembalikan utang dalam bentuk manfaat, jika bentuknya hal yang kecil, maka tidak masalah. Jika bentuknya besar, maka tentu tidak diperbolehkan.Pada akad utang piutang dalam bentuk manfaat, para ulama menyamakannya dengan ‘ariyah (pinjam pakai).Utang piutang dalam bentuk manfaat berbeda dengan sewa menyewa jasa. Karena akad sewa menyewa jasa adalah mu’awadhoh (komersil). Adapun utang piutang dalam bentuk manfaat, akadnya adalah tabarru’at (akad sosial alias non komersil).Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Depok, 27 Safar 1447/ 21 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Shahih Fiqih Sunnah, karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab Shahih Fiqih Sunnah, 5: 74-76.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[3] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[4] Majmu’ Fatawa, 20: 514-515.


Daftar Isi ToggleHukum utang dalam bentuk manfaatPendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaatPendapat kedua: Sah meminjamkan manfaatKesimpulanHukum utang dalam bentuk manfaatDi antara pembahasan fikih utang piutang yang perlu diketahui adalah terkait dengan hukum “utang dalam bentuk manfaat” [1]. Manfaat dalam arti kegunaan yang dihasilkan dari benda-benda, seperti menempati rumah, menaiki kendaraan, dan lain-lain.Muncul pertanyaan: Apakah sah meminjamkan manfaat?Gambaran sederhananya: Seseorang meminjamkan manfaat untuk ikut membantu memanen bersama temannya sehari. Keesokan harinya, temannya yang memanen bersamanya selama sehari.Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, dan setidaknya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Tidak sah meminjamkan manfaat Ini merupakan pendapat dari mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Hanafi. Mereka berpendapat demikian karena manfaat dianggap tidak bisa dimiliki. Dalil mereka antara lain sebagai berikut:Pertama: Salah satu syarat sahnya pinjaman adalah objek pinjaman harus jelas takarannya, sehingga bisa digantikan dalam bentuk yang sama. Sedangkan manfaat itu sulit untuk ditakar, dan konsekuensinya, pengembalian dalam bentuk yang sama sulit untuk terealisasi.Kedua: Sebagai contoh, jika ada seseorang yang meminjamkan rumahnya agar bisa mendapatkan pinjaman rumah dari orang lain, sebagai bentuk meminjam manfaat, maka hakikatnya ini adalah bagian dari utang piutang yang menghasilkan manfaat. Dan hukumya adalah haram.Ketiga: Bahwasanya utang dalam bentuk manfaat tidak dikenal secara adat kebiasaan, karenanya hal tersebut tidak diperbolehkan.Syekh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullah (penulis kitab Shahih Fikih Sunnah) memberikan catatan terhadap ketiga poin di atas,– Catatan poin pertama: Sejatinya manfaat pun dapat diperjelas takarannya, sehingga ketidakjelasan pada takaran dapat ditiadakan atau dihilangkan. Selain itu, masalah utang piutang dibangun di atas kemudahan dan toleransi. Artinya, jika memang ada kelebihan yang tidak disengaja atau tanpa ada maksud dan tujuan, maka tidak masalah.– Catatan poin kedua: Di antara para ulama, ada yang mengkategorikan utang manfaat ini sebagai bentuk dari ijarah (sewa menyewa) dan ‘aariyah (pinjam pakai). Dalam hal ini, tidak ada masalah yang signifikan. Selain itu, manfaat di sini bukan hanya untuk satu pihak saja, namun untuk kedua pihak tanpa memudaratkan pihak yang lain. Dan hal ini pun tidak terlarang.– Catatan poin ketiga: Ketidak-adaan utang manfaat dalam suatu kebiasaan atau adat, bukan berarti menunjukkan akan keharaman suatu hukum. Karena hukum asal pada masalah muamalah adalah mubah (boleh).Pendapat kedua: Sah meminjamkan manfaat Yang berpendapat demikian adalah mazhab Maliki, sebagian pendapat Syafi’, pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah.Mereka berpendapat bahwa meminjamkan manfaat sah hukumnya, dengan dalil bahwasanya utang manfaat ini adalah akad yang bentuknya irfaq (akad tolong menolong non komersial) dan juga akad qurbah (mendekatkan diri kepada Allah). Sehingga pada utang manfaat diberikan toleransi, yang toleransi ini tidak diberikan pada akad-akad non komersial yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,يصح قرض المنافع؛ لأن المنافع يجوز بيعها مثل الممر في الدار، فأملك المنفعة في هذا الممر لكن لا أملك الممر، فبيع المنافع جائز أما إقراضها، فالمذهب لا يجوز“Sah hukumnya menjadikan manfaat sebagai utang, karena manfaat pun boleh untuk diperjualbelikan. Seperti (hak) lewat jalan di depan rumah, artinya saya memiliki manfaat pada jalan ini, akan tetapi saya tidak memiliki jalan ini (sepenuhnya). Oleh karena itu, menjual manfaat hukumnya boleh. Adapun pendapat mazhab (yaitu mazhab Hanbali, pent.) tidak memperbolehkannya.” [2]Syekh Al-Utsaimin berpendapat bahwasanya sah meminjamkan manfaat, karena dua hal:أولاً: أن الأصل في المعاملات الإباحةثانياً: أن المنافع تجوز المعاوضة عنها، فإذا كانت تجوز المعاوضة عنها فإنه يجوز إقراضهاPertama: Hukum asal dalam masalah mu’amalah adalah mubah.Kedua: Bahwa manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah (akad pertukaran/kompensasi). Jika manfaat boleh dijadikan sebagai objek mu‘āwaḍah, maka boleh pula menjadikannya sebagai objek qardh (pinjaman). [3]Gambaran sederhananya:A mengatakan kepada B, bekerjalah untuk saya selama satu hari di hari ini dan saya akan bekerja untuk anda di hari lain selama satu hari.Dari gambaran di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa “kerja” adalah sebuah manfaat yang dipinjamkan, kemudian dikembalikan dengan manfaat yang serupa. Andaikata ada sedikit perbedaan antara waktu atau jenis kerja, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Kecuali memang terdapat perbedaan yang besar dari segi waktu dan kerja, maka tentunya hal ini tidak menjadi keridaan antara salah satu dari kedua belah pihak.Terdapat penjelasan yang sangat bagus dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terkait dengan masalah utang dalam bentuk manfaat. Dalam Majmu’ Fatawa [4], beliau menjelaskan,‌فإن ‌القرض ‌من ‌جنس التبرع بالمنافع كالعارية… وباب العارية أصله أن يعطيه أصل المال لينتفع بما يستخلف منه ثم يعيده إليه فتارة ينتفع بالمنافع كما في عارية العقار وتارة يمنحه ماشية ليشرب لبنها ثم يعيدها وتارة يعيره شجرة ليأكل ثمرها ثم يعيدها فإن اللبن والثمر يستخلف شيئا بعد شيء بمنزلة المنافع“Sejatinya, utang piutang itu termasuk dalam jenis tabarru’ (akad sosial) dengan memberikan manfaat, sebagaimana halnya ‘ariyah (pinjam pakai). Adapun asal dari bab ‘ariyah adalah seseorang memberikan barang pokoknya agar dipakai manfaat yang muncul darinya, kemudian dikembalikan lagi kepadanya. Kadang merupakan pemanfaatan manfaat yang murni, seperti pinjam pakai tanah atau bangunan. Kadang seseorang meminjamkan hewan ternak untuk diperah susunya kemudian dikembalikan lagi; kadang meminjamkan pohon untuk dimakan buahnya, kemudian pohon itu dikembalikan lagi; karena sejatinya susu dan buah itu senantiasa berganti dan muncul terus-menerus, sama halnya seperti manfaat.” Beliau rahimahullah menyamakan antara pinjam meminjam manfaat dengan ‘ariyah (pinjam pakai). Sama-sama akad sosial non komersil, yaitu setelah digunakan (dimanfaatkan), maka dikembalikan. Dan tidak ada permasalahan padanya.Beliau rahimahullah melanjutkan,والمقرض يقرضه ما يقرضه لينتفع به ثم يعيد له بمثله فإن إعادة المثل تقوم مقام إعادة العين ولهذا نهي أن يشترط زيادة على المثل كما لو شرط في العارية أن يرد مع الأصل غيره“Dan pemberi pinjaman, memberikan pinjaman agar penerima pinjaman dapat mengambil manfaat darinya, lalu ia mengembalikannya dengan yang semisal. Sejatinya pengembalian dengan yang semisal itu, kedudukannya sama dengan pengembalian barang asal (pada ‘ariyah). Karena itu, dilarang mensyaratkan tambahan atas yang semisal, sebagaimana (dilarang juga) jika disyaratkan pada ‘ariyah untuk mengembalikan barang asal bersama tambahan yang lain.”Artinya, pada utang yang berbentuk manfaat pun tidak boleh disyaratkan di awal akad adanya tambahan manfaat yang diberikan. Kembali kepada kaidah, “Setiap utang piutang yang memberikan manfaat, maka itu adalah riba.”KesimpulanKesimpulan pada pembahasan ini, utang piutang dalam bentuk manfaat hukumnya sah dan boleh. Dengan beberapa hal yang perlu diketahui,Manfaat boleh dijadikan utang piutang, karena manfaat boleh diperjualbelikan. Kaidahnya, “Setiap yang boleh diperjualbelikan, maka boleh untuk dijadikan utang piutang.” Utang piutang dalam bentuk manfaat adalah bentuk dari akad sosial (non komersial).Tambahan ketika mengembalikan utang dalam bentuk manfaat, jika bentuknya hal yang kecil, maka tidak masalah. Jika bentuknya besar, maka tentu tidak diperbolehkan.Pada akad utang piutang dalam bentuk manfaat, para ulama menyamakannya dengan ‘ariyah (pinjam pakai).Utang piutang dalam bentuk manfaat berbeda dengan sewa menyewa jasa. Karena akad sewa menyewa jasa adalah mu’awadhoh (komersil). Adapun utang piutang dalam bentuk manfaat, akadnya adalah tabarru’at (akad sosial alias non komersil).Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Depok, 27 Safar 1447/ 21 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Shahih Fiqih Sunnah, karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Pembahasan ini disarikan dari kitab Shahih Fiqih Sunnah, 5: 74-76.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[3] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 97.[4] Majmu’ Fatawa, 20: 514-515.

Mengapa Abdurrahman bin Auf Menangis Saat Disuguhi Makanan? – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf

Sungguh, nikmat yang ada dalam genggaman manusia tidak terlepas dari tiga keadaan. Keadaan pertama: ia benar-benar menjadi nikmat dari Allah. Kapan ini terjadi? Jika ditunaikan syukurnya kepada Allah Sang Pemberi Nikmat, Maha Suci Allah. Keadaan kedua: ia menjadi istidrāj, sebagaimana telah dijelaskan. Keadaan ketiga: Nikmat itu adalah nikmat seorang hamba yang seharusnya didapat di akhirat, tapi disegerakan kepadanya di dunia. “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (Dikatakan kepada mereka), ‘Kalian telah menghabiskan nikmat-nikmat kalian di kehidupan dunia kalian.’” (QS. Al-Ahqaf: 20). Meskipun ayat ini berbicara tentang orang kafir, tapi seorang Muslim hendaknya juga takut atas dirinya. Oleh sebab itu, ketika Abdurrahman bin Auf disuguhi makanan saat ia sedang berpuasa, beliau teringat kepada saudara-saudaranya yang pertama-tama masuk Islam dan berhijrah. Beliau juga teringat kepada Mush’ab bin Umair yang gugur pada Perang Uhud. Saat para sahabat hendak mengafaninya—padahal Mush’ab radhiyallāhu ‘anhu adalah panglima pasukan—ketika para Sahabat hendak mengafaninya, beliau saat itu hanya memakai sehelai kain. Jika kepalanya ditutup dengan kain itu, kedua kakinya tersingkap; bila kakinya ditutup, kepalanya tersingkap. Pakaiannya tidak cukup untuk dijadikan kafan. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutuplah kepalanya, dan tutup kedua kakinya dengan rumput idzkhir (semacam serai).” Padahal dulu di Makkah, Mush’ab bin Umair adalah salah satu pemuda Makkah yang hidup paling mewah dan bergelimang kenikmatan sebelum Islam, radhiyallāhu ‘anhu. Ketika Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu mengingat para saudaranya yang lebih dahulu masuk Islam, beliau pun menangis, hingga makanan itu diambil kembali dari hadapannya, dan beliau tetap dalam keadaan berpuasa. Maksudnya nikmat-nikmat itu. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami takut ini adalah nikmat akhirat yang disegerakan bagi kita di dunia.” “Kami takut, inilah kenikmatan kami (yang semestinya di akhirat),” Padahal itu adalah nikmat-nikmat yang agung. Perhatikan, saudara-saudara! Padahal beliau radhiyallāhu ‘anhu termasuk yang diberi kabar gembira masuk surga. Kendati demikian, beliau takut seperti itu. Allāhul Musta‘ān. ===== فَإِنَّ النِّعَمَ الْمَوْجُودَةَ بَيْنَ أَيْدِي النَّاسِ لَا تَخْرُجُ مِنْ ثَلَاثِ حَالَاتٍ الْحَالُ الْأُوْلَى أَنْ تَكُونَ نِعْمَةً مِنَ اللَّهِ وَهَذَا مَتَى؟ إِذَا شُكِرَ الْمُنْعِمُ بِهَا سُبْحَانَهُ الْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَكُونَ الاسْتِدْرَاجَ كَمَا مَرَّ الْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُ الْعَبْدِ فِي الْآخِرَةِ عُجِّلَتْ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَالْآيَةُ وَإِنْ كَانَتْ فِي الْكَافِرِ إِلَّا أَنَّ الْمُسْلِمَ يَخْشَى عَلَى نَفْسِهِ وَلِهَذَا لَمَّا قُدِّمَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ طَعَامُهُ وَهُوَ صَائِمٌ ذَكَرَ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ الْأَوَّلِيْنَ وَذَكَرَ مُصْعَبَ بْنَ عُمَيْرٍ وَالَّذِي قُتِلَ يَوْمَ قُتِلَ فِي غَزْوَةِ أُحُدٍ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ وَكَانَ صَاحِبَ اللِّوَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ كَانَ عَلَيْهِ بُرْدٌ إِنْ غُطِيَ بِهِ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلَاهُ وَإِنْ غُطِيَتْ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ يَعْنِى ثَوْبُهُ لَمْ يَكْفِهِ كَفَنًا فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ غَطُّوا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الْإِذْخِرِ وَكَانَ فِي مَكَّةَ مِنْ أَشَدِّ فِتْيَانِ أَهْلِ مَكَّةَ تَرَفًا وَنِعْمَةً قَبْلَ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا تَذَكَّرَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ بَكَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ حَتَّى حُمِلَ الطَّعَامُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَهُوَ صَائِمٌ المَقْصُودُ أَنَّ الطَّيِّبَاتِ وَقَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَخْشَى أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا نَخَافُ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ طَيِّبَاتُنَا وَهِيَ طَيِّبَاتٌ عَظِيمَةٌ اُنْظُرُوا يَا إِخْوَانُ مَعَ أَنَّ الرَّجُلَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مُبَشَّرٌ بِالجَنَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ يَخَافُ هَذَا الْخَوْفَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Mengapa Abdurrahman bin Auf Menangis Saat Disuguhi Makanan? – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf

Sungguh, nikmat yang ada dalam genggaman manusia tidak terlepas dari tiga keadaan. Keadaan pertama: ia benar-benar menjadi nikmat dari Allah. Kapan ini terjadi? Jika ditunaikan syukurnya kepada Allah Sang Pemberi Nikmat, Maha Suci Allah. Keadaan kedua: ia menjadi istidrāj, sebagaimana telah dijelaskan. Keadaan ketiga: Nikmat itu adalah nikmat seorang hamba yang seharusnya didapat di akhirat, tapi disegerakan kepadanya di dunia. “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (Dikatakan kepada mereka), ‘Kalian telah menghabiskan nikmat-nikmat kalian di kehidupan dunia kalian.’” (QS. Al-Ahqaf: 20). Meskipun ayat ini berbicara tentang orang kafir, tapi seorang Muslim hendaknya juga takut atas dirinya. Oleh sebab itu, ketika Abdurrahman bin Auf disuguhi makanan saat ia sedang berpuasa, beliau teringat kepada saudara-saudaranya yang pertama-tama masuk Islam dan berhijrah. Beliau juga teringat kepada Mush’ab bin Umair yang gugur pada Perang Uhud. Saat para sahabat hendak mengafaninya—padahal Mush’ab radhiyallāhu ‘anhu adalah panglima pasukan—ketika para Sahabat hendak mengafaninya, beliau saat itu hanya memakai sehelai kain. Jika kepalanya ditutup dengan kain itu, kedua kakinya tersingkap; bila kakinya ditutup, kepalanya tersingkap. Pakaiannya tidak cukup untuk dijadikan kafan. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutuplah kepalanya, dan tutup kedua kakinya dengan rumput idzkhir (semacam serai).” Padahal dulu di Makkah, Mush’ab bin Umair adalah salah satu pemuda Makkah yang hidup paling mewah dan bergelimang kenikmatan sebelum Islam, radhiyallāhu ‘anhu. Ketika Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu mengingat para saudaranya yang lebih dahulu masuk Islam, beliau pun menangis, hingga makanan itu diambil kembali dari hadapannya, dan beliau tetap dalam keadaan berpuasa. Maksudnya nikmat-nikmat itu. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami takut ini adalah nikmat akhirat yang disegerakan bagi kita di dunia.” “Kami takut, inilah kenikmatan kami (yang semestinya di akhirat),” Padahal itu adalah nikmat-nikmat yang agung. Perhatikan, saudara-saudara! Padahal beliau radhiyallāhu ‘anhu termasuk yang diberi kabar gembira masuk surga. Kendati demikian, beliau takut seperti itu. Allāhul Musta‘ān. ===== فَإِنَّ النِّعَمَ الْمَوْجُودَةَ بَيْنَ أَيْدِي النَّاسِ لَا تَخْرُجُ مِنْ ثَلَاثِ حَالَاتٍ الْحَالُ الْأُوْلَى أَنْ تَكُونَ نِعْمَةً مِنَ اللَّهِ وَهَذَا مَتَى؟ إِذَا شُكِرَ الْمُنْعِمُ بِهَا سُبْحَانَهُ الْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَكُونَ الاسْتِدْرَاجَ كَمَا مَرَّ الْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُ الْعَبْدِ فِي الْآخِرَةِ عُجِّلَتْ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَالْآيَةُ وَإِنْ كَانَتْ فِي الْكَافِرِ إِلَّا أَنَّ الْمُسْلِمَ يَخْشَى عَلَى نَفْسِهِ وَلِهَذَا لَمَّا قُدِّمَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ طَعَامُهُ وَهُوَ صَائِمٌ ذَكَرَ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ الْأَوَّلِيْنَ وَذَكَرَ مُصْعَبَ بْنَ عُمَيْرٍ وَالَّذِي قُتِلَ يَوْمَ قُتِلَ فِي غَزْوَةِ أُحُدٍ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ وَكَانَ صَاحِبَ اللِّوَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ كَانَ عَلَيْهِ بُرْدٌ إِنْ غُطِيَ بِهِ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلَاهُ وَإِنْ غُطِيَتْ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ يَعْنِى ثَوْبُهُ لَمْ يَكْفِهِ كَفَنًا فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ غَطُّوا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الْإِذْخِرِ وَكَانَ فِي مَكَّةَ مِنْ أَشَدِّ فِتْيَانِ أَهْلِ مَكَّةَ تَرَفًا وَنِعْمَةً قَبْلَ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا تَذَكَّرَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ بَكَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ حَتَّى حُمِلَ الطَّعَامُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَهُوَ صَائِمٌ المَقْصُودُ أَنَّ الطَّيِّبَاتِ وَقَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَخْشَى أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا نَخَافُ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ طَيِّبَاتُنَا وَهِيَ طَيِّبَاتٌ عَظِيمَةٌ اُنْظُرُوا يَا إِخْوَانُ مَعَ أَنَّ الرَّجُلَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مُبَشَّرٌ بِالجَنَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ يَخَافُ هَذَا الْخَوْفَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
Sungguh, nikmat yang ada dalam genggaman manusia tidak terlepas dari tiga keadaan. Keadaan pertama: ia benar-benar menjadi nikmat dari Allah. Kapan ini terjadi? Jika ditunaikan syukurnya kepada Allah Sang Pemberi Nikmat, Maha Suci Allah. Keadaan kedua: ia menjadi istidrāj, sebagaimana telah dijelaskan. Keadaan ketiga: Nikmat itu adalah nikmat seorang hamba yang seharusnya didapat di akhirat, tapi disegerakan kepadanya di dunia. “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (Dikatakan kepada mereka), ‘Kalian telah menghabiskan nikmat-nikmat kalian di kehidupan dunia kalian.’” (QS. Al-Ahqaf: 20). Meskipun ayat ini berbicara tentang orang kafir, tapi seorang Muslim hendaknya juga takut atas dirinya. Oleh sebab itu, ketika Abdurrahman bin Auf disuguhi makanan saat ia sedang berpuasa, beliau teringat kepada saudara-saudaranya yang pertama-tama masuk Islam dan berhijrah. Beliau juga teringat kepada Mush’ab bin Umair yang gugur pada Perang Uhud. Saat para sahabat hendak mengafaninya—padahal Mush’ab radhiyallāhu ‘anhu adalah panglima pasukan—ketika para Sahabat hendak mengafaninya, beliau saat itu hanya memakai sehelai kain. Jika kepalanya ditutup dengan kain itu, kedua kakinya tersingkap; bila kakinya ditutup, kepalanya tersingkap. Pakaiannya tidak cukup untuk dijadikan kafan. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutuplah kepalanya, dan tutup kedua kakinya dengan rumput idzkhir (semacam serai).” Padahal dulu di Makkah, Mush’ab bin Umair adalah salah satu pemuda Makkah yang hidup paling mewah dan bergelimang kenikmatan sebelum Islam, radhiyallāhu ‘anhu. Ketika Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu mengingat para saudaranya yang lebih dahulu masuk Islam, beliau pun menangis, hingga makanan itu diambil kembali dari hadapannya, dan beliau tetap dalam keadaan berpuasa. Maksudnya nikmat-nikmat itu. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami takut ini adalah nikmat akhirat yang disegerakan bagi kita di dunia.” “Kami takut, inilah kenikmatan kami (yang semestinya di akhirat),” Padahal itu adalah nikmat-nikmat yang agung. Perhatikan, saudara-saudara! Padahal beliau radhiyallāhu ‘anhu termasuk yang diberi kabar gembira masuk surga. Kendati demikian, beliau takut seperti itu. Allāhul Musta‘ān. ===== فَإِنَّ النِّعَمَ الْمَوْجُودَةَ بَيْنَ أَيْدِي النَّاسِ لَا تَخْرُجُ مِنْ ثَلَاثِ حَالَاتٍ الْحَالُ الْأُوْلَى أَنْ تَكُونَ نِعْمَةً مِنَ اللَّهِ وَهَذَا مَتَى؟ إِذَا شُكِرَ الْمُنْعِمُ بِهَا سُبْحَانَهُ الْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَكُونَ الاسْتِدْرَاجَ كَمَا مَرَّ الْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُ الْعَبْدِ فِي الْآخِرَةِ عُجِّلَتْ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَالْآيَةُ وَإِنْ كَانَتْ فِي الْكَافِرِ إِلَّا أَنَّ الْمُسْلِمَ يَخْشَى عَلَى نَفْسِهِ وَلِهَذَا لَمَّا قُدِّمَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ طَعَامُهُ وَهُوَ صَائِمٌ ذَكَرَ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ الْأَوَّلِيْنَ وَذَكَرَ مُصْعَبَ بْنَ عُمَيْرٍ وَالَّذِي قُتِلَ يَوْمَ قُتِلَ فِي غَزْوَةِ أُحُدٍ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ وَكَانَ صَاحِبَ اللِّوَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ كَانَ عَلَيْهِ بُرْدٌ إِنْ غُطِيَ بِهِ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلَاهُ وَإِنْ غُطِيَتْ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ يَعْنِى ثَوْبُهُ لَمْ يَكْفِهِ كَفَنًا فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ غَطُّوا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الْإِذْخِرِ وَكَانَ فِي مَكَّةَ مِنْ أَشَدِّ فِتْيَانِ أَهْلِ مَكَّةَ تَرَفًا وَنِعْمَةً قَبْلَ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا تَذَكَّرَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ بَكَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ حَتَّى حُمِلَ الطَّعَامُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَهُوَ صَائِمٌ المَقْصُودُ أَنَّ الطَّيِّبَاتِ وَقَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَخْشَى أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا نَخَافُ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ طَيِّبَاتُنَا وَهِيَ طَيِّبَاتٌ عَظِيمَةٌ اُنْظُرُوا يَا إِخْوَانُ مَعَ أَنَّ الرَّجُلَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مُبَشَّرٌ بِالجَنَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ يَخَافُ هَذَا الْخَوْفَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ


Sungguh, nikmat yang ada dalam genggaman manusia tidak terlepas dari tiga keadaan. Keadaan pertama: ia benar-benar menjadi nikmat dari Allah. Kapan ini terjadi? Jika ditunaikan syukurnya kepada Allah Sang Pemberi Nikmat, Maha Suci Allah. Keadaan kedua: ia menjadi istidrāj, sebagaimana telah dijelaskan. Keadaan ketiga: Nikmat itu adalah nikmat seorang hamba yang seharusnya didapat di akhirat, tapi disegerakan kepadanya di dunia. “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (Dikatakan kepada mereka), ‘Kalian telah menghabiskan nikmat-nikmat kalian di kehidupan dunia kalian.’” (QS. Al-Ahqaf: 20). Meskipun ayat ini berbicara tentang orang kafir, tapi seorang Muslim hendaknya juga takut atas dirinya. Oleh sebab itu, ketika Abdurrahman bin Auf disuguhi makanan saat ia sedang berpuasa, beliau teringat kepada saudara-saudaranya yang pertama-tama masuk Islam dan berhijrah. Beliau juga teringat kepada Mush’ab bin Umair yang gugur pada Perang Uhud. Saat para sahabat hendak mengafaninya—padahal Mush’ab radhiyallāhu ‘anhu adalah panglima pasukan—ketika para Sahabat hendak mengafaninya, beliau saat itu hanya memakai sehelai kain. Jika kepalanya ditutup dengan kain itu, kedua kakinya tersingkap; bila kakinya ditutup, kepalanya tersingkap. Pakaiannya tidak cukup untuk dijadikan kafan. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutuplah kepalanya, dan tutup kedua kakinya dengan rumput idzkhir (semacam serai).” Padahal dulu di Makkah, Mush’ab bin Umair adalah salah satu pemuda Makkah yang hidup paling mewah dan bergelimang kenikmatan sebelum Islam, radhiyallāhu ‘anhu. Ketika Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu mengingat para saudaranya yang lebih dahulu masuk Islam, beliau pun menangis, hingga makanan itu diambil kembali dari hadapannya, dan beliau tetap dalam keadaan berpuasa. Maksudnya nikmat-nikmat itu. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami takut ini adalah nikmat akhirat yang disegerakan bagi kita di dunia.” “Kami takut, inilah kenikmatan kami (yang semestinya di akhirat),” Padahal itu adalah nikmat-nikmat yang agung. Perhatikan, saudara-saudara! Padahal beliau radhiyallāhu ‘anhu termasuk yang diberi kabar gembira masuk surga. Kendati demikian, beliau takut seperti itu. Allāhul Musta‘ān. ===== فَإِنَّ النِّعَمَ الْمَوْجُودَةَ بَيْنَ أَيْدِي النَّاسِ لَا تَخْرُجُ مِنْ ثَلَاثِ حَالَاتٍ الْحَالُ الْأُوْلَى أَنْ تَكُونَ نِعْمَةً مِنَ اللَّهِ وَهَذَا مَتَى؟ إِذَا شُكِرَ الْمُنْعِمُ بِهَا سُبْحَانَهُ الْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَكُونَ الاسْتِدْرَاجَ كَمَا مَرَّ الْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُ الْعَبْدِ فِي الْآخِرَةِ عُجِّلَتْ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَالْآيَةُ وَإِنْ كَانَتْ فِي الْكَافِرِ إِلَّا أَنَّ الْمُسْلِمَ يَخْشَى عَلَى نَفْسِهِ وَلِهَذَا لَمَّا قُدِّمَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ طَعَامُهُ وَهُوَ صَائِمٌ ذَكَرَ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ الْأَوَّلِيْنَ وَذَكَرَ مُصْعَبَ بْنَ عُمَيْرٍ وَالَّذِي قُتِلَ يَوْمَ قُتِلَ فِي غَزْوَةِ أُحُدٍ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ وَكَانَ صَاحِبَ اللِّوَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُكَفِّنُوهُ كَانَ عَلَيْهِ بُرْدٌ إِنْ غُطِيَ بِهِ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلَاهُ وَإِنْ غُطِيَتْ رِجْلَاهُ بَدَا رَأْسُهُ يَعْنِى ثَوْبُهُ لَمْ يَكْفِهِ كَفَنًا فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ غَطُّوا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الْإِذْخِرِ وَكَانَ فِي مَكَّةَ مِنْ أَشَدِّ فِتْيَانِ أَهْلِ مَكَّةَ تَرَفًا وَنِعْمَةً قَبْلَ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ فَلَمَّا تَذَكَّرَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ إِخْوَانَهُ السَّابِقِيْنَ بَكَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ حَتَّى حُمِلَ الطَّعَامُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَهُوَ صَائِمٌ المَقْصُودُ أَنَّ الطَّيِّبَاتِ وَقَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَخْشَى أَنْ تَكُونَ طَيِّبَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا نَخَافُ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ طَيِّبَاتُنَا وَهِيَ طَيِّبَاتٌ عَظِيمَةٌ اُنْظُرُوا يَا إِخْوَانُ مَعَ أَنَّ الرَّجُلَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مُبَشَّرٌ بِالجَنَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ يَخَافُ هَذَا الْخَوْفَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Dosa yang Lebih Halus dari Semut Hitam di Batu Hitam – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Ibnu Abbas menggambarkan bahwa syirik tersembunyi itu lebih samar daripada langkah semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada gelapnya malam. Bagaimana mungkin kamu dapat melihat semut ini?! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam hadis riwayat Abu Musa yang tercantum dalam Al-Musnad. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami seraya bersabda: “Waspadalah terhadap syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah kaki semut.”Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana kami dapat mewaspadainya, wahai Rasulullah, sedangkan ia lebih samar daripada langkah kaki semut?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAA NA-’UUDZUBIKA AN NUSYRIKA BIKA SYAI-AN NA’LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA MIMMAA LAA NA’LAM(Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui). (Dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan syirik tersembunyi dengan semut. Beliau bersabda, “Lebih samar daripada langkah kaki semut.” Apa maksud dari syirik tersembunyi lebih tersembunyi daripada semut, wahai Ahmad? Semut hitam di atas batu hitam, pada malam yang gelap gulita, kamu tidak bisa melihatnya. Lalu apa sisi persamaan antara itu dengan syirik tersembunyi? Kesyirikan itu merayap kepadamu tanpa kamu sadari. Seperti sepatah kata yang terucap dari lisan seseorang. Tahukah kalian bahaya lisan, saudara-saudara? Terkadang seseorang mengucapkan satu kata yang menjadi sebab kebinasaan dirinya. Lā quwwata illā billāh. Ia mengucapkan satu kata yang meruntuhkan dunia dan akhiratnya, ketika ia mengucapkannya kepada orang lain. Ia menasihati seseorang lalu menasihatinya lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!” ===== وَصَفَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ بِأَنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ نَمْلَةٍ سَوْدَاءَ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَأَنَّى لَكَ أَنْ تَرَى هَذِهِ النَّمْلَةَ وَقَدْ حَذَّرَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي مُوسَى وَمُخَرَّجٍ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَقَالَ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ قَالَ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ كَيْفَ نَتَّقِيهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ؟ قَالَ أَنْ تَقُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لَا نَعْلَمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَّهَ بِالنَّمْلِ فَقَالَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ وَمَعْنَى كَوْنِهِ أَخْفَى مِنَ النَّمْلِ يَا أَحْمَدُ كَيْفَ؟ النَّمْلُ سَوْدَاءُ فِي صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ أَنْتَ لَا تَرَاهَا إِيش وَجْهُ الشَّبَهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشِّرْكِ الْخَفِيِّ يَتَسَلَّلُ إِلَيْكَ وَأَنْتَ مَا تَشْعُرُ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ عَلَى لِسَانِهِ أَتَعْرِفُونَ آفَاتِ اللِّسَانِ يَا إِخْوَانُ؟ وَقَدْ يَقُولُ الْإِنْسَانُ كَلِمَةً يَكُونُ بِهَا هَلَاكُهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ كَلِمَةً أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ عِنْدَمَا قَالَهَا غَيْرَهُ نَهَى رَجُلًا ثُمَّ نَهَاهُ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ

Dosa yang Lebih Halus dari Semut Hitam di Batu Hitam – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Ibnu Abbas menggambarkan bahwa syirik tersembunyi itu lebih samar daripada langkah semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada gelapnya malam. Bagaimana mungkin kamu dapat melihat semut ini?! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam hadis riwayat Abu Musa yang tercantum dalam Al-Musnad. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami seraya bersabda: “Waspadalah terhadap syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah kaki semut.”Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana kami dapat mewaspadainya, wahai Rasulullah, sedangkan ia lebih samar daripada langkah kaki semut?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAA NA-’UUDZUBIKA AN NUSYRIKA BIKA SYAI-AN NA’LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA MIMMAA LAA NA’LAM(Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui). (Dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan syirik tersembunyi dengan semut. Beliau bersabda, “Lebih samar daripada langkah kaki semut.” Apa maksud dari syirik tersembunyi lebih tersembunyi daripada semut, wahai Ahmad? Semut hitam di atas batu hitam, pada malam yang gelap gulita, kamu tidak bisa melihatnya. Lalu apa sisi persamaan antara itu dengan syirik tersembunyi? Kesyirikan itu merayap kepadamu tanpa kamu sadari. Seperti sepatah kata yang terucap dari lisan seseorang. Tahukah kalian bahaya lisan, saudara-saudara? Terkadang seseorang mengucapkan satu kata yang menjadi sebab kebinasaan dirinya. Lā quwwata illā billāh. Ia mengucapkan satu kata yang meruntuhkan dunia dan akhiratnya, ketika ia mengucapkannya kepada orang lain. Ia menasihati seseorang lalu menasihatinya lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!” ===== وَصَفَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ بِأَنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ نَمْلَةٍ سَوْدَاءَ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَأَنَّى لَكَ أَنْ تَرَى هَذِهِ النَّمْلَةَ وَقَدْ حَذَّرَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي مُوسَى وَمُخَرَّجٍ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَقَالَ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ قَالَ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ كَيْفَ نَتَّقِيهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ؟ قَالَ أَنْ تَقُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لَا نَعْلَمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَّهَ بِالنَّمْلِ فَقَالَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ وَمَعْنَى كَوْنِهِ أَخْفَى مِنَ النَّمْلِ يَا أَحْمَدُ كَيْفَ؟ النَّمْلُ سَوْدَاءُ فِي صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ أَنْتَ لَا تَرَاهَا إِيش وَجْهُ الشَّبَهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشِّرْكِ الْخَفِيِّ يَتَسَلَّلُ إِلَيْكَ وَأَنْتَ مَا تَشْعُرُ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ عَلَى لِسَانِهِ أَتَعْرِفُونَ آفَاتِ اللِّسَانِ يَا إِخْوَانُ؟ وَقَدْ يَقُولُ الْإِنْسَانُ كَلِمَةً يَكُونُ بِهَا هَلَاكُهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ كَلِمَةً أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ عِنْدَمَا قَالَهَا غَيْرَهُ نَهَى رَجُلًا ثُمَّ نَهَاهُ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ
Ibnu Abbas menggambarkan bahwa syirik tersembunyi itu lebih samar daripada langkah semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada gelapnya malam. Bagaimana mungkin kamu dapat melihat semut ini?! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam hadis riwayat Abu Musa yang tercantum dalam Al-Musnad. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami seraya bersabda: “Waspadalah terhadap syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah kaki semut.”Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana kami dapat mewaspadainya, wahai Rasulullah, sedangkan ia lebih samar daripada langkah kaki semut?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAA NA-’UUDZUBIKA AN NUSYRIKA BIKA SYAI-AN NA’LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA MIMMAA LAA NA’LAM(Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui). (Dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan syirik tersembunyi dengan semut. Beliau bersabda, “Lebih samar daripada langkah kaki semut.” Apa maksud dari syirik tersembunyi lebih tersembunyi daripada semut, wahai Ahmad? Semut hitam di atas batu hitam, pada malam yang gelap gulita, kamu tidak bisa melihatnya. Lalu apa sisi persamaan antara itu dengan syirik tersembunyi? Kesyirikan itu merayap kepadamu tanpa kamu sadari. Seperti sepatah kata yang terucap dari lisan seseorang. Tahukah kalian bahaya lisan, saudara-saudara? Terkadang seseorang mengucapkan satu kata yang menjadi sebab kebinasaan dirinya. Lā quwwata illā billāh. Ia mengucapkan satu kata yang meruntuhkan dunia dan akhiratnya, ketika ia mengucapkannya kepada orang lain. Ia menasihati seseorang lalu menasihatinya lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!” ===== وَصَفَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ بِأَنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ نَمْلَةٍ سَوْدَاءَ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَأَنَّى لَكَ أَنْ تَرَى هَذِهِ النَّمْلَةَ وَقَدْ حَذَّرَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي مُوسَى وَمُخَرَّجٍ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَقَالَ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ قَالَ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ كَيْفَ نَتَّقِيهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ؟ قَالَ أَنْ تَقُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لَا نَعْلَمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَّهَ بِالنَّمْلِ فَقَالَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ وَمَعْنَى كَوْنِهِ أَخْفَى مِنَ النَّمْلِ يَا أَحْمَدُ كَيْفَ؟ النَّمْلُ سَوْدَاءُ فِي صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ أَنْتَ لَا تَرَاهَا إِيش وَجْهُ الشَّبَهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشِّرْكِ الْخَفِيِّ يَتَسَلَّلُ إِلَيْكَ وَأَنْتَ مَا تَشْعُرُ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ عَلَى لِسَانِهِ أَتَعْرِفُونَ آفَاتِ اللِّسَانِ يَا إِخْوَانُ؟ وَقَدْ يَقُولُ الْإِنْسَانُ كَلِمَةً يَكُونُ بِهَا هَلَاكُهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ كَلِمَةً أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ عِنْدَمَا قَالَهَا غَيْرَهُ نَهَى رَجُلًا ثُمَّ نَهَاهُ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ


Ibnu Abbas menggambarkan bahwa syirik tersembunyi itu lebih samar daripada langkah semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada gelapnya malam. Bagaimana mungkin kamu dapat melihat semut ini?! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam hadis riwayat Abu Musa yang tercantum dalam Al-Musnad. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami seraya bersabda: “Waspadalah terhadap syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah kaki semut.”Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana kami dapat mewaspadainya, wahai Rasulullah, sedangkan ia lebih samar daripada langkah kaki semut?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAA NA-’UUDZUBIKA AN NUSYRIKA BIKA SYAI-AN NA’LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA MIMMAA LAA NA’LAM(Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui). (Dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan syirik tersembunyi dengan semut. Beliau bersabda, “Lebih samar daripada langkah kaki semut.” Apa maksud dari syirik tersembunyi lebih tersembunyi daripada semut, wahai Ahmad? Semut hitam di atas batu hitam, pada malam yang gelap gulita, kamu tidak bisa melihatnya. Lalu apa sisi persamaan antara itu dengan syirik tersembunyi? Kesyirikan itu merayap kepadamu tanpa kamu sadari. Seperti sepatah kata yang terucap dari lisan seseorang. Tahukah kalian bahaya lisan, saudara-saudara? Terkadang seseorang mengucapkan satu kata yang menjadi sebab kebinasaan dirinya. Lā quwwata illā billāh. Ia mengucapkan satu kata yang meruntuhkan dunia dan akhiratnya, ketika ia mengucapkannya kepada orang lain. Ia menasihati seseorang lalu menasihatinya lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!” ===== وَصَفَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ بِأَنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ نَمْلَةٍ سَوْدَاءَ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَأَنَّى لَكَ أَنْ تَرَى هَذِهِ النَّمْلَةَ وَقَدْ حَذَّرَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي مُوسَى وَمُخَرَّجٍ فِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَقَالَ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ قَالَ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ كَيْفَ نَتَّقِيهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ؟ قَالَ أَنْ تَقُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لَا نَعْلَمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَّهَ بِالنَّمْلِ فَقَالَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ وَمَعْنَى كَوْنِهِ أَخْفَى مِنَ النَّمْلِ يَا أَحْمَدُ كَيْفَ؟ النَّمْلُ سَوْدَاءُ فِي صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ أَنْتَ لَا تَرَاهَا إِيش وَجْهُ الشَّبَهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشِّرْكِ الْخَفِيِّ يَتَسَلَّلُ إِلَيْكَ وَأَنْتَ مَا تَشْعُرُ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ عَلَى لِسَانِهِ أَتَعْرِفُونَ آفَاتِ اللِّسَانِ يَا إِخْوَانُ؟ وَقَدْ يَقُولُ الْإِنْسَانُ كَلِمَةً يَكُونُ بِهَا هَلَاكُهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ كَلِمَةً أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ عِنْدَمَا قَالَهَا غَيْرَهُ نَهَى رَجُلًا ثُمَّ نَهَاهُ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ

Problem-Problem Keluarga dan Pengaruhnya Terhadap Anak

المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Oleh: Adnan bin Salman ad-Duraiwisy عدنان بن سلمان الدريويش المشكلات الأسرية أمرٌ طبيعي جدًّا، ولا يوجد أسرة في هذا الكون لا تُعاني منَ المشاكل الأسرية والخلافات الزوجية، فلا يُمكن العيش ضمن حياة طبيعية وسعيدة فقط، بل يوجد بعض الاختلافات بينَ أفراد الأسرة، وخاصةً بينَ الزوجين، ويعود السبب في ذلك إلى أن كل فرد في هذا العالم يمتلك شخصية وطبع مُعين منَ الممكن ألا يتوافق معَ الطرف الآخر في أمرٍ ما. Masalah-masalah dalam keluarga merupakan perkara yang normal sekali. Tidak ada rumah tangga di alam semesta ini yang tidak mengalami masalah keluarga dan perselisihan suami-istri. Tidak mungkin seseorang selalu hidup dalam kehidupan yang normal dan bahagia saja, tetapi pasti akan ada beberapa perselisihan antara anggota keluarga, terlebih lagi antara suami dan istri. Sebab dari hal ini merujuk pada faktor bahwa setiap pribadi di dunia ini pasti memiliki karakter dan tabiat tertentu, yang bisa jadi tidak selaras dengan tabiat orang lain dalam suatu hal. ولكن الخلافات الزوجية والأسرية تُصبح زائدة عن حدِّها إذا تَمَّ رفض الزوج للزوجة أو العكس، أو القيام بالتعنيف والسلوكيات غير الأخلاقية، والصراخ المستمر، والجو المليء بالتوتر، وخاصةً أمامَ الأطفال، فبعض الأسر تضع أطفالها في غرفة خاصة، ومن ثمَ يبدؤوا بالمشاكل ظنًّا منهم أن الأطفال لن يسمعوهم أو يراقبوهم، ولكن يحدث العكس دائمًا، فالطفل يتأثر كونهُ رقيقًا جدًّا، ولا يدرك حقيقة الخلاف الموجود بينَ والديه، فيبدأ بالبكاء والتوتر والقلق، ويُصاب ببعض الاضطرابات إذا استمرت هذه المشاكل أمامَ عينيه. Namun, perselisihan suami-istri dan rumah tangga menjadi melewati batas jika suami menjadi berpaling dari istrinya atau sebaliknya, atau terjadi kekerasan dan sikap-sikap yang tidak mencerminkan akhlak terpuji, teriakan dan bentakan selalu terjadi, dan suasana rumah tangga penuh dengan ketegangan, terlebih lagi jika itu terjadi di depan anak-anak.  Sebagian keluarga menempatkan anak-anaknya di ruangan khusus, lalu mereka mulai membahas masalah-masalah mereka, dengan sangkaan bahwa anak-anak tidak dapat mendengar atau mengawasi mereka. Namun, yang selalu terjadi justru sebaliknya. Anak akan terpengaruh oleh perselisihan itu, karena ia masih memiliki hati yang lemah lembut dan tidak memahami hakikat perselisihan yang terjadi antara kedua orang tuanya, sehingga ia akan mulai menangis, ketakutan, tegang, dan mengalami beberapa goncangan mental jika masalah-masalah ini terus berlanjut di depan kedua matanya. وللأسف فهذه المشاحنات تؤثر تأثيرًا سلبيًّا شديدًا على أكثر الأطفال، وقد يمتد هذا التأثير ويستمر مع الطفل في حياته المستقبلية، ومن هذه الآثار: • نوبات التوتر والقلق: عندما ينشأ الأطفال في بيئة جدلية محاطة بالمشاكل بين الأبوين، فإنه من الممكن أن يصاب بحالة من الاضطراب العاطفي، وتبدأ العديد من الأسئلة بالتلاعب بعقل الطفل حول إذا ما كان والداه يحبانه، أو إن كانا سينفصلان، وماذا سيكون مصيرهم؟ • تأخر الأداء المدرسي: التوتر العاطفي الذي يصاب به الأطفال نتيجة المشاكل بين أبويهم، يجعل الأطفال مشتتين الانتباه نتيجة تفكيرهم في تبعات المشاكل الموجودة بالمنزل. Namun, yang disayangkan adalah perselisihan-perselisihan ini memberi pengaruh negatif yang cukup berat terhadap mayoritas anak. Bahkan terkadang pengaruh tersebut terus berlanjut dan terbawa oleh anak dalam kehidupannya di masa depan. Di antara pengaruh-pengaruh ini adalah: Gangguan kecemasan dan ketakutan Ketika anak tumbuh di lingkungan yang penuh perseteruan dan dikelilingi dengan masalah-masalah antara kedua orang tua, maka kemungkinan ia akan terkena gangguan emosi. Akan banyak pertanyaan yang akan memainkan akal anak-anak tentang apakah kedua orang tuanya mencintainya, bagaimana jika mereka berdua bercerai, dan bagaimana nasib mereka berdua, dan seterusnya. Keterlambatan belajar Gangguan emosi yang dialami oleh anak-anak akibat masalah-masalah antara kedua orang tua mereka akan menyebabkan mereka tidak bisa fokus, karena mereka akan memikirkan akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan oleh masalah-masalah yang terjadi di rumah. • المشاكل النفسية: عندما تكون النزاعات شائعة في المنزل، سواء كان ذلك ما بين الزوجين، أو بين الأهل والأولاد، أو مزيجًا من النوعين، فكثيرًا ما يصاب الأطفال بالمشاكل النفسية. • تأثيرات دائمة: فالأطفال الذين ينشؤون بين مشاكل الأبوين المتكررة، من المحتمل أن يتأثروا في مرحلة البلوغ، ويكونون أكثرَ عُرضة لخطر الاكتئاب، وتعاطي المخدرات والكحول، والقيام بالسلوكيات المعادية للمجتمع، مع مخاطر الفشل في العلاقات الشخصية والحياة المهنية حتى بعد تخطِّي سنِّ المراهقة. • التعرف على رُفقاء السوء: في حال استمر النزاع بين الأبوين فترة طويلة، قد يندفع الطفل لمغادرة المنزل لأوقات طويلة، والتعرف على أصدقاء السوء. Gangguan-gangguan mental Ketika perselisihan sering terjadi di rumah, baik itu antara suami dan istri, orang tua dan anak, atau kedua-duanya, maka seringkali anak-anak akan terkena gangguan-gangguan mental. Pengaruh negatif permanen Anak-anak yang tumbuh di antara masalah-masalah kedua orang tua secara berulang-ulang kemungkinan akan terpengaruh hingga usia baligh, dan lebih mudah terpapar depresi, konsumsi narkoba dan alkohol, dan perilaku-perilaku yang menentang norma-norma di masyarakat. Selain itu, mereka akan terancam kegagalan dalam hubungan pribadi dan kehidupan kerja hingga setelah melewati usia remaja. Bergaul dengan teman-teman yang buruk Ketika perselisihan antara kedua orang tua terus berlangsung dalam waktu yang lama, sering kali anak akan terdorong untuk meninggalkan rumah dalam waktu lama dan berkenalan dengan teman-teman yang buruk. • الفشل العاطفي: حيث يكون الطفل قد كوَّن فكرة خاطئة عن الزواج وعن الحب، وربما يكون رافضًا لفكرة الزواج تمامًا، وهذا سيؤثر على حياته العاطفية، ويشعره بالنقص، بسبب العُقد النفسية التي تشكلت لديه حول هذا الموضوع. • الفشل الأسري: في حال تزوَّج الطفل، فلن يكون لديه خبرة سابقة عن كيفية تشكيل وإنشاء عائلة سليمة وصحية وخالية من المشاكل، وقد يمارس نفس التصرفات المغلوطة التي قد تعلمها من أهله في أسرته ويقودها للدمار. Kegagalan emosional Karena anak telah membangun pemikiran yang salah tentang pernikahan dan cinta, bisa jadi ia menjadi menolak sepenuhnya pemikiran tentang pernikahan. Ini tentu akan berpengaruh terhadap kehidupan emosionalnya, dan membuatnya merasa memiliki kekurangan disebabkan kerumitan emosi yang terbentuk dalam dirinya tentang perkara ini. Kegagalan rumah tangga Ketika anak itu telah menikah, ia tidak mungkin memiliki pengalaman tentang bagaimana membangun dan memulai rumah tangga yang normal, sehat, dan bebas dari masalah-masalah. Bahkan bisa jadi dia akan melakukan perilaku-perilaku keliru yang sama yang telah ia pelajari dari keluarganya, lalu menggiring rumah tangganya menuju kehancuran. ولهذه المشكلات أسباب يجب على الوالدين التنبه لها والابتعاد عنها، ومحاولة علاجها قبل أن تتفاقم وتزداد؛ ومنها: • الصمت الزوجي، فقد يكون بسبب كثرة أعباء الزوج العملية والمالية ومتطلبات الحياء، أو من الزوجة لعدم قبولها له. • تضخيم عيوب شريك الحياة، فلكل شخص عيوبه وإيجابياته مهما كان، لذا من الخطأ التركيز على عيوبه ونسيان حسناته. • تدخُّل طرف ثالث في الحياة الزوجية تدخلًا سلبيًّا؛ كالوالدين أو الأقارب أو الأصدقاء، فيكون سببًا في نشوء المشكلات بين الزوجين. • التقنية والأجهزة الإلكترونية، فبالرغم من إيجابياتها على الحياة بشكل عام، فإن لها آثارًا سلبية على الحياة الزوجية. أسأل الله العظيمَ أن يُصلح لنا أنفسنا وأزواجنا وذريَّاتنا، ويُجملنا بالخلق الحسن وبالعمل الصالح، وصلى الله على سيدنا محمد. Masalah-masalah ini tentu punya sebab-sebab yang harus diperhatikan dan dijauhi oleh kedua orang tua, dan mereka harus berusaha memadamkannya sebelum masalah-masalah ini semakin bergejolak dan bertambah besar. Di antara masalah-masalah ini adalah: Tidak ada komunikasi di antara suami-istri Hal ini bisa jadi disebabkan oleh banyaknya beban suami pada pekerjaan, keuangan, dan tuntutan-tuntutan hidup lainnya, atau dari pihak istri yang enggan menerima suaminya. Membesar-besarkan aib pasangan hidup Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, siapa pun itu. Oleh sebab itu, suatu kesalahan jika seseorang hanya berfokus pada kekurangan orang lain dan melupakan kelebihannya. Campur tangan yang bersifat negatif pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga, seperti dari kedua orang tua, kerabat, atau teman, sehingga ini menjadi sebab timbulnya masalah-masalah antara suami dan istri. Teknologi dan alat-alat elektronik Meskipun hal ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan secara umum, tapi juga punya pengaruh-pengaruh negatif dalam kehidupan berumah tangga. Saya memohon kepada Allah Ta’ala Yang Maha Agung agar memperbaiki diri, pasangan, dan keturunan kita, dan memperindah kita dengan akhlak yang terpuji dan amalan yang baik. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sumber: https://www.alukah.net/المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 326 times, 2 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid

Problem-Problem Keluarga dan Pengaruhnya Terhadap Anak

المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Oleh: Adnan bin Salman ad-Duraiwisy عدنان بن سلمان الدريويش المشكلات الأسرية أمرٌ طبيعي جدًّا، ولا يوجد أسرة في هذا الكون لا تُعاني منَ المشاكل الأسرية والخلافات الزوجية، فلا يُمكن العيش ضمن حياة طبيعية وسعيدة فقط، بل يوجد بعض الاختلافات بينَ أفراد الأسرة، وخاصةً بينَ الزوجين، ويعود السبب في ذلك إلى أن كل فرد في هذا العالم يمتلك شخصية وطبع مُعين منَ الممكن ألا يتوافق معَ الطرف الآخر في أمرٍ ما. Masalah-masalah dalam keluarga merupakan perkara yang normal sekali. Tidak ada rumah tangga di alam semesta ini yang tidak mengalami masalah keluarga dan perselisihan suami-istri. Tidak mungkin seseorang selalu hidup dalam kehidupan yang normal dan bahagia saja, tetapi pasti akan ada beberapa perselisihan antara anggota keluarga, terlebih lagi antara suami dan istri. Sebab dari hal ini merujuk pada faktor bahwa setiap pribadi di dunia ini pasti memiliki karakter dan tabiat tertentu, yang bisa jadi tidak selaras dengan tabiat orang lain dalam suatu hal. ولكن الخلافات الزوجية والأسرية تُصبح زائدة عن حدِّها إذا تَمَّ رفض الزوج للزوجة أو العكس، أو القيام بالتعنيف والسلوكيات غير الأخلاقية، والصراخ المستمر، والجو المليء بالتوتر، وخاصةً أمامَ الأطفال، فبعض الأسر تضع أطفالها في غرفة خاصة، ومن ثمَ يبدؤوا بالمشاكل ظنًّا منهم أن الأطفال لن يسمعوهم أو يراقبوهم، ولكن يحدث العكس دائمًا، فالطفل يتأثر كونهُ رقيقًا جدًّا، ولا يدرك حقيقة الخلاف الموجود بينَ والديه، فيبدأ بالبكاء والتوتر والقلق، ويُصاب ببعض الاضطرابات إذا استمرت هذه المشاكل أمامَ عينيه. Namun, perselisihan suami-istri dan rumah tangga menjadi melewati batas jika suami menjadi berpaling dari istrinya atau sebaliknya, atau terjadi kekerasan dan sikap-sikap yang tidak mencerminkan akhlak terpuji, teriakan dan bentakan selalu terjadi, dan suasana rumah tangga penuh dengan ketegangan, terlebih lagi jika itu terjadi di depan anak-anak.  Sebagian keluarga menempatkan anak-anaknya di ruangan khusus, lalu mereka mulai membahas masalah-masalah mereka, dengan sangkaan bahwa anak-anak tidak dapat mendengar atau mengawasi mereka. Namun, yang selalu terjadi justru sebaliknya. Anak akan terpengaruh oleh perselisihan itu, karena ia masih memiliki hati yang lemah lembut dan tidak memahami hakikat perselisihan yang terjadi antara kedua orang tuanya, sehingga ia akan mulai menangis, ketakutan, tegang, dan mengalami beberapa goncangan mental jika masalah-masalah ini terus berlanjut di depan kedua matanya. وللأسف فهذه المشاحنات تؤثر تأثيرًا سلبيًّا شديدًا على أكثر الأطفال، وقد يمتد هذا التأثير ويستمر مع الطفل في حياته المستقبلية، ومن هذه الآثار: • نوبات التوتر والقلق: عندما ينشأ الأطفال في بيئة جدلية محاطة بالمشاكل بين الأبوين، فإنه من الممكن أن يصاب بحالة من الاضطراب العاطفي، وتبدأ العديد من الأسئلة بالتلاعب بعقل الطفل حول إذا ما كان والداه يحبانه، أو إن كانا سينفصلان، وماذا سيكون مصيرهم؟ • تأخر الأداء المدرسي: التوتر العاطفي الذي يصاب به الأطفال نتيجة المشاكل بين أبويهم، يجعل الأطفال مشتتين الانتباه نتيجة تفكيرهم في تبعات المشاكل الموجودة بالمنزل. Namun, yang disayangkan adalah perselisihan-perselisihan ini memberi pengaruh negatif yang cukup berat terhadap mayoritas anak. Bahkan terkadang pengaruh tersebut terus berlanjut dan terbawa oleh anak dalam kehidupannya di masa depan. Di antara pengaruh-pengaruh ini adalah: Gangguan kecemasan dan ketakutan Ketika anak tumbuh di lingkungan yang penuh perseteruan dan dikelilingi dengan masalah-masalah antara kedua orang tua, maka kemungkinan ia akan terkena gangguan emosi. Akan banyak pertanyaan yang akan memainkan akal anak-anak tentang apakah kedua orang tuanya mencintainya, bagaimana jika mereka berdua bercerai, dan bagaimana nasib mereka berdua, dan seterusnya. Keterlambatan belajar Gangguan emosi yang dialami oleh anak-anak akibat masalah-masalah antara kedua orang tua mereka akan menyebabkan mereka tidak bisa fokus, karena mereka akan memikirkan akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan oleh masalah-masalah yang terjadi di rumah. • المشاكل النفسية: عندما تكون النزاعات شائعة في المنزل، سواء كان ذلك ما بين الزوجين، أو بين الأهل والأولاد، أو مزيجًا من النوعين، فكثيرًا ما يصاب الأطفال بالمشاكل النفسية. • تأثيرات دائمة: فالأطفال الذين ينشؤون بين مشاكل الأبوين المتكررة، من المحتمل أن يتأثروا في مرحلة البلوغ، ويكونون أكثرَ عُرضة لخطر الاكتئاب، وتعاطي المخدرات والكحول، والقيام بالسلوكيات المعادية للمجتمع، مع مخاطر الفشل في العلاقات الشخصية والحياة المهنية حتى بعد تخطِّي سنِّ المراهقة. • التعرف على رُفقاء السوء: في حال استمر النزاع بين الأبوين فترة طويلة، قد يندفع الطفل لمغادرة المنزل لأوقات طويلة، والتعرف على أصدقاء السوء. Gangguan-gangguan mental Ketika perselisihan sering terjadi di rumah, baik itu antara suami dan istri, orang tua dan anak, atau kedua-duanya, maka seringkali anak-anak akan terkena gangguan-gangguan mental. Pengaruh negatif permanen Anak-anak yang tumbuh di antara masalah-masalah kedua orang tua secara berulang-ulang kemungkinan akan terpengaruh hingga usia baligh, dan lebih mudah terpapar depresi, konsumsi narkoba dan alkohol, dan perilaku-perilaku yang menentang norma-norma di masyarakat. Selain itu, mereka akan terancam kegagalan dalam hubungan pribadi dan kehidupan kerja hingga setelah melewati usia remaja. Bergaul dengan teman-teman yang buruk Ketika perselisihan antara kedua orang tua terus berlangsung dalam waktu yang lama, sering kali anak akan terdorong untuk meninggalkan rumah dalam waktu lama dan berkenalan dengan teman-teman yang buruk. • الفشل العاطفي: حيث يكون الطفل قد كوَّن فكرة خاطئة عن الزواج وعن الحب، وربما يكون رافضًا لفكرة الزواج تمامًا، وهذا سيؤثر على حياته العاطفية، ويشعره بالنقص، بسبب العُقد النفسية التي تشكلت لديه حول هذا الموضوع. • الفشل الأسري: في حال تزوَّج الطفل، فلن يكون لديه خبرة سابقة عن كيفية تشكيل وإنشاء عائلة سليمة وصحية وخالية من المشاكل، وقد يمارس نفس التصرفات المغلوطة التي قد تعلمها من أهله في أسرته ويقودها للدمار. Kegagalan emosional Karena anak telah membangun pemikiran yang salah tentang pernikahan dan cinta, bisa jadi ia menjadi menolak sepenuhnya pemikiran tentang pernikahan. Ini tentu akan berpengaruh terhadap kehidupan emosionalnya, dan membuatnya merasa memiliki kekurangan disebabkan kerumitan emosi yang terbentuk dalam dirinya tentang perkara ini. Kegagalan rumah tangga Ketika anak itu telah menikah, ia tidak mungkin memiliki pengalaman tentang bagaimana membangun dan memulai rumah tangga yang normal, sehat, dan bebas dari masalah-masalah. Bahkan bisa jadi dia akan melakukan perilaku-perilaku keliru yang sama yang telah ia pelajari dari keluarganya, lalu menggiring rumah tangganya menuju kehancuran. ولهذه المشكلات أسباب يجب على الوالدين التنبه لها والابتعاد عنها، ومحاولة علاجها قبل أن تتفاقم وتزداد؛ ومنها: • الصمت الزوجي، فقد يكون بسبب كثرة أعباء الزوج العملية والمالية ومتطلبات الحياء، أو من الزوجة لعدم قبولها له. • تضخيم عيوب شريك الحياة، فلكل شخص عيوبه وإيجابياته مهما كان، لذا من الخطأ التركيز على عيوبه ونسيان حسناته. • تدخُّل طرف ثالث في الحياة الزوجية تدخلًا سلبيًّا؛ كالوالدين أو الأقارب أو الأصدقاء، فيكون سببًا في نشوء المشكلات بين الزوجين. • التقنية والأجهزة الإلكترونية، فبالرغم من إيجابياتها على الحياة بشكل عام، فإن لها آثارًا سلبية على الحياة الزوجية. أسأل الله العظيمَ أن يُصلح لنا أنفسنا وأزواجنا وذريَّاتنا، ويُجملنا بالخلق الحسن وبالعمل الصالح، وصلى الله على سيدنا محمد. Masalah-masalah ini tentu punya sebab-sebab yang harus diperhatikan dan dijauhi oleh kedua orang tua, dan mereka harus berusaha memadamkannya sebelum masalah-masalah ini semakin bergejolak dan bertambah besar. Di antara masalah-masalah ini adalah: Tidak ada komunikasi di antara suami-istri Hal ini bisa jadi disebabkan oleh banyaknya beban suami pada pekerjaan, keuangan, dan tuntutan-tuntutan hidup lainnya, atau dari pihak istri yang enggan menerima suaminya. Membesar-besarkan aib pasangan hidup Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, siapa pun itu. Oleh sebab itu, suatu kesalahan jika seseorang hanya berfokus pada kekurangan orang lain dan melupakan kelebihannya. Campur tangan yang bersifat negatif pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga, seperti dari kedua orang tua, kerabat, atau teman, sehingga ini menjadi sebab timbulnya masalah-masalah antara suami dan istri. Teknologi dan alat-alat elektronik Meskipun hal ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan secara umum, tapi juga punya pengaruh-pengaruh negatif dalam kehidupan berumah tangga. Saya memohon kepada Allah Ta’ala Yang Maha Agung agar memperbaiki diri, pasangan, dan keturunan kita, dan memperindah kita dengan akhlak yang terpuji dan amalan yang baik. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sumber: https://www.alukah.net/المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 326 times, 2 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid
المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Oleh: Adnan bin Salman ad-Duraiwisy عدنان بن سلمان الدريويش المشكلات الأسرية أمرٌ طبيعي جدًّا، ولا يوجد أسرة في هذا الكون لا تُعاني منَ المشاكل الأسرية والخلافات الزوجية، فلا يُمكن العيش ضمن حياة طبيعية وسعيدة فقط، بل يوجد بعض الاختلافات بينَ أفراد الأسرة، وخاصةً بينَ الزوجين، ويعود السبب في ذلك إلى أن كل فرد في هذا العالم يمتلك شخصية وطبع مُعين منَ الممكن ألا يتوافق معَ الطرف الآخر في أمرٍ ما. Masalah-masalah dalam keluarga merupakan perkara yang normal sekali. Tidak ada rumah tangga di alam semesta ini yang tidak mengalami masalah keluarga dan perselisihan suami-istri. Tidak mungkin seseorang selalu hidup dalam kehidupan yang normal dan bahagia saja, tetapi pasti akan ada beberapa perselisihan antara anggota keluarga, terlebih lagi antara suami dan istri. Sebab dari hal ini merujuk pada faktor bahwa setiap pribadi di dunia ini pasti memiliki karakter dan tabiat tertentu, yang bisa jadi tidak selaras dengan tabiat orang lain dalam suatu hal. ولكن الخلافات الزوجية والأسرية تُصبح زائدة عن حدِّها إذا تَمَّ رفض الزوج للزوجة أو العكس، أو القيام بالتعنيف والسلوكيات غير الأخلاقية، والصراخ المستمر، والجو المليء بالتوتر، وخاصةً أمامَ الأطفال، فبعض الأسر تضع أطفالها في غرفة خاصة، ومن ثمَ يبدؤوا بالمشاكل ظنًّا منهم أن الأطفال لن يسمعوهم أو يراقبوهم، ولكن يحدث العكس دائمًا، فالطفل يتأثر كونهُ رقيقًا جدًّا، ولا يدرك حقيقة الخلاف الموجود بينَ والديه، فيبدأ بالبكاء والتوتر والقلق، ويُصاب ببعض الاضطرابات إذا استمرت هذه المشاكل أمامَ عينيه. Namun, perselisihan suami-istri dan rumah tangga menjadi melewati batas jika suami menjadi berpaling dari istrinya atau sebaliknya, atau terjadi kekerasan dan sikap-sikap yang tidak mencerminkan akhlak terpuji, teriakan dan bentakan selalu terjadi, dan suasana rumah tangga penuh dengan ketegangan, terlebih lagi jika itu terjadi di depan anak-anak.  Sebagian keluarga menempatkan anak-anaknya di ruangan khusus, lalu mereka mulai membahas masalah-masalah mereka, dengan sangkaan bahwa anak-anak tidak dapat mendengar atau mengawasi mereka. Namun, yang selalu terjadi justru sebaliknya. Anak akan terpengaruh oleh perselisihan itu, karena ia masih memiliki hati yang lemah lembut dan tidak memahami hakikat perselisihan yang terjadi antara kedua orang tuanya, sehingga ia akan mulai menangis, ketakutan, tegang, dan mengalami beberapa goncangan mental jika masalah-masalah ini terus berlanjut di depan kedua matanya. وللأسف فهذه المشاحنات تؤثر تأثيرًا سلبيًّا شديدًا على أكثر الأطفال، وقد يمتد هذا التأثير ويستمر مع الطفل في حياته المستقبلية، ومن هذه الآثار: • نوبات التوتر والقلق: عندما ينشأ الأطفال في بيئة جدلية محاطة بالمشاكل بين الأبوين، فإنه من الممكن أن يصاب بحالة من الاضطراب العاطفي، وتبدأ العديد من الأسئلة بالتلاعب بعقل الطفل حول إذا ما كان والداه يحبانه، أو إن كانا سينفصلان، وماذا سيكون مصيرهم؟ • تأخر الأداء المدرسي: التوتر العاطفي الذي يصاب به الأطفال نتيجة المشاكل بين أبويهم، يجعل الأطفال مشتتين الانتباه نتيجة تفكيرهم في تبعات المشاكل الموجودة بالمنزل. Namun, yang disayangkan adalah perselisihan-perselisihan ini memberi pengaruh negatif yang cukup berat terhadap mayoritas anak. Bahkan terkadang pengaruh tersebut terus berlanjut dan terbawa oleh anak dalam kehidupannya di masa depan. Di antara pengaruh-pengaruh ini adalah: Gangguan kecemasan dan ketakutan Ketika anak tumbuh di lingkungan yang penuh perseteruan dan dikelilingi dengan masalah-masalah antara kedua orang tua, maka kemungkinan ia akan terkena gangguan emosi. Akan banyak pertanyaan yang akan memainkan akal anak-anak tentang apakah kedua orang tuanya mencintainya, bagaimana jika mereka berdua bercerai, dan bagaimana nasib mereka berdua, dan seterusnya. Keterlambatan belajar Gangguan emosi yang dialami oleh anak-anak akibat masalah-masalah antara kedua orang tua mereka akan menyebabkan mereka tidak bisa fokus, karena mereka akan memikirkan akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan oleh masalah-masalah yang terjadi di rumah. • المشاكل النفسية: عندما تكون النزاعات شائعة في المنزل، سواء كان ذلك ما بين الزوجين، أو بين الأهل والأولاد، أو مزيجًا من النوعين، فكثيرًا ما يصاب الأطفال بالمشاكل النفسية. • تأثيرات دائمة: فالأطفال الذين ينشؤون بين مشاكل الأبوين المتكررة، من المحتمل أن يتأثروا في مرحلة البلوغ، ويكونون أكثرَ عُرضة لخطر الاكتئاب، وتعاطي المخدرات والكحول، والقيام بالسلوكيات المعادية للمجتمع، مع مخاطر الفشل في العلاقات الشخصية والحياة المهنية حتى بعد تخطِّي سنِّ المراهقة. • التعرف على رُفقاء السوء: في حال استمر النزاع بين الأبوين فترة طويلة، قد يندفع الطفل لمغادرة المنزل لأوقات طويلة، والتعرف على أصدقاء السوء. Gangguan-gangguan mental Ketika perselisihan sering terjadi di rumah, baik itu antara suami dan istri, orang tua dan anak, atau kedua-duanya, maka seringkali anak-anak akan terkena gangguan-gangguan mental. Pengaruh negatif permanen Anak-anak yang tumbuh di antara masalah-masalah kedua orang tua secara berulang-ulang kemungkinan akan terpengaruh hingga usia baligh, dan lebih mudah terpapar depresi, konsumsi narkoba dan alkohol, dan perilaku-perilaku yang menentang norma-norma di masyarakat. Selain itu, mereka akan terancam kegagalan dalam hubungan pribadi dan kehidupan kerja hingga setelah melewati usia remaja. Bergaul dengan teman-teman yang buruk Ketika perselisihan antara kedua orang tua terus berlangsung dalam waktu yang lama, sering kali anak akan terdorong untuk meninggalkan rumah dalam waktu lama dan berkenalan dengan teman-teman yang buruk. • الفشل العاطفي: حيث يكون الطفل قد كوَّن فكرة خاطئة عن الزواج وعن الحب، وربما يكون رافضًا لفكرة الزواج تمامًا، وهذا سيؤثر على حياته العاطفية، ويشعره بالنقص، بسبب العُقد النفسية التي تشكلت لديه حول هذا الموضوع. • الفشل الأسري: في حال تزوَّج الطفل، فلن يكون لديه خبرة سابقة عن كيفية تشكيل وإنشاء عائلة سليمة وصحية وخالية من المشاكل، وقد يمارس نفس التصرفات المغلوطة التي قد تعلمها من أهله في أسرته ويقودها للدمار. Kegagalan emosional Karena anak telah membangun pemikiran yang salah tentang pernikahan dan cinta, bisa jadi ia menjadi menolak sepenuhnya pemikiran tentang pernikahan. Ini tentu akan berpengaruh terhadap kehidupan emosionalnya, dan membuatnya merasa memiliki kekurangan disebabkan kerumitan emosi yang terbentuk dalam dirinya tentang perkara ini. Kegagalan rumah tangga Ketika anak itu telah menikah, ia tidak mungkin memiliki pengalaman tentang bagaimana membangun dan memulai rumah tangga yang normal, sehat, dan bebas dari masalah-masalah. Bahkan bisa jadi dia akan melakukan perilaku-perilaku keliru yang sama yang telah ia pelajari dari keluarganya, lalu menggiring rumah tangganya menuju kehancuran. ولهذه المشكلات أسباب يجب على الوالدين التنبه لها والابتعاد عنها، ومحاولة علاجها قبل أن تتفاقم وتزداد؛ ومنها: • الصمت الزوجي، فقد يكون بسبب كثرة أعباء الزوج العملية والمالية ومتطلبات الحياء، أو من الزوجة لعدم قبولها له. • تضخيم عيوب شريك الحياة، فلكل شخص عيوبه وإيجابياته مهما كان، لذا من الخطأ التركيز على عيوبه ونسيان حسناته. • تدخُّل طرف ثالث في الحياة الزوجية تدخلًا سلبيًّا؛ كالوالدين أو الأقارب أو الأصدقاء، فيكون سببًا في نشوء المشكلات بين الزوجين. • التقنية والأجهزة الإلكترونية، فبالرغم من إيجابياتها على الحياة بشكل عام، فإن لها آثارًا سلبية على الحياة الزوجية. أسأل الله العظيمَ أن يُصلح لنا أنفسنا وأزواجنا وذريَّاتنا، ويُجملنا بالخلق الحسن وبالعمل الصالح، وصلى الله على سيدنا محمد. Masalah-masalah ini tentu punya sebab-sebab yang harus diperhatikan dan dijauhi oleh kedua orang tua, dan mereka harus berusaha memadamkannya sebelum masalah-masalah ini semakin bergejolak dan bertambah besar. Di antara masalah-masalah ini adalah: Tidak ada komunikasi di antara suami-istri Hal ini bisa jadi disebabkan oleh banyaknya beban suami pada pekerjaan, keuangan, dan tuntutan-tuntutan hidup lainnya, atau dari pihak istri yang enggan menerima suaminya. Membesar-besarkan aib pasangan hidup Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, siapa pun itu. Oleh sebab itu, suatu kesalahan jika seseorang hanya berfokus pada kekurangan orang lain dan melupakan kelebihannya. Campur tangan yang bersifat negatif pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga, seperti dari kedua orang tua, kerabat, atau teman, sehingga ini menjadi sebab timbulnya masalah-masalah antara suami dan istri. Teknologi dan alat-alat elektronik Meskipun hal ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan secara umum, tapi juga punya pengaruh-pengaruh negatif dalam kehidupan berumah tangga. Saya memohon kepada Allah Ta’ala Yang Maha Agung agar memperbaiki diri, pasangan, dan keturunan kita, dan memperindah kita dengan akhlak yang terpuji dan amalan yang baik. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sumber: https://www.alukah.net/المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 326 times, 2 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid


المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Oleh: Adnan bin Salman ad-Duraiwisy عدنان بن سلمان الدريويش المشكلات الأسرية أمرٌ طبيعي جدًّا، ولا يوجد أسرة في هذا الكون لا تُعاني منَ المشاكل الأسرية والخلافات الزوجية، فلا يُمكن العيش ضمن حياة طبيعية وسعيدة فقط، بل يوجد بعض الاختلافات بينَ أفراد الأسرة، وخاصةً بينَ الزوجين، ويعود السبب في ذلك إلى أن كل فرد في هذا العالم يمتلك شخصية وطبع مُعين منَ الممكن ألا يتوافق معَ الطرف الآخر في أمرٍ ما. Masalah-masalah dalam keluarga merupakan perkara yang normal sekali. Tidak ada rumah tangga di alam semesta ini yang tidak mengalami masalah keluarga dan perselisihan suami-istri. Tidak mungkin seseorang selalu hidup dalam kehidupan yang normal dan bahagia saja, tetapi pasti akan ada beberapa perselisihan antara anggota keluarga, terlebih lagi antara suami dan istri. Sebab dari hal ini merujuk pada faktor bahwa setiap pribadi di dunia ini pasti memiliki karakter dan tabiat tertentu, yang bisa jadi tidak selaras dengan tabiat orang lain dalam suatu hal. ولكن الخلافات الزوجية والأسرية تُصبح زائدة عن حدِّها إذا تَمَّ رفض الزوج للزوجة أو العكس، أو القيام بالتعنيف والسلوكيات غير الأخلاقية، والصراخ المستمر، والجو المليء بالتوتر، وخاصةً أمامَ الأطفال، فبعض الأسر تضع أطفالها في غرفة خاصة، ومن ثمَ يبدؤوا بالمشاكل ظنًّا منهم أن الأطفال لن يسمعوهم أو يراقبوهم، ولكن يحدث العكس دائمًا، فالطفل يتأثر كونهُ رقيقًا جدًّا، ولا يدرك حقيقة الخلاف الموجود بينَ والديه، فيبدأ بالبكاء والتوتر والقلق، ويُصاب ببعض الاضطرابات إذا استمرت هذه المشاكل أمامَ عينيه. Namun, perselisihan suami-istri dan rumah tangga menjadi melewati batas jika suami menjadi berpaling dari istrinya atau sebaliknya, atau terjadi kekerasan dan sikap-sikap yang tidak mencerminkan akhlak terpuji, teriakan dan bentakan selalu terjadi, dan suasana rumah tangga penuh dengan ketegangan, terlebih lagi jika itu terjadi di depan anak-anak.  Sebagian keluarga menempatkan anak-anaknya di ruangan khusus, lalu mereka mulai membahas masalah-masalah mereka, dengan sangkaan bahwa anak-anak tidak dapat mendengar atau mengawasi mereka. Namun, yang selalu terjadi justru sebaliknya. Anak akan terpengaruh oleh perselisihan itu, karena ia masih memiliki hati yang lemah lembut dan tidak memahami hakikat perselisihan yang terjadi antara kedua orang tuanya, sehingga ia akan mulai menangis, ketakutan, tegang, dan mengalami beberapa goncangan mental jika masalah-masalah ini terus berlanjut di depan kedua matanya. وللأسف فهذه المشاحنات تؤثر تأثيرًا سلبيًّا شديدًا على أكثر الأطفال، وقد يمتد هذا التأثير ويستمر مع الطفل في حياته المستقبلية، ومن هذه الآثار: • نوبات التوتر والقلق: عندما ينشأ الأطفال في بيئة جدلية محاطة بالمشاكل بين الأبوين، فإنه من الممكن أن يصاب بحالة من الاضطراب العاطفي، وتبدأ العديد من الأسئلة بالتلاعب بعقل الطفل حول إذا ما كان والداه يحبانه، أو إن كانا سينفصلان، وماذا سيكون مصيرهم؟ • تأخر الأداء المدرسي: التوتر العاطفي الذي يصاب به الأطفال نتيجة المشاكل بين أبويهم، يجعل الأطفال مشتتين الانتباه نتيجة تفكيرهم في تبعات المشاكل الموجودة بالمنزل. Namun, yang disayangkan adalah perselisihan-perselisihan ini memberi pengaruh negatif yang cukup berat terhadap mayoritas anak. Bahkan terkadang pengaruh tersebut terus berlanjut dan terbawa oleh anak dalam kehidupannya di masa depan. Di antara pengaruh-pengaruh ini adalah: Gangguan kecemasan dan ketakutan Ketika anak tumbuh di lingkungan yang penuh perseteruan dan dikelilingi dengan masalah-masalah antara kedua orang tua, maka kemungkinan ia akan terkena gangguan emosi. Akan banyak pertanyaan yang akan memainkan akal anak-anak tentang apakah kedua orang tuanya mencintainya, bagaimana jika mereka berdua bercerai, dan bagaimana nasib mereka berdua, dan seterusnya. Keterlambatan belajar Gangguan emosi yang dialami oleh anak-anak akibat masalah-masalah antara kedua orang tua mereka akan menyebabkan mereka tidak bisa fokus, karena mereka akan memikirkan akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan oleh masalah-masalah yang terjadi di rumah. • المشاكل النفسية: عندما تكون النزاعات شائعة في المنزل، سواء كان ذلك ما بين الزوجين، أو بين الأهل والأولاد، أو مزيجًا من النوعين، فكثيرًا ما يصاب الأطفال بالمشاكل النفسية. • تأثيرات دائمة: فالأطفال الذين ينشؤون بين مشاكل الأبوين المتكررة، من المحتمل أن يتأثروا في مرحلة البلوغ، ويكونون أكثرَ عُرضة لخطر الاكتئاب، وتعاطي المخدرات والكحول، والقيام بالسلوكيات المعادية للمجتمع، مع مخاطر الفشل في العلاقات الشخصية والحياة المهنية حتى بعد تخطِّي سنِّ المراهقة. • التعرف على رُفقاء السوء: في حال استمر النزاع بين الأبوين فترة طويلة، قد يندفع الطفل لمغادرة المنزل لأوقات طويلة، والتعرف على أصدقاء السوء. Gangguan-gangguan mental Ketika perselisihan sering terjadi di rumah, baik itu antara suami dan istri, orang tua dan anak, atau kedua-duanya, maka seringkali anak-anak akan terkena gangguan-gangguan mental. Pengaruh negatif permanen Anak-anak yang tumbuh di antara masalah-masalah kedua orang tua secara berulang-ulang kemungkinan akan terpengaruh hingga usia baligh, dan lebih mudah terpapar depresi, konsumsi narkoba dan alkohol, dan perilaku-perilaku yang menentang norma-norma di masyarakat. Selain itu, mereka akan terancam kegagalan dalam hubungan pribadi dan kehidupan kerja hingga setelah melewati usia remaja. Bergaul dengan teman-teman yang buruk Ketika perselisihan antara kedua orang tua terus berlangsung dalam waktu yang lama, sering kali anak akan terdorong untuk meninggalkan rumah dalam waktu lama dan berkenalan dengan teman-teman yang buruk. • الفشل العاطفي: حيث يكون الطفل قد كوَّن فكرة خاطئة عن الزواج وعن الحب، وربما يكون رافضًا لفكرة الزواج تمامًا، وهذا سيؤثر على حياته العاطفية، ويشعره بالنقص، بسبب العُقد النفسية التي تشكلت لديه حول هذا الموضوع. • الفشل الأسري: في حال تزوَّج الطفل، فلن يكون لديه خبرة سابقة عن كيفية تشكيل وإنشاء عائلة سليمة وصحية وخالية من المشاكل، وقد يمارس نفس التصرفات المغلوطة التي قد تعلمها من أهله في أسرته ويقودها للدمار. Kegagalan emosional Karena anak telah membangun pemikiran yang salah tentang pernikahan dan cinta, bisa jadi ia menjadi menolak sepenuhnya pemikiran tentang pernikahan. Ini tentu akan berpengaruh terhadap kehidupan emosionalnya, dan membuatnya merasa memiliki kekurangan disebabkan kerumitan emosi yang terbentuk dalam dirinya tentang perkara ini. Kegagalan rumah tangga Ketika anak itu telah menikah, ia tidak mungkin memiliki pengalaman tentang bagaimana membangun dan memulai rumah tangga yang normal, sehat, dan bebas dari masalah-masalah. Bahkan bisa jadi dia akan melakukan perilaku-perilaku keliru yang sama yang telah ia pelajari dari keluarganya, lalu menggiring rumah tangganya menuju kehancuran. ولهذه المشكلات أسباب يجب على الوالدين التنبه لها والابتعاد عنها، ومحاولة علاجها قبل أن تتفاقم وتزداد؛ ومنها: • الصمت الزوجي، فقد يكون بسبب كثرة أعباء الزوج العملية والمالية ومتطلبات الحياء، أو من الزوجة لعدم قبولها له. • تضخيم عيوب شريك الحياة، فلكل شخص عيوبه وإيجابياته مهما كان، لذا من الخطأ التركيز على عيوبه ونسيان حسناته. • تدخُّل طرف ثالث في الحياة الزوجية تدخلًا سلبيًّا؛ كالوالدين أو الأقارب أو الأصدقاء، فيكون سببًا في نشوء المشكلات بين الزوجين. • التقنية والأجهزة الإلكترونية، فبالرغم من إيجابياتها على الحياة بشكل عام، فإن لها آثارًا سلبية على الحياة الزوجية. أسأل الله العظيمَ أن يُصلح لنا أنفسنا وأزواجنا وذريَّاتنا، ويُجملنا بالخلق الحسن وبالعمل الصالح، وصلى الله على سيدنا محمد. Masalah-masalah ini tentu punya sebab-sebab yang harus diperhatikan dan dijauhi oleh kedua orang tua, dan mereka harus berusaha memadamkannya sebelum masalah-masalah ini semakin bergejolak dan bertambah besar. Di antara masalah-masalah ini adalah: Tidak ada komunikasi di antara suami-istri Hal ini bisa jadi disebabkan oleh banyaknya beban suami pada pekerjaan, keuangan, dan tuntutan-tuntutan hidup lainnya, atau dari pihak istri yang enggan menerima suaminya. Membesar-besarkan aib pasangan hidup Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, siapa pun itu. Oleh sebab itu, suatu kesalahan jika seseorang hanya berfokus pada kekurangan orang lain dan melupakan kelebihannya. Campur tangan yang bersifat negatif pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga, seperti dari kedua orang tua, kerabat, atau teman, sehingga ini menjadi sebab timbulnya masalah-masalah antara suami dan istri. Teknologi dan alat-alat elektronik Meskipun hal ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan secara umum, tapi juga punya pengaruh-pengaruh negatif dalam kehidupan berumah tangga. Saya memohon kepada Allah Ta’ala Yang Maha Agung agar memperbaiki diri, pasangan, dan keturunan kita, dan memperindah kita dengan akhlak yang terpuji dan amalan yang baik. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sumber: https://www.alukah.net/المشكلات الأسرية وأثرها على الأطفال Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 326 times, 2 visit(s) today Post Views: 712 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fikih Utang Piutang (Bag. 5): Kaidah Objek Utang Piutang

Daftar Isi ToggleKaidah objek utang piutangUtang emas [3]KesimpulanKaidah objek utang piutangTelah diketahui bahwasanya dalam utang piutang, segala jenis harta atau barang yang bisa diperjualbelikan, maka sah untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Karena terdapat suatu kaidah yang mesti difahami dalam hal ini,فَكُلُّ مَا صَحَّ بَيْعُهُ صَحَّ قَرْضُهُ، وَكُلُّ مَا لَا يَصِحُّ بَيْعُهُ لَا يَصِحُّ قَرْضُهُ“Segala yang sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang; dan segala yang tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang.” [1]Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,“Dari kaidah di atas dapat diketahui, bahwasanya anjing tidak sah untuk dijadikan objek utang piutang karena anjing tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan bangkai, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena bangkai tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan barang yang digadaikan, tidak sah dijadikan objek utang piutang, karena tidak sah diperjualbelikan. Dan sama halnya dengan barang yang diwakafkan, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena tidak sah untuk diperjualbelikan, dan lain sebagainya.” [2]Sehingga yang menjadi patokan boleh atau tidaknya suatu barang dijadikan sebagai objek utang piutang adalah dilihat dari boleh atau tidaknya barang tersebut diperjualbelikan. Intinya, yang dijadikan objek utang piutang adalah barang yang bernilai (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah diganti dengan yang semisal? Atau bisa diganti dengan nominal?Utang emas [3]Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwasanya para ulama bersepakat bahwa utang emas hukumnya boleh. Dengan catatan, dikembalikan dalam bentuk yang semisal atau yang senominal. Jika pengutang ingin mengembalikan dengan emas yang lebih bagus atau dengan nominal yang lebih, maka hal ini diperbolehkan ketika tidak ada persyaratan atau kesepakatan di awal akad. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim)Begitupula pemberi utang boleh memberikan syarat kepada pengutang, agar emas yang dipinjam dikembalikan dalam bentuk yang semisal (sama). Jika memang bentuk emasnya banyak beredar di pasar dan mudah untuk dibuat.Contoh: Pengutang ingin meminjam emas berupa cincin seberat tiga gram, dua puluh empat karat, spesifiknya cincin tersebut bermata tiga. Jika hal tersebut disepakati oleh pengutang dan pengutang bisa mengembalikan cincin dengan spesifikasi yang serupa, maka itu yang terbaik. Kalau tidak bisa dikembalikan dalam bentuk emas yang serupa, maka dikembalikan nominalnya sesuai dengan harga ketika ingin melunasi utang dan tanpa ada perjanjian ketika akad ingin diganti dengan nominal.Kaidahnya sebagaimana yang dikatakan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ مِثْلُهُ ردّ قِيْمَتهُ وَقْتَ القَرْضِ أَنَّ المِثْلِيّ يُرَدُّ فِي القَرْضِ بِمِثْلِهِ“Barang yang ada padanannya (mitsli) dalam pinjaman, hendaknya dikembalikan dengan yang sepadan (sejenis). Kalau tidak ada yang sejenis, maka dikembalikan dalam bentuk nominal waktu berutang.”Para fuqaha (ahli fikih) menganggap barang-barang yang ditakar dan ditimbang sebagai mitsli (memiliki padanan/kembaran), kecuali jika dimasuki unsur kerajinan tangan yang dibolehkan, maka ia menjadi qimi (memiliki nilai/harga). Hal ini tentunya hanya berlaku pada masa mereka, karena sulitnya membuat kerajinan dengan bentuk dan rupa yang sama. Adapun pada masa sekarang, kita bisa membuat ribuan salinan dengan rupa dan bentuk yang sama.Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tidak sependapat dengan penulis kitab yang beliau syarah, yaitu Zaadul Mustaqni’ karya Abun Naja Musa bin Ahmad Al-Hajjawi rahimahullah. Perbedaan tersebut terletak dalam penggunaan makna mitsli, karena penulis kitab Zaadul Mustaqni’ memaknai mitsli hanya sebatas barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja.Adapun Syekh Al-Utsaimin sedikit lebih luas cakupannya dalam penggunaan kata “mitsli”. Tidak hanya barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja, namun barang-barang yang sifatnya dibuat dengan tangan, itupun bisa dikategorikan dengan mitsli (sepadan).Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,والصحيح أن المثلي ما كان له مثيل ، مطابق أو مقارب تقاربا كثيرا، ويدل لهذا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لزوجته التي كسرت الإناء، وأفسدت الطعام: إناء بإناء، وطعام بطعام ولم يضمنها بالقيمة، ثم إننا نقول: الصناعة الآن تتقدم، ومن المعلوم أن الفناجيل ـ مثلا ـ من الزجاج مصنوعة، وهي مثلية قطعا، فمماثلة الفنجال للفنجال أشد من مماثلة صاع البر لصاع البر، وهذا أمر معلوم، والحلي ـ مثلا ـ والأقلام، والساعات، كل هذه مثلية، وهي على حد الفقهاء ليست مثلية“Yang benar, mitsli adalah sesuatu yang memiliki padanan, sama persis, atau sangat mirip. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya yang memecahkan bejana dan merusak makanan, (beliau bersabda), ‘Bejana (diganti) dengan bejana, dan makanan (diganti) dengan makanan.’ Beliau tidak menggantinya dengan nilai (harga). Kemudian kita katakan, ‘Saat ini kerajinan tangan sudah maju. Dan sudah diketahui bahwa cangkir-cangkir, misalnya, yang terbuat dari kaca, jelas merupakan barang mitsli karena kesamaan satu cangkir dengan cangkir lainnya lebih kuat daripada kesamaan satu sha’ gandum dengan sha’ gandum lainnya.’ Ini adalah hal yang sudah jelas. Dan perhiasan, misalnya, pena, dan jam tangan, semuanya adalah mitsli. Sedangkan menurut definisi para fuqaha (terdahulu) itu bukanlah mitsli.”Dalam hal inilah Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dan penulis kitab Zaadul Mustaqni’ berbeda. Adapun dalam hal konsekuensi dalam mengembalikan utang, maka tidak ada perbedaan. Yaitu, mengembalikan dengan bentuk barang yang dipinjam. Jika emas, maka kembalikan dengan emas yang serupa.Kalau memang tidak mampu untuk mengembalikan dengan yang serupa, maka dikembalikan dengan nominal sesuai dengan harga pada saat pelunasan utang. Kapan dianggap tidak mampu mengembalikan barang yang sepadan?Jika barang sulit dicari, tidak dijual di mana-mana. Di pasar, di online shop, atau yang lainnya.Kenaikan harga yang sangat tinggi. [4]Catatan:Perlu diketahui, terdapat perbedaan antara akad meminjam emas dan meminjam uang karena menjual emas.Jika seseorang meminjam emas sebagai pinjaman, lalu orang yang berutang emas tersebut menjual emas untuk dirinya sendiri, maka orang yang berutang menanggung utang emas, bukan uang.Jika pemberi pinjaman mengatakan, “Ambil emas saya ini, kemudian engkau jual di pasar, hasil penjualannya silahkan gunakan untuk pinjaman.” Maka ini utang dalam bentuk uang, bukan emas. Sehingga peminjam atau pengutang mengembalikan sejumlah nominal uang yang dipinjamnya ketika ia menjual emas. [5]KesimpulanSehingga utang piutang berbentuk emas memiliki beberapa kesimpulan,Utang emas hukumnya boleh.Hukum asal dalam mengembalikan emas adalah dikembalikan dengan jenis yang sama. Bahkan boleh bagi pemberi utang memberikan syarat di awal agar dikembalikan dengan emas yang semisal atau sejenis.Pengutang diperbolehkan mengembalikan emas dalam jumlah yang lebih, dengan syarat tidak adanya perjanjian dengan pemberi utang di awal akad.Jika pengutang tidak bisa mengembalikan emas dalam bentuk yang serupa, maka boleh mengembalikan utang dalam bentuk yang lain. Dengan ketentuan sesuai dengan nominal atau harga emas pada waktu pengutang ingin melunasi utang emas tersebut.Jika pengutang menjual emas atas perintah pemberi utang, kemudian ia menggunakan uang hasil penjualannya sebagai utang, maka pengutang sejatinya berutang uang, bukan emas. Sehingga wajib mengembalikan uang sejumlah nominal ketika ia meminjamnya setelah menjual emas tersebut.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Depok, 25 Safar 1447/ 19 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[3] Disadur dari: https://islamqa.info/ar/answers/136433[4] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 107.[5] Disadur dari: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/345421

Fikih Utang Piutang (Bag. 5): Kaidah Objek Utang Piutang

Daftar Isi ToggleKaidah objek utang piutangUtang emas [3]KesimpulanKaidah objek utang piutangTelah diketahui bahwasanya dalam utang piutang, segala jenis harta atau barang yang bisa diperjualbelikan, maka sah untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Karena terdapat suatu kaidah yang mesti difahami dalam hal ini,فَكُلُّ مَا صَحَّ بَيْعُهُ صَحَّ قَرْضُهُ، وَكُلُّ مَا لَا يَصِحُّ بَيْعُهُ لَا يَصِحُّ قَرْضُهُ“Segala yang sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang; dan segala yang tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang.” [1]Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,“Dari kaidah di atas dapat diketahui, bahwasanya anjing tidak sah untuk dijadikan objek utang piutang karena anjing tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan bangkai, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena bangkai tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan barang yang digadaikan, tidak sah dijadikan objek utang piutang, karena tidak sah diperjualbelikan. Dan sama halnya dengan barang yang diwakafkan, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena tidak sah untuk diperjualbelikan, dan lain sebagainya.” [2]Sehingga yang menjadi patokan boleh atau tidaknya suatu barang dijadikan sebagai objek utang piutang adalah dilihat dari boleh atau tidaknya barang tersebut diperjualbelikan. Intinya, yang dijadikan objek utang piutang adalah barang yang bernilai (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah diganti dengan yang semisal? Atau bisa diganti dengan nominal?Utang emas [3]Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwasanya para ulama bersepakat bahwa utang emas hukumnya boleh. Dengan catatan, dikembalikan dalam bentuk yang semisal atau yang senominal. Jika pengutang ingin mengembalikan dengan emas yang lebih bagus atau dengan nominal yang lebih, maka hal ini diperbolehkan ketika tidak ada persyaratan atau kesepakatan di awal akad. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim)Begitupula pemberi utang boleh memberikan syarat kepada pengutang, agar emas yang dipinjam dikembalikan dalam bentuk yang semisal (sama). Jika memang bentuk emasnya banyak beredar di pasar dan mudah untuk dibuat.Contoh: Pengutang ingin meminjam emas berupa cincin seberat tiga gram, dua puluh empat karat, spesifiknya cincin tersebut bermata tiga. Jika hal tersebut disepakati oleh pengutang dan pengutang bisa mengembalikan cincin dengan spesifikasi yang serupa, maka itu yang terbaik. Kalau tidak bisa dikembalikan dalam bentuk emas yang serupa, maka dikembalikan nominalnya sesuai dengan harga ketika ingin melunasi utang dan tanpa ada perjanjian ketika akad ingin diganti dengan nominal.Kaidahnya sebagaimana yang dikatakan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ مِثْلُهُ ردّ قِيْمَتهُ وَقْتَ القَرْضِ أَنَّ المِثْلِيّ يُرَدُّ فِي القَرْضِ بِمِثْلِهِ“Barang yang ada padanannya (mitsli) dalam pinjaman, hendaknya dikembalikan dengan yang sepadan (sejenis). Kalau tidak ada yang sejenis, maka dikembalikan dalam bentuk nominal waktu berutang.”Para fuqaha (ahli fikih) menganggap barang-barang yang ditakar dan ditimbang sebagai mitsli (memiliki padanan/kembaran), kecuali jika dimasuki unsur kerajinan tangan yang dibolehkan, maka ia menjadi qimi (memiliki nilai/harga). Hal ini tentunya hanya berlaku pada masa mereka, karena sulitnya membuat kerajinan dengan bentuk dan rupa yang sama. Adapun pada masa sekarang, kita bisa membuat ribuan salinan dengan rupa dan bentuk yang sama.Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tidak sependapat dengan penulis kitab yang beliau syarah, yaitu Zaadul Mustaqni’ karya Abun Naja Musa bin Ahmad Al-Hajjawi rahimahullah. Perbedaan tersebut terletak dalam penggunaan makna mitsli, karena penulis kitab Zaadul Mustaqni’ memaknai mitsli hanya sebatas barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja.Adapun Syekh Al-Utsaimin sedikit lebih luas cakupannya dalam penggunaan kata “mitsli”. Tidak hanya barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja, namun barang-barang yang sifatnya dibuat dengan tangan, itupun bisa dikategorikan dengan mitsli (sepadan).Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,والصحيح أن المثلي ما كان له مثيل ، مطابق أو مقارب تقاربا كثيرا، ويدل لهذا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لزوجته التي كسرت الإناء، وأفسدت الطعام: إناء بإناء، وطعام بطعام ولم يضمنها بالقيمة، ثم إننا نقول: الصناعة الآن تتقدم، ومن المعلوم أن الفناجيل ـ مثلا ـ من الزجاج مصنوعة، وهي مثلية قطعا، فمماثلة الفنجال للفنجال أشد من مماثلة صاع البر لصاع البر، وهذا أمر معلوم، والحلي ـ مثلا ـ والأقلام، والساعات، كل هذه مثلية، وهي على حد الفقهاء ليست مثلية“Yang benar, mitsli adalah sesuatu yang memiliki padanan, sama persis, atau sangat mirip. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya yang memecahkan bejana dan merusak makanan, (beliau bersabda), ‘Bejana (diganti) dengan bejana, dan makanan (diganti) dengan makanan.’ Beliau tidak menggantinya dengan nilai (harga). Kemudian kita katakan, ‘Saat ini kerajinan tangan sudah maju. Dan sudah diketahui bahwa cangkir-cangkir, misalnya, yang terbuat dari kaca, jelas merupakan barang mitsli karena kesamaan satu cangkir dengan cangkir lainnya lebih kuat daripada kesamaan satu sha’ gandum dengan sha’ gandum lainnya.’ Ini adalah hal yang sudah jelas. Dan perhiasan, misalnya, pena, dan jam tangan, semuanya adalah mitsli. Sedangkan menurut definisi para fuqaha (terdahulu) itu bukanlah mitsli.”Dalam hal inilah Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dan penulis kitab Zaadul Mustaqni’ berbeda. Adapun dalam hal konsekuensi dalam mengembalikan utang, maka tidak ada perbedaan. Yaitu, mengembalikan dengan bentuk barang yang dipinjam. Jika emas, maka kembalikan dengan emas yang serupa.Kalau memang tidak mampu untuk mengembalikan dengan yang serupa, maka dikembalikan dengan nominal sesuai dengan harga pada saat pelunasan utang. Kapan dianggap tidak mampu mengembalikan barang yang sepadan?Jika barang sulit dicari, tidak dijual di mana-mana. Di pasar, di online shop, atau yang lainnya.Kenaikan harga yang sangat tinggi. [4]Catatan:Perlu diketahui, terdapat perbedaan antara akad meminjam emas dan meminjam uang karena menjual emas.Jika seseorang meminjam emas sebagai pinjaman, lalu orang yang berutang emas tersebut menjual emas untuk dirinya sendiri, maka orang yang berutang menanggung utang emas, bukan uang.Jika pemberi pinjaman mengatakan, “Ambil emas saya ini, kemudian engkau jual di pasar, hasil penjualannya silahkan gunakan untuk pinjaman.” Maka ini utang dalam bentuk uang, bukan emas. Sehingga peminjam atau pengutang mengembalikan sejumlah nominal uang yang dipinjamnya ketika ia menjual emas. [5]KesimpulanSehingga utang piutang berbentuk emas memiliki beberapa kesimpulan,Utang emas hukumnya boleh.Hukum asal dalam mengembalikan emas adalah dikembalikan dengan jenis yang sama. Bahkan boleh bagi pemberi utang memberikan syarat di awal agar dikembalikan dengan emas yang semisal atau sejenis.Pengutang diperbolehkan mengembalikan emas dalam jumlah yang lebih, dengan syarat tidak adanya perjanjian dengan pemberi utang di awal akad.Jika pengutang tidak bisa mengembalikan emas dalam bentuk yang serupa, maka boleh mengembalikan utang dalam bentuk yang lain. Dengan ketentuan sesuai dengan nominal atau harga emas pada waktu pengutang ingin melunasi utang emas tersebut.Jika pengutang menjual emas atas perintah pemberi utang, kemudian ia menggunakan uang hasil penjualannya sebagai utang, maka pengutang sejatinya berutang uang, bukan emas. Sehingga wajib mengembalikan uang sejumlah nominal ketika ia meminjamnya setelah menjual emas tersebut.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Depok, 25 Safar 1447/ 19 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[3] Disadur dari: https://islamqa.info/ar/answers/136433[4] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 107.[5] Disadur dari: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/345421
Daftar Isi ToggleKaidah objek utang piutangUtang emas [3]KesimpulanKaidah objek utang piutangTelah diketahui bahwasanya dalam utang piutang, segala jenis harta atau barang yang bisa diperjualbelikan, maka sah untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Karena terdapat suatu kaidah yang mesti difahami dalam hal ini,فَكُلُّ مَا صَحَّ بَيْعُهُ صَحَّ قَرْضُهُ، وَكُلُّ مَا لَا يَصِحُّ بَيْعُهُ لَا يَصِحُّ قَرْضُهُ“Segala yang sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang; dan segala yang tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang.” [1]Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,“Dari kaidah di atas dapat diketahui, bahwasanya anjing tidak sah untuk dijadikan objek utang piutang karena anjing tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan bangkai, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena bangkai tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan barang yang digadaikan, tidak sah dijadikan objek utang piutang, karena tidak sah diperjualbelikan. Dan sama halnya dengan barang yang diwakafkan, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena tidak sah untuk diperjualbelikan, dan lain sebagainya.” [2]Sehingga yang menjadi patokan boleh atau tidaknya suatu barang dijadikan sebagai objek utang piutang adalah dilihat dari boleh atau tidaknya barang tersebut diperjualbelikan. Intinya, yang dijadikan objek utang piutang adalah barang yang bernilai (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah diganti dengan yang semisal? Atau bisa diganti dengan nominal?Utang emas [3]Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwasanya para ulama bersepakat bahwa utang emas hukumnya boleh. Dengan catatan, dikembalikan dalam bentuk yang semisal atau yang senominal. Jika pengutang ingin mengembalikan dengan emas yang lebih bagus atau dengan nominal yang lebih, maka hal ini diperbolehkan ketika tidak ada persyaratan atau kesepakatan di awal akad. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim)Begitupula pemberi utang boleh memberikan syarat kepada pengutang, agar emas yang dipinjam dikembalikan dalam bentuk yang semisal (sama). Jika memang bentuk emasnya banyak beredar di pasar dan mudah untuk dibuat.Contoh: Pengutang ingin meminjam emas berupa cincin seberat tiga gram, dua puluh empat karat, spesifiknya cincin tersebut bermata tiga. Jika hal tersebut disepakati oleh pengutang dan pengutang bisa mengembalikan cincin dengan spesifikasi yang serupa, maka itu yang terbaik. Kalau tidak bisa dikembalikan dalam bentuk emas yang serupa, maka dikembalikan nominalnya sesuai dengan harga ketika ingin melunasi utang dan tanpa ada perjanjian ketika akad ingin diganti dengan nominal.Kaidahnya sebagaimana yang dikatakan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ مِثْلُهُ ردّ قِيْمَتهُ وَقْتَ القَرْضِ أَنَّ المِثْلِيّ يُرَدُّ فِي القَرْضِ بِمِثْلِهِ“Barang yang ada padanannya (mitsli) dalam pinjaman, hendaknya dikembalikan dengan yang sepadan (sejenis). Kalau tidak ada yang sejenis, maka dikembalikan dalam bentuk nominal waktu berutang.”Para fuqaha (ahli fikih) menganggap barang-barang yang ditakar dan ditimbang sebagai mitsli (memiliki padanan/kembaran), kecuali jika dimasuki unsur kerajinan tangan yang dibolehkan, maka ia menjadi qimi (memiliki nilai/harga). Hal ini tentunya hanya berlaku pada masa mereka, karena sulitnya membuat kerajinan dengan bentuk dan rupa yang sama. Adapun pada masa sekarang, kita bisa membuat ribuan salinan dengan rupa dan bentuk yang sama.Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tidak sependapat dengan penulis kitab yang beliau syarah, yaitu Zaadul Mustaqni’ karya Abun Naja Musa bin Ahmad Al-Hajjawi rahimahullah. Perbedaan tersebut terletak dalam penggunaan makna mitsli, karena penulis kitab Zaadul Mustaqni’ memaknai mitsli hanya sebatas barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja.Adapun Syekh Al-Utsaimin sedikit lebih luas cakupannya dalam penggunaan kata “mitsli”. Tidak hanya barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja, namun barang-barang yang sifatnya dibuat dengan tangan, itupun bisa dikategorikan dengan mitsli (sepadan).Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,والصحيح أن المثلي ما كان له مثيل ، مطابق أو مقارب تقاربا كثيرا، ويدل لهذا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لزوجته التي كسرت الإناء، وأفسدت الطعام: إناء بإناء، وطعام بطعام ولم يضمنها بالقيمة، ثم إننا نقول: الصناعة الآن تتقدم، ومن المعلوم أن الفناجيل ـ مثلا ـ من الزجاج مصنوعة، وهي مثلية قطعا، فمماثلة الفنجال للفنجال أشد من مماثلة صاع البر لصاع البر، وهذا أمر معلوم، والحلي ـ مثلا ـ والأقلام، والساعات، كل هذه مثلية، وهي على حد الفقهاء ليست مثلية“Yang benar, mitsli adalah sesuatu yang memiliki padanan, sama persis, atau sangat mirip. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya yang memecahkan bejana dan merusak makanan, (beliau bersabda), ‘Bejana (diganti) dengan bejana, dan makanan (diganti) dengan makanan.’ Beliau tidak menggantinya dengan nilai (harga). Kemudian kita katakan, ‘Saat ini kerajinan tangan sudah maju. Dan sudah diketahui bahwa cangkir-cangkir, misalnya, yang terbuat dari kaca, jelas merupakan barang mitsli karena kesamaan satu cangkir dengan cangkir lainnya lebih kuat daripada kesamaan satu sha’ gandum dengan sha’ gandum lainnya.’ Ini adalah hal yang sudah jelas. Dan perhiasan, misalnya, pena, dan jam tangan, semuanya adalah mitsli. Sedangkan menurut definisi para fuqaha (terdahulu) itu bukanlah mitsli.”Dalam hal inilah Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dan penulis kitab Zaadul Mustaqni’ berbeda. Adapun dalam hal konsekuensi dalam mengembalikan utang, maka tidak ada perbedaan. Yaitu, mengembalikan dengan bentuk barang yang dipinjam. Jika emas, maka kembalikan dengan emas yang serupa.Kalau memang tidak mampu untuk mengembalikan dengan yang serupa, maka dikembalikan dengan nominal sesuai dengan harga pada saat pelunasan utang. Kapan dianggap tidak mampu mengembalikan barang yang sepadan?Jika barang sulit dicari, tidak dijual di mana-mana. Di pasar, di online shop, atau yang lainnya.Kenaikan harga yang sangat tinggi. [4]Catatan:Perlu diketahui, terdapat perbedaan antara akad meminjam emas dan meminjam uang karena menjual emas.Jika seseorang meminjam emas sebagai pinjaman, lalu orang yang berutang emas tersebut menjual emas untuk dirinya sendiri, maka orang yang berutang menanggung utang emas, bukan uang.Jika pemberi pinjaman mengatakan, “Ambil emas saya ini, kemudian engkau jual di pasar, hasil penjualannya silahkan gunakan untuk pinjaman.” Maka ini utang dalam bentuk uang, bukan emas. Sehingga peminjam atau pengutang mengembalikan sejumlah nominal uang yang dipinjamnya ketika ia menjual emas. [5]KesimpulanSehingga utang piutang berbentuk emas memiliki beberapa kesimpulan,Utang emas hukumnya boleh.Hukum asal dalam mengembalikan emas adalah dikembalikan dengan jenis yang sama. Bahkan boleh bagi pemberi utang memberikan syarat di awal agar dikembalikan dengan emas yang semisal atau sejenis.Pengutang diperbolehkan mengembalikan emas dalam jumlah yang lebih, dengan syarat tidak adanya perjanjian dengan pemberi utang di awal akad.Jika pengutang tidak bisa mengembalikan emas dalam bentuk yang serupa, maka boleh mengembalikan utang dalam bentuk yang lain. Dengan ketentuan sesuai dengan nominal atau harga emas pada waktu pengutang ingin melunasi utang emas tersebut.Jika pengutang menjual emas atas perintah pemberi utang, kemudian ia menggunakan uang hasil penjualannya sebagai utang, maka pengutang sejatinya berutang uang, bukan emas. Sehingga wajib mengembalikan uang sejumlah nominal ketika ia meminjamnya setelah menjual emas tersebut.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Depok, 25 Safar 1447/ 19 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[3] Disadur dari: https://islamqa.info/ar/answers/136433[4] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 107.[5] Disadur dari: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/345421


Daftar Isi ToggleKaidah objek utang piutangUtang emas [3]KesimpulanKaidah objek utang piutangTelah diketahui bahwasanya dalam utang piutang, segala jenis harta atau barang yang bisa diperjualbelikan, maka sah untuk dijadikan sebagai objek utang piutang. Karena terdapat suatu kaidah yang mesti difahami dalam hal ini,فَكُلُّ مَا صَحَّ بَيْعُهُ صَحَّ قَرْضُهُ، وَكُلُّ مَا لَا يَصِحُّ بَيْعُهُ لَا يَصِحُّ قَرْضُهُ“Segala yang sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang; dan segala yang tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam jual beli, maka tidak sah (digunakan sebagai objek) dalam utang piutang.” [1]Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,“Dari kaidah di atas dapat diketahui, bahwasanya anjing tidak sah untuk dijadikan objek utang piutang karena anjing tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan bangkai, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena bangkai tidak sah diperjualbelikan. Begitupun dengan barang yang digadaikan, tidak sah dijadikan objek utang piutang, karena tidak sah diperjualbelikan. Dan sama halnya dengan barang yang diwakafkan, tidak sah dijadikan objek utang piutang karena tidak sah untuk diperjualbelikan, dan lain sebagainya.” [2]Sehingga yang menjadi patokan boleh atau tidaknya suatu barang dijadikan sebagai objek utang piutang adalah dilihat dari boleh atau tidaknya barang tersebut diperjualbelikan. Intinya, yang dijadikan objek utang piutang adalah barang yang bernilai (nominal) dan bisa diganti dengan nominal yang serupa. Lalu bagaimana dengan emas? Apakah diganti dengan yang semisal? Atau bisa diganti dengan nominal?Utang emas [3]Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwasanya para ulama bersepakat bahwa utang emas hukumnya boleh. Dengan catatan, dikembalikan dalam bentuk yang semisal atau yang senominal. Jika pengutang ingin mengembalikan dengan emas yang lebih bagus atau dengan nominal yang lebih, maka hal ini diperbolehkan ketika tidak ada persyaratan atau kesepakatan di awal akad. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً“Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Muslim)Begitupula pemberi utang boleh memberikan syarat kepada pengutang, agar emas yang dipinjam dikembalikan dalam bentuk yang semisal (sama). Jika memang bentuk emasnya banyak beredar di pasar dan mudah untuk dibuat.Contoh: Pengutang ingin meminjam emas berupa cincin seberat tiga gram, dua puluh empat karat, spesifiknya cincin tersebut bermata tiga. Jika hal tersebut disepakati oleh pengutang dan pengutang bisa mengembalikan cincin dengan spesifikasi yang serupa, maka itu yang terbaik. Kalau tidak bisa dikembalikan dalam bentuk emas yang serupa, maka dikembalikan nominalnya sesuai dengan harga ketika ingin melunasi utang dan tanpa ada perjanjian ketika akad ingin diganti dengan nominal.Kaidahnya sebagaimana yang dikatakan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ مِثْلُهُ ردّ قِيْمَتهُ وَقْتَ القَرْضِ أَنَّ المِثْلِيّ يُرَدُّ فِي القَرْضِ بِمِثْلِهِ“Barang yang ada padanannya (mitsli) dalam pinjaman, hendaknya dikembalikan dengan yang sepadan (sejenis). Kalau tidak ada yang sejenis, maka dikembalikan dalam bentuk nominal waktu berutang.”Para fuqaha (ahli fikih) menganggap barang-barang yang ditakar dan ditimbang sebagai mitsli (memiliki padanan/kembaran), kecuali jika dimasuki unsur kerajinan tangan yang dibolehkan, maka ia menjadi qimi (memiliki nilai/harga). Hal ini tentunya hanya berlaku pada masa mereka, karena sulitnya membuat kerajinan dengan bentuk dan rupa yang sama. Adapun pada masa sekarang, kita bisa membuat ribuan salinan dengan rupa dan bentuk yang sama.Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tidak sependapat dengan penulis kitab yang beliau syarah, yaitu Zaadul Mustaqni’ karya Abun Naja Musa bin Ahmad Al-Hajjawi rahimahullah. Perbedaan tersebut terletak dalam penggunaan makna mitsli, karena penulis kitab Zaadul Mustaqni’ memaknai mitsli hanya sebatas barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja.Adapun Syekh Al-Utsaimin sedikit lebih luas cakupannya dalam penggunaan kata “mitsli”. Tidak hanya barang-barang yang bisa ditakar dan ditimbang saja, namun barang-barang yang sifatnya dibuat dengan tangan, itupun bisa dikategorikan dengan mitsli (sepadan).Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,والصحيح أن المثلي ما كان له مثيل ، مطابق أو مقارب تقاربا كثيرا، ويدل لهذا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لزوجته التي كسرت الإناء، وأفسدت الطعام: إناء بإناء، وطعام بطعام ولم يضمنها بالقيمة، ثم إننا نقول: الصناعة الآن تتقدم، ومن المعلوم أن الفناجيل ـ مثلا ـ من الزجاج مصنوعة، وهي مثلية قطعا، فمماثلة الفنجال للفنجال أشد من مماثلة صاع البر لصاع البر، وهذا أمر معلوم، والحلي ـ مثلا ـ والأقلام، والساعات، كل هذه مثلية، وهي على حد الفقهاء ليست مثلية“Yang benar, mitsli adalah sesuatu yang memiliki padanan, sama persis, atau sangat mirip. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya yang memecahkan bejana dan merusak makanan, (beliau bersabda), ‘Bejana (diganti) dengan bejana, dan makanan (diganti) dengan makanan.’ Beliau tidak menggantinya dengan nilai (harga). Kemudian kita katakan, ‘Saat ini kerajinan tangan sudah maju. Dan sudah diketahui bahwa cangkir-cangkir, misalnya, yang terbuat dari kaca, jelas merupakan barang mitsli karena kesamaan satu cangkir dengan cangkir lainnya lebih kuat daripada kesamaan satu sha’ gandum dengan sha’ gandum lainnya.’ Ini adalah hal yang sudah jelas. Dan perhiasan, misalnya, pena, dan jam tangan, semuanya adalah mitsli. Sedangkan menurut definisi para fuqaha (terdahulu) itu bukanlah mitsli.”Dalam hal inilah Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dan penulis kitab Zaadul Mustaqni’ berbeda. Adapun dalam hal konsekuensi dalam mengembalikan utang, maka tidak ada perbedaan. Yaitu, mengembalikan dengan bentuk barang yang dipinjam. Jika emas, maka kembalikan dengan emas yang serupa.Kalau memang tidak mampu untuk mengembalikan dengan yang serupa, maka dikembalikan dengan nominal sesuai dengan harga pada saat pelunasan utang. Kapan dianggap tidak mampu mengembalikan barang yang sepadan?Jika barang sulit dicari, tidak dijual di mana-mana. Di pasar, di online shop, atau yang lainnya.Kenaikan harga yang sangat tinggi. [4]Catatan:Perlu diketahui, terdapat perbedaan antara akad meminjam emas dan meminjam uang karena menjual emas.Jika seseorang meminjam emas sebagai pinjaman, lalu orang yang berutang emas tersebut menjual emas untuk dirinya sendiri, maka orang yang berutang menanggung utang emas, bukan uang.Jika pemberi pinjaman mengatakan, “Ambil emas saya ini, kemudian engkau jual di pasar, hasil penjualannya silahkan gunakan untuk pinjaman.” Maka ini utang dalam bentuk uang, bukan emas. Sehingga peminjam atau pengutang mengembalikan sejumlah nominal uang yang dipinjamnya ketika ia menjual emas. [5]KesimpulanSehingga utang piutang berbentuk emas memiliki beberapa kesimpulan,Utang emas hukumnya boleh.Hukum asal dalam mengembalikan emas adalah dikembalikan dengan jenis yang sama. Bahkan boleh bagi pemberi utang memberikan syarat di awal agar dikembalikan dengan emas yang semisal atau sejenis.Pengutang diperbolehkan mengembalikan emas dalam jumlah yang lebih, dengan syarat tidak adanya perjanjian dengan pemberi utang di awal akad.Jika pengutang tidak bisa mengembalikan emas dalam bentuk yang serupa, maka boleh mengembalikan utang dalam bentuk yang lain. Dengan ketentuan sesuai dengan nominal atau harga emas pada waktu pengutang ingin melunasi utang emas tersebut.Jika pengutang menjual emas atas perintah pemberi utang, kemudian ia menggunakan uang hasil penjualannya sebagai utang, maka pengutang sejatinya berutang uang, bukan emas. Sehingga wajib mengembalikan uang sejumlah nominal ketika ia meminjamnya setelah menjual emas tersebut.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 4 Lanjut ke bagian 6***Depok, 25 Safar 1447/ 19 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Catatan kaki:[1] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[2] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 96.[3] Disadur dari: https://islamqa.info/ar/answers/136433[4] Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 9: 107.[5] Disadur dari: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/345421

Semangat Belajar tapi Cepat Lupa? Inilah Solusinya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda, meninggikan derajat Anda, dan memberi manfaat kepada kami dengan ilmu Anda. Ada seorang penanya berkata: Wahai Syaikh, saya memiliki keinginan besar untuk menuntut ilmu dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun, masalah saya adalah setiap kali mendengarkan ilmu, saya lupa, dan tidak ada yang tersisa dalam ingatan saya. Apa nasihat Anda untuk saya? Jazakumullahu khairan. Segala puji bagi Allah. Amma ba‘du. Manusia berbeda-beda dalam mencari ilmu. Tidak semua orang yang menuntut ilmu mampu menghafal setiap hal yang didengarnya. Namun pasti ada sedikit ilmu yang ia hafal. Ilmu itu dipelajari sedikit demi sedikit. Apabila ia mengulang-ulang ilmunya, ia akan hafal. Saya nasihatkan pula kepadanya untuk berusaha keras menghafal Al-Qur’an, karena kemampuan menghafal itu pada dasarnya adalah naluri. Dengan menghafal dan terus mengulanginya, hafalan akan semakin bertambah dan menguat. Siapa yang mencobanya akan mendapati bahwa menghafal Al-Qur’an menjadi jalan awal terbukanya kemampuan hafalan. Maka, jika penanya ini belum menghafal Al-Qur’an, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam menghafalnya. Sebab, di masa lalu, para ulama apabila didatangi seorang penuntut ilmu yang setiap hari mendatangi masjid dan belajar bersama para guru, apabila ia datang untuk menuntut ilmu, tetapi belum hafal Al-Qur’an, para ulama tersebut akan berkata: “Tidak boleh! Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian datanglah lagi.” Karena hafalan Al-Qur’an akan mematangkan penghafalnya. Karena itu, orang yang mencoba menghafal Al-Qur’an mendapati bahwa, misalnya, pada sepuluh juz pertama ia membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menghafal 2,5 halaman. Satu jam untuk menghafalnya dan tetap harus diulang-ulang lagi. Namun, pada 20 juz berikutnya, hafalan akan semakin mudah, hingga mungkin ia dapat menghafal 7,5 halaman atau setengah juz dalam sekali duduk, baik antara Magrib dan Isya maupun setelah Subuh. Ini benar-benar terjadi! Karena seiring dengan pembiasaan dan penerapan, kemampuan menghafal akan meningkat. Oleh karena itu, saya sarankan agar ia menghafal Al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, karena dengan izin Allah Ta’ala, ilmu akan terus bertambah dan hafalan akan semakin mudah, insya Allah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ وَرَفَع دَرَجَاتِكُمْ وَنَفَعَنَا بِعِلْمِكُمْ هَذَا سَائِلٌ يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَلَا لِي الرَّغْبَةُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَإِفَادَةِ غَيْرِي لَكِنْ مُشْكِلتي أَنَّنِي إِذَا سَمِعْتُ الْعِلْمَ أَنْسَاهُ وَلَا يَبْقَى فِي ذَاكِرَتِي مِنْهُ شَيْءٌ فَبِمَاذَا تَنْصَحُونَني وَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الْحَمْدُ لِلَّهِ وَبَعْدُ النَّاسُ يَتَفَاوَتُونَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَيْسَ كُلُّ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَارَ حَافِظًا لِكُلِّ مَا يَسْمَعُ لَكِنْ سَيَحْفَظُ شَيْئًا وَالْعِلْمُ يُؤْخَذُ شَيْئًا فَشَيْئًا فَإِذَا كَرَّرَ حَفِظَ وَأَنَا أُوْصِيْهِ بِأَنْ يَجْتَهِدَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ الْحِفْظَ غَرِيزَةٌ وَبِالْحِفْظِ وَتِكْرَارِ الْحِفْظِ تَزْدَادُ وَتَقْوَى وَمَنْ جَرَّبَ وَجَدَ أَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ بِهِ يَبْدَأُ الطَّرِيقُ فِي انْفِتَاحِ الْحَافِظِ فَالسَّائِلُ إِذَا كَانَ أَنَّهُ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْانَ فَلْيَجْتَهِدْ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِذَلِكَ كَانَ الْجَمْعُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا أَتَاهُمْ يَعْنِي فِي الزَّمَنِ الْقَدِيمِ لَمَّا كَانَ طَالِبُ الْعِلْمِ يَأْتِي لِلْمَسْجِدِ وَيُلَازِمُ الْمَشَايِخَ فِي كُلِّ الْيَوْمِ إِذَا أَتَى يُرِيدُ الْعِلْمَ وَهُوَ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا لَا اِحْفَظِ الْقُرْآنَ أَوَّلًا ثُمَّ ائْتِ لِأَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ يَفْتِقُ الْحَافِظَ لِهَذَا مَنْ جَرَّبَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ يَجِدُ أَنَّ مَثَلًا أَوَّلُ عَشْرَةَ أَجْزَاءٍ تَجِدُ يَجْلِسُ فِي الثُّمُنِ مَثَلًا سَاعَةً سَاعَةٌ يَحْفَظُ فِيهِ يَحْفَظُهُ ثُمَّ يَحْتَاجُ إِلَى تِكْرَارٍ لَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْعِشْرِينَ جُزْءِ الثَّانِيَةِ كُلَّمَا لَهُ يَسْهُلُ يَسْهُلُ حَتَّى رُبَّمَا حَفِظَ ثَلَاثَةَ أَثْمَانٍ أَوْ نِصْفَ جُزْءٍ فِي جَلْسَةٍ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْدَ الْفَجْرِ وَهَذَا وَاقِعٌ فَإِنَّ الْحَالَ مَعَ مُمَارَسَتِهَا وَاسْتِعْمَالِهَا تَزِيْدُ لِذَلِكَ أُوْصِيْهِ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَالِاجْتِهَادِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَزْدَادُ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْحِفْظَ يَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Semangat Belajar tapi Cepat Lupa? Inilah Solusinya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda, meninggikan derajat Anda, dan memberi manfaat kepada kami dengan ilmu Anda. Ada seorang penanya berkata: Wahai Syaikh, saya memiliki keinginan besar untuk menuntut ilmu dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun, masalah saya adalah setiap kali mendengarkan ilmu, saya lupa, dan tidak ada yang tersisa dalam ingatan saya. Apa nasihat Anda untuk saya? Jazakumullahu khairan. Segala puji bagi Allah. Amma ba‘du. Manusia berbeda-beda dalam mencari ilmu. Tidak semua orang yang menuntut ilmu mampu menghafal setiap hal yang didengarnya. Namun pasti ada sedikit ilmu yang ia hafal. Ilmu itu dipelajari sedikit demi sedikit. Apabila ia mengulang-ulang ilmunya, ia akan hafal. Saya nasihatkan pula kepadanya untuk berusaha keras menghafal Al-Qur’an, karena kemampuan menghafal itu pada dasarnya adalah naluri. Dengan menghafal dan terus mengulanginya, hafalan akan semakin bertambah dan menguat. Siapa yang mencobanya akan mendapati bahwa menghafal Al-Qur’an menjadi jalan awal terbukanya kemampuan hafalan. Maka, jika penanya ini belum menghafal Al-Qur’an, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam menghafalnya. Sebab, di masa lalu, para ulama apabila didatangi seorang penuntut ilmu yang setiap hari mendatangi masjid dan belajar bersama para guru, apabila ia datang untuk menuntut ilmu, tetapi belum hafal Al-Qur’an, para ulama tersebut akan berkata: “Tidak boleh! Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian datanglah lagi.” Karena hafalan Al-Qur’an akan mematangkan penghafalnya. Karena itu, orang yang mencoba menghafal Al-Qur’an mendapati bahwa, misalnya, pada sepuluh juz pertama ia membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menghafal 2,5 halaman. Satu jam untuk menghafalnya dan tetap harus diulang-ulang lagi. Namun, pada 20 juz berikutnya, hafalan akan semakin mudah, hingga mungkin ia dapat menghafal 7,5 halaman atau setengah juz dalam sekali duduk, baik antara Magrib dan Isya maupun setelah Subuh. Ini benar-benar terjadi! Karena seiring dengan pembiasaan dan penerapan, kemampuan menghafal akan meningkat. Oleh karena itu, saya sarankan agar ia menghafal Al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, karena dengan izin Allah Ta’ala, ilmu akan terus bertambah dan hafalan akan semakin mudah, insya Allah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ وَرَفَع دَرَجَاتِكُمْ وَنَفَعَنَا بِعِلْمِكُمْ هَذَا سَائِلٌ يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَلَا لِي الرَّغْبَةُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَإِفَادَةِ غَيْرِي لَكِنْ مُشْكِلتي أَنَّنِي إِذَا سَمِعْتُ الْعِلْمَ أَنْسَاهُ وَلَا يَبْقَى فِي ذَاكِرَتِي مِنْهُ شَيْءٌ فَبِمَاذَا تَنْصَحُونَني وَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الْحَمْدُ لِلَّهِ وَبَعْدُ النَّاسُ يَتَفَاوَتُونَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَيْسَ كُلُّ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَارَ حَافِظًا لِكُلِّ مَا يَسْمَعُ لَكِنْ سَيَحْفَظُ شَيْئًا وَالْعِلْمُ يُؤْخَذُ شَيْئًا فَشَيْئًا فَإِذَا كَرَّرَ حَفِظَ وَأَنَا أُوْصِيْهِ بِأَنْ يَجْتَهِدَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ الْحِفْظَ غَرِيزَةٌ وَبِالْحِفْظِ وَتِكْرَارِ الْحِفْظِ تَزْدَادُ وَتَقْوَى وَمَنْ جَرَّبَ وَجَدَ أَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ بِهِ يَبْدَأُ الطَّرِيقُ فِي انْفِتَاحِ الْحَافِظِ فَالسَّائِلُ إِذَا كَانَ أَنَّهُ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْانَ فَلْيَجْتَهِدْ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِذَلِكَ كَانَ الْجَمْعُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا أَتَاهُمْ يَعْنِي فِي الزَّمَنِ الْقَدِيمِ لَمَّا كَانَ طَالِبُ الْعِلْمِ يَأْتِي لِلْمَسْجِدِ وَيُلَازِمُ الْمَشَايِخَ فِي كُلِّ الْيَوْمِ إِذَا أَتَى يُرِيدُ الْعِلْمَ وَهُوَ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا لَا اِحْفَظِ الْقُرْآنَ أَوَّلًا ثُمَّ ائْتِ لِأَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ يَفْتِقُ الْحَافِظَ لِهَذَا مَنْ جَرَّبَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ يَجِدُ أَنَّ مَثَلًا أَوَّلُ عَشْرَةَ أَجْزَاءٍ تَجِدُ يَجْلِسُ فِي الثُّمُنِ مَثَلًا سَاعَةً سَاعَةٌ يَحْفَظُ فِيهِ يَحْفَظُهُ ثُمَّ يَحْتَاجُ إِلَى تِكْرَارٍ لَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْعِشْرِينَ جُزْءِ الثَّانِيَةِ كُلَّمَا لَهُ يَسْهُلُ يَسْهُلُ حَتَّى رُبَّمَا حَفِظَ ثَلَاثَةَ أَثْمَانٍ أَوْ نِصْفَ جُزْءٍ فِي جَلْسَةٍ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْدَ الْفَجْرِ وَهَذَا وَاقِعٌ فَإِنَّ الْحَالَ مَعَ مُمَارَسَتِهَا وَاسْتِعْمَالِهَا تَزِيْدُ لِذَلِكَ أُوْصِيْهِ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَالِاجْتِهَادِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَزْدَادُ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْحِفْظَ يَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda, meninggikan derajat Anda, dan memberi manfaat kepada kami dengan ilmu Anda. Ada seorang penanya berkata: Wahai Syaikh, saya memiliki keinginan besar untuk menuntut ilmu dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun, masalah saya adalah setiap kali mendengarkan ilmu, saya lupa, dan tidak ada yang tersisa dalam ingatan saya. Apa nasihat Anda untuk saya? Jazakumullahu khairan. Segala puji bagi Allah. Amma ba‘du. Manusia berbeda-beda dalam mencari ilmu. Tidak semua orang yang menuntut ilmu mampu menghafal setiap hal yang didengarnya. Namun pasti ada sedikit ilmu yang ia hafal. Ilmu itu dipelajari sedikit demi sedikit. Apabila ia mengulang-ulang ilmunya, ia akan hafal. Saya nasihatkan pula kepadanya untuk berusaha keras menghafal Al-Qur’an, karena kemampuan menghafal itu pada dasarnya adalah naluri. Dengan menghafal dan terus mengulanginya, hafalan akan semakin bertambah dan menguat. Siapa yang mencobanya akan mendapati bahwa menghafal Al-Qur’an menjadi jalan awal terbukanya kemampuan hafalan. Maka, jika penanya ini belum menghafal Al-Qur’an, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam menghafalnya. Sebab, di masa lalu, para ulama apabila didatangi seorang penuntut ilmu yang setiap hari mendatangi masjid dan belajar bersama para guru, apabila ia datang untuk menuntut ilmu, tetapi belum hafal Al-Qur’an, para ulama tersebut akan berkata: “Tidak boleh! Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian datanglah lagi.” Karena hafalan Al-Qur’an akan mematangkan penghafalnya. Karena itu, orang yang mencoba menghafal Al-Qur’an mendapati bahwa, misalnya, pada sepuluh juz pertama ia membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menghafal 2,5 halaman. Satu jam untuk menghafalnya dan tetap harus diulang-ulang lagi. Namun, pada 20 juz berikutnya, hafalan akan semakin mudah, hingga mungkin ia dapat menghafal 7,5 halaman atau setengah juz dalam sekali duduk, baik antara Magrib dan Isya maupun setelah Subuh. Ini benar-benar terjadi! Karena seiring dengan pembiasaan dan penerapan, kemampuan menghafal akan meningkat. Oleh karena itu, saya sarankan agar ia menghafal Al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, karena dengan izin Allah Ta’ala, ilmu akan terus bertambah dan hafalan akan semakin mudah, insya Allah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ وَرَفَع دَرَجَاتِكُمْ وَنَفَعَنَا بِعِلْمِكُمْ هَذَا سَائِلٌ يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَلَا لِي الرَّغْبَةُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَإِفَادَةِ غَيْرِي لَكِنْ مُشْكِلتي أَنَّنِي إِذَا سَمِعْتُ الْعِلْمَ أَنْسَاهُ وَلَا يَبْقَى فِي ذَاكِرَتِي مِنْهُ شَيْءٌ فَبِمَاذَا تَنْصَحُونَني وَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الْحَمْدُ لِلَّهِ وَبَعْدُ النَّاسُ يَتَفَاوَتُونَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَيْسَ كُلُّ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَارَ حَافِظًا لِكُلِّ مَا يَسْمَعُ لَكِنْ سَيَحْفَظُ شَيْئًا وَالْعِلْمُ يُؤْخَذُ شَيْئًا فَشَيْئًا فَإِذَا كَرَّرَ حَفِظَ وَأَنَا أُوْصِيْهِ بِأَنْ يَجْتَهِدَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ الْحِفْظَ غَرِيزَةٌ وَبِالْحِفْظِ وَتِكْرَارِ الْحِفْظِ تَزْدَادُ وَتَقْوَى وَمَنْ جَرَّبَ وَجَدَ أَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ بِهِ يَبْدَأُ الطَّرِيقُ فِي انْفِتَاحِ الْحَافِظِ فَالسَّائِلُ إِذَا كَانَ أَنَّهُ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْانَ فَلْيَجْتَهِدْ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِذَلِكَ كَانَ الْجَمْعُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا أَتَاهُمْ يَعْنِي فِي الزَّمَنِ الْقَدِيمِ لَمَّا كَانَ طَالِبُ الْعِلْمِ يَأْتِي لِلْمَسْجِدِ وَيُلَازِمُ الْمَشَايِخَ فِي كُلِّ الْيَوْمِ إِذَا أَتَى يُرِيدُ الْعِلْمَ وَهُوَ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا لَا اِحْفَظِ الْقُرْآنَ أَوَّلًا ثُمَّ ائْتِ لِأَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ يَفْتِقُ الْحَافِظَ لِهَذَا مَنْ جَرَّبَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ يَجِدُ أَنَّ مَثَلًا أَوَّلُ عَشْرَةَ أَجْزَاءٍ تَجِدُ يَجْلِسُ فِي الثُّمُنِ مَثَلًا سَاعَةً سَاعَةٌ يَحْفَظُ فِيهِ يَحْفَظُهُ ثُمَّ يَحْتَاجُ إِلَى تِكْرَارٍ لَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْعِشْرِينَ جُزْءِ الثَّانِيَةِ كُلَّمَا لَهُ يَسْهُلُ يَسْهُلُ حَتَّى رُبَّمَا حَفِظَ ثَلَاثَةَ أَثْمَانٍ أَوْ نِصْفَ جُزْءٍ فِي جَلْسَةٍ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْدَ الْفَجْرِ وَهَذَا وَاقِعٌ فَإِنَّ الْحَالَ مَعَ مُمَارَسَتِهَا وَاسْتِعْمَالِهَا تَزِيْدُ لِذَلِكَ أُوْصِيْهِ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَالِاجْتِهَادِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَزْدَادُ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْحِفْظَ يَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ


Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda, meninggikan derajat Anda, dan memberi manfaat kepada kami dengan ilmu Anda. Ada seorang penanya berkata: Wahai Syaikh, saya memiliki keinginan besar untuk menuntut ilmu dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun, masalah saya adalah setiap kali mendengarkan ilmu, saya lupa, dan tidak ada yang tersisa dalam ingatan saya. Apa nasihat Anda untuk saya? Jazakumullahu khairan. Segala puji bagi Allah. Amma ba‘du. Manusia berbeda-beda dalam mencari ilmu. Tidak semua orang yang menuntut ilmu mampu menghafal setiap hal yang didengarnya. Namun pasti ada sedikit ilmu yang ia hafal. Ilmu itu dipelajari sedikit demi sedikit. Apabila ia mengulang-ulang ilmunya, ia akan hafal. Saya nasihatkan pula kepadanya untuk berusaha keras menghafal Al-Qur’an, karena kemampuan menghafal itu pada dasarnya adalah naluri. Dengan menghafal dan terus mengulanginya, hafalan akan semakin bertambah dan menguat. Siapa yang mencobanya akan mendapati bahwa menghafal Al-Qur’an menjadi jalan awal terbukanya kemampuan hafalan. Maka, jika penanya ini belum menghafal Al-Qur’an, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam menghafalnya. Sebab, di masa lalu, para ulama apabila didatangi seorang penuntut ilmu yang setiap hari mendatangi masjid dan belajar bersama para guru, apabila ia datang untuk menuntut ilmu, tetapi belum hafal Al-Qur’an, para ulama tersebut akan berkata: “Tidak boleh! Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian datanglah lagi.” Karena hafalan Al-Qur’an akan mematangkan penghafalnya. Karena itu, orang yang mencoba menghafal Al-Qur’an mendapati bahwa, misalnya, pada sepuluh juz pertama ia membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menghafal 2,5 halaman. Satu jam untuk menghafalnya dan tetap harus diulang-ulang lagi. Namun, pada 20 juz berikutnya, hafalan akan semakin mudah, hingga mungkin ia dapat menghafal 7,5 halaman atau setengah juz dalam sekali duduk, baik antara Magrib dan Isya maupun setelah Subuh. Ini benar-benar terjadi! Karena seiring dengan pembiasaan dan penerapan, kemampuan menghafal akan meningkat. Oleh karena itu, saya sarankan agar ia menghafal Al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, karena dengan izin Allah Ta’ala, ilmu akan terus bertambah dan hafalan akan semakin mudah, insya Allah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ وَرَفَع دَرَجَاتِكُمْ وَنَفَعَنَا بِعِلْمِكُمْ هَذَا سَائِلٌ يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ أَلَا لِي الرَّغْبَةُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَإِفَادَةِ غَيْرِي لَكِنْ مُشْكِلتي أَنَّنِي إِذَا سَمِعْتُ الْعِلْمَ أَنْسَاهُ وَلَا يَبْقَى فِي ذَاكِرَتِي مِنْهُ شَيْءٌ فَبِمَاذَا تَنْصَحُونَني وَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا الْحَمْدُ لِلَّهِ وَبَعْدُ النَّاسُ يَتَفَاوَتُونَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَيْسَ كُلُّ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَارَ حَافِظًا لِكُلِّ مَا يَسْمَعُ لَكِنْ سَيَحْفَظُ شَيْئًا وَالْعِلْمُ يُؤْخَذُ شَيْئًا فَشَيْئًا فَإِذَا كَرَّرَ حَفِظَ وَأَنَا أُوْصِيْهِ بِأَنْ يَجْتَهِدَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ الْحِفْظَ غَرِيزَةٌ وَبِالْحِفْظِ وَتِكْرَارِ الْحِفْظِ تَزْدَادُ وَتَقْوَى وَمَنْ جَرَّبَ وَجَدَ أَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ بِهِ يَبْدَأُ الطَّرِيقُ فِي انْفِتَاحِ الْحَافِظِ فَالسَّائِلُ إِذَا كَانَ أَنَّهُ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْانَ فَلْيَجْتَهِدْ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ لِذَلِكَ كَانَ الْجَمْعُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا أَتَاهُمْ يَعْنِي فِي الزَّمَنِ الْقَدِيمِ لَمَّا كَانَ طَالِبُ الْعِلْمِ يَأْتِي لِلْمَسْجِدِ وَيُلَازِمُ الْمَشَايِخَ فِي كُلِّ الْيَوْمِ إِذَا أَتَى يُرِيدُ الْعِلْمَ وَهُوَ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا لَا اِحْفَظِ الْقُرْآنَ أَوَّلًا ثُمَّ ائْتِ لِأَنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ يَفْتِقُ الْحَافِظَ لِهَذَا مَنْ جَرَّبَ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ يَجِدُ أَنَّ مَثَلًا أَوَّلُ عَشْرَةَ أَجْزَاءٍ تَجِدُ يَجْلِسُ فِي الثُّمُنِ مَثَلًا سَاعَةً سَاعَةٌ يَحْفَظُ فِيهِ يَحْفَظُهُ ثُمَّ يَحْتَاجُ إِلَى تِكْرَارٍ لَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْعِشْرِينَ جُزْءِ الثَّانِيَةِ كُلَّمَا لَهُ يَسْهُلُ يَسْهُلُ حَتَّى رُبَّمَا حَفِظَ ثَلَاثَةَ أَثْمَانٍ أَوْ نِصْفَ جُزْءٍ فِي جَلْسَةٍ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْدَ الْفَجْرِ وَهَذَا وَاقِعٌ فَإِنَّ الْحَالَ مَعَ مُمَارَسَتِهَا وَاسْتِعْمَالِهَا تَزِيْدُ لِذَلِكَ أُوْصِيْهِ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَالِاجْتِهَادِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَزْدَادُ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْحِفْظَ يَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Tanda Allah Ta’ala Mencintaimu

علامات محبة الله تعالى لك Oleh:  As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله الذي نوَّر بجميل هدايته قلوب أهل السعادة، وطهَّر بكريم ولايته أفئدة الصادقين، فأسكَن فيها ودادَه، ودعاها إلى ما سبق لها من عنايته، فأقبلت منقادة، الحميد المجيد الموصوف بالحياة والعلم والقدرة والإرادة، نحمَده على ما أَولى من فضل وأفاده، ونشكره معترفين بأن الشكر منه نعمة مستفادة، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد وهو على كل شيء قدير، شهادة أعدها من أكبر نعمه وعطائه، وأعدها وسيلة إلى يوم لقائه، وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه، الذي أقام به منابر الإيمان ورفع عماده، وأزال به سنان البهتان ودفع عناده. أحبتي في الله، موعدنا اليوم مع علامات محبة الله تعالى، تلك العلامات الدالة على حبه جلا جلاله لعبده، وليست العبرة أن تُحب ولكن العبرة أن تُحَبَّ…. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala yang telah menyinari hati orang-orang yang berbahagia dengan keindahan hidayah-Nya, dan menyucikan kalbu orang-orang yang tulus dengan kemuliaan kasih sayang-Nya, lalu menetapkan kecintaan-Nya dalam hati itu dan menyerunya menuju kasih sayang yang telah terlimpah kepadanya sebelumnya, sehingga hati itu menghadap kepada-Nya dengan tunduk dan taat. Dialah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia, Sang Pemilik sifat hidup, ilmu, kuasa, dan kehendak. Kita memuji-Nya atas karunia yang telah Dia berikan dan limpahkan, kita bersyukur kepada-Nya dengan pengikraran bahwa rasa syukur itu sendiri merupakan nikmat yang bermanfaat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Ta’ala semata, yang tidak punya sekutu, milik-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya seluruh pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala hal, kesaksian yang Dia tetapkan sebagai salah satu kenikmatan dan karunia terbesar dari-Nya, dan Dia siapkan sebagai bekal menuju hari perjumpaan dengan-Nya.  Saya juga bersaksi bahwa pemimpin, kekasih, dan pemberi syafaat kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, adalah seorang hamba Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta manusia pilihan-Nya dari seluruh makhluk dan kekasih-Nya. Dengan beliaulah Allah Ta’ala menegakkan tonggak keimanan, dan meninggikan tiang-tiangnya, serta melenyapkan taring kedustaan dan melawan perlawanannya. Saudara-saudaraku seiman! Pembahasan kita kali ini adalah tentang tanda-tanda kecintaan Allah Ta’ala. Ini merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, karena hal terpenting bukanlah kamu mencintai tapi yang terpenting kamu dicintai. من علامات محبة الله للعبد: الحمية من الدنيا: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ» أخرجه أحمد ح 23671، و الحاكم ح 7465، وقال الألباني ( صحيح )، انظر حديث رقم : 1814 في صحيح الجامع. فيحفَظه من متاع الدنيا ويحول بينه وبين نعيمها وشهواتها، ويقيه أن يتلوَّث بزهرتها؛ لئلا يمرض قلبُه بها وبمحبتها وممارستها، فالله عز وجل إنما يحميهم لعاقبة محمودة وأحوال سديدة مسعودة. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala bagi Seorang Hamba: Melindunginya dari Perkara Duniawi Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan melindungi hamba-Nya yang beriman —yang Dia cintai— dari dunia, sebagaimana kalian melindungi orang yang sakit dari kalian dari makanan dan minuman karena khawatir terhadapnya.” (HR. Ahmad no. 23671 dan Al-Hakim no. 7465. Al-Albani berkata bahwa hadis ini sahih. Lihat: Shahih Al-Jami no. 1814). Allah Ta’ala akan menjaganya dari kenikmatan dunia, membentengi dirinya dari kenikmatan dan syahwat-syahwatnya, dan melindunginya agar tidak ternodai oleh gemerlapnya, supaya hatinya tidak menjadi sakit akibat dunia, kecintaan kepadanya, dan tenggelam di dalamnya. Allah ‘Azza wa Jalla melindunginya dari itu semua tidak lain demi akhir yang baik baginya dan keadaan yang lurus dan bahagia. وقلَّ أن يقع إعطاءُ الدنيا وتوسعتها إلا استدراجًا من الله، لا إكرامًا ومحبه لمن أعطاه، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾ [الأنعام: 44] أخرجه أحمد ح 17349 وقال الألباني( صحيح ) انظر حديث رقم : 561 في صحيح الجامع. Hampir tidak ada pemberian dan pelapangan bagi seseorang dalam urusan duniawi melainkan sebagai istidraj dari Allah Ta’ala, bukan sebagai bentuk pemuliaan dan kecintaan bagi orang yang diberi. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ “Apabila kamu melihat Allah Ta’ala memberi kepada seorang hamba berupa perkara duniawi sesuai dengan yang ia inginkan, padahal ia selalu melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, maka tidak lain bahwa itu adalah istidraj.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat, “Lalu ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44). (HR. Ahmad no. 17349. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 561). ومن علامات محبة الله للعبد الابتلاء: من دلائل محبته أن يبتلك ليجتبيك ويقرِّبك منه ويدنيك، عَنْ أَنَسٍ عَنْ رَسُولِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «‌إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ» أخرجه الترمذي بعضه في الزهد باب (57) من طريق الليث – به، وقال حسن غريب، وانظر ابن ماجه الفتن باب (23)، والأوائل لابن أبي عاصم (146). فالله عز وجل إذا أحب عبدًا ابتلاه حتى يُمحصه من الذنوب، ويفرِّغ قلبه من الشغل بالدنيا غيرةً منه عليه، وصدق الله العظيم إذ يقول: ﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ ﴾ [محمد: 31]. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Memberi Cobaan Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala adalah Dia akan mengujimu untuk memilihmu dan mendekatkanmu kepada-Nya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang rida (dengan ujian itu) maka baginya keridhaan Allah Ta’ala, dan barang siapa yang murka (atas ujian itu) maka baginya kemurkaan Allah Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, sebagiannya disebutkan dalam pasal Az-Zuhd bab 57 dari jalur Al-Laits. Beliau berkata hadis ini hasan gharib. Lihat juga Sunan Ibnu Majah dalam pasal Al-Fitan bab 23. Permulaan hadisnya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim no. 146). Jadi, apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya hingga Dia membersihkannya dari dosa-dosa dan mengosongkan hatinya dari kesibukan dunia sebagai bentuk kecemburuan Allah Ta’ala kepadanya. Maha Benar Allah Ta’ala Yang Maha Agung yang telah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ “Sungguh, Kami benar-benar akan mengujimu sehingga mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu serta menampakkan (kebenaran) berita-berita (tentang) kamu.” (QS. Muhammad: 31). ومن علامات محبة الله للعبد: الموت على عمل صالح: أخي المسلم، ومن أمارات حبه إليك أن يوقفك إلى عمل صالح في آخر أيام حياتك ليقبضك عليه؛ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَمِقِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: «يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ»، أَوْ قَالَ: «مَنْ حَوْلَهُ» «صحيح الترغيب والترهيب» (3/ 311). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Mewafatkannya ketika Sedang Beramal Saleh Saudara Muslimku! Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala kepadamu juga adalah Dia memberimu taufik untuk beramal saleh pada saat-saat terakhir hidupmu agar Dia mencabut nyawamu dalam keadaan itu. Diriwayatkan dari Amru bin Al-Hamiq bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ أَوْ قَالَ: مَنْ حَوْلَهُ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikannya seperti madu.” Amru bin Al-Hamiq bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam! Apa yang dimaksud dengan menjadikannya seperti madu?” Beliau menjawab, “Memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum ajalnya, hingga para tetangganya —atau orang-orang di sekitarnya— meridhainya.” (Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib jilid 3 hlm. 311). وهناك علامات تدل على محبة العبد لربه؛ منها: محبة لقاء الله تعالى: فإنه لا يتصور أن يحب القلب محبوبًا إلا ويحب لقاءه ومشاهدته، عَنْ ‌عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ» البخاري 11/ 357 (6508)، ومسلم 4/ 2067 (2686).  فالمحب الصادق يذكر محبوبه والموعد الذي بينهما للقاء، ولا ينسى موعد لقاء حبيبه، فالموعد الأول: الموت، والموعد الثاني في يوم القيامة، أما الموعد الثالث، فهو اللقاء في الجنة والنظر إلى وجه الرب عز وجل. وصدق من قال: تعصي الإله وأنت تظهر حبَّه هذالعمري في القياس بديعُ  لو كان حبُّك صادقًا لأطعتَه إن المحبَّ لمن يُحب مطيع  Di sisi lain, ada beberapa tanda yang menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, di antaranya adalah Menyukai Perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Tidak dapat dibayangkan bahwa hati orang yang mencintai sesuatu melainkan ia pasti menyukai perjumpaan dengannya dan dapat melihatnya. Diriwayatkan dari Aisyah rRadhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ “Barang siapa yang menyukai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala menyukai perjumpaan dengannya, dan barang siapa yang benci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala juga benci perjumpaan dengannya.” Aku (Aisyah) lalu bertanya, “Wahai Nabi Allah Ta’ala! Apakah yang dimaksud adalah benci kematian? Kita semua benci kematian.” Beliau menjawab, “Tidak demikian, tapi apabila seorang Mukmin mendapat kabar gembira tentang rahmat Allah Ta’ala, keridhaan, dan surga-Nya, maka ia akan mencintai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala pun mencintai perjumpaan dengannya. Sedangkan orang kafir apabila mendapat kabar tentang azab dan kemurkaan Allah Ta’ala, maka ia akan membenci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, dan Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6508 dan Muslim no. 2686). Jadi, pencinta yang tulus akan mengingat siapa yang dicintainya dan mengingat jadwal perjumpaan antara mereka berdua. Dia tidak akan lupa waktu perjumpaan dengan siapa yang dia cintai, waktu pertama adalah ketika kematian, dan waktu kedua adalah pada Hari Kiamat. Sedangkan waktu ketiga adalah perjumpaan di surga dan kesempatan melihat-Nya ‘Azza wa Jalla. Benarlah yang dikatakan dalam syair: تَعْصِي الْإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ هَذَا لِعُمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيْعُ Kamu bermaksiat kepada Allah Ta’ala, tapi kamu menampakkan diri sebagai orang yang mencintai-Nya Ini sungguh hal yang di luar nalar akal لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ Kalaulah memang cintamu itu tulus, niscaya kamu akan taat kepada-Nya Karena sungguh orang yang mencintai akan taat kepada yang ia cintai من علامات حب الله تعالى للعبد: حب المؤمنين له،وبسط القبول له في الأرض، وبرهان ذلك قول الله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا ﴾[مريم: 96]؛ أي: «محبة في قلوب المؤمنين»، وروى أَبو هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ» أخرجه: البخاري 4/ 135 (3209)، ومسلم 8/ 40 (2637) (157). عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ قَالَ: «كُنَّا بِعَرَفَةَ، فَمَرَّ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ عَلَى الْمَوْسِمِ، فَقَامَ النَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ لِأَبِي: يَا أَبَتِ إِنِّي أَرَى اللهَ يُحِبُّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قُلْتُ: لِمَا لَهُ مِنَ الْحُبِّ فِي قُلُوبِ النَّاسِ» البخاري (3209)، ومسلم (2637). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Menjadikan Orang-Orang Beriman Mencintainya dan Diterima oleh Para Penduduk Bumi Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah Ta’ala) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta pada mereka.” (QS. Maryam: 96). Yakni kecintaan padanya dalam hati orang-orang beriman. Diriwayatkan dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi sShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menyeru kepada malaikat Jibril, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru para penghuni langit, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga para penghuni langit turut mencintainya. Kemudian dia dijadikan sebagai orang yang diterima di kalangan para penghuni bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 3209). Diriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih, ia menceritakan, “Dulu kami sedang berada di padang Arafah, lalu Umar bin Abdul Aziz berjalan di antara orang-orang. Mereka kemudian berdiri dan melihatnya. Aku pun berkata kepada ayahku, ‘Wahai ayah! Aku berpandangan bahwa Allah Ta’ala mencintai Umar bin Abdul Aziz.’ Ayahku bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Aku menjawab, ‘Karena rasa cinta padanya yang ada dalam hati manusia.’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 3209 dan Muslim no. 2637). قال الحسن: اعلم إنك لن تحبَّ الله حتى تحب طاعته، وقال بعضهم: كل من ادعى محبة الله ولم يوافق الله في أمره، فدعواه باطلة، وقال يحيى بن معاذ: ليس بصادقٍ من ادعى محبة الله ولم يحفَظ حدوده، وقال رويم: المحبة الموافقة في جميع الأحوال، وأنشد يقول: ولو قلت لي مُتْ مُتُّ سمعًا وطاعةً وقلت لداعي الموت أهلًا ومرحبَا Al-Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah bahwa kamu tidak akan mencintai Allah Ta’ala hingga kamu mencintai ketaatan kepada-Nya.” Seorang ulama berkata, “Setiap orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjalankan perintah-Nya, maka pengakuannya itu tidak benar.” Yahya bin Muadz berkata, “Tidak benar orang yang mengklaim kecintaan kepada Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjaga aturan-aturan-Nya.” Ruwaim berkata, “Cinta berarti menuruti (yang dicintai) dalam segala keadaan.” Kemudian ia menyenandungkan syair: وَلَوْ قُلْتَ لِي مُتْ مُتُّ سَمْعًا وَطَاعَةً وَقُلْتُ لِدَاعِي الْمَوْتِ أَهْلًا ومرحبَا Seandainya Engkau berfirman kepadaku “Matilah” niscaya aku akan mati sebagai bentuk ketaatan kepada-Mu Dan akan aku katakan kepada malaikat maut, “Selamat datang!” Sumber: https://www.alukah.net/علامات محبة الله تعالى لك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 691 times, 1 visit(s) today Post Views: 486 QRIS donasi Yufid

Tanda Allah Ta’ala Mencintaimu

علامات محبة الله تعالى لك Oleh:  As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله الذي نوَّر بجميل هدايته قلوب أهل السعادة، وطهَّر بكريم ولايته أفئدة الصادقين، فأسكَن فيها ودادَه، ودعاها إلى ما سبق لها من عنايته، فأقبلت منقادة، الحميد المجيد الموصوف بالحياة والعلم والقدرة والإرادة، نحمَده على ما أَولى من فضل وأفاده، ونشكره معترفين بأن الشكر منه نعمة مستفادة، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد وهو على كل شيء قدير، شهادة أعدها من أكبر نعمه وعطائه، وأعدها وسيلة إلى يوم لقائه، وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه، الذي أقام به منابر الإيمان ورفع عماده، وأزال به سنان البهتان ودفع عناده. أحبتي في الله، موعدنا اليوم مع علامات محبة الله تعالى، تلك العلامات الدالة على حبه جلا جلاله لعبده، وليست العبرة أن تُحب ولكن العبرة أن تُحَبَّ…. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala yang telah menyinari hati orang-orang yang berbahagia dengan keindahan hidayah-Nya, dan menyucikan kalbu orang-orang yang tulus dengan kemuliaan kasih sayang-Nya, lalu menetapkan kecintaan-Nya dalam hati itu dan menyerunya menuju kasih sayang yang telah terlimpah kepadanya sebelumnya, sehingga hati itu menghadap kepada-Nya dengan tunduk dan taat. Dialah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia, Sang Pemilik sifat hidup, ilmu, kuasa, dan kehendak. Kita memuji-Nya atas karunia yang telah Dia berikan dan limpahkan, kita bersyukur kepada-Nya dengan pengikraran bahwa rasa syukur itu sendiri merupakan nikmat yang bermanfaat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Ta’ala semata, yang tidak punya sekutu, milik-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya seluruh pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala hal, kesaksian yang Dia tetapkan sebagai salah satu kenikmatan dan karunia terbesar dari-Nya, dan Dia siapkan sebagai bekal menuju hari perjumpaan dengan-Nya.  Saya juga bersaksi bahwa pemimpin, kekasih, dan pemberi syafaat kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, adalah seorang hamba Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta manusia pilihan-Nya dari seluruh makhluk dan kekasih-Nya. Dengan beliaulah Allah Ta’ala menegakkan tonggak keimanan, dan meninggikan tiang-tiangnya, serta melenyapkan taring kedustaan dan melawan perlawanannya. Saudara-saudaraku seiman! Pembahasan kita kali ini adalah tentang tanda-tanda kecintaan Allah Ta’ala. Ini merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, karena hal terpenting bukanlah kamu mencintai tapi yang terpenting kamu dicintai. من علامات محبة الله للعبد: الحمية من الدنيا: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ» أخرجه أحمد ح 23671، و الحاكم ح 7465، وقال الألباني ( صحيح )، انظر حديث رقم : 1814 في صحيح الجامع. فيحفَظه من متاع الدنيا ويحول بينه وبين نعيمها وشهواتها، ويقيه أن يتلوَّث بزهرتها؛ لئلا يمرض قلبُه بها وبمحبتها وممارستها، فالله عز وجل إنما يحميهم لعاقبة محمودة وأحوال سديدة مسعودة. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala bagi Seorang Hamba: Melindunginya dari Perkara Duniawi Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan melindungi hamba-Nya yang beriman —yang Dia cintai— dari dunia, sebagaimana kalian melindungi orang yang sakit dari kalian dari makanan dan minuman karena khawatir terhadapnya.” (HR. Ahmad no. 23671 dan Al-Hakim no. 7465. Al-Albani berkata bahwa hadis ini sahih. Lihat: Shahih Al-Jami no. 1814). Allah Ta’ala akan menjaganya dari kenikmatan dunia, membentengi dirinya dari kenikmatan dan syahwat-syahwatnya, dan melindunginya agar tidak ternodai oleh gemerlapnya, supaya hatinya tidak menjadi sakit akibat dunia, kecintaan kepadanya, dan tenggelam di dalamnya. Allah ‘Azza wa Jalla melindunginya dari itu semua tidak lain demi akhir yang baik baginya dan keadaan yang lurus dan bahagia. وقلَّ أن يقع إعطاءُ الدنيا وتوسعتها إلا استدراجًا من الله، لا إكرامًا ومحبه لمن أعطاه، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾ [الأنعام: 44] أخرجه أحمد ح 17349 وقال الألباني( صحيح ) انظر حديث رقم : 561 في صحيح الجامع. Hampir tidak ada pemberian dan pelapangan bagi seseorang dalam urusan duniawi melainkan sebagai istidraj dari Allah Ta’ala, bukan sebagai bentuk pemuliaan dan kecintaan bagi orang yang diberi. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ “Apabila kamu melihat Allah Ta’ala memberi kepada seorang hamba berupa perkara duniawi sesuai dengan yang ia inginkan, padahal ia selalu melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, maka tidak lain bahwa itu adalah istidraj.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat, “Lalu ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44). (HR. Ahmad no. 17349. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 561). ومن علامات محبة الله للعبد الابتلاء: من دلائل محبته أن يبتلك ليجتبيك ويقرِّبك منه ويدنيك، عَنْ أَنَسٍ عَنْ رَسُولِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «‌إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ» أخرجه الترمذي بعضه في الزهد باب (57) من طريق الليث – به، وقال حسن غريب، وانظر ابن ماجه الفتن باب (23)، والأوائل لابن أبي عاصم (146). فالله عز وجل إذا أحب عبدًا ابتلاه حتى يُمحصه من الذنوب، ويفرِّغ قلبه من الشغل بالدنيا غيرةً منه عليه، وصدق الله العظيم إذ يقول: ﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ ﴾ [محمد: 31]. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Memberi Cobaan Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala adalah Dia akan mengujimu untuk memilihmu dan mendekatkanmu kepada-Nya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang rida (dengan ujian itu) maka baginya keridhaan Allah Ta’ala, dan barang siapa yang murka (atas ujian itu) maka baginya kemurkaan Allah Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, sebagiannya disebutkan dalam pasal Az-Zuhd bab 57 dari jalur Al-Laits. Beliau berkata hadis ini hasan gharib. Lihat juga Sunan Ibnu Majah dalam pasal Al-Fitan bab 23. Permulaan hadisnya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim no. 146). Jadi, apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya hingga Dia membersihkannya dari dosa-dosa dan mengosongkan hatinya dari kesibukan dunia sebagai bentuk kecemburuan Allah Ta’ala kepadanya. Maha Benar Allah Ta’ala Yang Maha Agung yang telah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ “Sungguh, Kami benar-benar akan mengujimu sehingga mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu serta menampakkan (kebenaran) berita-berita (tentang) kamu.” (QS. Muhammad: 31). ومن علامات محبة الله للعبد: الموت على عمل صالح: أخي المسلم، ومن أمارات حبه إليك أن يوقفك إلى عمل صالح في آخر أيام حياتك ليقبضك عليه؛ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَمِقِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: «يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ»، أَوْ قَالَ: «مَنْ حَوْلَهُ» «صحيح الترغيب والترهيب» (3/ 311). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Mewafatkannya ketika Sedang Beramal Saleh Saudara Muslimku! Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala kepadamu juga adalah Dia memberimu taufik untuk beramal saleh pada saat-saat terakhir hidupmu agar Dia mencabut nyawamu dalam keadaan itu. Diriwayatkan dari Amru bin Al-Hamiq bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ أَوْ قَالَ: مَنْ حَوْلَهُ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikannya seperti madu.” Amru bin Al-Hamiq bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam! Apa yang dimaksud dengan menjadikannya seperti madu?” Beliau menjawab, “Memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum ajalnya, hingga para tetangganya —atau orang-orang di sekitarnya— meridhainya.” (Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib jilid 3 hlm. 311). وهناك علامات تدل على محبة العبد لربه؛ منها: محبة لقاء الله تعالى: فإنه لا يتصور أن يحب القلب محبوبًا إلا ويحب لقاءه ومشاهدته، عَنْ ‌عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ» البخاري 11/ 357 (6508)، ومسلم 4/ 2067 (2686).  فالمحب الصادق يذكر محبوبه والموعد الذي بينهما للقاء، ولا ينسى موعد لقاء حبيبه، فالموعد الأول: الموت، والموعد الثاني في يوم القيامة، أما الموعد الثالث، فهو اللقاء في الجنة والنظر إلى وجه الرب عز وجل. وصدق من قال: تعصي الإله وأنت تظهر حبَّه هذالعمري في القياس بديعُ  لو كان حبُّك صادقًا لأطعتَه إن المحبَّ لمن يُحب مطيع  Di sisi lain, ada beberapa tanda yang menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, di antaranya adalah Menyukai Perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Tidak dapat dibayangkan bahwa hati orang yang mencintai sesuatu melainkan ia pasti menyukai perjumpaan dengannya dan dapat melihatnya. Diriwayatkan dari Aisyah rRadhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ “Barang siapa yang menyukai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala menyukai perjumpaan dengannya, dan barang siapa yang benci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala juga benci perjumpaan dengannya.” Aku (Aisyah) lalu bertanya, “Wahai Nabi Allah Ta’ala! Apakah yang dimaksud adalah benci kematian? Kita semua benci kematian.” Beliau menjawab, “Tidak demikian, tapi apabila seorang Mukmin mendapat kabar gembira tentang rahmat Allah Ta’ala, keridhaan, dan surga-Nya, maka ia akan mencintai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala pun mencintai perjumpaan dengannya. Sedangkan orang kafir apabila mendapat kabar tentang azab dan kemurkaan Allah Ta’ala, maka ia akan membenci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, dan Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6508 dan Muslim no. 2686). Jadi, pencinta yang tulus akan mengingat siapa yang dicintainya dan mengingat jadwal perjumpaan antara mereka berdua. Dia tidak akan lupa waktu perjumpaan dengan siapa yang dia cintai, waktu pertama adalah ketika kematian, dan waktu kedua adalah pada Hari Kiamat. Sedangkan waktu ketiga adalah perjumpaan di surga dan kesempatan melihat-Nya ‘Azza wa Jalla. Benarlah yang dikatakan dalam syair: تَعْصِي الْإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ هَذَا لِعُمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيْعُ Kamu bermaksiat kepada Allah Ta’ala, tapi kamu menampakkan diri sebagai orang yang mencintai-Nya Ini sungguh hal yang di luar nalar akal لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ Kalaulah memang cintamu itu tulus, niscaya kamu akan taat kepada-Nya Karena sungguh orang yang mencintai akan taat kepada yang ia cintai من علامات حب الله تعالى للعبد: حب المؤمنين له،وبسط القبول له في الأرض، وبرهان ذلك قول الله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا ﴾[مريم: 96]؛ أي: «محبة في قلوب المؤمنين»، وروى أَبو هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ» أخرجه: البخاري 4/ 135 (3209)، ومسلم 8/ 40 (2637) (157). عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ قَالَ: «كُنَّا بِعَرَفَةَ، فَمَرَّ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ عَلَى الْمَوْسِمِ، فَقَامَ النَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ لِأَبِي: يَا أَبَتِ إِنِّي أَرَى اللهَ يُحِبُّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قُلْتُ: لِمَا لَهُ مِنَ الْحُبِّ فِي قُلُوبِ النَّاسِ» البخاري (3209)، ومسلم (2637). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Menjadikan Orang-Orang Beriman Mencintainya dan Diterima oleh Para Penduduk Bumi Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah Ta’ala) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta pada mereka.” (QS. Maryam: 96). Yakni kecintaan padanya dalam hati orang-orang beriman. Diriwayatkan dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi sShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menyeru kepada malaikat Jibril, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru para penghuni langit, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga para penghuni langit turut mencintainya. Kemudian dia dijadikan sebagai orang yang diterima di kalangan para penghuni bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 3209). Diriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih, ia menceritakan, “Dulu kami sedang berada di padang Arafah, lalu Umar bin Abdul Aziz berjalan di antara orang-orang. Mereka kemudian berdiri dan melihatnya. Aku pun berkata kepada ayahku, ‘Wahai ayah! Aku berpandangan bahwa Allah Ta’ala mencintai Umar bin Abdul Aziz.’ Ayahku bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Aku menjawab, ‘Karena rasa cinta padanya yang ada dalam hati manusia.’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 3209 dan Muslim no. 2637). قال الحسن: اعلم إنك لن تحبَّ الله حتى تحب طاعته، وقال بعضهم: كل من ادعى محبة الله ولم يوافق الله في أمره، فدعواه باطلة، وقال يحيى بن معاذ: ليس بصادقٍ من ادعى محبة الله ولم يحفَظ حدوده، وقال رويم: المحبة الموافقة في جميع الأحوال، وأنشد يقول: ولو قلت لي مُتْ مُتُّ سمعًا وطاعةً وقلت لداعي الموت أهلًا ومرحبَا Al-Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah bahwa kamu tidak akan mencintai Allah Ta’ala hingga kamu mencintai ketaatan kepada-Nya.” Seorang ulama berkata, “Setiap orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjalankan perintah-Nya, maka pengakuannya itu tidak benar.” Yahya bin Muadz berkata, “Tidak benar orang yang mengklaim kecintaan kepada Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjaga aturan-aturan-Nya.” Ruwaim berkata, “Cinta berarti menuruti (yang dicintai) dalam segala keadaan.” Kemudian ia menyenandungkan syair: وَلَوْ قُلْتَ لِي مُتْ مُتُّ سَمْعًا وَطَاعَةً وَقُلْتُ لِدَاعِي الْمَوْتِ أَهْلًا ومرحبَا Seandainya Engkau berfirman kepadaku “Matilah” niscaya aku akan mati sebagai bentuk ketaatan kepada-Mu Dan akan aku katakan kepada malaikat maut, “Selamat datang!” Sumber: https://www.alukah.net/علامات محبة الله تعالى لك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 691 times, 1 visit(s) today Post Views: 486 QRIS donasi Yufid
علامات محبة الله تعالى لك Oleh:  As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله الذي نوَّر بجميل هدايته قلوب أهل السعادة، وطهَّر بكريم ولايته أفئدة الصادقين، فأسكَن فيها ودادَه، ودعاها إلى ما سبق لها من عنايته، فأقبلت منقادة، الحميد المجيد الموصوف بالحياة والعلم والقدرة والإرادة، نحمَده على ما أَولى من فضل وأفاده، ونشكره معترفين بأن الشكر منه نعمة مستفادة، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد وهو على كل شيء قدير، شهادة أعدها من أكبر نعمه وعطائه، وأعدها وسيلة إلى يوم لقائه، وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه، الذي أقام به منابر الإيمان ورفع عماده، وأزال به سنان البهتان ودفع عناده. أحبتي في الله، موعدنا اليوم مع علامات محبة الله تعالى، تلك العلامات الدالة على حبه جلا جلاله لعبده، وليست العبرة أن تُحب ولكن العبرة أن تُحَبَّ…. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala yang telah menyinari hati orang-orang yang berbahagia dengan keindahan hidayah-Nya, dan menyucikan kalbu orang-orang yang tulus dengan kemuliaan kasih sayang-Nya, lalu menetapkan kecintaan-Nya dalam hati itu dan menyerunya menuju kasih sayang yang telah terlimpah kepadanya sebelumnya, sehingga hati itu menghadap kepada-Nya dengan tunduk dan taat. Dialah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia, Sang Pemilik sifat hidup, ilmu, kuasa, dan kehendak. Kita memuji-Nya atas karunia yang telah Dia berikan dan limpahkan, kita bersyukur kepada-Nya dengan pengikraran bahwa rasa syukur itu sendiri merupakan nikmat yang bermanfaat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Ta’ala semata, yang tidak punya sekutu, milik-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya seluruh pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala hal, kesaksian yang Dia tetapkan sebagai salah satu kenikmatan dan karunia terbesar dari-Nya, dan Dia siapkan sebagai bekal menuju hari perjumpaan dengan-Nya.  Saya juga bersaksi bahwa pemimpin, kekasih, dan pemberi syafaat kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, adalah seorang hamba Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta manusia pilihan-Nya dari seluruh makhluk dan kekasih-Nya. Dengan beliaulah Allah Ta’ala menegakkan tonggak keimanan, dan meninggikan tiang-tiangnya, serta melenyapkan taring kedustaan dan melawan perlawanannya. Saudara-saudaraku seiman! Pembahasan kita kali ini adalah tentang tanda-tanda kecintaan Allah Ta’ala. Ini merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, karena hal terpenting bukanlah kamu mencintai tapi yang terpenting kamu dicintai. من علامات محبة الله للعبد: الحمية من الدنيا: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ» أخرجه أحمد ح 23671، و الحاكم ح 7465، وقال الألباني ( صحيح )، انظر حديث رقم : 1814 في صحيح الجامع. فيحفَظه من متاع الدنيا ويحول بينه وبين نعيمها وشهواتها، ويقيه أن يتلوَّث بزهرتها؛ لئلا يمرض قلبُه بها وبمحبتها وممارستها، فالله عز وجل إنما يحميهم لعاقبة محمودة وأحوال سديدة مسعودة. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala bagi Seorang Hamba: Melindunginya dari Perkara Duniawi Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan melindungi hamba-Nya yang beriman —yang Dia cintai— dari dunia, sebagaimana kalian melindungi orang yang sakit dari kalian dari makanan dan minuman karena khawatir terhadapnya.” (HR. Ahmad no. 23671 dan Al-Hakim no. 7465. Al-Albani berkata bahwa hadis ini sahih. Lihat: Shahih Al-Jami no. 1814). Allah Ta’ala akan menjaganya dari kenikmatan dunia, membentengi dirinya dari kenikmatan dan syahwat-syahwatnya, dan melindunginya agar tidak ternodai oleh gemerlapnya, supaya hatinya tidak menjadi sakit akibat dunia, kecintaan kepadanya, dan tenggelam di dalamnya. Allah ‘Azza wa Jalla melindunginya dari itu semua tidak lain demi akhir yang baik baginya dan keadaan yang lurus dan bahagia. وقلَّ أن يقع إعطاءُ الدنيا وتوسعتها إلا استدراجًا من الله، لا إكرامًا ومحبه لمن أعطاه، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾ [الأنعام: 44] أخرجه أحمد ح 17349 وقال الألباني( صحيح ) انظر حديث رقم : 561 في صحيح الجامع. Hampir tidak ada pemberian dan pelapangan bagi seseorang dalam urusan duniawi melainkan sebagai istidraj dari Allah Ta’ala, bukan sebagai bentuk pemuliaan dan kecintaan bagi orang yang diberi. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ “Apabila kamu melihat Allah Ta’ala memberi kepada seorang hamba berupa perkara duniawi sesuai dengan yang ia inginkan, padahal ia selalu melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, maka tidak lain bahwa itu adalah istidraj.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat, “Lalu ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44). (HR. Ahmad no. 17349. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 561). ومن علامات محبة الله للعبد الابتلاء: من دلائل محبته أن يبتلك ليجتبيك ويقرِّبك منه ويدنيك، عَنْ أَنَسٍ عَنْ رَسُولِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «‌إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ» أخرجه الترمذي بعضه في الزهد باب (57) من طريق الليث – به، وقال حسن غريب، وانظر ابن ماجه الفتن باب (23)، والأوائل لابن أبي عاصم (146). فالله عز وجل إذا أحب عبدًا ابتلاه حتى يُمحصه من الذنوب، ويفرِّغ قلبه من الشغل بالدنيا غيرةً منه عليه، وصدق الله العظيم إذ يقول: ﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ ﴾ [محمد: 31]. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Memberi Cobaan Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala adalah Dia akan mengujimu untuk memilihmu dan mendekatkanmu kepada-Nya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang rida (dengan ujian itu) maka baginya keridhaan Allah Ta’ala, dan barang siapa yang murka (atas ujian itu) maka baginya kemurkaan Allah Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, sebagiannya disebutkan dalam pasal Az-Zuhd bab 57 dari jalur Al-Laits. Beliau berkata hadis ini hasan gharib. Lihat juga Sunan Ibnu Majah dalam pasal Al-Fitan bab 23. Permulaan hadisnya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim no. 146). Jadi, apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya hingga Dia membersihkannya dari dosa-dosa dan mengosongkan hatinya dari kesibukan dunia sebagai bentuk kecemburuan Allah Ta’ala kepadanya. Maha Benar Allah Ta’ala Yang Maha Agung yang telah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ “Sungguh, Kami benar-benar akan mengujimu sehingga mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu serta menampakkan (kebenaran) berita-berita (tentang) kamu.” (QS. Muhammad: 31). ومن علامات محبة الله للعبد: الموت على عمل صالح: أخي المسلم، ومن أمارات حبه إليك أن يوقفك إلى عمل صالح في آخر أيام حياتك ليقبضك عليه؛ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَمِقِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: «يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ»، أَوْ قَالَ: «مَنْ حَوْلَهُ» «صحيح الترغيب والترهيب» (3/ 311). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Mewafatkannya ketika Sedang Beramal Saleh Saudara Muslimku! Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala kepadamu juga adalah Dia memberimu taufik untuk beramal saleh pada saat-saat terakhir hidupmu agar Dia mencabut nyawamu dalam keadaan itu. Diriwayatkan dari Amru bin Al-Hamiq bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ أَوْ قَالَ: مَنْ حَوْلَهُ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikannya seperti madu.” Amru bin Al-Hamiq bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam! Apa yang dimaksud dengan menjadikannya seperti madu?” Beliau menjawab, “Memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum ajalnya, hingga para tetangganya —atau orang-orang di sekitarnya— meridhainya.” (Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib jilid 3 hlm. 311). وهناك علامات تدل على محبة العبد لربه؛ منها: محبة لقاء الله تعالى: فإنه لا يتصور أن يحب القلب محبوبًا إلا ويحب لقاءه ومشاهدته، عَنْ ‌عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ» البخاري 11/ 357 (6508)، ومسلم 4/ 2067 (2686).  فالمحب الصادق يذكر محبوبه والموعد الذي بينهما للقاء، ولا ينسى موعد لقاء حبيبه، فالموعد الأول: الموت، والموعد الثاني في يوم القيامة، أما الموعد الثالث، فهو اللقاء في الجنة والنظر إلى وجه الرب عز وجل. وصدق من قال: تعصي الإله وأنت تظهر حبَّه هذالعمري في القياس بديعُ  لو كان حبُّك صادقًا لأطعتَه إن المحبَّ لمن يُحب مطيع  Di sisi lain, ada beberapa tanda yang menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, di antaranya adalah Menyukai Perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Tidak dapat dibayangkan bahwa hati orang yang mencintai sesuatu melainkan ia pasti menyukai perjumpaan dengannya dan dapat melihatnya. Diriwayatkan dari Aisyah rRadhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ “Barang siapa yang menyukai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala menyukai perjumpaan dengannya, dan barang siapa yang benci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala juga benci perjumpaan dengannya.” Aku (Aisyah) lalu bertanya, “Wahai Nabi Allah Ta’ala! Apakah yang dimaksud adalah benci kematian? Kita semua benci kematian.” Beliau menjawab, “Tidak demikian, tapi apabila seorang Mukmin mendapat kabar gembira tentang rahmat Allah Ta’ala, keridhaan, dan surga-Nya, maka ia akan mencintai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala pun mencintai perjumpaan dengannya. Sedangkan orang kafir apabila mendapat kabar tentang azab dan kemurkaan Allah Ta’ala, maka ia akan membenci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, dan Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6508 dan Muslim no. 2686). Jadi, pencinta yang tulus akan mengingat siapa yang dicintainya dan mengingat jadwal perjumpaan antara mereka berdua. Dia tidak akan lupa waktu perjumpaan dengan siapa yang dia cintai, waktu pertama adalah ketika kematian, dan waktu kedua adalah pada Hari Kiamat. Sedangkan waktu ketiga adalah perjumpaan di surga dan kesempatan melihat-Nya ‘Azza wa Jalla. Benarlah yang dikatakan dalam syair: تَعْصِي الْإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ هَذَا لِعُمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيْعُ Kamu bermaksiat kepada Allah Ta’ala, tapi kamu menampakkan diri sebagai orang yang mencintai-Nya Ini sungguh hal yang di luar nalar akal لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ Kalaulah memang cintamu itu tulus, niscaya kamu akan taat kepada-Nya Karena sungguh orang yang mencintai akan taat kepada yang ia cintai من علامات حب الله تعالى للعبد: حب المؤمنين له،وبسط القبول له في الأرض، وبرهان ذلك قول الله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا ﴾[مريم: 96]؛ أي: «محبة في قلوب المؤمنين»، وروى أَبو هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ» أخرجه: البخاري 4/ 135 (3209)، ومسلم 8/ 40 (2637) (157). عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ قَالَ: «كُنَّا بِعَرَفَةَ، فَمَرَّ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ عَلَى الْمَوْسِمِ، فَقَامَ النَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ لِأَبِي: يَا أَبَتِ إِنِّي أَرَى اللهَ يُحِبُّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قُلْتُ: لِمَا لَهُ مِنَ الْحُبِّ فِي قُلُوبِ النَّاسِ» البخاري (3209)، ومسلم (2637). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Menjadikan Orang-Orang Beriman Mencintainya dan Diterima oleh Para Penduduk Bumi Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah Ta’ala) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta pada mereka.” (QS. Maryam: 96). Yakni kecintaan padanya dalam hati orang-orang beriman. Diriwayatkan dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi sShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menyeru kepada malaikat Jibril, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru para penghuni langit, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga para penghuni langit turut mencintainya. Kemudian dia dijadikan sebagai orang yang diterima di kalangan para penghuni bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 3209). Diriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih, ia menceritakan, “Dulu kami sedang berada di padang Arafah, lalu Umar bin Abdul Aziz berjalan di antara orang-orang. Mereka kemudian berdiri dan melihatnya. Aku pun berkata kepada ayahku, ‘Wahai ayah! Aku berpandangan bahwa Allah Ta’ala mencintai Umar bin Abdul Aziz.’ Ayahku bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Aku menjawab, ‘Karena rasa cinta padanya yang ada dalam hati manusia.’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 3209 dan Muslim no. 2637). قال الحسن: اعلم إنك لن تحبَّ الله حتى تحب طاعته، وقال بعضهم: كل من ادعى محبة الله ولم يوافق الله في أمره، فدعواه باطلة، وقال يحيى بن معاذ: ليس بصادقٍ من ادعى محبة الله ولم يحفَظ حدوده، وقال رويم: المحبة الموافقة في جميع الأحوال، وأنشد يقول: ولو قلت لي مُتْ مُتُّ سمعًا وطاعةً وقلت لداعي الموت أهلًا ومرحبَا Al-Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah bahwa kamu tidak akan mencintai Allah Ta’ala hingga kamu mencintai ketaatan kepada-Nya.” Seorang ulama berkata, “Setiap orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjalankan perintah-Nya, maka pengakuannya itu tidak benar.” Yahya bin Muadz berkata, “Tidak benar orang yang mengklaim kecintaan kepada Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjaga aturan-aturan-Nya.” Ruwaim berkata, “Cinta berarti menuruti (yang dicintai) dalam segala keadaan.” Kemudian ia menyenandungkan syair: وَلَوْ قُلْتَ لِي مُتْ مُتُّ سَمْعًا وَطَاعَةً وَقُلْتُ لِدَاعِي الْمَوْتِ أَهْلًا ومرحبَا Seandainya Engkau berfirman kepadaku “Matilah” niscaya aku akan mati sebagai bentuk ketaatan kepada-Mu Dan akan aku katakan kepada malaikat maut, “Selamat datang!” Sumber: https://www.alukah.net/علامات محبة الله تعالى لك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 691 times, 1 visit(s) today Post Views: 486 QRIS donasi Yufid


علامات محبة الله تعالى لك Oleh:  As-Sayyid Murad Salamah السيد مراد سلامة الحمد لله الذي نوَّر بجميل هدايته قلوب أهل السعادة، وطهَّر بكريم ولايته أفئدة الصادقين، فأسكَن فيها ودادَه، ودعاها إلى ما سبق لها من عنايته، فأقبلت منقادة، الحميد المجيد الموصوف بالحياة والعلم والقدرة والإرادة، نحمَده على ما أَولى من فضل وأفاده، ونشكره معترفين بأن الشكر منه نعمة مستفادة، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد وهو على كل شيء قدير، شهادة أعدها من أكبر نعمه وعطائه، وأعدها وسيلة إلى يوم لقائه، وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمدًا عبد الله ورسوله وصفيه من خلقه وحبيبه، الذي أقام به منابر الإيمان ورفع عماده، وأزال به سنان البهتان ودفع عناده. أحبتي في الله، موعدنا اليوم مع علامات محبة الله تعالى، تلك العلامات الدالة على حبه جلا جلاله لعبده، وليست العبرة أن تُحب ولكن العبرة أن تُحَبَّ…. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala yang telah menyinari hati orang-orang yang berbahagia dengan keindahan hidayah-Nya, dan menyucikan kalbu orang-orang yang tulus dengan kemuliaan kasih sayang-Nya, lalu menetapkan kecintaan-Nya dalam hati itu dan menyerunya menuju kasih sayang yang telah terlimpah kepadanya sebelumnya, sehingga hati itu menghadap kepada-Nya dengan tunduk dan taat. Dialah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia, Sang Pemilik sifat hidup, ilmu, kuasa, dan kehendak. Kita memuji-Nya atas karunia yang telah Dia berikan dan limpahkan, kita bersyukur kepada-Nya dengan pengikraran bahwa rasa syukur itu sendiri merupakan nikmat yang bermanfaat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Ta’ala semata, yang tidak punya sekutu, milik-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya seluruh pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala hal, kesaksian yang Dia tetapkan sebagai salah satu kenikmatan dan karunia terbesar dari-Nya, dan Dia siapkan sebagai bekal menuju hari perjumpaan dengan-Nya.  Saya juga bersaksi bahwa pemimpin, kekasih, dan pemberi syafaat kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, adalah seorang hamba Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta manusia pilihan-Nya dari seluruh makhluk dan kekasih-Nya. Dengan beliaulah Allah Ta’ala menegakkan tonggak keimanan, dan meninggikan tiang-tiangnya, serta melenyapkan taring kedustaan dan melawan perlawanannya. Saudara-saudaraku seiman! Pembahasan kita kali ini adalah tentang tanda-tanda kecintaan Allah Ta’ala. Ini merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, karena hal terpenting bukanlah kamu mencintai tapi yang terpenting kamu dicintai. من علامات محبة الله للعبد: الحمية من الدنيا: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ» أخرجه أحمد ح 23671، و الحاكم ح 7465، وقال الألباني ( صحيح )، انظر حديث رقم : 1814 في صحيح الجامع. فيحفَظه من متاع الدنيا ويحول بينه وبين نعيمها وشهواتها، ويقيه أن يتلوَّث بزهرتها؛ لئلا يمرض قلبُه بها وبمحبتها وممارستها، فالله عز وجل إنما يحميهم لعاقبة محمودة وأحوال سديدة مسعودة. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala bagi Seorang Hamba: Melindunginya dari Perkara Duniawi Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ ‌تَعَالَى ‌لَيَحْمِي ‌عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ، كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan melindungi hamba-Nya yang beriman —yang Dia cintai— dari dunia, sebagaimana kalian melindungi orang yang sakit dari kalian dari makanan dan minuman karena khawatir terhadapnya.” (HR. Ahmad no. 23671 dan Al-Hakim no. 7465. Al-Albani berkata bahwa hadis ini sahih. Lihat: Shahih Al-Jami no. 1814). Allah Ta’ala akan menjaganya dari kenikmatan dunia, membentengi dirinya dari kenikmatan dan syahwat-syahwatnya, dan melindunginya agar tidak ternodai oleh gemerlapnya, supaya hatinya tidak menjadi sakit akibat dunia, kecintaan kepadanya, dan tenggelam di dalamnya. Allah ‘Azza wa Jalla melindunginya dari itu semua tidak lain demi akhir yang baik baginya dan keadaan yang lurus dan bahagia. وقلَّ أن يقع إعطاءُ الدنيا وتوسعتها إلا استدراجًا من الله، لا إكرامًا ومحبه لمن أعطاه، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾ [الأنعام: 44] أخرجه أحمد ح 17349 وقال الألباني( صحيح ) انظر حديث رقم : 561 في صحيح الجامع. Hampir tidak ada pemberian dan pelapangan bagi seseorang dalam urusan duniawi melainkan sebagai istidraj dari Allah Ta’ala, bukan sebagai bentuk pemuliaan dan kecintaan bagi orang yang diberi. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ ‌الدُّنْيَا ‌عَلَى ‌مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ “Apabila kamu melihat Allah Ta’ala memberi kepada seorang hamba berupa perkara duniawi sesuai dengan yang ia inginkan, padahal ia selalu melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, maka tidak lain bahwa itu adalah istidraj.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat, “Lalu ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44). (HR. Ahmad no. 17349. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 561). ومن علامات محبة الله للعبد الابتلاء: من دلائل محبته أن يبتلك ليجتبيك ويقرِّبك منه ويدنيك، عَنْ أَنَسٍ عَنْ رَسُولِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «‌إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ» أخرجه الترمذي بعضه في الزهد باب (57) من طريق الليث – به، وقال حسن غريب، وانظر ابن ماجه الفتن باب (23)، والأوائل لابن أبي عاصم (146). فالله عز وجل إذا أحب عبدًا ابتلاه حتى يُمحصه من الذنوب، ويفرِّغ قلبه من الشغل بالدنيا غيرةً منه عليه، وصدق الله العظيم إذ يقول: ﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ ﴾ [محمد: 31]. Di antara Tanda Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Memberi Cobaan Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala adalah Dia akan mengujimu untuk memilihmu dan mendekatkanmu kepada-Nya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: إِنَّ ‌عِظَمَ ‌الْجَزَاءِ ‌مَعَ ‌عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang rida (dengan ujian itu) maka baginya keridhaan Allah Ta’ala, dan barang siapa yang murka (atas ujian itu) maka baginya kemurkaan Allah Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, sebagiannya disebutkan dalam pasal Az-Zuhd bab 57 dari jalur Al-Laits. Beliau berkata hadis ini hasan gharib. Lihat juga Sunan Ibnu Majah dalam pasal Al-Fitan bab 23. Permulaan hadisnya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim no. 146). Jadi, apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya hingga Dia membersihkannya dari dosa-dosa dan mengosongkan hatinya dari kesibukan dunia sebagai bentuk kecemburuan Allah Ta’ala kepadanya. Maha Benar Allah Ta’ala Yang Maha Agung yang telah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ ‌أَخْبَارَكُمْ “Sungguh, Kami benar-benar akan mengujimu sehingga mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu serta menampakkan (kebenaran) berita-berita (tentang) kamu.” (QS. Muhammad: 31). ومن علامات محبة الله للعبد: الموت على عمل صالح: أخي المسلم، ومن أمارات حبه إليك أن يوقفك إلى عمل صالح في آخر أيام حياتك ليقبضك عليه؛ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَمِقِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: «يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ»، أَوْ قَالَ: «مَنْ حَوْلَهُ» «صحيح الترغيب والترهيب» (3/ 311). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Mewafatkannya ketika Sedang Beramal Saleh Saudara Muslimku! Di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala kepadamu juga adalah Dia memberimu taufik untuk beramal saleh pada saat-saat terakhir hidupmu agar Dia mencabut nyawamu dalam keadaan itu. Diriwayatkan dari Amru bin Al-Hamiq bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ ‌اللَّهُ ‌عَبْدًا ‌عَسَلَهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا عَسَلَهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا بَيْنَ يَدَيْ أَجَلِهِ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ جِيرَانُهُ أَوْ قَالَ: مَنْ حَوْلَهُ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikannya seperti madu.” Amru bin Al-Hamiq bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam! Apa yang dimaksud dengan menjadikannya seperti madu?” Beliau menjawab, “Memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum ajalnya, hingga para tetangganya —atau orang-orang di sekitarnya— meridhainya.” (Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib jilid 3 hlm. 311). وهناك علامات تدل على محبة العبد لربه؛ منها: محبة لقاء الله تعالى: فإنه لا يتصور أن يحب القلب محبوبًا إلا ويحب لقاءه ومشاهدته، عَنْ ‌عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ» البخاري 11/ 357 (6508)، ومسلم 4/ 2067 (2686).  فالمحب الصادق يذكر محبوبه والموعد الذي بينهما للقاء، ولا ينسى موعد لقاء حبيبه، فالموعد الأول: الموت، والموعد الثاني في يوم القيامة، أما الموعد الثالث، فهو اللقاء في الجنة والنظر إلى وجه الرب عز وجل. وصدق من قال: تعصي الإله وأنت تظهر حبَّه هذالعمري في القياس بديعُ  لو كان حبُّك صادقًا لأطعتَه إن المحبَّ لمن يُحب مطيع  Di sisi lain, ada beberapa tanda yang menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, di antaranya adalah Menyukai Perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Tidak dapat dibayangkan bahwa hati orang yang mencintai sesuatu melainkan ia pasti menyukai perjumpaan dengannya dan dapat melihatnya. Diriwayatkan dari Aisyah rRadhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ ‌أَحَبَّ ‌لِقَاءَ ‌اللهِ ‌أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ؟ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذَلِكَ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ، أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ “Barang siapa yang menyukai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala menyukai perjumpaan dengannya, dan barang siapa yang benci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala juga benci perjumpaan dengannya.” Aku (Aisyah) lalu bertanya, “Wahai Nabi Allah Ta’ala! Apakah yang dimaksud adalah benci kematian? Kita semua benci kematian.” Beliau menjawab, “Tidak demikian, tapi apabila seorang Mukmin mendapat kabar gembira tentang rahmat Allah Ta’ala, keridhaan, dan surga-Nya, maka ia akan mencintai perjumpaan dengan Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala pun mencintai perjumpaan dengannya. Sedangkan orang kafir apabila mendapat kabar tentang azab dan kemurkaan Allah Ta’ala, maka ia akan membenci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, dan Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6508 dan Muslim no. 2686). Jadi, pencinta yang tulus akan mengingat siapa yang dicintainya dan mengingat jadwal perjumpaan antara mereka berdua. Dia tidak akan lupa waktu perjumpaan dengan siapa yang dia cintai, waktu pertama adalah ketika kematian, dan waktu kedua adalah pada Hari Kiamat. Sedangkan waktu ketiga adalah perjumpaan di surga dan kesempatan melihat-Nya ‘Azza wa Jalla. Benarlah yang dikatakan dalam syair: تَعْصِي الْإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ هَذَا لِعُمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيْعُ Kamu bermaksiat kepada Allah Ta’ala, tapi kamu menampakkan diri sebagai orang yang mencintai-Nya Ini sungguh hal yang di luar nalar akal لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ Kalaulah memang cintamu itu tulus, niscaya kamu akan taat kepada-Nya Karena sungguh orang yang mencintai akan taat kepada yang ia cintai من علامات حب الله تعالى للعبد: حب المؤمنين له،وبسط القبول له في الأرض، وبرهان ذلك قول الله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا ﴾[مريم: 96]؛ أي: «محبة في قلوب المؤمنين»، وروى أَبو هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ» أخرجه: البخاري 4/ 135 (3209)، ومسلم 8/ 40 (2637) (157). عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ قَالَ: «كُنَّا بِعَرَفَةَ، فَمَرَّ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ عَلَى الْمَوْسِمِ، فَقَامَ النَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ لِأَبِي: يَا أَبَتِ إِنِّي أَرَى اللهَ يُحِبُّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قُلْتُ: لِمَا لَهُ مِنَ الْحُبِّ فِي قُلُوبِ النَّاسِ» البخاري (3209)، ومسلم (2637). Di antara Tanda Lain Kecintaan Allah Ta’ala kepada Seorang Hamba: Menjadikan Orang-Orang Beriman Mencintainya dan Diterima oleh Para Penduduk Bumi Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah Ta’ala) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta pada mereka.” (QS. Maryam: 96). Yakni kecintaan padanya dalam hati orang-orang beriman. Diriwayatkan dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi sShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia akan menyeru kepada malaikat Jibril, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru para penghuni langit, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ Sehingga para penghuni langit turut mencintainya. Kemudian dia dijadikan sebagai orang yang diterima di kalangan para penghuni bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 3209). Diriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih, ia menceritakan, “Dulu kami sedang berada di padang Arafah, lalu Umar bin Abdul Aziz berjalan di antara orang-orang. Mereka kemudian berdiri dan melihatnya. Aku pun berkata kepada ayahku, ‘Wahai ayah! Aku berpandangan bahwa Allah Ta’ala mencintai Umar bin Abdul Aziz.’ Ayahku bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Aku menjawab, ‘Karena rasa cinta padanya yang ada dalam hati manusia.’” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 3209 dan Muslim no. 2637). قال الحسن: اعلم إنك لن تحبَّ الله حتى تحب طاعته، وقال بعضهم: كل من ادعى محبة الله ولم يوافق الله في أمره، فدعواه باطلة، وقال يحيى بن معاذ: ليس بصادقٍ من ادعى محبة الله ولم يحفَظ حدوده، وقال رويم: المحبة الموافقة في جميع الأحوال، وأنشد يقول: ولو قلت لي مُتْ مُتُّ سمعًا وطاعةً وقلت لداعي الموت أهلًا ومرحبَا Al-Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah bahwa kamu tidak akan mencintai Allah Ta’ala hingga kamu mencintai ketaatan kepada-Nya.” Seorang ulama berkata, “Setiap orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjalankan perintah-Nya, maka pengakuannya itu tidak benar.” Yahya bin Muadz berkata, “Tidak benar orang yang mengklaim kecintaan kepada Allah Ta’ala, sedangkan ia tidak menjaga aturan-aturan-Nya.” Ruwaim berkata, “Cinta berarti menuruti (yang dicintai) dalam segala keadaan.” Kemudian ia menyenandungkan syair: وَلَوْ قُلْتَ لِي مُتْ مُتُّ سَمْعًا وَطَاعَةً وَقُلْتُ لِدَاعِي الْمَوْتِ أَهْلًا ومرحبَا Seandainya Engkau berfirman kepadaku “Matilah” niscaya aku akan mati sebagai bentuk ketaatan kepada-Mu Dan akan aku katakan kepada malaikat maut, “Selamat datang!” Sumber: https://www.alukah.net/علامات محبة الله تعالى لك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 691 times, 1 visit(s) today Post Views: 486 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 22): Mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim (Lanjutan)

Daftar Isi ToggleLanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimKeempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Lanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimPada bagian ini, pembahasan akan dilanjutkan mengenai contoh-contoh isim yang tergolong mulhaq jamak mudzakkar sālim. Ibnu Hisyam memberikan beberapa contoh isim yang termasuk dalam kategori ini, berikut penjelasannya:Keempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kata بَنُونَ  adalah bentuk jama’ dari kata ٱبْنٌ  yang berarti seorang anak laki-laki. Namun, bentuk jama’-nya ini tidak mengikuti pola jamak mudzakkar salim secara asli, melainkan melalui pola khusus yang disebut mulhaq (diserupakan). Perubahan yang terjadi pada kata tersebut adalah dihapusnya huruf hamzah dari bentuk mufrad-nya, dan huruf baa (ب) menjadi berharakat fathah. Tanda i‘rab pada kata ini mengikuti tanda jama’ mudzakkar salim, yaitu waw (و) ketika marfu‘, dan yaa‘ (ي) ketika manshub atau majrur. Oleh karena itu, kata بَنُونَ  digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah At-tur ayat 39:اَمْ لَهُ الْبَنٰتُ وَلَكُمُ الْبَنُوْنَۗ“Apakah (pantas) bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?”Kata ٱلۡبَنُونَ dalam ayat di atas berkedudukan sebagai mubtada’ mu’akhkhar marfu‘ dengan tanda waw (و).Surah An-Nahl ayat 72:وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً“Menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu.”Kata بَنِينَ dalam ayat ini berfungsi sebagai maf‘ul bih manshub dari fi‘il جَعَلَ, dengan tanda manshub yaitu huruf yaa (ي).Contoh lainya dalam surah Asy-Syu‘ara’ ayat 133:اَمَدَّكُمْ بِاَنْعَامٍ وَّبَنِيْنَۙ“Dia (Allah) telah menganugerahkan hewan ternak dan anak-anak kepadamu.”Kata بَنِينَ  dalam ayat ini berkedudukan sebagai majrur karena dimasukkan oleh huruf jer baa’ (بِ), dan tanda majrur-nya adalah huruf yaa’ (ي).Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Kata عِلِّيُّونَ adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi. Meskipun berasal dari bentuk jama’, akan tetapi kata tersebut digunakan sebagai nama tempat tunggal, sehingga digolongkan sebagai mulhaq jamak mudzakkar salim.Contoh penerapa dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah Al-Muthaffifin ayat 18–19:كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَوَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyin itu?”Pada ayat ke-18, kata عِلِّيِّينَ  berkedudukan sebagai majrur dengan tanda huruf yaa’ (ي). Sedangkan pada ayat ke-19, kata عِلِّيُّونَ (‘illiyyūna) adalah khabar mubtada dari ma istifham dengan tanda marfu‘ yaitu waw (و). Huruf ma istifham tersebut berkedudukan sebagai mubtada’.Kata yang mirip dengan عِلِّيُّونَ adalah زَيْدُونَ. Kata زَيْدُونَ  secara bentuk merupakan jama’, namun digunakan sebagai nama untuk satu orang yang bernama Zaid. Meskipun bentuknya jama’, maknanya tetap tunggal, sehingga tetap digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh dalam kalimat sebagai berikut:هَذَا زَيْدُونَ“Ini adalah (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”رَأَيْتُ زَيْدِينَ“Aku telah melihat (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”مَرَرْتُ بِزَيْدِينَ“Aku telah berpapasan dengan (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”Namun, jika kata زَيْدُونَ  digunakan untuk menyebut banyak orang yang memang bernama Zaid, maka kata tersebut tidak lagi termasuk mulhaq jamak mudzakkar salim, melainkan termasuk jama’ mudzakkar salim haqiqi (jama’ yang sebenarnya).Contoh-contoh kata yang telah disebutkan di atas termasuk dalam kategori mulhaq jamak mudzakkar salim, karena i‘rab-nya menggunakan huruf waw (و) ketika marfu‘, dan huruf yaa’ (ي) ketika manshub atau majrur, meskipun bentuk dan maknanya tidak sepenuhnya memenuhi syarat jama’ mudzakkar salim haqiqi.[Bersambung]Kembali ke bagian 21 Lanjut ke bagian 23***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 22): Mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim (Lanjutan)

Daftar Isi ToggleLanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimKeempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Lanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimPada bagian ini, pembahasan akan dilanjutkan mengenai contoh-contoh isim yang tergolong mulhaq jamak mudzakkar sālim. Ibnu Hisyam memberikan beberapa contoh isim yang termasuk dalam kategori ini, berikut penjelasannya:Keempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kata بَنُونَ  adalah bentuk jama’ dari kata ٱبْنٌ  yang berarti seorang anak laki-laki. Namun, bentuk jama’-nya ini tidak mengikuti pola jamak mudzakkar salim secara asli, melainkan melalui pola khusus yang disebut mulhaq (diserupakan). Perubahan yang terjadi pada kata tersebut adalah dihapusnya huruf hamzah dari bentuk mufrad-nya, dan huruf baa (ب) menjadi berharakat fathah. Tanda i‘rab pada kata ini mengikuti tanda jama’ mudzakkar salim, yaitu waw (و) ketika marfu‘, dan yaa‘ (ي) ketika manshub atau majrur. Oleh karena itu, kata بَنُونَ  digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah At-tur ayat 39:اَمْ لَهُ الْبَنٰتُ وَلَكُمُ الْبَنُوْنَۗ“Apakah (pantas) bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?”Kata ٱلۡبَنُونَ dalam ayat di atas berkedudukan sebagai mubtada’ mu’akhkhar marfu‘ dengan tanda waw (و).Surah An-Nahl ayat 72:وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً“Menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu.”Kata بَنِينَ dalam ayat ini berfungsi sebagai maf‘ul bih manshub dari fi‘il جَعَلَ, dengan tanda manshub yaitu huruf yaa (ي).Contoh lainya dalam surah Asy-Syu‘ara’ ayat 133:اَمَدَّكُمْ بِاَنْعَامٍ وَّبَنِيْنَۙ“Dia (Allah) telah menganugerahkan hewan ternak dan anak-anak kepadamu.”Kata بَنِينَ  dalam ayat ini berkedudukan sebagai majrur karena dimasukkan oleh huruf jer baa’ (بِ), dan tanda majrur-nya adalah huruf yaa’ (ي).Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Kata عِلِّيُّونَ adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi. Meskipun berasal dari bentuk jama’, akan tetapi kata tersebut digunakan sebagai nama tempat tunggal, sehingga digolongkan sebagai mulhaq jamak mudzakkar salim.Contoh penerapa dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah Al-Muthaffifin ayat 18–19:كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَوَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyin itu?”Pada ayat ke-18, kata عِلِّيِّينَ  berkedudukan sebagai majrur dengan tanda huruf yaa’ (ي). Sedangkan pada ayat ke-19, kata عِلِّيُّونَ (‘illiyyūna) adalah khabar mubtada dari ma istifham dengan tanda marfu‘ yaitu waw (و). Huruf ma istifham tersebut berkedudukan sebagai mubtada’.Kata yang mirip dengan عِلِّيُّونَ adalah زَيْدُونَ. Kata زَيْدُونَ  secara bentuk merupakan jama’, namun digunakan sebagai nama untuk satu orang yang bernama Zaid. Meskipun bentuknya jama’, maknanya tetap tunggal, sehingga tetap digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh dalam kalimat sebagai berikut:هَذَا زَيْدُونَ“Ini adalah (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”رَأَيْتُ زَيْدِينَ“Aku telah melihat (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”مَرَرْتُ بِزَيْدِينَ“Aku telah berpapasan dengan (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”Namun, jika kata زَيْدُونَ  digunakan untuk menyebut banyak orang yang memang bernama Zaid, maka kata tersebut tidak lagi termasuk mulhaq jamak mudzakkar salim, melainkan termasuk jama’ mudzakkar salim haqiqi (jama’ yang sebenarnya).Contoh-contoh kata yang telah disebutkan di atas termasuk dalam kategori mulhaq jamak mudzakkar salim, karena i‘rab-nya menggunakan huruf waw (و) ketika marfu‘, dan huruf yaa’ (ي) ketika manshub atau majrur, meskipun bentuk dan maknanya tidak sepenuhnya memenuhi syarat jama’ mudzakkar salim haqiqi.[Bersambung]Kembali ke bagian 21 Lanjut ke bagian 23***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleLanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimKeempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Lanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimPada bagian ini, pembahasan akan dilanjutkan mengenai contoh-contoh isim yang tergolong mulhaq jamak mudzakkar sālim. Ibnu Hisyam memberikan beberapa contoh isim yang termasuk dalam kategori ini, berikut penjelasannya:Keempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kata بَنُونَ  adalah bentuk jama’ dari kata ٱبْنٌ  yang berarti seorang anak laki-laki. Namun, bentuk jama’-nya ini tidak mengikuti pola jamak mudzakkar salim secara asli, melainkan melalui pola khusus yang disebut mulhaq (diserupakan). Perubahan yang terjadi pada kata tersebut adalah dihapusnya huruf hamzah dari bentuk mufrad-nya, dan huruf baa (ب) menjadi berharakat fathah. Tanda i‘rab pada kata ini mengikuti tanda jama’ mudzakkar salim, yaitu waw (و) ketika marfu‘, dan yaa‘ (ي) ketika manshub atau majrur. Oleh karena itu, kata بَنُونَ  digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah At-tur ayat 39:اَمْ لَهُ الْبَنٰتُ وَلَكُمُ الْبَنُوْنَۗ“Apakah (pantas) bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?”Kata ٱلۡبَنُونَ dalam ayat di atas berkedudukan sebagai mubtada’ mu’akhkhar marfu‘ dengan tanda waw (و).Surah An-Nahl ayat 72:وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً“Menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu.”Kata بَنِينَ dalam ayat ini berfungsi sebagai maf‘ul bih manshub dari fi‘il جَعَلَ, dengan tanda manshub yaitu huruf yaa (ي).Contoh lainya dalam surah Asy-Syu‘ara’ ayat 133:اَمَدَّكُمْ بِاَنْعَامٍ وَّبَنِيْنَۙ“Dia (Allah) telah menganugerahkan hewan ternak dan anak-anak kepadamu.”Kata بَنِينَ  dalam ayat ini berkedudukan sebagai majrur karena dimasukkan oleh huruf jer baa’ (بِ), dan tanda majrur-nya adalah huruf yaa’ (ي).Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Kata عِلِّيُّونَ adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi. Meskipun berasal dari bentuk jama’, akan tetapi kata tersebut digunakan sebagai nama tempat tunggal, sehingga digolongkan sebagai mulhaq jamak mudzakkar salim.Contoh penerapa dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah Al-Muthaffifin ayat 18–19:كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَوَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyin itu?”Pada ayat ke-18, kata عِلِّيِّينَ  berkedudukan sebagai majrur dengan tanda huruf yaa’ (ي). Sedangkan pada ayat ke-19, kata عِلِّيُّونَ (‘illiyyūna) adalah khabar mubtada dari ma istifham dengan tanda marfu‘ yaitu waw (و). Huruf ma istifham tersebut berkedudukan sebagai mubtada’.Kata yang mirip dengan عِلِّيُّونَ adalah زَيْدُونَ. Kata زَيْدُونَ  secara bentuk merupakan jama’, namun digunakan sebagai nama untuk satu orang yang bernama Zaid. Meskipun bentuknya jama’, maknanya tetap tunggal, sehingga tetap digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh dalam kalimat sebagai berikut:هَذَا زَيْدُونَ“Ini adalah (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”رَأَيْتُ زَيْدِينَ“Aku telah melihat (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”مَرَرْتُ بِزَيْدِينَ“Aku telah berpapasan dengan (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”Namun, jika kata زَيْدُونَ  digunakan untuk menyebut banyak orang yang memang bernama Zaid, maka kata tersebut tidak lagi termasuk mulhaq jamak mudzakkar salim, melainkan termasuk jama’ mudzakkar salim haqiqi (jama’ yang sebenarnya).Contoh-contoh kata yang telah disebutkan di atas termasuk dalam kategori mulhaq jamak mudzakkar salim, karena i‘rab-nya menggunakan huruf waw (و) ketika marfu‘, dan huruf yaa’ (ي) ketika manshub atau majrur, meskipun bentuk dan maknanya tidak sepenuhnya memenuhi syarat jama’ mudzakkar salim haqiqi.[Bersambung]Kembali ke bagian 21 Lanjut ke bagian 23***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleLanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimKeempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Lanjutan pembahasan contoh-contoh Mulhaq Jama’ Mudzakkar SalimPada bagian ini, pembahasan akan dilanjutkan mengenai contoh-contoh isim yang tergolong mulhaq jamak mudzakkar sālim. Ibnu Hisyam memberikan beberapa contoh isim yang termasuk dalam kategori ini, berikut penjelasannya:Keempat: بَنُونَ  (anak-anak laki-laki)Kata بَنُونَ  adalah bentuk jama’ dari kata ٱبْنٌ  yang berarti seorang anak laki-laki. Namun, bentuk jama’-nya ini tidak mengikuti pola jamak mudzakkar salim secara asli, melainkan melalui pola khusus yang disebut mulhaq (diserupakan). Perubahan yang terjadi pada kata tersebut adalah dihapusnya huruf hamzah dari bentuk mufrad-nya, dan huruf baa (ب) menjadi berharakat fathah. Tanda i‘rab pada kata ini mengikuti tanda jama’ mudzakkar salim, yaitu waw (و) ketika marfu‘, dan yaa‘ (ي) ketika manshub atau majrur. Oleh karena itu, kata بَنُونَ  digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah At-tur ayat 39:اَمْ لَهُ الْبَنٰتُ وَلَكُمُ الْبَنُوْنَۗ“Apakah (pantas) bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?”Kata ٱلۡبَنُونَ dalam ayat di atas berkedudukan sebagai mubtada’ mu’akhkhar marfu‘ dengan tanda waw (و).Surah An-Nahl ayat 72:وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً“Menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu.”Kata بَنِينَ dalam ayat ini berfungsi sebagai maf‘ul bih manshub dari fi‘il جَعَلَ, dengan tanda manshub yaitu huruf yaa (ي).Contoh lainya dalam surah Asy-Syu‘ara’ ayat 133:اَمَدَّكُمْ بِاَنْعَامٍ وَّبَنِيْنَۙ“Dia (Allah) telah menganugerahkan hewan ternak dan anak-anak kepadamu.”Kata بَنِينَ  dalam ayat ini berkedudukan sebagai majrur karena dimasukkan oleh huruf jer baa’ (بِ), dan tanda majrur-nya adalah huruf yaa’ (ي).Kelima: عِلِّيُّونَ  (Nama surga paling tinggi)Kata عِلِّيُّونَ adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi. Meskipun berasal dari bentuk jama’, akan tetapi kata tersebut digunakan sebagai nama tempat tunggal, sehingga digolongkan sebagai mulhaq jamak mudzakkar salim.Contoh penerapa dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:Surah Al-Muthaffifin ayat 18–19:كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَوَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyin itu?”Pada ayat ke-18, kata عِلِّيِّينَ  berkedudukan sebagai majrur dengan tanda huruf yaa’ (ي). Sedangkan pada ayat ke-19, kata عِلِّيُّونَ (‘illiyyūna) adalah khabar mubtada dari ma istifham dengan tanda marfu‘ yaitu waw (و). Huruf ma istifham tersebut berkedudukan sebagai mubtada’.Kata yang mirip dengan عِلِّيُّونَ adalah زَيْدُونَ. Kata زَيْدُونَ  secara bentuk merupakan jama’, namun digunakan sebagai nama untuk satu orang yang bernama Zaid. Meskipun bentuknya jama’, maknanya tetap tunggal, sehingga tetap digolongkan sebagai mulhaq jama’ mudzakkar salim.Contoh dalam kalimat sebagai berikut:هَذَا زَيْدُونَ“Ini adalah (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”رَأَيْتُ زَيْدِينَ“Aku telah melihat (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”مَرَرْتُ بِزَيْدِينَ“Aku telah berpapasan dengan (seorang laki-laki) yang bernama Zaid.”Namun, jika kata زَيْدُونَ  digunakan untuk menyebut banyak orang yang memang bernama Zaid, maka kata tersebut tidak lagi termasuk mulhaq jamak mudzakkar salim, melainkan termasuk jama’ mudzakkar salim haqiqi (jama’ yang sebenarnya).Contoh-contoh kata yang telah disebutkan di atas termasuk dalam kategori mulhaq jamak mudzakkar salim, karena i‘rab-nya menggunakan huruf waw (و) ketika marfu‘, dan huruf yaa’ (ي) ketika manshub atau majrur, meskipun bentuk dan maknanya tidak sepenuhnya memenuhi syarat jama’ mudzakkar salim haqiqi.[Bersambung]Kembali ke bagian 21 Lanjut ke bagian 23***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Bahaya Pornografi bagi Seorang Muslim

Daftar Isi TogglePandangan pertama, awal petakaRusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupIslam memberi jalan kembaliGenerasi yang terancamSaat ini, tidak ada yang lebih mudah diakses daripada konten yang merusak jiwa. Satu klik, satu tautan, atau bahkan satu bisikan dari teman sebaya bisa membawa seorang anak kecil masuk ke dalam dunia kelam yang bernama pornografi. Namun, banyak dari kita masih menganggap hal ini sebagai masalah sepele, atau hanya masalah “anak-anak muda”. Padahal, inilah bom waktu yang menghancurkan dari dalam, perlahan namun pasti.Sebuah kenyataan yang mengerikan kini terungkap: anak-anak semuda 8–9 tahun sudah mulai terpapar konten pornografi. Dan yang lebih tragis, banyak dari mereka bahkan tidak mencarinya secara sengaja. Mereka melihatnya dari teman sekolah, dari perangkat yang ditinggal terbuka, atau bahkan dari orang-orang dewasa di sekitar mereka. Dari titik inilah, banyak kehidupan mulai berubah arah—menuju jurang kenistaan yang sulit dipanjat kembali.Apakah ini hanya soal “syahwat” yang lepas kendali? Ataukah ini adalah sebuah perang ideologis yang membidik generasi Muslim dari akar keimanan mereka? Mengapa pengaruh pornografi bisa begitu besar hingga mengubah cara pandang seorang laki-laki terhadap perempuan, terhadap pernikahan, bahkan terhadap makna tanggung jawab hidup itu sendiri?Pandangan pertama, awal petakaTidak semua yang memulai menonton pornografi adalah orang yang “niat”. Banyak dari mereka hanya korban—korban dari sistem yang lalai dan lingkungan yang permisif. Namun, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً  ؕ وَسَآءَ سَبِيۡلًا‏“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Larangan yang datang bukan hanya pada perbuatannya, tetapi pada semua jalan yang mengarah ke sana. Dan layar smartphone hari ini telah menjadi jalan tol menuju kemaksiatan, bahkan sebelum seseorang balig.Seorang anak kecil mungkin hanya membuka tautan yang diberikan teman. Namun dalam waktu singkat, ia bisa terjerat dalam kebiasaan yang membentuk ulang pikirannya. Dopamin—zat kimia di otak yang memberi rasa senang—dilepaskan dalam kadar berlebih saat melihat konten pornografi. Sebuah kenikmatan palsu yang membuat otak ingin mengulanginya terus-menerus, bahkan jika harus merusak harga dirinya.Dari sinilah muncul kecanduan. Apa yang dulu cukup dengan satu video, lama-lama menjadi tidak memuaskan. Mereka mencari konten yang lebih ekstrem, lebih vulgar, lebih menyimpang. Ini bukan lagi soal “penasaran”, tapi tentang sistem yang memaksa tubuh dan jiwa untuk menuruti hawa nafsu tanpa batas. Sama seperti narkoba: sekali masuk, sulit untuk keluar; dan saat sadar, semuanya telah berubah.Di sinilah peran lingkungan sangat menentukan. Orang tua, guru, bahkan teman sebaya bisa menjadi penyebab atau penyelamat. Seorang anak yang sejak kecil tak diajarkan rasa malu, tak dikenalkan dengan pengawasan Allah, dan tak diberi proteksi dari paparan dunia digital, akan lebih mudah terperosok ke dalam lubang dosa yang dalam ini. Dan sayangnya, banyak yang tidak pernah kembali.Rusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupRasulullah ﷺ bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafaz hadis di atas milik Muslim)Dampak dari pornografi merasuk ke dalam cara seseorang memandang lawan jenis, mengubah wanita menjadi sekadar objek dan mengubah pernikahan menjadi ladang penyaluran nafsu semata. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa membangun rumah tangga yang sakinah jika sejak awal ia terbiasa dengan “pasangan” digital yang tidak pernah menuntut, tidak pernah marah, dan selalu sempurna?Pornografi menciptakan fantasi. Fantasi itu kemudian menjadi standar. Ketika kenyataan tidak seindah fantasi, timbul ketidakpuasan. Akhirnya, wanita halal yang dinikahi dengan mahar dan doa pun terasa hambar. Ia dibandingkan dengan bayangan maya, yang bahkan tak pernah hidup.Lebih jauh lagi, para pecandu pornografi cenderung menjadi pribadi yang pasif, tidak memiliki ambisi hidup, dan kehilangan rasa tanggung jawab. Mereka lebih nyaman menghindari realitas dan tenggelam dalam dunia maya yang memberinya pelarian instan. Maka jangan heran jika banyak pemuda Muslim hari ini terlihat lulus kuliah, punya gelar, tapi tak mampu memimpin, tak bisa membangun komunikasi yang sehat, bahkan tak sanggup memikul amanah keluarga.Padahal Islam mengajarkan kita untuk menjadi qawwam, pemimpin dalam rumah dan masyarakat. Laki-laki yang seharusnya melindungi, justru menjadi beban. Laki-laki yang seharusnya menjaga kehormatan, justru menjadi pelanggar kehormatan itu sendiri. Dan semuanya bermula dari satu hal yang tampak remeh: pandangan mata yang tak dijaga.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca juga: Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami IstriIslam memberi jalan kembaliKabar baiknya, Islam tidak membiarkan umatnya tenggelam tanpa arah. Islam memberikan solusi, bukan hanya larangan. Rasulullah ﷺ bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, maka hendaklah dia menikah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.” (HR. Bukhari no. 1905, 5065, 5066, dan Muslim no. 1905, dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Pernikahan adalah solusi, bukan beban. Sebuah jalan halal untuk menyalurkan fitrah, bukan penjara yang membatasi kebebasan.Namun, pernikahan bukan satu-satunya solusi. Inti dari semuanya adalah kesadaran bahwa hidup ini punya tujuan. Bahwa setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Bahwa setiap pandangan, setiap klik, akan disaksikan oleh Allah Ta’ala. Hal inilah yang membuat seorang Muslim berhenti dari maksiat, bukan karena takut reputasi hancur, tapi karena takut kepada Rabb-nya yang Maha Mengetahui. Di antaranya adalah dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Bimbingan agama harus menjadi fondasi utama dalam upaya keluar dari jeratan pornografi. Tanpa keyakinan akan hari kebangkitan, maka semua larangan akan terasa sewenang-wenang. Tapi ketika kita yakin bahwa setiap amal akan dibalas, maka menjaga diri dari dosa menjadi bagian dari persiapan menuju akhirat. Tanpa iman, semua nasihat hanya terdengar seperti moralitas kosong.Jangan menunda tobat. Jangan menunggu “siap”. Karena kecanduan ini akan terus mencengkeram jika tidak diputus dengan tekad kuat dan pertolongan Allah Ta’ala. Ganti layar dengan mushaf. Ganti waktu sepi dengan sujud di malam hari. Ganti fantasi dengan realita indah dalam pernikahan yang diridai. Insya Allah, siapa pun yang ingin berubah, pasti Allah Ta’ala akan beri jalan.Generasi yang terancamSaudaraku, kita sedang menghadapi ujian besar dalam sejarah umat ini. Pornografi bukan hanya ancaman bagi individu, tapi bagi keberlangsungan generasi Muslim. Jika laki-laki kehilangan izzah-nya, kehilangan kemampuannya untuk menjaga diri, lalu siapa yang akan menjadi imam di rumah dan pemimpin di masyarakat? Jika wanita hanya dilihat sebagai objek, bagaimana mungkin mereka bisa dimuliakan sebagaimana perintah Allah?Mari kita sadari, bahwa pornografi ini adalah musibah nyata yang menggerogoti akhlak, menghancurkan cita-cita, dan membunuh produktivitas. Kita tak bisa terus menutup mata. Kita harus mulai bicara, mulai mendidik, mulai menanamkan kesadaran sejak dini. Dan yang terpenting, kita harus mulai dari diri sendiri.Jika Anda membaca tulisan ini dan merasa bahwa Anda termasuk yang sedang terjerat, ketahuilah: tidak ada kata terlambat untuk kembali. Malu kepada manusia tidak akan menyelamatkan kita, tetapi malu kepada Allah akan memuliakan kita. Mari kita bangun kembali benteng kehormatan ini—dengan ilmu, dengan iman, dan dengan komunitas yang saling menguatkan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ“Hendaklah kalian malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” Perawi mengatakan, “Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu (walhamdulillah).’” Rasulullah bersabda, “Bukan seperti itu. Tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah hendaklah dia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, hendaklah dia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah dia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah dia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” (HR. Tirmidzi, hasan)Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, dan generasi umat ini dari fitnah yang merusak, serta menjadikan kita pemuda-pemudi yang menjaga pandangan, memuliakan pernikahan, dan mengemban amanah sebagai khalifah di bumi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Nasihat untuk yang Masih Gemar Melihat Foto dan Video Porno***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bahaya Pornografi bagi Seorang Muslim

Daftar Isi TogglePandangan pertama, awal petakaRusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupIslam memberi jalan kembaliGenerasi yang terancamSaat ini, tidak ada yang lebih mudah diakses daripada konten yang merusak jiwa. Satu klik, satu tautan, atau bahkan satu bisikan dari teman sebaya bisa membawa seorang anak kecil masuk ke dalam dunia kelam yang bernama pornografi. Namun, banyak dari kita masih menganggap hal ini sebagai masalah sepele, atau hanya masalah “anak-anak muda”. Padahal, inilah bom waktu yang menghancurkan dari dalam, perlahan namun pasti.Sebuah kenyataan yang mengerikan kini terungkap: anak-anak semuda 8–9 tahun sudah mulai terpapar konten pornografi. Dan yang lebih tragis, banyak dari mereka bahkan tidak mencarinya secara sengaja. Mereka melihatnya dari teman sekolah, dari perangkat yang ditinggal terbuka, atau bahkan dari orang-orang dewasa di sekitar mereka. Dari titik inilah, banyak kehidupan mulai berubah arah—menuju jurang kenistaan yang sulit dipanjat kembali.Apakah ini hanya soal “syahwat” yang lepas kendali? Ataukah ini adalah sebuah perang ideologis yang membidik generasi Muslim dari akar keimanan mereka? Mengapa pengaruh pornografi bisa begitu besar hingga mengubah cara pandang seorang laki-laki terhadap perempuan, terhadap pernikahan, bahkan terhadap makna tanggung jawab hidup itu sendiri?Pandangan pertama, awal petakaTidak semua yang memulai menonton pornografi adalah orang yang “niat”. Banyak dari mereka hanya korban—korban dari sistem yang lalai dan lingkungan yang permisif. Namun, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً  ؕ وَسَآءَ سَبِيۡلًا‏“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Larangan yang datang bukan hanya pada perbuatannya, tetapi pada semua jalan yang mengarah ke sana. Dan layar smartphone hari ini telah menjadi jalan tol menuju kemaksiatan, bahkan sebelum seseorang balig.Seorang anak kecil mungkin hanya membuka tautan yang diberikan teman. Namun dalam waktu singkat, ia bisa terjerat dalam kebiasaan yang membentuk ulang pikirannya. Dopamin—zat kimia di otak yang memberi rasa senang—dilepaskan dalam kadar berlebih saat melihat konten pornografi. Sebuah kenikmatan palsu yang membuat otak ingin mengulanginya terus-menerus, bahkan jika harus merusak harga dirinya.Dari sinilah muncul kecanduan. Apa yang dulu cukup dengan satu video, lama-lama menjadi tidak memuaskan. Mereka mencari konten yang lebih ekstrem, lebih vulgar, lebih menyimpang. Ini bukan lagi soal “penasaran”, tapi tentang sistem yang memaksa tubuh dan jiwa untuk menuruti hawa nafsu tanpa batas. Sama seperti narkoba: sekali masuk, sulit untuk keluar; dan saat sadar, semuanya telah berubah.Di sinilah peran lingkungan sangat menentukan. Orang tua, guru, bahkan teman sebaya bisa menjadi penyebab atau penyelamat. Seorang anak yang sejak kecil tak diajarkan rasa malu, tak dikenalkan dengan pengawasan Allah, dan tak diberi proteksi dari paparan dunia digital, akan lebih mudah terperosok ke dalam lubang dosa yang dalam ini. Dan sayangnya, banyak yang tidak pernah kembali.Rusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupRasulullah ﷺ bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafaz hadis di atas milik Muslim)Dampak dari pornografi merasuk ke dalam cara seseorang memandang lawan jenis, mengubah wanita menjadi sekadar objek dan mengubah pernikahan menjadi ladang penyaluran nafsu semata. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa membangun rumah tangga yang sakinah jika sejak awal ia terbiasa dengan “pasangan” digital yang tidak pernah menuntut, tidak pernah marah, dan selalu sempurna?Pornografi menciptakan fantasi. Fantasi itu kemudian menjadi standar. Ketika kenyataan tidak seindah fantasi, timbul ketidakpuasan. Akhirnya, wanita halal yang dinikahi dengan mahar dan doa pun terasa hambar. Ia dibandingkan dengan bayangan maya, yang bahkan tak pernah hidup.Lebih jauh lagi, para pecandu pornografi cenderung menjadi pribadi yang pasif, tidak memiliki ambisi hidup, dan kehilangan rasa tanggung jawab. Mereka lebih nyaman menghindari realitas dan tenggelam dalam dunia maya yang memberinya pelarian instan. Maka jangan heran jika banyak pemuda Muslim hari ini terlihat lulus kuliah, punya gelar, tapi tak mampu memimpin, tak bisa membangun komunikasi yang sehat, bahkan tak sanggup memikul amanah keluarga.Padahal Islam mengajarkan kita untuk menjadi qawwam, pemimpin dalam rumah dan masyarakat. Laki-laki yang seharusnya melindungi, justru menjadi beban. Laki-laki yang seharusnya menjaga kehormatan, justru menjadi pelanggar kehormatan itu sendiri. Dan semuanya bermula dari satu hal yang tampak remeh: pandangan mata yang tak dijaga.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca juga: Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami IstriIslam memberi jalan kembaliKabar baiknya, Islam tidak membiarkan umatnya tenggelam tanpa arah. Islam memberikan solusi, bukan hanya larangan. Rasulullah ﷺ bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, maka hendaklah dia menikah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.” (HR. Bukhari no. 1905, 5065, 5066, dan Muslim no. 1905, dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Pernikahan adalah solusi, bukan beban. Sebuah jalan halal untuk menyalurkan fitrah, bukan penjara yang membatasi kebebasan.Namun, pernikahan bukan satu-satunya solusi. Inti dari semuanya adalah kesadaran bahwa hidup ini punya tujuan. Bahwa setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Bahwa setiap pandangan, setiap klik, akan disaksikan oleh Allah Ta’ala. Hal inilah yang membuat seorang Muslim berhenti dari maksiat, bukan karena takut reputasi hancur, tapi karena takut kepada Rabb-nya yang Maha Mengetahui. Di antaranya adalah dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Bimbingan agama harus menjadi fondasi utama dalam upaya keluar dari jeratan pornografi. Tanpa keyakinan akan hari kebangkitan, maka semua larangan akan terasa sewenang-wenang. Tapi ketika kita yakin bahwa setiap amal akan dibalas, maka menjaga diri dari dosa menjadi bagian dari persiapan menuju akhirat. Tanpa iman, semua nasihat hanya terdengar seperti moralitas kosong.Jangan menunda tobat. Jangan menunggu “siap”. Karena kecanduan ini akan terus mencengkeram jika tidak diputus dengan tekad kuat dan pertolongan Allah Ta’ala. Ganti layar dengan mushaf. Ganti waktu sepi dengan sujud di malam hari. Ganti fantasi dengan realita indah dalam pernikahan yang diridai. Insya Allah, siapa pun yang ingin berubah, pasti Allah Ta’ala akan beri jalan.Generasi yang terancamSaudaraku, kita sedang menghadapi ujian besar dalam sejarah umat ini. Pornografi bukan hanya ancaman bagi individu, tapi bagi keberlangsungan generasi Muslim. Jika laki-laki kehilangan izzah-nya, kehilangan kemampuannya untuk menjaga diri, lalu siapa yang akan menjadi imam di rumah dan pemimpin di masyarakat? Jika wanita hanya dilihat sebagai objek, bagaimana mungkin mereka bisa dimuliakan sebagaimana perintah Allah?Mari kita sadari, bahwa pornografi ini adalah musibah nyata yang menggerogoti akhlak, menghancurkan cita-cita, dan membunuh produktivitas. Kita tak bisa terus menutup mata. Kita harus mulai bicara, mulai mendidik, mulai menanamkan kesadaran sejak dini. Dan yang terpenting, kita harus mulai dari diri sendiri.Jika Anda membaca tulisan ini dan merasa bahwa Anda termasuk yang sedang terjerat, ketahuilah: tidak ada kata terlambat untuk kembali. Malu kepada manusia tidak akan menyelamatkan kita, tetapi malu kepada Allah akan memuliakan kita. Mari kita bangun kembali benteng kehormatan ini—dengan ilmu, dengan iman, dan dengan komunitas yang saling menguatkan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ“Hendaklah kalian malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” Perawi mengatakan, “Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu (walhamdulillah).’” Rasulullah bersabda, “Bukan seperti itu. Tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah hendaklah dia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, hendaklah dia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah dia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah dia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” (HR. Tirmidzi, hasan)Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, dan generasi umat ini dari fitnah yang merusak, serta menjadikan kita pemuda-pemudi yang menjaga pandangan, memuliakan pernikahan, dan mengemban amanah sebagai khalifah di bumi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Nasihat untuk yang Masih Gemar Melihat Foto dan Video Porno***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePandangan pertama, awal petakaRusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupIslam memberi jalan kembaliGenerasi yang terancamSaat ini, tidak ada yang lebih mudah diakses daripada konten yang merusak jiwa. Satu klik, satu tautan, atau bahkan satu bisikan dari teman sebaya bisa membawa seorang anak kecil masuk ke dalam dunia kelam yang bernama pornografi. Namun, banyak dari kita masih menganggap hal ini sebagai masalah sepele, atau hanya masalah “anak-anak muda”. Padahal, inilah bom waktu yang menghancurkan dari dalam, perlahan namun pasti.Sebuah kenyataan yang mengerikan kini terungkap: anak-anak semuda 8–9 tahun sudah mulai terpapar konten pornografi. Dan yang lebih tragis, banyak dari mereka bahkan tidak mencarinya secara sengaja. Mereka melihatnya dari teman sekolah, dari perangkat yang ditinggal terbuka, atau bahkan dari orang-orang dewasa di sekitar mereka. Dari titik inilah, banyak kehidupan mulai berubah arah—menuju jurang kenistaan yang sulit dipanjat kembali.Apakah ini hanya soal “syahwat” yang lepas kendali? Ataukah ini adalah sebuah perang ideologis yang membidik generasi Muslim dari akar keimanan mereka? Mengapa pengaruh pornografi bisa begitu besar hingga mengubah cara pandang seorang laki-laki terhadap perempuan, terhadap pernikahan, bahkan terhadap makna tanggung jawab hidup itu sendiri?Pandangan pertama, awal petakaTidak semua yang memulai menonton pornografi adalah orang yang “niat”. Banyak dari mereka hanya korban—korban dari sistem yang lalai dan lingkungan yang permisif. Namun, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً  ؕ وَسَآءَ سَبِيۡلًا‏“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Larangan yang datang bukan hanya pada perbuatannya, tetapi pada semua jalan yang mengarah ke sana. Dan layar smartphone hari ini telah menjadi jalan tol menuju kemaksiatan, bahkan sebelum seseorang balig.Seorang anak kecil mungkin hanya membuka tautan yang diberikan teman. Namun dalam waktu singkat, ia bisa terjerat dalam kebiasaan yang membentuk ulang pikirannya. Dopamin—zat kimia di otak yang memberi rasa senang—dilepaskan dalam kadar berlebih saat melihat konten pornografi. Sebuah kenikmatan palsu yang membuat otak ingin mengulanginya terus-menerus, bahkan jika harus merusak harga dirinya.Dari sinilah muncul kecanduan. Apa yang dulu cukup dengan satu video, lama-lama menjadi tidak memuaskan. Mereka mencari konten yang lebih ekstrem, lebih vulgar, lebih menyimpang. Ini bukan lagi soal “penasaran”, tapi tentang sistem yang memaksa tubuh dan jiwa untuk menuruti hawa nafsu tanpa batas. Sama seperti narkoba: sekali masuk, sulit untuk keluar; dan saat sadar, semuanya telah berubah.Di sinilah peran lingkungan sangat menentukan. Orang tua, guru, bahkan teman sebaya bisa menjadi penyebab atau penyelamat. Seorang anak yang sejak kecil tak diajarkan rasa malu, tak dikenalkan dengan pengawasan Allah, dan tak diberi proteksi dari paparan dunia digital, akan lebih mudah terperosok ke dalam lubang dosa yang dalam ini. Dan sayangnya, banyak yang tidak pernah kembali.Rusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupRasulullah ﷺ bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafaz hadis di atas milik Muslim)Dampak dari pornografi merasuk ke dalam cara seseorang memandang lawan jenis, mengubah wanita menjadi sekadar objek dan mengubah pernikahan menjadi ladang penyaluran nafsu semata. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa membangun rumah tangga yang sakinah jika sejak awal ia terbiasa dengan “pasangan” digital yang tidak pernah menuntut, tidak pernah marah, dan selalu sempurna?Pornografi menciptakan fantasi. Fantasi itu kemudian menjadi standar. Ketika kenyataan tidak seindah fantasi, timbul ketidakpuasan. Akhirnya, wanita halal yang dinikahi dengan mahar dan doa pun terasa hambar. Ia dibandingkan dengan bayangan maya, yang bahkan tak pernah hidup.Lebih jauh lagi, para pecandu pornografi cenderung menjadi pribadi yang pasif, tidak memiliki ambisi hidup, dan kehilangan rasa tanggung jawab. Mereka lebih nyaman menghindari realitas dan tenggelam dalam dunia maya yang memberinya pelarian instan. Maka jangan heran jika banyak pemuda Muslim hari ini terlihat lulus kuliah, punya gelar, tapi tak mampu memimpin, tak bisa membangun komunikasi yang sehat, bahkan tak sanggup memikul amanah keluarga.Padahal Islam mengajarkan kita untuk menjadi qawwam, pemimpin dalam rumah dan masyarakat. Laki-laki yang seharusnya melindungi, justru menjadi beban. Laki-laki yang seharusnya menjaga kehormatan, justru menjadi pelanggar kehormatan itu sendiri. Dan semuanya bermula dari satu hal yang tampak remeh: pandangan mata yang tak dijaga.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca juga: Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami IstriIslam memberi jalan kembaliKabar baiknya, Islam tidak membiarkan umatnya tenggelam tanpa arah. Islam memberikan solusi, bukan hanya larangan. Rasulullah ﷺ bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, maka hendaklah dia menikah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.” (HR. Bukhari no. 1905, 5065, 5066, dan Muslim no. 1905, dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Pernikahan adalah solusi, bukan beban. Sebuah jalan halal untuk menyalurkan fitrah, bukan penjara yang membatasi kebebasan.Namun, pernikahan bukan satu-satunya solusi. Inti dari semuanya adalah kesadaran bahwa hidup ini punya tujuan. Bahwa setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Bahwa setiap pandangan, setiap klik, akan disaksikan oleh Allah Ta’ala. Hal inilah yang membuat seorang Muslim berhenti dari maksiat, bukan karena takut reputasi hancur, tapi karena takut kepada Rabb-nya yang Maha Mengetahui. Di antaranya adalah dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Bimbingan agama harus menjadi fondasi utama dalam upaya keluar dari jeratan pornografi. Tanpa keyakinan akan hari kebangkitan, maka semua larangan akan terasa sewenang-wenang. Tapi ketika kita yakin bahwa setiap amal akan dibalas, maka menjaga diri dari dosa menjadi bagian dari persiapan menuju akhirat. Tanpa iman, semua nasihat hanya terdengar seperti moralitas kosong.Jangan menunda tobat. Jangan menunggu “siap”. Karena kecanduan ini akan terus mencengkeram jika tidak diputus dengan tekad kuat dan pertolongan Allah Ta’ala. Ganti layar dengan mushaf. Ganti waktu sepi dengan sujud di malam hari. Ganti fantasi dengan realita indah dalam pernikahan yang diridai. Insya Allah, siapa pun yang ingin berubah, pasti Allah Ta’ala akan beri jalan.Generasi yang terancamSaudaraku, kita sedang menghadapi ujian besar dalam sejarah umat ini. Pornografi bukan hanya ancaman bagi individu, tapi bagi keberlangsungan generasi Muslim. Jika laki-laki kehilangan izzah-nya, kehilangan kemampuannya untuk menjaga diri, lalu siapa yang akan menjadi imam di rumah dan pemimpin di masyarakat? Jika wanita hanya dilihat sebagai objek, bagaimana mungkin mereka bisa dimuliakan sebagaimana perintah Allah?Mari kita sadari, bahwa pornografi ini adalah musibah nyata yang menggerogoti akhlak, menghancurkan cita-cita, dan membunuh produktivitas. Kita tak bisa terus menutup mata. Kita harus mulai bicara, mulai mendidik, mulai menanamkan kesadaran sejak dini. Dan yang terpenting, kita harus mulai dari diri sendiri.Jika Anda membaca tulisan ini dan merasa bahwa Anda termasuk yang sedang terjerat, ketahuilah: tidak ada kata terlambat untuk kembali. Malu kepada manusia tidak akan menyelamatkan kita, tetapi malu kepada Allah akan memuliakan kita. Mari kita bangun kembali benteng kehormatan ini—dengan ilmu, dengan iman, dan dengan komunitas yang saling menguatkan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ“Hendaklah kalian malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” Perawi mengatakan, “Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu (walhamdulillah).’” Rasulullah bersabda, “Bukan seperti itu. Tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah hendaklah dia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, hendaklah dia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah dia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah dia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” (HR. Tirmidzi, hasan)Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, dan generasi umat ini dari fitnah yang merusak, serta menjadikan kita pemuda-pemudi yang menjaga pandangan, memuliakan pernikahan, dan mengemban amanah sebagai khalifah di bumi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Nasihat untuk yang Masih Gemar Melihat Foto dan Video Porno***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePandangan pertama, awal petakaRusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupIslam memberi jalan kembaliGenerasi yang terancamSaat ini, tidak ada yang lebih mudah diakses daripada konten yang merusak jiwa. Satu klik, satu tautan, atau bahkan satu bisikan dari teman sebaya bisa membawa seorang anak kecil masuk ke dalam dunia kelam yang bernama pornografi. Namun, banyak dari kita masih menganggap hal ini sebagai masalah sepele, atau hanya masalah “anak-anak muda”. Padahal, inilah bom waktu yang menghancurkan dari dalam, perlahan namun pasti.Sebuah kenyataan yang mengerikan kini terungkap: anak-anak semuda 8–9 tahun sudah mulai terpapar konten pornografi. Dan yang lebih tragis, banyak dari mereka bahkan tidak mencarinya secara sengaja. Mereka melihatnya dari teman sekolah, dari perangkat yang ditinggal terbuka, atau bahkan dari orang-orang dewasa di sekitar mereka. Dari titik inilah, banyak kehidupan mulai berubah arah—menuju jurang kenistaan yang sulit dipanjat kembali.Apakah ini hanya soal “syahwat” yang lepas kendali? Ataukah ini adalah sebuah perang ideologis yang membidik generasi Muslim dari akar keimanan mereka? Mengapa pengaruh pornografi bisa begitu besar hingga mengubah cara pandang seorang laki-laki terhadap perempuan, terhadap pernikahan, bahkan terhadap makna tanggung jawab hidup itu sendiri?Pandangan pertama, awal petakaTidak semua yang memulai menonton pornografi adalah orang yang “niat”. Banyak dari mereka hanya korban—korban dari sistem yang lalai dan lingkungan yang permisif. Namun, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً  ؕ وَسَآءَ سَبِيۡلًا‏“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)Larangan yang datang bukan hanya pada perbuatannya, tetapi pada semua jalan yang mengarah ke sana. Dan layar smartphone hari ini telah menjadi jalan tol menuju kemaksiatan, bahkan sebelum seseorang balig.Seorang anak kecil mungkin hanya membuka tautan yang diberikan teman. Namun dalam waktu singkat, ia bisa terjerat dalam kebiasaan yang membentuk ulang pikirannya. Dopamin—zat kimia di otak yang memberi rasa senang—dilepaskan dalam kadar berlebih saat melihat konten pornografi. Sebuah kenikmatan palsu yang membuat otak ingin mengulanginya terus-menerus, bahkan jika harus merusak harga dirinya.Dari sinilah muncul kecanduan. Apa yang dulu cukup dengan satu video, lama-lama menjadi tidak memuaskan. Mereka mencari konten yang lebih ekstrem, lebih vulgar, lebih menyimpang. Ini bukan lagi soal “penasaran”, tapi tentang sistem yang memaksa tubuh dan jiwa untuk menuruti hawa nafsu tanpa batas. Sama seperti narkoba: sekali masuk, sulit untuk keluar; dan saat sadar, semuanya telah berubah.Di sinilah peran lingkungan sangat menentukan. Orang tua, guru, bahkan teman sebaya bisa menjadi penyebab atau penyelamat. Seorang anak yang sejak kecil tak diajarkan rasa malu, tak dikenalkan dengan pengawasan Allah, dan tak diberi proteksi dari paparan dunia digital, akan lebih mudah terperosok ke dalam lubang dosa yang dalam ini. Dan sayangnya, banyak yang tidak pernah kembali.Rusaknya pandangan, lumpuhnya tujuan hidupRasulullah ﷺ bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafaz hadis di atas milik Muslim)Dampak dari pornografi merasuk ke dalam cara seseorang memandang lawan jenis, mengubah wanita menjadi sekadar objek dan mengubah pernikahan menjadi ladang penyaluran nafsu semata. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa membangun rumah tangga yang sakinah jika sejak awal ia terbiasa dengan “pasangan” digital yang tidak pernah menuntut, tidak pernah marah, dan selalu sempurna?Pornografi menciptakan fantasi. Fantasi itu kemudian menjadi standar. Ketika kenyataan tidak seindah fantasi, timbul ketidakpuasan. Akhirnya, wanita halal yang dinikahi dengan mahar dan doa pun terasa hambar. Ia dibandingkan dengan bayangan maya, yang bahkan tak pernah hidup.Lebih jauh lagi, para pecandu pornografi cenderung menjadi pribadi yang pasif, tidak memiliki ambisi hidup, dan kehilangan rasa tanggung jawab. Mereka lebih nyaman menghindari realitas dan tenggelam dalam dunia maya yang memberinya pelarian instan. Maka jangan heran jika banyak pemuda Muslim hari ini terlihat lulus kuliah, punya gelar, tapi tak mampu memimpin, tak bisa membangun komunikasi yang sehat, bahkan tak sanggup memikul amanah keluarga.Padahal Islam mengajarkan kita untuk menjadi qawwam, pemimpin dalam rumah dan masyarakat. Laki-laki yang seharusnya melindungi, justru menjadi beban. Laki-laki yang seharusnya menjaga kehormatan, justru menjadi pelanggar kehormatan itu sendiri. Dan semuanya bermula dari satu hal yang tampak remeh: pandangan mata yang tak dijaga.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca juga: Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami IstriIslam memberi jalan kembaliKabar baiknya, Islam tidak membiarkan umatnya tenggelam tanpa arah. Islam memberikan solusi, bukan hanya larangan. Rasulullah ﷺ bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah memiliki kemampuan, maka hendaklah dia menikah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.” (HR. Bukhari no. 1905, 5065, 5066, dan Muslim no. 1905, dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Pernikahan adalah solusi, bukan beban. Sebuah jalan halal untuk menyalurkan fitrah, bukan penjara yang membatasi kebebasan.Namun, pernikahan bukan satu-satunya solusi. Inti dari semuanya adalah kesadaran bahwa hidup ini punya tujuan. Bahwa setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Bahwa setiap pandangan, setiap klik, akan disaksikan oleh Allah Ta’ala. Hal inilah yang membuat seorang Muslim berhenti dari maksiat, bukan karena takut reputasi hancur, tapi karena takut kepada Rabb-nya yang Maha Mengetahui. Di antaranya adalah dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Bimbingan agama harus menjadi fondasi utama dalam upaya keluar dari jeratan pornografi. Tanpa keyakinan akan hari kebangkitan, maka semua larangan akan terasa sewenang-wenang. Tapi ketika kita yakin bahwa setiap amal akan dibalas, maka menjaga diri dari dosa menjadi bagian dari persiapan menuju akhirat. Tanpa iman, semua nasihat hanya terdengar seperti moralitas kosong.Jangan menunda tobat. Jangan menunggu “siap”. Karena kecanduan ini akan terus mencengkeram jika tidak diputus dengan tekad kuat dan pertolongan Allah Ta’ala. Ganti layar dengan mushaf. Ganti waktu sepi dengan sujud di malam hari. Ganti fantasi dengan realita indah dalam pernikahan yang diridai. Insya Allah, siapa pun yang ingin berubah, pasti Allah Ta’ala akan beri jalan.Generasi yang terancamSaudaraku, kita sedang menghadapi ujian besar dalam sejarah umat ini. Pornografi bukan hanya ancaman bagi individu, tapi bagi keberlangsungan generasi Muslim. Jika laki-laki kehilangan izzah-nya, kehilangan kemampuannya untuk menjaga diri, lalu siapa yang akan menjadi imam di rumah dan pemimpin di masyarakat? Jika wanita hanya dilihat sebagai objek, bagaimana mungkin mereka bisa dimuliakan sebagaimana perintah Allah?Mari kita sadari, bahwa pornografi ini adalah musibah nyata yang menggerogoti akhlak, menghancurkan cita-cita, dan membunuh produktivitas. Kita tak bisa terus menutup mata. Kita harus mulai bicara, mulai mendidik, mulai menanamkan kesadaran sejak dini. Dan yang terpenting, kita harus mulai dari diri sendiri.Jika Anda membaca tulisan ini dan merasa bahwa Anda termasuk yang sedang terjerat, ketahuilah: tidak ada kata terlambat untuk kembali. Malu kepada manusia tidak akan menyelamatkan kita, tetapi malu kepada Allah akan memuliakan kita. Mari kita bangun kembali benteng kehormatan ini—dengan ilmu, dengan iman, dan dengan komunitas yang saling menguatkan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ“Hendaklah kalian malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” Perawi mengatakan, “Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu (walhamdulillah).’” Rasulullah bersabda, “Bukan seperti itu. Tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah hendaklah dia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, hendaklah dia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah dia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah dia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat malu yang sebenarnya.” (HR. Tirmidzi, hasan)Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, dan generasi umat ini dari fitnah yang merusak, serta menjadikan kita pemuda-pemudi yang menjaga pandangan, memuliakan pernikahan, dan mengemban amanah sebagai khalifah di bumi-Nya. Aamiin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Nasihat untuk yang Masih Gemar Melihat Foto dan Video Porno***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Tujuh Kunci Meraih Keberkahan dalam Hidupmu

المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Oleh: Fauziah Abdul Hakim Muhammad فوزية عبدالرحيم محمد الكل يشهد اليوم يمضي؛ بل الأسبوع يمرُّ علينا وكأنه ساعات، كلنا نشتكي قلة الوقت وقلة البركة فيه؛ بل مَنْ منَّا يشعُر أن اليوم كله، من أوَّله إلى آخره، قد مرَّ ولم يستفِدْ فيه شيئًا! غير أنه سوف يُسأل عنه يوم القيامة؛ لأنه يوم من عمره، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ))؛ لذلك كان حريًّا بكلِّ واحدٍ منا أن يسأل الله البركة في أوقاته وأمواله، وأن يعرف الأسباب التي تجلب البركة في حياته. Semua orang menyaksikan hari akan berlalu. Bahkan satu minggu berlalu seakan-akan hanya beberapa jam saja. Setiap kita mengeluhkan sedikitnya waktu dan sedikitnya keberkahan di dalamnya. Bahkan siapa dari kita yang merasa bahwa sehari penuh —dari awal hingga akhirnya— telah berlalu tanpa dapat ia manfaatkan sedikit pun! Hanya saja ia pasti akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Kiamat, karena ia tetap satu hari dalam umurnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ “Dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: pertama, tentang umurnya ia habiskan dalam hal apa?, kedua, tentang masa mudanya ia gunakan dalam hal apa?, ketiga, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan?, keempat, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan.”  Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi tiap orang dari kita semua untuk memohon kepada Allah Ta’ala keberkahan dalam waktu dan hartanya, dan mengetahui hal-hal apa yang dapat mendatangkan keberkahan dalam hidupnya. Saudara pembaca! Keberkahan memberi pengaruh besar dalam kehidupan kita, dan ia tidak akan dilihat kecuali oleh orang yang beriman. Ia dapat berupa kemudahan yang Allah Ta’ala berikan dan perhatian khusus bagi para hamba-Nya. أخي القارئ، للبركة تأثير عجيب في حياتنا، لا يراها إلا المؤمن؛ فهي تيسير الله وعنايته الخاصة لعباده، وفي العصر الحالي الذي نعيش فيه يزيدك يقينًا أننا بحاجة ماسَّة إلى البركة في حياتنا؛ لأن الكلَّ يُعاني منه؛ ولهذا جمعت لك هذه المفاتيح السبعة لتُنير لك حياتك وتزيدها بركة: Pada zaman yang kita jalani sekarang ini, kamu pasti semakin yakin bahwa kita sangat membutuhkan keberkahan dalam hidup kita, karena setiap orang mengeluhkan kurangnya keberkahan hidupnya. Oleh sebab itu, aku menghimpun bagimu tujuh kunci ini agar dapat menyinari hidupmu dan menambah keberkahan di dalamnya. Berikut adalah tujuh kunci itu: ١- القرآن: قال الله تعالى: ﴿ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴾ [ص: 29]، فالقرآن الكريم جعله الله مباركًا من خلال تدبُّره، وقراءته وحفظه، ترى الوقت الذي تقضيه مع القرآن يزيدك بركةً، ويعود عليك بالنفع الكثير؛ ولذلك شهر رمضان مبارك ببركة نزول القرآن فيه. Al-Quran Allah Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “(Al-Quran ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). Allah menjadikan Al-Quran Al-Karim diberkahi dengan cara ditadaburi, dibaca, dan dihafalkan. Kamu akan melihat waktu yang kamu habiskan bersama Al-Quran bertambah keberkahannya, dan mendatangkan kepadamu manfaat yang banyak. Oleh sebab itu, bulan Ramadhan menjadi diberkahi karena keberkahan turunnya Al-Quran pada bulan ini. ٢- رمضان: شهر رمضان شهر مبارك كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بشَّر أصحابَه بقدومه: ((أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ)). Ramadhan  Bulan Ramadhan merupakan bulan yang diberkahi sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang kedatangannya: أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Telah datang kepada kalian Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kalian untuk berpuasa Ramadhan, pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pada bulan ini pintu-pintu neraka ditutup, pada bulan ini setan-setan yang membangkang dibelenggu, dan pada bulan ini Allah Ta’ala punya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang terhalang dari kebaikan malam itu maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan).”  فترى نفسك في رمضان مقبلًا على الطاعات مع الصيام تقرأ القرآن، وتنفق على الفقير والمسكين، وتُصلي التراويح، وتفطر صائمًا، وتفعل من الأعمال الصالحة الكثير، ومع ذلك عندك مُتَّسع من الوقت أن تفعل المزيد والمزيد، فهذه بركة رمضان فلا تدعها تفوتك؛ لذاك كان الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم “أجودَ الناس، كان أجودَ ما يكونُ في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريلُ يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيُدارسه القرآن، فلَرسولُ الله صلى الله عليه وسلم حين يلقاه جبريلُ أجودُ بالخير مِن الريحِ المُرسَلة”. Kamu mendapatkan dirimu pada bulan Ramadhan giat menjalankan ketaatan. Di samping kamu berpuasa, kamu juga membaca Al-Quran, berinfak kepada orang-orang fakir miskin, mendirikan salat Tarawih, memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, dan melakukan banyak lagi amal-amal saleh. Kendati demikian, kamu masih punya waktu lapang untuk melakukan amalan-amalan lain. Inilah keberkahan bulan Ramadhan, maka janganlah ia luput darimu. Oleh sebab itu, dulu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemui Beliau. Dulu malaikat Jibril menemui Beliau setiap malam pada bulan Ramadhan untuk saling membacakan Al-Quran. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika bertemu dengan Jibril adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus. ٣- ليلة القدر ليلة مباركة: وكيف لا؟! كفى هذه الليلة شرفًا أن أنزل الله القرآن كما قال تعالى في كتابه العزير: ﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴾ [الدخان: 3]، فهي ليلة عظيمة يستعدُّ لها كلُّ مؤمن حيث يساوى العمل الصالح فيه 83 عامًا كما ذكر الله سبحانه أنها خيرٌ من ألف شهر، ويعم السلام والسكينة حتى مطلع الفجر ﴿ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴾ [القدر: 3 -5]، فيا فرحة من حظي بهذا الأجر العظيم! جعلني وإيَّاكم منهم. Lailatul Qadar adalah Malam yang Diberkahi Bagaimana tidak demikian, sedangkan cukup menjadi kemuliaan malam ini yang Allah Ta’ala jadikan sebagai waktu menurunkan Al-Quran, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam Kitab-Nya: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang diberkahi (Lailatul qadar). Sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3). Ini merupakan malam yang agung. Setiap orang beriman bersiap untuk menyambutnya, karena amal saleh pada malam itu setara dengan amal shaleh selama 83 tahun, sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Juga kesejahteraan dan kedamaian akan memenuhi malam ini hingga terbit waktu fajar. Allah Ta’ala berfirman: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ “Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5). Betapa bahagianya orang-orang yang beruntung meraih pahala yang agung ini! Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua termasuk dari mereka. ٤- السحور: تحرِّي أوقات السحور، ففيه بركة كما جاء في الحديث عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة))؛ متفق عليه. وفي هذا الوقت المبارك تنزل صلاة الملائكة على المتسحِّرين كما جاء في هذا الحديث المبارك عن أبي سعيد الخُدْري عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((السحور أكله بركة فلا تدعوه، ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء، فإن الله وملائكته يُصلُّون على المتسحِّرين)). Makan Sahur Berusaha melakukan makan sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة “Makan sahurlah, karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Pada waktu yang diberkahi ini, doa para malaikat terlimpah kepada orang-orang yang melakukan makan sahur, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diberkahi yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوْهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتُهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ “Makan sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, meskipun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah Ta’ala dan para malaikat bersalawat kepada orang-orang yang melakukan sahur.” ٥- مداومة الاستغفار: كلنا نعرف فضل الاستغفار، ومنا من غمرته هذه البركات، وتحقَّقَت الآمال المستحيلة؛ مثل: الزواج، والأولاد، والرزق، وغفر له الذنوب الكثيرة بفضل الاستغفار، كما وعدنا الله تعالى على لسان نبيِّه نوح عليه السلام حين خاطب قومه: ﴿ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 11، 12]. Melazimi Istighfar Kita semua telah mengetahui keutamaan beristighfar. Ada dari kita yang telah dilimpahi keberkahan-keberkahan ini dan telah tercapai harapan-harapan yang mustahil, seperti menikah, mendapat keturunan, rezeki, diampuni baginya dosa-dosa yang amat banyak, semua itu berkat keutamaan istighfar, sebagaimana yang Allah Ta’ala janjikan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya, Nabi Nuh Alaihissalam ketika beliau berkata kepada kaumnya: يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “(Jika kamu beristighfar) niscaya Allah Ta’ala akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 11-12). ٦- البكور: البكور سببٌ لسعادة العبد في الدنيا والآخرة؛ لأنه فيه صلاة خير ما في الدنيا وما فيها وهي الفجر، وفي البكور يغتنم المسلم وقته بقراءة القرآن أو حفظه أو مراجعته، وأيضًا قراءة الأذكار وطلب العلم، وفي البكور يطلب العبد رزقه، وكفاه شرفًا أن الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم دعا لأُمَّتِه من يغتنم هذا الوقت، كما في حديث صخر بن وداعة الغامدي، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اللهم بارك لأُمَّتي في بكورها)). Awal Pagi Memulai aktivitas sejak awal pagi merupakan salah satu sebab kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, karena pada waktu itu terdapat salat yang lebih baik daripada dunia dan seisinya, yaitu Salat Subuh.  Pada awal pagi, seorang Muslim juga dapat memanfaatkan waktunya untuk membaca, menghafal, atau mengulang hafalan Al-Quran. Juga untuk membaca zikir dan menuntut ilmu. Dan pada awal pagi, seorang hamba juga dapat mulai mencari rezeki. Cukuplah sebagai kemuliaan bagi waktu ini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa bagi umatnya yang memanfaatkan waktu ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Shakhr bin Wida’ah Al-Ghamidi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اللّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا “Ya Allah! Berilah keberkahan bagi umatku pada awal paginya.” ٧- صلة الرحم: صلة الأرحام من أسهل الأعمال وأعظمها أجرًا؛ حيث تزيد في الرزق والعمر؛ كما قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((صلة الرحم، وحُسْن الخُلُق، وحُسْن الجوار يعمرن الديار، ويزدن في الأعمار))، وقال صلى الله عليه وسلم في حديث آخر: ((مَنْ سرَّه أن يبسط له في رزقه، وأن ينسأ له في أثره فليَصِلْ رَحِمَه)). أُذكِّر نفسي وإيَّاكم بتقوى الله، وصلة الأرحام كما قال الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1]. Silaturahim Menjalin silaturahmi merupakan salah satu amalan yang paling mudah tapi juga paling besar pahalanya, karena ia dapat menambah rezeki dan umur, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam: صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَحُسْنُ الْجِوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارِ، وَيَزِدْنَ فِي الْأَعْمَارِ “Silaturahim, akhlak yang terpuji, dan bertetangga dengan baik dapat memakmurkan rumah dan menambah usia.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadis yang lain: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأْ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Barang siapa yang suka dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan baginya umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahminya.”  Saya mengingatkan kepada diri saya sendiri dan Anda sekalian untuk senantiasa bertakwa dan menjaga hubungan silaturahim, sebagaimana firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah Ta’ala selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1). فهذه كانت مفاتيح سُقْتُها إليك؛ لتكون لك عونًا عندما تشتكي من قلة البركة، وضياع الأوقات من غير فائدة فاغتنمها، ولا تُفرِّط فيها. وأدعُو الله القريب المجيب أن يغمر أوقاتنا بما يرضيه سبحانه عز شأنه وجلَّ جلالُه. Demikianlah tujuh kunci yang dapat saya sampaikan kepadamu, agar menjadi penolong bagimu ketika kamu mengeluhkan kurangnya keberkahan, dan lenyapnya waktu tanpa manfaat. Oleh sebab itu, manfaatkanlah tujuh kunci ini, dan jangan lalai di dalamnya! Saya berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan agar melimpahkan waktu kita dengan hal yang mendatangkan keridhaan-Nya. Amin. Sumber: https://www.alukah.net/المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 462 times, 1 visit(s) today Post Views: 531 QRIS donasi Yufid

Tujuh Kunci Meraih Keberkahan dalam Hidupmu

المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Oleh: Fauziah Abdul Hakim Muhammad فوزية عبدالرحيم محمد الكل يشهد اليوم يمضي؛ بل الأسبوع يمرُّ علينا وكأنه ساعات، كلنا نشتكي قلة الوقت وقلة البركة فيه؛ بل مَنْ منَّا يشعُر أن اليوم كله، من أوَّله إلى آخره، قد مرَّ ولم يستفِدْ فيه شيئًا! غير أنه سوف يُسأل عنه يوم القيامة؛ لأنه يوم من عمره، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ))؛ لذلك كان حريًّا بكلِّ واحدٍ منا أن يسأل الله البركة في أوقاته وأمواله، وأن يعرف الأسباب التي تجلب البركة في حياته. Semua orang menyaksikan hari akan berlalu. Bahkan satu minggu berlalu seakan-akan hanya beberapa jam saja. Setiap kita mengeluhkan sedikitnya waktu dan sedikitnya keberkahan di dalamnya. Bahkan siapa dari kita yang merasa bahwa sehari penuh —dari awal hingga akhirnya— telah berlalu tanpa dapat ia manfaatkan sedikit pun! Hanya saja ia pasti akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Kiamat, karena ia tetap satu hari dalam umurnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ “Dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: pertama, tentang umurnya ia habiskan dalam hal apa?, kedua, tentang masa mudanya ia gunakan dalam hal apa?, ketiga, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan?, keempat, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan.”  Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi tiap orang dari kita semua untuk memohon kepada Allah Ta’ala keberkahan dalam waktu dan hartanya, dan mengetahui hal-hal apa yang dapat mendatangkan keberkahan dalam hidupnya. Saudara pembaca! Keberkahan memberi pengaruh besar dalam kehidupan kita, dan ia tidak akan dilihat kecuali oleh orang yang beriman. Ia dapat berupa kemudahan yang Allah Ta’ala berikan dan perhatian khusus bagi para hamba-Nya. أخي القارئ، للبركة تأثير عجيب في حياتنا، لا يراها إلا المؤمن؛ فهي تيسير الله وعنايته الخاصة لعباده، وفي العصر الحالي الذي نعيش فيه يزيدك يقينًا أننا بحاجة ماسَّة إلى البركة في حياتنا؛ لأن الكلَّ يُعاني منه؛ ولهذا جمعت لك هذه المفاتيح السبعة لتُنير لك حياتك وتزيدها بركة: Pada zaman yang kita jalani sekarang ini, kamu pasti semakin yakin bahwa kita sangat membutuhkan keberkahan dalam hidup kita, karena setiap orang mengeluhkan kurangnya keberkahan hidupnya. Oleh sebab itu, aku menghimpun bagimu tujuh kunci ini agar dapat menyinari hidupmu dan menambah keberkahan di dalamnya. Berikut adalah tujuh kunci itu: ١- القرآن: قال الله تعالى: ﴿ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴾ [ص: 29]، فالقرآن الكريم جعله الله مباركًا من خلال تدبُّره، وقراءته وحفظه، ترى الوقت الذي تقضيه مع القرآن يزيدك بركةً، ويعود عليك بالنفع الكثير؛ ولذلك شهر رمضان مبارك ببركة نزول القرآن فيه. Al-Quran Allah Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “(Al-Quran ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). Allah menjadikan Al-Quran Al-Karim diberkahi dengan cara ditadaburi, dibaca, dan dihafalkan. Kamu akan melihat waktu yang kamu habiskan bersama Al-Quran bertambah keberkahannya, dan mendatangkan kepadamu manfaat yang banyak. Oleh sebab itu, bulan Ramadhan menjadi diberkahi karena keberkahan turunnya Al-Quran pada bulan ini. ٢- رمضان: شهر رمضان شهر مبارك كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بشَّر أصحابَه بقدومه: ((أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ)). Ramadhan  Bulan Ramadhan merupakan bulan yang diberkahi sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang kedatangannya: أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Telah datang kepada kalian Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kalian untuk berpuasa Ramadhan, pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pada bulan ini pintu-pintu neraka ditutup, pada bulan ini setan-setan yang membangkang dibelenggu, dan pada bulan ini Allah Ta’ala punya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang terhalang dari kebaikan malam itu maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan).”  فترى نفسك في رمضان مقبلًا على الطاعات مع الصيام تقرأ القرآن، وتنفق على الفقير والمسكين، وتُصلي التراويح، وتفطر صائمًا، وتفعل من الأعمال الصالحة الكثير، ومع ذلك عندك مُتَّسع من الوقت أن تفعل المزيد والمزيد، فهذه بركة رمضان فلا تدعها تفوتك؛ لذاك كان الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم “أجودَ الناس، كان أجودَ ما يكونُ في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريلُ يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيُدارسه القرآن، فلَرسولُ الله صلى الله عليه وسلم حين يلقاه جبريلُ أجودُ بالخير مِن الريحِ المُرسَلة”. Kamu mendapatkan dirimu pada bulan Ramadhan giat menjalankan ketaatan. Di samping kamu berpuasa, kamu juga membaca Al-Quran, berinfak kepada orang-orang fakir miskin, mendirikan salat Tarawih, memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, dan melakukan banyak lagi amal-amal saleh. Kendati demikian, kamu masih punya waktu lapang untuk melakukan amalan-amalan lain. Inilah keberkahan bulan Ramadhan, maka janganlah ia luput darimu. Oleh sebab itu, dulu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemui Beliau. Dulu malaikat Jibril menemui Beliau setiap malam pada bulan Ramadhan untuk saling membacakan Al-Quran. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika bertemu dengan Jibril adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus. ٣- ليلة القدر ليلة مباركة: وكيف لا؟! كفى هذه الليلة شرفًا أن أنزل الله القرآن كما قال تعالى في كتابه العزير: ﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴾ [الدخان: 3]، فهي ليلة عظيمة يستعدُّ لها كلُّ مؤمن حيث يساوى العمل الصالح فيه 83 عامًا كما ذكر الله سبحانه أنها خيرٌ من ألف شهر، ويعم السلام والسكينة حتى مطلع الفجر ﴿ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴾ [القدر: 3 -5]، فيا فرحة من حظي بهذا الأجر العظيم! جعلني وإيَّاكم منهم. Lailatul Qadar adalah Malam yang Diberkahi Bagaimana tidak demikian, sedangkan cukup menjadi kemuliaan malam ini yang Allah Ta’ala jadikan sebagai waktu menurunkan Al-Quran, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam Kitab-Nya: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang diberkahi (Lailatul qadar). Sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3). Ini merupakan malam yang agung. Setiap orang beriman bersiap untuk menyambutnya, karena amal saleh pada malam itu setara dengan amal shaleh selama 83 tahun, sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Juga kesejahteraan dan kedamaian akan memenuhi malam ini hingga terbit waktu fajar. Allah Ta’ala berfirman: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ “Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5). Betapa bahagianya orang-orang yang beruntung meraih pahala yang agung ini! Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua termasuk dari mereka. ٤- السحور: تحرِّي أوقات السحور، ففيه بركة كما جاء في الحديث عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة))؛ متفق عليه. وفي هذا الوقت المبارك تنزل صلاة الملائكة على المتسحِّرين كما جاء في هذا الحديث المبارك عن أبي سعيد الخُدْري عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((السحور أكله بركة فلا تدعوه، ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء، فإن الله وملائكته يُصلُّون على المتسحِّرين)). Makan Sahur Berusaha melakukan makan sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة “Makan sahurlah, karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Pada waktu yang diberkahi ini, doa para malaikat terlimpah kepada orang-orang yang melakukan makan sahur, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diberkahi yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوْهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتُهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ “Makan sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, meskipun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah Ta’ala dan para malaikat bersalawat kepada orang-orang yang melakukan sahur.” ٥- مداومة الاستغفار: كلنا نعرف فضل الاستغفار، ومنا من غمرته هذه البركات، وتحقَّقَت الآمال المستحيلة؛ مثل: الزواج، والأولاد، والرزق، وغفر له الذنوب الكثيرة بفضل الاستغفار، كما وعدنا الله تعالى على لسان نبيِّه نوح عليه السلام حين خاطب قومه: ﴿ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 11، 12]. Melazimi Istighfar Kita semua telah mengetahui keutamaan beristighfar. Ada dari kita yang telah dilimpahi keberkahan-keberkahan ini dan telah tercapai harapan-harapan yang mustahil, seperti menikah, mendapat keturunan, rezeki, diampuni baginya dosa-dosa yang amat banyak, semua itu berkat keutamaan istighfar, sebagaimana yang Allah Ta’ala janjikan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya, Nabi Nuh Alaihissalam ketika beliau berkata kepada kaumnya: يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “(Jika kamu beristighfar) niscaya Allah Ta’ala akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 11-12). ٦- البكور: البكور سببٌ لسعادة العبد في الدنيا والآخرة؛ لأنه فيه صلاة خير ما في الدنيا وما فيها وهي الفجر، وفي البكور يغتنم المسلم وقته بقراءة القرآن أو حفظه أو مراجعته، وأيضًا قراءة الأذكار وطلب العلم، وفي البكور يطلب العبد رزقه، وكفاه شرفًا أن الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم دعا لأُمَّتِه من يغتنم هذا الوقت، كما في حديث صخر بن وداعة الغامدي، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اللهم بارك لأُمَّتي في بكورها)). Awal Pagi Memulai aktivitas sejak awal pagi merupakan salah satu sebab kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, karena pada waktu itu terdapat salat yang lebih baik daripada dunia dan seisinya, yaitu Salat Subuh.  Pada awal pagi, seorang Muslim juga dapat memanfaatkan waktunya untuk membaca, menghafal, atau mengulang hafalan Al-Quran. Juga untuk membaca zikir dan menuntut ilmu. Dan pada awal pagi, seorang hamba juga dapat mulai mencari rezeki. Cukuplah sebagai kemuliaan bagi waktu ini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa bagi umatnya yang memanfaatkan waktu ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Shakhr bin Wida’ah Al-Ghamidi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اللّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا “Ya Allah! Berilah keberkahan bagi umatku pada awal paginya.” ٧- صلة الرحم: صلة الأرحام من أسهل الأعمال وأعظمها أجرًا؛ حيث تزيد في الرزق والعمر؛ كما قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((صلة الرحم، وحُسْن الخُلُق، وحُسْن الجوار يعمرن الديار، ويزدن في الأعمار))، وقال صلى الله عليه وسلم في حديث آخر: ((مَنْ سرَّه أن يبسط له في رزقه، وأن ينسأ له في أثره فليَصِلْ رَحِمَه)). أُذكِّر نفسي وإيَّاكم بتقوى الله، وصلة الأرحام كما قال الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1]. Silaturahim Menjalin silaturahmi merupakan salah satu amalan yang paling mudah tapi juga paling besar pahalanya, karena ia dapat menambah rezeki dan umur, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam: صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَحُسْنُ الْجِوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارِ، وَيَزِدْنَ فِي الْأَعْمَارِ “Silaturahim, akhlak yang terpuji, dan bertetangga dengan baik dapat memakmurkan rumah dan menambah usia.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadis yang lain: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأْ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Barang siapa yang suka dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan baginya umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahminya.”  Saya mengingatkan kepada diri saya sendiri dan Anda sekalian untuk senantiasa bertakwa dan menjaga hubungan silaturahim, sebagaimana firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah Ta’ala selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1). فهذه كانت مفاتيح سُقْتُها إليك؛ لتكون لك عونًا عندما تشتكي من قلة البركة، وضياع الأوقات من غير فائدة فاغتنمها، ولا تُفرِّط فيها. وأدعُو الله القريب المجيب أن يغمر أوقاتنا بما يرضيه سبحانه عز شأنه وجلَّ جلالُه. Demikianlah tujuh kunci yang dapat saya sampaikan kepadamu, agar menjadi penolong bagimu ketika kamu mengeluhkan kurangnya keberkahan, dan lenyapnya waktu tanpa manfaat. Oleh sebab itu, manfaatkanlah tujuh kunci ini, dan jangan lalai di dalamnya! Saya berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan agar melimpahkan waktu kita dengan hal yang mendatangkan keridhaan-Nya. Amin. Sumber: https://www.alukah.net/المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 462 times, 1 visit(s) today Post Views: 531 QRIS donasi Yufid
المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Oleh: Fauziah Abdul Hakim Muhammad فوزية عبدالرحيم محمد الكل يشهد اليوم يمضي؛ بل الأسبوع يمرُّ علينا وكأنه ساعات، كلنا نشتكي قلة الوقت وقلة البركة فيه؛ بل مَنْ منَّا يشعُر أن اليوم كله، من أوَّله إلى آخره، قد مرَّ ولم يستفِدْ فيه شيئًا! غير أنه سوف يُسأل عنه يوم القيامة؛ لأنه يوم من عمره، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ))؛ لذلك كان حريًّا بكلِّ واحدٍ منا أن يسأل الله البركة في أوقاته وأمواله، وأن يعرف الأسباب التي تجلب البركة في حياته. Semua orang menyaksikan hari akan berlalu. Bahkan satu minggu berlalu seakan-akan hanya beberapa jam saja. Setiap kita mengeluhkan sedikitnya waktu dan sedikitnya keberkahan di dalamnya. Bahkan siapa dari kita yang merasa bahwa sehari penuh —dari awal hingga akhirnya— telah berlalu tanpa dapat ia manfaatkan sedikit pun! Hanya saja ia pasti akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Kiamat, karena ia tetap satu hari dalam umurnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ “Dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: pertama, tentang umurnya ia habiskan dalam hal apa?, kedua, tentang masa mudanya ia gunakan dalam hal apa?, ketiga, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan?, keempat, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan.”  Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi tiap orang dari kita semua untuk memohon kepada Allah Ta’ala keberkahan dalam waktu dan hartanya, dan mengetahui hal-hal apa yang dapat mendatangkan keberkahan dalam hidupnya. Saudara pembaca! Keberkahan memberi pengaruh besar dalam kehidupan kita, dan ia tidak akan dilihat kecuali oleh orang yang beriman. Ia dapat berupa kemudahan yang Allah Ta’ala berikan dan perhatian khusus bagi para hamba-Nya. أخي القارئ، للبركة تأثير عجيب في حياتنا، لا يراها إلا المؤمن؛ فهي تيسير الله وعنايته الخاصة لعباده، وفي العصر الحالي الذي نعيش فيه يزيدك يقينًا أننا بحاجة ماسَّة إلى البركة في حياتنا؛ لأن الكلَّ يُعاني منه؛ ولهذا جمعت لك هذه المفاتيح السبعة لتُنير لك حياتك وتزيدها بركة: Pada zaman yang kita jalani sekarang ini, kamu pasti semakin yakin bahwa kita sangat membutuhkan keberkahan dalam hidup kita, karena setiap orang mengeluhkan kurangnya keberkahan hidupnya. Oleh sebab itu, aku menghimpun bagimu tujuh kunci ini agar dapat menyinari hidupmu dan menambah keberkahan di dalamnya. Berikut adalah tujuh kunci itu: ١- القرآن: قال الله تعالى: ﴿ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴾ [ص: 29]، فالقرآن الكريم جعله الله مباركًا من خلال تدبُّره، وقراءته وحفظه، ترى الوقت الذي تقضيه مع القرآن يزيدك بركةً، ويعود عليك بالنفع الكثير؛ ولذلك شهر رمضان مبارك ببركة نزول القرآن فيه. Al-Quran Allah Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “(Al-Quran ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). Allah menjadikan Al-Quran Al-Karim diberkahi dengan cara ditadaburi, dibaca, dan dihafalkan. Kamu akan melihat waktu yang kamu habiskan bersama Al-Quran bertambah keberkahannya, dan mendatangkan kepadamu manfaat yang banyak. Oleh sebab itu, bulan Ramadhan menjadi diberkahi karena keberkahan turunnya Al-Quran pada bulan ini. ٢- رمضان: شهر رمضان شهر مبارك كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بشَّر أصحابَه بقدومه: ((أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ)). Ramadhan  Bulan Ramadhan merupakan bulan yang diberkahi sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang kedatangannya: أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Telah datang kepada kalian Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kalian untuk berpuasa Ramadhan, pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pada bulan ini pintu-pintu neraka ditutup, pada bulan ini setan-setan yang membangkang dibelenggu, dan pada bulan ini Allah Ta’ala punya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang terhalang dari kebaikan malam itu maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan).”  فترى نفسك في رمضان مقبلًا على الطاعات مع الصيام تقرأ القرآن، وتنفق على الفقير والمسكين، وتُصلي التراويح، وتفطر صائمًا، وتفعل من الأعمال الصالحة الكثير، ومع ذلك عندك مُتَّسع من الوقت أن تفعل المزيد والمزيد، فهذه بركة رمضان فلا تدعها تفوتك؛ لذاك كان الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم “أجودَ الناس، كان أجودَ ما يكونُ في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريلُ يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيُدارسه القرآن، فلَرسولُ الله صلى الله عليه وسلم حين يلقاه جبريلُ أجودُ بالخير مِن الريحِ المُرسَلة”. Kamu mendapatkan dirimu pada bulan Ramadhan giat menjalankan ketaatan. Di samping kamu berpuasa, kamu juga membaca Al-Quran, berinfak kepada orang-orang fakir miskin, mendirikan salat Tarawih, memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, dan melakukan banyak lagi amal-amal saleh. Kendati demikian, kamu masih punya waktu lapang untuk melakukan amalan-amalan lain. Inilah keberkahan bulan Ramadhan, maka janganlah ia luput darimu. Oleh sebab itu, dulu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemui Beliau. Dulu malaikat Jibril menemui Beliau setiap malam pada bulan Ramadhan untuk saling membacakan Al-Quran. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika bertemu dengan Jibril adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus. ٣- ليلة القدر ليلة مباركة: وكيف لا؟! كفى هذه الليلة شرفًا أن أنزل الله القرآن كما قال تعالى في كتابه العزير: ﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴾ [الدخان: 3]، فهي ليلة عظيمة يستعدُّ لها كلُّ مؤمن حيث يساوى العمل الصالح فيه 83 عامًا كما ذكر الله سبحانه أنها خيرٌ من ألف شهر، ويعم السلام والسكينة حتى مطلع الفجر ﴿ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴾ [القدر: 3 -5]، فيا فرحة من حظي بهذا الأجر العظيم! جعلني وإيَّاكم منهم. Lailatul Qadar adalah Malam yang Diberkahi Bagaimana tidak demikian, sedangkan cukup menjadi kemuliaan malam ini yang Allah Ta’ala jadikan sebagai waktu menurunkan Al-Quran, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam Kitab-Nya: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang diberkahi (Lailatul qadar). Sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3). Ini merupakan malam yang agung. Setiap orang beriman bersiap untuk menyambutnya, karena amal saleh pada malam itu setara dengan amal shaleh selama 83 tahun, sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Juga kesejahteraan dan kedamaian akan memenuhi malam ini hingga terbit waktu fajar. Allah Ta’ala berfirman: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ “Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5). Betapa bahagianya orang-orang yang beruntung meraih pahala yang agung ini! Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua termasuk dari mereka. ٤- السحور: تحرِّي أوقات السحور، ففيه بركة كما جاء في الحديث عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة))؛ متفق عليه. وفي هذا الوقت المبارك تنزل صلاة الملائكة على المتسحِّرين كما جاء في هذا الحديث المبارك عن أبي سعيد الخُدْري عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((السحور أكله بركة فلا تدعوه، ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء، فإن الله وملائكته يُصلُّون على المتسحِّرين)). Makan Sahur Berusaha melakukan makan sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة “Makan sahurlah, karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Pada waktu yang diberkahi ini, doa para malaikat terlimpah kepada orang-orang yang melakukan makan sahur, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diberkahi yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوْهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتُهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ “Makan sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, meskipun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah Ta’ala dan para malaikat bersalawat kepada orang-orang yang melakukan sahur.” ٥- مداومة الاستغفار: كلنا نعرف فضل الاستغفار، ومنا من غمرته هذه البركات، وتحقَّقَت الآمال المستحيلة؛ مثل: الزواج، والأولاد، والرزق، وغفر له الذنوب الكثيرة بفضل الاستغفار، كما وعدنا الله تعالى على لسان نبيِّه نوح عليه السلام حين خاطب قومه: ﴿ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 11، 12]. Melazimi Istighfar Kita semua telah mengetahui keutamaan beristighfar. Ada dari kita yang telah dilimpahi keberkahan-keberkahan ini dan telah tercapai harapan-harapan yang mustahil, seperti menikah, mendapat keturunan, rezeki, diampuni baginya dosa-dosa yang amat banyak, semua itu berkat keutamaan istighfar, sebagaimana yang Allah Ta’ala janjikan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya, Nabi Nuh Alaihissalam ketika beliau berkata kepada kaumnya: يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “(Jika kamu beristighfar) niscaya Allah Ta’ala akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 11-12). ٦- البكور: البكور سببٌ لسعادة العبد في الدنيا والآخرة؛ لأنه فيه صلاة خير ما في الدنيا وما فيها وهي الفجر، وفي البكور يغتنم المسلم وقته بقراءة القرآن أو حفظه أو مراجعته، وأيضًا قراءة الأذكار وطلب العلم، وفي البكور يطلب العبد رزقه، وكفاه شرفًا أن الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم دعا لأُمَّتِه من يغتنم هذا الوقت، كما في حديث صخر بن وداعة الغامدي، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اللهم بارك لأُمَّتي في بكورها)). Awal Pagi Memulai aktivitas sejak awal pagi merupakan salah satu sebab kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, karena pada waktu itu terdapat salat yang lebih baik daripada dunia dan seisinya, yaitu Salat Subuh.  Pada awal pagi, seorang Muslim juga dapat memanfaatkan waktunya untuk membaca, menghafal, atau mengulang hafalan Al-Quran. Juga untuk membaca zikir dan menuntut ilmu. Dan pada awal pagi, seorang hamba juga dapat mulai mencari rezeki. Cukuplah sebagai kemuliaan bagi waktu ini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa bagi umatnya yang memanfaatkan waktu ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Shakhr bin Wida’ah Al-Ghamidi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اللّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا “Ya Allah! Berilah keberkahan bagi umatku pada awal paginya.” ٧- صلة الرحم: صلة الأرحام من أسهل الأعمال وأعظمها أجرًا؛ حيث تزيد في الرزق والعمر؛ كما قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((صلة الرحم، وحُسْن الخُلُق، وحُسْن الجوار يعمرن الديار، ويزدن في الأعمار))، وقال صلى الله عليه وسلم في حديث آخر: ((مَنْ سرَّه أن يبسط له في رزقه، وأن ينسأ له في أثره فليَصِلْ رَحِمَه)). أُذكِّر نفسي وإيَّاكم بتقوى الله، وصلة الأرحام كما قال الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1]. Silaturahim Menjalin silaturahmi merupakan salah satu amalan yang paling mudah tapi juga paling besar pahalanya, karena ia dapat menambah rezeki dan umur, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam: صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَحُسْنُ الْجِوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارِ، وَيَزِدْنَ فِي الْأَعْمَارِ “Silaturahim, akhlak yang terpuji, dan bertetangga dengan baik dapat memakmurkan rumah dan menambah usia.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadis yang lain: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأْ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Barang siapa yang suka dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan baginya umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahminya.”  Saya mengingatkan kepada diri saya sendiri dan Anda sekalian untuk senantiasa bertakwa dan menjaga hubungan silaturahim, sebagaimana firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah Ta’ala selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1). فهذه كانت مفاتيح سُقْتُها إليك؛ لتكون لك عونًا عندما تشتكي من قلة البركة، وضياع الأوقات من غير فائدة فاغتنمها، ولا تُفرِّط فيها. وأدعُو الله القريب المجيب أن يغمر أوقاتنا بما يرضيه سبحانه عز شأنه وجلَّ جلالُه. Demikianlah tujuh kunci yang dapat saya sampaikan kepadamu, agar menjadi penolong bagimu ketika kamu mengeluhkan kurangnya keberkahan, dan lenyapnya waktu tanpa manfaat. Oleh sebab itu, manfaatkanlah tujuh kunci ini, dan jangan lalai di dalamnya! Saya berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan agar melimpahkan waktu kita dengan hal yang mendatangkan keridhaan-Nya. Amin. Sumber: https://www.alukah.net/المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 462 times, 1 visit(s) today Post Views: 531 QRIS donasi Yufid


المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Oleh: Fauziah Abdul Hakim Muhammad فوزية عبدالرحيم محمد الكل يشهد اليوم يمضي؛ بل الأسبوع يمرُّ علينا وكأنه ساعات، كلنا نشتكي قلة الوقت وقلة البركة فيه؛ بل مَنْ منَّا يشعُر أن اليوم كله، من أوَّله إلى آخره، قد مرَّ ولم يستفِدْ فيه شيئًا! غير أنه سوف يُسأل عنه يوم القيامة؛ لأنه يوم من عمره، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ))؛ لذلك كان حريًّا بكلِّ واحدٍ منا أن يسأل الله البركة في أوقاته وأمواله، وأن يعرف الأسباب التي تجلب البركة في حياته. Semua orang menyaksikan hari akan berlalu. Bahkan satu minggu berlalu seakan-akan hanya beberapa jam saja. Setiap kita mengeluhkan sedikitnya waktu dan sedikitnya keberkahan di dalamnya. Bahkan siapa dari kita yang merasa bahwa sehari penuh —dari awal hingga akhirnya— telah berlalu tanpa dapat ia manfaatkan sedikit pun! Hanya saja ia pasti akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Kiamat, karena ia tetap satu hari dalam umurnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ “Dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: pertama, tentang umurnya ia habiskan dalam hal apa?, kedua, tentang masa mudanya ia gunakan dalam hal apa?, ketiga, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan?, keempat, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan.”  Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi tiap orang dari kita semua untuk memohon kepada Allah Ta’ala keberkahan dalam waktu dan hartanya, dan mengetahui hal-hal apa yang dapat mendatangkan keberkahan dalam hidupnya. Saudara pembaca! Keberkahan memberi pengaruh besar dalam kehidupan kita, dan ia tidak akan dilihat kecuali oleh orang yang beriman. Ia dapat berupa kemudahan yang Allah Ta’ala berikan dan perhatian khusus bagi para hamba-Nya. أخي القارئ، للبركة تأثير عجيب في حياتنا، لا يراها إلا المؤمن؛ فهي تيسير الله وعنايته الخاصة لعباده، وفي العصر الحالي الذي نعيش فيه يزيدك يقينًا أننا بحاجة ماسَّة إلى البركة في حياتنا؛ لأن الكلَّ يُعاني منه؛ ولهذا جمعت لك هذه المفاتيح السبعة لتُنير لك حياتك وتزيدها بركة: Pada zaman yang kita jalani sekarang ini, kamu pasti semakin yakin bahwa kita sangat membutuhkan keberkahan dalam hidup kita, karena setiap orang mengeluhkan kurangnya keberkahan hidupnya. Oleh sebab itu, aku menghimpun bagimu tujuh kunci ini agar dapat menyinari hidupmu dan menambah keberkahan di dalamnya. Berikut adalah tujuh kunci itu: ١- القرآن: قال الله تعالى: ﴿ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴾ [ص: 29]، فالقرآن الكريم جعله الله مباركًا من خلال تدبُّره، وقراءته وحفظه، ترى الوقت الذي تقضيه مع القرآن يزيدك بركةً، ويعود عليك بالنفع الكثير؛ ولذلك شهر رمضان مبارك ببركة نزول القرآن فيه. Al-Quran Allah Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “(Al-Quran ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29). Allah menjadikan Al-Quran Al-Karim diberkahi dengan cara ditadaburi, dibaca, dan dihafalkan. Kamu akan melihat waktu yang kamu habiskan bersama Al-Quran bertambah keberkahannya, dan mendatangkan kepadamu manfaat yang banyak. Oleh sebab itu, bulan Ramadhan menjadi diberkahi karena keberkahan turunnya Al-Quran pada bulan ini. ٢- رمضان: شهر رمضان شهر مبارك كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بشَّر أصحابَه بقدومه: ((أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ)). Ramadhan  Bulan Ramadhan merupakan bulan yang diberkahi sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang kedatangannya: أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Telah datang kepada kalian Bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kalian untuk berpuasa Ramadhan, pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pada bulan ini pintu-pintu neraka ditutup, pada bulan ini setan-setan yang membangkang dibelenggu, dan pada bulan ini Allah Ta’ala punya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang terhalang dari kebaikan malam itu maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan).”  فترى نفسك في رمضان مقبلًا على الطاعات مع الصيام تقرأ القرآن، وتنفق على الفقير والمسكين، وتُصلي التراويح، وتفطر صائمًا، وتفعل من الأعمال الصالحة الكثير، ومع ذلك عندك مُتَّسع من الوقت أن تفعل المزيد والمزيد، فهذه بركة رمضان فلا تدعها تفوتك؛ لذاك كان الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم “أجودَ الناس، كان أجودَ ما يكونُ في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريلُ يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيُدارسه القرآن، فلَرسولُ الله صلى الله عليه وسلم حين يلقاه جبريلُ أجودُ بالخير مِن الريحِ المُرسَلة”. Kamu mendapatkan dirimu pada bulan Ramadhan giat menjalankan ketaatan. Di samping kamu berpuasa, kamu juga membaca Al-Quran, berinfak kepada orang-orang fakir miskin, mendirikan salat Tarawih, memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, dan melakukan banyak lagi amal-amal saleh. Kendati demikian, kamu masih punya waktu lapang untuk melakukan amalan-amalan lain. Inilah keberkahan bulan Ramadhan, maka janganlah ia luput darimu. Oleh sebab itu, dulu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan, ketika malaikat Jibril menemui Beliau. Dulu malaikat Jibril menemui Beliau setiap malam pada bulan Ramadhan untuk saling membacakan Al-Quran. Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika bertemu dengan Jibril adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus. ٣- ليلة القدر ليلة مباركة: وكيف لا؟! كفى هذه الليلة شرفًا أن أنزل الله القرآن كما قال تعالى في كتابه العزير: ﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴾ [الدخان: 3]، فهي ليلة عظيمة يستعدُّ لها كلُّ مؤمن حيث يساوى العمل الصالح فيه 83 عامًا كما ذكر الله سبحانه أنها خيرٌ من ألف شهر، ويعم السلام والسكينة حتى مطلع الفجر ﴿ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴾ [القدر: 3 -5]، فيا فرحة من حظي بهذا الأجر العظيم! جعلني وإيَّاكم منهم. Lailatul Qadar adalah Malam yang Diberkahi Bagaimana tidak demikian, sedangkan cukup menjadi kemuliaan malam ini yang Allah Ta’ala jadikan sebagai waktu menurunkan Al-Quran, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam Kitab-Nya: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang diberkahi (Lailatul qadar). Sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3). Ini merupakan malam yang agung. Setiap orang beriman bersiap untuk menyambutnya, karena amal saleh pada malam itu setara dengan amal shaleh selama 83 tahun, sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Juga kesejahteraan dan kedamaian akan memenuhi malam ini hingga terbit waktu fajar. Allah Ta’ala berfirman: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ “Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5). Betapa bahagianya orang-orang yang beruntung meraih pahala yang agung ini! Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua termasuk dari mereka. ٤- السحور: تحرِّي أوقات السحور، ففيه بركة كما جاء في الحديث عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة))؛ متفق عليه. وفي هذا الوقت المبارك تنزل صلاة الملائكة على المتسحِّرين كما جاء في هذا الحديث المبارك عن أبي سعيد الخُدْري عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((السحور أكله بركة فلا تدعوه، ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء، فإن الله وملائكته يُصلُّون على المتسحِّرين)). Makan Sahur Berusaha melakukan makan sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: تسحَّرُوا؛ فإن في السحور بركة “Makan sahurlah, karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Pada waktu yang diberkahi ini, doa para malaikat terlimpah kepada orang-orang yang melakukan makan sahur, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diberkahi yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوْهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتُهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ “Makan sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, meskipun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah Ta’ala dan para malaikat bersalawat kepada orang-orang yang melakukan sahur.” ٥- مداومة الاستغفار: كلنا نعرف فضل الاستغفار، ومنا من غمرته هذه البركات، وتحقَّقَت الآمال المستحيلة؛ مثل: الزواج، والأولاد، والرزق، وغفر له الذنوب الكثيرة بفضل الاستغفار، كما وعدنا الله تعالى على لسان نبيِّه نوح عليه السلام حين خاطب قومه: ﴿ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 11، 12]. Melazimi Istighfar Kita semua telah mengetahui keutamaan beristighfar. Ada dari kita yang telah dilimpahi keberkahan-keberkahan ini dan telah tercapai harapan-harapan yang mustahil, seperti menikah, mendapat keturunan, rezeki, diampuni baginya dosa-dosa yang amat banyak, semua itu berkat keutamaan istighfar, sebagaimana yang Allah Ta’ala janjikan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya, Nabi Nuh Alaihissalam ketika beliau berkata kepada kaumnya: يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “(Jika kamu beristighfar) niscaya Allah Ta’ala akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 11-12). ٦- البكور: البكور سببٌ لسعادة العبد في الدنيا والآخرة؛ لأنه فيه صلاة خير ما في الدنيا وما فيها وهي الفجر، وفي البكور يغتنم المسلم وقته بقراءة القرآن أو حفظه أو مراجعته، وأيضًا قراءة الأذكار وطلب العلم، وفي البكور يطلب العبد رزقه، وكفاه شرفًا أن الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم دعا لأُمَّتِه من يغتنم هذا الوقت، كما في حديث صخر بن وداعة الغامدي، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اللهم بارك لأُمَّتي في بكورها)). Awal Pagi Memulai aktivitas sejak awal pagi merupakan salah satu sebab kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat, karena pada waktu itu terdapat salat yang lebih baik daripada dunia dan seisinya, yaitu Salat Subuh.  Pada awal pagi, seorang Muslim juga dapat memanfaatkan waktunya untuk membaca, menghafal, atau mengulang hafalan Al-Quran. Juga untuk membaca zikir dan menuntut ilmu. Dan pada awal pagi, seorang hamba juga dapat mulai mencari rezeki. Cukuplah sebagai kemuliaan bagi waktu ini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa bagi umatnya yang memanfaatkan waktu ini, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Shakhr bin Wida’ah Al-Ghamidi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اللّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا “Ya Allah! Berilah keberkahan bagi umatku pada awal paginya.” ٧- صلة الرحم: صلة الأرحام من أسهل الأعمال وأعظمها أجرًا؛ حيث تزيد في الرزق والعمر؛ كما قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((صلة الرحم، وحُسْن الخُلُق، وحُسْن الجوار يعمرن الديار، ويزدن في الأعمار))، وقال صلى الله عليه وسلم في حديث آخر: ((مَنْ سرَّه أن يبسط له في رزقه، وأن ينسأ له في أثره فليَصِلْ رَحِمَه)). أُذكِّر نفسي وإيَّاكم بتقوى الله، وصلة الأرحام كما قال الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1]. Silaturahim Menjalin silaturahmi merupakan salah satu amalan yang paling mudah tapi juga paling besar pahalanya, karena ia dapat menambah rezeki dan umur, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam: صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَحُسْنُ الْجِوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارِ، وَيَزِدْنَ فِي الْأَعْمَارِ “Silaturahim, akhlak yang terpuji, dan bertetangga dengan baik dapat memakmurkan rumah dan menambah usia.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadis yang lain: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأْ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Barang siapa yang suka dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan baginya umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahminya.”  Saya mengingatkan kepada diri saya sendiri dan Anda sekalian untuk senantiasa bertakwa dan menjaga hubungan silaturahim, sebagaimana firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah Ta’ala selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1). فهذه كانت مفاتيح سُقْتُها إليك؛ لتكون لك عونًا عندما تشتكي من قلة البركة، وضياع الأوقات من غير فائدة فاغتنمها، ولا تُفرِّط فيها. وأدعُو الله القريب المجيب أن يغمر أوقاتنا بما يرضيه سبحانه عز شأنه وجلَّ جلالُه. Demikianlah tujuh kunci yang dapat saya sampaikan kepadamu, agar menjadi penolong bagimu ketika kamu mengeluhkan kurangnya keberkahan, dan lenyapnya waktu tanpa manfaat. Oleh sebab itu, manfaatkanlah tujuh kunci ini, dan jangan lalai di dalamnya! Saya berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan agar melimpahkan waktu kita dengan hal yang mendatangkan keridhaan-Nya. Amin. Sumber: https://www.alukah.net/المفاتيح السبعة لنيل البركة في حياتك Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 462 times, 1 visit(s) today Post Views: 531 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bacaan Salat Sesuai Sunnah Nabi

Daftar Isi ToggleDoa iftitahMembaca surah Al-FatihahMembaca ayat Al-Qur’anBacaan ketika rukukBacaan i’tidalBacaan sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan tasyahudDoa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan salah satu ibadah yang paling penting bagi seorang muslim. Salat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat yang tentunya merupakan ibadah yang sangat penting. Saking pentingnya hingga bisa menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melakukan tata cara salat dengan benar. Salah satu hal yang perlu kita ketahui dengan baik adalah bacaan-bacaan yang kita baca ketika salat. Apakah sudah benar? Apakah sudah sesuai dengan sunnah Nabi?Bacaan yang kita baca ketika salat tentu harus benar dan sesuai dengan sunnah. Lalu apa saja bacaan yang dibaca ketika salat?Doa iftitahBacaan yang kita baca ketika salat di antaranya adalah doa iftitah. Doa ini kita baca setelah melakukan takbiratul ihram, yaitu takbir pembuka yang merupakan rukun salat yang menandakan mulainya salat.Terdapat berbagai macam doa iftitah yang dicontohkan oleh Rasulullah, akan tetapi yang paling masyhur adalah doa,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِAllahumma baa‘id bainî wa baina khathâyaaya kamâ bâ‘adta baina al-masyriki wal-maghrib. Allahumma naqqinî min khathâyaaya kamâ yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allahum-magh-silnî min khathâyaaya bits-tsalji wal mâ’i wal barad.“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.” (HR. Bukhari)Membaca doa iftitah merupakan salah satu sunah qouli (ucapan) yang terdapat dalam salat.Membaca surah Al-FatihahSetelah membaca doa iftitah, selanjutnya membaca adalah membaca surah Al-Fatihah. Khusus untuk rakaat pertama, di awali terlebih dulu dengan membaca ta’awudz sebelum membaca basmalah dan surah Al-Fatihah.أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِA‘uudzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR Abu Dawud)Setelah itu, membaca surah Al-Fatihah. Bacaan surah Al-Fatihah ketika salat merupakan rukun dalam salat sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salatnya orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah.” (HR. Bukhari)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk hafal dan juga menguasai bacaan beserta hukum tajwid yang baik ketika membaca surah Al-Fatihah.Membaca ayat Al-Qur’anSetelah membaca surah Al-Fatihah, selanjutnya adalah membaca ayat dalam Al-Qur’an. Tidak ada dalil yang mengharuskan membaca surah atau ayat tertentu ketika salat, sehingga bisa membaca ayat atau surat apapun sesuai dengan kemampuan. Akan tetapi, ada beberapa bacaan surah-surah yang dibaca Rasulullah ketika salat dan juga beberapa sunah untuk membaca surat tertentu di waktu-waktu tertentu.Di antara bacaan ayat Al-Qur’an yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membaca surat yang pendek ketika salat Maghrib. Membaca surah Al-A’la dan Al-Ghasiyyah ketika salat Jumat, dan lain sebagainya.Bacaan ketika rukukKetika rukuk, kita diwajibkan untuk membaca doa ini minimal satu kali,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِSubḥāna rabbiyal-‘aẓīm“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.” (HR Ahmad)Adapun lebih dari satu kali, itu diperbolehkan dan merupakan sunah.Bacaan i’tidalSetelah rukuk, maka kita lanjutkan ke gerakan i’tidal. Bacaan yang kita baca ketika mulai i’tidal adalah,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُSami‘allāhu liman ḥamidah“Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya.”Akan tetapi, bacaan ini hanya dibaca oleh imam atau orang yang salat munfarid (sendiri). Adapun makmum, maka tidak perlu membacanya. Akan tetapi, setelah imam membaca bacaan di atas, makmum bisa membaca,رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُRabbanā wa lakal-ḥamd“Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala pujian.”Bacaan tersebut dibaca oleh imam dan juga makmum atau orang yang salat sendiri. Selain itu, ketika i’tidal kita juga bisa membaca doa tambahan, yaitu,مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُMil’as-samāwāti wa mil’al-arḍi, wa mil’a mā syi’ta min syay’in ba‘du“Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu.” (HR. Bukhari)Bacaan sujudKeitka sujud kita membaca,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىSubḥāna rabbiyal-a‘lā“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”Bacaan ini wajib kita baca minimal sekali sebagaimana bacaan ketika rukuk. Adapun lebih dari satu kali, hukumnya adalah sunah sebagaimana hadis yang sudah disebutkan sebelumnya.Bacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujud ada beberapa versi yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara versi bacaan yang ada adalah,رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِيRabbighfir lī, rabbighfir lī“Wahai Tuhanku, ampunilah aku. Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”Bacaan tasyahudKita memasuki bagian akhir dari bacaan yang dibaca ketika salat, yaitu tasyahud. Tasyahud ada dua, untuk salat yang lebih dari dua rakaat ada tasyahud awal dan juga tasyahud akhir. Untuk doa yang dibaca antara tasyahud awal dan tasyahud akhir adalah sama, yaitu,التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ. السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.At-tahiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu, waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa waḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.“Segala penghormatan, segala selawat, dan segala kebaikan adalah milik Allah. Keselamatan atasmu wahai Nabi, dan rahmat serta berkah Allah. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”Akan tetapi untuk tasyahud akhir, ditambahkan dengan selawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun bacaan selawatnya adalah sebagai berikut,اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli  ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”Doa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan ibadah agung yang merupakan waktu seorang hamba menghadap pada Rabbnya. Tentunya,  salat merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa. Lalu apa saja doa yang bisa dibaca ketika salat.Rasulullah mengajarkan para sahabatnya bebearapa doa yang disunahkan untuk dibaca ketika salat, di antaranya adalah,سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِSubbūḥun quddūsun, rabbul-malā’ikati war-rūḥ“Maha Suci, Maha Suci, Rabb (Tuhan) para malaikat dan ar-Ruh (Jibril).” (HR. Muslim)Doa ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan untuk dibaca ketika rukuk dan sujud.Selanjutnya adalah doa yang bisa dibaca setelah selesai tasyahud akhir. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Rasulullah menganjurkan untuk berlindung dari empat perkara,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِAllāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi jahannam, wa min ‘adzābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min sharri fitnatil-masīḥid-dajjāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah al-Masih Dajjal.”Setelah itu, jika ingin berdoa dengan doa yang lain sebelum kita salam, maka diperbolehkan. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَلْيَدْعُ بِهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Kemudian hendaklah salah seorang di antara kalian memilih doa yang paling disukainya, lalu memohon dengannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.” (HR Tirmidzi)Oleh karena itu, kita bisa membaca doa yang lain sebelum salam. Bisa untuk kedua orang tua, untuk dijaga agar istikamah di atas jalan Islam, dan lain sebagainya.Demikianlah beberapa bacaan dan doa yang bisa dibaca ketika salat sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wallahu Ta’ala a’lamBaca juga: Hukum Menyengaja Salat Malam dalam Gelap***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Shifatus Shalat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Bacaan Salat Sesuai Sunnah Nabi

Daftar Isi ToggleDoa iftitahMembaca surah Al-FatihahMembaca ayat Al-Qur’anBacaan ketika rukukBacaan i’tidalBacaan sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan tasyahudDoa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan salah satu ibadah yang paling penting bagi seorang muslim. Salat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat yang tentunya merupakan ibadah yang sangat penting. Saking pentingnya hingga bisa menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melakukan tata cara salat dengan benar. Salah satu hal yang perlu kita ketahui dengan baik adalah bacaan-bacaan yang kita baca ketika salat. Apakah sudah benar? Apakah sudah sesuai dengan sunnah Nabi?Bacaan yang kita baca ketika salat tentu harus benar dan sesuai dengan sunnah. Lalu apa saja bacaan yang dibaca ketika salat?Doa iftitahBacaan yang kita baca ketika salat di antaranya adalah doa iftitah. Doa ini kita baca setelah melakukan takbiratul ihram, yaitu takbir pembuka yang merupakan rukun salat yang menandakan mulainya salat.Terdapat berbagai macam doa iftitah yang dicontohkan oleh Rasulullah, akan tetapi yang paling masyhur adalah doa,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِAllahumma baa‘id bainî wa baina khathâyaaya kamâ bâ‘adta baina al-masyriki wal-maghrib. Allahumma naqqinî min khathâyaaya kamâ yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allahum-magh-silnî min khathâyaaya bits-tsalji wal mâ’i wal barad.“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.” (HR. Bukhari)Membaca doa iftitah merupakan salah satu sunah qouli (ucapan) yang terdapat dalam salat.Membaca surah Al-FatihahSetelah membaca doa iftitah, selanjutnya membaca adalah membaca surah Al-Fatihah. Khusus untuk rakaat pertama, di awali terlebih dulu dengan membaca ta’awudz sebelum membaca basmalah dan surah Al-Fatihah.أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِA‘uudzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR Abu Dawud)Setelah itu, membaca surah Al-Fatihah. Bacaan surah Al-Fatihah ketika salat merupakan rukun dalam salat sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salatnya orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah.” (HR. Bukhari)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk hafal dan juga menguasai bacaan beserta hukum tajwid yang baik ketika membaca surah Al-Fatihah.Membaca ayat Al-Qur’anSetelah membaca surah Al-Fatihah, selanjutnya adalah membaca ayat dalam Al-Qur’an. Tidak ada dalil yang mengharuskan membaca surah atau ayat tertentu ketika salat, sehingga bisa membaca ayat atau surat apapun sesuai dengan kemampuan. Akan tetapi, ada beberapa bacaan surah-surah yang dibaca Rasulullah ketika salat dan juga beberapa sunah untuk membaca surat tertentu di waktu-waktu tertentu.Di antara bacaan ayat Al-Qur’an yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membaca surat yang pendek ketika salat Maghrib. Membaca surah Al-A’la dan Al-Ghasiyyah ketika salat Jumat, dan lain sebagainya.Bacaan ketika rukukKetika rukuk, kita diwajibkan untuk membaca doa ini minimal satu kali,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِSubḥāna rabbiyal-‘aẓīm“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.” (HR Ahmad)Adapun lebih dari satu kali, itu diperbolehkan dan merupakan sunah.Bacaan i’tidalSetelah rukuk, maka kita lanjutkan ke gerakan i’tidal. Bacaan yang kita baca ketika mulai i’tidal adalah,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُSami‘allāhu liman ḥamidah“Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya.”Akan tetapi, bacaan ini hanya dibaca oleh imam atau orang yang salat munfarid (sendiri). Adapun makmum, maka tidak perlu membacanya. Akan tetapi, setelah imam membaca bacaan di atas, makmum bisa membaca,رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُRabbanā wa lakal-ḥamd“Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala pujian.”Bacaan tersebut dibaca oleh imam dan juga makmum atau orang yang salat sendiri. Selain itu, ketika i’tidal kita juga bisa membaca doa tambahan, yaitu,مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُMil’as-samāwāti wa mil’al-arḍi, wa mil’a mā syi’ta min syay’in ba‘du“Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu.” (HR. Bukhari)Bacaan sujudKeitka sujud kita membaca,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىSubḥāna rabbiyal-a‘lā“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”Bacaan ini wajib kita baca minimal sekali sebagaimana bacaan ketika rukuk. Adapun lebih dari satu kali, hukumnya adalah sunah sebagaimana hadis yang sudah disebutkan sebelumnya.Bacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujud ada beberapa versi yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara versi bacaan yang ada adalah,رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِيRabbighfir lī, rabbighfir lī“Wahai Tuhanku, ampunilah aku. Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”Bacaan tasyahudKita memasuki bagian akhir dari bacaan yang dibaca ketika salat, yaitu tasyahud. Tasyahud ada dua, untuk salat yang lebih dari dua rakaat ada tasyahud awal dan juga tasyahud akhir. Untuk doa yang dibaca antara tasyahud awal dan tasyahud akhir adalah sama, yaitu,التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ. السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.At-tahiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu, waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa waḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.“Segala penghormatan, segala selawat, dan segala kebaikan adalah milik Allah. Keselamatan atasmu wahai Nabi, dan rahmat serta berkah Allah. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”Akan tetapi untuk tasyahud akhir, ditambahkan dengan selawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun bacaan selawatnya adalah sebagai berikut,اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli  ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”Doa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan ibadah agung yang merupakan waktu seorang hamba menghadap pada Rabbnya. Tentunya,  salat merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa. Lalu apa saja doa yang bisa dibaca ketika salat.Rasulullah mengajarkan para sahabatnya bebearapa doa yang disunahkan untuk dibaca ketika salat, di antaranya adalah,سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِSubbūḥun quddūsun, rabbul-malā’ikati war-rūḥ“Maha Suci, Maha Suci, Rabb (Tuhan) para malaikat dan ar-Ruh (Jibril).” (HR. Muslim)Doa ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan untuk dibaca ketika rukuk dan sujud.Selanjutnya adalah doa yang bisa dibaca setelah selesai tasyahud akhir. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Rasulullah menganjurkan untuk berlindung dari empat perkara,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِAllāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi jahannam, wa min ‘adzābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min sharri fitnatil-masīḥid-dajjāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah al-Masih Dajjal.”Setelah itu, jika ingin berdoa dengan doa yang lain sebelum kita salam, maka diperbolehkan. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَلْيَدْعُ بِهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Kemudian hendaklah salah seorang di antara kalian memilih doa yang paling disukainya, lalu memohon dengannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.” (HR Tirmidzi)Oleh karena itu, kita bisa membaca doa yang lain sebelum salam. Bisa untuk kedua orang tua, untuk dijaga agar istikamah di atas jalan Islam, dan lain sebagainya.Demikianlah beberapa bacaan dan doa yang bisa dibaca ketika salat sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wallahu Ta’ala a’lamBaca juga: Hukum Menyengaja Salat Malam dalam Gelap***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Shifatus Shalat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
Daftar Isi ToggleDoa iftitahMembaca surah Al-FatihahMembaca ayat Al-Qur’anBacaan ketika rukukBacaan i’tidalBacaan sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan tasyahudDoa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan salah satu ibadah yang paling penting bagi seorang muslim. Salat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat yang tentunya merupakan ibadah yang sangat penting. Saking pentingnya hingga bisa menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melakukan tata cara salat dengan benar. Salah satu hal yang perlu kita ketahui dengan baik adalah bacaan-bacaan yang kita baca ketika salat. Apakah sudah benar? Apakah sudah sesuai dengan sunnah Nabi?Bacaan yang kita baca ketika salat tentu harus benar dan sesuai dengan sunnah. Lalu apa saja bacaan yang dibaca ketika salat?Doa iftitahBacaan yang kita baca ketika salat di antaranya adalah doa iftitah. Doa ini kita baca setelah melakukan takbiratul ihram, yaitu takbir pembuka yang merupakan rukun salat yang menandakan mulainya salat.Terdapat berbagai macam doa iftitah yang dicontohkan oleh Rasulullah, akan tetapi yang paling masyhur adalah doa,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِAllahumma baa‘id bainî wa baina khathâyaaya kamâ bâ‘adta baina al-masyriki wal-maghrib. Allahumma naqqinî min khathâyaaya kamâ yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allahum-magh-silnî min khathâyaaya bits-tsalji wal mâ’i wal barad.“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.” (HR. Bukhari)Membaca doa iftitah merupakan salah satu sunah qouli (ucapan) yang terdapat dalam salat.Membaca surah Al-FatihahSetelah membaca doa iftitah, selanjutnya membaca adalah membaca surah Al-Fatihah. Khusus untuk rakaat pertama, di awali terlebih dulu dengan membaca ta’awudz sebelum membaca basmalah dan surah Al-Fatihah.أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِA‘uudzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR Abu Dawud)Setelah itu, membaca surah Al-Fatihah. Bacaan surah Al-Fatihah ketika salat merupakan rukun dalam salat sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salatnya orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah.” (HR. Bukhari)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk hafal dan juga menguasai bacaan beserta hukum tajwid yang baik ketika membaca surah Al-Fatihah.Membaca ayat Al-Qur’anSetelah membaca surah Al-Fatihah, selanjutnya adalah membaca ayat dalam Al-Qur’an. Tidak ada dalil yang mengharuskan membaca surah atau ayat tertentu ketika salat, sehingga bisa membaca ayat atau surat apapun sesuai dengan kemampuan. Akan tetapi, ada beberapa bacaan surah-surah yang dibaca Rasulullah ketika salat dan juga beberapa sunah untuk membaca surat tertentu di waktu-waktu tertentu.Di antara bacaan ayat Al-Qur’an yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membaca surat yang pendek ketika salat Maghrib. Membaca surah Al-A’la dan Al-Ghasiyyah ketika salat Jumat, dan lain sebagainya.Bacaan ketika rukukKetika rukuk, kita diwajibkan untuk membaca doa ini minimal satu kali,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِSubḥāna rabbiyal-‘aẓīm“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.” (HR Ahmad)Adapun lebih dari satu kali, itu diperbolehkan dan merupakan sunah.Bacaan i’tidalSetelah rukuk, maka kita lanjutkan ke gerakan i’tidal. Bacaan yang kita baca ketika mulai i’tidal adalah,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُSami‘allāhu liman ḥamidah“Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya.”Akan tetapi, bacaan ini hanya dibaca oleh imam atau orang yang salat munfarid (sendiri). Adapun makmum, maka tidak perlu membacanya. Akan tetapi, setelah imam membaca bacaan di atas, makmum bisa membaca,رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُRabbanā wa lakal-ḥamd“Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala pujian.”Bacaan tersebut dibaca oleh imam dan juga makmum atau orang yang salat sendiri. Selain itu, ketika i’tidal kita juga bisa membaca doa tambahan, yaitu,مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُMil’as-samāwāti wa mil’al-arḍi, wa mil’a mā syi’ta min syay’in ba‘du“Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu.” (HR. Bukhari)Bacaan sujudKeitka sujud kita membaca,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىSubḥāna rabbiyal-a‘lā“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”Bacaan ini wajib kita baca minimal sekali sebagaimana bacaan ketika rukuk. Adapun lebih dari satu kali, hukumnya adalah sunah sebagaimana hadis yang sudah disebutkan sebelumnya.Bacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujud ada beberapa versi yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara versi bacaan yang ada adalah,رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِيRabbighfir lī, rabbighfir lī“Wahai Tuhanku, ampunilah aku. Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”Bacaan tasyahudKita memasuki bagian akhir dari bacaan yang dibaca ketika salat, yaitu tasyahud. Tasyahud ada dua, untuk salat yang lebih dari dua rakaat ada tasyahud awal dan juga tasyahud akhir. Untuk doa yang dibaca antara tasyahud awal dan tasyahud akhir adalah sama, yaitu,التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ. السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.At-tahiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu, waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa waḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.“Segala penghormatan, segala selawat, dan segala kebaikan adalah milik Allah. Keselamatan atasmu wahai Nabi, dan rahmat serta berkah Allah. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”Akan tetapi untuk tasyahud akhir, ditambahkan dengan selawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun bacaan selawatnya adalah sebagai berikut,اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli  ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”Doa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan ibadah agung yang merupakan waktu seorang hamba menghadap pada Rabbnya. Tentunya,  salat merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa. Lalu apa saja doa yang bisa dibaca ketika salat.Rasulullah mengajarkan para sahabatnya bebearapa doa yang disunahkan untuk dibaca ketika salat, di antaranya adalah,سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِSubbūḥun quddūsun, rabbul-malā’ikati war-rūḥ“Maha Suci, Maha Suci, Rabb (Tuhan) para malaikat dan ar-Ruh (Jibril).” (HR. Muslim)Doa ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan untuk dibaca ketika rukuk dan sujud.Selanjutnya adalah doa yang bisa dibaca setelah selesai tasyahud akhir. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Rasulullah menganjurkan untuk berlindung dari empat perkara,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِAllāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi jahannam, wa min ‘adzābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min sharri fitnatil-masīḥid-dajjāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah al-Masih Dajjal.”Setelah itu, jika ingin berdoa dengan doa yang lain sebelum kita salam, maka diperbolehkan. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَلْيَدْعُ بِهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Kemudian hendaklah salah seorang di antara kalian memilih doa yang paling disukainya, lalu memohon dengannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.” (HR Tirmidzi)Oleh karena itu, kita bisa membaca doa yang lain sebelum salam. Bisa untuk kedua orang tua, untuk dijaga agar istikamah di atas jalan Islam, dan lain sebagainya.Demikianlah beberapa bacaan dan doa yang bisa dibaca ketika salat sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wallahu Ta’ala a’lamBaca juga: Hukum Menyengaja Salat Malam dalam Gelap***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Shifatus Shalat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.


Daftar Isi ToggleDoa iftitahMembaca surah Al-FatihahMembaca ayat Al-Qur’anBacaan ketika rukukBacaan i’tidalBacaan sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan tasyahudDoa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan salah satu ibadah yang paling penting bagi seorang muslim. Salat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat yang tentunya merupakan ibadah yang sangat penting. Saking pentingnya hingga bisa menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melakukan tata cara salat dengan benar. Salah satu hal yang perlu kita ketahui dengan baik adalah bacaan-bacaan yang kita baca ketika salat. Apakah sudah benar? Apakah sudah sesuai dengan sunnah Nabi?Bacaan yang kita baca ketika salat tentu harus benar dan sesuai dengan sunnah. Lalu apa saja bacaan yang dibaca ketika salat?Doa iftitahBacaan yang kita baca ketika salat di antaranya adalah doa iftitah. Doa ini kita baca setelah melakukan takbiratul ihram, yaitu takbir pembuka yang merupakan rukun salat yang menandakan mulainya salat.Terdapat berbagai macam doa iftitah yang dicontohkan oleh Rasulullah, akan tetapi yang paling masyhur adalah doa,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِAllahumma baa‘id bainî wa baina khathâyaaya kamâ bâ‘adta baina al-masyriki wal-maghrib. Allahumma naqqinî min khathâyaaya kamâ yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allahum-magh-silnî min khathâyaaya bits-tsalji wal mâ’i wal barad.“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.” (HR. Bukhari)Membaca doa iftitah merupakan salah satu sunah qouli (ucapan) yang terdapat dalam salat.Membaca surah Al-FatihahSetelah membaca doa iftitah, selanjutnya membaca adalah membaca surah Al-Fatihah. Khusus untuk rakaat pertama, di awali terlebih dulu dengan membaca ta’awudz sebelum membaca basmalah dan surah Al-Fatihah.أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِA‘uudzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR Abu Dawud)Setelah itu, membaca surah Al-Fatihah. Bacaan surah Al-Fatihah ketika salat merupakan rukun dalam salat sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salatnya orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah.” (HR. Bukhari)Oleh karena itu, penting bagi kita untuk hafal dan juga menguasai bacaan beserta hukum tajwid yang baik ketika membaca surah Al-Fatihah.Membaca ayat Al-Qur’anSetelah membaca surah Al-Fatihah, selanjutnya adalah membaca ayat dalam Al-Qur’an. Tidak ada dalil yang mengharuskan membaca surah atau ayat tertentu ketika salat, sehingga bisa membaca ayat atau surat apapun sesuai dengan kemampuan. Akan tetapi, ada beberapa bacaan surah-surah yang dibaca Rasulullah ketika salat dan juga beberapa sunah untuk membaca surat tertentu di waktu-waktu tertentu.Di antara bacaan ayat Al-Qur’an yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membaca surat yang pendek ketika salat Maghrib. Membaca surah Al-A’la dan Al-Ghasiyyah ketika salat Jumat, dan lain sebagainya.Bacaan ketika rukukKetika rukuk, kita diwajibkan untuk membaca doa ini minimal satu kali,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِSubḥāna rabbiyal-‘aẓīm“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.” (HR Ahmad)Adapun lebih dari satu kali, itu diperbolehkan dan merupakan sunah.Bacaan i’tidalSetelah rukuk, maka kita lanjutkan ke gerakan i’tidal. Bacaan yang kita baca ketika mulai i’tidal adalah,سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُSami‘allāhu liman ḥamidah“Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya.”Akan tetapi, bacaan ini hanya dibaca oleh imam atau orang yang salat munfarid (sendiri). Adapun makmum, maka tidak perlu membacanya. Akan tetapi, setelah imam membaca bacaan di atas, makmum bisa membaca,رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُRabbanā wa lakal-ḥamd“Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala pujian.”Bacaan tersebut dibaca oleh imam dan juga makmum atau orang yang salat sendiri. Selain itu, ketika i’tidal kita juga bisa membaca doa tambahan, yaitu,مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُMil’as-samāwāti wa mil’al-arḍi, wa mil’a mā syi’ta min syay’in ba‘du“Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu.” (HR. Bukhari)Bacaan sujudKeitka sujud kita membaca,سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَىSubḥāna rabbiyal-a‘lā“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”Bacaan ini wajib kita baca minimal sekali sebagaimana bacaan ketika rukuk. Adapun lebih dari satu kali, hukumnya adalah sunah sebagaimana hadis yang sudah disebutkan sebelumnya.Bacaan ketika duduk di antara dua sujudBacaan ketika duduk di antara dua sujud ada beberapa versi yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara versi bacaan yang ada adalah,رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِيRabbighfir lī, rabbighfir lī“Wahai Tuhanku, ampunilah aku. Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”Bacaan tasyahudKita memasuki bagian akhir dari bacaan yang dibaca ketika salat, yaitu tasyahud. Tasyahud ada dua, untuk salat yang lebih dari dua rakaat ada tasyahud awal dan juga tasyahud akhir. Untuk doa yang dibaca antara tasyahud awal dan tasyahud akhir adalah sama, yaitu,التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ. السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.At-tahiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu, waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa waḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.“Segala penghormatan, segala selawat, dan segala kebaikan adalah milik Allah. Keselamatan atasmu wahai Nabi, dan rahmat serta berkah Allah. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”Akan tetapi untuk tasyahud akhir, ditambahkan dengan selawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun bacaan selawatnya adalah sebagai berikut,اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli  ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”Doa-doa yang bisa dibaca ketika salatSalat merupakan ibadah agung yang merupakan waktu seorang hamba menghadap pada Rabbnya. Tentunya,  salat merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa. Lalu apa saja doa yang bisa dibaca ketika salat.Rasulullah mengajarkan para sahabatnya bebearapa doa yang disunahkan untuk dibaca ketika salat, di antaranya adalah,سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِSubbūḥun quddūsun, rabbul-malā’ikati war-rūḥ“Maha Suci, Maha Suci, Rabb (Tuhan) para malaikat dan ar-Ruh (Jibril).” (HR. Muslim)Doa ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan untuk dibaca ketika rukuk dan sujud.Selanjutnya adalah doa yang bisa dibaca setelah selesai tasyahud akhir. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Rasulullah menganjurkan untuk berlindung dari empat perkara,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِAllāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi jahannam, wa min ‘adzābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min sharri fitnatil-masīḥid-dajjāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah al-Masih Dajjal.”Setelah itu, jika ingin berdoa dengan doa yang lain sebelum kita salam, maka diperbolehkan. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَلْيَدْعُ بِهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Kemudian hendaklah salah seorang di antara kalian memilih doa yang paling disukainya, lalu memohon dengannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.” (HR Tirmidzi)Oleh karena itu, kita bisa membaca doa yang lain sebelum salam. Bisa untuk kedua orang tua, untuk dijaga agar istikamah di atas jalan Islam, dan lain sebagainya.Demikianlah beberapa bacaan dan doa yang bisa dibaca ketika salat sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wallahu Ta’ala a’lamBaca juga: Hukum Menyengaja Salat Malam dalam Gelap***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Shifatus Shalat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Kenikmatan Bermunajat

لذَّةُ المناجاةِ Oleh: Dr. Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim al-Suhaim د. محمد بن عبدالله بن إبراهيم السحيم الحمدُ للهِ عالمِ السرِّ وأخفى، سامعِ الجهرِ والنَّجوى، وأشهدُ ألا إلهَ إلا اللهُ ذو الأسماءِ الحسنى والصفاتِ العُلى، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى اللهُ وسلَّمَ عليه وعلى آلِه وصحبِه ذويِ اليُمنِ والنُّهى. أما بعدُ، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران: 102]. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Yang Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi, Maha Mendengar yang lantang dan yang berbisik. Saya bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala, Pemilik nama-nama terbaik dan sifat-sifat tertinggi, dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah hamba dan rasul-Nya, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau, manusia-manusia baik dan cendekia. Amma ba’du: Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102). أيها المؤمنون! مناجاةُ العبدِ ربَّه أرفعُ درجاتِ العبوديةِ، وأجلُّها عندِ اللهِ قدْرًا؛ حين يتقرَّبُ العبدُ إليه بأحبِّ شيءٍ إليه؛ من تضرُّعٍ في دعائِه، أو تغنٍّ بكتابِه، أو لَهَجٍ بذكْرِه؛ تسبيحًا، وحمدًا، وتهليلًا، وتكبيرًا. المناجاةُ حديثُ روحٍ لربِّها؛ يَفيضُ بها القلبُ قبلَ اللسانِ. وهيَ سرٌّ خفيٌّ بين العبدِ وربِّه؛ يُخاطِبُ فيها العبدُ الفقيرُ مولاه القديرَ بأحبِّ الخِطابَ، والله قريبٌ منه؛ يسمعُ سرَّه، ويرى مكانَه، ويعلمُ حالَه. ومن جليلِ رحمتِه أنْ جعلَ شرفَ مناجاتِه متاحًا لكلِّ طالبٍ متى شاءَ؛ لا يَحولُ بينَه وبينَ ربِّه أحدٌ، كما قال تعالى: ﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾ [البقرة: 186]. Wahai orang-orang beriman! Munajat seorang hamba kepada Tuhannya merupakan derajat penghambaan yang tertinggi dan paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Ketika seorang hamba mempersembahkan kepada-Nya sesuatu yang paling Dia cintai, berupa ketundukan dalam berdoa, lantunan ayat-ayat Kitab-Nya, atau untaian zikir kepada-Nya, dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Munajat adalah bahasa jiwa kepada Tuhannya, yang diungkapkan oleh hati sebelum lisan. Ia merupakan rahasia tersembunyi antara seorang hamba dengan Tuhannya, dengannya, seorang hamba yang lemah mengadu kepada Tuhannya Yang Maha Kuasa dengan ungkapan terbaik. Allah Maha Dekat kepadanya, Maha Mendengar bisikannya, Maha Melihat kedudukannya, dan Maha Mengetahui keadaannya. Suatu rahmat-Nya yang besar, Dia menjadikan kemuliaan bermunajat dapat dilakukan oleh setiap orang yang menghendakinya kapanpun itu, tidak ada siapapun yang dapat menghalangi antara dirinya dengan Tuhannya, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186). أوصى أحدُ العلماءِ قائلًا: ‌كلِّموا ‌اللهَ ‌كثيرًا، قالوا: وكيف نكلِّمُ اللهَ؟ قال: اخْلوا بمناجاتِه، اخلوا بدعائِه. وتلك المناجاةُ أبلغُ حالٍ للعبدِ يراه اللهُ عليه، ومقامُها أخصُّ مقامِ القُرْبِ منه -جلَّ وعلا- كما قال تعالى عن نبيِّه موسى -عليه السلامُ-: ﴿ وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا ﴾ [مريم: 52]. ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أوجبِ سُبلِ رضاه، كما عَجِلَ إليها موسى -عليه السلامُ- حين سألَه اللهُ فقال: ﴿ وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى ﴾ [طه: 83، 84]. قال ابنُ رجبٍ:” فدلَّ على أنَّ المسارعةَ إلى مناجاةِ اللهِ تُوجِبُ رضاه Ada seorang ulama yang berwasiat: “Banyak-banyaklah berbincang dengan Allah Ta’ala!” Orang-orang bertanya, “Bagaimana kita dapat berbincang dengan AllahTa’ala?!” Beliau menjawab, “Menyendirilah untuk bermunajat kepada-Nya! Menyendirilah untuk berdoa kepada-Nya!” Munajat merupakan keadaan terbaik seorang hamba yang disaksikan oleh Allah, dan kedudukan munajat itu paling istimewa di antara kedudukan pendekatan kepada-Nya, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentang Nabi Musa Alaihissalam: وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا “Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan (Gunung) Tursina) dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat (berbicara tanpa perantara).” (QS. Maryam: 52). Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah cara yang paling mudah untuk meraih keridhaan-Nya, sebagaimana Nabi Musa yang bergegas melakukannya. Allah Ta’ala bertanya kepadanya: وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “(Allah Ta’ala berfirman), ‘Apa yang membuat engkau datang (ke gunung Sinai) lebih cepat sehingga meninggalkan kaummu, wahai Musa?’ (Musa) berkata, ‘Itu mereka sedang menyusulku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau ridha.” (QS. Thaha: 83-84). Ibnu Rajab berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa bersegera untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala dapat mendatangkan keridhaan-Nya.” ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أعظمِ أسبابِ الأُنسِ والرَّاحةِ، قال بعضُ السَّلفِ: ” إذا صحَّتِ المناجاةُ بالقلوبِ استراحتِ الجوارحُ “. وتلك المناجاةُ مِعراجٌ موصِلٌ لمقامِ الإحسانِ، وهو أرفعُ مقاماتِ الدِّينِ، فقد عرَّفَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم الإحسانَ بقولِه: ” أَنْ ‌تَعْبُدَ ‌اللَّهَ ‌كَأَنَّكَ ‌تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ ” رواه مسلمٌ، قال ابنُ القيِّمِ: ” فإذا بلغَ في مقامِ الإحسانِ بحيثُ يكونُ كأنَّه يَرى اللهَ -سبحانَه-؛ فهكذا مخاطبتُه ومناجاتُه له “. وتلك المناجاةُ تُكسِبُ القلبَ صفاءً لا تكدِّرُه شُبَهُ الشيطانِ ووساوسُه، قال السُّرِيُّ السَّقَطِيُّ: ” مَن اشتغلَ بمناجاةِ اللهِ أورثتْهُ حلاوةُ ذكرِ اللهِ -تعالى- مرارةَ ما يُلقي إليه الشيطانُ “. بلْ إنَّ تلك المناجاةَ مَنْجَمُ خيرٍ مُعجَّلٌ لا تَنقطعُ بركتُه، قال محمدُ بنُ يوسفَ بنِ مِعدانَ:” مَن أرادَ تعجيلَ النِّعمِ؛ فلْيُكثِرْ من مناجاةِ الخلوةِ” Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah salah satu sebab terbesar untuk meraih ketenangan dan kedamaian. Seorang ulama Salaf berkata, “Apabila munajat benar-benar terwujud dalam hati, maka anggota badan lain akan merasakan ketenangan.” Munajat merupakan tangga yang dapat mengantarkan kepada tingkat ihsan, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam beragama. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendefinisikan ihsan dengan sabdanya, “Kamu beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).  Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila seseorang telah mencapai derajat ihsan, di mana ia seakan-akan melihat Allah Ta’ala, maka demikianlah yang terjadi ketika seseorang bermunajat kepada-Nya (seakan-akan melihat-Nya).” Munajat juga menjadikan hati menjadi bersih, tidak ternodai oleh syubhat-syubhat dan bisikan-bisikan setan. As-Suri As-Saqathi berkata, “Barang siapa yang sibuk bermunajat kepada Allah Ta’ala, maka manisnya berzikir kepada-Nya akan membuatnya dapat merasakan pahitnya apa yang dibisikkan setan kepadanya.” Bahkan munajat juga bagaikan tambang kebaikan yang hadir di dunia dan tidak terputus keberkahannya. Muhammad bin Yusuf bin Mi’dani berkata, “Barang siapa yang ingin kenikmatan-kenikmatannya disegerakan, hendaklah ia memperbanyak munajat dalam kesendirian.” عبادَ اللهِ! والصلاةُ أعظمُ مواطنِ المناجاةِ بين العبدِ وربِّه؛ لِمَا يَجتمعُ فيها من أصولِ المناجاةِ؛ ذِكرًا، ودعاءً، وتلاوةً للقرآنِ، كما قالَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ ” رواه البخاريُّ. وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” قال اللهُ -تعالى-: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “رواه مسلمٌ Wahai para hamba Allah Ta’ala! Salat merupakan waktu teragung untuk bermunajat antara seorang hamba dengan Tuhannya, karena di dalamnya terhimpun dasar-dasar munajat, seperti zikir, doa, dan tilawah Al-Qur’an. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ “Apabila seorang mukmin berada dalam salat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya.” (HR. Al-Bukhari). Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda (dalam hadis qudsi) bahwa Allah Ta’ala berfirman: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “Aku membagi salat antara diri-Ku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba itu membaca: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Arrahmanirrahim’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Maliki yaumiddin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku.’ (Dan dalam riwayat lain Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku’). Apabila ia membaca: ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Apabila ia membaca: ‘Ihdinash shirathal mustaqim shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhallin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’” (HR. Muslim). بل إنَّ تلك المناجاةَ هي مقصودُ الصلاةِ وروحُها، كما قال عبدُاللهِ بنُ المباركِ: ” سألتُ سفيانَ الثوريَّ، قلتُ: الرجلُ إذا قامَ إلى الصلاةِ، أيَّ شيءٍ يَنوي بقراءتِه وصلاتِه؟ قال: ينوي أنَّه يناجي ربَّه “. وأرفعُ درجاتِ المناجاةِ أنْ يُكرِمَ اللهُ مَن سبقتْ له الحسنى ممَّّنِ اصطفاهم مِن عبادِه ببلوغِ منزلةِ التَّلذُّذِ بحلاوةِ تلك المناجاةِ، وذوْقِ طعمِ الافتقارِ إليه، وتيقُّنِ الإفلاسِ ممَّا سواه؛ فتلك اللذةُ هي أعظمُ لذاتِ الدنيا على الإطلاقِ، كما قالَ مَن ذاقَ حلاوتَها من أهلِ المعرفةِ باللهِ؛ قال الحسنُ البصريُّ: ” إنَّ أحباءَ اللهِ همُ الذين وَرِثوا أطيبَ الحياةِ بما وَصلوا إِلَيْهِ من ‌مناجاةِ حبيبِهم، وبما وجدوا من لذَّة حبِّه في قلوبِهم” Bahkan, munajat merupakan tujuan dan ruh dari salat, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Al-Mubarak, “Aku pernah bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Apabila seseorang mendirikan salat, apa yang harus ia niatkan pada bacaan dan salatnya?’ Beliau menjawab, ‘Berniat untuk bermunajat kepada Tuhannya.’”  Tingkat munajat yang tertinggi adalah ketika Allah Ta’ala telah mengaruniakan kepada orang-orang yang baik dan terpilih dari para hamba-Nya untuk sampai pada derajat menikmati manisnya munajat tersebut, merasakan ketergantungan penuh kepada-Nya, dan meyakini ketidakberdayaan siapapun selain-Nya. Itulah kenikmatan dunia yang terbesar secara mutlak, sebagaimana yang diungkapkan oleh orang yang telah merasakan manisnya munajat dari mereka yang benar-benar mengenal Allah Ta’ala. Al-Hasan Al-Basri berkata, “Para kekasih Allah Ta’ala adalah mereka yang merasakan kehidupan ternikmat berkat derajat yang telah mereka capai dari munajat kepada Kekasih mereka, dan berkat kenikmatan rasa cinta yang mereka rasakan dalam hati mereka.” وقَالَ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ: ” مَا تَلَذَّذَ ‌الْمُتَلَذِّذُونَ بِمِثْلِ الْخَلْوَةِ بِمُنَاجَاةِ اللَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ – وَالْأُنْسِ بِمَحَبَّتِهِ “. وقال آخرُ: ” سرورُ المؤمنِ ولذَّتُه في الخلوةِ بمناجاةِ ربِّه “. وقال آخرُ: ” واللهِ! ما رجلٌ يخلو بأهلِه عروسًا أقرَّ ما كانت نفسُه وآنسَ، بأشدَّ سرورًا منهم بمناجاةِ ربِّهم -تعالى- إذا خَلَوْا به “، وقال آخرُ: ” كلُّ النعيمِ في التلذُّذِ بمناجاةِ اللهِ، كلُّ الراحةِ في التَّعبِ بخدمةِ اللهِ، كلُّ الغنى في تصحيحِ الافتقارِ إلى اللهِ “. وقال آخرُ: “إنِّي ‌لَأفرحُ بالليلِ حينَ يُقبل، لما يلَذُّ به عيشي وتقَرُّ به عيني من مناجاةِ مَن أُحبُّ، وخُلُوِّي بخدمتِه، والتَّذللِ بينَ يديه. وأغتمُّ للفجرِ إذا طلعَ؛ لِمَا أشتغلُ به بالنهارِ عن ذلك”. وقال آخرُ: ” ليس في الدنيا وقتٌ يُشبهُ نعيمَ أهلِ الجنَّةِ، إلا ما يجدُه أهلُ التَّمَلُّقِ في قلوبِهم بالليلِ من حلاوةِ المناجاةِ “. وقال آخرُ: ” لذَّةُ المناجاةِ ليست من الدنيا، إنِّما هي من الجنةِ أظهرَها اللهُ -تعالى- لأوليائِه؛ لا يَجِدُها سواهم Muslim bin Yasar berkata, “Tidaklah orang-orang yang merasakan nikmat itu dapat merasakan nikmat yang melebihi nikmat kesendirian untuk bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kedamaian dalam kecintaan kepada-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Kebahagiaan dan kenikmatan seorang mukmin ada pada pengasingan diri untuk bermunajat kepada Tuhannya.” Ulama lain mengatakan, “Demi Allah Ta’ala! Tidaklah seseorang berdua dengan pengantin barunya merasakan kedamaian dan ketenangan melebihi yang dirasakan mereka yang bermunajat dengan Tuhannya ketika sedang berdua dengan-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Segala kenikmatan ada pada kenikmatan bermunajat kepada Allah Ta’ala.” Ulama lain mengatakan, “Sungguh aku sangat bahagia dengan malam yang datang menyapa, karena hidupku menjadi begitu nikmat dan jiwaku begitu tenteram berkat munajat kepada Dzat yang aku cintai, kesendirianku untuk mengabdi kepada-Nya, dan kenikmatan berada di hadapan-Nya. Aku juga sedih ketika waktu subuh hadir menghampiri, karena aktivitas siang hari mengalihkanku dari itu semua.” Ulama lain mengatakan, “Tidak ada waktu di dunia yang mirip dengan kenikmatan para penghuni surga kecuali apa yang dirasakan dalam hati para perayu Tuhan mereka di malam hari, berupa manisnya bermunajat.” Ulama lain mengatakan, “Nikmatnya munajat bukan berasal dari dunia, tapi ia dari surga yang Allah Ta’ala tampakkan bagi para kekasih-Nya, dan tidak ada yang dapat merasakannya kecuali mereka.” الخطبة الثانية الحمدُ للهِ، والصلاةُ والسلامُ على رسولِ اللهِ. أما بعدُ. فاعلموا أنَّ أحسنَ الحديثِ كتابُ اللهِ… Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.  Amma ba’du:  Ketahuilah! Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah! أيها المؤمنون! وسبيلُ الوصولِ إلى بلوغِ لذَّةِ المناجاةِ دوامُ الإلحاحِ على اللهِ بطلبِها، ومجاهدةُ النفسِ للظَّفرِ بها، والإتيانُ بآدابِها؛ من المبادرةِ إليها، وحضورِ القلبِ فيها، واستشعارِ قُرْبِ اللهِ ومخاطبتِه، وخفضِ الصوتِ في مناجاتِه، وتقديمِ الصدقةِ بين يديها، والاستعدادِ لها بالتطهرِ والتجملِ بأحسنِ الحالِ واللباسِ، والحرصِ على الخلوةِ باللهِ في عبادةِ السِّرِّ، والحذرِ من إفشاءِ سرِّها للناسِ، والإعجابِ بها. Wahai orang-orang beriman! Jalan untuk berhasil meraih kenikmatan munajat adalah dengan konsisten memintanya kepada Allah, berusaha melatih diri untuk membiasakannya, dan menerapkan adab-adabnya seperti antusias melakukannya, menghadirkan hati di dalamnya, merasakan kehadiran Allah dan perbincangan dengan-Nya, melirihkan suara saat melakukannya, mempersembahkan sedekah sebelum melakukannya, mempersiapkan diri dengan bersuci dan berhias dengan kondisi dan penampilan terbaik, berusaha menyendiri dengan Allah saat melakukan ibadah rahasia, dan tidak membeberkan rahasia munajat kepada orang lain dan takjub terhadapnya. هذا وإنَّ من خفيِّ كرمِ اللهِ لعبدِه، وإرادتِه الخيرَ به أنْ يُقدِّرَ عليه من البلاءِ والحاجةِ ما يَجعلُه سبيلًا لبلوغِ نُزُلِ المناجاةِ العليِّ وذوقِ حلاوتِها، كما قال شيخُ الإسلامِ ابنُ تيميةَ: ” لكنَّ العبدَ قد تنزِلُ به النازلةُ، فيكونُ مقصودُه طلبَ حاجتِه، وتفريجَ كرباتِه، فيسعى في ذلك بالسؤالِ والتضرعِ -وإنْ كان ذلك من العبادةِ والطاعةِ-، ثمَّ يكونُ في أولِ الأمرِ قصدُه حصولَ ذلك المطلوبِ من الرزقِ والنصرِ والعافيةِ مطلقًا، ثم الدعاءُ والتضرعُ يَفْتَحُ له من أبوابِ الإيمانِ باللهِ -عز وجل-، ومعرفتِه ومحبتِه، والتَّنعمِ بذكرِه ودعائه، ما يكونُ هو أحبَّ إليه وأعظمَ قدْرًا عنده من تلك الحاجةِ التي هَمَّتْهُ. وهذا من رحمةِ اللهِ بعبادِه؛ يَسوقُهم بالحاجاتِ الدنيويةِ إلى المقاصدِ العَليةِ الدينيةِ “.  وقال بعضُ الشيوخِ: إنَّه لَيكونُ لي إلى اللهِ حاجةٌ، فأدعوه، فيفتحُ لي من لذيذِ معرفتِه وحلاوةِ مناجاتِه ما لا أحبُّ معه أنْ يُعَجِّلَ قضاءَ حاجتي؛ خشيةَ أنْ تنْصَرِفَ نفسي “. ويكفي العبدَ عِوضًا من إجابتِه أنْ يَفتحَ اللهُ عليه في لذَّةِ المناجاةِ وإظهارِ الافتقارِ والانكسارِ. وقد يُمنَعُ العبدُ إجابةَ طلبِه؛ لرفعةِ مَقامِه عندَ اللهِ، وقد يُجابُ؛ كراهةً لسماعِ صوتِه؛ فليحذرِ الداعي أنْ يكونِ حالِ دعائِه مِمَّن قُضِيتْ حاجتُه؛ لكراهةِ اللهِ له، لا لمحبَّتِه. Di antara kelembutan karunia Allah Ta’ala bagi hamba-Nya dan kehendak kebaikan baginya adalah Dia menakdirkan musibah dan kekurangan baginya, sehingga itu menjadikannya jalan untuk mencapai derajat yang tinggi dalam bermunajat dan merasakan manisnya, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Terkadang seorang hamba tertimpa suatu musibah, lalu ia bermaksud memohon pemenuhan kebutuhannya dan solusi atas musibahnya, sehingga ia berusaha meraih itu dengan meminta kepada Allah Ta’ala dengan penuh ketundukan, meskipun pada dasarnya itu adalah bentuk ibadah dan ketaatan. Pada mulanya ia melakukan itu dengan tujuan mendapat rezeki, pertolongan, dan keselamatan saja, tapi kemudian doa dan ketundukannya membukakan baginya pintu-pintu keimanan kepada Allah Ta’ala, pengenalan tentang-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan kenikmatan dalam mengingat dan berdoa kepada-Nya, sehingga itu lebih ia cintai dan lebih besar kedudukannya dalam hatinya daripada kebutuhan yang dulunya ia inginkan. Ini merupakan bentuk rahmat Allah Ta’ala bagi para hamba-Nya, Dia menuntun mereka dari kebutuhan-kebutuhan duniawi menuju tujuan-tujuan mulia dan agama.” Seorang syekh pernah berkata, “Suatu hari aku punya suatu kebutuhan kepada Allah Ta’ala, sehingga aku berdoa kepada-Nya. Kemudian dibukakan bagiku rasa nikmat untuk mengenal-Nya dan manisnya munajat kepada-Nya yang membuatku tidak ingin kebutuhanku itu segera dipenuhi, karena aku khawatir hatiku kembali dipalingkan dari rasa ini.” Cukup menjadi ganti bagi seorang hamba atas pengabulan doanya, apabila Allah Ta’ala membukakan baginya kenikmatan bermunajat, dan pengungkapan kelemahan dan kerendahan kepada-Nya. Bahkan terkadang seorang hamba terhalang dari pengabulan doanya, karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Ta’ala, dan terkadang doa seorang hamba segera dikabulkan karena Allah Ta’ala tidak sudi mendengar suaranya. Oleh sebab itu, hendaklah orang yang berdoa itu berhati-hati bila doanya dikabulkan hanya karena Allah Ta’ala tidak suka kepadanya, bukan karena Allah Ta’ala mencintainya. أيها الأخُ المباركُ! اجعلْ لمناجاةَ ربِّكَ جزءً من يومِك؛ لا تُخِلُّ به وإنْ قلَّ؛ تشكرُه على نعمِه، وتلهجُ بذِكرِه، وتتلو كتابَه، وتستغفرُه خطاياك، وتبثُّ إليه همومَك، وتسألُه حاجتَك؛ وسترى لهذه المناجاةِ أثرًا بالغِ الحُسْنِ في حياتِك وبعد مماتِك، وستنعمُ بحلاوةٍ ولذَّةٍ تفوقُ كلَّ لذاتِ الدنيا. يناجي خاليًا ربًَّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا  ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا  فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Wahai saudaraku yang diberkahi! Jadikanlah munajat kepada Tuhanmu bagian dari harimu, janganlah sekali-kali harimu kosong darinya, meski hanya dengan munajat singkat. Dalam munajatmu, kamu dapat mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, menyenandungkan zikir kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memohon ampunan atas dosa-dosamu, mengadukan segala keluh kesahmu, dan meminta kebutuhanmu, niscaya dari munajat ini kamu akan melihat pengaruh yang sangat positif dalam kehidupanmu dan setelah kematianmu, dan kamu akan menikmati rasa manis dan kenikmatan yang melebihi segala kenikmatan dunia. يناجي خاليًا ربًّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا Ia bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Dekat dalam kesendirian Dengan ayat-ayat Al-Qur’an penuh ketundukan dan keinsafan ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا Memohon dengan khusyuk dan ruhnya meninggi Menikmati perbincangan dengan penuh kerendahan فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Tidak akan kembali dengan tangan kosong tanpa kebaikan Tangan-tangan yang ditadahkan ke langit mengharap ganjaran Sumber: https://www.alukah.net/خطبة: لذة المناجاة Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 181 times, 1 visit(s) today Post Views: 502 QRIS donasi Yufid

Kenikmatan Bermunajat

لذَّةُ المناجاةِ Oleh: Dr. Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim al-Suhaim د. محمد بن عبدالله بن إبراهيم السحيم الحمدُ للهِ عالمِ السرِّ وأخفى، سامعِ الجهرِ والنَّجوى، وأشهدُ ألا إلهَ إلا اللهُ ذو الأسماءِ الحسنى والصفاتِ العُلى، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى اللهُ وسلَّمَ عليه وعلى آلِه وصحبِه ذويِ اليُمنِ والنُّهى. أما بعدُ، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران: 102]. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Yang Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi, Maha Mendengar yang lantang dan yang berbisik. Saya bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala, Pemilik nama-nama terbaik dan sifat-sifat tertinggi, dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah hamba dan rasul-Nya, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau, manusia-manusia baik dan cendekia. Amma ba’du: Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102). أيها المؤمنون! مناجاةُ العبدِ ربَّه أرفعُ درجاتِ العبوديةِ، وأجلُّها عندِ اللهِ قدْرًا؛ حين يتقرَّبُ العبدُ إليه بأحبِّ شيءٍ إليه؛ من تضرُّعٍ في دعائِه، أو تغنٍّ بكتابِه، أو لَهَجٍ بذكْرِه؛ تسبيحًا، وحمدًا، وتهليلًا، وتكبيرًا. المناجاةُ حديثُ روحٍ لربِّها؛ يَفيضُ بها القلبُ قبلَ اللسانِ. وهيَ سرٌّ خفيٌّ بين العبدِ وربِّه؛ يُخاطِبُ فيها العبدُ الفقيرُ مولاه القديرَ بأحبِّ الخِطابَ، والله قريبٌ منه؛ يسمعُ سرَّه، ويرى مكانَه، ويعلمُ حالَه. ومن جليلِ رحمتِه أنْ جعلَ شرفَ مناجاتِه متاحًا لكلِّ طالبٍ متى شاءَ؛ لا يَحولُ بينَه وبينَ ربِّه أحدٌ، كما قال تعالى: ﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾ [البقرة: 186]. Wahai orang-orang beriman! Munajat seorang hamba kepada Tuhannya merupakan derajat penghambaan yang tertinggi dan paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Ketika seorang hamba mempersembahkan kepada-Nya sesuatu yang paling Dia cintai, berupa ketundukan dalam berdoa, lantunan ayat-ayat Kitab-Nya, atau untaian zikir kepada-Nya, dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Munajat adalah bahasa jiwa kepada Tuhannya, yang diungkapkan oleh hati sebelum lisan. Ia merupakan rahasia tersembunyi antara seorang hamba dengan Tuhannya, dengannya, seorang hamba yang lemah mengadu kepada Tuhannya Yang Maha Kuasa dengan ungkapan terbaik. Allah Maha Dekat kepadanya, Maha Mendengar bisikannya, Maha Melihat kedudukannya, dan Maha Mengetahui keadaannya. Suatu rahmat-Nya yang besar, Dia menjadikan kemuliaan bermunajat dapat dilakukan oleh setiap orang yang menghendakinya kapanpun itu, tidak ada siapapun yang dapat menghalangi antara dirinya dengan Tuhannya, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186). أوصى أحدُ العلماءِ قائلًا: ‌كلِّموا ‌اللهَ ‌كثيرًا، قالوا: وكيف نكلِّمُ اللهَ؟ قال: اخْلوا بمناجاتِه، اخلوا بدعائِه. وتلك المناجاةُ أبلغُ حالٍ للعبدِ يراه اللهُ عليه، ومقامُها أخصُّ مقامِ القُرْبِ منه -جلَّ وعلا- كما قال تعالى عن نبيِّه موسى -عليه السلامُ-: ﴿ وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا ﴾ [مريم: 52]. ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أوجبِ سُبلِ رضاه، كما عَجِلَ إليها موسى -عليه السلامُ- حين سألَه اللهُ فقال: ﴿ وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى ﴾ [طه: 83، 84]. قال ابنُ رجبٍ:” فدلَّ على أنَّ المسارعةَ إلى مناجاةِ اللهِ تُوجِبُ رضاه Ada seorang ulama yang berwasiat: “Banyak-banyaklah berbincang dengan Allah Ta’ala!” Orang-orang bertanya, “Bagaimana kita dapat berbincang dengan AllahTa’ala?!” Beliau menjawab, “Menyendirilah untuk bermunajat kepada-Nya! Menyendirilah untuk berdoa kepada-Nya!” Munajat merupakan keadaan terbaik seorang hamba yang disaksikan oleh Allah, dan kedudukan munajat itu paling istimewa di antara kedudukan pendekatan kepada-Nya, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentang Nabi Musa Alaihissalam: وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا “Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan (Gunung) Tursina) dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat (berbicara tanpa perantara).” (QS. Maryam: 52). Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah cara yang paling mudah untuk meraih keridhaan-Nya, sebagaimana Nabi Musa yang bergegas melakukannya. Allah Ta’ala bertanya kepadanya: وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “(Allah Ta’ala berfirman), ‘Apa yang membuat engkau datang (ke gunung Sinai) lebih cepat sehingga meninggalkan kaummu, wahai Musa?’ (Musa) berkata, ‘Itu mereka sedang menyusulku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau ridha.” (QS. Thaha: 83-84). Ibnu Rajab berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa bersegera untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala dapat mendatangkan keridhaan-Nya.” ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أعظمِ أسبابِ الأُنسِ والرَّاحةِ، قال بعضُ السَّلفِ: ” إذا صحَّتِ المناجاةُ بالقلوبِ استراحتِ الجوارحُ “. وتلك المناجاةُ مِعراجٌ موصِلٌ لمقامِ الإحسانِ، وهو أرفعُ مقاماتِ الدِّينِ، فقد عرَّفَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم الإحسانَ بقولِه: ” أَنْ ‌تَعْبُدَ ‌اللَّهَ ‌كَأَنَّكَ ‌تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ ” رواه مسلمٌ، قال ابنُ القيِّمِ: ” فإذا بلغَ في مقامِ الإحسانِ بحيثُ يكونُ كأنَّه يَرى اللهَ -سبحانَه-؛ فهكذا مخاطبتُه ومناجاتُه له “. وتلك المناجاةُ تُكسِبُ القلبَ صفاءً لا تكدِّرُه شُبَهُ الشيطانِ ووساوسُه، قال السُّرِيُّ السَّقَطِيُّ: ” مَن اشتغلَ بمناجاةِ اللهِ أورثتْهُ حلاوةُ ذكرِ اللهِ -تعالى- مرارةَ ما يُلقي إليه الشيطانُ “. بلْ إنَّ تلك المناجاةَ مَنْجَمُ خيرٍ مُعجَّلٌ لا تَنقطعُ بركتُه، قال محمدُ بنُ يوسفَ بنِ مِعدانَ:” مَن أرادَ تعجيلَ النِّعمِ؛ فلْيُكثِرْ من مناجاةِ الخلوةِ” Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah salah satu sebab terbesar untuk meraih ketenangan dan kedamaian. Seorang ulama Salaf berkata, “Apabila munajat benar-benar terwujud dalam hati, maka anggota badan lain akan merasakan ketenangan.” Munajat merupakan tangga yang dapat mengantarkan kepada tingkat ihsan, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam beragama. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendefinisikan ihsan dengan sabdanya, “Kamu beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).  Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila seseorang telah mencapai derajat ihsan, di mana ia seakan-akan melihat Allah Ta’ala, maka demikianlah yang terjadi ketika seseorang bermunajat kepada-Nya (seakan-akan melihat-Nya).” Munajat juga menjadikan hati menjadi bersih, tidak ternodai oleh syubhat-syubhat dan bisikan-bisikan setan. As-Suri As-Saqathi berkata, “Barang siapa yang sibuk bermunajat kepada Allah Ta’ala, maka manisnya berzikir kepada-Nya akan membuatnya dapat merasakan pahitnya apa yang dibisikkan setan kepadanya.” Bahkan munajat juga bagaikan tambang kebaikan yang hadir di dunia dan tidak terputus keberkahannya. Muhammad bin Yusuf bin Mi’dani berkata, “Barang siapa yang ingin kenikmatan-kenikmatannya disegerakan, hendaklah ia memperbanyak munajat dalam kesendirian.” عبادَ اللهِ! والصلاةُ أعظمُ مواطنِ المناجاةِ بين العبدِ وربِّه؛ لِمَا يَجتمعُ فيها من أصولِ المناجاةِ؛ ذِكرًا، ودعاءً، وتلاوةً للقرآنِ، كما قالَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ ” رواه البخاريُّ. وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” قال اللهُ -تعالى-: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “رواه مسلمٌ Wahai para hamba Allah Ta’ala! Salat merupakan waktu teragung untuk bermunajat antara seorang hamba dengan Tuhannya, karena di dalamnya terhimpun dasar-dasar munajat, seperti zikir, doa, dan tilawah Al-Qur’an. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ “Apabila seorang mukmin berada dalam salat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya.” (HR. Al-Bukhari). Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda (dalam hadis qudsi) bahwa Allah Ta’ala berfirman: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “Aku membagi salat antara diri-Ku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba itu membaca: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Arrahmanirrahim’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Maliki yaumiddin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku.’ (Dan dalam riwayat lain Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku’). Apabila ia membaca: ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Apabila ia membaca: ‘Ihdinash shirathal mustaqim shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhallin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’” (HR. Muslim). بل إنَّ تلك المناجاةَ هي مقصودُ الصلاةِ وروحُها، كما قال عبدُاللهِ بنُ المباركِ: ” سألتُ سفيانَ الثوريَّ، قلتُ: الرجلُ إذا قامَ إلى الصلاةِ، أيَّ شيءٍ يَنوي بقراءتِه وصلاتِه؟ قال: ينوي أنَّه يناجي ربَّه “. وأرفعُ درجاتِ المناجاةِ أنْ يُكرِمَ اللهُ مَن سبقتْ له الحسنى ممَّّنِ اصطفاهم مِن عبادِه ببلوغِ منزلةِ التَّلذُّذِ بحلاوةِ تلك المناجاةِ، وذوْقِ طعمِ الافتقارِ إليه، وتيقُّنِ الإفلاسِ ممَّا سواه؛ فتلك اللذةُ هي أعظمُ لذاتِ الدنيا على الإطلاقِ، كما قالَ مَن ذاقَ حلاوتَها من أهلِ المعرفةِ باللهِ؛ قال الحسنُ البصريُّ: ” إنَّ أحباءَ اللهِ همُ الذين وَرِثوا أطيبَ الحياةِ بما وَصلوا إِلَيْهِ من ‌مناجاةِ حبيبِهم، وبما وجدوا من لذَّة حبِّه في قلوبِهم” Bahkan, munajat merupakan tujuan dan ruh dari salat, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Al-Mubarak, “Aku pernah bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Apabila seseorang mendirikan salat, apa yang harus ia niatkan pada bacaan dan salatnya?’ Beliau menjawab, ‘Berniat untuk bermunajat kepada Tuhannya.’”  Tingkat munajat yang tertinggi adalah ketika Allah Ta’ala telah mengaruniakan kepada orang-orang yang baik dan terpilih dari para hamba-Nya untuk sampai pada derajat menikmati manisnya munajat tersebut, merasakan ketergantungan penuh kepada-Nya, dan meyakini ketidakberdayaan siapapun selain-Nya. Itulah kenikmatan dunia yang terbesar secara mutlak, sebagaimana yang diungkapkan oleh orang yang telah merasakan manisnya munajat dari mereka yang benar-benar mengenal Allah Ta’ala. Al-Hasan Al-Basri berkata, “Para kekasih Allah Ta’ala adalah mereka yang merasakan kehidupan ternikmat berkat derajat yang telah mereka capai dari munajat kepada Kekasih mereka, dan berkat kenikmatan rasa cinta yang mereka rasakan dalam hati mereka.” وقَالَ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ: ” مَا تَلَذَّذَ ‌الْمُتَلَذِّذُونَ بِمِثْلِ الْخَلْوَةِ بِمُنَاجَاةِ اللَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ – وَالْأُنْسِ بِمَحَبَّتِهِ “. وقال آخرُ: ” سرورُ المؤمنِ ولذَّتُه في الخلوةِ بمناجاةِ ربِّه “. وقال آخرُ: ” واللهِ! ما رجلٌ يخلو بأهلِه عروسًا أقرَّ ما كانت نفسُه وآنسَ، بأشدَّ سرورًا منهم بمناجاةِ ربِّهم -تعالى- إذا خَلَوْا به “، وقال آخرُ: ” كلُّ النعيمِ في التلذُّذِ بمناجاةِ اللهِ، كلُّ الراحةِ في التَّعبِ بخدمةِ اللهِ، كلُّ الغنى في تصحيحِ الافتقارِ إلى اللهِ “. وقال آخرُ: “إنِّي ‌لَأفرحُ بالليلِ حينَ يُقبل، لما يلَذُّ به عيشي وتقَرُّ به عيني من مناجاةِ مَن أُحبُّ، وخُلُوِّي بخدمتِه، والتَّذللِ بينَ يديه. وأغتمُّ للفجرِ إذا طلعَ؛ لِمَا أشتغلُ به بالنهارِ عن ذلك”. وقال آخرُ: ” ليس في الدنيا وقتٌ يُشبهُ نعيمَ أهلِ الجنَّةِ، إلا ما يجدُه أهلُ التَّمَلُّقِ في قلوبِهم بالليلِ من حلاوةِ المناجاةِ “. وقال آخرُ: ” لذَّةُ المناجاةِ ليست من الدنيا، إنِّما هي من الجنةِ أظهرَها اللهُ -تعالى- لأوليائِه؛ لا يَجِدُها سواهم Muslim bin Yasar berkata, “Tidaklah orang-orang yang merasakan nikmat itu dapat merasakan nikmat yang melebihi nikmat kesendirian untuk bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kedamaian dalam kecintaan kepada-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Kebahagiaan dan kenikmatan seorang mukmin ada pada pengasingan diri untuk bermunajat kepada Tuhannya.” Ulama lain mengatakan, “Demi Allah Ta’ala! Tidaklah seseorang berdua dengan pengantin barunya merasakan kedamaian dan ketenangan melebihi yang dirasakan mereka yang bermunajat dengan Tuhannya ketika sedang berdua dengan-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Segala kenikmatan ada pada kenikmatan bermunajat kepada Allah Ta’ala.” Ulama lain mengatakan, “Sungguh aku sangat bahagia dengan malam yang datang menyapa, karena hidupku menjadi begitu nikmat dan jiwaku begitu tenteram berkat munajat kepada Dzat yang aku cintai, kesendirianku untuk mengabdi kepada-Nya, dan kenikmatan berada di hadapan-Nya. Aku juga sedih ketika waktu subuh hadir menghampiri, karena aktivitas siang hari mengalihkanku dari itu semua.” Ulama lain mengatakan, “Tidak ada waktu di dunia yang mirip dengan kenikmatan para penghuni surga kecuali apa yang dirasakan dalam hati para perayu Tuhan mereka di malam hari, berupa manisnya bermunajat.” Ulama lain mengatakan, “Nikmatnya munajat bukan berasal dari dunia, tapi ia dari surga yang Allah Ta’ala tampakkan bagi para kekasih-Nya, dan tidak ada yang dapat merasakannya kecuali mereka.” الخطبة الثانية الحمدُ للهِ، والصلاةُ والسلامُ على رسولِ اللهِ. أما بعدُ. فاعلموا أنَّ أحسنَ الحديثِ كتابُ اللهِ… Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.  Amma ba’du:  Ketahuilah! Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah! أيها المؤمنون! وسبيلُ الوصولِ إلى بلوغِ لذَّةِ المناجاةِ دوامُ الإلحاحِ على اللهِ بطلبِها، ومجاهدةُ النفسِ للظَّفرِ بها، والإتيانُ بآدابِها؛ من المبادرةِ إليها، وحضورِ القلبِ فيها، واستشعارِ قُرْبِ اللهِ ومخاطبتِه، وخفضِ الصوتِ في مناجاتِه، وتقديمِ الصدقةِ بين يديها، والاستعدادِ لها بالتطهرِ والتجملِ بأحسنِ الحالِ واللباسِ، والحرصِ على الخلوةِ باللهِ في عبادةِ السِّرِّ، والحذرِ من إفشاءِ سرِّها للناسِ، والإعجابِ بها. Wahai orang-orang beriman! Jalan untuk berhasil meraih kenikmatan munajat adalah dengan konsisten memintanya kepada Allah, berusaha melatih diri untuk membiasakannya, dan menerapkan adab-adabnya seperti antusias melakukannya, menghadirkan hati di dalamnya, merasakan kehadiran Allah dan perbincangan dengan-Nya, melirihkan suara saat melakukannya, mempersembahkan sedekah sebelum melakukannya, mempersiapkan diri dengan bersuci dan berhias dengan kondisi dan penampilan terbaik, berusaha menyendiri dengan Allah saat melakukan ibadah rahasia, dan tidak membeberkan rahasia munajat kepada orang lain dan takjub terhadapnya. هذا وإنَّ من خفيِّ كرمِ اللهِ لعبدِه، وإرادتِه الخيرَ به أنْ يُقدِّرَ عليه من البلاءِ والحاجةِ ما يَجعلُه سبيلًا لبلوغِ نُزُلِ المناجاةِ العليِّ وذوقِ حلاوتِها، كما قال شيخُ الإسلامِ ابنُ تيميةَ: ” لكنَّ العبدَ قد تنزِلُ به النازلةُ، فيكونُ مقصودُه طلبَ حاجتِه، وتفريجَ كرباتِه، فيسعى في ذلك بالسؤالِ والتضرعِ -وإنْ كان ذلك من العبادةِ والطاعةِ-، ثمَّ يكونُ في أولِ الأمرِ قصدُه حصولَ ذلك المطلوبِ من الرزقِ والنصرِ والعافيةِ مطلقًا، ثم الدعاءُ والتضرعُ يَفْتَحُ له من أبوابِ الإيمانِ باللهِ -عز وجل-، ومعرفتِه ومحبتِه، والتَّنعمِ بذكرِه ودعائه، ما يكونُ هو أحبَّ إليه وأعظمَ قدْرًا عنده من تلك الحاجةِ التي هَمَّتْهُ. وهذا من رحمةِ اللهِ بعبادِه؛ يَسوقُهم بالحاجاتِ الدنيويةِ إلى المقاصدِ العَليةِ الدينيةِ “.  وقال بعضُ الشيوخِ: إنَّه لَيكونُ لي إلى اللهِ حاجةٌ، فأدعوه، فيفتحُ لي من لذيذِ معرفتِه وحلاوةِ مناجاتِه ما لا أحبُّ معه أنْ يُعَجِّلَ قضاءَ حاجتي؛ خشيةَ أنْ تنْصَرِفَ نفسي “. ويكفي العبدَ عِوضًا من إجابتِه أنْ يَفتحَ اللهُ عليه في لذَّةِ المناجاةِ وإظهارِ الافتقارِ والانكسارِ. وقد يُمنَعُ العبدُ إجابةَ طلبِه؛ لرفعةِ مَقامِه عندَ اللهِ، وقد يُجابُ؛ كراهةً لسماعِ صوتِه؛ فليحذرِ الداعي أنْ يكونِ حالِ دعائِه مِمَّن قُضِيتْ حاجتُه؛ لكراهةِ اللهِ له، لا لمحبَّتِه. Di antara kelembutan karunia Allah Ta’ala bagi hamba-Nya dan kehendak kebaikan baginya adalah Dia menakdirkan musibah dan kekurangan baginya, sehingga itu menjadikannya jalan untuk mencapai derajat yang tinggi dalam bermunajat dan merasakan manisnya, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Terkadang seorang hamba tertimpa suatu musibah, lalu ia bermaksud memohon pemenuhan kebutuhannya dan solusi atas musibahnya, sehingga ia berusaha meraih itu dengan meminta kepada Allah Ta’ala dengan penuh ketundukan, meskipun pada dasarnya itu adalah bentuk ibadah dan ketaatan. Pada mulanya ia melakukan itu dengan tujuan mendapat rezeki, pertolongan, dan keselamatan saja, tapi kemudian doa dan ketundukannya membukakan baginya pintu-pintu keimanan kepada Allah Ta’ala, pengenalan tentang-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan kenikmatan dalam mengingat dan berdoa kepada-Nya, sehingga itu lebih ia cintai dan lebih besar kedudukannya dalam hatinya daripada kebutuhan yang dulunya ia inginkan. Ini merupakan bentuk rahmat Allah Ta’ala bagi para hamba-Nya, Dia menuntun mereka dari kebutuhan-kebutuhan duniawi menuju tujuan-tujuan mulia dan agama.” Seorang syekh pernah berkata, “Suatu hari aku punya suatu kebutuhan kepada Allah Ta’ala, sehingga aku berdoa kepada-Nya. Kemudian dibukakan bagiku rasa nikmat untuk mengenal-Nya dan manisnya munajat kepada-Nya yang membuatku tidak ingin kebutuhanku itu segera dipenuhi, karena aku khawatir hatiku kembali dipalingkan dari rasa ini.” Cukup menjadi ganti bagi seorang hamba atas pengabulan doanya, apabila Allah Ta’ala membukakan baginya kenikmatan bermunajat, dan pengungkapan kelemahan dan kerendahan kepada-Nya. Bahkan terkadang seorang hamba terhalang dari pengabulan doanya, karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Ta’ala, dan terkadang doa seorang hamba segera dikabulkan karena Allah Ta’ala tidak sudi mendengar suaranya. Oleh sebab itu, hendaklah orang yang berdoa itu berhati-hati bila doanya dikabulkan hanya karena Allah Ta’ala tidak suka kepadanya, bukan karena Allah Ta’ala mencintainya. أيها الأخُ المباركُ! اجعلْ لمناجاةَ ربِّكَ جزءً من يومِك؛ لا تُخِلُّ به وإنْ قلَّ؛ تشكرُه على نعمِه، وتلهجُ بذِكرِه، وتتلو كتابَه، وتستغفرُه خطاياك، وتبثُّ إليه همومَك، وتسألُه حاجتَك؛ وسترى لهذه المناجاةِ أثرًا بالغِ الحُسْنِ في حياتِك وبعد مماتِك، وستنعمُ بحلاوةٍ ولذَّةٍ تفوقُ كلَّ لذاتِ الدنيا. يناجي خاليًا ربًَّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا  ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا  فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Wahai saudaraku yang diberkahi! Jadikanlah munajat kepada Tuhanmu bagian dari harimu, janganlah sekali-kali harimu kosong darinya, meski hanya dengan munajat singkat. Dalam munajatmu, kamu dapat mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, menyenandungkan zikir kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memohon ampunan atas dosa-dosamu, mengadukan segala keluh kesahmu, dan meminta kebutuhanmu, niscaya dari munajat ini kamu akan melihat pengaruh yang sangat positif dalam kehidupanmu dan setelah kematianmu, dan kamu akan menikmati rasa manis dan kenikmatan yang melebihi segala kenikmatan dunia. يناجي خاليًا ربًّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا Ia bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Dekat dalam kesendirian Dengan ayat-ayat Al-Qur’an penuh ketundukan dan keinsafan ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا Memohon dengan khusyuk dan ruhnya meninggi Menikmati perbincangan dengan penuh kerendahan فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Tidak akan kembali dengan tangan kosong tanpa kebaikan Tangan-tangan yang ditadahkan ke langit mengharap ganjaran Sumber: https://www.alukah.net/خطبة: لذة المناجاة Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 181 times, 1 visit(s) today Post Views: 502 QRIS donasi Yufid
لذَّةُ المناجاةِ Oleh: Dr. Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim al-Suhaim د. محمد بن عبدالله بن إبراهيم السحيم الحمدُ للهِ عالمِ السرِّ وأخفى، سامعِ الجهرِ والنَّجوى، وأشهدُ ألا إلهَ إلا اللهُ ذو الأسماءِ الحسنى والصفاتِ العُلى، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى اللهُ وسلَّمَ عليه وعلى آلِه وصحبِه ذويِ اليُمنِ والنُّهى. أما بعدُ، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران: 102]. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Yang Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi, Maha Mendengar yang lantang dan yang berbisik. Saya bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala, Pemilik nama-nama terbaik dan sifat-sifat tertinggi, dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah hamba dan rasul-Nya, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau, manusia-manusia baik dan cendekia. Amma ba’du: Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102). أيها المؤمنون! مناجاةُ العبدِ ربَّه أرفعُ درجاتِ العبوديةِ، وأجلُّها عندِ اللهِ قدْرًا؛ حين يتقرَّبُ العبدُ إليه بأحبِّ شيءٍ إليه؛ من تضرُّعٍ في دعائِه، أو تغنٍّ بكتابِه، أو لَهَجٍ بذكْرِه؛ تسبيحًا، وحمدًا، وتهليلًا، وتكبيرًا. المناجاةُ حديثُ روحٍ لربِّها؛ يَفيضُ بها القلبُ قبلَ اللسانِ. وهيَ سرٌّ خفيٌّ بين العبدِ وربِّه؛ يُخاطِبُ فيها العبدُ الفقيرُ مولاه القديرَ بأحبِّ الخِطابَ، والله قريبٌ منه؛ يسمعُ سرَّه، ويرى مكانَه، ويعلمُ حالَه. ومن جليلِ رحمتِه أنْ جعلَ شرفَ مناجاتِه متاحًا لكلِّ طالبٍ متى شاءَ؛ لا يَحولُ بينَه وبينَ ربِّه أحدٌ، كما قال تعالى: ﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾ [البقرة: 186]. Wahai orang-orang beriman! Munajat seorang hamba kepada Tuhannya merupakan derajat penghambaan yang tertinggi dan paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Ketika seorang hamba mempersembahkan kepada-Nya sesuatu yang paling Dia cintai, berupa ketundukan dalam berdoa, lantunan ayat-ayat Kitab-Nya, atau untaian zikir kepada-Nya, dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Munajat adalah bahasa jiwa kepada Tuhannya, yang diungkapkan oleh hati sebelum lisan. Ia merupakan rahasia tersembunyi antara seorang hamba dengan Tuhannya, dengannya, seorang hamba yang lemah mengadu kepada Tuhannya Yang Maha Kuasa dengan ungkapan terbaik. Allah Maha Dekat kepadanya, Maha Mendengar bisikannya, Maha Melihat kedudukannya, dan Maha Mengetahui keadaannya. Suatu rahmat-Nya yang besar, Dia menjadikan kemuliaan bermunajat dapat dilakukan oleh setiap orang yang menghendakinya kapanpun itu, tidak ada siapapun yang dapat menghalangi antara dirinya dengan Tuhannya, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186). أوصى أحدُ العلماءِ قائلًا: ‌كلِّموا ‌اللهَ ‌كثيرًا، قالوا: وكيف نكلِّمُ اللهَ؟ قال: اخْلوا بمناجاتِه، اخلوا بدعائِه. وتلك المناجاةُ أبلغُ حالٍ للعبدِ يراه اللهُ عليه، ومقامُها أخصُّ مقامِ القُرْبِ منه -جلَّ وعلا- كما قال تعالى عن نبيِّه موسى -عليه السلامُ-: ﴿ وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا ﴾ [مريم: 52]. ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أوجبِ سُبلِ رضاه، كما عَجِلَ إليها موسى -عليه السلامُ- حين سألَه اللهُ فقال: ﴿ وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى ﴾ [طه: 83، 84]. قال ابنُ رجبٍ:” فدلَّ على أنَّ المسارعةَ إلى مناجاةِ اللهِ تُوجِبُ رضاه Ada seorang ulama yang berwasiat: “Banyak-banyaklah berbincang dengan Allah Ta’ala!” Orang-orang bertanya, “Bagaimana kita dapat berbincang dengan AllahTa’ala?!” Beliau menjawab, “Menyendirilah untuk bermunajat kepada-Nya! Menyendirilah untuk berdoa kepada-Nya!” Munajat merupakan keadaan terbaik seorang hamba yang disaksikan oleh Allah, dan kedudukan munajat itu paling istimewa di antara kedudukan pendekatan kepada-Nya, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentang Nabi Musa Alaihissalam: وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا “Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan (Gunung) Tursina) dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat (berbicara tanpa perantara).” (QS. Maryam: 52). Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah cara yang paling mudah untuk meraih keridhaan-Nya, sebagaimana Nabi Musa yang bergegas melakukannya. Allah Ta’ala bertanya kepadanya: وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “(Allah Ta’ala berfirman), ‘Apa yang membuat engkau datang (ke gunung Sinai) lebih cepat sehingga meninggalkan kaummu, wahai Musa?’ (Musa) berkata, ‘Itu mereka sedang menyusulku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau ridha.” (QS. Thaha: 83-84). Ibnu Rajab berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa bersegera untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala dapat mendatangkan keridhaan-Nya.” ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أعظمِ أسبابِ الأُنسِ والرَّاحةِ، قال بعضُ السَّلفِ: ” إذا صحَّتِ المناجاةُ بالقلوبِ استراحتِ الجوارحُ “. وتلك المناجاةُ مِعراجٌ موصِلٌ لمقامِ الإحسانِ، وهو أرفعُ مقاماتِ الدِّينِ، فقد عرَّفَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم الإحسانَ بقولِه: ” أَنْ ‌تَعْبُدَ ‌اللَّهَ ‌كَأَنَّكَ ‌تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ ” رواه مسلمٌ، قال ابنُ القيِّمِ: ” فإذا بلغَ في مقامِ الإحسانِ بحيثُ يكونُ كأنَّه يَرى اللهَ -سبحانَه-؛ فهكذا مخاطبتُه ومناجاتُه له “. وتلك المناجاةُ تُكسِبُ القلبَ صفاءً لا تكدِّرُه شُبَهُ الشيطانِ ووساوسُه، قال السُّرِيُّ السَّقَطِيُّ: ” مَن اشتغلَ بمناجاةِ اللهِ أورثتْهُ حلاوةُ ذكرِ اللهِ -تعالى- مرارةَ ما يُلقي إليه الشيطانُ “. بلْ إنَّ تلك المناجاةَ مَنْجَمُ خيرٍ مُعجَّلٌ لا تَنقطعُ بركتُه، قال محمدُ بنُ يوسفَ بنِ مِعدانَ:” مَن أرادَ تعجيلَ النِّعمِ؛ فلْيُكثِرْ من مناجاةِ الخلوةِ” Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah salah satu sebab terbesar untuk meraih ketenangan dan kedamaian. Seorang ulama Salaf berkata, “Apabila munajat benar-benar terwujud dalam hati, maka anggota badan lain akan merasakan ketenangan.” Munajat merupakan tangga yang dapat mengantarkan kepada tingkat ihsan, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam beragama. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendefinisikan ihsan dengan sabdanya, “Kamu beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).  Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila seseorang telah mencapai derajat ihsan, di mana ia seakan-akan melihat Allah Ta’ala, maka demikianlah yang terjadi ketika seseorang bermunajat kepada-Nya (seakan-akan melihat-Nya).” Munajat juga menjadikan hati menjadi bersih, tidak ternodai oleh syubhat-syubhat dan bisikan-bisikan setan. As-Suri As-Saqathi berkata, “Barang siapa yang sibuk bermunajat kepada Allah Ta’ala, maka manisnya berzikir kepada-Nya akan membuatnya dapat merasakan pahitnya apa yang dibisikkan setan kepadanya.” Bahkan munajat juga bagaikan tambang kebaikan yang hadir di dunia dan tidak terputus keberkahannya. Muhammad bin Yusuf bin Mi’dani berkata, “Barang siapa yang ingin kenikmatan-kenikmatannya disegerakan, hendaklah ia memperbanyak munajat dalam kesendirian.” عبادَ اللهِ! والصلاةُ أعظمُ مواطنِ المناجاةِ بين العبدِ وربِّه؛ لِمَا يَجتمعُ فيها من أصولِ المناجاةِ؛ ذِكرًا، ودعاءً، وتلاوةً للقرآنِ، كما قالَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ ” رواه البخاريُّ. وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” قال اللهُ -تعالى-: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “رواه مسلمٌ Wahai para hamba Allah Ta’ala! Salat merupakan waktu teragung untuk bermunajat antara seorang hamba dengan Tuhannya, karena di dalamnya terhimpun dasar-dasar munajat, seperti zikir, doa, dan tilawah Al-Qur’an. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ “Apabila seorang mukmin berada dalam salat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya.” (HR. Al-Bukhari). Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda (dalam hadis qudsi) bahwa Allah Ta’ala berfirman: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “Aku membagi salat antara diri-Ku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba itu membaca: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Arrahmanirrahim’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Maliki yaumiddin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku.’ (Dan dalam riwayat lain Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku’). Apabila ia membaca: ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Apabila ia membaca: ‘Ihdinash shirathal mustaqim shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhallin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’” (HR. Muslim). بل إنَّ تلك المناجاةَ هي مقصودُ الصلاةِ وروحُها، كما قال عبدُاللهِ بنُ المباركِ: ” سألتُ سفيانَ الثوريَّ، قلتُ: الرجلُ إذا قامَ إلى الصلاةِ، أيَّ شيءٍ يَنوي بقراءتِه وصلاتِه؟ قال: ينوي أنَّه يناجي ربَّه “. وأرفعُ درجاتِ المناجاةِ أنْ يُكرِمَ اللهُ مَن سبقتْ له الحسنى ممَّّنِ اصطفاهم مِن عبادِه ببلوغِ منزلةِ التَّلذُّذِ بحلاوةِ تلك المناجاةِ، وذوْقِ طعمِ الافتقارِ إليه، وتيقُّنِ الإفلاسِ ممَّا سواه؛ فتلك اللذةُ هي أعظمُ لذاتِ الدنيا على الإطلاقِ، كما قالَ مَن ذاقَ حلاوتَها من أهلِ المعرفةِ باللهِ؛ قال الحسنُ البصريُّ: ” إنَّ أحباءَ اللهِ همُ الذين وَرِثوا أطيبَ الحياةِ بما وَصلوا إِلَيْهِ من ‌مناجاةِ حبيبِهم، وبما وجدوا من لذَّة حبِّه في قلوبِهم” Bahkan, munajat merupakan tujuan dan ruh dari salat, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Al-Mubarak, “Aku pernah bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Apabila seseorang mendirikan salat, apa yang harus ia niatkan pada bacaan dan salatnya?’ Beliau menjawab, ‘Berniat untuk bermunajat kepada Tuhannya.’”  Tingkat munajat yang tertinggi adalah ketika Allah Ta’ala telah mengaruniakan kepada orang-orang yang baik dan terpilih dari para hamba-Nya untuk sampai pada derajat menikmati manisnya munajat tersebut, merasakan ketergantungan penuh kepada-Nya, dan meyakini ketidakberdayaan siapapun selain-Nya. Itulah kenikmatan dunia yang terbesar secara mutlak, sebagaimana yang diungkapkan oleh orang yang telah merasakan manisnya munajat dari mereka yang benar-benar mengenal Allah Ta’ala. Al-Hasan Al-Basri berkata, “Para kekasih Allah Ta’ala adalah mereka yang merasakan kehidupan ternikmat berkat derajat yang telah mereka capai dari munajat kepada Kekasih mereka, dan berkat kenikmatan rasa cinta yang mereka rasakan dalam hati mereka.” وقَالَ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ: ” مَا تَلَذَّذَ ‌الْمُتَلَذِّذُونَ بِمِثْلِ الْخَلْوَةِ بِمُنَاجَاةِ اللَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ – وَالْأُنْسِ بِمَحَبَّتِهِ “. وقال آخرُ: ” سرورُ المؤمنِ ولذَّتُه في الخلوةِ بمناجاةِ ربِّه “. وقال آخرُ: ” واللهِ! ما رجلٌ يخلو بأهلِه عروسًا أقرَّ ما كانت نفسُه وآنسَ، بأشدَّ سرورًا منهم بمناجاةِ ربِّهم -تعالى- إذا خَلَوْا به “، وقال آخرُ: ” كلُّ النعيمِ في التلذُّذِ بمناجاةِ اللهِ، كلُّ الراحةِ في التَّعبِ بخدمةِ اللهِ، كلُّ الغنى في تصحيحِ الافتقارِ إلى اللهِ “. وقال آخرُ: “إنِّي ‌لَأفرحُ بالليلِ حينَ يُقبل، لما يلَذُّ به عيشي وتقَرُّ به عيني من مناجاةِ مَن أُحبُّ، وخُلُوِّي بخدمتِه، والتَّذللِ بينَ يديه. وأغتمُّ للفجرِ إذا طلعَ؛ لِمَا أشتغلُ به بالنهارِ عن ذلك”. وقال آخرُ: ” ليس في الدنيا وقتٌ يُشبهُ نعيمَ أهلِ الجنَّةِ، إلا ما يجدُه أهلُ التَّمَلُّقِ في قلوبِهم بالليلِ من حلاوةِ المناجاةِ “. وقال آخرُ: ” لذَّةُ المناجاةِ ليست من الدنيا، إنِّما هي من الجنةِ أظهرَها اللهُ -تعالى- لأوليائِه؛ لا يَجِدُها سواهم Muslim bin Yasar berkata, “Tidaklah orang-orang yang merasakan nikmat itu dapat merasakan nikmat yang melebihi nikmat kesendirian untuk bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kedamaian dalam kecintaan kepada-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Kebahagiaan dan kenikmatan seorang mukmin ada pada pengasingan diri untuk bermunajat kepada Tuhannya.” Ulama lain mengatakan, “Demi Allah Ta’ala! Tidaklah seseorang berdua dengan pengantin barunya merasakan kedamaian dan ketenangan melebihi yang dirasakan mereka yang bermunajat dengan Tuhannya ketika sedang berdua dengan-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Segala kenikmatan ada pada kenikmatan bermunajat kepada Allah Ta’ala.” Ulama lain mengatakan, “Sungguh aku sangat bahagia dengan malam yang datang menyapa, karena hidupku menjadi begitu nikmat dan jiwaku begitu tenteram berkat munajat kepada Dzat yang aku cintai, kesendirianku untuk mengabdi kepada-Nya, dan kenikmatan berada di hadapan-Nya. Aku juga sedih ketika waktu subuh hadir menghampiri, karena aktivitas siang hari mengalihkanku dari itu semua.” Ulama lain mengatakan, “Tidak ada waktu di dunia yang mirip dengan kenikmatan para penghuni surga kecuali apa yang dirasakan dalam hati para perayu Tuhan mereka di malam hari, berupa manisnya bermunajat.” Ulama lain mengatakan, “Nikmatnya munajat bukan berasal dari dunia, tapi ia dari surga yang Allah Ta’ala tampakkan bagi para kekasih-Nya, dan tidak ada yang dapat merasakannya kecuali mereka.” الخطبة الثانية الحمدُ للهِ، والصلاةُ والسلامُ على رسولِ اللهِ. أما بعدُ. فاعلموا أنَّ أحسنَ الحديثِ كتابُ اللهِ… Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.  Amma ba’du:  Ketahuilah! Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah! أيها المؤمنون! وسبيلُ الوصولِ إلى بلوغِ لذَّةِ المناجاةِ دوامُ الإلحاحِ على اللهِ بطلبِها، ومجاهدةُ النفسِ للظَّفرِ بها، والإتيانُ بآدابِها؛ من المبادرةِ إليها، وحضورِ القلبِ فيها، واستشعارِ قُرْبِ اللهِ ومخاطبتِه، وخفضِ الصوتِ في مناجاتِه، وتقديمِ الصدقةِ بين يديها، والاستعدادِ لها بالتطهرِ والتجملِ بأحسنِ الحالِ واللباسِ، والحرصِ على الخلوةِ باللهِ في عبادةِ السِّرِّ، والحذرِ من إفشاءِ سرِّها للناسِ، والإعجابِ بها. Wahai orang-orang beriman! Jalan untuk berhasil meraih kenikmatan munajat adalah dengan konsisten memintanya kepada Allah, berusaha melatih diri untuk membiasakannya, dan menerapkan adab-adabnya seperti antusias melakukannya, menghadirkan hati di dalamnya, merasakan kehadiran Allah dan perbincangan dengan-Nya, melirihkan suara saat melakukannya, mempersembahkan sedekah sebelum melakukannya, mempersiapkan diri dengan bersuci dan berhias dengan kondisi dan penampilan terbaik, berusaha menyendiri dengan Allah saat melakukan ibadah rahasia, dan tidak membeberkan rahasia munajat kepada orang lain dan takjub terhadapnya. هذا وإنَّ من خفيِّ كرمِ اللهِ لعبدِه، وإرادتِه الخيرَ به أنْ يُقدِّرَ عليه من البلاءِ والحاجةِ ما يَجعلُه سبيلًا لبلوغِ نُزُلِ المناجاةِ العليِّ وذوقِ حلاوتِها، كما قال شيخُ الإسلامِ ابنُ تيميةَ: ” لكنَّ العبدَ قد تنزِلُ به النازلةُ، فيكونُ مقصودُه طلبَ حاجتِه، وتفريجَ كرباتِه، فيسعى في ذلك بالسؤالِ والتضرعِ -وإنْ كان ذلك من العبادةِ والطاعةِ-، ثمَّ يكونُ في أولِ الأمرِ قصدُه حصولَ ذلك المطلوبِ من الرزقِ والنصرِ والعافيةِ مطلقًا، ثم الدعاءُ والتضرعُ يَفْتَحُ له من أبوابِ الإيمانِ باللهِ -عز وجل-، ومعرفتِه ومحبتِه، والتَّنعمِ بذكرِه ودعائه، ما يكونُ هو أحبَّ إليه وأعظمَ قدْرًا عنده من تلك الحاجةِ التي هَمَّتْهُ. وهذا من رحمةِ اللهِ بعبادِه؛ يَسوقُهم بالحاجاتِ الدنيويةِ إلى المقاصدِ العَليةِ الدينيةِ “.  وقال بعضُ الشيوخِ: إنَّه لَيكونُ لي إلى اللهِ حاجةٌ، فأدعوه، فيفتحُ لي من لذيذِ معرفتِه وحلاوةِ مناجاتِه ما لا أحبُّ معه أنْ يُعَجِّلَ قضاءَ حاجتي؛ خشيةَ أنْ تنْصَرِفَ نفسي “. ويكفي العبدَ عِوضًا من إجابتِه أنْ يَفتحَ اللهُ عليه في لذَّةِ المناجاةِ وإظهارِ الافتقارِ والانكسارِ. وقد يُمنَعُ العبدُ إجابةَ طلبِه؛ لرفعةِ مَقامِه عندَ اللهِ، وقد يُجابُ؛ كراهةً لسماعِ صوتِه؛ فليحذرِ الداعي أنْ يكونِ حالِ دعائِه مِمَّن قُضِيتْ حاجتُه؛ لكراهةِ اللهِ له، لا لمحبَّتِه. Di antara kelembutan karunia Allah Ta’ala bagi hamba-Nya dan kehendak kebaikan baginya adalah Dia menakdirkan musibah dan kekurangan baginya, sehingga itu menjadikannya jalan untuk mencapai derajat yang tinggi dalam bermunajat dan merasakan manisnya, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Terkadang seorang hamba tertimpa suatu musibah, lalu ia bermaksud memohon pemenuhan kebutuhannya dan solusi atas musibahnya, sehingga ia berusaha meraih itu dengan meminta kepada Allah Ta’ala dengan penuh ketundukan, meskipun pada dasarnya itu adalah bentuk ibadah dan ketaatan. Pada mulanya ia melakukan itu dengan tujuan mendapat rezeki, pertolongan, dan keselamatan saja, tapi kemudian doa dan ketundukannya membukakan baginya pintu-pintu keimanan kepada Allah Ta’ala, pengenalan tentang-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan kenikmatan dalam mengingat dan berdoa kepada-Nya, sehingga itu lebih ia cintai dan lebih besar kedudukannya dalam hatinya daripada kebutuhan yang dulunya ia inginkan. Ini merupakan bentuk rahmat Allah Ta’ala bagi para hamba-Nya, Dia menuntun mereka dari kebutuhan-kebutuhan duniawi menuju tujuan-tujuan mulia dan agama.” Seorang syekh pernah berkata, “Suatu hari aku punya suatu kebutuhan kepada Allah Ta’ala, sehingga aku berdoa kepada-Nya. Kemudian dibukakan bagiku rasa nikmat untuk mengenal-Nya dan manisnya munajat kepada-Nya yang membuatku tidak ingin kebutuhanku itu segera dipenuhi, karena aku khawatir hatiku kembali dipalingkan dari rasa ini.” Cukup menjadi ganti bagi seorang hamba atas pengabulan doanya, apabila Allah Ta’ala membukakan baginya kenikmatan bermunajat, dan pengungkapan kelemahan dan kerendahan kepada-Nya. Bahkan terkadang seorang hamba terhalang dari pengabulan doanya, karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Ta’ala, dan terkadang doa seorang hamba segera dikabulkan karena Allah Ta’ala tidak sudi mendengar suaranya. Oleh sebab itu, hendaklah orang yang berdoa itu berhati-hati bila doanya dikabulkan hanya karena Allah Ta’ala tidak suka kepadanya, bukan karena Allah Ta’ala mencintainya. أيها الأخُ المباركُ! اجعلْ لمناجاةَ ربِّكَ جزءً من يومِك؛ لا تُخِلُّ به وإنْ قلَّ؛ تشكرُه على نعمِه، وتلهجُ بذِكرِه، وتتلو كتابَه، وتستغفرُه خطاياك، وتبثُّ إليه همومَك، وتسألُه حاجتَك؛ وسترى لهذه المناجاةِ أثرًا بالغِ الحُسْنِ في حياتِك وبعد مماتِك، وستنعمُ بحلاوةٍ ولذَّةٍ تفوقُ كلَّ لذاتِ الدنيا. يناجي خاليًا ربًَّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا  ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا  فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Wahai saudaraku yang diberkahi! Jadikanlah munajat kepada Tuhanmu bagian dari harimu, janganlah sekali-kali harimu kosong darinya, meski hanya dengan munajat singkat. Dalam munajatmu, kamu dapat mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, menyenandungkan zikir kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memohon ampunan atas dosa-dosamu, mengadukan segala keluh kesahmu, dan meminta kebutuhanmu, niscaya dari munajat ini kamu akan melihat pengaruh yang sangat positif dalam kehidupanmu dan setelah kematianmu, dan kamu akan menikmati rasa manis dan kenikmatan yang melebihi segala kenikmatan dunia. يناجي خاليًا ربًّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا Ia bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Dekat dalam kesendirian Dengan ayat-ayat Al-Qur’an penuh ketundukan dan keinsafan ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا Memohon dengan khusyuk dan ruhnya meninggi Menikmati perbincangan dengan penuh kerendahan فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Tidak akan kembali dengan tangan kosong tanpa kebaikan Tangan-tangan yang ditadahkan ke langit mengharap ganjaran Sumber: https://www.alukah.net/خطبة: لذة المناجاة Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 181 times, 1 visit(s) today Post Views: 502 QRIS donasi Yufid


لذَّةُ المناجاةِ Oleh: Dr. Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim al-Suhaim د. محمد بن عبدالله بن إبراهيم السحيم الحمدُ للهِ عالمِ السرِّ وأخفى، سامعِ الجهرِ والنَّجوى، وأشهدُ ألا إلهَ إلا اللهُ ذو الأسماءِ الحسنى والصفاتِ العُلى، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى اللهُ وسلَّمَ عليه وعلى آلِه وصحبِه ذويِ اليُمنِ والنُّهى. أما بعدُ، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران: 102]. Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Yang Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi, Maha Mendengar yang lantang dan yang berbisik. Saya bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala, Pemilik nama-nama terbaik dan sifat-sifat tertinggi, dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah hamba dan rasul-Nya, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau, manusia-manusia baik dan cendekia. Amma ba’du: Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102). أيها المؤمنون! مناجاةُ العبدِ ربَّه أرفعُ درجاتِ العبوديةِ، وأجلُّها عندِ اللهِ قدْرًا؛ حين يتقرَّبُ العبدُ إليه بأحبِّ شيءٍ إليه؛ من تضرُّعٍ في دعائِه، أو تغنٍّ بكتابِه، أو لَهَجٍ بذكْرِه؛ تسبيحًا، وحمدًا، وتهليلًا، وتكبيرًا. المناجاةُ حديثُ روحٍ لربِّها؛ يَفيضُ بها القلبُ قبلَ اللسانِ. وهيَ سرٌّ خفيٌّ بين العبدِ وربِّه؛ يُخاطِبُ فيها العبدُ الفقيرُ مولاه القديرَ بأحبِّ الخِطابَ، والله قريبٌ منه؛ يسمعُ سرَّه، ويرى مكانَه، ويعلمُ حالَه. ومن جليلِ رحمتِه أنْ جعلَ شرفَ مناجاتِه متاحًا لكلِّ طالبٍ متى شاءَ؛ لا يَحولُ بينَه وبينَ ربِّه أحدٌ، كما قال تعالى: ﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾ [البقرة: 186]. Wahai orang-orang beriman! Munajat seorang hamba kepada Tuhannya merupakan derajat penghambaan yang tertinggi dan paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Ketika seorang hamba mempersembahkan kepada-Nya sesuatu yang paling Dia cintai, berupa ketundukan dalam berdoa, lantunan ayat-ayat Kitab-Nya, atau untaian zikir kepada-Nya, dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Munajat adalah bahasa jiwa kepada Tuhannya, yang diungkapkan oleh hati sebelum lisan. Ia merupakan rahasia tersembunyi antara seorang hamba dengan Tuhannya, dengannya, seorang hamba yang lemah mengadu kepada Tuhannya Yang Maha Kuasa dengan ungkapan terbaik. Allah Maha Dekat kepadanya, Maha Mendengar bisikannya, Maha Melihat kedudukannya, dan Maha Mengetahui keadaannya. Suatu rahmat-Nya yang besar, Dia menjadikan kemuliaan bermunajat dapat dilakukan oleh setiap orang yang menghendakinya kapanpun itu, tidak ada siapapun yang dapat menghalangi antara dirinya dengan Tuhannya, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186). أوصى أحدُ العلماءِ قائلًا: ‌كلِّموا ‌اللهَ ‌كثيرًا، قالوا: وكيف نكلِّمُ اللهَ؟ قال: اخْلوا بمناجاتِه، اخلوا بدعائِه. وتلك المناجاةُ أبلغُ حالٍ للعبدِ يراه اللهُ عليه، ومقامُها أخصُّ مقامِ القُرْبِ منه -جلَّ وعلا- كما قال تعالى عن نبيِّه موسى -عليه السلامُ-: ﴿ وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا ﴾ [مريم: 52]. ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أوجبِ سُبلِ رضاه، كما عَجِلَ إليها موسى -عليه السلامُ- حين سألَه اللهُ فقال: ﴿ وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى ﴾ [طه: 83، 84]. قال ابنُ رجبٍ:” فدلَّ على أنَّ المسارعةَ إلى مناجاةِ اللهِ تُوجِبُ رضاه Ada seorang ulama yang berwasiat: “Banyak-banyaklah berbincang dengan Allah Ta’ala!” Orang-orang bertanya, “Bagaimana kita dapat berbincang dengan AllahTa’ala?!” Beliau menjawab, “Menyendirilah untuk bermunajat kepada-Nya! Menyendirilah untuk berdoa kepada-Nya!” Munajat merupakan keadaan terbaik seorang hamba yang disaksikan oleh Allah, dan kedudukan munajat itu paling istimewa di antara kedudukan pendekatan kepada-Nya, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentang Nabi Musa Alaihissalam: وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا “Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan (Gunung) Tursina) dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat (berbicara tanpa perantara).” (QS. Maryam: 52). Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah cara yang paling mudah untuk meraih keridhaan-Nya, sebagaimana Nabi Musa yang bergegas melakukannya. Allah Ta’ala bertanya kepadanya: وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى * قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى “(Allah Ta’ala berfirman), ‘Apa yang membuat engkau datang (ke gunung Sinai) lebih cepat sehingga meninggalkan kaummu, wahai Musa?’ (Musa) berkata, ‘Itu mereka sedang menyusulku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau ridha.” (QS. Thaha: 83-84). Ibnu Rajab berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa bersegera untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala dapat mendatangkan keridhaan-Nya.” ومناجاةُ العبدِ ربَّه من أعظمِ أسبابِ الأُنسِ والرَّاحةِ، قال بعضُ السَّلفِ: ” إذا صحَّتِ المناجاةُ بالقلوبِ استراحتِ الجوارحُ “. وتلك المناجاةُ مِعراجٌ موصِلٌ لمقامِ الإحسانِ، وهو أرفعُ مقاماتِ الدِّينِ، فقد عرَّفَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم الإحسانَ بقولِه: ” أَنْ ‌تَعْبُدَ ‌اللَّهَ ‌كَأَنَّكَ ‌تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ ” رواه مسلمٌ، قال ابنُ القيِّمِ: ” فإذا بلغَ في مقامِ الإحسانِ بحيثُ يكونُ كأنَّه يَرى اللهَ -سبحانَه-؛ فهكذا مخاطبتُه ومناجاتُه له “. وتلك المناجاةُ تُكسِبُ القلبَ صفاءً لا تكدِّرُه شُبَهُ الشيطانِ ووساوسُه، قال السُّرِيُّ السَّقَطِيُّ: ” مَن اشتغلَ بمناجاةِ اللهِ أورثتْهُ حلاوةُ ذكرِ اللهِ -تعالى- مرارةَ ما يُلقي إليه الشيطانُ “. بلْ إنَّ تلك المناجاةَ مَنْجَمُ خيرٍ مُعجَّلٌ لا تَنقطعُ بركتُه، قال محمدُ بنُ يوسفَ بنِ مِعدانَ:” مَن أرادَ تعجيلَ النِّعمِ؛ فلْيُكثِرْ من مناجاةِ الخلوةِ” Munajat seorang hamba kepada Tuhannya adalah salah satu sebab terbesar untuk meraih ketenangan dan kedamaian. Seorang ulama Salaf berkata, “Apabila munajat benar-benar terwujud dalam hati, maka anggota badan lain akan merasakan ketenangan.” Munajat merupakan tangga yang dapat mengantarkan kepada tingkat ihsan, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam beragama. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendefinisikan ihsan dengan sabdanya, “Kamu beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).  Ibnu Al-Qayyim berkata, “Apabila seseorang telah mencapai derajat ihsan, di mana ia seakan-akan melihat Allah Ta’ala, maka demikianlah yang terjadi ketika seseorang bermunajat kepada-Nya (seakan-akan melihat-Nya).” Munajat juga menjadikan hati menjadi bersih, tidak ternodai oleh syubhat-syubhat dan bisikan-bisikan setan. As-Suri As-Saqathi berkata, “Barang siapa yang sibuk bermunajat kepada Allah Ta’ala, maka manisnya berzikir kepada-Nya akan membuatnya dapat merasakan pahitnya apa yang dibisikkan setan kepadanya.” Bahkan munajat juga bagaikan tambang kebaikan yang hadir di dunia dan tidak terputus keberkahannya. Muhammad bin Yusuf bin Mi’dani berkata, “Barang siapa yang ingin kenikmatan-kenikmatannya disegerakan, hendaklah ia memperbanyak munajat dalam kesendirian.” عبادَ اللهِ! والصلاةُ أعظمُ مواطنِ المناجاةِ بين العبدِ وربِّه؛ لِمَا يَجتمعُ فيها من أصولِ المناجاةِ؛ ذِكرًا، ودعاءً، وتلاوةً للقرآنِ، كما قالَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ ” رواه البخاريُّ. وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” قال اللهُ -تعالى-: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “رواه مسلمٌ Wahai para hamba Allah Ta’ala! Salat merupakan waktu teragung untuk bermunajat antara seorang hamba dengan Tuhannya, karena di dalamnya terhimpun dasar-dasar munajat, seperti zikir, doa, dan tilawah Al-Qur’an. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا ‌يُنَاجِي ‌رَبَّهُ “Apabila seorang mukmin berada dalam salat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya.” (HR. Al-Bukhari). Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda (dalam hadis qudsi) bahwa Allah Ta’ala berfirman: قَسَمتُ الصلاةَ بيني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قالَ العبدُ: الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: ‌حَمِدَنِي ‌عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرحمنِ الرحيمِ، قَالَ اللَّهُ -تَعَالَى-: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قال: مالكِ يومِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي)، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضالين، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “Aku membagi salat antara diri-Ku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba itu membaca: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Arrahmanirrahim’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila ia membaca: ‘Maliki yaumiddin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku.’ (Dan dalam riwayat lain Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku’). Apabila ia membaca: ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Apabila ia membaca: ‘Ihdinash shirathal mustaqim shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhallin’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’” (HR. Muslim). بل إنَّ تلك المناجاةَ هي مقصودُ الصلاةِ وروحُها، كما قال عبدُاللهِ بنُ المباركِ: ” سألتُ سفيانَ الثوريَّ، قلتُ: الرجلُ إذا قامَ إلى الصلاةِ، أيَّ شيءٍ يَنوي بقراءتِه وصلاتِه؟ قال: ينوي أنَّه يناجي ربَّه “. وأرفعُ درجاتِ المناجاةِ أنْ يُكرِمَ اللهُ مَن سبقتْ له الحسنى ممَّّنِ اصطفاهم مِن عبادِه ببلوغِ منزلةِ التَّلذُّذِ بحلاوةِ تلك المناجاةِ، وذوْقِ طعمِ الافتقارِ إليه، وتيقُّنِ الإفلاسِ ممَّا سواه؛ فتلك اللذةُ هي أعظمُ لذاتِ الدنيا على الإطلاقِ، كما قالَ مَن ذاقَ حلاوتَها من أهلِ المعرفةِ باللهِ؛ قال الحسنُ البصريُّ: ” إنَّ أحباءَ اللهِ همُ الذين وَرِثوا أطيبَ الحياةِ بما وَصلوا إِلَيْهِ من ‌مناجاةِ حبيبِهم، وبما وجدوا من لذَّة حبِّه في قلوبِهم” Bahkan, munajat merupakan tujuan dan ruh dari salat, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Al-Mubarak, “Aku pernah bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Apabila seseorang mendirikan salat, apa yang harus ia niatkan pada bacaan dan salatnya?’ Beliau menjawab, ‘Berniat untuk bermunajat kepada Tuhannya.’”  Tingkat munajat yang tertinggi adalah ketika Allah Ta’ala telah mengaruniakan kepada orang-orang yang baik dan terpilih dari para hamba-Nya untuk sampai pada derajat menikmati manisnya munajat tersebut, merasakan ketergantungan penuh kepada-Nya, dan meyakini ketidakberdayaan siapapun selain-Nya. Itulah kenikmatan dunia yang terbesar secara mutlak, sebagaimana yang diungkapkan oleh orang yang telah merasakan manisnya munajat dari mereka yang benar-benar mengenal Allah Ta’ala. Al-Hasan Al-Basri berkata, “Para kekasih Allah Ta’ala adalah mereka yang merasakan kehidupan ternikmat berkat derajat yang telah mereka capai dari munajat kepada Kekasih mereka, dan berkat kenikmatan rasa cinta yang mereka rasakan dalam hati mereka.” وقَالَ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ: ” مَا تَلَذَّذَ ‌الْمُتَلَذِّذُونَ بِمِثْلِ الْخَلْوَةِ بِمُنَاجَاةِ اللَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ – وَالْأُنْسِ بِمَحَبَّتِهِ “. وقال آخرُ: ” سرورُ المؤمنِ ولذَّتُه في الخلوةِ بمناجاةِ ربِّه “. وقال آخرُ: ” واللهِ! ما رجلٌ يخلو بأهلِه عروسًا أقرَّ ما كانت نفسُه وآنسَ، بأشدَّ سرورًا منهم بمناجاةِ ربِّهم -تعالى- إذا خَلَوْا به “، وقال آخرُ: ” كلُّ النعيمِ في التلذُّذِ بمناجاةِ اللهِ، كلُّ الراحةِ في التَّعبِ بخدمةِ اللهِ، كلُّ الغنى في تصحيحِ الافتقارِ إلى اللهِ “. وقال آخرُ: “إنِّي ‌لَأفرحُ بالليلِ حينَ يُقبل، لما يلَذُّ به عيشي وتقَرُّ به عيني من مناجاةِ مَن أُحبُّ، وخُلُوِّي بخدمتِه، والتَّذللِ بينَ يديه. وأغتمُّ للفجرِ إذا طلعَ؛ لِمَا أشتغلُ به بالنهارِ عن ذلك”. وقال آخرُ: ” ليس في الدنيا وقتٌ يُشبهُ نعيمَ أهلِ الجنَّةِ، إلا ما يجدُه أهلُ التَّمَلُّقِ في قلوبِهم بالليلِ من حلاوةِ المناجاةِ “. وقال آخرُ: ” لذَّةُ المناجاةِ ليست من الدنيا، إنِّما هي من الجنةِ أظهرَها اللهُ -تعالى- لأوليائِه؛ لا يَجِدُها سواهم Muslim bin Yasar berkata, “Tidaklah orang-orang yang merasakan nikmat itu dapat merasakan nikmat yang melebihi nikmat kesendirian untuk bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kedamaian dalam kecintaan kepada-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Kebahagiaan dan kenikmatan seorang mukmin ada pada pengasingan diri untuk bermunajat kepada Tuhannya.” Ulama lain mengatakan, “Demi Allah Ta’ala! Tidaklah seseorang berdua dengan pengantin barunya merasakan kedamaian dan ketenangan melebihi yang dirasakan mereka yang bermunajat dengan Tuhannya ketika sedang berdua dengan-Nya.” Ulama lain mengatakan, “Segala kenikmatan ada pada kenikmatan bermunajat kepada Allah Ta’ala.” Ulama lain mengatakan, “Sungguh aku sangat bahagia dengan malam yang datang menyapa, karena hidupku menjadi begitu nikmat dan jiwaku begitu tenteram berkat munajat kepada Dzat yang aku cintai, kesendirianku untuk mengabdi kepada-Nya, dan kenikmatan berada di hadapan-Nya. Aku juga sedih ketika waktu subuh hadir menghampiri, karena aktivitas siang hari mengalihkanku dari itu semua.” Ulama lain mengatakan, “Tidak ada waktu di dunia yang mirip dengan kenikmatan para penghuni surga kecuali apa yang dirasakan dalam hati para perayu Tuhan mereka di malam hari, berupa manisnya bermunajat.” Ulama lain mengatakan, “Nikmatnya munajat bukan berasal dari dunia, tapi ia dari surga yang Allah Ta’ala tampakkan bagi para kekasih-Nya, dan tidak ada yang dapat merasakannya kecuali mereka.” الخطبة الثانية الحمدُ للهِ، والصلاةُ والسلامُ على رسولِ اللهِ. أما بعدُ. فاعلموا أنَّ أحسنَ الحديثِ كتابُ اللهِ… Khutbah Kedua Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.  Amma ba’du:  Ketahuilah! Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah! أيها المؤمنون! وسبيلُ الوصولِ إلى بلوغِ لذَّةِ المناجاةِ دوامُ الإلحاحِ على اللهِ بطلبِها، ومجاهدةُ النفسِ للظَّفرِ بها، والإتيانُ بآدابِها؛ من المبادرةِ إليها، وحضورِ القلبِ فيها، واستشعارِ قُرْبِ اللهِ ومخاطبتِه، وخفضِ الصوتِ في مناجاتِه، وتقديمِ الصدقةِ بين يديها، والاستعدادِ لها بالتطهرِ والتجملِ بأحسنِ الحالِ واللباسِ، والحرصِ على الخلوةِ باللهِ في عبادةِ السِّرِّ، والحذرِ من إفشاءِ سرِّها للناسِ، والإعجابِ بها. Wahai orang-orang beriman! Jalan untuk berhasil meraih kenikmatan munajat adalah dengan konsisten memintanya kepada Allah, berusaha melatih diri untuk membiasakannya, dan menerapkan adab-adabnya seperti antusias melakukannya, menghadirkan hati di dalamnya, merasakan kehadiran Allah dan perbincangan dengan-Nya, melirihkan suara saat melakukannya, mempersembahkan sedekah sebelum melakukannya, mempersiapkan diri dengan bersuci dan berhias dengan kondisi dan penampilan terbaik, berusaha menyendiri dengan Allah saat melakukan ibadah rahasia, dan tidak membeberkan rahasia munajat kepada orang lain dan takjub terhadapnya. هذا وإنَّ من خفيِّ كرمِ اللهِ لعبدِه، وإرادتِه الخيرَ به أنْ يُقدِّرَ عليه من البلاءِ والحاجةِ ما يَجعلُه سبيلًا لبلوغِ نُزُلِ المناجاةِ العليِّ وذوقِ حلاوتِها، كما قال شيخُ الإسلامِ ابنُ تيميةَ: ” لكنَّ العبدَ قد تنزِلُ به النازلةُ، فيكونُ مقصودُه طلبَ حاجتِه، وتفريجَ كرباتِه، فيسعى في ذلك بالسؤالِ والتضرعِ -وإنْ كان ذلك من العبادةِ والطاعةِ-، ثمَّ يكونُ في أولِ الأمرِ قصدُه حصولَ ذلك المطلوبِ من الرزقِ والنصرِ والعافيةِ مطلقًا، ثم الدعاءُ والتضرعُ يَفْتَحُ له من أبوابِ الإيمانِ باللهِ -عز وجل-، ومعرفتِه ومحبتِه، والتَّنعمِ بذكرِه ودعائه، ما يكونُ هو أحبَّ إليه وأعظمَ قدْرًا عنده من تلك الحاجةِ التي هَمَّتْهُ. وهذا من رحمةِ اللهِ بعبادِه؛ يَسوقُهم بالحاجاتِ الدنيويةِ إلى المقاصدِ العَليةِ الدينيةِ “.  وقال بعضُ الشيوخِ: إنَّه لَيكونُ لي إلى اللهِ حاجةٌ، فأدعوه، فيفتحُ لي من لذيذِ معرفتِه وحلاوةِ مناجاتِه ما لا أحبُّ معه أنْ يُعَجِّلَ قضاءَ حاجتي؛ خشيةَ أنْ تنْصَرِفَ نفسي “. ويكفي العبدَ عِوضًا من إجابتِه أنْ يَفتحَ اللهُ عليه في لذَّةِ المناجاةِ وإظهارِ الافتقارِ والانكسارِ. وقد يُمنَعُ العبدُ إجابةَ طلبِه؛ لرفعةِ مَقامِه عندَ اللهِ، وقد يُجابُ؛ كراهةً لسماعِ صوتِه؛ فليحذرِ الداعي أنْ يكونِ حالِ دعائِه مِمَّن قُضِيتْ حاجتُه؛ لكراهةِ اللهِ له، لا لمحبَّتِه. Di antara kelembutan karunia Allah Ta’ala bagi hamba-Nya dan kehendak kebaikan baginya adalah Dia menakdirkan musibah dan kekurangan baginya, sehingga itu menjadikannya jalan untuk mencapai derajat yang tinggi dalam bermunajat dan merasakan manisnya, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Terkadang seorang hamba tertimpa suatu musibah, lalu ia bermaksud memohon pemenuhan kebutuhannya dan solusi atas musibahnya, sehingga ia berusaha meraih itu dengan meminta kepada Allah Ta’ala dengan penuh ketundukan, meskipun pada dasarnya itu adalah bentuk ibadah dan ketaatan. Pada mulanya ia melakukan itu dengan tujuan mendapat rezeki, pertolongan, dan keselamatan saja, tapi kemudian doa dan ketundukannya membukakan baginya pintu-pintu keimanan kepada Allah Ta’ala, pengenalan tentang-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan kenikmatan dalam mengingat dan berdoa kepada-Nya, sehingga itu lebih ia cintai dan lebih besar kedudukannya dalam hatinya daripada kebutuhan yang dulunya ia inginkan. Ini merupakan bentuk rahmat Allah Ta’ala bagi para hamba-Nya, Dia menuntun mereka dari kebutuhan-kebutuhan duniawi menuju tujuan-tujuan mulia dan agama.” Seorang syekh pernah berkata, “Suatu hari aku punya suatu kebutuhan kepada Allah Ta’ala, sehingga aku berdoa kepada-Nya. Kemudian dibukakan bagiku rasa nikmat untuk mengenal-Nya dan manisnya munajat kepada-Nya yang membuatku tidak ingin kebutuhanku itu segera dipenuhi, karena aku khawatir hatiku kembali dipalingkan dari rasa ini.” Cukup menjadi ganti bagi seorang hamba atas pengabulan doanya, apabila Allah Ta’ala membukakan baginya kenikmatan bermunajat, dan pengungkapan kelemahan dan kerendahan kepada-Nya. Bahkan terkadang seorang hamba terhalang dari pengabulan doanya, karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Ta’ala, dan terkadang doa seorang hamba segera dikabulkan karena Allah Ta’ala tidak sudi mendengar suaranya. Oleh sebab itu, hendaklah orang yang berdoa itu berhati-hati bila doanya dikabulkan hanya karena Allah Ta’ala tidak suka kepadanya, bukan karena Allah Ta’ala mencintainya. أيها الأخُ المباركُ! اجعلْ لمناجاةَ ربِّكَ جزءً من يومِك؛ لا تُخِلُّ به وإنْ قلَّ؛ تشكرُه على نعمِه، وتلهجُ بذِكرِه، وتتلو كتابَه، وتستغفرُه خطاياك، وتبثُّ إليه همومَك، وتسألُه حاجتَك؛ وسترى لهذه المناجاةِ أثرًا بالغِ الحُسْنِ في حياتِك وبعد مماتِك، وستنعمُ بحلاوةٍ ولذَّةٍ تفوقُ كلَّ لذاتِ الدنيا. يناجي خاليًا ربًَّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا  ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا  فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Wahai saudaraku yang diberkahi! Jadikanlah munajat kepada Tuhanmu bagian dari harimu, janganlah sekali-kali harimu kosong darinya, meski hanya dengan munajat singkat. Dalam munajatmu, kamu dapat mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, menyenandungkan zikir kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memohon ampunan atas dosa-dosamu, mengadukan segala keluh kesahmu, dan meminta kebutuhanmu, niscaya dari munajat ini kamu akan melihat pengaruh yang sangat positif dalam kehidupanmu dan setelah kematianmu, dan kamu akan menikmati rasa manis dan kenikmatan yang melebihi segala kenikmatan dunia. يناجي خاليًا ربًّا قريبًا بآيِ الذِّكرِ مُنكسِرًا مُنيبا Ia bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Dekat dalam kesendirian Dengan ayat-ayat Al-Qur’an penuh ketundukan dan keinsafan ويدعو ضارعًا والروحُ تَسمو يَلَذُّ لها من الذُّلِّ خِطابا Memohon dengan khusyuk dan ruhnya meninggi Menikmati perbincangan dengan penuh kerendahan فما رُدَّتْ من الخيراتِ صِفْرًا أيادٍ للسَّما تَرجو ثوابا Tidak akan kembali dengan tangan kosong tanpa kebaikan Tangan-tangan yang ditadahkan ke langit mengharap ganjaran Sumber: https://www.alukah.net/خطبة: لذة المناجاة Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 181 times, 1 visit(s) today Post Views: 502 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Definisi “Kaidah Fikih”

Daftar Isi ToggleDefinisi kaidah fikihPertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Definisi “qowa’id” atau “kaidah”Definisi “fikih”Kedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu)Kaidah fikih adalah salah satu cabang ilmu yang disusun oleh para ulama untuk menapaki tangga dalam mengetahui dan memahami ilmu fikih. Singkatnya, dengan mengetahui kaidah-kaidah fikih yang dibuat oleh para ulama, kita akan lebih mudah untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih yang terdapat pada syari’at ini. Selain ilmu ushul fikih yang dapat membantu untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih, kaidah fikih pun tidak kalah penting untuk diketahui oleh para penuntut ilmu. Ilmu tentang kaidah fikih bertujuan sebagai penopang dari ilmu-ilmu alat yang lainnya untuk memahami syari’at ini.Definisi kaidah fikih Sebelum beranjak lebih jauh, agar mudah untuk memahami tentang kaidah fikih, baiknya kita beranjak dari definisi. Manfaat dari mengetahui definisi tentunya sangat banyak, di antaranya adalah menyatukan persepsi agar mudah dalam memahami cabang ilmu yang ingin dipelajari.Perlu diketahui bahwasanya istilah “kaidah fikih” merupakan istilah gabungan yang terdiri dari dua kata “kaidah” dan “fikih”, atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan القواعد الفقهية (Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah).Oleh karena itu, secara definisi, kaidah fikih terbagi menjadi dua bagian:Pertama: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk).Kedua: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu).Pertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Sebagaimana yang telah dipaparkan, bahwasanya kaidah fikih terdiri dari dua kata, القواعد الفقهية yaitu kata Al-Qowa’id dan kata Al-Fiqhiyyah.Definisi “qowa’id” atau “kaidah”القواعد (Al-Qowa’id) secara bahasa adalah bentuk jamak dari قاعدة (kaidah). Kata tersebut diambil dari tiga huruf bahasa Arab, yaitu, ق ع د  yang berarti menetap dan stabil. Namun, makna yang lebih dekat dapat diartikan bahwa kaidah adalah fondasi utama. Di antara yang menunjukkan arti tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah: 127)Dan juga firman Allah Ta’ala,فَاَتَى اللّٰهُ بُنْيَانَهُمْ مِّنَ الْقَوَاعِدِ“Maka, Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari fondasinya…” (QS. An-Nahl: 26)Keterkaitan antara hal tersebut secara makna, bahwasnya hukum-hukum dibangun di atas kaidah (fondasi) sebagaimana dinding (rumah) juga dibangun di atas pondasi.Adapun “kaidah” secara istilah adalah,قَضِيَّةٌ كُلِّيَّةٌ“Pernyataan yang menyeluruh (universal).”Yakni, suatu perkara yang bersifat menyeluruh (universal) yang mencakup berbagai cabang.Definisi “fikih”Secara bahasa, makna “fikih” adalah الفهم (faham).Allah Ta’ala berfirman,قَالُوْا يٰشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَقُوْلُ وَاِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْنَا ضَعِيْفًا ۗ“Wahai Syuʻaib, Kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu, sedangkan kami sesungguhnya memandang engkau sebagai seorang yang lemah di antara kami.” (QS. Hud: 81)Adaun secara istilah, “fikih” adalah,العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية“Ilmu terhadap hukum-hukum syar’i yang bersifat amali, yang disarikan dari dalil-dalil terperinci.”Jelaslah hal yang berkaitan dengan “kaidah fikih” jika didefinisikan sesuai dengan gabungan kata.Baca juga: Bersama Kesulitan Terdapat KemudahanKedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu) Sejatinya, tidak banyak dari para ulama yang mendefinisikan kaidah fikih sebagai bentuk laqob atau penamaan untuk disiplin ilmu tertentu. Dari definisi yang telah dipaparkan di atas, perlu diketahui bahwa para ulama tidak menuju kepada definisi secara laqob ilmu kaidah fikih. Namun, para ulama menyebutkan hanya sebatas definisi “kaidah” saja tanpa mendefinisikannya secara laqob.Jika berbicara tentang definisi secara khusus tentang laqob kaidah fikih, bisa dikatakan hampir-hampir tidak ditemukan di antara ulama terdahulu yang mendefinisikan ilmu ini. Namun, terdapat sebuah definisi yang sekiranya pas untuk digunakan sebagai definisi ilmu kaidah fikih. Berikut ini adalah definisi yang disampaikan oleh Dr. Ya’qub Al-Bahusain rahimahullah. Beliau mengatakan,قضية كلية فقهية، جزئيتها قضايا كلية فقهية“Pernyataan yang sifatnya menyeluruh terkait dengan fikih, yang bagiannya mencakup berbagai masalah fikih.” Artinya, sebagai bagian dari kaidah adalah mencakup berbagai permasalahan fikih.Murid beliau, Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, juga mendefinisikan tentang ilmu kaidah fikih,القضايا الكلية الفقهية التي جزئيتها كل قضية فيها تمثل قضايا كلية فقيهة“Pernyataan-pernyataan menyeluruh terkait dengan fikih, yang setiap bagian cabangnya mewakili kaidah umum fikih.” Sebagai contoh, terdapat suatu kaidah fikih yang berbunyi,المشقة تجلب التيسير“Bersama kesulitan terdapat kemudahan.”Hal ini dinamakan sebagai kaidah fikih. Dari kaidah ini terdapat permasalahan-permasalahan fikih yang dapat terselesaikan dengan kaidah ini. Seperti, orang yang tidak bisa melaksanakan salat dalam keadaan berdiri dikarenakan sedang sakit. Masalah tersebut bisa dijawab dengan kaidah ini, “bersama kesulitan terdapat kemudahan”; yaitu silakan laksanakan salat dalam keadaan duduk.Atau orang yang berpuasa, ia tidak mampu untuk melaksanakan puasa Ramadan karena sedang dirawat inap di rumah sakit. Dia butuh untuk makan dan minum. Hal ini pun bisa terjawab dengan kaidah fikih yang telah disebutkan para ulama, “bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Silahkan saja untuk berbuka, makan dan minum karena memang sedang membutuhkannya. Di kemudian hari, silahkan untuk meng-qadha’ puasanya karena sebab ia berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadan. Demikianlah di antara bentuk contoh penerapan kaidah fikih.Intinya, mempelajari tentang kaidah fikih adalah termasuk hal yang penting. Sebagai penunjang untuk memudahkan memahami ilmu fikih dan menjawab persoalan-persoalan yang terkait dengan fikih praktis.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Hukum Wasilah (Sarana) Tergantung pada Tujuan-Tujuannya***Depok, 17 Safar 1447/ 11 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.

Mengenal Definisi “Kaidah Fikih”

Daftar Isi ToggleDefinisi kaidah fikihPertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Definisi “qowa’id” atau “kaidah”Definisi “fikih”Kedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu)Kaidah fikih adalah salah satu cabang ilmu yang disusun oleh para ulama untuk menapaki tangga dalam mengetahui dan memahami ilmu fikih. Singkatnya, dengan mengetahui kaidah-kaidah fikih yang dibuat oleh para ulama, kita akan lebih mudah untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih yang terdapat pada syari’at ini. Selain ilmu ushul fikih yang dapat membantu untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih, kaidah fikih pun tidak kalah penting untuk diketahui oleh para penuntut ilmu. Ilmu tentang kaidah fikih bertujuan sebagai penopang dari ilmu-ilmu alat yang lainnya untuk memahami syari’at ini.Definisi kaidah fikih Sebelum beranjak lebih jauh, agar mudah untuk memahami tentang kaidah fikih, baiknya kita beranjak dari definisi. Manfaat dari mengetahui definisi tentunya sangat banyak, di antaranya adalah menyatukan persepsi agar mudah dalam memahami cabang ilmu yang ingin dipelajari.Perlu diketahui bahwasanya istilah “kaidah fikih” merupakan istilah gabungan yang terdiri dari dua kata “kaidah” dan “fikih”, atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan القواعد الفقهية (Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah).Oleh karena itu, secara definisi, kaidah fikih terbagi menjadi dua bagian:Pertama: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk).Kedua: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu).Pertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Sebagaimana yang telah dipaparkan, bahwasanya kaidah fikih terdiri dari dua kata, القواعد الفقهية yaitu kata Al-Qowa’id dan kata Al-Fiqhiyyah.Definisi “qowa’id” atau “kaidah”القواعد (Al-Qowa’id) secara bahasa adalah bentuk jamak dari قاعدة (kaidah). Kata tersebut diambil dari tiga huruf bahasa Arab, yaitu, ق ع د  yang berarti menetap dan stabil. Namun, makna yang lebih dekat dapat diartikan bahwa kaidah adalah fondasi utama. Di antara yang menunjukkan arti tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah: 127)Dan juga firman Allah Ta’ala,فَاَتَى اللّٰهُ بُنْيَانَهُمْ مِّنَ الْقَوَاعِدِ“Maka, Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari fondasinya…” (QS. An-Nahl: 26)Keterkaitan antara hal tersebut secara makna, bahwasnya hukum-hukum dibangun di atas kaidah (fondasi) sebagaimana dinding (rumah) juga dibangun di atas pondasi.Adapun “kaidah” secara istilah adalah,قَضِيَّةٌ كُلِّيَّةٌ“Pernyataan yang menyeluruh (universal).”Yakni, suatu perkara yang bersifat menyeluruh (universal) yang mencakup berbagai cabang.Definisi “fikih”Secara bahasa, makna “fikih” adalah الفهم (faham).Allah Ta’ala berfirman,قَالُوْا يٰشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَقُوْلُ وَاِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْنَا ضَعِيْفًا ۗ“Wahai Syuʻaib, Kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu, sedangkan kami sesungguhnya memandang engkau sebagai seorang yang lemah di antara kami.” (QS. Hud: 81)Adaun secara istilah, “fikih” adalah,العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية“Ilmu terhadap hukum-hukum syar’i yang bersifat amali, yang disarikan dari dalil-dalil terperinci.”Jelaslah hal yang berkaitan dengan “kaidah fikih” jika didefinisikan sesuai dengan gabungan kata.Baca juga: Bersama Kesulitan Terdapat KemudahanKedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu) Sejatinya, tidak banyak dari para ulama yang mendefinisikan kaidah fikih sebagai bentuk laqob atau penamaan untuk disiplin ilmu tertentu. Dari definisi yang telah dipaparkan di atas, perlu diketahui bahwa para ulama tidak menuju kepada definisi secara laqob ilmu kaidah fikih. Namun, para ulama menyebutkan hanya sebatas definisi “kaidah” saja tanpa mendefinisikannya secara laqob.Jika berbicara tentang definisi secara khusus tentang laqob kaidah fikih, bisa dikatakan hampir-hampir tidak ditemukan di antara ulama terdahulu yang mendefinisikan ilmu ini. Namun, terdapat sebuah definisi yang sekiranya pas untuk digunakan sebagai definisi ilmu kaidah fikih. Berikut ini adalah definisi yang disampaikan oleh Dr. Ya’qub Al-Bahusain rahimahullah. Beliau mengatakan,قضية كلية فقهية، جزئيتها قضايا كلية فقهية“Pernyataan yang sifatnya menyeluruh terkait dengan fikih, yang bagiannya mencakup berbagai masalah fikih.” Artinya, sebagai bagian dari kaidah adalah mencakup berbagai permasalahan fikih.Murid beliau, Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, juga mendefinisikan tentang ilmu kaidah fikih,القضايا الكلية الفقهية التي جزئيتها كل قضية فيها تمثل قضايا كلية فقيهة“Pernyataan-pernyataan menyeluruh terkait dengan fikih, yang setiap bagian cabangnya mewakili kaidah umum fikih.” Sebagai contoh, terdapat suatu kaidah fikih yang berbunyi,المشقة تجلب التيسير“Bersama kesulitan terdapat kemudahan.”Hal ini dinamakan sebagai kaidah fikih. Dari kaidah ini terdapat permasalahan-permasalahan fikih yang dapat terselesaikan dengan kaidah ini. Seperti, orang yang tidak bisa melaksanakan salat dalam keadaan berdiri dikarenakan sedang sakit. Masalah tersebut bisa dijawab dengan kaidah ini, “bersama kesulitan terdapat kemudahan”; yaitu silakan laksanakan salat dalam keadaan duduk.Atau orang yang berpuasa, ia tidak mampu untuk melaksanakan puasa Ramadan karena sedang dirawat inap di rumah sakit. Dia butuh untuk makan dan minum. Hal ini pun bisa terjawab dengan kaidah fikih yang telah disebutkan para ulama, “bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Silahkan saja untuk berbuka, makan dan minum karena memang sedang membutuhkannya. Di kemudian hari, silahkan untuk meng-qadha’ puasanya karena sebab ia berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadan. Demikianlah di antara bentuk contoh penerapan kaidah fikih.Intinya, mempelajari tentang kaidah fikih adalah termasuk hal yang penting. Sebagai penunjang untuk memudahkan memahami ilmu fikih dan menjawab persoalan-persoalan yang terkait dengan fikih praktis.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Hukum Wasilah (Sarana) Tergantung pada Tujuan-Tujuannya***Depok, 17 Safar 1447/ 11 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.
Daftar Isi ToggleDefinisi kaidah fikihPertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Definisi “qowa’id” atau “kaidah”Definisi “fikih”Kedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu)Kaidah fikih adalah salah satu cabang ilmu yang disusun oleh para ulama untuk menapaki tangga dalam mengetahui dan memahami ilmu fikih. Singkatnya, dengan mengetahui kaidah-kaidah fikih yang dibuat oleh para ulama, kita akan lebih mudah untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih yang terdapat pada syari’at ini. Selain ilmu ushul fikih yang dapat membantu untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih, kaidah fikih pun tidak kalah penting untuk diketahui oleh para penuntut ilmu. Ilmu tentang kaidah fikih bertujuan sebagai penopang dari ilmu-ilmu alat yang lainnya untuk memahami syari’at ini.Definisi kaidah fikih Sebelum beranjak lebih jauh, agar mudah untuk memahami tentang kaidah fikih, baiknya kita beranjak dari definisi. Manfaat dari mengetahui definisi tentunya sangat banyak, di antaranya adalah menyatukan persepsi agar mudah dalam memahami cabang ilmu yang ingin dipelajari.Perlu diketahui bahwasanya istilah “kaidah fikih” merupakan istilah gabungan yang terdiri dari dua kata “kaidah” dan “fikih”, atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan القواعد الفقهية (Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah).Oleh karena itu, secara definisi, kaidah fikih terbagi menjadi dua bagian:Pertama: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk).Kedua: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu).Pertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Sebagaimana yang telah dipaparkan, bahwasanya kaidah fikih terdiri dari dua kata, القواعد الفقهية yaitu kata Al-Qowa’id dan kata Al-Fiqhiyyah.Definisi “qowa’id” atau “kaidah”القواعد (Al-Qowa’id) secara bahasa adalah bentuk jamak dari قاعدة (kaidah). Kata tersebut diambil dari tiga huruf bahasa Arab, yaitu, ق ع د  yang berarti menetap dan stabil. Namun, makna yang lebih dekat dapat diartikan bahwa kaidah adalah fondasi utama. Di antara yang menunjukkan arti tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah: 127)Dan juga firman Allah Ta’ala,فَاَتَى اللّٰهُ بُنْيَانَهُمْ مِّنَ الْقَوَاعِدِ“Maka, Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari fondasinya…” (QS. An-Nahl: 26)Keterkaitan antara hal tersebut secara makna, bahwasnya hukum-hukum dibangun di atas kaidah (fondasi) sebagaimana dinding (rumah) juga dibangun di atas pondasi.Adapun “kaidah” secara istilah adalah,قَضِيَّةٌ كُلِّيَّةٌ“Pernyataan yang menyeluruh (universal).”Yakni, suatu perkara yang bersifat menyeluruh (universal) yang mencakup berbagai cabang.Definisi “fikih”Secara bahasa, makna “fikih” adalah الفهم (faham).Allah Ta’ala berfirman,قَالُوْا يٰشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَقُوْلُ وَاِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْنَا ضَعِيْفًا ۗ“Wahai Syuʻaib, Kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu, sedangkan kami sesungguhnya memandang engkau sebagai seorang yang lemah di antara kami.” (QS. Hud: 81)Adaun secara istilah, “fikih” adalah,العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية“Ilmu terhadap hukum-hukum syar’i yang bersifat amali, yang disarikan dari dalil-dalil terperinci.”Jelaslah hal yang berkaitan dengan “kaidah fikih” jika didefinisikan sesuai dengan gabungan kata.Baca juga: Bersama Kesulitan Terdapat KemudahanKedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu) Sejatinya, tidak banyak dari para ulama yang mendefinisikan kaidah fikih sebagai bentuk laqob atau penamaan untuk disiplin ilmu tertentu. Dari definisi yang telah dipaparkan di atas, perlu diketahui bahwa para ulama tidak menuju kepada definisi secara laqob ilmu kaidah fikih. Namun, para ulama menyebutkan hanya sebatas definisi “kaidah” saja tanpa mendefinisikannya secara laqob.Jika berbicara tentang definisi secara khusus tentang laqob kaidah fikih, bisa dikatakan hampir-hampir tidak ditemukan di antara ulama terdahulu yang mendefinisikan ilmu ini. Namun, terdapat sebuah definisi yang sekiranya pas untuk digunakan sebagai definisi ilmu kaidah fikih. Berikut ini adalah definisi yang disampaikan oleh Dr. Ya’qub Al-Bahusain rahimahullah. Beliau mengatakan,قضية كلية فقهية، جزئيتها قضايا كلية فقهية“Pernyataan yang sifatnya menyeluruh terkait dengan fikih, yang bagiannya mencakup berbagai masalah fikih.” Artinya, sebagai bagian dari kaidah adalah mencakup berbagai permasalahan fikih.Murid beliau, Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, juga mendefinisikan tentang ilmu kaidah fikih,القضايا الكلية الفقهية التي جزئيتها كل قضية فيها تمثل قضايا كلية فقيهة“Pernyataan-pernyataan menyeluruh terkait dengan fikih, yang setiap bagian cabangnya mewakili kaidah umum fikih.” Sebagai contoh, terdapat suatu kaidah fikih yang berbunyi,المشقة تجلب التيسير“Bersama kesulitan terdapat kemudahan.”Hal ini dinamakan sebagai kaidah fikih. Dari kaidah ini terdapat permasalahan-permasalahan fikih yang dapat terselesaikan dengan kaidah ini. Seperti, orang yang tidak bisa melaksanakan salat dalam keadaan berdiri dikarenakan sedang sakit. Masalah tersebut bisa dijawab dengan kaidah ini, “bersama kesulitan terdapat kemudahan”; yaitu silakan laksanakan salat dalam keadaan duduk.Atau orang yang berpuasa, ia tidak mampu untuk melaksanakan puasa Ramadan karena sedang dirawat inap di rumah sakit. Dia butuh untuk makan dan minum. Hal ini pun bisa terjawab dengan kaidah fikih yang telah disebutkan para ulama, “bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Silahkan saja untuk berbuka, makan dan minum karena memang sedang membutuhkannya. Di kemudian hari, silahkan untuk meng-qadha’ puasanya karena sebab ia berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadan. Demikianlah di antara bentuk contoh penerapan kaidah fikih.Intinya, mempelajari tentang kaidah fikih adalah termasuk hal yang penting. Sebagai penunjang untuk memudahkan memahami ilmu fikih dan menjawab persoalan-persoalan yang terkait dengan fikih praktis.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Hukum Wasilah (Sarana) Tergantung pada Tujuan-Tujuannya***Depok, 17 Safar 1447/ 11 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.


Daftar Isi ToggleDefinisi kaidah fikihPertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Definisi “qowa’id” atau “kaidah”Definisi “fikih”Kedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu)Kaidah fikih adalah salah satu cabang ilmu yang disusun oleh para ulama untuk menapaki tangga dalam mengetahui dan memahami ilmu fikih. Singkatnya, dengan mengetahui kaidah-kaidah fikih yang dibuat oleh para ulama, kita akan lebih mudah untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih yang terdapat pada syari’at ini. Selain ilmu ushul fikih yang dapat membantu untuk memahami pembahasan-pembahasan fikih, kaidah fikih pun tidak kalah penting untuk diketahui oleh para penuntut ilmu. Ilmu tentang kaidah fikih bertujuan sebagai penopang dari ilmu-ilmu alat yang lainnya untuk memahami syari’at ini.Definisi kaidah fikih Sebelum beranjak lebih jauh, agar mudah untuk memahami tentang kaidah fikih, baiknya kita beranjak dari definisi. Manfaat dari mengetahui definisi tentunya sangat banyak, di antaranya adalah menyatukan persepsi agar mudah dalam memahami cabang ilmu yang ingin dipelajari.Perlu diketahui bahwasanya istilah “kaidah fikih” merupakan istilah gabungan yang terdiri dari dua kata “kaidah” dan “fikih”, atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan القواعد الفقهية (Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah).Oleh karena itu, secara definisi, kaidah fikih terbagi menjadi dua bagian:Pertama: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk).Kedua: Definisi kaidah fikih jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu).Pertama: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai gabungan kata (istilah majemuk)Sebagaimana yang telah dipaparkan, bahwasanya kaidah fikih terdiri dari dua kata, القواعد الفقهية yaitu kata Al-Qowa’id dan kata Al-Fiqhiyyah.Definisi “qowa’id” atau “kaidah”القواعد (Al-Qowa’id) secara bahasa adalah bentuk jamak dari قاعدة (kaidah). Kata tersebut diambil dari tiga huruf bahasa Arab, yaitu, ق ع د  yang berarti menetap dan stabil. Namun, makna yang lebih dekat dapat diartikan bahwa kaidah adalah fondasi utama. Di antara yang menunjukkan arti tersebut adalah firman Allah Ta’ala, وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah: 127)Dan juga firman Allah Ta’ala,فَاَتَى اللّٰهُ بُنْيَانَهُمْ مِّنَ الْقَوَاعِدِ“Maka, Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari fondasinya…” (QS. An-Nahl: 26)Keterkaitan antara hal tersebut secara makna, bahwasnya hukum-hukum dibangun di atas kaidah (fondasi) sebagaimana dinding (rumah) juga dibangun di atas pondasi.Adapun “kaidah” secara istilah adalah,قَضِيَّةٌ كُلِّيَّةٌ“Pernyataan yang menyeluruh (universal).”Yakni, suatu perkara yang bersifat menyeluruh (universal) yang mencakup berbagai cabang.Definisi “fikih”Secara bahasa, makna “fikih” adalah الفهم (faham).Allah Ta’ala berfirman,قَالُوْا يٰشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَقُوْلُ وَاِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْنَا ضَعِيْفًا ۗ“Wahai Syuʻaib, Kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu, sedangkan kami sesungguhnya memandang engkau sebagai seorang yang lemah di antara kami.” (QS. Hud: 81)Adaun secara istilah, “fikih” adalah,العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية“Ilmu terhadap hukum-hukum syar’i yang bersifat amali, yang disarikan dari dalil-dalil terperinci.”Jelaslah hal yang berkaitan dengan “kaidah fikih” jika didefinisikan sesuai dengan gabungan kata.Baca juga: Bersama Kesulitan Terdapat KemudahanKedua: Definisi “kaidah fikih” jika dilihat sebagai bentuk laqob (penamaan disiplin ilmu tertentu) Sejatinya, tidak banyak dari para ulama yang mendefinisikan kaidah fikih sebagai bentuk laqob atau penamaan untuk disiplin ilmu tertentu. Dari definisi yang telah dipaparkan di atas, perlu diketahui bahwa para ulama tidak menuju kepada definisi secara laqob ilmu kaidah fikih. Namun, para ulama menyebutkan hanya sebatas definisi “kaidah” saja tanpa mendefinisikannya secara laqob.Jika berbicara tentang definisi secara khusus tentang laqob kaidah fikih, bisa dikatakan hampir-hampir tidak ditemukan di antara ulama terdahulu yang mendefinisikan ilmu ini. Namun, terdapat sebuah definisi yang sekiranya pas untuk digunakan sebagai definisi ilmu kaidah fikih. Berikut ini adalah definisi yang disampaikan oleh Dr. Ya’qub Al-Bahusain rahimahullah. Beliau mengatakan,قضية كلية فقهية، جزئيتها قضايا كلية فقهية“Pernyataan yang sifatnya menyeluruh terkait dengan fikih, yang bagiannya mencakup berbagai masalah fikih.” Artinya, sebagai bagian dari kaidah adalah mencakup berbagai permasalahan fikih.Murid beliau, Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, juga mendefinisikan tentang ilmu kaidah fikih,القضايا الكلية الفقهية التي جزئيتها كل قضية فيها تمثل قضايا كلية فقيهة“Pernyataan-pernyataan menyeluruh terkait dengan fikih, yang setiap bagian cabangnya mewakili kaidah umum fikih.” Sebagai contoh, terdapat suatu kaidah fikih yang berbunyi,المشقة تجلب التيسير“Bersama kesulitan terdapat kemudahan.”Hal ini dinamakan sebagai kaidah fikih. Dari kaidah ini terdapat permasalahan-permasalahan fikih yang dapat terselesaikan dengan kaidah ini. Seperti, orang yang tidak bisa melaksanakan salat dalam keadaan berdiri dikarenakan sedang sakit. Masalah tersebut bisa dijawab dengan kaidah ini, “bersama kesulitan terdapat kemudahan”; yaitu silakan laksanakan salat dalam keadaan duduk.Atau orang yang berpuasa, ia tidak mampu untuk melaksanakan puasa Ramadan karena sedang dirawat inap di rumah sakit. Dia butuh untuk makan dan minum. Hal ini pun bisa terjawab dengan kaidah fikih yang telah disebutkan para ulama, “bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Silahkan saja untuk berbuka, makan dan minum karena memang sedang membutuhkannya. Di kemudian hari, silahkan untuk meng-qadha’ puasanya karena sebab ia berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadan. Demikianlah di antara bentuk contoh penerapan kaidah fikih.Intinya, mempelajari tentang kaidah fikih adalah termasuk hal yang penting. Sebagai penunjang untuk memudahkan memahami ilmu fikih dan menjawab persoalan-persoalan yang terkait dengan fikih praktis.Semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Hukum Wasilah (Sarana) Tergantung pada Tujuan-Tujuannya***Depok, 17 Safar 1447/ 11 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.

Inilah “Penyakit” yang Justru Bertambah di Usia Senja – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Panjang angan-angan akan terus bertambah seiring bertambahnya usia manusia. Seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: yaitu kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari, dibawakan Syaikh secara makna). Padahal yang diharapkan, seiring bertambahnya usia, manusia akan semakin zuhud terhadap dunia dan angan-angannya semakin pendek. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Inilah yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa semakin bertambah usia manusia, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia dan semakin panjang angan-angannya terhadap kehidupan. “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” Panjang angan-angan inilah yang banyak menghalangi manusia dari istiqamah (konsisten dalam kebaikan) dan dari memperbaiki amalan di sisa umur yang ada. Manusia berangan-angan akan hidup lama sekali serta nanti akan memperbaiki amalnya dan mengerjakan berbagai kebaikan. Tiba-tiba datanglah kematian, atau penyakit yang menghantarkan kepada kematian. Kemudian dia sangat menyesal, saat tidak berguna lagi penyesalan. Maka hendaklah manusia waspada agar tidak terbuai oleh panjang angan. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Syarah Shahih Muslim tentang kisah Abu Utsman An-Nahdi yang panjang umurnya. Ada yang mengatakan, ia mencapai usia 130 tahun. Abu Utsman ditanya, “Apa yang berubah dari Anda dalam hidup ini?” Beliau menjawab, “Segala sesuatu dapat aku kendalikan, kecuali anganku.” Yakni kecuali angan-anganku terhadap dunia, tidak dapat aku cegah, bahkan semakin bertambah. Maka manusia, semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia, dan bertambah panjang angan-angannya. Oleh karena itu, hendaklah manusia berhati-hati. Hendaknya pula, semakin bertambah usia, semakin dekatlah ia kepada Allah. Semakin bertambah usia, semakin giatlah ia memperbaiki sisa umurnya, dengan amal yang bermanfaat baginya dan mendekatkannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. ==== طُولُ الْأَمَلِ يَكْبُرُ مَعَ الْإِنْسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ الْمُتَوَقَّعُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ السِّنِّ يَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا وَيَقْصُرُ أَمَلُهُ لَكِنَّ الْوَاقِعَ هُوَ الْعَكْسُ وَهُوَ الَّذِي أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبًّا لِلدُّنْيَا وَيَطُولُ أَمَلُهُ فِي الْحَيَاةِ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ وَطُولُ الْأَمَلِ هُوَ الَّذِي صَدَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنِ الِاسْتِقَامَةِ وَعَنْ تَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ يُؤَمِّلُ الْإِنْسَانُ أَنَّهُ سَيَعِيشُ عُمْرًا طَوِيلًا وَأَنَّه سَيَتَدَارَكُ وَأَنَّهُ سَيَفْعَلُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ فَجْأَةً يَأْتِيهِ الْمَوْتُ أَوْ مَرَضُ الْمَوْتِ وَيَنْدَمُ نَدَمًا عَظِيمًا حِينَ لَا يَنْفَعُ النَّدَمُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ الْإِنْسَانُ حَذِرًا مِنَ الِاغْتِرَارِ بِطُولِ الْأَمَلِ ذَكَرَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِهِ عَلَى صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ وَقَدْ عُمِّرَ قِيلَ إِنَّهُ بَلَغَ مِئَةً وَثَلاَثِينَ عَامًّا قِيلَ لَهُ مَا الَّذِي تَغَيَّرَ عَلَيْكَ فِي الْحَيَاةِ؟ قَالَ كُلُّ شَيْءٍ أَنْكَرْتُهُ إِلَّا أَمَلِي يَعْنِي إِلَّا أَمَلِي فِي الدُّنْيَا فَلَمْ أُنْكِرْهُ بَلْ هُوَ يَزْدَادُ فَالْإِنْسَانُ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبُّهُ لِلدُّنْيَا وَيَزْدَادُ طُولُ أَمَلِهِ وَلِهَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ كُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ إِلَى اللَّهِ أَقْرَبُ وَكُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ يَسْعَى لِتَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ فِيمَا يَنْفَعُهُ وَيُقَرِّبُهُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Inilah “Penyakit” yang Justru Bertambah di Usia Senja – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Panjang angan-angan akan terus bertambah seiring bertambahnya usia manusia. Seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: yaitu kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari, dibawakan Syaikh secara makna). Padahal yang diharapkan, seiring bertambahnya usia, manusia akan semakin zuhud terhadap dunia dan angan-angannya semakin pendek. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Inilah yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa semakin bertambah usia manusia, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia dan semakin panjang angan-angannya terhadap kehidupan. “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” Panjang angan-angan inilah yang banyak menghalangi manusia dari istiqamah (konsisten dalam kebaikan) dan dari memperbaiki amalan di sisa umur yang ada. Manusia berangan-angan akan hidup lama sekali serta nanti akan memperbaiki amalnya dan mengerjakan berbagai kebaikan. Tiba-tiba datanglah kematian, atau penyakit yang menghantarkan kepada kematian. Kemudian dia sangat menyesal, saat tidak berguna lagi penyesalan. Maka hendaklah manusia waspada agar tidak terbuai oleh panjang angan. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Syarah Shahih Muslim tentang kisah Abu Utsman An-Nahdi yang panjang umurnya. Ada yang mengatakan, ia mencapai usia 130 tahun. Abu Utsman ditanya, “Apa yang berubah dari Anda dalam hidup ini?” Beliau menjawab, “Segala sesuatu dapat aku kendalikan, kecuali anganku.” Yakni kecuali angan-anganku terhadap dunia, tidak dapat aku cegah, bahkan semakin bertambah. Maka manusia, semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia, dan bertambah panjang angan-angannya. Oleh karena itu, hendaklah manusia berhati-hati. Hendaknya pula, semakin bertambah usia, semakin dekatlah ia kepada Allah. Semakin bertambah usia, semakin giatlah ia memperbaiki sisa umurnya, dengan amal yang bermanfaat baginya dan mendekatkannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. ==== طُولُ الْأَمَلِ يَكْبُرُ مَعَ الْإِنْسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ الْمُتَوَقَّعُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ السِّنِّ يَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا وَيَقْصُرُ أَمَلُهُ لَكِنَّ الْوَاقِعَ هُوَ الْعَكْسُ وَهُوَ الَّذِي أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبًّا لِلدُّنْيَا وَيَطُولُ أَمَلُهُ فِي الْحَيَاةِ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ وَطُولُ الْأَمَلِ هُوَ الَّذِي صَدَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنِ الِاسْتِقَامَةِ وَعَنْ تَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ يُؤَمِّلُ الْإِنْسَانُ أَنَّهُ سَيَعِيشُ عُمْرًا طَوِيلًا وَأَنَّه سَيَتَدَارَكُ وَأَنَّهُ سَيَفْعَلُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ فَجْأَةً يَأْتِيهِ الْمَوْتُ أَوْ مَرَضُ الْمَوْتِ وَيَنْدَمُ نَدَمًا عَظِيمًا حِينَ لَا يَنْفَعُ النَّدَمُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ الْإِنْسَانُ حَذِرًا مِنَ الِاغْتِرَارِ بِطُولِ الْأَمَلِ ذَكَرَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِهِ عَلَى صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ وَقَدْ عُمِّرَ قِيلَ إِنَّهُ بَلَغَ مِئَةً وَثَلاَثِينَ عَامًّا قِيلَ لَهُ مَا الَّذِي تَغَيَّرَ عَلَيْكَ فِي الْحَيَاةِ؟ قَالَ كُلُّ شَيْءٍ أَنْكَرْتُهُ إِلَّا أَمَلِي يَعْنِي إِلَّا أَمَلِي فِي الدُّنْيَا فَلَمْ أُنْكِرْهُ بَلْ هُوَ يَزْدَادُ فَالْإِنْسَانُ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبُّهُ لِلدُّنْيَا وَيَزْدَادُ طُولُ أَمَلِهِ وَلِهَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ كُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ إِلَى اللَّهِ أَقْرَبُ وَكُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ يَسْعَى لِتَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ فِيمَا يَنْفَعُهُ وَيُقَرِّبُهُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Panjang angan-angan akan terus bertambah seiring bertambahnya usia manusia. Seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: yaitu kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari, dibawakan Syaikh secara makna). Padahal yang diharapkan, seiring bertambahnya usia, manusia akan semakin zuhud terhadap dunia dan angan-angannya semakin pendek. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Inilah yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa semakin bertambah usia manusia, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia dan semakin panjang angan-angannya terhadap kehidupan. “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” Panjang angan-angan inilah yang banyak menghalangi manusia dari istiqamah (konsisten dalam kebaikan) dan dari memperbaiki amalan di sisa umur yang ada. Manusia berangan-angan akan hidup lama sekali serta nanti akan memperbaiki amalnya dan mengerjakan berbagai kebaikan. Tiba-tiba datanglah kematian, atau penyakit yang menghantarkan kepada kematian. Kemudian dia sangat menyesal, saat tidak berguna lagi penyesalan. Maka hendaklah manusia waspada agar tidak terbuai oleh panjang angan. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Syarah Shahih Muslim tentang kisah Abu Utsman An-Nahdi yang panjang umurnya. Ada yang mengatakan, ia mencapai usia 130 tahun. Abu Utsman ditanya, “Apa yang berubah dari Anda dalam hidup ini?” Beliau menjawab, “Segala sesuatu dapat aku kendalikan, kecuali anganku.” Yakni kecuali angan-anganku terhadap dunia, tidak dapat aku cegah, bahkan semakin bertambah. Maka manusia, semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia, dan bertambah panjang angan-angannya. Oleh karena itu, hendaklah manusia berhati-hati. Hendaknya pula, semakin bertambah usia, semakin dekatlah ia kepada Allah. Semakin bertambah usia, semakin giatlah ia memperbaiki sisa umurnya, dengan amal yang bermanfaat baginya dan mendekatkannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. ==== طُولُ الْأَمَلِ يَكْبُرُ مَعَ الْإِنْسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ الْمُتَوَقَّعُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ السِّنِّ يَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا وَيَقْصُرُ أَمَلُهُ لَكِنَّ الْوَاقِعَ هُوَ الْعَكْسُ وَهُوَ الَّذِي أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبًّا لِلدُّنْيَا وَيَطُولُ أَمَلُهُ فِي الْحَيَاةِ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ وَطُولُ الْأَمَلِ هُوَ الَّذِي صَدَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنِ الِاسْتِقَامَةِ وَعَنْ تَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ يُؤَمِّلُ الْإِنْسَانُ أَنَّهُ سَيَعِيشُ عُمْرًا طَوِيلًا وَأَنَّه سَيَتَدَارَكُ وَأَنَّهُ سَيَفْعَلُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ فَجْأَةً يَأْتِيهِ الْمَوْتُ أَوْ مَرَضُ الْمَوْتِ وَيَنْدَمُ نَدَمًا عَظِيمًا حِينَ لَا يَنْفَعُ النَّدَمُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ الْإِنْسَانُ حَذِرًا مِنَ الِاغْتِرَارِ بِطُولِ الْأَمَلِ ذَكَرَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِهِ عَلَى صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ وَقَدْ عُمِّرَ قِيلَ إِنَّهُ بَلَغَ مِئَةً وَثَلاَثِينَ عَامًّا قِيلَ لَهُ مَا الَّذِي تَغَيَّرَ عَلَيْكَ فِي الْحَيَاةِ؟ قَالَ كُلُّ شَيْءٍ أَنْكَرْتُهُ إِلَّا أَمَلِي يَعْنِي إِلَّا أَمَلِي فِي الدُّنْيَا فَلَمْ أُنْكِرْهُ بَلْ هُوَ يَزْدَادُ فَالْإِنْسَانُ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبُّهُ لِلدُّنْيَا وَيَزْدَادُ طُولُ أَمَلِهِ وَلِهَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ كُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ إِلَى اللَّهِ أَقْرَبُ وَكُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ يَسْعَى لِتَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ فِيمَا يَنْفَعُهُ وَيُقَرِّبُهُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ


Panjang angan-angan akan terus bertambah seiring bertambahnya usia manusia. Seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: yaitu kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari, dibawakan Syaikh secara makna). Padahal yang diharapkan, seiring bertambahnya usia, manusia akan semakin zuhud terhadap dunia dan angan-angannya semakin pendek. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Inilah yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa semakin bertambah usia manusia, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia dan semakin panjang angan-angannya terhadap kehidupan. “Anak Adam semakin tua, dan bertambah pula padanya dua perkara: kecintaan terhadap dunia dan panjang angan-angan.” Panjang angan-angan inilah yang banyak menghalangi manusia dari istiqamah (konsisten dalam kebaikan) dan dari memperbaiki amalan di sisa umur yang ada. Manusia berangan-angan akan hidup lama sekali serta nanti akan memperbaiki amalnya dan mengerjakan berbagai kebaikan. Tiba-tiba datanglah kematian, atau penyakit yang menghantarkan kepada kematian. Kemudian dia sangat menyesal, saat tidak berguna lagi penyesalan. Maka hendaklah manusia waspada agar tidak terbuai oleh panjang angan. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Syarah Shahih Muslim tentang kisah Abu Utsman An-Nahdi yang panjang umurnya. Ada yang mengatakan, ia mencapai usia 130 tahun. Abu Utsman ditanya, “Apa yang berubah dari Anda dalam hidup ini?” Beliau menjawab, “Segala sesuatu dapat aku kendalikan, kecuali anganku.” Yakni kecuali angan-anganku terhadap dunia, tidak dapat aku cegah, bahkan semakin bertambah. Maka manusia, semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula cintanya kepada dunia, dan bertambah panjang angan-angannya. Oleh karena itu, hendaklah manusia berhati-hati. Hendaknya pula, semakin bertambah usia, semakin dekatlah ia kepada Allah. Semakin bertambah usia, semakin giatlah ia memperbaiki sisa umurnya, dengan amal yang bermanfaat baginya dan mendekatkannya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. ==== طُولُ الْأَمَلِ يَكْبُرُ مَعَ الْإِنْسَانِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ الْمُتَوَقَّعُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ السِّنِّ يَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا وَيَقْصُرُ أَمَلُهُ لَكِنَّ الْوَاقِعَ هُوَ الْعَكْسُ وَهُوَ الَّذِي أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبًّا لِلدُّنْيَا وَيَطُولُ أَمَلُهُ فِي الْحَيَاةِ يَكْبُرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبُرُ مَعَهُ اثْنَتَانِ حُبُّ الدُّنْيَا وَطُولُ الْأَمَلِ وَطُولُ الْأَمَلِ هُوَ الَّذِي صَدَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنِ الِاسْتِقَامَةِ وَعَنْ تَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ يُؤَمِّلُ الْإِنْسَانُ أَنَّهُ سَيَعِيشُ عُمْرًا طَوِيلًا وَأَنَّه سَيَتَدَارَكُ وَأَنَّهُ سَيَفْعَلُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ فَجْأَةً يَأْتِيهِ الْمَوْتُ أَوْ مَرَضُ الْمَوْتِ وَيَنْدَمُ نَدَمًا عَظِيمًا حِينَ لَا يَنْفَعُ النَّدَمُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ الْإِنْسَانُ حَذِرًا مِنَ الِاغْتِرَارِ بِطُولِ الْأَمَلِ ذَكَرَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِهِ عَلَى صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ وَقَدْ عُمِّرَ قِيلَ إِنَّهُ بَلَغَ مِئَةً وَثَلاَثِينَ عَامًّا قِيلَ لَهُ مَا الَّذِي تَغَيَّرَ عَلَيْكَ فِي الْحَيَاةِ؟ قَالَ كُلُّ شَيْءٍ أَنْكَرْتُهُ إِلَّا أَمَلِي يَعْنِي إِلَّا أَمَلِي فِي الدُّنْيَا فَلَمْ أُنْكِرْهُ بَلْ هُوَ يَزْدَادُ فَالْإِنْسَانُ مَعَ تَقَدُّمِ الْعُمْرِ يَزْدَادُ حُبُّهُ لِلدُّنْيَا وَيَزْدَادُ طُولُ أَمَلِهِ وَلِهَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ كُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ إِلَى اللَّهِ أَقْرَبُ وَكُلَّمَا تَقَدَّمَ بِهِ الْعُمْرُ يَسْعَى لِتَدَارُكِ مَا تَبَقَّى مِنَ الْعُمْرِ فِيمَا يَنْفَعُهُ وَيُقَرِّبُهُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Prev     Next