Menguak Hakikat Ibadah dan Ikrar Pemurnian Ibadah

Daftar Isi sembunyikan 1. Menguak Hakikat Ibadah 2. Ikrar Pemurnian Ibadah Menguak Hakikat IbadahAllah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Allah menciptakan kita untuk beribadah. Apakah makna ibadah? Berikut ini kami nukilkan keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah di dalam Fath Al-Majid (hal. 17, cetakan Dar Ibnu Hazm). Beliau rahimahullah memaparkan sebagai berikut,Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah melakukan ketaatan kepada Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui lisan para rasul.” Beliau juga menjelaskan, “Ibadah adalah istilah yang meliputi segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.”Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ibadah berporos pada lima belas patokan. Barangsiapa dapat menyempurnakan itu semua, maka dia telah menyempurnakan tingkatan-tingkatan penghambaan (ubudiyah). Keterangannya ialah sebagai berikut:Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Sedangkan hukum-hukum yang berlaku dalam kerangka ubudiyah itu terbagi lima: wajib, mustahab/sunah, haram, makruh, dan mubah. Masing-masing hukum ini berlaku meliputi isi hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan.”Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Makna asal dari ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan. Berbagai tugas/beban syariat yang diberikan kepada manusia (mukallaf) dinamai dengan ibadah dikarenakan mereka harus melaksanakannya dengan penuh ketundukan kepada Allah Ta’ala. Makna ayat tersebut (QS. Adz-Dzariyat: 56) adalah Allah Ta’ala memberitakan bahwa tidaklah Dia menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Inilah hikmah penciptaan mereka.” Saya katakan (Syekh Abdurrahman), “Itulah hikmah yang dikenal dengan nama hikmah syar’iyah diniyah.”Al-‘Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Makna beribadah kepada-Nya, yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam. Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri, dan kepatuhan.” Selesai ucapan Ibnu Katsir.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. Adz-Dzariyat: 56), “Makna ayat tersebut adalah sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya, akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Allah Ta’ala pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan, mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah Ta’ala adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.”Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan mengenai ayat ini, “Maknanya adalah tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah agar mereka Aku perintahkan beribadah kepada-Ku.” Sedangkan Mujahid mengatakan, “Tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah untuk Aku perintah dan Aku larang.” Tafsiran serupa ini juga dipilih oleh Az-Zajjaj dan Syaikhul Islam rahimahullah.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) mengatakan, “Tafsiran ini didukung oleh makna firman Allah Ta’ala,أَیَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَـٰنُ أَن یُتۡرَكَ سُدًى‘Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan begitu saja dalam keadaan sia-sia.’ (QS. Al-Qiyamah: 36). Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan tafsiran ‘sia-sia’ yaitu, ‘(Apakah mereka Aku biarkan) tanpa diperintah dan tanpa dilarang?!'”Sampai di sini keterangan yang kami nukil dari Fath Al-Majid.Dengan memperhatikan keterangan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa:Pertama, Ibadah adalah tujuan hidup kita.Kedua, Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridai dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.Ketiga, Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.Dengan demikian, orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah yang mengisi waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan, baik dengan melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan. Sebab dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud. Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada kita untuk menjadi hamba-Nya yang sejati, yang tunduk dan patuh kepada Rabb Penguasa jagad raya, bukan menjadi budak hawa nafsu dan ambisi-ambisi dunia.Baca Juga: Hikmah Agung Ibadah WuduIkrar Pemurnian IbadahFirman Allah Ta’ala,إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut,Ayat ini bermakna “Kami mengkhususkan ibadah dan permintaan tolong tertuju hanya kepada-Mu.” Sebab didahulukannya penyebutan objek pembicaraan (Engkau, yaitu Allah) menunjukkan ada maksud pembatasan. Hakikat dari pembatasan itu adalah menetapkan suatu hukum terhadap objek yang disebutkan serta menafikannya dari segala sesuatu selainnya. Seolah-olah orang ini mengatakan, “Kami beribadah kepada-Mu dan tidak akan beribadah kepada selain diri-Mu. Dan kami juga meminta pertolongan kepada-Mu dan tidak akan meminta pertolongan kepada selain diri-Mu.” Didahulukannya (penyebutan) ibadah sebelum permintaan tolong merupakan bentuk ungkapan mendahulukan sesuatu yang bersifat umum sebelum yang bersifat khusus. Selain itu, motifnya adalah untuk menunjukkan bahwa hak Allah Ta’ala harus dijunjung tinggi di atas hak semua hamba-Nya.Ibadah itu sendiri hakikatnya adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, yang berupa perbuatan maupun ucapan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Sedangkan makna dari isti’anah/ permintaan tolong adalah bersandar kepada Allah Ta’ala dalam rangka meraih kemanfaatan dan menepis bahaya. Hal ini diiringi dengan kepercayaan yang kuat terhadap Allah dalam upaya untuk memperoleh itu semua.Menunaikan ibadah kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, sebenarnya itulah sarana untuk menggapai kebahagiaan abadi serta jalan untuk menyelamatkan diri dari segala bentuk keburukan. Oleh sebab itu, tidak ada jalan untuk menemukan keselamatan, kecuali dengan merealisasikan keduanya (ibadah dan isti’anah). Suatu ibadah baru bisa disebut ibadah yang benar apabila diambil dari tuntunan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam serta dikerjakan dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Dengan dua syarat itulah ibadah menjadi ibadah yang sebenarnya.Sedangkan maksud dari penyebutan isti’anah setelah ibadah (padahal isti’anah juga bagian dari ibadah itu sendiri) adalah demi menunjukkan betapa besar kebutuhan seorang hamba terhadap pertolongan Allah dalam rangka mewujudkan semua ibadah yang dilakukannya. Sebab, seandainya Allah tidak memberikan pertolongan kepadany,a niscaya apa pun yang diinginkan olehnya tidak akan tercapai, baik dalam mengerjakan perintah maupun menjauhi larangan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)Baca Juga:Untukmu yang Sedang Malas BeribadahHukum Ibadah ketika Tercampur dengan Riya’***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tamimah, Ajaran Tauhid Adalah, Hafizhahullah Arab, Lelaki Yang Tidak Layak Dijadikan Suami Dalam IslamTags: amal ibadahaqidah islamfikih ibadahibadahibadah sunnahibdah wajibManhajmanhaj salafmemurnikan ibadahpanduan ibadahSunnahTauhid

Menguak Hakikat Ibadah dan Ikrar Pemurnian Ibadah

Daftar Isi sembunyikan 1. Menguak Hakikat Ibadah 2. Ikrar Pemurnian Ibadah Menguak Hakikat IbadahAllah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Allah menciptakan kita untuk beribadah. Apakah makna ibadah? Berikut ini kami nukilkan keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah di dalam Fath Al-Majid (hal. 17, cetakan Dar Ibnu Hazm). Beliau rahimahullah memaparkan sebagai berikut,Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah melakukan ketaatan kepada Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui lisan para rasul.” Beliau juga menjelaskan, “Ibadah adalah istilah yang meliputi segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.”Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ibadah berporos pada lima belas patokan. Barangsiapa dapat menyempurnakan itu semua, maka dia telah menyempurnakan tingkatan-tingkatan penghambaan (ubudiyah). Keterangannya ialah sebagai berikut:Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Sedangkan hukum-hukum yang berlaku dalam kerangka ubudiyah itu terbagi lima: wajib, mustahab/sunah, haram, makruh, dan mubah. Masing-masing hukum ini berlaku meliputi isi hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan.”Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Makna asal dari ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan. Berbagai tugas/beban syariat yang diberikan kepada manusia (mukallaf) dinamai dengan ibadah dikarenakan mereka harus melaksanakannya dengan penuh ketundukan kepada Allah Ta’ala. Makna ayat tersebut (QS. Adz-Dzariyat: 56) adalah Allah Ta’ala memberitakan bahwa tidaklah Dia menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Inilah hikmah penciptaan mereka.” Saya katakan (Syekh Abdurrahman), “Itulah hikmah yang dikenal dengan nama hikmah syar’iyah diniyah.”Al-‘Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Makna beribadah kepada-Nya, yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam. Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri, dan kepatuhan.” Selesai ucapan Ibnu Katsir.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. Adz-Dzariyat: 56), “Makna ayat tersebut adalah sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya, akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Allah Ta’ala pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan, mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah Ta’ala adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.”Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan mengenai ayat ini, “Maknanya adalah tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah agar mereka Aku perintahkan beribadah kepada-Ku.” Sedangkan Mujahid mengatakan, “Tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah untuk Aku perintah dan Aku larang.” Tafsiran serupa ini juga dipilih oleh Az-Zajjaj dan Syaikhul Islam rahimahullah.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) mengatakan, “Tafsiran ini didukung oleh makna firman Allah Ta’ala,أَیَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَـٰنُ أَن یُتۡرَكَ سُدًى‘Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan begitu saja dalam keadaan sia-sia.’ (QS. Al-Qiyamah: 36). Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan tafsiran ‘sia-sia’ yaitu, ‘(Apakah mereka Aku biarkan) tanpa diperintah dan tanpa dilarang?!'”Sampai di sini keterangan yang kami nukil dari Fath Al-Majid.Dengan memperhatikan keterangan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa:Pertama, Ibadah adalah tujuan hidup kita.Kedua, Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridai dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.Ketiga, Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.Dengan demikian, orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah yang mengisi waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan, baik dengan melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan. Sebab dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud. Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada kita untuk menjadi hamba-Nya yang sejati, yang tunduk dan patuh kepada Rabb Penguasa jagad raya, bukan menjadi budak hawa nafsu dan ambisi-ambisi dunia.Baca Juga: Hikmah Agung Ibadah WuduIkrar Pemurnian IbadahFirman Allah Ta’ala,إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut,Ayat ini bermakna “Kami mengkhususkan ibadah dan permintaan tolong tertuju hanya kepada-Mu.” Sebab didahulukannya penyebutan objek pembicaraan (Engkau, yaitu Allah) menunjukkan ada maksud pembatasan. Hakikat dari pembatasan itu adalah menetapkan suatu hukum terhadap objek yang disebutkan serta menafikannya dari segala sesuatu selainnya. Seolah-olah orang ini mengatakan, “Kami beribadah kepada-Mu dan tidak akan beribadah kepada selain diri-Mu. Dan kami juga meminta pertolongan kepada-Mu dan tidak akan meminta pertolongan kepada selain diri-Mu.” Didahulukannya (penyebutan) ibadah sebelum permintaan tolong merupakan bentuk ungkapan mendahulukan sesuatu yang bersifat umum sebelum yang bersifat khusus. Selain itu, motifnya adalah untuk menunjukkan bahwa hak Allah Ta’ala harus dijunjung tinggi di atas hak semua hamba-Nya.Ibadah itu sendiri hakikatnya adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, yang berupa perbuatan maupun ucapan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Sedangkan makna dari isti’anah/ permintaan tolong adalah bersandar kepada Allah Ta’ala dalam rangka meraih kemanfaatan dan menepis bahaya. Hal ini diiringi dengan kepercayaan yang kuat terhadap Allah dalam upaya untuk memperoleh itu semua.Menunaikan ibadah kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, sebenarnya itulah sarana untuk menggapai kebahagiaan abadi serta jalan untuk menyelamatkan diri dari segala bentuk keburukan. Oleh sebab itu, tidak ada jalan untuk menemukan keselamatan, kecuali dengan merealisasikan keduanya (ibadah dan isti’anah). Suatu ibadah baru bisa disebut ibadah yang benar apabila diambil dari tuntunan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam serta dikerjakan dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Dengan dua syarat itulah ibadah menjadi ibadah yang sebenarnya.Sedangkan maksud dari penyebutan isti’anah setelah ibadah (padahal isti’anah juga bagian dari ibadah itu sendiri) adalah demi menunjukkan betapa besar kebutuhan seorang hamba terhadap pertolongan Allah dalam rangka mewujudkan semua ibadah yang dilakukannya. Sebab, seandainya Allah tidak memberikan pertolongan kepadany,a niscaya apa pun yang diinginkan olehnya tidak akan tercapai, baik dalam mengerjakan perintah maupun menjauhi larangan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)Baca Juga:Untukmu yang Sedang Malas BeribadahHukum Ibadah ketika Tercampur dengan Riya’***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tamimah, Ajaran Tauhid Adalah, Hafizhahullah Arab, Lelaki Yang Tidak Layak Dijadikan Suami Dalam IslamTags: amal ibadahaqidah islamfikih ibadahibadahibadah sunnahibdah wajibManhajmanhaj salafmemurnikan ibadahpanduan ibadahSunnahTauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Menguak Hakikat Ibadah 2. Ikrar Pemurnian Ibadah Menguak Hakikat IbadahAllah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Allah menciptakan kita untuk beribadah. Apakah makna ibadah? Berikut ini kami nukilkan keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah di dalam Fath Al-Majid (hal. 17, cetakan Dar Ibnu Hazm). Beliau rahimahullah memaparkan sebagai berikut,Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah melakukan ketaatan kepada Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui lisan para rasul.” Beliau juga menjelaskan, “Ibadah adalah istilah yang meliputi segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.”Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ibadah berporos pada lima belas patokan. Barangsiapa dapat menyempurnakan itu semua, maka dia telah menyempurnakan tingkatan-tingkatan penghambaan (ubudiyah). Keterangannya ialah sebagai berikut:Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Sedangkan hukum-hukum yang berlaku dalam kerangka ubudiyah itu terbagi lima: wajib, mustahab/sunah, haram, makruh, dan mubah. Masing-masing hukum ini berlaku meliputi isi hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan.”Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Makna asal dari ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan. Berbagai tugas/beban syariat yang diberikan kepada manusia (mukallaf) dinamai dengan ibadah dikarenakan mereka harus melaksanakannya dengan penuh ketundukan kepada Allah Ta’ala. Makna ayat tersebut (QS. Adz-Dzariyat: 56) adalah Allah Ta’ala memberitakan bahwa tidaklah Dia menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Inilah hikmah penciptaan mereka.” Saya katakan (Syekh Abdurrahman), “Itulah hikmah yang dikenal dengan nama hikmah syar’iyah diniyah.”Al-‘Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Makna beribadah kepada-Nya, yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam. Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri, dan kepatuhan.” Selesai ucapan Ibnu Katsir.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. Adz-Dzariyat: 56), “Makna ayat tersebut adalah sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya, akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Allah Ta’ala pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan, mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah Ta’ala adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.”Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan mengenai ayat ini, “Maknanya adalah tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah agar mereka Aku perintahkan beribadah kepada-Ku.” Sedangkan Mujahid mengatakan, “Tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah untuk Aku perintah dan Aku larang.” Tafsiran serupa ini juga dipilih oleh Az-Zajjaj dan Syaikhul Islam rahimahullah.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) mengatakan, “Tafsiran ini didukung oleh makna firman Allah Ta’ala,أَیَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَـٰنُ أَن یُتۡرَكَ سُدًى‘Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan begitu saja dalam keadaan sia-sia.’ (QS. Al-Qiyamah: 36). Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan tafsiran ‘sia-sia’ yaitu, ‘(Apakah mereka Aku biarkan) tanpa diperintah dan tanpa dilarang?!'”Sampai di sini keterangan yang kami nukil dari Fath Al-Majid.Dengan memperhatikan keterangan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa:Pertama, Ibadah adalah tujuan hidup kita.Kedua, Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridai dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.Ketiga, Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.Dengan demikian, orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah yang mengisi waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan, baik dengan melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan. Sebab dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud. Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada kita untuk menjadi hamba-Nya yang sejati, yang tunduk dan patuh kepada Rabb Penguasa jagad raya, bukan menjadi budak hawa nafsu dan ambisi-ambisi dunia.Baca Juga: Hikmah Agung Ibadah WuduIkrar Pemurnian IbadahFirman Allah Ta’ala,إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut,Ayat ini bermakna “Kami mengkhususkan ibadah dan permintaan tolong tertuju hanya kepada-Mu.” Sebab didahulukannya penyebutan objek pembicaraan (Engkau, yaitu Allah) menunjukkan ada maksud pembatasan. Hakikat dari pembatasan itu adalah menetapkan suatu hukum terhadap objek yang disebutkan serta menafikannya dari segala sesuatu selainnya. Seolah-olah orang ini mengatakan, “Kami beribadah kepada-Mu dan tidak akan beribadah kepada selain diri-Mu. Dan kami juga meminta pertolongan kepada-Mu dan tidak akan meminta pertolongan kepada selain diri-Mu.” Didahulukannya (penyebutan) ibadah sebelum permintaan tolong merupakan bentuk ungkapan mendahulukan sesuatu yang bersifat umum sebelum yang bersifat khusus. Selain itu, motifnya adalah untuk menunjukkan bahwa hak Allah Ta’ala harus dijunjung tinggi di atas hak semua hamba-Nya.Ibadah itu sendiri hakikatnya adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, yang berupa perbuatan maupun ucapan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Sedangkan makna dari isti’anah/ permintaan tolong adalah bersandar kepada Allah Ta’ala dalam rangka meraih kemanfaatan dan menepis bahaya. Hal ini diiringi dengan kepercayaan yang kuat terhadap Allah dalam upaya untuk memperoleh itu semua.Menunaikan ibadah kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, sebenarnya itulah sarana untuk menggapai kebahagiaan abadi serta jalan untuk menyelamatkan diri dari segala bentuk keburukan. Oleh sebab itu, tidak ada jalan untuk menemukan keselamatan, kecuali dengan merealisasikan keduanya (ibadah dan isti’anah). Suatu ibadah baru bisa disebut ibadah yang benar apabila diambil dari tuntunan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam serta dikerjakan dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Dengan dua syarat itulah ibadah menjadi ibadah yang sebenarnya.Sedangkan maksud dari penyebutan isti’anah setelah ibadah (padahal isti’anah juga bagian dari ibadah itu sendiri) adalah demi menunjukkan betapa besar kebutuhan seorang hamba terhadap pertolongan Allah dalam rangka mewujudkan semua ibadah yang dilakukannya. Sebab, seandainya Allah tidak memberikan pertolongan kepadany,a niscaya apa pun yang diinginkan olehnya tidak akan tercapai, baik dalam mengerjakan perintah maupun menjauhi larangan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)Baca Juga:Untukmu yang Sedang Malas BeribadahHukum Ibadah ketika Tercampur dengan Riya’***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tamimah, Ajaran Tauhid Adalah, Hafizhahullah Arab, Lelaki Yang Tidak Layak Dijadikan Suami Dalam IslamTags: amal ibadahaqidah islamfikih ibadahibadahibadah sunnahibdah wajibManhajmanhaj salafmemurnikan ibadahpanduan ibadahSunnahTauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Menguak Hakikat Ibadah 2. Ikrar Pemurnian Ibadah Menguak Hakikat IbadahAllah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Allah menciptakan kita untuk beribadah. Apakah makna ibadah? Berikut ini kami nukilkan keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah di dalam Fath Al-Majid (hal. 17, cetakan Dar Ibnu Hazm). Beliau rahimahullah memaparkan sebagai berikut,Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah melakukan ketaatan kepada Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui lisan para rasul.” Beliau juga menjelaskan, “Ibadah adalah istilah yang meliputi segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.”Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ibadah berporos pada lima belas patokan. Barangsiapa dapat menyempurnakan itu semua, maka dia telah menyempurnakan tingkatan-tingkatan penghambaan (ubudiyah). Keterangannya ialah sebagai berikut:Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Sedangkan hukum-hukum yang berlaku dalam kerangka ubudiyah itu terbagi lima: wajib, mustahab/sunah, haram, makruh, dan mubah. Masing-masing hukum ini berlaku meliputi isi hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan.”Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Makna asal dari ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan. Berbagai tugas/beban syariat yang diberikan kepada manusia (mukallaf) dinamai dengan ibadah dikarenakan mereka harus melaksanakannya dengan penuh ketundukan kepada Allah Ta’ala. Makna ayat tersebut (QS. Adz-Dzariyat: 56) adalah Allah Ta’ala memberitakan bahwa tidaklah Dia menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Inilah hikmah penciptaan mereka.” Saya katakan (Syekh Abdurrahman), “Itulah hikmah yang dikenal dengan nama hikmah syar’iyah diniyah.”Al-‘Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Makna beribadah kepada-Nya, yaitu menaati-Nya dengan cara melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam. Sebab makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri, dan kepatuhan.” Selesai ucapan Ibnu Katsir.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) juga memaparkan tatkala menafsirkan ayat ini (QS. Adz-Dzariyat: 56), “Makna ayat tersebut adalah sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya, akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras. Allah Ta’ala pun mengabarkan bahwa diri-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Bahkan, mereka itulah yang senantiasa membutuhkan-Nya di setiap kondisi. Allah Ta’ala adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi mereka.”Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan mengenai ayat ini, “Maknanya adalah tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah agar mereka Aku perintahkan beribadah kepada-Ku.” Sedangkan Mujahid mengatakan, “Tujuan-Ku (menciptakan mereka) adalah untuk Aku perintah dan Aku larang.” Tafsiran serupa ini juga dipilih oleh Az-Zajjaj dan Syaikhul Islam rahimahullah.Beliau (Ibnu Katsir rahimahullah) mengatakan, “Tafsiran ini didukung oleh makna firman Allah Ta’ala,أَیَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَـٰنُ أَن یُتۡرَكَ سُدًى‘Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan begitu saja dalam keadaan sia-sia.’ (QS. Al-Qiyamah: 36). Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan tafsiran ‘sia-sia’ yaitu, ‘(Apakah mereka Aku biarkan) tanpa diperintah dan tanpa dilarang?!'”Sampai di sini keterangan yang kami nukil dari Fath Al-Majid.Dengan memperhatikan keterangan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa:Pertama, Ibadah adalah tujuan hidup kita.Kedua, Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridai dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.Ketiga, Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.Dengan demikian, orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah yang mengisi waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan, baik dengan melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan. Sebab dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud. Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada kita untuk menjadi hamba-Nya yang sejati, yang tunduk dan patuh kepada Rabb Penguasa jagad raya, bukan menjadi budak hawa nafsu dan ambisi-ambisi dunia.Baca Juga: Hikmah Agung Ibadah WuduIkrar Pemurnian IbadahFirman Allah Ta’ala,إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut,Ayat ini bermakna “Kami mengkhususkan ibadah dan permintaan tolong tertuju hanya kepada-Mu.” Sebab didahulukannya penyebutan objek pembicaraan (Engkau, yaitu Allah) menunjukkan ada maksud pembatasan. Hakikat dari pembatasan itu adalah menetapkan suatu hukum terhadap objek yang disebutkan serta menafikannya dari segala sesuatu selainnya. Seolah-olah orang ini mengatakan, “Kami beribadah kepada-Mu dan tidak akan beribadah kepada selain diri-Mu. Dan kami juga meminta pertolongan kepada-Mu dan tidak akan meminta pertolongan kepada selain diri-Mu.” Didahulukannya (penyebutan) ibadah sebelum permintaan tolong merupakan bentuk ungkapan mendahulukan sesuatu yang bersifat umum sebelum yang bersifat khusus. Selain itu, motifnya adalah untuk menunjukkan bahwa hak Allah Ta’ala harus dijunjung tinggi di atas hak semua hamba-Nya.Ibadah itu sendiri hakikatnya adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, yang berupa perbuatan maupun ucapan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Sedangkan makna dari isti’anah/ permintaan tolong adalah bersandar kepada Allah Ta’ala dalam rangka meraih kemanfaatan dan menepis bahaya. Hal ini diiringi dengan kepercayaan yang kuat terhadap Allah dalam upaya untuk memperoleh itu semua.Menunaikan ibadah kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, sebenarnya itulah sarana untuk menggapai kebahagiaan abadi serta jalan untuk menyelamatkan diri dari segala bentuk keburukan. Oleh sebab itu, tidak ada jalan untuk menemukan keselamatan, kecuali dengan merealisasikan keduanya (ibadah dan isti’anah). Suatu ibadah baru bisa disebut ibadah yang benar apabila diambil dari tuntunan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam serta dikerjakan dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Dengan dua syarat itulah ibadah menjadi ibadah yang sebenarnya.Sedangkan maksud dari penyebutan isti’anah setelah ibadah (padahal isti’anah juga bagian dari ibadah itu sendiri) adalah demi menunjukkan betapa besar kebutuhan seorang hamba terhadap pertolongan Allah dalam rangka mewujudkan semua ibadah yang dilakukannya. Sebab, seandainya Allah tidak memberikan pertolongan kepadany,a niscaya apa pun yang diinginkan olehnya tidak akan tercapai, baik dalam mengerjakan perintah maupun menjauhi larangan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 39)Baca Juga:Untukmu yang Sedang Malas BeribadahHukum Ibadah ketika Tercampur dengan Riya’***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tamimah, Ajaran Tauhid Adalah, Hafizhahullah Arab, Lelaki Yang Tidak Layak Dijadikan Suami Dalam IslamTags: amal ibadahaqidah islamfikih ibadahibadahibadah sunnahibdah wajibManhajmanhaj salafmemurnikan ibadahpanduan ibadahSunnahTauhid

Bulughul Maram – Shalat: Seputar Hukum Sujud Tilawah

https://open.spotify.com/episode/0DY2gRY9kxohyES6wNE3oL Berikut adalah beberapa hukum mengenai sujud tilawah.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Hukum Sujud Tilawah 2. Hadits 7/345 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Seputar Hukum Sujud Tilawah Hadits 7/345 عَنْ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: يَا أَيُّها النَّاسُ إنَّا نَمُرُّ بالسُّجُودِ، فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ،وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إثْمَ عَلَيْهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وفيه: «إنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَفْرِض السُّجُودَ إلاَّ أن نَشَاءَ»، وَهُوَ فِي «المُوطَّإ». Dari ‘Umar, ia berkata, “Wahai sekalian manusia, kita melewati bacaan ayat-ayat sujud. Barang siapa sujud, maka ia telah mendapat (pahala). Barang siapa tidak bersujud, maka ia tidak mendapat dosa.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1077] Dalam hadits itu disebutkan, “Sesunggunya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki.” (Hadits ini termuat dalam Al-Muwatha’) [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:206. Sanad hadits ini, perawinya tsiqqah kecuali ada munqathi—terputus—antara ‘Urwah bin Az-Zubair dan ‘Umar bin Al-Khaththab]. Baca Juga: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu tidaklah wajib, hukumnya sunnah. Sujud tilawah disunnahkan pada setiap tempat yang disyariatkan sujud tilawah, yaitu ketika bertemu ayat sajadah. Sujud tilawah berlaku di dalam maupun di luar shalat. Sujud tilawah tidak berlaku bagi orang yang junub dan mabuk karena mereka tidak dibolehkan membaca Al-Qur’an. Orang yang mendengarkan bacaan ayat sajadah (yang memaksudkan untuk mendengarkan ayat) juga disyariatkan untuk sujud tilawah, baik yang membaca ayat adalah anak-anak yang sudah tamyiz, perempuan, ataukah laki-laki. Hal ini juga berlaku jika yang membaca itu dalam keadaan berhadats ataukah kafir, termasuk dari televisi ataukah rekaman. Hal ini juga berlaku jika yang membaca ayat sajadah tidak sujud, yang mendengarkan tetap diperintahkan untuk sujud tilawah. Namun, sujud tilawah semakin dianjurkan jika yang membaca melakukan sujud tilawah. Jika yang membaca Al-Qur’an adalah orang yang sedang tidur ataukah orang yang lupa, maka tidak disyariatkan untuk sujud tilawah, karena ia tidak memaksudkan membaca Al-Qur’an dengan keinginannya sendiri. Tidak disyariatkan sujud tilawah jika yang mendengarkan bacaan ayat sajadah berada di dalam shalat, sedangkan yang membaca berada di luar shalat. Orang yang shalat sendirian (munfarid) disunnahkan sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah. Namun, orang yang shalat tidaklah disyariatkan sujud tilawah jika yang membaca adalah orang lain yang sedang shalat. Sujud tilawah disunnahkan untuk imam sebagaimana munfarid. Jika imam melakukan sujud tilawah, hendaklah makmum juga melakukan sujud tilawah. Makmum harus sujud bersama imam. Jika makmum tidak sujud bersama imam, batallah shalat makmum karena ia menyelisihi imam. Jika imam tidak sujud tilawah, makmum tidak sujud tilawah. Jika makmum malah sujud, sedangkan imam tidak sujud, shalat makmum batal. Karena jika imam tidak sujud, makmum tidaklah sujud. Namun, disunnahkan melakukan sujud tilawah bakda shalatnya, karena telah luput melakukannya di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:251-253. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563, 557-558. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara, Bacaan, dan Takbir dalam Sujud Tilawah —   Diselesaikan 8 Shafar 1444 H, 5 September 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah

Bulughul Maram – Shalat: Seputar Hukum Sujud Tilawah

https://open.spotify.com/episode/0DY2gRY9kxohyES6wNE3oL Berikut adalah beberapa hukum mengenai sujud tilawah.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Hukum Sujud Tilawah 2. Hadits 7/345 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Seputar Hukum Sujud Tilawah Hadits 7/345 عَنْ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: يَا أَيُّها النَّاسُ إنَّا نَمُرُّ بالسُّجُودِ، فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ،وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إثْمَ عَلَيْهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وفيه: «إنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَفْرِض السُّجُودَ إلاَّ أن نَشَاءَ»، وَهُوَ فِي «المُوطَّإ». Dari ‘Umar, ia berkata, “Wahai sekalian manusia, kita melewati bacaan ayat-ayat sujud. Barang siapa sujud, maka ia telah mendapat (pahala). Barang siapa tidak bersujud, maka ia tidak mendapat dosa.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1077] Dalam hadits itu disebutkan, “Sesunggunya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki.” (Hadits ini termuat dalam Al-Muwatha’) [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:206. Sanad hadits ini, perawinya tsiqqah kecuali ada munqathi—terputus—antara ‘Urwah bin Az-Zubair dan ‘Umar bin Al-Khaththab]. Baca Juga: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu tidaklah wajib, hukumnya sunnah. Sujud tilawah disunnahkan pada setiap tempat yang disyariatkan sujud tilawah, yaitu ketika bertemu ayat sajadah. Sujud tilawah berlaku di dalam maupun di luar shalat. Sujud tilawah tidak berlaku bagi orang yang junub dan mabuk karena mereka tidak dibolehkan membaca Al-Qur’an. Orang yang mendengarkan bacaan ayat sajadah (yang memaksudkan untuk mendengarkan ayat) juga disyariatkan untuk sujud tilawah, baik yang membaca ayat adalah anak-anak yang sudah tamyiz, perempuan, ataukah laki-laki. Hal ini juga berlaku jika yang membaca itu dalam keadaan berhadats ataukah kafir, termasuk dari televisi ataukah rekaman. Hal ini juga berlaku jika yang membaca ayat sajadah tidak sujud, yang mendengarkan tetap diperintahkan untuk sujud tilawah. Namun, sujud tilawah semakin dianjurkan jika yang membaca melakukan sujud tilawah. Jika yang membaca Al-Qur’an adalah orang yang sedang tidur ataukah orang yang lupa, maka tidak disyariatkan untuk sujud tilawah, karena ia tidak memaksudkan membaca Al-Qur’an dengan keinginannya sendiri. Tidak disyariatkan sujud tilawah jika yang mendengarkan bacaan ayat sajadah berada di dalam shalat, sedangkan yang membaca berada di luar shalat. Orang yang shalat sendirian (munfarid) disunnahkan sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah. Namun, orang yang shalat tidaklah disyariatkan sujud tilawah jika yang membaca adalah orang lain yang sedang shalat. Sujud tilawah disunnahkan untuk imam sebagaimana munfarid. Jika imam melakukan sujud tilawah, hendaklah makmum juga melakukan sujud tilawah. Makmum harus sujud bersama imam. Jika makmum tidak sujud bersama imam, batallah shalat makmum karena ia menyelisihi imam. Jika imam tidak sujud tilawah, makmum tidak sujud tilawah. Jika makmum malah sujud, sedangkan imam tidak sujud, shalat makmum batal. Karena jika imam tidak sujud, makmum tidaklah sujud. Namun, disunnahkan melakukan sujud tilawah bakda shalatnya, karena telah luput melakukannya di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:251-253. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563, 557-558. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara, Bacaan, dan Takbir dalam Sujud Tilawah —   Diselesaikan 8 Shafar 1444 H, 5 September 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah
https://open.spotify.com/episode/0DY2gRY9kxohyES6wNE3oL Berikut adalah beberapa hukum mengenai sujud tilawah.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Hukum Sujud Tilawah 2. Hadits 7/345 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Seputar Hukum Sujud Tilawah Hadits 7/345 عَنْ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: يَا أَيُّها النَّاسُ إنَّا نَمُرُّ بالسُّجُودِ، فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ،وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إثْمَ عَلَيْهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وفيه: «إنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَفْرِض السُّجُودَ إلاَّ أن نَشَاءَ»، وَهُوَ فِي «المُوطَّإ». Dari ‘Umar, ia berkata, “Wahai sekalian manusia, kita melewati bacaan ayat-ayat sujud. Barang siapa sujud, maka ia telah mendapat (pahala). Barang siapa tidak bersujud, maka ia tidak mendapat dosa.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1077] Dalam hadits itu disebutkan, “Sesunggunya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki.” (Hadits ini termuat dalam Al-Muwatha’) [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:206. Sanad hadits ini, perawinya tsiqqah kecuali ada munqathi—terputus—antara ‘Urwah bin Az-Zubair dan ‘Umar bin Al-Khaththab]. Baca Juga: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu tidaklah wajib, hukumnya sunnah. Sujud tilawah disunnahkan pada setiap tempat yang disyariatkan sujud tilawah, yaitu ketika bertemu ayat sajadah. Sujud tilawah berlaku di dalam maupun di luar shalat. Sujud tilawah tidak berlaku bagi orang yang junub dan mabuk karena mereka tidak dibolehkan membaca Al-Qur’an. Orang yang mendengarkan bacaan ayat sajadah (yang memaksudkan untuk mendengarkan ayat) juga disyariatkan untuk sujud tilawah, baik yang membaca ayat adalah anak-anak yang sudah tamyiz, perempuan, ataukah laki-laki. Hal ini juga berlaku jika yang membaca itu dalam keadaan berhadats ataukah kafir, termasuk dari televisi ataukah rekaman. Hal ini juga berlaku jika yang membaca ayat sajadah tidak sujud, yang mendengarkan tetap diperintahkan untuk sujud tilawah. Namun, sujud tilawah semakin dianjurkan jika yang membaca melakukan sujud tilawah. Jika yang membaca Al-Qur’an adalah orang yang sedang tidur ataukah orang yang lupa, maka tidak disyariatkan untuk sujud tilawah, karena ia tidak memaksudkan membaca Al-Qur’an dengan keinginannya sendiri. Tidak disyariatkan sujud tilawah jika yang mendengarkan bacaan ayat sajadah berada di dalam shalat, sedangkan yang membaca berada di luar shalat. Orang yang shalat sendirian (munfarid) disunnahkan sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah. Namun, orang yang shalat tidaklah disyariatkan sujud tilawah jika yang membaca adalah orang lain yang sedang shalat. Sujud tilawah disunnahkan untuk imam sebagaimana munfarid. Jika imam melakukan sujud tilawah, hendaklah makmum juga melakukan sujud tilawah. Makmum harus sujud bersama imam. Jika makmum tidak sujud bersama imam, batallah shalat makmum karena ia menyelisihi imam. Jika imam tidak sujud tilawah, makmum tidak sujud tilawah. Jika makmum malah sujud, sedangkan imam tidak sujud, shalat makmum batal. Karena jika imam tidak sujud, makmum tidaklah sujud. Namun, disunnahkan melakukan sujud tilawah bakda shalatnya, karena telah luput melakukannya di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:251-253. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563, 557-558. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara, Bacaan, dan Takbir dalam Sujud Tilawah —   Diselesaikan 8 Shafar 1444 H, 5 September 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah


https://open.spotify.com/episode/0DY2gRY9kxohyES6wNE3oL Berikut adalah beberapa hukum mengenai sujud tilawah.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Seputar Hukum Sujud Tilawah 2. Hadits 7/345 3. Faedah hadits 3.1. Referensi   Seputar Hukum Sujud Tilawah Hadits 7/345 عَنْ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: يَا أَيُّها النَّاسُ إنَّا نَمُرُّ بالسُّجُودِ، فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ،وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إثْمَ عَلَيْهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وفيه: «إنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَفْرِض السُّجُودَ إلاَّ أن نَشَاءَ»، وَهُوَ فِي «المُوطَّإ». Dari ‘Umar, ia berkata, “Wahai sekalian manusia, kita melewati bacaan ayat-ayat sujud. Barang siapa sujud, maka ia telah mendapat (pahala). Barang siapa tidak bersujud, maka ia tidak mendapat dosa.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1077] Dalam hadits itu disebutkan, “Sesunggunya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki.” (Hadits ini termuat dalam Al-Muwatha’) [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:206. Sanad hadits ini, perawinya tsiqqah kecuali ada munqathi—terputus—antara ‘Urwah bin Az-Zubair dan ‘Umar bin Al-Khaththab]. Baca Juga: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu tidaklah wajib, hukumnya sunnah. Sujud tilawah disunnahkan pada setiap tempat yang disyariatkan sujud tilawah, yaitu ketika bertemu ayat sajadah. Sujud tilawah berlaku di dalam maupun di luar shalat. Sujud tilawah tidak berlaku bagi orang yang junub dan mabuk karena mereka tidak dibolehkan membaca Al-Qur’an. Orang yang mendengarkan bacaan ayat sajadah (yang memaksudkan untuk mendengarkan ayat) juga disyariatkan untuk sujud tilawah, baik yang membaca ayat adalah anak-anak yang sudah tamyiz, perempuan, ataukah laki-laki. Hal ini juga berlaku jika yang membaca itu dalam keadaan berhadats ataukah kafir, termasuk dari televisi ataukah rekaman. Hal ini juga berlaku jika yang membaca ayat sajadah tidak sujud, yang mendengarkan tetap diperintahkan untuk sujud tilawah. Namun, sujud tilawah semakin dianjurkan jika yang membaca melakukan sujud tilawah. Jika yang membaca Al-Qur’an adalah orang yang sedang tidur ataukah orang yang lupa, maka tidak disyariatkan untuk sujud tilawah, karena ia tidak memaksudkan membaca Al-Qur’an dengan keinginannya sendiri. Tidak disyariatkan sujud tilawah jika yang mendengarkan bacaan ayat sajadah berada di dalam shalat, sedangkan yang membaca berada di luar shalat. Orang yang shalat sendirian (munfarid) disunnahkan sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah. Namun, orang yang shalat tidaklah disyariatkan sujud tilawah jika yang membaca adalah orang lain yang sedang shalat. Sujud tilawah disunnahkan untuk imam sebagaimana munfarid. Jika imam melakukan sujud tilawah, hendaklah makmum juga melakukan sujud tilawah. Makmum harus sujud bersama imam. Jika makmum tidak sujud bersama imam, batallah shalat makmum karena ia menyelisihi imam. Jika imam tidak sujud tilawah, makmum tidak sujud tilawah. Jika makmum malah sujud, sedangkan imam tidak sujud, shalat makmum batal. Karena jika imam tidak sujud, makmum tidaklah sujud. Namun, disunnahkan melakukan sujud tilawah bakda shalatnya, karena telah luput melakukannya di dalam shalat.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:251-253. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563, 557-558. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara, Bacaan, dan Takbir dalam Sujud Tilawah —   Diselesaikan 8 Shafar 1444 H, 5 September 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah

Mengonsumsi Vitamin Pemutih Kulit, Apakah Termasuk Mengubah Ciptaan Allah?

السؤال ما حكم استخدام كريمات أو خلطات مكونة من عدة كريمات لتفتيح مناطق من الجسم علمًا بأن هذي المناطق كانت فاتحة ومع مرور الزمن تغيّر لونها ، وهل يجوز إني أستخدم اقراص فيتامين ( سي ) لنضارة الجسم ؟ Pertanyaan: Apa hukum menggunakan krim atau formula yang terdiri dari berbagai krim untuk memutihkan bagian-bagian tertentu dari tubuh, karena bagian-bagian ini dulunya putih, akan tetapi seiring berjalannya waktu warnanya berubah. Bolehkah saya menggunakan tablet vitamin C untuk peremajaan kulit? Jawaban: الجواب .الحمد لله :أولا تغيير لون البشرة من السواد إلى البياض .. بالكريمات أو مستحضرات التجميل ونحوها ، لا حرج فيه ، إذا كان التغيير مؤقتاً ، وأما إذا كان تغيير لون البشرة .. على وجه الدوام فلا يجوز ، سواء كان عن طريق العمليات الجراحية ، أو غير ذلك من الوسائل ؛ لأن ذلك من تغيير خلق الله تعالى Segala puji hanya bagi Allah. Pertama, bahwa perubahan warna kulit yang gelap menjadi cerah dengan krim atau formula kosmetik lainnya tidak mengapa jika perubahannya hanya sementara. Namun jika perubahan kulitnya permanen, maka tidak boleh, baik dengan cara operasi plastik atau cara lainnya, karena hal tersebut termasuk mengubah ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’āla. سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ما حكم الكريمات المبيضة للبشرة هل فيها بأس بالنسبة للمرأة؟ فأجاب رحمه الله تعالى: ” أما إذا كان تبييضاً ثابتاً، فإن هذا لا يجوز؛ لأن هذا يشبه الوشم والوشر والتفليج ، وأما إذا كان يبيض الوجه في وقت معين ، وإذا غسل زال : فلا بأس به ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب ” . Syeikh Ibnu Utsaimin raẖimahullahu taʿalā pernah ditanya, “Apa hukum krim pemutih kulit, bolehkah dipakai oleh wanita?” Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Jika putihnya permanen, maka tidak boleh, karena ini serupa dengan perubahan dengan tato, mengikir atau menjarangkan gigi untuk kecantikan. Adapun jika wajahnya menjadi putih untuk sementara waktu, jika dicuci jadi hilang, seperti ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. وسئل أيضاً رحمه الله: ” ظهرت مؤخرا أدوية تجعل المرأة السمراء بيضاء ، فهل تعاطيها أو تعاطي مثل هذه الأدوية حرام ، من باب تغيير الخلقة ؟  Beliau raẖimahullahu taʿalā juga ditanya, “Akhir-akhir ini muncul obat yang membuat wanita putih bersih, apakah mengonsumsi obat semacam ini terlarang karena mengubah ciptaan Allah? فأجاب رحمه الله تعالى : نعم هو حرام ، ما دام يغير لون الجلد تغييراً مستقراً ، فإنه يشبه الوشم وقد ( لعن النبي صلى الله عليه وسلم الواشمة والمستوشمة ) . Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Iya, haram jika mengubah warna kulit secara permanen karena itu serupa dengan perubahan dengan tato yang mana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang mentato dan minta ditato. أما إذا كان لإزالة عيب كما لو كان في الجلد شامة سوداء مشوهه ، فاستعمل الإنسان ما يزيلها : فإن هذا لا بأس به … ” انتهى من “فتاوى نور على الدرب” . Tapi jika untuk menghilangkan aib misalkan ada tahi lalat hitam yang mengganggu kemudian dia menggunakan sesuatu untuk menghilangkannya, ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. :ثانيا يُعد فيتامين ( ج ) أو ( c ) من أهم الفيتامينات التي يحتاج إليها الجسم لتكوين الأوعية الدموية والغضاريف ، والعضلات والكولاجين في العظام . وحيث إن الجسم لا يُفرز فيتامين ( ج ) ؛ فإن الإنسان يحتاج إلى الحصول عليه من نظامه الغذائي . كما يتوفر فيتامين ( ج ) في المكملات الغذائية المتناولة عن طريق الفم ، وعادة ما تكون بشكل كبسولات وأقراص قابلة للمضغ . ولا حرج في استخدام أقراص فيتامين ( ج ) لنضارة الجسم ، وليس ذلك من تغيير خلق الله في شيء. Kedua, bahwa vitamin C adalah salah satu vitamin yang paling dibutuhkan tubuh karena memiliki kandungan-kandungan yang dibutuhkan darah, tulang dan otot dan kolagen dalam tulang. Karena badan seseorang tidak memproduksi vitamin C sendiri maka perlu untuk mendapatkannya dari asupan makanan. Misalnya, vitamin C dipenuhi dari suplemen makanan yang masuk melalui mulut yang biasanya berupa kapsul atau pil yang bisa di lumat. Jadi, tidak mengapa mengonsumsi pil vitamin C untuk peremajaan kulit dan sama sekali tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. والأصل في استخدام هذه الفيتامينات، ونحوها من الأغذية والأدوية: الإباحة ، بشرط ألا يكون في ذلك ضرر على الجسم ، ويرجع في ذلك إلى الأطباء المتخصصين . وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  رواه الحاكم ( 2 / 57 – 58 ) وقال صحيح الإسناد على شرط مسلم . .والله أعلم Hukum asal mengonsumsi berbagai vitamin dan sejenisnya baik berupa makanan dan obat adalah boleh, kecuali jika membahayakan badan, dan ini perlu dikonsultasikan dengan dokter spesialis. Karena ada sebuah hadis sahih dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  “Tidak boleh mencelakai sendiri atau orang lain.” Hadis riwayat al-Hakim 2/57-58 dan beliau berkata bahwa sanadnya sahih menurut syarat Muslim. Allāhua’alam. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/296911/حكم-استخدام-اقراص-فيتامين-ج-لنضارة-الجسم https://islamqa.info/ar/downloads/answers/296911 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Menyambut Ramadhan, Cerita Ibnu Hajar, Hukum Puasa Pada Hari Jumat, Alarm Buka Puasa, Onani Di Bulan Ramadhan, Bekal Mati Visited 149 times, 2 visit(s) today Post Views: 390 QRIS donasi Yufid

Mengonsumsi Vitamin Pemutih Kulit, Apakah Termasuk Mengubah Ciptaan Allah?

السؤال ما حكم استخدام كريمات أو خلطات مكونة من عدة كريمات لتفتيح مناطق من الجسم علمًا بأن هذي المناطق كانت فاتحة ومع مرور الزمن تغيّر لونها ، وهل يجوز إني أستخدم اقراص فيتامين ( سي ) لنضارة الجسم ؟ Pertanyaan: Apa hukum menggunakan krim atau formula yang terdiri dari berbagai krim untuk memutihkan bagian-bagian tertentu dari tubuh, karena bagian-bagian ini dulunya putih, akan tetapi seiring berjalannya waktu warnanya berubah. Bolehkah saya menggunakan tablet vitamin C untuk peremajaan kulit? Jawaban: الجواب .الحمد لله :أولا تغيير لون البشرة من السواد إلى البياض .. بالكريمات أو مستحضرات التجميل ونحوها ، لا حرج فيه ، إذا كان التغيير مؤقتاً ، وأما إذا كان تغيير لون البشرة .. على وجه الدوام فلا يجوز ، سواء كان عن طريق العمليات الجراحية ، أو غير ذلك من الوسائل ؛ لأن ذلك من تغيير خلق الله تعالى Segala puji hanya bagi Allah. Pertama, bahwa perubahan warna kulit yang gelap menjadi cerah dengan krim atau formula kosmetik lainnya tidak mengapa jika perubahannya hanya sementara. Namun jika perubahan kulitnya permanen, maka tidak boleh, baik dengan cara operasi plastik atau cara lainnya, karena hal tersebut termasuk mengubah ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’āla. سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ما حكم الكريمات المبيضة للبشرة هل فيها بأس بالنسبة للمرأة؟ فأجاب رحمه الله تعالى: ” أما إذا كان تبييضاً ثابتاً، فإن هذا لا يجوز؛ لأن هذا يشبه الوشم والوشر والتفليج ، وأما إذا كان يبيض الوجه في وقت معين ، وإذا غسل زال : فلا بأس به ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب ” . Syeikh Ibnu Utsaimin raẖimahullahu taʿalā pernah ditanya, “Apa hukum krim pemutih kulit, bolehkah dipakai oleh wanita?” Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Jika putihnya permanen, maka tidak boleh, karena ini serupa dengan perubahan dengan tato, mengikir atau menjarangkan gigi untuk kecantikan. Adapun jika wajahnya menjadi putih untuk sementara waktu, jika dicuci jadi hilang, seperti ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. وسئل أيضاً رحمه الله: ” ظهرت مؤخرا أدوية تجعل المرأة السمراء بيضاء ، فهل تعاطيها أو تعاطي مثل هذه الأدوية حرام ، من باب تغيير الخلقة ؟  Beliau raẖimahullahu taʿalā juga ditanya, “Akhir-akhir ini muncul obat yang membuat wanita putih bersih, apakah mengonsumsi obat semacam ini terlarang karena mengubah ciptaan Allah? فأجاب رحمه الله تعالى : نعم هو حرام ، ما دام يغير لون الجلد تغييراً مستقراً ، فإنه يشبه الوشم وقد ( لعن النبي صلى الله عليه وسلم الواشمة والمستوشمة ) . Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Iya, haram jika mengubah warna kulit secara permanen karena itu serupa dengan perubahan dengan tato yang mana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang mentato dan minta ditato. أما إذا كان لإزالة عيب كما لو كان في الجلد شامة سوداء مشوهه ، فاستعمل الإنسان ما يزيلها : فإن هذا لا بأس به … ” انتهى من “فتاوى نور على الدرب” . Tapi jika untuk menghilangkan aib misalkan ada tahi lalat hitam yang mengganggu kemudian dia menggunakan sesuatu untuk menghilangkannya, ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. :ثانيا يُعد فيتامين ( ج ) أو ( c ) من أهم الفيتامينات التي يحتاج إليها الجسم لتكوين الأوعية الدموية والغضاريف ، والعضلات والكولاجين في العظام . وحيث إن الجسم لا يُفرز فيتامين ( ج ) ؛ فإن الإنسان يحتاج إلى الحصول عليه من نظامه الغذائي . كما يتوفر فيتامين ( ج ) في المكملات الغذائية المتناولة عن طريق الفم ، وعادة ما تكون بشكل كبسولات وأقراص قابلة للمضغ . ولا حرج في استخدام أقراص فيتامين ( ج ) لنضارة الجسم ، وليس ذلك من تغيير خلق الله في شيء. Kedua, bahwa vitamin C adalah salah satu vitamin yang paling dibutuhkan tubuh karena memiliki kandungan-kandungan yang dibutuhkan darah, tulang dan otot dan kolagen dalam tulang. Karena badan seseorang tidak memproduksi vitamin C sendiri maka perlu untuk mendapatkannya dari asupan makanan. Misalnya, vitamin C dipenuhi dari suplemen makanan yang masuk melalui mulut yang biasanya berupa kapsul atau pil yang bisa di lumat. Jadi, tidak mengapa mengonsumsi pil vitamin C untuk peremajaan kulit dan sama sekali tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. والأصل في استخدام هذه الفيتامينات، ونحوها من الأغذية والأدوية: الإباحة ، بشرط ألا يكون في ذلك ضرر على الجسم ، ويرجع في ذلك إلى الأطباء المتخصصين . وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  رواه الحاكم ( 2 / 57 – 58 ) وقال صحيح الإسناد على شرط مسلم . .والله أعلم Hukum asal mengonsumsi berbagai vitamin dan sejenisnya baik berupa makanan dan obat adalah boleh, kecuali jika membahayakan badan, dan ini perlu dikonsultasikan dengan dokter spesialis. Karena ada sebuah hadis sahih dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  “Tidak boleh mencelakai sendiri atau orang lain.” Hadis riwayat al-Hakim 2/57-58 dan beliau berkata bahwa sanadnya sahih menurut syarat Muslim. Allāhua’alam. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/296911/حكم-استخدام-اقراص-فيتامين-ج-لنضارة-الجسم https://islamqa.info/ar/downloads/answers/296911 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Menyambut Ramadhan, Cerita Ibnu Hajar, Hukum Puasa Pada Hari Jumat, Alarm Buka Puasa, Onani Di Bulan Ramadhan, Bekal Mati Visited 149 times, 2 visit(s) today Post Views: 390 QRIS donasi Yufid
السؤال ما حكم استخدام كريمات أو خلطات مكونة من عدة كريمات لتفتيح مناطق من الجسم علمًا بأن هذي المناطق كانت فاتحة ومع مرور الزمن تغيّر لونها ، وهل يجوز إني أستخدم اقراص فيتامين ( سي ) لنضارة الجسم ؟ Pertanyaan: Apa hukum menggunakan krim atau formula yang terdiri dari berbagai krim untuk memutihkan bagian-bagian tertentu dari tubuh, karena bagian-bagian ini dulunya putih, akan tetapi seiring berjalannya waktu warnanya berubah. Bolehkah saya menggunakan tablet vitamin C untuk peremajaan kulit? Jawaban: الجواب .الحمد لله :أولا تغيير لون البشرة من السواد إلى البياض .. بالكريمات أو مستحضرات التجميل ونحوها ، لا حرج فيه ، إذا كان التغيير مؤقتاً ، وأما إذا كان تغيير لون البشرة .. على وجه الدوام فلا يجوز ، سواء كان عن طريق العمليات الجراحية ، أو غير ذلك من الوسائل ؛ لأن ذلك من تغيير خلق الله تعالى Segala puji hanya bagi Allah. Pertama, bahwa perubahan warna kulit yang gelap menjadi cerah dengan krim atau formula kosmetik lainnya tidak mengapa jika perubahannya hanya sementara. Namun jika perubahan kulitnya permanen, maka tidak boleh, baik dengan cara operasi plastik atau cara lainnya, karena hal tersebut termasuk mengubah ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’āla. سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ما حكم الكريمات المبيضة للبشرة هل فيها بأس بالنسبة للمرأة؟ فأجاب رحمه الله تعالى: ” أما إذا كان تبييضاً ثابتاً، فإن هذا لا يجوز؛ لأن هذا يشبه الوشم والوشر والتفليج ، وأما إذا كان يبيض الوجه في وقت معين ، وإذا غسل زال : فلا بأس به ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب ” . Syeikh Ibnu Utsaimin raẖimahullahu taʿalā pernah ditanya, “Apa hukum krim pemutih kulit, bolehkah dipakai oleh wanita?” Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Jika putihnya permanen, maka tidak boleh, karena ini serupa dengan perubahan dengan tato, mengikir atau menjarangkan gigi untuk kecantikan. Adapun jika wajahnya menjadi putih untuk sementara waktu, jika dicuci jadi hilang, seperti ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. وسئل أيضاً رحمه الله: ” ظهرت مؤخرا أدوية تجعل المرأة السمراء بيضاء ، فهل تعاطيها أو تعاطي مثل هذه الأدوية حرام ، من باب تغيير الخلقة ؟  Beliau raẖimahullahu taʿalā juga ditanya, “Akhir-akhir ini muncul obat yang membuat wanita putih bersih, apakah mengonsumsi obat semacam ini terlarang karena mengubah ciptaan Allah? فأجاب رحمه الله تعالى : نعم هو حرام ، ما دام يغير لون الجلد تغييراً مستقراً ، فإنه يشبه الوشم وقد ( لعن النبي صلى الله عليه وسلم الواشمة والمستوشمة ) . Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Iya, haram jika mengubah warna kulit secara permanen karena itu serupa dengan perubahan dengan tato yang mana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang mentato dan minta ditato. أما إذا كان لإزالة عيب كما لو كان في الجلد شامة سوداء مشوهه ، فاستعمل الإنسان ما يزيلها : فإن هذا لا بأس به … ” انتهى من “فتاوى نور على الدرب” . Tapi jika untuk menghilangkan aib misalkan ada tahi lalat hitam yang mengganggu kemudian dia menggunakan sesuatu untuk menghilangkannya, ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. :ثانيا يُعد فيتامين ( ج ) أو ( c ) من أهم الفيتامينات التي يحتاج إليها الجسم لتكوين الأوعية الدموية والغضاريف ، والعضلات والكولاجين في العظام . وحيث إن الجسم لا يُفرز فيتامين ( ج ) ؛ فإن الإنسان يحتاج إلى الحصول عليه من نظامه الغذائي . كما يتوفر فيتامين ( ج ) في المكملات الغذائية المتناولة عن طريق الفم ، وعادة ما تكون بشكل كبسولات وأقراص قابلة للمضغ . ولا حرج في استخدام أقراص فيتامين ( ج ) لنضارة الجسم ، وليس ذلك من تغيير خلق الله في شيء. Kedua, bahwa vitamin C adalah salah satu vitamin yang paling dibutuhkan tubuh karena memiliki kandungan-kandungan yang dibutuhkan darah, tulang dan otot dan kolagen dalam tulang. Karena badan seseorang tidak memproduksi vitamin C sendiri maka perlu untuk mendapatkannya dari asupan makanan. Misalnya, vitamin C dipenuhi dari suplemen makanan yang masuk melalui mulut yang biasanya berupa kapsul atau pil yang bisa di lumat. Jadi, tidak mengapa mengonsumsi pil vitamin C untuk peremajaan kulit dan sama sekali tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. والأصل في استخدام هذه الفيتامينات، ونحوها من الأغذية والأدوية: الإباحة ، بشرط ألا يكون في ذلك ضرر على الجسم ، ويرجع في ذلك إلى الأطباء المتخصصين . وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  رواه الحاكم ( 2 / 57 – 58 ) وقال صحيح الإسناد على شرط مسلم . .والله أعلم Hukum asal mengonsumsi berbagai vitamin dan sejenisnya baik berupa makanan dan obat adalah boleh, kecuali jika membahayakan badan, dan ini perlu dikonsultasikan dengan dokter spesialis. Karena ada sebuah hadis sahih dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  “Tidak boleh mencelakai sendiri atau orang lain.” Hadis riwayat al-Hakim 2/57-58 dan beliau berkata bahwa sanadnya sahih menurut syarat Muslim. Allāhua’alam. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/296911/حكم-استخدام-اقراص-فيتامين-ج-لنضارة-الجسم https://islamqa.info/ar/downloads/answers/296911 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Menyambut Ramadhan, Cerita Ibnu Hajar, Hukum Puasa Pada Hari Jumat, Alarm Buka Puasa, Onani Di Bulan Ramadhan, Bekal Mati Visited 149 times, 2 visit(s) today Post Views: 390 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1349508001&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> السؤال ما حكم استخدام كريمات أو خلطات مكونة من عدة كريمات لتفتيح مناطق من الجسم علمًا بأن هذي المناطق كانت فاتحة ومع مرور الزمن تغيّر لونها ، وهل يجوز إني أستخدم اقراص فيتامين ( سي ) لنضارة الجسم ؟ Pertanyaan: Apa hukum menggunakan krim atau formula yang terdiri dari berbagai krim untuk memutihkan bagian-bagian tertentu dari tubuh, karena bagian-bagian ini dulunya putih, akan tetapi seiring berjalannya waktu warnanya berubah. Bolehkah saya menggunakan tablet vitamin C untuk peremajaan kulit? Jawaban: الجواب .الحمد لله :أولا تغيير لون البشرة من السواد إلى البياض .. بالكريمات أو مستحضرات التجميل ونحوها ، لا حرج فيه ، إذا كان التغيير مؤقتاً ، وأما إذا كان تغيير لون البشرة .. على وجه الدوام فلا يجوز ، سواء كان عن طريق العمليات الجراحية ، أو غير ذلك من الوسائل ؛ لأن ذلك من تغيير خلق الله تعالى Segala puji hanya bagi Allah. Pertama, bahwa perubahan warna kulit yang gelap menjadi cerah dengan krim atau formula kosmetik lainnya tidak mengapa jika perubahannya hanya sementara. Namun jika perubahan kulitnya permanen, maka tidak boleh, baik dengan cara operasi plastik atau cara lainnya, karena hal tersebut termasuk mengubah ciptaan Allah Subḥānahu wa Ta’āla. سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ما حكم الكريمات المبيضة للبشرة هل فيها بأس بالنسبة للمرأة؟ فأجاب رحمه الله تعالى: ” أما إذا كان تبييضاً ثابتاً، فإن هذا لا يجوز؛ لأن هذا يشبه الوشم والوشر والتفليج ، وأما إذا كان يبيض الوجه في وقت معين ، وإذا غسل زال : فلا بأس به ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب ” . Syeikh Ibnu Utsaimin raẖimahullahu taʿalā pernah ditanya, “Apa hukum krim pemutih kulit, bolehkah dipakai oleh wanita?” Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Jika putihnya permanen, maka tidak boleh, karena ini serupa dengan perubahan dengan tato, mengikir atau menjarangkan gigi untuk kecantikan. Adapun jika wajahnya menjadi putih untuk sementara waktu, jika dicuci jadi hilang, seperti ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. وسئل أيضاً رحمه الله: ” ظهرت مؤخرا أدوية تجعل المرأة السمراء بيضاء ، فهل تعاطيها أو تعاطي مثل هذه الأدوية حرام ، من باب تغيير الخلقة ؟  Beliau raẖimahullahu taʿalā juga ditanya, “Akhir-akhir ini muncul obat yang membuat wanita putih bersih, apakah mengonsumsi obat semacam ini terlarang karena mengubah ciptaan Allah? فأجاب رحمه الله تعالى : نعم هو حرام ، ما دام يغير لون الجلد تغييراً مستقراً ، فإنه يشبه الوشم وقد ( لعن النبي صلى الله عليه وسلم الواشمة والمستوشمة ) . Beliau raẖimahullahu taʿalā menjawab, “Iya, haram jika mengubah warna kulit secara permanen karena itu serupa dengan perubahan dengan tato yang mana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang mentato dan minta ditato. أما إذا كان لإزالة عيب كما لو كان في الجلد شامة سوداء مشوهه ، فاستعمل الإنسان ما يزيلها : فإن هذا لا بأس به … ” انتهى من “فتاوى نور على الدرب” . Tapi jika untuk menghilangkan aib misalkan ada tahi lalat hitam yang mengganggu kemudian dia menggunakan sesuatu untuk menghilangkannya, ini tidak mengapa. Selesai kutipan dari Fatāwā Nūr ʿAlā ad-Darbi. :ثانيا يُعد فيتامين ( ج ) أو ( c ) من أهم الفيتامينات التي يحتاج إليها الجسم لتكوين الأوعية الدموية والغضاريف ، والعضلات والكولاجين في العظام . وحيث إن الجسم لا يُفرز فيتامين ( ج ) ؛ فإن الإنسان يحتاج إلى الحصول عليه من نظامه الغذائي . كما يتوفر فيتامين ( ج ) في المكملات الغذائية المتناولة عن طريق الفم ، وعادة ما تكون بشكل كبسولات وأقراص قابلة للمضغ . ولا حرج في استخدام أقراص فيتامين ( ج ) لنضارة الجسم ، وليس ذلك من تغيير خلق الله في شيء. Kedua, bahwa vitamin C adalah salah satu vitamin yang paling dibutuhkan tubuh karena memiliki kandungan-kandungan yang dibutuhkan darah, tulang dan otot dan kolagen dalam tulang. Karena badan seseorang tidak memproduksi vitamin C sendiri maka perlu untuk mendapatkannya dari asupan makanan. Misalnya, vitamin C dipenuhi dari suplemen makanan yang masuk melalui mulut yang biasanya berupa kapsul atau pil yang bisa di lumat. Jadi, tidak mengapa mengonsumsi pil vitamin C untuk peremajaan kulit dan sama sekali tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. والأصل في استخدام هذه الفيتامينات، ونحوها من الأغذية والأدوية: الإباحة ، بشرط ألا يكون في ذلك ضرر على الجسم ، ويرجع في ذلك إلى الأطباء المتخصصين . وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  رواه الحاكم ( 2 / 57 – 58 ) وقال صحيح الإسناد على شرط مسلم . .والله أعلم Hukum asal mengonsumsi berbagai vitamin dan sejenisnya baik berupa makanan dan obat adalah boleh, kecuali jika membahayakan badan, dan ini perlu dikonsultasikan dengan dokter spesialis. Karena ada sebuah hadis sahih dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ  “Tidak boleh mencelakai sendiri atau orang lain.” Hadis riwayat al-Hakim 2/57-58 dan beliau berkata bahwa sanadnya sahih menurut syarat Muslim. Allāhua’alam. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/296911/حكم-استخدام-اقراص-فيتامين-ج-لنضارة-الجسم https://islamqa.info/ar/downloads/answers/296911 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Menyambut Ramadhan, Cerita Ibnu Hajar, Hukum Puasa Pada Hari Jumat, Alarm Buka Puasa, Onani Di Bulan Ramadhan, Bekal Mati Visited 149 times, 2 visit(s) today Post Views: 390 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam Keikhlasan

Daftar Isi sembunyikan 1. Kekuatan ikhlas 2. Ulama salaf dan keikhlasan Kekuatan ikhlasAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan amal (ketaatan) kepada-Nya dalam menjalani agama yang lurus, mendirikan salat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah juga berfirman,إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan benar. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)Allah pun berfirman memerintahkan kepada Nabi-Nya,قُلۡ إِنِّیۤ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Aku diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata.’” (QS. Az-Zumar: 11)Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niat. Maka, barangsiapa yang berhijrah dalam rangka memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar akan mendapatkan balasan berhijrah menuju Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya akan memperoleh apa yang dia niatkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang berperang untuk mencari mati syahid di jalan Allah. Kemudian dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya (di dunia) , maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu berperang karena ingin mendapatkan pujian sebagai seorang yang pemberani, dan hal itu telah kamu dapatkan. Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang telah diberikan kelapangan rezeki dan dikaruniai beragam harta benda. Dia juga dihadirkan, dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakuinya. Allah pun bertanya kepadanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengannya?’ Dia menjawab, ‘Tidak ada satu jalan pun yang harus kusedekahkan hartaku, kecuali telah aku infakkan harta itu di jalan-Mu, ikhlas karena-Mu.’ Maka, Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu lakukan hal itu agar kamu dijuluki sebagai orang yang dermawan. Dan pujian itu telah kamu dapatkan.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang mempelajari ilmu (agama) dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia pun dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakui itu semua. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu perbuat dengan itu semua?’ Maka dia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an di jalan-Mu.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sesungguhnya kamu menuntut ilmu agar disebut sebagai orang alim, kamu membaca Al-Qur’an agar disebut sebagai qari’.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Ada tiga buah tanda orang yang suka riya’ (beramal tidak ikhlas): [1] apabila sendirian, maka dia menjadi pemalas, [2] dan hanya bersemangat apabila berada bersama orang-orang, [3] dia akan meningkatkan amalnya jika dipuji dan akan mengurangi amalnya jika dicela orang karena melakukannya.” (Al-Kabaa’ir, hal. 156)Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, “Tidaklah aku melihat ada sesuatu yang lebih dapat membangkitkan keikhlasan daripada khalwah (menyendiri).” (Risalah Qusyairiyah, 1: 50. Asy-Syamilah)Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya mengikhlaskan amal karena Allah merupakan pondasi agama, ruh tauhid, dan ibadah. Hakikat ikhlas itu adalah hamba beribadah hanya bermaksud untuk mendapatkan pahala melihat wajah-Nya, menginginkan balasan, dan keutamaan dari-Nya.” (Al-Qaul As-Sadid, hal. 107).Baca Juga: Buah Manis KeikhlasanUlama salaf dan keikhlasanSeorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, ”Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)Yusuf bin Al Husain Ar-Razi rahimahullah mengatakan, ”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali muncul dengan warna yang lain.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).Ad-Daruquthni rahimahullah mengatakan, ”Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah. Akan tetapi, ternyata ilmu itu enggan sehingga dia menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang saleh adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al-I’tisham, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Di dalam biografi Ayyub As-Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, ”Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Pada suatu ketika, sampailah berita kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, ”Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Begitu pula ketika ada salah seorang muridnya yang mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, ”Wahai Abu Bakar! Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri, maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Diriwayatkan dari Mutharrif bin Abdullah rahimahullah bahwa dia mengatakan, ”Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Sedangkan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17)Dari Ibnul Mubarak rahimahullah, dia mengatakan, ”Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa daripada keikhlasan, karena di dalamnya hawa nafsu tidak ambil bagian sama sekali.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25)Baca Juga:Fatwa: Apa Makna Ikhlas dalam Beramal?Perintah untuk Ikhlas Beribadah***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Penyakit 'ain Adalah, Fathu Makkah Artinya, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Doa Doa MustajabahTags: adabamalan hatiikhlasikhlas dalam beramalkekuatan ikhlaskeutamaan ikhlaskiat ikhlasmeraih keihlasanulamaulama salaf

Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam Keikhlasan

Daftar Isi sembunyikan 1. Kekuatan ikhlas 2. Ulama salaf dan keikhlasan Kekuatan ikhlasAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan amal (ketaatan) kepada-Nya dalam menjalani agama yang lurus, mendirikan salat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah juga berfirman,إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan benar. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)Allah pun berfirman memerintahkan kepada Nabi-Nya,قُلۡ إِنِّیۤ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Aku diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata.’” (QS. Az-Zumar: 11)Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niat. Maka, barangsiapa yang berhijrah dalam rangka memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar akan mendapatkan balasan berhijrah menuju Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya akan memperoleh apa yang dia niatkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang berperang untuk mencari mati syahid di jalan Allah. Kemudian dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya (di dunia) , maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu berperang karena ingin mendapatkan pujian sebagai seorang yang pemberani, dan hal itu telah kamu dapatkan. Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang telah diberikan kelapangan rezeki dan dikaruniai beragam harta benda. Dia juga dihadirkan, dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakuinya. Allah pun bertanya kepadanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengannya?’ Dia menjawab, ‘Tidak ada satu jalan pun yang harus kusedekahkan hartaku, kecuali telah aku infakkan harta itu di jalan-Mu, ikhlas karena-Mu.’ Maka, Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu lakukan hal itu agar kamu dijuluki sebagai orang yang dermawan. Dan pujian itu telah kamu dapatkan.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang mempelajari ilmu (agama) dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia pun dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakui itu semua. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu perbuat dengan itu semua?’ Maka dia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an di jalan-Mu.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sesungguhnya kamu menuntut ilmu agar disebut sebagai orang alim, kamu membaca Al-Qur’an agar disebut sebagai qari’.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Ada tiga buah tanda orang yang suka riya’ (beramal tidak ikhlas): [1] apabila sendirian, maka dia menjadi pemalas, [2] dan hanya bersemangat apabila berada bersama orang-orang, [3] dia akan meningkatkan amalnya jika dipuji dan akan mengurangi amalnya jika dicela orang karena melakukannya.” (Al-Kabaa’ir, hal. 156)Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, “Tidaklah aku melihat ada sesuatu yang lebih dapat membangkitkan keikhlasan daripada khalwah (menyendiri).” (Risalah Qusyairiyah, 1: 50. Asy-Syamilah)Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya mengikhlaskan amal karena Allah merupakan pondasi agama, ruh tauhid, dan ibadah. Hakikat ikhlas itu adalah hamba beribadah hanya bermaksud untuk mendapatkan pahala melihat wajah-Nya, menginginkan balasan, dan keutamaan dari-Nya.” (Al-Qaul As-Sadid, hal. 107).Baca Juga: Buah Manis KeikhlasanUlama salaf dan keikhlasanSeorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, ”Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)Yusuf bin Al Husain Ar-Razi rahimahullah mengatakan, ”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali muncul dengan warna yang lain.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).Ad-Daruquthni rahimahullah mengatakan, ”Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah. Akan tetapi, ternyata ilmu itu enggan sehingga dia menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang saleh adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al-I’tisham, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Di dalam biografi Ayyub As-Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, ”Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Pada suatu ketika, sampailah berita kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, ”Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Begitu pula ketika ada salah seorang muridnya yang mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, ”Wahai Abu Bakar! Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri, maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Diriwayatkan dari Mutharrif bin Abdullah rahimahullah bahwa dia mengatakan, ”Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Sedangkan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17)Dari Ibnul Mubarak rahimahullah, dia mengatakan, ”Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa daripada keikhlasan, karena di dalamnya hawa nafsu tidak ambil bagian sama sekali.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25)Baca Juga:Fatwa: Apa Makna Ikhlas dalam Beramal?Perintah untuk Ikhlas Beribadah***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Penyakit 'ain Adalah, Fathu Makkah Artinya, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Doa Doa MustajabahTags: adabamalan hatiikhlasikhlas dalam beramalkekuatan ikhlaskeutamaan ikhlaskiat ikhlasmeraih keihlasanulamaulama salaf
Daftar Isi sembunyikan 1. Kekuatan ikhlas 2. Ulama salaf dan keikhlasan Kekuatan ikhlasAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan amal (ketaatan) kepada-Nya dalam menjalani agama yang lurus, mendirikan salat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah juga berfirman,إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan benar. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)Allah pun berfirman memerintahkan kepada Nabi-Nya,قُلۡ إِنِّیۤ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Aku diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata.’” (QS. Az-Zumar: 11)Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niat. Maka, barangsiapa yang berhijrah dalam rangka memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar akan mendapatkan balasan berhijrah menuju Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya akan memperoleh apa yang dia niatkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang berperang untuk mencari mati syahid di jalan Allah. Kemudian dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya (di dunia) , maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu berperang karena ingin mendapatkan pujian sebagai seorang yang pemberani, dan hal itu telah kamu dapatkan. Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang telah diberikan kelapangan rezeki dan dikaruniai beragam harta benda. Dia juga dihadirkan, dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakuinya. Allah pun bertanya kepadanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengannya?’ Dia menjawab, ‘Tidak ada satu jalan pun yang harus kusedekahkan hartaku, kecuali telah aku infakkan harta itu di jalan-Mu, ikhlas karena-Mu.’ Maka, Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu lakukan hal itu agar kamu dijuluki sebagai orang yang dermawan. Dan pujian itu telah kamu dapatkan.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang mempelajari ilmu (agama) dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia pun dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakui itu semua. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu perbuat dengan itu semua?’ Maka dia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an di jalan-Mu.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sesungguhnya kamu menuntut ilmu agar disebut sebagai orang alim, kamu membaca Al-Qur’an agar disebut sebagai qari’.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Ada tiga buah tanda orang yang suka riya’ (beramal tidak ikhlas): [1] apabila sendirian, maka dia menjadi pemalas, [2] dan hanya bersemangat apabila berada bersama orang-orang, [3] dia akan meningkatkan amalnya jika dipuji dan akan mengurangi amalnya jika dicela orang karena melakukannya.” (Al-Kabaa’ir, hal. 156)Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, “Tidaklah aku melihat ada sesuatu yang lebih dapat membangkitkan keikhlasan daripada khalwah (menyendiri).” (Risalah Qusyairiyah, 1: 50. Asy-Syamilah)Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya mengikhlaskan amal karena Allah merupakan pondasi agama, ruh tauhid, dan ibadah. Hakikat ikhlas itu adalah hamba beribadah hanya bermaksud untuk mendapatkan pahala melihat wajah-Nya, menginginkan balasan, dan keutamaan dari-Nya.” (Al-Qaul As-Sadid, hal. 107).Baca Juga: Buah Manis KeikhlasanUlama salaf dan keikhlasanSeorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, ”Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)Yusuf bin Al Husain Ar-Razi rahimahullah mengatakan, ”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali muncul dengan warna yang lain.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).Ad-Daruquthni rahimahullah mengatakan, ”Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah. Akan tetapi, ternyata ilmu itu enggan sehingga dia menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang saleh adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al-I’tisham, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Di dalam biografi Ayyub As-Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, ”Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Pada suatu ketika, sampailah berita kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, ”Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Begitu pula ketika ada salah seorang muridnya yang mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, ”Wahai Abu Bakar! Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri, maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Diriwayatkan dari Mutharrif bin Abdullah rahimahullah bahwa dia mengatakan, ”Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Sedangkan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17)Dari Ibnul Mubarak rahimahullah, dia mengatakan, ”Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa daripada keikhlasan, karena di dalamnya hawa nafsu tidak ambil bagian sama sekali.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25)Baca Juga:Fatwa: Apa Makna Ikhlas dalam Beramal?Perintah untuk Ikhlas Beribadah***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Penyakit 'ain Adalah, Fathu Makkah Artinya, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Doa Doa MustajabahTags: adabamalan hatiikhlasikhlas dalam beramalkekuatan ikhlaskeutamaan ikhlaskiat ikhlasmeraih keihlasanulamaulama salaf


Daftar Isi sembunyikan 1. Kekuatan ikhlas 2. Ulama salaf dan keikhlasan Kekuatan ikhlasAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan amal (ketaatan) kepada-Nya dalam menjalani agama yang lurus, mendirikan salat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)Allah juga berfirman,إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan benar. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)Allah pun berfirman memerintahkan kepada Nabi-Nya,قُلۡ إِنِّیۤ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Aku diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata.’” (QS. Az-Zumar: 11)Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niat. Maka, barangsiapa yang berhijrah dalam rangka memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar akan mendapatkan balasan berhijrah menuju Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya akan memperoleh apa yang dia niatkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang berperang untuk mencari mati syahid di jalan Allah. Kemudian dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya (di dunia) , maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu berperang karena ingin mendapatkan pujian sebagai seorang yang pemberani, dan hal itu telah kamu dapatkan. Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang telah diberikan kelapangan rezeki dan dikaruniai beragam harta benda. Dia juga dihadirkan, dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakuinya. Allah pun bertanya kepadanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan dengannya?’ Dia menjawab, ‘Tidak ada satu jalan pun yang harus kusedekahkan hartaku, kecuali telah aku infakkan harta itu di jalan-Mu, ikhlas karena-Mu.’ Maka, Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sebenarnya kamu lakukan hal itu agar kamu dijuluki sebagai orang yang dermawan. Dan pujian itu telah kamu dapatkan.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.Berikutnya, seorang lelaki yang mempelajari ilmu (agama) dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia pun dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dia pun mengakui itu semua. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu perbuat dengan itu semua?’ Maka dia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an di jalan-Mu.’ Allah menjawab, ‘Kamu dusta! Sesungguhnya kamu menuntut ilmu agar disebut sebagai orang alim, kamu membaca Al-Qur’an agar disebut sebagai qari’.’ Lantas Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup dan dia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Ada tiga buah tanda orang yang suka riya’ (beramal tidak ikhlas): [1] apabila sendirian, maka dia menjadi pemalas, [2] dan hanya bersemangat apabila berada bersama orang-orang, [3] dia akan meningkatkan amalnya jika dipuji dan akan mengurangi amalnya jika dicela orang karena melakukannya.” (Al-Kabaa’ir, hal. 156)Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, “Tidaklah aku melihat ada sesuatu yang lebih dapat membangkitkan keikhlasan daripada khalwah (menyendiri).” (Risalah Qusyairiyah, 1: 50. Asy-Syamilah)Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya mengikhlaskan amal karena Allah merupakan pondasi agama, ruh tauhid, dan ibadah. Hakikat ikhlas itu adalah hamba beribadah hanya bermaksud untuk mendapatkan pahala melihat wajah-Nya, menginginkan balasan, dan keutamaan dari-Nya.” (Al-Qaul As-Sadid, hal. 107).Baca Juga: Buah Manis KeikhlasanUlama salaf dan keikhlasanSeorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, ”Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)Yusuf bin Al Husain Ar-Razi rahimahullah mengatakan, ”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali muncul dengan warna yang lain.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).Ad-Daruquthni rahimahullah mengatakan, ”Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah. Akan tetapi, ternyata ilmu itu enggan sehingga dia menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang saleh adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al-I’tisham, dinukil dari Ma’alim, hal. 20)Di dalam biografi Ayyub As-Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, ”Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Pada suatu ketika, sampailah berita kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, ”Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Begitu pula ketika ada salah seorang muridnya yang mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, ”Wahai Abu Bakar! Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri, maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim, hal. 22)Diriwayatkan dari Mutharrif bin Abdullah rahimahullah bahwa dia mengatakan, ”Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Sedangkan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17)Dari Ibnul Mubarak rahimahullah, dia mengatakan, ”Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa daripada keikhlasan, karena di dalamnya hawa nafsu tidak ambil bagian sama sekali.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25)Baca Juga:Fatwa: Apa Makna Ikhlas dalam Beramal?Perintah untuk Ikhlas Beribadah***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Penyakit 'ain Adalah, Fathu Makkah Artinya, Mencari Kesalahan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahan Sendiri, Doa Doa MustajabahTags: adabamalan hatiikhlasikhlas dalam beramalkekuatan ikhlaskeutamaan ikhlaskiat ikhlasmeraih keihlasanulamaulama salaf

Istimewanya Puasa Dibanding Ibadah Lain – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Adapun puasa, maka Allah Subẖānahu wa Ta’ālā mengecualikannya, Dia berfirman,“… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku,dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Semua amalan memang untuk Allah ʿAzza wa Jalla,namun pengecualian dan pengkhususan inimaksudnya adalah pengagungan terhadap puasa, wahai saudara-saudara,dan penjelasan tentang tingginya kedudukan dan kemuliaannya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla. Dia berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku.”Dia sandarkan puasa kepada diri-Nya, yang Mahasuci lagi Maha Terpuji.Maka, ketika Anda sedang berpuasa,hendaknya Anda menyadari bahwa Anda mengamalkan ibadah yang khusus untuk Allah ʿAzza wa Jalla. Beginilah keikhlasan beramal kepada Allah ʿAzza wa Jalla terwujud,karena orang yang berpuasa, walaupun ia sedang sendirian di suatu tempat,yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah ʿAzza wa Jalla,meskipun demikian—segala puji bagi Allah—hawa nafsunya tidak mendorongnyauntuk membatalkan puasanya. Demikianlah, bagaimana puasa mengajarkan murāqabah pada diri seseorang,yaitu merasa diawasi oleh Allah ʿAzza wa Jalla. ==== وَأَمَّا الصِّيَامُ فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اسْتَثْنَاهُ فَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزَِى بِهِ بَقِيَّةُ الْأَعْمَالِ هِيَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ هَذَا الْاِسْتِثْنَاءَ وَهَذَا التَّخْصِيصَ يُرَادُ بِهِ تَعْظِيمُ الصِّيَامِ يَا إِخْوَانُ وَبَيَانُ عُلُوِّ مَكَانَتِهِ وَقَدْرِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: الصِّيَامُ لِي أَضَافَهُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَأَنْتَ وَأَنْتَ تَصُومُ تَسْتَشْعِرُ أَنَّكَ تَعْمَلُ عَمَلًا هُوَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِهَذَا يَتَجَسَّدُ الْإِخْلَاصُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الصَّائِمَ يَكُونُ فِي مَكَانٍ وَحْدَهُ لَا يَرَاهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَعَ ذَلِكَ لَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ وَلِلهِ الْحَمْدُ بِأَنْ يُبْطِلَ صِيَامَهُ وَبِهَذَا كَانَ الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي الْإِنْسَانِ الْمُرَاقَبَةَ مُرَاقَبَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Istimewanya Puasa Dibanding Ibadah Lain – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Adapun puasa, maka Allah Subẖānahu wa Ta’ālā mengecualikannya, Dia berfirman,“… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku,dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Semua amalan memang untuk Allah ʿAzza wa Jalla,namun pengecualian dan pengkhususan inimaksudnya adalah pengagungan terhadap puasa, wahai saudara-saudara,dan penjelasan tentang tingginya kedudukan dan kemuliaannya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla. Dia berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku.”Dia sandarkan puasa kepada diri-Nya, yang Mahasuci lagi Maha Terpuji.Maka, ketika Anda sedang berpuasa,hendaknya Anda menyadari bahwa Anda mengamalkan ibadah yang khusus untuk Allah ʿAzza wa Jalla. Beginilah keikhlasan beramal kepada Allah ʿAzza wa Jalla terwujud,karena orang yang berpuasa, walaupun ia sedang sendirian di suatu tempat,yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah ʿAzza wa Jalla,meskipun demikian—segala puji bagi Allah—hawa nafsunya tidak mendorongnyauntuk membatalkan puasanya. Demikianlah, bagaimana puasa mengajarkan murāqabah pada diri seseorang,yaitu merasa diawasi oleh Allah ʿAzza wa Jalla. ==== وَأَمَّا الصِّيَامُ فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اسْتَثْنَاهُ فَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزَِى بِهِ بَقِيَّةُ الْأَعْمَالِ هِيَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ هَذَا الْاِسْتِثْنَاءَ وَهَذَا التَّخْصِيصَ يُرَادُ بِهِ تَعْظِيمُ الصِّيَامِ يَا إِخْوَانُ وَبَيَانُ عُلُوِّ مَكَانَتِهِ وَقَدْرِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: الصِّيَامُ لِي أَضَافَهُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَأَنْتَ وَأَنْتَ تَصُومُ تَسْتَشْعِرُ أَنَّكَ تَعْمَلُ عَمَلًا هُوَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِهَذَا يَتَجَسَّدُ الْإِخْلَاصُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الصَّائِمَ يَكُونُ فِي مَكَانٍ وَحْدَهُ لَا يَرَاهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَعَ ذَلِكَ لَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ وَلِلهِ الْحَمْدُ بِأَنْ يُبْطِلَ صِيَامَهُ وَبِهَذَا كَانَ الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي الْإِنْسَانِ الْمُرَاقَبَةَ مُرَاقَبَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Adapun puasa, maka Allah Subẖānahu wa Ta’ālā mengecualikannya, Dia berfirman,“… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku,dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Semua amalan memang untuk Allah ʿAzza wa Jalla,namun pengecualian dan pengkhususan inimaksudnya adalah pengagungan terhadap puasa, wahai saudara-saudara,dan penjelasan tentang tingginya kedudukan dan kemuliaannya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla. Dia berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku.”Dia sandarkan puasa kepada diri-Nya, yang Mahasuci lagi Maha Terpuji.Maka, ketika Anda sedang berpuasa,hendaknya Anda menyadari bahwa Anda mengamalkan ibadah yang khusus untuk Allah ʿAzza wa Jalla. Beginilah keikhlasan beramal kepada Allah ʿAzza wa Jalla terwujud,karena orang yang berpuasa, walaupun ia sedang sendirian di suatu tempat,yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah ʿAzza wa Jalla,meskipun demikian—segala puji bagi Allah—hawa nafsunya tidak mendorongnyauntuk membatalkan puasanya. Demikianlah, bagaimana puasa mengajarkan murāqabah pada diri seseorang,yaitu merasa diawasi oleh Allah ʿAzza wa Jalla. ==== وَأَمَّا الصِّيَامُ فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اسْتَثْنَاهُ فَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزَِى بِهِ بَقِيَّةُ الْأَعْمَالِ هِيَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ هَذَا الْاِسْتِثْنَاءَ وَهَذَا التَّخْصِيصَ يُرَادُ بِهِ تَعْظِيمُ الصِّيَامِ يَا إِخْوَانُ وَبَيَانُ عُلُوِّ مَكَانَتِهِ وَقَدْرِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: الصِّيَامُ لِي أَضَافَهُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَأَنْتَ وَأَنْتَ تَصُومُ تَسْتَشْعِرُ أَنَّكَ تَعْمَلُ عَمَلًا هُوَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِهَذَا يَتَجَسَّدُ الْإِخْلَاصُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الصَّائِمَ يَكُونُ فِي مَكَانٍ وَحْدَهُ لَا يَرَاهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَعَ ذَلِكَ لَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ وَلِلهِ الْحَمْدُ بِأَنْ يُبْطِلَ صِيَامَهُ وَبِهَذَا كَانَ الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي الْإِنْسَانِ الْمُرَاقَبَةَ مُرَاقَبَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Adapun puasa, maka Allah Subẖānahu wa Ta’ālā mengecualikannya, Dia berfirman,“… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku,dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Semua amalan memang untuk Allah ʿAzza wa Jalla,namun pengecualian dan pengkhususan inimaksudnya adalah pengagungan terhadap puasa, wahai saudara-saudara,dan penjelasan tentang tingginya kedudukan dan kemuliaannya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla. Dia berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku.”Dia sandarkan puasa kepada diri-Nya, yang Mahasuci lagi Maha Terpuji.Maka, ketika Anda sedang berpuasa,hendaknya Anda menyadari bahwa Anda mengamalkan ibadah yang khusus untuk Allah ʿAzza wa Jalla. Beginilah keikhlasan beramal kepada Allah ʿAzza wa Jalla terwujud,karena orang yang berpuasa, walaupun ia sedang sendirian di suatu tempat,yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah ʿAzza wa Jalla,meskipun demikian—segala puji bagi Allah—hawa nafsunya tidak mendorongnyauntuk membatalkan puasanya. Demikianlah, bagaimana puasa mengajarkan murāqabah pada diri seseorang,yaitu merasa diawasi oleh Allah ʿAzza wa Jalla. ==== وَأَمَّا الصِّيَامُ فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اسْتَثْنَاهُ فَقَالَ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزَِى بِهِ بَقِيَّةُ الْأَعْمَالِ هِيَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ هَذَا الْاِسْتِثْنَاءَ وَهَذَا التَّخْصِيصَ يُرَادُ بِهِ تَعْظِيمُ الصِّيَامِ يَا إِخْوَانُ وَبَيَانُ عُلُوِّ مَكَانَتِهِ وَقَدْرِهِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: الصِّيَامُ لِي أَضَافَهُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَأَنْتَ وَأَنْتَ تَصُومُ تَسْتَشْعِرُ أَنَّكَ تَعْمَلُ عَمَلًا هُوَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِهَذَا يَتَجَسَّدُ الْإِخْلَاصُ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الصَّائِمَ يَكُونُ فِي مَكَانٍ وَحْدَهُ لَا يَرَاهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَعَ ذَلِكَ لَا تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ وَلِلهِ الْحَمْدُ بِأَنْ يُبْطِلَ صِيَامَهُ وَبِهَذَا كَانَ الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي الْإِنْسَانِ الْمُرَاقَبَةَ مُرَاقَبَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Doa Nabi Minta Ilmu yang Bermanfaat, Rezeki yang Baik, dan Amalan yang Diterima

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Kaum muslimin, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi rahmah. Nabi yang penuh rahmat dan sangat semangat untuk memberikan yang terbaik kepada umatnya. Memberikan contoh yang terbaik untuk kebahagiaan dan kemudahan umatnya. Dan di antara contoh itu adalah beliau berdoa setiap paginya, dengan memanfaatkan waktu pagi yang penuh dengan keberkahan, yang penuh dengan keistimewaan. Ummu Salamah, istri Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengatakan, bahwa beliau setiap pagi mengucapkan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا  وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN WA RIZQON THOYYIBAN WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAN “Ya Allah aku memohon kepada Engkau: Ilmu yang manfaat, rezeki yang tayib, dan amalan yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau memulai dengan ilmu yang manfaat, karena dia adalah kunci atas semuanya. Tidak mungkin kita bisa memahami halal dan haram tanpa ilmu. Tidak mungkin kita bisa beramal dengan amalan shalih tanpa ilmu. Maka beliau memulai dengan ilmu yang manfaat. Sebab ilmu adalah dasar untuk perubahan pada kebaikan. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Nabi yang ingin mengubah akhlak manusia, yang ingin mengubah kehidupan manusia, menjadi manusia yang berakhlak mulia. Memulai dengan menyampaikan wahyunya, اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ajakan untuk berilmu, ajakan untuk mencari ilmu, karena memang komponen utama sebuah perubahan adalah ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, beliau memulai dengan mengatakan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN Oleh karena itu, setiap kita ingin maju, maka butuh perubahan. Perubahan butuh ilmu, maka salah bila ada kita yang enggan menuntut ilmu, enggan untuk belajar. Karena tidak akan maju seorang manusia dalam kehidupannya, baik dunia maupun akhiratnya, tanpa perubahan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Allah tidak mengubah nasib sebuah kaum, sampai mereka mengubah nasibnya tersebut.” (QS. ar-Ra’d: 11) Sehingga perubahan menjadi hal yang sangat penting untuk kemajuan kita, dan itu butuh ilmu. Oleh karena itu, Nabi kita pun disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengetahui la ilaha illallah: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Ketahuilah, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Laa ilaha illallah, …” (QS. Muhammad: 19) Artinya diminta untuk berilmu, untuk mengetahui kandungan Laa ilaha illallah ini, “… kemudian mohonlah ampunan kepada-Nya untuk dirimu, dan untuk mukmin, dan mukminat.” (QS. Muhammad: 19) Di sinilah, lihat bagaimana pentingnya ilmu, sehingga ilmu itu akan mengantar seseorang kepada kebaikan dunia dan akhirat. Maka mari luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Banyak kemudahan Allah berikan untuk orang yang ingin menuntut ilmu. Kemudian setelah itu, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala rezeki yang tayib. Rezeki yang tayib, karena manusia butuh rezeki, butuh makanan, butuh juga apa saja yang bisa membuat ia lebih nyaman, lebih kuat di dunia ini, dan hanya rezeki yang tayiblah yang akan memberikan kepadanya keberkahan dalam tubuhnya, sehingga ia mampu untuk beramal saleh. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, dalam shahihnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ طيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا  “Allah itu Mahabagus, tidak menerima, kecuali yang bagus وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الَمُرْسَلِيْنَ bahwa Allah itu memerintahkan kaum mukminin, dengan perintah kepada para Rasul ‘alaihimus shalatu wassalam.” Beliau membaca: يَا أَيُّها الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّباتِ واعْمَلُوا صالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mu’minun: 51) dan beliau membaca juga: يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّباتِ ما رَزَقْناكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. al-Baqarah: 172) Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini. Kemudian beliau contohkan sebuah contoh: ada seorang yang berjalan dengan safar yang jauh, dalam keadaan, أَشْعَثَ أَغْبَرَ dalam keadaan kusut masai, يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ mengangkat tangannya ke langit, mengatakan: يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ dia mengangkat kedua tangannya, mengucapkan, “Ya Rabbi, ya Rabbi …” Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan tumbuh dari hal yang haram, bagaimana akan diijabahi doanya?! Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini, baru kemudian ujungnya adalah amalan saleh, yang Allah terima, yang memenuhi syarat ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila semua ini kita ketahui, maka tidak ada lagi alasan bagi kita semua untuk berhenti mencari ilmu, berhenti untuk mencari rezeki yang tayib, dan berhenti untuk beramal saleh. Perbanyak ilmu yang manfaat, perbanyak rezeki yang tayib, perbanyak juga amalan saleh tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua untuk meraih tiga hal ini, yang menjadi bekal yang baik mencapai ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. *** Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit, Bolehkah Pria Memakai Emas Putih, Hukum Shalat Dalam Keadaan Junub, Cara Ruqyah, Hukum Memegang Kemaluan Suami Saat Puasa, Bacaan Sholat Ied Idul Fitri Visited 1,185 times, 2 visit(s) today Post Views: 672 QRIS donasi Yufid

Doa Nabi Minta Ilmu yang Bermanfaat, Rezeki yang Baik, dan Amalan yang Diterima

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Kaum muslimin, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi rahmah. Nabi yang penuh rahmat dan sangat semangat untuk memberikan yang terbaik kepada umatnya. Memberikan contoh yang terbaik untuk kebahagiaan dan kemudahan umatnya. Dan di antara contoh itu adalah beliau berdoa setiap paginya, dengan memanfaatkan waktu pagi yang penuh dengan keberkahan, yang penuh dengan keistimewaan. Ummu Salamah, istri Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengatakan, bahwa beliau setiap pagi mengucapkan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا  وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN WA RIZQON THOYYIBAN WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAN “Ya Allah aku memohon kepada Engkau: Ilmu yang manfaat, rezeki yang tayib, dan amalan yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau memulai dengan ilmu yang manfaat, karena dia adalah kunci atas semuanya. Tidak mungkin kita bisa memahami halal dan haram tanpa ilmu. Tidak mungkin kita bisa beramal dengan amalan shalih tanpa ilmu. Maka beliau memulai dengan ilmu yang manfaat. Sebab ilmu adalah dasar untuk perubahan pada kebaikan. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Nabi yang ingin mengubah akhlak manusia, yang ingin mengubah kehidupan manusia, menjadi manusia yang berakhlak mulia. Memulai dengan menyampaikan wahyunya, اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ajakan untuk berilmu, ajakan untuk mencari ilmu, karena memang komponen utama sebuah perubahan adalah ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, beliau memulai dengan mengatakan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN Oleh karena itu, setiap kita ingin maju, maka butuh perubahan. Perubahan butuh ilmu, maka salah bila ada kita yang enggan menuntut ilmu, enggan untuk belajar. Karena tidak akan maju seorang manusia dalam kehidupannya, baik dunia maupun akhiratnya, tanpa perubahan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Allah tidak mengubah nasib sebuah kaum, sampai mereka mengubah nasibnya tersebut.” (QS. ar-Ra’d: 11) Sehingga perubahan menjadi hal yang sangat penting untuk kemajuan kita, dan itu butuh ilmu. Oleh karena itu, Nabi kita pun disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengetahui la ilaha illallah: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Ketahuilah, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Laa ilaha illallah, …” (QS. Muhammad: 19) Artinya diminta untuk berilmu, untuk mengetahui kandungan Laa ilaha illallah ini, “… kemudian mohonlah ampunan kepada-Nya untuk dirimu, dan untuk mukmin, dan mukminat.” (QS. Muhammad: 19) Di sinilah, lihat bagaimana pentingnya ilmu, sehingga ilmu itu akan mengantar seseorang kepada kebaikan dunia dan akhirat. Maka mari luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Banyak kemudahan Allah berikan untuk orang yang ingin menuntut ilmu. Kemudian setelah itu, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala rezeki yang tayib. Rezeki yang tayib, karena manusia butuh rezeki, butuh makanan, butuh juga apa saja yang bisa membuat ia lebih nyaman, lebih kuat di dunia ini, dan hanya rezeki yang tayiblah yang akan memberikan kepadanya keberkahan dalam tubuhnya, sehingga ia mampu untuk beramal saleh. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, dalam shahihnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ طيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا  “Allah itu Mahabagus, tidak menerima, kecuali yang bagus وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الَمُرْسَلِيْنَ bahwa Allah itu memerintahkan kaum mukminin, dengan perintah kepada para Rasul ‘alaihimus shalatu wassalam.” Beliau membaca: يَا أَيُّها الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّباتِ واعْمَلُوا صالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mu’minun: 51) dan beliau membaca juga: يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّباتِ ما رَزَقْناكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. al-Baqarah: 172) Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini. Kemudian beliau contohkan sebuah contoh: ada seorang yang berjalan dengan safar yang jauh, dalam keadaan, أَشْعَثَ أَغْبَرَ dalam keadaan kusut masai, يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ mengangkat tangannya ke langit, mengatakan: يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ dia mengangkat kedua tangannya, mengucapkan, “Ya Rabbi, ya Rabbi …” Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan tumbuh dari hal yang haram, bagaimana akan diijabahi doanya?! Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini, baru kemudian ujungnya adalah amalan saleh, yang Allah terima, yang memenuhi syarat ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila semua ini kita ketahui, maka tidak ada lagi alasan bagi kita semua untuk berhenti mencari ilmu, berhenti untuk mencari rezeki yang tayib, dan berhenti untuk beramal saleh. Perbanyak ilmu yang manfaat, perbanyak rezeki yang tayib, perbanyak juga amalan saleh tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua untuk meraih tiga hal ini, yang menjadi bekal yang baik mencapai ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. *** Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit, Bolehkah Pria Memakai Emas Putih, Hukum Shalat Dalam Keadaan Junub, Cara Ruqyah, Hukum Memegang Kemaluan Suami Saat Puasa, Bacaan Sholat Ied Idul Fitri Visited 1,185 times, 2 visit(s) today Post Views: 672 QRIS donasi Yufid
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Kaum muslimin, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi rahmah. Nabi yang penuh rahmat dan sangat semangat untuk memberikan yang terbaik kepada umatnya. Memberikan contoh yang terbaik untuk kebahagiaan dan kemudahan umatnya. Dan di antara contoh itu adalah beliau berdoa setiap paginya, dengan memanfaatkan waktu pagi yang penuh dengan keberkahan, yang penuh dengan keistimewaan. Ummu Salamah, istri Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengatakan, bahwa beliau setiap pagi mengucapkan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا  وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN WA RIZQON THOYYIBAN WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAN “Ya Allah aku memohon kepada Engkau: Ilmu yang manfaat, rezeki yang tayib, dan amalan yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau memulai dengan ilmu yang manfaat, karena dia adalah kunci atas semuanya. Tidak mungkin kita bisa memahami halal dan haram tanpa ilmu. Tidak mungkin kita bisa beramal dengan amalan shalih tanpa ilmu. Maka beliau memulai dengan ilmu yang manfaat. Sebab ilmu adalah dasar untuk perubahan pada kebaikan. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Nabi yang ingin mengubah akhlak manusia, yang ingin mengubah kehidupan manusia, menjadi manusia yang berakhlak mulia. Memulai dengan menyampaikan wahyunya, اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ajakan untuk berilmu, ajakan untuk mencari ilmu, karena memang komponen utama sebuah perubahan adalah ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, beliau memulai dengan mengatakan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN Oleh karena itu, setiap kita ingin maju, maka butuh perubahan. Perubahan butuh ilmu, maka salah bila ada kita yang enggan menuntut ilmu, enggan untuk belajar. Karena tidak akan maju seorang manusia dalam kehidupannya, baik dunia maupun akhiratnya, tanpa perubahan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Allah tidak mengubah nasib sebuah kaum, sampai mereka mengubah nasibnya tersebut.” (QS. ar-Ra’d: 11) Sehingga perubahan menjadi hal yang sangat penting untuk kemajuan kita, dan itu butuh ilmu. Oleh karena itu, Nabi kita pun disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengetahui la ilaha illallah: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Ketahuilah, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Laa ilaha illallah, …” (QS. Muhammad: 19) Artinya diminta untuk berilmu, untuk mengetahui kandungan Laa ilaha illallah ini, “… kemudian mohonlah ampunan kepada-Nya untuk dirimu, dan untuk mukmin, dan mukminat.” (QS. Muhammad: 19) Di sinilah, lihat bagaimana pentingnya ilmu, sehingga ilmu itu akan mengantar seseorang kepada kebaikan dunia dan akhirat. Maka mari luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Banyak kemudahan Allah berikan untuk orang yang ingin menuntut ilmu. Kemudian setelah itu, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala rezeki yang tayib. Rezeki yang tayib, karena manusia butuh rezeki, butuh makanan, butuh juga apa saja yang bisa membuat ia lebih nyaman, lebih kuat di dunia ini, dan hanya rezeki yang tayiblah yang akan memberikan kepadanya keberkahan dalam tubuhnya, sehingga ia mampu untuk beramal saleh. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, dalam shahihnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ طيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا  “Allah itu Mahabagus, tidak menerima, kecuali yang bagus وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الَمُرْسَلِيْنَ bahwa Allah itu memerintahkan kaum mukminin, dengan perintah kepada para Rasul ‘alaihimus shalatu wassalam.” Beliau membaca: يَا أَيُّها الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّباتِ واعْمَلُوا صالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mu’minun: 51) dan beliau membaca juga: يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّباتِ ما رَزَقْناكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. al-Baqarah: 172) Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini. Kemudian beliau contohkan sebuah contoh: ada seorang yang berjalan dengan safar yang jauh, dalam keadaan, أَشْعَثَ أَغْبَرَ dalam keadaan kusut masai, يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ mengangkat tangannya ke langit, mengatakan: يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ dia mengangkat kedua tangannya, mengucapkan, “Ya Rabbi, ya Rabbi …” Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan tumbuh dari hal yang haram, bagaimana akan diijabahi doanya?! Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini, baru kemudian ujungnya adalah amalan saleh, yang Allah terima, yang memenuhi syarat ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila semua ini kita ketahui, maka tidak ada lagi alasan bagi kita semua untuk berhenti mencari ilmu, berhenti untuk mencari rezeki yang tayib, dan berhenti untuk beramal saleh. Perbanyak ilmu yang manfaat, perbanyak rezeki yang tayib, perbanyak juga amalan saleh tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua untuk meraih tiga hal ini, yang menjadi bekal yang baik mencapai ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. *** Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit, Bolehkah Pria Memakai Emas Putih, Hukum Shalat Dalam Keadaan Junub, Cara Ruqyah, Hukum Memegang Kemaluan Suami Saat Puasa, Bacaan Sholat Ied Idul Fitri Visited 1,185 times, 2 visit(s) today Post Views: 672 QRIS donasi Yufid


Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. <iframe title="Doa Pagi Hari: Doa Ilmu yang Bermanfaat, Rezeki yang Baik, Amalan yang Diterima - Ceramah Singkat" width="616" height="347" src="https://www.youtube.com/embed/-mLWvcf9on8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe> Kaum muslimin, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi rahmah. Nabi yang penuh rahmat dan sangat semangat untuk memberikan yang terbaik kepada umatnya. Memberikan contoh yang terbaik untuk kebahagiaan dan kemudahan umatnya. Dan di antara contoh itu adalah beliau berdoa setiap paginya, dengan memanfaatkan waktu pagi yang penuh dengan keberkahan, yang penuh dengan keistimewaan. Ummu Salamah, istri Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengatakan, bahwa beliau setiap pagi mengucapkan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا  وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN WA RIZQON THOYYIBAN WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAN “Ya Allah aku memohon kepada Engkau: Ilmu yang manfaat, rezeki yang tayib, dan amalan yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau memulai dengan ilmu yang manfaat, karena dia adalah kunci atas semuanya. Tidak mungkin kita bisa memahami halal dan haram tanpa ilmu. Tidak mungkin kita bisa beramal dengan amalan shalih tanpa ilmu. Maka beliau memulai dengan ilmu yang manfaat. Sebab ilmu adalah dasar untuk perubahan pada kebaikan. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Nabi yang ingin mengubah akhlak manusia, yang ingin mengubah kehidupan manusia, menjadi manusia yang berakhlak mulia. Memulai dengan menyampaikan wahyunya, اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ajakan untuk berilmu, ajakan untuk mencari ilmu, karena memang komponen utama sebuah perubahan adalah ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, beliau memulai dengan mengatakan: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN Oleh karena itu, setiap kita ingin maju, maka butuh perubahan. Perubahan butuh ilmu, maka salah bila ada kita yang enggan menuntut ilmu, enggan untuk belajar. Karena tidak akan maju seorang manusia dalam kehidupannya, baik dunia maupun akhiratnya, tanpa perubahan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Allah tidak mengubah nasib sebuah kaum, sampai mereka mengubah nasibnya tersebut.” (QS. ar-Ra’d: 11) Sehingga perubahan menjadi hal yang sangat penting untuk kemajuan kita, dan itu butuh ilmu. Oleh karena itu, Nabi kita pun disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengetahui la ilaha illallah: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Ketahuilah, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Laa ilaha illallah, …” (QS. Muhammad: 19) Artinya diminta untuk berilmu, untuk mengetahui kandungan Laa ilaha illallah ini, “… kemudian mohonlah ampunan kepada-Nya untuk dirimu, dan untuk mukmin, dan mukminat.” (QS. Muhammad: 19) Di sinilah, lihat bagaimana pentingnya ilmu, sehingga ilmu itu akan mengantar seseorang kepada kebaikan dunia dan akhirat. Maka mari luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Banyak kemudahan Allah berikan untuk orang yang ingin menuntut ilmu. Kemudian setelah itu, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala rezeki yang tayib. Rezeki yang tayib, karena manusia butuh rezeki, butuh makanan, butuh juga apa saja yang bisa membuat ia lebih nyaman, lebih kuat di dunia ini, dan hanya rezeki yang tayiblah yang akan memberikan kepadanya keberkahan dalam tubuhnya, sehingga ia mampu untuk beramal saleh. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, dalam shahihnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ طيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا  “Allah itu Mahabagus, tidak menerima, kecuali yang bagus وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الَمُرْسَلِيْنَ bahwa Allah itu memerintahkan kaum mukminin, dengan perintah kepada para Rasul ‘alaihimus shalatu wassalam.” Beliau membaca: يَا أَيُّها الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّباتِ واعْمَلُوا صالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mu’minun: 51) dan beliau membaca juga: يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّباتِ ما رَزَقْناكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. al-Baqarah: 172) Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini. Kemudian beliau contohkan sebuah contoh: ada seorang yang berjalan dengan safar yang jauh, dalam keadaan, أَشْعَثَ أَغْبَرَ dalam keadaan kusut masai, يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ mengangkat tangannya ke langit, mengatakan: يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ dia mengangkat kedua tangannya, mengucapkan, “Ya Rabbi, ya Rabbi …” Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan tumbuh dari hal yang haram, bagaimana akan diijabahi doanya?! Menunjukkan pentingnya rezeki yang tayib ini, baru kemudian ujungnya adalah amalan saleh, yang Allah terima, yang memenuhi syarat ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila semua ini kita ketahui, maka tidak ada lagi alasan bagi kita semua untuk berhenti mencari ilmu, berhenti untuk mencari rezeki yang tayib, dan berhenti untuk beramal saleh. Perbanyak ilmu yang manfaat, perbanyak rezeki yang tayib, perbanyak juga amalan saleh tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua untuk meraih tiga hal ini, yang menjadi bekal yang baik mencapai ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. *** Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit, Bolehkah Pria Memakai Emas Putih, Hukum Shalat Dalam Keadaan Junub, Cara Ruqyah, Hukum Memegang Kemaluan Suami Saat Puasa, Bacaan Sholat Ied Idul Fitri Visited 1,185 times, 2 visit(s) today Post Views: 672 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kapan Keburukan Dicatat Pahala? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kapan Keburukan Dicatat Pahala? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Menjamak Salat di Kantor ketika Hujan – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Menjamak Salat di Kantor ketika Hujan – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?

Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur

Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?

Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur
Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur


Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur

Bahaya Mendahului Allah dan Rasul – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bahaya Mendahului Allah dan Rasul – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Syaikh Bin Baz Menjelaskan Beberapa Ayat dan Hadis tentang Ketinggian Allah

علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid

Syaikh Bin Baz Menjelaskan Beberapa Ayat dan Hadis tentang Ketinggian Allah

علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid
علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid


علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Menggunakan Jimat dari Al-Quran?

حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Menggunakan Jimat dari Al-Quran?

حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid
حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1365421672&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next