Jangan Kau Hina Pelaku Maksiat – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

“Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga,menurut pandangan manusia, …” Inilah masalahnya!Dia melakukan amalan penghuni surga, menurut pandangan manusia saja,padahal dia melakukan riya, tidak mengharap wajah Allah,tidak menginginkan surga, hanya ingin popularitas dan reputasi,atau mengharap harta saja. Nabi bersabda, “… sampai tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya,kemudian dia melakukan amalan penghuni neraka, kemudian memasukinya.” (HR. Bukhari) Sebaliknya, “Sungguh ada seseorang yang melakukan perbuatan penduduk neraka,dalam pandangan manusia, …”Anda yang melihatnya akan berkata, “Orang ini ahli maksiat,durhaka kepada Allah Ta’ala,dan melakukan ini dan itu.” Tapi Anda tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya,oleh sebab itu, jika Anda melihat seorang ahli maksiat,Masya Allāh, minum minuman keras,berzina, atau melakukan apa yang dia lakukan, Jangan katakan:“Orang ini tidak akan dirahmati oleh Allah!”“Orang ini adalah penghuni neraka!”Jangan! Anda tidak tahu,barangkali dia lebih baik dari Anda. Anda tidak tahu apa yang ada di hatinya.Mungkin orang ini jika telah kembali ke rumahnya,menyesal dan menangis,yaitu karena melakukan maksiat karena terpaksa,karena diuji dengan maksiat itu atau teman-teman yang buruk Mungkin, orang seperti ini jujur terhadap Allah,dan selalu menyesali maksiatnya,dan bertaubat kepada Allah, niscaya dia akan diberi taufik di akhir usianya,karena dia melakukan maksiatbukan karena berani melanggar larangan Allahatau tidak peduli dengan perintah-Nya, bukan. Nabi bersabda, “… dia melakukan perbuatan penduduk neraka, dalam pandangan manusia, …”“… hingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya, …” Lihat, bagaimana rahmat dan kelembutan-Nya atas hamba-hamba-Nya,karena Allah tahu apa yang ada dalam hatinya.Nabi bersabda, “Kemudian dia mengerjakan amalan penduduk surga, lalu memasukinya.” (HR. Bukhari) Jadi, kuncinya ada pada husnul khatimah,dengan kejujuran Anda kepada Allah.Jujurlah kepada-Nya,ikhlaslah kepada-Nya,dan hiduplah di dunia ini hanya mengharap wajah-Nya. “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku,hidupku dan matiku,hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku,dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS. Al-An’am: 162 – 163) Dengan demikian, hidup Anda hanya untuk Allah. ==== فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ هَذِهِ الْمُشْكِلَةُ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ فَقَطْ وَهُوَ مُرَائِيٌّ وَمَا يُرِيدُ وَجْهَ اللهِ وَمَا يُرِيدُ الْجَنَّةَ هُوَ يُرِيدُ الشُهْرَةَ وَيُرِيدُ السُّمْعَةَ وَيُرِيدُ الْمَالَ فَقَالَ: حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلَهَا وَالْعْكْسُ – وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ أَنْتَ تَرَاهُ تَقُولُ: هَذَا عَاصٍ هَذَا يَعْصِي اللهَ تَعَالَى وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ لَكِنَّكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي يَقُومُ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ الْوَاحِدَ مِنْ أَهْلِ الْمَعْصِيَةِ مَا شَاءَ اللهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ أَوْ يَزْنِيْ أَوْ يَفْعَلُ مَا يَفْعَلُ لَا تَقُولُ: هَذَا لَنْ يَرْحَمَهُ اللهُ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا مَا تَدْرِي رُبَّمَا يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي فِي قَلْبِهِ رُبَّمَا يَكُونُ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ يَنْدَمُ وَيَبْكِي يَعْنِي يَفْعَلُ الْمَعْصِيَةَ عَنْ كُرْهٍ لَكِنْ رُبَّمَا ابْتُلِيَ بِهَا وَرُفَقَاءُ السُّوءِ فَمُمْكِنٌ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا صَدَقَ مَعَ اللهِ وَكَانَ يَنْدَمُ دَائِمًا عَلَى مَعْصِيَتِهِ وَيَتُوبُ إِلَى اللهِ يُوَفَّقُ فِي آخِرِ عُمْرِهِ لِأَنَّهُ كَانَ يَعْمَلُ الْمَعْصِيَةَ لَيْسَ بِجُرْأَةٍ عَلَى حُرُمَاتِ اللهِ وَمَا يُبَالِي بِأَمْرِ اللهِ لَا قَالَ: يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ شُفْ رَحْمَةَ اللهِ كَيْفَ لُطْفَ اللهِ لِعِبَادِهِ عَلِمَ اللهُ مَا فِي قَلْبِهِ قَالَ: فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلَهَا فَإِذَنِ الْعِبْرَةُ فِي حُسْنِ الْخَاتِمَةِ بِصِدْقِكَ مَعَ اللهِ اصْدُقْ مَعَ اللهِ اخْلِصْ لِلهِ عِشْ فِي الدُّنْيَا هَذِهِ مَا تُرِيدُ إِلَّا وَجْهَ اللهِ قُلْ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ تَكُونُ حَيَاتُكَ لِلهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jangan Kau Hina Pelaku Maksiat – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

“Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga,menurut pandangan manusia, …” Inilah masalahnya!Dia melakukan amalan penghuni surga, menurut pandangan manusia saja,padahal dia melakukan riya, tidak mengharap wajah Allah,tidak menginginkan surga, hanya ingin popularitas dan reputasi,atau mengharap harta saja. Nabi bersabda, “… sampai tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya,kemudian dia melakukan amalan penghuni neraka, kemudian memasukinya.” (HR. Bukhari) Sebaliknya, “Sungguh ada seseorang yang melakukan perbuatan penduduk neraka,dalam pandangan manusia, …”Anda yang melihatnya akan berkata, “Orang ini ahli maksiat,durhaka kepada Allah Ta’ala,dan melakukan ini dan itu.” Tapi Anda tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya,oleh sebab itu, jika Anda melihat seorang ahli maksiat,Masya Allāh, minum minuman keras,berzina, atau melakukan apa yang dia lakukan, Jangan katakan:“Orang ini tidak akan dirahmati oleh Allah!”“Orang ini adalah penghuni neraka!”Jangan! Anda tidak tahu,barangkali dia lebih baik dari Anda. Anda tidak tahu apa yang ada di hatinya.Mungkin orang ini jika telah kembali ke rumahnya,menyesal dan menangis,yaitu karena melakukan maksiat karena terpaksa,karena diuji dengan maksiat itu atau teman-teman yang buruk Mungkin, orang seperti ini jujur terhadap Allah,dan selalu menyesali maksiatnya,dan bertaubat kepada Allah, niscaya dia akan diberi taufik di akhir usianya,karena dia melakukan maksiatbukan karena berani melanggar larangan Allahatau tidak peduli dengan perintah-Nya, bukan. Nabi bersabda, “… dia melakukan perbuatan penduduk neraka, dalam pandangan manusia, …”“… hingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya, …” Lihat, bagaimana rahmat dan kelembutan-Nya atas hamba-hamba-Nya,karena Allah tahu apa yang ada dalam hatinya.Nabi bersabda, “Kemudian dia mengerjakan amalan penduduk surga, lalu memasukinya.” (HR. Bukhari) Jadi, kuncinya ada pada husnul khatimah,dengan kejujuran Anda kepada Allah.Jujurlah kepada-Nya,ikhlaslah kepada-Nya,dan hiduplah di dunia ini hanya mengharap wajah-Nya. “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku,hidupku dan matiku,hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku,dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS. Al-An’am: 162 – 163) Dengan demikian, hidup Anda hanya untuk Allah. ==== فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ هَذِهِ الْمُشْكِلَةُ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ فَقَطْ وَهُوَ مُرَائِيٌّ وَمَا يُرِيدُ وَجْهَ اللهِ وَمَا يُرِيدُ الْجَنَّةَ هُوَ يُرِيدُ الشُهْرَةَ وَيُرِيدُ السُّمْعَةَ وَيُرِيدُ الْمَالَ فَقَالَ: حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلَهَا وَالْعْكْسُ – وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ أَنْتَ تَرَاهُ تَقُولُ: هَذَا عَاصٍ هَذَا يَعْصِي اللهَ تَعَالَى وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ لَكِنَّكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي يَقُومُ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ الْوَاحِدَ مِنْ أَهْلِ الْمَعْصِيَةِ مَا شَاءَ اللهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ أَوْ يَزْنِيْ أَوْ يَفْعَلُ مَا يَفْعَلُ لَا تَقُولُ: هَذَا لَنْ يَرْحَمَهُ اللهُ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا مَا تَدْرِي رُبَّمَا يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي فِي قَلْبِهِ رُبَّمَا يَكُونُ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ يَنْدَمُ وَيَبْكِي يَعْنِي يَفْعَلُ الْمَعْصِيَةَ عَنْ كُرْهٍ لَكِنْ رُبَّمَا ابْتُلِيَ بِهَا وَرُفَقَاءُ السُّوءِ فَمُمْكِنٌ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا صَدَقَ مَعَ اللهِ وَكَانَ يَنْدَمُ دَائِمًا عَلَى مَعْصِيَتِهِ وَيَتُوبُ إِلَى اللهِ يُوَفَّقُ فِي آخِرِ عُمْرِهِ لِأَنَّهُ كَانَ يَعْمَلُ الْمَعْصِيَةَ لَيْسَ بِجُرْأَةٍ عَلَى حُرُمَاتِ اللهِ وَمَا يُبَالِي بِأَمْرِ اللهِ لَا قَالَ: يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ شُفْ رَحْمَةَ اللهِ كَيْفَ لُطْفَ اللهِ لِعِبَادِهِ عَلِمَ اللهُ مَا فِي قَلْبِهِ قَالَ: فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلَهَا فَإِذَنِ الْعِبْرَةُ فِي حُسْنِ الْخَاتِمَةِ بِصِدْقِكَ مَعَ اللهِ اصْدُقْ مَعَ اللهِ اخْلِصْ لِلهِ عِشْ فِي الدُّنْيَا هَذِهِ مَا تُرِيدُ إِلَّا وَجْهَ اللهِ قُلْ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ تَكُونُ حَيَاتُكَ لِلهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga,menurut pandangan manusia, …” Inilah masalahnya!Dia melakukan amalan penghuni surga, menurut pandangan manusia saja,padahal dia melakukan riya, tidak mengharap wajah Allah,tidak menginginkan surga, hanya ingin popularitas dan reputasi,atau mengharap harta saja. Nabi bersabda, “… sampai tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya,kemudian dia melakukan amalan penghuni neraka, kemudian memasukinya.” (HR. Bukhari) Sebaliknya, “Sungguh ada seseorang yang melakukan perbuatan penduduk neraka,dalam pandangan manusia, …”Anda yang melihatnya akan berkata, “Orang ini ahli maksiat,durhaka kepada Allah Ta’ala,dan melakukan ini dan itu.” Tapi Anda tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya,oleh sebab itu, jika Anda melihat seorang ahli maksiat,Masya Allāh, minum minuman keras,berzina, atau melakukan apa yang dia lakukan, Jangan katakan:“Orang ini tidak akan dirahmati oleh Allah!”“Orang ini adalah penghuni neraka!”Jangan! Anda tidak tahu,barangkali dia lebih baik dari Anda. Anda tidak tahu apa yang ada di hatinya.Mungkin orang ini jika telah kembali ke rumahnya,menyesal dan menangis,yaitu karena melakukan maksiat karena terpaksa,karena diuji dengan maksiat itu atau teman-teman yang buruk Mungkin, orang seperti ini jujur terhadap Allah,dan selalu menyesali maksiatnya,dan bertaubat kepada Allah, niscaya dia akan diberi taufik di akhir usianya,karena dia melakukan maksiatbukan karena berani melanggar larangan Allahatau tidak peduli dengan perintah-Nya, bukan. Nabi bersabda, “… dia melakukan perbuatan penduduk neraka, dalam pandangan manusia, …”“… hingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya, …” Lihat, bagaimana rahmat dan kelembutan-Nya atas hamba-hamba-Nya,karena Allah tahu apa yang ada dalam hatinya.Nabi bersabda, “Kemudian dia mengerjakan amalan penduduk surga, lalu memasukinya.” (HR. Bukhari) Jadi, kuncinya ada pada husnul khatimah,dengan kejujuran Anda kepada Allah.Jujurlah kepada-Nya,ikhlaslah kepada-Nya,dan hiduplah di dunia ini hanya mengharap wajah-Nya. “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku,hidupku dan matiku,hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku,dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS. Al-An’am: 162 – 163) Dengan demikian, hidup Anda hanya untuk Allah. ==== فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ هَذِهِ الْمُشْكِلَةُ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ فَقَطْ وَهُوَ مُرَائِيٌّ وَمَا يُرِيدُ وَجْهَ اللهِ وَمَا يُرِيدُ الْجَنَّةَ هُوَ يُرِيدُ الشُهْرَةَ وَيُرِيدُ السُّمْعَةَ وَيُرِيدُ الْمَالَ فَقَالَ: حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلَهَا وَالْعْكْسُ – وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ أَنْتَ تَرَاهُ تَقُولُ: هَذَا عَاصٍ هَذَا يَعْصِي اللهَ تَعَالَى وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ لَكِنَّكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي يَقُومُ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ الْوَاحِدَ مِنْ أَهْلِ الْمَعْصِيَةِ مَا شَاءَ اللهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ أَوْ يَزْنِيْ أَوْ يَفْعَلُ مَا يَفْعَلُ لَا تَقُولُ: هَذَا لَنْ يَرْحَمَهُ اللهُ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا مَا تَدْرِي رُبَّمَا يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي فِي قَلْبِهِ رُبَّمَا يَكُونُ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ يَنْدَمُ وَيَبْكِي يَعْنِي يَفْعَلُ الْمَعْصِيَةَ عَنْ كُرْهٍ لَكِنْ رُبَّمَا ابْتُلِيَ بِهَا وَرُفَقَاءُ السُّوءِ فَمُمْكِنٌ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا صَدَقَ مَعَ اللهِ وَكَانَ يَنْدَمُ دَائِمًا عَلَى مَعْصِيَتِهِ وَيَتُوبُ إِلَى اللهِ يُوَفَّقُ فِي آخِرِ عُمْرِهِ لِأَنَّهُ كَانَ يَعْمَلُ الْمَعْصِيَةَ لَيْسَ بِجُرْأَةٍ عَلَى حُرُمَاتِ اللهِ وَمَا يُبَالِي بِأَمْرِ اللهِ لَا قَالَ: يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ شُفْ رَحْمَةَ اللهِ كَيْفَ لُطْفَ اللهِ لِعِبَادِهِ عَلِمَ اللهُ مَا فِي قَلْبِهِ قَالَ: فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلَهَا فَإِذَنِ الْعِبْرَةُ فِي حُسْنِ الْخَاتِمَةِ بِصِدْقِكَ مَعَ اللهِ اصْدُقْ مَعَ اللهِ اخْلِصْ لِلهِ عِشْ فِي الدُّنْيَا هَذِهِ مَا تُرِيدُ إِلَّا وَجْهَ اللهِ قُلْ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ تَكُونُ حَيَاتُكَ لِلهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Dan sungguh ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga,menurut pandangan manusia, …” Inilah masalahnya!Dia melakukan amalan penghuni surga, menurut pandangan manusia saja,padahal dia melakukan riya, tidak mengharap wajah Allah,tidak menginginkan surga, hanya ingin popularitas dan reputasi,atau mengharap harta saja. Nabi bersabda, “… sampai tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya,kemudian dia melakukan amalan penghuni neraka, kemudian memasukinya.” (HR. Bukhari) Sebaliknya, “Sungguh ada seseorang yang melakukan perbuatan penduduk neraka,dalam pandangan manusia, …”Anda yang melihatnya akan berkata, “Orang ini ahli maksiat,durhaka kepada Allah Ta’ala,dan melakukan ini dan itu.” Tapi Anda tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya,oleh sebab itu, jika Anda melihat seorang ahli maksiat,Masya Allāh, minum minuman keras,berzina, atau melakukan apa yang dia lakukan, Jangan katakan:“Orang ini tidak akan dirahmati oleh Allah!”“Orang ini adalah penghuni neraka!”Jangan! Anda tidak tahu,barangkali dia lebih baik dari Anda. Anda tidak tahu apa yang ada di hatinya.Mungkin orang ini jika telah kembali ke rumahnya,menyesal dan menangis,yaitu karena melakukan maksiat karena terpaksa,karena diuji dengan maksiat itu atau teman-teman yang buruk Mungkin, orang seperti ini jujur terhadap Allah,dan selalu menyesali maksiatnya,dan bertaubat kepada Allah, niscaya dia akan diberi taufik di akhir usianya,karena dia melakukan maksiatbukan karena berani melanggar larangan Allahatau tidak peduli dengan perintah-Nya, bukan. Nabi bersabda, “… dia melakukan perbuatan penduduk neraka, dalam pandangan manusia, …”“… hingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal,namun takdir telah mendahuluinya, …” Lihat, bagaimana rahmat dan kelembutan-Nya atas hamba-hamba-Nya,karena Allah tahu apa yang ada dalam hatinya.Nabi bersabda, “Kemudian dia mengerjakan amalan penduduk surga, lalu memasukinya.” (HR. Bukhari) Jadi, kuncinya ada pada husnul khatimah,dengan kejujuran Anda kepada Allah.Jujurlah kepada-Nya,ikhlaslah kepada-Nya,dan hiduplah di dunia ini hanya mengharap wajah-Nya. “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku,hidupku dan matiku,hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku,dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS. Al-An’am: 162 – 163) Dengan demikian, hidup Anda hanya untuk Allah. ==== فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ هَذِهِ الْمُشْكِلَةُ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ فَقَطْ وَهُوَ مُرَائِيٌّ وَمَا يُرِيدُ وَجْهَ اللهِ وَمَا يُرِيدُ الْجَنَّةَ هُوَ يُرِيدُ الشُهْرَةَ وَيُرِيدُ السُّمْعَةَ وَيُرِيدُ الْمَالَ فَقَالَ: حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلَهَا وَالْعْكْسُ – وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ أَنْتَ تَرَاهُ تَقُولُ: هَذَا عَاصٍ هَذَا يَعْصِي اللهَ تَعَالَى وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ لَكِنَّكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي يَقُومُ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ الْوَاحِدَ مِنْ أَهْلِ الْمَعْصِيَةِ مَا شَاءَ اللهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ أَوْ يَزْنِيْ أَوْ يَفْعَلُ مَا يَفْعَلُ لَا تَقُولُ: هَذَا لَنْ يَرْحَمَهُ اللهُ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا مَا تَدْرِي رُبَّمَا يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْكَ مَا تَدْرِي مَا الَّذِي فِي قَلْبِهِ رُبَّمَا يَكُونُ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ يَنْدَمُ وَيَبْكِي يَعْنِي يَفْعَلُ الْمَعْصِيَةَ عَنْ كُرْهٍ لَكِنْ رُبَّمَا ابْتُلِيَ بِهَا وَرُفَقَاءُ السُّوءِ فَمُمْكِنٌ هَذَا الْإِنْسَانُ إِذَا صَدَقَ مَعَ اللهِ وَكَانَ يَنْدَمُ دَائِمًا عَلَى مَعْصِيَتِهِ وَيَتُوبُ إِلَى اللهِ يُوَفَّقُ فِي آخِرِ عُمْرِهِ لِأَنَّهُ كَانَ يَعْمَلُ الْمَعْصِيَةَ لَيْسَ بِجُرْأَةٍ عَلَى حُرُمَاتِ اللهِ وَمَا يُبَالِي بِأَمْرِ اللهِ لَا قَالَ: يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ شُفْ رَحْمَةَ اللهِ كَيْفَ لُطْفَ اللهِ لِعِبَادِهِ عَلِمَ اللهُ مَا فِي قَلْبِهِ قَالَ: فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلَهَا فَإِذَنِ الْعِبْرَةُ فِي حُسْنِ الْخَاتِمَةِ بِصِدْقِكَ مَعَ اللهِ اصْدُقْ مَعَ اللهِ اخْلِصْ لِلهِ عِشْ فِي الدُّنْيَا هَذِهِ مَا تُرِيدُ إِلَّا وَجْهَ اللهِ قُلْ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ تَكُونُ حَيَاتُكَ لِلهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa yang Harus Dipelajari oleh Orang yang Baru Hijrah?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, alhamdulillah saya baru hijrah setelah sebelum banyak melakukan maksiat. Saya ingin lebih serius dalam menjalankan agama. Tapi saya bingung karena pengajian banyak sekali, apakah harus saya ikuti semua? Kira-kira apa yang harus saya pelajari terlebih dahulu? Terima kasih ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami memahami bahwa yang dimaksud “hijrah” di sini artinya mulai serius untuk menerapkan ajaran agama, setelah sebelumnya sama sekali tidak pernah menjalankan agama atau tidak paham sama sekali tentang agama. Maka kita ucapkan alhamdulillah, semoga Allah ta’ala memberikan keistiqomahan untuk terus menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah di setiap keadaan. Orang yang baru serius belajar agama, pertama ia harus belajar dari guru, bukan otodidak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus akidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya. Dan sudah maklum bahwa membaca langsung di hadapan guru itu lebih dekat kepada kebenaran dan lebih cepat dalam mendapatkan ilmu. Serta lebih selamat dari kesalahan. Oleh karena itu kita dapati orang yang sekedar membaca dari kitab, mereka terjatuh dalam kekeliruan-kekeliruan yang besar. Mereka tidak mendapatkan ilmu yang diinginkan, kecuali setelah melalui waktu yang lama. Namun dalam kondisi darurat, tidak mengapa sekedar membaca dari kitab atau mendengar dari rekaman, atau semisalnya. Dengan syarat kitab dan rekaman tersebut bersumber dari para ulama dan ustadz yang terpercaya ilmunya, agamanya dan manhajnya.” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40) Dan dalam memilih guru yang mengajarkan ilmu agama, wajib untuk selektif. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin di atas, pilih guru yang terpercaya ilmunya, ia mengamalkan ilmunya, terpercaya keshalihannya, lurus akidah, dan manhajnya. Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan: إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم “Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam al-‘Ilal, 1/355) Kemudian pelajarilah ilmu agama secara bertahap mulai dari yang paling mudah dan mendasar terlebih dahulu. Hindari pembahasan-pembahasan yang rumit dan sulit di awal belajar. Imam Ibnu Syihab az-Zuhri mengatakan: ولا تأخذ العلم جملة ، فإن من رام اخذه جملة ذهب عنه جملة ، ولكن الشيء بعد الشيء “Janganlah mengambil ilmu dengan sekaligus, karena barang siapa yang mengambil ilmu dengan sekaligus, maka akan hilang darinya sekaligus. Namun ambillah ilmu sedikit demi sedikit.” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhilih, 1/104) Prioritas utama ilmu yang perlu dipelajari bagi orang yang baru hijrah atau bagi orang yang baru masuk Islam adalah sebagai berikut: Untuk laki-laki: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Untuk perempuan: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Belajar tentang fikih hijab syar’i. Setelah poin-poin di atas sukses dijalani, baru ke tahapan selanjutnya dalam belajar ilmu. Seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu musthalah hadits, sirah Nabawiyah, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu lainnya. Kemudian juga berusaha untuk menghafalkan al-Qur’anul Karim. Ibnu ‘Abdl Barr rahimahullah mengatakan: طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه “Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barang siapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla (al-Qur’an) dan memahaminya.” Dan yang tidak kalah penting bagi orang yang baru hijrah adalah berusaha selektif dalam memilih teman dekat. Bertemanlah dengan teman-teman yang juga serius menjalankan tahapan-tahapan di atas. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل “Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Yang terakhir, banyak-banyaklah berdoa kepada Allah meminta hidayah dan keistiqomahan di atas hidayah. Karena Allah lah yang membolak-balik hati, hidayah ada di tangan-Nya, maka hendaknya kita banyak meminta kepada-Nya hidayah. Di antara doa yang Nabi ajarkan untuk meminta keistiqomahan adalah doa berikut: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ /Allahumma mushorrifal quluub, shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik/ “Ya Allah, yang membolak-balik hati. Tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.” (HR. Muslim no.2654) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi kita semua taufik dan hidayah. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Jamak Takhir Mana Yang Didahulukan, Jawaban Dari Shalat Istikharah, Contoh Khutbah Gerhana Singkat, Ciri Ciri Hadits Qudsi, Adab Menjawab Salam, Arti Sholeh Visited 542 times, 6 visit(s) today Post Views: 504 QRIS donasi Yufid

Apa yang Harus Dipelajari oleh Orang yang Baru Hijrah?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, alhamdulillah saya baru hijrah setelah sebelum banyak melakukan maksiat. Saya ingin lebih serius dalam menjalankan agama. Tapi saya bingung karena pengajian banyak sekali, apakah harus saya ikuti semua? Kira-kira apa yang harus saya pelajari terlebih dahulu? Terima kasih ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami memahami bahwa yang dimaksud “hijrah” di sini artinya mulai serius untuk menerapkan ajaran agama, setelah sebelumnya sama sekali tidak pernah menjalankan agama atau tidak paham sama sekali tentang agama. Maka kita ucapkan alhamdulillah, semoga Allah ta’ala memberikan keistiqomahan untuk terus menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah di setiap keadaan. Orang yang baru serius belajar agama, pertama ia harus belajar dari guru, bukan otodidak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus akidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya. Dan sudah maklum bahwa membaca langsung di hadapan guru itu lebih dekat kepada kebenaran dan lebih cepat dalam mendapatkan ilmu. Serta lebih selamat dari kesalahan. Oleh karena itu kita dapati orang yang sekedar membaca dari kitab, mereka terjatuh dalam kekeliruan-kekeliruan yang besar. Mereka tidak mendapatkan ilmu yang diinginkan, kecuali setelah melalui waktu yang lama. Namun dalam kondisi darurat, tidak mengapa sekedar membaca dari kitab atau mendengar dari rekaman, atau semisalnya. Dengan syarat kitab dan rekaman tersebut bersumber dari para ulama dan ustadz yang terpercaya ilmunya, agamanya dan manhajnya.” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40) Dan dalam memilih guru yang mengajarkan ilmu agama, wajib untuk selektif. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin di atas, pilih guru yang terpercaya ilmunya, ia mengamalkan ilmunya, terpercaya keshalihannya, lurus akidah, dan manhajnya. Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan: إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم “Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam al-‘Ilal, 1/355) Kemudian pelajarilah ilmu agama secara bertahap mulai dari yang paling mudah dan mendasar terlebih dahulu. Hindari pembahasan-pembahasan yang rumit dan sulit di awal belajar. Imam Ibnu Syihab az-Zuhri mengatakan: ولا تأخذ العلم جملة ، فإن من رام اخذه جملة ذهب عنه جملة ، ولكن الشيء بعد الشيء “Janganlah mengambil ilmu dengan sekaligus, karena barang siapa yang mengambil ilmu dengan sekaligus, maka akan hilang darinya sekaligus. Namun ambillah ilmu sedikit demi sedikit.” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhilih, 1/104) Prioritas utama ilmu yang perlu dipelajari bagi orang yang baru hijrah atau bagi orang yang baru masuk Islam adalah sebagai berikut: Untuk laki-laki: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Untuk perempuan: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Belajar tentang fikih hijab syar’i. Setelah poin-poin di atas sukses dijalani, baru ke tahapan selanjutnya dalam belajar ilmu. Seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu musthalah hadits, sirah Nabawiyah, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu lainnya. Kemudian juga berusaha untuk menghafalkan al-Qur’anul Karim. Ibnu ‘Abdl Barr rahimahullah mengatakan: طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه “Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barang siapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla (al-Qur’an) dan memahaminya.” Dan yang tidak kalah penting bagi orang yang baru hijrah adalah berusaha selektif dalam memilih teman dekat. Bertemanlah dengan teman-teman yang juga serius menjalankan tahapan-tahapan di atas. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل “Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Yang terakhir, banyak-banyaklah berdoa kepada Allah meminta hidayah dan keistiqomahan di atas hidayah. Karena Allah lah yang membolak-balik hati, hidayah ada di tangan-Nya, maka hendaknya kita banyak meminta kepada-Nya hidayah. Di antara doa yang Nabi ajarkan untuk meminta keistiqomahan adalah doa berikut: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ /Allahumma mushorrifal quluub, shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik/ “Ya Allah, yang membolak-balik hati. Tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.” (HR. Muslim no.2654) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi kita semua taufik dan hidayah. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Jamak Takhir Mana Yang Didahulukan, Jawaban Dari Shalat Istikharah, Contoh Khutbah Gerhana Singkat, Ciri Ciri Hadits Qudsi, Adab Menjawab Salam, Arti Sholeh Visited 542 times, 6 visit(s) today Post Views: 504 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, alhamdulillah saya baru hijrah setelah sebelum banyak melakukan maksiat. Saya ingin lebih serius dalam menjalankan agama. Tapi saya bingung karena pengajian banyak sekali, apakah harus saya ikuti semua? Kira-kira apa yang harus saya pelajari terlebih dahulu? Terima kasih ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami memahami bahwa yang dimaksud “hijrah” di sini artinya mulai serius untuk menerapkan ajaran agama, setelah sebelumnya sama sekali tidak pernah menjalankan agama atau tidak paham sama sekali tentang agama. Maka kita ucapkan alhamdulillah, semoga Allah ta’ala memberikan keistiqomahan untuk terus menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah di setiap keadaan. Orang yang baru serius belajar agama, pertama ia harus belajar dari guru, bukan otodidak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus akidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya. Dan sudah maklum bahwa membaca langsung di hadapan guru itu lebih dekat kepada kebenaran dan lebih cepat dalam mendapatkan ilmu. Serta lebih selamat dari kesalahan. Oleh karena itu kita dapati orang yang sekedar membaca dari kitab, mereka terjatuh dalam kekeliruan-kekeliruan yang besar. Mereka tidak mendapatkan ilmu yang diinginkan, kecuali setelah melalui waktu yang lama. Namun dalam kondisi darurat, tidak mengapa sekedar membaca dari kitab atau mendengar dari rekaman, atau semisalnya. Dengan syarat kitab dan rekaman tersebut bersumber dari para ulama dan ustadz yang terpercaya ilmunya, agamanya dan manhajnya.” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40) Dan dalam memilih guru yang mengajarkan ilmu agama, wajib untuk selektif. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin di atas, pilih guru yang terpercaya ilmunya, ia mengamalkan ilmunya, terpercaya keshalihannya, lurus akidah, dan manhajnya. Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan: إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم “Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam al-‘Ilal, 1/355) Kemudian pelajarilah ilmu agama secara bertahap mulai dari yang paling mudah dan mendasar terlebih dahulu. Hindari pembahasan-pembahasan yang rumit dan sulit di awal belajar. Imam Ibnu Syihab az-Zuhri mengatakan: ولا تأخذ العلم جملة ، فإن من رام اخذه جملة ذهب عنه جملة ، ولكن الشيء بعد الشيء “Janganlah mengambil ilmu dengan sekaligus, karena barang siapa yang mengambil ilmu dengan sekaligus, maka akan hilang darinya sekaligus. Namun ambillah ilmu sedikit demi sedikit.” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhilih, 1/104) Prioritas utama ilmu yang perlu dipelajari bagi orang yang baru hijrah atau bagi orang yang baru masuk Islam adalah sebagai berikut: Untuk laki-laki: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Untuk perempuan: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Belajar tentang fikih hijab syar’i. Setelah poin-poin di atas sukses dijalani, baru ke tahapan selanjutnya dalam belajar ilmu. Seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu musthalah hadits, sirah Nabawiyah, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu lainnya. Kemudian juga berusaha untuk menghafalkan al-Qur’anul Karim. Ibnu ‘Abdl Barr rahimahullah mengatakan: طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه “Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barang siapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla (al-Qur’an) dan memahaminya.” Dan yang tidak kalah penting bagi orang yang baru hijrah adalah berusaha selektif dalam memilih teman dekat. Bertemanlah dengan teman-teman yang juga serius menjalankan tahapan-tahapan di atas. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل “Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Yang terakhir, banyak-banyaklah berdoa kepada Allah meminta hidayah dan keistiqomahan di atas hidayah. Karena Allah lah yang membolak-balik hati, hidayah ada di tangan-Nya, maka hendaknya kita banyak meminta kepada-Nya hidayah. Di antara doa yang Nabi ajarkan untuk meminta keistiqomahan adalah doa berikut: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ /Allahumma mushorrifal quluub, shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik/ “Ya Allah, yang membolak-balik hati. Tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.” (HR. Muslim no.2654) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi kita semua taufik dan hidayah. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Jamak Takhir Mana Yang Didahulukan, Jawaban Dari Shalat Istikharah, Contoh Khutbah Gerhana Singkat, Ciri Ciri Hadits Qudsi, Adab Menjawab Salam, Arti Sholeh Visited 542 times, 6 visit(s) today Post Views: 504 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1360861060&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, alhamdulillah saya baru hijrah setelah sebelum banyak melakukan maksiat. Saya ingin lebih serius dalam menjalankan agama. Tapi saya bingung karena pengajian banyak sekali, apakah harus saya ikuti semua? Kira-kira apa yang harus saya pelajari terlebih dahulu? Terima kasih ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami memahami bahwa yang dimaksud “hijrah” di sini artinya mulai serius untuk menerapkan ajaran agama, setelah sebelumnya sama sekali tidak pernah menjalankan agama atau tidak paham sama sekali tentang agama. Maka kita ucapkan alhamdulillah, semoga Allah ta’ala memberikan keistiqomahan untuk terus menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah di setiap keadaan. Orang yang baru serius belajar agama, pertama ia harus belajar dari guru, bukan otodidak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus akidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya. Dan sudah maklum bahwa membaca langsung di hadapan guru itu lebih dekat kepada kebenaran dan lebih cepat dalam mendapatkan ilmu. Serta lebih selamat dari kesalahan. Oleh karena itu kita dapati orang yang sekedar membaca dari kitab, mereka terjatuh dalam kekeliruan-kekeliruan yang besar. Mereka tidak mendapatkan ilmu yang diinginkan, kecuali setelah melalui waktu yang lama. Namun dalam kondisi darurat, tidak mengapa sekedar membaca dari kitab atau mendengar dari rekaman, atau semisalnya. Dengan syarat kitab dan rekaman tersebut bersumber dari para ulama dan ustadz yang terpercaya ilmunya, agamanya dan manhajnya.” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40) Dan dalam memilih guru yang mengajarkan ilmu agama, wajib untuk selektif. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin di atas, pilih guru yang terpercaya ilmunya, ia mengamalkan ilmunya, terpercaya keshalihannya, lurus akidah, dan manhajnya. Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan: إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم “Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam al-‘Ilal, 1/355) Kemudian pelajarilah ilmu agama secara bertahap mulai dari yang paling mudah dan mendasar terlebih dahulu. Hindari pembahasan-pembahasan yang rumit dan sulit di awal belajar. Imam Ibnu Syihab az-Zuhri mengatakan: ولا تأخذ العلم جملة ، فإن من رام اخذه جملة ذهب عنه جملة ، ولكن الشيء بعد الشيء “Janganlah mengambil ilmu dengan sekaligus, karena barang siapa yang mengambil ilmu dengan sekaligus, maka akan hilang darinya sekaligus. Namun ambillah ilmu sedikit demi sedikit.” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhilih, 1/104) Prioritas utama ilmu yang perlu dipelajari bagi orang yang baru hijrah atau bagi orang yang baru masuk Islam adalah sebagai berikut: Untuk laki-laki: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Untuk perempuan: Belajar dasar-dasar tauhid (rukun iman, rukun Islam, makna syahadat, syarat dan rukun syahadat, pembagian tauhid, pembagian syirik, jenis-jenis ibadah, jenis-jenis syirik, dan kaidah-kaidah dasar tauhid dan syirik). Belajar fikih thaharah (wudhu, mandi, dan tayammum) dan fikih shalat. Belajar membaca al-Qur’an. Belajar tentang fikih hijab syar’i. Setelah poin-poin di atas sukses dijalani, baru ke tahapan selanjutnya dalam belajar ilmu. Seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu musthalah hadits, sirah Nabawiyah, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu lainnya. Kemudian juga berusaha untuk menghafalkan al-Qur’anul Karim. Ibnu ‘Abdl Barr rahimahullah mengatakan: طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه “Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barang siapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla (al-Qur’an) dan memahaminya.” Dan yang tidak kalah penting bagi orang yang baru hijrah adalah berusaha selektif dalam memilih teman dekat. Bertemanlah dengan teman-teman yang juga serius menjalankan tahapan-tahapan di atas. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل “Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Yang terakhir, banyak-banyaklah berdoa kepada Allah meminta hidayah dan keistiqomahan di atas hidayah. Karena Allah lah yang membolak-balik hati, hidayah ada di tangan-Nya, maka hendaknya kita banyak meminta kepada-Nya hidayah. Di antara doa yang Nabi ajarkan untuk meminta keistiqomahan adalah doa berikut: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ /Allahumma mushorrifal quluub, shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik/ “Ya Allah, yang membolak-balik hati. Tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.” (HR. Muslim no.2654) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi kita semua taufik dan hidayah. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Jamak Takhir Mana Yang Didahulukan, Jawaban Dari Shalat Istikharah, Contoh Khutbah Gerhana Singkat, Ciri Ciri Hadits Qudsi, Adab Menjawab Salam, Arti Sholeh Visited 542 times, 6 visit(s) today Post Views: 504 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Matan Taqrib: Hukum Mobil Parkir Sembarangan di Perumahan dan Mengganggu Jalan Umum

Bagaimana jika ada mobil yang tidak punya lahan parkir, parkir mobil sembarangan sehingga mengganggu jalan umum? Ini sering terjadi di perumahan-perumahan. Hal ini dapat didekati dengan permasalah rowsyan yang dibahas di Matn Taqrib berikut ini. Masalah Rowsyan (Jendela, Pintu, Atap yang Mengganggu Jalan) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَجُوْزُ لِلإِنْسَانِ أَنْ يُشْرِعَ رَوْشَناً فِي طَرِيْقِ نَافِذٍ بِحَيْثُ لاَ يَتَضَرَّرُ المَارُّ وَلاَ يَجُوْزُ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكاَءِ وَيَجُوْزُ تَقْدِيُمُ البَابِ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ وَلاَ يَجُوْزُ تَأْخِيْرُهُ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكَاءِ. Seseorang boleh mengeluarkan jendela rumahnya ke jalan umum selama tidak mengganggu orang yang lewat. Akan tetapi, seseorang tidak boleh memanjangkannya di jalan yang dimiliki bersama kecuali dengan seizin pihak-pihak yang memiliki jalan tersebut. Boleh menggeser maju pintu rumahnya ke arah gerbang jalan (lorong) yang dimiliki bersama, tetapi tidak boleh memundurkannya kecuali dengan izin warga yang menempati jalan tersebut.   Penjelasan: Rowsyan itu sayap di atas dua tembok seperti atap dan jalan berada di antara keduanya. Seseorang boleh saja memanfaatkan dengan meletakkan atap di antara dua tembok sehinga menjadi atap untuk jalan. Atap itu akhirnya jadi manfaat ketika diperluas atau akhirnya jalan itu khusus untuknya. Hal ini dengan syarat selama tidak menimbulkan bahaya jika ada yang berjalan di bawahnya. Contohnya orang yang berbadan tinggi dan di kepalanya ada sesuatu, maka ia tidak dibuat susah dengan adanya atap tersebut. Catatan: Segala sesuatu yang mempersempit jalan dihukumi haram. Jika ada pohon yang tumbuh dan berkembang hingga masuk ke halaman tetangga (bukan wilayahnya), maka tetangga boleh saja meminta untuk menghilangkan sesuatu yang masuk ke dalam wilayah miliknya. Jika pemilik tanaman tersebut enggan memenuhinya, maka yang punya wilayah boleh menghilangkan tanaman yang masuk ke wilayah miliknya. Dasar dari hal ini adalah hadits: Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250). Baca juga: Tidak Boleh Memberi Mudarat Nah, sudah dipahami masalah parkir mobil sembarangan di perumahan dari tulisan di atas. Silakan disimpulkan.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu mudarat

Matan Taqrib: Hukum Mobil Parkir Sembarangan di Perumahan dan Mengganggu Jalan Umum

Bagaimana jika ada mobil yang tidak punya lahan parkir, parkir mobil sembarangan sehingga mengganggu jalan umum? Ini sering terjadi di perumahan-perumahan. Hal ini dapat didekati dengan permasalah rowsyan yang dibahas di Matn Taqrib berikut ini. Masalah Rowsyan (Jendela, Pintu, Atap yang Mengganggu Jalan) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَجُوْزُ لِلإِنْسَانِ أَنْ يُشْرِعَ رَوْشَناً فِي طَرِيْقِ نَافِذٍ بِحَيْثُ لاَ يَتَضَرَّرُ المَارُّ وَلاَ يَجُوْزُ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكاَءِ وَيَجُوْزُ تَقْدِيُمُ البَابِ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ وَلاَ يَجُوْزُ تَأْخِيْرُهُ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكَاءِ. Seseorang boleh mengeluarkan jendela rumahnya ke jalan umum selama tidak mengganggu orang yang lewat. Akan tetapi, seseorang tidak boleh memanjangkannya di jalan yang dimiliki bersama kecuali dengan seizin pihak-pihak yang memiliki jalan tersebut. Boleh menggeser maju pintu rumahnya ke arah gerbang jalan (lorong) yang dimiliki bersama, tetapi tidak boleh memundurkannya kecuali dengan izin warga yang menempati jalan tersebut.   Penjelasan: Rowsyan itu sayap di atas dua tembok seperti atap dan jalan berada di antara keduanya. Seseorang boleh saja memanfaatkan dengan meletakkan atap di antara dua tembok sehinga menjadi atap untuk jalan. Atap itu akhirnya jadi manfaat ketika diperluas atau akhirnya jalan itu khusus untuknya. Hal ini dengan syarat selama tidak menimbulkan bahaya jika ada yang berjalan di bawahnya. Contohnya orang yang berbadan tinggi dan di kepalanya ada sesuatu, maka ia tidak dibuat susah dengan adanya atap tersebut. Catatan: Segala sesuatu yang mempersempit jalan dihukumi haram. Jika ada pohon yang tumbuh dan berkembang hingga masuk ke halaman tetangga (bukan wilayahnya), maka tetangga boleh saja meminta untuk menghilangkan sesuatu yang masuk ke dalam wilayah miliknya. Jika pemilik tanaman tersebut enggan memenuhinya, maka yang punya wilayah boleh menghilangkan tanaman yang masuk ke wilayah miliknya. Dasar dari hal ini adalah hadits: Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250). Baca juga: Tidak Boleh Memberi Mudarat Nah, sudah dipahami masalah parkir mobil sembarangan di perumahan dari tulisan di atas. Silakan disimpulkan.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu mudarat
Bagaimana jika ada mobil yang tidak punya lahan parkir, parkir mobil sembarangan sehingga mengganggu jalan umum? Ini sering terjadi di perumahan-perumahan. Hal ini dapat didekati dengan permasalah rowsyan yang dibahas di Matn Taqrib berikut ini. Masalah Rowsyan (Jendela, Pintu, Atap yang Mengganggu Jalan) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَجُوْزُ لِلإِنْسَانِ أَنْ يُشْرِعَ رَوْشَناً فِي طَرِيْقِ نَافِذٍ بِحَيْثُ لاَ يَتَضَرَّرُ المَارُّ وَلاَ يَجُوْزُ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكاَءِ وَيَجُوْزُ تَقْدِيُمُ البَابِ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ وَلاَ يَجُوْزُ تَأْخِيْرُهُ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكَاءِ. Seseorang boleh mengeluarkan jendela rumahnya ke jalan umum selama tidak mengganggu orang yang lewat. Akan tetapi, seseorang tidak boleh memanjangkannya di jalan yang dimiliki bersama kecuali dengan seizin pihak-pihak yang memiliki jalan tersebut. Boleh menggeser maju pintu rumahnya ke arah gerbang jalan (lorong) yang dimiliki bersama, tetapi tidak boleh memundurkannya kecuali dengan izin warga yang menempati jalan tersebut.   Penjelasan: Rowsyan itu sayap di atas dua tembok seperti atap dan jalan berada di antara keduanya. Seseorang boleh saja memanfaatkan dengan meletakkan atap di antara dua tembok sehinga menjadi atap untuk jalan. Atap itu akhirnya jadi manfaat ketika diperluas atau akhirnya jalan itu khusus untuknya. Hal ini dengan syarat selama tidak menimbulkan bahaya jika ada yang berjalan di bawahnya. Contohnya orang yang berbadan tinggi dan di kepalanya ada sesuatu, maka ia tidak dibuat susah dengan adanya atap tersebut. Catatan: Segala sesuatu yang mempersempit jalan dihukumi haram. Jika ada pohon yang tumbuh dan berkembang hingga masuk ke halaman tetangga (bukan wilayahnya), maka tetangga boleh saja meminta untuk menghilangkan sesuatu yang masuk ke dalam wilayah miliknya. Jika pemilik tanaman tersebut enggan memenuhinya, maka yang punya wilayah boleh menghilangkan tanaman yang masuk ke wilayah miliknya. Dasar dari hal ini adalah hadits: Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250). Baca juga: Tidak Boleh Memberi Mudarat Nah, sudah dipahami masalah parkir mobil sembarangan di perumahan dari tulisan di atas. Silakan disimpulkan.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu mudarat


Bagaimana jika ada mobil yang tidak punya lahan parkir, parkir mobil sembarangan sehingga mengganggu jalan umum? Ini sering terjadi di perumahan-perumahan. Hal ini dapat didekati dengan permasalah rowsyan yang dibahas di Matn Taqrib berikut ini. Masalah Rowsyan (Jendela, Pintu, Atap yang Mengganggu Jalan) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَجُوْزُ لِلإِنْسَانِ أَنْ يُشْرِعَ رَوْشَناً فِي طَرِيْقِ نَافِذٍ بِحَيْثُ لاَ يَتَضَرَّرُ المَارُّ وَلاَ يَجُوْزُ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكاَءِ وَيَجُوْزُ تَقْدِيُمُ البَابِ فِي الدَّرْبِ المُشْتَرَكِ وَلاَ يَجُوْزُ تَأْخِيْرُهُ إِلاَّ بِإِذْنِ الشُّرَكَاءِ. Seseorang boleh mengeluarkan jendela rumahnya ke jalan umum selama tidak mengganggu orang yang lewat. Akan tetapi, seseorang tidak boleh memanjangkannya di jalan yang dimiliki bersama kecuali dengan seizin pihak-pihak yang memiliki jalan tersebut. Boleh menggeser maju pintu rumahnya ke arah gerbang jalan (lorong) yang dimiliki bersama, tetapi tidak boleh memundurkannya kecuali dengan izin warga yang menempati jalan tersebut.   Penjelasan: Rowsyan itu sayap di atas dua tembok seperti atap dan jalan berada di antara keduanya. Seseorang boleh saja memanfaatkan dengan meletakkan atap di antara dua tembok sehinga menjadi atap untuk jalan. Atap itu akhirnya jadi manfaat ketika diperluas atau akhirnya jalan itu khusus untuknya. Hal ini dengan syarat selama tidak menimbulkan bahaya jika ada yang berjalan di bawahnya. Contohnya orang yang berbadan tinggi dan di kepalanya ada sesuatu, maka ia tidak dibuat susah dengan adanya atap tersebut. Catatan: Segala sesuatu yang mempersempit jalan dihukumi haram. Jika ada pohon yang tumbuh dan berkembang hingga masuk ke halaman tetangga (bukan wilayahnya), maka tetangga boleh saja meminta untuk menghilangkan sesuatu yang masuk ke dalam wilayah miliknya. Jika pemilik tanaman tersebut enggan memenuhinya, maka yang punya wilayah boleh menghilangkan tanaman yang masuk ke wilayah miliknya. Dasar dari hal ini adalah hadits: Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250). Baca juga: Tidak Boleh Memberi Mudarat Nah, sudah dipahami masalah parkir mobil sembarangan di perumahan dari tulisan di atas. Silakan disimpulkan.   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu mudarat

Matan Taqrib: Utang itu Boleh Dipindahkan (Hawalah), Bagaimana Caranya?

Orang yang berutang bisa saja memindahkan utangnya kepada pihak lain di mana pihak lain punya kewajiban padanya. Hal ini disebut dengan hawalah. Lihat penjelasannya dari matan Taqrib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) 1.1. Referensi: Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَشَرَائِطُ الحَوَالَةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ : رِضَاءُ الُمِحْيِل وَ قَبُوْلُ المُحْتَالِ وَكَوْنُ الحَقِّ مُسْتَقَرّاً فِي الذِّمَّةِ وَإِتِّفَاقُ مَا فِي ذِمَّةِ المُحِيْلِ وَالمُحَالِ عَلَيْهِ فِي الجِنْسِ وَالنَّوْعِ وَالحُلُوْلِ وَالتَّأْجِيْلِ وَتَبْرَأُ بِهَا ذِمَّةُ المُحِيْلِ. Syarat hawalah itu ada empat yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Dengan hawalah, tanggungan utang muhiil dianggap selesai.   Penjelasan: Hawalah secara bahasa berarti memindahkan. Hawalah dalam istilah syari berarti akad yang berkonsekuensi memindahkan utang dari satu pihak ke pihak yang lain. Catatan: Hawalah disebutkan setelah ash-shulhu karena antara hawalah dan ash-shulhu bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hawalah ini adalah bentuk pengecualian dari jual beli utang dengan utang karena butuhnya syariat akan hal ini. Dalil mengenai pemindahan utang adalah, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىٍّ فَلْيَتْبَعْ » . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman. Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah.” (HR. Bukhari, no. 2288 dan Muslim, no. 1564) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin mengatakan makna hadits “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman”, yaitu seseorang enggan melunasi utang yang menjadi kewajibannya, padahal ia kaya dan mampu untuk melunasi. Ini adalah suatu bentuk kezaliman karena enggan menunaikan kewajiban. Karena setiap orang wajib melunasi utangnya dengan segera ketika ia punya kemampuan. Jangan sampai dalam keadaan mampu, malah menunda-nunda melunasi. Karena menunda melunasi utang dalam keadaan mampu, itu termasuk kezaliman. Wal ‘iyadzu billah. Di kitab yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan yang diolah bahasanya sebagai berikut: “Siapa yang memindahkan utang kepada orang yang mampu, maka ikutilah. Misalnya, Ahmad berutang kepada Zaid sebesar 100 riyal. Ahmad berkata kepada Zaid, “Saya akan meminta ‘Amr sebesar 100 riyal untuk melunasi utangku padamu. ’Amr akan melunasi utangku padamu sebesar 100 riyal.” Zaid dalam hal ini harus menerima karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah”, kecuali ‘Amr (sebagai muhal ‘alaih) adalah orang fakir atau biasa enggan bayar utang atau dekat kepada seseorang sehingga sulit diadukan kepada hakim. Demikian diambil dari Islamweb.net.   Rukun hawalah: Muhiil: yang memindahkan utang kepada yang lain, dalam kasus di atas adalah Ahmad. Muhiildisyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhtaal: yang berutang kepada muhiil, dalam kasus di atas adalah ‘Amr. Muhtaal disyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhaal ‘alaih: yang menerima pengalihan utang kepada muhtaal dari muhiil, dalam kasus di atas adalah Zaid. Muhaal ‘alaih disyaratkan adalah baligh dan berakal. Muhaal bihi: utang yang ada pada muhtaal (‘Amr), harus dilunasi pada muhiil (Ahmad). Utang itu akan dilunasi pada muhaal ‘alaih. Dain lil muhiil: Adanya utang muhiil (Ahmad) yang harus dilunasi oleh muhtaal (‘Amr). Shighah: ada ucapan sebagaimana syarat dalam jual beli.   Syarat hawalah itu ada lima yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhiil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Kesamaan ini mesti ada agar tidak terjadi sesuatu yang berlebih, sehingga jadi utang yang memperoleh manfaat, jatuhnya pada riba. Utang itu diketahui jumlah dan sifat.   Catatan: Muhaal ‘alaih (dalam kasus di atas adalah Zaid) tidak dipersyaratkan ia harus qabul (menerima) dalam hal hawalah, cukup qabul dari si muhtaal (‘Amr). Baca Juga: Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang Bahaya Tidak Mencatat Utang Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Fatwa dari Islamweb, https://www.islamweb.net/ar/fatwa/317074/ – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu pemindahan utang perdamaian solusi utang utang utang piutang

Matan Taqrib: Utang itu Boleh Dipindahkan (Hawalah), Bagaimana Caranya?

Orang yang berutang bisa saja memindahkan utangnya kepada pihak lain di mana pihak lain punya kewajiban padanya. Hal ini disebut dengan hawalah. Lihat penjelasannya dari matan Taqrib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) 1.1. Referensi: Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَشَرَائِطُ الحَوَالَةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ : رِضَاءُ الُمِحْيِل وَ قَبُوْلُ المُحْتَالِ وَكَوْنُ الحَقِّ مُسْتَقَرّاً فِي الذِّمَّةِ وَإِتِّفَاقُ مَا فِي ذِمَّةِ المُحِيْلِ وَالمُحَالِ عَلَيْهِ فِي الجِنْسِ وَالنَّوْعِ وَالحُلُوْلِ وَالتَّأْجِيْلِ وَتَبْرَأُ بِهَا ذِمَّةُ المُحِيْلِ. Syarat hawalah itu ada empat yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Dengan hawalah, tanggungan utang muhiil dianggap selesai.   Penjelasan: Hawalah secara bahasa berarti memindahkan. Hawalah dalam istilah syari berarti akad yang berkonsekuensi memindahkan utang dari satu pihak ke pihak yang lain. Catatan: Hawalah disebutkan setelah ash-shulhu karena antara hawalah dan ash-shulhu bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hawalah ini adalah bentuk pengecualian dari jual beli utang dengan utang karena butuhnya syariat akan hal ini. Dalil mengenai pemindahan utang adalah, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىٍّ فَلْيَتْبَعْ » . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman. Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah.” (HR. Bukhari, no. 2288 dan Muslim, no. 1564) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin mengatakan makna hadits “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman”, yaitu seseorang enggan melunasi utang yang menjadi kewajibannya, padahal ia kaya dan mampu untuk melunasi. Ini adalah suatu bentuk kezaliman karena enggan menunaikan kewajiban. Karena setiap orang wajib melunasi utangnya dengan segera ketika ia punya kemampuan. Jangan sampai dalam keadaan mampu, malah menunda-nunda melunasi. Karena menunda melunasi utang dalam keadaan mampu, itu termasuk kezaliman. Wal ‘iyadzu billah. Di kitab yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan yang diolah bahasanya sebagai berikut: “Siapa yang memindahkan utang kepada orang yang mampu, maka ikutilah. Misalnya, Ahmad berutang kepada Zaid sebesar 100 riyal. Ahmad berkata kepada Zaid, “Saya akan meminta ‘Amr sebesar 100 riyal untuk melunasi utangku padamu. ’Amr akan melunasi utangku padamu sebesar 100 riyal.” Zaid dalam hal ini harus menerima karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah”, kecuali ‘Amr (sebagai muhal ‘alaih) adalah orang fakir atau biasa enggan bayar utang atau dekat kepada seseorang sehingga sulit diadukan kepada hakim. Demikian diambil dari Islamweb.net.   Rukun hawalah: Muhiil: yang memindahkan utang kepada yang lain, dalam kasus di atas adalah Ahmad. Muhiildisyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhtaal: yang berutang kepada muhiil, dalam kasus di atas adalah ‘Amr. Muhtaal disyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhaal ‘alaih: yang menerima pengalihan utang kepada muhtaal dari muhiil, dalam kasus di atas adalah Zaid. Muhaal ‘alaih disyaratkan adalah baligh dan berakal. Muhaal bihi: utang yang ada pada muhtaal (‘Amr), harus dilunasi pada muhiil (Ahmad). Utang itu akan dilunasi pada muhaal ‘alaih. Dain lil muhiil: Adanya utang muhiil (Ahmad) yang harus dilunasi oleh muhtaal (‘Amr). Shighah: ada ucapan sebagaimana syarat dalam jual beli.   Syarat hawalah itu ada lima yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhiil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Kesamaan ini mesti ada agar tidak terjadi sesuatu yang berlebih, sehingga jadi utang yang memperoleh manfaat, jatuhnya pada riba. Utang itu diketahui jumlah dan sifat.   Catatan: Muhaal ‘alaih (dalam kasus di atas adalah Zaid) tidak dipersyaratkan ia harus qabul (menerima) dalam hal hawalah, cukup qabul dari si muhtaal (‘Amr). Baca Juga: Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang Bahaya Tidak Mencatat Utang Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Fatwa dari Islamweb, https://www.islamweb.net/ar/fatwa/317074/ – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu pemindahan utang perdamaian solusi utang utang utang piutang
Orang yang berutang bisa saja memindahkan utangnya kepada pihak lain di mana pihak lain punya kewajiban padanya. Hal ini disebut dengan hawalah. Lihat penjelasannya dari matan Taqrib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) 1.1. Referensi: Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَشَرَائِطُ الحَوَالَةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ : رِضَاءُ الُمِحْيِل وَ قَبُوْلُ المُحْتَالِ وَكَوْنُ الحَقِّ مُسْتَقَرّاً فِي الذِّمَّةِ وَإِتِّفَاقُ مَا فِي ذِمَّةِ المُحِيْلِ وَالمُحَالِ عَلَيْهِ فِي الجِنْسِ وَالنَّوْعِ وَالحُلُوْلِ وَالتَّأْجِيْلِ وَتَبْرَأُ بِهَا ذِمَّةُ المُحِيْلِ. Syarat hawalah itu ada empat yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Dengan hawalah, tanggungan utang muhiil dianggap selesai.   Penjelasan: Hawalah secara bahasa berarti memindahkan. Hawalah dalam istilah syari berarti akad yang berkonsekuensi memindahkan utang dari satu pihak ke pihak yang lain. Catatan: Hawalah disebutkan setelah ash-shulhu karena antara hawalah dan ash-shulhu bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hawalah ini adalah bentuk pengecualian dari jual beli utang dengan utang karena butuhnya syariat akan hal ini. Dalil mengenai pemindahan utang adalah, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىٍّ فَلْيَتْبَعْ » . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman. Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah.” (HR. Bukhari, no. 2288 dan Muslim, no. 1564) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin mengatakan makna hadits “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman”, yaitu seseorang enggan melunasi utang yang menjadi kewajibannya, padahal ia kaya dan mampu untuk melunasi. Ini adalah suatu bentuk kezaliman karena enggan menunaikan kewajiban. Karena setiap orang wajib melunasi utangnya dengan segera ketika ia punya kemampuan. Jangan sampai dalam keadaan mampu, malah menunda-nunda melunasi. Karena menunda melunasi utang dalam keadaan mampu, itu termasuk kezaliman. Wal ‘iyadzu billah. Di kitab yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan yang diolah bahasanya sebagai berikut: “Siapa yang memindahkan utang kepada orang yang mampu, maka ikutilah. Misalnya, Ahmad berutang kepada Zaid sebesar 100 riyal. Ahmad berkata kepada Zaid, “Saya akan meminta ‘Amr sebesar 100 riyal untuk melunasi utangku padamu. ’Amr akan melunasi utangku padamu sebesar 100 riyal.” Zaid dalam hal ini harus menerima karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah”, kecuali ‘Amr (sebagai muhal ‘alaih) adalah orang fakir atau biasa enggan bayar utang atau dekat kepada seseorang sehingga sulit diadukan kepada hakim. Demikian diambil dari Islamweb.net.   Rukun hawalah: Muhiil: yang memindahkan utang kepada yang lain, dalam kasus di atas adalah Ahmad. Muhiildisyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhtaal: yang berutang kepada muhiil, dalam kasus di atas adalah ‘Amr. Muhtaal disyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhaal ‘alaih: yang menerima pengalihan utang kepada muhtaal dari muhiil, dalam kasus di atas adalah Zaid. Muhaal ‘alaih disyaratkan adalah baligh dan berakal. Muhaal bihi: utang yang ada pada muhtaal (‘Amr), harus dilunasi pada muhiil (Ahmad). Utang itu akan dilunasi pada muhaal ‘alaih. Dain lil muhiil: Adanya utang muhiil (Ahmad) yang harus dilunasi oleh muhtaal (‘Amr). Shighah: ada ucapan sebagaimana syarat dalam jual beli.   Syarat hawalah itu ada lima yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhiil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Kesamaan ini mesti ada agar tidak terjadi sesuatu yang berlebih, sehingga jadi utang yang memperoleh manfaat, jatuhnya pada riba. Utang itu diketahui jumlah dan sifat.   Catatan: Muhaal ‘alaih (dalam kasus di atas adalah Zaid) tidak dipersyaratkan ia harus qabul (menerima) dalam hal hawalah, cukup qabul dari si muhtaal (‘Amr). Baca Juga: Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang Bahaya Tidak Mencatat Utang Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Fatwa dari Islamweb, https://www.islamweb.net/ar/fatwa/317074/ – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu pemindahan utang perdamaian solusi utang utang utang piutang


Orang yang berutang bisa saja memindahkan utangnya kepada pihak lain di mana pihak lain punya kewajiban padanya. Hal ini disebut dengan hawalah. Lihat penjelasannya dari matan Taqrib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) 1.1. Referensi: Hukum Hawalah (Pemindahan Utang) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَشَرَائِطُ الحَوَالَةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ : رِضَاءُ الُمِحْيِل وَ قَبُوْلُ المُحْتَالِ وَكَوْنُ الحَقِّ مُسْتَقَرّاً فِي الذِّمَّةِ وَإِتِّفَاقُ مَا فِي ذِمَّةِ المُحِيْلِ وَالمُحَالِ عَلَيْهِ فِي الجِنْسِ وَالنَّوْعِ وَالحُلُوْلِ وَالتَّأْجِيْلِ وَتَبْرَأُ بِهَا ذِمَّةُ المُحِيْلِ. Syarat hawalah itu ada empat yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Dengan hawalah, tanggungan utang muhiil dianggap selesai.   Penjelasan: Hawalah secara bahasa berarti memindahkan. Hawalah dalam istilah syari berarti akad yang berkonsekuensi memindahkan utang dari satu pihak ke pihak yang lain. Catatan: Hawalah disebutkan setelah ash-shulhu karena antara hawalah dan ash-shulhu bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hawalah ini adalah bentuk pengecualian dari jual beli utang dengan utang karena butuhnya syariat akan hal ini. Dalil mengenai pemindahan utang adalah, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِىٍّ فَلْيَتْبَعْ » . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman. Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah.” (HR. Bukhari, no. 2288 dan Muslim, no. 1564) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin mengatakan makna hadits “Penundaan (pembayaran utang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kezaliman”, yaitu seseorang enggan melunasi utang yang menjadi kewajibannya, padahal ia kaya dan mampu untuk melunasi. Ini adalah suatu bentuk kezaliman karena enggan menunaikan kewajiban. Karena setiap orang wajib melunasi utangnya dengan segera ketika ia punya kemampuan. Jangan sampai dalam keadaan mampu, malah menunda-nunda melunasi. Karena menunda melunasi utang dalam keadaan mampu, itu termasuk kezaliman. Wal ‘iyadzu billah. Di kitab yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan yang diolah bahasanya sebagai berikut: “Siapa yang memindahkan utang kepada orang yang mampu, maka ikutilah. Misalnya, Ahmad berutang kepada Zaid sebesar 100 riyal. Ahmad berkata kepada Zaid, “Saya akan meminta ‘Amr sebesar 100 riyal untuk melunasi utangku padamu. ’Amr akan melunasi utangku padamu sebesar 100 riyal.” Zaid dalam hal ini harus menerima karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya, maka ikutilah”, kecuali ‘Amr (sebagai muhal ‘alaih) adalah orang fakir atau biasa enggan bayar utang atau dekat kepada seseorang sehingga sulit diadukan kepada hakim. Demikian diambil dari Islamweb.net.   Rukun hawalah: Muhiil: yang memindahkan utang kepada yang lain, dalam kasus di atas adalah Ahmad. Muhiildisyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhtaal: yang berutang kepada muhiil, dalam kasus di atas adalah ‘Amr. Muhtaal disyaratkan adalah orang yang dibolehkan melakukan akad (ahlan lil ‘aqdi). Muhaal ‘alaih: yang menerima pengalihan utang kepada muhtaal dari muhiil, dalam kasus di atas adalah Zaid. Muhaal ‘alaih disyaratkan adalah baligh dan berakal. Muhaal bihi: utang yang ada pada muhtaal (‘Amr), harus dilunasi pada muhiil (Ahmad). Utang itu akan dilunasi pada muhaal ‘alaih. Dain lil muhiil: Adanya utang muhiil (Ahmad) yang harus dilunasi oleh muhtaal (‘Amr). Shighah: ada ucapan sebagaimana syarat dalam jual beli.   Syarat hawalah itu ada lima yaitu: Rida dari muhiil (orang yang berutang dan ingin mengalihkan utangnya) Muhtaal (orang yang berutang pada muhiil) menerima. Utang yang dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan. Adanya kesamaan utang antara muhiil dan muhaal ‘alaih (orang yang menerima pengalihan utang dari muhil) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya, dan waktu pembayarannya. Kesamaan ini mesti ada agar tidak terjadi sesuatu yang berlebih, sehingga jadi utang yang memperoleh manfaat, jatuhnya pada riba. Utang itu diketahui jumlah dan sifat.   Catatan: Muhaal ‘alaih (dalam kasus di atas adalah Zaid) tidak dipersyaratkan ia harus qabul (menerima) dalam hal hawalah, cukup qabul dari si muhtaal (‘Amr). Baca Juga: Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang Bahaya Tidak Mencatat Utang Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. Fatwa dari Islamweb, https://www.islamweb.net/ar/fatwa/317074/ – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu pemindahan utang perdamaian solusi utang utang utang piutang

Matan Taqrib: Perdamaian (Ash-Shulhu)

Ash-shulhu adalah perdamaian untuk menyelesaikan perselisihian. Bagaimana bentuk penyelesaiannya?   Daftar Isi tutup 1. Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) 1.1. Referensi: Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَصِحُّ الصُّلْحُ مَعَ الإِقْرَارِ فِي الأَمْوَالِ وَمَا أَفْضَي إِلَيْهَا وَهُوَ نَوْعَانِ: إِبْرَاءٌ وَمُعَاوَضَةٌ ، فَالإِبْرَاءُ : اِقْتِصَارُهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَى بَعْضِهِ وَلاَ يَجُوْزُ تَعْلِيْقُهُ عَلَى شَرْطٍ وَ المُعَاوَضَةُ : عُدُوْلُهُ عَنْ حَقِّهِ إِلَى غَيْرِهِ وَ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ البَيْعِس . Perdamaian dalam persengkataan (ash-shulhu) adalah sah dengan syarat si terdakwa telah mengakui tuduhan si pendakwa, entah dalam harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta. Perdamaian ini ada dua macam: ibra’ dan mu’awadhah. Ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli.   Penjelasan: Ash-shulhu secara bahasa berarti memutus perselisihan. Ash-shulhu secara istilah berarti akad yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hukum ash-shulhu adalah boleh, kecuali shulhu untuk mengharamkan yang halal ataukah menghalalkan yang haram. Allah Ta’ala berfirman, وَالصُّلْحُ خَيْرٌ “Perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128) Hikmah adanya ash-shulhu adalah memutus perselisihan antara dua pihak yang berselisih.   Macam-macam ash-shulhu: Mendamaikan antara kaum muslimin dan kafir. Mendamaikan antara seorang pemimpin dan pemberontak. Mendamaikan antara suami dan istri. Mendamaikan dalam interaksi muamalat sesama manusia.   Syarat sahnya ash-shulhu: Terlebih dahulu ada perdebatan antara yang saling menuntut. Mengakui tanpa ada pengingkaran atau diam, entah terjadi pada harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta.   Ada tiga macam ash-shulhu Ash-shulhu ini ada tiga macam: ibra’, mu’awadhah, dan hibah Shulhu ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Contoh: Damai terkait utang sebanyak seratus juta rupiah, hanya diambil tujuh puluh juta rupiah. Shulhu mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli, yaitu berlaku khiyar majlis dan syarat. Contoh: Damai terkait utang, di mana utang tersebut dianggap lunas diganti dengan mobil. Namun, lafaz yang digunakan adalah lafaz ash-shulhu. Shulhu hibah adalah pendakwa menuntut haknya pada sesuatu tertentu, lalu diberi sebagiannya. Contoh: Seseorang mengklaim bahwa rumah ini miliknya. Lalu yang dituntut tidak mengingkarinya. Damainya akhirnya yang dituntut mendapatkan separuh rumah. Separuh rumah itu sebagai hibah untuknya. Baca Juga: Memberi Nasihat dan Mendamaikan yang Berselisih Termasuk Amalan Muta’addi  Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu perdamaian solusi utang utang utang piutang

Matan Taqrib: Perdamaian (Ash-Shulhu)

Ash-shulhu adalah perdamaian untuk menyelesaikan perselisihian. Bagaimana bentuk penyelesaiannya?   Daftar Isi tutup 1. Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) 1.1. Referensi: Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَصِحُّ الصُّلْحُ مَعَ الإِقْرَارِ فِي الأَمْوَالِ وَمَا أَفْضَي إِلَيْهَا وَهُوَ نَوْعَانِ: إِبْرَاءٌ وَمُعَاوَضَةٌ ، فَالإِبْرَاءُ : اِقْتِصَارُهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَى بَعْضِهِ وَلاَ يَجُوْزُ تَعْلِيْقُهُ عَلَى شَرْطٍ وَ المُعَاوَضَةُ : عُدُوْلُهُ عَنْ حَقِّهِ إِلَى غَيْرِهِ وَ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ البَيْعِس . Perdamaian dalam persengkataan (ash-shulhu) adalah sah dengan syarat si terdakwa telah mengakui tuduhan si pendakwa, entah dalam harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta. Perdamaian ini ada dua macam: ibra’ dan mu’awadhah. Ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli.   Penjelasan: Ash-shulhu secara bahasa berarti memutus perselisihan. Ash-shulhu secara istilah berarti akad yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hukum ash-shulhu adalah boleh, kecuali shulhu untuk mengharamkan yang halal ataukah menghalalkan yang haram. Allah Ta’ala berfirman, وَالصُّلْحُ خَيْرٌ “Perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128) Hikmah adanya ash-shulhu adalah memutus perselisihan antara dua pihak yang berselisih.   Macam-macam ash-shulhu: Mendamaikan antara kaum muslimin dan kafir. Mendamaikan antara seorang pemimpin dan pemberontak. Mendamaikan antara suami dan istri. Mendamaikan dalam interaksi muamalat sesama manusia.   Syarat sahnya ash-shulhu: Terlebih dahulu ada perdebatan antara yang saling menuntut. Mengakui tanpa ada pengingkaran atau diam, entah terjadi pada harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta.   Ada tiga macam ash-shulhu Ash-shulhu ini ada tiga macam: ibra’, mu’awadhah, dan hibah Shulhu ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Contoh: Damai terkait utang sebanyak seratus juta rupiah, hanya diambil tujuh puluh juta rupiah. Shulhu mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli, yaitu berlaku khiyar majlis dan syarat. Contoh: Damai terkait utang, di mana utang tersebut dianggap lunas diganti dengan mobil. Namun, lafaz yang digunakan adalah lafaz ash-shulhu. Shulhu hibah adalah pendakwa menuntut haknya pada sesuatu tertentu, lalu diberi sebagiannya. Contoh: Seseorang mengklaim bahwa rumah ini miliknya. Lalu yang dituntut tidak mengingkarinya. Damainya akhirnya yang dituntut mendapatkan separuh rumah. Separuh rumah itu sebagai hibah untuknya. Baca Juga: Memberi Nasihat dan Mendamaikan yang Berselisih Termasuk Amalan Muta’addi  Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu perdamaian solusi utang utang utang piutang
Ash-shulhu adalah perdamaian untuk menyelesaikan perselisihian. Bagaimana bentuk penyelesaiannya?   Daftar Isi tutup 1. Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) 1.1. Referensi: Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَصِحُّ الصُّلْحُ مَعَ الإِقْرَارِ فِي الأَمْوَالِ وَمَا أَفْضَي إِلَيْهَا وَهُوَ نَوْعَانِ: إِبْرَاءٌ وَمُعَاوَضَةٌ ، فَالإِبْرَاءُ : اِقْتِصَارُهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَى بَعْضِهِ وَلاَ يَجُوْزُ تَعْلِيْقُهُ عَلَى شَرْطٍ وَ المُعَاوَضَةُ : عُدُوْلُهُ عَنْ حَقِّهِ إِلَى غَيْرِهِ وَ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ البَيْعِس . Perdamaian dalam persengkataan (ash-shulhu) adalah sah dengan syarat si terdakwa telah mengakui tuduhan si pendakwa, entah dalam harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta. Perdamaian ini ada dua macam: ibra’ dan mu’awadhah. Ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli.   Penjelasan: Ash-shulhu secara bahasa berarti memutus perselisihan. Ash-shulhu secara istilah berarti akad yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hukum ash-shulhu adalah boleh, kecuali shulhu untuk mengharamkan yang halal ataukah menghalalkan yang haram. Allah Ta’ala berfirman, وَالصُّلْحُ خَيْرٌ “Perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128) Hikmah adanya ash-shulhu adalah memutus perselisihan antara dua pihak yang berselisih.   Macam-macam ash-shulhu: Mendamaikan antara kaum muslimin dan kafir. Mendamaikan antara seorang pemimpin dan pemberontak. Mendamaikan antara suami dan istri. Mendamaikan dalam interaksi muamalat sesama manusia.   Syarat sahnya ash-shulhu: Terlebih dahulu ada perdebatan antara yang saling menuntut. Mengakui tanpa ada pengingkaran atau diam, entah terjadi pada harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta.   Ada tiga macam ash-shulhu Ash-shulhu ini ada tiga macam: ibra’, mu’awadhah, dan hibah Shulhu ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Contoh: Damai terkait utang sebanyak seratus juta rupiah, hanya diambil tujuh puluh juta rupiah. Shulhu mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli, yaitu berlaku khiyar majlis dan syarat. Contoh: Damai terkait utang, di mana utang tersebut dianggap lunas diganti dengan mobil. Namun, lafaz yang digunakan adalah lafaz ash-shulhu. Shulhu hibah adalah pendakwa menuntut haknya pada sesuatu tertentu, lalu diberi sebagiannya. Contoh: Seseorang mengklaim bahwa rumah ini miliknya. Lalu yang dituntut tidak mengingkarinya. Damainya akhirnya yang dituntut mendapatkan separuh rumah. Separuh rumah itu sebagai hibah untuknya. Baca Juga: Memberi Nasihat dan Mendamaikan yang Berselisih Termasuk Amalan Muta’addi  Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu perdamaian solusi utang utang utang piutang


Ash-shulhu adalah perdamaian untuk menyelesaikan perselisihian. Bagaimana bentuk penyelesaiannya?   Daftar Isi tutup 1. Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) 1.1. Referensi: Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian) Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata: وَيَصِحُّ الصُّلْحُ مَعَ الإِقْرَارِ فِي الأَمْوَالِ وَمَا أَفْضَي إِلَيْهَا وَهُوَ نَوْعَانِ: إِبْرَاءٌ وَمُعَاوَضَةٌ ، فَالإِبْرَاءُ : اِقْتِصَارُهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَى بَعْضِهِ وَلاَ يَجُوْزُ تَعْلِيْقُهُ عَلَى شَرْطٍ وَ المُعَاوَضَةُ : عُدُوْلُهُ عَنْ حَقِّهِ إِلَى غَيْرِهِ وَ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ البَيْعِس . Perdamaian dalam persengkataan (ash-shulhu) adalah sah dengan syarat si terdakwa telah mengakui tuduhan si pendakwa, entah dalam harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta. Perdamaian ini ada dua macam: ibra’ dan mu’awadhah. Ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli.   Penjelasan: Ash-shulhu secara bahasa berarti memutus perselisihan. Ash-shulhu secara istilah berarti akad yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hukum ash-shulhu adalah boleh, kecuali shulhu untuk mengharamkan yang halal ataukah menghalalkan yang haram. Allah Ta’ala berfirman, وَالصُّلْحُ خَيْرٌ “Perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128) Hikmah adanya ash-shulhu adalah memutus perselisihan antara dua pihak yang berselisih.   Macam-macam ash-shulhu: Mendamaikan antara kaum muslimin dan kafir. Mendamaikan antara seorang pemimpin dan pemberontak. Mendamaikan antara suami dan istri. Mendamaikan dalam interaksi muamalat sesama manusia.   Syarat sahnya ash-shulhu: Terlebih dahulu ada perdebatan antara yang saling menuntut. Mengakui tanpa ada pengingkaran atau diam, entah terjadi pada harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta.   Ada tiga macam ash-shulhu Ash-shulhu ini ada tiga macam: ibra’, mu’awadhah, dan hibah Shulhu ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat. Contoh: Damai terkait utang sebanyak seratus juta rupiah, hanya diambil tujuh puluh juta rupiah. Shulhu mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli, yaitu berlaku khiyar majlis dan syarat. Contoh: Damai terkait utang, di mana utang tersebut dianggap lunas diganti dengan mobil. Namun, lafaz yang digunakan adalah lafaz ash-shulhu. Shulhu hibah adalah pendakwa menuntut haknya pada sesuatu tertentu, lalu diberi sebagiannya. Contoh: Seseorang mengklaim bahwa rumah ini miliknya. Lalu yang dituntut tidak mengingkarinya. Damainya akhirnya yang dituntut mendapatkan separuh rumah. Separuh rumah itu sebagai hibah untuknya. Baca Juga: Memberi Nasihat dan Mendamaikan yang Berselisih Termasuk Amalan Muta’addi  Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang. – Diselesaikan pada 27 Safar 1444 H, 24 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitabul buyu perdamaian solusi utang utang utang piutang

Tiga Keadaan Doa di Kala Musibah – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Di sini, ada tiga kedudukan doa terhadap musibah.Kedudukan doa terhadap musibah, maksudnya jika ada musibah,akan tetapi juga ada doa untuk mengangkat atau menolak musibah tersebut. Ada tiga keadaan doa dalam hal ini:[PERTAMA]Jika doa lebih kuat daripada musibah,saat doa lebih kuat daripada musibah. Adapun kekuatan doa, kuatnya doa inidipengaruhi oleh kuatnya seseorang dalam menyempurnakan syarat-syarat dan adab-adab doa. Karena doa akan mendapatkan kekuatan dari rasa yakin,percaya, tidak tergesa-gesa minta dikabulkan doanya,dan bersungguh-sungguh dalam doa, juga faktor-faktor lainnya. Semakin banyak faktor-faktor ini terkumpul,niscaya doa akan semakin kuatKarena itu, ada satu bab yang sebentar lagi akan dibahas, oleh Ibnul Qayyim, yang menyebutkan banyak faktor-faktor yang apabila terkumpul dalam doa,niscaya doa itu hampir-hampir tidak tertolak. Hampir-hampir doa itu tidak akan tertolak. Ini adalah bab yang penting, yang nanti akan kita bahasdengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā.Intinya, keadaan pertama, bahwa bisa jadidoa lebih kuat daripada musibah, sehingga menghalangi dan mencegahnya. [KEDUA]Keadaan kedua adalah ketika doa lebih lemah daripada musibah,doa yang lebih lemah daripada musibah. Lemahnya doa adalah karena kurangnya seseorang dalam memenuhi syarat dan adab doa,sehingga musibah lebih kuat daripada doanya,musibah lebih kuat daripada doanya, sehingga menimpa seorang hamba,walaupun terkadang meringankannya. Doa yang lemah ini terkadang meringankan musibah.Doa ini, walaupun lemah, akan tetapi bisa meringankan musibah,walaupun lemah. [KETIGA]Keadaan ketiga, ketika keduanya bersaing,saling bertarung dan berlomba, masing-masing saling mencegah lawannya,masing-masing berusaha menghentikan lawannya,Demikian. ==== هَذِهِ الْآنَ ثَلَاثَةُ مَقَامَاتٍ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ يَعْنِي إِذَا كَانَ هُنَاكَ الْبَلَاءُ وَهُنَاكَ أَيْضًا دُعَاءٌ لِرَفْعِ أَوْ دَفْعِ هَذَا الْبَلَاءِ فَهُنَاكَ ثَلَاثُ مَقَامَاتٍ فِي هَذَا الْأَمْرِ أَوَّلُهَا أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ وَقُوَّةُ الدُّعَاءِ قُوَّةُ الدُّعَاءِ مِنْ قُوَّةِ الْتِزَامِ الدَّاعِي بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ لِأَنَّ الدُّعَاءَ يَكْتَسِبُ الْقُوَّةَ مِنَ الْيَقِينِ الثِّقَةِ عَدَمِ اسْتِعْجَالِ الْإِجَابَةِ الْجَزْمِ فِي الدُّعَاءِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ ضَوَابِطِهِ فَكُلَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الضَّوَابِطُ مُجْتَمِعَةً كَانَ هَذَا أَقْوَى فِي الدُّعَاءِ وَلِهَذَا سَيَأْتِي فِي فَصْلٍ قَرِيبٍ عِنْدَ ابْنِ الْقَيِّمِ عَدَّ أَمُورًا كَثِيرَةً فِي أَنَّهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ وَهَذَا فَصْلٌ نَفِيسٌ سَيَأْتِي مَعَنَا قَرِيبًا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ وَهِيَ الْحَالَةُ الْأُوْلَى الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ فَيَدْفَعُهُ فَيَدْفَعُهُ وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ وَالضَّعْفُ فِي الدُّعَاءِ بِضِعْفِ الْتِزَامِ الْمَرْءِ بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَسَيُصَابُ بِهِ الْعَبْدُ لَكِنْ قَدْ يُخَفِّفُهُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَهَذَا الدُّعَاءُ الضَّعِيفُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتَقَاوَمَ أَنْ يَتَقَاوَمَ وَأَنْ يَتَعَالَجَ وَيَمْنَعَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحَبَهُ يَمْنَعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tiga Keadaan Doa di Kala Musibah – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Di sini, ada tiga kedudukan doa terhadap musibah.Kedudukan doa terhadap musibah, maksudnya jika ada musibah,akan tetapi juga ada doa untuk mengangkat atau menolak musibah tersebut. Ada tiga keadaan doa dalam hal ini:[PERTAMA]Jika doa lebih kuat daripada musibah,saat doa lebih kuat daripada musibah. Adapun kekuatan doa, kuatnya doa inidipengaruhi oleh kuatnya seseorang dalam menyempurnakan syarat-syarat dan adab-adab doa. Karena doa akan mendapatkan kekuatan dari rasa yakin,percaya, tidak tergesa-gesa minta dikabulkan doanya,dan bersungguh-sungguh dalam doa, juga faktor-faktor lainnya. Semakin banyak faktor-faktor ini terkumpul,niscaya doa akan semakin kuatKarena itu, ada satu bab yang sebentar lagi akan dibahas, oleh Ibnul Qayyim, yang menyebutkan banyak faktor-faktor yang apabila terkumpul dalam doa,niscaya doa itu hampir-hampir tidak tertolak. Hampir-hampir doa itu tidak akan tertolak. Ini adalah bab yang penting, yang nanti akan kita bahasdengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā.Intinya, keadaan pertama, bahwa bisa jadidoa lebih kuat daripada musibah, sehingga menghalangi dan mencegahnya. [KEDUA]Keadaan kedua adalah ketika doa lebih lemah daripada musibah,doa yang lebih lemah daripada musibah. Lemahnya doa adalah karena kurangnya seseorang dalam memenuhi syarat dan adab doa,sehingga musibah lebih kuat daripada doanya,musibah lebih kuat daripada doanya, sehingga menimpa seorang hamba,walaupun terkadang meringankannya. Doa yang lemah ini terkadang meringankan musibah.Doa ini, walaupun lemah, akan tetapi bisa meringankan musibah,walaupun lemah. [KETIGA]Keadaan ketiga, ketika keduanya bersaing,saling bertarung dan berlomba, masing-masing saling mencegah lawannya,masing-masing berusaha menghentikan lawannya,Demikian. ==== هَذِهِ الْآنَ ثَلَاثَةُ مَقَامَاتٍ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ يَعْنِي إِذَا كَانَ هُنَاكَ الْبَلَاءُ وَهُنَاكَ أَيْضًا دُعَاءٌ لِرَفْعِ أَوْ دَفْعِ هَذَا الْبَلَاءِ فَهُنَاكَ ثَلَاثُ مَقَامَاتٍ فِي هَذَا الْأَمْرِ أَوَّلُهَا أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ وَقُوَّةُ الدُّعَاءِ قُوَّةُ الدُّعَاءِ مِنْ قُوَّةِ الْتِزَامِ الدَّاعِي بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ لِأَنَّ الدُّعَاءَ يَكْتَسِبُ الْقُوَّةَ مِنَ الْيَقِينِ الثِّقَةِ عَدَمِ اسْتِعْجَالِ الْإِجَابَةِ الْجَزْمِ فِي الدُّعَاءِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ ضَوَابِطِهِ فَكُلَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الضَّوَابِطُ مُجْتَمِعَةً كَانَ هَذَا أَقْوَى فِي الدُّعَاءِ وَلِهَذَا سَيَأْتِي فِي فَصْلٍ قَرِيبٍ عِنْدَ ابْنِ الْقَيِّمِ عَدَّ أَمُورًا كَثِيرَةً فِي أَنَّهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ وَهَذَا فَصْلٌ نَفِيسٌ سَيَأْتِي مَعَنَا قَرِيبًا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ وَهِيَ الْحَالَةُ الْأُوْلَى الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ فَيَدْفَعُهُ فَيَدْفَعُهُ وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ وَالضَّعْفُ فِي الدُّعَاءِ بِضِعْفِ الْتِزَامِ الْمَرْءِ بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَسَيُصَابُ بِهِ الْعَبْدُ لَكِنْ قَدْ يُخَفِّفُهُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَهَذَا الدُّعَاءُ الضَّعِيفُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتَقَاوَمَ أَنْ يَتَقَاوَمَ وَأَنْ يَتَعَالَجَ وَيَمْنَعَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحَبَهُ يَمْنَعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Di sini, ada tiga kedudukan doa terhadap musibah.Kedudukan doa terhadap musibah, maksudnya jika ada musibah,akan tetapi juga ada doa untuk mengangkat atau menolak musibah tersebut. Ada tiga keadaan doa dalam hal ini:[PERTAMA]Jika doa lebih kuat daripada musibah,saat doa lebih kuat daripada musibah. Adapun kekuatan doa, kuatnya doa inidipengaruhi oleh kuatnya seseorang dalam menyempurnakan syarat-syarat dan adab-adab doa. Karena doa akan mendapatkan kekuatan dari rasa yakin,percaya, tidak tergesa-gesa minta dikabulkan doanya,dan bersungguh-sungguh dalam doa, juga faktor-faktor lainnya. Semakin banyak faktor-faktor ini terkumpul,niscaya doa akan semakin kuatKarena itu, ada satu bab yang sebentar lagi akan dibahas, oleh Ibnul Qayyim, yang menyebutkan banyak faktor-faktor yang apabila terkumpul dalam doa,niscaya doa itu hampir-hampir tidak tertolak. Hampir-hampir doa itu tidak akan tertolak. Ini adalah bab yang penting, yang nanti akan kita bahasdengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā.Intinya, keadaan pertama, bahwa bisa jadidoa lebih kuat daripada musibah, sehingga menghalangi dan mencegahnya. [KEDUA]Keadaan kedua adalah ketika doa lebih lemah daripada musibah,doa yang lebih lemah daripada musibah. Lemahnya doa adalah karena kurangnya seseorang dalam memenuhi syarat dan adab doa,sehingga musibah lebih kuat daripada doanya,musibah lebih kuat daripada doanya, sehingga menimpa seorang hamba,walaupun terkadang meringankannya. Doa yang lemah ini terkadang meringankan musibah.Doa ini, walaupun lemah, akan tetapi bisa meringankan musibah,walaupun lemah. [KETIGA]Keadaan ketiga, ketika keduanya bersaing,saling bertarung dan berlomba, masing-masing saling mencegah lawannya,masing-masing berusaha menghentikan lawannya,Demikian. ==== هَذِهِ الْآنَ ثَلَاثَةُ مَقَامَاتٍ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ يَعْنِي إِذَا كَانَ هُنَاكَ الْبَلَاءُ وَهُنَاكَ أَيْضًا دُعَاءٌ لِرَفْعِ أَوْ دَفْعِ هَذَا الْبَلَاءِ فَهُنَاكَ ثَلَاثُ مَقَامَاتٍ فِي هَذَا الْأَمْرِ أَوَّلُهَا أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ وَقُوَّةُ الدُّعَاءِ قُوَّةُ الدُّعَاءِ مِنْ قُوَّةِ الْتِزَامِ الدَّاعِي بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ لِأَنَّ الدُّعَاءَ يَكْتَسِبُ الْقُوَّةَ مِنَ الْيَقِينِ الثِّقَةِ عَدَمِ اسْتِعْجَالِ الْإِجَابَةِ الْجَزْمِ فِي الدُّعَاءِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ ضَوَابِطِهِ فَكُلَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الضَّوَابِطُ مُجْتَمِعَةً كَانَ هَذَا أَقْوَى فِي الدُّعَاءِ وَلِهَذَا سَيَأْتِي فِي فَصْلٍ قَرِيبٍ عِنْدَ ابْنِ الْقَيِّمِ عَدَّ أَمُورًا كَثِيرَةً فِي أَنَّهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ وَهَذَا فَصْلٌ نَفِيسٌ سَيَأْتِي مَعَنَا قَرِيبًا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ وَهِيَ الْحَالَةُ الْأُوْلَى الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ فَيَدْفَعُهُ فَيَدْفَعُهُ وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ وَالضَّعْفُ فِي الدُّعَاءِ بِضِعْفِ الْتِزَامِ الْمَرْءِ بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَسَيُصَابُ بِهِ الْعَبْدُ لَكِنْ قَدْ يُخَفِّفُهُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَهَذَا الدُّعَاءُ الضَّعِيفُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتَقَاوَمَ أَنْ يَتَقَاوَمَ وَأَنْ يَتَعَالَجَ وَيَمْنَعَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحَبَهُ يَمْنَعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Di sini, ada tiga kedudukan doa terhadap musibah.Kedudukan doa terhadap musibah, maksudnya jika ada musibah,akan tetapi juga ada doa untuk mengangkat atau menolak musibah tersebut. Ada tiga keadaan doa dalam hal ini:[PERTAMA]Jika doa lebih kuat daripada musibah,saat doa lebih kuat daripada musibah. Adapun kekuatan doa, kuatnya doa inidipengaruhi oleh kuatnya seseorang dalam menyempurnakan syarat-syarat dan adab-adab doa. Karena doa akan mendapatkan kekuatan dari rasa yakin,percaya, tidak tergesa-gesa minta dikabulkan doanya,dan bersungguh-sungguh dalam doa, juga faktor-faktor lainnya. Semakin banyak faktor-faktor ini terkumpul,niscaya doa akan semakin kuatKarena itu, ada satu bab yang sebentar lagi akan dibahas, oleh Ibnul Qayyim, yang menyebutkan banyak faktor-faktor yang apabila terkumpul dalam doa,niscaya doa itu hampir-hampir tidak tertolak. Hampir-hampir doa itu tidak akan tertolak. Ini adalah bab yang penting, yang nanti akan kita bahasdengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā.Intinya, keadaan pertama, bahwa bisa jadidoa lebih kuat daripada musibah, sehingga menghalangi dan mencegahnya. [KEDUA]Keadaan kedua adalah ketika doa lebih lemah daripada musibah,doa yang lebih lemah daripada musibah. Lemahnya doa adalah karena kurangnya seseorang dalam memenuhi syarat dan adab doa,sehingga musibah lebih kuat daripada doanya,musibah lebih kuat daripada doanya, sehingga menimpa seorang hamba,walaupun terkadang meringankannya. Doa yang lemah ini terkadang meringankan musibah.Doa ini, walaupun lemah, akan tetapi bisa meringankan musibah,walaupun lemah. [KETIGA]Keadaan ketiga, ketika keduanya bersaing,saling bertarung dan berlomba, masing-masing saling mencegah lawannya,masing-masing berusaha menghentikan lawannya,Demikian. ==== هَذِهِ الْآنَ ثَلَاثَةُ مَقَامَاتٍ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ لِلدُّعَاءِ مَعَ الْبَلَاءِ يَعْنِي إِذَا كَانَ هُنَاكَ الْبَلَاءُ وَهُنَاكَ أَيْضًا دُعَاءٌ لِرَفْعِ أَوْ دَفْعِ هَذَا الْبَلَاءِ فَهُنَاكَ ثَلَاثُ مَقَامَاتٍ فِي هَذَا الْأَمْرِ أَوَّلُهَا أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ وَقُوَّةُ الدُّعَاءِ قُوَّةُ الدُّعَاءِ مِنْ قُوَّةِ الْتِزَامِ الدَّاعِي بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ لِأَنَّ الدُّعَاءَ يَكْتَسِبُ الْقُوَّةَ مِنَ الْيَقِينِ الثِّقَةِ عَدَمِ اسْتِعْجَالِ الْإِجَابَةِ الْجَزْمِ فِي الدُّعَاءِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ ضَوَابِطِهِ فَكُلَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الضَّوَابِطُ مُجْتَمِعَةً كَانَ هَذَا أَقْوَى فِي الدُّعَاءِ وَلِهَذَا سَيَأْتِي فِي فَصْلٍ قَرِيبٍ عِنْدَ ابْنِ الْقَيِّمِ عَدَّ أَمُورًا كَثِيرَةً فِي أَنَّهَا إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الدُّعَاءِ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ فَلَا يَكَادُ يُرَدُّ وَهَذَا فَصْلٌ نَفِيسٌ سَيَأْتِي مَعَنَا قَرِيبًا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ وَهِيَ الْحَالَةُ الْأُوْلَى الدُّعَاءُ أَقْوَى مِنَ الْبَلَاءِ فَيَدْفَعُهُ فَيَدْفَعُهُ وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ أَنْ يَكُونَ الدُّعَاءُ أَضْعَفَ مِنَ الْبَلَاءِ وَالضَّعْفُ فِي الدُّعَاءِ بِضِعْفِ الْتِزَامِ الْمَرْءِ بِشُرُوطِ الدُّعَاءِ وَآدَابِهِ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَيَقْوَى عَلَيْهِ الْبَلَاءُ فَسَيُصَابُ بِهِ الْعَبْدُ لَكِنْ قَدْ يُخَفِّفُهُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَهَذَا الدُّعَاءُ الضَّعِيفُ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتَقَاوَمَ أَنْ يَتَقَاوَمَ وَأَنْ يَتَعَالَجَ وَيَمْنَعَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحَبَهُ يَمْنَعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Keutamaan dan Pahala Melimpah dalam Ibadah Umrah

Umrah adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat banyak. Dalam rangkaian pelaksanaan ibadah umrah terdapat berbagai kebaikan dan keutamaan, pahala yang melimpah, dan juga ampunan dosa dari Allah Ta’ala. Daftar Isi sembunyikan 1. Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrah 2. Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa 3. Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji 4. Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab 5. Pengorbanan umrah bernilai pahala 6. Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi 7. Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrah 7.1. Keutamaan ucapan talbiyah 7.2. Keutamaan thawaf 7.3. Pahala salat di Masjidil Haram 7.4. Ampunan Allah ketika tahallul Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya terdapat penghapusan dosa-dosa di antara keduanya.  Haji yang mabrur, tidak ada pahala bagi pelakunya, melainkan surga” (HR. Bukhari dan Muslim)Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosaDari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringilah haji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Baca Juga:  Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa melakukan perang, yaitu dengan haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab Disebutkan di dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan permintaan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Pengorbanan umrah bernilai pahala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai umrah yang dilakukan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,عن عائشة رضي الله عنها ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لها في عمرتها : إن لك من الأجر على قدر نصبك ونفقتك “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah tentang umrahnya, ‘Sesungguhnya kamu mendapat pahala sesuai kadar kesulitan dan pengorbananmu.’” (HR. Hakim, shahih)Baca Juga: Hukum Oleh-Oleh Haji dan UmrahUmrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي“Apabila datang bulan Ramadan, lakukanlah umrah, karena umrah di bulan Ramadhan senilai haji bersamaku.“ (HR. Bukhari dan Muslim)Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrahDalam rangkaian ibadah umrah terdapat beberapa  ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, melaksanakan sa’i, minum air zam-zam, salat di Masjidil Haram, tahallul, serta berbagai zikir dan doa yang diucapkan selama melaksanakan umrah.Keutamaan ucapan talbiyahMengenai ucapan talbiyah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا أَهَلَّ مهلٌّ ، ولا كَبَّرَ مُكبِّرٌ إِلاََّ بُشِّر، قيل: يا رسول الله بالجنة؟ قال: نعم“Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir, melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah dijanjikan dengan surga?” Beliau menjawab, “Iya.” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Syekh Al Albani)Keutamaan thawaf Mengenai pahala thawaf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ، لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً“Barangsiapa yang thawaf di Ka’bah ini sebanyak tujuh putaran, lalu ia menyempurnakannya, maka seperti (pahala) memerdekakan seorang budak. Tidaklah ia meletakan kakinya dan tidak pula ia mengangkat kaki yang lain, kecuali Allah akan menghapuskan satu dosanya dan mencatat baginya satu kebaikan.” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani)Pahala salat di Masjidil Haram Mengenai pahala salat di Masjidil Haram, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في  الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 kali salat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. Adapun salat di Masjidil Haram, maka lebih utama daripada 100 kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ampunan Allah ketika tahallul Disebutkan di dalam hadis bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mendoakan bagi orang yang tahallul,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : وَالْمُقَصِّرِينَ“Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar potong pendek?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Demikianlah di antara berbagai keutamaan dan pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan ibadah umrah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk bisa ke Baitullah melaksanakan ibadah yang mulia ini.Baca Juga:Hati-Hati Iklan “Badal Haji” yang MenipuApabila Belum Mampu Haji, Usahakan Segera Umrah***Penulis : Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Shahih Fiqhus Sunnah wa Adilatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah karya Syekh Abu Malik Kamal bin As Sayyid SalimAl Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz karya Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Adzim BadawiDan beberapa tambahan referensi lainnya🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hukum Wanita Islam Menikah Dengan Pria Kristen, Balasan Jazakallah Khairan, Batas Shalat Isya, Kodrat Wanita Dalam IslamTags: fikih umrohibadah umrohkeutamaan umrohmotivasi umrohnasihatnasihat islampahala umrohpanduan umrohtata cara umrohtuntunan umrohumroh

Keutamaan dan Pahala Melimpah dalam Ibadah Umrah

Umrah adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat banyak. Dalam rangkaian pelaksanaan ibadah umrah terdapat berbagai kebaikan dan keutamaan, pahala yang melimpah, dan juga ampunan dosa dari Allah Ta’ala. Daftar Isi sembunyikan 1. Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrah 2. Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa 3. Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji 4. Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab 5. Pengorbanan umrah bernilai pahala 6. Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi 7. Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrah 7.1. Keutamaan ucapan talbiyah 7.2. Keutamaan thawaf 7.3. Pahala salat di Masjidil Haram 7.4. Ampunan Allah ketika tahallul Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya terdapat penghapusan dosa-dosa di antara keduanya.  Haji yang mabrur, tidak ada pahala bagi pelakunya, melainkan surga” (HR. Bukhari dan Muslim)Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosaDari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringilah haji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Baca Juga:  Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa melakukan perang, yaitu dengan haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab Disebutkan di dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan permintaan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Pengorbanan umrah bernilai pahala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai umrah yang dilakukan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,عن عائشة رضي الله عنها ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لها في عمرتها : إن لك من الأجر على قدر نصبك ونفقتك “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah tentang umrahnya, ‘Sesungguhnya kamu mendapat pahala sesuai kadar kesulitan dan pengorbananmu.’” (HR. Hakim, shahih)Baca Juga: Hukum Oleh-Oleh Haji dan UmrahUmrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي“Apabila datang bulan Ramadan, lakukanlah umrah, karena umrah di bulan Ramadhan senilai haji bersamaku.“ (HR. Bukhari dan Muslim)Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrahDalam rangkaian ibadah umrah terdapat beberapa  ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, melaksanakan sa’i, minum air zam-zam, salat di Masjidil Haram, tahallul, serta berbagai zikir dan doa yang diucapkan selama melaksanakan umrah.Keutamaan ucapan talbiyahMengenai ucapan talbiyah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا أَهَلَّ مهلٌّ ، ولا كَبَّرَ مُكبِّرٌ إِلاََّ بُشِّر، قيل: يا رسول الله بالجنة؟ قال: نعم“Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir, melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah dijanjikan dengan surga?” Beliau menjawab, “Iya.” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Syekh Al Albani)Keutamaan thawaf Mengenai pahala thawaf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ، لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً“Barangsiapa yang thawaf di Ka’bah ini sebanyak tujuh putaran, lalu ia menyempurnakannya, maka seperti (pahala) memerdekakan seorang budak. Tidaklah ia meletakan kakinya dan tidak pula ia mengangkat kaki yang lain, kecuali Allah akan menghapuskan satu dosanya dan mencatat baginya satu kebaikan.” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani)Pahala salat di Masjidil Haram Mengenai pahala salat di Masjidil Haram, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في  الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 kali salat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. Adapun salat di Masjidil Haram, maka lebih utama daripada 100 kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ampunan Allah ketika tahallul Disebutkan di dalam hadis bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mendoakan bagi orang yang tahallul,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : وَالْمُقَصِّرِينَ“Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar potong pendek?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Demikianlah di antara berbagai keutamaan dan pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan ibadah umrah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk bisa ke Baitullah melaksanakan ibadah yang mulia ini.Baca Juga:Hati-Hati Iklan “Badal Haji” yang MenipuApabila Belum Mampu Haji, Usahakan Segera Umrah***Penulis : Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Shahih Fiqhus Sunnah wa Adilatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah karya Syekh Abu Malik Kamal bin As Sayyid SalimAl Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz karya Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Adzim BadawiDan beberapa tambahan referensi lainnya🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hukum Wanita Islam Menikah Dengan Pria Kristen, Balasan Jazakallah Khairan, Batas Shalat Isya, Kodrat Wanita Dalam IslamTags: fikih umrohibadah umrohkeutamaan umrohmotivasi umrohnasihatnasihat islampahala umrohpanduan umrohtata cara umrohtuntunan umrohumroh
Umrah adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat banyak. Dalam rangkaian pelaksanaan ibadah umrah terdapat berbagai kebaikan dan keutamaan, pahala yang melimpah, dan juga ampunan dosa dari Allah Ta’ala. Daftar Isi sembunyikan 1. Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrah 2. Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa 3. Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji 4. Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab 5. Pengorbanan umrah bernilai pahala 6. Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi 7. Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrah 7.1. Keutamaan ucapan talbiyah 7.2. Keutamaan thawaf 7.3. Pahala salat di Masjidil Haram 7.4. Ampunan Allah ketika tahallul Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya terdapat penghapusan dosa-dosa di antara keduanya.  Haji yang mabrur, tidak ada pahala bagi pelakunya, melainkan surga” (HR. Bukhari dan Muslim)Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosaDari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringilah haji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Baca Juga:  Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa melakukan perang, yaitu dengan haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab Disebutkan di dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan permintaan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Pengorbanan umrah bernilai pahala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai umrah yang dilakukan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,عن عائشة رضي الله عنها ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لها في عمرتها : إن لك من الأجر على قدر نصبك ونفقتك “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah tentang umrahnya, ‘Sesungguhnya kamu mendapat pahala sesuai kadar kesulitan dan pengorbananmu.’” (HR. Hakim, shahih)Baca Juga: Hukum Oleh-Oleh Haji dan UmrahUmrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي“Apabila datang bulan Ramadan, lakukanlah umrah, karena umrah di bulan Ramadhan senilai haji bersamaku.“ (HR. Bukhari dan Muslim)Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrahDalam rangkaian ibadah umrah terdapat beberapa  ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, melaksanakan sa’i, minum air zam-zam, salat di Masjidil Haram, tahallul, serta berbagai zikir dan doa yang diucapkan selama melaksanakan umrah.Keutamaan ucapan talbiyahMengenai ucapan talbiyah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا أَهَلَّ مهلٌّ ، ولا كَبَّرَ مُكبِّرٌ إِلاََّ بُشِّر، قيل: يا رسول الله بالجنة؟ قال: نعم“Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir, melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah dijanjikan dengan surga?” Beliau menjawab, “Iya.” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Syekh Al Albani)Keutamaan thawaf Mengenai pahala thawaf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ، لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً“Barangsiapa yang thawaf di Ka’bah ini sebanyak tujuh putaran, lalu ia menyempurnakannya, maka seperti (pahala) memerdekakan seorang budak. Tidaklah ia meletakan kakinya dan tidak pula ia mengangkat kaki yang lain, kecuali Allah akan menghapuskan satu dosanya dan mencatat baginya satu kebaikan.” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani)Pahala salat di Masjidil Haram Mengenai pahala salat di Masjidil Haram, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في  الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 kali salat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. Adapun salat di Masjidil Haram, maka lebih utama daripada 100 kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ampunan Allah ketika tahallul Disebutkan di dalam hadis bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mendoakan bagi orang yang tahallul,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : وَالْمُقَصِّرِينَ“Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar potong pendek?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Demikianlah di antara berbagai keutamaan dan pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan ibadah umrah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk bisa ke Baitullah melaksanakan ibadah yang mulia ini.Baca Juga:Hati-Hati Iklan “Badal Haji” yang MenipuApabila Belum Mampu Haji, Usahakan Segera Umrah***Penulis : Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Shahih Fiqhus Sunnah wa Adilatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah karya Syekh Abu Malik Kamal bin As Sayyid SalimAl Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz karya Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Adzim BadawiDan beberapa tambahan referensi lainnya🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hukum Wanita Islam Menikah Dengan Pria Kristen, Balasan Jazakallah Khairan, Batas Shalat Isya, Kodrat Wanita Dalam IslamTags: fikih umrohibadah umrohkeutamaan umrohmotivasi umrohnasihatnasihat islampahala umrohpanduan umrohtata cara umrohtuntunan umrohumroh


Umrah adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat banyak. Dalam rangkaian pelaksanaan ibadah umrah terdapat berbagai kebaikan dan keutamaan, pahala yang melimpah, dan juga ampunan dosa dari Allah Ta’ala. Daftar Isi sembunyikan 1. Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrah 2. Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa 3. Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji 4. Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab 5. Pengorbanan umrah bernilai pahala 6. Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi 7. Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrah 7.1. Keutamaan ucapan talbiyah 7.2. Keutamaan thawaf 7.3. Pahala salat di Masjidil Haram 7.4. Ampunan Allah ketika tahallul Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya terdapat penghapusan dosa-dosa di antara keduanya.  Haji yang mabrur, tidak ada pahala bagi pelakunya, melainkan surga” (HR. Bukhari dan Muslim)Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosaDari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringilah haji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Baca Juga:  Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa melakukan perang, yaitu dengan haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab Disebutkan di dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan permintaan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)Pengorbanan umrah bernilai pahala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai umrah yang dilakukan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,عن عائشة رضي الله عنها ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لها في عمرتها : إن لك من الأجر على قدر نصبك ونفقتك “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah tentang umrahnya, ‘Sesungguhnya kamu mendapat pahala sesuai kadar kesulitan dan pengorbananmu.’” (HR. Hakim, shahih)Baca Juga: Hukum Oleh-Oleh Haji dan UmrahUmrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي“Apabila datang bulan Ramadan, lakukanlah umrah, karena umrah di bulan Ramadhan senilai haji bersamaku.“ (HR. Bukhari dan Muslim)Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrahDalam rangkaian ibadah umrah terdapat beberapa  ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, melaksanakan sa’i, minum air zam-zam, salat di Masjidil Haram, tahallul, serta berbagai zikir dan doa yang diucapkan selama melaksanakan umrah.Keutamaan ucapan talbiyahMengenai ucapan talbiyah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا أَهَلَّ مهلٌّ ، ولا كَبَّرَ مُكبِّرٌ إِلاََّ بُشِّر، قيل: يا رسول الله بالجنة؟ قال: نعم“Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir, melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah dijanjikan dengan surga?” Beliau menjawab, “Iya.” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Syekh Al Albani)Keutamaan thawaf Mengenai pahala thawaf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ، لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً“Barangsiapa yang thawaf di Ka’bah ini sebanyak tujuh putaran, lalu ia menyempurnakannya, maka seperti (pahala) memerdekakan seorang budak. Tidaklah ia meletakan kakinya dan tidak pula ia mengangkat kaki yang lain, kecuali Allah akan menghapuskan satu dosanya dan mencatat baginya satu kebaikan.” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani)Pahala salat di Masjidil Haram Mengenai pahala salat di Masjidil Haram, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في  الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 kali salat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. Adapun salat di Masjidil Haram, maka lebih utama daripada 100 kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ampunan Allah ketika tahallul Disebutkan di dalam hadis bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mendoakan bagi orang yang tahallul,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : وَالْمُقَصِّرِينَ“Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar potong pendek?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Demikianlah di antara berbagai keutamaan dan pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan ibadah umrah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk bisa ke Baitullah melaksanakan ibadah yang mulia ini.Baca Juga:Hati-Hati Iklan “Badal Haji” yang MenipuApabila Belum Mampu Haji, Usahakan Segera Umrah***Penulis : Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Shahih Fiqhus Sunnah wa Adilatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah karya Syekh Abu Malik Kamal bin As Sayyid SalimAl Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz karya Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Adzim BadawiDan beberapa tambahan referensi lainnya🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hukum Wanita Islam Menikah Dengan Pria Kristen, Balasan Jazakallah Khairan, Batas Shalat Isya, Kodrat Wanita Dalam IslamTags: fikih umrohibadah umrohkeutamaan umrohmotivasi umrohnasihatnasihat islampahala umrohpanduan umrohtata cara umrohtuntunan umrohumroh

Hukum Mencium Mushaf Al-Quran

حكم تقبيل المصحف السؤال ما حكم تقبيل المصحف بعد سقوطه من مكان مرتفع ؟ Pertanyaan: Apa hukum mencium mushaf al-Quran setelah terjatuh dari tempat yang tinggi? الجواب .الحمد لله لا نعلم دليلاً على مشروعية تقبيله ، ولكن لو قبله الإنسان فلا بأس لأنه يروى عن عكرمة بن أبي جهل الصحابي الجليل رضي الله تعالى عنه أنه كان يقبل المصحف ويقول : هذا كلام ربي ، وبكل حال التقبيل لا حرج فيه ولكن ليس بمشروع وليس هناك دليل على شرعيته ، ولكن لو قبله الإنسان تعظيماً واحتراماً عند سقوطه من يده أو من مكان مرتفع فلا حرج في ذلك ولا بأس إن شاء الله . Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Kami tidak mendapatkan dalil yang menganjurkan mencium al-Quran. Namun jika seseorang menciumnya pun tidak mengapa, karena ada riwayat dari Ikrimah bin Abu Jahal, salah seorang sahabat yang mulia raḍiyallāhu ʿanhu, bahwa dia mencium al-Quran dan berkata; “Ini adalah firman Tuhanku.”  Jadi, tidak mengapa menciumnya kapan saja, tapi itu tidak disyariatkan, dan tidak ada dalil yang menunjukkan syariat tersebut. Tapi jika seseorang menciumnya karena mengagungkannya dan memuliakannya karena terjatuh dari tangannya atau dari tempat yang tinggi maka tidak mengapa, insya Allah. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/9320/حكم-تقبيل-المصحف https://islamqa.info/ar/downloads/answers/9320 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Membatalkan Puasa, Cara Taaruf Yang Benar, Apakah Pinjam Uang Di Bank Termasuk Riba, Doa Menabung Uang, Nikah Beda Usia Wanita Lebih Tua, Doa Menyembelih Ayam Jantan Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 314 QRIS donasi Yufid

Hukum Mencium Mushaf Al-Quran

حكم تقبيل المصحف السؤال ما حكم تقبيل المصحف بعد سقوطه من مكان مرتفع ؟ Pertanyaan: Apa hukum mencium mushaf al-Quran setelah terjatuh dari tempat yang tinggi? الجواب .الحمد لله لا نعلم دليلاً على مشروعية تقبيله ، ولكن لو قبله الإنسان فلا بأس لأنه يروى عن عكرمة بن أبي جهل الصحابي الجليل رضي الله تعالى عنه أنه كان يقبل المصحف ويقول : هذا كلام ربي ، وبكل حال التقبيل لا حرج فيه ولكن ليس بمشروع وليس هناك دليل على شرعيته ، ولكن لو قبله الإنسان تعظيماً واحتراماً عند سقوطه من يده أو من مكان مرتفع فلا حرج في ذلك ولا بأس إن شاء الله . Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Kami tidak mendapatkan dalil yang menganjurkan mencium al-Quran. Namun jika seseorang menciumnya pun tidak mengapa, karena ada riwayat dari Ikrimah bin Abu Jahal, salah seorang sahabat yang mulia raḍiyallāhu ʿanhu, bahwa dia mencium al-Quran dan berkata; “Ini adalah firman Tuhanku.”  Jadi, tidak mengapa menciumnya kapan saja, tapi itu tidak disyariatkan, dan tidak ada dalil yang menunjukkan syariat tersebut. Tapi jika seseorang menciumnya karena mengagungkannya dan memuliakannya karena terjatuh dari tangannya atau dari tempat yang tinggi maka tidak mengapa, insya Allah. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/9320/حكم-تقبيل-المصحف https://islamqa.info/ar/downloads/answers/9320 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Membatalkan Puasa, Cara Taaruf Yang Benar, Apakah Pinjam Uang Di Bank Termasuk Riba, Doa Menabung Uang, Nikah Beda Usia Wanita Lebih Tua, Doa Menyembelih Ayam Jantan Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 314 QRIS donasi Yufid
حكم تقبيل المصحف السؤال ما حكم تقبيل المصحف بعد سقوطه من مكان مرتفع ؟ Pertanyaan: Apa hukum mencium mushaf al-Quran setelah terjatuh dari tempat yang tinggi? الجواب .الحمد لله لا نعلم دليلاً على مشروعية تقبيله ، ولكن لو قبله الإنسان فلا بأس لأنه يروى عن عكرمة بن أبي جهل الصحابي الجليل رضي الله تعالى عنه أنه كان يقبل المصحف ويقول : هذا كلام ربي ، وبكل حال التقبيل لا حرج فيه ولكن ليس بمشروع وليس هناك دليل على شرعيته ، ولكن لو قبله الإنسان تعظيماً واحتراماً عند سقوطه من يده أو من مكان مرتفع فلا حرج في ذلك ولا بأس إن شاء الله . Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Kami tidak mendapatkan dalil yang menganjurkan mencium al-Quran. Namun jika seseorang menciumnya pun tidak mengapa, karena ada riwayat dari Ikrimah bin Abu Jahal, salah seorang sahabat yang mulia raḍiyallāhu ʿanhu, bahwa dia mencium al-Quran dan berkata; “Ini adalah firman Tuhanku.”  Jadi, tidak mengapa menciumnya kapan saja, tapi itu tidak disyariatkan, dan tidak ada dalil yang menunjukkan syariat tersebut. Tapi jika seseorang menciumnya karena mengagungkannya dan memuliakannya karena terjatuh dari tangannya atau dari tempat yang tinggi maka tidak mengapa, insya Allah. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/9320/حكم-تقبيل-المصحف https://islamqa.info/ar/downloads/answers/9320 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Membatalkan Puasa, Cara Taaruf Yang Benar, Apakah Pinjam Uang Di Bank Termasuk Riba, Doa Menabung Uang, Nikah Beda Usia Wanita Lebih Tua, Doa Menyembelih Ayam Jantan Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 314 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1358415331&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم تقبيل المصحف السؤال ما حكم تقبيل المصحف بعد سقوطه من مكان مرتفع ؟ Pertanyaan: Apa hukum mencium mushaf al-Quran setelah terjatuh dari tempat yang tinggi? الجواب .الحمد لله لا نعلم دليلاً على مشروعية تقبيله ، ولكن لو قبله الإنسان فلا بأس لأنه يروى عن عكرمة بن أبي جهل الصحابي الجليل رضي الله تعالى عنه أنه كان يقبل المصحف ويقول : هذا كلام ربي ، وبكل حال التقبيل لا حرج فيه ولكن ليس بمشروع وليس هناك دليل على شرعيته ، ولكن لو قبله الإنسان تعظيماً واحتراماً عند سقوطه من يده أو من مكان مرتفع فلا حرج في ذلك ولا بأس إن شاء الله . Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Kami tidak mendapatkan dalil yang menganjurkan mencium al-Quran. Namun jika seseorang menciumnya pun tidak mengapa, karena ada riwayat dari Ikrimah bin Abu Jahal, salah seorang sahabat yang mulia raḍiyallāhu ʿanhu, bahwa dia mencium al-Quran dan berkata; “Ini adalah firman Tuhanku.”  Jadi, tidak mengapa menciumnya kapan saja, tapi itu tidak disyariatkan, dan tidak ada dalil yang menunjukkan syariat tersebut. Tapi jika seseorang menciumnya karena mengagungkannya dan memuliakannya karena terjatuh dari tangannya atau dari tempat yang tinggi maka tidak mengapa, insya Allah. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/9320/حكم-تقبيل-المصحف https://islamqa.info/ar/downloads/answers/9320 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Membatalkan Puasa, Cara Taaruf Yang Benar, Apakah Pinjam Uang Di Bank Termasuk Riba, Doa Menabung Uang, Nikah Beda Usia Wanita Lebih Tua, Doa Menyembelih Ayam Jantan Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 314 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Karamah dari Dua Sahabat Nabi yang Mendapat Cahaya Ketika Berjalan di Kegelapan

Ada dua sahabat nabi yaitu Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr. Mereka berdua mendapatkan karamah dengan mendapatkan cahaya ketika berjalan karena mereka adalah wali Allah yang mendapatkan pertolongan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1508 2. Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1508 Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، خَرَجَا مِنْ عِنْدِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ وَمَعَهُمَا مِثْلُ المِصْبَاحَيْنِ بَيْنَ أَيْديهِمَا . فَلَمَّا افْتَرَقَا ، صَارَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدٌ حَتَّى أتَى أهْلَهُ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ مِنْ طُرُقٍ ؛ وَفِي بَعْضِهَا أنَّ الرَّجُلَيْنِ أُسَيْدُ بنُ حُضير ، وَعَبّادُ بنُ بِشْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ada dua orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari tempat beliau pada suatu malam gelap gulita. Masing-masing menyertai mereka berdua seperti lampu di depan mereka berdua. Ketika keduanya berpisah, masing-masing dari lampu itu menyertai mereka berdua sampai tiba di keluarganya. (HR. Bukhari) Di sebagian sanad disebutkan, dua orang tersebut adalah Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma.   Baca juga: Ilmu Agama itu Bagaikan Cahaya   Faedah hadits Karamah (kemuliaan) kedua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma, mereka diberikan lampu penerang padahal di pasar tidak ada cahaya, di rumah tak ada cahaya, Allah yang menjadikan di tangan mereka berdua semisal dua lampu yang menerangi jalan mereka. Cahaya itu bukan usaha dan sebab dari mereka berdua. Allah yang memberikan mereka cahaya hingga mereka berdua berpisah dan cahaya itu tetap mengikuti mereka. Perlindungan Allah kepada orang yang pergi menunaikan kewajibannya dan memenuhi hak perintah Allah Ta’ala. Karamah di sini adalah cahaya hissi (cahaya yang tampak). Ada juga karamah yang Allah beri kepada wali-Nya yaitu berupa cahaya maknawi. Karamah ini berupa cahaya pada hati orang beriman. Sebagian ulama dikaruniakan oleh Allah ilmu yang luas, bahkan dalam berbagai bidang ilmu. Allah memberikan ia pemahaman, hafalan, dan pandai berdebat untuk memenangkan kebenaran. Di antara ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat: 728 H) yang memberikan manfaat kepada umat lewat karya buku-buku beliau hingga saat ini. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Jika ada orang yang mendebatku untuk membela kebatilannya lantas ia berdalil dengan ayat atau hadits, maka ayat atau hadits tersebut justru menjadi dalil untuk membantah pemahamannya, bukan mendukungnya.” Inilah suatu nikmat yang diperoleh oleh Ibnu Taimiyyah. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6:93)   Baca juga: Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Benarkah Ibnu Taimiyyah Mendukung Maulid Nabi?   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547-548. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr. 6:93. – Ditulis saat perjalanan Panggang – Jogja, 25 Safar 1444 H, 22 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscahaya ilmu karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah syaikhul islam ibnu taimiyah

Karamah dari Dua Sahabat Nabi yang Mendapat Cahaya Ketika Berjalan di Kegelapan

Ada dua sahabat nabi yaitu Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr. Mereka berdua mendapatkan karamah dengan mendapatkan cahaya ketika berjalan karena mereka adalah wali Allah yang mendapatkan pertolongan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1508 2. Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1508 Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، خَرَجَا مِنْ عِنْدِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ وَمَعَهُمَا مِثْلُ المِصْبَاحَيْنِ بَيْنَ أَيْديهِمَا . فَلَمَّا افْتَرَقَا ، صَارَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدٌ حَتَّى أتَى أهْلَهُ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ مِنْ طُرُقٍ ؛ وَفِي بَعْضِهَا أنَّ الرَّجُلَيْنِ أُسَيْدُ بنُ حُضير ، وَعَبّادُ بنُ بِشْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ada dua orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari tempat beliau pada suatu malam gelap gulita. Masing-masing menyertai mereka berdua seperti lampu di depan mereka berdua. Ketika keduanya berpisah, masing-masing dari lampu itu menyertai mereka berdua sampai tiba di keluarganya. (HR. Bukhari) Di sebagian sanad disebutkan, dua orang tersebut adalah Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma.   Baca juga: Ilmu Agama itu Bagaikan Cahaya   Faedah hadits Karamah (kemuliaan) kedua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma, mereka diberikan lampu penerang padahal di pasar tidak ada cahaya, di rumah tak ada cahaya, Allah yang menjadikan di tangan mereka berdua semisal dua lampu yang menerangi jalan mereka. Cahaya itu bukan usaha dan sebab dari mereka berdua. Allah yang memberikan mereka cahaya hingga mereka berdua berpisah dan cahaya itu tetap mengikuti mereka. Perlindungan Allah kepada orang yang pergi menunaikan kewajibannya dan memenuhi hak perintah Allah Ta’ala. Karamah di sini adalah cahaya hissi (cahaya yang tampak). Ada juga karamah yang Allah beri kepada wali-Nya yaitu berupa cahaya maknawi. Karamah ini berupa cahaya pada hati orang beriman. Sebagian ulama dikaruniakan oleh Allah ilmu yang luas, bahkan dalam berbagai bidang ilmu. Allah memberikan ia pemahaman, hafalan, dan pandai berdebat untuk memenangkan kebenaran. Di antara ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat: 728 H) yang memberikan manfaat kepada umat lewat karya buku-buku beliau hingga saat ini. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Jika ada orang yang mendebatku untuk membela kebatilannya lantas ia berdalil dengan ayat atau hadits, maka ayat atau hadits tersebut justru menjadi dalil untuk membantah pemahamannya, bukan mendukungnya.” Inilah suatu nikmat yang diperoleh oleh Ibnu Taimiyyah. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6:93)   Baca juga: Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Benarkah Ibnu Taimiyyah Mendukung Maulid Nabi?   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547-548. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr. 6:93. – Ditulis saat perjalanan Panggang – Jogja, 25 Safar 1444 H, 22 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscahaya ilmu karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah syaikhul islam ibnu taimiyah
Ada dua sahabat nabi yaitu Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr. Mereka berdua mendapatkan karamah dengan mendapatkan cahaya ketika berjalan karena mereka adalah wali Allah yang mendapatkan pertolongan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1508 2. Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1508 Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، خَرَجَا مِنْ عِنْدِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ وَمَعَهُمَا مِثْلُ المِصْبَاحَيْنِ بَيْنَ أَيْديهِمَا . فَلَمَّا افْتَرَقَا ، صَارَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدٌ حَتَّى أتَى أهْلَهُ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ مِنْ طُرُقٍ ؛ وَفِي بَعْضِهَا أنَّ الرَّجُلَيْنِ أُسَيْدُ بنُ حُضير ، وَعَبّادُ بنُ بِشْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ada dua orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari tempat beliau pada suatu malam gelap gulita. Masing-masing menyertai mereka berdua seperti lampu di depan mereka berdua. Ketika keduanya berpisah, masing-masing dari lampu itu menyertai mereka berdua sampai tiba di keluarganya. (HR. Bukhari) Di sebagian sanad disebutkan, dua orang tersebut adalah Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma.   Baca juga: Ilmu Agama itu Bagaikan Cahaya   Faedah hadits Karamah (kemuliaan) kedua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma, mereka diberikan lampu penerang padahal di pasar tidak ada cahaya, di rumah tak ada cahaya, Allah yang menjadikan di tangan mereka berdua semisal dua lampu yang menerangi jalan mereka. Cahaya itu bukan usaha dan sebab dari mereka berdua. Allah yang memberikan mereka cahaya hingga mereka berdua berpisah dan cahaya itu tetap mengikuti mereka. Perlindungan Allah kepada orang yang pergi menunaikan kewajibannya dan memenuhi hak perintah Allah Ta’ala. Karamah di sini adalah cahaya hissi (cahaya yang tampak). Ada juga karamah yang Allah beri kepada wali-Nya yaitu berupa cahaya maknawi. Karamah ini berupa cahaya pada hati orang beriman. Sebagian ulama dikaruniakan oleh Allah ilmu yang luas, bahkan dalam berbagai bidang ilmu. Allah memberikan ia pemahaman, hafalan, dan pandai berdebat untuk memenangkan kebenaran. Di antara ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat: 728 H) yang memberikan manfaat kepada umat lewat karya buku-buku beliau hingga saat ini. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Jika ada orang yang mendebatku untuk membela kebatilannya lantas ia berdalil dengan ayat atau hadits, maka ayat atau hadits tersebut justru menjadi dalil untuk membantah pemahamannya, bukan mendukungnya.” Inilah suatu nikmat yang diperoleh oleh Ibnu Taimiyyah. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6:93)   Baca juga: Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Benarkah Ibnu Taimiyyah Mendukung Maulid Nabi?   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547-548. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr. 6:93. – Ditulis saat perjalanan Panggang – Jogja, 25 Safar 1444 H, 22 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscahaya ilmu karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah syaikhul islam ibnu taimiyah


Ada dua sahabat nabi yaitu Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr. Mereka berdua mendapatkan karamah dengan mendapatkan cahaya ketika berjalan karena mereka adalah wali Allah yang mendapatkan pertolongan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1508 2. Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1508 Karamah dari Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، خَرَجَا مِنْ عِنْدِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ وَمَعَهُمَا مِثْلُ المِصْبَاحَيْنِ بَيْنَ أَيْديهِمَا . فَلَمَّا افْتَرَقَا ، صَارَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدٌ حَتَّى أتَى أهْلَهُ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ مِنْ طُرُقٍ ؛ وَفِي بَعْضِهَا أنَّ الرَّجُلَيْنِ أُسَيْدُ بنُ حُضير ، وَعَبّادُ بنُ بِشْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ada dua orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari tempat beliau pada suatu malam gelap gulita. Masing-masing menyertai mereka berdua seperti lampu di depan mereka berdua. Ketika keduanya berpisah, masing-masing dari lampu itu menyertai mereka berdua sampai tiba di keluarganya. (HR. Bukhari) Di sebagian sanad disebutkan, dua orang tersebut adalah Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma.   Baca juga: Ilmu Agama itu Bagaikan Cahaya   Faedah hadits Karamah (kemuliaan) kedua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhuma, mereka diberikan lampu penerang padahal di pasar tidak ada cahaya, di rumah tak ada cahaya, Allah yang menjadikan di tangan mereka berdua semisal dua lampu yang menerangi jalan mereka. Cahaya itu bukan usaha dan sebab dari mereka berdua. Allah yang memberikan mereka cahaya hingga mereka berdua berpisah dan cahaya itu tetap mengikuti mereka. Perlindungan Allah kepada orang yang pergi menunaikan kewajibannya dan memenuhi hak perintah Allah Ta’ala. Karamah di sini adalah cahaya hissi (cahaya yang tampak). Ada juga karamah yang Allah beri kepada wali-Nya yaitu berupa cahaya maknawi. Karamah ini berupa cahaya pada hati orang beriman. Sebagian ulama dikaruniakan oleh Allah ilmu yang luas, bahkan dalam berbagai bidang ilmu. Allah memberikan ia pemahaman, hafalan, dan pandai berdebat untuk memenangkan kebenaran. Di antara ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat: 728 H) yang memberikan manfaat kepada umat lewat karya buku-buku beliau hingga saat ini. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Jika ada orang yang mendebatku untuk membela kebatilannya lantas ia berdalil dengan ayat atau hadits, maka ayat atau hadits tersebut justru menjadi dalil untuk membantah pemahamannya, bukan mendukungnya.” Inilah suatu nikmat yang diperoleh oleh Ibnu Taimiyyah. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6:93)   Baca juga: Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Benarkah Ibnu Taimiyyah Mendukung Maulid Nabi?   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:547-548. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr. 6:93. – Ditulis saat perjalanan Panggang – Jogja, 25 Safar 1444 H, 22 September 2022 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscahaya ilmu karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah syaikhul islam ibnu taimiyah

20 Nasihat Berharga Bagimu yang akan Mengikuti Ujian

عشرون نصيحة للطلاب في الاختبارات الحمد لله والصلاة والسلام على رسول وعلى آله وصحبه وبعد فإنّ الطالب المسلم يتوكّل على الله تعالى في مواجهة اختبارات الدنيا ويستعين به آخذا بالأسباب الشرعية انطلاقا من قول النبي صلى الله عليه وسلم : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلا تَعْجَزْ . صحيح مسلم حديث رقم 2664. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Rasulullah beserta keluarga dan sahabatnya. Kemudian, bahwa seorang siswa muslim harus bertawakal kepada Allah ketika menghadapi ujian di dunia dan memohon pertolongan-Nya dengan tetap melakukan sebab-sebab kesuksesan yang disyariatkan, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, walaupun sama-sama memiliki kebaikan. Bersemangatlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan pada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim 2664) ومن تلك الأسباب : Di antara sebab tersebut: الالتجاء إلى الله بالدعاء بأي صيغة مشروعة كأن يقول ربّ اشرح لي صدري ويسّر لي أمري . 1. Memohon pertolongan Allah dengan doa yang disyariatkan bagaimanapun lafal doanya. Misalnya berdoa,  رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  “Ya Tuhanku, lapangkan dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Taha: 25 – 26) أن يستعدّ بالنوم المبكّر والذّهاب إلى الامتحان في الوقت المحدد . 2. Mempersiapkan diri dengan tidur lebih awal dan pergi ke tempat ujian dengan tepat waktu. إحضار جميع الأدوات المطلوبة والمسموح بها كالأقلام وأدوات الهندسة والحاسبة والساعة لأنّ حسن الاستعداد يُعين على الإجابة . 3. Membawa serta semua perlengkapan yang dibutuhkan dan dibolehkan, seperti beberapa alat tulis, perlengkapan dan alat hitung, dan jam. Karena bagusnya persiapan akan membantu dalam menjawab soal. 4. Ingat selalu doa sebelum keluar rumah. تذكّر دعاء الخروج من البيت :   بسم الله ، توكلت على الله ، ولا حول ولا قوة إلا بالله ، اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أُضل ، أو أَزل أو أُزل ، أو أًظلم أو أُظلم ، أو أجهل أو يُجهل علي   ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَليَّ Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâhi wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhi allâhumma innî a‘ûdzu bika an adlilla au udlalla au azilla au uzalla au adhlima au udhlama au ajhala au yujhala ‘alayya “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) dari Allah. Ya Allah, aku berlindung dari tersesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari berbuat zalim atau dizalimi, dari kebodohan atau dibodohi.” (HR. Abu Dawud) ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . Jangan lupa meminta doa orang tua karena doa mereka untuk Anda sangat mustajab. أن تسمي بالله قبل البدء لأنّ التسمية مشروعة في ابتداء كلّ عمل مباح وفيها بركة واستعانة بالله وهي من أسباب التوفيق . 5. Ucapkan Bismillah sebelum memulai ujian karena mengucapkannya disyariatkan untuk memulai semua perbuatan yang mubah dan padanya ada keberkahan dan permintaan tolong kepada Allah dan penyebab datangnya taufik. اتّق الله في زملائك فلا تُثر لديهم القلق ولا الفزع قبيل الاختبار فالقلق مرض معدٍ بل أدخل عليهم التفاؤل بالعبارات الطيبة المشروعة وقد تفاءل النبي صلى الله عليه وسلم باسم سهيل وقال : سهُل لكم من أمركم وكان يُعجبه إذا خرج لحاجته أن يسمع : يا راشد يا نجيح . 6. Takutlah kepada Allah terhadap teman-teman Anda. Jangan Anda buat mereka resah dan gelisah sebelum ujian, karena kegelisahan adalah penyakit yang menular. Justru Anda harus memotivasi mereka dengan ucapan yang baik dan disyariatkan sebagaimana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi Suhail dengan sabdanya: “Semoga Allah mudahkan urusanmu.” Beliau juga senang jika keluar untuk suatu keperluan dan mendengar, “Yā Rāsidu! Yā Najīhu!” (Wahai orang yang mencapai tujuannya dan berhasil urusannya).  فتفاءل لنفسك ولإخوانك بأنكم ستقدمون امتحانا جيدا . Motivasi diri Anda dan teman Anda bahwa kalian akan mengerjakan ujian dengan baik. ذكر الله يطرد القلق والتوتّر وإذا استغلقت عليك مسألة فادع الله أن يهوّنها عليك وكان شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله إذا استغلق عليه فهم شيء يقول : يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني . 6. Mengingat Allah akan mengusir kegelisahan dan ketegangan. Jika pikiran Anda buntu dengan suatu masalah, berdoalah kepada Allah agar dimudahkan. Dahulu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullāh jika mendapati kebuntuan dalam memahami sesuatu, dia berdoa,  يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني “Wahai yang mengajari Ibrahim ajarilah aku. Wahai yang membuat Sulaiman paham, pahamkan diriku.” اختر مكاناً جيداً للجلوس أثناء الإختبار ما أمكنك ، وحافظ على إستقامة ظهرك وأن تجلس على الكرسيّ جلسة صحيّة . 7. Pilih tempat yang baik untuk duduk selama ujian jika memungkinkan. Usahakan punggung Anda tegak lurus dan duduk dengan benar di atas kursi Anda. تصفح الإمتحان أولا ، والأبحاث توصي بتخصيص 10 بالمائة من وقت الامتحان لقراءة الأسئلة بدقة وعمق وتحديد الكلمات المهمة وتوزيع الوقت على الأسئلة . 8. Buka-buka lembar soal ujiannya dulu. Berbagai penelitian menyarankan agar 10% dari dari waktu ujian digunakan untuk menelaah semua soal dengan seksama, memperhatikan kata-kata yang penting dan membagi waktu untuk soal-soal yang ada. خطط لحل الأسئلة السهلة أولاً والصعبة لاحقا ، وأثناء قراءة الأسئلة اكتب ملاحظات وأفكارا لتستخدمها لاحقاً في الإجابة . 9. Petakan soal yang mudah terlebih dulu dan yang sulit belakangan. Tulis poin-poin dan bahasan-bahasan penting ketika membaca soal untuk nanti dimanfaatkan ketika menjawab soal. أجب على الأسئلة حسب الأهمية. 10. Jawab soal yang paling penting dahulu. ابتدئ بحلّ الاسئلة السهلة التي تعرفها . ثم اشرع في حلّ الأسئلة ذات العلامات الأعلى وأخّر الاسئلة التي لا يحضرك جوابها أو ترى أنّها ستأخذ وقتا للتوصّل إلى نتيجة فيها أو التي خُصّص لها درجات اقلّ . 11. Mulai dengan mengerjakan soal yang mudah yang Anda ketahui terlebih dahulu kemudian segera kerjakan soal yang bernilai tinggi dan akhirkan soal-soal yang belum Anda pahami atau yang menurut Anda butuh waktu lama untuk mendapatkannya jawaban akhirnya atau yang nilainya kecil. تأنّ في الإجابة فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم :   التأني من الله والعجلة من الشيطان   حديث حسن : صحيح الجامع 3011 12. Berhati-hatilah ketika menjawab karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  التأني من الله والعجلة من الشيطان “Kehati-hatian adalah dari Allah dan ketergesaan dari setan.” (HR. Tirmizi, hadis hasan dalam Ṣahīh al-Ja-miʿ: 3011) فكّر جيدا في أسئلة اختيار الجواب الصحيح في امتحانات الخيارات المتعددة ، وتعامل معها وفق التالي : إذا كنت متأكّدا من الاختيار الصحيح فإياك والوسوسة ، وإذا لم تكن متأكّدا فابدأ بحذف الاحتمالات الخاطئة والمستبعدة ثمّ اختر الجواب الصحيح بناء على غلبة الظنّ وإذا خمّنت جوابا صحيحا فلا تغيّره إلا إذا تأكّدت أنّه خاطئ – خصوصا إذا كنت ستفقد نقاطا عند الإجابة الخاطئة – ، وقد دلّت الأبحاث على أن الجواب الصحيح غالبا هو ما يقع في نفس الطالب أولا . 13. Pahami baik-baik pilihan jawaban Anda dalam soal pilihan ganda. Ikuti cara berikut ini: – Jika Anda yakin dengan pilihan yang benar, jangan sampai Anda dihinggapi waswas. – Jika tidak yakin, awali dengan menghapus kemungkinan jawaban keliru dan kecil kemungkinannya kemudian jawablah sesuai keyakinan Anda. – Jika sudah mendapat jawaban yang benar, jangan mengubahnya, kecuali jika yakin itu keliru. Apalagi jika Anda akan kehilangan poin jika salah menjawab. Karena penelitian telah menunjukkan bahwa jawaban yang benar biasanya adalah yang pertama kali terbersit dalam pikiran siswa. في الإمتحانات الكتابية ، اجمع ذهنك قبل أن تبدأ الإجابة ، واكتب الخطوط العريضة لإجابتك ببضع كلمات تشير إلى الأفكار التي تريد مناقشتها. ثمّ رقّم الأفكار حسب التسلسل الذي تريد عرضه. 14. Dalam mengerjakan soal esai (isian), fokuskan diri Anda sebelum mengerjakan soal. Tulis kerangka umum jawaban Anda dengan menulis beberapa kata-kata yang menggambarkan pokok bahasan yang ingin Anda bahas, kemudian berilah penomoran sesuai dengan urutan yang ingin Anda sampaikan. أكتب النقطة الرئيسة للإجابة في أول السطر لأنّ هذا ما يبحث عنه المصحح وقد لا يرى المطلوب إذا كان داخل العبارات والسطور وكان المصحح في عجلة . 15. Tulis ide pokok jawaban Anda di awal paragraf, karena ini yang akan dicari oleh pengoreksi, karena jika ada di tengah beberapa kalimat atau paragraf terkadang dia tidak bisa mendapatkan poin pembahasannya, apalagi jika dia terburu-buru. خصص 10 بالمائة من الوقت لمراجعة إجاباتك . وتأنّ في المراجعة وخصوصا في العمليات الرياضية وكتابة الأرقام ، وقاوم الرغبة في تسليم ورقة الامتحان بسرعة ولا يُزعجنّك تبكير بعض الخارجين فقد يكونون ممن استسلموا مبكّرا . 16. Alokasikan 10% waktu untuk mengecek kembali jawaban Anda. Berhati-hatilah saat mengecek ulang terutama dalam soal hitungan dan penulisan angka. Hindari keinginan untuk segera menyerahkan lembar jawaban dan jangan terpengaruh dengan sebagian peserta yang sudah keluar lebih dulu karena memang sudah mengumpulkan lebih awal. إذا اكتشفت بعد الاختبار أنّك أخطأت في بعض الإجابات فخذ درسا في أهمية المزيد من الاستعداد مستقبلا أو عدم الاستعجال في الإجابة وارض بقضاء الله ولا تقع فريسة للإحباط واليأس وتذكّر حديث النبي صلى الله عليه وسلم : وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ . صحيح مسلم وقد تقدّم أوله . 17. Jika Anda menyadari setelah ujian bahwa ada beberapa jawaban Anda yang salah, ambillah hikmah tentang pentingnya persiapan yang lebih matang di masa mendatang dan tidak terburu-buru selama mengerjakan soal. Ridalah dengan ketetapan Allah dan jangan sampai terjatuh dalam penyesalan dan putus asa yang mendalam. Ingatlah hadis Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam:  وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Jika suatu musibah menimpamu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku tadi melakukan ini dan itu’, tetapi katakanlah: ‘Qaddarallāhu wa mā syaʿa faʿala (Ini takdir Allah dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki),’ karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim, telah berlalu bagian awalnya) اعلم بأنّ الغشّ محرّم سواء في مادة اللغة الأجنبية أو غيرها وقد قال عليه الصلاة والسلام : من غشّ فليس منا ، وهو ظلم وطريقة محرّمة للحصول على ما ليس بحقّ لك من الدّرجات والشهادات وغيرها ، وأنّ الاتّفاق على الغشّ هو تعاون على الإثم والعدوان ، فاستغن عن الحرام يُغْنك الله من فضله وارفض كلّ وسيلة وعرْض محرّم يأتيك من غيرك ومن ترك شيئا لله عوّضه الله خيرا منه . 18. Ketahuilah bahwa mencontek adalah perbuatan haram baik dalam pelajaran bahasa asing atau yang lain. Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barang siapa mencurangi kami, dia bukan dari golongan kami.” (HR. Ibnu Hibban) Mencontek adalah perbuatan zalim dan cara terlarang untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak Anda, baik berupa nilai, sertifikat (ijazah) dan selainnya. Bekerja sama dalam mencontek juga termasuk bekerja sama dalam dosa dan keburukan. Cukupkan diri Anda dengan yang halal pasti Allah akan mencukupi Anda dengan karunia-Nya. Tolaklah semua cara dan tawaran haram yang datang kepada Anda dari orang lain, karena orang yang meninggalkan sesuatu  karena Allah akan diganti baginya sesuatu yang lebih baik darinya. وعليك بإنكار المنكر ومقاومته والإبلاغ عمّا تراه من ذلك أثناء الاختبار وقبله وبعده وليس هذا من النميمة المحرّمة بل من إنكار المنكر الواجب . فانصح من يقوم ببيع الأسئلة أو شرائها أو يقوم بنشرها عبر شبكة الإنترنت وغيرها والذين يقومون بإعداد أوراق الغشّ ، وقل لهم أن يتقوا الله ، وأخبرهم بحكم فعلهم وحكم مكسبهم وأنّ هذا الوقت الذي يقضونه في الإعداد المحرّم لو أنفقوه في المذاكرة الشّرعيّة وحلّ الاختبارات السابقة والتعاون على تفهيم بعضهم بعضا قبل الاختبار لكان خيرا لهم وأقوم من الأعمال والاتفاقات المحرمة . 19. Anda harus mengingkari kemungkaran, menghentikannya dan memberitahukan apa yang Anda lihat sebelum, ketika dan sesudah ujian pada pihak terkait dan ini tidak termasuk sebab adu domba yang terlarang tapi bentuk menjalankan kewajiban mencegah kemungkaran. Nasehatilah orang yang memperjual belikan jawaban atau menyebarkannya melalui internet atau media lainnya dan juga orang yang menyiapkan lembar contekan. Ingatkan mereka dengan ketakwaan kepada Allah dan beritahu mereka tentang hukum tindakan dan perbuatan mereka dan bahwa waktu yang mereka habiskan untuk menyiapkan perkara yang haram seandainya dipakai untuk belajar dan mempelajari soal-soal sebelumnya dan saling bertukar ilmu dengan teman-temannya sebelum ujian lebih baik dan lebih lurus bagi mereka daripada menyiapkan dan bekerja sama dalam perkara yang haram. تذكّر ما أعددت للآخرة وأسئلة الامتحان في القبر وسُبل النجاة يوم المعاد : فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز . 20. Ingatlah selalu apa yang telah disiapkan untuk Anda di Akhirat dan soal-soal ujian di alam kubur dan jalan-jalan keselamatan di hari Akhir.  فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ    “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185) نسأل الله أن يجعلنا من الفالحين الناجحين في الدنيا والفائزين الناجين في الآخرة إنه سميع مجيب . Kami berdoa kepada Allah semoga kita dijadikan orang-orang yang berhasil dan beruntung di dunia dan selamat dan sukses di akhirat, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. الشيخ محمد صالح المنجد [Syeikh Muhammad Salih al-Munajjid] Sumber: https://islamqa.info/ar/articles/58/عشرون-نصيحة-للطلاب-في-الاختبارات PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khutbah Shalat Gerhana, Arti Allahu, Achmad Chodjim Sesat, Imam Mahdi Vs Dajjal, Pertanyaan Tentang Kepemimpinan Dalam Islam, Niat Jamak Shalat Visited 172 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid

20 Nasihat Berharga Bagimu yang akan Mengikuti Ujian

عشرون نصيحة للطلاب في الاختبارات الحمد لله والصلاة والسلام على رسول وعلى آله وصحبه وبعد فإنّ الطالب المسلم يتوكّل على الله تعالى في مواجهة اختبارات الدنيا ويستعين به آخذا بالأسباب الشرعية انطلاقا من قول النبي صلى الله عليه وسلم : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلا تَعْجَزْ . صحيح مسلم حديث رقم 2664. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Rasulullah beserta keluarga dan sahabatnya. Kemudian, bahwa seorang siswa muslim harus bertawakal kepada Allah ketika menghadapi ujian di dunia dan memohon pertolongan-Nya dengan tetap melakukan sebab-sebab kesuksesan yang disyariatkan, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, walaupun sama-sama memiliki kebaikan. Bersemangatlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan pada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim 2664) ومن تلك الأسباب : Di antara sebab tersebut: الالتجاء إلى الله بالدعاء بأي صيغة مشروعة كأن يقول ربّ اشرح لي صدري ويسّر لي أمري . 1. Memohon pertolongan Allah dengan doa yang disyariatkan bagaimanapun lafal doanya. Misalnya berdoa,  رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  “Ya Tuhanku, lapangkan dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Taha: 25 – 26) أن يستعدّ بالنوم المبكّر والذّهاب إلى الامتحان في الوقت المحدد . 2. Mempersiapkan diri dengan tidur lebih awal dan pergi ke tempat ujian dengan tepat waktu. إحضار جميع الأدوات المطلوبة والمسموح بها كالأقلام وأدوات الهندسة والحاسبة والساعة لأنّ حسن الاستعداد يُعين على الإجابة . 3. Membawa serta semua perlengkapan yang dibutuhkan dan dibolehkan, seperti beberapa alat tulis, perlengkapan dan alat hitung, dan jam. Karena bagusnya persiapan akan membantu dalam menjawab soal. 4. Ingat selalu doa sebelum keluar rumah. تذكّر دعاء الخروج من البيت :   بسم الله ، توكلت على الله ، ولا حول ولا قوة إلا بالله ، اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أُضل ، أو أَزل أو أُزل ، أو أًظلم أو أُظلم ، أو أجهل أو يُجهل علي   ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَليَّ Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâhi wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhi allâhumma innî a‘ûdzu bika an adlilla au udlalla au azilla au uzalla au adhlima au udhlama au ajhala au yujhala ‘alayya “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) dari Allah. Ya Allah, aku berlindung dari tersesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari berbuat zalim atau dizalimi, dari kebodohan atau dibodohi.” (HR. Abu Dawud) ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . Jangan lupa meminta doa orang tua karena doa mereka untuk Anda sangat mustajab. أن تسمي بالله قبل البدء لأنّ التسمية مشروعة في ابتداء كلّ عمل مباح وفيها بركة واستعانة بالله وهي من أسباب التوفيق . 5. Ucapkan Bismillah sebelum memulai ujian karena mengucapkannya disyariatkan untuk memulai semua perbuatan yang mubah dan padanya ada keberkahan dan permintaan tolong kepada Allah dan penyebab datangnya taufik. اتّق الله في زملائك فلا تُثر لديهم القلق ولا الفزع قبيل الاختبار فالقلق مرض معدٍ بل أدخل عليهم التفاؤل بالعبارات الطيبة المشروعة وقد تفاءل النبي صلى الله عليه وسلم باسم سهيل وقال : سهُل لكم من أمركم وكان يُعجبه إذا خرج لحاجته أن يسمع : يا راشد يا نجيح . 6. Takutlah kepada Allah terhadap teman-teman Anda. Jangan Anda buat mereka resah dan gelisah sebelum ujian, karena kegelisahan adalah penyakit yang menular. Justru Anda harus memotivasi mereka dengan ucapan yang baik dan disyariatkan sebagaimana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi Suhail dengan sabdanya: “Semoga Allah mudahkan urusanmu.” Beliau juga senang jika keluar untuk suatu keperluan dan mendengar, “Yā Rāsidu! Yā Najīhu!” (Wahai orang yang mencapai tujuannya dan berhasil urusannya).  فتفاءل لنفسك ولإخوانك بأنكم ستقدمون امتحانا جيدا . Motivasi diri Anda dan teman Anda bahwa kalian akan mengerjakan ujian dengan baik. ذكر الله يطرد القلق والتوتّر وإذا استغلقت عليك مسألة فادع الله أن يهوّنها عليك وكان شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله إذا استغلق عليه فهم شيء يقول : يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني . 6. Mengingat Allah akan mengusir kegelisahan dan ketegangan. Jika pikiran Anda buntu dengan suatu masalah, berdoalah kepada Allah agar dimudahkan. Dahulu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullāh jika mendapati kebuntuan dalam memahami sesuatu, dia berdoa,  يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني “Wahai yang mengajari Ibrahim ajarilah aku. Wahai yang membuat Sulaiman paham, pahamkan diriku.” اختر مكاناً جيداً للجلوس أثناء الإختبار ما أمكنك ، وحافظ على إستقامة ظهرك وأن تجلس على الكرسيّ جلسة صحيّة . 7. Pilih tempat yang baik untuk duduk selama ujian jika memungkinkan. Usahakan punggung Anda tegak lurus dan duduk dengan benar di atas kursi Anda. تصفح الإمتحان أولا ، والأبحاث توصي بتخصيص 10 بالمائة من وقت الامتحان لقراءة الأسئلة بدقة وعمق وتحديد الكلمات المهمة وتوزيع الوقت على الأسئلة . 8. Buka-buka lembar soal ujiannya dulu. Berbagai penelitian menyarankan agar 10% dari dari waktu ujian digunakan untuk menelaah semua soal dengan seksama, memperhatikan kata-kata yang penting dan membagi waktu untuk soal-soal yang ada. خطط لحل الأسئلة السهلة أولاً والصعبة لاحقا ، وأثناء قراءة الأسئلة اكتب ملاحظات وأفكارا لتستخدمها لاحقاً في الإجابة . 9. Petakan soal yang mudah terlebih dulu dan yang sulit belakangan. Tulis poin-poin dan bahasan-bahasan penting ketika membaca soal untuk nanti dimanfaatkan ketika menjawab soal. أجب على الأسئلة حسب الأهمية. 10. Jawab soal yang paling penting dahulu. ابتدئ بحلّ الاسئلة السهلة التي تعرفها . ثم اشرع في حلّ الأسئلة ذات العلامات الأعلى وأخّر الاسئلة التي لا يحضرك جوابها أو ترى أنّها ستأخذ وقتا للتوصّل إلى نتيجة فيها أو التي خُصّص لها درجات اقلّ . 11. Mulai dengan mengerjakan soal yang mudah yang Anda ketahui terlebih dahulu kemudian segera kerjakan soal yang bernilai tinggi dan akhirkan soal-soal yang belum Anda pahami atau yang menurut Anda butuh waktu lama untuk mendapatkannya jawaban akhirnya atau yang nilainya kecil. تأنّ في الإجابة فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم :   التأني من الله والعجلة من الشيطان   حديث حسن : صحيح الجامع 3011 12. Berhati-hatilah ketika menjawab karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  التأني من الله والعجلة من الشيطان “Kehati-hatian adalah dari Allah dan ketergesaan dari setan.” (HR. Tirmizi, hadis hasan dalam Ṣahīh al-Ja-miʿ: 3011) فكّر جيدا في أسئلة اختيار الجواب الصحيح في امتحانات الخيارات المتعددة ، وتعامل معها وفق التالي : إذا كنت متأكّدا من الاختيار الصحيح فإياك والوسوسة ، وإذا لم تكن متأكّدا فابدأ بحذف الاحتمالات الخاطئة والمستبعدة ثمّ اختر الجواب الصحيح بناء على غلبة الظنّ وإذا خمّنت جوابا صحيحا فلا تغيّره إلا إذا تأكّدت أنّه خاطئ – خصوصا إذا كنت ستفقد نقاطا عند الإجابة الخاطئة – ، وقد دلّت الأبحاث على أن الجواب الصحيح غالبا هو ما يقع في نفس الطالب أولا . 13. Pahami baik-baik pilihan jawaban Anda dalam soal pilihan ganda. Ikuti cara berikut ini: – Jika Anda yakin dengan pilihan yang benar, jangan sampai Anda dihinggapi waswas. – Jika tidak yakin, awali dengan menghapus kemungkinan jawaban keliru dan kecil kemungkinannya kemudian jawablah sesuai keyakinan Anda. – Jika sudah mendapat jawaban yang benar, jangan mengubahnya, kecuali jika yakin itu keliru. Apalagi jika Anda akan kehilangan poin jika salah menjawab. Karena penelitian telah menunjukkan bahwa jawaban yang benar biasanya adalah yang pertama kali terbersit dalam pikiran siswa. في الإمتحانات الكتابية ، اجمع ذهنك قبل أن تبدأ الإجابة ، واكتب الخطوط العريضة لإجابتك ببضع كلمات تشير إلى الأفكار التي تريد مناقشتها. ثمّ رقّم الأفكار حسب التسلسل الذي تريد عرضه. 14. Dalam mengerjakan soal esai (isian), fokuskan diri Anda sebelum mengerjakan soal. Tulis kerangka umum jawaban Anda dengan menulis beberapa kata-kata yang menggambarkan pokok bahasan yang ingin Anda bahas, kemudian berilah penomoran sesuai dengan urutan yang ingin Anda sampaikan. أكتب النقطة الرئيسة للإجابة في أول السطر لأنّ هذا ما يبحث عنه المصحح وقد لا يرى المطلوب إذا كان داخل العبارات والسطور وكان المصحح في عجلة . 15. Tulis ide pokok jawaban Anda di awal paragraf, karena ini yang akan dicari oleh pengoreksi, karena jika ada di tengah beberapa kalimat atau paragraf terkadang dia tidak bisa mendapatkan poin pembahasannya, apalagi jika dia terburu-buru. خصص 10 بالمائة من الوقت لمراجعة إجاباتك . وتأنّ في المراجعة وخصوصا في العمليات الرياضية وكتابة الأرقام ، وقاوم الرغبة في تسليم ورقة الامتحان بسرعة ولا يُزعجنّك تبكير بعض الخارجين فقد يكونون ممن استسلموا مبكّرا . 16. Alokasikan 10% waktu untuk mengecek kembali jawaban Anda. Berhati-hatilah saat mengecek ulang terutama dalam soal hitungan dan penulisan angka. Hindari keinginan untuk segera menyerahkan lembar jawaban dan jangan terpengaruh dengan sebagian peserta yang sudah keluar lebih dulu karena memang sudah mengumpulkan lebih awal. إذا اكتشفت بعد الاختبار أنّك أخطأت في بعض الإجابات فخذ درسا في أهمية المزيد من الاستعداد مستقبلا أو عدم الاستعجال في الإجابة وارض بقضاء الله ولا تقع فريسة للإحباط واليأس وتذكّر حديث النبي صلى الله عليه وسلم : وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ . صحيح مسلم وقد تقدّم أوله . 17. Jika Anda menyadari setelah ujian bahwa ada beberapa jawaban Anda yang salah, ambillah hikmah tentang pentingnya persiapan yang lebih matang di masa mendatang dan tidak terburu-buru selama mengerjakan soal. Ridalah dengan ketetapan Allah dan jangan sampai terjatuh dalam penyesalan dan putus asa yang mendalam. Ingatlah hadis Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam:  وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Jika suatu musibah menimpamu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku tadi melakukan ini dan itu’, tetapi katakanlah: ‘Qaddarallāhu wa mā syaʿa faʿala (Ini takdir Allah dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki),’ karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim, telah berlalu bagian awalnya) اعلم بأنّ الغشّ محرّم سواء في مادة اللغة الأجنبية أو غيرها وقد قال عليه الصلاة والسلام : من غشّ فليس منا ، وهو ظلم وطريقة محرّمة للحصول على ما ليس بحقّ لك من الدّرجات والشهادات وغيرها ، وأنّ الاتّفاق على الغشّ هو تعاون على الإثم والعدوان ، فاستغن عن الحرام يُغْنك الله من فضله وارفض كلّ وسيلة وعرْض محرّم يأتيك من غيرك ومن ترك شيئا لله عوّضه الله خيرا منه . 18. Ketahuilah bahwa mencontek adalah perbuatan haram baik dalam pelajaran bahasa asing atau yang lain. Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barang siapa mencurangi kami, dia bukan dari golongan kami.” (HR. Ibnu Hibban) Mencontek adalah perbuatan zalim dan cara terlarang untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak Anda, baik berupa nilai, sertifikat (ijazah) dan selainnya. Bekerja sama dalam mencontek juga termasuk bekerja sama dalam dosa dan keburukan. Cukupkan diri Anda dengan yang halal pasti Allah akan mencukupi Anda dengan karunia-Nya. Tolaklah semua cara dan tawaran haram yang datang kepada Anda dari orang lain, karena orang yang meninggalkan sesuatu  karena Allah akan diganti baginya sesuatu yang lebih baik darinya. وعليك بإنكار المنكر ومقاومته والإبلاغ عمّا تراه من ذلك أثناء الاختبار وقبله وبعده وليس هذا من النميمة المحرّمة بل من إنكار المنكر الواجب . فانصح من يقوم ببيع الأسئلة أو شرائها أو يقوم بنشرها عبر شبكة الإنترنت وغيرها والذين يقومون بإعداد أوراق الغشّ ، وقل لهم أن يتقوا الله ، وأخبرهم بحكم فعلهم وحكم مكسبهم وأنّ هذا الوقت الذي يقضونه في الإعداد المحرّم لو أنفقوه في المذاكرة الشّرعيّة وحلّ الاختبارات السابقة والتعاون على تفهيم بعضهم بعضا قبل الاختبار لكان خيرا لهم وأقوم من الأعمال والاتفاقات المحرمة . 19. Anda harus mengingkari kemungkaran, menghentikannya dan memberitahukan apa yang Anda lihat sebelum, ketika dan sesudah ujian pada pihak terkait dan ini tidak termasuk sebab adu domba yang terlarang tapi bentuk menjalankan kewajiban mencegah kemungkaran. Nasehatilah orang yang memperjual belikan jawaban atau menyebarkannya melalui internet atau media lainnya dan juga orang yang menyiapkan lembar contekan. Ingatkan mereka dengan ketakwaan kepada Allah dan beritahu mereka tentang hukum tindakan dan perbuatan mereka dan bahwa waktu yang mereka habiskan untuk menyiapkan perkara yang haram seandainya dipakai untuk belajar dan mempelajari soal-soal sebelumnya dan saling bertukar ilmu dengan teman-temannya sebelum ujian lebih baik dan lebih lurus bagi mereka daripada menyiapkan dan bekerja sama dalam perkara yang haram. تذكّر ما أعددت للآخرة وأسئلة الامتحان في القبر وسُبل النجاة يوم المعاد : فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز . 20. Ingatlah selalu apa yang telah disiapkan untuk Anda di Akhirat dan soal-soal ujian di alam kubur dan jalan-jalan keselamatan di hari Akhir.  فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ    “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185) نسأل الله أن يجعلنا من الفالحين الناجحين في الدنيا والفائزين الناجين في الآخرة إنه سميع مجيب . Kami berdoa kepada Allah semoga kita dijadikan orang-orang yang berhasil dan beruntung di dunia dan selamat dan sukses di akhirat, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. الشيخ محمد صالح المنجد [Syeikh Muhammad Salih al-Munajjid] Sumber: https://islamqa.info/ar/articles/58/عشرون-نصيحة-للطلاب-في-الاختبارات PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khutbah Shalat Gerhana, Arti Allahu, Achmad Chodjim Sesat, Imam Mahdi Vs Dajjal, Pertanyaan Tentang Kepemimpinan Dalam Islam, Niat Jamak Shalat Visited 172 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid
عشرون نصيحة للطلاب في الاختبارات الحمد لله والصلاة والسلام على رسول وعلى آله وصحبه وبعد فإنّ الطالب المسلم يتوكّل على الله تعالى في مواجهة اختبارات الدنيا ويستعين به آخذا بالأسباب الشرعية انطلاقا من قول النبي صلى الله عليه وسلم : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلا تَعْجَزْ . صحيح مسلم حديث رقم 2664. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Rasulullah beserta keluarga dan sahabatnya. Kemudian, bahwa seorang siswa muslim harus bertawakal kepada Allah ketika menghadapi ujian di dunia dan memohon pertolongan-Nya dengan tetap melakukan sebab-sebab kesuksesan yang disyariatkan, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, walaupun sama-sama memiliki kebaikan. Bersemangatlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan pada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim 2664) ومن تلك الأسباب : Di antara sebab tersebut: الالتجاء إلى الله بالدعاء بأي صيغة مشروعة كأن يقول ربّ اشرح لي صدري ويسّر لي أمري . 1. Memohon pertolongan Allah dengan doa yang disyariatkan bagaimanapun lafal doanya. Misalnya berdoa,  رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  “Ya Tuhanku, lapangkan dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Taha: 25 – 26) أن يستعدّ بالنوم المبكّر والذّهاب إلى الامتحان في الوقت المحدد . 2. Mempersiapkan diri dengan tidur lebih awal dan pergi ke tempat ujian dengan tepat waktu. إحضار جميع الأدوات المطلوبة والمسموح بها كالأقلام وأدوات الهندسة والحاسبة والساعة لأنّ حسن الاستعداد يُعين على الإجابة . 3. Membawa serta semua perlengkapan yang dibutuhkan dan dibolehkan, seperti beberapa alat tulis, perlengkapan dan alat hitung, dan jam. Karena bagusnya persiapan akan membantu dalam menjawab soal. 4. Ingat selalu doa sebelum keluar rumah. تذكّر دعاء الخروج من البيت :   بسم الله ، توكلت على الله ، ولا حول ولا قوة إلا بالله ، اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أُضل ، أو أَزل أو أُزل ، أو أًظلم أو أُظلم ، أو أجهل أو يُجهل علي   ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَليَّ Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâhi wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhi allâhumma innî a‘ûdzu bika an adlilla au udlalla au azilla au uzalla au adhlima au udhlama au ajhala au yujhala ‘alayya “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) dari Allah. Ya Allah, aku berlindung dari tersesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari berbuat zalim atau dizalimi, dari kebodohan atau dibodohi.” (HR. Abu Dawud) ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . Jangan lupa meminta doa orang tua karena doa mereka untuk Anda sangat mustajab. أن تسمي بالله قبل البدء لأنّ التسمية مشروعة في ابتداء كلّ عمل مباح وفيها بركة واستعانة بالله وهي من أسباب التوفيق . 5. Ucapkan Bismillah sebelum memulai ujian karena mengucapkannya disyariatkan untuk memulai semua perbuatan yang mubah dan padanya ada keberkahan dan permintaan tolong kepada Allah dan penyebab datangnya taufik. اتّق الله في زملائك فلا تُثر لديهم القلق ولا الفزع قبيل الاختبار فالقلق مرض معدٍ بل أدخل عليهم التفاؤل بالعبارات الطيبة المشروعة وقد تفاءل النبي صلى الله عليه وسلم باسم سهيل وقال : سهُل لكم من أمركم وكان يُعجبه إذا خرج لحاجته أن يسمع : يا راشد يا نجيح . 6. Takutlah kepada Allah terhadap teman-teman Anda. Jangan Anda buat mereka resah dan gelisah sebelum ujian, karena kegelisahan adalah penyakit yang menular. Justru Anda harus memotivasi mereka dengan ucapan yang baik dan disyariatkan sebagaimana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi Suhail dengan sabdanya: “Semoga Allah mudahkan urusanmu.” Beliau juga senang jika keluar untuk suatu keperluan dan mendengar, “Yā Rāsidu! Yā Najīhu!” (Wahai orang yang mencapai tujuannya dan berhasil urusannya).  فتفاءل لنفسك ولإخوانك بأنكم ستقدمون امتحانا جيدا . Motivasi diri Anda dan teman Anda bahwa kalian akan mengerjakan ujian dengan baik. ذكر الله يطرد القلق والتوتّر وإذا استغلقت عليك مسألة فادع الله أن يهوّنها عليك وكان شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله إذا استغلق عليه فهم شيء يقول : يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني . 6. Mengingat Allah akan mengusir kegelisahan dan ketegangan. Jika pikiran Anda buntu dengan suatu masalah, berdoalah kepada Allah agar dimudahkan. Dahulu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullāh jika mendapati kebuntuan dalam memahami sesuatu, dia berdoa,  يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني “Wahai yang mengajari Ibrahim ajarilah aku. Wahai yang membuat Sulaiman paham, pahamkan diriku.” اختر مكاناً جيداً للجلوس أثناء الإختبار ما أمكنك ، وحافظ على إستقامة ظهرك وأن تجلس على الكرسيّ جلسة صحيّة . 7. Pilih tempat yang baik untuk duduk selama ujian jika memungkinkan. Usahakan punggung Anda tegak lurus dan duduk dengan benar di atas kursi Anda. تصفح الإمتحان أولا ، والأبحاث توصي بتخصيص 10 بالمائة من وقت الامتحان لقراءة الأسئلة بدقة وعمق وتحديد الكلمات المهمة وتوزيع الوقت على الأسئلة . 8. Buka-buka lembar soal ujiannya dulu. Berbagai penelitian menyarankan agar 10% dari dari waktu ujian digunakan untuk menelaah semua soal dengan seksama, memperhatikan kata-kata yang penting dan membagi waktu untuk soal-soal yang ada. خطط لحل الأسئلة السهلة أولاً والصعبة لاحقا ، وأثناء قراءة الأسئلة اكتب ملاحظات وأفكارا لتستخدمها لاحقاً في الإجابة . 9. Petakan soal yang mudah terlebih dulu dan yang sulit belakangan. Tulis poin-poin dan bahasan-bahasan penting ketika membaca soal untuk nanti dimanfaatkan ketika menjawab soal. أجب على الأسئلة حسب الأهمية. 10. Jawab soal yang paling penting dahulu. ابتدئ بحلّ الاسئلة السهلة التي تعرفها . ثم اشرع في حلّ الأسئلة ذات العلامات الأعلى وأخّر الاسئلة التي لا يحضرك جوابها أو ترى أنّها ستأخذ وقتا للتوصّل إلى نتيجة فيها أو التي خُصّص لها درجات اقلّ . 11. Mulai dengan mengerjakan soal yang mudah yang Anda ketahui terlebih dahulu kemudian segera kerjakan soal yang bernilai tinggi dan akhirkan soal-soal yang belum Anda pahami atau yang menurut Anda butuh waktu lama untuk mendapatkannya jawaban akhirnya atau yang nilainya kecil. تأنّ في الإجابة فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم :   التأني من الله والعجلة من الشيطان   حديث حسن : صحيح الجامع 3011 12. Berhati-hatilah ketika menjawab karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  التأني من الله والعجلة من الشيطان “Kehati-hatian adalah dari Allah dan ketergesaan dari setan.” (HR. Tirmizi, hadis hasan dalam Ṣahīh al-Ja-miʿ: 3011) فكّر جيدا في أسئلة اختيار الجواب الصحيح في امتحانات الخيارات المتعددة ، وتعامل معها وفق التالي : إذا كنت متأكّدا من الاختيار الصحيح فإياك والوسوسة ، وإذا لم تكن متأكّدا فابدأ بحذف الاحتمالات الخاطئة والمستبعدة ثمّ اختر الجواب الصحيح بناء على غلبة الظنّ وإذا خمّنت جوابا صحيحا فلا تغيّره إلا إذا تأكّدت أنّه خاطئ – خصوصا إذا كنت ستفقد نقاطا عند الإجابة الخاطئة – ، وقد دلّت الأبحاث على أن الجواب الصحيح غالبا هو ما يقع في نفس الطالب أولا . 13. Pahami baik-baik pilihan jawaban Anda dalam soal pilihan ganda. Ikuti cara berikut ini: – Jika Anda yakin dengan pilihan yang benar, jangan sampai Anda dihinggapi waswas. – Jika tidak yakin, awali dengan menghapus kemungkinan jawaban keliru dan kecil kemungkinannya kemudian jawablah sesuai keyakinan Anda. – Jika sudah mendapat jawaban yang benar, jangan mengubahnya, kecuali jika yakin itu keliru. Apalagi jika Anda akan kehilangan poin jika salah menjawab. Karena penelitian telah menunjukkan bahwa jawaban yang benar biasanya adalah yang pertama kali terbersit dalam pikiran siswa. في الإمتحانات الكتابية ، اجمع ذهنك قبل أن تبدأ الإجابة ، واكتب الخطوط العريضة لإجابتك ببضع كلمات تشير إلى الأفكار التي تريد مناقشتها. ثمّ رقّم الأفكار حسب التسلسل الذي تريد عرضه. 14. Dalam mengerjakan soal esai (isian), fokuskan diri Anda sebelum mengerjakan soal. Tulis kerangka umum jawaban Anda dengan menulis beberapa kata-kata yang menggambarkan pokok bahasan yang ingin Anda bahas, kemudian berilah penomoran sesuai dengan urutan yang ingin Anda sampaikan. أكتب النقطة الرئيسة للإجابة في أول السطر لأنّ هذا ما يبحث عنه المصحح وقد لا يرى المطلوب إذا كان داخل العبارات والسطور وكان المصحح في عجلة . 15. Tulis ide pokok jawaban Anda di awal paragraf, karena ini yang akan dicari oleh pengoreksi, karena jika ada di tengah beberapa kalimat atau paragraf terkadang dia tidak bisa mendapatkan poin pembahasannya, apalagi jika dia terburu-buru. خصص 10 بالمائة من الوقت لمراجعة إجاباتك . وتأنّ في المراجعة وخصوصا في العمليات الرياضية وكتابة الأرقام ، وقاوم الرغبة في تسليم ورقة الامتحان بسرعة ولا يُزعجنّك تبكير بعض الخارجين فقد يكونون ممن استسلموا مبكّرا . 16. Alokasikan 10% waktu untuk mengecek kembali jawaban Anda. Berhati-hatilah saat mengecek ulang terutama dalam soal hitungan dan penulisan angka. Hindari keinginan untuk segera menyerahkan lembar jawaban dan jangan terpengaruh dengan sebagian peserta yang sudah keluar lebih dulu karena memang sudah mengumpulkan lebih awal. إذا اكتشفت بعد الاختبار أنّك أخطأت في بعض الإجابات فخذ درسا في أهمية المزيد من الاستعداد مستقبلا أو عدم الاستعجال في الإجابة وارض بقضاء الله ولا تقع فريسة للإحباط واليأس وتذكّر حديث النبي صلى الله عليه وسلم : وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ . صحيح مسلم وقد تقدّم أوله . 17. Jika Anda menyadari setelah ujian bahwa ada beberapa jawaban Anda yang salah, ambillah hikmah tentang pentingnya persiapan yang lebih matang di masa mendatang dan tidak terburu-buru selama mengerjakan soal. Ridalah dengan ketetapan Allah dan jangan sampai terjatuh dalam penyesalan dan putus asa yang mendalam. Ingatlah hadis Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam:  وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Jika suatu musibah menimpamu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku tadi melakukan ini dan itu’, tetapi katakanlah: ‘Qaddarallāhu wa mā syaʿa faʿala (Ini takdir Allah dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki),’ karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim, telah berlalu bagian awalnya) اعلم بأنّ الغشّ محرّم سواء في مادة اللغة الأجنبية أو غيرها وقد قال عليه الصلاة والسلام : من غشّ فليس منا ، وهو ظلم وطريقة محرّمة للحصول على ما ليس بحقّ لك من الدّرجات والشهادات وغيرها ، وأنّ الاتّفاق على الغشّ هو تعاون على الإثم والعدوان ، فاستغن عن الحرام يُغْنك الله من فضله وارفض كلّ وسيلة وعرْض محرّم يأتيك من غيرك ومن ترك شيئا لله عوّضه الله خيرا منه . 18. Ketahuilah bahwa mencontek adalah perbuatan haram baik dalam pelajaran bahasa asing atau yang lain. Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barang siapa mencurangi kami, dia bukan dari golongan kami.” (HR. Ibnu Hibban) Mencontek adalah perbuatan zalim dan cara terlarang untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak Anda, baik berupa nilai, sertifikat (ijazah) dan selainnya. Bekerja sama dalam mencontek juga termasuk bekerja sama dalam dosa dan keburukan. Cukupkan diri Anda dengan yang halal pasti Allah akan mencukupi Anda dengan karunia-Nya. Tolaklah semua cara dan tawaran haram yang datang kepada Anda dari orang lain, karena orang yang meninggalkan sesuatu  karena Allah akan diganti baginya sesuatu yang lebih baik darinya. وعليك بإنكار المنكر ومقاومته والإبلاغ عمّا تراه من ذلك أثناء الاختبار وقبله وبعده وليس هذا من النميمة المحرّمة بل من إنكار المنكر الواجب . فانصح من يقوم ببيع الأسئلة أو شرائها أو يقوم بنشرها عبر شبكة الإنترنت وغيرها والذين يقومون بإعداد أوراق الغشّ ، وقل لهم أن يتقوا الله ، وأخبرهم بحكم فعلهم وحكم مكسبهم وأنّ هذا الوقت الذي يقضونه في الإعداد المحرّم لو أنفقوه في المذاكرة الشّرعيّة وحلّ الاختبارات السابقة والتعاون على تفهيم بعضهم بعضا قبل الاختبار لكان خيرا لهم وأقوم من الأعمال والاتفاقات المحرمة . 19. Anda harus mengingkari kemungkaran, menghentikannya dan memberitahukan apa yang Anda lihat sebelum, ketika dan sesudah ujian pada pihak terkait dan ini tidak termasuk sebab adu domba yang terlarang tapi bentuk menjalankan kewajiban mencegah kemungkaran. Nasehatilah orang yang memperjual belikan jawaban atau menyebarkannya melalui internet atau media lainnya dan juga orang yang menyiapkan lembar contekan. Ingatkan mereka dengan ketakwaan kepada Allah dan beritahu mereka tentang hukum tindakan dan perbuatan mereka dan bahwa waktu yang mereka habiskan untuk menyiapkan perkara yang haram seandainya dipakai untuk belajar dan mempelajari soal-soal sebelumnya dan saling bertukar ilmu dengan teman-temannya sebelum ujian lebih baik dan lebih lurus bagi mereka daripada menyiapkan dan bekerja sama dalam perkara yang haram. تذكّر ما أعددت للآخرة وأسئلة الامتحان في القبر وسُبل النجاة يوم المعاد : فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز . 20. Ingatlah selalu apa yang telah disiapkan untuk Anda di Akhirat dan soal-soal ujian di alam kubur dan jalan-jalan keselamatan di hari Akhir.  فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ    “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185) نسأل الله أن يجعلنا من الفالحين الناجحين في الدنيا والفائزين الناجين في الآخرة إنه سميع مجيب . Kami berdoa kepada Allah semoga kita dijadikan orang-orang yang berhasil dan beruntung di dunia dan selamat dan sukses di akhirat, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. الشيخ محمد صالح المنجد [Syeikh Muhammad Salih al-Munajjid] Sumber: https://islamqa.info/ar/articles/58/عشرون-نصيحة-للطلاب-في-الاختبارات PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khutbah Shalat Gerhana, Arti Allahu, Achmad Chodjim Sesat, Imam Mahdi Vs Dajjal, Pertanyaan Tentang Kepemimpinan Dalam Islam, Niat Jamak Shalat Visited 172 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid


عشرون نصيحة للطلاب في الاختبارات الحمد لله والصلاة والسلام على رسول وعلى آله وصحبه وبعد فإنّ الطالب المسلم يتوكّل على الله تعالى في مواجهة اختبارات الدنيا ويستعين به آخذا بالأسباب الشرعية انطلاقا من قول النبي صلى الله عليه وسلم : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلا تَعْجَزْ . صحيح مسلم حديث رقم 2664. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Rasulullah beserta keluarga dan sahabatnya. Kemudian, bahwa seorang siswa muslim harus bertawakal kepada Allah ketika menghadapi ujian di dunia dan memohon pertolongan-Nya dengan tetap melakukan sebab-sebab kesuksesan yang disyariatkan, sebagaimana sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, walaupun sama-sama memiliki kebaikan. Bersemangatlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan pada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim 2664) ومن تلك الأسباب : Di antara sebab tersebut: الالتجاء إلى الله بالدعاء بأي صيغة مشروعة كأن يقول ربّ اشرح لي صدري ويسّر لي أمري . 1. Memohon pertolongan Allah dengan doa yang disyariatkan bagaimanapun lafal doanya. Misalnya berdoa,  رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  “Ya Tuhanku, lapangkan dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Taha: 25 – 26) أن يستعدّ بالنوم المبكّر والذّهاب إلى الامتحان في الوقت المحدد . 2. Mempersiapkan diri dengan tidur lebih awal dan pergi ke tempat ujian dengan tepat waktu. إحضار جميع الأدوات المطلوبة والمسموح بها كالأقلام وأدوات الهندسة والحاسبة والساعة لأنّ حسن الاستعداد يُعين على الإجابة . 3. Membawa serta semua perlengkapan yang dibutuhkan dan dibolehkan, seperti beberapa alat tulis, perlengkapan dan alat hitung, dan jam. Karena bagusnya persiapan akan membantu dalam menjawab soal. 4. Ingat selalu doa sebelum keluar rumah. تذكّر دعاء الخروج من البيت :   بسم الله ، توكلت على الله ، ولا حول ولا قوة إلا بالله ، اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أُضل ، أو أَزل أو أُزل ، أو أًظلم أو أُظلم ، أو أجهل أو يُجهل علي   ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَليَّ Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâhi wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhi allâhumma innî a‘ûdzu bika an adlilla au udlalla au azilla au uzalla au adhlima au udhlama au ajhala au yujhala ‘alayya “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) dari Allah. Ya Allah, aku berlindung dari tersesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari berbuat zalim atau dizalimi, dari kebodohan atau dibodohi.” (HR. Abu Dawud) ولا تنس التماس رضا والديك فدعوتهما لك مستجابة . Jangan lupa meminta doa orang tua karena doa mereka untuk Anda sangat mustajab. أن تسمي بالله قبل البدء لأنّ التسمية مشروعة في ابتداء كلّ عمل مباح وفيها بركة واستعانة بالله وهي من أسباب التوفيق . 5. Ucapkan Bismillah sebelum memulai ujian karena mengucapkannya disyariatkan untuk memulai semua perbuatan yang mubah dan padanya ada keberkahan dan permintaan tolong kepada Allah dan penyebab datangnya taufik. اتّق الله في زملائك فلا تُثر لديهم القلق ولا الفزع قبيل الاختبار فالقلق مرض معدٍ بل أدخل عليهم التفاؤل بالعبارات الطيبة المشروعة وقد تفاءل النبي صلى الله عليه وسلم باسم سهيل وقال : سهُل لكم من أمركم وكان يُعجبه إذا خرج لحاجته أن يسمع : يا راشد يا نجيح . 6. Takutlah kepada Allah terhadap teman-teman Anda. Jangan Anda buat mereka resah dan gelisah sebelum ujian, karena kegelisahan adalah penyakit yang menular. Justru Anda harus memotivasi mereka dengan ucapan yang baik dan disyariatkan sebagaimana Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi Suhail dengan sabdanya: “Semoga Allah mudahkan urusanmu.” Beliau juga senang jika keluar untuk suatu keperluan dan mendengar, “Yā Rāsidu! Yā Najīhu!” (Wahai orang yang mencapai tujuannya dan berhasil urusannya).  فتفاءل لنفسك ولإخوانك بأنكم ستقدمون امتحانا جيدا . Motivasi diri Anda dan teman Anda bahwa kalian akan mengerjakan ujian dengan baik. ذكر الله يطرد القلق والتوتّر وإذا استغلقت عليك مسألة فادع الله أن يهوّنها عليك وكان شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله إذا استغلق عليه فهم شيء يقول : يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني . 6. Mengingat Allah akan mengusir kegelisahan dan ketegangan. Jika pikiran Anda buntu dengan suatu masalah, berdoalah kepada Allah agar dimudahkan. Dahulu Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullāh jika mendapati kebuntuan dalam memahami sesuatu, dia berdoa,  يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني “Wahai yang mengajari Ibrahim ajarilah aku. Wahai yang membuat Sulaiman paham, pahamkan diriku.” اختر مكاناً جيداً للجلوس أثناء الإختبار ما أمكنك ، وحافظ على إستقامة ظهرك وأن تجلس على الكرسيّ جلسة صحيّة . 7. Pilih tempat yang baik untuk duduk selama ujian jika memungkinkan. Usahakan punggung Anda tegak lurus dan duduk dengan benar di atas kursi Anda. تصفح الإمتحان أولا ، والأبحاث توصي بتخصيص 10 بالمائة من وقت الامتحان لقراءة الأسئلة بدقة وعمق وتحديد الكلمات المهمة وتوزيع الوقت على الأسئلة . 8. Buka-buka lembar soal ujiannya dulu. Berbagai penelitian menyarankan agar 10% dari dari waktu ujian digunakan untuk menelaah semua soal dengan seksama, memperhatikan kata-kata yang penting dan membagi waktu untuk soal-soal yang ada. خطط لحل الأسئلة السهلة أولاً والصعبة لاحقا ، وأثناء قراءة الأسئلة اكتب ملاحظات وأفكارا لتستخدمها لاحقاً في الإجابة . 9. Petakan soal yang mudah terlebih dulu dan yang sulit belakangan. Tulis poin-poin dan bahasan-bahasan penting ketika membaca soal untuk nanti dimanfaatkan ketika menjawab soal. أجب على الأسئلة حسب الأهمية. 10. Jawab soal yang paling penting dahulu. ابتدئ بحلّ الاسئلة السهلة التي تعرفها . ثم اشرع في حلّ الأسئلة ذات العلامات الأعلى وأخّر الاسئلة التي لا يحضرك جوابها أو ترى أنّها ستأخذ وقتا للتوصّل إلى نتيجة فيها أو التي خُصّص لها درجات اقلّ . 11. Mulai dengan mengerjakan soal yang mudah yang Anda ketahui terlebih dahulu kemudian segera kerjakan soal yang bernilai tinggi dan akhirkan soal-soal yang belum Anda pahami atau yang menurut Anda butuh waktu lama untuk mendapatkannya jawaban akhirnya atau yang nilainya kecil. تأنّ في الإجابة فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم :   التأني من الله والعجلة من الشيطان   حديث حسن : صحيح الجامع 3011 12. Berhati-hatilah ketika menjawab karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  التأني من الله والعجلة من الشيطان “Kehati-hatian adalah dari Allah dan ketergesaan dari setan.” (HR. Tirmizi, hadis hasan dalam Ṣahīh al-Ja-miʿ: 3011) فكّر جيدا في أسئلة اختيار الجواب الصحيح في امتحانات الخيارات المتعددة ، وتعامل معها وفق التالي : إذا كنت متأكّدا من الاختيار الصحيح فإياك والوسوسة ، وإذا لم تكن متأكّدا فابدأ بحذف الاحتمالات الخاطئة والمستبعدة ثمّ اختر الجواب الصحيح بناء على غلبة الظنّ وإذا خمّنت جوابا صحيحا فلا تغيّره إلا إذا تأكّدت أنّه خاطئ – خصوصا إذا كنت ستفقد نقاطا عند الإجابة الخاطئة – ، وقد دلّت الأبحاث على أن الجواب الصحيح غالبا هو ما يقع في نفس الطالب أولا . 13. Pahami baik-baik pilihan jawaban Anda dalam soal pilihan ganda. Ikuti cara berikut ini: – Jika Anda yakin dengan pilihan yang benar, jangan sampai Anda dihinggapi waswas. – Jika tidak yakin, awali dengan menghapus kemungkinan jawaban keliru dan kecil kemungkinannya kemudian jawablah sesuai keyakinan Anda. – Jika sudah mendapat jawaban yang benar, jangan mengubahnya, kecuali jika yakin itu keliru. Apalagi jika Anda akan kehilangan poin jika salah menjawab. Karena penelitian telah menunjukkan bahwa jawaban yang benar biasanya adalah yang pertama kali terbersit dalam pikiran siswa. في الإمتحانات الكتابية ، اجمع ذهنك قبل أن تبدأ الإجابة ، واكتب الخطوط العريضة لإجابتك ببضع كلمات تشير إلى الأفكار التي تريد مناقشتها. ثمّ رقّم الأفكار حسب التسلسل الذي تريد عرضه. 14. Dalam mengerjakan soal esai (isian), fokuskan diri Anda sebelum mengerjakan soal. Tulis kerangka umum jawaban Anda dengan menulis beberapa kata-kata yang menggambarkan pokok bahasan yang ingin Anda bahas, kemudian berilah penomoran sesuai dengan urutan yang ingin Anda sampaikan. أكتب النقطة الرئيسة للإجابة في أول السطر لأنّ هذا ما يبحث عنه المصحح وقد لا يرى المطلوب إذا كان داخل العبارات والسطور وكان المصحح في عجلة . 15. Tulis ide pokok jawaban Anda di awal paragraf, karena ini yang akan dicari oleh pengoreksi, karena jika ada di tengah beberapa kalimat atau paragraf terkadang dia tidak bisa mendapatkan poin pembahasannya, apalagi jika dia terburu-buru. خصص 10 بالمائة من الوقت لمراجعة إجاباتك . وتأنّ في المراجعة وخصوصا في العمليات الرياضية وكتابة الأرقام ، وقاوم الرغبة في تسليم ورقة الامتحان بسرعة ولا يُزعجنّك تبكير بعض الخارجين فقد يكونون ممن استسلموا مبكّرا . 16. Alokasikan 10% waktu untuk mengecek kembali jawaban Anda. Berhati-hatilah saat mengecek ulang terutama dalam soal hitungan dan penulisan angka. Hindari keinginan untuk segera menyerahkan lembar jawaban dan jangan terpengaruh dengan sebagian peserta yang sudah keluar lebih dulu karena memang sudah mengumpulkan lebih awal. إذا اكتشفت بعد الاختبار أنّك أخطأت في بعض الإجابات فخذ درسا في أهمية المزيد من الاستعداد مستقبلا أو عدم الاستعجال في الإجابة وارض بقضاء الله ولا تقع فريسة للإحباط واليأس وتذكّر حديث النبي صلى الله عليه وسلم : وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ . صحيح مسلم وقد تقدّم أوله . 17. Jika Anda menyadari setelah ujian bahwa ada beberapa jawaban Anda yang salah, ambillah hikmah tentang pentingnya persiapan yang lebih matang di masa mendatang dan tidak terburu-buru selama mengerjakan soal. Ridalah dengan ketetapan Allah dan jangan sampai terjatuh dalam penyesalan dan putus asa yang mendalam. Ingatlah hadis Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam:  وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Jika suatu musibah menimpamu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku tadi melakukan ini dan itu’, tetapi katakanlah: ‘Qaddarallāhu wa mā syaʿa faʿala (Ini takdir Allah dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki),’ karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim, telah berlalu bagian awalnya) اعلم بأنّ الغشّ محرّم سواء في مادة اللغة الأجنبية أو غيرها وقد قال عليه الصلاة والسلام : من غشّ فليس منا ، وهو ظلم وطريقة محرّمة للحصول على ما ليس بحقّ لك من الدّرجات والشهادات وغيرها ، وأنّ الاتّفاق على الغشّ هو تعاون على الإثم والعدوان ، فاستغن عن الحرام يُغْنك الله من فضله وارفض كلّ وسيلة وعرْض محرّم يأتيك من غيرك ومن ترك شيئا لله عوّضه الله خيرا منه . 18. Ketahuilah bahwa mencontek adalah perbuatan haram baik dalam pelajaran bahasa asing atau yang lain. Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا “Barang siapa mencurangi kami, dia bukan dari golongan kami.” (HR. Ibnu Hibban) Mencontek adalah perbuatan zalim dan cara terlarang untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak Anda, baik berupa nilai, sertifikat (ijazah) dan selainnya. Bekerja sama dalam mencontek juga termasuk bekerja sama dalam dosa dan keburukan. Cukupkan diri Anda dengan yang halal pasti Allah akan mencukupi Anda dengan karunia-Nya. Tolaklah semua cara dan tawaran haram yang datang kepada Anda dari orang lain, karena orang yang meninggalkan sesuatu  karena Allah akan diganti baginya sesuatu yang lebih baik darinya. وعليك بإنكار المنكر ومقاومته والإبلاغ عمّا تراه من ذلك أثناء الاختبار وقبله وبعده وليس هذا من النميمة المحرّمة بل من إنكار المنكر الواجب . فانصح من يقوم ببيع الأسئلة أو شرائها أو يقوم بنشرها عبر شبكة الإنترنت وغيرها والذين يقومون بإعداد أوراق الغشّ ، وقل لهم أن يتقوا الله ، وأخبرهم بحكم فعلهم وحكم مكسبهم وأنّ هذا الوقت الذي يقضونه في الإعداد المحرّم لو أنفقوه في المذاكرة الشّرعيّة وحلّ الاختبارات السابقة والتعاون على تفهيم بعضهم بعضا قبل الاختبار لكان خيرا لهم وأقوم من الأعمال والاتفاقات المحرمة . 19. Anda harus mengingkari kemungkaran, menghentikannya dan memberitahukan apa yang Anda lihat sebelum, ketika dan sesudah ujian pada pihak terkait dan ini tidak termasuk sebab adu domba yang terlarang tapi bentuk menjalankan kewajiban mencegah kemungkaran. Nasehatilah orang yang memperjual belikan jawaban atau menyebarkannya melalui internet atau media lainnya dan juga orang yang menyiapkan lembar contekan. Ingatkan mereka dengan ketakwaan kepada Allah dan beritahu mereka tentang hukum tindakan dan perbuatan mereka dan bahwa waktu yang mereka habiskan untuk menyiapkan perkara yang haram seandainya dipakai untuk belajar dan mempelajari soal-soal sebelumnya dan saling bertukar ilmu dengan teman-temannya sebelum ujian lebih baik dan lebih lurus bagi mereka daripada menyiapkan dan bekerja sama dalam perkara yang haram. تذكّر ما أعددت للآخرة وأسئلة الامتحان في القبر وسُبل النجاة يوم المعاد : فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز . 20. Ingatlah selalu apa yang telah disiapkan untuk Anda di Akhirat dan soal-soal ujian di alam kubur dan jalan-jalan keselamatan di hari Akhir.  فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ    “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185) نسأل الله أن يجعلنا من الفالحين الناجحين في الدنيا والفائزين الناجين في الآخرة إنه سميع مجيب . Kami berdoa kepada Allah semoga kita dijadikan orang-orang yang berhasil dan beruntung di dunia dan selamat dan sukses di akhirat, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. الشيخ محمد صالح المنجد [Syeikh Muhammad Salih al-Munajjid] Sumber: https://islamqa.info/ar/articles/58/عشرون-نصيحة-للطلاب-في-الاختبارات PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Khutbah Shalat Gerhana, Arti Allahu, Achmad Chodjim Sesat, Imam Mahdi Vs Dajjal, Pertanyaan Tentang Kepemimpinan Dalam Islam, Niat Jamak Shalat Visited 172 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kisah Abu Jahal Ingin Menginjak Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Disebutkan bahwa Abu Jahal ‘alaihi la’natullah, Fir’aunnya umat ini,suatu hari pernah datang ke tempat perkumpulan kaum Quraisy. Lalu ia bertanya, “Apakah Muhammad bersujud saat berada di sekitar kalian?”Mereka menjawab, “Ya, demi Allah! dia melakukan itu.” Abu Jahal menanggapi, “Demi Allah! Kalau aku melihatnya sedang bersujud, aku pasti akan menginjak lehernya!” Yakni jika ia bersujud di hadapanku, aku pasti akan menginjak lehernya saat ia dalam keadaan bersujud. Begitu yang dikatakan Abu Jahal ‘alaihi la’natullah.Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan melakukan tawaf mengelilingi ka’bah, kemudian beliau salat dan bersujud. Kaum kafir Quraisy melihat Abu Jahal dan berkata, “Kamu berkata pasti akan menginjak lehernya?!”Ia menjawab, “Ya!” Lalu ia mendatangi Nabi,sedangkan Nabi saat itu dalam keadaan bersujud. Ketika Abu Jahal telah mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berhenti.Lalu ia mengangkat kedua tangannya, seakan-akan sedang menghalangi sesuatu dari dirinya. Kemudian ia berpaling ke belakang, lalu berlari.Abu Jahal melakukan seperti ini, seakan-akan menghalangi sesuatu dari belakangnya sambil ketakutan. Lalu ia datang ke tempat perkumpulan kaum kafir Quraisy. Mereka melihatnya dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”Abu Jahal menjawab, “Demi Allah! Aku melihat api, andai saja aku mendekat lagi, pasti api itu menyambarku!” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kejadian itu, dan beliau menjawab, “Itu adalah Jibril.Andai saja ia mendekat satu langkah lagi, pasti Jibril ‘alaihissalam akan menyambarnya.” ==== وَذُكِرَ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فِرْعَوْنَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ جَاءَ يَوْمًا إِلَى مَجْلِسِ قُرَيْشٍ نَادِيْهِم فَقَالَ أَيَسْجُدُ مُحَمَّدٌ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ قَالُوا نَعَمْ وَاللهِ إِنَّهُ لَيَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ وَاللهِ إِنْ رَأَيْتُهُ سَاجِدًا لَأَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ يَعْنِي إِنْ سَجَدَ أَمَامِيْ لَأَضَعَنَّ رِجْلِي عَلَى رَقَبَةِ النَّبِيِّ وَهُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ أَبُو جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَافَ حَوْلَ الْبَيْتِ ثُمَّ صَلَّى وَسَجَدَ فَنَظَرُوا إِلَى أَبِي جَهْلٍ أَنْتَ تَقُولُ لَتَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ إِلَيْهِ وَالنَّبِيُّ سَاجِدٌ فَلَمَّا اقْتَرَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا عَنْ نَفْسِهِ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى الْخَلْفِ وَصَارَ يَجْرِي يَفْعَلُ هَكَذَا يَعْنِي كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ خَائِفٌ فَجَاءَ إِلَى نَادِي قُرَيْشٍ هُمْ يَرَوْنَهُ مَا لَكَ؟ قَالَ وَاللهِ رَأَيْتُ نَارًا لَوِ اقْتَرَبْتُ لَخَطَفَتْنِي ثُمَّ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَذَا جِبْرِيلُ لَوِ اقْتَرَبَ خَطْوَةً لَأَخَذَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kisah Abu Jahal Ingin Menginjak Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Disebutkan bahwa Abu Jahal ‘alaihi la’natullah, Fir’aunnya umat ini,suatu hari pernah datang ke tempat perkumpulan kaum Quraisy. Lalu ia bertanya, “Apakah Muhammad bersujud saat berada di sekitar kalian?”Mereka menjawab, “Ya, demi Allah! dia melakukan itu.” Abu Jahal menanggapi, “Demi Allah! Kalau aku melihatnya sedang bersujud, aku pasti akan menginjak lehernya!” Yakni jika ia bersujud di hadapanku, aku pasti akan menginjak lehernya saat ia dalam keadaan bersujud. Begitu yang dikatakan Abu Jahal ‘alaihi la’natullah.Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan melakukan tawaf mengelilingi ka’bah, kemudian beliau salat dan bersujud. Kaum kafir Quraisy melihat Abu Jahal dan berkata, “Kamu berkata pasti akan menginjak lehernya?!”Ia menjawab, “Ya!” Lalu ia mendatangi Nabi,sedangkan Nabi saat itu dalam keadaan bersujud. Ketika Abu Jahal telah mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berhenti.Lalu ia mengangkat kedua tangannya, seakan-akan sedang menghalangi sesuatu dari dirinya. Kemudian ia berpaling ke belakang, lalu berlari.Abu Jahal melakukan seperti ini, seakan-akan menghalangi sesuatu dari belakangnya sambil ketakutan. Lalu ia datang ke tempat perkumpulan kaum kafir Quraisy. Mereka melihatnya dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”Abu Jahal menjawab, “Demi Allah! Aku melihat api, andai saja aku mendekat lagi, pasti api itu menyambarku!” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kejadian itu, dan beliau menjawab, “Itu adalah Jibril.Andai saja ia mendekat satu langkah lagi, pasti Jibril ‘alaihissalam akan menyambarnya.” ==== وَذُكِرَ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فِرْعَوْنَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ جَاءَ يَوْمًا إِلَى مَجْلِسِ قُرَيْشٍ نَادِيْهِم فَقَالَ أَيَسْجُدُ مُحَمَّدٌ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ قَالُوا نَعَمْ وَاللهِ إِنَّهُ لَيَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ وَاللهِ إِنْ رَأَيْتُهُ سَاجِدًا لَأَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ يَعْنِي إِنْ سَجَدَ أَمَامِيْ لَأَضَعَنَّ رِجْلِي عَلَى رَقَبَةِ النَّبِيِّ وَهُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ أَبُو جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَافَ حَوْلَ الْبَيْتِ ثُمَّ صَلَّى وَسَجَدَ فَنَظَرُوا إِلَى أَبِي جَهْلٍ أَنْتَ تَقُولُ لَتَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ إِلَيْهِ وَالنَّبِيُّ سَاجِدٌ فَلَمَّا اقْتَرَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا عَنْ نَفْسِهِ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى الْخَلْفِ وَصَارَ يَجْرِي يَفْعَلُ هَكَذَا يَعْنِي كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ خَائِفٌ فَجَاءَ إِلَى نَادِي قُرَيْشٍ هُمْ يَرَوْنَهُ مَا لَكَ؟ قَالَ وَاللهِ رَأَيْتُ نَارًا لَوِ اقْتَرَبْتُ لَخَطَفَتْنِي ثُمَّ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَذَا جِبْرِيلُ لَوِ اقْتَرَبَ خَطْوَةً لَأَخَذَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Disebutkan bahwa Abu Jahal ‘alaihi la’natullah, Fir’aunnya umat ini,suatu hari pernah datang ke tempat perkumpulan kaum Quraisy. Lalu ia bertanya, “Apakah Muhammad bersujud saat berada di sekitar kalian?”Mereka menjawab, “Ya, demi Allah! dia melakukan itu.” Abu Jahal menanggapi, “Demi Allah! Kalau aku melihatnya sedang bersujud, aku pasti akan menginjak lehernya!” Yakni jika ia bersujud di hadapanku, aku pasti akan menginjak lehernya saat ia dalam keadaan bersujud. Begitu yang dikatakan Abu Jahal ‘alaihi la’natullah.Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan melakukan tawaf mengelilingi ka’bah, kemudian beliau salat dan bersujud. Kaum kafir Quraisy melihat Abu Jahal dan berkata, “Kamu berkata pasti akan menginjak lehernya?!”Ia menjawab, “Ya!” Lalu ia mendatangi Nabi,sedangkan Nabi saat itu dalam keadaan bersujud. Ketika Abu Jahal telah mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berhenti.Lalu ia mengangkat kedua tangannya, seakan-akan sedang menghalangi sesuatu dari dirinya. Kemudian ia berpaling ke belakang, lalu berlari.Abu Jahal melakukan seperti ini, seakan-akan menghalangi sesuatu dari belakangnya sambil ketakutan. Lalu ia datang ke tempat perkumpulan kaum kafir Quraisy. Mereka melihatnya dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”Abu Jahal menjawab, “Demi Allah! Aku melihat api, andai saja aku mendekat lagi, pasti api itu menyambarku!” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kejadian itu, dan beliau menjawab, “Itu adalah Jibril.Andai saja ia mendekat satu langkah lagi, pasti Jibril ‘alaihissalam akan menyambarnya.” ==== وَذُكِرَ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فِرْعَوْنَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ جَاءَ يَوْمًا إِلَى مَجْلِسِ قُرَيْشٍ نَادِيْهِم فَقَالَ أَيَسْجُدُ مُحَمَّدٌ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ قَالُوا نَعَمْ وَاللهِ إِنَّهُ لَيَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ وَاللهِ إِنْ رَأَيْتُهُ سَاجِدًا لَأَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ يَعْنِي إِنْ سَجَدَ أَمَامِيْ لَأَضَعَنَّ رِجْلِي عَلَى رَقَبَةِ النَّبِيِّ وَهُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ أَبُو جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَافَ حَوْلَ الْبَيْتِ ثُمَّ صَلَّى وَسَجَدَ فَنَظَرُوا إِلَى أَبِي جَهْلٍ أَنْتَ تَقُولُ لَتَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ إِلَيْهِ وَالنَّبِيُّ سَاجِدٌ فَلَمَّا اقْتَرَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا عَنْ نَفْسِهِ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى الْخَلْفِ وَصَارَ يَجْرِي يَفْعَلُ هَكَذَا يَعْنِي كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ خَائِفٌ فَجَاءَ إِلَى نَادِي قُرَيْشٍ هُمْ يَرَوْنَهُ مَا لَكَ؟ قَالَ وَاللهِ رَأَيْتُ نَارًا لَوِ اقْتَرَبْتُ لَخَطَفَتْنِي ثُمَّ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَذَا جِبْرِيلُ لَوِ اقْتَرَبَ خَطْوَةً لَأَخَذَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Disebutkan bahwa Abu Jahal ‘alaihi la’natullah, Fir’aunnya umat ini,suatu hari pernah datang ke tempat perkumpulan kaum Quraisy. Lalu ia bertanya, “Apakah Muhammad bersujud saat berada di sekitar kalian?”Mereka menjawab, “Ya, demi Allah! dia melakukan itu.” Abu Jahal menanggapi, “Demi Allah! Kalau aku melihatnya sedang bersujud, aku pasti akan menginjak lehernya!” Yakni jika ia bersujud di hadapanku, aku pasti akan menginjak lehernya saat ia dalam keadaan bersujud. Begitu yang dikatakan Abu Jahal ‘alaihi la’natullah.Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan melakukan tawaf mengelilingi ka’bah, kemudian beliau salat dan bersujud. Kaum kafir Quraisy melihat Abu Jahal dan berkata, “Kamu berkata pasti akan menginjak lehernya?!”Ia menjawab, “Ya!” Lalu ia mendatangi Nabi,sedangkan Nabi saat itu dalam keadaan bersujud. Ketika Abu Jahal telah mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berhenti.Lalu ia mengangkat kedua tangannya, seakan-akan sedang menghalangi sesuatu dari dirinya. Kemudian ia berpaling ke belakang, lalu berlari.Abu Jahal melakukan seperti ini, seakan-akan menghalangi sesuatu dari belakangnya sambil ketakutan. Lalu ia datang ke tempat perkumpulan kaum kafir Quraisy. Mereka melihatnya dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”Abu Jahal menjawab, “Demi Allah! Aku melihat api, andai saja aku mendekat lagi, pasti api itu menyambarku!” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kejadian itu, dan beliau menjawab, “Itu adalah Jibril.Andai saja ia mendekat satu langkah lagi, pasti Jibril ‘alaihissalam akan menyambarnya.” ==== وَذُكِرَ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فِرْعَوْنَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَنَّهُ جَاءَ يَوْمًا إِلَى مَجْلِسِ قُرَيْشٍ نَادِيْهِم فَقَالَ أَيَسْجُدُ مُحَمَّدٌ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ قَالُوا نَعَمْ وَاللهِ إِنَّهُ لَيَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ وَاللهِ إِنْ رَأَيْتُهُ سَاجِدًا لَأَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ يَعْنِي إِنْ سَجَدَ أَمَامِيْ لَأَضَعَنَّ رِجْلِي عَلَى رَقَبَةِ النَّبِيِّ وَهُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ أَبُو جَهْلٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَافَ حَوْلَ الْبَيْتِ ثُمَّ صَلَّى وَسَجَدَ فَنَظَرُوا إِلَى أَبِي جَهْلٍ أَنْتَ تَقُولُ لَتَطَأَنَّ رَقَبَتَهُ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ إِلَيْهِ وَالنَّبِيُّ سَاجِدٌ فَلَمَّا اقْتَرَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا عَنْ نَفْسِهِ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى الْخَلْفِ وَصَارَ يَجْرِي يَفْعَلُ هَكَذَا يَعْنِي كَأَنَّهُ يَدْفَعُ شَيْئًا مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ خَائِفٌ فَجَاءَ إِلَى نَادِي قُرَيْشٍ هُمْ يَرَوْنَهُ مَا لَكَ؟ قَالَ وَاللهِ رَأَيْتُ نَارًا لَوِ اقْتَرَبْتُ لَخَطَفَتْنِي ثُمَّ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَذَا جِبْرِيلُ لَوِ اقْتَرَبَ خَطْوَةً لَأَخَذَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Khotbah Jumat: Agar Selamat dari Azab Kubur

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga saat kematian datang menghampiri kita, ketakwaan dan keimanan tersebut akan setia menemani kita hingga ke alam kubur dan alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang membuat seorang mukmin khawatir dan takut adalah perihal ke manakah ia akan menuju setelah ia berpisah dari kehidupan dunia ini. Ke manakah ia akan pergi? Akankah ia menuju rahmat Allah ataukah azabnya? Ke surga yang penuh kenikmatan ataukah ke neraka yang penuh kesengsaraan?Dahulu kala, sahabat ‘Utsman bin ‘Affan  radhiyallahu ‘anhu setiap kali melewati dan berdiri di sisi kuburan, maka ia akan menangis hingga jenggotnya basah karena air matanya. Maka, dikatakan kepadanya, “Engkau tidak menangis tatkala teringat surga dan neraka. Akan tetapi, mengapa engkau menangis karena hal ini?” Maka, sahabat ‘Utsman pun menjawab,إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ، قالَ : إنَّ القبرَ أوَّلُ مَنازلِ الآخرةِ ، فإن نجا منهُ ، فما بعدَهُ أيسرُ منهُ ، وإن لم يَنجُ منهُ ، فما بعدَهُ أشدُّ منهُ قالَ : وقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ : ما رأيتُ مَنظرًا قطُّ إلَّا والقَبرُ أفظَعُ منهُ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat. Jika selamat darinya, maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya. Dan jika tidak selamat, maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan, kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya.’” (HR Ibnu Majah no. 4267)Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada AllaJemaah yang semoga senantiasa di dalam rahmat Allah Ta’ala.Setelah mengetahui begitu kerasnya siksa kubur, seorang mukmin yang mengimaninya dan takut akan kepedihannya perlu juga untuk mempelajari dan mengetahui beberapa amalan yang dapat menghindarkan dirinya dari siksa kubur tersebut.Yang pertama dan yang paling utama adalah istikamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)Amal saleh adalah penghalang dan tameng dari azab kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin, maka salat akan berada di sisi kepalanya, puasa di sisi kanannya, zakat di sisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya (seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan makruf dan ihsan kepada orang lain) berada di sisi kakinya. Lalu, ia didatangi dari arah kepalanya, maka salat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kanannya, maka puasa berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kirinya, maka zakat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya, maka amalan kebaikan berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’” (HR. Ibnu Hibban no. 3113, Syekh Albani menghasankan hadis ini dalam kitabnya Shahih At-Targhib)Kedua, berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kita baca pada setiap penghujung salat sebelum salam,اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجال“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)Ketiga, menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan azab kubur dan bertobat kepada Allah Ta’ala darinya.Di antara beberapa sebab yang mendatangkan azab kubur adalah meninggalkan salat sampai keluar dari waktunya tanpa ada uzur, suka mengadu domba, dan tidak menjaga kesucian dirinya dari najis yang timbul ketika buang air kecil. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم بقبرين، فقال: إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير، أما أحدهما فكان لا يَستتر من البول، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة، ثم أخذ جريدة رطبة فشقَّها نصفين، فغرَز في كل قبر واحدة، فقالوا: يا رسول الله، لِمَ فعلت هذا؟ قال: لعله يُخفَّفُ عنهما ما لم يَيْبَسا.“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.’ Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah. Kemudian, beliau membelahnya menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada tiap-tiap kuburan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?’ Beliau menjawab, ‘Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.’ (HR. Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Amalan yang keempat, rutin membaca surah Al-Mulk.Sebisa mungkin, seorang muslim menghafal surat Al-Mulk dan memahami maknanya. Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سورةٌ تشفعُ لقائلِها ، وهي ثلاثونَ آيةً ألا وهي تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ“Ada satu surah yang akan memberikan syafaat bagi siapa yang rajin membacanya. Surah tersebut mengandung 30 ayat, yaitu yang dimulai dengan ‘tabarakalladzi biyadihilmulku’ (surah Al-Mulk).” (HR. Abu Dawud no. 1400, Tirmidzi no. 2891, Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 10546)Baca Juga: Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata KotorSebagian ulama mengatakan, bahwa surah Al-Mulk akan memberikan syafaat kepada mereka yang membacanya saat ia berada di alam kubur atau pada hari kiamat, menghalangi seseorang dari azab kubur atau menghindarkan seseorang dari terjatuh kepada dosa-dosa yang menyebabkan azab kubur.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Setelah mengetahui beberapa amalan yang akan menjaga dan menghindarkan kita dari azab kubur, dalam Islam ada juga beberapa keadaan dan sebab kematian yang akan menjadikan seseorang terhindar dari azab kubur. Apa saja?Yang pertama,  meninggal di medan peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للشهيد عند الله ستُّ خصال: يغفر له في أول دَفعة، ويرى مقعده من الجنة، ويجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار، الياقوتة منه خير من الدنيا وما فيها، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، ويُشفَّع في سبعين من أقاربه“Orang yang mati syahid di sisi Allah mempunyai enam keutamaan: (1) dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, (2) diperlihatkan tempat duduknya di surga, (3) dijaga dari siksa kubur dan diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, (4) diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, (5) dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan (6) diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi no. 1663, Ibnu Majah no. 2799, dan Ahmad no. 17182)Yang kedua, meninggal dalam keadaan berjuang di jalan Allah Ta’ala, yaitu mereka yang berjuang menjaga perbatasan daerah kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَـى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَـى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ.“Setiap mayit ditutup amalnya, kecuali seseorang yang mati dalam keadaan berjuang di jalan Allah. Karena amalnya akan berkembang sampai hari kiamat dan dia akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Abu Dawud no. 2500, Tirmidzi no. 1621 dan Ahmad no. 23951)Yang ketiga, meninggal karena penyakit pada perutnya. Sebagaimana yang dikisahkan ‘Abdullah bin Yasar rahimahullah,“Pernah aku duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin Urfuthah. Mereka menuturkan pernah ada seseorang yang meninggal karena penyakit di dalam perutnya. Keduanya berkeinginan menyaksikan jenazah orang tersebut. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Siapa saja yang meninggal karena sakit di perutnya, maka dia tidak akan disiksa dalam kubur’. Yang lain berkata, ‘Ya, benar’.” (HR. Tirmidzi no. 1064 dan Nasa’i no. 2051)Adapun hadis yang menjelaskan keutamaan orang yang meninggal di hari Jumat, di mana mereka akan diselamatkan dari azab kubur, maka hadisnya lemah dan tidak dapat dibenarkan. Hal ini juga telah disampaikan oleh Syekh Binbaz dalam salah satu fatwanya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari dahsyatnya azab kubur. Semoga Allah Ta’ala meluaskan kubur kita, memberikan kita kemudahan saat datang malaikat untuk bertanya. Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati saudara kita, keluarga kita dari kaum muslimin yang telah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia ini.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Aqidah Dan Tauhid, Tema Kajian, Suami Idaman Dalam Islam, Ayat Al Quran Tentang KiamatTags: akhiratalam kuburAqidahaqidah islamazab kuburfitnah kuburkeutamaan tauhidkhutbah jumatkuburmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Agar Selamat dari Azab Kubur

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga saat kematian datang menghampiri kita, ketakwaan dan keimanan tersebut akan setia menemani kita hingga ke alam kubur dan alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang membuat seorang mukmin khawatir dan takut adalah perihal ke manakah ia akan menuju setelah ia berpisah dari kehidupan dunia ini. Ke manakah ia akan pergi? Akankah ia menuju rahmat Allah ataukah azabnya? Ke surga yang penuh kenikmatan ataukah ke neraka yang penuh kesengsaraan?Dahulu kala, sahabat ‘Utsman bin ‘Affan  radhiyallahu ‘anhu setiap kali melewati dan berdiri di sisi kuburan, maka ia akan menangis hingga jenggotnya basah karena air matanya. Maka, dikatakan kepadanya, “Engkau tidak menangis tatkala teringat surga dan neraka. Akan tetapi, mengapa engkau menangis karena hal ini?” Maka, sahabat ‘Utsman pun menjawab,إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ، قالَ : إنَّ القبرَ أوَّلُ مَنازلِ الآخرةِ ، فإن نجا منهُ ، فما بعدَهُ أيسرُ منهُ ، وإن لم يَنجُ منهُ ، فما بعدَهُ أشدُّ منهُ قالَ : وقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ : ما رأيتُ مَنظرًا قطُّ إلَّا والقَبرُ أفظَعُ منهُ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat. Jika selamat darinya, maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya. Dan jika tidak selamat, maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan, kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya.’” (HR Ibnu Majah no. 4267)Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada AllaJemaah yang semoga senantiasa di dalam rahmat Allah Ta’ala.Setelah mengetahui begitu kerasnya siksa kubur, seorang mukmin yang mengimaninya dan takut akan kepedihannya perlu juga untuk mempelajari dan mengetahui beberapa amalan yang dapat menghindarkan dirinya dari siksa kubur tersebut.Yang pertama dan yang paling utama adalah istikamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)Amal saleh adalah penghalang dan tameng dari azab kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin, maka salat akan berada di sisi kepalanya, puasa di sisi kanannya, zakat di sisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya (seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan makruf dan ihsan kepada orang lain) berada di sisi kakinya. Lalu, ia didatangi dari arah kepalanya, maka salat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kanannya, maka puasa berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kirinya, maka zakat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya, maka amalan kebaikan berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’” (HR. Ibnu Hibban no. 3113, Syekh Albani menghasankan hadis ini dalam kitabnya Shahih At-Targhib)Kedua, berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kita baca pada setiap penghujung salat sebelum salam,اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجال“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)Ketiga, menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan azab kubur dan bertobat kepada Allah Ta’ala darinya.Di antara beberapa sebab yang mendatangkan azab kubur adalah meninggalkan salat sampai keluar dari waktunya tanpa ada uzur, suka mengadu domba, dan tidak menjaga kesucian dirinya dari najis yang timbul ketika buang air kecil. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم بقبرين، فقال: إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير، أما أحدهما فكان لا يَستتر من البول، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة، ثم أخذ جريدة رطبة فشقَّها نصفين، فغرَز في كل قبر واحدة، فقالوا: يا رسول الله، لِمَ فعلت هذا؟ قال: لعله يُخفَّفُ عنهما ما لم يَيْبَسا.“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.’ Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah. Kemudian, beliau membelahnya menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada tiap-tiap kuburan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?’ Beliau menjawab, ‘Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.’ (HR. Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Amalan yang keempat, rutin membaca surah Al-Mulk.Sebisa mungkin, seorang muslim menghafal surat Al-Mulk dan memahami maknanya. Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سورةٌ تشفعُ لقائلِها ، وهي ثلاثونَ آيةً ألا وهي تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ“Ada satu surah yang akan memberikan syafaat bagi siapa yang rajin membacanya. Surah tersebut mengandung 30 ayat, yaitu yang dimulai dengan ‘tabarakalladzi biyadihilmulku’ (surah Al-Mulk).” (HR. Abu Dawud no. 1400, Tirmidzi no. 2891, Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 10546)Baca Juga: Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata KotorSebagian ulama mengatakan, bahwa surah Al-Mulk akan memberikan syafaat kepada mereka yang membacanya saat ia berada di alam kubur atau pada hari kiamat, menghalangi seseorang dari azab kubur atau menghindarkan seseorang dari terjatuh kepada dosa-dosa yang menyebabkan azab kubur.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Setelah mengetahui beberapa amalan yang akan menjaga dan menghindarkan kita dari azab kubur, dalam Islam ada juga beberapa keadaan dan sebab kematian yang akan menjadikan seseorang terhindar dari azab kubur. Apa saja?Yang pertama,  meninggal di medan peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للشهيد عند الله ستُّ خصال: يغفر له في أول دَفعة، ويرى مقعده من الجنة، ويجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار، الياقوتة منه خير من الدنيا وما فيها، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، ويُشفَّع في سبعين من أقاربه“Orang yang mati syahid di sisi Allah mempunyai enam keutamaan: (1) dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, (2) diperlihatkan tempat duduknya di surga, (3) dijaga dari siksa kubur dan diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, (4) diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, (5) dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan (6) diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi no. 1663, Ibnu Majah no. 2799, dan Ahmad no. 17182)Yang kedua, meninggal dalam keadaan berjuang di jalan Allah Ta’ala, yaitu mereka yang berjuang menjaga perbatasan daerah kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَـى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَـى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ.“Setiap mayit ditutup amalnya, kecuali seseorang yang mati dalam keadaan berjuang di jalan Allah. Karena amalnya akan berkembang sampai hari kiamat dan dia akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Abu Dawud no. 2500, Tirmidzi no. 1621 dan Ahmad no. 23951)Yang ketiga, meninggal karena penyakit pada perutnya. Sebagaimana yang dikisahkan ‘Abdullah bin Yasar rahimahullah,“Pernah aku duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin Urfuthah. Mereka menuturkan pernah ada seseorang yang meninggal karena penyakit di dalam perutnya. Keduanya berkeinginan menyaksikan jenazah orang tersebut. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Siapa saja yang meninggal karena sakit di perutnya, maka dia tidak akan disiksa dalam kubur’. Yang lain berkata, ‘Ya, benar’.” (HR. Tirmidzi no. 1064 dan Nasa’i no. 2051)Adapun hadis yang menjelaskan keutamaan orang yang meninggal di hari Jumat, di mana mereka akan diselamatkan dari azab kubur, maka hadisnya lemah dan tidak dapat dibenarkan. Hal ini juga telah disampaikan oleh Syekh Binbaz dalam salah satu fatwanya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari dahsyatnya azab kubur. Semoga Allah Ta’ala meluaskan kubur kita, memberikan kita kemudahan saat datang malaikat untuk bertanya. Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati saudara kita, keluarga kita dari kaum muslimin yang telah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia ini.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Aqidah Dan Tauhid, Tema Kajian, Suami Idaman Dalam Islam, Ayat Al Quran Tentang KiamatTags: akhiratalam kuburAqidahaqidah islamazab kuburfitnah kuburkeutamaan tauhidkhutbah jumatkuburmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga saat kematian datang menghampiri kita, ketakwaan dan keimanan tersebut akan setia menemani kita hingga ke alam kubur dan alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang membuat seorang mukmin khawatir dan takut adalah perihal ke manakah ia akan menuju setelah ia berpisah dari kehidupan dunia ini. Ke manakah ia akan pergi? Akankah ia menuju rahmat Allah ataukah azabnya? Ke surga yang penuh kenikmatan ataukah ke neraka yang penuh kesengsaraan?Dahulu kala, sahabat ‘Utsman bin ‘Affan  radhiyallahu ‘anhu setiap kali melewati dan berdiri di sisi kuburan, maka ia akan menangis hingga jenggotnya basah karena air matanya. Maka, dikatakan kepadanya, “Engkau tidak menangis tatkala teringat surga dan neraka. Akan tetapi, mengapa engkau menangis karena hal ini?” Maka, sahabat ‘Utsman pun menjawab,إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ، قالَ : إنَّ القبرَ أوَّلُ مَنازلِ الآخرةِ ، فإن نجا منهُ ، فما بعدَهُ أيسرُ منهُ ، وإن لم يَنجُ منهُ ، فما بعدَهُ أشدُّ منهُ قالَ : وقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ : ما رأيتُ مَنظرًا قطُّ إلَّا والقَبرُ أفظَعُ منهُ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat. Jika selamat darinya, maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya. Dan jika tidak selamat, maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan, kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya.’” (HR Ibnu Majah no. 4267)Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada AllaJemaah yang semoga senantiasa di dalam rahmat Allah Ta’ala.Setelah mengetahui begitu kerasnya siksa kubur, seorang mukmin yang mengimaninya dan takut akan kepedihannya perlu juga untuk mempelajari dan mengetahui beberapa amalan yang dapat menghindarkan dirinya dari siksa kubur tersebut.Yang pertama dan yang paling utama adalah istikamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)Amal saleh adalah penghalang dan tameng dari azab kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin, maka salat akan berada di sisi kepalanya, puasa di sisi kanannya, zakat di sisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya (seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan makruf dan ihsan kepada orang lain) berada di sisi kakinya. Lalu, ia didatangi dari arah kepalanya, maka salat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kanannya, maka puasa berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kirinya, maka zakat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya, maka amalan kebaikan berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’” (HR. Ibnu Hibban no. 3113, Syekh Albani menghasankan hadis ini dalam kitabnya Shahih At-Targhib)Kedua, berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kita baca pada setiap penghujung salat sebelum salam,اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجال“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)Ketiga, menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan azab kubur dan bertobat kepada Allah Ta’ala darinya.Di antara beberapa sebab yang mendatangkan azab kubur adalah meninggalkan salat sampai keluar dari waktunya tanpa ada uzur, suka mengadu domba, dan tidak menjaga kesucian dirinya dari najis yang timbul ketika buang air kecil. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم بقبرين، فقال: إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير، أما أحدهما فكان لا يَستتر من البول، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة، ثم أخذ جريدة رطبة فشقَّها نصفين، فغرَز في كل قبر واحدة، فقالوا: يا رسول الله، لِمَ فعلت هذا؟ قال: لعله يُخفَّفُ عنهما ما لم يَيْبَسا.“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.’ Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah. Kemudian, beliau membelahnya menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada tiap-tiap kuburan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?’ Beliau menjawab, ‘Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.’ (HR. Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Amalan yang keempat, rutin membaca surah Al-Mulk.Sebisa mungkin, seorang muslim menghafal surat Al-Mulk dan memahami maknanya. Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سورةٌ تشفعُ لقائلِها ، وهي ثلاثونَ آيةً ألا وهي تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ“Ada satu surah yang akan memberikan syafaat bagi siapa yang rajin membacanya. Surah tersebut mengandung 30 ayat, yaitu yang dimulai dengan ‘tabarakalladzi biyadihilmulku’ (surah Al-Mulk).” (HR. Abu Dawud no. 1400, Tirmidzi no. 2891, Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 10546)Baca Juga: Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata KotorSebagian ulama mengatakan, bahwa surah Al-Mulk akan memberikan syafaat kepada mereka yang membacanya saat ia berada di alam kubur atau pada hari kiamat, menghalangi seseorang dari azab kubur atau menghindarkan seseorang dari terjatuh kepada dosa-dosa yang menyebabkan azab kubur.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Setelah mengetahui beberapa amalan yang akan menjaga dan menghindarkan kita dari azab kubur, dalam Islam ada juga beberapa keadaan dan sebab kematian yang akan menjadikan seseorang terhindar dari azab kubur. Apa saja?Yang pertama,  meninggal di medan peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للشهيد عند الله ستُّ خصال: يغفر له في أول دَفعة، ويرى مقعده من الجنة، ويجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار، الياقوتة منه خير من الدنيا وما فيها، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، ويُشفَّع في سبعين من أقاربه“Orang yang mati syahid di sisi Allah mempunyai enam keutamaan: (1) dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, (2) diperlihatkan tempat duduknya di surga, (3) dijaga dari siksa kubur dan diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, (4) diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, (5) dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan (6) diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi no. 1663, Ibnu Majah no. 2799, dan Ahmad no. 17182)Yang kedua, meninggal dalam keadaan berjuang di jalan Allah Ta’ala, yaitu mereka yang berjuang menjaga perbatasan daerah kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَـى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَـى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ.“Setiap mayit ditutup amalnya, kecuali seseorang yang mati dalam keadaan berjuang di jalan Allah. Karena amalnya akan berkembang sampai hari kiamat dan dia akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Abu Dawud no. 2500, Tirmidzi no. 1621 dan Ahmad no. 23951)Yang ketiga, meninggal karena penyakit pada perutnya. Sebagaimana yang dikisahkan ‘Abdullah bin Yasar rahimahullah,“Pernah aku duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin Urfuthah. Mereka menuturkan pernah ada seseorang yang meninggal karena penyakit di dalam perutnya. Keduanya berkeinginan menyaksikan jenazah orang tersebut. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Siapa saja yang meninggal karena sakit di perutnya, maka dia tidak akan disiksa dalam kubur’. Yang lain berkata, ‘Ya, benar’.” (HR. Tirmidzi no. 1064 dan Nasa’i no. 2051)Adapun hadis yang menjelaskan keutamaan orang yang meninggal di hari Jumat, di mana mereka akan diselamatkan dari azab kubur, maka hadisnya lemah dan tidak dapat dibenarkan. Hal ini juga telah disampaikan oleh Syekh Binbaz dalam salah satu fatwanya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari dahsyatnya azab kubur. Semoga Allah Ta’ala meluaskan kubur kita, memberikan kita kemudahan saat datang malaikat untuk bertanya. Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati saudara kita, keluarga kita dari kaum muslimin yang telah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia ini.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Aqidah Dan Tauhid, Tema Kajian, Suami Idaman Dalam Islam, Ayat Al Quran Tentang KiamatTags: akhiratalam kuburAqidahaqidah islamazab kuburfitnah kuburkeutamaan tauhidkhutbah jumatkuburmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga saat kematian datang menghampiri kita, ketakwaan dan keimanan tersebut akan setia menemani kita hingga ke alam kubur dan alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. At-Talaq: 4)Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang membuat seorang mukmin khawatir dan takut adalah perihal ke manakah ia akan menuju setelah ia berpisah dari kehidupan dunia ini. Ke manakah ia akan pergi? Akankah ia menuju rahmat Allah ataukah azabnya? Ke surga yang penuh kenikmatan ataukah ke neraka yang penuh kesengsaraan?Dahulu kala, sahabat ‘Utsman bin ‘Affan  radhiyallahu ‘anhu setiap kali melewati dan berdiri di sisi kuburan, maka ia akan menangis hingga jenggotnya basah karena air matanya. Maka, dikatakan kepadanya, “Engkau tidak menangis tatkala teringat surga dan neraka. Akan tetapi, mengapa engkau menangis karena hal ini?” Maka, sahabat ‘Utsman pun menjawab,إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ، قالَ : إنَّ القبرَ أوَّلُ مَنازلِ الآخرةِ ، فإن نجا منهُ ، فما بعدَهُ أيسرُ منهُ ، وإن لم يَنجُ منهُ ، فما بعدَهُ أشدُّ منهُ قالَ : وقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ : ما رأيتُ مَنظرًا قطُّ إلَّا والقَبرُ أفظَعُ منهُ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat. Jika selamat darinya, maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya. Dan jika tidak selamat, maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan, kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya.’” (HR Ibnu Majah no. 4267)Baca Juga: Teks Khotbah Jumat: Mohonlah Perlindungan Hanya kepada AllaJemaah yang semoga senantiasa di dalam rahmat Allah Ta’ala.Setelah mengetahui begitu kerasnya siksa kubur, seorang mukmin yang mengimaninya dan takut akan kepedihannya perlu juga untuk mempelajari dan mengetahui beberapa amalan yang dapat menghindarkan dirinya dari siksa kubur tersebut.Yang pertama dan yang paling utama adalah istikamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)Amal saleh adalah penghalang dan tameng dari azab kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin, maka salat akan berada di sisi kepalanya, puasa di sisi kanannya, zakat di sisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya (seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan makruf dan ihsan kepada orang lain) berada di sisi kakinya. Lalu, ia didatangi dari arah kepalanya, maka salat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kanannya, maka puasa berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kirinya, maka zakat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya, maka amalan kebaikan berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’” (HR. Ibnu Hibban no. 3113, Syekh Albani menghasankan hadis ini dalam kitabnya Shahih At-Targhib)Kedua, berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kita baca pada setiap penghujung salat sebelum salam,اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجال“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)Ketiga, menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan azab kubur dan bertobat kepada Allah Ta’ala darinya.Di antara beberapa sebab yang mendatangkan azab kubur adalah meninggalkan salat sampai keluar dari waktunya tanpa ada uzur, suka mengadu domba, dan tidak menjaga kesucian dirinya dari najis yang timbul ketika buang air kecil. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم بقبرين، فقال: إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير، أما أحدهما فكان لا يَستتر من البول، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة، ثم أخذ جريدة رطبة فشقَّها نصفين، فغرَز في كل قبر واحدة، فقالوا: يا رسول الله، لِمَ فعلت هذا؟ قال: لعله يُخفَّفُ عنهما ما لم يَيْبَسا.“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.’ Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah. Kemudian, beliau membelahnya menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada tiap-tiap kuburan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?’ Beliau menjawab, ‘Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.’ (HR. Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Amalan yang keempat, rutin membaca surah Al-Mulk.Sebisa mungkin, seorang muslim menghafal surat Al-Mulk dan memahami maknanya. Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سورةٌ تشفعُ لقائلِها ، وهي ثلاثونَ آيةً ألا وهي تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ“Ada satu surah yang akan memberikan syafaat bagi siapa yang rajin membacanya. Surah tersebut mengandung 30 ayat, yaitu yang dimulai dengan ‘tabarakalladzi biyadihilmulku’ (surah Al-Mulk).” (HR. Abu Dawud no. 1400, Tirmidzi no. 2891, Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 10546)Baca Juga: Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata KotorSebagian ulama mengatakan, bahwa surah Al-Mulk akan memberikan syafaat kepada mereka yang membacanya saat ia berada di alam kubur atau pada hari kiamat, menghalangi seseorang dari azab kubur atau menghindarkan seseorang dari terjatuh kepada dosa-dosa yang menyebabkan azab kubur.أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Setelah mengetahui beberapa amalan yang akan menjaga dan menghindarkan kita dari azab kubur, dalam Islam ada juga beberapa keadaan dan sebab kematian yang akan menjadikan seseorang terhindar dari azab kubur. Apa saja?Yang pertama,  meninggal di medan peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للشهيد عند الله ستُّ خصال: يغفر له في أول دَفعة، ويرى مقعده من الجنة، ويجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار، الياقوتة منه خير من الدنيا وما فيها، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، ويُشفَّع في سبعين من أقاربه“Orang yang mati syahid di sisi Allah mempunyai enam keutamaan: (1) dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, (2) diperlihatkan tempat duduknya di surga, (3) dijaga dari siksa kubur dan diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, (4) diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, (5) dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan (6) diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi no. 1663, Ibnu Majah no. 2799, dan Ahmad no. 17182)Yang kedua, meninggal dalam keadaan berjuang di jalan Allah Ta’ala, yaitu mereka yang berjuang menjaga perbatasan daerah kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَـى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَـى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ.“Setiap mayit ditutup amalnya, kecuali seseorang yang mati dalam keadaan berjuang di jalan Allah. Karena amalnya akan berkembang sampai hari kiamat dan dia akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Abu Dawud no. 2500, Tirmidzi no. 1621 dan Ahmad no. 23951)Yang ketiga, meninggal karena penyakit pada perutnya. Sebagaimana yang dikisahkan ‘Abdullah bin Yasar rahimahullah,“Pernah aku duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin Urfuthah. Mereka menuturkan pernah ada seseorang yang meninggal karena penyakit di dalam perutnya. Keduanya berkeinginan menyaksikan jenazah orang tersebut. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Siapa saja yang meninggal karena sakit di perutnya, maka dia tidak akan disiksa dalam kubur’. Yang lain berkata, ‘Ya, benar’.” (HR. Tirmidzi no. 1064 dan Nasa’i no. 2051)Adapun hadis yang menjelaskan keutamaan orang yang meninggal di hari Jumat, di mana mereka akan diselamatkan dari azab kubur, maka hadisnya lemah dan tidak dapat dibenarkan. Hal ini juga telah disampaikan oleh Syekh Binbaz dalam salah satu fatwanya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari dahsyatnya azab kubur. Semoga Allah Ta’ala meluaskan kubur kita, memberikan kita kemudahan saat datang malaikat untuk bertanya. Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati saudara kita, keluarga kita dari kaum muslimin yang telah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia ini.اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجالفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Aqidah Dan Tauhid, Tema Kajian, Suami Idaman Dalam Islam, Ayat Al Quran Tentang KiamatTags: akhiratalam kuburAqidahaqidah islamazab kuburfitnah kuburkeutamaan tauhidkhutbah jumatkuburmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumatTauhidteks khutbah jumattema khutbah jumat

Bagaimana Seorang Mukmin Mengelola Pikirannya?

Saudaraku, pernahkah anda mendengar hukum ‘the law of attraction’?Hukum fisika yang mengandung makna bahwa pikiran merupakan sumber energi positif dan negatif yang akan menarik energi dari luar untuk masuk ke dalam pikiran manusia (hukum tarik menarik).Apabila pikiran positif yang terpancar dari tubuh seseorang, maka energi positif pun secara otomatis menghampirinya, begitu pun sebaliknya. ‘The law of attraction’ telah mempengaruhi jutaan manusia untuk mencapai “kesuksesan” duniawi.Seorang ilmuwan barat juga mempopulerkan istilah ‘think and grow rich’ (berfikirlah dan kau akan menjadi kaya). Orang-orang yang meyakini konsep pemikiran ini mengklaim bahwa pikiran manusia sangat mempengaruhi apa yang ia terima, baik hal-hal yang baik maupun buruk.Mereka kemudian mempraktekkan konsep ini dengan melakukan visualisasi keinginan setiap pagi dan malam hari, membayangkan apa saja yang mereka inginkan. Dan lagi, mereka mengaku bahwa dengan mempraktekkan hal demikian, segala keinginan mereka dapat terwujud.Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah yang mendorong kita untuk mencapai kesuksesan duniawi dan ukhrawi kita? Daftar Isi sembunyikan 1. Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’ 2. Energi positif dalam prasangka baik kepada Allah 3. Dalamnya pemahaman prasangka baik kepada Allah Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’Saudaraku, ketahuilah bahwa telah ada dalam ajaran agama Islam yang mulia ini tentang bagaimana mengelola pikiran positif untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Ajaran dan konsep yang jauh lebih komprehensif daripada ‘the law of attraction’ ataupun ‘think and grow rich’.Sebagai hamba Allah Ta’ala yang beriman, kita senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip bertauhid. Di antaranya adalah tauhid rububiyyah, yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala merupakan Zat Tunggal yang mengatur segalanya yang ada di jagad raya ini. Oleh karena itu, seorang muwahhid (orang yang bertauhid) meyakini bahwa pikirannya yang mendorong keinginan terhadap sesuatu selalu ia manifestasikan dalam bentuk doa kepada Rabbnya. Hal itu disertai dengan keyakinan bahwa Allah mengabulkan segala yang ia minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479)Ya, keyakinan merupakan simbol energi positif dari seorang mukmin. Keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala yang menetapkan takdir. Seorang mukmin dengan pikiran positif terhadap Allah (husnudzh-dzhan) akan mendapatkan ganjaran berupa anugerah dari Allah atas apa yang ia butuhkan. Karena Allah Ta’ala akan selalu bersama hamba-hamba-Nya yang selalu berprasangka baik kepada-Nya. Allah Ta’ala pun memberikan apa yang ia inginkan. Inilah energi positif yang sesungguhnya.Baca Juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara MenasihatinyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنۡدَ ظَنِّ عَبۡدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيۡثُ يَذۡكُرُنِي. وَاللهِ، لَلَّهُ أَفۡرَحُ بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ أَحَدِكُمۡ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالۡفَلَاةِ. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبۡرًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ بَاعًا. وَإِذَا أَقۡبَلَ إِلَيَّ يَمۡشِي، أَقۡبَلۡتُ إِلَيۡهِ أُهَرۡوِلُ‘Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada (gembiranya) salah seorang kalian mendapatkan kembali tunggangannya yang hilang di gurun pasir. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu hasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu depa. Dan jika dia menuju kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menuju kepadanya dengan berjalan cepat.” (HR. Muslim no. 2675)Subhanallah, adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan seorang hamba yang selalu dekat dengan Rabb-Nya?Energi positif dalam prasangka baik kepada AllahOrang yang selalu berprasangka baik kepada Allah Ta’ala adalah orang yang jauh dari hati yang lalai. Hati yang lalai yakni hati yang selalu berprasangka buruk terhadap Allah atas segala cobaan yang sedang dihadapi.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiga hari sebelum wafat bersabda,لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ‘Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia, kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 2877)Energi positif yang akan diperoleh oleh orang yang berprasangka baik kepada Allah adalah bahwa ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan melalui doa-doa yang ia panjatkan kepada Rabbnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادعُوا اللهَ وأنتم مُوقِنُون بالإجابةِ واعلَموا أنَّ اللهَ لا يَستَجيبُ دُعاءً مِن قلبٍ غافِلٍ لاهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”. (HR. at-Tirmidzi no. 3479)Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala, selain doa.”  (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829)Baca Juga: Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanDalamnya pemahaman prasangka baik kepada AllahSaudaraku, katakanlah bahwa engkau adalah hamba Allah yang telah mempraktikkan segala cara yang menurutmu telah sesuai dengan tuntunan agama dalam rangka memperoleh segala hal yang engkau inginkan.Engkau telah berikhtiar semaksimal mungkin. Engkau telah berdoa dalam sujud, di sepertiga malam, di waktu hujan, di jumat sore, di antara azan dan ikamah. Akan tetapi, tak ada satu pun yang engkau dapatkan dari hasil jerih payahmu itu.Lantas, adakah engkau kecewa kepada Rabbmu?Ingatlah, bahwa jalan keluar atas segala permasalahan adalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Sebagaimana umumnya kita ketahui, makna takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya. Sesederhana itukah?Saudaraku, terkadang kita hanya fokus kepada satu aspek dari makna takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dengan melaksanakan salat, puasa sunah, bersedekah, berzikir, berbuat baik, dan sebagainya. Akan tetapi, kita lupa aspek lainnya, yaitu menjauhi segala larangan Allah Ta’ala. Mata masih tak mampu dijaga dari yang diharamkan Allah. Mulut masih tak bisa direm dari gibah. Bahkan tubuh masih tak bisa ditahan untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar syariat-Nya.Ya, bisa saja itulah penyebab mengapa hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Mari kita introspeksi diri!Atau, engkau merasa telah berusaha menjauh dari segala hal yang menjadi larangan Allah, namun hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Bagaimanakah cara menyikapinya?Saudaraku, jika engkau merasa doa-doamu belum di-ijabah, sementara engkau merasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan semaksimal mungkin. Maka, sebagai seorang mukmin yang senantiasa menjaga prasangka baiknya kepada Allah, yakinlah bahwa di balik itu semua tersimpan hikmah yang luar biasa. Perhatikanlah hadis berikut ini.Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen), melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berkata, “Allah akan lebih banyak lagi.” (HR. Ahmad 3: 18)Wallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Kewajiban Seorang Ayah dalam Menasihati Sang Anak10 Nasihat Penyubur Iman di Tengah Wabah Pandemi Corona***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Radhiyallahu Anhu, Web Salafi, Ayat Al Quran Tentang Ibu, Apa Bukti Bahwa Allah Itu AdaTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islamManhajmanhaj salafmenjaga hatimenjaga pikirannasihatnasihat islam

Bagaimana Seorang Mukmin Mengelola Pikirannya?

Saudaraku, pernahkah anda mendengar hukum ‘the law of attraction’?Hukum fisika yang mengandung makna bahwa pikiran merupakan sumber energi positif dan negatif yang akan menarik energi dari luar untuk masuk ke dalam pikiran manusia (hukum tarik menarik).Apabila pikiran positif yang terpancar dari tubuh seseorang, maka energi positif pun secara otomatis menghampirinya, begitu pun sebaliknya. ‘The law of attraction’ telah mempengaruhi jutaan manusia untuk mencapai “kesuksesan” duniawi.Seorang ilmuwan barat juga mempopulerkan istilah ‘think and grow rich’ (berfikirlah dan kau akan menjadi kaya). Orang-orang yang meyakini konsep pemikiran ini mengklaim bahwa pikiran manusia sangat mempengaruhi apa yang ia terima, baik hal-hal yang baik maupun buruk.Mereka kemudian mempraktekkan konsep ini dengan melakukan visualisasi keinginan setiap pagi dan malam hari, membayangkan apa saja yang mereka inginkan. Dan lagi, mereka mengaku bahwa dengan mempraktekkan hal demikian, segala keinginan mereka dapat terwujud.Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah yang mendorong kita untuk mencapai kesuksesan duniawi dan ukhrawi kita? Daftar Isi sembunyikan 1. Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’ 2. Energi positif dalam prasangka baik kepada Allah 3. Dalamnya pemahaman prasangka baik kepada Allah Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’Saudaraku, ketahuilah bahwa telah ada dalam ajaran agama Islam yang mulia ini tentang bagaimana mengelola pikiran positif untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Ajaran dan konsep yang jauh lebih komprehensif daripada ‘the law of attraction’ ataupun ‘think and grow rich’.Sebagai hamba Allah Ta’ala yang beriman, kita senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip bertauhid. Di antaranya adalah tauhid rububiyyah, yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala merupakan Zat Tunggal yang mengatur segalanya yang ada di jagad raya ini. Oleh karena itu, seorang muwahhid (orang yang bertauhid) meyakini bahwa pikirannya yang mendorong keinginan terhadap sesuatu selalu ia manifestasikan dalam bentuk doa kepada Rabbnya. Hal itu disertai dengan keyakinan bahwa Allah mengabulkan segala yang ia minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479)Ya, keyakinan merupakan simbol energi positif dari seorang mukmin. Keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala yang menetapkan takdir. Seorang mukmin dengan pikiran positif terhadap Allah (husnudzh-dzhan) akan mendapatkan ganjaran berupa anugerah dari Allah atas apa yang ia butuhkan. Karena Allah Ta’ala akan selalu bersama hamba-hamba-Nya yang selalu berprasangka baik kepada-Nya. Allah Ta’ala pun memberikan apa yang ia inginkan. Inilah energi positif yang sesungguhnya.Baca Juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara MenasihatinyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنۡدَ ظَنِّ عَبۡدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيۡثُ يَذۡكُرُنِي. وَاللهِ، لَلَّهُ أَفۡرَحُ بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ أَحَدِكُمۡ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالۡفَلَاةِ. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبۡرًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ بَاعًا. وَإِذَا أَقۡبَلَ إِلَيَّ يَمۡشِي، أَقۡبَلۡتُ إِلَيۡهِ أُهَرۡوِلُ‘Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada (gembiranya) salah seorang kalian mendapatkan kembali tunggangannya yang hilang di gurun pasir. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu hasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu depa. Dan jika dia menuju kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menuju kepadanya dengan berjalan cepat.” (HR. Muslim no. 2675)Subhanallah, adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan seorang hamba yang selalu dekat dengan Rabb-Nya?Energi positif dalam prasangka baik kepada AllahOrang yang selalu berprasangka baik kepada Allah Ta’ala adalah orang yang jauh dari hati yang lalai. Hati yang lalai yakni hati yang selalu berprasangka buruk terhadap Allah atas segala cobaan yang sedang dihadapi.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiga hari sebelum wafat bersabda,لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ‘Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia, kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 2877)Energi positif yang akan diperoleh oleh orang yang berprasangka baik kepada Allah adalah bahwa ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan melalui doa-doa yang ia panjatkan kepada Rabbnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادعُوا اللهَ وأنتم مُوقِنُون بالإجابةِ واعلَموا أنَّ اللهَ لا يَستَجيبُ دُعاءً مِن قلبٍ غافِلٍ لاهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”. (HR. at-Tirmidzi no. 3479)Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala, selain doa.”  (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829)Baca Juga: Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanDalamnya pemahaman prasangka baik kepada AllahSaudaraku, katakanlah bahwa engkau adalah hamba Allah yang telah mempraktikkan segala cara yang menurutmu telah sesuai dengan tuntunan agama dalam rangka memperoleh segala hal yang engkau inginkan.Engkau telah berikhtiar semaksimal mungkin. Engkau telah berdoa dalam sujud, di sepertiga malam, di waktu hujan, di jumat sore, di antara azan dan ikamah. Akan tetapi, tak ada satu pun yang engkau dapatkan dari hasil jerih payahmu itu.Lantas, adakah engkau kecewa kepada Rabbmu?Ingatlah, bahwa jalan keluar atas segala permasalahan adalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Sebagaimana umumnya kita ketahui, makna takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya. Sesederhana itukah?Saudaraku, terkadang kita hanya fokus kepada satu aspek dari makna takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dengan melaksanakan salat, puasa sunah, bersedekah, berzikir, berbuat baik, dan sebagainya. Akan tetapi, kita lupa aspek lainnya, yaitu menjauhi segala larangan Allah Ta’ala. Mata masih tak mampu dijaga dari yang diharamkan Allah. Mulut masih tak bisa direm dari gibah. Bahkan tubuh masih tak bisa ditahan untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar syariat-Nya.Ya, bisa saja itulah penyebab mengapa hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Mari kita introspeksi diri!Atau, engkau merasa telah berusaha menjauh dari segala hal yang menjadi larangan Allah, namun hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Bagaimanakah cara menyikapinya?Saudaraku, jika engkau merasa doa-doamu belum di-ijabah, sementara engkau merasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan semaksimal mungkin. Maka, sebagai seorang mukmin yang senantiasa menjaga prasangka baiknya kepada Allah, yakinlah bahwa di balik itu semua tersimpan hikmah yang luar biasa. Perhatikanlah hadis berikut ini.Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen), melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berkata, “Allah akan lebih banyak lagi.” (HR. Ahmad 3: 18)Wallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Kewajiban Seorang Ayah dalam Menasihati Sang Anak10 Nasihat Penyubur Iman di Tengah Wabah Pandemi Corona***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Radhiyallahu Anhu, Web Salafi, Ayat Al Quran Tentang Ibu, Apa Bukti Bahwa Allah Itu AdaTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islamManhajmanhaj salafmenjaga hatimenjaga pikirannasihatnasihat islam
Saudaraku, pernahkah anda mendengar hukum ‘the law of attraction’?Hukum fisika yang mengandung makna bahwa pikiran merupakan sumber energi positif dan negatif yang akan menarik energi dari luar untuk masuk ke dalam pikiran manusia (hukum tarik menarik).Apabila pikiran positif yang terpancar dari tubuh seseorang, maka energi positif pun secara otomatis menghampirinya, begitu pun sebaliknya. ‘The law of attraction’ telah mempengaruhi jutaan manusia untuk mencapai “kesuksesan” duniawi.Seorang ilmuwan barat juga mempopulerkan istilah ‘think and grow rich’ (berfikirlah dan kau akan menjadi kaya). Orang-orang yang meyakini konsep pemikiran ini mengklaim bahwa pikiran manusia sangat mempengaruhi apa yang ia terima, baik hal-hal yang baik maupun buruk.Mereka kemudian mempraktekkan konsep ini dengan melakukan visualisasi keinginan setiap pagi dan malam hari, membayangkan apa saja yang mereka inginkan. Dan lagi, mereka mengaku bahwa dengan mempraktekkan hal demikian, segala keinginan mereka dapat terwujud.Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah yang mendorong kita untuk mencapai kesuksesan duniawi dan ukhrawi kita? Daftar Isi sembunyikan 1. Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’ 2. Energi positif dalam prasangka baik kepada Allah 3. Dalamnya pemahaman prasangka baik kepada Allah Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’Saudaraku, ketahuilah bahwa telah ada dalam ajaran agama Islam yang mulia ini tentang bagaimana mengelola pikiran positif untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Ajaran dan konsep yang jauh lebih komprehensif daripada ‘the law of attraction’ ataupun ‘think and grow rich’.Sebagai hamba Allah Ta’ala yang beriman, kita senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip bertauhid. Di antaranya adalah tauhid rububiyyah, yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala merupakan Zat Tunggal yang mengatur segalanya yang ada di jagad raya ini. Oleh karena itu, seorang muwahhid (orang yang bertauhid) meyakini bahwa pikirannya yang mendorong keinginan terhadap sesuatu selalu ia manifestasikan dalam bentuk doa kepada Rabbnya. Hal itu disertai dengan keyakinan bahwa Allah mengabulkan segala yang ia minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479)Ya, keyakinan merupakan simbol energi positif dari seorang mukmin. Keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala yang menetapkan takdir. Seorang mukmin dengan pikiran positif terhadap Allah (husnudzh-dzhan) akan mendapatkan ganjaran berupa anugerah dari Allah atas apa yang ia butuhkan. Karena Allah Ta’ala akan selalu bersama hamba-hamba-Nya yang selalu berprasangka baik kepada-Nya. Allah Ta’ala pun memberikan apa yang ia inginkan. Inilah energi positif yang sesungguhnya.Baca Juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara MenasihatinyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنۡدَ ظَنِّ عَبۡدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيۡثُ يَذۡكُرُنِي. وَاللهِ، لَلَّهُ أَفۡرَحُ بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ أَحَدِكُمۡ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالۡفَلَاةِ. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبۡرًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ بَاعًا. وَإِذَا أَقۡبَلَ إِلَيَّ يَمۡشِي، أَقۡبَلۡتُ إِلَيۡهِ أُهَرۡوِلُ‘Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada (gembiranya) salah seorang kalian mendapatkan kembali tunggangannya yang hilang di gurun pasir. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu hasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu depa. Dan jika dia menuju kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menuju kepadanya dengan berjalan cepat.” (HR. Muslim no. 2675)Subhanallah, adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan seorang hamba yang selalu dekat dengan Rabb-Nya?Energi positif dalam prasangka baik kepada AllahOrang yang selalu berprasangka baik kepada Allah Ta’ala adalah orang yang jauh dari hati yang lalai. Hati yang lalai yakni hati yang selalu berprasangka buruk terhadap Allah atas segala cobaan yang sedang dihadapi.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiga hari sebelum wafat bersabda,لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ‘Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia, kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 2877)Energi positif yang akan diperoleh oleh orang yang berprasangka baik kepada Allah adalah bahwa ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan melalui doa-doa yang ia panjatkan kepada Rabbnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادعُوا اللهَ وأنتم مُوقِنُون بالإجابةِ واعلَموا أنَّ اللهَ لا يَستَجيبُ دُعاءً مِن قلبٍ غافِلٍ لاهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”. (HR. at-Tirmidzi no. 3479)Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala, selain doa.”  (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829)Baca Juga: Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanDalamnya pemahaman prasangka baik kepada AllahSaudaraku, katakanlah bahwa engkau adalah hamba Allah yang telah mempraktikkan segala cara yang menurutmu telah sesuai dengan tuntunan agama dalam rangka memperoleh segala hal yang engkau inginkan.Engkau telah berikhtiar semaksimal mungkin. Engkau telah berdoa dalam sujud, di sepertiga malam, di waktu hujan, di jumat sore, di antara azan dan ikamah. Akan tetapi, tak ada satu pun yang engkau dapatkan dari hasil jerih payahmu itu.Lantas, adakah engkau kecewa kepada Rabbmu?Ingatlah, bahwa jalan keluar atas segala permasalahan adalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Sebagaimana umumnya kita ketahui, makna takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya. Sesederhana itukah?Saudaraku, terkadang kita hanya fokus kepada satu aspek dari makna takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dengan melaksanakan salat, puasa sunah, bersedekah, berzikir, berbuat baik, dan sebagainya. Akan tetapi, kita lupa aspek lainnya, yaitu menjauhi segala larangan Allah Ta’ala. Mata masih tak mampu dijaga dari yang diharamkan Allah. Mulut masih tak bisa direm dari gibah. Bahkan tubuh masih tak bisa ditahan untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar syariat-Nya.Ya, bisa saja itulah penyebab mengapa hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Mari kita introspeksi diri!Atau, engkau merasa telah berusaha menjauh dari segala hal yang menjadi larangan Allah, namun hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Bagaimanakah cara menyikapinya?Saudaraku, jika engkau merasa doa-doamu belum di-ijabah, sementara engkau merasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan semaksimal mungkin. Maka, sebagai seorang mukmin yang senantiasa menjaga prasangka baiknya kepada Allah, yakinlah bahwa di balik itu semua tersimpan hikmah yang luar biasa. Perhatikanlah hadis berikut ini.Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen), melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berkata, “Allah akan lebih banyak lagi.” (HR. Ahmad 3: 18)Wallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Kewajiban Seorang Ayah dalam Menasihati Sang Anak10 Nasihat Penyubur Iman di Tengah Wabah Pandemi Corona***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Radhiyallahu Anhu, Web Salafi, Ayat Al Quran Tentang Ibu, Apa Bukti Bahwa Allah Itu AdaTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islamManhajmanhaj salafmenjaga hatimenjaga pikirannasihatnasihat islam


Saudaraku, pernahkah anda mendengar hukum ‘the law of attraction’?Hukum fisika yang mengandung makna bahwa pikiran merupakan sumber energi positif dan negatif yang akan menarik energi dari luar untuk masuk ke dalam pikiran manusia (hukum tarik menarik).Apabila pikiran positif yang terpancar dari tubuh seseorang, maka energi positif pun secara otomatis menghampirinya, begitu pun sebaliknya. ‘The law of attraction’ telah mempengaruhi jutaan manusia untuk mencapai “kesuksesan” duniawi.Seorang ilmuwan barat juga mempopulerkan istilah ‘think and grow rich’ (berfikirlah dan kau akan menjadi kaya). Orang-orang yang meyakini konsep pemikiran ini mengklaim bahwa pikiran manusia sangat mempengaruhi apa yang ia terima, baik hal-hal yang baik maupun buruk.Mereka kemudian mempraktekkan konsep ini dengan melakukan visualisasi keinginan setiap pagi dan malam hari, membayangkan apa saja yang mereka inginkan. Dan lagi, mereka mengaku bahwa dengan mempraktekkan hal demikian, segala keinginan mereka dapat terwujud.Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah yang mendorong kita untuk mencapai kesuksesan duniawi dan ukhrawi kita? Daftar Isi sembunyikan 1. Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’ 2. Energi positif dalam prasangka baik kepada Allah 3. Dalamnya pemahaman prasangka baik kepada Allah Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’Saudaraku, ketahuilah bahwa telah ada dalam ajaran agama Islam yang mulia ini tentang bagaimana mengelola pikiran positif untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Ajaran dan konsep yang jauh lebih komprehensif daripada ‘the law of attraction’ ataupun ‘think and grow rich’.Sebagai hamba Allah Ta’ala yang beriman, kita senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip bertauhid. Di antaranya adalah tauhid rububiyyah, yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala merupakan Zat Tunggal yang mengatur segalanya yang ada di jagad raya ini. Oleh karena itu, seorang muwahhid (orang yang bertauhid) meyakini bahwa pikirannya yang mendorong keinginan terhadap sesuatu selalu ia manifestasikan dalam bentuk doa kepada Rabbnya. Hal itu disertai dengan keyakinan bahwa Allah mengabulkan segala yang ia minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479)Ya, keyakinan merupakan simbol energi positif dari seorang mukmin. Keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala yang menetapkan takdir. Seorang mukmin dengan pikiran positif terhadap Allah (husnudzh-dzhan) akan mendapatkan ganjaran berupa anugerah dari Allah atas apa yang ia butuhkan. Karena Allah Ta’ala akan selalu bersama hamba-hamba-Nya yang selalu berprasangka baik kepada-Nya. Allah Ta’ala pun memberikan apa yang ia inginkan. Inilah energi positif yang sesungguhnya.Baca Juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara MenasihatinyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنۡدَ ظَنِّ عَبۡدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيۡثُ يَذۡكُرُنِي. وَاللهِ، لَلَّهُ أَفۡرَحُ بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ أَحَدِكُمۡ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالۡفَلَاةِ. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبۡرًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ بَاعًا. وَإِذَا أَقۡبَلَ إِلَيَّ يَمۡشِي، أَقۡبَلۡتُ إِلَيۡهِ أُهَرۡوِلُ‘Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada (gembiranya) salah seorang kalian mendapatkan kembali tunggangannya yang hilang di gurun pasir. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu hasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu depa. Dan jika dia menuju kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menuju kepadanya dengan berjalan cepat.” (HR. Muslim no. 2675)Subhanallah, adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan seorang hamba yang selalu dekat dengan Rabb-Nya?Energi positif dalam prasangka baik kepada AllahOrang yang selalu berprasangka baik kepada Allah Ta’ala adalah orang yang jauh dari hati yang lalai. Hati yang lalai yakni hati yang selalu berprasangka buruk terhadap Allah atas segala cobaan yang sedang dihadapi.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiga hari sebelum wafat bersabda,لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ‘Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia, kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 2877)Energi positif yang akan diperoleh oleh orang yang berprasangka baik kepada Allah adalah bahwa ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan melalui doa-doa yang ia panjatkan kepada Rabbnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ادعُوا اللهَ وأنتم مُوقِنُون بالإجابةِ واعلَموا أنَّ اللهَ لا يَستَجيبُ دُعاءً مِن قلبٍ غافِلٍ لاهٍ“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”. (HR. at-Tirmidzi no. 3479)Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala, selain doa.”  (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829)Baca Juga: Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanDalamnya pemahaman prasangka baik kepada AllahSaudaraku, katakanlah bahwa engkau adalah hamba Allah yang telah mempraktikkan segala cara yang menurutmu telah sesuai dengan tuntunan agama dalam rangka memperoleh segala hal yang engkau inginkan.Engkau telah berikhtiar semaksimal mungkin. Engkau telah berdoa dalam sujud, di sepertiga malam, di waktu hujan, di jumat sore, di antara azan dan ikamah. Akan tetapi, tak ada satu pun yang engkau dapatkan dari hasil jerih payahmu itu.Lantas, adakah engkau kecewa kepada Rabbmu?Ingatlah, bahwa jalan keluar atas segala permasalahan adalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Sebagaimana umumnya kita ketahui, makna takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya. Sesederhana itukah?Saudaraku, terkadang kita hanya fokus kepada satu aspek dari makna takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dengan melaksanakan salat, puasa sunah, bersedekah, berzikir, berbuat baik, dan sebagainya. Akan tetapi, kita lupa aspek lainnya, yaitu menjauhi segala larangan Allah Ta’ala. Mata masih tak mampu dijaga dari yang diharamkan Allah. Mulut masih tak bisa direm dari gibah. Bahkan tubuh masih tak bisa ditahan untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar syariat-Nya.Ya, bisa saja itulah penyebab mengapa hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Mari kita introspeksi diri!Atau, engkau merasa telah berusaha menjauh dari segala hal yang menjadi larangan Allah, namun hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Bagaimanakah cara menyikapinya?Saudaraku, jika engkau merasa doa-doamu belum di-ijabah, sementara engkau merasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan semaksimal mungkin. Maka, sebagai seorang mukmin yang senantiasa menjaga prasangka baiknya kepada Allah, yakinlah bahwa di balik itu semua tersimpan hikmah yang luar biasa. Perhatikanlah hadis berikut ini.Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen), melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berkata, “Allah akan lebih banyak lagi.” (HR. Ahmad 3: 18)Wallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Kewajiban Seorang Ayah dalam Menasihati Sang Anak10 Nasihat Penyubur Iman di Tengah Wabah Pandemi Corona***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Radhiyallahu Anhu, Web Salafi, Ayat Al Quran Tentang Ibu, Apa Bukti Bahwa Allah Itu AdaTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islamManhajmanhaj salafmenjaga hatimenjaga pikirannasihatnasihat islam

10 Pembatal Islam

نواقض الإسلام الحمد لله، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه[1]. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya, beserta keluarga, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.[1] أما بعد: فاعلم أيها المسلم أن الله سبحانه أوجب على جميع العباد الدخول في الإسلام، والتمسك به والحذر مما يخالفه، وبعث نبيه محمداً ﷺ للدعوة إلى ذلك، وأخبر عز وجل أن من اتبعه فقد اهتدى، ومن أعرض عنه فقد ضل، وحذر في آيات كثيرات من أسباب الردة، وسائر أنواع الشرك والكفر، وذكر العلماء رحمهم الله في باب حكم المرتد أن المسلم قد يرتد عن دينه بأنواع كثيرة من النواقض التي تحل دمه وماله ويكون بها خارجاً من الإسلام، ومن أخطرها وأكثرها وقوعا عشرة نواقض ذكرها الشيخ الإمام محمد بن عبدالوهاب وغيره من أهل العلم رحمهم الله جميعا، ونذكرها لك فيما يلي على سبيل الإيجاز لتحذرها وتحذر منها غيرك، رجاء السلامة والعافية منها، مع توضيحات قليلة نذكرها بعدها. Adapun selanjutnya, wahai Muslim, ketahuilah bahwa Allah Subḥānahu wa Ta’āla mewajibkan semua hamba-Nya untuk masuk Islam dan berpegang teguh dengannya, dan waspada dari perkara yang menyelisihinya.  Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkannya. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa barang siapa yang mengikutinya berarti dia mendapatkan petunjuk dan yang berpaling darinya akan tersesat.  Allah juga memperingatkan dalam banyak ayat sebab-sebab seseorang bisa murtad (keluar dari Islam) dan semua bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Para ulama raẖimahumullāh telah menyebutkan dalam bab hukum orang yang murtad, bahwa seorang muslim telah murtad dengan banyak sebab yang membatalkan keislamannya, yang membuatnya keluar dari Islam dan halal darah dan hartanya.  Pembatal yang paling bahaya dan sering terjadi ada sepuluh yang disebutkan oleh Syeikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama selain beliau raẖimahumullāh. Kami sebutkan semua itu secara ringkas agar kalian ingat dan kalian mengingatkan orang lain dengan berharap keselamatan darinya.  Berikut kami sebutkan dengan sedikit penjelasan. Di antara 10 pembatal keislaman: الأول: من النواقض العشرة: الشرك في عبادة الله، قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء:48] وقال تعالى: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [المائدة:72] ومن ذلك دعاء الأموات والاستغاثة بهم والنذر والذبح لهم. 1. Mempersekutukan Allah. Allah Ta’āla berfirman, إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48) Dia juga berfirman, إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Di antara bentuknya adalah dengan berdoa kepada orang mati, memohon pertolongan darinya, atau bernazar dan berkurban untuknya. الثاني: من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا 2. Orang yang menjadikan antara dirinya dengan Allah perantara yang dia berdoa kepadanya, meminta syafaat kepadanya atau bertawakal kepadanya, dia kafir dengan kesepakatan ulama. الثالث: من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر 3. Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik, ragu terhadap kekafirannya atau membenarkan agamanya, maka dia kafir. الرابع: من اعتقد أن هدي غير النبي ﷺ أكمل من هديه، أو أن حكم غيره أحسن من حكمه، كالذين يفضلون حكم الطواغيت على حكمه، فهو كافر 4. Orang yang meyakini bahwa petunjuk selain petunjuk Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik atau ada hukum yang lebih baik dari hukum Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti orang yang lebih memilih hukum thaghut daripada hukum beliau, dia kafir. الخامس: من أبغض شيئاً مما جاء به الرسول ﷺ ولو عمل به فقد كفر؛ لقوله تعالى: ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ [محمد:9] 5. Orang yang membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, dia kafir, sebagaimana firman Allah Ta’āla,  ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (QS Muhammad: 9) السادس: من استهزأ بشيء من دين الرسول ﷺ أو ثوابه أو عقابه كفر، والدليل قوله تعالى: قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ [التوبة:65 – 66] 6. Orang yang memperolok-olok sesuatu dari agama Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam atau janji dan ancamannya, dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ  “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.’” (QS. at-Taubah: 65 – 66) السابع: السحر ومنه الصرف والعطف، فمن فعله أو رضي به كفر، والدليل قوله تعالى: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ [البقرة:102] 7. Sihir, di antaranya adalah sihir untuk memikat seseorang atau menjauhkannya dari pasangannya. Barang siapa melakukannya atau rida dengan hal itu, dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ  “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.'” (QS. al-Baqarah: 102) الثامن: مظاهرة المشركين ومعاونتهم على المسلمين، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمََ الظَّالِمِينَ [المائدة:51] 8. Menolong orang musyrik dan bersekongkol dengan mereka untuk melawan kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ  “Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maidah: 51) التاسع: من اعتقد أن بعض الناس يسعه الخروج عن شريعة محمد ﷺ فهو كافر. لقوله تعالى: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران:85] 9. Orang yang berkeyakinan bahwa ada sebagian orang yang terbebas dari kewajiban mengikuti syariat Nabi Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam, dia kafir, sebagaimana dalam firman Allah Ta’āla,  وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85) العاشر: الإعراض عن دين الله لا يتعلمه ولا يعمل به، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ [السجدة:22] 10. Orang yang berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ  “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?” (QS. as-Sajdah: 22) *** ولا فرق في جميع هذه النواقض بين الهازل والجاد والخائف، إلا المكره، وكلها من أعظم ما يكون خطراً، وأكثر ما يكون وقوعاً، فينبغي للمسلم أن يحذرها، ويخاف منها على نفسه، نعوذ بالله من موجبات غضبه وأليم عقابه، وصلى الله على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه وسلم، انتهى كلامه رحمه الله. Semua pembatal ini sama saja dilakukan ketika bercanda, serius, atau takut, kecuali jika terpaksa. Semua ini adalah yang paling berbahaya dan sering terjadi, sehingga seorang Muslim harus mewaspadainya dan takut dirinya terjatuh padanya. Kita berlindung kepada Allah dari perkara yang mengundang murka dan azab-Nya yang pedih.  Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Selesai ucapan beliau raẖimahullahu taʿalā. ويدخل في القسم الرابع: من اعتقد أن الأنظمة والقوانين التي يسنها الناس أفضل من شريعة الإسلام أو أنها مساوية لها، أو أنه يجوز التحاكم إليها، ولو اعتقد أن الحكم بالشريعة أفضل أو أن نظام الإسلام لا يصلح تطبيقه في القرن العشرين، أو أنه كان سبباً في تخلف المسلمين، أو أنه يحصر في علاقة المرء بربه دون أن يتدخل في شئون الحياة الأخرى. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat, barang siapa yang meyakini bahwa ada aturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih baik daripada syariat Islam atau sama kedudukannya atau berkeyakinan bahwa berhukum dengannya boleh, walaupun dia menganggap bahwa hukum syariat Islam lebih baik, hukum Islam sudah tidak cocok lagi diterapkan di abad dua puluh ini, menjadi sebab tertinggalnya umat Islam, atau hanya berlaku terbatas untuk masalah ibadah seseorang dengan Tuhan-nya dan tidak boleh dimasukkan dalam urusan kehidupan manusia yang lainnya. ويدخل في الرابع أيضاً: من يرى أن إنفاذ حكم الله في قطع يد السارق، أو رجم الزاني المحصن لا يناسب العصر الحاضر، ويدخل في ذلك أيضاً كل من اعتقد أنه يجوز الحكم بغير شريعة الله في المعاملات أو الحدود أو غيرهما، وإن لم يعتقد أن ذلك أفضل من حكم الشريعة؛ لأنه بذلك يكون قد استباح ما حرمه الله إجماعاً، وكل من استباح ما حرم الله مما هو معلوم من الدين بالضرورة، كالزنا والخمر والربا والحكم بغير شريعة الله فهو كافر بإجماع المسلمين. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat juga, orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum Allah berupa potong tangan bagi pencuri atau rajam bagi pelaku zina muẖṣan tidak cocok diterapkan di era modern ini.  Termasuk juga, semua orang yang meyakini bolehnya berhukum dengan selain syariat Islam dalam hal muamalah, hukum pidana, atau yang lainnya walaupun dia tidak meyakini bahwa semua itu lebih baik daripada hukum Islam, karena dengan hal itu dia telah menghalalkan apa yang telah disepakati keharamannya dalam agama Allah. Semua orang yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dari perkara agama yang sudah dikenal luas, seperti haramnya zina, riba dan berhukum dengan selain syariat Allah, maka dia kafir dengan kesepakatan para ulama Islam. ونسأل الله أن يوفقنا جميعا لما يرضيه وأن يهدينا وجميع المسلمين صراطه المستقيم إنه سميع قريب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه. Kami memohon kepada Allah agar memberi kita semua taufik kepada apa yang Dia ridai dan memberi petunjuk bagi kita dan semua umat Islam menuju jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya Dia yang Maha Mendengar dan Mahadekat. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/articles/20/نواقض-الاسلام PDF Artikel Catatan kaki: [1] نشر هذا الموضوع في مجلة البحوث الإسلامية بالرياض العدد السابع الصادر في الأشهر (رجب وشعبان ورمضان وشوال عام 1403هـ)، مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 1/ 130 Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt aš-Šeiẖ Ibn Bāz 1/ 130 dan judul ini diterbitkan di Majalah al-Buḥūṯ al-Islāmiyyah di Riyadh, edisi VI, terbit untuk bulan Rajab, Sya’ban, Ramadan, dan Syawal tahun 1403 H.  *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya Ban, Cara Mengusir Kuntilanak Dalam Islam, Sejarah Kitab Kuning, Shahih, Arti Dari Doa Qunut, Tata Cara Mandi Wajib Yang Benar Bagi Wanita Visited 1,425 times, 11 visit(s) today Post Views: 565 QRIS donasi Yufid

10 Pembatal Islam

نواقض الإسلام الحمد لله، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه[1]. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya, beserta keluarga, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.[1] أما بعد: فاعلم أيها المسلم أن الله سبحانه أوجب على جميع العباد الدخول في الإسلام، والتمسك به والحذر مما يخالفه، وبعث نبيه محمداً ﷺ للدعوة إلى ذلك، وأخبر عز وجل أن من اتبعه فقد اهتدى، ومن أعرض عنه فقد ضل، وحذر في آيات كثيرات من أسباب الردة، وسائر أنواع الشرك والكفر، وذكر العلماء رحمهم الله في باب حكم المرتد أن المسلم قد يرتد عن دينه بأنواع كثيرة من النواقض التي تحل دمه وماله ويكون بها خارجاً من الإسلام، ومن أخطرها وأكثرها وقوعا عشرة نواقض ذكرها الشيخ الإمام محمد بن عبدالوهاب وغيره من أهل العلم رحمهم الله جميعا، ونذكرها لك فيما يلي على سبيل الإيجاز لتحذرها وتحذر منها غيرك، رجاء السلامة والعافية منها، مع توضيحات قليلة نذكرها بعدها. Adapun selanjutnya, wahai Muslim, ketahuilah bahwa Allah Subḥānahu wa Ta’āla mewajibkan semua hamba-Nya untuk masuk Islam dan berpegang teguh dengannya, dan waspada dari perkara yang menyelisihinya.  Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkannya. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa barang siapa yang mengikutinya berarti dia mendapatkan petunjuk dan yang berpaling darinya akan tersesat.  Allah juga memperingatkan dalam banyak ayat sebab-sebab seseorang bisa murtad (keluar dari Islam) dan semua bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Para ulama raẖimahumullāh telah menyebutkan dalam bab hukum orang yang murtad, bahwa seorang muslim telah murtad dengan banyak sebab yang membatalkan keislamannya, yang membuatnya keluar dari Islam dan halal darah dan hartanya.  Pembatal yang paling bahaya dan sering terjadi ada sepuluh yang disebutkan oleh Syeikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama selain beliau raẖimahumullāh. Kami sebutkan semua itu secara ringkas agar kalian ingat dan kalian mengingatkan orang lain dengan berharap keselamatan darinya.  Berikut kami sebutkan dengan sedikit penjelasan. Di antara 10 pembatal keislaman: الأول: من النواقض العشرة: الشرك في عبادة الله، قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء:48] وقال تعالى: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [المائدة:72] ومن ذلك دعاء الأموات والاستغاثة بهم والنذر والذبح لهم. 1. Mempersekutukan Allah. Allah Ta’āla berfirman, إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48) Dia juga berfirman, إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Di antara bentuknya adalah dengan berdoa kepada orang mati, memohon pertolongan darinya, atau bernazar dan berkurban untuknya. الثاني: من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا 2. Orang yang menjadikan antara dirinya dengan Allah perantara yang dia berdoa kepadanya, meminta syafaat kepadanya atau bertawakal kepadanya, dia kafir dengan kesepakatan ulama. الثالث: من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر 3. Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik, ragu terhadap kekafirannya atau membenarkan agamanya, maka dia kafir. الرابع: من اعتقد أن هدي غير النبي ﷺ أكمل من هديه، أو أن حكم غيره أحسن من حكمه، كالذين يفضلون حكم الطواغيت على حكمه، فهو كافر 4. Orang yang meyakini bahwa petunjuk selain petunjuk Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik atau ada hukum yang lebih baik dari hukum Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti orang yang lebih memilih hukum thaghut daripada hukum beliau, dia kafir. الخامس: من أبغض شيئاً مما جاء به الرسول ﷺ ولو عمل به فقد كفر؛ لقوله تعالى: ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ [محمد:9] 5. Orang yang membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, dia kafir, sebagaimana firman Allah Ta’āla,  ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (QS Muhammad: 9) السادس: من استهزأ بشيء من دين الرسول ﷺ أو ثوابه أو عقابه كفر، والدليل قوله تعالى: قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ [التوبة:65 – 66] 6. Orang yang memperolok-olok sesuatu dari agama Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam atau janji dan ancamannya, dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ  “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.’” (QS. at-Taubah: 65 – 66) السابع: السحر ومنه الصرف والعطف، فمن فعله أو رضي به كفر، والدليل قوله تعالى: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ [البقرة:102] 7. Sihir, di antaranya adalah sihir untuk memikat seseorang atau menjauhkannya dari pasangannya. Barang siapa melakukannya atau rida dengan hal itu, dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ  “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.'” (QS. al-Baqarah: 102) الثامن: مظاهرة المشركين ومعاونتهم على المسلمين، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمََ الظَّالِمِينَ [المائدة:51] 8. Menolong orang musyrik dan bersekongkol dengan mereka untuk melawan kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ  “Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maidah: 51) التاسع: من اعتقد أن بعض الناس يسعه الخروج عن شريعة محمد ﷺ فهو كافر. لقوله تعالى: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران:85] 9. Orang yang berkeyakinan bahwa ada sebagian orang yang terbebas dari kewajiban mengikuti syariat Nabi Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam, dia kafir, sebagaimana dalam firman Allah Ta’āla,  وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85) العاشر: الإعراض عن دين الله لا يتعلمه ولا يعمل به، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ [السجدة:22] 10. Orang yang berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ  “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?” (QS. as-Sajdah: 22) *** ولا فرق في جميع هذه النواقض بين الهازل والجاد والخائف، إلا المكره، وكلها من أعظم ما يكون خطراً، وأكثر ما يكون وقوعاً، فينبغي للمسلم أن يحذرها، ويخاف منها على نفسه، نعوذ بالله من موجبات غضبه وأليم عقابه، وصلى الله على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه وسلم، انتهى كلامه رحمه الله. Semua pembatal ini sama saja dilakukan ketika bercanda, serius, atau takut, kecuali jika terpaksa. Semua ini adalah yang paling berbahaya dan sering terjadi, sehingga seorang Muslim harus mewaspadainya dan takut dirinya terjatuh padanya. Kita berlindung kepada Allah dari perkara yang mengundang murka dan azab-Nya yang pedih.  Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Selesai ucapan beliau raẖimahullahu taʿalā. ويدخل في القسم الرابع: من اعتقد أن الأنظمة والقوانين التي يسنها الناس أفضل من شريعة الإسلام أو أنها مساوية لها، أو أنه يجوز التحاكم إليها، ولو اعتقد أن الحكم بالشريعة أفضل أو أن نظام الإسلام لا يصلح تطبيقه في القرن العشرين، أو أنه كان سبباً في تخلف المسلمين، أو أنه يحصر في علاقة المرء بربه دون أن يتدخل في شئون الحياة الأخرى. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat, barang siapa yang meyakini bahwa ada aturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih baik daripada syariat Islam atau sama kedudukannya atau berkeyakinan bahwa berhukum dengannya boleh, walaupun dia menganggap bahwa hukum syariat Islam lebih baik, hukum Islam sudah tidak cocok lagi diterapkan di abad dua puluh ini, menjadi sebab tertinggalnya umat Islam, atau hanya berlaku terbatas untuk masalah ibadah seseorang dengan Tuhan-nya dan tidak boleh dimasukkan dalam urusan kehidupan manusia yang lainnya. ويدخل في الرابع أيضاً: من يرى أن إنفاذ حكم الله في قطع يد السارق، أو رجم الزاني المحصن لا يناسب العصر الحاضر، ويدخل في ذلك أيضاً كل من اعتقد أنه يجوز الحكم بغير شريعة الله في المعاملات أو الحدود أو غيرهما، وإن لم يعتقد أن ذلك أفضل من حكم الشريعة؛ لأنه بذلك يكون قد استباح ما حرمه الله إجماعاً، وكل من استباح ما حرم الله مما هو معلوم من الدين بالضرورة، كالزنا والخمر والربا والحكم بغير شريعة الله فهو كافر بإجماع المسلمين. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat juga, orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum Allah berupa potong tangan bagi pencuri atau rajam bagi pelaku zina muẖṣan tidak cocok diterapkan di era modern ini.  Termasuk juga, semua orang yang meyakini bolehnya berhukum dengan selain syariat Islam dalam hal muamalah, hukum pidana, atau yang lainnya walaupun dia tidak meyakini bahwa semua itu lebih baik daripada hukum Islam, karena dengan hal itu dia telah menghalalkan apa yang telah disepakati keharamannya dalam agama Allah. Semua orang yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dari perkara agama yang sudah dikenal luas, seperti haramnya zina, riba dan berhukum dengan selain syariat Allah, maka dia kafir dengan kesepakatan para ulama Islam. ونسأل الله أن يوفقنا جميعا لما يرضيه وأن يهدينا وجميع المسلمين صراطه المستقيم إنه سميع قريب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه. Kami memohon kepada Allah agar memberi kita semua taufik kepada apa yang Dia ridai dan memberi petunjuk bagi kita dan semua umat Islam menuju jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya Dia yang Maha Mendengar dan Mahadekat. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/articles/20/نواقض-الاسلام PDF Artikel Catatan kaki: [1] نشر هذا الموضوع في مجلة البحوث الإسلامية بالرياض العدد السابع الصادر في الأشهر (رجب وشعبان ورمضان وشوال عام 1403هـ)، مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 1/ 130 Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt aš-Šeiẖ Ibn Bāz 1/ 130 dan judul ini diterbitkan di Majalah al-Buḥūṯ al-Islāmiyyah di Riyadh, edisi VI, terbit untuk bulan Rajab, Sya’ban, Ramadan, dan Syawal tahun 1403 H.  *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya Ban, Cara Mengusir Kuntilanak Dalam Islam, Sejarah Kitab Kuning, Shahih, Arti Dari Doa Qunut, Tata Cara Mandi Wajib Yang Benar Bagi Wanita Visited 1,425 times, 11 visit(s) today Post Views: 565 QRIS donasi Yufid
نواقض الإسلام الحمد لله، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه[1]. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya, beserta keluarga, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.[1] أما بعد: فاعلم أيها المسلم أن الله سبحانه أوجب على جميع العباد الدخول في الإسلام، والتمسك به والحذر مما يخالفه، وبعث نبيه محمداً ﷺ للدعوة إلى ذلك، وأخبر عز وجل أن من اتبعه فقد اهتدى، ومن أعرض عنه فقد ضل، وحذر في آيات كثيرات من أسباب الردة، وسائر أنواع الشرك والكفر، وذكر العلماء رحمهم الله في باب حكم المرتد أن المسلم قد يرتد عن دينه بأنواع كثيرة من النواقض التي تحل دمه وماله ويكون بها خارجاً من الإسلام، ومن أخطرها وأكثرها وقوعا عشرة نواقض ذكرها الشيخ الإمام محمد بن عبدالوهاب وغيره من أهل العلم رحمهم الله جميعا، ونذكرها لك فيما يلي على سبيل الإيجاز لتحذرها وتحذر منها غيرك، رجاء السلامة والعافية منها، مع توضيحات قليلة نذكرها بعدها. Adapun selanjutnya, wahai Muslim, ketahuilah bahwa Allah Subḥānahu wa Ta’āla mewajibkan semua hamba-Nya untuk masuk Islam dan berpegang teguh dengannya, dan waspada dari perkara yang menyelisihinya.  Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkannya. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa barang siapa yang mengikutinya berarti dia mendapatkan petunjuk dan yang berpaling darinya akan tersesat.  Allah juga memperingatkan dalam banyak ayat sebab-sebab seseorang bisa murtad (keluar dari Islam) dan semua bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Para ulama raẖimahumullāh telah menyebutkan dalam bab hukum orang yang murtad, bahwa seorang muslim telah murtad dengan banyak sebab yang membatalkan keislamannya, yang membuatnya keluar dari Islam dan halal darah dan hartanya.  Pembatal yang paling bahaya dan sering terjadi ada sepuluh yang disebutkan oleh Syeikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama selain beliau raẖimahumullāh. Kami sebutkan semua itu secara ringkas agar kalian ingat dan kalian mengingatkan orang lain dengan berharap keselamatan darinya.  Berikut kami sebutkan dengan sedikit penjelasan. Di antara 10 pembatal keislaman: الأول: من النواقض العشرة: الشرك في عبادة الله، قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء:48] وقال تعالى: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [المائدة:72] ومن ذلك دعاء الأموات والاستغاثة بهم والنذر والذبح لهم. 1. Mempersekutukan Allah. Allah Ta’āla berfirman, إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48) Dia juga berfirman, إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Di antara bentuknya adalah dengan berdoa kepada orang mati, memohon pertolongan darinya, atau bernazar dan berkurban untuknya. الثاني: من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا 2. Orang yang menjadikan antara dirinya dengan Allah perantara yang dia berdoa kepadanya, meminta syafaat kepadanya atau bertawakal kepadanya, dia kafir dengan kesepakatan ulama. الثالث: من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر 3. Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik, ragu terhadap kekafirannya atau membenarkan agamanya, maka dia kafir. الرابع: من اعتقد أن هدي غير النبي ﷺ أكمل من هديه، أو أن حكم غيره أحسن من حكمه، كالذين يفضلون حكم الطواغيت على حكمه، فهو كافر 4. Orang yang meyakini bahwa petunjuk selain petunjuk Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik atau ada hukum yang lebih baik dari hukum Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti orang yang lebih memilih hukum thaghut daripada hukum beliau, dia kafir. الخامس: من أبغض شيئاً مما جاء به الرسول ﷺ ولو عمل به فقد كفر؛ لقوله تعالى: ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ [محمد:9] 5. Orang yang membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, dia kafir, sebagaimana firman Allah Ta’āla,  ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (QS Muhammad: 9) السادس: من استهزأ بشيء من دين الرسول ﷺ أو ثوابه أو عقابه كفر، والدليل قوله تعالى: قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ [التوبة:65 – 66] 6. Orang yang memperolok-olok sesuatu dari agama Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam atau janji dan ancamannya, dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ  “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.’” (QS. at-Taubah: 65 – 66) السابع: السحر ومنه الصرف والعطف، فمن فعله أو رضي به كفر، والدليل قوله تعالى: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ [البقرة:102] 7. Sihir, di antaranya adalah sihir untuk memikat seseorang atau menjauhkannya dari pasangannya. Barang siapa melakukannya atau rida dengan hal itu, dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ  “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.'” (QS. al-Baqarah: 102) الثامن: مظاهرة المشركين ومعاونتهم على المسلمين، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمََ الظَّالِمِينَ [المائدة:51] 8. Menolong orang musyrik dan bersekongkol dengan mereka untuk melawan kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ  “Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maidah: 51) التاسع: من اعتقد أن بعض الناس يسعه الخروج عن شريعة محمد ﷺ فهو كافر. لقوله تعالى: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران:85] 9. Orang yang berkeyakinan bahwa ada sebagian orang yang terbebas dari kewajiban mengikuti syariat Nabi Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam, dia kafir, sebagaimana dalam firman Allah Ta’āla,  وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85) العاشر: الإعراض عن دين الله لا يتعلمه ولا يعمل به، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ [السجدة:22] 10. Orang yang berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ  “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?” (QS. as-Sajdah: 22) *** ولا فرق في جميع هذه النواقض بين الهازل والجاد والخائف، إلا المكره، وكلها من أعظم ما يكون خطراً، وأكثر ما يكون وقوعاً، فينبغي للمسلم أن يحذرها، ويخاف منها على نفسه، نعوذ بالله من موجبات غضبه وأليم عقابه، وصلى الله على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه وسلم، انتهى كلامه رحمه الله. Semua pembatal ini sama saja dilakukan ketika bercanda, serius, atau takut, kecuali jika terpaksa. Semua ini adalah yang paling berbahaya dan sering terjadi, sehingga seorang Muslim harus mewaspadainya dan takut dirinya terjatuh padanya. Kita berlindung kepada Allah dari perkara yang mengundang murka dan azab-Nya yang pedih.  Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Selesai ucapan beliau raẖimahullahu taʿalā. ويدخل في القسم الرابع: من اعتقد أن الأنظمة والقوانين التي يسنها الناس أفضل من شريعة الإسلام أو أنها مساوية لها، أو أنه يجوز التحاكم إليها، ولو اعتقد أن الحكم بالشريعة أفضل أو أن نظام الإسلام لا يصلح تطبيقه في القرن العشرين، أو أنه كان سبباً في تخلف المسلمين، أو أنه يحصر في علاقة المرء بربه دون أن يتدخل في شئون الحياة الأخرى. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat, barang siapa yang meyakini bahwa ada aturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih baik daripada syariat Islam atau sama kedudukannya atau berkeyakinan bahwa berhukum dengannya boleh, walaupun dia menganggap bahwa hukum syariat Islam lebih baik, hukum Islam sudah tidak cocok lagi diterapkan di abad dua puluh ini, menjadi sebab tertinggalnya umat Islam, atau hanya berlaku terbatas untuk masalah ibadah seseorang dengan Tuhan-nya dan tidak boleh dimasukkan dalam urusan kehidupan manusia yang lainnya. ويدخل في الرابع أيضاً: من يرى أن إنفاذ حكم الله في قطع يد السارق، أو رجم الزاني المحصن لا يناسب العصر الحاضر، ويدخل في ذلك أيضاً كل من اعتقد أنه يجوز الحكم بغير شريعة الله في المعاملات أو الحدود أو غيرهما، وإن لم يعتقد أن ذلك أفضل من حكم الشريعة؛ لأنه بذلك يكون قد استباح ما حرمه الله إجماعاً، وكل من استباح ما حرم الله مما هو معلوم من الدين بالضرورة، كالزنا والخمر والربا والحكم بغير شريعة الله فهو كافر بإجماع المسلمين. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat juga, orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum Allah berupa potong tangan bagi pencuri atau rajam bagi pelaku zina muẖṣan tidak cocok diterapkan di era modern ini.  Termasuk juga, semua orang yang meyakini bolehnya berhukum dengan selain syariat Islam dalam hal muamalah, hukum pidana, atau yang lainnya walaupun dia tidak meyakini bahwa semua itu lebih baik daripada hukum Islam, karena dengan hal itu dia telah menghalalkan apa yang telah disepakati keharamannya dalam agama Allah. Semua orang yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dari perkara agama yang sudah dikenal luas, seperti haramnya zina, riba dan berhukum dengan selain syariat Allah, maka dia kafir dengan kesepakatan para ulama Islam. ونسأل الله أن يوفقنا جميعا لما يرضيه وأن يهدينا وجميع المسلمين صراطه المستقيم إنه سميع قريب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه. Kami memohon kepada Allah agar memberi kita semua taufik kepada apa yang Dia ridai dan memberi petunjuk bagi kita dan semua umat Islam menuju jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya Dia yang Maha Mendengar dan Mahadekat. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/articles/20/نواقض-الاسلام PDF Artikel Catatan kaki: [1] نشر هذا الموضوع في مجلة البحوث الإسلامية بالرياض العدد السابع الصادر في الأشهر (رجب وشعبان ورمضان وشوال عام 1403هـ)، مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 1/ 130 Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt aš-Šeiẖ Ibn Bāz 1/ 130 dan judul ini diterbitkan di Majalah al-Buḥūṯ al-Islāmiyyah di Riyadh, edisi VI, terbit untuk bulan Rajab, Sya’ban, Ramadan, dan Syawal tahun 1403 H.  *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya Ban, Cara Mengusir Kuntilanak Dalam Islam, Sejarah Kitab Kuning, Shahih, Arti Dari Doa Qunut, Tata Cara Mandi Wajib Yang Benar Bagi Wanita Visited 1,425 times, 11 visit(s) today Post Views: 565 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1365416893&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> نواقض الإسلام الحمد لله، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه[1]. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya, beserta keluarga, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.[1] أما بعد: فاعلم أيها المسلم أن الله سبحانه أوجب على جميع العباد الدخول في الإسلام، والتمسك به والحذر مما يخالفه، وبعث نبيه محمداً ﷺ للدعوة إلى ذلك، وأخبر عز وجل أن من اتبعه فقد اهتدى، ومن أعرض عنه فقد ضل، وحذر في آيات كثيرات من أسباب الردة، وسائر أنواع الشرك والكفر، وذكر العلماء رحمهم الله في باب حكم المرتد أن المسلم قد يرتد عن دينه بأنواع كثيرة من النواقض التي تحل دمه وماله ويكون بها خارجاً من الإسلام، ومن أخطرها وأكثرها وقوعا عشرة نواقض ذكرها الشيخ الإمام محمد بن عبدالوهاب وغيره من أهل العلم رحمهم الله جميعا، ونذكرها لك فيما يلي على سبيل الإيجاز لتحذرها وتحذر منها غيرك، رجاء السلامة والعافية منها، مع توضيحات قليلة نذكرها بعدها. Adapun selanjutnya, wahai Muslim, ketahuilah bahwa Allah Subḥānahu wa Ta’āla mewajibkan semua hamba-Nya untuk masuk Islam dan berpegang teguh dengannya, dan waspada dari perkara yang menyelisihinya.  Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkannya. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa barang siapa yang mengikutinya berarti dia mendapatkan petunjuk dan yang berpaling darinya akan tersesat.  Allah juga memperingatkan dalam banyak ayat sebab-sebab seseorang bisa murtad (keluar dari Islam) dan semua bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Para ulama raẖimahumullāh telah menyebutkan dalam bab hukum orang yang murtad, bahwa seorang muslim telah murtad dengan banyak sebab yang membatalkan keislamannya, yang membuatnya keluar dari Islam dan halal darah dan hartanya.  Pembatal yang paling bahaya dan sering terjadi ada sepuluh yang disebutkan oleh Syeikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama selain beliau raẖimahumullāh. Kami sebutkan semua itu secara ringkas agar kalian ingat dan kalian mengingatkan orang lain dengan berharap keselamatan darinya.  Berikut kami sebutkan dengan sedikit penjelasan. Di antara 10 pembatal keislaman: الأول: من النواقض العشرة: الشرك في عبادة الله، قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء:48] وقال تعالى: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [المائدة:72] ومن ذلك دعاء الأموات والاستغاثة بهم والنذر والذبح لهم. 1. Mempersekutukan Allah. Allah Ta’āla berfirman, إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48) Dia juga berfirman, إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72) Di antara bentuknya adalah dengan berdoa kepada orang mati, memohon pertolongan darinya, atau bernazar dan berkurban untuknya. الثاني: من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا 2. Orang yang menjadikan antara dirinya dengan Allah perantara yang dia berdoa kepadanya, meminta syafaat kepadanya atau bertawakal kepadanya, dia kafir dengan kesepakatan ulama. الثالث: من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر 3. Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik, ragu terhadap kekafirannya atau membenarkan agamanya, maka dia kafir. الرابع: من اعتقد أن هدي غير النبي ﷺ أكمل من هديه، أو أن حكم غيره أحسن من حكمه، كالذين يفضلون حكم الطواغيت على حكمه، فهو كافر 4. Orang yang meyakini bahwa petunjuk selain petunjuk Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik atau ada hukum yang lebih baik dari hukum Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti orang yang lebih memilih hukum thaghut daripada hukum beliau, dia kafir. الخامس: من أبغض شيئاً مما جاء به الرسول ﷺ ولو عمل به فقد كفر؛ لقوله تعالى: ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ [محمد:9] 5. Orang yang membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, dia kafir, sebagaimana firman Allah Ta’āla,  ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (QS Muhammad: 9) السادس: من استهزأ بشيء من دين الرسول ﷺ أو ثوابه أو عقابه كفر، والدليل قوله تعالى: قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ [التوبة:65 – 66] 6. Orang yang memperolok-olok sesuatu dari agama Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam atau janji dan ancamannya, dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونََ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ  “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.’” (QS. at-Taubah: 65 – 66) السابع: السحر ومنه الصرف والعطف، فمن فعله أو رضي به كفر، والدليل قوله تعالى: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ [البقرة:102] 7. Sihir, di antaranya adalah sihir untuk memikat seseorang atau menjauhkannya dari pasangannya. Barang siapa melakukannya atau rida dengan hal itu, dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla,  وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ  “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.'” (QS. al-Baqarah: 102) الثامن: مظاهرة المشركين ومعاونتهم على المسلمين، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمََ الظَّالِمِينَ [المائدة:51] 8. Menolong orang musyrik dan bersekongkol dengan mereka untuk melawan kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ  “Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maidah: 51) التاسع: من اعتقد أن بعض الناس يسعه الخروج عن شريعة محمد ﷺ فهو كافر. لقوله تعالى: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران:85] 9. Orang yang berkeyakinan bahwa ada sebagian orang yang terbebas dari kewajiban mengikuti syariat Nabi Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam, dia kafir, sebagaimana dalam firman Allah Ta’āla,  وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85) العاشر: الإعراض عن دين الله لا يتعلمه ولا يعمل به، والدليل قوله تعالى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ [السجدة:22] 10. Orang yang berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla, وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ  “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?” (QS. as-Sajdah: 22) *** ولا فرق في جميع هذه النواقض بين الهازل والجاد والخائف، إلا المكره، وكلها من أعظم ما يكون خطراً، وأكثر ما يكون وقوعاً، فينبغي للمسلم أن يحذرها، ويخاف منها على نفسه، نعوذ بالله من موجبات غضبه وأليم عقابه، وصلى الله على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه وسلم، انتهى كلامه رحمه الله. Semua pembatal ini sama saja dilakukan ketika bercanda, serius, atau takut, kecuali jika terpaksa. Semua ini adalah yang paling berbahaya dan sering terjadi, sehingga seorang Muslim harus mewaspadainya dan takut dirinya terjatuh padanya. Kita berlindung kepada Allah dari perkara yang mengundang murka dan azab-Nya yang pedih.  Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Selesai ucapan beliau raẖimahullahu taʿalā. ويدخل في القسم الرابع: من اعتقد أن الأنظمة والقوانين التي يسنها الناس أفضل من شريعة الإسلام أو أنها مساوية لها، أو أنه يجوز التحاكم إليها، ولو اعتقد أن الحكم بالشريعة أفضل أو أن نظام الإسلام لا يصلح تطبيقه في القرن العشرين، أو أنه كان سبباً في تخلف المسلمين، أو أنه يحصر في علاقة المرء بربه دون أن يتدخل في شئون الحياة الأخرى. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat, barang siapa yang meyakini bahwa ada aturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih baik daripada syariat Islam atau sama kedudukannya atau berkeyakinan bahwa berhukum dengannya boleh, walaupun dia menganggap bahwa hukum syariat Islam lebih baik, hukum Islam sudah tidak cocok lagi diterapkan di abad dua puluh ini, menjadi sebab tertinggalnya umat Islam, atau hanya berlaku terbatas untuk masalah ibadah seseorang dengan Tuhan-nya dan tidak boleh dimasukkan dalam urusan kehidupan manusia yang lainnya. ويدخل في الرابع أيضاً: من يرى أن إنفاذ حكم الله في قطع يد السارق، أو رجم الزاني المحصن لا يناسب العصر الحاضر، ويدخل في ذلك أيضاً كل من اعتقد أنه يجوز الحكم بغير شريعة الله في المعاملات أو الحدود أو غيرهما، وإن لم يعتقد أن ذلك أفضل من حكم الشريعة؛ لأنه بذلك يكون قد استباح ما حرمه الله إجماعاً، وكل من استباح ما حرم الله مما هو معلوم من الدين بالضرورة، كالزنا والخمر والربا والحكم بغير شريعة الله فهو كافر بإجماع المسلمين. Termasuk dalam pembatal keislaman yang keempat juga, orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum Allah berupa potong tangan bagi pencuri atau rajam bagi pelaku zina muẖṣan tidak cocok diterapkan di era modern ini.  Termasuk juga, semua orang yang meyakini bolehnya berhukum dengan selain syariat Islam dalam hal muamalah, hukum pidana, atau yang lainnya walaupun dia tidak meyakini bahwa semua itu lebih baik daripada hukum Islam, karena dengan hal itu dia telah menghalalkan apa yang telah disepakati keharamannya dalam agama Allah. Semua orang yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dari perkara agama yang sudah dikenal luas, seperti haramnya zina, riba dan berhukum dengan selain syariat Allah, maka dia kafir dengan kesepakatan para ulama Islam. ونسأل الله أن يوفقنا جميعا لما يرضيه وأن يهدينا وجميع المسلمين صراطه المستقيم إنه سميع قريب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه. Kami memohon kepada Allah agar memberi kita semua taufik kepada apa yang Dia ridai dan memberi petunjuk bagi kita dan semua umat Islam menuju jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya Dia yang Maha Mendengar dan Mahadekat. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/articles/20/نواقض-الاسلام PDF Artikel Catatan kaki: [1] نشر هذا الموضوع في مجلة البحوث الإسلامية بالرياض العدد السابع الصادر في الأشهر (رجب وشعبان ورمضان وشوال عام 1403هـ)، مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 1/ 130 Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt aš-Šeiẖ Ibn Bāz 1/ 130 dan judul ini diterbitkan di Majalah al-Buḥūṯ al-Islāmiyyah di Riyadh, edisi VI, terbit untuk bulan Rajab, Sya’ban, Ramadan, dan Syawal tahun 1403 H.  *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya Ban, Cara Mengusir Kuntilanak Dalam Islam, Sejarah Kitab Kuning, Shahih, Arti Dari Doa Qunut, Tata Cara Mandi Wajib Yang Benar Bagi Wanita Visited 1,425 times, 11 visit(s) today Post Views: 565 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next