Khutbah Jumat: Nabi Berpakaian Saat Lebaran dan Adab Berpakaian

Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpakaian saat hari raya Idulfitri atau lebaran. Bagaimanakah yang beliau contohkan saat berpakaian?   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, kami meminta tolong kepada-Nya, kami memohon ampun kepada-Nya, dan kami meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang sesat, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga shalawat Allah tercurah pada beliau, pada keluarganya, pada sahabatnya, dan pada setiap orang yang mengikuti jalan beliau yang lurus dan yang mengajak pada shirathal mustaqim hingga hari kiamat, semoga keselamatan yang banyak. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala memerintahkan berpakaian dengan menutup aurat, tetapi jangan lupakan pakaian takwa yang menutup aurat batin, sehingga hati dan ruh terhiasi. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ  “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26) Baca juga: Pakaian Takwa dan Pakaian Menutup Aurat Kita pun berpakaian sebagai wujud menunjukkan nikmat Allah pada diri kita. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Baca juga: Berpakaian yang Bagus dan Sederhana Kaitannya dengan hari raya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pakaian khusus.  Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idulfitri dan Iduladha, juga untuk digunakan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih-nya, 1765) Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari Id. Catatan: Aturan berpenampilan menawan di hari Id berlaku bagi pria. Sedangkan wanita lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain ketika di luar rumah.   Ada saudara kita yang mungkin kesulitan dalam berpakaian, termasuk saat Hari Raya Lebaran tiba. Yuk, mari kita bantu mereka dengan memberikan pakaian yang layak. Dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata tentang keluarnya wanita saat shalat Id, قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ». “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab, “Hendaklah saudaranya yang memiliki jilbab memberikan pakaian untuknya.” (HR. Bukhari, no. 324 dan Muslim, no. 890) Ini menjadi dalil kalau sahabat wanita dahulu sampai tidak memiliki jilbab baru untuk berhari raya. Jadi, berhari raya itu tidak mesti dengan pakaian dan gamis baru. Yang penting adalah kita jadi lebih baik dan bertakwa bakda Ramadhan.   Setelah mengetahui tentang perihal bagaimana berpakaian saat hari raya/lebaran, baiknya kita mengetahui pula adab-adab dalam berpakaian. 1. Kaum lelaki tidak dibolehkan memakai sutera dan emas berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas dipegang dengan tangan kirinya kemudian bersabda, إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ. “Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku.” (HR. Abu Daud, no. 4057 diriwayatkan pula dengan sanad hasan oleh An-Nasai 7:160 dan Ibnu Hibban, no. 1465) 2. Baiknya kaum pria tidak memakai celana, sarung, gamis, atau jubah melebih mata kaki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ. “Kain yang dibawah mata kaki maka tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 5787 dan An-Nasai, 7:207, no. 5331). Terutama larangan ini mendapatkan ancaman keras jika memakai pakaiannya dalam keadaan sombong. Syaikh Al-Munawi, salah seorang ulama mazhab Syafi’i mengatakan, وَالْمُسَبِّلُ إِزَارَهُ) الَّذِي يُطَوِّلُ ثَوْبَهُ وَيُرْسِلَهُ (خُيَلَاءَ) أَيْ بِقَصْدِ الْخُيَلَاءِ بِخِلَافِهِ لَا بِقَصْدِهَا “Dan orang yang memanjangkan sarungnya, yaitu orang yang memanjangkan pakaiannya dan melepaskannya karena tujuan kesombongan. Berbeda (hukumnya) bagi orang yang memanjangkannya bukan karena tujuan sombong” (Lihat: Muhammad Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, 3:436). 3. Wanita muslimah hendaklah memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya, sebagaimana diperintahkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59) Juga dalam ayat lain disebutkan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baajuuri (3:333), “Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” Baca juga: Aurat Wanita di Luar Shalat Menurut Pandangan Ulama Syafiiyah 4. Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perawinya tsiqqah, termasuk perawi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Shalih yang termasuk perawi Muslim saja). Baca juga: Pria yang Bergaya Seperti Wanita 5. Hendaknya memulai memakai baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala perkara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 168 dan Muslim, no. 268 (67)) 6. Hendaknya ketika memakai baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan doa, اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ. “ALLAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA KASAWTANIIHI. AS-ALUKA MIN KHOIRIHI WA KHOIRI MAA SHUNI’A LAH, WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHI WA SYARRI MAA SHUNI’A LAH (artinya: Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini).” (HR. Abu Daud, no. 4020 dan Tirmidzi no. 1767. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru Adapun doa ketika mengenakan pakaian dalam keseharian adalah, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ “ALHAMDULILLAHILLADZI KASAANIY HADZATS TSAUBA WA ROZAQONIHI MIN GHOIRI HAWLIN MINNIY WA LAA QUWWATIN (artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku).” (HR. Abu Daud, no. 4023, hasan) Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ingat, hari raya itu bukan sibuk mengurus pakaian baru saja. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد , إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ , إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب “Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah taat.  Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 484) Semoga Allah memberkahi Ramadhan hingga lebaran kita dengan menghiasi diri dengan pakaian takwa. Karena pakaian takwa itulah pakaian terbaik. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 23 Ramadhan 1444 H, 14 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berpakaian adab pakaian fikih lebaran idul fithri idul fitri khutbah jumat lebaran pakaian muslimah pakaian wanita syarat pakaian shalat

Khutbah Jumat: Nabi Berpakaian Saat Lebaran dan Adab Berpakaian

Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpakaian saat hari raya Idulfitri atau lebaran. Bagaimanakah yang beliau contohkan saat berpakaian?   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, kami meminta tolong kepada-Nya, kami memohon ampun kepada-Nya, dan kami meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang sesat, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga shalawat Allah tercurah pada beliau, pada keluarganya, pada sahabatnya, dan pada setiap orang yang mengikuti jalan beliau yang lurus dan yang mengajak pada shirathal mustaqim hingga hari kiamat, semoga keselamatan yang banyak. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala memerintahkan berpakaian dengan menutup aurat, tetapi jangan lupakan pakaian takwa yang menutup aurat batin, sehingga hati dan ruh terhiasi. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ  “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26) Baca juga: Pakaian Takwa dan Pakaian Menutup Aurat Kita pun berpakaian sebagai wujud menunjukkan nikmat Allah pada diri kita. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Baca juga: Berpakaian yang Bagus dan Sederhana Kaitannya dengan hari raya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pakaian khusus.  Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idulfitri dan Iduladha, juga untuk digunakan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih-nya, 1765) Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari Id. Catatan: Aturan berpenampilan menawan di hari Id berlaku bagi pria. Sedangkan wanita lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain ketika di luar rumah.   Ada saudara kita yang mungkin kesulitan dalam berpakaian, termasuk saat Hari Raya Lebaran tiba. Yuk, mari kita bantu mereka dengan memberikan pakaian yang layak. Dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata tentang keluarnya wanita saat shalat Id, قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ». “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab, “Hendaklah saudaranya yang memiliki jilbab memberikan pakaian untuknya.” (HR. Bukhari, no. 324 dan Muslim, no. 890) Ini menjadi dalil kalau sahabat wanita dahulu sampai tidak memiliki jilbab baru untuk berhari raya. Jadi, berhari raya itu tidak mesti dengan pakaian dan gamis baru. Yang penting adalah kita jadi lebih baik dan bertakwa bakda Ramadhan.   Setelah mengetahui tentang perihal bagaimana berpakaian saat hari raya/lebaran, baiknya kita mengetahui pula adab-adab dalam berpakaian. 1. Kaum lelaki tidak dibolehkan memakai sutera dan emas berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas dipegang dengan tangan kirinya kemudian bersabda, إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ. “Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku.” (HR. Abu Daud, no. 4057 diriwayatkan pula dengan sanad hasan oleh An-Nasai 7:160 dan Ibnu Hibban, no. 1465) 2. Baiknya kaum pria tidak memakai celana, sarung, gamis, atau jubah melebih mata kaki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ. “Kain yang dibawah mata kaki maka tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 5787 dan An-Nasai, 7:207, no. 5331). Terutama larangan ini mendapatkan ancaman keras jika memakai pakaiannya dalam keadaan sombong. Syaikh Al-Munawi, salah seorang ulama mazhab Syafi’i mengatakan, وَالْمُسَبِّلُ إِزَارَهُ) الَّذِي يُطَوِّلُ ثَوْبَهُ وَيُرْسِلَهُ (خُيَلَاءَ) أَيْ بِقَصْدِ الْخُيَلَاءِ بِخِلَافِهِ لَا بِقَصْدِهَا “Dan orang yang memanjangkan sarungnya, yaitu orang yang memanjangkan pakaiannya dan melepaskannya karena tujuan kesombongan. Berbeda (hukumnya) bagi orang yang memanjangkannya bukan karena tujuan sombong” (Lihat: Muhammad Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, 3:436). 3. Wanita muslimah hendaklah memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya, sebagaimana diperintahkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59) Juga dalam ayat lain disebutkan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baajuuri (3:333), “Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” Baca juga: Aurat Wanita di Luar Shalat Menurut Pandangan Ulama Syafiiyah 4. Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perawinya tsiqqah, termasuk perawi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Shalih yang termasuk perawi Muslim saja). Baca juga: Pria yang Bergaya Seperti Wanita 5. Hendaknya memulai memakai baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala perkara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 168 dan Muslim, no. 268 (67)) 6. Hendaknya ketika memakai baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan doa, اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ. “ALLAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA KASAWTANIIHI. AS-ALUKA MIN KHOIRIHI WA KHOIRI MAA SHUNI’A LAH, WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHI WA SYARRI MAA SHUNI’A LAH (artinya: Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini).” (HR. Abu Daud, no. 4020 dan Tirmidzi no. 1767. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru Adapun doa ketika mengenakan pakaian dalam keseharian adalah, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ “ALHAMDULILLAHILLADZI KASAANIY HADZATS TSAUBA WA ROZAQONIHI MIN GHOIRI HAWLIN MINNIY WA LAA QUWWATIN (artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku).” (HR. Abu Daud, no. 4023, hasan) Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ingat, hari raya itu bukan sibuk mengurus pakaian baru saja. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد , إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ , إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب “Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah taat.  Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 484) Semoga Allah memberkahi Ramadhan hingga lebaran kita dengan menghiasi diri dengan pakaian takwa. Karena pakaian takwa itulah pakaian terbaik. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 23 Ramadhan 1444 H, 14 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berpakaian adab pakaian fikih lebaran idul fithri idul fitri khutbah jumat lebaran pakaian muslimah pakaian wanita syarat pakaian shalat
Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpakaian saat hari raya Idulfitri atau lebaran. Bagaimanakah yang beliau contohkan saat berpakaian?   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, kami meminta tolong kepada-Nya, kami memohon ampun kepada-Nya, dan kami meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang sesat, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga shalawat Allah tercurah pada beliau, pada keluarganya, pada sahabatnya, dan pada setiap orang yang mengikuti jalan beliau yang lurus dan yang mengajak pada shirathal mustaqim hingga hari kiamat, semoga keselamatan yang banyak. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala memerintahkan berpakaian dengan menutup aurat, tetapi jangan lupakan pakaian takwa yang menutup aurat batin, sehingga hati dan ruh terhiasi. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ  “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26) Baca juga: Pakaian Takwa dan Pakaian Menutup Aurat Kita pun berpakaian sebagai wujud menunjukkan nikmat Allah pada diri kita. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Baca juga: Berpakaian yang Bagus dan Sederhana Kaitannya dengan hari raya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pakaian khusus.  Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idulfitri dan Iduladha, juga untuk digunakan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih-nya, 1765) Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari Id. Catatan: Aturan berpenampilan menawan di hari Id berlaku bagi pria. Sedangkan wanita lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain ketika di luar rumah.   Ada saudara kita yang mungkin kesulitan dalam berpakaian, termasuk saat Hari Raya Lebaran tiba. Yuk, mari kita bantu mereka dengan memberikan pakaian yang layak. Dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata tentang keluarnya wanita saat shalat Id, قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ». “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab, “Hendaklah saudaranya yang memiliki jilbab memberikan pakaian untuknya.” (HR. Bukhari, no. 324 dan Muslim, no. 890) Ini menjadi dalil kalau sahabat wanita dahulu sampai tidak memiliki jilbab baru untuk berhari raya. Jadi, berhari raya itu tidak mesti dengan pakaian dan gamis baru. Yang penting adalah kita jadi lebih baik dan bertakwa bakda Ramadhan.   Setelah mengetahui tentang perihal bagaimana berpakaian saat hari raya/lebaran, baiknya kita mengetahui pula adab-adab dalam berpakaian. 1. Kaum lelaki tidak dibolehkan memakai sutera dan emas berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas dipegang dengan tangan kirinya kemudian bersabda, إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ. “Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku.” (HR. Abu Daud, no. 4057 diriwayatkan pula dengan sanad hasan oleh An-Nasai 7:160 dan Ibnu Hibban, no. 1465) 2. Baiknya kaum pria tidak memakai celana, sarung, gamis, atau jubah melebih mata kaki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ. “Kain yang dibawah mata kaki maka tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 5787 dan An-Nasai, 7:207, no. 5331). Terutama larangan ini mendapatkan ancaman keras jika memakai pakaiannya dalam keadaan sombong. Syaikh Al-Munawi, salah seorang ulama mazhab Syafi’i mengatakan, وَالْمُسَبِّلُ إِزَارَهُ) الَّذِي يُطَوِّلُ ثَوْبَهُ وَيُرْسِلَهُ (خُيَلَاءَ) أَيْ بِقَصْدِ الْخُيَلَاءِ بِخِلَافِهِ لَا بِقَصْدِهَا “Dan orang yang memanjangkan sarungnya, yaitu orang yang memanjangkan pakaiannya dan melepaskannya karena tujuan kesombongan. Berbeda (hukumnya) bagi orang yang memanjangkannya bukan karena tujuan sombong” (Lihat: Muhammad Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, 3:436). 3. Wanita muslimah hendaklah memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya, sebagaimana diperintahkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59) Juga dalam ayat lain disebutkan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baajuuri (3:333), “Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” Baca juga: Aurat Wanita di Luar Shalat Menurut Pandangan Ulama Syafiiyah 4. Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perawinya tsiqqah, termasuk perawi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Shalih yang termasuk perawi Muslim saja). Baca juga: Pria yang Bergaya Seperti Wanita 5. Hendaknya memulai memakai baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala perkara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 168 dan Muslim, no. 268 (67)) 6. Hendaknya ketika memakai baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan doa, اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ. “ALLAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA KASAWTANIIHI. AS-ALUKA MIN KHOIRIHI WA KHOIRI MAA SHUNI’A LAH, WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHI WA SYARRI MAA SHUNI’A LAH (artinya: Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini).” (HR. Abu Daud, no. 4020 dan Tirmidzi no. 1767. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru Adapun doa ketika mengenakan pakaian dalam keseharian adalah, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ “ALHAMDULILLAHILLADZI KASAANIY HADZATS TSAUBA WA ROZAQONIHI MIN GHOIRI HAWLIN MINNIY WA LAA QUWWATIN (artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku).” (HR. Abu Daud, no. 4023, hasan) Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ingat, hari raya itu bukan sibuk mengurus pakaian baru saja. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد , إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ , إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب “Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah taat.  Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 484) Semoga Allah memberkahi Ramadhan hingga lebaran kita dengan menghiasi diri dengan pakaian takwa. Karena pakaian takwa itulah pakaian terbaik. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 23 Ramadhan 1444 H, 14 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berpakaian adab pakaian fikih lebaran idul fithri idul fitri khutbah jumat lebaran pakaian muslimah pakaian wanita syarat pakaian shalat


Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpakaian saat hari raya Idulfitri atau lebaran. Bagaimanakah yang beliau contohkan saat berpakaian?   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, kami meminta tolong kepada-Nya, kami memohon ampun kepada-Nya, dan kami meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang sesat, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga shalawat Allah tercurah pada beliau, pada keluarganya, pada sahabatnya, dan pada setiap orang yang mengikuti jalan beliau yang lurus dan yang mengajak pada shirathal mustaqim hingga hari kiamat, semoga keselamatan yang banyak. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Allah Ta’ala memerintahkan berpakaian dengan menutup aurat, tetapi jangan lupakan pakaian takwa yang menutup aurat batin, sehingga hati dan ruh terhiasi. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ  “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26) Baca juga: Pakaian Takwa dan Pakaian Menutup Aurat Kita pun berpakaian sebagai wujud menunjukkan nikmat Allah pada diri kita. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Baca juga: Berpakaian yang Bagus dan Sederhana Kaitannya dengan hari raya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pakaian khusus.  Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idulfitri dan Iduladha, juga untuk digunakan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih-nya, 1765) Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari Id. Catatan: Aturan berpenampilan menawan di hari Id berlaku bagi pria. Sedangkan wanita lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain ketika di luar rumah.   Ada saudara kita yang mungkin kesulitan dalam berpakaian, termasuk saat Hari Raya Lebaran tiba. Yuk, mari kita bantu mereka dengan memberikan pakaian yang layak. Dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata tentang keluarnya wanita saat shalat Id, قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ». “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab, “Hendaklah saudaranya yang memiliki jilbab memberikan pakaian untuknya.” (HR. Bukhari, no. 324 dan Muslim, no. 890) Ini menjadi dalil kalau sahabat wanita dahulu sampai tidak memiliki jilbab baru untuk berhari raya. Jadi, berhari raya itu tidak mesti dengan pakaian dan gamis baru. Yang penting adalah kita jadi lebih baik dan bertakwa bakda Ramadhan.   Setelah mengetahui tentang perihal bagaimana berpakaian saat hari raya/lebaran, baiknya kita mengetahui pula adab-adab dalam berpakaian. 1. Kaum lelaki tidak dibolehkan memakai sutera dan emas berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas dipegang dengan tangan kirinya kemudian bersabda, إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ. “Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku.” (HR. Abu Daud, no. 4057 diriwayatkan pula dengan sanad hasan oleh An-Nasai 7:160 dan Ibnu Hibban, no. 1465) 2. Baiknya kaum pria tidak memakai celana, sarung, gamis, atau jubah melebih mata kaki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ. “Kain yang dibawah mata kaki maka tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari, no. 5787 dan An-Nasai, 7:207, no. 5331). Terutama larangan ini mendapatkan ancaman keras jika memakai pakaiannya dalam keadaan sombong. Syaikh Al-Munawi, salah seorang ulama mazhab Syafi’i mengatakan, وَالْمُسَبِّلُ إِزَارَهُ) الَّذِي يُطَوِّلُ ثَوْبَهُ وَيُرْسِلَهُ (خُيَلَاءَ) أَيْ بِقَصْدِ الْخُيَلَاءِ بِخِلَافِهِ لَا بِقَصْدِهَا “Dan orang yang memanjangkan sarungnya, yaitu orang yang memanjangkan pakaiannya dan melepaskannya karena tujuan kesombongan. Berbeda (hukumnya) bagi orang yang memanjangkannya bukan karena tujuan sombong” (Lihat: Muhammad Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, 3:436). 3. Wanita muslimah hendaklah memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya, sebagaimana diperintahkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59) Juga dalam ayat lain disebutkan, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baajuuri (3:333), “Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” Baca juga: Aurat Wanita di Luar Shalat Menurut Pandangan Ulama Syafiiyah 4. Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perawinya tsiqqah, termasuk perawi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Shalih yang termasuk perawi Muslim saja). Baca juga: Pria yang Bergaya Seperti Wanita 5. Hendaknya memulai memakai baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala perkara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 168 dan Muslim, no. 268 (67)) 6. Hendaknya ketika memakai baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan doa, اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ. “ALLAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA KASAWTANIIHI. AS-ALUKA MIN KHOIRIHI WA KHOIRI MAA SHUNI’A LAH, WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHI WA SYARRI MAA SHUNI’A LAH (artinya: Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini).” (HR. Abu Daud, no. 4020 dan Tirmidzi no. 1767. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru Adapun doa ketika mengenakan pakaian dalam keseharian adalah, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ “ALHAMDULILLAHILLADZI KASAANIY HADZATS TSAUBA WA ROZAQONIHI MIN GHOIRI HAWLIN MINNIY WA LAA QUWWATIN (artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku).” (HR. Abu Daud, no. 4023, hasan) Baca juga: Doa Ketika Mengenakan Pakaian Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ingat, hari raya itu bukan sibuk mengurus pakaian baru saja. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد , إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ , إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب “Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang semakin bertambah taat.  Hari raya Id tidak diperuntukkan bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya. Hari raya Id diperuntukkan bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 484) Semoga Allah memberkahi Ramadhan hingga lebaran kita dengan menghiasi diri dengan pakaian takwa. Karena pakaian takwa itulah pakaian terbaik. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ   — Jumat siang, 23 Ramadhan 1444 H, 14 April 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berpakaian adab pakaian fikih lebaran idul fithri idul fitri khutbah jumat lebaran pakaian muslimah pakaian wanita syarat pakaian shalat

Mungkin Ini Penyebab Doa Anda Tidak Dikabulkan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Di antara adab berdoa,bahkan termasuk adab terpenting dalam berdoa,adalah makanan yang halal,demikian juga minuman dan pakaiannya, di mana seseorang harus menghindari penghasilan yang burukdan pendapatan yang haram,seperti hasil riba, judi,memakan harta orang dengan batil, dan lain sebagainya. Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallam bersabdahingga kusut rambutnya,lalu mengangkat kedua tangannya ke langit,“Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!” Padahal makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya juga haram,dan diberi asupan dari yang haram,lantas bagaimana doanya akan terkabul?” (HR. Muslim) Bagaimana mungkin terkabul doa dari orang seperti iniyang tidak halal makanannya?Jadi, seseorang harus memakan makanan yang halal, demi terkabulkannya doanya dan demi hal-hal agung dan penting lainnya,dengan menghindari yang haram,karena yang haram tidak ada kebaikan padanya, karena daging yang tumbuh dari nafkah yang haram atau yang buruk,maka neraka lebih pantas baginya.Semoga Allah Melindungi kami dan kalian dari hal tersebut. ==== وَمِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَهَمِّ آدَابِ الدُّعَاءِ طِيبُ الْمَأْكَلِ وَالْمَشْرَبِ وَالْمَلْبَسِ بِحَيْثُ يَتَجَنَّبُ الْإِنْسَانُ الْمَكَاسِبَ الرَّدِيئَةَ وَالْمَكَاسِبَ الْمُحَرَّمَةَ مِنْ رِبًا وَقِمَارٍ وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ كَيْفَ يُسْتَجَابُ لِمِثْلِ هَذَا الَّذِي لَمْ يُطِبْ مَأْكَلَهُ؟ فَيَحْرِصُ الْإِنْسَانُ عَلَى طِيبِ الْمَأْكَلِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِأُمُورٍ عَظِيمَةٍ وَكَبِيرَةٍ أَيْضًا يَجْتَنِبُ الْحَرَامَ إِذِ الْحَرَامُ وَلَا خَيْرَ فِيهِ وَلَحْمٌ نَبَتَ عَلَى حَرَامٍ أَوْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ أَعَاذَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ

Mungkin Ini Penyebab Doa Anda Tidak Dikabulkan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Di antara adab berdoa,bahkan termasuk adab terpenting dalam berdoa,adalah makanan yang halal,demikian juga minuman dan pakaiannya, di mana seseorang harus menghindari penghasilan yang burukdan pendapatan yang haram,seperti hasil riba, judi,memakan harta orang dengan batil, dan lain sebagainya. Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallam bersabdahingga kusut rambutnya,lalu mengangkat kedua tangannya ke langit,“Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!” Padahal makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya juga haram,dan diberi asupan dari yang haram,lantas bagaimana doanya akan terkabul?” (HR. Muslim) Bagaimana mungkin terkabul doa dari orang seperti iniyang tidak halal makanannya?Jadi, seseorang harus memakan makanan yang halal, demi terkabulkannya doanya dan demi hal-hal agung dan penting lainnya,dengan menghindari yang haram,karena yang haram tidak ada kebaikan padanya, karena daging yang tumbuh dari nafkah yang haram atau yang buruk,maka neraka lebih pantas baginya.Semoga Allah Melindungi kami dan kalian dari hal tersebut. ==== وَمِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَهَمِّ آدَابِ الدُّعَاءِ طِيبُ الْمَأْكَلِ وَالْمَشْرَبِ وَالْمَلْبَسِ بِحَيْثُ يَتَجَنَّبُ الْإِنْسَانُ الْمَكَاسِبَ الرَّدِيئَةَ وَالْمَكَاسِبَ الْمُحَرَّمَةَ مِنْ رِبًا وَقِمَارٍ وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ كَيْفَ يُسْتَجَابُ لِمِثْلِ هَذَا الَّذِي لَمْ يُطِبْ مَأْكَلَهُ؟ فَيَحْرِصُ الْإِنْسَانُ عَلَى طِيبِ الْمَأْكَلِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِأُمُورٍ عَظِيمَةٍ وَكَبِيرَةٍ أَيْضًا يَجْتَنِبُ الْحَرَامَ إِذِ الْحَرَامُ وَلَا خَيْرَ فِيهِ وَلَحْمٌ نَبَتَ عَلَى حَرَامٍ أَوْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ أَعَاذَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ
Di antara adab berdoa,bahkan termasuk adab terpenting dalam berdoa,adalah makanan yang halal,demikian juga minuman dan pakaiannya, di mana seseorang harus menghindari penghasilan yang burukdan pendapatan yang haram,seperti hasil riba, judi,memakan harta orang dengan batil, dan lain sebagainya. Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallam bersabdahingga kusut rambutnya,lalu mengangkat kedua tangannya ke langit,“Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!” Padahal makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya juga haram,dan diberi asupan dari yang haram,lantas bagaimana doanya akan terkabul?” (HR. Muslim) Bagaimana mungkin terkabul doa dari orang seperti iniyang tidak halal makanannya?Jadi, seseorang harus memakan makanan yang halal, demi terkabulkannya doanya dan demi hal-hal agung dan penting lainnya,dengan menghindari yang haram,karena yang haram tidak ada kebaikan padanya, karena daging yang tumbuh dari nafkah yang haram atau yang buruk,maka neraka lebih pantas baginya.Semoga Allah Melindungi kami dan kalian dari hal tersebut. ==== وَمِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَهَمِّ آدَابِ الدُّعَاءِ طِيبُ الْمَأْكَلِ وَالْمَشْرَبِ وَالْمَلْبَسِ بِحَيْثُ يَتَجَنَّبُ الْإِنْسَانُ الْمَكَاسِبَ الرَّدِيئَةَ وَالْمَكَاسِبَ الْمُحَرَّمَةَ مِنْ رِبًا وَقِمَارٍ وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ كَيْفَ يُسْتَجَابُ لِمِثْلِ هَذَا الَّذِي لَمْ يُطِبْ مَأْكَلَهُ؟ فَيَحْرِصُ الْإِنْسَانُ عَلَى طِيبِ الْمَأْكَلِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِأُمُورٍ عَظِيمَةٍ وَكَبِيرَةٍ أَيْضًا يَجْتَنِبُ الْحَرَامَ إِذِ الْحَرَامُ وَلَا خَيْرَ فِيهِ وَلَحْمٌ نَبَتَ عَلَى حَرَامٍ أَوْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ أَعَاذَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ


Di antara adab berdoa,bahkan termasuk adab terpenting dalam berdoa,adalah makanan yang halal,demikian juga minuman dan pakaiannya, di mana seseorang harus menghindari penghasilan yang burukdan pendapatan yang haram,seperti hasil riba, judi,memakan harta orang dengan batil, dan lain sebagainya. Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallam bersabdahingga kusut rambutnya,lalu mengangkat kedua tangannya ke langit,“Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!” Padahal makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya juga haram,dan diberi asupan dari yang haram,lantas bagaimana doanya akan terkabul?” (HR. Muslim) Bagaimana mungkin terkabul doa dari orang seperti iniyang tidak halal makanannya?Jadi, seseorang harus memakan makanan yang halal, demi terkabulkannya doanya dan demi hal-hal agung dan penting lainnya,dengan menghindari yang haram,karena yang haram tidak ada kebaikan padanya, karena daging yang tumbuh dari nafkah yang haram atau yang buruk,maka neraka lebih pantas baginya.Semoga Allah Melindungi kami dan kalian dari hal tersebut. ==== وَمِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَمِنْ أَهَمِّ آدَابِ الدُّعَاءِ طِيبُ الْمَأْكَلِ وَالْمَشْرَبِ وَالْمَلْبَسِ بِحَيْثُ يَتَجَنَّبُ الْإِنْسَانُ الْمَكَاسِبَ الرَّدِيئَةَ وَالْمَكَاسِبَ الْمُحَرَّمَةَ مِنْ رِبًا وَقِمَارٍ وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ كَيْفَ يُسْتَجَابُ لِمِثْلِ هَذَا الَّذِي لَمْ يُطِبْ مَأْكَلَهُ؟ فَيَحْرِصُ الْإِنْسَانُ عَلَى طِيبِ الْمَأْكَلِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِأُمُورٍ عَظِيمَةٍ وَكَبِيرَةٍ أَيْضًا يَجْتَنِبُ الْحَرَامَ إِذِ الْحَرَامُ وَلَا خَيْرَ فِيهِ وَلَحْمٌ نَبَتَ عَلَى حَرَامٍ أَوْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ أَعَاذَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ

Teks Khotbah Jumat: Ramadan, Kesempatan Emas untuk Memperbanyak Sedekah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah

Teks Khotbah Jumat: Ramadan, Kesempatan Emas untuk Memperbanyak Sedekah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu seringnya menasihati para sahabatnya perihal takwa ini. Sampai-sampai di akhir hayat beliau, saat beliau sedang berkhotbah di haji perpisahannya, beliau bersabda,اتَّقُوا اللَّهَ ربَّكُم وصَلُّوا خَمْسَكُم وصُومُوا شَهْرَكُم وأدُّوا زَكَاةَ أَمْوالِكُم وأَطِيْعُوا ذا أمرِكم تدخلوا جنَّةَ ربِّكُم“Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian!.” (HR. Tirmidzi no. 616, Abu Dawud no. 1955, dan Ahmad no. 22161)Di dalam hadis yang mulia ini, setelah Nabi mewasiatkan para sahabatnya untuk bertakwa, Nabi wasiatkan juga hal yang lain. Nabi wasiatkan kaum muslimin agar senantiasa menjalankan salat lima waktu. Nabi wasiatkan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Dan Nabi wasiatkan untuk membayarkan zakat harta yang dimiliki.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Harta merupakan perhiasan kehidupan dunia. Dengannya hajat manusia terpenuhi. Kehidupan menjadi mudah. Dan manusia dapat mencapai kemaslahatan-kemaslahatan yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila hati ini secara fitrah mencintainya. Hati bersemangat untuk mencarinya, berlomba-lomba di dalam memperbanyak dan mengumpulkannya.Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya, sudah membagi-bagi untuk manusia bagian dari rezeki dan harta tersebut. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang berkecukupan dan hartanya berlimpah. Ada juga yang diuji dengan kemiskinan dan sangat butuh akan bantuan saudaranya.Ma’asyiral mukminin, jemaah Jumat yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.Hal ini tentu saja memiliki hikmah yang yang sangat agung. Allah Ta’ala ingin agar mereka yang diberi kecukupan harta membantu mereka yang kekurangan. Allah jadikan sedekah sebagai salah satu amal ibadah yang paling utama bagi mereka yang diberikan kelapangan. Dan Allah jadikan juga pahala dan balasan bagi seseorang sesuai dengan kadar sedekah yang dikeluarkannya. Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًاۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ“Tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil: 20)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟!”Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.'” Nabi melanjutkan, “Padahal tidak ada harta bagimu, wahai Anak Adam, kecuali apa yang engkau makan hingga habis, yang engkau pakai hingga usang, atau yang engkau sedekahkan, maka engkau mendapatkan pahalanya.” (HR. Muslim no. 2958)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa diberikan keberkahan rezeki dan kelapangan.Sedekah yang kita lakukan, selain ia merupakan tabungan pahala di akhirat kelak, ia juga menjadi sebab bertambahnya dan berkembangnya harta kita di kehidupan dunia ini. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala sendiri yang berjanji akan mengganti apa yang diinfakkan dan dikeluarkan seorang hamba di jalan Allah Ta’ala,وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)Di dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala juga berfirman,يا ابْنَ آدَمَ أنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ“Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya aku akan memberimu rezeki.” (HR. Bukhari no. 4684, 7411 dan Muslim no. 993)Allah Ta’ala juga mengutus para malaikat turun di pagi hari untuk mendoakan orang-orang yang berinfak dan menyedekahkan hartanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما مِن يَومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فِيهِ، إلَّا مَلَكانِ يَنْزِلانِ، فيَقولُ أحَدُهُما: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.‘Tidak satu hari pun di mana seorang hamba berada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Mirisnya di zaman ini, meskipun seseorang memiliki harta yang melimpah, ia masih saja berkeluh kesah. Ia merasakan sempitnya hati dan susahnya mendapatkan kebahagiaan. Ketahuilah, sesungguhnya hal itu dikarenakan pelitnya mereka di dalam menginfakkan harta di jalan Allah Ta’ala, ketidakpedulian mereka terhadap kaum fakir, dan ketidakpekaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Padahal sejatinya, sedekah dan infak merupakan sebab terbesar lapangnya dada dan dimudahkannya urusan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ“Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,ابغُونِي ضُعَفَاءَكُم؛ فإنما تُرْزَقون وتُنْصَرون بضعفائكم“Senangkanlah aku dengan berbuat baik kepada orang yang lemah di kalangan kalian, karena sesungguhnya engkau sekalian diberi rezeki dan pertolongan disebabkan orang-orang yang lemah di kalangan kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1702)Ingatlah selalu wahai hamba-hamba Allah sekalian, akan firman Allah Ta’ala,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ * وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Sedekah adalah Bukti KeimananKhotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Jadikanlah momentum bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini untuk membiasakan diri kita memperbanyak bersedekah. Di bulan Ramadan ini, telah Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu surga. Dan Allah berikan kita begitu banyak kesempatan untuk bersedekah. Di antara kesempatan tersebut adalah memberikan makanan berbuka untuk orang lain. Sebuah sedekah yang memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا“Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan menggambarkan salah satu kamar yang ada di surga, beliau pun juga menyebutkan karakteristik penghuninya. Di antara karakteristik yang beliau sebutkan adalah memberi makan dan berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, ‘Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, yang senantiasa berpuasa, dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kelapangan.Panutan kita, role model terbaik kita, Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau semakin bertambah ketika datang bulan Ramadan yang mulia ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan,كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda). Dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihis salam, beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)Semoga Allah Ta’ala jadikan diri kita sebagai salah satu hamba-hamba-Nya yang diberikan kelapangan dan keluasan rezeki, diberikan hidayah dan kesadaran untuk bisa berbagi dan bersedekah kepada orang lain meskipun diri kita masih butuh. Semoga di sisa-sisa bulan Ramadan yang mulia ini, Allah berikan kita kesempatan untuk meneladani kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: khutbah jumatramadanSedekah

Hidupmu Selalu Dimudahkan? Jangan Senang Dulu! – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

“Kesehatan tanpa disertai kesulitandan tidak diakhiri hukuman.”Ucapan beliau tentang kesehatan yang tidak diakhiri hukuman,karena ada kesehatan yang mungkin menjadi istidrāj (pembiaran dari Allah) bagi seseorang. Orang munafik mendapat keselamatandari rasa sakit dan berbagai penyakit.Namun kemudian Allah ʿAzza wa Jalla Mengazabnya seketika. Diriwayatkan dari seorang ahli ilmu, seingatku adalah Suhnun,atau anaknya, Muhammad bin Suhnun,bahwa suatu ketika dia duduk merenungi dirinya. Jiwanya sangat risau,hingga ketika pembantunya menemuinya,dan membisikkan sesuatu di telinganya,hatinya menjadi lapang lalu dia berangkat kembali mengajar. Ketika dia ditanya tentang hal tersebut, dia berkata,“Aku berpikir sejak pagi hari tentang nikmat-nikmat Allah ʿAzza wa Jalla kepadaku.Bagaimana bisa aku mendapatkan semua nikmat yang luar biasa inidan sama sekali belum menghadapi kesulitan sejak lama? Sampai ketika pembantuku berbisik kepadakubahwa kebunku terbakar,maka aku gembira dengan kabar itu.” Tentu, dia terbayang perkataan seorang Salaf—semoga Allah Merahmatinya—“Kegembiraan mereka karena kesulitan lebih besardaripada kegembiraan mereka karena kenikmatan.” Demikian itu karena Allah ʿAzza wa Jalla Memberi orang munafik tenggang waktudan penangguhan masa baginya. Inilah poin yang diisyaratkan oleh penulis dalam ucapannya,“Kesehatan yang tidak diakhiri dengan hukuman atau kesulitan.”Sedangkan kesulitan bisa jadi dalam urusan-urusan duniadan mungkin juga dalam urusan-urusan akhirat. ==== عَافِيَةً لَا مَكْرُوهَ مَعَهَا وَلَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَتَعْبِيرُهُ بِأَنَّهَا عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا لِأَنَّ بَعْضَ الْعَافِيَةِ قَدْ تَكُونُ اسْتِدْرَاجًا لِصَاحِبِهَا وَالْمُنَافِقُ تَأْتِيهِ السَّلَامَةُ مِنَ الْأَمْرَاضِ وَالْعَاهَاتِ فَيَأْخُذُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَخْذَةً وَاحِدَةً وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَظُنُّهُ سُحْنُون أَوِ ابْنُهُ مُحَمَّدُ بْنُ سُحْنُونَ أَنَّهُ جَلَسَ مَرَّةً مُتَفَكِّرًا فِي نَفْسِهِ وَقَدِ انْقَضَبَتْ نَفْسُهُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُ خَادِمُهُ فَسَارَّهُ شَيْئًا فِي أُذُنِهِ انْشَرَحَ صَدْرُهُ وَانْطَلَقَ فِي حَدِيثِهِ فِي دَرْسِهِ فَلَمَّا سُئِلَ بَعْدَ ذَلِكَ قَالَ إِنِّي تَفَكَّرْتُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فِي نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيَّ وَكَيْفَ أَنَّنِي أَنْعُمُ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَلَمْ أَرَ شَيْئًا مِنَ الْاِبْتِلَاءِ مُنْذُ فَتْرَةٍ طَوِيلَةٍ حَتَّى سَارَّنِي الْخَادِمُ بِأَنَّ حَدِيقَةً لِي احْتَرَقَتْ فَفَرِحْتُ بِذَلِكَ طَبْعًا هُوَ مُسْتَذْكِرٌ لِقَوْلِ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى كَانُوا يَفْرَحُونَ بِالْبَلَاءِ أَشَدُّ مِنْ فَرَحِهِمْ بِالْعَطَاءِ وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْهِلُ الْمُنَافِقَ وَيَمُدُّ لَهُ مَدًّا وَهَذَا النُّكْتَةُ أَشَارَ إِلَيْهَا الْمُصَنِّفُ فِي قَوْلِهِ عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَلَا مَكْرُوهَ فَإِنَّ كَرَاهَةً قَدْ تَكُونُ كَرَاهَةً فِي أُمُورِ الدُّنْيَا وَقَدْ تَكُونُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ

Hidupmu Selalu Dimudahkan? Jangan Senang Dulu! – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

“Kesehatan tanpa disertai kesulitandan tidak diakhiri hukuman.”Ucapan beliau tentang kesehatan yang tidak diakhiri hukuman,karena ada kesehatan yang mungkin menjadi istidrāj (pembiaran dari Allah) bagi seseorang. Orang munafik mendapat keselamatandari rasa sakit dan berbagai penyakit.Namun kemudian Allah ʿAzza wa Jalla Mengazabnya seketika. Diriwayatkan dari seorang ahli ilmu, seingatku adalah Suhnun,atau anaknya, Muhammad bin Suhnun,bahwa suatu ketika dia duduk merenungi dirinya. Jiwanya sangat risau,hingga ketika pembantunya menemuinya,dan membisikkan sesuatu di telinganya,hatinya menjadi lapang lalu dia berangkat kembali mengajar. Ketika dia ditanya tentang hal tersebut, dia berkata,“Aku berpikir sejak pagi hari tentang nikmat-nikmat Allah ʿAzza wa Jalla kepadaku.Bagaimana bisa aku mendapatkan semua nikmat yang luar biasa inidan sama sekali belum menghadapi kesulitan sejak lama? Sampai ketika pembantuku berbisik kepadakubahwa kebunku terbakar,maka aku gembira dengan kabar itu.” Tentu, dia terbayang perkataan seorang Salaf—semoga Allah Merahmatinya—“Kegembiraan mereka karena kesulitan lebih besardaripada kegembiraan mereka karena kenikmatan.” Demikian itu karena Allah ʿAzza wa Jalla Memberi orang munafik tenggang waktudan penangguhan masa baginya. Inilah poin yang diisyaratkan oleh penulis dalam ucapannya,“Kesehatan yang tidak diakhiri dengan hukuman atau kesulitan.”Sedangkan kesulitan bisa jadi dalam urusan-urusan duniadan mungkin juga dalam urusan-urusan akhirat. ==== عَافِيَةً لَا مَكْرُوهَ مَعَهَا وَلَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَتَعْبِيرُهُ بِأَنَّهَا عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا لِأَنَّ بَعْضَ الْعَافِيَةِ قَدْ تَكُونُ اسْتِدْرَاجًا لِصَاحِبِهَا وَالْمُنَافِقُ تَأْتِيهِ السَّلَامَةُ مِنَ الْأَمْرَاضِ وَالْعَاهَاتِ فَيَأْخُذُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَخْذَةً وَاحِدَةً وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَظُنُّهُ سُحْنُون أَوِ ابْنُهُ مُحَمَّدُ بْنُ سُحْنُونَ أَنَّهُ جَلَسَ مَرَّةً مُتَفَكِّرًا فِي نَفْسِهِ وَقَدِ انْقَضَبَتْ نَفْسُهُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُ خَادِمُهُ فَسَارَّهُ شَيْئًا فِي أُذُنِهِ انْشَرَحَ صَدْرُهُ وَانْطَلَقَ فِي حَدِيثِهِ فِي دَرْسِهِ فَلَمَّا سُئِلَ بَعْدَ ذَلِكَ قَالَ إِنِّي تَفَكَّرْتُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فِي نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيَّ وَكَيْفَ أَنَّنِي أَنْعُمُ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَلَمْ أَرَ شَيْئًا مِنَ الْاِبْتِلَاءِ مُنْذُ فَتْرَةٍ طَوِيلَةٍ حَتَّى سَارَّنِي الْخَادِمُ بِأَنَّ حَدِيقَةً لِي احْتَرَقَتْ فَفَرِحْتُ بِذَلِكَ طَبْعًا هُوَ مُسْتَذْكِرٌ لِقَوْلِ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى كَانُوا يَفْرَحُونَ بِالْبَلَاءِ أَشَدُّ مِنْ فَرَحِهِمْ بِالْعَطَاءِ وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْهِلُ الْمُنَافِقَ وَيَمُدُّ لَهُ مَدًّا وَهَذَا النُّكْتَةُ أَشَارَ إِلَيْهَا الْمُصَنِّفُ فِي قَوْلِهِ عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَلَا مَكْرُوهَ فَإِنَّ كَرَاهَةً قَدْ تَكُونُ كَرَاهَةً فِي أُمُورِ الدُّنْيَا وَقَدْ تَكُونُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ
“Kesehatan tanpa disertai kesulitandan tidak diakhiri hukuman.”Ucapan beliau tentang kesehatan yang tidak diakhiri hukuman,karena ada kesehatan yang mungkin menjadi istidrāj (pembiaran dari Allah) bagi seseorang. Orang munafik mendapat keselamatandari rasa sakit dan berbagai penyakit.Namun kemudian Allah ʿAzza wa Jalla Mengazabnya seketika. Diriwayatkan dari seorang ahli ilmu, seingatku adalah Suhnun,atau anaknya, Muhammad bin Suhnun,bahwa suatu ketika dia duduk merenungi dirinya. Jiwanya sangat risau,hingga ketika pembantunya menemuinya,dan membisikkan sesuatu di telinganya,hatinya menjadi lapang lalu dia berangkat kembali mengajar. Ketika dia ditanya tentang hal tersebut, dia berkata,“Aku berpikir sejak pagi hari tentang nikmat-nikmat Allah ʿAzza wa Jalla kepadaku.Bagaimana bisa aku mendapatkan semua nikmat yang luar biasa inidan sama sekali belum menghadapi kesulitan sejak lama? Sampai ketika pembantuku berbisik kepadakubahwa kebunku terbakar,maka aku gembira dengan kabar itu.” Tentu, dia terbayang perkataan seorang Salaf—semoga Allah Merahmatinya—“Kegembiraan mereka karena kesulitan lebih besardaripada kegembiraan mereka karena kenikmatan.” Demikian itu karena Allah ʿAzza wa Jalla Memberi orang munafik tenggang waktudan penangguhan masa baginya. Inilah poin yang diisyaratkan oleh penulis dalam ucapannya,“Kesehatan yang tidak diakhiri dengan hukuman atau kesulitan.”Sedangkan kesulitan bisa jadi dalam urusan-urusan duniadan mungkin juga dalam urusan-urusan akhirat. ==== عَافِيَةً لَا مَكْرُوهَ مَعَهَا وَلَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَتَعْبِيرُهُ بِأَنَّهَا عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا لِأَنَّ بَعْضَ الْعَافِيَةِ قَدْ تَكُونُ اسْتِدْرَاجًا لِصَاحِبِهَا وَالْمُنَافِقُ تَأْتِيهِ السَّلَامَةُ مِنَ الْأَمْرَاضِ وَالْعَاهَاتِ فَيَأْخُذُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَخْذَةً وَاحِدَةً وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَظُنُّهُ سُحْنُون أَوِ ابْنُهُ مُحَمَّدُ بْنُ سُحْنُونَ أَنَّهُ جَلَسَ مَرَّةً مُتَفَكِّرًا فِي نَفْسِهِ وَقَدِ انْقَضَبَتْ نَفْسُهُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُ خَادِمُهُ فَسَارَّهُ شَيْئًا فِي أُذُنِهِ انْشَرَحَ صَدْرُهُ وَانْطَلَقَ فِي حَدِيثِهِ فِي دَرْسِهِ فَلَمَّا سُئِلَ بَعْدَ ذَلِكَ قَالَ إِنِّي تَفَكَّرْتُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فِي نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيَّ وَكَيْفَ أَنَّنِي أَنْعُمُ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَلَمْ أَرَ شَيْئًا مِنَ الْاِبْتِلَاءِ مُنْذُ فَتْرَةٍ طَوِيلَةٍ حَتَّى سَارَّنِي الْخَادِمُ بِأَنَّ حَدِيقَةً لِي احْتَرَقَتْ فَفَرِحْتُ بِذَلِكَ طَبْعًا هُوَ مُسْتَذْكِرٌ لِقَوْلِ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى كَانُوا يَفْرَحُونَ بِالْبَلَاءِ أَشَدُّ مِنْ فَرَحِهِمْ بِالْعَطَاءِ وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْهِلُ الْمُنَافِقَ وَيَمُدُّ لَهُ مَدًّا وَهَذَا النُّكْتَةُ أَشَارَ إِلَيْهَا الْمُصَنِّفُ فِي قَوْلِهِ عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَلَا مَكْرُوهَ فَإِنَّ كَرَاهَةً قَدْ تَكُونُ كَرَاهَةً فِي أُمُورِ الدُّنْيَا وَقَدْ تَكُونُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ


“Kesehatan tanpa disertai kesulitandan tidak diakhiri hukuman.”Ucapan beliau tentang kesehatan yang tidak diakhiri hukuman,karena ada kesehatan yang mungkin menjadi istidrāj (pembiaran dari Allah) bagi seseorang. Orang munafik mendapat keselamatandari rasa sakit dan berbagai penyakit.Namun kemudian Allah ʿAzza wa Jalla Mengazabnya seketika. Diriwayatkan dari seorang ahli ilmu, seingatku adalah Suhnun,atau anaknya, Muhammad bin Suhnun,bahwa suatu ketika dia duduk merenungi dirinya. Jiwanya sangat risau,hingga ketika pembantunya menemuinya,dan membisikkan sesuatu di telinganya,hatinya menjadi lapang lalu dia berangkat kembali mengajar. Ketika dia ditanya tentang hal tersebut, dia berkata,“Aku berpikir sejak pagi hari tentang nikmat-nikmat Allah ʿAzza wa Jalla kepadaku.Bagaimana bisa aku mendapatkan semua nikmat yang luar biasa inidan sama sekali belum menghadapi kesulitan sejak lama? Sampai ketika pembantuku berbisik kepadakubahwa kebunku terbakar,maka aku gembira dengan kabar itu.” Tentu, dia terbayang perkataan seorang Salaf—semoga Allah Merahmatinya—“Kegembiraan mereka karena kesulitan lebih besardaripada kegembiraan mereka karena kenikmatan.” Demikian itu karena Allah ʿAzza wa Jalla Memberi orang munafik tenggang waktudan penangguhan masa baginya. Inilah poin yang diisyaratkan oleh penulis dalam ucapannya,“Kesehatan yang tidak diakhiri dengan hukuman atau kesulitan.”Sedangkan kesulitan bisa jadi dalam urusan-urusan duniadan mungkin juga dalam urusan-urusan akhirat. ==== عَافِيَةً لَا مَكْرُوهَ مَعَهَا وَلَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَتَعْبِيرُهُ بِأَنَّهَا عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا لِأَنَّ بَعْضَ الْعَافِيَةِ قَدْ تَكُونُ اسْتِدْرَاجًا لِصَاحِبِهَا وَالْمُنَافِقُ تَأْتِيهِ السَّلَامَةُ مِنَ الْأَمْرَاضِ وَالْعَاهَاتِ فَيَأْخُذُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَخْذَةً وَاحِدَةً وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَظُنُّهُ سُحْنُون أَوِ ابْنُهُ مُحَمَّدُ بْنُ سُحْنُونَ أَنَّهُ جَلَسَ مَرَّةً مُتَفَكِّرًا فِي نَفْسِهِ وَقَدِ انْقَضَبَتْ نَفْسُهُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُ خَادِمُهُ فَسَارَّهُ شَيْئًا فِي أُذُنِهِ انْشَرَحَ صَدْرُهُ وَانْطَلَقَ فِي حَدِيثِهِ فِي دَرْسِهِ فَلَمَّا سُئِلَ بَعْدَ ذَلِكَ قَالَ إِنِّي تَفَكَّرْتُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فِي نِعَمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيَّ وَكَيْفَ أَنَّنِي أَنْعُمُ بِنِعَمٍ عَظِيمَةٍ وَلَمْ أَرَ شَيْئًا مِنَ الْاِبْتِلَاءِ مُنْذُ فَتْرَةٍ طَوِيلَةٍ حَتَّى سَارَّنِي الْخَادِمُ بِأَنَّ حَدِيقَةً لِي احْتَرَقَتْ فَفَرِحْتُ بِذَلِكَ طَبْعًا هُوَ مُسْتَذْكِرٌ لِقَوْلِ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى كَانُوا يَفْرَحُونَ بِالْبَلَاءِ أَشَدُّ مِنْ فَرَحِهِمْ بِالْعَطَاءِ وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْهِلُ الْمُنَافِقَ وَيَمُدُّ لَهُ مَدًّا وَهَذَا النُّكْتَةُ أَشَارَ إِلَيْهَا الْمُصَنِّفُ فِي قَوْلِهِ عَافِيَةٌ لَا عِقَابَ بَعْدَهَا وَلَا مَكْرُوهَ فَإِنَّ كَرَاهَةً قَدْ تَكُونُ كَرَاهَةً فِي أُمُورِ الدُّنْيَا وَقَدْ تَكُونُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ

Nasihat & Penyemangat Untuk Anda di 10 Hari Terakhir Ramadhan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Wahai Syaikh yang terhormat, barangkali telah berlalunya seperempat bulan Ramadan yang diberkahi inidan kita hampir menginjak akhir sepertiganya, apakah ada arahantentang pemanfaatan sisa dari bulan yang baik dan penuh berkah ini? Ya, telah berlalu dari bulan yang penuh berkah ini sekitar sepertiganya,dan sepertiga itu banyak.Seorang Muslim harus memanfaatkan sisa dari siang dan malam harinya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla menyifati hari-hari pada bulan ini dengan sifat, “Beberapa hari”.Ia memang benar-benar beberapa hari saja, dan cepat sekali berlalu,cepat sekali digulung lembaran hari-harinya. Manusia itu, setiap harinya yang berlalu akan mendekatkannya kepada kematian dan kehidupan akhirat. Begitu setiap hari.Setiap hari yang berlalu akan mengurangi umurnyadan mendekatkannya kepada ajal. Sebagaimana perkataan Hasan al-Basri rahimahullah, “Wahai manusia, kamu hanyalah kumpulan hari.Setiap kali satu hari itu sirna, sirna juga sebagian dirimu.” Dulu Ibnu Mas’ud berkata ketika matahari terbenam,“Telah terbenam matahari pada hari ini, mengurangi umurkudan mendekatkan kepada ajalku, sedangkan amal kebaikanku belum bertambah.”Beliau mengucapkan itu sebagai bentuk tawaduk, karena para sahabat punya banyak amal saleh. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menghayati makna-makna inidengan berusaha untuk membekali diri dengan bekal ketakwaanpada musim ibadah yang agung ini,ketika pahala dan kebaikan dilipatgandakan,serta kesalahan dan keburukan diampuni. Jadi, seorang Muslim harus bertobat kepada Allah Subhanahdan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.“Bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Serta menjadikan bulan ini, di hari-hari yang utama dan penuh berkah inisebagai kesempatan untuk memeriksa umurnya.Setiap orang harus memeriksa dirinya dan mengoreksi keadaannya.Memperhatikan apa yang telah ia siapkan untuk hari esok. “Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang telah ia perbuat untuk hari esok.” (QS. al-Hasyr: 18)Hendaklah ia berkata, “Seandainya malaikat maut datang kepadaku sekarang dalam keadaan ini, bagaimana aku akan menghadap kepada Tuhanku?Bagaimana keadaanku pada hari yang setara 50 ribu tahun di padang mahsyar kelak?Di kehidupan yang kekal abadi. Apakah aku telah siap menjalani kehidupan yang kekal?” Kehidupan yang kekal adalah kehidupan setelah kematian.Tidak ada tempat setelah kematian kecuali surga atau neraka. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan kandungan-kandungan ini,serta mengintrospeksi dirinya dengan tulus apa adanya. Kehidupan manusia adalah kesempatan satu-satunya, tidak dapat diganti.Allah Ta’ala telah memberimu kesempatan ini. Jika kamu memanfaatkan kesempatan inidan memanfaatkan umurmu untuk amal-amal saleh,maka kamu telah meraih kebahagiaan yang abadi. Adapun jika umurmu kamu sia-siakan dalam senda gurau dan kelalaianhingga maut datang menjemputmu tiba-tiba, maka kamu telah merugi atas segala hal, bahkan atas dirimu. “Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah yang merugikan diri sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS. al-Mukminun: 103) Kehidupan ini adalah kesenangan sementara.“Sungguh kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sungguh akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39)Akhirat adalah tempat terakhir manusia. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus mengevaluasi dirinyadan mengintrospeksi diri, apa yang telah ia siapkan untuk hari esok,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan,dan berusaha untuk terus beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita di hari-hari yang utama ini sedang berada dalam kesempatan untuk membekali diri dengan amal-amal saleh,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan. ==== رُبَّمَا شَيْخَنَا الْكَرِيمَ حِيْنَ مَا مَضَى رُبُعُ شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ وَشَرَفْنَا عَلَى نِهَايَةِ الثُّلُثِ فَهَلْ مِنْ هُنَاكَ تَوْجِيهٌ فِي قَضِيَّةِ اسْتِثْمَارِ مَا تَبَقَّى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ؟ نَعَمْ مَضَى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ مَا يُقَارِبُ الثُّلُثَ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَغْتَنِمَ مَا تَبَقَّ مِنْ أَيَّامِهِ وَلَيَالِيهِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَصَفَ أَيَّامَ هَذَا الشَّهْرِ بِقَوْلِهِ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَإِذَا كَانَتْ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَسُرْعَانَ مَا تَنْقَضِي وَسُرْعَانَ مَا تُطْوَى صَحَائِفُهَا وَالْإِنْسَانُ كُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يُقَرِّبُهُ مِنَ الْمَوْتِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَيُبْعِدُهُ عَنِ الدُّنْيَا كُلُّ يَوْمٍ وَكُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يَنْقُصُ بِهِ الْعُمْرَ وَيَقْتَرِبُ بِهِ مِنَ الْأَجَلِ وَكَمَا قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللهُ ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا غَرَبَتْ شَمْسُ يَوْمٍ يَقُولُ هَذَا يَوْمٌ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ بِهِ عُمُرِيْ وَاقْتَرَبَ بِهِ أَجَلِي وَلَمْ يَزْدَدْ بِهِ عَمَلِيْ يَقُولُ عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُعِ وَإِلَّا الصَّحَابَةُ عِنْدَهُمْ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ كَثِيرَةَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى أَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى فِي هَذَا الْمَوْسِمِ الْعَظِيمِ الَّذِي تُضَاعَفُ فِيهِ الْأُجُورُ وَالْحَسَنَاتُ وَتُغْفَرُ فِيهِ الْخَطَايَا وَالسَّيِّئَاتُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَأَنْ يُنِيبَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَنْ يَجْعَلَ مِنْ هَذَا الشَّهْرِ مِنْ هَذِهِ الْايَّامِ الْفَاضِلَةِ الْمُبَارَكَةِ فُرْصَةً لِتَفَقُّدِ الْعُمُرِ الْأَنْسَانُ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَتَفَقَّدُ أَحْوَالَهُ يَتَفَقَّدُ يَنْظُرُ مَاذَا قَدَّمَ لِغَدٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ يَقُولُ لَوْ أَتَانِي مَلَكُ الْمَوْتِ الْآنَ وَأَنَا عَلَى هَذِهِ الْحَالِ فَكَيْفَ سَأُقَابِلُ رَبِّي؟ كَيْفَ سَأَكُونُ فِي يَوْمٍ مِقْدَارُهُ خَمْسُونَ أَلْفَ سَنَةٍ فِي الْمَوْقِفِ فِي الْحَيَاةِ الأَبَدِيَّةِ فِي حَيَاةِ الْخُلُودِ هَلْ أَنَا مُسْتَعِدٌّ لِحَيَاةِ الْخُلُودِ؟ حَيَاةُ الْخُلُودِ هِيَ بَعْدَ الْمَوْتِ حَيَاةُ الْخُلُودِ مَا بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْ دَارٍ إِلَّا الْجَنَّةُ أَوِ النَّارُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَطْرَحَ هَذِهِ الاَسْئِلَةَ وَهَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ مَحَاسَبَةً صَادِقَةً حَيَاةُ الْإِنْسَانِ فُرْصَةٌ وَاحِدَةٌ غَيْرُ قَابِلَةٍ لِلتَّعْوِيضِ اللهُ تَعَالَى مَنَحَكَ هَذِهِ الْفُرْصَةَ إِنْ أَنْتَ أَفَدْتَ مِنْ هَذِهِ الْفُرْصَةِ وَاغْتَنَمْتَ عُمُرَكَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَقَدْ سَعِدْتَ السَّعَادَةَ الْأَبَدِيَّةَ أَمَّا إِنْ ضَاعَ عَلَيْكَ العُمْرَ فِي لَهْوٍ وَفِي غَفْلَةٍ حَتَّى بَغَتَكَ الْمَوْتُ فَقَدْ خَسِرْتَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى نَفْسَكَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ فَهَذِهِ الْحَيَاةُ مَتَاعٌ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْخُلُوْدِ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ هِيَ مُنْتَهَى الْبَشَرِيَّةِ وَلِذَلِكَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَفَقَّدَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَأَنْ يُحَاسِبَهَا مَاذَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَأَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى وَأَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ عَلَى أَنْ تَسْتَقِيمَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي الْفَاضِلَةِ فِي فُرْصَةٍ لِلتَّزَوُّدِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالتَّزَوُّدِ بِزَادِ التَّقْوَى

Nasihat & Penyemangat Untuk Anda di 10 Hari Terakhir Ramadhan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Wahai Syaikh yang terhormat, barangkali telah berlalunya seperempat bulan Ramadan yang diberkahi inidan kita hampir menginjak akhir sepertiganya, apakah ada arahantentang pemanfaatan sisa dari bulan yang baik dan penuh berkah ini? Ya, telah berlalu dari bulan yang penuh berkah ini sekitar sepertiganya,dan sepertiga itu banyak.Seorang Muslim harus memanfaatkan sisa dari siang dan malam harinya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla menyifati hari-hari pada bulan ini dengan sifat, “Beberapa hari”.Ia memang benar-benar beberapa hari saja, dan cepat sekali berlalu,cepat sekali digulung lembaran hari-harinya. Manusia itu, setiap harinya yang berlalu akan mendekatkannya kepada kematian dan kehidupan akhirat. Begitu setiap hari.Setiap hari yang berlalu akan mengurangi umurnyadan mendekatkannya kepada ajal. Sebagaimana perkataan Hasan al-Basri rahimahullah, “Wahai manusia, kamu hanyalah kumpulan hari.Setiap kali satu hari itu sirna, sirna juga sebagian dirimu.” Dulu Ibnu Mas’ud berkata ketika matahari terbenam,“Telah terbenam matahari pada hari ini, mengurangi umurkudan mendekatkan kepada ajalku, sedangkan amal kebaikanku belum bertambah.”Beliau mengucapkan itu sebagai bentuk tawaduk, karena para sahabat punya banyak amal saleh. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menghayati makna-makna inidengan berusaha untuk membekali diri dengan bekal ketakwaanpada musim ibadah yang agung ini,ketika pahala dan kebaikan dilipatgandakan,serta kesalahan dan keburukan diampuni. Jadi, seorang Muslim harus bertobat kepada Allah Subhanahdan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.“Bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Serta menjadikan bulan ini, di hari-hari yang utama dan penuh berkah inisebagai kesempatan untuk memeriksa umurnya.Setiap orang harus memeriksa dirinya dan mengoreksi keadaannya.Memperhatikan apa yang telah ia siapkan untuk hari esok. “Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang telah ia perbuat untuk hari esok.” (QS. al-Hasyr: 18)Hendaklah ia berkata, “Seandainya malaikat maut datang kepadaku sekarang dalam keadaan ini, bagaimana aku akan menghadap kepada Tuhanku?Bagaimana keadaanku pada hari yang setara 50 ribu tahun di padang mahsyar kelak?Di kehidupan yang kekal abadi. Apakah aku telah siap menjalani kehidupan yang kekal?” Kehidupan yang kekal adalah kehidupan setelah kematian.Tidak ada tempat setelah kematian kecuali surga atau neraka. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan kandungan-kandungan ini,serta mengintrospeksi dirinya dengan tulus apa adanya. Kehidupan manusia adalah kesempatan satu-satunya, tidak dapat diganti.Allah Ta’ala telah memberimu kesempatan ini. Jika kamu memanfaatkan kesempatan inidan memanfaatkan umurmu untuk amal-amal saleh,maka kamu telah meraih kebahagiaan yang abadi. Adapun jika umurmu kamu sia-siakan dalam senda gurau dan kelalaianhingga maut datang menjemputmu tiba-tiba, maka kamu telah merugi atas segala hal, bahkan atas dirimu. “Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah yang merugikan diri sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS. al-Mukminun: 103) Kehidupan ini adalah kesenangan sementara.“Sungguh kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sungguh akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39)Akhirat adalah tempat terakhir manusia. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus mengevaluasi dirinyadan mengintrospeksi diri, apa yang telah ia siapkan untuk hari esok,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan,dan berusaha untuk terus beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita di hari-hari yang utama ini sedang berada dalam kesempatan untuk membekali diri dengan amal-amal saleh,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan. ==== رُبَّمَا شَيْخَنَا الْكَرِيمَ حِيْنَ مَا مَضَى رُبُعُ شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ وَشَرَفْنَا عَلَى نِهَايَةِ الثُّلُثِ فَهَلْ مِنْ هُنَاكَ تَوْجِيهٌ فِي قَضِيَّةِ اسْتِثْمَارِ مَا تَبَقَّى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ؟ نَعَمْ مَضَى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ مَا يُقَارِبُ الثُّلُثَ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَغْتَنِمَ مَا تَبَقَّ مِنْ أَيَّامِهِ وَلَيَالِيهِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَصَفَ أَيَّامَ هَذَا الشَّهْرِ بِقَوْلِهِ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَإِذَا كَانَتْ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَسُرْعَانَ مَا تَنْقَضِي وَسُرْعَانَ مَا تُطْوَى صَحَائِفُهَا وَالْإِنْسَانُ كُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يُقَرِّبُهُ مِنَ الْمَوْتِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَيُبْعِدُهُ عَنِ الدُّنْيَا كُلُّ يَوْمٍ وَكُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يَنْقُصُ بِهِ الْعُمْرَ وَيَقْتَرِبُ بِهِ مِنَ الْأَجَلِ وَكَمَا قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللهُ ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا غَرَبَتْ شَمْسُ يَوْمٍ يَقُولُ هَذَا يَوْمٌ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ بِهِ عُمُرِيْ وَاقْتَرَبَ بِهِ أَجَلِي وَلَمْ يَزْدَدْ بِهِ عَمَلِيْ يَقُولُ عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُعِ وَإِلَّا الصَّحَابَةُ عِنْدَهُمْ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ كَثِيرَةَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى أَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى فِي هَذَا الْمَوْسِمِ الْعَظِيمِ الَّذِي تُضَاعَفُ فِيهِ الْأُجُورُ وَالْحَسَنَاتُ وَتُغْفَرُ فِيهِ الْخَطَايَا وَالسَّيِّئَاتُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَأَنْ يُنِيبَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَنْ يَجْعَلَ مِنْ هَذَا الشَّهْرِ مِنْ هَذِهِ الْايَّامِ الْفَاضِلَةِ الْمُبَارَكَةِ فُرْصَةً لِتَفَقُّدِ الْعُمُرِ الْأَنْسَانُ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَتَفَقَّدُ أَحْوَالَهُ يَتَفَقَّدُ يَنْظُرُ مَاذَا قَدَّمَ لِغَدٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ يَقُولُ لَوْ أَتَانِي مَلَكُ الْمَوْتِ الْآنَ وَأَنَا عَلَى هَذِهِ الْحَالِ فَكَيْفَ سَأُقَابِلُ رَبِّي؟ كَيْفَ سَأَكُونُ فِي يَوْمٍ مِقْدَارُهُ خَمْسُونَ أَلْفَ سَنَةٍ فِي الْمَوْقِفِ فِي الْحَيَاةِ الأَبَدِيَّةِ فِي حَيَاةِ الْخُلُودِ هَلْ أَنَا مُسْتَعِدٌّ لِحَيَاةِ الْخُلُودِ؟ حَيَاةُ الْخُلُودِ هِيَ بَعْدَ الْمَوْتِ حَيَاةُ الْخُلُودِ مَا بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْ دَارٍ إِلَّا الْجَنَّةُ أَوِ النَّارُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَطْرَحَ هَذِهِ الاَسْئِلَةَ وَهَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ مَحَاسَبَةً صَادِقَةً حَيَاةُ الْإِنْسَانِ فُرْصَةٌ وَاحِدَةٌ غَيْرُ قَابِلَةٍ لِلتَّعْوِيضِ اللهُ تَعَالَى مَنَحَكَ هَذِهِ الْفُرْصَةَ إِنْ أَنْتَ أَفَدْتَ مِنْ هَذِهِ الْفُرْصَةِ وَاغْتَنَمْتَ عُمُرَكَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَقَدْ سَعِدْتَ السَّعَادَةَ الْأَبَدِيَّةَ أَمَّا إِنْ ضَاعَ عَلَيْكَ العُمْرَ فِي لَهْوٍ وَفِي غَفْلَةٍ حَتَّى بَغَتَكَ الْمَوْتُ فَقَدْ خَسِرْتَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى نَفْسَكَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ فَهَذِهِ الْحَيَاةُ مَتَاعٌ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْخُلُوْدِ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ هِيَ مُنْتَهَى الْبَشَرِيَّةِ وَلِذَلِكَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَفَقَّدَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَأَنْ يُحَاسِبَهَا مَاذَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَأَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى وَأَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ عَلَى أَنْ تَسْتَقِيمَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي الْفَاضِلَةِ فِي فُرْصَةٍ لِلتَّزَوُّدِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالتَّزَوُّدِ بِزَادِ التَّقْوَى
Wahai Syaikh yang terhormat, barangkali telah berlalunya seperempat bulan Ramadan yang diberkahi inidan kita hampir menginjak akhir sepertiganya, apakah ada arahantentang pemanfaatan sisa dari bulan yang baik dan penuh berkah ini? Ya, telah berlalu dari bulan yang penuh berkah ini sekitar sepertiganya,dan sepertiga itu banyak.Seorang Muslim harus memanfaatkan sisa dari siang dan malam harinya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla menyifati hari-hari pada bulan ini dengan sifat, “Beberapa hari”.Ia memang benar-benar beberapa hari saja, dan cepat sekali berlalu,cepat sekali digulung lembaran hari-harinya. Manusia itu, setiap harinya yang berlalu akan mendekatkannya kepada kematian dan kehidupan akhirat. Begitu setiap hari.Setiap hari yang berlalu akan mengurangi umurnyadan mendekatkannya kepada ajal. Sebagaimana perkataan Hasan al-Basri rahimahullah, “Wahai manusia, kamu hanyalah kumpulan hari.Setiap kali satu hari itu sirna, sirna juga sebagian dirimu.” Dulu Ibnu Mas’ud berkata ketika matahari terbenam,“Telah terbenam matahari pada hari ini, mengurangi umurkudan mendekatkan kepada ajalku, sedangkan amal kebaikanku belum bertambah.”Beliau mengucapkan itu sebagai bentuk tawaduk, karena para sahabat punya banyak amal saleh. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menghayati makna-makna inidengan berusaha untuk membekali diri dengan bekal ketakwaanpada musim ibadah yang agung ini,ketika pahala dan kebaikan dilipatgandakan,serta kesalahan dan keburukan diampuni. Jadi, seorang Muslim harus bertobat kepada Allah Subhanahdan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.“Bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Serta menjadikan bulan ini, di hari-hari yang utama dan penuh berkah inisebagai kesempatan untuk memeriksa umurnya.Setiap orang harus memeriksa dirinya dan mengoreksi keadaannya.Memperhatikan apa yang telah ia siapkan untuk hari esok. “Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang telah ia perbuat untuk hari esok.” (QS. al-Hasyr: 18)Hendaklah ia berkata, “Seandainya malaikat maut datang kepadaku sekarang dalam keadaan ini, bagaimana aku akan menghadap kepada Tuhanku?Bagaimana keadaanku pada hari yang setara 50 ribu tahun di padang mahsyar kelak?Di kehidupan yang kekal abadi. Apakah aku telah siap menjalani kehidupan yang kekal?” Kehidupan yang kekal adalah kehidupan setelah kematian.Tidak ada tempat setelah kematian kecuali surga atau neraka. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan kandungan-kandungan ini,serta mengintrospeksi dirinya dengan tulus apa adanya. Kehidupan manusia adalah kesempatan satu-satunya, tidak dapat diganti.Allah Ta’ala telah memberimu kesempatan ini. Jika kamu memanfaatkan kesempatan inidan memanfaatkan umurmu untuk amal-amal saleh,maka kamu telah meraih kebahagiaan yang abadi. Adapun jika umurmu kamu sia-siakan dalam senda gurau dan kelalaianhingga maut datang menjemputmu tiba-tiba, maka kamu telah merugi atas segala hal, bahkan atas dirimu. “Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah yang merugikan diri sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS. al-Mukminun: 103) Kehidupan ini adalah kesenangan sementara.“Sungguh kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sungguh akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39)Akhirat adalah tempat terakhir manusia. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus mengevaluasi dirinyadan mengintrospeksi diri, apa yang telah ia siapkan untuk hari esok,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan,dan berusaha untuk terus beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita di hari-hari yang utama ini sedang berada dalam kesempatan untuk membekali diri dengan amal-amal saleh,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan. ==== رُبَّمَا شَيْخَنَا الْكَرِيمَ حِيْنَ مَا مَضَى رُبُعُ شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ وَشَرَفْنَا عَلَى نِهَايَةِ الثُّلُثِ فَهَلْ مِنْ هُنَاكَ تَوْجِيهٌ فِي قَضِيَّةِ اسْتِثْمَارِ مَا تَبَقَّى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ؟ نَعَمْ مَضَى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ مَا يُقَارِبُ الثُّلُثَ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَغْتَنِمَ مَا تَبَقَّ مِنْ أَيَّامِهِ وَلَيَالِيهِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَصَفَ أَيَّامَ هَذَا الشَّهْرِ بِقَوْلِهِ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَإِذَا كَانَتْ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَسُرْعَانَ مَا تَنْقَضِي وَسُرْعَانَ مَا تُطْوَى صَحَائِفُهَا وَالْإِنْسَانُ كُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يُقَرِّبُهُ مِنَ الْمَوْتِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَيُبْعِدُهُ عَنِ الدُّنْيَا كُلُّ يَوْمٍ وَكُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يَنْقُصُ بِهِ الْعُمْرَ وَيَقْتَرِبُ بِهِ مِنَ الْأَجَلِ وَكَمَا قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللهُ ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا غَرَبَتْ شَمْسُ يَوْمٍ يَقُولُ هَذَا يَوْمٌ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ بِهِ عُمُرِيْ وَاقْتَرَبَ بِهِ أَجَلِي وَلَمْ يَزْدَدْ بِهِ عَمَلِيْ يَقُولُ عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُعِ وَإِلَّا الصَّحَابَةُ عِنْدَهُمْ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ كَثِيرَةَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى أَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى فِي هَذَا الْمَوْسِمِ الْعَظِيمِ الَّذِي تُضَاعَفُ فِيهِ الْأُجُورُ وَالْحَسَنَاتُ وَتُغْفَرُ فِيهِ الْخَطَايَا وَالسَّيِّئَاتُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَأَنْ يُنِيبَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَنْ يَجْعَلَ مِنْ هَذَا الشَّهْرِ مِنْ هَذِهِ الْايَّامِ الْفَاضِلَةِ الْمُبَارَكَةِ فُرْصَةً لِتَفَقُّدِ الْعُمُرِ الْأَنْسَانُ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَتَفَقَّدُ أَحْوَالَهُ يَتَفَقَّدُ يَنْظُرُ مَاذَا قَدَّمَ لِغَدٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ يَقُولُ لَوْ أَتَانِي مَلَكُ الْمَوْتِ الْآنَ وَأَنَا عَلَى هَذِهِ الْحَالِ فَكَيْفَ سَأُقَابِلُ رَبِّي؟ كَيْفَ سَأَكُونُ فِي يَوْمٍ مِقْدَارُهُ خَمْسُونَ أَلْفَ سَنَةٍ فِي الْمَوْقِفِ فِي الْحَيَاةِ الأَبَدِيَّةِ فِي حَيَاةِ الْخُلُودِ هَلْ أَنَا مُسْتَعِدٌّ لِحَيَاةِ الْخُلُودِ؟ حَيَاةُ الْخُلُودِ هِيَ بَعْدَ الْمَوْتِ حَيَاةُ الْخُلُودِ مَا بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْ دَارٍ إِلَّا الْجَنَّةُ أَوِ النَّارُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَطْرَحَ هَذِهِ الاَسْئِلَةَ وَهَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ مَحَاسَبَةً صَادِقَةً حَيَاةُ الْإِنْسَانِ فُرْصَةٌ وَاحِدَةٌ غَيْرُ قَابِلَةٍ لِلتَّعْوِيضِ اللهُ تَعَالَى مَنَحَكَ هَذِهِ الْفُرْصَةَ إِنْ أَنْتَ أَفَدْتَ مِنْ هَذِهِ الْفُرْصَةِ وَاغْتَنَمْتَ عُمُرَكَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَقَدْ سَعِدْتَ السَّعَادَةَ الْأَبَدِيَّةَ أَمَّا إِنْ ضَاعَ عَلَيْكَ العُمْرَ فِي لَهْوٍ وَفِي غَفْلَةٍ حَتَّى بَغَتَكَ الْمَوْتُ فَقَدْ خَسِرْتَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى نَفْسَكَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ فَهَذِهِ الْحَيَاةُ مَتَاعٌ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْخُلُوْدِ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ هِيَ مُنْتَهَى الْبَشَرِيَّةِ وَلِذَلِكَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَفَقَّدَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَأَنْ يُحَاسِبَهَا مَاذَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَأَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى وَأَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ عَلَى أَنْ تَسْتَقِيمَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي الْفَاضِلَةِ فِي فُرْصَةٍ لِلتَّزَوُّدِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالتَّزَوُّدِ بِزَادِ التَّقْوَى


Wahai Syaikh yang terhormat, barangkali telah berlalunya seperempat bulan Ramadan yang diberkahi inidan kita hampir menginjak akhir sepertiganya, apakah ada arahantentang pemanfaatan sisa dari bulan yang baik dan penuh berkah ini? Ya, telah berlalu dari bulan yang penuh berkah ini sekitar sepertiganya,dan sepertiga itu banyak.Seorang Muslim harus memanfaatkan sisa dari siang dan malam harinya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla menyifati hari-hari pada bulan ini dengan sifat, “Beberapa hari”.Ia memang benar-benar beberapa hari saja, dan cepat sekali berlalu,cepat sekali digulung lembaran hari-harinya. Manusia itu, setiap harinya yang berlalu akan mendekatkannya kepada kematian dan kehidupan akhirat. Begitu setiap hari.Setiap hari yang berlalu akan mengurangi umurnyadan mendekatkannya kepada ajal. Sebagaimana perkataan Hasan al-Basri rahimahullah, “Wahai manusia, kamu hanyalah kumpulan hari.Setiap kali satu hari itu sirna, sirna juga sebagian dirimu.” Dulu Ibnu Mas’ud berkata ketika matahari terbenam,“Telah terbenam matahari pada hari ini, mengurangi umurkudan mendekatkan kepada ajalku, sedangkan amal kebaikanku belum bertambah.”Beliau mengucapkan itu sebagai bentuk tawaduk, karena para sahabat punya banyak amal saleh. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menghayati makna-makna inidengan berusaha untuk membekali diri dengan bekal ketakwaanpada musim ibadah yang agung ini,ketika pahala dan kebaikan dilipatgandakan,serta kesalahan dan keburukan diampuni. Jadi, seorang Muslim harus bertobat kepada Allah Subhanahdan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.“Bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Serta menjadikan bulan ini, di hari-hari yang utama dan penuh berkah inisebagai kesempatan untuk memeriksa umurnya.Setiap orang harus memeriksa dirinya dan mengoreksi keadaannya.Memperhatikan apa yang telah ia siapkan untuk hari esok. “Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang telah ia perbuat untuk hari esok.” (QS. al-Hasyr: 18)Hendaklah ia berkata, “Seandainya malaikat maut datang kepadaku sekarang dalam keadaan ini, bagaimana aku akan menghadap kepada Tuhanku?Bagaimana keadaanku pada hari yang setara 50 ribu tahun di padang mahsyar kelak?Di kehidupan yang kekal abadi. Apakah aku telah siap menjalani kehidupan yang kekal?” Kehidupan yang kekal adalah kehidupan setelah kematian.Tidak ada tempat setelah kematian kecuali surga atau neraka. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan kandungan-kandungan ini,serta mengintrospeksi dirinya dengan tulus apa adanya. Kehidupan manusia adalah kesempatan satu-satunya, tidak dapat diganti.Allah Ta’ala telah memberimu kesempatan ini. Jika kamu memanfaatkan kesempatan inidan memanfaatkan umurmu untuk amal-amal saleh,maka kamu telah meraih kebahagiaan yang abadi. Adapun jika umurmu kamu sia-siakan dalam senda gurau dan kelalaianhingga maut datang menjemputmu tiba-tiba, maka kamu telah merugi atas segala hal, bahkan atas dirimu. “Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah yang merugikan diri sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS. al-Mukminun: 103) Kehidupan ini adalah kesenangan sementara.“Sungguh kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sungguh akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39)Akhirat adalah tempat terakhir manusia. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus mengevaluasi dirinyadan mengintrospeksi diri, apa yang telah ia siapkan untuk hari esok,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan,dan berusaha untuk terus beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita di hari-hari yang utama ini sedang berada dalam kesempatan untuk membekali diri dengan amal-amal saleh,serta membekali diri dengan bekal ketakwaan. ==== رُبَّمَا شَيْخَنَا الْكَرِيمَ حِيْنَ مَا مَضَى رُبُعُ شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ وَشَرَفْنَا عَلَى نِهَايَةِ الثُّلُثِ فَهَلْ مِنْ هُنَاكَ تَوْجِيهٌ فِي قَضِيَّةِ اسْتِثْمَارِ مَا تَبَقَّى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ؟ نَعَمْ مَضَى مِنْ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ مَا يُقَارِبُ الثُّلُثَ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَغْتَنِمَ مَا تَبَقَّ مِنْ أَيَّامِهِ وَلَيَالِيهِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَصَفَ أَيَّامَ هَذَا الشَّهْرِ بِقَوْلِهِ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَإِذَا كَانَتْ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَسُرْعَانَ مَا تَنْقَضِي وَسُرْعَانَ مَا تُطْوَى صَحَائِفُهَا وَالْإِنْسَانُ كُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يُقَرِّبُهُ مِنَ الْمَوْتِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَيُبْعِدُهُ عَنِ الدُّنْيَا كُلُّ يَوْمٍ وَكُلُّ يَوْمٍ يَمْضِي يَنْقُصُ بِهِ الْعُمْرَ وَيَقْتَرِبُ بِهِ مِنَ الْأَجَلِ وَكَمَا قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللهُ ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا غَرَبَتْ شَمْسُ يَوْمٍ يَقُولُ هَذَا يَوْمٌ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ بِهِ عُمُرِيْ وَاقْتَرَبَ بِهِ أَجَلِي وَلَمْ يَزْدَدْ بِهِ عَمَلِيْ يَقُولُ عَلَى سَبِيلِ التَّوَاضُعِ وَإِلَّا الصَّحَابَةُ عِنْدَهُمْ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ كَثِيرَةَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى أَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى فِي هَذَا الْمَوْسِمِ الْعَظِيمِ الَّذِي تُضَاعَفُ فِيهِ الْأُجُورُ وَالْحَسَنَاتُ وَتُغْفَرُ فِيهِ الْخَطَايَا وَالسَّيِّئَاتُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَأَنْ يُنِيبَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَنْ يَجْعَلَ مِنْ هَذَا الشَّهْرِ مِنْ هَذِهِ الْايَّامِ الْفَاضِلَةِ الْمُبَارَكَةِ فُرْصَةً لِتَفَقُّدِ الْعُمُرِ الْأَنْسَانُ يَتَفَقَّدُ نَفْسَهُ يَتَفَقَّدُ أَحْوَالَهُ يَتَفَقَّدُ يَنْظُرُ مَاذَا قَدَّمَ لِغَدٍ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ يَقُولُ لَوْ أَتَانِي مَلَكُ الْمَوْتِ الْآنَ وَأَنَا عَلَى هَذِهِ الْحَالِ فَكَيْفَ سَأُقَابِلُ رَبِّي؟ كَيْفَ سَأَكُونُ فِي يَوْمٍ مِقْدَارُهُ خَمْسُونَ أَلْفَ سَنَةٍ فِي الْمَوْقِفِ فِي الْحَيَاةِ الأَبَدِيَّةِ فِي حَيَاةِ الْخُلُودِ هَلْ أَنَا مُسْتَعِدٌّ لِحَيَاةِ الْخُلُودِ؟ حَيَاةُ الْخُلُودِ هِيَ بَعْدَ الْمَوْتِ حَيَاةُ الْخُلُودِ مَا بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْ دَارٍ إِلَّا الْجَنَّةُ أَوِ النَّارُ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَطْرَحَ هَذِهِ الاَسْئِلَةَ وَهَذِهِ الْمَعَانِي وَأَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ مَحَاسَبَةً صَادِقَةً حَيَاةُ الْإِنْسَانِ فُرْصَةٌ وَاحِدَةٌ غَيْرُ قَابِلَةٍ لِلتَّعْوِيضِ اللهُ تَعَالَى مَنَحَكَ هَذِهِ الْفُرْصَةَ إِنْ أَنْتَ أَفَدْتَ مِنْ هَذِهِ الْفُرْصَةِ وَاغْتَنَمْتَ عُمُرَكَ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَقَدْ سَعِدْتَ السَّعَادَةَ الْأَبَدِيَّةَ أَمَّا إِنْ ضَاعَ عَلَيْكَ العُمْرَ فِي لَهْوٍ وَفِي غَفْلَةٍ حَتَّى بَغَتَكَ الْمَوْتُ فَقَدْ خَسِرْتَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى نَفْسَكَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ فَهَذِهِ الْحَيَاةُ مَتَاعٌ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ الْآخِرَةُ هِيَ دَارُ الْخُلُوْدِ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ هِيَ مُنْتَهَى الْبَشَرِيَّةِ وَلِذَلِكَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَفَقَّدَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَأَنْ يُحَاسِبَهَا مَاذَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَأَنْ يَتَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى وَأَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ عَلَى أَنْ تَسْتَقِيمَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَحْنُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي الْفَاضِلَةِ فِي فُرْصَةٍ لِلتَّزَوُّدِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالتَّزَوُّدِ بِزَادِ التَّقْوَى

Dua Sebab Penting Terkabul & Tertolaknya Doa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Salah seorang saudara kita mengatakan, “Bagaimanakah doa yang mustajab itu?”Doa yang mustajab harus terpenuhi beberapa hal: [PERTAMA]Hati tidak boleh lalai,karena Allah ʿAzza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai. Bagaimanakah hati yang lalai itu?Artinya bahwa seseorang harus berdoa dengan hati dan lisannya.Doa terbagi menjadi tiga jenis: (1) Doa dengan lisan saja, yaitu ketika seseorang mengucapkan doa,sedangkan hatinya lalai sampai dia tidak tahu apa yang dia ucapkan. (2) Doa dengan lisan dan hati,yaitu ketika Anda menghayati doa yang Anda ucapkan. (3) Doa dengan hati, yaitu dengan mengagungkan Allah ʿAzza wa Jalla.Inilah zikir hati,dengan Anda menghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā. Demikianlah zikir hati. Barang siapa yang berdoa sedangkan hatinya menghayati isi doanyamenghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā, dan merasakan hatinya yang remuk redam di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,maka itulah yang menjadi sebab doanya diijabahi. Bahkan ada yang menakjubkan,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “Bukankah Dia Yang Memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan,apabila ia berdoa kepada-Nya, dan Yang Menghilangkan kesusahan, …” (QS. An-Naml: 62) Dalam ayat ini ada janji dari Allah Jalla wa ʿAlābahwa Allah Mengabulkan doa setiap orang yang tertimpa kesulitanbahkan jika yang tertimpa kesulitan itu bukan seorang muslim! Sungguh, Allah Mengabulkan doa orang yang tertimpa kesulitanwalaupun dia bukan seorang muslim. Ini menunjukkan bahwa hati yang bergantung kepada Allah ʿAzza wa Jallaakan menjadi sebab terbesar dikabulkannya doa seseorang.Dulu, ada sebagian Salaf —semoga Allah Merahmatinya—yang berdoa kepada Allah ʿAzza wa Jalla untuk suatu keperluan. Dia mengatakan, “Begitu seringnya aku berdoahingga hatiku bergantung dengan-Nya Jalla wa ʿAlā dan berpaut dengan-Nya.Aku bisa merasakan ketenangan dengan Allah dalam berzikir dan berdoa kepada-Nyayang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” Dia berkata, “Hingga aku berharap agar doaku tidak pernah terwujudsaking aku sudah bergantung dengan-Nya Subẖānahu wa Taʿālā.” Jika Anda mencapai satu titik di manaketika Anda sudah berserah diri di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,dan Anda sepenuhnya tahu bahwa tiada perlindungan dan keselamatan bagi Andakecuali dari-Nya Subẖānahu wa Taʿālā, maka ini adalah tandabahwa hati Anda sudah berpaut dengan-Nya. Dalam keadaan inilah kadang ada sebagian orangyang berkata, “Sungguh, aku berdoa dan yakin pasti dikabulkan,”karena dia tahu keadaan hatinya, bukan karena sombong dan jemawa,melainkan karena mengetahui bahwa hatinya—sudah!—terputus dari semua harap kecuali dari al-Jabbar Jalla wa ʿAlā. Inilah mengapa ini menjadi tingkatan yang sulit,tapi tiap manusia berbeda-beda tingkatannya.Jadi, inilah sebab pertama,tidak akan dijawab atau dikabulkan doa dari hati yang lalai. [KEDUA]Tidak melampaui batas dalam lafaz doanya,karena melampaui batas ini bisa terjadi dalam lafaz doanya maupun gerakannya.Kita mulai dengan lafaz doanya. Tentang doa yang melampaui batas dalam lafaznya,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “… Jangan melampaui batas,karena sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190) Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,yaitu Abdullah bin Mughaffal, dia pernah mendengar putranya mengucapkan suatu doa, lalu dia berkata, “Wahai Anakku, aku mendengar Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,‘Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.’” (HR. Abu Dawud) “Sungguh, Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)Jadi, orang yang melampaui batas dalam doanya,maka Allah tidak Mencintainyadan tidak Menyukai doanya. Apakah Anda menyangka ketika Allah tidak Mencintai seseorang dan doanyakemudian Allah akan Mengabulkan doanya? Tidak!Jadi, berusahalah untuk tidak melampaui batas dalam doa Anda. Bagaimana melampaui batas dalam doa yang harus Anda waspadai?Pertama-tama, terkait melampaui batas dalam doaadalah Anda tidak meminta sesuatu yang haram,“… selama dia tidak berdoa suatu dosa atau memutus silaturahmi.” (HR. At-Tirmidzi) Demikian sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Jangan sampai Anda berdoa meminta sesuatu yang haram.Janganlah Anda mendoakan keburukan untuk seorang muslim tanpa hak. “Allah tidak menyukai perkataan buruk(yang diucapkan) terang-terangan, kecuali bagi orang yang dizalimi…” (QS. An-Nisa’: 148) Ada yang mengatakan bolehnya mendoakan keburukan sesuai kadar kezalimannya,tapi tidak boleh lebih dari itu. Jadi, janganlah Anda berdoa yang haram, seperti memutus silaturahmi,atau berdoa untuk memakan harta haram,karena Anda mendapatkan dosa dan tidak akan terkabul doanya. Bentuk melampaui batas dalam doa yang keduaadalah melampaui batas dengan berdoameminta sesuatu secara terperinci.—semoga Allah Limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad. ==== أَحَدُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ: مَا هُوَ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ؟ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ يَقْتَضِي أَمُورًا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ الْقَلْبُ غَيْرَ لَاهٍ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَسْتَجِيبُ قَلْبَ لَاهٍ وَكَيْفَ يَكُونُ قَلْبُ لَاهٍ؟ بِمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ يَدْعُو بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ مَعًا الدُّعَاءُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ بِاللِّسَانِ هُوَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالدُّعَاءِ وَقَلْبُهُ بَعِيدٌ جِدًّا لَا يَدْرِي مَاذَا يَقُولُ وَبِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ هُوَ أَنْ تَتَفَكَّرَ فِيمَا تَدْعُوهُ وَبِالْْقَلْبِ وَهُوَ تَعْظِيمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا ذِكْرُ الْقَلْبِ أَنْ تَسْتَشْعِرَ عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا هَذَا هُوَ ذِكْرُ الْقَلْبِ مَنْ دَعَا وَكَانَ قَلْبُهُ مُسْتَحْضِرًا مَا يَدْعُو بِهِ مُسْتَحْضِرًا عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا مُسْتَحْضِرًا انْكِسَارَهُ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ ذَلِكَ سَبَبُ اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ بَلْ أُعْطِيكَ الْعَجَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَفِي هَذِهِ الْآيَةِ وَعْدٌ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ كُلَّ مُضْطَرٍّ يُجِيبُ اللهُ دُعَاءَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ الْمُضْطَرُّ غَيْرَ مُسْلِمٍ فَإِنَّ اللهَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَلَوْ كَانَ غَيْرَ مُسْلِمٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَلْبَ الْمُتَعَلِّقَ بِاللهِ جَلَّ وَعَلَا يَكُونُ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِحَاجَةٍ يَقُولُ: فَبِكَثْرَةِ دُعَائِي أَصْبَحَ قَلْبِي مُتَعَلِّقًا بِهِ جَلَّ وَعَلَا مُنْصَرِفًا إِلَيْهِ أَجِدُ مِنَ الْأُنْسِ بِاللهِ وَبِذِكْرِهِ وَبِدُعَائِهِ مَا لَمْ أَكُنْ وَاجِدَهُ قَبْلُ قَالَ حَتَّى إِنِّي لَأَتَمَنَّى أَنْ لَا يَتَحَقَّقَ سُؤَالِي مِنْ شِدَّةِ تَعَلُّقِي بِهِ سُبْحَانَهُ هَذَا لِدَرَجَةٍ أَنَّكَ تَجِدُ إِذَا انْطَرَحْتَ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَعَلِمْتَ أَنَّهُ لَا مَلْجَأَ لَكَ وَلَا مَنْجَى إِلَّا بِهِ سُبْحَانَهُ فَهَذَا عَلَامَةُ تَعَلُّقِ قَلْبِكَ بِهِ وَحِينَئِذٍ أَحْيَانًا يَجِدُ بَعْضُ الْأَشْخَاصِ يَقُولُ: إِنِّي لَأَدْعُو وَأَنَا مُسْتَيْقِنٌ بِالْإِجَابَةِ لِمَا عَلِمَ مِنْ قَلْبِهِ لَيْسَ تَكَبُّرًا وَلَا تَعَالِيًا وَلِأَنَّهُ عَلِمَ أَنَّ قَلْبَهُ — خَلَاصٌ اِنْقَطَعَ مِنْ جَمِيعِ الْأَسْبَابِ إِلَّا مِنَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا وَلِذَلِكَ هَذِهِ مَرْحَلَةٌ صَعْبَةٌ وَلَكِنَّ النَّاسَ فِيهِ دَرَجَاتٍ إِذَنْ هَذَا السَّبَبُ الْأَوَّلُ لَا يُرَدُّ أَوْ لَا يُقْبَلُ دُعَاءٌ مِنْ قَلْبِ لَاهٍ الْأَمْرُ الثَّانِي وَهُوَ عَدَمُ الْاِعْتِدَاءِ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ لِأَنَّ الْاِعْتِدَاءَ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ وَفِي هَيئَتِهِ نَبْدَأُ بِالصِّيَغِ الدُّعَاءُ… الْاِعْتِدَاءُ فِي هَيْئَةِ صِيغَةِ الدُّعَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا تَعْتَدُوْا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَجَاءَ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَدْعُو دُعَاءًا فَقَالَ: يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَيَأْتِي أَقْوَامٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ فَمَنِ اعْتَدَى فِي دُعَاءِهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّهُ وَلَا يُحِبُّ دُعَائَهُ وَهَلْ تَظُنُّ أَنَّ مَنْ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَهُوَ لَا يُحِبُّ دُعَاءَهُ يَسْتَجِيبُ اللهُ دُعَائَهُ؟ لَا إِذَنْ احْرِصْ عَلَى أَنْ لَا تَعْتَدِيَ فِي دُعَائِكَ كَيْفَ يَكُونُ الْاِعْتِدَاءُ فِي الدُّعَاءِ الَّتِي تَحْذَرُهَا؟ أَوَّلُ شَيْءٍ… أَوَّلُ شَيْءٍ… مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ لَا تَسْأَلَ شَيْئًا مُحَرَّمًا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِشَيْءٍ مُحَرَّمٍ لَا تَدْعُوَنَّ عَلَى مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لَا يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ … قِيلَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَيهِ بِقَدْرِ مَا ظَلَمَهُ وَلَا يَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ إِذَنْ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِحَرَامٍ بِقَطِيعَةِ الرَّحِمِ تَدْعُوَ بِأَكْلِ مَالِ الْحَرَامِ فَإِنَّهُ أَنْتَ تَكْسِبُ الْإِثْمَ وَلَمْ يُسْتَجَبْ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يَكُونَ الْاِعْتِدَاءُ بِالدُّعَاءِ فِي سُؤَالِ دَقَائِقِ الْأُمُورِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Dua Sebab Penting Terkabul & Tertolaknya Doa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Salah seorang saudara kita mengatakan, “Bagaimanakah doa yang mustajab itu?”Doa yang mustajab harus terpenuhi beberapa hal: [PERTAMA]Hati tidak boleh lalai,karena Allah ʿAzza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai. Bagaimanakah hati yang lalai itu?Artinya bahwa seseorang harus berdoa dengan hati dan lisannya.Doa terbagi menjadi tiga jenis: (1) Doa dengan lisan saja, yaitu ketika seseorang mengucapkan doa,sedangkan hatinya lalai sampai dia tidak tahu apa yang dia ucapkan. (2) Doa dengan lisan dan hati,yaitu ketika Anda menghayati doa yang Anda ucapkan. (3) Doa dengan hati, yaitu dengan mengagungkan Allah ʿAzza wa Jalla.Inilah zikir hati,dengan Anda menghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā. Demikianlah zikir hati. Barang siapa yang berdoa sedangkan hatinya menghayati isi doanyamenghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā, dan merasakan hatinya yang remuk redam di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,maka itulah yang menjadi sebab doanya diijabahi. Bahkan ada yang menakjubkan,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “Bukankah Dia Yang Memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan,apabila ia berdoa kepada-Nya, dan Yang Menghilangkan kesusahan, …” (QS. An-Naml: 62) Dalam ayat ini ada janji dari Allah Jalla wa ʿAlābahwa Allah Mengabulkan doa setiap orang yang tertimpa kesulitanbahkan jika yang tertimpa kesulitan itu bukan seorang muslim! Sungguh, Allah Mengabulkan doa orang yang tertimpa kesulitanwalaupun dia bukan seorang muslim. Ini menunjukkan bahwa hati yang bergantung kepada Allah ʿAzza wa Jallaakan menjadi sebab terbesar dikabulkannya doa seseorang.Dulu, ada sebagian Salaf —semoga Allah Merahmatinya—yang berdoa kepada Allah ʿAzza wa Jalla untuk suatu keperluan. Dia mengatakan, “Begitu seringnya aku berdoahingga hatiku bergantung dengan-Nya Jalla wa ʿAlā dan berpaut dengan-Nya.Aku bisa merasakan ketenangan dengan Allah dalam berzikir dan berdoa kepada-Nyayang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” Dia berkata, “Hingga aku berharap agar doaku tidak pernah terwujudsaking aku sudah bergantung dengan-Nya Subẖānahu wa Taʿālā.” Jika Anda mencapai satu titik di manaketika Anda sudah berserah diri di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,dan Anda sepenuhnya tahu bahwa tiada perlindungan dan keselamatan bagi Andakecuali dari-Nya Subẖānahu wa Taʿālā, maka ini adalah tandabahwa hati Anda sudah berpaut dengan-Nya. Dalam keadaan inilah kadang ada sebagian orangyang berkata, “Sungguh, aku berdoa dan yakin pasti dikabulkan,”karena dia tahu keadaan hatinya, bukan karena sombong dan jemawa,melainkan karena mengetahui bahwa hatinya—sudah!—terputus dari semua harap kecuali dari al-Jabbar Jalla wa ʿAlā. Inilah mengapa ini menjadi tingkatan yang sulit,tapi tiap manusia berbeda-beda tingkatannya.Jadi, inilah sebab pertama,tidak akan dijawab atau dikabulkan doa dari hati yang lalai. [KEDUA]Tidak melampaui batas dalam lafaz doanya,karena melampaui batas ini bisa terjadi dalam lafaz doanya maupun gerakannya.Kita mulai dengan lafaz doanya. Tentang doa yang melampaui batas dalam lafaznya,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “… Jangan melampaui batas,karena sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190) Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,yaitu Abdullah bin Mughaffal, dia pernah mendengar putranya mengucapkan suatu doa, lalu dia berkata, “Wahai Anakku, aku mendengar Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,‘Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.’” (HR. Abu Dawud) “Sungguh, Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)Jadi, orang yang melampaui batas dalam doanya,maka Allah tidak Mencintainyadan tidak Menyukai doanya. Apakah Anda menyangka ketika Allah tidak Mencintai seseorang dan doanyakemudian Allah akan Mengabulkan doanya? Tidak!Jadi, berusahalah untuk tidak melampaui batas dalam doa Anda. Bagaimana melampaui batas dalam doa yang harus Anda waspadai?Pertama-tama, terkait melampaui batas dalam doaadalah Anda tidak meminta sesuatu yang haram,“… selama dia tidak berdoa suatu dosa atau memutus silaturahmi.” (HR. At-Tirmidzi) Demikian sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Jangan sampai Anda berdoa meminta sesuatu yang haram.Janganlah Anda mendoakan keburukan untuk seorang muslim tanpa hak. “Allah tidak menyukai perkataan buruk(yang diucapkan) terang-terangan, kecuali bagi orang yang dizalimi…” (QS. An-Nisa’: 148) Ada yang mengatakan bolehnya mendoakan keburukan sesuai kadar kezalimannya,tapi tidak boleh lebih dari itu. Jadi, janganlah Anda berdoa yang haram, seperti memutus silaturahmi,atau berdoa untuk memakan harta haram,karena Anda mendapatkan dosa dan tidak akan terkabul doanya. Bentuk melampaui batas dalam doa yang keduaadalah melampaui batas dengan berdoameminta sesuatu secara terperinci.—semoga Allah Limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad. ==== أَحَدُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ: مَا هُوَ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ؟ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ يَقْتَضِي أَمُورًا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ الْقَلْبُ غَيْرَ لَاهٍ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَسْتَجِيبُ قَلْبَ لَاهٍ وَكَيْفَ يَكُونُ قَلْبُ لَاهٍ؟ بِمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ يَدْعُو بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ مَعًا الدُّعَاءُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ بِاللِّسَانِ هُوَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالدُّعَاءِ وَقَلْبُهُ بَعِيدٌ جِدًّا لَا يَدْرِي مَاذَا يَقُولُ وَبِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ هُوَ أَنْ تَتَفَكَّرَ فِيمَا تَدْعُوهُ وَبِالْْقَلْبِ وَهُوَ تَعْظِيمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا ذِكْرُ الْقَلْبِ أَنْ تَسْتَشْعِرَ عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا هَذَا هُوَ ذِكْرُ الْقَلْبِ مَنْ دَعَا وَكَانَ قَلْبُهُ مُسْتَحْضِرًا مَا يَدْعُو بِهِ مُسْتَحْضِرًا عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا مُسْتَحْضِرًا انْكِسَارَهُ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ ذَلِكَ سَبَبُ اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ بَلْ أُعْطِيكَ الْعَجَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَفِي هَذِهِ الْآيَةِ وَعْدٌ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ كُلَّ مُضْطَرٍّ يُجِيبُ اللهُ دُعَاءَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ الْمُضْطَرُّ غَيْرَ مُسْلِمٍ فَإِنَّ اللهَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَلَوْ كَانَ غَيْرَ مُسْلِمٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَلْبَ الْمُتَعَلِّقَ بِاللهِ جَلَّ وَعَلَا يَكُونُ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِحَاجَةٍ يَقُولُ: فَبِكَثْرَةِ دُعَائِي أَصْبَحَ قَلْبِي مُتَعَلِّقًا بِهِ جَلَّ وَعَلَا مُنْصَرِفًا إِلَيْهِ أَجِدُ مِنَ الْأُنْسِ بِاللهِ وَبِذِكْرِهِ وَبِدُعَائِهِ مَا لَمْ أَكُنْ وَاجِدَهُ قَبْلُ قَالَ حَتَّى إِنِّي لَأَتَمَنَّى أَنْ لَا يَتَحَقَّقَ سُؤَالِي مِنْ شِدَّةِ تَعَلُّقِي بِهِ سُبْحَانَهُ هَذَا لِدَرَجَةٍ أَنَّكَ تَجِدُ إِذَا انْطَرَحْتَ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَعَلِمْتَ أَنَّهُ لَا مَلْجَأَ لَكَ وَلَا مَنْجَى إِلَّا بِهِ سُبْحَانَهُ فَهَذَا عَلَامَةُ تَعَلُّقِ قَلْبِكَ بِهِ وَحِينَئِذٍ أَحْيَانًا يَجِدُ بَعْضُ الْأَشْخَاصِ يَقُولُ: إِنِّي لَأَدْعُو وَأَنَا مُسْتَيْقِنٌ بِالْإِجَابَةِ لِمَا عَلِمَ مِنْ قَلْبِهِ لَيْسَ تَكَبُّرًا وَلَا تَعَالِيًا وَلِأَنَّهُ عَلِمَ أَنَّ قَلْبَهُ — خَلَاصٌ اِنْقَطَعَ مِنْ جَمِيعِ الْأَسْبَابِ إِلَّا مِنَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا وَلِذَلِكَ هَذِهِ مَرْحَلَةٌ صَعْبَةٌ وَلَكِنَّ النَّاسَ فِيهِ دَرَجَاتٍ إِذَنْ هَذَا السَّبَبُ الْأَوَّلُ لَا يُرَدُّ أَوْ لَا يُقْبَلُ دُعَاءٌ مِنْ قَلْبِ لَاهٍ الْأَمْرُ الثَّانِي وَهُوَ عَدَمُ الْاِعْتِدَاءِ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ لِأَنَّ الْاِعْتِدَاءَ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ وَفِي هَيئَتِهِ نَبْدَأُ بِالصِّيَغِ الدُّعَاءُ… الْاِعْتِدَاءُ فِي هَيْئَةِ صِيغَةِ الدُّعَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا تَعْتَدُوْا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَجَاءَ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَدْعُو دُعَاءًا فَقَالَ: يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَيَأْتِي أَقْوَامٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ فَمَنِ اعْتَدَى فِي دُعَاءِهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّهُ وَلَا يُحِبُّ دُعَائَهُ وَهَلْ تَظُنُّ أَنَّ مَنْ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَهُوَ لَا يُحِبُّ دُعَاءَهُ يَسْتَجِيبُ اللهُ دُعَائَهُ؟ لَا إِذَنْ احْرِصْ عَلَى أَنْ لَا تَعْتَدِيَ فِي دُعَائِكَ كَيْفَ يَكُونُ الْاِعْتِدَاءُ فِي الدُّعَاءِ الَّتِي تَحْذَرُهَا؟ أَوَّلُ شَيْءٍ… أَوَّلُ شَيْءٍ… مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ لَا تَسْأَلَ شَيْئًا مُحَرَّمًا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِشَيْءٍ مُحَرَّمٍ لَا تَدْعُوَنَّ عَلَى مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لَا يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ … قِيلَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَيهِ بِقَدْرِ مَا ظَلَمَهُ وَلَا يَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ إِذَنْ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِحَرَامٍ بِقَطِيعَةِ الرَّحِمِ تَدْعُوَ بِأَكْلِ مَالِ الْحَرَامِ فَإِنَّهُ أَنْتَ تَكْسِبُ الْإِثْمَ وَلَمْ يُسْتَجَبْ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يَكُونَ الْاِعْتِدَاءُ بِالدُّعَاءِ فِي سُؤَالِ دَقَائِقِ الْأُمُورِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
Salah seorang saudara kita mengatakan, “Bagaimanakah doa yang mustajab itu?”Doa yang mustajab harus terpenuhi beberapa hal: [PERTAMA]Hati tidak boleh lalai,karena Allah ʿAzza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai. Bagaimanakah hati yang lalai itu?Artinya bahwa seseorang harus berdoa dengan hati dan lisannya.Doa terbagi menjadi tiga jenis: (1) Doa dengan lisan saja, yaitu ketika seseorang mengucapkan doa,sedangkan hatinya lalai sampai dia tidak tahu apa yang dia ucapkan. (2) Doa dengan lisan dan hati,yaitu ketika Anda menghayati doa yang Anda ucapkan. (3) Doa dengan hati, yaitu dengan mengagungkan Allah ʿAzza wa Jalla.Inilah zikir hati,dengan Anda menghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā. Demikianlah zikir hati. Barang siapa yang berdoa sedangkan hatinya menghayati isi doanyamenghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā, dan merasakan hatinya yang remuk redam di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,maka itulah yang menjadi sebab doanya diijabahi. Bahkan ada yang menakjubkan,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “Bukankah Dia Yang Memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan,apabila ia berdoa kepada-Nya, dan Yang Menghilangkan kesusahan, …” (QS. An-Naml: 62) Dalam ayat ini ada janji dari Allah Jalla wa ʿAlābahwa Allah Mengabulkan doa setiap orang yang tertimpa kesulitanbahkan jika yang tertimpa kesulitan itu bukan seorang muslim! Sungguh, Allah Mengabulkan doa orang yang tertimpa kesulitanwalaupun dia bukan seorang muslim. Ini menunjukkan bahwa hati yang bergantung kepada Allah ʿAzza wa Jallaakan menjadi sebab terbesar dikabulkannya doa seseorang.Dulu, ada sebagian Salaf —semoga Allah Merahmatinya—yang berdoa kepada Allah ʿAzza wa Jalla untuk suatu keperluan. Dia mengatakan, “Begitu seringnya aku berdoahingga hatiku bergantung dengan-Nya Jalla wa ʿAlā dan berpaut dengan-Nya.Aku bisa merasakan ketenangan dengan Allah dalam berzikir dan berdoa kepada-Nyayang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” Dia berkata, “Hingga aku berharap agar doaku tidak pernah terwujudsaking aku sudah bergantung dengan-Nya Subẖānahu wa Taʿālā.” Jika Anda mencapai satu titik di manaketika Anda sudah berserah diri di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,dan Anda sepenuhnya tahu bahwa tiada perlindungan dan keselamatan bagi Andakecuali dari-Nya Subẖānahu wa Taʿālā, maka ini adalah tandabahwa hati Anda sudah berpaut dengan-Nya. Dalam keadaan inilah kadang ada sebagian orangyang berkata, “Sungguh, aku berdoa dan yakin pasti dikabulkan,”karena dia tahu keadaan hatinya, bukan karena sombong dan jemawa,melainkan karena mengetahui bahwa hatinya—sudah!—terputus dari semua harap kecuali dari al-Jabbar Jalla wa ʿAlā. Inilah mengapa ini menjadi tingkatan yang sulit,tapi tiap manusia berbeda-beda tingkatannya.Jadi, inilah sebab pertama,tidak akan dijawab atau dikabulkan doa dari hati yang lalai. [KEDUA]Tidak melampaui batas dalam lafaz doanya,karena melampaui batas ini bisa terjadi dalam lafaz doanya maupun gerakannya.Kita mulai dengan lafaz doanya. Tentang doa yang melampaui batas dalam lafaznya,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “… Jangan melampaui batas,karena sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190) Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,yaitu Abdullah bin Mughaffal, dia pernah mendengar putranya mengucapkan suatu doa, lalu dia berkata, “Wahai Anakku, aku mendengar Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,‘Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.’” (HR. Abu Dawud) “Sungguh, Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)Jadi, orang yang melampaui batas dalam doanya,maka Allah tidak Mencintainyadan tidak Menyukai doanya. Apakah Anda menyangka ketika Allah tidak Mencintai seseorang dan doanyakemudian Allah akan Mengabulkan doanya? Tidak!Jadi, berusahalah untuk tidak melampaui batas dalam doa Anda. Bagaimana melampaui batas dalam doa yang harus Anda waspadai?Pertama-tama, terkait melampaui batas dalam doaadalah Anda tidak meminta sesuatu yang haram,“… selama dia tidak berdoa suatu dosa atau memutus silaturahmi.” (HR. At-Tirmidzi) Demikian sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Jangan sampai Anda berdoa meminta sesuatu yang haram.Janganlah Anda mendoakan keburukan untuk seorang muslim tanpa hak. “Allah tidak menyukai perkataan buruk(yang diucapkan) terang-terangan, kecuali bagi orang yang dizalimi…” (QS. An-Nisa’: 148) Ada yang mengatakan bolehnya mendoakan keburukan sesuai kadar kezalimannya,tapi tidak boleh lebih dari itu. Jadi, janganlah Anda berdoa yang haram, seperti memutus silaturahmi,atau berdoa untuk memakan harta haram,karena Anda mendapatkan dosa dan tidak akan terkabul doanya. Bentuk melampaui batas dalam doa yang keduaadalah melampaui batas dengan berdoameminta sesuatu secara terperinci.—semoga Allah Limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad. ==== أَحَدُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ: مَا هُوَ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ؟ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ يَقْتَضِي أَمُورًا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ الْقَلْبُ غَيْرَ لَاهٍ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَسْتَجِيبُ قَلْبَ لَاهٍ وَكَيْفَ يَكُونُ قَلْبُ لَاهٍ؟ بِمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ يَدْعُو بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ مَعًا الدُّعَاءُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ بِاللِّسَانِ هُوَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالدُّعَاءِ وَقَلْبُهُ بَعِيدٌ جِدًّا لَا يَدْرِي مَاذَا يَقُولُ وَبِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ هُوَ أَنْ تَتَفَكَّرَ فِيمَا تَدْعُوهُ وَبِالْْقَلْبِ وَهُوَ تَعْظِيمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا ذِكْرُ الْقَلْبِ أَنْ تَسْتَشْعِرَ عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا هَذَا هُوَ ذِكْرُ الْقَلْبِ مَنْ دَعَا وَكَانَ قَلْبُهُ مُسْتَحْضِرًا مَا يَدْعُو بِهِ مُسْتَحْضِرًا عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا مُسْتَحْضِرًا انْكِسَارَهُ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ ذَلِكَ سَبَبُ اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ بَلْ أُعْطِيكَ الْعَجَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَفِي هَذِهِ الْآيَةِ وَعْدٌ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ كُلَّ مُضْطَرٍّ يُجِيبُ اللهُ دُعَاءَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ الْمُضْطَرُّ غَيْرَ مُسْلِمٍ فَإِنَّ اللهَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَلَوْ كَانَ غَيْرَ مُسْلِمٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَلْبَ الْمُتَعَلِّقَ بِاللهِ جَلَّ وَعَلَا يَكُونُ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِحَاجَةٍ يَقُولُ: فَبِكَثْرَةِ دُعَائِي أَصْبَحَ قَلْبِي مُتَعَلِّقًا بِهِ جَلَّ وَعَلَا مُنْصَرِفًا إِلَيْهِ أَجِدُ مِنَ الْأُنْسِ بِاللهِ وَبِذِكْرِهِ وَبِدُعَائِهِ مَا لَمْ أَكُنْ وَاجِدَهُ قَبْلُ قَالَ حَتَّى إِنِّي لَأَتَمَنَّى أَنْ لَا يَتَحَقَّقَ سُؤَالِي مِنْ شِدَّةِ تَعَلُّقِي بِهِ سُبْحَانَهُ هَذَا لِدَرَجَةٍ أَنَّكَ تَجِدُ إِذَا انْطَرَحْتَ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَعَلِمْتَ أَنَّهُ لَا مَلْجَأَ لَكَ وَلَا مَنْجَى إِلَّا بِهِ سُبْحَانَهُ فَهَذَا عَلَامَةُ تَعَلُّقِ قَلْبِكَ بِهِ وَحِينَئِذٍ أَحْيَانًا يَجِدُ بَعْضُ الْأَشْخَاصِ يَقُولُ: إِنِّي لَأَدْعُو وَأَنَا مُسْتَيْقِنٌ بِالْإِجَابَةِ لِمَا عَلِمَ مِنْ قَلْبِهِ لَيْسَ تَكَبُّرًا وَلَا تَعَالِيًا وَلِأَنَّهُ عَلِمَ أَنَّ قَلْبَهُ — خَلَاصٌ اِنْقَطَعَ مِنْ جَمِيعِ الْأَسْبَابِ إِلَّا مِنَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا وَلِذَلِكَ هَذِهِ مَرْحَلَةٌ صَعْبَةٌ وَلَكِنَّ النَّاسَ فِيهِ دَرَجَاتٍ إِذَنْ هَذَا السَّبَبُ الْأَوَّلُ لَا يُرَدُّ أَوْ لَا يُقْبَلُ دُعَاءٌ مِنْ قَلْبِ لَاهٍ الْأَمْرُ الثَّانِي وَهُوَ عَدَمُ الْاِعْتِدَاءِ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ لِأَنَّ الْاِعْتِدَاءَ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ وَفِي هَيئَتِهِ نَبْدَأُ بِالصِّيَغِ الدُّعَاءُ… الْاِعْتِدَاءُ فِي هَيْئَةِ صِيغَةِ الدُّعَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا تَعْتَدُوْا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَجَاءَ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَدْعُو دُعَاءًا فَقَالَ: يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَيَأْتِي أَقْوَامٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ فَمَنِ اعْتَدَى فِي دُعَاءِهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّهُ وَلَا يُحِبُّ دُعَائَهُ وَهَلْ تَظُنُّ أَنَّ مَنْ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَهُوَ لَا يُحِبُّ دُعَاءَهُ يَسْتَجِيبُ اللهُ دُعَائَهُ؟ لَا إِذَنْ احْرِصْ عَلَى أَنْ لَا تَعْتَدِيَ فِي دُعَائِكَ كَيْفَ يَكُونُ الْاِعْتِدَاءُ فِي الدُّعَاءِ الَّتِي تَحْذَرُهَا؟ أَوَّلُ شَيْءٍ… أَوَّلُ شَيْءٍ… مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ لَا تَسْأَلَ شَيْئًا مُحَرَّمًا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِشَيْءٍ مُحَرَّمٍ لَا تَدْعُوَنَّ عَلَى مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لَا يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ … قِيلَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَيهِ بِقَدْرِ مَا ظَلَمَهُ وَلَا يَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ إِذَنْ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِحَرَامٍ بِقَطِيعَةِ الرَّحِمِ تَدْعُوَ بِأَكْلِ مَالِ الْحَرَامِ فَإِنَّهُ أَنْتَ تَكْسِبُ الْإِثْمَ وَلَمْ يُسْتَجَبْ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يَكُونَ الْاِعْتِدَاءُ بِالدُّعَاءِ فِي سُؤَالِ دَقَائِقِ الْأُمُورِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ


Salah seorang saudara kita mengatakan, “Bagaimanakah doa yang mustajab itu?”Doa yang mustajab harus terpenuhi beberapa hal: [PERTAMA]Hati tidak boleh lalai,karena Allah ʿAzza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai. Bagaimanakah hati yang lalai itu?Artinya bahwa seseorang harus berdoa dengan hati dan lisannya.Doa terbagi menjadi tiga jenis: (1) Doa dengan lisan saja, yaitu ketika seseorang mengucapkan doa,sedangkan hatinya lalai sampai dia tidak tahu apa yang dia ucapkan. (2) Doa dengan lisan dan hati,yaitu ketika Anda menghayati doa yang Anda ucapkan. (3) Doa dengan hati, yaitu dengan mengagungkan Allah ʿAzza wa Jalla.Inilah zikir hati,dengan Anda menghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā. Demikianlah zikir hati. Barang siapa yang berdoa sedangkan hatinya menghayati isi doanyamenghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā, dan merasakan hatinya yang remuk redam di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,maka itulah yang menjadi sebab doanya diijabahi. Bahkan ada yang menakjubkan,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “Bukankah Dia Yang Memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan,apabila ia berdoa kepada-Nya, dan Yang Menghilangkan kesusahan, …” (QS. An-Naml: 62) Dalam ayat ini ada janji dari Allah Jalla wa ʿAlābahwa Allah Mengabulkan doa setiap orang yang tertimpa kesulitanbahkan jika yang tertimpa kesulitan itu bukan seorang muslim! Sungguh, Allah Mengabulkan doa orang yang tertimpa kesulitanwalaupun dia bukan seorang muslim. Ini menunjukkan bahwa hati yang bergantung kepada Allah ʿAzza wa Jallaakan menjadi sebab terbesar dikabulkannya doa seseorang.Dulu, ada sebagian Salaf —semoga Allah Merahmatinya—yang berdoa kepada Allah ʿAzza wa Jalla untuk suatu keperluan. Dia mengatakan, “Begitu seringnya aku berdoahingga hatiku bergantung dengan-Nya Jalla wa ʿAlā dan berpaut dengan-Nya.Aku bisa merasakan ketenangan dengan Allah dalam berzikir dan berdoa kepada-Nyayang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” Dia berkata, “Hingga aku berharap agar doaku tidak pernah terwujudsaking aku sudah bergantung dengan-Nya Subẖānahu wa Taʿālā.” Jika Anda mencapai satu titik di manaketika Anda sudah berserah diri di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,dan Anda sepenuhnya tahu bahwa tiada perlindungan dan keselamatan bagi Andakecuali dari-Nya Subẖānahu wa Taʿālā, maka ini adalah tandabahwa hati Anda sudah berpaut dengan-Nya. Dalam keadaan inilah kadang ada sebagian orangyang berkata, “Sungguh, aku berdoa dan yakin pasti dikabulkan,”karena dia tahu keadaan hatinya, bukan karena sombong dan jemawa,melainkan karena mengetahui bahwa hatinya—sudah!—terputus dari semua harap kecuali dari al-Jabbar Jalla wa ʿAlā. Inilah mengapa ini menjadi tingkatan yang sulit,tapi tiap manusia berbeda-beda tingkatannya.Jadi, inilah sebab pertama,tidak akan dijawab atau dikabulkan doa dari hati yang lalai. [KEDUA]Tidak melampaui batas dalam lafaz doanya,karena melampaui batas ini bisa terjadi dalam lafaz doanya maupun gerakannya.Kita mulai dengan lafaz doanya. Tentang doa yang melampaui batas dalam lafaznya,Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “… Jangan melampaui batas,karena sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190) Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,yaitu Abdullah bin Mughaffal, dia pernah mendengar putranya mengucapkan suatu doa, lalu dia berkata, “Wahai Anakku, aku mendengar Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,‘Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.’” (HR. Abu Dawud) “Sungguh, Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)Jadi, orang yang melampaui batas dalam doanya,maka Allah tidak Mencintainyadan tidak Menyukai doanya. Apakah Anda menyangka ketika Allah tidak Mencintai seseorang dan doanyakemudian Allah akan Mengabulkan doanya? Tidak!Jadi, berusahalah untuk tidak melampaui batas dalam doa Anda. Bagaimana melampaui batas dalam doa yang harus Anda waspadai?Pertama-tama, terkait melampaui batas dalam doaadalah Anda tidak meminta sesuatu yang haram,“… selama dia tidak berdoa suatu dosa atau memutus silaturahmi.” (HR. At-Tirmidzi) Demikian sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.Jangan sampai Anda berdoa meminta sesuatu yang haram.Janganlah Anda mendoakan keburukan untuk seorang muslim tanpa hak. “Allah tidak menyukai perkataan buruk(yang diucapkan) terang-terangan, kecuali bagi orang yang dizalimi…” (QS. An-Nisa’: 148) Ada yang mengatakan bolehnya mendoakan keburukan sesuai kadar kezalimannya,tapi tidak boleh lebih dari itu. Jadi, janganlah Anda berdoa yang haram, seperti memutus silaturahmi,atau berdoa untuk memakan harta haram,karena Anda mendapatkan dosa dan tidak akan terkabul doanya. Bentuk melampaui batas dalam doa yang keduaadalah melampaui batas dengan berdoameminta sesuatu secara terperinci.—semoga Allah Limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad. ==== أَحَدُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ: مَا هُوَ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ؟ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ يَقْتَضِي أَمُورًا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ الْقَلْبُ غَيْرَ لَاهٍ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَسْتَجِيبُ قَلْبَ لَاهٍ وَكَيْفَ يَكُونُ قَلْبُ لَاهٍ؟ بِمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ يَدْعُو بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ مَعًا الدُّعَاءُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ بِاللِّسَانِ هُوَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالدُّعَاءِ وَقَلْبُهُ بَعِيدٌ جِدًّا لَا يَدْرِي مَاذَا يَقُولُ وَبِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ هُوَ أَنْ تَتَفَكَّرَ فِيمَا تَدْعُوهُ وَبِالْْقَلْبِ وَهُوَ تَعْظِيمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا ذِكْرُ الْقَلْبِ أَنْ تَسْتَشْعِرَ عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا هَذَا هُوَ ذِكْرُ الْقَلْبِ مَنْ دَعَا وَكَانَ قَلْبُهُ مُسْتَحْضِرًا مَا يَدْعُو بِهِ مُسْتَحْضِرًا عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا مُسْتَحْضِرًا انْكِسَارَهُ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ ذَلِكَ سَبَبُ اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ بَلْ أُعْطِيكَ الْعَجَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَفِي هَذِهِ الْآيَةِ وَعْدٌ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ كُلَّ مُضْطَرٍّ يُجِيبُ اللهُ دُعَاءَهُ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ الْمُضْطَرُّ غَيْرَ مُسْلِمٍ فَإِنَّ اللهَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ وَلَوْ كَانَ غَيْرَ مُسْلِمٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَلْبَ الْمُتَعَلِّقَ بِاللهِ جَلَّ وَعَلَا يَكُونُ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِحَاجَةٍ يَقُولُ: فَبِكَثْرَةِ دُعَائِي أَصْبَحَ قَلْبِي مُتَعَلِّقًا بِهِ جَلَّ وَعَلَا مُنْصَرِفًا إِلَيْهِ أَجِدُ مِنَ الْأُنْسِ بِاللهِ وَبِذِكْرِهِ وَبِدُعَائِهِ مَا لَمْ أَكُنْ وَاجِدَهُ قَبْلُ قَالَ حَتَّى إِنِّي لَأَتَمَنَّى أَنْ لَا يَتَحَقَّقَ سُؤَالِي مِنْ شِدَّةِ تَعَلُّقِي بِهِ سُبْحَانَهُ هَذَا لِدَرَجَةٍ أَنَّكَ تَجِدُ إِذَا انْطَرَحْتَ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَعَلِمْتَ أَنَّهُ لَا مَلْجَأَ لَكَ وَلَا مَنْجَى إِلَّا بِهِ سُبْحَانَهُ فَهَذَا عَلَامَةُ تَعَلُّقِ قَلْبِكَ بِهِ وَحِينَئِذٍ أَحْيَانًا يَجِدُ بَعْضُ الْأَشْخَاصِ يَقُولُ: إِنِّي لَأَدْعُو وَأَنَا مُسْتَيْقِنٌ بِالْإِجَابَةِ لِمَا عَلِمَ مِنْ قَلْبِهِ لَيْسَ تَكَبُّرًا وَلَا تَعَالِيًا وَلِأَنَّهُ عَلِمَ أَنَّ قَلْبَهُ — خَلَاصٌ اِنْقَطَعَ مِنْ جَمِيعِ الْأَسْبَابِ إِلَّا مِنَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا وَلِذَلِكَ هَذِهِ مَرْحَلَةٌ صَعْبَةٌ وَلَكِنَّ النَّاسَ فِيهِ دَرَجَاتٍ إِذَنْ هَذَا السَّبَبُ الْأَوَّلُ لَا يُرَدُّ أَوْ لَا يُقْبَلُ دُعَاءٌ مِنْ قَلْبِ لَاهٍ الْأَمْرُ الثَّانِي وَهُوَ عَدَمُ الْاِعْتِدَاءِ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ لِأَنَّ الْاِعْتِدَاءَ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ وَفِي هَيئَتِهِ نَبْدَأُ بِالصِّيَغِ الدُّعَاءُ… الْاِعْتِدَاءُ فِي هَيْئَةِ صِيغَةِ الدُّعَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا تَعْتَدُوْا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَجَاءَ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَدْعُو دُعَاءًا فَقَالَ: يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَيَأْتِي أَقْوَامٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ فَمَنِ اعْتَدَى فِي دُعَاءِهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّهُ وَلَا يُحِبُّ دُعَائَهُ وَهَلْ تَظُنُّ أَنَّ مَنْ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَهُوَ لَا يُحِبُّ دُعَاءَهُ يَسْتَجِيبُ اللهُ دُعَائَهُ؟ لَا إِذَنْ احْرِصْ عَلَى أَنْ لَا تَعْتَدِيَ فِي دُعَائِكَ كَيْفَ يَكُونُ الْاِعْتِدَاءُ فِي الدُّعَاءِ الَّتِي تَحْذَرُهَا؟ أَوَّلُ شَيْءٍ… أَوَّلُ شَيْءٍ… مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ لَا تَسْأَلَ شَيْئًا مُحَرَّمًا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِشَيْءٍ مُحَرَّمٍ لَا تَدْعُوَنَّ عَلَى مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لَا يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ … قِيلَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَيهِ بِقَدْرِ مَا ظَلَمَهُ وَلَا يَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ إِذَنْ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِحَرَامٍ بِقَطِيعَةِ الرَّحِمِ تَدْعُوَ بِأَكْلِ مَالِ الْحَرَامِ فَإِنَّهُ أَنْتَ تَكْسِبُ الْإِثْمَ وَلَمْ يُسْتَجَبْ الْأَمْرُ الثَّانِي مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يَكُونَ الْاِعْتِدَاءُ بِالدُّعَاءِ فِي سُؤَالِ دَقَائِقِ الْأُمُورِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Sebenarnya: Bolehkah Wanita Haid Membaca al-Quran Lewat Ponsel (HP)? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Termasuk dalam pertanyaan ini adalah tentang hukum wanita haid yang membacaal-Quran dari perangkat seluler, iPad, atau yang lainnya. Secara umum, tidak mengapa wanita haid membaca al-Qurantanpa menyentuh mushaf. Inilah pendapat yang lebih tepat —dan Allah Yang Lebih Mengetahui—dari beberapa pendapat para ulama. Ulama yang berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca al-Quran,mereka berdalil dengan hadis-hadis yang tidak sahih dari perspektif ilmu hadis. Ini adalah salah satu perkara yang besaryang amat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan wanita umat ini,sehingga jika memang wanita haid dilarang membaca al-Quran,tentu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah menjelaskannya kepada umat dengan penjelasan yang gamblang hingga tersebar luassebagaimana tersebar luasnya larangan wanita haid untuk salat dan puasaserta tawaf dalam keadaan haid. Yang lebih tepat—dan Allah Yang Lebih Mengetahui—bahwa wanita haid boleh membaca al-Quranseperti ketika tidak haid, tapi tidak boleh menyentuh mushafkecuali dari balik penghalang. Mushaf al-Quran yang ada di telepon genggam,pertama, itu hanya sinyal dan kode-kode elektronikyang hukumnya tidak sama seperti mushaf kertas. Jika argumen ini tidak diterima, maka telepon genggam itu punya dua layar,layar bagian luar dan layar bagian dalam.Layar bagian luar ini kedudukannya seperti penghalang. Berdasarkan hal tersebut, tidak mengapa menyentuh mushaf yang ada dalam telepon genggam,walaupun tidak dalam keadaan bersuci, karena orang yang menyentuhnya hanya menyentuh dari balik penghalang,sedangkan menyentuh mushaf dari balik penghalangtidak disyaratkan harus keadaan bersuci, jika memegangnya dari balik penghalang, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama. Dengan demikian, aku katakan bahwa wanita haid diperbolehkanmembaca mushaf yang ada di telepon genggamsecara mutlak, bahkan jika dia menyentuhnya, karena dia menyentuhnya dari balik penghalang,dan penghalangnya adalah layar bagian luar. ==== أَيْضًا مِنْ ظِلِّ الْأَسْئِلَةِ عَنْ قِرَاءَةِ الْحَائِضِ لِلْقُرْآنِ مِنْ أَجْهِزَةِ الْجَوَّالِ أَوِ الْإِيبَادَ أَوْ غَيْرِهَا لَا بَأْسَ بِأَنْ تَقْرَأَ الْحَائِضُ الْقُرْآنَ عُمُومًا وَمِنْ غَيْرِ مَسِّ الْمُصْحَفِ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْقَائِلُونَ بِأَنَّ الْحَائِضَ لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ اعْتَمَدُوا عَلَى أَحَادِيثَ لَا تَثْبُتُ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ الْحَديثِيَّةِ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ مِنَ الْمَسَائِلِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَهُمُّ نِسَاءَ الْأُمَّةِ وَتَعُمُّ الْبَلْوَى بِهَا فَلَوْ كَانَتِ الْحَائِضُ مَمْنُوعَةً مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ لَبَيَّنَ هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأُمَّةَ بَيَانًا وَاضِحًا وَاسْتَفَاضَ هَذَا كَمَا اسْتَفَاضَ نَهْيُ الْحَائِضِ عَنِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ حَالَ الْحَيْضِ فَالْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْحَائِضَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ وَلَكِنْ لَا تَمُسُّ الْمُصْحَفَ إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ الْمُصْحَفُ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ أَوَّلًا هُوَ مُجَرَّدُ ذَبْذَبَاتٍ وَشَارَاتِ اِلِكْتُرونِيِّةٍ لَا يَأْخُذُ حُكْمَ مُصْحَفِ الْوَرَقِ وَلَوْ لَمْ يُسَلَّمْ بِذَلِكَ… فَالْهَاتِفُ الْجَوَّالُ لَهُ شَاشَتَانِ شَاشَةٌ دَاخِلِيَّةٌ وَشَاشَةٌ خَارِجِيَّةٌ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ هِيَ بِمَثَابَةِ الْحَائِلِ وَعَلَى هَذَا فَلَا بَأْسَ بِمَسِّ الْمُصْحَفِ الْمَوْجُودِ فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ وَلَوْ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ لِأَنَّ مَنْ يَمَسُّهُ إِنَّمَا يَمَسُّ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَمَسُّ الْمُصْحَفِ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ لَا تُشْتَرَطُ لَهُ الطَّهَارَةُ إِذَا كَانَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَعَلَى هَذَا أَقَوْلُ إِنَّ الْمَرْأَةَ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ مُطْلَقًا حَتَّى لَوْ مَسَّتْهُ لِأَنَّهَا إِنَّمَا تَمَسُّهُ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَالْحَائِلُ هُوَ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ

Sebenarnya: Bolehkah Wanita Haid Membaca al-Quran Lewat Ponsel (HP)? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Termasuk dalam pertanyaan ini adalah tentang hukum wanita haid yang membacaal-Quran dari perangkat seluler, iPad, atau yang lainnya. Secara umum, tidak mengapa wanita haid membaca al-Qurantanpa menyentuh mushaf. Inilah pendapat yang lebih tepat —dan Allah Yang Lebih Mengetahui—dari beberapa pendapat para ulama. Ulama yang berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca al-Quran,mereka berdalil dengan hadis-hadis yang tidak sahih dari perspektif ilmu hadis. Ini adalah salah satu perkara yang besaryang amat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan wanita umat ini,sehingga jika memang wanita haid dilarang membaca al-Quran,tentu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah menjelaskannya kepada umat dengan penjelasan yang gamblang hingga tersebar luassebagaimana tersebar luasnya larangan wanita haid untuk salat dan puasaserta tawaf dalam keadaan haid. Yang lebih tepat—dan Allah Yang Lebih Mengetahui—bahwa wanita haid boleh membaca al-Quranseperti ketika tidak haid, tapi tidak boleh menyentuh mushafkecuali dari balik penghalang. Mushaf al-Quran yang ada di telepon genggam,pertama, itu hanya sinyal dan kode-kode elektronikyang hukumnya tidak sama seperti mushaf kertas. Jika argumen ini tidak diterima, maka telepon genggam itu punya dua layar,layar bagian luar dan layar bagian dalam.Layar bagian luar ini kedudukannya seperti penghalang. Berdasarkan hal tersebut, tidak mengapa menyentuh mushaf yang ada dalam telepon genggam,walaupun tidak dalam keadaan bersuci, karena orang yang menyentuhnya hanya menyentuh dari balik penghalang,sedangkan menyentuh mushaf dari balik penghalangtidak disyaratkan harus keadaan bersuci, jika memegangnya dari balik penghalang, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama. Dengan demikian, aku katakan bahwa wanita haid diperbolehkanmembaca mushaf yang ada di telepon genggamsecara mutlak, bahkan jika dia menyentuhnya, karena dia menyentuhnya dari balik penghalang,dan penghalangnya adalah layar bagian luar. ==== أَيْضًا مِنْ ظِلِّ الْأَسْئِلَةِ عَنْ قِرَاءَةِ الْحَائِضِ لِلْقُرْآنِ مِنْ أَجْهِزَةِ الْجَوَّالِ أَوِ الْإِيبَادَ أَوْ غَيْرِهَا لَا بَأْسَ بِأَنْ تَقْرَأَ الْحَائِضُ الْقُرْآنَ عُمُومًا وَمِنْ غَيْرِ مَسِّ الْمُصْحَفِ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْقَائِلُونَ بِأَنَّ الْحَائِضَ لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ اعْتَمَدُوا عَلَى أَحَادِيثَ لَا تَثْبُتُ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ الْحَديثِيَّةِ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ مِنَ الْمَسَائِلِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَهُمُّ نِسَاءَ الْأُمَّةِ وَتَعُمُّ الْبَلْوَى بِهَا فَلَوْ كَانَتِ الْحَائِضُ مَمْنُوعَةً مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ لَبَيَّنَ هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأُمَّةَ بَيَانًا وَاضِحًا وَاسْتَفَاضَ هَذَا كَمَا اسْتَفَاضَ نَهْيُ الْحَائِضِ عَنِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ حَالَ الْحَيْضِ فَالْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْحَائِضَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ وَلَكِنْ لَا تَمُسُّ الْمُصْحَفَ إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ الْمُصْحَفُ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ أَوَّلًا هُوَ مُجَرَّدُ ذَبْذَبَاتٍ وَشَارَاتِ اِلِكْتُرونِيِّةٍ لَا يَأْخُذُ حُكْمَ مُصْحَفِ الْوَرَقِ وَلَوْ لَمْ يُسَلَّمْ بِذَلِكَ… فَالْهَاتِفُ الْجَوَّالُ لَهُ شَاشَتَانِ شَاشَةٌ دَاخِلِيَّةٌ وَشَاشَةٌ خَارِجِيَّةٌ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ هِيَ بِمَثَابَةِ الْحَائِلِ وَعَلَى هَذَا فَلَا بَأْسَ بِمَسِّ الْمُصْحَفِ الْمَوْجُودِ فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ وَلَوْ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ لِأَنَّ مَنْ يَمَسُّهُ إِنَّمَا يَمَسُّ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَمَسُّ الْمُصْحَفِ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ لَا تُشْتَرَطُ لَهُ الطَّهَارَةُ إِذَا كَانَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَعَلَى هَذَا أَقَوْلُ إِنَّ الْمَرْأَةَ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ مُطْلَقًا حَتَّى لَوْ مَسَّتْهُ لِأَنَّهَا إِنَّمَا تَمَسُّهُ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَالْحَائِلُ هُوَ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ
Termasuk dalam pertanyaan ini adalah tentang hukum wanita haid yang membacaal-Quran dari perangkat seluler, iPad, atau yang lainnya. Secara umum, tidak mengapa wanita haid membaca al-Qurantanpa menyentuh mushaf. Inilah pendapat yang lebih tepat —dan Allah Yang Lebih Mengetahui—dari beberapa pendapat para ulama. Ulama yang berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca al-Quran,mereka berdalil dengan hadis-hadis yang tidak sahih dari perspektif ilmu hadis. Ini adalah salah satu perkara yang besaryang amat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan wanita umat ini,sehingga jika memang wanita haid dilarang membaca al-Quran,tentu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah menjelaskannya kepada umat dengan penjelasan yang gamblang hingga tersebar luassebagaimana tersebar luasnya larangan wanita haid untuk salat dan puasaserta tawaf dalam keadaan haid. Yang lebih tepat—dan Allah Yang Lebih Mengetahui—bahwa wanita haid boleh membaca al-Quranseperti ketika tidak haid, tapi tidak boleh menyentuh mushafkecuali dari balik penghalang. Mushaf al-Quran yang ada di telepon genggam,pertama, itu hanya sinyal dan kode-kode elektronikyang hukumnya tidak sama seperti mushaf kertas. Jika argumen ini tidak diterima, maka telepon genggam itu punya dua layar,layar bagian luar dan layar bagian dalam.Layar bagian luar ini kedudukannya seperti penghalang. Berdasarkan hal tersebut, tidak mengapa menyentuh mushaf yang ada dalam telepon genggam,walaupun tidak dalam keadaan bersuci, karena orang yang menyentuhnya hanya menyentuh dari balik penghalang,sedangkan menyentuh mushaf dari balik penghalangtidak disyaratkan harus keadaan bersuci, jika memegangnya dari balik penghalang, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama. Dengan demikian, aku katakan bahwa wanita haid diperbolehkanmembaca mushaf yang ada di telepon genggamsecara mutlak, bahkan jika dia menyentuhnya, karena dia menyentuhnya dari balik penghalang,dan penghalangnya adalah layar bagian luar. ==== أَيْضًا مِنْ ظِلِّ الْأَسْئِلَةِ عَنْ قِرَاءَةِ الْحَائِضِ لِلْقُرْآنِ مِنْ أَجْهِزَةِ الْجَوَّالِ أَوِ الْإِيبَادَ أَوْ غَيْرِهَا لَا بَأْسَ بِأَنْ تَقْرَأَ الْحَائِضُ الْقُرْآنَ عُمُومًا وَمِنْ غَيْرِ مَسِّ الْمُصْحَفِ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْقَائِلُونَ بِأَنَّ الْحَائِضَ لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ اعْتَمَدُوا عَلَى أَحَادِيثَ لَا تَثْبُتُ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ الْحَديثِيَّةِ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ مِنَ الْمَسَائِلِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَهُمُّ نِسَاءَ الْأُمَّةِ وَتَعُمُّ الْبَلْوَى بِهَا فَلَوْ كَانَتِ الْحَائِضُ مَمْنُوعَةً مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ لَبَيَّنَ هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأُمَّةَ بَيَانًا وَاضِحًا وَاسْتَفَاضَ هَذَا كَمَا اسْتَفَاضَ نَهْيُ الْحَائِضِ عَنِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ حَالَ الْحَيْضِ فَالْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْحَائِضَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ وَلَكِنْ لَا تَمُسُّ الْمُصْحَفَ إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ الْمُصْحَفُ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ أَوَّلًا هُوَ مُجَرَّدُ ذَبْذَبَاتٍ وَشَارَاتِ اِلِكْتُرونِيِّةٍ لَا يَأْخُذُ حُكْمَ مُصْحَفِ الْوَرَقِ وَلَوْ لَمْ يُسَلَّمْ بِذَلِكَ… فَالْهَاتِفُ الْجَوَّالُ لَهُ شَاشَتَانِ شَاشَةٌ دَاخِلِيَّةٌ وَشَاشَةٌ خَارِجِيَّةٌ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ هِيَ بِمَثَابَةِ الْحَائِلِ وَعَلَى هَذَا فَلَا بَأْسَ بِمَسِّ الْمُصْحَفِ الْمَوْجُودِ فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ وَلَوْ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ لِأَنَّ مَنْ يَمَسُّهُ إِنَّمَا يَمَسُّ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَمَسُّ الْمُصْحَفِ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ لَا تُشْتَرَطُ لَهُ الطَّهَارَةُ إِذَا كَانَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَعَلَى هَذَا أَقَوْلُ إِنَّ الْمَرْأَةَ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ مُطْلَقًا حَتَّى لَوْ مَسَّتْهُ لِأَنَّهَا إِنَّمَا تَمَسُّهُ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَالْحَائِلُ هُوَ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ


Termasuk dalam pertanyaan ini adalah tentang hukum wanita haid yang membacaal-Quran dari perangkat seluler, iPad, atau yang lainnya. Secara umum, tidak mengapa wanita haid membaca al-Qurantanpa menyentuh mushaf. Inilah pendapat yang lebih tepat —dan Allah Yang Lebih Mengetahui—dari beberapa pendapat para ulama. Ulama yang berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca al-Quran,mereka berdalil dengan hadis-hadis yang tidak sahih dari perspektif ilmu hadis. Ini adalah salah satu perkara yang besaryang amat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan wanita umat ini,sehingga jika memang wanita haid dilarang membaca al-Quran,tentu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah menjelaskannya kepada umat dengan penjelasan yang gamblang hingga tersebar luassebagaimana tersebar luasnya larangan wanita haid untuk salat dan puasaserta tawaf dalam keadaan haid. Yang lebih tepat—dan Allah Yang Lebih Mengetahui—bahwa wanita haid boleh membaca al-Quranseperti ketika tidak haid, tapi tidak boleh menyentuh mushafkecuali dari balik penghalang. Mushaf al-Quran yang ada di telepon genggam,pertama, itu hanya sinyal dan kode-kode elektronikyang hukumnya tidak sama seperti mushaf kertas. Jika argumen ini tidak diterima, maka telepon genggam itu punya dua layar,layar bagian luar dan layar bagian dalam.Layar bagian luar ini kedudukannya seperti penghalang. Berdasarkan hal tersebut, tidak mengapa menyentuh mushaf yang ada dalam telepon genggam,walaupun tidak dalam keadaan bersuci, karena orang yang menyentuhnya hanya menyentuh dari balik penghalang,sedangkan menyentuh mushaf dari balik penghalangtidak disyaratkan harus keadaan bersuci, jika memegangnya dari balik penghalang, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama. Dengan demikian, aku katakan bahwa wanita haid diperbolehkanmembaca mushaf yang ada di telepon genggamsecara mutlak, bahkan jika dia menyentuhnya, karena dia menyentuhnya dari balik penghalang,dan penghalangnya adalah layar bagian luar. ==== أَيْضًا مِنْ ظِلِّ الْأَسْئِلَةِ عَنْ قِرَاءَةِ الْحَائِضِ لِلْقُرْآنِ مِنْ أَجْهِزَةِ الْجَوَّالِ أَوِ الْإِيبَادَ أَوْ غَيْرِهَا لَا بَأْسَ بِأَنْ تَقْرَأَ الْحَائِضُ الْقُرْآنَ عُمُومًا وَمِنْ غَيْرِ مَسِّ الْمُصْحَفِ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْقَائِلُونَ بِأَنَّ الْحَائِضَ لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ اعْتَمَدُوا عَلَى أَحَادِيثَ لَا تَثْبُتُ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ الْحَديثِيَّةِ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ مِنَ الْمَسَائِلِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي تَهُمُّ نِسَاءَ الْأُمَّةِ وَتَعُمُّ الْبَلْوَى بِهَا فَلَوْ كَانَتِ الْحَائِضُ مَمْنُوعَةً مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ لَبَيَّنَ هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأُمَّةَ بَيَانًا وَاضِحًا وَاسْتَفَاضَ هَذَا كَمَا اسْتَفَاضَ نَهْيُ الْحَائِضِ عَنِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ حَالَ الْحَيْضِ فَالْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ الْحَائِضَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ وَلَكِنْ لَا تَمُسُّ الْمُصْحَفَ إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ الْمُصْحَفُ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ أَوَّلًا هُوَ مُجَرَّدُ ذَبْذَبَاتٍ وَشَارَاتِ اِلِكْتُرونِيِّةٍ لَا يَأْخُذُ حُكْمَ مُصْحَفِ الْوَرَقِ وَلَوْ لَمْ يُسَلَّمْ بِذَلِكَ… فَالْهَاتِفُ الْجَوَّالُ لَهُ شَاشَتَانِ شَاشَةٌ دَاخِلِيَّةٌ وَشَاشَةٌ خَارِجِيَّةٌ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ هِيَ بِمَثَابَةِ الْحَائِلِ وَعَلَى هَذَا فَلَا بَأْسَ بِمَسِّ الْمُصْحَفِ الْمَوْجُودِ فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ وَلَوْ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ لِأَنَّ مَنْ يَمَسُّهُ إِنَّمَا يَمَسُّ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَمَسُّ الْمُصْحَفِ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ لَا تُشْتَرَطُ لَهُ الطَّهَارَةُ إِذَا كَانَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَعَلَى هَذَا أَقَوْلُ إِنَّ الْمَرْأَةَ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ الَّذِي فِي الْهَاتِفِ الْجَوَّالِ مُطْلَقًا حَتَّى لَوْ مَسَّتْهُ لِأَنَّهَا إِنَّمَا تَمَسُّهُ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَالْحَائِلُ هُوَ الشَّاشَةُ الْخَارِجِيَّةُ

Lebih Baik Umroh Akhir Ramadhan atau Awal Ramadhan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Yang lebih utama?Tidak, umrah di bulan Ramadan sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ia bertanya, lebih utama umrah di awal Ramadan atau di sepuluh hari terakhir Ramadan? Begitu pertanyaannya? Baiklah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersamaku.”Umrah di bulan Ramadan pahalanya sangat besar.Nabi bersabda, “seperti haji bersamaku.” Di bagian Ramadan mana saja. Baik itu di awal Ramadan, pertengahan, atau akhir Ramadan. Umrah itu seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak diragukan lagi jika seseorang melaksanakannya di sepuluh hari terakhirnya,maka ia menghimpun kebaikan lebih banyak lagi. Karena ia menghimpun kemuliaan waktu, tempat, dan ibadah sekaligus.Yakni sepuluh hari terakhir lebih utama daripada sepuluh hari pertama bulan Ramadan. Jadi, keutamaannya dari sisi ini. Namun, dari sisi umrahnya (setara haji bersama Nabi), yang dilakukan di awal Ramadan sama dengan di akhirnya.Tidak, itu saja. ==== الْأَفْضَلُ؟ لَا الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ الْعُمْرَةَ فِي رَمَضَانَ أَفْضَلُ فِي أَوَّلِهِ أَوْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ مَعِيْ الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ فِيهَا أَجْرٌ عَظِيمٌ كَحَجَّةٍ مَعِيْ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي رَمَضَانَ فِي أَيِّهِ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فِي وَسَطِ رَمَضَانَ فِي آخِرِ رَمَضَانَ هَيَ كَحَجَّةٍ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ لَا شَكَّ الإِنْسَانُ إِذَا جَعَلَهَا فِي الآخِرِ الْعَشْرِ فَجَمَعَ الْخَيْرَ أَكْثَرَ لِأَنَّهُ شَرَفُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْعِبَادَةِ يَعْنِي الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَفْضَلُ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ رَمَضَانَ فَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَكِنْ مِنْ حَيْثُ الْعُمْرَةُ الَّتِي فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ كَآخِرِ رَمَضَانَ لَا لَا بَسْ

Lebih Baik Umroh Akhir Ramadhan atau Awal Ramadhan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Yang lebih utama?Tidak, umrah di bulan Ramadan sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ia bertanya, lebih utama umrah di awal Ramadan atau di sepuluh hari terakhir Ramadan? Begitu pertanyaannya? Baiklah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersamaku.”Umrah di bulan Ramadan pahalanya sangat besar.Nabi bersabda, “seperti haji bersamaku.” Di bagian Ramadan mana saja. Baik itu di awal Ramadan, pertengahan, atau akhir Ramadan. Umrah itu seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak diragukan lagi jika seseorang melaksanakannya di sepuluh hari terakhirnya,maka ia menghimpun kebaikan lebih banyak lagi. Karena ia menghimpun kemuliaan waktu, tempat, dan ibadah sekaligus.Yakni sepuluh hari terakhir lebih utama daripada sepuluh hari pertama bulan Ramadan. Jadi, keutamaannya dari sisi ini. Namun, dari sisi umrahnya (setara haji bersama Nabi), yang dilakukan di awal Ramadan sama dengan di akhirnya.Tidak, itu saja. ==== الْأَفْضَلُ؟ لَا الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ الْعُمْرَةَ فِي رَمَضَانَ أَفْضَلُ فِي أَوَّلِهِ أَوْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ مَعِيْ الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ فِيهَا أَجْرٌ عَظِيمٌ كَحَجَّةٍ مَعِيْ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي رَمَضَانَ فِي أَيِّهِ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فِي وَسَطِ رَمَضَانَ فِي آخِرِ رَمَضَانَ هَيَ كَحَجَّةٍ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ لَا شَكَّ الإِنْسَانُ إِذَا جَعَلَهَا فِي الآخِرِ الْعَشْرِ فَجَمَعَ الْخَيْرَ أَكْثَرَ لِأَنَّهُ شَرَفُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْعِبَادَةِ يَعْنِي الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَفْضَلُ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ رَمَضَانَ فَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَكِنْ مِنْ حَيْثُ الْعُمْرَةُ الَّتِي فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ كَآخِرِ رَمَضَانَ لَا لَا بَسْ
Yang lebih utama?Tidak, umrah di bulan Ramadan sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ia bertanya, lebih utama umrah di awal Ramadan atau di sepuluh hari terakhir Ramadan? Begitu pertanyaannya? Baiklah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersamaku.”Umrah di bulan Ramadan pahalanya sangat besar.Nabi bersabda, “seperti haji bersamaku.” Di bagian Ramadan mana saja. Baik itu di awal Ramadan, pertengahan, atau akhir Ramadan. Umrah itu seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak diragukan lagi jika seseorang melaksanakannya di sepuluh hari terakhirnya,maka ia menghimpun kebaikan lebih banyak lagi. Karena ia menghimpun kemuliaan waktu, tempat, dan ibadah sekaligus.Yakni sepuluh hari terakhir lebih utama daripada sepuluh hari pertama bulan Ramadan. Jadi, keutamaannya dari sisi ini. Namun, dari sisi umrahnya (setara haji bersama Nabi), yang dilakukan di awal Ramadan sama dengan di akhirnya.Tidak, itu saja. ==== الْأَفْضَلُ؟ لَا الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ الْعُمْرَةَ فِي رَمَضَانَ أَفْضَلُ فِي أَوَّلِهِ أَوْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ مَعِيْ الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ فِيهَا أَجْرٌ عَظِيمٌ كَحَجَّةٍ مَعِيْ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي رَمَضَانَ فِي أَيِّهِ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فِي وَسَطِ رَمَضَانَ فِي آخِرِ رَمَضَانَ هَيَ كَحَجَّةٍ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ لَا شَكَّ الإِنْسَانُ إِذَا جَعَلَهَا فِي الآخِرِ الْعَشْرِ فَجَمَعَ الْخَيْرَ أَكْثَرَ لِأَنَّهُ شَرَفُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْعِبَادَةِ يَعْنِي الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَفْضَلُ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ رَمَضَانَ فَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَكِنْ مِنْ حَيْثُ الْعُمْرَةُ الَّتِي فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ كَآخِرِ رَمَضَانَ لَا لَا بَسْ


Yang lebih utama?Tidak, umrah di bulan Ramadan sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ia bertanya, lebih utama umrah di awal Ramadan atau di sepuluh hari terakhir Ramadan? Begitu pertanyaannya? Baiklah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersamaku.”Umrah di bulan Ramadan pahalanya sangat besar.Nabi bersabda, “seperti haji bersamaku.” Di bagian Ramadan mana saja. Baik itu di awal Ramadan, pertengahan, atau akhir Ramadan. Umrah itu seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak diragukan lagi jika seseorang melaksanakannya di sepuluh hari terakhirnya,maka ia menghimpun kebaikan lebih banyak lagi. Karena ia menghimpun kemuliaan waktu, tempat, dan ibadah sekaligus.Yakni sepuluh hari terakhir lebih utama daripada sepuluh hari pertama bulan Ramadan. Jadi, keutamaannya dari sisi ini. Namun, dari sisi umrahnya (setara haji bersama Nabi), yang dilakukan di awal Ramadan sama dengan di akhirnya.Tidak, itu saja. ==== الْأَفْضَلُ؟ لَا الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُ الْعُمْرَةَ فِي رَمَضَانَ أَفْضَلُ فِي أَوَّلِهِ أَوْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ هَكَذَا؟ أَيْ نَعَمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ مَعِيْ الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ فِيهَا أَجْرٌ عَظِيمٌ كَحَجَّةٍ مَعِيْ يَقُولُ النَّبِيُّ فِي رَمَضَانَ فِي أَيِّهِ فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ فِي وَسَطِ رَمَضَانَ فِي آخِرِ رَمَضَانَ هَيَ كَحَجَّةٍ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ لَا شَكَّ الإِنْسَانُ إِذَا جَعَلَهَا فِي الآخِرِ الْعَشْرِ فَجَمَعَ الْخَيْرَ أَكْثَرَ لِأَنَّهُ شَرَفُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَالْعِبَادَةِ يَعْنِي الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَفْضَلُ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ رَمَضَانَ فَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَكِنْ مِنْ حَيْثُ الْعُمْرَةُ الَّتِي فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ كَآخِرِ رَمَضَانَ لَا لَا بَسْ

Ucapan Terima Kasih: Tebar Ifthor Semarak Ramadan 1444 H

Bersama ini segenap pengurus YPIA mengucapkan terima kasih dan berdoa semoga Allah beri balasan terbaik untuk segenap donatur yang telah mendukung kegiatan tebar ifthor Semarak Ramadan 1444 H.📒 Alhamdulillah sampai hari ini 12 April 2023 telah disalurkan donasi untuk ifthor di berbagai lokasi dengan total donasi Rp.141.217.400,- dari sekitar 150 juta donasi ifthor yang masuk.📜 Semoga Allah berikan taufik kepada panitia Ramadan untuk bisa menyalurkan donasi ifthor ini dengan sebaik-baiknya.🌻 Sekali lagi kami ucapkan jazakumullahu khairan untuk para muhsinin yang telah ikut bergabung dalam mega proyek kebaikan bersama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari.🛍️ Salam hormat, Pengurus Harian YPIA Official Website www.ypia.or.id—Mau ikut bantu dakwah kepada lebih dari 1jt orang per bulan?Silakan klik link berikut: https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Tags: Donasisemarak ramadhan ypiaucapan terima kasih

Ucapan Terima Kasih: Tebar Ifthor Semarak Ramadan 1444 H

Bersama ini segenap pengurus YPIA mengucapkan terima kasih dan berdoa semoga Allah beri balasan terbaik untuk segenap donatur yang telah mendukung kegiatan tebar ifthor Semarak Ramadan 1444 H.📒 Alhamdulillah sampai hari ini 12 April 2023 telah disalurkan donasi untuk ifthor di berbagai lokasi dengan total donasi Rp.141.217.400,- dari sekitar 150 juta donasi ifthor yang masuk.📜 Semoga Allah berikan taufik kepada panitia Ramadan untuk bisa menyalurkan donasi ifthor ini dengan sebaik-baiknya.🌻 Sekali lagi kami ucapkan jazakumullahu khairan untuk para muhsinin yang telah ikut bergabung dalam mega proyek kebaikan bersama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari.🛍️ Salam hormat, Pengurus Harian YPIA Official Website www.ypia.or.id—Mau ikut bantu dakwah kepada lebih dari 1jt orang per bulan?Silakan klik link berikut: https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Tags: Donasisemarak ramadhan ypiaucapan terima kasih
Bersama ini segenap pengurus YPIA mengucapkan terima kasih dan berdoa semoga Allah beri balasan terbaik untuk segenap donatur yang telah mendukung kegiatan tebar ifthor Semarak Ramadan 1444 H.📒 Alhamdulillah sampai hari ini 12 April 2023 telah disalurkan donasi untuk ifthor di berbagai lokasi dengan total donasi Rp.141.217.400,- dari sekitar 150 juta donasi ifthor yang masuk.📜 Semoga Allah berikan taufik kepada panitia Ramadan untuk bisa menyalurkan donasi ifthor ini dengan sebaik-baiknya.🌻 Sekali lagi kami ucapkan jazakumullahu khairan untuk para muhsinin yang telah ikut bergabung dalam mega proyek kebaikan bersama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari.🛍️ Salam hormat, Pengurus Harian YPIA Official Website www.ypia.or.id—Mau ikut bantu dakwah kepada lebih dari 1jt orang per bulan?Silakan klik link berikut: https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Tags: Donasisemarak ramadhan ypiaucapan terima kasih


Bersama ini segenap pengurus YPIA mengucapkan terima kasih dan berdoa semoga Allah beri balasan terbaik untuk segenap donatur yang telah mendukung kegiatan tebar ifthor Semarak Ramadan 1444 H.📒 Alhamdulillah sampai hari ini 12 April 2023 telah disalurkan donasi untuk ifthor di berbagai lokasi dengan total donasi Rp.141.217.400,- dari sekitar 150 juta donasi ifthor yang masuk.📜 Semoga Allah berikan taufik kepada panitia Ramadan untuk bisa menyalurkan donasi ifthor ini dengan sebaik-baiknya.🌻 Sekali lagi kami ucapkan jazakumullahu khairan untuk para muhsinin yang telah ikut bergabung dalam mega proyek kebaikan bersama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari.🛍️ Salam hormat, Pengurus Harian YPIA Official Website www.ypia.or.id—Mau ikut bantu dakwah kepada lebih dari 1jt orang per bulan?Silakan klik link berikut: https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Tags: Donasisemarak ramadhan ypiaucapan terima kasih

Mati Syahid, Apakah Dimandikan dan Disalatkan?

Berkaitan dengan jenazah orang yang mati syahid, terdapat sebuah hadis dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ ، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ، وَقَالَ: أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ القِيَامَةِ ، وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda, ‘Siapakah di antara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al-Qur’an?’Ketika beliau telah diberi tahu kepada salah satu di antara keduanya, beliau pun mendahulukannya di dalam lahad, lalu bersabda, ‘Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari kiamat.’ Kemudian beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak disalatkan.” (HR. Bukhari no. 1343)Terdapat dua masalah yang akan kami uraikan dari hadis di atas.Daftar Isi Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Hadis di atas menunjukkan bahwa jenazah orang yang mati syahid di peperangan itu tidak dimandikan. Yang dimaksud dengan peperangan di sini adalah peperangan melawan musuh dari orang-orang kafir. Ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama. Hikmah mengapa jenazah orang mati syahid itu tidak dimandikan adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengatakan tentang para sahabat yang gugur pada saat perang Uhud,لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ – أَوْ كُلَّ دَمٍ – يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Janganlah kalian mandikan, karena setiap luka atau setiap darah akan menjadi minyak misk pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 22: 97, sanadnya sahih)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid terbunuh di peperangan untuk meninggikan kalimat Allah, jenazah mereka itu tidak dimandikan. Akan tetapi, dibiarkan bersama dengan darah-darah mereka. Hal ini karena bekas darah tersebut adalah bekas (tanda) yang baik, sehingga tanda ketaatan tersebut dibiarkan untuk memuliakannya. Mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa darah tersebut sebagai tanda ketaatan. Sebagaimana yang telah disebutkan tentang kondisi orang ihram, mereka dibiarkan sebagaimana kondisi ketika ihram agar datang pada hari kiamat dalam bentuk yang mulia tersebut.” (Tashilul Ilmam, 3: 34-35)Adapun selain mati syahid karena peperangan, seperti: 1) meninggal karena sakit perut; 2) meninggal karena wabah penyakit tha’un; 3) seorang wanita yang meninggal pada masa nifas; 4) meninggal karena tertimpa benda keras; 5) meninggal karena tenggelam; atau 6) meninggal karena terbakar, maka mereka itu tetap dimandikan sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Al-Mughni, 3: 476)Hal ini karena jenazah tersebut itu disebut syahid berkaitan dengan pahala yang akan mereka dapatkan di akhirat, bukan berkaitan dengan hukum dimandikan dan disalatkan ketika di dunia. Hal ini berbeda dengan hukum mati syahid karena peperangan melawan orang-orang kafir (yang tidak dimandikan dan tidak disalatkan).Baca juga: Fikih Pengurusan JenazahKedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Masalah kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan? Hadis ini menunjukkan bahwa jenazah mati syahid itu tidak disalatkan. Ini adalah mazhab Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Lihat Bidayah Al-Mujtahid, 2: 41 dan Al-Majmu’, 5: 260)Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa jenazah mereka tetap disalatkan. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Hadis ini dibawa ke makna anjuran, karena perkataan Imam Ahmad mengisyaratkan hal tersebut.” (Al-Mughni, 3: 467)Para ulama tersebut berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,خَرَجَ يَوْمًا فَصَلَّى عَلَى أَهْلِ أُحُدٍ صَلَاتَهُ عَلَى الْمَيِّتِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari keluar untuk menyalatkan syuhada perang Uhud sebagaimana salat untuk mayit.” (HR. Bukhari no. 1344 dan Muslim no. 2296)Dalam riwayat Bukhari disebutkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu,قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ بَعْدَ ثَمَانِي سِنِينَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalati para korban Uhud setelah delapan tahun, seolah-olah seperti perpisahan antara orang yang hidup dengan orang yang telah mati.” (HR. Bukhari no. 4042)Kesimpulan yang lebih mendekati adalah bahwa imam (pemimpin) kaum muslimin diperbolehkan untuk memilih apakah akan menyalati jenazah mati syahid ataukah tidak. Hal ini karena terdapat dalil untuk dua kondisi tersebut, yaitu ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka tidak disalati dan ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka disalati. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad, juga pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, sebagian ulama Syafi’iyyah dan sebagian ulama Hanabilah. (Lihat Tahdzib Mukhtashar As-Sunan, 4: 295; Al-Majmu’, 5: 260; Al-Ikhtiyarat, hal. 87; dan Al-Inshaf, 2: 500)Zahir hadis ‘Uqbah bin Amir di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu menyalati mereka sebagaimana salat jenazah pada umumnya. Akan tetapi, zahirnya menunjukkan bahwa salat itu adalah salat perpisahan, bukan salat jenazah, karena salat jenazah dilaksanakan sebelum jenazah dimakamkan. Wallahu Ta’ala a’lam.Adapun hikmah mengapa jenazah orang yang mati syahid itu boleh untuk tidak disalatkan adalah karena Allah Ta’ala telah memuliakannya, sehingga tidak butuh untuk disalati. Allah Ta’ala telah memuliakan orang yang mati syahid di peperangan dengan persaksian-Nya,وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati. Bahkan, (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154)Orang yang mati syahid karena peperangan itu boleh untuk tidak disalati, karena salat itu hakikatnya adalah syafaat (doa) untuk mereka. Sedangkan Allah Ta’ala telah memuliakan mereka dengan persaksian-Nya, sehingga tidak butuh disalatkan. (Lihat Tashilul Ilmam, 3: 35) Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang Mengerikan***@Rumah Kasongan, 16 Ramadan 1444/ 7 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 272-274) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 34-35).Tags: cara mengurus jenazahfikih jenazahmati syahid

Mati Syahid, Apakah Dimandikan dan Disalatkan?

Berkaitan dengan jenazah orang yang mati syahid, terdapat sebuah hadis dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ ، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ، وَقَالَ: أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ القِيَامَةِ ، وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda, ‘Siapakah di antara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al-Qur’an?’Ketika beliau telah diberi tahu kepada salah satu di antara keduanya, beliau pun mendahulukannya di dalam lahad, lalu bersabda, ‘Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari kiamat.’ Kemudian beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak disalatkan.” (HR. Bukhari no. 1343)Terdapat dua masalah yang akan kami uraikan dari hadis di atas.Daftar Isi Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Hadis di atas menunjukkan bahwa jenazah orang yang mati syahid di peperangan itu tidak dimandikan. Yang dimaksud dengan peperangan di sini adalah peperangan melawan musuh dari orang-orang kafir. Ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama. Hikmah mengapa jenazah orang mati syahid itu tidak dimandikan adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengatakan tentang para sahabat yang gugur pada saat perang Uhud,لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ – أَوْ كُلَّ دَمٍ – يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Janganlah kalian mandikan, karena setiap luka atau setiap darah akan menjadi minyak misk pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 22: 97, sanadnya sahih)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid terbunuh di peperangan untuk meninggikan kalimat Allah, jenazah mereka itu tidak dimandikan. Akan tetapi, dibiarkan bersama dengan darah-darah mereka. Hal ini karena bekas darah tersebut adalah bekas (tanda) yang baik, sehingga tanda ketaatan tersebut dibiarkan untuk memuliakannya. Mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa darah tersebut sebagai tanda ketaatan. Sebagaimana yang telah disebutkan tentang kondisi orang ihram, mereka dibiarkan sebagaimana kondisi ketika ihram agar datang pada hari kiamat dalam bentuk yang mulia tersebut.” (Tashilul Ilmam, 3: 34-35)Adapun selain mati syahid karena peperangan, seperti: 1) meninggal karena sakit perut; 2) meninggal karena wabah penyakit tha’un; 3) seorang wanita yang meninggal pada masa nifas; 4) meninggal karena tertimpa benda keras; 5) meninggal karena tenggelam; atau 6) meninggal karena terbakar, maka mereka itu tetap dimandikan sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Al-Mughni, 3: 476)Hal ini karena jenazah tersebut itu disebut syahid berkaitan dengan pahala yang akan mereka dapatkan di akhirat, bukan berkaitan dengan hukum dimandikan dan disalatkan ketika di dunia. Hal ini berbeda dengan hukum mati syahid karena peperangan melawan orang-orang kafir (yang tidak dimandikan dan tidak disalatkan).Baca juga: Fikih Pengurusan JenazahKedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Masalah kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan? Hadis ini menunjukkan bahwa jenazah mati syahid itu tidak disalatkan. Ini adalah mazhab Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Lihat Bidayah Al-Mujtahid, 2: 41 dan Al-Majmu’, 5: 260)Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa jenazah mereka tetap disalatkan. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Hadis ini dibawa ke makna anjuran, karena perkataan Imam Ahmad mengisyaratkan hal tersebut.” (Al-Mughni, 3: 467)Para ulama tersebut berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,خَرَجَ يَوْمًا فَصَلَّى عَلَى أَهْلِ أُحُدٍ صَلَاتَهُ عَلَى الْمَيِّتِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari keluar untuk menyalatkan syuhada perang Uhud sebagaimana salat untuk mayit.” (HR. Bukhari no. 1344 dan Muslim no. 2296)Dalam riwayat Bukhari disebutkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu,قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ بَعْدَ ثَمَانِي سِنِينَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalati para korban Uhud setelah delapan tahun, seolah-olah seperti perpisahan antara orang yang hidup dengan orang yang telah mati.” (HR. Bukhari no. 4042)Kesimpulan yang lebih mendekati adalah bahwa imam (pemimpin) kaum muslimin diperbolehkan untuk memilih apakah akan menyalati jenazah mati syahid ataukah tidak. Hal ini karena terdapat dalil untuk dua kondisi tersebut, yaitu ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka tidak disalati dan ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka disalati. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad, juga pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, sebagian ulama Syafi’iyyah dan sebagian ulama Hanabilah. (Lihat Tahdzib Mukhtashar As-Sunan, 4: 295; Al-Majmu’, 5: 260; Al-Ikhtiyarat, hal. 87; dan Al-Inshaf, 2: 500)Zahir hadis ‘Uqbah bin Amir di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu menyalati mereka sebagaimana salat jenazah pada umumnya. Akan tetapi, zahirnya menunjukkan bahwa salat itu adalah salat perpisahan, bukan salat jenazah, karena salat jenazah dilaksanakan sebelum jenazah dimakamkan. Wallahu Ta’ala a’lam.Adapun hikmah mengapa jenazah orang yang mati syahid itu boleh untuk tidak disalatkan adalah karena Allah Ta’ala telah memuliakannya, sehingga tidak butuh untuk disalati. Allah Ta’ala telah memuliakan orang yang mati syahid di peperangan dengan persaksian-Nya,وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati. Bahkan, (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154)Orang yang mati syahid karena peperangan itu boleh untuk tidak disalati, karena salat itu hakikatnya adalah syafaat (doa) untuk mereka. Sedangkan Allah Ta’ala telah memuliakan mereka dengan persaksian-Nya, sehingga tidak butuh disalatkan. (Lihat Tashilul Ilmam, 3: 35) Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang Mengerikan***@Rumah Kasongan, 16 Ramadan 1444/ 7 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 272-274) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 34-35).Tags: cara mengurus jenazahfikih jenazahmati syahid
Berkaitan dengan jenazah orang yang mati syahid, terdapat sebuah hadis dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ ، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ، وَقَالَ: أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ القِيَامَةِ ، وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda, ‘Siapakah di antara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al-Qur’an?’Ketika beliau telah diberi tahu kepada salah satu di antara keduanya, beliau pun mendahulukannya di dalam lahad, lalu bersabda, ‘Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari kiamat.’ Kemudian beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak disalatkan.” (HR. Bukhari no. 1343)Terdapat dua masalah yang akan kami uraikan dari hadis di atas.Daftar Isi Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Hadis di atas menunjukkan bahwa jenazah orang yang mati syahid di peperangan itu tidak dimandikan. Yang dimaksud dengan peperangan di sini adalah peperangan melawan musuh dari orang-orang kafir. Ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama. Hikmah mengapa jenazah orang mati syahid itu tidak dimandikan adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengatakan tentang para sahabat yang gugur pada saat perang Uhud,لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ – أَوْ كُلَّ دَمٍ – يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Janganlah kalian mandikan, karena setiap luka atau setiap darah akan menjadi minyak misk pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 22: 97, sanadnya sahih)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid terbunuh di peperangan untuk meninggikan kalimat Allah, jenazah mereka itu tidak dimandikan. Akan tetapi, dibiarkan bersama dengan darah-darah mereka. Hal ini karena bekas darah tersebut adalah bekas (tanda) yang baik, sehingga tanda ketaatan tersebut dibiarkan untuk memuliakannya. Mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa darah tersebut sebagai tanda ketaatan. Sebagaimana yang telah disebutkan tentang kondisi orang ihram, mereka dibiarkan sebagaimana kondisi ketika ihram agar datang pada hari kiamat dalam bentuk yang mulia tersebut.” (Tashilul Ilmam, 3: 34-35)Adapun selain mati syahid karena peperangan, seperti: 1) meninggal karena sakit perut; 2) meninggal karena wabah penyakit tha’un; 3) seorang wanita yang meninggal pada masa nifas; 4) meninggal karena tertimpa benda keras; 5) meninggal karena tenggelam; atau 6) meninggal karena terbakar, maka mereka itu tetap dimandikan sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Al-Mughni, 3: 476)Hal ini karena jenazah tersebut itu disebut syahid berkaitan dengan pahala yang akan mereka dapatkan di akhirat, bukan berkaitan dengan hukum dimandikan dan disalatkan ketika di dunia. Hal ini berbeda dengan hukum mati syahid karena peperangan melawan orang-orang kafir (yang tidak dimandikan dan tidak disalatkan).Baca juga: Fikih Pengurusan JenazahKedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Masalah kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan? Hadis ini menunjukkan bahwa jenazah mati syahid itu tidak disalatkan. Ini adalah mazhab Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Lihat Bidayah Al-Mujtahid, 2: 41 dan Al-Majmu’, 5: 260)Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa jenazah mereka tetap disalatkan. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Hadis ini dibawa ke makna anjuran, karena perkataan Imam Ahmad mengisyaratkan hal tersebut.” (Al-Mughni, 3: 467)Para ulama tersebut berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,خَرَجَ يَوْمًا فَصَلَّى عَلَى أَهْلِ أُحُدٍ صَلَاتَهُ عَلَى الْمَيِّتِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari keluar untuk menyalatkan syuhada perang Uhud sebagaimana salat untuk mayit.” (HR. Bukhari no. 1344 dan Muslim no. 2296)Dalam riwayat Bukhari disebutkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu,قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ بَعْدَ ثَمَانِي سِنِينَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalati para korban Uhud setelah delapan tahun, seolah-olah seperti perpisahan antara orang yang hidup dengan orang yang telah mati.” (HR. Bukhari no. 4042)Kesimpulan yang lebih mendekati adalah bahwa imam (pemimpin) kaum muslimin diperbolehkan untuk memilih apakah akan menyalati jenazah mati syahid ataukah tidak. Hal ini karena terdapat dalil untuk dua kondisi tersebut, yaitu ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka tidak disalati dan ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka disalati. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad, juga pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, sebagian ulama Syafi’iyyah dan sebagian ulama Hanabilah. (Lihat Tahdzib Mukhtashar As-Sunan, 4: 295; Al-Majmu’, 5: 260; Al-Ikhtiyarat, hal. 87; dan Al-Inshaf, 2: 500)Zahir hadis ‘Uqbah bin Amir di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu menyalati mereka sebagaimana salat jenazah pada umumnya. Akan tetapi, zahirnya menunjukkan bahwa salat itu adalah salat perpisahan, bukan salat jenazah, karena salat jenazah dilaksanakan sebelum jenazah dimakamkan. Wallahu Ta’ala a’lam.Adapun hikmah mengapa jenazah orang yang mati syahid itu boleh untuk tidak disalatkan adalah karena Allah Ta’ala telah memuliakannya, sehingga tidak butuh untuk disalati. Allah Ta’ala telah memuliakan orang yang mati syahid di peperangan dengan persaksian-Nya,وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati. Bahkan, (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154)Orang yang mati syahid karena peperangan itu boleh untuk tidak disalati, karena salat itu hakikatnya adalah syafaat (doa) untuk mereka. Sedangkan Allah Ta’ala telah memuliakan mereka dengan persaksian-Nya, sehingga tidak butuh disalatkan. (Lihat Tashilul Ilmam, 3: 35) Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang Mengerikan***@Rumah Kasongan, 16 Ramadan 1444/ 7 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 272-274) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 34-35).Tags: cara mengurus jenazahfikih jenazahmati syahid


Berkaitan dengan jenazah orang yang mati syahid, terdapat sebuah hadis dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ ، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ، وَقَالَ: أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ القِيَامَةِ ، وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda, ‘Siapakah di antara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al-Qur’an?’Ketika beliau telah diberi tahu kepada salah satu di antara keduanya, beliau pun mendahulukannya di dalam lahad, lalu bersabda, ‘Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari kiamat.’ Kemudian beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak disalatkan.” (HR. Bukhari no. 1343)Terdapat dua masalah yang akan kami uraikan dari hadis di atas.Daftar Isi Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?Hadis di atas menunjukkan bahwa jenazah orang yang mati syahid di peperangan itu tidak dimandikan. Yang dimaksud dengan peperangan di sini adalah peperangan melawan musuh dari orang-orang kafir. Ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama. Hikmah mengapa jenazah orang mati syahid itu tidak dimandikan adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengatakan tentang para sahabat yang gugur pada saat perang Uhud,لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ – أَوْ كُلَّ دَمٍ – يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Janganlah kalian mandikan, karena setiap luka atau setiap darah akan menjadi minyak misk pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 22: 97, sanadnya sahih)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizahullah mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid terbunuh di peperangan untuk meninggikan kalimat Allah, jenazah mereka itu tidak dimandikan. Akan tetapi, dibiarkan bersama dengan darah-darah mereka. Hal ini karena bekas darah tersebut adalah bekas (tanda) yang baik, sehingga tanda ketaatan tersebut dibiarkan untuk memuliakannya. Mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa darah tersebut sebagai tanda ketaatan. Sebagaimana yang telah disebutkan tentang kondisi orang ihram, mereka dibiarkan sebagaimana kondisi ketika ihram agar datang pada hari kiamat dalam bentuk yang mulia tersebut.” (Tashilul Ilmam, 3: 34-35)Adapun selain mati syahid karena peperangan, seperti: 1) meninggal karena sakit perut; 2) meninggal karena wabah penyakit tha’un; 3) seorang wanita yang meninggal pada masa nifas; 4) meninggal karena tertimpa benda keras; 5) meninggal karena tenggelam; atau 6) meninggal karena terbakar, maka mereka itu tetap dimandikan sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Al-Mughni, 3: 476)Hal ini karena jenazah tersebut itu disebut syahid berkaitan dengan pahala yang akan mereka dapatkan di akhirat, bukan berkaitan dengan hukum dimandikan dan disalatkan ketika di dunia. Hal ini berbeda dengan hukum mati syahid karena peperangan melawan orang-orang kafir (yang tidak dimandikan dan tidak disalatkan).Baca juga: Fikih Pengurusan JenazahKedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan?Masalah kedua, apakah jenazah mati syahid itu disalatkan? Hadis ini menunjukkan bahwa jenazah mati syahid itu tidak disalatkan. Ini adalah mazhab Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Lihat Bidayah Al-Mujtahid, 2: 41 dan Al-Majmu’, 5: 260)Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa jenazah mereka tetap disalatkan. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Hadis ini dibawa ke makna anjuran, karena perkataan Imam Ahmad mengisyaratkan hal tersebut.” (Al-Mughni, 3: 467)Para ulama tersebut berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,خَرَجَ يَوْمًا فَصَلَّى عَلَى أَهْلِ أُحُدٍ صَلَاتَهُ عَلَى الْمَيِّتِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari keluar untuk menyalatkan syuhada perang Uhud sebagaimana salat untuk mayit.” (HR. Bukhari no. 1344 dan Muslim no. 2296)Dalam riwayat Bukhari disebutkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu,قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ بَعْدَ ثَمَانِي سِنِينَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalati para korban Uhud setelah delapan tahun, seolah-olah seperti perpisahan antara orang yang hidup dengan orang yang telah mati.” (HR. Bukhari no. 4042)Kesimpulan yang lebih mendekati adalah bahwa imam (pemimpin) kaum muslimin diperbolehkan untuk memilih apakah akan menyalati jenazah mati syahid ataukah tidak. Hal ini karena terdapat dalil untuk dua kondisi tersebut, yaitu ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka tidak disalati dan ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka disalati. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad, juga pendapat yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, sebagian ulama Syafi’iyyah dan sebagian ulama Hanabilah. (Lihat Tahdzib Mukhtashar As-Sunan, 4: 295; Al-Majmu’, 5: 260; Al-Ikhtiyarat, hal. 87; dan Al-Inshaf, 2: 500)Zahir hadis ‘Uqbah bin Amir di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu menyalati mereka sebagaimana salat jenazah pada umumnya. Akan tetapi, zahirnya menunjukkan bahwa salat itu adalah salat perpisahan, bukan salat jenazah, karena salat jenazah dilaksanakan sebelum jenazah dimakamkan. Wallahu Ta’ala a’lam.Adapun hikmah mengapa jenazah orang yang mati syahid itu boleh untuk tidak disalatkan adalah karena Allah Ta’ala telah memuliakannya, sehingga tidak butuh untuk disalati. Allah Ta’ala telah memuliakan orang yang mati syahid di peperangan dengan persaksian-Nya,وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati. Bahkan, (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154)Orang yang mati syahid karena peperangan itu boleh untuk tidak disalati, karena salat itu hakikatnya adalah syafaat (doa) untuk mereka. Sedangkan Allah Ta’ala telah memuliakan mereka dengan persaksian-Nya, sehingga tidak butuh disalatkan. (Lihat Tashilul Ilmam, 3: 35) Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang Mengerikan***@Rumah Kasongan, 16 Ramadan 1444/ 7 April 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 272-274) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram (3: 34-35).Tags: cara mengurus jenazahfikih jenazahmati syahid

Untuk Mualaf: Masuk Islam Menghapus Semua Dosa Masa Lalu – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dia berkata, “Semoga Allah Memberkahi Anda.Orang yang masuk Islam, apakah semua yang pernah dia lakukan sebelumnyaakan diampuni ketika dia masuk Islam?” ʿAmru bin al-ʿAsh ketika ingin memeluk Islam,meminta syarat kepada Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallamagar semua dosa yang telah dia lakukan diampuni. Nabi bersabda —dan hadisnya terdapat dalam Sahih Muslim—“Apakah kamu belum tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu,dan tobat menghapuskan dosa yang telah lalu,dan haji menghapuskan dosa yang telah lalu?”Jadi, Islam menghapuskan dosa yang telah lalu. Ia menghapuskan dosa yang telah lalu, maka jika dia memeluk Islamdan masuk Islam sembari bertobat kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā,maka Islam dan tobatnya tersebut akan menghapuskan apa yang telah lalu. Namun jika dia masuk Islam dan masih berbuat suatu maksiat,maka maksiat ini ada hukumannya,tapi Islamnya diterima, sehingga dia menjadi muslim yang bermaksiat,dia menjadi muslim yang bermaksiat. ===== يَقُولُ بَارَكَ اللهُ فِيكَ الَّذِي أَسْلَمَ هَلْ كُلُّ مَا عَمِلَ مِنْ قَبْلُ يُغْفَرُ لَهُ عِنْدَ إِسْلَامِهِ؟ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يُسْلِمَ اشْتَرَطَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ كُلُّ مَا مَضَى فَقَالَ النَّبِيُّ وَالْحَدِيثُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ التَّوْبَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ فَالْإِسْلَامُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ فَإِذَا أَسْلَمَ وَدَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ تَائِبًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ إِسْلَامَهُ وَتَوْبَتَهُ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ لَكِنْ إِنْ أَسْلَمَ وَبَقِيَ عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنَ الْمَعَاصِي فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ يُؤَاخَذُ عَلَيْهَا وَإِسْلَامُهُ مَقْبُولٌ وَيَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا يَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا

Untuk Mualaf: Masuk Islam Menghapus Semua Dosa Masa Lalu – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dia berkata, “Semoga Allah Memberkahi Anda.Orang yang masuk Islam, apakah semua yang pernah dia lakukan sebelumnyaakan diampuni ketika dia masuk Islam?” ʿAmru bin al-ʿAsh ketika ingin memeluk Islam,meminta syarat kepada Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallamagar semua dosa yang telah dia lakukan diampuni. Nabi bersabda —dan hadisnya terdapat dalam Sahih Muslim—“Apakah kamu belum tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu,dan tobat menghapuskan dosa yang telah lalu,dan haji menghapuskan dosa yang telah lalu?”Jadi, Islam menghapuskan dosa yang telah lalu. Ia menghapuskan dosa yang telah lalu, maka jika dia memeluk Islamdan masuk Islam sembari bertobat kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā,maka Islam dan tobatnya tersebut akan menghapuskan apa yang telah lalu. Namun jika dia masuk Islam dan masih berbuat suatu maksiat,maka maksiat ini ada hukumannya,tapi Islamnya diterima, sehingga dia menjadi muslim yang bermaksiat,dia menjadi muslim yang bermaksiat. ===== يَقُولُ بَارَكَ اللهُ فِيكَ الَّذِي أَسْلَمَ هَلْ كُلُّ مَا عَمِلَ مِنْ قَبْلُ يُغْفَرُ لَهُ عِنْدَ إِسْلَامِهِ؟ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يُسْلِمَ اشْتَرَطَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ كُلُّ مَا مَضَى فَقَالَ النَّبِيُّ وَالْحَدِيثُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ التَّوْبَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ فَالْإِسْلَامُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ فَإِذَا أَسْلَمَ وَدَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ تَائِبًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ إِسْلَامَهُ وَتَوْبَتَهُ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ لَكِنْ إِنْ أَسْلَمَ وَبَقِيَ عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنَ الْمَعَاصِي فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ يُؤَاخَذُ عَلَيْهَا وَإِسْلَامُهُ مَقْبُولٌ وَيَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا يَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا
Dia berkata, “Semoga Allah Memberkahi Anda.Orang yang masuk Islam, apakah semua yang pernah dia lakukan sebelumnyaakan diampuni ketika dia masuk Islam?” ʿAmru bin al-ʿAsh ketika ingin memeluk Islam,meminta syarat kepada Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallamagar semua dosa yang telah dia lakukan diampuni. Nabi bersabda —dan hadisnya terdapat dalam Sahih Muslim—“Apakah kamu belum tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu,dan tobat menghapuskan dosa yang telah lalu,dan haji menghapuskan dosa yang telah lalu?”Jadi, Islam menghapuskan dosa yang telah lalu. Ia menghapuskan dosa yang telah lalu, maka jika dia memeluk Islamdan masuk Islam sembari bertobat kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā,maka Islam dan tobatnya tersebut akan menghapuskan apa yang telah lalu. Namun jika dia masuk Islam dan masih berbuat suatu maksiat,maka maksiat ini ada hukumannya,tapi Islamnya diterima, sehingga dia menjadi muslim yang bermaksiat,dia menjadi muslim yang bermaksiat. ===== يَقُولُ بَارَكَ اللهُ فِيكَ الَّذِي أَسْلَمَ هَلْ كُلُّ مَا عَمِلَ مِنْ قَبْلُ يُغْفَرُ لَهُ عِنْدَ إِسْلَامِهِ؟ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يُسْلِمَ اشْتَرَطَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ كُلُّ مَا مَضَى فَقَالَ النَّبِيُّ وَالْحَدِيثُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ التَّوْبَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ فَالْإِسْلَامُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ فَإِذَا أَسْلَمَ وَدَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ تَائِبًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ إِسْلَامَهُ وَتَوْبَتَهُ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ لَكِنْ إِنْ أَسْلَمَ وَبَقِيَ عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنَ الْمَعَاصِي فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ يُؤَاخَذُ عَلَيْهَا وَإِسْلَامُهُ مَقْبُولٌ وَيَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا يَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا


Dia berkata, “Semoga Allah Memberkahi Anda.Orang yang masuk Islam, apakah semua yang pernah dia lakukan sebelumnyaakan diampuni ketika dia masuk Islam?” ʿAmru bin al-ʿAsh ketika ingin memeluk Islam,meminta syarat kepada Nabi Ṣallallāhu ʿalaihi wa Sallamagar semua dosa yang telah dia lakukan diampuni. Nabi bersabda —dan hadisnya terdapat dalam Sahih Muslim—“Apakah kamu belum tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu,dan tobat menghapuskan dosa yang telah lalu,dan haji menghapuskan dosa yang telah lalu?”Jadi, Islam menghapuskan dosa yang telah lalu. Ia menghapuskan dosa yang telah lalu, maka jika dia memeluk Islamdan masuk Islam sembari bertobat kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā,maka Islam dan tobatnya tersebut akan menghapuskan apa yang telah lalu. Namun jika dia masuk Islam dan masih berbuat suatu maksiat,maka maksiat ini ada hukumannya,tapi Islamnya diterima, sehingga dia menjadi muslim yang bermaksiat,dia menjadi muslim yang bermaksiat. ===== يَقُولُ بَارَكَ اللهُ فِيكَ الَّذِي أَسْلَمَ هَلْ كُلُّ مَا عَمِلَ مِنْ قَبْلُ يُغْفَرُ لَهُ عِنْدَ إِسْلَامِهِ؟ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يُسْلِمَ اشْتَرَطَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ كُلُّ مَا مَضَى فَقَالَ النَّبِيُّ وَالْحَدِيثُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ التَّوْبَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ فَالْإِسْلَامُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ فَإِذَا أَسْلَمَ وَدَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ تَائِبًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ إِسْلَامَهُ وَتَوْبَتَهُ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ لَكِنْ إِنْ أَسْلَمَ وَبَقِيَ عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنَ الْمَعَاصِي فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ يُؤَاخَذُ عَلَيْهَا وَإِسْلَامُهُ مَقْبُولٌ وَيَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا يَكُونُ مُسْلِمًا عَاصِيًا

Jika Safarnya Mudah, Sebaiknya Puasa atau Tidak? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan kedua, dia menyebutkan tentang seseorang yang safar dengan pesawat.Dia menyebutkan bahwa seseorang pergi umrah ke Jeddah. Namun, (dalam konteks ini) safar ke mana saja.Apakah kita katakan bahwa yang afdal baginyasaat safar di siang hari bulan Ramadan adalah tidak berpuasaataukah menyempurnakan puasanya jika tidak merasa berat? Jika dia merasa berat,maka yang afdal baginya adalah tidak puasa,karena dengan ini dia telah mengambil rukhsah dari Allah ʿAzza wa Jalla.“Allah Taʿālā Menyukai jika rukhsah-Nya dilaksanakan.” (HR. Ibnu Hibban) Adapun jika dia tidak merasa berat,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,karena ini lebih cepat dalam menunaikan kewajibannya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri dalam sebagian safarnya tidak puasadan dalam kesempatan safar yang lain berpuasa.Nampaknya—dan Allah Yang Lebih Mengetahui— bahwa ini berbeda sesuai kondisinya. Jadi, dalam beberapa kesempatan, beliau tidak puasa karena merasa berat bersafar.Dalam kesempatan lain, beliau tidak merasa berat,karena beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām ketika itu ada yang melayaninyadari kalangan Sahabat, bahkan mereka saling berlomba melayani beliau. Jadi, dalam sebagian safar beliau tidak merasa berat sehingga tetap berpuasa.Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis bahwa dalam suatu safartidak ada seorang sahabat pun yang berpuasakecuali Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Abdullah bin Rawahah. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang merasa beratdalam perjalanannya jika berpuasa,maka yang afdal baginya adalah tidak berpuasa. Adapun jika seseorang tidak merasa keberatan,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,apalagi di zaman kita ini dengan adanya berbagai kemudahan,seperti mudahnya moda transportasi dan adanya perangkat penyejuk udara (AC). Pada tingkatan tertentu seseorang terkadang tidak merasa berat dan sulitsaat dia di dalam mobil ada penyejuk udaranya,dan saat naik pesawat juga ada penyejuk udaranya,sehingga puasanya tidak terasa berat baginya. Jika dia tidak merasa berat ketika puasa,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,walaupun tidak puasa juga boleh.Boleh tidak puasa, karena pembahasan ini hanya tentang mana yang afdal saja. ==== السُّؤَالُ الثَّانِي تَقُولُ مَنْ يُسَافِرُ بِالطَّائِرَةِ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّهُ ذَهَبَ لِلْعُمْرَةِ إِلَى جِدَّة لَكِنْ إِلَى أَيِّ مَكَانٍ هَلْ نَقُولُ الْأَفْضَلُ لَهُ إِذَا سَافَرَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ أَنْ يُفْطِرَ أَوْ أَنْ يُكْمِلَ صِيَامَهُ إِذَا لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً؟ إِذَا كَانَ يَجِدُ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ لِأَنَّ فِي هَذَا أَخْذًا بِرُخْصَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الله تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ أَمَّا إِذَا لَمْ يَجِدِ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا أَسْرَعُ فِي إِبْرَاءِ ذِمَّتِهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ مُفْطِرًا وَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ صَائِمًا وَيَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذَا كَانَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْحَالِ فَفِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ وَجَدَ مَشَقَّةً فَأَفْطَرَ وَفِي أَحْوَالٍ أُخْرَى لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ هُنَاكَ مَنْ يَخْدِمُهُ مِنَ الصَّحَابَةِ بَلْ يَتَسَابَقُونَ عَلَى خِدْمَتِهِ فَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً فَلَمْ يُفْطِرْ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ كَانَ فِي إِحْدَى سَفَرَاتٍ وَمَا فِي الصَّحَابَةِ صَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ يَلْحَقُ الْإِنْسَانَ الْمَشَقَّةُ فِي سَفَرِهِ بِتَرْكِ الْفِطْرِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ وَإِذَا كَانَ لَا يَلْحَقُهُ مَشَقَّةٌ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ خَاصَّةً فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ مَعَ تَيَسُّرِ الْأُمُورِ وَتَيَسُّرِ وَسَائِلِ الْمُوَاصَلَاتِ وَأَجْهِزَةِ التَّكْيِيفِ فَأَحْيَانًا الْمُسَافِرُ لَا يَجِدُ عَدَدَ دَرَجَاتِ الْحَرَجِ وَالْمَشَقَّةِ وَهُوَ فِي السَّيَّارَةِ فِيهَا مُكَيِّفٌ وَيَرْكَبُ الطَّائِرَةَ أَيْضًا فِي التَّكْيِيفِ فَلَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَإِذَا كَانَ لَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَإِنْ كَانَ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ وَلَكِنَّ الْكِلَامَ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ فَقَطْ

Jika Safarnya Mudah, Sebaiknya Puasa atau Tidak? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan kedua, dia menyebutkan tentang seseorang yang safar dengan pesawat.Dia menyebutkan bahwa seseorang pergi umrah ke Jeddah. Namun, (dalam konteks ini) safar ke mana saja.Apakah kita katakan bahwa yang afdal baginyasaat safar di siang hari bulan Ramadan adalah tidak berpuasaataukah menyempurnakan puasanya jika tidak merasa berat? Jika dia merasa berat,maka yang afdal baginya adalah tidak puasa,karena dengan ini dia telah mengambil rukhsah dari Allah ʿAzza wa Jalla.“Allah Taʿālā Menyukai jika rukhsah-Nya dilaksanakan.” (HR. Ibnu Hibban) Adapun jika dia tidak merasa berat,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,karena ini lebih cepat dalam menunaikan kewajibannya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri dalam sebagian safarnya tidak puasadan dalam kesempatan safar yang lain berpuasa.Nampaknya—dan Allah Yang Lebih Mengetahui— bahwa ini berbeda sesuai kondisinya. Jadi, dalam beberapa kesempatan, beliau tidak puasa karena merasa berat bersafar.Dalam kesempatan lain, beliau tidak merasa berat,karena beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām ketika itu ada yang melayaninyadari kalangan Sahabat, bahkan mereka saling berlomba melayani beliau. Jadi, dalam sebagian safar beliau tidak merasa berat sehingga tetap berpuasa.Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis bahwa dalam suatu safartidak ada seorang sahabat pun yang berpuasakecuali Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Abdullah bin Rawahah. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang merasa beratdalam perjalanannya jika berpuasa,maka yang afdal baginya adalah tidak berpuasa. Adapun jika seseorang tidak merasa keberatan,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,apalagi di zaman kita ini dengan adanya berbagai kemudahan,seperti mudahnya moda transportasi dan adanya perangkat penyejuk udara (AC). Pada tingkatan tertentu seseorang terkadang tidak merasa berat dan sulitsaat dia di dalam mobil ada penyejuk udaranya,dan saat naik pesawat juga ada penyejuk udaranya,sehingga puasanya tidak terasa berat baginya. Jika dia tidak merasa berat ketika puasa,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,walaupun tidak puasa juga boleh.Boleh tidak puasa, karena pembahasan ini hanya tentang mana yang afdal saja. ==== السُّؤَالُ الثَّانِي تَقُولُ مَنْ يُسَافِرُ بِالطَّائِرَةِ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّهُ ذَهَبَ لِلْعُمْرَةِ إِلَى جِدَّة لَكِنْ إِلَى أَيِّ مَكَانٍ هَلْ نَقُولُ الْأَفْضَلُ لَهُ إِذَا سَافَرَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ أَنْ يُفْطِرَ أَوْ أَنْ يُكْمِلَ صِيَامَهُ إِذَا لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً؟ إِذَا كَانَ يَجِدُ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ لِأَنَّ فِي هَذَا أَخْذًا بِرُخْصَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الله تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ أَمَّا إِذَا لَمْ يَجِدِ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا أَسْرَعُ فِي إِبْرَاءِ ذِمَّتِهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ مُفْطِرًا وَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ صَائِمًا وَيَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذَا كَانَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْحَالِ فَفِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ وَجَدَ مَشَقَّةً فَأَفْطَرَ وَفِي أَحْوَالٍ أُخْرَى لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ هُنَاكَ مَنْ يَخْدِمُهُ مِنَ الصَّحَابَةِ بَلْ يَتَسَابَقُونَ عَلَى خِدْمَتِهِ فَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً فَلَمْ يُفْطِرْ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ كَانَ فِي إِحْدَى سَفَرَاتٍ وَمَا فِي الصَّحَابَةِ صَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ يَلْحَقُ الْإِنْسَانَ الْمَشَقَّةُ فِي سَفَرِهِ بِتَرْكِ الْفِطْرِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ وَإِذَا كَانَ لَا يَلْحَقُهُ مَشَقَّةٌ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ خَاصَّةً فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ مَعَ تَيَسُّرِ الْأُمُورِ وَتَيَسُّرِ وَسَائِلِ الْمُوَاصَلَاتِ وَأَجْهِزَةِ التَّكْيِيفِ فَأَحْيَانًا الْمُسَافِرُ لَا يَجِدُ عَدَدَ دَرَجَاتِ الْحَرَجِ وَالْمَشَقَّةِ وَهُوَ فِي السَّيَّارَةِ فِيهَا مُكَيِّفٌ وَيَرْكَبُ الطَّائِرَةَ أَيْضًا فِي التَّكْيِيفِ فَلَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَإِذَا كَانَ لَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَإِنْ كَانَ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ وَلَكِنَّ الْكِلَامَ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ فَقَطْ
Pertanyaan kedua, dia menyebutkan tentang seseorang yang safar dengan pesawat.Dia menyebutkan bahwa seseorang pergi umrah ke Jeddah. Namun, (dalam konteks ini) safar ke mana saja.Apakah kita katakan bahwa yang afdal baginyasaat safar di siang hari bulan Ramadan adalah tidak berpuasaataukah menyempurnakan puasanya jika tidak merasa berat? Jika dia merasa berat,maka yang afdal baginya adalah tidak puasa,karena dengan ini dia telah mengambil rukhsah dari Allah ʿAzza wa Jalla.“Allah Taʿālā Menyukai jika rukhsah-Nya dilaksanakan.” (HR. Ibnu Hibban) Adapun jika dia tidak merasa berat,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,karena ini lebih cepat dalam menunaikan kewajibannya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri dalam sebagian safarnya tidak puasadan dalam kesempatan safar yang lain berpuasa.Nampaknya—dan Allah Yang Lebih Mengetahui— bahwa ini berbeda sesuai kondisinya. Jadi, dalam beberapa kesempatan, beliau tidak puasa karena merasa berat bersafar.Dalam kesempatan lain, beliau tidak merasa berat,karena beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām ketika itu ada yang melayaninyadari kalangan Sahabat, bahkan mereka saling berlomba melayani beliau. Jadi, dalam sebagian safar beliau tidak merasa berat sehingga tetap berpuasa.Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis bahwa dalam suatu safartidak ada seorang sahabat pun yang berpuasakecuali Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Abdullah bin Rawahah. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang merasa beratdalam perjalanannya jika berpuasa,maka yang afdal baginya adalah tidak berpuasa. Adapun jika seseorang tidak merasa keberatan,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,apalagi di zaman kita ini dengan adanya berbagai kemudahan,seperti mudahnya moda transportasi dan adanya perangkat penyejuk udara (AC). Pada tingkatan tertentu seseorang terkadang tidak merasa berat dan sulitsaat dia di dalam mobil ada penyejuk udaranya,dan saat naik pesawat juga ada penyejuk udaranya,sehingga puasanya tidak terasa berat baginya. Jika dia tidak merasa berat ketika puasa,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,walaupun tidak puasa juga boleh.Boleh tidak puasa, karena pembahasan ini hanya tentang mana yang afdal saja. ==== السُّؤَالُ الثَّانِي تَقُولُ مَنْ يُسَافِرُ بِالطَّائِرَةِ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّهُ ذَهَبَ لِلْعُمْرَةِ إِلَى جِدَّة لَكِنْ إِلَى أَيِّ مَكَانٍ هَلْ نَقُولُ الْأَفْضَلُ لَهُ إِذَا سَافَرَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ أَنْ يُفْطِرَ أَوْ أَنْ يُكْمِلَ صِيَامَهُ إِذَا لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً؟ إِذَا كَانَ يَجِدُ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ لِأَنَّ فِي هَذَا أَخْذًا بِرُخْصَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الله تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ أَمَّا إِذَا لَمْ يَجِدِ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا أَسْرَعُ فِي إِبْرَاءِ ذِمَّتِهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ مُفْطِرًا وَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ صَائِمًا وَيَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذَا كَانَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْحَالِ فَفِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ وَجَدَ مَشَقَّةً فَأَفْطَرَ وَفِي أَحْوَالٍ أُخْرَى لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ هُنَاكَ مَنْ يَخْدِمُهُ مِنَ الصَّحَابَةِ بَلْ يَتَسَابَقُونَ عَلَى خِدْمَتِهِ فَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً فَلَمْ يُفْطِرْ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ كَانَ فِي إِحْدَى سَفَرَاتٍ وَمَا فِي الصَّحَابَةِ صَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ يَلْحَقُ الْإِنْسَانَ الْمَشَقَّةُ فِي سَفَرِهِ بِتَرْكِ الْفِطْرِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ وَإِذَا كَانَ لَا يَلْحَقُهُ مَشَقَّةٌ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ خَاصَّةً فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ مَعَ تَيَسُّرِ الْأُمُورِ وَتَيَسُّرِ وَسَائِلِ الْمُوَاصَلَاتِ وَأَجْهِزَةِ التَّكْيِيفِ فَأَحْيَانًا الْمُسَافِرُ لَا يَجِدُ عَدَدَ دَرَجَاتِ الْحَرَجِ وَالْمَشَقَّةِ وَهُوَ فِي السَّيَّارَةِ فِيهَا مُكَيِّفٌ وَيَرْكَبُ الطَّائِرَةَ أَيْضًا فِي التَّكْيِيفِ فَلَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَإِذَا كَانَ لَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَإِنْ كَانَ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ وَلَكِنَّ الْكِلَامَ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ فَقَطْ


Pertanyaan kedua, dia menyebutkan tentang seseorang yang safar dengan pesawat.Dia menyebutkan bahwa seseorang pergi umrah ke Jeddah. Namun, (dalam konteks ini) safar ke mana saja.Apakah kita katakan bahwa yang afdal baginyasaat safar di siang hari bulan Ramadan adalah tidak berpuasaataukah menyempurnakan puasanya jika tidak merasa berat? Jika dia merasa berat,maka yang afdal baginya adalah tidak puasa,karena dengan ini dia telah mengambil rukhsah dari Allah ʿAzza wa Jalla.“Allah Taʿālā Menyukai jika rukhsah-Nya dilaksanakan.” (HR. Ibnu Hibban) Adapun jika dia tidak merasa berat,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,karena ini lebih cepat dalam menunaikan kewajibannya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri dalam sebagian safarnya tidak puasadan dalam kesempatan safar yang lain berpuasa.Nampaknya—dan Allah Yang Lebih Mengetahui— bahwa ini berbeda sesuai kondisinya. Jadi, dalam beberapa kesempatan, beliau tidak puasa karena merasa berat bersafar.Dalam kesempatan lain, beliau tidak merasa berat,karena beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām ketika itu ada yang melayaninyadari kalangan Sahabat, bahkan mereka saling berlomba melayani beliau. Jadi, dalam sebagian safar beliau tidak merasa berat sehingga tetap berpuasa.Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis bahwa dalam suatu safartidak ada seorang sahabat pun yang berpuasakecuali Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Abdullah bin Rawahah. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang merasa beratdalam perjalanannya jika berpuasa,maka yang afdal baginya adalah tidak berpuasa. Adapun jika seseorang tidak merasa keberatan,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,apalagi di zaman kita ini dengan adanya berbagai kemudahan,seperti mudahnya moda transportasi dan adanya perangkat penyejuk udara (AC). Pada tingkatan tertentu seseorang terkadang tidak merasa berat dan sulitsaat dia di dalam mobil ada penyejuk udaranya,dan saat naik pesawat juga ada penyejuk udaranya,sehingga puasanya tidak terasa berat baginya. Jika dia tidak merasa berat ketika puasa,maka yang afdal baginya adalah berpuasa,walaupun tidak puasa juga boleh.Boleh tidak puasa, karena pembahasan ini hanya tentang mana yang afdal saja. ==== السُّؤَالُ الثَّانِي تَقُولُ مَنْ يُسَافِرُ بِالطَّائِرَةِ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّهُ ذَهَبَ لِلْعُمْرَةِ إِلَى جِدَّة لَكِنْ إِلَى أَيِّ مَكَانٍ هَلْ نَقُولُ الْأَفْضَلُ لَهُ إِذَا سَافَرَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ أَنْ يُفْطِرَ أَوْ أَنْ يُكْمِلَ صِيَامَهُ إِذَا لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً؟ إِذَا كَانَ يَجِدُ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ لِأَنَّ فِي هَذَا أَخْذًا بِرُخْصَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الله تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ أَمَّا إِذَا لَمْ يَجِدِ مَشَقَّةً فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا أَسْرَعُ فِي إِبْرَاءِ ذِمَّتِهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ مُفْطِرًا وَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ كَانَ صَائِمًا وَيَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ هَذَا كَانَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْحَالِ فَفِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ وَجَدَ مَشَقَّةً فَأَفْطَرَ وَفِي أَحْوَالٍ أُخْرَى لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ هُنَاكَ مَنْ يَخْدِمُهُ مِنَ الصَّحَابَةِ بَلْ يَتَسَابَقُونَ عَلَى خِدْمَتِهِ فَفِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ لَمْ يَجِدْ مَشَقَّةً فَلَمْ يُفْطِرْ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ كَانَ فِي إِحْدَى سَفَرَاتٍ وَمَا فِي الصَّحَابَةِ صَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ يَلْحَقُ الْإِنْسَانَ الْمَشَقَّةُ فِي سَفَرِهِ بِتَرْكِ الْفِطْرِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الْفِطْرُ وَإِذَا كَانَ لَا يَلْحَقُهُ مَشَقَّةٌ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ خَاصَّةً فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ مَعَ تَيَسُّرِ الْأُمُورِ وَتَيَسُّرِ وَسَائِلِ الْمُوَاصَلَاتِ وَأَجْهِزَةِ التَّكْيِيفِ فَأَحْيَانًا الْمُسَافِرُ لَا يَجِدُ عَدَدَ دَرَجَاتِ الْحَرَجِ وَالْمَشَقَّةِ وَهُوَ فِي السَّيَّارَةِ فِيهَا مُكَيِّفٌ وَيَرْكَبُ الطَّائِرَةَ أَيْضًا فِي التَّكْيِيفِ فَلَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَإِذَا كَانَ لَا يَجِدُ مَشَقَّةً فِي الصَّوْمِ فَالْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ الصَّوْمُ وَإِنْ كَانَ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ يَجُوزُ لَهُ وَلَكِنَّ الْكِلَامَ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ فَقَطْ

Enam Doa Terlarang – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kesimpulan dari macam-macam doa ini,yang disebutkan oleh penulis —semoga Allah Merahmatinya—bahwa tidak ada yang nampak bisa dikuatkan keharamannyakecuali hanya enam macam saja: [PERTAMA]Berdoa meminta sesuatu yang mustahil.Al-Khattabi menegaskan hal ini dalam kitab Syaʾnu ad-Duʿāʾi dengan mengatakan,“Tidak boleh berdoa sesuatu yang mustahil.” [KEDUA]Berdoa meminta sesuatu yang tidak masuk akal,karena itu termasuk melampaui batas yang terlarang. [KETIGA]Doa yang digandeng dengan Kehendak Allah,seperti doa, “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau Mau.”“Ya Allah, rahmati aku jika Engkau Mau.” [KEEMPAT]Doa yang tidak diketahui maknanya,baik dengan bahasa Arab atau non-Arab. [KELIMA]Doa yang mengandung kemaksiatan,yaitu dengan meminta segala hal yang tidak Allah Subẖānahu wa Taʿālā izinkan. [KEENAM]Doa yang menimbulkan keharamandari akibat yang ditimbulkannya,yakni doa yang dijadikan wasilah menuju perkara haram. Itu terjadi jika seseorang meminta sesuatu yang bisa menimbulkanterjadinya suatu maksud yang terlarang,sehingga hukumnya haram karena menjadi wasilah tersebut, karena hukum wasilah mengikuti hukum tujuannya,dan ini benar karena selaras dengan sebuah kaidah yang terkenaldalam masalah “Wasilah dan Tujuan”. Inilah enam macam doayang kuat untuk dikatakan haramberdasarkan bukti-bukti dari dalil syariat.Adapun doa-doa lain yang disebutkan oleh penulis—semoga Allah Merahmatinya—yang asasnya kembali pada meminta yang sudah ada atau yang lainnya,maka tidak didukung dengan dalil syariat untuk dikatakan terlarang.Demikian. ==== وَحَاصِلُ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا يَتَجَلَّى ظُهُورُ تَحْرِيمِ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا سِتَّةَ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَبِهِ صَرَّحَ الْخَطَّابِيُّ فِي شَأْنِ الدُّعَاءِ فَقَالَ وَلَا يَجُوزُ الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَثَانِيهَا الدُّعَاءُ بِخَرْقِ الْعَادَةِ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْاِعْتِدَاءِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ وَثَالِثُهَا الدُّعَاءُ الْمُعَلَّقُ عَلَى مَشِيئَةِ اللهِ كَقَوْلِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ وَرَابِعُهَا الدُّعَاءُ بِمَا لَا يُعْلَمُ مَعْنَاهُ مِنَ الْكَلَامِ الْأَعْجَميِّ وَغَيْرِهِ وَخَامِسُهَا الدُّعَاءُ بِإِثْمٍ وَهُوَ الدُّعَاءُ بِكُلِّ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسَادِسُهَا الدُّعَاءُ بِمَا اسْتَفَادَ التَّحْرِيمَ مِنْ مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ مَا كَانَ دُعَاءً يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى مُحَرَّمٍ وَذَلِكَ بِأَنْ يَدْعُوَ بِشَيْءٍ يُفْضِي إِلَى وُقُوعِ مَقْصَدٍ مُحَرَّمٍ فَيَكُونَ مُحَرَّمًا لِأَجْلِ كَوْنِهِ وَسِيلَةً فَإِنَّ الْوَسَائِلَ تَابِعَةٌ لِلْمَقَاصِدِ وَهَذَا حَقٌّ تَبَعًا لِلْقَاعِدَةِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الْوَسَائِلِ وَالْمَقَاصِدِ فَهَذِهِ الْأَقْسَامُ السِّتَّةُ هِيَ الَّتِي يَتَرَشَّحُ الْقَوْلُ بِحُرْمَتِهَا بِدَلَائِلِ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ وَأَمَّا بَقِيَّةُ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ وَغَيْرِهِ فَلَا يُسَاعِدُ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَى الْقَوْلِ بِحُرْمَتِهَا نَعَمْ

Enam Doa Terlarang – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kesimpulan dari macam-macam doa ini,yang disebutkan oleh penulis —semoga Allah Merahmatinya—bahwa tidak ada yang nampak bisa dikuatkan keharamannyakecuali hanya enam macam saja: [PERTAMA]Berdoa meminta sesuatu yang mustahil.Al-Khattabi menegaskan hal ini dalam kitab Syaʾnu ad-Duʿāʾi dengan mengatakan,“Tidak boleh berdoa sesuatu yang mustahil.” [KEDUA]Berdoa meminta sesuatu yang tidak masuk akal,karena itu termasuk melampaui batas yang terlarang. [KETIGA]Doa yang digandeng dengan Kehendak Allah,seperti doa, “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau Mau.”“Ya Allah, rahmati aku jika Engkau Mau.” [KEEMPAT]Doa yang tidak diketahui maknanya,baik dengan bahasa Arab atau non-Arab. [KELIMA]Doa yang mengandung kemaksiatan,yaitu dengan meminta segala hal yang tidak Allah Subẖānahu wa Taʿālā izinkan. [KEENAM]Doa yang menimbulkan keharamandari akibat yang ditimbulkannya,yakni doa yang dijadikan wasilah menuju perkara haram. Itu terjadi jika seseorang meminta sesuatu yang bisa menimbulkanterjadinya suatu maksud yang terlarang,sehingga hukumnya haram karena menjadi wasilah tersebut, karena hukum wasilah mengikuti hukum tujuannya,dan ini benar karena selaras dengan sebuah kaidah yang terkenaldalam masalah “Wasilah dan Tujuan”. Inilah enam macam doayang kuat untuk dikatakan haramberdasarkan bukti-bukti dari dalil syariat.Adapun doa-doa lain yang disebutkan oleh penulis—semoga Allah Merahmatinya—yang asasnya kembali pada meminta yang sudah ada atau yang lainnya,maka tidak didukung dengan dalil syariat untuk dikatakan terlarang.Demikian. ==== وَحَاصِلُ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا يَتَجَلَّى ظُهُورُ تَحْرِيمِ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا سِتَّةَ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَبِهِ صَرَّحَ الْخَطَّابِيُّ فِي شَأْنِ الدُّعَاءِ فَقَالَ وَلَا يَجُوزُ الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَثَانِيهَا الدُّعَاءُ بِخَرْقِ الْعَادَةِ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْاِعْتِدَاءِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ وَثَالِثُهَا الدُّعَاءُ الْمُعَلَّقُ عَلَى مَشِيئَةِ اللهِ كَقَوْلِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ وَرَابِعُهَا الدُّعَاءُ بِمَا لَا يُعْلَمُ مَعْنَاهُ مِنَ الْكَلَامِ الْأَعْجَميِّ وَغَيْرِهِ وَخَامِسُهَا الدُّعَاءُ بِإِثْمٍ وَهُوَ الدُّعَاءُ بِكُلِّ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسَادِسُهَا الدُّعَاءُ بِمَا اسْتَفَادَ التَّحْرِيمَ مِنْ مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ مَا كَانَ دُعَاءً يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى مُحَرَّمٍ وَذَلِكَ بِأَنْ يَدْعُوَ بِشَيْءٍ يُفْضِي إِلَى وُقُوعِ مَقْصَدٍ مُحَرَّمٍ فَيَكُونَ مُحَرَّمًا لِأَجْلِ كَوْنِهِ وَسِيلَةً فَإِنَّ الْوَسَائِلَ تَابِعَةٌ لِلْمَقَاصِدِ وَهَذَا حَقٌّ تَبَعًا لِلْقَاعِدَةِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الْوَسَائِلِ وَالْمَقَاصِدِ فَهَذِهِ الْأَقْسَامُ السِّتَّةُ هِيَ الَّتِي يَتَرَشَّحُ الْقَوْلُ بِحُرْمَتِهَا بِدَلَائِلِ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ وَأَمَّا بَقِيَّةُ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ وَغَيْرِهِ فَلَا يُسَاعِدُ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَى الْقَوْلِ بِحُرْمَتِهَا نَعَمْ
Kesimpulan dari macam-macam doa ini,yang disebutkan oleh penulis —semoga Allah Merahmatinya—bahwa tidak ada yang nampak bisa dikuatkan keharamannyakecuali hanya enam macam saja: [PERTAMA]Berdoa meminta sesuatu yang mustahil.Al-Khattabi menegaskan hal ini dalam kitab Syaʾnu ad-Duʿāʾi dengan mengatakan,“Tidak boleh berdoa sesuatu yang mustahil.” [KEDUA]Berdoa meminta sesuatu yang tidak masuk akal,karena itu termasuk melampaui batas yang terlarang. [KETIGA]Doa yang digandeng dengan Kehendak Allah,seperti doa, “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau Mau.”“Ya Allah, rahmati aku jika Engkau Mau.” [KEEMPAT]Doa yang tidak diketahui maknanya,baik dengan bahasa Arab atau non-Arab. [KELIMA]Doa yang mengandung kemaksiatan,yaitu dengan meminta segala hal yang tidak Allah Subẖānahu wa Taʿālā izinkan. [KEENAM]Doa yang menimbulkan keharamandari akibat yang ditimbulkannya,yakni doa yang dijadikan wasilah menuju perkara haram. Itu terjadi jika seseorang meminta sesuatu yang bisa menimbulkanterjadinya suatu maksud yang terlarang,sehingga hukumnya haram karena menjadi wasilah tersebut, karena hukum wasilah mengikuti hukum tujuannya,dan ini benar karena selaras dengan sebuah kaidah yang terkenaldalam masalah “Wasilah dan Tujuan”. Inilah enam macam doayang kuat untuk dikatakan haramberdasarkan bukti-bukti dari dalil syariat.Adapun doa-doa lain yang disebutkan oleh penulis—semoga Allah Merahmatinya—yang asasnya kembali pada meminta yang sudah ada atau yang lainnya,maka tidak didukung dengan dalil syariat untuk dikatakan terlarang.Demikian. ==== وَحَاصِلُ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا يَتَجَلَّى ظُهُورُ تَحْرِيمِ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا سِتَّةَ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَبِهِ صَرَّحَ الْخَطَّابِيُّ فِي شَأْنِ الدُّعَاءِ فَقَالَ وَلَا يَجُوزُ الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَثَانِيهَا الدُّعَاءُ بِخَرْقِ الْعَادَةِ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْاِعْتِدَاءِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ وَثَالِثُهَا الدُّعَاءُ الْمُعَلَّقُ عَلَى مَشِيئَةِ اللهِ كَقَوْلِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ وَرَابِعُهَا الدُّعَاءُ بِمَا لَا يُعْلَمُ مَعْنَاهُ مِنَ الْكَلَامِ الْأَعْجَميِّ وَغَيْرِهِ وَخَامِسُهَا الدُّعَاءُ بِإِثْمٍ وَهُوَ الدُّعَاءُ بِكُلِّ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسَادِسُهَا الدُّعَاءُ بِمَا اسْتَفَادَ التَّحْرِيمَ مِنْ مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ مَا كَانَ دُعَاءً يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى مُحَرَّمٍ وَذَلِكَ بِأَنْ يَدْعُوَ بِشَيْءٍ يُفْضِي إِلَى وُقُوعِ مَقْصَدٍ مُحَرَّمٍ فَيَكُونَ مُحَرَّمًا لِأَجْلِ كَوْنِهِ وَسِيلَةً فَإِنَّ الْوَسَائِلَ تَابِعَةٌ لِلْمَقَاصِدِ وَهَذَا حَقٌّ تَبَعًا لِلْقَاعِدَةِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الْوَسَائِلِ وَالْمَقَاصِدِ فَهَذِهِ الْأَقْسَامُ السِّتَّةُ هِيَ الَّتِي يَتَرَشَّحُ الْقَوْلُ بِحُرْمَتِهَا بِدَلَائِلِ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ وَأَمَّا بَقِيَّةُ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ وَغَيْرِهِ فَلَا يُسَاعِدُ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَى الْقَوْلِ بِحُرْمَتِهَا نَعَمْ


Kesimpulan dari macam-macam doa ini,yang disebutkan oleh penulis —semoga Allah Merahmatinya—bahwa tidak ada yang nampak bisa dikuatkan keharamannyakecuali hanya enam macam saja: [PERTAMA]Berdoa meminta sesuatu yang mustahil.Al-Khattabi menegaskan hal ini dalam kitab Syaʾnu ad-Duʿāʾi dengan mengatakan,“Tidak boleh berdoa sesuatu yang mustahil.” [KEDUA]Berdoa meminta sesuatu yang tidak masuk akal,karena itu termasuk melampaui batas yang terlarang. [KETIGA]Doa yang digandeng dengan Kehendak Allah,seperti doa, “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau Mau.”“Ya Allah, rahmati aku jika Engkau Mau.” [KEEMPAT]Doa yang tidak diketahui maknanya,baik dengan bahasa Arab atau non-Arab. [KELIMA]Doa yang mengandung kemaksiatan,yaitu dengan meminta segala hal yang tidak Allah Subẖānahu wa Taʿālā izinkan. [KEENAM]Doa yang menimbulkan keharamandari akibat yang ditimbulkannya,yakni doa yang dijadikan wasilah menuju perkara haram. Itu terjadi jika seseorang meminta sesuatu yang bisa menimbulkanterjadinya suatu maksud yang terlarang,sehingga hukumnya haram karena menjadi wasilah tersebut, karena hukum wasilah mengikuti hukum tujuannya,dan ini benar karena selaras dengan sebuah kaidah yang terkenaldalam masalah “Wasilah dan Tujuan”. Inilah enam macam doayang kuat untuk dikatakan haramberdasarkan bukti-bukti dari dalil syariat.Adapun doa-doa lain yang disebutkan oleh penulis—semoga Allah Merahmatinya—yang asasnya kembali pada meminta yang sudah ada atau yang lainnya,maka tidak didukung dengan dalil syariat untuk dikatakan terlarang.Demikian. ==== وَحَاصِلُ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا يَتَجَلَّى ظُهُورُ تَحْرِيمِ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا سِتَّةَ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَبِهِ صَرَّحَ الْخَطَّابِيُّ فِي شَأْنِ الدُّعَاءِ فَقَالَ وَلَا يَجُوزُ الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ وَثَانِيهَا الدُّعَاءُ بِخَرْقِ الْعَادَةِ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْاِعْتِدَاءِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ وَثَالِثُهَا الدُّعَاءُ الْمُعَلَّقُ عَلَى مَشِيئَةِ اللهِ كَقَوْلِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ وَرَابِعُهَا الدُّعَاءُ بِمَا لَا يُعْلَمُ مَعْنَاهُ مِنَ الْكَلَامِ الْأَعْجَميِّ وَغَيْرِهِ وَخَامِسُهَا الدُّعَاءُ بِإِثْمٍ وَهُوَ الدُّعَاءُ بِكُلِّ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسَادِسُهَا الدُّعَاءُ بِمَا اسْتَفَادَ التَّحْرِيمَ مِنْ مُتَعَلَّقِهِ وَهُوَ مَا كَانَ دُعَاءً يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى مُحَرَّمٍ وَذَلِكَ بِأَنْ يَدْعُوَ بِشَيْءٍ يُفْضِي إِلَى وُقُوعِ مَقْصَدٍ مُحَرَّمٍ فَيَكُونَ مُحَرَّمًا لِأَجْلِ كَوْنِهِ وَسِيلَةً فَإِنَّ الْوَسَائِلَ تَابِعَةٌ لِلْمَقَاصِدِ وَهَذَا حَقٌّ تَبَعًا لِلْقَاعِدَةِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الْوَسَائِلِ وَالْمَقَاصِدِ فَهَذِهِ الْأَقْسَامُ السِّتَّةُ هِيَ الَّتِي يَتَرَشَّحُ الْقَوْلُ بِحُرْمَتِهَا بِدَلَائِلِ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ وَأَمَّا بَقِيَّةُ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ وَغَيْرِهِ فَلَا يُسَاعِدُ الدَّلِيلُ الشَّرْعِيُّ عَلَى الْقَوْلِ بِحُرْمَتِهَا نَعَمْ

Bolehkah Wanita Salat Tarawih di Rumah di Awal dan Akhir Malam? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Tersisa pertanyaan dari saudari Fatimah.Dia berkata, “Apakah boleh aku mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya—dia adalah wanita dan salat di rumahnya—mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya di awal malam dan akhir malam?” Ya, hal tersebut tidak mengapa.Ini adalah perkara yang fleksibel.Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Salat malam itu dua rakaat dua rakaat.Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh,hendaknya Salat Witir satu rakaat.” (HR. Abu Dawud) Bahkan diriwayatkan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri terkadangmelaksanakan salat di awal malamdan salat lagi di akhir malam.Jadi, ini perkara yang fleksibel. Saudari yang budiman bisa salat di awal malam,semampunya sebagaimana yang Allah Tetapkan baginya,lalu salat lagi di akhir malam,kemudian witir satu rakaat. Tidak ada dua witir dalam semalam,karena witir hanya dilakukan sekali saja.Yang afdal adalah menjadikan Salat Witir sebagai salatnya yang terakhir di malam hari,berdasarkan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Jadikan Salat Witir sebagai akhir salat kalian di malam hari.” (Muttafaqun ‘Alaihi) ===== بَقِيَ مِنْ أَسْئِلَةِ الْأُخْتِ فَاطِمَةَ تَقُولُ هَلْ يَجُوزُ أَنْ أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ وَهِيَ الْمَرْأَةُ وَتُصَلِّي فِي بَيْتِهَا أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَآخِرَ اللَّيْلِ؟ نَعَمْ لَا بَأْسَ بِهَذَا الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ بَلْ وَرَدَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَيُصَلِّي مِنْ آخِرِهِ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ يُمْكِنُ لِلْأُخْتِ الْكَرِيمَةِ أَنْ تُصَلِّيَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ مَا كَتَبَ اللهُ لَهَا أَنْ تُصَلِّيَ ثُمَّ تُصَلِّي مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَيْضًا ثُمَّ تُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَلَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ إِنَّمَا يَكُونُ الْوِتْرُ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالْأَفْضَلُ أَنْ تَجْعَلَ الْوِتْرَ آخِرَ صَلَاتِهَا بِاللَّيْلِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا [مُتَّفَقٌ عَلَيهِ]

Bolehkah Wanita Salat Tarawih di Rumah di Awal dan Akhir Malam? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Tersisa pertanyaan dari saudari Fatimah.Dia berkata, “Apakah boleh aku mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya—dia adalah wanita dan salat di rumahnya—mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya di awal malam dan akhir malam?” Ya, hal tersebut tidak mengapa.Ini adalah perkara yang fleksibel.Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Salat malam itu dua rakaat dua rakaat.Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh,hendaknya Salat Witir satu rakaat.” (HR. Abu Dawud) Bahkan diriwayatkan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri terkadangmelaksanakan salat di awal malamdan salat lagi di akhir malam.Jadi, ini perkara yang fleksibel. Saudari yang budiman bisa salat di awal malam,semampunya sebagaimana yang Allah Tetapkan baginya,lalu salat lagi di akhir malam,kemudian witir satu rakaat. Tidak ada dua witir dalam semalam,karena witir hanya dilakukan sekali saja.Yang afdal adalah menjadikan Salat Witir sebagai salatnya yang terakhir di malam hari,berdasarkan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Jadikan Salat Witir sebagai akhir salat kalian di malam hari.” (Muttafaqun ‘Alaihi) ===== بَقِيَ مِنْ أَسْئِلَةِ الْأُخْتِ فَاطِمَةَ تَقُولُ هَلْ يَجُوزُ أَنْ أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ وَهِيَ الْمَرْأَةُ وَتُصَلِّي فِي بَيْتِهَا أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَآخِرَ اللَّيْلِ؟ نَعَمْ لَا بَأْسَ بِهَذَا الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ بَلْ وَرَدَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَيُصَلِّي مِنْ آخِرِهِ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ يُمْكِنُ لِلْأُخْتِ الْكَرِيمَةِ أَنْ تُصَلِّيَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ مَا كَتَبَ اللهُ لَهَا أَنْ تُصَلِّيَ ثُمَّ تُصَلِّي مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَيْضًا ثُمَّ تُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَلَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ إِنَّمَا يَكُونُ الْوِتْرُ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالْأَفْضَلُ أَنْ تَجْعَلَ الْوِتْرَ آخِرَ صَلَاتِهَا بِاللَّيْلِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا [مُتَّفَقٌ عَلَيهِ]
Tersisa pertanyaan dari saudari Fatimah.Dia berkata, “Apakah boleh aku mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya—dia adalah wanita dan salat di rumahnya—mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya di awal malam dan akhir malam?” Ya, hal tersebut tidak mengapa.Ini adalah perkara yang fleksibel.Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Salat malam itu dua rakaat dua rakaat.Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh,hendaknya Salat Witir satu rakaat.” (HR. Abu Dawud) Bahkan diriwayatkan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri terkadangmelaksanakan salat di awal malamdan salat lagi di akhir malam.Jadi, ini perkara yang fleksibel. Saudari yang budiman bisa salat di awal malam,semampunya sebagaimana yang Allah Tetapkan baginya,lalu salat lagi di akhir malam,kemudian witir satu rakaat. Tidak ada dua witir dalam semalam,karena witir hanya dilakukan sekali saja.Yang afdal adalah menjadikan Salat Witir sebagai salatnya yang terakhir di malam hari,berdasarkan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Jadikan Salat Witir sebagai akhir salat kalian di malam hari.” (Muttafaqun ‘Alaihi) ===== بَقِيَ مِنْ أَسْئِلَةِ الْأُخْتِ فَاطِمَةَ تَقُولُ هَلْ يَجُوزُ أَنْ أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ وَهِيَ الْمَرْأَةُ وَتُصَلِّي فِي بَيْتِهَا أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَآخِرَ اللَّيْلِ؟ نَعَمْ لَا بَأْسَ بِهَذَا الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ بَلْ وَرَدَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَيُصَلِّي مِنْ آخِرِهِ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ يُمْكِنُ لِلْأُخْتِ الْكَرِيمَةِ أَنْ تُصَلِّيَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ مَا كَتَبَ اللهُ لَهَا أَنْ تُصَلِّيَ ثُمَّ تُصَلِّي مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَيْضًا ثُمَّ تُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَلَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ إِنَّمَا يَكُونُ الْوِتْرُ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالْأَفْضَلُ أَنْ تَجْعَلَ الْوِتْرَ آخِرَ صَلَاتِهَا بِاللَّيْلِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا [مُتَّفَقٌ عَلَيهِ]


Tersisa pertanyaan dari saudari Fatimah.Dia berkata, “Apakah boleh aku mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya—dia adalah wanita dan salat di rumahnya—mengerjakan Salat Tarawih dengan membagi-bagi waktunya di awal malam dan akhir malam?” Ya, hal tersebut tidak mengapa.Ini adalah perkara yang fleksibel.Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Salat malam itu dua rakaat dua rakaat.Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh,hendaknya Salat Witir satu rakaat.” (HR. Abu Dawud) Bahkan diriwayatkan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri terkadangmelaksanakan salat di awal malamdan salat lagi di akhir malam.Jadi, ini perkara yang fleksibel. Saudari yang budiman bisa salat di awal malam,semampunya sebagaimana yang Allah Tetapkan baginya,lalu salat lagi di akhir malam,kemudian witir satu rakaat. Tidak ada dua witir dalam semalam,karena witir hanya dilakukan sekali saja.Yang afdal adalah menjadikan Salat Witir sebagai salatnya yang terakhir di malam hari,berdasarkan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Jadikan Salat Witir sebagai akhir salat kalian di malam hari.” (Muttafaqun ‘Alaihi) ===== بَقِيَ مِنْ أَسْئِلَةِ الْأُخْتِ فَاطِمَةَ تَقُولُ هَلْ يَجُوزُ أَنْ أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ وَهِيَ الْمَرْأَةُ وَتُصَلِّي فِي بَيْتِهَا أُجَزِّئَ التَّرَاوِيحَ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَآخِرَ اللَّيْلِ؟ نَعَمْ لَا بَأْسَ بِهَذَا الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ بَلْ وَرَدَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَيُصَلِّي مِنْ آخِرِهِ فَالْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ يُمْكِنُ لِلْأُخْتِ الْكَرِيمَةِ أَنْ تُصَلِّيَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ مَا كَتَبَ اللهُ لَهَا أَنْ تُصَلِّيَ ثُمَّ تُصَلِّي مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَيْضًا ثُمَّ تُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَلَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ إِنَّمَا يَكُونُ الْوِتْرُ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالْأَفْضَلُ أَنْ تَجْعَلَ الْوِتْرَ آخِرَ صَلَاتِهَا بِاللَّيْلِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا [مُتَّفَقٌ عَلَيهِ]
Prev     Next