Inilah Keutamaan Luar Biasa Penghafal Al-Qur’an di Surga

Hadits berikut ini menunjukkan keutamaan luar biasa penghafal Al-Qur’an. Namun, baiknya tidak hanya menjadi penghafal, tetapi menjadi orang yang memahami dan rajin mentadaburinya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an   Hadits #1001 Derajat di Surga Tergantung pada Hafalan Al-Qur’an وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ : اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ في الدُّنْيَا ، فَإنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آية تَقْرَؤُهَا )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah (membaca dengan perlahan) sebagaimana engkau menartilkannya di dunia, karena kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 1464 dan Tirmidzi, no. 2914. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini sahih].   Faedah hadits Shahibul Qur’an yang dimaksud adalah yang membawa, menjaga, dan senantiasa membacanya, terus mengamalkannya, hingga memperhatikan adabnya terhadap Al-Qur’an. WARTAQI maksudnya adalah naiklah pada derajat di surga sesuai dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang dihafalkan. Hadits ini menjadi motivasi untuk menghafalkan dan mentadaburi Al-Qur’an. Kedudukan seorang mukmin di surga tergantung pada amal dan kerja kerasnya di dunia. Tilawah Al-Qur’an dan mentadaburinya menyebabkan ketenangan di dunia dan meraih kelezatan di akhirat.   Hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan: Dorongan untuk membaca dan banyak tilawah, serta tadabur, merenungkan, hingga mengamalkannya. Dorongan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Hendaklah menghafalkan Al-Qur’an. Hendaklah beradab dengan Al-Qur’an. Bahasan tentang beradab pada Al-Qur’an bisa diperoleh dari kitab Al-Adzkar dan At-Tibyan karya Imam Nawawi rahimahullah.   Baca juga: Keutamaan Luar Biasa Shahibul Quran   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:209. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 396.   – Diselesaikan pada 24 Dzulhijjah 1444 H, 13 Juli 2023 di perjalanan Pondok DS Panggang – Jogja Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran keutamaan membaca quran keutamaan menghafal quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran

Inilah Keutamaan Luar Biasa Penghafal Al-Qur’an di Surga

Hadits berikut ini menunjukkan keutamaan luar biasa penghafal Al-Qur’an. Namun, baiknya tidak hanya menjadi penghafal, tetapi menjadi orang yang memahami dan rajin mentadaburinya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an   Hadits #1001 Derajat di Surga Tergantung pada Hafalan Al-Qur’an وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ : اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ في الدُّنْيَا ، فَإنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آية تَقْرَؤُهَا )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah (membaca dengan perlahan) sebagaimana engkau menartilkannya di dunia, karena kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 1464 dan Tirmidzi, no. 2914. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini sahih].   Faedah hadits Shahibul Qur’an yang dimaksud adalah yang membawa, menjaga, dan senantiasa membacanya, terus mengamalkannya, hingga memperhatikan adabnya terhadap Al-Qur’an. WARTAQI maksudnya adalah naiklah pada derajat di surga sesuai dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang dihafalkan. Hadits ini menjadi motivasi untuk menghafalkan dan mentadaburi Al-Qur’an. Kedudukan seorang mukmin di surga tergantung pada amal dan kerja kerasnya di dunia. Tilawah Al-Qur’an dan mentadaburinya menyebabkan ketenangan di dunia dan meraih kelezatan di akhirat.   Hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan: Dorongan untuk membaca dan banyak tilawah, serta tadabur, merenungkan, hingga mengamalkannya. Dorongan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Hendaklah menghafalkan Al-Qur’an. Hendaklah beradab dengan Al-Qur’an. Bahasan tentang beradab pada Al-Qur’an bisa diperoleh dari kitab Al-Adzkar dan At-Tibyan karya Imam Nawawi rahimahullah.   Baca juga: Keutamaan Luar Biasa Shahibul Quran   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:209. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 396.   – Diselesaikan pada 24 Dzulhijjah 1444 H, 13 Juli 2023 di perjalanan Pondok DS Panggang – Jogja Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran keutamaan membaca quran keutamaan menghafal quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran
Hadits berikut ini menunjukkan keutamaan luar biasa penghafal Al-Qur’an. Namun, baiknya tidak hanya menjadi penghafal, tetapi menjadi orang yang memahami dan rajin mentadaburinya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an   Hadits #1001 Derajat di Surga Tergantung pada Hafalan Al-Qur’an وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ : اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ في الدُّنْيَا ، فَإنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آية تَقْرَؤُهَا )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah (membaca dengan perlahan) sebagaimana engkau menartilkannya di dunia, karena kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 1464 dan Tirmidzi, no. 2914. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini sahih].   Faedah hadits Shahibul Qur’an yang dimaksud adalah yang membawa, menjaga, dan senantiasa membacanya, terus mengamalkannya, hingga memperhatikan adabnya terhadap Al-Qur’an. WARTAQI maksudnya adalah naiklah pada derajat di surga sesuai dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang dihafalkan. Hadits ini menjadi motivasi untuk menghafalkan dan mentadaburi Al-Qur’an. Kedudukan seorang mukmin di surga tergantung pada amal dan kerja kerasnya di dunia. Tilawah Al-Qur’an dan mentadaburinya menyebabkan ketenangan di dunia dan meraih kelezatan di akhirat.   Hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan: Dorongan untuk membaca dan banyak tilawah, serta tadabur, merenungkan, hingga mengamalkannya. Dorongan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Hendaklah menghafalkan Al-Qur’an. Hendaklah beradab dengan Al-Qur’an. Bahasan tentang beradab pada Al-Qur’an bisa diperoleh dari kitab Al-Adzkar dan At-Tibyan karya Imam Nawawi rahimahullah.   Baca juga: Keutamaan Luar Biasa Shahibul Quran   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:209. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 396.   – Diselesaikan pada 24 Dzulhijjah 1444 H, 13 Juli 2023 di perjalanan Pondok DS Panggang – Jogja Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran keutamaan membaca quran keutamaan menghafal quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran


Hadits berikut ini menunjukkan keutamaan luar biasa penghafal Al-Qur’an. Namun, baiknya tidak hanya menjadi penghafal, tetapi menjadi orang yang memahami dan rajin mentadaburinya.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an   Hadits #1001 Derajat di Surga Tergantung pada Hafalan Al-Qur’an وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ : اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ في الدُّنْيَا ، فَإنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آية تَقْرَؤُهَا )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah (membaca dengan perlahan) sebagaimana engkau menartilkannya di dunia, karena kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 1464 dan Tirmidzi, no. 2914. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini sahih].   Faedah hadits Shahibul Qur’an yang dimaksud adalah yang membawa, menjaga, dan senantiasa membacanya, terus mengamalkannya, hingga memperhatikan adabnya terhadap Al-Qur’an. WARTAQI maksudnya adalah naiklah pada derajat di surga sesuai dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang dihafalkan. Hadits ini menjadi motivasi untuk menghafalkan dan mentadaburi Al-Qur’an. Kedudukan seorang mukmin di surga tergantung pada amal dan kerja kerasnya di dunia. Tilawah Al-Qur’an dan mentadaburinya menyebabkan ketenangan di dunia dan meraih kelezatan di akhirat.   Hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan: Dorongan untuk membaca dan banyak tilawah, serta tadabur, merenungkan, hingga mengamalkannya. Dorongan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Hendaklah menghafalkan Al-Qur’an. Hendaklah beradab dengan Al-Qur’an. Bahasan tentang beradab pada Al-Qur’an bisa diperoleh dari kitab Al-Adzkar dan At-Tibyan karya Imam Nawawi rahimahullah.   Baca juga: Keutamaan Luar Biasa Shahibul Quran   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:209. Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 396.   – Diselesaikan pada 24 Dzulhijjah 1444 H, 13 Juli 2023 di perjalanan Pondok DS Panggang – Jogja Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al quran belajar al quran hafalan quran keutamaan membaca quran keutamaan menghafal quran membaca Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran

Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita

Daftar Isi ToggleBudak dinar dan dirhamKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaDi antara bentuk kelalaian yang terkadang tidak kita disadari adalah ketika dunia telah menyita akal dan pikiran seorang manusia. Kita dapati akal dan pikiran kita, bahkan sejak bangun hingga tidur kembali, seluruhnya untuk memikirkan dunia. Kita selalu berpikir, seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan pada hari ini? Seberapa besar kerugian yang mungkin akan dialami pada hari ini?Seseorang yang seluruh pikirannya untuk dunia, mereka akan berusaha mendapatkan dunia dengan tidak mempedulikan apakah harta yang dia dapatkan itu melalui jalan yang halal atau haram. Dia tidak peduli sama sekali, apakah perniagaan yang dia lakukan itu disertai dengan dusta ataupun dengan menipu. Jika dia menjadi pegawai, maka dia korupsi untuk mendapatkan uang yang seharusnya tidak berhak dia dapatkan.Budak dinar dan dirhamDalil yang menunjukkan tercelanya kecintaan terhadap dunia adalah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (kain yang memiliki beludru, pent.), dan budak khamishah (baju yang terbuat dari sutera atau wool, pent.). Jika diberi, maka dia rida. Dan jika tidak diberi, maka dia marah.” (HR. Bukhari no. 2886)Apakah kita mengira budak dinar dan dirham merupakan seseorang yang menyembah dinar dan dirham? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah orang yang hatinya telah dikuasai oleh dinar dan dirham. Sedangkan pada zaman sekarang, “budak qathifah” dan ”budak khamishah” adalah budak mode. Dia selalu memaksakan diri untuk memiliki mode baju yang sedang digandrungi (”nge-trend”) oleh masyarakat pada umumnya.Mereka tidaklah memikirkan kecuali mempercantik diri. Menurut mereka, hal-hal tersebut lebih penting dari salat. Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam untuk budak dunia semacam itu,إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Jika diberi nikmat, maka dia rida. Jika tidak diberi nikmat, maka dia akan marah.”Jika Allah Ta’ala memberikan nikmat kepadanya, maka dia mengatakan bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb yang Maha Pemurah, Mahaagung, dan Mahamulia yang berhak mendapatkan pujian. Akan tetapi, jika Allah Ta’ala menyempitkan rezekinya, maka dia marah kepada Allah Ta’ala. Sama saja halnya jika dia mendapatkan nikmat tersebut melalui perantaraan manusia, dia pun akan menyanjung-nyanjungnya.Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan sabdanya tentang pemuja dunia yang jika diberi, dia senang dan jika tidak diberi, maka dia marah,تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ”Celakalah dan semoga jatuh tersungkur (kepalanya dulu). Jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut.” (HR. Bukhari no. 2886)Artinya, Allah Ta’ala akan mempersulit semua urusannya, sampai-sampai dia tidak mampu mencabut sebuah duri yang menusuk kakinya.Kemudian, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menceritakan kebalikan orang ini,طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ”Berbahagialah seorang hamba yang mengambil tali kendali kudanya untuk berjihad di jalan Allah. Rambutnya kusut dan kedua telapak kakinya berdebu. Jika dia ditugaskan di tempat penjagaan, maka dia tetap berjaga di situ. Dan jika dia ditugaskan di posisi pasukan paling belakang, maka dia tetap berada di posisi paling belakang. Dan jika dia minta izin, maka dia tidak diizinkan. Dan jika dia sebagai perantara, maka dia tidak diterima sebagai perantara.” (HR. Bukhari no. 2886)Maksud dari hamba yang beruntung karena memegang tali kekang kudanya di jalan Allah adalah dia mempunyai kehidupan yang menyenangkan, baik di dunia dan di akhirat. Hamba yang beruntung ini rambutnya acak-acakan (kusut) dan telapak kakinya berdebu, sangat kontras dengan keadaan budak dunia dan budak mode pakaian.  Dia tidak peduli dengan keadaan dirinya karena yang paling dipikirkannya adalah beribadah dan mendapatkan rida Allah Ta’ala.Jika merasa kesulitan, maka dia tetap tegar berada di atas jalan yang sulit tersebut. Dia tidak peduli di tempat mana dia diposisikan, selama diposisikan pada tempat yang dia bisa berjihad di dalamnya, maka dia akan tetap berada di posisi tersebut. Tempat mana pun yang ditugaskan oleh panglima perang, dia menaatinya dengan tetap tegar dan komitmen berada di tempat tersebut, apapun yang akan terjadi. Inilah orang yang beruntung dunia dan akhirat.Baca juga: Sumber Kebahagiaan DuniawiKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaJika orang yang memperbudak dirinya dengan dunia tersebut mendapatkan musibah, maka musibah tersebut bisa menjadikannya murtad, keluar dari agama Islam. Hal ini karena rasa cintanya kepada dunia yang sangat besar. Sehingga dia pun rela keluar dari Islam untuk mendapatkan dunia yang sangat dicintainya.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Al Hajj: 11)Penyakit cinta dunia yang terkena pada seorang muslim merupakan sarana yang dapat menghantarkan kepada kekufuran. Maka Allah Ta’ala mengatakan ada yang ber-Islam di pinggiran. Keislamannya mantap jika dia diberi nikmat dunia. Akan tetapi, jika mendapat bencana, dia pun menjadi murtad. Inilah keadaan oarng-orang yang keislamannya berada di pinggiran jurang.Saudaraku, lihatlah. Jika  dunia telah memenuhi hati kita dan kita tidak mempunyai pikiran lain, kecuali memikirkan dunia, maka ketahuilah bahwa di hati kita terdapat kotoran. Bukti bahwa seseorang telah diperbudak oleh dunia adalah dia mempunyai semangat untuk mendapatkan dunia dan tidak mempedulikan apakah dunia tersebut diperoleh dengan jalan yang halal maupun dengan jalan yang haram. Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah Ta’ala, dia tidak mungkin mencari harta dengan cara yang haram. Karena harta yang didapatkan dengan jalan yang haram, akan dimurkai Allah. Sedangkan harta yang dicari dengan jalan yang halal, akan mendapat rida Allah.Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijjah 1444/ 30 Juni 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari penjelasan Ustaz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika membaca kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah (dosa pertama).Tags: budak duniacinta duniafitnah dunia

Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita

Daftar Isi ToggleBudak dinar dan dirhamKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaDi antara bentuk kelalaian yang terkadang tidak kita disadari adalah ketika dunia telah menyita akal dan pikiran seorang manusia. Kita dapati akal dan pikiran kita, bahkan sejak bangun hingga tidur kembali, seluruhnya untuk memikirkan dunia. Kita selalu berpikir, seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan pada hari ini? Seberapa besar kerugian yang mungkin akan dialami pada hari ini?Seseorang yang seluruh pikirannya untuk dunia, mereka akan berusaha mendapatkan dunia dengan tidak mempedulikan apakah harta yang dia dapatkan itu melalui jalan yang halal atau haram. Dia tidak peduli sama sekali, apakah perniagaan yang dia lakukan itu disertai dengan dusta ataupun dengan menipu. Jika dia menjadi pegawai, maka dia korupsi untuk mendapatkan uang yang seharusnya tidak berhak dia dapatkan.Budak dinar dan dirhamDalil yang menunjukkan tercelanya kecintaan terhadap dunia adalah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (kain yang memiliki beludru, pent.), dan budak khamishah (baju yang terbuat dari sutera atau wool, pent.). Jika diberi, maka dia rida. Dan jika tidak diberi, maka dia marah.” (HR. Bukhari no. 2886)Apakah kita mengira budak dinar dan dirham merupakan seseorang yang menyembah dinar dan dirham? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah orang yang hatinya telah dikuasai oleh dinar dan dirham. Sedangkan pada zaman sekarang, “budak qathifah” dan ”budak khamishah” adalah budak mode. Dia selalu memaksakan diri untuk memiliki mode baju yang sedang digandrungi (”nge-trend”) oleh masyarakat pada umumnya.Mereka tidaklah memikirkan kecuali mempercantik diri. Menurut mereka, hal-hal tersebut lebih penting dari salat. Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam untuk budak dunia semacam itu,إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Jika diberi nikmat, maka dia rida. Jika tidak diberi nikmat, maka dia akan marah.”Jika Allah Ta’ala memberikan nikmat kepadanya, maka dia mengatakan bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb yang Maha Pemurah, Mahaagung, dan Mahamulia yang berhak mendapatkan pujian. Akan tetapi, jika Allah Ta’ala menyempitkan rezekinya, maka dia marah kepada Allah Ta’ala. Sama saja halnya jika dia mendapatkan nikmat tersebut melalui perantaraan manusia, dia pun akan menyanjung-nyanjungnya.Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan sabdanya tentang pemuja dunia yang jika diberi, dia senang dan jika tidak diberi, maka dia marah,تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ”Celakalah dan semoga jatuh tersungkur (kepalanya dulu). Jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut.” (HR. Bukhari no. 2886)Artinya, Allah Ta’ala akan mempersulit semua urusannya, sampai-sampai dia tidak mampu mencabut sebuah duri yang menusuk kakinya.Kemudian, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menceritakan kebalikan orang ini,طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ”Berbahagialah seorang hamba yang mengambil tali kendali kudanya untuk berjihad di jalan Allah. Rambutnya kusut dan kedua telapak kakinya berdebu. Jika dia ditugaskan di tempat penjagaan, maka dia tetap berjaga di situ. Dan jika dia ditugaskan di posisi pasukan paling belakang, maka dia tetap berada di posisi paling belakang. Dan jika dia minta izin, maka dia tidak diizinkan. Dan jika dia sebagai perantara, maka dia tidak diterima sebagai perantara.” (HR. Bukhari no. 2886)Maksud dari hamba yang beruntung karena memegang tali kekang kudanya di jalan Allah adalah dia mempunyai kehidupan yang menyenangkan, baik di dunia dan di akhirat. Hamba yang beruntung ini rambutnya acak-acakan (kusut) dan telapak kakinya berdebu, sangat kontras dengan keadaan budak dunia dan budak mode pakaian.  Dia tidak peduli dengan keadaan dirinya karena yang paling dipikirkannya adalah beribadah dan mendapatkan rida Allah Ta’ala.Jika merasa kesulitan, maka dia tetap tegar berada di atas jalan yang sulit tersebut. Dia tidak peduli di tempat mana dia diposisikan, selama diposisikan pada tempat yang dia bisa berjihad di dalamnya, maka dia akan tetap berada di posisi tersebut. Tempat mana pun yang ditugaskan oleh panglima perang, dia menaatinya dengan tetap tegar dan komitmen berada di tempat tersebut, apapun yang akan terjadi. Inilah orang yang beruntung dunia dan akhirat.Baca juga: Sumber Kebahagiaan DuniawiKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaJika orang yang memperbudak dirinya dengan dunia tersebut mendapatkan musibah, maka musibah tersebut bisa menjadikannya murtad, keluar dari agama Islam. Hal ini karena rasa cintanya kepada dunia yang sangat besar. Sehingga dia pun rela keluar dari Islam untuk mendapatkan dunia yang sangat dicintainya.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Al Hajj: 11)Penyakit cinta dunia yang terkena pada seorang muslim merupakan sarana yang dapat menghantarkan kepada kekufuran. Maka Allah Ta’ala mengatakan ada yang ber-Islam di pinggiran. Keislamannya mantap jika dia diberi nikmat dunia. Akan tetapi, jika mendapat bencana, dia pun menjadi murtad. Inilah keadaan oarng-orang yang keislamannya berada di pinggiran jurang.Saudaraku, lihatlah. Jika  dunia telah memenuhi hati kita dan kita tidak mempunyai pikiran lain, kecuali memikirkan dunia, maka ketahuilah bahwa di hati kita terdapat kotoran. Bukti bahwa seseorang telah diperbudak oleh dunia adalah dia mempunyai semangat untuk mendapatkan dunia dan tidak mempedulikan apakah dunia tersebut diperoleh dengan jalan yang halal maupun dengan jalan yang haram. Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah Ta’ala, dia tidak mungkin mencari harta dengan cara yang haram. Karena harta yang didapatkan dengan jalan yang haram, akan dimurkai Allah. Sedangkan harta yang dicari dengan jalan yang halal, akan mendapat rida Allah.Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijjah 1444/ 30 Juni 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari penjelasan Ustaz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika membaca kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah (dosa pertama).Tags: budak duniacinta duniafitnah dunia
Daftar Isi ToggleBudak dinar dan dirhamKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaDi antara bentuk kelalaian yang terkadang tidak kita disadari adalah ketika dunia telah menyita akal dan pikiran seorang manusia. Kita dapati akal dan pikiran kita, bahkan sejak bangun hingga tidur kembali, seluruhnya untuk memikirkan dunia. Kita selalu berpikir, seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan pada hari ini? Seberapa besar kerugian yang mungkin akan dialami pada hari ini?Seseorang yang seluruh pikirannya untuk dunia, mereka akan berusaha mendapatkan dunia dengan tidak mempedulikan apakah harta yang dia dapatkan itu melalui jalan yang halal atau haram. Dia tidak peduli sama sekali, apakah perniagaan yang dia lakukan itu disertai dengan dusta ataupun dengan menipu. Jika dia menjadi pegawai, maka dia korupsi untuk mendapatkan uang yang seharusnya tidak berhak dia dapatkan.Budak dinar dan dirhamDalil yang menunjukkan tercelanya kecintaan terhadap dunia adalah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (kain yang memiliki beludru, pent.), dan budak khamishah (baju yang terbuat dari sutera atau wool, pent.). Jika diberi, maka dia rida. Dan jika tidak diberi, maka dia marah.” (HR. Bukhari no. 2886)Apakah kita mengira budak dinar dan dirham merupakan seseorang yang menyembah dinar dan dirham? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah orang yang hatinya telah dikuasai oleh dinar dan dirham. Sedangkan pada zaman sekarang, “budak qathifah” dan ”budak khamishah” adalah budak mode. Dia selalu memaksakan diri untuk memiliki mode baju yang sedang digandrungi (”nge-trend”) oleh masyarakat pada umumnya.Mereka tidaklah memikirkan kecuali mempercantik diri. Menurut mereka, hal-hal tersebut lebih penting dari salat. Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam untuk budak dunia semacam itu,إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Jika diberi nikmat, maka dia rida. Jika tidak diberi nikmat, maka dia akan marah.”Jika Allah Ta’ala memberikan nikmat kepadanya, maka dia mengatakan bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb yang Maha Pemurah, Mahaagung, dan Mahamulia yang berhak mendapatkan pujian. Akan tetapi, jika Allah Ta’ala menyempitkan rezekinya, maka dia marah kepada Allah Ta’ala. Sama saja halnya jika dia mendapatkan nikmat tersebut melalui perantaraan manusia, dia pun akan menyanjung-nyanjungnya.Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan sabdanya tentang pemuja dunia yang jika diberi, dia senang dan jika tidak diberi, maka dia marah,تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ”Celakalah dan semoga jatuh tersungkur (kepalanya dulu). Jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut.” (HR. Bukhari no. 2886)Artinya, Allah Ta’ala akan mempersulit semua urusannya, sampai-sampai dia tidak mampu mencabut sebuah duri yang menusuk kakinya.Kemudian, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menceritakan kebalikan orang ini,طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ”Berbahagialah seorang hamba yang mengambil tali kendali kudanya untuk berjihad di jalan Allah. Rambutnya kusut dan kedua telapak kakinya berdebu. Jika dia ditugaskan di tempat penjagaan, maka dia tetap berjaga di situ. Dan jika dia ditugaskan di posisi pasukan paling belakang, maka dia tetap berada di posisi paling belakang. Dan jika dia minta izin, maka dia tidak diizinkan. Dan jika dia sebagai perantara, maka dia tidak diterima sebagai perantara.” (HR. Bukhari no. 2886)Maksud dari hamba yang beruntung karena memegang tali kekang kudanya di jalan Allah adalah dia mempunyai kehidupan yang menyenangkan, baik di dunia dan di akhirat. Hamba yang beruntung ini rambutnya acak-acakan (kusut) dan telapak kakinya berdebu, sangat kontras dengan keadaan budak dunia dan budak mode pakaian.  Dia tidak peduli dengan keadaan dirinya karena yang paling dipikirkannya adalah beribadah dan mendapatkan rida Allah Ta’ala.Jika merasa kesulitan, maka dia tetap tegar berada di atas jalan yang sulit tersebut. Dia tidak peduli di tempat mana dia diposisikan, selama diposisikan pada tempat yang dia bisa berjihad di dalamnya, maka dia akan tetap berada di posisi tersebut. Tempat mana pun yang ditugaskan oleh panglima perang, dia menaatinya dengan tetap tegar dan komitmen berada di tempat tersebut, apapun yang akan terjadi. Inilah orang yang beruntung dunia dan akhirat.Baca juga: Sumber Kebahagiaan DuniawiKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaJika orang yang memperbudak dirinya dengan dunia tersebut mendapatkan musibah, maka musibah tersebut bisa menjadikannya murtad, keluar dari agama Islam. Hal ini karena rasa cintanya kepada dunia yang sangat besar. Sehingga dia pun rela keluar dari Islam untuk mendapatkan dunia yang sangat dicintainya.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Al Hajj: 11)Penyakit cinta dunia yang terkena pada seorang muslim merupakan sarana yang dapat menghantarkan kepada kekufuran. Maka Allah Ta’ala mengatakan ada yang ber-Islam di pinggiran. Keislamannya mantap jika dia diberi nikmat dunia. Akan tetapi, jika mendapat bencana, dia pun menjadi murtad. Inilah keadaan oarng-orang yang keislamannya berada di pinggiran jurang.Saudaraku, lihatlah. Jika  dunia telah memenuhi hati kita dan kita tidak mempunyai pikiran lain, kecuali memikirkan dunia, maka ketahuilah bahwa di hati kita terdapat kotoran. Bukti bahwa seseorang telah diperbudak oleh dunia adalah dia mempunyai semangat untuk mendapatkan dunia dan tidak mempedulikan apakah dunia tersebut diperoleh dengan jalan yang halal maupun dengan jalan yang haram. Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah Ta’ala, dia tidak mungkin mencari harta dengan cara yang haram. Karena harta yang didapatkan dengan jalan yang haram, akan dimurkai Allah. Sedangkan harta yang dicari dengan jalan yang halal, akan mendapat rida Allah.Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijjah 1444/ 30 Juni 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari penjelasan Ustaz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika membaca kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah (dosa pertama).Tags: budak duniacinta duniafitnah dunia


Daftar Isi ToggleBudak dinar dan dirhamKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaDi antara bentuk kelalaian yang terkadang tidak kita disadari adalah ketika dunia telah menyita akal dan pikiran seorang manusia. Kita dapati akal dan pikiran kita, bahkan sejak bangun hingga tidur kembali, seluruhnya untuk memikirkan dunia. Kita selalu berpikir, seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan pada hari ini? Seberapa besar kerugian yang mungkin akan dialami pada hari ini?Seseorang yang seluruh pikirannya untuk dunia, mereka akan berusaha mendapatkan dunia dengan tidak mempedulikan apakah harta yang dia dapatkan itu melalui jalan yang halal atau haram. Dia tidak peduli sama sekali, apakah perniagaan yang dia lakukan itu disertai dengan dusta ataupun dengan menipu. Jika dia menjadi pegawai, maka dia korupsi untuk mendapatkan uang yang seharusnya tidak berhak dia dapatkan.Budak dinar dan dirhamDalil yang menunjukkan tercelanya kecintaan terhadap dunia adalah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (kain yang memiliki beludru, pent.), dan budak khamishah (baju yang terbuat dari sutera atau wool, pent.). Jika diberi, maka dia rida. Dan jika tidak diberi, maka dia marah.” (HR. Bukhari no. 2886)Apakah kita mengira budak dinar dan dirham merupakan seseorang yang menyembah dinar dan dirham? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah orang yang hatinya telah dikuasai oleh dinar dan dirham. Sedangkan pada zaman sekarang, “budak qathifah” dan ”budak khamishah” adalah budak mode. Dia selalu memaksakan diri untuk memiliki mode baju yang sedang digandrungi (”nge-trend”) oleh masyarakat pada umumnya.Mereka tidaklah memikirkan kecuali mempercantik diri. Menurut mereka, hal-hal tersebut lebih penting dari salat. Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam untuk budak dunia semacam itu,إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ”Jika diberi nikmat, maka dia rida. Jika tidak diberi nikmat, maka dia akan marah.”Jika Allah Ta’ala memberikan nikmat kepadanya, maka dia mengatakan bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb yang Maha Pemurah, Mahaagung, dan Mahamulia yang berhak mendapatkan pujian. Akan tetapi, jika Allah Ta’ala menyempitkan rezekinya, maka dia marah kepada Allah Ta’ala. Sama saja halnya jika dia mendapatkan nikmat tersebut melalui perantaraan manusia, dia pun akan menyanjung-nyanjungnya.Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan sabdanya tentang pemuja dunia yang jika diberi, dia senang dan jika tidak diberi, maka dia marah,تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ”Celakalah dan semoga jatuh tersungkur (kepalanya dulu). Jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut.” (HR. Bukhari no. 2886)Artinya, Allah Ta’ala akan mempersulit semua urusannya, sampai-sampai dia tidak mampu mencabut sebuah duri yang menusuk kakinya.Kemudian, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menceritakan kebalikan orang ini,طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ”Berbahagialah seorang hamba yang mengambil tali kendali kudanya untuk berjihad di jalan Allah. Rambutnya kusut dan kedua telapak kakinya berdebu. Jika dia ditugaskan di tempat penjagaan, maka dia tetap berjaga di situ. Dan jika dia ditugaskan di posisi pasukan paling belakang, maka dia tetap berada di posisi paling belakang. Dan jika dia minta izin, maka dia tidak diizinkan. Dan jika dia sebagai perantara, maka dia tidak diterima sebagai perantara.” (HR. Bukhari no. 2886)Maksud dari hamba yang beruntung karena memegang tali kekang kudanya di jalan Allah adalah dia mempunyai kehidupan yang menyenangkan, baik di dunia dan di akhirat. Hamba yang beruntung ini rambutnya acak-acakan (kusut) dan telapak kakinya berdebu, sangat kontras dengan keadaan budak dunia dan budak mode pakaian.  Dia tidak peduli dengan keadaan dirinya karena yang paling dipikirkannya adalah beribadah dan mendapatkan rida Allah Ta’ala.Jika merasa kesulitan, maka dia tetap tegar berada di atas jalan yang sulit tersebut. Dia tidak peduli di tempat mana dia diposisikan, selama diposisikan pada tempat yang dia bisa berjihad di dalamnya, maka dia akan tetap berada di posisi tersebut. Tempat mana pun yang ditugaskan oleh panglima perang, dia menaatinya dengan tetap tegar dan komitmen berada di tempat tersebut, apapun yang akan terjadi. Inilah orang yang beruntung dunia dan akhirat.Baca juga: Sumber Kebahagiaan DuniawiKetika budak dunia mendapatkan musibah dan bencanaJika orang yang memperbudak dirinya dengan dunia tersebut mendapatkan musibah, maka musibah tersebut bisa menjadikannya murtad, keluar dari agama Islam. Hal ini karena rasa cintanya kepada dunia yang sangat besar. Sehingga dia pun rela keluar dari Islam untuk mendapatkan dunia yang sangat dicintainya.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Al Hajj: 11)Penyakit cinta dunia yang terkena pada seorang muslim merupakan sarana yang dapat menghantarkan kepada kekufuran. Maka Allah Ta’ala mengatakan ada yang ber-Islam di pinggiran. Keislamannya mantap jika dia diberi nikmat dunia. Akan tetapi, jika mendapat bencana, dia pun menjadi murtad. Inilah keadaan oarng-orang yang keislamannya berada di pinggiran jurang.Saudaraku, lihatlah. Jika  dunia telah memenuhi hati kita dan kita tidak mempunyai pikiran lain, kecuali memikirkan dunia, maka ketahuilah bahwa di hati kita terdapat kotoran. Bukti bahwa seseorang telah diperbudak oleh dunia adalah dia mempunyai semangat untuk mendapatkan dunia dan tidak mempedulikan apakah dunia tersebut diperoleh dengan jalan yang halal maupun dengan jalan yang haram. Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah Ta’ala, dia tidak mungkin mencari harta dengan cara yang haram. Karena harta yang didapatkan dengan jalan yang haram, akan dimurkai Allah. Sedangkan harta yang dicari dengan jalan yang halal, akan mendapat rida Allah.Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijjah 1444/ 30 Juni 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari penjelasan Ustaz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika membaca kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah (dosa pertama).Tags: budak duniacinta duniafitnah dunia

Janganlah Putus Asa!

Pertanyaan: Mohon pencerahan. Saya sedang menghadapi masalah besar dan saya merasa tidak ada solusi dan tidak punya harapan lagi. Saya merasa putus asa. Bagaimana nasehat ustadz? Jawaban: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, Seorang Mukmin tidak boleh berputus asa. Putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu hukumnya haram, termasuk dosa besar dan kufur asghar. Allah ta’ala berfirman: يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ  “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87). Allah ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53). Dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu ia berkata: أن رجلًا قال يا رسولَ اللهِ ما الكبائرُ قال الشركُ باللهِ واليأسُ من رَوحِ اللهِ والقنوطُ من رحمةِ اللهِ “Ada seorang lelaki berkata: wahai Rasulullah apa saja dosa besar itu? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: syirik, berputus asa dari pertolongan Allah dan putus asa dari rahmat Allah” (HR. Al-Bazzar [18] dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2051). Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Karena Allah ta’ala tidak mungkin memberikan beban melebihi kemampuan manusia. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Kembalilah kepada Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Karena segala musibah dan cobaan itu dari Allah dan hanya Allah lah yang bisa menghilangkannya. Allah ta’ala berfirman: وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ “Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al-An’am: 17). Allah ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53) Mintalah pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur, sebagaimana setiap hari kita membaca ayat: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami (ber-isti’anah) memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) Allah ta’ala akan menolong orang-orang yang meminta pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur. Allah ta’ala berfirman: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ “(Ingatlah), ketika kamu beristightsah (memohon pertolongan) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9) Bukti bahwa Anda meminta tolong kepada Allah dengan tulus dan jujur adalah Anda menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala bentuk maksiat. Jika itu dilakukan, Allah pasti akan berikan jalan keluar. Allah ta’ala berfirman: ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Ketika jalan keluar belum kunjung datang, itu bukti bahwa ketakwaan Anda masih ada yang kurang. Ibnu Abi Izz Al Hanafi rahimahullah:  فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه “Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.  Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya” (Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334). Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah niscaya pertolongan akan datang! Putus Asa yang Dibolehkan Sebagaimana telah dijelaskan, putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu tidak diperbolehkan. Namun ada putus asa yang dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu putus asa terhadap makhluk. Sebagaimana hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu’anhu, ia berkata: أنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: عِظْنِي وَأَوْجِزْ، وفي رواية عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ، فَقَالَ ـ عليه الصَّلاة والسَّلام ـ: «إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ» “Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah beri aku nasehat yang singkat! Dalam riwayat lain: Wahai Rasulullah beri aku ilmu yang singkat! Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Jika engkau shalat maka shalatlah sebagaimana engkau akan berpisah (dengan dunia), jangan engkau berkata suatu perkataan yang membuat engkau harus minta udzur esok hari, dan berputus asalah terhadap apa yang ada di tangan orang lain” (HR. Ibnu Majah no.4171, Ahmad no.23498, dihasankan oleh Al-Bushiri dalam Ittihaful Khirah [7/398], didhaifkan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad). Maksudnya, jangan terlalu berharap kepada makhluk dan jangan gantungkan hati kepada makhluk. Namun berharaplah dan gantungkanlah hati hanya kepada Allah semata. Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu mengatakan: إنَّ الطمع فقر، وإن اليأْس غنى، وإن الإنسان إذا أيس من الشيء استغنى عنه “Ketamakan adalah kefakiran. Putus asa terhadap apa yang ada di tangan orang lain adalah kekayaan. Karena ketika seseorang merasa terlalu berharap kepada sesuatu, Allah akan cukupi ia terhadap sesuatu tersebut” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd [1/223], Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi [44/357]). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Puasa Tarwiyah, Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Resepsi Pernikahan Dalam Islam, Materi Ceramah Kultum, Doa Meluluhkan Hati Orang Tua, Waktu Mandi Yang Baik Menurut Agama Islam Visited 489 times, 1 visit(s) today Post Views: 507 QRIS donasi Yufid

Janganlah Putus Asa!

Pertanyaan: Mohon pencerahan. Saya sedang menghadapi masalah besar dan saya merasa tidak ada solusi dan tidak punya harapan lagi. Saya merasa putus asa. Bagaimana nasehat ustadz? Jawaban: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, Seorang Mukmin tidak boleh berputus asa. Putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu hukumnya haram, termasuk dosa besar dan kufur asghar. Allah ta’ala berfirman: يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ  “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87). Allah ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53). Dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu ia berkata: أن رجلًا قال يا رسولَ اللهِ ما الكبائرُ قال الشركُ باللهِ واليأسُ من رَوحِ اللهِ والقنوطُ من رحمةِ اللهِ “Ada seorang lelaki berkata: wahai Rasulullah apa saja dosa besar itu? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: syirik, berputus asa dari pertolongan Allah dan putus asa dari rahmat Allah” (HR. Al-Bazzar [18] dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2051). Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Karena Allah ta’ala tidak mungkin memberikan beban melebihi kemampuan manusia. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Kembalilah kepada Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Karena segala musibah dan cobaan itu dari Allah dan hanya Allah lah yang bisa menghilangkannya. Allah ta’ala berfirman: وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ “Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al-An’am: 17). Allah ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53) Mintalah pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur, sebagaimana setiap hari kita membaca ayat: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami (ber-isti’anah) memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) Allah ta’ala akan menolong orang-orang yang meminta pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur. Allah ta’ala berfirman: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ “(Ingatlah), ketika kamu beristightsah (memohon pertolongan) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9) Bukti bahwa Anda meminta tolong kepada Allah dengan tulus dan jujur adalah Anda menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala bentuk maksiat. Jika itu dilakukan, Allah pasti akan berikan jalan keluar. Allah ta’ala berfirman: ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Ketika jalan keluar belum kunjung datang, itu bukti bahwa ketakwaan Anda masih ada yang kurang. Ibnu Abi Izz Al Hanafi rahimahullah:  فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه “Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.  Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya” (Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334). Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah niscaya pertolongan akan datang! Putus Asa yang Dibolehkan Sebagaimana telah dijelaskan, putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu tidak diperbolehkan. Namun ada putus asa yang dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu putus asa terhadap makhluk. Sebagaimana hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu’anhu, ia berkata: أنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: عِظْنِي وَأَوْجِزْ، وفي رواية عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ، فَقَالَ ـ عليه الصَّلاة والسَّلام ـ: «إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ» “Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah beri aku nasehat yang singkat! Dalam riwayat lain: Wahai Rasulullah beri aku ilmu yang singkat! Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Jika engkau shalat maka shalatlah sebagaimana engkau akan berpisah (dengan dunia), jangan engkau berkata suatu perkataan yang membuat engkau harus minta udzur esok hari, dan berputus asalah terhadap apa yang ada di tangan orang lain” (HR. Ibnu Majah no.4171, Ahmad no.23498, dihasankan oleh Al-Bushiri dalam Ittihaful Khirah [7/398], didhaifkan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad). Maksudnya, jangan terlalu berharap kepada makhluk dan jangan gantungkan hati kepada makhluk. Namun berharaplah dan gantungkanlah hati hanya kepada Allah semata. Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu mengatakan: إنَّ الطمع فقر، وإن اليأْس غنى، وإن الإنسان إذا أيس من الشيء استغنى عنه “Ketamakan adalah kefakiran. Putus asa terhadap apa yang ada di tangan orang lain adalah kekayaan. Karena ketika seseorang merasa terlalu berharap kepada sesuatu, Allah akan cukupi ia terhadap sesuatu tersebut” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd [1/223], Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi [44/357]). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Puasa Tarwiyah, Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Resepsi Pernikahan Dalam Islam, Materi Ceramah Kultum, Doa Meluluhkan Hati Orang Tua, Waktu Mandi Yang Baik Menurut Agama Islam Visited 489 times, 1 visit(s) today Post Views: 507 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Mohon pencerahan. Saya sedang menghadapi masalah besar dan saya merasa tidak ada solusi dan tidak punya harapan lagi. Saya merasa putus asa. Bagaimana nasehat ustadz? Jawaban: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, Seorang Mukmin tidak boleh berputus asa. Putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu hukumnya haram, termasuk dosa besar dan kufur asghar. Allah ta’ala berfirman: يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ  “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87). Allah ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53). Dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu ia berkata: أن رجلًا قال يا رسولَ اللهِ ما الكبائرُ قال الشركُ باللهِ واليأسُ من رَوحِ اللهِ والقنوطُ من رحمةِ اللهِ “Ada seorang lelaki berkata: wahai Rasulullah apa saja dosa besar itu? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: syirik, berputus asa dari pertolongan Allah dan putus asa dari rahmat Allah” (HR. Al-Bazzar [18] dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2051). Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Karena Allah ta’ala tidak mungkin memberikan beban melebihi kemampuan manusia. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Kembalilah kepada Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Karena segala musibah dan cobaan itu dari Allah dan hanya Allah lah yang bisa menghilangkannya. Allah ta’ala berfirman: وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ “Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al-An’am: 17). Allah ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53) Mintalah pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur, sebagaimana setiap hari kita membaca ayat: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami (ber-isti’anah) memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) Allah ta’ala akan menolong orang-orang yang meminta pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur. Allah ta’ala berfirman: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ “(Ingatlah), ketika kamu beristightsah (memohon pertolongan) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9) Bukti bahwa Anda meminta tolong kepada Allah dengan tulus dan jujur adalah Anda menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala bentuk maksiat. Jika itu dilakukan, Allah pasti akan berikan jalan keluar. Allah ta’ala berfirman: ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Ketika jalan keluar belum kunjung datang, itu bukti bahwa ketakwaan Anda masih ada yang kurang. Ibnu Abi Izz Al Hanafi rahimahullah:  فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه “Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.  Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya” (Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334). Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah niscaya pertolongan akan datang! Putus Asa yang Dibolehkan Sebagaimana telah dijelaskan, putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu tidak diperbolehkan. Namun ada putus asa yang dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu putus asa terhadap makhluk. Sebagaimana hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu’anhu, ia berkata: أنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: عِظْنِي وَأَوْجِزْ، وفي رواية عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ، فَقَالَ ـ عليه الصَّلاة والسَّلام ـ: «إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ» “Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah beri aku nasehat yang singkat! Dalam riwayat lain: Wahai Rasulullah beri aku ilmu yang singkat! Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Jika engkau shalat maka shalatlah sebagaimana engkau akan berpisah (dengan dunia), jangan engkau berkata suatu perkataan yang membuat engkau harus minta udzur esok hari, dan berputus asalah terhadap apa yang ada di tangan orang lain” (HR. Ibnu Majah no.4171, Ahmad no.23498, dihasankan oleh Al-Bushiri dalam Ittihaful Khirah [7/398], didhaifkan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad). Maksudnya, jangan terlalu berharap kepada makhluk dan jangan gantungkan hati kepada makhluk. Namun berharaplah dan gantungkanlah hati hanya kepada Allah semata. Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu mengatakan: إنَّ الطمع فقر، وإن اليأْس غنى، وإن الإنسان إذا أيس من الشيء استغنى عنه “Ketamakan adalah kefakiran. Putus asa terhadap apa yang ada di tangan orang lain adalah kekayaan. Karena ketika seseorang merasa terlalu berharap kepada sesuatu, Allah akan cukupi ia terhadap sesuatu tersebut” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd [1/223], Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi [44/357]). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Puasa Tarwiyah, Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Resepsi Pernikahan Dalam Islam, Materi Ceramah Kultum, Doa Meluluhkan Hati Orang Tua, Waktu Mandi Yang Baik Menurut Agama Islam Visited 489 times, 1 visit(s) today Post Views: 507 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Mohon pencerahan. Saya sedang menghadapi masalah besar dan saya merasa tidak ada solusi dan tidak punya harapan lagi. Saya merasa putus asa. Bagaimana nasehat ustadz? Jawaban: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, Seorang Mukmin tidak boleh berputus asa. Putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu hukumnya haram, termasuk dosa besar dan kufur asghar. Allah ta’ala berfirman: يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ  “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87). Allah ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53). Dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu ia berkata: أن رجلًا قال يا رسولَ اللهِ ما الكبائرُ قال الشركُ باللهِ واليأسُ من رَوحِ اللهِ والقنوطُ من رحمةِ اللهِ “Ada seorang lelaki berkata: wahai Rasulullah apa saja dosa besar itu? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: syirik, berputus asa dari pertolongan Allah dan putus asa dari rahmat Allah” (HR. Al-Bazzar [18] dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2051). Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Karena Allah ta’ala tidak mungkin memberikan beban melebihi kemampuan manusia. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Kembalilah kepada Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Karena segala musibah dan cobaan itu dari Allah dan hanya Allah lah yang bisa menghilangkannya. Allah ta’ala berfirman: وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ “Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al-An’am: 17). Allah ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53) Mintalah pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur, sebagaimana setiap hari kita membaca ayat: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami (ber-isti’anah) memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) Allah ta’ala akan menolong orang-orang yang meminta pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur. Allah ta’ala berfirman: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ “(Ingatlah), ketika kamu beristightsah (memohon pertolongan) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9) Bukti bahwa Anda meminta tolong kepada Allah dengan tulus dan jujur adalah Anda menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala bentuk maksiat. Jika itu dilakukan, Allah pasti akan berikan jalan keluar. Allah ta’ala berfirman: ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Ketika jalan keluar belum kunjung datang, itu bukti bahwa ketakwaan Anda masih ada yang kurang. Ibnu Abi Izz Al Hanafi rahimahullah:  فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه “Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.  Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya” (Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334). Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah niscaya pertolongan akan datang! Putus Asa yang Dibolehkan Sebagaimana telah dijelaskan, putus asa terhadap rahmat dan pertolongan Allah itu tidak diperbolehkan. Namun ada putus asa yang dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu putus asa terhadap makhluk. Sebagaimana hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu’anhu, ia berkata: أنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: عِظْنِي وَأَوْجِزْ، وفي رواية عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ، فَقَالَ ـ عليه الصَّلاة والسَّلام ـ: «إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ» “Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah beri aku nasehat yang singkat! Dalam riwayat lain: Wahai Rasulullah beri aku ilmu yang singkat! Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Jika engkau shalat maka shalatlah sebagaimana engkau akan berpisah (dengan dunia), jangan engkau berkata suatu perkataan yang membuat engkau harus minta udzur esok hari, dan berputus asalah terhadap apa yang ada di tangan orang lain” (HR. Ibnu Majah no.4171, Ahmad no.23498, dihasankan oleh Al-Bushiri dalam Ittihaful Khirah [7/398], didhaifkan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad). Maksudnya, jangan terlalu berharap kepada makhluk dan jangan gantungkan hati kepada makhluk. Namun berharaplah dan gantungkanlah hati hanya kepada Allah semata. Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu mengatakan: إنَّ الطمع فقر، وإن اليأْس غنى، وإن الإنسان إذا أيس من الشيء استغنى عنه “Ketamakan adalah kefakiran. Putus asa terhadap apa yang ada di tangan orang lain adalah kekayaan. Karena ketika seseorang merasa terlalu berharap kepada sesuatu, Allah akan cukupi ia terhadap sesuatu tersebut” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd [1/223], Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi [44/357]). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hadits Puasa Tarwiyah, Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Resepsi Pernikahan Dalam Islam, Materi Ceramah Kultum, Doa Meluluhkan Hati Orang Tua, Waktu Mandi Yang Baik Menurut Agama Islam Visited 489 times, 1 visit(s) today Post Views: 507 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Apa itu Raml Saat Thawaf dan Kapan Dilakukan?

Ada syariat ketika thawaf yaitu melakukan raml. Apa itu raml? Bagaimana cara melakukannya? Kapan dilakukan?   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #774 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #774   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan raml dalam tujuh putaran ketika melakukan thawaf ifadhah. (Diriwayatkan oleh imam yang lima kecuali Tirmidzi. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 2001; An-Nasai dalam Al-Kubra, 4:218; Ibnu Majah, no. 3060; Al-Haakim, 1:475. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif].    Faedah hadits Raml adalah berjalan cepat tanpa menjauhkan langkah. Hadits ini menjadi dalil bahwa raml hanya dilakukan pada thawaf qudum (kedatangan), tidak ada raml pada thawaf ifadhah. Pendapat yang lain menyatakan bahwa raml disunnahkan dilakukan pada thawaf yang diakhiri dengan sai, sebagaimana pendapat al-ashah (terkuat). Berarti raml ada pada thawaf qudum, thawaf ifadhah, tidak ada pada thawaf wada’. Jika tidak bisa melakukan raml pada tiga putaran pertama tidak perlu diganti pada empat putaran berikutnya. Yang disunnahkan pada empat putaran terakhir adalah berjalan biasa (al-masyi). Jika tidak mungkin melakukan raml karena padat, maka cukup berjalan dengan sifat raml. Namun, hadits yang dikaji kali ini menunjukkan bahwa raml tidaklah disunnahkan pada thawaf ifadhah. Hadits lain yang mendukung bahwa raml itu hanya ada pada thawaf kedatangan (thawaf qudum) adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf untuk haji atau umrah ketika pertama kali datang, beliau melakukan sa’i (berjalan cepat) pada tiga putaran mengelilingi Kabah dan berjalan biasa pada empat putaran berikutnya. (HR. Bukhari, no. 1616 dan Muslim, no. 1261, 231) Thawaf ifadhah dihukumi wajib dan termasuk rukun haji. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29)  Baca juga: Penjelasan Lengkap Thawaf Ifadhah  4. Thawaf ifadhah dilakukan setelah wukuf di Arafah, setelah lempar jumrah ‘Aqabah. Baca juga: Apa yang Dimaksud Tahallul Awal?   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:353-354. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:699.   Baca juga: Pembahasan Sunnah SaatThawaf, Raml, dan Mengusap Hajar Aswad   –   Diselesaikan di perjalanan Darush Sholihin – Jalan Kaliurang, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji panduan haji raml tata cara haji thawaf thawaf ifadhah thawaf keliling kabah

Apa itu Raml Saat Thawaf dan Kapan Dilakukan?

Ada syariat ketika thawaf yaitu melakukan raml. Apa itu raml? Bagaimana cara melakukannya? Kapan dilakukan?   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #774 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #774   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan raml dalam tujuh putaran ketika melakukan thawaf ifadhah. (Diriwayatkan oleh imam yang lima kecuali Tirmidzi. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 2001; An-Nasai dalam Al-Kubra, 4:218; Ibnu Majah, no. 3060; Al-Haakim, 1:475. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif].    Faedah hadits Raml adalah berjalan cepat tanpa menjauhkan langkah. Hadits ini menjadi dalil bahwa raml hanya dilakukan pada thawaf qudum (kedatangan), tidak ada raml pada thawaf ifadhah. Pendapat yang lain menyatakan bahwa raml disunnahkan dilakukan pada thawaf yang diakhiri dengan sai, sebagaimana pendapat al-ashah (terkuat). Berarti raml ada pada thawaf qudum, thawaf ifadhah, tidak ada pada thawaf wada’. Jika tidak bisa melakukan raml pada tiga putaran pertama tidak perlu diganti pada empat putaran berikutnya. Yang disunnahkan pada empat putaran terakhir adalah berjalan biasa (al-masyi). Jika tidak mungkin melakukan raml karena padat, maka cukup berjalan dengan sifat raml. Namun, hadits yang dikaji kali ini menunjukkan bahwa raml tidaklah disunnahkan pada thawaf ifadhah. Hadits lain yang mendukung bahwa raml itu hanya ada pada thawaf kedatangan (thawaf qudum) adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf untuk haji atau umrah ketika pertama kali datang, beliau melakukan sa’i (berjalan cepat) pada tiga putaran mengelilingi Kabah dan berjalan biasa pada empat putaran berikutnya. (HR. Bukhari, no. 1616 dan Muslim, no. 1261, 231) Thawaf ifadhah dihukumi wajib dan termasuk rukun haji. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29)  Baca juga: Penjelasan Lengkap Thawaf Ifadhah  4. Thawaf ifadhah dilakukan setelah wukuf di Arafah, setelah lempar jumrah ‘Aqabah. Baca juga: Apa yang Dimaksud Tahallul Awal?   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:353-354. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:699.   Baca juga: Pembahasan Sunnah SaatThawaf, Raml, dan Mengusap Hajar Aswad   –   Diselesaikan di perjalanan Darush Sholihin – Jalan Kaliurang, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji panduan haji raml tata cara haji thawaf thawaf ifadhah thawaf keliling kabah
Ada syariat ketika thawaf yaitu melakukan raml. Apa itu raml? Bagaimana cara melakukannya? Kapan dilakukan?   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #774 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #774   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan raml dalam tujuh putaran ketika melakukan thawaf ifadhah. (Diriwayatkan oleh imam yang lima kecuali Tirmidzi. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 2001; An-Nasai dalam Al-Kubra, 4:218; Ibnu Majah, no. 3060; Al-Haakim, 1:475. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif].    Faedah hadits Raml adalah berjalan cepat tanpa menjauhkan langkah. Hadits ini menjadi dalil bahwa raml hanya dilakukan pada thawaf qudum (kedatangan), tidak ada raml pada thawaf ifadhah. Pendapat yang lain menyatakan bahwa raml disunnahkan dilakukan pada thawaf yang diakhiri dengan sai, sebagaimana pendapat al-ashah (terkuat). Berarti raml ada pada thawaf qudum, thawaf ifadhah, tidak ada pada thawaf wada’. Jika tidak bisa melakukan raml pada tiga putaran pertama tidak perlu diganti pada empat putaran berikutnya. Yang disunnahkan pada empat putaran terakhir adalah berjalan biasa (al-masyi). Jika tidak mungkin melakukan raml karena padat, maka cukup berjalan dengan sifat raml. Namun, hadits yang dikaji kali ini menunjukkan bahwa raml tidaklah disunnahkan pada thawaf ifadhah. Hadits lain yang mendukung bahwa raml itu hanya ada pada thawaf kedatangan (thawaf qudum) adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf untuk haji atau umrah ketika pertama kali datang, beliau melakukan sa’i (berjalan cepat) pada tiga putaran mengelilingi Kabah dan berjalan biasa pada empat putaran berikutnya. (HR. Bukhari, no. 1616 dan Muslim, no. 1261, 231) Thawaf ifadhah dihukumi wajib dan termasuk rukun haji. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29)  Baca juga: Penjelasan Lengkap Thawaf Ifadhah  4. Thawaf ifadhah dilakukan setelah wukuf di Arafah, setelah lempar jumrah ‘Aqabah. Baca juga: Apa yang Dimaksud Tahallul Awal?   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:353-354. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:699.   Baca juga: Pembahasan Sunnah SaatThawaf, Raml, dan Mengusap Hajar Aswad   –   Diselesaikan di perjalanan Darush Sholihin – Jalan Kaliurang, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji panduan haji raml tata cara haji thawaf thawaf ifadhah thawaf keliling kabah


Ada syariat ketika thawaf yaitu melakukan raml. Apa itu raml? Bagaimana cara melakukannya? Kapan dilakukan?   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #774 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #774   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan raml dalam tujuh putaran ketika melakukan thawaf ifadhah. (Diriwayatkan oleh imam yang lima kecuali Tirmidzi. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim). [HR. Abu Daud, no. 2001; An-Nasai dalam Al-Kubra, 4:218; Ibnu Majah, no. 3060; Al-Haakim, 1:475. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif].    Faedah hadits Raml adalah berjalan cepat tanpa menjauhkan langkah. Hadits ini menjadi dalil bahwa raml hanya dilakukan pada thawaf qudum (kedatangan), tidak ada raml pada thawaf ifadhah. Pendapat yang lain menyatakan bahwa raml disunnahkan dilakukan pada thawaf yang diakhiri dengan sai, sebagaimana pendapat al-ashah (terkuat). Berarti raml ada pada thawaf qudum, thawaf ifadhah, tidak ada pada thawaf wada’. Jika tidak bisa melakukan raml pada tiga putaran pertama tidak perlu diganti pada empat putaran berikutnya. Yang disunnahkan pada empat putaran terakhir adalah berjalan biasa (al-masyi). Jika tidak mungkin melakukan raml karena padat, maka cukup berjalan dengan sifat raml. Namun, hadits yang dikaji kali ini menunjukkan bahwa raml tidaklah disunnahkan pada thawaf ifadhah. Hadits lain yang mendukung bahwa raml itu hanya ada pada thawaf kedatangan (thawaf qudum) adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf untuk haji atau umrah ketika pertama kali datang, beliau melakukan sa’i (berjalan cepat) pada tiga putaran mengelilingi Kabah dan berjalan biasa pada empat putaran berikutnya. (HR. Bukhari, no. 1616 dan Muslim, no. 1261, 231) Thawaf ifadhah dihukumi wajib dan termasuk rukun haji. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29)  Baca juga: Penjelasan Lengkap Thawaf Ifadhah  4. Thawaf ifadhah dilakukan setelah wukuf di Arafah, setelah lempar jumrah ‘Aqabah. Baca juga: Apa yang Dimaksud Tahallul Awal?   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:353-354. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:699.   Baca juga: Pembahasan Sunnah SaatThawaf, Raml, dan Mengusap Hajar Aswad   –   Diselesaikan di perjalanan Darush Sholihin – Jalan Kaliurang, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji panduan haji raml tata cara haji thawaf thawaf ifadhah thawaf keliling kabah

Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan

Daftar Isi ToggleTujuan ilmu adalah amalAkibat ilmu yang tidak diamalkanJika ilmu diamalkanالحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهIlmu memiliki kedudukan yang mulia dalam agama Islam. Ilmu merupakan cahaya yang menerangi seseorang dalam menjalani kehidupan ini. Dengan ilmu, seseorang menjadi jelas dalam menapaki jalan kebenaran yang mengantarkannya ke surga Allah Ta’ala. Menjadi jelas jalan-jalan kesesatan yang patutnya ia hindari. Seseorang dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat juga karena ilmu. Dan peribadatan kepada Allah Ta’ala tidak akan tegak, kecuali dengan ilmu. Oleh karenanya, Allah Ta’ala menuntut kita mendahulukan ilmu sebelum beramal,فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ“Ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (QS Muhammad: 19)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syekh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)Ilmu yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ilmu agama, ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala.Demikian pula, tujuan penciptaan langit dan bumi ini adalah agar seseorang dapat mengenal Allah Ta’ala,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ࣖ“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 12)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berdoa untuk meminta tambahan sesuatu, kecuali ilmu,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Dalil-dali di atas menunjukkan keutamaan ilmu dan keagungannya.Tujuan ilmu adalah amalIlmu yang dipelajari tidak akan bermanfaat jika seseorang tidak mengamalkannya. Tujuan mempelajari ilmu bukan sekedar pengetahuan dan wawasan saja, melainkan amal saleh.Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta jalan yang lurus dan berlindung dari 2 penyimpangan sikap terhadap ilmu. Yang pertama adalah beramal tanpa ilmu. Yang kedua adalah berilmu, namun tidak beramal. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)“Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, maka mereka adalah yang dimurkai, berhak mendapat murka Allah Ta’ala, disebabkan oleh kelalaian mereka dalam mewujudkan tujuan dari ilmu, yaitu amal saleh. Dan barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka mereka adalah orang yang tersesat dari jalan Allah Ta’ala dan jalan yang lurus.” (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu, Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 13)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang rusak dari kalangan para ulama kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Yahudi. Dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Nasrani.” (Iqtidha Sirathil Mustaqim, dikutip dari Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 14)Orang Yahudi, mereka mengetahui dan mengenal Allah Ta’ala dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mau tunduk dan mengikuti. Sedangkan orang Nasrani adalah orang yang bersemangat dalam beramal, namun mereka tersesat karena tidak membangun amal tersebut di atas ilmu yang haq.Seseorang tidak dapat menegakkan agama, kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Karena dengan kedua hal itu, Allah Ta’ala utus Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33)Al-huda yakni ilmu yang bermanfaat, diinul haq yakni amal saleh. (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 11)Sebab kita dimasukkan ke surga bukan sekedar karena ilmu yang kita ketahui, tetapi karena amal saleh,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82)Allah Ta’ala sebutkan iman dan amal saleh sebagai sebab masuk surga. Firman lainnya,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Baca juga: Saudaraku, Inilah Pentingnya Ilmu AgamaAkibat ilmu yang tidak diamalkanDi antara balasan yang diberikan Allah Ta’ala bagi yang tidak mengamalkan ilmu yang telah diamanahkan kepada seseorang adalah Allah Ta’ala hilangkan keberkahan dan Allah Ta’ala jadikan hatinya keras tidak dapat menerima hidayah. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)“Disebabkan oleh pelanggaran janji yang mereka (bani Israil) lakukan, mereka dilaknat”, yakni dijauhkan dari kebenaran dan petunjuk. “Hati mereka menjadi keras”, maknanya yaitu tidak mampu mengambil pelajaran dari peringatan. وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ  maknanya, yaitu mereka meninggalkan beramal atas pesan dan peringatan  yang telah diberikan.” (Tafsir Ibnu Katsir)“Melupakan janji kepada Allah Ta’ala yang telah diambil oleh para Nabi atas mereka untuk beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Al-Qurthubi)Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan amal akan mendatangkan laknat dari Allah Ta’ala. Selain itu, hati juga akan menjadi keras, tidak mampu menerima peringatan dan nasihat. Ketika hati keras dan tidak mendapat petunjuk, maka akan semakin menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala. Dan itu merupakan seburuk-buruk balasan di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?’ Maka, ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. As-Saff: 5)Jika ilmu diamalkanAllah Ta’ala akan menambahkan petunjuk bagi yang mengamalkan ilmunya. Dan Allah Ta’ala juga akan memberikan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 17)“Orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang Allah Ta’ala anugerahi kepada mereka untuk mengikuti petunjuk. Hati mereka lapang dengan keimanan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka menjadi orang yang senantiasa mendengarkan (petunjuk) Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Ath-Thabari)“Maka, Allah akan زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ yakni tambahkan keimanan atas iman mereka. Allah Ta’ala berikan ketakwaan kepada para muhtadin (orang yang mengikuti petunjuk).” (Tafsir Ath-Thabari)Ayat ini berkenaan dengan orang munafik yang disebutkan pada surah Muhammad ayat 16, di mana kaum munafik tersebut hadir dalam khotbah-khotbah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari Jumat. Namun, ketika mereka keluar dari majelis tersebut, mereka bertanya kepada para sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Apa yang telah dikatakan Muhammad?” Mereka adalah orang yang mendengar, namun tidak dapat memahami. Hati mereka telah ditutup sehingga tidak mampu memahaminya.Adapun orang beriman dan bertakwa, Allah Ta’ala tambahkan ketakwaan dan Allah Ta’ala ilhamkan petunjuk ke jalan yang lurus.Imam Al-Fakhr rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang munafik itu mendengar (seruan Rasul), namun tidak memberi manfaat. Menyimak, namun tidak mendapat faedah. Adapun orang beriman al-muhtadi (yang mendapat petunjuk), mereka mendengarkan dan memahaminya, kemudian beramal dengannya. Sehingga hal ini membantah uzur orang munafik yang mendengar, namun tidak memahami apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Shafwah Tafasir)Ditambahkannya petunjuk, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala tambahkan petunjuk (pendapat Rabi’ bin Anas).Kedua: Mereka mengetahui apa yang mereka dengar dan mengamalkan apa yang mereka ketahui (pendapat Adh-Dhahak).Ketiga: Allah Ta’ala tambahkan ilmu agama dan tunduk kepada perintah Nabinya (pendapat Al-Kalbi).Keempat: Allah Ta’ala lapangkan hati mereka atas keimanan yang mereka yakini.Ditambahkannya ketakwaan, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala hadirkan rasa takut (pendapat Ar-Rabi’).Kedua: Balasan ketakwaan di akhirat kelak (pendapat As-Suddi).Ketiga: Allah Ta’ala beri taufik untuk beramal dengan amalan yang diwajibkan (pendapat Muqatil).Keempat: Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka apa yang perlu mereka jauhi (pendapat Ibnu Ziyad dan As-Suddi).Kelima: Meninggalkan mansukh dan beramal dengan an-nasikh (pendapat ‘Athiyah dan Al-Mawardi).Keenam: Meninggalkan kemudahan dan beramal dengan sungguh-sungguh.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHAArtikel: Muslim.or.idTags: amal salehberamalilmu agama

Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan

Daftar Isi ToggleTujuan ilmu adalah amalAkibat ilmu yang tidak diamalkanJika ilmu diamalkanالحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهIlmu memiliki kedudukan yang mulia dalam agama Islam. Ilmu merupakan cahaya yang menerangi seseorang dalam menjalani kehidupan ini. Dengan ilmu, seseorang menjadi jelas dalam menapaki jalan kebenaran yang mengantarkannya ke surga Allah Ta’ala. Menjadi jelas jalan-jalan kesesatan yang patutnya ia hindari. Seseorang dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat juga karena ilmu. Dan peribadatan kepada Allah Ta’ala tidak akan tegak, kecuali dengan ilmu. Oleh karenanya, Allah Ta’ala menuntut kita mendahulukan ilmu sebelum beramal,فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ“Ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (QS Muhammad: 19)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syekh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)Ilmu yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ilmu agama, ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala.Demikian pula, tujuan penciptaan langit dan bumi ini adalah agar seseorang dapat mengenal Allah Ta’ala,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ࣖ“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 12)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berdoa untuk meminta tambahan sesuatu, kecuali ilmu,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Dalil-dali di atas menunjukkan keutamaan ilmu dan keagungannya.Tujuan ilmu adalah amalIlmu yang dipelajari tidak akan bermanfaat jika seseorang tidak mengamalkannya. Tujuan mempelajari ilmu bukan sekedar pengetahuan dan wawasan saja, melainkan amal saleh.Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta jalan yang lurus dan berlindung dari 2 penyimpangan sikap terhadap ilmu. Yang pertama adalah beramal tanpa ilmu. Yang kedua adalah berilmu, namun tidak beramal. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)“Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, maka mereka adalah yang dimurkai, berhak mendapat murka Allah Ta’ala, disebabkan oleh kelalaian mereka dalam mewujudkan tujuan dari ilmu, yaitu amal saleh. Dan barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka mereka adalah orang yang tersesat dari jalan Allah Ta’ala dan jalan yang lurus.” (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu, Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 13)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang rusak dari kalangan para ulama kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Yahudi. Dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Nasrani.” (Iqtidha Sirathil Mustaqim, dikutip dari Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 14)Orang Yahudi, mereka mengetahui dan mengenal Allah Ta’ala dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mau tunduk dan mengikuti. Sedangkan orang Nasrani adalah orang yang bersemangat dalam beramal, namun mereka tersesat karena tidak membangun amal tersebut di atas ilmu yang haq.Seseorang tidak dapat menegakkan agama, kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Karena dengan kedua hal itu, Allah Ta’ala utus Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33)Al-huda yakni ilmu yang bermanfaat, diinul haq yakni amal saleh. (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 11)Sebab kita dimasukkan ke surga bukan sekedar karena ilmu yang kita ketahui, tetapi karena amal saleh,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82)Allah Ta’ala sebutkan iman dan amal saleh sebagai sebab masuk surga. Firman lainnya,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Baca juga: Saudaraku, Inilah Pentingnya Ilmu AgamaAkibat ilmu yang tidak diamalkanDi antara balasan yang diberikan Allah Ta’ala bagi yang tidak mengamalkan ilmu yang telah diamanahkan kepada seseorang adalah Allah Ta’ala hilangkan keberkahan dan Allah Ta’ala jadikan hatinya keras tidak dapat menerima hidayah. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)“Disebabkan oleh pelanggaran janji yang mereka (bani Israil) lakukan, mereka dilaknat”, yakni dijauhkan dari kebenaran dan petunjuk. “Hati mereka menjadi keras”, maknanya yaitu tidak mampu mengambil pelajaran dari peringatan. وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ  maknanya, yaitu mereka meninggalkan beramal atas pesan dan peringatan  yang telah diberikan.” (Tafsir Ibnu Katsir)“Melupakan janji kepada Allah Ta’ala yang telah diambil oleh para Nabi atas mereka untuk beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Al-Qurthubi)Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan amal akan mendatangkan laknat dari Allah Ta’ala. Selain itu, hati juga akan menjadi keras, tidak mampu menerima peringatan dan nasihat. Ketika hati keras dan tidak mendapat petunjuk, maka akan semakin menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala. Dan itu merupakan seburuk-buruk balasan di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?’ Maka, ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. As-Saff: 5)Jika ilmu diamalkanAllah Ta’ala akan menambahkan petunjuk bagi yang mengamalkan ilmunya. Dan Allah Ta’ala juga akan memberikan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 17)“Orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang Allah Ta’ala anugerahi kepada mereka untuk mengikuti petunjuk. Hati mereka lapang dengan keimanan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka menjadi orang yang senantiasa mendengarkan (petunjuk) Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Ath-Thabari)“Maka, Allah akan زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ yakni tambahkan keimanan atas iman mereka. Allah Ta’ala berikan ketakwaan kepada para muhtadin (orang yang mengikuti petunjuk).” (Tafsir Ath-Thabari)Ayat ini berkenaan dengan orang munafik yang disebutkan pada surah Muhammad ayat 16, di mana kaum munafik tersebut hadir dalam khotbah-khotbah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari Jumat. Namun, ketika mereka keluar dari majelis tersebut, mereka bertanya kepada para sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Apa yang telah dikatakan Muhammad?” Mereka adalah orang yang mendengar, namun tidak dapat memahami. Hati mereka telah ditutup sehingga tidak mampu memahaminya.Adapun orang beriman dan bertakwa, Allah Ta’ala tambahkan ketakwaan dan Allah Ta’ala ilhamkan petunjuk ke jalan yang lurus.Imam Al-Fakhr rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang munafik itu mendengar (seruan Rasul), namun tidak memberi manfaat. Menyimak, namun tidak mendapat faedah. Adapun orang beriman al-muhtadi (yang mendapat petunjuk), mereka mendengarkan dan memahaminya, kemudian beramal dengannya. Sehingga hal ini membantah uzur orang munafik yang mendengar, namun tidak memahami apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Shafwah Tafasir)Ditambahkannya petunjuk, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala tambahkan petunjuk (pendapat Rabi’ bin Anas).Kedua: Mereka mengetahui apa yang mereka dengar dan mengamalkan apa yang mereka ketahui (pendapat Adh-Dhahak).Ketiga: Allah Ta’ala tambahkan ilmu agama dan tunduk kepada perintah Nabinya (pendapat Al-Kalbi).Keempat: Allah Ta’ala lapangkan hati mereka atas keimanan yang mereka yakini.Ditambahkannya ketakwaan, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala hadirkan rasa takut (pendapat Ar-Rabi’).Kedua: Balasan ketakwaan di akhirat kelak (pendapat As-Suddi).Ketiga: Allah Ta’ala beri taufik untuk beramal dengan amalan yang diwajibkan (pendapat Muqatil).Keempat: Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka apa yang perlu mereka jauhi (pendapat Ibnu Ziyad dan As-Suddi).Kelima: Meninggalkan mansukh dan beramal dengan an-nasikh (pendapat ‘Athiyah dan Al-Mawardi).Keenam: Meninggalkan kemudahan dan beramal dengan sungguh-sungguh.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHAArtikel: Muslim.or.idTags: amal salehberamalilmu agama
Daftar Isi ToggleTujuan ilmu adalah amalAkibat ilmu yang tidak diamalkanJika ilmu diamalkanالحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهIlmu memiliki kedudukan yang mulia dalam agama Islam. Ilmu merupakan cahaya yang menerangi seseorang dalam menjalani kehidupan ini. Dengan ilmu, seseorang menjadi jelas dalam menapaki jalan kebenaran yang mengantarkannya ke surga Allah Ta’ala. Menjadi jelas jalan-jalan kesesatan yang patutnya ia hindari. Seseorang dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat juga karena ilmu. Dan peribadatan kepada Allah Ta’ala tidak akan tegak, kecuali dengan ilmu. Oleh karenanya, Allah Ta’ala menuntut kita mendahulukan ilmu sebelum beramal,فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ“Ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (QS Muhammad: 19)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syekh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)Ilmu yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ilmu agama, ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala.Demikian pula, tujuan penciptaan langit dan bumi ini adalah agar seseorang dapat mengenal Allah Ta’ala,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ࣖ“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 12)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berdoa untuk meminta tambahan sesuatu, kecuali ilmu,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Dalil-dali di atas menunjukkan keutamaan ilmu dan keagungannya.Tujuan ilmu adalah amalIlmu yang dipelajari tidak akan bermanfaat jika seseorang tidak mengamalkannya. Tujuan mempelajari ilmu bukan sekedar pengetahuan dan wawasan saja, melainkan amal saleh.Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta jalan yang lurus dan berlindung dari 2 penyimpangan sikap terhadap ilmu. Yang pertama adalah beramal tanpa ilmu. Yang kedua adalah berilmu, namun tidak beramal. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)“Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, maka mereka adalah yang dimurkai, berhak mendapat murka Allah Ta’ala, disebabkan oleh kelalaian mereka dalam mewujudkan tujuan dari ilmu, yaitu amal saleh. Dan barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka mereka adalah orang yang tersesat dari jalan Allah Ta’ala dan jalan yang lurus.” (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu, Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 13)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang rusak dari kalangan para ulama kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Yahudi. Dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Nasrani.” (Iqtidha Sirathil Mustaqim, dikutip dari Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 14)Orang Yahudi, mereka mengetahui dan mengenal Allah Ta’ala dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mau tunduk dan mengikuti. Sedangkan orang Nasrani adalah orang yang bersemangat dalam beramal, namun mereka tersesat karena tidak membangun amal tersebut di atas ilmu yang haq.Seseorang tidak dapat menegakkan agama, kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Karena dengan kedua hal itu, Allah Ta’ala utus Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33)Al-huda yakni ilmu yang bermanfaat, diinul haq yakni amal saleh. (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 11)Sebab kita dimasukkan ke surga bukan sekedar karena ilmu yang kita ketahui, tetapi karena amal saleh,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82)Allah Ta’ala sebutkan iman dan amal saleh sebagai sebab masuk surga. Firman lainnya,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Baca juga: Saudaraku, Inilah Pentingnya Ilmu AgamaAkibat ilmu yang tidak diamalkanDi antara balasan yang diberikan Allah Ta’ala bagi yang tidak mengamalkan ilmu yang telah diamanahkan kepada seseorang adalah Allah Ta’ala hilangkan keberkahan dan Allah Ta’ala jadikan hatinya keras tidak dapat menerima hidayah. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)“Disebabkan oleh pelanggaran janji yang mereka (bani Israil) lakukan, mereka dilaknat”, yakni dijauhkan dari kebenaran dan petunjuk. “Hati mereka menjadi keras”, maknanya yaitu tidak mampu mengambil pelajaran dari peringatan. وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ  maknanya, yaitu mereka meninggalkan beramal atas pesan dan peringatan  yang telah diberikan.” (Tafsir Ibnu Katsir)“Melupakan janji kepada Allah Ta’ala yang telah diambil oleh para Nabi atas mereka untuk beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Al-Qurthubi)Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan amal akan mendatangkan laknat dari Allah Ta’ala. Selain itu, hati juga akan menjadi keras, tidak mampu menerima peringatan dan nasihat. Ketika hati keras dan tidak mendapat petunjuk, maka akan semakin menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala. Dan itu merupakan seburuk-buruk balasan di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?’ Maka, ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. As-Saff: 5)Jika ilmu diamalkanAllah Ta’ala akan menambahkan petunjuk bagi yang mengamalkan ilmunya. Dan Allah Ta’ala juga akan memberikan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 17)“Orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang Allah Ta’ala anugerahi kepada mereka untuk mengikuti petunjuk. Hati mereka lapang dengan keimanan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka menjadi orang yang senantiasa mendengarkan (petunjuk) Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Ath-Thabari)“Maka, Allah akan زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ yakni tambahkan keimanan atas iman mereka. Allah Ta’ala berikan ketakwaan kepada para muhtadin (orang yang mengikuti petunjuk).” (Tafsir Ath-Thabari)Ayat ini berkenaan dengan orang munafik yang disebutkan pada surah Muhammad ayat 16, di mana kaum munafik tersebut hadir dalam khotbah-khotbah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari Jumat. Namun, ketika mereka keluar dari majelis tersebut, mereka bertanya kepada para sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Apa yang telah dikatakan Muhammad?” Mereka adalah orang yang mendengar, namun tidak dapat memahami. Hati mereka telah ditutup sehingga tidak mampu memahaminya.Adapun orang beriman dan bertakwa, Allah Ta’ala tambahkan ketakwaan dan Allah Ta’ala ilhamkan petunjuk ke jalan yang lurus.Imam Al-Fakhr rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang munafik itu mendengar (seruan Rasul), namun tidak memberi manfaat. Menyimak, namun tidak mendapat faedah. Adapun orang beriman al-muhtadi (yang mendapat petunjuk), mereka mendengarkan dan memahaminya, kemudian beramal dengannya. Sehingga hal ini membantah uzur orang munafik yang mendengar, namun tidak memahami apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Shafwah Tafasir)Ditambahkannya petunjuk, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala tambahkan petunjuk (pendapat Rabi’ bin Anas).Kedua: Mereka mengetahui apa yang mereka dengar dan mengamalkan apa yang mereka ketahui (pendapat Adh-Dhahak).Ketiga: Allah Ta’ala tambahkan ilmu agama dan tunduk kepada perintah Nabinya (pendapat Al-Kalbi).Keempat: Allah Ta’ala lapangkan hati mereka atas keimanan yang mereka yakini.Ditambahkannya ketakwaan, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala hadirkan rasa takut (pendapat Ar-Rabi’).Kedua: Balasan ketakwaan di akhirat kelak (pendapat As-Suddi).Ketiga: Allah Ta’ala beri taufik untuk beramal dengan amalan yang diwajibkan (pendapat Muqatil).Keempat: Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka apa yang perlu mereka jauhi (pendapat Ibnu Ziyad dan As-Suddi).Kelima: Meninggalkan mansukh dan beramal dengan an-nasikh (pendapat ‘Athiyah dan Al-Mawardi).Keenam: Meninggalkan kemudahan dan beramal dengan sungguh-sungguh.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHAArtikel: Muslim.or.idTags: amal salehberamalilmu agama


Daftar Isi ToggleTujuan ilmu adalah amalAkibat ilmu yang tidak diamalkanJika ilmu diamalkanالحمد لله، والصلاة والسلام على رسوله، نبينا محمد وآله وصحبهIlmu memiliki kedudukan yang mulia dalam agama Islam. Ilmu merupakan cahaya yang menerangi seseorang dalam menjalani kehidupan ini. Dengan ilmu, seseorang menjadi jelas dalam menapaki jalan kebenaran yang mengantarkannya ke surga Allah Ta’ala. Menjadi jelas jalan-jalan kesesatan yang patutnya ia hindari. Seseorang dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat juga karena ilmu. Dan peribadatan kepada Allah Ta’ala tidak akan tegak, kecuali dengan ilmu. Oleh karenanya, Allah Ta’ala menuntut kita mendahulukan ilmu sebelum beramal,فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ“Ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (QS Muhammad: 19)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syekh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)Ilmu yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ilmu agama, ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala.Demikian pula, tujuan penciptaan langit dan bumi ini adalah agar seseorang dapat mengenal Allah Ta’ala,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ࣖ“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 12)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berdoa untuk meminta tambahan sesuatu, kecuali ilmu,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Dalil-dali di atas menunjukkan keutamaan ilmu dan keagungannya.Tujuan ilmu adalah amalIlmu yang dipelajari tidak akan bermanfaat jika seseorang tidak mengamalkannya. Tujuan mempelajari ilmu bukan sekedar pengetahuan dan wawasan saja, melainkan amal saleh.Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta jalan yang lurus dan berlindung dari 2 penyimpangan sikap terhadap ilmu. Yang pertama adalah beramal tanpa ilmu. Yang kedua adalah berilmu, namun tidak beramal. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)“Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, maka mereka adalah yang dimurkai, berhak mendapat murka Allah Ta’ala, disebabkan oleh kelalaian mereka dalam mewujudkan tujuan dari ilmu, yaitu amal saleh. Dan barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka mereka adalah orang yang tersesat dari jalan Allah Ta’ala dan jalan yang lurus.” (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu, Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 13)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang rusak dari kalangan para ulama kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Yahudi. Dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, maka pada dirinya ada keserupaan dengan orang Nasrani.” (Iqtidha Sirathil Mustaqim, dikutip dari Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 14)Orang Yahudi, mereka mengetahui dan mengenal Allah Ta’ala dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mau tunduk dan mengikuti. Sedangkan orang Nasrani adalah orang yang bersemangat dalam beramal, namun mereka tersesat karena tidak membangun amal tersebut di atas ilmu yang haq.Seseorang tidak dapat menegakkan agama, kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Karena dengan kedua hal itu, Allah Ta’ala utus Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33)Al-huda yakni ilmu yang bermanfaat, diinul haq yakni amal saleh. (Tsamaraatul ‘Ilmi Al-‘Amalu Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin, hal. 11)Sebab kita dimasukkan ke surga bukan sekedar karena ilmu yang kita ketahui, tetapi karena amal saleh,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82)Allah Ta’ala sebutkan iman dan amal saleh sebagai sebab masuk surga. Firman lainnya,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Baca juga: Saudaraku, Inilah Pentingnya Ilmu AgamaAkibat ilmu yang tidak diamalkanDi antara balasan yang diberikan Allah Ta’ala bagi yang tidak mengamalkan ilmu yang telah diamanahkan kepada seseorang adalah Allah Ta’ala hilangkan keberkahan dan Allah Ta’ala jadikan hatinya keras tidak dapat menerima hidayah. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)“Disebabkan oleh pelanggaran janji yang mereka (bani Israil) lakukan, mereka dilaknat”, yakni dijauhkan dari kebenaran dan petunjuk. “Hati mereka menjadi keras”, maknanya yaitu tidak mampu mengambil pelajaran dari peringatan. وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ  maknanya, yaitu mereka meninggalkan beramal atas pesan dan peringatan  yang telah diberikan.” (Tafsir Ibnu Katsir)“Melupakan janji kepada Allah Ta’ala yang telah diambil oleh para Nabi atas mereka untuk beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Al-Qurthubi)Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan amal akan mendatangkan laknat dari Allah Ta’ala. Selain itu, hati juga akan menjadi keras, tidak mampu menerima peringatan dan nasihat. Ketika hati keras dan tidak mendapat petunjuk, maka akan semakin menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala. Dan itu merupakan seburuk-buruk balasan di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?’ Maka, ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. As-Saff: 5)Jika ilmu diamalkanAllah Ta’ala akan menambahkan petunjuk bagi yang mengamalkan ilmunya. Dan Allah Ta’ala juga akan memberikan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 17)“Orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang Allah Ta’ala anugerahi kepada mereka untuk mengikuti petunjuk. Hati mereka lapang dengan keimanan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka menjadi orang yang senantiasa mendengarkan (petunjuk) Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Ath-Thabari)“Maka, Allah akan زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ yakni tambahkan keimanan atas iman mereka. Allah Ta’ala berikan ketakwaan kepada para muhtadin (orang yang mengikuti petunjuk).” (Tafsir Ath-Thabari)Ayat ini berkenaan dengan orang munafik yang disebutkan pada surah Muhammad ayat 16, di mana kaum munafik tersebut hadir dalam khotbah-khotbah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari Jumat. Namun, ketika mereka keluar dari majelis tersebut, mereka bertanya kepada para sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Apa yang telah dikatakan Muhammad?” Mereka adalah orang yang mendengar, namun tidak dapat memahami. Hati mereka telah ditutup sehingga tidak mampu memahaminya.Adapun orang beriman dan bertakwa, Allah Ta’ala tambahkan ketakwaan dan Allah Ta’ala ilhamkan petunjuk ke jalan yang lurus.Imam Al-Fakhr rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang munafik itu mendengar (seruan Rasul), namun tidak memberi manfaat. Menyimak, namun tidak mendapat faedah. Adapun orang beriman al-muhtadi (yang mendapat petunjuk), mereka mendengarkan dan memahaminya, kemudian beramal dengannya. Sehingga hal ini membantah uzur orang munafik yang mendengar, namun tidak memahami apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Shafwah Tafasir)Ditambahkannya petunjuk, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala tambahkan petunjuk (pendapat Rabi’ bin Anas).Kedua: Mereka mengetahui apa yang mereka dengar dan mengamalkan apa yang mereka ketahui (pendapat Adh-Dhahak).Ketiga: Allah Ta’ala tambahkan ilmu agama dan tunduk kepada perintah Nabinya (pendapat Al-Kalbi).Keempat: Allah Ta’ala lapangkan hati mereka atas keimanan yang mereka yakini.Ditambahkannya ketakwaan, maksudnya antara lain (Tafsir Qurthubi),Pertama: Allah Ta’ala hadirkan rasa takut (pendapat Ar-Rabi’).Kedua: Balasan ketakwaan di akhirat kelak (pendapat As-Suddi).Ketiga: Allah Ta’ala beri taufik untuk beramal dengan amalan yang diwajibkan (pendapat Muqatil).Keempat: Allah Ta’ala jelaskan kepada mereka apa yang perlu mereka jauhi (pendapat Ibnu Ziyad dan As-Suddi).Kelima: Meninggalkan mansukh dan beramal dengan an-nasikh (pendapat ‘Athiyah dan Al-Mawardi).Keenam: Meninggalkan kemudahan dan beramal dengan sungguh-sungguh.Demikian. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda***Penulis: dr. Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHAArtikel: Muslim.or.idTags: amal salehberamalilmu agama

Begini Cara Menghadapi Istri yang Sedang Marah – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Imam Ibnul Jauzi —semoga Allah Merahmatinya— berkata,“Saat Anda dapati teman Anda sudah marahdan mulai berkata yang tidak pantas,maka tidak seyogianya Anda menanggapi serius ucapannyadan jangan menghukumnya karena hal itu. Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabukyang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut, …” Saudara-saudara, orang marah itu bahkan menyalahkan dirinya sendirikarena marah, dia menuduh dirinya dengan apa yang tidak dia lakukan.Sebagian orang, bagaimana jika sedang marah dengan istrinya? Sang suami marah kepada istrinya, lalu istrinya berkata, “Ya! Aku begini begitu!”Lalu suaminya menghukumnya karena ucapannya itu.Sang suami berkata, “Kamu sendiri kan yang berkata waktu itu bahwa kamu begitu!” Orang marah itu tidak menyadari apa yang dia ucapkan,dan asal bicara saat marah.Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabuk,yang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut. Tidak usah menanggapi amarahnya,karena setan telah menguasainya,dan emosinya telah meledak,dan akalnya sudah tertutup. Saat Anda terbawa perasaan menanggapinya,atau membalas apa yang dia lakukan,maka Anda seperti orang waras yang menanggapi orang gila,atau seperti orang sadar yang memaki orang pingsan. Jadi, Anda yang berdosa.”Adapun dia tidak berdosa,karena sudah seperti orang pingsan.Beliau berkata, “Malah Anda harus melihatnya dengan kasih sayangdan perlahan berusaha mengubah keadaan dirinya. Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda.” Orang yang sedang marah akan meminta apa yang tidak dia inginkan.Istri ketika marah mungkin sajamengatakan, “Ceraikan aku!Kalau kamu lelaki, ceraikan aku!” Jika suaminya sabar dan tenang serta tidak berbuat apa pun,saat marahnya reda, istrinya akan berterima kasih kepadanya atas sikapnya itu. Namun jika dia benar menceraikannya,maka saat itu juga dia telah terceraikan.Barulah saat dia menyadarinya,dia mulai menangis,berharap, dan mencari. Itulah sebabnya beliau—semoga Allah Merahmatinya— mengatakan,Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda. Ketika Anda mendengar perkataan apa pun darinya,maka pastikan jawaban Anda adalah perkataan yang baik,karena itu sangat ampuh dalam menahan lisannya.” Ini juga salah satu cara meredam amarah,balas keburukan dengan kebaikan.Ini akan membuatnya tenang. Aku akhiri prinsip ini dengan sebuah perkataan indahyang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dari Umar bin Abdul Aziz.Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Sifat yang paling Allah ʿAzza wa Jalla Cintai ada empat;(1) Sifat moderat ketika benci—atau berkata: ketika cinta—(2) sifat tenang ketika marah,(3) sifat lembut kepada hamba-hamba Allah dalam setiap kondisi,(4) dan sifat pemaaf ketika mampu (membalas).” “Sifat moderat ketika benci, …”artinya ketika seseorang merasa berang,ucapannya jangan menzalimi,perkataannya jangan dilebih-lebihkan,dan omongannya tidak usah ditambah-tambahi,atau juga (moderat) ketika cinta, Jangan berlebihan dalam cinta dan kecondongannya.Terkadang di menjanjikan hal-hal yang tidak bisa dia lakukan.Sebagian lelaki, ketika masih di awal-awal masa pernikahankarena cinta dia membebani diri dengan perkara di luar kemampuannya. “Aku akan berbuat ini untukmu,berbuat ini untukmu, dan berbuat ini untukmu.”Dia menjanjikannya ini, ini, dan ini,kemudian dilanggar, karena tidak mampu.Jadi, moderat saat cinta itu terpuji. Bahkan dalam pertemanan, sebagian orangketika akrab pertama kali dengan seseorang,Anda lihat saat temannya pergi, “Makanlah sebentar di rumah,”dia selalu keluar bersamanya,dan terkadang mengatakan sesuatu yang tidak semestinya dia katakan kepadanya.Moderat (bersikap pertengahan) saat mencintai atau membenci itu baik. ==== يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ مَتَى رَأَيْتَ صَاحِبَكَ قَدْ غَضِبَ وَأَخَذَ يَتَكَلَّمُ بِمَا لَا يَصْلُحُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تَعْقِدَ عَلَى مَا يَقُولُهُ خُنْصُرًا وَلَا أَنْ تُؤَاخِذَهُ بِهِ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ يَا إِخْوَانُ الْغَضْبَانُ حَتَّى يَتَّهِمَ بِنَفْسِهِ مِنْ غَضَبِهِ يَرْمِي نَفْسَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ وَبَعْضُ النَّاسِ مَاذَا إِذَا تَغَاضَبَ مَعَ زَوْجَتِهِ؟ فَغَضِبَ عَلَيْهَا قَالَ… وَقَالَتْ لَهُ: نَعَمْ أَنَا كَذَا آخَذَهَا بِهَذَا بِمَا قَالَتْ وَقَالَ: أَنْتِ فِي الْيَوْمِ الْفُلَانِيِّ قُلْتِ كَذَا الْغَضْبَانُ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ وَيَتَجَارَى عِنْدَ الْغَضَبِ بِمَا لَا يَعْتَقِدُ يَقُولُ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ وَلَا تُعَوِّلْ عَلَيْهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ غَلَبَهُ وَالطَّبْعَ قَدْ هَاجَ وَالْعَقْلَ قَدِ اسْتَتَرَ وَمَتَى أَخَذْتَ فِي نَفْسِكَ عَلَيْهِ أَوْ أَجَبْتَهُ بِمُقْتَضَى فِعْلِهِ كُنْتَ كَعَاقِلٍ وَاجَهَ مَجْنُونًا أَوْ كَمُفِيقٍ عَاتَبَ مُغْمَى عَلَيْهِ فَالذَّنْبُ لَكَ أَمَّا هُوَ مَا لَهُ ذَنْبٌ هُوَ أَصْبَحَ مِثْلَ الْمُغْمَى عَلَيْهِ قَالَ: بَلِ انْظُرْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ وَتَلَمَّحْ تَصرِيفَ الْقَدَرِ لَهُ وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ إِنْسَانٌ وَهُوَ غَضْبَانُ يَطْلُبُ مَا لَا يُرِيدُ الْمَرْأَةُ رُبَّمَا إِذَا غَضَبَتْ قَالَتْ: طَلِّقْنِي إِنْ كُنْتَ رَجُلًا طَلِّقْنِي إِذَا الرَّجُلُ صَبَرَ وَاسْتَكَنَ وَمَا فَعَلَ شَيْئًا إِذَا ذَهَبَ الْغَضَبُ تَشْكُرُهُ عَلَى مَا فَعَلَ أَمَّا إِذَا طَلَّقَهَا وَكَانَ فِي حَالٍ يَقَعُ مِنْهَا الطَّلَاقُ فَأَينَمَا أَنْ تُدْرِكَ حَتَّى تَبْدَأَ تَبْكِي وَتَتَرَجَّى وَتَبْحَثُ لِذَلِكَ يَقُولُ رَحِمَهُ الله وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ وَمَتَى سَمِعْتَ مِنْهُ كَلِمَةً فَاجْعَلْ جَوَابَهَا كَلِمَةً جَمِيلَةً فَهِيَ أَقْوَى فِي كَفِّ لِسَانِهِ وَهَذَا أَيْضًا مِمَّا يُطْفَأُ بِهِ الْغَضَبُ قَابِلِ الْقُبْحَ بِالْحُسْنِ وَهَذَا يَجْعَلُهُ يَهْدَأُ أَخْتِمُ هَذَا الْأَصْلَ بِكَلَامٍ جَمِيلٍ ذَكَرَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَحَبُّ الْأَشْيَاءِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَرْبَعَةٌ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ أَوْ قَالَ الْجِدَّةِ وَالْحِلْمُ عِنْدَ الْغَضَبِ وَالرِّفْقُ بِعِبَادِ اللهِ فِي كُلِّ حَالٍ وَالْعَفْوُ عِنْدَ الْقُدْرَةِ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ يَعْنِي إِذَا احْتَدَّ الْإِنْسَانُ لَا يَظْلِمُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَغْلُو فِي كَلَامِهِ وَلَا يَزِيدُ فِي كَلَامِهِ أَوْ عِنْدَ الْجِدَّةِ لَا يَغْلُو فِي حُبِّهِ وَمَيْلِهِ وَقَدْ يَعِدُ بِأَشْيَاءَ مَا يَسْتَطِيعُهَا بَعْضُ الشَّبَابِ إِذَا تَزَوَّجَ أَوَّلَ مَا يَتَزَوَّجُ مَعَ الْجِدَّةِ يُحَمِّلُ نَفْسَهُ مَا لَا يُطِيقُ أَنَا سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا ثُمَّ هُوَ يَتَوَرَّطُ مَا يَسْتَطِيعُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ مَحْمُودٌ حَتَّى بَعْضِ النَّاسِ حَتَّى فِي صُحْبَةٍ إِذَا صَاحَبَ الْإِنْسَانُ أَوَّلَ مَرَّةٍ تَجِدُهُ يَذْهَبُ لَوْ كُلْ شُوِيَّ عِنْدَ الْبَيْتِ وَيَخْرُجُ مَعَهُ دَائِمًا وَرُبَّمَا قَالَ لَهُ كَلَامًا لَا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَهُ لَهُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحِدَّةِ مَحْمُودٌ

Begini Cara Menghadapi Istri yang Sedang Marah – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Imam Ibnul Jauzi —semoga Allah Merahmatinya— berkata,“Saat Anda dapati teman Anda sudah marahdan mulai berkata yang tidak pantas,maka tidak seyogianya Anda menanggapi serius ucapannyadan jangan menghukumnya karena hal itu. Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabukyang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut, …” Saudara-saudara, orang marah itu bahkan menyalahkan dirinya sendirikarena marah, dia menuduh dirinya dengan apa yang tidak dia lakukan.Sebagian orang, bagaimana jika sedang marah dengan istrinya? Sang suami marah kepada istrinya, lalu istrinya berkata, “Ya! Aku begini begitu!”Lalu suaminya menghukumnya karena ucapannya itu.Sang suami berkata, “Kamu sendiri kan yang berkata waktu itu bahwa kamu begitu!” Orang marah itu tidak menyadari apa yang dia ucapkan,dan asal bicara saat marah.Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabuk,yang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut. Tidak usah menanggapi amarahnya,karena setan telah menguasainya,dan emosinya telah meledak,dan akalnya sudah tertutup. Saat Anda terbawa perasaan menanggapinya,atau membalas apa yang dia lakukan,maka Anda seperti orang waras yang menanggapi orang gila,atau seperti orang sadar yang memaki orang pingsan. Jadi, Anda yang berdosa.”Adapun dia tidak berdosa,karena sudah seperti orang pingsan.Beliau berkata, “Malah Anda harus melihatnya dengan kasih sayangdan perlahan berusaha mengubah keadaan dirinya. Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda.” Orang yang sedang marah akan meminta apa yang tidak dia inginkan.Istri ketika marah mungkin sajamengatakan, “Ceraikan aku!Kalau kamu lelaki, ceraikan aku!” Jika suaminya sabar dan tenang serta tidak berbuat apa pun,saat marahnya reda, istrinya akan berterima kasih kepadanya atas sikapnya itu. Namun jika dia benar menceraikannya,maka saat itu juga dia telah terceraikan.Barulah saat dia menyadarinya,dia mulai menangis,berharap, dan mencari. Itulah sebabnya beliau—semoga Allah Merahmatinya— mengatakan,Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda. Ketika Anda mendengar perkataan apa pun darinya,maka pastikan jawaban Anda adalah perkataan yang baik,karena itu sangat ampuh dalam menahan lisannya.” Ini juga salah satu cara meredam amarah,balas keburukan dengan kebaikan.Ini akan membuatnya tenang. Aku akhiri prinsip ini dengan sebuah perkataan indahyang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dari Umar bin Abdul Aziz.Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Sifat yang paling Allah ʿAzza wa Jalla Cintai ada empat;(1) Sifat moderat ketika benci—atau berkata: ketika cinta—(2) sifat tenang ketika marah,(3) sifat lembut kepada hamba-hamba Allah dalam setiap kondisi,(4) dan sifat pemaaf ketika mampu (membalas).” “Sifat moderat ketika benci, …”artinya ketika seseorang merasa berang,ucapannya jangan menzalimi,perkataannya jangan dilebih-lebihkan,dan omongannya tidak usah ditambah-tambahi,atau juga (moderat) ketika cinta, Jangan berlebihan dalam cinta dan kecondongannya.Terkadang di menjanjikan hal-hal yang tidak bisa dia lakukan.Sebagian lelaki, ketika masih di awal-awal masa pernikahankarena cinta dia membebani diri dengan perkara di luar kemampuannya. “Aku akan berbuat ini untukmu,berbuat ini untukmu, dan berbuat ini untukmu.”Dia menjanjikannya ini, ini, dan ini,kemudian dilanggar, karena tidak mampu.Jadi, moderat saat cinta itu terpuji. Bahkan dalam pertemanan, sebagian orangketika akrab pertama kali dengan seseorang,Anda lihat saat temannya pergi, “Makanlah sebentar di rumah,”dia selalu keluar bersamanya,dan terkadang mengatakan sesuatu yang tidak semestinya dia katakan kepadanya.Moderat (bersikap pertengahan) saat mencintai atau membenci itu baik. ==== يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ مَتَى رَأَيْتَ صَاحِبَكَ قَدْ غَضِبَ وَأَخَذَ يَتَكَلَّمُ بِمَا لَا يَصْلُحُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تَعْقِدَ عَلَى مَا يَقُولُهُ خُنْصُرًا وَلَا أَنْ تُؤَاخِذَهُ بِهِ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ يَا إِخْوَانُ الْغَضْبَانُ حَتَّى يَتَّهِمَ بِنَفْسِهِ مِنْ غَضَبِهِ يَرْمِي نَفْسَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ وَبَعْضُ النَّاسِ مَاذَا إِذَا تَغَاضَبَ مَعَ زَوْجَتِهِ؟ فَغَضِبَ عَلَيْهَا قَالَ… وَقَالَتْ لَهُ: نَعَمْ أَنَا كَذَا آخَذَهَا بِهَذَا بِمَا قَالَتْ وَقَالَ: أَنْتِ فِي الْيَوْمِ الْفُلَانِيِّ قُلْتِ كَذَا الْغَضْبَانُ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ وَيَتَجَارَى عِنْدَ الْغَضَبِ بِمَا لَا يَعْتَقِدُ يَقُولُ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ وَلَا تُعَوِّلْ عَلَيْهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ غَلَبَهُ وَالطَّبْعَ قَدْ هَاجَ وَالْعَقْلَ قَدِ اسْتَتَرَ وَمَتَى أَخَذْتَ فِي نَفْسِكَ عَلَيْهِ أَوْ أَجَبْتَهُ بِمُقْتَضَى فِعْلِهِ كُنْتَ كَعَاقِلٍ وَاجَهَ مَجْنُونًا أَوْ كَمُفِيقٍ عَاتَبَ مُغْمَى عَلَيْهِ فَالذَّنْبُ لَكَ أَمَّا هُوَ مَا لَهُ ذَنْبٌ هُوَ أَصْبَحَ مِثْلَ الْمُغْمَى عَلَيْهِ قَالَ: بَلِ انْظُرْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ وَتَلَمَّحْ تَصرِيفَ الْقَدَرِ لَهُ وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ إِنْسَانٌ وَهُوَ غَضْبَانُ يَطْلُبُ مَا لَا يُرِيدُ الْمَرْأَةُ رُبَّمَا إِذَا غَضَبَتْ قَالَتْ: طَلِّقْنِي إِنْ كُنْتَ رَجُلًا طَلِّقْنِي إِذَا الرَّجُلُ صَبَرَ وَاسْتَكَنَ وَمَا فَعَلَ شَيْئًا إِذَا ذَهَبَ الْغَضَبُ تَشْكُرُهُ عَلَى مَا فَعَلَ أَمَّا إِذَا طَلَّقَهَا وَكَانَ فِي حَالٍ يَقَعُ مِنْهَا الطَّلَاقُ فَأَينَمَا أَنْ تُدْرِكَ حَتَّى تَبْدَأَ تَبْكِي وَتَتَرَجَّى وَتَبْحَثُ لِذَلِكَ يَقُولُ رَحِمَهُ الله وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ وَمَتَى سَمِعْتَ مِنْهُ كَلِمَةً فَاجْعَلْ جَوَابَهَا كَلِمَةً جَمِيلَةً فَهِيَ أَقْوَى فِي كَفِّ لِسَانِهِ وَهَذَا أَيْضًا مِمَّا يُطْفَأُ بِهِ الْغَضَبُ قَابِلِ الْقُبْحَ بِالْحُسْنِ وَهَذَا يَجْعَلُهُ يَهْدَأُ أَخْتِمُ هَذَا الْأَصْلَ بِكَلَامٍ جَمِيلٍ ذَكَرَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَحَبُّ الْأَشْيَاءِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَرْبَعَةٌ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ أَوْ قَالَ الْجِدَّةِ وَالْحِلْمُ عِنْدَ الْغَضَبِ وَالرِّفْقُ بِعِبَادِ اللهِ فِي كُلِّ حَالٍ وَالْعَفْوُ عِنْدَ الْقُدْرَةِ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ يَعْنِي إِذَا احْتَدَّ الْإِنْسَانُ لَا يَظْلِمُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَغْلُو فِي كَلَامِهِ وَلَا يَزِيدُ فِي كَلَامِهِ أَوْ عِنْدَ الْجِدَّةِ لَا يَغْلُو فِي حُبِّهِ وَمَيْلِهِ وَقَدْ يَعِدُ بِأَشْيَاءَ مَا يَسْتَطِيعُهَا بَعْضُ الشَّبَابِ إِذَا تَزَوَّجَ أَوَّلَ مَا يَتَزَوَّجُ مَعَ الْجِدَّةِ يُحَمِّلُ نَفْسَهُ مَا لَا يُطِيقُ أَنَا سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا ثُمَّ هُوَ يَتَوَرَّطُ مَا يَسْتَطِيعُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ مَحْمُودٌ حَتَّى بَعْضِ النَّاسِ حَتَّى فِي صُحْبَةٍ إِذَا صَاحَبَ الْإِنْسَانُ أَوَّلَ مَرَّةٍ تَجِدُهُ يَذْهَبُ لَوْ كُلْ شُوِيَّ عِنْدَ الْبَيْتِ وَيَخْرُجُ مَعَهُ دَائِمًا وَرُبَّمَا قَالَ لَهُ كَلَامًا لَا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَهُ لَهُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحِدَّةِ مَحْمُودٌ
Imam Ibnul Jauzi —semoga Allah Merahmatinya— berkata,“Saat Anda dapati teman Anda sudah marahdan mulai berkata yang tidak pantas,maka tidak seyogianya Anda menanggapi serius ucapannyadan jangan menghukumnya karena hal itu. Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabukyang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut, …” Saudara-saudara, orang marah itu bahkan menyalahkan dirinya sendirikarena marah, dia menuduh dirinya dengan apa yang tidak dia lakukan.Sebagian orang, bagaimana jika sedang marah dengan istrinya? Sang suami marah kepada istrinya, lalu istrinya berkata, “Ya! Aku begini begitu!”Lalu suaminya menghukumnya karena ucapannya itu.Sang suami berkata, “Kamu sendiri kan yang berkata waktu itu bahwa kamu begitu!” Orang marah itu tidak menyadari apa yang dia ucapkan,dan asal bicara saat marah.Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabuk,yang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut. Tidak usah menanggapi amarahnya,karena setan telah menguasainya,dan emosinya telah meledak,dan akalnya sudah tertutup. Saat Anda terbawa perasaan menanggapinya,atau membalas apa yang dia lakukan,maka Anda seperti orang waras yang menanggapi orang gila,atau seperti orang sadar yang memaki orang pingsan. Jadi, Anda yang berdosa.”Adapun dia tidak berdosa,karena sudah seperti orang pingsan.Beliau berkata, “Malah Anda harus melihatnya dengan kasih sayangdan perlahan berusaha mengubah keadaan dirinya. Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda.” Orang yang sedang marah akan meminta apa yang tidak dia inginkan.Istri ketika marah mungkin sajamengatakan, “Ceraikan aku!Kalau kamu lelaki, ceraikan aku!” Jika suaminya sabar dan tenang serta tidak berbuat apa pun,saat marahnya reda, istrinya akan berterima kasih kepadanya atas sikapnya itu. Namun jika dia benar menceraikannya,maka saat itu juga dia telah terceraikan.Barulah saat dia menyadarinya,dia mulai menangis,berharap, dan mencari. Itulah sebabnya beliau—semoga Allah Merahmatinya— mengatakan,Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda. Ketika Anda mendengar perkataan apa pun darinya,maka pastikan jawaban Anda adalah perkataan yang baik,karena itu sangat ampuh dalam menahan lisannya.” Ini juga salah satu cara meredam amarah,balas keburukan dengan kebaikan.Ini akan membuatnya tenang. Aku akhiri prinsip ini dengan sebuah perkataan indahyang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dari Umar bin Abdul Aziz.Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Sifat yang paling Allah ʿAzza wa Jalla Cintai ada empat;(1) Sifat moderat ketika benci—atau berkata: ketika cinta—(2) sifat tenang ketika marah,(3) sifat lembut kepada hamba-hamba Allah dalam setiap kondisi,(4) dan sifat pemaaf ketika mampu (membalas).” “Sifat moderat ketika benci, …”artinya ketika seseorang merasa berang,ucapannya jangan menzalimi,perkataannya jangan dilebih-lebihkan,dan omongannya tidak usah ditambah-tambahi,atau juga (moderat) ketika cinta, Jangan berlebihan dalam cinta dan kecondongannya.Terkadang di menjanjikan hal-hal yang tidak bisa dia lakukan.Sebagian lelaki, ketika masih di awal-awal masa pernikahankarena cinta dia membebani diri dengan perkara di luar kemampuannya. “Aku akan berbuat ini untukmu,berbuat ini untukmu, dan berbuat ini untukmu.”Dia menjanjikannya ini, ini, dan ini,kemudian dilanggar, karena tidak mampu.Jadi, moderat saat cinta itu terpuji. Bahkan dalam pertemanan, sebagian orangketika akrab pertama kali dengan seseorang,Anda lihat saat temannya pergi, “Makanlah sebentar di rumah,”dia selalu keluar bersamanya,dan terkadang mengatakan sesuatu yang tidak semestinya dia katakan kepadanya.Moderat (bersikap pertengahan) saat mencintai atau membenci itu baik. ==== يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ مَتَى رَأَيْتَ صَاحِبَكَ قَدْ غَضِبَ وَأَخَذَ يَتَكَلَّمُ بِمَا لَا يَصْلُحُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تَعْقِدَ عَلَى مَا يَقُولُهُ خُنْصُرًا وَلَا أَنْ تُؤَاخِذَهُ بِهِ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ يَا إِخْوَانُ الْغَضْبَانُ حَتَّى يَتَّهِمَ بِنَفْسِهِ مِنْ غَضَبِهِ يَرْمِي نَفْسَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ وَبَعْضُ النَّاسِ مَاذَا إِذَا تَغَاضَبَ مَعَ زَوْجَتِهِ؟ فَغَضِبَ عَلَيْهَا قَالَ… وَقَالَتْ لَهُ: نَعَمْ أَنَا كَذَا آخَذَهَا بِهَذَا بِمَا قَالَتْ وَقَالَ: أَنْتِ فِي الْيَوْمِ الْفُلَانِيِّ قُلْتِ كَذَا الْغَضْبَانُ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ وَيَتَجَارَى عِنْدَ الْغَضَبِ بِمَا لَا يَعْتَقِدُ يَقُولُ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ وَلَا تُعَوِّلْ عَلَيْهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ غَلَبَهُ وَالطَّبْعَ قَدْ هَاجَ وَالْعَقْلَ قَدِ اسْتَتَرَ وَمَتَى أَخَذْتَ فِي نَفْسِكَ عَلَيْهِ أَوْ أَجَبْتَهُ بِمُقْتَضَى فِعْلِهِ كُنْتَ كَعَاقِلٍ وَاجَهَ مَجْنُونًا أَوْ كَمُفِيقٍ عَاتَبَ مُغْمَى عَلَيْهِ فَالذَّنْبُ لَكَ أَمَّا هُوَ مَا لَهُ ذَنْبٌ هُوَ أَصْبَحَ مِثْلَ الْمُغْمَى عَلَيْهِ قَالَ: بَلِ انْظُرْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ وَتَلَمَّحْ تَصرِيفَ الْقَدَرِ لَهُ وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ إِنْسَانٌ وَهُوَ غَضْبَانُ يَطْلُبُ مَا لَا يُرِيدُ الْمَرْأَةُ رُبَّمَا إِذَا غَضَبَتْ قَالَتْ: طَلِّقْنِي إِنْ كُنْتَ رَجُلًا طَلِّقْنِي إِذَا الرَّجُلُ صَبَرَ وَاسْتَكَنَ وَمَا فَعَلَ شَيْئًا إِذَا ذَهَبَ الْغَضَبُ تَشْكُرُهُ عَلَى مَا فَعَلَ أَمَّا إِذَا طَلَّقَهَا وَكَانَ فِي حَالٍ يَقَعُ مِنْهَا الطَّلَاقُ فَأَينَمَا أَنْ تُدْرِكَ حَتَّى تَبْدَأَ تَبْكِي وَتَتَرَجَّى وَتَبْحَثُ لِذَلِكَ يَقُولُ رَحِمَهُ الله وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ وَمَتَى سَمِعْتَ مِنْهُ كَلِمَةً فَاجْعَلْ جَوَابَهَا كَلِمَةً جَمِيلَةً فَهِيَ أَقْوَى فِي كَفِّ لِسَانِهِ وَهَذَا أَيْضًا مِمَّا يُطْفَأُ بِهِ الْغَضَبُ قَابِلِ الْقُبْحَ بِالْحُسْنِ وَهَذَا يَجْعَلُهُ يَهْدَأُ أَخْتِمُ هَذَا الْأَصْلَ بِكَلَامٍ جَمِيلٍ ذَكَرَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَحَبُّ الْأَشْيَاءِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَرْبَعَةٌ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ أَوْ قَالَ الْجِدَّةِ وَالْحِلْمُ عِنْدَ الْغَضَبِ وَالرِّفْقُ بِعِبَادِ اللهِ فِي كُلِّ حَالٍ وَالْعَفْوُ عِنْدَ الْقُدْرَةِ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ يَعْنِي إِذَا احْتَدَّ الْإِنْسَانُ لَا يَظْلِمُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَغْلُو فِي كَلَامِهِ وَلَا يَزِيدُ فِي كَلَامِهِ أَوْ عِنْدَ الْجِدَّةِ لَا يَغْلُو فِي حُبِّهِ وَمَيْلِهِ وَقَدْ يَعِدُ بِأَشْيَاءَ مَا يَسْتَطِيعُهَا بَعْضُ الشَّبَابِ إِذَا تَزَوَّجَ أَوَّلَ مَا يَتَزَوَّجُ مَعَ الْجِدَّةِ يُحَمِّلُ نَفْسَهُ مَا لَا يُطِيقُ أَنَا سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا ثُمَّ هُوَ يَتَوَرَّطُ مَا يَسْتَطِيعُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ مَحْمُودٌ حَتَّى بَعْضِ النَّاسِ حَتَّى فِي صُحْبَةٍ إِذَا صَاحَبَ الْإِنْسَانُ أَوَّلَ مَرَّةٍ تَجِدُهُ يَذْهَبُ لَوْ كُلْ شُوِيَّ عِنْدَ الْبَيْتِ وَيَخْرُجُ مَعَهُ دَائِمًا وَرُبَّمَا قَالَ لَهُ كَلَامًا لَا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَهُ لَهُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحِدَّةِ مَحْمُودٌ


Imam Ibnul Jauzi —semoga Allah Merahmatinya— berkata,“Saat Anda dapati teman Anda sudah marahdan mulai berkata yang tidak pantas,maka tidak seyogianya Anda menanggapi serius ucapannyadan jangan menghukumnya karena hal itu. Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabukyang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut, …” Saudara-saudara, orang marah itu bahkan menyalahkan dirinya sendirikarena marah, dia menuduh dirinya dengan apa yang tidak dia lakukan.Sebagian orang, bagaimana jika sedang marah dengan istrinya? Sang suami marah kepada istrinya, lalu istrinya berkata, “Ya! Aku begini begitu!”Lalu suaminya menghukumnya karena ucapannya itu.Sang suami berkata, “Kamu sendiri kan yang berkata waktu itu bahwa kamu begitu!” Orang marah itu tidak menyadari apa yang dia ucapkan,dan asal bicara saat marah.Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabuk,yang tidak tahu apa yang dia ucapkan,justru Anda harus bersabar dengan amarahnya tersebut. Tidak usah menanggapi amarahnya,karena setan telah menguasainya,dan emosinya telah meledak,dan akalnya sudah tertutup. Saat Anda terbawa perasaan menanggapinya,atau membalas apa yang dia lakukan,maka Anda seperti orang waras yang menanggapi orang gila,atau seperti orang sadar yang memaki orang pingsan. Jadi, Anda yang berdosa.”Adapun dia tidak berdosa,karena sudah seperti orang pingsan.Beliau berkata, “Malah Anda harus melihatnya dengan kasih sayangdan perlahan berusaha mengubah keadaan dirinya. Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda.” Orang yang sedang marah akan meminta apa yang tidak dia inginkan.Istri ketika marah mungkin sajamengatakan, “Ceraikan aku!Kalau kamu lelaki, ceraikan aku!” Jika suaminya sabar dan tenang serta tidak berbuat apa pun,saat marahnya reda, istrinya akan berterima kasih kepadanya atas sikapnya itu. Namun jika dia benar menceraikannya,maka saat itu juga dia telah terceraikan.Barulah saat dia menyadarinya,dia mulai menangis,berharap, dan mencari. Itulah sebabnya beliau—semoga Allah Merahmatinya— mengatakan,Ketahuilah bahwa jika dia sudah sadar,dia akan menyesali apa yang terjadidan menyadari betapa utamanya kesabaran Anda. Ketika Anda mendengar perkataan apa pun darinya,maka pastikan jawaban Anda adalah perkataan yang baik,karena itu sangat ampuh dalam menahan lisannya.” Ini juga salah satu cara meredam amarah,balas keburukan dengan kebaikan.Ini akan membuatnya tenang. Aku akhiri prinsip ini dengan sebuah perkataan indahyang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dari Umar bin Abdul Aziz.Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Sifat yang paling Allah ʿAzza wa Jalla Cintai ada empat;(1) Sifat moderat ketika benci—atau berkata: ketika cinta—(2) sifat tenang ketika marah,(3) sifat lembut kepada hamba-hamba Allah dalam setiap kondisi,(4) dan sifat pemaaf ketika mampu (membalas).” “Sifat moderat ketika benci, …”artinya ketika seseorang merasa berang,ucapannya jangan menzalimi,perkataannya jangan dilebih-lebihkan,dan omongannya tidak usah ditambah-tambahi,atau juga (moderat) ketika cinta, Jangan berlebihan dalam cinta dan kecondongannya.Terkadang di menjanjikan hal-hal yang tidak bisa dia lakukan.Sebagian lelaki, ketika masih di awal-awal masa pernikahankarena cinta dia membebani diri dengan perkara di luar kemampuannya. “Aku akan berbuat ini untukmu,berbuat ini untukmu, dan berbuat ini untukmu.”Dia menjanjikannya ini, ini, dan ini,kemudian dilanggar, karena tidak mampu.Jadi, moderat saat cinta itu terpuji. Bahkan dalam pertemanan, sebagian orangketika akrab pertama kali dengan seseorang,Anda lihat saat temannya pergi, “Makanlah sebentar di rumah,”dia selalu keluar bersamanya,dan terkadang mengatakan sesuatu yang tidak semestinya dia katakan kepadanya.Moderat (bersikap pertengahan) saat mencintai atau membenci itu baik. ==== يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ رَحِمَهُ اللهُ مَتَى رَأَيْتَ صَاحِبَكَ قَدْ غَضِبَ وَأَخَذَ يَتَكَلَّمُ بِمَا لَا يَصْلُحُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تَعْقِدَ عَلَى مَا يَقُولُهُ خُنْصُرًا وَلَا أَنْ تُؤَاخِذَهُ بِهِ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ يَا إِخْوَانُ الْغَضْبَانُ حَتَّى يَتَّهِمَ بِنَفْسِهِ مِنْ غَضَبِهِ يَرْمِي نَفْسَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ وَبَعْضُ النَّاسِ مَاذَا إِذَا تَغَاضَبَ مَعَ زَوْجَتِهِ؟ فَغَضِبَ عَلَيْهَا قَالَ… وَقَالَتْ لَهُ: نَعَمْ أَنَا كَذَا آخَذَهَا بِهَذَا بِمَا قَالَتْ وَقَالَ: أَنْتِ فِي الْيَوْمِ الْفُلَانِيِّ قُلْتِ كَذَا الْغَضْبَانُ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ وَيَتَجَارَى عِنْدَ الْغَضَبِ بِمَا لَا يَعْتَقِدُ يَقُولُ فَإِنَّ حَالَهُ حَالُ السَّكْرَانِ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ بَلِ اصْبِرْ لِفَوْرَتِهِ وَلَا تُعَوِّلْ عَلَيْهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ غَلَبَهُ وَالطَّبْعَ قَدْ هَاجَ وَالْعَقْلَ قَدِ اسْتَتَرَ وَمَتَى أَخَذْتَ فِي نَفْسِكَ عَلَيْهِ أَوْ أَجَبْتَهُ بِمُقْتَضَى فِعْلِهِ كُنْتَ كَعَاقِلٍ وَاجَهَ مَجْنُونًا أَوْ كَمُفِيقٍ عَاتَبَ مُغْمَى عَلَيْهِ فَالذَّنْبُ لَكَ أَمَّا هُوَ مَا لَهُ ذَنْبٌ هُوَ أَصْبَحَ مِثْلَ الْمُغْمَى عَلَيْهِ قَالَ: بَلِ انْظُرْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ وَتَلَمَّحْ تَصرِيفَ الْقَدَرِ لَهُ وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ إِنْسَانٌ وَهُوَ غَضْبَانُ يَطْلُبُ مَا لَا يُرِيدُ الْمَرْأَةُ رُبَّمَا إِذَا غَضَبَتْ قَالَتْ: طَلِّقْنِي إِنْ كُنْتَ رَجُلًا طَلِّقْنِي إِذَا الرَّجُلُ صَبَرَ وَاسْتَكَنَ وَمَا فَعَلَ شَيْئًا إِذَا ذَهَبَ الْغَضَبُ تَشْكُرُهُ عَلَى مَا فَعَلَ أَمَّا إِذَا طَلَّقَهَا وَكَانَ فِي حَالٍ يَقَعُ مِنْهَا الطَّلَاقُ فَأَينَمَا أَنْ تُدْرِكَ حَتَّى تَبْدَأَ تَبْكِي وَتَتَرَجَّى وَتَبْحَثُ لِذَلِكَ يَقُولُ رَحِمَهُ الله وَاعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا انْتَبَهَ نَدِمَ عَلَى مَا جَرَى وَعَرَفَ لَكَ فَضْلَ الصَّبْرِ وَمَتَى سَمِعْتَ مِنْهُ كَلِمَةً فَاجْعَلْ جَوَابَهَا كَلِمَةً جَمِيلَةً فَهِيَ أَقْوَى فِي كَفِّ لِسَانِهِ وَهَذَا أَيْضًا مِمَّا يُطْفَأُ بِهِ الْغَضَبُ قَابِلِ الْقُبْحَ بِالْحُسْنِ وَهَذَا يَجْعَلُهُ يَهْدَأُ أَخْتِمُ هَذَا الْأَصْلَ بِكَلَامٍ جَمِيلٍ ذَكَرَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَحَبُّ الْأَشْيَاءِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَرْبَعَةٌ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ أَوْ قَالَ الْجِدَّةِ وَالْحِلْمُ عِنْدَ الْغَضَبِ وَالرِّفْقُ بِعِبَادِ اللهِ فِي كُلِّ حَالٍ وَالْعَفْوُ عِنْدَ الْقُدْرَةِ الْقَصْدُ عِنْدَ الْحِدَّةِ يَعْنِي إِذَا احْتَدَّ الْإِنْسَانُ لَا يَظْلِمُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَغْلُو فِي كَلَامِهِ وَلَا يَزِيدُ فِي كَلَامِهِ أَوْ عِنْدَ الْجِدَّةِ لَا يَغْلُو فِي حُبِّهِ وَمَيْلِهِ وَقَدْ يَعِدُ بِأَشْيَاءَ مَا يَسْتَطِيعُهَا بَعْضُ الشَّبَابِ إِذَا تَزَوَّجَ أَوَّلَ مَا يَتَزَوَّجُ مَعَ الْجِدَّةِ يُحَمِّلُ نَفْسَهُ مَا لَا يُطِيقُ أَنَا سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ سَأَفْعَلُ لَكِ وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا وَيَعُدُهَا ثُمَّ هُوَ يَتَوَرَّطُ مَا يَسْتَطِيعُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ مَحْمُودٌ حَتَّى بَعْضِ النَّاسِ حَتَّى فِي صُحْبَةٍ إِذَا صَاحَبَ الْإِنْسَانُ أَوَّلَ مَرَّةٍ تَجِدُهُ يَذْهَبُ لَوْ كُلْ شُوِيَّ عِنْدَ الْبَيْتِ وَيَخْرُجُ مَعَهُ دَائِمًا وَرُبَّمَا قَالَ لَهُ كَلَامًا لَا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَهُ لَهُ فَالْقَصْدُ عِنْدَ الْجِدَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحِدَّةِ مَحْمُودٌ

Selain Manasik Haji Tamattu’, Ada juga Manasik Haji Qiran, Apa Perbedaan Keduanya?

Selain ada manasik haji tamattu’, ada juga manasik haji qiran. Apa perbedaan di antara keduanya? Manasik haji qiran adalah berihram dengan niatan haji dan umrah di mana haji dan umrah digabungkan pada bulan-bulan haji, kemudian melakukan amalan haji secara sempurna, ia memasukkan amalan umrah pada amalan haji, cukup dengan sekali thawaf dan sai untuk haji. Namun, untuk haji qiran wajib ada penyembelihan hadyu (menurut madzhab Syafii disebut dengan dam) karena diqiyaskan dengan haji tamattu’, bahkan haji qiran lebih pantas kena dam ini (menurut kalangan Syafiiyah). Seperti kita ketahui sebelumnya ada tiga jenis manasik. Tamattu’: berniat ihram untuk umrah dari miqat pada bulan haji dengan niatan LABBAIK ‘UMROTAN, lalu tahallul, kemudian berniat haji pada delapan Dzulhijjah dengan niatan LABBAIK HAJJAN. Qiran: berniat ihram untuk umrah dan haji sekaligus dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK ‘UMROTAN WA HAJJAN. Ifrad: berniat ihram untuk haji saja dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK HAJJAN. Setelah berhaji, barulah berihram. Baca juga: Tiga Macam Manasik Haji: Qiran, Tamattu’, dan Ifrad       Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #773 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #773 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( قَالَ لَهَا: { طَوَافُكِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ اَلصَّفَا وَاَلْمَرْوَةِ يَكْفِيكَ لِحَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Thawafmu di Baitullah dan saimu antara Shafa dan Marwa telah cukup bagimu untuk haji dan umrahmu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1211, 133]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil untuk yang memiliki manasik haji qiran, haji dan umrahnya cukup dengan satu kali thawaf dan satu kali sai. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Yang memilih pendapat ini adalah Imam Syafii, Imam Ahmad, dan Ishaq.  Para ulama berselisih pendapat untuk haji tamattu’, apakah cukup dengan sekali sai saja. Yang tepat, tetap ada dua sai yaitu sai untuk umrahnya dan sai untuk hajinya.  Urutan pelaksanaan manasik haji dengan qiran: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf qudum, (3) sai haji, (4) tetap berihram, (5) ke Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (13) thawaf wada’. Bedanya dengan urutan pelaksanaan manasik haji dengan tamattu’: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf umrah, (3) sai umrah, (4) tahallul untuk umrah dengan halq atau taqshir, sudah boleh melakukan larangan ihram, (5) ihram untuk haji lalu menuju Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) sai haji, (13) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (14) thawaf wada’.   Baca juga: Penjelasan Dalil Haji Tamattu’ dan Qiran, serta Konsekuensinya dan Manakah yang Lebih Afdal   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:349-352. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:697-698.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji dam larangan ihram haji qiran haji tamattu ihram larangan ihram panduan haji tata cara haji

Selain Manasik Haji Tamattu’, Ada juga Manasik Haji Qiran, Apa Perbedaan Keduanya?

Selain ada manasik haji tamattu’, ada juga manasik haji qiran. Apa perbedaan di antara keduanya? Manasik haji qiran adalah berihram dengan niatan haji dan umrah di mana haji dan umrah digabungkan pada bulan-bulan haji, kemudian melakukan amalan haji secara sempurna, ia memasukkan amalan umrah pada amalan haji, cukup dengan sekali thawaf dan sai untuk haji. Namun, untuk haji qiran wajib ada penyembelihan hadyu (menurut madzhab Syafii disebut dengan dam) karena diqiyaskan dengan haji tamattu’, bahkan haji qiran lebih pantas kena dam ini (menurut kalangan Syafiiyah). Seperti kita ketahui sebelumnya ada tiga jenis manasik. Tamattu’: berniat ihram untuk umrah dari miqat pada bulan haji dengan niatan LABBAIK ‘UMROTAN, lalu tahallul, kemudian berniat haji pada delapan Dzulhijjah dengan niatan LABBAIK HAJJAN. Qiran: berniat ihram untuk umrah dan haji sekaligus dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK ‘UMROTAN WA HAJJAN. Ifrad: berniat ihram untuk haji saja dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK HAJJAN. Setelah berhaji, barulah berihram. Baca juga: Tiga Macam Manasik Haji: Qiran, Tamattu’, dan Ifrad       Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #773 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #773 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( قَالَ لَهَا: { طَوَافُكِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ اَلصَّفَا وَاَلْمَرْوَةِ يَكْفِيكَ لِحَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Thawafmu di Baitullah dan saimu antara Shafa dan Marwa telah cukup bagimu untuk haji dan umrahmu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1211, 133]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil untuk yang memiliki manasik haji qiran, haji dan umrahnya cukup dengan satu kali thawaf dan satu kali sai. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Yang memilih pendapat ini adalah Imam Syafii, Imam Ahmad, dan Ishaq.  Para ulama berselisih pendapat untuk haji tamattu’, apakah cukup dengan sekali sai saja. Yang tepat, tetap ada dua sai yaitu sai untuk umrahnya dan sai untuk hajinya.  Urutan pelaksanaan manasik haji dengan qiran: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf qudum, (3) sai haji, (4) tetap berihram, (5) ke Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (13) thawaf wada’. Bedanya dengan urutan pelaksanaan manasik haji dengan tamattu’: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf umrah, (3) sai umrah, (4) tahallul untuk umrah dengan halq atau taqshir, sudah boleh melakukan larangan ihram, (5) ihram untuk haji lalu menuju Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) sai haji, (13) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (14) thawaf wada’.   Baca juga: Penjelasan Dalil Haji Tamattu’ dan Qiran, serta Konsekuensinya dan Manakah yang Lebih Afdal   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:349-352. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:697-698.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji dam larangan ihram haji qiran haji tamattu ihram larangan ihram panduan haji tata cara haji
Selain ada manasik haji tamattu’, ada juga manasik haji qiran. Apa perbedaan di antara keduanya? Manasik haji qiran adalah berihram dengan niatan haji dan umrah di mana haji dan umrah digabungkan pada bulan-bulan haji, kemudian melakukan amalan haji secara sempurna, ia memasukkan amalan umrah pada amalan haji, cukup dengan sekali thawaf dan sai untuk haji. Namun, untuk haji qiran wajib ada penyembelihan hadyu (menurut madzhab Syafii disebut dengan dam) karena diqiyaskan dengan haji tamattu’, bahkan haji qiran lebih pantas kena dam ini (menurut kalangan Syafiiyah). Seperti kita ketahui sebelumnya ada tiga jenis manasik. Tamattu’: berniat ihram untuk umrah dari miqat pada bulan haji dengan niatan LABBAIK ‘UMROTAN, lalu tahallul, kemudian berniat haji pada delapan Dzulhijjah dengan niatan LABBAIK HAJJAN. Qiran: berniat ihram untuk umrah dan haji sekaligus dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK ‘UMROTAN WA HAJJAN. Ifrad: berniat ihram untuk haji saja dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK HAJJAN. Setelah berhaji, barulah berihram. Baca juga: Tiga Macam Manasik Haji: Qiran, Tamattu’, dan Ifrad       Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #773 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #773 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( قَالَ لَهَا: { طَوَافُكِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ اَلصَّفَا وَاَلْمَرْوَةِ يَكْفِيكَ لِحَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Thawafmu di Baitullah dan saimu antara Shafa dan Marwa telah cukup bagimu untuk haji dan umrahmu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1211, 133]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil untuk yang memiliki manasik haji qiran, haji dan umrahnya cukup dengan satu kali thawaf dan satu kali sai. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Yang memilih pendapat ini adalah Imam Syafii, Imam Ahmad, dan Ishaq.  Para ulama berselisih pendapat untuk haji tamattu’, apakah cukup dengan sekali sai saja. Yang tepat, tetap ada dua sai yaitu sai untuk umrahnya dan sai untuk hajinya.  Urutan pelaksanaan manasik haji dengan qiran: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf qudum, (3) sai haji, (4) tetap berihram, (5) ke Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (13) thawaf wada’. Bedanya dengan urutan pelaksanaan manasik haji dengan tamattu’: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf umrah, (3) sai umrah, (4) tahallul untuk umrah dengan halq atau taqshir, sudah boleh melakukan larangan ihram, (5) ihram untuk haji lalu menuju Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) sai haji, (13) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (14) thawaf wada’.   Baca juga: Penjelasan Dalil Haji Tamattu’ dan Qiran, serta Konsekuensinya dan Manakah yang Lebih Afdal   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:349-352. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:697-698.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji dam larangan ihram haji qiran haji tamattu ihram larangan ihram panduan haji tata cara haji


Selain ada manasik haji tamattu’, ada juga manasik haji qiran. Apa perbedaan di antara keduanya? Manasik haji qiran adalah berihram dengan niatan haji dan umrah di mana haji dan umrah digabungkan pada bulan-bulan haji, kemudian melakukan amalan haji secara sempurna, ia memasukkan amalan umrah pada amalan haji, cukup dengan sekali thawaf dan sai untuk haji. Namun, untuk haji qiran wajib ada penyembelihan hadyu (menurut madzhab Syafii disebut dengan dam) karena diqiyaskan dengan haji tamattu’, bahkan haji qiran lebih pantas kena dam ini (menurut kalangan Syafiiyah). Seperti kita ketahui sebelumnya ada tiga jenis manasik. Tamattu’: berniat ihram untuk umrah dari miqat pada bulan haji dengan niatan LABBAIK ‘UMROTAN, lalu tahallul, kemudian berniat haji pada delapan Dzulhijjah dengan niatan LABBAIK HAJJAN. Qiran: berniat ihram untuk umrah dan haji sekaligus dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK ‘UMROTAN WA HAJJAN. Ifrad: berniat ihram untuk haji saja dari miqat. Niatannya adalah LABBAIK HAJJAN. Setelah berhaji, barulah berihram. Baca juga: Tiga Macam Manasik Haji: Qiran, Tamattu’, dan Ifrad       Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #773 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #773 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( قَالَ لَهَا: { طَوَافُكِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ اَلصَّفَا وَاَلْمَرْوَةِ يَكْفِيكَ لِحَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Thawafmu di Baitullah dan saimu antara Shafa dan Marwa telah cukup bagimu untuk haji dan umrahmu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1211, 133]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil untuk yang memiliki manasik haji qiran, haji dan umrahnya cukup dengan satu kali thawaf dan satu kali sai. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Yang memilih pendapat ini adalah Imam Syafii, Imam Ahmad, dan Ishaq.  Para ulama berselisih pendapat untuk haji tamattu’, apakah cukup dengan sekali sai saja. Yang tepat, tetap ada dua sai yaitu sai untuk umrahnya dan sai untuk hajinya.  Urutan pelaksanaan manasik haji dengan qiran: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf qudum, (3) sai haji, (4) tetap berihram, (5) ke Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (13) thawaf wada’. Bedanya dengan urutan pelaksanaan manasik haji dengan tamattu’: (1) ihram dengan niat, (2) thawaf umrah, (3) sai umrah, (4) tahallul untuk umrah dengan halq atau taqshir, sudah boleh melakukan larangan ihram, (5) ihram untuk haji lalu menuju Mina di hari Tarwiyah, (6) pergi ke Arafah lalu wukuf, (7) menuju Muzdalifah lalu mabit, (8) menuju Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah ‘Aqabah, (9) menyembelih hadyu, (10) halq atau taqshir (cukur botak atau memendekkan rambut, sudah tahallul awa), (11) thawaf ifadhah, (12) sai haji, (13) melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah pada hari tasyrik, (14) thawaf wada’.   Baca juga: Penjelasan Dalil Haji Tamattu’ dan Qiran, serta Konsekuensinya dan Manakah yang Lebih Afdal   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:349-352. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:697-698.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 22 Dzulhijjah 1444 H, 11 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji cara haji dam larangan ihram haji qiran haji tamattu ihram larangan ihram panduan haji tata cara haji

Kaum yang Gagal Mengejar Syafaat

Daftar Isi ToggleSalah menempuh jalanHukum berdoa kepada selain AllahBismillahImam Bukhari rahimahullah menuturkan, Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepada kami, dia berkata, Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Amr bin Abi Amr, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’at Anda pada hari kiamat kelak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sungguh aku telah mengira, wahai Abu Hurairah, bahwasanya tidak ada seorang pun yang akan menanyakan masalah hadis ini sebelum engkau. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di antara faedah hadis di atas adalah menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini juga menunjukkan besarnya keutamaan bersemangat dalam menimba ilmu syari’at. Demikian makna keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ‘Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah.’ Kata-kata ini mengandung makna bahwa orang musyrik (kafir) tidak termasuk di dalamnya. Adapun kata-kata ‘dengan ikhlas’, maka di dalamnya terkandung faedah bahwa orang munafik tidak termasuk kategori orang yang akan meraih janji dan keutamaan yang disebutkan di dalam hadis ini. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 234)Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari hadis ini adalah bahwasanya orang-orang yang akan memperoleh syafa’at adalah kaum yang ikhlas (bertauhid) saja. Mereka adalah orang-orang yang membenarkan keesaan Allah dan beriman kepada para rasul-Nya, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda beliau ‘alaihis salam, ‘ikhlas dari hati atau jiwanya.’” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari Li Ibni Baththal, 1: 176)Salah menempuh jalanAllah berfirman,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ “Orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai penolong (sesembahan), mereka itu mengatakan, ‘Tidaklah kami beribadah kepada mereka itu, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti memberikan keputusan di antara mereka dalam apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)Syekh Ibnu Baz rahimahullah menjelaskan, “Maknanya adalah bahwa mereka tidaklah beribadah kepada nabi-nabi dan orang-orang saleh, kecuali supaya mereka itu mendekatkan dirinya kepada Allah sedekat-dekatnya.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Allah telah menyebut mereka di dalam ayat ini dengan sebutan para pendusta dan kafir. Maka, ini menunjukkan bahwa ibadah yang mereka lakukan kepada sesembahan-sesembahan itu dengan alasan untuk mencari kedekatan diri adalah suatu kekafiran dan kemurtadan, meskipun mereka tidak mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan itu bisa mencipta dan memberikan rezeki…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Kejadian semacam ini pun banyak menimpa pengikut tarekat sufi. Syekh Shalih As-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Sebagian thaghut pemilik tarekat menanamkan di dalam benak pikiran pengikut-pengikutnya bahwa barangsiapa yang tidak memiliki syekh/guru yang menjadi perantara antara dirinya dengan Allah, maka amalnya tidak akan sampai kepada Allah. Mereka juga mengatakan, ‘Barangsiapa yang tidak punya syekh/guru tarekat, maka gurunya adalah setan.’ Maka, kita katakan kepadanya, ‘Barangsiapa yang mengangkat syekh, lalu dia menujukan ibadah kepadanya sehingga menjadi sekutu (tandingan) bagi Allah, dia menjadikannya sebagai perantara (antara dirinya dengan Allah), dia meminta diberi syafa’at dengan perantaranya, bernazar kepadanya, atau menyembelih untuk dipersembahkan kepadanya, maka orang seperti inilah yang gurunya adalah setan.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi, hal. 11)Syekh Muhammad Raslan hafizhahullah berkata, “Maka, orang-orang musyrik yang disebut oleh Allah sebagai kaum musyrikin, dan Allah tetapkan bahwa mereka dihukum kekal di neraka, mereka tidak mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah. Sesungguhnya mereka itu hanyalah berbuat syirik dalam hal uluhiyah. Mereka sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu adalah sesembahan yang mandiri atau berdiri sendiri. Mereka mengatakan bahwa ‘sesembahan itu semua hanya akan menjadi sarana (perantara) bagi kami untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penghubung antara kami dengan Allah.’…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Raslan, hal. 18)Allah berfirman,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ“Mereka itu beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak mendatangkan marabahaya maupun manfaat bagi mereka, dan mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah.’.” (QS. Yunus: 18)Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan, “Maksudnya adalah mereka itu biasa beribadah kepada mereka (sesembahan selain Allah) dengan harapan untuk bisa mendapatkan syafaatnya di sisi Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura10-aya18.html)Kedua ayat di atas mengandung pelajaran bahwa banyak orang berbuat syirik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan syafa’at di sisi-Nya. Tidaklah diragukan bahwa mendekatkan diri kepada Allah adalah perkara yang terpuji apabila hal itu dilakukan dengan cara-cara yang Allah ridai. Adapun mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembah selain Allah, maka hal ini justru membuat pelakunya dimurkai oleh Allah.Begitu pula mendapatkan syafa’at adalah keinginan yang terpuji. Akan tetapi, syafa’at tidak akan diberikan, kecuali bagi orang yang bertauhid. Oleh sebab itu, orang yang berdoa kepada selain Allah tidak akan mendapatkan syafa’at itu karena dia telah berbuat syirik kepada-Nya.Ibadah adalah hak Allah semata. Tidak boleh menujukan ibadah (apakah itu doa, istighotsah, nazar, sembelihan, dsb) kepada selain Allah. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/berdoa bersama dengan Allah ada (sesembahan) yang lain, siapa pun ia.” (QS. Al-Jin: 18)Maka, tidak boleh berdoa kepada penghuni kubur, wali yang sudah mati, jin atau nabi dengan alasan untuk menjadikan mereka sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah atau untuk mendapatkan syafa’at. Ini adalah alasan-alasan yang tertolak di dalam Islam.Baca juga: Menempuh Jalan TobatHukum berdoa kepada selain AllahSyekh Faishal Al-Jasim hafizhahullah menyebutkan 3 keadaan di mana berdoa kepada selain Allah itu dihukumi termasuk perbuatan syirik :Pertama, apabila dia berdoa (meminta) kepada makhluk sesuatu yang tidak dikuasai, kecuali oleh Allah, seperti memberi petunjuk ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan keturunan, menurunkan hujan, dsb.Kedua, apabila dia berdoa kepada orang yang sudah meninggal dan meminta kepadanya.Ketiga, apabila dia berdoa kepada orang yang gaib (tidak hadir) dan tidak berhubungan dengannya dengan sarana telekomunikasi. Karena tidak ada yang bisa meliputi semua suara, kecuali Allah. Tidak ada yang bisa membebaskan dari kesulitan dari jarak jauh, kecuali Allah. Karena hanya Allah yang mampu mendengar semua suara dari mana pun datangnya. (lihat penjelasan beliau dalam Tajrid At-Tauhid min Daranisy Syirki, hal. 24-26)Demikian sedikit catatan yang bisa kami sajikan, tentunya dengan taufik dari Allah semata. Semoga bermanfaat bagi kita untuk menjauhkan diri dari syirik dan kekafiran. Wallahul musta’aan.Alhamdulillah selesai disusun ulang di markas YPIA.Baca juga: Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’ala***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: hari kiamatsalah jalanSyafaat

Kaum yang Gagal Mengejar Syafaat

Daftar Isi ToggleSalah menempuh jalanHukum berdoa kepada selain AllahBismillahImam Bukhari rahimahullah menuturkan, Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepada kami, dia berkata, Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Amr bin Abi Amr, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’at Anda pada hari kiamat kelak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sungguh aku telah mengira, wahai Abu Hurairah, bahwasanya tidak ada seorang pun yang akan menanyakan masalah hadis ini sebelum engkau. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di antara faedah hadis di atas adalah menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini juga menunjukkan besarnya keutamaan bersemangat dalam menimba ilmu syari’at. Demikian makna keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ‘Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah.’ Kata-kata ini mengandung makna bahwa orang musyrik (kafir) tidak termasuk di dalamnya. Adapun kata-kata ‘dengan ikhlas’, maka di dalamnya terkandung faedah bahwa orang munafik tidak termasuk kategori orang yang akan meraih janji dan keutamaan yang disebutkan di dalam hadis ini. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 234)Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari hadis ini adalah bahwasanya orang-orang yang akan memperoleh syafa’at adalah kaum yang ikhlas (bertauhid) saja. Mereka adalah orang-orang yang membenarkan keesaan Allah dan beriman kepada para rasul-Nya, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda beliau ‘alaihis salam, ‘ikhlas dari hati atau jiwanya.’” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari Li Ibni Baththal, 1: 176)Salah menempuh jalanAllah berfirman,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ “Orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai penolong (sesembahan), mereka itu mengatakan, ‘Tidaklah kami beribadah kepada mereka itu, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti memberikan keputusan di antara mereka dalam apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)Syekh Ibnu Baz rahimahullah menjelaskan, “Maknanya adalah bahwa mereka tidaklah beribadah kepada nabi-nabi dan orang-orang saleh, kecuali supaya mereka itu mendekatkan dirinya kepada Allah sedekat-dekatnya.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Allah telah menyebut mereka di dalam ayat ini dengan sebutan para pendusta dan kafir. Maka, ini menunjukkan bahwa ibadah yang mereka lakukan kepada sesembahan-sesembahan itu dengan alasan untuk mencari kedekatan diri adalah suatu kekafiran dan kemurtadan, meskipun mereka tidak mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan itu bisa mencipta dan memberikan rezeki…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Kejadian semacam ini pun banyak menimpa pengikut tarekat sufi. Syekh Shalih As-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Sebagian thaghut pemilik tarekat menanamkan di dalam benak pikiran pengikut-pengikutnya bahwa barangsiapa yang tidak memiliki syekh/guru yang menjadi perantara antara dirinya dengan Allah, maka amalnya tidak akan sampai kepada Allah. Mereka juga mengatakan, ‘Barangsiapa yang tidak punya syekh/guru tarekat, maka gurunya adalah setan.’ Maka, kita katakan kepadanya, ‘Barangsiapa yang mengangkat syekh, lalu dia menujukan ibadah kepadanya sehingga menjadi sekutu (tandingan) bagi Allah, dia menjadikannya sebagai perantara (antara dirinya dengan Allah), dia meminta diberi syafa’at dengan perantaranya, bernazar kepadanya, atau menyembelih untuk dipersembahkan kepadanya, maka orang seperti inilah yang gurunya adalah setan.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi, hal. 11)Syekh Muhammad Raslan hafizhahullah berkata, “Maka, orang-orang musyrik yang disebut oleh Allah sebagai kaum musyrikin, dan Allah tetapkan bahwa mereka dihukum kekal di neraka, mereka tidak mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah. Sesungguhnya mereka itu hanyalah berbuat syirik dalam hal uluhiyah. Mereka sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu adalah sesembahan yang mandiri atau berdiri sendiri. Mereka mengatakan bahwa ‘sesembahan itu semua hanya akan menjadi sarana (perantara) bagi kami untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penghubung antara kami dengan Allah.’…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Raslan, hal. 18)Allah berfirman,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ“Mereka itu beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak mendatangkan marabahaya maupun manfaat bagi mereka, dan mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah.’.” (QS. Yunus: 18)Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan, “Maksudnya adalah mereka itu biasa beribadah kepada mereka (sesembahan selain Allah) dengan harapan untuk bisa mendapatkan syafaatnya di sisi Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura10-aya18.html)Kedua ayat di atas mengandung pelajaran bahwa banyak orang berbuat syirik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan syafa’at di sisi-Nya. Tidaklah diragukan bahwa mendekatkan diri kepada Allah adalah perkara yang terpuji apabila hal itu dilakukan dengan cara-cara yang Allah ridai. Adapun mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembah selain Allah, maka hal ini justru membuat pelakunya dimurkai oleh Allah.Begitu pula mendapatkan syafa’at adalah keinginan yang terpuji. Akan tetapi, syafa’at tidak akan diberikan, kecuali bagi orang yang bertauhid. Oleh sebab itu, orang yang berdoa kepada selain Allah tidak akan mendapatkan syafa’at itu karena dia telah berbuat syirik kepada-Nya.Ibadah adalah hak Allah semata. Tidak boleh menujukan ibadah (apakah itu doa, istighotsah, nazar, sembelihan, dsb) kepada selain Allah. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/berdoa bersama dengan Allah ada (sesembahan) yang lain, siapa pun ia.” (QS. Al-Jin: 18)Maka, tidak boleh berdoa kepada penghuni kubur, wali yang sudah mati, jin atau nabi dengan alasan untuk menjadikan mereka sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah atau untuk mendapatkan syafa’at. Ini adalah alasan-alasan yang tertolak di dalam Islam.Baca juga: Menempuh Jalan TobatHukum berdoa kepada selain AllahSyekh Faishal Al-Jasim hafizhahullah menyebutkan 3 keadaan di mana berdoa kepada selain Allah itu dihukumi termasuk perbuatan syirik :Pertama, apabila dia berdoa (meminta) kepada makhluk sesuatu yang tidak dikuasai, kecuali oleh Allah, seperti memberi petunjuk ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan keturunan, menurunkan hujan, dsb.Kedua, apabila dia berdoa kepada orang yang sudah meninggal dan meminta kepadanya.Ketiga, apabila dia berdoa kepada orang yang gaib (tidak hadir) dan tidak berhubungan dengannya dengan sarana telekomunikasi. Karena tidak ada yang bisa meliputi semua suara, kecuali Allah. Tidak ada yang bisa membebaskan dari kesulitan dari jarak jauh, kecuali Allah. Karena hanya Allah yang mampu mendengar semua suara dari mana pun datangnya. (lihat penjelasan beliau dalam Tajrid At-Tauhid min Daranisy Syirki, hal. 24-26)Demikian sedikit catatan yang bisa kami sajikan, tentunya dengan taufik dari Allah semata. Semoga bermanfaat bagi kita untuk menjauhkan diri dari syirik dan kekafiran. Wallahul musta’aan.Alhamdulillah selesai disusun ulang di markas YPIA.Baca juga: Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’ala***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: hari kiamatsalah jalanSyafaat
Daftar Isi ToggleSalah menempuh jalanHukum berdoa kepada selain AllahBismillahImam Bukhari rahimahullah menuturkan, Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepada kami, dia berkata, Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Amr bin Abi Amr, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’at Anda pada hari kiamat kelak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sungguh aku telah mengira, wahai Abu Hurairah, bahwasanya tidak ada seorang pun yang akan menanyakan masalah hadis ini sebelum engkau. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di antara faedah hadis di atas adalah menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini juga menunjukkan besarnya keutamaan bersemangat dalam menimba ilmu syari’at. Demikian makna keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ‘Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah.’ Kata-kata ini mengandung makna bahwa orang musyrik (kafir) tidak termasuk di dalamnya. Adapun kata-kata ‘dengan ikhlas’, maka di dalamnya terkandung faedah bahwa orang munafik tidak termasuk kategori orang yang akan meraih janji dan keutamaan yang disebutkan di dalam hadis ini. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 234)Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari hadis ini adalah bahwasanya orang-orang yang akan memperoleh syafa’at adalah kaum yang ikhlas (bertauhid) saja. Mereka adalah orang-orang yang membenarkan keesaan Allah dan beriman kepada para rasul-Nya, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda beliau ‘alaihis salam, ‘ikhlas dari hati atau jiwanya.’” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari Li Ibni Baththal, 1: 176)Salah menempuh jalanAllah berfirman,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ “Orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai penolong (sesembahan), mereka itu mengatakan, ‘Tidaklah kami beribadah kepada mereka itu, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti memberikan keputusan di antara mereka dalam apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)Syekh Ibnu Baz rahimahullah menjelaskan, “Maknanya adalah bahwa mereka tidaklah beribadah kepada nabi-nabi dan orang-orang saleh, kecuali supaya mereka itu mendekatkan dirinya kepada Allah sedekat-dekatnya.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Allah telah menyebut mereka di dalam ayat ini dengan sebutan para pendusta dan kafir. Maka, ini menunjukkan bahwa ibadah yang mereka lakukan kepada sesembahan-sesembahan itu dengan alasan untuk mencari kedekatan diri adalah suatu kekafiran dan kemurtadan, meskipun mereka tidak mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan itu bisa mencipta dan memberikan rezeki…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Kejadian semacam ini pun banyak menimpa pengikut tarekat sufi. Syekh Shalih As-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Sebagian thaghut pemilik tarekat menanamkan di dalam benak pikiran pengikut-pengikutnya bahwa barangsiapa yang tidak memiliki syekh/guru yang menjadi perantara antara dirinya dengan Allah, maka amalnya tidak akan sampai kepada Allah. Mereka juga mengatakan, ‘Barangsiapa yang tidak punya syekh/guru tarekat, maka gurunya adalah setan.’ Maka, kita katakan kepadanya, ‘Barangsiapa yang mengangkat syekh, lalu dia menujukan ibadah kepadanya sehingga menjadi sekutu (tandingan) bagi Allah, dia menjadikannya sebagai perantara (antara dirinya dengan Allah), dia meminta diberi syafa’at dengan perantaranya, bernazar kepadanya, atau menyembelih untuk dipersembahkan kepadanya, maka orang seperti inilah yang gurunya adalah setan.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi, hal. 11)Syekh Muhammad Raslan hafizhahullah berkata, “Maka, orang-orang musyrik yang disebut oleh Allah sebagai kaum musyrikin, dan Allah tetapkan bahwa mereka dihukum kekal di neraka, mereka tidak mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah. Sesungguhnya mereka itu hanyalah berbuat syirik dalam hal uluhiyah. Mereka sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu adalah sesembahan yang mandiri atau berdiri sendiri. Mereka mengatakan bahwa ‘sesembahan itu semua hanya akan menjadi sarana (perantara) bagi kami untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penghubung antara kami dengan Allah.’…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Raslan, hal. 18)Allah berfirman,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ“Mereka itu beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak mendatangkan marabahaya maupun manfaat bagi mereka, dan mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah.’.” (QS. Yunus: 18)Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan, “Maksudnya adalah mereka itu biasa beribadah kepada mereka (sesembahan selain Allah) dengan harapan untuk bisa mendapatkan syafaatnya di sisi Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura10-aya18.html)Kedua ayat di atas mengandung pelajaran bahwa banyak orang berbuat syirik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan syafa’at di sisi-Nya. Tidaklah diragukan bahwa mendekatkan diri kepada Allah adalah perkara yang terpuji apabila hal itu dilakukan dengan cara-cara yang Allah ridai. Adapun mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembah selain Allah, maka hal ini justru membuat pelakunya dimurkai oleh Allah.Begitu pula mendapatkan syafa’at adalah keinginan yang terpuji. Akan tetapi, syafa’at tidak akan diberikan, kecuali bagi orang yang bertauhid. Oleh sebab itu, orang yang berdoa kepada selain Allah tidak akan mendapatkan syafa’at itu karena dia telah berbuat syirik kepada-Nya.Ibadah adalah hak Allah semata. Tidak boleh menujukan ibadah (apakah itu doa, istighotsah, nazar, sembelihan, dsb) kepada selain Allah. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/berdoa bersama dengan Allah ada (sesembahan) yang lain, siapa pun ia.” (QS. Al-Jin: 18)Maka, tidak boleh berdoa kepada penghuni kubur, wali yang sudah mati, jin atau nabi dengan alasan untuk menjadikan mereka sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah atau untuk mendapatkan syafa’at. Ini adalah alasan-alasan yang tertolak di dalam Islam.Baca juga: Menempuh Jalan TobatHukum berdoa kepada selain AllahSyekh Faishal Al-Jasim hafizhahullah menyebutkan 3 keadaan di mana berdoa kepada selain Allah itu dihukumi termasuk perbuatan syirik :Pertama, apabila dia berdoa (meminta) kepada makhluk sesuatu yang tidak dikuasai, kecuali oleh Allah, seperti memberi petunjuk ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan keturunan, menurunkan hujan, dsb.Kedua, apabila dia berdoa kepada orang yang sudah meninggal dan meminta kepadanya.Ketiga, apabila dia berdoa kepada orang yang gaib (tidak hadir) dan tidak berhubungan dengannya dengan sarana telekomunikasi. Karena tidak ada yang bisa meliputi semua suara, kecuali Allah. Tidak ada yang bisa membebaskan dari kesulitan dari jarak jauh, kecuali Allah. Karena hanya Allah yang mampu mendengar semua suara dari mana pun datangnya. (lihat penjelasan beliau dalam Tajrid At-Tauhid min Daranisy Syirki, hal. 24-26)Demikian sedikit catatan yang bisa kami sajikan, tentunya dengan taufik dari Allah semata. Semoga bermanfaat bagi kita untuk menjauhkan diri dari syirik dan kekafiran. Wallahul musta’aan.Alhamdulillah selesai disusun ulang di markas YPIA.Baca juga: Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’ala***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: hari kiamatsalah jalanSyafaat


Daftar Isi ToggleSalah menempuh jalanHukum berdoa kepada selain AllahBismillahImam Bukhari rahimahullah menuturkan, Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepada kami, dia berkata, Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Amr bin Abi Amr, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’at Anda pada hari kiamat kelak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sungguh aku telah mengira, wahai Abu Hurairah, bahwasanya tidak ada seorang pun yang akan menanyakan masalah hadis ini sebelum engkau. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” (lihat Shahih Al-Bukhari bersama Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di antara faedah hadis di atas adalah menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini juga menunjukkan besarnya keutamaan bersemangat dalam menimba ilmu syari’at. Demikian makna keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 233)Di dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ‘Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah.’ Kata-kata ini mengandung makna bahwa orang musyrik (kafir) tidak termasuk di dalamnya. Adapun kata-kata ‘dengan ikhlas’, maka di dalamnya terkandung faedah bahwa orang munafik tidak termasuk kategori orang yang akan meraih janji dan keutamaan yang disebutkan di dalam hadis ini. (lihat Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, 1: 234)Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari hadis ini adalah bahwasanya orang-orang yang akan memperoleh syafa’at adalah kaum yang ikhlas (bertauhid) saja. Mereka adalah orang-orang yang membenarkan keesaan Allah dan beriman kepada para rasul-Nya, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda beliau ‘alaihis salam, ‘ikhlas dari hati atau jiwanya.’” (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari Li Ibni Baththal, 1: 176)Salah menempuh jalanAllah berfirman,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ “Orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai penolong (sesembahan), mereka itu mengatakan, ‘Tidaklah kami beribadah kepada mereka itu, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti memberikan keputusan di antara mereka dalam apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)Syekh Ibnu Baz rahimahullah menjelaskan, “Maknanya adalah bahwa mereka tidaklah beribadah kepada nabi-nabi dan orang-orang saleh, kecuali supaya mereka itu mendekatkan dirinya kepada Allah sedekat-dekatnya.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Allah telah menyebut mereka di dalam ayat ini dengan sebutan para pendusta dan kafir. Maka, ini menunjukkan bahwa ibadah yang mereka lakukan kepada sesembahan-sesembahan itu dengan alasan untuk mencari kedekatan diri adalah suatu kekafiran dan kemurtadan, meskipun mereka tidak mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan itu bisa mencipta dan memberikan rezeki…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Ibnu Baz, hal. 16)Kejadian semacam ini pun banyak menimpa pengikut tarekat sufi. Syekh Shalih As-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Sebagian thaghut pemilik tarekat menanamkan di dalam benak pikiran pengikut-pengikutnya bahwa barangsiapa yang tidak memiliki syekh/guru yang menjadi perantara antara dirinya dengan Allah, maka amalnya tidak akan sampai kepada Allah. Mereka juga mengatakan, ‘Barangsiapa yang tidak punya syekh/guru tarekat, maka gurunya adalah setan.’ Maka, kita katakan kepadanya, ‘Barangsiapa yang mengangkat syekh, lalu dia menujukan ibadah kepadanya sehingga menjadi sekutu (tandingan) bagi Allah, dia menjadikannya sebagai perantara (antara dirinya dengan Allah), dia meminta diberi syafa’at dengan perantaranya, bernazar kepadanya, atau menyembelih untuk dipersembahkan kepadanya, maka orang seperti inilah yang gurunya adalah setan.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi, hal. 11)Syekh Muhammad Raslan hafizhahullah berkata, “Maka, orang-orang musyrik yang disebut oleh Allah sebagai kaum musyrikin, dan Allah tetapkan bahwa mereka dihukum kekal di neraka, mereka tidak mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah. Sesungguhnya mereka itu hanyalah berbuat syirik dalam hal uluhiyah. Mereka sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu adalah sesembahan yang mandiri atau berdiri sendiri. Mereka mengatakan bahwa ‘sesembahan itu semua hanya akan menjadi sarana (perantara) bagi kami untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penghubung antara kami dengan Allah.’…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ oleh Syekh Raslan, hal. 18)Allah berfirman,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ“Mereka itu beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak mendatangkan marabahaya maupun manfaat bagi mereka, dan mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah.’.” (QS. Yunus: 18)Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan, “Maksudnya adalah mereka itu biasa beribadah kepada mereka (sesembahan selain Allah) dengan harapan untuk bisa mendapatkan syafaatnya di sisi Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura10-aya18.html)Kedua ayat di atas mengandung pelajaran bahwa banyak orang berbuat syirik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan syafa’at di sisi-Nya. Tidaklah diragukan bahwa mendekatkan diri kepada Allah adalah perkara yang terpuji apabila hal itu dilakukan dengan cara-cara yang Allah ridai. Adapun mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembah selain Allah, maka hal ini justru membuat pelakunya dimurkai oleh Allah.Begitu pula mendapatkan syafa’at adalah keinginan yang terpuji. Akan tetapi, syafa’at tidak akan diberikan, kecuali bagi orang yang bertauhid. Oleh sebab itu, orang yang berdoa kepada selain Allah tidak akan mendapatkan syafa’at itu karena dia telah berbuat syirik kepada-Nya.Ibadah adalah hak Allah semata. Tidak boleh menujukan ibadah (apakah itu doa, istighotsah, nazar, sembelihan, dsb) kepada selain Allah. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/berdoa bersama dengan Allah ada (sesembahan) yang lain, siapa pun ia.” (QS. Al-Jin: 18)Maka, tidak boleh berdoa kepada penghuni kubur, wali yang sudah mati, jin atau nabi dengan alasan untuk menjadikan mereka sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah atau untuk mendapatkan syafa’at. Ini adalah alasan-alasan yang tertolak di dalam Islam.Baca juga: Menempuh Jalan TobatHukum berdoa kepada selain AllahSyekh Faishal Al-Jasim hafizhahullah menyebutkan 3 keadaan di mana berdoa kepada selain Allah itu dihukumi termasuk perbuatan syirik :Pertama, apabila dia berdoa (meminta) kepada makhluk sesuatu yang tidak dikuasai, kecuali oleh Allah, seperti memberi petunjuk ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan keturunan, menurunkan hujan, dsb.Kedua, apabila dia berdoa kepada orang yang sudah meninggal dan meminta kepadanya.Ketiga, apabila dia berdoa kepada orang yang gaib (tidak hadir) dan tidak berhubungan dengannya dengan sarana telekomunikasi. Karena tidak ada yang bisa meliputi semua suara, kecuali Allah. Tidak ada yang bisa membebaskan dari kesulitan dari jarak jauh, kecuali Allah. Karena hanya Allah yang mampu mendengar semua suara dari mana pun datangnya. (lihat penjelasan beliau dalam Tajrid At-Tauhid min Daranisy Syirki, hal. 24-26)Demikian sedikit catatan yang bisa kami sajikan, tentunya dengan taufik dari Allah semata. Semoga bermanfaat bagi kita untuk menjauhkan diri dari syirik dan kekafiran. Wallahul musta’aan.Alhamdulillah selesai disusun ulang di markas YPIA.Baca juga: Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’ala***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: hari kiamatsalah jalanSyafaat

Laporan Produksi Yufid Bulan Juni 2023

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 750 juta kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.409 Jumlah Subscribers :  3.847.270 Total Tayangan Video (Total Views) :  639.583.306 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 4.784.354 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 406.579 Jam Penambahan Subscribers : +15.943 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 89 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.028 Jumlah Subscribers : 289.243 Total Tayangan Video (Total Views) :  19.841.171 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 17 video Tayangan Rentang Juni (Views/Month) : 134.757 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 7.209 Jam Penambahan Subscribers : +1.486 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 30 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 78 Jumlah Subscribers : 363.328 Total Tayangan Video (Total Views) : 106.425.690 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.927.201 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 162.474 Jam Penambahan Subscribers : +7.336 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.389 Total Tayangan Video (Total Views) : 437.742 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.290 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 401 Jam Penambahan Subscribers : +22 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 438 Jumlah Subscribers : 40.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.156.018 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 91.254 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : Jam Penambahan Subscribers Perbulan : +1.200 Instagram Yufid TV Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Total Konten : 3.413 Total Pengikut : 1.137.168 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +7.896 Instagram Yufid Network Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Total Konten : 3.499 Total Pengikut : 497.506 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.880 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 39 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 9 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.908 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 29 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1058 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 355 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.   Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.208 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2472 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.   Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.647 file mp3 dengan total ukuran 362 Gb dan pada bulan Juni 2023 ini telah mempublikasikan 450 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2023 ini saja telah didengarkan 34.170 kali dan telah di download sebanyak 1.784 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.746.872 kata dengan rata-rata produksi per bulan 48 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 77.611 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.045 artikel dengan total durasi audio 174 jam dengan rata-rata perekaman 34 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juni 2023 yaitu 16 file audio dengan jumlah durasi 2,7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan Juni 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Biografi Ustadz Ammi Nur Baits, Bayi Meninggal Setelah Dilahirkan Menurut Islam, Lafadz Allah & Muhammad, Doa Yang Sering Dibaca Nabi Muhammad, Contoh Husnuzan Kepada Allah, Arti Mutmainnah Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 164 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Juni 2023

Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 750 juta kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.409 Jumlah Subscribers :  3.847.270 Total Tayangan Video (Total Views) :  639.583.306 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 4.784.354 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 406.579 Jam Penambahan Subscribers : +15.943 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 89 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.028 Jumlah Subscribers : 289.243 Total Tayangan Video (Total Views) :  19.841.171 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 17 video Tayangan Rentang Juni (Views/Month) : 134.757 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 7.209 Jam Penambahan Subscribers : +1.486 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 30 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 78 Jumlah Subscribers : 363.328 Total Tayangan Video (Total Views) : 106.425.690 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.927.201 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 162.474 Jam Penambahan Subscribers : +7.336 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.389 Total Tayangan Video (Total Views) : 437.742 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.290 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 401 Jam Penambahan Subscribers : +22 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 438 Jumlah Subscribers : 40.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.156.018 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 91.254 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : Jam Penambahan Subscribers Perbulan : +1.200 Instagram Yufid TV Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Total Konten : 3.413 Total Pengikut : 1.137.168 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +7.896 Instagram Yufid Network Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Total Konten : 3.499 Total Pengikut : 497.506 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.880 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 39 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 9 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.908 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 29 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1058 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 355 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.   Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.208 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2472 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.   Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.647 file mp3 dengan total ukuran 362 Gb dan pada bulan Juni 2023 ini telah mempublikasikan 450 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2023 ini saja telah didengarkan 34.170 kali dan telah di download sebanyak 1.784 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.746.872 kata dengan rata-rata produksi per bulan 48 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 77.611 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.045 artikel dengan total durasi audio 174 jam dengan rata-rata perekaman 34 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juni 2023 yaitu 16 file audio dengan jumlah durasi 2,7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan Juni 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Biografi Ustadz Ammi Nur Baits, Bayi Meninggal Setelah Dilahirkan Menurut Islam, Lafadz Allah & Muhammad, Doa Yang Sering Dibaca Nabi Muhammad, Contoh Husnuzan Kepada Allah, Arti Mutmainnah Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 164 QRIS donasi Yufid
Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 750 juta kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.409 Jumlah Subscribers :  3.847.270 Total Tayangan Video (Total Views) :  639.583.306 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 4.784.354 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 406.579 Jam Penambahan Subscribers : +15.943 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 89 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.028 Jumlah Subscribers : 289.243 Total Tayangan Video (Total Views) :  19.841.171 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 17 video Tayangan Rentang Juni (Views/Month) : 134.757 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 7.209 Jam Penambahan Subscribers : +1.486 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 30 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 78 Jumlah Subscribers : 363.328 Total Tayangan Video (Total Views) : 106.425.690 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.927.201 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 162.474 Jam Penambahan Subscribers : +7.336 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.389 Total Tayangan Video (Total Views) : 437.742 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.290 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 401 Jam Penambahan Subscribers : +22 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 438 Jumlah Subscribers : 40.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.156.018 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 91.254 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : Jam Penambahan Subscribers Perbulan : +1.200 Instagram Yufid TV Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Total Konten : 3.413 Total Pengikut : 1.137.168 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +7.896 Instagram Yufid Network Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Total Konten : 3.499 Total Pengikut : 497.506 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.880 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 39 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 9 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.908 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 29 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1058 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 355 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.   Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.208 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2472 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.   Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.647 file mp3 dengan total ukuran 362 Gb dan pada bulan Juni 2023 ini telah mempublikasikan 450 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2023 ini saja telah didengarkan 34.170 kali dan telah di download sebanyak 1.784 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.746.872 kata dengan rata-rata produksi per bulan 48 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 77.611 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.045 artikel dengan total durasi audio 174 jam dengan rata-rata perekaman 34 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juni 2023 yaitu 16 file audio dengan jumlah durasi 2,7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan Juni 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Biografi Ustadz Ammi Nur Baits, Bayi Meninggal Setelah Dilahirkan Menurut Islam, Lafadz Allah & Muhammad, Doa Yang Sering Dibaca Nabi Muhammad, Contoh Husnuzan Kepada Allah, Arti Mutmainnah Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 164 QRIS donasi Yufid


Bismillahirrohmanirrohim … Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara GRATIS untuk semua kalangan masyarakat. Tidak terasa sudah 14 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, di antaranya ada Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah lebih dari 19.000 (sembilan belas ribu) video terpublikasi dan dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 750 juta kali. Selain di platform YouTube, Yufid juga memiliki situs web yang menyediakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website di bawah naungan Yufid Network, seperti KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sejak tahun 2022, Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar Anda para pemirsa setia Yufid dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produktivitas tim Yufid, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama. Channel YouTube YUFID.TV Jumlah Video : 16.409 Jumlah Subscribers :  3.847.270 Total Tayangan Video (Total Views) :  639.583.306 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 110 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 4.784.354 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 406.579 Jam Penambahan Subscribers : +15.943 <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/DvQBCm5Wzf_923MUajRM6QXGigVAgCHJR2hPJdECDkNBLNK0LHSLieYr-Ec8vAgQw1wLKZno7og-xrgqICQuOUpuxmOilVMt1bsP9JMpr4Tw3SJsgXNjuLY3x29MTJLlF-XuvMwlJq08nHx9JYYxSG4" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 89 video. Channel YouTube YUFID EDU Jumlah Video : 2.028 Jumlah Subscribers : 289.243 Total Tayangan Video (Total Views) :  19.841.171 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 17 video Tayangan Rentang Juni (Views/Month) : 134.757 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 7.209 Jam Penambahan Subscribers : +1.486 <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/n4oQduMHw7CY_4KCaszd6ieSAQ6Wzoc-Ov8Tbh04lHZXmWPo34fITgcGhU-Yz29ZGZUQqt9jQTKFLzWdVFVof1Y5qO1GAELfGaA_1_AjwUQdkr2bunluXZJsSuB5WbrxC66qYEyKN7N6Y2aBW2NNjpM" alt="" width="512" height="384"/> Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 30 video. Channel YouTube YUFID KIDS Jumlah Video : 78 Jumlah Subscribers : 363.328 Total Tayangan Video (Total Views) : 106.425.690 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 1 video Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.927.201 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 162.474 Jam Penambahan Subscribers : +7.336 <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/-5Ee0dyDN4WkPp7PliZNzag4dIGlYYcO2k-5HaW0RpBFlCy2_KFWTdOmPrHgY8Rwh7O7LKmWSJ6r2_0L1JC8JH21aSkPaQoWrH5GIhN7PJ8PTYxu1OS2cZX_qbOYWtIoghd3SOJTzn9wEG3DtnYpdXc" alt="" width="512" height="384"/>Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272 Jumlah Subscribers : 4.389 Total Tayangan Video (Total Views) : 437.742 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 2.290 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : 401 Jam Penambahan Subscribers : +22 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Jumlah Video : 438 Jumlah Subscribers : 40.600 Total Tayangan Video (Total Views) : 2.156.018 kali ditonton Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulan Tayangan Video Rentang Juni (Views/Month) : 91.254 kali ditonton Jam Tayang Video Rentang Juni (Watch time/Month) : Jam Penambahan Subscribers Perbulan : +1.200 Instagram Yufid TV Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Total Konten : 3.413 Total Pengikut : 1.137.168 Rata-Rata Produksi : 48 Konten/bulan Penambahan Follower : +7.896 Instagram Yufid Network Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  Total Konten : 3.499 Total Pengikut : 497.506 Rata-Rata Produksi : 47 Konten/bulan Penambahan Follower : +3.880 <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/q6pgDuTq1bm8sHM7jX9G2TMAzH5EJU67oosnnN4N9yXBK6Swe17_lsnkos87O9jscoyww6rdeuAA6kMk98JerhIj7dBZS18rj4apPHi6jtxFtlsuY5yL9u8ihNVMd8qb4vSrntFTDRwXwK7bNtY_1P8" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 akun Instagram Yufid TV & Yufid Network telah memposting 39 konten. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/lHrCX02zhViXbg6FXdyNqYumXOmUZqdFl5w6cvyQXAHOnKHurQ7B70z18Q5IANz75WXfBEE8qziI9e5aL93MKBtDYYD2UV8QZUinXWJse83-L13NyaSqF5iH8NuYv09zDyxZMCkGrokini8I-Tqpuvg" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 9 video. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/jVhBc8456ocIGCd5gI395HIYCxwKU82cO8_0RkPe5a9IHQo3VI2Xfp4m6HLkE-PHh3BgwavfEmEsEHH6FOzDJOfmbGjgGv039dTlkCQa_36jkH-o8KuXFoFTGEZHtfWFZdC7ZmRq4MWU_yS4qtARXOE" alt="" width="512" height="384"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023 channel Yufid Kids & Mograph telah mempublikasikan 1 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4.908 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1.846 audio dan rata-rata menghasilkan 29 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 14 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1058 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 355 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV.   Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.208 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2472 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.   Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 26.647 file mp3 dengan total ukuran 362 Gb dan pada bulan Juni 2023 ini telah mempublikasikan 450 file mp3.  Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2023 ini saja telah didengarkan 34.170 kali dan telah di download sebanyak 1.784 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 2.746.872 kata dengan rata-rata produksi per bulan 48 ribu kata.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2023, project terjemahan ini telah memproduksi 77.611 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.045 artikel dengan total durasi audio 174 jam dengan rata-rata perekaman 34 artikel per bulan, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juni 2023 yaitu 16 file audio dengan jumlah durasi 2,7 jam.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian laporan produksi Yufid Network pada bulan Juni 2023. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Biografi Ustadz Ammi Nur Baits, Bayi Meninggal Setelah Dilahirkan Menurut Islam, Lafadz Allah & Muhammad, Doa Yang Sering Dibaca Nabi Muhammad, Contoh Husnuzan Kepada Allah, Arti Mutmainnah Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 164 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mari Memperbanyak Tobat

Bismillah.Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ’anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الله تعالى يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam, agar orang yang berbuat dosa di siang hari segera bertobat. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di waktu siang, agar orang yang berbuat dosa di waktu malam hari segera bertobat. Sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim)Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ“Sungguh, Allah sangat-sangat bergembira terhadap tobat salah seorang di antara kalian jauh melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian di saat ia berhasil menemukan kembali ontanya yang telah menghilang.” (HR. Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع“Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45)Pada suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berwasiat kepada putranya, Abdurrahman. Beliau berkata, “Wahai putraku, aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah. Kendalikanlah lisanmu. Tangisilah dosa-dosamu. Hendaknya rumahmu cukup terasa luas bagimu.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 30)Sebagian tabi’in mengatakan, “Barangsiapa yang banyak dosanya, hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!” (lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 500)Waki’ rahimahullah berpesan, “Mintalah pertolongan (kepada Allah) untuk menguatkan hafalan dengan mempersedikit dosa.” (lihat Muqaddimah Az-Zuhd, hal. 91)Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri, lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu memiliki bau (tidak sedap), maka niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat An-Nafs Wa Al-Izra’ ‘Alaiha, hal. 82)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada di antara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istigfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah serta senantiasa membutuhkan tobat dan istigfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)Seorang lelaki berkata kepada Hatim Al-Asham rahimahullah, “Berikanlah nasihat kepadaku.” Maka, beliau berkata, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Tuhanmu, maka lakukanlah hal itu di tempat yang tidak dilihat-Nya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan! Akan tetapi, lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka!” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bakr bin Abdullah Al-Muzani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang melakukan dosa sambil tertawa-tawa, maka dia akan masuk neraka sambil menangis.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kalian tentang penyakit dan obat bagi kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istigfar.” (lihat Tazkiyat An-Nufus, hal. 52)Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan, baik berupa melakukan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, maka itu terjadi dikarenakan rendahnya kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya lebih mendahulukan hawa nafsunya.” (lihat Fath Al-Bari, 1: 78)‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu berkata di dalam khotbahnya di hadapan penduduk Mesir, “Sungguh betapa jauhnya jalan dan gaya hidup kalian dengan jalan dan gaya hidup Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun beliau, maka beliau adalah orang yang paling zuhud dalam urusan dunia, sedangkan kalian adalah orang-orang yang paling gandrung kepadanya.” (lihat Fawa’id Abi Muhammad Al-Fakihi, hal. 127)Baca juga: Cara Tobat Nasuha***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahtobattobat nasuha

Mari Memperbanyak Tobat

Bismillah.Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ’anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الله تعالى يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam, agar orang yang berbuat dosa di siang hari segera bertobat. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di waktu siang, agar orang yang berbuat dosa di waktu malam hari segera bertobat. Sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim)Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ“Sungguh, Allah sangat-sangat bergembira terhadap tobat salah seorang di antara kalian jauh melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian di saat ia berhasil menemukan kembali ontanya yang telah menghilang.” (HR. Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع“Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45)Pada suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berwasiat kepada putranya, Abdurrahman. Beliau berkata, “Wahai putraku, aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah. Kendalikanlah lisanmu. Tangisilah dosa-dosamu. Hendaknya rumahmu cukup terasa luas bagimu.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 30)Sebagian tabi’in mengatakan, “Barangsiapa yang banyak dosanya, hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!” (lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 500)Waki’ rahimahullah berpesan, “Mintalah pertolongan (kepada Allah) untuk menguatkan hafalan dengan mempersedikit dosa.” (lihat Muqaddimah Az-Zuhd, hal. 91)Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri, lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu memiliki bau (tidak sedap), maka niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat An-Nafs Wa Al-Izra’ ‘Alaiha, hal. 82)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada di antara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istigfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah serta senantiasa membutuhkan tobat dan istigfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)Seorang lelaki berkata kepada Hatim Al-Asham rahimahullah, “Berikanlah nasihat kepadaku.” Maka, beliau berkata, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Tuhanmu, maka lakukanlah hal itu di tempat yang tidak dilihat-Nya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan! Akan tetapi, lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka!” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bakr bin Abdullah Al-Muzani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang melakukan dosa sambil tertawa-tawa, maka dia akan masuk neraka sambil menangis.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kalian tentang penyakit dan obat bagi kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istigfar.” (lihat Tazkiyat An-Nufus, hal. 52)Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan, baik berupa melakukan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, maka itu terjadi dikarenakan rendahnya kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya lebih mendahulukan hawa nafsunya.” (lihat Fath Al-Bari, 1: 78)‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu berkata di dalam khotbahnya di hadapan penduduk Mesir, “Sungguh betapa jauhnya jalan dan gaya hidup kalian dengan jalan dan gaya hidup Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun beliau, maka beliau adalah orang yang paling zuhud dalam urusan dunia, sedangkan kalian adalah orang-orang yang paling gandrung kepadanya.” (lihat Fawa’id Abi Muhammad Al-Fakihi, hal. 127)Baca juga: Cara Tobat Nasuha***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahtobattobat nasuha
Bismillah.Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ’anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الله تعالى يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam, agar orang yang berbuat dosa di siang hari segera bertobat. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di waktu siang, agar orang yang berbuat dosa di waktu malam hari segera bertobat. Sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim)Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ“Sungguh, Allah sangat-sangat bergembira terhadap tobat salah seorang di antara kalian jauh melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian di saat ia berhasil menemukan kembali ontanya yang telah menghilang.” (HR. Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع“Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45)Pada suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berwasiat kepada putranya, Abdurrahman. Beliau berkata, “Wahai putraku, aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah. Kendalikanlah lisanmu. Tangisilah dosa-dosamu. Hendaknya rumahmu cukup terasa luas bagimu.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 30)Sebagian tabi’in mengatakan, “Barangsiapa yang banyak dosanya, hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!” (lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 500)Waki’ rahimahullah berpesan, “Mintalah pertolongan (kepada Allah) untuk menguatkan hafalan dengan mempersedikit dosa.” (lihat Muqaddimah Az-Zuhd, hal. 91)Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri, lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu memiliki bau (tidak sedap), maka niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat An-Nafs Wa Al-Izra’ ‘Alaiha, hal. 82)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada di antara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istigfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah serta senantiasa membutuhkan tobat dan istigfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)Seorang lelaki berkata kepada Hatim Al-Asham rahimahullah, “Berikanlah nasihat kepadaku.” Maka, beliau berkata, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Tuhanmu, maka lakukanlah hal itu di tempat yang tidak dilihat-Nya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan! Akan tetapi, lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka!” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bakr bin Abdullah Al-Muzani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang melakukan dosa sambil tertawa-tawa, maka dia akan masuk neraka sambil menangis.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kalian tentang penyakit dan obat bagi kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istigfar.” (lihat Tazkiyat An-Nufus, hal. 52)Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan, baik berupa melakukan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, maka itu terjadi dikarenakan rendahnya kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya lebih mendahulukan hawa nafsunya.” (lihat Fath Al-Bari, 1: 78)‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu berkata di dalam khotbahnya di hadapan penduduk Mesir, “Sungguh betapa jauhnya jalan dan gaya hidup kalian dengan jalan dan gaya hidup Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun beliau, maka beliau adalah orang yang paling zuhud dalam urusan dunia, sedangkan kalian adalah orang-orang yang paling gandrung kepadanya.” (lihat Fawa’id Abi Muhammad Al-Fakihi, hal. 127)Baca juga: Cara Tobat Nasuha***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahtobattobat nasuha


Bismillah.Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ’anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الله تعالى يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam, agar orang yang berbuat dosa di siang hari segera bertobat. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di waktu siang, agar orang yang berbuat dosa di waktu malam hari segera bertobat. Sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim)Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ“Sungguh, Allah sangat-sangat bergembira terhadap tobat salah seorang di antara kalian jauh melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian di saat ia berhasil menemukan kembali ontanya yang telah menghilang.” (HR. Muslim)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع“Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45)Pada suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berwasiat kepada putranya, Abdurrahman. Beliau berkata, “Wahai putraku, aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah. Kendalikanlah lisanmu. Tangisilah dosa-dosamu. Hendaknya rumahmu cukup terasa luas bagimu.” (lihat Az-Zuhd Li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 30)Sebagian tabi’in mengatakan, “Barangsiapa yang banyak dosanya, hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!” (lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 500)Waki’ rahimahullah berpesan, “Mintalah pertolongan (kepada Allah) untuk menguatkan hafalan dengan mempersedikit dosa.” (lihat Muqaddimah Az-Zuhd, hal. 91)Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri, lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam As-Salaf, 1: 23)Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu memiliki bau (tidak sedap), maka niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat An-Nafs Wa Al-Izra’ ‘Alaiha, hal. 82)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada di antara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istigfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah serta senantiasa membutuhkan tobat dan istigfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)Seorang lelaki berkata kepada Hatim Al-Asham rahimahullah, “Berikanlah nasihat kepadaku.” Maka, beliau berkata, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Tuhanmu, maka lakukanlah hal itu di tempat yang tidak dilihat-Nya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan! Akan tetapi, lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka!” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Bakr bin Abdullah Al-Muzani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang melakukan dosa sambil tertawa-tawa, maka dia akan masuk neraka sambil menangis.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 362)Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kalian tentang penyakit dan obat bagi kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istigfar.” (lihat Tazkiyat An-Nufus, hal. 52)Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan, baik berupa melakukan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, maka itu terjadi dikarenakan rendahnya kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya lebih mendahulukan hawa nafsunya.” (lihat Fath Al-Bari, 1: 78)‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu berkata di dalam khotbahnya di hadapan penduduk Mesir, “Sungguh betapa jauhnya jalan dan gaya hidup kalian dengan jalan dan gaya hidup Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun beliau, maka beliau adalah orang yang paling zuhud dalam urusan dunia, sedangkan kalian adalah orang-orang yang paling gandrung kepadanya.” (lihat Fawa’id Abi Muhammad Al-Fakihi, hal. 127)Baca juga: Cara Tobat Nasuha***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: bertobat kepada Allahtobattobat nasuha

Fatwa Ulama: Nasihat untuk Mereka yang Kembali dari Ibadah Haji

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah yang hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang telah diberikan taufik oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji mereka, baik berupa haji dan umrah? Apa yang hendaknya mereka kerjakan setelah itu?Jawaban:Yang hendaknya dilakukan olehnya dan juga orang-orang selain mereka yang telah diberikan nikmat untuk beribadah kepada-Nya adalah untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala atas taufik yang diberikan sehingga dapat menunaikan ibadah tersebut. Dan hendaknya dia berdoa kepada Allah Ta’ala agar ibadah hajinya diterima. Dia hendaknya mengetahui bahwa taufik yang Allah Ta’ala berikan kepadanya untuk dapat menunaikan ibadah tersebut adalah suatu nikmat yang patut untuk disyukuri.Jika dia bersyukur kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada Allah agar ibadahnya diterima, maka ibadahnya tersebut layak diterima. Hal ini karena sesungguhnya jika seseorang mendapatkan taufik untuk berdoa, maka dia layak untuk dikabulkan doanya. Jika dia mendapatkan taufik untuk beribadah, maka ibadahnya layak diterima. Hendaknya dia penuh semangat untuk menjauhkan diri dari amal perbuatan yang buruk setelah Allah Ta’ala berikan anugerah untuk menghapusnya.Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ“Haji mabrur, tidak ada balasan untuknya, kecuali surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan ke puasa Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antaranya, selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Ini adalah tugas (kewajiban) setiap orang yang Allah Ta’ala berikan nikmat untuk mendirikan ibadah, yaitu bersyukur kepada Allah dan berdoa agar ibadahnya tersebut diterima. Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apa nasihatmu bagi orang yang sudah selesai menunaikan ibadah haji?Jawaban:Nasihatku untuknya, untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam menunaikan kewajiban ibadah yang lainnya, seperti salat, zakat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada sesama manusia dan hewan, dan perintah Allah yang lainnya. Semua itu diringkas dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 90-91)Baca juga: Selepas Haji, Apa yang Harus Kita Lakukan?***@Rumah Kasongan, 17 Dzulhijjah 1444/ 6 Juli 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 464-465 dan 468, pertanyaan no. 318 dan 322.Tags: ibadah hajinasihatpulang haji

Fatwa Ulama: Nasihat untuk Mereka yang Kembali dari Ibadah Haji

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah yang hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang telah diberikan taufik oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji mereka, baik berupa haji dan umrah? Apa yang hendaknya mereka kerjakan setelah itu?Jawaban:Yang hendaknya dilakukan olehnya dan juga orang-orang selain mereka yang telah diberikan nikmat untuk beribadah kepada-Nya adalah untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala atas taufik yang diberikan sehingga dapat menunaikan ibadah tersebut. Dan hendaknya dia berdoa kepada Allah Ta’ala agar ibadah hajinya diterima. Dia hendaknya mengetahui bahwa taufik yang Allah Ta’ala berikan kepadanya untuk dapat menunaikan ibadah tersebut adalah suatu nikmat yang patut untuk disyukuri.Jika dia bersyukur kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada Allah agar ibadahnya diterima, maka ibadahnya tersebut layak diterima. Hal ini karena sesungguhnya jika seseorang mendapatkan taufik untuk berdoa, maka dia layak untuk dikabulkan doanya. Jika dia mendapatkan taufik untuk beribadah, maka ibadahnya layak diterima. Hendaknya dia penuh semangat untuk menjauhkan diri dari amal perbuatan yang buruk setelah Allah Ta’ala berikan anugerah untuk menghapusnya.Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ“Haji mabrur, tidak ada balasan untuknya, kecuali surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan ke puasa Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antaranya, selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Ini adalah tugas (kewajiban) setiap orang yang Allah Ta’ala berikan nikmat untuk mendirikan ibadah, yaitu bersyukur kepada Allah dan berdoa agar ibadahnya tersebut diterima. Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apa nasihatmu bagi orang yang sudah selesai menunaikan ibadah haji?Jawaban:Nasihatku untuknya, untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam menunaikan kewajiban ibadah yang lainnya, seperti salat, zakat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada sesama manusia dan hewan, dan perintah Allah yang lainnya. Semua itu diringkas dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 90-91)Baca juga: Selepas Haji, Apa yang Harus Kita Lakukan?***@Rumah Kasongan, 17 Dzulhijjah 1444/ 6 Juli 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 464-465 dan 468, pertanyaan no. 318 dan 322.Tags: ibadah hajinasihatpulang haji
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah yang hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang telah diberikan taufik oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji mereka, baik berupa haji dan umrah? Apa yang hendaknya mereka kerjakan setelah itu?Jawaban:Yang hendaknya dilakukan olehnya dan juga orang-orang selain mereka yang telah diberikan nikmat untuk beribadah kepada-Nya adalah untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala atas taufik yang diberikan sehingga dapat menunaikan ibadah tersebut. Dan hendaknya dia berdoa kepada Allah Ta’ala agar ibadah hajinya diterima. Dia hendaknya mengetahui bahwa taufik yang Allah Ta’ala berikan kepadanya untuk dapat menunaikan ibadah tersebut adalah suatu nikmat yang patut untuk disyukuri.Jika dia bersyukur kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada Allah agar ibadahnya diterima, maka ibadahnya tersebut layak diterima. Hal ini karena sesungguhnya jika seseorang mendapatkan taufik untuk berdoa, maka dia layak untuk dikabulkan doanya. Jika dia mendapatkan taufik untuk beribadah, maka ibadahnya layak diterima. Hendaknya dia penuh semangat untuk menjauhkan diri dari amal perbuatan yang buruk setelah Allah Ta’ala berikan anugerah untuk menghapusnya.Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ“Haji mabrur, tidak ada balasan untuknya, kecuali surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan ke puasa Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antaranya, selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Ini adalah tugas (kewajiban) setiap orang yang Allah Ta’ala berikan nikmat untuk mendirikan ibadah, yaitu bersyukur kepada Allah dan berdoa agar ibadahnya tersebut diterima. Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apa nasihatmu bagi orang yang sudah selesai menunaikan ibadah haji?Jawaban:Nasihatku untuknya, untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam menunaikan kewajiban ibadah yang lainnya, seperti salat, zakat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada sesama manusia dan hewan, dan perintah Allah yang lainnya. Semua itu diringkas dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 90-91)Baca juga: Selepas Haji, Apa yang Harus Kita Lakukan?***@Rumah Kasongan, 17 Dzulhijjah 1444/ 6 Juli 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 464-465 dan 468, pertanyaan no. 318 dan 322.Tags: ibadah hajinasihatpulang haji


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah yang hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang telah diberikan taufik oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji mereka, baik berupa haji dan umrah? Apa yang hendaknya mereka kerjakan setelah itu?Jawaban:Yang hendaknya dilakukan olehnya dan juga orang-orang selain mereka yang telah diberikan nikmat untuk beribadah kepada-Nya adalah untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala atas taufik yang diberikan sehingga dapat menunaikan ibadah tersebut. Dan hendaknya dia berdoa kepada Allah Ta’ala agar ibadah hajinya diterima. Dia hendaknya mengetahui bahwa taufik yang Allah Ta’ala berikan kepadanya untuk dapat menunaikan ibadah tersebut adalah suatu nikmat yang patut untuk disyukuri.Jika dia bersyukur kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada Allah agar ibadahnya diterima, maka ibadahnya tersebut layak diterima. Hal ini karena sesungguhnya jika seseorang mendapatkan taufik untuk berdoa, maka dia layak untuk dikabulkan doanya. Jika dia mendapatkan taufik untuk beribadah, maka ibadahnya layak diterima. Hendaknya dia penuh semangat untuk menjauhkan diri dari amal perbuatan yang buruk setelah Allah Ta’ala berikan anugerah untuk menghapusnya.Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ“Haji mabrur, tidak ada balasan untuknya, kecuali surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ“Salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan ke puasa Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antaranya, selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)Ini adalah tugas (kewajiban) setiap orang yang Allah Ta’ala berikan nikmat untuk mendirikan ibadah, yaitu bersyukur kepada Allah dan berdoa agar ibadahnya tersebut diterima. Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apa nasihatmu bagi orang yang sudah selesai menunaikan ibadah haji?Jawaban:Nasihatku untuknya, untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam menunaikan kewajiban ibadah yang lainnya, seperti salat, zakat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada sesama manusia dan hewan, dan perintah Allah yang lainnya. Semua itu diringkas dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 90-91)Baca juga: Selepas Haji, Apa yang Harus Kita Lakukan?***@Rumah Kasongan, 17 Dzulhijjah 1444/ 6 Juli 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 464-465 dan 468, pertanyaan no. 318 dan 322.Tags: ibadah hajinasihatpulang haji

Hukum Mabit di Mina bagi Jamaah Haji dan Syariat Khutbah Mina

Apa hukum mabit di Mina dan adakah syariat khutbah di Mina?     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #769 5. Hadits #770 5.1. Faedah hadits 6. Khutbah di Mina 7. Hadits #771 8. Hadits #772 8.1. Faedah hadits 8.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #769 وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: { أَنَّ اَلْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ ( اِسْتَأْذَنَ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى, مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ, فَأَذِنَ لَهُ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib memohon izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menginap di Makkah pada malam-malam yang seharusnya berada di Mina karena tugasnya memberi air minum (dengan air zam zam) kepada jamaah haji. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1643, 1734-1745 dan Muslim, no. 1315]   Hadits #770 وَعَنْ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ ( { أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَرْخَصَ لِرُعَاة اَلْإِبِلِ فِي اَلْبَيْتُوتَةِ عَنْ مِنًى, يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّحْرِ, ثُمَّ يَرْمُونَ اَلْغَدِ لِيَوْمَيْنِ, ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّفْرِ } رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari ‘Ashim bin ‘Adiy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan pada para pengembala unta untuk bermalam di luar kota Mina, mereka melempar jumrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah), lalu mereka melempar jumrah lagi pada 12 Dzulhijjah untuk dua hari (11 dan 12), kemudian mereka melempar jumrah lagi pada hari Nafr (hari jamaah haji keluar dari Mina, 12 atau 13 Dzulhijjah). (Diriwayatkan oleh Imam yang lima. Hadits ini sahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1975; Tirmidzi, no. 955; An-Nasai, 5:273; Ibnu Majah, no. 3037; Ahmad, 39:193; Ibnu Hibban, no. 3888. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini memiliki beberapa riwayat dengan lafaz yang hampir sama. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:341]   Faedah hadits Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum mabit di Mina pada malam ke-11 dan ke-12. Padahal para ulama sepakati bahwa mabit tersebut bagian dari nusuk (ibadah haji). Ada ulama yang menyatakan bahwa mabit di Mina tersebut termasuk dalam wajib haji. Ada ulama yang berpendapat bahwa mabit tersebut termasuk dalam sunnah haji. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menilai bahwa mabit di Mina andai saja dikatakan wajib, jika meninggalkannya tidaklah terkena dam. Karena syariat tidaklah mengenakan dam untuk hal ini. Imam Ahmad berkata pada mereka yang tidak mabit di Mina, “Tidak terkena apa-apa, walau berdosa.” Sedangkan menurut jumhur ulama (Malikiyyah, Syafiiyah, Hambali dalam pendapat al-ashoh) menyatakan bahwa hukum mabit di Mina termasuk wajib haji, bila ditinggalkan terkena dam. Kadar wajib untuk mabit di Mina adalah mayoritas malam, lebih dari separuh malam (misalmnya malam ada sembilan jam, berarti lebih dari 4,5 jam). Ada juga pendapat kedua yang menyatakan bahwa mabit di Mina itu satu waktu di malam hari. Mabit di Mina itu selama dua malam untuk yang nafar awal (keluar pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari tenggelam). Namun, untuk yang nafar tsani (keluar pada 13 Dzulhijjah), maka ia wajib mabit pula pada malam ketiga belas serta melempar jumrah pada hari ke-13 Dzulhijjah (hari tasyrik ketiga). Menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, siapa yang tidak mendapatkan tempat yang layak di Mina, maka gugur baginya kewajiban mabit. Karena sesuai kaidah fikih LAA WAAJIBA MA’AL ‘AJZI, tidak kewajiban ketika tidak mampu. Bagi orang yang mengurus kepentingan umum seperti mengurus air dalam kisah ‘Abbas, para dokter, begitu juga memiliki uzur khusus seperti sakit atau menemani orang yang sakit, atau penduduk Makkah yang khawatir pada keluarganya, maka mereka juga termasuk orang yang mendapatkan uzur untuk mabit di Mina.  Yang mengurus kepentingan umum, mereka tetap melempar jumrah seperti jamaah haji lainnya.  Adapun pengembala unta, mereka ikut melempar jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) bersama jamaah haji. Kemudian mereka mengurus unta mereka. Pada hari nafr awal (12 Dzulhijjah), mereka melempar jumrah untuk dua hari yaitu untuk 11 dan 12. Kemudian mereka melempar lagi jumrah pada hari ke-13 jika mereka tidak terburu-buru keluar dari Mina.  Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa mengakhirkan melempar jumrah itu lebih utama daripada mewakilkan melempar jumrah walaupun dikerjakan di waktunya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada para pengembala untuk mengakhirkan. Seandainya mewakilkan itu disyariatkan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya karena itu hal yang lebih mudah. Namun dalam pandangan ulama Syafiiyah, mewakilkan dalam pelemparan jumrah itu masih boleh.  Melempar jumrah pada seluruh hari tasyrik dikatakan melakukannya pada waktunya (ada-an). Siapa saja yang melempar jumrah diundur ke hari berikutnya, maka itu sah dan tidak terkena apa-apa. Ia hanyalah meninggalkan kesunnahan.  Waktu melempar jumrah berakhir dengan tenggelamnya matahari pada hari tasyrik. Siapa yang melempar jumrah setelah waktu tersebut, maka ia berarti mengqadha’, bukan adaa-an (mengerjakan di waktunya).  Hukum melempar jumrah pada malam hari masih dibolehkan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan awalnya ketika telah masuk zawal (Zhuhur), tetapi beliau tidak menentukan akhir waktunya. Melempar jumrah pada siang hari itu ‘azimah, sedangkan pada malam hari adalah suatu keringanan (rukhshah). Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:344-345. Jika jamaah haji meninggalkan pelemparan jumrah satu atau dua hari dari hari tasyrik dengan sengaja, lupa, atau tidak tahu, maka ia bisa melakukannya pada hari terakhir menurut pendapat al-azhar. Ia mulai melempar untuk hari pertama, hari kedua, lalu hari ketiga. Begitu pula jika belum melempar jumrah ‘Aqabah untuk hari Nahr (10 Dzulhijjah), jamaah haji bisa melakukannya pada hari yang tersisa (dari hari tasyrik), ia memulai melempar jumrah pada hari Nahr dahulu, dan ini dianggap sebagai penunaian ada-an (pada waktunya), bukan qadha-an (mengganti di luar waktu). Mabit di Mina pada hari tasyrik yang tiga setelah hari Nahr (10 Dzulhijjah) disebut AYYAM MA’DUUDAAT. Sedangkan AYYAM MA’LUMAAT yang dimaksud adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah. Perhatikan dua ayat berikut. وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203). Inilah yang dimaksud dengan hari tasyrik dan waktunya mabit di Mina. وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ “dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 28). Inilah yang dimaksud dengan sepuluh hari awal Dzulhijjah.   Khutbah di Mina Hadits #771 وَعَنْ أَبِي بِكْرَةَ ( قَالَ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلنَّحْرِ… } اَلْحَدِيثَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (10 Dzulhijjah).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1741 dan Muslim, no. 1679]   Hadits #772 وَعَنْ سَرَّاءَ بِنْتِ نَبْهَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلرُّءُوسِ فَقَالَ: ” أَلَيْسَ هَذَا أَوْسَطَ أَيَّامِ اَلتَّشْرِيقِ ? ” } اَلْحَدِيثَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ  Dari Sarra’ binti Nabhaan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari ru’us (hari kedua dari hari Nahr), beliau bersabda, “Bukankah ini pertengahan dari hari-hari tasyrik?” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan) [HR. Abu Daud, no. 1953. Imam Nawawi menyatakan bahwa hadits ini hasan].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya khutbah di Mina di mana imam berkhutbah atau yang bisa memberikan peringatan pada hari Nahr. Khutbah juga diadakan pada hari kedua dari hari tasyrik, disebut hari ru-uus di mana orang-orang ketika itu memakan kepala qurban dan hadyu ketika disembelih pada hari Nahr. Khutbah tersebut hendaklah berisi nasihat umum agar bisa berpegang dengan syariat Allah dan mengajak pada syariat-Nya, hendaklah memperhatikan perihal akidah, memperingatkan bid’ah, dan hal-hal yang bermanfaat untuk jamaah haji.  Syaikh Prof. Muhammad Az-Zuhaily mengatakan bahwa khutbah pada hari Nahr di Mina bukanlah khutbah Id. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan shalat Id ketika hajinya dan juga tidak ada khutbah Id. Dalam madzhab Syafii, ada empat khutbah yang disunnahkan ketika haji: (a) khutbah pada hari ketujuh Dzulhijjah di sisi Kabah setelah shalat Zhuhur, (b) khutbah di lembah ‘Uranah pada hari Arafah, (c) khutbah pada hari Nahr (Iduladha), (d) khutbah pada nafar awal, yaitu hari kedua dari tasyrik, 12 Dzulhijjah. Sebagaimana hal ini pernah diterangkan sebelumnya pada penjelasan hadits Jabir tentang haji.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:340-348. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:691-696.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1444 H, 8 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji khutbah di mina khutbah haji lempar jumrah mabit mabit di mina manasik haji mina panduan haji tata cara haji

Hukum Mabit di Mina bagi Jamaah Haji dan Syariat Khutbah Mina

Apa hukum mabit di Mina dan adakah syariat khutbah di Mina?     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #769 5. Hadits #770 5.1. Faedah hadits 6. Khutbah di Mina 7. Hadits #771 8. Hadits #772 8.1. Faedah hadits 8.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #769 وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: { أَنَّ اَلْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ ( اِسْتَأْذَنَ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى, مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ, فَأَذِنَ لَهُ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib memohon izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menginap di Makkah pada malam-malam yang seharusnya berada di Mina karena tugasnya memberi air minum (dengan air zam zam) kepada jamaah haji. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1643, 1734-1745 dan Muslim, no. 1315]   Hadits #770 وَعَنْ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ ( { أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَرْخَصَ لِرُعَاة اَلْإِبِلِ فِي اَلْبَيْتُوتَةِ عَنْ مِنًى, يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّحْرِ, ثُمَّ يَرْمُونَ اَلْغَدِ لِيَوْمَيْنِ, ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّفْرِ } رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari ‘Ashim bin ‘Adiy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan pada para pengembala unta untuk bermalam di luar kota Mina, mereka melempar jumrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah), lalu mereka melempar jumrah lagi pada 12 Dzulhijjah untuk dua hari (11 dan 12), kemudian mereka melempar jumrah lagi pada hari Nafr (hari jamaah haji keluar dari Mina, 12 atau 13 Dzulhijjah). (Diriwayatkan oleh Imam yang lima. Hadits ini sahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1975; Tirmidzi, no. 955; An-Nasai, 5:273; Ibnu Majah, no. 3037; Ahmad, 39:193; Ibnu Hibban, no. 3888. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini memiliki beberapa riwayat dengan lafaz yang hampir sama. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:341]   Faedah hadits Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum mabit di Mina pada malam ke-11 dan ke-12. Padahal para ulama sepakati bahwa mabit tersebut bagian dari nusuk (ibadah haji). Ada ulama yang menyatakan bahwa mabit di Mina tersebut termasuk dalam wajib haji. Ada ulama yang berpendapat bahwa mabit tersebut termasuk dalam sunnah haji. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menilai bahwa mabit di Mina andai saja dikatakan wajib, jika meninggalkannya tidaklah terkena dam. Karena syariat tidaklah mengenakan dam untuk hal ini. Imam Ahmad berkata pada mereka yang tidak mabit di Mina, “Tidak terkena apa-apa, walau berdosa.” Sedangkan menurut jumhur ulama (Malikiyyah, Syafiiyah, Hambali dalam pendapat al-ashoh) menyatakan bahwa hukum mabit di Mina termasuk wajib haji, bila ditinggalkan terkena dam. Kadar wajib untuk mabit di Mina adalah mayoritas malam, lebih dari separuh malam (misalmnya malam ada sembilan jam, berarti lebih dari 4,5 jam). Ada juga pendapat kedua yang menyatakan bahwa mabit di Mina itu satu waktu di malam hari. Mabit di Mina itu selama dua malam untuk yang nafar awal (keluar pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari tenggelam). Namun, untuk yang nafar tsani (keluar pada 13 Dzulhijjah), maka ia wajib mabit pula pada malam ketiga belas serta melempar jumrah pada hari ke-13 Dzulhijjah (hari tasyrik ketiga). Menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, siapa yang tidak mendapatkan tempat yang layak di Mina, maka gugur baginya kewajiban mabit. Karena sesuai kaidah fikih LAA WAAJIBA MA’AL ‘AJZI, tidak kewajiban ketika tidak mampu. Bagi orang yang mengurus kepentingan umum seperti mengurus air dalam kisah ‘Abbas, para dokter, begitu juga memiliki uzur khusus seperti sakit atau menemani orang yang sakit, atau penduduk Makkah yang khawatir pada keluarganya, maka mereka juga termasuk orang yang mendapatkan uzur untuk mabit di Mina.  Yang mengurus kepentingan umum, mereka tetap melempar jumrah seperti jamaah haji lainnya.  Adapun pengembala unta, mereka ikut melempar jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) bersama jamaah haji. Kemudian mereka mengurus unta mereka. Pada hari nafr awal (12 Dzulhijjah), mereka melempar jumrah untuk dua hari yaitu untuk 11 dan 12. Kemudian mereka melempar lagi jumrah pada hari ke-13 jika mereka tidak terburu-buru keluar dari Mina.  Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa mengakhirkan melempar jumrah itu lebih utama daripada mewakilkan melempar jumrah walaupun dikerjakan di waktunya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada para pengembala untuk mengakhirkan. Seandainya mewakilkan itu disyariatkan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya karena itu hal yang lebih mudah. Namun dalam pandangan ulama Syafiiyah, mewakilkan dalam pelemparan jumrah itu masih boleh.  Melempar jumrah pada seluruh hari tasyrik dikatakan melakukannya pada waktunya (ada-an). Siapa saja yang melempar jumrah diundur ke hari berikutnya, maka itu sah dan tidak terkena apa-apa. Ia hanyalah meninggalkan kesunnahan.  Waktu melempar jumrah berakhir dengan tenggelamnya matahari pada hari tasyrik. Siapa yang melempar jumrah setelah waktu tersebut, maka ia berarti mengqadha’, bukan adaa-an (mengerjakan di waktunya).  Hukum melempar jumrah pada malam hari masih dibolehkan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan awalnya ketika telah masuk zawal (Zhuhur), tetapi beliau tidak menentukan akhir waktunya. Melempar jumrah pada siang hari itu ‘azimah, sedangkan pada malam hari adalah suatu keringanan (rukhshah). Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:344-345. Jika jamaah haji meninggalkan pelemparan jumrah satu atau dua hari dari hari tasyrik dengan sengaja, lupa, atau tidak tahu, maka ia bisa melakukannya pada hari terakhir menurut pendapat al-azhar. Ia mulai melempar untuk hari pertama, hari kedua, lalu hari ketiga. Begitu pula jika belum melempar jumrah ‘Aqabah untuk hari Nahr (10 Dzulhijjah), jamaah haji bisa melakukannya pada hari yang tersisa (dari hari tasyrik), ia memulai melempar jumrah pada hari Nahr dahulu, dan ini dianggap sebagai penunaian ada-an (pada waktunya), bukan qadha-an (mengganti di luar waktu). Mabit di Mina pada hari tasyrik yang tiga setelah hari Nahr (10 Dzulhijjah) disebut AYYAM MA’DUUDAAT. Sedangkan AYYAM MA’LUMAAT yang dimaksud adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah. Perhatikan dua ayat berikut. وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203). Inilah yang dimaksud dengan hari tasyrik dan waktunya mabit di Mina. وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ “dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 28). Inilah yang dimaksud dengan sepuluh hari awal Dzulhijjah.   Khutbah di Mina Hadits #771 وَعَنْ أَبِي بِكْرَةَ ( قَالَ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلنَّحْرِ… } اَلْحَدِيثَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (10 Dzulhijjah).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1741 dan Muslim, no. 1679]   Hadits #772 وَعَنْ سَرَّاءَ بِنْتِ نَبْهَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلرُّءُوسِ فَقَالَ: ” أَلَيْسَ هَذَا أَوْسَطَ أَيَّامِ اَلتَّشْرِيقِ ? ” } اَلْحَدِيثَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ  Dari Sarra’ binti Nabhaan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari ru’us (hari kedua dari hari Nahr), beliau bersabda, “Bukankah ini pertengahan dari hari-hari tasyrik?” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan) [HR. Abu Daud, no. 1953. Imam Nawawi menyatakan bahwa hadits ini hasan].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya khutbah di Mina di mana imam berkhutbah atau yang bisa memberikan peringatan pada hari Nahr. Khutbah juga diadakan pada hari kedua dari hari tasyrik, disebut hari ru-uus di mana orang-orang ketika itu memakan kepala qurban dan hadyu ketika disembelih pada hari Nahr. Khutbah tersebut hendaklah berisi nasihat umum agar bisa berpegang dengan syariat Allah dan mengajak pada syariat-Nya, hendaklah memperhatikan perihal akidah, memperingatkan bid’ah, dan hal-hal yang bermanfaat untuk jamaah haji.  Syaikh Prof. Muhammad Az-Zuhaily mengatakan bahwa khutbah pada hari Nahr di Mina bukanlah khutbah Id. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan shalat Id ketika hajinya dan juga tidak ada khutbah Id. Dalam madzhab Syafii, ada empat khutbah yang disunnahkan ketika haji: (a) khutbah pada hari ketujuh Dzulhijjah di sisi Kabah setelah shalat Zhuhur, (b) khutbah di lembah ‘Uranah pada hari Arafah, (c) khutbah pada hari Nahr (Iduladha), (d) khutbah pada nafar awal, yaitu hari kedua dari tasyrik, 12 Dzulhijjah. Sebagaimana hal ini pernah diterangkan sebelumnya pada penjelasan hadits Jabir tentang haji.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:340-348. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:691-696.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1444 H, 8 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji khutbah di mina khutbah haji lempar jumrah mabit mabit di mina manasik haji mina panduan haji tata cara haji
Apa hukum mabit di Mina dan adakah syariat khutbah di Mina?     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #769 5. Hadits #770 5.1. Faedah hadits 6. Khutbah di Mina 7. Hadits #771 8. Hadits #772 8.1. Faedah hadits 8.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #769 وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: { أَنَّ اَلْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ ( اِسْتَأْذَنَ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى, مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ, فَأَذِنَ لَهُ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib memohon izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menginap di Makkah pada malam-malam yang seharusnya berada di Mina karena tugasnya memberi air minum (dengan air zam zam) kepada jamaah haji. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1643, 1734-1745 dan Muslim, no. 1315]   Hadits #770 وَعَنْ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ ( { أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَرْخَصَ لِرُعَاة اَلْإِبِلِ فِي اَلْبَيْتُوتَةِ عَنْ مِنًى, يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّحْرِ, ثُمَّ يَرْمُونَ اَلْغَدِ لِيَوْمَيْنِ, ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّفْرِ } رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari ‘Ashim bin ‘Adiy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan pada para pengembala unta untuk bermalam di luar kota Mina, mereka melempar jumrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah), lalu mereka melempar jumrah lagi pada 12 Dzulhijjah untuk dua hari (11 dan 12), kemudian mereka melempar jumrah lagi pada hari Nafr (hari jamaah haji keluar dari Mina, 12 atau 13 Dzulhijjah). (Diriwayatkan oleh Imam yang lima. Hadits ini sahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1975; Tirmidzi, no. 955; An-Nasai, 5:273; Ibnu Majah, no. 3037; Ahmad, 39:193; Ibnu Hibban, no. 3888. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini memiliki beberapa riwayat dengan lafaz yang hampir sama. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:341]   Faedah hadits Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum mabit di Mina pada malam ke-11 dan ke-12. Padahal para ulama sepakati bahwa mabit tersebut bagian dari nusuk (ibadah haji). Ada ulama yang menyatakan bahwa mabit di Mina tersebut termasuk dalam wajib haji. Ada ulama yang berpendapat bahwa mabit tersebut termasuk dalam sunnah haji. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menilai bahwa mabit di Mina andai saja dikatakan wajib, jika meninggalkannya tidaklah terkena dam. Karena syariat tidaklah mengenakan dam untuk hal ini. Imam Ahmad berkata pada mereka yang tidak mabit di Mina, “Tidak terkena apa-apa, walau berdosa.” Sedangkan menurut jumhur ulama (Malikiyyah, Syafiiyah, Hambali dalam pendapat al-ashoh) menyatakan bahwa hukum mabit di Mina termasuk wajib haji, bila ditinggalkan terkena dam. Kadar wajib untuk mabit di Mina adalah mayoritas malam, lebih dari separuh malam (misalmnya malam ada sembilan jam, berarti lebih dari 4,5 jam). Ada juga pendapat kedua yang menyatakan bahwa mabit di Mina itu satu waktu di malam hari. Mabit di Mina itu selama dua malam untuk yang nafar awal (keluar pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari tenggelam). Namun, untuk yang nafar tsani (keluar pada 13 Dzulhijjah), maka ia wajib mabit pula pada malam ketiga belas serta melempar jumrah pada hari ke-13 Dzulhijjah (hari tasyrik ketiga). Menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, siapa yang tidak mendapatkan tempat yang layak di Mina, maka gugur baginya kewajiban mabit. Karena sesuai kaidah fikih LAA WAAJIBA MA’AL ‘AJZI, tidak kewajiban ketika tidak mampu. Bagi orang yang mengurus kepentingan umum seperti mengurus air dalam kisah ‘Abbas, para dokter, begitu juga memiliki uzur khusus seperti sakit atau menemani orang yang sakit, atau penduduk Makkah yang khawatir pada keluarganya, maka mereka juga termasuk orang yang mendapatkan uzur untuk mabit di Mina.  Yang mengurus kepentingan umum, mereka tetap melempar jumrah seperti jamaah haji lainnya.  Adapun pengembala unta, mereka ikut melempar jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) bersama jamaah haji. Kemudian mereka mengurus unta mereka. Pada hari nafr awal (12 Dzulhijjah), mereka melempar jumrah untuk dua hari yaitu untuk 11 dan 12. Kemudian mereka melempar lagi jumrah pada hari ke-13 jika mereka tidak terburu-buru keluar dari Mina.  Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa mengakhirkan melempar jumrah itu lebih utama daripada mewakilkan melempar jumrah walaupun dikerjakan di waktunya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada para pengembala untuk mengakhirkan. Seandainya mewakilkan itu disyariatkan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya karena itu hal yang lebih mudah. Namun dalam pandangan ulama Syafiiyah, mewakilkan dalam pelemparan jumrah itu masih boleh.  Melempar jumrah pada seluruh hari tasyrik dikatakan melakukannya pada waktunya (ada-an). Siapa saja yang melempar jumrah diundur ke hari berikutnya, maka itu sah dan tidak terkena apa-apa. Ia hanyalah meninggalkan kesunnahan.  Waktu melempar jumrah berakhir dengan tenggelamnya matahari pada hari tasyrik. Siapa yang melempar jumrah setelah waktu tersebut, maka ia berarti mengqadha’, bukan adaa-an (mengerjakan di waktunya).  Hukum melempar jumrah pada malam hari masih dibolehkan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan awalnya ketika telah masuk zawal (Zhuhur), tetapi beliau tidak menentukan akhir waktunya. Melempar jumrah pada siang hari itu ‘azimah, sedangkan pada malam hari adalah suatu keringanan (rukhshah). Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:344-345. Jika jamaah haji meninggalkan pelemparan jumrah satu atau dua hari dari hari tasyrik dengan sengaja, lupa, atau tidak tahu, maka ia bisa melakukannya pada hari terakhir menurut pendapat al-azhar. Ia mulai melempar untuk hari pertama, hari kedua, lalu hari ketiga. Begitu pula jika belum melempar jumrah ‘Aqabah untuk hari Nahr (10 Dzulhijjah), jamaah haji bisa melakukannya pada hari yang tersisa (dari hari tasyrik), ia memulai melempar jumrah pada hari Nahr dahulu, dan ini dianggap sebagai penunaian ada-an (pada waktunya), bukan qadha-an (mengganti di luar waktu). Mabit di Mina pada hari tasyrik yang tiga setelah hari Nahr (10 Dzulhijjah) disebut AYYAM MA’DUUDAAT. Sedangkan AYYAM MA’LUMAAT yang dimaksud adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah. Perhatikan dua ayat berikut. وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203). Inilah yang dimaksud dengan hari tasyrik dan waktunya mabit di Mina. وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ “dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 28). Inilah yang dimaksud dengan sepuluh hari awal Dzulhijjah.   Khutbah di Mina Hadits #771 وَعَنْ أَبِي بِكْرَةَ ( قَالَ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلنَّحْرِ… } اَلْحَدِيثَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (10 Dzulhijjah).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1741 dan Muslim, no. 1679]   Hadits #772 وَعَنْ سَرَّاءَ بِنْتِ نَبْهَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلرُّءُوسِ فَقَالَ: ” أَلَيْسَ هَذَا أَوْسَطَ أَيَّامِ اَلتَّشْرِيقِ ? ” } اَلْحَدِيثَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ  Dari Sarra’ binti Nabhaan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari ru’us (hari kedua dari hari Nahr), beliau bersabda, “Bukankah ini pertengahan dari hari-hari tasyrik?” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan) [HR. Abu Daud, no. 1953. Imam Nawawi menyatakan bahwa hadits ini hasan].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya khutbah di Mina di mana imam berkhutbah atau yang bisa memberikan peringatan pada hari Nahr. Khutbah juga diadakan pada hari kedua dari hari tasyrik, disebut hari ru-uus di mana orang-orang ketika itu memakan kepala qurban dan hadyu ketika disembelih pada hari Nahr. Khutbah tersebut hendaklah berisi nasihat umum agar bisa berpegang dengan syariat Allah dan mengajak pada syariat-Nya, hendaklah memperhatikan perihal akidah, memperingatkan bid’ah, dan hal-hal yang bermanfaat untuk jamaah haji.  Syaikh Prof. Muhammad Az-Zuhaily mengatakan bahwa khutbah pada hari Nahr di Mina bukanlah khutbah Id. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan shalat Id ketika hajinya dan juga tidak ada khutbah Id. Dalam madzhab Syafii, ada empat khutbah yang disunnahkan ketika haji: (a) khutbah pada hari ketujuh Dzulhijjah di sisi Kabah setelah shalat Zhuhur, (b) khutbah di lembah ‘Uranah pada hari Arafah, (c) khutbah pada hari Nahr (Iduladha), (d) khutbah pada nafar awal, yaitu hari kedua dari tasyrik, 12 Dzulhijjah. Sebagaimana hal ini pernah diterangkan sebelumnya pada penjelasan hadits Jabir tentang haji.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:340-348. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:691-696.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1444 H, 8 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji khutbah di mina khutbah haji lempar jumrah mabit mabit di mina manasik haji mina panduan haji tata cara haji


Apa hukum mabit di Mina dan adakah syariat khutbah di Mina?     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah 4. Hadits #769 5. Hadits #770 5.1. Faedah hadits 6. Khutbah di Mina 7. Hadits #771 8. Hadits #772 8.1. Faedah hadits 8.2. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ صِفَةِ اَلْحَجِّ وَدُخُولِ مَكَّةَ Bab Sifat Haji dan Masuk Makkah     Hadits #769 وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: { أَنَّ اَلْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ ( اِسْتَأْذَنَ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى, مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ, فَأَذِنَ لَهُ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib memohon izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menginap di Makkah pada malam-malam yang seharusnya berada di Mina karena tugasnya memberi air minum (dengan air zam zam) kepada jamaah haji. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1643, 1734-1745 dan Muslim, no. 1315]   Hadits #770 وَعَنْ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ ( { أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ( أَرْخَصَ لِرُعَاة اَلْإِبِلِ فِي اَلْبَيْتُوتَةِ عَنْ مِنًى, يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّحْرِ, ثُمَّ يَرْمُونَ اَلْغَدِ لِيَوْمَيْنِ, ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّفْرِ } رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari ‘Ashim bin ‘Adiy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan pada para pengembala unta untuk bermalam di luar kota Mina, mereka melempar jumrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah), lalu mereka melempar jumrah lagi pada 12 Dzulhijjah untuk dua hari (11 dan 12), kemudian mereka melempar jumrah lagi pada hari Nafr (hari jamaah haji keluar dari Mina, 12 atau 13 Dzulhijjah). (Diriwayatkan oleh Imam yang lima. Hadits ini sahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1975; Tirmidzi, no. 955; An-Nasai, 5:273; Ibnu Majah, no. 3037; Ahmad, 39:193; Ibnu Hibban, no. 3888. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini memiliki beberapa riwayat dengan lafaz yang hampir sama. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:341]   Faedah hadits Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum mabit di Mina pada malam ke-11 dan ke-12. Padahal para ulama sepakati bahwa mabit tersebut bagian dari nusuk (ibadah haji). Ada ulama yang menyatakan bahwa mabit di Mina tersebut termasuk dalam wajib haji. Ada ulama yang berpendapat bahwa mabit tersebut termasuk dalam sunnah haji. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menilai bahwa mabit di Mina andai saja dikatakan wajib, jika meninggalkannya tidaklah terkena dam. Karena syariat tidaklah mengenakan dam untuk hal ini. Imam Ahmad berkata pada mereka yang tidak mabit di Mina, “Tidak terkena apa-apa, walau berdosa.” Sedangkan menurut jumhur ulama (Malikiyyah, Syafiiyah, Hambali dalam pendapat al-ashoh) menyatakan bahwa hukum mabit di Mina termasuk wajib haji, bila ditinggalkan terkena dam. Kadar wajib untuk mabit di Mina adalah mayoritas malam, lebih dari separuh malam (misalmnya malam ada sembilan jam, berarti lebih dari 4,5 jam). Ada juga pendapat kedua yang menyatakan bahwa mabit di Mina itu satu waktu di malam hari. Mabit di Mina itu selama dua malam untuk yang nafar awal (keluar pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari tenggelam). Namun, untuk yang nafar tsani (keluar pada 13 Dzulhijjah), maka ia wajib mabit pula pada malam ketiga belas serta melempar jumrah pada hari ke-13 Dzulhijjah (hari tasyrik ketiga). Menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, siapa yang tidak mendapatkan tempat yang layak di Mina, maka gugur baginya kewajiban mabit. Karena sesuai kaidah fikih LAA WAAJIBA MA’AL ‘AJZI, tidak kewajiban ketika tidak mampu. Bagi orang yang mengurus kepentingan umum seperti mengurus air dalam kisah ‘Abbas, para dokter, begitu juga memiliki uzur khusus seperti sakit atau menemani orang yang sakit, atau penduduk Makkah yang khawatir pada keluarganya, maka mereka juga termasuk orang yang mendapatkan uzur untuk mabit di Mina.  Yang mengurus kepentingan umum, mereka tetap melempar jumrah seperti jamaah haji lainnya.  Adapun pengembala unta, mereka ikut melempar jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) bersama jamaah haji. Kemudian mereka mengurus unta mereka. Pada hari nafr awal (12 Dzulhijjah), mereka melempar jumrah untuk dua hari yaitu untuk 11 dan 12. Kemudian mereka melempar lagi jumrah pada hari ke-13 jika mereka tidak terburu-buru keluar dari Mina.  Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa mengakhirkan melempar jumrah itu lebih utama daripada mewakilkan melempar jumrah walaupun dikerjakan di waktunya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada para pengembala untuk mengakhirkan. Seandainya mewakilkan itu disyariatkan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya karena itu hal yang lebih mudah. Namun dalam pandangan ulama Syafiiyah, mewakilkan dalam pelemparan jumrah itu masih boleh.  Melempar jumrah pada seluruh hari tasyrik dikatakan melakukannya pada waktunya (ada-an). Siapa saja yang melempar jumrah diundur ke hari berikutnya, maka itu sah dan tidak terkena apa-apa. Ia hanyalah meninggalkan kesunnahan.  Waktu melempar jumrah berakhir dengan tenggelamnya matahari pada hari tasyrik. Siapa yang melempar jumrah setelah waktu tersebut, maka ia berarti mengqadha’, bukan adaa-an (mengerjakan di waktunya).  Hukum melempar jumrah pada malam hari masih dibolehkan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan awalnya ketika telah masuk zawal (Zhuhur), tetapi beliau tidak menentukan akhir waktunya. Melempar jumrah pada siang hari itu ‘azimah, sedangkan pada malam hari adalah suatu keringanan (rukhshah). Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:344-345. Jika jamaah haji meninggalkan pelemparan jumrah satu atau dua hari dari hari tasyrik dengan sengaja, lupa, atau tidak tahu, maka ia bisa melakukannya pada hari terakhir menurut pendapat al-azhar. Ia mulai melempar untuk hari pertama, hari kedua, lalu hari ketiga. Begitu pula jika belum melempar jumrah ‘Aqabah untuk hari Nahr (10 Dzulhijjah), jamaah haji bisa melakukannya pada hari yang tersisa (dari hari tasyrik), ia memulai melempar jumrah pada hari Nahr dahulu, dan ini dianggap sebagai penunaian ada-an (pada waktunya), bukan qadha-an (mengganti di luar waktu). Mabit di Mina pada hari tasyrik yang tiga setelah hari Nahr (10 Dzulhijjah) disebut AYYAM MA’DUUDAAT. Sedangkan AYYAM MA’LUMAAT yang dimaksud adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah. Perhatikan dua ayat berikut. وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203). Inilah yang dimaksud dengan hari tasyrik dan waktunya mabit di Mina. وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ “dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 28). Inilah yang dimaksud dengan sepuluh hari awal Dzulhijjah.   Khutbah di Mina Hadits #771 وَعَنْ أَبِي بِكْرَةَ ( قَالَ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلنَّحْرِ… } اَلْحَدِيثَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (10 Dzulhijjah).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1741 dan Muslim, no. 1679]   Hadits #772 وَعَنْ سَرَّاءَ بِنْتِ نَبْهَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ ( يَوْمَ اَلرُّءُوسِ فَقَالَ: ” أَلَيْسَ هَذَا أَوْسَطَ أَيَّامِ اَلتَّشْرِيقِ ? ” } اَلْحَدِيثَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ  Dari Sarra’ binti Nabhaan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari ru’us (hari kedua dari hari Nahr), beliau bersabda, “Bukankah ini pertengahan dari hari-hari tasyrik?” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan) [HR. Abu Daud, no. 1953. Imam Nawawi menyatakan bahwa hadits ini hasan].   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya khutbah di Mina di mana imam berkhutbah atau yang bisa memberikan peringatan pada hari Nahr. Khutbah juga diadakan pada hari kedua dari hari tasyrik, disebut hari ru-uus di mana orang-orang ketika itu memakan kepala qurban dan hadyu ketika disembelih pada hari Nahr. Khutbah tersebut hendaklah berisi nasihat umum agar bisa berpegang dengan syariat Allah dan mengajak pada syariat-Nya, hendaklah memperhatikan perihal akidah, memperingatkan bid’ah, dan hal-hal yang bermanfaat untuk jamaah haji.  Syaikh Prof. Muhammad Az-Zuhaily mengatakan bahwa khutbah pada hari Nahr di Mina bukanlah khutbah Id. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan shalat Id ketika hajinya dan juga tidak ada khutbah Id. Dalam madzhab Syafii, ada empat khutbah yang disunnahkan ketika haji: (a) khutbah pada hari ketujuh Dzulhijjah di sisi Kabah setelah shalat Zhuhur, (b) khutbah di lembah ‘Uranah pada hari Arafah, (c) khutbah pada hari Nahr (Iduladha), (d) khutbah pada nafar awal, yaitu hari kedua dari tasyrik, 12 Dzulhijjah. Sebagaimana hal ini pernah diterangkan sebelumnya pada penjelasan hadits Jabir tentang haji.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:340-348. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:691-696.   –   Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1444 H, 8 Juli 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram haji khutbah di mina khutbah haji lempar jumrah mabit mabit di mina manasik haji mina panduan haji tata cara haji

Jangan Lupakan Kebaikan Orang Lain

Daftar Isi ToggleKisah jasa Mut’im bin ‘AdiyKisah kebaikan Utsman bin ThalhahJangan mudah melupakanMasuk neraka karena lupa kebaikan suamiPada artikel sebelumnya, telah dibahas tentang anjuran untuk “bersyukur kepada manusia”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970, Ahmad no. 7926 dengan isnad sahih, lihat Ash-Shahih no. 417)Agar kita terdorong untuk mudah bersyukur pada sesama, berikut akan disampaikan dua kisah betapa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wassallam sangat pandai bersyukur kepada manusia dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Kisah jasa Mut’im bin ‘AdiyMut’im bin ‘Adiy adalah kafir Quraisy yang menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan keluarga-keluarga beliau dari embargo di Makkah. Ketika itu, Bani Hasyim dan Bani Muthalib (beliau dan keluarga) diboikot dan dikucilkan, tidak boleh ada transaksi ekonomi, dilarang dipasok makanan. Bahkan, terkadang beliau hanya memakan dedaunan. Embargo ini pun berjalan hingga tiga tahun lamanya. Akhirnya Mut’im bin ‘Adiy menyelamatkan Bani Hasyim dengan merobek surat kesepakatan boikot yang digantungkan di Ka’bah.Jasa Mut’im bin ‘Adiy yang kedua kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam adalah ketika Nabi terusir dari Makkah dan berdakwah di Tha’if dengan harapan dakwah di sana diterima. Ternyata di Tha’if malah mengalami penolakan. Bahkan, beliau dilempari dengan batu hingga berdarah-darah. Beliau pun pulang dengan kondisi sangat sedih dan khawatir jika pulang ke Makkah diusir dan disiksa kembali. Kemudian karena didorong rasa persaudaraan kepada sesama orang Quraisy, beliau memberikan perlindungan kepada Nabi untuk kembali ke Makkah.Tatkala terjadi perang Badar dan kaum muslimin menang, saat itu berhasil menawan 70 pembesar kafir Quraisy di kota Madinah. Ketika itu belum ada kebijakan terkait tawanan perang, apakah dibunuh atau meminta tebusan. Kemudian Nabi teringat dengan kebaikan Mut’im bin ‘Adiy setelah bertahun-tahun lalu dan Nabi belum bisa membalas jasa Mut’im bin ‘Adiy karena sudah meninggal. Kemudian beliau bersabda di hadapan kaum muslimin dan orang-orang Quraisy,لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ“Andai saja Mut’im bin ‘Adiy masih hidup, lalu ia berbicara sesuatu (memberikan kebijakan) tentang orang-orang jahat (musuh-musuh Allah) ini untuk mengampuni atau mengasihani mereka, maka akan aku bebaskan mereka untuknya.” (HR. Bukhari)Kisah kebaikan Utsman bin ThalhahKetika Ummu Salamah berhijrah bersama anaknya menyusul Abu Salamah dari Makkah ke Madinah, Utsman bin Thalhah (orang kafir Quraisy dari Bani Syaibah) ketika melihat mereka, terketuk belas kasihan di hatinya. Dia pun mengantarkan Ummu Salamah dan anaknya ke Madinah untuk memberikan perlindungan. Sesampainya di Madinah beberapa tahun setelahnya, meninggallah Abu Salamah. Kemudian Ummu Salamah diperistri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam pun juga tahu bahwa Ummu Salamah pernah diantarkan Utsman bin Thalhah hijrah ke Madinah. Setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), maka orang-orang berebut untuk memegang kunci Ka’bah. Di antara yang meminta kunci tersebut adalah paman Nabi, Al-Abbas dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam tidak memberikannya dan meminta paman beliau untuk mengurus zam-zam.Setelah Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam berdiri di depan pintu Ka’bah dan berkhotbah,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، ‌صَدَقَ ‌وَعْدَهُ، ‌وَنَصَرَ ‌عَبْدَهُ، ‌وَهَزَمَ ‌الْأَحْزَابَ ‌وَحْدَهُ، أَلَا إِنَّ كُلَّ مَأْثُرَةٍ تُعَدُّ وَتُدَّعَى، وَدَمٍ وَمَالٍ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ إِلَّا سِدَانَةَ الْبَيْتِ، أَوْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ…“Tiada Tuhan yang berhak disembah, selain Allah. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukkan pasukan sekutu dengan sendiri-Nya. Ketahuilah, seluruh kemuliaan yang dipersiapkan dan diklaim, darah, dan kekayaan,berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali wewenang sidanah (perawat Ka’bah) dan siqayah (pemberi minuman kepada jamaah haji)…”  (HR. Abu Dawud no. 4547, shahih https://dorar.net/hadith/sharh/117424)Ternyata, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tidak lupa akan kebaikan Utsman bin Thalhah terhadap istri beliau. Beliau pun mencari Utsman bin Thalhah (yang masuk Islam setelah Fathu Makkah) untuk menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah (yang merupakan keturunan Bani Syaibah). Dan sampai sekarang, yang memegang kunci Ka’bah bukan pihak kerajaan, melainkan keturunan Bani Syaibah.Allah Ta’ala berfirman mengenai peristiwa pemberian amanah sebagai juru kunci Ka’bah ini,اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58)Baca juga: Bersegera dan Berlomba dalam KebaikanJangan mudah melupakanHendaknya terhadap kebaikan orang lain jangan mudah lupa dan terhadap kebaikan diri sendiri hendaknya segera dilupakan. Pandai-pandailah membalas dan mengingat kebaikan (jasa) orang lain.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ“Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 237)Masuk neraka karena lupa kebaikan suamiAllah Ta’ala bahkan murka kepada orang-orang yang mudah melupakan kebaikan. Sebagaimana para istri yang apabila mudah melupakan banyak kebaikan suaminya hanya karena satu atau dua kesalahan yang diperbuat suaminya.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللهِ ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ“Aku pernah diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah para wanita, karena mereka sering berbuat kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka berbuat kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari pemberian dan kebaikan (suami). Bilamana engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka (istri) sepanjang masa, kemudian ia melihat satu kesalahan saja darimu, ia akan mengatakan, ‘Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Semoga tulisan yang sedikit ini menjadi motivasi utama bagi kita untuk lebih pandai berterima kasih kepada sesama dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Baca juga: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: bersyukur pada Allahbersyukur pada manusiaterima kasih

Jangan Lupakan Kebaikan Orang Lain

Daftar Isi ToggleKisah jasa Mut’im bin ‘AdiyKisah kebaikan Utsman bin ThalhahJangan mudah melupakanMasuk neraka karena lupa kebaikan suamiPada artikel sebelumnya, telah dibahas tentang anjuran untuk “bersyukur kepada manusia”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970, Ahmad no. 7926 dengan isnad sahih, lihat Ash-Shahih no. 417)Agar kita terdorong untuk mudah bersyukur pada sesama, berikut akan disampaikan dua kisah betapa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wassallam sangat pandai bersyukur kepada manusia dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Kisah jasa Mut’im bin ‘AdiyMut’im bin ‘Adiy adalah kafir Quraisy yang menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan keluarga-keluarga beliau dari embargo di Makkah. Ketika itu, Bani Hasyim dan Bani Muthalib (beliau dan keluarga) diboikot dan dikucilkan, tidak boleh ada transaksi ekonomi, dilarang dipasok makanan. Bahkan, terkadang beliau hanya memakan dedaunan. Embargo ini pun berjalan hingga tiga tahun lamanya. Akhirnya Mut’im bin ‘Adiy menyelamatkan Bani Hasyim dengan merobek surat kesepakatan boikot yang digantungkan di Ka’bah.Jasa Mut’im bin ‘Adiy yang kedua kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam adalah ketika Nabi terusir dari Makkah dan berdakwah di Tha’if dengan harapan dakwah di sana diterima. Ternyata di Tha’if malah mengalami penolakan. Bahkan, beliau dilempari dengan batu hingga berdarah-darah. Beliau pun pulang dengan kondisi sangat sedih dan khawatir jika pulang ke Makkah diusir dan disiksa kembali. Kemudian karena didorong rasa persaudaraan kepada sesama orang Quraisy, beliau memberikan perlindungan kepada Nabi untuk kembali ke Makkah.Tatkala terjadi perang Badar dan kaum muslimin menang, saat itu berhasil menawan 70 pembesar kafir Quraisy di kota Madinah. Ketika itu belum ada kebijakan terkait tawanan perang, apakah dibunuh atau meminta tebusan. Kemudian Nabi teringat dengan kebaikan Mut’im bin ‘Adiy setelah bertahun-tahun lalu dan Nabi belum bisa membalas jasa Mut’im bin ‘Adiy karena sudah meninggal. Kemudian beliau bersabda di hadapan kaum muslimin dan orang-orang Quraisy,لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ“Andai saja Mut’im bin ‘Adiy masih hidup, lalu ia berbicara sesuatu (memberikan kebijakan) tentang orang-orang jahat (musuh-musuh Allah) ini untuk mengampuni atau mengasihani mereka, maka akan aku bebaskan mereka untuknya.” (HR. Bukhari)Kisah kebaikan Utsman bin ThalhahKetika Ummu Salamah berhijrah bersama anaknya menyusul Abu Salamah dari Makkah ke Madinah, Utsman bin Thalhah (orang kafir Quraisy dari Bani Syaibah) ketika melihat mereka, terketuk belas kasihan di hatinya. Dia pun mengantarkan Ummu Salamah dan anaknya ke Madinah untuk memberikan perlindungan. Sesampainya di Madinah beberapa tahun setelahnya, meninggallah Abu Salamah. Kemudian Ummu Salamah diperistri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam pun juga tahu bahwa Ummu Salamah pernah diantarkan Utsman bin Thalhah hijrah ke Madinah. Setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), maka orang-orang berebut untuk memegang kunci Ka’bah. Di antara yang meminta kunci tersebut adalah paman Nabi, Al-Abbas dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam tidak memberikannya dan meminta paman beliau untuk mengurus zam-zam.Setelah Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam berdiri di depan pintu Ka’bah dan berkhotbah,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، ‌صَدَقَ ‌وَعْدَهُ، ‌وَنَصَرَ ‌عَبْدَهُ، ‌وَهَزَمَ ‌الْأَحْزَابَ ‌وَحْدَهُ، أَلَا إِنَّ كُلَّ مَأْثُرَةٍ تُعَدُّ وَتُدَّعَى، وَدَمٍ وَمَالٍ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ إِلَّا سِدَانَةَ الْبَيْتِ، أَوْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ…“Tiada Tuhan yang berhak disembah, selain Allah. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukkan pasukan sekutu dengan sendiri-Nya. Ketahuilah, seluruh kemuliaan yang dipersiapkan dan diklaim, darah, dan kekayaan,berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali wewenang sidanah (perawat Ka’bah) dan siqayah (pemberi minuman kepada jamaah haji)…”  (HR. Abu Dawud no. 4547, shahih https://dorar.net/hadith/sharh/117424)Ternyata, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tidak lupa akan kebaikan Utsman bin Thalhah terhadap istri beliau. Beliau pun mencari Utsman bin Thalhah (yang masuk Islam setelah Fathu Makkah) untuk menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah (yang merupakan keturunan Bani Syaibah). Dan sampai sekarang, yang memegang kunci Ka’bah bukan pihak kerajaan, melainkan keturunan Bani Syaibah.Allah Ta’ala berfirman mengenai peristiwa pemberian amanah sebagai juru kunci Ka’bah ini,اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58)Baca juga: Bersegera dan Berlomba dalam KebaikanJangan mudah melupakanHendaknya terhadap kebaikan orang lain jangan mudah lupa dan terhadap kebaikan diri sendiri hendaknya segera dilupakan. Pandai-pandailah membalas dan mengingat kebaikan (jasa) orang lain.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ“Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 237)Masuk neraka karena lupa kebaikan suamiAllah Ta’ala bahkan murka kepada orang-orang yang mudah melupakan kebaikan. Sebagaimana para istri yang apabila mudah melupakan banyak kebaikan suaminya hanya karena satu atau dua kesalahan yang diperbuat suaminya.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللهِ ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ“Aku pernah diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah para wanita, karena mereka sering berbuat kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka berbuat kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari pemberian dan kebaikan (suami). Bilamana engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka (istri) sepanjang masa, kemudian ia melihat satu kesalahan saja darimu, ia akan mengatakan, ‘Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Semoga tulisan yang sedikit ini menjadi motivasi utama bagi kita untuk lebih pandai berterima kasih kepada sesama dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Baca juga: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: bersyukur pada Allahbersyukur pada manusiaterima kasih
Daftar Isi ToggleKisah jasa Mut’im bin ‘AdiyKisah kebaikan Utsman bin ThalhahJangan mudah melupakanMasuk neraka karena lupa kebaikan suamiPada artikel sebelumnya, telah dibahas tentang anjuran untuk “bersyukur kepada manusia”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970, Ahmad no. 7926 dengan isnad sahih, lihat Ash-Shahih no. 417)Agar kita terdorong untuk mudah bersyukur pada sesama, berikut akan disampaikan dua kisah betapa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wassallam sangat pandai bersyukur kepada manusia dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Kisah jasa Mut’im bin ‘AdiyMut’im bin ‘Adiy adalah kafir Quraisy yang menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan keluarga-keluarga beliau dari embargo di Makkah. Ketika itu, Bani Hasyim dan Bani Muthalib (beliau dan keluarga) diboikot dan dikucilkan, tidak boleh ada transaksi ekonomi, dilarang dipasok makanan. Bahkan, terkadang beliau hanya memakan dedaunan. Embargo ini pun berjalan hingga tiga tahun lamanya. Akhirnya Mut’im bin ‘Adiy menyelamatkan Bani Hasyim dengan merobek surat kesepakatan boikot yang digantungkan di Ka’bah.Jasa Mut’im bin ‘Adiy yang kedua kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam adalah ketika Nabi terusir dari Makkah dan berdakwah di Tha’if dengan harapan dakwah di sana diterima. Ternyata di Tha’if malah mengalami penolakan. Bahkan, beliau dilempari dengan batu hingga berdarah-darah. Beliau pun pulang dengan kondisi sangat sedih dan khawatir jika pulang ke Makkah diusir dan disiksa kembali. Kemudian karena didorong rasa persaudaraan kepada sesama orang Quraisy, beliau memberikan perlindungan kepada Nabi untuk kembali ke Makkah.Tatkala terjadi perang Badar dan kaum muslimin menang, saat itu berhasil menawan 70 pembesar kafir Quraisy di kota Madinah. Ketika itu belum ada kebijakan terkait tawanan perang, apakah dibunuh atau meminta tebusan. Kemudian Nabi teringat dengan kebaikan Mut’im bin ‘Adiy setelah bertahun-tahun lalu dan Nabi belum bisa membalas jasa Mut’im bin ‘Adiy karena sudah meninggal. Kemudian beliau bersabda di hadapan kaum muslimin dan orang-orang Quraisy,لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ“Andai saja Mut’im bin ‘Adiy masih hidup, lalu ia berbicara sesuatu (memberikan kebijakan) tentang orang-orang jahat (musuh-musuh Allah) ini untuk mengampuni atau mengasihani mereka, maka akan aku bebaskan mereka untuknya.” (HR. Bukhari)Kisah kebaikan Utsman bin ThalhahKetika Ummu Salamah berhijrah bersama anaknya menyusul Abu Salamah dari Makkah ke Madinah, Utsman bin Thalhah (orang kafir Quraisy dari Bani Syaibah) ketika melihat mereka, terketuk belas kasihan di hatinya. Dia pun mengantarkan Ummu Salamah dan anaknya ke Madinah untuk memberikan perlindungan. Sesampainya di Madinah beberapa tahun setelahnya, meninggallah Abu Salamah. Kemudian Ummu Salamah diperistri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam pun juga tahu bahwa Ummu Salamah pernah diantarkan Utsman bin Thalhah hijrah ke Madinah. Setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), maka orang-orang berebut untuk memegang kunci Ka’bah. Di antara yang meminta kunci tersebut adalah paman Nabi, Al-Abbas dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam tidak memberikannya dan meminta paman beliau untuk mengurus zam-zam.Setelah Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam berdiri di depan pintu Ka’bah dan berkhotbah,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، ‌صَدَقَ ‌وَعْدَهُ، ‌وَنَصَرَ ‌عَبْدَهُ، ‌وَهَزَمَ ‌الْأَحْزَابَ ‌وَحْدَهُ، أَلَا إِنَّ كُلَّ مَأْثُرَةٍ تُعَدُّ وَتُدَّعَى، وَدَمٍ وَمَالٍ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ إِلَّا سِدَانَةَ الْبَيْتِ، أَوْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ…“Tiada Tuhan yang berhak disembah, selain Allah. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukkan pasukan sekutu dengan sendiri-Nya. Ketahuilah, seluruh kemuliaan yang dipersiapkan dan diklaim, darah, dan kekayaan,berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali wewenang sidanah (perawat Ka’bah) dan siqayah (pemberi minuman kepada jamaah haji)…”  (HR. Abu Dawud no. 4547, shahih https://dorar.net/hadith/sharh/117424)Ternyata, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tidak lupa akan kebaikan Utsman bin Thalhah terhadap istri beliau. Beliau pun mencari Utsman bin Thalhah (yang masuk Islam setelah Fathu Makkah) untuk menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah (yang merupakan keturunan Bani Syaibah). Dan sampai sekarang, yang memegang kunci Ka’bah bukan pihak kerajaan, melainkan keturunan Bani Syaibah.Allah Ta’ala berfirman mengenai peristiwa pemberian amanah sebagai juru kunci Ka’bah ini,اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58)Baca juga: Bersegera dan Berlomba dalam KebaikanJangan mudah melupakanHendaknya terhadap kebaikan orang lain jangan mudah lupa dan terhadap kebaikan diri sendiri hendaknya segera dilupakan. Pandai-pandailah membalas dan mengingat kebaikan (jasa) orang lain.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ“Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 237)Masuk neraka karena lupa kebaikan suamiAllah Ta’ala bahkan murka kepada orang-orang yang mudah melupakan kebaikan. Sebagaimana para istri yang apabila mudah melupakan banyak kebaikan suaminya hanya karena satu atau dua kesalahan yang diperbuat suaminya.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللهِ ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ“Aku pernah diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah para wanita, karena mereka sering berbuat kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka berbuat kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari pemberian dan kebaikan (suami). Bilamana engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka (istri) sepanjang masa, kemudian ia melihat satu kesalahan saja darimu, ia akan mengatakan, ‘Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Semoga tulisan yang sedikit ini menjadi motivasi utama bagi kita untuk lebih pandai berterima kasih kepada sesama dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Baca juga: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: bersyukur pada Allahbersyukur pada manusiaterima kasih


Daftar Isi ToggleKisah jasa Mut’im bin ‘AdiyKisah kebaikan Utsman bin ThalhahJangan mudah melupakanMasuk neraka karena lupa kebaikan suamiPada artikel sebelumnya, telah dibahas tentang anjuran untuk “bersyukur kepada manusia”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970, Ahmad no. 7926 dengan isnad sahih, lihat Ash-Shahih no. 417)Agar kita terdorong untuk mudah bersyukur pada sesama, berikut akan disampaikan dua kisah betapa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wassallam sangat pandai bersyukur kepada manusia dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Kisah jasa Mut’im bin ‘AdiyMut’im bin ‘Adiy adalah kafir Quraisy yang menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan keluarga-keluarga beliau dari embargo di Makkah. Ketika itu, Bani Hasyim dan Bani Muthalib (beliau dan keluarga) diboikot dan dikucilkan, tidak boleh ada transaksi ekonomi, dilarang dipasok makanan. Bahkan, terkadang beliau hanya memakan dedaunan. Embargo ini pun berjalan hingga tiga tahun lamanya. Akhirnya Mut’im bin ‘Adiy menyelamatkan Bani Hasyim dengan merobek surat kesepakatan boikot yang digantungkan di Ka’bah.Jasa Mut’im bin ‘Adiy yang kedua kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam adalah ketika Nabi terusir dari Makkah dan berdakwah di Tha’if dengan harapan dakwah di sana diterima. Ternyata di Tha’if malah mengalami penolakan. Bahkan, beliau dilempari dengan batu hingga berdarah-darah. Beliau pun pulang dengan kondisi sangat sedih dan khawatir jika pulang ke Makkah diusir dan disiksa kembali. Kemudian karena didorong rasa persaudaraan kepada sesama orang Quraisy, beliau memberikan perlindungan kepada Nabi untuk kembali ke Makkah.Tatkala terjadi perang Badar dan kaum muslimin menang, saat itu berhasil menawan 70 pembesar kafir Quraisy di kota Madinah. Ketika itu belum ada kebijakan terkait tawanan perang, apakah dibunuh atau meminta tebusan. Kemudian Nabi teringat dengan kebaikan Mut’im bin ‘Adiy setelah bertahun-tahun lalu dan Nabi belum bisa membalas jasa Mut’im bin ‘Adiy karena sudah meninggal. Kemudian beliau bersabda di hadapan kaum muslimin dan orang-orang Quraisy,لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ“Andai saja Mut’im bin ‘Adiy masih hidup, lalu ia berbicara sesuatu (memberikan kebijakan) tentang orang-orang jahat (musuh-musuh Allah) ini untuk mengampuni atau mengasihani mereka, maka akan aku bebaskan mereka untuknya.” (HR. Bukhari)Kisah kebaikan Utsman bin ThalhahKetika Ummu Salamah berhijrah bersama anaknya menyusul Abu Salamah dari Makkah ke Madinah, Utsman bin Thalhah (orang kafir Quraisy dari Bani Syaibah) ketika melihat mereka, terketuk belas kasihan di hatinya. Dia pun mengantarkan Ummu Salamah dan anaknya ke Madinah untuk memberikan perlindungan. Sesampainya di Madinah beberapa tahun setelahnya, meninggallah Abu Salamah. Kemudian Ummu Salamah diperistri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam pun juga tahu bahwa Ummu Salamah pernah diantarkan Utsman bin Thalhah hijrah ke Madinah. Setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), maka orang-orang berebut untuk memegang kunci Ka’bah. Di antara yang meminta kunci tersebut adalah paman Nabi, Al-Abbas dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam tidak memberikannya dan meminta paman beliau untuk mengurus zam-zam.Setelah Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam berdiri di depan pintu Ka’bah dan berkhotbah,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، ‌صَدَقَ ‌وَعْدَهُ، ‌وَنَصَرَ ‌عَبْدَهُ، ‌وَهَزَمَ ‌الْأَحْزَابَ ‌وَحْدَهُ، أَلَا إِنَّ كُلَّ مَأْثُرَةٍ تُعَدُّ وَتُدَّعَى، وَدَمٍ وَمَالٍ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ إِلَّا سِدَانَةَ الْبَيْتِ، أَوْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ…“Tiada Tuhan yang berhak disembah, selain Allah. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukkan pasukan sekutu dengan sendiri-Nya. Ketahuilah, seluruh kemuliaan yang dipersiapkan dan diklaim, darah, dan kekayaan,berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali wewenang sidanah (perawat Ka’bah) dan siqayah (pemberi minuman kepada jamaah haji)…”  (HR. Abu Dawud no. 4547, shahih https://dorar.net/hadith/sharh/117424)Ternyata, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tidak lupa akan kebaikan Utsman bin Thalhah terhadap istri beliau. Beliau pun mencari Utsman bin Thalhah (yang masuk Islam setelah Fathu Makkah) untuk menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah (yang merupakan keturunan Bani Syaibah). Dan sampai sekarang, yang memegang kunci Ka’bah bukan pihak kerajaan, melainkan keturunan Bani Syaibah.Allah Ta’ala berfirman mengenai peristiwa pemberian amanah sebagai juru kunci Ka’bah ini,اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58)Baca juga: Bersegera dan Berlomba dalam KebaikanJangan mudah melupakanHendaknya terhadap kebaikan orang lain jangan mudah lupa dan terhadap kebaikan diri sendiri hendaknya segera dilupakan. Pandai-pandailah membalas dan mengingat kebaikan (jasa) orang lain.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ“Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 237)Masuk neraka karena lupa kebaikan suamiAllah Ta’ala bahkan murka kepada orang-orang yang mudah melupakan kebaikan. Sebagaimana para istri yang apabila mudah melupakan banyak kebaikan suaminya hanya karena satu atau dua kesalahan yang diperbuat suaminya.Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللهِ ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ“Aku pernah diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah para wanita, karena mereka sering berbuat kufur.” Beliau ditanya, “Apakah mereka berbuat kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari pemberian dan kebaikan (suami). Bilamana engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka (istri) sepanjang masa, kemudian ia melihat satu kesalahan saja darimu, ia akan mengatakan, ‘Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Semoga tulisan yang sedikit ini menjadi motivasi utama bagi kita untuk lebih pandai berterima kasih kepada sesama dan tidak mudah melupakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan orang lain.Baca juga: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: bersyukur pada Allahbersyukur pada manusiaterima kasih
Prev     Next