Sekarang Saatnya!

Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.

Sekarang Saatnya!

Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.
Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.


Sekarang Saatnya! Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) bernah bertemu dengan seorang yang sudah tua. “Berapa usia anda?”, tanya Fudhail. “60 tahun.”, Jawab orang itu. “Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan. “Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail. “Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya. “Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail. “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu. “Caranya mudah.” Tegas Fudhail. Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas, تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang. (Hilyah Al Awliya’, 8/113). Tidak ada satupun makhluk yang tahu berapa sisa usianya. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Karena itu, apa yang sedang kita alami, itulah sisa usia kita yang sejatinya.

Ucapan yang Paling Dibenci Allah

Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)

Ucapan yang Paling Dibenci Allah

Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)
Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)


Ucapan yang Paling Dibenci Allah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.” ”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598). Dibenci karena sikap ini termasuk bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk berbuat baik. Nabi Nuh ’alaihi salam, mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا ( ) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا ( ) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)

Tidak Ada Obat yang Haram

Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.

Tidak Ada Obat yang Haram

Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.
Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.


Tidak Ada Obat yang Haram Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874 dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama). Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إن الله لم يَجعلْ شفاءَكم فيما حَرم عليكم Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan obat untuk penyakit kalian dalam benda yang diharamkan untuk kalian. (HR. Bukhari secara Muallaq, 7/110). Suatu kedzaliman ketika Allah menurunkan penyakit sebagai ujian bagi manusia, namun Allah letakkan obatnya dalam benda yang haram. Sehingga untuk bisa mendapatkan kesembuhan, dia harus melakukan dosa terlebih dahulu.

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu

Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)
Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)


Bayangkan Yang Paling Nikmat, Surga Lebih Nikmat Dari Itu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikamat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 7) – Al-Qur’an Kaum Syi’ah Kemungkinan Pakai Bahasa Iran

Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 7) – Al-Qur’an Kaum Syi’ah Kemungkinan Pakai Bahasa Iran

Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??
Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??


Diantara hal yang mutawatir di kalangan syi’ah keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah mengalami perubahan dan distorsi serta penyimpangan. Bahkan hal ini merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi kaum syi’ah.Bahkan aqidah mereka ini merupakan aqidah spesial dan istimewa yang hanya diyakini oleh mereka. Banyak kelompok-kelompok sesat seperti Al-Khowarij, Al-Mu’tazilah, Al-Jahmiyah, Al-Qodariyah, Al-Jabriyah, dan lain-lain, akan tetapi seluruh kelompok sesat tersebut meyakini bahwa al-Qur’an masih utuh dan masih otentik terjaga oleh Allah. Tidak ada satu firqoh sesatpun dalam dunia Islam yang berani menyatakan bahwa Al-Qur’an telah berubah kecuali Syi’ah. Karenanya tatkala Ibnu Hazm berdialog dengan kaum Nashooro dan menjelaskan bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan, berbeda dengan kitab taurot dan injil yang berisi penyimpangan, maka sebagian Nashooro berkata kepadanya, “Bukankah sebagian kaum muslimin (yaitu kaum Syi’ah Roofidhoh) menyatakan bahwa Al-Qur’an juga menyimpang, dan telah dirubah oleh para sahabat??”. Maka Ibnu Hazm membantah mereka dengan berkata : “Kaum Roofidhoh bukanlah dari kaum muslimin…!!!” (lihat Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwaa’ wa an-Nihal 2/213)Sangatlah jelas dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang meyakini ada satu huruf saja dalam al-Quran telah diselewangkan maka ia telah kafir kepada firman Allahإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS Al-Hijr : 9)Maka bagaimana lagi dengan kaum yang menyatakan berbagai surat telah menyimpang dalam Al-Qur’an??!!, lantas bagaimana lagi dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an mereka 3 kali lebih tebal daripada Al-Qur’an kita, karena Al-Qur’an kita telah banyak dihilangkan surat-suratnya dan diselewengkan??Aqidah mereka tentang tidak otentiknya al-Qur’an dibangun di atas keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada para imam. Itulah al-Qur’an yang lengkap dan dijaga oleh Allah. Adapun al-Qur’an yang ada di para sahabat selain para imam, maka telah terjadi perubahan dan pengurangan.Al-Kulaini berkata dalam kitab Ushuul Al-Kaafi :باب أنه لم يجمع القرآن كله إلا الأئمةُ وأنهم يعلمون علمه كله“Bab : Bahwasanya tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Qur’an” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Lalu Al-Kulaini membawakan riwayat-riwayat yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya:Abu Ja’far ‘alaihis salaam berkata ;“Tidak seorangpun yang menyatakan telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya –sebagaimana diturunkan- kecuali pendusta. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghafalkannya sebagaimana diturunkan kecuali Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam dan para imam setelahnya” (Ushuul Al-Kaafi 1/284)Dari landasan ini mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada pada ahlus sunnah adalah al-Qur’an yang tidak lengkap !!!Bahkan mereka mengaku bahwa al-Qur’an yang ada pada imam mereka tiga kali lebih tebal daripada al-Qur’an yang ada pada ahlus sunnah !! Diantara akibat buruk dari keyakinan tidak otentiknya Al-Quran adalah :Pertama : Mengharuskan timbul keraguan pada setiap ayat yang kita baca dalam al-Qur’an versi ahlus sunnah (umat Islam).Hal ini dikarenakan tidak ada barometer yang jelas untuk mengetahui dan membedakan antara ayat yang sudah berubah dengan ayat yang masih asli.Hal ini diakui oleh ulama Syi’ah sendiri. Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi – seseorang yang dianggap ‘alim dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah – :لم يبق لنا اعتماد على شيء من القرآن. إذ على هذا يحتمل كل آية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يبق لنا في القرآن حجة أصلا فتنتفي فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [Tafsir Ash-Shaafiy 1/33]Kedua : Meragukan setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan puncak kekufuran. Karena al-Qur’an tidak akan bisa dijadikan sumber hukum untuk mengharamkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an !!.–         Jika kita menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi dikafirkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, maka kaum Liberal akan mudah membantah dengan berkata, “Mungkin saja ayat-ayat yang menunjukkan pengkafiran Ahlul Kitab termasuk ayat-ayat yang mengalami perubahan dan distorsi”??–         Jika kita menyatakan jilbab itu wajib, maka para wanita yang enggan memakai jilbab akan dengan mudah menjawab, “Ayat tentang jilbab mungkin telah mengalami perubahan…”–         Dan seterusnya…Ketiga : Hilanglah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al-Qur’an, karena berdasarkan aqidah Syi’ah, penyimpangan al-Qur’an dan kekurangan Al-Qur’an selamanya tidak akan ketahuan dan tidak akan bisa diperbaiki kecuali jika diadakan perbandingan dengan Al-Qur’an versi ahlus sunnah dengan al-Qur’an yang lengkap versi Syi’ah.Yang jadi permasalahan bahwasanya al-Qur’an versi Syi’ah tersebut pada hakekatnya tidak pernah ada di alam nyata!!!. Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an tersebut berada bersama para imam, dan para imam mereka seluruhnya sudah meninggal, hanya tersisa Imam Mahdi yang sedang bersembunyi dan hanya muncul dan keluar dari persembunyiannya menjelang hari kiamat.Jika perkaranya demikian maka Al-Qur’an yang kita baca selamanya tidak akan bisa menjadi sumber hukum yang otentik dan terjamin kevalidannya !!!Keempat : Berdasarkan keyakinan kaum Syi’ah tentang Al-Qur’an maka hilanglah kesucian al-Qur’an, dari berbagai sisi, diantaranya :–         Al-Qur’an ternyata bisa mengalami perubahan dan campur tangan manusia. Al-Qur’an bukanlah lagi kitab suci, tapi kitab yang tercampur dengan tangan-tangan manusia–         Akan terdapat banyak kontradiksi dalam Al-Qur’an karena adanya perubahan dan distorsi. Maka apa fungsi firman Allahأَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS An-Nisaa’ : 82)Jika al-Qur’an terkena campur tangan manusia maka akan banyak didapatkan kontradiksi sebagaimana banyaknya kontradiksi yang ditemukan pada kitab suci kaum Kristen !!!–         Hilang fungsi dari firman Allahوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al-Baqoroh : 23)Ayat di atas tidak ada fungsinya lagi karena kebenaran dan keotentikan al-Qur’an telah diliputi dengan keraguan !!!.–         Al-Qur’an tidak bisa lagi menjadi tempat kembali jika terjadi perselisihanPadahal Allah berfirman :فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ“Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS An- Nisaa : 59)وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS Asy-Syuroo : 10)Kedua ayat ini tidak mungkin diterapkan pada al-Qur’an versi Ahlus Sunnah yang mengalami perubahan dan kekurangan. Kedua ayat ini menurut aqidah Syi’ah hanya bisa diterapkan pada Al-Qur’an milik syi’ah yang tiga kali lebih tebal dan terjaga oleh Allah. Jika perkaranya demikian maka kapan baru bisa diterapkan??, harus menunggu menjelang hari kiamat tatkala sang Imam Mahdi Syi’ah keluar??!!. Yang menarik dari pernyataan kaum syi’ah tentang al-Qur’an mereka adalah riwayat dari Abu Abdillah (sebagaimana disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Ushuul Al-Kaafi)Lalu Abu Abdillah terdiam sebentar kemudian berkata : “Dan sesungguhnya di sisi kami ada sebuah mushaf Fathimah ‘alaihas salaam. Tahukah mereka apa itu “Mushaf Fathimah”?. Aku (Abu Muhammad) berkata : “Apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu Abdillah berkata : “Sebuah mushaf yang padanya ada seperti al-Qur’an kalian tiga kali lipat, demi Allah tidak ada pada mushaf Fathimah satu hurufpun dari al-Qur’an kalian…” (Ushuul Al-Kaafi 1/295)Perhatikan…, tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur’an versi syi’ah berasal dari al-Qur’an versi Ahlus Sunnah. Dan tentunya akal sehat mengetahui bahwasanya al-Qur’an versi Ahlus Sunnah dengan bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dari huruf alif hingga huruf yaa’. Tidak ada satu huruf yang lain dalam bahasa Arab selain huruf alif hingga yaa’. Jika perkaranya demikian, maka sesungguhnya al-Qur’an versi Syi’ah (Mushaf Fathimah) tidak tersusun dari huruf-huruf hijaiyyah !!!. Maka… jangan-jangan Mushaf mereka tersusun dengan bahasa Yahudi ??!!! atau dengan bahasa Iran !!!. Toh bukankah imam Mahdi mereka yang sedang membawa (baca : menyembunyikan) Mushaf Fathimah paham seluruh bahasa di alam semesta ini !!??

Manut pada Kyai

“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid

Manut pada Kyai

“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid
“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid


“Kulo nderek mawon kaleh poro Kyai“, ujar sebagian orang yang maksudnya kami manut saja pada perkataan ulama. Mau dibawa ke utara atau ke selatan, diikuti saja. Masa’ kyai bisa salah? Ada pula yang mengatakan bahwa hati-hati dengan racunnya Al Qur’an karena maksud dia manut saja dengan perkataan ulama dengan membabi buta tanpa menimbang dalil Al Qur’an, sabda atau tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menganggap ulama tidak mungkin salah atau keliru. Kata dia, “Masa’ kyai bisa keliru beri resep?” Ini ajaran doktrin sebagian orang yang fanatik buta pada perkataan ulama tanpa memandang apakah perkataan kyai tersebut bersesuaian dengan dalil ataukah tidak. Pokoknya “kulo nderek mawon“, pokoknya saya ikut atau manut saja. Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah Al Qur’an dan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.  Perkataan ulama boleh diikuti jika bersesuaian dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu ditinggalkan. Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama. Karena mereka bukanlah ma’shum atau makhluk suci. Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya. Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru keliru yang fatal. Namun itu bukan berarti kita meninggalkan ulam begitu saja. Pendapat mereka tetaplah diikuti untuk memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar. Ulama Membantu Memahamkan Al Qur’an dan Hadits Ulama punya tugas untuk menerangkan Al Qur’an dan Hadits. Tugas mereka bukanlah untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Tugas ulama berijtihad dalam memahami dalil, lalu mereka jelaskan apa maksud Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah wasilah untuk memahami Al Qur’an dan hadits. Oleh karenanya, ketaatan pada mereka sebagai ikutan dari ketaatan pada Allah dan Rasul. Jika dalam perkara ijtihadiyah, pendapat mereka diikuti karena merekalah yang memahami dalil. Dalam masalah ini terhitung mentaati ulama masuk dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, ketaatan yang bisa berdiri sendiri hanyalah ketaatan pada Allah. Ketaatan pada Rasul termasuk mengikuti ketaatan pada Allah. Ulama diikuti ketika bersesuaian dengan perkataan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan pada Ulama Para ulama termasuk ulil amri. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59). Ulil amri adalah yang diberi amanat memegang urusan agama yaitu ulama dan yang diserahi urusan dunia yaitu pemimpin (penguasa). Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan ulama lainnya mengatakan bahwa mentaati ulil amri tidaklah berdiri sendiri namun ketaatan pada mereka mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama memerintahkan pada maksiat tentu ia tidak boleh ditaati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 5: 66, dari Al Hakam bin ‘Amr Al Ghifari. Sanad hadits ini shahih, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Menjadikan Ulama Sebagai Tuhan (Ilah) Jika ketaatan berdiri sendiri, maka itu dinilai ibadah. Ketaatan pada selain Allah hanyalah sebatas izin Allah saja. Dan ulama tidaklah boleh ditaati dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31). Mengenai ayat di atas, ‘Adi bin Hatim pernah berkata bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di lehernya terdapat salib dari emas. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu.” Beliau kala itu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, « أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ “Adapun mereka tidaklah menyembah rahib mereka. Akan tetapi, mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh rahib mereka dan mengharamkan apa yang diharamkan rahib mereka.”  (HR. Tirmidzi no. 3095, hasan menurut Syaikh Al Albani) Diterangkan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh -Menteri Agama Kerajaan Saudi Arabia- bahwa ada dua tingkatan dalam mengikuti ulama dalam penghalalan dan pengharaman. Tingkatan pertama, mentaati ulama atau pemimpin dalam hal mengganti ajaran Islam yaitu menjadikan yang haram itu halal atau sebaliknya, padahal dalam keadaan tahu Allah telah menghalalkan atau mengharamkan. Mereka mentaatinya dalam rangka mengagungkan ulama. Inilah yang disebut mengangkat ulama sebagai Tuhan. Ini termasuk syirik akbar dan kufur akbar. Karena di dalamnya terdapat memalingkan suatu ibadah berupa ketaatan -yang khusus- kepada selain Allah. Tingkatan kedua, mentaati ulama atau pemimpin dalam mengharamkan atau menghalalkan dari sisi amalan, bukan dari sisi batinnya. Ia mengakui bahwa hal tersebut haram atau halal, namun ia mengikuti ulama yang keliru tersebut secara amalan saja dan ia tahu bahwa ia sedang bermaksiat. Yang kedua juga dinilai termasuk pelaku dosa. Lihat penjelasan dalam At Tamhid  Syarh Kitabit Tauhid. Bukan Maksud Merendahkan Kyai Tulisan ini bukan maksud merendahkan ulama, para kyai dan orang berilmu. Bahkan kita diperintahkan bertanya pada kyai atau ulama tatkala kita tidak paham dalil atau mendapatkan kebingungan dalam masalah agama. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al Anbiya’: 7). Hendaklah setiap orang yang mengikuti pendapat kyai tidak sekedar membabi buta membela pendapat kyainya. Seharusnya bisa berpikir bahwa jika pendapat kyai tersebut berseberangan dengan dalil, maka ikutilah dalil. Namun saat perkataan ulama bertentangan dengan dalil, maka sikapilah pendapat mereka dengan baik karena bisa jadi mereka keliru dalam hal itu. Lihatlah baik-baik perkataan ulama besar yang selalu kita agungkan, Imam Asy Syafi’i rahimahullah di mana beliau berkata, إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211) Imam Syafi’i juga berkata, إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63) كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35) كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِعِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107) Ini pun untuk mendorong seorang muslim untuk semakin banyak belajar sehingga bisa memahami dalil. Imam Ahmad berkata, لَا تُقَلِّدُونِي وَلَا تُقَلِّدُوا مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَتَعَلَّمُوا كَمَا تَعَلَّمْنَا “Janganlah hanya sekedar taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafi’i, dan Ats Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.” (Idem, 20: 211-212). Al Qur’an dan Hadits Bisa Dipelajari Al Qur’an itu bukanlah racun. Hadits itu bukanlah ular berbisa yang bisa menerkam orang yang memangsanya. Jadi, jika ada yang katakan bahwa jangan ikuti Al Qur’an karena bisa kena racunnya, sungguh ia salah fatal. Al Qur’an itu syifa’ atau penawar sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’: 82). Kok bisa ada yang sebut Al Qur’an itu sebagai racun padahal Allah sebut sebagai penawar? Dalam ayat lain disebutkan bahwa Al Qur’an itu bisa dipelajari dan dipahami dengan mudah. Allah berfirman, وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17). Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari secara lafazh dan makna supaya jadi peringatan bagi manusia.” Hadits pun begitu jelas sebagaimana disebutkan dalam kitab sunan, لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ “Aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu sebegitu putihnya di mana malamnya terangnya seperti siangnya. ” (HR. Ibnu Majah no. 5, hasan kata Syaikh Al Albani). Namun tentu saja pemahamannya tetap mendahulukan pemahaman ulama daripada pendapat pribadi. Karena para ulamalah yang mewariskan ilmu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dari generasi ke generasi. Yang penting ingat, hindari taklid atau fanatik buta. Wallahu a’lam. Hanyalah Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Soeta Airport, 27 Muharram 1435 H, 04: 41 PM Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsfanatik taklid

Amalan Hati Ketika Berdoa

Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…

Amalan Hati Ketika Berdoa

Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…
Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…


Sering doa kita terkabulkan oleh Allah tatkala muncul terputusnya harapan terhadap seluruh makhluk…, tatkala tidak seorangpun yang bisa diharapkan bantuannya…, tatkala mungkin para dokter telah angkat tangan…, tatkala mungkin seluruh sahabat berlepas diri…, dll, maka pada saat itu hati hanya berharap kepada Allah Yang Maha Kuasa…lalu ketika itu terkabulkanlah doa kita…. Seandainya setiap kita berdoa kita bisa menghadirkan hati yang demikian maka tentu akan selalu dikabulkan doa kita !!! Seandainya doa hanya bisa dikabulkan jika kondisi hati demikian…pasrah dan menyerah hanya kepada Allah…, maka sungguh banyak doa orang yang tidak dikabulkan…akan tetapi Allah maha penyayang…Ia mengabulkan doa para hamba yang hatinya masih dibawah kondisi demikian, akan tetapi tetap harus ada bentuk kepasrahan dan keyakinan kepada Allah.. Seorang pria pernah bercerita langsung kepada saya, ia pernah mengalami penyakit tumor/cancer, dan ia telah banyak menghabiskan uangnya karena harus menjalankan operasi yang berulang-ulang, tatkala akhirnya para dokter angkat tangan dan memvonis bahwasanya umurnya hanya tinggal sekian bulan…, iapun pasrah menyerahkan urusannya kepada Allah. Alhamdulillah ada seorang wanita sholehah (dari kerabatnya) yang menasehatinya untuk banyak bersedekah dan berpuasa serta berdoa, akhirnya setelah ia menjalankan nasehat wanita tersebut Allahpun menyembuhkannya…!!! Sungguh hikmah yang sangat indah dari Allah tatkala Allah ingin meningkatkan derajat keimanan dan keyakinan hambaNya tersebut…diberi ujian silih berganti agar sang hamba yakin bahwa segala keputusan adalah ditangan Allah…tidak ada syarikat bagiNya…

BUAH KEDZALIMAN

Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 

BUAH KEDZALIMAN

Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 
Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 


Oleh: Ustadz Fariq Gasim AnuzAllah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.” Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak. Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak. Ia bercerita, “Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah tangganya dan berakhir dengan perceraian.Setahun kemudian wanita tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami memfitnah. Kisah kedua, seorang anak muda menceritakan kisahnya, “Ketika saya sekolah di SMA terjadilah pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai. Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya. Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil, bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku membeli darinya.Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil, tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya. Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya. Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di akhirat!. ” (“Qawaid Qur’aniyyah” halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )Selain akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah berfirman yang artinya, ” Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak…” (Surah Ibrahim 42)Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk”. (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah.Jika kita berbuat dzalim segeralah mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan berpikir, “Apa kata manusia?”.  Berpikirlah, “Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?”. 

Dosa, Noda Hitam bagi Hati

Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).

Dosa, Noda Hitam bagi Hati

Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).
Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).


Dosa, Noda Hitam bagi Hati Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).

Manusia Berhutang Budi kepada Malaikat

Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.

Manusia Berhutang Budi kepada Malaikat

Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.
Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.


Jasa Malaikat kepada Manusia Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia. وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5) Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”
Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”


Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati. Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)
Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)


Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…
Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…


Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533). Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela. Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau. Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi. Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi. Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah

Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).
Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).


Masuk Surga Mudah, Masuk Neraka juga Mudah Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ “Surga lebih dekat kepada kalian dari pada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari 6488) Dr. Musthofa Bagha menjelaskan, هو كناية عن سهولة دخولها لمن أطاع وكذلك دخول النار لمن عصى Hadis ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa mudahnya masuk surga bagi orang yang mau taat. Dan betapa mudahnya tergelincir ke dalam neraka bagi orang yang maksiat. (Ta’liq Shahih Bukhari, 8/102).
Prev     Next